P. 1
ASkep Usus

ASkep Usus

|Views: 72|Likes:
Dipublikasikan oleh Yink Cokerz

More info:

Published by: Yink Cokerz on Feb 06, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2012

pdf

text

original

A.

PENGERTIAN Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001). Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007). Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis, 2007) Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks ( Anonim, Apendisitis, 2007) B. KLASIFIKASI Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni : a. Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah. b. Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua. Anatomi dan Fisiologi Appendiks merupakan organ yang kecil dan vestigial (organ yang tidak berfungsi) yang melekat sepertiga jari. Appendiks terletak di ujung sakrum kira-kira 2 cm di bawah anterior ileo saekum, bermuara di bagian posterior dan medial dari saekum. Pada pertemuan ketiga taenia yaitu: taenia anterior, medial dan posterior. Secara klinik appendiks terletak pada daerah Mc. Burney yaitu daerah 1/3 tengah garis yang menghubungkan sias kanan dengan pusat. Panjang apendiks rata-rata 6 ± 9 cm. Lebar 0,3 ± 0,7 cm. Isi 0,1 cc, cairan bersifat basa mengandung amilase dan musin. Posisi apendiks Laterosekal: di lateral kolon asendens. Di daerah inguinal: membelok ke arah di dinding abdomen. Pelvis minor. C. ETIOLOGI Appendiksitis disebabkan oleh penyumbatan lumen appendik oleh hyperplasia Folikel lympoid Fecalit, benda asingstriktur karena Fibrasi karena adanya peradangan sebelumnya

sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah. Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah.Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang memproduksi mukosa mengalami bendungan. 6. Striktur karena Fibrosis pada dinding usus. keadaan ini disebut sebagai appendisitis abses. apendiks yang relatif lebih panjang .striktur karenan fibrosis akibat adanya peradangan sebelunnya. Akhirnya apendiks yang terinflamasi berisi pus.atau neoplasma. maka perforasi terjadi lebih cepat. sedangkan arteri belum terganggu. Penyebab utama appendiksitis adalah obstuksi penyumbatan yang dapat disebabkan oleh hiperplasia dari polikel lympoid merupakan penyebab terbanyak adanya fekalit dalam lumen appendik. dinamakan appendisitis perforasi.Pada saat inilah terjadi Appendiksitis akut local yang ditandai oleh adanya nyeri epigastrium. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah. makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. . keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut. menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif. Obstruksi pada kolon oleh Fekalit (feses yang mengeras) 3. Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal. peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat. 1.Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang akan menyebabkan edema dan ulserasi mukosa. Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan appendisitis gangrenosa. D. 2. Pemberian barium 4.Namun elastisitas dinding appendik mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan tekanan intra lumen. PATOFISIOLOGI Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat kemungkinan oleh fekolit (massa keras dari faeces) atau benda asing. dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang masih kurang. demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh darah. 5. Oleh karena itu persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umblikus. kemudian timbul gangguan aliran vena. Berbagai macam penyakit cacing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal. Tumor. Ulserasi pada mukosa.Sebab lain misalnya : keganasan ( Karsinoma Karsinoid ) Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung. Pada anak ± anak karena omentum masih pendek dan tipis.Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis. Adanya benda asing seperti : cacing. dalam beberapa jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen.

e. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar. Lekositosis bervariasi. yang terdiri dari : Mual. nyeri dan demam bisa menjadi berat.perforasi dan peritonitis. permulaan. postekal/nyeri terbuka diare. c.Perawatan dan pengobatan penyakit cacing juga menimbulkan resiko.8° Celsius. rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. Jika dokter menekan daerah ini. nyerinya bersifat menyeluruh. TANDA DAN GEJALA a. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus). Muntah. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok. MANIFESTASI KLINIK Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda appendiksitis menurunkan resiko terjadinya gangren. . Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese. di semua bagian perut.sebab obstruksi oleh fekalit dapat terjadi karena tidak ada kuatnya diit tinggi serat. lalu timbul mual dan muntah. Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah. Anoreksia biasanya tanda pertama b. PENCEGAHAN Pencegahan pada appendiksitis yaitu dengan menurunkan resiko obstuksi dan peradangan pada lumen appendiks. b. penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan.punggung/pinggang. 2007) F. d. nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa.E. Demam bisa mencapai 37. (Anonim. muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Retrosekal/nyeri. Pada orang tua dan wanita hamil. kecuali ada perforasi. Bila usus buntu pecah. Pada bayi dan anak-anak. Pola eliminasi klien harus dikaji. Apendisitis. nyeri bisa bertambah tajam. Setelah beberapa jam. Muntah oleh karena nyeri viseral.8-38. demam derajat rendah. ada 4 hal yang penting adalah: a. c. tidak mempengaruhi diagnosa/penatalaksanaan G. H.nyeri timbul pada daerah sentral (viseral) lalu kemudian menjalar ketempat appendics yang meradang (parietal). Nyeri. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1) Untuk menegakkan diagnosa pada apendisitis didasarkan atas anamnese ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.

dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Badan lemah dan kurang nafsu makan. penderita nampak sakit. Riwayat kesehatan sekarang. pendapatan. gerakan kaki dan duduk) untuk digunakan dalam periode post operatif. Burney. Kadang ada fecolit (sumbatan). suku/bangsa. kecuali bila terjadi peritonitis. nyeri akan terjadi pada seluruh perut. Identitas penanggung c. Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. lokal infeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit. ASUHAN KEPERAWATAN 1. I. disamping itu juga klien perlu diberikan pengetahuan tentang peristiwa yang akan dialami setelah dioperasi dan diberikan latihan-latihan fisik (pernafasan dalam. alamat. PENGKAJIAN a. 2) Pemeriksaan yang lain Lokalisasi. Hal ini penting oleh karena banyak klien merasa cemas atau khawatir bila akan dioperasi dan juga terhadap penerimaan anastesi. Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma. pekerjaan. Apendektomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan. . Identitas klien Nama. yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif. Jika sudah terjadi perforasi. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. status perkawinan. PENATALAKSANAAN Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan. Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. agama. Jika sudah infiltrat. b. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Pemeriksaan radiologi Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa apendisitis akut. tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan. dan nomor register. Burney. Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi. umur. 3) Test rektal. jenis kelamin. Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi. Hb (hemoglobin) nampak normal. J. di perut terasa nyeri.d. menghindarkan pergerakan. pendidikan. tetapi paling terasa nyeri pada daerah titik Mc. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan. Konsep Asuhan Keperawatan Sebelum operasi dilakukan klien perlu dipersiapkan secara fisik maupun psikis.

Keluhan utama Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Nyeri/kenyamanan Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus. kekakuan. Klien tampak sakit ringan/sedang/berat. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal. Sifat keluhan Nyeri dirasakan terus-menerus. bersin. yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. k. Burney. Aktivitas/istirahat : Malaise. batuk. g. j. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak. dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Penampilan yang tidak tenang. Distensi abdomen. o. biasanya rendah. KLASIFIKASI DATA DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF Klien mengatakan: · Rasa sakit diepigastrium atau daerah periumbilikus kemudian menjalar ke bagian perut bawah · Rasa sakit hilang timbul · Mual. Data psikologis Klien nampak gelisah. Keluhan yang menyertai Biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah.d. f. panas. Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan.sesak napas. e. l. Ada perasaan takut. diare kadang-kadang. 2. atau napas dalam. Riwayat kesehatan masa lalu Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang Pemeriksaan fisik Keadaan umum h. penurunan atau tidak ada bising usus. Berat badan Sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat. Respirasi : Takipnoe. meningkat karena berjalan. pernapasan dangkal. muntah . Keamanan Demam. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Sirkulasi : Klien mungkin takikardia. nyeri tekan/nyeri lepas. n. i.

· panas · Diare atau konstipasi · Tungkai kanan tidak dapat diluruskan · Rewel dan menangis · Lemah dan lesu · Suhu tubuh meningkat · Malaise · Pasien mengatakan tidak nafsu makan · Sesak napas · Klien mengeluh sulit tidur · Klien mengeluh rasa sakit · Badan berkeringat · Badan terasa gatal Klien tampak: · Nyeri tekan titik MC. perut kembung · Suhu meningkat.Burney · Bising usus meningkat. nadi cepat · Pasien memegang daerah perut · Skala nyeri ( 1 ± 10 ) · Tampak meringis menahan sakit · Pasien tampak cemas · Suhu naik · Nadi cepat · Muntah .

· Porsi makantidak di habiskan · Penurunan BB · Pernapasan takipnea · Sirkulasi tachycardia · Gelisah · Wajah murung · Klien sering menanyakan tentang penyakitnya · Kuku nampak kotor · Kulit kepala kotor · Klien nampak kotor 3.Burney · Skala nyeri ( 1 ± 10 ) · Pasien memegang daerah perut · Pernapasan tachipnea · Sirkulasi tachycardia . ANALISA DATA DATA MASALAH ETIOLOGI Data Subjektif : · Rasa sakit hilang timbul · Sakit di daerah epigastrum hingga perut bagian bawah · Tungkai kanan tidak dapat diluruskan Data Objektif : · Tampak meringis menahan sakit · Nyeri tekan titik MC.

DIAGNOSA KEPERAWATAN . muntah · Diare atau konstipasi · Malaise Data Objektif : · Nafsu makan menurun · Berat badan menurun · Porsi makan tidak dihabiskan Nutrisi kurang dari kebutuhan intake menurun Data Subjekti : · Badan berkeringat · Badan terasa gatal · Tungkai kanan tidak dapat diluruskan Data Objektif : · Kulit kepala kotor · Kuku nampak kotor · Klien nampak kotor Defisit perawatan diri kelemahan yang dirasakan 4.· Gelisah Gangguan rasa nyeri distensi jaringan intestinal Data Subjektif : · Pasien mengatakan tidak nafsu makan · Mual.

Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh. Tegang. Frekuensi pernapasan meningkat. 2) Monitor intake dan out put dan konsentrasi urine. 5) Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun.000/mm3 . 4) Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang. Rasional : Untuk meminimalkan hilangnya cairan. b. Burney Leuco > 10. PRIORITAS MASALAH 1) Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal 2) Nutrisi kurangdari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun 3) Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan 6. Klien tidak mual dan muntah. Rasional : Merupakan indicator secara dini tentang hypovolemia. Nyeri tekan daerah titik Mc. Nafsu makan berkurang. Tujuan : Mempertahankan keseimbangan volume cairan dengan kriteria : Klien tidak diare. 3) Gangguan rasa nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal. Nafsu makan baik. INTERVENSI a. Ada rasa mual dan muntah. Intervensi : 1) Monitor tanda-tanda vital. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya rasa mual dan muntah. Rasional : Menurunnya out put dan konsentrasi urine akan meningkatkan 3) kepekaan/endapan sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan peningkatan cairan. ditandai dengan : Kadang-kadang diare. Distensi abdomen. 4) Beri cairan sedikit demi sedikit tapi sering. 6) Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan 5. ditandai dengan : Suhu tubuh di atas normal. Distensi abdomen.1) Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual dan muntah. 2) Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh.

Tujuan : Rasa nyeri akan teratasi dengan kriteria : Pernapasan normal. 4) Beri analgetik. Rasional : Sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri (apabila sudah mengetahui gejala pasti). 4) HE tentang pentingnya kebersihan diri klien. Rasional : Obat pencahar dapat merangsang peristaltic usus sehingga bab dapat lancar. Rasional : Pengukuran dengan arah yang berlawanan tumbuhnya rambut akan mencapai ke dasar rambut. Intervensi : 1) Kaji tingkat nyeri. klien dapat bekerja sama dalam pelaksaan tindakan. 2) Anjurkan pernapasan dalam. lokasi dan karasteristik nyeri. Sakit di daerah epigastrum menjalar ke daerah Mc. Rasional : Dengan gate control saraf yang berdiameter besar merangsang saraf yang berdiameter kecil sehingga rangsangan nyeri tidak diteruskan ke hypothalamus. Sirkulasi tachicardia. c.Tujuan : Tidak akan terjadi infeksi dengan kriteria : Tidak ada tanda-tanda infeksi post operatif (tidak lagi panas. Burney Gelisah. sehingga dapat mengakibatkan ruptura apendiks. Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan indiaktor secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya. Intervensi : 1) Bersihkan lapangan operasi dari beberapa organisme yang mungkin ada melalui prinsipprinsip pencukuran. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal. 3) Anjurkan klien mandi dengan sempurna. Klien mengeluh rasa sakit pada perut bagian kanan bawah. Sedangkan klisma dapat merangsang peristaltic yang lebih tinggi. d. sehingga benar-benar bersih dapat terhindar dari pertumbuhan mikro organism. kemerahan). Sirkulasi normal. 2) Beri obat pencahar sehari sebelum operasi dan dengan melakukan klisma. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang. Rasional : Dengan pemahaman klien. . ditandai dengan : Pernapasan tachipnea. Rasional : Kulit yang bersih mempunyai arti yang besar terhadap timbulnya mikro organisme. Rasional : Pernapasan yang dalam dapat menghirup O2 secara adekuat sehingga otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri 3) Lakukan gate control.

Rasional : Klien dapat memahami dan dapat merencanakan serta dapat melaksanakan setelah operasi. dan penyembuhan latihan. pembatasan mandi. Rasional : Mencegah luka baring dan dapat mempercepat penyembuhan. 2) Perkirakan / hitung pemasukan kalori. 3) Disukusikan kebersihan insisi yang meliputi pergantian verband. 3) Timbang berat badan sesuai indikasi Rasional : Mengawasi keefektifan secara diet. Rasional : Mengerti dan mau bekerja sama melalui teraupeutik dapat mempercepat proses penyembuhan. Klien sering menanyakan tentang penyakitnya. e. jaga komentar tentang nafsu makan sampai minimal Rasional : Mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan. Intervensi : 1) Jelaskan pada klien tentang latihan-latihan yang akan digunakan setelah operasi. . Wajah murung. Ditandai dengan : Nafsu makan menurun Berat badan menurun Porsi makan tidak dihabiskan Ada rasa mual muntah Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri Intervensi : 1) Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien Rasional : menganalisa penyebab melaksanakan intervensi. 4) Beri makan sedikit tapi sering Rasional : Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat ditingkatkan. 2) Menganjurkan aktivitas yang progresif dan sabar menghadapi periode istirahat setelah operasi. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. Klien mengeluh sulit tidur Tujuan : Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan pengobatannya.Ditandai dengan : Gelisah. sehingga dapat mengembalikan fungsi-fungsi optimal alat-alat tubuh. Rasional : Dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas. Klien mengeluh rasa sakit. 5) Anjurkan kebersihan oral sebelum makan Rasional : Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan 6) Tawarkan minum saat makan bila toleran.

Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Jakarta. Rasional : Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman 3) Berikan HE pada klien dan keluarganya tentang pentingnya kebersihan diri. Marylinn E. Penerbit Buku Kedokteran. f. Rasional : Agar klien dan keluarga dapat termotivasi untuk menjaga personal hygiene. Jakarta . (1992). 2) Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih. (2001). Rasional : Agar badan menjadi segar. DAFTAR PUSTAKA 1. Schwartz. Ilmu Bedah Perawat. 2. Volume 2. Seymour. Suzanne C. Henderson. 4) Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya. 3. (2000). Yayasan Mesentha Medica. melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kesehatan. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. M.A. (2000). memampukan pasien memiliki rasa kontrol dan mendorong untuk makan. 8) Memberi makanan yang bervariasi Rasional : Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien.7) Konsul tetang kesukaan/ketidaksukaan pasien yang menyebabkan distres. Rasional : Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam kebersihan 5) Bimbing keluarga / istri klien memandikan Rasional : Agar keterampilan dapat diterapkan 6) Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien.Smeltzer. Rasional : Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta mencegah terjadinya infeksi. Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta. EGC. EGC. Ditandai dengan : Kuku nampak kotor Kulit kepala kotor Klien nampak kotor Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri Intervensi : 1) Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu melaksanakan sendiri serta cuci rambut dan potong kuku klien. Penerbit Buku Kedokteran. Doenges. Rasional : Melibatkan pasien dalam perencanaan. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan. 4.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->