Anda di halaman 1dari 6

ANALISA VITAMIN C METODE IODIMETRI (LANGSUNG) A. ACARA Praktikum analisa kuantitatif vitamin C dengan metode iodimetri (secara langsung).

B. PRINSIP Oksidasi analat oleh I2 sehingga I- tereduksi menjadi ion iodida. C. TUJUAN Mengetahui kadar vitamin C dalam sample yang dianalisa. http://btagallery.blogspot.com/2010/03/blog-post_7324.html http://www.scribd.com/doc/39391267/LAPORAN-TITRASI-IODIMETRI TUJUAN PERCOBAAN a. Dapat melakukan pembakuan I2 b. Dapat melakukan pembakuan sekunder Na2S2O3 C. Dapat menetapkan kadar sample vitamin C Penetapan Kadar Vitamin C Cara Iodimetri Dasar : Kadar vitamin C yang ditetapkan secara iodimetri menggunakan iod sebagai penitar. Vitamin C dalam Contoh bersifat reduktor kuat akan dioksidasikan oleh I2 dalam suasana asam dan I2 tereduksi menjadi ion iodide. Indikator yang digunakan adalah kanji dengan titik akhir biru. Reaksi :

Alat : a. Erlenmeyer Asah 250 ml b. Gelas Ukur 100 ml c. Buret Scelbach 50 ml d. Pipet Tetes e. Statip

Bahan : a. Contoh Iberet Folic-500 b. H2SO4 10 % c. Larutan I2 0.05 M d. Indikator Kanji e. Air Suling

f. Neraca Analitik Cara Kerja : 1) Ditimbang contoh sejumlah Y gram kedalam Erlenmeyer asah.

2) Dilarutkan dengan air dan ditambahkan 25 ml H2SO4 10 %. 3) Dititrasi dengan I2 0,05 M dengan indicator kanji hingga titik akhir berwarna biru. Perhitungan : Kadar Vit. C = Vp X Mp X BE Vit. C X 100 X Bobot rata X100% Bobot Contoh X Label Claim IODIMETRI Yang umum di titrasi langsung oleh iodium : vitamin C, arsenit, antimonit, Sulfit, sulfida, stano, ferrocyanida dll. I2 sukar larut dalam air, tetapi mudah larut dalam larutan I- (solubilizer) KI ini perlu ditambahkan pada pembuatan standar I2 . Akan membentuk reaksi komplek I2 + I- I3 Standarisasi Larutan I2 standar yang dibuat dapat distandarisasi dengan thiosulfat (baku sekunder) atau dengan As2O3 (baku primer) Indikator : Warna Iodium (ungu) dapat dilihat langsung sbg indikator, iodium dapat larut dalam kloroform atau karbon tetra klorida sehingga kedua senyawa ini dapat digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi. Amilum dapat juga digunakan membentuk komplek amilum I2 (biru) IODATOMETRI Standar primer Pembuatan standar KIO3 0,1 N Timbang dengan saksam 3,5668 g KIO3 larutkan dalam 1,0 liter air Indikator : amilum, CHCl3 , CCl4 Reaksi : IO3 - + 5 I- + 6 H+ 3 I2 + 3 H2O Titrasi bersifat langsung suasana asam (H+ ) Contoh penetapan kadar vitamin C Vitamin adalah sekelompok senyawa organik kompleks yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah kecil untuk pemeliharaan kesehatan. Vitamin dapat dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Vitamin yang larut dalam lemak contohnya adalah vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin K yang dapat disimpan dalam tubuh tepatnya di hati. Sedangkan vitamin yang larut dalam air

contohnya adalah vitamin C, dan vitamin B. Karena larut dalam air maka vitamin ini tidak disimpan dalam tubuh, jika berlebihan akan dikeluarkan melalui urin (Gaman 1992). Vitamin C atau asam askorbat berwarna putih, membentuk kristal dan sangat larut dalam air. Vitamin C berfungsi untuk pembentukan semua jaringan tubuh terutama untuk pembentukan jaringan ikat, dan membantu absorbsi zat besi dalam usus halus. Karena vitamin C tidak disimpan dalam tubuh maka dibutuhkan asupan yang teratur. Jumlah vitamin C yang dibutuhkan tubuh adalah 1000 mg perharinya, jumlah tersebut sudah cukup untuk mengcegah scurvy dan dosis ini dapat diperoleh dengan menelan tablet asam askorbat (Gaman 1992). Vitamin C dapat berbentuk sebagai asam L-askorbat dan asam L-dehidroaskorbat. Asam aaskorbat sangat mudah teroksidasi secara reversibel menjadi asam L-dehidroaskorbat (Ronald 2008). Sumber vitamin C sebagian besar berasal dari sayuran dan buah-buahan, terutama buah-buahan segar. Buah masih mentah lebih banyak kandungan vitamin C-nya, semakin tua buah semakin berkurang kandungan vitamin C-nya. Vitamin C mudah larut dalam air dan mudah rusak oleh oksidasi, panas, dan alkali. Karena itu agar vitamin C tidak banyak hilang, sebaiknya pengirisan dan penghancuran yang berlebihan harus dihindari (Budiyanto 2002). Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh, sebagai koenzim atau kofaktor. Asam askorbat adalah bahan yang kuat kemampan reduksinya dan bertindak sebagai antioksidan dalam raksi-reaksi hidroksilasi. Beberapa turunan vitamin C (seperti asam eritrobik dan askorbik palmitat) digunakan sebagai antioksidan di dalam industry pangan untuk mencegah proses menjadi tengik, perubahan warna pada buah-buahan dan untuk mengawetkan daging. Fungsi vitamin C salah satunya untuk mencegah infeksi dengan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Selain itu vitamin C dapat mencegah kanker serta penyakit jantung yang berkaitan dengan peranan vitamin sebagai antioksidan yang mempengaruhi pembentukan sel kanker (Almatsier 2006) .
y Teori Kimia Analisa
y y y y

Titrasi Asam Basa Titrasi Pengendapan Titrasi Redoks Spektrometri

y Tools
y

Teori Dasar Titrasi

y Soal
y y

Soal Titrasi Asam Basa Soal Titrasi Dasar

You are here: Home // Titrasi Redoks // Iodimetri

Iodimetri

Posted by indigomorie on Jul 03, 2010 | Leave a Comment

Iodimetri merupakan titrasi redoks yang melibatkan titrasi langsung I2 dengan suatu agen pereduksi. I2 merupakan oksidator yang bersifat moderat, maka jumlah zat yang dapat ditentukan secara iodimetri sangat terbatas, beberapa contoh zat yang sering ditentukan secara iodimetri adalah H2S, ion sulfite, Sn2+, As3+ atau N2H4. Akan tetapi karena sifatnya yang moderat ini maka titrasi dengan I2 bersifat lebih selektif dibandingkan dengan titrasi yang menggunakan titrant oksidator kuat. Pada umumnya larutan I2 distandarisasi dengan menggunakan standar primer As2O3, As2O3 dilarutkan dalam natrium hidroksida dan kemudian dinetralkan dengan penambahan asam. Disebabkan kelarutan iodine dalam air nilainya kecil maka larutan I2 dibuat dengan melarutkan I2 dalam larutan KI, dengan demikian dalam keadaan sebenarnya yang dipakai untuk titrasi adalah larutan I3-. I2 + I- -> I3Titrasi iodimetri dilakukan dalam keadaan netral atau dalam kisaran asam lemah sampai basa lemah. Pada pH tinggi (basa kuat) maka iodine dapat mengalami reaksi disproporsionasi menjadi hipoiodat. I2 + 2OH- <-> IO3- + I- + H2O Sedangkan pada keadaan asam kuat maka amilum yang dipakai sebagai indicator akan terhidrolisis, selain itu pada keadaan ini iodide (I-) yang dihasilkan dapat diubah menjadi I2 dengan adanya O2 dari udara bebas, reaksi ini melibatkan H+ dari asam. 4I- + O2 + 4H+ -> 2I2 + 2H2O Titrasi dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indicator dimana titik akhir titrasi diketahui dengan terjadinya kompleks amilum-I2 yang berwarna biru tua. Beberapa reaksi penentuan denga iodimetri ditulis dalam reaksi berikut: H2S + I2 -> S + 2I- + 2H+ SO32- + I2 + H2O -> SO42- + 2I- + 2H+ Sn2+ + I2 -> Sn4+ + 2IH2AsO3 + I2 + H2O -> HAsO42- + 2I- + 3H+

Definisi Iodimetri
Ditulis oleh Riana Septyaningrum pada 15-03-2009

Iodimetri merupakan titrasi langsung dan merupakan metoda penentuan atau penetapan kuantitatif yang pada dasar penentuannya adalah jumlah I2 yang bereaksi dengan sample atau terbentuk dari hasil reaksi antara sample dengan ion iodida .Iodimetri adalah titrasi redoks dengan I2 sebagai penitar. Dalam reaksi redoks harus selalu ada oksidator dan reduktor ,sebab bila suatu unsur bertambah bilangan oksidasinya (melepaskan electron ), maka harus ada suatu unsur yang bilangan oksidasinya berkurang atau turun (menangkap electron) ,jadi tidak mungkin hanya ada oksidator saja ataupun reduktor saja. Dalam metoda analisis ini , analat dioksidasikan oleh I2 , sehingga I2 tereduksi menjadi ion iodida : A ( Reduktor ) + I2 A ( Teroksidasi ) + 2 I -

Iod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat (lemah) , sehingga hanya zat-zat yang merupakan reduktor kuat yang dapat dititrasi. Indikator yang digunakan adalah amilum yang akan memberikan warna biru pada titik akhir penitaran . I2 + 2 e 2 I-

Iod merupakan zat padat yang sukar larut dalam air (0,00134 mol/L) pada 25 C , namun sangat larut dalam larutan yang mengandung ion iodida . iod membentuk kompleks triiodida dengan iodida : I2 + II3-

Ion cenderung dihidrolisis membentuk asam iodide dan hipoiodit : I2 + H2O HIO + H+ + I-

Larutan standar iod harus disimpan dalam botol gelap untuk mencegah peruraian HIO oleh cahaya matahari . 2HIO 2 H+ + 2 I- +O2 (g)

Warna larutan iod 0,1 N cukup tua sehingga iod dapat bertindak sendiri sebagai indikator . Iod juga memberikan suatu warna ungu atau lembayung pada pelarut seperti CCl4 atau kloroform, dan kadang-kadang itu digunakan untuk mendeteksi titik akhir. Namun lebih lazim digunakan suatu larutan kanji, karena warna biru tua kompleks pati-iod berperan sebagai uji kepekaan terhadap iod. Kepekaan itu lebih besar dalam larutan sedikit asam dari pada dalam larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida . Molekul iod diikat pada permukaan beta amilosa, suatu konstituen kanji. Larutan iod merupakan larutan yang tidak stabil , sehingga perlu distandarisasi berulang kali. Sebagai Oksidator lemah, iod tidak dapat bereaksi terlalu sempurna, karena itu harus dibuat kondisi yang menggeser kesetimbangan kearah hasil reaksi antara lain dengan mengatur pH atau dengan menambahkan bahan pengkompleks. Larutan iod sering distandardisasi dengan larutan Na2S2O3 . selain itu bahan baku primer yang paling banyak digunakan ialah As2 O3 pada pH tengah, Berdasarkan reaksi : I2 + 2 e2 I- E = 0,536 volt

H3 AsO3 + H2O

H3 AsO4 + 2 H+ + 2 e- E = 0, 559 volt

H3 AsO3 + H2O + I2 H3 AsO4 + 2 H+ + 2 I- E = -0,023 volt

Reaksi diatas menunjukkan , bahwa sebenarnya iod terlalu lemah untuk mengoksidasi H3 AsO4 . Namun dengan mentitrasi pada pH cukup tinggi , maka kesetimbangan digeser kekanan ( H+ yang terbentuk diikat oleh OH- dalam larutan yang berkelebihan OH- itu) . Pada umumnya pH tersebut diantara 7 dan 9, tidak terlalu basa , karena akan mendorong disproporsional I2 terlalu banyak .Untuk mengatur pH tersebut ,larutan yang agak asam dijenuhi dengan NaHCO3 yang akan menghasilkan penahan dengan pH antara 7 dan 8.