Anda di halaman 1dari 253

BLT

Baca Langsung Tegang


By wong teler

Jilid 01
Dari koleksi website Cerita Cerita Seru 1 kurang tegang baca lagi sampe tegang

1. ADIK, ANAK, ATAU KEPONAKAN? Aku dibilang anak dari keluarga broken home kayaknya nggak bisa, meskipun ayah dan ibuku bercerai saat aku baru saja diterima di perguruan tinggi. Adanya ketidakcocokan serta pertengkaran-pertengkaran yang kerap kali terjadi terpaksa meluluh-lantakkan pernikahan mereka yang saat itu telah berusia 18 tahun dengan aku sebagai putri tunggal mereka. Keluargaku saat itu hidup berkecukupan. Ayahku yang berkedudukan sebagai seorang pejabat teras sebuah departemen memang memberikan nafkah yang cukup bagi aku dan ibuku, walaupun ia bekerja secara jujur dan jauh dari korupsi, tidak seperti pejabat-pejabat lain pada umumnya. Dari segi materi, memang aku tidak memiliki masalah, begitu pula dari segi fisikku. Kuakui, wajahku terbilang cantik, mata indah, hidung bangir, serta dada yang membusung walau tidak terlalu besar ukurannya. Semua itu ditambah dengan tubuhku yang tinggi semampai, sedikit lebih tinggi daripada rata-rata gadis seusiaku, memang membuatku lebih menonjol dibandingkan yang lain. Bahkan aku menjadi mahasiswi baru primadona di kampus. Akan tetapi karena pengawasan orangtuaku yang ketat, di samping pendidikan agamaku yang cukup kuat, aku menjadi seperti anak mama. Tidak seperti remaja-remaja pada umumnya, aku tidak pernah pergi keluyuran ke luar rumah tanpa ditemani ayah atau ibu. Namun setelah perceraian itu terjadi, dan aku ikut ibuku yang menikah lagi dua bulan kemudian dengan duda berputra satu, seorang pengusaha restoran yang cukup sukses, aku mulai berani bepergian keluar rumah tanpa dampingan salah satu dari orangtuaku. Itupun masih jarang sekali. Bahkan ke diskotik pun aku hanya pernah satu kali. Itu juga setelah dibujuk rayu oleh seorang cowok teman kuliahku. Setelah itu aku kapok. Mungkin karena baru pertama kali ini aku pergi ke diskotik, baru saja duduk sepuluh menit, aku sudah merasakan pusing, tidak tahan dengan suara musik disko yang bising berdentam-dentam, ditambah dengan bau asap rokok yang memenuhi ruangan diskotik tersebut. "Don, kepala gue pusing. Kita pulang aja yuk." "Alaa, Mer. Kita kan baru sampai di sini. Masa belum apa-apa udah mau pulang. Rugi kan. Lagian kan masih sore." "Tapi gue udah nggak tahan lagi." "Gini deh, Mer. Gue kasih elu obat penghilang pusing." Temanku itu memberikanku tablet yang berwarna putih. Aku pun langsung menelan obat sakit kepala yang diberikannya.

"Gimana sekarang rasanya? Enakkan?" Aku mengangguk. Memang rasanya kepalaku sudah mulai tidak sakit lagi. Tapi sekonyong-konyong mataku berkunang-kunang. Semacam aliran aneh menjalari sekujur tubuhku. Antara sadar dan tidak sadar, kulihat temanku itu tersenyum. Kurasakan ia memapahku keluar diskotik. Ini cewek lagi mabuk, katanya kepada petugas keamanan diskotik yang menanyainya. Lalu ia menjalankan mobilnya ke sebuah motel yang tidak begitu jauh dari tempat itu. Setiba di motel, temanku memapahku yang terhuyung-huyung masuk ke dalam sebuah kamar. Ia membaringkan tubuhku yang tampak menggeliat-geliat di atas ranjang. Kemudian ia menindih tubuhku yang tergeletak tak berdaya di kasur. Temanku dengan gemas menciumi bibirku yang merekah mengundang. Kedua belah buah dadaku yang ranum dan kenyal merapat pada dadanya. Darah kelaki-lakiannya dengan cepat semakin tergugah untuk menggagahiku. "Ouuhhh... Don!" desahku. Temanku meraih tubuhku yang ramping. Ia segera mendekapku dan mengulum bibirku yang ranum. Lalu diciuminya bagian telinga dan leherku. Aku mulai menggerinjal-gerinjal. Sementara itu tangannya mulai membuka satu persatu kancing blus yang kupakai. Kemudian dengan sekali sentakan kasar, ia menarik lepas tali bh-ku, sehingga tubuh bagian atasku terbuka lebar, siap untuk dijelajahi. Tangannya mulai meraba-raba buah dadaku yang berukuran cukup besar itu. Terasa suatu kenikmatan tersendiri pada syarafku ketika buah dadaku dipermainkan olehnya. "Don... Ouuhhh... Ouuhhh....." rintihku saat tangan temanku sedang asyik menjamah buah dadaku. Tak lama kemudian tangannya setelah puas berpetualang di buah dadaku sebelah kiri, kini berpindah ke buah dadaku yang satu lagi, sedangkan lidahnya masih menggumuli lidahku dalam ciuman-ciumannya yang penuh desakan nafsu yang semakin menjadi-jadi. Lalu ia menanggalkan celana panjangku. Tampaklah pahaku yang putih dan mulus itu. Matanya terbelalak melihatnya. Temanku itu mulai menyelusupkan tangannya ke balik celana dalamku yang berwarna kuning muda. Dia mulai meremas-remas kedua belah gumpalan pantatku yang memang montok itu. "Ouh... Ouuh... Jangan, Don! Jangan! Ouuhhh....." jeritku ketika jari-jemari temanku mulai menyentuh bibir kewanitaanku. Namun jeritanku itu tak diindahkannya, sebaliknya ia menjadi semakin bergairah. Ibu jarinya mengurut-urut clitorisku dari atas ke bawah berulang-ulang. Aku semakin menggerinjal-gerinjal dan berulang kali menjerit. Kepala temanku turun ke arah dadaku. Ia menciumi belahan buah dadaku yang laksana lembah di antara dua buah gunung yang menjulang tinggi. Aku yang seperti tersihir, semakin

menggerinjal-gerinjal dan merintih tatkala ia menciumi ujung buah dadaku yang kemerahan. Tiba-tiba aku seperti terkejut ketika lidahnya mulai menjilati ujung puting susuku yang tidak terlalu tinggi tapi mulai mengeras dan tampak menggiurkan. Seperti mendapat kekuatanku kembali, segera kutampar mukanya. Temanku itu yang kaget terlempar ke lantai. Aku segera mengenakan pakaianku kembali dan berlari ke luar kamar. Ia hanya terpana memandangiku. Sejak saat itu aku bersumpah tidak akan pernah mau ke tempat-tempat seperti itu lagi. Sudah dua tahun berlalu aku dan ibuku hidup bersama dengan ayah dan adik tiriku, Rio, yang umurnya tiga tahun lebih muda daripada aku. Kehidupan kami berjalan normal seperti layaknya keluarga bahagia. Aku pun yang saat itu sudah di semester enam kuliahku, diterima bekerja sebagai teller di sebuah bank swasta nasional papan atas. Meskipun aku belum selesai kuliah, namun berkat penampilanku yang menarik dan keramah-tamahanku, aku bisa diterima di situ, sehingga aku pun berhak mengenakan pakaian seragam baju atas berwarna putih agak krem, dengan blazer merah yang sewarna dengan rokku yang ujungnya sedikit di atas lutut. Sampai suatu saat, tiba-tiba ibuku terkena serangan jantung. Setelah diopname selama dua hari, ibuku wafat meninggalkan aku. Rasanya seperti langit runtuh menimpaku saat itu. Sejak itu, aku hanya tinggal bertiga dengan ayah tiriku dan Rio. Sepeninggal ibuku, sikap Rio dan ayahnya mulai berubah. Mereka berdua beberapa kali mulai bersikap kurang ajar terhadapku, terutama Rio. Bahkan suatu hari saat aku ketiduran di sofa karena kecapaian bekerja di kantor, tanpa kusadari ia memasukkan tangannya ke dalam rok yang kupakai dan meraba paha dan selangkanganku. Ketika aku terjaga dan mengomelinya, Rio malah mengancamku. Kemudian ia bahkan melepaskan celana dalamku. Tetapi untung saja, setelah itu ia tidak berbuat lebih jauh. Ia hanya memandangi kewanitaanku yang belum banyak ditumbuhi bulu sambil menelan air liurnya. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkanku yang langsung saja merapikan pakaianku kembali. Selain itu, Rio sering kutangkap basah mengintip tubuhku yang bugil sedang mandi melalui lubang angin kamar mandi. Aku masih berlapang dada menerima segala perlakuan itu. Sampai..... Aku baru saja pulang kerja dari kantor. Ah, rasanya hari ini lelah sekali. Tadi di kantor seharian aku sibuk melayani nasabah-nasabah bank tempatku bekerja yang menarik uang secara besar-besaran. Entah karena apa, hari ini bank tempatku bekerja terkena rush. Ingin rasanya aku langsung mandi. Tetapi kulihat pintu kamar mandi tertutup dan sedang ada orang yang mandi di dalamnya. Kubatalkan niatku untuk mandi. Kupikir sambil menunggu kamar mandi kosong, lebih baik aku berbaring dulu melepaskan penat di kamar. Akhirnya setelah mencopot sepatu dan menanggalkan blazer yang kukenakan, aku pun langsung membaringkan tubuhku tengkurap di atas kasur di kamar tidurnya. Ah, terasa

nikmatnya tidur di kasur yang demikian empuknya. Tak terasa, karena rasa kantuk yang tak tertahankan lagi, aku pun tertidur tanpa sempat berubah posisi. Aku tak menyadari ada seseorang membuka pintu kamarku dengan perlahan-lahan, hampir tak menimbulkan suara. Orang itu lalu dengan mengendap-endap menghampiriku yang masih terlelap. Kemudian ia naik ke atas tempat tidur. Tiba-tiba ia menindih tubuhku yang masih tengkurap, sementara tangannya meremas-remas belahan pantatku. Aku seketika itu juga bangun dan meronta-ronta sekuat tenaga. Namun orang itu lebih kuat, ia memelorotkan rok yang kukenakan. Kemudian dengan secepat kilat, ia menyelipkan tangannya ke dalam celana dalamku. Dengan ganasnya, ia meremas-remas gumpalan pantatku yang montok. Aku semakin memberontak sewaktu tangan orang itu mulai mempermainkan bibir kewanitaanku dengan ahlinya. Sekali-sekali aku mendelik-deliki saat jari telunjuknya dengan sengaja berulang kali menyentil-nyentil clitorisku. "Aahh! Jangaann! Aaahh....!" aku berteriak-teriak keras ketika orang itu menyodokkan jari telunjuk dan jari tengahnya sekaligus ke dalam kewanitaanku yang masih sempit itu, setelah celana dalamku ditanggalkannya. Akan tetapi ia mengacuhku. Tanpa mempedulikan aku yang terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit kesakitan, jari-jarinya terus-menerus merambahi lubang kenikmatanku itu, semakin lama semakin tinggi intensitasnya. Aku bersyukur dalam hati waktu orang itu menghentikan perbuatan gilanya. Akan tetapi tampaknya itu tidak bertahan lama. Dengan hentakan kasar, orang itu membalikkan tubuhku sehingga tertelentang menghadapnya. Aku terperanjat sekali mengetahui siapa orang itu sebenarnya. "Rio.... Kamu....." Rio hanya menyeringai buas. "Eh, Mer. Sekarang elu boleh berteriak-teriak sepuasnya. Nggak ada lagi orang yang bakalan menolong elu. Apalagi si nenek tua itu sudah mampus!" Astaga Rio menyebut ibuku, ibu tirinya sendiri, sebagai nenek tua. Keparat. "Rio! Jangan, Rio! Jangan lakukan ini! Gue kan kakak elu sendiri! Jangan!" "Kakak? Denger, Mer. Gue nggak pernah nganggap elu kakak gue. Siapa suruh elu jadi kakak gue. Yang gue tau cuman papa gue kawin sama nenek tua, mama elu!" "Rio!" "Elu kan cewek, Mer. Papa udah ngebiayain elu hidup dan kuliah. Kan nggak ada salahnya gue sebagai anaknya ngewakilin dia untuk meminta imbalan dari elu. Bales budi dong!" "Iya, Rio. Tapi bukan begini caranya!" "Heh, yang gue butuhin cuman tubuh molek elu. Nggak mau yang lain. Gue nggak mau tau, elu mau kasih apa nggak!" "Errgh..." Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Mulut Rio secepat kilat memagut

mulutku. Dengan memaksa ia melumat bibirku yang merekah itu, membuatku hampir tidak bisa bernafas. Aku mencoba meronta-ronta melepaskan diri. Tapi cekalan tangan Rio jauh lebih kuat, membuatku tak berdaya. "Akh!" Rio kesakitan sewaktu kugigit lidahnya dengan cukup keras. Tapi, "Plak!" Ia menampar pipiku dengan keras, membuat mataku berkunang-kunang. Kugeleng-gelengkan kepalaku yang terasa seperti berputar-putar. Tanpa mau membuang-buang waktu lagi, Rio mengeluarkan beberapa utas tali sepatu dari dalam saku celananya. Kemudian ia membentangkan kedua tanganku, dan mengikatnya masing-masing di ujung kiri dan kanan tempat tidur. Demikian juga kedua kakiku, tak luput diikatnya, sehingga tubuhku menjadi terpentang tak berdaya diikat di keempat arah. Oleh karena kencangnya ikatannya itu, tubuhku tertarik cukup kencang, membuat dadaku tambah tegak membusung. Melihat pemandangan nan indah ini membuat mata Rio tambah menyalang-nyalang bernafsu. "Jangan...." Tangan Rio mencengkeram kerah blus yang kukenakan. Satu persatu dibukanya kancing penutup blusku. Setelah kancing-kancing blusku terbuka semua, ditariknya blusku itu ke atas. Kemudian dengan sekali sentakan, ditariknya lepas tali pengikat bh-ku, sehingga buah dadaku yang membusung itu terhampar bebas di depannya. "Wow! Elu punya toket bagus gini kok nggak bilang-bilang, Mer! Auum!" Rio langsung melahap buah dadaku yang ranum itu. Gelitikan-gelitikan lidahnya pada ujung puting susuku membuatku menggerinjal-gerinjal kegelian. Tapi aku tidak mampu berbuat apaapa. Semakin keras aku meronta-ronta tampaknya ikatan tanganku semakin kencang. Sakit sekali rasanya tanganku ini. Jadi aku hanya membiarkan buah dada dan putting susuku dilumat Rio sebebas yang ia suka. Aku hanya bisa menengadahkan kepalaku menghadap langit-langit, memikirkan nasibku yang sial ini. "Aaarrghh.... Rio! Jangaannn.....!" Lamunanku buyar ketika terasa sakit di selangkanganku. Ternyata Rio mulai menghujamkan kemaluannya ke dalam kewanitaanku. Tambah lama bertambah cepat, membuat tubuhku tersentak-sentak ke atas. Melihat aku yang sudah tergeletak pasrah, memberikan rangsangan yang lebih hebat lagi pada Rio. Dengan sekuat tenaga ia menambah dorongan kemaluannya masuk-keluar dalam kewanitaanku. Membuatku meronta-ronta tak karuan. "Urrgh....." Akhirnya Rio sudah tidak dapat menahan lagi gejolak nafsu di dalam tubuhnya. Kemaluannya menyemprotkan cairan-cairan putih kental di dalam kewanitaanku. Sebagian berceceran di atas sprei sewaktu ia mengeluarkan kemaluannya, bercampur dengan darah yang mengalir dari dalam kewanitaanku, menandakan selaput daraku sudah

robek olehnya. Karena kelelahan, tubuh Rio langsung tergolek di samping tubuhku yang bermandikan keringat dengan nafas terengah-engah. "Braak!" Aku dan Rio terkejut mendengar pintu kamar terbuka ditendang cukup keras. Lega hatiku melihat siapa yang melakukannya. "Papa!" "Rio! Apa-apa sih kamu ini?! Cepat kamu bebaskan Meriska!" Ah, akhirnya neraka jahanam ini berakhir juga, pikirku. Rio mematuhi perintah ayahnya. Segera dibukanya seluruh ikatan di tangan dan kakiku. Aku bangkit dan segera berlari menghambur ke arah ayah tiriku. "Sudahlah, Mer. Maafin Rio ya. Itu kan sudah terjadi," kata ayah tiriku menenangkan aku yang terus menangis dalam dekapannya. "Tapi, Pa. Gimana nasib Meriska? Gimana, Pa? Aaahh.... Papaaa!" tangisanku berubah menjadi jeritan seketika itu juga tatkala ayah tiriku mengangkat tubuhku sedikit ke atas kemudian ia menghujamkan kemaluannya yang sudah dikeluarkannya dari dalam celananya ke dalam kewanitaanku. "Aaahh... Papaaa..... Jangaaan!" Aku meronta-ronta keras. Namun dekapan ayah tiriku yang begitu kencang membuat rontaanku itu tidak berarti apa-apa bagi dirinya. Ayah tiriku semakin ganas menyodok-nyodokkan kemaluannya ke dalam kewanitaanku. Ah! Ayah dan anak sama saja, pikirku, begitu teganya mereka menyetubuhi anak dan kakak tiri mereka sendiri. Aku menjerit panjang kesakitan sewaktu Rio yang sudah bangkit dari tempat tidur memasukkan kemaluannya ke dalam lubang anusku. Aku merasakan rasa sakit yang hampir tak tertahankan lagi. Ayah dan kakak tiriku itu sama-sama menghujam tubuhku yang tak berdaya dari kedua arah, depan dan belakang. Akibat kelelahan bercampur dengan kesakitan yang tak terhingga akhirnya aku tidak merasakan apa-apa lagi, tak sadarkan diri. Aku sudah tidak ingat lagi apakah Rio dan ayahnya masih mengagahiku atau tidak setelah itu. Beberapa bulan telah berlalu. Aku merasa mual dan berkali-kali muntah di kamar mandi. Akhirnya aku memeriksakan diriku ke dokter. Ternyata aku dinyatakan positif hamil. Hasil diagnosa dokter ini bagaikan gada raksasa yang menghantam mukaku. Aku mengandung?! Kebingungan-kebingungan terus-menerus menyelimuti benakku. Aku tidak tahu secara pasti, siapa ayah dari anak yang sekarang ada di kandunganku ini. Ayah tiriku atau Rio. Hanya mereka berdua yang pernah menyetubuhiku. Aku bingung, apa status anak dalam kandunganku ini. Yang pasti ia adalah anakku. Lalu apakah ia juga sekaligus adikku alias anak ayah tiriku? Ataukah ia juga sekaligus keponakanku sebab ia adalah anak adik tiriku sendiri? 2. AKU DAN ADIK LAKI LAKI KU Namaku Ratih, umurku 21 tahun. Aku tinggal sebuah kawasan perumahan di

Yogyakarta. Aku sekarang sedang kuliah disebuah universitas negeri terkenal. Asalku sendiri sebenarnya dari Surabaya. Orang tuaku cukup kaya sehingga semua kebutuhanku terpenuhi disini. Adikku juga disekolahkan disini, di sebuah SMU Negeri terkenal di Yogyakarta. Jadi kami berdua mengontrak sebuah rumah, tidak terlalu besar tetapi cukup lengkap. Ada TV, mesin cuci, kulkas, motor untuk masing-masing, komputer dan sambungan internet, dan fasilitas lain yang cukup membuat hidupku tidak kekurangan suatu apapun. Adikku bernama Dody, kelas dua SMU. Anaknya gedhe, cenderung bongsor tapi nggak gemuk. Tingginya sekarang aja udah hampir 175 cm. Tubuhnya tegap dan atletis. Sedang aku sendiri sekitar 165-167 cm, wajahku termasuk cantik (buktinya banyak banget yang ngejar-ngejar aku), tubuhku agak kurusan dikit, tapi payudaraku tumbuh sempurna. Sebenarnya aku punya hanya punya satu adik laki-laki dan satu kakak perempuan. Jadi kami sekeluarga ada 3 orang. Dody adalah anak pamanku yang meninggal sekeluarga dalam kecelakaan tragis, kecuali Dody ini yang saat itu masih berumur kurang dari dua bulan. Papa mengambilnya dan memeliharanya sejak kecil. Hanya aku dan kakakku yang tahu kalo dia ini sebenarnya adik angkat. Bahkan Dody sendiri sampai sekarang belum tahu bahwa dia ini adalah anak angkat. Keharuan kami sekeluarga atas nasibnya membuat nyaris tak pernah ada diskusi tentang masalah itu dan menganggapnya sebagai sibungsu. Dody adalah saudara yang paling akrab sama aku. Kadang-kadang kami bercandanya kelewatan, kalo dulu mama sering marah, karena dia sering ngunci pintu kamar mandi kalo aku sedang mandi, atau kami berduel seperti layaknya dua orang anak laki-laki. Berguling-guling dikarpet sampai papa membentak keras karena acara nonton bolanya keganggu, dan kami digiring untuk tidur segera. Kamarku satu kamar dengannya, ketika itu Dody masih kecil banget. Ketika aku ke Yogyakarta untuk kuliah, Dody masih kelas satu tiga SMP. Ketika itu aku masih kost, dan kontrak rumah ketika setahun kemudian Dody dikirim kesini untuk sekolah SMA disini. Karena dia pandai dan punya NEM tinggi, dia diterima disebuah sekolah Negeri ternama di Yogyakarta. Papa menghadiahkan sebuah motor kepadanya. Seiring dengan masa sekolahku disini, aku kena juga yang namanya panah asmara. Yang kuincar adalah seorang cowok kakak angkatanku. Namanya panggilannya Pin-pin, agak lucu kedengarannya, tapi orangnya benarbenar sempurna. Tinggi (mungkin lebih tinggi dari Dody), badannya bagus banget, pinter kayaknya, dan dari cerita-cerita yang pernah kudengar, doi bukanlah seorang playboy. Singkat kata, aku berpacaran dengannya. Tapi seperti yang digariskan papa, aku tidak boleh begini tidak boleh begitu. Semuanya aku turuti. Untungnya Pin-pin ternyata memang benar-benar cowok yang sempurna, dia hanya berani mencium, meskipun dibibir, tapi tak pernah terus 'gerilya'. Sampai setahun, aku dan Pin-pin terus langgeng saja, dan selama itu tidak ada yang berubah didalam pengetahuan tentang seks-ku. Artinya aku betul-betul seorang cewek lugu dan polos.

Nasihat papa ternyata baru aku tahu dikemudian hari, ternyata tidak mempan ke Dody. Bayangkan saja, dikemudian hari ada peristiwa yang membuatku memandang lain padanya. Ceweknya banyak sekali, dan gantiganti pula. Sering dia mencuri-curi waktu mengajak cewek-ceweknya kerumah, kalo pas aku sedang kuliah. Padahal dia baru kelas 2 SMA. Kejadiannya begini. Sore itu sekitar pukul 14.00 aku berangkat kekampus untuk mengikuti tutorial, kali ini aku tidak pake motorku sendiri tapi dijemput oleh Pin-pin, pake Honda Tigernya. Dody baru bangun tidur, dan seperti biasa aku cium pipinya terus acak-acak rambutnya dan pamit. "Berangkat dulu ya!" "Hmmmm", wajahnya yang kuyu baru bangun, menggeletak lemas diatas meja makan, matanya menatap layar TV, Sarah sedang siaran (atau Donita ya? Lupa!). "Mbak, bawa oleh-oleh ya!" "Ya nanti tak bawain kucing! Ha...ha...ha" sambil berlari aku keluar rumah "Makan tuh kucing!...." Pin-pin udah siap dengan motornya dan segera kami berangkat. Berhubung jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh, maka aku berangkat setengah jam sebelum jam tutorial dimulai. Pas mau masuk kehalaman kampus, baru ingat aku nggak bawa diktatnya temanku. Padahal besok mau dipakai ujian. Tanya sana-sini, kebetulan tutorialnya diundur satu jam lagi, padahal pula Pin-pin harus segera pulang. Akhirnya aku minta dianterin sampai rumah aja terus nanti kesininya berangkat sendiri. Sampai depan rumah pintu, tertutup, garasi pun demikian. Aku berusaha membukanya tetapi dikunci. Akhirnya aku buka pintu depan pake kunciku sendiri. Aku bertanya-tanya apakah Dody keluar kok rumah dikunci begini. Aku segera masuk kekamar. Aku heran kok pintu kamarku terbuka sedikit. Tanpa berpikir apa-apa aku segera membukanya dan mengambil buku dilaci meja. Ketika aku bergerak tanganku menyentuh monitor komputerku. Lagi-lagi aku heran, kok panas. Tapi sekali lagi karena buru-buru aku masukkan diktat itu kedalam tas dan ketika berbalik aku tertegun menyaksikan pemandangan didepanku. Dody, bercelana pendek tanpa baju berjongkok dibawah cantolan jaketku, sementara disebelahnya berjongkok meringkuk pula seorang cewek, yang kayaknya masih SMU atau malah SMP. Bahunya terbuka, dadanya ditutupinya dengan kaos biru milik di Dody, pahanya terbuka, dan karena posisi jongkoknya, aku melihat segaris lipatan selangkangannya yang masih belum ditumbuhi bulu terlihat berkilat basah membeliak terkena himpitan pahanya. Terlihat jelas, bahwa tanpa kaos biru itu dia telanjang bulat. Dody sendiri meskipun pake celana pendek, tak sanggup menutupi tonjolan yang tampak mengeras dibalik celana pendeknya itu, diujungnya tampak noktah bening dikain celananya. Keduanya berwajah panik demi tidak menyangka aku datang secepat itu. Aku terdiam beberapa saat seakan tak percaya adik kesayanganku bisa

berlaku seperti. Aku saat itupun tak tahu harus bagaimana bertindak, keduanya benar-benar seperti tikus dipojok ruangan dikepung oleh kucing. Aku melihat lagi ranjangku, baru sadar ada yang tidak beres. Biasanya aku selalu meninggalkan ranjang dalam keadaan rapi, tapi kali ini dipermukaannya tampak kusut-kusut yang tampak sedikit lembab. Kali ini aku benar-benar marah. "Kalian ngapain dikamarku?" aku berkata nyaris membentak. Sepertinya kalimatku ini untuk Dody. Dody berdiri, dan menunduk. Sekilas aku melirik selangkangannya. Kayaknya dia masih belum reda, terlihat dari bentuk permukaan celananya yang tampak tercuat oleh sesuatu dari dalam. Sementara ceweknya seperti mau menangis, dia menakupkan kedua tangannya kewajahnya dan menempelkannya lututnya. "Belum...ngapa-ngapain kok!" Aku memegang telinganya dan menarik keluar keduanya dari dalam kamarku. "Kamu bisa pulang sendiri tho, dik!" aku berkata setengah membentak pada teman ceweknya itu. Dia sesenggukan berdiri dan setengah berlari masuk kekamar Dody seperti sudah biasa saja dan sebentar kemudian keluar pakai pakaian sekolah. Benar dia masih SMP, Dody akan bergerak menolong tapi melihat pandanganku dia berhenti dan menunduk. Ceweknya itu (dikemudian hari aku ketahui namanya adalah Chintya, murid sebuah SMP swasta), keluar dari pintu depan dan berlari dijalan depan rumah. "Duduk!" "Sudah berapa kali kamu melakukan itu?" "Kamu udah begituan beneran?" dan berondongan pertanyaan lain yang seperti senapan mesin tak sanggup membuatnya menjawab. Dody, masih bertelanjang dada, duduk didepanku, menunduk dan beberapa saat kemudian tangisnya meledak. Saat itu aku tiba-tiba jatuh kasihan padanya. Meskipun bongsor, kalo pas begini ya keluar 'bungsu'nya. Tiba-tiba yang teringat olehku, paman, tante, sepupu-sepupuku yang telah tiada. Ini cukup membuatku bangkit dari dudukku dan duduk disebelah kirinya dan memeluknya erat. Semakin dipeluk, semakin keras tangisnya, aku mengelus-elus rambut dan bahunya. Dody sendiri memelukku sambil terasa didadaku sesenggukannya pas ditengah tengah diantara payudaraku. Kaki kanannya terangkat diletakkan diatas pahaku, sehingga aku bisa merasakan 'burungnya'. Agak lama dia sesenggukan itu, aku sesekali memberikan apa yang papa berikan padaku, dan yang tak kurasakan bahwa burungnya itu mengeras pas segaris dengan pahaku. Dia masih berada diantara kedua payudaraku. Lama baru aku sadari, apa yang terjadi. Anak ini, sama kakaknya sendiri berani begitu. Aku mendorongnya perlahan, supaya dia tidak tersinggung. Dan segera masuk kamar. Aku tidak berani keatas ranjang, jangan-jangan diatasnya udah ada noda-noda itu. Dan hanya duduk diatas kursi didepan komputer dan menyalakannya. Ketika udah nyala, ketika pas udah keluar windowsnya. Eh tiba-tiba ada tampilan mpeg, aku curiga dan sedikit iseng

10

menggerakkan mouse-ku untuk mengklik tanda play. Gambar pertama yang tampil sangat membuatku syok. Terlihat pas seorang bule sedang memegang 'burungnya'. Dari ujung 'burung'nya itu keluar sesuatu seperti cairan berwarna putih, pas menjatuhi lidah seorang cewek didepannya yang sedang menjulur-julurkan lidahnya. Dalam pikiranku pertama, bahwa itu adalah air kencing, dan seketika aku mual dan berlari masuk kamar mandi dan muntah. Selesai membersihkan diri aku kembali masuk kamar dan baru ingat aku belum mematikan komputer dan program itu, kali ini adegannya pas seorang pria bule sedang memasuk-masukkan burungnya ke itunya seorang cewek. Burungnya gede banget. Ceweknya keliatan kesakitan dalam pandanganku. Aku segera mematikan komputer dan menekan tombol eject CDROM serta mengambil isinya keluar. "Dody, ini VCd-mu!!!" aku melemparkan VCD itu sehingga jatuh dilantai. Dody masih sesenggukan disofa ruang tengah. Jadilah sore hari itu aku nggak masuk tutorial, dan mencuci spreiku yang lembab-lembab itu. Peristiwa pertama itu sebulan dua bulan pertama memang masih membekas dengan kuat di ingatanku. Aku jadi jarang bermanja-manja sama adikku ini. Biasanya sambil nonton TV aku biasa tidur-tiduran diatas pahanya atau kalo pas dia nontonnya sambil tiduran tengkurap dikarpet. Aku menungganginya dan berpura-pura sedang naik perahu diatas punggungnya. Atau kadang-kadang dia dengan lembut tertidur dipangkuanku. Dody pun, jadi canggung mau berkata-kata apapun kepadaku, biasanya kalo ada apaapa selalu saja diceritakannya kepadaku. Seiring dengan berlalunya waktu, aku mulai menganggap bahwa Dody sudah berubah dan aku mulai kembali seperti semula bersikap kepadanya. Demikian pula dia. Entah karena apa, aku mulai memasuki ruangan yang dinamakan seks itu. Ketika dicium Pin-pin kalo dulu biasa-biasa aja, sekarang mulai terasa perasaan lain seperti ingin dipeluk erat setiap kali dicium dibibir. Atau setiap kali mbonceng naik motor, kalo dulu aku menempelkan dadaku ke punggungnya dengan cuek tanpa rasa apapun, sekarang sentuhan lembut saja dari jaketnya terasa ada rasa enak yang aneh. Apalagi ketika mandi, kalo dulu membersihkan dan menyabun area selangkanganku terasa biasa saja seperti halnya menyabun siku atau telapak tangan, sekarang sentuhan-sentuhan itu menimbulkan rasa lain bagiku. Sebenarnya secara fisik dan seksual baru aku sadari adikku ini memang seksi. Kami mulai biasa berbincang-bincang terus terang seperti dulu lagi. Suatu ketika aku memergokinya sedang onani tapi dia nggak tahu kalo aku tahu. Dia melakukannya dikamar mandi belakang yang sebenarnya bukan kamar mandi tapi tempat cuci. Saat itu minggu pagi, aku jogging sama teman-teman, pas balik suasana rumah kosong lagi. Bayangkanku Dody masih tidur, aku terus kebelakang untuk menjemur sepatu, pas lewat dekat tempat cuci aku melihat kepala Dody, wajahnya tampak serius sekali, sesekali menengadah. Perlahan-lahan aku mendekatinya dan melihatnya dari balik rooster

11

beton. Ketika tampak seluruh badannya, aku kembali tertegun, tapi kali ini bukan dengan amarah, tetapi dengan rasa ingin tahu yang semakin tinggi. Dari balik lubang roster beton aku melihat adegan yang tak terlupakan seumur hidupku, dan begitu terekam secara kuat dalam ingatanku sampai sekarang. Dody dalam posisi berdiri, pantatnya bersandar sebagian kepinggiran bibir sumur. Dia memakai kaos oblong dalam warna putih, bagian bawahnya terlipat keatas sebagian sehingga menampakkan perutnya. Yang mencekamku tapi justru membuatku terpaku adalah pemandangan dibawahnya. Celana pendeknya melorot sampai dekat lutut, sebagian celana dalamnya masih menutupi pantatnya, tapi bagian depannya tertarik kebawah sehingga menekan sebagian buah zakarnya keatas. Tangan kirnya memegangi botol lotion (kalau nggak salah Sariayu, dan itu milikku!) dan menempel dipaha kirinya. Sedangkan sebagai fokus adalah tangan kanannya membentuk genggaman seperti sedang memegang raket dan bergerak-gerak teratur mengurut-urut batang kemaluannya yang tampak berkilat. Tubuhnya sedikit membungkuk kedepan dan tampak dari tangan dan sebagian anggota tubuhnya yang lain yang tidak tertutupi oleh pakaian, seperti mengeras dan mengejang. Aku belum pernah membayangkan ada peristiwa seperti itu. Sebenarnya dari membaca aku sudah memiliki pengetahuan tentang seks umumnya dan organ-organ vital laki-laki khususnya. Tetapi menyaksikan sendiri semuanya memberi perasaan yang sulit terungkapkan. Aku terdiam dibalik roster itu dan menyaksikan adikku sendiri sedang melakukan itu. Lagipula tak pernah terbayangkan burungnya itu yang dulu waktu masih kecil begitu lucu sekarang bisa segedhe itu. Pokoknya perasaanku saat itu betul-betul campur aduk tak karuan. Kali ini tiba-tiba aku melihatnya sebagai laki-laki dewasa yang tampak sedang 'terengah-engah'. Gerakan mengurutnya tampak semakin cepat, kulit penisnya yang tampak coklat tua bersemu merah ikut tertarik-tarik seiring gerakan mengurutnya. Kepala penisnya yang tampak seperti jamur merang tampak mengkilat lucu. Sesekali dia menambahkan lotionku ketangan kanannya dan meratakannya ditangan dan terus bergerak mengurut (dikemudian hari baru aku ketahui kalau gerakan itu diistilahkan mengocok, padahal kan sebenarnya itu gerakan mengurut, kalo mengocok khan tidak ada yang diaduk, seperti misalnya mengocok telur, betul nggak teman-teman?). Wajah Dody tampak tidak seperti Dody yang kukenal, yang masih tampak imut-imut meskipun secara fisik dia bener-benar udah dewasa. Tubuhnya berkeringat sebagian terlihat dileher, dahi dan tangannya. Sesekali dia menengadahkan kepalanya. Nafasnya tertahan-tahan terdengar sampai ditempatku berdiri. Semakin cepat dan semakin cepat. Tak berapa lama kemudian gerakannya melambat beberapa saat dibarengi oleh suaranya yang terdengar seperti mengerang atau mendesah. Tubuhnya menekuk kedepan sehingga nyaris mendekatkan pusarnya keujung penisnya. Gerakan tangan kanannya kemudian tiba-tiba bergerak dengan cepat

12

sekali dan sekian detik kemudian aku menyaksikan dari ujung penisnya keluar cairan berwarna putih atau sedikit kekuningan yang menyemprotnyemprot seperti orang meludah tapi banyak sekali dan berjatuhan kelantai cuci. Otot ditangannya tampak mengeras, begitu juga pantat dibalik celana dalamnya tampak mengejang sehingga terlihat dari samping seperti memanpat kedalam. Aku sendiri tiba-tiba merasakan getaran-getaran aneh ditengkuk, perut maupun area selangkanganku demi menyaksikan adikku sedang 'meregang' disana. Itu cukup membuatku terdiam dan baru tersadar ketika Dody bergerak dan sepertinya akan masuk rumah. Aku tiba-tiba panik dan tiba-tiba saja bergerak kedalam rumah dan masuk kamar, menutup pintu perlahan terus rebahan diranjang, tengkurap. Beberapa saat aku masih terngiang tentang kejadian tadi. Adikku yang tersayang telah aku saksikan dalam kondisi paling privat. Tiba-tiba secara fisik aku merasa Dody seperti bukan adik kecilku yang dulu selalu bergulat berguling-guling dilantai denganku yang sampai kemarin masih suka bermanja-manja dipangkuanku. Masih terngiang bentuk penisnya yang menurutku besar. Dalam hal ini aku betul-betul buta tentang ukuran-ukuran itu, bayanganku dulu penis paling besar dan panjang adalah sebesar kemasan Redoxon saja. Tetapi di kemudian hari kuketahui bahwa emang ada penis yang segitu bahkan lebih kecil, tetapi ada juga yang sebesar botol Aqua ukuran sedang itu. Aku membandingkannya dengan bentuk vaginaku sendiri yang kecil, jika ada benda yang jauh lebih besar dari lingkarannya bagaimana bisa masuk, tapi kemudian terpikir olehku jika bayi saja bisa keluar mengapa benda yang lebih kecil darinya tidak bisa masuk. Aku nggak bisa membayangkan kalo dulu aku sering melihat Dody telanjang dan burungnya itu paling-paling cuman segedhe jempol tanganku, tapi melihatnya udah sebesar dan sepanjang itu benar-benar membuat syok. Apalagi dalam keadaan sedang 'berfungsi' seperti itu. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh pintu kamarku yang terbuka dan melihat Dody sedang memegang botol Sariayu-ku dan terpaku di pintu. "Eh......mbak .....u.u.u.dah pulang ya?" tangannya berusaha menutupi botol lotion itu tapi tak berhasil. "Itu Sariayuku khan? Buat apa hayo?" Didikan papaku tiba-tiba saja keluar, tegas dan tanpa basa-basi. Dody berdiri dipintu dan memandangku. Aku masih duduk ditepi ranjang, aku melihatnya berkeringat deras sekali. "Kesini!" aku sedikit menguatkan suaraku, dan dia bergerak mendekatiku terus duduk disampingku. Aku memeluknya dan terdiam beberapa saat. Aku tidak sanggup memilih kata-kata, aku menyadari apa yang dilakukannya barusan jauh lebih baik daripada dia melakukannya beneran untuk melampiaskan nafsunya. "Sudah sana mandi dulu, mbak udah tahu semua!" dia pun bangkit dan bergerak keluar kamarku. Sempat-sempat aku melirik pantatnya yang bagus - bulat dan tampak kokok - tercetak dibalik celana pendeknya.

13

Kejadian ketiga inilah inti dari keseluruhan ceritaku. Saat itu Dody udah naik kelas tiga dan aku sendiri udah berani raba-rabaan ama Pinpin. Meski jarang yang sampai telanjang bulat, kadang-kadang yang dilakukan Pin-pin bisa membuatku melayang, aku tak tahu apakah itu yang disebut orgasme atau tidak. Cuman setelahnya memang membuatku sayang banget sama Pin-pin. Kadang-kadang aku melakukan masturbasi juga. Sebaliknya Dody dalam pengamatanku sekarang jadi anak yang serius dan cenderung jadi pendiam. Sesekali Pin-pin mengajakku nonton film blue, kadang-kadang dirumahnya yang besar kadang-kadang juga dikamarku, untuk menambah pengetahuan alasannya. Meskipun tidak sering, sesekali setelah nonton film itu, kami bercumbu. Pertama sih cuman cium-ciuman saja, lama kelamaan aku jadi semakin berani 'dilucutin'. Kalo dulu diraba aja udah gemetaran, sekarang kalo cuman dicium rasanya kayak ada yang kurang. Kadang-kadang rabaannya membuatku melayang dan membuatkan membiarkannya melepaskan pakaianku. Sering cumbuannya begitu merangsangku sehingga kadang ketika tersadar Pin-pin udah berada diantara pahaku yang terbentang dan aku merasakan penisnya udah menempel di pintu lubang vaginaku dan kurasakan seperti sedang menekan-nekan masuk. Kadang kepalanya udah hampir masuk semua. Sampai tahap itu biasanya aku tersadar, bangkit dan mendorongnya perlahan-lahan, memeluknya sambil berbisik. "Kamu khan janji, nggak sampai begini khan?" Biasanya Pin-pin tersadar dan tidak marah. Kadang sebagai tanda terima kasihku, aku membaringkannya dan sambil duduk diatas lututnya bertelanjang bulat, aku menyelesaikan nafsunya itu. Aku urut batang penisnya perlahan-lahan, dan mengadopsi dari 'ilmunya' si Dody, aku mengoleskan Sariayuku untuk bahan pelicin. Ejakulasinya kadang-kadang kuat sekali menerpa dada dan perutku. Begitu kuat sampai lututnya kurasakan gemetar dan kejang kurasakan diselangkanganku yang mendudukinya. Secara umum aku masih perawan sampai saat ini (jika ukurannya udah penetrasi atau belum). Kejadiannya dengan Dody terjadi disuatu sore hari. Hari itu pas hari libur dan dikampus ada acara hiking pada hari sebelumnya dan baru selesai pada sekitar jam 3 sore hari hari berikutnya tiba dikampus. Pokoknya super lelah deh. Hari pas hujan deras sekali, dan sekalian berbasah-basah aku boncengan ama Pin-pin pulang. Pin-pin hanya mengantarku sampai depan rumah dan langsung pulang. Aku sambil berbasah-basah, aku membuka kunci pintu rumah, langsung ke kamar mandi belakang untuk melepas bajuku yang basah kuyup. Aku lihat Dody sedang tertidur nyenyak diatas karpet diruang tengah. Sementara itu hujan diluar tampak semakin deras saja. Aku segera melepas kaosku yang basah kuyup, bra, celana jeans dan celana dalamku. Aku merasakan kulit pinggulku seperti berkerut-kerut kedinginan terkena air hujan, terutama pas bagian karet celana dalamku yang membentuk tekstur akibat tergencet dua hari berturut-turut. Perutku rasanya dingin banget, payudaraku mengeras dan terutama putingnya yang tegak mengacung akibat

14

kedingingan. Aku pakai piyama warna pink muda yang tadi aku sambar dari jemuran dan tanpa mengenakan apa-apa dibaliknya aku mengenakannya setelah membilas diri di shower. Guyuran airnya rasanya hangat dibandingkan terpaan air hujan tadi. Aku keluar dari kamar mandi berpiyama dan memasukkan pakaian kotor tadi ditempat cucian dan bergegas masuk rumah. Dody masih tertidur dengan nyenyak di karpet, TV masih menyala, sementara itu hujan terdengar semakin keras saja disertai angin dan petir. Perutku tibatiba terasa begitu lapar, sementara itu badanku rasanya pegal-pegal sekali. Aku ambil roti diatas meja dan memakannya dengan rakus sambil rebahan disofa. Dody bercelana pendek dan berkaos oblong sedang tertidur nyenyak terdengar dari suara dengkurnya perlahan-lahan. Dicelana pendeknya terlihat bongkahan besar buah pelirnya dan samar-samar tercetak sebentuk batang seukuran lem UHU stick ukuran kecil tampak mengarah keatas agak miring kekiri. Kaosnya agak terangkat sedikit keatas sehingga perutnya terlihat samar-samar ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku habiskan setangkup sandwich dan mulai memakan setangkup berikutnya sambil rebahan disofa panjang diujung karpet dimana Dody sedang tertidur. TV sedang menayangkan MTV most wanted, VJ-nya Sarah, kemudian ada lagu dari Westlife. Boleh juga boys-band sekarang, mereka keren-keren. Karena lelahnya, aku rebahan disofa sambil merasakan secara perlahan-lahan tubuhku mulai menghangat meskipun hanya diselimuti piyama tipis itu tanpa apa-apa dibaliknya. Aku ambil bantal kecil dan menyelipkannya diantara pahaku dan merasakan hangatnya meresap kedalam tubuku bagian bawah. Dody membalikkan badannya dan tengkurap dan terus tidur nyenyak. Maksudku saat itu rebahan sebentar kemudian aku masuk kamar ganti baju dan terus tidur dikamar, eh nggak tahunya tanpa terasa aku benar-benar tertidur disofa saat itu. Biasa saja sebenarnya aku tertidur disofa dan bukan kali itu saja. Tapi kali itu karena lelahnya aku tidak sempat berganti piyama, atau setidaknya memakai sesuatu dibaliknya. Sehingga aku tidak menyadari saat aku tertidur, sesosok mata sedang menyaksikanku dari jarak yang begitu dekat. Begitu lelahnya aku sehingga tanpa kusadari kain piyamaku tersingkap dan ketika kaki kananku terangkat dan menyandar disandaran sofa, selangkanganku yang penuh rambut betul-betul terbuka lebar hanya sekian meter saja dari seorang anak muda yang sedang dalam puncak-puncaknya mencari pengetahuan tentang seks. Sementara aku sendiri sedang bermimpi. Dalam mimpiku aku merasa sedang dituntun Pin-pin sedang menuruni bukit. Tapi saat itu aku merasakan hanya kami berdua saja dan merasakan tiba disuatu padang yang luas dan penuh dengan rumput-rumput yang tinggi dan hijau muda, dengan bunga-bunganya yang indah. Pin-pin mengajakku beristirahat dan kami rebahan sambil memandangi dataran dibawah yang tampak kotak-kotak seperti puzzle. Pin-pin memelukku dan aku merasakan dadanya yang luas dan kuat sedang merengkuhku dengan hangat

15

mengalahkan dinginnya hembusan angin gunung itu. Kemudian aku merasakan nikmatnya ketika jemari-jemarinya mulai meremas-remas payudaraku, putingku dijepitnya pake jari tengah dan telunjuk. Aku mulai merengkuh pinggulnya dan menggerakkan tanganku keselangkangannya dan menemukan bahwa batang penisnya itu telah terbuka sehingga aku bisa merasakan tekstur kulit yang seperti berulir oleh urat-urat yang menonjol. Sementara itu aku merasakan tangannya bergerak menyusup diantara pahaku dan tiba-tiba aku merasakan telah telanjang bulat. Jemarinya membelai-belai selangkanganku dan mengucek klitorisku dengan cepat. Aku merasakan gairah yang semakin naik, dan tiba-tiba aku merasakan ada anak-anak kecil berlarian diantara kami. Aku melihat senyuman Pin-pin dan ketika aku meraih wajahnya aku merasakan sesuatu yang hangat mulai masuk perlahan-lahan kedalam tubuhku melalui selangkanganku. Gairahku semakin naik seiring dengan masuknya batang penisnya itu. Dody meletakkan kedua sikunya diantara dadaku sehingga dadanya menghimpit payudaraku dan tiba-tiba kurasakan sesuatu yang keras menghentak masuk vaginaku dan aku merasakan sedikit rasa perih tepat ketika sesuatu menggelitik klitorisku. Tampaknya seluruh batangnya telah masuk. Dia mengangkat pahaku dan membukanya lebarlebar sebelum dia menarik pinggulnya sehingga batangnya tertarik keluar perlahan-lahan. Rasanya mulai terasa nikmat. Aku merangkulkan tanganku kelehernya dan tiba-tiba dia menghentakkan pinggulnya dengan kuat dan ..... Ketika aku membuka mata aku akan menjerit tapi segera tertutupi sepasang bibir hangat. Tubuhku tergeletak sebagian disofa, posisiku sedikit miring sehingga pinggulku berada dipinggiran sofa. Piyamaku terbuka lebar sehingga perut dan dadaku terbuka. Sepasang tangan merangkul punggungku dengan kuat diantara piyamaku yang terbuka. Paha kananku terbentang ke sandaran sofa, tertindih pinggul dan perutnya sementara paha kiriku berjuntai kelantai tertahan sebentuk paha kokoh. Tapi bukan itu yang membuatku menjerit. Sesuatu yang keras dan hangat terasa mengganjal didalam vaginaku yang terasa seperti tertusuk-tusuk jarum tapi ada sedikit rasa enak ketika ditarik dan ditusukkan lagi perlahan-lahan. Kesadaranku masih sedikit melayang antara mimpi dan kenyataan dan ketika mulai sadar penuh aku meronta. Dody menindihku dan sedang bergerak-gerak perlahan menusuk-nusukkan penisnya kedalam lubang vaginaku. Kedua tangannya merengkuh punggungku diantara piyamaku yang terbuka sehingga membuat kedua tanganku berada diantara lehernya. Dadaku terhimpit kuat dibawah dadanya yang telanjang. Pinggulnya terus bergerak-gerak dengan kuat. Aku meronta-ronta sambil menjerit tapi kembali bibirnya menutupi bibirku sehingga jeritanku seperti tertelan suara hujan yang masih saja deras. Aku menjambak rambutnya dan meronta-rontakan kedua pahaku tapi himpitannya benar-benar kuat. Kedua tangannya mengelus-elus punggungku. Tapi tampaknya tenagaku tak cukup

16

kuat melawan kehendaknya, apalagi kondisiku saat itu begitu lelahnya. Sehingga akhirnya yang terjadi aku menyerah, dan merasakan tubuhnya memompaku dengan cepat dan kuat. Gesekan-gesekan batang penisnya betul-betul meng'kanvas'kanku. Antara rasa nikmat yang kadang-kadang sempat muncul dan rasa perih yang juga bersamaan terasa, membuatku benar-benar dibawah kungkungan nafsunya. Rasanya lama sekali dia melakukan itu, cukup lama untuk merubah rasa perih yang ada menjadi rasa nikmat yang aneh. Sampai suatu saat Dody melepaskan rangkulannya dan mulai bergerak cepat sekali menggesek-gesekkan batangnya. Meskipun tubuhku lepas dari kungkungan itu, tapi tubuhku sudah tidak sanggup lagi bereaksi terhadap perbuatannya dan membiarkannya menyelesaikannya. Beberapa saat kemudian Dody seperti mengejang dan tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat didalam vaginaku, sesuatu yang tiba-tiba mengalirkan rasa nyaman yang teramat sangat ditubuhku sebelum aku sadar apa yang terjadi dan bangkit sambil berteriak dan mendorong tubuhnya sehingga menekuk batang penisnya yang sedang menusuk-nusuk sangat cepat kedalam tubuhku. "Dod........... jangan didalam.....!" Tapi aku terlambat, Dody telah menyuntikkan sejumlah besar sperma kedalam vaginaku. Dody berkeringat deras dan masih bergerak-gerak cepat ketika aku meronta dan menyebabkan batang penisnya terlepas dari dalam lubang vaginaku. Aku melihatnya tampak berkilat, kokoh dan mendongak keatas, kepala batangnya tampak penuh dan berkilat merah tua, ujung masih sempat menyemprotkan cairan spermanya dan jatuh bergerai-gerai diatas rambut kemaluanku, tampak setitik cairan putihnya menetes jatuh kekarpet. Dengan lemah aku bangkit dan menamparnya keras sekali, dan dengan sisa-sisa tenaga aku berlari masuk kekamar dan membanting pintunya dengan kuat. Aku menangis sejadi-jadinya diatas ranjang. Kejadian di sore hari itu membuatku tak bisa berpikir sampai berhari-hari. Bayangkan adikku sendiri memperkosaku justru disaat aku mulai menganggapnya berubah. Meskipun aku sendiri tidak menganggapnya sepenuhnya salah. Aku merasa salah juga saat itu mengapa memberikannya peluang, disaat aku betul-betul lengah. Setidaknya aku berpikir masih untung dia bukanlah adik kandungku sendiri. Aku bahkan nggak bisa bercerita kepada siapapun. Tidak kepada Papa dan Mama, apalagi kepada Pin-pin. Salah satu pikiran terberatku, bagaimana kalau aku hamil mengingat begitu banyak spermanya yang masuk kedalam vaginaku. Justru bukan dipersenggamaannya aku terbebani, malahan kadang-kadang aku masih sering memimpikan apa yang dilakukannya padaku itu. Juga aku bertanya-tanya kenapa tidak ada darah yang keluar, bukankah aku sendiri merasa belum pernah melakukan itu. Kelegaan aku alami ketika sampai sekian bulan aku tidak pernah telat mendapatkan haid. Tapi sampai berbulan-bulan kemudian aku tidak/jarang bertegur sapa dengan Dody, kami seperti dua orang didua dunia yang berbeda. Dody sibuk dengan urusannya sendiri begitu juga aku. Juga hubunganku dengan Pin-pin jadi agak canggung, kami jadi jarang

17

bercumbu. Aku takut ketahuan Pin-pin bahwa seseorang telah merasakanku sebelumnya. Sekarang Dody telah kuliah di Bandung dan kami jarang-jarang sekali ketemu. Setiap ketemu selalu ada rasa tertentu yang muncul setiap kali dia memandangku. Papa dan Mama selalu bangga pada kami berdua. 3. AKU DAN RATIH 01 Ratih adalah adik kelasku. Dia angkatan 96 sementara aku sendiri adalah angkatan 94. Aku berkenalan dengannya ketika saat itu kita bersama menjadi panitia disebuah pameran. Ratih sebenarnya tidak terlalu cantik, tapi cukuplah manis. Kulitnya agak sawo matang. Tingginya sekitar 165-an cm. Bertubuh padat, payudaranya tidak terlalu besar malah cenderung kecil tapi berputing besar, perutnya liat dan pinggulnya OK banget, pantatnya gedhe dan penuh padat. Selangkangannya empuk, hangat dan berambut agak jarang sehingga lipatan-lipatan daging vaginanya terlihat jelas bergelambiran menutupi lubang vaginanya yang dalam dan penuh dengan denyutandenyutan kuat. Klitorisnya besar dan tampak menonjol merah tua berkilat jika bibir-bibir yang menutupinya dijembeng. Secara umum aku telah berteman dengannya nggak terlalu lama, tapi sikap permisifnya telah membawaku 'merasakan' kehebatan tubuhnya. Aku bahkan nggak harus berpacaran dengannya untuk bisa merasakan betapa ketat dan liatnya tubuhnya. Kejadiannya terjadi pada suatu malam sekitar jam 20.00-an di kamar mandi suatu gedung pertemuan yang besar dikotaku. Ketika itu Ratih memintaku untuk mengantarnya pulang karena dia sedang menjaga pameran disana. Aku datang disana sekitar jam 19:45-an dan melihat pengunjung pamerannya begitu banyak. Selain Ratih disana sebenarnya masih ada 4 orang yang lain yang juga bertugas menjaga pameran. Sampai suatu saat Ratih memintaku untuk mengantarnya kekamar mandi dibagian lain dari bangunan itu. Maklum selain area itu besar, juga terkenal katanya agak angker. Kami berdua menuruni tangga yang menuju tempat pameran. Dan berjalan berduaan menuju bagian belakang dari bangunan itu. "Rat, katanya disini angker ya!" Aku menggodanya sambil menunjuk sebuah bangunan yang berbentuk seperti rumah kecil dengan pintu-pintu seperti sel penjara. "Ih Mas Ari, nggak ah!" Dia mendekat dan mencubitku dan kami berdua berjalan terus sambil ketawa-ketawa. Akhirnya sampailah kami dikamar mandinya. Lampunya mati semua aku mencari semua saklar dan akhirnya ketemukan sebuah yang menyalakan lampu kecil diatas dua kamar mandi yang terpisah dinding setinggi sekitar 2 meteran. "Tuh lampunya udah nyala, sana gih!" Ratih masuk kamar mandi dan sebentar kemudian aku mendengar suara seperti mendesis atau seperti kran yang ditutupi separuh lubangnya dengan tangan sehingga airnya memancar. Itulah bunyi cewek kalo lagi

18

kencing. Karena gelap suara itu terdengar jelas sekali. Sebentar kemudian suara siraman-siraman air terdengar dan tak berapa lama kemudian Ratih keluar dari kamar kecil itu. Entah kenapa suara desisan air tadi membuat kontolku agak menegang. Bayanganku suara mendesis seperti hanya keluar dari lubang yang sangat sempit. Nah unsur sangat sempit inilah yang membuatku tegang. Padahal sempitnya lubang kencing cewek khan belum tentu menandakan sempitnya lubang vaginanya. Ratih mendorong punggungku dari belakang karena aku menunggunya didepan pintu ruangan kamar mandi itu dan melihat kedepan. "Kalo dari sini bagus banget yo itu!" aku berkata sambil menunjuk bangunan utama menara apartemen yang baru dibangun yang diberi lampulampu kecil diatas tiap jendelanya. "Bagus apa?" katanya menggodaku sambil mendorongku tapi karena aku tetap diam ditempat, dia jadinya memelukku dari belakang, sebentar saja, kemudian dia memisahkan diri. Dan berdiri dibelakangku. "Udah?" "Udah" "Suaranya keras banget!" "Ih ngeres, nggak-nggak-nggak!" aku tertawa perlahan. "Keras banget, bener!" "Yaa.. gimana lagi, emang dari sononya kayak gitu!" Katanya sambil mencubitku. "Rat, kita mbaliknya kesana nanti aja ya. Disini dulu saja sebentar!" "Ngapain disini, bau!" "Ala cuek aja!" Aku menarik tangannya perlahan sehingga dia berada disebelahku. Kami terdiam beberapa saat demi menyaksikan pemandangan yang memang indah justru dikegelapan malam. "Mas katanya kalo berduaan dikegelapan kayak gini, pihak ketiga adalah setan!" "Iya, setannya bisa kayak aku atau kayak kamu!" "Apa iya? Setan kok manis kayak gini!" Aku melihatnya dikegelapan malam, tingginya hanya sebahuku lebih sedikit, tersenyum manis (emang manis bener kalo Ratih tersenyum). Entah kenapa tiba-tiba aku merangkulkan tanganku kepinggulnya dan menariknya mendekat kearahku. Tubuhnya menempel ketubuhku dan aku merasakan hangat tubuhnya dipinggul menembus kain-kain pakaian kami (setidaknya empat lapis, celana dalamnya, celana jeansnya, celana pantalon dan celana dalamku). "Tuh setannya Mas Ari khan?" "Apa iya, masak gini aja setan?" "Ya iya, kalo didiemin nanti kemana-mana" "Apanya?" "Tanganmu itu!" "Lho emangnya tanganku ngapain?" "Nggak!"

19

"Ratih-ratih, kamu memang manis!" "Gombal!" "Ya udah, kami nggak manis tapi muanis banget!" Sambil tertawa kecil aku semakin merapatkan pinggulnya kearahku. Sesekali aku merasakan daging pantatnya yang empuk tapi liat dan hangat. "Nggg...!" Dia merengek manja dan merapatkan punggungnya kedadaku sehingga sekarang dia berada didepanku. Kali ini aku merangkulkan tanganku sehingga telapak tangannya berada diatas perutnya sehingga otomatis pantatnya tepat mendarat empuk didepan selangkanganku. Kadangkala dalam situasi seperti itu aku bisa menahan diri untuk tidak ereksi sehingga tidak terlihat bernafsu, sehingga kehangatan pantat besarnya itu tidak bisa membuat kontolku bangkit meskipun tadi sempat terbangkit juga. Aku menggerakkan tanganku satunya sehingga keduanya berada diatas perutnya. Ada sedikit kerutan lemak, tetapi secara umum Ratih seksi sekali. "Nggak ngganjel khan?" "Apanya?" "Ini" sambil berkata aku menekankan pinggulku sehingga terasa keempukan pantatnya mengalirkan kehangatan dibatang kontolku. "Kok masih empuk mas?" Pertanyaan lugas tapi akibatnya sedikit merangsangku sehingga akhirnya kontolku mulai bergerak membesar. Aku masih merangkul perutnya. "Siapa bilang, tunggu aja sebentar lagi, kalo marah doi nakutin lho!" "Takut apaan? Aku khan mahasiswa. He..he nggak ada hubungannya ya mas!" Sambil berkata-kata Ratih bergerak-gerak kekiri dan kekanan sehingga otomatis seperti mengelus-elus batang kontolku yang segera bangkit dengan cepat dan tak berapa lama kemudian udah mengeras dibalik celana dalamku. Untung tadi posisinya bener sehingga tidak terasa sakit karena tepat berada diantara belahan pantatnya itu. Tapi terasa sekali keras, ditambah lagi celana kain yang aku pakai semakin mengalirkan 'kekerasan' itu. Beberapa saat kami berdua terdiam demi merasakan sesuatu telah mengalir diantara kami. Aku merasakan empuk dan hangat pantatnya 'menakup' batang kontolku. Entah apa yang dirasakan Ratih, merasakan silinder panjang dan keras diantara bongkahan pantatnya. "Mas Ari, udah pernah begituan?" "Begituan apa? Lari lintas alam!" "Sst... nggak seneng aku!" "Kalau nggak seneng, ya udah putus aja!" "Iya khan, sukanya bercanda melulu!" "Aku memang anggota Srimulat kok!" Aku menggerakkan tangan kananku perlahan keatas sehingga berhenti tepat dibawah payudara kanannya. Sementara tangan kiriku aku gerakkan kebawah sedikit sehingga mungkin pas di ujung area jembutnya. Ratih kurasakan agak menempelkan tubuhnya lebih erat kedadaku. Aku merasakan punggungnya yang lebar menempel hangat didadaku, rambutnya yang sebahu tercium harum sekali

20

dihidungku. Aku merasakan adanya peningkatan dari detak jantungnya terasa ditangan kananku. "Mas...!" "Apa?" "Nggak!" "Kamu kok sukanya gitu, ngomong terus nggak diterusin, jadinya khan nggantung" "Anu..... tangannya dinaikin dikit dong!" Pasti yang dimaksudkannya adalah tangan kananku yang berada pas dilembah payudaranya. "Nggak ah, aku takut ketinggian!" "Tu khan, serius dong!" Belum selesai dia mengucapkan kalimatnya, tangan kananku aku tangkupkan pas diatas payudaranya. Emang kecil karena hanya terasa seperti gundukan kecil saja. Dengan gerakan seperti tidak sengaja aku menggerakkan tanganku kebawah sehingga mengelusnya secara perlahan. Aku merasakan tubuhnya bergerak sedikit seperti tergial. Dia memegang tangan kiriku. "Kecil ya mas!" suaranya berbisik perlahan nyaris terdengar seperti mendesah. "He-eh, tahu sebabnya. Karena jatahnya dipake buat nggede'in ini!" Sambil berkata itu aku menggoyangkan pinggulku kekiri dan kekanan sehingga batang kontolku yang mulai kehilangan 'tegangan' kembali menegang demi ditekan kearea diantara dua bongkahan besar pantatnya itu. "Hhhh.... ini khan buatan yang diatas sana!" "Heeh, kamu harus bersyukur!" Sambil terus bercakap-cakap aku terus melakukan rabaan-rabaan dipayudaranya itu. Sementara tangan kiriku mulai berani mendekat ke area venusnya yang menggunduk meskipun dia dalam posisi berdiri, tanpa ada hambatan sedikitpun darinya. Detak jantungnya terasa semakin cepat saja. Sebentar kemudian terdengar sesekali suara nafas tertahannya. "Rat?" "He eh?" "Kamu udah pernah begituan?" "Belum pernah, cuman udah pernah ngrasa'in enaknya" "Kok bisa?" "Pake ini!" Sambil berkata dia mengangkat tangannya dan jemari tengahnya diangkat sehingga aku tahu maksudnya. "Emang bisa enak?" "Tinggal gimana caranya khan!" suaranya mulai keluar nada-nada manja yang erotis. "Jadi kamu udah nggak...?" "He-eh, kenapa keberatan? Mas Ari pasti juga udah nggak toh?" "Iya" "Pake ini juga?" Katanya sambil mengangkat tangannya lagi dan membentangkan jemarinya. "Enggak!"

21

"Lha pake apa?" "Pake ini!" Sambil berkata tersebut aku menggerakkan tangan kiriku dan menyapu kehangatan selangkangannya. Ratih merapatkan tubuhnya demi merasakan elusan diarea vaginanya. Aku nggak hanya menyapunya sekali tapi menggerakkan jemariku menggeranyanginya dan kira-kira pas diarea diatas klitorisnya aku mengucek-nguceknya perlahan. Sementara tangan kananku aku selipkan diantara sweaternya dan segera menyentuh perutnya yang hangat dan keatas terus sampai kutemukan kain bra-nya dan jemariku mencari-cari celah dibawahnya dan segera ketika ketemu segera semua jemarinya menyelinap masuk dan menemukan daging yang empuk walaupun kecil tapi dihiasi oleh daging liat seukuran batang rokok yang terasa keras dan mengacung. Aku menjepitnya dengan jari telunjuk dan jari tengah dan memutar-mutarnya perlahan. Aku merasakan tubuh Ratih mengejang demi merasakan rabaanku. Kontolku untuk kesekian kalinya menegang keras sekali dan aku merasakan nafsuku semakin memuncak demi merasakan getaran tubuhnya disekujur tubuhku. "Rat, kita matiin lampunya yuk!" "He..hh!" suaranya he-ehnya terdengar begitu manja. Efeknya dari telinga langsung seperti menggosok kepala penisku sehingga seperti mengedutkan aliran darah dalam penisku. Aku mematikan saklar dan menariknya masuk kekamar mandi tersebut. Karena gelap aku pikir tak perlu menutup pintu sehingga dari dalam ruangan yang gelap terlihat ruangan luar yang agak lebih terang. Aku menariknya dan mendorongnya ketembok sehingga tangannya menumpu pada tembok pada posisi berdiri. Perlahan-lahan aku membuka kancing celana jeansnya dan menarik resluitingnya kebawah. Aku menariknya kebawah sampai kira-kira sepuluh centimeter dari lutut. Sekarang terasa kain lembut celana dalamnya ditanganku sedikit terasa lembab, mungkin karena air. Aku menariknya perlahan-lahan juga sehingga sekarang Ratih tidak memakai apa-apa lagi dibawah. Perlahan-lahan sekali aku menggerakkan tanganku keselangkangannya dan menemukan segerumbulan rambut yang halus tapi nggak terlalu lebat. Sehingga pada elusan pertama langsung kurasakan daging bibir vaginanya, rasanya sebagian halus seperti bagian dalam bibir, basah dan licin, sebagian lain seperti kulit di sisi bagian luar siku tangan. Aku menyeruakkan jemariku kedalam ketebalan bibir-bibir vaginanya itu dan menemukan kelicinan akibat mulai keluarnya cairan vaginanya (bagi cowok yang belum pernah merasakan licinnya cairan itu, coba deh kalian masturbasi atau rangsang penis kalian sampai keluar cairan bening - bukan sperma lho - dari ujung penis kalian, nah kirakira seperti itulah cairan vagina itu cuman lebih kental lagi dan berbau khas yang tak sanggup aku deskripsikan dengan baik sampai sekarang). Ratih semakin menempelkan tubuhnya ditubuhku dan aku bisa merasakan langsung betapa dahsyatnya pantatnya sampai mendorongku kebelakang. Aku terus mengelus-elus vaginanya sampai aku merasa Ratih betul-betul

22

udah naik. Aku sendiri sebenarnya udah nggak kuat banget. "Mas Ari!" "Apa, sayang!" "Pelan-pelan ..ya...mas!" Aku betul-betul udah nggak kuat lagi. Aku mendorong punggungnya sehingga dia menungging. Nggak perlu bersudut 90 derajat untuk membuat vaginanya menghadapku, baru sekitar miring 45 derajat pantatnya telah mendongakkan vaginanya tepat setinggi penisku berada. Aku mengeluarkan penisku dari dalam celana dan merasakan kebebasan ketika batangnya menjulur keluar dengan bebas dan segera aku mengarahkannya kevaginanya didalam kegelapan. Aku menggerakgerakkannya sehingga terasa berada diantara cekungan bibir-bibir vaginanya. "Udah....pas belum?" aku bertanya nyaris berbisik. "He..eh!" Aku mendorongnya perlahan-lahan. Terasa seperti mendorongnya kedaging masif saja, tidak ada kemajuan yang berarti. Rasanya kepala penisku masih tetap ditempatnya, tidak ada celah yang terbelah. "Rat, buka paha kamu dikit dong! .............. Nggak bisa masuk nih" aku berbisik dalam keadaan terangsang berat. Ratih menggerakkan kakinya membuka tapi hanya selebar celananya yang mengikat kedua pahanya. Aku kembali mendorongkan pinggulku mendorong 'ujung tombakku' untuk masuk. Kembali terasa mentok. Aku mengambil posisi lagi. "Kayaknya nggak pas deh mas!" sambil berkata demikian Ratih merenggut kepala batangku, meremasnya sebentar kemudian mengarahkannya kevaginanya. Kali ini nafsuku semakin memuncak demi merasakan kepala batangku mulai terasa terjepit. Aku terus mendorongnya perlahan sehingga seluruh kepala penisku mulai menancap, perlu usaha keras untuk melakukannya. Tangan kananku memegangi bagian luar pantatnya dan tangan kiriku memegangi pangkal batangku untuk menjaganya agar tidak terlepas dari jalurnya. Aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan mendorongnya perlahan-lahan kembali. Ratih menumpukan tubuhnya dengan dua tangannya didinding kamar mandi itu. Kembali rasanya seperti menemukan tembok daging yang liat. "Terus mas!" Ratih berbisik mesra membuatku terus bertenaga untuk menaklukkannya. Aku mendorongnya sedikit kuat dan kali berhasil memasukkan sekitar 5 cm lagi sehingga ditambah panjang kepala batangnya maka lebih dari separuh batangku telah masuk kedalam vaginanya. Lagi-lagi ini perlu usaha keras karena daya cengkeramnya ternyata jauh lebih kuat lagi. Bukan jepitan yang pasif tapi seperti mengalirkan denyutan darah dan urat-uratnya keseluruh batang penisku yang masuk, sehingga seperti gerak peristaltik dalam ilmu biologi. "Ratih .. sayang!" "Mas Ari!" Dengan genjotan terakhir, akhirnya berhasil pula seluruh batangku masuk. Aku terdiam beberapa saat demi merasakan tubuhku seperti dipancangkan oleh cengkeram dahsyat lubang vaginanya. Perlahan lahan

23

aku memasangkan kedua tanganku memegangi pantatnya dan mulai menggunakannya sebagai tumpuan untuk menarik penisku keluar. Perlahanlahan tapi pasti penisku mulai bergerak keluar dari cengkeramannya dan ketika seluruh batangku mulai terasa bebas dari jepitannya aku mendorongnya lagi. Kali ini tidak seketat tadi, mungkin karena ototnya telah mengembang. Aku mulai bergerak dengan teratur dengan tempo yang lambat sekali sehingga dapat kurasakan setiap inci permukaan lubang vaginanya yang seperti daging ikan cumi yang masih mentah tapi hangat. Setiap dua atau tiga kali tusuk dan tarik, aku berhenti sejenak demi merasakan akan ejakulasi. Demikian seterusnya mungkin sampai sekitar 5 menitan, entah berapa kali aku menusukkan batang kontolku kedalam vaginanya, yang jelas setiap kali kulakukan, rasa nikmatnya semakin bertambah saja dan pas dekat-dekat ejakulasi aku menggerakkan batang kontolku menusuk-nusuknya dengan sedikit cepat. Aku mendengar suara sesekali seperti bunyi kecipak yang keluar akibat benturan buah pelirku dengan selangkangannya atau akibat letupan jepitan daging vaginanya dikepala kontolku yang menimbulkan getaran suara itu. Rasanya merangsang sekali. Jika kita menyenggamai seseorang dan mendengar kecipak bunyi divaginanya akibat dari gerakan kita, rasanya seperti menegaskan bahwa vagina seseorang itu udah layak untuk kita senggamai. Apalagi jika dipadukan dengan bunyi rengekannya dibibirnya dan gerakan-gerakan tak terkontrolnya setiap kali bunyi itu terdengar. Ketika sampai waktunya aku menarik batang kontolku keluar dan berjalan tertatih-tatih kepinggiran tembok disebelah Ratih yang masih menungging dan mengocoknya dengan cepat dan ketika keluar aku merasakan seperti seluruh cairan didalam tubuhku tersedot mengalir melalui saluran dalam kontolku dan menyembur keluar dengan kuat. Setiap semburannya mengejangkan tubuhku, pantatku terasa seperti kaku, lututku gemetaran dan dadaku berdetak cepat sekali. Aku segera mencari pegangan ditembok, kalo tidak aku bisa terjatuh dilantai. Sampai beberapa saat aku masih berpegangan ditembok dan merasakan kontolku mulai melemas. Aku menoleh dan melihatnya dalam kegelapan telah merapikan pakaiannya. Aku pun dengan tangan yang masih gemetar merapikan pakaianku lagi. Tanpa membersihkannya aku memasukkan penisku kedalam celana dalam dan merapikan celana kainku lagi. Aku mencuci tanganku yang berlepotan sperma dan bau dari vaginanya. Dan menuntunnya keluar ruangan. "Kamu hebat, sayang!" "Mas Ari jahat, aku belum nyampai! Hutang lho!" dia merengek dan meletakkan tangannya dan dahinya dibahuku. "Janji!" aku memeluknya Meskipun rasanya lama sekali aku melakukan itu, ternyata kami keluar tidak lebih dari 20 menit dari tempat pameran itu yang ketika kami kembali telah mulai ditutupi pintunya. "Ratih tadi kemana toh? Dicari pak Bambang tadi!" "Aku nyari boneka di Hero sama mas Ari!" Bisa juga dia menjawab sekenanya. Dalam hati aku berkata 'udah dapat khan Rat! Boneka yang

24

bisa nyemprot!'. Aku berusaha tetap dinaungan kegelapan agar tidak terlihat wajahku yang pasti berantakan sekali. Tapi tidak demikian dengan Ratih, karena wajahnya sehari-hari memang begitu. Wajahnya khas wajah erotis, yang cenderung kayak baru bangun tidur atau sedang nggantung atau sedang nafsu. Malam itu kami berdua pulang agak malam, karena aku mengajaknya makan dilesehan dan ngobrol disertai perasaan baru tentang apa yang terjadi antara kami. Beberapa hari kemudian 'terpaksa' aku harus menyelesaikan tugasku tadi. Kami melakukannya dengan liar bagaikan dua ekor kuda yang sedang menyalurkan birahi. (bersambung) AKU DAN RATIH 02 Seminggu kemudian baru aku sempat menelponnya. "Halo" "Halo, bisa bicara dengan Ratih?" "Sebentar ya!" terdengar suara memindahkan pesawat, ada suara musik sebentar. Kost-kostnya cukup besar. Bentuknya mirip-mirip motel tapi ada pagarnya dimana masing-masing kamar menghadap keluar/ ketaman. Ada carport untuk masing-masing kamar. Kamarnya cukup luas, mungkin sekitar 4x5-an meter berkamar mandi sendiri. Antara satu kamar dengan kamar lain dipisah oleh semacam tembok sehingga seperti tersekatsekat. "Halo!" "Ratih?" "Iya, mas Ari ya?" "He-eh, apa kabar?" "Jahat!" "Apanya?" "Katanya janji!" "Sorry lagi sibuk banget nih! Masih nggantung?" "He eh!" "Nggak kamu selesaiin sendiri?" "Nggak, khan itu tanggungan kamu mas!" "Iya ya! Besok malam?" "Aduh, aku ada janji! Lusa aja gimana?" "Iya deh! Dimana?" "Terserah mas Ari. Gimana kalo disini?" "Ok, ya udah deh!" Itulah yang selalu terjadi antara aku dan Ratih. Langsung dan tanpa tedeng aling-aling. Pernah nggak kamu mbayangin lagi enak-enaknya nyantai tiba-tiba seorang cewek duduk disebelah kamu dan langsung berkata 'mas tahu nggak aku tadi pagi nyobain begini' sambil berkata begitu dia menggesekkan jari tengah dan telunjuknya mengelus-elus

25

telapak tangannya menirukan gerakan mengesek klitoris. Atau tiba-tiba seseorang bertanya 'mas, itunya cowok itu ada tulangnya nggak sih? Atau cuman otot?' atau 'mas, punyamu agak miring kekiri tuh!'. Nah seperti itulah hubunganku dengan Ratih meskipun dia bukan pacarku. Yang terjadi dulu, memang berkesan bagiku. Selama ini aku melihatnya sebagai teman aja, jadi sah aja kalo kadang-kadang emang pas ngelamun atau bahkan pas onani wajahnya terbayang atau pantatnya yang OK, kadang malah kalo biasanya pas onani agak lama, begitu wajah dan tubuhnya melintas diotakku, sebentar kemudian ejakulasilah aku. Malah aku pernah menscan fotonya dan mengolahnya dengan Photoshop dan menempelkannya kegambar-gambar cewek berpose telanjang atau lagi beradegan senggama difoto. Satu karyaku dengan cara itu pernah kusimpan sampai berbulan-bulan dan hanya kugunakan pas onani. Nah, dengan kondisi seperti itu, janjian untuk nyelesaiin 'tugas berat' itu memang sangat merangsangku. Berarti nanti khan kedatanganku ke kostku pasti dengan persiapan memang untuk begituan. Kusebut tugas berat karena aku nggak yakin aku bisa membuatnya orgasme jika kemampuan vaginanya seperti itu. Aku sendiri udah pernah begituan beberapa kali dengan pacarku yang dulu yang jika kuingat-ingat nggak pernah bisa lebih lama dari 10 menitan. Padahal ketika aku melakukan dengan pacarku itu, doi udah nggak perawan lagi dan vaginanya udah longgar nggak seketat milik Ratih. Seringkali aku bisa mengatur irama nafsuku jika pas onani kadang sampai lebih dari satu jam (rekorku hampir dua jam). Tetapi dengan vagina beneran emang lain banget, karena yang berperan bukan hanya jepitan dan cengkeraman nikmat di kontol kita, tapi juga desahan nafas, hangat perut, paha, payudara dan punggungnya. Apalagi jika doi orangnya 'interaktif', yang nggak hanya telentang mengangkang pasif nungguin kita nyemprot, tapi terus menerus melakukan 'body language' setiap kali 'ditusuk' (tahu nggak temanteman cowok? salah satu gerakan di senam body language kayak di ANTeve tiap pagi itu - yang gerakannya berupa gerakan mendorong area pinggul kedepan disertai mengempiskan otot perut - bisa membuat otot-otot vagina bergerak menyempit sehingga menjepit dan mengenyot apa saja yang ada didalamnya). Pertama kali begituan, aku bahkan udah ejakulasi ketika pacarku itu baru memegang batang kontolku saja. Belum dikocok apalagi dimasukkan kevaginanya. Dengan kondisi lagi 'nggantung' kayak gitu, Ratih pasti nanti akan lebih agresif lagi. Aku segera mempersiapkan diri dengan baik. Tiap malam sebelum pertemuan itu aku selalu menelan telur setengah matang, paling tidak dua butir. Tiap mandi aku selalu mencuci kontolku dengan sangat bersih, jembut yang nggak beraturan aku rapiin. Celana dalam yang bersih aku siapin, nggak tanggung-tanggung aku beli beberapa yang baru. Juga nggak lupa aku beli sebungkus kondom Durex, buat jaga-jaga. Aku pikir begituan pake kondom pasti nggak enak karena hangatnya alat vital masing-masing nggak bisa tersalurkan dengan baik. Emang mungkin aku akan lebih tahan lama pake kondom, tapi aku nggak yakin apakah

26

Ratih mau ngerasain plastik divaginanya. Tibalah hari yang kutunggu-tunggu. Sore itu aku bersiap diri sekitar jam 19.00 sore, pake celana dalam baru untuk membungkus benda kesayanganku itu, jembutnya udah rapi, nggak terlalu lebat tetapi juga nggak habis-habis amat, batang dan pelirnya aku sabun sampai bersih habis. Aku semprotin sedikit Polo Aqua agar ada nuansa harum, terus pake celana jeans dan kaos, terus pake jaket. Aku masukin kondom kedalam dompet. Dan segera naik motor dan meluncur ketempat kost Ratih. Sampai disana sekitar 19.20-an, aku langsung masuk kehalaman kostnya dan parkir motor didepan kamarnya. Aku ketuk pintu perlahan. "Ratih, ini aku!" "Sebentar!" terdengar suaranya dari dalam kamar. Aku tunggu sebentar dan pintu terbuka. Yang pertama kulihat wajahnya yang manis tersenyum dan menarik tanganku masuk. Aku ikut saja. Pintu ditutup dibelakangku dan belum sempat berkata apa-apa dia mendorongku kepintu dan meraih pundakku dan melumat habis bibirku. Agak beberapa lama aku merasakan betapa ganas bibirnya melumat bibirku. Aku memegangi pinggulnya dan merasakan hangat tubuhnya mengalir lewat tanganku. Didadaku terasa ada dua tonjolan kecil yang keras dari putingnya yang menembus bajunya, dia nggak pake BH. Aku pun nggak merasakan pinggiran celana dalamnya ditanganku. Jadi tubuhnya hanya terpisah oleh kain tipis denganku. Aku menggerakkan kedua tanganku turun dan menakupkan telapak tanganku dipantatnya dan meremasnya. Terasa gerakan mengejang perlahan. Sementara itu kontolku udah langsung in dengan tegak dan keras didalam celana dalamku. "Sebentar, sabar ah!" aku menarik bibirku dari lumatannya dan memandanginya lembut. "Jahat kamu mas!" "Ini aku udah disini" "Ayo kekamar!" Aku mendorong tubuhnya dan tertahan tangannya yang sedang mengunci pintu. "Motorku" "Biarin aja!, nggak ada yang perduli kok!" Aku mendorong tubuhnya dan merangkulnya sambil berjalan perlahan masuk kekamarnya. Kamarnya cukup bersih, ranjangnya berseprei warna biru bermotif kotak-kotak kecil warna putih. Disandaran ranjangnya tersampir beberapa dalemannya. "Langsung?" aku bertanya perlahan. "Iya, mas Ari lepas dulu deh bajunya!" Tak ada pilihan lain, aku lepas celana, terus kaos dan jaket, sehingga hanya bercelana dalam saja. Tampak batangnya udah mengeras miring. Ratih tertawa kecil melihatku. "Udah keras ya mas?" "Iya, udah dari kemarin lho! Kamu sih" Ratih mendekatiku dan merangkul

27

bahuku perlahan sehingga perlahan-lahan tubuhnya merapat kedada telanjangku. Terasa ketika pinggulnya merapat ketubuhku ada sesuatu yang memisahkannya yaitu batang kontolku. Aku meletakkan kedua tanganku dipunggungnya melewati dibawah ketiaknya. Aku mencium bibirnya perlahan dan mulai melumatnya. Bibir bawahnya agak tebal sehingga enak banget dikulum, dimain-mainin. Sementara itu tanganku mulai menggeranyanginya, aku temuin resluitingnya dan aku tarik kebawah sehingga tanganku merasakan hangat punggungnya. Aku tarik terus resluitingnya sehingga mentok kebawah pas diarea dekat ujung pantatnya. Aku telusupin tanganku masuk kebawah pakaiannya dan langsung meremas pantatnya itu dan menariknya keatas dan kebawah sambil meremas-remasnya. Perlahan-lahan aku merasakan kain pakaiannya meluncur turun kelantai ketika tangannya dibahuku ia turunkan sehingga perlahan-lahan batas diantara kami mulai terbuka. Tangannya langsung mencari kontolku dan tanpa tunggu waktu menarik celana dalamku kebawah sehingga tiba-tiba kurasakan udara dingin AC serta hangat perutnya dibatang kontolku. Dia menarik tubuhnya dari dekapan dan meletakkan telapak tangannya dibatang kontolku dan menggerakkannya seperti meremas yang berakibat kepala batangku terasa mentok besarnya. Tiba-tiba dia menarik tubuhnya kebawah dan berlutut didepanku sehingga batang kontolku pas berada didepan wajahnya. Aku memandangi wajahnya dan berkata. "Kamu mau?" nggak aku terusin karena konteks kita sama sehingga nggak perlu selesain kalimatku untuk menunjukkan apa yang kumau. "Kok wangi? Habis dilulur ya?" "Nggak kok, cuman tadi barusan dari salon, untuk dimasker!" "Punya kamu mantap banget deh mas, baru kali ini aku lihat sedekat ini" "Oh ya?" sambil berkata begitu aku menggerakkan tubuhku sehingga mendekatkan kepala kontolku dalam genggamannya itu kebibirnya. Dia tidak menghindar, sehingga aku berpikir dia mau melakukan fellatio kepadaku. Ratih masih menggenggam batang kontolku dengan kuat, tapi dia tidak juga mendekatkan bibirnya kepadanya. Dia malah mengangkat batangnya keatas sehingga kepala kontolku mengarah kerambutnya. Aku memegangi kepalanya perlahan dan mengelus rambutnya dengan lembut. "Ayo Rat, tunggu apa lagi?" kataku sambil mendesakkan pinggulku lebih dekat lagi kewajahnya. Ratih menggerakkan batang kontolku kebawah lagi sehingga kepala kontolku lagi-lagi menghadap pas dibibirnya. Dia kemudian mengeluskan kepala batangku kepipinya sehingga aku bisa merasakan kehalusan kulit pipinya disekujur kepala kontolku. Akibatnya kepala kontolku menjadi semakin mengeras seiring dengan gesekan halus disekujur kulit penisku yang kasar berkerut-kerut. Aku melihat matanya terpejam, adegannya mirip-mirip iklan sabunnya Lidya Kandow yang mengeluskan sabun kepipinya, tapi sabunnya digantikan oleh kontolku. Bukan itu saja, Ratih menggesekkan pipinya maju mundur sehingga kepala penisku sampai ke daun telinganya dan sebagian rambut yang

28

menutupinya. Sementara itu bibirnya jadi mendekat kearea jembutku. Dia mendongak masih dengan kontolku dipipinya. "Aku suka yang rambutnya jarang-jarang kayak gini lho mas, kesannya bersih tapi masih macho! Mirip-mirip dagunya Brad Pitt!" "Jadi doi mirip Brad Pitt dong?" Ratih melihat kontolku dan berkata "Iya ya, tapi Brad Pitt pasti lebih alus kulitnya!" sambil dia menggerakkan tangannya keatas sehingga mengelus batang kontolku yang penuh urat. Rasanya greng banget merasakan elusannya itu. "Tapi sama-sama berototnya khan?" kataku sambil agak sedikit tergial. Sementara itu Ratih terus menggerakkan tangannya mengocok batang kontolku. Setiap gerakannya ikut menarik kulit kontolku, mungkin itu dikarenakan dulu aku sering sekali onani tanpa pakai pelumas, hanya menggocok secara 'garingan', sehingga lama-kelamaan seakan-akan seperti memisahkan antara kulit penis dan batang didalamnya (meskipun secara fisik kontol yang kayak gini nggak menyenangkan untuk dilihat karena terkesan kendor, tapi secara seksual rasanya enak sekali, karena kulit-kulitnya yang menggelambir menjadi penggesek yang nikmat bagi dinding-dinding lubang vagina. Jadi teman-teman cowok yang punya adik laki-laki yang udah mulai gede, ajarin deh onani secara 'garingan' ini, dijamin bahagia hidup pasangannya kelak...he...he...becanda nih!").. "Mas?" "Iya .... He emm?" "Kamu sering ngocok ya?" "Dulu iya, sekarang kalo perlu aja!" "Oh begitu ya? Kalo kamu lagi begituan suka bayangin siapa sih?" "Kamu!" "Yang bener?" "Ya kadang-kadang kamu, Desy, Bu Ika, sama yang lain-lain. Tapi kamu yang paling sering, nggak percaya?" "Nggak! Apa coba yang dibayangin dari aku?" "Aku suka bayangin kamu tidur telanjang bulat nggak pake baju sama sekali, terus kamu menggeliat sehingga ..... begitu seterusnya deh! Malu nyeritainnya!" "Ada yang bener nggak?" "Ternyata banyak" "Misalnya?" "Ternyata kamu emang bener-bener hebat, bukan hanya dikhayalan aja" "Oh iya?" "Sumpah!" Ratih terus mengelus-elus batang kontolku sehingga mulai kurasakan selangkanganku mengedut setiap kali tangannya bergerak mentok kepangkal penisku yang menarik seluruh kulit batang penisku dan mengeraskan kepala kontolku sepenuhnya serta membersitkan cairan bening diujung lubangnya. Aku mengira dia akan segera memasukkannya

29

kedalam bibirnya ketika dia mengarahkan kepala kontolku pas didepan bibirnya sehingga aku pun mendesakkan pinggulku maju secara agak memaksa karena nafsu yang udah memuncak. Tapi ternyata aku salah, ketika aku mendesak maju dia malah mengangkat kepala batangku sambil sedikit menjerit sehingga wajahnya menabrak bagian bawah batang kontolku dan bibirnya menabrak pas dipangkal batangnya. "Ayo Rat, lakukan deh!" "Apa mas?" "Ayo masukin kemulut kamu deh, aku udah nggak kuat lagi nih!" "Nggak mau!" "Ayo dong Rat, cobain deh!" "Nggak mau, jijik!" "Nggak apa apa kok, bener!" "Sekali nggak tetap nggak, Ratih pake cara Ratih sendiri aja ya?" "Sekali aja deh Rat, please!" "Kita nggak jadi begituan deh" Ada wajah ngambek diwajahnya. Aku panik, kalo dia emang bener-bener berubah pikiran, khan sayang banget. Vagina sedahsyat itu masa harus dilepaskan. Akhirnya dengan menghilangkan keinginan untuk dioral, aku berkata. "OK, deh!" "Nah gitu dong! Mas Ari nikmati aja ya, biarkan Ratih beraksi!" Sambil berkata begitu dia menarik kontolku sehingga otomatis seluruh tubuhku ikut tertuntun dan berdiri membelakangi ranjang, terus dia mengangkat kontolku keatas sehingga seluruh tubuhku ikut tertekuk kebelakang terus hingga akhirnya aku berbaring terlentang di pinggir ranjang, separuh tubuhku diatas ranjang separuhnya lagi menjuntai dilantai. Batang kontolku mengacung tegak keatas masih dalam genggamannya. Aku nggak punya ide apa yang akan dilakukan Ratih terhadapnya. Aku hanya bisa memandanginya dan merasakan tonjolan putingnya keras dan hangat dipaha bagian dalamku. "Ayo Rat, kamu mau ngapain tadi? Udah nggak sabar nih!" "Pertama kali Ratih mau bikin api, Mas Ari rasain aja ya!" sambil berkata begitu dia menakupkan kedua telapak tangannya dan menjepit seluruh kepala dan sebagian batang kontolku diantaranya. Perlahanlahan dia menggerakkan kedua tangannya seperti layaknya gerakan membuat api dari kayu (tahu khan gerakannya, jangan ditiru lho!). Aku tiba-tiba merasakan rasa yang aneh, bukan nikmat tapi aneh. Kepala penisku rasanya seperti sedang dikucek. Beberapa lama Ratih melakukannya semakin lama semakin cepat. Lama kelamaan bagiku rasanya udah mengganggu. "Kok rasanya nggak enak, Rat?" "Ya, ini khan baru permulaan, pokoknya Mas Ari rasain aja, enak atau nggak enak?" "Mending kamu gigit aja deh, Rat!. Sekalian!" "Tuh khan, maksa deh, dibilangin nggak mau! Nanti juga masuk, tenang aja deh kamu mas!" "Iya deh, terus sekarang mau diapain lagi?"

30

"Sekarang bikin api lagi tapi caranya beda!" "Terserah kamu deh Rat!" Ratih mengusap kepala penisku sambil bergerak mengocok perlahan, sehingga akibatnya keluar cairan bening yang banyak sekali dari lubangnya membasahi (tepatnya: melumasi) telapak tangan kanannya. Kemudian tangan kirinya digenggamkannya mantap kesekujur batang kontolku tepat diarea sebelum kepalanya. Sementara itu tangan kanannya terbuka kearah bawah dan mulai bergerak memutar sehingga mengosok kepala kontolku dengan pelumas dari cairan tadi. Pertama-tama rasanya geli, terus lama-kelamaan emang mulai terasa panas yang enak, mungkin akibat gesekan itu. Aku mulai merasakan pantatku mengetat, pahaku mengejang dan menjepit tubuh hangat diantaranya. Aku pun mulai mendesah merasakan aktivitasnya itu. Ternyata permainan kedua Ratih ini terasa luar biasa. Aku seperti terasa akan kencing tapi bukan oleh air kencing, seperti sesuatu sedang berputar-putar diselangkanganku. Sebagian adalah rasa nikmat, sebagiannya lagi rasa panas, sisanya aku tidak tahu. Aku mulai sedikit bangkit dan menjamah rambutnya, wajahnya sedang serius menggerakkan tangannya dengan konstan. "Kamu....... kok...... tahu ....sih?" "Dari website!" (buat teman-teman cowok yang ingin nyobain, ini aku nemuin alamat www.jackinworld.com. Pertama sih mau nyari metode masturbasi untuk cewek, eh nggak tahunya pengin juga nengok yang buat cowok, ternyata berguna banget!) "Aduh, Rat!" tanpa bisa kukontrol aku menjatuhkan tubuhku kembali ke ranjang. Sementara itu Ratih terus mengesek ujung kepala penisku dengan telapak tangannya dengan konstan. Waktu berlalu dan hampir dua menit itu terjadi, aku mulai merasakan sesuatu mendesak-desak naik. Pasti Ratih merasakannya ditangan kirinya yang menggenggam batang kontolku, terbukti dengan gerakannya turun dan cengkeramnya sekarang berada dipangkal batangku. Sementara itu tangan kanannya mulai bergerak cepat dan semakin cepat berputar-putar menimbulkan energi panas dan energi seksual yang luar biasa dimulai dari kepala kontolku dan mengalir disaluran batang kontolku dan menyebar keseluruh area selangkanganku, menimbulkan rasa kejang dipaha dan perutku, menggelitik pantat dan akhirnya...... "Rat,........... aku keluar!" "Udah tahu, idih mas Ari ah!" Ratih mungkin merasakan otot mengedut dan paha mengejang yang biasanya mendahului ejakulasi seorang pria, sehingga dia dengan pas menjepitkan dengan kuat tangan kirinya dipangkal batang kontolku sehingga ketika pas orgasme dan ejakulasi, kontolku hanya berkedut-kedut saja, tidak menyemprotkan cairan karena tertahan oleh jepitan kuat Ratih di pangkal batangnya. Jepitan itu juga menyebabkan kepala kontolku membesar maksimal sampai berwarna merah keras. Sementara Ratih terus memutar-mutarkan telapak tangan kanannya mengalirkan kenikmatan tiada tara tanpa ejakulasi kepadaku. Aku sendiri hanya bisa melenguh kuat ketika mengalami itu semua,

31

pahaku kujepitkan ketubuh hangatnya, ada rasa hangat ketiaknya yang dibagian atas pahaku. "Ratih, ..... OOOHHHH.....!" aku melenguh sejadi-jadinya ketika puncak yang datang itu seperti berputar balik ketika menemui hambatan dari dipangkal batang kontolku dan mengoyak-ngoyak bagian dalam tubuhku terutama di area selangkanganku. Ketika Ratih melepaskan putarannya tangan kanan dikepala kontolku, aku menyaksikan batang kesayanganku itu memerah dan membesar maksimal. Tampak warna licin disekujur ujungnya, lubangnya tampak terbuka sedikit. Yang terlihat sekali adalah denyutannya yang terlihat dengan bergeraknya perlahan-lahan secara berkala. Sementara tangan kirinya masih mantap menggenggam dan menjepit lubang dipangkal batangnya. Aku merasakan campuran antara rasa nikmat yang aneh karena tidak dibarengi dengan ejakulasi dan rasa panas akibat gesekan telapak tangannya tadi. Ternyata kontolku tidak sekuat yang aku kira. Dibawah jepitan tangan kirinya yang terus kuat aku mulai menyaksikannya melemas, ukurannya mulai mengecil dan beberapa saat kemudian tampak lunglai digenggaman tangan kirinya. Aku bangkit sehingga terduduk, sementara kedua pahaku masih menjepit tubuhnya yang mulai terasa berkeringat, meskipun ruangan itu dingin oleh AC. Aku pegang kepalanya perlahan dengan lembut dan mengelus-elus rambutnya. Tangan kirinya ia lepaskan dari kontolku. Ketika dilepaskan, sedikit kedutan lembut mengiringi keluarnya sedikit cairan putih dari ujung lubangnya. Aku sedikit tergial karenanya. Aku menarik tangannya sehingga dia berdiri didepanku diantara kedua pahaku. Aku melihat payudaranya yang kecil dihiasi putingnya yang besar tampak mengacung dengan kuat. Meskipun warna kulitnya nggak putih-putih amat, tapi terawat sekali sehingga halus terasa. Didepanku pas tersaji perutnya yang sedikit berlemak tapi sintal sekali. Pusarnya tampak sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus dan membentuk aliran kebawah dan semakin tampak ketika bersambung dengan bulu-bulu yang lebih tebal dibawahnya. Ya, jembutnya meskipun tak terlalu lebat tapi terlihat sekali kontras dengan kulit diarea selangkangannya itu. Aku meletakkan kedua tanganku memegang pantatnya yang memang padat sekali dilihat dari dekat. Ratih meletakkan kedua tangannya dipundakku, wajahnya udah mulai terlihat jauh lebih nge-seks dibandingkan beberapa saat tadi. Sepertinya keceriaannya yang selalu bisa menutupi kondisinya yang nyata, tak bisa lagi ditutupinya saat itu. Matanya menatapku dengan penuh harap. Aku yang masih dalam kondisi setengah matang karena orgasme garingan tadi, mulai mencoba melakukan sesuatu. "Kamu duduk disini gih!" Aku menuntunnya menduduki pahaku. Ratih dengan perlahan membuka pahanya dan meletakan tubuhnya menduduki pahaku. Aku merasakan sesuatu yang panas tapi basah diselangkangannya menempel dipahaku yang penuh bulu. Ratih bergerak-gerak demi merasakan bulu-bulu pahaku menyentuh daging vaginanya. Aku tersenyum memandanginya dan mendekati wajahnya

32

sambil berkata perlahan menggoda. "Udah panas?" "He eh!" "Aku pulang dulu deh kalo gitu!" "He ..... jahat!" kali ini nadanya penuh dengan kemanjaan nyaris seperti rengekan. Aku tertawa kecil dan mencubit perutnya. Dia bergerak-gerak atau mungkin tepatnya menggerak-gerakkan pinggulnya menggesek-gesekkan vaginanya ke pahaku. Lagi-lagi aku tertawa. "Udah nggak kuat lagi?" "Ayo dong mas!" Aku menarik tubuhnya hingga berdiri dan merebahkannya di tempat tidur. Separuh tubuhnya aku biarkan dipinggiran ranjang. Begitu berbaring, tak perlu lagi bantal dibawah pantatnya untuk membuat selangkangannya menggunduk setinggi itu. Pantatnya sendiri udah mengganjal gundukan vaginanya menjadi setinggi itu. Sekarang gantian aku yang berlutut diantara pahanya. Aku buka keduanya lebar-lebar, yang kiri aku bentang kearah kiri sementara satunya aku angkat tinggi-tinggi kearah kanan. Ketika terbuka, tercium segera bau khas itu semerbak memenuhi ruangan. Aku melihat pemandangan didepanku dan terpesona. Gerumbulan rambut jembutnya berakhir diarea sebelum vaginanya dan tumbuh memutarinya dikiri dan kanan vaginanya. Beberapa helai berkelompok terkena cairan bening. Ditengahnya tampak sekumpulan daging yang hangat itu. Warnanya coklat tua sewarna dengan kulit ujung sikunya tapi lebih gelap lagi. Diantaranya terlihat warna-warna licin kemerahan sewarna dengan bagian dalam mulutnya. Kontolku yang tadi melemas mulai terasa tegang lagi. Aku agak takjub karena itu terjadi hanya kurang dari semenit setelah orgasme tadi. Aku membuka perlahan-lahan bagian itu dan menemukan helai-helai bibirbibir vaginanya. Aku menjembengnya perlahan dan menemukan warna daging basah kemerahan didalamnya. Diujung helaian itu tampak sebentuk bulat klitorisnya yang tampak merah tua. Aku dekatkan wajahku dan mencoba menjilat bentuk itu. Perlahan sekali dengan gerakan dari bawah keatas aku merasakan halus permukaan klitorisnya yang sudah dilumuri cairan bening itu dipermukaan lidahku. Rasanya seperti ......... coba deh teman-teman cowok cari buah klengkeng bergaris tengah kecil saja, terus kupas kulitnya dan coba jilat buahnya itu perlahan, kira-kira kayak gitu deh cuman yang ini lebih empuk dan agak berbau. Seirama dengan gerakan lidahku itu aku merasakan otot bagian dalam pahanya mengejang, begitu juga dengan selangkangannya sehingga sekilas terbentuk tulang-tulang selangkanya menonjol dari tubuhnya yang sintal. Aku coba membuat lagi gerakan dari bawah ke atas seperti tadi, juga dengan perlahan-lahan tapi kali ini dengan lebih menekannya lagi. Lagi-lagi aku merasakan kejangan seperti tadi. Aku angkat wajahku dan mencoba menengok wajahnya. Ratih sedang memandangi langit-langit kamarnya. Mulutnya terbuka sebagian, kedua tangannya terangkat keatas sehingga menampakkan kulit ketiaknya yang bersih dari bulu. Putingnya

33

tampak tegak lurus keatas seperti stupa candi Borobudur. Aku tersenyum dan menggodanya. "Ngliatin apa mbak?" Dia melirikku dengan sudut matanya dan tersenyum masam, sambil berbisik "Hngggg .... ah mas Ari. Hayo terusin dong ...... mas!" Dengan masih memandangi wajahnya, aku menjembeng vaginanya dengan tangan kananku dan dengan jari telunjuk dan tengahku aku mencoba menggosok klitorisnya lagi perlahan sekali. Wajahnya langsung berubah seketika, matanya terpejam, dari mulutnya keluar suara mendesah halus. Kaki kanannya yang tadi terangkat keatas tiba-tiba menghantam bahuku ketika gosokan jemariku terpeleset oleh licinnya pelumas dipermukaan klitorisnya. Aku sendiri merasakan paha kirinya disebelah tubuhku bergetar karenanya. Lagi-lagi aku tertawa kecil, dan mencoba menggodanya lagi. "Rat!" Ratih membuka matanya kembali dan memandangiku. "Berapa 24 dikali 54?" Hitungan yang sulit tentu saja bagi seseorang yang lagi terangsang berat macam begitu. Teman-teman bisa coba deh, tanyain tuh cewek atau cowok kamu pas lagi gituan sama kamu dengan pertanyaan semacam itu, dijamin pasti nggak bisa jawab. Kali ini bukan suara merajuk lagi yang keluar dari bibirnya tapi udah merengek minta dimasuki. Tak perlu pemanasan lagi bagi kontolku demi mendengar suara merdu nan merangsang itu. Doi langsung tegak lurus mendongak keatas. Aku segera mengatur posisi diatas tubuhnya diantara pahanya. Aku buka pahanya lebar-lebar sehingga selangkangannya betul-betul 'welcome'. Kali ini aku bisa melihat dengan jelas 'pintu'nya yang berupa celah yang diapit oleh dua bibir-bibir yang bergelambiran. Pantesan yang pertama dulu sulit dimasuki, barangkali saat itu aku mendorong kontolku sehingga melipat bibir labianya menutupi lubang masuknya. Kali ini aku pastikan aku tidak akan mengalami kesulitan serupa. Dengan dua tangan aku buka lipatan bibirnya itu dan dapat kulihat celahnya itu tampak penuh cairan licin. Aku dorongkan saja pinggulku sehingga kontolku pas menumpang diatasnya. Dengan satu tangan aku menggesek-gesekkan kepalanya sehingga membuka bibirnya dan menyebabkan kepalanya pas berada didepan celah lubangnya itu. Dengan satu sentakan perlahan aku dorongkan kepala kontolku memasukinya. Sekian centi memang lancar saja kepalanya masuk, tapi pas sekitar 4 atau 5 cm kedalamannya tiba-tiba lubangnya menyempit sehingga seperti mengerem masuknya kontolku. Kali ini aku yang tergial demi merasakan sedikit demi sedikit kontolku mulai terjepit oleh himpitan lubangnya itu. Hebatnya meskipun sempit, kontolku maju terus meskipun perlahan, mungkin karena licinnya cairan yang keluar tersebut. Yang berubah hanya akibat yang ditimbulkannya bagi tubuhku. Sampai setengah panjangnya aku menyodokkannya dengan perlahan-lahan. Begitu melewati 'cincin' sempit tadi, aku mendesakkannya dengan kuat sehingga batangku masuk seluruhnya diiringi rasa nikmat yang teramat

34

sangat. Aku sempat merebahkan dadaku diatas perutnya demi merasakan nikmat itu. Begitu juga dengan Ratih, kakinya menegang kuat, tangannya menggapai kepalaku dan menjambak rambutku kuat-kuat. "Maaasss....!!!! hhhggg!" Aku berdiam beberapa saat sampai lonjakan rasa nikmat tadi mereda perlahan-lahan. Aku merasakan bahwa beberapa tusukan lagi akan bisa membuatku ejakulasi dan aku nggak ingin meninggalkan Ratih kembali dengan ketidaktuntasan. Ketika mulai reda aku mencoba menariknya perlahan. Tidak ada bedanya antara cepat atau lambat, masing-masing mempunyai sensasi berbeda tapi dengan rasa yang sama-sama nikmat. Ketika tinggal kepalanya saja yang terjepit aku kembali diam merasakan sesuatu mengalir mendesak selangkanganku. Kayaknya aku nggak akan sanggup membuatnya orgasme dengan kontolku saja. "Rat!" Ratih menengok dan memandangi penuh harap. "Kayaknya aku akan keluar deh, kalau aku masukin lagi!" Terpaksa aku berterus terang daripada nanti malu. Ratih memandangiku mencoba mencerna perkataanku. Beberapa saat kemudian dia berkata. (bersambung, sorry biar nggak kepanjangan!) AKU DAN RATIH 03 "Mas Ari....... langsung cepet ....aja.. ya ...!" Kayaknya dia udah nggak tahan lagi dan nggak punya pilihan lain. Terpaksa, keluar cepet atau tidak, aku tarik tubuhnya kepinggir ranjang sehingga area vaginanya pas dipinggir ranjang. Kakinya masih terangkat sendiri keatas sehingga semakin mendongakkan selangkangannya. Aku dorongin lagi kontolku kuat-kuat menghunjam ke kedalaman vaginanya dan berhenti. Aku letakkan tanganku diantara kedua ketiaknya terus aku luruskan kakiku sehingga tubuhku lurus membentuk sudut dengan kontolku pas menghunjam vaginanya pada sudut yang sesuai. Kakinya terus kurasakan dijepitkannya kepinggulku. Aku menghitung satu...dua...tiga... dan mulai menarik kontolku dan menghunjamkannya kembali dengan sekuat tenaga dan tanpa menghentikannya di setiap gerakan. Tidak terlalu cepat karena hambatan dari daya cengkeram vaginanya tapi cukup kuat dan konstan. Aku menghitung gerakanku seperti saat melakukan aerobic. Satu ... dua ... tiga ... empat .... lima ... enam ... tujuh ... delapan .... satu ... dst. Setiap kali dengan gerakan menghentak yang semakin kuat. Ternyata nasehatnya boleh juga. Meski masih merasakan nikmat itu, aku tidak lagi merasakannya sekuat tadi. Aku terus bersemangat menggenjot. Entah udah berapa kali hitungan satu sampai delapan aku lakukan. Aku hanya merasakan tubuhku mulai memanas dan keluar keringat, demikian juga Ratih yang kurasakan basah dibagian dalam pahanya. Untungnya ranjangnya ternyata bagus juga konstruksinya sehingga tak terlalu bersuara kecuali sedikit suara duk-

35

duk-duk setiap kali pinggulku menghunjam dalam-dalam menghantam bagian selangkangannya. Cuman suara Ratih jadi berisik sekali, demikian juga suara vaginanya yang mulai berkecipakan 'riang' memenuhi kamarnya itu. "Nggak.....ada.... yang..... dengar .... ya? ..... hhhhh ..... kamu.... berisik.... banget!" sambil bergerak aku mencoba berkatakata, jadinya agak sedikit tergagap-gagap. Sambil memandangiku, wajahnya yang bergerak-gerak seirama dengan gerakanku, menggelenggeleng. Kembali beberapa saat kemudian suaranya berisik. "Ssssss....hhhh....ooohhhh.....!" Hangat nafasnya memenuhi wajahku yang udah mulai memerah. Sedikit demi sedikit diantara gerakanku aku merasakan kontolku mulai terasa panas. Mungkin produksi pelumasnya udah mulai berkurang. Tapi karena itu juga rasa nikmatnya jadi melonjak tinggi-tinggi, sehingga bagiku terasa jelas dibagian mana aku berada. Hanya sekian saja dari puncak membuatku terus dengan sisa-sisa tenaga menggenjotnya kuat. Tanpa kusadari waktunya, tiba-tiba Ratih mencengkeramkan tangannya dibagian samping dadaku sehingga kurasakan kukunya menggores kulitku kuat, aku rasakan perih tiba-tiba. Yang dahsyat, lubang vaginanya tiba-tiba kurasakan menjepit penisku kuat-kuat, bukan sekali tapi seperti gerakan tangan suster yang sedang memompa alat pengetes tekanan darah (tahu khan?), beberapa kali dengan sangat kuat, dengan timing yang tepat pula, yaitu setiap gerakan mengempis pas dengan gerakanku menarik. Jadinya seperti memijat-mijat dengan kuat. "Mas......hhhhh...OOOOOHHHHH!!!" Suaranya yang keluar tak kalah dahsyatnya. Mungkin karena sifat kelembaman, gerakan tubuhku tidak terhenti oleh kejadian itu. Jadi terus aku terus menggenjot ditengahtengah orgasmenya itu. Apalagi kurasakan puncak udah dekat sekali. Kurasakan tubuhnya yang menegang sekian lama diantara genjotanku yang semakin kuat saja menyambut puncak yang semakin dekat. Tiga ...... Empat .... lima.... 6.7.8.9.10......... Aku tiba-tiba merasakan aliran spermaku tanpa bisa kutahan menyemprot kuat kedalam liang vaginanya mengiringi rasa nikmat luar biasa yang kudapat. Tibatiba pula denyutan vaginanya yang baru saja sekian detik yang lalu kurasakan, kini kurasakan lagi seiring dengan mengalirnya semprotan spermaku didalam tubuhnya. Tampaknya Ratih mengalami lagi orgasme, semacam orgasme bayangan yang biasanya menyertai sekian detik setelah yang pertama terutama jika terjadi jeda sekian detik saja dengan orgasme sang pria dan orgasme yang pertama belum lagi reda, biasanya karena rasa hangat akibat sperma menyentuh dinding-dinding rahim atau karena gerakan menyentak yang biasa dilakukan dengan sangat kuat oleh pihak pria yang sedang ejakulasi (peristiwa ini bukan karangan, ini pernah kualami, rasanya luar biasa karena lebih lama dan terasa diseluruh tubuh dibandingkan yang pertama). Aku terus menggenjot dengan kuat menghabiskan 'cadangan amunisi' yang aku punya sampai aku merasakan kontolku udah seperti kehilangan tegangan. Aku langsung ambruk menimpa tubuhnya, kontolku masih

36

menancap penuh, kakiku langsung berlutut. Tubuhku udah basah kuyup oleh keringat. Mungkin orgasme dengan berkeringat seperti itu memang jauh lebih nikmat karena setelahnya ada perasaan gerah tapi lega. Yang tiba-tiba baru kusadari, aku merasakan tubuh Ratih tegang. Kakinya bahkan masih tegang menekuk meskipun udah merebah tertimpa tubuhku. Mungkin saja dia mengalami ekstase. Dengan sisa-sisa tenaga aku bangkit sehingga penisku tercabut. Mudah saja karena udah lemas. Aku menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Ratih terlentang, tangannya terangkat keatas dua-duanya. Wajahnya terangkat keatas, matanya terbuka sedikit dan memandang dengan kosong kelangit-langit, bibirnya terbuka sedikit, dadanya naik turun dengan agak cepat tapi teratur. Kakinya bahkan tak menutup, terbuka lebar kekiri dan keatas sehingga selangkangannya yang udah nggak karuan bentuknya, penuh cairan dan rambut-rambutnya bergumpal-gumpal lengket, terlihat jelas, tampak merah tua dan masih merangsang. Bekas genjotan kontolku tadi terlihat dari masih terbukanya celah lubang vaginanya, nggak lebar tapi menampakkan kedalamannya. Aku menggariskan kuku telunjukku mulai dari lutut menelusuri bagian dalam pahanya yang basah sampai kearea dekat vaginanya. Benar juga, aku merasakan tubuhnya bergetar cepat diiringi suara lenguhan perlahan. Kakinya perlahan sekali bergerak menutup, tapi hanya sedikit gerakan terus berhenti lagi, sehingga selangkangannya masih terbuka lebar. Aku menggariskan lagi kukuku memutari area vaginanya. Kembali tubuhnya bergetar cepat. Aku pernah membaca bahwa ketika seseorang berada dalam kondisi ekstase seperti itu, rangsangan biasa akan terasa luar biasa dan bisa memperlama ekstasenya, bahkan usapan halus rambut diputing bisa membuatnya bergetar hebat oleh rasa nikmat. Ekstase sendiri itu adalah kondisi orgasme yang grafiknya bukan seperti gunung (naik tinggi terus langsung turun), tapi seperti bentuk lunas perahu dibalik (naik terus berhenti dipuncak ketinggiannya sampai beberapa lama baru turun). Aku ingin betul-betul memberinya kepuasan terhebat dalam hidupnya, jadi selama Ratih masih 'belum sadar' dari ekstase-nya itu aku ingin memberinya sensasi-sensasi. Dengan mengabaikan awut-awutannya area selangkangannya, aku membuka kembali bibir-bibir labianya dan menemukan klitorisnya berwarna merah gelap, jauh lebih gelap dari tadi. Aku menjilatnya perlahan-lahan dan kembali merasakan getaran hebat seperti menggigil dipahanya, membuatku terus memutar-mutar lidahku dan kadang-kadang mencucukkannya secara kontinyu dan konstan ke klitorisnya. Getaran-getaran menggigilnya terasa kuat diselingi gerakan menggelinjang tak terkontrol. Aku ingin menyodokkannya kontolku kembali kedalam liang vaginanya, tapi apa daya doi udah tergolek lemas, meskipun aktivitasku mulai membangkitkan lagi gairahku. Akhir kata, malam itu aku sanggup mempertahankan ekstasenya sampai hampir satu jam. Keesokan harinya aku tidur semalam suntuk, nggak kuliah. Ketika lusa harinya aku mencoba menelponnya, aku dapat kabar

37

bahwa Ratih masuk rumah sakit, katanya doi mengalami shock. Aku jadi was-was jangan-jangan terjadi sesuatu dan itu karena perbuatan kami kemarin, walaupun pas aku pulang kemarin Ratih masih sanggup mengantarku sampai pintu gerbang kostnya. Ternyata Ratih hanya mengalami penurunan tensi saja, dan kata dokter itu akibat aktivitas yang melelahkan. Sambil menceritakan itu Ratih sesekali tersenyum sambil melirikku. Kejadian itu adalah yang terakhir antara aku dan Ratih karena beberapa minggu kemudian pacar Ratih telah kembali kekota kami. Sesekali kami saling kontak lewat email atau telpon, tapi tak satupun pernah mengungkit-ngungkit peristiwa hebat itu. ----Demikianlah teman-teman karanganku, mohon maaf jika ada deskripsi atau uraian yang salah. Cuman emang sensasional sekali membayangkan apa yang dirasakan oleh pasangan kita ketika sedang bersenggama dengan kita. Untuk diketahui, setelah menulis cerita ini habis-habisan aku menghabiskan tenagaku untuk ...... ah enggak enak kalo diceritain. Ini ada advis untuk kamu-kamu yang cowok untuk membuat pasangan kamu bahagia. Kalo kamu lagi senggama dan pas timingnya seperti tadi, yaitu kamu orgasme duluan atau malah belum sama sekali, sedangkan cewek kamu udah sampai (kamu pasti bisa ngerasainnya khan?). Sebelum dia selesai dari orgasmenya segera cabut penis kamu (artinya saat itu dia sedang meneruskan rasa nikmatnya tanpa penis kamu) terus coba rangsang secara manual (jangan dengan penis), misalnya kayak tadi goreskan kuku kamu dibagian dalam pahanya dari arah lutut ke arah vaginanya, atau langsung gosok klitorisnya perlahan-lahan, jangan lakukan itu dengan cepat karena akan mempercepat selesainya orgasmenya. Nah ceritanya mungkin saja cewek kamu itu tipenya yang kalo orgasme dan ditengahtengahnya rangsangannya dihentikan, dia tidak dapat menyelesaikan sendiri orgasmenya, tapi rasa nikmatnya berhenti dititik dimana dia mendapatkannya tadi. Saat itu rasanya seperti nggantung tapi oleh rasa nikmat yang tinggi. Rangsangan dari kamu yang pelan-pelan akan mempertahankan rasa nikmatnya tadi pada titik yang konstan tapi tinggi. Seberapa lama dia mampu bertahan di'ketinggian' itu, tergantung seperti apa cewek kamu itu. Jadi bisa berbeda-beda untuk masing-masing orang. Advis ini datang dari pengalaman pribadiku jadi kemungkinan berhasilnya amat besar. Kadang-kadang masalahnya justru apakah kamu sanggup berhenti ketika cewek kamu sedang orgasme yang biasanya saat itu kamu sendiri juga sedang 'megap-megap'. OK deh, Selamat berjumpa dilain cerita. 4. AKU SEORANG PENJAJA SEX 01 Kang Wiro,setelah mengikuti kisah-kisah CCS yang bagus seperti

38

penuturan mbak Ruby manis yang memikat ( cerita beneran apa karangan ya..),Mbak mimin suminten yang penuh iba dan menggemaskan,mbak nenny yang selalu hot dan penutur-penutur lain ,saya pengin juga membagi pengalamanku . Terima kasih atas kebaikan kang wiro. Aku seorang penjaja seks Kenalkan namaku:Indah.Umur: 24 tahun.Status: bersuami dengan 2 orang anak. Pekerjaan:penjaja seks.Tetapi nanti dulu.Jangan mencemoohkan dulu.Saya bukan penjaja seks(selanjutnya akan disingkat PS) kelas kramat tunggak apalagi monas di jakarta atau gang Dolly di Surabaya.Saya seorang PS profesional.Oleh karena itu tarip "pemakaian " saya juga tidak murah.Untuk "short play" dua ratus dollar(dolar amerika) ,dengan uang muka seratus dolar dibayar saat pencatatan pesanan dan kekurangannya harus dilunasi sebelum pengguna jasa seks menaiki tubuh saya.Jelasnya,sebelum kunci kamar tempat perlangsungan "permainan" dikunci.Short play berlangsung 1 jam, paling lama 3 jam,tergantung stamina customer.Kalau sesudah 1 jam, sudah merasa capai,dan tidak memiliki lagi kekuatan untuk ereksi ,apalagi untuk eyakulasi, artinya "permainan" sudah usai.Semua kesepakatan ini tertulis dalam tata-cara "pemakaian" tubuh atau jelasnya lagi tatacara "persewaan' vagina saya.Ini sudah penghasilan bersih,sudah merupakan "take home pay".Saya tidak mau tahu soal sewa kamar,minum,makan malam dsb.Semua aturan ini saya buat dari hasil pengalaman menjadi penjaja seks selama 3 tahun.(saya berniat berhenti menjadi PS dua tahun lagi,bila modal saya sudah cukup)Saya tidak pernah diskriminasi apa pembeli saya itu sorang pejabat atau konglomerat.Pokoknya ada uang vagina terhidang,tak ada uang silahkan hengkang.More money more service,no money no service.Biasanya para langganan yang sudah nge-fans betul pada saya masih memberi tips.Setelah persetubuhan selesai,saya akan menanyakan:Bapak atau mas puas dengan layanan saya...?.Jawabnya bisa macam-macam."Luar biasa" mengatakan demikian sambil menggelengkan kepalanya.Atau ada yang menganggukkan kepala.Biasa.Tetapi ,ini yang sering,tanpa berkata sepatahpun memberikan lembaran ratusanribuan dua atau tiga lembar.Untuk tarip long-play atau "all night",tergantung kesepakatan saja,namun tidak akan kurang dari enam ratus dolar.Itu tentang tarip.Sekarang tentang service.Saya akan menuruti apa saja yang diminta oleh pelanggan(customer) selama hal itu tidak merusak atau menyakiti tubuh saya atau tubuh pelanggan.Oral-sex,okay,begitu juga mandi kucing atau mandi susu yaitu memijati tubuh pelanggan dengan buah dada saya yang putih dan montok,juga okey-okey saja.Tetapi masochisme,yaitu bersetubuh sambil disiksa, atau saya harus menyiksa pasangan saya,saya akan menolak.Tiga tahun menjadi PS telah memberikan pengalaman hidup yang besar sekali dalam diri saya.Saya mempunyai buku catatan harian tentang hidup saya.Saya selalu menulis pengalaman

39

persetubuhan saya dengan bermacam-macam orang,suku bangsa bahkan dengan laki-laki dari bangsa lain(Afrika,India,Perancis dll).Tetapi kalau selama tiga tahun saya menggeluti profesi saya itu lahir dua orang anak manusia ,(masing-masing berumur 2 tahun 3 bulan dan satunya lagi 1 tahun), tentunya saya tidak bisa bahkan tidak mungkin mengetahui siapa bapak masing-masing anak itu.Cobalah dihitung.Kalau dalam seminggu saya disetubuhi oleh minimal 10 orang,dalam 1 bulan ada 30 orang yang memparkir penisnya di vagina saya.( 1 minggu saat menstruasi,libur).Tetapi ini tidak berarti anak itu tanpa "bapak".Resminya anak itu adalah anak Pak "Hendrik"(nama samaran).Dia adalah bos tempat saya secara "resmi" bekerja.Seorang notaris dan sekarang sedang merintis membuka kantor pengacara.Pekerjaan "resmi"(pekerjaan tidak resmi saya adalah PS)ini cocok dengan pendidikan saya.Saya, mahasiswa tingkat terakhir Fakultas Hukum Universitas Swasta,jurusan hukum perdata.Tetapi nantinya saya kepingin menjadi notaris,seperti Pak Hendrik ini.Sebetulnya saya ditawari Pak Hendrik untuk menangani kantor pengacara yang akan didirikannya tadi.Tetapi saya tidak mau.Menurut persepsi saya (mudah-mudahan persepsi saya salah) dunia peradilan di negeri kita masih semrawut.Mafia,nepotisme,sogok, intimidasi masih kental mewarnai dunia peradilan kita.Dari yang didaerah sampai ke Mahkamah Agung (ini kata majalah Tempo lho).Tetapi sudahlah itu bukan urusan saya. Lalu darimana saya kenal dengan Pak Hendrik?Itu terjadi pada tahun pertama saya menjadi PS.Waktu itu saya hamil 2 bulan.Kebetulan Pak Hendrik mem-"booking" saya .Setelah selesai menikmati tubuh dan vagina saya sepuasnya, saya muntah-muntah.Itu terjadi waktu saya bangun pagi .Dia tanya apa saya hamil.Saya jawab: iya.Lalu dia tanya siapa bapaknya?.Ya entahlah, jawab saya.waktu itulah dia menawari pekerjaan untuk saya,kesediaan untuk secara resmi menjadi 'suami" saya dan tentunya melegalisir bayi yang akan saya lahirkan.Saya tidak tahu bagaimana dia mengurus tetek bengeknya di kantor catatan sipil dan bagaimana dia dapat menjinakkan isterinya.Yang jelas setelah itu tiap hari Selasa dan Kemis saya berkantor di kantor Pak Hendrik.Lalu apa "keuntungan"Pak Hendrik?.Ya pasti ada.Tiap hari selasa dan Kemis, dia akan sarapan kedua.Mulai dari menciumi,meraba-raba badan dan buah dada, dan terakhir menyutubuhi.Kadang-kadang saya malah tidak sempat bekerja karena selalu "dikerjain" oleh "suami" saya tsb.(bangunan yang dipakai sebagai kamar kerja Pak Hendrik dan saya terpisah dengan bangunan untuk ruang kerja staf-nya).Ini apa adanya.Wajah saya memang cantik.Tinggi dan berat serasi,bahkan berat badan diatas angka ideal, namun terkesan mollig,seksi.Buah dada cukup besar,tetapi tidak kebesaran seperti perempuan yang menjalani operasi plastik dengan mengganjal buah dadanya dengan silikon.Kata orang saya cukup seksi tetapi dari sikap dan penampilan sehari-hari juga terkesan cerdas.Singkat kata,kalau ada perempuan laku disewa Ro 1,6 juta sekali pakai,bayangkan sendiri bagaimana penampilan,penghidangan dan

40

rasanya.Baiklah terakhir saya ceriterakan tentang pengawal saya,atau bodyguard (BG) saya. Namanya Mulyono.Saya biasa memanggilnya Dik Mul,karena memang usianya baru 21 tahun,tiga tahun lebih muda dari saya.Orangnya tinggi,atletis dengan potongan rambut cepak,dan penampilan seperti militer.Konon katanya,sehabis lulus SLTA Mulyono pernah mengikuti tes masuk di AKMIl,tetapi jatuh pada tes psikologi tahap 2.Kecuali sopan (asli dari klaten,jawa Tengah)dan disiplin dia juga sangat loyal pada saya (saya sudah sering mengetes kesetiaannya tersebut).Mulyono sudah saya anggap adik sendiri.Menjadi sopir pribadi,mengurus pembayaran kontrak,mengatur waktu kerja,melindungi dari berbagai pemerasan oknum keamanan dsb,pokoknya seperti sekretaris pribadi.Hanya saja dia tidak tinggal serumah dengan saya.Saya kontrakkan dekat-dekat rumah saya.Selain itu dia masih mengikuti kuliah di universitas terbuka,fakultas hukum.Lalu berapa gajinya?.Itu rahasia perusahaan.Tetapi yang jelas,sebagai seorang penjaga putri cantik,atau penjaga "kebun wisata",sekali waktu dia saya beri kesempatan untuk mencicipi atau menikmati keindahan kebun itu.Mula-mula dia memang menolak.Itu terjadi pada suatu malam minggu dirumah.Dia saya panggil,saya minta memijati badan saya.Dia menurut.Saya hanya mengenakan gaun malam tipis dengan celana dalam dan BH yang "siap dilepas".Mula-mula kaki saya dipijatnya pelan-pelan,enak sekali rasanya.Rasanya tangannya "berbakat" untuk memjit.Kemudian naik ke betis,yang kiri kemudian yang kanan."Dasternya ditarik keatas saja Dik Mul" kata saya waktu dia mulai memijat bokong.Saya sengaja memancing nafsu seksnya sedikit demi sedikit.Sementara nafsu saya sudah mulai terbangun dengan pemijatan pada bokong tadi.Bokongku dipuyer-puyer ,dan nafsu seks-ku makin bertambah.terus pemijatan pada pinggang,lalu punggung.Pada pemijatan dipunggung kancing BH ku kulepas,sehingga seluruh punggung dapat dipijat secara merata tanpa ada halangan.Waktu Mulyono memijat leher,dia terlhat sangat hat-hati.Setelah saya membalikkan badan,Mul akan memulai memijat dari kaki.Tetapi saya mengatakan agar dari atas dulu.Rupanya dia bingung juga kalau dari atas mulai darimana kepala atau leher, padahal dada saya sudah terbuka sehingga kedua bukit kembar yang putih dan kekar itu terbuka dan merangsang yang melihatnya? Belum sampai dia menjawab pertanyaan saya,saya sudah mengatakan: "Dik Mul,mbak Indah dicium dulu yach.....". "ach enggak mbak jangan...". "Lho kenapa ? Dik Mul nggak sayang sama mbak ya...?" Tanpa menunggu jawaban ,saya sambar leher Mul,saya peluk kuat,saya cium bibirnya.Dengan kedua kaki saya,tubuhnya saya telikung,saya sekap. Dia terlihat glagapan juga.Lama leher dan kepala dik Mul dalam dekapan saya.Rasanya seperti mengalahkan anak kecil dalam pergulatan karena dik Mul ternyata diam saja.Baru setelah lima menit,dik Mul memberikan perlawanan.Pelukan saya lepaskan.Dia mulai mencium lembut

41

pipi saya,turun ke dagu ,lalu dada, diantara kedua buah dada saya.Disapunya dengan bibirnya semua daerah sensitif disekitar mulut,dada dan leher.Saya menikmati benar ciuman ini.Apalagi setelah bibirnya turun kebawah disekitar pusat ,pangkal paha dan sekitar vagina.Tanpa saya sadari tubuh saya meliuk-liuk ,mengikuti dan menikmati rangsangan erotis yang mengalir diseluruh tubuh.Vagina saya mulai basah,menanti sesuatu yang akan masuk.Setelah puas diciumi,saya berbisik :" Dik mul, masukkan sekarang penisnya ya...saya sudah nggak tahan.... " Dia lalu berdiri dan mulai melepaskan ,baju, celana, kaus baju dan terakhir celana dalamnya.Kini penisnya terlihat utuh putih kehitaman,dengan semburat urat-urat kecil disekitar pangkalnya.Ujungnya seperti ujung bambu runcing,lebih panjang bagian bawah.Penis itu mencuat keatas, membentuk sudut l.k 30 derajat dengan bidang horizontal.Pelan-pelan penis itu mulai ditelusupkan diantara bibir vagina saya.Setelah itu ditarik secara pelan-pelan.Penis dan dan vagina dapat diibaratkan dua kutub magnit: pergesekannya membangkitkan arus listrik yang merambat dari vagina keseluruh tubuh,juga dari penis dan memberikan rasa nikmat yang sangat kepada pasangan yang sedang ber'charging" tersebut..Gosokan penis Muyono yang makin cepat membuat seluruh tubuh saya seperti terkena listrik.Vagina saya terasa berdenyut meremas penis Mulyono.Saya orgasmus.Dan ini terulang lagi beberapa kali.Multi orgasmus.Makin lama rangsangan itu makin meningkat.Bersetubuh dengan Mulyono memang saya rasakan agak lain .Biasanya saya bersikap meladeni kepada para pelanggan,tetapi dengan Mulyono saya seperti diladeni,dipuaskan rasa haus saya.Gerakan masuk keluar-masuknya penis yang lambat ,ciuman disekitar buah dada yang terkadang diselingi dengan mengisap-isap putingnya,dan reaksi menggelit-geliatnya tubuh saya,seperti suatu pertunjukkan "slow motion" yang mengasyikkan.Dan ketika saraf tubuh saya tak lagi kuat menampung muatan listrik itu ,saya membisikkan:"dik Mul,tembak sekarang ya....".Dan Mulyono mempercepat gosokan penisnya,sampai pada puncaknya kakinya mengejan.Bersama itu pula saya peluk kuat-kuat tubuh Mulyono.Inilah puncak persetubuhanku dengan Mulyono.Teman-teman,sekian dulu perkenalan saya yang puuuuaaaaanjang lebar.Sebelum saya teruskan minggu depan, mohon sambutan dan tanggapan teman-teman. AKU SEORANG PENJAJA SEX 02 Terima kasih atas kesediaan Mas wiro yang telah meneruskan penuturan kisahku yang pertama.Sungguh diluar dugaan saya,CCS saya itu ditanggapi oleh 82 orang netter CCS.Ada tanggapan yang seru,ada yang saru,ada yang ingin lebih tahu tentang diriku,tetapi ada juga yang mengajakku "begitu".Bagi saya semuanya menyenangkan,dalam rangka berbagi penderitaan.Ini lanjutannya. AKU SEORANG PENJAJA SEKS( Bagian ke-2).

42

Sejenak saya tersentak begitu melihat tamuku kali ini.Seorang lansia (lanjut usia).Orang yang sudah "sepuh" dan siap tempur ini duduk ditepi ranjang dengan hanya mengenakan celana kolor dan kaos singlet. Dari wajahnya yang sudah dipenuhi keriput ,------- "kakek" yang memperkenalkan diri dengan nama Pak Wayan ini,--------mengisyaratkan umurnya yang sudah disekitar 70 sampai 75 tahun. Saya jadi teringat dengan wajah "Datuk Maringgih" dalam sinetron Siti Nurbaya.Setelah berbasa basi dengan tegur sapa sekedarnya, saya bersiap membuka pakaian.Tapi Pak Wayan cepat menegurku."Ndah,nanti saya saja yang membuka pakaianmu".Pak Wayan lalu berdiri dibelakangku setelah membuka kaos dan celana kolornya.Telanjang bulat. Sekali tarik,resliting rok dipunggungku terbuka sampai kebawah,sampai ke paha.Dengan menarik kedepan dan lepas kini aku tinggal mengenakan BH dan CD yang tipis dan transparan.Pak Wayan mulai mencium kudukku.Badanku terasa merinding.Ketika kepalaku menengadah merespon ciuman ini,Pak Wayan mencium pipiku,lalu samping leherku.Tangan kanannya melepas BH ku,lalu susuku mulai diraba-raba,dielus-elus dan sesekali dipijit-pijit.Tangan kirinya juga mulai meremas-remas susu kiriku dan sesekali memilinmilin putingnya.Nikmat. Setelah itu ciumannya menurun kebawah,ke punggung,ke pinggang,kedua tangannya mengelus-elus kulit perutku,kebawah pusar ,kebawah lagi,lalu melepas CD ku.Sambil meciumi bokongku dan kadang menggigitnya,tangannya memijat memekku.Tangan yang satu lagi mengelus-elus pahaku.Sekarang,tanganku kubawa kebelakang seolah mencari wajah Pak Wayan sambil meliuk-liukkan badan.Sedang Pak Wayan sendiri mulai mengulangi lagi mencium kudukku seperti tadi.Namun sekarang dengan tempo yang lebih lama.Waktu dia mencium bibirku lagi,lamaaaa....sekali hampir 15 menit,sampai-sampai nafasku terasa sesak.Begitu juga waktu mencium leher.Saat menge-dot-susuku, karena sangat lama, saya sempat waswas jangan-jangan tamuku berhenti bernafas lantaran terkena serangan jantung mendadak.Demikianlah untuk ciuman "putaran" kedua semua lebih lama,lebih ingin menikmati bibirku,susuku ,seluruh tubuhku.Yang agak lucu saat dia menciumi mamekku.Saya diminta duduk ditepi ranjang,sedang kepalanya berada dalam himpitan kedua pahaku. Jadi seolah dia sedang sungkem kepadaku."Pak sudah selesai belum Pak...,saya sudah terlalu geli dan terangsang lho Pak..." begitu saya katakan kepada Pak Wayan karena lamanya menciumi dan menjilati mamekku.Tetapi ada sesuatu yang mengherankan.Biasanya dengan menggerakkan tubuhku meliuk-liuk seperti cacing menggeliat ini akan sangat merangsang burung lawan mainku.Tetapi yang saya rasa sekarang agak lain. Burung Pak Wayan tetap bersarang disangkarnya.Tidak bangun,tidak ereksi.Impoten ? Entahlah.Kini Pak Wayan meminta saya berbaring terlentang diatas ranjang .Lalu segera saja dia mengangkangi tubuhku.Mula-mula bibirku diciumnya dengan mesra seperti di film-fil roman itu.Selanjutnya giliran pipiku dikecupnya,kanan, kiri,pelupuk mata.Turun

43

keleher.Tangannya juga menggarap susuku.Diremas-remas,putingnya dipilin-pilin.Sesekali susuku dipegang dengan kedua tangannya,ditempelkan ke-kedua pipinya yang sudah peot itu.Kadang satu susuku dipegang dengan kedua tangannya,putingnya disedot-sedot seperti meminum air kelapa yang sudah hampir habis.Ciumannya turun kebawah keperut,bawah perut,lalu ke mamekku.Selain diciumi,mamekku juga digigit.Begitu juga pahaku.Nafsuku mulai bangkit.Ini dilakukan berkali-kali .Mulai dari atas dari pipi terus kebawah seperti tadi.Karena mamekku sudah mulai berdenyut minta dimasuki burung Pak Wayan,tanganku mencari burung itu.Ketika burung itu saya pegang,ternyata masih juga tidur.Lho ada apa ini? Impoten ?.Nggak tahu saya.Begitu burung itu kulepaskan,Pak Wayan bilang."nDah.burungku tolong disedot ya ?."Ya,pak".Lalu burung itu kumasukkan kemulutku.Kusedot,kumain-mainkan dengan lidahku.Kugigit pelanpelan,tetapi burung itu tetap saja tidak bereaksi.Tidak mau mengeras,tidak juga ereksi.Waktu kantong pelirnya kupegang, teraba buah pelirnya memang kecil (sudah mengkerut ?).Karena lama tetap saja burung itu tidak juga mau bangun,burung itu saya keluarkan dari mulutku.Dan burung itu beserta kantong pelirnya menggelantung lagi seperti kaos kaki.Melihat itu Pak Wayan mengatakan:"Sebentar nDah saya ke kamar mandi dulu mau kencing".Keluar dari kamar mandi Pak Wayan mengambil tasnya yang disimpan dilemari.Dikeluarkannya alat semacam pompa pengisap debu.Setelah itu penisnya dimasukkan kesebuah tabung yang ujungnya tersambung dengan pipa kecil ke pompa pengisap.Pompa isap sekarang di"on"-kan.Dalam beberapa menit,penis itu menggelembung karena darah dari pembuluh darah disedot keluar ,lalu masuk kerongga yang terdapat di-"badan" penis itu.Setelah itu pangkal penis itu diikat dengan cincin karet agar darah yang sudah tersedot keluar itu tidak masuk lagi ke-pembuluh darah.Pak Wayan sambil tersenyum berkata:"Nah ,nDah sekarang bersiaplah saya tembak".Saya berbaring lagi .Pak Wayan mengangkangiku kembali.Burungnya dipegang lalu dimasukkan ke vaginaku.Nikmat juga,tetapi sedikit berbeda daripada yang biasa saya rasakan,seperti perbedaan rasa pisang godog yang sudah dingin dengan pisang goreng yang masih hangat.Lalu penis itu dimasukkeluarkan berkali-kali keliang vaginaku,sambil bibirnya menciumiku.Tangannya juga meraba,meremas susuku.Saya bayangkan betapa kontrasnya.Tubuh Pak Wayan yang kurus kerempeng itu menindih tubuhku yang montok dan gempal.Dadanya dengan tulang-tulang iga yang menonjol seperti kepingan logam alat musik gamelan (gambang) berhadapan dengan susuku yang besar,berbentuk seperti tempurung dan kencang.Pahanya yang kecil dengan tonjolan otot yang tipis menimpa pahaku yang kencang, putih dan mulus.Selama setengah jam saya sempat orgasmus dua kali.Puncaknya adalah ketika penis Pak Wayan menyemprotkankan spermanya keliang vagina.Dan Pak Wayan merasa puas atas pelayananku.Badannya lemas dan tertidur .Jam dua dan jam lima pagi Pak Wayan membangunkanku dan meminta lagi saya melayani penisnya yang

44

sebelum dimasukkan harus digelembungkan dan dicekek itu . Sekian dulu teman-teman,saya mohon komentarnya.Barangkali penuturanku agak saru tetapi kurang seru.Mohon maaf,saya bukan pengarang atau sastrawan.Saya hanya dapat menuliskan apa yang saya rasakan dan lakukan.Tidak lebih tidak kurang.Foto wanita ter-"attacment"itu bukan foto saya,tetapi saya mirip dia. 5. ANGIN MALAM SETIA BUDI hi....wiro ...gue boleh nulis cerita gue ya disini ya.... boleh ngga boleh gue tetap aja gue nulis ..hayyooo.. mau baca ngga cerita-cerita seru dari gue neh ....ok deh gue mulai cerita-cerita seru gue ya wiro... gini neh gue kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota bandung ..... dan gue tuh paling senang nongkrong di warung indomie depan kampus.... satu hari gue lagi nongkrong teman gue namanya eric datang ke warung itu, so gue langsung nyapa die dan ternyata eric tidak seorang diri ada beberapa teman wanita nya di luar sedang menunggu dia. yang gue tau yaitu si siska (pacar erick) salah satu diantara nya gue kenal banget, soal nya (namanya caroline) sering main ke kost gue (caroline sering menemani siska kalo main ketempat erick). soal nya si erick kebetulan satu kost ama gue. erick ke warung indomie itu hanya mo nyari gue soal nya kunci kamar dia di titipin ke gue jadi gue kasih kunci nya, ngga tau kenapa erick balik ke kost cuma berduaan dengan siska pacar nya, sedangkan caroline menunggu di warung itu bersama ama gue.... udah tau gitu gue sengaja manggil si carol masuk ke dalam, malum sekarang musim ujan dan angin malam tuh rasanya dingin banget, aneh nya si carol tuh nurut aja gue ajak kedalam, kayak nya dia lagi kesel di tinggal ama si siska dan erick, karena gue lagi makan indomie jadi sekedar basa-basi gue tawarin ke dia, dan dia tidak menolak gue tawarin indomie gue, akhir nya kita makan indomie semangkok berdua untung aja emang gue sengaja pesan indomie yang ukuran dobel jadi ngga terlalu nyesel gue tawarin kedia soal nya waktu itu gue dalam keadaan lapar banget dan lagi pengen makan indomie.. gue ngga tau gimana, si carol tuh jadi kesel nungguin si erick ama siska. terus gue tanya ke carol, koq elo ngga di ajak seh ama siska ama erick, kan tadi perasaan elo bertiga dari kampus, tapi sekarang elo koq di tinggalin?? emang nya kenapa rol?? eh si carol ngejawab nya sambil gerutu, gini katanya: ya gitu lah kalo udah ngga ketemu seminggu, biasa lah si erick pasti minta jatah. yang ada gue ketawa ngakak, lah emang harus gitu rol, klo si erick balik di jakarta??? iya lah, kan namanya juga cinta. gue ngeliatin siska yang duduk di depan gue sambil ngobrol, dan tempat yang sering gue liatin dari wajah nya ialah bibir nya yang sensual dan super tipis...tiba my little jacky langsung bangun dan berdiri seolah2

45

ingin mencium bibir nya carol yang sensual dan super tipis kemerahan... cuma gue pikir itu hanya hayalan gue aja, akhir nya gue berusaha tenangin si carol dengan berbagai macam... tau lah gue pekerjaan yang paling membosankan ialah menunggu.... akhir nya carol sudah bisa tenang dan dia sudah berada di dada gue..... tetapi tanpa gue sengaja ketika gue hembusin nafas gue kena kuping nya carol, tiba-tiba si carol langsung tegang dan seakan-akan menahan beban yang berat, sambil menegang kan kaki dan menarik kepala gue supaya bisa di cium, cuma karena di tempat rame segitu gue mengelak pada hal gue mau banget tuh...... karena penasaran pengen cium dan my little jacky juga sudah berdiri akhir nya otak jahat gue keluar semua dari kepala. carol gue ajak ke kost dengan alasan nyusul ke tempat erick, akhir nya carol mau ... ketika sudah sampe di kost gue bilang ke carol, gimana untuk sementara carol tunggu di kamar gue dulu sembari gue liat keadaan kamar nya erick, apakah aman untuk di ganggu atau ngga , gue kasih kunci ke carol dan carol hanya menunggu di kamar gue saja... pada saat gue ke mau ngeliat kamar nya erick, kembali otak jahat gue bekerja lagi, dan kesempatan itu gue gunain buat ke kamar mandi buat bersihin diri dari atas sampe ngga ketinggalan si jacky juga bersihin sampe mengkilat, akhir nya gue balik lagi ke kamar dengan alasan kayak nya erick dan siska tidak bisa di ganggu, jadi gimana kalo kita tunggu saja di kamar ngga usah keluar kita nonton film atau main playstation??? carol hanya bisa mengangguk ....... karena gue tau carol gampang sekali di rangsang, gue berusaha mendekatinya lagi dan menghembuskan nafas gue ke telinganya, dan memang bener carol mengerang seperti orang yang sedang ngangkat barbel 100 kg, disitu gue ngga sia-sia in kesempatan, bibir nya yang super tipis dan sensual merona sudah menunggu pagutan bibir gue, gue lumat abis bibir nya carol, tangan gue juga ber gerilya seperti jenderal sudirman bergerilya di hutan-hutan, pelan-pelan gue buka tali beha nya dan kancing baju nya, carol masih mengherang kelonjoton, di karena leher nya gue isep dan sekarang gue udah mulai isep toket nya yang sekel banget. nafsu gue udah ngga bisa gue kendaliin lagi, akhir nya gue buka celana gue dan celan dalam gue, dan gue arah kan jacky gue arah mulut si carol, gile ternyata carol seorang yang liar dalam percintaan, tanpa menunggu gue menyuruh dia sudah langsung mengulum peler gue dengan nikmat nya gue , sekarang gantian gue yang di buat kelojotan ama dia, ooooohhhhh....... aaaaaaaggggggggghhhhhh... carrrrrr...... lagiiiiiii... enaaaaaaakkkkkkk banget car........teruuuuusss betapa nikmat nya di kala peler gue masuk ke mulut nya dan ditarik keluar lagi, hangat lidah nya carol sampe ke ubun2 gue......... gue coba ngimbangin permainan nya carol..... gue ganti posisi jadi 69, gue

46

di bawah dia di bawah, gileee.... jembut nya yang hitem dan halus pertanda jembut yang tumbuh alami tanpa di gunting2 gue bisa mencium bau yang semerbak khas carol dari liang memek nya yang sudah basah ...... dan yang ada tambah gue jilatin bibir memek nya carol dengan rakus nya, terlihat si carol nampak semain kelojotan, dan dia berkata dengan setengah suara, pat... masukin dung udah ngga tahan neh ... cepet atuh patt..... tanpa menunggu lagi gue langsung ganti posisi dengan menggunakan doggy style, pletak... pletok pantat carol beradu dengan badan gue.......carol semakin teriak tak karuan dan akhirnya carol berkata pat gue udah mau keluar neh, gimana dunk??? mendengar seoeerti itu gue cuma bolang "sabar carol kita keluar kan bersama-sama gue juga udah mau keluar, tenaga gue, gue keluarin semua nya, irama gue gue tambah cepet, dan akhir nya gue keluarrrrr, ayo carol keluarin ... gue kudah keluar nehhh.... spontan carol kejang dan tangan nya menahan tangan gue sambil teriak manjaaaaaaa... aaaaaakkkkhhhhhhhhh....... pat gue juga keluarrrrrrr..... akkkkkhhhhhhhhhhhhhhhh...... ogggggghhhhhhhhh...... aarggggggghhhhhhhhh... whussssssss nikmat nya... akhir nya gue dan carol sama-sama terkulai lemes di tempat tidur gue.... tapi tanpa sepengetahuan kepala carol sudah ada di depan penis gue ingin menjilat lagi penis gue.. auuuuhhh...... aaaagggghhh..... nikmat nya carol..... setelah penis ku di jilat bersih ... carol berkata kepada ku.... patrick makasih ya atas kehangatan nya.... kan malam ini dinging banget belom lagi angin setia budi sering buat orang sakit ..... akhirnya gue peluk carol dengan erat, dan kita tidur bersama tanpa mau tau apa kah erick dan siska akan mencari carol........ sekian dulu deh wiro cerita dari gue thx ya salam gue patrick 6. ANOTHER SUITCASE IN ANOTHER HALL 01 Sinopsis: Senyum kemenangan Rose di dalam pesawat, merupakan kunci perkenalan dengan Date. Kemudian atas undangan Date, Rose mengunjungi pameran lukisan, yang menggiring mereka lebih jauh ke petuangan asmara. ~ Another suitcase in another hall... Where am I going to? Where am I going to.... ? ~ Rose berdiri di peron stasiun Gambir. Saat itu pukul dua siang. Sebuah koper hitam teronggok dekat kakinya. Di bahunya tersampir satu traveling bag Elle, hitam juga. Asyik diamatinya orang yang lalu lalang dengan wajah berminyak dan tubuh berkeringat; hari yang panas dan terik. Tapi tubuhnya sendiri masih terasa sejuk, belum lima menit yang

47

lalu saat ia keluar dari gerbong Eksekutif Tiga setelah perjalanan yang cukup panjang dari Surabaya. "Tidak, terima kasih," ia menggelengkan kepala menolak tawaran layanan porter dan dengan santai menarik keluar tangkai trolley kopernya, beringsut pergi di antara kerumunan manusia yang juga baru tiba di ibukota. Ia mengacungkan tangannya memanggil satu taksi biru, memasukkan koper di bagasi dan menghenyakkan tubuhnya di kursi belakang. "Sudirman", suara altonya menyebutkan nama sebuah Hotel di jantung kota Jakarta. Kota ini terakhir kali ia kunjungi tahun 1989 dan sudah menjadi salah satu target kunjungannya sejak enam bulan yang lalu. Kalau saja bencana banjir kemarin tidak melanda, kunjungan ini harusnya sudah terealisasi. Matanya menikmati pemandangan dari balik kaca jendela. Sudah tidak kelihatan lagi sisa banjir sebulan kemarin. Lalu lintas cukup lancar dan jalan-jalan protokol yang dilewati terbilang bersih. Sekali lagi ia bertanya pada diri sendiri, why Jakarta. Untuk melepaskan kepenatan kerja dan sekedar refreshing, kota ini bukan pilihan tepat. "Dante, itu jawabannya," ia tersenyum simpul sendiri. Senyum yang menurut lelaki itu, senyum kemenangan yang sudah dimilikinya sejak ia kecil. Istilah senyum kemenangan yang diberikan Dante saat pertama kali mereka bertemu. Lamunan panjang itu membuainya lagi... Denpasar - Bandara Ngurah Rai enam bulan yang lalu "Para penumpang pesawat GA 249 jurusan Yogyakarta dipersilakan masuk ke pesawat melalui pintu 17" Waktu sudah menunjukkan pukul 18:30, artinya ia baru tiba di Yogyakarta sekitar pukul setengah delapan malam. Rose bergegas bangun dari kursinya, sedikit terhuyung didera rasa kantuk karena terlalu lama menunggu dan bergegas mengambil antrian panjang di gate 17. Lalu tanpa sengaja matanya bertemu dengan seorang lelaki yang menjejeri antrean di sampingnya. Cuma sedetik, sebelum hampir berbarengan mereka membuang muka. Ia menyerahkan separuh bagian boarding pass dan melangkah cepat menuju ke pesawat. Left window seat, 5th row. Ia meletakkan tubuhnya perlahan di situ. Penerbangan singkat membuatnya tidak terlalu gelisah. Jari tangannya mulai sibuk mengencangkan seatbelt saat seseorang yang semestinya duduk di sampingnya tiba. Ia melirik sekilas dan agak terkejut, ternyata pria yang tadi antre di sampingnya di gate 17. Dari sudut matanya Rose menilai pria yang akan menemaninya dalam satu jam penerbangan ini. Hhmm... tingginya cuma rata-rata pria Asia, sekitar 170 cm, kulitnya termasuk putih, tubuhnya kurus dan tipis. Wajahnya tirus dan dingin. Tapi mata itu sungguh menarik. Besar dengan bulu mata panjang

48

dan lentik, pandangannya jauh menerawang, seolah tidak sedang menjejakkan kaki di tanah. Melihat wajahnya yang serius sedikit masam saat ia muncul tadi, membuat Rose merasa perjalanan kali ini akan membosankan tanpa teman berbincang. Maka setelah lepas landas yang mulus, ia mulai mengambil posisi duduk yang paling nyaman dan menikmati Just For Laughs di televisi sambil sesekali tersenyum sendiri. "Senyummu itu penuh kemenangan," sebuah suara bariton di sampingnya membuatnya tersentak. "Hah?" refleks ia menyahut dan berpaling ke samping, untuk sekali lagi bertemu dengan mata itu. "Pernah kulihat senyum seperti itu," melemah suaranya, seolah mengeluh pada diri sendiri. "Sakit, itu yang kurasakan," katanya sambil tangannya bergerak menyentuh sisi kiri atas perut. Rose terdiam, kata-kata yang hendak keluar ditelannya kembali. Sebaliknya, ia ganti menggigiti bibir bawahnya. Matanya memandang tajam, menyelidik sebentar. Kemudian pandangannya kembali ke monitor TV. "Mengingatkanmu pada seseorang?" Rose bertanya dengan nada datar. Berusaha menghilangkan senyum yang biasanya mengiringi bicaranya. Apalagi senyum itu membawa masalah, kali ini. Pria itu menarik nafas dalam. "Sorry," Rose tetap tanpa ekspresi. Bukannya khawatir akan memperburuk keadaan dengan ekspresi yang bakal keluar. Tapi lebih karena kata "sorry" yang terlanjur terucap tanpa diperintah itu, "Haruskah aku ber-sorry untuk hal yang bukan salahku." "Bukan salahmu, hanya senyum itu." Seolah dia dapat membaca pikiran Rose. Dia tersenyum pahit. "Boleh aku berterus terang?" kali ini nada suaranya merendah. Rose masih terdiam, kebingungan oleh situasi yang di luar dugaan. "Dulu senyum penuh kemenangan itu memang menyakitkan, karena aku dicampakkan." Rose menggigit bibir bawahnya makin kuat, menunggu. Pria itu bergeser menghadap Rose yang terduduk kaku. Sangat dekat, hingga Rose bisa merasakan sapuan nafas di kulit lehernya. Seolah berbisik kepada seorang kenalan lama, "Tapi senyum penuh kemenanganmu menggodaku." Mau tak mau Rose tertawa lebar. "Kamu lucu, tapi kalau ini strategi rayuan, maaf saya tidak tertarik." "Oh, sudah ada yang punya?" pria itu balik bertanya dengan wajah tanpa dosa. Rose mengangguk cepat, "He eh sudah." Sebuah "oooooooo" panjang pria itu mengakhiri perbincangan mereka. Selebihnya Rose menikmati snack dan memandangi awan berarak dari jendela pesawat, si lelaki malah merebahkan kursi ke belakang dan memejamkan matanya.

49

30 menit kemudian Touch down yang mulus di Yogyakarta. Hari sudah gelap dan penumpang bersiap turun pesawat. Pria itu masih asyik tidur (atau pura-pura tidur). Mau tak mau ia harus membangunkannya untuk bisa segera keluar. "Ehhmm... hey, Sudah sampai," ia menepuk telapak tangan pria itu sedikit, berusaha untuk tidak mengejutkannya dari tidur. Agak gelisah mengawasi antrian penumpang yang hampir habis sedangkan pria itu belum bergerak sedikit pun. Tiba-tiba ada rasa hangat menjalar di tangan kanannya. Rose terkesiap dan cepat menarik tangannya. Pria itu baru saja meremasnya. Kelengahannya yang beberapa detik itu benar-benar dimanfaatkan. Mukanya merah karena malu dan jantungnya berdesir. "Damned..." Cepat ia beranjak berdiri dan melewati kursi lelaki itu duduk. Sedikit kasar dalam ketergesaannya, malah membuat sepasang pantatnya bergesekan dengan lutut kanan lelaki itu lagi. "Sebentar..." "Ya?" Rose menoleh. "Datanglah ke Gallery Dante besok, jam dua siang. Pameran lukisanku. Ada yang ingin kuperlihatkan padamu." "Aku sungguh belum tahu apakah aku..." "Datanglah.. Kutunggu..." sambil menyerahkan kartu undangan. Dante Painting Exhibition. "Jadi, namanya Dante?" dalam hati Rose merasa suka dengan nama pria itu. Ada sesuatu dalam suara dan tatapannya yang membuat Rose tidak kuasa menolak. Saat mereka berpisah di sana, Rose tahu, rindu itu baru saja mulai menunjukkan wujudnya. Suasana pembukaan pameran lukisan cukup ramai, Dante mengedarkan pandangannya dengan gelisah. Hingga satu jam berlalu, sebuah senyum yang ditunggu terlihat jelas di pintu utama. Seolah menjadi point of interest dari keseluruhan isi ruangan. Mereka bergerak perlahan saling mendekati. "My dear lovely Rose," berbisik Dante mendekatkan wajahnya, sebelum berjalan lambat mengiringi langkah gadis itu. Rose hanya bisa terperangah. "Dari mana kamu tahu namaku?" tanya Rose sambil berusaha menekan rasa terkejutnya. Dante tersenyum menggoda, "Maksud kamu My Dear Lovely itu?" "Hahaha... bukan itu, tapi Rose," kejar Rose makin penasaran. "Kamu penulis itu kan?" tanya Dante. "Sebenarnya aku sudah mengenalmu sejak di pesawat." Rose membelalakkan matanya, merasa dipermainkan.

50

"Aku menikmati tulisanmu," kata Dante penuh hormat sekaligus senyum menggoda di ujung bibir melumerkan kemarahan Rose. "Seperti dalam lukisan, gaya kamu menulis lebih ke realism. Kamu sangat peduli dengan semua detail yang mengambarkan suasana. Lingkungan keseluruhannya kamu gambarkan dengan sangat nyata seperti seorang pendongeng yang lihai, membuat orang ikut hanyut masuk ke ruang yang kamu gambarkan. Sedangkan aku, aku lebih ke ekspresionis, melepas semua rasa, emosi. Lihat lukisan ini, memperlihatkan brush stroke yang sangat kuat namun indah. Menari- nari dengan anggun, tapi juga tanpa melupakan emosi." "Kamu adalah nyata, aku ekspresif, tapi dunia sekeliling kita impresionis, blur. Lihatlah sekeliling kamu, kamu akan mengerti." "Jadi, My dear lovely Rose, maukah kamu membuat background itu nyata dengan kekuatanmu?" "Hahahahaha... Dante, beginikah kamu jalani hidupmu?" Rose tertawa geli. "Merayu setiap wanita yang kamu kenal?" "Kamu bukan bagian dari kata "setiap wanita" itu. Kamu adalah istimewa, membaca ceritamu seperti juga mengenali setiap sel yang membentuk dirimu." "So, apa yang ingin kamu perlihatkan padaku?" Rose mengalihkan dengan cepat topik yang membuat wajahnya menghangat sejenak. Dante memandangnya tajam, sekian detik. "Kamu benar-benar ingin tahu?" "Well, untuk itulah aku datang. Atau itu juga merupakan tipu muslihat lain?" "OK, ada kelemahanmu dalam menulis. Selalu kutemui dalam tiap ceritamu. Mari aku tunjukkan," katanya sambil mengamit lengan Rose mendekati sebuah lukisan di sudut ruangan. "Kamasutra judul lukisan ini, coba kamu perhatikan. Katakan, apa yang kamu rasakan." Sebuah sensasi dari gairah, dengan warna-warna hangat mengangkat kuat emosi dari kedua subyek yang bersenggama. Sangat ekspresif sekaligus juga sangat puitis. Tidak cuma gairah yang meledak-ledak, ada kelembutan. Darah Rose berdesir membayangkan adegan dari lukisan yang terpampang di hadapannya. Sejenak dia terbawa masuk dalam gairah aneh yang timbul dari lukisan itu. Ada kehangatan menjalar di bagian belakang lehernya, menambah getar halus, membuatnya menggeliat sejenak, mendongakkan kepalanya, memejamkan mata, berusaha menerima lebih banyak kehangatan, kemudian membiarkannya menyebar, menerobos memasuki setiap syaraf tubuhnya. Dante berdiri rapat di belakangnya. Nafasnya berat menyapu leher jenjang Rose. Telapak tangannya meremas lembut jemari lentik gadis itu, memberikan kehangatan lain. Tanpa sadar, Rose balik meremas. Tiba-tiba Rose tersentak sadar, ketika merasakan satu benda lunak menempel rapat di pantatnya. Seketika, bagaikan terlepas dari sihir, Rose membalikkan badannya dan mundur selangkah. Ingin memandang Dante

51

dengan kemarahannya, tapi kehangatan itu masih tersisa begitu kuat memerahkan pipi. Sebaliknya ia hanya menundukkan kepala menutupi jengahnya. "Begitu seharusnya kamu menuliskan keindahan persenggamaan," bisik Dante dengan kelembutan. "Aku tidak bisa," Jawab Rose dengan perasaan yang tidak menentu. "Tentu saja, jika kamu selalu menghindarinya. Atau kamu ingin aku mengajarimu lebih banyak?" senyum itu sedemikian nakalnya. "Mari, kita keluar," ajaknya sekaligus melepaskan Rose dari situasi serba salah. "Aku sudah cukup dengan keramaian ini, lagipula nampaknya kamu membutuhkan udara segar." Berdua mereka berjalan menuju area kolam renang yang tersedia di Hotel tersebut. Kali ini, entah kenapa Rose membiarkan tangan Dante meraih jemarinya. Membimbingnya menuju ke sebuah balkon di satu sisi kolam itu. Aroma senja mulai merebak. Sinar matahari lembut keemasan di ujung barat jatuh menimpa riak air kolam yang kebiruan, mengundang sensasi sejuk dan tenteram bagi mata mereka berdua. Angin semilir yang malumalu menggelitik, sedikit basah membawa pesan akan datangnya hujan. Sesekali gemericik air yang jatuh dari mulut sepasang singa batu di kepala kolam membuat teduh suasana. Hanya dibatasi oleh pagar kecil dengan sejurus jembatan mungil yang melintasi balkon adalah bagian dari kamar yang ditempati Dante. "Keindahan senja ini bisa kunikmati setiap hari, tapi tidak dirimu. Nggak keberatan kalau kita bicara di dalam? Terlalu banyak angin disini." Rose mengamati Dante, sebelum memutuskan untuk mengikuti ajakannya. Perlahan melangkah menyusuri jembatan sempit dengan balutan tangan Dante dalam genggamannya. Ada rasa lemas tak berdaya digenggam tangan sekuat itu. Mereka tiba di depan sebuah bungalow yang pintunya berukir Jawa kuno berwarna coklat tua, sinar temaram kekuningan mengintip dari dalamnya. Agak ragu Rose mengulurkan tangan menyentuh pintu dan perlahan mendorongnya ke dalam. Aroma melati sayup menerpa indera penciumannya. Kaki telanjangnya melangkah melewati selasar bungalow yang menghubungkannya ke ruang utama. Lalu secepat kilat menyambar, Dante menyergap tengkuk Rose dengan satu ciuman. Hanya satu ciuman, ingin ditarik kembali sesudahnya tapi bibir Dante berhenti di tengkuk berbulu halus itu.Tak ada penolakan. Dante melingkarkan tangannya di pinggang ramping Rose, memeluk dari belakang. Rose terdiam, memejamkan matanya. Melihat reaksi itu Dante mulai bermain dengan lidahnya, menjelajahi setiap inci leher Rose, menyibakkan rambut yang jatuh menutupinya. Sejenak Rose terseret dalam buaian. Tangan Dante bergerak naik meremas lembut payudara Rose. "Sebentar," tapi kemudian Rose mendorong Dante, membuatnya mundur

52

beberapa langkah, terhenti oleh dinding. "This is not right." Dante cuma menatapnya sembari terus menebarkan pesona. Ia masih tegak berdiri, memandang tajam, membuat lutut Rose kian lemas dan bergetar. "Oh God. What am I doing?" Rose tanpa sadar menggumam, sambil menyapukan kedua telapak tangannya melewati rambut tebalnya dengan remasan kuat. Sekian menit, dua pasang bola mata mereka saling terkunci, tak mampu berpaling. Rose menggigit bibirnya. Lalu, bagaikan dua zat kimia bersatu dan membentuk letupan hebat... Cepat, setengah berlari mereka mendekat. Bibir mereka bertemu. Dante bergerak sangat agresif, bibir Rose lumat dalam kuluman panjang serta permainan lidah Dante. Nafas mereka berkejaran. Rose melenguh. Kemudian mereka terdiam, hanya bibir mereka masih bersentuhan, menetralisir nafas yang hampir terputus. Tangan Rose bergerak nakal, turun mencari penis Dante. "Hmmm..." senyum tersungging saat ia menemukannya keras terbungkus di balik celana. Dante bergerak pelan membuka kemejanya. Satu kancing yang tanggal, satu kecupan didaratkan Rose di dadanya. Lidahnya bermain bergantian di kedua puting Dante ketika seluruh kancing baju itu terbuka, sambil melepaskan celana Dante dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergerak turun mengikuti celana Dante yang lepas, lidahnya berputar melingkar membelai perut Dante. Lalu berhenti. Rose dalam posisi berlutut. Di depannya, Dante berdiri telanjang dengan penis mengacung. Sesosok naga menggeliat, memamerkan lidah apinya yang merah kekuningan di antara bulu yang cukup lebat itu. Mata Rose melebar kagum, bibirnya separuh membuka. "You turn me on, Dante." Separuh terpejam dikecupnya tatto itu, sambil menggenggam penis Dante. Bibirnya bergerak turun dan mengulum lembut kedua buah zakarnya bergantian, penuh kenikmatan. "Lembut, Dante... So delicate... I like them in my mouth......" Rose berbisik separuh mengigau. Hasratnya meninggi merasakan gesekan buah pelir Dante di antara lidah dan bibirnya. Lama... dan perlahan. Puas dengan itu, lidah Rose menyapu naik sepanjang penis, berulang-ulang. "Uuuhhhh... keras sekali..." Mulutnya menceracau, merengek, separuh menangis, mengeluskan ke wajahnya penis Dante yang menegang merah tua, pucuk penisnya berkilat dengan setetes cairan kenikmatan. Ia memandang sejenak reaksi Dante. Mata mereka bertemu. Rose tersenyum dan melepaskan satu sapuan lidah yang panjang di situ, sebelum akhirnya bergerak cepat menghisap. Tiba-tiba Rose berdiri, mendorong tubuh Dante ke atas ranjang dengan posisi terlentang. Bertumpu pada kedua sikunya, Dante memandang Rose yang bergerak nakal, sensual gerakannya. Melepas satu-satu pakaiannya. Menggoyangkan pinggul seksinya. Menggoda sejenak saat hanya bra dan celana dalam yang tersisa. Kemudian dengan cepat dilepaskan juga bra-nya namun dengan ditutupi

53

oleh telapak tangannya. Segera dia bergerak naik ke atas tubuh Dante, menyembunyikan wajahnya yang terlanjur memerah. "Duhhh, malu...," ia berbisik setengah tertawa. Direngkuh mesra tubuh telanjang itu oleh Dante. Dielus sebentar, menenangkan. Hanya rasa yang bicara. Rose menyunggingkan sebentuk senyum. Mengingat kenakalannya tadi. Perlahan Dante bangkit, membalikkan tubuhnya, mencium mesra bibir gadis itu. Dirasakannya gerakan bibir Rose membentuk seulas senyum dalam tangkapan mulutnya. Tak tahan ia segera melepas ciumnya dan memandangi wajah yang sedang tersenyum manis itu. Membuatnya ikut tersenyum. "Napa senyam-senyum gitu?" "Oh, Dante... Kamu jangan berpikir kalau aku seperti itu. Godaan yang kamu tebarkan terlalu berat untuk diacuhkan." "I know," bisik Dante. Dikecup lembut bibir yang bergetar itu, "Aku suka gaya kamu, not bad at all." "Iya, tapi..." "Ssstt, jangan..." Dante menyergap bibirnya yang separuh terbuka. Lebih mesra. Remasan lembut di payudaranya. Lidah Dante bergerak menggelitik, bermain sejenak di leher, berputar perlahan di telinganya. Lembab dan basah, ketika jari Dante sampai di belahan vaginanya. "Hmm..." perlahan Dante menarik turun celana dalam Rose yang telah bergurat basah. Jarinya mulai menari-nari di clitnya yang menegang. Rose menggeliat. "Dan... Dante......" Rose mendesah saat dirasakannya kelelakian Dante membelai bibir vaginanya. Perlahan Rose melebarkan kedua tungkainya. Penis Dante menusuk cepat saat menemukan jalannya, agak tertahan setengahnya. "Akkkhhh... Ssshhhhh..." Rose mendesis, liang kehangatannya mengejang sesaat, matanya terpejam rapat. Dante menarik sedikit penisnya, kemudian menekan sekali lagi untuk menyempurnakan penetrasinya. Saat membuka matanya kembali, Rose menemukan tatapan Dante menghujam dalam ke relung hatinya. Hanya mata mereka yang bicara. Percik gairah makin sempurna bermain di sana. Gairah yang meninggi dari perasaan yang lebih intim, keinginan untuk peduli dan memiliki. Dan itu mengakhiri kediaman mereka. "Rose... bagaimana tidak kucintai dirimu," bisik Dante. Rose memejamkan mata, menekan emosinya saat mendengar ucapan Dante. Namun tetap saja air mata merebak, memenuhi rongga matanya. Kali ini tangis kebahagiaan menyergap, lepas, mengalahkan semua perasaan lain. Rose melingkarkan kedua lengannya di leher Dante, memeluk erat. Di antara isaknya Rose menciumi setiap bagian wajah Dante.

