Anda di halaman 1dari 41

BAB II PEMBAHASAN 1.

Kewajiban Jangka Panjang Investor, kreditur, dan pengguna lain melihat pemisahan kewajiban dalam klasifikasi kewajiban lancar dan jangka panjang penting karena ada model-model keputusan yang memanfaatkannya untung Working CapitaL. Mereka menggunakan rasio lancar, dan proyeksi arus kas masa depan yang diharapkan dapat membantu untuk menganalisis dan membandingkan kinerja perusahaan. Jika rasio utang terhadap ekuitas perusahaan meningkat, maka persepsi pasar tentang risiko investasi di saham perusahaan juga meningkat. Dengan demikian pemisahan kewajiban lancar dan jangka panjang dapat secara handal mengevaluasi kemampuan perusahaan untuk menentukan tingkat risiko yang melekat dalam proyeksi arus kas masa depan. 1.1 Definisi Kewajiban SFAC No. 6 menggambarkan unsur-unsur yang terdiri dari balance sheet (aktiva, kewajiban, dan ekuitas). Aktiva memiliki manfaat ekonomis di masa depan. Kewajiban dan ekuitas menyediakan sumber daya (modal) untuk akuisisi aset. Dalam praktek akuntansi yang berlaku, kewajiban dan ekuitas diperlakukan sebagai elemen yang terpisah dan berbeda dari struktur modal perusahaan. perbedaan ini terlihat dalam persamaan dasar akuntansi: Asstes = Liabilities + Equity Kewajiban dan ekuitas merupakan klaim aktiva perusahaan, tetapi ekuitas merupakan kepentingan kepemilikan pemegang saham, sedangkan kewajiban merupakan klaim kreditur yang harus dibayar perusahaan.. Dua teori terkemuka yaitu:

1. Entity Theory: Menurut teori entitas, tidak ada perbedaan mendasar antara kewajiban dan

ekuitas pemilik. Keduanya menyediakan modal untuk perusahaan dan menerima pendapatan berupa bunga dan dividen. Dalam teori entitas, kewajiban dan ekuitas membutuhkan pengungkapan terpisah dalam neraca, namun tidak disubtotal untuk total kewajiban dan total ekuitas. Persamaannya: Assets= Liabilities+Equity
2. Propietary Theory: memandang aktiva bersih perusahaan sebagia hak pemilik. Persamaannya

adalah: Assets-Liabilities=Equity Meskipun AICPA, APB, dan FASB belum secara resmi menggambarkan hubungan ini sebagai teori utama dari unsur laporan keuangan, APB mendefinisikan kewajiban dan ekuitas pemilik dalam Statement No 4 dan pendekatan yang tersirat dalam definisi adalah: AssetsLiabilities=Equity. Sebagai tambahan, SFAC No 6 telah mendefinisikan kewajiban dan ekuitas dengan cara yang konsisten dengan Propietary Theory, sebagai berikut:
1. Kewajiban-pengorbanan manfaat ekonomi di masa depan yang timbul dari kewajiban

sekarang dari suatu entitas tertentu, pengalihan aset atau penyedia jasa kepada entitas lain di masa depan sebagai hasil dari transaksi atau pristiwa di masa lalu.
2. Ekuitas-bunga sisa atas aktiva suatu entitas yang tersisa setelah dikurangi kewajibannya.

Dalam sebuah perusahaan bisnis ekuitas adalah kepemilikan.

1.2 Pengakuan dan Pengukuran Kewajiban Menurut SFAC No 5 untuk item yang akan diakui sebagai kewajiban dalam laporan keuangan, harus memenuhi kewajiban definisi dari SFAC No 6 dan secara teoritis, kewajiban harus dapat

diukur dari nilai sekarang dari arus kas masa depan yang didiskontokan pada tingkat bunga pasar. Akuntan mengambil pendekatan transaksi untuk mengukur kewajiban. Kewajiban diukur sebesar jumlah yang ditetapkan dalam nilai wajar tukar-intial. Tapi, di bawah model biaya historis akuntansi tradisional, kewajiban tidak disesuaikan dengan nilai wajar pada setiap akhir periode akuntansi berikutnya. Atau, dalam SFAS No 159, perusahaan dapat memilih untuk laporan keuangan aset dan kewajiban sebesar nilai wajarnya. Jika alternatif ini dipilih, kewajiban yang dibuat perusahaan dinilai kembali pada setiap tanggal pelaporan. Nilai wajar dilaporkan dalam neraca, dan perubahan nilai wajar akan diakui dalam laporan laba rugi. 1.3 Hutang Versus Equity Definisi sebelumnya membutuhkan klasifikasi dari seluruh item pada sisi debet neraca menjadi kewajiban mereka atau komponen ekuitas. Persyaratan ini menganggap bahwa semua kepentingan keuangan dalam perusahaan adalah kewajiban atau ekuitas bunga, dan lebih menganggap bahwa perbedaan ini dapat segera ditemukan siapa pun yang menyusun laporan keuangan. Ada dua kesalahan dalam asumsi ini:
1. Berbagai surat berharga yang diterbitkan oleh perusahaan modern yang memiliki struktur

perusahaan kompleks.
2. Tidak ada panduan yang diatur untuk menerapkan skema klasifikasinya. Misalnya, suatu

pihak melihat sebagai hutang, yang lain melihat sebagai ekuitas. 1.3.1 Konsolidasi Menatur Faktor Keputusan : Tiga belas faktor yang dijadikan panduan pengklasifikasian hutang atau ekuitas, yaaitu:
1. Tanggal Jatuh Tempo: instrumen hutang biasanya memiliki jatuh tempo tetap,

sedangkan instrumen ekuitas tidak. Karena hutamg ada jatuh tempo, maka instrumen

hutang ditetapkan persyaratan penebusan. Salah satu persyaratan mungkin merupakan pembentukan dari persediaan dana dalam rangka untuk memastikan bahwa dana akan tersedia untuk penebusan hutang tersebut.
2. Klaim terhadap Aktiva: Jika sebuah perusahaan dilikuidasi, klaim kreditur akan

didahulukan dari para prmilik perussahaan. Ada dua interpretasi kemungkinan faktor ini: (1) Semua klaim selain prioritas pertama adalah klaim ekuitas. (2) Semua klaim selain yang terakhir merupakan klaim kreditur. Masalahnya meliputi semua klaim antara kedua interpretasi: mereka mengklaim bahwa adanya pemihakan pada klaim pertama dan lebih diutamakan daripada klaim terakhir.
3. Klaim atas Laba: Dividen tetap atau tingkat suku bunga memiliki preferensi atas

dividen lain pada pembayaran bunga. Kumulatif dalam hal ini tidak dibayar untuk periode tertentu, dikatakan untuk menunjukkan efek hutang. Di sisi lain, keamanan tidak menyediakan tingkat bunga tetap yang memberikan pemegang hutang jangka pangjnga untuk berpartisipasi dengan pemegang saham biasa dalam distribusi pendapatan.
4. Penilaian Pasar: Selama sebuah perusahaan tetap aktif maka market dari kewajiban

perusahaan terpengaruh oleh kinerja perusahaan. Sebaliknya, harga pasar efek ekuitas dipengaruhi oleh pendapatan perusahaan maupun oleh harapan investor tentang pembayaran dividen masa depan.
5. Hak Suara dalam Manajemen: Sebuah suara yang tepat adalah bukti dalam

pengelolaan perusahaan. Hak ini biasanya terbatas pada pemegang saham biasa, namun dapat diperpanjang untuk investor lain pada beberapa kondisi yang telah ditentukan. Sebagai contoh, jika bunga yang tidak dibayar pada saat jatuh tempo atau keuntungan di bawah tingkat tertentu, hak suara dapat diberikan kepada pemegang lainnya.

6. Nilai Jatuh Tempo: Hutang jangka panjang memiliki nilai jatuh tempo yang pastiyang

tidak dapat direvisi/diubah.


7. Keinginan berbagai Pihak: Pengadilan telah menentukan bahwa maksud dari para

pihak merupakan salah satu faktor yang akan dievaluasi dan berkuasa pada hutang atau ekuitas keamanan tertentu. Sikap investor dan karakter investasi adalah dua subfaktor yang membantu membuat keputusan ini. Jika investor termotivasi untuk melakukan investasi tertentu atas dasar keselamatan dan jika perusahaan termasuk dalam masalah fitur-fitur yang biasanya disamakan dengan keselamatan, maka efek tersebut dapat berupa utang daripada ekuitas. Namun, jika investor termotivasi untuk memperoleh keamanan dengan kemungkinan pertumbuhan modal, keamanan akan dipandang sebagai ekuitas ketimbang utang.
8. Hak didahulukan untuk membeli Saham Biasa yang baru ditawarkan: Secara

hukum, pemegang saham biasa memiliki hak memesan efek terlebih dahulu (pembelian saham yang pertama dalam penawaran saham baru oleh perusahaan).
9. Rencana Konversi: Sebuah keamanan yang dapat dikonversi menjadi saham biasa

setidaknya memiliki potensi untuk menjadi ekuitas jika saat ini tidak dianggap ekuitas.
10. Dilusi EPS yang Potensial: Faktor ini mungkin dianggap sebagai subfactor konversi

karena konversi fitur keamanan adalah penyebab paling mungkin terjadinya dilusi EPS yang potensial. Dalam setiap peristiwa, keamanan yang memiliki potensi untuk mencairkan laba per saham diasumsikan memiliki karakteristik ekuitas
11. Hak untuk Memaksa Pembayaran: Dari sudut pandang hukum, kreditur berhak untuk

menerima bunga berkala yang di disepakati pada tanggal tertentu dan memiliki nilai jatuh tempo yang harus dibayar pada tanggal jatuh tempo. Pelaksanaan hak ini dapat

mengakibatkan perusahaan yang sedang ditempatkan di kurator. Pemilik tidak memiliki hak hukum tersebut, sehingga keberadaan hak untuk menegakkan pembayaran merupakan indikasi dari instrumen utang.
12. Alasan Usaha yang Baik untuk Penerbitsn: Dua subfaktor relevan adalah alternatif

yang tersedia dan jumlah kapitalisasi. Efek yang diterbitkan oleh perusahaan kesulitan keuangan atau dengan tingkat kapitalisasi yang rendah dapat dianggap ekuitas dengan alasan bahwa hanya mereka dengan persentase kepemilikan akan bersedia untuk menerima risiko. Sedangkan surat berharga yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan dengan tingkat kapitalisasi yang tinggi dapat dipandang sebagai utang.
13. Identitas kepentingan : Ketika individu-individu yang berinvestasi pada efek hutang

adalah individu yang sama, atau anggota keluarga, yang memegang saham biasa, sebuah interset kepemilikan tersirat. FASB belum memutuskan masalah yang diangkat dengan judul Distinguishing between Liability and Equity Instruments and Accounting for Instruments with Characteristics of both. Dorongan untuk melakukan memorandum diskusi adalah meningkatnya penggunaan complex financial ststement yang memiliki karakteristik hutang dan ekuitas. Pada akhir tahun 2000 FASB mengeluarkan sebuah draft eksposur dari pernyataan yang diusulkan " Accounting for Financial Instrument with Characteristics of both Liabilities and Equity" dan amandemen prosped SFAC No. 6 yang akan merevisi definisi kewajiban Pada tahun 2003 penerbitan PSAK No 150 "Accounting for Certain Financial Instruments with Characteristic of both Liabilities and Equity", Dewan menggunakan definisi kewajiban dan ekuitas yang ditemukan dalam pendekatan "komponen" dengan instrumen keuangan tertentu.

PSAK No 150 mensyaratkan bahwa berikut instrumen keuangan harus diklasifikasikan sebagai kewajiban: a. Sebuah instrumen keuangan wajib ditebus, seperti saham preferen wajib diuangkan
b. Sebuah instrumen keuangan yang (pada awal) mencakup kewajiban untuk membeli

kembali saham ekuitas emiten atau diindeks sedemikian kewajiban dan yang membutuhkan atau mungkin memerlukan penerbit untuk menyelesaikan kewajiban dengan aset mentransfer, seperti put option tertulis pada saham biasa dari penerbit . c. Sebuah instrumen keuangan yang mengaktifkan suatu kewajiban (mutlak atau bersyarat) yang memerlukan atau mungkin memerlukan penerbit untuk menyelesaikan dengan mengeluarkan sejumlah variabel saham efek ekuitas, jika pada awal nilai moneter instrumen fianancial adalah berdasarkan (semata-mata atau terutama) pada setiap sebagai berikut i. ii. Sebuah jumlah moneter tetap Varations nilai sesuatu yang lain dari nilai wajar efek ekuitas emiten-misalnya, instrumen keuangan diindeks ke S & P 500. iii. Variasi berbanding terbalik dengan perubahan nilai wajar saham ekuitas emiten, misalnya menempatkan tertulis yang bisa berbagi bersih diselesaikan.

Pengelompokan Hutang Jangka Panjang Saat kewajiban di identifikasi dan diukur, kewajiban dilaporkan sebagai kewajiban lancar atau kewajiban jangka panjang. Pengelompokan sebagai kewajiban jangka pangjang didasarkan pada aturan siklus pengoperasian pada satu tahun atau saat ini. Hutang jangka panjang paling sering ditemu pada obligasi, nota jangka panjang, obligasi sewa, obligasi pensiun, pajak yang ditangguhkan, penangguhan jangka panjang lainnya, dan, adakalanya kewajiban bersyarat.

Pembayaran Oblibasi Saat dana tambahan dibutuhkan untuk kegiatan operasi atau untuk memperluas kegiatan bisnis, suatu perusahaan memilih untuk menerbitkan sekuritas hutang atau ekuitas.

Ada empat alasan dasar mengapa perusahaan akan menerbitkan hutang dari pada sekuritas ekuitas : 1. Hanya obligasi yang merupakan sumber dana. Banyak perusahaan kecil dan menengah yang terlihat terlalu berisiko bagi para investor untuk melakukan investasi permanen. 2. Pembiayaan hutang yang rendah. Saat obligasi mempunyai risiko yang lebih rendah dari pada saham, obligasi secara tradisional dibayar pada tingkat suku bunga yang rendah. Investor memperoleh sekuritas ekuitas yang biasanya

mengharapkan pengembalian yang lebih besar untuk penggantian kerugian atas risiko investasi yang lebih tinggi. 3. Pembiayaan hutang menawarkan keuntungan pajak. Tingkat suku bunga pembayaran pada pemegang saham terhutang dapat dikurangi untuk tujuan pajak pendapatan, sedangkan pembayaran dividen pada sekuritas ekuitas tidak. 4. Hak suara istimewa tidak dibagikan. Pemegang saham berharap menjaga persentase kepemilikan mereka pada suatu perusahaan yang harus membeli bagian kepemilikan saat ini atau hak suara, sebagai konsekuensinya, mereka mencairkan kekuatan hak suara mereka. Dimana bagian kepemilikan kecil dan pemegangannya tersebar luas, pertimbangan ini mungkin tidak begitu penting.

Pengunaan dana yang dipijamkan dikenal sebagai solvabilitas permodalan (financial leverage). Alasan menggunakan dalam suatu dana yang dipinjamkan yang adalah harapan

menginvestasikannya

proyek

modal

akan

menghasilkan

pengembalian yang melebihi biaya dari dana yang diperoleh. Investasi pemegang saham disajikan sebagai perlindungan untuk pemegang obligasi utama dan pendapatan, dan hubungan pendapatan saat ini dengan hutang pada ekuitas yang kuat yang mempengaruhi tingkat suku bunga yang diperlukan oleh pemegang hutang. Saat menggunakan pembiayan terhutang, ini harus diketahui bahwa sovabilitas permodalan meningkatkan tingkat pengembalian pada para pemegang saham umum saat pengembalian pada proyek lebih besar dari pada biaya dari dana yang dipinjamkan. Pendapatan (kurang dari pajak yang terkait) pada kelebihan pembayaran suku bunga yang akan meningkatkan pendapatan per saham. Bagaimanapun, jika pengembalian pada proyek investasi berada dibawah tingkat suku bunga saham yang ditetapkan, pendapatan per saham akan menurun.

