Anda di halaman 1dari 5

GILA SEPULANG

DARI MEKKAH

Sumber: Hidayah_2_19_0203_Gila Sepulang Dari Makkah

Ditulis ulang oleh: Rhesa Yogaswara, S.Si (rhesayogaswara@yahoo.com)


Dipublikasikan oleh Al-Maaidah, Moslem’s Review

Al-Maaidah Moslem’s Review


Jakarta Indonesia | Ph: +62 21 953 72072 | HP: +62 813 180 69162
Website: www.almaaidah.com

Al-Maaidah Moslem’s Review- Gila Sepulang dari Mekkah - Hidayah_2_19_0203_Gila Sepulang Dari Makkah 1
DAFTAR ISI

Daftar Isi ................................................................................................................2


I. Gila Sepulang dri Mekkah ..............................................................................3
II Wanita Angkuh .................................................................................................3
III Suami Setia.......................................................................................................5

Al-Maaidah Moslem’s Review- Gila Sepulang dari Mekkah - Hidayah_2_19_0203_Gila Sepulang Dari Makkah 2
GILA SEPULANG DARI MEKKAH

Rasimah ingat pesan ibunya, tetapi sejauh mana nasihat orang tua itu dipatuhinya,
wallahu a’lam. Menjelang beberapa hari lagi dia ke mekah, Rasimah menemui ibunya
dan setiap anggota keluarganya untuk memohon ma’af. Dia mengakui atas segala
kesalahan yang lalu yang membuat anggota keluarganya berkecil hati. Dan mereka pun
memaafkan Rasimah.

Namun apa yang dikhawatirkan ibunya ternyata malah terbukti. Selama


menunaikan ibadah haji di Mekah, Rasimah selalu mendapat berbagai cobaan dan
rintangan, kesehatan wanita itu terganggu, tubuhnya dirasakan bagai hendak demam,
jiwanya terasa tertekan dan pikirannya seolah diselubungi khayalan.

Latif, suami Rasimah telah berusaha semaksimal mungkin mengatasi masalah


Rasimah yang tidak stabil itu sepanjang mengerjakan ibadah haji. Beberapa kali
dibawanya Rasimah ke dokter, tetapi hasilnya nihil. Begitu juga beberapa orang alim
yang didatanginya, semuanya mengatasi penyakit misteri Rasimah.

Ketika musim haji selesai, Rasimah dan suaminya pulang dengan selamat, tapi
malangnya, keadaan Rasimah semakin parah. Dibilang sakit, tetapi ia tidak sakit, dia bias
makan – minum, berjalan kesana kemari seperti biasa. Namun yang jelas berubah ialah
mentalnya, Rasimah mulai bercakap-cakap sendirian, kadang ia tertawa, kadang-kadang
ia menangis. Saat lain dia menjerit-jerit bahkan sampai puncaknya, baju yang dipakainya
bias dirobeknya sendiri sampai terlihat aurat yang mestinya ditutupi.

Ketika keadaannya tidak dapat diatasi lagi, Rasimah dibawa ke dokter lagi.
Dokter yang menanganinya menyatakan wanita itu mengidap penyakit mental. Di rumah
sakit, Rasimah ditempatkan di bangsal psikiatri yang berjeriji besi, agar orang-orang yang
berpenyakit gila seperti Rasimah tidak dapat melarikan diri, itulah nasib yang dialami
oleh Rasimah sepulang dari menunaikan ibadah haji.

WANITA ANGKUH
Melihat keadaannya sekarang, orang tidak menyangka wanita ini dulunya angkuh,
egois, cepat marah dan seorang istri yang sok berkuasa. Ketegasan Rasimah mendidik
anak-anaknya sangat keterlaluan, mungkin niatnya baik untuk membentuk sikap anak-
anaknya agar menghormatinya, tapi cara mendidiknya sangat salah.

“Aku ingin anak-anakku menurut perkataanku!” katanya memberi alas an. Saking
merasa berkuasanya terhadap anak-anaknya, suaminya pun dilarang ikut mencampuri
urusannya dengan anak-anaknya. “Kamu jangan mencoba ikut campur mengurusi rumah
tangga saya dengan anak-anak”, katanya kepada Latif.

Latif yang berwatak lemah lembut itu enggan memperpanjang permasalahan, dia
merasa lebih nyaman mengambil sikap berdiam diri kalau dia bertengkar dengan
isterinya, menurutnya kalau dia lawan kemauan istrinya, rumah tangganya bisa kacau.

Al-Maaidah Moslem’s Review- Gila Sepulang dari Mekkah - Hidayah_2_19_0203_Gila Sepulang Dari Makkah 3
Malangnya sikap Latif yang tidak mau mengeruhkan suasana harmonis dalam rumah
tangga, malah dipandang sebagai satu kelemahan oleh Rasimah. Dai sendiri melecehkan
kelemahan suaminya itu. Dia berpikir, kalau tidak karena ketegasannya anak-anaknya
tidak akan berhasil menjalani hidup ini.

