Anda di halaman 1dari 22

HAZOP, HAZID vs JSA Sketska Naratama Dear rekan-rekan Migas Di project yang sedang dan akan berjalan, saya

butuh orang utk pekerjaan Hazop, Hazid. Pekerjaan per kontrak dalam project (Becaan). Mohon reply ke email saya pribadi jika tertarik dan memang punya capability perihal ini. PS project diluar indonesia utk membangun plant kecil2an onshore. rio fatriansyah Dear sir Saya pada saat ini bekerja sebagai Safety engineer di perusahaan asing sepengetahuan saya HAZOP and HAZID adalah salah satu JSA untuk mengetahui potensi bahaya pada pekerjaan tersebut serta mencari pengendalian yang sesuai intuk HAZARD tersebut sehingga outputnya adalah ZERO accident ( Fatalities and Lost Time Injuries ). Alvin Alfiyansyah Waduuh Mas Rio, JSA dan HAZOP or HAZID adalah tools yang penggunaanya berbeda walaupun tujuannya adalah analisa bahaya. JSA cocok digunakan untuk task or job-driven activities. Sedang HAZOP or HAZID adalah design or operation instalation-driven activities. Jadi tujuan penggunaannya berbeda. Diskusi hal ini akan cukup panjang dan perlu cukup waktu kalo diperlukan. Coba anda lihat disini Mas sebagai salah satu contohnya buat HAZOP HAZID : http://www.p-i-i-i.com/_downloads/Selection%20of%20Hazard %20Evaluation%20Techniques.pdf rio fatriansyah rio_aman@yahoo.co.id

OK mas Thanks mungkin kedepannya saya bisa sharing dengan anda masalah HAZOP and HAZID karena pada saat ini saya hanya menggunakan HIRAC rio fatriansyah rio_aman@yahoo.co.id Mas alvin mungkin maksud saya JSA ada berbagai macam diantaranya adalah HIRAC,HAZOP,HAZID yang mana ini adalah suatu metode untuk mengidentifikasi sumber bahaya pada prinsipnya memiliki kesamaan akan tetapi berbeda pada bidang pekerjaannya... contoh HAZOP lebih tepatnya digunakan untuk bidang pekerjaan yang berhubungan dengan oil and gas Terima kasih Roslinormansyah roslinormansyah_35@yahoo.co.id Mas Rio, Saya coba bantu dengan penjelasan sederhana dibawah ini agar pemahaman anda terhadap masing-masing tool risk manajemen semakin jelas. Dalam dunia K3, ada 2 target besar : 1. Control Hazard of Behaviour (biasa dikenal dengan Unsafe Act atau At Risk Behaviour) 2. Control Hazard of Condition (biasa dikenal dengan Unsafe Condition atau At Risk Condition). Untuk yang pertama, secara umum, dipergunakan tool risk manajemen yang dikenal dengan Job Safety Analysis (JSA) atau Task Risk Analysis (TRA) atau Task Safety Analysis (TSA) dll. Banyak sekali istilahnya, namun tujuannya cuma 1 yaitu : mengendalikan potensi bahaya dari perilaku. Untuk yang kedua, secara umum, dipergunakan tool risk manajemen yang dikenal adalah Hazard identification Risk Analysis (HIRA), Sedang bagaimana menjalankan HIRA itu bisa dengan metode HAZOPs, WhatIf, Cause-Consequence Effect, FMEA (meski ini lebih banyak dipakai untuk kepentingan reliabilitas) dll. Semua proses di atas pasti melibatkan metode identifikasi potensi bahaya yang dikenal dengan HAZID.

Untuk lebih menambah wawasan anda, mungkin yang saya referensikan anda untuk membaca standar-standar seperti dibawah ini : 1. HAZOPs Guide : BS-61882 2. ISO-17776 3. AS/NZ 4306 Semoga bisa membantu anda memahami kapan dan bagaimana tool risk management digunakan. Ali Chandra Mas Rio,saya setuju apa yang dikatakan oleh sahabat kita Bapak Alvin, tolong di bedakan antara HAZOP and JSA karena kalau kita combine hasilnya pasti membingungkan anda, HAZOP itu biasa dipakai untuk overall analysa terhadap new project, jadi kalau kita mau mulai project baiknya kita lakukan HAZOP, jadi saya sarankan anda baca lagi HSE Manual anda dengan baik, Rio Fatriansyah Thanks sdr. ali chandra maslnya saya pernah diskusi dengan orang saipem project mengenai hal ini dan hasilnya bahwasanya atau lebih tepatnya ktiga bahasan tersebut fungsinya sama akan tetapi terkadang penggunannya berbeda ini dilihat dari spec projectnya. apakah anda setuju dengan hal ini. mohon kawan kawan pencerahannya saya sangat membutuhkan.

Akh. Munawir Lah orang SAIPEM siapa/yang mana mas? Antara HAZID, HAZOP dgn JSA itu memang beda peruntukannya. Penjelasannya kurang lebih sudah dipaparkan oleh rekan-rekan sebelumnya. Eko Arif eko@styrindo.co.id