54

"I love you too Dante." Sementara Dante masih menatap mesra wajah Rose, membelai pipinya, meletakkan jari telunjuknya dan bermain di bibir mungil Rose. Rose tertawa di antara tangisnya, "Kamu nakal Dante. Bagaimana kamu bisa membujukku sampai berada di sini?" tanya Rose tak mempercayai keadaan mereka saat itu. "Berada di mana? Maksud kamu berada di bawahku seperti saat ini?" Dante masih menggoda dengan nakalnya. Rose jengah memikirkan dirinya telanjang dalam dekapan Dante yang memasuki tubuhnya. Rona merah mewarnai mukanya. Dan itu membuat Dante makin tertawa lebar. "Hush... suka ya lihat Rose jadi malu begini, tadi bikin nangis juga." "Kamu memang pintar bermain dengan perasaan orang, pasti sudah banyak yang berhasil kamu bawa ke sini," ia merajuk dengan pertanyaan klise. "Rose, tanyakan pada dirimu sendiri. Tidakkah kamu merasakan kalau ini sangat alami. Rasa saling tertarik itu begitu kuat. Bahkan aku merasa kalau kita memang diciptakan untuk saling memiliki." "Kamu serius dengan itu?" mata Rose mencoba mencari jawabannya. Dipandangnya reaksi Dante. "Lihat ke dalam mataku, Rose sayang. Kamu akan menemukan jawabannya." Sekali lagi Rose memeluk erat, lebih hangat, oleh kepercayaan yang perlahan mulai tumbuh. "Tak perlu Dante, aku mencintaimu, aku percaya padamu." Api itu memanas lagi, memaksa Dante mulai menggerakkan pinggulnya perlahan, berputar putar sambil sesekali menekan kuat. Rose menggeliat, mengejang, mendesah, merintih... Saling mengisi, saling menyentuh. Malam mulai pekat, lamat-lamat alunan gamelan Jawa menyapa udara. Mendung yang sore tadi menggelayut kini menghitam, desau angin makin kencang dan akhirnya membawa tetes air hujan. Gerimis pada awalnya sebelum lambat laun menjadi hujan lebat. Daun jendela kamar Dante bergemeretak diserbu angin. Desahan dan erangan sepasang anak manusia itu memenuhi ruangan. Membangun perlahan gelombang demi gelombang kenikmatan. Rose menggeliat lebih cepat. Dante melingkarkan tangan kanannya di bawah pinggang Rose. Sedikit mengangkat pinggulnya sambil menghujamkan penisnya sedalam mungkin. Berputar, kemudian menarik penis kearah atas. Mengelus klitorisnya dalam tarikan keluar masuk. "Kamu bisa menikmatinya Rose? Jangan ditahan... Biarkan badai itu datang," bisik Dante sambil menjilati bagian kuping Rose. "Aku ingin membahagiakanmu, memuaskanmu, biarkan orgasme itu datang sebanyak mungkin." Dante bangkit dengan posisi duduk bersimpuh, kedua telapak tangannya menarik pinggul Rose merapat. Menekan penisnya keras kearah bawah. Hingga tekanan ke klitoris semakin kuat, sentuhan dan gesekan semakin intens dengan goyangan cepat. Pinggul Dante maju mundur. Rose menggeliat tanpa mendapatkan tubuh Dante. Tangannya bergerak menggapai setiap yang tersentuh oleh tangannya. Mencengkeram kuat pada

55

sprei. "Hhhh... Sssshh... Danteee..." makin tinggi diangkatnya pinggulnya yang berada dalam topangan tangan Dante. Digoyang-goyangkan seperti lepas kendali. "Akkkkkhhhhh..." Tubuhnya mengejang. Kedua pahanya menjepit keras pinggang Dante. Sekian detik, akhirnya tubuhnya bagaikan kehilangan rasa, terkulai lemah. Nafasnya memburu. Masih menggeliat lemah, Rose melepaskan penis Dante dari vaginanya. Bergerak pelan menggulingkan tubuhnya, memunggungi Dante. Bertumpu pada siku tangannya. Rose mengangkat pinggulnya, menahannya dengan kedua lututnya. "Dante...," tangannya menggapai ke belakang mencari. Dante mengulurkan tangan, menerimanya, meremasnya dengan sayang. Mendekati wajah Rose yang menengok kepadanya. Memberikan sebuah ciuman teramat mesra. "Masuki aku Dante, kamu belum kan sayang?" bisiknya lembut, masih gemetar oleh serbuan badai orgasme yang baru dialaminya. Sebuah ciuman lagi buat Rose, sebelum dia mundur, lalu berlutut di belakangnya, siap untuk memasuki. Dielus dengan lembut kedua buah pinggulnya, lebar, indah. Dikecup sejenak keindahan itu. Memainkan jarinya di sekitar klitoris, mengusap naik dengan ketiga jari sekaligus. Hingga mencapai lubang anus, jari tengah Dante bermain di permukaannya. Kembali mendekatkan kelelakiannya pada bibir bawah yang basah mengkilat itu. Menekan lembut, keluar masuk beberapa kali sebatas kepala penis saja. Hingga kesabaran Rose tergoda. Ia mengulurkan tangan ke belakang menjangkau pinggang Dante, menariknya kuat. Cukup kuat penis itu menerjang masuk, bertahan sebentar di dalam, berdenyut-denyut, kembang kempis dipermainkan oleh Dante. Akhirnya Dante mulai bergerak memompa dengan irama konstan, sebelum makin cepat... makin cepat... Tubuh Rose terguncang-guncang oleh koyakan Dante yang menerjang masuk dan keluar. Ia berteriak, merintih, mendesah hebat, mendongakkan kepala, menggelepar. Mengejang sebentar, kemudian menjatuhkan kepalanya ke ranjang. Berusaha bertahan dari serbuan kenikmatan yang mendesak datang dalam hitungan detik. Tangannya mencengkeram kuat pada sisi pinggir ranjang. 'Akkkhh... Dannn..." Rose menggigit bantal tempat dia meletakkan kepala. Menggeleng kuat pada puncak ekstase, melemparkan bantal yang digigitnya saat dia harus berteriak keras. Ekspresi wanita dalam puncak kenikmatan dunia, salah satu pemandangan terindah di mata Dante. Keindahannya mengisi penuh jiwa Dante yang haus, membuatnya makin terstimulasi. Perlahan ia bergerak meluruskan kedua kakinya, untuk mendapatkan gerak yang lebih leluasa. Setengah berdiri dengan posisi kuda-kuda, diangkatnya pinggul Rose lebih tinggi. Semua sisa tenaga Dante yang terakhir akan dipertaruhkan di sini. Bergerak cepat, menggoda kembali kenikmatan yang belum sepenuhnya tuntas meninggalkan Rose saat orgasme tadi. Sebentar saja, Rose kembali menggeliat. Antara

56

kenikmatan yang mendera, serta keinginan untuk menyerah, juga untuk membahagiakan Dante. Belum pernah Rose merasa ingin melewati batas kemampuannya. Tapi ini adalah yang pertama, keingintahuan tentu lebih dominan. Keinginan menikmati sensasi yang melewati batas yang mungkin diterima oleh tubuhnya. Melayang oleh desakan orgasme, mengejang sesaat. Reaksi tubuh Rose disambut Dante. Dipersiapkannya orgasmenya sendiri. Bertahan dengan sperma yang menerjang menumpuk dalam rongga kejantanannya. Bertahan dengan nafas yang makin tersengal. "Aaaahhh..." Dante mendesah berat, saat dia melepaskan pertahanannya. Saat bersamaan ia melihat Rose mengejang dalam desisan panjang. Segera kepala Dante terasa melayang, membuatnya terdongak kebelakang, mencari udara sebanyak mungkin. Diisinya dadanya penuh-penuh oleh oksigen dalam jumlah besar yang sesaat tadi hilang. Perlahan Dante menjatuhkan tubuhnya menindih tubuh Rose yang lebih dulu terkulai. Dengan kelelahan yang mendera tubuhnya, dia tersenyum memandang Rose, yang maskara hitamnya meninggalkan noda di bawah mata. Dahinya berkilat oleh keringat dan rambutnya terburai liar di atas bantal. Dielusnya tubuh kekasihnya, mesra. Bergerak Dante meraih bungkus rokoknya. Dinyalakannya satu untuk Rose, satu untuk dirinya. Hujan telah lama reda, alunan gerimis tinggal satu satu menitik di lantai batu teras bungalow. Udara sejuk dengan bau tanah basah dan dedaunan yang baru tersiram air. Rose masih memandangnya, "Dante, I`m a married woman." Sekapur sirih: Ini hasil kolaborasi tulisan Dante dan Rose yang pertama. Awalnya tidak direncanakan untuk dibuat sekuel, tapi tulisan interaktif ini membuatnya jadi begitu. Seperti yang dijanjikan Rose pada John Ark. John, this one is for you. Komentar Wiro: Setelah sukses membuat cerita berjudul "Blue Christmas" yang padat dan sangat menyentuh hati, sepertinya Blackrose kembali ke gaya penulisannya yang lama, seperti yang pernah ia lakukan ketika membuat cerita berjudul "Once in A Lifetime". Mengomentari jalannya cerita, saya menebak pasti Dante punya ilmu pemikat semacam Semar Mesem. Sebab rasanya kok sulit bisa menarik perempuan yang baru dikenal ke dalam petualangan cinta, hanya bermodalkan sedikit perbincangan di dalam pesawat dan di dalam galeri! Atau mungkin Rose tipe perempuan yang mudah jatuh cinta? Secara keseluruhan, walaupun cerita ini cukup panjang tapi menarik untuk terus diikuti. Kegiatan seks di atas ranjang mampu digambarkan secara detail, indah, dan merangsang!

57

ANOTHER SUITCASE IN ANOTHER HALL 02 Sinopsis: Cinta Dante dan Rose terhalang oleh tembok perkawinan. Rose telah bersuami. Mereka harus menjauh. Tapi itu tak berlangsung lama. Kerinduan bagaikan magnet yang menarik mereka ke Bedugul. Di sanalah mereka saling melepas rindu, dan birahi. DANTE Kerinduan pada Rose, menciptakan suatu gairah aneh yang memacu Dante untuk terus melukis. Pada awalnya, banyak kenangan indah yang membaluti suasana lukisannya. Namun seiring berjalannya waktu, lukisannya juga mulai menunjukkan satu kerinduan yang pekat. Nada-nada sendu, warna-warna gelap mulai mendominasi menggantikan warna ceria, menimbulkan suatu gaya surealisme yang lebih mencekam. Obyek yang hadir menunjukkan kesendirian, dalam satu lingkup misteri. Misteri yang hanya Dante tahu dari mana asalnya. Semakin kuat menjeratnya dalam tema lukisan yang terus berulang. Bagi Dante yang pelukis, apa yang dirasakan, adalah masih merupakan suatu proses penggalian imajinasi. Kerinduan mungkin membuat tertekan sebagian orang, juga dirinya. Tapi dengan kedalaman inspirasinya, Dante menikmati semua sakit yang ditimbulkan, bahkan terus ia perkuat. Dibiarkannya rindu itu mengoyak sebagian hatinya. Hingga darah dari luka itu bagaikan mewakili cat yang nantinya akan bermain di atas kanvas. ROSE Masih diingatnya dengan jelas ekspresi wajah Dante saat ia mengungkapkan statusnya. Kosong, namun ada perih di matanya. Pula saat ia perlahan mengangkat tangan kanannya dan sedikit memajukan jari manisnya di depan mata lelaki itu. Cincin platina dengan sebuah batu berlian di tengahnya. Kata-katanya yang mengiris untuk mengembalikan Dante kepada realita, "Wajahmu mengatakan lebih banyak daripada yang keluar dari bibirmu, Dante... Terimakasih, aku mengerti." Masih sempat ia berikan salam perpisahan sebelum menutup kembali pintu masuk bungalow itu, meninggalkan Dante sendiri di dalamnya, "I am sorry for everything... and... thank you for...." Ia tak kuasa meneruskan. Tidak ada jejak, tidak ada peluk perpisahan ataupun janji untuk bertemu lagi. Kembali dalam kesehariannya, Rose terus berkarya, menghasilkan tulisan dan cerita indah. Tidak dibiarkannya sosok Dante datang lagi, ia libas

58

semua kenangan awal pertemuan mereka dulu. Menyibukkan diri dalam ruang kerjanya yang mungil di sudut rumah dan menerima tanggapan dari para pembaca ceritanya. Hal yang sangat disukainya karena biasanya mereka selalu merespon positif dan memacunya untuk terus berkarya. Sampai satu hari, Rose menerima mail dari beberapa pembacanya. "Dear Rose, membaca ceritamu yang terakhir, ada yang berubah di situ. Muram, sedih... Tidak ada lagi gairah dan keceriaan seperti ceritamu yang dulu dulu." "Rose, kamu nggak all out untuk yang satu ini. Perasaanmu kurang bermain, ceritanya jadi datar." "Rossy, ceritamu kenapa biru terussssss??" Ia terdiam di depan komputernya malam itu. Kilasan lukisan Kamasutra Dante hadir tanpa diundang. Komentar lelaki itu tentang tulisannya. Realism, peduli dengan detail, my dear lovely Rose, tatapan matanya, sapuan bibir lelaki itu di tengkuknya, belaian jemari di tubuhnya... Tidak pernah ia disentuh sedemikian rupa sebelumnya. Dan cuma mata seorang Dante yang mampu menembus relung hatinya yang paling dalam, membangunkan keliaran-keliaran yang Rose tak pernah tahu ada. Matanya tanpa sadar terpejam. Ada sesuatu yang menggelitik di bawah sana, terus naik ke atas, membuatnya menggeliat tanpa sadar, dan mendesah, Aaahhhh.... Lalu ia terpuruk di meja kerja. Merebahkan kepalanya di situ dan berbisik, "Dan... Danteee... aku rindu." Ada rasa bersalah saat ia merebahkan diri di peraduan, menyusul suaminya yang sudah lebih dulu terlelap. Dipandanginya wajah maskulin itu, yang tidur dengan damai, yang matanya terpejam rapat dibuai mimpi. "Suamiku, tahukah kamu apa yang telah kulakukan? Apa yang kurasakan? Maafkan aku." Setitik airmata meleleh di sudut matanya, lengannya terangkat, perlahan membelai pipi suaminya. Sekejap lelaki itu membuka mata dan tersenyum. Bergerak tangannya menarik selimut dan menyelubungi tubuh Rose seraya tubuhnya mendekat dan memeluk istrinya dari belakang. "Aku mencintaimu...." Rose berucap lirih. "Aku tahu. Aku juga cinta kamu," jawaban lirih separuh mengantuk itu justru menampar mukanya. Untuk siapa sebenarnya re-assurance seperti itu tadi? Lama ia termenung, dan jawaban dari lubuk hatinya yang paling dalam makin membuatnya resah. Kata itu tadi, sebenarnya lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. Tiga bulan kedepan

59

Mata Rose terpaku pada sebuah nama yang tercetak dalam huruf besar. Diletakkannya cangkir kopinya dan mengamati lebih serius. "Dante...", desisnya. Perlahan Rose melemparkan koran pagi itu. Pameran bersama di Ubud, satu minggu lagi, nama Dante ada di sana. Rose terdiam sejenak memandangi buku tamu pameran itu. Goresan pena di tangannya membentuk huruf "R" yang tertera di buku itu terhenti sejenak. "Haruskah Dante mengetahui kedatanganku kali ini?" tanyanya dalam hati masih penuh kebimbangan. "Kenapa tidak terpikirkan hal ini sebelumnya?" Rose mengutuki dirinya. Berpikir sejenak dengan nafas berat, kemudian matanya mengerjap lucu, senyum kemenangannya yang pernah dipuji Dante perlahan terukir di wajahnya. Masih dengan senyum itu Rose mengukirkan namanya di buku tamu tersebut dengan huruf yang sangat menarik perhatian. Ia menegakkan badannya dan berjalan mundur selangkah, mengamati tulisannya. "Hhhmm, cukup untuk eye catching," Rose tersenyum lagi, puas. Membalikkan badannya memasuki ruang pameran sambil menari kecil di selasela langkahnya. Lukisan berjejer rapi sejak dari pintu utama. Mengantarkan penikmat seni mengikuti pergolakan jiwa dari sang pelukis. Lukisan Dante sangat menarik, warna-warni ceria mendominasi seluruh ruang kanvas. Juga sapuan kuas yang membangkitkan semangat. Kesan jenaka juga ditangkap Rose. Tipikal dari karakter Dante yang suka menggoda. Rose tersenyum lagi membayangkannya sambil terus melangkah. Lalu senyum itu perlahan memudar, berganti dengan dua alis bertaut. "Dante," desisnya ikut merasakan kepedihan dalam lukisan di depannya. Warna-warni ceria telah berganti. Berbalik Rose mengamati beberapa lukisan yang terlewati saat dia terlena dalam khayal sejenak tadi. Bergerak cepat ke depan, satu per satu lukisan dia amati. Berbalik lagi. Semakin ke dalam, lukisan yang tergantung semakin memberikan kesan depressing. Warna kelam tidak saja menyelimuti semua lukisan di sana, tarikan kuasnya patah-patah, nyaris tanpa emosi, mati. Tidak banyak arti dari lukisan yang dimengerti oleh Rose. Tapi kesan yang ditunjukkan sangat gamblang. Perubahan yang drastis sejak dari beberapa lukisan di depan sana. Suatu perasaan yang mendalam dari Dante, yang dicoba dikeluarkannya. Ini bukan Dante yang kukenal. "Apa yang terjadi pada kamu Dante?" desah kesedihan menyelimuti perasaan Rose. Perlahan ia bergerak mendekati bangku di tengah ruang pameran itu. Duduk di sana, matanya masih bergerak mengamati lukisan demi lukisan, menarik nafas panjang memikirkan seolah dirinya sendiri yang melukiskan semua itu. Semua emosi, kerinduan yang terlukis di kanvas itu begitu dekat dengan dirinya. Semua kepedihan itu seperti

60

miliknya. Hanya saja semua yang terlukis di sana begitu kuat. Melebihi penderitaan yang pernah dirasakannya. "Ahh... Dante, kamu juga merindukanku. Tapi kenapa harus sebesar itu?" Dengan langkah gontai Rose berjalan meninggalkan ruang pameran. Di luar gedung, langkahnya terhenti sejenak, matanya menerawang ke langit. Diam dan hanyut sebentar dalam keraguan. Dan akhirnya ia kembali ke meja penerima tamu. Mengambil pena, kemudian digoreskannya sebuah pesan singkat "Call me". Juga sebuah nomor dari telepon selular ditinggalkan di samping namanya sendiri yang ia tulis sebelumnya. Kemudian dengan langkah cepat dia meninggalkan gedung itu sebelum menyesali tindakannya. Tidak jauh dari sana, Dante berdiri memandangi Rose yang bergerak menjauh. Dari satu ruang tersendiri, di satu sudut gelap yang tersembunyi. Menengok ke arah penerima tamu, kemudian perlahan mendekat. Seolah khawatir akan menerima sebuah pesan maut atau vonis kematian kedua baginya dari orang terkasih. Ia masih terus menengok ke belakang. Tidak juga diraihnya buku tamu itu. Tangannya bermain di situ, hanya mengelus. Sekejap, lalu mulai meliriknya. Ia tetap diam, tanpa ekspresi. Perlahan membacanya. Dahinya berkerut. Ia kembali menengok di kejauhan. "Aku melukis di Bedugul sementara ini," begitu pesan yang diterima oleh Rose di telepon selularnya. Tanpa meninggalkan suatu nama. Tapi cukup membuatnya terpaku di tempatnya berdiri. Subuh masih menyisakan embun di pucuk daun cemara. Udara dingin menggigit. Riak kecil air danau sebentar-sebentar menyapu tepian, meninggalkan bunyi kecipak air yang lembut. Di satu sisi tepian Danau Beratan, sesosok tubuh ringkih berdiri menentang alam. Baju linennya tipis melambai. Udara dingin berlomba menerjang masuk ke setiap pori tubuh itu. Pemiliknya tidak bergeming. Sebuah mobil putih mungil merapat. Tidak begitu jelas, di mana Rose akan mencari Dante. Hanya kerinduan saja yang menyeretnya ke sana sepagi ini. Agak segan ia beranjak keluar dari mobilnya. Udara dalam mobil terlalu hangat untuk ditinggalkannya, ditambah gerimis yang turun menyambut. Ia menyalakan sebatang rokok untuk pengusir dingin. Pada hisapan pertama, matanya mulai menerawang ke kejauhan. Di antara tebalnya kabut, sesosok putih melambai-lambai. Sesosok tubuh dengan lapisan tipis kain berwarna putih tepatnya. Segera ia bergegas mendekat. Matanya tak mau lepas dari sana. Dihampirinya tubuh yang tegak dalam sapuan hujan dan balutan udara dingin itu. "Dante?" Bergetar suaranya membisikkan nama itu. Di matanya ada sejuta kerinduan yang siap tumpah. Mata lebar Dante yang dulu berbinar nakal

61

kini cekung kehitaman, bibirnya biru menahan dingin yang sejak tadi begitu pedih menggigit. Sejurus Rose hendak memeluknya. Ingin sekali ia bagikan kehangatan tubuhnya untuk tubuh kurus Dante. Tapi ada sesuatu yang menahannya untuk tetap diam di tempat. Ia hanya paksakan sebuah senyum tipis di sudut bibir dan berucap, "Apa kabar, Dante?" "Cuma untuk sapaan itu kamu jauh-jauh kemari mencariku, Rose?" suara Dante pahit. "Melihatmu di sini sudah membuatku bahagia," ia berbisik lemah, tak terasa matanya mulai berkaca-kaca. Sungguh berat topeng yang harus ia pakai kali ini. "Iya? Begitu buatmu? Buatku itu tidak cukup. Bila kehadiranmu di sini cuma sebatas bayang semu. Melihat senyummu, matamu, sosok tubuhmu, mendengar bisikanmu, tapi tidak kamu biarkan aku menyentuhnya." Cairan kepedihan yang tadi masih diam dalam kelopak luruh sudah. Rose mengerjap, pandangannya buram disaput airmata, jatuh setetes mengalir di pipinya. "Kenapa harus kautahan langkah itu, bila memang yang kamu mau adalah memelukku? Kalau benar aku mengenali kamu dari setiap goresan penamu, Rose... Kamu semestinya tidak pernah enggan mengakui apa yang kamu rasakan. Katakan, kamu mencintai aku. Katakan, kamu rindu, kamu ingin dekapanku." Suara Dante tajam menyayat dan makin meninggi, bergetar oleh emosi dan sayatan angin yang makin kencang menderu. Rose hanya mampu menggeleng lemah, airmatanya mulai membanjir. "Munafik!!" Taaarrrrr!! Sebuah tamparan keras menyayat pipi kanan Dante, membuat kepalanya terdongak sekejap. Tapi ia tak bergeming. Perlahan menoleh kembali, balas menatap Rose dalam-dalam. Tangan kiri Rose mengepal, telapaknya yang baru saja mendarat di pipi Dante terasa panas. Bibirnya berkemik menyebut kata maaf, tapi tak ada suara yang keluar. "Bila caramu menyatakan cinta adalah dengan menamparku, kuberikan pipi kiriku untuk kautampar juga. My dear... Lovely Rose..." tegar Dante berkata, walau tak urung airmata kepedihan yang lama ditahannya tertumpah juga. Dan semuanya menjadi terlalu banyak untuk ditahan. Tangis Rose meledak, ia lemparkan tubuhnya di kaki Dante, memeluk lutut pria itu. "Berapa malam Dante. Berapa malam sudah aku lewati dengan membisikkan namamu dalam tidurku. Berapa kali kukirimkan kata rindu padamu lewat sapaan angin malam dan bulan purnama dan bintang di atas sana." Wajah pucat Dante menyeringai. Ditariknya bangun tubuh Rose tanpa belas kasihan, dan didekapnya kuat sambil menghujamkan ciuman kasar. Dilumatnya bibir mungil yang biasanya menyenangkan saat dia tertawa itu. Lidah Dante bergerak liar dalam kuluman yang kuat menyakitkan. "Dannn... ka.. mu... menya... kitiku.." Rose menjerit dengan suara yang terputus, tak jelas. Berontak melepaskan diri dari ciuman dan

62

tubuh yang sedingin es itu. Sesaat ia berhasil melepaskan diri, secepat itu dilepaskan lagi sebuah tamparan keras lewat kemarahannya. Dante terdiam, tidak menghindar memang. Dante mengharapkan itu. Dipandangnya wajah manis di hadapannya yang basah oleh air mata dan siraman air hujan. Tajam menusuk. Bibirnya menyeringai. Rose terkesiap, segera menyadari kalau Dante memang sengaja memancingnya untuk menyakiti dia. Dan tamparan yang dilepaskan kedua kalinya itu, disesalinya. Matanya membelalak, tangannya masih terangkat, perih tersisa di telapak itu. Pandangnya memelas menahan tangis, berusaha menyelami isi hati orang yang dicintainya ini. Sementara punggung tangan Dante bergerak lagi mengelus pipi Rose. Begitu lembut kali ini. Kepedihan yang dalam, hanya itu yang Rose lihat di dalam gelap bola matanya. Menyakitkan, melihat hal itu dalam diri orang yang dia sayangi. Tangisnya meledak, bersamaan dengan dijatuhkan badannya ke dalam pelukan Dante. Ciuman Rose menyerbu, Dante terdiam, masih membeku. Hingga Rose menangis dalam ciumnya. Perlahan bibir Dante bergetar, membalas dengan gairah yang perlahan bangkit. Tubuh basah mereka yang nyaris beku, menyatu erat. Perlahan kehangatan mengalir dari dua tubuh kuyup itu, saling mengisi, melawan udara yang dingin, menyejukkan pula hati mereka yang sempat perih. Dengan sedikit merendahkan tubuh jangkungnya, Dante meraih kedua tungkai Rose dengan satu tangannya, satu bertahan di pundak dan mengangkat Rose tanpa melepaskan ciuman mereka. Perlahan ia membopong gadis itu menuju mobilnya. Berdiri di samping pintu bagian belakang, Rose membantu membukakan pintu untuk mereka berdua sebelum Dante menurunkannya. Dengan cepat Rose bergerak masuk dan membalikkan badannya menanti Dante. Tidak segera masuk, Dante melepaskan baju yang basah dan melemparkannya sekenanya. Sedikit membungkuk ia memandangi Rose yang telah berada di dalam mobil. Rose yang tak sabar dengan godaan itu, bergerak cepat melepaskan semua pakaiannya. Dante tersenyum senang. Berdiri tegak dia membuka celananya di luar sana dengan santai. Tangannya bergerak menurunkan retsleting jeansnya. Sementara Rose yang masih sibuk membuka celana dalamnya terdiam sejenak, tersenyum memandang tatoo naga di bawah perut Dante yang bergerak mengundang bersamaan gerakan lelaki itu menurunkan jeansnya. Tidak terlihat bagaimana ekspresinya saat itu. Tapi Rose tersenyum, membayangkan bagaimana kekuatan cinta dapat merubah seseorang begitu cepat. "Dia telah kembali menjadi Dante yang dulu, keceriaannya, kenakalannya," senyum Rose kian merekah. Matanya mulai berbinar nakal. Dante menggerakkan liuk pinggulnya meniru Rose saat pertama mereka bercinta. Tapi Dante tidak seperti Rose yang akhirnya dikalahkan oleh rasa malunya. Dante berdiri tegak dengan penisnya yang merah mengacung di tempat terbuka, setelah ditendang lepas celananya yang terjalin di

63

bawah kakinya. Hari masih pagi, udara dingin menusuk, tetapi api yang menyala begitu besar. Diangkatnya tinggi-tinggi kedua tangannya, sambil berteriak keras melepaskan kegembiraannya, dia bergerak berputar telanjang bulat, dengan perlahan bagaikan seorang petinju yang memperkenalkan diri di atas ring, seolah ingin menunjukkan kepada seluruh dunia. Bahwa pasangan yang berbahagia ini akan segera melakukan satu pertarungan cinta. Rose terbelalak, sambil menengok ke kiri dan kanan. Kawatir ada yang memergoki perbuatan mereka. Kemudian senyum lucunya menyingkirkan perasaan itu. Puas dengan semua itu, Dante menunduk dan memandang Rose yang berada di dalam mobil, berpegangan pada kedua sisi pintu. Memandang lama ke dalam, menikmati senyum Rose yang melebar oleh kegilaannya. "Need my service, mam?" Dante bergaya. Masih di luar sana dengan ketelanjangannya. Rose tergelak, "Danteeeee...!!" teriaknya mulai terjangkit kegilaan dari Dante. Kemudian dengan gerak cepat, Dante melompat masuk sebelum seseorang mendengar teriakan Rose yang melengking itu. Membanting pintu di belakangnya. Perlahan Dante merayap di dalam mobil mungil itu, mendekati Rose yang berada di sudut pintu yang lain. Menggoda, bagaikan seekor harimau yang mengincar mangsanya. Rose makin meringkuk di sudut pintu, nafasnya menghangat dan pipinya menjadi merah oleh gairah yang muncul saat melihat Dante menggodanya. Sampai di satu sudut ia tak mampu lagi mengelak. Pasrah ia berikan tubuhnya diterkam Dante. Yang meraih tengkuknya dengan satu tangan dan menyerbunya dengan ciuman yang dalam. Satu tangan Dante meraih pinggul Rose, menariknya mendekat. Hingga Rose menempati keseluruhan jok belakang itu, terlentang di sana. Sedangkan kedua tungkainya terangkat tidak mendapat tempat di mobil yang terlalu mungil. Dante menempatkan diri di antaranya. Tanpa perlu menunggu, mengarahkan kejantanannya dan menembusi kemaluan Rose yang menantang dalam satu hentakan. Rose terpekik kecil, mendapat perlakuan Dante yang tanpa basa-basi. Sedikit kasar dan liar. Seperti melukis dengan sapuan kuas yang penuh tekanan, tanpa konsep terlebih dahulu. Hanya melampiaskan rasa. Tergoda untuk mengikuti permainannya, Rose mengangkat pinggulnya agak tinggi, memudahkan keduanya untuk bergerak. Dante memompanya lebih cepat, membuat Rose mencengkeram pinggangnya, membantunya untuk menghujamkan penis sedalam mungkin. Seolah mengejar semua yang tertinggal dalam hubungan mereka selama beberapa bulan ini. Dalam hitungan menit saja, sepasang tubuh yang tadinya menggigil kedinginan telah mulai meneteskan peluh. Nafas tersengal Dante menyulitkannya bergerak lebih cepat.

64

Terbatasnya oksigen di dalam mobil pengap itu. Juga terlalu mendesaknya gairah yang sekian lama tertimbun. Hanya nafasnya yang kepayahan mengimbangi goyangan liar Rose. Namun kejantanannya masih keras menekan ke arah atas dinding vagina Rose. Mengelus clitoris dengan lembut, hingga akhirnya berhenti sama sekali kelelahan. Dante mendongakkan kepalanya menarik nafas dalam dan berat. Sedikit melayang. "Too much smoke, huh..." keluh Dante. Mata mereka bertemu, telapak tangan Rose menyibakkan segaris rambut yang jatuh di dahinya, mengusap lembut peluh yang meleleh di situ, lalu mengecap jemarinya dalam satu sapuan lidah yang panjang. "Asin, Dante..." Senyum bermain di bibir keduanya. Kelamin mereka masih menyatu. Kaca jendela buram oleh nafas mereka, air yang menetes meninggalkan garis-garis yang lebih jernih. Ditambah dengan butir-butir air yang setia menempel di sana. Dante menurunkan sedikit kaca jendela itu. Angin dingin menyerbu masuk. Perlahan Rose bergerak bangun, hingga Dante dapat duduk dengan lebih leluasa. Segera Rose merambat naik, duduk di pangkuan Dante. Dilingkarkan kedua tangannya di leher Dante serta menariknya mendekati buah dadanya. Dante mengecup puting kemerahan itu, menarikan lidahnya berputar di sana. Rose mendesah, jilatan lidah Dante dan udara dingin mengeraskan puting merahnya. Ia mendongakkan kepalanya menikmati sensasi itu dan mulai menggerakkan pinggulnya. Naik turun, perlahan pada awalnya. Kemudian ritmenya meningkat cepat. Bibir Rose mendesahkan nama Dante berkali-kali, di antara erangan dan desahan berat menahan gairah yang kian meninggi. Posisi yang nampaknya membuat Rose dapat menguasai total permainannya. Tidak lagi ditunggunya Dante untuk suatu orgasme yang bersamaan. Rasa hausnya akan kenikmatan ini membuatnya bergerak sangat liar. Dia mengayunkan kepalanya dengan hentakan keras. Mencengkeram kuat pada pundak Dante. Menanamkan kesepuluh kuku runcingnya di punggung Dante. Saat satu teriakan panjang, disertai tubuhnya yang mengejang, kuku itu ikut pula menggoreskan luka sepanjang punggung Dante. "Ahhh.... sssstt.... Danteeeee....." erangnya, di antara serbuan badai kenikmatan itu. Kepalanya terkulai di pundak Dante, wajahnya bergerak menyapu perlahan kulit tubuh kekasihnya. Rose tersenyum mesra, bibirnya menggelitik leher Dante. Dante memejamkan mata merasakan perih di punggungnya. Mungkin, menikmati lebih tepatnya. "Mau seperti dulu?" tanya Rose nakal. "Kamu kan paling suka kalau dari belakang," senyumnya lagi. Masih dengan memejamkan matanya, Dante tersenyum. "Emang apa sih yang dipikirin, sampai mesti selalu dengan cara itu

65

baru kamu bisa puas?" Dante tertawa lebar, "Nggak tahu deh, mungkin kamu punya pinggul yang terindah." Tertawa lagi Dante, sambil membuka matanya dan memandang pinggul itu. Mengelus pinggul lebar Rose, lalu naik ke garis pinggangnya yang kecil. Dante menyukai lekuk itu, sangat indah menurutnya. Ditambah dengan perut yang rata, kesemuanya merupakan satu harmoni. "Kamu masih capek, Dan?" tanya Rose dengan kuatir. "Atau aku duduk membelakangi kamu aja ya, jadi kamu nggak capek? Kan sama aja," Rose memberikan alternatif. "Heuheuh... terus, bagaimana aku bisa memandangi pinggul indahmu?" protes Dante. "Hmm... Kamu bisa mengelusnya," penuh senyum Rose bergerak memutar badannya. Dicarinya penis Dante yang terlepas dengan satu tangannya. Menuntunnya memasuki dirinya. Perlahan Rose menurunkan pinggulnya sambil mendesis, mengangkatnya sedikit, kemudian menurunkannya lagi. Setelah penetrasi itu dirasakannya sudah sempurna, ia mulai bergerak maju mundur, memutar cepat pinggulnya. "Ack... shh... Dann... Dante," rengeknya. "Kamu menikmatinya, Dante...??" tanyanya di sela deru nafasnya sendiri. "Hmmmm...." Dante ikut mendesah. Penisnya tertarik kearah bawah, melawan kuat dalam cengkeraman liang kehangatan Rose. Berjuang untuk tidak kalah. Sementara tangannya bergerak bebas meremas lembut kedua payudara Rose. Bermain di sana dan sesekali mengelus turun ke pinggang. Bergerak nakal menuju perut dan turun. Rose menengok dan tersenyum, senang dengan tangan nakal Dante di sekitar bulu pubisnya. Ditariknya tangan itu untuk membantunya menstimulir klitorisnya. Jari tengah Dante mendesak masuk di sana. Berputarputar mencari klitoris yang timbul tenggelam dalam gesekan penisnya. Lidahnya menyapu sepanjang tengkuk Rose. Secepatnya Rose kembali mendekati titik orgasmenya, ketika jari tengah Dante menemukan klitoris itu dan menari di sana mengikuti geraknya keluar masuk. Rose bergerak sangat cepat, suara desah memenuhi kabin kecil itu. Dante ikut berpacu cepat, melihat Rose yang mendekati orgasme keduanya. Tapi satu cengkeraman di tangan Dante yang bermain di vagina Rose cukup menjelaskan. Cengkeraman itu menahan jari Dante untuk bertahan di sana. Dibiarkannya sejenak Rose melayang dalam orgasme panjangnya, sambil masih mencium mesra tengkuk leher jenjangnya. Saat gelombang orgasme Rose mereda, ia menjatuhkan tubuh Rose yang bersandar di dadanya kesamping. Sangat perlahan, juga menjaga penisnya tetap tertanam di dalam sana. Dan dengan posisi Rose yang tidur menyamping. Giliran Dante untuk menyelesaikan permainan ini. Satu dua gerakan masih menyebabkan ngilu di clitoris. Rose mendesah. Dante memindahkan kedua tungkai Rose yang terlipat kearah dada. Dibiarkan Rose memeluk kedua kakinya yang terlipat. Hingga ia mendapatkan posisi

66

yang lebih nyaman dalam ruang yang serba terbatas. Dante bersimpuh dengan satu kaki di jok, dan kaki satunya lurus bertahan pada satu sudut. Gerakan penisnya masih lebih banyak mengelus klitoris yang peka. Dante mempercepat irama keluar masuknya, dan mendominasi keseluruhan permainan. Seluruh tekanan dan gerakan sangat intens. Belum banyak terpengaruh oleh gejolak yang berlebihan. Rose mulai menggeliat, tidak dapat hanya dengan memeluk kedua kakinya. Sensasi itu membuatnya ingin menyentuh Dante. Liukan pinggul Rose yang menggoda, menstimulir otak Dante. Memejamkan matanya, berkonsentrasi dengan gairah itu. Mendongakkan kepalanya, mendengus berat, mencari sebanyak mungkin oksigen. Akhirnya dengan tubuh yang mengejang menahankan badai orgasme bermain di kepalanya, masih ditahannya ejakulasi yang menanti di ujung penisnya. Dibiarkan badai orgasme itu memuaskan seluruh sel otaknya. Sampai akhirnya.... "Accckkk...." dan Dante mengerakkan pinggulnya untuk melepaskan ejakulasi sebanyak mungkin. Kepalanya terasa melayang. Dibiarkannya tubuhnya jatuh seperti pohon tumbang di atas Rose. Dante tertawa lepas, lama. Rose hanya tersenyum tipis melihat kesenangan Dante. Rose memang bahagia dengan perubahan drastis dari Dante, kebahagiaannya mengalir juga dalam darahnya. "You're the best thing that ever happened to me," bisik Rose mesra. "Rose...." suara Dante lembut di telinganya. "Hmmm....?" "Actually.... I`m married too." (Part of Episode 3): Aku tidak memperalat kamu Rose, bisa kukatakan kalau aku membutuhkannya untuk membangun kembali kreatifitasku. Sampai kutemukan seseorang yang mengalirkan imajinasi tanpa henti. Sebelum itu... aku akan terus mencari. Dan kamu Rose, dengan kamu, cinta itu kurasakan. Kamu membangkitkan imajinasi itu. Kamu menyakitiku, kubiarkan rasa itu menyakiti, dan aku melukis dengan itu. Juga saat kamu membahagiakan aku, aku melukis dengan bahagia itu. Komentar Wiro: Cerita ini puitis sekali, hingga malah membuat terasa lambat dan bertele-tele. BlackRose telah berusaha keras agar kepedihan yang dirasakan Rose dan Dante sampai ke hati pembaca. Ini patut kita hargai. Tetapi sebetulnya nuansa sedih tetap dapat dirasakan oleh pembaca walau pengarang cerita mengemas ceritanya dalam nuansa ceria atau jenaka. 7. ANTARA NAFSU DAN CINTA 01

67

ANTARA NAFSU DAN CINTA Kejadiannya dimulai 4 atau 5 tahun yang lalu. Waktu itu produksi sedang booming sehingga diadakan penerimaan karyawati baru. Diantara sekian banyak pelamar ada satu yang jelas aku lihat sangat berbeda. Kulitnya putih bersih, raut wajahnya cantik, dan bulu-bulu halus tampak jelas hitam kontras dengan warna kulitnya.. Aku segera ke bagian personalia meminta data-datanya, setelah aku lihat CV-nya yang cukup baik, aku meminta kepada personalia utk dijadikan assistenku, akhirnya setelah melewati proses yg cukup rumit akhirnya dia menjadi assistenku. Mula pertama dia bekerja, aku sudah dapat melihat kecerdasannya dalam menangani pekerjaan, semua pekerjaan yang aku berikan dapat diselesaikannya dengan baik. Seperti pepatah jawa bilang "witing tresno jalaran soko kulino" Kebersamaan akan memumbuhkan rasa sayang, begitu pula yang terjadi denganku. Aku yang pada mulanya sudah tertarik pada pandangan pertama kian jatuh dalam perangkap asmaranya.. Aku coba mengakrabkan diri dengannya, keluar makan bareng sering kami lakukan, tapi sampai saat itu aku belum berani macam-macam kepadanya, karena dia pernah mengungkapkan bahwa dia sudah mempunyai pacar. Memang sejak saat dia ungkapkan dia sudah punya pacar, keinginanku utk menjadikannya sebagai kekasih sudah hilang.. Setelah melewati masa pendekatan yang cukup panjang, akhirnya aku bisa mengajaknya Weekend. Karena saat itu katanya pacarnya sedang ditugaskan keluar kota. Aku bawa dia menuju pantai Ancol yang romantis, Sambil menyantap nasi goreng kami mengobrol panjang lebar, dari situ aku ketahui bahwa ternyata dia berasal dari keluarga Broken, ayahnya kawin lagi saat usianya baru 3 tahun, hingga dia merasakan kurang kasih sayang dari ayahnya. Aku rengkuh dia dalam pelukanku, ku belai rambutnya yang hitam. Ombak di laut semakin beriak menyaksikan kemesraan kami. Perlahan ku kecup keningnya, dia memejamkan matanya, bibirnya yang sensual sedikit terbuka seakan mengundangku untuk melumatnya, namun aku tidak berani gegabah, aku hanya mencium pipinya. "San, boleh bapak mengekspresikan rasa sayang bapak" bisikku lembut ditelinganya. Dia hanya diam mungkin masih mencerna arti kalimatku. "Kalau bapak memang sayang sama Santi, jangan sekali-kali bapak mengecewakan Santi" jawabnya manja. "Bapak tidak pernah mengecewakan wanita, sayang" jawabku lembut. Aku rapihkan rambutnya yang diterpa angin laut dengan jari-jariku, tiba-tiba Dia mengambil tanganku dari keningnya dan mencium dengan

68

bibirnya "Santi sayang sama bapak !, Santi nggak mau kehilangan bapak" air matanya terasa hangat dijari-jariku. Ku seka air matanya dengan sapu tanganku, "Bapak tidak akan meninggalkan Santi ",janjiku. Bibirnya tersenyum tipis mendengar janjiku. Perlahan aku daratkan bibirku di bibirnya, terasa hangat menjalar ke suluruh tubuhku, aku melumat bibirnya dengan perlahan, "Kenapa Santi tidak membalas ciuman Bapak" "Santi tdk mengerti, pak!" Aku hanya diam dan berfikir, benarkah anak jaman sekarang belum mengenal arti ciuman. "Memangnya Santi tidak pernah melakukannya dengan pacar Santi?" "Belum, pak" Akhirnya setelah saya ajarkan secara singkat, dia mulai dapat membalas lumatan dan permainan lidahku.. Tanganku mulai menjalajahi dadanya, kuremas perlahan dengan gerakan memutar, sementara bibirku mulai menjelajahi lehernya yang indah. Kubuka kancing bajunya yang paling atas, jari-jariku segera menerobos kedalam bajunya yang sudah terbuka, aku merasakan tonjolan lembut, tidak besar namun halus sekali, Jarijariku berputar mencari puting buah dadanya, sementara bibirku sudah sampai di belakang telinganya. Susah sekali mencari puting buah dadanya, karena masih belum tumbuh, putingnya masih mungil dan rata dengan gundukan buah dadanya, pertanda belum terjamah oleh siapapun. Perlahan tapi pasti putingnya mulai mencuat keatas, jari-jariku semakin aktif memilinnya dengan gerakan memutar. Sementara tangannya menekan tanganku sehingga tekanan pada buah dadanya semakin keras. "Pak,,, nik..mat, teruskan ..." erangan yg keluar dari mulutnya semakin membuatku semangat, tapi aku masih sadar bahwa aku di tempat terbuka. Aku segera menghentikan aktivitasku dan merapikan kancing bajunya yang terbuka.. "Kenapa, pak?" "Ini kan tempat umum sayang, bagaimana kalau kita sewa cottage saja" "Tidak mau!, Santi takut" "Nggak apa, bapak tidak akan berbuat macam-macam terhadap Santi" aku merayunya. "Santi tidak akan mau, pak!" tegasnya. Aku tidak memaksa lebih lanjut, aku hanya diam "Bapak marah ya sama Santi" "Tidak sayang, bapak hanya sedikit pusing " Aku rengkuh dia dalam pelukanku. "Kenapa?"tanyanya polos. Aku sungguh bingung menjelaskannya, aku pusing karena sedang "on", Batang kelakianku terasa berdenyut-denyut terus. "Bagaimana kalu kita teruskan di mobil sayang" ajakku. Dia mengangguk.

69

Setelah setelan jok aku rebahkan, aku kembali mencumbuinya, meneruskan kemesraan yang tadi tertunda meskipun didalam mobil sempit tapi tidak ada seorangpun yg dapat melihat kami. Bajunya sudah aku tanggalkan sehingga aku dengan bebas dapat mencumbui dadanya, saat lidahku yang hangat dan basah menjilati puting buah dadanya yang masih mungil, erangan lirih semakin sering keluar dari bibirnya. "Jangan berisik, sayang" aku mengingatkannya, karena aku takut terdengar keluar. Tapi hanya sebentar saja, kembali mulutnya mengeluarkan erangan, terlebih saat puting buah dadanya aku hisap dan kugigit pelan. Gundukan buah dadanya yang halus aku hisap kuat-kuat sehingga meninggalkan bercak merah sesudahnya. Tanganku segera bergerak mengangkat rok-nya. Aku merasakan kulit pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, aku pilin-pilin pahanya yang gempal, dan saat tanganku bergerak menarik celana dalamnya, tangannya menahan tanganku. "Jangan, pak, yang satu itu jangan" Aku yang sudah dikuasai nafsu tak memperdulikannya. Aku terus berusaha menanggalkan celana dalamnya tapi cekalan tanganya semakin kuat menahan gerakan tanganku. Aku tidak memaksa lagi "Kenapa?" " Santi tidak sayang bapak?" "Bapak boleh mencumbu apa saja, tapi yang satu itu jangan, saya masih perawan, pak!, " "Tapi dari erangan yang keluar, sepertinya Santi sudah pengalaman" "Santi sendiri tidak sadar, pak. Bahkan pernah saat Santi masturbasi dikamar, ibu menegur Santi, karena erangan Santi terdengar keluar kamar, Santi sampai malu waktu itu, pak" Aku hanya mengangguk, berarti erangan-erangannya yg heboh tadi hanya bawaan sifat saja. "Ya, sudah!, Santi bisa buat bapak orgasme dengan tangan, bisa kan?" aku menyerah, pikiranku cuma satu, bagaimana melepaskan air maniku yg rasanya sudah mengumpul penuh di buah zakarku. "Santi belum pernah, pak!" "Coba dulu dong, katanya Santi sayang sama bapak" "Iya pak" Aku ajarkan kepadanya cara onani yang membuat nikmat lelaki, setelah aku rasa dia bisa. aku segera mngeluarkan senjataku yang sudah tegang. "Aw......, besar banget pak" "Nggak apa, sini" aku bimbing tangannya ke senjataku. Aku mulai merasakan genggamannya yang hangat, perlahan jari-jarinya yang lentik bergerak keatas-kebawah mengocok batang kelakianku, aku mulai merasakan nikmat, sembari rebahan di jok aku memejamkan mata membayangkan bahwa saat itu senjataku sedang terbenam didalam kemaluan Tamara Blezinky artis idolaku. Berfikir seperti itu senjataku semakin mengeras dan berdenyut-denyut. "Pak, tangan Santi capek,pak!" tiba-tiba saja Santi membuyarkan

70

khayalanku. Aku yang sudah spanning langsung merangkuh lehernya dan membenamkan mukanya kedadaku. "Lakukan seperti yang tadi Bapak lakukan terhadap Santi" sambil mengarahkan mulutnya yg mungil kedadaku. "Loh, bapak kan lelaki" "sama saja, San, laki juga perlu rangsangan biar cepat orgasme" Tanpa dikomando dua kali mulutnya yang mungil mulai menciumi dadaku sementara jari-jarinya terus mengocok batang kelakianku, perlahan aku merasakan nafasku semakin memburu, butir-butir keringat membasahi seluruh tubuhku. "Terus, San... bapak mau keluar" Gerakan tangannya semakin cepat, kepala kemaluanku semakin mengkilat oleh pelumas yang dikeluarkan penisku, sementara lidahnya yg runcing dan hangat terasa menggelitik puting dadaku bahkan dihisapnya, membuat sensasi tersendiri di seluruh aliran darahku. Setengah jam berlalu..... aku merasakan batang kelakianku semakin menggembung, akhirnya berbarengan dengan hisapan kuat diputing dadaku, kukeluarkan spermaku hingga muncrat dan mendarat diperutku. "Sudah san, bapak sudah keluar" aku melepaskan genggaman tangannya di batang kemaluanku. "Capek sekali tangan Santi, pak!, rasanya sudah tak sanggup lagi digerakkan" "Bapak lama sih keluarnya" Aku hanya diam dan mencium keningnya sebagai ungkapan rasa sayang dan puas atas segalanya. Sepanjang perjalanan pulang, kami semakin akrab dan mesra, kami membuat perjanjian bahwa kami boleh berpacaran dengan siapapun asalkan kebersamaan kita tidak akan hilang sampai kapanpun. Aku hanya mengangguk setuju. Bagaimanakah kelanjutannya ? Berhasilkah Aku mendapatkan kegadisannya? Asal tahu saja, sampai detik ini, aku masih bersama dengannya meskipun dia sekarang sudah menikah. tunggu aja dalam NAFSU & CINTA 2 sekarang aku mau kerja dulu.... buat cewek-cewek yg mau advise atau apa keh juga cowok yang mau nanya kirim aja e-mail ke sugala_tjahyadi@yahoo.com ANTARA NAFSU DAN CINTA 02 Setelah kejadian di pantai itu, sikap Santi terhadapku semakin manja, kini dia tidak menyebutku dengan panggilan bapak lagi, panggilannya berubah menjadi "Kak Jer". Memang usianya hanya terpaut 3 tahun denganku.

71

Dua sampai tiga kali dalam seminggu, setelah pekerjaan selesai kami selalu pergi berduaan, mulai dari Mall, fastfood, bahkan sampai motel. Tapi sampai saat itu dia hanya membatasi Sekwilda saja alias sekitar wilayah dada, padahal aku penasaran sekali ingin melihat kemaluannya, kalau melihat dari bulu-bulu halus yg tumbuh di tangan dan kakinya, aku bisa membayangkan bagaimana rimbunnya kemaluan Santi. Setelah melalui waktu dan perjuangan yang cukup lama akhirnya kesempatan itu aku dapatkan juga. Waktu itu setelah pulang bekerja, kami merencanakan untuk mampir ke motel di daerah Depok. Setelah sampai di dalam kamar, Santi yang kulihat agak lusuh ingin mandi, aku yg biasanya membiarkannya mandi dengan bebas, kali ini berniat mengintipnya. Setelah Santi masuk ke dalam kamar mandi, aku segera mengambil kursi dan naik diatasnya, Kini aku dapat dengan jelas melihat ke bagian dalam kamar mandi. Santi mulai melepaskan baju dan roknya, Mataku mulai melotot melihat kemulusan seluruh tubuhnya. Pelan tapi pasti dibukanya seluruh pakaian yg melekat di tubuhnya. Dan saat Santi membuka penutup akhir bagian tubuhnya, darahku berdesir melihat rambut kemaluannya yang sangat lebat hitam bahkan bulu halusnya membentuk sudut segitiga kearah pusarnya. Pikiranku mengkhayal tak karuan. Bagaimana rasanya membelai dan menjilati kemaluan seperti itu..... Santi mulai menyiramkan air ke seluruh tubuhnya dan menyabuninya, busa sabun melimpah menutupi kemulusan tubuhnya yang laksana gitar. pikiranku semakin mengembara tak tentu arah. sampai tak sadar, Santi telah selesai mandi. Aku segera kembalikan kursi ketempat asalnya dan kembali duduk di pinggiran ranjang dengan santai. Tak lama Santi keluar dengan hanya melilitkan handuk saja... "Tumben kamu tidak pakai pakaian kamu di dalam" "Percuma, habis tadi aku sudah di intip sama kakak" Wah, berarti dia tahu tadi aku ngintip, aku malu sekali, tapi aku nggak mau kalah set. "Habis, kakak penasaran sih nggak pernah dikasih lihat" "Ya, sudah. nih sekarang lihat : sambil tangannya melepaskan handuk yg melilit tubuhnya.. Kini di depan mataku terpampang tubuh mulus tanpa sehelai benangpun yg melekat, Mataku tak berkedip memandangnya sungguh sempurna, mulai dari bibirnya yg mungil, lehernya yg jenjang, buah dadanya yg masih kencang meskipun tdk terlalu besar, perutnya yg rata, pinggangnya yg kecil, dan pinggulnya yang membengkak ditambah dengan bulu-bulu halus membuatku harus memberikan nilai 8 utknya, apalagi ditunjang dengan tubuhnya yang cukup tinggi dengan betis yg mbunting padi. "Tapi, kakak janji ya, jangan masukin punya kakak ke punya Santi, ya?"

72

Aku hanya mengangguk.... "Santi juga ingin merasakan orgasme seperti kakak, setiap kali selama ini kan hanya kakak saja yg puncak, Santi belum pernah" "Gimana caranya, kalo nggak dimasukin ?", aku pura-pura bertanya bodoh. "Kan, bisa pakai mulut": jawabnya manja... "iya, deh" "sini dong sayang" Perlahan Santi mendekati aku, aku bangkit berdiri dan memeluknya mesra, ku kecup keningnya, matanya, dan kulumat bibirnya mesra. Santi membalas dengan beringas. Tangannya yang lembut membuka kancingkancing bajuku, dan mencampakkannya ke lantai. "Kakak , buka dong celananya, masih Santi aja yang telanjang ?" suaranya manja terdengar ditelingaku. Tidak buang waktu lagi, aku segera membuka celanaku. Senjataku yang sedari tadi sudah mencuat kini terlepas dari penutupnya, kami berpelukan kembali, senjataku menekan-nekan perutnya,, sambil memainkan lidah di dalam mulutnya, aku tarik tubuhnya ke ranjang. Ciuman kami makin lama makin panas, tanganku bergerak membelai buah dadanya, meremas dan memilin-milin putingnya, sementara tanganku yg satunya sudah tak sabar segera menuju ke arah kemaluannya. Sementara tangan Santipun tak kalah lihainya, sama seperti yang aku lakukan Santi pun membelai mesra dadaku dan tangan yang satu lagi menggenggam dan mengocok lembut senjataku. Kami berdua melancarkan serangan demi serangan, nafas kami mulai tak beraturan, erangan yang keluar dari mulut Santi semakin keras, sehingga semangatku untuk membawanya ke puncak semakin tinggi. Kutelusuri semua centi demi centi permukaan tubuhnya. Lidahku bermain main di daerah buah dadanya, sementara tanganku meremas-remas pantatnya yg kenyal... Puas meremas pantatnya, ku belai dengan lembut permukaan kemaluannya, bulu-bulunya yg lebat terasa di tanganku, ku sibakkan rambut kemaluannya, ku gesek-gesekan klistorisnya dengan jariku... "Aw,,,,,, ah...... nikmat kak...... terus..............." sambil mulutnya mengeracau tubuhnya digerakan kekiri kekanan membuat nafsuku semakin memuncak.. Sementara kocokan pada batang kemaluanku semakin cepat dan membuat seluruh aliran darahku semakin cepat, perlahan aku mulai mengarahkan usapan lidahku kearah hutannya yang rimbun, melewati perutnya yang ramping, saat lidahku sampai dan menyentuh klitorisnya, mulutnya semakin keras mengerang penuh kenikmatan, apalagi saat klitorisnya kuhisap-hisap membuat seluruh tubuh Santi bergetar menahan kenikmatan atas perlakuanku. Selagi aku asik memainkan klitorisnya tak kusangka dengan gerakan elastis dia menggeserkan badannya dan mulutnya tepat berada di depan batang kemaluanku..

73

Kini posisi kami 69, kami saling melumat, menghisap, ..... Setengah jam berlalu, nafas kami sudah seperti lokomotif tua yg menarik beban berat, sementara AC di dalam kamar tidak sanggup lagi menahan keluarnya butir-butir keringat ditubuh kami... Aku segera berbalik, ku buka pahanya dengan pahaku, aku segera mengarahkan senjataku ke celah kemaluannya,,,, "Jangan, kak. Santi takut" pahanya dirapatkan kembali sehingga aku semakin sulit menembusnya... Penolakannya tidak membuat usahaku mundur, aku terus mendesakkan batang senjataku,,, tapi Santi malah menangis... "Kak, kalau memang kakak menghendaki, jangan di situ, kalau kakak mau di belakang saja" Aku kaget mendengar ucapannya, selama ini aku belum pernah main lewat anus,, tapi kini malah Santi yang aku anggap agak alim menawarkannya, memang jalan pikirannya realistis.. dari pada perawan hilang mending lewat anus... toh perawan tetap utuh.. "Memangnya kamu pernah main lewat belakang?" tanyaku penasaran. "Belum!" "Lalu, kalau kenapa-napa gimana?" "Demi sayang saya sama kakak, apapun yg terjadi, Santi siap, toh banyak pasangan yg melakukan tidak kenapa-napa" Aku cium keningnya sebagai balas kesiapan atas pengorbanannya..... Tidak buang waktu lagi, langsung Santi menungging, kini di depanku tampak pemandangan indah, bulatan pantatnya yang kenyal ditambah rambut kemaluannya yang mengintip di celah pahanya membuat aku segera mengarahkan senjataku langsung. "Ah..... pelan-pelan kak, sakit sekali" dia meringis aku jadi tak tega.... tapi nafsuku yg sudah ke ubun ubun sudah tdk dapat diajak kompromi, kulumuri seluruh batang senjataku dengan ludah, setelah terasa licin aku kembali mencoba memasukkannya, sulit sekali........ namun setelah sekian lama mencoba akhirnya kepala kemaluanku masuk juga..... "auw...................:" jeritan panjang terdengar saat kepala kemaluanku berhasil menembus lobang anusnya. Kudorong perlahan lahan sampai seluruhnya amblas, tubuh Santi meliuk-liuk sepertu ular, mungkin menahan sakit atau nikmat, aku nggak tahu... "Ah....... kak cepat keluarin..... Santi sakit,,,kak" jeritnya terdengar lirih ditelingaku, mulutnya menggigit bantal yang berada di depan mukanya untuk melampiaskan rasa sakit yang diterimanya........ Aku berkonsentrasi penuh utk segera mencapai puncak permainan, gerakan pantatku kian cepat, tanganku meremas buah pantatnya yang montok hingga........... "aah........... San.......kakkak...ke..luar......." Kucengkram kuat pantatnya dan amblaslah seluruh batang senjataku kedalam lubangnya. Kusemprotkan spermaku... di dalam.

74

Kulihat muka Santi memerah, "Terima kasih, sayang" aku memeluknya kembali..... "Kak, punya Santi sakit sekali..... Santi nggak berani...buang air besar..., kayanya mau copot" "Mungkin baru pertama, jadi kamu sakit sekali" aku mencoba menghiburnya.... Setelah istirahat beberapa menit,,,, giliran aku yang akan membawanya ke puncak. aku semakin ganas menghisap klitorisnya. Sesekali aku gigit pelan, hingga erangannya semakin panjang dan keras. Lubang kemaluannya aku gelitik dengan lidah, terasa harum sekali, mungkin Santi sering minum jamu. Lidah ku semakin betah di sana. Hingga tiba-tiba rambutku dijenggut dan kepalaku ditekannya, aku tahu dia mau orgasme, segera aku hisap kuat-kuat klitorisnya dan seluruh tubuh Santi mengejang dan bergetar dengan hebat........ hingga aku merasakan cairan hangat di bibirku............ NAH PARA PENGGEMAR, INI KALI KEDUA AKU MAIN AMA DIA,,,, KIRAKIRA BERHASIL NGGAK AKU DAPETIN KEGADISANNYA... TUNGGU YA DI JILID 3 Catatan CeritaHangat : Sayang jilid 3 tidak pernah saya temukan. 8. ANTENA PARABOLA IBU YULI 01 By : Costa Masta Suatu hari aku mendapat perintah oleh boss untuk mendatangi rumah ibu Yuli, menurutnya parabola ibu Yuli (baca: antena parabola) rusak nggak keluar gambar gara-gara ada hujan besar tadi malam. Dengan mengendarai sepeda motor Yamahaku, segera aku meluncur ke alamat tersebut. Sampai di rumah ibu Yuli, aku disambut oleh anaknya yang masih SMP kelas 2, namanya Anita. Karena aku sudah beberapa kali ke rumahnya maka tentu saja Anita segera menyuruhku masuk. Saat itu suasana di rumah ibu Yuli sepi sekali, hanya ada Anita yang masih mengenakan seragam sekolah, kelihatannya dia juga baru pulang dari sekolah. "Jam berapa sichh ibumu pulang, Nit...?" "Biasanya sih yahh sore antara jam 5-an" jawabnya. "Iya, tadi Oom disuruh kesini buat betulin parabola. Apa masih nggak keluar gambar...?" "Betul, oom... sampai-sampai Nita nggak bisa nonton Diantara Dua Pilihan, rugi dehhh..." "Coba yahh oom betulin dulu parabolanya...." Lalu segera aku naik ke atas genteng dan

75

singkat kata hanya butuh 20 menit saja untuk membetulkan posisi parabola yang tergeser tertiup angin. Nah...awal pengalaman ini berawal ketika aku akan turun dari genteng, kemudian minta tolong pada Anita untuk memegangi tangganya. Saat itu Anita sudah mengganti baju seragam sekolahnya dengan kaos longgar ala Bali. Kedua tangan Anita terangkat ke atas memegangi tangga, akibatnya kedua lengan kaosnya melorot ke bawah, dan ujung krahnya yang kedodoran menganga lebar. Pembaca pasti kepingin ikut melihat karena dari atas pemandangannya sangat transparan. Ketek Nita yang ditumbuhi bulu-bulu tipis sangat sensual sekali, lalu dari ujung krahnya terlihat gumpalan teteknya yang kencang dan putih mulus. Kontolku seketika berdenyut-denyut dan mulai mengeras. Sebuah pemandangan yang merangsang. Anita tidak memakai BH, mungkin gerah, teteknya berukuran sedang tapi jelas kelihatan kencang, namanya juga tetek remaja yang belum terkena polusi. Dengan menahan napsu, aku pelan-pelan menuruni tangga sambil sesekali mataku melirik ke bawah. Anita tampak tidak menyadari kalau aku sedang menikmati keindahan teteknya. Tapi yah...sebaiknya begitu. Gimana jadinya kalau dia tahu lalu tiba-tiba tangganya dilepas, dijamin minimal pasti patah tulang. Yang pasti setelah selamat nyampai ke bumi, pikiranku jadi kurang konsentrasi sama tugas. Aku baru menyadari kalau sekarang di rumah ini hanya ada kami berdua, aku dan seorang gadis remaja yang cantik. Anita memang cantik, dan tampak sudah dewasa dengan mengenakan baju santai ketimbang seragam sekolah yang kaku. Seperti biasanya, mataku menaksir wanita habis wajah lalu turun ke betis lalu naik lagi ke dada. Kelihatannya pantas diberi nilai 99,9. Sengaja kurang 0,1 karena perangkat dalamnya khan belum ketahuan. "Oom kok memandang saya begitu sihhh.... saya jadi malu dong...." katanya setengah manja sambil mengibaskan majalah ke mataku. "Wahh...sorry deh Nit...habis selama ini Oom baru menyadari kecantikanmu." sahutku sekenanya, sambil tanganku menepuk pipinya. Muka Anita langsung memerah, barangkali tersinggung emang dulu-dulunya nggak cakep. "Iddihhh....Oom kok jadi genit dehhh..." Duilah senyumnya bikin hati gemas, terlebih merasa dapat angin harapan. Habis itu aku mencoba menyalakan TV dan langsung muncul RCTI Oke. Beres deh, tinggal merapikan kabel-kabel yang berantakan di belakang TV. "Coba Nit...bantuin Oom pegangin kabel merah ini..."

76

Dan karena posisi TV agak rendah maka Anita terpaksa jongkok di depanku sambil memegang kabel RCA warna merah. Kaos terusan Anita yang pendek tidak cukup untuk menutup seluruh kakinya, akibatnya sudah bisa diduga. Pahanya yang mulus dan putih bersih berkilauan di depanku, bahkan sempat terlihat warna celana dalam Anita. Seketika jantungku seperti berhenti berdetak lalu berdetak dengan cepatnya. Dan bertambah cepat lagi kala tangan Anita diam saja kala kupegang untuk mengambil kabel merah RCA kembali. Punggung tangannya kubelai, diam saja sambil menundukkan wajah. Aku pun segera memperbaiki posisi. Kala tangannnya kuremas Anita telah mengeluarkan keringat dingin. Lalu pelan-pelan kedongakkan wajahnya serta kubelai sayang rambutnya. "Anita. kamu cantik sekali.. Boleh Oom menciummu?" kataku kubuat sesendu mungkin. Anita hanya diam tapi perlahan matanya terpejam. Bagiku itu adalah jawaban. Perlahan kukecup keningnya lalu kedua pipinya. Dan setengah ragu aku menempelkan bibirku ke bibirnya yang membisu. Tanpa kuduga dia membuka sedikit bibirnya. Itu pun juga sebuah jawaban. Selanjutnya terserah anda.. He.he. Segera kulumati bibirnya yang empuk dan terasa lembut sekali. Lidahku mulai menggeliat ikut meramaikan suasana. Tak kuduga pula Anita menyambut dengan hangat kehadiran lidahku, Anita mempertemukan lidahnya dengan milikku. Kujilati seluruh rongga mulutnya sepuas-puasnya, lidahnya kusedoti , Anita pun mengikuti caraku. Pelan-pelan tubuh Anita kurebahkan ke lantai. Mata Anita menatapku sayu. Kubalas dengan kecupan lembut di keningnya lagi. Lalu kembali kulumat bibirnya yang sedikit terbuka. Tanganku yang sedari tadi membelai rambutnya, rasanya kurang pas, kini saat yang tepat untuk mulai mencari titik-titik rawan. Kusingkap perlahan ujung kaosnya mirip ular mengincar mangsa. Karena Anita memakai kaos terusan, pahanya yang mulus mulai terbuka sedikit demi sedikit. Sengaja aku bergaya softly, karena sadar yang kuhadapi adalah gadis baru berusia sekitar 14 tahun. Harus penuh kasih sayang dan kelembutan, sabar menunggu hingga sang mangsa mabuk. Dan kelihatannya Anita bisa memahami sikapku, kala aku kesulitan menyingkap kaosnya yang tertindih pantat, Anita sedikit mengangkat pinggulnya. Wwahhh. sungguh seorang wanita yang penuh pengertian. "Ahhhh. Ahhhh.." hanya suara erangan yang muncul dari bibirnya kegelian ketika mulutku mulai menciumi batang lehernya. Sementara tanganku sedikit menyentuh ujung celana dalamnya lalu bergeser sedikit lagi ke tengah. Terasa sudah lembab celana dalam Anita. Tanganku menemukan gundukan lunak yang erotis dengan belahan tepat ditengahtengahnya.

77

Aku tak kuasa menahan gejolak hati lagi, kuremas gemas gundukan itu. Anita memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit sendiri bibir bawahnya. Hawa yang panas menambah panas tubuku yang sudah panas. Segera kulucuti bajuku, juga celana panjangku hingga tinggal tersisa celana dalam saja. Tanpa ragu lagi kupelorotkan celana dalam Anita. Duilahhh.. Baru kali ini aku melihat bukit kemaluan seindah milik Anita. Luar biasa... padahal belum ada sehelai bulu pun yang tumbuh. Bukitnya yang besar putih sekali. Dan ketika kutekuk lutut Anita lalu kubuka kakinya, tampak bibir kemaluannya masih bersih dan sedikit kecoklatan warnanya. Anita tidak tahu lagi akan keadaan dirinya, belaianku berhasil memabukkannya. Ia hanya bisa medesah-desah kegelian sambil meremasi kaosnya yang sudah tersingkap setinggi perut. Begitulah wanita. Gam-gam-sus apa sus-sus-gam. Tidak sabar lagi aku membiarkan sebuah keindahan terbuka sia-sia begitu saja. Aku segera mengarahkan wajahku di sela-sela paha Anita dan menenggelamkannya di pangkal pertemuan kedua kakinya. Mulutku kubuka lebar-lebar untuk bisa melahap seluruh bukit kemaluan Anita. Bau semerbak tidak kuhiraukan, kuanggap semua kemaluan wanita yah begini baunya. Lidahku menjuluri seluruh permukaan bibir kemaluannya. Setiap lendir kujilati lalu kutelan habis dan kujilati terus. Kujilati sepuas-puasnya seisi selangkangan Anita sampai bersih. Lidahku bergerak lincah dan keras di tengah-tengah bibir kemaluannya. Dan ketika lidahku mengayun dari bawah ke atas hingga tepat jatuh di kelentitnya, Kujepit kelentitnya dengan gemas dan lidahku menjilatinya tanpa kompromi. Anita tak sanggup lagi untuk berdiam diri. Badannnya memberontak ke atas-bawah dan bergeser-geser ke kiri-kanan. Segala ujung syarafnya telah terkontaminasi oleh kenikmatan yang amat sangat dashyat. Sebuah kenikmatan yang bersumber dari lidahku mengorek kelentitnya tapi menyebar ke seantero tubuhnya. Anita sudah tidak mengenal lagi siapa dirinya, boro-boro mikir, untuk bernapas saja tidak bisa dikontrol. Aku jadi semakin ganas dan melupakan softly itu siapa. Kontolku sudah amat sangat besar bergemuruh seluruh isinya. Demi melihat Anita tersenggal-senggal, segera kutanggalkan modal terkhirku, celana dalam. Tanpa babibubebo segera kuarahkan ujung kontolku ke pangkal selangkangan Anita. Sekilas aku melihat Anita mendelik kuatir melihat perubahan perangaiku. Kontolku memang kelewatan besarnya belum lagi panjangnya yang hampir menyentuh pusar bila berdiri tegak. Anita kelihatannya ngeri dan mulai sadar ingatannya, kakinya agak tegang dan berusaha merapatkan kedua kakinya. "Ampun oom..jangan ooommmm. ampun oommm.jangggannn..." Tangan Anita mencoba menghalau kedatangan kontolku yang siap mengarah ke pangkal pahnya.

78

Bersambung. Pengalamanku yang ini bagus tapi sayang barangkali nggak ada yang baca, mangkanya sebelum aku teruskan silakan kirim respon/komentar ke costamasta@telkom.net . ANTENA PARABOLA IBU YULI 02 Merasa mendapat perlawanan, sejenak aku jadi agak bingung, tapi untunglah aku memiliki pengalaman yang cukup untuk menghadapinya. Segera aku meminta maaf sambil tanganku kembali membelai rambutnya yang terurai agak acak-acakan. "Nita takut Oom. Nanti kalau Mama tahu pasti Nita dimarahin. Dan lagi Nita nggak pernah kayak ginian. Nita juga jadi malu.." Katanya setengah mau menangis dan membetulkan kaosnya untuk menutupi tubuhnya. "Jangan kuatir Nit. Oom tidak bermaksud jahat terhadap kamu. Oom sayang sekali sama Nita. Dan lagi Nita jangan takut sama Oom. Semua orang cepat atau lambat pasti akan merasakan kenikmatan hubungan 'beginian'. Jangan takut 'beginian' karena 'beginian' itu enakkkk.sekali." (Kalau nggak percaya tanya sama Pembaca yach.). "Iyach. tapi Nita nggak tahu harus bagaimana dan kenapa tahu-tahu Nita jadi begini..?" Air mata Anita mulai mengalir dari pojok matanya. Melihat itu aku segera memeluknya agar bisa menenangkannya. Agak lama aku memberi ceramah dan teori edan secara panjang lebar, sampai akhirnya Anita bisa memahami seluruhnya. Dan sesekali senyumnya mulai muncul lagi. "Coba sekarang Nita belajar pegang 'anunya' oom. bagus khannn." aku meraih tangannya lalu membimbingnya ke kontolku. Tangannya kaku sekali tapi setelah perlahan-lahan kuelus-eluskan pada kontolku, otot tangannya mulai mengendor. Lalu tangannya mulai menggenggam kontolku. Pelan-pelan tangannya kutuntun maju-mundur. Kelembutan tangannya membuat kontolku mulai bergerak membesar, sampai akhirnya tangan Anita tidak cukup lagi menggenggamnya. Dan Anita kelihatan menikmatinya, tanpa kuajari lagi tangannya bergerak sendiri. "Ahhh.enak sekali Nit..aaahhh. kamu memang anak yang pintar..ahhhh.." mulutku tak sanggup menahan kenikmatan yang mulai menjalari seluruh syarafku. Sementara itu tangan kiriku mulai meremesi teteknya yang masih tertutup kaos Bali yang tipis. Belum pernah aku meremasi tetek sekeras milik Anita. Tangan kananku yang satu meraih kepalanya lau dengan cepat kulumati bibirnya. Lidahku menjulur keluar menelusuri setiap sela rongga mulutnya. Hingga akhirnya lidah Anita pun mengikuti yang kulakukan. Dari matanya yang

79

terpejam aku bisa merasakan kenikmatan tengah membakar tubuhnya. Segera aku meminta Anita untuk melepas kaosnya agar lebih leluasa. Dan tanpa ragu-ragu Anita segera berdiri lalu menarik kaosnya ke atas hingga melampui kepalanya. Kontolku semakin berdenyut-denyut menyaksikan tubuh mungil Anita tanpa mengenakan selembar benang. Tubuhnya yang sintal dan putih bersih membakar semangatku. Betul-betul sempurna. Kedua teteknya menggelembung indah dengan putting yang mengarah ke atas mengingatkanku pada tetek Holly Hart (itu lho salah satu koleksi Playboy). "Nit. tubuhmu luar biasa sekali.. Hebat!" Pujianku membuat wajahnya memerah barangkali menahan malu. "Oomm. boleh nggak Anita mencium 'itu'nya oom???." Anita tersipu-sipu menunjuk ke selangkanganku. Rasanya tidak etis kalau aku menolaknya. Lalu sambil duduk di sofa aku menelentangkan kedua kakiku. "Tentu saja boleh kalau Anita menyukainya.." Kubikin semanis mungkin senyumku. Anita pun mengambil posisi dengan berjongkok lalu kepalanya mendekati selangkanganku. Mulanya hanya mencium dan mengecup seputar kepala kontolku. Pelan-pelan lidahnya mulai ikut berperan aktif menjilat-jilatinya. Anita kelihatan keenakan mendapat mainan baru. Dengan rakus lidahnya menyusur ke sekeliling kontolku. Sensasi yang luar biasa membuatku gemas meremasi kedua teteknya. "Aaduuhhh...enak sekali Nit.. Terusss.Nittt.coba ke sebelah sini Nit." kataku sambil menunjuk ke buah pelirku. Anita segera paham lalu mejulurkan lidahnya ke pelirku. Anita menggerakkan lidahnya ke kanan-kiri atas-bawah. Nikmatnya.. "Oomm. ke kamar Nita aja yukkkk. biar nggak gerah.." Sahutnya mengajak ke kamarnya yang ber-AC. "Terserah Nita aja dehh.." (ada yang mau ikut.???-red.) Begitu Anita merebahkan tubuhnya ke spring-bed, aku tidak mau menunggu terlalu lama untuk merasakan tubuh indahnya. Segera kutindih dan kucumbui. Sekujur tubuhnya tak ada yang kusia-siakan. Terutama di teteknya yang aduhai. Tanganku seakan tak pernah lepas dari memeknya. Setiap tanganku menggosok kelentitnya, tubuh Anita menggerinjal entah mengapa. Sementara itu kontolku seperti akan meledak menahan tekanan yang demikin besarnya.

80

Akhirnya kutuntun kontolku ke arah memek Anita. Memek Anita yang telah kebanjiran sangat berguna sekali, bibir memeknya yang kencang memudahkan kontolku menyelinap ke dalam. Sedikit-sedikit kudorong maju. Dan setiap dorongan membuat Anita meremas kain sprei. Kalau Anita merasa seperti kesakitan aku mundur sedikit, lalu maju lagi, mundur sedikit, maju lagi, mundur, maju, mundur, maju,.blesss... Tak kusangka memek Anita mampu menerima kontolku yang keterlaluan besarnya. Begitu amblas seluruh kontolku, Anita menjerit kesakitan. Aku kurang menghiraukan jeritannya. Kenikmatan yang tak ada duanya telah merasuk tubuhku. Tapi aku tetap menjaga irama permainanku maju-mundur dengan perlahan. Menikmati setiap gesekan demi gesekan. Lubang memek Anita sempit sekali hingga setiap berdenyut membuatku melayang. Denyutan demi denyutan membuatku semakin tak mampu lagi menahan luapan gelora persetubuhan. Terasa beberapa kali Anita mengejankan memeknya yang bagiku malah memabukkan karena memeknya jadi semakin keras menjepit kontolku. Erangan, rintihan, dan jeritan Anita terus menggema memenuhi ruangan. Kiranya Anita pun menikmati setiap gerakan kontolku. Rintihannya mengeras setiap kontolku melaju cepat ke dasar lubang memeknya. Dan mengerang lirih ketika kutarik kontolku. Hingga akhirnya aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ketika kontolku melaju dengan kecepatan barangkali supersonik, meledaklah muatan di dalamnya. Kontolku menghujam keras, dan kandas di dasar jurang. Anita pun melengking panjang..panjang..mendekap kencang tubuhku, lalu tubuhnya bergetar hebat. Sebuah kenikmatan tanpa cela, sempurna. BERSAMBUNG ANTENA PARABOLA IBU YULI 03 Keesokkan harinya aku dapat telpon dari Ibu Yuli. Perasaanku mendadak tegang dan kacau, kuatir beliau mengetahui skandalku dengan anaknya. Mulanya aku tidak berani menerimanya, tapi daripada Ibu Yuli nanti ngomongin semua perbuatanku pada teman sekerjaku, terpaksa kuterima telponnya dengan nada bergemetaran. " Hallooo. apa kabar bu Yuli." " Oh baik.terima kasih lho, parabola ibu sekarang sudah bagus, dan sekalian ibu mau nanyakan ongkos servisnya berapa.. " " Ah. nggak usah deh, bu.cuman rusak sedikit kok, hanya karena kena angin jadi arahnya berubah." " Jangan begitu, nanti ibu nggak mau nyervis ke tempatmu lagi lho."

81

" Wah..tapi saya cuman sebentar saja kerjanya." " Iya, bagaimanapun khan kamu sudah keluar keringat, jadi ibu mesti bayar. Nanti siang yach. kamu ke rumah ibu. Ibu tunggu lho." " Iya dech kalau ibu maunya begitu, tapi sebelumnya terima kasih, bu." Begitulah akhirnya aku nongol lagi di rumah ibu Yuli. Lagi-lagi Nita yang menerimaku. " Wah. terlambat oom. ibu dari tadi nungguin oom datang. Barusan saja ibu pergi arisan ke kantornya. Tapi masuk saja oom, soalnya ada titipan dari ibu." Sampai di dalam, kelihatannya Nita tengah belajar bersama dengan teman-temannya. Ada 3 orang cewek sebayanya lagi asyik membahas soal Fisika. Dan kedatanganku sedikit memecah konsentrasi mereka. Kuamati sekilas teman Nita kok cakep-cakep yachh. Aku membalas sapaan mereka yang ramah. " Kenalin ini oom gue yang baru datang dari Jawa Tengah." Kaget juga aku dikerjain Nita. Satu persatu kusalami mereka, Lusi, Ita, dan Indra. Senyum mereka ceria sekali. Di usia mereka memang belum mengenal kepahitan hidup. Semuanya serba mudah, mau ini tinggal bilang ke mama, mau itu tinggal bilang ke papa. Dasar anak keju. Ketiganya memang jelas kelihatan anak orang kaya. Penampilan, gaya, dan kulit mulus mereka yang membedakan dari orang miskin.Lusi punya lesung pipit seperti aktris Italy. Ita wajahnya mengingatkanku pada seorang aktris sinetron yang lemah lembut, tapi yang ini agak genit. Indra yang berbadan paling besar mirip seorang aktris Mandarin. Persis aktris-aktris lagi makan rujak bareng. Habis aku paling bingung kalau mendeskripsikan wanita cantik, rasanya nggak cukup selembar folio. Aku nurut saja ketika tanganku di seret ke dalam oleh Nita sambil berpamitan ke temannya mau ngantar oomnya ke kamar. Dan setelah mengunci pintu kamar, kekagetanku tambah satu lagi. Tubuhku langsung direbahkan ke kasur, lalu menindihku sambil mulutnya menciumiku. " Oom, Nita mau lagi. " rengeknya manja. Ya, ampun sungguh mati aku nggak bisa menolaknya. Aku pun segera membalas ciumannya. Napsu birahiku menanjak tajam. Nita yang masih mengenakan seragam SMPnya terguling ke samping hingga giliran aku yang di atas. Kancing bajunya satu demi satu kulepas. Buah dadanya yang terbungkus BH kuremas dengan gemas. Dari leher hingga perutnya kutelusuri agak brutal. Dan Nita yang meronta-ronta tak kuberi ampun sedikitpun. Kakinya

82

mengakang lebar kala tanganku mulai merambat ke atas pahanya dan berhenti tepat di tengah selangkangan. Gundukan kemaluan yang empuk membuat tanganku gemetar kala meremasinya. Dan jari tengahku menjongkeli sebuah liang yang menganga di tengahnya. Celana dalam Nita mulai lembab kelihatannya tak tahan menghadapi serangan yang bertubi-tubi. Akupun sangat merindukan Nita, hingga rasanya tak sabar lagi untuk segera menancapkan batang kemaluanku. Segera kupeloroti celana dalamnya setelah roknya kusingkap ke atas. Kerinduan akan baunya yang khas membuat kepalaku tertarik ke arah kemaluan Nita, lalu kubenamkan di sela pahanya. Mulutku memperoleh kenikmatan yang tiada tara kala mengunyah dan memainkan bibirku pada bibir kemaluannya. Nita pun semakin menggila gerakannya apalagi bila lidahku mengorek-ngorek isi kemaluannya. Nikmat sekali rasanya. Kelentit Nita yang menyembul kecil jadi sasaran bila Nita menghentak badannya ke atas. Kayaknya Nita sudah 'out of control' karena tangannya dengan kacau meremas segala yang dapat diraih. Demikian juga halnya denganku, entah berapa cc cairan memabukan yang telah kureguk. Batang kemaluanku yang sudah 'maximal' kuarahkan ke liang kemaluan Nita. Sekilas kulihat Nita menggigit bibirnya sendiri menanti kedatangan punyaku. Akupun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sangat langka ini. Benar-benar kunikmati tiap tahapan batangku melesak ke dalam liang kemaluannya. Sedikit demi sedikit batang kemaluanku kutekan ke bawah. Indah sekali menyaksikan perubahan wajah Nita kala makin dalam kemaluanku menelusuri liang kemaluannnya. Akhirnya blesss.. Habis sudah seluruh batang kemaluanku terbenam ke liang kenikmatan. Selanjutnya dengan lancar kutarik dan kubenamkan lagi. Makin lama makin asyik saja. Memang luar biasa kemaluan Nita, begitu lembut dan mencengkeram. Ingin rasanya berlama-lama dalam liang kemaluannya. Semakin lama semakin dahsyat aku menghujamkan batangku sampai Nita menjerit tak kuasa menahan kenikmatan yang menjajahnya. Hingga akhirnya Nita berkelojotan sambil meremas ganas rambutku. Wajahnya tersapu warna merah seakan segenap pembuluh darahnya menegang kencang, hingga mulutnya meneriakkan jeritan yang panjang. Kiranya Nita tengah mengalami puncak orgasme yang merasuk segenap ujung syarafnya. Menyaksikan pemandangan seperti ini membuatku makin cepat mengayunkan batang kemaluanku. Dan rasanya aku tak bisa menahan lebih lama lagi, lebih lama lagi.. ,lebih lama lagiii.. Secepatnya kucabut batang kemaluanku dan segera kuarahkan ke mulut Nita. Nita agak

83

gugup menerima batang kemaluanku. Tapi nalurinya bekerja dengan baik, mulutnya segera menganga dan langsung mengulum batang kemaluanku. Dan kala aku meledakkan lahar, lidahnya menjilati sekujur batang kemaluanku. Tubuhku rasanya langsung luruh, tenagaku terkuras habis-habisan. Beberapa kali batang kemaluanku mengejut dan mengeluarkan lahar. Oh, my God.. BERSAMBUNG ANTENA PARABOLA IBU YULI 04 Keasyikanku berdua dengan Nita membuat kami tidak merasakan jam yang terus berjalan. Tidak terasa hampir 3 jam kami meninggalkan teman-teman Nita di luar. Sekilas terdengar suara kasak-kusuk, seperti ada orang lagi mengintip perbuatan kami. Tapi saking asyiknya menikmati tubuh Nita, aku jadi tak memperdulikannya. Kulirik Nita masih tergolek tanpa penutup apa-apa dengan tubuh terlentang kelelahan. Wajahnya yang terlihat polos sangat indah dengan paduan tubuh kecil yang mulus. Kakinya masih membuka lebar, seperti sengaja memamerkan keindahan lekukan di selangkangannya. Gundukan vaginanya memang belum berbulu sehingga jelas kelihatan bibir vaginanya yang merah muda. "Nit, teman-temanmu kelihatannya lagi pada ngintip lho." kataku berbisik di telinganya. "Hehhhh.????" jawabnya sambil segera menutupi tubuhnya dengan selimut. "Teman-temanmu..." sekali lagi aku meyakinkannya sambil menunjuk ke pintu. "Wwaduhh, gimana nich..oom." "Tenang aja, cepat pakai baju lagi dan seakan-akan nggak ada apa-apa, okey ?" "Tapi Nita jadi malu sama mereka dong." katanya manja dan wajahnya berubah merah sekali. "Sudah dech jangan dipikirin anggap aja kita nggak tahu kalau mereka pada ngintip." Akhirnya kami keluar kamar juga, dan teman-teman Nita kelihatan sekali pura-pura sibuk mengerjakan soal-soal. Terlebih wajah mereka bertiga tersapu rona merah, dan tampak menahan senyum. Wah agak grogi juga aku untuk menyapa mereka. Sekali lagi aku tertolong oleh usiaku yang jauh di atas mereka. Kata orang langkah/kata awal memang sulit untuk dilakukan.

84

"Hallo., belum selesai nich soal-soalnya.?" kata awal yang akhirnya meluncur juga. 'Iya.oomm." seperti koor mereka menjawab serentak. Dan makin memperlihatkan kegugupan mereka. Boleh juga nich. Dan ide-ide cemerlang pun segera bermunculan, barangkali tidak terpikirkan oleh seorang Einstein. "Sebaiknya istirahat dulu biar fresh pikiran kita, jadi nanti kita akan dengan mudah mengerjakan soal-soal rumit kayak gitu." Saranku menirukan seorang psikiater. Sebab menurut hematku mereka pasti juga turut terangsang mengintip perbuatan kami. Dengan kata lain mereka menyetujui perbuatan itu, kalau nggak setuju yach jelas nggak mau ngintip. Jadi kesimpulannya kalau mereka mau mengintip berarti juga mau untuk berbuat seperti itu. "Begini, oom tahu kalau kalian tadi ngintip oom di kamar. Tapi kalian tidak perlu kuatir sama oom. Oom nggak marah kok. Malah senang bisa memberi kalian pelajaran baru. Tapi oom juga kepingin lihat kalian telanjang juga dong, biar adil namanya. Iya, nggak.?" Seketika wajah mereka bertambah merah padam, antara malu dan takut. "Maaf , oom, tadi kami tidak sengaja mengintip." kata Indra ketakutan sambil merapatkan pahanya. "Baiklah kalau begitu oom tidak mau memaksa kalian, oom juga sayang sama kalian. Kalian semua cantik-cantik. Sekarang daripada kalian ngintip, oom nggak keberatan untuk nunjukin burung oom. Lihat yach dan kalian semua harus memegangnya. Yang nggak mau megang nanti oom telanjangin!" Suaraku bertambah nada ancaman. Dan aku pun segera membuka retsleting celana sekaligus memelorotkannya berikut celana dalam, hingga burungku yang ngaceng melihat kepolosan mereka langsung nyelonong keluar. Serempak Indra, Lusi, dan Ita menutup muka mereka. Aku acuh saja mendekati mereka satu persatu dan menarik tangannya untuk memegang burungku. Mulanya tangan mereka kaku sekali tapi jadi mengendur kala menempel burungku. Nita yang sedari tadi hanya menonton langsung memprotes kelakuanku. "Sudahlah oom jangan begitu, lebih baik kita semua telanjang bersama saja, itu memang yang paling adil. Lagian kita juga sudah biasa mandi bersama kok, iya khan teman-teman."

85

Indra, Lusi, dan Ita diam saja tampak malu-malu mempertimbangkan tawaran Nita. "Baiklah karena diam berarti kalian setuju. Ayo dong Lus.biasanya kamu yang paling suka membukakan bajuku." Kata Nita sambil menghampiri lalu merangkul Lusi. "Iya dech saya setuju. tapi asal yang lain juga setuju lho." Lusi mengumpan lampu kuning. "O.K. Saya juga setuju agar konsekuen dengan perbuatan kita." Ita menimpalinya. "Demi kalian aku juga boleh-boleh saja." Akhirnya Indra juga memberi keputusan yang melegakan hatiku. Amazing ! "Nach begitu baru kompak namanya. Yukk kita bareng-bareng ke kamar aja.." Sahut Nita. BERSAMBUNG ANTENA PARABOLA IBU YULI 05 Jantungku bergerak kencang sekali, membuat langkahku limbung. Di depanku berjalan 4 cewek imut-imut alias ABG, Nita dan ketiga temannya, Indra, Lusi, dan Ita, menuju kamar Nita. Mulanya bingung harus bagaimana, tapi sikon yang memaksaku berbuat spontan saja. Mereka semua kusuruh duduk berjejer di tepi ranjang. " Begini, kalian semua nggak perlu takut sama Oom. Oom nggak mungkin menyakiti kalian, kita sekarang akan bermain dalam dunia yang baru, yang belum pernah kalian rasakan. Kalian tak perlu malu, kalian tinggal menuruti apa saja yang Oom perintahkan. Sekali lagi rilek saja anggaplah kita sedang menjalani pengalaman yang luar biasa." Banyak sekali sambutan pembukaan yang keluar begitu saja dari mulutku, untuk meyakinkan mereka dan agar nanti tidak kacau. Akhirnya mereka menganggukkan kepala satu persatu sebagai tanda setuju. Di wajah mereka mulai muncul senyum-senyum kecil, tetapi jelas tak bisa menyembunyikan rasa malunya. Wajah mereka memerah kala aku mengucapkan kata-kata yang berbau gituan. Singkat kata kusuruh mereka semua berdiri berhadapan, berpasangan. Nita memilih Indra sebagai pasangannya, sedang Lusi dengan Ita. Padahal kontolku sudah gemetaran ingin segera melabrak mereka, tetapi nalarku yang melarangnya. " Sekarang kalian coba saling membukakan baju pasangan kalian..sampai tinggal BH dan celana dalam saja... Biar nanti sisanya Oom yang bukain."

86

Mulanya mereka ragu bergerak, untunglah ada Nita yang berpengalaman dan Ita yang agresif sekaligus paling cantik dan menggiurkan. Ita memang lebih menonjol dari semuanya, badannya yang bagus tergambar dalam baju tipisnya, hingga BH-nya menerawang membentuk gundukan yang sempurna. Nita dan Ita tampak tertawa kecil membuka kancing baju temannya yang tak bisa mengelak lagi. Dan tentu saja Indra membalas perbuatan Nita, demikian pula Lusi. Wahhh. tak kusangka jadi meriah sekali persis seperti lomba makan krupuk. Hatiku bersorak girang melihat mereka saling berebut melepas baju pasangannya. Sementara itu otakku terus berputar mencari solusi terbaik untuk step berikutnya, selalu saja setiap cara ada kemungkinan terjadi penolakan. Sebaiknya harus selembut mungkin tindakanku. Pasangan Nita dan Indra kelihatan kompak, hingga tak banyak waktu mereka berdua telah telanjang, hanya BH dan celana dalam saja yang nempel di badannya. Untuk Nita tak perlu kuceritakan lagi, lagian para pembaca juga sudah pernah ikut menikmati keindahan tubuhnya pada episode yang lalu. Sedang Indra yang berbadan putih mulus masih malu-malu saja, sambil menutupi selangkangannya dengan tangan kanan ikut menonton Ita dan Lusi yang belum selesai. Sementara itu, Ita dan Lusi sampai bergulingan di lantai. Kelihatannya Lusi menolak dibuka rok bawahnya, tapi Ita tetap ngotot menelanjanginya. Nita dan Indra turut tertawa menonton pergulatan seru itu. Dan karena gemas melihat Ita kewalahan atas pemberontakan Lusi, Nita dan Indra segera bergerak membantu Ita dengan memegangi kaki Lusi yang tengah menendang-nendang. Secepat kilat Ita memelorotkan rok bawah Lusi sampai terlepas. " Heehhh. kalian curanggg.. Nggak mau, Lusi nggak mau sama kalian lagi.." Lusi berteriak dengan sengit dan seperti mau menangis. " Tenang Lusi.kita kan lagi bersenang-senang sekarang, dan lagi kenapa kamu mesti seperti itu. Bukankah kamu sendiri tadi sudah ikut setuju. Dari tadi kan Oom nggak memaksa kamu. Yang penting kita tidak akan menceritakan kejadian ini pada siapa pun. Hanya kita-kita saja yang tahu. Kalau kamu malu itu salah. Percaya deh sama Oom." Untunglah saranku kelihatannya dapat diterima, apalagi melihat Ita segera membuka bajunya sendiri yang kusut sekali. Satu persatu kancing bajunya dibuka, dan sekali melorot sekujur keindahan tubuhnya terpampang. Tak kusangka Ita terus melepas Bhnya, kemudian membungkuk dan melepas celana dalamnya. Seketika jantungku berhenti berdetak, seluruh susunan syarafku mengeras, sampai dada ini seperti mau meledak. Sebuah pemandangan yang menakjubkan terpampang begitu saja di depanku. " Luar biasa.. Hebat.. Nah dengan begini berarti Lusi nggak boleh ngambek lagi lho. Lihat Ita telah membayar kontan. Yukk kalian semua sekarang duduk lagi di ranjang

87

sini. " Segera mereka sekali lagi menuruti perintahku. Aneh memang aneh, selama ini aku nggak pernah kenal sama ilmu-ilmu gaib kayak di Mak Lampir, tetapi kenyataannya kok bisa mereka begitu saja patuh padaku. " Nah sekarang kalian semua berbaring ." Mereka patuh lagi. Dengan kaki terjuntai di lantai mereka semua membaringkan tubuhnya. " Sekarang kalian diam saja, Oom akan memberi sesuatu pengalaman baru.seperti yang kalian tonton waktu Oom sama Nita. Kalian tinggal menikmati saja sambil menutup mata kalian biar lebih konsentrasi. " Sengaja aku menjatuhkan pilihan pertama pada Lusi. Perlahan-lahan kubuka celana dalamnya, kakinya agak menegang. Sedikit demi sedikit terus kutarik ke bawah. Segundukan daging mulai terlihat. Detak jantungku kembali berdegup cepat. Dan lepaslah celana dalamnya tanpa perlawanan lagi. Gundukan bukit kecil yang bersih, dengan bulu-bulu tipis yang mulai tumbuh di sekelilingnya, tampak berkilatan di depanku. Sedikit kurentang kedua kakinya hingga terlihat sebuah celah kecil di balik bukit itu. Lalu dengan kedua jempol kubuka sedikit celah itu hingga terlihat semua isinya. Aku sampai menelan air liurku sendiri demi melihat memek Lusi. Kudekatkan kepalaku agar pemandangannya lebih jelas. Dan memang indah sekali. Aku tak bisa menahan lagi, segera kudekatkan mulutku dan kulumati dengan bibir dan lidahku. Rakus sekali lidahku menjilati setiap bagian memek Lusi, rasanya tak ingin aku menyia-nyiakan kesempatan. Dan tiap lidahku menekan keras ke bagian yang menonjol di pangkal memeknya, Lusi mendesis kegelian. Kombinasi lidah dan bibir kubuat harmonis sekali. Beberapa kali Lusi mengejangkan kakinya. Aku tak peduli akan semerbak bau yang khas memenuhi seputar mulutku. Malah membuat lidahku bergerak makin gila. Kutekankan lidahku ke lubang memek Lusi yang sedikit terbuka. Rasanya ingin masuk lebih dalam lagi tapi tak bisa, mungkin karena kurang keras lidahku. Hal ini membuat Lusi beberapa kali mengerang keenakan. ANTENA PARABOLA IBU YULI 06 " Aduhhh..Oommm. enakkkk sekali... terusss Oommm..ohhhh..." Mulut Lusi mendesisdesis keenakan. Dan setiap lidahku menerjang memeknya, Lusi menghentakkan pinggulnya ke atas, seakan ingin menenggelamkan lidahku ke dalam memeknya. Banyak sekali cairan kental mengalir dari memeknya, dan seperti kelaparan (sebetulnya memang lapar sekali perutku) aku menelan habis-habisan. Persis seperti orang lagi berciuman, cuman bedanya bibirku kali ini mengunyah bibir memek Lusi hingga mulutku belepotan lendir. Ita yang berbaring di sebelah Lusi tampak gelisah, beberapa kali kulihat dia merapat-rapatkan pahanya sendiri. Rupanya ikut hanyut melihat permainanku. Di antara mereka berempat, dia memang yang tercantik. Karena itulah mungkin yang membuatnya

88

sedikit genit, lebih matang, dan lebih "berbulu". Hebat nian, anak SMP memeknya udah selebat gitu. Sambil mulutku bermain di memek Lusi, sedari tadi mataku terus memperhatikan memek Ita. Beberapa kali tanganku ingin meremasnya tapi kuatir kelakuanku bisa mengecewakan Lusi. Habis kalau dia ngambek bisa berantakan. Sebagai kompensasinya tanganku meremasi kedua payaudara Lusi yang kecil dan nyaris rata dengan dada. Pentilnya yang lembut kugosok-gosok dan kupenceti. " Lus, udah dulu yahhh, nanti lain kali Oom lanjutin lagi, yachhh. " kataku sambil megecup bibirnya. Yang diajak ngomong nggak menjawab, cuman wajahnya jadi merah seperti kepiting rebus. Sekali lagi kukecup di keningnya. Segera aku bergeser ke sebelah dan langsung menindih badan Ita. Ita yang cantik. Ita yang sexy. Walau tengah terlentang, payudaranya tetap tegak ke atas dan diperindah dengan pentil yang besar. Kudekatkan bibirku ke bibirnya, langsung menghindar. Barangkali tak tahan mencium aroma memek Lusi. Wajarlah, memang mulutku seperti habis makan jengkol. Segera kuturunkan mulutku ke lehernya, kucumbui semesra mungkin. Ita kegelian. Lalu turun lagi. Sambil kuremasi, payudaranya segera msuk ke mulutku. Kuhisap dan kujilati ujung pentilnya. Karuan saja Ita meronta-ronta. Entah kegelian apa keenakan, aku tak peduli. Bergantian kedua payudaranya kujilati semua permukaannya. Napsuku rasanya sudah di ujung ubun-ubun. Kontolku telah mendongak perkasa sekali, beberapa kali berdenyut minta perhatian. Kalau saja memungkinkan ingin rasanya segera kumasukkan ke memek Ita. Sekali lagi nalarku terkontrol, karena memang aku sudah berjanji pada mereka. Nggak ada memek yang kumasuki kontol. Lagian memang aku benar-benar ingin semuanya berjalan mulus sesuai rencana. Coba kalau tiba-tiba ada yang menangis karena menyesal memberikan perawan mereka begitu saja padaku. Nggaklah. Kaki Ita kuregangkan sedikit. Bukit Berbunga -nya indah sekali. Yang namanya labia mayora sebetulnya nggak karuan bentuknya tapi selalu memancarkan keajaiban magnetis bagi setiap pria yang memandangnya (tentu yang normal atau paling tidak kayak aku). Barangkali kalau aku yang bikin daftar keajaiban dunia, Labia Mayora menempati urutan teratas. Siapa setuju kirim email, nanti kubawa berkas dukungannya ke Majelis Memek Nasional. Singkat kata segera mulutku kembali beroperasi di wilayah ajaib itu. Pelan-pelan kutarik dengan bibirku kedua labia mayora kepunyaan Ita secara bergantian. Udah gitu, lidahku mencongkel keras ke pangkal pertemuan pasangan labia itu, dan berputar-putar di tonjolan daging kecilnya yang konon paling rawan sentuhan. Memang luar biasa efek sampingnya, seketika sekujur tubuh Ita bergoncang. Makin keras goncangnya, makin gila pula lidahku berayun-ayun. Aroma yang khas muncul lagi seiring mengalirnya lendir encer. Harta terpendam inilah yang kucari. Lidahku terus menyongsong ke dalam memek Ita.

89

Ita yang meronta-ronta menahan gejolak penjarahan memeknya, berinisiatif mengambil bantal dan meletakkan di bawah pantatnya. Aku sampai heran perawan kecil ini kok udah punya insting yang baik. Sambil kedua kakinya nangkring di pundakku, Ita membiarkan aku dengan leluasa menjelajahi seisi memeknya. Kali ini lidahku berhasil masuk semua ke dalam memek, enak sekale. Aku udah nggak tahan lagi, segera tangan kananku mengocok kontolku sambil segera berpindah ke sebelah lagi. Kali ini giliran Indra yang kelihatannya berdebar-debar menunggu giliran. Itu terlihat dari gerakan matanya yang gelisah. Tanpa basa-basi lagi kuraih sebuah bantal dan kuletakkan di bawah pantatnya, dan kurentangkan kedua kakinya menjepit badanku yang berlutut di lantai. Memeknya merekah persis di depan hidungku. Sambil terus mengocok kontol, segera lidahku menerobos ke lubang memeknya. Indra sempat berontak. Duilah aku sampai kesurupan, lupa sama teman bermain yang masih yunior. O.K, sofly and gently again maunya. Sambil menahan napas yang sebetulnya udah ngos-ngosan (nggak sempat minum extra joss) kucumbui memek Indra. Memek yang satu ini agak gemuk dan berbulu walau tak selebat punya Ita. Walau tak seindah punya Ita, tapi tetap punya daya tarik tersendiri. Belum lagi aromanya yang semerbak harumnya. Tetap pelan-pelan, kutelusuri tiap lekukan yang ada di memek. Sedap juga lho bermain slowly kayak gini. Kelentitnya yang agak besar bergoyang mengikuti gerakan lidahku. Entah kata-kata apa saja yang keluar dari mulut Indra. Kurang jelas memang. Tapi kuyakini itu suara erangan dan rintihan wanita yang tengah enjoy dan penuh semangat. Membakar semangatku pula dalam memacu tanganku pada batang kontol sendiri. Kedengarannya tragis sekali. Bak peribahasa orang kelaparan dalam lumbung padi. Pantat Indra yang padat dan besar membuat lubang anusnya ikut terbuka waktu diganjal bantal. Tanpa rasa jijik sedikitpun kujilat-jilat anusnya. Indra makin mengaduh keenakan apalagi kala lidahku mencoba menerobos masuk ke anusnya. Indra pun menunjukkan kerja sama yang baik dengan mengangkat pinggulnya. Aku pun turut meningkatkan speed game nya. Agak capai juga berlutut terus, aku naik ke atas dan menindih tubuh Indra. Kuciumi sekujur payudaranya yang tak kalah kencang dengan punya Ita. Dan walau kalah besar, keindahannya susah untuk dinilai. Sambil menciumi payudaranya, tanganku makin cepat mengocok kontol sendiri. Akhirnya aku tak dapat menahan lebih lama lagi, sekujur tubuhku tiba-tiba menegang. Seiring dengan semburan keras yang berapi-api di kontolku, segera aku melumat habis mulut Indra yang mungil. Lidah Indra memberi sambutan hangat dengan mengais-ngais lidahku. Berbarengan dengan ambruknya sebuah keperkasaan, berakhir pulalah serial ini. Bagi Semua Pembaca, mohon meluangkan sedikit waktunya untuk memberikan KESAN dan PESAN

90

untukku. Aku tak ingin dipuji hanya ingin sekali tahu respon kalian atas tulisanku. Apalah artinya sebuah tulisan kalau tak ada yang membaca. Please, respon kalian kutunggu di: costamasta@telkom.net Kupersembahkan tulisan ini untuk istriku yang cantik yang tiap malam melarangku begadang demi terselesaikannya tulisan ini. Minta maaf bila ada kesamaan nama lakon dalam kisah ini dengan Anda atau rekan Anda, atau yang lain, tentu tidak bermaksud demikian. Believe or Not, it's a Lie Story. 9. ARC ANGEL THE LEGEND ArcAngel. The Legend. Sinopsis: Michael sudah ditinggalkan oleh 4 orang pacarnya terdahulu. Itu karena ketidakmampuannya dalam urusan ranjang. Untuk kali ini, Michael tidak mau hal itu terulang. Ia ingin memuaskan Sandra, dengan sebuah pil "Death of sex", pil kepanjangan tangan dari Lucifer, sang Iblis. Low, it's me again Michael (even though, some of you have now my real name..s#!+) Okey, thx atas dimuatnya cerita gue, yang ternyata berating sangat buruk. Thankyu buat surat2 berisi saran dan kritik, yang amat-sangat menyakitkan (sampe bengong gue ngebacanya),and juga atas email2 berisikan virus (sialan!) yang mengakibatkan seluruh sistem kompu gue musti diformat ulang. Huh. Kali ini gue belon melanjutkan cerita gue yang dulu, but this time gue bikin cerita yang mudah2an bisa bikin yang baca merinding. Buat mas Wir, makacih atas ratingnya. Ini membuat gue berusaha lebih keras lagi. Buat Huntress, met selamet. Buat Dee, ceritanya serem juga. Oh ya mas Wiro, boleh ngga kirim cerber science fiction?? Ud ya. Viva CeritaSeru. [Jawaban Wiro: Walaupun CeritaSeru lebih banyak memuat cerita-cerita seks, tapi sebenarnya CeritaSeru menerima semua jenis cerita. Yang penting seru dan bermutu. Lebih bagus lagi sih kalau ada sarunya.] ArcAngel. The Legend. Prolog. Aku tidak takut siapapun, apapun. Sebab aku adalah ketakutan itu sendiri. Sampai aku terlahir kembali. Seperti hari-hari biasa, lucifer menghadap sang penguasa tertinggi (tau donk siapa). Sebagai malaikat yang paling hebat dan gagah + cantik + keren, ia melangkah ke dalam ruangan sang Raja. Di sana telah berbaris para malaikat-malaikat yang lain, juga sahabat akrabnya

91

Michael. Lucifer lalu berlutut di depan singgasana sang penguasa dan berkata, "salam bagi sang Raja". "Salam, anakku yang kukasihi. Berdirilah." Terdengar suara yang sangat hebat di dalam ruangan itu. Lucifer lalu mengangkat wajahnya, melihat ke depan dan dia terkejut. Saat itu ia melihat dua orang anak manusia berdiri di samping singgasana sang Raja. Dua orang anak manusia yang diciptakan oleh sang penguasa. "Luc, Michael, Rafael, Gab. Saat ini di hadapan kalian ada dua orang anak manusia yang kuciptakan dari debu dan dari citraku. Hormatilah mereka." Sang raja berkata dengan penuh wibawa. Secara serempak semua malaikat bersujud dan memuji hasil ciptaan Raja, kecuali Lucifer. Ia tetap berdiri dan memandang kedua anak manusia itu lekat-lekat. "Lucifer. Mengapa engkau mengindahkanku. Mengapa engkau tidak menghormati mereka?" "Hai Rajaku. Aku Lucifer, ArcAngel. Ijinkan aku bertanya. Apakah kedua makhluk ini yang kau ciptakan dari debu dan tanah itu?" "Benar anakku. Mereka adalah citra dari diriku. Maka hormatilah mereka seperti engaku menghormati aku." Lucifer terdiam dan melihat ke malaikat-malaikat yang lain yang sedang memuji kedua makhluk itu. Ia terpaku dan tertawa, sekeras-kerasnya. "Hahaha. Rajaku. Aku adalah malaikat, Makhluk agung. Aku adalah kepala malaikat. Mengapa aku harus menyembah pada kedua makhluk yang terbuat dari tanah ini. Aku Lucifer, sekali-kali tidak akan pernah berlutut di hadapan mereka. Hahaha." saat itu juga seluruh tubuh Lucifer berubah. Tubuhnya yang tadinya diliputi oleh cahaya putih kini mulai memudar. Perlahan namun pasti ia diliputi oleh kegelapan. "Lucifer, engkau terlalu sombong. Kini engkau tidak lagi layak menjadi bagian dari kerajaan ini." Lucifer mengangkat kedua tangannya dengan sombong dan berteriak menghujat nama sang Raja. "Aku bersumpah, aku Lucifer, akan membuat manusia-manusia ini bertekuk lutut di hadapanku. Lihatlah nanti." Sejak saat itu Lucifer berubah dari malaikat suci menjadi malaikat maut, menunggu untuk membalas. Chapter I Death of sex "Uahhh," aku menguap lebar-lebar. Di sebelahku Sandra tetap serius menatap ke depan, memperhatikan melodi yang mengalir dari konser Twilight Orcestra. "Mmm. Sandra, pulang yuk?" aku berbisik di telinganya. Namun ia tidak menjawab. Matanya tetap terus memandang menikmati. "San.. san.." aku kembali berbisik, namun kali ini lebih keras.

92

"mmm, Ada apa?" akhirnya ia menyahut. "Pulang yuk. Bosen nih gue!" "Bentar lagi deh," ujarnya. Kali ini sambil mengibaskan rambut panjangnya yang hitam. Aku tidak dapat berkata-kata lagi kalau ia sudah memamerkan keindahan dirinya yang bagaikan dewi Aphrodite. Dan selanjutnya aku kembali terpekur di kursiku. Kenalin nama gue Michael. Michael doang, engga ada embel-embel lain di belakang nama gue. Di sebelah gue adalah cewe yang sangat-sangat sempurna, yup Sandra. Sandra adalah pacar gue yang ke 5. Masih kalah sama temen-temen gue yang rata-rata udah pada punya cewe 7. selama ini gue selalu gagal dalam mempertahankan cintaku. Alasan mantan-mantan gue selalu sama, "sory Mike, kita engga cocok." Udah dua kali gue diputusin dengan kalimat begitu. Sebenernya gue tau kenapa mereka mutusin gue, karena gue, bagian dari gue, selalu gagal dalam melaksanakan tugasnya. Setiap kali pacar-pacarku bercinta denganku, aku selalu gagal. Shit. Bahkan gue udah coba pakai viagra, but no use. Sampai ke dukun segala, tapi tetep aja gagal total, malah makin parah. Setelah putus dengan Rini, aku langsung PeDeKaTe ama Sandra. And hasilnya gue berhasil jalan ama dia udah 3 bulan, tapi selama itu aku terus menolak ajakannya untuk make love, soalnya gue takut kalo gue gagal, tapi hari ini gue udah siap soalnya baru dapet obat. "Mike, bengong terus," Sandra tiba-tiba berbicara sambil memegang tanganku. "Eh, abisnya gue cape banget nih," jawabku asal. "Elo mau pulang?" tanya Sandra. "Iya. Yuk pulang," aku menjawab sambil menarik tangannya berdiri dan berjalan bergandengan ke luar. Ketika kami berjalan, Sandra merapatkan badannya ke dekatku. Wah, pokoknya mesra banget. "Mike, malam ini..." "Iya, kenapa malam ini?" asyik pikirku. "Kamu mau ngga tidur di rumahku?" Sandra berkata sambil makin merapatkan tubuhnya, hingga dadanya menyentuh lenganku. "Mmm... engga deh San, ngga enak ama orang rumah kamu," aku berlagak jual mahal. Biasa, taktik. "Ayo deh Mike. Papa, mama pada pergi semua. Mau ya?" bujuk Sandra. Aku tidak menjawab, melainkan memeluknya lebih erat. Kami berjalan menuju mobil jaguar berwarna putih milikku. Kubukakan pintu mobil untuk Sandra. Persis kaya di film-film. Kami hanya terdiam dalam perjalanan ke rumah Sandra. Segala pikiran kotor telah sukses bercampur di dalam diriku. Saatnya aku membuktikan apakah obat yang kubeli dari internet dengan harga jutaan, bisa berhasil. Akhirnya gue berhasil nyape di rumahnya dengan selamat, padahal di jalan aku hampir aja nabrak mobil gara-gara mikirin apa yang akan kulakukan nanti.

93

Sandra menarik diriku ke dalam kamarnya. Kamar dengan ukuran yang sangat besar. Sebuah ranjang dengan seprai putih berada di pojok ruangan, TV 29 inch Sony menghiasi kamar ini. Ditambah dengan meja dan lemari yang tak kalah indah di pojok ruangan yang satu lagi. Namun yang lebih hebat lagi cermin menghiasi setiap dinding yang ada, sehingga aku bisa melihat apa yang dikerjakan oleh Sandra karena pantulan cemin. Sandra melepas blazer yng membalut tubuhnya, lalu melangkah ke dalam wc. Lalu ditutupnya pintu wc itu sambil berkata, "Mike tunggu ya, aku mau mandi dulu." Aku hampir saja menyerbu masuk kedalam wc, jika ia tidak mengucapkan kata-kata itu. Lalu aku memanfaatkan waktu ini untuk mengambil obat dari dompetku. Kukeluarkan pil perlahan-lahan. "Semoga ini berhasil," aku membatin sambil menelan pil itu. Nama pilnya 'Death Of Sex'. Nyeremin kan? Tapi kalo udah menyangkut urusan bawah, apa aja akan ditempuh manusia. And engga lama aku mulai merasakan reaksi dari obat itu. Aku mulai merasa panas. Dan tepat saat kubuka bajuku, Sandra melangkah keluar dari kamar mandinya tanpa memakai apapun, alias bugil. "Mike, I'm all yours," Sandra berkata sambil melompat ke arahku, menindihku di ranjangnya. Tanganku langsung menangkap segunduk daging yang empuk di dadanya. Dan secara naluri langsung meremasnya perlahan. Reaksi obat itu bertambah hebat, panas seperti api aku rasakan di juniorku. Apalagi ditambah tekanan dari tubuh Sandra. Sandra benar-benar perfect dengan ukuran dada 36 b. Sandra yang menyukai musik klasik, telah berubah. Ia bergerak-gerak dengan panas dan penuh gairah di atas diriku. Tangannya dengan sigap telah melucuti seluruh pakaian yang ada di tubuhku. Sandra memandangku dengan pandangan seoarang wanita dewasa yang lapar, "Mike, I love you. Please take me to heaven." Lalu ia langsung membalikkan tubuhnya hingga aku berada di atas tubuhnya. Kami tersengal-sengal akibat ciuman yang menguras nafas kami. Dan reaksi obat itu telah keluar seluruhnya, saat Sandra menggenggam kejantananku yang telah membesar melebihi ukuran normalnya. Aku melenguh keras saat Sandra memijat mijat kejantananku dengan lembut lalu perlahan ia mendekatkan lidahnya. "Ahhh," aku mendesah saat merasakan lidahnya yang lembut menyapu kepala kejantananku. Lalu aku merasakan panas telah menjalar di seluruh tubuhku, tepat saat Sandra mengulum seluruh juniorku. Ia mengulum seperti anak kecil menjilat lolipop. Lalu seluruh tubuhku bergetar saat Sandra mengangkat wajahnya menatapku sementara di mulutnya tertanam kejantananku. Saat itu aku seperti melayang-layang di atas diriku, dan aku merasakan kalau sesuatu akan segera mengambil alih diriku. Chapter II

94

The strike of death Lucifer menatap dengan tajam saat pemuda itu telah menelan pil 'death of sex'. Senyum kemenangan menghiasi bibirnya. Pemuda itu tinggal menunggu waktu hingga keabadian dalam kegelapan menyambutnya. Api kematian memancar dari matanya saat melihat seorang pemudi tanpa busana masuk ke dalam kamar itu. Kedua anak manusia itu lalu bersatu dalam pelukan, sementara Lucifer terus mengamati dalam diam dan dalam kegelapan abadi yang menyelimutinya, tanpa disadari oleh kedua manusia itu. Lucifer, malaikat yang terbuang kini telah siap untuk membalas anak-anak manusia yang telah membuatnya terusir dari surga. Lucifer telah berubah. Ia memang masih tampan namun ketampanannya telah bercampur dengan wajah maut. Sayap yang tadinya bersinar seperti matahari kini telah ternodai oleh darah. Sayap itu kini kelam, bernoda oleh darah manusia yang mengikutinya. Tidak ada lagi sisa yang menunjukkan kalau dia adalah seoarang malaikat Tuhan. Semuanya telah hilang. Kini Lucifer bersiap untuk melaksanakan serangan terakhirnya, sebelum tiba saatnya Michael malaikat serafim yang merupakan teman baiknya datang untuk mengurung dirinya, sebelum anak manusia datang untuk kedua kalinya. Dan manusia yang berada di depannya merupakan bagian dari rencananya untuk mengajak manusia-manusia untuk mengikutinya ke dalam neraka. Pemuda yang bernama Michael itu adalah manusia yang sangat istimewa. Benar-benar istimewa. Lucifer tersenyum saat ia melihat pemuda itu melenguh keras. Ia lalu melangkah mendekati kedua manusia yang tengah melakuan gerakan-gerakan erotis. Dan tibatiba semuanya berhenti. Kedua manusia itu terdiam. Binatang-binatang tidak bersuara. Segalanya berhenti. Lucifer telah menggunakan kekuatannya atas waktu. Ia lalu mendekat dan menatap ke dalam mata sang pemuda. Dan tiba-tiba Lucifer lenyap. Ia telah menjadi satu dengan pemuda itu. Dan segalanya kembali berjalan normal. Lucifer kini telah menguasai tubuh dan jiwa Michael sepenuhnya. Lucifer menatap dengan nafsu ke arah Sandra yang tengah melakukan oral padanya. Dengan sigap Lucifer mengarahkan tangannya menggapai kewanitaan Sandra. Dan dalam sekejap Lucifer dan Sandra menjadi satu dalam sebuah gerakan yang disebut orang 69. Lucifer menatap vagina yang tepat berada diatasnya wajahnya dengan bengis. Disibakkannya hutan yang menutupi gua Sandra, dan ia tersenyum lagi saat melihat ada sesuatu yang mengalir perlahan dari gua itu. Disapu perlahan dengan lidahnya mulut gua itu. Saat itu Sandra melepaskan kulumannya dan mendesah lalu melanjutkan lagi pekerjaannya. Dengan cepat Lucifer lalu menghisap lubang kemaluan Sandra. Lucifer melakukan jilatan-jalatan yang kadang keras kadang perlahan di labia mayora Sandra. Lalu tangannya ikut bekerja. disentuhnya perlahan sesuatu yang berada di atas lubang kenikmatan Sandra. "Ohhhh, clit ku say," Sandra melenguh. Digigitnya benda yang disebut Sandra clit itu. Lalu dengan jilatan lidahnya yang panas ia memakan clit itu dengan cepat. Semakin lama

95

clit Sandra semakin mengeras dan membesar. Sandra semakin basah. Lucifer memasukkan jari tengahnya ke dalam kemaluan Sandra, sementar tangan kirinya mengelus-elus lubang anus Sandra. Bersamaan dengan itu Sandra merasakan kenikmatan yang membutakan dirinya. Ia merasakan sesuatu akan meledak di dalamnya. Saat itu juga ketika Lucifer merasakan Sandra berhenti mengulum, ia masukkan jari tengahnya ke dalam anus Sandra dan gerakan itu menyebabkan vagina Sandra berkontraksi keras menyedot jari tengah Lucifer yang berada di dalamnya. Ditambah dengan gigitan di clitoris Sandra. Lalu beberapa saat kemudian Sandra merasakan kenikmatan yang membuatnya mendongakkan kepalanya ke belakang, punggungnya melengkung, ia mengalami orgasme yang hebat. Sandra merasakan putting payudaranya mengeras. Segalanya menjadi gelap. Vaginanya menjadi sangat basah, sesuatu mengalir keluar dari vaginanya. Kenikmatan yang tak dapat dilukiskan menyelimuti dirinya. Lucifer menikmati saat-saat di mana Sandra mengerang penuh kenikmatan. Ia membiarkan Sandra menikmati orgasmenya. Cairan yang mengalir dari vagina Sandra dijilatnya perlahan. Lucifer lalu berguling ke samping berbaring di samping Sandra yang terlentang. Sandra menatap sayu, dadanya bergerak naik turun dengan cepat, mengikuti nafasnya. Sandra tetap membiarkan pahanya terbuka lebar, vaginanya terbuka lebar, kemerahan dan basah. "Michael, my love, you fucking great. Please, take me to heaven again," Sandra berkata. Lucifer tersenyum, karena Sandra mengira Michael lah yang memberinya kepuasan, yang mengantarnya menuju kepuasan. Senyumnya menjadi senyum kematian saat Sandra memintanya untuk membawanya ke surga. "Sandra, I will bring you. Yeah, I will bring you to the death," Lucifer menjawab dengan dingin. To be continued.Peass...foreva.. Avanfu... 10. ASPRI GUE Cerita ini dimulai sejak gue diangkat menjadi Finance Spv dikantor pusat, dengan pekerjaan-pekerjaan sisa dari pendahulu (Ex Finance Spv, yang kabur bawa lari uang tagian premi 3 bulan). Setelah briefing hari pertama dengan Dirut Keuangan dan GM, gue langsung pegi ke kamar kerja gue yang baru, cukup besar 5 x 3 M 2 . Hari pertama emang begitu ruwet harus menyesuaikan diri.

96

Tok..tok.tok.., pintu kamar gue tiba-tiba terbuka sedikit, "Yap, masuk aja" sahut gue, "Maaf pak, ganggu, pernkenalkan saya Edwina, asisten bapak yang baru, saya dulu dibagian piutang" katanya sambil memberi salam, "Ya, saya Ray, karena kita masih seumur dan agar tidak canggung dalam bekerja, kamu panggil saja Ray, tapi kalau lagi bekerja di ruangan ini aja ya..," sahut gue sambil menyalaminya. Engga lama setelah itu, gue mulai melihat komputer baru yang terletak di samping meja gue, wah.emang bagus bener P3 750 MHz, ini baru dream machine gue, kata gue dalam hati. Dan setelah gue buka IE, ternyata bisa langsung konek berarti ada line telepon khusus untuk internet. Hari kedua, dikantor pas jam 7.45 gue nyampe, wah masih ada waktu sekitar 20 menitan, langsung gue idupin komputer, dan seperti biasa gue liat milis ccs siapa tau ada ccs yang bisa dibaca untuk jam makan. Dan setelah itu, gue ubah posisi "home" IE gue ke Situsnya Wiro, engga lama loading, ternyata Wina sudah datang (komentarku: apa nggak hilang nafsu makannya, yang akan berubah menjadi nefsong) "Selamat Pagi Pak" katanya sambil tersenyum, "Pagi juga win", sambil-me minimize situsnya wiro, "Bapak ternyata pencintanya ccs wiro juga ya", kata wina sambil tersenyum. "Kok kamu tau?" tanya saya penasaran, "Saya kenal sama situsnya wiro cukup lama pak, kan sempet ilang dari peredaran kan?" katanya sambil menaruh tasnya di atas mejanya. "Wah..berarti, kamu juga seneng baca ccs ya.ayo ngaku.." Kata gue

97

sambil menuding. "ya, gitu deh, emang enak, apalagi setelah dijadikan milis, saya biasanya akses dari rumah" katanya. "Asal keadaan kita engga seperti cerita-cerita dimilis ccs aja ya win" kata gue sambil tersenyum ke arah wina. "Maunya sih gitu, ya.mudah-mudahan aja" katanya sambil mulai membuka buku kerjanya. Setelah semua surat masuk ke inbox gue, dan gue pisahin cerita ccs, ke folder cerita, gue langsung tutup dan mendiskon hubungan ke provider. Hari hari berlangsung begitu aja, hubungan kerja gue sama wina, enak banget, dia bisa mengerti watak gue, dan kapan gue bisa diajak becanda, dan kapan kita harus serius bekerja. Mengenai milis di ccs tergantung dari kita berdua aja, siapa yang dateng duluan, dia yang harus men-download mail. Jadi biasanya pas abis makan siang gue suka baca mail yang masuk, dan kalau wina terkadang aja, karena dirumahpun ia harus juga men-download suratnya. Suatu hari, entah kenapa gue seharian uring-uringan, BT berat, padahal baru jam 10 pagi. Kok udah BT, ya...ketauan gue baca ccs-nya wiro aja, setelah gue buka, gue langsung aja baca, dan..wah, gue konak, gimana nih, mau coli tanggung, kalo gue usap-usap dede gue, takut keluar didalem celana, dan.celana gue basah (ngompol). "Ada yang bisa dibantu Ray!" kata wina sambil tersenyum. "dari tadi diem aja" sahutnya lagi.

98

"ya nih, lagi konak, he.he.he." kata gue sambil terus membaca ccsnya wiro. "terus saya bisa bantu apa nih", tanya wina, sambil beranjak ke meja komputer. "Win,..." kata gue terputus "Kanapa konak ya..." sambari meniru salah satu iklan. "Saya mau bantin tapi, janji engga macem-macem" kata wina, dan engga lama wina menutup pintu kamar, serta mengunci kamar. "Sini dicuci businya, kaya bajaj aja, kalo businya engga beres harus dicuci", seraya mendekati gue. "Bener nih.." kata gue seneng! "udah lah, buruan sebentar lagi jam makan, oya kalo mau 'grepe' 'sekwilda' aja ya", katanya sambil tersenyum dan mulai jongkok di deket kursi gue. "Grepe apaan sih?, kalo sekwilda sih tau, apa grepe itu megangmegang?" katague sambil buka resleting celana. "ya begitulah kira-kira", kata wina sambil mulai membelai-belai dede gue. "Win, jangan jongkok, kasian elo, di kursi aja biar lebih nyaman" ajak gue ke kursi. Sekarang gue tinggal pake kolor doang, dan wina mulai beraksi, Gue ambil posisi duduk dan wina berada dibawah gue. Wina dengan gayanya yang khas, mulai menciumi dede gue, dan tangannya membuka bajunya, dan setelah itu tampak BH wina berwarna cream, mulut wina mulai terasa penuh setelah mengulum dede gue..dan setelah itu gue mulai meraba bh nya dan mencari puting susu wina, dan mulai memutarnya.

99

"ah...a.g..g.h..."win, enak win....desah gue...."terus...ah...." "mh...entar gue buka bh gue, biar lebih enak, sabar..."setelah itu ia membuka bhnya dari depan, baru sekali ini gue liat ada bh yang dibuka di depan (kampung juga nih), tangan gue terus aja memilin puting susunya wina, "ah..h...." desah wina, lagi, dan setelah itu, wina minta tetenya diisep, "ray, gantian ya.isepin tete wina ya, dah engga kuat nih..." Sembari melepas dede. Setelah itu, wina duduk diatas pangkuan gue dan gue mulai mengisap tetenya wina... "ah..ah..enak..." rintih wina.tete wina gue isep sambil gue gigit pelan dan gue mainin dengan lidah, dan yang satunya tetap gue pilin dengan tangan gue...dan yang paling bikin gue tambah nafsu, tangannya dinaikin keatas sambil mengaduh keenakan, Engga lama setelah itu, gue mulai meraba cd wina, dan ternyata benar, dah basah, pelan-pelan gue mulai meraba bibir bawah wina, yang sudah basah, sembari ngisep tetenya wina gue mencari daerah klitnya wina, gue takut wina marah, eh taunya malah keenakan "abis atas, yang bawah tolong di serpis ya pak." katanya sambil nyengir, dan tak lama wina menutup matanya untuk menikmati teteknya gue isep, kiri dan kanan. Engga lama, wina mendorong gue untuk tidur, dan emang edan, dia ngangkang sambil jongkok didepan gue, "ayo, dong isep.." katanya meminta,

100

tampa basa basi lagi gue mulai mengisep, klit wina, gue isep dan gue mainin pake lidah, ah.ah.....ah...wina engga abisabisnya mendesah.....kali dia engga kuat jongkok ampe, sangking lemesnya memeknya dijatuhin ke muka gue. Engga lama setelah itu, gue bilang, "Win kapan giliran gue, ada juga, gue yang lagi butuh, kok elo yang lama sih", sambil tangan gue memegang kepalanya wina. "Ya, gue udah tapi baru sekali, sini gantian."kata wina, gue sangka setelah itu wina mau melanggar janjinya lagi (sekwilda), dan ternyata engga!, sini, gue jepit dede elo sama tete gue..."katanya sembari memadukan tetenya yang besar itu, langsung, gue memasukkan dede gue ke tete wina, enak bener, setelah dijepit gue mulai maju mundurin dede gue, "aduh..win...enak banget,..." Desah gue.. apalagi gerakannya diperlicin oleh keringat winda yang mengucur sejak tadi.. "ah...enak banget win...ah...." engga lama setelah itu, gue mulai bosen, dan wina juga sudah kewalahan, dan dia mulai lagi, memasukkan dede gue ke dalam mulutnya, engga lama gue mau keluar... "win..coli'in aja win..gue dah mau keluar...buruan..", kata gue sambil mengangkat muka wina... "keluarin aja..." kata wina (engga jelas), sembari kepalanya manggutmanggut. Cret,..cret..peju gue akhirnya keluar, dalam mulutnya wina..dan tanpa geli, dia langsung menjilat dede gue, sekaligus menelan peju (emang

101

sih keluarnya engga banyak), "Thanks ya.." Kata gue sembari memberikan Bra-nya, dan melihat bh-nya "Wah..36 C, pantesan enak jepitannya", kata gue sambil tersenyum. "ah..bisa aja loe, dah puas belom, gue baru keluar sekali nih, belom puas banget, tapi, entar aja lagi ya, sekarang udah jam 12 kurang 15" katanya sembari melirik jam tangannya, dan mengusap seluruh badannya dengan tisu, karena basah. Setelah itu kita beres-beres, kita makan siang be 2, di lantai basement. Dan sambil makan-makan kita menceritakan pengalaman tadi, karena banyak lucunya. Diantaranya sewaktu gue mau buka BH nya wina, "Emang elo engga pernah tau, bh ada yang buka di depan" katanya sambil senyum "Gue engga pernah tau, setau gue bh kaitannya ada dibelakang", kata gue sambil mencubit tangannya. "Lagian gue sesek napas lagi, pas elo ngecret, lagian kalo udah ngecret, jangan sampe lemes gitu dong, memek.elo kan jatuh nutupin muka gue" kata gue sambil ketawa. "Ya udah entar kita cari waktu luang dan belajar gaya-gaya yang unik" katanya sambil terus makan. Temen-temen pecinta ccs, ceritanya bersambung, soalnya masih banyak pengalaman gue, sama wina yang masih pengen gue ceritain (dan yang paling enak, sewaktu cabang surabaya kebablasan dan memanggil kita, untuk audit sederhana, sebelum auditornya dateng, gue sama wina sewa satu kamar luks di hotel sahid, padahal peraturan kantor hanya pemperbolehkan paling tinggi di sweet room, tapi 2 kali sweet room kan lebih

102

murah dari 1 luks room,ya engga?). Cerita ini kita buat berdua sewaktu senggang (sabtu), jadi kalau memang masih kurang menarik, gimana ya, ini udah maksimal yang kita bisa ceritain buat temen-temen pecinta ccs. BERSAMBUNG..ke aspri 2. Catatan CeritaHangat : sambungannya gak pernah ketemu 11. AWAL MULA Prolog Hampir setiap malam Giri menanti kepulangan Kay dari kantor, yang sering sekali terlambat selama dua tahun terakhir. Berteman koleksi bukunya dilatari suara musik lirih. Hhhh...segera pulang bertemu keluarga, barangkali Kay pun sudah lupa akan arti itu. Tapi belum pernah kedalaman hati Giri segelisah saat itu. Dua kali sudah tiga anjing piaraan melolong, bukan menggonggong, tapi melolong. Auuu...auuu...au, au, au. Melolong bersahut-sahutan. Juga malam itu lebih senyap. Sorak ramai penjaga malam yang biasa bermain kartu di warung depan, kali ini pun tidak terdengar. Gelisah hati Giri, gelisah yang mendebarkan. "Ada apa sih?", desisnya. Tidak mampu lagi Giri membaca. Bolak-balik melihat Jj yang meringkuk di kamar mereka. Cintanya pada anak itu melebihi cinta pada dirinya sendiri. Rela menekan ego mengejar kesenangan. Rela kehilangan beberapa teman baik, demi melihat perkembangan Jj, bulan demi bulan, hari demi hari. Sesekali Giri memandangi koleksi foto-foto mereka di dinding. Foto Kay semasa SMA, semasa pacaran, pernikahan, semua bertaburan di dinding. Semua adalah foto Kay dan foto Jj. Gambar dirinya sendiri hanya foto hitam putih memeluk Kay dari belakang. Kay dan Jj adalah kehidupan Giri. Keberadaannya, pengisi seluruh hatinya. Jawaban kegelisahan itu datang bersamaan dengan kepulangan Kay. "Aku mau kos...", dingin suara Kay. Lama sekali Giri hanya diam

103

menatapnya. "Kay...beri kesempatan sekali lagi, untuk kita benahi ini semua...pernikahan kita..." Kay diam tidak menjawab, justru berbalik badan beranjak meninggalkan suaminya. "Baik, kalo itu mau kamu...tapi tidak kos. Aku dulu ambil kamu baikbaik dari orang tua kamu, kalo memang harus berakhir seperti ini Kay...tanggung jawabku untuk pulangin kamu..." "Aku ngga mau dipulangin!!", jawab Kay ketus. "Hidupku udah ngga ada hubungannya sama orang tuaku." "Sorry Kay...sorry...besok pagi aku pulangin kamu, setelah itu...urusan kamu sama orangtua kamu..." Kay memang tidak suka dengan kedua orang tuanya. Ada kebencian berawal dari ibunya, menulari ayahnya. Kay selalu menanggapinya dengan kebencian pula. Dan Giri berada di tengah pusaran kebencian. Merongrong jiwa, melelahkan tubuh. Giri tidak pernah tahu penyebab kebencian. Seakan ada selimut misteri yang menyelubungi. Tapi kebencian itu dirasakan Giri sebagai hantu tak berwujud yang terus membayangi kehidupan perkawinan mereka. Kay stress dan Giri senewen. Keduanya menjadi sensitif, cepat marah. Kelelahan batin yang dialami Kay melampaui ketahanannya. Cepat atau lambat hatinya akan patah, pecah berkeping. Ego surviving yang memberinya jalan keluar. Jalan keluar semu, berbahaya dan berlumpur. Mula-mula hanya teman curhat, hanya sebagai 'shoulder to cry on'. Wanita memulai dari lelahnya batin, laki-laki menanggapi hanya sebatas urat mengeras di pusat kelaki-lakian. Curhat menjadi selingkuh. Sensasi selingkuh pertama memabukkan, selingkuh kedua dan ketiga pun menjadi biasa. Engkau juga pernah selingkuh Gi, jangan munafik...tegur suara di dalam sini. "Tidak...", desis pria itu berperang dengan suara dalam batinnya. "Waktu itu hanya makan malam, tidak lebih" Tetapi kenapa engkau menyiapkan kondom, suara itu mengejar. Untuk apa Gi, persiapan? Berarti ada niat di dalam hatimu. "Tapi niat itu tidak jadi kulakukan..." Kay menemukan kondom yang kau simpan. Ia meragukan cintamu. Dan itu alasan Kay menyerahkan tubuhnya pada laki-laki lain. Sesederhana itu Gi. Kejam suara itu terus

104

memojokkan. "Oke, oke...aku akui, aku salah. Aku yang memulai. Tapi bukankah Kay sudah membalasnya? Satu kali, masih kurang puas, lalu satu kali lagi. Dan aku mencoba mengerti, menerima sakit hatinya. Tapi Kay keterusan, larut dalam sensasi perselingkuhan. Sensasi pertama hilang, Kay mencari sensasi berikutnya. Sampai yang ketiga. Aku sudah berusaha Man, sudah! Kay yang tidak mau memaafkan" Kali ini suara itu diam, terpojokkan. "Sorry Man, ini bukan pembenaran tapi itu kenyataannya" Bulan-bulan terakhir memang keras pertentangan batin dalam diri Giri. Di satu pihak si ego bilang, 'Cukup Gi, engkau sudah berusaha keras membenahi pernikahan ini'. Tapi suara hati yang memandu cinta, tetap setia dan teguh untuk menerima Kay, cinta pertama Giri, sebagaimana adanya. Tiga tahun laki-laki itu mencoba bertahan, tapi semakin hari Kay semakin sering pulang malam. Kehadiran Jj pun sudah tidak berarti untuknya. Pedalaman batin semakin mengenaskan. Memang tidak terhindarkan! "Gi...Giri!..." Tersentak kaget, kesadaran Giri kembali utuh menghadapi masa kini. "Gi...", bisik Rena, teman sekantor Giri. Sesama Business Analyst. "Kebanyakan ngelamun nanti kemasukan setan." Jemari lentik Rena menyentuh lengan laki-laki itu. "Ahhh...setan sekarang kan cantik-cantik...kaya Diana Pungky, Dyah Permatasari...kalo ketemu setan kaya gitu, malah dia yang kemasukan punya gue..." Rena tersenyum jengah, dicubitnya lengan lawan bicaranya. Cubitan mesra. Rena dan Giri sedang mengikuti seminar tentang corporate restructuring. Seminar internasional. Resmi dibuka pejabat pemerintah. Dihadiri int'l finance institution, kalangan perbankan, juga executive perusahaan.

105

Menjelang sore, kejenuhan melanda keduanya. Rena melanjutkan canda dalam diam. Tangannya menuliskan sesuatu di notebook yang dibagikan gratis. Lalu disorongkan ke laki-laki di sebelahnya. "Kalo aku cantik ngga?" Giri melirik tulisan itu. Tersenyum nakal, lalu menjawab melalui tulisan pula. "Cantik, juga masih....". Tidak dilanjutkan tulisannya. "Masih apa?", tulis Rena. Giri tidak segera menjawab, pura-pura serius mendengarkan pembicara seminar. Rena tahu Giri menggodanya. Dicubitnya paha laki-laki itu. "Masih apa?", desis Rena. Refleks Giri menangkap tangan Rena, dada wanita cantik itu berdesir. Sudah sejak lama Rena menaruh hati pada laki-laki di sebelahnya. Sejak perpisahan dengan suaminya tak terhindarkan lagi. Marco, suaminya, sekarang tinggal di Australia. Mereka belum resmi divorce, mungkin malah tidak akan pernah. Agama yang dianut keluarga Rena, membuatnya tidak pernah memikirkan kata cerai. Rena membiarkan tangan kukuh Giri meremas tangan mungilnya. Lalu pria itu menulis lagi. "Masih sexy." Lagi, Rena tersenyum jengah, malu. Dan itu yang sangat disukai lakilaki itu. Setiap kali Giri menggoda, wajah cantik itu selalu tersipu malu. Bersemu merah. Keduanya dekat karena persoalan yang sama...gagal atau nyaris gagal dalam pernikahan. Selama ini Rena dan Giri saling menghargai sebagai kolega, sebagai best friend. Tapi berita terakhir yang didengar Rena, membuat dadanya semakin sering bergetar saat berdekatan dengan lakilaki itu. "Gi...", lanjut Rena melalui tulisan lagi, "I've heard about Kay" Giri tidak heran. Salah seorang teman di kantor ini, memiliki anak yang satu sekolah dengan Jj. Dan teman itu sering melihat Giri mengantar Jj seorang diri, tanpa Kay. "Don't write her name!!!!!" "Sorry" Diam sebentar, Rena melanjutkan lagi, "Marco's still in Aussie..."

106

Pria itu menulis singkat, "So?" Agak lama Rena tidak melanjutkan. Hatinya ragu. Lalu tangannya mulai menulis lagi. "Know about TTS?" Giri menggeleng. Dirinya telah lama keluar dari edaran pergaulan. Sudah tidak mengikuti bahasa-bahasa gaul. "Teman tapi mesra" Giri tersenyum membacanya. Lalu bibirnya mendekati telinga wanita itu. "Mesranya ngapain?", tanya pria itu berbisik menggoda rekan sekantornya. Rena tidak menjawab. Sambil bertopang dagu, ia memandang pria itu. Menatapnya lekat-lekat. Giri balas menatap mata indah wanita di sampingnya. Laki-laki itu sangat paham arti tatapan mata mereka. Sinar yang terpancar, gairah di dalamnya. "I'd love to Re...but we're colleague" Rena mengigit bibir bawah, lalu menulis jawabnya. "You're so naive...hik, hik, hik" ***** ML dengan teman sekantor? 'Well...tidak!', gumam Giri dalam hati. Baginya itu ukuran profesionalitas sebagai karyawan perusahaan profesi ternama. Bermasalah dengan pekerjaan akibat afair dengan kolega, konyol menurut laki-laki itu. Apalagi dengan kondisinya sekarang... single income with kid, it's too risky. Persoalan pribadinya sudah cukup berat, Giri masih ingin bekerja tanpa harus menghadapi konflik di kantor. Siapa tidak kenal perusahaan tempat Giri bekerja. Beraliansi dengan perusahaan multi national company. Tahun-tahun awal krismon seakan tetap tegar tidak terpengaruh. Tapi virus krismon memang ganas menggerogoti setiap perusahaan di negeri ini. Kebijakan manejemen tidak lagi memungkinkan menambah karyawan tetap, membuat beberapa business unit di perusahaan menggunakan tenaga-tenaga magang untuk pekerjaan clerical. Anak-anak magang itu kebanyakan mahasiswi D3 sekretaris. Cantik-cantik, putih. Bening. Penampilannya modis, dengan tubuh indah. Dan yang terpenting...muda dan segar.

107

Ajang perebutan anak-anak magang tengah berlangsung. Beberapa jantan, single maupun mengaku single, bergagah-gagah mendekati betina. Dan si betina jinak-jinak merpati, pura-pura malu tapi tokh akhirnya mau. Insting purba, naluri purba, semua campur aduk dalam kemasan manusia modern. Etika profesi, persoalan pribadi yang tak kunjung selesai, juga proses penyesuaian sebagai seorang single father, membuat laki-laki itu hanya menonton perebutan mahasiswi cantik-cantik itu. Sudah empat bulan Kay pergi. Giri manusia biasa. Kebutuhannya sebagai laki-laki makin lama makin tak tertahankan. Melihat gadis-gadis mahasiswi magang berpakaian sexy lalu lalang di unit kerjanya, makin sering pria itu meragukan prinsipnya tadi. Tidak meniduri rekan sekantor? "Hhhhhh....", pria itu mengeluh panjang di kedalaman hatinya. ***** Sensasi perkenalan. Tengah September '99. Memasuki musim hujan. Hari ini hujan dari siang. Sampai sore ini pun air masih jatuh dari langit. Suara gemuruh sayup-sayup terdengar di kejauhan. Langit kelabu. Dingin. Menambah sendu suasana hati yang sepi sendiri. Menambah suasana romantis hati yang berdua-dua. Akhir-akhir ini Giri sering tidak membawa mobil. Mulai musim hujan, lalin lebih sering macet daripada lancar. Lebih enak nebeng Boss yang selalu melewati daerah rumahnya. Mereka bertiga keluar dari lift, Boss, teman Giri, Surya, dan...salah satu anak magang itu!!

108

"Wowww!!!" Giri baru pertama kali melihat gadis yang satu ini. "Iihhh...lutu banget...putih, bening...pulang bareng juga?", lakilaki itu bertanya-tanya dalam hatinya. Secepat kilat ia berdoa, "Semoga...ya semoga." Suara hatinya protes. "Udah lama Gi...", tanya si Boss "Belum Pak" Dan gadis itu mengikuti, jadi dia juga akan pulang bersama. "Amin, amin. Puji Tuhan" Suara hati laki-laki itu protes lagi, lebih keras. Pantaskah membawa-bawa Tuhan dalam soal ini? "Oke, oke, sorry." Giri melambatkan jalan, sambil melirik si gadis ingin melihat reaksinya. Gadis itu ikut melambatkan jalan. Melihat reaksi yang diharapkan, pria itu tersenyum kecil. Reaksi pertama yang membuka peluang. "Rumah kamu di daerah mana?", tanya Giri pada anak salah satu magang itu. "Di daerah Kampung Utan, ke arah Ciputat...tau?" "Hhmm...kira-kiranya taulah, deket Country Wood itu kan?" Gadis itu menggangguk. "Oh iya...saya Giri...", laki-laki itu mengulurkan tangan sembari tersenyum ramah. "Via...", sambutnya tersenyum manis Trotoar itu menyempit. Laki-laki itu memberi tanda agar Via berjalan lebih dulu. Tindakan sengaja namun tidak menyolok. Giri berniat memperhatikan sosok tubuhnya. Tubuh Via sangat indah, lekuknya sempurna. Pinggang yang ramping ditunjang dengan pinggul yang besar. Perawakannya mungil. Perpaduan fisik yang membangkitkan selera laki-laki manapun. Dan caranya berjalan menggetarkan hati pria yang memandangnya. Melangkah mantap, penuh percaya diri. Tapak kaki menapak dalam satu garis lurus, pinggul melenggak-lenggok lembut. Tidak kampungan...tapi tetap menggoda. Pantatnya bulat kencang, bungkahan daging sempurna! *****

109

Giri duduk di sebelah Via di kursi belakang. Surya duduk di depan, karena rumahnya lebih dekat dengan rumah si Boss. Gadis itu membawa buku lumayan tebal, dan saat itu diletakkan dipangkuannya. "Baca buku apa?" tanya laki-laki itu wajar. Dia memperlihatkan sampulnya, bukunya Dale Carnegie. "Suka buku-buku personality development ya?" "Iya, paling suka. Aku suka baca, dan akhir-akhir ini lagi suka baca buku-buku kaya gini" Insting Giri bekerja, insting pemburu. 'Hhhmmm, hobbynya baca, memberiku suatu peluang untuk dapat mendekatinya'. "Pernah baca bukunya Chin-Ning Chu...Thick Face Black Heart?", tanya laki-laki itu mulai menyusun hunting trap. "Pernah denger tapi belum pernah baca. Bagus ya Mas? Kamu punya?" "Aku punya yang dalam bahasa aslinya" "Mau dong...mau nyoba baca", pinta Via antusias. Gotcha! Tanpa disadari si gadis, laki-laki itu menggiring masuk ke ladang perburuan. Giri tidak melanjutkan. Bahkan personal numbernya pun tidak ia minta. Laki-laki itu tidak terburu-buru. Via masih harus menyelesaikan masa magangnya. Giri masih teringat prinsipnya...tidak menggauli wanita sekantor, sekalipun dia hanya mahasiswi magang. Tidak ada suara dari bagian depan. Surya melamun, Boss menghadapi kemacetan lalin, macet berat memang. Giri mengalihkan obrolan yang lebih umum, soal humaniora di kantor. Si Boss dan Surya nimbrung, ramai. Pancingan Giri mengena. Dalam diam, laki-laki itu memperhatikan Via. Cantik...tapi tidak gilang gemilang, lebih tepat dikatakan imut-imut, lutu. Tampil apa adanya, tanpa make-up berlebih. Rambut pendek, hitam, dan kulit putih, Chinese. Matanya besar, tidak seperti Chinese umumnya. Wajahnya lebih mirip wajah wanita Jepang. Hidungnya mancung, bibirnya mungil.

110

Orang akan mudah terkecoh hanya dengan melihat wajahnya. Wajah polos, sepolos malaikat yang sering digambarkan orang. Really, her face likes an angel! Leher ke bawah yang menghancurkan gambaran itu, sexy sekali! Hari ini, Via mengenakan blus ketat, lengan pendek. Dadanya penuh, cukup besar untuk sosok mungil tubuhnya. Saking ketat blusnya terlihat sesak di bagian dada. Satu kancing paling atas terbuka, memperlihatkan celah yang sedap di pandang. Bawahannya rok pendek diatas lutut, dan juga ketat! Pinggangnya kecil ramping, tanpa lemak di sisinya. Pinggulnya besar, membuat rok di bagian itu meregang, tertarik. Pinggang ramping, pinggul besar, membentuk lekuk sempurna yang melupadaratkan laki-laki beristri sekalipun. Via tahu pria itu memperhatikan dirinya. Sambil ngobrol, sesekali matanya melirik ke arah Giri. Lirikan nakal menggoda. Gadis itu berbicara banyak tentang suasana kantor, dari sisi pandang mahasiswi. Opini polos belum banyak terpengaruh office politic. Entah disengaja atau tidak, Via memiringkan posisi duduknya ke arah Giri. Punggungnya menyandar sudut sandaran jok belakang. Akibatnya...paha putih mulus bagian dalam sedikit terpampang ke hadapan si pria. Posisi kedua paha dan rok ketat itu membentuk lorong gelap di ujungnya. Makin membuat penasaran hati laki-laki kelaparan itu. "Naughty", desis Giri di hati. Tak tahan oleh goda itu, beberapa kali mata si lelaki melirik kilauan paha mulus si gadis. Via tahu godaanya mengenai sasaran. Ketika topik beralih ke hal-hal lucu menggelikan, ia tertawa. Tawa terbahak hingga mengguncangkan tubuh. Dalam tawa, gadis itu merenggangkan kedua paha. Gerakan halus disengaja, mengakibatkan paha putih mulus semakin berkilau. Lorong di antara kedua paha semakin terbentang. Ujungnya tidak lagi gelap. Menyinarkan kilauan berwarna ivory...celana dalam si gadis. Dan efeknya sungguh gila bagi si pria. Giri lupa kapan terakhir kalinya merasakan persetubuhan. Dadanya bergetar duduk bersebelahan dengan gadis itu. Tubuh sexy, paha putih mulus, celana dalam nakal

111

menggoda. Hatinya terbakar dipenuhi kobaran api birahi. Membayangkan milik si gadis di balik kilauan kain satin pada pangkal pahanya. Pandangan mata pria itu memudar, suara-suara semakin sayup terdengar. Kesadaran berkurang. Giri menyandarkan kepalanya, memejamkan mata. Obrolan terhenti, hening suasana di kabin mobil. Suara curahan hujan tercampur deru kendaraan bermotor lamat-lamat terdengar dalam keheningan kabin. Perlahan Giri membuka matanya, melirik ke arah si gadis. Laki-laki itu menggeram di hati. Via menyandarkan tubuhnya rileks. Sedikit berbaring hingga lututnya menyentuh sandaran jok di depannya. Rok pendeknya makin tersingkap, tertarik ke arah pangkal paha. Keindahan separuh paha putih mulus membakar birahi terpendam si pria. Ia berusaha keras, agar air liurnya tidak menetes melihat paha mulus seorang gadis bertubuh seindah Via.

***** Jalan yang melewati daerah Via dan Giri macet total. Si Boss ingin melewati jalan alternatif, sedikit memutar. Semakin menjauhi rumah keduanya. Mereka turun di jalan di tengah kemacetan, dalam siraman hujan. "Mas...berdua aja!", seru Via di tengah keramaian suara kendaraan, melihat laki-laki yang baru dikenalnya berusaha menutupi kepala dengan sapu tangan. "Payungnya kecil...kasihan kamu" "Ngga pa-pa Mas, muat koq!...ayo!", ajak gadis itu, sembari tangannya menyorongkan payung mendekati kepala Giri. Giri menyambut, tangannya meraih pegangan payung. "Aku aja yang pegangin Vi..." Tanpa disengaja, tangan laki-laki itu menyentuh tangan si gadis. Sensasi pertama, getaran pertama di dada. Mata keduanya saling menatap. Mata si gadis yang mengalihkan pandang lebih dulu. Wajahnya tersipu. Tubuh Giri berdiri agak di belakang Via. Hujan masih turun

112

cukup deras, membasahi kemeja laki-laki di bagian punggung. Giri maju merapatkan tubuhnya dengan tubuh si gadis. Kedua tubuh itu bersinggungan. Sensasi kedua, getaran lagi di dada keduanya. Sang laki-laki bertanya pada si gadis, "Mau naik apa?". Pertanyaan wajar, namun diucapkan dekat telinga si gadis. Hembusan napas pria terasa di pipi dan sebagian lehernya. Sensasi ketiga bagi si gadis. Via menoleh melirik laki-laki itu. Lirikan wajar, namun semburat merah di pipi si gadis memberi sensasi ketiga bagi Giri. Pria itu semakin nakal. Makin sering berbicara dekat telinga si gadis. Via menanggapi obrolan Giri. Bibir pria itu mendekati telinga, si gadis mendengarkan, juga merasakan sensasinya. Sesekali wajah gadis itu menoleh, matanya melirik si pria. Motor melaju kencang di depan mereka, menyipratkan genangan air hujan ke sekitarnya. Refleks Via memundurkan tubuhnya ketika Giri sedang berbicara di dekat telinga si gadis. Giri menahan gerakan tak disengaja itu. Tubuh mereka kembali bersentuhan, disertai sentuhan leher si gadis dengan dagu laki-laki itu. Dagu ditumbuhi rambut kasar baru tumbuh. Memberi sensasi terhebat bagi si gadis. Via memejamkan mata. Rambut-rambut halus di lehernya meremang. Giri melihat itu, gadis dengan mata terpejam. Instingnya memberi tanda. Naluri semata yang menuntunnya bertanya, "Kena kecipratan Vi?". Kali ini bibir pria itu terlalu dekat dengan telinga si gadis. Dengan sengaja dagu kasar itu menyentuh kulit halus di belakang telinga. Gadis itu tidak menjawab. Menundukan kepala sembari menggigit bibir. Giri semakin merapatkan tubuhnya. Wajahnya menunduk, matanya nakal mengintip pangkal bukit kembar melalui celah kancing yang terbuka. Birahinya semakin berkobar. Pura-pura hendak mengatakan sesuatu, dagu kasar itu menyentuh leher si gadis. Tidak tahan dengan kenekatan pria itu, tangan Via mencari paha Giri. Jemari lentik itu mencubit kecil. Kobaran birahi menyerang pusat kelaki-lakian Giri. Kejantanannya menggeliat bangun mengeras. Wajah si pria meringis. Ia selalu punya masalah dengan geliat kejantanan dalam kungkungan celana. Ukurannya terlalu besar. Kepala kejantanan itu menerobos melewati karet celana

113

dalam. Ujungnya tertekan bagian keras celana tempat kaitan sabuk. Laki-laki itu tidak peduli, sakit pada kejantanan tidak dirasakan. 'Rasa lapar' mengalahkan segalanya. Apakah singa lapar berhenti memburu, ketika tanduk rusa sedikit menyobek kulitnya? Perlahan Giri menempelkan tonjolan miliknya ke pantat sexy si gadis. Via merasakan bagian vital tubuh pria yang mengeras. Gadis itu tersentak. Matanya terpejam, bibirnya di gigit kecil. Ia menyadarkan punggung di dada laki-laki itu. Giri tidak menyia-nyiakan. Satu tangan tetap memagang payung, tangan lainnya melingkar merangkul pinggang. Tubuh keduanya semakin rapat. Kejantanan si pria semakin melesak di antara belahan pantat si gadis. Giri tahu sepenuhnya, gadis itu jatuh dalam permainannya sendiri. Permainan goda menggoda birahi sejak dalam mobil tadi. Pria dan wanita dalam keremangan petang di bawah naungan payung kecil di tengah siraman hujan. Jumpa pertama penuh sensasi! ***** Berdekatan dan semakin dekat Buku Thick Face Black Heart mengakrabkan Giri dan Via. Entah apa yang dilihat Via pada diri Giri. Single father berusia 31 tahun. Wajah lonjong dengan potongan rambut cepak, model crewcut. Tinggi beberapa centimeter di atas 170. Berat 65 kg. Masih cukup langsing untuk pria seusianya. Perut datar tanpa lemak di pinggang. Seorang pria blasteran, campuran Jawa dan Cina. Kulitnya putih untuk ukuran pria Jawa, tapi tidak sepucat cowok Cina. Campuran ras itu yang menurut beberapa wanita justru memberi pesona eksotis. Mata elang dengan alis menanjak ke arah pelipis. Rambut tercukur yang tumbuh di dagu dan rahang pada wajah putih itu, menebar bayang biru kegelapan.

114

Giri merasa dirinya tidak tampan seperti bintang sinetron. Tapi juga tidak jelek. Setelah hidup sendiri, laki-laki itu mulai mencari tahu pendapat beberapa wanita tentang dirinya. "Duren dong elo sekarang...", komentar seorang wanita. "Kapan nih duren mempersunting perawan lagi?", goda yang lain. "Kalo udah ngga perawan seperti dinda ini, kanda duren masih mau ngga?", goda yang lain lagi sambil cekikikan. Dan Giri hanya tersenyum ramah menanggapi itu semua. Wanita sekantor? Hhhh... Via dan Giri semakin sering lunch bareng sambil diskusi. Mula-mula hanya mengenai buku, lalu soal hobby yang lain. Ada satu hal yang selalu menarik perhatian Via...hubungan pria dan wanita. Hubungan dalam konteks sebagai teman, sahabat, pacar, dan sebagai suami-istri. Humaniora di dalamnya, psikologis, juga biologis. Dan yang terkahir ini...kebutuhan biologis pria dan wanita menempati urutan teratas rasa ingin tahu gadis itu. Via terlena oleh daya tarik yang memancar dalam diri laki-laki itu. Sulit dijelaskan. Padahal usia mereka terpaut jauh. Via berumur 21 tahun pada tahun ini. Dan tidak sedikit cowok seumuran yang tergilagila pada keindahan tubuhnya. Juga pada wajah angelnya. Juga ada pria lajang teman Giri sekantor yang sangat menggebu mengejar Via. Nonton, gaul dugem, mengantar ke semua tempat yang diinginkan gadis itu, bahkan sampai ke Bandung. Tapi sampai saat ini Via belum menyerahkan tubuhnya. Laki-laki yang satu ini memang lain. Setelah makin dekat, gadis itu merasakan suatu pesona yang belum pernah dialaminya. Mungkin wawasan Giri yang luas mempesonanya, juga kedalamannya memahami sesuatu. Mungkin kematangan Giri atau sikap coolnya. Mungkin kenekatan pria itu memberinya sensasi pertama di tengah hujan. Belum pernah ada pria yang senekat itu. Merapatkan tubuh, memarut kulit leher dengan dagu kasar, menempelkan kejantanan ke pantatnya...di hari pertama berkenalan!! Begitu mudah ia jatuh pada pria yang satu ini. Nekat, liar, tapi alami. Tidak dibuat-buat. Tanpa rayuan gombal. Entah, gadis itu pun

115

sulit menyimpulkan. Memang bukan salah si gadis. Semasa Giri kuliah, delapan dari sepuluh gadis cantik yang didekati laki-laki itu, rela menyerahkan tubuhnya. Dan...empat diantaranya masih perawan. Bunga-bunga perkenalan berlanjut. Lunch dan diskusi menjadi dinner dan nonton. Nonton berbunga gandengan dan pelukan pinggang. Membuahkan kedekatan dan kemesraan. Berbenih endapan gairah dalam dada, memercikkan pijaran nafsu, membuahkan ledakan birahi. Laki-laki itu memang pandai memilih film pertama. Deep Blue Sea. Menegangkan, mengagetkan! Si gadis sering terkejut, juga takut. Giri meraih tangan Via, meremasnya. Gadis itu menyambut. Tangan keduanya saling meremas. Tubuh mereka mulai berdekatan. Perlahan dan lembut, sang lelaki mulai berani mencium tangan si gadis. Jemari lentik balas mengelus dagu tertabur rambut kasar baru tumbuh. Tangan Giri masih meremas tangan Via. Genggaman tangan laki-laki itu membawa tangan si gadis ke rahangnya. Rambut kasar yang tumbuh sampai Adam's apple memarut punggung tangan berkulit halus. Si gadis merinding. Tubuhnya semakin merapat. Kepalanya menyandar pada bahu kukuh laki-laki itu. Sang lelaki menyambutnya. Dagunya menelusur sepanjang lengan, menuju siku, terus ke pangkal lengan. Wajah lakilaki itu mendekati wajah si gadis. Bibir keduanya saling mengecup lembut, lalu perlahan mulai berpagutan dalam birahi. Akhir September '99, masa magang gadis itu berakhir. Bersatunya tubuh kedua insan itu hanya soal waktu... ***** Ledakan Birahi. Tengah Oktober '99 Mata gadis itu berbinar-binar melihat mannequin bersalut gaun malam hitam. Gaun malam dengan model bahu terbuka, telanjang. Di daerah dada, hanya sebagian akan menutupi payudara pemakainya.

116

"Kamu suka?", tanya pria itu berbisik mesra. Lengan kukuhnya melingkar pinggang ramping si gadis. Via mengangguk. Jemari lentiknya meraba bahan gaun itu. "Aku butuh untuk pesta perpisahan. Modelnya aku suka banget, bahannya bagus lagi Mas...". Jemari itu menyusur mencari tahu harganya. Via tersenyum kecut. "Ihhh...ngga dulu ah, tabungannya belum cukup!...yuk Mas..." Via sudah tidak lagi magang di perusahaan tempat Giri bekerja. Sekarang ia pekerja tetap menjadi junior secretary di perusahaan multinasional. Lulusan akedemi sekretaris di daerah Kali Malang memang cepat mendapat pekerjaan dengan penghasilan baik. Tapi membeli gaun malam seharga itu belum jadi prioritasnya saat ini. Giri menahan tubuh gadis yang beranjak pergi. "Kamu liat baik-baik, kalo suka...boleh aku hadiahin kamu itu?" "Mas...", keraguan terpancar dari wajahnya. "Hadiah? Dalam rangka apa?" Laki-laki itu mengangkat bahu, "Yaaa...ngga dalam rangka apa-apa. Kan memang begitu adanya. Cowok suka sama cewek, lalu dia menghadiahi ceweknya sesuatu. Wajar kan..." Via menatap mata pria itu sembari tersipu, wajah angelnya bersemu merah. Giri meyakinkan sekali lagi, sebelum akhirnya Via memilih gaun malam yang paling dia sukai untuk dicoba. "Mas!!", kepalanya melongok melalui tirai kamar pas. "Jangan jauh-jauh...nanti aku butuh pendapat kamu." Giri menanti dengan lamunan. Bertahun-tahun yang lalu ia pernah melakukan ini untuk orang yang paling dicintainya. Pria itu mengelengkan kepalanya, membuang jauh bayang-bayang Kay. "Mas sini...", bisik Via. Tangannya menyingkap sedikit tirai itu. "Bagus ngga?", tanyanya setelah kepala pria itu melongok ke dalam kamar pas. Giri tertegun. Gadis itu menghadap ke cermin besar. Tubuhnya terbalut

117

gaun malam berwarna hitam. Bahu rampingnya telanjang, digantungi tali kecil. Punggung terbuka, menampakkan rambut-rambut halus diatas kulit putih mulus. Pangkal dan belahan bukit kembar di dadanya terpampang di cermin besar. Tidak ada lagi bra menutupi payudara itu. "Masss...koq malah bengong sih?!?" Laki-laki itu menelan ludah sebelum dapat menjawabnya. "Hhhmmm...emang kegedean atau modelnya gombrang gitu Vi" "Emang modelnya gini Mas...ngga bagus ya?" Kalo menurutku, bagus yang ngga pake tali tadi, ketat di bagian pinggang, jadi lekuk tubuh kamu keliatan. Kalo model longgar gitu..." "Berarti bener pilihanku yang pertama tadi dong?" "Iya! Aku juga heran, tiba-tiba tadi kamu berubah pikiran" "Mas...tolong dong, mintain sama mbaknya gaun yang tadi" "Ini Vi...", Giri memanggil dari luar kamar pas. Gadis itu membuka tirai mengeluarkan tangan mungilnya. Dada pria itu bergetar hebat. Singkapan tirai tadi memperlihatkan tubuh setengah telanjang. Hanya ada panty mini menutupi tubuh, melingkari pinggulnya. Sejenak kemudian gadis itu memanggil lagi sembari tangannya menyingkap tirai, "Masss...tolong dong, ritsletingnya...". Via mengerling nakal ke arah pria itu. Kedua tangannya memegangi gaun di bagian dada. Punggung mulus itu masih terbuka. Gaun dibagian itu terjuntai menanti disatukan oleh ritsleting. Gadis itu merasakan jemari laki-laki itu gemetar. Ia juga melihat dari balik cermin, Adam's appple pria itu bergerak naik-turun. Si gadis tersenyum nakal. Semenjak pertama berkenalan, Giri selalu tergoda dengan kenakalan gadis itu. ***** Mata laki-laki itu menatap nanar. Via mengenakan kaos milik Giri berbahan katun tipis. Tonjolan kecil pada puncak payudaranya memberi arti, gadis itu tidak memakai BH lagi. Tungkainya telanjang, tidak lagi tertutup jeans. Temaram lampu ruang santai lantai atas menambah

118

eksotis silhouette tubuh sexy itu. Setelah jalan-jalan di mal, nonton dan godaan di kamar pas tadi, Giri mengundang Via main ke rumahnya. Gadis itu tahu arti undangan si pria. Via menghampiri lemari sound system, membuka-buka kotak CD. Giri memburunya, memeluknya dari belakang. Melingkarkan tangan pada pinggang, menempelkan kejantanan dengan bungkahan pantat si gadis. Via menyambut pelukan Giri, memegangi kedua tangannya. Giri memeluk semakin erat. Gejolak nafsu dalam dada laki-laki itu meledak sudah. Secepat kilat energinya menyebar keseluruh tubuh. Pusat kelaki-lakian menjadi sasaran yang pertama. Kejantanan Giri menggeliat bangun, mengeras, tidak bertahap langsung menuju ke puncak kekerasaannya. "Ohhh Vi...kamu sexy sekali", panggul Giri menekan-nekan pantat gadis itu, kejantanan menyelip di antara belahannya. "Masss...oh Masss...", desah Via lirih. Kepalanya menyandar pada dada bidang laki-laki itu, dagunya terangkat, menyerahkan lehernya. Bibirnya terbuka, merekah. Giri menyapu lehernya dengan jilatan lidah, jilatan panjang diiringi getaran ujung lidah. Giri merasakan dengan sepenuh hati kehalusan kulit leher Via. Rambut kasar baru tumbuh pada dagu dan sepanjang rahang laki-laki itu memarut kulit leher si gadis. Tubuh keduanya bergetar. Tidak mungkin lagi percumbuan itu melalui foreplay yang lembut. Gairah dalam diri sudah terlalu berkobar, menyebarkan aura nafsu di sekitar tubuh. Giri memutar tubuh Via, berhadapan-hadapan. Bibir laki-laki mencari bibir si gadis, berpagutan penuh gairah. Saling menjulurkan lidah. Ujung lidah bergetar dalam pagutan bibir. Tangan Giri bergerak menelusuri lekuk tubuh Via, merayapi pinggang, meremas pantat. Lalu laki-laki itu menyadari, di balik kaos tiada satu pun pakaian dalam melekat pada tubuh Via. Tiada lagi panty menutupi kewanitaan gadis itu.

119

Sungguh menggelegak nafsu Giri, melepas pagutan bibir, mendesah, mendesiskan kata-kata cumbu rayu untuknya, "Ohhh Vi...pantat kamu sexy sekali. Kamu tahu? Kamu tadi nakal sekali..." "Masss...aku juga udah mau ini..." Giri melepas kaos yang menutup tubuh Via. Gadis itu telanjang bulat dalam keremangan ruang santai lantai atas. Terpampang payudara indah di hadapan Giri, bulat kencang. Segera lidahnya meraih puncak payudara. Menjilat, mengais-ngais, diiringi dengan getaran cepat ujung lidah. Punggung Via melengkung merasakan sensasi itu. Desahnya semakin bertambah seru, diselingin dengan jeritan. Giri menurunkan celana pendek juga celana dalam, melorot jatuh ke lantai. Kejantanan laki-laki itu sudah keras, mengacung tegak siap memasuki kewanitaan si gadis. Posisi favorit Giri, bersetubuh sambil berdiri. Persatuan kelamin itu menyengat dua anak manusia dalam gairah birahi. Bagai terkejut listrik, keduanya saling melenguh dan menjerit. "Agghhh Masss!!!...ihhh...punya kamu geda sekali...astaga...astaga Mas...geda sekali" "Okkhhh Viii...ssshhh...ohhh...udah lama aku ngga merasakan ini Viii..." Giri menggangkat sebelah tungkai Via ke pinggangnya, menahan dengan tangan. Tangan kukuh satunya mencengkram pantat gadis itu, menariknya bersamaan dengan tekanan kejantanan pada kewanitaan di gadis. Bibir Via memberontak lepas dari pagutan birahi, "Ahhh...Masss!!!", jeritnya. Kepalanya tersentak ke belakang, punggungnya melengkung, tangannya mencengkram pantat laki-laki itu. "Geda sekali Mas...gila...gila...geda sekali...", jerit Via. Laki-laki dan gadis bersetubuh sambil berdiri. Dari gerak tubuh keduanya, jelas si lelaki menguasai permainan. Panggulnya berayun cepat dan mantap, menyebabkan kejantanan besar miliknya menelusuri liang kewanitaan si gadis. Gerak tubuh Via tidak terarah, lebih menyerupai geleparan liar. Belum pernah ada kejantanan yang memberi

120

sensasi persetubuhan seperti milik laki-laki itu. Gaya laki-laki itu bersetubuh sungguh memabukkan si gadis. Pertama cepat dan mantap. Lalu berubah perlahan dan tenang. Berubah lagi menghentak-hentak liar. Setiap kali kejantanan itu menghujam masuk, bibir kewanitaan ikut melesak masuk. Setiap menelusur keluar, lingkar kepala batang itu seakan menarik keluar dinding kewanitaan. "Astaga Masss!!!...punyaku bisa jebol...oouukkhhh!!!...sssshhh...gila rasanya..." Mendengar jeritan si gadis, panggul laki-laki itu bergerak maju mundur makin cepat. Selang beberapa saat, tubuh Via menegang, goyangan pinggulnya semakin liar. Jemari lentik mencengkram pantat laki-laki itu, menancapkan kuku. Jeritannya semakin keras. Giri tahu, Via mendekati puncak kenikmatannya. Laki-laki itu mempercepat goyangan panggul, mempercepat keluar-masuknya kejantanan dalam liang kewanitaan. Suaranya berkecipak, makin menambah nafsu keduanya. Giri menjilati puting payudara untuk menambah rangsangan pada tubuh si gadis, menjelang puncak yang akan diraihnya sesaat lagi. Sesekali rambut kasar di dagu laki-laki itu memarut kulit halus bukit payudara si gadis. Punggung Via melengkung, kukunya menancap dalam ke daging pantat lakilaki itu. Perih. Otot kewanitaannya meremas kejantanan besar yang memasuki tubuhnya. Percuma, kejantanan itu tetap keluar masuk dengan mantapnya, mengantarnya ke puncak birahi. "Akkhhh!!!...Masss!!!...", pinggulnya bergerak-gerak binal tak terkendali. Kepalanya menggeleng liar. Meledaklah Via, mencapai orgasme pertamanya dalam persetubuhan ini. Tungkai gadis itu gemetar menahan tubuhnya. Tangannya menggapai-gapai, mencari pegangan pada rak sound system. Tubuhnya melorot. Giri menahan tubuh Via dalam pelukannya. "Ke sofa Masss...ke sofa...gila, sambil berdiri gini...aku lemes banget..." Laki-laki itu tertawa terbahak, "Ha ha ha...makanya jangan terlalu banyak teori..."

