KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN TERIAN

REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI NOMOR: KEP - 20/D.I.M.EKON/11/2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PELAKSANAAN KREDIT USAHA RAKYAT DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka perluasan dan peningkatan efektivitas pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat telah dilakukan Rapat Koordinasi Evaluasi Pelaksanaan KUR Semester I Tahun 2010 tanggal 13 Juli 2010, Sidang Kabinet pada tanggal 29 Juli 2010, dan Rapat Koordinasi Komite Kebijakan KUR tanggal 26 Agustus 2010; b. bahwa berdasarkan hasil rapat koordinasi dan sidang kabinet sebagaimana dimaksud huruf a, telah dilakukan perubahan Nota Kesepahaman Bersama dengan ditandatanganinya Addendum III Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding) tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi pada tanggal 16 September 2010 c. bahwa perubahan Nota Kesepahaman Bersama sebagaimana dimaksud pada huruf b, perlu diikuti dengan perubahan standar operasional dan prosedur pelaksanaan program penjaminan kredit/ pembiayaan kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi ; d. berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan huruf c, perlu menetapkan Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi tentang Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat; Mengingat ...

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN RIAN

REPUBLIK INDONESIA -2Mengingat : 1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor: 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara; 2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor: 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara; 3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 60/M Tahun 2009; 4. Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor:_PER03/M.EKON/07/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; 5. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor:_KEP22/M.EKON/10/2009 tentang Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi; 6. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Selaku Ketua Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Koperasi Nomor:_KEP-07/M.EKON/ 01/2010 tentang Penambahan Bank Pelaksana Kredit Usaha Rakyat; MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN, KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO, KECIL, MENENGAH DAN KOPERASI TENTANG STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PELAKSANAAN KREDIT USAHA RAKYAT. PERTAMA : Menetapkan Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat yang terdiri atas: a. Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat sebagaimana Lampiran I; dan b. Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat bagi Tenaga Kerja Indonesia sebagaimana Lampiran II. KEDUA ...

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN RIAN

REPUBLIK INDONESIA -3-

KEDUA

: Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Diktum PERTAMA sebagaimana terlampir dan merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi ini.

KETIGA

: a. Dengan berlakunya Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Kepada Koordinator Usaha Mikro, Bidang Kecil, Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Menengah dan Koperasi ini, maka Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi Nomor: KEP-01/D.I.M.EKON/01/2010 tentang Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat, dinyatakan dicabut dan tidak berlaku. b. Segala perjanjian kerja sama yang dilakukan oleh Bank Pelaksana dan Perusahaan Penjamin berdasarkan Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi Nomor: KEP-01/D.I.M.EKON/01/2010 tentang Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat dinyatakan tetap berlaku sampai masa berlakunya Perjanjian Kerja Sama berakhir.

KEEMPAT ...

KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN RIAN REPUBLIK INDONESIA -4KEEMPAT : Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan. Menengah dan Koperasi ini mulai berlaku sejak tanggal 16 September 2010. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro. Kecil. ttd ERLANGGA MANTIK . KECIL. MENENGAH DAN KOPERASI. Salinan sesuai dengan aslinya Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 5 November 2010 DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO.

(sebelas trilyun empat ratus tujuh puluh milyar rupiah). sektor industri 2.000. Sedangkan pada tahun 2009 menurun cukup tajam mencapai Rp 4.000.7% (tiga belas koma tujuh persen).M. KECIL. Sebaran realisasi penyaluran KUR sampai dengan Juli 2010 menurut sektor ekonomi menunjukkan pangsa sektor perdagangan mencapai 69% (enam puluh sembilan persen). Sebaran … .000. sementara sektor pertanian 15% (lima belas persen).EKON/1 : KEP .000.M.EKON/11/2010 NOVEMBER : 5 NOVEMBER 2010 STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PELAKSANAAN KREDIT USAHA RAKYAT BAB I PENDAHULUAN A. Pada tahun 2008 penyaluran KUR meningkat sangat pesat mencapai Rp 11. Menengah.I.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN I KEPUTUSAN DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO.000. MENENGAH DAN KOPERASI NOMOR TANGGAL 20/D.I.I...3% (dua koma tiga persen) dan sektor lainnya 13.000. yang selanjutnya disebut Kredit Usaha Rakyat (KUR) mendapat respon positif dari masyarakat.000. Latar Belakang Sejak diluncurkan oleh Presiden Republik Indonesia tanggal 5 November 2007. Hal ini disebabkan oleh menurunnya kredit secara umum karena penurunan aktivitas ekonomi akibat krisis global.(sembilan ratus delapan puluh dua milyar rupiah).(empat trilyun tujuh ratus tiga puluh milyar rupiah).. dan Koperasi (UMKMK).EKON/ /2010 /D. penyalurannya sampai dengan akhir tahun 2007 mencapai Rp 982.730. Kecil.000.470.20/D.M.000. program penjaminan kredit/pembiayaan kepada Usaha Mikro.

000. dan Jawa Barat merupakan penerima terbesar KUR secara nasional.000. Penambahan bank pelaksana KUR dengan keikutsertaan Bank Pembangunan Daerah dan kelompok bank lain.000. kelautan dan perikanan. B. Meningkatkan porsi penjaminan dari semula 70% (tujuh puluh persen) menjadi 80% (delapan puluh persen) untuk sektor pertanian.. dan Menengah yang ditandatangani pada tanggal 16 September 2010. Dalam Rapat Koordinasi Komite Kebijakan KUR yang membahas evaluasi pelaksanaan KUR Semester I tahun 2010 telah disepakati kebijakan akselerasi penyaluran KUR dan peningkatan penyebaran KUR kepada sektor pertanian. Dasar … .000. Pemerintah akan menyiapkan dana penjaminan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp. Selain daripada itu dalam rangka akses pembiayaan TKI maka KUR dapat diberikan kepada TKI dengan penjaminan sebesar 80% (delapan puluh persen).000. 3.000. 2. 3. Sementara penerima KUR terbesar di luar Jawa adalah Sumatera Utara. Relaksasi pengaturan penyaluran KUR.(lima juta rupiah) menjadi Rp 20. Dalam rangka meningkatkan kembali penyaluran dan efektivitas KUR. Pemerintah mencanangkan program revitalisasi KUR mulai tahun 2010.2014. Jawa Tengah.(dua puluh juta rupiah).000. Selanjutnya dalam rangka implementasi kesepakatan baru tersebut maka diperlukan adanya perubahan Standar Operasional dan Prosedur (SOP) Pelaksanaan KUR. dan Sumatera Selatan.(dua trilyun rupiah) setiap tahun periode 2010 . Meningkatkan plafon KUR Mikro dari semula Rp 5. Ada tiga aksi yang akan dikerjakan yaitu: 1. Sulawesi Selatan. kehutanan dan industri kecil. Kecil..000. Akselerasi dan efektivitas penyaluran KUR telah dirumuskan dalam Addendum III Nota Kesepahaman Bersama tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Usaha Mikro. 2. menunjukkan Jawa Timur. 2. kehutanan dan industri kecil dengan langkah – langkah antara lain: 1.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -2- Sebaran realisasi KUR menurut wilayah. kelautan dan perikanan..

