Anda di halaman 1dari 51

KETERIKATAN SARBANES-OXLEY ACT, SAS NO.

99, DAN CORPORATE GOVERNANCE: HAL-HAL APA SAJA YANG PERLU KITA KETAHUI M.N. Huda D. Santoso, Ak., M.H., CFE
Salah satu topik yang menarik dan actual (current issues) dalam ACFE Annual Fraud Conference ke-14 di Chicago yang baru lalu adalah tentang diterbitkannya Sarbanes-Oxley Act (SOX). Undang-undang ini dipandang sebagai reformasi terbesar (di USA) bagi pengukuran corporate governance sejak diterbitkannya Securities Acts of 1933 and 1934. Sangatlah penting bagi para akuntan, auditor dan fraud axaminers untuk mempelajari undang-undang ini, dan juga SAS No. 99, agar mengetahui pengaruhnya bagi organisasi (baik public, swasta, maupun jenis organisasi yang lain); serta apa aja tanggungjawab baru yang harus dipikul sekarang. SARBANES-OXLEY ACT LatarBelakang Undang-undang ini diprakarsai oleh Senator Paul Sarbanes (Maryland) dan Representative Michael Oxley (Ohio), dan telah ditandatangani oleh Presiden George W. Bush pada tanggal 30 Juli 2002. Undang-undang ini dikeluarkan sebagai respon dari Kongres Amerika Serikat terhadap berbagai skandal pada beberapa korporasi besar seperti : Enron, WorldCom (MCI), AOL Time Warner, Aura Systems, Citigroup, Computer Associates International, CMS Energy, Global Crossing, Health South, Quest Communication, SafetyKleen dan Xerox; yang juga melibatkan beberapa KAP yang termasuk dalam the big five seperti : Athur Andersen, KPMG dan PWC. 1. Semua skandal ini merupakan contoh tragis bagaimana fraud schemes berdampak sangat buruk terhadap pasar, stakeholders dan para pegawai. 2. Dengan diterbitkannya undang-undang ini, ditambah dengan beberapa aturan pelaksanaan dari Securities Exchange Commision (SEC) dan beberapa self regulatory bodies lainnya, diharapkan akan meningkatkan standar akuntabilitas korporasi, transparansi dalam pelaporan keuangan. 3. Memperkecil kemungkinan bagi perusahaan atau organisasi untuk melakukan dan menyembunyikan fraud, serta membuat perhatian pada tingkat sangat tinggi terhadap corporate governance. Saat ini, corporate governance dan pengendalian internal bukan lagi sesuatu yang mewah lagi; karena kedua hal ini telah disyaratkan oleh undang-undang.

Hal-hal yang Diaturdalam Sarbanes-Oxley Act Dalam Sarbanes-Oxley Act diatur tentang akuntansi, pengungkapan dan pembaruan governance; yang mensyaratkan adanya pengungkapan yang lebih banyak mengenai informasi keuangan, keterangan tentang hasil-hasil yang dicapai manajemen, kode etik bagi pejabat di bidang keuangan, pembatasan kompensasi eksekutif, dan pembentukan komite audit yang independen. Selain itu diatur pula mengenai hal-hal sebagai berikut : y y y y y y y Menetapkan beberapa tanggungjawab baru kepada dewan komisaris, komite audit dan pihak manajemen. Mendirikan the Public Company Accounting Oversight Board, sebuah dewan yang independen dan bekerja full-time bagi pelaku pasar modal. Penambahan tanggungjawab dan anggaran SEC secara signifikan. Mendefinisikan jasa non-audit yang tidak boleh diberikan oleh KAP kepada klien. Memperbesar hukuman bagi terjadinya corporate fraud. Mensyaratkan adanya aturan mengenai cara menghadapi conflicts of interest. Menetapkan beberapa persyaratan pelaporan baru.

Dalam hal pelaporan, Sarbanes-Oxley Act mewajibkan semua perusahaan publik untuk membuat suatu sistem pelaporan yang memungkinkan bagi pegawai atau mengadu (whistleblowers) untuk melaporkan terjadinya penyimpangan. Sistem pelaporan ini diselenggarakan oleh komite audit. Perusahaan dapat menggunakan jasa pelaporan hotliness eperti ACFEs EthicsLine. ACFE dapat membantu menyusun hotlines pengaduan yang akan menerima dan merahasiakan pengaduan, dan memberikan informasi kepada perusahaan agar dapat mengambil tindakan yang tepat. Sistem hotlines ini akan mendorong para pegawai untuk melaporkan karena mereka merasa aman dari tindakan pembalasan dari yang dilaporkan, dan inilah elemen penting dan kritis bagi program pencegahan fraud yang kuat (a robust fraud prevention program) Sarbanes-Oxley Act juga meningkatkan program perlindungan bagi pegawai yang menjadi pengadu atau pemberi informasi, yang mendapat perlakuan buruk dari perusahaannya setelah membeberkan adanya fraud dan membantu investigasi seperti : dipecat, didemosikan, diskors, diancam, dilecehkan dan berbagai perlakuan diskriminatif lainnya. Pegawai tersebut dapat mencari perlindungan melalui Departemen Tenaga Kerja dan pengadilan distriks etempat. Dengan adanya undang-undang ini, tindakan pembalasan terhadap pengadu dianggap sebagai pelanggaran Federal (a Federal offense) sehingga terdapat konsekuensi hukum pidana bagi orang yang melakukannya berupa hukuman penjara sampai dengan 10 tahun. Adapun perusahaan atau organisasi yang diatur oleh Sarbanes-Oxley Act antara lain: Perusahaan-perusahaan yang sahamnya telah diregistrasi berdasarkan Section 12 of the Exchange Act of 1934, perusahaan-perusahaan yang wajib membuat laporan diregistrasi berdasarkan Section 15(d) of the Exchange Act, perusahaan-perusahaan yang sedang dalam proses registrasi, dan Kantor Akuntan Publik yang menerbitkan laporan audit. Undangundang ini tidak mengecualikan perusahaan asing yang listing di Amerika Serikatdan KAP dari luar Amerika Serikat yang menerbitkan laporan auditnya bagi perusahaan tersebut.

Persyaratan bagi independensi auditor yang diatur dalam Sarbanes-Oxley Act diantaranya : menghindari beberapa aktivitas yang dilarang (201), semua jasa audit harus telah disetujui oleh komite audit, adanya rotasi dari partner yang melakukan audit, menghindari konflik kepentingan, dan penelaahan oleh Comptoller General terhadap dampak potensial dari rotasi yang telah diwajibkan.

Komite Audit Dalam kaitan tanggung jawab korporasi, Komite Audit mempunyai tanggung jawab sebagai berikut:  Melakukanseleksi, menghitungkompensasidanmengawasi KAP yang mengauditkorporasi.  Menjadianggotaindependendalamdewankomisaris.  Menyelenggarakanproseduruntukmenanganikomplain-komplain yang berkaitan dengan akuntansi, pengendalian internal, dan lain-lain yang berkaitandengan audit.  Menelaah dan menyetujui jasa audit dan jasa-jasa lain yang diberikan oleh KAP.

Public Company Accounting Oversight Board Dewan ini dibentuk berdasarkan Sarbanes-Oxley Act Tittle I yang berbunyi: . to oversee the audit of public companies that are subject to the securities laws. Dewan ini mempunyai 5 orang anggota yang dipilih oleh SEC setelah berkonsultasi dengan Menteri Keuangan (Secretary of Treasury) dan Gubernur Bank Sentral (Chairman of the Federal Reserve Board). Tugas-tugas dari dewan ini antara lain:  Melakukan registrasi terhadap KAP yang mengaudit perusahaan publik.  Menetapkan atau mengadopsi, atau melakukan keduanya: standar audit, quality control, etika, independensi, dan beberapa standar lain yang berkaitan deangan proses audit.  Melakukan inspeksi terhadap KAP-KAP.  Melakukan investigasi, penegakan, penegakan disiplin dan pengenaan sanksi terhadap KAP dan partner dari KAP yang melakukan pelanggaran.  Melakukan tugas-tugas dan fungsi-fungsi lain sebagai dewan yang dianggap perlu demi kepentingan publik

SAS NO. 99 Statement on Auditing Standard (SAS) No. 99 Cinsideration of Fraud in a Financial Statement Audit diterbitkan pada bulan Desember 2002 menggantikan SAS No. 82 dengan judul yang sama. SAS No. 99 ini merupakan Pernyataan Standar Audit signifikan yang pertama kali diterbitkan setelah diundangkannya Sarbanes-Oxley Act. Pernyataan ini menegaskan kembali tanggung jawab auditor yang telah dinyatakan dalam SAS No. 1 Codification of Auditing Standard and Proceduresdan SAS No. 82, yaitu: 5 The auditor has

a responsibility to plan and perform the audit to obtain reasonable assurance about whether the financial statements are free of material misstatement, whether caused by error or fraud. SAS No. 99 ini efektif bagi audit keuangan untuk periode yang dimulai pada atau setelah 15 Desember 2002. Perincian detail dari SAS No. 99 ini bisa didapatkan di www.aicpa.org. Secara garis besar komponen dari SAS No. 99 adalah:           Deskripsi dan karakteristik-karakteristik dari fraud. Kecurigaan secara professional (professional scepticism) Diskusi di antara tim audit yang ditugaskan Mendapatkan informasi dan bukti audit Mengidentifikasi risiko-risiko Penilaian risiko-risiko yang telah diidentifikasikan Tanggapan terhadap penilaian risiko Mengevaluasi bukti dan informasi audit Mengkomunikasian fraud yang mungkin terjadi Mendokumentasikan hal-hal yang berkaitan dengan fraud.

Sejalan dengan SAS No. 99 ini, the American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) telah membentuk Fraud Task Force of the AICPAs Auditing Standards Board yang bertugas untuk melakukan studi tentang pencegahan dan pendeteksian fraud dengan disponsori oleh Association of Certified Fraud Exminers (ACFE )dan beberapa organisasi lain yakni IMA, HA IIA, dan FEI. Hasilnya pada bulan November 2002 telah mengeluarkan Management Antifraud Programs and Control Guidance to Help Prevent and Deter Fraud. Inti pesan dari dokumen ini adalah setiap organisasi harus segera mengambil langkah proaktif untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya fraud demi integritas keuangan, reputasi dan masa depan organisasi. Dengan mengacu kepada pengalaman Amerika Serikat di atas, apalagi mengingat keterpurukan perekonomian Indonesia salah satunya disebabkan oleh buruknya corporate governance dan semakin banyak perusahaan Indonesia go public di dalam maupun di luar negeri, seyogyanya pihak-pihak yang berkompeten seperti DPR, Departemen Keuangan (Bapepam), dan Ikatan Akuntan Indonesia segera membuat undang-undang dan peraturan yang serupa dengan Sarbanes-Oxley Act dan SAS No.99.

SARBANAS OXLEY ACT 2002

Konggres Amerika Serikat menetapkan undang-undang keuangan yang kemudian dikenal dengan Sarbanas Oxley Act 2002 (Sarbox) pada tanggal 30 Juli 2002. Undangundang ini diprakarsai oleh Senator Paul Sarbanes dan Representative Michael Oxley dan disahkan oleh Presiden George W. Bush. Undang-undang ini dikeluarkan sebagai tanggapan terhadap sejumlah skandal akuntansi perusahaan besar yang termasuk diantaranya melibatkan Enron, Tyco International, Adelphia, Peregrine Systems, dan WorldCom. Skandal-skandal yang menyebabkan kerugian bilyunan dolar bagi investor karena runtuhnya harga saham perusahaan-perusahaan yang terpengaruh ini mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap pasar saham nasional. Kasus ini merupakan salah satu contoh tidak adanya Good Corporate Governance pada perusahaan-perusahaan tersebut. Perundang-undangan ini menetapkan suatu standar baru dan lebih baik bagi semua dewan dan manajemen perusahaan publik serta kantor akuntan publik walaupun tidak berlaku bagi perusahaan tertutup. Sarbox juga menuntut Securities and Exchange Commissions (SEC) untuk menerapkan aturan persyaratan baru untuk menaati hukum ini. Undang-undang ini juga disebut-sebut sebagai perubahan terbesar dalam pengaturan pengelolaaan perusahaan dan pelaporan keuangan sejak Undang-undang Keuangan pertama kali ditetapkan di tahun 1933 dan 1934. Sarbox terdiri dari 130 halaman dan terbagi menjadi 11 bab sebagai berikut: Bab I: Perusahaan publik akuntansi oversight board Section 101. Pembentukan; ketentuan administratif. (A) PEMBENTUKAN BOARD.- didirikannya Kantor Akuntansi Publik Pengawasan Dewan, untuk mengawasi audit perusahaan publik yang tunduk pada undangundang sekuritas, dan hal-hal yang terkait, untuk melindungi kepentingan investor dan kepentingan publik dalam penyusunan informasi yang akurat, dan laporan audit independen untuk perusahaan efek yang dijual ke, oleh dan untuk, investor publik. (B) STATUS.-Dewan tidak boleh menjadi badan dari Pemerintah Amerika Serikat, dan, kecuali ditentukan lain dalam UU ini, harus tunduk, dan memiliki semua kekuasaan yang diberikan pada sebuah lembaga nirlaba. (C) TUGAS DARI BOARD. (1) mendaftarkan perusahaan akuntan publik (2) menetapkan atau mengadopsi, atau keduanya, aturan, audit, kualitas kontrol, etika, independensi, dan standar lain yang berkaitan dengan penyusunan laporan audit emiten (3) melakukan inspeksi kantor akuntansi publik yang terdaftar

(4) melakukan penyelidikan dan penuntutan tentang disiplin, dan mengenakan sanksi (5) melakukan tugas lain seperti atau fungsi sebagai Dewan (Atau Komisi, dengan aturan atau perintah) (6) menegakkan peraturan Dewan, standar profesional, dan undang-undang sekuritas yang berkaitan dengan penyusunan dan penerbitan laporan audit dan kewajiban akuntan dengan amendemen sesuai dengan Undang-undang (7) mengatur anggaran dan mengelola operasi Dewan dan staf Dewan. (D) KOMISI DETERMINATION.-Para anggota Dewan harus mengambil tindakan tersebut (termasuk merekrut staf, usulan aturan, dan adopsi audit awal dan transisi dan profesional standar) (E) KEANGGOTAAN DEWAN (1) COMPOSITION.-Dewan memiliki 5 anggota, diangkat dari antara individuindividu yang memiliki komitmen pada kepentingan investor dan publik (2) Dua LIMITATION- hanya 2 orang anggota Dewan akan atau telah bersertifikat akuntan publik (3) FULL-TIME INDEPENDEN SERVICE.-Setiap anggota Dewan akan melayani secara penuh (4) PENUNJUKAN ANGGOTA DEWAN (5) JANGKA LAYANAN-jangka- pelayanan setiap Dewan anggota harus 5 tahun, dan sampai penggantinya ditunjuk (6) PENYISIHAN DARI OFFICE.-Seorang anggota Dewan mungkin dihapus oleh Komisi dari kantor, sesuai dengan pasal 107 (d) (3), untuk tujuan yang baik sebelum berakhirnya masa anggota tersebut. (F) WEWENANG BOARD (1) untuk menuntut dan dituntut, mengeluh dan membela, nama perusahaannya melalui konsultan sendiri (2) untuk melakukan operasi dan menjaga kantor, dan untuk melaksanakan semua hak lain (3) untuk menyewakan, membeli, menerima hadiah atau sumbangan atau memperoleh, meningkatkan, menggunakan, menjual, pertukaran, atau menyampaikan, semua atau suatu kepentingan harta (4) untuk menunjuk akuntan, pengacara, dan agen lainnya yang mungkin diperlukan (5) untuk mengalokasikan, menilai, dan mengumpulkan akuntansi biaya (6) untuk membuat suatu kontrak, menjalankan instrumen, menimbulkan kewajiban, dan melakukan setiap dan semua tindakan lain dan hal yang diperlukan (G) ATURAN DARI-BOARD (1) menyediakan operasi dan administrasi Dewan, pelaksanaan kewenangan, dan kinerja tanggung jawabnya berdasarkan Undang-undang; (2) mengizinkan, sebagai Dewan menentukan salah satu fungsi anggota individu atau karyawan dari Dewan, atau untuk divisi Dewan

(3) membuat aturan etika dan standar perilaku untuk Dewan anggota dan staf (H) LAPORAN TAHUNAN KOMISI.-Dewan akan menyerahkan laporan tahunan (termasuk laporan keuangan yang telah diaudit) kepada Komisi

Section 102. Pendaftaran dengan Dewan. (A) WAJIB MENDAFTAR.- Awal 180 hari setelah tanggal penentuan Komisi pada section 101 (d), hal itu akan melanggar hukum untuk setiap kantor akuntan yang tidak terdaftar untuk menyiapkan atau berpartisipasi dalam persiapan atau penerbitan, setiap laporan audit sehubungan dengan penerbit manapun. (B) APLIKASI UNTUK PENDAFTARAN .(1) BERUPA perusahaan APLIKASI.- Kantor akuntan publik harus menggunakan formulir yang ditentukan oleh aturan Dewan, untuk menerapkan untuk pendaftaran di bawah bagian ini. 2) ISI dari Aplikasi akuntansi.-Setiap perusahaan publik wajib menyampaikan, sebagai bagian dari aplikasi untuk pendaftaran secara rinci seperti Dewan akan menentukan(a) nama semua emiten yang disiapkan perusahaan atau menerbitkan laporan audit selama sebelum tahun kalender berakhir, dan untuk perusahaan diharapkan untuk mempersiapkan issue laporan audit selama tahun kalender berjalan; (b) biaya tahunan yang diterima oleh masing-masing perusahaan seperti penerbit untuk jasa audit, jasa akuntansi lainnya, dan jasa non-audit, masing-masing; (c) informasi keuangan lainnya untuk yang baru saja menyelesaikan tahun fiskal perusahaan (d) pernyataan kebijakan pengendalian kualitas perusahaan untuk akuntansi dan praktik audit; (e) daftar semua akuntan yang terkait dengan perusahaan yang berpartisipasi dalam atau berkontribusi untuk persiapan audit laporan, menyatakan izin atau nomor sertifikasi masing-masing seperti orang, serta jumlah lisensi Negara perusahaan itu sendiri; (f) informasi yang berkaitan dengan pidana, perdata, atau administratif tindakan atau proses hukum disipliner tertunda terhadap perusahaan atau orang terkait perusahaan sehubungan dengan laporan audit; (g) salinan dari setiap pengungkapan periodik atau tahunan diajukan oleh penerbit dengan Komisi segera sebelumnya tahun kalender yang mengungkapkan ketidaksetujuan akuntansi antara penerbit tersebut (h) informasi lain seperti aturan Dewan atau Komisi wajib menentukan diperlukan atau sesuai kepentingan umum atau untuk perlindungan investor. (3) PERSETUJUAN.-Setiap permohonan pendaftaran di bawah ini harus mencakup-

(a) persetujuan dilaksanakan oleh kantor akuntan publik untuk kerjasama dan sesuai dengan permintaan kesaksian (b) pernyataan bahwa perusahaan tersebut mengerti dan setuju bahwa kerja sama dan kepatuhan, (C) TINDAKAN PADA APLIKASI .(1) TIMING.-Dewan akan menyetujui pendaftaran lengkap tidak lebih dari 45 hari setelah tanggal diterimanya permohonan, calon pendaftar. (2) TREATMENT.-A pemberitahuan tertulis mengenai penolakan dari aplikasi untuk pendaftaran harus diperlakukan sebagai sanksi disiplin untuk tujuan bagian (D) LAPORAN BERKALA.-Setiap kantor akuntan publik terdaftar harus menyerahkan laporan tahunan kepada Dewan, yang diperlukan untuk memperbarui informasi terkandung dalam aplikasi untuk pendaftaran di bawah bagian ini (E) KETERSEDIAAN PUBLIK.-Registrasi aplikasi dan Laporan tahunan yang diperlukan oleh ayat ini, atau bagian tersebut dari aplikasi seperti atau laporan yang mungkin ditunjuk berdasarkan peraturan Dewan, harus dibuat tersedia untuk pemeriksaan publik, (F) BIAYA PENDAFTARAN DAN TAHUNAN.-Dewan akan menilai dan mengumpulkan biaya pendaftaran dan biaya tahunan dari masing-masing kantor akuntan publik yang terdaftar, dalam jumlah yang cukup untuk memulihkan biaya pengolahan dan meninjau aplikasi dan tahunan laporan.

Section 103. Audit, kontrol kualitas, dan kemerdekaan standar dan peraturan.
(A) AUDIT, PENGENDALIAN MUTU, DAN STANDAR ETIKA .(1) Secara umum.-Dewan akan membuat aturan, termasuk sejauh ini menentukan adopsi standar diusulkan oleh 1 atau lebih kelompok profesional akuntan dan mengubah atau memodifikasi audit tersebut dan terkait pengesahan standar, standar kualitas seperti kontrol, dan seperti etika standar yang harus digunakan oleh akuntan publik terdaftar perusahaan dalam penyusunan dan penerbitan laporan audit, (2) ATURAN PERSYARATAN(a)meliputi pada standar auditing yang mengadopsi persyaratan bahwa setiap kantor akuntan publik yang terdaftar harus(I) mempersiapkan kertas kerja audit, dan informasi lainnya berhubungan dengan setiap laporan audit, cukup rinci untuk mendukung kesimpulan yang dicapai dalam laporan tersebut untuk jangka waktu tidak kurang dari 7 tahun, (Ii) memberikan kajian mitra concurring atau kedua dan persetujuan laporan audit tersebut (Iii) menjelaskan setiap laporan audit lingkup auditor pengujian struktur pengendalian internal dan prosedur penerbit

(b) meliputi standar kontrol kualitas yang mengadopsi sehubungan dengan penerbitan laporan audit, persyaratan untuk setiap kantor akuntan publik terdaftar (3) KEWENANGAN UNTUK MENERAPKAN STANDAR LAIN Awal dan peralihan standar-dewaan harus mengadopsi standar sebagai awal atau transisi standar, sejauh Dewan menentukan perlu dan standar tersebut harus secara terpisah disetujui oleh Komisi pada saat penentuan itu

4) PENASEHAT GROUPS.-Dewan atau wewenang staf, kelompok-kelompok seperti penasehat ahli yang mungkin diperlukan. (B) KEMERDEKAAN STANDAR DAN RULES.-Dewan akan menetapkan ketentuan-ketentuan yang dianggap perlu atau sesuai dalam kepentingan umum atau untuk perlindungan investor. (C) KERJASAMA DENGAN KELOMPOK PROFESIONAL ditunjuk AKUNTAN DAN PENASEHAT KELOMPOK Dewan akan bekerja sama secara berkelanjutan dasar dengan kelompokkelompok profesional akuntan dan kelompok penasihat dalam pemeriksaan terhadap kebutuhan untuk perubahan (D)EVALUASI SETTING STANDAR PROCESS hasil standar tanggung jawab pengaturan dalam periode laporan terkait, termasuk diskusi pekerjaan oleh Dewan dengan kelompok-kelompok profesional yang ditunjuk oleh akuntan dan kelompok penasihat Section 104. Pemeriksaan dari accounting perusahaan publik terdaftar. Dewan akan melakukan program pemeriksaan berkelanjutan untuk menilai tingkat kepatuhan setiap kantor akuntan publik yang terdaftar dan orang-orang terkait dalam perusahaan. (A)FREKUENSI INSPEKSI Pemeriksaan harus dilakukan setiap tahun berkenaan dengan accounting perusahaan publik terdaftar yang secara teratur memberikan laporan audit untuk lebih dari 100 emiten. (B)PENYESUAIAN SCHEDULES Jika Dewan menemukan bahwa jadwal pemeriksaan berbeda dengan tujuan UU ini, kepentingan publik, dan perlindungan investor. Dewan dapat melakukan pemeriksaan khusus atas permintaan Komisi atau pada saat gerak sendiri. (C)PROSEDUR
(1) mengidentifikasi tindakan atau praktek atau kelalaian (2) melaporkan setiap tindakan tersebut, praktek, atau kelalaian, jika sesuai, kepada Komisi dan setiap Negara sesuai peraturan otoritas; dan (3) memulai penyelidikan formal atau mengambil tindakan disipliner, jika sesuai, sehubungan dengan pelanggaran tersebut, sesuai dengan Undang-undang ini dan aturan Dewan.

(D) PENYELENGGARAAN INSPECTIONS (1) memeriksa keterlibatan tinjauan perusahaan yang dilakukan di berbagai kantor oleh orang-orang yang terkait berbagai pada perusahaan

(2) mengevaluasi kecukupan sistem pengendalian kualitas dari perusahaan, dan cara dokumentasi dan komunikasi dari sistem perusahaan, dan (3) melakukan pengujian lainnya seperti audit, pengawasan, dan prosedur pengendalian mutu perusahaan yang diperlukan (E)TATA CARA REVIEW.- Dewan akan menyediakan suatu prosedur untuk meninjau kembali dan respon terhadap konsep pemeriksaan laporan oleh kantor akuntan publik yang terdaftar di bawah inspeksi Section 105. Proses penyelidikan dan disiplin. Dewan akan membentuk aturan, subjek dengan persyaratan dari pasal ini, prosedur yang adil bagi penyelidikan dan mendisiplinkan kantor akuntan publik terdaftar dan orang yang terkait perusahaan tersebut. (A)PEMERIKSAAN (1) OTORISASI- Dewan dapat melakukan penyelidikan atas tindakan atau praktek, atau kelalaian (2) KESAKSIAN DAN DOKUMEN PRODUCTION- memerlukan kesaksian dari perusahaan atau setiap orang terkait dengan akuntan publik terdaftar (3) NONCOOPERATION DENGAN PENYIDIKAN .Jika kantor akuntan publik terdaftar atau setiap orang yang terkait daripadanya menolak untuk bersaksi, menghasilkandokumen, atau bekerjasama dengan Dewan sehubungan dengan investigasi di bawah bagian ini, Badan dapat(I) menangguhkan orang tersebut dikaitkan dengan kantor akuntan publik terdaftar, (Ii) menangguhkan atau mencabut pendaftaran masyarakat akuntansi perusahaan; dan (Iii) meminta sanksi yang lebih kecil lainnya (4)KOORDINASI DAN RUJUKAN DARI PEMERIKSAAN Dewan akan memberitahukan Komisi dari setiap penyelidikan yang melibatkan Dewan dan setelah itu mengkoordinasikan pekerjaan yang diperlukan untuk melindungi suatu Komisi penyelidikan yang sedang berlangsung. (B) SANKSI.Jika Dewan menemukan akuntan publik terdaftar perusahaan atau orang terkait daripadanya telah terlibat dalam tindakan atau praktek yang melanggar Undangundang ini, Dewan dapat memaksakan: (A) penghentian sementara atau permanen pencabutan pendaftaran (B) pembatasan sementara atau permanen pada kegiatan, fungsi, atau operasi perusahaan tersebut Section 106. Umum akuntansi perusahaan asing. (A) PENERAPAN ATAS PERUSAHAAN ASING TERTENTU Banyak kantor akuntan publik asing yang mempersiapkan atau melengkapi laporan audit sehubungan dengan penerbit manapun, harus tunduk pada Undang-

undang ini dan aturan Dewan dan Komisi yang dikeluarkan di bawah UU ini, dengan cara yang samadan pada tingkat yang sama sebagai suatu kantor akuntan publik yangterorganisir dan beroperasi di bawah hukum Amerika Serikat (B) DEWAN AUTHORITY.Dewan dapat menentukan bahwa akuntansi perusahaan asing umum (atau kelas perusahaan tersebut) yang tidak menerbitkan laporan audit tetap berperan substansial dalam persiapan dan pemberian laporan untuk emiten tertentu

Section 107. Komisi pengawasan Dewan. (A) PENGAWASAN UMUM RESPONSIBILITY.-Komisi ini harus memiliki kewenangan pengawasan dan penegakan hukum terhadap Dewan. (B) PERSETUJUAN KRITERIA.-Komisi akan menyetujui aturan yang diusulkan, jika menemukan bahwa aturan konsisten dengan persyaratan Undang-undang ini dan undang-undang sekuritas, atau diperlukan atau tepat pada kepentingan umum atau untuk perlindungan investor. Section 108. Standar akuntansi. (A) PENGAKUAN STANDAR AKUNTANSI- Dalam menjalankan kewenangan yang dimilikinya, Komisi dapat mengenali tujuan undang-undang sekuritas, prinsip akuntansi apapun yang ditetapkan oleh badan pengaturan standar (B) LAPORAN TAHUNAN-Sebuah badan penetapan standar wajib menyampaikan laporan tahunan kepada Komisi dan masyarakat, yang berisi laporan keuangan yang diaudit dari badan pengaturan standar. (C) STUDI DAN LAPORAN mengadopsi PRINSIP BERBASIS AKUNTANSI .Komisi wajib melakukan Studi yang di adopsi oleh sistem keuangan Amerika Serikat (D) REPORT.-Tidak lebih dari 1 tahun setelah tanggal ditetapkan Undang-undang ini, Komisi harus menyampaikan laporan hasil studi yang diperlukan. Section 109. Pandanaan. (A) ANGGARAN TAHUNAN -Dewan dan pengaturan standar masing-masing akan menetapkan anggaran untuk setiap tahun pajak, yang harus ditinjau dan disetujui berdasarkan prosedur internal masing-masing tidak kurang dari 1 bulan sebelumnya dengan dimulainya tahun fiskal yang berkaitan. (B) SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA (1) dapat diperoleh kembali biaya anggaran (2) dana yang dihasilkan dari sanksi moneter

Bab II: Auditor Kemerdekaan Section 201. Layanan di luar lingkup praktek auditor. Section 202. Preapproval persyaratan. Section 203. Audit mitra rotasi. Section 205. Penetapan perubahan. Section 206. Konflik kepentingan. Section 207. Belajar dari wajib publik terdaftar dari rotasi akuntansi perubahan. Section 208. Komisi kewenangan. Section 209. Pertimbangan Negara sesuai dengan peraturan yang berwenang.

Bab III: Tanggungjawab Perusahaan Section 301. Komite audit perusahaan publik. Section 302. Perusahaan bertanggungjawab atas laporan keuangan. Section 303. Penggunaan pengaruh pada melakukan audit. Section 304. Kehilangan beberapa keuntungan dan bonus. Section 305. Pegawai dan direktur bar dan hukuman. Section 306. Insider trading selama periode penggelapan dana pensiun dilarang. Section 307. Aturan profesoinal untuk tanggungjawab jaksa. Section 308. Adil dana untuk investor.

Bab IV: Peningkatan Keuangan pengungkapan Section 401. Pengungkapan dalam laporan periodik Section 402. Peningkatan konflik kepentingan pengungkapan. Section 403. Pengungkapan transaksi yang melibatkan manajemen dan pokok stockholders. Section 404. Manajemen penilaian internal. Section 405. Pembebasan. Section 406. Kode etik untuk petugas senior keuangan. Section 407. Pengungkapan dari komite audit keuangan ahli. Section 408. Periodik ditingkatkan ditinjau dari pengungkapan oleh penerbit. Section 409. Real time penerbit pengungkapan.

Bab V: Analis konflik kepentingan Section 501. Perlakuan yang terdaftar oleh sekuritas sekuritas assocations.

Bab VI: Komisi sumber daya dan kewenangan Section 601. Otorisasi dari appropriations. Section 602. Tampilan dan praktek sebelum Komisi. Section 603. Pengadilan federal kewenangan untuk menentukan sen dolar stok bar. Section 604. Kualifikasi terkait orang dari calo dan dealer.

Bab VII: Studi dan laporan

Section 701. GAO studi dan laporan dari masyarakat tentang konsolidasi akuntansi perusahaan. Section 702. Komisi studi dan laporan tentang kredit lembaga rating. Section 703. Kajian dan laporan pelanggar dan pelanggaran. Section 704. Belajar dari penegakan tindakan. Section 705. Belajar dari bank investasi.

Bab VIII: Perusahaan pidana penipuan dan akuntabilitas Section 801. Short judul. Section 802. Pidana denda untuk mengubah dokumen. Section 803. Nondischargeable hutang yang timbul jika melanggar undang-undang sekuritas penipuan. Section 804. Undang-undang batasan untuk sekuritas penipuan. Section 805. Tinjauan Federal hukuman panduan untuk halangan peradilan pidana penipuan dan luas. Section 806. Perlindungan bagi karyawan perusahaan publik yang menunjukkan bukti penipuan. Section 807. Pidana denda untuk defrauding pemegang saham publik dari perusahaan.

Bab IX: Kejahatan kerah putih Penalti Tambahan Section 901. Short judul. Section 902. Upaya ke conspiracies dan komit pidana penipuan offense. Section 903. Pidana denda untuk surat kawan dan penipuan. Section 904. Pidana denda atas pelanggaran terhadap Pendapatan Pensiunan Pegawai Keamanan Undang-undang 1974. Section 905. Perubahan hukuman yang berkaitan dengan pedoman tertentu kerah putih offense. Section 906. Perusahaan bertanggungjawab atas laporan keuangan.

Bab X: Perusahaan Nomor kembali Section 1001. Maksud dari Senat mengenai penandatanganan pajak perusahaan kembali oleh ketua pegawai eksekutif.

Bab XI: Corporate penipuan dan akuntabilitas Section 1101. Short judul. Section 1102. Sabotase dengan catatan atau sebaliknya sehingga menjadi kendala resmi melanjutkan. Section 1103. Kewenangan untuk membekukan sementara Securities and Exchange Commission. Section 1104. Perubahan Federal Sentencing Pedoman. Section 1105. Kewenangan Komisi untuk melarang orang dari menjabat sebagai pejabat atau direksi.

Section 1106. Peningkatan hukuman pidana di bawah Undang-undang Securities Exchange 1934. Section 1107. Retaliation against informants. Pembalasan terhadap informan.

Tujuan dari Sarbox adalah melindungi investor melalui: Pengungkapan keuangan yang lebih akurat, tepat waktu, komprehensif, dan dapat dimengerti. Tata kelola perusahaan yang lebih baik. Pengawasan yang lebih ketat dengan pembentukan PCAOB. Pengendalian internal yang lebih baik.

PCAOB PCAOB (Public Company Accounting Oversight Board) adalah suatu lembaga yang dibentuk oleh Saarbox untuik mengawasi proses penyusunan, pemeriksaaan, dan pelaporan laporan keuangan perusahaan publik di Amerika Serikat. Tugas dari PCAOB adalah: Mendaftar akuntan publik yang akan melakukan pemeriksaaan terhadap perusahaan yang mencatatkan bursanya pada pasar modal. Menetapkan standar tentang audit, pengendalian mutu, etika, independensi, dan standar yang lain terkait dengan proses penyusunan laporan audit untuk perusahaan publik. Melakukan pengawasan terhadap kantor akuntan publik. Malakukan penyelidikan dan penegakan disiplin termasuk memberikan sanksi jika diperlukan kepada kantor akuntan publik atau perorangan yang berasosiasi dengan suatu kantor akuntan publik.

Akuntan publik adalah akuntan yang telah memperoleh izin dari menteri keuangan untuk memberikan jasa akuntan publik di Indonesia. Ketentuan mengenai akuntan publik di Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik. Setiap akuntan publik wajib menjadi anggota Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), asosiasi profesi yang diakui oleh Pemerintah.

== Perizinan ==
Izin akuntan publik dikeluarkan oleh Menteri Keuangan. Akuntan yang mengajukan permohonan untuk menjadi akuntan publik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: * Memiliki nomor Register Negara untuk Akuntan. * Memiliki Sertifikat Tanda Lulus USAP yang diselenggarakan oleh IAPI. * Apabila tanggal kelulusan USAP telah melewati masa 2 tahun, maka wajib menyerahkan bukti telah mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) paling sedikit 60 Satuan Kredit PPL (SKP) dalam 2 tahun terakhir. * Berpengalaman praktik di bidang audit umum atas laporan keuangan paling sedikit 1000 jam dalam 5 tahun terakhir dan paling sedikit 500 (lima ratus) jam diantaranya memimpin dan/atau mensupervisi perikatan audit umum, yang disahkan oleh Pemimpin/Pemimpin Rekan KAP. * Berdomisili di wilayah Republik Indonesia yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau bukti lainnya. * Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). * Tidak pernah dikenakan sanksi pencabutan izin akuntan publik. * Membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Izin Akuntan Publik, membuat surat pernyataan tidak merangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46, dan membuat surat pernyataan bermeterai cukup yang menyatakan bahwa data persyaratan yang disampaikan adalah benar.

== Ujian Sertifikasi Akuntan Publik ==


Untuk dapat menjalankan profesinya sebagai akuntan publik di Indonesia, seorang akuntan harus lulus dalam ujian profesi yang dinamakan Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) dan kepada lulusannya berhak memperoleh sebutan "CPA Indonesia" (sebelum tahun 2007 disebut "Bersertifikat Akuntan Publik" atau BAP). Sertifikat akan dikeluarkan oleh IAPI. Sertifikat akuntan publik tersebut merupakan salah satu persyaratan utama untuk mendapatkan izin praktik sebagai akuntan publik dari Departemen Keuangan Republik Indonesia/Departemen Keuangan.

== Kantor Akuntan Publik ==


Akuntan publik dalam memberikan jasanya wajib mempunyai kantor akuntan publik (KAP) paling lama 6 bulan sejak izin akuntan publik diterbitkan. Akuntan publik yang tidak mempunyai KAP dalam waktu lebih dari 6 bulan akan dicabut izin akuntan publiknya.

== Bidang jasa ==
Bidang jasa akuntan publik meliputi: * Jasa atestasi, termasuk di dalamnya adalah Audit umum atas laporan keuangan, pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif, pemeriksaan atas pelaporan informasi keuangan proforma, review atas laporan keuangan, dan jasa audit serta atestasi lainnya. * Jasa non-atestasi, yang mencakup jasa yang berkaitan dengan akuntansi, keuangan, manajemen, kompilasi, perpajakan, dan konsultasi. Dalam hal pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan, seorang akuntan publik hanya dapat melakukan paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut

== Akuntan Publik di Negara Lain ==


=== Amerika Serikat === Profesi ini dilaksanakan dengan standar yang telah baku yang merujuk kepada praktek akuntansi di Amerika Serikat sebagai negara maju tempat profesi ini berkembang. Rujukan utama adalah US [[GAAP]] (United States Generally Accepted Accounting Principle's) dalam melaksanakan praktek akuntansi. Sedangkan untuk praktek auditing digunakan US GAAS (United States Generally Accepted Auditing Standard), Berdasarkan prinsip-prinsip ini para akuntan publik melaksanakan tugas mereka, antara lain mengaudit Laporan Keuangan para pelanggan.

Kerangka standar dari US GAAP telah ditetapkan oleh SEC (Securities and Exchange Commission) sebuah badan pemerintah quasijudisial independen di Amerika Serikat yang didirikan tahun 1934. Selain SEC, tcrdapat pula AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) yang bcrdiri sejak tahun 1945. Sejak tahun 1973, pengembangan standar diambil alih oleh FASB (Financial Accominting Standard Board) yang anggota-angotanya terdiri dari wakil-wakil profesi akuntansi dan pengusaha.

Perubahan Peraturan Jasa Akuntan Publik


Menteri Keuangan RI pada tanggal 5 Pebruari 2008 menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik yang merupakan penyempurnaan Keputusan Menteri Keuangan No. 423/KMK.06/2002 dan No. 359/KMK.06/2003 yang dianggap sudah tidak memadai. Siaran Pers Depkeu No. 26/HMS/2008 tanggal 15 Pebruari 2008 Beberapa perubahan mendasar yang menjadi latar belakang diterbitkannya peraturan tersebut diantaranya adalah : 1. Perubahan Asosiasi Profesi Akuntan Publik, yang sebelumnya setiap Akuntan Publik berhimpun dalam naungan Ikatan Akuntan Indonesia-Kompartemen Akuntan Publik (IAIKAP) sekarang berada di bawah naungan Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI); 2. Menegaskan kewajiban KAP menyampaikan laporan kegiatan dan keuangan yang lebih terinci sehingga dapat menunjang system informasi akuntan, akuntan publik, dan kantor akuntan publik yang sedang disusun. Dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut terdapat pokok-pokok penyempurnaan peraturan mengenai pembatasan masa pemberian jasa bagi akuntan, laporan kegiatan, dan asosiasi profesi akuntan publik. Untuk pembatasan masa pemberian jasa bagi akuntan publik, sebelumnya KAP dapat memberikan jasa audit umum paling lama untuk 5 (lima) tahun buku berturut-turut kemudian dirubah menjadi 6 (enam) tahun buku berturut-turut. Mengenai Laporan Kegiatan, telah ditetapkan formulir baku laporan kegiatan beserta lampirannya (termasuk di dalamnya laporan keuangan KAP) yang di dalam peraturan sebelumnya tidak diatur. Selain itu laporan kegiatan yang sebelumnya hanya disampaikan KAP dalam bentuk hardcopy, saat ini laporan kegiatan yang akan disampaikan KAP harus dalam bentuk hardcopy dan softcopy. Untuk asosiasi profesi akuntan publik, seluruh akuntan publik yang sebelumnya diwajibkan menjadi anggota IAI dan IAI-KAP, kini diwajibkan menjadi anggota IAPI. Asosiasi akuntan publik yang diakui adalah IAPI yang di dalam peraturan sebelumnya tidak diatur. Ujian Sertifikasi Akuntan Publik dilaksanakan oleh IAPI yang sebelumnya dilaksanakan oleh IAI. Sementara itu, Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) juga ditetapkan oleh IAPI yang sebelumnya ditetapkan oleh IAI-KAP.

Dari perubahan peraturan tersebut di atas, mungkin yang cukup melegakan bagi KAP dan akuntan publik-nya adalah perubahan Pasal 3 mengenai Pembatasan Masa Pemberian Jasa. Berikut ini isi Pasal 3 dari Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008 tersebut : (1) Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a dilakukan oleh KAP paling lama untuk 6 (enam) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut; (2) Akuntan Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menerima kembali penugasan audit umum untuk klien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah 1 (satu) tahun buku tidak memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan klien tersebut; (3) Jasa audit umum atas laporan keuangan dapat diberikan kembali kepada klien yang sama melalui KAP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah 1 (satu) tahun buku tidak diberikan melalui KAP tersebut; (4) Dalam hal KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas melakukan perubahan komposisi Akuntan Publiknya, maka terhadap KAP tersebut tetap diberlakukan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1); (5) KAP yang melakukan perubahan komposisi Akuntan Publik yang mengakibatkan jumlah Akuntan Publiknya 50% (lima puluh perseratus) atau lebih berasal dari KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas, diberlakukan sebagai kelanjutan KAP asal Akuntan Publik yang bersangkutan dan tetap diberlakukan pembatasan penyelenggaraan audit umum atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1); (6) Pendirian atau perubahan nama KAP yang komposisi Akuntan Publiknya 50% (lima puluh perseratus) atau lebih berasal dari KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas, diberlakukan sebagai kelanjutan KAP asal Akuntan Publik yang bersangkutan dan tetap diberlakukan pembatasan penyelenggaraan audit umum atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pada awalnya, ketentuan mengenai praktek akuntan di Indonesia diatur dengan Undang-undang No. 34 tahun 1954 tentang pemakaian gelar akuntan yang mensyaratkan bahwa gelar akuntan hanya dapat dipakai oleh mereka yang telah menyelesaikan pendidikannya dari perguruan tinggi dan telah terdaftar pada Departemen Keuangan R.I. Sejak tahun 1986, praktik akuntan publik diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan selaku regulator bagi profesi akuntan publik melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK) yang terus diperbaharui hingga saat ini. Keputusan Menteri Keuangan No. 423/KMK.06/2002 yang dirubah dengan KMK No. 359/KMK.06/2003 tentang Jasa Akuntan Publik merupakan KMK yang banyak mengundang perhatian dan pro-kontra dari para akuntan praktisi karena pada KMK tersebut pertama kali diperkenalkannya pengaturan rotasi bagi praktik Akuntan Publik di Indonesia.

Melihat perkembangan yang cukup pesat dari profesi akuntan publik, maka pemerintah selaku regulator memandang perlu melakukan pembaharuan peraturan yang berkaitan dengan praktik akuntan publik sehingga kemudian diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008 tanggal 5 Pebruari 2008 tentang Jasa Akuntan Publik yang diharapkan dengan terbitnya PMK ini dapat menciptakan pengaturan, pembinaan dan pengawasan yang lebih efektif dan berkesinambungan terhadap profesi akuntan publik dan Kantor Akuntan Publik (KAP) serta melindungi kepentingan umum.

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PMK.01/2008 TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan tujuan Pemerintah dalam rangka mendukung perekonomian yang sehat dan efisien, diperlukan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang profesional dan handal melalui pengaturan, pembinaan, dan pengawasan yang efektif dan berkesinambungan; b. bahwa untuk menciptakan pengaturan, pembinaan, dan pengawasan yang efektif dan berkesinambungan serta dalam rangka melindungi kepentingan umum, Keputusan Menteri Keuangan Nomor 423/KMK.06/2002 yang mengatur Jasa Akuntan Publik sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 359/KMK.06/2003 tidak memadai lagi sehingga dipandang perlu mengatur kembali Jasa Akuntan Publik dengan mengganti Keputusan Menteri Keuangan dimaksud; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Jasa Akuntan Publik;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 1954 tentang Pemakaian Gelar Akuntan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1954 Nomor 103, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 705); 2. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 94 Tahun 2006; 3. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2005; 4. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; 5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 131/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 54/PMK.01/2007.

MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG JASA AKUNTAN PUBLIK.

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan: 1. Akuntan adalah seseorang yang berhak menyandang gelar atau sebutan akuntan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Akuntan Publik adalah akuntan yang telah memperoleh izin dari Menteri untuk memberikan jasa sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. 3. Kantor Akuntan Publik yang selanjutnya disebut KAP, adalah badan usaha yang telah mendapatkan izin dari Menteri sebagai wadah bagi Akuntan Publik dalam memberikan jasanya. 4. Cabang Kantor Akuntan Publik yang selanjutnya disebut Cabang KAP adalah kantor yang dibuka oleh KAP untuk memberikan jasa Akuntan Publik yang dipimpin oleh salah satu Rekan KAP yang bersangkutan. 5. Kantor Akuntan Publik Asing atau disingkat KAPA adalah badan usaha jasa profesi di luar negeri yang memiliki izin dari otoritas di negara yang bersangkutan untuk melakukan kegiatan usaha paling sedikit di bidang audit umum atas laporan keuangan. 6. Organisasi Audit Asing atau disingkat OAA adalah organisasi di luar negeri, yang didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan di negara yang bersangkutan, yang anggotanya terdiri dari badan usaha jasa profesi yang melakukan kegiatan usaha paling sedikit di bidang audit umum atas laporan keuangan. 7. Atestasi adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan seseorang yang independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai, dalam semua hal yang material, dengan kriteria yang telah ditetapkan. 8. Laporan Auditor Independen adalah laporan yang ditandatangani oleh Akuntan Publik yang memuat pernyataan pendapat atau pertimbangan Akuntan Publik tentang apakah asersi suatu entitas sesuai, dalam semua hal yang material, dengan kriteria yang ditetapkan. 9. Institut Akuntan Publik Indonesia yang selanjutnya disebut IAPI adalah Asosiasi Profesi Akuntan Publik yang diakui Pemerintah. 10. Pemimpin atau Pemimpin Rekan adalah Akuntan Publik yang bertindak sebagai pemimpin pada KAP. 11. Pemimpin Cabang adalah Akuntan Publik yang bertindak sebagai pemimpin pada Cabang KAP. 12. Rekan adalah Akuntan Publik atau seseorang yang bertindak sebagai sekutu pada KAP berbentuk usaha persekutuan. 13. Domisili adalah tempat kedudukan Akuntan Publik, KAP atau Cabang KAP dalam suatu wilayah Kota atau Kabupaten. 14. Standar Profesional Akuntan Publik yang selanjutnya disebut SPAP adalah panduan teknis yang wajib dipatuhi oleh Akuntan Publik dalam memberikan jasanya. 15. Menteri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia. 16. Sekretaris Jenderal adalah Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan. 17. Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai atau disingkat PPAJP adalah Pusat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai, Sekretariat Jenderal, Departemen Keuangan. 18. Kepala Pusat adalah Kepala PPAJP.

BAB II BIDANG JASA Bagian Pertama Jenis Jasa Pasal 2 (1) Bidang jasa Akuntan Publik dan KAP adalah atestasi, yang meliputi: a. b. c. d. e. jasa audit umum atas laporan keuangan; jasa pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif; jasa pemeriksaan atas pelaporan informasi keuangan proforma; jasa reviu atas laporan keuangan; dan jasa atestasi lainnya sebagaimana tercantum dalam SPAP

(2) Jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diberikan oleh Akuntan Publik. (3) Selain jasa sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), Akuntan Publik dan KAP dapat memberikan jasa audit lainnya dan jasa yang berkaitan dengan akuntansi, keuangan, manajemen, kompilasi, perpajakan, dan konsultansi sesuai dengan kompetensi Akuntan Publik dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pembatasan Masa Pemberian Jasa Pasal 3 (1) Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a dilakukan oleh KAP paling lama untuk 6 (enam) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun bukuberturut-turut. (2) Akuntan Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menerima kembali penugasan audit umum untuk klien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah 1 (satu) tahun buku tidak memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan klien tersebut. (3) Jasa audit umum atas laporan keuangan dapat diberikan kembali kepada klien yang sama melalui KAP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah 1 (satu) tahun buku tidak diberikan melalui KAP tersebut. (4) Dalam hal KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas melakukan perubahan komposisi Akuntan Publiknya, maka terhadap KAP tersebut tetap diberlakukan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (5) KAP yang melakukan perubahan komposisi Akuntan Publik yang mengakibatkan jumlah Akuntan Publiknya 50% (lima puluh per seratus) atau lebih berasal dari KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas, diberlakukan sebagai kelanjutan KAP asal Akuntan Publik yang bersangkutan dan tetap diberlakukan pembatasan penyelenggaraan audit umum ataslaporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (6) Pendirian atau perubahan nama KAP yang komposisi Akuntan Publiknya 50% (lima

puluh per seratus) atau lebih berasal dari KAP yang telah menyelenggarakan audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas, diberlakukan sebagai kelanjutan KAP asal Akuntan Publik yang bersangkutan dan tetap diberlakukan pembatasan penyelenggaraan audit umum atas laporan keuangan sebagaimanadimaksud pada ayat (1). BAB III AKUNTAN PUBLIK Bagian Pertama Perizinan Pasal 4 (1) Menteri berwenang memberikan izin kepada Akuntan untuk menjadi Akuntan Publik. (2) Pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal atas nama Menteri. Pasal 5 Untuk mendapatkan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), Akuntan mengajukan permohonan tertulis kepada Sekretaris Jenderal u.p.Kepala Pusat dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. memiliki nomor Register Negara untuk Akuntan; b. memiliki Sertifikat Tanda Lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) yang diselenggarakan oleh IAPI; c. dalam hal tanggal kelulusan USAP sebagaimana dimaksud pada huruf b telah melewati masa 2 (dua) tahun, maka wajib menyerahkan bukti telah mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) paling sedikit 60 (enam puluh) Satuan Kredit PPL (SKP) dalam 2 (dua) tahun terakhir; d. berpengalaman praktik di bidang audit umum atas laporan keuangan paling sedikit 1000 (seribu) jam dalam 5 (lima) tahun terakhir dan paling sedikit 500 (lima ratus) jam diantaranya memimpin dan/atau mensupervisi perikatan audit umum, yang disahkan oleh Pemimpin/Pemimpin Rekan KAP; e. berdomisili di wilayah Republik Indonesia yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau bukti lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; f. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); g. tidak pernah dikenakan sanksi pencabutan izin Akuntan Publik; dan h. membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Izin Akuntan Publik, membuat surat pernyataan tidak merangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46, dan membuat surat pernyataan bermeterai cukup yang menyatakan bahwa data persyaratan yang disampaikan adalah benar dengan menggunakan Lampiran I sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini.

Pasal 6

(1) Izin Akuntan Publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) diterbitkan dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari kerja sejak permohonan izin diterima secara lengkap. (2) Permohonan izin Akuntan Publik dinyatakan tidak lengkap disampaikan melalui pemberitahuan tertulis oleh Kepala Pusat dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan diterima. (3) Pemohon dapat melengkapi persyaratan yang dinyatakan tidak lengkap paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal pemberitahuan tertulis ditetapkan. (4) Apabila kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dipenuhi, maka permohonan izin Akuntan Publik tidak dapat diproses dan pemohon dapat mengajukan permohonan baru dengan memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. Pasal 7 (1) Akuntan Publik dalam memberikan jasanya wajib mempunyai KAP. (2) Kewajiban mempunyai KAP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dipenuhi paling lama 6 (enam) bulan sejak izin Akuntan Publik diterbitkan. (3) Akuntan Publik yang telah mengundurkan diri dari suatu KAP, wajib mempunyai KAP paling lama 6 (enam) bulan sejak pengunduran diri. (4) Dalam hal kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) atau ayat (3) tidak dipenuhi, Sekretaris Jenderal atas nama Menteri mencabut izin Akuntan Publik yang bersangkutan. Bagian Kedua Penghentian Pemberian Jasa Akuntan Publik untuk Sementara Waktu atas Permintaan Sendiri Pasal 8 (1) Akuntan Publik dapat mengajukan permohonan penghentian pemberian jasa Akuntan Publik untuk sementara waktu atas permintaan sendiri kepada Sekretaris Jenderal. (2) Sekretaris Jenderal memberikan persetujuan penghentian pemberian jasa untuk sementara waktu kepada Akuntan Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Permohonan untuk memperoleh persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh Akuntan Publik yang bersangkutan secara tertulis kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat, dengan melampirkan: a. surat rekomendasi dari KAP bagi Akuntan Publik yang menjadi Rekan pada KAP; b. alamat lengkap selama menjalani penghentian pemberian jasa Akuntan Publik untuk sementara waktu; c. jangka waktu yang dimohonkan untuk menjalani penghentian pemberian jasa Akuntan Publik untuk sementara waktu; d. alasan penghentian pemberian jasa Akuntan Publik untuk sementara waktu; e. pernyataan dari IAPI bahwa: 1) yang bersangkutan tidak sedang menjalani reviu oleh IAPI; 2) IAPI tidak menerima pengaduan dari pihak lain yang layak ditindaklanjuti, y

berkaitan dengan jasa yang telah diberikan oleh yang bersangkutan; 3) yang bersangkutan tidak sedang menjalani sanksi dari IAPI; dan f. membuat Surat Permohonan dan melengkapi formulir Penghentian Pemberian Jasa Akuntan Publik untuk Sementara Waktu atas Permintaan Sendiri sebagaimana terlampir pada Lampiran II Peraturan Menteri Keuangan ini. (4) Sekretaris Jenderal menolak permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila yang bersangkutan: a. tidak melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3); b. sedang diperiksa oleh Sekretaris Jenderal atau diadukan oleh pihak lain yang layak ditindaklanjuti; c. telah dikenakan sanksi peringatan sebanyak 2 (dua) kali dalam jangka waktu 48 (empat puluh delapan) bulan terakhir terhitung saat permohonan disampaikan secara lengkap; d. sedang menjalani kewajiban yang harus dilakukan berdasarkan rekomendasi Sekretaris Jenderal; atau e. sedang menjalani sanksi pembekuan izin.

Pasal 9 (1) Persetujuan penghentian pemberian jasa Akuntan Publik untuk sementara waktu atas permintaan sendiri diterbitkan dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap. (2) Permohonan dinyatakan tidak lengkap disampaikan melalui pemberitahuan tertulis oleh Kepala Pusat dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan diterima. (3) Pemohon dapat melengkapi persyaratan yang dinyatakan tidak lengkap paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal pemberitahuan tertulis. (4) Apabila kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dipenuhi, maka permohonan tidak dapat diproses dan pemohon dapat kembali mengajukan permohonan baru dengan memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8ayat (3). Pasal 10 Persetujuan penghentian pemberian jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) diberikan untuk jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun. Pasal 11 (1) Akuntan Publik yang akan mengakhiri masa penghentian pemberian jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), untuk dapat memberikan jasa Akuntan Publik kembali wajib mengajukan permohonan secara tertulis kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat dengan melampirkan dokumen sebagai berikut:

a. bukti telah mengikuti PPL paling sedikit 30 SKP yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (4) untuk periode 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya masa penghentian pemberian jasa; b. bukti keanggotaan IAPI yang masih berlaku; c. bukti domisili; dan d. membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Mengakhiri Penghentian Pemberian Jasa Akuntan Publik untuk Sementara Waktu atas Permintaan Sendiri, membuat surat pernyataan tidak merangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46, dan membuat surat pernyataan bermeterai cukup yang menyatakan bahwa data persyaratan yang disampaikan adalah benar dengan menggunakan Lampiran III sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (2) Menteri berwenang mencabut izin Akuntan Publik yang tidak mengajukan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan berakhirnya masa penghentian pemberian jasa Akuntan Publik. (3) Sekretaris Jenderal atas nama Menteri menetapkan pencabutan izin Akuntan Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Permohonan persetujuan untuk penghentian pemberian jasa Akuntan Publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) hanya dapat diajukan kembali paling singkat 5 (lima) tahun sejak berakhirnya persetujuan penghentian pemberian jasa Akuntan Publik sebelumnya. Bagian Ketiga Pengaktifan Izin Akuntan Publik yang Dikenakan Sanksi Pembekuan Izin Pasal 12 (1) Menteri memberikan persetujuan kepada Akuntan Publik untuk memberikan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 kembali setelah berakhirnya masa pembekuan izin. (2) Sekretaris Jenderal atas nama Menteri menetapkan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Akuntan Publik yang dikenakan sanksi pembekuan izin, apabila masa pembekuan tersebut telah berakhir dan akan memberikan jasanya kembali, wajib mengajukan permohonan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat untuk memberikan jasa dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. mengikuti PPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 huruf a; b. berdomisili di wilayah Republik Indonesia yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau bukti lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; c. tidak pernah mengundurkan diri dari keanggotaan IAPI; dan d. membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Persetujuan untuk Memberikan Jasa Kembali bagi Akuntan Publik yang Dikenakan Sanksi Pembekuan Izin, membuat surat pernyataan tidak merangkap jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46, dan membuat surat pernyataan bermaterai cukup yang menyatakan bahwa data persyaratan yang disampaikan adalah benar

dengan menggunakan Lampiran IV sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (4) Akuntan Publik yang dikenakan sanksi pembekuan izin, dilarang memberikan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 sebelum mendapatkan persetujuan untuk memberikan jasa kembali oleh Menteri. Pasal 13 (1) Permohonan persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) dapat diajukan paling singkat 20 (dua puluh) hari sebelum berakhirnya masa sanksi pembekuan izin Akuntan Publik. (2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap. (3) Permohonan dinyatakan tidak lengkap disampaikan melalui pemberitahuan tertulis oleh Kepala Pusat dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan diterima. (4) Pemohon dapat melengkapi persyaratan yang dinyatakan tidak lengkap paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal pemberitahuan tertulis. (5) Apabila kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak dipenuhi, permohonan tidak dapat diproses dan pemohon dapat mengajukan permohonan baru dengan memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3). Bagian Keempat Pengunduran Diri dan Tidak Berlakunya Izin Pasal 14 (1) Akuntan Publik dapat mengajukan permohonan pengunduran diri sebagai Akuntan Publik kepada Menteri. (2) Menteri berwenang memberikan persetujuan pengunduran diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Sekretaris Jenderal atas nama Menteri menetapkan persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Permohonan pengunduran diri Akuntan Publik disampaikan secara tertulis oleh Akuntan Publik yang bersangkutan kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. membuat surat pernyataan yang ditandatangani oleh Akuntan Publik yang bersangkutan tentang pengunduran dirinya; b. membuat surat pernyataan mengenai penyelesaian perikatan profesional antara Akuntan Publik dengan kliennya yang ditandatangani oleh Akuntan Publik yang bersangkutan; c. menyerahkan asli surat izin Akuntan Publik; dan d. membuat Surat Permohonan dan melengkapi formulir Pengunduran Diri Akuntan Publik dengan menggunakan Lampiran V sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (5) Sekretaris Jenderal menolak permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), apabila

yang bersangkutan: a. sedang diperiksa oleh Sekretaris Jenderal atau diadukan oleh pihak lain yang layak ditindaklanjuti; b. telah dikenakan sanksi peringatan sebanyak 2 (dua) kali dalam jangka waktu 48 (empat puluh delapan) bulan terakhir terhitung sejak saat permohonan disampaikan secara lengkap; c. sedang menjalani kewajiban yang harus dilakukan berdasarkan rekomendasi Sekretaris Jenderal; atau d. sedang menjalani sanksi pembekuan izin. (6) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diterbitkan dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap. (7) Sekretaris Jenderal atas nama Menteri mencabut izin Akuntan Publik yang memenuhi persyaratan dan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4). (8) Dalam hal permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dinyatakan tidak lengkap, Kepala Pusat dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan diterima menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada pemohon. (9) Apabila dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) tidak dipenuhi, maka permohonan pengunduran diri Akuntan Publik tidak dapat diproses. (10) Dalam hal persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada Akuntan Publik yang pernah dikenakan sanksi pembekuan izin, maka ketentuan Pasal 67 ayat (2) tetap berlaku apabila yang bersangkutan menjadi Akuntan Publik kembali. Pasal 15 (1) Izin Akuntan Publik dinyatakan tidak berlaku apabila yang bersangkutan meninggal dunia. (2) Dalam hal Akuntan Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki KAP berbentuk badan usaha perseorangan, maka izin usaha KAP yang bersangkutan dinyatakan tidak berlaku. BAB IV KANTOR AKUNTAN PUBLIK Bagian Pertama Bentuk Badan Usaha Pasal 16 (1) Badan usaha KAP dapat berbentuk: a. Perseorangan; atau b. Persekutuan. (2) KAP yang berbentuk badan usaha perseorangan hanya dapat didirikan dan dijalankan oleh seorang Akuntan Publik yang sekaligus bertindak sebagai pemimpin.

(3) KAP yang berbentuk badan usaha persekutuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah persekutuan perdata atau persekutuan firma. (4) KAP yang berbentuk badan usaha persekutuan hanya dapat didirikan oleh paling sedikit 2 (dua) orang Akuntan Publik, dimana masing-masing sekutu merupakan rekan dan salah seorang sekutu bertindak sebagai Pemimpin Rekan. (5) Dalam hal KAP berbentuk usaha persekutuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b mempunyai rekan non Akuntan Publik, persekutuan dapat didirikan dan dijalankan apabila paling kurang 75% (tujuh puluh lima per seratus) dari seluruh sekutu adalah AkuntanPublik. Bagian Kedua Perizinan Pasal 17 (1) Menteri berwenang memberikan izin usaha KAP. (2) Pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal atas nama Menteri. Pasal 18 (1) Untuk mendapatkan izin usaha KAP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) yang berbentuk badan usaha perseorangan, Pemimpin KAP mengajukan permohonan tertulis kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. memiliki izin Akuntan Publik; b. menjadi anggota IAPI; c. mempunyai paling sedikit 3 (tiga) orang auditor tetap dengan tingkat pendidikan formal bidang akuntansi yang paling rendah berijazah setara Diploma III dan paling sedikit 1 (satu) orang diantaranya memiliki register negara untuk akuntan; d. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); e. memiliki rancangan Sistem Pengendalian Mutu (SPM) KAP yang memenuhi Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan paling kurang mencakup aspek kebijakan atas seluruh unsur pengendalian mutu; f. domisili Pemimpin KAP sama dengan domisili KAP; g. memiliki bukti kepemilikan atau sewa kantor, dan denah kantor yang menunjukkan kantor terisolasi dari kegiatan lain; dan h. membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Izin Usaha Kantor Akuntan Publik, dan membuat surat pernyataan bermaterai cukup yang menyatakan bahwa data persyaratan yang disampaikan adalah benar dengan menggunakan Lampiran VI sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (2) Untuk mendapatkan izin usaha KAP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) yang berbentuk badan usaha persekutuan, Pemimpin Rekan KAP mengajukan permohonan tertulis kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1); b. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) KAP; c. memiliki perjanjian kerja sama yang disahkan oleh notaris bagi KAP yang berbentuk badan usaha persekutuan yang paling sedikit memuat : 1) 2) 3) 4) 5) 6) pihak-pihak yang melakukan persekutuan; alamat para sekutu; bentuk badan usaha persekutuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (3) nama dan domisili KAP; hak dan kewajiban para pihak/sekutu; sekutu yang berhak mengadakan perikatan, untuk dan atas nama KAP, den pihak ketiga berkaitan dengan jasa yang diberikan; dan 7) penyelesaian sengketa dalam hal terjadi perselisihan. d. memiliki surat izin Akuntan Publik bagi Pemimpin Rekan dan Rekan yang Akuntan Publik; e. memiliki tanda keanggotaan IAPI yang masih berlaku bagi Pemimpin Rekan dan Rekan yang Akuntan Publik; f. memiliki surat persetujuan dari seluruh Rekan KAP mengenai penunjukan salah satu Rekan menjadi Pemimpin Rekan; dan g. memiliki bukti domisili Pemimpin Rekan dan Rekan KAP. (3) Kepala Pusat dapat menunjuk pejabat atau petugas untuk melakukan penelitian fisik langsung atas permohonan izin usaha KAP yang diajukan. Pasal 19 (1) Izin usaha KAP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) diterbitkan dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari kerja sejak permohonan izin diterima secara lengkap. (2) Permohonan izin usaha KAP dinyatakan tidak lengkap disampaikan melalui pemberitahuan tertulis oleh Kepala Pusat, dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan diterima. (3) Pemohon dapat melengkapi persyaratan yang dinyatakan tidak lengkap paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal pemberitahuan tertulis. (4) Apabila kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dipenuhi, maka permohonan baru dapat kembali diajukan pemohon dengan memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18. Bagian Ketiga Cabang KAP Pasal 20 (1) Cabang KAP hanya dapat dibuka oleh KAP yang berbentuk badan usaha persekutuan dengan nama yang sama dengan nama KAP. (2) Cabang KAP dipimpin oleh seorang Akuntan Publik yang merupakan Rekan KAP yang bersangkutan.

(3) Cabang KAP dapat dibuka di seluruh wilayah Republik Indonesia. Pasal 21 (1) Menteri berwenang memberikan izin pembukaan Cabang KAP. (2) Pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal atas nama Menteri. Pasal 22 (1) Untuk mendapatkan izin pembukaan Cabang KAP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1), Pemimpin Rekan KAP mengajukanpermohonan tertulis kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat dengan memenuhi persyaratan: a. memiliki surat persetujuan dari seluruh Rekan KAP mengenai penunjukan salah satu Rekan yang Akuntan Publik menjadi Pemimpin Cabang; b. memiliki tanda bukti domisili Pemimpin Cabang yang sesuai dengan domisili cabang KAP yang bersangkutan; c. memiliki paling sedikit 2 (dua) orang auditor tetap dengan tingkat pendidikan formal bidang akuntansi yang paling rendah berijazah setara Diploma III dan paling sedikit 1 (satu) orang diantaranya memiliki register negara untuk akuntan; d. memiliki NPWP Cabang KAP; e. memiliki tanda bukti kepemilikan atau sewa kantor dan denah kantor yang menunjukkan kantor terisolasi dari kegiatan lain; dan f. membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Pembukaan Izin Cabang KAP, dan membuat surat pernyataan bermaterai cukup yang menyatakan bahwa data persyaratan yang disampaikan adalah benar dengan menggunakan Lampiran VII sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (2) Kepala Pusat dapat menunjuk pejabat atau petugas untuk melakukan penelitian fisik langsung atas permohonan izin pembukaan Cabang KAP yang diajukan. Pasal 23 (1) Izin pembukaan Cabang KAP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) diterbitkan dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari kerja sejak permohonan izin diterima secara lengkap. (2) Permohonan izin pembukaan Cabang KAP dinyatakan tidak lengkap disampaikan melalui pemberitahuan tertulis oleh Kepala Pusat, dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan diterima. (3) Pemohon dapat melengkapi persyaratan yang dinyatakan tidak lengkap paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal pemberitahuan tertulis. (4) Apabila kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dipenuhi, maka permohonan tidak dapat diproses dan pemohon dapat kembali mengajukan permohonan baru dengan memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22.

Bagian Keempat Penggunaan Nama Kantor Pasal 24 (1) KAP berbentuk badan usaha perseorangan menggunakan nama Akuntan Publik yang bersangkutan. (2) KAP berbentuk badan usaha persekutuan menggunakan nama salah seorang atau lebih Akuntan Publik yang merupakan rekan KAP yang bersangkutan. (3) Nama KAP sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang menggunakan singkatan atau penggalan nama. (4) Dalam hal nama Akuntan Publik lebih dari 1 (satu) kata, nama KAP harus menggunakan paling sedikit 1 (satu) kata yang merupakan bagian dari nama lengkap Akuntan Publik dimaksud. (5) Bagi KAP yang berbentuk badan usaha persekutuan penambahan kata & Rekan di belakang nama KAP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat diperkenankan apabila jumlah Akuntan Publik pada KAP yang bersangkutan lebih banyak dari jumlah Akuntan Publik yang namanya tercantum sebagai nama KAP. (6) KAP dapat mempertahankan nama Akuntan Publik yang telah mengundurkan diri atau meninggal dunia sebagai nama KAP sepanjang mendapat persetujuan tertulis yang disahkan dengan Akta Notaris dari anggota persekutuan yang mengundurkan diri tersebut atau dari ahli waris Akuntan Publik yang meninggal dunia. (7) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) hanya diperkenankan bagi KAP berbentuk badan usaha persekutuan. Bagian Kelima Pengaktifan Kembali Izin KAP dan Izin Pembukaan Cabang KAP yang Dikenakan Sanksi Pembekuan Pasal 25 (1) Menteri berwenang memberikan persetujuan kepada Kantor Akuntan Publik atau Cabang KAP untuk memberikan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 setelah berakhirnya masa pembekuan izin. (2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal atas nama Menteri. (3) KAP atau Cabang KAP yang dikenakan sanksi pembekuan izin, apabila masa pembekuan tersebut telah berakhir dan akan memberikan jasanya kembali, pemimpin atau pemimpin rekan KAP wajib mengajukan permohonan persetujuan untuk memberikan jasa kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memenuhi persyaratan: a. bagi KAP berbentuk usaha perseorangan, wajib melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf c, f, dan g; b. bagi KAP berbentuk usaha persekutuan wajib melampirkan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf c, f, dan g serta ayat (2) huruf b; c. bagi Cabang KAP wajib melampirkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b, c, d, dan e; dan

d. membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Persetujuan untuk Memberikan Jasa Kembali setelah Dikenakan Sanksi Pembekuan Izin, dan membuat surat pernyataan bermaterai cukup yang menyatakan bahwa data persyaratan yang disampaikan adalah benar dengan menggunakan Lampiran VIII untuk KAP atau Lampiran IX untuk Cabang KAP sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (4) KAP atau Cabang KAP yang dikenakan sanksi pembekuan izin, dilarang memberikan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 sebelum mendapatkan persetujuan untuk memberikan jasa kembali oleh Menteri. Pasal 26 (1) Permohonan persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (3) dapat diajukan paling singkat 20 (dua puluh) hari sebelum masa pembekuan izin berakhir. (2) Persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) diterbitkan dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari kerja sejak permohonan lengkap diterima. (3) Permohonan persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (3) dinyatakan tidak lengkap disampaikan melalui pemberitahuan tertulis oleh Kepala Pusat dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan diterima. (4) Pemohon dapat melengkapi persyaratan yang dinyatakan tidak lengkap paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal pemberitahuan tertulis. (5) Apabila kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak dipenuhi, permohonan tidak dapat diproses dan pemohon dapat kembali mengajukan permohonan baru dengan memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (3). BAB V KERJASAMA DENGAN KAPA ATAU OAA Bagian Pertama Kerjasama dan Pencantuman Nama Pasal 27 (1) KAP hanya dapat mencantumkan nama KAPA atau OAA pada nama kantor, kepala surat, dokumen, dan media lainnya setelah mendapat persetujuan Sekretaris Jenderal atas nama Menteri. (2) Penulisan huruf pada nama KAPA atau OAA sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilarang melebihi besarnya huruf nama KAP tersebut. (3) Persetujuan pencantuman nama KAPA atau OAA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diberikan apabila memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. melakukan perjanjian kerja sama secara langsung dengan satu KAPA atau OAA; b. kerja sama bersifat berkelanjutan yaitu tidak terbatas hanya untuk suatu penugasan tertentu yang dinyatakan dalam perjanjian kerja sama; c. terdapat reviu mutu paling sedikit sekali dalam 4 (empat) tahun oleh KAPA atau OAA yang dinyatakan dalam perjanjian kerja sama; d. kerja sama yang dilakukan paling sedikit mencakup bidang jasa audit umum atas

laporan keuangan yang dinyatakan dalam perjanjian kerja sama; e. tidak menggunakan nama KAPA atau OAA yang sedang digunakan oleh KAP lain; f. perjanjian kerja sama sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf e harus disahkan notaris; g. keanggotaan OAA paling sedikit diikuti oleh KAPA yang terdapat di 20 (dua puluh) negara di dunia; dan h. membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Persetujuan Pencantuman Nama KAPA atau OAA Bersama-sama dengan Nama KAP, dan membuat surat pernyataan bermaterai cukup bahwa data persyaratan yang disampaikan adalah benar dengan menggunakan Lampiran X sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (4) Sekretaris Jenderal atas nama Menteri berwenang membatalkan persetujuan pencantuman nama KAPA atau OAA sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila: a. b. c. d. KAP tidak lagi memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3); KAPA dicabut izin usahanya oleh negara asal KAPA; OAA bubar; atau KAP dicabut izin usahanya;

(5) Persetujuan pencantuman nama KAPA atau OAA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan tidak berlaku, apabila izin usaha KAP dinyatakan tidak berlaku. Bagian Kedua Persetujuan Pencantuman Nama KAPA atau OAA Pasal 28 (1) Permohonan untuk mendapatkan persetujuan pencantuman nama KAPA atau OAA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) diajukan secara tertulis oleh Pemimpin atau Pemimpin Rekan kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. menyerahkan profil KAPA atau OAA; b. menyerahkan fotocopy perjanjian kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3); dan c. membuat Surat Permohonan dan melengkapi formulir Permohonan Persetujuan Pencantuman Nama KAPA atau OAA Bersama-sama dengan Nama KAP dengan menggunakan Lampiran X sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (2) Perjanjian kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, paling sedikit memuat: a. pihak-pihak yang melakukan perjanjian; b. sifat dan ruang lingkup kerja sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) huruf b dan d; c. hak dan kewajiban masing-masing pihak yang melakukan perjanjian kerja sama;

d. e. f. g.

hak KAP untuk mencantumkan nama KAPA atau OAA; penyelesaian sengketa dalam hal terjadi perselisihan; kewajiban reviu mutu secara periodik oleh KAPA atau OAA; dan pernyataan bahwa kerja sama pencantuman nama KAPA atau OAA hanya dengan KAP tersebut.

Pasal 29 (1) Persetujuan pencantuman nama KAPA atau OAA diterbitkan dalam jangka waktu 20 (dua puluh) hari kerja sejak permohonan izin diterima secara lengkap. (2) Permohonan dinyatakan tidak lengkap disampaikan melalui pemberitahuan tertulis oleh Kepala Pusat dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan diterima. (3) Pemohon dapat melengkapi persyaratan paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal pemberitahuan tertulis. (4) Apabila kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak dipenuhi, maka permohonan baru dapat kembali diajukan pemohon dengan memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1). BAB VI PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 30 (1) Menteri melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap Akuntan Publik dan KAP. (2) Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Sekretaris Jenderal. (3) Dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Sekretaris Jenderal dapat meminta pendapat atau masukan dari IAPI dan/atau pihak yang terkait. Bagian Pertama Pembinaan Pasal 31 (1) Akuntan Publik wajib menandatangani Laporan Auditor Independen dan/atau laporan hasil pemberian jasa lainnya dengan mencantumkan Nomor Izin Akuntan Publik (NIAP) dan Nomor Izin Usaha KAP yang bersangkutan. (2) Nomor laporan wajib dicantumkan pada Laporan Auditor Independen di lembar opini. (3) Nomor Laporan Auditor Independen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat secara berurutan berdasarkan tanggal penerbitannya dalam KAP atau Cabang KAP. Pasal 32 (1) Akuntan Publik wajib berdomisili di wilayah Republik Indonesia. (2) Akuntan Publik wajib menjadi anggota IAPI.

Pasal 33 (1) Kewajiban domisili sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) tidak berlaku bagi Akuntan Publik yang menjalani masa penghentian pemberian jasa Akuntan Publik untuk sementara waktu atas permintaan sendiri. (2) Akuntan Publik yang menjalani masa penghentian pemberian jasa Akuntan Publik untuk sementara waktu atas permintaan sendiri dilarang menjadi Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP. (3) Akuntan Publik yang sedang menjalani masa penghentian pemberian jasa untuk sementara waktu atas permintaan sendiri, tetap wajib mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) sebanyak 30 (tiga puluh) Satuan Kredit PPL (SKP) dengan paling sedikit 15 (lima belas) SKP diantaranya di bidang auditing dan akuntansi untuk periode 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya masa penghentian pemberian jasa untuk sementara waktu. Pasal 34 (1) Akuntan Publik wajib mengikuti Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) yang diselenggarakan dan/atau yang diakui oleh IAPI dan PPAJP. (2) Jumlah Satuan Kredit PPL (SKP) yang wajib diikuti oleh Akuntan Publik paling sedikit berjumlah 30 (tiga puluh) SKP setiap tahun, dengan paling sedikit: a. 4 (empat) SKP diantaranya berkaitan dengan pembinaan dan pengawasan Akuntan Publik; dan b. 4 (empat) SKP diantaranya berkaitan dengan bidang auditing dan akuntansi. (3) Akuntan Publik mengajukan penyetaraan jumlah SKP kepada IAPI apabila mengikuti PPL yang diselenggarakan oleh selain IAPI dan PPAJP. (4) Akuntan Publik yang dalam waktu 1 (satu) tahun tidak melakukan audit umum atas laporan keuangan, wajib mengikuti PPL di bidang auditing dan akuntansi paling sedikit sebanyak 15 (lima belas) SKP pada tahun berikutnya, yang merupakan bagian dari jumlah SKP sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (5) Akuntan Publik wajib menyampaikan laporan realisasi PPL tahunan dengan lengkap kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat paling lama pada akhir bulan Januari tahun berikutnya dengan menggunakan formulir Realisasi PPL pada Lampiran XI sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 35 (1) Akuntan Publik wajib melaporkan secara tertulis kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat paling lambat 1 (satu) bulan sejak: a. menjadi Rekan KAP dengan melampirkan perjanjian kerja sama yang disahkan oleh notaris; b. mengundurkan diri dari KAP; atau

c. pindah alamat tempat tinggal. (2) kewajiban melapor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan menggunakan formulir Pemberitahuan Pindah Alamat atau Status Rekan KAP pada Lampiran XII sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 36 (1) KAP wajib menyampaikan dengan lengkap kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat laporan tahunan sebagai berikut: a. laporan kegiatan usaha; b. laporan keuangan KAP; dan c. laporan realisasi program kerja Tenaga Asing. (2) Laporan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disampaikan paling lama pada akhir bulan April tahun berikutnya. (3) Penyampaian laporan tahunan dilaksanakan dengan menggunakan formulir Laporan Kegiatan Usaha, Laporan Keuangan KAP, dan Realisasi Program Tenaga Kerja Asing, serta Surat Pernyataan bermaterai cukup yang menyatakan bahwa data yang disampaikan adalah benar pada Lampiran XIII sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (4) Laporan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diserahkan dalam bentuk hard copy dan soft copy. (5) KAP yang bekerjasama dengan KAPA atau OAA, wajib menyampaikan hasil reviu mutu kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat paling sedikit sekali dalam 4 (empat) tahun sejak tanggal perjanjian kerjasama. (6) Kepala Pusat dapat menunjuk pejabat atau petugas untuk melakukan penelitian langsung terhadap laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 37 KAP yang mempekerjakan tenaga asing wajib menyampaikan laporan kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat yang paling kurang memuat nama, izin kerja tenaga asing yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang, kewarganegaraan, keahlian, rencana kerja, dan jangka waktu penugasan, paling lama 1 (satu) bulan sejak tenaga asing yang bersangkutan dipekerjakan. Pasal 38 (1) KAP wajib melaporkan secara tertulis kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat paling lama 1 (satu) bulan sejak terjadinya: a. perubahan alamat dengan melampirkan tanda bukti kepemilikan atau sewa kantor dan denah kantor yang menunjukkan kantor terisolasi dari kegiatan lain; b. perubahan susunan Rekan dengan melampirkan perjanjian kerja sama yang disahkan oleh notaris;

c. perubahan Pemimpin Rekan dan/atau Pemimpin Cabang KAP dengan melampirkan bukti domisili dan surat persetujuan dari seluruh Rekan mengenai perubahan atau surat penunjukan menjadi Pemimpin Cabang KAP; atau d. pemimpin rekan dan/atau rekan KAP mengundurkan diri atau meninggal dunia. (2) KAP wajib melaporkan secara tertulis kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat paling lambat 1 (satu) bulan sejak: a. KAPA yang melakukan perjanjian kerjasama dengan KAP oleh negara asal dicabut izin usahanya; b. OAA yang melakukan perjanjian dengan KAP bubar; atau c. perubahan dan/atau berakhirnya kerja sama dengan KAPA atau OAA. (3) Kewajiban melapor sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan dengan menggunakan formulir Pemberitahuan Pindah Alamat KAP dan/atau Cabang KAP, Perubahan Susunan Rekan KAP, Perubahan Pemimpin/Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP pada Lampiran XIV sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (4) Kewajiban melapor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan menggunakan formulir Permohonan untuk Mengakhiri Kerjasama Pencantuman Nama KAPA atau OAA Bersama-sama dengan Nama KAP pada Lampiran XV sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (5) Kepala Pusat menyampaikan surat pemberitahuan kepada KAP atas laporan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (6) Kepala Pusat dapat menunjuk pejabat atau petugas untuk melakukan penelitian fisik langsung terhadap laporan perubahan alamat KAP. Pasal 39 (1) Cabang KAP wajib dipimpin oleh Pemimpin Cabang yang berdomisili sesuai dengan domisili Cabang KAP yang bersangkutan. (2) Dalam hal Cabang KAP tidak mempunyai pemimpin Cabang dalam jangka waktu 6 (enam) bulan, Sekretaris Jenderal atas nama Menteri mengenakan sanksi pencabutan izin pembukaan Cabang KAP. Pasal 40 Dalam memberikan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Akuntan Publik dan KAP wajib mematuhi: a. SPAP yang ditetapkan oleh IAPI; b. Etika Profesi yang ditetapkan oleh IAPI; dan c. Peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berhubungan dengan bidang jasa yang diberikan.

Pasal 41

KAP dan Cabang KAP wajib: a. dipimpin oleh Akuntan Publik; b. mempunyai auditor tetap paling sedikit 3 (tiga) orang untuk KAP atau 2 (dua) orang untuk Cabang KAP dengan tingkat pendidikan formal bidang akuntansi yang paling rendah berijazah setara Diploma III dan paling sedikit 1 (satu) orang diantaranya mempunyai register negara untuk akuntan; c. mempunyai kantor yang terisolasi dari kegiatan lain; d. melaksanakan sistem pengendalian mutu sesuai dengan SPAP; dan e. menyelenggarakan dan memelihara catatan mengenai jam kerja setiap auditor termasuk Akuntan Publik dalam penugasan audit umum atas laporan keuangan dan/atau jasa atestasi lainnya.

Pasal 42 (1) KAP wajib memasang nama lengkap kantor dan nomor izin usaha KAP pada bagian depan kantor. (2) Cabang KAP wajib memasang nama lengkap kantor dan nomor izin pembukaan Cabang KAP pada bagian depan kantor. (3) KAP dan Cabang KAP wajib mencantumkan pada kepala surat paling sedikit nama lengkap kantor, alamat kantor, dan nomor izin usaha KAP atau izin pembukaan Cabang KAP. (4) KAP dan Cabang KAP hanya dapat menggunakan nama KAP atau Cabang KAP sesuai dengan nama yang tercantum dalam izin usaha atau izin pembukaan Cabang KAP. Pasal 43 (1) Setiap perubahan nama, bentuk badan usaha, domisili KAP, dan/atau domisili Cabang KAP wajib mendapat izin dari Menteri. (2) Kewajiban mendapatkan izin dari Menteri untuk perubahan domisili sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dikecualikan untuk wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi. (3) Sekretaris Jenderal atas nama Menteri menetapkan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Untuk mendapatkan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pimpinan atau Pemimpin Rekan KAP wajib mengajukan permohonan tertulis kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat dengan memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) atau (2) dan/atau Pasal 22 ayat (1) serta melampirkan surat izin asli yang telah ditetapkan sebelumnya. (5) Dengan diberikannya surat izin yang baru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), surat izin yang telah diterbitkan sebelumnya dinyatakan tidak berlaku. Pasal 44 (1) Akuntan Publik dan/atau KAP bertanggung jawab atas seluruh jasa yang diberikan.

(2) Akuntan Publik bertanggung jawab atas Laporan Auditor Independen dan Kertas Kerja dari Akuntan Publik yang bersangkutan selama 10 (sepuluh) tahun. (3) Akuntan Publik dan/atau KAP wajib memelihara Laporan Auditor Independen, Kertas Kerja dari Akuntan Publik yang bersangkutan, dan dokumen pendukung lainnya yang berkaitan dengan pemberian jasa selama 10 (sepuluh) tahun. (4) Akuntan Publik dan/atau KAP dilarang mencantumkan namanya pada dokumen atau komunikasi tertulis yang memuat laporan keuangan atau bagian-bagian dari suatu laporan keuangan, kecuali Akuntan Publik dan/atau KAP yang bersangkutan telah melakukan audit atau kompilasi atau reviu atas laporan keuangan atau bagian-bagian dari laporan keuangan dimaksud. Pasal 45 (1) Akuntan Publik yang telah bekerja pada Koperasi Jasa Audit dianggap telah memenuhi ketentuan Pasal 7 ayat (1) dan melakukan pekerjaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku tentang Koperasi Jasa Audit. (2) Koperasi Jasa Audit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan koperasi yang dibentuk oleh Gerakan Koperasi dan beranggotakan Badan Hukum Koperasi yang melakukan audit terhadap Koperasi. (3) Akuntan Publik yang bekerja pada Koperasi Jasa Audit wajib menyampaikan Laporan Kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36. Pasal 46 (1) Akuntan Publik dilarang memiliki atau menjadi rekan pada lebih dari 1 (satu) KAP. (2) Akuntan Publik dilarang merangkap jabatan sebagai: a. pejabat negara; b. pimpinan, anggota, atau pegawai pada lembaga pemerintahan, lembaga negara, atau lembaga lainnya yang dibentuk dengan peraturan perundang-undangan; c. pimpinan, pengurus, atau pegawai pada badan usaha milik negara, daerah, swasta, atau rekan pada badan usaha lainnya; d. pimpinan, pengurus, atau pegawai pada badan hukum lainnya; e. pimpinan atau pengurus pada partai politik; f. pimpinan, pengurus, atau pegawai pada lembaga pendidikan; atau g. komisaris, komite yang bertanggung jawab kepada komisaris, atau jabatan lain yang menjalankan fungsi yang sama dengan komisaris atau komite dimaksud pada lebih dari 2 (dua) badan usaha milik negara, daerah, swasta, atau badan hukum lainnya. (3) Larangan merangkap jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikecualikan bagi Akuntan Publik yang merangkap sebagai: a. dosen pada perguruan tinggi yang tidak menduduki jabatan sebagai rektor, pembantu rektor, dekan, pembantu dekan, ketua sekolah tinggi, direktur, atau jabatan yang setara; b. komisaris, komite yang bertanggung jawab kepada komisaris, atau jabatan lain yang menjalankan fungsi yang sama dengan komisaris atau komite dimaksud,

pada tidak lebih dari 2 (dua) badan usaha milik negara, daerah, swasta, atau badan hukum lainnya; atau c. pimpinan, pengurus, atau pegawai pada Ikatan Akuntan Indonesia, IAPI, yayasan keagamaan, atau badan hukum lain yang semata-mata didirikan untuk kepentingan sosial. (4) Akuntan Publik yang dikecualikan dari ketentuan larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib melaporkan kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak perangkapan jabatan. Pasal 47 (1) KAP dilarang membuka kantor dalam bentuk lain, kecuali bentuk kantor Cabang KAP. (2) KAP dilarang menggunakan nama Akuntan Publik yang dikenakan sanksi pencabutan izin. (3) KAP dilarang mencantumkan nama KAPA atau OAA yang telah bubar. Pasal 48 (1) Pemimpin Rekan dilarang merangkap sebagai Pemimpin Cabang KAP. (2) Seorang rekan dilarang memimpin lebih dari satu Cabang KAP. Pasal 49 Izin Akuntan Publik, izin usaha KAP, atau izin pembukaan cabang KAP berlaku di seluruh wilayah Republik Indonesia. Pasal 50 (1) Penutupan KAP dan/atau Cabang KAP wajib mendapatkan izin Menteri. (2) Sekretaris Jenderal atas nama Menteri menetapkan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Permohonan penutupan KAP dan/atau Cabang KAP disampaikan secara tertulis oleh Pemimpin atau Pemimpin Rekan kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. membuat surat pernyataan yang ditandatangani oleh Pemimpin KAP untuk KAP berbentuk badan usaha perseorangan atau oleh seluruh Rekan KAP bagi KAP berbentuk badan usaha persekutuan; b. membuat surat pernyataan yang ditandatangani oleh Pemimpin KAP untuk KAP berbentuk usaha badan perseorangan atau oleh seluruh Rekan KAP bagi KAP berbentuk badan usaha persekutuan, mengenai penyelesaian perikatan profesional antara KAP dan/atau Cabang KAP dengan kliennya; c. menyerahkan asli surat izin usaha KAP dan/atau izin pembukaan Cabang KAP; dan d. membuat surat permohonan dan melengkapi formulir Permohonan Penutupan Usaha KAP dengan menggunakan Lampiran XVI bagi KAP dan/atau formulir

Permohonan Penutupan Cabang KAP dengan menggunakan Lampiran XVII untuk Cabang KAP sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini.

Pasal 51 (1) Izin Penutupan KAP dan/atau Cabang KAP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) diterbitkan paling lama 20 (dua puluh) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap. (2) Permohonan dinyatakan tidak lengkap disampaikan melalui pemberitahuan tertulis oleh Kepala Pusat paling lama 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan diterima. (3) Pemohon dapat melengkapi persyaratan yang dinyatakan tidak lengkap sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal pemberitahuan tertulis. (4) Apabila kelengkapan persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak terpenuhi, maka permohonan dinyatakan tidak berlaku. (5) Dalam jangka waktu paling lama dalam 6 (enam) bulan sejak permohonan penutupan KAP dan/atau Cabang KAP diajukan, apabila persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak dilengkapi, Sekretaris Jenderal atas nama Menteri Keuangan mencabut izin usahaKAP dan/atau izin pembukaan Cabang KAP. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 52 (1) Dalam melakukan pengawasan, Sekretaris Jenderal melakukan pemeriksaan secara berkala dan/atau sewaktu-waktu terhadap Akuntan Publik dan/atau KAP. (2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menilai ketaatan Akuntan Publik, dan/atau KAP terhadap ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (3) Pemeriksaan berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan berdasarkan rencana pemeriksaan tahunan yang ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal. (4) Pemeriksaan sewaktu-waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan apabila: a. hasil pemeriksaan berkala memerlukan tindak lanjut; b. terdapat pengaduan masyarakat; atau c. terdapat informasi yang layak ditindaklanjuti. (5) Dalam melaksanakan fungsi pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Sekretaris Jenderal dapat meminta pendapat atau masukan dari IAPI dan/atau pihak yang terkait. Pasal 53 (1) Sekretaris Jenderal menunjuk dan menugaskan seseorang sebagai pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52.

(2) Dalam melaksanakan tugasnya, pemeriksa wajib memperlihatkan surat tugas kepada Akuntan Publik dan/atau Pemimpin atau Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP yang diperiksa. (3) Pemeriksa tidak diperkenankan membawa kertas kerja Akuntan Publik dari KAP kecuali salinan atau fotokopinya sebagai dokumen pendukung hasil pemeriksaan. (4) Pemeriksa wajib merahasiakan hal-hal atau informasi yang diperoleh selama pemeriksaan maupun hasil pemeriksaan kepada pihak lain yang tidak berhak dan tidak berwenang. Pasal 54 (1) Akuntan Publik, KAP, dan/atau Cabang KAP yang diperiksa wajib memperlihatkan dan meminjamkan kertas kerja, laporan, dan dokumen lainnya serta memberikan keterangan yang diperlukan dalam pemeriksaan kepada pemeriksa. (2) Akuntan Publik, KAP, dan/atau Cabang KAP yang diperiksa dilarang menolak atau menghindar dilakukannya pemeriksaan atau menghambat kelancaran pemeriksaan. (3) Akuntan Publik, KAP, dan/atau Cabang KAP dianggap menghindar dilakukannya pemeriksaan atau menghambat kelancaran pemeriksaan apabila: a. tidak memperlihatkan dan meminjamkan kertas kerja, laporan dan dokumen lainnya yang diperlukan; b. tidak memberikan fotokopi kertas kerja, laporan, dan dokumen lainnya yang diperlukan; c. tidak memberikan keterangan yang diperlukan; d. memperlihatkan dan meminjamkan kertas kerja, laporan, dokumen lainnya maupun memberikan keterangan yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar; atau e. tidak memenuhi panggilan.

Pasal 55 (1) Pemeriksa menyampaikan simpulan sementara hasil pemeriksaan secara tertulis kepada Akuntan Publik dan/atau Pemimpin atau Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP yang diperiksa. (2) Akuntan Publik dan/atau Pemimpin atau Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP yang diperiksa dapat memberikan tanggapan tertulis atas simpulan sementara hasil pemeriksaan sebelum pembahasan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Pemeriksa melakukan pembahasan hasil pemeriksaan dengan Akuntan Publik dan/atau Pemimpin atau Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP yang diperiksa sebelum berakhirnya surat tugas pemeriksaan. (4) Hasil pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dituangkan dalam risalah pembahasan hasil pemeriksaan yang ditandatangani oleh pemeriksa, Akuntan Publik dan/atau Pemimpin atau Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP yang diperiksa. (5) Dalam hal Akuntan Publik dan/atau Pemimpin atau Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP yang diperiksa tidak bersedia menandatangani risalah pembahasan hasil pemeriksaan, maka yang bersangkutan harus membuat surat pernyataan penolakan

beserta alasan bukti pendukungnya. (6) Pemeriksa menandatangani secara sepihak risalah pembahasan hasil pemeriksaan apabila Akuntan Publik dan/atau Pemimpin atau Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP yang diperiksa tidak bersedia atau tidak hadir untuk menandatangani risalah pembahasan hasil pemeriksaan. Pasal 56 (1) Pemeriksa wajib membuat berita acara pemeriksaan. (2) Berita acara pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib ditandatangani oleh Akuntan Publik dan/atau Pemimpin atau Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP yang diperiksa. (3) Dalam hal Akuntan Publik dan/atau Pemimpin atau Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP yang diperiksa tidak bersedia menandatangani berita acara pemeriksaan, maka yang bersangkutan harus membuat surat pernyataan penolakan beserta alasan bukti pendukungnya. (4) Surat pernyataan penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dipertimbangkan dalam menetapkan hasil pemeriksaan. (5) Pemeriksa menetapkan secara sepihak berita acara pemeriksaan dalam hal Akuntan Publik dan/atau Pemimpin atau Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP yang diperiksa tidak bersedia atau tidak hadir untuk menandatangani berita acara pemeriksaan. Pasal 57 Sekretaris Jenderal menyampaikan laporan hasil pemeriksaan kepada Akuntan Publik dan/atau Pemimpin atau Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang KAP yang diperiksa paling lama 60 (enam puluh) hari sejak pemeriksaan berakhir. Bagian Ketiga Asosiasi Profesi Pasal 58 Asosiasi Profesi Akuntan Publik yang diakui oleh Pemerintah adalah Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Pasal 59 (1) IAPI wajib melaporkan rencana penyelenggaraan Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat yang paling sedikit mencakup silabus dan metode PPL yang akan dilaksanakan dalam 1 (satu) tahun pada setiap akhir bulan Oktober sebelum periode penyelenggaraan PPL. (2) IAPI wajib melaporkan daftar nama peserta PPL dan jumlah satuan kredit PPL untuk periode 1 (satu) tahun paling lambat pada setiap akhir bulan Februari tahun berikutnya kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat. (3) IAPI wajib melaporkan pengakuan dan penyetaraan jumlah SKP terhadap PPL yang diselenggarakan oleh selain IAPI kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat.

Pasal 60 (1) Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b diselenggarakan oleh IAPI. (2) IAPI wajib melaporkan rencana penyelenggaraan USAP kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat yang mencakup silabus, metode penilaian kelulusan, susunan panitia penyelenggara, waktu dan tempat penyelenggaraan, serta frekuensi penyelenggaraan ujian yang akan dilaksanakan dalam 1 (satu) tahun pada setiap akhir bulan Oktober sebelum periode penyelenggaraan USAP. (3) IAPI wajib melaporkan daftar nama lulusan USAP untuk periode 1 (satu) tahun paling lambat pada setiap akhir bulan Februari tahun berikutnya kepada Sekretaris Jenderal u.p. Kepala Pusat. (4) Menteri u.p. Sekretaris Jenderal melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan USAP. Pasal 61 (1) IAPI menyusun dan menetapkan SPAP. (2) Menteri u.p. Sekretaris Jenderal melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap SPAP. BAB VII SANKSI Pasal 62 (1) Pelanggaran terhadap Peraturan Menteri ini dikenakan sanksi peringatan, pembekuan izin, atau pencabutan izin. (2) Menteri mengenakan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Akuntan Publik, KAP, atau Cabang KAP. (3) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Sekretaris Jenderal atas nama Menteri. (4) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak harus dikenakan secara berurutan. (5) Sanksi berlaku sejak tanggal ditetapkan. (6) Sanksi peringatan dan sanksi pembekuan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disertai dengan suatu kewajiban atau rekomendasi tertentu. Pasal 63 (1) Pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1) dilakukan berdasarkan berat ringannya pelanggaran, yaitu: a. sanksi peringatan dikenakan terhadap pelanggaran ringan; b. sanksi pembekuan izin dikenakan terhadap pelanggaran berat; c. sanksi pencabutan izin dikenakan terhadap pelanggaran sangat berat. (2) Pelanggaran ringan adalah pelanggaran yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. pelanggaran yang bersifat administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), Pasal 12 ayat (3) dan ayat (4), Pasal 16 ayat (5), Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 24, Pasal 25 ayat (3) dan ayat (4), Pasal 27 ayat (1) dan (2), Pasal 31, Pasal 33, Pasal 34, Pasal 35, Pasal 36 ayat (1) sampai dengan ayat (5), Pasal 37, Pasal 38 ayat (1) sampai dengan ayat (4), Pasal 39 ayat (1), Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44 ayat (4), Pasal 45 ayat (3), Pasal 46 ayat (1), ayat (2), dan ayat (4), Pasal 47, Pasal 48, atau Pasal 74. b. pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 40 yang tidak berpengaruh signifikan terhadap laporan auditor independen dan/atau hasil dalam bentuk lainnya dari penugasan yang bersangkutan. (3) Pelanggaran berat adalah pelanggaran yang memenuhi kriteria sebagai berikut: a. pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 3; b. pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 40 yang berpotensi berpengaruh cukup signifikan terhadap laporan auditor independen dan/atau hasil dalam bentuk lainnya dari penugasan yang bersangkutan; c. pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 44 ayat (1) sampai dengan ayat (3); d. pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 54; atau e. pelanggaran yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (2) dan/atau Pasal 72. (4) Pelanggaran sangat berat adalah pelanggaran yang memenuhi kriteria sebagai berikut: a. pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 40 yang berpotensi berpengaruh signifikan terhadap laporan auditor independen dan/atau hasil dalam bentuk lainnya dari penugasan yang bersangkutan; b. pelanggaran yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 ayat (3); atau c. pelanggaran terhadap Pasal 7 ayat (1) sampai dengan ayat (3), dan/atau Pasal 32 dan/atau Pasal 73 huruf a.

Pasal 64 (1) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 7 ayat (1) sampai dengan ayat (3), Pasal 12 ayat (3) dan ayat (4), Pasal 31 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 32, Pasal 33, Pasal 34, Pasal 35, Pasal 44 ayat (2), Pasal 45 ayat (3), Pasal 46 ayat (1), ayat (2), dan ayat (4), Pasal 48, Pasal 54, serta Pasal 72 dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1) kepada Akuntan Publik. (2) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 16 ayat (5), Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 24, Pasal 25 ayat (3) dan ayat (4), Pasal 27 ayat (1) dan (2), Pasal 31 ayat (3), Pasal 36 ayat (1) sampai dengan ayat (5), Pasal 37, Pasal 38 ayat (1) sampai dengan ayat (4), Pasal 39 ayat (1), Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 47, Pasal 54, serta Pasal 73 dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1) kepada KAP dan/atau Cabang KAP. (3) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 2 ayat (3), Pasal 3, Pasal 40, Pasal 44 ayat (1), ayat (3), dan ayat (4), serta Pasal 54 dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62

ayat (1) kepada Akuntan Publik dan/atau KAP. Pasal 65 Pelanggaran oleh Cabang KAP terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 dan/atau Pasal 44 ayat (1) dan (3) dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud Pasal 62 ayat (1) kepada KAP yang bersangkutan. Pasal 66 (1) Sanksi peringatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1) diberikan paling banyak 3 (tiga) kali dalam jangka waktu paling lama 48 (empat puluh delapan) bulan terakhir. (2) Akuntan Publik, KAP, dan/atau Cabang KAP yang telah dikenakan sanksi peringatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dikenakan sanksi pembekuan izin atas pelanggaran ringan berikutnya. Pasal 67 (1) Sanksi pembekuan izin dikenakan paling tinggi 24 (dua puluh empat) bulan. (2) Sanksi pembekuan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1) diberikan paling banyak 2 (dua) kali. (3) Dalam hal Akuntan Publik, KAP, dan/atau Cabang KAP telah dikenakan sanksi pembekuan izin yang kedua, terhadap pelanggaran berat berikutnya dikenakan sanksi pencabutan izin.

Pasal 68 (1) Akuntan Publik yang dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak berakhirnya masa pembekuan izin tidak melakukan pengajuan permohonan persetujuan untuk memberikan jasa kembali, dikenakan sanksi pencabutan izin. (2) KAP yang dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak berakhirnya masa pembekuan izin usaha, tidak melakukan pengajuan permohonan persetujuan untuk memberikan jasa kembali, dikenakan sanksi pencabutan izin usaha. (3) Cabang KAP yang dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak berakhirnya masa pembekuan izin pembukaan Cabang, tidak melakukan pengajuan permohonan persetujuan untuk memberikan jasa kembali, dikenakan sanksi pencabutan izin pembukaan Cabang. (4) Apabila KAP dan/atau cabang KAP setelah masa pengenaan sanksi pembekuan izin berakhir akan ditutup, maka pemimpin atau pemimpin rekan wajib memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3). Pasal 69 (1) KAP yang tidak melaporkan bubarnya dan/atau putusnya hubungan dengan KAPA atau OAA dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan, dikenakan sanksi pembekuan

izin. (2) Sanksi atas pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan kepada KAP dan Pemimpin, atau Pemimpin Rekan KAP. Pasal 70 Izin Cabang KAP: a. b. c. d. dibekukan apabila izin usaha KAP yang bersangkutan dibekukan; dicabut apabila izin usaha KAP yang bersangkutan dicabut; dicabut apabila KAP yang bersangkutan menutup kegiatan usahanya; atau dicabut apabila KAP menutup kegiatan cabang KAP yang bersangkutan.

Pasal 71 (1) Izin usaha KAP yang berbentuk usaha perseorangan: a. dibekukan apabila izin Akuntan Publik yang bersangkutan dibekukan; b. dicabut apabila izin Akuntan Publik yang bersangkutan dicabut; c. dicabut apabila Akuntan Publik yang bersangkutan menjalani penghentian pemberian jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. (2) KAP yang berbentuk usaha persekutuan dibekukan izin usahanya apabila izin Akuntan Publik seluruh rekan KAP yang bersangkutan dibekukan. (3) Izin Akuntan Publik, Pemimpin, atau Pemimpin rekan KAP dibekukan, apabila izin usaha KAP dibekukan. Pasal 72 Akuntan Publik yang dikenakan sanksi pembekuan izin dilarang: a. memberikan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2; b. menjadi Pemimpin Rekan atau Pemimpin Cabang.

Pasal 73 KAP yang sedang dikenakan sanksi pembekuan izin dilarang: a. memberikan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. b. mengajukan permohonan penutupan KAP.

Pasal 74

Akuntan Publik yang dikenakan sanksi pembekuan izin: a. wajib mengikuti PPL paling sedikit berjumlah 30 (tiga puluh) SKP dalam periode 1 (satu) tahun terakhir sebelum berakhirnya masa pembekuan izin dengan paling sedikit berjumlah 15 (lima belas) SKP diantaranya di bidang auditing dan akuntansi dan paling sedikit berjumlah 4 (empat) SKP berkaitan dengan pembinaan dan pengawasan Akuntan Publik; dan b. tidak dibebaskan dari tanggung jawab atas jasa-jasa yang telah selesai diberikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.

Pasal 75 (1) Akuntan Publik dapat dikenakan: a. sanksi peringatan apabila Akuntan Publik yang bersangkutan mendapat sanksi peringatan keanggotaan dari IAPI; b. sanksi pembekuan izin apabila Akuntan Publik yang bersangkutan mendapat sanksi pembekuan keanggotaan dari IAPI; atau c. sanksi pencabutan izin apabila Akuntan Publik yang bersangkutan mendapat sanksi pemberhentian keanggotaan dari IAPI. (2) Akuntan Publik dan/atau KAP dapat dikenakan sanksi peringatan, pembekuan izin, atau pencabutan izin apabila Akuntan Publik dan/atau KAP tersebut dikenakan sanksi oleh instansi pemerintah lainnya. (3) Pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) tidak menghapuskan kewenangan Menteri untuk melakukan pemeriksaan terhadap Akuntan Publik dan/atau KAP yang bersangkutan apabila terdapat keberatan dari masyarakat terhadap sanksi yang dikenakan dan/atau terdapat informasi yang layak untuk ditindaklanjuti. Pasal 76 (1) Sanksi Pembekuan dan pencabutan izin Akuntan Publik, KAP atau Cabang KAP diumumkan kepada masyarakat. (2) Sanksi peringatan terhadap Akuntan Publik, KAP, atau Cabang KAP dapat diumumkan kepada masyarakat. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 77 (1) Permohonan izin Akuntan Publik, izin usaha KAP, dan izin Cabang KAP yang telah diajukan sebelum ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan ini, namun belum memperoleh izin, wajib diajukan kembali sesuai dengan persyaratan yang diatur dalam ketentuan Peraturan Menteri Keuangan ini.

(2) KAP dan Cabang KAP wajib menyesuaikan komposisi auditor sesuai ketentuan dalam Pasal 18 ayat (1) huruf c atau Pasal 22 ayat (1) huruf c atau pasal 41 huruf b dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak Peraturan Menteri Keuangan ini ditetapkan. (3) KAP wajib menyesuaikan penulisan huruf sesuai ketentuan dalam Pasal 27 ayat (2) dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 78 (1) KAP yang telah memperoleh persetujuan pencantuman nama KAPA atau OAA bersamasama nama KAP pada saat berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini, dinyatakan telah memperoleh persetujuan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini. (2) Akuntan Publik yang telah memperoleh persetujuan pemberhentian jasa Akuntan Publik untuk sementara waktu, yang masih berlaku pada saat berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini dinyatakan telah memperoleh persetujuan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini. (3) Pengenaan sanksi peringatan dan/atau pembekuan izin terhadap Akuntan Publik, KAP dan/atau Cabang KAP yang dikenakan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 423/KMK.06/2002 tentang Jasa Akuntan Publik sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 359/KMK.06/2003, dinyatakan tetap berlaku.

Pasal 79 Penyelenggaraan USAP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf e Keputusan Menteri Keuangan Nomor 423/KMK.06/2002 tentang Jasa Akuntan Publik yang dilaksanakan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini dinyatakan sah dan sertifikat tanda lulusnya memenuhi persyaratan untuk memperoleh izin Akuntan Publik sesuai ketentuan Pasal 5 Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 80 Dengan berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini: a. pemeriksaan terhadap Akuntan Publik, KAP dan/atau Cabang KAP yang sedang berlangsung tetap dapat diteruskan dan selanjutnya tunduk kepada ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan ini; b. pengenaan sanksi terhadap Akuntan Publik, KAP, dan/atau Cabang KAP yang didasarkan atas hasil pemeriksaan yang dilaksanakan sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 423/KMK.06/2002 tentang Jasa Akuntan Publik sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 359/KMK.06/2003, tunduk terhadap ketentuan Peraturan Menteri Keuangan ini; c. Semua sanksi peringatan dan pembekuan yang telah dikenakan kepada Akuntan Publik, KAP dan/atau Cabang KAP dinyatakan sah dan berlaku dan untuk selanjutnya tunduk kepada ketentuan Pasal 66 dan Pasal 67 dalam Peraturan Menteri Keuangan ini.

BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 81 (1) Akuntan Publik, Kantor Akuntan Publik dan Cabang Kantor Akuntan Publik yang telah memiliki izin yang masih berlaku pada saat berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini dinyatakan telah memperoleh izin berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini. (2) Akuntan yang telah memiliki Sertifikat tanda lulus USAP pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini ditetapkan, dinyatakan tetap diakui berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini. (3) Dengan berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini, semua pihak dilarang memberikan jasa sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 2 apabila tidak memenuhi ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan ini. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dikecualikan bagi pemeriksa Badan Pemeriksa Keuangan yang memberikan jasa dalam lingkup kewenangannya dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 82 (1) Dengan berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini, Keputusan Menteri Keuangan Nomor 423/KMK.06/2002 tentang Jasa Akuntan Publik sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 359/KMK.06/2003 dinyatakan tidak berlaku lagi. (2) Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia