Anda di halaman 1dari 67

BLT

Baca Langsung Tegang


By wong teler

Jilid 02
Dari koleksi website Cerita Cerita Seru 2 kurang tegang baca lagi sampe tegang

21 Cyber-love Story Teknologi mempengaruhi perilaku manusia tak bisa dibantah. Perkembangan teknologi jaringan yang begitu pesat memungkinkan orang melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhannya hanya dengan sentuhan ujung jari di kamar masing-masing tanpa terjebak traffic jam. Ngobrol, berbelanja, berkiriman dokumen, cari informasi apapun, semuanya dapat dilakukan tanpa beranjak dari rumah. Bahkan sebentar lagi orang tak memerlukan office space yang mahal itu. Seluruh aktivitas bisnis dapat dilakukan dan dikendalikan dari rumah. Boss tak pernah bertatap muka langsung dengan staff-nya merupakan hal yang biasa. Tak apa-apa, yang penting urusan beres. Demikian pula untuk satu urusan yang universal dimiliki manusia penghuni planet biru ini, urusan cinta. Orang jatuh cinta tak lagi hanya dari pandangan pertama, tapi bisa dimulai dari sentuhan ujung jari pada keyboard. Cyber love, demikian julukannya. Seperti kisah cinta di dunia nyata, percintaan di alam mayapun tak selalu diakhiri dengan happy ending, malahan lebih bayak unhappynya, paling tidak seperti yang pernah kualami. Dua kali Aku terlibat cinta cyber dan dua-duanya berakhir dengan unhappy. Inilah yang hendak Aku ceritakan kepada Anda sekalian pecinta CCS (Cerita-Cerita Seru) yang budiman! Anda yang tak tertarik dengan perselingkuhan yang berakhir unhappy bisa langsung delete saja mailku ini. Juga bagi Anda yang tak suka kisah-kisah kegagalan. Aku memang tak secanggih para penggemar CCS lainnya yang begitu mudah mendapatkan cewe idealnya. Begitu mudah menggaet cewe dengan gambaran tubuh yang "wah" dan amat mudah juga mengajaknya ML. Beginilah Anda biasanya menggambarkan fisik yang "wah" itu: Langsing dan tinggi nyaris dua meter, kulit putih mulus licin bak salju sehingga lalatpun gagal hinggap di tubuhnya, terpeleset --walaupun belum tentu pernah melihat salju--, buah dada kenyal bulat sebesar kepala bayi, pinggang ramping kaya bambu, paha bulat mirip batang pohon pinang dengan liang vagina sekecil lidi... pendek kata, seperti Sophia Latjuba atau Tamara Blezinsky-lah(gimanapun ejaannya). Aku tak secanggih itu, pembaca. Cewe teman selingkuhku tak secantik kedua selebritis itu. Tinggi "cuman" 163 (tidak 2 meter), kulit kuning langsat (bukan putih), bra ukuran 34 (bukan bukan dibalik jadi 43), pinggang cukup membentuk gitar (engga sekecil bambu) dan "kewanitaan"

yang sedikit sesak untuk ukuran penisku yang rata-rata orang melayu. Dan untuk berlanjut sampai ke ranjangpun tak semudah seperti yang biasa Anda lakukan: begitu ketemu, kenalan terus langsung jilat-jilat vagina dan tancepan. Prosesku lumayan panjang dan dengan intensitas hubungan yang naik-turun, tak selalu lancar. Aku, pria 28 tahun, sudah berkeluarga, anak satu, kerja di perusahaan swasta di Jakarta. "Ketemu" pertama kali dengan Alia (begitu saja kusebut namanya) di mailing list group yang mengkhususkan diskusi tentang politik Indonesia. Di antara belantara lalu-lintas diskusi itu suatu saat pada topik tertentu Aku dan Alia saling dukung pendapat (topik apa dan gimana saling dukungnya tak relevan bila kutulis di sini). Maka kulayangkan sebuah mail lewat japri-nya. Isi mail masih lanjutan topik tadi dan kuakhiri dengan keinginan untuk kenal lebih dekat. Perkenalanku mendapat respons positif dan mulailah kami saling berkirim mail sampai "melupakan" forum mailing-list dan jadi jarang posting. Pada tahap saling membuka identitas masing-masing kusebutkan statusku dengan sebenarnya. Alia sedang kuliah di jurusan Sospol Universitas di kotanya Makassar semester VI. Asli dari Manado tapi kelahiran Makassar. Statusnya sedang berpacaran dengan mahasiswa dari jurusan lain yang berasal dari daerah yang sama, sejak tahun pertama kuliah. Perbincangan lewat mail tak lagi tentang politik, tapi lebih soal-soal pribadi. Misalnya dia dengan terbuka menceritakan telah menyerahkan segalanya kepada pacarnya itu. Dia sudah tak gadis lagi sejak setengah tahun sebelum bertemu Aku lewat dunia maya. Dia juga bercerita tentang aktivitas seks-nya dengan pacarnya serta perasaan-perasaannya. Termasuk pengakuannya bahwa dia hanya berhubungan seks dengan satu pria saja, yaitu pacarnya itu. Juga dia selalu menceritakan masalah yang dia alami dalam berpacaran. Semacam curhat. Komunikasi diantara kami tak hanya lewat mail saja, tapi juga chatting. "Witing tresno jalaran soko kulino" begitu pepatah Jawa yang artinya kurang lebih awal cinta datang karena dekatnya bergaul. Itulah yang sedang Aku alami. Hubungan kami begitu dekatnya sehingga diam-diam timbul sesuatu di dalam hati yang tak kami perkirakan sebelumnya. Ada sesuatu yang hilang rasanya bila sehari saja tak membaca mailnya. Ketika Aku bilang ke Alia tentang perasaan ini, ternyata dia mengalami hal yang sama. Singkatnya, kami saling jatuh cinta walaupun masingmasing telah punya pasangan tetap. Kami juga berjanji, saling berusaha mencari peluang untuk bertemu secara fisik. ---

"Elo tahu engga kantor Departemen Anu," tulisnya pada suatu siang kami chatting. "Tahu. Kenapa?" jawabku. "Gue ada rencana kuliah lapangan ke situ." Nah! akhirnya peluang buat ketemu Alia datang juga. Jangan gembira dulu, kataku dalam hati. "Oh ya? Kapan? Sama siapa?" tulisku memberondong. "He he.. satu-satu dong, semangat banget." "Semangat dong, kan kita bisa ketemu." "Pengin ketemu, gitu?" "Ah elo, kaya engga tahu aja. Pengin banget, tahu. Kapan nih?" Alia sebutkan tanggal yang artinya 2 minggu lagi. "Sama temen-temen 10 orang, plus 2 orang dosen," katanya lagi. Saat ketemu inilah yang Aku tunggu-tunggu. Oh, aku mencintainya. "Nginap di mana?" "Di Mess Yayasan Anu." "Engga nginap ama gue aja?" "Enak aja, engga boleh dong, musti ngumpul". Bagus, engga boleh bukan berarti tak mau. Saat bermalam bersama ini pula yang Aku dambakan. Tak sekedar melepas rindu memuaskan hasrat cinta, tapi juga hasrat yang lain. "Iya ngerti musti ngumpul, tapi sesekali boleh dong minta izin nginap di rumah famili, gitu." Alia diam. "Emang bisa nginap di rumah elo?" katanya setelah beberapa saat hening. Betapa polosnya dia. Tak mungkin Aku masukin cewe ke rumah, bisa-bisa terjadi perang rumah tangga. "Entar gue booking kamar." Langsung, boo... "Ih, elo. Udah biasa gitu ya?" "Bukan begitu," sahutku cepat-cepat. "Alia, elo tahu kan, gue pengin banget ketemu. Kesempatan ketemu yang amat langka ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya...." "Kenapa musti di hotel?" Iya, kenapa ya? Bingung jawabnya. "Yah, supaya kita bisa kangen-kangenan, ngobrol, bebas dari gangguan." Diam. Sejurus kemudian. "Entarlah. Gimana nanti aja." Bukankah ini semacam sinyal setuju? Tibalah saat yang amat kunantikan. Alia dan rombongan akan tiba Minggu sore di Jakarta. Dia berjanji akan meneleponku ke kantor begitu dia punya peluang yang aman. Akupun mulai melakukan persiapan untuk menyambut kedatangannya. Pertama, persiapan waktu. Aku harus cari akal supaya bisa kabur dari rumah sekitar seminggu. Dari beberapa alternatif alasan dan memperhi-

tungkan resikonya, Aku memilih alasan "dinas luar ke Semarang". Kedua, persiapan tempat. Aku memilih Hotel "AM" di Kebayoran Baru walaupun room ratenya lumayan mahal, tapi dekat dengan tempat Alia kerja dan juga Messnya. Dan jauh dari rumah, supaya lebih aman. --Obrolan kami makin seru setelah masa "ice-breaking" tak lama dilalui. Kami sempat saling salah tingkah pada menit-menit pertama Alia masuk ke kamar hotel. Alia begitu bersemangat cerita tentang kegiatannya selama praktek kerja lapangan di instansi pemerintah itu. Aku tak begitu memperhatikan ceritanya. Perhatianku terpusat pada gerak gesture dia bercerita dan sesekali melempar pandangan ke bawah, ke sepasang kaki mulusnya dan sedikit paha yang tak tertutup oleh rok spannya. Tapi konsentrasi pikiranku sebenarnya adalah, bagaimana "strategi" untuk memindahkan Alia dari tempat duduknya sekarang ke kasur yang kududuki, bagaimana cara memulainya. Memang, memulai adalah hal yang paling sulit. "Aneh ya gue..." katanya tiba-tiba. Dia baru menyadari mataku sering mampir ke kakinya. Aku sedikit gugup. "Emang kalo ke kantor gue mesti pakaian begini?" sambungnya. "Engga ah, justru gue seneng loe pakai seragam." "Oh iya? Kenapa?" "Lebih feminim." "Emang gue maskulin ya?" "Bukan begitu. Gue emang lebih suka ngeliat cewe pakai rok dibanding pake celana panjang, apalagi..." "Apalagi apa?" "Kalo engga pakai apa-apa." "Huh, dasar." "Sorry." Aku khawatir kalau dia tak suka gurauanku yang menjurus ini. Mukanya bersemu merah. Apakah ini saat memulai? Ayo Sam, bangkit dan dekati dia. 'Bangkit' sih sudah, yang di dalam celanaku, dekatinya ragu-ragu. Kenapa ragu? Dia sudah mau masuk kamar dengan pintu tertutup, apakah ini bukan suatu tanda? Iya, tapi kan duduk di kursi dan dia asyik cerita pengalamannya. Siapa tahu dia menunggu action kamu? Umm... tapi masa tiba-tiba "nyerang", begitu. Engga dong, gunakan cara seperti pengalaman kamu sebelumnya! Dia duduknya "jauh" sih. Okay, Aku ke kamar mandi pura-pura mau pipis supaya bisa pindah duduk. Nah, sudah duduk di kursi, tapi masih ada penghalangnya, ada meja bundar di antara kami. "Terus nanti selesai job training di situ, ngapain?" pancingku memulai obrolan. "Tulis laporan. Kan kerja sambil kumpulin data."

Nah, mulailah dia bercerita lagi tentang job trainingnya, penuh semangat. Aku terus menatapi gerak bibirnya yang menggemaskan itu. "Eh, ngapain sih, ngeliatinnya gitu?" "Gitu kenapa?" "Tajem." "Seneng aja ngliatinnya." "Ngliatin apaan?" "Bibir kamu." "Kenapa, dower?" "Eh, engga. Bibir kamu seksi." Telapak tanganku mampir di bahunya. Alia menunduk tapi tak menepis tanganku. Kuremas bahunya pelan. Masih menunduk. Dengan tangan masih di bahunya Aku bangkit mendekat, kedua tanganku di bahu kanan-kirinya. "Alia..." Dia masih menunduk. Wajahnya bersemu merah lagi. Kusentuhkan jariku di dagunya, mengangkat. Barulah matanya menatapku. Kepalaku bergerak pelan mendekati wajahnya, bibirnya kukecup. Sekali kecupan lalu kulepas lagi. Tak ada tanda-tanda penolakan. Serangan kedua pada bibirnya tak sekedar kecupan lagi tapi diikuti dengan lumatan. Pada detik kedua bibir Alia memberikan reaksi, lumatanku disambutnya. Nafasnya mulai memburu. Tangan kananku yang ada di bahunya perlahan bergeser turun. Telapak tanganku memberi sinyal bahwa buah yang tak begitu besar itu keras dan membulat, ternyata. Tentu saja tanganku tak puas hanya merasakan kekenyalan dadanya dari luar, ingin menyentuh kulitnya langsung. Dua kancing bajunya yang teratas telah kulepas dan detik berikutnya keempat jariku mulai menyusup ke balik bra Alia. Detik-detik berikutnya akan lancar saja, pikirku. Tapi ternyata tidak. Tangan Alia menarik tanganku yang baru saja merasakan halusnya kulit buah kenyal itu dan lumatanku pun dilepas. Alia menggeleng lembut sambil menyodorkan mulutnya lagi. Kulumat lagi. Dadanya tak boleh disentuh. Mungkin belum saatnya, aku harus bersabar. Ciuman dengan posisi begini tak nyaman juga. Kutarik tubuhnya, kubimbing ke kasur dan kurebahkan. Tak ada penolakan, aman. Bahkan Alia membentangkan kakinya. Dengan sendirinya kedua belah telapak tanganku segera menelusuri kedua pahanya, menyusup di balik roknya. Oops, lagi-lagi Alia menepis tanganku. Kenapa sih dia? Main tarikulur? Tanganku ditariknya sehingga tubuhku rebah menindihnya. Kami berciuman lagi. Bukan Sammy kalau tak mencoba dan mencoba lagi. Sambil terus melumat bibir tangan kananku menyusup lagi ke bawah menelusuri lengkungan pinggir pinggulnya. Tak ada gerakan perlawanan. Bahkan ketika tanganku berhasil mencapai kain celdam di pinggir pinggulnya. Bahkan ketika menarik karet celdamnya ke bawah tak ada juga perlawanan. Lebih jauh lagi, ketika telapak tanganku merasakan lebatnya bulu-bulu kewanitaannya. Bulu lebat itu tak mengagetkanku, lengannya

memang ditumbuhi bulu lumayan lebat, apalagi "pusat"nya. Aku kaget karena Alia tak menolakku merabai kewanitaannya. Basah berlendir. Aku jadi penasaran ingin menikmati "pemandangan" di bawah sana. Aku bangkit dan menyingkap roknya. Alia memang unpredictable, tiba-tiba dia mencegah tanganku yang membuka roknya. Bingung gue. Yang membuatku makin bingung, Alia melepas kaitan ikat pinggangku, melepas kancing jeansku, menarik ritsnya dan karet celdamku dan merabai Juniorku sudah tak betah terkurung tegang. Aku seperti orang tolol yang hanya diam saja menyaksikan Alia mengelusi batang penisku. Bingung. Waktu kedua tanganku menyusupi pahanya, dia menolak. Tapi tak bereaksi sewaktu aku menarik celdamnya dan merabai kelaminnya. Aku yakin, dia bukannya tak tahu apa keinginanku saat ini, ingin menyetubuhinya. Tersirat dalam mail-mailnya dia tak menolak ketika aku "minta" kelak kalau ada kesempatan bertemu. Tubuh bawahku sudah telanjang, penisku sudah tegang mengacung. Tentunya dia makfum akan "langkah selanjutnya". Alia masih berpakaian lengkap, kecuali celdamnya yang sedikit bergeser ke bawah tapi masih nempel di pahanya. Gerakan Alia berikutnya lagi-lagi membuatku bingung. Tangannya berhenti mengelusi kelaminku lalu Alia bangkit berdiri. Selagi aku bengong mencoba mengerti tingkahnya ini, tiba-tiba kedua tangan Alia membuat gerakan cepat melepas celdamnya! Lalu, lagi-lagi dia menarik tubuhku hingga rebah menindih tubuhnya. Dengan gemas aku gigiti kedua buah dadanya berganti-ganti kanan dan kiri. Tak langsung ke kulitnya sih, masih ada penghalang baju dan branya. Apa boleh buat, memang hanya itu yang diizinkan. Beberapa kali aku berusaha membuka pakaian atasnya dia selalu menolak. Aku tak tahan lagi, ingin segera memasuki tubuhnya. Dengkulku membuka pahanya dan penisku merengsek masuk mencapai selangkangannya. Kugeser-geser, kugosok-gosok, dan... perlahan namun pasti, aku mulai masuk. Tak mudah memang, tapi tak susah benar. Aku tak kaget kalau dia sudah tak perawan lagi. Alia pernah cerita miliknya yang paling berharga telah diserahkan kepada pacarnya yang sekarang. "Itulah satu-satunya penis yang pernah kulihat dan memasuki tubuhku," tulisnya ketika itu. "Jadi nanti, punyaku yang kedua," balasku. "Iya, kalau jadi." Ketika pompaanku makin cepat, ketika aku telah tiba saatnya untuk mencabut, Alia justru mengunci tubuhku dengan kakinya. Dibiarkannya aku ejakulasi di dalam tubuhnya. Padahal dia tahu, kami berdua samasama tak menggunakan proteksi. Akupun dengan tenangnya menikmati orgasme di dalam tubuhnya. Seluruh maniku telah tertampung di tubuhnya. Menit-menit berikutnya aku masih di dalam. Kebiasaanku kalau

berhubungan seks memang begitu, sampai penisku lepas dengan sendirinya ketika mengecil kembali. Lucunya, ketika aku lepas dan rebah ke sampingnya, Alia cepat-cepat menutup roknya kembali. Dia sama sekali tak mengizinkan mataku menikmati kewanitaannya. Apa sebenarnya yang dia sembunyikan? Kurasakan kewanitaannya tak ada masalah, masih cukup erat menjepiti penisku. Masih ada "rem"nya. Pahanyapun oke saja, tadi tanganku merasakaannya, halus berbulu lembut. "Kenapa sih Yang?" reaksiku ketika dia menutup roknya kembali. "Engga apa-apa." "Pakaianmu masih lengkap." "Sama aja kan, Mas puas juga kan?" "Benar, barusan Mas puas sekali, tapi..." "Engga pakai tapi," potongnya. "Bagusnya kan kita berdua telanjang bulat." Diam saja, tak ada komentar. "Jadi foreplay kita bisa lebih panjang, gue paling suka foreplay dengan nyiumin tubuh loe," lanjutku. "Loe juga bisa 'tinggi' dan mencapai puncak, engga kaya tadi," lanjutku lagi. Aku yakin tadi dia belum sampai orgasme. "Tadi aku puas juga kok Mas," katanya sambil mencium pipiku. "Tapi belum orgasme, kan?" lenganku merangkul memeluk bahunya. "Tak masalah, yang penting Mas bisa puas." Dia pernah cerita, dengan pacarnya jarang mendapatkan orgasme tapi pacarnya selalu sampai puncak setiap berhubungan seks. Baginya tak problem asalkan bisa memuaskan pacarnya. "Lebih indah kalau kita berdua bisa ke puncak." "Mas, kita engga usah bahas ini lagi, OK?" "Okay, okay." Kupeluk tubuhnya. Aku benar-benar jatuh cinta. Tiba-tiba aku ingat sesuatu yang mencemaskan. Kupegang kedua belah bahunya. "Yang, tadi gue keluar di dalam, gue..." "Engga usah khawatir Mas," potongnya. "Loe pakai spiral?" "Engga ih, kaya ibu-ibu aja." "Lalu?" "Sejak pertama gue ama pacar selalu keluar di dalam, engga ada efek." "Pacar loe mandul, kali?" Kalau benar, wah, dia bisa hamil nih. "Engga juga, dia pernah hamilin anak SMU." "Oh..." Aku lega, tapi belum 100 persen yakin. "Kayanya dari gue Mas." Aku diam saja, mau komentar apa? Rangkulan di bahunya kupererat lalu kuciumi wajahnya. Menenangkan maksudku. "Entar Mas, mau ke kamar mandi." Dia bangkit, masuk kamar mandi dan

pintunya dikunci. Di luar kebiasaan memang. Dengan pasangan-seks yang lain umumnya aku sama-sama ke kamar mandi, saling membersihkan, atau langsung mandi bersama, atau kalau sama-sama terangsang bisa dilanjutkan main di kamar mandi. Alia memang berbeda. Aku ingin segera mandi tapi mesti nunggu Alia selesai. Gemericik suara douce menandakan Alia sedang mandi. Membayangkan tubuh putihnya yang telanjang bulat di kamar mandi penisku mulai bergerak bangkit lagi. Oh, aku kepingin lagi. Oho... Alia lupa celdamnya. Kupungut CDnya yang masih tergeletak di lantai, kusimpan. Alia keluar kamar mandi sudah berpakaian lengkap, wajahnya segar, pipinya masih memerah. Aku cepat-cepat masuk kamar mandi sebelum dia mencari celdamnya. Selesai mandi dengan hanya berbalut handuk aku keluar. "Mana celana gue," tagihnya. "Gue simpen, buat kenang-kenangan." "Ngaco, masa gue balik engga pakai celdam." "Loe bener engga mau nginep sini?" "Mas Ajie, tadi kan gue udah bilang, gue izinnya cuman mengunjungi famili, engga nginap." "Jadi kapan dong boleh izin nginap?" Celdamnya Aku berikan. "Ini kan baru pertama gue izin keluar. Entar deh, lihat-lihat situasi." Alia duduk di ranjang dan mengangkat sebelah kakinya mulai mengenakan celdam. Sekilas aku nampak pahanya yang putih. Kubuang handuk yang menutupi tubuhku dan aku mendekat. Sebelum Alia sempat bangkit untuk menarik ke atas celananya, Aku menubruknya dan merebahkan punggungnya ke kasur. "Mas ....!" Bibirnya kulumat. Payudaranya kuremas. Tubuhku yang telanjang telah menindih selangkangannya. "Maass, gue kan musti balik," katanya ketika Aku melepas bibirnya untuk menelusuri lehernya. Aku terus menciumi leher dan meremasi dadanya. Mulutnya mengatakan menolak, tapi nafasnya yang mulai memburu menandakan lain. "Kan baru sekali, Yang, sekali lagi ya?" "Kita masih banyak waktu." Ya, masih banyak, tapi suaramu serak dan nafasmu memburu. Diapun tak berusaha mencegah ketika celdam yang masih di pahanya itu kutarik lepas kembali. Juga tak menampik jariku yang merabai pintu vaginanya. Basah. Alia malah membuka pahanya lebar-lebar, membantu penisku memasuki tubuhnya. Kembali kami menyatukan tubuhku yang bugil dengan tubuhnya yang masih berpakaian lengkap. Ronde kedua ini aku lebih "ganas". Kadang tusukan kubarengi dengan hentakan kuat. Alia mengerang. Mulutnya lebih ribut dibandingkan ronde

pertama tadi. Tubuhnya mengejang. Hah, apa ini? Denyutan-denyutan kuat teratur kurasakan pada batang kelaminku di dalam sana. Oh nikmatnya. Tubuhnya masih bergetar mengejang keika aku ejakulasi. Pun masih kurasakan getaran itu walau aku sudah rebah lemas di atas tubuhnya. "Oh, udah gelap," katanya mengejutkanku. Alia menolak tubuhku ke samping dan bangkit. Dengan panik dia mencari-cari celdamnya dan mengenakannya. Cara memakai celdamnya yang buru-buru menyebabkan mataku sempat menikmati bulu lebat kelaminnya. Kulihat arlojiku. Rupanya kami sempat tertidur setengah jam setelah orgasme yang nikmat tadi. "Tenang Yang, nanti gue anter." Sesuai permintaannya, Alia Aku turunkan di dekat Mess penginapannya. Aku tak boleh mengantarnya sampai Mess, untuk menghindari kecurigaan teman-temannya. Aku kembali ke hotel meneruskan tidur. --Begitulah. Aku dan Alia menikmati seks dengan cara ini. Alia tak bisa setiap hari "mengunjungi famili". Selang sehari kami bertemu bisa bertemu lagi. Alia menelepon memintaku menunggu di dekat Mess lalu berdua kami ke hotel. Gaya berhubungan seks-nyapun masih sama seperti yang pertama. Gaya missionarist, Alia berpakaian lengkap (kecuali celdam tentunya) meskipun Aku selalu telanjang bulat. Tanganku belum pernah menyentuh langsung buah dadanya, apalagi menghisap putingnya. Remasan dada kulakukan dari luar. Mataku belum pernah menikmati clit dan liang senggamanya. Penis dan jariku yang sudah menikmatinya. Aku belum pernah menikmati tubuh telanjangnya secara utuh walaupun sudah menyetubuhinya belasan kali. Kalaupun ada yang berbeda, terjadi pada pertemuan ketiga (hari ketujuh Alia di Jakarta). Dalam foreplay Alia bersedia meng-oralku. Tadinya Aku berencana untuk "keluar" di mulutnya. Sekaligus semacam "test" apakah dia mau menelannya. Tapi Alia keburu minta dimasuki. Ketika pada ronde berikutnya Aku gantian minta meng-oral dia, sudah kuduga Alia menolak. Tapi bagiku tak menjadi soal benar. Yang penting kami berdua puas. Beberapa kali aku mampu membuatnya orgasme. Bahkan dua kali Alia mengalami multiple orgasme. Satu hal lagi yang kudambakan, ketika bangun pagi Alia ada di sampingku sehingga kami bisa menikmati seks pagi hari yang menyegarkan. Ketika hal ini kuutarakan, Alia berjanji nanti pada malam terakhir dia di Jakarta akan minta izin menginap. Tibalah saat yang kunantikan. Jam 3 sore Alia meneleponku. Biasanya dia menelepon sekitar jam 5. "Udah selesai, besok siang tinggal pulang," katanya.

10

"Bisa nginap dong." "Beres," sahutnya. Hatiku bersorak. Sebentar lagi sampai besok pagi Aku bisa bersamanya. "Gue jemput sekarang," Penisku berdenyut. Engga sabaran "dia", sejak dua hari lalu "nganggur" saja. Begitu masuk kamar, Aku langsung bertelanjang dan memelorotkan celdam Alia, mendorongnya ke ranjang. Untuk kesekian kalinya kami bersetubuh dengan cara yang sama, cuma kewanitaannya yang terbuka. Keringat kami lebih banyak keluar, mungkin karena main di siang hari walaupun AC kamar cukup dingin. Alia benar-benar teriak! Sampai aku harus menutup mulutnya agar suaranya tak sampai kedengaran dari luar kamar. --Kami berdua masih tergeletak lemas, tak berbicara, asyik dengan pikiran masing-masing. Penisku baru saja lepas dari vaginannya setelah orgasme yang amat nikmat tadi. Kurasakan, inilah orgasme yang paling nikmat setelah belasan kali kami bersetubuh. Alia memang agak aneh, tak sekalipun aku diizinkan untuk menciumi bagian tubuhnya yang tak tertutup pakaian walaupun telah menghantarnya ke puncak kenikmatan hubungan seksual. Tak apalah, Aku punya banyak waktu untuk mencoba dan mencoba lagi. Malam ini Alia sepenuhnya menjadi milikku. Kalau perlu aku akan begadang malam ini. Bertelanjang terus dan setiap saat bila siap akan menyetubuhinya. Kalaupun perlu tidur akan aku lakukan lewat tengah malam. Itupun hanya supaya besok bangun pagi Aku siap menyetubuhinya lagi, suatu hal yang aku idam-idamkan: bangun pagi dengan wanita selain isteri ada di sampingku. Membayangkan itu semua Aku jadi horny lagi. "Yang..." sapaku sambil mencium pipinya. "Hmm...?" Aku terus menciumi wajahnya, tanganku ke dadanya. Meremasi. "Eemmm. Apa sih?" Kutempelkan penisku yang setengah tegang ke pahanya. "Mau lagi." "Kok terus-terusan." "Iya dong, kan malam terakhir." "Tenang dong. Kita banyak waktu. Kita mandi dulu aja ya." Wow, kalau engga salah dengar, mandi bersama adalah ajakan baru. "Ayo!" sahutku semangat. Aku bangkit lalu menariknya ke kamar mandi. "Yee... siapa yang ngajak mandi bareng?" "Lho, tadi katanya kita mandi dulu." "Iya. Kita berdua mandi tapi gantian. Gue dulu," sahutnya. Seperti biasa, selesai mandi Alia tampil dengan pakaian lengkapnya. Walaupun begitu, tampilan segar dan wangi tubuhnya membuatku tak sabaran untuk cepat-cepat mandi kilat. Keluar dari kamar mandi itulah

11

aku mendapatkan kejutan luar biasa dari Alia. ... Di kasur, Alia rebah terlentang dengan kaki membuka dan telanjang bulat! Tubuh langsat itu mengkilat tertimpa bias sinar matahari dari jendela kaca. Matanya tajam menatapku, sepasang buah dadanya membulat dengan puting menjulang seolah menantang, bulu-bulu lebat di permukaan kewanitaannya menjadi kontras "dikawal" sepasang paha saljunya. Aku sempat terpaku beberapa saat di depan pintu kamar mandi karena pemandangan yang tak biasa ini. Perilaku Alia ini lagi-lagi kurasakan aneh. Selama sepuluh hari ini dia sama sekali tak mengizinkan aku melihat tubuhnya yang tertutup pakaian, apalagi menyentuh. Tapi kali ini Alia "menghidangkan" seluruhnya! "Alia!" seruku sebelum akhirnya tersadar dari bengong, membuang handuk dan mendekatinya. Aku tak langsung menubruknya. Masih menatapi tubuhnya bahkan sempat berpikir, mulai dari mana? Akhirnya, masih berlutut di lantai, jari telunjukku (hanya satu jari) merabai bukit dadanya. Berputar di kaki dan lereng bukit dan berakhir dengan menyentuh ujung jariku di putingnya. Sudah mengeras. Alia melenguh pelan. Dengan gemas kedua telapak tanganku meremasi kedua bukit itu. "Aah... sakit. Pelan-pelan dong." "Oh, sorry Yang." Kukecup keningnya semesra mungkin, penuh perasaan. Lalu matanya, hidungnya, dan bibirnya. Disini aku lama mengeksplorasi bibir dan lidahnya. Aku akan melaksanakan niatku sekarang, menciumi seluruh tubuh kekasih gelapku ini. Dagunya kugigit pelan, Alia melenguh Lehernya kutelusuri dengan bibirku, Alia mengkikik. Tiada semilipun bagian payudaranya yang terlewat oleh bibir dan lidahku, Alia merintih. Waktu putingnya kuhisap-hisap, Alia mendesis. Waktu lidahku menyapu-nyapu pusarnya, Alia kegelian Ketika bibirku "mencabuti" bulu-bulu di bawah perutnya, Alia terkaget. Dan... tubuhnya menggigil gemetaran waktu Aku menjilati clit-nya. --Benar-benar malam yang menikmatkan dan melelahkan. Entah berapa kali tubuh Alia mengejang dalam dekapan tubuhku. Malam itu kami "menghabiskan" semuanya seolah-olah kami tak akan bertemu lagi. Dari jam 4 sore tadi kami tak ke luar kamar. Makan malampun tinggal telepon room service (dan Alia dengan telanjang bulat lari ke kamar mandi, ngumpet, sewaktu room boy mengantar makanan). Sampai kami lunglai dan tanpa sadar ketiduran. Suara pintu setengah dibanting membangunkanku. Oh... di mana Aku? Masih mengantuk berat kulihat sekeliling. Di kamar hotel. Pintu kamar

12

masih tertutup, rupanya tadi suara dari kamar sebelah. Kesadaranku berangsur pulih. Aku menengok ke samping. Oh! Tubuh langsat itu masih terlentang dengan kaki masih membuka. Tak ada sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Sepasang buah kembar itu kembang-kempis sesuai irama dengkuran halusnya. Bulu-bulu di tengah paha yang membuka itu begitu kontras dibanding sekelilingnya. Betapa indahnya Alia! Rupanya, begitu aku "turun" dari tubuhnya setelah persetubuhan kami terakhir lewat tengah malam tadi Alia langsung tertidur. Badannya masih dalam posisi bersetubuh gaya missionarist, terlentang dengan kaki membuka. Inilah saat yang kutunggu-tunggu. Bangun pagi dengan kekasih telanjang bulat tertidur di sampingku. Dengan amat perlahan Aku bangkit menuju ke kamar mandi, pipis. Aku masih menikmati pemandangan indah ini. Tidurnya begitu 'damai', aku punya kesempatan mengamatinya. Inilah wanita yang beberapa bulan terakhir ini memenuhi benakku dan mengisi hatiku. Inilah tubuh yang beberapa hari terakhir ini terus tertutup walaupun banyak kali aku 'menyuntik' maniku. Inilah bukit kembar yang seminggu terakhir ini Aku ciumi beralaskan bra dan baju. Inilah kewanitaan yang beberapa kali sempat kumasuki tanpa melihatnya. Dan, inilah clit yang... Aku menunduk mendekati selangkangannya. Kuusap, amat pelan, clit-nya dengan telunjukku. Dengkurannya berhenti, Alia menggeliat dan membuka mata. "Maass... Ih," dengan refleks kaki Alia menutup. "Sebentar Yang," kataku sambil membuka pahanya kembali. Alia menahan. "Malu ah Mas. Sini aja deh," kedua tangannya terjulur. Kusambut tangannya. Aku menindih tubuhnya. Kami berpelukan erat. Inilah juga yang Aku dambakan, seks di pagi hari dengan wanita selain isteri. Pada detik-detik terakhir kebersamaan kami, Aku masih penasaran tentang seminggu terakhir Alia "menutup" diri. Ketika hal ini kutanyakan, lama Alia berdiam diri, lalu... "Sebenarnya, gue kurang pede, Mas." "Gue nggak melihat begitu, kenapa sih?" tanyaku. Kami masih bertindihan, penisku masih di dalam tubuhnya. Baru saja kami mengalami orgasme pagi yang nikmat. "Dada gue Mas," Dengan refleks Aku bangkit sehingga penisku terlepas. Memeriksa dadanya. Bulatan kembar itu memang tak besar, tapi juga tak kecil. Mulus kulit "pembungkus"nya. Tak ada yang salah dengan dada itu. "Hmmm... bagus begini," ungkapku jujur. "Tapi..." Alia bangkit duduk. "Agak turun, Mas... gue malu,"katanya lagi. Aku amati dadanya dari samping, rasanya wajar-wajar saja. "Nggak kok Yang, bener!"

13

"Menghibur ya?" "Tidak, Alia. Lagian kalaupun turun, tak ada masalah bagi Mas." Dia diam lagi. "Di paha ada ini..." katanya kemudian. "Apa lagi, Yang?" Memang ada sedikit "warna lain" di paha kirinya bagian dalam. Tapi Aku tak melihatnya kalau tak ditunjukkan Alia. "Ah... begitu aja kok engga pede." Oh wanita! hal-hal yang sepele begini kok bisa jadi mengurangi rasa percaya diri. Wanita memang sensitif mengenai keadaan tubuhnya. Lalu, inilah saat yang kubenci, perpisahan. Walaupun kami saling berjanji untuk berusaha bertemu lagi, tak urung membuatku sedih. Alia sempat meneteskan air mata. Perpisahan memang harus terjadi, setelah kemesraan kami nikmati. Toh hanya perpisahan sementara. Sementara? Nampaknya tidak. Beberapa hari setelah Alia tiba kembali di Makassar, kami memang masih berkiriman mail, tapi Aku bisa merasakan ada perubahan dalam gayanya menulis. Tak semesra dulu lagi. Terakhir, Aku mendapatkan mailnya dengan bahasa yang "resmi" yang berisi ucapan terima kasih, bahagia selama bersama Aku di Jakarta, dan, ini yang bikin Aku "pingsan": kita tak bisa meneruskan hubungan ini, tanpa menyebutkan mengapa harus begitu. Beberapa kali Aku kirim mail untuk minta penjelasan tentang hal ini, tak dibalasnya. Aku coba kontak melalui chat, dia tak pernah on-line. Aku sempat 'limbung'. Gairah kerja menurun, marah-marah tanpa sebab. Alia begitu saja meninggalkanku tanpa penjelasan kenapa. Sampai aku menulis cerita inpun Aku tetap tak tahu! TAMAT 22 Dangerous Game Sinopsis: Cerita ini menceritakan pengalaman seru Boedoet ketika berada dalam rombongan keluarga yang menghadiri resepsi pernikahan di luar kota. Simaklah pengalaman unik bagaimana caranya sehingga Boedoet bisa berasyik ria dengan 2 wanita di tengah hiruk pikuknya keramaian dangdut, dan apa pula hubungannya antara cicak dengan "kuah daging"?

Hari Pertama - Berangkat. Setelah pertandingan Denmark dan Senegal untuk piala dunia 2002 dengan

14

skor 1-1, kita berangkat dengan menggunakan sebuah bus. Seminggu sebelumnya keberangkatan ini direncakan menggunakan kendaraan pribadi masing-masing. Oleh karena dirasa kurang kompak, dan rusaknya jalan pantura setelah Cikampek hingga sebelum Cirebon, serta kurangnya tempat parkir di tempat tujuan maka diputuskan untuk menggunakan sebuah bis saja. Mudik kali ini bertujuan untuk mengikuti resepsi pernikahan saudara sepupu dari istri. Jadi bisa dibayangkan keluarga besar istri yang ada di Jakarta berangkat mudik dengan beberapa kali keberangkatan. Untuk para sesepuh ada yang diberangkatkan 3 hari sebelum kita berangkat, juga kerabat yang mempunyai peran penting dalam acara tersebut diberangkatkan sehari sebelum kita berangkat. Aku sendiri berangkat tentunya dengan membawa istri dan anak-anakku. Kebetulan sekolah lagi diliburkan karena ada Ujian Akhir Nasional. Saat melakukan absensi sebelum keberangkatan ada beberapa orang yang tidak aku kenal, karena untuk keluarga dekat wajah-wajah tersebut tidak asing saat acara arisan keluarga setiap bulannya. Salah satunya sebut saja Linda, seorang Network Manager dari Multi Level Marketing sebuah bisnis dari Luar Negeri, tinggal di sekitar TMII. Salah seorang tante dari istriku bernama Lisye ternyata Sub-Network nya. "Mas Budi, ini Jaketnya yah?" tanyanya, padahal aku tidak kenal dan belum berkenalan. Segera aku ambil jaketku yang tertinggal entah kapan dan di mana, seraya mengucapkan terima kasih. Manis juga, gigi taringnya ada yang ompong, bila tersenyum tampak manis. Dahi yang agak ke depan dengan rambut di high-light dengan warna coklat-kemerahmerahan, dan dikuncir kuda. Aku taksir berumur sekitar 30-35an, dari logatnya seperti orang jawa. Dia duduk di kiri bangkuku bersama tante Lisye. Di dalam perjalanan beberapa kali dia melakukan kontak denganku, melalui tawaran permen atau makanan kecil lainnya. Beberapa kali pula mata istriku mengawasiku dari sebelah kananku. Saat di Pemanukan, bis melakukan istirahat di sebuah rumah makan. Masih sempetnya dia menggodaku dengan menanyakan di mana letak toilet, padahal dengan jelas sekali tertulis kata toilet dengan arah panah. Tak berapa lama perjalan dilanjutkan, hari mulai gelap, lampu di dalam bus pun dimatikan. Esok pagi setelah subuh, kita sampai di tempat

15

tujuan.

Hari Ke dua - Sampai tujuan dan jalan-jalan. Beberapa orang dibagi penginapannya ke tetangga terdekat pemilik hajatan; sebetulnya tetangga tersebut masih kerabat dekat dengan keluarga istriku. Keluargaku beserta tante Lisye dan Linda dalam satu rumah. Kemudian kita segera membersihkan diri. Takut keduluan aku segera menuju kamar mandi. Ternyata Linda dengan membawa cd, bra, dan kimono dari bahan handuk (kesemuanya bergambar donald duck - udah tua masih aja gila kartun!!) akan masuk ke dalam kamar mandi. Mengetahui bahwa aku akan mandi dia segera mengurungkan dan mempersilahkan diriku untuk duluan dengan alasan dia agak lama kalau mandi; maklum wanita katanya. Tawarannya aku terima. Saat aku masuk ke kamar mandi, dia permisi untuk mengambil pakaian dalamnya kecuali kimononya. Jadilah kita sesaat berdua di dalam kamar mandi. Takut terjadi pergunjingan segera aku keluar terlebih dahulu. Khan aku sedang di dalam kerajaan istriku. Bisa terjadi perang dunia kalau ada yang mengetahuinya. Istirahat sebentar dan siap jalan-jalan sekitar kota. Daerah ini jarang hujan. Walau demikian air sumur tidak begitu dalam, hanya 5 meteran, jarang terlihat mendung, selalu cerah dengan langit biru. Banyak tanah sawah retak-retak, sungai susut hanya tinggal seperti parit dengan air berwarna coklat. Bila malam langit cerah dan bermandikan bintang dan sinar bulan. Bila siang panasnya cukup terik, dan malam sangat dingin. Tak satupun kartu ponsel yang dapat digunakan di daerah ini, No Signal. Warnet tidak ada, Wartel cukup jauh. Nampaknya daerah ini mengandalkan hutannya, karena pertanian hanya mengandalkan turunnya hujan yang lumayan jarang. Aku perhatikan beberapa wanita belasan telah menjalani G2 (GandengGendong), alias telah memiliki dua anak, yang besar baru bisa berjalan sambil digandeng, satu lagi sedang digendong. Usia 20 tahun merupakan

16

perawan tua di sini. Malah ada yang belum dapat haid telah melangsungkan pernikahan. Pasarnya kecil sekali, berada di dekat stasiun kereta api, yang hanya dilalui kereta eksekutif tanpa berhenti, hanya berhenti untuk kereta barang yang digunakan untuk mengangkut penumpang antar stasiun kecil dengan jumlah kereta hanya sekitar empat gerbong. Jarum jam di sini terkesan lambat sekali. Aku sudah banyak melakukan pekerjaan, tetapi waktu seakan lebih lambat dari Jakarta. Aku coba melakukan perjalan dengan naik becak keliling desa. Pulangnya aku naik dokar, kadang aku coba belajar menjalankan dokar. Perekonomian di sini benar-benar sulit. Konyolnya banyak orang-orang tua yang menggadaikan sepeda, kain bahkan piring untuk memasang togel atau toto gelap. Aku tahu setelah naik dokar dan melewati tempat penggadaian, dan itu dijelaskan oleh pak kusir. Tak jauh dari situ seorang ibu dengan naik sepeda siap menulis nomor-nomor yang akan dipasang. Dia berlari menjemput bola masuk ke rumah-rumah penduduk. Kalau di kota besar ada pengamen, di sini pun demikian. Pernah aku lihat suami istri mengamen dengan mengendarai sepeda. Suaminya naik sepeda dan berhenti di pinggir jalan yang terik sementara si istri keluar masuk halaman rumah penduduk yang berada di pinggir jalan. Keduanya menggunakan caping (topi yang biasa digunakan petani di sawah). Bila masuk ke tempat jajan yang ada di emperan toko, tampak tulisan: "NGAMEN GRATIS", teguran halus khas Jawa. Mungkin di Jakarta, banyak tulisan `Dilarang Ngamen', di sini tidak dilarang tetapi tidak boleh meminta uang - khas Jawa, ngono yo ngono, ning ojo ngono. (Masakan yang ada di tempat hajatan, tidak cocok dengan seleraku membuat aku hampir setiap pagi menjadi langganan nasi pecel, siang pecel lagi makan malam tahu lontong, kadang makan malam bersama tukang becak atau kusir dokar serta sarapan pagi dengan pedagang di pasar.) Sementara aku keliling desa, tante serta Linda juga melakukan hal yang sama. Bedanya aku melihat suasana pedesaan, kalau mereka berdua mela-

17

kukan penjualan barang-barang dari MLM mereka. Penjualan mereka berhasil akibat salah seorang sesepuh di desa itu sembuh dengan menggunakan obat dari MLM tersebut. Akibatnya cukup banyak permintaan dari beberapa orang dan berita menyebar hingga tetangga desa, walau harga lumayan mahal untuk ukuran daerah mereka - dibanding dengan biaya ke dokter atau dukun terdekat, belum lagi biaya obat atau sajen untuk dukunnya. Mungkin ini mengapa tante membawa Manager Network ke desa. Bener-bener "time is money". Sepulang dari jalan-jalan, tenda dan sound system mulai dipasang, kemudian peralatan karawitan dipasang di panggung. Rencananya ada campursari serta musik dangdut dengan solo-organ dan gitar tunggal. Saat istriku menemani keluarganya untuk belanja ke pasar, aku sendirian sambil menyaksikan pertandingan sepak bola antara Swedia-Nigeria yang berakhir dengan 2-1. Linda ikut menyaksikan sambil cerita tentang bisnisnya di Multi Level Marketing. Kemudian dilanjutkan dengan kisah pernikahannya yang sudah dijalani selama 10 tahun dan belum dikaruniai seorang anak. Menurutnya dia sudah melakukan test dengan hasil normal, sementara sang suami enggan untuk diperiksa. Menurutnya kemungkinan karena si suami waktu semasa muda sering mengkonsumsi narkoba. Saat ini suaminya pengangguran dan hanya mengandalkan uang dari orangtuanya yang pensiunan dan cukup kaya dengan menunggu warisannya. Untuk mengisi kekosongangan dia melakukan bisnis di MLM. Dia mengatakan sangat menginginkan anak. Dia berkata, "Mas Bud, menurut kamu aku lumayan langsing nggak?" tanyanya sambil menarik kancing jins nya ke depan dan menarik kaosnya ke atas. Nampaklah cd dan rambut halus berjejer antara puser ke bawah. Aduh si mbak ini mancingnya udah kelewatan, sudah tahu ini siang-siang panasnya minta ampun, udah lama nggak "keluar", rumah sepi, dari kemarin disuguhi kesempatan menarik. Untung kesabaran dan kesadaranku masih ada. Aku masih ingat ini ada di mana. "Langsing," jawabku sambil melihat replay golnya Swedia. Dia mencoba membandingkan dengan milik istriku yang memang agak ke depan, walau telah berusaha melakukan senam. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan aku segera keluar rumah dan bergabung dengan tetangga lain yang sedang menonton bola. Selamat, Selamat, Selamat!

18

Saat malam, aku berkenalan dengan anak si empunya rumah, namanya Evie. Usianya baru 16 tahun, memiliki bayi berumur 6 bulan, nikah saat dia kelas 1 SLTA akibat kecelakaan. Wajahnya lumayan manis dan masih kecil. Suaminya pengangguran, sesekali kerja di kota, tetapi lebih banyak makan - tidur, dan mengandalkan mertua. Sang suami --Nanang namanya-- juga masih muda. Aku taksir umurnya belum 20 tahun. Karena belum bisa memandikan bayi, maka yang melakukan adalah ibunya Evie; tante Ila namanya, sementara untuk mencuci pakaian bayi dan pakaian Evie dikerjakan bapaknya Evie, Oom Kartiko. Ibunya membersihkan rumah dan memasak. Ampun deh kalau aku punya anak dan mantu seperti ini. Anehnya hingga hari ini aku belum pernah melihat mereka berdua mesra layaknya suami istri. Evie bila malam malah tidur dengan oom Kartiko di ruang tengah, karena kamar oom Kartiko serta kamar Evie digunakan oleh para tamu. Kalau siang malah Evie menghindar untuk bertemu suaminya, Nanang. ***

Hari ke tiga. Setelah pagi hari acara pernikahan selesai, (dan) dilanjutkan dengan resepsi yang diiringi dengan musik karawitan. Malamnya dilanjutkan dengan hiburan dangdut. Yang gila bola tetap fokus pada pertandingan Italia-Kroasia, yang berakhir 1-2. Yang gila dangdut berjoget bersama di sekitar panggung. Aku memilih melihat sepakbola sendirian, karena seisi rumah keluar menyaksikan dangdut, karena bintangnya desa sedang bernyanyi. "Mas Bud nggak lihat dangdut, katanya mau joged?" tanya Evie, yang pulang dari nonton dangdut. Evie ini ternyata mantan penyanyi campur sari, dan bintangnya di desa ini. Entah mengapa dia koq tidak mengenakan pakaian kebaya untuk menyumbang lagu campur sari, tetapi menge-

19

nakan pakaian dengan rok agak mini berwarna biru langit. "Nggak, ini tim kesayanganku lagi main," jawabku. "Mas, bisa minta tolong?" tanyanya. "Iya apaan?" jawabku sambil tetap melihat televisi. "Anterin ke belakang dong, takut nih!" katanya. Memang di daerah ini rata-rata kamar mandi terpisah dari rumah, begitu juga dapur. Dapur masih menggunakan kayu bakar, agar asap tidak masuk ke rumah maka letaknya agak ke belakang. Begitu juga kamar mandi dan wc-nya pun juga dekat dapur, mungkin karena tempat kotor jadi dijauhkan dari rumah, demi kesehatan. Terpaksa deh nganterin. Sambil berdiri aku melihat keramaian di luar. Kenapa sih koq bukan suaminya yang nganterin, kataku dalam hati. Sambil ke belakang, Evie menjelaskan kalau suaminya udah mabuk minuman keras. Jangankan disuruh mengantar ke belakang, lihat wajah istrinya saja mungkin sudah tidak mengenali lagi. Aku antar dia ke kamar mandi yang beratapkan langit dengan taburan bintang dan terangnya sinar bulan yang mengalahkan terangnya lampu sebesar 5 watt di kamar mandi. Sambil bersandar di pohon kelapa aku melihat bintang yang bertaburan di langit. Tak lama terdengar suara mendesis dari kamar mandi. Tiba-tiba terdengar jeritan. Aku sih dengar, tetapi orang di luar pasti tidak akan mendengar, karena kerasnya musik, yang hampir seluruh desa mendengar. "Ada apa, vie?" tanyaku. "Ada cecek mas di pintu," katanya. Pintu kamar mandi tinggi tidak penuh hanya menutup hingga bahu ku, jadi aku bisa membuka dari luar. Setelah terbuka, cecek itu berlari mendekati Evie. Dianya lari dan mendekatiku, jadilah kita berpelukan. Aku berusaha mengusir cecek. Setelah cecek pergi, jarak antara bibirku dan bibir dia dekat sekali hingga bau nafasnya tercium olehku. Sinar rembulan membentuk bayangbayang rambutnya di wajahnya; aku sudah lupa pertandingan bola yang kutonton. Diam sejenak, terusin apa nggak ya? Sadar aku akan di mana

20

aku berada, sangat berbahaya bila aku melakukan permainan ini. Belum sempat aku mengambil keputusan untuk menyelamatkan diri, bibir Evie sudah menempel, hanya menempel tidak lebih, dengan dengus nafas yang tak beraturan. Tidak ada jilatan. Selanjutnya dia menguak bibirku dengan lidahnya. Mengisap bibir bawahku, dan dia yang lebih aktif. Lupa akan bola dan lupa di mana aku, kuterima juluran lidahnya. Evie mengangkat kaos berikut branya ke bawah dan menaikkan roknya. Ternyata setelah kencing dia belum menggunakan cd, karena keburu cecek dateng. Kuhisap putingnya. Aku merasakan ada cairan; masih mengeluarkan cairan - bayinya masih 6 bulan. Gumpalan yang mengandung asi cukup besar dan menantang, kujilat sambil melihat wajahnya yang mendongak tapi bukan melihat bulan dan bintang, tetapi merasakan kumis kasarku yang sedang membersihkan puting dari kerak ASI yang meleleh. Aku tidak mengisap hanya menjilati dan menggesek kumis dan jenggot kasarku saja. (Kalau kuhisap kasihan bayinya bila akan minum nanti kehabisan!!!) Capek berdiri dia menahan gejolak nafsu, Evie bersandar pada tiang sumur, dan meletakkan kakinya di bibir sumur yang mempunyai ketinggian satu meter. Aku masih menggunakan pakaian lengkap. Segera kutelusuri perutnya dan turun ke bawah. Oh My God. Ternyata masih buljar, alias bulu jarang. Halus banget bulunya, bukan rambut ini sih, masih bulu. "Jangan mas! Kotor.." katanya. Aku tidak mengacuhkan. Terlintas di pikiranku, tadi cecek dateng sama cebok duluan mana yah? Ah bodo amat, dagingnya aja enak apalagi kuahnya. Ku jilat sambil melihat wajahnya. Oh begitu indah, sambil menggigit bibir bawahnya dan di depannya tampak bulan purnama bersinar terang. Sementara dia menjambak rambutku. "Udah mas," katanya sambil menarik rambutku ke atas. Padahal enak banget di bawah, pemandangan alamnya itu lho. Ada bulan, ada wajah wanita yang manis, serta ada bulu halus dan ada clit yang malu-malu

21

sembunyi. Mungkin dia malu karena banyaknya cairan yang sudah keluar. (Kadang heran, mengapa wanita selalu malu bila kemaluannya basah sekali di hadapan pria yang bukan suaminya. Mungkin tante Ila, tante Puja atau Tante Monik bisa jelasin nggak ya??) Dia menciumku dengan ganas, menjilati kupingku, lubang kupingkupun dimasukin lidahnya yang mungil. Leherkupun tak luput jadi sasaran. Sambil melakukan dia menuntun batangku untuk memasuki lorong yang sudah sangat basah sekali. Walau sudah sangat basah, sempitnya menyulitkan untuk penetrasi (ternyata dia dijahit hingga 10 jahitan luar dalam, kebayang deh, usia 16 tahun melahirkan dan dijahit sebanyak itu). Berkali-kali meleset; aku tertawa dalam hati - koq seperti pengantin baru aja yah. Akhirnya masuk juga, karena badannya yang lebih kecil dari aku maka aku memeluknya berikut tiang sumur; sekalian buat pegangan untuk mengayun. Kaki yang satu di bibir sumur yang satu lagi aku angkat (dia agak pendek). Nggak kuat menahan sempitnya, aku keluar di dalam (lupa koq nggak dikeluarin di luar - kalau sudah nikmat kadang suka lupa segalanya - seperti Kes. Brazil, kalau sudah nyerang lupa pertahanannya). Begitu aku cabut, koq ada darah sepanjang batangku. Aku menimba air untuk membersihkan kemaluan kita berdua. Kulihat dia meringis kesakitan saat membasuk kemaluannya. Entah batangku yang besar atau sempitnya lorongnya Evie. "Kamu nggak takut hamil, vie?" tanyaku. "Baru selesai kemarin mas," jawabnya. Pantes koq libidonya tinggi. Selesailah permainan berbahaya yang kita lakukan, dan aku pergi ke acara dangdut di depan rumah. Evie pergi mengambil bayinya dan tidur sambil menyusui bayinya. Untung aku nggak merokok, kalau merokok, bayinya bisa nggak mau nyusu... Waktu sudah menunjukkan sekitar jam 2300, saat aku datang campur sari sudah berganti dengan dangdut. Tua muda ramai-ramai berjoget hingga menutup jalan raya.

22

Aku lihat istriku duduk dekat pelaminan dan pergi ke rumah Evie, mungkin sudah nggak kuat menahan kantuk. Selamat! Nonton dangdutnya aku duduk agak jauh dari panggung dengan kursi bambu di samping rumah tetangga yang digunakan untuk menampung tamu juga. Tiba-tiba Linda ada disampingku. "Joget yuk!" katanya. "Nggak bisa," jawabku. "Yah gerak-gerak aja, pakai poco-poco juga nggak apa-apa," katanya. "Nggak ah. Di sini aja ah," jawabku. Bukannya apa-apa, aku masih terasa capek saat di sumur tadi gara-gara cecek. Saat penyanyi membawa lagu "Mandul", Linda mendengarkan dengan seksama, dan lama-kelamaan bahunya bersandar pada pundakku. Tak lama buah dadanya menempel. Kulirik dia meneteskan air mata. (untuk mendengarkan lagunya klik di bawah ini: http://groups.yahoo.com/group/Pembaca_CCS/files/My%20Musics/Mandul2.mp3) "Koq jadi sentimentil gitu?" tanyaku. Dia menyeka air matanya dengan jemarinya. "Kamu salah masuk kali bikinnya," godaku, untuk menghilangkan kesedihan. "Salah masuk gimana?" tanyanya. "Ngkali masuk lubang yang lain," jawabku. "Gila, apa!" jawabnya. "Kalau bikin tuh nyantai, nggak usah pake gaya macem-macem," kataku. "Udah semua gaya mas, tetep aja, kalau sawahnya subur, tetapi benihnya nggak bagus ya, nggak panen-panen," jawabnya ketus. "Yah, ganti aja biangnya, khan ada Generasi Biang," jawabku, sambil memperhatikan goyangan penari yang menyanyikan "Goyang Dombret". Penyanyi yang melantunkan lagu "Mandul", naik ke panggung lagi dan membawakan lagu "Malam Terakhir" sesuai permintaan yang nyawer. (untuk mendengarkan lagunya klik di bawah ini:

23

http://groups.yahoo.com/group/Pembaca_CCS/files/My%20Musics/Malam %20Terakhir2.mp3) Linda semakin penuh menyandarkan tubuhnya. "Mas anterin ke belakang yuk, aku takut sendirian," katanya. Kulihat wajahnya penuh harap sambil meringis menahan kencing. Wah kejadian sumur bisa terulang nih, mudah-mudahan ada cecek! Mikir bentar, jalan jangan, jalan jangan. "Ayo deh," kataku. Kalau tadi di sumur Oom Kartiko, sekarang di sumurnya Oom Aryo. Di sini lebih terang lampunya karena menggunakan neon 40W, karena tak jauh dari situ cahaya dibutuhkan untuk penerangan di sekitar tempat masak. Tampak ibu-ibu yang membantu memasak kelelahan dan tidur dekat tempat memasak, bahkan karena capeknya ada yang sampai ngorok. Ketawa kita berdua saat melewati mereka. Setelah kencing, kita kembali ke tempat asal dan menonton dangdut hingga selesai jam 0200, dan kembali ke rumah oom Kartiko. Aku tidur di kursi ukir-ukiran jati yang panjang di ruang tamu yang besar (ratarata rumah di sini model pendopo - jadi ruang tamunya lumayan besar). Linda masuk ke kamar Oom Kartiko, dan tak lama keluar lagi. "Kenapa?" tanyaku. "Udah penuh," jawabnya. "Itu di kamarnya Evie aja," kataku. "Sama, penuh juga!" jawabnya. "Aku tidur di bawah aja deh, pakai ini," katanya sambil menggelar tikar. "Jangan! Kamu tidur di kursi ini aja," kataku sambil bangun. Dia menuruti, tidur di kursi lalu menutupi badannya dengan selimut. Aku tidur di bawah beralaskan tikar. Untuk menghindari sinar lampu, aku menyusun koper-koper para tamu sedemikian rupa agar aku tidak terlalu silau dan mengurangi dingin. Dinginnya hawa pedesaan hingga membuat aku tidur miring sambil mendekap tanganku sendiri di selangkanganku. Dari tempat penikahan terdengar lagu "Mandul" yang merupakan hasil

24

rekaman acara "Live" tadi. Tiba-tiba dari belakang ada yang memelukku, ehmp dingin-dingin empuk nih. "Mas, mau nggak jadi Generasi Biang," bisiknya di telingaku, bahkan bibirnya sempat menempel di telinga. Aku membalikkan badan. "Gila lu, ini ruang tamu dan banyak orang di sekitar kita," jawabku beralasan. "Khan tadi mas bilang, kalau bikin tuh nyantai, nggak usah pake gaya macem-macem," katanya, sambil menutup badan kita berdua dengan selimut. Tak lama dia menurunkan celana jeannya, sambil tidur, lalu menggosokkan pantatnya ke kemaluanku. Bangun deh tuh dedek, di sms, sama temennya sih. Ku turunkan juga celana jeansku, sebatas dedek ku bebas. Kucium tengkuknya, dia menggenggam batangku, dan menuntun ke kemaluannya, terasa sudah basah. Kapan aku merangsangnya. "Koq, kamu sudah ba..." tanyaku. Segera dia mengulum bibirku, dengan cara menoleh kebelakang, jadilah kita ber-doggy style, sambil tiduran miring. Dia berpegangan erat di kaki kursi jati (kursi ini lumayan besar dan berat). Semakin lama kepalanya menjauh dari kepalaku, tetapi pantatnya semakin mendekat. Lagu di tempat resepsi sudah berubah menjadi "Goyang Dombret". Aku semakin lama semakin terdorong, takut koper dibelakangku roboh karena aku terdorong. Aku menggenjot sekuat tenaga ke arah depan, sambil berpegangan pada kaki kursi yang lain, hingga Linda terdorong masuk ke bawah kolong kursi, sampai dia mengeluarkan bunyi seperti orang tertindih. "Eghk," segera kututup mulutnya. Gerakanku lamban tetapi terusmenerus, bahkan mengikuti irama lagu. Karena kejadian di sumur, maka jadi agak lamaan. Tetapi posisi miring mengakibatkan rapatnya lorong kemaluan Linda, akhirnya aku keluar juga. Dia mencengkram tanganku yang sedang memegang kaki kursi. Tiba-tiba mataku tertusuk. Aku segera membuka mata dan kulihat anakku sedang menusuk pensil ke mataku, dan kulihat sekeliling, oh aku ada dirumahku sendiri. Diam sejenak. Untuk menyadarkan diri. Anakku memang lagi belajar

25

menulis, apa saja ditulis, tidak terkecali mata papanya. Ohh, ternyata hanya mimpi. Kurasakan GT-MANku seperti licin. Wah tembus nih sampai kasur tipis yang kutiduri di ruang tamuku. Aku kecapaian dari mudik dan tertidur di ruang tamu. Selain itu sudah kelamaan nggak "ganti oli". Bila prajurit mimpinya aja perang, nah kalau hidung belang mimpinya aja selingkuh. Selesai. 23 DANI, LOVE STORY 1 Nama saya Dani, usia 29 tahun, tinggi 170, berat 65, saat ini sedang bekerja di salah satu instansi milik pemerintah yang cukup penting keberadaannya. Dalam kesempatan ini, saya ingin menceritakan (kalau di muat oleh bung Wiro) pengalaman hidup saya, khususnya pengalamanpengalaman yang bertalian dengan masalah sex, sedari SMEA sampai dengan sekarang. Sebelum saya menceritakan beberapa pengalaman saya tersebut, saya mohon maaf kepada fansnya CCS, karena dua hal sebagai berikut: (1) saya tidak bisa menceritakannya secara fulgar, khususnya berkenaan dengan bagian/tindakan yang cukup sensitif (menurutku). Kenapa demikian ?, sampai saat ini, aku juga tidak tahu mengapa. (2) ceritanya mungkin tidak akan panjang lebar. Saya ambil SMEA untuk membahagiakan orang tua saya, dan bicara soal SMEA biasanya mayoritas siswanya adalah perempuan, seingatku perbandingan antara laki2x dan perempuan waktu itu adalah 60% itu perempuan, dan 40% laki2x. Aku termasuk orang yang cukup pendiam, namun demikian di sekolah aku bisa mengkomando beberapa temanku untuk melakukan aksi atas apa yang kumau, dan semua cowok dari semua jurusan di sekolah cukup menyeganiku, hal ini dikarenakan aku merupakan perwakilan dari siswa/i jika para siswa/i tersebut mendapat perlakukan yang kurang baik dari guru atau siswa sekolah lain. Seperti biasanya di setiap tempat pendidikan selalu terdapat siswi yang cukup menonjol (penampilannya, dll) dibanding siswi2x lainnya. Singkat cerita akhirnya mimpiku menjadi kenyataan, dia menjadi kekasihku. Saat itu, tidak pernah terpikirkan sama sekali olehku soal kiss, hugs apalagi yang lebih dari itu, bagiku hanya dengan berbicara dengannya, dia menasehatiku atau dia membelikan rokok di depan teman2xku bisa membuatku sulit tidur malamnya, yang pada akhirnya sering membuatku

26

bangun kesiangan dan masuk sekolah setelah istirahat pertama atau tatkala sekolah sudah bubaran. Seperti biasanya setiap malam minggu, aku selalu apel ke rumahnya, kalau apel biasanya aku selalu mengajak teman2xku untuk ikut menemaniku, sampai pada satu ketika dia menangis dan mengatakan kepadaku, kalau dia hanya menginginkan aku yang datang ke rumahnya, tapi tidak dengan teman2xku. Akhirnya aku mengerti, dan minggu berikutnya aku datang sendirian................ Dengan senyum manisnya dia menyambutku, dan setelah mengucapkan salam dengan orang tuanya, kami langsung menuju teras di belakang rumahnya, tempat biasa kami suka gitar2xan tatkala temanku masih sering aku ajak untuk menemaniku. Tempatnya cukup private, ada kolam renang dan juga sedikit taman. Malam itu dia mengenakan rok mini warna cream, dan baju kaos berwarna putih, beda sekali pada minggu2x sebelumnya, tatkala dia sering mengenakan celana jeans dan baju kaos yang berwarna gelap. Kecantikannya luar biasa (menurutku), tingginya 165 cm, kulit putih bersih, tangannya ditumbuhi oleh bulu2x halus berwarna kemerahan, demikian juga dengan kakinya. Sulit rasanya saya menggambarkan kencatikannya melalui tulisan ini, atau jika dapat kubandingkan dengan jajaran foto model dia layaknya "Naomi Angela" yang ada di websitenya popular-online.net. Namanya Permatasari......biasa dipanggil Permata, merupakan anak bungsu dari dua bersaudara, kakaknya laki-laki. Setelah kurang lebih lima menit kami berbincang2x di teras tersebut, pembantunya datang membawakan kami minuman, snack dan juga berbagai macam buah2xan. Setelah pembantunya pergi, dia memintaku untuk duduk lebih mendekat padanya. Dengan tiba-tiba, dia lalu menyandarkan kepalanya dibahu kananku, cecara refleks kutempelkan kepalaku kekepalanya, lalu selanjutnya kami saling diam, dengan sedikit keberanian kubelai rambutnya dengan tangan kiriku, wangi sekali rambutnya. Saat itu, ingin sekali aku mencium keningnya, untuk menunjukkan padanya bahwa aku sangat menyayanginya dan bahkan lebih menyayangi dirinya daripada diriku sendiri. Seperti rem blong..... akhirnya aku bilang padanya.... "Ta....., boleh aku mencium kenigmu...?", dia lalu mengangkat kepalanya, sambil memandangku dia mengangguk. Aku belum pernah melakukan ini, dan ini yang pertama, kucium keningnya........ lama sekali, setelah itu kutatap wajahnya......... aneh serasa ada magnet yang menarikku, dengan perlahan2x kucium pipinya setelah itu kutatap lagi wajahnya sekarang dia memejamkan matanya, kucium hidungnya, matanya..... secara perlahan-lahan, dan dengan agak berdebar........ kucium bibirnya. Saat bibirku menyentuh bibirnya aku merasakan dia bereaksi, aku jadi enggan untuk melepaskannya dan nampaknya diapun demikian...... tak dapat kuceritakan betapa senangnya perasaannku saat itu. Waktu terus berlalu, dan tibalah saat dimana kami harus meluapkan

27

kegembiaraan kami di atas kesedihan, kami gembira karena kami lulus dari SMEA, dan kami sedih dikarenakan kami akan berpisah satu sama lain, ada yang akan melanjutkan studi, ada yang akan bekerja dan bahkan ada yang ingin menikah. Aku sendiri akan melanjutkan studi di Jakarta, sedangkan Permata akan disekolahkan oleh orang tuanya ke Melbourne, tak dapat kuceritakan kesedihanku saat itu, namun apa hendak dikata bagi orang tua kami masing-masing, studi itu jauh lebih penting dari segala2xnya. Dengan linangan air mata, Permata memelukku di kantin sekolah dan dia menangis sejadi2xnya, dan aku hanya bisa memeluknya dan mencoba menetralisir keadaan. Dalam benakku saat itu, aku tidak ingin mengecewakan orang tua Permata, mereka lebih berhak atas Permata, aku tidak ingin menghadapkan Permata kepada pilihan antara aku dan orang tuanya. Dan akhirnya aku membujuknya untuk menuruti kemauan orang tuanya, toh aku bilang perpisahan ini bukan untuk selama2xnya, kita masih tetap akan saling berkomunikasi, melalui surat. Namun satu statement yang cukup membuatku kaget adalah........ "Bahwa nanti malam dia ingin menghabiskan waktu berdua bersamaku", aku menurutinya. Singkat cerita malamnya kami sudah berdua sebuah penginapan di pinggir pantai, yang cukup besar (cottage) dan tergolong mewah. Kami saling bercanda, cerita ini itu dlsb. berusaha mengubur sedalam2xnya kata perpisahan. Waktu terus berlalu, setelah menikmati hidangan malam kami langsung menuju tempat tidur, dari ruangan tempat makan di cottage tersebut, ku gendong Permata menuju kamar. Entah mungkin karena dia malu atau apa, dia memejamkan matanya tatkala kuangkat dan sampai ditempat tidurpun matanya tetap terpejam, namun bibirnya terus tersenyum, ah menggemaskan kamu sayang. Dengan perlahan2x kuletakkan tubuhnya di pinggir ranjang, dan setelah itu, dia aku gelitiki, dia terguling2x dan dia mohon ampun agar aku tidak terus melakukannya, dan biarin di sun aja katanya, aku tertawa melihat tingkahnya. Kudekati dirinnya, dan kubisikkan kata-kata ditelingannya "aku mencintaimu dan menyayangimu", lalu diapun menjawab hal yang sama kupeluk dia kucium kening, pipi, hidung, matanya dan terakhir bibirnya, sambil terus berciuman, kurebahkan dia di atas kasur, lama sekali kami berciuman dan berpelukan, saat aku memeluknya baju kaos bagian belakangnya agak terangkat ke atas, secara fefleks kuelus2x pinggangnya, dan agar tanganku lebih leluasa, kupindahkan dia ke atasku, dengan posisi demikian aku merasa bebas untuk mengelus bagian belakangnya yang sangat halus tersebut, saat dia berada di atas, kemaluanku terasa menyentuh kemaluannya, cukup terasa, karena dia memakai rok panjang yang kainnya sangat lembut, karena sentuhan tersebut makin lama makin nikmat, aku menggerak2xkannya ke kiri, kanan, dan sesekali menekannya ke atas, saat aku menekannya ke atas, dia mendorong kemaluannya ke bawah, sehingga aku semakin menikmatinya

28

dan dadaku serasa ditekan olehnya. Karena aku merasa kemaluanku terasa agak sakit, aku lalu berterus terang padanya "ta....., bagaimana kalau aku membuka celanaku, karena agak sakit, setelah beberapa saat dia mengangguk, dan dia berkata "Permata juga mau buka baju katanya", aku bilang gak papa kok. Akhirnya aku lari ke kamar mandi, dan kulepas celana jeansku dan dengan tanpa meminta ijin, akhirnya kucopot juga bajuku, dan sekarang aku hanya mengenakan CD saja, sambil mengenakan handuk aku kembali menuju tempat tidur, dan langsung mengangkat selimut dan mengenakannya, dan kulihat permatapun sudah berada di bawah selimut, dan dia tidak mengkomentari apa2x soal bajuku. Beberapa saat kami saling diam, namun kemudian aku memiringkan badanku, dan kucium pipinya, dan dia lalu mencium bibirku, kami akhirnya saling berpelukan kembali, dan Permata masih mengenakan roknya dan dia hanya mencopot bajunya saja, lalu aku kembali mengangkatnya ke atasku dan entah darimana datangnya ide itu, akhirnya aku merasa ingin mencopot BH-nya, dan setelah itu, aku menciumi lehernya, dan kuberanikan untuk mencium buah dadanya, saat itu kami berada di bawah selimut, dengan mengangkat dadanya, aku dengan leluasa bisa menciumi buah dadanya, dan saat itu aku merasakan Permata terus menekan2xkan kemaluannya ke kemaluannku, setelah sekian lama aku menciumi buah dadanya, akhirnya permata merebahkan kembali tubuhnya ke dadaku, dengan tetap mengoyang2xkan kemaluannya ke kemaluannku, aku lalu bilang padannya "kita buka semua ya", dia bilang, "tapi, jangan dimasukkin ya", saya jawab "iya", akhirnya kami sudah tidak mengenakan pakain sama sekali. Kali ini aku yang berada di atas, sambil jongkok kami kebali berciuman, dan aku mulai menurunkan ciumanku ke leher, sampai ke buah dadanya, saat aku menciuminya dia hanya bisa mendesah, dan menggerak2xkan badannya, ke atas, kebawah dan juga kesamping dan tangannya terus memegang kepalaku, dan akhirnya aku kembali mencium bibirnya, sambil menurunkan kemaluanku agar bisa menyentuh kemaluannya, setelah tersentuh dia mendesah, "sayang, jangan dimasukkin ya", saya jawab "iya", terus aku menempelkan kepalanya di bibir kemaluannya, sambil menggerak2xkannya ke kiri dan ke kanan, keringat kami mulai membasahi tempat tidur, dia terus memejamkan matanya, selain menggerak2xkan ke kiri dan ke kanan, sesekali aku mencoba menekan kemaluanku, tapi selalu meleset ke bawah atau ke atas (karena licin agaknya), lalu aku bilang ke dia "sayang, aku masukin dikit ya", dia tidak menjawab, lalu aku kembali berusaha mengarahkannya ke kemaluannya, dan akhirnya dengan sedikit sentakan, aku merasa kepala kemaluanku agak terjepit sesuatu, dan jika kuturunnaikkan, agak nyangkut dan tidak lari ke bawah atau ke atas, dan saat itu juga dia mengatakan sakittttt, aku bilang tahan sayang, tahan sedikit, cukup segini aku tidak akan meneruskannya lagi, aku terus melakukan gerakan kiri, kanan, turun naik walau hanya kepalanya saja dengan perlahan2x sekali, dan bibir kami sesekali berciuman, setelah itu dia merintih, dan mengerang, dan tangannya memelukku kuat

29

sekali, dan hanya desahan panjang saja yang keluar dari bibirnya, aku terus dengan aktivitasku, dan setelah sekian lama, dengan sayu dia membuka matanya, dan berkata padaku, "ambilah sayang, ambilah untukmu, karena aku amat mencintaimu", sejenak aku tidak mengerti, lalu akhirnya aku mengerti, dengan penuh keseriusan, aku mencoba menambah kekuatan tekanan kemaluanku ke kemaluannya, dan dia hanya bisa meringis sambil menggigit bibirnya, dan aku terus berusaha, walau sesekali masih meleset ke bawah, dan setelah beberapa saat, kemaluanku serasa menyentuh sesuatu, kalau diilustrasikan dengan jari tangan, serasa jari tangan kita menyentuh pakaian yang sedang dijemur, berikutnya saya bilang ke dia "sayang, saya masukin sekarang", dia hanya mengangguk, dan blessssss, rasanya hangat, kemaluanku serasa terjepit, nikmat sekali. Saat itu dia mengangkat dadanya sambil berteriak dan aku agak sedikit terangkat karenanya, untuk kemudian dia rebah kembali, untuk sesaat aku tidak melakukan aktivitas apa2x, kupandangangi wajahnya, dia lalu membuka matanya, sayu terlihat dan dia tersenyum manis sekali. Dengan perlahan2x kembali kugerakkan kemaluanku turun naik, dan dia tetap meringis, dan nikmatnya sungguh luar biasa, dan untuk beberapa saat kembali tubuhnya mengejang dan sambil meringis, dia kembali memelukku, dan aku terus menggoyangkannya dan akhirnya, bersamaan dengan mengejang berikutnya aku merasakan kenitmatan yang tiada tara, yang salama ini belum pernah aku rasakan. Itulah seklumit kisahku, untuk kemudian dilanjutkan pada episode berikutnya. Kami akhirnya terus menjalin hubungan kami, melalui surat menyurat, dan akhirnya Permata dijodohkan oleh orang tuanya dengan sepupunya, (kemelut yang terjadi antara aku dan dia, saat dia akan menikah) tidak dapat aku ceritakan, walau kami masih sering bertemu. Demikian cerita pertamaku, jumpa lagi di episode berikutnya. 24 Dea wasit primadona... Pertama-tama aku ingin memperkenalkan diri. Aku seorang pria lajang bernama Hans dengan tinggi badan 172 dan berat 68kg, berpenampilan lumayanlah untuk sekedar memikat para wanita. Aku dari umur 20 thn sudah hidup berdikari. Aku kuliah (sekarang sudah lulus)dan bekerja. aku bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupku, baik itu untuk makan, bayar kuliah, atau sekedar untuk bersenang-senang. Di suatu senja selepas kuliah kira-kira pukul 18.45 aku langsung memacu laju motorku ke tempat nongkrong di gang Bangau di Senen. Di sana kehadiran saya sangat diharapkan karena aku rada-rada ngocol kalo diajak becanda.

30

"Hei Hans acara elo kemana nih ntar malam," sapa seorang teman sesampainya di sana. "Tau Lim (Kimlin) gue bingung nih, gue sih bisa kemana aja, emangnya anak-anak pada mau kemana?" "Tau tuh. Tapi si Franki ngajakin nyodok (istilah main bilyard). Mau nggak Hans?" kata Kimlin. "Gue mah boleh aja tapi anak-anak yg lain mau ngak?" "Hans, anak-anak sih mau soalnya wasitnya banyak yang cakep, loh mau nyodok di mana? Bukan di tempat biasa, bukan lagi di tempat yang lain sekarang." "Loh di mana?" "Di Coxxx." "O... enak nggak di sana mejanya?" "Lebih enak lagi," Kata si monyet temanku. "Ya udah kalo anak-anak mau sih." Akhirnya kami semua berangkat ke lokasi. Sesampainya di sana kami langsung mencari meja kosong. Tentunya satu meja untuk rame-rame (yang kalah main ganti orang biar rada irit mainnya). Aku melihat sekeliling ruangan. Bagus juga tempatnya. Memang sih wasitnya cakep-cakep. Sambil melihat-lihat Aku menangkap sesosok wajah yang boleh dibilang paling cantik sih dibanding wasit yang lainnya di tempat itu. "Hei Hans giliran elo tuh..." "Ha eh sorry lagi liat-liat nih," kataku. Setelah aku memukul bola aku dekati wasit yang sedang menghitung di maja kami. "Mbak, wasit yang itu namanya siapa sih?" sambil menunjuk sosok cantik yang aku lihat tadi "Kenapa tanya wasit itu? Cakepkan?" "Iya sih boleh juga." "Dea namanya. Kenapa naksir ya?" "Nggak," kataku. "Kamu kayanya baru sekali yach dateng kemari (tempat bilyard maksudnya)" "Iya..." "Makanya sering-sering dong kemari." Aku senyum aja sambil menjawab, "Iya deh...!" Keesokan harinya aku balik lagi ke sana. Sama anak-anak lagi. Tentunya menunggu wasit yang bernama Dea itu. Dan akhirnya bisa juga diwasitin sama si Dea. Wah semangat banget anak-anak mainnya (iya diwasitin ama yg cakep). Ada juga yang menggoda. Aku lebih memilih untuk duduk diam sambil ngobrol sama si Dea sambil mengomentari anak-anak yang bermain bilyard. Sambil mengomentari anak-anak main, diam-diam aku melihat lekuk tubuh Dea. Dia badannya bagus. Terlihat dari kaos ketat yang dia pakai. Dengan ukuran payudara sekitar 34b atau c. Pinggulnya juga tidak terlalu besar. Yah ideal lah untuk seorang wanita. Dan yang lebih wah lagi ternyata Dea merupakan wasit primadona di sana. Jadi

31

banyak juga pemain bilyard yang mau mengincar dia, baik diwasitin, ataupun yang lain aku kira. Ya temasuk aku juga sih. Akhirnya kami ngobrol. Aku tanya macam-macam, tentunya pura-pura kenalan dulu sekedar basa-basi. "Dea," katanya (sambil berjabat tangan). "Hans. Kamu udah lama jadi wasit disini?" aku membuka percakapan. "Mm lama juga. Hampir 8 bulan." "Wah lumayan juga yach." "Iya." "Kamu umur berapa Dea?" "Baru 20," katanya. "Kamu?" dia balik bertanya. "Udah 23 (umur saya saat itu). Kenapa?" "Ah nggak papa. Kamu kayanya baru-baru aja yach main disini." "Iya. Kok tau?" kataku. "Iya nggak pernah keliatan," sambil tersenyum, "sering-sering dong kemari," katanya. "Wow pasti, soalnya ada Dea sih." dia cuma tersenyum. Berawal dari obrolan itu akhirnya aku sering main bilyard di situ, dengan Dea sebagai wasit tentunya. Terkadang aku pun sering menawarkan sesuatu seperti minuman atau makanan (di luar gedung suka banyak orang yang jualan). Di samping itu aku pun berniat untuk mendapatkan dia. Yah untuk iseng aja soalnya aku dulu suka banget nyobain perempuanperempuan baik perempuan bener maupun ngak bener. Tapi pikir punya pikir saingannya banyak juga, karena yang main di sana matanya pasti melihat ke Dea. Tatapan merekapun bukan sekedar tatapan biasa tetapi bagaikan tatapan seekor singa yang sedang mengincar seekor domba. Aku sih cuek aja soalnya aku menganggap ini suatu kompetisi. Namanya juga lagi usaha. Jadi kalo dapet syukur ngak dapet ya udah. Lagi pula Dea kayanya memberikan lampu hijau ke aku kalau dilihat dari sikapnya setelah beberapa kali aku datang dan diwasitin sama Dia. Setelah melihat sikap dea seperti itu, aku mencoba untuk berbicara kepadanya (berbicara serius tentunya). "Eh Dea, kayanya aku suka nih sama kamu (ya gitu deh laki-laki kalo lagi ngegombal)" "terus memangnya kenapa...?" tanyanya. "Kita jadiin yuk! mau ngak kamu..." Dia dia sejenak. "Kenapa?" Tanyaku, "Ada yang marah yach?" "Nggak. Siapa yang marah!?" "Nggak... siapa tau aja..." kataku, "Jadi mau nih...." "mmm," sambil mengangguk. "YES!" kataku dalam hati.

32

Kami pun akhirnya resmi pacaran. Tapi aku tidak menganggap serius. Dea pun aku kira begitu. Jadi sekedar have fun aja. Kebetulan, dalam hatiku. Setelah kejadian tersebut aku jadi lebih sering datang ke sana terutama malam. Terkadang aku datang sendiri, terkadang bareng Kimlin, terkadang rame-rame. Yah sekedar setor muka sekalian ngobrol-ngobrol. Jika Dea tidak ngewasitin kita, setelah selesai ngewasitin meja lain dia langsung ke meja kami. Aku pun terus berpikir, gile nih Dea... Body ok... gue udah bisa jalan sama dia... masa sih gue ngak bisa ngedapetin tubuhnya! (habisnya bodynya itu lho ok banget sih). Sampai suatu malam aku coba mengajak dia untuk main ke tempatku (kebetulan aku kost waktu itu). "Eh Dea, acara kamu kemana selesai tugas?" "Nggak kemana mana koq." "Main ke tempatku mau?" "Mmm (sambil berpikir) boleh..." YES lagi dalam hatiku. Akhirnya dengan membonceng dia, aku ajak Dea ke tempat kostku yang lumanyanlah jaraknya. "Yah beginilah tempat bujangan," kataku membuka pembicaraan sesudah sampai di tempat kostku. "lumayanlah buat ukuran kamu yang masih sendiri. Eh Hans, ngomongngomong ada yang marah ngak Dea kemari?" sambil tesenyum ngeledek dia. "Nggak kok," kataku. "Ah masa sih?" dia nggak percaya. "Bener lagi (kebetulan aku masih single waktu itu), kenapa emangnya?" "Ah nggak apa-apa kok," kata Dea. "Dea mau minum apa? teh manis yach?" kataku. "Boleh..." Lalu aku mulai merebus air dan membuatkan teh manis untuk dia. Sesudah selesai aku membuatkan teh manis untuknya, kami mengobrol kembali dan ternyata si dia udah tiduran di kasur busa ruangan kostku. Sambil menaruh cangkir teh di meja, aku mencoba untuk memeluknya. Ya ampun... si junior mulai bereaksi juga nih. Soalnya doi sexy banget. Apalagi waktu dia tiduran roknya agak tersingkap, sehingga terlihat sedikit kulit mulus di balik roknya. Dengan sedikit senyum di wajahnya, dia menginginkan aku tidur di sebelahnya. Aduh mak... bingung juga nih. Soalnya dia lebih agresif, diluar perkiraanku sih. Padahal aku ada rencana untuk memulainya. Tanpa menunggu lama lagi kubikin remangremang deh ruangan di kamar kost. Lalu aku tidur di sebelahnya. Serseran juga sih rasanya. Kemudian tanpa dikomando kami memulai saling berhadapan. Nggak tau juga kenapa bisa bareng-bareng mulainya. Dia mulai memelukku kemudian aku memulai mencium keningnya. Lalu dia langsung membalas mencium leherku dan tanpa basa-basi lagi aku menyambar bibirnya yang mungil. Kemudian kami langsung berciuman

33

dengan saling mengulum lidah kami. Gila! dalam hatiku. Nih cewek jago juga ciumannya. Kemudian dia membuka bajuku dan menempelkan lagi bibirnya di leherku. Sssshhhh...., dengan lincahnya dia memainkan lidahnya di antara leher dan sekitar belakang telingaku. "Sshhh... eh Dea ...," "Hemm.. kenapa lagi say?" katanya terkejut. "Nggak ada cupang-cupangan yach?" Kemudian dia langsung menyambarkan lagi bibirnya dengan sedikit bernafsu. Busyet deh. Aku menggeliat sedikit sambil menghindar dan doi tersenyum. "Iya deh.... Nggak di cupang." "Suer lho gue kan malu..." "Emang gue pikirin?" katanya. Setelah selesai berbicara aku langsung menyambar bibirnya. Kemudian tanganku berusaha melepaskan kaitan bra tanpa aku membuka busananya dahulu. Terbuka juga. Aku langsung mengarahkan tanganku ke payudaranya. Gile bener... 34b atau c lah. Ukurannya pas segenggam. Kemudian aku memainkan puting susunya... Mmmhh.... sshhh..., Melihat kelakuanku Dia sadar juga. Akhirnya dia buka baju yang dia kenakan malam itu, dan langsung menjulanglah dua gunung yang... ok banget deh. Dia rupanya sudah mulai terangsang. Kemudian aku arahkan mulutku ke arah puting payudaranya. Kemudian aku lumat puting susu yang ranum itu secara perlahan tapi pasti. Aku jilat sekeliling puting susunya. Mmmhh... Dan dia pun sedikit mengejang. Mungkin akibat rangsangan yang ditimbulkan dari kuluman lidahku terhadap puting susunya. Sambil mengalungkan tangannya ke leherku, terkadang menjambak rambutku. Ssshhh... aahh...... mmhh....., dia terus menikmati permainan lidahku terhadap putingnya. Tanpa terasa batang kemaluanku pun telah berdiri tegap. Terus terang pembaca, rasanya aku juga udah mau keluar juga sih. Atas dasar itu aku menghentikan permainan lidahku dan langsung berbaring sebentar di sebelahnya. "Dea... nyantai dulu yah. Jangan terlalu nafsu. Aku kayanya udah di ujung nih." Tanpa perkataan dia terus mengarahkan bibirnya ke puting susuku dan memainkan lidahnya. Mmmhhh... ssshhh aduh mak. Sedikit menggeliat tubuhku karena menahan gejolak yang amat sangat. Mmhh aahh.. Dia kemudian memainkan lidahnya dari dadaku sampai ke puser. Mmmhhaah... bener-bener deh nih cewe dalam hatiku. Sambil terus memainkan lidahnya bak mandi kucing, dia mulai membuka celana yang ku pakai dan ups.... batang kemaluanku udah menjulang agak miring sedikit sih. Sambil terus menjilati, dia memainkan batang kemaluanku. Dia begitu agresif. Akupun tidak mau ketinggalan untuk melawan agresifnya dia. Aku pun mulai memainkan payudaranya lagi, di mana dia tetap menjilati seluruh tubuhku. Karena posisinya agak nungging aku mencoba untuk memasukan tanganku ke dalam roknya. Tapi tanganku ditepis. Lho dalam hatiku. Tanganku dipegang olehnya dan kemudian dia merobah posisinya menjadi

34

agak tiduran. Kemudian dia berbicara. "Hans, Dea aja yach yang puasin kamu..." "Lho kenapa?" aku bertanya. "Lagi M (mens) nih sorry nih..." Ya ampun kecele deh gue. Sambil tersenyum aku menggangguk. "Ya udah ngak apa-apa kok, lain kali aja yach Hans puasin kamu." Dia mengangguk. Lalu dia melanjutkan memainkan lidahnya. Tapi batang kemaluanku... ya ampun... rupanya tidak bisa menerima kenyataan ini. "Lho Hans, kenapa?" tanya Dea. "Marah nih si junior," kataku sambil tersenyum, dan Deapun tersenyum sampai akhirnya kami berciuman dan tidur bersama menghabiskan malam itu dengan penuh kejutan-kejutan yang yang membuat kami saling tersenyum. Tentu saja hatiku sedikt dongkol. Iya gimana ngak dongkol, udah di ujung tapi doi lagi palang merah..., pusing-pusing....!!! Setelah peristiwa malam itu aku sering mengantar Dea pulang walaupun harus bela-belain berangkat dari tempat kostku. Sampai tiba saat yang dinantikan yaitu ketika dia ada waktu dan mau main ke tempat kostku. Kejadian sama seperti yang lalu. Kali ini Dea tampil lebih sexy dengan kemeja dan span. Setelah sampai di tempat kosku aku langsung memeluknya dari belakang dan menciumi leher dan belakang telinganya. Sambil tetap memeluk dia aku bertanya, "Lagi M (mens) ngak non?" tanyaku. "Nggak..." Kemudian dia berbalik. Kemudian bibir kami pun beradu dan saling memainkan lidah kami. Mmmh... sss.. mmhh.., sambil terus kami berkuluman lidah tanganku mulai membuka kancing kemeja yang dia pakai dan tanganku pun langsung membuka pengait branya. Dan menjulanglah buah dadanya. Sambil meremas-remas aku mengarahkan bibirku di puting payudaranya. Langsung aku mengulum puting payudaranya. Terkadang aku memainkan dengan jariku sehingga dia agak menggeliat-geliat. Sampai akhirnya aku papah dia ke kasur. Lalu aku membuka baju dan celanaku sehingga yang tersisa hanya celana dalam saja. Tentu saja si junior udah ngecap di situ sampai nongol segala lagi; kaya lagi ngintip. Kemudian dia pun membuka kemejanya dan rok spannya. Setelah dia membuka kemejanya aku langsung menjilati sekujur tubuhnya. Mmmhmmm...sshhahh.., Dea berdesah sambil terus aku memainkan lidahku. Aku kemudian membuka celana dalam Dea karena yang tertinggal hanyalah itu. Kemudian aku melihat kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu kecil. Terkesan sensual sekali memang. Kemudian aku merubah posisiku agar aku dapat juga melihat lebih jelas; kalau perlu menjilati kemaluannya. Aku mencoba untuk mengangkangkan kedua kakinya. Alamak... mungil sekali daging yg berwarna pink pucat itu. Kemudian tanpa aba-aba lagi langsung aku melabrak benda kecil itu. Aku menjilatinya sampai di sela-sela klitorisnya. Dia pun tidak kuasa menahan kenikmatan yang tiada tara tersebut. Aku terus memainkannya sambil menjilati cairancairan pelumas yang sudah membanjir dari tadi.

