Anda di halaman 1dari 7

SATPAM YANG

SOLEH
MENINGGAL
KETIKA
MENGIMAMI
SHALAT IED

Diliput oleh Ridwan dan Imam Ma’ruf


Sumber: Hidayah_2_19_0203_Satpam yang soleh meninggal ketika mengimami shalat
Ied

Ditulis ulang oleh: Rhesa Yogaswara, S.Si (rhesayogaswara@yahoo.com)


Dipublikasikan oleh Al-Maaidah, Moslem’s Review

Al-Maaidah Moslem’s Review


Jakarta Indonesia | Ph: +62 21 953 72072 | HP: +62 813 180 69162
Website: www.almaaidah.com

Al-Maaidah Moslem’s Review- Satpam yang soleh meninggal ketika mengimami shalat ied - Hidayah_2_19_0203_Satpam yang 1
soleh meninggal ketika mengimami shalat ied
DAFTAR ISI

Daftar Isi ................................................................................................................2


I. Satpam yang soleh meninggal ketika mengimami Shalat Ied.......................3
II Lelaki pendiam yang suka di masjid ..............................................................5

Al-Maaidah Moslem’s Review- Satpam yang soleh meninggal ketika mengimami shalat ied - Hidayah_2_19_0203_Satpam yang 2
soleh meninggal ketika mengimami shalat ied
SATPAM YANG SOLEH MENINGGAL KETIKA MENGIMAMI SHALAT IED
Siapa yang tidak mendambakan khusnul khatimah? Tentu semua muslim
mendambakan cita – cita yang indah itu. Bahkan, seorang penjahat sekalipun memiliki
hasrat dalam relung hatinya yang dalam agar ia bias menghembuskan nafas terakhirnya di
saat yang terbaik, dalam kegiatan yang terbaik pula.

Akan tetapi, khusnul khatimah tidak mungkin bisa diraih oleh sembarangan
orang. Khusnul khatimah adalah suatu keadaan yang hanya mampu diraih oleh orang-
orang yang memahami hakikat kehidupannya di dunia ini yang hanya sementara,
sehingga seluruh aktivitas hidupnya tidak pernah lepas dari upaya mempersiapkan diri
menghadap sang khalik, Rabbul jalil, Allah swt. Karena itu, beruntunglah mereka yang
mendapat keistimewaan dipanggil Allah dalam keadaan khusnul khatimah.

Salah satu manusia yang diberikan momentum terindah khusnul khatimah itu
adalah Tubagus Muhammad Afif. Lelaki kelahiran Bogor, 70 tahun silam ini meninggal
dalam keadaan yang sangat baik dan indah. Malaikat Maut mengambil nyawanya ketika
ia sedang mengimami shalat Idul Fitri, hari Jum’at, tanggal 6 Desember 2002 yang baru
lalu.

Hari itu tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan akan terjadi sesuatu pada diri
Bapak Afif. Isterinya Halimah yang sudah puluhan tahun menemaninya melihat
suaminya melakukan kegiatan sehari-hari dengan biasa.

Menurut isterinya, seperti biasa pada hari itu suaminya bangun pada pukul 03.00
pagi. Pukul 03.30 beliau takbiran di Mushalla Arraudlah dekat rumahnya menunggu
waktu Subuh sambil membangunkan jemaah yang masih terlelap tidur. Pekerjaan ini
memang kebiasaan rutin beliau. Setelah shalah Subuh, ia makan bersama jamaah di teras
mushalla sebagai tanda selesai puasa Ramadhan, yang merupakan tradisi lebaran di
mushalla itu. Pak Afif makan seperti biasanya sehingga tidak ada jamaah yang merasa
aneh dengan sikap beliau hari itu.

Menurut Bapak Naseh, salah satu pengurus mushalla, disela-sela acara makan itu
Pak Afif sempat berkata bahwa baginya walaupun diberi bangunan yang lebih baik tetapi
ia lebih suka memilih mushalla itu sebagai tempat aktivitasnya.

Selesai acara di mushalla beliau pulang. Pukul 05.30 beliau mengaji lagi
dirumahnya. Isterinya mengingatkan agar ia bersiap-siap shalat Ied dan menjadi khatib di
Masjid Fi Sabilillah yang terletak di lingkungan Sekolah Yayasan Patriot, tempatnya
bekerja. Setelah selesai mengaji beliau berangkat ke masjid. Tidak ada pesan apapun
yang keluar dari mulut beliau kepada isteri dan anak-anaknya, yang menunjukkan ia akan
segera kembali kepada Tuhannya.

Sampai di masjid Fi Sabilillah sudah cukup banyak jamaah yang datang. Ia


bertemu dengan para pengurus masjid lainnya yang juga tidak melihat tanda-tanda
dekatnya kematian pada diri Bapak Afif. Bahkan menurut Bapak Sayuti Na’im salah
seorang teman karibnya sesama satpam di Sekolah Patriot, sebelum masuk masjid mereka

Al-Maaidah Moslem’s Review- Satpam yang soleh meninggal ketika mengimami shalat ied - Hidayah_2_19_0203_Satpam yang 3
soleh meninggal ketika mengimami shalat ied
sempat saling sapa dan bercanda sebentar. Kebetulan pada hari itu Pak Sayuti juga
mendapat tugas sebagai bilal.

Tepat pukul 07.00 shalat Ied pun dimulai. Bapak Afif maju ke tempat imam dan
memimpin shalat dengan tenangnya. Rakaat pertama berjalan dengan normal. Pak Sayuti
yang berdiri di belakang imam mengakui bacaan surat-surat dalam shalat yang dibaca
oleh Pak Afif terdengar sangat bagus.

Setelah selesai rakaat pertama Pak Afif pun bangkit dari sujudnya sambil
mengucapkan takbir. Setelah posisinya kembali berdiri iapun bertakbir lagi sebanyak
lima kali sebagaimana rukun shalat Ied. Setelah selesai takbir lima kali iapun mulai
membaca surat Al-Fatihah.
“Bismillahirrahmaanirrahiim……………
“Alhamdulillaaaaah………….!” Bruk!
Belum selesai ayat kedua surat Al-Fatihah itu dibaca tiba-tiba Pak Afif terjatuh di
tempatnya. Pak Sayuti dan jamaahlainnya yang berdiri di shaf terdepan terkejut melihat
imam mereka terjatuh.

“Subhanallah!” teriak mereka. Para jamaah yang shalat di belakang kebingungan


sebab tiba-tiba saja bacaan imam terhenti. Pak Sayuti langsung mengambil inisiatif untuk
membatalkan shalat. Ia berfikir tidak ada salahnya membatalkan shalat dalam keadaan
seperti itu, karena sang imam harus ditolong.

“Saya bilang, batalkan dulu! ini bukan halangan biasa seperti batal wudhunya,
tetapi ini orang jatuh. Saya langsung balikkan tubuhnya”, kenang Pak Sayuti yang
menjadi saksi mata kejadian tersebut.

Pak Sayuti mencoba memberikan pertolongan sebisanya, dengan memijit bagian-


bagian tertentu yang dianggapnya mungkin menyebabkan kram pada diri Pak Afif. Tetapi
kejadian itu berlangsung begitu cepat. Tiba-tiba ia mendengar Pak Afif mengorok pelan
dan bersamaan dengan itu berhembuslah napasnya yang terakhir. Innalilahi wa inna ilaihi
raaji’un.

Pak Afif sempat dibawa ke Klinik Patriot yang terletak di lingkungan sekolah
tersebut. Beliau ditangani oleh Dokter Asep. Akan tetapi nyawanya memang tidak dapat
tertolong lagi. Mungkin Allah swt sudah menentukan taqdir dan ajalnya yang demikian
indah dan mudah itu.

Maka beberapa penguruspun segera menghubungi keluarganya. Mereka


memberitahukan bahwa Pak Afif sakit, mereka tidak ingin merusak kebahagian Idul Fitri
yang dirasakan oleh keluarganya. Setelah isterinya sampai di klinik barulah ia tahu kalau
suaminya telah meninggal dunia.

Sementara itu shalt Idul Fitri pun kembali dilanjutkan. Kali ini dipimpin oleh
seorang pegawai pertanian yang merupakan jamaah yang biasa shalat di masjid tersebut.

Al-Maaidah Moslem’s Review- Satpam yang soleh meninggal ketika mengimami shalat ied - Hidayah_2_19_0203_Satpam yang 4
soleh meninggal ketika mengimami shalat ied
Pegawai pertanian itu pulalah yang menggantikan Pak Afif membacakan khutbah Idul
Fitri.

Demikianlah kronologi kematian seorang anak manusia yang begitu indah dan
baiknya, meninggal dalam keadaan mengimami shalat, tidak perlu sakit terlebih dahulu
dan melewati proses sakaratul maut dengan mudah dan cepat. Masya Allah!

LELAKI PENDIAM YANG SUKA DI MASJID


Siapakah lelaki yang mendapatkan kemulian besar ini? Bagaimanakah prilakunya
sehari-hari sehingga Allah berkenan mengambilnya dalam keadaan yang baik seperti itu?
Tubagus Muhammad Afif adalah seorang manusia biasa. Dia bukan seorang kiyai, ustadz
ataupun ulama. Pekerjaan terakhirnya pun hanyalah sebagai seorang satpam di sebuah
sekolah swasta di Bekasi yaitu Yayasan Patriot Pendidikan Bekasi.

Bagi banyak orang pekerjaan satpam tentu bukan pekerjaan terhormat, apalagi
membanggakan. Tetapi bagi Bapak Afif pekerjaannya sebagai satpam bukanlah kendala
baginya untuk tetap bersyukur. Bahkan ia menjalankan tugasnya itu dengan bangga,
ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Keikhlasan dan syukurnya itu, ia membuktikan dengan sikapnya sehari-hari yang


sangat tenang dan tidak pernah mengeluh. Dimata isterinya, teman-temannya, para
tetangga dan pemilik sekolah, sosok lelaki ini adalah sosok seorang yang sederhana dan
pendima. Ia tidak pernah marah, apalagi berlaku kasar kepada sembarang orang.

Selain itu keikhlasannya dalam menjalankan tugas, baik sebagai satpam maupun
sebagai pengelola masjid, diakui oleh Bapak Drs. Uung Sutandi, As. Bapak Uung
berkenan diwawancarai mewakili Bapak Ali Suratman, selaku ketua Yayasan Patriot
Pendidikan Bekasi yang sedang sakit ketika kami mendatanginya.

Menurut Pak Uung, Pak Afif adalah sosok manusia yang sangat jauh dari pamrih
dalam bekerja. Berapapun upah yang ia dapatkan, selalu diterima dengan penuh syukur
dan rasa terimakasih.

“Satu contoh, imam masjid disini saya beri transport dari uang kas, karena
rumahnya dekat saya beri beliau Rp. 2.000 sehari, kalau tidak salah dalam satu bulan itu
saya beri hanya Rp. 80.000 tetapi ia menerimanya dengan ikhlas dan berterimakasih.
Beliau seadanya, kerjaannya juga bagus, kalu dimarahi diam. Saya juga mengagumi
karakternya yang sabar”,ungkap Bapak Uung.

Bapak Uung menambahkan, “Yang biasa diajak bicara oleh beliau ‘kan saya
disini. Sehari-harinya beliau banyak diam, dikantor juga nggak keras. Dia menerima
parker motor berapa aja, entah Rp. 100,- terserah yang memberi. Kalau menurut saya, dia
memang pantas meninggal seperti itu, kalau kita mau meninggal , mungkin harus
menyusahkan keluarga dulu, tapi dia ‘kan tidak”.

Al-Maaidah Moslem’s Review- Satpam yang soleh meninggal ketika mengimami shalat ied - Hidayah_2_19_0203_Satpam yang 5
soleh meninggal ketika mengimami shalat ied
Sementara itu Pak Sayuti teman dekatnya mengakui kesabaran dan kebaikan Pak
Afif selama hidup dan bergaul dengannya. “Dalam bergaul beliau itu baik. Orang nya
sabar. Pernah saya marah, tetapi beliau diam saja, tidak marah. Yang menonjol ibadahnya
kuat. Setiap shalat Dzuhur selalu menjadi imam. Orangnya jarang ngomong atau
mengomentari orang lain. Beliau ngomong hanya seperlunya saja”, ungkap Pak Sayuti.

Orang yang paling tahu kehidupan Bapak Afif tentu saja isterinya sendiri, Ibu
Halimah. Menurut Ibu Halimah, suaminya itu merupakan lulusan sebuah pesantren di
daerah sadeng, Bogor. Sejak kecil Bapak Afif diasuh oleh kakeknya di Bogor. Oleh
kakeknya ini beliau dimasukkan di sebuah pondok pesantren sejak usia 12 tahun.
Mungkin karena pendidikan agama yang didapatnya di pondok pesantren itulah yang
membuatnya mampu hidup dengan penuh kesalehan dan kesabaran. Tampaknya ia
mengerti betul bagaimana menerapkan ilmu yang didapatnya di pesantren ke dalam
kehidupan sehari-hari.

Ibu Halimah menambahkan bahwa sejak dahulu suaminya memang termasuk


lelaki yang pendiam dan rajin beribadah. “Dia itu pendiam, shalat terus. Saya sering
marah, tetapi dia diam saja, tetap saja shalat. Tidak pernah dia tinggalkan shalat. Dia juga
baca Qur’an terus” kenang isterinya.

Halimah menceritakan bahwa empat tahun terakhir suaminya bekerja sebagai


satpam di Sekolah Patriot, setelah pension dari bengkel tempat kerjanya dulu. Selain
menjadi satpam ia juga diminta untuk menjadi imam di masjid Fi Sabilillah yang ada di
lingkungan sekolah tersebut. Pihak yayasan sekolah tampaknya mengakui kemampuan
lelaki ini dalam bidang agama, terutama dalam membaca al-Qur’an sehingga ia pantas
menjadi imam masjid itu.

Selain menjadi imam ditempatnya bekerja, Pak Afif juga menjadi pengurus atau
marbot di mushalla Ar-Raudlah di lingkungan rumahnya. Di mushalla ini ia lagi-lagi
bekerja dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas. Karena keikhlasan dan rasa tanggung
jawabnya yang besar itu membuat lelaki ini lebih sering berada di dua rumah ibadah
tersebut.

Menurut cerita Halima, Pak Afif selalu pulang dari tempat kerjanya pada pukul
tiga petang. Begitu sampai rumah, suaminya itu hanya sempat membuka sepatu dan
langsung shalat di mushalla. Selesai shalat Ashar ia baru beristirahat tidur siang sebentar.
Sekitar pukul lima sore ia kembali lagi ke mushalla untuk membersihkan dan mengepel
mushalla, selesai mengepel ia pulang sebentar untuk mempersiapkan diri shalat maghrib
berjamaah di mushalla itu lagi.

“Saya ‘kan dagang, sehingga jam setengah dua harus bangun, tetapi dia malah
sudah bangun jam 12 malam. Pas jam satu dia bangunkan saya. Nanti dia tidur sebentar
lalu jam jam setengah tiga sudah ke masjid untuk mengaji. Orangnya saleh……“Jadi
Bapak Afif itu suka membersihkan mushalla, membangunkan jamaah untuk shalat subuh,
mengaji menjelang subuh dan adzan,” ucap Ibu Halimah mengenang kebaikan dan
kesalehan suaminya.

Al-Maaidah Moslem’s Review- Satpam yang soleh meninggal ketika mengimami shalat ied - Hidayah_2_19_0203_Satpam yang 6
soleh meninggal ketika mengimami shalat ied
Ibadah tampaknya menjadi kebiasaan rutin bagi Pak Afif. Selain itu masjid dan
mushalla tampaknya menjadi tempat favorit bagi bapak dari lima anak itu. Ia begitu dekat
dengan tempat yang paling disukai Allah ini. Mungkin hati lelaki ini benar-benar sudah
terikat kepada masjid dan mushalla, sehingga ia begitu senang berada di tempat seperti
itu.

Rasulullah saw pernah bersabda, bahwa pada hari kiamat nanti ada tujuh
golongan yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah swt, salah satunya adalah
orang yang hatinya terpaut di masjid. Mungkin Pak Afif termasuk golongan manusia
seperti yang disebutkan Rasulullah saw itu? Wallahu a’lam bish-shawwab.

Yang pasti Pak Afif telah menunjukkan kepad kita betapa indah dan damainya
menghadap Rabb dalam keadaan khusnul khatimah. Semoga kita semua mampu
mengikuti jejek lelaki saleh ini, sehingga Allah berkenan mengirimkan Malaikat Maut
kepada kita di saat-saat terbaik dalam kehidupan kita yang pendek ini. Amien.

Al-Maaidah Moslem’s Review- Satpam yang soleh meninggal ketika mengimami shalat ied - Hidayah_2_19_0203_Satpam yang 7
soleh meninggal ketika mengimami shalat ied