Mereka dikaruniai empat orang anak. Anak yang sulung perempuan, berusia 20
tahun, anak keduanya juga perempuan 18 tahun, dan dua anak laki-lakinya berusia 16 dan
14 tahun. Sebenarnya mereka tidak tahan dengan sikap ibunya yang terlalu mengekang.
Untuk memprotes sikap ibu mereka, anak-anak ini hanya patuh di depan Rasimah saja,
tetapi dibelakang nya mereka masa bodoh

Apabila ada anggota keluarga Rasimah yang mengadu dan menegur kelakuan
tidak baik dari dua anak gadisnya itu, Rasimah Marah. “Aku tak percaya anak-anakku
berbuat tidak senonoh seperti itu. Kamu semua sengaja mengada-ada cerita untuk
memburuk-burukkan keluargaku”, marah Rasimah keada orang-orang yang mengadukan
kelakuan anaknya.

Sikap Rasimah yang tidak mau mendengar pengaduan keluarganya itu membuat
anggota keluarganya tidak lagi mau menegur kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak
Rasimah..Buka hanya kepada adik dan kakaknya saja Rasimah bersikap begitu, bahkan
ibunya sendiri pun dihardiknya, satu hari ibunya menegur, “Aku lihat kamu ini
membiarkan si Liza itu bebas sekali, pakaiannya entah apa, sudahlah ketat, terlihat itu
terlihat ini”. Teguran ibunya itu membuat Rasimah marah “Itulah, ibu dan adik-adik iri
hati karena anak-anakku pandai dan aku punya uang”, jawabnya kepada ibunya.

Namun Rasimah lupa, sikap congkak dan sombongnya itu akhirnya memakan
dirinya juga. Satu hari didepan ibu dan ayahnya, Liza mengungkapkan hasratnya untuk
menikah segera. Apa kau sudah gila, ingin segera kawin ? Apakah kamu sadar, sementara
kamu sendiri masih belajar!” sanggah Rasimah. Latif dengan sikap tenangnya seperti
biasa mendiamkan diri saja. Mendengar ibunya marah besar seperti itu, Liza ketakutan,
Rasimah mulai menduga-duga ada sesuatu yang terjadi dengan anak sulungnya itu.

“Kamu benar-benar ingin menikah ? lelaki mana yang membuat kamu tergila-gila
seperti itu, heh!” hardiknya. Liza menangis meratap, “Ampunkan Liza bu, Liza sudah
terlanjur dengan lelaki itu……..”Liza tidak dapat meneruskan kata-katanya.
“Astaghfirullahal ‘azim, apa yang telah kamu lakukan Liza………….?” Rasimah
mengucap panjang. Langit ini ia rasakan bagaikan mau runtuh menimpanya ketika Liza
mengaku bahwa dia telah mengandung hamper dua bulan.

Latif yang selama ini bagaikan terbius dengan sikap sok kuasa istrinya mulai
menyalahkan Rasimah. Namun Rasimah tidak mudak mengalah, walaupun lelaki yang
menghamili anak gadisnya itu melarikan diri, Rasimah berusaha melindungi aib tersebut
dari pengetahuan keluarganya, bahkan hinggalah Liza selamat melahirkan anak diluar
nikahnya itu.

Al-Maaidah Moslem’s Review- Gila Sepulang dari Mekkah - Hidayah_2_19_0203_Gila Sepulang Dari Makkah 4
Namun seperti kata pepatah, serapi-rapi kita menyimpan bangkai, akhirnya
baunya akan tercium juga. Begitu pula dengan aib yang menimpa keluarga itu, sekuat
apapun Rasimah menutupi rahasia itu, toh akhirnya terbongkar juga.

Suatu hari, ibu Rasimah yang lama tidak berkunjung kerumahnya, secara
mengejutkan tiba-tiba muncul tanpa diundang. Kemunculan ibunya itu membuat Rasimah
benar-benar terkejut bukan kepalang. “Eh………mengapa ibu dating tidak memberitahu
dulu?” tanyanya dengan keadaan serba salah, ketika itu ditengah ruang tamu terletak box
bayi, diamana seorang bayi berusia enam bulan sedang tidur nyeyak.

“Anak siapa yang tengah tidur dalam buaian itu?” Tanya ibu Rasimah. Serba
salah Rasimah menjawabnya, tiba-tiba secara kebetulan, Liza yang baru keluar dari
kamar berterus terang memberitahu neneknya “Itu anak Liza, nek” katanya sambil
bersalaman dan mencium tangan neneknya.

Terkejut orang tua itu “Kapan kau menikah dan tiba-tiba sudah punya anak?”.
Rasimah akhirnya terpaksa berterus terang menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Ibunya mengeluh panjang mendengar pengakuan Rasimah. “Inilah balasan yang kau
terima karena tak mendengarkan perkataanku, kamu harus bertaubat, Simah. Aku dengar
kau akan pergi haji. Insaflah dengan apa yang telah kau lakukan selama ini. Kau minta
ampun kepada suamimu. Ubahlah sikap kamu Simah!” begitu nasihat ibunya kepada
Rasimah.

SUAMI YANG SETIA


Rasimah menjerit-jerit lagi. Dia memegang kuat-kuat jeriji besi itu bagaikan
hendak mematahkan besi yang memisahkan dirinya dengan dunia luar itu. Kini Rasimah
harus hidup dibatasi terali besi, tetapi diluar sana, di balik jeruji besi itu, Latif yang begitu
setia mengunjunginya setiap hari dan selalu menunggunya, dan keadaan itu berlanjut
hingga sekarang.

Al-Maaidah Moslem’s Review- Gila Sepulang dari Mekkah - Hidayah_2_19_0203_Gila Sepulang Dari Makkah 5