Anda di halaman 1dari 24

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

i

Daftar Isi

ii

BAB 1 Pendahuluan 1 I.1 Latar Belakang 1 I.2 Maksud dan Tujuan 1 I.3 Batasan
BAB 1 Pendahuluan
1
I.1 Latar Belakang
1
I.2 Maksud dan Tujuan
1
I.3 Batasan Masalah
2
I.4 Waktu dan Letak
2
I.5 Alat dan Bahan
2
I.6 Peneliti Terdahulu
3
BAB II Geomorfologi
4
2.1. Geomorfologi Regional
4
2.2. Geomorfologi Daerah Penelitian
4
2.2.1 Satuan Geomorfologi
5
2.2.1.1 Satuan Bentangalam Pedataran
6
2.2.1.2 Satuan Bentangalam Bergelombang
6
BAB III Stratigrafi
8
3.1.
Stratigrafi Regional
8
BAB IV Struktur Geologi
10
4.1. Struktur Geologi Regional
10
4.2. Struktur Geologi Daerah Penelitian
4.2.1 Struktur Kekar
10
11
BAB V Satuan – Satuan Geologi Teknik
13
5.1
Singkapan Batuan pada daerah penelitian
13

5.2 Tanah Pada daerah penelitian

16

BAB VI Penutup

19

6.1 Kesimpulan

19

6.2 Saran

19

Daftar Pustaka

iii

LAMPIRAN
LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Geologi teknik merupakan ilmu yang mempelajari perilaku fisik dan mekanik tanah dan atau batuan dalam
Geologi teknik merupakan ilmu yang mempelajari perilaku fisik dan
mekanik tanah dan atau batuan dalam kaitannya dengan permasalahan fondasi dan
bahan bangunan. Tanah dan atau batuan dalam geologi teknik dipandang bukan
atas dasar genetiknya, tetapi atas dasar fungsinya sebagai material konstruksi
(construction materials) dan material fondasi (fondation materials). Sebagai
material konstruksi artinya batuan dan atau tanah digunakan sebagai bahan isian
(bahan bangunan), sedangkan sebagai material fondafi artinya batuan dan atau
tanah berfungsi sebagai tapak atau lokasi tempat didirikannya bangunan.
Luas kampus Unhas adalah ± 2.121.356 m 2 yang mana diperungunakan
sebagai pembagunan Ruang kuliah (19.139.80 m 2 ), ruang dosen (5.025.96 m 2 ),
ruang kantor/administrasi (24.123.43 m 2 ), ruang studio (1.117.9 m 2 ), asrama
mahasiswa (80.015 m 2 ), auditorium (6447 m 2 ), lahan perumahan (870.070 m 2 ),
kebun/lahan percobaan (1.526.123 m 2 ), hutan percobaan (50.500.000 m 2 ), kolam
percobaan (676.490 m 2 ) dsb.
Kegiatan Geologi Teknik yang dilaksanakan pada sekitar lokasi Kampus
Unhas adalah untuk mengetahui jenis-jenis tanah dan atau batuan yang menyusun
lokasi kampus serta morfologi yang terbentuk dan struktur geologi yang terdapat
pada kampus Unhas.
1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari penelitian ini adalah melakukan studi keteknikan terhadap jenis-jenis tanah dan atau batuan serta penyebarannya pada daerah kampus Universitas Hasanuddin Tamalanrea Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.

Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui jenis-jenis tanah dan batuan yang menyusun daerah penelitian ditinjau dari aspek keteknikan serta morfologi yang terbentuk dan struktur geologi yang terdapat pada lokasi penelitian.

1.3 Batasan Masalah Penelitian ini dilakukan dengan membatasi masalah pada : 1. Identifikasi karakteristik jenis-jenis
1.3 Batasan Masalah
Penelitian ini dilakukan dengan membatasi masalah pada :
1. Identifikasi karakteristik jenis-jenis tanah dan batuan yang terdapat pada
daerah penelitian.
2. Identifikasi keadaan geomorfologi serta struktur-struktur geologi yang
terjadi pada daerah penelitian
1.4 Waktu dan Letak
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 5-12 November 2011. Daerah
penelitian secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Tamalanrea
Provinsi Sulawesi Selatan dan secara geografis terletak pada koordinat 119 0 29’0”
- 119 0 29’30” BT dan 05 0 7’30”-05 0 8 ’ 0” LS dengan skala peta 1:5.000
1.5 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang dipergunakan selama kegiatan penelitian ini,
antara lain :
 Peta Topografi bersekala 1 : 5.000
 Palu Geologi
 GPS (Global Positioning System)
 Kompas Geologi Tipe Brunton
 Komparator klasifikasi batuan sedimen dan beku.
 Buku catatan lapangan
 Kantong tas untuk conto batuan
 Kamera digital

Roll meter

Peralatan tulis menulis (pensil tulis, pensil warna, busur, mistar)

Tabel data lapangan

Perlengkapan pribadi

1.6 Peneliti Terdahulu Adapun para peneliti terdahulu yang telah melakukan penelitian pada daerah ini adalah :

 Rab Sukamto dan Supriatna, 1982, mengadakan pemetaan geologi Lembar Ujung Pandang, Benteng dan Sinjai,
 Rab Sukamto dan Supriatna, 1982, mengadakan pemetaan geologi Lembar
Ujung Pandang, Benteng dan Sinjai, Sulawesi dengan sekala 1 :
250.000, menghasilkan Peta dan Keterangan Peta Geologi Lembar Ujung
Pandang, Benteng dan Sinjai, Sulawesi sekala 1 : 250.000.
 Van Bemmelen (1981), melakukan penelitian Geologi Umum di Indonesia,
termasuk Sulawesi Selatan.
 Rab Sukamto (1975), melakukan penelitian Perkembangan Tektonik
Sulawesi dan Sekitarnya yang merupakan sintesis yang berdasarkan
tektonik lempeng.

BAB II

GEOMORFOLOGI

2.1. Geomorfologi Regional

Secara regional, daerah penelitian terletak pada dataran ujung panjang yang memanjang utara selatan, pesisir barat
Secara regional, daerah penelitian terletak pada dataran ujung panjang
yang memanjang utara selatan, pesisir barat lengan selatan pulau sulawesi yang
sebagian besar terdiri atas daerah rawa dan daerah pasang surut. Dataran ini dialiri
oleh sungai Segeri, sungai Lampe, sungai Bone-Bone, sungai Bone Tanjore,
sungai Jeneberang dan sungai Takalar yang mengalir memotong dataran tersebut
ke bagaian sebelah Baratnya. Di bagian Timur daerah penelitian merupakan
daerah pegunungan dengan titik tertinggi adalah gunung Lompobattang, Gunung
Baturape, Gunung Langieng, serta Gunung Tondong Karambu. Jajaran titik-titik
tertinggi ini merupakan daerah pegunungan Soppeng yang yang tersusun oleh
batuan vulkanik (Sukamto 1982). Daerah sebelah barat Gunung Cindako dan
sebelah utara Gunung Baturape merupakan daerah berbukit, kasar di bagian Timur
dan halus di bagian Barat. Bagian Timur mencapai ketinggian kira-kira 500 meter,
sedangkan bagian Barat kurang dari 50 meter dari permukaan laut (dpl), dan
hampir merupakan suatu daratan. Bentuk morfologi ini disusun oleh batuan
klastika gunung api berumur Miosen. Bukit-bukit memanjang yang tersebar di
daerah ini mengarah ke Gunung Cindako dan Gunung Baturappe berupa retas-
retas basal. Pada beberapa tempat pegunungan ini terdapat topografi kars.
2.2. Geomorfologi Daerah Penelitian

Uraian geomorfologi bertujuan untuk memahami keadaan bentang alam yang ada sekarang serta perkembangannya, dimana pembahasan geomorfologi daerah penelitian meliputi pembagian satuan geomorfologi. Pembahasan tersebut didasarkan pada gejala-gejala geomorfologi yang dapat dijumpai di lapangan, hasil interpretasi pada peta topografi, serta hasil studi literatur dari berbagai sumber yang berhubungan dengan tujuan pemetaan.

2.2.1 Satuan Geomorfologi Pembentukan bentangalam dari suatu daerah merupakan hasil akhir proses-proses geomorfologi yang bekerja. Proses tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan, baik secara fisik maupun secara kimia pada permukaan bumi. Bentuk bentang alam yang dihasilkan akan bervariasi, yang kemudian dapat diklasifikasikan berdasarkan faktor-faktor tertentu. Pengelompokan bentangalam menjadi satuan-satuan geomorfologi dilakukan melalui dua pendekatan yaitu pendekatan morfometri dan morfografi. Pendekatan morfometri didasarkan pada bentuk yang nampak di lapangan, sehingga dapat dibedakan antara pedataran,perbukitan dan pegunungan. Sedangkan pendekatan morfografi didasarkan pada unsur-unsur geomorfologi yang dapat diukur secara kuantitatif yang meliputi tinggi, luas dan kemiringan(van Zuidam, 1985).

Klasifikasi satuan bentang alam berdasarkan sudut lereng dan beda tinggi (dimodifikasi dari van Zuidam ,1985)
Klasifikasi satuan bentang alam berdasarkan sudut lereng dan beda tinggi
(dimodifikasi dari van Zuidam ,1985)
Sudut Lereng
Beda Tinggi
Satuan Relief
(%)
( meter)
Datar atau hampir datar
0
– 2
< 5
Bergelombang/ miring landai
3
– 7
5 – 50
Bergelombang/ miring
8 – 13
51 – 75
Berbukit bergelombang/ miring
14
– 20
76 – 200
Berbukit tersayat tajam/ terjal
21
– 55
200 – 500
Pegunungan tersayat tajam/ sangat
tajam
55 – 140
500 – 1000
Pegunungan/ sangat curam
> 140
> 1000

Berdasarkan uraian tersebut, dengan memperhatikan gejala geomorfologi yang terdapat di lapangan dan hasil interpretasi peta topografi sekala 1 : 5.000, maka pembagian satuan bentang alam daerah penelitian terdiri atas :

1. Satuan bentang alam pedataran

2.2.1.1

Satuan Bentangalam Pedataran

Penamaan satuan ini didasarkan pada keberadaan aspek relief yaitu pedataran dengan presentase sudut lereng 0 - 2 % dan beda tinggi kurang dari 5 meter. Aspek genetik yang mempengaruhi pembentukan umumnya disebabkan oleh hasil tataguna lahan dan sebagian kecil dari proses denudasi. Penyebaran satuan bentang alam ini menempati sekitar 80 % dari keseluruhan daerah penelitian.

Foto Bentang alam pedatara pada pinggiran danau Unhas Morfologi datar disebabkan oleh proses alamiah seperti
Foto Bentang alam pedatara pada pinggiran danau Unhas
Morfologi datar disebabkan oleh proses alamiah seperti erosi dan
pelapukan, terutama oleh hasil aktivitas manusia untuk pembuatan bangunan,
jalan dan sarana-sarana lainnya.
2.2.1.2 Satuan Bentangalam Bergelombang

Satuan bentang alam bergelombang menempati sekitar 20 %, penamaan satuan ini didasarkan pada keberadaan aspek relief yaitu pedataran dengan presentase sudut lereng 3-7% dan beda tinggi sekitar 5-16 meter (bergelombang). Aspek genetik yang mempengaruhi pembentukan satuan bentang alam ini umumnya adalah proses denudasional.