Kalau anda pernah lihat Form JSA, Hazid ataupun Report Hazop pasti langsung akan mengerti secara mendalam perbedaanya maupun penggunaanya. Nanti say kasih lihat Form tersebut lewat Japri.. Sketska Naratama Sepengetahuan saya, Hazip lebih ke indetifikasi (Relatif pada saat engineering design), Hazop lebih ke operasi (Pada saat plant ber operasi) dan JSA lebih ke analisa safety pd saat kita melakukan pekerjaan di plant / lapangan. CMIIW Btw apakah secara legal pekerjaan ini harus independen dari si EPC contractor? Logika saya mengatakan iya dan hampir di banyak project doc yang saya baca "iya". Hanya saja minim implementasi, sehingga pd saat celaka EPC contractor akan dipersalahkan :-( (Selama masih dalam masa garansi) PS Ini debat gajahbaru ya? Dirman Artib dir.art@gmail.com Saya cuma sumbang saran, Kepada rekan-rekan yang belum pernah mengalami atau belum ada experience langsung atau hanya punya pengetahuan dari membaca atau menerima knowledge di dalam kelas saja untuk ke 3 approaches risk assessment tersebut, agar tidak memberikan advise. Karena nanti tambah membingungkan para rekan yang baru melangkah ke area ini. Crootth Crootth yangfana_adalahwaktu@yahoo.com Hehehehe... Saran yang mengena tepat di sasaran... Meski menurut saya pribadi, itu sah sah saja atas nama ilmu pengetahuan (kata rasul saya, yang sedikit kita ketahui pun harus kita bagi) namun tetap ada yang perlu dimatangkan dalam pekerjaan riil di lapangan.. Sebaliknya, yang ini patut disayangkan, banyak diantara para praktisi di lapangan - saya noticed di Total saja lah daripada bawa bawa perusahaan lain terlihat kurang/enggan/belum membagi

pengalamannya. Di departemen saya sendiri (Technological Risk Assessment) ada praktisi yang pekerjaan sehari harinya memimpin HAZOP/JRA/HAZID (bila di hitung mungkin lebih dari seratus kali mimpin HAZOP), bahkan belum bergabung milis ini. Insyaallah saya akan bujuk dia supaya mau berbagi ilmunya Beberapa waktu yang lalau Cak Roslinormansyah berbagi Taksonomi pengajaran Bloom (yang dipopulerkan sejak 1950an), diantara taksonomy bloom tersebut berikut adalah urutan pengetahuan dari yang paling mendasar hingga yang paling transenden: 1. Knowledge (biasa diperoleh dari pendidikan D1-4/S1/training) 2. Understand (kemampuan ini akan terbantu dengan pengalaman lapangan) 3. Application (hanya dengan pengalaman langsung praktek (di lapangan) yang membantu ini, training an-sich tidak akan bisa memberi nilai tambah di sini) 4. Analysis (bisa "moncer" jika yang dianalisa adalah pengalaman langsung di lapangan) 5. Evaluasi (juga membutuhkan praktek langsung dengan pengalaman lapangan) 6. Sintesa (yang ini adalah tahap tertinggi perolehan ilmu, yakni menciptakan sesuatu, yang membutuhkan pengalaman praktek mumpuni dan pengalaman pengetahuan teori yang juga mumpuni, biasa juga diperoleh ketika sedang mengambil kuliah PhD/Doctoral) Dari apa yang dikemukakan Bloom, training saja hanya maksimal membantu 2 tahap pertama dari taksonomi pengetahuan. 4 phase sisanya musti dilengkapi dengan pengalaman lapangan. Karenanya selaras dnegan apa yang dikemukakan mas Dirman, yang baru lulus training atau baru selesai baca buku saja belumlah dianggap "mumpuni" secara keilmuan.. Eddy Bachri Kang Dirman, Adalah tugas para seniornya untuk memberikan arahan, petunjuk, bimbingan sehingga pengetahuan yang dimiliki akan menjadi semakin sempurna. World is not perfect. Sesuatu yang diyakini kebenaran barangkali suatu saat berubah, tentunya dengan menjadi lebih baik. Pengalamanlah yang mengajarkan kita apa yang terbaik tersebut. Inilah gunanya mail list ini untuk saling berbagi. Saling asah, saling asih, saling asuh namun dengan niat untuk menjadi lebih baik. Maaf kalo ngak berkenan kang Dirman,

Sketska Naratama Mohon maaf jika baru dapat reply, Trims atas saran kritik membangun pak Dirman, oleh karena itu saya mohon guidance. Berkenan untuk melengkapi file yang telah di upload ke pak Budhi beberapa hari yang lalu perihal subjek ini? Untuk pak Eddy matur suwun. Dirman Artib dir.art@gmail.com Ha..ha...ha...salam semuanya, Saya harap usulan saya tak dicerna secara negative dan bukan bermaksud kepada personnel personnel tertentu, tetapi usulan ini bersifat general dan tidak terbatas pada subject HAZOP, HAZID dan JSA ini saja, agar jika ada rekan-rekan pemula yang bertanya hal-hal yang basic akan mendapatkan response yang tepat dari sumbersumber ..........ya....katakanlah kompeten begitu. Jadi rekan pemula tidak bingung. Contohnya pada subject ini, ada rekan yang memberikan masukan bahwa JSA dan HAZOP itu sama, nah ini kan guawaaat tenan kalau ditangkap mentah-mentah oleh pemula, lalu ada lagi yang menimpali bahwa kalau HAZOP itu gunanya ini, dan JSA dipakai fase itu............dan lagi-lagi kurang klop. Nah si pemula, kan tambah bingung........ Btw. Kalau pada level subject yang basic, kita kan bukan berdiskusi yang melibatkan proses yang komplek dan bermuara kepada analisa, jadi dengan memberikan foto, gambar, contoh dokumen spt. sumbangan teman yang diupload oleh Pak Admin kayaknya lebih efektif. Jadi kalau di masa yang akan datang ada yang menanyakan Siapa Itu "Marlyn Monroe"....ya tinggal upload photonya yang paling merepresentasikan personal nya, dan sedikit tentang biographynya. Tapi kalau ada yang misalnya menanyakan, apakah betul Ms. Monroe pernah dijadikan informan CIA....dan pernah punya skandal dgn JFK..............nah ini baru boleh berdebat, berargumen dan mengemukakan hasil analisa masing-masing berdasarkan referensi masing-masing :) :) Ya lebih kurang kayak gitu lho mas... Mumpung masih January, selamat tahun baru 2010 yang kata Mas Rovicky....krisis mulai menyentuh oil company, dan mulai terasa pada level Supporting Service company nya.....termasuk kontraktor desain...... (ini yang lebih guawaaaat, ...dapur ora ngebul...) Ilham Hasan ilham.1970@yahoo.com

Hanya menambahkan. Bila ada yang ingin "mendalami" untuk menjelaskan, disilahkan. Mungkin dari IIPS Pak Darmawan Ahmad Muhorrar (Pa DAM), sekalian mengoreksi bila ada keliru. Metode2 Analisa Methodologies): Bahaya Proses (Process Hazards Analysis

Hazard and Opearability Study (HAZOP) What-if Analysis Preliminary Hazards Analysis Checklist Analysis Inherent Safety Analysis Critical Task Analysis (CTA) Human Factor Review Pre-Startup Safety Review Failure Mode and Effects Analysis (FMEA)

Adapun tentang metode2 kajian dan analisa resiko (Risk Analysis and Assessment Methodologies): Fault Tree Analysis Event Tree Analysis Release and Dispersion Analysis Consequences Analysis Qualitative, scenario-based risk assessments Quantitative risk assessments (QRA) Root-Cause Incident Investigation Techniques

Dan masih banyak metode2 lainnya. Dirman Artib dir.art@gmail.com Wah jadi "kepengen" ingin tahu juga nih alam pikiran Pak Ilham tentang cara pembahagian 2 area : 1. Metode2 Analisa Methodologies) Bahaya Proses (Process Hazards Analysis

2.Metode2 kajian dan analisa resiko (Risk Analysis and Assessment Methodologies): Saya coba-coba menginterpretasikan bahwa yang no. 1 hanyalah sebatas identifikasi dan analisa bahaya (hazard identification and

hazard analysis), tapi...rasa-rasanya dari contekan hidup dalam HAZOP selama ini, ternyata HAZOP ada aktifitas analisa resiko juga yang bikin dia masuk ke area no. 2. Daripada bingung, lebih baik kita dengar penjelasan dari Pak Ilham langsung, sila...sila...pak. Mana tahu ada rahasia-rahasia tersembunyi yang belum saya ketahui, maklum ilmu itu laksana lautan, bukan hanya laut bunaken tempat Cak Dam selalu menyelam :) Ilham Hasan ilham.1970@yahoo.com Pak Dirman, Yang penting sy bukan terperiksa/saksi Century ya Pak, he he he. Kalau bicara soal Hazop, Hazid, JSA sy anggap diri sy ini masih sangat kurang Pak Dirman. Pak Dirman pasti lebih pengalaman deh. Selain itu sy yakin Bpk punya banyak rujukan dan bahkan selain rujukan yg banyak, jg sudah melakukan tentunya. Tapi sekalian sy mau protes nih (he he he) walau sy bukan anggota Pansus Century,...agaknya bapak bisa melemahkan semangat bagi "pemula" loch yang ingin belajar HAZOP, HAZID dan JSA. Kenapa sy katakan, coba sy kutip Email bp Dirman sebelumnya seprti di bawah ini (walaupun saran): "Saya cuma sumbang saran, Kepada rekan-rekan yang belum pernah mengalami atau belum ada experience langsung atau hanya punya pengetahuan dari membaca atau menerima knowledge di dalam kelas saja untuk ke 3 approaches risk assessment tersebut, agar tidak memberikan advise. Karena nanti tambah membingungkan para rekan yang baru melangkah ke area ini" Akhirnya para mahasiswa yang mungkin otaknya masih fresh, banyak belajar literatur terbaru, bisa saja mundur menjauh untuk memberi komentar. Satu hal yang ingin kami sampaikan, metode2 itu adalah buatan luar "Produk Luar" yang dianut/diacuh banyak pihak sesuai kebutuhannya. Apakah bersumber dari Amerika atau Eropa atau dari beberapa sumber negara maju lainnya. Jadi menurut hemat kami, adanya perbedaan2 kadang2 menjadikan banyaknya ragam "penjelasan" dan atau "pembagian cara" dalam setiap metodologinya itu sendiri.

Di Indonesia bagaimana? apakah sudah ada standar baku terkait dengan itu semua (HAZOP, HAZID dan JSA) yang sudah diatur secara nasional? Yang sudah jadi SNI? Kalau sudah ada, berarti sudah sangat bagus. Tahun 2003 lalu di milis ini jg sudah sering membahas HAZOP, dari teman2 agaknya menyimpulkan bahwa metode ini selain harus dipahami betul konsepnya dan cara menggunakannya dan terutama orang2 yang terlibat di dalam (team) dan terpenting memahami betul apa yang mau di HAZOP, paham proses2 dan atau design apa yang mau di HAZOP (ini pesan2 tulisan di milis yang sy masih ingat dari Mas DAM dan Cahyo Hardo). Dirman Artib dir.art@gmail.com Gud...gud...gud.. Ini yang namanya komunikasi 2 arah. Arah pertama dari teks teori ke arah pengalaman praktis. Arah ke2 dari pengalaman praktis ke arah teks teori yang mungkin saat ini beredar di perguruan tinggi, institusi training, dan organisasi akademis lain nya. Saya hanya akan memberikan informasi berdasarkan pengalaman praktis, benar atau salah tidak akan menjadi tujuan subject diskusi ini. Pengalaman praktis ini tentunya berasal dari sistem manajemen organisasi -organisasi yang terlibat dalam project praktis tersebut, terutama sang "boss" yaitu oil company. Kami-kami yang bekerja hanya menjadi bahagian kecil dari penerapan sistem tersebut hanyalah komplimentari (pelengkap utama). Saat ini, saya menjadi observer terhadap sebuah project laut dalam yang sekarang tahapnya adalah "Basic Engineering Studies-BES ". BES hanyalah sebuah istilah untuk menggantikan istilah umum, yaitu intermediasi antara fase akhir dari "Conceptul Engineering" dan fase awal dari "FEED". Faktanya, sudah ada beberapa dokumen-dokumen kunci yang dihasilkan pada tahap "Conceptual Engineering", tetapi masih banyak yang harus dibuat pada tahap fase BES ini.HAZID report, adalah salah satu yang sudah dibuat pada tahap Concept, tetapi fakta mengatakan bahwa HAZID dilakukan lagi saat awal-awal project untuk meninjau kembali HAZID report tersebut, dan menambahkan hazardhazard baru, maupun memperbaharui hazard maupun mitigasi terdefinisi dari face Concept. Benar atau salah, yang jelas ini sudah terjadi dan sudah menjadi fakta (fact of event). "Yang menjadi boss adalah JV antara Petronas dan Shell. Sistem Manajemen Supermajor Shell lebih banyak menjadi acuan, yaitu DEP, DES, dan dilengkapi dgn standard Petronas yaitu PTS-PTS, jadi

pendekatan seperti ini sudah menjadi standard bagi 2 sponsor F1 racing tersebut. Jelas, bahwa saat awal eksekusi project akan dilakukan, kita sebagai kontraktor yang akan menjadi eksekutor akan menetapkan rencana-rencana eksekusi yang diberi istilah "Project Execution Plan", di mana pendekatan seperti ini akan ditinjau, disetujui dan ditetapkan sebagai salah satu proses dalam eksekusi project agar kita comply kepada standard "sang boss'. Akhirnya pada hari W/shop HAZID tersebut, DEP dari tuan Shell yang mengandung list dari potensi-potensi hazard serta aspek-aspek hazard yang akan didiskusikan dijadikan acuan. Ini adalah fakta berikutnya. Fakta yang lain adalah, bahwa pada saat fase Concept, Plant Layout belum ada, jadi jika ada rekan-rekan yang membatasi bahwa HAZID untuk mengassess Layout dan General Arrangement maka dalam hal ini fakta mengatakan...... tidak. Sekali lagi bahwa, benar atau salah bukan menjadi tujuan diskusi, tetapi fakta adalah sesuatu yang tercatat dan menggambarkan "best practices" dari 2 organisasi. Persoalan melemahkan semangat para pemula dalam belajar HAZOP, HAZID dan JSA, saya yakin dari dulu Pemoeda Indonesia selalu maju terus pantang tak maju-maju, mereka adalah manusia tak mengenal istilah "Lemah Semangat", Soeharto sekalipun tak mampu melemahkan semagat mereka, apatah lagi hanya seorang TKI seperti d'Art. Ilham Hasan ilham.1970@yahoo.com Bp Dirman Artib, Makasih banyak Pak Dirman, sy kira ada tambahan dari Bpk yg sangat baik. Meskipun demikian, sy tetap menyarankan (ditrima, baik tidak ditrima ga pa pa juga, itu aja kok repot ya Pak, he he), agar komunitas diskusi ini lebih terbangkitkan dengan semangat untuk membagi ilmu pengetahuan dan teknologi yg masing2 anggota miliki, sebaiknya jgn ada ungkapan "membatasi" orang untuk mengungkapkan apa isi kepalanya, biarkan. Bila ada yang kurang, nah disitulah diluruskan teman2 yang sudah pengalaman, yang jadi moderator bidang2 keahlian dalam milis. Seklian sy juga minta maaf, siapa tau bp merasa sy "batasi" he he. Tidak akan, masa mau batasi senior. Salam dari Tanah Bugis salam jabat erat selalu, Sengkang Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Nanti sy belajar HAZOB, HAZID dan JSA lebih

banyak dari Pak Dirman Artib. Siapa tau LNG Plant di tempat kami jadi dibangun, bisa belajar lagi. I Made Sudarta I Made Sudarta made.sudarta1964@yahoo.com Di atas langit masih ada langit itu pepatah yang saya dengar sejak saya mengerti arti pepatah, dan seperti kata pak Dirman yang muda belum tentu kalah dalam hal teori daripada mereka yang lebih dulu mendapatkan praktek karena faktor usia, dan juga tidak akan menjadi jaminan bahwa yang lebih tua akan lebih tahu segalanya, so itulah ilmu pengetahuan tidak akan pernah ada habisnya untuk digali dan dikembangkan baik oleh yang tua maupun yang muda. hitler sigalingging hitler_sigalingging@yahoo.co.uk Ya Pak baik sekali nasihat2nya. Btw, bgmn bila disertakan contoh (misal: form) hazop, hazid, jsa. Akh. Munawir amunawir@gmail.com Pak Dirman, Mungkin anda bisa share, "SCOPE" dari HAZID pada project tsb karena jikalau memang si fakta mengatakan bahwa "Layout dan General Arrangement masih belum ada". Pertanyaannya, lalu apa yang di-Assess dalam HAZID W/S tsb atau katakanlah Document Base-nya ? Thank you sebelumnya, Mas Akh. Munawir, Memang benar apa yang dikatakan oleh Pak Dirman sebelumnya bahwa utk beberapa pengembangan lapangan produksi di dasar laut baik itu shallow water atau deepwater, harus dilakukan pada fase awal design dan saat itu lay-out atau equipment general arrangement belum dibuat. Kalau untuk konvensional development (onshore dan over sea) memang 100% betul kalau GA diperlukan terlebih dahulu untuk HAZID...tapi untuk subsea development akan berbeda. Kebetulan, saya pernah terlibat langsung dalam proyek JV yang disebutkan oleh Pak Dirman, in fact..HAZID dan IOA (Initial Operability Analysis) sudah dilakukan pada saat feasibility stuialdy....pada saat MR-1 dimana saat itu teman-teman dari subsurface pun baru memulai untuk melakukan static modelling pada reservoirnya.

Awaluddin Berwanto awaluddin.berwanto@gmail.com Pada pengembangan subsea development, ada juga equipment lay-out atau tepatnya disebut subsea equipment lay-out. Sebelum subsea equipment lay-out dibuat...harus dibuat dulu subsea field architecture yang merupakan high level document yang menjelaskan bagaimana "kira-kira" bentuk konsep yang akan dipakai dalam mengembangkan subsea field, seperti: 1. pemilihan host facility (apakah mau fixed platform, floating atau subsea to beach) 2. Well lay-out 3. pipeline lay-out, dsb 4. Hybrid concept (kombinasi wet tree dg dry tree). Dalam melakukan HAZID ini, HAZID checklist juga dibagi dalam beberapa section (sama seperti pengembangan konvensional), antara lain: Exterbal and environmental hazard, facility hazard, health hazard dan project implementation issue Kalau berbicara dokument yang diperlukan untuk HAZID ini, dapat berupa seabed survey data yang menjelaskan kondisi seabed serta potential hazard yang ada (seperti shallow gas, pock mark, volcano, dsb), dapat juga berupa data-data aktivitas kapal-kapal (baik kapal nelayan, kapal cargo atau kapal-kapal militer) perairan dimana akan dilakukan pengembangan. Dan juga data-data dari pengembangan yang telah dilakukan untuk daerah yang berdekatan atau yang memiliki konsep pengembangan yg sama. Karena untuk pengembangan subsea, terutama untuk laut dalam sering melibatkan penggunaan teknologi baru yg kadang-kadang belum diterapkan oleh banyak operator, seperti subsea boosting, subsea pig launcher dsb..maka applikasi dari teknology baru ini termasuk dalam satu kategori yg dibahas dalam HAZID. Crootth Crootth yangfana_adalahwaktu@yahoo.com Mas mas dan adik adik sekalian, Kalau berdiskusi mbok yah pakai reference yang sama, agar tidak bertele tele dan langsung dimengerti oleh pihak yang berdiskusi. Selama yang dipakai adalah reference yang berbeda, ada peluang untuk tidak akan ketemu diskusinya.

Haris W. ranuamihardjo hwidyar@yahoo.com Mas DAM: He..he....kok marah kalo org pake ref yg beda.....Memang apa yang diref oleh Mas Alvin tu bagus.....kita harus tahu dulu apa, siapa, kenapa, kapan, dll, dll...even itu kalo mo adakan risk assessment.....kudu kenal definisinya dulu...he..he.....Kata orang jowo.."empan papan", alias tiap teknik ada kegunaannya dan fungsi yang paling sesuai...... Akh. Munawir amunawir@gmail.com Rupanya thread ini awet juga, Saya ingin ikut berbagi berdasarkan pengalaman yang saya ketahui dan alami, siapa sebenarnya yang bernama HAZOP, HAZID dan JSA itu. 1. HAZOP (Hazard Operabiltiy Study) & HAZID (Hazard Identification): Untuk Instalasi baru yang akan dibangun, HAZOP dan HAZID biasanya dilaksanakan pada periode FEED Pj. (bahkan sebelumnya pun bisa jadi juga dilaksanakan) hingga Engineering Phase (di awal dan pertengahan/akhir, atau malah lebih dari 2x). Dan untuk Instalasi yang sudah existing, HAZOP dan HAZID biasanya dilaksanakan jika ada modifikasi (penambahan/pengurangan/perubahan equipment atau layout). 1.1 Persamaan dan perbedaan antara HAZOP Vs HAZID Persamaannya workshop dari keduanya lebih sering dilaksanakan pada priode yang sama atau berdekatan dan keduanya terklasifikasikan sebagai QUALITATIVE RISK ASSESSMENT. Perbedaannya adalah HAZID digunakan untuk meng-assess Layout dan General Arrangement dari suatu HAZARD pada Facility dengan beserta Perangkat-perangkat keselamatan (i.e Escape Route Arrangement, Fire Extinguisher, Clear Safety Sign, Fire Fighting Team, Safety Training, Navigation Aid, dll) yang berguna meminimalisir Resiko hingga batas yang dapat diterima oleh USER. Sedangkan HAZOP lebih pada meng-assess Process/Produksi dengan menggunakan drawings & docs. (i.e P&ID, Cause & Effect Diagram/SAFE Chart, ESD Logic Diagram, PFD, H&M Balance) dengan skenario-skenario jika unexpected even terjadi sebagai penyebabnya dan jika berbahaya perlu diminimalisir dgn rekomendasi-rekomendasi tertentu hingga batas yang dapat diterima oleh USER. 2. JSA (Job Safety Analysis)

JSA biasanya digunakan sebagai Risk Assessment Tool sebelum suatu pekerjaan di hari tsb dan mungkin beberapa hari kedepan akan dilaksanakan dan saya kira tool ini pun terklasifikasikan sebagai QUALITATIVE RISK ASSESSMENT. Mungkin akan lebih mudah dijelaskan lewat contoh sederhana, Katakanlah suatu hari akan ada pekerjaan penggantian 1 buah Lampu TL (baca: Lampu Neon) di plafon kantor karena umurnya sudah berakhir. Maka sebelum pekerjaan dilakukan, team pengganti lampu akan melakukan JSA terhadap HAZARD selama mereka bekerja mengganti lampu tsb, kemudian mereka mencoba meng-estimasi bahaya-bahaya apa saja yang mungkin terjadi selama mereka bekerja yang kemudian di List, saya coba ambil 2 contoh saja: a. Kesetrum. b. Terjatuh karena bekerja di ketinggian lebih dari 2 meter. Maka untuk meminimalisir resiko, team ini memutuskan rekomendasi/action agar HAZARD dari point a & b dapat dicegah. Untuk point a: - Isolasi power listrik yang mensupply lampu TL yang akan diganti dengan mencabut Fuse & Turn Off The Switch. - Memasang Tag. (Tanda Larangan) yg clear untuk tidak menghidupkan Swtich tsb, agar orang mengerti dengan jelas bahwa sedang ada pekerjaan mengganti lampu, dll. Untuk point b: a. Karena cukup tinggi, maka digunakan Ladder atau Scaffolding agar pekerja dapat mencapai lampu tsb. b. Dipasang Barrier disekitar lokasi kerja agar orang tidak melintas dan "menyenggol" orang yang sedang naik bekerja. c. Ada kawan yang ikut membantu mengawasi didekatnya, dll. Jadi kurang lebih demikian yang saya tahu, jika ada kurang atau salahnya mohon dikoreksi. Terima kasih. roslinormansyah_35@yahoo.co.id Idem dgn pak Dirman Terutama yang CTA (Critical Task Analysis) bisa di masukkan ke no 1 dari parameter apanya ya ? Karena sependek yang saya tahu CTA adalah metode analisis human factor yang dikembangkan oleh Neville Stanton Andrew Shephard yang korelasinya bukan pada at risk condition process ?.

Mas Ilham mungkin bisa mencerahkan saya juga. yudi putera yudipp@gmail.com Mas-mas Karena namanya juga umum "HAZID" jadi penggunaan dan metodanya juga bermacam-macam, ada HAZID Metodh yang digunakan diphase conceptual design, FEED,Detail, construction, operation sampai di decommissioning Dikantong celana saya dan rekan-rekan saya di kantor ada kartu yang kami sebut sebagai "HIT" (Hazard Identification Tools), tools ini kami gunakan untuk membantu kami sehari-hari ketika melakukan identifikasi bahaya di setiap langkah pekerjaan pada saat melakukan JSA. HIT juga kami gunakan untuk membantu kami menghentikan pekerjaan berbahaya yg tengah berlangsung. (HIT membantu kami mengidentifikasi jika ada bahaya yang tengah mengancam sipekerja saat melakukan pekerjaannya). Setiap mau ngedril dan workover juga kami melakukan HAZID dan Risk Assessment, metodanya tentu di sesuaikan dengan peruntukannya. Jadi HAZID nama umum dengan metodha yang bermacam-macam dan bukan hanya punya Project Team yang sedang membangun suatu instalasi. Hazop..Hazop tidak harus digunakan hanya untuk mengidentifikasi process hazard saat membangun atau memodifikasi suatu process equipment (sehingga butuh PI&D untuk melakukannya).....lah sekarang kan ada juga metoda procedur hazop (untuk mereview operating procedure, guidewordnya seperti "No/More/Less Action" etc) atau Driller HAZOP JSA..lah ada juga kan yang menamakannya JHA, JRA, Task Risk Assessment?? Jadi..menurut hemat saya sih..tidak perlu terlalu membatasi diri dengan menentukan bahwa HAZID untuk ini, HAZOP untuk itu..JSA untuk anu..sebaiknya pahami saja dulu tujuan dari pengidentifikasian bahaya dan risk assessment yang perlu anda lakukan..lihat metodametoda yang ada saat ini..lalu gunakan yang menurut ada bisa memenuhi tujuaan anda..kalau tidak ada metoda yang pas..yah bikin metoda sendiri aja

Kemarin baru melakukan risk assessment buat PSV yang bocor..terus bingung pake metoda apa..yah kami namai saja PSV Risk Assessment he..he..he.. mudah-mudahan nambah rame diskusinya.. yudi putera yudipp@gmail.com Eh sorry, maksudnya FSV deng..salah ketik. Akh. Munawir amunawir@gmail.com Dear All, Yang pernah baca dari sebuah literature yang dipublised oleh DNV bahwa selain conventional HAZOP atau process HAZOP, ada juga yang namanya Driller HAZOP, tetapi keduanya tetap menggunakan P&ID sebagai Master Document untuk di-Review. Maafkan karena selain dari pada kedua HAZOP diatas saya blm pernah kenal. HAZID selain menggunakan G.A Dwg dalam aplikasinya HAZID itu mirip2 dgn HAZOP yang menggunakan Guide Word, sebagai contoh adalah untuk Generic Hazard yang digunakan adalah: Fire & Explosion, Environmental/Natural, Ship Coalision, Helicopter Accident, Structural Failure, Oil Spill, Noise, Drop Object ...dst. Saya berpendapat "technical term" itu punya definisi/identitas yang sudah disepakati oleh para ahli dan disosialisasikan di code/standard/buku yang kemudian diapplikasikan di Industri. Akan sangat membingungkan jika tiap-tiap orang punya penafsiran yang berbeda-beda tanpa mengacu pada guidance/reference yg diakui dan sudah populer. Contoh lain yang akan menyebabkan kebingungan jika "Hazardous Area Clasification Zone" sebagai technical term didefiniskan tanpa mengacu ke standard/code IEC, NEC, API, NFPA. That's my point. Dirman Artib dir.art@gmail.com Semakin lama benchmarking. semakin hot nih topik, tapi asyiik, bisa buat