Pengelompokan Obligasi Obligasi sering dikelompokkan berdasarkan sifat dari proteksi yang ditawarkan oleh perusahaan. Obligasi yang dijamin oleh suatu hak gadai terhadap aset perusahaan dikenal sebagai mortgage bonds (obligasi hipotek). Saat perusahaan bankrut dan di likuidasi, pemegang obligasi hipotik pertama kali harus mengklaim pendapatan dari penjualan aset yang menjamin hutang mereka. Jika hasil dari penjualan aset yang dijamin tidak mencukupi untuk pembayaran kembali hutang, pemegang obligasi hipotek menjadi kreditur umum untuk sisa hutang yang tidak terbayar.

Obligasi surat hutang tidak dijamin dengan harta kekayaan atau aset, dan kelaikan pasarnya didasarkan pada kredit umum perusahaan. Periode yang lama dari pendapatan dan perkiraan berkelanjutan yang penting bagi perusahaan untuk menjual obligasi surat hutang. Pemegang obligasi surat hutang menjadi kreditor umum perusahaan pada saat likuidasi.

Harga Penjualan Obligasi Obligasi biasanya dijual $ 1.000 dan mempunyai jumlah tingkat suku bunga yang yang ditetapkan. Tingkat suku bunga yang ditetapkan pada orang perjanjian obligasi (kontrak). Jika menetapkan jumlah suku bunga yang akan dibayar untuk investor pada akhir dari setiap periode bunga. Tingkat yang ditetapkan akan diperkirakan tingkatannya dimana pihak manajemen merasa yakin untuk menjual obligasi, menetapkan risiko ekonomi dan dan risiko yang dirasakan, yang

digabungkan dengan obligasi. Obligasi dikeluarkan dengan jumlah yang relatif rendah pada risiko yang dirasakan, yang akan memberikan tingkat suku bunga yang lebih rendah dari pada obligasi yang dikeluarkan dengan jumlah yang lebih besar risikonya.

Keputusan untuk mengeluarkan obligasi dan penjualan berikutnya akan dilakukan pada jangka waktu yang relatif lama. Dari waktu obligasi diotorisasi hingga dikelurkan, keadaan ekonomi mempengaruhi tingkat suku bunga yang mungkin akan berubah. Sebagai hasilnya, saat pengeluaran tingkat suku bunga yang ditetapkan akan berbeda dari tingkat pasar atas risiko yang dirasakan dari obligasi yang serupa. Investor menjadi tidak ingin menginvestasikan pada obligasi dengan tingkat suku bunga yang lebih rendah dari tingkat harga pasar. Sama halnya, perusahaan yang menerbitkan akan tidak ingin mengeluarkan obligasi yang lebih tinggi tingkat suku bunganya dari pada tingkat harga pasar. Karena tingkat harga yang ditetapkan merupakan penentu awal biaya dan ditak dapat diubah, harga pasar obligasi disesuaikan jadi tingkat harga efektif dari suku bunga sama dengan tingkat harga pasar.

Tingkat suku bunga pasar yang diperlukan untuk menjual obligasi yang diterbitkan juga dikenal sebagai tingkat nilai yang dihasilkan (yield rate) pada obligasi. Besarnya jumlah yang ingin di investasikan oleh investor adalah jumlah yang akan dihasilkan pada tingkat suku bunga pasar, nilai dan pemilihan waktu dari pembayaran suku bunga yang ditetapkan dan nilai jatuh tempo dari obligasi. Jadi, harga yang dikeluarkan dari obligasi sama dengan jumlah nilai saat ini dari

pemabyaran utama dan suku bunga, dipotong tingkat nilai yang dihasilkan. Jika investor akan menyetujui tingkat suku bunga yang ditetapkan pada obligasi, mereka akan menjual pada nilai nominal, atau par, dan tingakt nilai yang dihasilkan akan sama dengan tingkat suku bunga yang ditetapkan. Saat tingkat suku bunga pasar melebihi tingkat suku bunga yang ditetapkan, obligasi akan dijual dibawah nilai nominal (pada suatu potongan), dengan demikian meningkatkan tingkat suku bunga efektif. Sebagai alternatif, saat tingkat suku bunga pasar lebih kecil dari tingkat suku bunga yang ditetapkan, obligasi akan dijual diatas nilai nominal (pada suatu premi), dengan demikian menurunkan tingkat suku bunga efektif.

Saat obligasi dikeluarkan antara tanggal pembayaran bunga, karena pembayaran bunga ditetapkan oleh orang perjanjian obligasi, investor akan menerima jumlah keseluruhan dari pembayaran bunga pada tanggal pembayaran bunga, walaupun obligasi tidak dibuat untuk periode bunga seluruhnya. Untuk mengganti kerugian orang yang mengeluarkan, investor membayar bunga yang akan diterima dari tanggal kontrak hingga tanggal pengeluaran. Bunga yang akan diterima akan dibayar kembali kepada investor pada tanggal pembayaran bunga berikutnya dan oleh karena itu suatu hutang lancar untuk perusahaan yang mengeluarkan. Harga yang diterbitkan ditentukan oleh pemotongan nilai jatuh tempo dan pembayaran bungan dari tanggal kontrak dengan jatuh tempo ditambah pengembalian pada obligasi dari tanggal kontrak hingga tanggal penerbitan dikurang jumlah

pembayaran bunga yang akan diterima.

Harga Penerbitan Obligasi

Biaya untuk pengeluaran obligasi adalah hal yang pokok. Perusahaan penerbit mengeluarkan pembayaran untuk pengacara, biaya untuk mencetak obligasi, biaya persiapan buku sebaran obligasi, dan komisi broker penjualan. Dibawah pernyataan APB No.21, biaya penerbitan obligasi diperlakukan sebagai beban tertangguh dan diperlihatkan pada neraca sebagai aset. Aset di amortisasi dari tanggal penerbitan hingga tanggal jatuh tempo obligasi. Dasar pemikiran dari pelakukan ini adalah dimana biaya yang terjadi untu memperoleh manfaat dari penerbitan obligasi

karena proses hutang ditambahkan pada proses pendapatan. Konsekuensinya, mereka menggambarkan potensi pelayanan dimasa yang akan data dan

menggambarkan aset-aset.

Hal yang berlawanan, biaya penerbitan hutang yang ditetapkan oleh SFAC No.6 seabgai pengeluarn yang tidak memenuhi pengartian dari suatu aset. FASB menyatakan menghasilkan bahwa biaya-biaya suku ini mengurangi ekfektif proses peminjaman, tinggi. yang

tingkat

bungan

yang

lebih

Sebagai

konsekuensinya, mereka tidak mempunyai manfaat dimasa yang akan datang. Pernyataan ini memberikan suatu basis untuk mengurangi biaya penerbitan obligasi yang tidak diamortisasi dari nilai awal hutang dan membuatnya mempengaruhi perhitungan periode beban bunga . Alternatifnya, FASB menyatakan bahwa karena mereka tidak memberikan manfaat dimasa yang akan datang, biaya penerbitan hutang akan diperlakukan sebagai pengeluaran dari periode peminjaman.

Alternatifnya, saat perusahaan

memilih mengukur suatu obligasi keuangan

menggunakan SFAS No. 159 pilihan nilai wajar, semua biaya dan pembayaran upah

di muka dianggap pengeluaran saat terjadinya. Mereka tidak ditangguhkan. Dasar pemikiran untuk perlakuan ini adalah dimana pasar bukanlah merupakan faktor pada biaya awal saat pengaturan harga penerbitan dari hutang (nilai wajar hutang), dan dimana jumlah yang dipinjamkan oleh orang yang berhutang pada tanggal penerbitan. Karena biaya ini tidak mempengaruhi nilai wajar hutang tidak juga memenuhi definisi dari suatu aset, maka mereka secara logika adalah suatu pengeluaran.

Biaya Bunga Obligasi Bunga adalah biaya dari peminjaman, dan karena hutang dipinjamkan pada suatu periode waktu, ini haurs dialokasikan pada periode saat hutang diberikan. Total bunga pada masa hidup pengeluaran obligasi dipengaruhi oleh adanya suatu premi atau diskon. Dalam kasus ini, perhitungan pengeluaran bunga melibatkan

amortisasi premi atau dikon pada masa penerbitan obligasi : (1) metode garis lurus dan (2) metode bunga efektif. Dibawah metode garis lurus, total diskon atau premi dibagi dengan total jumlah periode bunga hingga jumlah yang akan diamortisasi setiap periode. Metode ini memberikan alokasi yang sama per periode dan menghasilkan biaya bunga yang stabil per periode.

Saat menggunakan metode bunga efektif, amortisasiprimi dan diskon ditentukan dengan menemukan perbedaan antara pembayaran bunga yang ditetapkan dan jumlah beban bunga untuk suatu periode.

Metode bunga efektif lebih disukai secara teoritis karena menghasilkan tingkat suku bunga yang stabil per periode dan memperlihatkan keseimbangan hutang pada neraca yang sama dengan nilai saat ini dari pemotongan arus kas di masa yang akan datang pada tingkat suku bunga pasar yang sebenarnya. Pernyataan APB No.21 mensyaratkan penggunakan metode bunga efektif kecuali kalau hasil yang diperoleh dari penggunaan metode garis lurus tidak berbeda secara material. Beberapa perusahaan menggunakan metode garis lurus karena mudah untuk menghitungnya dan karena perbedaan antara laporan rugi-laba dan nilai neraca dilaporkan dibawah dua metode dari periode ke periode yang secara relatif kecil.

Obligasi kupon kosong (zero Coupon Bonds) Kupon kosong atau obligasi yang sangat dipotong (deep discount bond) adalah suatu obligasi yang tidak mempunyai tingkat suku bunga yang ditetapkan dan jadi, peminjam tidak melakukan pembayaran bunga kepada investor. Sebagai hasilnya, obligasi kupon kosong dijual dengan sangat sedikit dari pada nilai nominal. Karena tidak ada pembayaran bunga, biaya bunga kepada penerbit sama dengan perbedaan antara nilai jatuh tempo dan harga pengerbitan obligasi.

Obligasi kupon kosong menjadi populer dengan dasa pensiun karena (1) biasanya tidak berisi penggunaan ketentuan, dan, oleh karena itu, pengebalian yang ditetapkan dijamin hingga masa jatuh tempo, dan (2) menawarkan pengembalian penginvestasian kembali, yang berarti bahwa semua bunga diinvestasikan kembali pada tingkat pengembalian pada jangka waktu pengeluaran. Pada penambahannya,

pendapatan dari investasi pensiun adalah pajak yang ditangguhkan. Tidak ada pajak yang dibayar hingga distribusi dilakukan selama pensiun.

Call Provision (Penggunaan ketentuan) Hutang jangka panjang yang dikeluarkan dibawah kondisi pasar yang berlaku pada saat dikeluarkan. Saat kondisi pasar tidak menguntungkan, perlu dilalkuan pembayaran yang tidak biasanya pada tingkat suku bunga yang tinggi atau membuat janji pada orang perjanjian obligasi (persetujuan antra perusahaan penerbit dan pemegang obligasi) yang menghambat operasi keuangan perusahaan.

Penarikan kembali atau penghentian lebih awal dari hutang ada pada dua bentuk (1) dana yang dipinjamkan tidak lagi diperlukan dan hutang dibatalkan, yang diistilahkan penghentian hutang, atau (2) hutang yang ada akan digantikan dengan penerbitan hutang lain, yang diistilahkan pendanaan kembali hutang.

Pada ARB No.43, ada tiga metode akuntansi untuk keuntungan atau kerugian dari transaksi pendanaan kembali. 1. Membuat penghapusan secara langsung dari keuntungan atau kerugian

pada tahun transaksi 2. Mengamortisasi keuntungan atau kerugian pada sisa masa dari pengeluaran asal.

3. Mengamortisasi keuntungan atau kerugian pada masa pengeluaran yang baru.

Hutang dihentikan dalam kondisi berikut: 1. Orang yang berhutang telah membayar kepada kreditor dan mengurangi semua obligasi tanpa memperhatikan apakah sekuritas dibatalkan atau

dinyatakan sebagai obligasi keuangan oleh orang yang berhutang. 2. Orang yang berhutang secara hukum dibebaskan dari obligor utama oleh kreditur, dan memungkinkan tidak ada pembayaran dimasa yang akan datang. 3. Orang yang berhutang menempatkan kas atau sekuritas yang bebas risiko lainnya (seperti sekuritas pemerintah) pada kepercayaan yang digunakan untuk memenuhi jadwal pembayaran bunga dan obligasi tertentu, dengan

kemungkinan pembayaran dimasa yang akan datang akan menjadi terkenali.

Transaksi yang mengubah sesuatu yang dibatalkan tidak memenuhi kondisi untuk pengakuan penarikan hutang atau aset karena kurangnya karakteristik penting berikut : 1. Menempatkan aset pada suatu kepercayaan yang tidak membebaskan orang yang berhutang dari hutang. Jika aset dibuktikan tidak mencukupi, orang yang berhutang harus melakukan perbedaan. 2. Pemberi pinjaman tidak dibatasi pada arus kas yang dihasilkan oleh yang dipercaya. 3. Pemberi pinjaman tidak mempunyai kemampuan untuk menjual aset atau menghentikan orang yang dipercaya.

4. Jika aset pada orang yang dipercaya melebihi jumlah bunga dan pembayaran yang dijadwalkan, orang yang berhutang dapat memindahkan aset. 5. Pemberi pinjaman bukanlah pihak yang berdasarkan perjanjian untuk menetapkan orang yang dipercaya. 6. Orang yang berhutang tidak menyerahkan pengendalian dari manfaat aset. Orang yang berhutang berkelanjutan mendapatkan manfaat karena aset digunakan untuk menghentikan hutang.

FASB baru-baru ini menggantikan SFAS N0. 125 dengan SFAS No.140:Akuntansi untuk Tranfer dan Pelayanan Aset keuangan dan penghentian Hutang

Penggantian pernyataan FASB No.125. Bagaimanapun, ketentuan SFAS No.125 yang berkaitang dengan pengeluran dari penghentian hutang menjadi ditahan.

Convertible Debt Alasan mengkonvcrsi hutang adalah untuk meningkatkan equity capital dan memutuskan bahwa convertible securities adalah yang paling menguntungkan, atau untuk meningkatkan hutangnya atau saham preferennya dan menemukan bahwa pengkonversian perlu untuk membuat surat berharga dapat dipasarkan pada tingkat bunga yang layak atau dividen yang layak. Ada beberapa faktor yang membuat atau memotivasi manajemen untuk menerbitkan convertible debt, yaitu untuk:
1. Menghindari tekanan penurunan harga saham perusahaan yang dapat disebabkan karena

penerbitan saham biasa dalam jumlah besar di pasar.


2. Menghindari dilusi/ melemahnya earnings dan meningkatkan kepentingan-kepentingan

jika ada suatu program ekspansi.

3. Menghindari penjualan langsung saham biasa jika perusahaan yakin bahwa sahamnya sekarang dinilai terlalu rendah di pasar. 4. Menembus segmen pasar modal yang tidak mungkin dapat dilakukan dalam suatu penerbitan saham biasa secara langsung. 5. Memimalkan biaya-biaya yang berkaitan dengan penjualan surat berharga. Convertible debt dapat dilihat dengan beberapa cara:
1. Mengabaikan conversion feature dan memperlakukan convertible debt seperti straight-

debt issue, yang mana bond dan convertion option tidak dapat dipisahkan; conversiobn featurenya tidak punya nilai pasar.
2. Melihat conversion feature sebagai equity, dan nilainya harus dipisahkan dari obligasinya

dan masuk dalam stock holder equity

sebagai paid-in capital. Conversion feature

memiliki nilai yang merupakan fungsi dari harga saham (bukan obligasi).
3. Melihat convertible debt harus dikonversi menurut karakteristik pengaturannya.

Karakteristik pengaturan ini berdasarkan pada apakah memuhi definisi hutang atau modal saat tanggal penerbitan. FASB (Financial Accounting Standards Board) menggambarkan empat pendekatan alternatif untuk menentukan karakteristik pengaturan:
1. Pengklasifikasian berdasarkan istilah-istilah yang contractual sebagi dampak

penerbitannya. Tanpa konversi, bunga dan pembayaran jatuh tempo harus dibayar, dengan demikian conversion debt harus diklasifikasikan sebagai liability.
2. Pengklasifikasian sebagai liability jika memuat suatu kewajiban untuk mentransfer

instrumen keuangan bagi si pemegang jika opsi dilaksanakan.

3. Pengklasifikasian menurut instrumen keuangan dasar yang memiliki nilai tertinggi.


4. Pengklasifikasian berdasarkan hasil yang paling mungkin terjadi. Convertible bond

diklasifikasi sebagai equity security jika konversi dianggap memberikan hasil yang lebih menguntungkan. ( nomor 1 sampai dengan nomor 3 mengklasifikasi convertible debt sebagai liability) Setelah membahas itu, Board mengeluarkan Opinion No.21, Interest on Receivable and Payables, sebagai berikut:
1. Catatan ditukar semata-mata untuk kas diasumsikan memiliki nilai tunai sebesar kas

dipertukarkan.
2. Catatan ditukar dengan properti, barang, dan jasa yang dianggap memiliki tingkat

bunga yang sesuai


3. Jika bunga tidak disebutkan atau nilai bunga yang jelas tidak pantas dalam catatan

ditukar dengan properti, barang, dan jasa, nilai kini catatan harus ditentukan oleh (mana yang lebih jelas dapat ditentukan):
a. Menentukan nilai pasar wajar dari properti, barang, dan jasa dipertukarkan. b. Menentukan nilai pasar pada saat transaksi. 4. Jika tidak 3a atau 3b dapat ditentukan, nilai kini catatan harus ditentukan oleh

pendiskontoan semua pembayaran di masa mendatang untuk menyajikan pada tingkat diperhitungkan bunga. Long-Term Notes Payable

Long-Term Notes Payable mirip dengan debenture bond, yang mana ada bunga atas pinjaman yang dibebankan tergantung si pemberi pinjaman, jumlah hutang yang ada, dan kebiasaaan bisnis pada umumnya. Awal tahun 1970-an APB mempelajari fenomena notes receivable dan payable yang mengungkap beberapa transaksi wesel yang tidak berguna untuk tujuan menjaga hubungan baik pelanggan, mempertahankan pemasok saat ini, atau memastikan layanan masa depan. Short-Term Debt Expected to Be Refinanced SFAS No. 6, classification of Short-Term Obligation Expected to Be Refinanced, memposisikan bahwa hutang jangka pendek tidak dapat diungkapakan sebagai hutang jangka panjang, kecuali ada kondisi: 1. Ada kehendak untuk mendanai kembali hutang lancer dengn hutang jangka panjang. 2. Perusahaan menunjukan kemampuan untuk mendanai kembali hutangnya. Kewajiban jangka pendek yang tidak masuk dalam current liability dalam balance sheet harus diungkapakan dalam catatan kaki financial statement. Pengungkapannya harus mencakup gambaran umum perjanjian pendanaan dan bentuk kewajiban baru yang timbul atau diharapkan timbul atau equity securities yang diterbitkan atau diharapan terbit sebagai dampak refinancing.

Deffered Credits Deffered Credits bukan liabilities karena tidak akan dibayar dengan dana tetapi dengan menyerahkan jasa atau produk. Bentuk-bentuk deffered credits pada umumnya adalah:

1. pendapatan diterima di muka


2. laba kotor penjualan angsuran yang belum direalisasi (biasanya tidak lagi sesuai)

Perjanjian deferal di neraca didasari pada prinsip konservatisme karena pengakuan pendapatan ditunda hingga ada keyakinan bahwa pendapatan tersebut diperoleh, namun beban harus dicatat saat terjadinya.

Contingencies Beberapa bentuk contingencies yang sering terjadi adalah: 1. pending lawsuits 2. income tax disputes 3. notes receivable discounted 4. accommodation endorsements SFAS No.5 mendefinisikan dua tipe contingencies, yaitu gain contingencies dan loss contingencies. Gain contingencies tidak boleh masuk laporan keuangan karena dapat terjadi pengakuan pendapatan sebelim realisasi. Kelengkapan pernyataan harus dibuat untuk seluruh gain contingencies. Untuk loss contingencies ada hal yang harus ditentukan sebagai:
1. Probable. Kejadian masa depan mungkin terjadi.

2. Reasonably possible. Kemungkinan terjadinya lebih dari jauh, tetapi kurang dari

kemungkinan (probable).
3. Remote. Peluang kejadian adalah sedikit.

Jika timbul loss akan mengurangi income dan liability, dicatat jika terdapat dua kondisi, yaitu:
1. Informasi yang ada sebelum penerbitan laporan keuangan mengindikasikan bahwa itu

probable hingga ada aktiva yang berkurang atau kewajiban yang timbul pada tanggal lapran keuangan.
2. Jumlah kerugiannya dapat ditaksir secara reasonable.

Masalah

Pengukuran

Kewajiban

Lainnya

(Other Liability Measurement Issues)


Pembiayaan di Luar Neraca (Off-Balance Sheet Financing)
Proporsi hutang dalam struktur modal perusahaan dapat dianggap sebagai indikator tingkat risiko yang berhubungan dengan investasi di perusahaan tersebut. Beberapa perusahaan telah memanfaatkan penyusunan pembiayaan yang inovatif yang disusun sedemikian rupa sehingga pembiayaan tersebut tidak memenuhi kriteria sebagai kewajiban. Penyusunan ini diistilahkan sebagai pembiayaan di luar neraca (Off-Balance Sheet Financing). Tujuan utamanya adalah untuk menjaga proporsi utang di neraca. Sebagai contoh, beberapa perusahaan minyak dapat membentuk usaha patungan (joint venture) untuk mengebor minyak lepas pantai dan setuju untuk melakukan pembayaran guna mendukung usaha tersebut setiap

saat, atau perusahaan dapat terikat dalam perjanjian sewa (lease) yang tidak perlu mengkapitalisasikan biaya aktiva produktifnya. Pada kasus tersebut, aktiva yang dipakai maupun kewajiban untuk membayar sumber daya tidak akan muncul pada neraca. Pada intinya, perusahaan telah memperoleh manfaat sumber daya ekonomi (aktiva) tanpa mencatat kewajiban ekonomi yang bersangkutan (utang). SFAS No 107, "Disclosures about Fair Value of Financial Instruments,"

mengharuskan pengungkapan nilai wajar instrumen keuangan jika ada nilai wajarnya. Metode dan asumsi yang digunakan untuk mengestimasi nilai wajar juga harus diungkapkan. Nilai wajar instrumen keuangan didefinisikan sebagai "jumlah di mana instrumen dapat ditukar dalam transaksi yang ada antara pihak- pihak yang berkepentingan, selain dalam penjualan paksa atau penjualan saat likuidasi." Harga pasar merupakan sebuah bukti terbaik dari nilai wajar.

Persyaratan-persyaratan pengungkapan berlaku untuk instrumen keuangan tanpa memperhatikan apakah instrumen tersebut merupakan aktiva atau kewajiban, atau apakah instrumen tersebut dilaporkan atau tidak di dalam neraca. Berikut ini adalah instrument yang dikecualikan dari persyaratan SFAS No 107. 1. kompensasi yang ditangguhkan seperti pensiun, manfaat pensiun, dan opsi saham karyawan dan rencana pembelian 2. Penghapusan hutang dan aktiva yang dihapuskan dari neraca dalam kasus peniadaan substansi (tidak berlaku lagi) 3. Kontrak asuransi, selain jaminan keuangan dan kontrak investasi 4. Sewa 5. Jaminan kewajiban dan hak 6. Pembelian obligasi tak bersyarat

7. Investasi yang dicatat dengan metode ekuitas 8. Hak minoritas 9. Investasi kepemilikan pada anak perusahaan yang dikonsolidasi 10.Instrumen ekuitas yang diklasifikasikan dalam ekuitas pemegang saham

Selain itu, pengungkapan nilai wajar tidak diharuskan untuk piutang usaha yang tercatat mendekati nilai wajar. SFAS No 133 mengamandemen SFAS No 107 dengan memuat berkaitan catatan dengan kaki mengenai kredit ketentuan-ketentuan yang terkandung pengungkapan SFAS No yang 105,

risiko

dalam

"Pengungkapan Informasi tentang Instrumen Keuangan dengan Risiko Luar Neraca dan Instrumen Keuangan dengan Konsentrasi Risiko Kredit."

Derivatif
Derivatif adalah sebuah transaksi, atau kontrak, yang nilainya tergantung pada nilai aset yang menjadi acuan atau indeks. Dalam suatu transaksi, pihak-pihak yang lemah dalam menanggung risiko akan memindahan sebagian atau seluruh risikonya kepada pihak yang lebih kuat dalam menanggung risiko. Ketika derivatif digunakan, pihak yang mengalihkan risiko dapat (1) mengasumsikan risiko yang berbeda dengan pihak penanggung, (2) membayar uang jasa atau fee kepada pihak yang menanggung risiko (risk taker) untuk mengasumsikan risiko, (3) menggunakan kombinasi dari keduanya. Semua transaksi derivatif berasal dari dua jenis transaksi, yaitu forward dan option.

Derivatif berbasis forward: derivatif yang memberikan kewajiban kepada satu pihak untuk membeli dan pihak lain untuk menjual suatu item tertentu, dengan harga tertentu, dan pada periode tertentu di masa mendatang.

Derivatif berbasis opsi: derivatif yang memberikan hak, tetapi bukan merupakan kewajiban, kepada pemegangnya untuk membeli atau menjual suatu item tertentu, dengan harga tertentu, dan pada periode tertentu di masa mendatang.

Para pelaku dalam transaksi derivatif dapat dikategorikan sebagai dealer dan pengguna akhir. Dealer umumnya adalah bank, atau beberapa broker independen, sedangkan pengguna akhir adalah perusahaan-perusahaan, bank, perusahaan sekuritas, reksadana dan pensiun, unit pemerintah, dan bahkan Bank Dunia.

Tujuan dari pengguna akhir bervariasi. Beberapa pengguna menggunakan derivatif agar risiko operasional keuangan dapat dikendalikan, sedangkan yang lainnya bertujuan untuk untuk mengelola risiko fluktuasi nilai tukar asing. Para spekulator dapat mencari keuntungan dari perbedaan harga secara simultan di pasar luar negeri, atau untuk melindungi nilai dari risiko perubahan nilai mata uang.

Lima jenis derivatif yang mentransfer elemen-elemen risiko dapat diidentifikasi menjadi: forward contract, futures, option, asset swaps, dan hybrids.

Type of Derivatives

Masing-masing derivatif mengandung risiko yang dapat diidentifikasi sebagai risiko pasar, risiko kredit, risiko operasional, risiko hukum, dan risiko sistem.

Risiko pasar adalah risiko kemungkinan kerugian finansial yang disebabkan oleh sebuah pergerakan suku bunga, nilai tukar, harga saham, atau harga komoditas yang tidak menguntungkan.

Risiko kredit adalah risiko kemungkinan kerugian finansial yang disebabkan oleh kegagalan pihak lain dalam memenuhi kewajiban keuangannya.

Risiko

operasional adalah risiko kemungkinan kerugian finansial yang

disebabkan oleh kontrol internal yang tidak memadai, penipuan, kecurangan, atau kesalahan manusia. Risiko hukum adalah risiko kemungkinan kerugian finansial sebagai akibat dari tindakan pengadilan, badan peraturan, atau badan legislatif yang membuat semua atau sebagian dari kontrak derivatif menjadi tidak berlaku. Risiko sistem adalah risiko kemungkinan kerugian finansial yang disebabkan oleh gangguan dalam perusahaan, dalam segmen pasar, atau dalam sistem yang sudah berjalan, yang dapat menyebabkan kesulitan di perusahaan lain, dalam sistem pasar lainnya, atau dalam sistem keuangan secara keseluruhan.

FASB pertama kali membahas pertanyaan derivatif dalam SFAS No 105 dan menetapkan sekuritas tersebut di bawah kategori instrumen keuangan. Kategori ini tidak hanya mencakup aset dan kewajiban tradisional seperti wesel tagih dan hutang obligasi, tetapi juga instrumen keuangan yang inovatif seperti forward contract, futures, option, dan assets swaps. Pengungkapan nilai wajar dari instrumen keuangan (baik diakui atau tidak) kemudian diberlakukan oleh SFAS No 107 ketika instrument tersebut dapat diestimasi nilai wajarnya. Akhirnya, dalam SFAS No 119, "Disclosures about Derivative Financial Instruments and Fair Values of Financial Instruments," perusahaan-perusahaan diharuskan untuk mengungkapkan

informasi

mengenai

instrumen atas

keuangan

derivatif

dan

mengubah

metode tersebut.

pengungkapan

informasi

Pada tahun 1998, FASB menerbitkan SFAS No 133, "Accounting for Derivative Instruments and Hedging Activities." Pernyataan ini menetapkan standar akuntansi dan pelaporan untuk instrumen keuangan derivatif dan instrumen keuangan serupa. Pernyataan ini mengharuskan entitas untuk mengakui semua derivatif sebagai aktiva atau kewajiban dalam laporan posisi keuangan, yang diukur berdasarkan nilai wajar. Jika kondisi tertentu terpenuhi, derivatif mungkin secara khusus dijadikan sebagai (a) suatu lindung nilai terhadap risiko perubahan dalam pengakuan nilai wajar aktiva atau kewajiban, atau perjanjian perusahaan, (b) suatu lindung nilai terhadap risiko variabel arus kas atas perkiraan transaksi, atau (c) suatu lindung nilai terhadap risiko mata uang asing atas investasi bersih pada kegiatan operasi luar negeri.

1.

Untuk derivatif yang dijadikan sebagai lindung nilai terhadap risiko

perubahan dalam pengakuan nilai wajar aktiva atau kewajiban, atau perjanjian perusahaan (disebut sebagai lindung nilai atas nilai wajar), keuntungan atau kerugian diakui dalam pendapatan pada periode perubahan bersamaan dengan kompensasi keuntungan atau kerugian atas item yang dilindungi nilainya.

2.

Untuk derivatif yang dijadikan sebagai lindung nilai terhadap risiko

variable arus kas atas perkiraan transaksi (disebut sebagai lindung nilai arus kas), keuntungan atau kerugian yang terjadi dilaporkan sebagai komponen dari

pendapatan

komprehensif

lain

(di

luar

pendapatan)

dan

diakui

dalam

pendapatan pada tanggal yang diproyeksikan atas perkiraan transaksi tersebut.

3.

Untuk derivatif yang dijadikan sebagai lindung nilai terhadap risiko mata

uang asing atas investasi bersih pada kegiatan operasi luar negeri, sebagian perubahan dalam nilai wajar yang setara dengan keuntungan atau kerugian transaksi mata uang asing dilaporkan dalam pendapatan komprehensif lain (di luar pendapatan) sebagai bagian dari penjabaran laporan keuangan secara kumulatif, setiap sisa perubahan dalam nilai wajar diakui dalam pendapatan.

4. atau

Untuk derivatif yang tidak dijadikan sebagai lindung nilai, keuntungan kerugian diakui dalam pendapatan pada periode perubahan.

Selain FASB, SEC juga membahas masalah akuntansi untuk derivatif dalam peraturan persyaratan pengungkapan yang baru dalam amandemen Peraturan S-X. Peraturan ini mengharuskan pengungkapan informasi secara kualitatif dan

kuantitatif tentang risiko pasar oleh semua perusahaan yang terdaftar di SEC untuk periode tahunan yang berakhir setelah tanggal 15 Juni 1998. Risiko pasar didefinisikan sebagai risiko kerugian yang timbul dalam tingkat dan harga pasar sebagai akibat dari perubahan suku bunga, nilai tukar, harga komoditas, dan harga ekuitas yang tidak menguntungkan. Pengungkapan harus dirancang agar dapat memberikan informasi masa depan bagi investor mengenai eksposur perusahaan terhadap risiko pasar, seperti risiko yang berhubungan dengan perubahan suku bunga, nilai mata uang asing, harga komoditas, dan harga saham. Ini merupakan antisipasi bahwa informasi yang diberikan akan mengindikasikan risiko pasar yang

akan dihadapi perusahaan dan bagaimana manajemen perusahaan melihat dan mengelola risiko pasar tersebut.

Restrukturisasi

Hutang

Bermasalah

Perusahaan kadang-kadang mengalami kesulitan membayar kewajiban jangka panjang mereka. Kesulitan-kesulitan ini seringkali menghasilkan perjanjian antara debitur dan kreditur yang memungkinkan ini disebut debitur dengan menghindari restrukturisasi diri dari

kebangkrutan. bermasalah.

Perjanjian

jenis

hutang

Menurut SFAS No 15, "Accounting by Debtors and Creditors for Troubled Debt Resttucturing", restrukturisasi hutang bermasalah terjadi ketika "kreditur, karena alasan ekonomi atau hukum yang berhubungan dengan kesulitan keuangan debitur, memberikan kelonggaran kepada debitur karena tidak memiliki pertimbangan lain." Restrukturisasi hutang bermasalah dapat mencakup, tetapi tidak terbatas pada, satu atau kombinasi dari berikut ini:

1. Modifikasi syarat-syarat hutang sebagai salah satu atau kombinasi dari: a. Penurunan suku bunga yang ditetapkan untuk sisa umur utang. b. Perpanjangan tanggal jatuh tempo atau tanggal ditetapkannya tingkat bunga yang lebih rendah dari tingkat pasar saat ini untuk utang baru dengan risiko yang sama. c. Penurunan nilai nominal atau jumlah utang jatuh tempo sebagaimana tercantum dalam instrumen atau perjanjian lainnya.

d. Potongan / pengurangan bunga yang masih harus dibayar. 2. Penerbitan atau pemberian suatu kepemilikan saham kepada kreditur oleh debitur untuk membayar penuh atau sebagian utang kecuali kepemilikan saham diberikan sesuai dengan syarat yang ada untuk mengubah utang menjadi suatu kepemilikan ekuitas. 3. Transfer dari debitur ke kreditur atas piutang dari pihak ketiga, real estate, atau aset lainnya untuk membayar penuh atau sebagian utang.

Modifikasi Term Sebuah perjanjian restrukturisasi yang melibatkan modifikasi istilah dicatat secara prospektif dan hasil dalam salah satu dari dua situasi berikut: 1. Jumlah pokok dan bunga yang akan dibayar lebih besar dari nilai tercatat saat kewajiban, sehingga debitur tidak mengakui keuntungan. 2. Jumlah pokok dan bunga yang akan dibayar adalah kurang dari nilai tercatat kewajiban lancar, sehingga debitur mengakui mendapatkan. Dalam hal ini ditentukan bahwa Jumlah yang dibayar melebihi nilai tercatat hutang pada tanggal perjanjian restrukturisasi, ada penyesuaian dibuat untuk nilai tercatat asli kewajiban. Namun, perlu untuk menentukan tingkat bunga efektif yang dapat menyamakan jumlah pembayaran di masa depan dengan nilai tercatat saat ini. Tingkat ini kemudian diterapkan pada nilai tercatat kewajiban setiap tahun untuk menentukan jumlah beban bunga.

Perbedaan antara nilai tercatat beban bunga dan setiap pembayaran tunai mengurangi nilai tercatat kewajiban. Jika pembayaran tunai total masa depan ditentukan kurang dari nilai tercatat kewajiban, jumlah kewajiban berkurang dengan jumlah total uang tunai yang akan dibayar. Debitur kemudian mengakui keuntungan luar biasa untuk jumlah penyesuaian ini , dan semua pembayaran selanjutnya dicatat sebagai pengurangan jumlah kewajiban. Artinya, utang diperlakukan seolaholah ada tingkat suku bunga. Berdasarkan PSAK No 15, kreditur diperlakukan restrukturisasi hutang bermasalah yang mengakibatkan modifikasi jangka cara yang sama kepada debitur. Tidak ada kerugian diakui pada saat jumlah piutang dari debitur di bawah pengaturan dimodifikasi lebih besar dari nilai tercatat saat piutang tersebut. Demikian pula, ketika arus kas masa depan dengan syarat total diubah kurang dari nilai tercatat saat ini, kerugian diakui untuk perbedaan tersebut. Praktek ini dikritik karena kreditur akan mengakui rugi hanya pada saat arus kas masa depan total kurang dari nilai tercatat saat pinjaman. Kerugian

yang diakui akan menghasilkan nilai tercatat pinjaman gangguan sama dengan arus kas masa depan total. Akibatnya, tidak ada pendapatan bunga bisa dicatat selama jangka waktu perjanjian baru. Dalam kasus di mana tidak ada kerugian diakui, jumlah pinjaman saat ini diduga menjadi jumlah yang dipinjam, memaksa tingkat suku bunga pada pengaturan pinjaman

dimodifikasi menjadi tidak realistis rendah. Hasil ini tidak konsisten dengan persyaratan pelaporan lainnya untuk instrumen keuangan sejenis. Awalnya, instrumen keuangan yang direstrukturisasi tidak dicatat sebesar nilai wajarnya, juga tidak bunga yang dihitung menggunakan kurs pasar tersirat dalam perjanjian pinjaman. Sebagai bagian dari proyek instrumen keuangan, FASB membahas masalah apakah kreditur harus mengukur penurunan nilai kredit berdasarkan nilai sekarang dari arus kas masa depan yang terkait dengan pinjaman. Dewan menyimpulkan bahwa tidak pantas untuk terus mengabaikan nilai waktu uang dan menerbitkan PSAK No 114, "Akuntansi oleh Kreditur untuk Penurunan Pinjaman." PSAK No 114 mengharuskan kreditor untuk mengukur piutang gangguan, termasuk hasil yang dari restrukturisasi hutang bermasalah dengan

modifikasi persyaratan kredit, sebesar nilai sekarang dari arus kas masa depan yang diharapkan didiskontokan pada tingkat bunga efektif's pinjaman. Sebuah kerugian kredit macet diakui dan penyisihan telah dikreditkan atas perbedaan antara pengukuran direstrukturisasi dan nilai tercatat saat pinjaman. Tingkat bunga efektif digunakan untuk diskon arus kas masa

depan yang diharapkan harus tingkat bunga efektif pada perjanjian kontrak yang asli dan bukan dari tarif yang ditentukan dalam perjanjian

restrukturisasi.

Alasan untuk penggunaan suku bunga kredit yang asli

adalah

bahwa

restrukturisasi

merupakan

meneruskan

upaya

untuk

memulihkan kredit asli. Sebagai upaya praktis, kreditur mungkin alternatif nilai piutang gangguan berdasarkan harga pasar yang diamati pinjaman. mungkin dinilai pada nilai wajar agunan. Pendapatan selama umur pinjaman direstrukturisasi dapat diakui dalam salah satu dari dua cara: 1. Perubahan nilai sekarang dari arus kas masa depan yang diharapkan yang disebabkan oleh berlalunya waktu dilaporkan sebagai pendapatan bunga, sedangkan perubahan yang timbul dari perubahan ekspektasi tentang arus kas masa depan yang dilaporkan sebagai beban utang macet. 2. Semua perubahan nilai sekarang dari arus kas masa depan diharapkan diperlakukan sebagai penyesuaian terhadap beban utang yang buruk. PSAK No 114 mungkin dikritik karena persyaratannya tidak sesuai dengan maksud pernyataan ini sebelumnya. Dihasilkan hutang yang direstrukturisasi akan pengukuran tidak menyediakan wajar nilai restrukturisasi pinjaman karena bunga tingkat diskonto yang digunakan untuk masa depan arus masuk kas yang diharapkan didasarkan pada kondisi, dan karena peminjam tidak mampu untuk menghormati perjanjian hutang asli, itu tidak Jika piutang dijamin,

mencerminkan kondisi saat ini atau risiko yang melekat di arus kas direstrukturisasi.

Kepuasan Utang melalui sebuah Aset atau Equity Swap Ketika bursa debitur aset atau kepemilikan saham di kepuasan kewajiban, transfer dicatat berdasarkan nilai pasar wajar aktiva atau kepemilikan saham dialihkan. Nilai pasar ditentukan pada saat pertukaran dengan nilai pasar wajar aktiva atau ekuitas dipertukarkan kecuali nilai pasar wajar utang puas lebih jelas terlihat. Keuntungan yang luar biasa diakui kelebihan kewajiban yang dicatat atas wajar nilai pasar aset yang ditransfer. kreditur mencatat hutang kerugian buruk yang sesuai (bukan merupakan pos luar biasa). Dalam kasus pertukaran aset, juga perlu untuk merekam keuntungan atau kerugian atas disposisi aset sampai sebatas perbedaan antara nilai wajar pasar yang tercatat aktiva dan nilainya. Ekuitas untuk swap hutang dapat meningkatkan pendapatan dengan melaporkan jumlah keuntungan luar biasa atas restrukturisasi hutang dan beban bunga berkurang. Selain itu, utang tersebut akan dihapus dari neraca dan digantikan oleh ekuitas, sehingga meningkatkan posisi keuangan perusahaan dan rasio hutang terhadap ekuitas. Analisis Keuangan Hutang Jangka Panjang Analisis keuangan perusahaan jangka panjang utang meliputi penilaian likuiditas, solvabilitas, dan fleksibilitas keuangan, serta risiko yang terkait dengan penggunaan leverage keuangan. Likuiditas mengacu pada

perusahaan, kemampuan untuk menghasilkan kas untuk kebutuhan jangka pendek. Solvabilitas mengacu pada kemampuan perusahaan untuk membayar hutangnya pada saat jatuh tempo. Beberapa rasio dapat digunakan untuk mengevaluasi sebuah solvabilitas perusahaan, termasuk utang jangka panjang terhadap aktiva, rasio cakupan bunga, dan rasio utang cakupan pelayanan. The-hutang jangka panjang terhadap aktiva memberikan

informasi tentang sejauh mana sebuah perusahaan adalah menggunakan leverage keuangan dan resiko solvabilitas yang menyertainya. Sebuah nilai rasio yang tinggi menunjukkan bahwa suatu perusahaan menggunakan banyak leverage keuangan untuk mengakuisisi aset dan, akibatnya , memiliki risiko lebih tinggi insolvensi dari perusahaan dengan nilai rasio terendah. jangka panjang utang terhadap aset dihitung: Hutang jangka panjang Jumlah Aktiva Perhitungan-hutang jangka panjang terhadap aktiva diilustrasikan untuk Hershey dan Tootsie Roll untuk tahun 2004 mereka 2005 dan tahun fiskal. laporan keuangan mereka tercantum dalam Bab 5 dan 6. jangka panjang Hershey hutang terhadap aktiva dihitung (000 dihilangkan): Hutang Jangka Panjang untuk Rasio Aktiva

Hershey $ 942.755 + 412.929 + 2005 400,253 = $ 4.295.236 $ 383.379 + 319.230 + 2004 690,602 $ 3.812.784 = 36,50%

Tootsie Roll 32.088 $ 10.783 40,90% 7500 +32,246 = 10,20%

$ 813.696 $ 85.667 + 25.995 + 10,075 +30,020 $ 811.753 +7,500 = 19,60%

Analisis ini menunjukkan bahwa Hershey membuat luas lebih banyak menggunakan leverage keuangan dan sebagai hasilnya, risiko kebangkrutan relatif lebih besar dari Tootsie Roll's. Namun, analisis lebih lanjut diperlukan. Bila menggunakan utang jangka panjang terhadap aset, penyesuaian harus dilakukan untuk kedua pembilang dan penyebut dalam rangka untuk memperoleh hasil yang lebih dapat diandalkan. Cakupan bunga (atau bunga yang diperoleh kali) rasio memberikan informasi tentang kemampuan perusahaan untuk menghasilkan pendapatan yang berkelanjutan yang memadai untuk membayar kewajiban bunganya. Rasio ini dihitung: Laba operasi sebelum bunga dan pajak

Beban bunga Cakupan bunga rasio Hershey dan Tootsie Roll untuk tahun 2005 dan 2004 dihitung (000 dihilangkan) sebagai berikut: Rasio Cakupan Bunga Hershey 2005 $ 860.911 = 9.6 $ 89.485 2004 $ 881.707 = 14.6 $ 67,92 Tootsie Roll $ 108,744 2537 = 43.9 $ 2.537 $ 89,904 + 912 = 99.6 $ 912

Rasio ini menunjukkan bahwa kedua perusahaan tersebut menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupi pembayaran hutang layanan mereka, walaupun Roll's rasio Tootsie secara signifikan lebih tinggi. Analisis ini juga harus diperluas untuk menyertakan jumlah pembayaran utang bagi perusahaan mengharapkan untuk pensiun sebagian jangka panjang utang selama periode tahunan berikutnya. Sebuah kritik terhadap coverage ratio bunga adalah bahwa hal itu tidak mempertimbangkan pembayaran bunga pengaruh arus kas arus dari kas laba keluar, bersih. dan Artinya, rasio tidak

membutuhkan

mempertimbangkan efek kas dari kemampuan menghasilkan pendapatan perusahaan. Layanan rasio hutang cakupan upaya untuk mengatasi kritik ini dengan menggunakan arus kas dari aktivitas operasi di pembilang dan dihitung: Arus kas dari aktivitas operasi sebelum bunga dan pajak Beban bunga Rasio layanan utang untuk Hershey dan Tootsie Roll untuk tahun 2005 dan 2004 dihitung (000 dihilangkan): Layanan Rasio Utang Hershey 2005 $ 461.762 + 88.077 + 206,704 $ 87.985 = 8.6 Tootsie Roll $ 82.524 + 2.537 + 26,947 $ 2.537 $ 76,228 + 879 + 17.2 28,966 $ 879 = 120.7 = 44.1

2004 $ 787.754 + 66.151 + 289,607 $ 66.533 =

Pemeriksaan hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa baik Hershey dan Tootsie Roll kemampuan untuk menghasilkan kas yang cukup untuk membayar hutang mereka menurun jauh selama tahun 2005. Selain itu,

layanan posisi Hershey utang itu harus diamati secara teliti untuk menentukan apakah itu terus menurun.