Anda di halaman 1dari 16

TUGAS FISIKA LINGKUNGAN GEOGRAFI FISIK DAN MIKROMETEOROLOGI

Oleh : Kelompok 2

Agustina Siregar Theodora Retno M Tri Lego Indah F N

(0813022016) (0813022053) (0853022053)

PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2011

TINJAUAN PUSTAKA

A. Geografi Fisik

Geografi fisik merupakan bagian dari ilmu geografi. Banyak orang mengartikan geografi sebagai ilmu pengetahuan yang berkaitan erat dengan peta. Pengertian ini masih bersifat parsial, ilmu geografi sebenarnya adalah ilmu mengenai fenomena alam dan manusia dalam dimensi spasial. (geography is the study natural and human constructed phenomena relative to a spatial dimension)

Ilmu geografi mengalami banyak perkembangan dan pengembangan. Banyak ilmu baru lahir sebagai cabang dari ilmu geografi, termasuk diantaranya geografi fisik. Untuk mendapat pemahaman yang lebih tajam mengenai ilmu geografi fisik ini berikut akan dibahas sekilas mengenai sejarah evolusi ilmu geografi.

1) Sejarah Geografi dan Geografi Fisik

Ilmu geografi berawal sekitar 4000 tahun yang lalu, dimana geografi bertujuan untuk memetakan objek-objek dan tempat-tempat yang telah dijelahi. Pada saat itu peradaban Cina, Mesir, dan Phoenician telah memulai eksplorasi ke berbagai wilayah. Bukti sejarah pertama yang ditemukan berasal dari peta Babilonia tertanggal 2300 BC.

Yunani kuno mengaplikasi bentuk geografi lebih ke pembuatan peta, atau yang sekarang dikenal dengan kartografi. Filsuf dan llmuwan Yunani juga tertarik mempelajari karakteristik alam dan manusia, salah satu nya adalah Herodotus (circa 484 - 425 BC) yang menulis berbagai buku mengenai Geografi fisik dan manusia (Human and Physical Geography) dari kerajaan persia.

Selain itu Yunani kuno juga tertarik untuk mempelajari bentuk, ukuran dan geometri bumi. Aristoteles (circa 384 - 322 BC) membuat hipotesa dan menunjukkan secara ilmiah dari bentuk bayangan bulan bahwa bentuk bumi adalah bentuk sferis (spherical shape). Kemudian Eratosthenes (circa 276 - 194 BC) menghitung panjang keliling bumi di ekuator adalah 40,233 km melalui perhitungan relasi geometri sederhana. Perhitungan keliling bumi menggunakan teknologi satelit modern adalah 40,072 km!

Pengetahuan dari bangsa yunani mengenai geografi ini ini kemudian terwariskan ke bangsa romawi, yang banyak menggunakan ilmu geografi untuk melakukan ekspansi militer, selain juga menambah wawasan ilmu geografi. Strabo (circa 64 BC - 20 AD) menulis 17 seri buku dengan judul "Geographia". Strabo mengabadikan eksplorasinya di bumi dalam perspektif geografi. Beliau mendeskripsikan Cultural Geographies dari beragam kebudayaan dari mulai Inggris hingga India, dari Ethiopia hingga Iceland. Starbo juga membuat definisi geografi sebagai berikut: "describe the known parts of the inhabited world ... to write the assessment of the countries of the world [and] to treat the differences between countries".

Pada abad kedua masehi, Ptolemy (circa 100 - 178 AD) membuat berbagai kontribusi terhadap geografi. Publikasinya dalam Geographike hyphegesis or "Guide to Geography" menggabungkan dan merangkum berbagai informasi geografi dari jaman Yunani dan Romawi. Beliau juga menciptakan 3 metode proyeksi bumi ke peta, perhitungan koordinat berbagai lokasi di bumi, dan memperkenalkan istilah lintang-bujur atau latitude-longitude

Selama jaman Renaissance (1400 to 1600 AD) banyak perjalanan geografi yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di eropa. Perjalanan-perjalanan ini banyak dibiayai karena keuntungan komersial yang dapat diperoelh dari hasil eksplotasi kekayaan alam yang dilakukan. Perjalanan-perjalan yang dilakukan juga menambah banyak wawasan dan ilmu pengetahuan yang baru. Yang terkenal adalah Christopher Columbus, Vasco da Gama, Ferdinand Magellan, Jacques Cartier, Sir Martin Frobisher, Sir Francis Drake, John dan Sebastian Cabot, dan John Davis. Pada jaman ini juga Martin Behaim pada tahun 1492 membuat globe sferis yang

mendeskripsikan bumi dalam bentuk 3-dimensi. Globenya ini banyak menginspirasi penjelajah bahwa mereka dalam mengelilingi bumi.

Peta yang dibuat oleh Oliva pada 1560, mendeskrpisikan bagian dunia yang telah diketahui pada masa itu. Pada abad ke-17, Bernhardus Varenius (1622-1650) mempublikasikan referensi geografi berjudul Geographia generalis (General Geography: 1650). Di bukunya ini Varenius membagi geografio dalam 3 disiplin. Yang pertama, bagian yang memperlajari bentuk dan dimensi bumi. Kedua, mempelajari pasang surut, variasi iklim dan fenomaena lainnya yang terkait dengan pergerakan bulan dan matahari. Kedua bagian ini kemudian berkembang menjadi Geografi fisik. Bagian yang terakhir adalah bagain yang mempelajari mengenai kebudayaan, yang kini dikenal sebagai Cultural Geography.

Pada abad ke-15, filsuf Jerman Immanuel Kant (1724-1804) mengatakan bahwa pengetahuan manusia dapat dibagi dalam 3 kategori. (1) pengetahuan berdasarkan tipe objek yang dipelajari. Zoology mempelajari hewan, botany memperlajari flora, geology mempelajari batuan, dsb. (2) pengetahuan berdasarak dimensi temporal, yang dikenal sebagai sejarah. (3) pengetahuan yang mempelajari fakta dan fenomena melalui hubungan spatial, atau dikenal sebagai geografi. Kant juga membagi geografi ke dalam 6 cabang: Physical, Mathematical, Moral, Political, Commercial, and Theological Geography.

Pada 1800-an, geografi banyak mengalmi perkembangnan di Eropa dan Amerika Serikat. Di Jerman, Alexander von Humboldt, Carl Ritter, dan Fredrich Ratzel banyak membuat kontribusi untuk human and physical geography. Kosmos (1844) mempelajari geologi dan geogrfai fisik dari bumi. Pada akhir abad ke-19, Ratzel berteori bahwa distribusi dan kebudayaan manusia banyak dipengaruhi oleh linkungan alam. Geographer Perancis Paul Vidal de la Blanche mengatakan bahwa manusia merupakan kekuatan utama yang mempengaruhi lingkungan. Ide bahwa manusia memodofikasi lingkungan fisik bumi juga tercetus di Amerika Serikat. Pada tahun 1847, George Perkins Marsh mengatakan bahwa kegiatan manusia banyak memberikan dampak yang buruk pada lahan bumi, terutama dengan deforestasi dan perubahan lahan yang dilakukan manusia. Hal ini tertuang dalam bukunya Man and Nature atau The Earth as Modified by Human Action, yang

dipublikasikan tahun 1864. beliau saat itu telah memberikan peringatan akan konsekuensi ekologis dari kegiatan manusia.

Selama 50 tahun pertama tahun 1900an, banyak penelitian geografi yang dilakukan menggunakan metode deskriptif untuk menjawab research questions. Mulai tahun 1950an, penelitian geografi mengalami perubahan dalam metodologi, dan mulai terjadi revolusi kuantatif dimana orang lebih mempertanyakan proses terjadinya suatu fenomena. Hingga kini, orang memakai pendekatan seperti ini terlebih dengan perkembangan computer dan teknologi.

Pada tahun 1964, William Pattison mempublikasikan artikel pada Journal of Geography (1964, 63: 211-216) yang menyebutkan bahwa Geografi modern terbagi atas 4 tradisi: y Spatial Tradition investigasi fenomena geografi dari perspektif spasial. y Area Studies Tradition studi geografi pada suatu area di muka bumi baik skala local, skala regional, maupun skala global. y Human-Land Tradition study geografi menyangkut interaksi manusia dengan lingkungan. y Earth Science Tradition studi fenomena alam dari perspekti spasial, yang lebih dikenal sebagai geografi fisik.

Pada saat ini, tradisi akademik Pattison masih merupakan kajian utama investigasi geografi, namun seiring dengan peningkatan populasi manusia dan perubahan lingkungan yang ditimbulkannya, banyak investigasi menyangkut bagaimana manusia merubah lingkungan dan pengaruhnya terhadap kehidupan. Penelitian yang dilakukan mengarah untuk mencari cara mereduksi pengaruh negative yang dapat timbul. Penelitian ini menyangkut degradasi lingkungan dari hidrosfer, atmosfer, litosfer, dan biosfer, penggunaan sumber daya alam, bencana alam, environmental impact assessment; dan efek dari urbanisasi dan perubahan lahan terhadap lingkungan alaminyua.

Dari bahasan diatas, kita dapat menyimpulkan definisi geografi secara sederhana adalah sebuah bidang ilmu yang mengkaji fenomena alam secara

spasial. Geography is the field of knowledge that is concerned with how phenomena are spatially organized.

Secara umum ilmu geografi menjawab 3 pertanyaan: where dimana terletaki why mengapa terletak di situi how bagaimana bias terletak di situi Geografi Fisik mencoba menjelaskan bagaimana pola spasial dan orientasi dari fenomena alam yang terjadi. Physical Geography attempts to determine why natural phenomena have particular spatial patterns and orientation. Geografi Fisik merupakan pengetahuan tentang lingkungan bumi dan dinamikanya, serta kaitannya dengan manusia. Jadi Geografi merupakan bidang ilmua yang membahas elemen-elemen penting lingkungan fisik manusia secara bersama dan interrelasi.

Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri dijelaskan definisi Geografi sebagai ilmu tentang permukaan bumi, iklim, penduduk, flora, fauna, serta hasil yang diperoleh dari bumi. Sedangkan Geografi Fisik adalah cabang ilmu geografi tentang ciri-ciri dan sifat-sifat permukaan bumi, atmosfer, iklim, dan sebagainya.

2) Elemen Geografi

Dari bahasan sebelumnya, dapat diketahui bahwa geografi memiliki setidaknya 2 bidang kajian dengan metologi yang serupa: Geografi Fisik (Physical Geography) dan Geografi Manusia (Human Geography). Geografi fisik fokus pada unsur-unsur fisik atau fenomena alam, sedangkan Geografi manusia fokus pada manusia dan aktifitasnya.

Subdisiplin primer Geografi Fisik mempelajari atmosfer bumi (Meteorology and Climatology), kehidupan flora dan fauna (Biogeography), bentuk fisik permukaan bumi (Geomorphology), tanah (Pedology), dan air (Hydrology). Sedangka ilmu yang dipelajari di Geografi Manusia yaitu kehidupan

bermasyarakat dan kebudayaannya (Social and Cultural Geography), perilaku (Behavioral Geography), ekonomi (Economic Geography), politik (Political Geography), and system kota (Urban Geography). Perbedaan antara keduanya diberikan pada Tabel 1, sehingga dapat lebih dipahami dan dimengerti fokus kajian dan perbedaan kajian dari kedua subbidang ilmu geografi ini.

Geografi disamping melakukan riset dasar, juga memelihara hubungan dan integritas perspektive yang menghubungkan pengetahuan dari beberapa disiplin ilmu. Geografi merupakan sebuah disiplin ilmu yang mengintegrasikan beranekaragam subjek. Hampir semua area pengetahuan manusia dapat juga dipelajari dari perspektif spasial. Diagram hubungan ilmu geografi dengan disiplin lain diperlihatkan pada Gambar 5.

Setiap bidang geografi terkait dekat dengan disiplin sumbernya (commonsource). Misalnya geografi kultural terhubung dekat dengan antropologi, geografi politik dengan ilmu politik, geografi populasi dengan demografi.

Fokus ilmu geografi fisik adalah layer kehidupan, zona dangkal daratan dan lautan yang mengandung banyak organik hidup, biosfir. Perhatian utama dari ilmu geografi fisik adalah masalah kualitas layer kehidupan. Kualitas mengandung arti jumlah faktor-faktor fisik yang membuat layer kehidupan dapat digunakan sebagai habitat bagi seluruh tanaman dan hewan, tapi khususnya bagi manusia.

Kualitas itu ditentukan oleh faktor-faktor, kekuatan, dan input-input yang datang dari atmosfir dan lithosfir. Atmosfir membentuk iklim, yang menyebabkan terjadinya pertukaran panas dan air dengan daratan. Atmosfir juga menyediakan elemen-elemen vital untuk kehidupan seperti karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen. Lithosfir mempunyai unsur-unsur landscapepegunungan, bukit, dan dataran-menyediakan habitat yang bervariasi untuk tumbuhan. Lithosfir juga sumber dasar elemen-elemen nutrien yang dibutuhkan untuk tumbuhan dan hewan. Air adalah bentuk material kehidupan penting lainnya, yang meresap pada layer kehidupan. Dalam segala bentuknya, air yang ada di bumi disebut hidrosfir.

Diantara atmosfir, lithosfir, dan hidrosfir dalam hubungannya dengan biosfir, terjadi suatu sistem aliran zat dan energi secara berkesinabungan. Sistem aliran ini berkenaan dengan energi matahari dan melibatkan udara, air, zat mineral, atau organisme hidup.

Memahami geografi fisik suatu daerah adalah vital ketika merencanakan suatu kelangsungan hidup bumi. Kelangsungan hidup tidak hanya bergantung pada ketersedian air dan makanan, tapi juga bergantung pada apakah lingkungan terhindar dari polusi dan perusakan yang dapat menurunkan daya dukung dari tanah itu sendiri. Tujuan utama dari geografi fisik yaitu mengevaluasi pengaruh manusia pada lingkungan alam.

Subdisiplin dari ilmu Geografi Fisik:

1. Geomorfologi (Geomorphology) Adalah ilmu yang mempelajari pembentukan permukaan bumi. Mempelajari evolusi lereng, pembangunan daratan dan plateau, dan prosesproses terbentuknya bukit pasir dan goa dan tebing (elemen-elemen fisik dari bentang daratan). Pergerakan dari udara, es, gelombang air berkontribusi dalam pembentukan bentang daratan. 2. Klimatologi (Climatology) Yaitu mempelajari iklim dan distribusi spasialnya. Merupakan kombinasi antara ilmu meteorologi (suatu ilmu cabang dari fisika yang mempelajari penomena atmosfir) dan geografi fisik. Klimatologi studi tentang: klasifikasi iklim, perubahan iklim, pola vegetasi, formasi tanah, dan hubungan antara sosial manusia dan iklim. 3. Biogeografi (Biogeography) Adalah gabungan antara bidang ilmu biologi dan geografi fisik. Biogeografi dibagi dalam tiga bidang spesialisasi yaitu fitogeografi (spesialisasi dalam bidang botani), zoogeografi (spesialisasi dalam bidang hewan), dan ekologi. 4. Geografi tanah (Soil Geography) Mempelajari pola-pola spasial tanah, distribusi, dan hubungannya dg iklim, vegetasi, dan manusia.

5. Geografi laut (Marine Geography) Terkait dengan disiplin oseanografi. Dari sisi aspek sosial bidang ini mengkaji batas-batas laut, kompetisi sumber daya laut, dan hukum laut. (berkaitan erat dengan bidang geografi politik). Dari sisi fisik, bidang ini banyak mengkaji garis pantai dan tepi laut, mulut sungai dan unsur-unsur bentang daratan yang berkenaan dengan batas-batas laut kontinen. 6. Sumber daya air (Water Resources) Adalah perpotongan antara bidang studi geografi fisik dan hidrologi. Mempelajari secara sistematik persediaan air yang ada dipermukaan dan sub-permukaan yang berpotensi bagi kehidupan manusia.

Dalam beberapa textbook, Geografi fisik juga dikaitkan dengan ilmu lainnya seperti geologi, ekologi, oseanografi, kartografi dan astrinomy.

3) Sejarah Geografi Fisik

Pada periode 1850 to 1950 terdapat 4 ide yang mempengaruhi disiplin imlu geografi fisik: (1). Uniformitarianism teori ini menangkal bahwa kondisi bumi sesaat adalah akibat kekuatan alam yang dasyat. Teori ini mengatakan bahwa kegiatan manusia dan alam dari masa lalu dan masa sekarang akan mempengaruhi bumi di kemudian hari. (2). Evolution - Charles Darwin's Origin of Species (1859) mengatakan bahwa seleksi alam akan menentukan individu mana yang akan bertahan hingga masa depan, dan bahwa setiap individu akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya untuk dapat bertahan hidup. (3). Exploration and Survey pada tahun 1900an bidang Geografi fisik banyak ditunjang dengan pengumpulan data dari hasil eksplorasi dan survey bumi. Pengumpulan data yang dilakukan termasuk data ketinggian, klasifikasi dan deskripsi lahan, pengukuran volume aliran sungai, pengukuran berbagai fenomena terkait dengan iklim dan cuaca, klasifikasi tanah, organisme, komunitas biologi dan ekosistem. (4). Conservation pada tahun 1850an mulai digiatkan upaya perlindungan

alam menyusul terjadinya banyak perusakan alam akibat kegiatan manusia. hal ini antara lain tercetus oleh George Perkins Marsh (1864) dalam bukunya "Man in Nature" atau "Physical Geography as Modified by Human Action".

Setelah tahun 1950, terdapat dua kekuatan yang mempengaruhi ilmu Geografi fisik: (1). The Quantitative Revolution pengukuran menjadi focus utama dalam penelitian Geografi fisik, terutama untuk uji coba suatu hipotesis. Pengukuran ini melibatkan pemetaan, modeling, statistic, matematika, dan uji coba hipotesis. Para ilmuwan kini cenderung mempelajari proses terjadinya suatu fenomena alam ketimbang hanya mendeskripsikannya. (2). The study of Human/Land Relationships pengaruh dari kegiatan manusia terhadap lingkungan menjadi lebih tampak setelah tahun 1950. Sebagai respon, para ilmuwan Geografi fisik mulai mempelajari bagaimana pengaruh dari kegiatan manusia terhadap lingkungan. Penelitian yang banyak dilakukan menyangkut degradasi lingkungan dan penggunaan sumber daya alam, bencana alam, environmental impact assessment; dan efek dari urbanisasi dan perubahan lahan terhadap lingkungan alaminya.

4) Masa Depan Geografi Fisik

Kedepannya trend dari penelitian Geografi fisik akan mengarah ke beberapa hal yakni: (1). Applied Physical Geography akan terus berkembang untuk melakukan analisis dan koreksi dari masalah lingkungan yang diakibatkan oleh manusia. Informasi teoritik dari Geografi fisik adalah penting untuk memanage dan memecahkan masalah terkait dengan fenomena alam yang ditemukan di dunia nyata. (2). Remote Sensing perkembangan teknologi memunculkan banyak instrument untuk memonitor sumber daya bumi dan lingkungan. Remote sensing akan menjadi tools yang akan semakin dipergunakan. Penggunaannya yang paling familiar adalah untuk memonitor iklim bumi untuk melakukan prediksi.

(3). Geographic Information Systems (GIS) GIS memadukan basis data dengan koordinat spasial pada peta digital di computer. GIS akan menjadi semakin penting untuk manajemen sumber daya. Geografi fisik adalah suatu bidang ilmu yang membahas elemen-elemen penting lingkungan fisik manusia secara bersama dan inter-relasi. Fokus ilmu geografi fisik adalah layer kehidupan, zona dangkal daratan dan lautan yang mengandung banyak organik hidup, biosfir. Perhatian utama dari ilmu geografi fisik adalah masalah kualitas layer kehidupan. Sebelum tahun 1950, geografi fisik dipengaruhi oleh uniformitarianism, teori evolusi, eksplorasi bumi, dan gerakan konservasi alam. Setelah tahun 1950, dua kekuatan yang mempengaruhi ilmu Geografi fisik adalah Revolusi kuantitatif dan studi dari relasi manusia/lahan. Kedepannya, Geografi fisik akan mengarah ke Applied Geografi Fisik, pemanfaatan Remote Sensing, dan Sistem Informasi Geografik.

B. Mikrometeorlogi Mikro klimatologi ialah ilmu yang mempelajari tentang iklim mikro atau iklim yang terdapat di dalam daerah yang cukup kecil. salah satu peredaran antara mikrometeorologi dan mikroklimatologi ialah mikrometeorologi memerlukan dasar matematika dan dasar fisika yang kompleks sehingga dapat mempelajari proses fisis atmosfer, lagipula mikrometeorologi tidak terbatas pada atmosfer dekat permukaan bumi, tetapi mungkin dapat mempelajari mikrofisika dari awan. Sedangkan mikroklimatologi tidak ditunjukkan kepada ahli meteorologi saja, tetapi juga untuk melayani ahli lain yang berminat untuk mempelajari hubungan antara kehidupan dengan iklim mikro tanpa mempunyai dasar matematika dan fisika yang kokoh. Perbedan antara iklim mikro dan iklim makro, terutama disebabkan oleh jarak dengan permukaan bumi. Faktor-faktor yang mempengaruhi dapat disebabkan oleh macam tanah, yaitu tanah hitam, tanah abu-abu, tanah lembek, dan tanah keras, oleh bentuk yaitu bentuk konkaf (lembah), bentuk konveks (gunung) dan danau, kemudian juga ditentukan oleh tanam-tanaman yang tumbuh diatasnya, yaitu rawa, hutan dan lainlain. Setelah itu juga dipengaruhi oleh jumlah radiasi dan profil angin yang terakhir dipengaruhi oleh aktivitas manusia yaitu daerah industri, kawasan kota, pedesaan, dan sebagainya. Sebenarnya diantara iklim makro dan iklim mikro terdapat iklim meso,

akan tetapi istilah iklim meso kurang umum dipakai dan dimengerti sehingga istilah meso klimatologi sangat jarang dijumpai dalam pustaka (Tjasjono,1999). Berdasarkan faktor pengendali sifat, luasan atau wilayah identifikasi dan dampaknya terhadap kegiatan manusia, studi klimatologi dapat dibedakan atas tiga sifat umumnya yaitu (Bey dan Las, 1991):