35

"Hans, eh ya udah dong, Dea udah becek banget nih," sambil dia memutar tubuhnya untuk mendapatkan batang kemaluanku. Melihat itu aku langsung saja mengudahi acara menjilati kemaluannya. Aku membiarkan dia menjilati seluruh tubuhku. Tentunya dengan rangsangan yang sangat hebat yang sedang menerpa dirinya. Mmmhhh... sssshhhhaa.... dia mulai memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Sssshhhh.... ahhhh... mmhhh aku menaikan sedikit pantatku sehingga batang kemaluanku agak dalam kedalam mulutnya. Aaaahhh... ssshh, dia pun mengocok batang kemaluanku dangan menggunakan mulutnya. Bernafsu sekali. Mmmpp.. mmpppp... mmmhhh.., sambil memainkan jariku di kemaluannya, ia mendesah kembali. Ahhh... ssshhh. "Oh Hans, masukin yach... Dea udah ngak tahan nih." Aku melihat dirinya seperti hampir dilanda gelombang orgasme yg hebat. Akhirnya dia pun menuntun batang kemaluanku ke dalam vaginanya (saat itu posisiku di bawah). Bles..... ahhhh.. ssssshhhhhh... kcepuk.... kcepuk... Karena dia sudah basah sekali, aku pun merasakan licinnya batang kemaluannku ketika mulai menembus vaginannya. "Ahhhh... sssshhhh.... kamu hebat Hans." Aku diam saja sambil mengimbangi goyangannya. "Ssssshhhhh ahhhhh..... sssuhh.. Hans aku keluar." Benar aku merasakan batang kemaluanku hangat di dalam. Kemudian dia lemas. Aku menyuruh dia untuk posisi di bawah. Akhirnya aku menghujamkan lagi batang kemaluannku ke dalam liang vaginanya. Eeeeeaahhhh...... aku menggoyangkan pantatku naik turun dengan kakinya yang aku kangkangkan. Aku merasakan dia akan orgasme lagi. Sambil menggigit bibir bawahnya dia menatapku penuh harap supaya aku memuncratkan cairan kejantananku. "Ssshh... aahhh..... sabar yach Dea," aku terengah-engah, "sebentar lagi...." Aku mengoyangkan pantatku secara cepat dan akhirnya.... Sssshhhhhh.... ahhhhh... uuhhhh. Aku menekan batang kemaluanku di lobang vaginanya. Aaahhhhh, aku langsung mencium keningnya dan dia memeluku sambil berucap kecil, "aku sayang kamu Hans, kamu hebat." Aku hanya diam saat itu. Akhirnya kami pun melakukannya setiap ada kesempatan. Sampai pada akhirnya dia tidak kerja lagi di Coxxx, dan aku pun tidak tau lagi keberadaannya. Aku sudah mencoba bertanya kepada teman-temannya yang ada. Mereka hanya bilang, Dea ada masalah keluarga. Harus pulang mendadak. Sampai saat ini pun aku tidak pernah lagi, kemana aku harus mencari. Aku tidak tau lagi. Aku coba telepon tempatnya. Ya katanya sama. Udah pulang kampung dsb, dsb. Akhirnya ini hanya menjadi kenangan di mana aku selalu teringat dengan Dea jika sedang melewati tempat main bilyard Coxxx. Sekarang saya

36

sudah berkeluarga. Biarlah ini menjadi kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan, karena dengan sedikit kegigihan saya berhasil mendapatkan seorang Dea yang ternyata dia adalah seorang wasit primadona dan diperebutkan oleh laki-laki lain bak sebuah kompetisi...... 25 Deit, for lust, what you have done to me "Terrrrttttt..............." "Terrrrttttt..............." Dengan tetap masih berbaring, aku coba meraba-raba tombol "speaker" telepon pararel di kamarku yang berdemo minta diperhatikan. "Halo!", dengan suara yang jelas sekali menunjukkan aku masih ngantuk. "Dytha... Hei! Bangun donk!!!!", suara mahluk yang sangat kukenal menggema di kamarku. "Kok masih tidur sich? Acaranya jam 8 khan? Remember, u've already promised," cerocos Tina tanda tak sabar memojokkan posisiku. "Baru jam berapa sich. Paling juga jam 6-an", dengan suara yakin dan pembelaan diriku. "Iya, tapi khan gue udach di jalan nich mo jemput loe! Gue udach di Horison. Dalam 10 menit udach sampai di sana!", masih dengan suara gerutunya. "Iya, ya...", sambil tanganku menekan tombol "Hook". Inilah jadinya jika seorang pria telah menjadi "Hero" oleh seorang wanita. Awalnya ketika Tina meneleponku untuk mengadukan putus hubungan dengan kekasihnya. Tina merasa bersalah karena tidak mendengarkan nasehatku sejak awal, mengenai seorang pria yang secara gencar mencoba meluluhkan hatinya itu. Bukannya apa-apa, aku telah mengetahui darkside of his attitude. Setiap seminggu sekali, pria tersebut selalu "mengunjungi" Srtm teritory. Srtm adalah salah satu kompleks yang terkenal di B dengan atraksi dan wahananya. Sejujurnya aku sama sekali tidak menyukai tempat itu, walaupun aku sama sekali tidak menolak memiliki sobat yang menjadi "peacemaker" di daerah sana. ******* Love... love... love... Sometimes it replaces our logic with its poison. Hubungan mereka hanya bertahan beberapa bulan. Dan puncaknya ketika aku sedang menjalani magang di Jkt pada saat liburan semester kemarin. Hampir setiap malam, aku melayani seluruh curhat Tina dengan kepala bersandar di bantal akibat kelelahan yang tak terkira. Pada saat magang 2 bulan hampir usai, aku sudah seperti korban pelariannya. LAKI-LAKI memang BUAYA! Tapi Wanita senang BIAWAK! 8p Karena pilihanku yang tetap membujang, maka dengan mudahnya Tina menculikku for everything she wants, even just accompanied her to buy

37

one single bath soap!!! ******* Dengan langkah gontai, aku beranjak keluar kamar untuk membasuh diri. Walau hanya terkurung di dalam kamar mandi berukuran 2x2 m, tidak menghalangi kesegaran tubuh seorang pria dewasa menikmati dinginnya air. Ee.ee.eee..... my little bro. tampaknya bereaksi dengan lingkungan. Tanpa bisa kucegah, beliau telah berada pada posisi "get set". Bukannya menciut menggigil, malah membusung siaga. Terlintas untuk "mengolahragakan"nya, tapi kayanya aku sudah mendengar suara Tina di luar sana. Selang beberapa detik... "dokkk... dokkk... dokkk!", suara pintu kamar mandi digedor dengan sengaja. "Hei. Lagi ngapain sich! He.. he.. he... he....", teriak Tina tentu dengan tawa nakalnya. "Lagi handukkan nich!", jawabku jujur. Pada saat pintu kubuka, Tina masih saja di balik pintu dengan tawa nakalnya yang menggemaskan. Dengan sedikit misuh-misuh, aku gerakkan tubuhku menuju kembali ke my dorm. Baru beberapa langkah aku bergerak... "Plakkkk!" Someone spank my butt!! Dengan reflek aku menoleh ke belakang dan menemukan tawa nakal Tina sekali lagi. "Kampungan!!", umpatku sebal. Aku biarkan saja Tina mengekor memasuki my dorm. Dan dengan kesadarannya menutup rapat pintu kamarku. Aku, seperti biasanya dengan cuek, melepas lilitan handuk. Selintas aku perhatikan tatapan tak berkedip Tina mengharapkan sesuatu. Yeeee... aku masih meninggalkan lapisan kain pelindung my bro. Dengan diiringi suara musik yang keluar dari radio station fave-ku, kubiarkan sepasang bola mata menatap tubuh ramping pria di depannya. Kali aja Tina melakukan offensive strike from behind. Tanpa kesulitan, aku mengenakan T-shirt putih polos dengan Levi's 505 hitam. Sesekali aku melakukan sedikit liukan-liukan selama prosesi berbusana. Hal itu tampaknya sangat dinikmati Tina dengan tawanya yang membahana. I really like to make women laughed. Untuk melawan dinginnya malam, kukenakan sweater dark navy tebal. Aku berbalik sambil merentangkan tangan meminta pendapat Tina. Ia tersenyum puas dan mengangguk. Dengan sigap aku menarik tangan Tina yang terulur minta dibangunkan dari tempat tidurku. Sekarang baru kusadari bahwa pakaianku nggak "drop" dibandingkan Tina. Ia mengenakan tank-top dark grey dengan dibalut jeans hitam. Sebagai penghangat, Tina memilih cardigan putih dengan membiarkan beberapa kancing terbuka. PERFECTO!

38

Sambil melangkah keluar, Tina mengibaskan rambut hitamnya yang tergerai sempurna. Segera saja aku mengikuti keluar sambil mematikan stereo dan menutup pintu kamarku. Di ruang tamu, ketiga sobat housemate-ku tampaknya juga sudah siap. Sesaat aku berpikir mereka akan turut serta. "Bener nich nggak ikut?", tanya Tina kepada mereka. "Next time aja yea. Lagipula kita khan nggak kenal sama yang ber-HUT. Nanti dikira cowok bispak lagi. Padahal bener khann?", sahut Woldy yang selalu sumbang berkomentar. "Cewek pasar mana lagi yang loe pada ajakin", candaku ke mereka. Dengan sengaja mereka bertiga saling berargumen dengan menyebutkan beberapa nama-nama cewek. Begitulah kami, rumah para bujangan caur yang selalu bercanda... hehehehehe... Di luar telah teronggok Celio TRP kesayangan Tina. TRP is Torino Red Pearl, warna pilihan yang tepat. Mitosnya, cewek yang suka merah itu sangat hot di ranjang yea?? Heheheheh. Aku langsung masuk ke kursi depan samping pak kusir, sesaat setelah bunyi khas mobil beralarm berbunyi. Aku termasuk cowok yang malas nyetir khususnya di malam hari. Soalnya nggak bisa CCP (Curi Curi Pantat), hehehheheh. Tina hanya bergumam lirih melihat kebiasaan malasku itu. Kami agak terlambat tiba di tujuan. Baru sekitar jam 9 Celio TRP Tina menempati sisi bahu jalan rumah untuk mengambil posisi parkir. Gimana nggak telat, Nasi Goreng Bhrsk lagi membludak dengan manusia berperut keroncong. Tina dan aku tidak berasal dari kampus yang sama. Lokasinya pun sama-sama di ujung. Aku di Selatan, dia di utara. Kebetulan yang ber-HUT masih teman main sekampus Tina yang sudah cukup kukenal baik. Karena sangat risih untuk digandeng, aku lebih memilih untuk saling berpegangan tangan. Banyak muka-muka asing yang tak kukenal menyapa Tina. It made sense to me, because I was out of my own community. Beberapa teman Tina saja yang telah kukenal mencoba menegurku. Dengan kata-kata seperti,"Halo cowok! Termasuk undangan, nggak??" atau "Echhh... Ternyata ada monyet dari selatan". Aku sich dengan sigap membalas, "Terpaksa nich jadi cowok bispak", atau "Echhh.. elo... Kok kebonya nggak diiket di luar?" We've no hurt feeling then, hehehehhehe. Akhirnya kejutan yang mengasyikkan dimulai. Diawali dengan menghilangnya Tina untuk ke kamar kecil. Setelah sekitar 15 menit-an berlalu, aku sudah mulai gelisah tak menentu. Mondar-mandir ke sekeliling tempat yang bisa diperiksa dan bahkan menanyakannya ke beberapa orang yang kuingat namanya. Tapi hal itu sama sekali tidak membantu. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Aku menoleh dan menemukan wajah manis yang sayang sekali tidak

39

kukenal. Dia memberi isyarat tangan untuk mengikutinya. Dengan berharap cewek tadi temannya Tina, aku mengkutinya berjalan, menaiki tangga menuju lantai dua, dan akhirnya ia menunjuk ke salah satu pintu di ujung gang jalan. Setelah cewek tadi pergi, aku perhatikan ada empat pintu yang saling berhadapan. Dan tampaknya tempat ini cukup nyaman walau hanya dengan berdiri saja! Asal jangan kelamaan. Kelihatan sekali di sekeliling tempatku mematung didekor dengan nuansa biru, abu-abu, dan hijau. Hasil akhir sapuan-sapuan kuas berbingkai di dinding, aku kenali jelas sebagai tempat-tempat wisata di Eropa Barat. Ada Paris, London, Amsterdam, Vienna, dan Berlin. Dengan penataan jatuhnya cahaya lampu sorot yang tepat, menambah suasana hidup gambargambar itu. Tepat di ujung lorong, korden berpola daun neoclassical damask (kalau nggak salah yea) melindungi jendela di belakangnya. It's really... COOL!! Aku melangkah perlahan menuju pintu yang ditunjuk cewek tadi. Kuketuk pintu perlahan sambil memanggil Tina. Tanpa hasil, aku dorong perlahan pintu itu. Aku masuk ke ruangan itu, dan tidak terlihat apa pun dan no light to speak of. Sesaat terlintas ini sekedar guyonan murah sampai tiba-tiba terdengar suara lenguhan seseorang. Sepertinya ada yang sedang tertidur di sana. Aku putuskan untuk memeriksa siapa gerangan. Aku melangkan mendekati sesuatu yang kukenali sebagai tempat tidur, dan samar-samar terlihat seseorang sedang terbaring. Aku sangat mengenal suara ini! Suara wanita, tapi bukan Tina! Karena takut mengganggunya, aku berbalik dan melangkah keluar. Pada saat pintu akan ditutup kembali, tiba-tiba muncul seorang wanita seolah mengagetkan. "Tracy!", hanya itu saja ucapan kekagetanku. Aku baru saja ingin melakukan protes keras, sebelum secara mendadak dia melompat dan segera mengulum bibirku, dan kedua tangannya mendorongku perlahan kembali memasuki ruangan. "What the heck...", gumamku tak jelas menanggapi aksinya yang sangat offensive. Hanya dalam hitungan detik, Tracy segera menutup pintu dan menguncinya. I was trapped, hanya itu saja pendapatku. Sejujurnya saat itu aku sama sekali tidak horny sedikit pun. Aku sangat penasaran mengenai apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Tracy melepaskan shirt yang ia kenakan dan beberapa saat kemudian terpampang hasil kreasi indah Sang Pencipta. Tracy mendekatiku lagi sambil melakukan penyerangan terhadap bibirku. Tangannya tak tinggal diam dan dengan sedikit perlakuan keras melepaskan semua busana atasku. Sekali lagi dadaku yang telanjang dibombardir dengan bibir Tracy, yang untungnya tak bersisik. Pada saat lidahnya mencumbu seputar perutku, tangannya dengan sigap melepaskan busanaku yang masih tersisa. Pada saat tersadar diriku sudah polos sama sekali, Tracy mendorong perutku dengan tangannya. Aku terjatuh tak berdaya di tempat

40

tidur dan mulai merasa menggigil kedinginan. Aku baru menyadari bahwa masih ada orang lain dan ingin segera memberitahu Tracy. Tapi sekali lagi aku terlambat. Tracy telah melakukan aktifitas terhadap my bro.! Sesaat aku sangat menikmati perlakukannya. Aku hanya bisa terbaring dan menutup mata, mencoba meresapi kenikmatan yang sedang kujalani. Kamar itu sekali lagi memberikan kejutannya. Pada saat aku membuka mata beberapa saat kemudian, ada secercah cahaya bulan yang masuk melalui jendela. Tempat tidur itu agak terguncang dan seorang wanita lainnya bergerak. Wajahnya yang cantik diterpa cahaya bulan tetap membuatku tidak mengenalnya. Ketika ia bergerak bangun, selimut yang melindunginya terjatuh, dan sekali lagi aku dapati wanita cantik tanpa sehelai benang di kamar itu. Tracy melepaskan kulumannya dan bergerak mendekati wanita itu. "She's Boni", menjawab tatapan pertayaan mataku. Dengan sigap dan cekat, bibir Tracy kembali melumat rakus kedua puting Boni. Yang terdengar hanya desahan, dengusan, tatapan seorang pria yang terjebak di atas tempat tidur. Tangan Tracy menangkap tangan kananku dan membimbingnya menuju paha atas cewek itu. Aku mendapati dan merasakan kegairahan yang terus mengalir membasahi kewanitaannya. Boni melihatku dan tersenyum menikmati kulikanku di tubuhnya. Tracy berhenti menciumi cewek itu, dan kembali bergeser ke bagian kakiku. Tracy memegang my bro. dan dengan perlahan dia memainkan topi baja milikku hanya di seputar bibir kewanitaannya. Secara perlahan ia menurunkan pantatnya perlahan, dan aku merasakan gesekan nikmat di bawah sana. Sambil mengigit bibir bawahnya, sesekali menengadahkan kepala, dan membiarkan matanya tertutup, Tracy bergoyang penuh semangat dan liar. Aku semakin bergairah dan suhu tubuhku sama sekali tidak merasa kedinginan yang berarti. Aku menoleh kesamping dan mengamati wajah Boni yang menonton kami dengan rona wajah yang semakin memerah. Aku menggapai pundaknya dan menarik wajahnya. Kami saling berciuman, dengan diiringi goyangan Tracy menikmati waktunya. Alu lepaskan ciuman, dan dengan diiringi senyuman, aku menarik pergelangan kaki kanan Boni. Dia tampaknya mengerti dan mulai bergerak menindih mukaku. Sapuan-sapuan lidahku benar-benar membuatnya merintih dan mengerang. Aroma kewanitaannya membuatku lepas kontrol menahan gejolak nafsuku. Sesaat kemudian, jepitan otot vagina Tracy semakin memijit keras. Aku hampir saja bobol bersama Tracy, kalau tidak dengan cepat mulai mengingat jadwal kuliahku besok dan laporan praktikum yang masih menunggu. Tracy mengerang tertahan, menjatuhkan tubuhnya, dan memeluk tubuhku. Boni tampaknya terpengaruh dengan situasi kilat tadi, dan menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Rupanya cewek itu juga mengalami orgasme. Aku bersyukur pertahananku masih kokoh dan mencoba menarik napas lega. Cewek itu beranjak bangun dan dengan sedikit berbisik, "Gantian yeaaa..."

41

"Oke...", itu saja yang keluar dari mulut Tracy. Berbarengan pada saat Tracy bergerak, tiba-tiba kewanitaan Tracy memberikan pijatan-pijatan lembut. My bro. yang masih dalam suasana recovey sangat terkejut dengan serangan ini. Pertahananku terasa semakin retak, dan dengan cepat dan cekat aku membalikkan posisi tubuhku dan Tracy. My bro. aku tarik dari medan pertempuran dan segera kuberikan perlakuan khusus. Dengan bermodal jari tangan telunjuk dan tengah kedua tangan, aku memberikan tekanan mendadak di bagian bawah my bro. Untungnya Tracy agak kaget dan bingung menatap kelakuanku. Hal ini memudahkan konsentrasiku dan sirkulasi udara yang kulakukan... Damn!!! Hampir saja. Setelah aku cukup pulih, aku kembali mendekati mereka. Tracy dan Boni hanya tersenyum-senyum sendiri. "Loe tu yeaa...", sahutku ke Tracy. "Tuch cepetan, non!", jawab Tracy ke arah cewek itu. Aku menarik kedua kaki ramping Boni. Ingin rasanya mencium bibir Tracy, tapi sayangnya aku masih enggan merasakan aromanya my. bro. Sorry bro... hehehehhe. Aku menuju puting Tracy dan menjentik-jentikkan jariku perlahan. Boni tampaknya penasaran dan tangannya menggenggam my bro. Rupanya Boni ingin menjajal kemampuan tarung milikku. Dengan sengaja tangan Boni menarik keras my bro. memasuki kewanitaannya yamg masih basah dan hangat. Aku meringis tertahan dan mencoba menenangkan diri sesaat melawan kekenyalan dan pijatan lembut yang menerpa. Aku biarkan my bro. melakukan penyerangan dengan disertai dorongan-dorongan yang terorganisir dengan baik. Tracy tidak ingin menjadi penonton, dan dia mulai menjilati kedua bukit indah Boni. Stimulus ini menjadi sempurna pada saat tangan kananku mulai menjelajah kembali kewanitaan Tracy. Kami saling menyentuh, meraba, dan menggaruk. Suara-suara tertahan kenikmatan kami memenuhi ruangan. Dan kami akhiri masing-masing dengan senyuman kepuasan pada perbedaan hitungan detik yang saling berdekatan. Kami berbaringan bersama untuk menormalkan kembali tubuh kami. Setelah keringat digantikan perasaan menggigil, aku beranjak bangun dan kembali mengenakan pakaianku. Dengan ditemani cahaya bulan, aku memunguti pakaianku yang sudah terlempar kesana kemari oleh Tracy. "Thanks for the moment", sahut Tracy sambil memeluk Boni yang tersenyum sebelum aku menutup pintu. Aku tersenyum kembali ke mereka. Ingin rasanya aku menutup pintu kembali dan melompat ke tempat tidur. Tapi aku segera teringat Tina. Ke mana dia?, membangkitkan rasa was-wasku. Aku kembali ke lantai bawah dan menemukan ruangan-ruangan yang lebih ramai dari sebelumnya. Aku lihat jam dinding, dan sebentar lagi jam satu. Karena sudah lelah, aku berniat langsung pulang saja. Aku berharap Tina sudah pulang

42

duluan dan mungkin dia berharap aku bisa menumpang dengan mobil lainnya. @#$%^&! Aku menyelinap keluar rumah sambil menghindari orang-orang yang mungkin mengenaliku. Setelah beberapa meter, aku melihat mobil yang membawaku ke tempat ini masih ada tapi kok parkirnya pindah? Dengan degup jantung berdebar aku berlari mendekat dan melihat Tina terbaring di kursi belakang. Aku coba membuka pintu tapi terkunci. Dengan agak panik, aku mengetuk-ngetuk kaca dan mata Tina terbuka perlahan. Ohhh... melihat kondisi pakaian Tina, aku yakin tidak ada moment apapun yang membukanya secara sengaja. "Loe kemana aja sich?", tanya Tina dengan aroma alkohol yang kuat." Aku hanya diam saja tidak menanggapi gadis mabuk di depanku. "Pulang yea?", tanyaku ke Tina. "Loe yang nyetir yea?" sahut Tina. "Ya iyalahhhh. Jelas-jelas udach nggak fokus gitu." Aku bantu Tina duduk di kursi depan dan memakaikannya seat belt. Aku masih teringat pernah mengantar temanku yang mabuk berat ke rumahnya. Pada perempatan jalan, aku mengerem mendadak menghindari mobil lainnya. Hasilnya, kepala temanku itu terantuk dashboard dengan sukses... hehehehhehe. Dan besok paginya, temanku bingung kenapa dahinya lebam... hahahah. EPILOG Beberapa kali aku harus membetulkan seat belt Tina yang agak sadar. Dan beberapa kali pula aku harus berurusan dengan dadanya yang empuk dan liat itu. Mungkin kalau tidak ada moment nikmat sebelumnya, aku bisa tidak tahan melihat kondisi Tina. Aku harus membantunya berjalan menuju kamar kostnya. Malam itu kami tidur dengan celana pendek dan hanya berbagi satu selimut bersama. Kami hanya tidur nyenyak dan bangun besok paginya dengan agak pusing. Mungkin aku bodoh mendapatkan kesempatan nikmat lainnya, tapi tidak menggunakannya. Tapi prinsipku jelas, jika hanya sebagian saja yang menikmati persetubuhan, sama saja perkosaan namanya. Persetubuhan yang ideal merupakan aktifitas kenikmatan bersama. Walau ada bukti bahwa kadar alkohol bisa mempengaruhi nafsu seksual seseorang, aku tetap ingin melakukannya pada kondisi tubuh dan kesadaran yang sama. Kalau lagi mabuk dua-duanya, itu sich lain cerita...hehehehehhe. Maybe next time... Honey! 26 Dipantai Pasir Putih Cerita ini berawal ketika teman kantorku Agung meminta tolong kepadaku untuk menengok rumah peristirahatannya di salah satu pulau kecil di Kepulauan Seribu. "Joe, gue mau ke State besok. Tolong tengokin cottage gue

43

ya? Soalnya gue mo lama disana", pintanya kepadaku. Pikirku lumayan bisa vacation di pulau so ku ajak saja istriku menginap disana selama 1 malam. Dengan menggunakan kapal boat milikku, kamipun berangkat dari pantai Marina, Ancol. Kini, aku sudah berada di sana sekarang. Dengan bercelana renang speedo warna biru muda kunikmati deburan ombak dan suasana pantai yang masih bersih ini. Berenang di suatu pantai pulau yang tak berpenghuni dan ditemani oleh istri tercinta adalah pengalaman yang baru buatku. Bikini warna kuning yang membalut tubuhnya membuat dirinya tampak seksi dengan kedua puting yang menonjol ke depan. Setelah puas berendam, kuhampiri istriku yang sejak tadi telah keluar dari air laut. Kupeluk dirinya dari belakang dengan kedua tangan. Kulit perutnya yang putih kini terlindungi oleh kedua tanganku yang coklat dari sinar matahari. Kurapatkan badanku mendekapnya erat. Tangan kananku mulai iseng menyelinap kedalam celana renangnya. Tanpa ada perlawanan kini tanganku telah sibuk bermain disekitar belahan vaginanya sambil memandang lepas kearah laut. "Pa, berenang lagi yuk sebelum airnya pasang", ajak istriku. Kamipun masuk kembali kedalam air laut. Sesampainya ditengah laut, kedua tangannya melingkar erat pada leherku. "Pa, takut dalam banget nih kakiku udah ngak nyentuh dasar lagi", katanya dengan wajah sedikit takut. "Ngak pa pa kok, kan ada papa", balasku sambil tetap menggerakkan kaki dan tangan. Kedua kakinya begitu kuat mencengkram pinggangku. Terasa bagian depan vaginanya menggesek-gesek kontolku akibat gerakan trapping dari kakiku. Payudaranya yang kenyal terasa menekan membuat dadaku terasa sesak. Akupun berbalik arah menuju ke pinggir pantai. Walaupun telapak kakiku kini telah menyentuh dasar pantai, dia tetap tidak mau melepaskan gendongannya dari tubuhku. Tangan kananku kemudian dengan cepat membuka penutup dadanya yang hanya diikatkan oleh tali di belakang punggung. "Ma, buka aja ya biar lebih alami", kataku yang kini telah berhasil pula melucuti celana dalamnya. Tanpa pikir panjang, kutarik permukaan depan speedoku ke bawah sampai dasar kantong spermaku sehingga tampak kontolku yang telah tegang dan mengeras. Kuikatkan penutup dada miliknya di leher dan tidak lupa mengalungkan celana dalamnya di bahu mengelilingi ketek kananku. Kutuntun batang kemaluanku