Undang-Undang Nomor: 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian (Lembaran Negara 1992 Nomor: 116. C. 2.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -3- B. dan Koperasi Nomor:_KEP-07/M. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Selaku Ketua Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro. Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 135/PMK. Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3790). Kecil. Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3502). Undang-Undang Nomor: 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro.EKON/01/2010 tentang Penambahan Bank Pelaksana Kredit Usaha Rakyat. Maksud dan Tujuan 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4866). Menengah. Undang-Undang Nomor: 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara 1992 Nomor: 31. 5. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor: 10 Tahun 1998 (Lembaran Negara 1998 Nomor: 182. serta pengawasan program KUR. dan Koperasi. 3. Sebagai pedoman/petunjuk pelaksanaan bagi masing-masing pihak yang terkait dengan perencanaan. D.05/2008 tentang Fasilitas Penjaminan Kredit Usaha Rakyat sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 189/PMK. antara lain: 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3472). Sasaran … . Memperluas dan meningkatkan efektivitas pelaksanaan KUR agar sesuai dengan pengaturan yang diamanatkan dalam Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding/MOU) beserta addendum-nya.EKON/ 10/2009 tentang Komite Kebijakan Penjaminan Kredit kepada Usaha Mikro. pelaksanaan. pemantauan dan evaluasi. 6. 4. Kecil dan Menengah (Lembaran Negara 2008 Nomor: 93. Kecil. Menengah. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor: KEP-22/M.05/2010. Dasar Hukum Beberapa peraturan perundangan yang terkait dengan SOP ini. 2.

serta pengawasan program KUR. PT. Bank Bukopin Tbk. yaitu Kementerian Keuangan. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. pelaksanaan.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -4- D. Kementerian Perindustrian. PT. dan 13 Bank Pembangunan Daerah (BPD) yaitu PT. Tercapainya percepatan perkembangan sektor riil dan pemberdayaan UMKMK dalam rangka penanggulangan/pengentasan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Bank Syariah Mandiri. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Pelaksana dengan Debitur KUR yang mewajibkan Debitur KUR untuk mengembalikan dana atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan/bagi hasil/marjin. Bank … Bank Pelaksana dengan Debitur KUR yang mewajibkan Debitur KUR untuk melunasi . Kementerian Pertanian. Kredit/Pembiayaan: Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. PT. 3. PT. Sasaran 1. E. Bank DKI. PT. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Kementerian Kehutanan. 2. PT. Untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi UMKMK yang melakukan kegiatan usaha produktif dan layak namun belum bankable. PT. Sebagai pedoman para pihak yang terkait dengan perencanaan. pemantauan dan evaluasi. Kementerian: Kementerian yang menurut Nota Kesepahaman Bersama tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada UMKMK merupakan Pelaksana Teknis Program. 3. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. 2. Bank Pelaksana: Bank yang ikut menandatangani Nota Kesepahaman Bersama Penjaminan Kredit/ Pembiayaan Kepada UMKMK yaitu PT. Pengertian Umum 1. Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Bank Nagari.

Cakupan penjaminan: a. 70% (tujuh puluh persen) untuk sektor lainnya. b) Hortikultura sayuran dan bunga-bungaan dengan kode LBU mulai dari 011211 s/d 011250. Bank Papua serta bank lainnya yang secara sukarela mengikatkan diri dan tunduk kepada Nota Kesepahaman Bersama tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada UMKMK. Bank Kalteng. 5. 4. 80%(delapan puluh persen) untuk: 1) Sektor Pertanian. c) Buah-buahan dan perkebunan tanaman rempah dengan kode LBU mulai dari 011311 s/d 011399. Perusahaan . Kecil dan Menengah kecuali sektor perdagangannya. PT. a) Tanaman pangan dan perkebunan dengan kode LBU mulai dari 011110 s/d 011190. PT. Bank Jateng. Bank Jatim. PT. Bank Maluku. PT. 4) Industri Kecil: Industri dengan kode LBU mulai dari 151110 s/d 372000 yang termasuk ke dalam kriteria usaha mikro dan kecil sesuai dengan Undang-Undang No. PT. 2) Kelautan dan Perikanan: Seluruh usaha mikro dan kecil di sektor kelautan dan perikanan dengan kode LBU mulai dari 050111 s/d 050590 kecuali sektor perdagangannya. 3) Kehutanan: Seluruh usaha mikro dan kecil di sektor kehutanan dengan kode LBU mulai dari 020100 s/d 020500 kecuali sektor perdagangannya. PT. BPD DIY. 6.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -5- PT. Bank Kalbar. Bank Sulut. dan d) Peternakan dengan kode LBU mulai dari 012110 s/d 015000. PT. Bank NTB. . BPD Kalsel. PT. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. Bank Jabar Banten. Penjaminan: Kegiatan pemberian jaminan atas pemenuhan kewajiban finansial debitur KUR oleh Perusahaan Penjamin. 5) Tenaga Kerja Indonesia (TKI) b...

kelompok usaha. yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki. 500.000.000.(lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.000.000.(tiga ratus juta rupiah).000.(Persero) Asuransi Kredit Indonesia (PT. 9.000. 300. Usaha Menengah. Askrindo) dan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo) serta perusahaan penjamin lainnya yang secara sukarela mengikatkan diri dan tunduk kepada Nota Kesepahaman Bersama untuk melakukan dan memberikan sebagian penjaminan kredit/ pembiayaan secara otomatis bersyarat (conditional automatic cover ) kepada Bank Pelaksana. atau b) memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria: a) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 300. 50. dan Lembaga Linkage.000. 2.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -6- 6.. dikuasai.. Perusahaan Penjamin: PT..(lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Usaha Kecil.000. 8.. Koperasi.500.000. 10. Calon Debitur KUR: Usaha Mikro.000.000.(tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. Usaha Mikro: Usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria: a) memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp... Usaha Kecil: Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri. ...000. 50.(dua milyar lima ratus juta rupiah). atau b) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 7. Usaha .(lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

Belum . 10. 11. 13..(dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.000. yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki. 2.000. Usaha Produktif: Usaha untuk menghasilkan barang dan/atau jasa untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan bagi pelaku usaha..000.000..000. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan yang memenuhi kriteria: a) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. Koperasi: Badan Usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.(lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. Usaha Layak: Usaha calon debitur yang menguntungkan/memberikan laba sehingga mampu membayar bunga/marjin dan mengembalikan seluruh hutang/kewajiban pokok Kredit/Pembiayaan dalam jangka waktu yang disepakati antara Bank Pelaksana dengan Debitur KUR dan memberikan sisa keuntungan untuk mengembangkan usahanya. 500.000.000. Kelompok Usaha: Kumpulan orang perorang atau badan usaha (UMKM) yang melakukan kegiatan usaha produktif dan dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan atau kesamaan kondisi lingkungan untuk meningkatkan usaha anggotanya. 14.000.000.000. 50. Usaha Menengah: Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri. dikuasai. 12...(lima puluh milyar rupiah).500. 15.(sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. .KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -7- 10. atau b) memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.

