Anda di halaman 1dari 3

Naluri: Pola perilaku kompleks yang, sebagaimana refleks, merupakan bawaan, agak tidak fleksibel, dan mempunyai nilai

bagi hewan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Naluri lebih rumit dibandingkan dengan refleks dan dapat melibatkan serangkai aksi. Naluri atau insting adalah suatu pola perilaku dan reaksi terhadap suatu rangsangan tertentu yang tidak dipelajari tapi telah ada sejak kelahiran suatu makhluk hidup dan diperoleh secara turun-temurun (filogenetik). Dalam psikoanalisis, naluri dianggap sebagai tenaga psikis bawah sadar yang dibagi atas naluri kehidupan (eros) dan naluri kematian (thanos). Refleks: Respon bawaan paling sederhana yang dijumpai pada hewan yang mempunyai system saraf. Refleks adalah respon otomatis dari sebagian tubuh terhadap suatu stimulus. Respon terbawa sejak lahir, artinya sifatnya ditentukan oleh pola reseptor, saraf, dan efektor yang diwariskan. Contoh: refleks rentangan. Keterpatrian/Tanggap Tiru Imprinting: Merupakan salah satu contoh belajar yang khusus dan nyata. Contoh: jika seekor anak angsa yang baru menetas dihadapkan pada sebuah benda yang dapat bergerak dan mengeluarkan bunyi yang dapat terdengar, hewan itu akan mengikutinya sebagaimana mereka mengikuti induknya, Waktu penghadapan cukup kritis, karena jika dilakukan beberapa hari setelah menetas, keterpatrian tidak terjadi. Keterpatrian ini dikenal berkat penelitian Konrad Lorenz.

Imprinting merupakan salah satu bentuk pembelajaran dalam mengekspresikan perilaku yang didapat melalui proses meniru atau mencontoh. Imprinting terjadi pada periode waktu tertentu, yang disebut sebagai periode kritis (critical period). Fenomena imprinting banyak dipelajari pada burung pipit (Taeniopygia guttata). Periode kritis pada burung pipit terjadi sejak ia menetas sampai berumur 60 hari. Fase ini juga disebut fase sensori, dimana syaraf-syaraf organ pengatur suara yang terdapat di otak sedang berkembang. Sebaiknya pada fase ini burung pipit muda diletakkan berdekatan dengan bapaknya atau pipit jantan lain bersuara merdu yang berperan sebagai tutor. Anak pipit akan merekam suara tutornya. Setelah dewasa kelamin (umur 90 hari) burung pipit mulai belajar bernyanyi. Ia akan berlatih terus menerus hingga menjadi burung penyanyi yang baik.

Fenomena imprinting biasanya bersifat permanen dan tidak berubah. Hal ini telah ditunjukkan oleh ahli perilaku hewan terkemuka Konrad Lorenz yang menemukan proses imprinting pada angsa.

Feromon pada manusia merupakan sinyal kimia yang berada di udara yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan oleh VMO di dalam hidung/indra pencium. Sinyal ini dihasilkan oleh jaringan kulit khusus yang terkonsentrasi di dalam lengan. Sinyal feromon ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama hipotalamus. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan respons perilaku dan fisiologis. Feromon merupakan sejenis zat kimia yang memiliki daya pikat seks pada hewan jantan maupun betina. Zat ini berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Berbeda dengan hormon, feromon menyebar ke luar tubuh. Feromon hanya dapat dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies).

Feromon, berasal dari bahasa Yunani phero yang artinya pembawa dan mone sensasi. Feromon pertama ditemukan di Jerman, oleh Adolph Butenandt, ilmuwan yang juga menemukan hormon seks pada manusia: estrogen, progesteron dan testosteron.

Penemu zat feromon pertama kalinya pada hewan (serangga) adalah Jean-Henri Fabre melalui pengamatannya pada ngengat Great peacock betina pada satu musim semi tahun 1870an. Ngengat keluar dari kepompongnya dan diletakkan di kandang kawat di meja studinya untuk beberapa lama. Pada malam hari lusinan ngengat jantan berkumpul merubung kandang kawat di meja studinya.

Fenomena feromon sebagai bentuk komunikasi ini lama-lama mulai dicoba diterapkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Terutama sejak ditemukan bahwa feromon juga dihasilkan kelenjar dalam tubuh manusia. Dan yang penting, bisa memengaruhi hormon-hormon dalam tubuh (terutama otak) manusia lainnya. Contoh paling mudah adalah "bau badan". Terlepas dari jenis bau badan menyengat hingga membuat orang lain menjauh, setiap manusia memiliki bau yang khas dan menjadi ciri dirinya. Oleh para ahli dianalogikan bahwa bau badan itu seperti sidik jari.

Feromon pada manusia ternyata juga berfungsi sebagai daya tarik seksual. Para ahli kimia dari Huddinge University Hospital di Swedia malah mengklaim bahwa feromon juga punya andil dalam menghasilkan perasaan suka, naksir, cinta, bahkan gairah seksual seorang manusia pada manusia lainnya. Ini mereka buktikan saat melakukan penelitian terhadap

reaksi otak 12 pasang pria-wanita sehabis mencium bau senyawa sintetik mirip feromon. Bebauan tersebut langsung bereaksi terhadap hormon estrogen (pada wanita) dan hormon testoteron (pria).

Jadi, ketertarikan manusia pada manusia lain, baik itu berupa hubungan cinta, gairah seksual, maupun dalam memilih teman, juga didasari pada bau feromon yang dihasilkan manusia. Seperti yang tertulis di majalah National Geographic Indonesia, edisi Februari 2006, hasil penelitian Helen Fisher dan kawan-kawan, ketika seseorang memandang kekasih hatinya, dopamin akan merangsang bagian ventral tegmental dan caudate nucleus di otak menyala. Dalam dosis yang tepat, dopamin menciptakan kekuatan, kegembiraan, perhatian yang terpusat, serta dorongan yang kuat untuk memberikan imbalan. Itulah sebabnya jatuh cinta dapat membuat makan tak enak, tidur tak nyenyak.

Peneliti-peneliti lain menunjukkan bahwa gangguan kimiawi tubuh memang terbukti ketika seseorang jatuh cinta. Misalnya didapatkan bahwa kadar serotonin orang yang terobsesi dan kekasihnya 40 persen lebih rendah dari kadar serotonin orang normal.