44

ini dengan tangan kanan masuk kedalam lubang vaginanya, jleeeb . terasa topi bajaku menyentuh mulut rahimnya. Kubawa istriku sampai di pinggir pantai dengan memposisikan kontolku tetap berada didalam lubang vaginanya. Setelah kubaringkan dirinya, kumainkan pantat dan pinggang dengan gerakan menekan, menggoyang dan memutar untuk mengocok vaginanya yang sempit dan rapat. Lidahku menjelajahi seluruh bagian mulutnya. Istriku dengan sigap membalasnya dalam pertempuran "rujak bibir". Dengan posisi "misionary" kuangkat sedikit pangkal pahanya sehingga gerakanku menjadi lebih bebas dan mantap saat kontolku terbenam didalam lubang vaginanya. Secara bergantian kunikmati bibir, leher, dan payudaranya tanpa melupakan kedua puting susunya yang coklat muda sampai lancip mengeras akibat gigitan dari gigiku yang buas. "Pa, geli ah kumis papa tuh tajem nusuk-nusuk kulit mama", jerit istriku sambil menarik rambutku tetapi kemudian melepaskannya karena kuyakin dia telah terangsang akibat jilatan lidahku. Kutarik celana renangku sampai ke bawah sehingga terhempas oleh deburan ombak. Ombak yang datang, membasahi pantatku yang sedang sibuk memompa vaginanya. Teraba pasir putih menempel di punggungku saat kami bergulingan di pantai menikmati permainan seks yang dasyat ini. Sampai pada suatu saat, aku tak kuasa lagi menahan keluarnya air pejuku yang sejak tadi kurasakan telah berada di saluran batang kemaluan untuk minta disemprotkan kedalam vagina istriku. Cairan yang keluar dari dinding vaginanya membuat batang kemaluanku terasa lebih mudah untuk keluar masuk didalamnya akibat terlumasi oleh cairan tersebut yang basah dan licin. Crot crot croot, tumpahlah air pejuku membasahi permukaan dalam vaginanya. Setelah itu, kamipun berbaring berdua sambil bertelanjang bulat di pinggir pantai sambil memandang kearah langit dan mensyukuri kenikmatan seks yang telah kami rasakan bersama tadi. Begitulah cerita singkat pengalamanku bersama istri di sebuah pantai pasir putih suatu pulau tak berpenghuni di Kepulauan Seribu. Apabila ada diantara pembaca yang ingin bertukar cerita mengenai pengalamannya atau memberikan kritik dan saran terhadap tulisan singkat ini, kontak aja Joe (di tunggu)

45

27 Di Restoran Sea food Hari ini panas sekali. Aku merasa agak BT (= Birahi Tinggi) dan sedang ngelamun jorok beberapa menit. Lalu aku telepon temanku, Anna yang baru aku kenal tiga bulan. Aku masih ingat dia pertama kali: orangnya berani, mandiri, cantik dan tidak sombong. Dia suka mode dan musik Jazz Fusion. Kebetulan dia ada di rumah dan sehabis bicara basa-basi beberapa menit, aku tanya Anna, apa dia ada waktu untuk makan malam berdua hari ini. Anna menjawab: "Bagus, boleh aja!" Kita janji di restoran "Intan Marina" jam 19.00 Sehabis telepon Anna, aku pesan tempat duduk yang intim di restoran itu, supaya kita bisa enak makan dan bicara. Ternyata, tempatnya masih ada. Pada jam 18.50 aku tiba di restoran Intan Marina dan Anna datang kirakira 5 menit kemudian. Wah, aku kagum lihat Anna: dia tambah cantik dan sensual! Dia pakai blus, rok dan sepatu gaya Itali. Tasnya pas sama pakaiannya. Hatiku senang sekali melihat dia lagi. Dia orangnya "trendy woman". Kita saling menyambut dengan pelukan dan ciuman yang mesra di pipi. Anna juga kagum melihat aku: "Woow, penampilanmu hebat, Michael! Kamu sedikit berotot", katanya. Aku menjadi sedikit malu sambil senyum lebar. Pelayan restoran menyambut kami dengan senyum yang ramah dan agak nakal, kayaknya dia sudah tahu apa yang akan terjadi nanti. Restorannya lumayan besar, ada AC dan kami diantar ke ruang makan privat yang besar dan sejuk di lantai dua, dekat pintu darurat. Sesudah kita lihat daftar makanan, kita pesan: satu porsi ikan tiram, ikan gurami goreng saos Inggris, nasi goreng dan cah brokoli pakai saos tiram. Minumannya: anggur putih Perancis untuk Anna dan anggur merah Lambrusco dari Itali. Sambil menunggu makanan datang, Anna pergi ke toalet. Sesudah kirakira 10 menit dia kembali dengan wajah yang nakal, bibirnya dilapiskan ekstra dengan lipstick merah yang norak dan rambutnya disanggul. Aku sambut dia juga dengan senyum yang nakal. Kita saling mencium di pipi dan bau perfumenya enak sekali. Anna melihat aku dengan mata yang sensual sambil main dengan lidahnya, kayaknya dia mau bilang: "I want you as my dinner, darling!" Pada saat itu juga aku tidak bisa bilang apa-apa, kecuali terima seluruh penampilannya saja. Sesudah kira-kira 20 menit pelanyan restoran mengantar makanan kami dan waktu dia sudah selesai membagi makanan itu, dia berkata sambil senyum lebar: "Selamat makan dan nikmatilah kehidupan ini!". Kita serentak bilang: "Terima kasih, Pak!" Anna mulai ambil satu biji ikan tiram, lalu mendekatkan ini ke

46

mulutnya. Selama beberapa detik ujung lidahnya menjilat dan mengulum ikan tiram itu seperti dia main dengan burungnya orang lelaki dan telan seluruh ikan itu sambil main mata dengan aku. Hatiku berdebar, mataku melotot dan burungku setengah bangun dari tidurnya. Sehabis itu, Anna ambil seteguk dari gelas anggur ptuihnya dan satu jari telunjuknya dicelupkan ke dalam gelasnya. Dia taruh jari itu di ujung lidahnya. Terus, dia isap jarinya secara sensual. Aku tidak tahan lagi melihat permainannya dan menuju ke Anna. Aku ambil jari itu dari mulutnya dan dengan lidahku aku main dengan lidahnya yang rasa manis. Aku mengulum lidahnya dan Anna mengerang seksi. Sesudah beberapa detik, aku berhenti dan ambil sebiji ikan tiram, tapi Anna tidak sabar dan dorong kepalaku ke buah dadanya. "Tolong jilat puting susuku", katanya dengan suaru yang sedikit serak. Aku bilang: "Sabar dulu, dong, sayang. Nanti ikannya menjadi dingin, nih!" Buah dadanya cukup besar (cup C) dan halus. Anna berbisik di telingaku: "Aaah, aku ndak sabar menunggu lagi, sayang. Aku sudah menjadi basah di bawah ini. Rasakan aja dengan jarimu." Memang bener, celana dalamnya sudah basah dan aku sentuh memeknya (bulunya banyak): basah kuyup). aku pikir, ehm,...inilah saatnya untuk membuat dia lebih gatal lagi. Pokoknya, Atas Bawah Gatal! Terus, aku memisahkan bulu-bulunya dan menjilat memeknya secara halus dan pelan-pelan, mulai dari itulnya sampai ke bawah dan ke atas lagi. Rasa memeknya enak: manis seperti buah kelengkeng. Aku dengar suara Anna yang makin lama makin serak. Tiba-tiba dia berteriak dan berkata: "oooh, Michael, jangan berhenti, teruskan aja, hmmmm, enaaak caranya begitu, hmmmm, oooh,....aku gatal sekali nih!" Dia tarik kedua kakinya ke arah dadanya dan aku mulai lepaskan celana dalamnya. Aku lihat lobang pantatnya yang bersih dan agak mekar, ada banyak bulu di sekitarnya. Terus, aku menjilat lobang pantatnya. Rasanya seperti kue bakpao. Sambil jilat aku membuat kesimpulan: "Wooow, jangan-jangan dia sudah beberapa kali diajak main a la Yunani!!" Aku majukan pertanyaan yang lugas: "kamu pernah pergi ke negeri Yunani?" Anna berkata dengan suara yang lembut, sambil menyentuh memeknya dengan tangan kirinya: "oooh ya, sayang, aku sudah beberapa kali pergi ke negeri Dewa dan Dewi itu. Hmmmmm, enak main-main al la Yunani yang kuno! Kamu orangnya pinter ya, Michael. Kamu suka mempelajari pantat cewek?" Aku jawab secara jujur dan lugas: "Iya, bener, aku suka pantat cewekcewek!" Tiba-tiba terdengar suara dari perutku yang tandanya aku lapar. Terus, aku usulkan: "Eh, Anna, aku jadi laper, nih. Ayo, kita lanjutkan makanannya lagi, supaya dapat tenaga untuk permainan kita selanjutnya." Anna sedikit kecewa, sebab diinterupsi, tapi dia setuju

47

dengan usulku. Ternyata dia juga lapar sekali. Sehabis makan, aku pergi ke toalet dan Anna tanya, apa aku perlu ditemani. Aku bilang sambil senyum: "Tunggu sebentar, ya sayang? Jangan kuatir, aku cepet kembali lagi." "Ya, ya, cepetan aja ya, sebab aku ndak tahan lagi, euy! Sudah dua minggu aku ndak diajak main. Aku pesan buah-buahan, ya?", katanya. "Boleh aja, buah-buahan juga diajak main bersama kita nanti", aku jawab. Di toalet aku sedang buang air kecil sambil ambil nafas yang dalam. Burungku sudah kembali setengah tidur lagi dan aku merasa suatu nafsu yang besar untuk ngentot Anna. Sehabis ini, aku menuju ke wastafel untuk mencuci tanganku. Aku lihat wajahku di cermin: gembira dan agak merah. Terus, aku bilang kepada diriku sendiri: "Cool, si Anna ini bener-bener perlu ditangani secara baik, sebab sudah rasa gatal total!". Lalu aku keringkan tangan basahku dan lihat di sekitar ruang toalet. Aku menemukan sebuah mesin kondom. Hatiku gembira: "nah, ini dia, temanku yang dicari!" Aku masukkan uang logam ke dalam mesin itu dan tarik pada tombol di bawah. Lalu, ada dua biji kondom merek Durex yang keluar. aku kembali ke ruang makan privat kita lagi. Di situ aku kaget lihat Anna dengan pantatnya menuju ke arah pintu masuk dan sedang main dengan dildo di dalam memeknya. Sekarang pantatnya kelihatan lebar dan sedang bergoyang. Aku ambil nafas dan elus-elus pantatnya. Kemudian, aku jilat pantat dan lobang pantatnya sampai dia mengerang. "Yaaauw, ya, Michael, tolong ambil dildo yang kecil dari tasku", perintahnya. aku ambil tasnya dan cari di dalamnya. Lantas, aku temukan sebuah dildo yang kecil (warnanya kuning langsat), yang sering dipakai untuk melebarkan lobang pantat. Tiba-tiba ada orang yang ketuk pintu ruang makan kita. Aku tanya dengan hati yang jengkel: "ya,..., siapa itu??" "Maaf ya, saya ganggu Pak, saya pelayan restoran dengan mengantar buah-buahan", kata pelayan restoran. "Tunggu sebentar, ya!", aku jawab. Anna keluarkan dildo dari memeknya dan kembali duduk di kursi tanpa pakai celana dalam, sedangkan aku simpan dildo kecil di dalam kantong kemejaku. Lalu, aku buka pintu dan pelayan restoran masuk. Dia taruh buah-buahan yang sudah dikupas di atas meja makan dan sekaligus dia meringkas meja makan. Dia minta maaf sekali lagi pada kami. Sesudah dia pergi, aku mengamati wajah Anna yang kelihatan lapar seks sekali. Kemudian, Anna mencopot rok dan blusnya dan memandang aku dengan badan yang telanjang total. Terus, dia menuju ke arahku. Dia memeluk dan cium cupang aku. Aku tarik dia dari ciuman itu dan antar dia ke meja

48

makan, suruh dia berbaring di atas meja itu. Anna sempat melepaskan kancing kemejaku dan aku copot celana panjang termasuk celana dalamku. Dalam sekejap waktu aku juga telanjang total. Terus, Anna ambil sepotong buah mangga dan sekerat buah jeruk manis. Kedua-duanya diperas di atas burungku. Aku merasakan dinginnya sari kedua buah itu. Lalu, dia jilat burungku dan emut pelirku juga. jilatannya terasa enak dan lembut sekali. Aku ambil nafas yang dalam sambil bilang dengan suara yang serak: "cool, Anna, sedap sekali!" Tiba-tiba Anna berhenti dan ambil dildo yang kecil tadi dari kantong kemejaku, kasih itu ke aku, lau putar badannya dengan punggungnya ke arahku. Dia perintah: "tolong masukkan dildo kecil itu ke dalam lobang pantatku tanpa disemir". Aku pikir: "ya, kenapa tidak, tambah kelihatan erotis." Anna ndak sabaran lagi: "Ayo, cepet dong!" Aku masukkan dildo itu ke dalam lobang pantatnya secara bertahap dan Anna berteriak seperti macan betina. Aku main-main dengan dildo kecil: keluar-masuk, keluar-masuk sampai Anna menjadi buas. Dia putar badannya ke arahku lagi, jilat burungku lagi dan kali ini secara rakus. Sementara waktu, aku harus jaga diri, supaya burungku ndak akan meledak terlalu cepet. Jadi, aku tarik rambut Anna dan dia mengerti. Anna tanya, apa aku bawa kondom. Terus, aku keluarkan kondom dari kantong celana panjangku dan buka bungkusan kondom itu dengan gigi depanku. Lalu, aku ambil kondom itu dan pasangnya itu di burungku yang sedang berdiri kencang: maju tak gentar! Kali ini, aku disuruh berbaring di atas meja makan dan Anna naik ke atas meja itu. Lantas, dia jongkok dan memasukkan kontolku ke dalam memeknya. Melalui kondom itu aku bisa rasakan betapa hangat dan basah memeknya Anna. Dia mulai pompa aku dan aku bilang: "tolong pelan-pelan aja dulu!". Aku meraba kedua buah dadanya sambil menjilat puting susunya. Kedua tanganku turun sampai ke pinggang dan pinggulnya. Lantas ke arah pantatnya sampai ketemu dildo kecil yang masih ada di dalam duburnya. Aku angkat Anna dan putar dia, sehingga aku memasukkan kontolku dari belakang ke dalam memeknya. Pompaanku seirama dengan dorongannya ke belakang. Aku main-main dengan dildonya: masuk-keluar, masukkeluar,.... Anna menjadi buas dan seluruh badannya keringatan. Lalu, aku tarik dildo kecil itu dari dubur Anna dan aku masukkan kontolku (yang masih diselimuti oleh kondom) ke dalam lobang pantat Anna secara pelan-pelan, supaya dia ndak kesakitan. Dia mengerang sampai terengah-terengah. Aku keringatan luar biasa. Aku bilang ke diriku: "jangan semprot sekarang, jangan semprot sekarang!" Beberapa saat kemudian, aku ndak tahan lagi pompa dan bisik ke Anna, kontolku mau meledak. Anna berteriak: "tolong semprotkan air manimu di wajahku."

49

Pada saat itu juga aku tarik kontolku dari lobang pantatnya sambil Anna cepat putar badannya dan jongkok di depan aku. Aku copot kondomku dan semprotkan spermaku (yang berwana kuning langsat) di wajah dan mulut Anna sambil teriak keras. Dia telan spermaku dan menjilat kontolku bersih sampai tetesan yang terakhir. Aku getar sekaligus merasa lega dan puas. "Terima kasih. Enak sekali, Michael. Cool maaan!! Kamu tahu bener gimana caranya menggairahkan seorang wanita. Tak anjurkan juga ke teman-teman perempuanku yang lain", kata Anna dan dia mencium aku di mulutku. Lalu, dia pergi ke toalet. Aku minum dari gelas anggur merahku dan pakai pakaian, terus juga pergi ke toalet. Sesudah kira-kira 10 menit aku kembali ke ruang makan dan lihat Anna di situ sambil minum anggur putihnya. Penampilannya sudah rapi kembali, tapi masih senyum nakal ke aku. Lantas kita memutuskan untuk membayar dan pergi ke Hardrock Cafe. Sesudah membayar kita keluar dari restoran Intan Marina. Aha,...sudah agak sejuk di luar. Bagus, bagus! Aku puas hati sekali. Dan Anna,....oooh dia remas kontolku sambil kita jalan kaki ke mobilku. Ternyata Anna masih mau lagi,...wooow, wooow...! 28 Dina Adek Gue 1 Nama gua Iwan (nama samaran). Gua tuh udah kuliah semester dua di ... gak usah gua sebutlah PTN-nya, yg penting ada di Bandung. Gua tinggal masih bareng ortu dan adek gua yang masih SMP, Dina namanya (juga samaran). Bonyok gua dua-duanya kerja. Jadi rumah sering tinggal adek gua dan gua aja, ama pembantu. Pada waktu sore rumah sedang kosong; bonyok lagi pergi dan kebetulan pembantu juga lagi nggak ada. Adek gua lagi pergi. Gua nyewa VCD bokep xxx dan x2. Gua seneng bgt, karena gak gangguan pas lagi nonton. Cerita x2 di VCD itu kebetulan bercerita tentang sex antara adek dan kakak. Gila bgt deh adegannya. Gua pikir kok bisa ya. Eh, gua berani gak ya ngelakuin itu ama adek gua yang masih SMP? tapi khan adek gua masih polos bgt, kalo di film ini mah udah jago and pro, pikir gua dalam hati. Lagi nonton plus mikir gimana caranya ngelakuin ama adek gua, eh, bel bunyi. Wah, teryata adek gua, si Dina ama temennya dateng. Sial, mana filmnya belum selesai lagi. Langsung gua simpen aja tuh VCD, trus gua bukain pintu. Dina ama temennya masuk. Eh, temennya manis juga lho. "Dari mana lo?" tanya gua. "Dari jalan donk. Emang kaya kakak, ngedekem mulu di rumah," jawabnya sambil manyun.

50

"Gua juga sering jalan tau, emang elo doank. Cuman sekarang lagi males," kata gua. "Oh iya, kak. Kenalin nih temen gua, namanya Anti. temen sekelas gua," katanya. akhirnya gua kenalan ama tuh anak. Tiba-tiba si Dina nanya, "liat VCD Boyzone gua gak?" "Tau', cari aja di laci," kata gua. Eh, dia ngebuka tempat gua naro VCD bokep. Gua langsung gelagapan. "Eh, bukan disitu..." kata gua panik. "Kali aja ada," katanya. Telat. Belum sempet gua tahan dia udah ngeliat VCD xxx yang covernya lumayan hot itu, kalo yang x2 sih gak pake gambar. "Idih... kak. Kok nonton film kaya begini?" katanya sambil mandang jijik ke VCD itu. Temennya sih senyam-senyum aja. "Enggak kok, gua tadi dititipin ama temen gua," jawab gua bohong. "Bohong bgt. Ngapain juga kalo dititipin nyasar ampe di laci ini," katanya. "Kak, ini film jorok kan? Nnnggg... kaya apa sih?" tanyanya lagi. Gua ketawa aja dalam hati. Radi jijik, kok sekarang malah penasaran. "Elo mo nonton juga?" tanya gua. "Mmmmm.... jijik sih... tapi... penasaran kak...," katanya sambil malu-malu. "Anti, elo mo nonton juga gak?" tanyanya ke temannya. "Gua mah asyik aja. Lagian gua udah pernah kok nonton film kaya begitu" jawab temannya. "Gimana... jadi nggak? keburu mama ama papa pulang nih," desakku. "Ayo deh. Tapi kalo gua jijik, dimatiin ya?" katanya. "Enak aja lo, elo kabur aja ke kamar," jawab gua. Lalu VCD itu gua nyalain. Jreeeeng... dimulailah film tsb. Gua nontonnya sambil sesekali mandangin adek gua ama temennya. Si Anti sih keliatannya tenang nontonnya, udah expert kali ya? Kalo adek gua keliatan bgt baru pertama kali nonton film kaya begitu. Dia keliatan takut-takut. Apalagi pas adegan rudalnya cowo diisep. Mana tuh rudal gedenya minta ampun. "Ih, jijik bgt..." kata Dina. Pas adegan ML kayanya si Dina udah gak tahan. Dia langsung kabur ke kamar. "Yeee, malah kabur," kata Anti. "Elo masih mo nonton gak?" tanya gua ke si Anti. "Ya, terus aja," jawabnya. Wah, boleh juga nih anak. Kayanya, bisa nih gua main ama dia. Tapi kalo dia marah gimana? pikir gua dalem hati. Ah, gak apa-apa kok. Gak sampe ML ini. Sambil nonton, gua duduknya ngedeket ama dia. Dia masih

51

terus serius nonton. Lalu gua coba pegang tangannya. Pertama dia kaget tapi dia nggak berusaha ngelepas tangannya dari tangan gua. Kesempatan besar, pikir gua. Gua elus aja lehernya. Dia malah memejamkan matanya. Kayanya dia menikmatin bgt. Wow, tampangnya itu lho... manis!! Gua jadi pengan nekat. Waktu dia masih merem, gua deketin bibir gua ke bibir dia. Akhirnya bersentuhanlah bibir kita. Karena mungkin emang udah jago, si Anti malah ngajakin french kiss. Lidah dia masuk ke mulut gua dan bermain-main di dalem mulut. Sial, jagoan dia daripada gua. Masa gua dikalahin ama anak SMP sih. Sambil kita berfrench kiss, gua berusaha masukkin tangan gua ke balik bajunya. Nyari sebongkah buah dada imut. Ukuran toketnya gak begitu gede, tapi kayanya sih sexy. Soalnya badan si Anti itu gak gede tapi gak kurus, dan tubuhnya itu putih. Begitu ketemu toketnya, langsung gua pegang dan gua raba-raba. Tapi masih terbungkus ama bra-nya. "Baju elo gua buka ya?" tanya gua. Dia ngangguk aja sambil mengangkat tangannya ke atas. Gua buka bajunya. Sekarang dia tinggal pake bra warna pink dan celana panjang yang masih dipake. Shit!! kata gua dalem hati. Mulus bgt! Gua buka aja bra-nya. toketnya bagus, runcing dan putingnya berwarna pink. Langsung gua jilatin toketnya... dia mendesah... Gua jadi makin terangsang. Gua jadi pengan ngentotin dia. Tapi gua belom pernah ML jadi gua gak berani. Tapi kalo sekitar dada aja sih gua lumayan tau. Gimana ya? Tiba-tiba pas gua lagi ngejilatin toketnya si Anti, adik gua keluar dari kamar. Kita sama-sama kaget. Dia kaget ngeliat apa yang kakak dan temennya perbuat. Gua dan Anti kaget pas ngeliat Dina keluar dari kamar. Si Anti buru-buru pake bra dan bajunya lagi. Si Dina langsung masuk ke kamarnya lagi. Kayanya dia shock ngeliat apa yang kita berdua lakuin. Si Anti langsung pamit mo pulang. "Bilang ama Dina ya.... sorry," kata Anti. "Gak apa-apa kok," jawab gua. Akhirnya dia pulang. gua ketok kamarnya Dina. Gua pengen ngejelasin. Eh, dianya diem aja. Masih kaget kali ya, pikir gua. Gua tidur aja, dan ternyata gua ketiduran ampe malem. Pas kebangun, gua gak bisa tidur lagi. Gua keluar kamar. Nonton tv ah, pikir gua. Pas sampe di depan TV ternyata adek gua lagi tidur di kursi depan TV. Pasti ketiduran lagi nih anak, kata gua dalam hati. Gara-gara ngeliat dia tidur dengan agak "terbuka" tiba-tiba gua jadi keinget ama film x2 yang belom selesai gua tonton, yang ceritanya tentang hubungan sex antara adek dan kakak, ditambah hasrat gua yang gak kesampaian pas sama Anti tadi. Ketika adek gua ngegerakin kakinya membuat roknya tersingkap, dan terlihatlah CD-nya. Begitu ngeliat cd nya gua jadi semakin nafsu. Tapi

52

gua takut. Ini kan adek gua sendiri masa gua entotin sih. Tapi dorongan nafsu semakin menggila. Ah, gua pelorotin aja cdnya. Eh, ntar kalo dia bangun gimana? ah, cuek aja. Begitu CD-nya turun semua, wow, belahan vaginanya terlihat masih amat rapet dan di hiasi bulu-bulu halus yang baru tumbuh. Gua coba sentuh... hmmm, halus sekali. Gua sentuh garis vagina-nya. Tiba-tiba dia menggumam. Gua jadi kaget. Gua ngerasa di ruang TV terlalu terbuka. Gua rapiin lagi pakaian adek gua, truss gua gendong ke kamarnya dia. Sampe di kamar dia... it's show time, pikir gua. Gua tidurin dia di kasurnya. Gua bukain bajunya. Ternyata dia gak pake bra. Wah, payah juga nih adek gua. Ntar kalo toketnya jadi turun gimana. Begitu bajunya kebuka, toket mungilnya menyembul. Ih, lucu bentuknya. Masih kecil toketnya tapi lumayan ada. Gua coba isep putingnya... hmmm.... nikmat! Toket dan putingnya begitu lembut. Eh, tiba-tiba dia bangun!! "Kak... ngapain lo!!" teriaknya sambil mendorong gua. Gua kaget bgt. "Ngg... ngg... nggak kok, gua cuman pengen nerusin tadi pas sama si Anti. Gak papa kan?" jawab gua ketakutan. Gua berharap bonyok gua gak ngedenger teriakan adek gua yang agak keras tadi. Dia nangis. "Sorry ya Din. Gua salah, abis elo juga sih ngapain tidur di ruang TV dengan keadaan seperti itu. Gak pake bra lagi," kata gua. "Jangan bilang sama mama dan papa ya, please...," kata gua. Dia masih nangis. Akhirnya gua tinggalin dia. Aduh, gua takut ntar dia ngadu. Sejak saat itu gua kalo ketemu dia suka canggung. Kalo ngomong paling seadanya aja. Tapi gua masih penasaran. Gua masih pengen nyoba lagi untuk ngegituin Dina. Sampai pada suatu hari, adek gua lagi sendiri di kamar. Gua coba masuk. "Din, lagi ngapain elo," gua nyoba untuk beramah tamah. "Lagi dengerin kaset," jawabnya. "Yang waktu itu, elo masih marah ya...." tanya gua. "...." dia diem aja. "Sebenernya gua... gua... pengen nyoba lagi...." gila ya gua nekat bgt. Dia kaget dan pas dia mo ngomong sesuatu langsung gua deketin mukanya dan langsung gua cium bibirnya. "Mmhhpp... kakk.... mmmhph..." dia kaya mo ngomong sesuatu. Tapi akhirnya dia diem dan mengikuti permainan gua untuk ciuman. Sambil ciuman itu tangan gua mencoba meraba-raba toketnya dari luar. Pertama ngerasain toketnya diraba, dia menepis tangan gua. Tapi gua terus berusaha sambil tetap berciuman. Setelah beberapa menit berciuman sambil meraba-raba toket, gua mencoba membuka bajunya. Eh, kok dia langsung mau aja dibuka ya? Mungkin dia lagi merasakan kenikmatan yang

53

amat sangat dan pertama kali dirasakannya. Begitu dibuka, langsung gua buka bra-nya. Gua jilatin putingnya dan sambil mengusap dan mneremasremas toket yang satunya. Walaupun toket adek gua itu masih agak kecil, tapi dapat memberikan sensasi yang tak kalah dengan toket yang gede. Ketika lagi di isep-isep, dia mendesah, "Sshh... ssshhhh.... ahhh, enak, kak...." Setelah gua isepin, putingnya menjadi tegang dan agak keras. Truss gua buka celana gua dan gua keluarin "adek" gua yang udah lumayan tegang. Pas dia ngeliat, dia agak kaget. Soalnya dulu kita pernah mandi bareng pas "punya" gua masih kecil. Sekarang kan udah gede donk. Gua tanya ama dia, "berani untuk ngisep punya gua gak? ntar punya elo juga gua isepin deh, kita pake posisi 69" "69... apa'an tuh?" tanyanya. "Posisi di mana kita saling mengisap dan ngejilatin punyanya partner kita pada saat berhubungan." jelas gua. "Oooo..." Langsung gua ngebuka celana dia dan CDnya dia. Kita langsung ngambil posisi 69. Gua buka belahan vaginanya dan terlihatlah klentitnya seperti bentuk kacang di dalem vaginanya itu. Ketika gua sentuh pake lidah, dia mengerang, "Ahhhh... kakak nyentuh apanya sih kok enak bgt...." tanyanya. "Elo mestinya ngejilatin dan ngisep punya gua donk. Masa elo doank yang enak," kata gua. "Iya kak, abis takut dan geli sih..." jawabnya. "Jangan bayangin yang bukan-bukan dong. Bayangin aja keenakan elo," kata gua lagi. Saat itu juga dia langsung menjilat punya gua. Dia ngejilatin kepala anu gua dengan perlahan. Uuhhh.... enak bener. Truss dia mulai ngejilatin seluruh dari batang gua. Lalu dia masukkin punya gua ke mulutnya dan mulai menghisapnya. Ooohhhh.... gila bener. Dia ternyata berbakat. Isepannya ngebuat gua jadi hampir keluar. "Stop... eh, Din, stop dulu," kata gua. "lho knapa?" tanya nya. "Tahan dulu ntar gua keluar," jawab gua. "Lho emang kenapa kalo keluar?" tanyanya lagi. "Ntar game over," kata gua. Ternyata adek gua emang belom ngerti masalah seks. Bener-bener polos. Akhirnya jelasin kenapa kalo cowo udah keluar gak bisa terus pemainannya. Akhirnya dia mulai mengerti. Posisi kita udah gak 69 lagi, jadi gua aja yang bekerja. Kemudian gua terusin ngisepin vaginanya dan klentitnya. Dia terus menerus mendesah dang mengerang. "Kak Iwan... terus kak... disitu... iya disitu... oohhhhh.... ssshhhh...." Gua terus menghisap dan menjilatinya. Dia menjambak rambut gua. Sambil matanya merem melek. Akhirnya gua udah dalam kondisi fit lagi (tadi kan kondisinya udah mo

54

keluar). Gua tanya sama adek gua, "Elo berani ML gak?" "..." dia diem. "Gua pengen ML, tapi terserah elo... gua gak maksa," kata gua. "Sebenerya gua takut. Tapi udah kepalang tanggung nih.... gua lagi on air," kata dia. "Ok... jadi elo mau ya?" tanya gua lagi. "..." dia diem lagi. "Ya udah deh, kayanya elo mau," kata gua. "Tapi tahan sedikit. Nanti agak sakit awalnya. Soalnya elo baru pertama kali," kata gua. "..." dia diem aja sambil menatap kosong ke langit-langit. Gua buka kedua belah pahanya lebar-lebar. Keliatan bibir vaginanya yang masih sempit itu. Gua arahin ke lobang vagina nya. Begitu gua sentuhin pala anu gua ke vaginanya, Dina menarik nafas panjang, dan keliatan sedikit mengeluarkan air mata. "Tahan ya din...." Langsung gua dorong anu gua masuk ke dalem vaginanya. Tapi masih susah, soalnya masih sempit bgt. Gua terus nyoba mendorong anu gua... dan... bleesss... Masuk juga pala anu gua. Dina agak teriak, "akhhh sakit kak...." "Tahan ya Din..." kata gua. Gua terus mendorong agar masuk semua. Akhirnya masuk semua anu gua ke dalam selangkangan adek gua sendiri. "Ahhh... kak... sakit kak... ahhhh." Setelah masuk, langsung gua goyang maju mundur, keluar masuk vaginanya. "Ssshhh... sakittt kakk.... ahhh... enak... kak, terussss... goyang kakk..." Dia jadi mengerang tidak keruan. Setelah beberapa menit dengan posisi itu, kita ganti dengan posisi dog style. Dina gua suruh nungging dan gua masukkin ke vaginanya lewat belakang. Setelah masuk, terus gua genjot. Tapi dengan keadaan dog style itu ternyata Dina langsung mengalami orgasme. Terasa sekali otot-otot di dalam vaginanya itu seperti menarik anu gua untuk lebih masuk. "Ahhhhh... ahhha... gua lemess bgt... kak," rintihnya dan dia jatuh telungkup. Tapi gua belom orgasme. Jadi gua terusin aja. Gua balik badannya untuk tidur terlentang. Truss gua buka lagi belahan pahanya. Gua masukkin anu gua ke dalam vaginanya. Padahal dia udah kecapaian. "Kak, udah dong. Gua udah lemes..." pintanya. "Sebentar lagi ya..." jawab gua. Tapi setelah beberapa menit gua genjot, eh, dianya seger lagi. "kak, yang agak cepet lagi dong..." katanya. Gua percepat dorongan dan genjotan gua. "Ya... kaya... gitu dong... sssshh... ahhh.. uhuuh," desahannya makin maut aja. Sambil ngegenjot, tangan gua meraba-raba dan meremas

55

toketnya yang mungil itu. Tiba-tiba gua seakan mau meledak, ternyata gua mo orgasme. "Ahhh, Din gua mo keluar.... ahhh..." Ternyata saat yang bersamaan dia orgasme juga. Anu gua sperti dipijatpijat di dalem. Karena masih enak, gua ngeluarinnya di dalem vaginanya. Ntar gua suruh minum pil KB aja supaya gak hamil, pikir gua dalam hati. Setelah orgasme bareng itu gua cium bibirnya sebentar. Setelah itu gua dan dia akhirnya ketiduran dan masih dalam keadaan bugil dan berkeringat di kamar gara-gara kecapaian. Ketika bangun, gua denger dia lagi merintih sambil menangis. "Kak, gimana nih. Punya gua berdarah banyak," tangisnya. Gua liat ternyata di kasurnya ada bercak darah yang cukup banyak. Dan vaginanya agak sedikit melebar. Gua kaget ngeliatnya. Gimana nih jadinya? "Kak, gua udah gak perawan lagi ya?" tanyanya. "..." gua diem aja. Abis mo jawab apa. Gila... gua udah merenggut keperawanan adek gua sendiri. "Kak, punya gua gak apa-apakan?" tanyanya lagi. "Berdarah begini wajar untuk pertama kali," kata gua. Tiba-tiba, gara-gara ngeliat dia gak pake CD dan memperlihatkan vaginanya yang agak melebar itu ke gua, anu gua "On" lagi. Para pembaca yang terhormat kayanya cerita ini harus bersambung. Soalnya gua pengen tau reaksi para pembaca tentang cerita incest ini. kalo pengen kritik kirim aja ke: sex_mania@ceritaseru.org OK sekian dan tunggu kisah sambungannya. Ulasan Wiro: Alur cerita cukup bagus dan wajar. Setiap tokoh mempunyai kepribadian berbeda, yang berhasil digambarkan dengan baik oleh pengarang. Itulah sebabnya cerita ini menjadi hidup dan enak dibaca, walau dituturkan dalam gaya bahasa anak muda / amatir. Tapi bicara masalah pil KB (nama umum untuk kontrasepsi oral), anggapan Iwan keliru dan menyesatkan. Pil KB hanya efektif bila diminum secara teratur sebelum hubungan seks terjadi. Lagi pula diperlukan pemeriksaan medis (pemeriksaan riwayat kesehatan, tekanan darah, kadar kolesterol, diabetes, dll) sebelum diputuskan bahwa pil adalah alat kontrasepsi yang cocok. Dalam keadaan darurat seperti di atas, Dina dapat minum "morning-after pill" yang diberikan oleh dokter. Dina Adek Gue 2 Gua elus-elus aja vagina adek gua itu. Truss gua suruh dia tiduran lagi.

56

"Mo diapain lagi gua kak?" tanyanya. "Nggak, gua pengen liat apa punya elo baik-baik aja," kata gua sambil bohong, padahal gua pengen menikmati lagi. Pas dia tiduran, gua buka belahan vaginanya. Emang sih jadi lebih lebar dan masih ada sisa sedikit darah mengering. Gua cari klitorisnya, gua jilatin lagi. "Kak, jangan dong. Masih perih nih," larangnya. Yaaa... kok dia udah gak mau lagi. "Ya udah deh, kalo masih perih," kata gua. Gua bingung nih, gua masih pengen lagi, tapi adek gua udah keburu gak mau. Sakit banget kali ya, pertama kali begituan. Ya udah deh, gua ajak mandi bareng aja siapa tau kalo udah seger nanti dia mau lagi. "Kita mandi bareng aja yuk," pinta gua. "Ayo..." kata Dina. Kita mandi di kamar mandi adek gua. Gua idupin air shower yang anget. Wuihhh, nikmat banget pas kena air anget. Abis cape ML ama adek sendiri, mandi air anget. Di bawah pancuran shower, gua pertama-tama ngambil posisi berada di belakangnya. Truss gua mulai nyabunin belakang tubuhnya. Setelah belakangnya selesai semua, masih dalam posisi gua di belakangnya, gua mulai nyabunin bagian depannya, mulai dari perut ke atas. Pas sampe bagian toketnya gua sabunin, dia mulai menggelinjang dan mendesah lagi. Gua ciumin bagian belakang lehernya sambil terus nyiumin leher adek gua itu. Puting adek gua, gua pilinpilin pake ujung jempol dan ujung telunjuk. Eh, pada waktu gua nyabunin toket imutnya itu tangan dia menyentuh dan mulai meraba-meraba tubuh gua dan berusaha mencari punya gua. Begitu tersentuh punya gua langsung digenggam dan dipijat-pijat. Tangan gua yang satu lagi mulai bergerilya ke daerah selangkangannya. Dengan bermodalkan sabun, gua mulai nyabunin bagian vagina adek gua itu. Pertama, gua usap dari luar bibir vaginanya, lalu jari gua mulai mencoba masuk mencari klitorisnya. Adek gua tiba-tiba ngomong lagi tapi masih dalam keadaan kenikmatan karena masih gua ciumin lehernya dan putingnya gua pilin-pilin. "Kak, sshhh... Jangan dulu donk. Sshttss... ahhh..." erangnya. Ya udah, gua gosok-gosok aja dari luar. Ternyata belom lama setelah gua gosok-gosok itu ternyata adek gua orgasme. "Aahhh... ah..." dia merintih keenakan dan dia langsung lemas. Setelah dia orgasme itu, gua minta dia untuk memainkan anu gua pake tangannya. Dengan memakai sabun dia mengocok anu gua. Enak banget. Tangannya yang kecil itu menggenggam anu gua erat sekali. Akhirnya tak lama kemudian gua keluar juga. Selesai itu, kita langsung keluar kamar mandi. dan gua keluar dari kamarnya. --Setelah hari itu, gua agak sibuk dengan tugas-tugas kuliah gua sampe seminggu. Nah, pada suatu hari gua lagi lewat di depan kamar Dina. Eh,

57

kedengeran suara orang lagi mendesah-desah, tapi agak samar. Wah, lagi ngapain nih anak. Gua penasaran, kalo gua ketok pasti ntar udahan. Gua lewat belakang aja, soalnya ada jendela yang "cukup" untuk ngeliat ke dalem kamarnya, walaupun harus manjat. Gua panjat dinding, truss gua liat lewat jendela. Ternyata... Gua kaget banget. Gua kirain paling dia lagi masturbasi, taunya si Dina lagi di jilatin vaginanya ama si Anti (pembaca CCS inget kan si Anti yg dulu pernah hampir ML ama gua di seri 1). Masa adek gua lesbi sih. Gua masih gak abis pikir. Ya udah deh gua nikmatin aja deh. Gua liat si Anti masih pake rok seragam SMPnya, sedangkan dadanya udah kebuka dan toketnya yang runcing dan sexy itu kaya'nya makin sexy deh. Sedangkan si Dina udah bugil. Kacau juga nih anak-anak smp. Pulang sekolah langsung "maen". Si Dina masih terus mendesah, karena Anti menjilati vaginanya dengan sangat nafsu. Tangannya si Anti juga meremas-remas toket imutnya Dina, dan dia juga kadang kadang meremas toketnya sendiri. "Nggg.... Anti.... geliii banget. Aaahhh.... enak.. mmmhh.." terdengar sedikit desahannya Dina. Lagi asyik-asyiknya tiba-tiba gua inget ama janji ketemu temen gua untuk ngerjain tugas gua. Sial, kenapa gua bisa lupa ama tuh tugas. Ya udah, terpaksa gua tinggalin deh adegan lesbi ini. --Besok malemnya, pas si Dina lagi nonton TV, gua ngomong ama dia. "Ntar malem gua ngomong sesuatu ama elo. Jangan tidur dulu ya?" kata gua. "Ngomong sekarang aja knapa?" jawabnya. "Gua lagi ada tugas nih. Pokoknya tungguin ya!" kata gua lagi. Setelah tugas gua selesai, gua langsung ke kamar adek gua. gua ketok... "Din, udah tidur belom?" panggil gua agak perlahan supaya gak kedengeran bonyok gua. "Masuk aja kak, gak dikunci kok," jawabnya. "Hai, belom ngantuk kan?" kata gua. "Belom kok. Ada apa sih kak? Kok kayanya serius banget," kata dia. "Din, sorry. Kemaren gua... kemaren gua ngeliat elo," gua diem. Gua nggak enak ngomongnya, soalnya dia bisa marah karena gua intip. "Ngeliat apa kak?" tanyanya penasaran. "Nnggg... ngeliat elo 'maen' ama Anti kemaren di kamar elo," kata gua. Dina langsung keliatan kaget. Dia diem dan keliatan tegang. "Knapa sih Din, apa elo lesbi. Ups, sorry itu privasi elo sih. Gua nggak berhak nanya. Cuman gua penasaran aja," kata gua. Tiba-tiba dia ngeluarin air mata. "Abis... abis kak Iwan sibuk terus sih seminggu ini," jawabnya sambil

58

agak nangis. "Dina kan pengen lagi, kaya waktu itu. Abis enak..." jawabnya lagi. "Kok gak bilang aja ama gua?" kata gua. "Abis Dina malu. Malu minta ama kak Iwan. Terus, Dina curhat ke Anti. Eh, dia bilang, 'mo nyoba ama dia gak?'" terangnya. "Karena Dina pengen banget, ya udah Dina maen aja ama Anti. Tapi kayanya masih enakan... masih enakan maen ama kak Iwan," kata dia langsung nunduk sambil masih agak nangis. Gua sedih ngedengernya. Gua angkat mukanya supaya gak nunduk. Gua deketin mukanya perlahan, lalu gua deketin mulutnya dan gua cium bibirnya dengan perlahan supaya Dina menikmatinya. Dina langsung merespon dengan memainkan bibirnya di bibir gua. Lidah gua maen di dalem mulutnya. Tangan gua mulai membuka kancing piyamanya, lalu gua buka piyamanya sambil masih dalam keadaan berciuman. Gua raba perlahan-lahan toketnya yang masih imut itu dan masih terbungkus bra. Gua berciuman ama adek gua itu cukup lama juga. Gua buka branya. Adek gua masih dalam posisi keadaan duduk, gua isep toketnya mulai dari putingnya yang masih agak baru tumbuh tapi sexy itu dan terus gua jilatin memutari putingnya sampai ke seluruh permukaan toketnya. Sedangkan toket yang satu lagi gua pilin-pilin putingnya. Gua mau ngasih servis terbaik ke ade gua. Abis kasian dia udah pengan banget seminggu ini. Gua buka celana piyamanya. Dia tinggal memakai CD saja. gua buka CDnya. Terlihatlah vagina seorang anak SMP yang masih agak polos itu. Sudah mulai di tumbuhi rambut-rambut halus. Gua liat Vaginanya itu mulai basah. Kayanya dia lagi benar-benar terangsang. Gua buka belahan vaginanya. Gua jilatin sekitar clitorisnya. Dia bergoyang-goyang, menahan kenikmatan sambil agak menjambak rambut gua. Terasa asin ketika gua jilat cairan vaginanya. "Kak... terussss... kak... di situ.... enakkk... hhh..." desahnya agak keras. "Ssstt... jangan keras-keras donk. Udah malem nih," kata gua takut bonyok bangun. Bisa berabe nih. Suara dia jadi berisik sekali. Setelah agak lama mempetting dia di sekitar vaginanya, gua langsung ngeluarin anu gua. Anu gua sih gak perlu pake pemanasan lagi. "Doi" udah tegang! "Din, gua masukkin sekarang ya?" kata gua. Dina langsung tegak lurus mendongak ke atas. Gua segera mengatur posisi di atas tubuhnya di antara pahanya. Gua buka pahanya lebar-lebar sehingga selangkangannya betul-betul terbuka. Kali ini gua bisa melihat dengan jelas 'pintu'nya yang berupa celah dua bibir-bibir. Dengan dua tangan gua buka bibir vaginanya itu dan dapat kulihat celahnya itu tampak penuh cairan licin. Gua dorongkan saja pinggulku sehingga anu gua pas di depan lubang kenikmatannya. Dengan satu tangan gua menggesek-gesekkan kepalanya sehingga membuka bibirnya dan menyebabkan kepalanya pas berada di depan celah lubangnya

59

itu. Dengan satu sentakan perlahan aku dorongkan kepala anu gua memasukinya. "Kak.... nggghhhggg!" erangnya. Aku berdiam beberapa saat sampai lonjakan rasa nikmat tadi mereda perlahan-lahan. Aku merasakan bahwa beberapa tusukan akan bisa membuatku keluar dan aku nggak ingin meninggalkan dia dengan ketidaktuntasan. Kan gua mo ngasih servis yang bagus. Gua tahan sebentar, sambil gua pandangin wajah lugu adek gua yang sedang merem. Setelah itu gua mulai menggenjotnya. "Uuhhh... ssshhh... ahhh.." dia menggumam tidak jelas. Gua mempercepat gerakan gua maju mundur. "Kak... teruss kak...." dia terus mengerang. Setelah gua agak negrasa gua mo keluar, gua keluarin anu gua dari vagina adek. Untung ternyata gua belum sampai orgasme. Gua ganti gaya. Adek gua gua suruh tidur menyamping. Setelah itu gua angkat satu kakinya, dan gua masukkin lagi anu gua. "Ahhh... lagi kak... teeruss..." katanya. Gua goyang lagi. Ternyata dalam keadaan itu membuat dia dan juga gua orgasme. Kak... gua... mo... ke.. keluar nih... ahhhhhhhhhh..." dia mendesah panjang, tak lama dari orgasme dia, gua juga keluar dan gua ngeluarin sperma gua di dadanya. "Din, elo nggak nyoba jilat sperma gua?" tanya gua. "Geli ah," jawabnya. "Eh, coba deh..." Dia mengambil sperma gua dari dadanya dengan jarinya dan dia jilat. "Mmm... asin. Tapi kok enak ya?" jawabnya. Dia malah ketagihan. Dia malah menjilati sperma gua yang tumpah di dadanya. "Ok din, gua mo tidur. Tapi kalo elo mau maen lagi, jangan sungkan. Bilang aja ama gua," kata gua. "Iya deh, kak. Makasih ya!" jawabnya. --Begitulah ceritanya. Buat semua pembaca sorry banget ya, gua lagi liburan dan gak ada komputer jadi gua baru bisa nyelesain sekarang. Trus koment dari mas wiro ttg pil KB waktu itu, gua gak tau. Soalnya khan dari awal cerita gua udah ngasih tau itu tuh pengalaman temen deket gua, bukan pengalaman gua sendiri. Tapi dianya gak hamil kok. Mungkin emang lagi hoki tuh anak. ;p Oh, iya, sekedar informasi Dina itu kelas dua SMP (pada waktu cerita ini) soalnya ada yg nanyain. And ternyata, kata temen gua itu si Dina masih suka banget ama rasa spermanya dia. Lucu ya. Orang ketagihan sabu dia ketagihan sperma. Tapi lumayan lah. Gak perlu ngeluarin duit dapetin sprem. ;p Truss kalo ada yg gak suka ama cerita ini, kirim imel aja ke gua ntar gua maaf secara pribadi, and yang suka juga kirim imel ya. Ntar kita

60

sharing. 29 Dipaksa melayani bandot tengik 1 Krisis moneter rupanya telah meluluh lantakkan ekonomi bangsa.Semua orang tahu hal itu.Tetapi yang paling menderita adalah rakyat kecil.Hal ini juga menimpa keluarga saya.Sebelum krismon ,suami saya adalah seorang pengawas bangunan pada suatu perusahaan kontraktor.Tetapi begitu badai krismon mengamuk,robohlah seluruh bangunan ekonomi rumah tanggaku.Kenapa?.Karena kontraktor terbelit dengan hutang yang menggunung .Bank relasinya ambruk terkena likuiditas.Akibatnya kami sekeluarga harus pulang,meninggalkan rumah kontrakan perusahaan. Pulang ke desa,itulah keputusan yang tidak dapat dihindari.Anak-anak terpaksa berhenti sekolah.Untuk makan sehari-hari,suami terpaksa jadi tukang batu untuk pembangunan kecil-kecilan,suatu pekerjaan yang kurang pas bagi seorang lulusan politeknik jurusan teknik sipil.Tapi semuanya tidak penting kecuali satu:bagaimana perut orang serumah tetap terisi setiap hari.Sehingga ketika Pak Sumardi,"orang sukses" di jakarta pulang ke desa kami,dan menawarkan kepada saya untuk dikirim sebagai TKW suami saya menyetujuinya.Namun saya pribadi sebenarnya agak berat meninggalkan suami dan dua anak saya yang masih kecil-kecil.Satu di SD kelas satu dan kakaknya SD kelas dua.Tapi kerja apalah yang dapat diperoleh seorang jebolan akademi sekretaris dan manajemen semester ketiga seperti saya.Pernah memang, suatu hari,seorang menawari saya bekerja di panti pijat dengan gaji pokok pertama Rp 600 ribu perbulan ( 30 hari kerja perbulan),belum terhitung bonus dari perusahaan dan tips dari tamu.Barangkali postur tubuh saya yang semampai,wajah yang cukup cantik(suami saya juga cakep lho) dianggap cukup dapat menarik para hidung belang.Kulit saya yang putih,membungkus otot-otot tubuh yang sintal dan gempal berisi, diyakini dapat menggaet langganan panti pijat lebih banyak.Belum lagi buah dada saya: berbentuk kerucut dengan konsistensi yang masih kencang (disaat saya bersanggama buah dada ini selalu menjadi mainan suami), tentu akan menyenangkan kalau giliran si pemijat yang justru ganti dipijati oleh tamunya.Tentu yang dipijat bukan hanya kaki dan tangan,tetapi buah dada, vulva, dan yang lain-lainnya.Diajak gulat diatas tempat tidur ?.Pasti saya akan reaktif dan agresif berkat senam aerobik yang saya lakukan setiap pagi sewaktu masih tingal dirumah kontrakan..Sudahlah...semua orang tahu sendiri kelanjutan lakon ini....Belum cukup dapat menggambarkan profil saya?.Lihat saja artis Meriam Bellina ( maaf kalu saya jadikan bandingan), itu artis yang tiap malam minum kapsul yang bikin suaminya terangsang secara "LUAR BIASA".Kalau diprosentasi profil saya kira-kira 80% mirip artis yang tetap sintal dan cantik itu.Cuma kalau soal buah dada,saya yakin masih montok punyaku.Namun semua orang pasti tahu, menjadi tukang pijat dimalam hari dari jam 6 sore sampai 12 malam pada hakikatnya adalah menjadi pelacur terselubung. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menakut-nakuti atau menghalangi mereka yang ingin menjadi TKW diluar negeri.Tidak sama sekali.Saya sekedar ingin menceriterakan pengalaman saya, yang..semoga tidak akan pernah dialami oleh orang lain,kecuali saya.Biarlah hal itu menjadi catatan kenangan hidup saya sendiri. Baiklah saya mulai saja.

61

Pengalaman menjadi TKW:Dipaksa melayanai BANDOT TENGIK. Setelah dua minggu saya berada di rumah Pakde Mardi,akhirnya semua urusan selesai.Hari Sabtu jam 18.30 saya akan diberangkatkan ke PILIPINA sebagi Tenaga kerja Wanita.Saya tidak tahu bagaimana liku-liku pengurusan visa,ijin kerja dan tetek-bengek lain yang kabarnya ruwet tersebut; yang saya tahu ,saya memberi Pakde Mardi uang sebanyak Rp 300,- ribu rupiah,katanya untuk membayar biaya paspor dan lain-lainnya.Biaya pesawat,pemondokan dan sebagainya akan dibayar dulu oleh fihak PT pengerah jasa tenaga kerja dan akan saya bayar secara mencicil dari potongan gaji kelak setelah mulai kerja. Pakde Mardi mengatakan bahwa hari sabtu saya akan berangkat dari rumah pada pagi jam 10.00,karena Pakde mau mengantarkan saya putar-putar dulu keliling Jakarta.Setelah berpamitan dengan seisi rumah,Bude Mardi,anaknya ,dan lain-lainya, saya berangkat dengan mobil yang disetir sendiri oleh Pakde.Saya duduk disamping Pakde didepan.Dari rumah rupanya saya tidak terus dibawa ke bandara Sukarno Hatta(apalagi waktu berangkat pesawatnya masih 8 jam lagi).Saya diajak turun waktu mobil diberhentikan di halaman parkir Mall Mangga Dua."Min, ayo turun dulu,Pakde mau belikan kamu sedikit bekal". "Ah, sudah Pakde,tidak usah repot-repot,Pakde saja silahkan,saya nunggu di mobil saja".tetapi Pakde dengan isyarat tangan yang siap menuntun berkata:" Ayo, manut saya, jangan menolak".Terpaksa saya ikut turun.Selama dipasar saya digandeng diajak berputar-putar mengitari hampir seluruh bangunan pasar.Mula-mula saya diajak ke los penjual bahan pakaian jadi, disitu saya dibelikan rok warna merah yang bagus,harganya sekitar Rp 250 ribu, suatu harga yang,bagi saya sebagai orang yang sedang prihatin, sangat mahal.Kecuali itu saya juga dibelikan arloji wanita, seharga Rp 200 ribu.Tentunya saya menolak waktu barang-barang dibeli itu akan diperuntukkan untuk saya; tetapi rasanya saya tidak berdaya,apalagi barang tersebut setelah dimasukkan tas,saya juga yang harus membawa.Dan terakhir,saya diajak makan direstoran yang cukup mewah dengan aneka macam hidangan baik makanan Indonesia maupun internasional(masakan cina, korea dsb).Pembaca tahu apa yang saya makan : nasi soto ayam,itu saja.Habis ,bagaimana saya dapat makan hidangan yang lebih dari itu.Bukan soal bahwa nantinya Pakde yang akan membayar, tetapi karena rasa sependeritaan dengan suami dan anak-anak saya yang tiap hari hanya makan nasi dengan garam saja.Ora kolu---istilahnya dalam bahasa jawa( rasa tidak mampu menelan ).Kira-kira jam satu siang ,saya keluar dari mall.Kembali Pakde menyetir,dan saya duduk disampingnya. Baru kurang lebih setengah jam mobil berjalan, Pakde berkata:"Min, kowe ninggali aku,yoo...?".Saya terkejut;"Ninggali menopo Pakde..?"( memberi tinggalan apa)." Ya, ini kalau kamu mau ya..Min, Pakde ingin menidurimu". "Blaarrr...rasanya sebuah petir keras sekali menyambar kepala saya.Benarkah yang tadi saya dengar?.Sambil berdebar,saya memberanikan diri untuk bertanya: "Maksud Pakde bagaimana ?". " Yaaa itu tadi,saya ingin menidurimu,sebentar saja".

62

( Mooddiaar..awak mami,teriak batin saya.Tidak salah yang saya dengar tadi). Dunia sekitar rasanya jadi gelap.Sungguh, siapa akan menyangka bahwa Pakde yang tadinya saya kenal sebagi orang tua,yang dua bulan lalu datang kedesa saya mengajak saya berangkat sebagi TKW ini adalah BANDOT TENGIK yang akan mencicipi tubuh saya.Siapa akan menduga bahwa orang tua yang didepan isteri dan anaknya terkesan alim ini adalah HIDUNG BELANG yang bernafsu binatang. Siapa yang akan curiga bahwa BAJINGAN BUSUK ini akan membeli tubuh saya dengan hadiah yang dibeli di Maal Mangga Dua tadi. Rasanya saya ingin berteriak keras-keras biar semua orang dijalan itu mendengar.Tapi tidak bisa.Suara saya tidak keluar.Sebaliknya saya cuma menunduk,menangis nggu-guk (tersedu-sedu) dengan rintihan lirih..,dan air mata yang mulai mengucur deras.Saya tidak tahu dimana pikiran saya dan bagaimana harus menjawabnya,sampai ketika Pakde menyapaku :"Gimana Min,mau ya Min,sebentar saja...nggak apa-apa ,tidak sakit kok... ?"....." Huwwwaaahhhh,MALING UEDIAAAN tenan ..teriak hati saya,bukan masalah tidak sakit,tapi ini kan tubuh manusia,bukan manekin atau boneka,kurangajar bener BANDOT ini,pikirku".Saya jadi bingung,mau menjawab iya,jelas saya akan dipompa,di-genjot dan dienjot-enjot seperti mainan enjot-enjotan atau ditunggangi seperti kuda balap yang dikendalikan oleh joki BAJINGAN TENGIK ini. Dengan berpegangan buah dada saya, pasti dia akan memperlakukan saya seperti kuda balap yang membawanya ke surga kenikmatan,sementara saya terhantar ke neraka laknat.Dia pasti akan menciumi seluruh tubuh saya,menjilati paha saya yang putih,dan mengecupi serta meremas-remas buah dada saya yang masih kencang.Dia juga akan mendekap ,melahap,mengguling-gulingkan tubuh saya;juga mengocok dan memompa vagina saya sampai ludes,habishabisan,menyentorkan air mani sebanyak-banyaknya ke vagina saya seperti tukang bensin mengisikan bensin ke tangki mobil.Tetapi...kalau saya menolak...kalau saya tidak mau..bagaimana nasib saya.Ibaratnya ,saya ini, dari ujung kaki sampai keubun-ubun sudah berada ditangan BANDOT ini.Atau ibarat orang berada ditepi jurang dengan tebing tinggi;saya tinggal pilih,didorong,jatuh dan mati karena terhempas didasar jurang ,atau saya pegang tangan BANDOT ini untuk minta diselamatkan.Sungguh suatu pilihan yang rumit.Kalau saya menolak bagaimana kalau dia meminta kembali biaya pembelian tiket dll yang telah dikeluarkannya .Bagaimana kalau saya tidak (dan pasti tidak mungkin) mampu membayar semua itu,lalu saya dijual ke seorang konglomerat hidung belang yang sanggup membeli tubuh dan berikut vagina saya berapa saja harganya.Saya tambah bingung dan tercenung."Mau ya Min..tokh..hanya sebentar saja"Saya tidak menjawab kecuali tangis saya yang tambah ngguguk....disertai keuarnya air mata yang tambah deras.Tetapi BANDOT ini menangkap ke-diaman saya ini sebagai peng-iya-an.Bukankah diam tanda setuju.Ini saya ketahui karena mobil mulai berjalan pelan sedikit menepi mencari sesuatu.Sesuatu

63

itu adalah Hotel. Benar juga.Mobil berhenti didepan suatu hotel yang tidak terlalu besar.BANDOT itu keluar dulu menuju ke meja resepsionis, dan membayar biaya kamar.Saya merasa seperti seorang pesakitan yang akan dihukum mati karena telah melakukan kejahatan luar biasa.Saya turun dari mobil .Dengan digandeng ,saya menuju kamar hotel yang telah dipesan BANDOT TENGIK ini.Siang itu suasana hotel terlihat sepi,tida terlihat lalu lalangnya tamu.Sampai didepan kamar Pak BANDOT segera membuka kamar.Tetapi saya tidak segera menyusul.Saya terhenti didepan kamar.Kaki saya terasa kaku,badan dingin semua.Jantung berdebar,sementara nafas rasanya mau berhenti.Sungguh saya jadi sangat takut sekali.Serasa mau dimasukkan kamar dengan kursi listrik untuk menghukum penjahat kaliber kakap.Tanpa terasa, kencingku mulai keluar membasahi kaki. Melihat saya tidak juga masuk kamar,BANDOT itu keluar ,memegang lenganku dan menariknya masuk ke kamar.Kini saya berada dibelakang pintu,namun tetap saja tangan dan kaki saya kaku, seperti orang kedinginan sehabis kehujanan dijalan. Kemudian terdengar bunyi "KLIK",BANDOT itu mengunci kamar.Tapi suara itu ditelinga terdengar seperti suara pistol yang dikokang untuk siap ditembakkan. Dipaksa melayani bandot tengik 2 Saya masih berdiri mematung dibelakang pintu,sementara Pakde Mardi alias BANDOT TENGIK ITU mulai melepaskan pakaiannya satu demi satu.Kini dia sudah telanjang bulat didepanku.Dengan sudut mataku,kuamati sekujur tubuhnya.Perawakan agak pendek,dengan kepala sedikit botak dan rambut keriting tebal, mengingatkan wajah Pak Hikam,menteri Ristek(maaf ini hanya sekedar pembandingan fisik saja,tanpa maksud apa-apa),namun dengan kesan wajah yang lebih tua. Umur BANDOT TENGIK ini saya taksir sudah lebih dari 53 tahun. Dadanya ditutupi rambut lebat,mulai bawah leher,dada terus sampai diatas pangkal penisnya.Konon kata orang,digumuli dengan orang dengan rambut ditubuh begini akan memberi rasa geli bercampur nikmat.Namun karena yang ada dihadapan saya ini adalah seorang pemerkosa ,saya serasa akan diperkosa oleh monyet besar atau gorilla.Penisnya yang akan segera dihujamkan keliang vagina saya panjangnya biasa saja,tetapi bentuknya besar dengan warna hitam kemerahan.Apa penis sebesar alu(penumbuk padi) ini tidak akan meng-koyak-koyak vagina saya?Mudah-mudahan tidak.kepala bayi saja bisa lewat apalagi penis,begitu pikir saya. Kini BANDOT TENGIK ini mulai menciumi,melumat bibir saya.Kasar sekali.Satu persatu pakaianku dilepaskan.Entah kenapa aku tetap pasif diam dan menurut saja.Sekarang dalam keadaan bugil aku berada dipelukan BANDOT TUA itu. Sambil mendesakkan bibirnya ke bibir saya,badannya mendorong tubuh saya kebelakang mepet ketembok ,sehingga tekanan bibir dan badannya terasa kuat sekali.Lalu penisnya mulai menggelitik

64

vagina.Pangkal penis itu ditekan-tekankan kevagina,tapi sedikitpun tak ada reaksi dari vagina saya .Bungkem rapat-rapat.Seperti mulutku yang tetap rapat meskipun bibir BANDOT TENGIK menekan sambil diputar-putar diatas bibir saya.Saat gelegak nafsu BANDOT TENGIK ini mulai meningkat,bibir saya digigit dengan gemesnya."aduh pak, sakit..aduh..jangan pak"Ciumannya kini menuju kebawah.Leher,daerah belakang telinga,terus kebawah,diantara buah dada.Tiba-tiba ciumannya dilepaskan.Dia menyempatkan mengamati buah dada saya. "Susumu hebat,min"(Buah dadaku memang indah.Besar,kenyal dan berbentuk kerucut.Disekitar puting susu yang coklat kehitaman terlihat semburat urat darah kebiruan muda yang seolah terukir diatas "bola" porselin yang putih.Kata suamiku,setiap kali melihat mamaeku,penisnya langsung ereksi.Penis itu baru mau "tidur" kembali setelah isinya dimuntahkan ke vagina saya,melewati persetubuhan yang panjang,mengasyikkan dan penuh nikmat) Kini,bibir BANDOT TENGIK ini dibenamkan diantara kedua buah dadaku.Mencium kekiri dan kekanan bergantian .Lalu pentil mammaeku mulai diisap-isap.Mulutnya lebih masuk lagi ,sepertinya buah dada saya mau ditelan saja.Dan "Hii....hhh,hiii..h"gumamnya sambil menggigit buah dada saya dengan geramnya;rupanya gemes sekali dia merasakan ranumnya buah kebagggaan suami saya tersebut. "Hiyung...aduuuh...pak..sakit,sakit sekali..pak..sudah..pak.."saya hanya bisa mengaduh lirih.Kini serangannnya merembet kebawah.Perut atas,pusar,diciumi,digigit-gigit dengan rakusnya;terus....terus kebawah lagi......;Sampai divagina,BANDOT TUA ini rupanya sangat terangsang melihat vagina saya yang metutuk(mencembung)kedepan seperti roti kokis dengan rambut disekitar klitoris yang rimbun..Sebab setelah dijilati sebentar,bibir vagina saya sempat digigit dengan gemas."Aduh..!"saya tersentak karena sakit.Lalu pahaku dipeluk satu persatu,dicium,digigit.Kalau saya mengaduh ,baru gigitan itu dilepaskan.Bangsat... rakus benar,setan laknat ini. Demikian umpatku dalam hati .Setelah forepplay ini dianggap cukup,badanku ditarik dan direbahkan dengan paksa keatas kasur. Dengan kakiku yang terjulur kebawah,dia menunggangiku.Persis seperti joki kuda balap yang siap memacu kuda balapnya(lihat tulisan saya bagian pertama). Penisnya siap dimasukkan ke vagina.Tetapi bibir vaginaku rupanya mengkerut (berkontraksi)menutup rapat. Ini akibat sikapku yang me"reject" (menolak) penis asing itu ,sehingga timbul vaginismus.(Vaginismus adalah vagina yang mengalami spasmus,yaitu merapat kuat menutup lobangnya sehingga tidak bisa dimasuki penis).Gagal,tetapi tak putus asa.Kini dia menciumiku lagi,kasar dan penuh nafsu.Mammaeku dipegang dengan kedua telapak tangannya,diperas kuat-kuat,digigit mulai pangkal puting mammae terus sampai setengah buah dada masuk kemulutnya.."Uhh....uhhh...." suara kegemesan Pak Mardi.Rupanya nafsu syahwatnya sudah sampai keubun-ubun,sementara penisnya masih parkir diluar vagina."aduhhh....aduh...pak..sakit sekali pak"teriakku lirih penuh iba.Tetapi akibat kesakitanku itu "kontrol" sarafku ke vagina lepas.Vaginaku sedikit menganga,dan

65

cairannya mulai menetes keluar.Merasa penisnya terbasahi cairan vaginaku,BANDOT ini terlihat lega.Penisnya coba dimasukkan lagi secara paksa ke vagina.Blusss....masuk seluruhnya meskipun saya jadi kesakitan karena bibir vagina luar dan dalamnya terlipat-lipat dan terseret kedalam akibat desakan penis. Kini BANDOT itu seperti menemukan kunci,kunci untuk membuka vagina saya yang metutuk,yaitu dengan menyakiti .Karena itu diulangi kekurangajarannya dengan menggigit buah dadaku,kiri dan kanan bergantian.Sakit ....sekali.Meskipun tidak sampai berdarah,akibat gigitannya terasa perih karena menyisakan jejas(bekas,pingget )dikulitku.Sekarang dia mulai menikmatu vaginaku.Pantatnya mulai dinaik-turunkan dengan kuatnya terutama pada saat diturunkan ,seolah penisnya mau membobol vaginaku.Dug..dug...dug....Setiap menghentakkan kontolnya, tangannya meremas buah dadaku sekeras-kerasnya ."Nurut saja Min,biar sama-sama enak.ya..toh.."Buiiihhh..anjing tua keparat,gumamku dalam hati."Ya,saya heran kenapa saya merasa tidak punya kekuatan apa-apa. Lemah,lunglai,mungkin karena mengalami syok mental.(Padahal dengan suamiku kalau bersetubuh sambil bergulat begini,saya biasa diposisi atas,dan"lumpang"ku yang justru menjojoh "alu"nya suamiku.Setiap kali vaginaku menjojoh,masku menggelinjang kenikmatan)Ibarat air yang dimasak,suhunya kini sudah delapan puluh derajat.Ini terlihat dari nafas BANDOT yang mulai terengah-engah.Dan keringat dari dadanya mulai menetes.Sementara akibat tonjokkan itu,saya sedikit saja menikmatinya,meskipun kenikmatan yang hanya 10% itu terkubur oleh 90% rasa sakit yang kurasakan.Ibarat orang naik motor,kini sudah masuk ke perseneling tiga,sebab makin lama makin cepat gerakan mengenjot-enjot tubuhku.Saya lihat mata BANDOT ini mulai dipejam-melekkan menikmati vaginaku yang mulai kuat menggigit,merasakan kenikmatan memijat buah dadaku yang indah,putih dan montok. Kadang saja BANDOT ini terlihat kelelahan,pause sebentar dengan merebahkan dadanya ke dadaku,sedang wajahnya "disembunyikan"disamping leherku.kalau sedang begini ,saya hanya dapat berdoa,semoga BANDOT ini mati mendadak terkena serangan jantung,meskipun urusan dengan polisi nantinya akan sangat ruwet.Ehh...bangun lagi.malah tambah segar,.. tentu.Setelah lebih kurang satu jam saya disiksa dalam alam surganya BANDOT ini. Permainan agaknya akan diakhiri.tetapi tiba-tiba "plak...plak...plak.."Pipiku kanan dan kiri ditamparnya kuat beberapa kali.Ini merupakan "kunci" untuk memaksa saya membuka vagina ."Aduh pak...sakit sekali..pak,saya sudah tidak kuat lagi pak...dibunuh saja saya pak".Tapi tentu saja suara itu tak akan terdengar,karena tertutup deru nafsu syahwatnya yang mulai mencapai kecepatan 90 km perjam itu.Gojlokan penisnya kevaginaku makin keras dan cepat,dan saya menggelinjang kesakitan,menggolek-golekkan kepalaku ,meronta-ronta mau melepaskan tikaman kontol BANDOT ini,tetapi tentu tak akan bisa.Bahkan rambutku yang tersibak kekiri-kekanan didepan wajahku menjadi daya tarik tersendiri(seperti iklan shampoo di TV itu).Rambutku dipegangnya,disapukan kewajahku,lalu ditaruh didepan wajahku lagi.Setelah itu rambut disibakkan kepipiku.Dan hidung,bibir,pipiku diciumnya kuat-kuat, sambil sekali-kali digigit.Dan sementara itu penggejotan vaginaku jalan terus.Wah...pokoknya, ini cara orang barbar menyetubuhi

66

pasangannya.Menyetubuhi sambil menyiksa.Kini badanku makin bertambah lemas,ingatanku mulai sayup-sayup.Tetapi suhu syahwat BANDOT ini tambah tinggi,dengan kecepatan diatas 100 km.Duk..duk..duk..penisnya makin mengembang dan meanjanjang tetesan keringatnya makin deras,nafasnya makin tersengal,sementara saya meronta-ronta ingin melepaskan diri.Tetapi kekuatanku makin lemah dan akhirnya tak sadarkan diri...Dan tiba-tiba.."achhhhh...BANDOT ini mencapai klimaks .Kakinya mengejang lurus,tangannya memeluk leherku sambil menggigit pipiku.Air maninya muncrat dari penisnya,ditumpahkan ke vaginaku.Dan tubuhnya lemas jatuh menimpa badanku. 30

67