Hasil dari proses-proses denudasional yang berkembang pada daerah ini menunjukkan proses yang relatif lemah berupa proses pelapukan batuan dan rill erotion. Distribusi ketebalan soil secara umum bervariasi dan umumnya berwarna merah kecoklatan sampai kehitaman.

Foto Bentang alam bergelombang pada Fakultas Kedokteran litologi yang menyusun satuan bentang alam ini yaitu
Foto Bentang alam bergelombang pada Fakultas Kedokteran
litologi yang menyusun satuan bentang alam ini yaitu antara lanau – pasir
berlanau merupakan salah satu faktor terbentuknya morfologi bergelombang.
Vegetasi relatif jarang karena lebih banyak dimanfaatkan sebagai pembuatan
bangunan dan jalan. Struktur geologi yang dijumpai berupa kekar.

BAB III STRATIGRAFI

3.1. Stratigrafi Regional Kota Makassar secara regional tersusun atas formasi Camba (Sukamto dan Supriatna, 1982). Formasi ini tersusun oleh batuan sedimen laut berselingan dengan klastika gunungapi, yang menyamping beralih menjadi dominan batuan gunungapi (Tmcv) yang diterobos oleh batuan terobosan Formasi Baturape Cindako. Tmc Formasi Camba merupakan batuan sedimen laut berselingan dengan batuan gunungapi, batupasir tufaan berselingan dengan tufa, batupasir dan batulempung; bersisipan napal, batugamping, konglomerat dan breksi gunungapi, dan batubara; warna beraneka dari putih, cokelat, merah, kelabu muda sampai kehitaman, umumnya mengeras kuat berlapis-lapis dengan tebal antara 4 cm dan 100 cm. Tufa berbutir halus hingga lapili tufa lempungan berwarna merah mengandung banyakmminrela biotit; konglomerat dan breksinya terutama berkomponen andesit dan basal dengan ukuran antara 2 cm dan 30 cm; batugamping pasiran mengandung koral dan molluska; batulempung kelabu tua dan napal mengandung fosil foram kecil; sisipan batubara setebal 40 cm ditemukan di Salo Maros. Tmcv, Batuan Gunungapi Formasi Camba merupakan breksi gunungapi, lava, konglomerat dan tufa lapili, bersisipan batuan sedimen laut berupa batupasir tufaan, batupasir gampingan dan batulempung yang mengandung sisa tumbuhan. Bagian bawahnya lebih banyak mengandung breksi gunungapi dan lava yang berkomposisi andesit dan basal; konglomerat juga berkomponen andesit dan basal dengan ukuran 3 50 cm; tufa berlapis baik, terdiri dari tufa lithik, tufa kristal dan tufa vitrik. Bagian atasnya mengandung ignimbrit bersifat trakit dan tefrit leusit; ignimbrit berstrukutur kekar meniang, berwarna kelabu kecokelatan dan cokelat tua, tefrit leusit berstruktur aliran dengan permukaan berwarna hitam. Tebal satuan ini sekitar 2.500 m dan merupakan fasies gunungapi dari Formasi Camba, lapisannya kebanyakan terlipat lemah, dengan kemiringan kurang dari 20%.

merupakan fasies gunungapi dari Formasi Camba, lapisannya kebanyakan terlipat lemah, dengan kemiringan kurang dari 20%.

Batuan terobosan terdiri dari: Diorit: terobosan diorit, kebanyakan berupa stok dan sebagian retas atau sil; singkapanya ditemukan di sebelah Timur Maros, menerobos batugamping Formasi Tonasa (Temt); umumnya berwarna kelabu, berstruktur porfiri, dengan fenokris amfibol dan biotit, sebagian berkekar meniang. Basal: terobosan basal berupa retas, sil dan stok, bertekstur porfiri dengan fenokris piroksin kasar mencapai ukuran lebih dari 1 cm, berwarna kelabu tua, kehitaman dan kehijauan; sebagian dicirikan oleh struktur kekar meniang, beberapa diantaranya mempunyai tekstur gabro. Terobosan basal di sekitar Jene Berang berupa kelompok retas yang mempunyai arah kira-kira radier memusat ke Baturape dan Cindako. Semua terobosan basal menerobos batuan dari Formasi Camba (Tmc). Hal ini menandakan bahwa kemungkinan besar penerobosan basal berlangsung sejak Miosen Akhir sampai Pliosen Akhir. Endapan Aluvium Rawa dan Pantai (Qac) merupakan endapan sedimen permukaan termuda yang terdiri dari kerikil, pasir, lempung, dan batugamping koral; terbentuk dalam lingkungan sungai, rawa, pantai dan delta.

terdiri dari kerikil, pasir, lempung, dan batugamping koral; terbentuk dalam lingkungan sungai, rawa, pantai dan delta.

BAB III STRUKTUR GEOLOGI

5.1. Struktur Geologi Regional

Struktur regional di daerah Makassar dan sekitarnya menurut Sukamto dan Supriatna (1982) meliputi struktur perlipatan
Struktur regional di daerah Makassar dan sekitarnya menurut Sukamto dan
Supriatna (1982) meliputi struktur perlipatan dan sesar. Struktur perlipatan
tersebut dan sesar. Struktur perlipatan tersebut mempunyai jurus dan kemiringan
yang tidak teratur sehingga sulit menentukan jenisnya, perlipatan ini
dicirikandengan variasi kemiringan batuan baik batuan berumur Tersier maupun
Kwarter sehingga perlipatan tersebut diperkirakan berumur Plistosen.
Struktur sesar juga mempunyai kemiringan yang bervariasi yaitu Utara-
Selatan, Timur-Barat, Baratdaya-Timur laut dan Baratlaut-Tenggara yang terdapat
di sekitar daerah Makassar, dimana jenis sesar ini sulit ditentukan. Proses ini
diperkirakan terjadi sejak Miosen yaitu setelah berakhirnya aktivitas vulkanisme.
Pada kala Miosen terjadi proses pengendapan yang disertai kegiatan
vulkanisme di bagian barat yang berlangsung hingga Kala Pliosen . Berakhirnya
kegiatan magmatisme pada Kala Plistosen Atas oleh kegiatan tektonisme
menyebabkan pensesaran yang melewati pegunungan Lompobattang. Sesar-sesar
yang terbentuk pada umumnya merupakan sesar berarah Utara-Selatan yang
kemungkinan disebabkan oleh gerakan mendatar ke kanan (dekstral) oleh batuan
alas di bawah lembah Walanae.
Akhirnya suatu pengangkatan yang terjadi pada Kala Holosen atau
mungkin pula pada Sub Holosen menyebabkan terjadinya berbagai undak pantai
dan ceruk gelombang seperti yang terdapat dipantai Barat Sulawesi Selatan yang
disusul oleh pendangkalan cekungan Tempe.
4.2. Struktur Geologi Daerah Penelitian

Perkembangan dan pola struktur geologi daerah penelitian tidak lepas dari pengaruh struktur geologi regional. Penentuan struktur geologi didasarkan pada bentuk, jenis dan indikasi terhadap elemen elemen struktur geologi yang dijumpai di lapangan.

Berdasarkan bentuk, jenis dan indikasi unsur-unsur struktur geologi yang dijumpai di daerah penelitian, maka dapat diketahui bahwa struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian berupa struktur kekar.

4.2.1 Struktur Kekar Kekar merupakan rekahan pada batuan dimana tidak ada atau sedikit sekali mengalami
4.2.1 Struktur Kekar
Kekar merupakan rekahan pada batuan dimana tidak ada atau sedikit
sekali mengalami pergeseran (Billing, 1968). Hal-hal yang diidentifikasi dalam
pengamatan karakteristik kekar di lapangan meliputi pengukuran strike dip kekar,
spasi kekar, isian kekar, bukaan kekar, panjang kekar, blok kekar dan set kekar.
Pembahasan dan perbedaan struktur kekar yang berkembang pada daerah
penelitian dititik beratkan pada penggolongan berdasarkan bentuknya.
Foto Struktur geologi berupa kekar pada Fakultas Kedokteran
Klasifikasi kekar berdasarkan bentuknya (Hodgson dalam Asikin, 1979),
meliputi:

Kekar sistematik yaitu kekar yang umumnya dijumpai dalam bentuk pasangan. Tiap pasangannya ditandai oleh arahnya yang serba sejajar atau hampir sejajar jika dilihat dari kenampakan di atas permukaan.

Kekar tidak sistematik yaitu kekar yang tidak teratur susunannya dan biasanya tidak memotong kekar yang
Kekar tidak sistematik yaitu kekar yang tidak teratur susunannya dan biasanya
tidak memotong kekar yang lain dan permukaannya selalu lengkung dan
berakhir pada bidang perlapisan.
Dengan demikian kekar yang dijumpai pada daerah penelitian adalah
kekar sistematik pada stasiun 19 dan 20 dan kekar tidak sistematik pada stasiun
31.
Kekar sistematik dijumpai pada stasiun 19 mempunyai strike dip kekar N
337
0 E / 25 0, Kekar searah strike dan berlawanan dip, Spasi kekar 30 cm, isian
kekar merupakan hasil dari pelapukan batuan induk, bukaan kekar 0,5 – 1 cm,
panjang kekar 8 m, terdapat 3 blok kekar dan 5 set kekar, serta pada stasiun 20
dengan strike kekar N 337 0 E/ 25 0 , Spasi kekar 25 cm, isian kekar merupakan
hasil dari pelapukan batuan induk, bukaan kekar 0,5 cm, panjang kekar 3 m,
terdapat 3 blok kekar dan 3 set kekar
Kekar tidak sistematik dijumpai pada stasiun 31 dengan Bukaan kekar 0,5
– 10 cm, blok kekar 4, set kekar 4 set.

BAB V

SATUAN SATUAN GEOLOGI TEKNIK

Berdasarkan hasil dari pengamatan di peroleh data pengamatan yang menyataka keterdapatan singkapan batuan dan penyebaran
Berdasarkan hasil dari pengamatan di peroleh data pengamatan yang
menyataka keterdapatan singkapan batuan dan penyebaran jenis-jenis tanah pada
kampus Unhas Tamalenrea Makassar. Pada daerah pengamatan terdapat satuan
geologi teknik yaitu tanah dan batuan, yang mana tanah dapat diklasifikasikan
menjadi tiga jenis dan batuan terdapat dua jenis.
5.1 Singkapan Batuan pada daerah penelitian :
1. Batuan phiroklastik yaitu aglomerat dalam bentuk singkapan besar dengan
dimensi 16 x 18 m dengan Struktur klastik kasar, ukuran butir 2 -256 mm
(bomb dan lapilli), massa dasar berupa tufa. Singkapan ini terdapat di
belakang halaman mesjid kampus Unhas.
Foto Singkapan anglomerat

Deskripsi Batuan:

Jenis Batuan

: Batuan Piroklastik

Warna

: Abu-abu kehitaman

Struktur

: Masif

Tekstur

:

 

-

Ukuran Butir

: 2-64 mm

- Der. Pembundaran : Angular-Rounded - Der. Pemilahan : Poorly Sorted - Relasi : Inequigranular
- Der. Pembundaran
: Angular-Rounded
- Der. Pemilahan
: Poorly Sorted
- Relasi
: Inequigranular
Komposisi material: Bomb dan lapili, gelas
Nama
: AGLOMERAT
2. Tufa kasar yang tersebar luas di daerah Fakultas Kedokteran, Kantin
Jasbo, sebagian kecil di Fakutas MIPA belakang mesjid Ramsis, dan
Rektorat. Pada singkpan ini terdapat struktur geologi berupa kekar,
panjang kekar dan bukaan kekar beragam pada beberapa singkapan, dan
juga memiliki deimensi-dimensi yang beragam tiap singkapannya.
Deskripsi singkapan:
Jenis Batuan
Warna
Struktur
Tekstur
: Batuan Phyroklastik
: Abu-abu
: Massif
: Klastik
-
Ukuran Butir
: 2 -1/16 mm
-
Der. Pembundaran
: Rounded
-
Der. Pemilahan
: Baik
-
Kemas
: Tertutup
-
Porositas
: Baik
-
Permeabilitas
:
: Baik
Komposisi

Nama

: TUFA KASAR

a. Singkapan pada lokasi Fakultas Kedokteran

Singkapan pertama dengan koordinat 119 0 29’16.3’’ 0 E

5 0 8’45.3’’ 0 S dan kedudukan singkapan N 320 0 E/ 30 0

Singkapan kedua dengan koordinat 119 0 29’15.1’’ 0 E

5 0 8’44.5’’ 0 S dan kedudukan singakapn N 356 0 E/ 29 0 ,
5 0 8’44.5’’ 0 S dan kedudukan singakapn N 356 0 E/ 29 0 ,
singkapan ini berdimensi 4 x 3 m.
 Singkapan ketiga dengan koordinat 119 0 29’16.5’’ 0 E –
5 0 8’48.6’’ 0 S dengan kedudukan N 337 0 E/ 35 0. Kekar searah
strike dan berlawanan dip, strike dip kekar N 337 0 E / 25 0 ,
Spasi kekar 30 cm, isian kekar merupakan hasil dari pelapukan
batuan induk, bukaan kekar 0,5 – 1 cm, panjang kekar 8 m,
terdapat 3 blok kekar dan 5 set kekar, singakapan ini
berdimensi 10 x 4 m
 Singkapan keempat dengan koordinat 119 0 29’16.85 0 E –
5 0 8’50.4’’ 0 S dan kedudukan N 320 0 E/ 30 0 , Kekar searah
strike, strike kekar N 337 0 , Spasi kekar 25 cm, isian kekar
merupakan hasil dari pelapukan batuan induk, bukaan kekar
0,5 cm, panjang kekar 3 m, terdapat 3 blok kekar dan 3 set
kekar dan dimensi singkapan 7 x 2 m.
b. Singkapan pada lokasi kantin Jasbo
 Singkapan pada lokasi ini dengan koordinat 119 0 29’19.9’’ 0 E –
5 0 8’52.9’’ 0 S
c. Singkapan pada lokasi Fakultas MIPA
 Singkapan pada lokasi ini dengan koordinat 119 0 29’12.9’’ 0 E –
5 0 8’52.4’’ 0 S dan berkedudukan N 120 0 E/ 37 0
d. Singkapan pada lokasi Rektorat
 Singkapan pada lokasi ini dengan koordinat 119 0 29’20.2’’ 0 E –

0 8’59.8’’ 0 S, Strike dip kekar N 260 0 E / 85 0 , isian kekar merupakan hasil dari pelapukan batuan induk, bukaan kekar 1 cm, panjang kekar 2,5 m, terdapat 2blok kekar dan 2 set kekar dan dimensinya 3 x 4 m.

5

5.2 Tanah Pada daerah penelitian:

Hasil dari pengamatan lapangan dan setelah diklasifikasikan kedalam klasifikasi tanah berdasarkan sistem Unified diperoleh tiga jenis tanah yaitu:

a. ML [Lanau tak organik dan pasir sangat halus, serbuk batuan atau pasir halus berlanau atau berlempung]. Tanah jenis ini sangat mendominasi keterdapatannya pada seluruh lokasi pengamatan, dari 38 stasiun pengamatan tanah jenis ini menempati 23 stasiun.

Foto tanah Lanau anorganik pada stasiun 22 (belakang Ramsis Putra) Deskripsi tanah: Tipe tanah Kekerasan/kekuatan
Foto tanah Lanau anorganik pada stasiun 22 (belakang Ramsis Putra)
Deskripsi tanah:
Tipe tanah
Kekerasan/kekuatan tanah
Warna
Plastisitas
Nama tanah
: Homogen
: Padat
: Merah kecoklatan
: Baik
: Lanau anorganik

b. OL [Lanau organik dan lempung berlanau organik dengan plastisitas rendah]. Tanah jenis ini hanya menempati 6 titik stasiun pengamatan yaitu sekitar daerah POLTEK, sekitar danau unhas, Fakultas Hukum, Fakultas Kehutanan, dan Fakultas MIPA.

Foto tanah Lanau organik pada stasiun 6 (sekitar danau unhas) Deskripsi tanah: Tipe tanah Kekerasan/kekuatan
Foto tanah Lanau organik pada stasiun 6 (sekitar danau unhas)
Deskripsi tanah:
Tipe tanah
Kekerasan/kekuatan tanah
Warna
Plastisitas
Nama tanah
: Homogen
: lunak/lepas
: Coklat kehitaman
: Tinggi
: Lanau organik

c.

SM [Pasir berlanau, campuran pasir-lanau]. Tanah jenis ini hanya terdapat di sekitar Fakultas Kesehatan Masyarakat, dan Belakang Mesjid Ramsis.

Foto tanah Pasir berlanau pada stasiun 28 (sekitar FKM) Deskripsi tanah: Tipe tanah Kekerasan/kekuatan tanah
Foto tanah Pasir berlanau pada stasiun 28 (sekitar FKM)
Deskripsi tanah:
Tipe tanah
Kekerasan/kekuatan tanah
Warna
Gradasi
Nama tanah
: Homogen
: Sedikit terikat
: Merah kecoklatan
: Baik
: Pasir berlanau

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan Dari hasil pengamatan dapat ditarik kesimpulan bahwa:  Hasil dari pengamatan lapangan dan
6.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat ditarik kesimpulan bahwa:
Hasil dari pengamatan lapangan dan setelah diklasifikasikan kedalam
klasifikasi tanah berdasarkan sistem Unified diperoleh tiga jenis yaitu ML
[lanau tak organik], OL [lanau organik], dan SM [pasir berlanau]
Sebagian besar dari daerah penelitian disusun atas tanah anorganik yang
menempati 23 titik stasiun dari 38 stasiun.
Terdapat dua jenis singkapan pada daerah penelitian yaitu singkapan
aglomerat dan tufa kasar.
Bentang alam pada daerah pengamatan terdiri dari dua yaitu bentang alam
pedataran dan bentang alam bergelombang.
Struktur geologi yang dijumpai pada daerah pengamatan berupa kekar yang
terdapat pada singkapan satuan tufa kasar.
6.2
Saran
1. Diharapkan kepada teman-teman mahasiswa harus lebih disiplin dalam
melakuakn pengamatan baik dalam penggunaan alat-alat pengaman yang
menunjang keselamatan diri.
2. Diharapkan alat-alat yang akan dipergunakan saat melakukan pengamatan
harus terlebih dahulu di cek agar alat dapat digunakan sebagaimana
mestinya pada saat dilapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Hirnawan Febri. 1999. Modul Geoteknik. Universitas Padjadjaran. Bandung

http://www.scribd.com/doc/29961484/Buku-Pengantar-Kuliah-Geologi-Teknik
http://www.scribd.com/doc/29961484/Buku-Pengantar-Kuliah-Geologi-Teknik
http://weiminhan.wordpress.com/2010/05/17/pemetaan-geologi-teknik-lapangan/
http://sainsgeologi.blogspot.com/
LAMPIRAN
LAMPIRAN