a. Iklim global/cuaca sinoptik (global climate/ sinoptic weather) yaitu keadaan fisika dan dinamika atmosfer bagian atas hingga lapisan troposfer antara belahan bumi (kawasan yang sangat luas). Iklim/cuaca ini dikendalikan oleh pusat-pusat tekanan rendah dinamakan massa udara dalam besar dan peredaran arus dari satu samudera ke samudera yang lain. b. Iklim meso/ makro (scren climate) yaitu keadaan atmosfer lapisan agak dekat permukaan pada suatu lokasi (tapak) dengan luasan tertentu yang bisa dipantau melalui stasiun klimatologi/ meteorologi di lapangan atau dekat permukaan tanah (10m). keadaan fisika atmosfer pada strata ini telah banyak dipengaruhi oleh sifat fisik permukaan bumi, gejala golak-galik (turbulensi) udara adalah dominan. c. Iklim mikro (micro climate) menggambarkan keadaan fisik atmosfer sekitar objek yang spesifik atau dekat permukaan (< 2m). Dalam skala ini telah terjadi interaksi fisika antara objek dengan lingkungan atmosfernya seperti di sekitar / di bawah tajuk tanaman dalam kandang terakhir Iklim menunjukkan keadaan semula jadi yang berakitan dengan atmosfer di setiap kawasan yang berkait rapat dengan cuaca seperti suhu, kelembaban, taburan hujan, arah dan kelajuan angin. Iklim mikro pula menunjukkan kepada kedaan iklim bagi suatu kawasan kecil atau iklim tempatan, misalnya iklim Malaysia adalah salah satu dari keadaan iklim mikro yang menjadi pecahan kepada iklim dunia (Ahmad, 2003). Iklim mikro memang sangat penting untuk memperbesar peluang keberhasilan budidaya tanaman. Salah satu caranya adalah dengan substitusi unsur iklim partial. Substitusi unsur iklim partial tersebut dapat dilaksanakan sampai batas tertentu. Walaupun begitu ada beberapa subtitusi unsur iklim partial yang belum dapat dilalaikan. Hal tersebut mungkin dilaksanakan dengan biaya yang cukup tinggi, tidak adanya unsur pengganti atau karena adanya unsur yang berlebihan. Misalnya radiasi matahari yang terlalu terik, suhu yang terlalu rendah, atau hujan yang terlalu banyak dan merata. Dalam keadaan yang semacam itu yang realistik dan

relatif akan lebih mudah adalah modifikasi cuaca atau iklim yang semula tidak sesuai menjadi sesuai dengan tanaman tertentu. Misalnya dengan membuat naungan yang baik, naungan fisik maupun naungan biologis untuk radiasi matahari yang terlalu tinggi, membangun green house untuk suhu yang terlalu rendah atau hujan yang terlalu banyak, meratakan angin dan lain-lain (Wisnubroto, 2000). Modifikasi iklim mikro disekitar tanaman terutama tanaman hortikultura merupakan suatu usaha yang telah banyak dilakukan agar tanaman yang dibudidayakan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Kelembaban udara dan tanah, suhu udara dan tanah merupakan komponen iklim mikro yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan masing-masing berkaitan mewujudkan keadaan lingkungan optimal bagi tanaman (Noorhadi dan Sudadi, 2003). Penyebaran berbagai jenis tumbuhan akan dibatasi oleh kondisi iklim dan tanah serta daya adaptasi dari masing-masing spesies tumbuhan tersebut. Sesungguhnya hubungan antara vegetasi dan iklim merupakan hubungan saling pengaruh. Selain iklim dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, keberadaan vegetasi juga dapat mempengaruhi iklim di sekitarnya. Semakin besar total biomassa vegetasi yang terlibat dan semakin nyata pengaruhnya terhadap iklim wilayah tersebut. Peran vegetasi mirip bentang dan air. Hal ini disebabkan karena tumbuhan mengandung banyak air dan tumbuhan menyumbang banyak uap air ke atmosfer melalui proses transpirasi (Lakitan, 1994).

Anasir iklim mikro yang mempengaruhi pertumbuhan, antara lain: a. Kecepatan Angin Kecepatan angin dapat diukur dengan suatu alat yang disebut Anemometer. Kecepatan angin dapat ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:

y Besar kecilnya gradien barometrik. Gradien Barometrik, yaitu angka yang menunjukkan perbedaan tekanan udara melalui dua garis isobar pada garis lurus, dihitung untuk tiap-tiap 111 km (jarak 111 km di equator 1 ( atau 1/360 x 40.000 km = 111 km). Menurut hukum Stevenson bahwa kecepatan angin bertiup berbanding lurus dengan gradien barometriknya. Semakin besar gradien barometriknya, semakin besar pula kecepatannya.

y Relief Permukaan Bumi. Angin bertiup kencang pada daerah yang reliefnya rata dan tidak ada rintangan. Sebaliknya bila bertiup pada daerah yang reliefnya besar dan rintangannya banyak, maka angin akan berkurang kecepatannya. y Ada Tidaknya Tanaman. Banyaknya pohon-pohonan akan menghambat kecepatan angin dan sebaliknya, bila pohon-pohonannya jarang maka sedikit sekali memberi hambatan pada kecepatan angin y Tinggi Tempat dari Permukaan Tanah. Angin yang bertiup dekat dengan permukaan bumi akan mendapatkan hambatan karena bergesekan dengan muka bumi, sedangkan angin yang bertiup jauh di atas permukaan bumi bebas dari hambatan.

b. Suhu atau Temperatur Udara Suhu atau temperatur udara adalah derajat panas dari aktivitas molekul dalam atmosfer. Alat untuk mengukur suhu atau temperatur udara atau derajat panas disebut Termometer. Biasanya pengukuran suhu atau temperatur udara dinyatakan dalam skala Celcius (C), Reamur (R), dan Fahrenheit (F). Udara timbul karena adanya radiasi panas matahari yang diterima bumi. Tingkat penerimaan panas oleh bumi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

y Sudut datang sinar matahari, yaitu sudut yang dibentuk oleh permukaan bumi dengan arah datangnya sinar matahari. Makin kecil sudut datang sinar matahari, semakin sedikit panas yang diterima oleh bumi dibandingkan sudut yang datangnya tegak lurus. y Lama waktu penyinaran matahari, makin lama matahari bersinar, semakin banyak panas yang diterima bumi. y Keadaan muka bumi (daratan dan lautan), daratan cepat menerima panas dan cepat pula melepaskannya, sedangkan sifat lautan kebalikan dari sifat daratan. y Banyak sedikitnya awan, ketebalan awan mempengaruhi panas yang diterima bumi. Makin banyak atau makin tebal awan, semakin sedikit panas yang diterima.

c. Kelembaban Udara. Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam massa udara pada saat dan tempat tertentu. Alat untuk mengukur kelembaban udara disebut psychrometer atau hygrometer. Kelembaban udara dapat dibedakan menjadi:

y Kelembaban mutlak atau kelembaban absolut, yaitu kelembaban yang menunjukkan berapa gram berat uap air yang terkandung dalam satu meter kubik (1 m ) udara. y Kelembaban nisbi atau kelembaban relatif, yaitu bilangan yang menunjukkan berapa persen perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara dan jumlah uap air maksimum yang dapat ditampung oleh udara tersebut. d. Radiasi Matahari Matahari adalah sumber energi pada peristiwa yang terjadi dalam atmosfer yang dianggap penting bagi sumber kehidupan. Energi matahari merupakan penyebab utama dari perubahan dan pergerakan dalam atmosfer sehingga dapat dianggap sebagai pengendali iklim dan cuaca yang besar. Dari matahari dipancarkan sinar yang pada umumnya mempunyai gelombang pendek, sedangkan dari bumi dipancarkan sinar dengan gelombang panjang. Bagian radiasi matahari yang sampai ke permukaan bumi disebut insolasi.

DAFTAR PUSTAKA

http://asetiadi53.blogspot.com/2011/11/laporan-praktikum-klimatologi-acara-2.html http://geografiunm.wordpress.com/2011/04/27/ruang-lingkup-geografi/ http://rahmatkusnadi6.blogspot.com/2010/04/pengenalan-geografi-fisik.html http://iswavy.blogspot.com/2009/12/atmosfer.html