Coba kita balik ya cara telahaan nya... Kalau Pak Akh. punya referensi yang mempersyaratkan atau paling tidak mengarahkan HAZID ke GA Dwg, boleh dong dikemukakan nama referensinya dan apa yang sebenarnya di specified di situ. Bte. Tambahan info, kawan-kawan koboi Texas yg lagi kerja di project saat ini, kok punya style lain dalam menyebut HAZID dengan Hazard ID, apa bisa dijadikan petunjuk ya ? Ini konsisten digunakan sama seperti kasus dulu saya menggunakan term "Manhole" dan mereka menggunakan term "Manway" untuk lobang masuk tank atau PV. Akh. Munawir amunawir@gmail.com Pada tatanan penerapan HAZID, GA Dwg and/or Equipment L/O saya kira selalu menjadi document kunci untuk di review. Saya lupa judul-nya tetapi yang saya ketahui bahwa di semua literature dari DNV yang membahas ttg Safety Risk Assessment memiliki definisi yang sama ttg HAZID. Perlu diketahui, HAZID hanyalah salah satu teknik/cara untuk HAZARD Identification (Mengidentifkasi Potensi Bahaya) selain HAZOP, What-if Analysis, Hazard Check List, Emergency System Survaivibility Analysis (ESSA), FMECA,...dll. Membahas teknik untuk Safety Study ini mmng bisa panjang sekali dan apa yang saya jelaskan tentulah informasinya sangat jauh dari cukup dan memuaskan. I Made Sudarta I Made Sudarta made.sudarta1964@yahoo.com Mengutip statemen dari pak Akh "HAZID hanyalah salah satu teknik/cara untuk HAZARD Identificatio n (Mengidentifkasi Potensi Bahaya) selain HAZOP, What-if Analysis, Hazard Check List, Emergency System Survaivibility Analysis (ESSA), FMECA,...dll" Sepengetahuan saya Hazop, What-if analysis, dll adalah bagian dari HAZID (term ini lebih populer di Indonesia) CMIIW. Dirman Artib dir.art@gmail.com Memang kita terkadang kurang tepat dalam "kira", "kira" datangnya dari persepsi. karena banyak

Kalau pekerjaan 'kira" di KL diterjemahkan dalam kata "hitung", yaitu pegawai kedai datang ke meja kita dan menghitung harga makanan dan minuman yang kita pesan di kedai mamak :) Btw. Yang perlu diluruskan adalah bahwa fokus aktivitas HAZID kepada lay out of facilities adalah kurang tepat, jangan-jangan nanti ada yang mengira bahwa HAZID fokusnya kepada hazard yang ada hubungan dengan plant lay out. Akh. Munawir amunawir@gmail.com Ya begitulah pak Dirman saya akui karena masih hijau di dunia perSafety'an jadi belum mantab benar memberikan pendapat, apalagi saya terklasifikasikan sbg orang yang malas untuk membaca literature dan jika membaca pun hanya seperlunya saja berkaitan dengan pekerjaan. Anyway, It's up to you sir agree or not agree and it's not my problem. roslinormansyah_35@yahoo.co.id Adalah John Spounge dari DNV yang pertama kali menulis tentang QRA in offshore installation. Tapi tulisan ini tidak membahas HAZID detail. Justru ISO 17776 yang bahas tentang HAZID secara detail walau tidak mendalam. Semua yang aktifitas "hunting" potensi bahaya adalah HAZiD. Namun proses HAZID (mengacu ke CCPS) terbagi menjadi 2, yaitu Based Non Scenario dan Based Scenario. Yang termasuk Based Non Scenario adalah DFEI, SWeHI, DCEI, Safety Hazard Checklist. Based Scenario adalah What-If, FTA dan HAZOPs. Untuk HAZOPs alangkah baiknya jika mau merelakan waktu untuk membaca tulisan mbah Trevor karena dialah yang mengenalkan HAZOPs pertama kali di tahun 60-an. Tulisannya itu adalah HAZOPs dan HAZAN. yudi putera yudipp@gmail.com Mas Wahyu mana yah? kho belum nongol? waktu sebelum kabur ke Qatar kemarin, dia ngerjain IHAZID (Integrated Hazard Indentification Study) untuk seluruh fasilitas operasi dan fasilitas pendukung lainnya di perusahaan yang dia tinggalkan.. nah kan HAZID juga dilakukan di fase operasi engga hanya di phase engineering..terus biar lebih keren ditambahin "I" deh (integrated) ha..ha..ha.. (becanda yah Yu..)

btw, DNV dibawa-bawa terus nih..ada orang DNV engga nih di mailing list? he..he. Dirman Artib dir.art@gmail.com No...no...no...no... Mr. Roses, coba kita baca ulang dengan hati-hati. Kalau yang dimaksud buku John Sponge yg di publish oleh DNV berjudul " A Guide of QRA to Offshore Installation", itu berarti apa yang tertulis di halaman 30, section 6.3 Techniques for Hazard Identification , yaitu : 6.3 Techniques for Hazard Identification The Techniques of hazard assessment used in the onshore chemical industry are reviwed by CCPS (1992a). The main ones appropriate for hazard identification on offshore installations are : - Hazard Review - a mainly intuitive, qualitative review of the installation to identify the hazards that are present - Hazard checklist - a review of the installation against a list of hazards that have been identified in previous hazard assessmenrt - HAZOP - a systematic review of the process plant design, to evaluate the effects of deviations from normal operating conditions - Procedural HAZOP - a version of HAZOP applied to safety-critical operations such drilling, rig-moves, heavy lifts etc. - What-if Analysis - a flexible review technique, which can be applied to any installation, operation or process, to identify hazards - HAZID - a systematic review of the possible causes and consequences of hazardous events - FMECA - Failure Mode, Effect and riticality Analysis - a systematic review of mechanical system, to evaluate effects of failures of individual components - Emergency Systems Survivability Analysis - a systematic review of the ability of emergency systems to withstand accident conditions - Safety Inspection and Audits - Visual examinations of an existing installation and its operating procedures to identify potential Jadi HAZID adalah salah satu techniques dari Hazard Identification, bukan berarti hazard identification hanyalah HAZID. HAZID mendapat tempat dan definisi serta approach khusus di antara hazard identification techniques yang lain nya. Mulai sekarang, janganlah simple mengartikan HAZID sebagai Hazard Identification, karena teman-teman HAZID lain nya seperti tuan What-if, HAZOP, FMECA akan marah. Panggil lah HAZID sebagai HAZID saja. Btw.

Jadi saya nggak menemukan pembatasan HAZID kepada Plant Lay Out. Jika Plant layout dijadikan dokumen atau informasi kunci, maka itu wajar saja jika diskusi potential hazard ada pada seputar Plant Layout, apalagi kalau sudah masuk fase tengah FEED (sebelum lebih jauh design nya) atau saat fase Detail Design. Pada awal fase conceptual engineering saat men-design struktur dan fasilitas non-conventional , pada umumnya layout tidak ada, justru output dari HAZID akan membantu untuk men-design layout. (CMIIW, karena baru 1X terlibat dalam design yang non-conventional facilities - in previous life hanya mengalami platform yang kedinginan alias pake jacket sekitar 30-90 mtr sahaja). roslinormansyah_35@yahoo.co.id Rait pak. Dan memang lebih "mendalam" jika diskusi ttg topik tdk melulu based experience maka saya coba sisipkan dasar knowledge. Sesuai dengan definisi memang lebih enak klo baca tentang HAZID itu dari CCPS atau Klo baca HAZOPs itu dari BS 16882. Memang perkembangan di lapangan tidak bisa dianggap sebelah mata. Dirman Artib dir.art@gmail.com Akur...Pak Akh. Saya agak hepi, rupanya yang malas baca literatur bukan saya doang, paling tidak ada kawan sekarang, yaitu Pak Akh. Itu lah salah satu gunanya milis ini, untuk mencambuk-baca orang malas kayak saya :) :) (Salah duanya adalah tanya info lowongan) Mari kita berguru kepada Mr. Roses soal literatur Lanjut...(topik lain ?) Akh. Munawir amunawir@gmail.com Sip Pak, Semestinya rekan-rekan HR yg gabung milist ini mbok ya sering-sering posting lowongan, karena tentunya banyak diantara kita yang pingin cari ladang baru dan cari teman baru dengan salary yang baru pula. Gud lak de pak. I Made Sudarta I Made Sudarta made.sudarta1964@yahoo.com

Mengikuti diskusi ini saya jadi teringat kata-kata salah satu pakar ekonomi sewaktu muncul di Tv, mengenai Profesor Kodok yang sedang berhadapan dengan anak jalanan yang umurnya hanya 14 tahun, tetapi teori si profesor terbantahkan oleh anak tersebut karena dia melihat kodok melompat dengan mata dia sendiri, jadi ya itulah ilmu pengetahuan. semakin banyak literatur yang dibaca terkadang semakin sulit kita untuk menguasainya dan terkadang pula ada perbedaan makna tetapi punya satu tujuan. Ikutan dong kalao ada lowongan. yudi putera yudipp@gmail.com Mas-mas sambung ke pengertian HAZID nya DNV untuk Offshore, berikut saya kutip kalimat dari Internal guidelinenya DNV untuk Hazard Identification for Offshore. statement ini tidak tercantum di public dokumennya john Sponge untuk QRA di offshore (juga tidak tercantum di dokumennya John Sponge untuk internal DNV), dan mungkin bisa menjustify opininya mas Dar HAZID is often used to review conceptual design work, before P&IDs are available and specific, often novel, activities. The intent is to use some form of structured session to identify and agree all the concerns and issues associated with the concept or activity being reviewed. Btw..pada prakteknya DNV juga sering melakukan "HAZID" untuk fasilitas diphase operasi. saingannnya DNV, ABS juga melakukan "HAZID" diphase operasi ( di fasilitas perusahaan saya saat ini), Nyambung ke ISO 17776, coba lihat di Annex C nya, HAZID boleh saja dilakukan diphase manapun kan? Di phase detail design hazid juga dilakukan loh..beberapa contoh praktisnya dibawah : -Shell Malampaya project, ada FEED HAZID, ada Detail Design HAZID - BP Tangguh, Kalau kita lihat di design safety casenya BP Tangguh , HAZID dilakukan untuk mengidentifikasi hazard di semua phase - Conoco Belanak, HAZID dilakukan di phase Detail Engineering Mengenai study literatur..tentu selain buku dan standar..lebih asik juga jika ditambah real dokumen project hasil risk assessmentnya tentunya.. Dirman Artib dir.art@gmail.com

Sambung juga pak. Khusus issue yg saya raise bukan pada fase pak Yudi, tapi saat ada atau tidaknya Layout. Ada persepsi bahwa HAZID fokus kepada hazard yang hubungannya dengan layout. Masalah fase/tahap sebuah project, bukan issue yang didiskusikan. Itu yang saya tangkap. roslinormansyah_35@yahoo.co.id Nyambung juga pak Tib Hazid itu harus include pada proses life cycle spt yg sdh pak Tib jelaskan. Life cycle banyak menjadi dasar HAZID dan ini berarti tidak melulu lay-out. Klo based scenario, bisa memang mengandalkan lay out. Konsep life cycle menurut saya akan menuntun pada hasil HAZID yang lebih baik.