. Kelompok Usaha... KUR Mikro: KUR dengan plafon sampai dengan Rp 20.000. 18.000.(lima ratus juta rupiah) dikenakan suku bunga kredit/marjin pembiayaan.000. Kewajiban pengembalian KUR menjadi tanggung jawab dari Lembaga Linkage selaku penerima KUR. Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Belum Bankable: UMKMK yang belum dapat memenuhi persyaratan perkreditan/pembiayaan dari Bank Pelaksana antara lain dalam hal penyediaan agunan dan pemenuhan persyaratan Pelaksana. Baitul Mal Wa Tanwil (BMT). Bank Perkreditan Rakyat/Syariah (BPR/BPRS). . yaitu Koperasi Sekunder. 16. Lembaga Linkage: Lembaga yang meneruspinjamkan KUR dari Bank Pelaksana kepada UMKMK. 19. Kewajiban pengembalian KUR menjadi tanggung jawab dari UMKMK selaku penerima KUR. 21. 17.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -8- 15. Lembaga Keuangan Mikro pola konvensional atau syariah.000.(dua puluh juta rupiah) dikenakan suku bunga kredit/marjin pembiayaan.(dua puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 500.000. Lembaga Keuangan Mikro: Badan usaha yang menyediakan layanan jasa keuangan mikro.. maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen) efektif per tahun. Unit Simpan Pinjam Koperasi). Pola Channeling: KUR yang diberikan oleh Bank Pelaksana kepada UMKMK melalui Lembaga perkreditan/pembiayaan yang sesuai dengan ketentuan Bank Linkage. maksimal sebesar/setara 14% (empat belas persen) efektif per tahun.000. KUR Ritel: KUR dengan plafon di atas Rp 20. antara lain Badan Kredit Desa (BKD). Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP) 20. BAB II . Pola Executing: KUR yang diberikan oleh Bank Pelaksana kepada Lembaga Linkage untuk diteruspinjamkan kepada UMKMK. Lembaga Keuangan Non Bank.. Koperasi Primer (Koperasi Simpan Pinjam.

000. tidak diwajibkan untuk dilakukan pengecekan Sistem Informasi Debitur Bank Indonesia. Kredit Kendaraan Bermotor. dapat sedang menerima kredit konsumtif (Kredit Kepemilikan Rumah. Persyaratan umum bagi UMKMK untuk dapat menerima KUR.. Ketentuan Umum Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah kredit/pembiayaan modal kerja dan atau investasi kepada UMKMK di bidang usaha yang produktif dan layak namun belum bankable dengan plafon kredit sampai dengan Rp. Mekanisme . 4. KUR yang disalurkan oleh Bank Pelaksana dijamin secara otomatis bersyarat (conditional automatic cover) oleh Perusahaan Penjamin dengan nilai penjaminan sebesar: 1. Penyaluran KUR diharapkan dapat membantu pengembangan usaha produktif. tetapi yang bersangkutan sudah melunasi pinjaman. 2. dalam hal UMKMK masih memiliki baki debet yang tercatat pada Sistem Informasi Debitur Bank Indonesia.000. yaitu: 1. 2. 500.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -9- II BAB II PELAKSANAAN KUR A.(lima ratus juta rupiah) yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin.. 3.. tidak sedang menerima kredit/pembiayaan modal kerja dan/atau investasi dari perbankan dan/atau yang tidak sedang menerima Kredit Program dari Pemerintah. Sumber dana KUR adalah 100% (seratus persen) berasal dari dana Bank Pelaksana. Kartu Kredit dan kredit konsumtif lainnya). yang dibuktikan dengan hasil Sistem Informasi Debitur Bank Indonesia pada saat permohonan kredit/pembiayaan diajukan. 80% (delapan puluh persen) untuk sektor pertanian. kehutanan dan industri kecil. kelautan dan perikanan. baik yang disalurkan secara langsung maupun tidak langsung. . 70% (tujuh puluh persen) untuk sektor lainnya dari kredit/pembiayaan. maka diperlukan Surat Keterangan Lunas/Roya dengan lampiran cetakan rekening dari Bank Pelaksana/pembiayaan sebelumnya. untuk UMKMK yang akan meminjam KUR Mikro.

c) Bank Pelaksana mengajukan permintaan penjaminan kredit/pembiayaan kepada Perusahaan Penjamin. kehutanan. b) Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada Perusahaan Penjamin dengan penjaminan sebesar 80% (delapan puluh persen) untuk sektor pertanian. Apabila dinilai layak dan disetujui oleh Bank Pelaksana. Dalam hal dinyatakan layak. Tidak langsung melalui Lembaga Linkage dengan Pola Executing Bank Pelaksana PK a Lembaga Linkage e b d UMKMK c Perusahaan Penjamin a) Lembaga Linkage mengajukan permohonan kredit/pembiayaan kepada Bank Pelaksana. . kelautan dan perikanan. b) Bank Pelaksana melakukan pengecekan Sistem Informasi Debitur dan melakukan analisa kelayakan. maka Debitur KUR menandatangani Perjanjian Kredit .10 - Mekanisme penyaluran KUR diatur sebagai berikut 1. industri kecil dan sebesar 70% (tujuh puluh persen) untuk sektor lainnya dari plafon kredit yang diberikan. Perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan atas nama Lembaga Linkage.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA ... dan selanjutnya Perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan. maka Bank Pelaksana memberikan persetujuan kredit/pembiayaan dengan menandatangani Perjanjian Kredit/Pembiayaan dengan Lembaga Linkage. d) Lembaga . Langsung dari Bank Pelaksana ke UMKMK Bank Pelaksana a UMKMK b Perusahaan Penjamin a) Bank melakukan penilaian secara individu terhadap calon Debitur KUR. 2.

d) Lembaga Linkage meneruspinjamkan kredit/pembiayaan yang diterima dari Bank Pelaksana kepada debitur UMKMK. 3. 3. Dalam hal dinyatakan layak. e) Debitur UMKMK melakukan pembayaran kewajiban kredit/pembiayaan kepada Lembaga Linkage.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . maka Bank Pelaksana memberikan kuasa persetujuan dari Bank kredit/pembiayaan Pelaksana. Tidak diwajibkan untuk dilakukan pengecekan pada Sistem Informasi Debitur. c) Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada Perusahaan Penjamin. b) Bank Pelaksana melakukan pengecekan Sistem Informasi Debitur dan melakukan analisa kelayakan. Tidak langsung melalui Lembaga Linkage dengan Pola Channeling Dalam rangka mendapatkan kredit/pembiayaan dari Bank Pelaksana. diatur hal-hal sebagai berikut: 1. Penyaluran KUR Mikro Untuk melaksanakan KUR Mikro. Perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan atas nama masingmasing UMKMK. B.11 - d) Lembaga Linkage menyalurkan kredit/pembiayaan yang diterima dari Bank Pelaksana kepada debitur UMKMK dari Lembaga Linkage. Tingkat … . UMKMK memberikan kuasa kepada pengurus Lembaga Linkage untuk: 1) Mengajukan kredit kepada Bank Pelaksana. maka Lembaga Linkage menandatangani Perjanjian Kredit/Pembiayaan dengan Bank Pelaksana. maka tersebut Lembaga dengan mekanisme sebagai berikut: 1) Berdasarkan Linkage menandatangani Perjanjian Kredit/Pembiayaan dengan UMKMK atau 2) Berdasarkan kuasa dari UMKMK. Dapat disalurkan oleh semua Bank Pelaksana KUR. Debitur UMKMK melakukan pembayaran kewajiban kredit/pembiayaan kepada Bank Pelaksana melalui Lembaga Linkage. 2. a) Lembaga Linkage mewakili UMKMK mengajukan permohonan kredit kepada Bank Pelaksana. 2) Menjaminkan agunan kepada Bank Pelaksana.

d) Plafon KUR yang dapat diberikan oleh Bank Pelaksana kepada Lembaga Linkage maksimal sebesar Rp 2. Tingkat suku bunga kredit/marjin pembiayaan maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen) efektif per tahun. KUR Mikro dengan plafon di atas Rp 5. e) Suku bunga KUR dari Bank Pelaksana kepada Lembaga Linkage maksimal sebesar 14% (empat belas persen) efektif per tahun.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA .(dua puluh juta rupiah) yang telah disetujui sebelum dilakukannya perubahan SOP ini tetap dikenakan suku bunga sesuai perjanjian awal yaitu maksimal sebesar/setara 14% (empat belas persen) efektif per tahun. Pengaturan Penyaluran KUR Melalui Lembaga Linkage 1.(lima juta rupiah) sampai dengan Rp 20.000.000. KUR yang disalurkan kepada Lembaga Linkage dengan pola Channeling diatur sebagai berikut: a) Lembaga Linkage diperbolehkan sedang memperoleh Kredit/Pembiayaan dari perbankan maupun Kredit Program Pemerintah. KUR yang disalurkan kepada Lembaga Linkage dengan pola Executing diatur sebagai berikut: a) Lembaga Linkage tersebut diperbolehkan sedang memperoleh Kredit/ Pembiayaan dari perbankan.(seratus juta rupiah) per debitur. 2.000.000..000.12 - 3.. f) Suku bunga dan plafon kredit/pembiayaan dari Lembaga Linkage kepada UMKMK ditetapkan maksimal sebesar 22% efektif per tahun dan maksimal Rp 100.000. g) Lembaga Linkage bertanggung jawab atas pengembalian KUR yang diterima dari Bank Pelaksana...000. 4.(dua milyar rupiah) yang wajib meneruspinjamkan kepada UMKMK. b) KUR .. c) Kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan Lembaga Linkage dikecualikan dari kriteria UMKMK penerima KUR..000. Dalam hal terdapat perubahan plafon kredit dan/atau jangka waktu kredit maka diberlakukan tingkat suku bunga maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen) efektif per tahun. b) Lembaga Linkage tersebut tidak sedang memperoleh Kredit Program Pemerintah. .000. C.

Dalam hal diperlukan perpanjangan. Perpanjangan … . maka jangka waktu sebagaimana diatur dalam angka 1) dapat diperpanjang menjadi maksimal 6 (enam) tahun untuk kredit/pembiayaan modal kerja dan 10 (sepuluh) tahun untuk kredit/pembiayaan investasi terhitung sejak tanggal perjanjian kredit awal. b) Dalam hal diperlukan pengikatan. Lembaga Linkage berhak memperoleh fee dari Bank Pelaksana yang besarnya ditentukan berdasarkan kesepakatan dengan Bank Pelaksana.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . dan restrukturisasi. e) Debitur KUR bertanggungjawab atas pengembalian KUR. Agunan Pokok Kelayakan usaha dan obyek yang dibiayai. D. F. 2. 3. Jangka Waktu Jangka waktu KUR ditetapkan sebagai berikut: 1.13 - b) KUR yang disalurkan oleh Bank Pelaksana adalah sesuai dengan daftar nominatif calon debitur yang diajukan oleh Lembaga Linkage. E. suplesi. maka dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada Bank Pelaksana. suku bunga dan jangka waktu KUR melalui Lembaga Linkage kepada debitur mengikuti ketentuan KUR Retail dan KUR Mikro. d) Atas penyaluran KUR tersebut. Jangka waktu KUR tidak melebihi 3 (tiga) tahun untuk modal kerja dan 5 (lima) tahun untuk kredit/pembiayaan investasi. 2. Jangka waktu kredit/pembiayaan investasi untuk usaha perkebunan tanaman keras dapat diberikan langsung maksimal 13 (tiga belas) tahun dan tidak dapat diperpanjang. Agunan Tambahan a) Sesuai dengan ketentuan pada Bank Pelaksana. f) Jumlah kredit yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin adalah sesuai dengan yang diterima oleh Debitur KUR. c) Plafon. Agunan dan Pengikatan 1.

Perpanjangan.(dua puluh juta rupiah) untuk KUR Mikro atau tidak melebihi sebesar Rp 500. Tarif Imbal Jasa Penjaminan ditentukan dalam Peraturan Menteri Keuangan 2. 2. b) Ketentuan lainnya sesuai dengan ketentuan KUR Mikro atau KUR Ritel. c) Terhadap KUR yang direstrukturisasi tidak menggugurkan hak klaim dari Bank Pelaksana kepada Perusahaan Penjamin. dengan ketentuan: a) Debitur yang bersangkutan masih belum dapat dikategorikan bankable. Tambahan Pinjaman (Suplesi).000.. Kepada Debitur KUR yang usahanya meningkat. b) Total pinjaman setelah penambahan tidak melebihi Rp 20.14 - (Suplesi) Suplesi). Ketentuan … . dan memerlukan tambahan kredit/ pembiayaan maka dapat diberikan perpanjangan berupa tambahan pinjaman maupun jangka waktu terhadap Debitur KUR tersebut tanpa menunggu pinjaman yang bersangkutan dilunasi. dengan ketentuan: a) Tidak diperbolehkan penambahan plafon pinjaman KUR. SOP tentang Verifikasi Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan KUR dan Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan KUR mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan.000. Imbal Jasa Penjaminan 1. sesuai dengan ketentuan KUR Mikro atau KUR Ritel atau KUR melalui Lembaga Linkage.000 (dua milyar rupiah) untuk KUR yang diberikan kepada Lembaga Linkage dengan pola Executing. dan Restrukturisasi 1. H.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . dihitung dari Nilai Penjaminan yang diperjanjikan. Debitur KUR yang bermasalah dimungkinkan untuk direstrukturisasi sesuai ketentuan yang berlaku di Bank Pelaksana.000. Imbal Jasa Penjaminan menjadi beban Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).(lima ratus juta rupiah) untuk KUR Ritel atau tidak melebihi Rp 2. F. c) Ketentuan lainnya. 3.000. G. Tata cara penagihan dan pembayaran Imbal Jasa Penjaminan diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.000.000.

yaitu: a) Bencana alam nasional (dan/atau wabah penyakit menular pada manusia/ hewan berkuku/unggas) yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. . 2) Debitur dikenakan likuidasi berdasarkan keputusan Pengadilan yang berwenang dan untuk itu telah ditunjuk likuidator. kelautan dan perikanan. 2. radiasi reaksi inti atom yang langsung mengakibatkan kegagalan usaha Debitur untuk melunasi KUR tanpa memandang bagaimana dan dimana terjadinya. atau b) KUR yang bersangkutan dalam kolektibilitas kredit 4 (diragukan) sesuai ketentuan Bank Indonesia. atau c) Keadaan insolvent: 1) Debitur dinyatakan pailit oleh Pengadilan yang berwenang. Ketentuan Penjaminan 1.. Besarnya Klaim Klaim penjaminan yang dapat diajukan oleh Bank Pelaksana sebesar: a) Untuk sektor pertanian. kehutanan dan industri kecil: 80% (delapan puluh persen) x (sisa pokok + bunga pada saat pengajuan klaim + denda) dengan setinggi-tingginya sebesar 80% (delapan puluh persen) x plafon KUR. sentuhan radio aktif.. Syarat Klaim Klaim dapat diajukan kepada Perusahaan Penjamin setelah: a) Perjanjian kredit jatuh tempo dan Debitur KUR tidak melunasi kewajiban pengembalian pinjaman.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . e) Tindakan . b) Untuk sektor lainnya: 70% (tujuh puluh persen) x (sisa pokok + bunga pada saat pengajuan klaim + denda) dengan setinggi-tingginya sebesar 70% (tujuh puluh persen) x plafon KUR. c) Peperangan baik dinyatakan maupun tidak atau sebagian wilayah Indonesia dinyatakan dalam keadaan bahaya atau dalam keadaan darurat perang. Resiko Kerugian Debitur KUR yang tidak dijamin. d) Huru-hara yang berkaitan dengan gerakan atau kerusuhan politik yang secara langsung mengakibatkan kegagalan debitur untuk melunasi KUR. 3. 3) Debitur diletakkan di bawah pengampuan.15 - H. b) Reaksi nuklir.

6. maka Kementerian Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan dapat mengatur kembali mengenai ketentuan dan pelaksanaan subrogasi tersebut di atas.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . Secara keseluruhan pembayaran klaim maksimum yang dapat dilakukan oleh Perusahaan Penjamin adalah sebesar maksimum dana Penyertaan Modal Negara (PMN) yang ditempatkan pada Perusahaan Penjamin ditambah hasil investasi dari modal PMN dan Imbalan Jasa Penjaminan setelah dikurangi biaya operasional. 2. . antara lain dalam hal pemenuhan agunan tambahan. Hasil kegiatan tersebut disampaikan dalam bentuk laporan. Tata cara pengajuan penjaminan. Komite Kebijakan melakukan monitoring dan evaluasi setiap 3 (tiga) bulan. subrogasi dan lain-lain agar mengacu pada Perjanjian Kerjasama yang ditandatangani oleh Bank Pelaksana dengan Perusahaan Penjamin. maka Perusahaan Penjamin harus melakukan pembayaran atas tuntutan klaim tersebut b. I.. Kecuali ditetapkan lain oleh Komite Kebijakan. tata cara pengajuan klaim. 5. dan Pengawasan 1.. gugurnya hak klaim. Evaluasi. b) Dalam hal Perusahaan Penjamin telah membayar klaim kepada Bank Pelaksana maka hak tagih dan hasil penjualan agunan beralih menjadi hak subrogasi yang dibagi secara proporsional antara Perusahaan Penjamin dan Bank Pelaksana. Pengawasan . 4. Dalam hal terjadi tuntutan klaim dari bank pelaksana dan persyaratan klaim telah terpenuhi untuk dibayar sedangkan pihak penjamin belum menerima Imbal Jasa Penjaminan dari pemerintah. Monitoring. Pelaksanaan pembayaran klaim: a.16 - e) Tindakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia terhadap debitur dan/atau bank yang mengakibatkan debitur wanprestasi. Subrogasi a) Klaim yang telah dibayar oleh Perusahaan Penjamin kepada Bank Pelaksana tidak membebaskan debitur dari kewajibannya untuk melunasi kredit/ pembiayaan. c) Berdasarkan pertimbangan dan untuk kepentingan Debitur KUR.

BPKP akan bekerjasama dengan unit audit internal Bank Pelaksana dan Perusahaan Penjamin. Bank Pelaksana melaporkan pelaksanaan KUR setiap bulan kepada Komite Kebijakan melalui Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan dengan tembusan kepada Perusahaan Penjamin dengan format laporan sebagai berikut: a) Realisasi total penyaluran dan baki debet dari KUR Mikro dan KUR Ritel. e) Realisasi total penyaluran KUR dari Lembaga Linkage kepada UMKMK menurut pola Executing dan Channeling. Pelaporan 1. dan kelautan/perikanan. c) Realisasi penyaluran KUR menurut provinsi. c) Pelaksanaan pengawasan oleh BPKP akan diatur tersendiri dalam SOP Pengawasan KUR dengan berpedoman pada SOP Pelaksanaan KUR dan Perjanjian Kerjasama antara Bank Pelaksana dengan Perusahaan Penjamin. Perusahaan . hortikultura. . termasuk jumlah debiturnya.. dan provinsi. J. d) Jumlah Kredit Bermasalah (Non Performing Loan = NPL). Pengawasan a) Komite Kebijakan melakukan pengawasan atas pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat sebagai tindakan yang bersifat preventif dan melakukan verifikasi secara selektif melalui Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). b) Dalam melakukan pengawasan tersebut. termasuk jumlah debiturnya. Pertanian dalam arti sempit meliputi: tanaman pangan. termasuk jumlah debitur.17 - 2. sektor ekonomi. termasuk jumlah Lembaga Linkage dan jumlah debiturnya.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . dan peternakan.. kehutanan. 2. b) Realisasi penyaluran KUR menurut sektor ekonomi. perkebunan. termasuk jumlah debiturnya. sektor pertanian dalam arti luas mencakup: pertanian.

kemitraan dan/atau cluster yang dapat dibiayai dengan KUR. Kewajiban Kementerian Teknis 1. d) memfasilitasi hubungan antara UMKMK dengan pihak lainnya seperti perusahaan inti/offtaker yang memberikan kontribusi dan dukungan untuk kelancaran usaha. Laporan sebagaimana dimaksud angka 1) dan angka 2) berisi data posisi akhir bulan dan disampaikan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. persentase Non Performing Guarantee (NPG). e) Klaim yang ditolak. dengan tembusan kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. Kementerian Teknis mempunyai kewajiban. c) melakukan pembinaan dan pendampingan UMKMK selama masa kredit/ pembiayaan atau ketika usulan kredit/pembiayaan UMKMK ditolak oleh Bank Pelaksana.18 - 2. b) Pengajuan Klaim kredit/pembiayaan. kelompok. 2.. d) Klaim yang masih dalam proses. b) menetapkan kebijakan dan prioritas bidang usaha yang akan menerima penjaminan KUR. . Kementerian Teknis melakukan langkahlangkah: a) menyiapkan rencana kerja pendukung pelaksanaan KUR. c) Realisasi pembayaran Klaim. K.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . Kementerian Keuangan selaku regulator dan kepada Bank Pelaksana dengan format laporan sebagai berikut: a) Pengajuan Penjaminan kredit/pembiayaan. yaitu: a) mempersiapkan UMKMK yang melakukan usaha produktif yang bersifat individu. pembinaan dan pendampingan bagi UMKM dan koperasi dalam proses permohonan kredit/ pembiayaan . 3.. Perusahaan Penjamin setiap bulannya melaporkan pengajuan dan realisasi klaim dari setiap Bank Pelaksana kepada Komite Kebijakan melalui Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana. khususnya yang terkait dengan penyiapan UMKM dan koperasi sebagai calon debitur KUR. Untuk melaksanakan kewajiban tersebut.

dan mengusulkan penganggarannya. untuk mendukung kelancaran usaha UMKM dan koperasi.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . BAB III …. b) memasukkan rencana kerja pendukung pelaksanaan KUR sesuai tupoksinya dalam Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja K/L) masing-masing.19 - pembiayaan sampai dengan pengembaliannya. serta memfasilitasi UMKM dan koperasi dengan pihak lain. khususnya Pemerintah Daerah. . c) pengaturan lebih lanjut mengenai kegiatan perencanaan terkait pelaksanaan KUR dapat dirumuskan dalam SOP tersendiri oleh Kementerian.

MENENGAH DAN KOPERASI. ttd ERLANGGA MANTIK .20 - BAB III PENUTUP Dalam hal terdapat perbedaan pendapat atau hal-hal yang belum diatur. KECIL.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . maka penyelesaiannya akan diputuskan oleh Komite Kebijakan berdasarkan asas musyawarah dan mufakat. DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO.

M. .M. 6. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor: 10 Tahun 1998 (Lembaran Negara 1998 Nomor: 182.M.05/2008 tentang Fasilitas Penjaminan Kredit Usaha Rakyat sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 189/PMK. KECIL.EKON/11/2010 VEMBER : 5 NOVEMBER 2010 STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PELAKSANAAN KREDIT USAHA RAKYAT BAGI TENAGA KERJA INDONESIA BAB I PENDAHULUAN A.. 2.05/2010. Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3502). dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota 5.I. Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3472). 3.I. 4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 135/PMK. MENENGAH DAN KOPERASI NOMOR TANGGAL KEP.20/D. antara lain: 1. Undang-Undang Nomor: 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian (Lembaran Negara 1992 Nomor: 116. Undang-Undang Nomor: 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara 1992 Nomor: 31..EKON/1 : KEP. Peraturan Pemerintah Nomor: 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. Pemerintahan Daerah Propinsi. Tambahan Lembaran Negara Nomor: 3790).I. Keputusan .20/D. Undang-Undang Nomor: 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Dasar Hukum Beberapa peraturan perundangan yang terkait dengan SOP ini.EKON/ /2010 /D.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN II KEPUTUSAN DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO.

7. Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara Bank Pelaksana dengan Debitur KUR yang mewajibkan Debitur KUR untuk mengembalikan dana atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan/bagi hasil/marjin. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Kecil. Kredit/Pembiayaan: Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Maksud dan Tujuan 1. 2. serta pengawasan program KUR bagi TKI. dan Koperasi beserta addendum-nya. Bank Pelaksana dengan Debitur KUR yang mewajibkan Debitur KUR untuk melunasi . pemantauan dan evaluasi. dan Koperasi.EKON/ 10/2009 tentang Komite Kebijakan Penjaminan Kredit kepada Usaha Mikro. Pelaksanaan pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi Tenaga Kerja Indonesia berdasarkan Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding/MOU) tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro. pelaksanaan. Pengertian Umum 1.. serta pengawasan program KUR bagi Tenaga Kerja Indonesia. Menengah. Kecil. B. Sasaran 1. pelaksanaan. Sebagai pedoman para pihak yang terkait dengan perencanaan. 2.EKON/01/2010 tentang Penambahan Bank Pelaksana Kredit Usaha Rakyat. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Selaku Ketua Komite Kebijakan Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro. Kementerian . pemantauan dan evaluasi. Kecil.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -2- 6. D.. Sebagai pedoman/petunjuk pelaksanaan bagi masing-masing pihak yang terkait dengan perencanaan. Menengah. C. 2. Untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Menengah. dan Koperasi Nomor:_KEP-07/M. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor: KEP-22/M.

6. Askrindo) dan Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo) serta perusahaan penjamin lainnya yang secara sukarela mengikatkan diri dan tunduk kepada Nota Kesepahaman Bersama untuk melakukan dan memberikan sebagian penjaminan kredit/ pembiayaan secara otomatis bersyarat (conditional automatic cover) kepada Bank Pelaksana. Perusahaan Penjamin: PT. Bank Syariah Mandiri. PT. Bank Papua serta bank lainnya yang secara sukarela mengikatkan diri dan tunduk kepada Nota Kesepahaman Bersama tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan Kepada Usaha Mikro. oleh Perusahaan Penjamin. Penjaminan: Kegiatan pemberian jaminan atas pemenuhan kewajiban finansial debitur KUR.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -3- 2. 5. (Persero) Asuransi Kredit Indonesia (PT. Bank Kalbar. Bank NTB. Bank Bukopin Tbk. dan Koperasi.. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Bank Jateng. . dan 13 Bank Pembangunan Daerah (BPD) yaitu PT. 4. PT. PT. Bank Nagari. Menengah. 8. Bank Pelaksana: Bank yang ikut menandatangani Nota Kesepahaman Bersama Penjaminan Kredit/ Pembiayaan kepada UMKMK yaitu PT. Bank Sulut. KUR . KUR TKI: KUR bagi TKI yang selanjutnya disebut KUR TKI. Bank Jatim. PT. adalah skema KUR yang disalurkan kepada TKI untuk memenuhi pembiayaan yang menjadi tanggung-jawabnya dalam proses penempatan ke luar negeri. Bank Tabungan Negara (Persero). PT. PT. PT. BPD DIY. Tenaga Kerja Indonesia: Tenaga Kerja Indonesia yang selanjutnya disebut dengan TKI adalah setiap warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah.. 3. PT. PT. 7. PT. Kecil. PT. Bank DKI. Bank Kalteng. PT. BPD Kalsel. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. PT. Bank Jabar Banten. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kementerian: Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagai lembaga yang merumuskan kebijakan ketenagakerjaan. Bank Maluku. PT.

. Mitra Usaha: Instansi atau badan usaha berbentuk badan hukum di negara tujuan yang bertanggung jawab menempatkan TKI pada Pengguna. telex test key arrangement. 14.000.000. 9.(dua puluh juta rupiah) dikenakan suku bunga kredit/marjin pembiayaan maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen) efektif per tahun. pendidikan dan pelatihan. Perjanjian Kerja Sama Penempatan: Perjanjian tertulis antara Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS) dengan Mitra Usaha atau Pengguna yang memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam rangka penempatan serta perlindungan TKI di negara tujuan. minat dan kemampuannya dengan pemberi kerja di luar negeri yang meliputi keseluruhan proses perekrutan. 15. badan usaha berbentuk badan hukum dan/atau Perseorangan di negara tujuan yang mempekerjakan TKI.000. pengurusan dokumen. penampungan. 13. hak dan kewajiban masing-masing pihak. maksimal sebesar/setara 14% (empat belas persen) efektif per tahun. KUR TKI Ritel: KUR TKI dengan plafon diatas Rp 20. Perjanjian Kerja: Perjanjian tertulis antara TKI dengan Pengguna yang memuat syarat-syarat kerja.000. pemberangkatan sampai ke negara tujuan dan pemulangan dari negara tujuan. 10.(lima ratus juta rupiah) dikenakan suku bunga kredit/marjin pembiayaan.000. 12.. BAB II .KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -4- 8. Pengguna Jasa TKI: Pengguna Jasa TKI yang selanjutnya disebut dengan Pengguna adalah Instansi. Penempatan TKI: Penempatan TKI adalah kegiatan pelayanan untuk mempertemukan TKI sesuai bakat.(dua puluh juta rupiah) sampai dengan Rp 500. Bank Koresponden: Bank Koresponden adalah bank yang mempunyai hubungan test key arrangement dengan Bank Pelaksana KUR baik dalam bentuk authorized signature list. 16. 11.000.. . KUR TKI Mikro: KUR TKI dengan plafon sampai dengan Rp 20.. maupun SWIFT authentication key. persiapan pemberangkatan.. Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS): Pelaksana Penempatan TKI Swasta adalah badan hukum yang telah memperoleh izin tertulis dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Penyaluran KUR TKI . Penyaluran … B. KUR yang disalurkan oleh Bank Pelaksana dijamin secara otomatis bersyarat (conditional automatic cover) oleh Perusahaan Penjamin dengan nilai penjaminan sebesar 80% (delapan puluh persen). Penyaluran KUR TKI ditujukan untuk membantu pembiayaan penempatan TKI. Besarnya pinjaman KUR TKI dapat diberikan maksimal 100% (seratus persen) dari biaya penempatan yang mencakup biaya: a. maka TKI menandatangani Perjanjian Kredit . b. pelatihan kerja dan sertifikasi kompetensi kerja. c. Ketentuan Umum Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi TKI adalah kredit/pembiayaan modal kerja kepada TKI yang dijamin oleh Perusahaan Penjamin. d. pemeriksaan kesehatan dan psikologi. Sumber dana KUR TKI adalah 100% (seratus persen) berasal dari dana Bank Pelaksana.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -5- II BAB II PELAKSANAAN KUR TKI A. pengurusan dokumen jati diri. dan biaya lain yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Mekanisme penyaluran KUR TKI diatur sebagai berikut: Bank Pelaksana a TKI b Perusahaan Penjamin a) Bank melakukan penilaian secara individu terhadap TKI. Apabila dinilai layak dan disetujui. B. b) Bank mengajukan permohonan penjaminan kepada Perusahaan Penjamin sebesar 80% (delapan puluh persen) dan selanjutnya Perusahaan Penjamin menerbitkan Sertifikat Penjaminan.

Rencana bisnis minimal selama 1 (satu) tahun. Memiliki Perjanjian Kerja dengan Pengguna bagi TKI yang ditempatkan oleh PPTKIS. dapat disalurkan oleh semua Bank Pelaksana KUR. 5. Berusia sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) tahun. TKI yang dapat mengajukan KUR 1. SOP Penyaluran KUR TKI c. Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan PPTKIS antara lain mengatur hak dan kewajiban PPTKIS 2. Pemerintah. 7. tidak diwajibkan untuk dilakukan pengecekan pada Sistem Informasi Debitur untuk KUR TKI Mikro. Bank Pelaksana harus menyusun a. Memiliki Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Berpendidikan sekurang-kurangnya lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau yang sederajat. 6. Kewajiban … . 3. Persyaratan Bank Pelaksana KUR TKI 1. dan TKI yang bekerja secara perseorangan. Surat ijin dari suami/istri/orang tua/wali untuk bekerja di luar negeri. C. b. Memiliki Perjanjian Penempatan dengan PPTKIS. dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau akte kelahiran/Surat Kenal Lahir dari instansi yang berwenang. suku bunga kredit/marjin pembiayaan maksimal sebesar/setara 22% (dua puluh dua persen) efektif per tahun untuk KUR TKI Mikro dan maksimal sebesar/setara 14% (empat belas persen) efektif per tahun untuk KUR TKI Ritel. Surat hasil Medical Check-Up yang menyatakan fit untuk bekerja dari rumah sakit/ medical center yang ditunjuk oleh pemerintah. dengan bukti melampirkan salinan ijazah pendidikan terakhir. diatur hal-hal sebagai berikut: 1.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -6- Untuk melaksanakan KUR TKI. D. 3. 4. 2. Gaji TKI akan dibayar langsung melalui rekening TKI di bank koresponden b. 2. SOP Penyaluran KUR TKI yang disusun Bank Pelaksana mengatur antara lain: a.

Imbal Jasa Penjaminan 1. Tarif Imbal Jasa Penjaminan ditentukan dalam Peraturan Menteri Keuangan 2. G. 3.. Bank Pelaksana wajib menghentikan penyaluran KUR TKI apabila tingkat NPL mencapai maksimal 5% (lima persen). Jangka Waktu Jangka waktu KUR TKI ditetapkan maksimal sesuai dengan masa kontrak kerja dan tidak melebihi 3 (tiga) tahun. Ketentuan Penjaminan 1. SOP tentang Verifikasi Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan KUR dan Pembayaran Imbal Jasa Penjaminan KUR mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -7- b. khususnya kredit 2.. H. Tugas Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 1. Bank Pelaksana dapat kembali menyalurkan KUR TKI setelah melakukan perbaikan mekanisme penyaluran KUR TKI. dihitung dari Nilai Penjaminan yang diperjanjikan. Imbal Jasa Penjaminan menjadi beban Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Perjanjian . Memantau kinerja PPTKIS yang bekerjasama dengan bank pelaksana KUR TKI 3. Syarat Klaim Klaim dapat diajukan kepada Perusahaan penjamin setelah: a. Melakukan pelatihan keuangan kepada TKI yang akan ditempatkan sehingga memahami produk bank. Kewajiban pengguna perorangan untuk menempatkan deposit minimal sebesar 6 (enam) bulan gaji TKI pada bank koresponden c. PPTKIS wajib menempatkan deposit pada Bank Pelaksana 3. E. . Menerbitkan dan mensosialisasikan ketentuan pembukaan rekening bank koresponden oleh Pengguna untuk pembayaran gaji TKI F. Menerbitkan dan mensosialisasikan ketentuan pembukaan deposit minimal sebesar 6 (enam) bulan gaji TKI bagi Pengguna Perorangan 4. Tata cara penagihan dan pembayaran Imbal Jasa Penjaminan diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan.

e. 4.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -8- a. antara lain dalam hal pemenuhan agunan tambahan. Huru-hara yang berkaitan dengan gerakan atau kerusuhan politik yang secara langsung mengakibatkan kegagalan debitur untuk melunasi KUR TKI. 5. Resiko Kerugian Debitur KUR TKI yang tidak dijamin. yaitu: a. b. Pelaksanaan . atau 2. Bencana alam nasional (dan/atau wabah penyakit menular pada manusia/ hewan berkuku/unggas) yang ditetapkan oleh Pemerintah negara penempatan. Dalam hal Perusahaan Penjamin telah membayar klaim kepada Bank Pelaksana maka hak tagih dan hasil penjualan agunan beralih menjadi hak subrogasi yang dibagi secara proporsional antara Perusahaan Penjamin dan Bank Pelaksana. sentuhan radio aktif. Klaim yang telah dibayar oleh Perusahaan Penjamin kepada Bank Pelaksana tidak membebaskan debitur dari kewajibannya untuk melunasi kredit/ pembiayaan. atau b. Subrogasi a. KUR TKI yang bersangkutan dalam kolektibilitas kredit 4 (diragukan) sesuai ketentuan Bank Indonesia. radiasi reaksi inti atom yang langsung mengakibatkan kegagalan usaha Debitur untuk melunasi KUR TKI tanpa memandang bagaimana dan dimana terjadinya. . Berdasarkan pertimbangan dan untuk kepentingan Debitur KUR TKI. d. maka Kementerian Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan dapat mengatur kembali mengenai ketentuan dan pelaksanaan subrogasi tersebut diatas. Besarnya Klaim Klaim penjaminan yang dapat diajukan oleh Bank Pelaksana adalah 80% (delapan puluh persen) x (sisa pokok + bunga pada saat pengajuan klaim + denda) dengan setinggi-tingginya sebesar 80% (delapan puluh persen) x plafon KUR. Reaksi nuklir. b.. Peperangan baik dinyatakan maupun tidak di wilayah negara penempatan yang dinyatakan dalam keadaan bahaya atau dalam keadaan darurat perang. c. Kecuali ditetapkan lain oleh Komite Kebijakan.. Perjanjian kredit jatuh tempo dan Debitur KUR TKI tidak melunasi kewajiban pengembalian pinjaman. Tindakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia terhadap debitur dan/atau bank yang mengakibatkan debitur wanprestasi. 3. c.

Dalam melakukan pengawasan tersebut. Evaluasi. subrogasi dan lain-lain agar mengacu pada Perjanjian Kerjasama yang ditandatangani oleh Bank Pelaksana dengan Perusahaan Penjamin. Komite Kebijakan melakukan pengawasan atas pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat sebagai tindakan yang bersifat preventif dan melakukan verifikasi secara selektif melalui Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). dan Pengawasan 1. Pelaksanaan pembayaran klaim: a. Dalam hal terjadi tuntutan klaim dari bank pelaksana dan persyaratan klaim telah terpenuhi untuk dibayar sedangkan pihak penjamin belum menerima Imbal Jasa Penjaminan dari pemerintah. 2. Bank Pelaksana KUR TKI melaporkan penyaluran kredit/pembiayaan setiap bulan kepada Komite Kebijakan melalui Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana Komite Kebijakan dengan tembusan kepada Perusahaan Penjamin dengan format laporan sebagai berikut: a. BPKP akan bekerjasama dengan unit audit internal Bank Pelaksana dan Perusahaan Penjamin. c. Pengawasan a. J. Pelaksanaan pengawasan oleh BPKP akan diatur tersendiri dalam SOP Pengawasan KUR dengan berpedoman pada SOP Pelaksanaan KUR TKI dan Perjanjian Kerjasama antara Bank Pelaksana dengan Perusahaan penjamin. Pelaporan 1. I. Monitoring. Komite Kebijakan melakukan monitoring dan evaluasi setiap 3 (tiga) bulan. b. 6. Realisasi … . Hasil kegiatan tersebut disampaikan dalam bentuk laporan. maka perusahaan penjamin harus melakukan pembayaran atas tuntutan klaim tersebut b. Tata cara pengajuan penjaminan. tata cara pengajuan klaim. gugurnya hak klaim. Secara keseluruhan pembayaran klaim maksimum yang dapat dilakukan oleh Perusahaan penjamin adalah sebesar maksimum dana Penyertaan Modal Negara (PMN) yang ditempatkan pada Perusahaan Penjamin ditambah hasil investasi dari modal PMN dan imbalan jasa penjaminan setelah dikurangi biaya operasional.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA -9- 5.

termasuk jumlah debitur. Klaim yang ditolak. provinsi asal. b. c.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA . Realisasi penyaluran KUR TKI menurut provinsi asal TKI. dan negara tujuan TKI. Klaim yang masih dalam proses. Realisasi total penyaluran dan baki debet dari KUR TKI Mikro dan KUR TKI Ritel. . 2. b. Pengajuan Klaim kredit/pembiayaan. persentase Non Performing Guarantee (NPG). Pengajuan Penjaminan kredit/pembiayaan. e. Jumlah Kredit Bermasalah (Non Performing Loan = NPL). Realisasi penyaluran KUR TKI menurut negara tujuan TKI. c. termasuk jumlah debiturnya. dengan tembusan kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. 3. sektor lapangan kerja.10 - a. Perusahaan Penjamin setiap bulannya melaporkan pengajuan dan realisasi klaim dari setiap Bank Pelaksana kepada Komite Kebijakan melalui Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Tim Pelaksana. termasuk jumlah debiturnya. termasuk jumlah debiturnya. e. termasuk jumlah debiturnya. Realisasi pembayaran Klaim. Kementerian Keuangan selaku regulator dan kepada Bank Pelaksana dengan format laporan sebagai berikut: a. BAB III …. Realisasi penyaluran KUR TKI menurut sektor lapangan kerja TKI. Laporan sebagaimana dimaksud angka 1) dan angka 2) berisi data posisi akhir bulan dan disampaikan paling lambat tgl 10 bulan berikutnya. d. d.

ttd ERLANGGA MANTIK . KECIL. DEPUTI BIDANG KOORDINASI EKONOMI MAKRO DAN KEUANGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN SELAKU KETUA TIM PELAKSANA KOMITE KEBIJAKAN PENJAMINAN KREDIT/PEMBIAYAAN KEPADA USAHA MIKRO. MENENGAH DAN KOPERASI.KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA .11 - BAB III PENUTUP Dalam hal terdapat perbedaan pendapat atau hal-hal yang belum diatur. maka penyelesaiannya akan diputuskan oleh Komite Kebijakan berdasarkan asas musyawarah dan mufakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful