Anda di halaman 1dari 11

BuletinRabithah

IMUSKA(IndonesianMuslimSocietyinKorea) Terbitpekanan

003
1429.10.10/2008.10.10

AqidahIslamiyah MaknaMalaikat
.malaikat adalah makhluk yang paling takut kepada azab Allah SWT...

Aqidah Islamiyah

Makna Malaikat
Oleh: Abu Abdillah

TazkiyatunNafs ShalatSarana1.TazkiyatunNafs
.Sesungguhnya Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar .

Sirahnabawiyah RahasiadipilihnyajazirahArabia sebagaitempatkelahirandan pertumbuhanIslam


di jazirah Arabia hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan tersebut. Mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban...

Malaikat adalah salah satu makhluk Allah SWT yang diciptakan-Nya dari cahaya (nuur) dan diberikan kekuatan untuk senantiasa taat kepada-Nya tanpa bermaksiat sedikitpun. Tetapi walaupun tidak pernah sedikitpun bermaksiat kepada Allah SWT, malaikat adalah makhluk yang paling takut kepada azab Allah SWT, sebagaimana dalam hadits nabi SAW, Apabila Allah menentukan suatu keputusan di langit, maka semua malaikat sama-sama memukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman Allah SWT, sehingga seperti bunyibunyian yang sangat nyaring. Sehingga apabila telah mereda rasa takut dalam hati mereka, maka mereka saling berbisik satu sama lain: Apakah yang diucapkan oleh Allah? Maka jawab yang lain: Kebenaran, Dia adalah Maha Luhur lagi Maha Besar Jumlah Malaikat 1. Bersabda Nabi SAW, Sesungguhnya aku mendengar langit berkerut dan bergemeretak, dan tidaklah ada satu tempat sebesar sejengkal kecuali ada seorang malaikat meletakkan dahinya sedang bersujud atau berdiri shalat.


2. Bersabda Nabi SAW, Masuk ke dalam baitul Mamur pada setiap harinya 70.000 malaikat dan tidak pernah keluar lagi sampai hari Kiamat. Ketelitian dan Kedisiplinan Malaikat 1. Mereka sangat teliti dalam melaksanakan semua amanah yang diberikan oleh pencipta dan pemilik mereka (ALLAH SWT), sehingga tidak satupun tugas yang diberikan kepada mereka berani mereka lalaikan: Dan sungguh atas kalian senantiasa ada malaikat yang senantiasa menjaga, yang mulia lagi senantiasa mencatat. 2. Mereka sangat disiplin dalam segala hal, sehingga Nabi kita yang mulia SAW memerintahkan kita untuk mengikuti kedisiplinan mereka dalam sabdanya: Inginkah kalian shalat sebagaimana sikap para malaikat ketika menghadap Rabbnya? Maka para shahabat ra bertanya: Bagaimanakah sikap shalatnya para malaikat itu wahai RasuluLLAH? Maka jawab Nabi SAW: Mereka memenuhi semua shaf pertama kemudian baru shaf berikutnya dan mereka merapatkan shafnya. Doa, Cinta, dan Pertolongan Mereka Kepada Kaum Muminin 1. Mereka tidak putus-putusnya mendoakan kita, memohonkan ampun dan bershalawat bagi kita yang benarbenar mumin, sebagaimana dalam hadits: Sesungguhnya ALLAH dan malaikat sampaipun semut dalam lubanglubangnya sampaipun tiram di dasar samudera senantiasa berdoa bagi para dai dan kebaikan. orang yang mengajarkan

2. Dalam hadits lainnya dikatakan: Sesungguhnya malaikat senantiasa bershalawat untuk seorang diantara kalian selama ia masih di tempat shalatnya sepanjang ia belum berhadats. Mereka para malaikat tersebut senantiasa berkata: Ya ALLAH ampunilah dia.. Ya ALLAH sayangilah dia. 3. Cinta mereka bersifat tulus dan seketika, yaitu ketika ALLAH SWT mencintai seorang hamba-NYA yang beriman, maka merekapun serentak mencintai orang tsb. Sebagaimana digambarkan dalam hadits: Sesungguhnya jika ALLAH SWT mencintai seorang hamba, maka berserulah Jibril: Sesungguhnya ALLAH SWT telah mencintai Fulan, maka cintailah dia. Maka Jibrilpun mencintai orang tersebut dan para malaikat di langitpun semua mencintainya dan yang demikian itupun kemudian diikuti oleh para penduduk bumi. 4. Cinta mereka inipun ditunjukkan dengan keikutsertaan mereka dalam berbagai aktifitas kebaikan kita, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Nabi SAW: Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam sebuah rumah dari rumahrumah ALLAH (mesjid) sambil membaca kitab ALLAH dan mempelajarinya diantara mereka. Melainkan di majlis itu turun ketenangan dari sisi ALLAH, dan diliputi oleh kasih sayang ALLAH, serta malaikat mengerubungi dengan sayap-


sayapnya, serta ALLAH SWT menyebutkan nama mereka satu-persatu diantara makhluk yang ada disisi-NYA. Tugas-Tugas Para Malaikat: 1. Beribadah kepada Allah SWT dengan bertasbih kepada-Nya baik siang maupun malam tanpa rasa bosan maupun terpaksa. 2. Membawa wahyu kepada anbiya maupun para Rasul. 3. Memohon ampunan bagi kaum yang beriman. 4. Meniup sangkakala. 5. Mencatat amal perbuatan manusia dan jin. 6. Mencabut nyawa. 7. Memberi salam kepada para penghuni jannah. 8. Menyiksa para penghuni neraka. 9. Memikul arsy Allah SWT. 10. Memberi kabar gembira dan memperkuat kondisi kaum mukminin. 11. Mengerjakan berbagai pekerjaan lain selain di atas, seperti melarang perbuatan maksiat & memberikan pelajaran, membagi tugas & pekerjaan, membawa kebaikan, menyebarkan rahmat, membedakan antara benar & salah, dsb. Kewajiban Kita Kepada Malaikat 1. Mengimani keberadaan mereka. 2. Mengimani nama-nama, sifat-sifat, dan tugas-tugas mereka yang kita kenali maupun yang tidak kita kenali tapi diberitakan oleh Allah SWT. Nama-Nama Malaikat Menurut AlQuran dan As-Sunnah Yang Shahih 1. Jibril, kadang juga disebut Ruhul Qudus, kadang juga disebut Ruhul Amin. 2. Mikal atau sering disebut Mikail. 3. Malik atau Zabaniyyah. 4. Raqibun Atid (Yang dekat lagi mencatat) atau juga Kiraman Katibin (yang mulia lagi mencatat). 5. Israfil. 6. Munkar & Nakir. Nama-Nama Malaikat Yang Dhaif & Maudhu Menurut As-Sunnah 1. Izrail, oleh sebab itu yang benar adalah menamakannya dengan Malakul Maut sesuai Al-Quran. 2. Ridhwan, oleh karenanya yang benar adalah menamakannya dengan Penjaga Syurga.

Pengaruh Beriman Kepada Malaikat 1. Semakin meyakini kebesaran, kekuatan dan kemahakuasaan Allah SWT. 2. Bersyukur kepada-Nya, karena telah menciptakan para malaikat untuk membantu kehidupan dan kepentingan manusia dan jin. 3. Menumbuhkan cinta kepada amal shalih, karena mengetahui ibadah para malaikat 4. Merasa takut bermaksiat karena meyakini berbagai tugas malaikat seperti mencatat perbuatannya, mencabut nyawa dan menyiksa di naar.

Tazkiyatun Nafs Shalat Sarana 1. Tazkiyatun Nafs


Shalat adalah sarana terbesar tazkiyatunnafs, dan pada waktu yang sama merupakan bukti dan ukuran dalam tazkiyah. Ia adalah sarana dan sekaligus tujuan. Ia mempertajam makna-makna ubudiyah (penghambaan), tauhid dan syukur. Penegakannya dapat memusnahkan bibit-bibit kesombongan dan pembangakan kepada Allah, di samping merupakan pengakuan terhadap rububiyah (pen-Tuhan-an) dan hak pengaturan. Penegakannya secara sempurna juga akan dapat memusnahkan bibit-bibit ujub (bangga diri) dan ghurur bahkan semua bentuk kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya shalat dapat mencegah kekejian dan kemungkaran. (Al Ankabut:29) Shalat akan berfungsi demikian apablia ditegakkan dengan semua rukun, sunnah dan adab zhahir dan batin.Di antara adab zhahir adalah menyempurnakan gerakan anggota badan, dan di antara adab batin adalah khusyu. Khusyu inilah yang menjadikan shalat memiliki peran yang lebih besar dalam tath-hir (penyucian), peran lebih besar dari tahaqquq dan takhalluq (merealisasikan nilai-nilai dan sifat-sifat yang mulia). Sabda Rasulullah SAW, Ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi adalah kekhusyuan (HR.Thabrani sanad hasan), Karena khusyu meripakan tanda

orang-orang yang beruntung dan berhak mendapat kabar gembira dari Allah SWT. Sesungguhnya beruntunglah orangorang yang beriman, (yaotu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya (Al Muminun: 1-2). Jika sedemikian pentingnya kedudukan khysyu, maka ketidakberadaannya berarti rusaknya hati dan keadaan. Syarat khusyu dan kehadiran hati dalam shalat dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaha: 14). Dan janganlah kamu termasuk orangorang yang lalai. (Al Araf: 205) Sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan (An Nisa: 43) Betapa mudahnya orang yang lalai untuk menggerakkan-gerakkan lisannya dengan bacaan-bacaan tanpa mengandung ujian dari segi amal perbuatan, tetapi yang dimaksudkannya sekadar huruf yang terucapkan. Sementara itu, ia tidak menjadi ucapan bila tidak mengekspresikan apa yang ada di dalam hati, dan ia tidak menjadi ekspresi jika tidak disertai dengan kehadiran hati. Apa artinya, Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (Al Fatihah: 6) jika hati tetap lalai? Jika tidak dimaksudkan sebagai tadharru (kerendahan hati) dan doa, maka betapa mudahnya diucapkan lisan dengan hati yang lali, terutama bila telah menjadi kebiasaan? Itulah hukum zikir.


Tidak diragukan lagi bahwa maksud dari bacaan dan dzikir adalah pujian sanjungan, tadharru dan doa. Sedangkan maksud dari rukudan sujud adalah tazhim (mengagungkan). Pengagungan yang sedemikian besar terhadap shalat bukan hanya karena amalan lahiriahnya semata, tapi karena apa yang menjadi tujuannya yaitu munajat. Karena itu, ia mendahului puasa, zakat, haji dan ibadah lainnya, juga sebagai pembeda antara kekafiran dan Islam. Makna-makna batin yang dengannya tercapai kehidupan shalat Makna-makna ini terangkum dalam enam kalimat, yaitu: kehadiran hati, tafahhum, tazhim, haibah, raja dan haya. Kehadiran hati adalah mengosongkan hati dari hal-hal yang tidak boleh mencampuri dan mengajaknya berbicara, sehingga pengetahuan tentang perbuatan senantiasa menyertainya dan pikiran tidak berkeliaran pada selainnya. Tafahhum (kefahaman) terhadap makna pembicaraan merupakan sesuatu di luar kehadiran hati. Betapa banyak maknamakna yang sangat halus yang difahami oleh orang yang tengah menunaikan shalat, padahal tidak pernah terlintas dalam hatinya sebelum itu? Dari sinilah kemudian shalat dapat mencegah erbuatan mungkar dan keji. Tazhim (rasa hormat) juga merupakan perakara di luar kehadiran hati dan kefahaman. Tazhim merupakan tambahan bagi kehadiran hati dan kefahaman. Haibah (rasa takut yang bersumber dari rasa hormat) merupakan tambahan bagi tazhim. Karena orang yang tidak takut tidak bisa disebut haib. Raja (harap) tidak diragukan lagi merupakan tambahan. Seorang hamba dengan shalatnya harus mengharapkan ganjaran Allah, sebagaimana ia takut hukuman Allah bila melakukan pelanggaran. Haya (rasa malu) merupakan tambahan bagi semua hal di atas, karena landasannya adalah perasaan selalu kurang sempurna dan selalu berbuat dosa. Hal-hal yang menyebabkan timbunya keenam makna tersebut Faktor penyebab kehadiran hati adaalah himmah (perhatian utama). Bila ada sesuatu yang menjadi perhatian utama, maka hati pasti akan hadir suka atau tidak suka. Oleh karena itu, tidak ada kiat dan terapi untuk menghadirkan hati kecuali dengan memalingkan himmah kepada shalat. Faktor penyebab timbulnya tafahhum ialah senantiasa berpikir dan mengarahkan pikiran untuk mengetahui makna. Terapinya terletak pada menghadirkan hati dan disertai konsentrasi berpikir dan kesiagaan untuk menolak lintasan pikiran yang liar.


Sedangkan tazhim merupakan keadaan hati yang lahir dari dua marifat. Pertama, marifat akan kemuliaan dan keagungan Allah. Siapa yang tidak diyakini keagungannya, maka jiwa tidak akan mau mengagungkannya. Kedua, marifat akan kehinaan diri dan statusnya sebagai hamba yang tidak memiliki kuasa apaapa (istikamah), tidak berdaya (inkisar) dan tunduk (khusyu) kepada Allah yang diungkapkannya dengan tazhim. Selagi dua marifat tersebut tidak bersatu, maka tazhim dan khusyu tidak akan berpadu. Haibah dan takut merupakan keadaan jiwa yang terlahir dari ma;rifat akan kekuasaan Allah, hukuman-Nya, pengaruh kehendak-Nya padanya dan bahwa seandainya Dia membinasakan orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian maka semua itu tidak mengurangi kerajaan-Nya sedikitpun. Sehingga, semakin bertambah pengetahuannya tentang Allah semakin bertambah pula rasa takut dan haibahnya. Sedangkan faktor penyebab timbulnya raja (harap) ialah kelembutan Allah, kedemawanan-Nya, keluasan nikmat-Nya, keindahan ciptaan-Nya, dan pengetahuan akan kebenaran janji-Nya, khususnya janji surge bagi orang yang shalat. Sedangkan rasa haya akan muncul melalui perasaan serba kurang sempurna dalam beribadah dan pengetahuannya akan ketidakmampuannya dalam menunaikan hak-hak Allah. Rasa malu akan semakin kuat dengan mengetahui kekurangan dirinya. Obat yang bermanfaat menghadirkan hati dalam

TIdak ada hal yang menjadikan seseorang melalaikan shalatnya kecuali lintasan-lintasan pikiran yang datang dan menyibukkan. Oleh karena itu, obat menghadirkan hati ialah mengusir lintasan-lintasan pikiran tersebut, baik yang datang dari eksternal maupun internal. Sebab eksternal yang tertangkap oleh pendengaran atau penglihatan. Dimana penglihatan tersebut menjadi sebab untuk memikirkan kemudian menjadi sebab yang lain. Terapinya ialah dengan menundukkan pandangan atau shalat di ruangan yang gelap atau tidak meletakkan sesuatu yang dapat mengganggu konsentarasinya. Sedangkan sebab internal leibh berat. Karena apa yang bersemayam di hatinya telah cukup menyibukkannya. Terapinya adalah menarik jiwa dengan paksa untuk memahami apa yang dibacanya dalam shalatnya dan membuatnya sibuk dengannya dan lupa yang lainnya. Rasulullah pernah memerintahkan penggantian tali terumpahnya kemudian Rasulullah tergerak untuk melihatnya dalam shalatnya, kemudian Rasulullah memerintahkan untuk melepas tali yang baru itu dan mengembalikan yang lama. Terapi-terapi tersebut harus dilakukan secara mujahadah (sungguh-sungguh) dan berulang-ulang agar dapat mengembalikan dan menghadirkan kembali hati di dalam shalat.


Sirah Nabawiyah

Rahasia dipilihnya jazirah Arabia sebagai tempat kelahiran dan pertumbuhan Islam
Sebelum membahas Sirah Rasulullah SAW dan berbicara tentang jazirah Arabia, tempat yang dipilih Allah sebagai tempat kelahiran dan pertumbuhannya, terlebih dahulu kita harus menjelaskan hikmah Ilahiyah yang menentukan bitsah Rasulullah SAW di bagian dunia ini, dan pertumbuhan dakwah Islam di tangan bangsa Arab sebelum bangsa lainnya. Untuk menjelaskan hal ini, pertama kita harus mengetahui karakteristik bangsa Arab dan tabiat mereka sebelum Islam, juga menggambarkan letak geografis tempat mereka hidup dan posisinya di antara negara-negara disekitarnya. Sebaliknya kita juga harus menggambarkan kondisi peradaban dan kebudayaan umat-umat lain pada waktu itu, seperti Persia, Romawi, Yunani, dan India. Kita mulai pertama, menyajikan di sekitar jazirah Arab sebelum Islam. Pada waktu itu dunia dikuasai oleh dua negara adidaya yaitu Persia dan Romawi, kemudian menyusul India dan Yunani. Persia adalah ladang subur berbagai khayalan (khurafat) keagamaan dan filosof yang saling bertentangan. Di antaranya adalah Zoroaster yang dianut oleh kaum penguasa. Diantara falsafahnya adalah mengutamakan perkawinan seseorang dengan ibunya,

anak perempuannya atau saudaranya. Sehingga Yazdasir II yang memerintah pada pertengahan abad kelima Masehi mengawini anak perempuannya. Belum lagi penyimpangan-penyimpangan akhlak yang beraneka ragam sehingga tidak bisa disebutkan di sini. Di persia juga terdapat ajaran Mazdakia, yang menurut Imam Syahrustani, didasarkan filsafat lain, yaitu menghalalkan wanita, membolehkan harta dan menjadikan manusia sebagai serikat seperti perserikatan mereka dalam masalah air, api dan rumput. Ajaran ini memperoleh sambutan luas dari kaum pengumbar hawa nafsu. Sedangkan Romawi telah dikuasi sepenuhnya oleh semengat kolonialisme. Negeri ini terlibat pertentangan agama, antara Romawi di satu pihak dan Nasrani di pihak lain. Negeri ini mengandalkan kekuatan militer dan ambisi kolonialnya dalammelakukan petualangan (naif) demi mengembangkan agama kristen, dan mempermainkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya yang serakah. Negara ini pada waktu yang sama tak kalah bejatnya dari Persia. Kehidupan nista, kebejatan moral dan pemerasan ekonomi telah menyebar ke seluruh penjuru negeri, akibat melimpahnya penghasilan dan menumpuknya pajak. Akan halnya Yunani maka negeri ini sedang tenggelam dalam lautan khurafat dan mithos-mithos verbal yang tidak pernah memberikan manfaat.


Demikian pula India, sebagaimana dikatakan oleh ustadz Abul Hasan anNadawi, telah disepakai oleh para penulis sejarahnya, bahwa negeri ini sedang berada pada puncak kebejatan dari segi agama, akhlak ataupun sosial. Masa tersebut bermula sejak awal abad keenam Masehi. India bersama negara tetangganya berandil dalam kemerosotan moral dan sosial. Disamping itu harus diketahui bahwa ada satu hal yang menjadi sebab utama terjadinya kemerosotan, keguncangan dan kenestapaan pada umat-umat tersebut, yaitu peradaban dan kebudayaan yang didasarkan pada nilainilai materialistik semata, tanpa ada nilainilai moral yang mengarahkan peradaban dan kebudayaan tersebut kejalan yang benar. Akan halnya peradaban berikut segala implikasinya dan penampilannya, tidak lain hanyalah merupakan sarana dan instrumen. Jika pemegang sarana dan instrumen tidak memiliki pemikiran dan nilai-nilai moral yang benar, maka peradaban yang ada di tangan mereka akan berubah menjadi alat kesengsaraan dan kehancuran. Jika sebaliknya, yang bisa diperoleh melalu wahyu Ilahi, maka seluruh nilai peradaban dan kebudayaan akan menjadi sarana yang baik bagi kebudayaan yang berbahagia penuh dengan rahmat di segala bidang. Sementara itu, di jazirah Arabia hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan tersebut. Mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban Persia yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotan-kemerosotan, filsafat keserbabolehan dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama. Mereka juga tidak memiliki kekuatan militer Romawi, yang mendorong mereka melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga. Mereka tidak memiliki filosofi dan dialektika Yunani yang menjerat mereka menjadi bangsa mithos dan khurafat. Karakteristik mereka seperti bahan baku yang belum diolah dengan bahan lain, masih menampakkan fitrah kemanusiaan dan kecenderungan yang sehat dan kuat, serta cenderung kepada kemanusiaan yang mulia, seperti setia, penolong, dermawan, rasa harga diri, dan kesucian. Hanya saja mereka tidak memiliki marifat yang akan mengungkapkan jalan ke arah itu. Karena mereka hidup di dalam kegelapan, kebodohan, dan alam fitrahnya yang pertama. Akibatnya mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan tersebut. Kemudian mereka membunuh anak dengan dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harta kekayaan dengan alasan kedermawanan dan membangkitkan peperangan di antara mereka dengan alasan harga diri dan kepahlawanan. Kondisi inilah yang diungkapkan oleh Allah dengan dalil ketika mensifati dengan firman-Nya, Dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat (QS Al-Baqarah (2) :198)