121

Tanpa melepas persatuan kelamin, Giri menggendong tubuh Via menuju sofa. Laki-laki itu duduk di sofa, memangku tubuh si gadis diatasnya. Mata Via masih terpejam menikmati orgasme pertama. Napasnya masih terengah satu-satu. Cuping hidungnya kembang kempis. Kejantanan Giri masih mengacung tegak sekerasnya. Orgasmenya masih jauh. Ini bukan soal kehebatan, ini soal kelainan. Memang ada kelainan dalam diri Giri. Tercetak pada hubungan seks yang pertama, lalu terbentuk selama bertahun-tahun kehidupan seksnya. Laki-laki itu bisa mencapai klimaks setelah wanita pasangan bersetubuh merasa puas...puas sepuasnya. Lalu memohon ingin mengakhiri persetubuhan. Dan dari semburat birahi yang terpancar dari wajahnya, Via masih jauh dari puas. Mata itu membuka perlahan, bibirnya berbisik lirih. "Mas...punya kamu geda banget sih...punyaku terasa penuh...dan rasanya...ihhh...belum pernah aku secepet ini meledak...", ungkapnya sambil menggelengkan kepala. Lalu gadis itu melepas persatuan kelamin, tubuhnya meluncur ke bawah. Mengelus kejantanan si lelaki. Menggenggam dengan tangan mungilnya. Jemari lentik itu tidak mampu mengggenggam lingkaran batangnya. Dalam keadaan duduk seperti ini, ujung kepala kejantanan melewati pusar laki-laki itu. "Astaga Mas...astaga...tanganku ngga muat...", desis Via lirih. Via menggenggam dengan kedua tangan, mengarahkan ke bibirnya yang mungil. Ia membuka mulut hendak melahap kejantanan itu. Perlahan rongga mulutnya melahap, namun hanya sebatas kepala kejantanan itu. "Hhmmff...hhmmff..., lalu melepas kejantanan itu. Mendesis lagi, "Masss...ssshhh...punya kamu bikin aku nafsu lagi. Aku mau lagi Mas..." Tubuhnya beringsut naik ke sofa. Pahanya mengangkangi pangkal paha si lelaki. Mengarahkan kejantanan ke liang kewanitaan. Perlahan gadis itu menekan panggul, mengendalikan masuknya kejantanan itu ke dalam tubuhnya. Persatuan dua kelamin kembali menyengat. "Ouhhh Mas...aku horny banget sama punya kamu...ihhh...gila banget

122

rasanya Mas..." "Aku suka kamu horny gitu, suka banget Vi...aku suka kalo kamu suka..." Perlahan pinggul Via bergerak maju-mundur, ke kiri-kanan, juga berputar. Tubuhnya menari-nari di atas tubuh laki-laki itu. Berjingkrak-jingkrak ria. Sesekali melonjak-lonjak perlahan, menjaga kepala kejantanan agar tidak menghantam mulut rahimnya. Bibir mungilnya mendesahkan kata-kata birahi. Sesekali berceloteh mengagumi kejantanan yang memasuki tubuhnya. Jemari lentik itu berubah ganas, mencengkram, mencakar. Kukunya menggores kulit dada si lelaki, menimbulkan rasa nyeri. Ini saat-saat yang paling membuat Giri puas. Melihat seorang wanita di atas tubuhnya begitu menggebu hendak meraih nikmatnya orgasme. Bukit kembar dadanya berayun mengikuti gerak tubuhnya. Jemari si lelaki memainkan kedua puting payudara. Memelintir dan menarik-narik berselang seling. Gadis itu semakin liar dan binal. Giri suka sekali melihat si gadis melonjak-lonjak liar di atas tubuhnya. Gairah nafsu Via mengingatkan laki-laki itu dengan seseorang di masa remaja, hubungan seks pertamanya. Gerak pinggul Via semakin cepat. Maju-mundur semakin cepat. Tangannya semakin kuat mencengkram. Kuku-kukunya semakin dalam menancap. Tubuhnya menegang, pinggulnya berkejat-kejat. Desahannya berubah menjadi jeritan ledakan birahi. Orgasme kedua diraihnya "Masss!!!...aku klimaks lagi!!...aakhhh!!!...ohhh kamu macho sekali Mas...ssshhh..." Mengambil napas sejenak, gadis itu merubah posisi. Tanpa melepas persatuan kelamin, Via memutar tubuhnya, memunggungi wajah laki-laki itu. Putaran itu membuat Giri mengejang sesaat. Kejantanannya seakan terpelintir. Wajahnya meringis. Dan tanpa beristirahat, pinggul sexy Via bergerak-gerak lagi. Gerak maju-mundur, kiri-kanan, dan berputar. Deru desah gadis itu kembali terdengar. "Ohhh Masss...aku suka ini, aku suka ini..." Disela-sela jeritan, jemari lentiknya mengelus-elus scrotum, buah

123

kejantanan itu. "Punya kamu ini bikin horny Mas...ohhh...belum pernah aku sehorny ini...belum pernah aku nemuin yang kaya gini...gila, gila banget...ihhh..." Terus pinggulnya bergerak maju-mundur, ke kiri-kanan, berputar. Tubuhnya masih berjingkrak-jingkrak ria. Masih melonjak-lonjak diatas tubuh laki-laki itu. Sekarang punggung basah yang terlihat dihadapan Giri. Butir-butir mutiara keringat berkumpul, dan satu demi satu bergulir mengalir membasahi pinggang dan bungkahan pantatnya. Gerakan pinggulnya kembali liar semakin cepat, berkejat-kejat. Tubuhnya menegang lagi. Punggungnya melengkung. Tangannya mengapai mencari pegangan. Laki-laki itu memberikan tangannya. Via menggenggam erat. Lalu meledak lagi jeritan birahinya. "Agghh!!! Masss...aku klimaks lagi!!...ssshhh...ohhh...kamu bener-bener macho Mas..." Tubuh Via ambruk kali ini. Punggung basah itu rebah didada Giri. Pinggul gadis itu masih bergerak-gerak lemah, semakin membangkitkan birahi. "Mas...gantian kamu yang goyang...aku masih mau...mau terus..." "Ohhh ini yang aku suka Viii...suka liat kamu seperti ini..." Giri benar-benar suka. Nafsu Via kembali mengingatkan laki-laki itu akan seorang gadis di masa remaja. Kini panggul Giri berayun naik turun, menggerakkan kejantanan menelusuri liang kewanitaan. Sesekali menghentak memancing jeritan birahi gadis itu. Jeritan kaget disertai rasa nikmat. Jemari Giri meraba bukit kewanitaan Via, mengelus-ngelus kelentitnya. Menekannekan dan menggetarkan tonjolan daging kecil itu dengan ujung jari. Via semakin histeris. Dalam waktu singkat pinggulnya berkejat-kejat lagi. Punggung basah itu melengkung membuat kepalanya mendongak di dada pria itu. Dan, jeritan ledakan birahi kembali terdengar. Gerakan pinggul si gadis semakin melemah, lalu terdiam terhenti, menyerah pasrah. "Nungging Vi...", pinta Giri. Via menuruti. Pantatnya nungging, lututnya bertumpu di pinggir sofa. Giri berdiri di belakangnya, mengamati kewanitaan gadis itu. Merekah, membuka membentuk lorong merah. Sungguh merangsang. Laki-laki itu mengarahkan kejantanan pada

124

kewanitaan itu. Mendorong masuk sedalamnya. Mentok. "Akkhhh!!! Masss...mentok!...ahhh...punya kamu mentok Mas...ahhh...", jerit Via. Giri menggoyangkan panggulnya maju mundur. Cepat dan mantap. Kejantanannya menelusuri lagi liang kewanitaan si gadis. Tangan Giri mencengkram pinggul Via. Gadis itu menjerit lagi, "Masss...ohhh kamu macho sekali...terus Mas, terus...puasin aku...", makin ngaco jeritannya. Celoteh Via semakin kasar. Ia diambang rasa puas sepuasnya. Hujaman kejantanan pada kewanitaannya semakin cepat. Jeritannya semakin melengking di ruang duduk lantai atas. "Masss!!!...ohhh...aku klimaks lagi!!...ohhh...cukup Mas...cukup!!", jeritnya dipuncak kenikmatan. Lagi, langsung tanpa istirahat, Giri meneruskan persetubuhan itu. Hampir selesai. Nafsu dalam dadanya benar-benar bergolak sekarang. Pandangnya mulai pudar, suara-suara sayup terdengar. Kesadarannya menipis. Telah didengarnya tadi, kata-kata mendekati ampun. 'Cukup', artinya buat laki-laki itu mendekati kata 'ampun'. Satu gaya lagi, dan Via akan menjerit minta ampun. Giri mengangkat tubuh Via, merebahkannya di karpet. Laki-laki itu mengambil bantal sandaran sofa. Menyelipkan dua bantal di bawah pantat si gadis, membuat kewanitaan si gadis membukit. Ia mengarahkan kejantanan memasuki kewanitaan. Cepat, mantap dan kuat. Langsung menggoyangkan panggul, mendorong keluar masuk kejantanan dalam liang kewanitaan. Bukit kembar payudara si gadis berayun mengikuti goyangan panggul laki-laki itu. Posisi seperti ini membuat kelentit Via menjengit, bersinggungan dengan batang kejantanan Giri. "Ohhh Masss...ini rasanya gila Mas...aku ngga tahan...ngilu Mas...clit-ku ngilu sekali", jeritnya. Kepalanya menggeleng liar. "Via...ohhh Vi...aku suka lihat kamu gitu", seru Giri menggiring si gadis untuk mengatakan ampun.

125

"Clitku ngilu Mas!!...clitku ngilu sekali!!...ohhh!!! aku ngga tahan...aku mo klimaks lagi...ohhh Masss...ampun...ampun!!!...aku ngga kuat lagi...", jeritnya terus. Tangannya mencengkram dada Giri mencakar, menancapkan kukunya. Mendengar kata-kata 'cukup', 'ngga tahan', 'ampun', puas sudah nafsu dalam dada Giri. Kepuasan dalam dada merangsang seluruh syaraf pada kejantanannya. Ujung batang itu mulai berdenyut-denyut siap meledak menuju puncak kenikmatan. "Akkhhh!!! Masss...aku klimaks lagi!!!...ouuhhh...ampun Mas...ampun...cukup...cukup!!!", jerit si gadis. "Iya Via...aku suka...aku suka liat kamu puas....aku juga mo klimaks..." "Jangan di dalem Mas!!...jangan di dalem!!", pinta si gadis. "Oh, Shhhiiittt!", maki laki-laki itu dalam hatinya. Sepersekian detik kesadaran memasuki pikirannya. Giri tidak berani mengambil resiko! Mencabut kejantanan besar itu. Menekan batangnya di atas bukit kewanitaan Via. "Okkhhh!!...Via...aku klimaks!!...aku klimaks!!...aagghhh!!!...",jerit Giri. Cairan kejantanannya menyembur banyak sekali. Satu kali muncrat kencang, mencapai rambut Via. Satu kali muncrat membasahi dagu dan leher gadis itu, satu kali lagi membasahi payudara dan perutnya. Pada kejatan panggul terakhir, cairan itu tidak lagi muncrat. Menetes membasahi rambut kewanitaan si gadis. ***** Giri tidak pernah membiarkan pasangannya setelah having sex. Ia memeluk Via, mendekapnya. Mencium bibir gadis itu. Ciuman lembut. "Via...kamu suka?", tanya Giri. Matanya menatap mata si gadis. "Ohhh...suka Mas...aku puas..." "Puas atau puas sekali?", tanya laki-laki itu. Tersenyum nakal, menggoda si gadis. Via cemberut manja, tangannya mencubit pinggang si lelaki, memukulnya perlahan. Matanya kembali terpejam, menikmati rasa orgasme yang surut

126

perlahan. "Mas...ini pertama kali aku rasain multiple orgasm...aku pikir dulu itu omong kosong...cuma teori...", bibir mungilnya tersenyum. "Ternyata bener ya Mas...cewek bisa klimaks berkali-kali..." Giri mencium bibir Via lagi. Ini saat yang paling membahagiakan lakilaki itu. Melihat wanita tergolek lemah dalam pelukannya. Wajah cantik menyinarkan rasa puas sepuasnya. Lagi-lagi ingatan Giri pada masa remaja mengkilas masuk dalam benaknya. Seorang gadis remaja, berwajah cantik, bertubuh molek, juga memiliki nafsu sangat tinggi. "Apa kabarnya ia?", bertanya dalam hatinya. Giri tersenyum mengingatnya. Gadis dalam bayang benaknya yang mengajari semua ini. Gairah nafsu Via menyamai gadis itu. Giri ingin tahu, seberapa besar endapan nafsu masih tersimpan dalam dada Via, gadis yang sekarang berada di pelukannya. Rambut kasar pada dagu dan rahang laki-laki itu menelusuri kulit halus si gadis. Memarut leher, bahu, lalu pangkal payudara. Aroma cairan kejantanannya masih tercium. "Nngghhh...Masss...jangan nakal...", gadis itu mengerang, lirih. Bibir Giri melahap lagi puncak payudara Via. Menjilat puting susu itu dengan ujung lidah. "Mas...ssshhh...nanti aku mau lagi..." Giri tersenyum, mendapatkan sesuatu yang dicarinya...gairah nafsu yang masih terpendam. Bibirnya terus menelusuri perut gadis itu. Ujung lidahnya menjilat-jilat, rambut kasar di dagunya memarut kulit halus. Kedua tangannya membuka paha si gadis. Laki-laki itu membenamkan wajahnya pada pangkal paha Via. Menjilati kewanitaannya. "Masss...ssshhh...kamu harus tanggung jawab Mas...aku mau lagi..." Giri makin tersenyum. Persetubuhan itu sering dilakukan...tidak terhitung, tidak terjadwal. Selalu spontan, memenuhi hasrat single father kelaparan dan gadis muda bernafsu tinggi. Nafsu keduanya memang sangat tinggi. Dalam

127

setiap persetubuhan, Via butuh mencapai klimaks berkali-kali, sedangkan Giri butuh untuk membuat wanita klimaks berkali-kali sebelum mencapai kepuasannya sendiri. Kebutuhan itulah yang mengikat keduanya. ***** Sidang Benar yang diduga Giri, Kay mengajukan gugatan. Dan, suaminya sebagai tergugat! Pasalnya, keputusan memulangkan istri memalukan seluruh keluarga besar. Giri tersenyum membaca gugatan itu. Tanpa harus dipulangkan, Kay pun akan pergi. Laki-laki itu harus berhadapan dengan orang yang sangat dikenalnya. Kay smart dan seorang opportunist. Ia pandai sekali memanfaatkan situasi. Giri berpikir cepat. "Rumah? Tidak mungkin!", desisnya. Sertifikat rumah ini masih atas nama orangtuanya. "Mobil?... Deposito? ...okay, fifty-fifty... barang-barang lainnya?... terserah Kay!" Lalu sesuatu teringat dalam benaknya. Sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya...Jj. Bayangan harus berpisah dengan anaknya membuat laki-laki itu menggigil. ***** Sidang terakhir. PN JakSel, Ampera Raya. Akhir Oktober '99 "Hakim sialan!", maki Giri dalam hati. "Sidang diundur ngga bilangbilang. Waktuku berharga, sangat berharga. Kalau tahu diundur dua jam, lebih baik mampir dulu ke rumah Via...dua jam", desis Giri kesal. Via berhasil membuat Giri kembali muda. Laki-laki itu tidak pernah

128

menyangka, diumurnya saat ini ia masih mampu memuaskan seorang gadis yang nafsunya sebesar itu. Giri melihat sosok tubuh istrinya berjalan meniti koridor. Tubuh semampai. Tungkai panjang langsing, semua ukuran vitalnya ideal. Tubuh sangat indah. Tubuh peragawati. Warna rambutnya baru, dicat coklat. Profil wajahnya makin menyerupai wajah Eropa. Tapi wajah cantiknya terlihat lelah. Sinar kepedihan terpancar dari matanya. "What's wrong Kay? This is your choice...", tanya Giri di hati. Melihat wanita yang sebentar lagi menjadi mantan istri, dada Giri masih bergetar. 'Shiitt! Aku masih mencintainya...', keluh laki-laki itu. "Hai Kay...sidang ditunda, koq kamu ngga kasih tahu aku?", tanya Giri wajar, setelah berhadapan. "Aku juga baru ditelepon pagi ini, baru aja...dalam perjalanan ke sini". Suaranya masih seperti dulu. Bening. Kay menatap laki-laki itu lekat-lekat, "Kamu keliatan seger sekarang, keliatan lebih muda...Jj told me about tante Via, well...she makes you look great...how old is she?". Kilat rasa cemburu terpancar dari matanya. Giri tersenyum, tidak menjawab pertanyaannya, "Kamu keliatan kacau Kay..." "Bukan urusan kamu!!" Lebih dua tahun terakhir, Kay memang sudah tidak lagi menjadikan lakilaki itu bagian dari hidupnya. Juga saat ini, tidak ada gunanya membicarakan personal life. Urusan masing-masing sekarang. Diam-diam Giri duduk di kursi tunggu. Kay menyusul duduk di sebelahnya. Diam, hening. Hati keduanya saling berbicara sendiri-sendiri. Sejenak kemudian, suara lirih Kay mengagetkan Giri. Bukan...bukan suara itu yang mengagetkan, tapi kata-kata yang disampaikan...ceritanya. "Bener Gi...hidupku kacau..." Kay berhenti beberapa saat, suasana hening lagi. Giri menatap istrinya, tidak bertanya-tanya. Giri tahu benar sifat Kay, satu pertanyaan kecil akan membuat hati itu tertutup lagi. "Aku ngga tahu lagi mana benar, mana salah. Ngga tahu lagi mana kenyataan atau hanya harapan dalam mimpi...ngga tahu lagi siapa

129

diriku..." (Cerita Kay memang kacau. Sulit untuk mengingat setiap katanya secara urut untuk dituliskan dalam diary. Berputar-putar, meloncat-loncat. Hanya kesimpulan saya sendiri yang dapat dituliskan.) Kay dalam perawatan psikiater! Kelelahan batin berkepanjangan meledak di kantornya. Ia melempar mug penuh berisi di ruang meeting, ketika tidak mampu beragumentasi mengenai pekerjaannya. Kay cuti panjang, mencari pertolongan psikiater. Dalam terapi terungkap. Kebencian sang ibu berawal dari keputusan Kay menikah dengan Giri, tapi tidak pernah diungkapkan dalam masa pacaran. Proses berikutnya berlangsung cepat. Lamaran, tukar cincin, persiapan pernikahan, semuanya dilewati tanpa ungkapan tulus calon ibu mertua Giri. Bentuk kebencian itu menjadi merambah ke segala rupa. Di tahun-tahun pertama pernikahan, tidak ada satu perbuatan Giri yang benar di mata ibu mertua. Rumah tinggal tersedia, yang bagi pasangan muda lainnya diperoleh dengan mencicil, tidak disyukuri. Malahan dicela dengan kebencian. Itu sangat mempengaruhi kebahagiaan hati Kay. Lalu selama lima tahun pernikahan, terbentuk sosok menantu sempurna sang ibu di mata Kay. Jauh lebih tua, jauh lebih mapan, berkedudukan, memiliki segala. Jauh dari keadaan Giri di awal-awal pernikahan. Berjuang mencari kerja. Pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, demi peningkatan penghasilan layak. Rumah pemberian orang tua. Mobil...termurah yang bisa dicicil. Wow...semua ini ternyata soal materi. Obsesi sang ibu, membebani si anak. "Aku sekarang dapet semua Gi...semua!...kecuali yang satu itu..." Diam lagi lama sekali. Lalu lanjutnya lirih, "Ia terlalu cepat selesai...kamu gimana dengan Via?"

130

Laki-laki itu kikuk dengan topik ini. Sekarang menjadi urusan masingmasing. "Gimana apanya?...hhmm...Via temen jalan, nonton, ngobrolngobrol...aku juga butuh temen Kay...semua manusia butuh temen..." "Is she good in sex?", tanyanya tanpa rasa sungkan. "Kay?!?" "Tell me Gi...how long you having sex with her...an hour?...two hours?" "Kay!!...that's my personal life!" "Come on...tell me, how many orgasm you give to her...five?...ten?...or more?" "Kay...stop it!" "I got nothing Gi...he needs hard effort to erect and finish too soon..." Suara Kay sungguh merana, mengenaskan. Astaga Kay! Kenapa kamu jadi serakah seperti ini, ingin semuanya? "Kamu mencintainya Kay?", tanya Giri Perlahan wajah sendu yang diliputi kesedihan tersenyum, lalu terbahak. Mengerikan perubahan mimik itu. "Apa artinya cinta Gi?", Kay melanjutkan tawanya. Tawa melecehkan. Lagi-lagi emosinya berubah. Sekarang ada dikutub kesedihan. Dengan kesedihan mendalam Kay melanjutkan, "Aku pernah mencintai satu orang laki-laki Gi. Seutuhnya. Semua aku berikan...milikku satu-satunya, harapanku, masa depanku. Melawan orang tua untuk cintaku, ngga ada yang lebih berat dari itu Gi." Kay terdiam lagi. Matanya menerawang. "Tapi ternyata aku salah...cintanya tidak utuh..." Giri tahu, Kay sedang membicarakan dirinya. "Kay...kamu selalu menghakimi untuk perbuatan yang tidak pernah terjadi..." Kay menggelengkan kepala, "Bohong!!!", desisnya. "Buat apa ada kondom di laci mobil? Kita pengen sekali punya anak waktu itu!". Suara Kay meninggi.

131

(Itu memang kebodohan sebodoh-bodohnya...lupa Bo!) "Kamu ngga pernah berani untuk menghitung kondom itu Kay. Kalau kamu berani, kamu akan tahu, jumlahnya masih utuh... !" "Tapi ada niat malam itu Gi...terjadi atau tidak...itu cuma soal waktu..." "Oke Kay...kalo kamu bilang baru niatpun udah salah...aku akui, aku salah...aku yang mulai...aku udah minta maaf Kay, tiga tahun aku minta maaf..." "Tidak!", desis Kay. "Laki-laki itu cinta pertamaku Gi...matahariku, hidupku! Seharusnya ia tahu, ia ngga boleh buat kesalahan seperti itu..." "Kay!!...dia cuma laki-laki biasa...yang juga bisa buat kesalahan...dan kamu udah membalasnya Kay. Astaga Kay!! Tiga kali kamu udah membalasnya...Arif, Heru, dan pacar kamu sekarang" "Kamu pikir aku menikmati Gi?", tanya Kay melecehkan. "Ketika ada laki-laki yang bukan suamiku, menelanjangi, mengendus, menjilat, menggagahi, menumpahkan sesuatu ke tubuhku...kamu pikir aku menikmati??". Suara Kay bergetar. Tubuhnya juga bergetar. "Aku jijik Gi...aku jijik". Giri terdiam. Setelah tiga tahun, ini pertama kali Kay membagi perasaannya. Kay juga terdiam. Hening suasana di ruang tunggu pengadilan itu. Gambaran utuh sekarang ada di benak laki-laki itu. Tidak ada restu dari ibunya, menyebabkan Kay frustasi. Cintanya pada Giri dipertaruhkan. Kay ingin membuktikan Giri adalah pilihan yang tepat. Suaminya diletakkan di tempat yang paling tinggi dalam hatinya. Ketika laki-laki itu membuat kesalahan, hati istrinya hancur, pecah berkeping-keping. Dan, wanita itu tidak pernah bisa menyatukan kepingan itu kembali. "Kenapa harus ada yang kedua dan ketiga Kay? Aku bisa ngerti yang pertama...kamu membalas sakit hati, tapi yang kedua?...lalu yang ketiga??"

132

Kay masih terdiam sesaat. Lalu menjawab lirih, "Cuma kamu yang bisa puasin aku..." Tubuh pria itu menggigil mendengar kata-kata istrinya. Kay sangat terikat dengan kepuasan seks yang diberikan suaminya. Ingatan Giri melayang ketika satu malam Kay meminta itu dengan menggebu penuh nafsu. Pulang larut malam. Masih mengenakan pakaian kerja, Kay memburu Giri untuk persetubuhan liar. Keduanya saling mengucapkan kata-kata rindu, cumbu rayu mesra. Pria itu memberi kepuasan total, sebanyak yang dibutuhkan sang istri. Kay lupa. Giri punya kebiasan mencuci pakaian dalam istrinya. Subuh hari berikutnya laki-laki itu tersentak hebat. Ia melihat bercak pada celana dalam Kay yang dipakai seharian di kantor. Bukan bercak lurus pada bekas belahan tanda suburnya kewanitaan. Tapi bercak melebar tanda bekas persetubuhan. Setiap laki-laki yang punya perhatian pada kebersihan daerah intim istri pasti mengenal bercak semacam itu. Giri meyakinkan sekali lagi, mencium bercak itu. Benar, bau samar cairan laki-laki. Cairan kejantanan yang bukan miliknya. Celana dalam istrinya dilepas sesaat sebelum persetubuhan dengan dirinya. Setelah itu Kay tidur telanjang bulat tanpa pakaian dalam. Giri merasakan kesakitan amat sangat di kedalaman hatinya. Tubuhnya bergetar. Kay memang pernah mengancam membalas perbuatannya. Ia sudah menyiapkan diri untuk saat-saat seperti itu. Tapi ketika sungguhsungguh menghadapi, persiapannya masih kurang. Pria itu meraung keras dalam kamar mandi. Sakit akibat tikaman balasan bertambah perih. Laki-laki itu sadar, gairah Kay semalam bukan karena kerinduan pada suaminya, tapi karena pacarnya tidak mampu memuaskan. 'Cuma kamu yang bisa puasin aku Gi', kata-kata itu masih terngiang dalam benaknya. Ia mengerti kini. Dalam perselingkuhan selanjutnya, Kay mencari sosok laki-laki yang bisa memuaskannya. Giri menghela napas panjang. Nasi sudah menjadi bubur. Kay tidak mau memaafkan. Giri tidak mampu memundurkan waktu. Itu memang kesalahannya. Kesalahan terbesar

133

sepanjang hidupnya. Tapi apakah ada suami istri yang tidak berbuat kesalahan? ***** Selama sidang terakhir ini Kay betul-betul kacau. Bicaranya memutar tidak terarah. Sampai-sampai ketua majelis hakim perlu mengingatkannya berkali-kali. Satu kali sempat disinggung niatnya untuk membatalkan persidangan. Lalu terdiam lama, dan sejenak kemudian menangguhkan niat tadi. Giri hanya diam melihat wanita yang hanya beberapa saat lagi menjadi mantan istrinya. Perhatiannya baru tercurah sepenuhnya ketika Kay berbicara soal Jj. Lagi, istrinya bicara berputar-putar. Ia ingin tetap mengasuh anaknya, tapi kesibukan pekerjaan membuatnya ragu. Ketua hakim menjawab, semua orang tua juga bekerja dan setelah itu mengurus anak. Tapi Kay tetap ragu. Sampai akhirnya keluar pernyataan lirih, "Saya serahkan anak hasil perkawinan pada tergugat..." Giri meraba-raba maksud istrinya. Dan feeling yang Giri rasakan...keragu-raguan Kay mengenai hak perwalian Jj lebih disebabkan keraguannya terhadap laki-laki pacarnya sekarang. Giri memandang istrinya, Kay membalas tatapan suaminya. Keduanya saling menatap sebagai suami-istri terakhir kali. Suara ketukan palu sidang terakhir menghentikan tatapan mata mereka. ***** Kehidupan Giri Menjadi single parent merupakan tantangan terberat Giri saat ini. Ia tidak pernah memimpikan, apalagi mencita-citakan. Bekerja, mengurus rumah, mengurus belanjaan. Belanja bulanan juga mengatur menu harian untuk makanan hari itu. Dan yang paling berat...mengurus Jj.

134

Terlebih lagi, Giri harus menghadapi tanda-tanda Jj mengalami traumatis di tinggal ibunya. Usia Jj masih terlalu muda untuk menghadapi ini semua. Jj tidak pernah mau di tinggal daddy-nya. Bahkan ketika Giri harus pergi ke kantor pun, Jj merengek tidak mau ditinggal. Bagi bocah berusia tiga tahun itu, 'ditinggal' adalah sesuatu yang paling menakutkan. Bagai menghadapi hantu neraka jahanam. Semasa lajang, Giri yakin dengan dirinya. Menghadapi tekanan seberat apapun, surviving spirit dalam dirinya selalu memberi jalan keluar. Tapi dengan hidup Jj berada dalam tanggung jawabnya, Giri bertanyatanya, sekuat apakah kedalaman dirinya. Pekerjaan Giri yang pertama-tama terkena. "Kamu telat lagi Gi...kemarin aku udah ingetin, hari ini ada agenda meeting ke client", Rena mengingatkan. "Sorry Re...sorry...", pinta Giri setulusnya. "Boss nyariin?". Wajah Giri kacau. Rena mengangguk, semburat cemas terpancar dari wajahnya. "Boss udah duluan, kita disuruh nyusul...Gi, for you info...Yos goes with Boss..." "Shhiittt!!!...ngapain!!", seru Giri senewen. "Ini bukan client dia..." Rena mengangkat bahu, "Setahuku...if you're not available, Boss depends on him..." Giri melirik jam tangan, masih sempat. 'Ohhh shit, aku belum menyiapkan file-fileku', keluh Giri. Seakan mampu membaca pikiran laki-laki itu, Rena menjelaskan situasi tim mereka. "Aku udah siapin semua dokumen kerja, juga notebook, tapi worksheet pribadi kamu aku ngga tahu..." "Ayo udah berangkat Re...notes pribadiku ada di sini...", seru Giri cepat, sambil mengetuk keningnya dengan telunjuk. Hening suasana di kabin Toyota Kijang, kendaraan dinas perusahaan. Giri bahkan melarang supir menyalakan radio. Laki-laki itu butuh ketenangan saat ini. "Jj belum mau ditinggal Gi?", tanya Rena perlahan. Beberapa kali wanita itu menjadi teman curhat Giri. Sedikit banyak Rena tahu persoalan Giri sebagai seorang single father. Giri menggeleng, "Bukan soal itu...Jj sakit..." "Sakit apa?", suara Rena cemas.

135

"Belum tahu...dua hari dua malem Jj panas...panasnya naik-turun. Tadi malem aku bawa ke rumah sakit..." "Di rawat Gi?" Laki-laki itu menggeleng lagi, "Ngga...masuk ke emergency. Test demam berdarah negatif, trombositnya bagus. Thypus juga ngga. Jadi tadi pagi boleh pulang" "Mungkin mouth and foot Gi...kan sekarang banyak anak-anak yang kena..." Penyakit itu memang sedang heboh di negeri tetangga. "Bukan Re...gejalanya ngga ada. Menurut dokter semalem, tandanya bercak merah di mulut dan di buku jari kaki, kalo emang kena itu di hari ketiga panas gejalanya udah kelihatan..." Hening sejenak. "Sekarang yang nungguin siapa?" "Pengasuhnya" Hening lagi sebentar, Rena bertanya lagi, "Gi...kamu ngga kasih tahu Kay?" Laki-laki itu menggeleng perlahan. "Rabu malem waktu panas Jj lagi tinggi-tingginya, aku telepon dia. Kay lagi dugem di Hardrock...kalo saat itu aku bilang Jj sakit, kayanya juga percuma..." Hening lagi. Rena memperhatikan mata laki-laki itu menerawang. Ia tidak bertanya-tanya lagi. Tangannya meraih tangan laki-laki itu. Menggenggamnya. Jemari lentik itu lalu mengelus tangan Giri. Sentuhan sayang seorang sahabat Mata Giri menatap keluar. Pandangannya kosong menerawang. ***** Wanita itu terkesima dengan pemandangan yang dilihatnya pertama kali ketika memasuki kamar Jj. Giri sedang menyuapi anaknya, saat Rena datang menjenguk Jumat malam itu. "Laki-laki menyuapi anaknya??", desis Rena dalam hati. Sosok lain pribadi Giri yang baru dilihatnya.

136

"Jj Sayang...Jj sakit apa?", tangan halus wanita itu mengusap kepala Jj. "Masih panas Gi..." Giri hanya mengangguk. "Cini Cayang...tante yang suapin ya..." Jj berusaha tersenyum melihat Rena datang. Senyum lemah dengan mata sedikit terkatup. Jj sudah mengenal tante Rena, juga kenal dengan tante Via. Tapi bocah itu lebih lengket dengan Rena. Dan beberapa kali Giri memang memperhatikan dengan cermat, Rena tulus berempaty atas soal Jj. Di mata Giri, Rena memiliki sense keibuan yang tidak dimiliki Via. Dan kali ini, Jj pun menunjukan rasa sukanya terhadap Rena. Makannya berusaha lebih lahap. "Tante...tante koq mau sih suapin Jj?", tanya anak itu di sela-sela suapan makanan. "Bubu aja ngga mau urus Jj...", katanya polos. Air mata Rena mengembang, hatinya selalu merasa teriris melihat teganya seorang ibu meninggalkan anak. "Jj maem dulu... ". Perasaannya sesama wanita meruah, "....mungkin Bubu belum tahu kalo Jj sakit...". Rena mengoceh tentang hal lain. Mendongeng, mendengar celoteh Jj soal mobil, sekolah baru. Selesai menyuapi, wanita itu tetap menemani Jj di sebelah tempat tidurnya. Seluruh perhatiannya tercurah untuk Jj. Seakan anak itu menjadi tumpahan kerinduan Rena pada anak yang ingin dikandungnya sendiri. Suara lembut dan elusan perlahan wanita itu pada Jj, menyebabkan Jj cepat tertidur nyenyak. Menebus gelisah tidur malam sebelumnya. Giri menatap rekan sekantornya. Dada laki-laki itu berdesir. Lalu bergetar. Getaran yang berasal dari kedalaman hati. Bukan getaran birahi. Getaran itu meruah menyesakkan dada. Memberi Giri suatu rasa yang belum pernah dialami sejak Kay pergi. Hatinya seperti tersayat, teriris-iris. Satu potongan hati teriris menjadi potongan lebih kecil. Teriris lagi menjadi lebih kecil lagi. Setiap irisan menimbulkan rasa sakit tak terperikan. Begitu cepat proses irisan

137

itu. Sekejap kemudian Giri merasakan bolong di kedalaman dadanya. Rasa kesepian yang amat sangat. Ia merintih di kedalaman hatinya. "Aku hanya laki-laki biasa...yang juga butuh seorang teman". Laki-laki itu memandang wanita rekan sekantornya, menatapnya lekatlekat. Rena balas memandangnya, tersenyum manis. ***** Kehidupan Rena Setelah Marco pergi ke Aussie setahun lalu. Rena nyaris tidak memiliki kehidupan pribadi, dalam arti pacar. Statusnya masih istri orang. Rena juga bukan tipe wanita yang mudah dekat dengan pria. Kedekatannya dengan Giri semata-mata karena persoalan yang sama. Pernikahan yang tidak berjalan semestinya. (Cerita tentang latar Rena, saya rangkum dari beberapa kali curhatnya) Tahun ketiga perkawinan tanpa anak, mulai terasa membosankan bagi keduanya. Dingin. Bicara seperlunya. Tidak ada gairah. Tidur mulai saling membelakangi. Marco mulai lebih memikirkan bisnisnya. Lebih sering bersama teman bisnis, mengembangkan bisnis baru. Malaysia, Aussie, hingga Caymand Island. Tidak ada pengkhianatan cinta, tapi gairah api cinta mulai padam. Kemesraan suami istri hanya dipamerkan dalam acara keluarga. Bergandengan tangan, berpelukan pinggang, saling mencium pipi, saling memanggil 'Honey', semua itu hanya pameran dusta. Sesaat kemudian, belum sampai di apartemen mereka, suasana dingin langsung menyergap seketika. Diam, tanpa kata. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

138

Tidak ada perkelahian. Tidak ada ledakan kemarahan. Tapi dinginnya perkawinan membunuh mereka perlahan-lahan. Jauh di kedalaman hati, Rena dan Marco saling menuduh...kamu mandul. Rena tidak tahan. Ia memulai konsultasi dengan ahli kandungan, tanpa sepengetahuan Marco. Hasilnya... tidak ada yang salah dengan reproduksi Rena. Semua normal. Rena berharap semuanya akan berjalan baik. Ternyata memeriksakan diri ke seorang ahli tidak menakutkan seperti yang selama ini dibayangkannya. Dengan hati berdebar, ia pulang membawa kabar baik untuk Marco, suaminya. Marco salah sangka. Konsultasi diam-diam dengan hasil memuaskan di pihak Rena, dianggap Marco sebagai 'Judas Kiss'. Tanpa peringatan menusuk diam-diam dari belakang. Sesuatu yang paling dibencinya dalam berbisnis, perbuatan paling hina serendahnya. Tuduhan itu terlalu berat untuk Rena. Hatinya hancur, pecah berkepingkeping. Malam itu, pertama kali Rena tidur di rumah orangtuanya setelah lebih tiga tahun menikah. Pameran kemesraan hancur, busuknya dingin pernikahan mulai tercium. Mama Rena, seorang ibu bijaksana, sudah lama mencium ketidakberesan. Menerima anak perempuan satu-satunya di dalam pelukan seorang ibu. Rena menangis, meraung di pangkuan Mama. Ledakan kelelahan batin berkepanjangan. Mereka berpisah tanpa kata. Rena tinggal di rumah orang tuanya. Marco pergi ke Australia. Hati lelah akibat dinginnya perkawinan, bertambah lelah karena sepi dalam kesendirian. Satu lelaki pernah mengejarnya dengan menggebu. Namun Rena tahu ia suami orang, bapak dari dua orang anak perempuan lucu. Istrinya pun Rena kenal. Dengan sopan selalu ditolaknya ajakan Yos, meskipun hanya untuk makan malam.

139

Seorang pria memberinya kedekatan, namun hanya dalam batas persahabatan. Berita terakhir tentang Marco didengarnya dari seorang teman kuliah dahulu di Australia. Suaminya telah tinggal satu apartemen dengan seorang gadis indo. Berita itu membulatkan tekad Rena. Semakin lama semakin ia butuh sentuhan laki-laki. Tapi ia tidak mudah menyerahkan tubuh ke sembarang laki-laki, apalagi tanpa ada kedekatan emosi. Dan pria didekatnya sekarang ini adalah laki-laki terdekat dihatinya. ***** Dua hati lelah bertemu. Awal November '99 Dambaan sentuhan dan kekosongan jiwa, bagai percikan api tersiram bensin melanda keduanya. Kobaran api menjilat relung hati. Membakar birahi. Rena sedang duduk di karpet tebal di ruang TV, menyandar ke sofa, ketika laki-laki itu menghampiri, mencium rambutnya. Kedua tangan kukuh itu memegangi bahunya. "Thanks ya Re..." Giri mencium rambutnya dengan penuh rasa. Rasa kebutuhan yang amat sangat akan seorang teman wanita. Rena menyambut rasa itu dengan gairah terpendam untuk bercinta. Setahun sudah Marco pergi. Setahun sebelumnya, Marco tidak pernah lagi menyentuh dirinya. Dua tahun Rena tidak di sentuh oleh seorang pria. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan. Dada wanita itu berdebaran. Debaran diiringi gairah birahi terpendam. Ciuman itu sungguh menggetarkan kedalaman hati Rena. Tangannya memegangi tangan pria itu. Jemari lentik mengelus tangan kukuh. Matanya terpejam. Kepalanya mendongak. Giri menyambut dengan mencium pipinya. Lalu keduanya saling menggesekkan pipi. Mendesahkan katakata mesra yang belum pernah terucap selama hubungan profesi mereka.

140

Dua hari Giri tidak mencukur rambut di dagu dan rahangnya. Rambut kasar itu memarut pipi Rena dan sebagian pangkal leher. Akibatnya sungguh hebat. Tubuh Rena menggelinjang. Rambut halus di sepanjang lengan wanita itu meremang, berdiri. "Giii...", suara Rena bergetar. "Ohhh...aku suka ini Giii...". Jemari lentik itu mengelus-elus rambut kasar di rahang kukuh sang pria. Giri menyambut gairah yang terpancar dari diri Rena. Bibir pria itu mencari bibir lembut si wanita. Kedua bibir berciuman, berpagutan dalam birahi, sepenuh emosi yang ada di keduanya. Tangan laki-laki itu meraba bukit kembar di dada Rena, meremas kedua payudara. Bibir wanita itu lepas dari pagutan birahi, mendesah panjang, "Ooohhhhhhh...Giii...." Kepalanya semakin mendongak, memberikan seluruh leher mulus itu untuk dicium dengan bibir dan diparut dengan rambut kasar. Tubuh wanita itu menggelinjang lagi. Bercumbu dengan laki-laki berambut kasar di dagu dan di rahang kukuh, pria rekan sekantornya, merupakan puncak seluruh fantasi Rena selama ini. Dengan perlahan dan lembut jemari laki-laki itu membuka kancing blusnya. Lalu menelusup masuk ke dalam branya, mencari kedua puncak payudara. Memilin kedua puting itu perlahan. Tubuh Rena bergetar. Bagai bendungan jebol, kata yang terucap menyemburkan seluruh gairah birahi. "Giii...aku mau...ssshhhh..." Giri merasakan percumbuan yang sangat berbeda dengan yang dialami bersama Via. Cumbuan saat ini begitu penuh gairah dan emosi di dalamnya. Penuh perasaan. Dan, penuhnya perasaan itu mengobati kekosongan jiwa yang menyerikan hati selama ini. Giri merebahkan tubuh Rena di sofa. Keduanya bergumul dalam gairah dan emosi terpendam. ***** Persetubuhan tadi sungguh hebat bagi Rena. Dalam keremangan ruang keluarga. Dalam diam, hanya sesekali suara erangan dan jeritan tertahan.

141

Giri adalah laki-laki ketiga yang menyetubuhinya. Pacarnya di Aussie yang pertama merenggut keperawanan. Persetubuhan yang tidak bisa dinikmati. Tegang, sakit, dan Rendy juga bukan ahli bercinta. Gairahnya meledak-ledak tanpa penguasaan diri. Selalu terlalu cepat selesai. Lalu Marco suaminya. Marco menyetubuhi Rena pertama kali setahun sebelum pernikahan mereka. Marco lebih tenang. Cenderung dingin. Setelah mengalami gaya persetubuhan meledak-ledak tanpa kendali bersama Rendy, mula-mula Rena menyukai style Marco. Tapi setelah pernikahan, bukan lagi agak dingin, berubah semakin dingin. Lalu menjadi sedingin es tanpa gairah. Dibanding kedua yang pertama, laki-laki yang memeluknya sekarang ini, rekan sekantornya, ternyata pria jantan sejantannya. Gaya pria ini berbagai rupa. Terkadang lembut, menyentuh hati. Terkadang bersemangat penuh gairah. Lalu kembali lembut. Lalu liar, kasar, menyentak-nyetak. Dan bisa tiba-tiba berhenti, menunggu rengekan untuk melanjutkan. Rena memeluk erat-erat tubuh Giri. Ciuman bibir dan parutan rambut kasar pada leher dan pangkal payudara, membuat rambut halus di seluruh tubuh wanita itu meremang. Dagu Rendy hanya sedikit ditumbuhi rambut. Marco sama sekali tidak. Selama ini ketika berdekatan dengan Giri, Rena selalu berfantasi membayangkan seperti apa rasanya. Sensasi itu di luar perkiraan. Wanita itu meminta sang lelaki terus memarut kulit halusnya. Leher, bahu, pangkal payudara. Hisapan bibir dan jilatan lidah pada puncak payudara melambungkan Rena. Membawanya terbang meraih khayalan selama ini. Cumbuan bibir dan lidah laki-laki itu pada kewanitaan Rena, membuat wanita itu menancapkan kuku mencakar lengan si pria. Saat pertama kejantanan Giri memasuki tubuhnya. Rena tersentak hebat. Menjerit tertahan. Matanya membelak. Bibir sexy wanita itu menganga lebar, menjerit tanpa suara. Milik laki-laki itu sungguh besar bagi kewanitaannya. Ketika menerobos masuk, bibir-bibir lembut pada pangkal pahanya ikut melesak masuk. Ketika menelusur keluar, dinding kewanitaan seakan tertarik oleh bonggol kepala kejantanan itu

142

Cara laki-laki itu mengayunkan panggul menyebabkan wanita itu mabuk kepayang. Maju-mundur cepat dan mantap, sesekali mendesak bukit kewanitaan Rena. Kejantanan itu bukan hanya menggesek liang kewanitaan, tapi juga menggesek kelentit. Rasa nikmat yang melanda tubuh wanita itu tak tertahankan. Membuat si wanita menggigit bahu pria itu. Pria itu sangat menguasai permainan. Entah berapa posisi bercinta yang digunakan untuk memuaskan Rena, wanita itu tidak bisa mengingatnya. Di sofa dalam posisi tidur, lalu duduk, kemudian membungkuk setengah berdiri. Terlentang di karpet dengan kedua paha terbuka lebar. Doggystle, lalu saat tangan dan tungkai Rena lemas, tubuhnya direbahkan telungkup dengan pinggul diganjal bantal. Rebahan miring di karpet, satu kaki diangkat mendekati wajah si pria. Persetubuhan tadi menggetarkan seluruh tubuh Rena. Obsesi pria itu untuk memberi kepuasan berlebih sungguh mengharukan perasaannya. Dua tahun tubuhnya kering kerontang. Serbuan birahi laki-laki itu bagaikan curahan hujan lebat dalam badai, membanjiri kewanitaannya. Belum pernah Rena mengalami gelombang ledakan birahi bertubi-tubi seperti tadi. Satu gelombang datang bergulung, lalu meledak pecah. Gelombang lain datang, belum sampai pecah, gelombang lainnya sudah datang lagi bergulung, pecah bersusulan. Akibatnya sungguh hebat bagi diri Rena. Giri tidak memberinya kesempatan beristirahat menghadapi orgasme bersusulan. Hanya satu kata yang mampu Rena ucapkan, memohon pada laki-laki itu untuk menghentikan semuanya. Lalu tubuh Giri menegang. Panggulnya berkejat-kejat. Kejantanan laki-laki itu menumpahkan cairan dalam tubuh Rena. Tanda puncak kegagahannya. Kedua tubuh itu tergolek, menyandarkan punggung pada sandaran sofa. "Gi...kamu nyesel?", tanya Rena setelah napasnya kembali teratur. Kepalanya menyandar di dada bidang laki-laki itu. Jemari lentik kembali mengelus rambut kasar di rahang kukuh. Giri diam tidak menjawab. Hatinya gamang. Rena adalah rekan sekantor.

143

Satu profesi dengan dirinya. Malam ini satu etika profesi, tidak bersetubuh dengan teman wanita sekantor, dilanggarnya. Kesepian hati mengakibatkan itu. Tapi menyesal, lalu menyalahkan wanita ini? Tidak! Bibirnya mencium kening teman terdekatnya. "Ngga Re...cepat atau lambat ini pasti terjadi..." "Ouhhh thanks Gi...aku takut kamu nyesel, terus hubungan kita di kantor jadi rusak..." Giri memeluk tubuh wanita itu erat. Menyatukan rasa yang masih penuh dalam dadanya. Sesuatu yang laki-laki itu sukai, persetubuhan dengan emosi. "Gi...boleh aku bilang sesuatu ngga?" "Hhhmmm..." "Ini ML paling sempurna yang pernah aku rasain...kamu hebat sekali Gi..." "Kamu suka?" "Nngghh...suka sekali...yang pertama dulu kacau Gi...tegang, lalu rasanya terlalu cepet...tapi gimanapun juga...yang pertama pasti akan teringat selamanya...dan aku mau inget-inget ini, sebagai ML pertama yang paling hebat..." "ML pertama paling hebat?", gumam Giri di hati. ML pertama laki-laki itu amat sangat hebat!!! ***** Saat pertama Tiga remaja tanggung itu saling berebut tempat untuk dapat menancapkan pandang mata melalui lubang di papan, melihat adegan seru yang berlangsung di dalam bilik sempit. Adegan yang seharusnya belum boleh mereka lihat, persetubuhan laki-laki dewasa dengan perempuan muda penjaja tubuh. "Gi...gantian dong...", seorang temannya berseru perlahan. "Entar dulu dong...gue juga baru aja!!!", desis Giri. Teman satu lagi, yang sudah mendapat giliran lebih dulu, mulai membuka ritsleting celana. Menyandar di dinding lorong sempit dan gelap, membayangkan adegan yang baru saja dilihatnya. Tangannya mulai meraba-raba burung kecil miliknya yang sudah membesar.

144

"Gi...udah dong!!!" "Sabaaarrr...". Burung Giri juga mulai bangun, mengeras. Tapi miliknya sama sekali tidak kecil. Dan itu yang selalu dibanggakan pada teman-temannya. Tangannya mulai membuka ritsleting. Harus cepat dibuka. Terlambat sedikit, kungkungan celana jeans akan menyakiti. "Heiii!!!", suara seorang gadis remaja. "Ngintip orang lagi ngewe!! Entar gue aduin sama bang Goim...Eh elu!!!...Mana udah ngeluarin burung lagi...", Sari, gadis itu mulai menjerit. "Bang...bang Goim!!...Ini nih anak-anak yang elo cari-cari!!" Dua remaja bubar menyelamatkan diri. Giri terlambat. Burung mengeras miliknya terlalu besar untuk bisa segera dimasukkan dalam sarang celana jeans. Wajahnya meringis menahan sakit. "Bang!!!", jerit Sari lagi. "Ini ada satu yang ketinggalan...make celana aja kagak becus, udah mau belajar ngewe..." Bang Goim datang. Raja preman di lokalisasi ini. 'PI'...bukan Pondok Indah, tapi Pejompongan Indah. Lokalisasi di sebelah kompleks rumah Giri semasa kecil. Sebelum Pondok Indah perumahan mewah itu ada, Pejompongan Indah sudah kesohor. Salah satu tempat pelacuran terlaris di ibukota. Tangan raksasa itu melayang menuju ke arah kepala Giri. Dasar-dasar taekwondo yang sudah setahun dipelajari bocah remaja itu, membuat ia mampu refleks menyelamatkan kepalanya. Tangannya mencari kesimbangan, tidak lagi menutupi burung besar miliknya. Dalam keremangan lorong, Sari pelacur muda itu melihat ukuran kejantanan yang tidak biasa di miliki remaja. Dadanya berdesir. 'Gile...kontole gede banget. Masih jejaka kali ya?', pikirnya. Spontan.

145

Jeritan Sari mulai melindungi Giri. "Bang!! Jangan digampar Bang...mati nanti anak orang..." Bang Goim penasaran. Jarang tamparannya meleset. Menghadapi jawara pun pukulannya ampuh mematikan. Apalagi cuma anak ingusan yang belum becus memakai celana. Tangan kekar itu mengambil ancang-ancang, siap melayangkan tamparan berikutnya. "Jangan Bang!!!", jerit Sari lagi. "Jejaka dia Bang...buat Sari...", kalimat terakhir diucapkan perlahan. Bang Goim memandang anak asuh dalam lindungannya. Wajah cantik itu menghiba. "Sana masuk !!!...temenin anak gue...", menggeledek suara bang Goim, memerintahkan Giri masuk ke salah satu rumah plesiran Sari alias Surti menggandeng lengan Giri memasuki bilik besar miliknya. Reputasinya bertahun-tahun sebagai kembang PI membuatnya mampu memiliki bilik sendiri. Sari masih berusia 18 tahun, tapi untuk profesi ini ia sudah dianggap tua. Lima tahun Sari bertengger pada puncak ketenaran sebagai kembang lokalisasi. Reputasi mengagumkan. Mulai dengan menjual perawan di usia 13 tahun, ditambah dengan wajah cantik dan tubuh molek, pamor nama Sari melejit menghilangkan nama Surti, nama asli di kampungnya. Memasuki usianya sekarang, pelanggan Sari menyusut banyak. Bukan karena pudar kecantikannya dan hilang kemolekan tubuhnya, tapi karena banyaknya pasokan daging baru lebih muda dan segar. Siklus alami dalam dunia penjaja tubuh. Mulai dicampakkan oleh germo kelas satu, Surti enggan diasuh oleh germo kelas kambing. Bang Goim menawarkan pekerjaan baru. Menjadi piaraan sobat karibnya. Hanya satu langganan yang harus dilayani, seorang Kolonel Angkatan Darat. Sari menerima, bayarannya menggiurkan. Dan juga, ia ingin beristirahat setelah lima tahun bekerja melelahkan tubuh dan jiwa.

146

"Nama kamu siapa?", tanya Sari ramah. "Tino", suara Giri gemetar. Tubuhnya juga gemetar, tungkainya pun gemetar. "Titit nongol...", kelakarnya mengurangi ketegangan. Nama yang selintas muncul. Improvisasinya untuk mengatasi tekanan memang hebat. Bakat alam. Melihat gemetar tubuh remaja itu, Sari si pelacur cantik berpengalaman menyadari, ia dapat jejaka ting-ting. Senyum manis terekah dari bibirnya. "Coba mana liat yang nongol...", tangan mungil Sari meraba pangkal paha jejaka itu. Membuka kaitan jeans yang sempat tertutup lagi, lalu membuka ritsleting-nya. "Jangan...", ragu suara Giri. "Pilih...belajar ngewe ama Sari, atau bogem mentah bang Goim..." Tino alias Giri tertawa lirih, "Wah itu sih bukan pilihan..." Dan Sari tidak memberi jejaka itu kesempatan berpikir. Tangannya menurunkan jeans berikut celana dalem. Mulutnya langsung melahap burung milik Giri. Perlahan kejantanan jejaka itu mengeras dalam mulut pelacur cantik itu. Melihat ukuran burung si jejaka, Sari makin bernafsu menggelomoh. Dengan jemari lentik, ludahnya dioleskan merata sepanjang batang itu. Giri merem melek. Sensasi seksual pertama dalam hidupnya. Sungguh di luar dugaan, di luar fantasinya. Tungkainya kembali gemetar. Tidak berapa lama, burungnya mulai berdenyut. Tubuhnya menegang. Sari semakin bernafsu. Tangannya mengocok batang, mulutnya menghisap kepala burung besar. Panggul jejaka itu berkejat-kejat. Lalu meledaklah orgasme pertama Giri dalam mulut seorang pelacur cantik, bukan dengan tangan. Sari menelan seluruh cairan kejantanan yang memancar, tanpa satu tetes pun jatuh ke lantai. Pelacur muda itu tidak memberi kesempatan Giri beristirahat. Nafsu Sari sungguh meluap. Hampir enam bulan melayani pak Kolonel, dan sama sekali ia tidak mendapat kepuasan. Namanya saja tentara, tapi senjatanya mejen alias mati. Pak Kolonel menderita sakit gula. Nafsu masih besar, tapi kejantanan tidak berdaya. Sari melepas kaos jejaka itu. Tubuh Giri direbahkan terlentang di

147

tempat tidur. Lalu menjilati seluruh tubuh remaja muda telanjang di hadapannya, dari bibir turun ke leher. Berlanjut menjilati dada jejaka itu. Terus turun menjilati paha sampai ke jempol kakinya. Mandi kucing. Layanan yang tidak diberikan ke sembarang orang. Hanya sebentar burung Giri mengecil, lalu membesar lagi. Digelomoh lagi, mengeras dan semakin mengeras. Mulut pelacur itu berceloteh ramai mengagumi burung Giri. Sari melepas daster, lalu secepat kilat melepas celana dalam. Mengarahkan kejantanan jejaka itu ke pangkal pahanya. Persatuan kelamin pertama yang akan diingat sepanjang hidup Giri. Tubuh Sari bergoyang binal, liar. Semua pengalaman memuaskan tamu selama lima tahun, dilampiaskan ke tubuh jejaka muda itu. Mulutnya mengoceh, mengeluarkan kata-kata tak senonoh, ciri khas seorang pelacur saat bercinta. Sesekali menjerit sewaktu tubuhnya terlalu keras menekan pangkal paha jejaka, membuat kejantanan itu menyundul mulut rahimnya. Malam itu Sari melahap habis keperjakaan Giri. Pelacur cantik itu mendapat beberapa kali puncak kenikmatan dalam empat kali bersebadan. Pada ledakan birahi yang keempat, kejantanan Giri tidak lagi menyemburkan cairan. Hanya menetes. Dan rasanya tidak lagi nikmat. Kejatan terakhir menyebabkan rasa sakit pada pangkal kejantanan. Sari sangat ketagihan. Setelah pak Kolonel pulang, setiap malam pelacur cantik itu menunggu kedatangan sang jejaka. Sari memegang janjinya pada bang Goim. Hanya satu jejaka ini, tidak ada laki-laki lain. Raja preman itu setiap malam tegang, karena ia terlanjur berjanji pada sobat karib, Sari hanya milik pak Kolonel. Tapi Bang Goim terlalu sayang dengan Sari, sudah dianggap anaknya sendiri. Ia tahu, tentara itu tidak mampu membangunkan senjatanya untuk memuaskan anak asuhnya itu. Giri juga sangat ketagihan. Kecantikan Sari, kemolekan tubuhnya, juga gaya bercinta yang binal dan liar, membelenggu masa remaja Giri. Hampir setiap malam, ya, hampir setiap malam Giri keluar mengendapendap dari kamar tidur di paviliun rumahnya, menembus dinginnya malam, mendatangi pelacur cantik itu. Berdua mereguk anggur kenikmatan sampai tetes terakhir.

148

Kalau satu hari jejaka itu tidak datang, besoknya Sari meminta lebih. Kalau sampai dua hari tidak datang, Sari akan meminta habis-habisan. Pernah Giri sampai dipapah bang Goim, untuk pulang sebelum subuh. Dan yang mengagumkan, persetubuhan liar itu menjadi semacam doping untuk otak Giri remaja. Nilai rata-rata matematika dan fisika sembilan. Nilai lainnya tidak pernah dibawah delapan. Orangtua Giri selalu menganggap anaknya tidak bermasalah. Giri baru bermasalah ketika Sari datang bulan. Empat hari ia berpuasa. Dadanya selalu bergejolak. Otaknya macet, tidak mampu konsentrasi. Tubuhnya menggigil menahan nafsu. Hari kelima daya tahannya untuk menahan nafsu jebol. Jejaka itu menyetubuhi Sari di hari terakhir masa datang bulan. Sisa-sisa darah mens membercaki kain seprei. Bau anyir menyengat di biliknya. Dua bulan Sari alias Surti menjadi 'guru' bocah remaja itu. Dan Giri murid patuh yang mempelajari semuanya. Permainan awal pembangkit birahi, segala posisi bercinta, juga mengatur napas menahan ledakan birahi. Soal satu ini, Giri memiliki bakat alam. Kemampuan bocah itu bertahan di bawah tekanan sangat mengagumkan. Bulan ketiga, pelacur cantik itu mulai kewalahan menghadapi Giri. Tapi Sari tidak rela membagi Giri dengan siapapun. Entah pelacur entah bukan. Pelacur cantik itu mengancam, kalau Giri tertangkap basah bersebadan dengan yang lain, bang Goim dengan senang hati akan menebas burungnya. Giri percaya ancaman Sari, juga percaya raja preman itu tega menebas miliknya yang paling berharga. Dan Giri benar-benar melampiaskan nafsunya hanya pada Sari, tidak dengan yang lain. Giri sangat puas melihat pelacur muda itu terkapar tidak berdaya di bawah hujaman kejantanannya. Juga pelacur cantik itu sangat puas menyadari dirinya tergolek lemah tidak berdaya menghadapi serbuan nafsu Giri. Sari dan Giri berjodoh dalam persetubuhan. Perjodohan yang berbahaya. Hampir setiap hari, kejantanan bergesekan dengan kewanitaan. Setelah setahun, Giri semakin sulit mencapai ledakan birahi. Kejantanannya seakan kebas, hingga sulit orgasme. Dan pada umur itu, Giri baru

149

terpuaskan dengan dua atau tiga kali orgasme. Tenaga Giri seakan tidak ada habisnya. Sari memang bernafsu besar, tapi tenaganya terbatas. Akibatnya...Giri nyaris menghilangkan nyawa seorang gadis, sekalipun ia hanya pelacur. Ledakan kenikmatan bertubi-tubi menerpa tubuh Sari, namun Giri terus menghujamkan kejantanan tanpa kenal lelah. Sari kehabisan napas, tersengal-sengal. Pelacur itu tersedak, kerongkongannya tercekat. Hanya satu kata yang mampu ia ucapkan...ampun. Dan kata itu bagaikan mantera rahasia yang bisa memuaskan gejolak nafsu Giri. Jejaka itu meraung seiring ledakan birahi, rebah di atas tubuh pelacur itu. Disetiap persetubuhan liar selanjutnya, Sari menghentikan Giri dengan erangan lirih memohon ampun. Lima belas tahun usia Giri ketika itu. Pengalaman seks yang terlalu berat untuk remaja seusianya. Pengalaman seks pertama yang membentuk pola dan warna kehidupan seks bocah remaja itu bertahun-tahun kemudian. ***** Giri tersenyum mengingat itu semua. "Kemana gadis itu sekarang?", tanyanya di dalam benak. "Pasti sosoknya bukan gadis lagi, mungkin ibu dari beberapa orang anak." Entah mengapa ia menyukai Sari. Tidak ada kata-kata cinta dalam hubungannya dengan pelacur itu. Hanya nafsu semata seakan magnet yang menarik keduanya. Tapi juga tanpa pertengkaran. Setiap kali Giri datang ke biliknya, Sari melayani jejaka itu seperti seorang istri melayani suaminya. Ketika Sari masuk angin, Giri mengerokinya. Mereka menjalin hubungan selama tiga tahun, tanpa kata cinta juga tanpa pengkhianatan, sampai kepergian Giri ke Bandung untuk kuliah. Keduanya berpisah dalam pelukan erat terakhir kali. Sari mengerti, Giri pergi bukan untuk menyakiti dirinya, tapi untuk masa depannya. Benar kata Rena, yang pertama akan selalu teringat!

150

Ingatannya pada Sari, elusan jari lentik pada rahang, leher, juga bahu kukuh, membangkitkan gairah yang masih terpendam dalam dada Giri. Satu tangan laki-laki itu meremas pantat wanita yang saat ini sedang rebah didadanya. Kejantanannya kembali menggeliat bangun, mengeras. Rena melihat geliat kejantanan itu. Kembali wanita itu terkagum-kagum. Jemari lentik mencoba melingkari kejantanan itu, sia-sia. Lingkaran batangnya terlalu besar untuk digenggam penuh. "Giii... ssshhh... sebesar ini yang masuk punyaku tadi??... pantes... rasanya kayak sobek lagi..." "Kamu suka?" "Suka sekali...beberapa kali tadi kerasa mentok, rasanya ngga nahanin Gi..." Dengan perlahan wanita itu menindih tubuh pria dan bibirnya mengecup dada Giri. Dua buah bukit kembar di dada Rena menjepit kejantanan besar itu. Dalam keremangan mata Rena melihat parutan bekas luka di dada bidang laki-laki itu. "Giii...dada kamu kenapa?!?...ihhh...sampe kaya gini..." Laki-laki itu tergagap menjawabnya. Jawaban yang muncul dalam benaknya, itu bekas-bekas selama pernikahan. Jawaban seketika tanpa perhitungan. Rena juga seorang analyst. Pikirannya terbiasa untuk menganalisis. Sejenak kemudian Giri menyadari, jawaban itu tidak masuk akal. Ada bekas luka yang baru sembuh, tertutup kulit ari tipis berwarna merah. Wanita itu tidak bertanya lebih lanjut. Sensasi batang keras yang menyelip dalam belahan payudara lebih menggetarkan dadanya. Bibirnya lalu turun mengecup perut datar berotot. Sosok laki-laki itu tidak besar seperti binaragawan, tapi tidak ada gumpalan lemak di tubuhnya. Tubuh ramping atletis. "It's too late to go home Re...stay here with me...", pinta Giri. Rena tergoda. Wanita itu tahu, Giri menginginkan lagi.

151

"I'll call my Mom to let her know", balas wanita itu sambil tersenyum. Giri mencumbu Rena sebelum pembicaraan dengan Mamanya selesai. Kali ini laki-laki itu berlutut di depan sofa. Memulai cumbuan dari kaki wanita itu. Kaki putih mulus dengan kuku terawat. Lidah laki-laki itu menjilati daerah cekungan di tapak kaki. Lalu satu demi satu, lidah itu menjilati ujung jari kaki. Sensasi paling liar diberikan pria itu pada Rena kemudian...dengan mulutnya laki-laki itu menghisap ibu jari kaki mungil itu. Rena menahan diri sekuatnya, dan menjerit tertahan bersamaan dengan jarinya menekan tombol 'end of call' pada ponsel. Giri memberi Rena persetubuhan kedua lebih hebat dari yang pertama. Dan, baru berakhir ketika tenaga Rena hanya tersisa untuk mengerang lirih memohon ampun. Malam itu Rena menginap di rumah sahabatnya. Malam yang akan terkenang seumur hidupnya...ML pertama yang terhebat. ***** Hebat memang kekuatan hati Kay untuk meninggalkan anak, karena dendam pada suaminya. Tapi sekuat apapun seorang ibu, apakah ia mampu memutuskan hubungan batin dari seorang anak yang menyerap sari-sari makanan dalam rahimnya? Membebaninya selama sembilan bulan, merobek kewanitaannya ketika keluar untuk menghirup kehidupan? Kay gelisah. Kegelisahan hati yang menggerakkan jemari menekan tutstuts telepon. Mencari tahu kabar anaknya. Gelisah hati berubah menjadi cemas dan rasa bersalah. Menuntun dirinya ke rumah yang pernah ditinggali selama lima tahun lalu. "Pak...ada ibu...", seru pembantu Giri memberitahu kedatangan Kay. Sedetik setelah memasuki ruang keluarga, kedalaman hati Kay terguncang. Wanita itu terpana melihat pemandangan di depannya. Jj sedang main kuda-kudaan di punggung bapaknya, Rena menyuapi Jj. Si anak terlihat senang dengan perlakuan dua orang dewasa terdekat saat

152

ini. "Kay...", hanya itu yang bisa Giri ucapkan. "Bubu...liat Bu, Jj lagi naik kuda...", celoteh mulut mungil itu. Tangan Kay bergetar. Egonya sebagai seorang ibu terinjak-injak. Cemas dan rasa bersalah sekejap berubah menjadi amarah. Luapan amarah tak terkendali. Kejadian berikutnya berlangsung cepat. Kay menghampiri Rena, mengambil piring dengan kasar. Amarah dan kekasaran pada Rena, suatu kesalahan Kay di mata anaknya. Selain pengasuhnya, Rena satu-satunya wanita dewasa yang memberi Jj sentuhan seorang ibu. Serangan pada wanita itu dirasakan sebagai serangan pada diri si anak. Jj menangis. Kay memaksa bertindak sebagai seorang ibu di waktu yang tidak tepat setelah hampir enam bulan meninggalkan buah hatinya. Kesalahan lagi di mata Jj. Tangisnya semakin keras. Giri menerkam. Laki-laki itu akan menerkam siapa saja yang menyakiti Jj, sekalipun itu ibunya. Tegas cenderung kasar, Giri menarik tangan Kay mengajaknya keluar rumah, berbicara di teras depan. "Mau kamu apa sih Kay!?!", hardik pria itu keras pada mantan istrinya. "Aku mau urus Jj!!" "Kay!?!", mata Giri mencorong, kedua alisnya mengernyit. "Kamu udah serahin dia di pengadilan!" "Aku tarik kata-kataku...", suara wanita itu bergetar, matanya berkaca-kaca. "Ngga bisa Kay...udah ketok palu, udah selesai Kay...udah selesai..." "Aku mau sewa lawyer untuk banding" Laki-laki itu menggeleng, "Jj bukan barang yang bisa dicampakkan seenaknya lalu direbut lagi. Kenapa waktu itu kamu serahin Jj? Kenapa Kay? Kamu ngga yakin dengan pacar kamu sekarang kan? Ngga yakin dia mau urus Jj seperti dia mau urus anaknya sendiri?...iya Kay!?!" Kay hanya menggeleng tidak mampu menjawab. Kedua tangan Giri

153

mencengkram bahu mantan istrinya. "Jawab Kay!...kamu akhirnya tahu, pacar kamu itu udah punya anak-istri di kota lain...bener Kay??" "Kamu tahu dari siapa?", wanita itu mendesis lirih. Kedua mataya beralih dari tatapan mata mantan suaminya. "Kamu akan jadi istri keberapa Kay?...kedua?...ketiga?...atau cuma jadi gundik??" Plak!!! Tangan mungil itu menampar pipi Giri. Mata Giri tetap mencorong menatap mata mantan istrinya. "Aku pernah buat salah Kay...tapi menjadikan kamu gundik, sama sekali ngga pernah terpikir olehku..." Plak!!! Sekali lagi Kay menampar. Kay masih labil di kedalamannya. Emosinya berubah, dari marah tak terkendali menjadi isak tangis. "Kenapa kita jadi begini Gi?". Laki-laki itu diam tidak menjawab. "Aku mau urus anakku...", Kay melanjutkan niatnya disela-sela isak tangis. "Ngga Kay!!...kamu egois sekali!! Ngga yakin dengan laki-laki itu, kamu buang Jj. Sekarang liat ada wanita lain urus Jj, kamu jealous...iri!". Giri beranjak meningalkan mantan istrinya. "Gi..." Sekarang Kay tersenyum manis pada mantan suaminya. Giri bergidik. Benar-benar mengerikan perubahan emosi yang terjadi dalam diri Kay. Dan, pria itu tidak pernah mengira, bekas istrinya akan menyerangnya dengan tusukan dashyat mematikan. "Semoga kamu bisa mengurus Jj seperti anak kamu sendiri...". "Apa maksud kamu?", desis laki-laki itu garang. Kay semakin tersenyum mengerikan. "Jj bukan anak kamu Gi..." Glegarrr!!! Bagai petir di siang bolong, kata-kata Kay menghantam Giri di kedalaman hatinya. "Tidak mungkin...", Giri masih mendesis lirih. Kay tertawa lirih melecehkan, "Hitung dong...hitung mundur dari lahirnya Jj. Kamu laki-laki paling smart yang pernah aku kenal Gi. Bulan-bulan itu kamu lagi di luar negeri, kamu inget...Vienna, Austria?...masih inget Gi?"

154

Pria itu menggeleng perlahan. Matanya kosong menerawang, mencoba mengingat peristiwa beberapa tahun lalu. Melihat mantan suaminya membisu, Kay melanjutkan tikamannya. "Masih inget kamu telepon aku dari Frankfurt dengan penuh rindu, penuh cinta. Aku masih inget saat itu Gi. Terima telepon dari suami tersayang sambil merasakan punyaku penuh dengan cairan laki-laki yang bukan suamiku". Tikaman paling keji mematikan. Tangan Giri bergetar menahan amarah. Ingin rasanya mencekik batang leher wanita yang pernah sangat dicintainya itu. Kedalamannya terguncang hebat. Kay menikam terakhir kali, "Kamu memang jantan di tempat tidur Gi...tapi bisakah benih kamu membuahi wanita, itu masih tanda tanya..." Menghadapi serangan mematikan, secara refleks surviving spirit dalam dirinya menyeruak muncul menguasai. Ia mengambil napas dalam teratur. Perlahan berbalik meninggalkan mantan istrinya. Giri tahu, tidak ada gunanya lagi marah terhadap masa lalu . ***** Matanya menatap lekat anak yang tertidur tenang. Psikosomatis, kesimpulan dokter yang menangani Jj. Giri mulai percaya. Sentuhan dan rasa keibuan yang terpancar dari diri Rena membuat tidurnya nyenyak sekali dua malam terkahir. Panasnya turun. Ia menggendong anak itu sesaat setelah kelahirannya. Tubuh mungil dan ringkih, masih terbercaki darah kelahiran. Kebahagian sebagai kepala rumah tangga melambungkan dirinya entah sampai surga ke berapa. Kebahagiaan diiringi harapan penuh di hati. Harapan membaiknya hubungan suami-istri. "Tidak...", seru laki-laki itu di hati. "Aku tidak akan menyianyiakannya...aku tidak peduli ia anak siapa. Anak itu tidak bersalah apa-apa. Tuhan...". Tenggorokannya tercekat, matanya meremang basah.

155

"Berapa lama sudah aku tidak menyebut namaMu?". Pria itu menghela napas panjang, "Hhhhhh...beri aku kekuatan untuk tetap menyayanginya..." Butiran air mata menggenang di sudut mata. Jatuh bergulir membasahi pipi. Wanita itu, seorang sahabat, melihat tubuh si pria tergetar hebat. Rena mendekati Giri, mengelus punggungnya. Ia tahu, pembicaraan terakhir antara Giri dan Kay menguncang laki-laki itu di kedalamannya. Belum pernah ia melihat Giri menitikkan air mata. Badai yang datang menyapu kali ini sungguh badai terhebat sepanjang hidupnya. Tubuh Giri lunglai, melorot ambruk. Berlutut di hadapan sahabatnya. Kedua tangan memeluk tungkai Rena. Wajahnya ditangkupkan pada paha wanita itu. Tidak ada raungan tangis. Hanya tubuh berguncang tanpa suara. Perlahan, air mata membasahi celana berbahan jeans. Rena menemani Giri lagi malam itu. Setelah reda tangis tanpa suara, Rena merengkuh tubuh pria itu. Membimbingnya keluar dari kamar anaknya, menuju sofa di ruang TV. Kelembutan Rena menenangkan Giri. Mata si pria terpejam. Sentuhan lembut jemari lentik pada rahang dan pipi membangkitkan bagian tubuh laki-laki itu. Ciuman lembut di bibir menyalakan api gairah. Keduanya bergumul seperti malam sebelumnya, dalam keremangan, dengan erangan dan jeritan tertahan. Satu hal yang berbeda, Giri bersetubuh dengan luka menganga di hati. Ia mencari penyembuh luka hati dalam diri sahabatnya. Pria itu memenuhi seluruh kekosongan jiwa dengan kobaran api gairah menyalanyala. Akibatnya amat hebat bagi Rena. Tubuhnya dilanda gelombang kenikmatan ledakan birahi bertubi-tubi. Tikaman Kay terakhir kali memberi obsesi baru pada Giri. Selain keinginan menggebu untuk memuaskan Rena, pria itu menginginkan sesuatu yang lain dari pasangan bercinta saat ini.

156

"Jangan bangun dulu Re...tenang dulu, nanti keluar lagi...", lembut suara Giri meminta Rena tetap berbaring tenang. Setelah persetubuhan penuh gairah yang baru saja mereka lakukan. Rena menatap mata sahabatnya dalam-dalam, "Giii...". Hanya itu yang mampu terucap. Wanita itu tahu apa artinya permintaan Giri. Giri mengecup lembut bibir Rena. Perlahan wajahnya menelusur turun melalui payudara wanita itu. Bibirnya mengecup perlahan bagian perut di bawah pusar. Lalu merebahkan kepala di perut sahabatnya. Jemari lentik Rena mengelus rambut pria itu. Matanya berkaca-kaca, sejenak kemudian genangan air terkumpul di sudut mata. Membentuk butiran berkilauan, lalu bergulir perlahan membasahi pelipis. Ia tahu apa artinya ini semua. Laki-laki itu menginginkan anak dari dirinya. Keduanya tidak berkata-kata, larut dalam pesona rajutan khayal masingmasing. ***** Itulah kisah awal mula! Awal mula ketika Giri kembali berburu wanita. Bukan untuk gagahgagahan, sekedar untuk memenuhi kebutuhan. Awal mula yang membangkitkan kenangan masa remaja, saat pertama lakilaki itu mengenal wanita. Awal mula yang membuat Giri menemukan rahasia dalam kenikmatan yang dirasa wanita. Awal mula tumbuhnya obsesi lain, menanam benih pada setiap wanita yang ditidurinya. Awal mula kebangkitan sisi suram pribadi dari kegelapan neraka jahanam. Bersambung... 12. BABY SITTER 01 by Ipah.

157

Aku, sebut saja Narti, kerja sebagai baby sitter, --sekali lagi baby SITTER, karena entah kenapa masih ada saja yang menyebutnya baby 'sister'-- di sebuah keluarga kaya dan terhormat di Jakarta, sebut saja keluarga Pak Anton. Aku dilahirkan di sebuah kota di Jawa Timur. Seperti perempuan Jawa pada umumnya Aku berkulit sawo matang dan ada yang manis di roman mukaku. Tinggi tubuhku sedang-sedang saja, 163 cm dan berat tubuhku 54 kg, suatu proporsi yang cukup ideal, kata Mas Adi. Tapi Aku bilang ideal kalau bobotku 52. "Engga"katanya lagi. Aku diminta mempertahankan bobotku segitu, karena "Yang 2 kilo itu ada di dadamu, dan Aku menyukainya" sergah Mas Adi. "Jadi jangan diturunkan lagi bobotmu" lanjutnya lagi. "Sialan ..."protesku. Terus terang Aku menyukai pujian Mas Adi pada dadaku. Aku baru menyadari bahwa Aku punya keistimewaan pada buah kembarku juga dari Mas Adi, walaupun banyak temanku seasrama dulu yang sering bilang. Pantas saja mata lelaki yang berpapasan denganku selalu tertuju ke sini setelah sekejap memandang mukaku. Apalagi sewaktu Aku berenang. Risih juga dipelototin terus dadaku (sejujurnya, kadang juga ada rasa bangga ...). Oh iya, untuk menjaga bentuk tubuhku, Aku tiap hari Minggu pagi berenang ke kolam renang di Hotel M, tempat terdekat dengan rumah majikanku. Ditambah dengan push-up 3 kali seminggu di kamarku, tak banyak hanya 10 -15 kali. Tapi asal dilakukan dengan rutin cukup memperkuat otot-otot di dada. Itu semua Aku lakukan untuk Mas Adi tercinta. Mas Adi memang lelaki pertama yang mengisi hatiku, mudah-mudahan juga yang terakhir. Bagi Mas Adi Aku adalah pacar yang ketiga. Perkenalanku dengan Mas Adi ketika Aku masih bekerja di rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Setamat sekolah keperawatan (setingkat SLA) di Jawa Timur Aku merantau ke Jakarta cari kerja. Dia sedang menunggui sepupu perempuannya yang opname di situ. Mas Adi kerja di sebuah lembaga pendidikan komputer sebagai instruktur. Dia juga kerja sambilan (part timer) sebagai programmer di beberapa software house. Dia numpang tinggal di rumah pamannya, sedangkan Aku kost di rumah sederhana. Pada awalnya hanya teman biasa dan tak ada perasaan apapun terhadapnya. Dia begitu penuh perhatian terhadapku dan amat menyayangiku. Tak ganteng dan tak jelek amat, dia jujur dan terbuka, satunya kata dan perbuatan. Inilah yang membuat Aku jatuh cinta. Setelah pernyataan cinta kami ('jadian' kata ABG), cara pacaran kami sebatas ciuman dan raba-raba. Itu kami lakukan hampir setiap minggu selama setengah tahun. Tempatnya bisa di gedung bioskop, di kegelapan taman, atau di beranda kamar kost-ku. Sesekali kalau situasi tempat kost memungkinkan, kami bermesraan di kamarku masih sebatas ciuman dan raba-raba dengan sedikit kemajuan, Aku amat menikmati cara Mas Adi "mengerjai" kedua buah dadaku. Dengan penuh perasaan, kasih sayang, dan hati-hati seolah daging kembarku itu mudah pecah, tapi membuatku serasa melayang-layang. Mas

158

Adi tak pernah minta lebih dari itu, meskipun Aku tahu dia juga sudah sedemikian 'tinggi'. "Untuk nanti di malam pengantin kita" bisiknya. Aku terharu mendengarnya. Paling jauh, kalau dia sudah tak tahan lagi Aku diminta memainkan penisnya dengan tanganku sampai ejakulasi. Bahkan pernah suatu malam Minggu kami begitu intensifnya bermesraan, Mas Adi telah menelanjangi dirinya sampai bulat, Aku tinggal CD saja, Aku sudah demikian 'megap-megap', di bawah sana sudah terasa lembab, sampai mataku berair. Aku mengharapkan Mas Adi segera membuka CDku lalu penisnya yang tegak mengacung keras itu segera mengisi kelembaban di selangkanganku, tapi dia tak melakukan apa yang kuharapkan. Dia hanya menindihku, menggosok-gosokkan penisnya di CDku sambil mengeksplorasi buah dadaku. Mas Adi bisa sampai 'tuntas' dengan tumpah di perutku, tapi Aku ? Gelisah ! Sesuatu yang tak sampai, menggantung. Sungguh tak enak. Aku terus gerak-gerakkan tubuhku dengan gelisah, selangkangan kugosokkan ke tubuhnya. Kucengkeram pantat Mas Adi dan kugeser-geserkan penisnya yang mulai menurun ke CDku. Tak menjadi lebih baik, tak meredakan nafsuku yang telah memuncak, tak mengisi kekosonganku. Penisnya tak menyentuh langsung ke selangkanganku, masih ada penghalang yang harus dihilangkan. Kulepaskan tubuhku dari tindihan Mas Adi, lalu dengan nekatnya Aku melepas CDku. Aku tak malu-malu lagi berbugil di depan kekasihku ini. Mas Adi kaget luar biasa, sampai melongo, tapi matanya tak lepas dari bagian tubuhku yang baru saja terbuka. Bagian tubuh yang baru kali ini Aku buka di depan lelaki. Kutarik tubuh Mas Adi untuk kembali menindihku, supaya dia tak melongo terus memandangi milikku. Tubuhnya kembali bergoyang, penisnya kini menggeseki permukaan liang vaginaku secara langsung, tak ada penghalang lagi. Tapi penis itu mulai menyurut.... Mas Adi tahu kegelisahanku, lalu tindakan berikutnya ganti mengejutkanku. Pahaku dibentangnya lebar-lebar kemudian kepalanya menunduk. Ha ...? Apa yang akan dilakukannya ? Tanganku refleks bergerak menutupi milikku. "Dik ... tak apa-apa, ini aman kok ..." katanya sambil menyingkirkan telapak tanganku dari sana. Lalu detik-detik berikutnya kurasakan nikmatnya di bawah sana. Lidah Mas Adi ternyata yang melakukannya. Lidah itu menyapu-nyapu seluruh permukaan selangkanganku. Tak itu saja. Aku dibuatnya terbang oleh Mas Adi dengan permainan lidah dan bibirnya di clit-ku .... Kurang lebih setahun kami melewatkan masa-masa bermesraan dengan cara seperti itu. Cara yang dapat memuaskan kami berdua, tanpa Aku harus kehilangan keperawanan, tanpa penetrasi sama sekali.

159

*** (Pembaca, perkenankan saya memutar waktu ke belakang sedikit). Tertarik iklan kecil di harian ibukota Aku ingin mencoba mengadu nasib. Iklan itu berbunyi : "Dicari seorang baby sitter wanita yang berpengalaman, mengerti tentang keperawatan, menyayangi anak-anak, bersedia tinggal di rumah. Gaji dan fasilitas menarik" Kutelepon nomor yang tercantum di iklan itu, suara lembut wanita menyambutku dan Aku dijanjikan waktu, Sabtu pagi pukul 9 agar datang untuk wawancara. Wah, pakai wawancara seperti melamar kerja kantoran saja. Pada hari yang dijanjikan pukul 9 kurang Aku sudah tiba di depan rumah besar dan mewah di kawasan Jakarta Pusat. "Selamat pagi" sambutku ketika pintu dibuka seorang wanita cantik. "Pagi, siapa ya" "Saya Narti Bu, pelamar baby sitter" "Oh iya, masuk ... silakan"dia menyambut uluran tanganku. "Siapa tadi ... ehm ..Narti ya, saya Ny. Anton" Nyonya rumah ini cantik sekali. Berkulit putih mulus, tubuhnya tinggi ramping, rambut lurus sebahu terurai, pendeknya mirip peragawati atau model yang sering Aku lihat di TV. Kutaksir umurnya sekitar 26 - 28 tahun. Wajahnya sekilas mirip mantan peragawati yang juga atlet berkuda, hidung mancungnya yang mirip banget. Aku juga dikenalkan kepada Pak Anton suaminya. Pria ini biasa saja, tak ganteng amat, kulit rada cerah, rasanya tinggi badan Pak Anton sama dengan tinggi isterinya. Kedua orang suami isteri ini mewawancaraiku. Aku diminta bercerita tentang riwayat sekolah dan pekerjaanku, kenapa Aku tertarik pekerjaan sebagai baby sitter sedangkan pendidikanku adalah perawat, juga termasuk berapa gaji yang Aku minta. Aku kemukakan apa adanya dan sejujur mungkin. Ditanya gaji Aku tak menyebutkan jumlahnya, hanya yang penting lebih tinggi dibanding pekerjaanku sekarang di rumah sakit swasta. Juga Aku minta satu hari libur dalam seminggu. Hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan pribadiku tak luput ditanya. Termasuk tentang famili dan kawan dekat. Aku ceritakan punya kakak perempuanku yang tinggal sama suaminya di Jakarta, juga tentang pacarku Mas Adi, dimana tinggal dan pekerjaannya. Aku cerita juga kadang-kadang di hari libur Aku nginap di rumah kakak perempuanku. Melalui wawancara ini pula Aku tahu pasangan ini punya 2 orang anak, yang sulung lelaki kelas 6 SD dan anak kedua perempuan 8 bulan yang kelak Aku asuh seandainya diterima kerja. Kesanku mereka keluarga ideal dan amat bahagia. "Jadi gimana nanti saya menghubungi kamu ?" "Ke tempat kost saja Bu ada teleponnya, di rumah kakak belum ada" "Di tempat kost kamu berapa nomornya ?"tanya Bu Anton. Aku sebutkan nomornya.

160

"Okay, minggu depan Ibu hubungi diterima atau tidaknya" lanjutnya. "Baik, Bu" Aku pamitan. "Kalau boleh tahu, sudah berapa orang yang melamar, Bu ?" tanyaku. "Ada beberapa, engga banyak" jawabnya. Minggu siang seminggu kemudian Aku ditelepon Bu Anton. "Kamu bisa datang lagi sore ini engga ?" "Bisa, Bu. Gimana saya diterima ?" "Kita bicarakan dulu tentang tugas-tugasmu"dia tak tegas menjawab Aku diterima atau tidak, tapi rasanya iya. Mendadak hatiku senang. Ada beberapa kelebihan kerja di Bu Anton. Selain gaji yang kuterima lebih tinggi, juga Aku tak perlu mikir bayar kost dan biaya makan sehari-hari. Tentunya Aku akan bisa menabung untuk persiapan hari depanku bersama Mas Adi. Ketika hal ini kuceritakan kepada Mas Adi, dia mendukung. "Asal kamu menyukai pekerjaan ini, Mas dukung" Aku gembira. "Jangan senang dulu Ti, kamu belum tentu diterima ..."tambahnya. Bu Anton menjelaskan secara rinci tugas-tugasku dan cara merawat Si Putri, begitu saja kusebut, anak perempuannya. Aku dikenalkan kepada pembantu rt-nya, Ijah, perempuan usia sekitar 35an, dan juga Ricky, anak lelakinya sekitar 12 tahunan. Aku dibawa keliling ruangan rumah besar ini. Putri, walaupun masih terhitung bayi, sudah punya kamar sendiri bersebelahan dengan kamar suami-isteri Anton. Dalam kamar Putri yang lumayan besar hanya ada lemari dan rak pakaian serta sebuah box bayi. Ada pintu penghubung ke kamar Pak dan Bu Anton. Di belakang kamar Putri terhalang satu ruang terbuka, terletak kamarku. Keluarga ini secara berkala berlibur ke luar kota, kadang kalau dibutuhkan Aku harus ikut atau tidak tergantung situasi, kata Bu Anton. Tentang hari libur yang kuminta, Bu Anton mengabulkan tapi harinya tak harus Minggu, dan kalau mereka membutuhkan Aku tetap mengasuh Putri dan dibayar sebagai lembur. Tak masalah kukira. "Kapan kamu mulai kerja ?"tanya Bu Anton. "Secepatnya setelah saya dapat surat pengunduran diri dari rumah sakit" *** Hari-hari pertama kerja sebagai baby sitter memang melelahkan, sebab Aku harus mengenali karakter Putri dan juga situasi rumah tangga ini termasuk karakter seisi rumah. Aku harus berbaik-baik sama Mbak Ijah supaya terjalin hubungan akrab dan agar dia tak 'jealous', karena Aku tak menyentuh pekerjaan rumah tangga dan digaji lebih tinggi. Bu Anton memang telah membagi tugas sesuai 'profesi' masing-masing. Lama-lama Aku menjadi biasa dan mulai bisa menikmati pekerjaanku. Pada dasarnya Aku memang menyayangi anak-anak. Ada satu yang 'hilang' sehubungan pekerjaan baruku ini, yaitu masa bermesraan dengan Mas Adi. Tak bisa lagi kami bermesraan 'berat' sampai Mas Adi menggosok-gosokkan

161

penisnya di 'pintu' vaginaku lalu tumpah di perutku. Atau mulut Mas Adi dengan 'rakus'nya mencium, menjilat, dan gigit pelan milikku di bawah sana. Cara pacaran kami berubah. Pergi berdua harus menunggu hari liburku. Paling juga ciuman dan raba-raba di gedung bioskop. Mas Adi pintar cari lokasi yang aman untuk bermesraan, pilih film yang masa putarnya sudah beberapa hari sehingga sepi penonton, lalu kami mojok di belakang. Pada hari libur kedua kami nonton lagi. Film baru beberapa menit diputar Mas Adi minta Aku membuka bra setelah kami berciuman 'panas'. Mukanya terbenam di dadaku, Aku harus menahan untuk tak merintih keras-keras ketika puting dadaku dijilati dan dikemotnya. Lalu dia minta Aku membuka rits celananya. Kurang ajar ... Aku langsung 'menemukan' penisnya yang keras tegak, Mas Adi tak pakai cd ! "Mas nakal ..." bisikku ke kupingnya. Jawabannya berupa lumatan di bibirku, lalu dituntunnya telapak tanganku untuk mengurut-urut batang penisnya. Aku nurut, perlahan kelima jari-jariku menjamahi seluruh batang tegang itu dari ujung sampai ke pangkal, bolak-balik. Sementara telapak tangannya 'menampung' daging dadaku sambil ujung telunjuknya bermain-main di putingku. "Tambah kecepatannya dikit, Ti ..."bisiknya sambil ngos-ngosan. Kupenuhi permintaannya. Beberapa saat kemudian, "Tambah lagi ..."nafasnya makin memburu. "Eh ... nanti kalo ... itu gimana .." "Engga apa-apa .... terus aja sampai keluar" "Gak mau"protesku dan langsung menghentikan gerak kocokan. "Ti ... tolong Mas dong udah 2 minggu engga keluar ..." Dua minggu ? Oh iya memang, sejak Aku pindah kerja kami tak melakukan petting sampai Mas Adi 'keluar', seperti yang biasa kami lakukan tiap minggu. Apa boleh buat ... Kupercepat gerak tanganku. Mas Adi makin terengah, lalu megap-megap, tubuhnya rebah ke sandaran kursi dan mengejang, kepalanya menengadah ke arah langit-langit gedung, gerak tangannya yang meremasi susuku berhenti, tanganku yang menggenggam penisnya terasa kedut-kedut beraturan. Mas Adi sedang menikmati orgasmenya. Airnya entah terpancar kemana saja, mungkin ke sandaran kursi depan ...... *** Rumah semegah ini hanya dihuni oleh 6 orang, suami isteri Anton, kedua anaknya, seorang pembantu, dan Aku. Bang Hasan si sopir selesai mengantarkan Pak Anton malam hari, dia pulang ke rumahnya, tak menginap. Jam 7 pagi dia sudah sampai ke sini lagi. Pak Anton orang yang amat sibuk, jam 8 pagi dia sudah berangkat dan pulangnya malam. Dia punya banyak perusahaan, kata Bi Ijah. Perusahaan apa dan sebesar apa Aku tahu dan tak ingin tahu. Kalau lihat rumah yang besar dan megah, isinya yang mewah, tiga buah mobil yang semuanya jenis mewah, pantaslah dia punya perusahaan, suatu keluarga kaya-raya. Sedangkan Si Jelita nyonya Anton meskipun tidak tiap hari keluar

162

rumah, tapi tampaknya orang sibuk juga. Urusannya banyak, kalau sedang di rumah teleponnya sering berdering, bicara serius sepertinya urusan bisnis juga, lalu kadang keluar rumah menyetir sendiri BMW-nya. Kadang sekalian menjemput Ricky dari sekolah. Ricky walaupun sudah kelas 1 SMP masih juga diantar-jemput. Orang kaya cenderung memanjakan anaknya. Anak-anak di sekitar tempat Aku kost dulu walaupun masih SD berangkat dan pulang sekolah sendiri. Kalau ibunya tak menjemput, Ricky pulang sama Bang Hasan. Tak hanya kaya raya, keluarga ini juga keluarga harmonis tampaknya. Kalau mereka bertiga sedang di ruang tengah nonton TV, banyak celetukan canda diantara mereka. Bu Anton sering menggelendot manja ke tubuh suaminya sewaktu duduk di sofa sambil nonton TV, atau tangan Pak Anton merangkul bahu isterinya, diselingi saling kecup di pipi. Suami-isteri itu tak risih saling kecup meskipun Aku ada di situ menggendong Putri. Memang sudah kebiasaannya sehari-hari. Ricky juga sering bermanja-manja kepada ayah atau ibunya. Kalau Aku sedang bergabung di situ sambil menunggu Putri, kadang Ricky juga bermanja kepadaku. Menyandar ke tubuhku atau minta pangku. Pendeknya benar-benar keluarga bahagia. Bahkan Aku tahu, betapa mesranya mereka di tempat tidur ... Malam belum larut baru sekitar setengah sembilan. Setelah Aku menidurkan Putri di box-nya, kulihat Pak dan Bu Anton berrangkulan mesra sambil nonton TV. Aku lalu makan malam dan menyiapkan susu dan popok Putri. Ketika Aku hendak ke kamar Putri melewati ruang tengah sumi isteri itu sudah tak ada. Cepat sekali malam ini mereka tidur, pikirku. Khawatir mengganggu tidur majikanku, Aku dengan hati-hati dan pelan masuk ke kamar Putri untuk menaruh pakaiannya dan sekaligus ngecheck tidurnya. Tapi ...... samar-samar ada suara-suara aneh dari kamar utama itu. Entah kenapa diluar kebiasaanku, Aku jadi ingin tahu. Nyaris tanpa suara Aku melangkah mendekati pintu penghubung itu. Oh, suara rintihan Bu Anton ! Aku segera maklum sedang apa suamiisteri itu. Apalagi rintihan Bu Anton diselingi dengan ucapan "Ooh ... sedap Yang ....uuh ...ooh...". Aku mendadak merinding, jantungku berdebar kencang. Aku cepatcepat menyelesaikan pekerjaanku, tak tahan Aku berlama-lama di situ. Beberapa menit berlalu suara-suara aneh itu masih saja terdengar, bahkan ditambah suara "hah .. huh" nya Pak Anton dan berisiknya kresek-kresek dan hentakan-hentakan tubuh di kasur. Aku keluar menuju kamarku dan langsung rebahan. Segera saja bayangan tubuh pualam Bu Anton yang telanjang bulat, terlentang, dan pahanya membuka lebar sedang ditindih oleh tubuh coklat kekar Pak Anton yang pantatnya naik-turun menusuki selangkangan isterinya, muncul di anganku. Bayangan kedua tubuh suami isteri tiba-tiba berganti dengan bayangan tubuhku yang ditindih oleh tubuh Mas Adi. Aah .... gimana rasanya ya kalau penis Mas Adi menusuk habis liang senggamaku ? Mungkin sedap banget, Bu Anton yang santun itu saja sampai merintih-rintih keenakan. Jelas nikmat banget. Selama ini penis Mas Adi yang hanya menyapu-nyapu 'pintuku' saja nikmat rasanya,

163

apalagi ..... Mas Adi memang tak pernah minta lebih dari menyapu-nyapu, dan sepertinya memang tak punya niat untuk masuk. Di kamar kostku dulu kesempatan untuk bermesraan sampai masuk terbuka lebar, tapi Mas Adi tetap menjagaku, dan mampu menahan diri. Seandainya waktu itu Mas Adi minta, mungkin Aku akan ikhlas memberikannya. Apalagi seandainya malam ini ada Mas Adi, Aku mungkin yang ambil inisiatif untuk 'maju terus'. Aku kini begitu gelisah, begitu terrangsang oleh suara rintihan dan bayangan ciptaanku sendiri tentang suami-isteri majikanku itu. Tapi Mas Adi memang beda. Aku begitu mempercayai kekasihku ini, lelaki yang bertanggungjawab. Kalaupun ada faktor Aku tetap masih perawan mungkin karena Aku takut sakit. Konon berhubungan seks yang pertama kali bagi wanita adalah hanya rasa sakit yang didapat. Aku memang takut sakit, bahkan dengan jarum suntikpun Aku takut. Malam berikutnya pada waktu yang sama Aku ke kamar Putri lagi berharap kalau-kalau mendengar erangan Bu Anton yang lebih seru, ternyata tidak. Mereka berdua masih di ruang tengah. Pengetahuanku tentang pasangan ini bertambah, ternyata mereka tak punya jadwal tetap untuk berhubungan seks, alias bisa terjadi kapan saja. Pernah sekitar jam 4 pagi Aku terbangun mendengar Putri menangis. Ketika Aku sedang mencari-cari baju ganti Putri, Bu Antonpun mendatangi anaknya, dengan pakaian kimono yang belum sempat ditutup, buah dadanya yang amat putih, mulus, kecil agak membulat terbuka, bentuk dada khas peragawati. "Eh ... kamu Ti.."katanya ketika menyadari ada Aku di situ, lalu cepat-cepat Bu Anton merapikan kimononya. Aku sempat melihat dada Bu Anton mengkilat, berkeringat, wajahnya juga dihiasi butiran keringat. Dan kimono tipis itu sempat 'mencetak' tonjolan putingnya. Masa pagi yang dingin ini keringatan di dalam kamar berAC ? Dugaanku benar, ketika Aku selesai mengurus Putri, erangan khas Bu Anton kembali kudengar. Rupanya tangisan Putri menghentikan kegiatan seks dini hari mereka. Setelah Putri ada yang mengurus, kegiatan itu berlanjut ... *** Hari Minggu berikutnya Pak dan Bu Anton liburan keluarga bersama kawan-kawan bisnisnya ke Pulau Bidadari. Seharusnya ini hari liburku, tapi karena Putri ditinggal di rumah Aku harus menjaganya dan dibayar sebagai lembur. Rencanaku nonton sama Mas Adi batal, dan kuminta saja dia datang menemaniku di rumah. Kami hanya ngobrol saja di ruang tengah sambil mengasuh Putri. Mauku sih sambil bermesraan tapi tak enaklah sebab ada Bi Ijah sedang memasak di dapur. Setelah Si Putri tertidur, kesempatan untuk bermesraan dengan Mas Adi datang juga, sebab Bi Ijah bilang mau keluar rumah setelah pekerjaannya beres. Aku tak tahu apa yang ada di kepala Bi Ijah, apakah dia memang benar-benar ada keperluan keluar rumah atau hanya ingin memberiku kesempatan berdua saja dengan kekasihku.

164

Aku langsung duduk manja di pangkuan Mas Adi begitu Bi Ijah keluar. Kami berciuman dan seterusnya buka-bukaan. Dalam waktu singkat seperti biasa Mas Adi sudah bugil dengan penis mengacung. Gaun putih seragamku telah tersingkir dan kini Aku telanjang dada. Seperti biasanya pula Mas Adi mengerjai buah kembarku. Mataku terpejam menikmatinya. Tapi ada yang tak biasa. Kurasakan 'pekerjaan' Mas Adi di dadaku kurang intens seperti yang sudah-sudah. Aku merasa pikiran Mas Adi tak sepenuhnya berada di buah dadaku. "Ada apa sih Mas ?" tanyaku menyelidik. "Kenapa Ti ?" Mas Adi menghentikan kemotan di putingku. "Rasanya hari ini Mas lain, deh" "Lain gimana" "Pokoknya Mas engga seperti biasa" "Hmm ...." "Ada apa Yang ...?" tanyaku lembut sambil membelai-belai penisnya. Benda itupun tak sekeras biasanya. "Sorry Ti .... Ada yang ingin Mas sampaikan" "Ngomong aja" Mendadak Aku berdebar. Mas Adi diam saja. Aku makin gelisah. "Udah bosan ama Narti ?" serangku tiba-tiba. "Engga ... sama sekali engga" lalu Aku dipeluknya erat-erat. Lama. "Lalu apa ?" "Mulai Juli Mas dipindah ke Semarang". Juli ? berarti tak sampai dua bulan lagi. "Kenapa ? Mas berbuat salah apa ?" "Sama sekali tidak. Justru Mas dapat promosi" "Bagus, kan ?" "Iya, tapi kita jadi jauh". Jauh. Oh ... rasanya Aku tak sanggup berpisah dengan kekasihku ini. Jangan-jangan nanti .... "Mas Bingung. Aku ingin pendapatmu, Ti" lanjutnya. Akupun bingung. "Gini aja Mas, kalo menurut Mas pindah ke Semarang bagus buat karir Mas, lakukan saja" "Kelihatannya begitu Ti, Aku dipercaya sebagai supervisor, cuman kita jadi jauh" "Hari libur Mas bisa ke sini, kan ?" "Bisa" "Ya udah, lakukan saja" Tiba-tiba Aku dipeluknya erat-erat. "Makasih ... Ti..." Pelukan berlanjut jadi ciuman, terus ke dadaku. Kurasakan miliknya di bawah sana mengeras lagi. Lalu mulut Mas Adi turun ke perutku, Aku kegelian ketika lidahnya menari-nari di pusarku. Dengan cepat Cd-ku dipelorotkannya dan lidah nakal itu telah berpindah ke selangkanganku yang telah membasah lembab. Aku meninggi. Kuraih batang kerasnya dan kusapu-sapukan di seputaran pintuku. Aku makin tinggi. Hanya menyapu-nyapu, seperti biasa. Dan lalu tumpah di perutku, seperti biasa.

165

*** Tumpah di perutku lagi, hari Minggu pagi ini. Bukan di ruang tengah rumah keluarga Anton, tapi di ruang tengah rumah paman Mas Adi. Aku masih rebah telanjang dengan posisi terlentang, bahkan kakikupun masih terkangkang. Aku kelelahan setelah tadi dilumat habis-habisan oleh Mas Adi. Diapun kelihatannya letih, tubuhnya rebah terlentang pula di sampingku. Masih ada sisa terengah setelah dia 'kerja' habis-habisan melumatku. Airnya yang tercecer di perutku demikian banyaknya setelah 'ditabung' selama seminggu. Kami bisa bebas bercumbu di rumah paman Mas Adi karena rumahnya kosong. Paman Mas Adi dan keluarganya pergi ke Bandung. Kemarin Mas Adi meneleponku memintaku datang. Hari ini Aku libur dan dapat izin keluar sampai jam 6 sore. Tapi Aku 'menawar' minta ke Bu Anton sampai besok pagi, dengan alasan diminta nginap di rumah kakak perempuanku, karena ada acara keluarga. Bu Anton memenuhi permintaanku. Minggu pagi sekitar pukul 7 Aku sudah meninggalkan rumah keluarga Anton menuju rumah Paman Mas Adi. Baru saja Aku masuk pintu Mas Adi langsung menyerbuku. Jelas saja Aku berontak khawatir ketahuan paman atau keluarga yang lain. Tapi Mas Adi malah mencopoti pakaiannya sampai bugil sambil bilang bahwa hanya kami berdua saja yang ada di rumah ini ... Kulirik wajah Mas Adi. Mata terpejam tenang menandakan kepuasannya. Ada perasaan puas tersendiri bagiku karena mampu memuaskan Mas Adi, walau tanpa penetrasi. Tapi apakah wajah teduh ini memang benar-benar menandakan kepuasan ? Hanya dia yang tahu. Cara kami bercinta menuju puncak tanpa Aku kehilangan virginitas mungkin memang belum benar-benar memuaskannya, seperti yang Aku rasakan sekarang. Ada rasa kurang 'terpenuhi' ketika denyutan-denyutan di dalam sana tetap dibiarkan tak tersentuh, walaupun mulut Mas Adi telah begitu intensif mencumbui clit-ku. Mungkin Mas Adi juga begitu, walaupun fellatio yang kulakukan sempat membuat Mas Adi mencabutnya takut 'sampai' di dalam mulutku. Aku sebenarnya telah pasrah, menerima apapun yang akan dilakukan oleh calon suamiku ini. Dulu sewaktu kami bermesraan di kamar kost-ku, Aku menginginkan Mas Adi melakukan hubungan seks 'paripurna' saat itu juga, tapi dia tak melakukannya. Memang keinginan tak kutunjukkan secara lisan, tapi dengan gerakan tubuhku Aku yakin Mas Adi mengerti keinginanku. Aku ingat saat dia memegang penis tegangnya dan siap-siap mau menyapu-nyapukannya di clit-ku seperti biasanya, Aku membuka pahaku lebih lebar dari biasanya dan sedikit mengangkat pinggulku agar 'sasaran' bukan di clit tapi di

166

liang senggamaku. Tapi Mas Adi dengan halus menghindar. Tadi juga begitu. Cumbuan intens ke seluruh permukaan tubuhku membuatku naik tinggi. Lalu pada saatnya dia akan mulai 'menyapu-nyapu' Aku sudah ambil posisi terlentang pasrah. Inilah saatnya Aku menyerahkan segalanya kepada lelakiku tercinta. "Masuklah Mas, Aku ikhlas mempersembahkan keperawananku kepadamu" begitu kataku, tapi dalam hati. Tapi lagi-lagi Mas Adi tak melakukannya. Bahkan suatu saat kepala penisnya sudah tepat menyentuh liangku, tanganku lalu menekan pantatnya. Lagi-lagi Mas Adi dengan pandai menghindar. Ketika moment itu kembali datang Aku menekan pantatnya lebih kuat. Detik berikutnya kurasakan 'pintu'ku terpenuhi oleh benda hangat ... aha ... nikmat. Rasanya awal penetrasi dimulai. Tapi .... Mas Adi menariknya. Pinggulnya diangkat dan tubuhnya rebah menindihku dan erat memeluk tubuhku. Kurasakan tubuh Mas Adi bergetar. Beberapa saat berikutnya kurasakan cairan hangat di perutku ... "Mikir apa Ti ?" Aku menoleh. "Eh ... kirain tidur. Engga mikir apa-apa, cuman lemes aja" jawabku. "Sama dong .." tubuhnya menggeliat lalu bangkit. Diciumnya putingku sekilas, lalu dia duduk. Matanya ke dadaku, lalu turun ke perutku. Diambilnya tissu dan dibersihkannya perutku dari ceceran maninya. "Mas keluarnya banyak banget" kataku. "Iya nih, maklumlah udah seminggu gak keluar" Aku bangkit. Tubuhku serasa lengket-lengket karena keringatku yang bercampur dengan keringat Mas Adi. "Aku mau mandi Mas" "Oh ya, sebentar" Mas Adi mengambil handuk dan perlengkapan mandi lainnya. Di rumah paman Mas Adi ini hanya kami berdua, jadi Aku tenang saja bertelanjang melangkah ke kamar mandi. "Kamu benar-benar seksi, Ti ...." Secara refleks Aku menutupi dadaku dengan handuk yang terlipat rapi dan menutup selangkanganku dengan telapak tangan. "Ha ..ha ..ha ... kenapa musti ditutupi, toh Aku udah lihat seluruhnya ...." Aku hanya senyum, masuk kamar mandi dan menutup pintu. Mas Adi menahan pintu. "Entar dong .... kita mandi bareng yuk. Belum pernah kan ?" Dengan sabun cair Mas Adi membalur tubuhku. Di bagian dada dia lebih tepat dibilang mengusap-usap dibanding menyabuni. Juga di selangkangan. Dia minta Aku membuka pahaku dan dengan hati-hati telapak tangannya yang bersabun mengusapi kewanitaanku. Aku bergidik. "Gantian Ti..." Kubalur tubuhnya. Mulai dari leher, turun ke dada, perut dan .... eh, benda itu mulai menegang. Aku hanya selintasan saja membalur miliknya itu lalu ke pahanya. "Eh ... yang itu dong Ti .... biar bersih" "Huu ...maunya" Tapi Aku nurut. Kubalur mulai dari 'telor'-nya dan ketika sampai ke batangnya, benda itu benar-benar telah tegang mengacung.

167

"Ih ... nakal nih ... berdiri melulu ...."kataku gemas. Lalu Mas Adi memelukku, tangannya membuka kran shower. Kami berpelukan erat di bawah guyuran air. Kemudian tubuh Mas Adi perlahan bergeser mendorongku. Pantatku dinaikkan ke meja keramik di samping wastafel dan pahaku dibukanya. Diarahkannya penis tegang itu menuju selangkanganku dan benda itu mulai menggosok-gosok kewanitaanku. Mukanya disusupkan di belahan dadaku. Engga tahu kenapa Aku tak begitu menikmati gosokan penis Mas Adi. Mungkin posisiku yang kurasakan kurang pas. Sebaliknya Mas Adi kurasakan sudah 'tinggi', nafasnya begitu memburu. Tak apalah, kali ini Aku akan memberi Mas Adi kepuasan tanpa menuntut kepuasan untukku. "Gantian ... Mas yang duduk" Mas Adi nurut saja. Penisnya yang menantang langit itu kubelai-belai. Tangan sebelah lagi kugunakan untuk meraba-raba biji pelirnya. Sisa-sisa sabun yang masih nempel di tubuhnya memungkinkan telapak tanganku mengocok batang keras itu. Mulut Mas Adi mendesis-desis. Beberapa menit telah berlalu. Aku heran, Mas Adi belum juga 'sampai'. Berdasarkan 'pengalaman'ku selama ini menstimulir penis Mas Adi, seharusnya dia telah orgasme. Aku lalu ambil inisiatif, kubersihkan busa yang menempel di batang itu dengan air sampai bersih, lalu dengan lidah kutelusuri batangnya mulai dari pangkal sampai ke kepalanya. "Ohhh .... Tiii ...." desisan Mas Adi tambah seru. Ketika batang penis itu dengan perlahan dan bertahap kumasukkan dalam mulutku, mulut Mas Adi makin tak karuan mengoceh. Dengan gerakan berirama kedua belah bibirku seperti mengurut penisnya. Mulai dari pangkal sampai kepala dan balik lagi ke pangkal. Aku tak mempedulikan reaksi mulut Mas Adi yang menceracau. Kuberi dia berbagai variasi gerakan 'mengurut'. Sampai suatu saat Mas Adi merangkul kepalaku, tubuhnya mengejang, mulutnya meneriakkan namaku. Dan ... kurasakan cairan hangat itu menyemprot di dalam mulutku. Seketika mulutku mual dan rasa tak nyaman. Segera kulepas penis Mas Adi dari mulutku, khawatir Aku akan tersedak atau bahkan muntah. Kusaksikan penis Mas Adi berkedut-kedut mengeluarkan cairan putih. "Sorry Ti .... mustinya tadi kucabut ...." "Engga apa-apa Mas ..." Aku tadi memang berniat membiarkan Mas Adi ejakulasi di mulutku dan akan kumuntahkan lagi, tidak kutelan. Tapi baru satu semprotan Aku tak sanggup menampungnya ... *** Benar-benar !. Sejak pagi tadi yang kami lakukan berdua hanya makan, nonton TV, dan seks (atau entah apa namanya, hubungan seks jelas bukan, pokoknya bermesraan sampai puas tanpa penetrasi, mungkin 'petting' istilah yang mendekati). Berdua kami bagai kuda yang selama ini terkekang dan kini lepas kendali. Kesempatan tiba dengan 'pas'. Sudah lama kami tak ketemu, lalu ada rumah kosong yang bisa kami tempati. Sampai sore ini entah berapa kali kami bermesraan, yang jelas dua kali Mas Adi ejakulasi. Pertama,

168

kami lakukan begitu tiba di rumah pamannya ini. Kedua, sehabis mandi Aku mengoralnya. Kami sempat ketiduran setelahnya. Ketika Aku terbangun, kulihat diluar telah gelap. Arlojiku menunjukkan pukul 6.40 sore. Mas Adi masih nyenyak tidurnya, bahkan ngorok. Aku tak tega membangunkannya. Kelihatannya dia benar-benar lelah setelah 'kerja-berat'. Tapi perutku lapar. Aku bangkit dan melangkah ke dapur. Tak ada makanan. Terpaksalah Aku membangunkan Mas Adi. "Mas. ...bangun Mas, udah malam" Mas Adi menggeliat "Hah .... udah gelap" "Emang, yuk kita keluar cari makanan. Narti laper nih" "Oh iya ... kita engga punya makanan ya" Aku lalu mandi dulu, baru Mas Adi. Oh.... alangkah indahnya. Jalan-jalan berdua bergandengan tangan --kadang berpelukan-- di malam hari yang cerah langit penuh bintang. Sebelum masuk ke rumah makan, Mas Adi sempat mengecup pipiku dan berbisik "Mas sayang banget ama Narti ....." "Narti juga, Mas ..." Kubalas kecupannya. Oh ... alangkah indahnya. Sepulang dari makan malam Mas Adi mulai mencumbuku lagi ketika Aku sedang duduk di sofa nonton TV. Blousku berantakan diacaknya, dadaku digigitinya. Lalu dia bangkit dari sofa dan ...... seperti yang sering dia lakukan, menelanjangi dirinya sampai bugil. Penisnya sudah tegang lagi. Entah berapa kali benda itu tegang sejak pagi. Lalu dia berlutut di karpet tepat di depan Aku duduk. Diusapnya dengkulku dan lalu tangannya menyelusup di balik rok-ku membelai-belai pahaku. Aku mulai terrangsang... Disingkapnya rok-ku tinggi-tingi, lalu Cd-ku ditariknya kebawah, perlahan-lahan sampai lepas dari kakiku. Dengan gemetaran Aku menunggu apa yang akan dilakukan Mas Adi. Pahaku dibukanya lebar-lebar, dipandanginya kewanitaanku. Pandangannya yang sayu beralih menatapku. "Yayang nikmati aja ya ...." katanya sambil mendorong kedua bahuku hingga rebah di sandaran sofa. Lalu kepala Mas Adi tenggelam di antara pahaku. Kepalaku mendongak ke arah langit-langit menikmati permainan lidah dan bibir Mas Adi di kewanitaanku. Aku benar-benar serasa melayang. Apalagi kedua telapak tangan Mas Adi menyusup di bawah pantatku yang telanjang, meremas-remas sambil setengah diangkat. Terbangku makin tinggi .....

169

Lalu Mas Adi bangkit. Dilepasnya blouse dan braku, lalu rok-ku. Dengan masih berlutut, kelaminnya diarahkan ke kelaminku. Seperti biasanya, dia akan 'menyapunyapu' Dengan bertelanjang bulat kami berjalan berpelukan menuju kamar. Mas Adi mengarah ke kamar tidur pamannya. "Jangan di situ ah Mas, engga enak" Masa' bermesraan di tempat tidur pamannya. Lalu kami ke kamar depan, kamar Mas Adi dulu ketika masih kerja di Jakarta. Aku rebah terlentang membuka paha, Mas Adi kembali menyusupkan kepalanya di antara pahaku, meneruskan permainan lidah dan bibirnya. Tubuhku mulai terangkat lagi ..... Mas Adi begitu intensifnya menstimulir clit dan liang senggamaku sampai Aku benarbenar pada puncak rangsangan. "Ayolah Mas ....." kudorong kepala Mas Adi hingga lepas dari selangkanganku. Kugenggam batang penisnya dan kusapu-sapukannya pada liangku. Lalu ketika ujung penis Mas Adi tepat di mulut kewanitaanku, kulepas genggamanku pada penisnya dan kutekan pantat Mas Adi ke bawah. Ya, Aku telah memutuskan sekaranglah saatnya untuk benar-benar bersetubuh dengan kekasihku tercinta ini. Aku telah mengambil keputusan untuk melepas keperawananku bersama Mas Adi malam ini. Dasar keputusanku bukan saja karena Aku telah terrangsang tinggi, tapi memang niatku untuk menyerahkannya malam ini begitu kami punya kesempatan bebas di rumah ini. "Ti ....... !" Mas Adi kaget dan menarik pinggulnya hingga penisnya terangkat lepas. "Ayo Mas ..... kita lakukan sekarang ..." "Kamu sadar apa yang kamu omongkan ?" "Iya. Sadar banget" "Engga Ti ..... jangan sekarang ...." "Narti pengin banget Mas ...Mas engga pengin ?" "Dari dulu Ti, Mas pengiin banget, tapi bukan sekarang ..." Aku heran dengan kekasihku ini. Yang biasanya terjadi adalah lelaki yang minta duluan. Ini justru Aku yang minta, eh malah lakinya yang nolak. Aku sepertinya sudah sampai pada 'no return point', sudah begitu lembab dan berdenyutdenyut di dalam sana. Saat itu Aku lupa pada rasa sakit yang mungkin akan Aku rasakan pada hubungan seks yang pertama kali, yang selama ini menakutkanku. Yang Aku rasakan hanyalah keinginan untuk 'diisi dan digosok'. Akhirnya Mas Adi kembali menempelkan ujung penisnya ke 'pintu'ku untuk, seperti biasa, digesek-gesek. Aku menyambutnya dengan amat antusias. Gerakan pinggulku begitu aktif merespons gesekan Mas Adi. Gerakan Mas Adi begitu galak, dan dari wajahnya yang merah padam menandakan dia juga sudah sangat tinggi.

170

Aku ambil inisiatif. Kupeluk tubuhnya erat-erat lalu kugulingkan. Aku di atas tubuhnya sekarang. Pahaku mengangkangi pinggul Mas Adi lalu penisnya yang sudah teramat tegang dan 'membara' kuarahkan ke selangkanganku, lalu Aku menggerakkan pinggulku maju-mundur di atas pinggulnya. Mata Mas Adi terpejam, kepalanya menghadap langit dan mulutnya berdesis-desis. Ketika kurasakan kepala penisnya tepat pada liang senggamaku, Aku menekan. Ahh ... nikmatnya ketika kepala itu memenuhi liangku. Lalu Aku menekan lagi lebih keras, ahh ... sakit kurasakan memenuhi liangku. Aku mengurangi tekananku dan kembali bergoyang. Kuulangi gerakan tadi, ahh ... sakit lagi. Benar-benar sakit selangkanganku ! Tiba-tiba kedua lengan Mas Adi mencengkeram tubuhku lalu tubuhnya miring. Kami bergulingan dan ujung penisnya terlepas dari selangkanganku. Mas Adi kini menindih tubuhku. Kurasakan 'kepala hangat' itu menempel liangku lagi dan berikutnya tubuh Mas Adi kurasakan menekan. Aku terpejam menunggu. Tekanan itu semakin kuat. Bukan sakit lagi yang kurasakan tapi ngilu yang tak tertahankan. Sehingga tanpa sadar mulutku terucap "Aduuh ..." Mas Adi langsung mengendorkan tekanan " Oh ... sorry Yang ...." "Engga apa-apa Mas ...... terus aja Mas ...." kataku terengah. "Kamu engga apa-apa Yang ....." Aku menggeleng. "Yayang yakin ..... kita lakukan sekarang ...?" Aku mengangguk-angguk Lalu pinggul Mas Adi membuat gerakan memompa. Rasa ngilu lenyap, hanya rasa nikmat di bawah sana. Kulihat kebawah, Aku sempat melihat kepala penis Mas Adi timbul tenggelam seirama gerakan pompaannya. Pompaan kecil, hanya ujungnya saja yang keluar-masuk. "Sakit, Yang ...?" Aku menggeleng. Lalu kurasakan Mas Adi menambah tekanannya. Kembali kurasakan ngilu selangkanganku. "Aauuff" seruku. "Sakit, Yang ....?" Aku mengangguk. "Tapi engga apa-apa Mas .... terus saja" Kulihat lagi ke bawah. Separuh batang penisnya telah tenggelam di selangkanganku. Mas Adi benar-benar telah memasuki tubuhku. Kami benar-benar telah melakukannya ! Mas Adi memompa lagi, kini pompaan yang rada panjang. Rasa nikmat kembali datang. Tapi ketika dia menekan lebih kuat lagi, rasa sakit yang kudapat. Begitulah, rasa nikmat silih berganti dengan rasa ngilu. Sampai suatu saat seluruh bagian tubuh Mas Adi telah menindih ketat ke tubuhku. "Yang ..... kita telah melakukannya ..... kita benar-benar berhubungan seks" bisiknya

171

Pada saat Mas Adi berhenti memompa, kulihat bulu-bulu kelamin kami memang telah saling menempel ketat. Penis itu telah seluruhnya tenggelam dalam tubuhku ! "Berarti Narti sudah bukan perawan lagi ...." kataku. Mas Adi mengangguk Entah kenapa tiba-tiba Aku jadi sedih, dan terus menangis .... "Yang ......" Mas Adi memeluk tubuhku lebih erat. "Yang .... jangan nangis dong ..." Dia menciumi wajahku bertubi-tubi. Aku masih sesenggukan. Ada rasa menyesal, ada juga rasa bahagia. "Yayang nyesel ...?" Aku tak menjawab. Kupeluk tubuh Mas Adi erat-erat. Apa yang harus disesalkan ? Semuanya telah terjadi dan Aku memang menginginkannya. Lalu kami saling berpelukan. Lalu kami mulai bergoyang. Mas Adi memompa lagi. Pompaan sempurna. Layaknya pompaan hubungan suami isteri............. ! *** Tubuhnya masih menindihku. Baru saja Mas Adi ejakulasi setelah pompaan hebat yang menghanyutkanku. Tak seperti biasanya tumpah di perutku, entah mengapa kali ini dia tumpahkan ke sprei di antara bentangan pahaku. Setelah beberapa saat kami rebahan lemas, Mas Adi bangkit. "Bangun Yang ...." kata Mas Adi. Dengan malas Aku bangkit. Mata Mas Adi terus tertuju pada bentangan pahaku. "Lihat apa sih, Mas ?" "Yayang geser dulu ". Aku menggeser pantatku, penasaran ingin tahu. Ternyata ...... Bercak-bercak telah 'menghiasi' sprei. Bercak-bercak merah dari tubuhku. Darah dari selaput daraku yang robek. Bercampur dengan mani kekasihku. Mas Adi memelukku. Mungkin dikiranya Aku akan menangis lagi. Kenyataannya Aku memang menangis lagi. "Mas mau berjanji ..?" tanyaku sambil sesenggukan. "Janji apa, Yang ?" "Janji tidak meninggalkan Narti" "Tentu saja Yang. Kita sudah jadi suami-isteri" "Benar, Mas ?" "Benar Ti, kita sudah suami-isteri. Cuma perlu surat nikah saja" "Benar Mas akan menikahiku ?"

172

"Pasti, Ti" "Tak akan meninggalkanku ?" "Tidak" katanya mantap. "Narti sudah bukan perawan lagi ..............." "Tak ada bedanya, Yang" Mas Adi lalu membereskan sprei bernoda itu. Dengan hati-hati sprei itu dilipatnya baikbaik. "Akan Mas simpan untuk kenangan kita" katanya. Lalu kami berdua ke kamar mandi. Kurasakan perih di selangkanganku ketika Aku membasuh. Seperti perihnya luka terkena air. Ini telah menyadarkanku bahwa Narti yang tadi pagi memasuki rumah ini telah berbeda dengan Narti sekarang. Aku sekarang bukan gadis lagi ..... Aku berusaha tak menangis lagi, tapi gagal ...... "Sudahlah Yang ....." Mas Adi memelukku. Aku menangis di dadanya yang bidang. Sudah sering dia memelukku seperti ini. Tapi baru kali inilah aku merasakan rasa aman dalam pelukan Mas Adi. Tengah malam menjelang tidur, kami melakukannya lagi. Aku yang memintanya. Kali ini Aku benar-benar bisa merasakan nikmatnya berhubungan seks, dengan sebenarbenarnya. Benar-benar memabukkan ! Makanya, dengan senang hati Aku memenuhi permintaan Mas Adi ketika bangun pagi Mas Adi minta lagi, meskipun Aku setengah mengantuk. Benar-benar nikmat. Nikmat yang susah digambarkan ! Dan anehnya, ketika Aku telah berada di rumah keluarga Anton dan Mas Adi telah berangkat kembali ke Semarang, serasa penis Mas Adi masih 'tersimpan' di dalam tubuhku bagian bawah sana ..... !!! *** Baru seminggu Mas Adi pindah ke Semarang Aku sudah merasakan kerinduan yang menyiksa. Libur pertama dia tak bisa ke Jakarta mengunjungiku, sebab dia harus memanfaatkan waktu liburnya untuk mencari-cari tempat kost. Untuk sementara dia numpang tinggal di rumah temannya. Sebenarnya, temannya itu tak berkeberatan bila Mas Adi tinggal lebih lama sementara dia mencari kost, tapi Mas Adi merasa tak enak hati saja. Dia harus cepat-cepat mendapatkan tempat tinggal. Aku bisa mengerti bila Mas Adi week-end kali ini belum bisa menemuiku. Yang tak bisa "mengerti" adalah bagian tubuhku yang di bawah sana ... :-)

173

Di dalam sana acap kali berdenyut-denyut merindukan 'belaian', suhu tubuhku naik seiring dengan naiknya keinginan 'diisi'. Kalau sudah begini buah dadaku serasa 'bengkak' dan putingnya keras menegang. Aku sungguh merindukan remasan tangannya dan ciuman mengambangnya di dadaku, serta kuluman pada putingku seperti setiap minggu dia lakukan. Aku juga merindukan pompaannya yang penuh variasi, kadang tusukan mengambang dan setengah batang, kadang hunjaman 'full body'. Oh Mas Adi .... Aku merindukan belaian mesramu yang penuh nafsu .... Perasaan haus belaian Mas Adi begini biasa datang waktu menjelang tidur atau saat sepi siang hari dimana penghuni sedang tak ada. Hanya ada Aku dan Putri, sementara Bi Ijah sepanjang hari hampir selalu ada di belakang. Seperti tadi malam. Aku begitu merindukan belaian Mas Adi sampai tubuhku panas dan bergetar. Aku membayangkan Mas Adi sedang menindihku dan mengemoti putingku. Tapi sebenarnya yang terjadi adalah Aku tanpa sadar meremasi dadaku sendiri dan jari-jariku memelintir puting-puting susuku. Kurasakan tubuhku di bawah sana telah kuyup... Suatu malam saat Aku sedang 'kasmaran' dan meremas-remas dadaku, kudengar suara tangisan Putri. Aku segera bangkit menghampirinya dengan nafas yang masih tersengal. Biasa, Putri terbangun karena pampers-nya basah. Setelah kuganti tangisannya tak juga berhenti, ini artinya dia lapar. Kugendong dia supaya tangisannya tak mengganggu papa mamanya yang mungkin lagi 'main' sementara Aku membuatkan susunya. Tiba-tiba Aku merasakan nikmat yang aneh di dadaku dan tangis Putri berhenti. Oh ! ... kulihat mulut Putri sedang asyik menyedoti puting dadaku ! Dia begitu tenang menikmati 'susu'ku. Dadaku yang tanpa bra belum sempat kututup lagi sewaktu mendatangi Putri tadi. Memang sudah biasa ketika kugendong kepala Putri menyusup di dadaku. Dengan dada yang terbuka dan puting yang masih tegang karena kugosok-gosok sambil membayangkan Mas Adi tadi, Putri dengan mudah 'menemukan'nya. Kalau dadaku dalam keadaan 'normal' tentu sulit bagi Putri untuk mengemotnya. Tapi kejadian ini membuatku pada pengalaman nikmat baru ... *** Pagi tadi Aku sungguh nervous. Betapa tidak. Sebelum Pak Anton berangkat kantor, dia ingin menggendong Putri dan mengambilnya dari gendonganku. Entah sengaja atau tidak, lengan Pak Anton sempat menekan dadaku sewaktu dia meraih Putri dari gendonganku. Tekanan lengannya pas pula di putingku. Aku sungguh berharap semoga saja Pak Anton tadi sama sekali tak sengaja berbuat begitu. Aku tak ingin ada masalah dengan keluarga Anton. Masalah yang sering Aku dengar antara baby sitter dengan majikannya. Aku menyukai pekerjaan ini dan betah

174

tinggal di sini. Aku tak mau kehilangan pekerjaan ini. Aku pantas cemas bila memikirkan jangan-jangan Pak Anton sengaja berbuat begitu dalam rangka coba-coba menggodaku. Menggodaku ? Memangnya kamu siapa. Cukup "berharga"kah kamu di mata Pak Anton ? Lihat isterinya. Cantik, putih, tinggi, langsing bak peragawati. Aku jadi senyum sendiri. Suatu kekhawatiran yang berlebihan kurasa. Ini karena Aku menikmati pekerjaanku. Dengan gaji yang lumayan dan pengeluaran hampir tak ada, Aku bisa menabung untuk persiapan masa depanku bersama Mas Adi. Wajarlah Aku begitu khawatir kalau kehilangan pekerjaan. Tapi dengan membandingkan Bu Anton, Aku merasa lebih tenang. Peristiwa tadi pagi adalah senggolan tak disengaja. Rupanya perasaan tenang yang kualami tak lama bertahan. Tadi pagi lagi-lagi Pak Anton mengambil Putri dari gendonganku sambil punggung tangannya mengusap dadaku. Padahal Aku sudah bersiap dengan menjauhkan jarak Putri dari dadaku, tapi tangan Pak Anton begitu jelasnya sengaja menjangkau dadaku. Dengan muka marah kupelototi mata Pak Anton. Ingin Aku memakinya saat itu juga, tapi mulutku terkunci. Dia menghindar, tak berani menatap mataku. Ini jelas-jelas bukan tak sengaja. Aku menangis. Begitu sedih dan jengkel mendapati kenyataan bahwa Pak Anton memang sengaja meraba dadaku. Ingin rasanya Aku menelepon Mas Adi dan mengadukan perbuatan Pak Anton ini. Tapi Aku begitu khawatir kehilangan pekerjaan. Kalau nanti Mas Adi melapor ke Bu Anton atas perbuatan suaminya itu, pasti Bu Anton menyalahkanku dan lalu memecatku. Orang kecil memang selalu jadi korban. Mana ada Bu Anton menyalahkan suaminya, tak akan terjadi. Kejadian itu berulang lagi dengan cara yang berbeda. Ketika Aku sedang membalur tubuh Putri yang kubaringkan di boks-nya dengan minyak telon, Pak Anton berdiri di belakangku menggoda Putri. Kurasakan pahanya menempel di pantatku. Posisi tubuhku yang setengah membungkuk tak bisa lagi maju karena tertahan boks bayi, paling hanya menggeser kekiri. Tapi dia ikut pula menggeser bahkan sambil menekan. Oh ... kurasakan sesuatu yang keras menekan pantatku. Jelas, benda keras itu adalah penis Pak Anton. Aku tak bisa lagi menghindar dengan menggeser lagi karena kena tiang boks. Aku terpojok tak berkutik. Yang bisa kulakukan hanya cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku untuk segera kabur dari situ. Kurang ajar ! Pak Anton membuat gerakangerakan menggoda anaknya sehingga penis tegangnya menggeser-geser pantatku. Aku hanya bisa menahan diri untuk tak meledak marah. Lagi-lagi Aku hanya bisa menangis ... Setelah agak tenang Aku coba mengingat-ingat kembali perilakuku sejak pertama bekerja sebagai baby sitter di keluarga Anton sampai hari ini. Aku mencoba introspeksi apakah ada kelakuanku yang membuat Pak Anton jadi kurang ajar. Tidak ada. Perilakuku biasa saja. Caraku berpakaian juga sopan, Aku selalu memakai seragam putih yang tertutup.

175

Aku coba meyakinkan dengan bercermin. Tertutup. Tak ada bagian tubuhku yang terbuka. Seragam itu ujungnya sampai di bawah lutut dan bagian dada tertutup. Kalaupun ada yang dibilang rada 'mengundang' cuma ini, di bagian dada rada ketat sehingga kesan menonjol. Tapi itu bukan salahku, memang keadaan dadaku begitu. Aku bisa menarik suatu pelajaran, bahwa seorang pria yang punya segalanya, isteri cantik, keluarga harmonis dan bahagia, bukan berarti dia berperilaku baik pada wanita di sekelilingnya, bukan pula jaminan dia tak akan mengganggu wanita lain. Apa yang musti kulakukan sekarang agar nanti tak jadi runyam ? Minta berhenti ? Tidak. Itu hanya menandakan bahwa Aku seorang wanita lemah yang gampang ditindas. Aku bukan tipe wanita seperti itu. Menerima keadaan menahan diri walaupun dilecehkan ? Tidak. Lalu ? Pertama, sedapat mungkin Aku akan menghindar bertemu dengan Pak Anton. Kedua, kalaupun harus ketemu kuusahakan agar ada orang lain yang hadir. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk mencegah hal-hal yang tak kuinginkan. *** "Mbak Ti, Mbak lagi di mana ?" suara teriakan Ricky. "Di sini Mas" Aku ikut-ikut memanggil Mas pada Ricky, seperti yang dilakukan papamamanya, juga "membahasakan" Putri. Aku sedang menjaga Putri yang sedang belajar telungkup di karpet ruang tengah. "Tolongin dong Mbak banyak pe-er nih" katanya sambil langsung saja duduk dipangkuanku dan tubuhnya menyandar di badanku. Manja benar anak ini. "Heh ... apa nih" katanya setengah kaget. Tapi sebenarnya Aku yang kaget. Ketika dia menyandar ke badanku terasa ada yang mengganjal di punggungnya. Tiba-tiba tangan Ricky meraba benda yang mengganjal tadi yang tak lain adalah buah dadaku. Segera saja Aku menepis tangannya. "He ! Engga boleh begitu ya, nakal tuh namanya" seruku. "Ehm ... sory deh mBak. Ricky gak tahu. Di dada mbak kok ada yang gede gitu" katanya polos. "Semua wanita dewasa memang begitu, masa Mas gak tahu" jelasku. "Punya Mama kok gak ada ?" "Ada dong, kalo engga ada di mana Putri mau menyusu" "Tapi gak gede kaya punya mBak" Aku tak tahu mengapa anak sebesar ini belum mengerti perbedaan tubuh antara pria wanita. Kalau melihat cara bicaranya yang ceplas-ceplos spontan begitu Ricky memang tidak sedang berpura-pura. "Tiap orang kan beda-beda Mas. Ada yang besar, sedang, ada yang kecil" terangku. Sekalian memberi pelajaran pada anak ini. "Jadi punya Mama kecil ya mBak" "Mungkin, Mbak kan belum pernah lihat"

176

"Udahlah. Mana pe-er nya"potongku untuk mengalihkan perhatian. Risih juga Aku, anak ini menatapi bagian dadaku terus. Ricky memang mengalihkan pandangannya, tapi tak mau turun dari pangkuanku dan punggungnya masih menyandar ke dadaku. Anak ini semakin bermanja kepadaku dan tingkahnya cenderung semakin "nakal". Kalau dia duduk di pangkuanku kadang kepalanya sengaja menekan-nekan dadaku. Kadang sambil dia tiduran di pahaku, mencuri-curi pandang ke arah selangkanganku. "mBak pake celana putih ya" ujarnya spontan. Kadang dia masuk ke kamarku selagi Aku berganti baju. Sebenarnya Aku makin khawatir pada tingkah lakunya ini, tapi toh dia masih kekanakan begitu. Aku tak menganggapnya masalah serius, seperti kenakalan Bapaknya. *** Akhir-akhir ini Aku punya kebiasaan baru yang menyenangkan. Sewaktu Aku merasa kesepian merindukan kehadiran Mas Adi lalu jadi "panas", kugendong Putri dan membiarkan anak itu 'menyusu'. Putri dengan nyamannya mengemoti puting susuku yang memberiku kenikmatan baru. Begitulah, kebiasaan yang nakal sebenarnya, tapi lumayan bisa menghiburku. Tentu saja perbuatan ini Aku lakukan bila Aku hanya berdua saja dengan Putri. Bagaimanapun kebiasaan yang nakal ini akan ada akibatnya. Aku kena batunya. Waktu itu nafsuku sedang naik. Duduk di tepian tempat tidurku Aku sedang asyik 'menyusukan' Putri sambil memejamkan mata menikmati kemotannya, tiba-tiba tanpa kusadari Pak Anton sudah berdiri di depanku ! Mati Aku. Habislah Aku ! "Ti ! Ngapain kamu !" bentak Pak Anton. Aku begitu gugup sehingga kemotan Putri terlepas, lalu dia menangis. Wajah Pak Anton begitu marahnya. Pandangannya tidak ke mataku tapi tertuju menatapi sebelah dadaku yang terbuka seluruhnya. Begitu takutnya sampai Aku 'lupa' menutup kancing bajuku. Cepat-cepat Aku menutup dada. "Coba ulangi, apa yang kamu lakukan" Aku gemetar dan diam terpaku. Takut setengah mati. Tamatlah Aku. "Ulangi !" bentaknya. Aku masih diam. "Aku bilang ulangi apa yang kamu lakukan pada Putri" bentaknya lagi sambil mendekat. Perlahan Aku membuka lagi kancing bajuku, mengeluarkan dadaku dan menyusukan Putri. Anak itu tangisnya langsung berhenti. Pak Anton makin mendekat dan jongkok di depanku. Matanya tajam menatap dadaku. "Ampun Pak .... dari tadi Putri nangis terus ...." akhirnya Aku mampu membuka mulut. "Kalo Mamanya tahu kamu bisa dipecat" katanya lagi setelah agak lama sunyi. Bicara begitu tapi matanya tak lepas dari dadaku. "Sayang .... enak ya"katanya kepada Putri sambil mengusap-usap pipinya.

177

Aku diam ketakutan. Begitu pula ketika Pak Anton mulai menyentuh buah dadaku. Aku masih diam ketakutan ketika tangan Pak Anton mulai mengelus buah dadaku. Mendadak Aku sadar, lalu bergerak mundur menghindar. Mulut Putri terlepas dari dadaku. "Kamu diam" bentaknya. Tangan pak Anton makin leluasa mengelusi dadaku, bahkan meremasnya. Saking takutnya Aku hanya diam membiarkan tangannya terus meremasremas. Matanya kini tajam menatapku. "Pantesan Putri diam ....."katanya pelan. Aku masih mematung. "Dada kamu bagus ....." lanjutnya dengan suara serak. Aku mulai berontak menepis tangan nakal Pak Anton.. "Diam kataku"bentaknya. Aku kalah kuat, tangannya masih saja 'bekerja'. Putri menangis keras. "Putri .... Pak" kataku beralasan. Pak Anton bangkit melepaskan dadaku menuju kamar Putri. Aku segera hendak merapikan bajuku. "Kamu diam aja di situ" bentaknya lagi. Aku menurut. Pak Anton membuatkan susu untuk Putri. Baru kali ini Aku melihat dia membuatkan susu anaknya. Lalu dia menidurkan Putri di kasurku dan diberinya susu. Putri langsung diam. Pak Anton kembali ke arahku duduk, jongkok di depanku. Lalu tangannya membuka kancing bajuku dan lalu merabai dadaku. Aku memang tak memakai bra ketika sedang "bermain" dengan Putri. "Pak ....jangan ...." "Kamu sebaiknya diam aja, daripada kulaporkan ke Mamanya Putri !" bentaknya, masih galak. Otakku buntu, tak mampu berpikir lagi cara untuk menghindar dari kenakalan majikanku ini. Mungkin juga karena rasa bersalah yang besar. Aku masih mematung ketika mulutnya mulai menciumi dadaku dan lalu mengemoti putingku. Sementara tangan kirinya menyusup dan meremasi buah dada kananku. Lalu didorongnya tubuhku hingga rebah ke kasur dan ditindihnya tubuhku. Aku benar-benar bagai boneka yang diam saja padahal bahaya mengancamku. Hanya ada satu rasa, ketakutan yang amat sangat. Sampai gaunku dilepasnya dan hanya tinggal CDku saja, Aku masih tak mampu berreaksi. Bahkan tanpa kusadari tubuh bagian bawah Pak Anton telah telanjang. Entah kapan dia melepas celana panjang dan CDnya. Pria ini benar-benar telah kerasukan. Dengan tubuh yang setengah telanjang dia menindihku sementara bayinya berbaring persis di sebelahnya. Ketika dia mulai memelorotkan CDku dan bersiap menghujamkan penis tegangnya ke selangkanganku, mendadak kesadaranku pulih. Aku berontak keras, sekuat tenaga melepaskan dari tindihannya. "Diam Ti, layani Aku baik-baik, Aku tak akan lapor ..." Aku tetap berontak. "Kalau nggak mau diam Aku lapor" "Biar saja. Nanti saya juga lapor ke Ibu !" kataku berani. "Kamu nanti dipecat" "Biar saja !" kataku tegas. Mendadak Aku punya kekuatan.

178

"Saya akan bilangin ke Ibu" tambahku. Mendadak pelukannya mengendor. Kugunakan kesempatan ini untuk melepaskan diri. Pak Anton tidak mencoba menahanku. Aku menang ! "Tubuhmu bagus ...." Aku cepat-cepat memunguti pakaianku dan mengenakannya, di bawah sorot mata Pak Anton. Kini Pak Anton yang mematung. Penisnya masih tegang mengacung. Hmm ... lumayan besar tapi tak sepanjang punya Mas Adi. Huh ! dalam kondisi seperti ini masih saja Aku sempat membanding-bandingkan ... "Baiklah ... kamu nggak benar-benar mau lapor ke Ibu kan ?" katanya kemudian sambil memakai CDnya. Aku diam. "Kamu masih mau kerja di sini, kan ?" "Sebenarnya saya betah kerja di sini, Pak, asalkan Bapak engga mengganggu saya lagi" "Saya engga mengganggu kamu Ti, saya sebenarnya tertarik sama kamu dari dulu" Aku lebih baik diam. "Saya inginkan kamu secara baik-baik" "Bapak engga boleh begitu dong" "Benar Ti, tapi Aku menginginkan kamu" "Tolong ya Ti. Saya akan penuhi permintaan kamu. Apa saja" "Kamu udah lama engga ketemu sama pacarmu, kan ?" lanjutnya Aku masih diam. Pak Anton mendekat. "Aku ingin kita sama-sama menikmati" makin dekat Huh, enak saja. "Okay, saya tunggu sampai kamu bersedia" sambil bangkit dia tiba-tiba memegang kedua bahuku dan lalu mencium bibirku. Aku kaget mendapat serangan tak terduga ini, lalu berontak. Pak Anton malah memelukku kencang. Makin Aku bergerak dia semakin mempererat pelukannya. Aku menyerah, toh dia hanya menciumku. Dilumatnya bibirku dengan ketat, Aku diam membiarkan, tak berreaksi. Aneh rasanya. Pak Anton, orang terhormat, kaya raya, punya isteri cantik ini mencium bibir pengasuh bayinya, Aku, wanita 'biasa'. Bibirnya melumat habis bibirku, Aku masih mematung, tak membalas lumatannya juga tak berusaha menolak. Lalu lidahnya mulai menyapu-nyapu bibirku dan diselipkan ke mulutku. Aku merinding. Entah kenapa lidahku menyambut sapuan lidahnya. Dari rasa merinding Aku merasakan aliran hangat di kepalaku. Dan ... hey, bibirku mulai berreaksi membalas lumatan bibirnya ! Aliran hangat terasa makin meluas ke sekujur tubuhku. Tangan kanannya membukai kancing bajuku dan lalu telapak itu merabai bulatan dadaku. Cara dia merabai dadaku yang setengah mengambang mirip yang selalu dilakukan oleh Mas Adi. Tubuhku bergetar dan rasanya Aku mulai terrangsang. Dadaku serasa membengkak dan putingnya menegang. Perubahan ini dimanfaatkan oleh Pak Anton. Tadinya putingku hanya dirabai oleh ujung jarinya, setelah puting itu tegang menonjol lalu dipelintirnya. Selangkanganku mulai membasah ...

179

Dengan cepatnya gaun seragamku dilepasnya dan tubuhku didorong hingga rebah ke kasur. Entah kenapa Aku nurut saja. Demikian pula ketika Pak Anton menindih tubuhku dan lidahnya menjilati buah dadaku. Mungkin karena Aku mulai terrangsang. Apalagi ketika jari-jarinya menyusup ke CDku dan menggosok-gosok selangkanganku. Aku mulai melayang.... Entah kapan Pak Anton memelorotkan CDku, yang jelas Aku telah bugil. Entah kapan dia mencopoti pakaiannya, yang jelas penisnya tampak mendongak ketika dia membentangkan pahaku lebar-lebar. Detik berikutnya penis hangat itu telah menggosoki vaginaku ... Saat berikutnya lagi benda hangat itu terasa tepat menekan pintuku ... Lalu kurasakan tekanan .... Tiba-tiba wajah Mas Adi melintas di bayanganku. Aku membuka mata. Oh ... bukan wajah Mas Adi yang kulihat, tapi kepala Pak Anton yang menunduk, memegangi penisnya diselangkanganku dan berusaha masuk. Aku tersentak. Secara refleks pahaku menutup, tapi pria bugil ini membukanya lagi dan mencoba menusuk lagi. Oh ... ini tak boleh terjadi ! Aku mengatupkan pahaku lagi. Tapi, seberapalah kekuatanku melawan pria yang telah terbanjur nafsu ini ? Kedua belah tangan kuatnya menahan katupan pahaku dan menekan lagi. Tangannya boleh menahan pahaku, tapi Aku masih punya ruang untuk menggerakkan pinggulku dan membawa hasil, penisnya terpeleset ! Pak Anton jadi lebih "buas", dengan kuatnya dibukanya pahaku lagi lalu mengarahkan batang tegangnya langsung ke liangku, dan dengan kuat pula ditekannya, dan ... ohh ... kurasakan benda hangat itu mulai menusuk. Rasanya "kepala"nya telah masuk. Pegangan tangannya pada pahaku kurasakan mengendor, kugunakan kesempatan ini untuk menutupkan pahaku kembali. Tapi tekanan tusukannya tak berkurang, justru bertambah, sehingga penisnya tak lepas, malahan seolah Aku menjepit "kepala" yang telah masuk itu.. Dan .... edan ! Aku mulai merasakan nikmat di bawah sana. Rasanya Aku mulai menyerah, tak ada gunanya melawan pria yang kesetanan ini. Disaksikan oleh anak bayinya pria ini mencoba menyetubuhi pengasuhnya. Sialnya --atau untungnya ?-- Tubuhku di bawah sana mulai menikmatinya setelah seminggu lebih tak tersentuh. Oh, betapa lemahnya Aku. Betapa mudahnya Aku menyerah. Maafkan Aku Mas Adi, Aku tak kuasa menolaknya. Air mataku meleleh ... aku menangis. Tapi, terjadilah sesuatu yang tak disangka. Pak Anton tiba-tiba dengan cepat menarik penisnya lalu tubuhnya rebah di atas tubuhku. Detik berikutnya kurasakan cairan hangat membasahi perutku. Betapa leganya Aku. Pak Anton telah "selesai" walaupun belum

180

penetrasi. Belum ?. Tepatnya belum sempurna. Aku yakin baru kepala penisnya saja yang masuk. Dengan begitu Aku coba meyakinkan diriku sendiri bahwa tadi memang 'belum terjadi sesuatu'. Pak Anton gagal memaksakan kehendaknya. Diam-diam Aku bersyukur. Hanya sebentar dia menindih tubuhku, Pak Anton lalu bangkit membenahi pakaiannya. Kupandangi dia satu-persatu mengenakan pakaiannya. Matanya menunduk terus, tak berani menatap mataku. Tanpa berkata sepatahpun dia lalu keluar kamar. Mungkin dia malu ...rasain ! (BERSAMBUNG) BABY SITTER 02 Sejak peristiwa percobaan perkosaan Pak Anton terhadapku hidupku jadi tak tenang. Kerja diliputi perasaan was-was, jangan-jangan pas Bu Anton keluar rumah Pak Anton datang siang hari seperti kemarin untuk mengulangi usahanya menyetubuhiku. Jelas Aku tak berani lagi bermain-main dengan Putri untuk mengemoti putingku. Aku juga tak berani dekat-dekat dengan Pak Anton. Kalau dia ingin ngemong Putri lebih baik Aku menyingkir jauh-jauh. Untunglah Pak Anton memang jarang pulang siang. Teringat kejadian kemarin itu sungguh membuatku ketakutan. Betapa tidak, Aku nyaris saja diperkosa oleh majikanku. Untunglah dia keburu keluar, kalau tidak pasti hal itu akan terjadi sebab Aku sendiri sudah tak berdaya menolaknya. Aku sempat menyerah karena bukan saja Pak Anton terlalu kuat memaksaku, tapi juga karena Aku mulai "merasakan enaknya". Inilah yang Aku sesali terus-menerus. Aku juga menyalahkan Mas Adi, kenapa dia lama tak mendatangiku. Sejak Aku merasakan nikmatnya orgasme bersama Mas Adi, milikku yang di bawah sana itu terus-terusan minta diisi. Mauku setiap hari Mas Adi menyetubuhiku. Tapi sekarang dia jauh dan belum tentu setiap minggu bisa ke Jakarta. Wajar 'kan bila Aku juga menyalahkan Mas Adi ? Sebenarnya sih Aku juga salah, kenapa Aku dulu minta Mas Adi untuk terus masuk sehingga Aku kehilangan kegadisanku, lalu jadi ketagihan. Sudahlah. Aku tak menyesal mempersembahkan keperawananku kepada pria yang kucintai itu. Hanya kenapa dia tidak selalu ada bila selangkanganku berdenyut-denyut. Sekarang, ada masalah baru. Pak Anton orang yang terhormat itu menginginkanku. Dan orang itu sehari-hari berada di sekelilingku. Tentu dia akan terus mencoba. Jelas Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menolaknya, tapi sampai kapan Aku mampu terus menghindar ? Mungkin satu-satunya jalan untuk mencegah terjadinya pemaksaan hanyalah bila Aku berhenti kerja. Ini yang tak kuinginkan. Mungkin Aku harus mulai mencari-cari pekerjaan baru. Sungguh suatu hal yang tak mudah mendapatkan pekerjaan di masa multikrisis begini. Nantilah Aku akan minta tolong Mas Adi mencarikan lowongan di Semarang saja. Kalau Mas Adi tanya Aku punya alasan yang kuat, agar bisa selalu bersama Mas Adi.

181

Perkiraanku benar, Pak Anton tak berhenti mencoba, malah dia semakin kurang ajar. Kalau ada kesempatan dia berada dekat denganku sementara Bu Anton ada di lantai atas, pinggulku diremasnya. "Pantatmu bagus" katanya pelan. Aku hanya bisa menepis tangannya, tak berteriak khawatir kedengaran isterinya. Di lain kesempatan dia dengan diam-diam mendekatiku dari belakang lalu merapatkan tubuhnya. Aku hampir saja teriak. "Ssstt Ti.." Aku berusaha melepaskan dekapannya tapi dia makin ketat memelukku. Kurasakan miliknya yang tegang menekan-nekan pantatku. "Cuman gini aja kok...bentar aja..." bisiknya. Ketika Aku berhasil lolos dari dekapannya, kulihat Pak Anton sengaja mengeluarkan penisnya sebelum mendekapku. Orang ini sudah tak waras, pikirku. Oh Mas Adi, tolonglah Aku ... cepat datanglah. Aku tak tahan lagi ! *** Penantianku berujung juga, akhirnya. Mas Adi nelepon liburan besok mau ke Jakarta. Wah ... betapa gembiranya Aku, sampai-sampai mataku basah. Minggu pagi Aku mau dijemput. Tiba saatnya pagi-pagi Aku membereskan Putri dulu sebelum 'kuserahkan' pada ibunya. Lalu Aku mandi sambil bernyanyi-nyanyi gembira. Rasanya ini mandi yang paling lama. Sekitar pukul 8 pagi Mas Adi udah nongol. Ingin rasanya Aku memeluknya erat-erat, tapi mana bisa dilakukan disini. Kami duduk di ruang terletak belakang garasi, Aku memang biasa menemuinya di situ. "Ti ... rasanya Aku pengin nubruk kamu" katanya pelan-pelan. "Tubruk aja Mas, Aku udah siap kok" tantangku. Dicubitnya pipiku, lalu ... "Selamat pagi, Bu" Eh ... Bu Anton nongol, jelas dia sempat melihat Mas Adi mencubit pipiku. Aku jadi malu. "Pagi Di. Kapan datang ?" untung Bu Anton pura-pura tak tahu. "Tadi pagi jam setengah lima" "Naik apa" "Bus malam, Bu" "Ya udah, silakan aja. Ti, bikin minuman, dong" "Oh iya ... sampai lupa ..." Kubuatkan Mas Adi teh panas manis, kesukaannya. "Jam lima udah nyampe ?" tanyaku "Ya" "Langsung ke rumah Oom ?" "Engga" "Lalu ?"

182

"Udahlah. Sekarang aja yuk kita pergi" "Yuk. Habisin dulu tehnya" Aku pamit ke Bu Anton. Lalu sambil menggandeng tangan Mas Adi Aku keluar, rasanya bahagia benar Aku pagi ini. Di teras ada Pak Anton lagi baca koran. Dia sempat melihat Aku melepaskan tangan Mas Adi. Aku juga pamitan. Pak Anton bukannya langsung bilang 'Ya' tapi melongo melihatku. Matanya meneliti dari ujung rambut ke ujung jariku. "Saya pergi, Pak" kuulangi pamitanku. "Eh ... ya ..ya" sahutnya. Ketika telah keluar pagar, Mas Adi menggamitku. "Kenapa sih Pak Anton ?" tanya Mas Adi. "Dia emang biasa acuh" jawabku. "Justru engga. Jangan-jangan naksir kamu" OH ! sekejap Aku tercekat. Lalu ingat bagaimana Pak Anton sempat menelanjangiku dan bahkan sempat menyusupkan kepala penisnya. "Mas !" kataku sambil mencubit lengannya. "Aaw ... cuma bercanda gitu aja kok marah ..." Untunglah Mas Adi hanya bergurau. Gurauan yang tepat sasaran ! Kami mencegat taksi dan Mas Adi menyebutkan tujuannya. Kalau tak salah itu nama hotel kecil. Kutatap mata Mas Adi. "Aku tadi langsung ke hotel, habis masih gelap" bisiknya. Diam-diam Aku senang. Berarti nanti Aku bisa langsung meluapkan rasa rindu. "Sempet tidur dulu tadi sejam" lanjutnya. Sampai di hotel kami langsung menuju kamar. Petugas front office melihat kami cuma sekilas, lalu nunduk lagi. Begitu Mas Adi selesai mengunci kamar, Aku dipeluknya kencang sekali sampai sesak. "Oh ..Ti ...kangen banget" "Narti juga Mas ..." Lalu bibirku dilumatnya habis-habisan, lidahnya menerobos masuk mulutku. Kami berciuman sambil saling memainkan lidah. Kurasakan milik Mas Adi mengeras. Mas Adi melepaskan pelukan dan langsung melepas kancing-kancing gaunku. Aku menunggu sambil dadaku naik-turun seirama alunan nafasku yang mulai memburu. Gaunku jatuh ke lantai. Mas Adi dengan cepat menelanjangi diri sampai bugil. Penisnya sudah tegang mengacung. Lalu perlahan dia mendorong tubuhku hingga rebah ke kasur, dan menindih tubuhku. Tekanan tubuh telanjang Mas Adi di atas tubuhku makin kuat. Kedua belah tanganku dibentangnya untuk ditindih oleh kedua belah tangannya pula. Kesepuluh jari-jari tangan Mas Adi meremasi sepuluh jari-jari tanganku. Lalu sebelah tangannya menyusup dibalik punggungku. Aku tahu apa yang akan dilakukannya, melepas kaitan bra-ku. Mas Andi memang punya cara sendiri dalam proses persetubuhan. Sebelum menindih tubuhku dia lebih dulu bertelanjang bulat, sementara Aku masih mengenakan bra dan CDku.

183

Aku menyukai cara dia 'memperlakukan' buah dadaku, aku sampai hafal tahapannya. Kali inipun prosesnya sepertinya akan berjalan sama. Perlahan dia membuka bra-ku, lalu sejenak dipandanginya kedua buah dadaku bergantian kanan-kiri. Dia memang selalu mengagumi bentuk dadaku. "Bulatan yang sempurna" katanya suatu ketika. Kemudian telapak tangannya mengelusi bulatan bukit-bukit dadaku. Cara mengelusi permukaan bukitku yang 'mengambang', antara terasa dan tidak justru membuatku bergidik. Kemudian dilanjutkan dengan sentuhan-sentuhan lembut di kedua putingku yang semakin membuatku 'naik'. Aku memang paling tak tahan kalau dadaku disentuh. Bagiku daerah itu memang sensitif, selain daerah paha bagian dalam dan, tentu saja seluruh wilayah vaginaku. Lalu tahap-tahap perlakuan kepada buah dadaku diulangnya tapi proses yang kedua ini dilakukan dengan mulut dan lidahnya yang berujung kemotan nikmat di puting dadaku. Lalu ketika ciuman Mas Adi bergeser makin ke bawah, dia langsung menyerbu selangkanganku yang masih tertutup CD. Digigitinya daerahku di situ dan tubuhku berkelojotan. Nafsuku makin naik. Tubuh Mas Adi lalu bangkit, perlahan dipelorotkannya CDku dan pahaku dibentangnya. Biasanya tahap berikut adalah Mas Adi membenamkan mukanya ke situ. Tapi Aku sudah demikian 'matang' lembab. Kutahan kepalanya yang mulai menunduk. Mas Adi mengerti, penisnya yang tegak menegang gagah segera diarahkan ke kelaminku. Inilah saat-saat indah yang menegangkan, saat penantian dimana miliknya yang berwarna kegelapan mulai memasuki tubuhku, saat memulai rasa nikmat. Adalah merupakan 'kesepakatan' kami berdua bahwa penetrasi harus dia lakukan dengan perlahan dan bertahap, tak boleh terburu-buru, apapun alasannya. Demikian pula saat memompanya, masuk perlahan sampai seluruh batang penisnya tenggelam, lalu menariknya secara perlahan pula. Sehingga Aku bisa menikmati sensasi gesekan pada relung-relung liang senggamaku. Paling tidak untuk belasan kali 'pompaan' dulu, selanjutnya terserah Anda, eh .. Mas Adi untuk membuat variasi gerakan sampai akhirnya Mas Adi membiarkan Aku menikmati detik-detik orgasme-ku lebih dulu dengan melayang-layang ke awan kenikmatan. Setelah Aku kembali 'mendarat' di bumi, barulah Mas Adi melanjutkan pompaannya sampai dia mencabutnya dan menumpahkan 'air kehidupan' di perutku ... Begitulah umumnya persetubuhan yang kami lakukan berjalan. Kami selalu mampu mencapai puncak kenikmatan dengan cara itu. Tentu saja proses seperti itu tidak begitu saja kami temukan. Didahului dengan kegagalan-kegagalanku mencapai 'the big O' pada awal-awal persetubuhan kami, kami terus berusaha, berbicara terbuka tentang perlakuanperlakuan Mas Adi apa saja yang membuatku nikmat, demikian pula sebaliknya. Aku bisa menemukan 3 daerah tubuhku yang sensitif ini juga berkat diskusi yang terbuka (dan juga "percobaan-percobaan") yang kami lakukan. Sementara bagi Mas Adi daerah

184

sensitifnya terpusat pada hanya yang satu itu.... Entahlah apa semua lelaki memang begitu, Aku tak tahu. Oleh karena itulah Aku kini rela melakukan oral untuknya, meskipun pada awalnya Aku begitu jengah melakukannya. Bukan faktor keterbukaan itu saja yang membuat hubungan seks kami menjadi begitu nikmat. Faktor lainnya adalah --dan ini yang terpenting-- kami saling mencintai. Kami menjadi saling tergantung. Bagiku Mas Adi adalah segalanya, demikian pula sebaliknya. Jadi, seandainya Aku bilang --dengan gaya menggurui-- faktor penting yang membuat hubungan seks menjadi 'surga' adalah saling mencintai dan keterbukaan, bukanlah omong kosong, karena Aku mengalaminya sendiri. (Bagaimana dengan Anda pembaca ?). *** Liburan akhir minggu ini keluarga Anton akan berlibur ke Bandung. Rencana berangkat Jumat pagi-pagi sekali karena Pak Anton ada urusan bisnis dulu pada hari Jumat dan pulangnya Minggu sore. Bu Anton memintaku untuk ikut pergi dan Aku sudah menyatakan bersedia, sebab Mas Adi minggu ini tak bisa ke Jakarta. Ada perasaan senang yang bercampur khawatir. Senang karena selama berlibur toh tugasku sama saja kalau di rumah, mengasuh Putri. Aku bisa menikmati menginap di hotel mewah dan makan enak. Keluarga kaya ini selalu memilih hotel besar bila berlibur. Lagi pula Aku belum pernah lihat kota Bandung. Khawatir karena Pak Anton memanfaatkan kesempatan ini untuk mencoba menyetubuhiku lagi. Aku tak mau peristiwa itu terulang lagi. Cukuplah sekali saja penderitaan itu. Amat susah menghilangkan rasa bersalahku kepada Mas Adi yang sampai kini masih kurasakan. Sekitar setengah enam pagi kami meninggalkan Jakarta menuju Bandung dengan mobil Pak Anton. Bang Hasan yang menyetir mobil mewah dan besar ini. Aku duduk di depan sambil menggendong Putri yang masih tidur. Pak dan Bu Anton di jok belakang bersama Si Ricky. Ketika baru masuk tol Jagorawi Putri bangun. Bagiku lebih merepotkan, karena dia meloncat-loncat di pangkuanku dan terkadang merayap ke belakang minta ikut ibunya. Sampai masuk Bandung sekitar pukul sepuluh Putri tak tidur lagi. Kami langsung menuju hotel H yang besar dan ramai di jalan yang kemudian Aku tahu namanya jalan Juanda. Tak jauh dari hotel ini ada Mall yang lumayan besar. Keluarga Anton menempati dua kamar yang bersebelahan. Satu untuk suami isteri kaya itu dan satu lagi untuk Aku dan dua anaknya. Bang Hasan rupanya tak ikut menginap di hotel, dia minta izin mengunjungi familinya di Bandung dan hari Minggu akan bergabung kembali. Tak berapa lama masuk kamar Putri ketiduran lagi. Kugunakan kesempatan ini untuk berberes-beres peralatan Putri. Setelah itu Aku berniat mau mandi. Si Ricky tadi hanya menaruh tasnya terus langsung keluar lagi, mau ke lobby katanya. Selesai Aku mandi Si Ricky sudah kembali, Putri masih tidur. Ricky langsung masuk kamar mandi. Aku masih

185

belum terbiasa tinggal di hotel, jadi waktu masuk kamar mandi tadi Aku tak membawa pakaian dalam, seperti kebiasaan di kamarku. Jadi Aku keluar kamar mandi hanya mengenakan daster saja tanpa daleman. Aku bermaksud mau mengenakan bra dan CD khawatir nanti tiba-tiba Ricky keluar dari kamar mandi. Aku duduk di ranjang dengan tangan menggenggam pakaian dalam menunggu keluarnya Ricky. Begitu keluar dari kamar mandi Aku belum sempat bangkit Ricky langsung duduk di pangkuanku, menyandarkan punggungnya ke dadaku. "Entar dong Mas, mBak mau mandi dulu" "Lho, tadi mBak kan udah mandi" Aku salah omong, maksudnya mau ke kamar mandi. "Mau ke kamar mandi, ganti baju" "Bentar aja mBak, capek nih" Tanpa kuduga Ricky memutar punggungnya dan lalu tangannya mengusap buah dadaku. "Mas .... engga boleh nakal gitu" Aku kaget. "Pantesan .... empuk. Mbak gak pakai beha, ya" "Ini mau dipakai. Makanya Mas bangun dong"kataku sambil menunjukkan isi genggaman tanganku. "Pakai di sini aja, mBak" "Engga !" Lagi-lagi Ricky membuat gerakan tak terduga, belahan dasterku dikuaknya. "Lihat ya Mbak ...." Dengan cepat Aku mencegah tangannya dan lalu mendororng tubuhnya dari pangkuanku. "Kalo Mas nakal gitu, entar gak boleh pangku lagi, lho" "Ya deh mBak, sorry..." *** Selesai sarapan rencananya semua keluar pakai mobil Pak Anton yang setir. Pak Anton ke kantor sedangkan Bu Anton, Ricky, Aku dan Putri nanti turun di Mall untuk jalanjalan. Tapi karena Si Putri masih pulas tidurnya, Aku tak jadi ikut, nungguin Putri. Tinggalah Aku di kamar sendiri, Putri begitu pulasnya. Aku rebahan di sebelahnya sambil baca majalah, tapi tak bisa konsentrasi. Ingatanku ke Mas Adi melulu. Aku bayangkan bila saja Mas Adi sekarang ada di sini .... ooh bisa dua atau tiga ronde kita 'selesaikan' sementara menunggu mereka pulang. Bisa dilakukan di kasur ini, atau di atas karpet yang cukup tebal, atau di kamar mandi. Ya, di kamar mandi Aku duduk di tepian meja dekat wastafel dengan kaki membuka, lalu Mas Adi masuk sambil berdiri. Membayangkan itu semua Aku jadi basah ... Khalayanku berlanjut. Kubayangkan Mas Adi telanjang bulat menindih tubuhku, lalu membukai dasterku dan menciumi buah dadaku. Pada kenyataannya tangan kiriku sendiri yang membuka kancing daster dan mengeluarkan buah dadaku dari bra, lalu jempol dan telunjukku memelintir puting dadaku. Ciuman Mas Adi bergeser ke bawah

186

menciumi perutku. Pahaku kubentangkan lebar seolah menampung kepala Mas Adi yang sedang menjilati clit-ku yang membasah (kenyataannya : tangan kananku telah menyusup ke cd dan mulai menggosok-gosok). Nafasku makin memburu. Gelisah. Tubuhku berkelejotan dan serasa mulai melayang .... Tiba-tiba kudengar pintu diketuk. Aku kembali mendarat ke bumi dan dengan gugup merapikan bra dan dasterku. Sambil menyeka keringat di wajahku Aku berjalan menuju pintu. "Oh ... Pak ...." Kaget bukan main Aku, ternyata Pak Anton. Tanpa bersuara Pak Anton langsung masuk dan menutup pintu kembali. Tiba-tiba Aku sadar akan bahaya yang bakal mengancamku. Celaka ! "Bapak engga ke kantor" tanyaku mengatasi rasa gugup. "Sstt..." jawabnya sambil memberi tanda menyilangkan jari di bibirnya dan mendekatiku. Kedua tangannya ke bahu kanan kiriku. Lalu sebelah tangannya membelai pipiku. "Narti ....."panggilnya dengan suara serak. Lidahku kelu. "Kuminta kamu rela ........" jarinya merabai bibirku. "Tidak, Pak. Jangan ......" bibirnya menutup bibirku dan lalu melumatinya. Kedua belah angannya merangkul tubuhku. Aku dipeluknya erat sekali. Kurasakan benda keras itu menghunjam perutku. Uh ...keras banget. Aku melepas ciuman, tapi tak mampu melepaskan rangkulannya. "Kumohon Pak .... jangan" kataku menghiba. Dadaku diremasnya. Aku menepis. Tangannya pindah ke pantatku, diremasnya pula. Lagi-lagi Aku menepis. Masih sambil memeluk tubuhku di dorongnya hingga Aku rebah di ranjang Ricky. Disingkapnya rok dasterku dan dipelorotkannya cd-ku. Gerakan yang tiba-tiba dan tak terduga ini gagal kucegah. Lalu Pak Anton membenamkan wajahnya di selangkanganku. Kututup pahaku hingga menjepit kepalanya. Pak Anton bangkit melepaskan jepitan pahaku. "Narti .... tolonglah ... sebentar saja" "Jangan Pak .... " kataku setengah menangis. "Sekali ini saja, udah itu saya tak akan ganggu lagi, Ti..." Tangan kuat Pak Anton membuka pahaku. Percuma. Sia-sia saja melawan gerakan Pak Anton yang kuat. Kubiarkan dia menjilati kewanitaanku. Aku malu Pak Anton tahu Aku telah basah. Akhirnya Aku pasrah. Semoga dia benar-benar menepati janjinya, hanya sekali ini saja. Toh seperti dulu, dia hanya sebentar saja. Oh ... lidahnya sungguh amat berpengalaman, membuatku secara perlahan mulai "naik". Aku muak dengan kelakuan majikanku ini, tapi Aku tak berdaya melawannya. Aku benci ! Aku membenci diriku sendiri yang tak berdaya melawan, malah terrangsang. Dalam keadaan frustasi begini apa yang bisa kulakukan selain menangis. Apalagi kini Pak Anton telah telanjang bulat dengan penis keras mendongak. Penis yang membuat Bu Anton merintih-rintih keenakan. Penis yang pernah sebentar memasuki tubuhku dan kini akan memasukinya lagi.

187

Tangisanku yang sesenggukan menghentikan gerak Pak Anton yang telah membentangkan pahaku dan siap menusuk. Pak Anton merangkak mendekati mukaku. "Ti ... kumohon kamu rela ..... sekali ini saja ..." Aku masih sesenggukan. "Sekali ini saja ... melayaniku, Ti ..." "Kenapa engga sama Ibu aja ...." Lalu mulailah Pak Anton ngoceh nerocos tentang perlunya variasi bagi pria yang sudah belasan tahun menikah. Tentang dia tak berani meniduri perempuan sembarangan bila butuh variasi. Dia bisa saja 'membeli' perempuan yang paling mahal sekalipun, tapi dia tak mau melakukan. Seks dengan membeli itu sama sekali tak nikmat dan penuh resiko kena penyakit. Cerita berlanjut bagaimana dia telah mengamatiku dari sejak Aku mulai bekerja. Mengamati pergaulanku. Sehingga sampai pada kesimpulan bahwa Aku "bersih". Dia makin yakin setelah menikmati 'aroma' kewanitaanku. "Si Adi sungguh beruntung" katanya lagi. "Punyamu sungguh berbeda" sambungnya. "Enak banget .... legit" katanya lagi makin ngaco merayuku. "Itulah kenapa saya tak kuat lama ...." Akunya. "Okay, sekarang jangan nangis lagi ya ... saya minta kamu ikhlas memberikan" Pak Anton menggeser tubuhnya ke atas lagi sampai penisnya mendekati mukaku. Kulihat penis itu tak setegang tadi. Agak menurun. Lalu penis itu disentuhkan ke mulutku. Tiba-tiba terlintas dalam benakku. Lebih baik Aku oral saja dia sampai keluar lalu kumuntahkan maninya, daripada dia menyetubuhiku. Mendapatkan ide itu Aku tak menolak ketika penis itu mulai menerobos mulutku. Pak Anton mendesah. Aku tinggal membayangkan sedang mengulum penis Mas Adi. Benda itu dengan segera membengkak dan mengeras. Aku makin intensif menguluminya. Tapi Pak Anton mencabutnya. Aku kira dia akan muntah, tapi tidak. Pak Anton bangkit. Dibukanya pahaku lebar-lebar, lalu mengambil posisi siap tusuk. Menekan dan 'kepala'nya masuk. Dipompanya sambil membentang pahaku lebih lebar lagi. Perlahan penisnya marasuk lebih dalam. Pompa lagi dan secara perlahan tapi pasti terus masuk. Sampai akhirnya seluruh batang telah tenggelam. Tubuhnya rebah menindihku, kedua belah tangannya menyusup ke punggungku dan memeluk kuat tubuhku. Perlahan pinggulnya mulai memompa. Naik-turun dan kanan-kiri. Kadang diputar. "Ooh .... kamu benar-benar sedap ....." bisiknya dekat telingaku. Oh ... dia benar-benar telah menyetubuhiku. Pak Anton meniduri pengasuh anaknya dengan "disaksikan" oleh anaknya sendiri. Pak Anton asyik berhubungan seks dengan wanita bukan isterinya sementara anaknya tidur di ranjang yang hanya semeter jaraknya ! Kuharapkan beberapa kali pompaan Pak Anton segera mencabut dan menumpahkannya di perutku seperti waktu lalu. Harapanku meleset. Sudah belasan pompaan tak ada tanda-tanda 'sampai'. Justru timbul kekhawatiranku, aku mulai menikmati pompaannya !

188

Sungguh lihai dia membuat variasi gerak pompaan. Tusukan 'setengah' dikombinasi dengan tusukan full. Tusukan 'arah' atas bervariasi dengan arah bawah. Hunjaman dari kiri bergantian dengan dari kanan. Pak Anton yang sekarang sedang memompaku berbeda dengan Pak Anton beberapa hari lalu. Entah kenapa dia jadi kuat sekarang. Hampir menyamai Mas Adi. Terus terang tubuhku mulai terangkat dan melayang ... Suatu saat di tengah pompaan Pak Anton tiba-tiba mencabut. (dan ... ah, sialan Aku jadi merasa 'kehilangan'). Tiba saatnya juga akhirnya. Detik berikutnya akan kurasakan tumpahan hangat di perutku. Oh ... tapi tidak ! Penis itu masih mengacung gagah. "Gantian Ti .... Aku di bawah ..." pintanya. Aku mau saja bangkit dan memberi kesempatan Pak Anton rebah terlentang. Lalu tanpa diminta Aku melangkah mengangkangi tubuhnya. Dengan Mas Adi Aku memang biasa berganti posisi Aku di atas. Jadi Aku tahu maksud Pak Anton. Aku jadi tak malu-malu lagi menuntun penis Pak Anton agar tepat arahnya sebelum Aku menduduki tubuhnya. Aku juga tak malu menggoyang pinggulku di atas tubuh Pak Anton. Bahkan ikut 'membantu' kedua belah telapak Pak Anton meremasi buah dadaku. Lalu dia mengangkat punggungnya dan memeluk tubuhku. "Ohh ... sedapnya kamu Ti ..." Pelukannya makin erat sehingga tak memungkinkan kami bergoyang lagi. Tubuhnya diam memeluk. Celaka, jangan-jangan dia keluar. Dalam posisi begini jadi susah mencabutnya. Ternyata tidak. "Ganti posisi lagi ya sayang ..." Uh, dia memanggilku dengan 'sayang'. Kulepaskan penisnya lalu Aku turun dari pangkuannya dan ambil posisi terlentang. Kulihat penisnya masih perkasa begitu. Sungguh mengherankan, berbeda jauh dibanding beberapa hari lalu ... "Telungkup ...Ti" perintahnya. Ohoi, Aku nurut saja. Begitu juga ketika dia mengatur posisiku seperti merangkak. Gaya apa pula ini ? Mas Adi belum pernah begini. Punggungku dimintanya lebih merendah lagi. Pinggul bertumpu pada lutut. Dan ..... ahh ... penis Pak Anton memasuki tubuhku dari arah belakang (belakangan Aku tahu ini adalah gaya 'doggie'), persetubuhan gaya anjing. Enak juga ... Gila nih lelaki, masih belum nyampe juga. Padahal beberapa hari lalu dia 'peltu', menempel langsung 'metu' (keluar). Setelah banyak tusukan gaya doggie, Pak Anton minta mengubah lagi dengan gaya 'biasa', Aku di bawah. Rasanya gaya ini yang paling mendatangkan kenikmatan. Kembali Pak Anton mempraktekkan berbagai variasi tusukan. Dan ... Oh ... Aku juga tak kalah seru merintih dan melenguh. Merambat naik pelan dan pasti. Serasa tubuh mulai terangkat dan melayang-layang. Makin tinggi dan tinggi ..... dan ..... tubuhku bergetar. Tepatnya 'kedutan' tubuh yang teratur dan di luar kontrolku. Kesadaranku sejenak hilang. Hawa nikmat yang terpusat di selangkanganku kini menyebar ke seluruh tubuh, sampai ke ujung-ujung jari sekalipun. Sampai-sampai tubuh Pak Anton ikut berkedut, karena selama proses "the big-O"ku ini dia menghentikan tusukannya dan mendekap tubuhku kuat-kuat.

189

Ketika beberapa saat kemudian kedutan tubuhku makin melemah, Pak Anton melepas dekapannya dan bangkit lalu mulai menusuki lagi. Ampuun .... rasanya .... ngilu ! Untunglah penderitaanku ini tak lama. Suatu saat dia mempercepat pompaannya, lalu penisnya dicabut dan tumpah di perutku. Maninya membasahi perutku yang telah basah oleh keringat. Keringat kami berdua. "Uuhh .... uuhhh .... "lenguhnya di sela-sela tarikan nafasnya yang memburu. Lalu tubuh itu rebah di atas tubuhku. Kurasakan berat tubuhnya bertambah. Mungkin karena dia lemas sehingga membebankan seluruh berat tubuhnya pada tubuhku. "Ooh ...Ti .... kamu sedap banget ...."bisiknya di dekat telingaku sambil masih terengah. Aku diam. Pipiku diciumnya, lalu "Punyamu itu .... nikmat banget ...." Aku masih diam. "Sempit dan legit ....." Tiba-tiba Aku tersadar. Aku yang sedang dalam proses mendarat kembali ke bumi serasa dibangunkan dari mimpi. Ucapan Pak Anton yang terakhir itulah yang menyadarkanku. Sadar betapa bodohnya Aku. Bagi Pak Anton Aku adalah bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seonggok daging yang dipilihnya karena 'sempit dan legit'. Memang baru saja dia memberiku kepuasan sama seperti yang dilakukan Mas Adi, tapi itu hanyalah 'efek samping' dalam rangka usaha dia mencapai kenikmatan. Aku hanyalah sebongkah tubuh alat pemuas nafsu. Celakanya Aku membiarkan saja semuanya terjadi. Membiarkan tubuhku ini sebagai alat dia mencari kenikmatan. Posisiku sebagai pekerja tak mampu menolak umbaran nafsunya. Posisiku memang lemah. Dalam diriku tiba-tiba muncul rasa benci. Benci kepada diriku sendiri kenapa jatuh pada posisi yang lemah begini. Juga benci kepada tubuh yang menindihku, majikanku ini, yang telah memanfaatkan posisi di atas anginnya untuk mendapatkan kenikmatan. Aku marah. Darahku mendidih. Aku berontak. Dengan mudah Aku lepas dari dekapan Pak Anton dan tubuh itu terguling dari badanku, bahkan dia hampir terjerembab ke karpet. "Ti ..... " teriaknya. Aku tak peduli. Aku bangkit masuk ke kamar mandi. Seharusnya Aku tadi mendorong tubuhnya biar sampai jatuh. Seharusnya Aku tadi memakinya ketika dia teriak. Tapi Aku tak berbuat apa-apa. Rasa benci dan marah hanya bisa membuatku menangis. Pak Anton masuk. "Kenapa nangis, Ti ?" Kenapa kepalamu ! Bahuku disentuh. Langsung tangannya kutepiskan. "Bapak lebih baik keluar sekarang" teriakku. "Ya ..ya....tapi kenapa ?" "Atau saya telepon Ibu ?"

190

"Okay .... okay ...." dengan cepat dia keluar. Kukunci pintu kamar mandi. Kulanjutkan tangisku. Aku benar-benar membencinya. Sejurus kemudian pintu kamar mandi diketuk. Pak Anton memanggil-manggil namaku. "Bapak belum juga keluar !" teriakku. "Putri bangun, Ti ..." "Pokoknya keluar dulu !" Kubersihkan tubuhku dari ceceran mani Si Maniak itu. Setelah Aku yakin Pak Anton telah keluar kamar, Aku baru keluar kamar mandi. Kudapati Putri nangis di pinggir ranjang, hampir jatuh, kubiarkan saja. Aku jadi malas mengurusnya. Tapi lama-lama Aku kasian juga, anak ini tak bersalah. Yang jahat adalah bapaknya, kenapa dia yang jadi korban ? Kuambil Putri dan kupangku, langsung saja dia menyergap buah dadaku. Oh ... Aku baru sadar belum berpakaian. Ah biar saja, Putri begitu asyik mengemoti putingku. Biar saja kalau tiba-tiba Bu Anton masuk melihat Aku 'menyusui' anaknya. Sekalian saja Aku akan bilang tingkah suaminya yang telah meniduriku. Biar mereka bertengkar. Biar. Begitu bencinya Aku pada Pak Anton, diam-diam tumbuh rasa dendam di hatiku. Ingin membalas kelakuannya. Tapi bagaimana cara membalasnya ? Sekarang memang belum terpikirkan. Pokoknya nanti begitu ada kesempatan, aku akan melakukannya. Aku tak tahu apa yang harus kukerjakan siang ini. Bu Anton dan Ricky belum pulang dari Mall, Si Putri sudah tertidur. Ah, lebih baik Aku tidur saja, lelah juga tubuhku dikerjain oleh Si Munafik itu. Dia benar-benar munafik. Sering sekali dia menunjukkan keluarga yang harmonis, sangat sayang kepada isterinya. Tapi dibelakang isterinya diamdiam dia meniduri pengasuh anaknya, sambil menceritakan kekurangan isterinya. Kurapikan tempat tidur kembali. Kutata sprei yang berantakan dan kubetulkan letak bantal. Tiba-tiba mataku menangkap ada sampul tertutup di bawah bantal. Sampul surat berlogo perusahaan Pak Anton dan tak ada tulisan tangan di atasnya. Milik siapa ini ? Karena rasa penasaranku kubuka sampul itu. Ternyata isinya setumpuk uang dan selembar kertas bertulisan tangan : "Narti, Bapak puas banget. Terima kasih ya. Besok Bapak hubungi lagi" Mandadak darahku mendidih. Kurobek kertas itu dan kulempar amplopnya. Isinya berantakan dilantai. Kurang ajar ! Dianggapnya Aku ini apa ? Perempuan bayaran ? Benar-benar suatu penghinaan dan pelecehan ! Tak pernah sedikitpun terlintas di kepalaku untuk menerima banyak uang tanpa bekerja. Untuk apa Aku bersusah payah kerja sebagai perawat di rumah sakit ? Untuk apa Aku kerja sebagai baby sitter ? Niatku makin bulat untuk membalas dendam. Hati boleh panas tapi kepala harus tetap dingin, begitulah ajaran ibuku. Mana bisa menyusun rencana pembalasan dengan kepala panas ? Aku coba untuk mendinginkan diri. Kukumpulkan kembali uang yang berserakan itu, Aku masukkan ke dalam sampulnya bersama secarik kertas tulisannya.

191

Rencana uang itu akan kusimpan saja, tak akan kugunakan. Jumlahnya hampir sama dengan dua bulan gajiku. *** Ketika keluarga Anton makan malam bersama di restoran hotel, Aku ikut untuk menyuapi Putri. Sesekali ekor mataku menangkap mata Pak Anton mencuri-curi pandang ke arahku. Suatu saat dengan memasang muka marah kutatap mata Pak Anton, aha ... dia cepat menunduk dan jadi salah tingkah. Selesai makan kami jalan-jalan menyusuri jalan depan hotel menikmati udara malam Bandung yang sejuk, lalu masuk ke (lagi-lagi) Mall. Beginilah model orang kaya berlibur. Kalau tidak ke luar negeri, ke Bali, atau jalan-jalan ke Mall membeli apa saja. Suatu saat di sebuah butik di lantai 1 Bu Anton sedang sibuk memilih-milih pakaian, Pak Anton mendekatiku. "Awas ... saya akan teriak" bisikku ketika tangannya mulai menjamah pipi Putri yang kugendong. Aku mengantisipasi gerakan tangan dia selanjutnya. Pak Anton langsung menjauh. Ciut juga nyalinya. Mungkin saja dia memang hanya ingin menyentuh anaknya, bukan menjamahku, Aku tak peduli. Pulang dari jalan-jalan Aku sudah demikian lelahnya ingin cepat-cepat merebahkan tubuh. Untunglah Putri sudah lelap. Ricky menonton TV. "Kecilin suaranya ya Mas, mbak mau tidur" Ricky mematuhiku. Lalu Aku terlelap .... Aku memimpikan Mas Adi tiba-tiba menyusul ke Bandung dan marah-marah kenapa Aku mau saja ditiduri Pak Anton. Sambil menangis Aku menjelaskan situasinya yang menyudutkanku. Aku juga menyalahkannya. Lalu tiba-tiba Mas Adi telah menindih tubuhku. Dibukanya kancing dasterku dan kemudian bra-ku. Diusapnya bulatan buah dadaku, usapan seperti biasa, mengambang antara sentuhan dan tidak. Lalu puting dadaku dikemotnya. Aku terbangun ... Kaget bukan main Aku. Begitu membuka mata kurasakan sesosok tubuh menindihku. Ah ini mimpi. Ketika kesadaranku berangsur pulih, hey ... ini bukan mimpi. Samarsamar kulihat tubuh itu benar-benar ada. Kepalanya menyusup di dadaku. Mulut itu benar-benar mengulumi. Kemotannya terasa di putingku. Aku berusaha bangkit, ah tubuhku lemah, kesadaranku belum pulih benar. Tubuhku hanya sedikit terangkat. Kuluman itu terlepas. Ketika Aku benar-benar telah sadar sepenuhnya, kuangkat kepala yang menindih dadaku. Ricky !

192

"Kurang ajar !" tanganku melayang menampar pipinya, kanan dan kiri, cukup keras. Aku marah benar. Kucengkeram kedua belah bahunya dan kuguncang-guncang sementara mulutku memuntahkan bermacam makian. Ricky pasif saja, tak melawan. Mukanya menunduk. Aku sadar, tak ada gunanya menyiksa anak ini. Cengkeraman kulepaskan. Meskipun Aku jengkel bukan main tapi Aku masih mampu menahan diri. Baru kusadari anak majikanku ini telanjang bulat. Pakaiannya berserakan di karpet. Aku membetulkan letak bra-ku yang tersingkap ke atas dan memasang kancing dasterku kembali. Kulihat Ricky sesenggukan, tubuhnya berguncang. Ricky menangis. Kubiarkan dia. Menangis karena kupukuli tadi atau karena apa Aku tak peduli. Entah sudah berapa lama tangisnya tak berhenti juga. Lama-lama timbul rasa iba. Anak ini sebenarnya anak baik, penurut, tidak nakal, punya tenggang rasa kepada pembantu sekalipun. Aku sungguh tak menyangka dan shock mendapati dia menjamahi tubuhku. Selama ini Aku menganggap dia masih anak-anak. Tingkahnya memang manja kekanakan. Tapi kelakuannya tadi adalah kelakuan lelaki dewasa. Anak sekarang memang cepat matang dalam hal seksual, padahal Ricky baru kelas 2 SMP. "Kenapa kamu, Rick ?" Mendadak Ricky bangkit dan kepalanya rebah di pahaku, tangisnya makin keras. "Maafkan saya, mbak ...." katanya terbata-bata. "Saya emang jahat kepada mbak ..."lanjutnya. "Saya engga bisa menahan ...... saya tak tahan mbak ...." Tak tahan ? Apanya ? Tapi Aku malas bicara malam ini, masih ngantuk. Begitu nyenyaknya tadi Aku tidur sampai tak merasakan Ricky telah membuka kancing dasterku dan menyingkap bra-ku bahkan menciumi dadaku. "Udah tidur sana, udah setengah satu" ujarku. "Tapi mbak mau memaafkan saya, kan ?" "Ya. Asal jangan kamu ulangi lagi" "Ya mbak" "Kalau kamu nakal lagi, mbak akan seret kamu keluar kamar, mbak kasih tahu papa mama" "Saya janji mbak" "Pakai baju kamu terus tidur" Ricky menurut. Kuperhatikan Ricky mengenakan pakaiannya. Tubuhnya memang telah menjadi tubuh lelaki dewasa. Bahkan kelaminnyapun tak beda dengan kelamin lelaki dewasa. Anak ini memang sedang tumbuh. Aku harus lebih berhati-hati. Setelah Ricky merebahkan tubuhnya hendak tidur, Aku berniat keluar kamar sekedar menghirup udara segar. Kulihat dibawah pintu ada secarik kertas tergeletak. Kurang ajar ! Tulisan Pak Anton. Kulirik Ricky sudah terlelap, Aku mendekat ke lampu baca di dekat bed. "Besok pagi jam 10 Bapak tunggu di kamar 509 lantai 5". Lelaki ini benar-benar ular ! Berlibur ke luar kota membawa keluarganya, menginap di hotel mengambil 2 kamar di lantai 4, sementara diam-diam dia mengambil kamar lagi di lantai berbeda dan dengan penuh percaya diri mengajak pengasuh anaknya untuk disetubuhi ! Benar-benar keterlaluan. Tunggu saja besok ! Hampir saja Aku merobek-robek kertas itu. Rencanakulah yang

193

mencegah Aku merobek. Kulipat kertas itu baik-baik lalu kusimpan dalam sampul uang tadi. *** Esok harinya, Sabtu, Ricky jadi murung dan pendiam, tak seperti biasanya yang lincah. Dia menghindar setiap kutatap matanya. Tak lagi bermanja-manja ke pangkuanku. Bahkan kalau tak dipaksa ibunya untuk sarapan, dia tak mau makan. Tak heran pula ketika diajak bapak-ibunya jalan-jalan dia pilih tinggal saja di hotel. "Kamu sakit, Nak ?" tanya ibunya. "Engga, Ma ..." "Trus kenapa ngga mau jalan ?" "Males aja. Capek. Lagian Ricky pengin main play-station" Setelah ayahnya pergi Ricky memang terus memasang perangkat play-station ke TV kamar dan lalu tenggelam dengan mainan yang populer di kalangan anak-anak dan remaja itu. Aku tahu, Pak Anton tidak benar-benar pergi keluar hotel. Paling-paling hanya naik satu lantai. Aku sebenarnya ingin meng'interogasi' anak ini dan ingin tahu kenapa dia tadi malam sampai senekat itu. Kubiarkan dia main sampai satu jam dan akhirnya dia matikan TV dan beranjak keluar kamar. "Ricky" panggilku. Dia menoleh sekejap terus menunduk. Tapi dia mengurungkan niatnya keluar kamar dan berjalan mendekatiku. "Duduk, mbak mau bicara". Ricky duduk di tempat tidur Putri dan Aku duduk di tempat tidur lainnya. Dia diam menunggu. "Kenapa kamu tadi malem ?" Ricky diam, kepalanya makin menunduk. "Bicaralah, mbak engga marah lagi kok" sambungku. "Bener, mbak engga marah lagi ?" "Asal kamu mau terus terang" Lama dia diam terus belum mau membuka mulut. Aku harus bersabar menunggu. "Saya ...saya memang udah lama pengin ...." katanya terbata-bata. "Pengin ? Pengin apa ?" "Ya ... begituan ..." Sementara Aku masih terkejut betapa cepatnya anak ini jadi 'matang', Ricky nerocos melanjutkan. "Temen-temen Ricky sering cerita begituan sama pacarnya, kaya'nya enak banget. Ada juga yang sama cewe bayaran ... Ricky pengin juga, tapi nggak punya pacar ..." Oh, anak ini masuk dalam lingkungan pergaulan yang salah. Berani bertaruh, ibunya pasti pingsan mendengar anaknya sudah sejauh ini. "Papa mama udah tahu Ricky pengin begituan ?" "Jelas engga dong mbak"

194

"Kenapa kamu engga cerita ke papa atau mama ?" "Engga berani .... Ricky takut ..." "Kenapa kamu berani sama mbak ?" "Maaf mbak ..... " wajahnya sudah mau menangis. "Maksud mbak ... kenapa kamu pengin ke mbak ?" "Mbak kan baik banget sama Ricky ... minta pangku .... nyender ke mbak ...." "Tapi ...." belum selesai Aku bicara Ricky memotong. "Sebenarnya Ricky naksir cewe temen sekelas. Anaknya manis. Ricky suka kalo lihat dia senyum ... manis banget. Badannya tinggi hampir sama ama Ricky ... trus ... teteknya gede" "Trus ... kamu pacari dia ?" "Iya ... tapi ... belum. Gini, Ricky udah deketin dia. Kayanya dia nerima, tapi kadangkadang dia juga acuh. Paling makan ke kantin berdua. Kalo deketan ama dia Ricky suka engga tahan ... "Engga tahan apa ?" "Ngliat dadanya .... pengin Ricky remes atau ciumin ... kaya temen-temen ama pacarnya ..." "Trus ?" "Tapi ... tapi ....." "Tapi apa ?" "Dadanya lebih bagus ... punya mbak ...." "Bagus apanya ?" "Mbak ngga marah kan ?" "Engga " "Punya mbak bulat .... dan lebih gede ..." Tentu saja, bandingannya sama anak SMP yang baru tumbuh. "Pernah suatu ketika Ricky udah ngga tahan ... trus Ricky pegang dadanya ... wah dia marah banget ... ampe sekarang dia engga mau ngomong lagi ama Ricky"lanjutnya. "Trus kenapa berani ganggu mbak ?" Ricky diam. "Kenapa Ricky ?" "Habisnya ... habisnya Ricky pengin banget ...lagian mbak tidurnya pules banget sih. Coba kalo mbak waktu itu bangun ... engga sampai begitu ..." Pengakuan polos anak-anak. Aku bisa menerima penjelasannya, bisa memaklumi perbuatannya. Kelakuan seorang anak yang baru mulai tumbuh, yang selalu ingin tahu segalanya, termasuk soal seks. Yang tidak bisa kuterima adalah kenapa bapak dan anaknya sama-sama nakal terhadapku. Seolah menganggapku hanyalah obyek belaka. Cuma obyek seksual. Aku memang memendam dendam kepada bapaknya. Tiba-tiba terlintas pikiran jahat di kepalaku. Ah ... tidaklah. Pintu kamar di ketuk, Bu Anton masuk. "Ti, Ibu mau keluar dulu ya" Kulihat arlojiku, pukul 9.25. "Saya ikut ya Bu ..." "Kan Putri lagi tidur ..." "Entar saya gendong aja" Tatapan mata Bu Anton rada aneh.

195

"Ayolah" Di perjalanan Bu Anton menanyaiku "Kenapa kamu pengin banget ikut" "Mengganggu Ibu, gitu ?" "Engga ..... cuman engga biasanya kamu begitu" "Gak ada pa-pa kok Bu. Bosan di kamar terus" Alasanku yang sebenarnya sih menghindari ajakan Pak Anton untuk 'ngamar'. Rasain dia menunggu terus .... *** Tingkah Pak Anton sewaktu makan malam di restoran tadi benar-benar membuatku ingin melaksanakan pikiran jahatku. Kami makan malam hanya berempat, Ricky tak mau turun hanya minta dibelikan makanan. Padahal Bu Anton hanya ke toilet sekitar 5 menit, masih sempatnya dia merabaku sambil berbisik : "Kenapa tadi engga dateng ? ... saya pengin lagi ...." Dengan kasar kutepis tangannya, lalu kubawa Putri menghindar. Aku benar-benar marah. Marah karena dia tahu persis Aku tak bakalan lapor kepada isterinya. Dia tahu persis posisiku yang lemah dan lalu memanfaatkannya. "Gimana Ti ....?" "Pokoknya begitu Bapak mulai macem-macem lagi, saya langsung bilang ke Ibu !" ancamku. Mendadak dia jadi diam seribu bahasa, lalu kembali ke tempat duduknya dan minum. Wajahnya sungguh sulit dibaca. Tegang mungkin. "Cuman segitu ....." pikirku. Lelaki gagah itu langsung surut begitu mendengar ancamanku. Begitu takutnya dia kalau isterinya tahu. Padahal Aku cuma mengancam, belum tentu berani melaksanakan ancamanku. Karena Aku belum berniat berhenti kerja, Aku masih punya 'hidden agenda', yaitu rencana untuk membalas dendam ! Malam ini keluarga Anton tak punya acara, setelah makan malam suami isteri itu langsung menuju kamar dan mengurung diri. Mungkin karena besok harus bangun pagi untuk kembali ke Jakarta. Atau mungkin Pak Anton sudah tak tahan ingin segera melampiaskan hasrat seksualnya yang tadi tertahan. Melampiaskan ke 'jalan yang benar', yaitu kepada isterinya. Akupun segera ke kamarku menidurkan putri. Si Ricky masih takut-takut kepadaku. Dia masih asyik bermain game. Tak seperti biasanya ikut bermanja-manja ketika Aku menidurkan adiknya. "Udah malam, kamu besok harus bangun pagi-pagi. Tidurlah" kataku.

196

"Ya mBak". Ricky langsung mematikan mainannya dan merebahkan diri ke kasur. Anak ini memang jadi pendiam. Aku memejamkan mata mencoba tidur. "mBak ...." suara Ricky mengejutkanku ketika Aku hampir terlelap. "Ada apa ?" "mBak udah tidur ?" "Hampir" "Ricky mau nanya-nanya boleh nggak" Tampaknya Ricky sudah pulih, tak takut-takut lagi bicara kepadaku. "Nanya apa" "Kalau begituan bisa hamil ya mBak" "Kamu udah begituan ....?" agak kaget juga Aku. Pertanyaan yang tak kuduga. "Engga lah mBak. Temen Ricky yang bilang" "Apa katanya" "Dia engga berani 'gituin' pacarnya. Takut pacarnya hamil" "Kamu memangnya belum tahu" "Belum" "Engga diajarin di sekolah" "Engga dong, masa pelajaran gituan" "Di Biologi kan ada pelajaran tentang terjadinya bayi" "Engga ada tuh mbak. Gimana dong mBak, Ricky pengin tahu" Aku lalu cerita tentang terjadinya pembuahan sel mani dan sel telur melalu proses hubungan kelamin, tentang janin sampai menjadi bayi. "Hmm ... pantesan" komentarnya. "Apanya ?" "Si Rudy sering gituan tapi pacarnya tapi engga hamil. Kata dia cabut duluan sebelum keluar" "Temen sekolah kamu udah ada yang pintar begitu" "Dia udah SMU kok mBak. Kalau begituan kayanya enak banget ya mBak" "Ya ... kalau engga enak nanti gak ada manusia yang mau punya anak. Trus akibatnya manusia bisa punah" Tiba-tiba terlintas pikiran burukku. Inilah saatnya ! Telah tiba waktuku untuk bertindak ! Ah .... tapi aku tak tega. Lain kali saja dipertimbangkan lagi. "Udah tidur aja" Aku mencoba tidur lagi. Si Ricky tampaknya belum tidur juga. Badannya bolak balik. "Ricky engga bisa tidur ..." keluhnya setelah setengah jam tak bersuara. Aku diam saja. "mBak, Ricky gak bisa tidur" ulangnya. "Ya udah, jangan ganggu mBak dong" Lalu hening. Tapi sejurus kemudian. "mBak ...." "Apa lagi sih Rick" Aku mulai jengkel. "Ricky mau pindah kesitu boleh ?" Di bed besar ukuran King ini Aku biasa di sisi kiri, Putri di tengah, lalu Ricky di sebelah kanan. "Ya udah sini" pikirku, supaya dia cepat tertidur dan tak menggangguku lagi.

197

Ricky dengan perlahan menggeser adiknya sedikit kekanan, lalu dia tidur di tengah. "Hati-hati entar adikmu jatuh lho" "Engga kok mBak, udah diganjal ama guling" "Peluk Ricky dong mBak, supaya cepet tidur" Aku diam. Malas. Bahkan memiringkan tubuhku membelakanginya. "Ya udah, Ricky aja yang peluk mBak" Kubiarkan saja Ricky memeluk tubuhku dari belakang. Lalu ketika Aku mulai terlelap, kurasakan sesuatu menekan pinggangku. Anak ini memang sedang mendekati puber, menjadi gampang terrangsang. Hari-hari sebelumnya dia sering memeluk tubuhku seperti ini, tapi tak kurasakan apa-apa. Mungkin sejak dia berani menjamahku kemarin, "penghayatan" atas sikap memeluk tubuhku menjadi berbeda. Sekarang ini bukannya seorang anak memeluk tubuh pengasuhnya, tapi sesosok tubuh lelaki menjelang puber yang sedang memeluk tubuh seorang wanita dewasa. Kenyataan ini telah membuatku mengambil keputusan : sekaranglah saatnya. Telah tiba waktunya untuk membalas dendam kelakuan Pak Anton terhadapku. Telah datang saatnya untuk membuat seorang anak 12 tahun menjadi "dewasa" secara mendadak. Ya, inilah waktu yang tepat ! Aku lalu melepaskan diri dari pelukan Ricky dan turun dari tempat tidur. "Mau kemana mBak ?" "Pipis" Di dalam kamar mandi yang terkunci Aku melepaskan dasterku. Bra dan celana dalam kulepas juga. Aku telanjang bulat berdiri di depan cermin mengamati tubuhku sendiri. Sepasang buah dada yang bentuknya tak berubah sejak mereka tumbuh, masih bulat kencang ke depan. Perut bak landasan rata dengan dihiasi pusar yang begitu melesak ke dalam. Lalu dibawahnya tumbuh bulu-bulu halus menutupi permukaan lubang kelamin yang katanya 'legit', begitu pria beristeri di kamar sebelah pernah mengatakannya. Inilah bedanya antara lelaki nakal yang sudah berpengalaman itu dengan lelaki seperti Mas Adi. Mas Adi hanya berkomentar 'susah masuknya' atau 'enak banget', bukannya legit. Emangnya kue lapis ! Kukenakan dasterku kembali lalu Aku keluar dengan meninggalkan bra dan celana dalamku di gantungan kamar mandi. Inilah saatnya ! Kurebahkan tubuhku di kasur, kali ini Aku terlentang dan memejamkan mata, pura-pura hendak tidur. Ricky yang tadinya terlentang memiringkan tubuhnya ke arahku, lalu kurasakan sebelah tangannya memeluk perutku dan sebelah kakinya menyilang di atas pahaku. Aku dipeluknya seperti kebiasaannya memeluk guling. Segera saja kurasakan kelamin tegang itu mendesak sisi pinggulku.

198

Persis seperti dugaanku telapak tangannya mulai merabai dadaku setelah setengah jam dia diam saja. Dia berani memulai setelah Aku disangkanya telah tertidur. Kubiarkan tangannya membukai kancing atas dasterku satu persatu, lalu tangannya menyusup ke balik dasterku. Mungkin dia kaget melihat Aku tak memakai bra. Diciuminya bukit dadaku lalu mulutnyapun sampai ke putingnya, dikemotnya. Saatnya beraksi. Tanganku lalu membelai-belai rambut dan punggungnya. Ricky tersentak mengetahui ternyata Aku tak tidur. Kulumannya terlepas dan kepalanya terangkat memandangiku. Aku tersenyum. "mBak ......" "Kamu mau ngapain lagi, Rick ?" "Ricky pengin mBak ..... pengin banget .... boleh ya mBak ?" "Pengin apa ..." "Pengin main sama mBak" "Main apa ...." "Ah ... mBak ini. Boleh ya mBak ?" "Ntar kalo mBak hamil gimana ?" "Kaya Si Rudy aja, dicabut ...." "Bener kamu pengin ..." "Bener mBak, banget !" "Kenapa engga sama temen sekolah kamu, yang sebaya ..." "Temen sekolah nyebelin. Penginnya sama mBak aja" "Kenapa pengin sama mBak ?" "Habisnya mBak baik ..." "Engga nyesel kamu ?" "Engga !" "Lepas dulu baju kamu" Kontan Ricky bangkit dan secepat kilat melepas pakaiannya hingga telanjang bulat. Penisnya sudah begitu tegang mengacung, tak beda dengan penis orang dewasa. Lalu tanpa diminta dia melepas kancing dasterku terus kebawah. Ketika sampai di kancing bagian bawah perut, dia tertegun melihat Aku tak memakai celana dalam lagi. Ketika dasterku telah lepas seluruhnya, Ricky langsung menindih tubuhku. Penisnya menekan-nekan selangkanganku, tapi salah sasaran. "Bukan begitu caranya ....... sini....." Tanganku meraih batang penisnya, kusuruh dia menempatkan kedua lututnya di antara pahaku yang kubuka lebar. Kutuntun penisnya menuju arah yang benar, liang senggamaku. Tusukan dia tadi mengarah di atas clit-ku. Lalu kuberi isyarat agar dia mulai menekan. Aku belum basah benar sehingga dengan susah payah akhirnya Ricky berhasil membenamkan seluruh batang penisnya ke dalam tubuhku. Lalu dari berlutut dia mengubah posisi tubuhnya menjadi menindih tubuhku. Kupeluk erat tubuhnya ..... tapi sesaat kemudian mendadak dia mengangkat tubuhnya kembali dan lalu dengan cepat mencabut penisnya. Dan .... air maninya berhamburan di perut dan dadaku. "Hmmm ...kok udahan ..." komentarku mulai menyerang.

199

"Habis .... engga tahan lagi mBak ...." katanya terengah-engah. "Bentar banget ...." kataku menusuk. Ricky diam. "Cuman bikin kotor badan mBak doang ..." "Apa enaknya kalo begini ...." Aku terus menyerangnya. Menghancurkan harga dirinya. "Berhubungan seks tak boleh egois, asal dirinya udah puas lalu selesai. Lihat juga gimana pasangan kita, apa dia juga puas" lanjutku. Ricky masih diam. Sebenarnya Aku juga tahu kenapa dia begitu cepat ejakulasi. Ini merupakan pengalaman pertama bagi Ricky dalam bersetubuh. Letak lubangnyapun dia belum tahu persis. Cepat selesai bagi lelaki yang pertama kali melakukan adalah hal wajar. Mas Adi juga begitu. Sudah bagus Ricky mampu sampai penetrasi. Seranganku ini merupakan langkah pertama dari agenda balas dendam. Langkah kedua atau langkah terakhir sudah tersusun di kepalaku. Hanya pelaksanaannya membutuhkan persiapanku, baik mental atau fisik, serta waktu yang tepat. Yang jelas langkah pertama ini Aku nilai berhasil. Ricky sama sekali berubah, menjadi pendiam. Tak pernah lagi bicara denganku. Jangankan bicara, melihat mukakupun seperti ketakutan. *** Waktu yang kutunggupun hampir tiba, setelah Mas Adi menyetujui rencanaku pindah ke Semarang menyusul dia. Sebelum dia setuju memang terjadi 'diskusi' yang cukup seru. "Kenapa sih kamu tinggalin kerja yang udah enak ini" tanyanya. "Habis .... Mas belum tentu bisa ke sini tiap minggu" jawabku. Baru kali ini Aku menyembunyikan sesuatu dari Mas Adi. Aku terpaksa tidak berterus terang mengatakan alasanku yang sebenarnya. Yaitu menghindar dari Pak Anton sekaligus membalas dendam. "Itu kan awalnya aja, mulai Maret nanti Mas bisa kok tiap minggu ke Jakarta" "Maret masih lama ... penginnya sekarang ini tiap minggu ketemu ama Mas" "Kenapa .... kangen ya ama Mas" pipiku diciumnya. "Engga, cuman kangen sama ini ..." ku-elus penisnya. Lalu Mas Adi menubrukku hingga Aku terlentang. Saat berikutnya dia menelanjangiku. 'Diskusi'nya break dulu. Ada selingan Selingan nikmat : persetubuhan. "Kamu engga ada masalah dengan keluarga Anton, kan ?" tanyanya. Tubuh Mas Adi masih menelingkupi tubuhku, bahkan kelamin kamipun masih 'berhubungan'. Tadi kami sepakat untuk melakukan hubungan seks 'dengan sebenar-benarnya'. Artinya, Mas Adi tak perlu mencabut menjelang puncak. Mas Adi ber-ejakulasi di dalam tubuhku.

200

Sungguh suatu sensasi baru. Merasakan pengalaman baru bagaimana benda hangat itu berdenyut-denyut di dalam sana..... Kalau ternyata benih itu 'jadi', ya urusan nanti lah. "Engga ada masalah apa-apa kok" "Trus kamu nanti kerja di mana ?" "Kerja di rumah sakit ajalah. Lebih enak kaya'nya" "Katanya dulu lebih enak jadi baby sitter" "Iya dulu ..... sekarang lain. Entar bantuin Narti bikin surat-surat lamaran ya Mas" "Okelah, kalau mau kamu begitu" "Bener nih, Mas setuju ?" "Iya" "Engga nyesel ..." "Nyesel apa ?" "Entar ketahuan punya simpenan di Semarang ...." candaku. Digigitnya buah dadaku. "Rupanya itu ya alasanmu ..." *** Minggu pagi itu Aku sudah siap. Semua pakaianku sudah kumasukkan kedalam koper kecil, dan barang-barang lainnya telah masuk ke tas jinjing. Rasanya seluruh benda milikku telah Aku kemas, kecuali sampul berisi uang dan selembar kertas dari Pak Anton dulu, sengaja Aku rekatkan ke cermin hias dengan selotape. Kukunci pintu kamarku dan kuncinya Aku bawa. Mas Adi dan temannya sudah siap mengantarku ke stasiun Gambir dengan mobil kakaknya. Dia sekarang parkir di depan rumah. Sengaja tak kuminta masuk dia masuk, alasanku agar tak berlama-lama pamitnya. Pagi ini Aku dan Mas Adi akan ke Semarang dengan KA. Kubawa 2 tas itu ke depan, di mana Pak dan Bu Anton duduk-duduk minum teh. "Ibu boleh check isi tas-tas ini" kataku sambil membuka koper dan tasku lebar-lebar. Supaya dia yakin Aku tak membawa benda-benda bukan milikku. "Tak perlu Ti, Aku percaya kamu. Kamu sudah pikirkan benar ?" tanya Bu Anton. "Sudah Bu" "Terus terang Ibu menyayangkan keputusanmu. Ibu inginnya kamu tetap di sini" "Saya sudah putuskan, Bu" "Jujur saja Ti ya. Ada apa sebenarnya ?" "Engga ada apa-apa, Bu. Ini hanya demi masa depan saya bersama Mas Adi" Ekor mataku menangkap Pak Anton sedang menatapiku. "Toh dengan kerja di sini tak ada masalah dengan pacarmu, kan ?" "Lebih baik kalau saya tingga satu kota dengan tunangan saya, Bu" "Atau ada masalah lain, gaji misalnya ?" "Engga ada masalah dengan gaji" "Anak-anak, Bi Ijah atau Bang Hasan ?"

201

"Sama sekali tidak" "Lalu apa ?" "Ibu benar-benar ingin tahu ?" "Iya dong" Saatnya mulai serangan. "Ibu bisa tanya ke Bapak !" kataku dengan nada rada tinggi dan menatap mata Pak Anton. Mata Bu Anton terbelalak. Ditatapnya suaminya, lalu pindah memandangku. Ke suaminya lagi. Berganti-ganti. "Kalian ....berdua ............... ?" katanya kemudian. "......A....Aku.... tak percaya ...." kata Bu Anton terbata-bata. Saatnya melancarkan serangan terakhir. "Sudah saya duga Ibu tak akan percaya. Ibu ingat waktu di Bandung saya ngotot ingin ikut Ibu ke Mall ?" Bu Anton hanya melongo. "Silakan Ibu ke kamar saya, lihat di cermin. Ini kuncinya" kuserahkan kunci kamarku ke Bu Anton. "Kalian tunggu di sini" Bu Anton mengambil kunci dari tanganku dan bergegas ke belakang, menuju kamarku. Aku juga bergegas mengangkut tas-tasku dan melangkah keluar rumah. Sebelum keluar pintu Aku sempat 'menghadiahkan' senyuman kepada wajah pucat Pak Anton. Senyum kemenangan. Aku menuju mobil, Mas Adi membantuku mengangkat koper. Lalu kami berangkat meninggalkan rumah keluarga Anton menuju stasiun Gambir...... Sebentar lagi akan terjadi 'perang baratayuda' antara suami-isteri Anton. Setumpuk uang yang tak berkurang sesenpun dan secarik kertas tulisan tangan Pak Anton yang berisi ajakan ke kamar 509, serta 'alibi'ku ikut Bu Anton pada hari dan jam itu, telah menjelaskan semuanya ... (Seperti yang diceritakan Narti kepadaku -- ipah) TAMAT 13. BALAS DENDAM BUAT MBAK SARI Awal kejadian adalah ketika saya menginjak usia 17 tahunan, waktu itu masih sma kelas 3. Hari ini saya punya rencana balas dendam dengan janda kembang tetangga rumah kami yang sangat centil. Dikeluarga kami dia dijuluki janda perek, habis kerjanya cuman negor setiap cowok yang lewat rumahnya. Namanya Sari, kupanggil mbak sari karena memang dia lebih tua dan berumur 22 tahunan. Suaminya sudah meninggal waktu aku

202

dikelas 1 jadinya dia sudah menjanda sekitar 2 tahunan. Wajahnya tidak terlalu cantik, kulitnya hitam manis dan berpostur pendek, 150 an lah, tubuhnya pun biasa-biasa saja . Kemarin dia menantangku dari jendela rumahnya untuk berkunjung dirumahnya, Mbak sari memang menyebalkan, setiap pulang dari sekolah selalu saja dia memanggilku dari jendela rumah namaku keras2 kemudian selalu saja mengatakan macam2 yang bikin telinga panas, dan juga sedikit napsu, habis nyinggung masalah kemaluan ku yang katanya kecillah, masih sma mana bisa berdiri katanya sesekali. Sampai2 begitu kakiku memasuki rumah mbak ku langsung saja menyahut, "Tuh ditunggu Jandamu di jendela nomor 3", katanya sambil tersenyum. Hari ini aku sudah tidak tahan lagi, pulang sekolah hari sabtu jam 2.30 sore, langsung saja dari jendela tetangga berteriak suara serak basah ... "Antonn ....".. Langsung aja aku damprat "NGAPAIN SIH PANGGIL-PANGGIL ! !, DASAR GATAL, Awas Entar tak .....", kataku kesal tak kulanjutkan sisanya. "Ent*t ..Ayo SINI kalo berani" tantangnya berani, Langsung saja wajahku merah dan kututup jendela kamarku yang memang bersebrangan dengan jendela rumah mbak sari. Langsung saja aku merencanakan buat melabrak kesana, tapi aku rencanakan jam 3 aja biar mbak ku nggak curiga entar. Akhirnya aku ganti pakaian siap siap rencana mau membuat dia kebelenger sampe minta ampun. Akhirnya aku berangkat jam 3 tepat dan pamit ke mbak ku mau kerumah teman sampai sore. Begitu keluar jalan langsung saja kumasuki perkarangannya dan kubuka pintu rumahnya dan kumasuki rumah mbak sari yang terbuka seakan telah menanti kehadiranku itu. Memasuki kamar mbak sari, aku sedikit dag dig dug, belum lagi bau semerbak melati keluar dari kamarnya, Aku gemetar menahan napsu memasuki ruangan yang agak remang-remang ini. Akhirnya terdengar suara kecil tapi jelas "Ayo masuk Anton" Rupanya dia tahu kalau aku yang datang . Akhirnya kepalaku telah memasuki ruangan seluas 4x4 ini, tertegun aku melihat mbak sri berbaring hanya memakai sarung sebatas dada, dengan wajahnya tersenyum manis kearahku. Aku berjalan cepat kearah dipan ranjang mbak sari, dan duduk ditepinya sambil memandang dekat kearah bibir mbak sari yang merah delima itu. Mbak sari berdiri diatas dipannya dan tiba tiba melepaskan sarung yang dikenakannnya ke bawah... Aku tertegun seiring naik turunnya jakunku melihat pemandangan mbak sari bugil didepanku, terlihat dua buah payudaranya yang berukuran sedang dan macung kedepan, sedang kan bagian kemaluannya tertutup bulu yang sangat lebat. Aku terbius menggerakkan tanganku maju kedepan dengan aksar meraba paha mbak sari terus bergerak keatas sambil kugerakkan badanku mendekat sampai aku sendiri duduk bersila diatas ranjang dan tanganku terus menjelajahi tubuh mbak sari sampai ke payudaranya. Terlihat mbak sari mengerjapkan matanya menahan sensasi setuhan tanganku pada tubuhnya yang sudah tidak pernah disentuh pria 2 tahun itu, "gatel banget nih

203

cewek" kataku dalam hati. Dengan posisi masih duduk dan mbak sari berdiri didepanku, terus kunaikkan tangan kananku menyusul temannya yang kini sedang memerah payu dara mbak sari, kumajukan badanku sedikit kedepan hingga kepalaku tepat didepan kemaluan mbak sari. tercium olehku bau cairan vagina mbak sari yang menyengat dicampur bau keringat dari lipatan kakinya yang begitu menyengat. Tak kuat melihat saja akhirnya mendadak kumajukan wajahku mendekat dan akhirnya kugosokkkan wajahku dibagian kemaluan mbak sari, Sesaat itu juga mbak sari tertegun dan sedikit kejang dengan serbuan kepalaku didaerah kemaluannya dan langsung saja tangannya meraih dinding bersandar karena tidak tahan dengan remasan tanganku dipayu dara nya sekaligus gosokan kepala divaginanya. Aku menengok keatas dengan dagu tetap menggosok kevagina mbak sari, karena sangat gemas melihat wajahnya apa masih bisa secentil tadi siang lagi ......kulihat mbak sari tak kuasa menutup matanya dengan kening berkerut dan mulai meneteskan keringatnya itu. "tau rasak ..." kataku dalam hati gemes....... tak terasa Junior ku sudah tegak berdiri menanti giliran untuk dibelai halus, dalam hati aku berpikir sebenarnya aku datangkan untuk mengerjain mbak sari, kok dia jadi keenakan gitu, akhirnya tanpa berpikir panjang segera aja aku membalik tubuhnya mendadak kemudian memaksa mbak sari berlutut dan menekan kepala mbak sari sampai menyentuh kasur, untung saja tubuh mbak sari pendek sehingga tanganku bisa menjangkau kepalanya sekaligus tangan satunya membuka celana yang kupakai. Junior ku langsung menghambur keluar sementara mbak sari kelihatan kebingungan dengan perbuatanku tapi tidak dapat berbicara banyak. Langsung saja kukocok sebentar juniorku sampai terlihat siap tempur. dan langsung saja kumasukkan kedalam memeknya mbak sari dari belakang, "Aww.." teriaknya kaget dengan perbuatanku. "ADuh ...ton ...jangann...sakit .................hgg", teriaknya kemudian. Aku tidak peduli lagi dengan teriakan mbak sari, terus saja ku goyang dengan tusukan dalam-dalam dan mendadak, sehingga terdengar suara kayak pipi sedang ditampar. Tanganku terus saja menekan kepala mbak sari kekasur biar teriakannya tidak terdengar keras lagi ... "hg....hg.......aaawwmmmm", suaranya tak jelas tertahan oleh kasur yang menutupi wajahnya. Bisa kubayangkan wajah mbak sari sedang kesakitan menahan hajaran juniorku yang terus memompa dengan kejutan2 yang dalam, mana bernapasnya juga susah akibat tekanan pada kepalanya dikasur. Tak terasa pada hentakan sekarang terasa menjadi seret, kemudian terlihat cairan yang menempel dikemaluan sedikit kemerah2an, mungkin ada yang terluka akibat gerakanku yang terus menerus itu. Terlihat mbak sari tidak bisa berbicara lagi akan tetapi terlihat tubuhnya bergetar keras setiap kumasukkan dalam penisku dengan cepat ke liang

204

senggamanya seperti menahan perih yang diterimanya. Tak peduli akhirnya kulihat mbak sari menjadi pasrah gitu, sekarang sudah terdengar lagi lenguhan kecil pertanda dia bisa menikmati kembali genjotanku. Aku tak mau memberi kesempatan, segera saja hentakanku semakin menguat disertai ritme yang semakin cepat . "Aw....aw........oh....", keluar dari mulut mbak sari setiap penisku masuk dalam di liang kenikmatannya. Tak terasa keringatku telah menetes, tak peduli sampai terbersit pikiranku "wah nggak enak kalau tidak melihat wajah mbak sari yang meringis ..". Akhirnya dengan satu hentakan keras dan dalam aku langsung berhenti dan langsung saja memutar badan mbak sari yang tidak terlalu besar itu, mungkin cuman 46 kg-an. Sekarang terpampang diwajahku wajah memelas mbak sari, dengan kening berkerut menahan sakit dan mata terpejam menahan kenikmatan yang berhenti seketika. Aku terus memandang wajahnya yang kelihatan gantung karena berhentinya hentakanku yang mengakibatkan hilangnya nikmat dan mulai terasa perih akibat luka kenjotanku. Kutunggu mbak sari sampai akhirnya dia membuka matanya sayu.... Tepat begitu membuka dari mulutnya terbisik kata "ampuunnn ..ton.... mbak minta amm ...". tapi belum selesai kata-katanya kembali kuhentakkan penisku dengan cepat dan keras, sehingga matanya kembali terpejam dan kali ini sakit perih yang dirasakannya terlihat bertambah karena kernyit didahinya semakin terlihat. Kuulangi beberapa kali perbuatan ini sampai mbak sari mau hilang kesadaran, dan tidak bisa berkata2 lagi. Akhirnya antara tega dan tidak kuputuskan menggenjotnya lagi perlahan, sampai terlihat wajahnya yang kembali tenang tapi tetap terpejam. Terus kugoyang dengan posisi misionaris, sambil wajahku kudekatkan diwajahnya. Memang untuk kali ini aku tidak melakukan ciuman2 ke mbak sari, karena memang maksudnya bukan making love, tapi making hurt .... Kali ini terlihat usahaku berhasil, terlihat napas mbak sari semakin memburu tanpa mampu bersuara lagi, sebenarnya ingin sekali kuhentikan genjotanku agar dia tidak sampai O, tapi aku punya rencana lain, genjotan lembutku semakin kupercepat tapi masih lembut mengikuti ritme napasnya yang memburu, semakin cepat nafasnya semakin kupercepat ritmeku, sampai akhirnya dia klimaks. tangannya berusaha menggapai2 benda yang bisa dipegang, dan terlihat dari atas seperti mengelepar2 karena antara lemas dan kejang. Akhirnya terasa vaginanya semakin basah, dan jepitan dipenisku semakin kuat dan berdenyut2. Akhirnya kulaksanakan juga rencana busukku, langsung saja tepat setelah perkiraanku O nya selesai, langsung kugenjot lagi dengan cepat dan keras ditambah hentakan2 yang mengakibatkan timbulnya suara keciprat, karena memeknya sudah basah oleh cairan kenikmatannya. Terus turun naik. Terlihat mbak sari mengelepar menahan hujanan2 penisku, sampai akhirnya kulihat dia kehilangan kesadarannya, dan tubuhnya mendadak lemas menahan geli dan kenjotan setelah orgasme yang cepat dan keras itu. Sementara aku belum keluar kuteruskan kenjotan 2 menitan sampe kurasakan seluruh kepala penisku memerah mau pecah dan ....... kutarik cepat penisku dan kekeluarkan diantara payu dara mbak sari.

205

Akhirnya selesai juga rencana revenge sama mbak sari yang centil dan suka ngejek aku itu. Waktu itu tak lupa kubuatkan cupang dekat cairan mani yang kubuang diantara dadanya, kubuat sedikit diatas pusar. Kemudian kukenakan kembali celana dan perlengkapan yang tadi kulepaskan menunggu sang junior keukuran semula sambil minum air putih dari dapur rumah mbak sari. Dan kembali keluar dari rumah, sekitar jam 4.00 sore waktu itu jadi masih belum perlu mengendap-endap.Gila juga Aku ngent*t mbak sari selama itu. 14. BERCINTA DALAM ILUSI 01 "Enam."katanya, "Ya mungkin sudah enam tahun kita berpisah"ucapan itu keluar dari bibir mungil dengan mata yang berbinar binary, "Enam tahun., kamu sudah dewasa sekali." Gadis mungil dengan mata besar itu memandang dengan takjub ke pemuda dihadapannya, seorang pemuda tegap, dada bidang dan berkulit gelap. "Mawar."hanya suara itu yang keluar dari bibir sang pemuda, matanya yang setajam elang menatap bulat bulat sang gadis dihadapannya. Ingatan sang pemuda kemabali ke waktu enam tahun yang lalu, saat perpisahan SMA (sekarang SMU), dikota kecil yang tenang di Jawa Barat. Kala itu mereka memang pernah sangat dekat sekali, pernah ada benih cinta diantara mereka yang tumbuh. "Hey , kok melamun.."sang gadis menyadarkannya dari alam lamunan. "Eh ohh ehhmm kamu sedang beli apa ? " tanya sang pemuda. "Emm saya sedang cari buku, ngomong ngomong kamu sendirian atau .."dengan nada suara yang masih seolah olah tak percaya bahwa yang berdiri dihapannya adalah seorang pemuda yang pertama kali meluruhkan hatinya, "Saya sendiri saja "kata sang pemuda singkat. "Kalau gitu mau nggak kita duduk di sana, sambil minum es". Kemudian si pemuda mengangguk, tanda setuju, mereka pun berjalan menuju tempat duduk yang ada di Mall itu, sambil berjalan mereka kadang bertatapan mencuri pandang. "Kamu kemana saja selama ini ?"sang pemuda yang bernama Pino akhir nya memecah kesunyian, "Saya ehmmm saya kuliah di Yogya " "Di Yogya nya dimana ?' "Di IKIP Karang Malang, saya ambil jurusan bahasa, sekarang saya ngajar di SMU disini, kalau kamu gimana certain dong "Tanya Mawar sang gadis dengan matanya yang indah menatap ke Pino. "Saya, ehm kalau saya, saya nggak kuliah, kamu tahu kan orang tua saya sudah nggak ada, saya ikut kapal pesiar, terus saya dapat kesempatan belajar pemboran minyak, sekarang saya bekerja di perusahaan pemboran minyak lepas pantai"Pino bercerita dengan penuh semangat. "Pantesan kamu hitam ya , eh ngomong ngomong sekarang kok ada disini lagi ngapain ?" "Saya kemari nganter teman, dia mau menikah dan saya disuruh jadi saksinya" "Oh gitu kamu sendiri sudah menikah apa belum?"

206

"Saya, saya belum menikah, siapa mau sama kuli kasar seperti saya ini " "Jangan gitu, setiap orang kan punya jodoh sendiri sendiri " "Kalau kamu gimana sudah berapa anakmu ?" "Saya , saya pacar aja nggak punya, kamu ini gimana kok malah Tanya anak" wajah Mawar memerah saat menjawab. Dua pasang manusia pria dan wanita, dalam kerinduan yang terpendam, sebenarnya jauh dilibuk hati mereka, nyanyian rindu semakin menggema, hanya kedewasaanlah yang dapat meredamnya, entah sampai kapan. Lama sekali mereka berbicara, entah apa yang mereka bicarakan, mungkin mereka menggali kenangan lama. Saat mereka pulang sekolah bersama, belajr bersama, Pino di sekolahnya dulu adalah murid yang terpandai, sedang Mawar yang tercantik. Perpaduan kepandaian dan kecantikan, jodoh, entahlah, tidak ada yang tahu. "Pino, saya sebenarnya masih kangen sama kamu, tapi nanti malam saya harus kerumah teman di Bantul" kata Mawar kepada Pino, "Mawar, kamu kasih alamat kamu deh nanti sebelum pulang saya sempatkan main kerumahmu" "Oke nih alamat saya, sekarang kamu kasih alamat mu dong"Kata Mawar sambil menyerahkan alamatnya. "Saya tinggal di Penginapan "Senyap"di jalan Mangkubumi , kamar no 10 , kamu harus tahu saya Cuma seminggu aja lho dikota ini " Setelah saling bertukar alamat kedua insane itupun berpisah dengan bersalaman, tatap mata mereka berdua seakan tak mau berpisah. Malam, di penginapannya, Pino gelisah dikamarnya, sebentar dia berdiri, sebentar duduk, diambilnya rokok dan dihisapnya dalam dalam, di benaknya terus terpancang wajah Mawar yang cantik, bibirnya yang mungil, tidak terasa tangannya masuk kedalam celanannya, batang kemaluannya sudah basah dan tegang sekali membayangkan bibir Mawar yang indah itu, dibukanya celana jeannya, kemudian diusapnya kemaluannya yang tegak itu. Sementara itu Mawar baru saja selesai berkunjung dari rumah rekannya dan sesampainya dirumah dia langsung masuk kamar dan tampak lah dia bergumam sendiri "Pino, oh alangkah lamanya, enam tahun". Kemudian sambil rebah diranjangnya, Mawar membayangkan Pino sekarang dengan kulit yang hitam terbakar matahari, wajah yang berbulu, jantan sekali, dibayangkannya dia sedang dipeluk oleh pria jantan tegap berdada bidang itu, oh damai rasanya, tangannya lama lama turun keselangkangannya, meraba bukit venusnya dan turun kecelah vaginanya, basah sekali, Mawar sudah sangat terangsang saat itu, dibayangkannya bibirnya bertemu dengan bibir Pino, ciuman hangat kerinduan yang membara, nikmat sekali, digosokannya tangannya ke daging kecil diujung celahnya, desahnya semakin kuat. Pino membuka celananya batang penisnya yang tegak besar dan berurat digosoknya

207

perlahan, Mawar dicumbunya dalam bayangnya. Bibirnya menelusuri leher indah gadis pujaannya itu, terus kekupingnya, perlahan turun dubukanya baju Mawar dengan perlahan, Tersembulah bongkahan daging putih yang kenyal, mungil sekali. Di kecupnya bongkahan itu satu demi satu, Mawar mendesah kenikmatan. Jari jemari Mawar terus bergerak menggosok clitorisnya, perlahan dan perlahan, dibenaknya Pino mengulum bibirnya, lembut sekali, Pino membuka bajunya, Mawar hanya bisa pasrah dan tak mampu menolak, buah dadanya yang mungil dikecup mesra, Mawar merasakan kenikmatan yang tiada taranya, kenikmatan semakin bertambah saat Pino menghisap putting payudaranya, seperti bayi pikirnya. Semakin lembab vaginanya, tidak tahan dibukanya celana dalamnya, semua akan dia serahkan buat pujaan hatinya. Batang Pino yang tegak dan ujung nya mulai berair itu semakin panas sesuatu ingin meledak dari dalamnya, masih di benaknya Pino membayangkan saat dibuka nya celana dalam Mawar, dilihatnya bukit venus Mawar yang indah itu, dibukanya perlahan belahan merah jambu itu, dicumnya dengan mesra , aroma khas kewanitaan terhirup dihidungnya, membuat nya semakin terangsang, dijilatnya celah indah itu dengan lembut, semakin basahlah celah itu, Mawar mendesah semakin kuat. Celah vaginanya semakin banjir, Mawar perlahan memasukan jarinya kelubang kenikmatannya, perlahan diputarnya jarinya, dibayangkan Pino, memasukan penisnya yang hitam dan besar itu, terasa merobek tubuhnya, kenikmatan yang tiada tara, Mawar meringis ringis menahan nikmat sata Pino menaik turunkan tubuhnya mengeluarkan dan memasukan penisnya berulang ulang kedalam vaginanya, kenikmatan yan belum pernah dirasakannya, saat itu dia hampir mencapai puncak pandangan disekelilingnya mulai gelap, kepalanya berputar putar, indah sekali, rasanya. Kemudian badannya terhempas saat di merasakan kenikmatan yang tiada terperi, nikmat sekali. Gerakan tangan Pino semakin kuat menggosok batang penisnya, didalam benaknya dia tengah membuka celah Mawar yang merah dan basah oleh lendir, dijilatinya setiap lendir yang keluar dari celah itu. Mawar semakin bergelinjang dan suara mendesahnya semakin kuat menambah berahinya semakin kuat pula. Kemudian Pino berdiri dan mengarahkan penisnya ke vagina Mawar, perlahan dimasukkannya penisnya, Mawar mendesah nikmat, perlahan kepala penisnya yang besar mulai hilang kedalam tubuh Mawar melengkung secara reflek kakinya melingkar dipinggangnya, lubang Mawar yang sempit menjepit penis Pino dengan kuat, semakin banjir vaginanya menambah nikmat gerakan turun naik Pino. Semakin kuat dia menggerakan batang penisnya keluar masuk vagian Mawar, semakin cepat, Mawar melenguh dan mendesah, sampai akhirnya Pino merasakan penisnya hendak meledak, dan "Ahhh Mawar saya cinta kamu.."meldaklah penis Pino memuntahkan cairan nya banyak sekali. Mawar terperanjak dari tidurnya, dan dia bangkit duduk, dilihatnya dirinya, yang

208

telanjang , mukanya merah, cepat cepat diraihnya bajunya, malu sekali rasanya dia membayangkan berhubungan intim dengan Pino, heran sekali dia kenapa dia begitu berahi tadi sampai onani dan lupa diri. Akhirnya Mawar beranjak ke kamar mandi, membersihkan dirinya. Sperma berceceran ditempat tidurnya, Pino cepat cepat membereskannya, dia lupa bahwa seprei ini punya hotelnya, malu sekali Pino memikirkan apa yang baru saja dilakukannya. Onani sambil membayangkan Mawar. Ahh begitu bernafsunya dia. Mawar duduk dikursi meja riasnya, dipandangnya dirinya dimuka cermin, "Ahh sudah mulai tua diriku, kapan saat indah itu mendekatiku .." Mawar berkata dalam hatinya dia merenungkan dirinya yang sudah berumur 25 tahun lebih tapi belum pernah merasakan jatuh cinta. Saat itu Pino pun sedang berbaring diranjang kamarnya setelah mandi, dia menerawang kelangit langit, kapan saat indah yang dibayangkannya akan terjadi. Malam itu dua insane itu tidak bisa tidur dengan nyenyak, itulah cinta misteri yang tidak bisa diungkap oleh akal manusia. BERCINTA DALAM ILUSI 02 Paragraph terakhir cerita Bercinta dalam ilusi: Sperma berceceran ditempat tidurnya, Pino cepat cepat membereskannya, dia lupa bahwa seprei ini punya hotelnya, malu sekali Pino memikirkan apa yang baru saja dilakukannya. Onani sambil membayangkan Mawar. Ahh begitu bernafsunya dia. Mawar duduk dikursi meja riasnya, dipandangnya dirinya dimuka cermin, "Ahh sudah mulai tua diriku, kapan saat indah itu mendekatiku .." Mawar berkata dalam hatinya dia merenungkan dirinya yang sudah berumur 25 tahun lebih tapi belum pernah merasakan jatuh cinta. Saat itu Pino pun sedang berbaring diranjang kamarnya setelah mandi, dia menerawang kelangit langit, kapan saat indah yang dibayangkannya akan terjadi. Malam itu dua insane itu tidak bisa tidur dengan nyenyak, itulah cinta misteri yang tidak bisa diungkap oleh akal manusia.; Berikut merupakan kisah lanjutan dari bercinta dalam ilusi; Malam Pertama; Suara deru kereta api yang melintasi jembatan, membangunkannya dari alam mimpi, "Oh Pino sampai dimana kita ? " suara khas wanita tapi agak serak keluar dari bibir mungil seorang gadis yang cantik, dia adalah Mawar, ibu guru cantik yang memendam cintanya selama enam tahun lebih, disisinya adalah pemuda berbadan tegap berkulit hitam dengan wajah keras berbulu dan mata setajam elang, ya di Pino pekerja pemboran minyak lepas pantai, pemuda yatim yang kini sudah tumbuh menjadi dewasa. Mereka sedang dalam perjalan menuju tanah kelahiran mereka di sebuah kota kecil di Jawa Barat dimana waduk

209

Jatiluhur berada. Bersama mereka ada serombongan ibu-ibu dan bapak bapak berpakaian rapi. "Sayang kita sudah hampir sampai, mungkin tiga setasion lagi"kata Pino sambil mengelus rambut Mawar. Akhirnya keretapun sampai distasion tujuan mereka rombongan dengan sepuluh orang itupun berjalan beriringan menuju pintu keluar setasion, rombongan itupun keluar dan memanggil taksi. Rombongan itu adalah rombongan keluarga Pino dari pihak Ibu dan almarhum bapaknya. Dua bulan yang lalu Pino sudah bertekad bulat untuk meminang kekasihnya dan melamar pujaan hatinya, Mawar. Ya gadis itulah yang telah membuatnya menjadi lelaki yang dingin terhadap wanita hingga banyak teman temannya yang menganggapnya gay. Pino teringat saat saat dia dan kawan kawannya mendapat liburan setelah lebih dari dua bulan ada ditengah laut, mereka punya kebiasaan untuk mencari wanita penghibur saat mereka mendarat, tapi Pino memilih untuk pergi ketoko-toko dan mencari buku buku dari pada menghamburkan uang nya untuk wanita penghibur. "Pino kita sudah sampai "suara lembut Mawar membangunkannya dari lamunannya. "Nah itu bapak dan ibuku mereka sudah lama menunggu rupanya, wah sudah ramai, ya"Mawar berkata dengan nada gembira. Mawar menatap Pino pemuda yang telah dicintainya sejak lama, besok adalah saat yang terindah bagi mereka berdua, dia tidak pernah mengira bahwa semuanya akan berjalan demikian cepat, tidak ada masa pacaran diantara mereka, pikirannya menerawang mengingat kejadian dua bulan yang lalu di Yogya saat dia bertemu Pino, dan kejadian saat dia masturbasi membayangkan pemuda itu. Malu sekali rasanya dia saat itu, saat itu setelah pertemuannya dia tidak pernah bertemu dengan Pino, Mawar tidak pernah dating ke penginpan dimana Pino tinggal, sebagai wanita dia merasa malu bila dia mendatangi lelaki, sedang Pino, dia merasa canggung sekali untuk menemui Mawar. Hingga saat satu minggu setelah pertemuan tiba tiba Pino dating kerumah kostnya di Yogya dan berkata mau melamarnya. Sebagai wanita itulah saat paling bahagia dalam hidupnya. Langsung saja diterimanya lamaran Pino. Pino saat itu kembali bekerja di pemboran minyak lepas pantai. Pino berjanji akan dating dating dan melamarnya dan saat inilah saat Pino menepati janjinya itu. Suara ayat ayat suci bergema di seluruh desa itu, malam itu adalah malam pernikahan Pino dan Mawar sepasang kekasih yang telah lama terpendam cintanya, kisah cinta mereka terbilang unik, tidak ada masa pacaran, bahkan berciuman pun mereka belum pernah. Setelah para kerabat dan tetangga pamitan pulang, Pino dan Mawarpun berjalan ke arah kamar pengantinnya, kamar itu terletak agak dibelakang dirumah orang tua Mawar yang beasr itu, rumah itu rumah peninggalan jaman dulu dengan gaya Belandanya yang kuat, orang tua Mawar memang berasal dari keluarga priyayi Sunda jaman dulu yang kaya dan berada. Rumah itu mempunyai dua belas kamar dan kamar Mawar yang menjadi kamar pengantin ada di salah satu pojok rumah itu. Setelah pamitan dengan orang tua mereka mereka pun berjalan menuju kamar pengantin,

210

dirumah itu masih banyak pemuda dan pemudi yang membantu pesta pernikahan itu dan banyak dari mereka yang menggoda pasangan penganten baru itu. Melangkahlah mereka memasuki kamar besar itu kamar itu harum sekali, dengan perabotan modern dan kamar mandi didalam, Mawar melangkah menuju kamar mandi sementara Pino melepas bajunya, saat itu mereka bertatapan dan "Mawar, ."Pino mencium kening Mawar dan mencium bibirnya, tetes airmata mengalir dari matanya, "Pino sayangku."Mawar pun menangis , tangisan gembira. Merekapun berciuman lama seklai melepas rindu yang menggebu. Ciuman terus berlanjut, Pino mencium leher putih Mawar. "Ahhh, Pino sayangku."desah suara Mawar semakin keras. Jengkal demi jengkal diciuminya leher Mawar, bulu kuduk Mawar merinding dan berdiri, perasaan yang selama ini selalu diangankannya terjadi nyata, jauh berbeda dengan apa yang dibayangkannya, sensasinya luar biasa sekali. Sebagai wanita dewasa tidak dapat dipungkiri dia pun selalu membayangkan dicumbu oleh seorang pria, kinilah saat nya itu terjadi, Mawar pun hanya diam dan pasip saja menanti apa yang selanjutnya terjadi. Perlahan tapi pasti Pino membuka baju Mawar, bagian atas terus dibukanya, kancing baju Mawar satu persatu, Mawar mendesah dan lututnya gemetar. Dengan cepat dibukanya baju pengantin Mawar, dipandanginya tubuh istrinya itu yang tinggal memakai BH dan celana dalam, kemudian Mawar dengan relek menutup semua bagian terlarangnya itu, Pino pun kembali memeluknya dan menciumnya, kini birahi Mawarpun telah bangkit, diciumnya bibir kekasihnya itu perlahan lembut , lama lama semakin cepat, kini tangan Mawarpun bergerak membuka baju pemuda itu, kancing demi kancing dibukanya, sementara bibirnya tak lepas dari bibir pemuda itu. Kedua insane itu pun semakin lama semakin membara, kini Pino hanya mengenakan sehelai celana dalam saja. Penisnya tegang dan menyembul keluar dari celana dalamnya. Sementara itu Mawar pun semakin bernafsu, dipegangnya batang penis Pino, benda ini selama ini selalu dibayangkannya tapi tidak pernah dia mengira bahwa benda ini demikian keras dan besar, ada perasaan takut di hati Mawar takut bila benda itu akan melukainya menyobek tubuhnya. Pino membuka ikatan tutup payudara kekasihnya, bongkahan daging putih menyembul keluar, putting berwarna kecoklatan nampak tegang sekali diciuminya dengan lembut bongkahan itu, Pino menyadari bahwa apa yang selama ini dibayangkannya salah, payudara Mawar demikian indah kenyal dan mulus sekali, dengan nafsu membara Pino menciumi payudar indah itu, diciuminya perlahan dan diremasnya dengan lembut. "Ohh Pino oh .."Mawar mendesah dirasakannya tubunya semakin melayang, lututnya semakin gemetar saja. Bibir Pino pun melumat putting payudara indah itu dihisapnya dengan penuh perasaan, pertama dihisapnya putting sebelah kiri lalu sebelah kana demikian bergantian. Mawar semakin terbang melayang, tangannya dengan erat menggenggam batang yang keras itu, ujung kepala batang itu dirasakannya telah berlendir, spermakah itu pikirnya, tapi kalau sperma mengapa demikian cepat, ejakulasi premature kah ?, pikirannya sudah tidak bisa fokus lagi, Mawar mengocok batang itu dengan lembut, Pino merintih menahan nikmat yang tiada tara. Kemudian dipegangnya

211

tangan Mawar diangkatnya tubuh mungil kekasihnya itu diangkat dan dibaringkannya tubuh mulus itu keranjang pelaminan mereka. Bau harum ruangan pengantin yang khas semakin menambah birahi mereka. Pino pun dengan agak kasar membuka celana dalam Mawar, bisa dimengerti seorang pria dewasa yang penasaran seperti apa kemaluan wanita itu bentuknya. Semua orang pasti begitu. Dikuaknya celah yang sudah sangat basah itu, pada saat hendak diciumnya vagina itu, Mawar menarik badan Pino , "Punya kamu dibuka dululah"Mawar dengan suara parau berkata, ternyata diapun sudah sangat penasaran seperti apa sih Penis pria itu. Pino pun mengalah dibukanya celana dalamnya dan mencuatlah penisnya yang hitam dan besar itu . "Ahh besar amat, ahh nggak muat sayang saya takut"Mawar menjerit dengan mata terbelalak. "Ah kamu punya orang Arab lebih besar dari ini tahu nggak "kata Pino mungkin maksudnya menenangkan kekasihnya. Pino pun dengan cepat bergerak kearah vagina Mawar, dia sudah tidak memperdulikan Mawar lagi dia ingin melihat dan menghirup aroma kemaluan wanita yang kata orang baunya aneh itu. Dibukanya kembali celah itu, celah berwarna merah dan berlendir, dihirupnya aroma daging merah itu, penisnya semakin tegang. Inilah saat terindah dalam hidupnya, rahasia wanita, surga dunia ada dihadapannya. Dia tidak tahu harus berbuat apa, memang pernah rekan-rekanya sesama pekerja minyak yang bercerita tentang menjilat, atau menghisap kelentit, tetapi saat ini Pino benar benar tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya dia hanya tertegun di pintu gerbang vagina Mawar yang merah dan berlendir itu. Apa yang dilakukannya, itu yang ada dalam pikiran Mawar, inilah saat pertama bagian tubuhnya yang paling rahasia dilihat orang lain, Mawar hanya bisa diam dan pasrah sementara itu lendir semakin banyak keluar dari lubang vaginanya. Akhrinya Mawar pun menarik batang penis Pino, digapainya batang penis yang sekeras batu itu dan diarahkannya ke vaginanya, Pinopun akhirnya menurut saja sementara itu diciumnya bibir indah Mawar, perlahan tapi pasti diarahkannya kepala phalusnya ke gerbang vagina Mawar, perlahan, senti demi senti "Ahh Pino sayang pelan sayang , ohh nikmat sekali, pelan pelan"Mawar merintih "Pino pun dengan agak gugup memasukan penisnya perlahan lahan kedalam vagina istrinya itu. Mawar semakin merintih penispun semakin dalam menghujam kedalam, sampai akhirnya terbentur dinding dan dikecupnya kening sang gadis yang akan kehilangan kegadisannya itu dan sekali hunjam masuk semua batang yang tegar itu kedalam vagina Mawar, Mawar menangis, ini adalah saat yang terindah dan terpenting dalam hidupnya dia menyerahkan mahkotanya dalam mahligai perkawinan yang syah, dan kepada pria yang dikasihinya. Diciumnya bibir suaminya dengan mesra. Perlahan Pino pun menggerakkan penisnya maju mundur, Mawar mendesah, desah keenakan, cerita tentang malam pengantin yang penuh rasa sakit dan pedih tidak dirasakannya saat itu yang ada

212

hanyalah kenikmatan kenikmatan yang belum pernah dirasakan mereka berdua. Suara tembang sayup sayup semakin keras, menggema keseluruh desa, memang ada perayaan kecil disana dipesta pernikahan putrid bungsu yang amat dikasihinya, pak Rahmad ayah Mawar sengaja memanggil group gamelan sunda atau karawitan. Saat itu dirasakannya saat yang paling bahagia. Sebagai orang tua sudah tuntas rasanya semua anaknya telah jadi orang dan menikah. Tapi hanya putrid bungsunya inilah kebanggaannya, dia memilih menjadi guru dari pada kakak kakaknya yang lain yang menjadi dokter atau insinyur. Ya puri bungsunya ini memang lain, suaminya itupun dia tahu tidak mempunyai pendidikan yang tinggi tapi demi untuk membahagiakannya direstuinya pernikahan itu. Suara rintihan Mawar semakin keras, Pino pun semakin cepat menggerakan penisnya maju mundur, suara kecipak terdengar akibat lendir yang banyak dari vagina Mawar yang menandakan orgasme dasyat yang telah melandanya. Pino semakin mempercepat gerakannya, dirasakannya penisnya hendak meledak, semakin kuat dan semakin kuat dia melenguh dan "Mawar sayangku saya sudah mau sampai ""Sayang ciumlah saya"Mawarpun semakin merintih, dan akhirnya Pino pun meledakan spermanya jauh kedalam rahim Mawar. Rintihan kenikmatan sepasang insane itupun semakin kuat, diciumnya kening Mawar dengan mesra. Kemudia mereka pun berbaring berjejer Pino pun mencabut penisnya, dilihatnya warna merah dikepala dan batang penisnya, darah perawan istrinya, Mawarpun tersenyum, .. 15. BERCINTA DALAM MOBIL Ini adalah kisah nyata yang sengaja saya ceritakan kembali untuk saya persembahkan kepada seseorang yang telah banyak memberikan saya kehangatan yang selama ini hanya saya dapatkan darinya. Dengan cerita ini semoga dia menyadari betapa saya sangat memerlukan kehadiran nya, kehangatan nya dan keberadaannya menghibur di dalam hidupku. Inikah perselingkuhan ku yang sudah berjalan 3 tahun lebih tanpa di ketahui oleh isteriku. Nama yang ada dicerita ini hanyalah nickname /samaran. Bermula perkelanalanku dengannya tanpa disengaja. Setiap pagi aku mengendarai mobil menuju kantor dan selalu melewati suatu tempat yang ramai dengan karyawan/karyawati menunggu angkutan umum. Suatu hari aku memperhatikan seorang gadis yang sedang berusaha memasuki Bus Metromini yang penuh sesak. Jurusan Bus Metromini tersebut satu arah dengan tempatku bekerja.

213

Tanpa berpikir panjang, rasa kasihanku menawarkan dia untuk ikut mobilku. Sejak itulah aku mengenalnya, kami selalu pergi-pulang kantor bersamaan. Inilah kisah kasih kita sepanjang perjalanan di dalam mobil kesayangku : Singkat cerita, aku mengantarkan dia pulang ke rumahnya yang juga tidak jauh dari rumahku, di tengah jalan Yetty memohon kepadaku untuk tidak langsung pulang tapi putar-putar dulu. Kukabulkan permintaannya karena aku sendiri masih ingin dekat dengannya, dan kuputuskan untuk naik tol dan putar-putar kota Jakarta. Sambil menikmati musik, kami saling berdiam diri, hingga akhirnya Yetty mengatakan, "Mmm... Edo, Yetty mau ngomong sesuatu sama kamu, memang semua ini mungkin tidak wajar, Edo..... aku sangat suka dan sayang sama kamu..." katanya pelan tapi pasti. Seperti disambar petir mendengar kata-katanya, dan secara reflek aku menengok ke kiri melihat dia, tampaknya dia serius dengan apa yang barusan ia katakan. Dia menatap tajam. "Apa kamu sudah yakin dengan omonganmu yang barusan, Yet?" tanyaku sambil kembali konsentrasi ke jalan. "Aku nggak tau kenapa bahwa aku merasa kamu nggak kayak laki-laki yang pernah aku kenal, kamu baik, dan kayaknya perhatian and care. Yetty nggak mau kalo setelah aku pulang ini, kita nggak bisa ketemu lagi, Do. Yetty nggak mau kehilangan kamu," jawabnya panjang lebar. "Mmm... kalo aku boleh jujur sich, aku juga suka dan sayang sama kamu, Yet... tapi kamu mau khan kalo kita harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi ?" tegasku. "Ok, kalo itu mau kamu, ehmmm... Do boleh nggak kalau Yetty sun kamu ?, Buktiin bahwa Yetty nggak main-main sama omongan Yetty yang barusan?" tanyanya Wah rasanya seperti mau mati, jantungku mau copot, nafas jadi sesak. Sekali lagi, aku menengok ke kiri melihat wajahnya yang bulat dengan bola mata yang berwarna coklat, dia menatapku tajam dan serius sekali. "Sekarang?" tanyaku sambil menatap matanya, dan dia

214

menganguk pelan. "OK, kamu boleh 'sun' aku," jawabku sambil kembali ke jalanan. Beberapa detik kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil posisi untuk memberi sebuah "sun" di pipi kiriku. Diberilah sebuah ciuman di pipi kiriku sambil memeluk. Lama sekali ia mencium dan ditempelkannya payudaranya di lengan kiriku. Ooh, empuk sekali, mantap!Payudaranya yang cukup menantang itu sedang menekan lengan kiriku. Waduh, enak sekali, aku jadi terangsang nih. Secara otomatis batang kemaluanku pun mengeras. Dengan pelan sekali, Dia berbisik, "Do, aku suka dan sayang sama kamu," dan ia kembali mencium kali ini mulutku dan tetap menekan payudaranya pada lengan kiriku. Konsentrasiku buyar, sepertinya aku benar-benar sudah terangsang dengan perlakuan Yetty, dan beberapa kendaraan yang melaluiku melihat ke arah mobil ku menembus kaca filmku entah apa di tembus atau tidak aku tidak peduli lagi. "Kamu terangsang ya, Do ?" tanyanya pelan dan agak lirih. Aku tidak menjawab. Tangan kirinya mulai mengelus-elus badanku dan mengarah ke bawah. Aku sudah benar-benar terangsang. Sekali lagi dia berbisik, "Edo, aku tau kamu terangsang, boleh nggak aku lihat dan sayang dedemu? Dedenya kamu besar dan mengeras yach!" aku mengangguk. Dibukalah resettling celana panjangku dengan tangan kirinya, seperti ia agak kesulitan pada saat ingin membuka ikat pinggangku sebab dia hanya menggunakan satu tangan. Aku bantu dia membuka ikat pinggangku sambil aku memegang setir. Dielus-elus batang kemaluanku yang sudah keras dari luar. Tidak lama kemudian ditelusupkan telapak kirinya ke dalam dan digenggamlah biji kemaluanku. "Ooh..." desahku pelan. Sedikit demi sedikit wajahnya bergerak. Pertama, ia cium bibirku dari sebelah kiri lalu turun ke bawah. Ia cium leherku, dan ia sempat berhenti di bagian dadaku, mungkin ia menikmati aroma parfum-ku. Ia makin turun dan turun ke bawah. Beberapa kali Yetty melakukan gerakan mengocok kemaluanku. Pertama-tama dijilatinya pangkal batang kemaluanku lalu merambat naik ke atas. Ujung lidahnya kini berada pada bagian biji kejantananku. Salah satu tangannya menyelinap di antara belahan pantatku, menyentuh anusku, dan

215

merabanya. Yetty terus melanjutkan perjalanan lidahnya, naik semakin ke atas, perlahan-lahan. Setiap gerakan nyaris dalam beberapa detik, teramat perlahan. Melewati bagian tengah, naik lagi. Ke bagian leher batangku. Kedua tanganku tak kusadari sudah mencengkeram setir mobil, aku berusaha tetap juga konsentrasi didepan mobilku. Ujung lidahnya naik lebih ke atas lagi. Pelan-pelan setiap jilatannya kurasakan bagaikan kenikmatan yang tak pernah usai, begitu nikmat, begitu perlahan. Setiap kali kutundukkan wajahku melihat apa yang dilakukannya setiap kali itu pula kulihat dia masih tetap menjilati kemaluanku dengan penuh nafsu. Sesaat Yetty kulihat melepaskan tangannya dari kemaluanku, ia menyibakkan rambutnya ke samping tiga jarinya kembali menarik bagian bawah batang kemaluanku dengan sedikit memiringkan kepalanya. Yetty kemudian mulai menurunkan wajahnya mendekati kepala kejantananku. Ia mulai merekahkan kedua bibirnya, dengan berhati-hati ia memasukkan kepala kemaluanku ke dalam mulutnya tanpa tersentuh sedikitpun oleh giginya. Kemudian bergerak perlahan-lahan semakin jauh hingga di bagian tengah batang kemaluanku. Saat itulah kurasakan kepala kejantananku menyentuh bagian lidahnya. Tubuhku bergetar sesaat dan terdengar suara khas dari mulut nya. Kedua bibirnya sesaat kemudian merapat. Kurasakan kehangatan yang luar biasa nikmatnya mengguyur sekujur tubuhku. Perlahan-lahan kemudian kepala Yetty mulai naik. Bersamaan dengan itu pula kurasakan tangannya menarik turun bagian bawah batang tubuh kejantananku hingga ketika bibir dan lidahnya mencapai di bagian kepala, kurasakan bagian kepala itu semakin sensitif. Begitu sensitifnya hingga bisa kurasakan kenikmatan hisapan dan jilatan nya begitu merasuk dan menggelitik seluruh urat-urat syaraf yang ada di sana. Kuraba punggungnya dengan tangan kiriku, kuelus dengan lembut lalu mengarah ke bawah. Kudapatkan payudara sebelah kanan. Kubuka telapak tanganku mengikuti bentuk payudaranya yang bulat. Kuremas dengan lembut. Kubuka satu persatu kancing rompinya, dan kembali aku membuka tepak tangan mengikuti bentuk payudaranya. Sambil tetap mengulum, tangan kanannya bergerak menyentuh tanganku, ia tarik baju ketatnya dari selipan celana panjangnya.

216

Dipegangnya tanganku dan diarahkannya ke dalam. Di balik baju ketatnya, aku meremas-remas payudaranya yang masih terbungkus BH. Kuremas satu persatu payudaranya sambil mendesah menikmati kuluman pada kemaluanku. Kuremas agak kuat dan Yetty pun berhenti mengulum sekian detik lamanya. Kuelus-elus kulit dadanya yang agak menyembul dari BH-nya dengan sesekali menyelipkan salah satu jariku di antara payudaranya yang kenyal. "Agh..." desahku menikmati kuluman nya yang makin cepat. Aku turunkan BH-nya yang menutupi payudara sebelah kanan, aku dapat meraih putingnya yang sudah mengeras. Kupilin dengan lembut. "Ooh... esst..." desahnya melepas kuluman dan terdengar suara akibat melepaskan bibirnya dari kemaluanku. Menjilat, menghisap, naik turun. Ia begitu menikmatinya. Begitu seterusnya berulang-ulang. Aku tak mampu lagi melihat ke bawah. Tubuhku semakin lama semakin melengkung ke belakang kepalaku sudah terdongak ke atas. Kupejamkan mataku. Yetty begitu luar biasa melakukannya. Tak sekalipun kurasakan giginya menyentuh kulit kejantananku. Gila, belum pernah aku dihisap seperti ini bahkan oleh isteriku sendiri aku akui inilah yang membuatku sangat sayang padanya, dia bisa mengisi kekosongan hidup sexualitasku, Pikiranku sudah melayang-layang jauh entah ke mana. Tak kusadari lagi sekelilingku oleh gelombang kenikmatan yang mendera seluruh urat syaraf di tubuhku yang semakin tinggi. Aku berhenti sejenak meraba payudaranya. Kutengok ke bawah, tangan kanannya menggenggam dengan erat persis di bagian leher batang kemaluanku, dan ia terlihat tersenyum kepadaku. "Kamu luar biasa, Yet," bisikku sambil menggeleng-gelengkan kepala terkagum-kagum oleh kehebatannya. Yetty tersenyum manis dan berkesan manja. "Yet, aku bisa keluar kalo kamu kayak gini terus," bisikku lagi merasakan genggaman tangannya yang tak kunjung mengendur pada kemaluanku. Yetty tersenyum. "Kalo kamu udah pengen keluar, keluarin aja, nggak usah ditahan-tahan," jawabnya dan setelah itu menjulurkan lidahnya keluar dan mengenai ujung batang kemaluanku. Rupanya ia mengerti aku sedang berjuang untuk menahan ejakulasiku.

217

"Aaghhh..." desahku agak keras menahan rasa ngilu. Bukan kepalang nikmat yang kurasakan, tubuhnya bergerak tidak karuan, seiring dengan gerakan kepalanya yang naik turun, kedua tangannya tak henti-henti meraba dadaku, aku sangkin merasakan kenikmatan ini aku memilin kedua puting susunya dengan jariku, terkadang ia melepaskan kuluman untuk mengambil nafas sejenak lalu melanjutkannya lagi. Semakin lama gerakannya makin cepat. Aku sudah berusaha semaksimal untuk menahan ejakulasi. Kualihkan perhatianku dari payudaranya. Aku meraba ke arah bawah. Kubuka kancing celananya dengan satu tangan kiriku sementara tangan kananku tetap memegang kemudi stir. Agak lama kucoba membuka dan akhirnya terlepas juga. Pelan-pelan kuselipkan tangan kiriku di balik celana dalamnya. Aku dapat rasakan rambut kemaluannya tipis. Mungkin dipelihara, pikirku dalam hati. Kuteruskan agak ke bawah. Yetty mengubah posisinya. Tadinya ia yang hanya bersangga pada satu sisi pantatnya saja, sekarang ia renggangkan kedua kakinya. Dengan mudah aku dapat menyentuh kemaluannya. Beberapa saat telunjukku bermain-main di bagian atas kemaluannya. Aku naik-turunkan jari telunjukku. Ugh, nikmat sekali nih rasanya, pikirku. Sesekali kumasukkan telunjukku ke dalam lubang kemaluannya. Aku jelajahi setiap milimeter ruangan di dalam kemaluan nya. Aku temukan sebuah kelentit di dalamnya. Kumainkan klitoris itu dengan telunjukku. Ugh, pegal juga rasanya tangan kiriku. Sejenak kukeluarkan jariku dari dalam. Lalu aku menikmati setiap kuluman Yetty. Rasanya sudah beberapa tetes spermaku keluar. Aku benar-benar dibuat mabuk kepayang olehnya. Kembali kumasukkan jariku, kali ini dua jari, jari telunjuk dan jari tengahku. Pada saat aku memasukkan kedua jariku, Yetty tampak melengkuh dan mendesah pelan. Semakin lama semakin cepat aku mengeluar-masukkan kedua jariku di lubang kemaluannya yang sudah sangat basah oleh cairan birahinya dan dia beberapa saatmenghentikan kuluman pada batang kemaluanku sambil tetap memegang batang kemaluanku. Entah sudah berapa orang yang melihat kegiatan kami terutama para supir atau kenek truk yang kami lewati, namun aku tidak peduli. Kenikmatan yang kurasakan saat itu benar-benar membiusku sehingga aku sudah melupakan

218

segala sesuatu. Kembali Yetty menjilat, menghisap dan mengulum batang kemaluanku dan entah sudah berapa lama kami melakukan ini. Kutundukkan kepalaku untuk melihat yang sedang dikerjakan Yetty pada kemaluanku. Kali ini Yetty melakukan dengan penuh kelembutan, ia julurkan lidahnya hingga mengenai ujung kepala kemaluanku lagi. Ia memutar-mutarkan lidahnya tepat di ujung lubang kemaluanku. Sungguh dashyat kenikmatan yang kurasakan. Beberapa kali tubuhku bergetar namun ia tetap pada sikapnya. Sesekali ia masukkan semua batang kemaluanku di dalam mulutnya dan ia mainkan lidahnya di dalam. "Ooh.. Yettyyyy... enakkkk..." desahku sambil melepaskan tangan kiriku dari lubang kemaluannya. Kupegang kepalanya mengikuti gerakan naik turun. "Yetty, aku sudah tidak tahannn..." kataku agak lirih menahan ejakulasi. Namun gerakan nya makin cepat dan beberapa kali ia buka matanya namun tetap mengulum dan terdengar suara-suara dari dalam mulutnya. "Aaaagghhh..." desahku keras diiringi dengan keluarnya sperma dari dalam batang kemaluanku di dalam mulutnya. Keadaan mobil kami saat itu sedikit tersentak oleh pijakan kaki kananku. Aku menikmati setiap sperma yang keluar dari kemaluanku tanpa rasa jijik di telan bersih olehnya. Yetty tetap menjilati kemaluanku dengan lidahnya. Dapat kurasakan lidahnya menyapu seluruh bagian kepala kemaluanku. Ugh, nikmat sekali rasanya. Setelah membersihkan seluruh spermaku dengan lidahnya, dia bergerak ke atas. Kulihat dia, tampak ada beberapa spermaku menempel di sebelah kanan bibirnya dan pipi kirinya. Aku mulai bergerak memperbaiki posisi dudukku, perlahan-lahan. Sambil tetap digenggamnya batang kemaluanku yang sudah lemas, Yetty beranjak ke atas melumat bibirku, masih terasa spermaku. Sekian detik kami bercumbu dan aku memejamkan mata. Akhirnya ia merapikan posisinya, ia duduk dan merapikan pakaiannya. Aku pun merapikan pakaianku sekedarnya. Aku kenakan celana panjangku namun tidak kumasukkan kemejaku. Tidak terasa permainan ini harus diakhiri karena mobil yang membawanya pulang sudah memasuki Komplek perumahan nya. Disini lah kami terpaksa berpisah untuk malam ini.

219

Selamat Malam kasihk , terima kasih ya Yetty, kamu telah memberikan sesuatu yang paling nikmat dalam hidupku. Apakah kamu mengerti akan keinginan saya ? Aku sudah sangat ketergantungan padamu. Hanya pada dirimu Yetty aku menemukan apa yang tidak saya dapati di dalam rumah tanggaku. Namun kamu kadang datang dan pergi entah kapan. Di saat-saat aku sangat membutuhkanmu namun kamu seakan tidak mengetahui. Kami berdua sadar akan situasi dan keadaan ini tidak memungkinkan saya dapat menikahinya dan dia tidak mungkin dapat memiliki diriku 100% . Namun kami sangat saling membutuhkan, saling mencintai saling menyayangi, kami setuju akan menjalankan apa adanya. Entah sampai kapan kami bisa berjalan dan melakukan kebiasaan kami di dalam mobil seperti yang akan saya ceritakan ini. Biarlah saya serahkan pada waktu suatu saat saya harus merelakan kepergiannya. Bagaimanapun saya tidak bisa mementingkan diri sendiri bahwa dia pun ber hak menentukan masa depannya dengan calon suaminya Penutup : Kisah nyata ini masih berlanjut dengan percintaan kami di hotel berulang kali. Dan saya sempat mengabadikan semua adegan kami dengan digital camera dan camera HandyCam ( koleksi pribadiku yang paling berharga ). TAMAT 16. BERCINTA DENGAN ABG Cerita ini terjadi sewaktu saya masih kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di kota Medan. Nama saya Andre Setiawan (nama samaran), saat ini umur saya 25 tahun. Cerita ini berawal sewaktu saya berkenalan secara tidak sengaja di Perpustakaan Daerah di kota saya dengan seorang cewek anak SMU Negeri yang merupakan salah satu SLTA Favorit di kota saya.

220

Nina namanya, dia memperkenalkan namanya ke saya. Truss terang Nina, termasuk seorang cewek yang sangat manis dan cantik, truss terang aja wajahnya yang mirip kayak Shinta Bella (salah satu bintang sinetron yang cukup populer saat ini) telah membuat saya makin tertarik sama dia. Saya paling suka banget liat tuh cewek, bodinya wow.......oke banget cing....and itu yang saya suka banget, kulitnya putih banget and toketnya wah proporsional banget ama bodinya yang seksi (Saya perkirakan tuh toket gedenya 34 kurang lebihlah. Nah selain kriteria dia diatas saya suka ama tampilan "ABG-nya" yang polos and rada-rada malu-malu (Nah ini dia yang biasanya bikin "kontol" saya makin ngaceng aja........hehehehe.....) Truss terang saya suka banget ama cewek yang umurnya di bawah sayaee and atao diatas sayae........bukan napa2 soalnya saya emang suka banget ngentot ama cewek2 ABG .......abis selain masih polos, biasanya memek tuh cewek2 ABG masih "kenceng and rapet" (mungkin sering pake sari rapet kali yeeeee.......hehehehee......tauu achh gelap.......emang saya pikirin yang penting ngentot man............:) Nah kita kembali ke persoalan semula. Setelah ngobrol ngalorngidul yah biasalah ama cewek ABG harus pake jurus-jurus gombal dikitlah (Buat temen-temen cowok yang pengen "ngentot" ama cewek-cewek ABG maka saya saranin buat buangin jauh-jauh tampang "MUNAF" and "KUNAF" kamu yah.....itu tuh "Muka Nafsu" dan "Kuat Nafsu" eloelo

221

semua....hahahahahahaa............... Akhirnya setelah saya telpon dia, sabtu siang sepulang dari kuliahan saya mampir dech kerumahnya. Wah rumahnya Nina, kayaknya oke banget selain halamannya luas, pekarangannya juga asri banget, banyak pohon-pohon and bunga-bungaan disono, (kayaknya oke banget buat "ngentot" abisss agak jauh dari jalan raya di depan rumahnya. Teng.....Teng......Saya pencet bel rumahnya, dan nggak berapa lama nongol dech cewek manis yang saya kirain tadinya Nina, and ternyata temennya Nina tuh........Setelah basa-basi sebentar, Tika temennya Nina (satu sekolah) ngajakin saya masuk kedalam, udah ditungguin tuh ama Nina di dalem ngakunya dia ke saya, si Tika ini juga manis banget and bodinya bikin "kontol" saya makin ngaceng aja tuh.......dasarrrrr otak bejat..............heheeheeee........."Kog lama sih bang, udah lama dech kita nungguin bang wien disini, kirain nggak jadi dateng tuh, Nina protes ke saya kayaknya. Oh ya siang itu dirumahnya Nina sepi banget, menurut Nina orang tuanya sedang pergi keluar kota urusan keluarga, sedangkan dia anak satusatunya dari keluarganya. Diliat dari seragam rok yang mereka pake siang itu saya pastiin mereka baru pulang bareng dari sekolahan. Nah setelah beberapa lama kita ngobrol-ngobrol yang topiknya mulai yang ringan-ringan sampe akhirnya "nyerempet" juga dech mengenai seks. Kayaknya saya nggak nyamgka mereka berdua antusias banget

222

dengerin cerita saya "tentang seks" itu. Apalagi Tika yang paling berani banget menurut saya, sedangkan Nina kayaknya masih malu-malu. Nah akhirnya saya yang udah mulai nggak tahan lagi, bikin ide-ide yang bikin alis mereka berkerut.... soalnya saya ajak mereka buat sama-sama nonton film porno dari VCD yang telah saya siapkan sebelumnya, bawa dalam tas saya. Setelah film diputer, Nina yang tadinya duduk diatas sofa, pindah kebawah duduk deket saya di karpet, sedangkan Tika yang kayaknya udah nafsu banget liat saya (truss terang wajah saya sih....enggak tampan2 amat, cumen kata2 orang deket saya, saya punya karisma buat narik perhatian cewek2...........hehehehee........) milih duduk disebelah kanan saya. Tuh cewek2 nggak lupa megangin bantal masing-masing...yah biasalah kali mungkin tuh bantal buat jaga2 kalo ada adegan-adegan yang mungkin masih malu buat mereka tonton............ Tuh film yang saya puter kayaknya pembaca udah pada nonton kali yah........(yang belum pernah nonton judul filmnya "CALIGULA", itu tuh setting film di jaman romawi kuno, namun adegan-adegan ngentotnya sangat hot dijamin bisa buat ngacengin tuh kontol-kontol cowok......... hehehehe....... Gileee banget nih film, soalnya saya yang udah beberapa kali nonton aja, nafsu saya masih tinggi aja. Saya liat cewek abg disamping saya kayaknya serius banget nonton tuh film. (saya pasti jamin dech

223

mereka baru kali ini nonton film ngentot kayak gitu......) Yang paling gawat Tika yang duduknya di sebelah kanan saya. Udah pada megang2 lengan saya, nggak tau maksudnya apa.....(mungkin dia pengen cepeten dientot kaliii yah......))) Kembali keadegan yang semakin panas aja, membuat kontol dalam cd saya semakin ngaceng aja.....terus terang ini pengalaman saya yang pertama nonton film gituan dengan dua orang cewek abg yang saya kenal. (makanya saya sedikit nggak percaya bisa ngajakin mereka nonton.......kalo bisa juga sekalian ngentot dah........hehehehee...) kalo udah "on" biasanya saya nyari perek abg-abg yang suka nongkrong di mall-mall atao plaza-plaza dikota saya. Cewek-cewek kayak begini sih gampang aja diajak "gituan" dengan catatan pinter ngerayu dan jangan lupa ajakin mereka makan atao nonton......dipastikan kalo udah gitu urusan bisnis atao ngentot bisa dikatakan lancar....... Kemudian setelah beberapa lama diputer, desahan nafas kedua cewek yang duduknya dideket saya mulai nggak beraturan lagi...... terutama si Tika dan secara nggak sengaja saya liat tangan kirinya udah berada di bawah bantal yang udah disiapkan dia sebelumnya....saya ngak tauuu apa yang dilakukannya, kemungkinan besar dia lagi ngobel-ngobel memeknya sendiri.....melihat itu langsung dech tanpa malu -malu lagi saya buka resluting celana saya....

224

Dan selanjutnya saya buka dan keluarin tuh kontol yang kayaknya udah sengsara banget "berendam" didalem .......semula mereka terkejut, nggak nyangka ngeliat gue keluarin tuh kontol sambil belaibelai sendiri........Gue bisikin ke Tika yang emang dari tadi udah kuat bener nafsunya buat megang kontol gue, semula dia enggan..malu sama Nina katanya..... gue maksa sedikit akhirnya saya tarik tangan Tika, buat megang tuh "kontol". Saya ciumin dia sambil,, mengelus-elus pahanya yang udah terbuka lebar dari tadi. Trus saya telusupin tangan kanan saya kedalam roknya, akhirnya ketemu juga ama celana dalamnya yang kayaknya udah basah kuyup banget. Nggak nyangka tuh cewek udah "konak" banget. Langsung dech tangan saya elus-elusin dengan pelan2 secara merata tuh memeknya dari luar celana dalamnya. Saya liat Tika makin "gila" aja elusan tangannya yang tadi ada di kontol saya, tiba2 malah ngocokin tuh kontol yang bikin saya makin nafsu ja. Wah saya seneng banget minta ampun, soalnya dalam otak saya, yang ada hanya pengen ngentotin tuh keduat cewek sekaligus, gimanapun caranya saya harus......soalnya saya nggak nyangka, kiranin cumen dapet satu abg perawan, namun nyatanya ada dua orang sekaligus cewek abg perawan yang akan saya entotin nantinya. sambil ngeraba-raba teteknya sendiri Nina yang duduk disebelah saya udah nggak beraturan lagi duduknya, soalnya dia juga udah nggak tahan liatin saya dan Tika yang udah

225

saling "elus-elusin" kemaluan masing-masing. Kembali ke Tika, tangan saya tadinya ngelusin memeknya dari luar CD, sekarang mulai masuk ke dalam CD nya, saya langsung remes2 itu memek, saya kobel-kobel tuh memeknya pake jari tengah saya, aduh...bang andre...enak banget bang.......trustrus....... iyahhh....iyahhh....hmmm........hmmm.........desahnya berungkali. Saya yang makin nafsu aja liat tuh tampangnya yang keenakan, langsung dech bukain bajunya, roknya, and bhnya. Tinggal dech CDNYA doang, namun yang terakhir ini juga saya lepasin. Truss saya baringkan dia ke lantai, saya ciumin mulutnya yang terus terang aja makin seksi aja sambil ngelurarin desahandesahan yang bikin kontol saya makin kuat aja ngacengnya. Jari-jari tangan saya sebelah kanan, trus ngerojol tuh memek sambil nggak lupa itilnya saya sentuh-sentuh pake jempol. Terang aja Tika makin gila aja goyangin pinggulnya. Sedangkan tangan kiri saya gunakan buat belai-belai tuh teteknya yang putih banget dengan putingnya yang masih kecil banget. Seterusnya saya pindah nyium tuh payudaranya kiri-kanan sambilan saya jilatin tuh putingnya and nggak lupa juga buat ngasih cupang dia kedua bukit yang indah itu. Kegiatan saya pada kedua bukitnya, membuat Tika makin keras aja desahan nafasnya, kemudian dengan lidah, saya turun kebawah nyusurin

226

perut sampe akhirnya..... saya singgah di memeknya Tika. Saya perhatiin beberapa lama memeknya, terus terang memeknya Tika kayaknya oke banget, selain warnanya putih kecoklatan dengan dalamnya kemerahan, jembutnya juga dikit banget, biasalah masih abg sih. Bau memeknya enak banget sampe2 saya terbengong beberapa saat, akhirnya saya dikejutkan oleh omongannya..... "napa sih bang.....bau yah punyanya Tika........." heheheeeheee..... Nina yang duduknya di sebelah kiri saya aja ikut ketawa, sedangkan saya senyum aja sambil ngelanjutin "hajatan" saya yang tertunda. Saya buka belahan memeknya, yang kayaknya masih rapet, masih perawan boooo......... truss saya sentuh itilnya yang mirip kacang ijo dengan lidah saya, akibatnya badan Tika makin ngelinjang aja, soalnya saya tau banget dech kelemahan cewek. (tuh cewek kalo itilnya udah di"jilat" dipastikan semaput dech....hehehehe.....). Saya makin intensnya jilatin tuh itilnya sambil tangan kanan saya truss bekerja ngebelai kedua bukitnya yang indah itu. Desahan si Tika makin keras aja soalnya cairan kemaluannya makin banyak aja, ada 10 menit saya melakukan jilatan-jilatan keitilnya itu. Saya liat desahan nafas Tika makin kuat aja sedangkan pinggulnya makin kuat goyangannya ke atas ke bawah ke atas ke bawah seperti orang lagi dientot kayaknya. Saya liat wajahnya makin meringis banget mungkin si Tika udah makin deket orgasmenya. Akhirnya 5 menit kemudian Tika orgasme sambil menekan

227

sekuatnya kepala saya di memeknya. Saya terus jilatin tuh cairannya sambil saya "makan" tuh memek, pokoke rasanya enak banget asinasin nikmat......nggak ngebayangin bisa jilatin memeknya abg yang masih perawan........ Oke dech teman-teman berhubung saya udah ngantuk berat (soalnya saya nulis nih cerita pada jam 2.00 pagi wib sambil ngerjain tugastugas kampus, kog bisa yah....hehehee....tau ach gelap... 17. CERITA ASLI Awal Februari 1994 =================================== Aku menghampiri Lala dan menarik tubuhnya, kucium bibirnya, kulumat. Dia terperanjat dan hampir saja menampar mukaku, tapi niatannya itu urung dan dia hanya tersenyum simpul. Dengan raut muka yang penuh tanya dia menatapku, "Kenapa?" "Aku menciummu karena aku mau menciummu, kau keberatan?" "Tidak!" raut muka yang merahnya memudar mengatakan itu. "Aku hanya kaget dan senang", meluncur itu dari bibirnya yang tebal sensual. "Adi, kupikir kau mau menciumku bukan hanya karena kamu mau menciumku, tapi adakah hal lain dibalik semua itu?" "Ada, aku ingin kau jadi pacarku." Memerah lagi wajahnya dan ia kelihatan senang sekali. Sejak saat itu hampir setiap malam minggu aku mendatanginya untuk bercumbu dan bercerita tentang apa saja, pekerjaan, percintaan, atau seks dan setiap kalinya kami bercumbu kami selalu melakukan hal-hal yang aku senangi, merayunya, merabanya, memangkunya, bahkan memasukkan tangannya ke dalam celanaku. Aku senang ketika aku mencium telinganya yang bersih, meremas payudaranya yang besar dan kencang, merasakan kehangatan tubuhnya yang tak begitu tinggi namun mempunyai anggota badan yang mampu membuat semua pria melirikkan mata dan berdecak kagum. Aku suka mendengar lirihannya saat kutelusuri kemaluannya yang lembab dan bulu-bulu pemanisnya yang lembut dan memberikan imajinasi yang membuat aku payah.

228

Dia suka sekali ketika aku memangkunya dan dia menaikkan bajunya yang kemudian tersembul payudara yang putih jernih dengan puting yang masih merah senja, dan aku mengulumnya, menyedotnya dalam-dalam, dan dia mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun sehingga antara penis dan kemaluannya yang masih tertutup celana terjadi gesekan yang cukup membuat aku bertambah semangat menyedot puting susunya. Akhir Agustus 1994 =================================== Ayah mengajakku pergi camping ke Cikole - Lembang sore itu. Aku mau saja, walaupun sore itu aku baru saja kembali dari pekerjaanku. Jelek-jelek begini aku bekerja pada sebuah perusahaan yang cukup besar dan gajiku mencukupi kebutuhanku selama satu bulan. Aku pergi ke tempat camping bersama ayah dan seorang sahabat sejatiku. Di tempat camping aku berjumpa dengan dua orang gadis yang masih belia, dan kedengarannya dia masih duduk dibangku SMEA kelas dua. Aku dan sahabatku berkenalan dengan mereka, singkat kata kami mulai bercengkrama satu sama lain. Pertemuan yang singkat. Memang aku baru mengenalnya beberapa jam yang lalu, tapi dari semua yang diceritakannya tingkah lakunya, dan tutur sapanya padaku seolah dia memberikan apa yang sangat aku butuhkan, yaitu cinta dan nafsu. Malam itu udara Cikole cukup dingin, membuat aku dan dia berpelukan untuk menghangatkan diri masing-masing, tapi rupanya "setan" berkata lain. Lama-lama aku menjadi tergoda untuk menciumnya, meraba bagian yang sensitive, dan mulai dengan sentuhan-sentuhan kecil di daerah yang katanya belum pernah dijamah sebelumnya oleh orang lain. Aku dan dia terlena dalam pelukan, sampai-sampai kami berpelukan dalam keadaan terlentang, aku diatas, dan dia dibawah, Oh hangatnya. "Irda" begitulah namanya, "keberatan kalau aku mencintaimu?" Kata-kata itu meluncur saja dari mulutku tanpa kusadari sebelumnya. Dia tidak menjawab, sepertinya ia perlu cukup waktu untuk memikirkan hal tersebut. Tak apalah, toh umpan sudah kulempar, tinggal aku menunggu apakah dia mau makan umpanku. Awal September 1994 ===================================== Kejadian di Cikole itu berbuntut panjang yang akhirnya membawa aku selalu ingin bertemu dengan Amry. Lalu bagaimana dengan Lala? Ah aku hampir lupa dengan pacarku yang satu itu. Aku tidak akan melupakan semua yang telah terjadi dengannya, tapi kejadian di tempat kerjanya cukup membuat aku kecewa. Sore itu aku mampir ke tempat kerja Lala, niatanku menjemputnya sambil jalan-jalan sore, tapi ketika aku masuk ke tempat kerjanya aku melihat dia sedang

229

mengelus-elus pipi seorang pria teman kerjanya. Aku sendiri heran Kenapa aku tidak marah! Aku malah mencuekkannya. Kusapa dia dan dia terbelalak. Ingin sekali dia menjelaskan perbuatannya tapi sayangnya perbuatannya itu cukup membuat alasan bagiku untuk menyudahi hubungan kami. Kali ini setiap malam minggu aku tidak lagi bertemu dengan Lala tapi aku punya gebetan baru, Irda yang bekulit kuning langsat, berambut panjang dan bertubuh ideal Oh deh. Tidak seperti hubunganku dengan Lala, dia gadis yang agak pendiam dan libidonya jauh di bawah Lala yang selalu bergairah. Hubungan intim kami hanya sebatas ciuman saja, tidak lebih, dan itu kurang aku sukai. Tapi aku menghormatinya karena dia mungkin masih belia dan dia masih belajar dalam hal ini dia masih anak sekolah. Irda tak dapat menahan isakannya ketika aku memberitahu tentang mutasi pekerjaanku dari Ciganjur Ke Kotabumi yang jaraknya lumayan agak jauh. Tapi "live must go on". Bagaimanapun aku harus tetap menjalankan semuanya dan itu tidak merubah yang sudah terjadi. Kucium bibirnya untuk meredakan isakannya. Aku berupaya membuat hatinya senang, tapi dia berkata lain. Dibalasnya ciumanku, dilumat, dikulum, dan memeluk tubuhku erat-erat seolah tak ingin berpisah jauh. Kami saling berpelukan lama sekali, sampai-sampai kami bergulingan di lantai. Hasrat kamipun mulai menggebu. Irda yang menurutku pendiam ternyata pada waktu itu libidonya meningkat. Dia membuka pakaianku dan aku hanya memakai celana dalamku saja. Aku tak mengerti apa kemauannya, tapi kuikuti saja sampai dimana dia akan melakukannya. Ternyata dia membuka pakaiannya juga dan hampir telanjang bulat. Dia mengulum meremas putting susuku, dan menjilatinya. Tak kuasa lagi akupun langsung merangkulnya menciumnya dan membuka pakaian dalamnya sehingga ia dalam keadaan tubuh tanpa selembar benangpun. Dia sepertinya sudah rela memberikan tubuh dan jiwanya kepadaku. Kuremas susunya, kupuntir putingnya dan kusedot-sedot dengan mulutku. "Ahh Adi teruskan sayang jangan berhenti, aku sayang padamu. oh." Irda merintih kenikmatan dan itu membuat aku semakin bergairah. Tangannya mulai menggerayangi alat vitalku, dan tangankupun mulai meraba bagian yang berjumput kecil di bagian Tengah di antara kedua pahanya. Terasa agak lembab, namun memberikan kesan yang membuat otakku semakin panas. Kemudian.. Semuanya terhenti tatkala berkumandang adzan maghrib, dan kamipun segera mengucap nama Tuhan kami, dan besyukur semuanya tidak terjadi. 18. CERITA PANAS Saya punya cerita seru nih, .. cerita asli dan kenyataan, bukan nyontek punya orang lain. Cerita ini mengandung unsur incest/hubungan

230

sedarah, bagi yang beraliran straight harap cerita ini dihapus saja. Saya punya tetangga namanya Santi.. orangnya mungil, tetapi tubuhnya... aduhhh montoknya luar biasa, bentuk pantatnya hooot ditambah wajahnya yang manis, saya yakin setiap pemuda normal pasti nafsu berat melihatnya. Dia seorang dosen di PTN dan sudah mempunya 2 orang anak. Tetapi walaupun sudah punya anak tetapi tubuhnya masih ramping. Cerita dimulai ketika suaminya pergi ke luar kota dan dia tinggal sendirian di rumah saat itu anaknya lagi sekolah, kebetulan rumah saya berhadapan dengan halaman belakang rumahnya. Saat itu saya lagi browsing internet... he..he..he... biasa, nyari foto-foto hot di internet. Entah kenapa saat itu saya ada pikiran untuk mengawasi rumah tante Santi lewat nako jendela saya... aduuuhh betapa terkejutnya saya saat itu, saya melihat tante Santi sedang menjemur pakaian, itu... lho.. dia pergi ke tempat jemuran hanya ditutupi oleh handuk kira-kira cuma 5 cm dari ujung pahanya, mungkin karena rumah lagi kosong, tante Santi leluasa keluar dengan pakaian seperti itu.. dan.. betapa terkejutnya saya ketika saat itu dia juga melepas handuknya dan mejemurnya disitu... wah.. kontol gue langsung tegang berat saat itu. Akhirnya cita-cita gue untuk dapat melihat bagian terlarangnya tercapai juga. Tubuh tante Santi tampa sehelai benag tampat sangat indah sekali.. mulus, montok dan ahhhhhh, karena saya enggak tahan saya kemudian onani sambil membayangkan negesek dengan tante Santi.. aduhhhhh belum 2 menit akhirnya dia masuk kamar dan saya belum out juga.. padahal saya belum oergasme nih.... ya mana tahan. Singkat cerita akhirnya hari sudah sore... dan saya mandi dan akan menyiapkan PR buat besok, gara-gara peristiwa tadi pagi dengan tante Santi.. gue jadoi pingin ngintip lagi .. setealh saya cek.... eh suami tante Santi sudah pulang dan anak-anaknya juga sudah pulang. batal deh angan-angan gue untuk ngintip si tante. Karena nafsu yang tidak terlampiaskan itu saya jadi agak bingung.. mesti kemana nih melampiaskan nafsu sek yang sudah tidak bisa ditahan. Akhirnya guyuran bunyi air dari kamar mandi kakak saya membuyarkan angan-angan saya, saat itu juga ada bisiskan setan yang menyuruh saya untuk mengintip kaka saya yang lagi mandi.. he..he..he.. tampa berpikir panjang lebar lagi saya langsung ngambil tangga dan naik di atas ventilasi kamar mandi.. dari situ saya dapat melihat tubuh kakak

231

saya seutuhnya.. wah kontol saya semakin enggak karuan dan ingin menembakan isinya.. ketika melihat tubuh nan indah dari kakak saya yang sangat mulus dan cantik itu, setiap lekuk tubuhnya membuat saya hanya bisa menelan ludah saja. Saya kemudian onanai kembali sambil ngintip.... tetapi sayang kaka saya keburu selesai mandi dan keluar dari kamar mandi padahal saya belum orgasme nih.... he..he..he.. terpaksa saya menahan nafas ...soalnya belum puas. Kemudian kami berdua makan bareng.. dan saya terus memandangai tubuh kaka saya saat itu.. waduh.. saya jadi bingung kok bisa-bisanya saya nafsu sama kaka sendiri.... apalagi kami sekarang hanya berdua, soalnya ortu lagi pulan kampung. Setelah selesai makan kakaka saya kemudian masuk kamarnya dan belajar, stelah pukul 10 malam kaka saya kemudian menghampiri saya dan menyuruh membangunkanya jam 11 malam, katanya dia mau nonton serial TV nikita...., setelah itu kemudian dia masuk kamarnya lagi dan kemungkianna dia sudah tidur. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam,saya belum juga bisa tidur, setelah kejadian tadi melihat dua orang wanita tampa sehelai benang dan orgasme saya terus batal. Oh ya.. tadi kahnkaka saya nyuruh saya membangunkannya ? dengan segera saya kemudian menuju kamarnya dan membuka pintunya.. setalh saya buka saya sangat terkejut, ternyata rok pendek kakak saya tersingkap hinggak perut dan saya melihat tubuh kakak saya yang mulus, entah kenapa saat itu saya punya pikiran untuk meraba dan mejilati paha kaka saya... sebelumnya saya pegang pipinya, ternyata dia tidak terusik oleh sentuhan saya, dengan hati-hati saya kemudian melorotkan celana dalamnya.. dan terlihatlah bulu memeknya yang lebat dan lobang vaginanya yang basah... karena sudah tidak tahan lagi saya kemudian menikmati memeknya dengan lidah saya.... ehemmmmm, pertama-tama baunya amis.. tetapi lama-lama kemudian banunya nikmat..... saat itu saya sudah tidak tahan dan ingin memasukan kontol saya ke memeknya, tetapi saya sadra perbuatan saya itu bisa membangunkannya dan masalahnya bisa jadi runyam. Saya berpikir bagaimana caranya menikmati tubuh kakak saya ini tamap dia sadari... he..he..he.. akhirnya ada caranya, dia khan tadi ingin dibanguni saat film Tv sudah mulai ? jadi ada kesempatan untuk mebius dia... langsung saja saya buatin dia minuman sirup dan sudah saya campur dengan obat tidur dosis tinggai.... he..he..he... saat itu juag saya kemudian membangunkannya dan kami pun nonoton bareng film itu.. sete;lah filem itu selelsai kemudian saya menawari dia sirup yang tadi saya buat.. dan he..he..he.. dia ternyata menghabiskan minuman itu

232

semuanya, kemudian di akembali ke kamarnya untuk tidur. Sudah 20 menit kakak saya masuk kamar, ... nah ini saatnya beraksi, saya langsung membuka pakaian saya semuanya dan tidak lupa saya mengambil kondom untuk pengaman. Saya kemudian perlahan -lahan membuka pintu kamat kaka saya.. ternyata kaka saya tertidur sangat pulas seklai, yterbukati saat saya membalikan tubunhnya dari tengkurap menjadi terlengtang dia tidak terganggu sama sekali. Saya kemudian melepaskan semua pakaiannya .. ce..cek..cekkk... tubuh kaka saya ternyata luar bisanya dan tampa caat sedikitpun, dan saya yakin dia masih perawan, sebab ketika saya memasukan jadi telujuk saya ke vaginananya masih terasa sempit. kemudian saya mulai menjilati dia dari birirnya, payudaranya dan memeknya dengan lembut. Karena sudah tak tahan lagi saya kemudian mengangkangkan kakinya selebar-lebarnya.. .. nah ini lha saatnya saya untuk mejebol keperawanan kakak saya, saya kemudian memakaikan kondom ke kontol saya dan kemudian mengarahkan ke memek kakak saya yang sudah basah oleh ludah saya.. dan.... ahhhh.. saya menekannya sekuat-kuatnya dan slllessbbbbb,.. kontol saya mablas masuk semuanya ke memek kaka saya, saya mulai mengoyangkan pantat saya dengan teratur...... aduhhh kontol saya terasa diremas-remas oleh memek kakak saya yang sempit.....sekali kali kaka saya mendesah, pertama kali saya takut. Angan-jangan dia bangun, tenyata dia cuma menggigau... setelah 10 menit sepertinya saya mau orgasme... dan akhirnya... ahhhhhh seperma saya keluar juga dari kontol saya dan menembakan isisnya ke dalam memek kaka saya.. tetapi utung saat itu saya pakai kondom. Jadi kakak saya enggak mungkin hamil.Setalh semuanya usai saya hanya bisa bengong... dan merasa berdosa sekali.. kenapa saya tega melakukan hal ini ??????? dia khan kaka saya ???? aduh saya sungguh menyesal dan saya juga heran kenapa setelah semuanya terjadi saya barui sadar ???? apa boleh buat semuanya sudah terjadi, setgalah itu saya kekudian membersihkan tubuh kaka saya dari seperma dan keringat dengan handuk dan memakaikan pakaiannya kembali. Keesokan harinya.. saya bangun pagi-pagi sekali untuk melihat reaksi kakak saya, tenyata dia tidak merasa telah diperkosa, dia bertingkah seperti biasanya.. cuma dia mengeluh agak sakit perut.. he..he..he.. saya yakin yang sakit bukan perutnya tetapi vaginanya. Semenjak saat itu... saya sudah 4 kali memperkosa kakak saya dalam 1 bulan dan setelah ortu kami pulang saya enggak berani lagi mengulanginya ..takut dong.. akhirnya terpaksa saya melampiaskan nya ke pacar dan wanita bayaran. Entah kenapa akhirnya saya mulai tertarik dengan adik

233

perumpuan saya yang masih SMP.. ada apa gerangan ini ?????? tunggu cerita saya selanjutnya.. didalam menaklukan adik saya yang munggil ini. 19. CEWEK CERITA CERITA SERU Cewek ? CEWEK ??!!? Sinopsis: Setelah kepergian Jay, Ray mendapat partner baru bernama Moogie, seorang wanita yang bagi Ray hanya menyusahkan saja. Tapi seiring berjalannya waktu, Ray dan Moogie semakin akrab, bahkan belakangan mereka memasuki tahap hubungan yang lebih intim. Semua masalah berawal di bandara Juanda, 15 Juni 2001 "Hey, no tears, Maan," ucapnya seraya merangkulku sekali lagi. Ah, mungkin ini yang sering disebutkan oleh orang-orang sebagai perpisahan yang memilukan. "Tears nenekmu," umpatku sambil tertawa. Garing memang, tapi mau bagaimana lagi. Jay melepaskan rangkulannya dan menatapku. tatapan yang cukup mengingatkanku tentang setumpuk pekerjaan yang belum terselesaikan. "Hahaha," tawanya, "salam buat gadis-gadis." "Gampang-lah," sahutku tersenyum padanya. Kutatap punggungnya saat ia melangkah memasuki ruang keberangkatan. Huh, menyebalkan. Dan aku masih punya banyak tugas untuk diselesaikan SENDIRI!!! Bagaimana mungkin aku tidak merasa sebal. Tapi mungkin inilah rasa sebal yang kularikan dari kepergian salah seorang sahabat terbaikku yang sudah melanglang buana di sudut-sudut kota bersamaku selama tiga tahun ini. Kubalas lambaian tangannya dan bergegas meninggalkan tempat yang mulai terasa panas walau banyak TKI amatiran yang menggigil kena AC di sudut lorong. Lalu... apa yang akan terjadi sekarang? Keesokan harinya, saat pemotretan di hotel Nv "Kenapa sih Boss ngga pernah punya model cakep yang ngga kampungan?" Jodi menatap ke arahku dengan pandangan khawatir, "Ssshh, jangan begitu. jaman sekarang kan susah nyari cewek yang berani pose menantang." "Iya, tapi jangan tukang sayur begitu dong," tukasku sengit seraya memandangi kembali 'orang kampung' yang sekarang sudah sibuk sendiri membolak-balik tubuhnya di atas bangku kayu di samping kolam renang. Jupri si tukang potret di sebelah kami tertawa ngakak, "Sudahlah, Ray. Yang penting masih ada juga kan tukang sayur yang beli tabloid kita." Mau tidak mau aku tertawa juga mendengar selorohannya. Mungkin kalau ada Jay di sini lebih ramai.

234

"Sepi ya, ngga ada Jay," mendadak Jodi bisa membaca pikiranku. "Ya," anggukku kemudian. Memang kami semua merasa kecewa saat Jay menerima tawaran dari LL, perusahaan besar yang bergerak di bidang event organizer dan periklanan di Jakarta itu. Tapi Jay kan berhak memutuskan masa depannya. "Tapi, Ray," Jupri menyeletuk seraya memencet tombol kamera, "katanya Pak Herman sudah menyiapkan partner kamu yang baru." Partner. Tentu saja. Dan itulah masalahnya. "Sudah, Bang?" Kami langsung menatap sebal pada wanita berbikini itu. Bang? Emang tampang kita kaya bangku? Di kantor, siang harinya "Tenang, duduk dulu," ucap Pak Herman sambil tersenyum-senyum. Dengan tidak sabar kududukkan diriku di kursi putar di depan mejanya. "Mana, Pak?" "Tunggu sajalah." Kata orang kejutan memang menyenangkan, tapi terlalu terkejut juga tidak menyenangkan. Persis yang kualami hari itu. "Ray, kenalkan partner baru kamu, Moogie salah seorang yang terbaik dari tabloid cabang group kita," ucap Pak Herman seperti seorang salesman kosmetik, "Moogie, ini Ray, yang terbaik dan yang terbengal yang pernah kita miliki." Kubalik tubuhku dan yah, hanya bisa mengangakan mulutku lebar-lebar saat gadis berambut cepak itu mengangkat tangannya dan membentuk huruf V dengan jemarinya. "Loh, kok cewek?" pertanyaan pertama yang keluar dari bibirku sebagai reflek keterkejutanku. Gadis itu menatapku dengan matanya yang entah bagaimana terlihat aneh. "Memang kenapa kalau cewek? Ngga boleh?" "Hah? Loh... loh... tunggu," ucapku terbata-bata. "Sudah-sudah," potong Pak Herman, "sekarang saya pingin kalian keluar dari ruangan saya. Soalnya sebentar lagi tukang pijat mau datang, dan kalian masih punya kewajiban untuk diselesaikan." Cewek? CEWEK??!!? "Hey, kamu dengar ngga sih?" "Iya-iya," dengan malas kuangkat kepalaku dan menatap gadis itu, "aku dengar kok, tentang bagaimana kamu begini... lalu begitu....." Kuucapkan satu demi satu setiap kata yang semenit lalu diucapkannya. Gadis itu menatapku seperti melihat alien. "Gila, memang kamu wartawan tulen." Hanya itu, sebelum gadis itu kembali nyerocos tentang cerita

235

kehidupannya. Lima menit kemudian kepalaku sudah pusing lagi. Segera kututup novel Omerta yang semalam masih bisa kunikmati dan menatap ke arah gadis yang langsung terkejut itu. "Sudah?" "Eh," ucap gadis itu, "kalau kamu sudahan ya udah." "Bagus." "Tapi......" "Duuuuhhhh," erangku gusar lalu bangkit berdiri dan menuju lemari arsip di sebelah dispenser. Seperti yang sudah kuduga, gadis itu mengikutiku. "Akhirnya pekerjaan," ucapnya dengan suara nyaring seolah baru mendapat hadiah ulang tahun, "kupikir kita akan berkarat di sini." "Nih," ucapku seraya mengeluarkan sebuah map berwarna kelabu. Moogie mengambil map itu dan mulai membukanya di atas meja. "Apaan nih?" "Itu kerjaan kita nanti malam." "Dugem?" desahnya sambil mengerutkan alis. "Iya," ucapku kasar lalu menyalakan rokok di bibirku. "Dugem. Kenapa? Anak mama ngga boleh keluar malam yah?" Di luar dugaan Moogie hanya diam saja. Malamnya, aku jadi keledai dungu.... "Iya, Tante," ucapku dengan senyum termanisku, "ngga sampai malem kok." Wanita setengah baya itu memandangku dengan penuh selidik, apalagi kalau bukan mengira-ngira berapa meter rambutku dan menduga-duga jumlah tatoo di badanku, "Jam dua belas." Moogie bisa melihat mataku yang membelalak. "Iya, Ma. Jam dua belas." "Eh?" ucapku hendak protes, tapi Moogie melirikkan matanya, "Iya Tante. Hanya sampai jam dua belas kok." Di jalan beberapa saat kemudian, "Gila, mana ada dugem cuman sampe jam dua belas," gerutuku seraya menginjak pedal gas mobil. Moogie hanya tertawa kecil. "Loh, pamitnya kan ke pesta ulang tahun." Iya juga sih pikirku dalam hati. "Omong-omong, Ray," selanya kemudian, "nanti kamu ajarin aku yah apa yang harus kulakukan." Dengan heran kupalingkan wajahku ke arahnya. "Loh, memangnya kamu dari tabloid mana sih?" "Klenik." Alamak!! Nggak nyambung amat.

236

Di diskotik S, salah satu yang terbesar di Surabaya, "Ih, jangan pegangan dong, kaya pacaran aja," tukasku saat Moogie menggandeng tanganku ketika kami berjalan menuju pintu masuk. Gadis itu langsung kelihatan menciut dan memasang wajah penuh penyesalan. "Kan aku belum pernah ke sini, Ray." Sinting! Kapan lagi coba aku jadi babby-sitter. Tak ingin berdebat lebih lama, kugamit tangannya dan setengah menyeret ke pintu masuk. "Loh, Ray, kok sorean?" tanya bapak bertubuh tinggi besar yang berdiri di depan pintu masuk, "bawa cewek lagi. Gebetan kamu ya?" Dengan wajah gusar kutatap bapak itu, "Ngga, Pak. Ini adik saya." Moogie langsung cekikikan. Bapak itu mempersilahkan kami masuk tanpa bayar. Lha wong langganan tetap sejak 1997. "Nah," ucapku sesampainya di dalam, "kamu tunggu saja di sini dan amati saja perilaku orang-orang di sini. Target kita adalah orangorang yang menjajakan narkoba. Tapi kamu harus hati-hati, soalnya di sini kan gelap, jadi kamu pasang telinga baik-baik kalau ada seseorang menawarkan kamu sesuatu." Moogie mengangguk-anggukkan kepalanya, "Lha cuman itu doang?" "Ngga sih," senyumku kemudian, "enjoy-nya dong." Kuliukkan tubuhku mengikuti irama musik yang membisingkan telinga. Moogie menutupi mulutnya dan tertawa kecil. Kulirik jam di tanganku saat Moogie tertawa dan menghela nafas melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Moggie memukul pundakku, "Ray!" Dengan terkejut kupalingkan wajahku menatapnya, benakku terseret dari irama musik house yang sedetik lalu masih menyusupi sarafku, "Apaan?" Gadis itu mendekatkan bibirnya ke kupingku, "Aku mau pipis." "Duh," helaku gusar lalu menyeret gadis itu melewati kerumunan orangorang. Dengan sabar kutunggu gadis itu keluar dari toilet. saat itulah seorang pemuda dengan rambut botak dan baju serampangan menghampiriku dan membisikkan kata-kata ajaib yang sudah kutunggu-tunggu. "Enam lima?" "Empat lima," sahutku lirih. Si Botak menghela nafasnya, "Lima puluh." "Di luar?" senyumku padanya. Mendadak aku jadi lupa bahwa aku tidak sendirian ke situ. Si botak melangkah ke luar toilet dan menghampiri beberapa orang yang bergoyang di sudut gelap, sebelum menghampiriku. "Nih," ucapnya seraya meletakkan di tanganku sebutir obat yang berdiameter satu senti. Lumayan.

237

"Wawancaranya?" Si Botak langsung pasang wajah terkejut lalu berusaha mengambil lagi barang yang barusan dimasukkannya ke tanganku, "Polisi?" Kulihat beberapa orang di sudut gelap itu mulai menghampiri kami. Dengan masih tersenyum kugelengkan kepalaku, "Wartawan." Si Botak melirik gelisah. "Ada apa, Zir?" tanya salah seorang yang berambut karatan. "Ada apa, Ray?" mendadak Moogie sudah di belakangku. Dalam perjalanan pulang, "Gila, Ray. Kamu berani sekali," Moogie menatap kaset kecil di jepitan jemarinya. "Part of the job," jawabku singkat. Sebenarnya malam ini aku beruntung sekali, dari target lima sampai enam orang, aku malah mendapat tujuh narasumber. "Tapi aku jadi heran, Ray." "Kenapa?" "Kok ngga ada bagian sensualnya?" Dengan tertawa terbahak-bahak kupalingkan wajahku menatap gadis itu. "Yang ini liputan khusus non seksual." "Oh, begitu ya?" "Kecuali....." Moogie menatapku dan menunggu akhir kata-kataku, "Kecuali?" "Hehehe," dengan kekeh nakal kupalingkan lagi wajahku menatap jalan raya, "kecuali..... kalau kamu ngga pulang jam dua belas dan kamu pakai baju seksi, yang ngga pakai lengan dan rok mini ketat." "Kok begitu?" "Ngga tau. Iseng saja ngomong begitu. Hayo, kamu ngeres, ya?" Gadis itu lengsung berteriak gusar dan meninju lenganku. "Kamu itu yang jorok!" Ternyata selama perjalanan pulang kami sudah bisa mengakrabkan diri. Kantor, keesokan siangnya "Jadi udah dapat apanya?" "Nenek elo dapet semangka," ucapku dengan tertawa. Jodi langsung keki, "Nenek gua udah tewas." Jupri tertawa terbahak-bahak. "Sungguhan nih, Ray." "Emangnya mau dapat apaan?" tanyaku kemudian setelah lelah tertawa, "Nih." Kedua orang itu menatap kaset kecil di atas meja. "Bukan yang ini, bego," ucap Jupri sesaat kemudian, "si Moogie itu." "Moogie? Moogie katamu?" ucapku dengan wajah misterius. "Iya-iya," mereka langsung pasang wajah bernafsu. "Bibirnya," bisikku mendesah, "lehernya... putih, bo."

238

"Terus, terus?" "Pulang dari disko, di parkiran, dia diam saja waktu kujilati belakang kupingnya. Terus tanpa dia sadarin gua buka tuh bajunya dan jilat payudaranya yang montok. Merah jambu, maan." Jodi dan Jupri menahan nafas, "Lalu?" "Lalu gua susupin jemari gua ke balik roknya dan dianya basah banget, bo." "Terus?" "Cabuuullll!!!!" Mendadak sesuatu mendarat di kepalaku. Jodi dan Jupri langsung tertawa terbahak-bahak. Ternyata mereka sudah tahu kalau Moogie ada di belakangku. Dengan ikut tertawa kubalik tubuhku den menghindar dari ayunan tas berikutnya. "Awas kamu, Ray," cibir gadis itu seraya melangkah menuju kantor Pak Herman. Jodi menepuk pundakku dan berbisik, "Sikat aja, anaknya manis kok." Jupri ikutan nyeletuk, "Iya. Toketnya gede." "Nenek elo bedua saling sikat." "Nenek gua udah tewas," ulang Jodi dengan wajah sewot. "Udah tau," ucapku seraya bangkit berdiri dan ngeloyor ke ruangan Pak Herman. Empat hari kemudian, "Begitu ya, Mbak?" tanya Moogie pada 'mbak' yang sudah menyalakan lagi rokoknya itu. 'Mbak' itu menganggukkan kepalanya dan melanjutkan dengan suara nge-bass, "Iya. Lah kita ini kan ngga pernah minta dilahirkan jadi pria, eh, waria. Seharusnya mereka-mereka ngga berhak buat ngusir kita dari jalanan. Jangankan ngusir, ngelirik kaya ngelirik setan aja forbiden, bo." "Setuju, Mbak!" sahut Moogie dengan wajah serius, membuatku setengah mati menahan tawa. Beberapa saat kemudian 'mbak' itu mengantar kami keluar, tak lupa membungkuskan empat buah lemper yang sejam lalu dibelinya di warung depan, "Makasih ya, jarang loh ada orang mau ngobrol sama kami, kecuali yang memang sepaham." Moogie menganggukkan kepalanya, sementara aku sibuk mengalihkan pandangan mataku dari mata si 'mbak' yang penuh godaan. "Gimana, Ray? Hebat kan performaku?" "Hebat, kaya Jialing," ucapku sebelum tertawa. Moogie meruncingkan bibirnya dan mengalihkan wajahnya, "Kamu sih, sentimen melulu." "Ngga kok," sahutku cepat, "kamu luar biasa, sampai si mas, eh, mbak itu terpesona dan berapi-api." Moogie tertawa mendengar selorohanku. "Ray, gua laper." "Mojok gih." "Emang mau e'e?" "Tuh lemper."

239

"Ngga kenyang." "Tambah ban serep." "Lapeeerrrr!!!!" Sampai akhirnya aku terpaksa menepikan mobilku, menelusuri trotoar untuk mencari warung pecel Madiun, seperti yang diminta tuan puteri. Wanita memang menyusahkan. Mungkin itu sebabnya aku tak pernah mau terikat dengan satu wanitapun dalam hidupku. Keesokan malamnya, "Asik, ya," seru Moogie padaku menyela musik hingar-bingar dan teriakan vokalis di bawah kami. Dengan tersenyum kuanggukkan kepalaku. Senyum sebal, sebab tadi di depan pintu masuk Mirzha dan Greg sempat menatapku dengan heran. Bagaimana tidak heran? Jam sembilan ke Cafe Pink? Untungnya, dengan alasan pekerjaan akhirnya aku terlepas dari berjuta pertanyaan dan gelak tawa. "Ray!" Kubalikkan tubuhku dan menatap ke arah suara di belakangku. Upay berlari dan memelukku, sebelum mencium kedua pipiku, "Gimana kabarnya?" "Masih hidup, ngapain kamu di sini jam segini?" sahutku tertawa. "Ditelepon anak-anak, katanya ada orang aneh datang." Langsung tawaku meledak. Tawa sebal, apalagi. "Siapa nih?" tanya Upay ketika melihat Moogie di sebelahku yang juga menatapnya. Moogie mengulurkan tangannya, "Moogie." "Upay," sahut Upay dengan senyum mengembang, "Ray, gebetan kamu boleh juga kali ini." "Enak saja," ucapku ketus, "dia ini yang menggantikan Jay di kantor. Aku cuman bawa dia ke sini untuk ngenalin yang namanya 'tempat kerja'." "Oh, iya, bagaimana kabarnya Jay?" "Entahlah," nadaku terdengar lesu, "sudah lupa kali ya?" "Aku kok dicuekin?" Moogie terdengar memprotes. Upay langsung tertawa. "Ray, aku pinjam dulu yah." Dengan tertawa kuanggukkan kepalaku. Upay langsung menyeret Moogie menghilang dibalik kerumunan manusia. "Jadi Jay ngga kembali lagi?" tanya Dedy padaku sejam kemudian di bar. Dengan mengangkat bahu kunyalakan rokok di bibirku, "Mungkin tidak." "Sayang sekali. Ngga ada yang ngeramein bar." "Ngga ada yang dikerjain maksudmu." Dedy tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha. Eh, itu gebetan kamu datang." Kupalingkan wajahku dan melihat Moogie menghampiri bersama Upay. "Upay!" seruku gusar saat melihat wajah Moogie yang kemerahan. "Nyantai aja dech," ucap Upay seraya mengedipkan matanya. Moogie tertawa kecil dan mengambil kursi di sebelahku.

240

"Kamu minum apa di bawah?" Moogie menatap Upay yang mengedipkan matanya, "Ngga ada?" "Kok begitu?" ucapku gusar lalu melirik Upay. "Singapore Sling dan Gin Tonik. Tapi bukan aku yang nyampur loh, Ray. Tanyain sama bartender yang di bawah." Ya ampun!! Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas saat aku memegangi lengan Moogie dan membukakan pintu mobil. Moogie tersenyum-senyum dan mendudukkan dirinya, seolah tidak merasakan apapun. Dengan menggelengkan kepala kutatap Upay yang masih sibuk menggaruk kepalanya. "Lihat nih," ucapku sebal, "bagaimanaku harus bilang sama orang tuanya?" "Ya buat dia sadar dulu," desis Upay lirih sambil tersenyum misterius. "Hhhh," desahku lalu melangkah menuju ke sisi lain mobil, "aku pulang." "Daahh," seru Upay sebelum aku masuk, "salam buat Moogie kalau dia sadar." Kalau dia sadar. Dalam perjalan pulang, "Kamu marah ya, Ray?" "Nggak," jawabku pendek, lebih mengkonsentrasikan benakku ke jalan. "Marah." "Nggak. "Maraaaahhh! Keliatan kok." "Ngga tuh, ngga ngerasa." Mendadak Moogie menarik pipiku, "Nih supaya ngga marah." "Aduh," seruku gusar dan menggelengkan kepalaku lalu menatapnya. Gadis itu menekuk tubuhnya dan memandang dengan gaya tak bersalah, "Tuh, marah kan?" Entah apa yang kurasakan saat itu, akupun tak tahu. Mendadak kutarik setir mobil dan menepikan mobilku. "Ray? Ada apa?" tanya gadis itu menegakkan tubuhnya. "Ada ini," ucapku pendek seraya memiringkan tubuhku dan mengecup bibirnya. "Mmhhh," gadis itu melenguh saat bibirku menyentuh bibirnya. Sejenak bisa kurasakan otot-otot pundak yang kusentuh melemas. Hanya sekejap, sebelum otot-otot itu mengencang kembali. Moogie menyentakkan tubuhku. "Ray. Apaan sih!" "Pingin nge-sun aja." "Kurang ajar." Wajah gadis itu terlihat serius dan.....gusar? Dengan tertawa kuinjak pedal gas dan membiarkan mobilku melaju perlahan di jalanan yang mulai sedikit sepi. Kubiarkan keheningan menyela diantara kami. Menunggu sepatah pertanyaan....

241

"Maksud kamu tadi apa?" Nah, betul juga kan. "Ngga apa-apa, pingin nge-sun aja. Aku kan sudah bilang tadi." "Kan ada alasannya." "Kenapa?" tanyaku meliriknya, "Kamu suka?" "Gila apa?" sergah gadis itu. Kulirik dari spion penumpang, gadis itu meraba-raba bibirnya dengan pandangan keluar jendela. "Aku salah?" tanyaku beberapa saat kemudian. "Ngga salah lagi. Kamu kurang ajar." "Kamu tahu kenapa?" Moogie diam saja. Kuputar lagi setir mobil dan berhenti. Moogie langsung memiringkan tubuhnya menghadapku, "Apa!" Dengan tertawa kutatap wajahnya, "Karena kamu mabuk, dan karena kamu menggemaskan." Moogie terlihat kehabisan kata-kata. "Aku ngga mabuk." "Iya kamu mabuk," tawaku, "mau bukti?" Moogie menatapku. Dasar yang namanya gadis, kalau sudah kena perangkap ngga bisa mikir, "Apa coba?" "Nih," setengah memaksa kudorong tubuhku ke arahnya dan melumat bibirnya sekali lagi. Moogie mencoba menahan tubuhku dengan kedua tangannya. Kembali kurasa tubuhnya melemas sesaat, lima detik matanya terpejam sebelum ototnya kembali mengencang, mendorongku kasar dan menampar. "Hey," seruku seraya menghindari ayunan tangannya. Dengan tersenyum kutatap matanya yang mulai berkaca-kaca, "kamu belum pernah dicium?" Mendadak kulihat air mata mengalir di pipinya. Moogie menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Berarti belum. Hati-hati kucondongkan lagi tubuhku dan menarik kedua lengannya membuka. "Jangan menangis ah, nanti kalau ketahuan mamamu bisa berabe." Moogie masih menggosok-gosok kedua matanya. Dengan tertawa kecil kutundukkan kepalaku dan kembali menempelkan bibirku di bibirnya. Moogie mengeluh sesaat, tubuhnya mengejang sebelum akhirnya melemas dalam dekapanku. Kukulum bibirnya lembut, membiarkan lidahku menjelajahi rongga-rongga mulutnya. Kurasakan tubuh gadis itu bergetar dan matanya tetap terpejam. Aku? Tentu saja buka mata, lagipula kan ekspresi wanita saat dicium itu merupakan sebuah pemandangan yang menurutku menyenangkan. Kubiarkan gadis itu terlena selama kurang lebih dua menit dalam dekapan dan kuluman bibirku, sebelum kuangkat lenganku dan menyentuh kulit lehernya. Kubelai dan kupijat lembut lehernya, perlahan dengan penuh kehangatan. Kuraba dengan jemariku, dari telinga, dagu, sampai ke batas kerah kaus ketat yang dikenakannya. "Ray," desah gadis itu saat jemari telunjukku menyusup masuk dan menekan permukaan payudaranya yang terasa mengeras. "Ssshhh," desahku, "nikmatin aja." Kukeluarkan jariku dan mengangkat kedua lengan gadis itu, melingkarkannya di leherku. Kembali kubuat

242

gadis itu memejamkan matanya dengan kembali melumat bibirnya. Perlahan kuletakkan telapak tanganku di perutnya, memijat halus dan merangsak mencari tepian bajunya. Tubuh gadis itu bergetar saat telapak tanganku menyusup ke balik bajunya dan meraba kulit perutnya. "Sudah, Ray," desahnya lirih. "Belum," desahku balik di bibirnya. Kutelusuri kulit perutnya dengan jemariku dan perlahan menuju payudaranya yang masih terbalut bra kain. Moogie mendesah saat kutangkupkan jemariku di payudaranya dan memijatnya halus. Kutekan perlahan dan kulepaskan, seolah sedang membuat adonan kue. Moogie mendesah berulang-ulang, rangkulannya di leherku mengencang. Kuturunkan bibirku dan menjilati lehernya, gadis itu menggelinjang. Kuangkat tepi bawah bajunya dan merogoh kaitan bra di punggungnya. Moogie seperti tersentak saat kulepaskan pengait bra-nya. "Sudah, Ray," desahnya dengan nada lirih dan panik. Moogie mencoba meronta, tapi segera kulumat bibirnya, "Please." Mana tahan dia kalau didesah seperti itu. Dengan lembut kususupkan jemariku ke balik bra-nya yang sudah longgar. Moogie menggerakkan tubuhnya sedikit ketika jemariku menyentuh puting payudaranya yang sudah mengeras. "Hhhhhh," Moogie mendesah panjang sementara matanya mulai berkerut. Kulepaskan bibirku dan menundukkan tubuhku, memperhatikan bentuk payudara gadis itu dengan seksama. Besar, mungkin tiga puluh enam B. Kupejamkan mataku dan menutup puting susunya dengan bibirku, membuat gadis itu menggelinjang. Dengan tangan kiriku kutarik sisi kiri bajunya sehingga memperlihatkan kesemua payudaranya. Bergantian kukecupi puting susunya, sementara Moogie mendesah tak karuan. Setelah merasa puas, kuangkat tubuhku dan membetulkan kembali letak bra dan bajunya. kukecup bibir gadis itu dan Moogie membuka matanya. Perlahan air mata menetes di pipinya, "Apa itu tadi, Ray?" Suaranya bergetar. "Karena kamu begitu menggemaskan," senyumku dan kembali mengecup bibirnya. Kutarik tubuh gadis itu dan memeluknya. Moogie menyusupkan kepalanya ke dadaku dan terisak. Aku sampai sekarang tidak pernah mengerti mengapa gadis-gadis selalu terisak saat seorang pemuda pertama kali menyentuh mereka. Aneh, ya? "Ray?" sela gadis itu setelah aku mengantarnya ke depan pintu. "Ya?" tanyaku sambil tetap memasang senyum di wajahku. "Cuman begitu saja?" Kutundukkan kepalaku dan tertawa, "Ya kamu tebak sendirilah artinya apa." Lalu kuangkat kepalaku dan mengecup bibirnya. Moogie tidak menolak. Menyenangkan membiarkan gadis itu hanyut dalam kesimpulannya sendiri. Aku tidak berjanji apa-apa, bukan?

243

Lusanya di kantor, "Kamu mau kopi?" tanya Moogie kepadaku. Kuanggukkan kepalaku. Gadis itu tersenyum lalu bangkit menuju dispenser. Jodi mendekatiku dan berbisik, "Eh, kau apain tuh si Moogie, kok kalian jadi mesra amat?" Dengan tersenyum kuangkat bahuku, "Mana kutahu?" "Dasar," umpat Jodi lalu kembali ke mejanya saat Moogie kembali dengan secangkir kopi. "Thanks," ucapku padanya. Moogie tersenyum dan duduk di sebelahku. Perlahan gadis itu mengangkat lengannya dan menyusupkannya ke lenganku. Hangat. Tapi memang begitu seharusnya, kalau seorang gadis menganggapmu pacarnya. Tul ngga? "Ehm, ehm," mendadak suara Pak Herman terdengar di belakang kami. Moogie langsung menarik lengannya dan membuka-buka lembaran editing di hadapannya. Dengan tersenyum simpul kubalikkan wajahku menatap Pak Herman yang menggelengkan kepalanya. "Sini, Ray," ucap si Boss seraya menuju ke ruang kantornya. Dengan menggaruk kepala kuangkat tubuhku dan mengikutinya. "Jadi kamu apain anak itu?" "Wah, saya ngga ngapa-ngapain kok, Bos," ucapku dengan wajah tak bersalah. "Masa? Ngaku aja deh," ucap Pak Herman dengan melirik tajam. "Hehehe," tawaku iseng seraya menggaruk lagi kepalaku, "yang namanya cinta." "Aduh," Pak Herman menepuk kepalanya, "aku sudah menduga hal ini akan terjadi." "Lha ya salahnya siapa loh, Bos?" tanyaku membela diri. "Ingat, Ray. Be profesional." "Iya. Saya tahu." Masa? Dua hari yang lalu, 26 Juni 2001 "Ach," Moogie menggelinjang saat kugigit pahanya. Gadis itu tertawa melihat senyuman di bibirku, "nakal." Dengan tertawa kuangkat kakinya dan menjilat belakang lututnya. Moogie berusaha mengangkat punggungnya dn menggapai rambutku, "Geli, Ray." "Hehehe," sambil tetap tertawa kuletakkan kakinya kembali dan mengecupi pahanya sampai ke bagian celana dalamnya yang berwarna biru muda. Moogie menjerit lirih saat kugigit lembut kain yang menutupi kemaluannya. Kuulurkan tanganku dan meraih buah dadanya, meremas dengan lembut. Desahannya terhenti saat kuangkat tubuhku dan mengambil tempat di sisinya. "Moogie," ucapku lirih.

244

"Ya?" gadis itu membuka matanya dan menatapku. Kukecup bibirnya. "Sini tanganmu." Gadis itu tersentak saat jemarinya menyentuh batang kemaluanku yang mengeras di balik celana dalam yang kukenakan. "Kenapa?" tanyaku sambil tetap tersenyum. Moogie melirik ke bawah dan menggumam, "Keras." Kontan saja aku tertawa mendengar pengakuannya yang khas anak baru tau sex. "Masukin," ucapku setengah memerintah. Moogie menyusupkan jemarinya ke balik celana dalamku, dan beberapa saat kemudian aku sudah mengajarkan tujuh puluh lima persen dari semua ilmu me-masturbasi cowok padanya. Tentu saja tidak termasuk 'blow job', mana ada lagi cewek lugu yang pertama kali diajarkan langsung mau? Hehehe "Sekarang begini," kuangkat tubuhku yang sudah telanjang bulat dan meraih celana dalam yang dikenakannya. "Ih, jangan," Moogie meronta dan memegangi celana dalamnya. "Kamu ngga percaya sama aku?" tanyaku dengan wajah serius. Moogie mengerang, "Ngga gitu, Ray. Masa gini masih kurang?" "Kurang dong," ucapku sambil tersenyum lalu menarik paksa lagi celana dalamnya hingga aku bisa melihat kemaluannya yang tertutupi bulu-bulu lebat kehitaman. "Hutan," desisku sebelum tertawa terbahak-bahak. Moogie langsung bangkit berdiri dan mencari-cari celana dalamnya. Serta merta kupeluk tubuhnya dan berbisik, "Aku kan hanya bercanda." Gadis itu mengeliat dengan bibir runcing berusaha melepaskan dirinya dari pelukanku. Dengan tertawa kecil kutarik dagunya dan mengecup bibirnya. Kutempelkan dadaku di dadanya, merasakan puting susunya mengeras di dadaku. Moogie mengerang lirih dan dalam sekejap tubuhnya melemas. Kulumat bibirnya beberapa saat, sebelum mengulurkan tanganku dan meremas payudaranya. Kutekan dada gadis itu dan memaksanya berbaring kembali dalam posisi terlentang. Kulumat bibirnya dengan lembut, berusaha membuat gadis itu benar benar terlena. Kunaikkan sebelah kakiku dan menindih kakinya. Moogie menggeliat saat mendadak kunaikkan tubuhku ke atas tubuhnya. "Ach," desisnya dengan mata membeliak, "jangan Ray. Jangan begini." "Kenapa," desahku seraya menatap matanya. Perlahan kubuka kedua kakinya sekuat tenaga--karena dia menahannya--dan menempelkan batang kemaluanku vertikal di atas permukaan kemaluannya, "ngga sampai masuk, kan?" Moogie mengeluh saat batang kemaluanku menekan permukaan liang kemaluannya. Perlahan kugerakkan pinggulku menekan-nekan. Moogie mendesah dan mengerang lirih. Kulumat bibirnya dan mengangkat pahanya ke sisi tubuhku. "Jangan, Ray." "Ngga kok, ngga masuk. Percaya deh," bisikku lirih ditelinganya. Moogie memejamkan matanya dan mengigit bibir bawahnya saat gerakan

245

pinggulku semakin cepat menekan dan menekan lagi. Berulang-ulang sampai kurasakan sekujur tubuhku mengejang tersengat aliran listrik yang memuntahkan spermaku di atas perutnya. Moogie mendesah tak karuan berusaha mengatur nafasnya. Kuletakkan kepalaku di payudaranya dan mengecup perlahan permukaan dadanya. Kutarik lengan gadis itu dan melingkarkannya di leherku. "Moogie," bisikku lirih. "Ya," sahut gadis itu nyaris tak terdengar. "Kamu marah?" "Ya," jawaban gadis itu pendek dan terdengar jujur. "Kamu tahu sesuatu?" Tidak ada sahutan. Gadis itu menunggu. Kuangkat kepalaku dan mendekati telinganya. "Kamu yang pertama kali dalam hidupku. Di mana aku berani melakukan ini dengan seorang wanita. Dan kamu tahu kenapa, karena aku benarbenar sudah menyayangi kamu. Walaupun hanya dalam waktu sekian minggu." "Bohong," gadis itu masih memejamkan matanya. Kupegang pipi gadis itu dan menolehkannya ke arahku, "Lihat mataku." Moogie membuka matanya. Dan kutatap matanya. Dalam. Dalam sekali, setengah mencoba menghipnotis. Beberapa saat kami saling pandang sebelum tawa meledak di antara kami. Tawaku tawa girang. Tawanya diiringi air mata saat kupeluk tubuhnya. "Aku sayang kamu, Ray." "Hmmm?" desahku seraya mengecup ubun-ubun kepalanya. Dan itu masih juga bukan sebuah respons positif. Sepuluh hari? Kenapa tidak? Hanya butuh sedikit keberanian untuk berekspresi. -odari lubuk hati : Hey, sudah lama aku tidak mendengar caci maki. Ayo ayo ayo!! Terus terang saja, aku pertama kali sangat tidak berniat menyentuh cewek satu ini. Tapi gimana lagi... ada kucing lapar, ada pindang pasrah... yah, and I'm just a mortal man. cerita ini untuk : .lm 3 .pm 1 - Safuan, encik dari malaysia - Nick, hold your pants!! i'm baaaaaaackkk!!!! - Sari, nice story you've got there...sorry, i took a peek hehehe -

246

blame her! - Dee, kamu pernah nanyain Moogie kan? nih .... - Detta di yk, jangan sungkan-sungkan kalo telepon aku - Boedoet, bapak bos-ku doyan pijat loh hahahahaha..... - khusus : JAY, kalo sampe kamu ngga ngemail aku setelah baca ini.....GRRRR!!! - yang tahu siapa saya atau Moogie, jangan bocorkan rahasia! .lm salam seru dech, RAY 28 Juni 2001 ps : kabar Moogie sekarang? baik-baik saja tuh, tadi kita baru pulang nonton Atlantis hehehe...keren Komentar Wiro: Argh... Ray, cerita ini kok bukan buat gue sih? Grrrrr... ;-) Tapi ngomong-ngomong gue perhatikan, akhir-akhir ini kayaknya ada kemajuan (kemunduran?) di diri Ray lho. Ray yang sekarang beda dengan Ray yang dulu (baca deh Try Me, Kirani). Ray Sekarang lebih gentle (dan beradab, ha ha ha). Ops.. sorry kawan. Gue hanya merasa kehilangan (dan rindu) kepada "Ray Si Penakluk 13 perawan". What's up, dude? Habis-habisan diomelin kaum feminis ya? Ha ha ha (LOFL). Tapi enggak apa-apa deh. Yang ini juga enggak kalah seru, saru, dan bermutu! Salam Seru juga, Wiro "Gelo" (cari info tentang Moogie). 20. CINTA YANG TERPENDAM 01 Sebelumnya saya memperkenalkan diri saya seorang executive muda berumur tigapuluhan tahun. Peristiwa ini terjadi kurang lebih lima belas tahun yang lalu dikala saya masih berpacaran. Pada saat itu saya mulai melakukan wakuncar setiap weekend dan akhirnya saya mengetahui bahwa saya memiliki calon kakak ipar yang bahkan lebih menarik ketimbang calon isteri saya. Saya mulai berpikir untuk mengalihkan perhatian saya kepada calon kakak ipar dan iapun mulai bereaksi. Dari sorot matanya ia memang juga tertarik kepada saya, bahkan selalu mau untuk diajak jalan-jalan bersama sekeluarga. Saya terus mengadakan

247

pedekate dengan dia kemanapun dia pergi, namun dengan tetap menjaga perasaan calon isteri saya. Sampai akhirnya sebelum rencana menikah dengan calon isteri saya, saya memberikan dia kesempatan untuk berterus terang menanyakan dia ; apakah dia mencintai saya ?, namun ia dengan menangis ia membohongi dirinya dengan mengatakan bahwa ia tidak pernah mencintai saya, dan akhirnya saya memutuskan untuk menikahi calon isteri saya atau adik kandungnya. Selama pesta pernikahan ia terlihat murung dan berusaha menyembunyikan perasaannya, namun ia selalu mengawal kemana kami pergi hingga pesta berakhir. Hal ini membuat saya merasa sangat berbahagia sepertinya saya menikahi dua gadis sekaligus. Waktu terus berlalu dan saya tidak pernah berjumpa lagi dengan kakak ipar saya. Suatu kali, isteri saya melahirkan dan mertua saya memintanya untuk tinggal sementara di pondok mertua indah sepulang dari rumah sakit bersalin. Hal ini membuat saya senang karena saya membayangkan akan sering berjumpa dengan kakak ipar saya lagi. Rumah tersebut cukup besar serta dilengkapi oleh beberapa kamar mandi di lantai dasar dan di lantai atas. Pada suatu kali, secara tidak sengaja saya mendengar ada orang mandi di lantai dasar dan sepintas terlihat bahwa yang sedang mandi adalah kakak ipar saya. Jantung saya berdegup keras karena baru kali ini saya melihat pemandangan yang sangat luar biasa. Mula-mula dia menanggalkan seluruh pakaiannya, lalu mulai menyirami tubuhnya yang putih mulus dengan air dan mulai menggosoknya secara lembut dengan sabun. Diusapnya wajahnya dengan sabun, lalu diangkatnya ketiaknya dan diusapkannya terus ke payudaranya. Disinilah ia mulai mengelus dan memijat payudaranya selama beberapa menit dan ia terlihat sangat menikmatinya. Lalu diangkatnya sebelah kakinya ke atas bath cuip dan ia mulai menggosok bagian yang paling selangkangannya. Mulai dari ujung kaki, naik terus dan sampailah pada gundukan rambut lebat dan digosoknya perlahan-lahan dengan lembut dan berkali-kali. Tibatiba kepalanya menengadah dan bibirnya mulai mendesis perlahan. ia terlihat sangat menikmatinya. Setelah itu ia mengambil sebaskom air mawar dan dibasuhnya bagian kewanitaannya yang sangat sensitif itu. Mungkin agar bagian tersebut menjadi harum baunya. Jantung saya berdegup sangat keras dan hampir hilang kesadaran saya melihat wanita yang saya cintai berada dalam keadaan tanpa busana dan melakukan sesuatu yang sangat exciting dihadapan saya. Setelah kejadian itu, saya makin sering berusaha menunggu waktu ia mandi dan semakin sering saya mencuri-curi pandang kepadanya namun ia sepertinya telah kehilangan semangat dan tidak mau secara langsung membalas isyarat dari saya. Dihadapan isteri saya ia selalu memuji bahwa saya dikatakan tampan oleh kawan-kawannya yang menjenguk isteri saya dan kawan-kawannya senang ngobrol dengan saya. Saya merasa bangga

248

dan merasa yakin bahwa ia juga mencintai saya hingga suatu ketika isteri saya pergi ke rumah sakit dengan diantar oleh mertua saya dan rumah dalam keadaan sepi karena semua penghuninya belum pulang dari tempat pekerjaan masing-masing. Pada saat itu saya baru saja pulang dari kantor dan langsung menuju ke kamar kami. Belum sampai ke kamar, saya melewati kamar kakak ipar saya yang pintunya terlihat terbuka. Dengan rasa penasaran, saya mengintip ke dalam dan saya melihat ia sedang tertidur dengan mengenakan baju yang tipis dan minim hingga tersingkap pahanya yang putih dan mulus dan buah dadanya yang kencang menantang. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, saya masuk ke kamarnya dan menguncinya. Mula-mula saya mengelus kakinya sampai menuju pahanya. Disini ia mulai bereaksi dan mulai terbangun. Ia sangat terkejut ketika melihat saya ada disisinya, namun saya tidak memberikannya kesempatan lagi untuk berbicara dan segera menyumpal bibirnya dengan ciuman. Mula-mula ia meronta, ugghhh.... ughhh.... ughhh namun akhirnya ia pasrah saja untuk saya ciumi. Mulai dari lehernya saya ciumi, sementara tangan saya mulai meraba pahanya yang mulus hingga ke pangkal pahanya. Kancing bajunya saya preteli satu persatu hingga tinggal bra dan CDnya saja yang tertinggal. Jangan dre.... nanti ada orang .....," gumamnya, namun saya tidak menjawab tetapi terus aktif bekerja di selangkangan serta mulai menghisap pentil payudaranya yang kecil mungil berwarna pink muda dengan lingkaran coklat transparan. Uggghh..... Ughhhh..... sssst..... sssst.... ssst dia menggerinjal ketika jari saya mulai menyentuh vaginanya yang sudah basah berat. Pantatnya mulai diangkat menandakan ia sudah lepas kendali dan menikmati permainan ini. Putingnya mengeras dan ia mulai menekan kepala saya agar saya lebih keras lagi menghisap putingnya. "Auchhh.... sssst.... ssst .... sssst dre," rangkulannya semakin kuat dan bibirnya semakin ganas mencium seolah tak ingin berpisah lagi selamanya. "Dre... dre....," berkali kali ia bergumam, lalu secepat kilat ia menangkap batang kemaluan saya dan mulai meremas-remas. Seketika itu juga ia memelorotkan celana saya dan membuka baju saya dan mulai mengarahkan batang kemaluan saya ke vaginanya. "Jangan San... jangan, kamu kan masih perawan." "Tidak apa-apa Dre, kamulah cinta saya yang sejati, milikilah saya walaupun saya tidak dapat memilikimu Dre..." Lalu iapun memeluk saya semakin kuat dan membimbing batang kemaluan saya masuk kedalam vaginanya dan bersatu dengan tubuhnya dalam awanawan sorgawi. Saya mulai mengegesek-gesek bagian luar vaginanya dan mulai menekan sedikit-demi sedikit. Ia semakin menggelinjang dan secepat kilat mencengkram pantat saya dan menekannya kebawah hingga seluruh batang kemaluan saya terbenam ke dalam miliknya. "Sssst..... sssst...... sssst...... Aaacch...." ia merasakan sedikit kesakitan namun rasa nikmat mengalahkan rasa sakitnya. Saya mulai mencabut kembali batang kemaluan saya dan mulai memompa naik turun, hasilnya ia

249

mulai meracau tidak terkendali lagi. "Dre.... aaach...... saya sayang kamu Dre..... saya cinta kamu Dre..... milikilah saya Dre....." pantatnya ikut diangkat naik turun mengikuti pergerakan saya semakin cepat hingga akhirnya ia memeluk saya sekencang-kencangnya serta melumat bibir saya sekuat-kuatnya lalu berkejut-kejut dan akhirnya hening. Saya menyadari kalau ia telah mencapai orgasme, maka saya meneruskan memompa dan iapun mulai kembali lagi mengikuti irama saya. Akhirnya saya merasakan sesuatu mendesak di ujung batang kemaluan saya dan iapun memeluk saya semakin kuat hingga akhirnya Sssrrreeettt...... ssrreetttt.... ssrreettt..... Aachhh.... seperti tanggul bobol kami merasakan orgasme bersama. Tubuh kami menyatu bermandikan peluh. Rasa puas, senang, bersalah berkecamuk menjadi satu diantara kami. "Dre....anggaplah kita tidak pernah melakukan hal ini walaupun saya secara sadar mencintaimu, namun saya tidak mau menyakiti perasaan adik saya. Biarlah cinta kita menjadi cinta sejati dan akan kukenang sampai aku mati." San maukah kamu menjadi isteri saya yang kedua dan tinggal bersama kami ? saya berjanji akan membahagiakan kamu bersama adikmu menjadi satu keluarga." "Tidak Dre, lebih baik saya pergi daripada menyakiti perasaan adik saya karenanya kamu harus menjaganya dan membahagiakannya selamanya, berjanjilah....." Saya hanya mengangguk mengiyakan. Seminggu kemudian, isteri saya memutuskan untuk kembali kerumah sendiri karena sudah cukup kuat untuk melakukan kegiatannya seharihari dan sejak itu pula saya tidak pernah bertemu dengan kakak ipar saya. Tiga bulan kemudian, saya mendengar kalau kakak ipar saya dilamar oleh seorang duda tua seorang pengusaha yang sukses. CINTA YANG TERPENDAM 02 Selama setahun setelah pernikahan kakak ipar saya Sandra, saya tidak pernah berbicara apalagi bertemu dengannya, hingga pada suatu ketika saya menerima telepon dari seorang wanita di kantor. "Apa saya bisa berbicara dengan Andre ?". "Saya sendiri". "Apa mas Andre masih kenal saya?". Suara ini sudah sangat saya kenal dan terasa sangat dekat dengan saya. "Inikah Sandra?" dan akhirnya pembicaraan berlanjut mengenai keluarga kami masing-masing. Ternyata Sandra sedang mendapatkan masalah dalam perkawinannya. Setelah sekian lama menikah, dia belum juga hamil dan setelah diperiksakan ke dokter, ternyata suaminya mengalami kelemahan sehingga tidak dapat melakukan penetrasi seutuhnya yang dapat mengakibatkan kehamilan. Apalagi setelah dilakukan penelitian, jumlah sperma yang dihasilkan suaminya tidak mencukupi untuk membuahkan sel

250

telur alias terancam kemandulan. Mereka sudah mencoba berobat ke luar negeri, namun belum menunjukkan hasil yang memuaskan hingga kini. "Bagaimana kabar kamu Ndre?". "Oh baik-baik saja". "Ndre bisakah kamu mampir sebentar ke rumah saya malam ini, karena saya akan menitipkan sesuatu untuk adik saya". Pucuk dicinta ulampun tiba, dan akhirnya saya mengiyakan. Selepas dari kantor, saya menuju ke rumahnya yang terletak di sebuah pemukiman exclusive di superblok tepi laut, Jakarta Utara. Cukup jauh dari kantor saya di Jakarta Selatan. Setelah menekan bel dua kali, muncullah pembantunya yang sudah berumur mengatakan bahwa saya telah ditunggu oleh nyonyanya. Saya diantar masuk ke ruang keluarga yang luas dan mewah yang terletak di ruang tengah dan saya sangat mengagumi selera penghuninya. Hhem....... suara itu mengejutkan saya dari lamunan, dan bidadari sayapun muncul dari peraduannya sambil berjalan menuruni tangga. "Sudah lama Ndre?". "Belum, baru saja sampai". "Oh ya, mari kita menuju ke lantai atas, karena saya akan menunjukkan sesuatu padamu." Kamipun menuju ke atas dan tepat di depan pintu kamar, saya ragu untuk masuk. "San, dimana suamimu?". "Oh ia sedang business trip ke luar negeri dan baru kembali minggu depan". hati sayapun tiba-tiba bersorak entah mengapa. Lalu tanpa ragu-ragu Sandra menarik saya masuk ke kamarnya dan ia membuka lemari dan mengeluarkan sebuah sarung tangan laki-laki. "Masih ingatkah kamu sarung tangan siapa ini?" Akhirnya saya ingat kalau dialah yang menyimpan sarung tangan milik saya setelah usai pesta perkawinan saya. Hal ini membuat saya sangat terharu, betapa besar cintanya kepada saya dan betapa besar pengorbanan cintanya. Air matanya mulai mengembang dan tiba-tiba ia menjatuhkan wajahnya ke dada saya dan menangis. "Ndre mengapa tidak sejak dulu kita bertemu, dan mengapa bukan saya yang lebih dahulu berjumpa denganmu". Saya terharu dan mengusap rambutnya. Bau harum menyebar lewat rambutnya menambah gairah saya untuk mencumbunya, namun saya masih berusaha menekan perasaan itu. "Saya mencintaimu Ndre, cinta saya hanya untukmu Ndre". Tiba-tiba ia mendorong saya hingga kami berdua jatuh ke tempat tidurnya. Dia langsung menciumi saya mulai dari bibir, lalu dia membuka kancing baju saya dan menciumi dari leher hingga pangkal perut. Sayapun tidak mau diam saja, kancing bajunya saya tanggalkan dan tiba-tiba, dia memelorotkan celana saya hingga tinggallah kami berdua hanya mengenakan CD. Dengan bernafsu, dia mencekal batang saya dan mulai

251

melumuri dengan ludahnya. Semakin lama batang tersebut semakin besar hingga memenuhi rongga mulutnya, dan .... ohhhh.... ssssshh... nikmatnya serasa tubuh ini melayang, apalagi permainannya semakin lama semakin ahli saja. Lidahnya yang melingkar, menyedot, menghisap dan memilin batang saya sehingga saya melayang dibuatnya. Seketika, saya membalikkan tubuhnya dan saya mulai menciumi dia dari ujung rambut terus ke bibirnya, turun ke lehernya, dan di sinilah saya mulai menjilat-jilat hingga diapun mendesis seperti ular, ssshhh... ssshhh.... ssshhh..... kemudian saya turun ke dua buah bukit kembarnya dan mulailah saya menjilat-jilat dan menghisap secara perlahan. Hasilnya ini menjadi sensasi yang luar biasa, diapun menggelinjang dan mengangkat pantatnya, dan disinilah jari saya mulai menjelajah rerimbunan hutan alam yang lebat yang berwarna hitam dan tebal dan akhirnya sampailah saya pada gua yang sudah basah oleh kenikmatan. "Aghhh... ughhh...... Ndre ... sssshhhh.... Ndre.... sssshhhh..... Ndre, dia mulai meracau meminta saya menghentikan siksaan ini, namun saya merasakan dia sangat senang dengan perlakuan saya ini. Setelah puas melomoti bukit dadanya, saya mulai mejilati pusarnya dan akhirnya turun ke lembah surganya. Perlahan, namun pasti saya mulai menjilati bibir v-nya dan membuka pahanya lebih lebar lagi hingga terpampanglah belahan merah muda yang menantang. Lidah saya mulai masuk lebih dalam lagi dan bergerak seperti pacul dari bawah ke atas, sehingga hasilnya membuat Sandra mengangkat tinggi-tinggi pantatnya dan semakin tidak karuan bicaranya. "Ohhh... ssshhh.... ssshhh..... Ndre... ayo Ndre.... Ndre...., saya nggak tahan lagi Ndre... ssshhh..., namun saya tidak menggubrisnya, dan semakin mempercepat cangkul lidah saya di v-nya hingga dia mulai menjambak rambut saya kuat-kuat dan menekannya ke vnya. Karena hampir tidak dapat bernapas, akhirnya saya mengangkat tubuhnya dan dalam posisi menindihnya. Saya angkat sebelah pahanya, membuka v-nya lebar-lebar dan mulailah saya mendorong batang saya memasuki sorganya. Gua itu begitu sempit (mungkin karena jarang dipergunakan) dan jepitannya seolah masih perawan. Dengan posisi seperti ini, batang saya amblas seluruhnya memasuki rongga v-nya hingga membentur sesuatu di dalamnya. Ini mengakibatkan Sandra seperti kehilangan kesadarannya dan mulai menggigit pundak saya dan mencengkram tubuh saya erat-erat. Dan tiba-tiba saya merasakan sesuatu meleleh membasahi batang saya. Agggghhhh.... sssshhhhh.... sssshhhh.... ssssshhh.... ugh.. tubuhnya menggelepar dan terkulai lemas. Saya terus menciuminya dengan penuh sayang dan selepas lima menit, dia tiba-tiba membalikkan tubuh saya hingga saya terlentang dan mulai mencekal batang saya dan lalu dalam posisi duduk dia memasukkan batang saya ke dalam gua surganya. Mata saya terpejam mengalami sensasi yang luar biasa karena dia mulai menggerakkan pinggulnya berputar-putar seperti sedang mengaduk kopi susu. Diraihnya tangan saya dan ditempelkannya ke dadanya sehingga memudahkan saya meremas remas bukit dadanya. Dia mulai merintih lirih Ndre.... Ndre....

252

ssshhhh.... ssshhhhh.... aghhh.... aghhh... aghhh..... gerakan berputarnya semakin cepat dan sayapun sudah tidak tahan lagi untuk memuntahkan isi dalam batang saya yang terasa semakin penuh. Dan ... Agghhhh........ Ndre....... saya cinta kamu Ndre..... kemudian disusul dengan bobolnya pertahanan saya sssreet.... ssssret..... sssrrret lima kali tembakan memasuki rongga tubuhnya. Dia memeluk saya erat-erat dan terus menciumi saya dengan sayang dan sayapun membalasnya dengan perasaan yang sama. Setelah kejadian itu kami masih bertemu beberapa kali di luar rumah hingga suaminya kembali dari business tripnya. Sebulan kemudian saya mendapat telepon darinya yang mengabarkan bahwa dia telah positif hamil dan dia sangat berterima kasih kepada saya karena saya telah memberikan benih cinta abadi untuknya.

253