Anda di halaman 1dari 6

Majalah Ilmiah Unikom, Vol.5, hlm.

6570

GAIRAIGO

Bidang Humaniora GAIRAIGO


SONI MULYAWAN SETIANA Jurusan Sastra Jepang Universitas Komputer Indonesia

Gairaigo sebagai salah satu jenis kosakata dalam bahasa Jepang, apabila dilihat dari arti tulisannya dapat didefinisikan sebagai kata-kata yang berasal dari bahasa asing yang menjadi bahasa Jepang. Diperkirakan pada beberapa bidang ilmu pengetahuan dalam waktu yang tidak terlalu lama, prosentase penggunaan gairaigo akan mencapai 60-80% sehingga menjadi kosakata yang sangat penting untuk mengetahui kehidupan orang Jepang secara umum. Penggunaan gairaigo berbeda berdasarkan usia, pekerjaan, dan tingkat pendidikan pemakainya. Sejalan dengan itu, penggunaan gairaigo dapat memperkuat hubungan dengan masyarakat yang berbeda budaya Gairago.

PENDAHULUAN Bahasa sebagai alat ilmu pengetahuan mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu diperlukan penguasaan bahasa untuk mempelajari, menerapkan, dan mentransfer ilmu pengetahuan. Tadjuddin (2003) mengemukakan bahwa kadar kualitas penguasaan bahasa tergantung pada dua faktor, yaitu: 1) sejauh mana kadar kualitas kemampuan penguasaan bahasa si penutur dalam mengungkapkan gagasan atau pikirannya, 2) sejauh mana kadar kualitas pikiran/gagasan yang hendak diungkapkannya. Kedua faktor itu saling mempengaruhi, yang satu tergantung pada yang lain. Bahasa Jepang sebagai salah satu bahasa asing yang banyak dipelajari di Indonesia pada saat ini memiliki keistimewaan tersendiri dalam sisitem penulisannya karena menggunakan

empat perangkat huruf, yaitu: kanji, kana yang terdiri dari hiragana dan katakana, romaji dan arabia shuuji. Keunikan lainnya adalah adanya perbedaan struktur kosakata bahasa Jepang dengan struktur kosakata bahasa Indonesia, seperti yang diungkapkan oleh Soepardjo (1997) bahwa struktur kosakata bahasa Jepang memiliki perbedaan yang sangat mencolok dengan struktur kosakata bahasa Indonesia. Perbedaan tersebut erat kaitannya dengan proses pembentukan kata kedua bahasa serta perbedaan pola pikir masyarakat penutur bahasa kedua bahasa tersebut. Jenis kosakata dalam bahasa Jepang dapat dibagi menjadi empat golongan besar yaitu wago, kango, gairaigo, dan konshugo. Wago adalah kata yang berasal dari bahasa Jepang, kango dan gairaigo adalah kata yang masuk dari Cina dan negara asing lainnya atau dengan kata lain disebut juga sebagai kata pinjaman (shayougo). Sedangkan yang dimaksud

Alamat koespondensi pada Soni Mulyawan Setiana, Jurusan Sastra Jepang Universitas Komputer Indonesia, Jalan Dipati Ukur 114, Bandung 40132.

65

SONI MULYAWAN SETIANA

dengan konshugo adalah kata yang merupakan gabungan lebih dari dua jenis bahasa dari tiga jenis bahasa yang disebutkan di atas. PEMBAHASAN Gairaigo sebagai salah satu jenis kosakata dalam bahasa Jepang, apabila dilihat dari arti tulisannya dapat didefinisikan sebagai katakata yang berasal dari bahasa asing yang menjadi bahasa Jepang. Apabila dilihat dari asal muasalnya, kango bisa juga diartikan sebagai gairaigo, akan tapi sekarang ini sangat sulit untuk membedakannya dengan wago, karena kango masuk ke Jepang bersamaan dengan masuknya kanji, yaitu sekitar sebelum abad ke-16 masehi. Oleh karena itu dibedakan dengan gairaigo yaitu bahasa yang datang dari Eropa. Nashihin (2003) mengemukakan terdapat beberapa cara untuk membentuk kosakatakosakata baru dalam bahasa Jepang, di antaranya melalui proses: 1. Affiksasi, suatu proses sangat umum dalam pembentukan kata dalam bahasa Jepang melalui proses affiksasi, yakni melalui prefiksasi dan sufiksasi. Ini merupakan proses-proses di mana sufiks atau prefiks sebagai suatu morfem diinfleksikan ke sebuah bentuk dasar. 2. Penggabungan, penggabungan dalam bahasa Jepang dapat dibentuk dengan satu ragam cara. Sebagai contoh, komposisikomposisi dari penggabungan bisa saja merupakan kata-kata asli, Sino-Jepang (berasal dari China), atau kombinasi dari kata-kata yang aslinya berbeda. 3. Reduplikasi, suatu proses di mana sebagian dari sebuah kata atau keseluruhan kata diulangi untuk menciptakan suatu kata baru. Dua contoh dari reduplikasi dalam bahasa Jepang yaitu mimetik dan reduplikasi semu (renyookei). 4. Serapan, yaitu sebagai suatu proses terakhir dalam pembentukan kata-kata dalam bahasa Jepang adalah serapan (pinjaman). Semua kata-kata serapan termasuk gabun66

gan-gabungan kelompok ini.

Sino-Jepang,

ada

pada

Gairaigo sebagai salah satu kosa kata bahasa Jepang termasuk ke dalam kosakata serapan. Prosentase gairaigo dalam kosakata bahasa Jepang kira-kira 10%, diperkirakan pada beberapa bidang ilmu pengetahuan dalam waktu yang tidak terlalu lama, prosentase gairaigo akan mencapai 60-80% sehingga menjadi kosakata yang sangat penting untuk mengetahui kehidupan orang Jepang secara umum. Penggunaan gairaigo berbeda berdasarkan usia, pekerjaan, dan tingkat pendidikan pemakainya. Perbedaan gairaigo dan tingkatan penerimaannya di masyarakat pun bermacammacam. Sejalan dengan itu, gairaigo memperkuat adanya hubungan dengan masyarakat yang berbeda budaya sehingga dapat dilihat adanya komunikasi antara budaya yang berbeda dan adanya kesadaran untuk melakukan komunikasi tersebut. Kemunculan Gairaigo dan Sejarahnya Sebelum pertengahan abad ke-16, gairaigo adalah bahasa yang datang dari negara asia timur, seperti: kango, bahasa Ainu (Sake, Sapporo), bahasa Korea (ki-sen), Hango (bahasa Sansekerta yang banyak memuat istilah agama Budha, kesa, sara, danna dan sebagainya). Gairaigo setelah akhir abad pertengahan adalah bahasa yang datang dari akhir jaman Muromachi sampai awal jaman Edo, yaitu bahasa Portugal (pan, tabako), bahasa Spanyol (Meriyasu), bahasa Belanda ( kouhii, gomu, garasu, biiru, ponpu, penki, zukku, madorosu). Setelah zaman Meiji, gairaigo yang berasal dari bahasa Inggris bertambah dengan pesat, jumlahnya lebih banyak dari jumlah gairaigo sekarang. Bahasa-bahasa dari ilmu pengetahuan, misalnya bahasa Yunani, bahasa Latin (idea, aribai, deeta), istilah dalam ilmu ke-

GAIRAIGO

dokteran, psikologi, naik gunung (gaaze, zain, pikkeru), istilah yang berhubungan dengan seni, mode, memasak yang keba-nyakan berasal dari bahasa Perancis (atore,puretaporute, Omuretsu), istilah musik dari bahasa Italia (andente, pianishimo) yang semuanya mempunyai cerita masing-masing dalam penerimaannya pada bidang ilmu masing-masing. Setelah perang, banyak masuk kata-kata yang berasal dari bahasa Inggris Amerika yang prosentasenya hampir 90% dari gairaigo yang ada sekarang, contohnya: Danpu kaa, yang merupakan bahasa Inggris buatan Jepang. Kemudian mulailah bermunculan bahasa asing yang digabung dengan bahasa Jepang misalnya, aoi kamera. Kemudian kosakata pinjaman yang terdiri dari dua buah kata pun menjadi banyak, misalnya: souraa sisutemu, tiichingu purojekkuto, dan lain-lain. Selain itu, makin banyak juga kosakata yang disingkat misalnya, rajikase berasal adari kata rajio dan kasetto, pasokon berasal dari kata paasonaru dan konpyuutaa atau yang berdasarkan huruf misalnya TV untuk televisi dan OL untuk Office Lady. Dalam istilah ilmu pengetahuan terutama istilah yang berhubungan dengan ilmu alam dan industri banyak digunakan bahasa pin-jaman dari bahasa Inggris, misalnya: intaaferon dan puraimu.reeto. Sehingga gairaigo yang berasal dari bahasa Inggris tersebut harus diterapkan. Adapun Pembentukan gairaigo disesuaikan dengan sistem fonologi Jepang dan dengan kategori dari pola infleksional bahasa Jepang. Ketika kata-kata diserap dari sautu bahasa lainnya, beberapa perubahan fonologis terobservasi sehingga pengucapan kata-kata serapan terebut konsisten pada sistem fonologis dari bahasa Jepang, sebagai contoh voice menjadi boisu. Pemodifikasianpemodifikasian yang digabungkan bersama serapan-serapan tidak terbatas pada perubahan fonologis saja, ketika kata-kata asing diserap ke dalam bahasa Jepang, kategori67

kategorinya pun ikut disesuaikan sehingga kata-kata serapan tersebut konsisten dengan pola-pola infleksional dalam bahasa Jepang yang memperlihatkan suatu kategori tertentu, contoh: paniku-ru berasal dari panic. Satu tipe lain dari pembentukan kata adalah pemendekan (clipping), yang merupakan sebuah proses penyederhanaan kata-kata, sebagai contoh: a. Keisatsu menjadi satsu b. Denki takujooki menjadi dentaku c. Seiyoo-shiki menjadi yooshiki d. Suupa-maaketto menjadi suupaa e. kara-orchestra menjadi karaoke Pendidikan Bahasa Jepang dan Gairaigo Pada hakekatnya tujuan akhir pendidikan bahasa Jepang adalah pembelajar mampu berbicara dalam bahasa Jepang, mampu memahami kalimat yang ditulis dalam bahasa Jepang, mampu mengekspresikan dengan benar isi komunikasi yang ingin disampaikan kepada lawan bicara baik secara lisan ataupun tulisan. Soepardjo (2002) mengemukakan bahawa untuk mencapai tujuan tersebut, pengajar perlu melakukan pembelajaran yang menitikberatkan pada empat aspek yaitu: 1) aturanaturan pembentukan kalimat, 2) huruf, 3) pelafalan, 4) kata yang berperan sebagai satuan terkecil dalam pembentukan kalimat. Kajian kosakata yang membahas permasalahan kata dinamakan goiron. Salah satu dari kajian kosakata adalah gairaigo atau kata serapan. Pembelajar bahasa Jepang yang bahasa ibunya bukan bahasa Jepang akan mengalami kesulitan dan kendala dalam mempelajari gairaigo. Ada beberapa faktor yang menjadi alasan mengapa gairaigo itu sulit bagi pembelajar bahasa Jepang. 1. Pelafalannya berbeda dengan pelafalan asalnya. 2. Bahasa itu sendiri berbeda dengan bahasa asal dan ada juga yang artinya berbeda