Suatu sifat apabila dinisbatkan kepada kondisi umat-umat lain pada waktu itu, lebih banyak menunjukkan kepada Itidzar (excuse) daripada kecaman, celaan, dan hinaan kepada mereka. Ini dikarenakan umat-umat lain tersebut melakukan penyimpangan terbesar dengan bimbingan sorot peradaban, pengetahuan dan kebudayaan. Mereka terjerembab ke dalam kubang kerusakan dengan penuh kesadaran, perencanaan, dan pemikiran. Di samping itu jazirah Arabia secara geografis terletak di antara umat-umat yang sedang dilanda pergolakan. Bila diperhatikan sekarang seperti dikatakan oleh ustadz Muahammad Mubarak, maka akan diketahui betapa jazirah Arabia terletak di antara dua peradaban, Pertama peradaban barat Materialistik yang telah menyajikan suatu bentuk kemanusiaan yang tidak utuh dan kedua peradaban Spiritual penuh dengan khayalan di ujung timur, seperti di India, Cina dan sekitarnya. Jika telah kita ketahui kondisi bangsa Arab di jazirah Arab sebelum Islam dan kondisi umat-umat lain di sekitarnya maka dengan mudah kita dapat menjelaskan hikmah Ilahiyah yang telah berkenan menentukan jazirah Arabia sebagai tempat kelahiran Rasulullah SAW dan kerasulannya dan mengapa bangsa Arab ditunjuk sebagai generasi perintis yang membawa cahaya dakwah kepada dunia menuju agama Islam yang memerintahkan seluruh manusia di dunia ini agar menyembah kepada Allah semata. Jadi bukan seperti dikatakan oleh sebagian orang yang karena pemilikan agama batil dan peradaban palsu, sulit diluruskan dan diarahkan oleh sebab kebanggaan mereka terhadap kerusakan yang mereka lakukan dan anggapan mereka sebagai sesuatu yang benar. Sedangkan orang-orang yang masih hidup di masa pencarian, mereka tidak akan mengingkari kebodohan dan tidak akan membanggakan peradaban dan kebudayaan yang tidak dimilikinya. Dengan demikian mereka lebih mudah disembuhkan dan diarahkan. Kami tegaskan bukan hanya ini semata yang menjadi sebab utamanya, karena analisis seperti ini akan berlaku bagi orang yang kemampuannya terbatas, dan orang yang memiliki potensi. Analisis seperti tersebut di atas membedakan antara yang mudah dan yang sulit, Kemudian diutamakan yang pertama dan dihindari yang kedua, karena ingin menuju jalan kemudahan dan tidak menyukai jalan kesulitan. Jika Allah menghendaki terbitnya dakwah Islam ini dari suatu tempat, yaitu Persia, Romawi atau India, niscaya untuk keberhasilan dakwah ini Allah SWT, mempersiapkan berbagai sarana di negeri tersebut, sebagaimana Dia mempersiapkan sarana di jazirah Arabia. Dan Allah tidak akan pernah kesulitan untuk melakukannya, karena Dia Pencipta segala sesuatu, Pencipta segala sarana termasuk sebab. Tetapi hikmah pilihan ini sama dengan hikmah dijadikannya Rasululah SAW


seorang ummi, tidak bisa menulis dengan tangan kanannya, menurut istilah Allah, dan tidak pula membaca, agar manusia tidak ragu terhadp kenabiannya, dan agar mereka tidak memiliki banyak sebab keraguan terhadap dakwahnya. Adalah termasuk kesempurnaan hikmah Ilahiyah, jika biah (lingkungan) tempat diutusnya Rasulullah, dijadikan juga sebagai biah ummiyah (lingkungan yang ummi), bila dibandingkan dengan umatumat lainnya yang ada disekitarnya, yakni tidak terjangkau sama sekali oleh peradaban-peradaban tetangganya. Demikian pula sistem pemikirannya, tidak tersentuh sama sekali oleh filsafat-filsafat membingungkan yang ada di sekitarnya. Seperti halnya akan timbul keraguan di dada manusia apabila mereka melihat Nabi SAW seorang terpelajar dan pandai bergaul dengan kitab-kitab, sejarah umatumat terdahulu dan semua peradaban negara-negara sekitarnya. Dan dikhawatirkan pula akan timbul keraguan di dada manusia manakala melihat munculnya dakwah Islamiyah di antara 2 umat yang memiliki peradaban budaya dan sejarah seperti Persia, Yunani ataupun Romawi. Sebab orang yang ragu dan menolak mungkin akan menuduh dakwah Islam sebagai mata rantai pengalaman budaya dan pemikiranpemikiran filosof yang akhirnya melahirkan peradaban yang unik dan perundang-undangan yang sempurna. Al-Quran telah menjelaskan hikmah ini dengan ungkapan yang jelas. Firman Allah, Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mereka diajar akan kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan ynag nyata. (QS al-Jumuah: 2). Allah telah menghendaki Rasul-Nya seorang yang ummi dan kaum di mana Rasul ini diutus juga kaum secara mayoritas ummi, agar mujizat kenabian dan syariat Islamiyah menjadi jelas di jalan pikiran, tidak ada penghamburan antara dakwah Islam dengan dakwahdakwah manusia yang bermacammacam. Ini sebagaimana nampak jelas, merupakan rahmat yang besar bagi hambah-Nya. Selain itu ada pula hikmah-hikmah yang tidak tersembunyi bagi orang yang mencarinya, antara lain : 1. Sebagainana telah diketahui Allah menjadikan Baitul-Haram sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman ( 2:125 ) dan rumah ynag pertama kali dibangun bagi manusia untuk beribadah dan menegakkan syiarsyiar agama. Allah juga telah menjadikan dakwah bapak para Nabi, Ibrahim As, di lembah tersebut. Maka semua itu merupakan kelaziman dan kesempurnaan, jika lembah yang diberkati ini juga menjadi tempat lahirnya dakwah Islam yang notabene, adalah millah Ibrahim dan menjadi tempat diutus dan lahirnya pamungkas para Nabi. Bagaimana tidak, sedangkan dia termasuk keturunan Nabi Ibrahim as.


2. Secara geografis jazirah Arabia sangat konduktif untuk mengemban tugas dakwah seperti ini. Karena jazirah ini terletak, sebagaimana telah kami sebutkan, di bagian tengah umat-umat yang ada di sekitarnya. Posisi geografis ini akan menjadikan penyebaran dakwah Islam ke semua bangsa dan negara di sekitarnya berjalan dengan gampang dan lancar. Bila kita perhatikan kembali sejarah dakwah Islam pada permulaan Islam dan pada masa pemerintahan para Khalifah yang terpimpin, niscaya akan mengakui kebenaran hal ini. 3. Sudah menjadi kebijaksanaan Allah untuk menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa dakwah Islam, dan media langsung untuk menterjemahkan Kalam Allah dan penyampaiannya kepada kita. Jika kita kaji karakteristik semua bahasa lalu kita bandingkan antara satu dengan lainnya, niscaya akan kita temukan bahwa bahasa Arab banyak memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Maka, sudah sepatutnya jika bahasa Arab dijadikan bahasa pertama bagi kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia.