Anda di halaman 1dari 22

SEORANG LAKI-LAKI 45 TAHUN DENGAN PARAPARESE, HIPESTESIA SETINGGI VERTEBRA THORAKAL XI e/c SUSPECT SPONDILITIS TB

Oleh Berlian Agusti Viakhane S.Ked. G0005071

Pembimbing : DR. Dr. Hj. Noer Rachma, Sp RM

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN REHABILITASI MEDIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2010

STATUS PENDERITA I. ANAMNESA A. Identitas Pasien : Tn. P : 45 tahun : Laki-laki : Islam : Swasta : Sangkrah Rt03/10 PS Kliwon SKA : Menikah : 17 Februari 2010 : 990016 Nama Umur Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Alamat Status Tanggal Periksa No RM B.

Masuk rumah Sakit : 13 Januari 2010

Keluhan Utama

Tungkai lemah, terasa tebal C. Riwayat Penyakit Sekarang

2 Minggu SMRS pasien kesemutan dan merasa tebal pada kedua tungkai tapi masih bisa berjalan, Rasa lemah pada kedua tungkai dirasakan semakin memberat, pasien sudah pergi ke dokter dan diberi obat tetapi tidak kunjung membaik, maka pasien memeriksakan diri ke RSDM, pasien tidak dapat mengingat obat yang diberikan sebelumnya. Pasien juga merasa nyeri pinggang sampai perut nyeri bertambah berat jika duduk. 1 Minggu SMRS pasien hanya bisa berjalan jika dipapah. Pasien tidak mual, tidak muntah, tidak ada kejang, tidak disertai penurunan kesadaran, tidak ada pandangan kabur, tidak ada pandangan dobel, tidak ada demam, tidak ada penurunan intelektual. BAB 1 kali sehari, konsistensi kenyal lunak, lendir darah (-), BAK tidak ada kelainan, tidak disertai nyeri, tidak disertai panas, tidak ada anyanganyangan. D. Riwayat Penyakit Dahulu : disangkal : disangkal

Riwayat Trauma Riwayat Hipertensi

Riwayat DM Riwayat Penyakit Jantung Riwayat Alergi obat/makanan Riwayat Asma Riwayat Mondok E. Riwayat Penyakit Keluarga

: disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

Riwayat Hipertensi Riwayat DM Riwayat Penyakit Jantung Riwayat Alergi Riwayat Asma Riwayat TB F.

: disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : istri, anak (+)

Riwayat Kebiasaan dan Gizi : disangkal : disangkal : disangkal

Riwayat Merokok Riwayat minum alkohol Riwayat Olahraga G. Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien adalah seorang suami dan memiliki satu anak yang sudah bekerja tetapi masih tinggal bersama. Pasien bekerja di sebuah catering. Saat ini pasien dirawat di RSDM dengan fasilitas PKMS GOLD. II. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan umum sakit sedang, Compos Mentis E4V5M6, gizi kesan cukup B. Nadi Respirasi Suhu Tanda Vital : 120/80 mmHg : 80x/ menit, isi cukup, irama teratur, simetris : 20 x/menit, irama teratur, tipe thoracoabdominal : 36,70C per aksiler Tekanan darah

C.

Kulit Warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-), petechie (-), venectasi (-), spider naevi (-), striae (-), hiperpigmentasi (-), hipopigmentasi (-).

D.

Kepala Bentuk mesocephal, kedudukan kepala simetris, luka (-), rambut hitam beruban, tidak mudah rontok, tidak mudah dicabut, atrofi otot (-).

E.

Mata Conjunctiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya langsung dan tak langsung (+/+), pupil isokor (3 mm/ 3mm), oedem palpebra (-/-), sekret (-/-)

F. G. H.

Hidung Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-) Telinga Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-) Mulut Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-),lidah simetris, lidah tremor (-), stomatitis (-), mukosa pucat (-), gusi berdarah (-), papil lidah atrofi (-)

I.

Leher Simetris, trakea di tengah, step off (-), JVP (R+3) ,limfonodi tidak membesar, nyeri tekan (-), benjolan (-)

J.

Thoraks a. b. Inspeksi Palpasi Perkusi Retraksi (-) Jantung : Ictus Cordis tidak tampak : Ictus Cordis tidak kuat angkat : konfigurasi jantung kesan tidak melebar bising (-) Inspeksi Palpasi Perkusi : pengembangan dada kanan = kiri, gerakan paradoksal (-) : fremitus raba kanan = kiri : sonor seluruh lapang paru

Auskultasi : Bunyi jantung I dan II intensitas normal, reguler,

Auskultasi : suara dasar ( vesikuler / vesikuler ),RBH (-), RBK (-)

K.

Trunk Inspeksi Palpasi Perkusi Tanda Anti Patrick Thomas test Ober test : deformitas (-), skoliosis (-), kifosis (-), lordosis(-) : massa (-), nyeri tekan (+), oedem (-) : nyeri ketok kostovertebra (-) : (-/-) : (-) : (-) : dinding perut sejajar dinding dada : tympani :kencang, nyeri tekan (-), bruit (-) dan lien tidak teraba Akral dingin -

Tanda Patrick/Fabere : (-/-) Tanda Laseque/SLR : (-/-)

L.

Abdomen Inspeksi Perkusi Palpasi Auskultasi : peristaltik (+) normal

M.

Ekstremitas Oedem

N.

Status Psikiatri Deskripsi Umum 1. Penampilan : laki-laki, tampak sesuai umur, berpakaian rapi, , perawatan diri baik 2. Kesadaran : Kuantitatif Kualitatif 3. Emosi : stabil 4. Pembicaraan : koheren, menjawab pertanyaan 5. Sikap Terhadap Pemeriksa : Kooperatif, kontak mata cukup Afek dan Mood Afek : Appropiate Mood : normal : compos mentis : tidak berubah

Gangguan Persepsi Halusinasi (-) Ilusi (-) Bentuk : realistik Isi Arus : waham (-) : koheren

Proses Pikir

Sensorium dan Kognitif Daya Konsentrasi : baik Orientasi : Orang : baik Waktu : baik Tempat : baik Daya Ingat : Jangka pendek : baik Jangka panjang : baik Daya Nilai Insight : Daya nilai realitas dan sosial baik : Baik

Taraf Dapat Dipercaya : Dapat dipercaya O. Status Neurologis Kesadaran Fungsi Luhur Fungsi Sensorik Rasa Ekseteroseptik Suhu Nyeri Rabaan Rasa Propioseptik Rasa Getar Rasa Posisi Rasa Nyeri Tekan Lengan (+/+) Lengan (+/+) (+/+) Lengan (+/+) (+/+) (+/+) ( / ) Tungkai (+/+) (+/+) ( / ) (/) Tungkai (+/+) Tungkai (+/+) : GCS E4V5M6 : dalam batas normal

Fungsi Vegetatif : IV line

Rasa Nyeri Tusukan ( + / + )

Rasa Kortikal Stereognosis Barognosis : : normal normal normal Atas Ka/ki a. Lengan Pertumbuhan Tonus Reflek Fisiologis +2/+2 +2/+2 -/ -/ Atas Ka/ki b. Tungkai Pertumbuhan Tonus Klonus -/+/+ +4/+4 +2/+2 +/+ -/-/+/ + -/n/n n/ n n/n n /n n/n n/n Tengah ka/ki ka/ki Bawah n/n n/n n/n n/n n/n n/n Tengah ka/ki ka/ki Bawah

Pengenalan 2 titik : Fungsi Motorik dan Reflek :

Reflek Biseps Reflek Triseps Reflek Patologis Reflek Hoffman Reflek Tromner

Lutut Kaki Reflek Fisiologis Reflek Patella Reflek Achilles Reflek Patologis Reflek Babinsky Reflek Chaddock Reflek Oppenheim Reflek Schaeffer Reflek Rosolimo

c. -

Reflek Kulit Reflek Dinding Perut (+/+)