SONI MULYAWAN SETIANA

dengan bahasa asalnya. 3. Adanya penambahan penulisan 4. Ada kata yang penulisannya sama tapi mempunyai arti yang berbeda. 5. Banyak nomina yang menjadi verba, adjektif menjadi verba adjektiva. 6. Adanya penggabungan gairaigo dengan bahasa Jepang. Bagian (1), misalnya strike (satu suku kata) menjadi su-to-ra-i-ku (lima suku kata) perubahan bunyi ini menyebabkan pembelajar bahasa Jepang menganggap bahwa sutoraiku itu bukan berasal dari strike. Aksennya pun memang 2-3 kata kelihatannya sama dengan bahasa asal tapi karena aksen kata tersebut dalam bahasa Jepang menjadi datar dan aksennya hanya mendekati bahasa asal maka sangat sulit untuk dimengerti. Di samping itu, kata tersebut sulit dimengerti karena ditulis dalam katakana. Bagian (2) ada beberapa kata bahasa Inggris bila diucapkan dalam bahasa Jepang yang mempunyai arti yang berbeda dari bahasa asli, misalnya stove, dalam bahasa Inggris kata tersebut menunjukkan konro dan renji, tetapi dalam bahasa Jepang, stove digunakan untuk menunjukkan alat pemanas. Kemudian hausu dan boui yang dalam bahasa Jepang hanya digunakan dalam situasi tertentu. Kata-kata seperti di atas, bagi orang yang mengetahui bahasa asal sangat sulit untuk dimengerti. Hal ini menjadi masalah bagi pembelajaran bahasa Jepang. Bagian (3) misalkan dalam penulisan team apakah tiimu atau chiimu. Dalam bahasa Jepang bunyi v, f ,kwa ditulis ba,ha,ka kemudian bunyi tu,du,ti,di jadi chu,ju,chi,ji, dan sebagainya. Pendek kata, bagi orang yang mengerti bagaimana menulis kata tersebut dalam bahasa asalnya akan bingung apakah harus ditulis mendekati bahasa asal atau ditulis secara Jepang. Untuk peraturan penulisan gairaigo tersebut diumumkan dalam rapat badan konsultasi bahasa yang ke-20 Maret 1954, yaitu bahasa Asing yang lazim dipakai dalam bahasa Jepang menggunakan penuli68

san sesuai dengan yang telah ditetapkan. Untuk bahasa asing yang belum ditetapkan, penulisannya berdasarkan pendengaran orang Jepang terhadap pelapalan bahasa asal tersebut, mudah dimengerti oleh masyarakat umum dan sedapat-dapatnya menggunakan penulisan yang semudah-mudahnya. Sebagai contoh Venice dalam bahasa Jepang ditulis menjadi buenezia kemudian diubah lagi menjadi benezia. Penulisan tersebut pada mulanya ditulis berdasarkan kebiasaan yang sering dipakai berdasarkan pelapalan bahasa asal, tapi kemudian diubah berdasarkan pelafalan yang umum dimasyarakat dan kemudian diubah lagi ke dalam bentuk yang lebih mudah. Bagian (4) dalam bahasa asal suatu kata bisa dibedakan dalam pelapalannya, tetapi dalam bahasa Jepang tidak bisa dibedakan sehingga muncul masalah satu kata mempunyai pelapalan yang sama tapi arti beda. Misalnya raito sutando dan heddo raito kemudian ajino furai dan yakyu no furai. Bagian (5) beberapa nomina dalam gairaigo yang menjadi verba dengan ditambahkan kata suru, misalnya: imeeji suru, charenji suru, dan sebagainya. Selain itu, ada pula adjektif yang menjadi verba adjektiva dengan ditambahkan da, ni, na, contoh: anohito wa ereganto da, ereganto na yofuku o kiri, tsutomete ereganto ni yosoou. Point (6) banyak kata-kata gairaigo yang digabung dengan bahasa Jepang misalnya maihoumu zukuri, dounatsukagenzo dan lain-lain yang perlu untuk dimengerti oleh pembelajar bahasa Jepang. Para pembelajar bahasa Jepang tingkat awal mungkin tidak terbebani dengan masalah gairaigo tersebut karena gairaigo yang dipelajari masih sedikit berbeda dengan pembelajar bahasa Jepang pada tingkat menengah. Ketika mereka membaca Koran, majalah buku-buku tentang alam dan sebagainya, gairaigo menjadi salah satu masalah.

GAIRAIGO

Penulisan gairaigo yang ditulis berdasarkan pendengaran orang Jepang atau berdasarkan bahasa Jepang merupakan hal yang tidak mudah bagi para pembelajar bahasa Jepang yang tidak menguasai bahasa Jepang. Bagi pembelajar bahasa Jepang yang berbahasa Inggris pun karena ada perbedaan seperti yang dijelaskan di atas, gairaigo menjadi masalah juga bagi mereka. Untuk mengatasi kesulitan- kesulitan dalam pengajaran kosakata termasuk di dalamnya gairaigo, Soepardjo (2002) mengemukakan beberapa cara untuk mengatasi kesulitankesulitan tersebut, di antaranya: 1) menjelaskan makna kata-kata baru yang muncul dalam sebuah teks dengan tepat, untuk itu pertamatama pengajar dapat menggunakan cara penerjemahan, 2) menggunakan alat peraga, yaitu berupa benda yang sebenarnya atau melalui media gambar, 3) menggunakan bahasa Jepang ketika memberikan materi kepada pembelajar, 4) membuat contoh kalimat. Untuk dapat mengaplikasikan kosakata tersebut ke dalam bahasa lisan atau tulisan dibutuhkan latihan dan ketekunan pembelajar sehingga tujuan pembelajaran bahasa Jepang akan tercapai. PENUTUP Gairaigo adalah kata serapan yang berasal dari bahasa asing khususnya bahasa-bahasa Eropa, yang dalam penulisannya ditulis dengan huruf katakana. Dalam proses pembentukan gairaigo perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Gairaigo disesuaikan dengan sistem fonologi Jepang 2. Gairaigo disesuaikan dengan kategori

3. 4.

dan Pola Infleksional Bahasa Jepang. Konstruksi Penggabungan Konstruksi Pemendekkan

Penguasaan Gairaigo merupakan hal yang mutlak bagi pembelajar bahasa Jepang, karena gairaigo termasuk jenis kosakata yang banyak digunakan, khususnya di dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi mempelajari gairaigo, bagi para pembelajar bahasa Jepang merupakan suatu hal yang dirasakan sulit. Untuk mengatasi kesulitan tersebut dibutuhkan keterampilan pengajar dalam menyampaikan materi tentang kosakata dalam khususnya mengenai gairaigo, serta latihan dan ketekunan pembelajar, agar tujuan pendidikan bahasa Jepang dapat tercapai. DAFTAR PUSTAKA Djodjok, S. (2002). Pengajaran kosakata dalam pendidikan Bahasa Jepang. Makalah Seminar Nasional Asosiasi Pendidikan Bahasa Jepang Indonesia, UPI. Nashihin, A. (2003). Konstruksi serapan bahasa asing dalam kosakata Bahasa Jepang. Makalah Simposium Internasional The Japanese Language Education Reseach Past, Present and The Future - . UNPAD. Shibatani, M. (1990). The languages of Japan. Cambridge, England: Cambridge University Press. (1997). Konsep Kosakata Bandingan Untuk Bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang. Prasasti 26. Tadjuddin, M. (2003). Bahasa dan kebudayaan. Orasi Ilmiah Sidang Terbuka Senat UNIKOM, Bandung.

69

SONI MULYAWAN SETIANA

70