P. 1
Sop Kur 2010 Kep No 20 Menko

Sop Kur 2010 Kep No 20 Menko

|Views: 1,140|Likes:
Dipublikasikan oleh ryonaldo

More info:

Published by: ryonaldo on Feb 06, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2013

pdf

text

original

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN TERIAN

REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI NOMOR: KEP - 20/D.I.M.EKON/11/2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PELAKSANAAN KREDIT USAHA RAKYAT DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka perluasan dan peningkatan efektivitas pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat telah dilakukan Rapat Koordinasi Evaluasi Pelaksanaan KUR Semester I Tahun 2010 tanggal 13 Juli 2010, Sidang Kabinet pada tanggal 29 Juli 2010, dan Rapat Koordinasi Komite Kebijakan KUR tanggal 26 Agustus 2010; b. bahwa berdasarkan hasil rapat koordinasi dan sidang kabinet sebagaimana dimaksud huruf a, telah dilakukan perubahan Nota Kesepahaman Bersama dengan ditandatanganinya Addendum III Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding) tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi pada tanggal 16 September 2010 c. bahwa perubahan Nota Kesepahaman Bersama sebagaimana dimaksud pada huruf b, perlu diikuti dengan perubahan standar operasional dan prosedur pelaksanaan program penjaminan kredit/ pembiayaan kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi ; d. berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan huruf c, perlu menetapkan Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi tentang Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat; Mengingat ...

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN RIAN

REPUBLIK INDONESIA -2Mengingat : 1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor: 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara; 2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor: 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara; 3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 60/M Tahun 2009; 4. Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor:_PER03/M.EKON/07/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; 5. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor:_KEP22/M.EKON/10/2009 tentang Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi; 6. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Selaku Ketua Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi Nomor:_KEP-07/M.EKON/ 01/2010 tentang Penambahan Bank Pelaksana Kredit Usaha Rakyat; MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN, KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI TENTANG STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PELAKSANAAN KREDIT USAHA RAKYAT. PERTAMA : Menetapkan Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat yang terdiri atas: a. Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat sebagaimana Lampiran I; dan b. Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat bagi Tenaga Kerja Indonesia sebagaimana Lampiran II. KEDUA ...

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN RIAN

REPUBLIK INDONESIA -3-

KEDUA

: Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Diktum PERTAMA sebagaimana terlampir dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi ini.

KETIGA

: a. Dengan berlakunya Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Kepada Koordinator Usaha Mikro, Bidang Kecil, Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Menengah dan Koperasi ini, maka Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi Nomor: KEP-01/D.I.M.EKON/01/2010 tentang Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat, dinyatakan dicabut dan tidak berlaku. b. Segala perjanjian kerja sama yang dilakukan oleh Bank Pelaksana dan Perusahaan Penjamin berdasarkan Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi Nomor: KEP-01/D.I.M.EKON/01/2010 tentang Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat dinyatakan tetap berlaku sampai masa berlakunya Perjanjian Kerja Sama berakhir.

KEEMPAT ...

ttd ERLANGGA MANTIK . Salinan sesuai dengan aslinya Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 5 November 2010 DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO. KECIL. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro. Menengah dan Koperasi ini mulai berlaku sejak tanggal 16 September 2010. MENENGAH DAN KOPERASI. Kecil.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN RIAN REPUBLIK INDONESIA -4KEEMPAT : Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan.

. Sebaran realisasi penyaluran KUR sampai dengan Juli 2010 menurut sektor ekonomi menunjukkan pangsa sektor perdagangan mencapai 69% (enam puluh sembilan persen). KECIL. Latar Belakang Sejak diluncurkan oleh Presiden Republik Indonesia tanggal 5 November 2007. sementara sektor pertanian 15% (lima belas persen).3% (dua koma tiga persen) dan sektor lainnya 13. Pada tahun 2008 penyaluran KUR meningkat sangat pesat mencapai Rp 11.I.730.. Menengah. program penjaminan kredit/pembiayaan kepada Usaha Mikro.(sebelas trilyun empat ratus tujuh puluh milyar rupiah).000.EKON/1 : KEP .EKON/11/2010 NOVEMBER : 5 NOVEMBER 2010 STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PELAKSANAAN KREDIT USAHA RAKYAT BAB I PENDAHULUAN A.000. Sedangkan pada tahun 2009 menurun cukup tajam mencapai Rp 4.20/D. Hal ini disebabkan oleh menurunnya kredit secara umum karena penurunan aktivitas ekonomi akibat krisis global. MENENGAH DAN KOPERASI NOMOR TANGGAL 20/D.000.000. Sebaran … .000.M. dan Koperasi (UMKMK).(empat trilyun tujuh ratus tiga puluh milyar rupiah)..000.000.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN I KEPUTUSAN DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO.I.7% (tiga belas koma tujuh persen).000.EKON/ /2010 /D. penyalurannya sampai dengan akhir tahun 2007 mencapai Rp 982. Kecil.000.M.M. sektor industri 2.(sembilan ratus delapan puluh dua milyar rupiah). yang selanjutnya disebut Kredit Usaha Rakyat (KUR) mendapat respon positif dari masyarakat.I.470.

Pemerintah akan menyiapkan dana penjaminan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp. Dalam Rapat Koordinasi Komite Kebijakan KUR yang membahas evaluasi pelaksanaan KUR Semester I tahun 2010 telah disepakati kebijakan akselerasi penyaluran KUR dan peningkatan penyebaran KUR kepada sektor pertanian. Relaksasi pengaturan penyaluran KUR. Sementara penerima KUR terbesar di luar Jawa adalah Sumatera Utara. dan Menengah yang ditandatangani pada tanggal 16 September 2010. Ada tiga aksi yang akan dikerjakan yaitu: 1..(dua puluh juta rupiah). Jawa Tengah.000. 3. Dalam rangka meningkatkan kembali penyaluran dan efektivitas KUR. Kecil.000.000.2014.(lima juta rupiah) menjadi Rp 20. kelautan dan perikanan. Pemerintah mencanangkan program revitalisasi KUR mulai tahun 2010. Selanjutnya dalam rangka implementasi kesepakatan baru tersebut maka diperlukan adanya perubahan Standar Operasional dan Prosedur (SOP) Pelaksanaan KUR. dan Sumatera Selatan. Selain daripada itu dalam rangka akses pembiayaan TKI maka KUR dapat diberikan kepada TKI dengan penjaminan sebesar 80% (delapan puluh persen). Penambahan bank pelaksana KUR dengan keikutsertaan Bank Pembangunan Daerah dan kelompok bank lain. 2. 2. 3. kehutanan dan industri kecil dengan langkah – langkah antara lain: 1.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -2- Sebaran realisasi KUR menurut wilayah. B..000. kelautan dan perikanan. Akselerasi dan efektivitas penyaluran KUR telah dirumuskan dalam Addendum III Nota Kesepahaman Bersama tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Usaha Mikro.000.(dua trilyun rupiah) setiap tahun periode 2010 . Meningkatkan porsi penjaminan dari semula 70% (tujuh puluh persen) menjadi 80% (delapan puluh persen) untuk sektor pertanian. 2. dan Jawa Barat merupakan penerima terbesar KUR secara nasional.000.000. kehutanan dan industri kecil. Dasar … . Meningkatkan plafon KUR Mikro dari semula Rp 5.000. Sulawesi Selatan.. menunjukkan Jawa Timur.

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -3- B. antara lain: 1. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3502). Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3472). Menengah. 5. C. Undang-Undang Nomor: 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara 1992 Nomor: 31. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Selaku Ketua Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro. 2. Kecil dan Menengah (Lembaran Negara 2008 Nomor: 93. Dasar Hukum Beberapa peraturan perundangan yang terkait dengan SOP ini. Maksud dan Tujuan 1.05/2010. dan Koperasi Nomor:_KEP-07/M. pemantauan dan evaluasi. pelaksanaan. Menengah.EKON/ 10/2009 tentang Komite Kebijakan Penjaminan Kredit kepada Usaha Mikro. Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 135/PMK. Sebagai pedoman/petunjuk pelaksanaan bagi masing-masing pihak yang terkait dengan perencanaan. Kecil. 6.EKON/01/2010 tentang Penambahan Bank Pelaksana Kredit Usaha Rakyat. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4866). D. Sasaran … . dan Koperasi. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor: KEP-22/M. Undang-Undang Nomor: 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian (Lembaran Negara 1992 Nomor: 116. 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3790). serta pengawasan program KUR.05/2008 tentang Fasilitas Penjaminan Kredit Usaha Rakyat sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 189/PMK. Memperluas dan meningkatkan efektivitas pelaksanaan KUR agar sesuai dengan pengaturan yang diamanatkan dalam Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding/MOU) beserta addendum-nya. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor: 10 Tahun 1998 (Lembaran Negara 1998 Nomor: 182. Kecil. 4. Undang-Undang Nomor: 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro.

PT. Bank Nagari. 2. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. PT. yaitu Kementerian Keuangan. Untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi UMKMK yang melakukan kegiatan usaha produktif dan layak namun belum bankable. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. PT. 3. Tercapainya percepatan perkembangan sektor riil dan pemberdayaan UMKMK dalam rangka penanggulangan/pengentasan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. serta pengawasan program KUR. PT. Kementerian Pertanian. PT. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Kredit/Pembiayaan: Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Bank Bukopin Tbk. pelaksanaan. 2. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. PT.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -4- D. dan 13 Bank Pembangunan Daerah (BPD) yaitu PT. Bank Syariah Mandiri. 3. Kementerian Perindustrian. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kementerian: Kementerian yang menurut Nota Kesepahaman Bersama tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada UMKMK merupakan Pelaksana Teknis Program. Bank … Bank Pelaksana dengan Debitur KUR yang mewajibkan Debitur KUR untuk melunasi . pemantauan dan evaluasi. Sebagai pedoman para pihak yang terkait dengan perencanaan. PT. Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Pelaksana dengan Debitur KUR yang mewajibkan Debitur KUR untuk mengembalikan dana atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan/bagi hasil/marjin. E. Kementerian Kehutanan. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sasaran 1. Bank Pelaksana: Bank yang ikut menandatangani Nota Kesepahaman Bersama Penjaminan Kredit/ Pembiayaan Kepada UMKMK yaitu PT. Pengertian Umum 1. Bank DKI.

3) Kehutanan: Seluruh usaha mikro dan kecil di sektor kehutanan dengan kode LBU mulai dari 020100 s/d 020500 kecuali sektor perdagangannya. 70% (tujuh puluh persen) untuk sektor lainnya. 4) Industri Kecil: Industri dengan kode LBU mulai dari 151110 s/d 372000 yang termasuk ke dalam kriteria usaha mikro dan kecil sesuai dengan Undang-Undang No. PT.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -5- PT. Kecil dan Menengah kecuali sektor perdagangannya. Bank Sulut. b) Hortikultura sayuran dan bunga-bungaan dengan kode LBU mulai dari 011211 s/d 011250.. Bank Kalbar. Perusahaan . PT. PT. PT. 6. Bank Maluku. PT. 80%(delapan puluh persen) untuk: 1) Sektor Pertanian. PT. . a) Tanaman pangan dan perkebunan dengan kode LBU mulai dari 011110 s/d 011190. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. Bank Papua serta bank lainnya yang secara sukarela mengikatkan diri dan tunduk kepada Nota Kesepahaman Bersama tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada UMKMK. 4. Bank NTB. Penjaminan: Kegiatan pemberian jaminan atas pemenuhan kewajiban finansial debitur KUR oleh Perusahaan Penjamin. Bank Jateng. 2) Kelautan dan Perikanan: Seluruh usaha mikro dan kecil di sektor kelautan dan perikanan dengan kode LBU mulai dari 050111 s/d 050590 kecuali sektor perdagangannya. 5) Tenaga Kerja Indonesia (TKI) b. dan d) Peternakan dengan kode LBU mulai dari 012110 s/d 015000. BPD Kalsel. PT. Bank Jabar Banten. Bank Jatim. PT. BPD DIY. 5. Cakupan penjaminan: a. c) Buah-buahan dan perkebunan tanaman rempah dengan kode LBU mulai dari 011311 s/d 011399.. Bank Kalteng.

000. 500. dan Lembaga Linkage. 9. Calon Debitur KUR: Usaha Mikro. dikuasai.000. 50.(lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.(Persero) Asuransi Kredit Indonesia (PT.(tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -6- 6. Perusahaan Penjamin: PT. atau b) memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp.000. Usaha Kecil: Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri.(lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.000..000. 7. 50.. 300.000.500.. Usaha Menengah. kelompok usaha.000.000.000. Askrindo) dan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo) serta perusahaan penjamin lainnya yang secara sukarela mengikatkan diri dan tunduk kepada Nota Kesepahaman Bersama untuk melakukan dan memberikan sebagian penjaminan kredit/ pembiayaan secara otomatis bersyarat (conditional automatic cover ) kepada Bank Pelaksana. Usaha Mikro: Usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria: a) memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 10. 300.....000. 8. Koperasi. Usaha Kecil. 2.(dua milyar lima ratus juta rupiah).000.. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria: a) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. atau b) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.(lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.000. Usaha .(tiga ratus juta rupiah). .

Usaha Layak: Usaha calon debitur yang menguntungkan/memberikan laba sehingga mampu membayar bunga/marjin dan mengembalikan seluruh hutang/kewajiban pokok Kredit/Pembiayaan dalam jangka waktu yang disepakati antara Bank Pelaksana dengan Debitur KUR dan memberikan sisa keuntungan untuk mengembangkan usahanya. dikuasai. 11.000. 50..000. 10. 500. 12.(lima puluh milyar rupiah).000.000. 15...(dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.500.(lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.000.000. Usaha Menengah: Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri. yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki.000. 2. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan yang memenuhi kriteria: a) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. Belum . 13. Kelompok Usaha: Kumpulan orang perorang atau badan usaha (UMKM) yang melakukan kegiatan usaha produktif dan dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan atau kesamaan kondisi lingkungan untuk meningkatkan usaha anggotanya. atau b) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. .KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -7- 10... 14.000.000.000. Usaha Produktif: Usaha untuk menghasilkan barang dan/atau jasa untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan bagi pelaku usaha.(sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Koperasi: Badan Usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.

000.(dua puluh juta rupiah) dikenakan suku bunga kredit/marjin pembiayaan. Lembaga Linkage: Lembaga yang meneruspinjamkan KUR dari Bank Pelaksana kepada UMKMK. . BAB II . 18. Koperasi Primer (Koperasi Simpan Pinjam..000... Lembaga Keuangan Mikro pola konvensional atau syariah.000. 17.000.(lima ratus juta rupiah) dikenakan suku bunga kredit/marjin pembiayaan. Lembaga Keuangan Non Bank. Belum Bankable: UMKMK yang belum dapat memenuhi persyaratan perkreditan/pembiayaan dari Bank Pelaksana antara lain dalam hal penyediaan agunan dan pemenuhan persyaratan Pelaksana.(dua puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 500. Pola Executing: KUR yang diberikan oleh Bank Pelaksana kepada Lembaga Linkage untuk diteruspinjamkan kepada UMKMK. Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP) 20.. 19.000. Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (BPR/BPRS). Unit Simpan Pinjam Koperasi). KUR Mikro: KUR dengan plafon sampai dengan Rp 20. KUR Ritel: KUR dengan plafon di atas Rp 20. Baitul Mal Wa Tanwil (BMT). antara lain Badan Kredit Desa (BKD). 16.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -8- 15. Pola Channeling: KUR yang diberikan oleh Bank Pelaksana kepada UMKMK melalui Lembaga perkreditan/pembiayaan yang sesuai dengan ketentuan Bank Linkage. Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). 21. Lembaga Keuangan Mikro: Badan usaha yang menyediakan layanan jasa keuangan mikro.000. maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen) efektif per tahun. yaitu Koperasi Sekunder. Kewajiban pengembalian KUR menjadi tanggung jawab dari Lembaga Linkage selaku penerima KUR. Kewajiban pengembalian KUR menjadi tanggung jawab dari UMKMK selaku penerima KUR. maksimal sebesar/setara 14% (empat belas persen) efektif per tahun.. Kelompok Usaha.

maka diperlukan Surat Keterangan Lunas/Roya dengan lampiran cetakan rekening dari Bank Pelaksana/pembiayaan sebelumnya. kehutanan dan industri kecil.000. Persyaratan umum bagi UMKMK untuk dapat menerima KUR. kelautan dan perikanan. tetapi yang bersangkutan sudah melunasi pinjaman. Penyaluran KUR diharapkan dapat membantu pengembangan usaha produktif.. 3... 500. 2. 70% (tujuh puluh persen) untuk sektor lainnya dari kredit/pembiayaan. 2. yaitu: 1.000. tidak sedang menerima kredit/pembiayaan modal kerja dan/atau investasi dari perbankan dan/atau yang tidak sedang menerima Kredit Program dari Pemerintah. Kredit Kendaraan Bermotor. Kartu Kredit dan kredit konsumtif lainnya). untuk UMKMK yang akan meminjam KUR Mikro. baik yang disalurkan secara langsung maupun tidak langsung. 80% (delapan puluh persen) untuk sektor pertanian.(lima ratus juta rupiah) yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin. Mekanisme . Sumber dana KUR adalah 100% (seratus persen) berasal dari dana Bank Pelaksana.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -9- II BAB II PELAKSANAAN KUR A. 4. yang dibuktikan dengan hasil Sistem Informasi Debitur Bank Indonesia pada saat permohonan kredit/pembiayaan diajukan. dapat sedang menerima kredit konsumtif (Kredit Kepemilikan Rumah. KUR yang disalurkan oleh Bank Pelaksana dijamin secara otomatis bersyarat (conditional automatic cover) oleh Perusahaan Penjamin dengan nilai penjaminan sebesar: 1. dalam hal UMKMK masih memiliki baki debet yang tercatat pada Sistem Informasi Debitur Bank Indonesia. Ketentuan Umum Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah kredit/pembiayaan modal kerja dan atau investasi kepada UMKMK di bidang usaha yang produktif dan layak namun belum bankable dengan plafon kredit sampai dengan Rp. tidak diwajibkan untuk dilakukan pengecekan Sistem Informasi Debitur Bank Indonesia. .

. kehutanan. Langsung dari Bank Pelaksana ke UMKMK Bank Pelaksana a UMKMK b Perusahaan Penjamin a) Bank melakukan penilaian secara individu terhadap calon Debitur KUR. c) Bank Pelaksana mengajukan permintaan penjaminan kredit/pembiayaan kepada Perusahaan Penjamin.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . maka Debitur KUR menandatangani Perjanjian Kredit . b) Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada Perusahaan Penjamin dengan penjaminan sebesar 80% (delapan puluh persen) untuk sektor pertanian. Apabila dinilai layak dan disetujui oleh Bank Pelaksana. . dan selanjutnya Perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan. 2. industri kecil dan sebesar 70% (tujuh puluh persen) untuk sektor lainnya dari plafon kredit yang diberikan. b) Bank Pelaksana melakukan pengecekan Sistem Informasi Debitur dan melakukan analisa kelayakan.. maka Bank Pelaksana memberikan persetujuan kredit/pembiayaan dengan menandatangani Perjanjian Kredit/Pembiayaan dengan Lembaga Linkage. Tidak langsung melalui Lembaga Linkage dengan Pola Executing Bank Pelaksana PK a Lembaga Linkage e b d UMKMK c Perusahaan Penjamin a) Lembaga Linkage mengajukan permohonan kredit/pembiayaan kepada Bank Pelaksana. Perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan atas nama Lembaga Linkage. Dalam hal dinyatakan layak. d) Lembaga .10 - Mekanisme penyaluran KUR diatur sebagai berikut 1. kelautan dan perikanan.

diatur hal-hal sebagai berikut: 1. 2) Menjaminkan agunan kepada Bank Pelaksana. a) Lembaga Linkage mewakili UMKMK mengajukan permohonan kredit kepada Bank Pelaksana. c) Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada Perusahaan Penjamin. Tidak diwajibkan untuk dilakukan pengecekan pada Sistem Informasi Debitur. maka tersebut Lembaga dengan mekanisme sebagai berikut: 1) Berdasarkan Linkage menandatangani Perjanjian Kredit/Pembiayaan dengan UMKMK atau 2) Berdasarkan kuasa dari UMKMK. maka Bank Pelaksana memberikan kuasa persetujuan dari Bank kredit/pembiayaan Pelaksana. 3. Tingkat … . e) Debitur UMKMK melakukan pembayaran kewajiban kredit/pembiayaan kepada Lembaga Linkage. 2.11 - d) Lembaga Linkage menyalurkan kredit/pembiayaan yang diterima dari Bank Pelaksana kepada debitur UMKMK dari Lembaga Linkage. Dapat disalurkan oleh semua Bank Pelaksana KUR. Tidak langsung melalui Lembaga Linkage dengan Pola Channeling Dalam rangka mendapatkan kredit/pembiayaan dari Bank Pelaksana. b) Bank Pelaksana melakukan pengecekan Sistem Informasi Debitur dan melakukan analisa kelayakan. d) Lembaga Linkage meneruspinjamkan kredit/pembiayaan yang diterima dari Bank Pelaksana kepada debitur UMKMK.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . maka Lembaga Linkage menandatangani Perjanjian Kredit/Pembiayaan dengan Bank Pelaksana. Penyaluran KUR Mikro Untuk melaksanakan KUR Mikro. 3. Debitur UMKMK melakukan pembayaran kewajiban kredit/pembiayaan kepada Bank Pelaksana melalui Lembaga Linkage. Dalam hal dinyatakan layak. UMKMK memberikan kuasa kepada pengurus Lembaga Linkage untuk: 1) Mengajukan kredit kepada Bank Pelaksana. Perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan atas nama masingmasing UMKMK. B.

000..12 - 3.. e) Suku bunga KUR dari Bank Pelaksana kepada Lembaga Linkage maksimal sebesar 14% (empat belas persen) efektif per tahun.000.(dua puluh juta rupiah) yang telah disetujui sebelum dilakukannya perubahan SOP ini tetap dikenakan suku bunga sesuai perjanjian awal yaitu maksimal sebesar/setara 14% (empat belas persen) efektif per tahun.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA ..000.000. 4..000.000.(seratus juta rupiah) per debitur.. 2. Pengaturan Penyaluran KUR Melalui Lembaga Linkage 1. f) Suku bunga dan plafon kredit/pembiayaan dari Lembaga Linkage kepada UMKMK ditetapkan maksimal sebesar 22% efektif per tahun dan maksimal Rp 100. g) Lembaga Linkage bertanggung jawab atas pengembalian KUR yang diterima dari Bank Pelaksana.000.. KUR Mikro dengan plafon di atas Rp 5. C. b) Lembaga Linkage tersebut tidak sedang memperoleh Kredit Program Pemerintah. Tingkat suku bunga kredit/marjin pembiayaan maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen) efektif per tahun. d) Plafon KUR yang dapat diberikan oleh Bank Pelaksana kepada Lembaga Linkage maksimal sebesar Rp 2. b) KUR .000. Dalam hal terdapat perubahan plafon kredit dan/atau jangka waktu kredit maka diberlakukan tingkat suku bunga maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen) efektif per tahun. KUR yang disalurkan kepada Lembaga Linkage dengan pola Channeling diatur sebagai berikut: a) Lembaga Linkage diperbolehkan sedang memperoleh Kredit/Pembiayaan dari perbankan maupun Kredit Program Pemerintah. KUR yang disalurkan kepada Lembaga Linkage dengan pola Executing diatur sebagai berikut: a) Lembaga Linkage tersebut diperbolehkan sedang memperoleh Kredit/ Pembiayaan dari perbankan.(lima juta rupiah) sampai dengan Rp 20.(dua milyar rupiah) yang wajib meneruspinjamkan kepada UMKMK.000. . c) Kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan Lembaga Linkage dikecualikan dari kriteria UMKMK penerima KUR.

maka dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada Bank Pelaksana. Dalam hal diperlukan perpanjangan. D. suku bunga dan jangka waktu KUR melalui Lembaga Linkage kepada debitur mengikuti ketentuan KUR Retail dan KUR Mikro. f) Jumlah kredit yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin adalah sesuai dengan yang diterima oleh Debitur KUR. Perpanjangan … . 2. suplesi. Agunan Tambahan a) Sesuai dengan ketentuan pada Bank Pelaksana. Jangka Waktu Jangka waktu KUR ditetapkan sebagai berikut: 1. Lembaga Linkage berhak memperoleh fee dari Bank Pelaksana yang besarnya ditentukan berdasarkan kesepakatan dengan Bank Pelaksana. Agunan dan Pengikatan 1. 3. b) Dalam hal diperlukan pengikatan. c) Plafon. 2. dan restrukturisasi.13 - b) KUR yang disalurkan oleh Bank Pelaksana adalah sesuai dengan daftar nominatif calon debitur yang diajukan oleh Lembaga Linkage. d) Atas penyaluran KUR tersebut. maka jangka waktu sebagaimana diatur dalam angka 1) dapat diperpanjang menjadi maksimal 6 (enam) tahun untuk kredit/pembiayaan modal kerja dan 10 (sepuluh) tahun untuk kredit/pembiayaan investasi terhitung sejak tanggal perjanjian kredit awal. Jangka waktu KUR tidak melebihi 3 (tiga) tahun untuk modal kerja dan 5 (lima) tahun untuk kredit/pembiayaan investasi. F. E. e) Debitur KUR bertanggungjawab atas pengembalian KUR. Agunan Pokok Kelayakan usaha dan obyek yang dibiayai. Jangka waktu kredit/pembiayaan investasi untuk usaha perkebunan tanaman keras dapat diberikan langsung maksimal 13 (tiga belas) tahun dan tidak dapat diperpanjang.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA .

000 (dua milyar rupiah) untuk KUR yang diberikan kepada Lembaga Linkage dengan pola Executing. Imbal Jasa Penjaminan menjadi beban Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). dan memerlukan tambahan kredit/ pembiayaan maka dapat diberikan perpanjangan berupa tambahan pinjaman maupun jangka waktu terhadap Debitur KUR tersebut tanpa menunggu pinjaman yang bersangkutan dilunasi. Tata cara penagihan dan pembayaran Imbal Jasa Penjaminan diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan. Imbal Jasa Penjaminan 1. Tambahan Pinjaman (Suplesi). H.(dua puluh juta rupiah) untuk KUR Mikro atau tidak melebihi sebesar Rp 500..000. G.14 - (Suplesi) Suplesi). 2. Kepada Debitur KUR yang usahanya meningkat.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . dengan ketentuan: a) Debitur yang bersangkutan masih belum dapat dikategorikan bankable. 3. b) Ketentuan lainnya sesuai dengan ketentuan KUR Mikro atau KUR Ritel. dihitung dari Nilai Penjaminan yang diperjanjikan. c) Terhadap KUR yang direstrukturisasi tidak menggugurkan hak klaim dari Bank Pelaksana kepada Perusahaan Penjamin.000. sesuai dengan ketentuan KUR Mikro atau KUR Ritel atau KUR melalui Lembaga Linkage. Perpanjangan. Tarif Imbal Jasa Penjaminan ditentukan dalam Peraturan Menteri Keuangan 2.(lima ratus juta rupiah) untuk KUR Ritel atau tidak melebihi Rp 2.000. dan Restrukturisasi 1.000. SOP tentang Verifikasi Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan KUR dan Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan KUR mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan. c) Ketentuan lainnya.000. Debitur KUR yang bermasalah dimungkinkan untuk direstrukturisasi sesuai ketentuan yang berlaku di Bank Pelaksana. b) Total pinjaman setelah penambahan tidak melebihi Rp 20. dengan ketentuan: a) Tidak diperbolehkan penambahan plafon pinjaman KUR.000. Ketentuan … . F.

kehutanan dan industri kecil: 80% (delapan puluh persen) x (sisa pokok + bunga pada saat pengajuan klaim + denda) dengan setinggi-tingginya sebesar 80% (delapan puluh persen) x plafon KUR.. 3. 3) Debitur diletakkan di bawah pengampuan. b) Untuk sektor lainnya: 70% (tujuh puluh persen) x (sisa pokok + bunga pada saat pengajuan klaim + denda) dengan setinggi-tingginya sebesar 70% (tujuh puluh persen) x plafon KUR. e) Tindakan . radiasi reaksi inti atom yang langsung mengakibatkan kegagalan usaha Debitur untuk melunasi KUR tanpa memandang bagaimana dan dimana terjadinya.. kelautan dan perikanan. Ketentuan Penjaminan 1. Resiko Kerugian Debitur KUR yang tidak dijamin. sentuhan radio aktif. Syarat Klaim Klaim dapat diajukan kepada Perusahaan Penjamin setelah: a) Perjanjian kredit jatuh tempo dan Debitur KUR tidak melunasi kewajiban pengembalian pinjaman. c) Peperangan baik dinyatakan maupun tidak atau sebagian wilayah Indonesia dinyatakan dalam keadaan bahaya atau dalam keadaan darurat perang. b) Reaksi nuklir.15 - H. atau b) KUR yang bersangkutan dalam kolektibilitas kredit 4 (diragukan) sesuai ketentuan Bank Indonesia. 2) Debitur dikenakan likuidasi berdasarkan keputusan Pengadilan yang berwenang dan untuk itu telah ditunjuk likuidator. . atau c) Keadaan insolvent: 1) Debitur dinyatakan pailit oleh Pengadilan yang berwenang. Besarnya Klaim Klaim penjaminan yang dapat diajukan oleh Bank Pelaksana sebesar: a) Untuk sektor pertanian. d) Huru-hara yang berkaitan dengan gerakan atau kerusuhan politik yang secara langsung mengakibatkan kegagalan debitur untuk melunasi KUR. 2. yaitu: a) Bencana alam nasional (dan/atau wabah penyakit menular pada manusia/ hewan berkuku/unggas) yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA .

6. Monitoring. I. Secara keseluruhan pembayaran klaim maksimum yang dapat dilakukan oleh Perusahaan Penjamin adalah sebesar maksimum dana Penyertaan Modal Negara (PMN) yang ditempatkan pada Perusahaan Penjamin ditambah hasil investasi dari modal PMN dan Imbalan Jasa Penjaminan setelah dikurangi biaya operasional. Pelaksanaan pembayaran klaim: a. Tata cara pengajuan penjaminan.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . subrogasi dan lain-lain agar mengacu pada Perjanjian Kerjasama yang ditandatangani oleh Bank Pelaksana dengan Perusahaan Penjamin. . Pengawasan . 4. Hasil kegiatan tersebut disampaikan dalam bentuk laporan. gugurnya hak klaim. dan Pengawasan 1. maka Perusahaan Penjamin harus melakukan pembayaran atas tuntutan klaim tersebut b. Subrogasi a) Klaim yang telah dibayar oleh Perusahaan Penjamin kepada Bank Pelaksana tidak membebaskan debitur dari kewajibannya untuk melunasi kredit/ pembiayaan.. 5. Kecuali ditetapkan lain oleh Komite Kebijakan.. tata cara pengajuan klaim.16 - e) Tindakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia terhadap debitur dan/atau bank yang mengakibatkan debitur wanprestasi. antara lain dalam hal pemenuhan agunan tambahan. b) Dalam hal Perusahaan Penjamin telah membayar klaim kepada Bank Pelaksana maka hak tagih dan hasil penjualan agunan beralih menjadi hak subrogasi yang dibagi secara proporsional antara Perusahaan Penjamin dan Bank Pelaksana. 2. Komite Kebijakan melakukan monitoring dan evaluasi setiap 3 (tiga) bulan. Dalam hal terjadi tuntutan klaim dari bank pelaksana dan persyaratan klaim telah terpenuhi untuk dibayar sedangkan pihak penjamin belum menerima Imbal Jasa Penjaminan dari pemerintah. maka Kementerian Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan dapat mengatur kembali mengenai ketentuan dan pelaksanaan subrogasi tersebut di atas. Evaluasi. c) Berdasarkan pertimbangan dan untuk kepentingan Debitur KUR.

BPKP akan bekerjasama dengan unit audit internal Bank Pelaksana dan Perusahaan Penjamin. . termasuk jumlah debitur. e) Realisasi total penyaluran KUR dari Lembaga Linkage kepada UMKMK menurut pola Executing dan Channeling. termasuk jumlah Lembaga Linkage dan jumlah debiturnya. termasuk jumlah debiturnya. hortikultura.. sektor pertanian dalam arti luas mencakup: pertanian. Pelaporan 1. termasuk jumlah debiturnya. dan peternakan. c) Realisasi penyaluran KUR menurut provinsi. dan kelautan/perikanan.. J. Pengawasan a) Komite Kebijakan melakukan pengawasan atas pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat sebagai tindakan yang bersifat preventif dan melakukan verifikasi secara selektif melalui Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). 2. Bank Pelaksana melaporkan pelaksanaan KUR setiap bulan kepada Komite Kebijakan melalui Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan dengan tembusan kepada Perusahaan Penjamin dengan format laporan sebagai berikut: a) Realisasi total penyaluran dan baki debet dari KUR Mikro dan KUR Ritel. b) Realisasi penyaluran KUR menurut sektor ekonomi.17 - 2. termasuk jumlah debiturnya.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . d) Jumlah Kredit Bermasalah (Non Performing Loan = NPL). Perusahaan . kehutanan. dan provinsi. sektor ekonomi. c) Pelaksanaan pengawasan oleh BPKP akan diatur tersendiri dalam SOP Pengawasan KUR dengan berpedoman pada SOP Pelaksanaan KUR dan Perjanjian Kerjasama antara Bank Pelaksana dengan Perusahaan Penjamin. perkebunan. b) Dalam melakukan pengawasan tersebut. Pertanian dalam arti sempit meliputi: tanaman pangan.

K.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . Kementerian Teknis mempunyai kewajiban. Kementerian Keuangan selaku regulator dan kepada Bank Pelaksana dengan format laporan sebagai berikut: a) Pengajuan Penjaminan kredit/pembiayaan. kelompok. d) memfasilitasi hubungan antara UMKMK dengan pihak lainnya seperti perusahaan inti/offtaker yang memberikan kontribusi dan dukungan untuk kelancaran usaha.. persentase Non Performing Guarantee (NPG). khususnya yang terkait dengan penyiapan UMKM dan koperasi sebagai calon debitur KUR. dengan tembusan kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. e) Klaim yang ditolak. yaitu: a) mempersiapkan UMKMK yang melakukan usaha produktif yang bersifat individu. Kewajiban Kementerian Teknis 1. Laporan sebagaimana dimaksud angka 1) dan angka 2) berisi data posisi akhir bulan dan disampaikan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. c) Realisasi pembayaran Klaim. Untuk melaksanakan kewajiban tersebut.. d) Klaim yang masih dalam proses. Perusahaan Penjamin setiap bulannya melaporkan pengajuan dan realisasi klaim dari setiap Bank Pelaksana kepada Komite Kebijakan melalui Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana. 3. b) menetapkan kebijakan dan prioritas bidang usaha yang akan menerima penjaminan KUR. 2. b) Pengajuan Klaim kredit/pembiayaan. kemitraan dan/atau cluster yang dapat dibiayai dengan KUR.18 - 2. . pembinaan dan pendampingan bagi UMKM dan koperasi dalam proses permohonan kredit/ pembiayaan . c) melakukan pembinaan dan pendampingan UMKMK selama masa kredit/ pembiayaan atau ketika usulan kredit/pembiayaan UMKMK ditolak oleh Bank Pelaksana. Kementerian Teknis melakukan langkahlangkah: a) menyiapkan rencana kerja pendukung pelaksanaan KUR.

. serta memfasilitasi UMKM dan koperasi dengan pihak lain. c) pengaturan lebih lanjut mengenai kegiatan perencanaan terkait pelaksanaan KUR dapat dirumuskan dalam SOP tersendiri oleh Kementerian. b) memasukkan rencana kerja pendukung pelaksanaan KUR sesuai tupoksinya dalam Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L) masing-masing. BAB III …. untuk mendukung kelancaran usaha UMKM dan koperasi. khususnya Pemerintah Daerah. dan mengusulkan penganggarannya.19 - pembiayaan sampai dengan pengembaliannya.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA .

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . KECIL. DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO. ttd ERLANGGA MANTIK . MENENGAH DAN KOPERASI. maka penyelesaiannya akan diputuskan oleh Komite Kebijakan berdasarkan asas musyawarah dan mufakat.20 - BAB III PENUTUP Dalam hal terdapat perbedaan pendapat atau hal-hal yang belum diatur.

sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor: 10 Tahun 1998 (Lembaran Negara 1998 Nomor: 182.I. MENENGAH DAN KOPERASI NOMOR TANGGAL KEP.EKON/11/2010 VEMBER : 5 NOVEMBER 2010 STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PELAKSANAAN KREDIT USAHA RAKYAT BAGI TENAGA KERJA INDONESIA BAB I PENDAHULUAN A. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3502). Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 135/PMK.EKON/1 : KEP. Dasar Hukum Beberapa peraturan perundangan yang terkait dengan SOP ini.05/2008 tentang Fasilitas Penjaminan Kredit Usaha Rakyat sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 189/PMK..EKON/ /2010 /D. 3.20/D. KECIL. antara lain: 1. Peraturan Pemerintah Nomor: 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. .I. Pemerintahan Daerah Propinsi.M.M.20/D. 4.I. Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3472). Undang-Undang Nomor: 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian (Lembaran Negara 1992 Nomor: 116. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota 5. Undang-Undang Nomor: 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara 1992 Nomor: 31. Undang-Undang Nomor: 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3790)..KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN II KEPUTUSAN DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO.M. Keputusan .05/2010. 6.

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -2- 6. B. 2. Kredit/Pembiayaan: Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Pelaksana dengan Debitur KUR yang mewajibkan Debitur KUR untuk mengembalikan dana atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan/bagi hasil/marjin. Pelaksanaan pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi Tenaga Kerja Indonesia berdasarkan Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding/MOU) tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro. Kementerian . C. Maksud dan Tujuan 1. dan Koperasi Nomor:_KEP-07/M. Untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Menengah. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor: KEP-22/M. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Selaku Ketua Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro. pelaksanaan. 2. pemantauan dan evaluasi. pemantauan dan evaluasi. Sasaran 1. dan Koperasi beserta addendum-nya. dan Koperasi.EKON/01/2010 tentang Penambahan Bank Pelaksana Kredit Usaha Rakyat. Kecil. Bank Pelaksana dengan Debitur KUR yang mewajibkan Debitur KUR untuk melunasi . Kecil. pelaksanaan.EKON/ 10/2009 tentang Komite Kebijakan Penjaminan Kredit kepada Usaha Mikro. serta pengawasan program KUR bagi Tenaga Kerja Indonesia. Pengertian Umum 1.. 7. 2. Menengah.. Sebagai pedoman para pihak yang terkait dengan perencanaan. Menengah. serta pengawasan program KUR bagi TKI. Sebagai pedoman/petunjuk pelaksanaan bagi masing-masing pihak yang terkait dengan perencanaan. Kecil. D.

. Bank Mandiri (Persero) Tbk. PT. 3. PT. PT. Bank Sulut. PT. BPD DIY. Kecil. Menengah. dan 13 Bank Pembangunan Daerah (BPD) yaitu PT. Askrindo) dan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo) serta perusahaan penjamin lainnya yang secara sukarela mengikatkan diri dan tunduk kepada Nota Kesepahaman Bersama untuk melakukan dan memberikan sebagian penjaminan kredit/ pembiayaan secara otomatis bersyarat (conditional automatic cover) kepada Bank Pelaksana. 8. PT. Bank Syariah Mandiri. Bank Tabungan Negara (Persero). PT. Penjaminan: Kegiatan pemberian jaminan atas pemenuhan kewajiban finansial debitur KUR. Perusahaan Penjamin: PT. Bank NTB. PT. Bank Kalteng. Bank Bukopin Tbk. . PT. PT. Bank Pelaksana: Bank yang ikut menandatangani Nota Kesepahaman Bersama Penjaminan Kredit/ Pembiayaan kepada UMKMK yaitu PT. 6. KUR . (Persero) Asuransi Kredit Indonesia (PT. 4. adalah skema KUR yang disalurkan kepada TKI untuk memenuhi pembiayaan yang menjadi tanggung-jawabnya dalam proses penempatan ke luar negeri. PT. Tenaga Kerja Indonesia: Tenaga Kerja Indonesia yang selanjutnya disebut dengan TKI adalah setiap warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Kementerian: Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagai lembaga yang merumuskan kebijakan ketenagakerjaan. Bank Nagari. oleh Perusahaan Penjamin. PT. Bank Maluku. PT. Bank Jabar Banten. Bank Kalbar. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Bank DKI. Bank Jateng. 7. Bank Papua serta bank lainnya yang secara sukarela mengikatkan diri dan tunduk kepada Nota Kesepahaman Bersama tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro. Bank Jatim. PT. PT.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -3- 2. 5. KUR TKI: KUR bagi TKI yang selanjutnya disebut KUR TKI.. PT. BPD Kalsel. dan Koperasi. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

15. pengurusan dokumen. badan usaha berbentuk badan hukum dan/atau Perseorangan di negara tujuan yang mempekerjakan TKI. 11.. 12. 9. .000.000.000.000. hak dan kewajiban masing-masing pihak.(lima ratus juta rupiah) dikenakan suku bunga kredit/marjin pembiayaan. Perjanjian Kerja Sama Penempatan: Perjanjian tertulis antara Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) dengan Mitra Usaha atau Pengguna yang memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam rangka penempatan serta perlindungan TKI di negara tujuan. telex test key arrangement. BAB II .. pemberangkatan sampai ke negara tujuan dan pemulangan dari negara tujuan.. persiapan pemberangkatan. KUR TKI Mikro: KUR TKI dengan plafon sampai dengan Rp 20. Penempatan TKI: Penempatan TKI adalah kegiatan pelayanan untuk mempertemukan TKI sesuai bakat. Perjanjian Kerja: Perjanjian tertulis antara TKI dengan Pengguna yang memuat syarat-syarat kerja.(dua puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 500. Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS): Pelaksana Penempatan TKI Swasta adalah badan hukum yang telah memperoleh izin tertulis dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 16.000. Mitra Usaha: Instansi atau badan usaha berbentuk badan hukum di negara tujuan yang bertanggung jawab menempatkan TKI pada Pengguna.000. penampungan. maupun SWIFT authentication key. minat dan kemampuannya dengan pemberi kerja di luar negeri yang meliputi keseluruhan proses perekrutan..(dua puluh juta rupiah) dikenakan suku bunga kredit/marjin pembiayaan maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen) efektif per tahun. Bank Koresponden: Bank Koresponden adalah bank yang mempunyai hubungan test key arrangement dengan Bank Pelaksana KUR baik dalam bentuk authorized signature list.. Pengguna Jasa TKI: Pengguna Jasa TKI yang selanjutnya disebut dengan Pengguna adalah Instansi. KUR TKI Ritel: KUR TKI dengan plafon diatas Rp 20. 13.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -4- 8. maksimal sebesar/setara 14% (empat belas persen) efektif per tahun. 14. pendidikan dan pelatihan. 10.

Besarnya pinjaman KUR TKI dapat diberikan maksimal 100% (seratus persen) dari biaya penempatan yang mencakup biaya: a. Penyaluran KUR TKI . pelatihan kerja dan sertifikasi kompetensi kerja. Apabila dinilai layak dan disetujui. pemeriksaan kesehatan dan psikologi.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -5- II BAB II PELAKSANAAN KUR TKI A. B. Ketentuan Umum Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi TKI adalah kredit/pembiayaan modal kerja kepada TKI yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin. Penyaluran KUR TKI ditujukan untuk membantu pembiayaan penempatan TKI. Sumber dana KUR TKI adalah 100% (seratus persen) berasal dari dana Bank Pelaksana. dan biaya lain yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Mekanisme penyaluran KUR TKI diatur sebagai berikut: Bank Pelaksana a TKI b Perusahaan Penjamin a) Bank melakukan penilaian secara individu terhadap TKI. pengurusan dokumen jati diri. maka TKI menandatangani Perjanjian Kredit . KUR yang disalurkan oleh Bank Pelaksana dijamin secara otomatis bersyarat (conditional automatic cover) oleh Perusahaan Penjamin dengan nilai penjaminan sebesar 80% (delapan puluh persen). Penyaluran … B. b) Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada Perusahaan Penjamin sebesar 80% (delapan puluh persen) dan selanjutnya Perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan. d. b. c.

6. 7. dengan bukti melampirkan salinan ijazah pendidikan terakhir. Persyaratan Bank Pelaksana KUR TKI 1. 4. Gaji TKI akan dibayar langsung melalui rekening TKI di bank koresponden b. dan TKI yang bekerja secara perseorangan. Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan PPTKIS antara lain mengatur hak dan kewajiban PPTKIS 2. 2. 3. Memiliki Perjanjian Penempatan dengan PPTKIS. 2. Surat hasil Medical Check-Up yang menyatakan fit untuk bekerja dari rumah sakit/ medical center yang ditunjuk oleh pemerintah. 3. Berusia sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) tahun. Bank Pelaksana harus menyusun a. Berpendidikan sekurang-kurangnya lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau yang sederajat. D. tidak diwajibkan untuk dilakukan pengecekan pada Sistem Informasi Debitur untuk KUR TKI Mikro. Kewajiban … . Memiliki Perjanjian Kerja dengan Pengguna bagi TKI yang ditempatkan oleh PPTKIS. Pemerintah. SOP Penyaluran KUR TKI c. Memiliki Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) yang dikeluarkan oleh Pemerintah. SOP Penyaluran KUR TKI yang disusun Bank Pelaksana mengatur antara lain: a. C. 5. b.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -6- Untuk melaksanakan KUR TKI. Rencana bisnis minimal selama 1 (satu) tahun. dapat disalurkan oleh semua Bank Pelaksana KUR. dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau akte kelahiran/Surat Kenal Lahir dari instansi yang berwenang. TKI yang dapat mengajukan KUR 1. suku bunga kredit/marjin pembiayaan maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen) efektif per tahun untuk KUR TKI Mikro dan maksimal sebesar/setara 14% (empat belas persen) efektif per tahun untuk KUR TKI Ritel. diatur hal-hal sebagai berikut: 1. Surat ijin dari suami/istri/orang tua/wali untuk bekerja di luar negeri.

Jangka Waktu Jangka waktu KUR TKI ditetapkan maksimal sesuai dengan masa kontrak kerja dan tidak melebihi 3 (tiga) tahun. Syarat Klaim Klaim dapat diajukan kepada Perusahaan penjamin setelah: a. E.. Kewajiban pengguna perorangan untuk menempatkan deposit minimal sebesar 6 (enam) bulan gaji TKI pada bank koresponden c. Menerbitkan dan mensosialisasikan ketentuan pembukaan rekening bank koresponden oleh Pengguna untuk pembayaran gaji TKI F.. dihitung dari Nilai Penjaminan yang diperjanjikan. 3. Imbal Jasa Penjaminan 1. Perjanjian . Bank Pelaksana wajib menghentikan penyaluran KUR TKI apabila tingkat NPL mencapai maksimal 5% (lima persen). Imbal Jasa Penjaminan menjadi beban Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Ketentuan Penjaminan 1. Bank Pelaksana dapat kembali menyalurkan KUR TKI setelah melakukan perbaikan mekanisme penyaluran KUR TKI. Tata cara penagihan dan pembayaran Imbal Jasa Penjaminan diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -7- b. SOP tentang Verifikasi Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan KUR dan Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan KUR mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan. . G. PPTKIS wajib menempatkan deposit pada Bank Pelaksana 3. Tarif Imbal Jasa Penjaminan ditentukan dalam Peraturan Menteri Keuangan 2. khususnya kredit 2. Menerbitkan dan mensosialisasikan ketentuan pembukaan deposit minimal sebesar 6 (enam) bulan gaji TKI bagi Pengguna Perorangan 4. Memantau kinerja PPTKIS yang bekerjasama dengan bank pelaksana KUR TKI 3. Melakukan pelatihan keuangan kepada TKI yang akan ditempatkan sehingga memahami produk bank. H. Tugas Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1.

. Perjanjian kredit jatuh tempo dan Debitur KUR TKI tidak melunasi kewajiban pengembalian pinjaman. yaitu: a. 4. e. c. Reaksi nuklir. radiasi reaksi inti atom yang langsung mengakibatkan kegagalan usaha Debitur untuk melunasi KUR TKI tanpa memandang bagaimana dan dimana terjadinya. atau b.. c. Klaim yang telah dibayar oleh Perusahaan Penjamin kepada Bank Pelaksana tidak membebaskan debitur dari kewajibannya untuk melunasi kredit/ pembiayaan. antara lain dalam hal pemenuhan agunan tambahan. . b. Dalam hal Perusahaan Penjamin telah membayar klaim kepada Bank Pelaksana maka hak tagih dan hasil penjualan agunan beralih menjadi hak subrogasi yang dibagi secara proporsional antara Perusahaan Penjamin dan Bank Pelaksana. Pelaksanaan . 3. Bencana alam nasional (dan/atau wabah penyakit menular pada manusia/ hewan berkuku/unggas) yang ditetapkan oleh Pemerintah negara penempatan. d. 5. Kecuali ditetapkan lain oleh Komite Kebijakan. Berdasarkan pertimbangan dan untuk kepentingan Debitur KUR TKI. b. KUR TKI yang bersangkutan dalam kolektibilitas kredit 4 (diragukan) sesuai ketentuan Bank Indonesia. maka Kementerian Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan dapat mengatur kembali mengenai ketentuan dan pelaksanaan subrogasi tersebut diatas.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -8- a. Huru-hara yang berkaitan dengan gerakan atau kerusuhan politik yang secara langsung mengakibatkan kegagalan debitur untuk melunasi KUR TKI. atau 2. Resiko Kerugian Debitur KUR TKI yang tidak dijamin. Peperangan baik dinyatakan maupun tidak di wilayah negara penempatan yang dinyatakan dalam keadaan bahaya atau dalam keadaan darurat perang. Besarnya Klaim Klaim penjaminan yang dapat diajukan oleh Bank Pelaksana adalah 80% (delapan puluh persen) x (sisa pokok + bunga pada saat pengajuan klaim + denda) dengan setinggi-tingginya sebesar 80% (delapan puluh persen) x plafon KUR. Tindakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia terhadap debitur dan/atau bank yang mengakibatkan debitur wanprestasi. sentuhan radio aktif. Subrogasi a.

gugurnya hak klaim. 2. BPKP akan bekerjasama dengan unit audit internal Bank Pelaksana dan Perusahaan Penjamin. Pengawasan a. Evaluasi. Tata cara pengajuan penjaminan. Dalam hal terjadi tuntutan klaim dari bank pelaksana dan persyaratan klaim telah terpenuhi untuk dibayar sedangkan pihak penjamin belum menerima Imbal Jasa Penjaminan dari pemerintah. 6. J.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -9- 5. Hasil kegiatan tersebut disampaikan dalam bentuk laporan. subrogasi dan lain-lain agar mengacu pada Perjanjian Kerjasama yang ditandatangani oleh Bank Pelaksana dengan Perusahaan Penjamin. maka perusahaan penjamin harus melakukan pembayaran atas tuntutan klaim tersebut b. Pelaporan 1. Komite Kebijakan melakukan pengawasan atas pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat sebagai tindakan yang bersifat preventif dan melakukan verifikasi secara selektif melalui Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Komite Kebijakan melakukan monitoring dan evaluasi setiap 3 (tiga) bulan. Dalam melakukan pengawasan tersebut. Bank Pelaksana KUR TKI melaporkan penyaluran kredit/pembiayaan setiap bulan kepada Komite Kebijakan melalui Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan dengan tembusan kepada Perusahaan Penjamin dengan format laporan sebagai berikut: a. Pelaksanaan pembayaran klaim: a. Realisasi … . c. tata cara pengajuan klaim. b. I. Secara keseluruhan pembayaran klaim maksimum yang dapat dilakukan oleh Perusahaan penjamin adalah sebesar maksimum dana Penyertaan Modal Negara (PMN) yang ditempatkan pada Perusahaan Penjamin ditambah hasil investasi dari modal PMN dan imbalan jasa penjaminan setelah dikurangi biaya operasional. Monitoring. dan Pengawasan 1. Pelaksanaan pengawasan oleh BPKP akan diatur tersendiri dalam SOP Pengawasan KUR dengan berpedoman pada SOP Pelaksanaan KUR TKI dan Perjanjian Kerjasama antara Bank Pelaksana dengan Perusahaan penjamin.

c. dengan tembusan kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. 3. Laporan sebagaimana dimaksud angka 1) dan angka 2) berisi data posisi akhir bulan dan disampaikan paling lambat tgl 10 bulan berikutnya.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . Pengajuan Penjaminan kredit/pembiayaan. sektor lapangan kerja. 2. Pengajuan Klaim kredit/pembiayaan. b. dan negara tujuan TKI. Realisasi penyaluran KUR TKI menurut negara tujuan TKI. b. termasuk jumlah debiturnya. Klaim yang masih dalam proses. Realisasi penyaluran KUR TKI menurut provinsi asal TKI. Perusahaan Penjamin setiap bulannya melaporkan pengajuan dan realisasi klaim dari setiap Bank Pelaksana kepada Komite Kebijakan melalui Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana. termasuk jumlah debiturnya. provinsi asal. e. Realisasi penyaluran KUR TKI menurut sektor lapangan kerja TKI. d. Realisasi pembayaran Klaim. termasuk jumlah debiturnya.10 - a. termasuk jumlah debitur. c. Jumlah Kredit Bermasalah (Non Performing Loan = NPL). Kementerian Keuangan selaku regulator dan kepada Bank Pelaksana dengan format laporan sebagai berikut: a. termasuk jumlah debiturnya. Realisasi total penyaluran dan baki debet dari KUR TKI Mikro dan KUR TKI Ritel. . e. persentase Non Performing Guarantee (NPG). BAB III …. Klaim yang ditolak. d.

ttd ERLANGGA MANTIK . MENENGAH DAN KOPERASI.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO. maka penyelesaiannya akan diputuskan oleh Komite Kebijakan berdasarkan asas musyawarah dan mufakat. KECIL.11 - BAB III PENUTUP Dalam hal terdapat perbedaan pendapat atau hal-hal yang belum diatur.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->