Nervus Cranialis Lesi N. VII tidak ada kelainan Lesi N. XII tidak ada kelainan Range of Motion (ROM) NECK Flexi Extensi Lateral bend Rotasi EKSTREMITAS SUPERIOR Shoulder Fleksi Ekstensi Abduksi Adduksi External Rotasi Internal Rotasi Fleksi Ekstensi Pronasi Supinasi Fleksi Ekstensi Ulnar deviasi Radius deviasi MCP I fleksi MCP II-IV fleksi DIP II-V fleksi PIP II-V fleksi MCP I ekstensi ROM Aktif 0 700 0 400 0 600 0 900 ROM AKTIF Dextra Sinistra 0-180 0-30 0-150 0-75 0-90 0-90 0-135 135-180 0-90 0-90 0-90 0-70 0-30 0-30 0-90 0-90 0-90 0-100 0-30 0-180 0-30 0-150 0-75 0-90 0-90 0-135 135-180 0-90 0-90 0-90 0-70 0-30 0-30 0-90 0-90 0-90 0-100 0-30 Pasif 0 700 0 400 0 600 0 900 ROM PASIF Dextra Sinistra 0-180 0-30 0-150 0-75 0-90 0-90 0-180 0-30 0-150 0-75 0-90 0-90

Elbow

0-135 0-135 135-180 135-180 0-90 0-90 0-90 0-90 0-90 0-70 0-30 0-30 0-90 0-90 0-90 0-100 0-30 0-90 0-70 0-30 0-30 0-90 0-90 0-90 0-100 0-30

Wrist

Finger

EKSTREMITAS INFERIOR Hip

ROM AKTIF Dextra Sinistra 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0-140 0-30 0-45 0-45 0-80 0-80 0-130 0 0-40 0-40

ROM PASIF Dextra Sinistra 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0-140 0-30 0-45 0-45 0-80 0-80 0-130 0 0-40 0-40

Fleksi Ekstensi Abduksi Adduksi Eksorotasi Endorotasi Knee Fleksi Ekstensi Ankle Dorsofleksi Plantarfleksi Manual Muscle Testing (MMT)

NECK Fleksor M. Strenocleidomastoideus Ekstensor Ekstremitas Superior Fleksor M Deltoideus anterior M Biseps Ekstensor M Deltoideus anterior M Teres mayor Abduktor M Deltoideus M Biceps Adduktor M Lattissimus dorsi M Pectoralis mayor Internal M Lattissimus dorsi Rotasi M Pectoralis mayor Eksternal M Teres mayor Rotasi M Infra supinatus Fleksor M Biceps M Brachialis Ekstensor M Triceps Supinator M Supinator Pronator M Pronator teres Fleksor M Fleksor carpi radialis Ekstensor M Ekstensor digitorum Abduktor M Ekstensor carpi radialis Adduktor M ekstensor carpi ulnaris Fleksor M Fleksor digitorum Ekstensor M Ekstensor digitorum

: :

5 5 Dextra 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Sinistra 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

Shoulder

Elbow

Wrist

Finger

Hip

Knee Ankle

Ekstremitas inferior Fleksor M Psoas mayor Ekstensor M Gluteus maksimus Abduktor M Gluteus medius Adduktor M Adduktor longus Fleksor Harmstring muscle Ekstensor Quadriceps femoris Fleksor M Tibialis Ekstensor M Soleus

Dextra 2 2 2 2 2 2 2 2

Sinistra 2 2 2 2 2 2 2 2

Status Ambulasi Dependent III. PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Laboratorium Darah Rujukan GDS SGOT SGPT Protein total Albumin Globulin Asam urat Kolesterol total HDL kolesterol LDL kolesterol Trigliserida HbsAg Alkali fosfat : 80 mg/dl : 64 u/l : 60 u/l : 7,8 g/dl : 3,8 g/dl : 4,0 g/dl : 6,5 mg/dl : 212 mg/dl : 49 mg/dl : 148 mg/dl : 92 mg/dl : Reaktif : 112 u/l 53-128 2,4-6,1 50-200 30-64 97-202 <150 60-14 0-35 0-45 6,40-8,30 3,5-5,2

Rujukan LED 1 jam LED 2 jam Serologi Tumor marker PSA (Prostat) CEA (umum/usus) Ig G Anti TB B. MRI Alignment vertebra thoracal normal Destruksi corpus vertebra Th IX dan menekan pada spinal cord (ada canal stenosis) Pada pemberian kontras tidak ada enhancement. Discus intervertebra normal Tidak ada penyempitan neural foramen Lamina processus spinosus thoracal masih normal Facet joint normal Kesan : Destruksi corpus vertebra Th IX dengan ada canal stenosis ( menyokong Spondylitis) Foto cervical AP/L/oblique Thorax Ap/ L Alignment tulang baik, trabekulasi baik Tak Tampak fraktur kompresi, kolaps pada V Th IX, pedicle baik Tampak para vertebra mass di setinggi Vth VII- Vth X Kesan spondilitis susp Tb pd Vth IX Curve melurus Trabekulasi normal Corpus, pedicle, discus intervertebra normal Tak tampak fraktur Kesan Para cervical musculospasme : 0,77 ng/ml : 1,91 ng/ml : negatif 0,00-2,5 <3 : 24 mm/jam : 50 mm/jam 0-15 0-15

Pemeriksaan Radiologi

CT scan Tak tampak lesi hipo/hiperdens Sistem ventrikel baik, sulcus, gyrus baik Kesan CT scan tak tampak kelainan

IV. ASSESMENT Klinis Topis Etiologi : Paraparese UMN, hipestesia setinggi Th XI : Medula spinalis Vertebra Th IX : Suspect Spondilitis TB

V. PENATALAKSANAAN Terapi Medikamentosa : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. VI. Infus RL 20 tpm mikro Injeksi Ceftriaxon 1g/12 jam Injeksi Ranitidin 1 amp/12 jam Injeksi Ketorolac 1amp/12jam Meloxicam 3x1 Metil prednisolon 3x1 Vit B12 3x1 tab Amitriptilin 2x tab

DAFTAR MASALAH Problem Medis : Paraparesis Hipestesi Problem Rehabilitasi Medik 1. Fisioterapi 2. Terapi wicara 3. Okupasi Terapi 4. Sosiomedik 5. Ortesa-protesa 6. Psikologi : Pasien tidak dapat menggerakkan anggota gerak bawah (kelemahan spastic) : tidak dilakukan : Gangguan dalam melakukan aktivitas fisik : Memerlukan bantuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari : Keterbatasan mobilisasi : Beban pikiran keluarga dalam menghadapi penyakit penderita

Rehabilitasi Medik: 1. a. b. dekubitus c. 2. 3. 4. a. penyakit penderita b. Motivasi program di RS dan Home program 5. 6. Ortesa-Protesa pembuatan crutch, kursi roda Psikologi kecemasan keluarga : Psikoterapi suportif untuk mengurangi : memfasilitasi ambulasi dengan dan edukasi keluarga untuk membantu dan merawat penderita dengan selalu berusaha menjalankan ROM exercise aktif dan pasif Terapi wicara Okupasi terapi aktivitas sehari-hari Sosiomedik : Motivasi dan edukasi keluarga tentang : tidak ada : melatih keterampilan dalam melakukan Fisioterapi : a. Stretching exercise sendi yang kaku untuk mencegah kontraktur Strengthening exercise untuk melatih kekuatan otot dan mencegah atropi otot-otot Positioning dan turning (rubah posisi tiap 2 jam) untuk cegah ulkus

VII.

IMPAIRMENT, DISABILITY, DAN HANDICAP Impairment : Paraparese e/c spondilitis TB Disability Handicap : Penurunan fungsi anggota gerak bawah : Keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari dan kegiatan sosial yang terhambat

VIII.

TUJUAN 1. perawatan 2. keadaan 3. Meminimalkan impairment, disability dan handicap Mencegah terjadinya komplikasi yang dapat memperburuk Perbaikan keadaan umum sehingga mempersingkat waktu

4. 5. IX. PROGNOSIS Ad vitam Ad sanam Ad fungsionam

Membantu penderita sehingga mampu mandiri dalam Edukasi perihal home exercise

menjalankan aktivitas sehari-hari

: dubia : dubia : dubia

SPONDILITIS TUBERKULOSA 1. Definisi Spondilitis Tuberkulosa (Spondilitis TB) adalah peradangan granulomatosa yang bersifat kronis, destruktif oleh micobacterium TB. TB tulang belakang selalu merupakan infeksi sekunder dari focus di tempat lain dalm tubuh. Percivall (1973) adalah penulis pertama tentang penyakit ini dan menyatakan bahwa terdapat hubungan antara penyakit ini dengan deformitas tulang belakang yang terjadi, sehingga penyakit ini disebut juga penyakit Pott ( Rasjad, 1988). Spondilitis TB adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa infeksi granulomatosis disebabkan oleh kuman spesifik yaitu mycobacterium tuberculosa yang mengenai tulang vertebra ( Abdurrahman, 1994). Spondilitis TB disebut juga penyakit Pott bila disertai paraplegi atau defisit neurologi. Spondilitis ini paling sering ditemukan pada vertebra Th VIII- vertebra LIII dan paling jarang pada vertebra C2. Spondilitis TB biasanya mengenai korpus vertebra, sehingga jarang menyerang arkus vertebra (Mansjoer, 2000) Penyakit Pott adalah osteomielitis tuberculosis yang mengenai tulang belakang. (Brooker. 2001) Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan spondilitis tuberkulosa merupakan peradangan granulomatosa yang bersifat kronik destruktif yang disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosa.

Tuberkulosis yang muncul pada tulang belakang merupakan tuberkulosis sekunder yang biasanya berasal dari tuberkulosis ginjal. Berdasarkan statistik, spondilitis tuberkulosis atau Potts disease paling sering ditemukan pada vertebra torakalis segmen posterior dan vertebra lumbalis segmen anterior (T8-L3), coxae dan lutut serta paling jarang pada vertebra C1-2. (1,2,3,4) Tuberkulosis pada vertebra ini sering terlambat dideteksi karena hanya terasa nyeri punggung/pinggang yang ringan. Pasien baru memeriksakan penyakitnya bila sudah timbul abses ataupun kifosis. 2. Etiologi Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain di tubuh, 90-95% disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis tipik (2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin) dan 5-10% oleh mikobakterium tuberkulosa atipik. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dorman, tertidur lama selama beberapa tahun. (Rasjad. 1998) 3. Manifestasi Klinis Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala tuberkulosis pada umumnya, yaitu badan lemah/lesu, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, suhu sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari serta sakit pada punggung. Pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari. (Rasjad. 1998) Pada awal dapat dijumpai nyeri radikuler yang mengelilingi dada atau perut,kemudian diikuti dengan paraparesis yang lambat laun makin memberat, spastisitas, klonus,, hiper-refleksia dan refleks Babinski bilateral. Pada stadium awal ini belum ditemukan deformitas tulang vertebra, demikian pula belum terdapat nyeri ketok pada vertebra yang bersangkutan. Nyeri spinal yang menetap, terbatasnya pergerakan spinal, dan komplikasi neurologis merupakan tanda terjadinya destruksi

yang lebih lanjut. Kelainan neurologis terjadi pada sekitar 50% kasus,termasuk akibat penekanan medulla spinalis yang menyebabkan paraplegia, paraparesis, ataupun nyeri radix saraf. Tanda yang biasa ditemukan di antaranya adalah adanya kifosis (gibbus), bengkak pada daerah paravertebra, dan tanda-tanda defisit neurologis seperti yang sudah disebutkan di atas. (Harsono,2003) Pada tuberkulosis vertebra servikal dapat ditemukan nyeri di daerah belakang kepala, gangguan menelan dan gangguan pernapasan akibat adanya abses retrofaring. Harus diingat pada mulanya penekanan mulai dari bagian anterior sehingga gejala klinis yang muncul terutama gangguan motorik. Gangguan sensorik pada stadium awal jarang dijumpai kecuali bila bagian posterior tulang juga terlibat. (Harsono,2003) 4. Patofisiologi Spondilitis tuberkulosa merupakan suatu tuberkulosis tulang yang sifatnya sekunder dari TBC tempat lain di tubuh. Penyebarannya secara hematogen, di duga terjadinya penyakit tersebut sering karena penyebaran hematogen dari infeksi traktus urinarius melalui leksus Batson. Infeksi TBC vertebra di tandai dengan proses destruksi tulang progresif tetapi lambat di bagian depan (anterior vertebral body).Penyebaran dari jaringan yang mengalami pengejuan akan menghalangi proses pembentukan tulang sehingga berbentuk "tuberculos squestra". Sedang jaringan granulasi TBC akan penetrasi ke korteks dan terbentuk abses para vertebral yang dapat menjalar ke atas / bawah lewat ligamentum longitudinal anterior dan posterior. Sedang diskus Intervertebralis oleh karena avaskular lebih resisten tetapi akan mengalami dehidrasi dan terjadi penyempitan oleh karenadirusak jaringan granulasi TBC. Kerusakan progresif bagian anterior vertebra akan menimbulkan kiposis.

5. Komplikasi Komplikasi dari spondilitis tuberkulosis yang paling serius adalah Potts paraplegia yang apabila muncul pada stadium awal disebabkan tekanan ekstradural oleh pus maupun sequester, atau invasi jaringan granulasi pada medula spinalis dan

bila muncul pada stadium lanjut disebabkan oleh terbentuknya fibrosis dari jaringan granulasi atau perlekatan tulang (ankilosing) di atas kanalis spinalis. Mielografi dan MRI sangatlah bermanfaat untuk membedakan penyebab paraplegi ini. Paraplegi yang disebabkan oleh tekanan ekstradural oleh pus ataupun sequester membutuhkan tindakan operatif dengan cara dekompresi medulla spinalis dan saraf. Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah ruptur dari abses paravertebra torakal ke dalam pleura sehingga menyebabkan empiema tuberkulosis, sedangkan pada vertebra lumbal maka nanah akan turun ke otot iliopsoas membentuk psoas abses yang merupakan cold abscess.

6. Pemeriksaan Penunjang A. Pemeriksaan laboratorium 1) Pemeriksaan darah lengkap :leukositosis, LED meningkat 2) Uji mantoux (+) TB 3) Uji kultur : biakan batkeri 4) Biopsi, jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional 5) Pemeriksaan hispatologis : dapat ditemukan tuberkel B. Pemeriksaan Radiologis a) Foto toraks / X ray b) Pemeriksaan foto dengan zat kontras c) Foto polos vertebra d) Pemeriksaan mielografi e) CT scan atau CT dengan mielografi f) MRI 7. Penatalaksanaan Medis

Pada prinsipnya pengobatan tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan sesegera mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit serta mencegah paraplegia. Prinsip pengobatan paraplegia Pott sebagai berikut : 1. Pemberian obat antituberkulosis 2. Dekompresi medulla spinalis 3. Menghilangkan/ menyingkirkan produk infeksi 4. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft) Pengobatan terdiri atas : 1. Terapi konservatif berupa: a. Tirah baring (bed rest) b. Memberi korset yang mencegah gerakan vertebra /membatasi gerak vertebra c. Memperbaiki keadaan umum penderita d. Pengobatan antituberkulosa Standar pengobatan di indonesia berdasarkan program P2TB paru adalah : - Kategori 1 Untuk penderita baru BTA (+) dan BTA(-)/rontgen (+), diberikan dalam 2 tahap Tahap 1 : Rifampisin 450 mg, Etambutol 750 mg, INH 300 mg dan Pirazinamid 1.500 mg. Obat ini diberikan setiap hari selama 2 bulan pertama (60 kali). Tahap 2: Rifampisin 450 mg, INH 600 mg, diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 4 bulan (54 kali). - Kategori 2 Untuk penderita BTA(+) yang sudah pernah minum obat selama sebulan, termasuk penderita dengan BTA (+) yang kambuh/gagal yang diberikan dalam 2 tahap yaitu :

Tahap I diberikan Streptomisin 750 mg , INH 300 mg, Rifampisin 450 mg, Pirazinamid 1500mg dan Etambutol 750 mg. Obat ini diberikan setiap hari , Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60 kali) dan obat lainnya selama 3 bulan (90 kali). Tahap 2 diberikan INH 600 mg, Rifampisin 450 mg dan Etambutol 1250 mg. Obat diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 5 bulan (66 kali). Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita bertambah baik, laju endap darah menurun dan menetap, gejala-gejala klinis berupa nyeri dan spasme berkurang serta gambaran radiologik ditemukan adanya union pada vertebra. 2. Terapi operatif Indikasi operasi yaitu: Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau malah semakin berat. Biasanya tiga minggu sebelum tindakan operasi dilakukan, setiap spondilitis tuberkulosa diberikan obat tuberkulostatik. Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara terbuka dan sekaligus debrideman serta bone graft. Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi ataupun pemeriksaan CT dan MRI ditemukan adanya penekanan langsung pada medulla spinalis. Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi penderita tuberkulosis tulang belakang, namun tindakan operatif masih memegang peranan penting dalam beberapa hal, yaitu bila terdapat cold abses (abses dingin), lesi tuberkulosa, paraplegia dan kifosis. Abses Dingin (Cold Abses)

Cold abses yang kecil tidak memerlukan tindakan operatif oleh karena dapat terjadi resorbsi spontan dengan pemberian tuberkulostatik. Pada abses yang besar dilakukan drainase bedah. Ada tiga cara menghilangkan lesi tuberkulosa, yaitu: a. Debrideman fokal b. Kosto-transveresektomi c. Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan. Paraplegia

Penanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia, yaitu: a. Pengobatan dengan kemoterapi semata-mata b. Laminektomi c. Kosto-transveresektomi d. Operasi radikal e. Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang

Operasi kifosis Operasi kifosis dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat,. Kifosis mempunyai tendensi untuk bertambah berat terutama pada anak-anak. Tindakan operatif dapat berupa fusi posterior atau melalui operasi radikal. Operasi PSSW Operasi PSSW adalah operasi fraktur tulang belakang dan pengobatan tbc tulang belakang yang disebut total treatment (1989). Metode ini mengobati tbc tulang belakang berdasarkan masalah dan bukan hanya sebagai infeksi tbc yang dapat dilakukan oleh semua dokter. Tujuannya, penyembuhan TBC tulang belakang dengan tulang belakang yang stabil, tidak ada rasa nyeri, tanpa deformitas yang menyolok dan dengan kembalinya fungsi tulang

belakang, penderita dapat kembali ke dalam masyarakat, kembali pada pekerjaan dan keluarganya. 8.Dampak Masalah a) Terhadap Individu. Sebagai orang sakit, khusus klien spondilitis tuberkolosa akan mengalami suatau perubahan, baik bio, psiko sosial dan spiritual yang akan selalu menimbulkan dampak yang di karenakan baik itu oleh proses penyakit ataupun pengobatan dan perawatan oelh karena adanya perubahan tersebut akan mempengaruhi pola - pola fungsi kesehatan antara lain : 1. Pola nutrisi dan metabolisme. Akibat proses penyakitnya klien merasakan tubuhnya menjadi lemah dan anoreksia, sedangkan kebutuhan metabolisme tubuh semakin meningkat sehingga klien akan mengalami gangguan pada status nutrisinya. 2. Pola aktifitas. Sehubungan dengan adanya kelemahan fisik nyeri pada punggung menyebabkan klien membatasi aktifitas fisik dan berkurangnya kemampuan dalam melaksanakan aktifitas fisik tersebut. 3. Pola persepsi dan konsep diri. Klien dengan Spondilitis teberkulosa seringkali merasa malu terhadap bentuk tubuhnya dan kadang - kadang mengisolasi diri. b) Dampak terhadap keluarga. Dalam sebuah keluarga, jika salah satu anggota keluarga sakit, maka yang lain akan merasakan akibatnya yang akan mempengaruhi atau merubah segala kondisi aktivitas rutin dalam keluarga itu.