P. 1
Outlook Komoditas Perkebunan

Outlook Komoditas Perkebunan

|Views: 346|Likes:
Dipublikasikan oleh Nana Soffan

More info:

Published by: Nana Soffan on Feb 08, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/26/2014

pdf

text

original

OU1LOOk

kOMODI1AS PLR1ANIAN
(PLRkL8UNAN)
PUSAT DATA DAN !NFORNAS! PERTAN!AN
DEPARTENEN PERTAN!AN
2009
ISSN 1907-1507
PUSAT DATA DAN !NFORNAS! PERTAN!AN
Kantor Pusat Departemen Pertanian, Gedung D, Lantai !v
Jl. Harsono RN No. 3 Ragunan - Jakarta Selatan
TelpfFax : (021) 7807601
O
U
T
|
O
O
K

K
O
M
O
0
!
T
A
8

P
|
R
T
A
N
!
A
N

÷

P
|
R
K
|
8
U
N
A
N
2009

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

1
BAB I. PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Perkebunan sebagai bagian integral dari sektor pertanian merupakan salah
satu sub sektor yang mempunyai peranan penting dan strategis dalam
pembangunan nasional. Peranannya terlihat nyata dalam penerimaan devisa
negara melalui ekspor, penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan
konsumsi dalam negeri, bahan baku berbagai industri dalam negeri, perolehan
nilai tambah dan daya saing serta optimalisasi pengelolaan sumberdaya alam
secara berkelanjutan.
Peranan sub sektor perkebunan bagi perekonomian nasional tercermin dari
realisasi pencapaian PDB yang mencapai Rp. 106,19 trilyun (atas dasar harga
berlaku) pada tahun 2008 atau berkontribusi 14,89% dari total PDB sektor
pertanian secara luas. Sementara, peranan ekspor komoditas perkebunan pada
tahun 2008 memberikan sumbangan surplus neraca perdagangan bagi sektor
pertanian sebesar US$ 22,83 milyar dimana sub sektor lainnya mengalami defisit.
Dalam rangka meningkatkan peran sub sektor perkebunan, Departemen
Pertanian telah menyusun rencana strategis beserta program dan kebijakan
pembangunan yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan
pengembangan masing-masing komoditas perkebunan. Dalam penyusunan
rencana strategis ketersediaan data dan informasi yang berkualitas maka sangat
dibutuhkan agar kebijakan yang diputuskan menjadi efektif.
Dalam mengemban visi dan misinya, Pusat Data dan Informasi Pertanian
(Pusdatin) senantiasa menyediakan data dan informasi yang diperlukan oleh
berbagai pihak yang berkecimpung dalam sektor pertanian, seperti penentu
kebijakan, asosiasi, akademisi maupun masyarakat umum lainnya. Salah satu
produk informasi yang secara reguler dihasilkan oleh Pusdatin adalah Analisis
Outlook Perkebunan, yang didalamnya mengulas keragaan data nasional dan
situasi global disertai dengan proyeksi penawaran dan permintaan masing-masing
komoditas.

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
2
2
1.2. METODOLOGI

Sumber Data dan Informasi
Outlook Komoditas Perkebunan tahun 2009 disusun berdasarkan data dan
informasi yang diperoleh dari data primer yang bersumber dari daerah, instansi
terkait di lingkup Departemen Pertanian dan instansi di luar Departemen
Pertanian seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan Food and Agriculture
Organization (FAO).

Metode Analisis
Metode yang digunakan dalam penyusunan Outlook Perkebunan adalah
sebagai berikut:
a. Analisis keragaan atau perkembangan komoditas perkebunan dilakukan
berdasarkan ketersediaan data series yang yang mencakup indikator luas
areal dan luas panen, produktivitas, produksi, konsumsi, ekspor-impor serta
harga di tingkat produsen maupun konsumen dengan analisis deskriptif
sederhana. Analisis keragaan dilakukan baik untuk data series nasional
maupun dunia.
b. Analisis Penawaran
Analisis penawaran komoditas perkebunan dilakukan berdasarkan
analisis fungsi produksi. Penelusuran model untuk analisis fungsi produksi
tersebut dilakukan dengan pendekatan model Regresi Berganda (Multivariate
Regression).
Secara teoritis bentuk umum dari model ini adalah :
ε
ε
+ + =
+ + + + + =

=
n
j
j j
n n
X b b
X b X b X b b Y
1
0
2 2 1 1 0
...

dimana : Y = Peubah respons/tak bebas
X
n
= Peubah penjelas/bebas
n = 1,2,…
b
0
= nilai konstanta

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

3
b
n
= koefisien arah regresi atau parameter model regresi untuk
peubah x
n

ε = sisaan

Produksi pada periode ke-t diduga merupakan fungsi dari produksi pada
periode sebelumnya, luas areal periode sebelumnya, harga ekspor dan
pengaruh inflasi.
Dengan memperhatikan ketersediaan data, analisis penawaran
dilakukan berdasarkan data produksi dalam periode tahunan. Untuk peubah-
peubah bebas yang tidak tersedia datanya dalam periode waktu yang
bersesuaian maka dilakukan proyeksi terlebih dahulu dengan menggunakan
model analisis trend (trend analysis) atau model pemulusan eksponensial
berganda (double exponential smoothing).

c. Analisis Permintaan
Analisis permintaan komoditas perkebunan merupakan analisis
permintaan langsung masyarakat terhadap komoditas perkebunan yang
dikonsumsi oleh rumah tangga konsumen dalam bentuk tanpa diolah maupun
telah diolah, maupun permintaan untuk kepentingan ekspor.
Sama halnya seperti pada analisis penawaran, analisis permintaan juga
menggunakan Model Regresi Berganda menggunakan peubah penjelas, namun
karena keterbatasan ketersediaan data, analisis permintaan untuk beberapa
komoditas menggunakan model analisis trend (trend analysis) atau model
pemulusan eksponensial berganda (double exponential smoothing). Periode
series data yang digunakan adalah tahunan. Pada komoditas tertentu dimana
sebagian besar produksinya digunakan untuk bahan baku industry pengolahan,
maka analisis permintaan didekati dengan cara melihat proporsi permintaan
untuk industry pengolahan menggunakan bantuan Tabel I-O BPS.

d. Kelayakan Model
Ketepatan sebuah model regresi dapat dilihat dari Uji-F, Uji-t dan
koefisien determinasi (R
2
).

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
4
4
Koefisien determinasi diartikan sebagai besarnya keragaman dari
peubah tak bebas (Y) yang dapat dijelaskan oleh peubah–peubah bebas (X).
Koefisien determinasi dihitung dengan menggunakan persamaan:

Total SS
egresi R SS
R =
2


dimana : SS Regresi adalah jumlah kuadrat regresi
SS Total adalah jumlah kuadrat total

Sementara, untuk model data deret waktu baik analisis tren maupun
model pemulusan eksponensial berganda (double exponential smoothing),
ukuran kelayakan model dilihat berdasarkan kecilnya nilai kesalahan yakni
menggunakan statistik MAPE (mean absolute percentage error) atau
kesalahan persentase absolut rata-rata yang diformulasikan sbb.:

dengan, X
t
adalah data aktual dan F
t
adalah nilai ramalan.

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
5
BAB II. KOPI

Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peran
cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, karena merupakan
salah satu komoditas ekspor andalan sebagai penghasil devisa negara di luar
minyak dan gas. Selama lima tahun terakhir, Indonesia menempati posisi
keempat sebagai negara eksportir kopi setelah Brazil, Kolombia dan Vietnam.
Terdapat dua spesies tanaman kopi yaitu Arabika yang merupakan jenis
kopi tradisional, dianggap paling enak rasanya, dan Robusta yang memilki kafein
lebih tinggi, dapat dikembangkan dalam lingkungan dimana kopi Arabika tidak
akan tumbuh, dengan rasa pahit dan asam
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kopi_Indonesia). Di Indonesia, pada saat ini
sekitar 95% tanaman kopi diusahakan oleh rakyat, sementara perkebunan negara
dan swasta hanya berkontribusi masing-masing sebesar 3,13% dan 1,79%.

2.1. PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS
KOPI DI INDONESIA

Secara umum pola perkembangan luas areal kopi di Indonesia pada
periode tahun 1970–2008 cenderung mengalami peningkatan dengan rata-rata
pertumbuhan sebesar 3,33% per tahun atau meningkat dari 395 ribu hektar tahun
1970 menjadi 1,3 juta hektar tahun 2008.


Gambar 2.1. Perkembangan luas areal kopi menurut status pengusahaan di
Indonesia, 1970 - 2008
Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
6
Berdasarkan status pengusahaan, perkebunan rakyat (PR) memiliki rata-
rata pertumbuhan luas areal per tahun yang paling besar yaitu 3,67%, yakni dari
351 ribu hektar pada tahun 1970 menjadi 1,25 juta hektar pada tahun 2008,
diikuti oleh perkebunan besar swasta (PBS) meningkat sebesar 1,71% (23 ribu
hektar pada tahun 1970 menjadi 29 ribu hektar pada tahun 2008) dan perkebunan
besar negara (PBN) meningkat sebesar 1,22% per tahun (20 ribu hektar pada
tahun 1970 menjadi 24 ribu hektar pada tahun 2008) (Gambar 2.1.). Secara rinci
perkembangan luas arael kopi menurut status pengusahaan sejak tahun 1970 –
2008 dapat dilihat pada Lampiran 2.1.
Jika ditinjau berdasarkan kontribusi rata-rata luas areal kopi di Indonesia
tahun 1998 – 2008, terlihat PR mendominasi luas areal kopi dengan berkontribusi
mencapai 95,38% terhadap luas areal kopi Indonesia, sedangkan kontribusi PBN
dan PBS masing-masing hanya sebesar 2,34% dan 2,28% (Gambar 2.2).


Gambar 2.2. Kontribusi luas areal kopi menurut status pengusahaan di Indonesia,
1970 -2008

Sementara itu, perkembangan produksi kopi Indonesia selama tahun
1970-2008 juga cenderung meningkat sejalan dengan perkembangan luas
arealnya (Gambar 2.3). Jika pada tahun 1970 produksi kopi Indonesia sebesar 185
ribu ton meningkat menjadi 683 ribu ton pada tahun 2008 dengan rata-rata
pertumbuhan selama periode tersebut sebesar 4,05% per tahun.


» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
7

Gambar 2.3. Perkembangan produksi kopi menurut status pengusahaan di
Indonesia, 1970-2008

Bila dilihat menurut status pengusahaan terlihat produksi kopi PR
cenderung terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar
4,27%, PBS meningkat 5,47% dan PBN meningkat 3,77% (Lampiran 2.2). Besarnya
peningkatan produksi kopi PR disebabkan pertumbuhan yang cukup tinggi tahun
1979 dan 1989 masing-masing meningkat 24,88% dan 43,56%. Sejalan dengan
kontribusi luas areal kopi, kontribusi rata-rata produksi kopi PR tahun 1998 –
2008 mencapai 95,08% terhadap rata-rata produksi kopi Indonesia, sedangkan
kontribusi PBN dan PBS masing-masing sebesar 3,13% dan 1,79% (Gambar 2.4).


Gambar 2.4. Kontribusi rata-rata produksi kopi menurut status pengusahaan di
Indonesia, 1998 – 2008

Berdasarkan data rata-rata tahun 2003 – 2008, sebesar 87,24% produksi
kopi Indonesia adalah kopi robusta dan selebihnya merupakan kopi arabika
Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
8
sebesar 12,76% (Gambar 2.5). Secara rinci produksi kopi Indonesia menurut jenis
kopi disajikan pada Lampiran 2.3.


Gambar 2.5.Kontribusi produksi kopi di Indonesia menurut jenisnya, 2003– 2008


Bila dilihat dari sisi produksi kopi per provinsi tahun 2004 – 2008,
terdapat 6 (enam) provinsi sentra produksi kopi yang memberikan kontribusi
sebesar 74,05% terhadap total produksi kopi Indonesia, seperti yang disajikan
pada Gambar 2.6. Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung merupakan provinsi
sentra produksi kopi terbesar yang berkontribusi masing-masing sebesar 22,32%
dan 21,65% terhadap total produksi kopi Indonesia, disusul berturut-turut provinsi
Bengkulu, Sumatera Utara, Jawa Timur dan NAD masing-masing berkontribusi
sebesar 9,21%, 7,29%, 7,14%, dan 6,44%. Secara rinci, sentra produksi kopi di
Indonesai disajikan pada Lampiran 2.4.


» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
9

Gambar 2.6. Provinsi sentra produksi kopi di Indonesia, 2004 - 2008

Perkembangan produktivitas kopi menurut status pengusahaan di
Indonesia selama tahun 2003 – 2008 terlihat pola yang sama kecuali PBS yang
terlihat fluktuatif. Rata-rata produktivitas kopi Indonesia sebesar 697,13 kg/ha,
dimana rata-rata produktivitas kopi terbesar pada PBN yaitu 711,83 kg/ha,
disusul PR sebesar 696,50 kg/ha dan PBS sebesar 571 kg/ha (Gambar 2.7 ).


Gambar 2.7. Perkembangan produktivitas kopi di Indonesia, 2003– 2008

Sementara itu, perkembangan produktivitas kopi di Indonesia selama
periode tahun 2003 – 2008 mengalami penurunan dengan rata-rata sebesar 0,65%
per tahun, pada PR turun sebesar 0,66%, PBN naik sebesar 1,91%, sedangkan
Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
10
pertumbuhan produktivitas kopi pada PBS terlihat sangat fluktuatif namun
cenderung naik dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2,21% per tahun.

Tabel 2.1.Perkembangan produktivitas kopi menurut status pengusahaan, 2003 –
2008

(Kg/ha)
Pertumb.
(%)
(Kg/ha)
Pertumb.
(%)
(Kg/ha)
Pertumb.
(%)
(Kg/ha)
Pertumb.
(%)
2003 728 696 589 725
2004 664 -8.79 697 0.14 702 19.19 666 -8.14
2005 687 3.46 697 0.00 449 -36.04 683 2.55
2006 697 1.46 696 -0.14 655 45.88 696 1.90
2007 702 0.72 721 3.59 502 -23.36 714 2.59
2008 *) 701 -0.14 764 5.96 529 5.38 699 -2.13
2003-2008 696.50 -0.66 711.83 1.91 571.00 2.21 697.13 -0.65
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka Sementara
PBS Indonesia
Tahun
Rata-rata pertanian
PR PBN


2.2. PERKEMBANGAN KONSUMSI KOPI DI INDONESIA

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS,
permintaan kopi untuk konsumsi rumah tangga berupa kopi bubuk dan kopi biji.
Perkembangan konsumsi kopi di Indonesia pada periode tahun 1984 s/d 2008
secara rata-rata menunjukkan peningkatan sebesar 4,32% per tahun, meskipun
pada tahun 1987 dan 1999 mengalami penurunan cukup besar dibandingkan tahun
sebelumnya yaitu masing-masing sebesar 15,62% dan 18,93% (Gambar 2.8).

Gambar 2.8. Perkembangan konsumsi kopi di Indonesia, 1984-2008
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
11
Konsumsi kopi bubuk dan kopi biji pada rumah tangga di Indonesia tahun
1984 sebesar 0,186 ons per minggu atau 9,67 ons per tahun meningkat menjadi
0,238 ons per minggu atau 12,38 ons per tahun pada tahun 2008. Pertumbuhan
konsumsi kopi terbesar terjadi pada tahun 1990 dan 2002 masing-masing
meningkat sebesar 17,28% dan 57,54%. Perkembangan konsumsi kopi di Indonesia
secara rinci disajikan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Perkembangan konsumsi kopi di Indonesia, 1984 – 2008

(Ons/Minggu) (Ons/Tahun)
1984 0.186 9.67
1987 0.157 8.16 -15.62
1990 0.184 9.57 17.28
1993 0.199 10.35 8.15
1996 0.195 10.14 -2.03
1999 0.158 8.22 -18.93
2002 0.249 12.95 57.54
2005 0.246 12.79 -1.24
2006 0.22 11.44 -10.56
2007 0.246 12.79 11.82
2008 0.238 12.38 -3.25
Rata-rata 0.207 10.77 4.32
Sumber : BPS, Susenas
Konsumsi per kapita
Tahun
Pertumbuhan
(%)



2.3. PERKEMBANGAN HARGA KOPI DI INDONESIA

Lebih dari 90% jenis kopi di Indonesia adalah jenis kopi robusta, untuk itu
perkembangan harga yang disajikan dalam tulisan ini adalah kopi robusta.
Secara umum perkembangan harga rata-rata kopi robusta di pasar dalam negeri
berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan
sebesar sebelum krisis ( tahun 1987 – 1997) meningkat sebesar 5,77% per tahun,
sementara pertumbuhan setelah krisis (1998 – 2008) harga kopi robusta di pasar
Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
12
dalam negeri meningkat cukup signifikan sebesar 67,95% (Gambar 2.9).
Peningkatan tersebut diakibatkan adanya peningkatan nilai tukar rupiah yang
tinggi. Peningkatan pertumbuhan yang cukup tinggi tersebut dipicu terjadinya
peningkatan yang cukup siginifikan di tahun 1998 sebesar 608,92% atau dari Rp
1.738,-/kg pada tahun 1997 menjadi Rp 12.321,-/kg pada tahun 1998. Setelah
periode tersebut, harga kopi kembali mengalami penurunan hingga tahun 2003.
Mulai tahun 2004, harga kopi kembali mengalami peningkatan hingga tahun 2007,
dimana harga kopi robusta di pasar dalam negeri tahun 2007 mencapai
Rp.15.775,-/kg.


Gambar 2.9. Perkembangan harga kopi robusta di pasar dalam negeri, 1987 -
2007

Sementara itu, harga kopi robusta di pasar dunia dari tahun 1987 -2007
juga relatif berfluktuatif, namun memiliki rata-rata pertumbuhan sebelum krisis
moneter (1987 - 1997) sebesar 10,55% dan setelah krisis (1998 – 2007) hanya
tumbuh sebesar 4,27% per tahun (Gambar 2.10). Harga kopi robusta di pasar
dunia tertinggi pada tahun 1997 mencapai US$ 185 cent/lb dan selanjutnya terus
merosot mencapai harga terendah tahun 2001 sebesar US$ 54 cent/lb dan
meningkat kembali tahun 2007 menjadi sebesar US$ 191 cent/lb. Secara rinci
perkembangan harga kopi robusta di pasar dalam negeri dan pasar dunia tahun
1987 – 2007 disajikan pada Lampiran 2.5.

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
13

Gambar 2.10. Perkembangan harga kopi robusta di pasar dunia, 1987–2007


2.4. PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR KOPI DI INDONESIA

Perkembangan volume ekspor kopi pada periode 1996–2008 berfluktuatif,
yaitu dari 367 ribu ton tahun 1996 menjadi 439 ribu ton tahun 2008 atau
mengalami pertumbuhan per tahun sebesar 3,11%. Selama kurun waktu tersebut,
pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2008 yaitu meningkat sebesar 36,87%
dibandingkan tahun sebelumnya dan terendah pada tahun 2001 yaitu turun
sebesar 26,06% dibandingkan tahun sebelumnya. Volume ekspor kopi tertinggi
dicapai pada tahun 2005 sebesar 446 ribu ton dan terendah tahun 2001 sebesar
251 ribu ton (Gambar 2.11).


Gambar 2.11. Perkembangan volume ekspor dan impor kopi di Indonesia, 1996–
2008

Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
14
Sementara rata-rata pertumbuhan volume impor kopi cenderung konstan
kecuali tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 653%, meskipun volume
impor kopi Indonesia sangat kecil bila dibandingkan volume ekspor. Volume
impor tertinggi terjadi pada tahun 2007 mencapai 49,7 ribu ton dan terrendah
terjadi di tahun 1996 hanya 312 ton. Secara rinci perkembangan volume ekspor
dan impor kopi Indonesia tahun 1996 – 2008 disajikan pada Lampiran 2.6.
Perbedaan volume ekspor dan impor yang cukup besar menjadikan
Indonesia selalu mengalami surplus neraca perdagangan kopi yang berarti dapat
menyumbang devisa negara. Sejalan dengan meningkatnya volume eskpor kopi
Indonesia, terlihat juga neraca perdagangan kopi Indonesia tahun 1996 – 2008
dari tahun ke tahun juga menunjukkan adanya peningkatan surplus neraca
perdagangan dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 5,75% (Gambar
2.12). Surplus neraca perdagangan kopi tampak semakin tinggi dari tahun ke
tahun. Jika pada tahun 1996 surplus neraca perdagangan kopi sebesar US$ 595
juta, maka pada tahun 2008 surplus tersebut naik menjadi US$ 914 juta.
Perkembangan volume, nilai dan neraca perdagangan kopi Indonesia tahun 1996 -
2008 secara rinci disajikan pada Lampiran 2.6.


Gambar 2.12. Perkembangan neraca perdagangan kopi di Indonesia, 1996–2008





» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
15
2.5. PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PRODUKSI, PRODUKTIVITAS DAN
KONSUMSI KOPI DUNIA

Secara umum perkembangan luas areal kopi dunia selama periode tahun
1970–2007 sangat berfluktasi namun cenderung meningkat meskipun hanya
sebesar 0,47% per tahun (Gambar 2.13). Peningkatan luas areal kopi dunia yang
cukup besar terjadi pada tahun 1977 sebesar 13,34% dibandingkan tahun
sebelumnya. Secara rinci, perkembangan luas areal kopi dunia tahun 1970 –
2007 disajikan pada Lampiran 2.7.
Perkembangan produksi kopi dunia dalam tahun 1970–2007 menunjukkan
pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan perkembangan luas arealnya
(Gambar 2.13). Rata-rata pertumbuhan produksi kopi dunia tahun 1970 – 2007
sebesar 2,53% per tahun. Secara rinci, perkembangan produksi kopi dunia tahun
1970 – 2007 disajikan pada Lampiran 2.7.


Gambar 2.13. Perkembangan luas areal dan produksi kopi dunia, 1970–2007

Berdasarkan data rata-rata produksi kopi dunia tahun 2003-2007 yang
bersumber dari FAO, terdapat 5 negara produsen kopi terbesar di dunia yang
memberikan kontribusi hingga 64,01% terhadap total produksi kopi dunia. Brazil
merupakan produsen kopi terbesar dunia dengan rata-rata produksi sebesar 2,27
juta ton atau memberikan kontribusi sebesar 30,23%. Negara produsen kopi dunia
kedua diduduki oleh Vietnam dengan produksi sebesar 859 ribu ton atau
berkontribusi sebesar 11,45%. Sementara Kolombia memberikan kontribusi
Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
16
sebesar 9,26% dan Indonesia menduduki urutan ke-empat dengan produksi
sebesar 672 ribu ton atau berkontribusi sebesar 8,95% (Gambar 2.14). Secara
rinci produsen kopi terbesar dunia tersaji pada Lampiran 2.8.


Gambar 2.14. Kontribusi negara produsen kopi dunia, (rata-rata 2003 – 2007)


Perkembangan produktivitas kopi dunia pada tahun 1970 – 2007
menunjukkan kecenderungan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar
1,92% per tahun (Gambar 2.15). Produktivitas kopi dunia tertinggi dicapai pada
tahun 2002 sebesar 773 kg/ha, sementara produktivitas kopi Indonesia pada
tahun yang sama sebesar 497 kg/ha, masih di bawah produktivitas kopi dunia.
Secara rinci perkembangan produktivitas kopi dunia disajikan pada Lampiran 2.7.


Gambar 2.15. Perkembangan produktivitas kopi dunia,1970 - 2007
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
17
2.6. PERKEMBANGAN EKSPOR - IMPOR KOPI DUNIA

Berdasarkan data FAO, perkembangan volume ekspor dan impor kopi dunia
pada periode tahun 1970 – 2007 menunjukkan kecenderungan meningkat (Gambar
2.16) dengan rata-rata pertumbuhan per tahun masing-masing sebesar 2,00%
(ekspor) dan 1,75% (impor). Ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2007 sebesar
6,15 juta ton atau setara dengan US$ 13,58 milyar, sementara impor tertinggi
juga terjadi tahun 2007 sebesar 5,84 juta ton atau setara dengan US$ 13,65
milyar. Secara rinci perkembangan ekspor dan impor kopi dunia tahun 1970 –
2007 disajikan pada Lampiran 2.9.


Gambar 2.16. Perkembangan volume ekspor dan impor kopi dunia, 1970 - 2007

Terdapat tujuh negara eksportir kopi terbesar di dunia yang secara
kumulatif memberikan kontribusi sebesar 70,97% terhadap total volume ekspor
kopi di dunia. Brazil merupakan negara eksportir kopi terbesar di dunia dengan
rata-rata volume ekspor mencapai 1,42 juta ton per tahun atau memberikan
kontribusi sebesar 25,12% dan peringkat kedua ditempati oleh Vietnam yang
memberikan kontribusi 17,09% dengan rata-rata volume ekspor 965,4 ribu ton per
tahun. Peringkat ketiga diduduki oleh Colombia dengan kontribusi sebesar
10,65%, sedangkan Indonesia pada urutan ke-4 dengan memberikan kontribusi
sebesar 6,55% dengan rata-rata volume ekspor 369,8 ribu ton per tahun. Jerman,
Guatemala dan Peru masing-masing berkontribusi 4,52%, 3,87% dan 3,17%
Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
18
terhadap total volume ekspor dunia (Gambar 2.17). Negara eksportir kopi
terbesar di dunia secara rinci tersaji pada Lampiran 2.10.


Gambar 2.17. Negara eksportir kopi terbesar di dunia, (rata-rata 2003-2007)

Berdasarkan data FAO, pada tahun 2003–2007 terdapat tujuh negara
importir kopi terbesar yang secara kumulatif memberikan kontribusi sebesar
66,54% terhadap total volume impor kopi di dunia. USA merupakan negara
importir kopi terbesar dunia dengan rata-rata volume impor sebesar 1,25 juta ton
per tahun, peringkat kedua ditempati Jerman dengan rata-rata volume impor
951,1 ribu ton per tahun atau memberikan kontribusi sebesar 17,12%. Peringkat
ketiga dan keempat ditempati oleh Italy dan Jepang yang masing-masing
memberikan kontribusi sebesar 7,45% dan 7,21%. Negara-negara importir kopi
terbesar lainnya adalah Perancis, Spanyol dan Belgia yang masing-masing
berkontribusi 4,35%, 4,29% dan 3,57% terhadap total volume impor kopi dunia
(Gambar 2.18). Indonesia berada pada urutan ke-45 karena impor kopi Indonesia
hanya sebesar 12,96 ribu ton per tahun. Negara importir kopi terbesar di dunia
secara rinci tersaji pada Lampiran 2.11.

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
19

Gambar 2.18. Negara importir kopi terbesar di dunia, (rata-rata 2003-2007)

2.7. PROYEKSI PENAWARAN KOPI 2009 - 2011

Penawaran dalam analisis ini merupakan representasi dari produksi, dimana
data produksi kopi nasional dalam wujud produksi kopi berasan. Berdasarkan
hasil penelusuran model dengan menggunakan regresi dihasilkan bahwa produksi
kopi pada periode (t) dipengaruhi oleh luas areal kopi pada periode (t) dan harga
kopi dalam negeri pada periode (t). Koefisean determinasi (R
2
) dari mode
tersebut sebesar 87% yang menunjukkan bahwa 87% keragaman dalam produksi
kopi Indonesia telah dapat dijelaskan oleh luas arael dan harga kopi dalam negeri
pada periode (t).

Tabel 2.3. Hasil analisis fungsi respon produksi kopi di Indonesia

Peubah Koefisien p-Value
Intersep - 520 500 0,000
Luas Areal Kopi periode (t)
0,8427 0,000
Harga Kopi periode (t) 6,831 0,016
R
2
= 87% ; Prob(F-stat) = 0,000

Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
20
Dari Tabel 2.3 terlihat bahwa koefisien-koefisien di dalam model bersifat
nyata. Berdasarkan koefisien regresi yang diperoleh ternyata peningkatan luas
areal kopi pada periode (t) sebesar 1 satuan akan meningkatkan produksi kopi
sebesar 0,8247 satuan dan jika harga kopi dalam negeri meningkat satu satuan
maka produksi kopi akan meningkat sebesar 6,831 satuan. Dengan menggunakan
model tersebut, dilakukan proyeksi produksi kopi tahun 2009 – 2011 dengan hasil
seperti tersaji pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4. Proyeksi produksi/penawaran kopi di Indonesia, 2009-2011

Tahun
Produksi/Penawaran
(Ton)
Pertumbuhan
(%)
2008
1)
682.938
2009 689.337 0,94
2010 702.915 1,97
2011 716.713 1,96
Rata-rata pertumbuhan (%/th) 2009 - 2011 1,62
Keterangan :
1)
Angka Sementara dari Ditjen Perkebunan

Dengan menggunakan fungsi respon produksi kopi tersebut di atas, maka
diperkirakan produksi kopi di Indonesia tahun 2009 akan meningkat dari 682.938
ton pada tahun 2008 (Angka Sementara) menjadi 689.337 ton atau meningkat
0,94% (Tabel 2.4). Dengan rata-rata peningkatan sebesar 1,62% per tahun, maka
produksi kopi Indonesia diperkirakan akan naik menjadi 716.713 ton pada tahun
2011.

2.8. PROYEKSI PERMINTAAN KOPI 2009 – 2011

Permintaan kopi di Indonesia untuk konsumsi rumah tangga dalam bentuk
kopi bubuk dan untuk dieskpor. Untuk itu pemodelan dilakukan dengan
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
21
menggunakan time series dari data volume ekspor kopi dan konsumsi kopi bubuk
per kapita yang bersumber dari SUSENAS BPS. Berdasarkan hasil penelusuran
model dihasilkan analisis fungsi permintaan ekspor dilakukan dengan
menggunakan analisis trend quadratik (univariate), sedangkan konsumsi kopi
bubuk per kapita menggunakan analisis linier. Hasil proyeksi permintaan yang
dijelaskan oleh konsumsi kopi dalam negeri dan permintaan ekspor kopi
disajikan pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5. Proyeksi konsumsi kopi dalam negeri dan volume ekspor, 2008 – 2011

Tahun
Konsumsi dalam
negeri (Ton)
Volume ekspor
(Ton)
Total Permintaan
(Ton)
2008 1) 212.115 439.135 651.250
2009 238.600 413.033 651.633
2010 249.051 419.254 668.305
2011 259.760 425.474 685.234
Rata-rata
pertumbuhan (%/th)
1,60 0,45 0,87
Sumber: Konsumsi dan ekspor diolah dari data BPS.

Selama periode tahun 2008 – 2011, permintaan kopi diproyeksikan akan
naik sebesar 0,87% per tahun. Kenaikan tersebut disebabkan oleh kenaikan
konsumsi kopi dalam negeri mengalami kenaikan sebesar 1,6% per tahun dan
volume ekspor naik sebesar 0,45% per tahun. Pada tahun 2009 total permintaan
kopi diproyeksikan 651.633 ton, kemudian naik menjadi 668.305 ton pada tahun
2010 dan 685.234 ton tahun 2011.

2.9. PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT KOPI 2009 – 2011

Selama periode 2009 – 2011, surplus produksi kopi semakin menurun yaitu
dengan rata-rata pertumbuhan turun sebesar 4,60% per tahun (Tabel 2.6). Pada
tahun 2009, surplus produksi kopi Indonesia sebesar 37.704 ton dan menurun
Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
22
menjadi 34.610 ton pada tahun 2010, kemudian akan mengalami penurunan lagi
pada tahun 2011 menjadi 31.479 ton.

Tabel 2.6. Proyeksi surplus/defisit kopi di Indonesia, 2009- 2011

Tahun
Penawaran
(Ton)
Permintaan
(Ton)
Surplus/Defisit
(Ton)
2009 689.337 651.633 37.704
2010 702.915 668.305 34.610
2011 716.713 685.234 31.479
Rata-rata
Pertumbuhan (%)
1,00 1,29 -4,60

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
23
Lampiran 2.1. Perkembangan luas areal kopi di Indonesia menurut status
pengusahaan, 1970 – 2008

Ha
Pertumb.
(%)
Ha
Pertumb.
(%)
Ha
Pertumb.
(%)
Ha
Pertumb.
(%)
1970 351,096 20,412 23,365 394,873
1971 366,301 4.33 20,605 0.95 20,748 -11.20 407,654 3.24
1972 356,850 -2.58 29,327 42.33 18,956 -8.64 405,133 -0.62
1973 340,511 -4.58 21,024 -28.31 19,688 3.86 381,223 -5.90
1974 346,719 1.82 20,442 -2.77 19,410 -1.41 386,571 1.40
1975 361,329 4.21 20,146 -1.45 18,422 -5.09 399,897 3.45
1976 401,958 11.24 19,876 -1.34 18,177 -1.33 440,011 10.03
1977 454,300 13.02 20,260 1.93 23,266 28.00 497,826 13.14
1978 477,083 5.01 21,815 7.68 21,676 -6.83 520,574 4.57
1979 577,583 21.07 20,716 -5.04 25,804 19.04 624,103 19.89
1980 663,601 14.89 20,925 1.01 22,938 -11.11 707,464 13.36
1981 749,829 12.99 23,016 9.99 24,001 4.63 796,846 12.63
1982 759,182 1.25 23,635 2.69 20,211 -15.79 803,028 0.78
1983 766,134 0.92 24,426 3.35 24,427 20.86 814,987 1.49
1984 837,488 9.31 22,440 -8.13 34,283 40.35 894,211 9.72
1985 874,340 4.40 23,499 4.72 33,290 -2.90 931,129 4.13
1986 888,862 4.40 23,593 0.40 22,744 -31.68 935,199 0.44
1987 908,584 1.66 24,280 2.91 28,776 26.52 961,640 2.83
1988 969,789 2.22 25,484 4.96 30,674 6.60 1,025,947 6.69
1989 984,234 6.74 21,800 -14.46 30,516 -0.52 1,036,550 1.03
1990 1,014,125 1.49 25,834 18.50 29,889 -2.05 1,069,848 3.21
1991 1,063,289 3.04 25,891 0.22 30,674 2.63 1,119,854 4.67
1992 1,076,474 6.15 26,092 0.78 31,332 2.15 1,133,898 1.25
1993 1,090,050 1.26 26,325 0.89 31,192 -0.45 1,147,567 1.21
1994 1,080,532 -0.87 26,593 1.02 33,260 6.63 1,140,385 -0.63
1995 1,109,499 2.68 25,616 -3.67 32,396 -2.60 1,167,511 2.38
1996 1,103,615 -0.53 24,169 -5.65 31,295 -3.40 1,159,079 -0.72
1997 1,105,114 0.14 32,232 33.36 32,682 4.43 1,170,028 0.94
1998 1,068,064 -3.35 39,139 21.43 46,166 41.26 1,153,369 -1.42
1999 1,059,245 -0.83 39,316 0.45 28,716 -37.80 1,127,277 -2.26
2000 1,192,322 12.56 40,645 3.38 27,720 -3.47 1,260,687 11.83
2001 1,258,628 5.56 26,954 -33.68 27,801 0.29 1,313,383 4.18
2002 1,318,020 4.72 26,954 0.00 27,210 -2.13 1,372,184 4.48
2003 1,240,222 -5.90 26,597 -1.32 25,091 -7.79 1,291,910 -5.85
2004 1,251,326 0.90 26,597 0.00 26,020 3.70 1,303,943 0.93
2005 1,202,392 -3.91 26,641 0.17 26,239 0.84 1,255,272 -3.73
2006 1,255,104 4.38 26,644 0.01 26,983 2.84 1,308,731 4.26
2007 1,243,429 -0.93 23,721 -10.97 28,761 6.59 1,295,911 -0.98
2008 *) 1,250,411 0.56 23,721 0.00 28,760 0.00 1,302,892 0.54
3.67 1.22 1.71 3.33
4.65 2.48 2.25 4.24
1.25 (1.87) 0.39 1.09
94.95 2.41 2.64 100
94.61 2.47 2.91 100
95.38 2.34 2.28 100
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan diolah Pusdatin
Keterangan : PR = Perkebunan Rakyat PBS= Perkebunan Besar Swasta
PBN = Perkebunan Besar Negara *) Angka Sementara
1998-2008
1970-2008
1970-1997
1998-2008
Rata-rata laju pertumbuhan (%)
Kontribusi luas areal terhadap Indonesia (%)
PR PBN PBS Indonesia
Tahun
1970-2008
1970-1997

Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
24
Lampiran 2.2. Perkembangan produksi kopi di Indonesia menurut Status
Pengusahaan, 1970 – 2008

Ton
Pertumb.
(%)
Ton
Pertumb.
(%)
Ton
Pertumb.
(%)
Ton
Pertumb.
(%)
1970 170,089 8,951 6,051 185,091
1971 161,985 -4.76 10,935 22.17 7,996 32.14 180,916 -2.26
1972 158,073 -2.42 12,289 12.38 8,373 4.71 178,735 -1.21
1973 140,290 -11.25 5,625 -54.23 4,248 -49.27 150,163 -15.99
1974 132,430 -5.60 10,242 82.08 7,139 68.06 149,811 -0.23
1975 155,359 17.31 9,614 -6.13 5,399 -24.37 170,372 13.72
1976 177,956 14.55 9,797 1.90 5,624 4.17 193,377 13.50
1977 177,886 -0.04 10,307 5.21 5,773 2.65 193,966 0.30
1978 205,641 15.60 9,671 -6.17 7,377 27.78 222,689 14.81
1979 256,812 24.88 11,271 16.54 5,592 -24.20 273,675 22.90
1980 276,295 7.59 13,212 17.22 5,466 -2.25 294,973 7.78
1981 290,401 5.11 16,189 22.53 8,309 52.01 314,899 6.76
1982 262,247 -9.69 13,297 -17.86 5,707 -31.32 281,251 -10.69
1983 287,183 9.51 10,147 -23.69 8,318 45.75 305,648 8.67
1984 291,291 1.43 14,775 45.61 9,423 13.28 315,489 3.22
1985 288,404 -0.99 12,635 -14.48 10,359 9.93 311,398 -1.30
1986 329,605 14.29 17,664 39.80 9,553 -7.78 356,822 14.59
1987 367,835 11.60 13,043 -26.16 7,791 -18.44 388,669 8.93
1988 262,311 -28.69 16,072 23.22 12,712 63.16 291,095 -25.10
1989 376,579 43.56 13,466 -16.21 11,003 -13.44 401,048 37.77
1990 384,464 2.09 15,566 15.59 12,737 15.76 412,767 2.92
1991 399,088 3.80 16,755 7.64 12,462 -2.16 428,305 3.76
1992 408,808 2.44 16,890 0.81 11,232 -9.87 436,930 2.01
1993 410,048 0.30 17,266 2.23 11,554 2.87 438,868 0.44
1994 421,682 2.84 17,468 1.17 11,041 -4.44 450,191 2.58
1995 429,569 1.87 16,824 -3.69 11,408 3.32 457,801 1.69
1996 435,757 1.44 13,184 -21.64 10,265 -10.02 459,206 0.31
1997 396,155 -9.09 21,050 59.66 11,213 9.24 428,418 -6.70
1998 469,671 18.56 25,759 22.37 19,021 69.63 514,451 20.08
1999 493,940 5.17 26,208 1.74 11,539 -39.34 531,687 3.35
2000 514,896 4.24 29,754 13.53 9,924 -14.00 554,574 4.30
2001 541,476 5.16 18,111 -39.13 9,647 -2.79 569,234 2.64
2002 654,281 20.83 18,128 0.09 9,610 -0.38 682,019 19.81
2003 644,657 -1.47 17,007 -6.18 9,591 -0.20 671,255 -1.58
2004 618,227 -4.10 17,025 0.11 12,134 26.51 647,386 -3.56
2005 615,556 -0.43 17,034 0.05 7,775 -35.92 640,365 -1.08
2006 653,261 6.13 17,017 -0.10 11,880 52.80 682,158 6.53
2007 652,336 -0.14 13,642 -19.83 10,498 -11.63 676,476 -0.83
2008 *) 657,341 0.77 14,480 -14.91 11,117 5.90 682,938 0.96
4.27 3.77 5.47 4.05
3.99 6.87 5.83 3.82
4.97 -3.84 4.60 4.60
93.85 3.79 2.36 100.00
92.87 4.31 2.81 100.00
95.08 3.13 1.79 100.00
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan diolah Pusdatin
Keterangan : PR = Perkebunan Rakyat PBS= Perkebunan Besar Swasta
PBN = Perkebunan Besar Negara *) Angka Sementara
Tahun
PR PBN PBS Indonesia
1970-2008
1998-2008
1970-2008
1970-1997
1998-2008
Rata-rata laju pertumbuhan (%)
Kontribusi produksi terhadap Indonesia (%)
1970-1997

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
25
Lampiran 2.3. Produksi kopi menurut jenisnya di Indonesia, 2003 - 2008

PR PBN PBS Indonesia PR PBN PBS Indonesia
2003 606,386 12,549 8,964 627,899 38,271 4,458 627 43,356
2004 569,104 12,564 10,492 592,160 49,123 4,460 1,642 55,225
2005 560,979 12,574 6,557 580,110 54,576 4,460 1,218 60,254
2006 565,234 12,559 9,592 587,385 88,027 4,458 2,288 94,773
2007 532,010 8,974 8,101 549,085 120,326 4,668 2,397 127,391
2008 *) 534,952 9,738 8,588 553,278 122,389 4,742 2,529 129,660
Rata-rata 561,444 11,493 8,716 581,653 78,785 4,541 1,784 85,110
Share (%)
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka Sementara
87.24 12.76
Tahun
Robusta (Ton) Arabika (Ton)


Lampiran 2.4. Provinsi sentra produksi kopi di Indonesia, 2004 – 2008

2004 2005 2006 2007 2008*)
1 Sumatera Selatan
140,812 140,463 150,167 148,281 148,981
145,741 22.32 22.32
2 Lampung
142,599 142,761 141,305 140,095 140,090
141,370 21.65 43.97
3 Bengkulu
64,043 61,187 63,757 56,128 55,610
60,145 9.21 53.18
4 Sumatera Utara
46,560 41,493 50,032 50,158 49,839
47,616 7.29 60.47
5 Jawa Timur
44,237 43,009 50,132 47,000 48,569
46,589 7.14 67.61
6 NAD
37,100 35,012 41,894 48,080 48,284
42,074 6.44 74.05
7 Provinsi Lainnya 172,034 141,428 155,381 186,735 191,565 169,429 25.95 100.00
Indonesia 647,385 605,353 652,668 676,477 682,938 652,964
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka Sementara
Share
kumulatif
(%)
Tahun
No. Provinsi
Rata-rata
(Ton)
Share (%)












Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
26
Lampiran 2.5. Perkembangan harga kopi robusta di pasar dalam negeri dan pasar
dunia, 1987 – 2007

(Rp/Kg) Pertumb. (%) (Cent US$/lb) Pertumb. (%)
1987 2,425 117
1988 2,321 -4.29 132 12.82
1989 1,517 -34.64 105 -20.45
1990 1,350 -11.01 91 -13.33
1991 1,437 6.44 85 -6.59
1992 1,409 -1.95 67 -21.18
1993 1,889 34.07 68 1.49
1994 4,295 127.37 145 113.24
1995 4,768 11.01 145 0.00
1996 4,308 -9.65 116 -20.00
1997 1,738 -59.66 185 59.48
1998 12,321 608.92 132 -28.65
1999 13,439 9.07 104 -21.21
2000 8,800 -34.52 90 -13.46
2001 5,318 -39.57 54 -40.00
2002 4,940 -7.11 56 3.70
2003 4,379 -11.36 61 8.93
2004 5,379 22.84 75 22.95
2005 6,802 26.45 111 48.00
2006 10,013 47.21 149 34.23
2007 15,775 57.55 191 28.19
5.77 10.55
67.95 4.27
Sumber : Direktorat Jenderal PPHP diolah Pusdatin
Rata-rata Pertumbuhan (%)
Pasar dalam negeri Pasar dunia
Tahun
1987 - 1997
1998-2007









» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
27
Lampiran 2.6. Perkembangan ekspor - impor dan neraca perdagangan kopi
Indonesia, 1996 – 2008

Volume
(Ton)
Nilai
(000 US$)
Volume
(Ton)
Nilai
(000 US$)
1996 366,602 595,269 312 590 594,679
1997 313,118 511,321 10,507 13,908 497,413
1998 357,550 603,243 2,965 4,171 599,072
1999 352,763 466,827 2,917 3,303 463,524
2000 339,201 318,895 13,718 11,148 307,747
2001 250,817 188,492 8,294 5,086 183,406
2002 325,010 223,917 7,665 4,462 219,455
2003 323,904 259,107 4,397 5,893 253,214
2004 344,077 294,114 5,690 6,867 287,247
2005 445,930 504,407 3,195 6,221 498,186
2006 414,105 588,502 6,600 11,760 576,742
2007 320,850 635,067 49,732 77,773 557,294
2008 439,135 931,575 7,278 17,676 913,899
Rata-rata Laju Pertumbuhan (%)
1996-2008 3.11 4.42 35.09 23.83 5.75
1996-1999 (0.58) (6.25) 1,064.74 722.16 (6.18)
2000-2008 5.78 18.74 71.32 68.21 19.74
Sumber : BPS diolah Pusdatin
Keterangan : ( ) pada neraca berarti harga impor lebih tinggi dibandingkan harga ekspor
Ekspor Impor
Tahun
Neraca
(000 US$)










Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
28
Lampiran 2.7. Perkembangan luas areal, produksi dan produktivitas kopi dunia,
1970 – 2007

(Ha) Pertumb. (%) (Ton) Pertumb. (%) (Kg/Ha) Pertumb. (%)
1970 8,892,586 3,853,438 433
1971 9,078,939 2.10 4,667,175 21.12 514 18.63
1972 8,951,034 -1.41 4,575,708 -1.96 511 -0.56
1973 8,884,398 -0.74 4,191,724 -8.39 472 -7.70
1974 8,982,030 1.10 4,776,143 13.94 532 12.70
1975 9,005,936 0.27 4,607,209 -3.54 512 -3.79
1976 7,937,110 -11.87 3,526,508 -23.46 444 -13.15
1977 8,995,687 13.34 4,403,391 24.87 490 10.17
1978 9,411,182 4.62 4,729,186 7.40 503 2.66
1979 9,782,493 3.95 4,976,186 5.22 509 1.23
1980 10,074,219 2.98 4,841,928 -2.70 481 -5.52
1981 10,397,160 3.21 6,086,258 25.70 585 21.79
1982 9,814,634 -5.60 4,938,497 -18.86 503 -14.04
1983 10,155,872 3.48 5,588,080 13.15 550 9.35
1984 10,179,330 0.23 5,229,504 -6.42 514 -6.63
1985 10,363,547 1.81 5,831,530 11.51 563 9.53
1986 10,594,189 2.23 5,244,926 -10.06 495 -12.02
1987 10,868,050 2.59 6,393,760 21.90 588 18.83
1988 11,182,380 2.89 5,655,497 -11.55 506 -14.03
1989 11,278,151 0.86 5,916,050 4.61 525 3.72
1990 11,367,966 0.80 6,077,255 2.72 535 1.91
1991 10,940,287 -3.76 6,109,492 0.53 558 4.46
1992 10,492,211 -4.10 6,096,639 -0.21 581 4.05
1993 10,193,295 -2.85 5,564,207 -8.73 546 -6.06
1994 10,043,218 -1.47 5,770,058 3.70 575 5.25
1995 9,812,323 -2.30 5,540,205 -3.98 565 -1.72
1996 9,886,348 0.75 6,217,254 12.22 629 11.38
1997 9,856,555 -0.30 6,005,305 -3.41 609 -3.12
1998 10,065,434 2.12 6,655,447 10.83 661 8.53
1999 10,303,460 2.36 6,794,417 2.09 659 -0.27
2000 10,741,302 4.25 7,566,447 11.36 704 6.82
2001 10,653,072 -0.82 7,408,827 -2.08 695 -1.27
2002 10,232,313 -3.95 7,906,722 6.72 773 11.11
2003 10,339,925 1.05 7,210,736 -8.80 697 -9.75
2004 10,363,343 0.23 7,622,112 5.71 735 5.47
2005 10,243,993 -1.15 7,154,497 -6.13 698 -5.04
2006 10,149,768 -0.92 7,774,270 8.66 766 9.67
2007 10,295,289 1.43 7,766,675 -0.10 754 -1.51
1970 - 2007 0.47 2.53 1.92
1970 - 1997 0.47 2.42 1.75
1998 - 2007 0.46 2.82 2.38
Sumber : FAO diolah Pusdatin
Luas Produksi Produktivitas
Tahun
Rata-rata pertumbuhan (%)

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
29
Lampiran 2.8. Negara produsen kopi dunia, 2003 – 2007

2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata
1 Brazil 1,987,074 2,465,710 2,140,169 2,573,368 2,178,246 2,268,913 30.23 30.23
2 Viet Nam 793,700 836,000 752,100 853,500 1,060,000 859,060 11.45 41.67
3 Colombia 694,080 680,580 693,480 696,000 710,000 694,828 9.26 50.93
4 Indonesia 671,255 647,385 682,158 676,476 682,938 672,042 8.95 59.89
5 Mexico 310,861 312,413 294,364 310,000 320,000 309,528 4.12 64.01
6 India 275,000 271,000 275,000 274,000 275,000 274,000 3.65 67.66
7 Guatemala 244,200 220,300 229,000 216,600 216,600 225,340 3.00 70.66
8 Ethiopia 221,580 156,171 171,631 241,482 325,800 223,333 2.98 73.64
9 Peru 203,148 224,577 174,955 258,314 230,000 218,199 2.91 76.55
10 Negara Lainnya 1,809,838 1,807,976 1,741,640 1,674,530 1,768,091 1,760,415 23.45 100.00
Dunia 7,210,736 7,622,112 7,154,497 7,774,270 7,766,675 7,505,658
Sumber : FAO diolah Pusdatin
Produksi (Ton)
No Negara Share (%)
Share
Kumulatif
(%)
























Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
30
Lampiran 2.9. Perkembangan ekspor dan impor kopi dunia, 1970 – 2007

Tahun Volume Pertumb. Nilai Pertumb. Volume Pertumb. Nilai Pertumb.
(000 ton) (%) (US$ Juta) (%) (000 ton) (%) (US$ Juta) (%)
1970 3,251 3,046 3,247 3,177
1971 3,260 0.29 2,693 -11.60 3,346 3.05 3,063 -3.59
1972 3,541 8.61 3,194 18.62 3,438 2.75 3,334 8.83
1973 3,763 6.26 4,278 33.93 3,611 5.04 4,413 32.38
1974 3,361 -10.68 4,232 -1.06 3,425 -5.17 4,694 6.37
1975 3,519 4.71 4,154 -1.86 3,623 5.79 4,856 3.43
1976 3,604 2.40 8,153 96.29 3,714 2.52 8,417 73.34
1977 2,888 -19.87 12,188 49.50 3,059 -17.64 13,845 64.49
1978 3,396 17.60 10,743 -11.86 3,366 10.06 12,043 -13.02
1979 3,739 10.12 11,760 9.47 3,822 13.54 13,147 9.17
1980 3,677 -1.66 12,081 2.73 3,713 -2.85 13,650 3.83
1981 3,665 -0.33 8,194 -32.18 3,733 0.54 9,865 -27.73
1982 3,886 6.01 8,961 9.37 3,796 1.69 9,964 1.00
1983 3,947 1.59 9,018 0.64 3,893 2.55 10,160 1.96
1984 4,128 4.58 10,502 16.46 3,939 1.19 11,147 9.71
1985 4,302 4.21 10,822 3.05 4,083 3.65 11,413 2.39
1986 3,977 -7.54 14,564 34.58 4,106 0.56 16,095 41.03
1987 4,366 9.77 9,800 -32.71 4,427 7.82 11,583 -28.03
1988 4,112 -5.82 9,943 1.46 4,119 -6.95 10,960 -5.38
1989 4,655 13.20 9,034 -9.14 4,534 10.06 10,525 -3.97
1990 4,844 4.07 7,005 -22.47 4,730 4.33 8,082 -23.22
1991 4,642 -4.17 6,628 -5.38 4,641 -1.88 7,791 -3.60
1992 4,723 1.75 5,359 -19.14 4,886 5.28 6,767 -13.14
1993 4,689 -0.72 5,787 7.98 4,689 -4.04 6,570 -2.91
1994 4,566 -2.62 10,783 86.33 4,550 -2.96 11,212 70.65
1995 4,240 -7.15 12,287 13.95 4,325 -4.94 14,465 29.02
1996 4,831 13.95 10,409 -15.29 4,720 9.13 11,591 -19.87
1997 4,899 1.42 13,209 26.90 4,860 2.97 14,351 23.81
1998 4,908 0.17 11,960 -9.46 4,860 0.00 13,104 -8.69
1999 5,260 7.18 9,786 -18.17 5,047 3.85 10,281 -21.54
2000 5,499 4.53 8,460 -13.55 5,204 3.10 9,142 -11.08
2001 5,440 -1.06 5,435 -35.75 5,125 -1.51 6,264 -31.48
2002 5,492 0.96 5,087 -6.41 5,242 2.28 5,626 -10.18
2003 5,232 -4.73 5,711 12.28 5,235 -0.13 6,463 14.88
2004 5,683 8.60 7,086 24.08 5,526 5.56 7,550 16.81
2005 5,424 -4.54 9,420 32.93 5,449 -1.39 10,122 34.07
2006 5,758 6.15 11,077 17.59 5,731 5.16 11,727 15.86
2007 6,151 6.82 13,583 22.63 5,841 1.93 13,647 16.37
1.85 9.21 1.71 8.78
2.41 2.62 1.89 1.50
2.00 7.42 1.75 6.81
Sumber : FAO, diolah oleh Pusdatin
Ekspor Impor
Rata-rata pertumbuhan (%)
1970-1997
1998-2007
1970-2007

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian
31
Lampiran 2.10. Negara eksportir kopi dunia, 2003 – 2007

2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata
1 Brazil 1,369,159 1,410,801 1,352,097 1,475,716 1,488,255 1,419,206 25.12 25.12
2 Vietnam 749,200 976,000 892,000 981,000 1,229,000 965,440 17.09 42.21
3 Colombia 578,149 574,935 616,380 600,724 637,421 601,522 10.65 52.86
4 Indonesia 323,904 344,077 445,930 414,105 320,850 369,773 6.55 59.40
5 Germany 198,842 221,745 264,141 290,245 302,534 255,501 4.52 63.92
6 Guatemala 249,888 208,490 201,933 203,659 230,621 218,918 3.87 67.80
7 Peru 150,354 191,124 142,151 237,537 173,615 178,956 3.17 70.97
8 Lainnya 1,612,988 1,755,464 1,509,796 1,554,917 1,768,338 1,640,301 29.03 100.00
Dunia 5,232,484 5,682,636 5,424,428 5,757,903 6,150,634 5,649,617 100.00
Sumber: FAO diolah Pusdatin
Volume ekspor (Ton)
No Negara Share (%)
Share
kumulatif
(%)



Lampiran 2.11. Negara importir kopi dunia, 2003 - 2007

2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata
1 USA 1,219,731 1,239,080 1,213,634 1,276,191 1,312,902 1,252,308 22.54 22.54
2 Germany 872,482 959,041 900,809 1,001,228 1,022,126 951,137 17.12 39.66
3 Italy 389,835 395,217 408,741 424,345 451,873 414,002 7.45 47.11
4 Japan 377,647 400,977 413,264 422,696 389,818 400,880 7.21 54.32
5 France 287,408 239,708 214,681 222,670 245,042 241,902 4.35 58.67
6 Spain 226,966 225,736 240,818 240,919 258,527 238,593 4.29 62.97
7 Belgium 185,947 193,524 196,409 221,769 193,430 198,216 3.57 66.54
8 Lainnya 1,674,983 1,872,727 1,861,031 1,920,919 1,967,587 1,859,449 33.46 100.00
Dunia 5,234,999 5,526,010 5,449,387 5,730,737 5,841,305 5,556,488 100.00
Sumber: FAO diolah Pusdatin
Volume impor (Ton)
No Negara Share (%)
Share
kumulatif
(%)














» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
33
III. LADA


Lada atau merica (Piper nigrum L.) adalah tumbuhan penghasil rempah-
rempah yang berasal dari bijinya. Lada sangat penting dalam komponen masakan
dunia. Pada masa lampau harganya sangat tinggi sehingga memicu penjelajah
Eropa berkelana untuk memonopoli lada dan mengawali sejarah kolonisasi Afrika,
Asia, dan Amerika (Wilkipedia, 2009).
Sejak jaman dahulu kala, Indonesia dikenal sebagai negara penghasil
rempah-rempah yang terkenal, sebagian besar rempah-rempah yang
diperdagangkan di dunia adalah lada (Peper nigrum Linn). Produksi lada pada
satu dekade terakhir ini mengalami fluktuasi yang cukup drastis dan cenderung
semakin menurun, bahkan semakin sulit menembus dan bersaing dalam
perdagangan internasional. Apalagi rendahnya mutu lada yang dihasilkan oleh
petani menyebabkan lada asal Indonesia sering mengalami penahanan
(detention) oleh Food and Drugs Administrantion (FDA) di Amerika Serikat.
Penahanan tersebut terjadi karena adanya pencemaran oleh mikroorganisme,
bahan asing, kadar air, dan kadar minyak lada yang tidak memenuhi syarat.
Permasalahan di atas disebabkan karena mayoritas masyarakat petani lada di
Indonesia masih menggunakan teknologi tradisional, baik dalam budidayanya
maupun dalam penanganan pasca panennya. Disamping faktor teknologi tersebut,
perangkat sistem dan kebijakan yang ada juga tidak mendukung bagi terciptanya
suatu mekanisme pasar yang kondusif (Mulyono D, 2002).
Di pasar internasional, lada Indonesia mempunyai kekuatan dan daya jual
tersendiri karena cita rasanya yang khas. Lada Indonesia dikenal dengan nama
Muntok white pepper untuk lada putih dan Lampung black pepper untuk lada
hitam. Peranan Indonesia sebagai penghasil dan pengekspor lada hitam telah
digeser oleh Vietnam, sementara lada putih masih bisa dipertahankan namun
tetap harus waspada. Agar dapat bersaing di pasar dunia maka harus dilakukan
efisiensi budidaya lada Indonesia dan pengembangan diversifikasi produk lada.
Dari sisi teknologi salah satunya adalah dikembangkannya varietas Natar I yang
cocok untuk ditanam di Lampung (Manohara Dyah, dkk, 2009).
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
34
Diversifikasi produk diperlukan bila produk utama harganya jatuh.
Disamping mengembangkan lada pada lahan yang sesuai, serta menerapkan
teknologi rekomendasi dan efisiensi biaya produksi juga perlu ditingkatkan peran
kelembagaan mulai dari kelembagaan di tingkat petani (KUD, APLI, kelompok tani)
sampai kelembagaan pemasaran seperti AELI dan IPC (Yuhono, JT. 2009).
3.1. PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PRODUKSI, DAN PRODUKTIVITAS
LADA DI INDONESIA

Luas areal tanaman lada yang diusahakan di Indonesia pada periode 1967-
2008 menunjukkan kecenderungan meningkat dengan laju pertumbuhan rata-
ratanya 4,34% per tahun (Gambar 3.1.). Pertumbuhan rata-rata pasca krisis
ekonomi Indonesia (1998-2008) menunjukkan angka yang lebih tinggi yaitu 5,36%
per tahun. Apabila ditinjau pertumbuhan rata-rata luas areal lada menurut status
pengusahaan, maka pada periode 1967-1997 luas areal perkebunan besar swasta
(PBS) tumbuh sebesar 24,99%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan di perkebunan
rakyat (PR) yang hanya 3,96%. Namun demikian, pada periode selanjutnya (1998-
2008) terjadi sebaliknya, pertumbuhan luas areal lada PBS turun hingga 19,02%
per tahun dan PR meningkat sebesar 5,38% per tahun (Lampiran 3.1).

Gambar 3.1. Perkembangan luas areal lada di Indonesia, 1969-2008

Di Indonesia, areal lada didominasi pengusahaannya PR, dan sebagian kecil
adalah areal PBS. Berdasarkan data rata-rata 5 tahun (2004-2008), besarnya
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
35
kontribusi luas areal lada PR adalah 99,95% terhadap total areal perkebunan lada
di Indonesia (Gambar 3.2.).


Gambar 3.2. Kontribusi luas areal lada di Indonesia menurut status pengusahaan,
(rata-rata 2004-2008)

Sejalan dengan peningkatan luas areal, total produksi lada Indonesia juga
mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari 16,50 ribu ton pada
tahun 1967 menjadi 79,79 ribu ton pada tahun 2008 dengan rata-rata
pertumbuhan sebesar 8,08% per tahun (Gambar 3.3). Produksi lada nasional
mencapai puncaknya pada tahun 2003, yaitu sebesar 90,71 ribu ton. Setelah
tahun tersebut terjadi penurunan produksi (Lampiran 3.2).


Gambar 3.3. Perkembangan produksi lada di Indonesia, 1967-2008

Berdasarkan data produksi rata-rata tahun 2004-2008, terdapat 6 provinsi
sentra produksi lada PR yang mempunyai kontribusi kumulatif hingga 81,55%,
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
36
yaitu Provinsi Lampung, Bangka Belitung, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan,
Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Provinsi Lampung memberikan
kontribusi terbesar terhadap total produksi Indonesia hingga mencapai 28,47%.
Peringkat kedua adalah Bangka Belitung (21,78%), diikuti Kalimantan Timur
(12,33%). Provinsi sentra produksi lainnya dibawah 7%, sedangkan provinsi-
provinsi bukan sentra hanya memberikan kontribusi kurang dari 5% (Gambar
3.4). Perkembangan produksi lada di provinsi sentra dari tahun 2004-2008 secara
rinci disajikan pada Lampiran 3.3.


Gambar 3.4. Provinsi sentra produksi lada di Indonesia, (rata-rata 2004-2008)

Dari sisi produktivitas, secara umum selama periode 1967-2008 tampak
berfluktuasi namun menunjukkan kecenderungan menurun (Gambar 3.5.).
Produktivitas lada tertinggi terjadi pada tahun 1968 sebesar 1,09 ton/ha dan
terendah pada tahun 1970 dan 2004 yaitu sebesar 0,38 ton/ha.


Gambar 3.5. Perkembangan produktivitas lada di Indonesia, 1967-2008
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
37
Sementara, apabila dilihat berdasarkan status pengusahaannya,
produktivitas lada PR ternyata lebih tinggi dibandingkan PBS. Berdasarkan data
rata-rata tahun 2004-2008, besarnya produktivitas lada PBS sebesar 0,33 ton/ha
sementara pada PR telah mencapai 0,67 ton/ha (Lampiran 3.4.). Perkembangan
produktivitas lada periode 2004-2008 di PR relatif tetap, sementara di PBS
terjadi peningkatan di tahun 2006 tetapi menurun kembali pada tahun berikutnya
(Gambar 3.6.).
0,00
0,20
0,40
0,60
0,80
1,00
2004 2005 2006 2007 2008*)
(Ton/Ha)
PR PBS Indonesia

Gambar 3.6. Perkembangan produktivitas lada di Indonesia menurut status
pengusahaan, (rata-rata 2004-2008)


3.2. PERKEMBANGAN KONSUMSI LADA DI INDONESIA

Konsumsi lada oleh rumah tangga di Indonesia bersumber dari hasil Survei
Sosial Ekonomi (SUSENAS) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik setiap 3
tahun sekali, bahkan sejak tahun 2003 dipantau tiap tahun. Perkembangan
konsumsi lada perkapita oleh rumah tangga selama tahun 1984-2008
menunjukkan berfluktuasi dan cenderung menurun (Gambar 3.7.). Konsumsi
perkapita oleh rumah tangga tertinggi terjadi pada tahun 1996 dan terendah
pada tahun 1987. Dilihat dari pertumbuhan rata-rata konsumsi lada perkapita
pada tahun 1984-2008 meningkat sebesar% 3,49 per tahun (Lampiran 3.5.).
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
38

Gambar 3.7. Perkembangan konsumsi lada di Indonesia, 1984-2008

3.3. PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR LADA DI INDONESIA

Lada merupakan rempah-rempah yang dibutuhkan dunia sejak lama.
Indonesia merupakan salah satu negara eksportir lada terbesar dunia. Ekspor
lada Indonesia umumnya dalam bentuk biji kering dan lebih dari 50% produksi
lada dalam negeri ditujukan untuk ekspor. Volume maupun nilai ekspor lada
Indonesia sejak tahun 1969 sampai dengan 2008 tampak berfluktuasi (Gambar
3.8.). Ekspor lada tertinggi terjadi pada tahun 2000 dengan volume sebesar 65,01
ribu ton dan nilai sebesar US$ 221,09 juta. Pertumbuhan rata-rata volume ekspor
tahun 1969-2008 meningkat sebesar 27,83% per tahun dan nilai ekspornya tumbuh
rata-rata 68,04% per tahun (Lampiran 3.6.).


Gambar 3.8. Perkembangan ekspor lada Indonesia, 1969-2008
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
39
Meskipun melakukan ekspor, Indonesia juga melakukan impor lada,
dengan perkembangan per tahun juga relatif berfluktuasi (Gambar 3.9.). Volume
dan nilai impor tertinggi terjadi pada tahun 1998 sebesar 16,49 ribu ton dengan
nilai impor sebesar US$ 18,23 juta. Absolut volume impor lada memang tidak
sebesar volume ekspor namun dari sisi pertumbuhan rata-ratanya selama tahun
1969-2008 menunjukkan peningkatan yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan
ekspornya yaitu meningkat sebesar 338,96% per tahun, sedangkan nilainya
sebesar 174,21% per tahun (Lampiran 3.6.).


Gambar 3.9. Perkembangan impor lada di Indonesia, 1969-2008

Sementara neraca perdagangan lada menunjukkan surplus, artinya nilai
ekspor lebih besar daripada nilai impornya. Ini menunjukkan bahwa komoditas
lada merupakan salah satu komoditas yang berkontribusi terhadap devisa negara
meskipun surplusnya cenderung menurun. Surplus tertinggi terjadi pada tahun
2000 sebesar 218,44 juta US$.

3.4. PERKEMBANGAN LUAS TANAMAN MENGHASILKAN, PRODUKSI
DAN PRODUKTIVITAS LADA DUNIA

Perkembangan luas tanaman menghasilkan lada dunia berdasarkan data
FAO periode tahun 1961-2007 terus meningkat, seperti terlihat pada Gambar
3.10. Laju pertumbuhan luas tanaman menghasilkan lada dunia tersebut
meningkat rata-rata sebesar 2,89% per tahun. Tampak pada Gambar 3.10.
pertumbuhan luas tanaman menghasilkan lada dunia pada periode 1998-2007
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
40
lebih tinggi, besarnya pertumbuhan rata-rata adalah 4,15% per tahun. Hal ini
dikarenakan lada tidak hanya sebagai rempah bumbu masakan tetapi juga
digunakan sebagai obat dan bahan baku parfum. Pertumbuhan luas tanaman
menghasilkan tertinggi terjadi pada tahun 1996 dengan pertumbuhan sebesar
20,95% (Lampiran 3.7.).


Gambar 3.10. Perkembangan luas tanaman menghasilkan lada dunia,
1961-2007

Perkembangan produksi lada dunia sejalan dengan luas tanaman
menghasilkan yaitu cenderung meningkat, seperti terlihat pada Gambar 3.11.
Berdasarkan data FAO, selama tahun 1961-2007 produksi lada dunia meningkat
sebesar 5,03% per tahun. Produksi lada dunia tertinggi selama satu dekade
terakhir terjadi pada tahun 2006 sebesar 439,14 ribu ton (Lampiran 3.7.)


Gambar 3.11. Perkembangan produksi lada dunia, 1961-2007
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
41
Berdasarkan data rata-rata produksi lada dunia tahun 2003-2007, negara
produsen lada terbesar dunia urutan pertama adalah Indonesia, diikuti kemudian
India, Vietnam dan Brazil. Keempat negara tersebut memberikan kontribusi
produksi lada dunia hingga 73%, masing-masing negara memberikan kontribusi
produksi lada antara 17% hingga 18,73% (Gambar 3.12.). Secara rinci produksi
lada tahun 2003-2007 di negara-negara produsen lada dunia disajikan pada
Lampiran 3.8.


Gambar 3.12. Negara produsen lada terbesar dunia, (Rata-rata 2003-2007)


Gambar 3.13. Perkembangan produktivitas lada dunia, 1961-2007

Perkembangan produktivitas lada dunia selama tahun 1961–2007, tampak
berfluktuasi namun cenderung meningkat sebesar 1,90% per tahun (Gambar
3.13). Pertumbuhan produktivitas lada dunia tertinggi terjadi pada tahun 1962
yaitu meningkat sebesar 39,54%, sementara pertumbuhan produktivitaws lada
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
42
dunia tahun 1998-2007 meningkat sebesar 2,45% per tahun (Lampiran 3.7).
Produktivitas rata-rata lada dunia lima tahun terakhir (2003-2007) telah
mencapai 847,64 kg/ha.

3.5. PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR LADA DUNIA


Perkembangan ekspor-impor lada dunia relatif seimbang antara volume
ekspor dan volume impornya, seperti yang tersaji pada Gambar 3.14. Pada
periode tahun 1961-2007, pertumbuhan rata-rata volume ekspor lada dunia
meningkat 3,54% per tahun, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan rata-
rata volume impor lada dunia yaitu meningkat 3,08% per tahun (Lampiran 3.9).













Gambar 3.14. Perkembangan volume ekspor dan impor lada dunia, 2003-2007


Hal yang menarik dari ekspor dan impor lada dunia adalah negara-negara
eksportir dan negara importir. Berdasarkan data volume ekspor lada dunia dari
FAO (2003-2007), Vietnam merupakan negara eksportir tertinggi dunia dengan
kontribusi sebesar 31,94% dan volume sebesar 98,38 ribu ton. Diikuti kemudian
oleh Brazil pada urutan kedua dengan kontribusi sebesar 13,07% dan volume
ekspor lada 40,26 ribu ton, dan Indonesia pada urutan ketiga dengan kontribusi
sebesar 12,58% dan volume ekspor lada 38,77 ribu ton (Gambar 3.15). Ketiga
negara ini memberikan kontribusi ekspor lada dunia sebesar 57,59% terhadap
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
43
total ekspor lada dunia. Secara rinci volume ekspor tahun 2003-2007 dari
beberapa negara eksportir lada dunia disajikan pada Lampiran 3.10.

Gambar 3.15. Negara eksportir lada terbesar dunia, (rata-rata 2003-2007)

Sementara itu, negara-negara importir lada dunia adalah seperti tampak
pada Gambar 3.16. Negara pengimpor lada terbesar dunia adalah USA yang
memberikan kontribusi sebesar 23,44% terhadap total volume impor lada dunia
dengan realisasi impor sebesar 66,25 ribu ton. Negara berikutnya adalah
Germany yang memberikan kontribusi sebesar 9,25% (26,14 ribu ton), diikuti
India pada urutan ketiga dengan kontribusi sebesar 5,61% (15,87 ribu ton).
Negara berikutnya hanya memberikan kontribusi dibawah 5,5% terhadap total
volume impor lada dunia. Secara rinci kontribusi beberapa negara importir
lainnya disajikan pada Lampiran 3.11.


Gambar 3.16. Negara importir lada terbesar dunia, (rata-rata 2003-2007)
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
44
3.6. PROYEKSI PENAWARAN LADA 2009-2011


Sebagian besar produksi lada Indonesia diperuntukkan ekspor, sehingga
proyeksi penawaran lada berdasarkan perilaku harga ekspor dan luas areal lada.
Berdasarkan fungsi respons dengan menggunakan model regresi berganda
diperoleh informasi bahwa produksi lada Indonesia dipengaruhi oleh luas areal
lada (t) dan harga ekspor 3 tahun sebelumnya (t-3). Koefisien determinasi dari
fungsi respons diperoleh sebesar 94,10% yang menunjukkan bahwa peubah-
peubah yang digunakan dalam model dapat menjelaskan keragaman model
produksi lada sebesar 94,10%. Secara rinci hasil fungsi respon produksi lada
disajikan pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Hasil analisis fungsi respons produksi lada di Indonesia

Peubah Koefisien p-value
Konstanta 13682 0,00
Luas Areal 0,3044 0,00
Harga Ekspor (t-3) 3,1502 0,00
R
2
= 94,10% ; Prob(F-stat) = 0,00


Tabel 3.1. menunjukkan bahwa produksi lada dipengaruhi oleh luas areal
secara positif sebesar 0,3044, artinya setiap kenaikan luas areal tahun tersebut
sebesar satu satuan, akan meningkatkan produksi lada sebesar 0,3044 satuan.
Sedangkan bila harga ekspor 3 tahun sebelumnya meningkat satu satuan maka
akan meningkatkan produksi lada pada tahun ke-t sebesar 3,1502 satuan.
Dengan fungsi penawaran tersebut, produksi lada di Indonesia
diproyeksikan akan meningkat selama periode tahun 2009-2011. Tahun 2009
diperkirakan produksi lada di Indonesia mencapai 79,41 ribu ton dan akan terus
meningkat hingga mencapai 85,97 ribu ton pada tahun 2011 dengan rata-rata
peningkatan sebesar 2,59% per tahun (Tabel 3.2.).
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
45
Tabel 3.2. Hasil proyeksi produksi lada di Indonesia, 2009-2011

Tahun Produksi (Ton) Pertumbuhan (%)
2008*)
2009
2010
2011
79.726
79.409
84.671
85.969

-0,40
6,63
1,53
Rata-rata pertumbuhan (%) 2,59
Keterangan: *) Angka Sementara dari Ditjen Perkebunan

3.7. PROYEKSI PERMINTAAN LADA 2009-2011

Proyeksi permintaan lada didekati dari permintaan untuk memenuhi
konsumsi perkapita oleh rumah tangga serta permintaan untuk ekspor. Data
konsumsi per kapita diperoleh dari hasil SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional,
BPS) yang dilakukan setiap 3 tahun sekali dikalikan dengan jumlah penduduk.
Tahun-tahun dimana tidak ada survei dihitung dengan interpolasi. Sementara,
data ekspor diolah dari data yang dipublikasikan oleh BPS.
Pemodelan proyeksi permintaan lada untuk konsumsi menggunakan
pemulusan eksponensial berganda (double exponential smoothing) dengan MAPE
sebesar 12,52. Sedangkan proyeksi permintaan untuk ekspor menggunakan
pemulusan tunggal dengan nilai MAPE sebesar 86. Dari hasil pemodelan tersebut
pada periode tahun 2009 – 2011 total permintaan lada Indonesia diproyeksikan
akan sedikit menurun dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1,88% per tahun.
Secara absolut, total permintaan lada pada tahun 2009 diperkirakan akan
mencapai 75,46 ribu ton dan akan meningkat lagi hingga mencapai 76,90 ribu ton
pada tahun 2010 dan 78,32 ribu ton pada tahun 2011. Hasil proyeksi permintaan
lada oleh rumah tangga serta permintaan untuk disajikan pada Tabel 3.3.
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
46
Tabel 3.3. Proyeksi total permintaan lada di Indonesia, 2009-2011

Tahun
Konsumsi
rumah tangga
(Ton)
Permintaan
untuk
ekspor (Ton)
Total
permintaan
(Ton)
Pertumbuhan
(%)

2008 30.896 52.407 83.303
2009 30.780 44.678 75.458 -9,42
2010 32.226 44.678 76.904 1,92
2011 33.646 44.678 78.324 1,85
Rata-rata pertumbuhan (%/tahun) -1,88


3.8. PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT LADA 2009-2011


Berdasarkan atas proyeksi penawaran dan total permintaan lada selama
periode tahun 2009 – 2011, maka dapat dihitung defisit/surplus ketersediaan lada
di Indonesia seperti tersaji pada Tabel 3.4. Dari Tabel 3.4. ternyata masih terjadi
surplus lada sebesar 3,95 ribu ton pada tahun 2009 dan meningkat menjadi 7,77
ribu ton pada tahun 2010, dan sedikit menurun menjadi 7,64 ribu ton pada tahun
2011.
Tabel 3.4. Proyeksi surplus/defisit lada di Indonesia, 2009-2011

Tahun Penawaran (Ton) Permintaan (Ton) Suplus/Defisit (Ton)
2009 79.409 75.458 3.951
2010 84.671 76.904 7.767
2011 85.969 78.324 7.645
Pertumb.(%) 2,59 -1,88






» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
47
Lampiran 3.1. Perkembangan Luas Areal Lada Indonesia Menurut Status
Pengusahaannya, 1967 – 2008

(Ha) Pertumb. (%) (Ha) Pertumb. (%) (Ha) Pertumb. (%)
1967 37,954 0 37,954
1968 42,954 13.17 0 0.00 42,954 13.17
1969 40,093 -6.66 0 0.00 40,093 -6.66
1970 45,063 12.40 0 0.00 45,063 12.40
1971 50,965 13.10 3 0.00 50,968 13.10
1972 45,831 -10.07 3 0.00 45,834 -10.07
1973 46,286 0.99 0 0.00 46,286 0.99
1974 48,903 5.65 0 0.00 48,903 5.65
1975 51,074 4.44 0 0.00 51,074 4.44
1976 53,817 5.37 0 0.00 53,817 5.37
1977 56,142 4.32 58 0.00 56,200 4.43
1978 64,397 14.70 180 210.34 64,577 14.91
1979 63,332 -1.65 244 35.56 63,576 -1.55
1980 68,310 7.86 244 0.00 68,554 7.83
1981 76,594 12.13 188 -22.95 76,782 12.00
1982 76,955 0.47 109 -42.02 77,064 0.37
1983 78,066 1.44 116 6.42 78,182 1.45
1984 80,949 3.69 19 -83.62 80,968 3.56
1985 79,720 -1.52 16 -15.79 79,736 -1.52
1986 81,105 1.74 10 -37.50 81,115 1.73
1987 105,842 30.50 15 50.00 105,857 30.50
1988 106,647 0.76 83 453.33 106,730 0.82
1989 115,090 7.92 145 74.70 115,235 7.97
1990 127,398 10.69 184 26.90 127,582 10.71
1991 126,540 -0.67 243 32.07 126,783 -0.63
1992 126,706 0.13 494 103.29 127,200 0.33
1993 130,086 2.67 590 19.43 130,676 2.73
1994 127,185 -2.23 488 -17.29 127,673 -2.30
1995 134,287 5.58 402 -17.62 134,689 5.50
1996 126,292 -5.95 340 -15.42 126,632 -5.98
1997 110,957 -12.14 306 -10.00 111,263 -12.14
1998 130,885 17.96 380 24.18 131,265 17.98
1999 136,522 4.31 320 -15.79 136,842 4.25
2000 150,213 10.03 318 -0.63 150,531 10.00
2001 185,704 23.63 318 0.00 186,022 23.58
2002 203,772 9.73 296 -6.92 204,068 9.70
2003 204,128 0.17 236 -20.27 204,364 0.15
2004 201,248 -1.41 236 0.00 201,484 -1.41
2005 191,801 -4.69 191 -19.07 191,992 -4.71
2006 192,572 0.40 32 -83.25 192,604 0.32
2007 189,050 -1.83 4 -87.50 189,054 -1.84
2008*) 190,773 0.91 4 0.00 190,777 0.91
1967-2008 108,884 4.34 166 13.19 109,050 4.34
1967-1997 82,920 3.96 149 24.99 83,069 3.97
1998-2008 179,697 5.38 212 -19.02 179,909 5.36
Sumber : Ditjen Perkebunan
Keterangan : PR = Perkebunan Rakyat PBS = Perkebunan Besar Swasta
*) = Angka Sementara
Rata-rata pertumbuhan (%)
Tahun
PR PBS Indonesia

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
48
Lampiran 3.2. Perkembangan produksi lada Indonesia menurut status
pengusahaannya, 1967 – 2008

(Ton) Pertumb. (%) (Ton) Pertumb. (%) (Ton) Pertumb. (%)
1967 16,500 0 16,500
1968 46,665 182.82 0 0.00 46,730 183.21
1969 17,070 -63.42 0 0.00 17,135 -63.33
1970 17,219 0.87 0 0.00 17,284 0.87
1971 26,656 54.81 5 0.00 26,721 54.60
1972 30,801 15.55 1 -80.00 30,866 15.51
1973 28,510 -7.44 0 -100.00 28,575 -7.42
1974 27,492 -3.57 0 0.00 27,557 -3.56
1975 22,934 -16.58 0 0.00 22,999 -16.54
1976 36,854 60.70 0 0.00 36,919 60.52
1977 42,791 16.11 3 0.00 42,856 16.08
1978 46,135 7.81 24 700.00 46,200 7.80
1979 32,331 -29.92 23 -4.17 32,396 -29.88
1980 36,603 13.21 23 0.00 36,668 13.19
1981 39,810 8.76 23 0.00 39,875 8.75
1982 39,599 -0.53 48 108.70 39,664 -0.53
1983 45,774 15.59 51 6.25 45,839 15.57
1984 46,048 0.60 2 -96.08 46,113 0.60
1985 40,514 -12.02 2 0.00 40,579 -12.00
1986 46,368 14.45 5 150.00 46,433 14.43
1987 49,256 6.23 15 200.00 49,321 6.22
1988 65,257 32.49 21 40.00 65,322 32.44
1989 67,824 3.93 25 19.05 67,889 3.93
1990 69,850 2.99 49 96.00 69,915 2.98
1991 62,479 -10.55 70 42.86 62,544 -10.54
1992 64,886 3.85 128 82.86 64,951 3.85
1993 65,669 1.21 113 -11.72 65,734 1.21
1994 53,952 -17.84 91 -19.47 54,017 -17.82
1995 58,847 9.07 108 18.68 58,912 9.06
1996 52,080 -11.50 88 -18.52 52,145 -11.49
1997 46,644 -10.44 64 -27.27 46,709 -10.42
1998 64,469 38.21 69 7.81 64,534 38.16
1999 61,162 -5.13 62 -10.14 61,227 -5.12
2000 68,963 12.75 124 100.00 69,028 12.74
2001 81,968 18.86 110 -11.29 82,033 18.84
2002 90,097 9.92 84 -23.64 90,162 9.91
2003 90,644 0.61 96 14.29 90,709 0.61
2004 76,959 -15.10 49 -48.96 77,024 -15.09
2005 78,272 1.71 56 14.29 78,337 1.70
2006 77,521 -0.96 12 -78.57 77,586 -0.96
2007 74,129 -4.38 2 -83.33 74,194 -4.37
2008*) 79,725 7.55 1 -50.00 79,790 7.54
1967-2008 52,947 8.08 40 22.87 53,012 8.08
1967-1997 44,231 8.91 33 36.91 44,296 8.91
1998-2008 76,719 5.82 60 -15.41 76,784 5.81
Sumber : Ditjen Perkebunan
Keterangan : PR = Perkebunan Rakyat PBS = Perkebunan Besar Swasta
PBN = Perkebunan Besar Negara *) = Angka Sementara
Indonesia
Rata-rata pertumbuhan (%)
Tahun
PR PBS

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
49
Lampiran 3.3. Perkembangan produksi lada pada provinsi sentra di Indonesia,
2004 – 2008

2004 2005 2006 2007 2008*)
1 Lampung 20,211 24,011 21,573 21,592 22,964 22,070 28.47 28.47
2 Babel 23,140 16,398 16,292 13,856 14,736 16,884 21.78 50.25
3 Kaltim 6,957 9,280 9,962 10,336 11,267 9,560 12.33 62.58
4 Sulsel 4,350 5,182 5,817 5,558 6,080 5,397 6.96 69.55
5 Kalbar 4,273 4,182 5,261 4,745 5,172 4,727 6.10 75.64
6 Kalteng 6,602 5,793 4,395 2,927 3,191 4,582 5.91 81.55
7 Lainnya 12,426 13,426 14,221 15,115 16,315 14,301 18.45 100.00
Total 77,959 78,272 77,521 74,129 79,725 77,521
Sumber : Ditjen Perkebunan, diolah Pusdatin
Keterangan : *) angka sementara
No Provinsi
Produksi (Ton)
Rata -rata
(Ton)
Share (%)
Share
Kumulatif (%)


Lampiran 3.4. Perkembangan luas tanaman menghasilkan, produksi dan
produktivitas lada Indonesia menurut status pengusahaan, 2004 -
2008

TM (Ha)
Produksi
(Ton)
Produktivitas
(Ton/Ha)
TM (Ha)
Produksi
(Ton)
Produktivitas
(Ton/Ha)
TM (Ha)
Produksi
(Ton)
Produktivitas
(Ton/Ha)
2004 116,179 76,959 0.66 187 49 0.26 116,366 77,008 0.66
2005 113,622 78,272 0.69 170 56 0.33 113,792 78,328 0.69
2006 115,981 77,521 0.67 21 12 0.57 116,002 77,533 0.67
2007 112,998 74,129 0.66 4 1 0.25 113,002 74,130 0.66
2008*) 117,505 79,725 0.68 4 1 0.25 117,509 79,726 0.68
Rata-rata 115,257 77,321 0.67 77 24 0.33 115,334 77,345 0.67
Sumber : Ditjen Perkebunan
Keterangan : PR = Perkebunan Rakyat PBS = Perkebunan Besar Swasta
*) = Angka Sementara
Tahun
PR PBS Indonesia







» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
50
Lampiran 3.5. Perkembangan konsumsi lada per kapita di Indonesia, 1984-2008

1984 0.78
1985*) 0.70 -9.82
1986*) 0.63 -9.82
1987 0.57 -9.82
1988*) 0.67 17.84
1989*) 0.79 17.84
1990 0.94 17.84
1991*) 1.07 14.47
1992*) 1.23 14.47
1993 1.40 14.47
1994*) 1.49 5.83
1995*) 1.57 5.83
1996 1.66 5.83
1997*) 1.35 -19.01
1998*) 1.09 -19.01
1999 0.88 -19.01
200*) 1.01 13.72
2001*) 1.14 13.72
2002 1.30 13.72
2003 0.94 -28.00
2004 0.99 5.56
2005 1.20 21.05
2006 1.25 4.35
2007 1.56 25.00
2008 1.35 -13.33
1984-2008 3.49
Sumber : BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : *) Hasil Interpolasi
Tahun
Rata-rata pertumbuhan (%)
Konsumsi (Ons/kapita) Pertumbuhan (%)

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
51
Lampiran 3.6. Perkembangan ekspor, impor dan neraca perdagangan lada
Indonesia, 1969 - 2008

Neraca
Ekspor Pertb.(%) Impor Pertb.(%) Ekspor Pertb.(%) Impor Pertb.(%) (000 US$)
1969 336 0 54 0
1970 2,575 0 3,169 0 3,169
1971 23,529 813.75 0 0.00 24,813 682.99 0 0.00 24,813
1972 24,919 5.91 0 0.00 21,486 -13.41 0 0.00 21,486
1973 24,876 -0.17 0 0.00 28,942 34.70 0 0.00 28,942
1974 15,858 -36.25 0 0.00 24,306 -16.02 0 0.00 24,306
1975 15,245 -3.87 92 0.00 22,866 -5.92 28 0.00 22,838
1976 30,831 102.24 128 39.13 47,020 105.63 58 107.14 46,962
1977 30,856 0.08 7 -94.53 64,955 38.14 14 -75.86 64,941
1978 37,038 20.04 5 -28.57 68,672 5.72 15 7.14 68,657
1979 24,955 -32.62 0 -100.00 46,582 -32.17 0 -100.00 46,582
1980 29,680 18.93 2 0.00 50,106 7.57 4 0.00 50,102
1981 33,996 14.54 11 450.00 47,151 -5.90 31 675.00 47,120
1982 36,327 6.86 4 -63.64 44,878 -4.82 11 -64.52 44,867
1983 45,086 24.11 4 0.00 52,228 16.38 13 18.18 52,215
1984 33,819 -24.99 3 -25.00 64,293 23.10 11 -15.38 64,282
1985 26,203 -22.52 7 133.33 78,418 21.97 88 700.00 78,330
1986 29,566 12.83 1 -85.71 136,953 74.64 5 -94.32 136,948
1987 29,996 1.45 6 500.00 148,711 8.59 81 1520.00 148,630
1988 41,575 38.60 1 -83.33 144,597 -2.77 4 -95.06 144,593
1989 42,852 3.07 3 200.00 110,978 -23.25 8 100.00 110,970
1990 48,442 13.04 198 6500.00 80,575 -27.40 17 112.50 80,558
1991 50,300 3.84 11 -94.44 66,820 -17.07 22 29.41 66,798
1992 62,317 23.89 17 54.55 62,406 -6.61 39 77.27 62,367
1993 27,689 -55.57 27 58.82 4,604 -92.62 37 -5.13 4,567
1994 36,045 30.18 15 -44.44 78,636 1607.99 41 10.81 78,595
1995 57,781 60.30 29 93.33 155,430 97.66 60 46.34 155,370
1996 36,848 -36.23 29 0.00 98,864 -36.39 93 55.00 98,771
1997 33,386 -9.40 1,034 3465.52 163,144 65.02 2,076 2132.26 161,068
1998 38,724 15.99 16,485 1494.29 188,917 15.80 18,233 778.28 170,684
1999 36,293 -6.28 528 -96.80 191,241 1.23 404 -97.78 190,837
2000 65,011 79.13 707 33.90 221,090 15.61 2,654 556.93 218,436
2001 53,639 -17.49 3,309 368.03 100,507 -54.54 4,301 62.06 96,206
2002 63,214 17.85 2,283 -31.01 89,197 -11.25 3,120 -27.46 86,077
2003 51,546 -18.46 249 -89.09 93,445 4.76 174 -94.42 93,271
2004 34,364 -33.33 343 37.75 55,637 -40.46 333 91.38 55,304
2005 34,531 0.49 844 146.06 58,437 5.03 518 55.56 57,919
2006 36,953 7.01 2,339 177.13 77,258 32.21 991 91.31 76,267
2007 38,156 3.26 1,040 -55.54 131,662 70.42 414 -58.22 131,248
2008 52,407 37.35 1,255 20.69 185,701 41.04 918 121.73 184,783
1969-2008 27.83 338.96 68.04 174.21
1969-1987 36.00 402.78 92.81 190.40
1988-2008 7.77 182.31 7.26 134.49
Sumber : BPS dan Ditjen Perkebunan, diolah Pusdatin
Rata-rata pertumbuhan (%)
Volume (Ton) Nilai (000 US$)
Tahun


» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
52
Lampiran 3.7. Perkembangan luas tanaman menghasilkan, produksi dan
produktivitas lada dunia, 1961 – 2007

(Ha)
Pertumb.
(%)
(Ton)
Pertumb.
(%)
(Kg/Ha)
Pertumb.
(%)
1961 153,209 71,318 465.49
1962 171,513 11.95 111,403 56.21 649.53 39.54
1963 174,703 1.86 116,426 4.51 666.42 2.60
1964 174,140 -0.32 103,303 -11.27 593.22 -10.98
1965 161,602 -7.20 74,442 -27.94 460.65 -22.35
1966 195,461 20.95 100,418 34.89 513.75 11.53
1967 190,031 -2.78 88,686 -11.68 466.69 -9.16
1968 203,271 6.97 127,549 43.82 627.48 34.45
1969 196,994 -3.09 102,615 -19.55 520.90 -16.99
1970 194,511 -1.26 102,611 0.00 527.53 1.27
1971 202,499 4.11 110,391 7.58 545.14 3.34
1972 197,791 -2.32 114,039 3.30 576.56 5.76
1973 203,520 2.90 121,567 6.60 597.32 3.60
1974 204,143 0.31 128,361 5.59 628.78 5.27
1975 201,462 -1.31 127,045 -1.03 630.62 0.29
1976 207,613 3.05 156,081 22.85 751.79 19.22
1977 212,691 2.45 154,930 -0.74 728.43 -3.11
1978 194,696 -8.46 168,612 8.83 866.03 18.89
1979 224,533 15.32 168,164 -0.27 748.95 -13.52
1980 228,163 1.62 178,582 6.20 782.69 4.51
1981 234,030 2.57 161,331 -9.66 689.36 -11.92
1982 232,048 -0.85 165,976 2.88 715.27 3.76
1983 233,443 0.60 151,937 -8.46 650.85 -9.01
1984 231,787 -0.71 154,151 1.46 665.05 2.18
1985 228,649 -1.35 141,914 -7.94 620.66 -6.67
1986 251,992 10.21 169,372 19.35 672.13 8.29
1987 268,346 6.49 172,043 1.58 641.12 -4.61
1988 311,819 16.20 229,098 33.16 734.71 14.60
1989 337,248 8.16 249,622 8.96 740.17 0.74
1990 353,655 4.86 287,938 15.35 814.18 10.00
1991 355,667 0.57 282,387 -1.93 793.96 -2.48
1992 357,667 0.56 240,677 -14.77 672.91 -15.25
1993 369,321 3.26 242,250 0.65 655.93 -2.52
1994 360,334 -2.43 223,319 -7.81 619.76 -5.52
1995 361,982 0.46 237,141 6.19 655.12 5.71
1996 377,735 4.35 239,310 0.91 633.54 -3.29
1997 354,261 -6.21 235,534 -1.58 664.86 4.94
1998 365,750 3.24 254,968 8.25 697.11 4.85
1999 432,254 18.18 295,704 15.98 684.10 -1.87
2000 411,431 -4.82 310,596 5.04 754.92 10.35
2001 450,576 9.51 354,684 14.19 787.18 4.27
2002 471,067 4.55 384,771 8.48 816.81 3.76
2003 456,141 -3.17 396,709 3.10 869.71 6.48
2004 502,401 10.14 417,587 5.26 831.18 -4.43
2005 503,038 0.13 432,740 3.63 860.25 3.50
2006 524,008 4.17 439,143 1.48 838.05 -2.58
2007 521,681 -0.44 437,690 -0.33 839.00 0.11
1961-2007 2.89 5.03 1.90
1961-1997 2.54 4.62 1.75
1998-2007 4.15 6.51 2.45
Sumber :FAO
Rata-rata pertumbuhan (%)
Luas TM Produksi Produktivitas
Tahun

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
53
Lampiran 3.8. Negara produsen lada terbesar dunia, 2003 - 2007

2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata
1 Indonesia 90,709 77,024 78,337 77,586 74,194 79,570
18.73 18.73
2 India 64,000 73,190 73,020 92,900 93,000 79,222
18.65
37.38
3 Viet Nam 68,600 73,400 80,300 82,200 82,000 77,300
18.20
55.58
4 Brazil 67,197 65,800 79,102 80,316 77,464 73,976
17.42
73.00
5 China 21,680 22,180 22,680 24,200 26,000 23,348
5.50
78.49
6 Lainnya 84,523 105,993 99,301 81,941 85,032 91,358
21.51
100.00
Dunia 396,709 417,587 432,740 439,143 437,690 424,774
Sumber : FAO, diolah Pusdatin
No Share (%)
Share
Kumulatif
(%)
Negara
Produksi (Ton)






» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
54
Lampiran 3.9. Perkembangan ekspor-impor lada dunia, 1961 – 2007

Volume
(Ton)
Pertumb.
(%)
Nilai US$
000)
Pertumb.
(%)
Volume
(Ton)
Pertumb.
(%)
Nilai US$
000)
Pertumb.
(%)
1961 81,527 71,338 81,341 76,274
1962 84,490 3.63 60,044 -15.83 81,315 -0.03 62,194 -18.46
1963 95,884 13.49 58,913 -1.88 96,354 18.49 63,051 1.38
1964 77,933 -18.72 50,871 -13.65 79,879 -17.10 55,180 -12.48
1965 93,836 20.41 72,208 41.94 85,371 6.88 73,273 32.79
1966 92,325 -1.61 74,870 3.69 83,172 -2.58 73,750 0.65
1967 128,432 39.11 77,901 4.05 105,395 26.72 74,182 0.59
1968 132,736 3.35 76,655 -1.60 105,942 0.52 67,765 -8.65
1969 119,247 -10.16 78,180 1.99 111,560 5.30 77,604 14.52
1970 103,357 -13.33 92,662 18.52 101,346 -9.16 92,724 19.48
1971 125,064 21.00 117,085 26.36 117,252 15.69 110,743 19.43
1972 130,508 4.35 112,483 -3.93 120,041 2.38 111,134 0.35
1973 124,049 -4.95 143,555 27.62 116,345 -3.08 139,571 25.59
1974 126,852 2.26 193,317 34.66 122,414 5.22 192,107 37.64
1975 130,394 2.79 197,003 1.91 126,372 3.23 201,413 4.84
1976 154,557 18.53 233,630 18.59 144,820 14.60 228,877 13.64
1977 145,164 -6.08 303,305 29.82 144,943 0.08 307,444 34.33
1978 176,649 21.69 348,819 15.01 163,833 13.03 347,042 12.88
1979 163,020 -7.72 307,433 -11.86 164,908 0.66 332,744 -4.12
1980 166,547 2.16 290,670 -5.45 161,579 -2.02 310,974 -6.54
1981 174,601 4.84 244,129 -16.01 167,929 3.93 267,131 -14.10
1982 167,955 -3.81 209,225 -14.30 154,147 -8.21 219,998 -17.64
1983 165,635 -1.38 216,859 3.65 165,908 7.63 241,823 9.92
1984 165,175 -0.28 326,348 50.49 161,846 -2.45 335,286 38.65
1985 144,520 -12.50 431,679 32.28 159,459 -1.47 467,995 39.58
1986 177,051 22.51 728,460 68.75 172,342 8.08 720,907 54.04
1987 166,441 -5.99 761,754 4.57 158,451 -8.06 747,403 3.68
1988 172,364 3.56 567,918 -25.45 174,120 9.89 657,669 -12.01
1989 208,029 20.69 499,140 -12.11 196,396 12.79 525,192 -20.14
1990 208,195 0.08 362,900 -27.29 204,456 4.10 402,427 -23.38
1991 229,907 10.43 304,328 -16.14 218,815 7.02 328,000 -18.49
1992 242,552 5.50 271,928 -10.65 203,436 -7.03 265,261 -19.13
1993 206,293 -14.95 293,919 8.09 193,981 -4.65 287,984 8.57
1994 214,146 3.81 451,667 53.67 214,167 10.41 444,421 54.32
1995 224,737 4.95 579,362 28.27 211,464 -1.26 562,140 26.49
1996 242,088 7.72 570,614 -1.51 222,468 5.20 568,232 1.08
1997 240,795 -0.53 912,501 59.92 232,065 4.31 836,165 47.15
1998 217,793 -9.55 1,014,810 11.21 199,650 -13.97 940,023 12.42
1999 248,694 14.19 1,142,172 12.55 238,557 19.49 1,081,730 15.07
2000 255,474 2.73 1,009,960 -11.58 250,894 5.17 1,000,915 -7.47
2001 269,591 5.53 522,978 -48.22 229,927 -8.36 560,611 -43.99
2002 324,803 20.48 539,422 3.14 261,875 13.89 485,757 -13.35
2003 292,443 -9.96 533,892 -1.03 271,888 3.82 530,845 9.28
2004 300,896 2.89 521,708 -2.28 278,938 2.59 516,748 -2.66
2005 311,023 3.37 528,599 1.32 282,773 1.37 515,518 -0.24
2006 332,199 6.81 710,260 34.37 301,621 6.67 637,324 23.63
2007 303,697 -8.58 1,039,084 46.30 277,830 -7.89 943,462 48.03
1961-2007 3.54 8.74 3.08 7.98
1961-1990 4.07 8.09 3.62 7.81
1991-2007 2.64 9.85 2.17 8.28
Sumber : FAO, diolah Pusdatin
Ekspor Impor
Rata-rata pertumbuhan (%)
Tahun

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian
55
Lampiran 3.10. Negara eksportir lada terbesar dunia, 2003 – 2007

2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata
1 Viet Nam 73,900 111,000 109,000 115,000 83,000 98,380 31.94 31.94
2 Brazil 38,972 43,003 38,424 42,200 38,679 40,256 13.07 45.00
3 Indonesia 51,546 32,364 34,531 36,953 38,447 38,768 12.58 57.59
4 India 15,319 15,429 21,470 35,499 47,464 27,036 8.78 66.37
5 Malaysia 18,346 19,788 18,097 16,610 15,165 17,601 5.71 72.08
6 Singapore 23,267 17,659 12,190 15,231 16,007 16,871 5.48 77.56
7
Lainnya
71,093 61,653 77,311 70,706 64,935 69,140 22.44 100.00
Dunia 292,443 300,896 311,023 332,199 303,697 308,052
Sumber : FAO, diolah Pusdatin
No Share (%)
Share
Kumulatif
(%)
Volume ekspor (Ton)
Negara


Lampiran 3.11. Negara importir lada terbesar dunia, 2003 – 2007

2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata
1 USA 63,868 65,990 66,895 70,539 63,941 66,247 23.44 23.44
2 Germany 22,996 27,459 22,731 26,031 31,460 26,135 9.25 32.69
3 India 14,584 15,695 18,858 16,897 13,301 15,867 5.61 38.30
4 Netherlands 18,936 14,226 13,183 15,409 14,745 15,300 5.41 43.72
5 Singapore 11,350 10,316 12,936 15,847 13,154 12,721 4.50 48.22
6 France 10,479 8,693 9,210 9,439 8,656 9,295 3.29 51.51
7 Japan 8,579 8,146 8,993 9,208 9,108 8,807 3.12 54.62
8 Russian 6,956 7,698 9,356 10,099 7,473 8,316 2.94 57.57
9 Inggris 5,846 5,464 6,840 9,105 7,201 6,891 2.44 60.00
10 Lainnya 108,294 115,251 113,771 119,047 108,791 113,031 40.00 100.00
Dunia 271,888 278,938 282,773 301,621 277,830 282,610
Sumber : FAO, diolah Pusdatin
No Share (%)
Share
Kumulatif
(%)
Volume impor (Ton)
Negara

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

57
BAB IV. TEH


Teh (Camellia sinensis) merupakan salah satu komoditi utama komoditas
perkebunan yang sudah dikenal masyarakat sejak zaman Hindia Belanda. Teh
dikenal di Indonesia sejak tahun 1686 ketika seorang Belanda bernama Dr.
Andreas Cleyer membawanya ke Indonesia yang pada saat itu penggunaannya
hanya sebagai tanaman hias. Baru pada tahun 1728, pemerintah Belanda mulai
memperhatikan Teh dengan mendatangkan biji-biji Teh secara besar-besaran
dari Cina untuk dibudayakan di pulau Jawa. Usaha tersebut tidak terlalu berhasil
dan baru berhasil setelah pada tahun 1824 Dr. Van Siebold seorang ahli bedah
tentara Hindia Belanda yang pernah melakukan penelitian alam di Jepang
mempromosikan usaha pembudidayaan dengan bibit Teh dari Jepang. Usaha
perkebunan Teh pertama dipelopori oleh Jacobson pada tahun 1828 dan sejak itu
menjadi komoditas yang menguntungkan pemerintah Hindia Belanda, sehingga
pada masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, Teh menjadi salah satu
tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa (Culture
Stetsel). Pada masa kemerdekaan, usaha perkebunan dan perdagangan Teh
diambil alih oleh pemerintah RI. Melalui sejarah yang panjang, perkebunan teh
dibudidayakan dan dikelola oleh perusahaan negara, perusahaan swasta, maupun
PR (Anonim, 2007a).
Tanaman teh umumnya ditanam di perkebunan, dipanen secara manual,
dan dapat tumbuh pada ketinggian 200 - 2.300 m dpl. Teh berasal dari kawasan
India bagian Utara dan Cina Selatan. Ada dua kelompok varietas teh yang
terkenal, yaitu varietas assamica yang berasal dari Assam dan varietas sinensis
yang berasal dari Cina. Varietas assamica daunnya agak besar dengan ujung yang
runcing, sedangkan varietas sinensis daunnya lebih kecil dan ujungnya agak
tumpul. Pohonnya kecil karena seringnya pemangkasan maka tampak seperti
perdu. Bila tidak dipangkas, akan tumbuh kecil ramping setinggi 5 - 10 m, dengan
bentuk tajuk seperti kerucut (Anonim, 2007b).
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

58
Untuk mengetahui sejauh mana prospek komoditas teh dalam mendukung
sektor pertanian di Indonesia, berikut ini akan disajikan perkembangan teh serta
proyeksi penawaran dan permintaan teh untuk beberapa tahun ke depan.

4.1. PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS
TEH DI INDONESIA
Perkembangan luas areal teh di Indonesia pada periode tahun 1970-2009
cenderung mengalami peningkatan (Gambar 4.1) dengan rata-rata pertumbuhan
sebesar 0,37%. Pertumbuhan positif luas areal teh terjadi pada periode 1970-
1998 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 1,20%, sedangkan periode
sesudahnya mengalami penurunan rata-rata luas areal sebesar 1,72%. Penurunan
luas areal teh yang cukup tinggi terjadi pada tahun 1971 dengan penurunan
sebesar 12,07%. Sementara itu peningkatan luas areal teh terbesar terjadi pada
tahun 1998 yakni sebesar 10,42% (Lampiran 4.1).


Gambar 4.1. Perkembangan luas areal teh Indonesia menurut status
pengusahaan, 1970 – 2009

Perkembangan komposisi luas areal teh berdasarkan status pengusahaan
pada periode tahun 1970-1979 sebagian besar merupakan Perusahaan Besar
Negara (PBN) dengan rata-rata kontribusi sebesar 38,71%, diikuti Perkebunan
Rakyat (PR) 36,20% dan sisanya merupakan Perkebunan Besar Swasta (PBS).
Tetapi setelah periode tersebut, PR justru lebih mendominasi, diikuti PBN dan
PBS.
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

59
Pada periode 1980-2009, luas areal PR mampu menggeser dominasi PBN
dengan memberikan kontribusi sebesar 42,40%, sedangkan PBN dan PBS
memberikan kontribusi masing-masing sebesar 34,02% dan 23,58%. Untuk kondisi
tahun 2009 (angka estimasi) luas areal teh PR sebesar 61.235 ha (47,25%), PBN
38.119 ha (29,47%) dan PBS sebesar 30.165 ha (23,28%). Secara rinci
perkembangan komposisi luas areal teh per periode disajikan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Perkembangan luas areal teh berdasarkan status pengusahaan, 1970-
2009

Periode PR PBN PBS Indonesia
1970-1979
- Luas Areal (Ha) 37.170 39.752 25.771 102.693
- Kontribusi (%) 36,20 38,71 25,09 100,00
1980-2009**)
- Luas Areal (Ha) 56.997 45.734 31.694 134.425
- Kontribusi (%) 42,40 34,02 23,58 100,00
2009**)
- Luas Areal (Ha) 61.235 38.199 30.165 129.599
- Kontribusi (%) 47,25 29,47 23,28 100,00
1970-2009**)
- Luas Areal (Ha) 52.040 44.239 30.213 126.492
- Kontribusi (%) 41,14 34,97 23,89 100,00
Sumber : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin

Perkembangan luas areal teh berdasarkan status pengusahaannya pada
periode 1970-2009 secara umum cenderung mengalami peningkatan. Peningkatan
rata-rata tertinggi terjadi pada PBS yaitu sebesar 1,08%. Selanjutnya diikuti PR
dan PBN masing-masing sebesar 0,65% dan 0,11%. Peningkatan luas areal PBS
yang cukup tinggi mampu meningkatkan kontribusi luas areal teh pada tahun
1995. Sementara itu luas areal teh pada PBN sejak tahun 1991 sudah tidak
banyak mengalami peningkatan luas areal bahkan cenderung terus menurun
(Lampiran 4.1).
Demikian juga untuk PBS, semenjak tahun 1996 luas arealnya cenderung
mengalami penurunan, sedangkan luas areal PR cenderung stabil. Kecenderungan
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

60
penurunan luas areal perkebunan teh tersebut berlangsung sampai dengan tahun
2009. Namun demikian pada tahun 1998 terjadi peningkatan luas areal teh yang
cukup besar baik dari PR, PBN maupun PBS yang dipicu karena harga teh dunia
yang mengalami peningkatan pada periode tersebut serta menurunnya nilai tukar
rupiah (Anonim, 2004). Pola perkembangan luas areal teh menurut
pengusahaannya dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Perkembangan produksi teh di Indonesia pada periode tahun 1970–2009
cenderung mengalami peningkatan rata-rata sebesar 2,67% per tahun (Gambar
4.2). Seperti halnya produksi teh nasional, perkembangan produksi teh menurut
pengusahaan dari tahun 1970 sampai dengan 2009 juga cenderung mengalami
peningkatan. Pertumbuhan produksi teh yang berasal dari PR rata-rata setiap
tahun meningkat sebesar 2,85%, PBN rata-rata tumbuh 2,72% dan rata-rata
pertumbuhan tertinggi dicapai PBS yakni sebesar 4,04% (Lampiran 4.2).


Gambar 4.2. Perkembangan produksi teh menurut status pengusahaan, 1970-
2007

Dilihat dari segi komposisinya, produksi teh nasional sebagian besar berasal
dari PBN walaupun luas areal PBN lebih kecil dibandingkan PR. Rata-rata
kontribusi produksi teh periode 1970-2009 dari PBN sebesar 58,41%, PR sebesar
22,00% dan PBS sebesar 19,55%. Hal ini mengindikasikan bahwa PBN mempunyai
tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan PR. Sementara itu produksi
PR masih sedikit diatas produksi PBS.
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

61
Rata-rata pertumbuhan produksi teh PR pada periode 1970-1979 sebesar
0,65% per tahun dengan rata-rata produksi 15.629 ton. Pada periode yang sama,
PBN rata-rata tumbuh 6,88% per tahun dengan produksi rata-rata sebesar 45.897
ton. Sementara itu dari PBS tumbuh sebesar 7,42% per tahun dengan produksi
rata-rata sebesar 11,853 ton. Pada periode berikutnya yaitu 1980-1989 rata-rata
pertumbuhan produksi teh untuk PR, PBN dan PBS masing-masing sebesar 4,73%,
4,45% dan 5,18% per tahun. Pada periode 1990-1999 atau menjelang dan saat
krisis, pertumbuhan terendah terjadi pada produksi teh PBN yakni sebesar 0,02%
sedangkan PR dan PBS masing-masing tumbuh 3,72% dan 5,08%. Pada dasawarsa
terakhir (2000-2009) setelah krisis tahun 1998, rata-rata produksi teh untuk PBN
dan PBS mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,51% dan 1,97%,
sedangkan untuk PR tetap mengalami peningkatan sebesar 1,69% (Tabel 4.2).

Tabel 4.2. Perkembangan produksi teh per periode, 1970-2009

Periode PR PBN PBS Indonesia
1970-1979

- Produksi (Ton) 15.629 45.897 11.853 73.379
- Pertumbuhan (%) 0,65 6,88 7,42 4,93
1980-1989
- Produksi (Ton) 24.565 76.996 18.842 120.372
- Pertumbuhan (%) 4,73 4,45 5,18 4,28
1990-1999
- Produksi (Ton) 32.620 89.640 33.566 155.826
- Pertumbuhan (%) 3,72 0,02 5,08 1,73
2000-2009
- Produksi (Ton) 40.458 83.570 35.578 159.646
- Pertumbuhan (%) 1,69 -0,51 -1,97 -0,51
1970-2009
- Produksi (Ton) 28.318 74.026 24.960 127.306
- Pertumbuhan (%) 2,75 2,60 3,84 2,55
Sumber : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

62
Pola perkembangan produksi teh nasional serupa dengan pola
perkembangan produksi teh PBN. Hal ini tidak luput dari besarnya kontribusi
produksi teh dari PBN terhadap produksi teh nasional walaupun kontribusinya
semakin berkurang. Sementara itu perkembangan produksi teh yang berasal dari
PR dan PBS juga cenderung meningkat demikian juga dengan kontribusinya.
Perkembangan pertumbuhan produksi teh PBN cenderung melandai sejak
tahun 1990, bahkan cenderung mengalami penurunan. Sementara itu PBS
mengalami pertumbuhan yang stagnan bahkan cenderung mengalami penurunan
sejak tahun 1998. Sedangkan produksi teh PR tetap mengalami peningkatan yang
stabil walaupun sejak tahun 2004 cenderung tidak ada peningkatan produksi
(Lampiran 4.2).


Gambar 4.3. Kontribusi provinsi sentra produksi teh nasional, 2005-2009


Berdasarkan data rata-rata selama 5 tahun terakhir (2005-2009), Jawa
Barat merupakan penyumbang produksi nasional terbesar dengan kontribusi
sebesar 72,70%. Sumatera Utara menempati posisi kedua dengan kontribusi
sebesar 7,04%. Jawa Tengah menempati posisi ketiga dengan kontribusi sebesar
6,30% diikuti Jambi (3,38%) dan Sumatera Barat (2,61%) (Gambar 4.3). Provinsi di
luar Pulau Jawa yang masuk dalam 5 provinsi sentra produksi teh nasional
merupakan produksi dari perkebunan besar, baik PBN maupun PBS.
Perkembangan produktivitas teh di Indonesia selama tahun 2003-2009
secara umum berfluktuasi selama dua tahunan (Gambar 4.4). Pada tahun 2003
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

63
produktivitas teh Indonesia sebesar 1.392 kg/ha, dua tahun berikutnya
mengalami peningkatan berturut-turut menjadi 1.451 kg/ha (tahun 2004) dan
1.462 kg/ha (tahun 2005). Dua tahun berikutnya yakni 2006 dan 2007 mengalami
penurunan produktivitas menjadi 1.284 kg/ha 1.123 kg/ha. Namun dua tahun
terakhir (2008-2009) produktivitas teh nasional kembali meningkat menjadi 1.164
kg/ha dan 1.170 kg/ha. Dengan demikian rata-rata produktivitas teh nasional
selama periode 2003-2009 yakni sebesar 1.292 kg/ha.


Gambar 4.4. Perkembangan produktivitas teh di Indonesia, 2003-2009

Tabel 4.3. Perkembangan produktivitas teh menurut status pengusahaan, 2003-
2009

Tahun
Produktivitas (kg/ha)
PR PBN PBS Indonesia
2003 872,04 2.150,46 1.307,65 1.392,52
2004 906,86 2.089,60 1.324,27 1.451,39
2005 873,77 2.098,40 1.382,28 1.462,15
2006 860,38 1.746,83 1.191,86 1.284,31
2007 638,87 1.885,30 1.026,65 1.123,31
2008 640,93 2.109,40 1.028,27 1.164,07
2009**) 647,51 2.117,57 1.030,27 1.169,89
Rata-rata 777,19 2.028,22 1.184,47 1.292,52
Pertmbh (%) -4,26 0,17 -3,61 -2,60
Sumber : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

64
Produktivitas teh nasional secara umum selama periode 2003-2009 rata-
rata sebesar 1.292,52 kg/ha. Tingkat produktivitas tertinggi terjadi pada PBN
yakni sebesar 2.028,22 kg/ha, diikuti PBS dengan produktivitas 1.184,47 kg/ha
dan PR menduduki tingkat produktivitas paling rendah yakni rata-rata 777,19
kg/ha. Rendahnya tingkat produktivitas PR dapat disebabkan karena pengelolaan
lahan yang kurang diperhatikan karena sifat PR yang sebagian besar masih belum
diusahakan secara lebih baik dibandingkan PBN mapun swasta. Mengingat bahwa
sebagian besar areal perkebunan teh di Indonesia diusahakan oleh rakyat, maka
demikian sebenarnya produksi teh dalam negeri masih dapat ditingkatkan dengan
meningkatkan produktivitas PR melalui upaya budidaya yang lebih intensif.
Perkembangan produktivitas teh nasional dari tahun ke tahun selama
periode 2003-2009 cenderung mengalami penurunan rata-rata sebesar 2,60%. Hal
ini disebabkan karena menurunnya produktivitas PR yang selama periode yang
sama rata-rata tingkat produktivitasnya turun sebesar 4,26%. Demikian pula
halnya untuk PBS yang cenderung menurun dengan persentase sebesar 3,61%.
Sementara itu walaupun tingkat produktivitas perkebunan besar rata-rata
meningkat 0,17% per tahun tetapi tidak mampu mengurangi tingkat produktivitas
teh nasional (Tabel 4.3).

4.2. KONSUMSI TEH DI INDONESIA

Konsumsi teh (teh dalam bentuk produk konsumsi) per kapita per minggu
berdasarkan data Susenas BPS sejak tahun 1984 sampai dengan 2008 cenderung
mengalami peningkatan walaupun berfluktuatif. Pada tahun 1984, konsumsi teh
per kapita per minggu sebesar 10,20 gram, kemudian mengalami penurunan
sampai tahun 1990 menjadi 9,50 gram/minggu. Setelah itu konsumsi teh
mengalami peningkatan menjadi 13,30 gram per minggu pada tahun 1996
(Gambar 4.5). Pada tahun 1999 terjadi penurunan konsumsi teh per kapita per
minggu yang cukup signifikan, konsumsi per kapita pada tahun tersebut sebesar
11,20 gram/minggu. Pada tahun-tahun berikutnya konsumsi teh per kapita per
minggu mengalami peningkatan sampai tahun 2002 menjadi 14,80 gram/minggu.
Setelah itu konsumsi teh per kapita per minggu mengalami sedikit penurunan
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

65
sampai dengan tahun 2004 menjadi sebesar 12,90 gram. Tahun berikutnya
konsumsi teh meningkat walaupun pada tahun 2008 sedikit mengalami penurunan
menjadi 14,20 gram/minggu per kapita. Perkembangan konsumsi teh selama
periode tahun 1984 – 2008 secara lengkap tersaji pada Lampiran 4.6.


Gambar 4.5. Perkembangan konsumsi teh per kapita per minggu, 1984 – 2008

4.3. PERKEMBANGAN HARGA TEH DI INDONESIA

Perkembangan harga teh rata-rata di tingkat produsen di Indonesia pada
periode tahun 1983–2007 cenderung terus meningkat (Gambar 4.6). Harga teh
daun kering di tingkat produsen rata-rata pada tahun 1983 sebesar Rp. 682,56,-
/kg dan pada tahun 2007 sudah mencapai Rp. 4.780,56,-/kg atau sudah lebih dari
tujuh kali lipat dibandingkan tahun 1983. Peningkatan tertinggi terjadi pada
tahun 1998 dimana peningkatannya mencapai 31,04% dibandingkan tahun
sebelumnya. Sementara itu penurunan harga teh selama periode 1983-2007
hanya terjadi pada tahun 2004 yakni sebesar 14,25% (Lampiran 4.7).
Peningkatan harga teh di tingkat produsen pada tahun 1998 disebabkan
karena menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Hal ini terjadi
mengingat bahwa sebagian besar komoditas teh merupakan komoditas ekspor
sehingga turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpengaruh pada
meningkatnya harga teh di dalam negeri. Selain itu juga dipengaruhi oleh
meningkatnya harga teh dunia.

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

66

Gambar 4.6. Perkembangan harga teh di tingkat produsen, 1983–2007

Untuk di tingkat konsumen yang dilihat dari harga teh per bungkus,
perkembangan harga teh rata-rata di tingkat konsumen pada periode tahun 1983–
2007 juga cenderung terus meningkat (Gambar 4.7). Harga teh per bungkus di
tingkat konsumen pada tahun 1983 sebesar Rp. 118,03,- dan pada tahun 2007
sudah mencapai Rp. 1.721,95,- atau sudah lebih dari 14 kali lipat dibandingkan
tahun 1983. Hal ini berarti peningkatannya dua kali lipat dari peningkatan harga
teh di tingkat produsen. Peningkatan harga teh di tingkat konsumen tertinggi
terjadi pada tahun 1998 dimana peningkatannya mencapai 70,82% dibandingkan
tahun sebelumnya karena meningkatnya harga teh dunia dan turunnya nilai tukar
rupiah. Sementara itu penurunan harga teh selama periode 1983-2007 hanya juga
terjadi pada tahun 2004 sama dengan harga teh di tingkat produsen yakni sebesar
6,87% (Lampiran 4.7).


Gambar 4.7. Perkembangan harga teh di tingkat konsumen, 1983–2007
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

67
Dilihat dari pergerakan harga teh di tingkat produsen dan konsumen,
terlihat bahwa harga di tingkat konsumen meningkat lebih tinggi dibandingkan
dengan harga di tingkat produsen. Kondisi ini khususnya terjadi sejak krisis
ekonomi tahun 1998 dan hingga saat ini kondisi tersebut semakin melebar. Rata-
rata kanaikan harga teh di tingkat produsen pada tahun 1998-2007 hanya sebesar
9,36% per tahun sedangkan harga di tingkat konsumen mencapai 17,12% per
tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa margin harga yang diperoleh oleh pabrik
setiap tahun mengalami kenaikan lebih tinggi. Hal itu tak lepas karena faktor-
faktor biaya produksi untuk menghasilkan teh pabrik. Perubahan margin yang
cukup signifikan antara harga produsen dan konsumen terjadi sejak tahun 1998
dan terus melebar sampai tahun 2007. Perkembangan indek harga produsen dan
konsumen disajikan pada Gambar 4.8.


Gambar 4.8. Perkembangan indeks harga teh di tingkat produsen dan konsumen,
1983–2007

4.4. PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR TEH INDONESIA

Perkembangan volume ekspor dan impor teh Indonesia pada periode tahun
1969 – 2008 disajikan pada Gambar 4.9. Perkembangan ekspor teh Indonesia
berfluktuasi dengan kecenderungan meningkat sampai dengan tahun 1993.
Perkembangan ekspor teh selanjutnya dari tahun 1994 sampai 2000 cenderung
lebih berfluktuatif. Setelah tahun 2000 ekspor teh Indonesia cenderung
mengalami penurunan.
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

68
Pada sisi impor, volume impor teh Indonesia dari negara-negara eksportir
teh masih sangat kecil bila dibandingkan dengan volume ekspornya. Volume
impor tertinggi selama periode 1969-2006 terjadi pada tahun 1990 dengan
volume impor sebesar 6.699 ton. Setelah tahun tersebut volume impor masih
dibawah 6.000 ton. Pada tahun 2006 volume impor Indonesia sebesar 6.625 ton
(Lampiran 4.8).


Gambar 4.9. Perkembangan volume ekspor dan impor teh Indonesia, 1969 – 2007

Volume ekspor teh Indonesia yang mencapai 96.210 ton pada tahun 2008
sebagian besar diekspor ke Rusia dengan volume 15.882 ton atau 16,51% dari
total volume ekspor Indonesia. Dari total volume ekspor ke Rusia tersebut
pendapatan devisa Indonesia sebesar US$ 23,14 juta. Disusul ekspor teh ke
Pakistan yang menduduki peringkat kedua dengan volume sebesar 12.365 ton
atau memberikan kontribusi 12,85% dari total ekspor teh Indonesia pada tahun
2008 dengan nilai US$ 21,88 juta. Selanjutnya berturut-turut diikuti Inggris
(9,41%), Malaysia (9,37%), Jerman (8,39%), Amerika Serikat (7,60%), Uni emirat
Arab (5,35%), Belanda (4,37%), India (3,95%) dan Polandia (3,80%) serta sisanya
sebesar 18,4% diekspor ke nagara lainnya (Gambar 4.10).
Besarnya volume ekspor teh dari Indonesia ke Rusia tidak mengherankan
karena Rusia termasuk salah satu pasar teh yang cukup besar di dunia. Hal ini
dapat pula dilihat dari total impor teh Rusia yang selama lima tahun terakhir
merupakan penyerap impor terbesar dunia.

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

69

Gambar 4.10. Negara-negara tujuan ekspor teh Indonesia, 2008

Sementara itu, impor teh Indonesia sebagian besar berasal dari Vietnam
dengan volume 2.995 ton atau 45,21% dari total volume impor Indonesia. Dari
total volume impor tersebut Indonesia kehilangan devisa sebesar US$ 2,87 juta.
Kenya menduduki peringkat kedua sebagai negara yang melakukan ekspor teh ke
Indonesia dengan volume sebesar 1.668 ton atau memberikan kontribusi 25,18%
dari total ekspor teh Indonesia pada tahun 2008 dengan nilai yang lebih besar
dibandingkan Vietnam yakni sebesar US$ 4,08 juta. Selanjutnya kontribusi
volume impor teh dari negara lainnya berturut-turut adalah China (10,02%), India
(5,59%), Srilanka (4,57%), Singapura (2,10%), Amerika Serikat (1,43%), dan Jepang
(0,85%) serta sisanya sebesar 4,69% dari negara-negara lainnya (Gambar 4.11).


Gambar 4.11. Negara-negara asal impor teh ke Indonesia, 2008

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

70
4.5. PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS TEH
DUNIA

Perkembangan luas areal, produksi dan produktivitas teh dunia selama
periode tahun 1961-2007 disajikan pada Gambar 4.12, Gambar 4.13, dan Gambar
4.14. Secara umum perkembangan luas areal teh di dunia terus meningkat dari
tahun 1961 sampai dengan tahun 2007, hanya saja pada tahun 1984 - 1985 terjadi
penurunan luas areal yang signifikan. Namun setelah tahun-tahun tersebut luas
areal teh dunia mengalami peningkatan secara perlahan-lahan hingga tahun
terakhir (Gambar 4.12).


Gambar 4.12. Perkembangan luas areal teh dunia, 1961-2007

Perkembangan produksi teh dari tahun 1961 sampai dengan tahun 2007 juga
cenderung meningkat, walaupun pada tahun-tahun tertentu terjadi penurunan
produksi. Namun demikian, penurunan produksi tersebut tidak signifikan, bahkan
pada tahun 1984–1985 walaupun luas areal teh mengalami penurunan tetapi dari
segi produksi justru mengalami peningkatan (Gambar 4.13). Hal tersebut dapat
dimungkinkan karena konversi luas areal teh yang terjadi pada tahun 1984-1985
berasal dari tanaman tua ataupun tanaman rusak sehingga tidak berpengaruh
terhadap produksi teh dunia.

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

71

Gambar 4.13. Perkembangan produksi teh di dunia, 1961-2007



Gambar 4.14. Perkembangan produktivitas teh di dunia, 1961-2007

Perkembangan produktivitas teh dunia selama periode tahun 1961-2007
mempunyai pola meningkat. Hanya saja pada tahun 1984-1985 terjadi
peningkatan produktivitas yang tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Peningkatan produktivitas tersebut terjadi karena menurunnya jumlah luas areal
teh yang berasal dari tanaman teh yang kurang produktif/tua. Namun pada
tahun-tahun berikutnya pertumbuhan produktivitas teh dunia juga kembali pada
kisaran pertumbuhan produktivitas sebelumnya (Gambar 4.14).
Berdasarkan menurut negara-negara produsen teh, lebih dari separuh
produksi teh dunia selama periode 2003-2007 hanya disumbang oleh dua negara
penghasil teh terbesar yakni Cina (27,19%) dan India (25,26%). Menempati posisi
ketiga sampai kelima sebagai penghasil teh dunia adalah Kenya (9,16%), Srilanka
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

72
(8,70%) dan Turki (5,52%). Sementara Indonesia hanya menempati posisi keenam
dengan kontribusi sebesar 4,59% dari produksi dunia diikuti oleh Vietnam dengan
kontribusi sebesar 3,78% (Gambar 4.15).


Gambar 4.15. Kontribusi negara terhadap produksi teh dunia, 2003-2007


4.6. PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR TEH DUNIA

Selama kurun waktu 2003-2007, Indonesia merupakan negara eksportir
terbesar keenam dunia dengan kontribusi terhadap ekspor dunia sebesar 5,70%.
Negara pengekspor teh terbesar di dunia adalah Kenya dengan persentase
sebesar 19,84%. Padahal negara tersebut dari sisi produksi berada diurutan ketiga
setelah China dan India. Hal tersebut dapat disebabkan karena jumlah
penduduknya yang lebih sedikit dibandingkan China dan India maka produksi teh
di dalam negeri masih banyak yang dapat diekspor ke pasar dunia.
Sementara itu China sebagai negara produsen dunia hanya berada di posisi
kedua dengan kontribusi sebesar 17,23% disusul Srilanka (15,80%). India yang
berdasarkan produksi berada di posisi kedua, dari segi ekspor berada di posisi
keempat dengan kontribusi sebesar 10,75%. Indonesia berada pada posisi keenam
sebagai negara terbesar pengekspor teh dunia dengan persentase 5,70% sama
seperti posisi produksi dunia, sedangkan Vietnam yang pada posisi produksi dunia
berada dibawah Indonesia, untuk posisi ekspor justru diatas Indonesia dengan
kontribusi sebesar 5,72% (Gambar 4.16).
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

73

Gambar 4.16. Kontribusi negara terhadap volume ekspor teh dunia, 2003-2007

Pada sisi impor atau konsumen, selama kurun waktu 2003-2007 negara
pengimpor teh terbesar di dunia adalah Rusia dengan persentase sebesar 14,22%.
Disusul Pakistan, Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab dengan volume impor
masing-masing sebesar 9,72%, 8,30% dan 4,09% dari impor dunia. Sementara itu
Maroko, Jerman dan Belanda masing-masing ada diposisi ke-5, ke-6 dan ke-7
dengan kontribusi masing-masing sebesar 4,00%, 3,67% dan 2,51%. Sementara itu
Indonesia berada pada posisi ke-44 sebagai negara pengimpor teh dunia dengan
kontribusi sebesar 0,45% (Gambar 4.17).
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pasar teh di Rusia
merupakan pasar teh yang cukup besar di dunia. Hal ini dikarenakan masyarakat
di negara tersebut sangat fanatik terhadap minum teh. Konsumsi teh di negara
tersebut cukup tinggi yakni pada tahun 2002 mencapai 750 gram/kapita, bahkan
pada tahun 1989-1991 tercatat tingkat konsumsi per kapita masyarakat Rusia
mencapai 1.150 gram/kapita (Suprihatini, 2003).

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

74

Gambar 4.17. Kontribusi negara terhadap volume impor teh dunia, 2003-2007


4.7. PROYEKSI PENAWARAN TEH 2009-2011

Penawaran suatu komoditas biasanya dicerminkan oleh respon atau
keputusan produsen terhadap mekanisme pasar dan pengaruh faktor non pasar
(faktor produksi). Dalam hal ini penawaran suatu komoditas direpresentasikan
oleh produksi dari komoditas tersebut. Pada analisis ini dilakukan permodelan
berdasarkan tahun, sehingga series data yang digunakan adalah data per tahun.
Hasil analisis fungsi respons produksi teh dengan menggunakan metode
analisis regresi menunjukkan bahwa produksi teh hanya dipengaruhi oleh luas
areal teh periode sebelumnya. Koefisien determinasi (R
2
) yang diperoleh dari
model tersebut adalah sebesar 69,30%. Hal ini berarti 69,30% keragaman pada
produksi teh dapat dijelaskan oleh peubah-peubah yang digunakan dalam model
tersebut. Parameter estimasi produksi teh bersifat nyata terhadap pengaruh
faktor luas areal. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa produksi teh sebenarnya
hanya dipengaruhi oleh faktor luas areal.
Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa komoditas teh merupakan
tanaman tahunan yang luasannya tidak dapat berubah dalam jangka pendek
karena faktor-faktor tersebut di atas sehingga produksi hanya dipengaruhi oleh
luas areal tahun sebelumnya. Dengan demikian sebenarnya produksi teh lebih
banyak dipengaruhi oleh luas areal teh dan umur tanaman teh yang berpengaruh
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

75
terhadap produktivitas teh. Sementara itu faktor lainnya seperti harga teh
secara nyata tidak berpengaruh terhadap produksi teh.
Koefisien untuk peubah luas areal teh sebesar 0,9693 menunjukkan bahwa
jika luas areal meningkat meningkat sebesar satu satuan luas maka produksi teh
tahun ini akan meningkat sebesar 0,9693 satuan produksi.

Tabel 4.4. Hasil analisis fungsi respon produksi teh di Indonesia

Peubah Koefisien P Value
Intersep 18.353 0,322
Luas Areal Teh 0,9693 0,000
R
2
69,30%

Berdasarkan hasil proyeksi produksi teh dapat diprediksi tingkat
ketersediaan teh pada tahun 2009-2011 (Tabel 4.6). Estimasi produksi teh dari
Direktorat Jenderal Perkebunan pada tahun 2009 sebesar 151.617 ton. Pada
tahun berikutnya berdasarkan hasil proyeksi diperkirakan ketersediaan teh di
Indonesia diperkirakan stagnan atau hanya meningkat sebesar 0,04% menjadi
151.671 ton dan pada tahun 2011 ketersediaan teh sebesar 152.429 ton.
Ketersediaan teh nasional selama periode 2009-2011 diperkirakan rata-rata naik
sebesar 0,27%. Peningkatan produksi yang tidak terlalu signifikan ini tidak lepas
dari susahnya perluasan luas areal teh di Indonesia.



» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

76
Tabel 4.5. Proyeksi ketersediaan teh, 2009 – 2011

Tahun
Proyeksi Ketersediaan
Teh (Ton)
Pertumbuhan
(%)
2009 151.617
2010 151.671 0,04
2011 152.429 0,50
Rata-rata pertumbuhan (%/Tahun) 0,27

4.8. PROYEKSI PERMINTAAN TEH 2009-2011
Proyeksi permintaan teh di Indonesia dilakukan dengan menggunakan
pendekatan ketersediaan teh daun kering untuk kebutuhan/konsumsi dalam
negeri. Ketersediaan teh daun kering untuk kebutuhan/konsumsi dalam negeri
merupakan pengurangan produksi daun teh kering dikurangi dengan neraca
ekspor impor teh di Indonesia. Proyeksi permintaan teh dalam negeri dilakukan
dengan menggunakan analisis trend. Hasil proyeksi adalah sebagai berikut :

Tabel 4.6. Hasil proyeksi permintaan teh di Indonesia, 2009-2011

Tahun
Proyeksi Permintaan
Langsung (Ton)
Pertumbuhan (%)
2009 70.851
2010 72.443 2,25
2011 74.035 2,20
Pertumbuhan rata-rata (%/th) 2,22

Secara umum permintaan teh di Indonesia diproyeksikan akan mengalami
peningkatan rata-rata sebesar 2,22% per tahun. Peningkatan permintaan teh
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

77
dalam negeri ini sudah termasuk didalamnya karena faktor peningkatan jumlah
penduduk.

4.9. PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT TEH 2009-2011

Berdasarkan hasil perhitungan fungsi penawaran dan fungsi permintaan,
maka diperoleh proyeksi penawaran dan permintaan teh untuk tahun 2009-2011
dalam bentuk teh daun kering. Berdasarkan hasil tersebut pada tahun 2009
diperkirakan ketersediaan teh di Indonesia masih mengalami surplus sekitar
80.766 ton. Pada tahun-tahun berikutnya surplus ketersedian mengalami sedikit
penurunan dan pada tahun 2010 surplus ketersediaan teh sebesar 79.228 ton
(Tabel 4.8). Surplus penawaran/ ketersediaan teh tersebut diserap oleh pasar
internasional melalui kegiatan ekspor teh. Penurunan surplus yang terjadi setiap
tahun tersebut sebagai akibat dari peningkatan produksi teh didalam negeri lebih
rendah dari peningkatan permintaan teh di dalam negeri.

Tabel 4.7. Proyeksi surplus/defisit teh, 2009–2011

Tahun
Ketersediaan
(Ton)
Konsumsi Langsung
Dalam Negeri (Ton)
Surplus/Defisit
(Ton)
2009 151.617 70.851 80.766
2010 151.671 72.443 79.228
2011 152.429 74.035 78.394







» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

78
Lampiran 4.1. Perkembangan luas areal teh di Indonesia menurut pengusahaan,
1970-2009

Ha Pertumb. (%) Ha Pertumb. (%) Ha Pertumb. (%) Ha Pertumb. (%)
1970 51,721 39,887 24,474 116,082
1971 36,230 -29.95 39,850 -0.09 25,994 6.21 102,074 -12.07
1972 34,612 -4.47 33,603 -15.68 30,771 18.38 98,986 -3.03
1973 33,339 -3.68 41,227 22.69 26,551 -13.71 101,117 2.15
1974 34,049 2.13 41,401 0.42 26,056 -1.86 101,506 0.38
1975 34,249 0.59 41,401 0.00 24,880 -4.51 100,530 -0.96
1976 35,396 3.35 41,100 -0.73 24,764 -0.47 101,260 0.73
1977 35,181 -0.61 38,721 -5.79 21,468 -13.31 95,370 -5.82
1978 37,097 5.45 39,519 2.06 25,386 18.25 102,002 6.95
1979 39,829 7.36 40,807 3.26 27,362 7.78 107,998 5.88
1980 41,329 3.77 40,442 -0.89 30,929 13.04 112,700 4.35
1981 42,288 2.32 40,939 1.23 23,310 -24.63 106,537 -5.47
1982 45,414 7.39 41,143 0.50 24,798 6.38 111,355 4.52
1983 45,944 1.17 42,624 3.60 23,128 -6.73 111,696 0.31
1984 50,859 10.70 45,605 6.99 21,582 -6.68 118,046 5.69
1985 52,652 3.53 48,005 5.26 21,883 1.39 122,540 3.81
1986 54,374 3.27 48,606 1.25 23,313 6.53 126,293 3.06
1987 50,252 -7.58 47,872 -1.51 22,392 -3.95 120,516 -4.57
1988 50,770 1.03 47,567 -0.64 26,908 20.17 125,245 3.92
1989 52,152 2.72 49,543 4.15 27,680 2.87 129,375 3.30
1990 51,238 -1.75 49,495 -0.10 28,347 2.41 129,080 -0.23
1991 51,468 0.45 51,662 4.38 30,575 7.86 133,705 3.58
1992 53,040 3.05 51,322 -0.66 33,145 8.41 137,507 2.84
1993 55,678 4.97 51,296 -0.05 35,609 7.43 142,583 3.69
1994 57,517 3.30 50,507 -1.54 37,500 5.31 145,524 2.06
1995 61,202 6.41 49,390 -2.21 41,839 11.57 152,431 4.75
1996 65,372 6.81 43,282 -12.37 33,828 -19.15 142,482 -6.53
1997 64,498 -1.34 43,240 -0.10 34,484 1.94 142,222 -0.18
1998 65,841 2.08 50,446 16.67 40,752 18.18 157,039 10.42
1999 65,272 -0.86 49,157 -2.56 42,410 4.07 156,839 -0.13
2000 67,100 2.80 44,263 -9.96 42,312 -0.23 153,675 -2.02
2001 67,580 0.72 44,554 0.66 38,738 -8.45 150,872 -1.82
2002 66,289 -1.91 44,608 0.12 39,810 2.77 150,707 -0.11
2003 64,742 -2.33 41,988 -5.87 36,874 -7.38 143,604 -4.71
2004 61,902 -4.39 44,768 6.62 35,878 -2.70 142,548 -0.74
2005 60,771 -1.83 44,066 -1.57 34,284 -4.44 139,121 -2.40
2006 60,990 0.36 46,661 5.89 27,939 -18.51 135,590 -2.54
2007 60,948 -0.07 42,579 -8.75 30,207 8.12 133,734 -1.37
2008*) 61,185 0.39 38,199 -10.29 30,205 -0.01 129,589 -3.10
2009**) 61,235 0.08 38,199 0.00 30,165 -0.13 129,599 0.01
1970-1998 47,710 1.16 44,500 1.08 28,266 2.47 120,476 1.20
1999-2009 63,456 -0.64 43,549 -2.34 35,347 -2.44 142,353 -1.72
1970-2009 52,040 0.65 44,239 0.11 30,213 1.08 126,492 0.37
Sumber: Ditjen Perkebunan
Rata-rata :
Tahun
PR PBN PBS Indonesia

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

79
Lampiran 4.2. Perkembangan produksi teh di Indonesia menurut pengusahaan,
1970-2006

Ton Pertumb. (%) Ton Pertumb. (%) Ton Pertumb. (%) Ton Pertumb. (%)
1970 20,563 34,326 9,277 64,166
1971 14,511 -29.43 36,527 6.41 9,954 7.30 60,992 -4.95
1972 11,947 -17.67 37,442 2.50 10,535 5.84 59,924 -1.75
1973 14,263 19.39 43,252 15.52 10,069 -4.42 67,584 12.78
1974 13,833 -3.01 40,148 -7.18 11,036 9.60 65,017 -3.80
1975 14,096 1.90 46,221 15.13 9,772 -11.45 70,089 7.80
1976 13,280 -5.79 49,449 6.98 11,036 12.93 73,765 5.24
1977 17,303 30.29 51,391 3.93 14,234 28.98 82,928 12.42
1978 17,424 0.70 58,977 14.76 15,709 10.36 92,110 11.07
1979 19,069 9.44 61,240 3.84 16,908 7.63 97,217 5.54
1980 20,489 7.45 68,184 11.34 17,502 3.51 106,175 9.21
1981 23,769 16.01 71,886 5.43 13,480 -22.98 109,135 2.79
1982 16,511 -30.54 60,648 -15.63 15,573 15.53 92,732 -15.03
1983 22,858 38.44 70,360 16.01 17,099 9.80 110,317 18.96
1984 24,290 6.26 84,475 20.06 17,678 3.39 126,443 14.62
1985 30,056 23.74 80,149 -5.12 17,259 -2.37 127,464 0.81
1986 31,124 3.55 79,314 -1.04 19,043 10.34 129,181 1.35
1987 25,394 -18.41 79,801 0.61 20,901 9.76 126,096 -2.39
1988 25,564 0.67 84,772 6.23 23,464 12.26 133,800 6.11
1989 25,590 0.10 90,368 6.60 26,416 12.58 142,374 6.41
1990 31,381 22.63 95,346 5.51 29,192 10.51 155,919 9.51
1991 27,898 -11.10 84,035 -11.86 27,587 -5.50 139,520 -10.52
1992 31,834 14.11 94,023 11.89 27,844 0.93 153,701 10.16
1993 36,631 15.07 95,126 1.17 33,237 19.37 164,994 7.35
1994 30,294 -17.30 78,383 -17.60 30,545 -8.10 139,222 -15.62
1995 32,593 7.59 87,432 11.54 33,988 11.27 154,013 10.62
1996 34,256 5.10 96,624 10.51 38,537 13.38 169,417 10.00
1997 32,619 -4.78 88,259 -8.66 32,770 -14.96 153,648 -9.31
1998 34,137 4.65 91,076 3.19 41,612 26.98 166,825 8.58
1999 34,561 1.24 86,099 -5.46 40,343 -3.05 161,003 -3.49
2000 39,466 14.19 84,132 -2.28 38,989 -3.36 162,587 0.98
2001 40,160 1.76 86,207 2.47 40,500 3.88 166,867 2.63
2002 44,773 11.49 80,426 -6.71 39,995 -1.25 165,194 -1.00
2003 47,079 5.15 82,082 2.06 40,660 1.66 169,821 2.80
2004 40,200 -14.61 89,303 8.80 36,448 -10.36 165,951 -2.28
2005 37,746 -6.10 89,959 0.73 38,386 5.32 166,091 0.08
2006 37,355 -1.04 81,847 -9.02 27,657 -27.95 146,858 -11.58
2007 38,937 4.24 80,274 -1.92 31,012 12.13 150,623 2.56
2008*) 39,215 0.71 80,577 0.38 31,059 0.15 150,851 0.15
2009**) 39,650 1.11 80,889 0.39 31,078 0.06 151,617 0.51
1970-1998 23,916 3.18 70,318 4.00 20,767 6.16 114,992 3.86
1999-2009 40,031 1.81 84,481 -1.26 37,110 -2.55 161,666 -1.03
1970-2009 27,733 2.85 73,673 2.72 24,638 4.04 126,046 2.67
Sumber: Ditjen Perkebunan
Rata-rata :
Tahun
PR PBN PBS Indonesia

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

80
Lampiran 4.3. Jumlah tanaman menghasilkan (TM) dan produksi teh per provinsi
menurut pengusahaan, 2007

TM Prod TM Prod TM Prod TM Prod
1. NANGGROE ACEH D. - - - - - - - -
2. SUMATERA UTARA - - 8.579 12.917 318 471 8.897 13.388
3. SUMATERA BARAT 2.464 2.925 577 1.340 1.776 78 4.817 4.343
4. R I A U - - - - - - - -
5. KEPULAUAN RIAU - - - - - - - -
6. JAMBI - - 2.625 2.625 - - 2.625 2.625
7. SUMATERA SELATAN - - 1.470 2.371 - - 1.470 2.371
8. BANGKA BEUTUNG - - - - - - - -
9. BENGKULU - - 20 - 1.098 1.522 1.118 1.522
10. LAMPUNG - - - - - - - -
SUMATERA 2.464 2.925 13.271 19.253 3.192 2.071 18.927 24.249
11. DKI JAKARTA - - - - - - - -
12. JAWA BARAT 53.077 30.716 26.539 55.895 21.464 23.346 101.080 109.957
13. BANTEN - - - - - - - -
14. JAWA TENGAH 5.211 5.010 1.424 2.196 2.604 3.682 9.239 10.888
15. D.I. YOGYAKARTA 136 226 - - - - 136 226
16. JAWA TIMUR 57 60 1.345 2.930 1.058 663 2.460 3.653
JAWA 58.481 36.012 29.308 61.021 25.126 27.691 112.915 124.724
17. BALI - - - - - - - -
18. NUSA TENGGARA BARAT - - - - - - - -
19. NUSA TENGGARA TIMUR - - - - - - - -
NUSA TENGGARA - - - - - - - -
20. KALIMANTAN BARAT - - - - - - - -
21. KALIMANTAN TENGAH - - - - - - - -
22. KALIMANTAN SELATAN - - - - - - - -
23. KALIMANTAN TIMUR 2 - - - - - 2 -
KALIMANTAN 2 - - - - - 2 -
24. SULAWESI UTARA - - - - - - - -
25. GORONTALO - - - - - - - -
26. SULAWESI TENGAH - - - - 1.760 1.005 1.760 1.005
27. SULAWESI SELATAN - - - - 129 245 129 245
28. SULAWESI BARAT - - - - - - - -
29. SULAWESI TENGGARA - - - - - - - -
SULAWESI - - - - 1.889 1.250 1.889 1.250
30. M A L U K U - - - - - - - -
31. MALUKU UTARA - - - - - - - -
32. PAPUA - - - - - - - -
33. PAPUA BARAT - - - - - - - -
MALUKU + PAPUA - - - - - - - -
INDONESIA 60.947 38.937 42.579 80.274 30.207 31.012 133.733 150.223
PBS Jumlah
No Prop
PR PBN

Sumber : Ditjen Perkebunan, DEPTAN
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

81
Lampiran 4.4. Jumlah tanaman menghasilkan (TM) dan produksi teh per provinsi
menurut pengusahaan, 2008

TM Prod TM Prod TM Prod TM Prod
1. NANGGROE ACEH D. - - - - - - - -
2. SUMATERA UTARA - - 4.782 10.373 318 571 5.100 10.944
3. SUMATERA BARAT 2.539 2.892 577 1.348 1.776 77 4.892 4.317
4. R I A U - - - - - - - -
5. KEPULAUAN RIAU - - - - - - - -
6. JAMBI - - 2.625 5.858 - - 2.625 5.858
7. SUMATERA SELATAN - - 1.470 2.375 - - 1.470 2.375
8. BANGKA BEUTUNG - - - - - - - -
9. BENGKULU - - - - 1.098 1.502 1.098 1.502
10. LAMPUNG - - - - - - - -
SUMATERA 2.539 2.892 9.454 19.954 3.192 2.150 15.185 24.996
11. D.KJ. JAKARTA - - - - - - - -
12. JAWA BARAT 53.108 30.991 25.971 55.302 21.461 24.358 100.540 110.651
13. BANTEN - - - - - - - -
14. JAWA TENGAH 5.338 5.150 1.429 2.393 2.605 1.863 9.372 9.406
15. D.I. YOGYAKARTA 136 117 - - - - 136 117
16. JAWA TIMUR 62 65 1.345 2.928 1.058 1.263 2.465 4.256
JAWA 58.644 36.323 28.745 60.623 25.124 27.484 112.513 124.430
17. BALI - - - - - - - -
18. NUSA TENGGARA BARAT - - - - - - - -
19. NUSA TENGGARA TIMUR - - - - - - - -
NUSA TENGGARA - - - - - - - -
20. KALIMANTAN BARAT - - - - - - - -
21. KALIMANTAN TENGAH - - - - - - - -
22. KALIMANTAN SELATAN - - - - - - - -
23. KALIMANTAN TIMUR 2 - - - - - 2 -
KALIMANTAN 2 - - - - - 2 -
24. SULAWESI UTARA - - - - - - - -
25. GORONTALO - - - - - - - -
26. SULAWESI TENGAH - - - - 1.760 1.226 1.760 1.226
27. SULAWESI SELATAN - - - - 129 199 129 199
28. SULAWESI BARAT - - - - - - - -
29. SULAWESI TENGGARA - - - - - - - -
SULAWESI - - - - 1.889 1.425 1.889 1.425
30. M A L U K U - - - - - - - -
31. MALUKU UTARA - - - - - - - -
32. PAPUA - - - - - - - -
33. PAPUA BARAT - - - - - - - -
MALUKU + PAPUA - - - - - - - -
INDONESIA 61.185 39.215 38.199 80.577 30.205 31.059 129.589 150.851
No Prop
PR PBN PBS Jumlah

Sumber : Ditjen Perkebunan, DEPTAN
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

82
Lampiran 4.5. Jumlah tanaman menghasilkan (TM) dan produksi teh per provinsi
menurut pengusahaan, 2009

TM Prod TM Prod TM Prod TM Prod
1. NANGGROE ACEH D. - - - - - - - -
2. SUMATERA UTARA - - 4.782 10.750 318 470 5.100 11.220
3. SUMATERA BARAT 2.589 2.992 577 1.350 1.764 888 4.930 5.230
4. R I A U - - - - - - - -
5. KEPULAUAN RIAU - - - - - - - -
6. JAMBI - - 2.625 5.848 - - 2.625 5.848
7. SUMATERA SELATAN - - 1.470 2.376 - - 1.470 2.376
8. BANGKA BEUTUNG - - - - - - - -
9. BENGKULU - - - - 1.088 1.605 1.088 1.605
10. LAMPUNG - - - - - - - -
SUMATERA 2.589 2.992 9.454 20.324 3.170 2.963 15.213 26.279
11. D.KJ. JAKARTA - - - - - - - -
12. JAWA BARAT 53.058 31.291 25.971 55.250 21.455 23.530 100.484 110.071
13. BANTEN - - - - - - - -
14. JAWA TENGAH 5.383 5.170 1.429 2.390 2.600 1.765 9.412 9.325
15. D.I. YOGYAKARTA 136 122 - - - - 136 122
16. JAWA TIMUR 67 75 1.345 2.925 1.051 1.165 2.463 4.165
JAWA 58.644 36.658 28.745 60.565 25.106 26.460 112.495 123.683
17. BALI - - - - - - - -
18. NUSA TENGGARA BARAT - - - - - - - -
19. NUSA TENGGARA TIMUR - - - - - - - -
NUSA TENGGARA - - - - - - - -
20. KALIMANTAN BARAT - - - - - - - -
21. KALIMANTAN TENGAH - - - - - - - -
22. KALIMANTAN SELATAN - - - - - - - -
23. KALIMANTAN TIMUR 2 - - - - - 2 -
KALIMANTAN 2 - - - - - 2 -
24. SULAWESI UTARA - - - - - - - -
25. GORONTALO - - - - - - - -
26. SULAWESI TENGAH - - - - 1.760 1.405 1.760 1.405
27. SULAWESI SELATAN - - - - 129 250 129 250
28. SULAWESI BARAT - - - - - - - -
29. SULAWESI TENGGARA - - - - - - - -
SULAWESI - - - - 1.889 1.655 1.889 1.655
30. M A L U K U - - - - - - - -
31. MALUKU UTARA - - - - - - - -
32. PAPUA - - - - - - - -
33. PAPUA BARAT - - - - - - - -
MALUKU + PAPUA - - - - - - - -
INDONESIA 61.235 39.650 38.199 80.889 30.165 31.078 129.599 151.617
No Prop
PR PBN PBS Jumlah

Sumber : Ditjen Perkebunan, DEPTAN
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

83
Lampiran 4.6. Perkembangan konsumsi teh di Indonesia, 1984-2008

Tahun Gram/Minggu
1984 10,20
1985*) 10,13
1986*) 10,07
1987 10,00
1988*) 9,83
1989*) 9,66
1990 9,50
1991*) 9,95
1992*) 10,41
1993 10,90
1994*) 11,65
1995*) 12,45
1996 13,30
1997*) 12,56
1998*) 11,86
1999 11,20
2000 12,29
2001 13,49
2002 14,80
2003 13,60
2004 12,90
2005 13,70
2006 14,10
2007 14,90
2008 14,20
Sumber : Susenas, BPS
Keterangan : *) Hasil interpolasi Pusdatin
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

84
Lampiran 4.7. Perkembangan harga teh di tingkat produsen dan konsumen dalam
bentuk daun kering, 1983-2007

Konsumen
(Rp/Bungkus)
Produsen
(Rp/Kg)
Konsumen Produsen
1983 118,03 682,56 100,00 100,00
1984 132,62 804,84 112,36 117,91
1985 141,49 868,60 119,87 127,26
1986 150,18 943,15 127,24 138,18
1987 188,65 995,81 159,83 145,89
1988 198,85 1.088,58 168,47 159,48
1989 210,65 1.113,91 178,47 163,20
1990 222,41 1.159,88 188,44 169,93
1991 232,95 1.283,76 197,36 188,08
1992 240,07 1.365,11 203,40 200,00
1993 246,30 1.377,32 208,67 201,79
1994 255,30 1.454,91 216,30 213,15
1995 282,09 1.719,21 239,00 251,88
1996 390,29 1.919,12 330,67 281,16
1997 409,41 2.073,81 346,87 303,83
1998 699,34 2.717,45 592,51 398,13
1999 942,39 3.141,78 798,44 460,29
2000 1.192,10 3.814,27 1.010,00 558,82
2001 1.257,98 3.949,92 1.065,81 578,69
2002 1.328,25 4.170,98 1.125,35 611,08
2003 1.339,56 4.817,50 1.134,93 705,80
2004 1.247,55 4.130,83 1.056,98 605,20
2005 1.407,50 4.208,33 1.192,49 616,55
2006 1.554,52 4.347,22 1.317,05 636,90
2007 1.721,95 4.780,56 1.458,91 700,38
Tahun
Riil Indeks (1983=100)*)

Sumber : BPS
Keterangan : *) Data diolah Pusdatin

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

85
Lampiran 4.8. Perkembangan ekspor impor teh di Indonesia, 1969-2008

Volume
(Ton)
Nilai
(000 US$)
Volume
(Ton)
Nilai
(000 US$)
Volume
(Ton)
Nilai
(000 US$)
1969 32.472 8.978
- -
32.472 8.978
1970 36.897 18.299 - - 36.897 18.299
1971 43.999 32.527 25 11 43.974 32.516
1972 42.772 32.369 74 25 42.698 32.344
1973 44.676 34.780 40 9 44.636 34.771
1974 55.670 46.278 62 33 55.608 46.245
1975 45.962 51.642 36 43 45.926 51.599
1976 47.492 56.574 59 105 47.433 56.469
1977 51.272 11.480 65 116 51.207 11.364
1978 56.251 94.755 60 178 56.191 94.577
1979 53.582 83.388 51 147 53.531 83.241
1980 74.711 112.669 51 156 74.660 112.513
1981 71.259 100.837 56 192 71.203 100.645
1982 63.660 89.493 51 182 63.609 89.311
1983 68.624 120.435 65 124 68.559 120.311
1984 85.650 226.291 58 110 85.592 226.181
1985 90.121 149.083 59 115 90.062 148.968
1986 79.040 99.094 251 303 78.789 98.791
1987 90.422 118.736 83 120 90.339 118.616
1988 92.687 125.309 146 224 92.541 125.085
1989 114.710 162.735 540 641 114.170 162.094
1990 110.963 181.017 6.699 8.906 104.264 172.111
1991 110.217 14.313 713 1.018 109.504 13.295
1992 121.259 140.909 411 713 120.848 140.196
1993 127.926 155.696 582 776 127.344 154.920
1994 79.056 87.921 453 678 78.603 87.243
1995 79.227 87.719 260 291 78.967 87.428
1996 101.532 112.342 190 329 101.342 112.013
1997 66.843 88.837 2.817 2.871 64.026 85.966
1998 67.219 113.208 3.995 4.359 63.224 108.849
1999 97.847 97.140 619 615 97.228 96.525
2000 105.582 112.105 2.632 3.091 102.950 109.014
2001 107.144 112.524 2.632 3.091 104.512 109.433
2002 100.184 103.427 3.526 3.651 96.658 99.776
2003 88.176 95.816 3.999 3.837 84.177 91.979
2004 98.572 116.018 3.924 5.531 94.648 110.487
2005 102.294 121.496 5.478 7.165 96.816 114.331
2006 95.339 134.515 5.294 8.703 90.045 125.812
2007 83.658 126.615 8.695 10.660 74.963 115.955
2008 96.210 158.959 6.625 11.990 89.584 146.968
Neraca
Tahun
Ekspor Impor

Sumber : Ditjen Perkebunan, DEPTAN
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

86
Lampiran 4.9. Perkembangan luas areal, produksi dan produktivitas teh dunia,
1961-2006

(Ha) Pertmbh (%) (Ton) Pertmbh (%) (Kg/Ha) Pertmbh (%)
1961 1.366.126 983.785 720,13
1962 1.379.866 1,01 987.350 0,36 715,54 -0,64
1963 1.397.016 1,24 1.021.949 3,50 731,52 2,23
1964 1.415.496 1,32 1.063.199 4,04 751,11 2,68
1965 1.442.275 1,89 1.092.631 2,77 757,57 0,86
1966 1.454.455 0,84 1.144.061 4,71 786,59 3,83
1967 1.503.397 3,36 1.161.581 1,53 772,64 -1,77
1968 1.553.831 3,35 1.216.441 4,72 782,87 1,32
1969 1.598.201 2,86 1.238.984 1,85 775,24 -0,97
1970 1.668.290 4,39 1.286.757 3,86 771,30 -0,51
1971 1.737.148 4,13 1.308.424 1,68 753,20 -2,35
1972 1.801.084 3,68 1.405.269 7,40 780,24 3,59
1973 1.933.553 7,35 1.465.134 4,26 757,74 -2,88
1974 2.053.260 6,19 1.492.601 1,87 726,94 -4,06
1975 2.167.122 5,55 1.549.347 3,80 714,93 -1,65
1976 2.245.608 3,62 1.591.872 2,74 708,88 -0,85
1977 2.317.781 3,21 1.771.000 11,25 764,09 7,79
1978 2.379.015 2,64 1.805.757 1,96 759,04 -0,66
1979 2.363.163 -0,67 1.834.132 1,57 776,13 2,25
1980 2.369.480 0,27 1.893.527 3,24 799,13 2,96
1981 2.384.664 0,64 1.885.907 -0,40 790,85 -1,04
1982 2.449.667 2,73 1.961.781 4,02 800,84 1,26
1983 2.483.658 1,39 2.062.325 5,13 830,36 3,69
1984 2.417.035 -2,68 2.200.532 6,70 910,43 9,64
1985 2.152.785 -10,93 2.304.834 4,74 1.070,63 17,60
1986 2.193.147 1,87 2.293.102 -0,51 1.045,58 -2,34
1987 2.204.518 0,52 2.358.977 2,87 1.070,06 2,34
1988 2.214.688 0,46 2.448.034 3,78 1.105,36 3,30
1989 2.245.429 1,39 2.472.861 1,01 1.101,29 -0,37
1990 2.260.328 0,66 2.524.165 2,07 1.116,73 1,40
1991 2.285.963 1,13 2.561.050 1,46 1.120,34 0,32
1992 2.308.157 0,97 2.492.432 -2,68 1.079,84 -3,62
1993 2.319.631 0,50 2.612.797 4,83 1.126,38 4,31
1994 2.310.856 -0,38 2.637.418 0,94 1.141,32 1,33
1995 2.298.290 -0,54 2.621.082 -0,62 1.140,45 -0,08
1996 2.303.506 0,23 2.692.866 2,74 1.169,03 2,51
1997 2.287.504 -0,69 2.758.006 2,42 1.205,68 3,14
1998 2.285.378 -0,09 2.989.032 8,38 1.307,89 8,48
1999 2.383.831 4,31 3.077.588 2,96 1.291,03 -1,29
2000 2.384.046 0,01 2.963.588 -3,70 1.243,09 -3,71
2001 2.415.365 1,31 3.071.601 3,64 1.271,69 2,30
2002 2.480.092 2,68 3.165.432 3,05 1.276,34 0,37
2003 2.508.339 1,14 3.212.516 1,49 1.280,73 0,34
2004 2.601.131 3,70 3.409.055 6,12 1.310,60 2,33
2005 2.716.075 4,42 3.603.197 5,69 1.326,62 1,22
2006 2.708.366 -0,28 3.646.452 1,20 1.346,37 1,49
2007 2.805.502 3,59 3.887.308 6,61 1.385,60 2,91
Rata-Rata 2.139.449 1,61 2.153.782 3,07 978 1,50
Tahun
Luas Areal Produksi Produktivitas

Sumber : FAO
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

87
Lampiran 4.10. Rata-rata produksi teh dari negara-negara terbesar di dunia,
2002-2006

No Negara
Produksi
(Ton)
Share (%)
1 China 965.749 27,19
2 India 897.244 25,26
3 Kenya 325.390 9,16
4 Srilanka 308.908 8,70
5 Turki 196.206 5,52
6 Indonesia 163.160 4,59
7 Vietnam 134.265 3,78
8 Jepang 95.700 2,69
9 Argentina 70.451 1,98
10 Bangladesh 57.832 1,63
11 Lainnya 336.801 9,48
Total 3.551.706 100,00

Sumber : FAO
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

88
Lampiran 4.11. Rata-rata volume ekspor dan impor teh terbesar di dunia,
2003-2007

No Negara
Ekspor
Negara
Impor
Volume
(Ton)
Share
(%)
Volume
(Ton)
Share
(%)
1 Kenya 325.085 19,79 Rusia 175.021 14,22
2 China 282.989 17,23 Pakistan 119.586 7,28
3 Srilanka 259.630 15,80 Amerika Serikat 102.138 6,22
4 India 176.576 10,75 Uni Emirat Arab 50.344 3,06
5 Vietnam 93.920 5,72 Maroko 49.272 3,00
6 Indonesia 93.608 5,70 Jerman 45.178 2,75
7 Argentina 68.595 4,18 Belanda 30.840 1,88
8 Malawi 41.925 2,55 Polandia 29.791 1,81
9 Uganda 31.212 1,90 Syiria 28.106 1,71
10 Inggris 28.454 1,73 Afganistan 26.347 1,60

Lainnya 240.833 14,66 Lainnya 574.190 34,95

Total 1.642.826 100,00 Total 1.230.813 74,92

Sumber : FAO


» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

89
BAB V. KAPAS

Salah satu sub sektor penyumbang devisa negara yang cukup besar yaitu
sub sektor perkebunan, bahkan dari tahun ke tahun kontribusinya terhadap
devisa negara semakin meningkat dibandingkan sub sektor lainnya. Namun tidak
semua komoditas perkebunan mampu menjadi kontributor devisa negara, salah
satunya adalah kapas. Meskipun pengembangan tanaman kapas di Indonesia
hingga tahun 2008 telah mencapai luasan 16.601 ha dengan produksi 20.523 ton,
namun neraca perdagangan komoditas kapas masih mengalami defisit. Ekspor
komoditas kapas tahun 2008 mancapai nilai US$ 39.736 dengan volume ekspor
sebesar 33.132 ton, sedangkan nilai impor kapas mencapai US$ 1.218.557 dengan
volume impor sebesar 732.899 ton.
Kendala bagi perkebunan kapas di Indonesia adalah iklim. Di satu pihak
tanaman kapas membutuhkan air untuk pertumbuhannya, dilain pihak tanaman
ini membutuhkan musim kering pada saat berbunga sampai panen. Oleh karena
itu kontribusi kapas terhadap produksi perkebunan di Indonesia termasuk kecil,
hanya 1% dari produksi perkebunan Indonesia, namun jumlah ini diharapkan
dapat meningkat seiring dengan dibukanya lahan pertanaman kapas baru. Secara
umum, pengembangan kapas masih mempunyai prospek yang baik ditinjau dari
harga, ekspor dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri (Departemen Pertanian,
2006). Selain serat kapas yang merupakan produk utama, dapat dihasilkan pula
biji kapas yang dapat diolah menjadi minyak dan bungkilnya (Wikipedia
Indonesia, 2007). Mengigat hal tersebut, Pemerintah telah berupaya
mengembangkan komoditas kapas agar mampu bersaing dengan komoditas
perkebunan lainnya.
Kebijakan Pemerintah untuk mendukung pengembangan kapas hingga tahun
2010 adalah (1) peningkatan produktivitas dan mutu kapas, (2) pengembangan
industri hilir dan peningkatan nilai tambah, (3) pemberdayaan petani, (4)
pemantauan dan penataan kelembagaan, dan (5) fasilitas dukungan penyediaan
dana (Departemen Pertanian, 2006)

» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
90
Untuk mengetahui perkembangan komoditas kapas dan prospeknya dalam
mendukung sektor pertanian Indonesia, berikut ini disajikan perkembangan
komoditas kapas serta prospeknya melalui proyeksi penawaran dan permintaan
kapas beberapa tahun ke depan.

5.1. PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS
KAPAS DI INDONESIA
Selama periode tahun 1970-1985 luas areal perkebunan kapas di Indonesia
menunjukan peningkatan, namun setelah periode tersebut terjadi penurunan luas
areal kapas yang cukup signifikan (Gambar 5.1). Jika tahun 1970-1985
pertumbuhan luas areal kapas di Indonesia mencapai 88,94% per tahun, maka
pada tahun 1986-2008 terjadi penurunan luas areal kapas hingga rata-rata
pertumbuhan hanya sebesar 0.68% per tahun (Tabel 5.1).


Gambar 5.1. Perkembangan luas areal kapas di Indonesia menurut status
pengusahaan, 1970 -2008


Persentase peningkatan luas areal kapas tertinggi terjadi pada tahun 1982,
yaitu dari 5.156 ha pada tahun 1981 menjadi 34.706 ha atau meningkat 573,12%.
Setelah tahun 1985 luas areal pertanaman kapas cenderung menurun, terutama
setelah krisis moneter melanda Indonesia. Beberapa hal diduga menjadi
penyebab penurunan tersebut, antara lain kenaikan nilai tukar rupiah terhadap
dolar Amerika yang menyebabkan naiknya harga sarana produksi terutama pupuk

» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

91
dan pestisida. Selain itu pada tahun 2001 terjadi penolakan petani kapas di
Sulawesi Selatan terhadap pengembangan kapas Bollgard Bt (kapas transgenik
hasil bioteknologi) oleh PT Monagro Kimia (gabungan perusahaan Monsanto dari
Amerika dan perusahaan lokal), padahal Sulawesi Selatan merupakan provinsi
sentra komoditas kapas terbesar di Indonesia. Penurunan luas areal kapas masih
terjadi hingga tahun 2005. Dengan adanya program pengembangan kapas, maka
pada tahun 2006-2008 mulai terjadi peningkatan luas areal kapas. Perkembangan
luas areal kapas di Indonesia menurut jenis pengusahaannya secara rinci disajikan
dalam Lampiran 5.1.

Tabel 5.1. Rata-rata laju pertumbuhan dan kontribusi luas areal dan produksi
kapas di Indonesia, 1970 – 2008

PR PBN PBS Total PR PBN PBS Total
Pertumbuhan (%)
1970-2008 65.56 30.95 -29.47 34.70 44.01 12.69 32.79 34.53
1970-1985 167.01 37.56 2.08 88.94 71.57 36.67 164.81 47.71
1986-2008 -0.60 6.16 -52.00 -0.68 26.03 -77.22 -61.52 25.93
Kontribusi (%)
1970-2008 94.20 4.56 1.27 100.00 93.49 5.40 1.11 100.00
1970-1985 84.57 12.28 3.16 100.00 83.58 13.78 2.64 100.00
1986-2008 99.43 0.37 0.21 100.00 99.81 0.06 0.13 100.00
Tahun
Luas Areal Produksi

Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, diolah Pusdatin

Di Indonesia terdapat 3 status pengusahaan perkebunan yaitu Perkebunan
Rakyat (PR), Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan Swasta (PBS). Pada
periode tahun 1970-2008 sebagian besar luas areal perkebunan kapas di Indonesia
dikuasai oleh PR dengan Persentase mencapai 94,20% dari total luas areal kapas
di Indonesia (Tabel 5.1). Kontribusi luas areal PR setelah tahun 1985
menunjukkan kenaikan dibandingkan sebelumnya karena adanya pengalihan dan
fokus ke komoditas lain seperti untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit

» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
92
dan karet. Namun dari sisi pertumbuhannya, luas areal PR setelah tahun 1985
justru cenderung menurun dengan rata-rata penurunan sebesar 0,60% per tahun.
Perkebunan kapas di Indonesia tersebar di empat provinsi, yaitu Sulawesi
Selatan, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah. Luas areal kapas di
empat provinsi tersebut mencapai 90,38% dari total luas areal kapas Indonesia.
Berdasarkan data tahun 2004-2008, Sulawesi Selatan mempunyai luas areal
pertanaman kapas terbesar yang mencapai 42,26% dari total luas areal kapas di
Indonesia. Jawa Timur berada di urutan kedua dengan luas areal kapas mencapai
19,29%, sedangkan luas areal kapas di Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah
masing-masing mencapai 14,60% dan 14,23% dari total luas areal kapas Indonesia
(Lampiran 5.2).
Secara umum perkembangan produksi kapas nasional periode 1970-2008
juga menunjukan fluktuasi yang cenderung menurun setelah tahun 1985 (Gambar
5.2). Meskipun demikian, rata-rata produksi kapas Indonesia masih mengalami
peningkatan sebesar 34,53% per tahun (Tabel 5.1). Sejak tahun 1986 luas areal
kapas cenderung menurun cukup signifikan, hal tersebut disebabkan oleh
menurunnya luas areal kapas di Sulawesi Selatan. Selain itu krisis ekonomi
ekonomi juga berandil besar dalam penurunan produksi kapas di Indonesia.
Namun tercatat mulai periode 1986-2008 laju pertumbuhan produksi masih
meningkat rata-rata sebesar 25,93% per tahun. Secara rinci perkembangan
produksi kapas disajikan pada Lampiran 5.3.


Gambar 5.2. Perkembangan produksi kapas di Indonesia, 1970-2008


» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

93
Produksi kapas Indonesia juga didominasi oleh produksi yang berasal dari
PR dengan kontribusi rata-rata tahun 1970-2008 mencapai 93,49%, sedangkan
PBN dan PBS masing-masing hanya memberikan kontribusi sebesar 5,40% dan
1,11% (Tabel 5.1).
Sentra produksi kapas di Indonesia terdapat di provinsi Sulawesi Selatan,
Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah. Sulawesi Selatan merupakan
provinsi sentra produksi kapas terbesar dengan kontribusi rata-rata sebesar
48,60%, diikuti oleh Jawa Timur dengan kontribusi rata-rata sebesar 11,81%. Nusa
Tenggara Barat berada di posisi ketiga dengan kontribusi rata-rata sebesar 9,74%,
sedangkan Jawa Tengah yang luas arealnya lebih besar daripada Nusa Tenggara
Barat ternyata hanya memberikan kontribusi 8,32% (Gambar 5.3). Sentra produksi
kapas di Indonesia dan kontribusinya disajikan secara rinci pada Lampiran 5.4.


Gambar 5.3. Provinsi sentra produksi kapas di Indonesia, (rata-rata 2004-2008)

Secara umum, perkembangan produktivitas kapas di Indonesia tahun 2004-
2008 mengalami penurunan. Penurunan yang cukup signifikan terjadi pada tahun
2006 dan 2008. Sedikit terjadi peningkatan produktivitas pada tahun 2005 dan
2007 (Gambar 5.4). Jika pada tahun 2005-2006 produktivitas kapas Indonesia,
khususnya PR adalah sebesar 0,375 ton/ha, maka pada tahun 2006 turun menjadi
0,267 ton/ha. Kemudian, mengalami peningkatan pada tahun 2007 menjadi
sebesar 0,941 ton/ha dan pada tahun 2008 menjadi sebesar 1,236 ton/ha (Tabel
5.2).

» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
94

Gambar 5.4. Perkembangan produktivitas kapas di Indonesia, 2004-2008

Tabel 5.2. Rata-rata produktivitas kapas di Indonesia, 2004-2008

Tahun
Produktivitas (Ton/Ha)
PR
Pertumb.
(%)
PBN
Pertumb.
(%)
PBS
Pertumb.
(%)
Indonesia
Pertumb.
(%)
2004

0,409
0,00 - 0,00 - 0,409
2005

0,375
-8,39 0,00 - 0,00 - 0,375 -8,39
2006

0,267
-28,74 0,00 - 0,00 - 0,267 -28,74
2007

0,941
252,55 0,00 - 0,00 - 0,941 252,55
2008*)

1,236
31,35 0,00 - 0,00 - 1,236 31,35
Rata-
rata

0,498
71,81 0,00 - 0,00 - 0,498 71,81
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan

Keterangan : *) Angka Sementara

5.2 PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR KAPAS INDONESIA

Gambar 5.5 menyajikan perkembangan volume ekspor kapas Indonesia
selama periode tahun 1970-2008 yang terlihat berfluktuasi namun cenderung
meningkat. Jika pada tahun 1970 ekspor kapas Indonesia hanya sebesar 81 ton,
dan tahun 2008 telah mencapai 33,132 ton, atau meningkat sebesar 77,70% per
tahun. Seiring dengan penguatan nilai mata uang dolar Amerika terhadap rupiah,

» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

95
maka nilai ekspor kapas Indonesia juga mengalami peningkatan dengan
pertumbuhan rata-rata sebesar 118,28% per tahun. Volume ekspor kapas tertinggi
terjadi pada tahun 2003 sebesar 109.172 ton dengan nilai ekspor sebesar US$
24,72 juta (Lampiran 5.5).
Sementara itu impor kapas Indonesia jauh lebih besar dibandingkan
ekspornya. Pada tahun 1970 volume impor kapas Indonesia sebesar 18,11 ribu
ton, meningkat menjadi 732,90 ribu ton pada tahun 2008. Laju pertumbuhan
volume impor tidak sepesat laju pertumbuhan volume ekspornya, yaitu hanya
sebesar 9,67% per tahun. Impor kapas tertinggi terjadi pada tahun 2001 dengan
volume impor mencapai 760,32 ribu ton dan nilai impor sebesar US$ 1,07 milyar
(Lampiran 5.5).
Berdasarkan nilai ekspor dan nilai impor diperoleh neraca perdagangan
kapas Indonesia, dimana selama tahun 1970-2008 menunjukkan posisi defisit
kecuali tahun 1974 dan 1975. Defisit neraca perdagangan kapas Indonesia
terbesar terjadi pada tahun 2008 sebesar US$ 1,18 milyar.


Gambar 5.5. Perkembangan volume ekspor dan impor kapas Indonesia, 1970-2008


5.3 PERKEMBANGAN LUAS AREAL DAN PRODUKSI KAPAS DUNIA

Berdasarkan data dari USDA, perkembangan luas areal kapas selama 1960-
2008 menunjukan kecenderungan berfluktuatif (Gambar 5.6). Selama periode
1960-2008 pertumbuhan rata-rata luas areal kapas meningkat sebesar 0,07% per
tahun. Pertumbuhan tertinggi terjadi saat tahun 1995 sebesar 11,372% dengan

» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
96
luas areal sebesar 35,71 ribu ha. Secara rinci perkembangan luas areal kapas
dapat dilihat pada lampiran 5.6.

Gambar 5.6 Perkembangan luas areal kapas dunia, 1960-2008

Meski berfluktuasi, perkembangan produksi kapas dunia selama periode
1960-2008 cenderung meningkat (Gambar 5.7). Menurut data USDA, pertumbuhan
rata-rata produksi kapas dunia tahun 1960-2008 mencapai 2,27% per tahun,
melebihi peningkatan luas arealnya. Pertumbuhan cukup signifikan terjadi tahun
1984 sebesar 33,84% dengan tingkat produksi sebesar 121,44 ribu ton. Secara
rinci perkembangan produksi kapas dapat dilihat pada Lampiran 5.6.

Gambar 5.7 Perkembangan produksi kapas dunia, 1960-2008

Berdasarkan data rata-rata produksi lima tahun terakhir (2002-2006)
terdapat 5 negara produsen kapas terbesar di dunia yang memberikan kontribusi
kapas sebesar 76% terhadap total produksi kapas dunia. Kelima negara tersebut

» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

97
adalah Myanmar dengan rata-rata produksi 30,79 juta ton dan berkontribusi
22,86%, Turkmenistan 5,89 juta ton (4,37%), Australia 4,71 juta ton (3,50%),
Albania 4,61 juta ton (3,42%) serta Zimbabwe dengan rata-rata produksi 3,99
juta ton atau berkontribusi 2,96% (Gambar 5.8). Besarnya kontribusi produksi
negara produsen kapas dunia secara rinci disajikan pada Lampiran 5.7.


Gambar 5.8. Negara produsen kapas terbesar dunia, (rata-rata 2002-2006)

Perkembangan produktivitas kapas dunia tahun 1960-2008 menunjukan
kecenderungan meningkat walaupun rata-rata pertumbuhannya lebih rendah
dibandingkan dengan pertumbuhan produksinya (Gambar 5.9). Menurut data
USDA, selama kurun waktu 1960-2008 rata-rata pertumbuhan produktivitas kapas
dunia meningkat sebesar 2,07% per tahun. Produktivitas tertinggi dicapai pada
tahun 2007 yaitu sebesar 3,64 ton/ha.


Gambar 5.9. Perkembangan produktivitas kapas dunia, 1960-2008

» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
98
5.4 PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR KAPAS DUNIA

Perkembangan volume ekspor dan impor kapas dunia pada periode tahun
1960-2008 menunjukan kecenderungan meningkat (Gambar 5.10). Pada periode
tahun 1960-2008 tampak pertumbuhan volume ekspor kapas sebesar 2,81% per
tahun. Ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2005 sebesar 40.390 ton. Sedangkan
rata-rata pertumbuhan impor kapas dunia sebesar 3,09% per tahun dan Impor
tertinggi juga terjadi pada tahun 2005 sebesar 40.001 ton. Perkembangan ekspor-
impor kapas dunia secara rinci disajikan pada Lampiran 5.8.


Gambar 5.10. Perkembangan volume ekspor - impor kapas dunia, 1960-2008

Berdasarkan data rata-rata volume ekspor kapas pada tahun 2004-2008
(USDA), Union Soviet merupakan negara eksportir kapas terbesar dunia urutan
pertama dengan rata-rata volume ekspor sebesar 14,13 ribu ton atau
berkontribusi sebesar 38,35% terhadap total ekspor kapas dunia. Diikuti oleh
Amerika Serikat dengan volume ekspor sebesar 4,13 ribu ton dengan nilai
kontribusi sebesar 11,21% terhadap total ekspor kapas dunia, sedangkan urutan
berikutnya diduduki oleh negara Pakistan, Meksiko dan Turki (Gambar 5.11).
Secara rinci besarnya kontribusi masing-masing negara eksportir kapas disajikan
pada Lampiran 5.9.

» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

99

Gambar 5.11 Negara eksportir kapas terbesar dunia, (rata-rata 2004-2008)

Berdasarkan data rata-rata 2004-2008 yang bersumber dari USDA terlihat
bahwa Uni Soviet juga merupakan negara pengimpor kapas terbesar dunia yakni
mencapai 10,96 ribu ton dan berkontribusi sebesar 29,99% terhadap volime impor
kapas dunia. Korea berada pada urutan kedua dengan volume impor kapas
sebesar 3,27 ribu ton dan berkontribusi sebesar 8,96%. Negara importir kapas
dunia lainnya hanya memberikan kontribusi volume impor dibawah 7%. Negara-
negara importir kapas terbesar di dunia rinci disajikan pada Lampiran 5.10.


Gambar 5.12 Negara importir kapas terbesar dunia, (rata-rata 2004-2008)





» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
100
5.5 PROYEKSI PENAWARAN KAPAS 2009-2011

Proyeksi panawaran kapas di Indonesia dilakukan hanya dengan
menggunakan satu pendekatan yaitu produksi. Pada analisis ini dilakukan
pemodelan berdasarkan series data produksi tahunan. Proyeksi dilakukan dengan
menggunakan software Minitab seri 13.1, dengan model terbaik yang diperoleh
adalah Double Exponential Smoothing, dengan Mape sebesar 37. Hasil proyeksi
produksi kapas dengan menggunakan model tersebut disajikan pada (Tabel 5.3)

Tabel 5.3. Proyeksi produksi kapas Indonesia, 2009-2011

Tahun
Produksi Kapas Pertumbuhan
(Ton) (%)
2009 21.553
2010 21.718 0,77
2011 21.882 0,76
Rata-rata Pertumbuhan 0,76

Produksi kapas di Indonesia diperkirakan akan meningkat pada tahun 2010
dan 2011 dengan laju pertumbuhan sebesar 0,76% per tahun. Pada tahun 2010
produksi kapas Indonesia diperkirakan mencapai 21.718 ton, dan naik menjadi
21.882 ton pada tahun 2011. Mengingat luas areal pertanaman kapas yang
semakin sempit dari tahun ke tahun, maka diperlukan teknologi yang akan
meningkatkan produktivitas agar tercapai produktivitas optimal.

5.6 PROYEKSI PERMINTAAN KAPAS, TAHUN 2009-2011

Produksi kapas dalam negeri masih belum bisa memenuhi total kebutuhan
kapas Indonesia, sehingga diperkirakan Indonesia masih mengimpor sekitar 400-
600 ribu ton tiap tahunnya. Maka dari itu, untuk menghitung jumlah konsumsi

» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

101
dalam negeri, menurut perhitungan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) jumlah
konsumsi sama dengan 98% hasil impor kapas ditambahkan dengan jumlah total
produksi dalam negeri.
Dalam memproyeksikan permintaan kapas sangat berhubungan dengan
jumlah konsumsi dalam negeri. Dengan menggunakan estimasi model Double
Exponenttial Smoothing, diperkirakan konsumsi kapas akan meningkat selama
periode 2009-2011 dengan peningkatan sebesar 1,72% per tahun. Secara absolut
konsumsi kapas akan terus mengalami peningkatan dari angka 798,21 ribu ton
pada tahun 2010 dan menjadi 811,84 ribu ton pada tahun 2011, sebelumnya pada
tahun 2009 konsumsi kapas Indonesia hanya sebesar 784,58 ribu ton.

Tabel 5.4 Hasil proyeksi permintaan kapas, 2009-2011

Tahun
Konsumsi Kapas Pertumbuhan
(Ton) (%)
2009 784.580
2010 798.209 1,74
2011 811.839 1,71
Rata-rata Pertumbuhan 1,72


5.7 PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT KAPAS

Berdasarkan hasil proyeksi penawaran dan permintaan kapas di Indonesia
diperoleh proyeksi surplus/defisit kapas. Seiring dengan semakin meningkatnya
permintaan akan kapas yang tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri,
pada tahun 2009-2011 diperkirakan masih terjadi defisit kapas. Tahun 2009
defisit kapas diperkirakan mencapai 763,03 ribu ton, naik menjadi 776,49 ribu
ton pada tahun 2010 dan 789,96 ribu ton pada tahun 2011 (Tabel 5.5).

» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
102

Table 5.5 Proyeksi surplus/defisit kapas Indonesia, 2009-2011

Tahun
Produksi Kapas Konsumsi Kapas Surplus/Defisit
(Ton) (Ton) (Ton)
2009 21.553 784.580 -763.027
2010 21.718 798.209 -776.491
2011 21.882 811.839 -789.957


























» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

103
Lampiran 5.1. Perkembangan luas areal kapas di Indonesia menurut status
pengusahaannya, 1970-2008

(Ha) Pertumb. (%) (Ha) Pertumb. (%) (Ha) Pertumb. (%) (Ha) Pertumb. (%)
1970 1,352 978 0 2,330
1971 7,352 443.79 994 1.64 0 - 8,346 258.20
1972 7,234 -1.61 1,002 0.80 0 - 8,236 -1.32
1973 10,107 39.72 3,415 240.82 0 - 13,522 64.18
1974 11,586 14.63 6,402 87.47 0 - 17,988 33.03
1975 1,152 -90.06 7,400 15.59 0 - 8,552 -52.46
1976 2,945 155.64 3,923 -46.99 0 - 6,868 -19.69
1977 297 -89.92 1,487 -62.10 0 - 1,784 -74.02
1978 827 178.45 418 -71.89 0 - 1,245 -30.21
1979 4,560 451.39 1,318 215.31 0 - 5,878 372.13
1980 15,016 229.30 4,001 203.57 1,200 - 20,217 243.94
1981 2,443 -83.73 184 -95.40 2,529 110.75 5,156 -74.50
1982 31,974 1,208.80 178 -3.26 2,554 0.99 34,706 573.12
1983 35,133 9.88 211 18.54 935 -63.39 36,279 4.53
1984 42,344 20.52 323 53.08 580 -37.97 43,247 19.21
1985 50,110 18.34 343 6.19 580 0.00 51,033 18.00
1986 35,371 -29.41 1,137 231.49 150 -74.14 36,658 -28.17
1987 29,548 -16.46 0 -100.00 150 0.00 29,698 -18.99
1988 34,553 16.94 336 - 150 0.00 35,039 17.98
1989 20,907 -39.49 313 -6.85 150 0.00 21,370 -39.01
1990 20,859 -0.23 0 -100.00 0 -100.00 20,859 -2.39
1991 25,430 21.91 0 - 0 - 25,430 21.91
1992 33,267 30.82 0 - 0 - 33,267 30.82
1993 33,775 1.53 0 - 0 - 33,775 1.53
1994 34,724 2.81 0 - 0 - 34,724 2.81
1995 32,342 -6.86 0 - 0 - 32,342 -6.86
1996 34,002 5.13 0 - 0 - 34,002 5.13
1997 26,541 -21.94 0 - 0 - 26,541 -21.94
1998 19,094 -28.06 0 - 0 - 19,094 -28.06
1999 17,549 -8.09 0 - 0 - 17,549 -8.09
2000 11,553 -34.17 0 - 0 - 11,553 -34.17
2001 10,370 -10.24 0 - 345 - 10,715 -7.25
2002 9,337 -9.96 0 - 35 -89.86 9,372 -12.53
2003 6,357 -31.92 0 - 0 -100.00 6,357 -32.17
2004 7,720 21.44 0 - 0 - 7,720 21.44
2005 5,982 -22.51 0 - 0 - 5,982 -22.51
2006 6,263 4.70 0 - 0 - 6,263 4.70
2007 13,737 119.34 0 - 0 - 13,737 119.34
2008*) 16,601 20.85 0 - 16,601 20.85
Rata-rata pertumbuhan (%)
1970-2008 18,213 65.56 881 30.95 246 -29.47 19,334 34.70
1970-1985 14,027 167.01 2,036 37.56 524 2.08 16,587 88.94
1986-2008 21,125 -0.60 78 6.16 45 -52.00 21,246 -0.68
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan
Keterangan : *) Angka sementara 2) PBN = Perkebunan Besar Negara
1) PR = Perkebunan Rakyat 3) PBS = Perkebunan Besar Swasta
Tahun
PR
1)
PBN
2)
PBS
3)
Indonesia






» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
104
Lampiran 5.2. Perkembangan luas areal kapas di provinsi sentra, 2004 - 2008

2004 2005 2006 2007 2008*) Rata-rata
1. Sulawesi Selatan 3,153 2,177 3,305 6,157 6,298 4,218 42.26 42.26
2. Jawa Timur 1,404 1,540 1,409 2,515 2,760 1,926 19.29 61.55
3. Nusa Tenggara Barat 1,178 1,010 800 2,500 1,800 1,458 14.60 76.15
4. Jawa Tengah 1,985 1,255 749 1,515 1,600 1,421 14.23 90.38
5. Lainnya - - - 1,050 3,750 960 9.62 100.00
Indonesia 7,720 5,982 6,263 13,737 16,208 9,982 100.00
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan
Keterangan : *) Angka sementara
Tahun Share (%)
Kumulatif
(%)
Luas Areal (Ha)



» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

105
Lampiran 5.3. Perkembangan produksi kapas di Indonesia menurut status
pengusahaannya, 1970-2008

(Ton) Pertumb. (%) (Ton) Pertumb. (%) (Ton) Pertumb. (%) (Ton) Pertumb. (%)
1970 2,576 525 0 3,101
1971 1,620 -37.11 520 -0.95 0 - 2,140 -30.99
1972 1,002 -38.15 680 30.77 0 - 1,682 -21.40
1973 1,162 15.97 1,448 112.94 0 - 2,610 55.17
1974 2,925 151.72 3,315 128.94 0 - 6,240 139.08
1975 2,465 -15.73 2,686 -18.97 0 - 5,151 -17.45
1976 867 -64.83 1,782 -33.66 0 - 2,649 -48.57
1977 179 -79.35 1,386 -22.22 0 - 1,565 -40.92
1978 476 165.92 428 -69.12 0 - 904 -42.24
1979 3,792 696.64 1,411 229.67 0 - 5,203 475.55
1980 9,842 159.55 3,907 176.90 272 - 14,021 169.48
1981 13,721 39.41 247 -93.68 1,551 470.22 15,519 10.68
1982 12,648 -7.82 80 -67.61 156 -89.94 12,884 -16.98
1983 13,151 3.98 68 -15.00 946 506.41 14,165 9.94
1984 23,680 80.06 194 185.29 348 -63.21 24,222 71.00
1985 24,467 3.32 207 6.70 350 0.57 25,024 3.31
1986 18,845 -22.98 13 -93.72 94 -73.14 18,952 -24.26
1987 18,146 -3.71 0 -100.00 94 0.00 18,240 -3.76
1988 7,150 -60.60 66 - 27 -71.28 7,243 -60.29
1989 13,083 82.98 56 -15.15 27 0.00 13,166 81.78
1990 11,561 -11.63 0 -100.00 0 -100.00 11,561 -12.19
1991 13,443 16.28 0 - 0 - 13,443 16.28
1992 12,670 -5.75 0 - 0 - 12,670 -5.75
1993 13,772 8.70 0 - 0 - 13,772 8.70
1994 14,260 3.54 0 - 0 - 14,260 3.54
1995 7,522 -47.25 0 - 0 - 7,522 -47.25
1996 7,710 2.50 0 - 0 - 7,710 2.50
1997 5,870 -23.87 0 - 0 - 5,870 -23.87
1998 5,337 -9.08 0 - 0 - 5,337 -9.08
1999 4,039 -24.32 0 - 0 - 4,039 -24.32
2000 3,786 -6.26 0 - 0 - 3,786 -6.26
2001 7,033 85.76 0 - 29 - 7,062 86.53
2002 6,453 -8.25 0 - 4 -86.21 6,457 -8.57
2003 3,440 -46.69 0 - 0 -100.00 3,440 -46.72
2004 3,157 -8.23 0 - 0 - 3,157 -8.23
2005 2,241 -29.01 0 - 0 - 2,241 -29.01
2006 1,672 -25.39 0 - 0 - 1,672 -25.39
2007 12,929 673.27 0 - 0 - 12,929 673.27
2008*) 20,523 58.74 0 - 0 - 20,523 58.74
Rata-rata Pertumbuhan (%)
1970-2008 8,441 44.01 488 12.69 100 32.79 9,029 34.53
1970-1985 7,161 71.57 1,180 36.67 226 164.81 8,568 47.71
1986-2008 9,332 26.03 6 -77.22 12 -61.52 9,350 25.93
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan
Keterangan : *) Angka sementara 2) PBN = Perkebunan Besar Negara
1) PR = Perkebunan Rakyat 3) PBS = Perkebunan Besar Swasta
Tahun
PR
1)
PBN
2)
PBS
3)
Indonesia





» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
106
Lampiran 5.4. Perkembangan produksi kapas di provinsi sentra di Indonesia, 2004
- 2008

2004 2005 2006 2007 2008*) Rata-rata
1
Sulawesi Selatan 1,044 741 955 5,933 13,915 4,518 48.60 48.60
2
Nusa Tenggara Barat 436 394 246 2,238 2,178 1,098 11.81 60.41
3
Jawa Timur 668 538 246 2,436 638 905 9.74 70.15
4
Jawa Tengah 1,010 568 180 1,468 642 774 8.32 78.47
5
Lainnya - - - 854 3,149 2,002 21.53 100.00
Indonesia 3,157 2,241 1,627 12,929 20,522 9,296 100.00
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan
Keterangan : *) Angka sementara
Tahun
Produksi (Ton)
Share (%)
Kumulatif
(%)
No



» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

107
Lampiran 5.5. Perkembangan volume dan nilai ekspor kapas Indonesia, 1970-2008

Volume Pertumb. Nilai Pertumb. Volume Pertumb. Nilai Pertumb.
(Ton) (%) (000 US$) (%) (Ton) (%) (000 US$) (%)
1970 81 1 18,111 10,329 -10,328
1971 418 416.05 8 700.00 24,372 34.57 4,545 -56.00 -4,537
1972 429 2.63 6 -25.00 26,677 9.46 7,521 65.48 -7,515
1973 552 28.67 10 66.67 25,689 -3.70 9,606 27.72 -9,596
1974 1,169 111.78 57 470.00 - - - - 57
1975 260 -77.76 11 -80.70 - - - - 11
1976 980 276.92 78 609.09 68,488 - 95,462 - -95,384
1977 1,857 89.49 153 96.15 68,731 0.35 111,785 17.10 -111,632
1978 100 -94.61 9 -94.12 92,322 34.32 24,641 -77.96 -24,632
1979 975 875.00 138 1,433.33 152,118 64.77 136,775 455.07 -136,637
1980 1,337 37.13 132 -4.35 119,735 -21.29 197,929 44.71 -197,797
1981 6,999 423.49 570 331.82 99,143 -17.20 184,745 -6.66 -184,175
1982 3,285 -53.06 306 -46.32 113,294 14.27 173,833 -5.91 -173,527
1983 6,528 98.72 590 92.81 115,661 2.09 175,179 0.77 -174,589
1984 6,666 2.11 305 -48.31 125,390 8.41 214,469 22.43 -214,164
1985 4,466 -33.00 271 -11.15 129,614 3.37 179,986 -16.08 -179,715
1986 12,177 172.66 546 101.48 171,438 32.27 171,552 -4.69 -171,006
1987 14,827 21.76 1,406 157.51 211,728 23.50 265,835 54.96 -264,429
1988 4,194 -71.71 442 -68.56 196,058 -7.40 301,880 13.56 -301,438
1989 8,338 98.81 820 85.52 265,881 35.61 376,697 24.78 -375,877
1990 11,603 39.16 3,177 287.44 344,338 29.51 485,059 28.77 -481,882
1991 20,140 73.58 6,401 101.48 357,025 3.68 634,268 30.76 -627,867
1992 14,366 -28.67 10,067 57.27 434,578 21.72 667,648 5.26 -657,581
1993 27,585 92.02 4,888 -51.45 416,662 -4.12 556,968 -16.58 -552,080
1994 13,701 -50.33 11,134 127.78 443,657 6.48 701,970 26.03 -690,836
1995 18,819 37.35 23,427 110.41 452,760 2.05 923,159 31.51 -899,732
1996 15,246 -18.99 15,647 -33.21 500,341 10.51 981,708 6.34 -966,061
1997 13,031 -14.53 18,416 17.70 465,526 -6.96 816,509 -16.83 -798,093
1998 7,815 -40.03 12,898 -29.96 453,675 -2.55 763,009 -6.55 -750,111
1999 8,910 14.01 11,390 -11.69 456,183 0.55 672,262 -11.89 -660,872
2000 27,340 206.85 20,383 78.96 562,927 23.40 728,970 8.44 -708,586
2001 29,633 8.39 18,436 -9.55 760,317 35.06 1,066,163 46.26 -1,047,727
2002 29,635 0.01 19,356 4.99 631,711 -16.91 708,041 -33.59 -688,685
2003 109,172 268.38 24,720 27.71 532,440 -15.71 649,129 -8.32 -624,409
2004 27,796 -74.54 27,344 10.61 460,812 -13.45 690,524 6.38 -663,180
2005 26,427 -4.92 30,057 9.92 463,134 0.50 579,897 -16.02 -549,840
2006 75,927 187.31 32,728 8.89 468,419 1.14 622,237 7.30 -589,509
2007 54,011 -28.86 32,565 -0.50 584,873 24.86 800,770 28.69 -768,205
2008 33,132 -38.66 39,736 22.02 732,899 25.31 1,218,557 52.17 -1,178,821
Rata-rata Pertumbuhan (%)
1970-2008 77.70 118.28 9.67 20.78
1970-1985 140.24 232.66 10.79 39.22
1986-2008 36.91 43.69 9.09 11.16
Sumber : - Tahun 1970-1999 BPS, diolah Direktorat Jenderal Perkebunan
- Tahun 2000-2008 BPS, diolah Pusdatin
Tahun
Ekspor Impor
Neraca
(000 US$)



» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
108
Lampiran 5.6. Perkembangan luas panen, produksi dan produktivitas kapas Dunia,
1960-2008

(Ha) Pertumb. (%) (Ton) Pertumb. (%) (Ton/Ha) Pertumb. (%)
1960 32,114 45,066 1.40
1961 32,418
0.95
44,566
-1.11
1.37
-2.04
1962 31,763
-2.02
46,989
5.44
1.48
7.61
1963 32,849
3.42
50,815
8.14
1.55
4.57
1964 33,523
2.05
53,747
5.77
1.60
3.64
1965 33,285
-0.71
56,936
5.93
1.71
6.69
1966 31,168
-6.36
52,262
-8.21
1.68
-1.97
1967 30,921
-0.79
51,560
-1.34
1.67
-0.56
1968 31,910
3.20
56,894
10.35
1.78
6.93
1969 32,458
1.72
54,326
-4.51
1.67
-6.13
1970 31,800
-2.03
55,572
2.29
1.75
4.41
1971 33,023
3.85
59,152
6.44
1.79
2.50
1972 33,540
1.57
61,867
4.59
1.84
2.98
1973 32,845
-2.07
62,478
0.99
1.90
3.12
1974 33,507
2.02
63,817
2.14
1.90
0.13
1975 29,870
-10.85
53,975
-15.42
1.81
-5.12
1976 30,533
2.22
56,527
4.73
1.85
2.45
1977 33,576
9.97
63,908
13.06
1.90
2.81
1978 32,814
-2.27
59,496
-6.90
1.81
-4.74
1979 32,219
-1.81
65,446
10.00
2.03
12.03
1980 32,369
0.47
63,377
-3.16
1.96
-3.61
1981 32,938
1.76
68,839
8.62
2.09
6.74
1982 31,394
-4.69
66,332
-3.64
2.11
1.10
1983 30,920
-1.51
66,277
-0.08
2.14
1.45
1984 33,741
9.12
88,706
33.84
2.63
22.65
1985 31,581
-6.40
80,142
-9.65
2.54
-3.48
1986 29,347
-7.07
70,359
-12.21
2.40
-5.52
1987 30,871
5.19
81,446
15.76
2.64
10.04
1988 33,831
9.59
84,220
3.41
2.49
-5.64
1989 31,696
-6.31
79,716
-5.35
2.52
1.03
1990 33,151
4.59
87,149
9.32
2.63
4.53
1991 34,786
4.93
95,295
9.35
2.74
4.21
1992 32,667
-6.09
82,348
-13.59
2.52
-7.98
1993 30,743
-5.89
77,720
-5.62
2.53
0.29
1994 32,278
4.99
86,345
11.10
2.68
5.81
1995 35,947 11.37 93,873 8.72 2.61 -2.38
1996 33,769 -6.06 90,115 -4.00 2.67 2.19
1997 33,800 0.09 92,281 2.40 2.73 2.31
1998 32,894 -2.68 86,096 -6.70 2.62 -4.13
1999 32,356 -1.64 87,964 2.17 2.72 3.87
2000 32,016 -1.05 89,099 1.29 2.78 2.37
2001 33,728 5.35 98,702 10.78 2.93 5.15
2002 30,752 -8.82 90,977 -7.83 2.96 1.09
2003 32,310 5.07 96,758 6.35 2.99 1.23
2004 35,709 10.52 121,437 25.51 3.40 13.56
2005 34,737 -2.72 116,579 -4.00 3.36 -1.31
2006 34,705 -0.09 121,990 4.64 3.52 4.74
2007 33,088 -4.66 120,551 -1.18 3.64 3.65
2008 31,026 -6.23 108,645 -9.88 3.50 -3.89
Rata-rata Pertumbuhan (%)
1960-2008 0.07 2.27 2.07
1960-1985 0.03 2.73 2.57
1986-2008 0.10 1.76 1.53
Sumber : USDA, Diolah Pusdatin
Tahun
Luas Panen Produksi Produktivitas


» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

109

Lampiran 5.7. Negara produsen kapas terbesar di dunia, 2002 - 2006

2002 2003 2004 2005 2006 Rata-rata
1
Myanmar 19,629 29,004 31,031 33,834 40,426 30,785 22.86 22.86
2
Turkmenistan 5,054 5,431 5,876 6,340 6,735 5,887 4.37 27.23
3
Australia 3,632 5,149 5,923 4,354 4,511 4,714 3.50 30.73
4
Albania 4,678 5,400 6,379 6,565 40 4,613 3.42 34.15
5
Zimbabwe 6,199 244 1,045 1,788 10,664 3,988 2.96 37.11
6
Syrian Arab Republic 3,863 3,806 3,888 3,832 4,183 3,915 2.91 40.02
7
Georgia 2,578 2,881 3,505 3,990 4,406 3,472 2.58 42.60
8
Algeria 2,692 2,885 3,285 3,483 3,829 3,235 2.40 45.00
9
Greece 2,439 3,593 3,446 3,409 1,256 2,828 2.10 47.10
10
Argentina 949 1,822 2,696 3,988 4,289 2,749 2.04 49.14
11
Lainnya 60,550 66,515 70,141 70,775 74,493 68,495 50.86 100.00
Indonesia 112,263 126,731 137,216 142,358 154,833 134,680 100.00
Sumber : USDA, Diolah Pusdatin
Negara
Produksi (000 Ton)
Share (%)
Kumulatif
(%)
No.



» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
110
Lampiran 5.8. Perkembangan ekspor - impor kapas di dunia, 1960-2008

Volume Ekspor Pertumbuhan Volume Impor Pertumbuhan
(Ton) (%) (Ton) (%)
1960 14,448 12,551
1961 12,709 -12.04 11,614 -7.47
1962 12,569 -1.10 12,501 7.64
1963 14,673 16.74 13,472 7.77
1964 13,791 -6.01 13,020 -3.36
1965 13,739 -0.38 12,969 -0.39
1966 15,037 9.45 13,884 7.06
1967 14,559 -3.18 13,216 -4.81
1968 12,986 -10.80 13,051 -1.25
1969 13,097 0.85 13,761 5.44
1970 19,561 49.35 20,491 48.91
1971 20,887 6.78 20,311 -0.88
1972 23,691 13.42 22,873 12.61
1973 22,940 -3.17 22,932 0.26
1974 21,225 -7.48 20,400 -11.04
1975 22,163 4.42 22,570 10.64
1976 21,876 -1.29 21,065 -6.67
1977 23,665 8.18 23,475 11.44
1978 24,630 4.08 23,717 1.03
1979 28,438 15.46 27,146 14.46
1980 24,799 -12.80 24,257 -10.64
1981 11,757 -52.59 10,626 -56.19
1982 11,689 -0.58 9,343 -12.07
1983 11,183 -4.33 9,926 6.24
1984 11,717 4.78 9,170 -7.62
1985 10,230 -12.69 9,762 6.46
1986 15,450 51.03 13,140 34.60
1987 22,628 46.46 16,905 28.65
1988 25,855 14.26 19,838 17.35
1989 25,287 -2.20 19,940 0.51
1990 23,733 -6.15 20,052 0.56
1991 22,871 -3.63 19,430 -3.10
1992 21,069 -7.88 16,570 -14.72
1993 22,161 5.18 17,871 7.85
1994 22,797 2.87 20,674 15.68
1995 22,602 -0.86 17,088 -17.35
1996 21,745 -3.79 18,429 7.85
1997 22,301 2.56 16,899 -8.30
1998 18,755 -15.90 16,393 -2.99
1999 22,317 18.99 20,283 23.73
2000 22,678 1.62 19,717 -2.79
2001 25,980 14.56 23,298 18.16
2002 26,894 3.52 23,986 2.95
2003 29,439 9.46 28,723 19.75
2004 31,480 6.93 28,764 0.14
2005 40,390 28.30 40,001 39.07
2006 34,022 -15.77 32,863 -17.84
2007 35,908 5.54 34,769 5.80
2008 26,850 -25.23 26,085 -24.98
Rata-rata Pertumbuhan (%)
1960-2008 2.81 3.09
1960-1985 0.20 0.70
1986-2008 5.65 5.68
Sumber : USDA, Diolah Pusdatin
Tahun


» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

111
Lampiran 5.9. Negara eksportir kapas terbesar dunia, 2002-2006

2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata
1
Union Soviet 14,436 17,549 13,010 13,653 12,000 14,130 38.35 38.35
2
United States 3,950 4,800 4,500 4,400 3,000 4,130 11.21 49.56
3
Pakistan 660 3,450 4,565 7,030 3,000 3,741 10.15 59.72
4
Mexico 1,998 2,884 2,129 1,219 1,150 1,876 5.09 64.81
5
Turkey 1,557 1,972 1,300 2,231 2,250 1,862 5.05 69.87
6
Egypt 975 1,400 1,350 775 800 1,060 2.88 72.74
7
India 1,170 1,350 1,250 1,050 650 1,094 2.97 75.71
8
Guatemala 375 550 700 800 525 590 1.60 77.31
9
Sudan 625 475 500 500 425 505 1.37 78.68
10
Syria 625 883 869 530 375 656 1.78 80.47
Lainnya 8,643 9,271 6,923 6,267 4,878 7,196 19.53 100.00
Indonesia 35,014 44,584 37,096 38,455 29,053 36,840 100.00
Sumber : USDA, Diolah Pusdatin
No. Negara
Ekspor (Ton)
Share (%)
Share
Kumulatif
(%)



Lampiran 5.10. Negara importir kapas terbesar dunia, 2002-2006

2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata
1
Union Soviet 6,385 19,284 10,588 11,530 7,000 10,957 29.99 29.99
2
Korea, Rep 3,414 3,501 4,029 3,268 2,150 3,272 8.96 38.94
3
Japan 1,756 1,615 2,305 4,150 2,500 2,465 6.75 45.69
4
China 1,850 2,214 2,480 2,800 2,750 2,419 6.62 52.31
5
Taiwan 2,200 2,200 2,200 2,300 2,000 2,180 5.97 58.28
6
Italy 2,282 1,892 1,905 1,928 1,900 1,981 5.42 63.70
7
France 1,810 1,744 1,353 1,530 1,300 1,547 4.23 67.94
8
Poland 680 703 900 950 1,050 857 2.34 70.28
9
Germany, Federal Republic o 1,450 1,425 1,400 1,200 950 1,285 3.52 73.80
10
Hong Kong 1,343 1,011 1,068 975 875 1,054 2.89 76.68
11
Other 10,279 8,895 9,179 7,637 6,610 8,520 23.32 100.00
Indonesia 33,449 44,484 37,407 38,268 29,085 36,539 100.00
Sumber : USDA, Diolah Pusdatin
No. Negara
Impor (000 Ton)
Share (%)
Share
Kumulatif
(%)



» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
112
Lampiran 5.11. Penawaran dan permintaan kapas, 1970-2011

Produksi Kapas Pertumbuhan Konsumsi Pertumbuhan Surplus/Defisit
(Ton) (%) (Ton) (%) (ton)
1970 3,101 20,850 17,749
1971 2,140 (30.99) 26,025 24.82 23,885
1972 1,682 (21.40) 27,825 6.92 26,143
1973 2,610 55.17 27,785 (0.14) 25,175
1974 6,240 139.08 6,240 (77.54) -
1975 5,151 (17.45) 5,151 (17.45) -
1976 2,649 (48.57) 69,767 1,254.44 67,118
1977 1,565 (40.92) 68,921 (1.21) 67,356
1978 904 (42.24) 91,380 32.59 90,476
1979 5,203 475.55 154,279 68.83 149,076
1980 14,021 169.48 131,361 (14.85) 117,340
1981 15,519 10.68 112,679 (14.22) 97,160
1982 12,884 (16.98) 123,912 9.97 111,028
1983 14,165 9.94 127,513 2.91 113,348
1984 24,222 71.00 147,104 15.36 122,882
1985 25,024 3.31 152,046 3.36 127,022
1986 18,952 (24.26) 186,961 22.96 168,009
1987 18,240 (3.76) 225,733 20.74 207,493
1988 7,243 (60.29) 199,380 (11.67) 192,137
1989 13,166 81.78 273,729 37.29 260,563
1990 11,561 (12.19) 349,012 27.50 337,451
1991 13,443 16.28 363,328 4.10 349,885
1992 12,670 (5.75) 438,556 20.71 425,886
1993 13,772 8.70 422,101 (3.75) 408,329
1994 14,260 3.54 449,044 6.38 434,784
1995 7,522 (47.25) 451,227 0.49 443,705
1996 7,710 2.50 498,044 10.38 490,334
1997 5,870 (23.87) 462,085 (7.22) 456,215
1998 5,337 (9.08) 449,939 (2.63) 444,602
1999 4,039 (24.32) 451,098 0.26 447,059
2000 3,786 (6.26) 555,455 23.13 551,669
2001 7,062 86.53 752,173 35.42 745,111
2002 6,457 (8.57) 625,534 (16.84) 619,077
2003 3,440 (46.72) 525,231 (16.03) 521,791
2004 3,157 (8.23) 454,752 (13.42) 451,595
2005 2,241 (29.01) 456,112 0.30 453,871
2006 1,672 (25.39) 460,723 1.01 459,051
2007 12,929 673.27 586,105 27.21 573,176
2008 20,523 58.74 738,764 26.05 718,241
2009** 21,554 5.02 784,580 6.20 763,026
2010** 21,718 0.76 798,209 1.74 776,491
2011** 21,882 0.76 811,839 1.71 789,957
Sumber : Ditjen Perkebunan dan BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : **) angka proyeksi olahan Pusdatin
Tahun

» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian


113
VI. JAMBU METE

Jambu mete merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari
Brasil Tenggara. Tanaman ini dibawa oleh pelaut Portugis ke India 425 tahun
yang lalu, kemudian menyebar ke daerah tropis dan subtropis lainnya seperti
Bahana, Senegal, Kenya, Madagaskar, Mozambik, Srilangka, Thailand,
Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Di antara sekian banyak negara produsen,
Brasil, Kenya, dan India merupakan negara pemasok utama jambu mete dunia.
Jambu mete tersebar di seluruh Nusantara dengan nama berbeda-beda (di
Sumatera Barat: jambu erang/jambu monyet, di Lampung dijuluki gayu, di
daerah Jawa Barat dijuluki jambu mede, di Jawa Tengah dan Jawa Timur
diberi nama jambu monyet, dan di Bali jambu jipang atau jambu dwipa.
Tanaman jambu mete merupakan komoditi ekspor yang banyak
manfaatnya, mulai dari akar, batang, daun, dan buahnya. Selain itu juga biji
mete (kacang mete) dapat digoreng untuk makanan bergizi tinggi. Buah mete
semu dapat diolah menjadi beberapa bentuk olahan seperti sari buah mete,
anggur mete, manisan kering, selai mete, buah kalengan, dan jem jambu
mete. Kulit kayu jambu mete mengandung cairan berwarna coklat. Apabila
terkena udara, cairan tersebut berubah menjadi hitam. Cairan ini dapat
digunakan untuk bahan tinta, bahan pencelup, atau bahan pewarna. Selain
itu, kulit batang pohon jambu mete juga berkhasiat sebagai obat kumur atau
obat sariawan. Batang pohon mete menghasilkan gum atau blendok untuk
bahan perekat buku. Selain daya rekatnya baik, gum juga berfungsi sebagai
anti gengat yang sering menggerogoti buku. Akar jambu mete berkhasiat
sebagai pencuci perut. Daun Jambu mete yang masih muda dimanfaatkan
sebagai lalap, terutama di daerah Jawa Barat. Daun yang tua dapat digunakan
untuk obat luka bakar.




113
» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

114
6.1. PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PRODUKTIVITAS DAN
PRODUKSI J AMBU METE DI INDONESIA
Perkembangan luas areal jambu mete di Indonesia menunjukkan
kecenderungan meningkat (Gambar 6.1.). Rata-rata pertumbuhan dari tahun
1975 sampai dengan tahun 2008 meningkat sebesar 7,90% per tahun.
Peningkatan cukup tajam terjadi pada periode tahun 1975 sampai dengan
tahun 1997 sebesar 11,57% per tahun. Krisis ekonomi yang terjadi berpengaruh
terhadap luas areal jambu mete, Hal ini dapat terlihat pada rata-rata laju
pertumbuhan yang menunjukkan penurunan pada periode 1998 sampai dengan
tahun 2008 yaitu sebesar 1,23% per tahun (Lampiran 6.1.).

Gambar 6.1. Perkembangan luas areal jambu mete Indonesia, 1975-2007

Secara umum bentuk pengusahaan perkebunan komoditas utama di
Indonesia terdiri dari 3 jenis yaitu perkebunan rakyat (PR), perkebunan negara
(PBN), dan perkebunan besar swasta (PBS). Namun demikian, berdasarkan
data rata-rata luas areal perkebunan jambu mete selama periode tahun 1998
sampai dengan tahun 2008 sangat didominasi oleh PR yakni lebih dari 99%, dan
sisanya kurang dari 1% oleh PBS, sementara tidak ada perkebunan besar
negara PBN yang mengusahakan tanaman jambu mete (Gambar 6.2.).

» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian


115

Gambar 6.2. Kontribusi luas areal jambu mete di Indonesia menurut status
pengusahaan, 1998-2008

Seiring dengan pertumbuhan luas arealnya, perkembangan produksi
jambu mete periode tahun 1975 sampai dengan tahun 2008 cenderung terus
meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 10,32% per tahun
(Gambar 6.3.). Menurut status pengusahaannya, pertumbuhan rata-rata
produksi jambu mete tahun 1975-2008 paling tinggi pada PBS yaitu sebesar
20,29% per tahun. Puncak produksi jambu mete terjadi pada periode tahun
1975-1997 sebesar 41,68% per tahun. Tetapi setelah terjadi krisis moneter
(1998-2008), produksi jambu mete pada PBS justru mengalami penurunan
sebesar 8,88% per tahun. Perkembangan produksi jambu mete secara rinci
dapat dilihat pada Lampiran 6.2.


Gambar 6.3. Perkembangan produksi jambu mete di Indonesia, 1975-2008
» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

116
Berdasarkan data rata-rata produksi jambu mete PR per provinsi pada
periode tahun 2004-2008, terdapat 6 (enam) provinsi sentra produksi jambu
mete di Indonesia yang memiliki kontribusi sebesar 85,62% terhadap rata-rata
produksi jambu mete PR di Indonesia (Gambar 6.4.). Sulawesi Tenggara
merupakan sentra produksi jambu mete terbesar yang memiliki kontribusi
sebesar 25,96% terhadap produksi jambu mete di Indonesia, disusul berturut-
turut oleh NTT, Sulsel, NTB, Jatim dan Sulbar, yang masing-masing memiliki
kontribusi sebesar 24,20%, 10,21%, 8,97%, 8,80%, dan 7,48%. Besarnya
kontribusi masing-masing sentra produksi jambu mete di Indonesia secara rinci
disajikan pada Lampiran 6.3.


Gambar 6.4. Provinsi sentra produksi jambu mete di Indonesia, (rata-rata
2004-2008)

Perkembangan produktivitas jambu mete selama periode tahun 1994-
2008 cenderung memiliki pola yang seragam sesuai dengan status
pengusahaannya (Gambar 6.5.). Produktivitas rata-rata jambu mete untuk PR
memiliki rata-rata yang terbesar yaitu sebesar 374,38 kg/ha, sedangkan
produktivitas untuk PBS sebesar 247,57 kg/ha dan PBN tidak ada data
produktivitas karena selama periode tahun 1994 sampai dengan 2006 tidak ada
penanaman jambu mete sama sekali. Perkembangan rata-rata produktivitas
jambu mete di Indonesia menurut status pengusahaannya secara rinci
disajikan pada Lampiran 6.4.

» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian


117

Gambar 6.5. Produktivitas rata-rata jambu mete di Indonesia menurut status
pengusahaannya, (rata-rata 1994-2008)


6.2. PERKEMBANGAN HARGA DOMESTIK J AMBU METE INDONESIA


Gambar 6.6. Perkembangan harga domestik jambu mete Indonesia, 1986 –
2007

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan, harga domestik
jambu mete dari tahun 1986 - 2007 terus mengalami peningkatan dengan rata-
rata sebesar 15,83%. Peningkatan harga domestik jambu mete cukup signifikan
terjadi pada tahun 1999 sebagai dampak meningkatnya nilai tukar rupiah
terhadap dollar Amerika yakni sebesar 104,86%, atau Rp. 16.788,-/kg pada
tahun 1998 meningkat menjadi Rp. 34.392,-/kg pada tahun 1999. Pada tahun
2007, harga domestik jambu mete mencapai Rp. 45.975,-/kg (Gambar 6.6).
Perkembangan harga domestik jambu mete dari tahun 1986 - 2007 tersaji
» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

118
secara lengkap pada Lampiran 6.5.

6.3. PERKEMBANGAN EKSPOR- IMPOR J AMBU METE INDONESIA

Hampir 50% produksi jambu mete Indonesia diperuntukkan bagi
pemenuhan pasar luar negeri. Perkembangan ekspor jambu mete di Indonesia
selama periode tahun 1996 sampai dengan tahun 2008 tampak berfluktuatif
namun cenderung meningkat dengan rata-rata laju pertumbuhan masing-
masing sebesar 9,56% (volume) dan 14,32% (nilai) (Gambar 6.7). Berdasarkan
data dari BPS, total ekspor jambu mete di Indonesia pada tahun 1996
mencapai angka sebesar 27,89 ribu ton (setara dengan US$ 23,75 juta) dan
meningkat menjadi 66,99 ribu ton (setara US$ 77,76 juta) pada tahun 2008.
Apabila dicermati Gambar 6.7, maka laju pergerakan volume ekspor jambu
mete selama tahun 1996 hingga 2008 terlihat beriringan dengan laju
pergerakan nilai ekspornya. Hal ini menandakan stabilnya harga ekspor jambu
mete Indonesia.


Gambar 6.7. Perkembangan volume dan nilai ekspor jambu mete di
Indonesia, 1996-2008

Apabila ditinjau dari bentuk hasil maka yang dominan diekspor oleh
Indonesia adalah kacang mede yang masih berkulit (90%), sedangkan kacang
mete kupas mempunyai porsi yang relatif kecil (10%). Padahal harga ekspor
kacang mete kupas jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga ekspor kacang
» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian


119
mete berkulit. Namun demikian, pada periode tahun 2006 – 2008
menunjukkan realisasi ekspor kacang mete berkulit berfluktuasi dan
cenderung menurun, sedangkan kacang mete kupas menunjukkan trend
meningkat walaupun dalam kuantitas yang tidak terlalu besar (Gambar 6.8).


Gambar 6.8. Perkembangan volume ekspor jambu mete di Indonesia menurut
bentuk hasil, 2006 - 2008


Gambar 6.9. Perkembangan volume dan nilai impor jambu mete di Indonesia,
1996 - 2008


Berdasarkan data yang bersumber dari BPS, Indonesia melakukan impor
jambu mete walaupun realisasinya relatif sangat kecil dibandingkan dengan
realisasi ekspornya. Pada tahun 1996, impor jambu mete Indonesia hanya
» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

120
sebesar 193 ton (setara US$ 157 ribu), kemudian pada tahun-tahun berikutnya
relatif berfluktuatif bahkan pada tahun-tahun tertentu tidak ada realisasi
impor sama sekali. Peningkatan impor jambu mete Indonesia terlihat
melonjak pada dua tahun terakhir yang akhirnya mencapai 1,09 ribu ton atau
setara dengan US$ 1,74 ribu pada tahun 2008 (Gambar 6.9 dan Lampiran 6.7).

6.4. PERKEMBANGAN LUAS AREAL DAN PRODUKSI J AMBU METE
DI DUNIA
Perkembangan luas areal jambu mete dunia pada periode tahun 1961
sampai dengan tahun 2007 cenderung mengalami peningkatan meskipun
terjadi penurunan pada tahun-tahun tertentu (Gambar 6.8.). Penurunan
tertinggi terjadi pada tahun 1976 yaitu sebesar 12,84% dari 1,01 juta ha
menjadi 0,88 juta ha. Rata-rata laju pertumbuhan luas areal jambu mete
dunia sejak tahun 1961-2007 adalah sebesar 4,79% per tahun. Berdasarkan
data dari FAO, total luas areal jambu mete dunia pada tahun 2007 mencapai
angka sebesar 3,82 juta ha. Luas areal tertinggi pada kurun waktu tersebut
terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 3,87 juta ha. Secara lebih rinci
perkembangan luas areal jambu mete dunia disajikan dalam Lampiran 6.8.


Gambar 6.10. Perkembangan luas areal dan produksi jambu mete dunia, 1961
– 2007
» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian


121

Gambar 6.11. Negara dengan luas areal jambu mete terbesar di dunia,
(rata-rata 2003-2007)

Berdasarkan data rata-rata luas areal jambu mete periode 2003-2007
dari FAO, India merupakan negara yang memiliki rata-rata luas areal jambu
mete terbesar di dunia yang mencapai 22,04% dari total luas areal jambu
mete dunia. Negara berikutnya adalah Brazil dengan total luas areal jambu
mete mencapai 19,02%, Indonesia (15,52%), Vietnam (8,35%), dan Nigeria
(8,29%) dari total luas areal jambu mete dunia (Gambar 6.11). Negara
berikutnya adalah Côte d'Ivoire, Guinea-Bissau, Benin, Tanzania dan
Mozambique namun hanya memberikan kontribusi dibawah 7% dari total luas
areal jambu mete dunia (Lampiran 6.9.).

Gambar 6.12. Negara produsen jambu mete terbesar di dunia, (rata-rata
2003-2007)

» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

122
Seiring perkembangan luas arealnya, produksi jambu mete dunia
periode tahun 1961 - 2007 juga cenderung terus meningkat (Gambar 6.8.),
dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 5,79% per tahun. Menurut data
dari FAO, produksi jambu mete pada tahun 2007 mencapai 3,19 juta ton.
Peningkatan produksi jambu mete dunia yang cukup tinggi terjadi pada tahun
1999 yaitu sebesar 39,29% dibandingkan tahun sebelumnya (Lampiran 6.8.).
Berdasarkan data rata-rata produksi jambu mete periode 2003-2007
dari FAO, negara produsen terbesar di dunia yaitu Vietnam mencapai 29,48%
dari total produksi jambu mete dunia. Urutan kedua adalah Nigeria dengan
total produksi jambu mete mencapai 20,17%, India (18,83%), Brazil (6,41%)
(Gambar 6.12.). Dan sisanya negara-negara lain hanya memberikan kontribusi
dibawah 5% dari total luas areal jambu mete dunia termasuk Indonesia yang
berada diurutan ke-enam yaitu sebesar 4,54% (Lampiran 6.10).

6.5. PERKEMBANGAN HARGA PRODUSEN J AMBU METE DI DUNIA

Secara umum, perkembangan rata-rata harga produsen jambu mete
dunia periode tahun 1991-2006 sangat berfluktuatif namun cenderung
meningkat sebesar 0,23% (Gambar 6.13).


Gambar 6.13. Perkembangan rata-rata harga produsen jambu mete dunia,
1991-2006

» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian


123
Menurut data dari FAO, terdapat 10 negara dengan harga produsen
jambu mete tertinggi di dunia selama periode tahun 2002 – 2006, yakni
Nigeria pada posisi pertama dengan rata-rata sebesar US$ 1,68 ribu/ton.
Negara berikutnya adalah Burkina Faso sebesar US$ 1,41 ribu/ton, Honduraz
US$ 1,24 ribu/ton, Belize US$ 1,12 ribu/ton, Malaysia US$ 1,10 ribu/ton dan El
Salvador US$ 1,03 ribu/ton. Sementara, negara berikutnya yakni Kyrgyzstan,
Guinea, Indonesia dan China mempunyai harga produsen dibawah US$
1.000/ton (Gambar 6.14 dan Lampiran 6.12).


Gambar 6.14. Negara dengan harga produsen jambu mete terbesar di dunia,
(rata-rata 2002 – 2006)


6.6. PERKEMBANGAN EKSPOR – IMPOR J AMBU METE DI DUNIA

Berdasarkan data dari FAO, ekspor dan impor jambu mete dunia juga
dibedakan dalam bentuk jambu mete kupas dan berkulit. Selama periode 5
tahun (2002 – 2006), bentuk yang banyak diekspor oleh negara-negara
produsen jambu mete adalah yang masih berkulit.
Selama periode tersebut, ekspor jambu mete kupas cenderung terus
mengalami peningkatan baik volume maupun nilainya, sementara jambu mete
yang masih berkulit sangat berfluktuasi dari tahun ke tahun namun cenderung
meningkat. Apabila dilihat dari grafik perkembangan volume dan nilai ekspor
maka bisa dikaji harga ekspornya. Selama periode tersebut, harga ekspor
» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

124
jambu mete kupas jauh lebih tinggi dibandingkan yang masih berkulit.
Lonjakan harga ekspor jambu mete baik kupas maupun kulit terjadi pada
tahun 2005. Pada tahun 2006, total ekspor jambu mete sebesar 911,52 ribu
ton yang terdiri dari jambu mete kupas sebesar 340,71 ribu ton (setara US$
1,44 juta) dan jambu mete berkulit sebesar 570,81 ribu ton (setara US$
322,10 ribu). Perkembangan ekspor jambu mete dunia selama periode tahun
2002 – 2006 tersaji pada Lampiran 6.13.


Gambar 6.15. Perkembangan volume dan nilai ekspor jambu mete dunia,
2002 - 2006


Gambar 6.16. Negara pengekspor jambu mete terbesar di dunia,
(rata-rata 2002 – 2006)

Berdasarkan data ekspor rata-rata yang diterbitkan oleh FAO selama 5
tahun (2002-2006), maka Cote d’Ivore merupakan negara eksportir jambu
» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian


125
mete terbesar dunia sebesar 138,19 ribu ton atau berkontribusi sebesar
17,93% dari total ekspor jambu mete dunia. Berikutnya adalah India sebesar
117,37 ribu ton (15,23%), Vietnam sebesar 97,29 ribu ton (12,63%), Guinea-
Bissau sebesar 77,77 ribu ton (10,09%), dan Tanzania sebesar 65,04 ribu ton
(8,44%). Indonesia menempati urutan ke-6 dengan kontribusi sebesar 7,90%
atau 60,87 ribu ton. Negara-negara berikutnya yakni Benin, Brazil,
Mozambique, dan Ghana hanya memberikan kontribusi ekspor jambu mete
dunia dibawah 6% (Gambar 6.16).
Perilaku realisasi impor jambu mete dunia terlihat sejalan dengan
perilaku realisasi ekspornya. Realisasi impor jambu mete yang masih berkulit
dari tahun ke tahun selalu lebih tinggi dari impor jambu mete yang sudah
dikupas, namun keduanya menunjukkan trend meningkat. Pada tahun 2006,
realisasi impor jambu mete sebesar 911,52 ribu ton yang terdiri dari 570,81
ribu ton jambu mete berkulit dan 340,71 ribu ton jambu mete kupas.
Pergerakan harga impor jambu mete dari tahun ke tahun juga menunjukkan
tren meningkat, kecuali pada tahun 2006 terjadi penurunan harga impor
jambu mete baik yang berkulit maupun kupas. Perkembangan impor jambu
mete dunia selama periode tahun 2002 – 2006 tersaji secara lengkap pada
Lampiran 6.13.

Gambar 6.17. Perkembangan volume dan nilai impor jambu mete dunia,
2002 - 2006

Berdasarkan data rata tahun 2002 – 2006, India mendominasi impor
jambu mete dunia yakni mencapai hampir 65% dari total impor jabu mete
» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

126
dunia atau rata-rata 489,22 ribu ton per tahun. Negara berikutnya yakni USA,
namun realisasi impornya jauh di bawah India, yakni hanya sebesar 112,45
ribu ton atau hanya sebesar 14,89% dari total impor jambu mete dunia.
Negara berikutnya adalah Netherlands, United Kingdom, Australia dan
Germany dengan realisasi impor rata-rata di bawah 30 ribu ton per tahun.
Perkembangan impor jambu mete pada negara importir terbesar ini secara
lengkap tersaji pada Lampiran 6.15.


Gambar 6.18 . Negara importir jambu mete terbesar dunia, (rata-rata 2002 –
2006)

6.7. PENAWARAN J AMBU METE DI INDONESIA, 2009-2011

Model penawaran jambu mete akan direfleksikan sebagai peubah
produksi. Beberapa peubah seperti harga domestik, harga ekspor serta luas
areal jambu mete digunakan untuk membangun model penawaran jambu
mete. Namun demikian, setelah dilakukan pengolahan, peubah-peubah
tersebut tidak terlalu signifikan mempengaruhi produksi jambu mete nasional
ataupun berpengaruh tetapi dengan tanda koefisien yang tidak logis. Oleh
karenanya, permodelan produksi jambu mete hanya dilakukan dengan metode
univariate pada peubah produksi itu sendiri. Hasil penelusuran model
univariate produksi jambu mete diperoleh model terbaik adalah trend linear
dengan nilai MAPE sebesar 44,89. Model yang diperoleh digunakan untuk
» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian


127
melakukan proyeksi produksi jambu mete hingga tahun 2011 dengan hasil
seperti tersaji pada Tabel 6.1.

Tabel 6.1. Proyeksi produksi jambu mete Indonesia, 2009 – 2011

No Tahun
Produksi
(Ton)
Pertumbuhan
(%)
1 2008*) 142.536
2 2009 138.306 -2,97
3 2010 142.822 3,27
4 2011 147.338 3,16
Rata-rata pertumbuhan (%) 1,15
Keterangan : *) Angka Sementara dari Ditjen Perkebunan
2009 – 2011 Angka hasil proyeksi

Keragaan produksi jambu mete di Indonesia dari tahun 1978 – 2008
cenderung mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Hal ini mempengaruhi
hasil proyeksi pada tahun-tahun ke depan yakni terjadi penurunan pada tahun
2009 sebesar 2,97% atau dari 142,54 ribu ton pada tahun 2008 menjadi 138,31
ribu ton pada tahun 2009. Namun kemudian, pada tahun 2010 hingga 2011
produksi jambu mete diproyeksikan akan mulai mengalami peningkatan
sebesar lebih dari 3%, sehingga pada tahun 2011 produksi jambu mete
diproyeksikan menjadi 147,34 ribu ton. Rata-rata peningkatan produksi jambu
mete dari tahun 2009 – 2011 diproyeksikan sebesar 1,15%.

6.8. PERMINTAAN J AMBU METE DI INDONESIA, 2009-2011

Permintaan jambu mete diekspresikan dari besaran konsumsi. Namun
karena tidak tersedia data konsumsi jambu mete maka analisis permintaan
jambu mete didekati dari permintaan untuk ekspor dan permintaan untuk
industri pengolahan. Hal ini didasari fakta bahwa secara rataan dari tahun
1980-2008, hampir 50% produksi jambu mete Indonesia diperuntukkan bagi
» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

128
kepentingan ekspor. Sementara, berdasarkan pendekatan Tabel Input-Output
(I-O), BPS pada sektor tanaman perkebunan lainnya, diperoleh proporsi lebih
dari 40% kelompok tanaman ini yang diserap ke industri pengolahan makanan.
Dengan pendekatan tersebut, maka dilakukan proyeksi data series volume
ekspor dengan metode trend linear dan proyeksi kebutuhan jambu mete untuk
industry pengolahan makanan dengan pendekatan proporsi yang bersumber
pada Tabel I-O, BPS, dengan hasil seperti tersaji pada Tabel 6.2.

Tabel 6.2. Proyeksi permintaan jambu mete Indonesia, 2009 – 2011
Ekspor
Industri
pengolahan
Total
1 2008 66,990 68,417 135,407
2 2009 69,307 66,387 135,694 0.21
3 2010 72,081 68,555 140,636 3.64
4 2011 74,855 70,722 145,577 3.51
2.46
Keterangan: Tahun 2008 Angka Tetap
Tahun 2009 -2011 Angka hasil proyeksi
Permintaan (Ton)
No Tahun
Pertumbuhan
(%)
Rata-rata pertumbuhan (%)


Dari tahun 2008 hingga 2011, permintaan jambu mete Indonesia
diproyeksikan masih terus mengalami peningkatan dengan rata-rata
pertumbuhan sebesar 2,46% per tahun. Peningkatan permintaan jambu mete
Indonesia disebabkan terjadinya peningkatan yang secara simultan pada
permintaan untuk ekspor dan penyerapan pada industry pengolahan makanan
berbahan baku jambu mete. Pada tahun 2011, total permintaan jambu mete
Indonesia diproyeksikan sebesar 145,58 ribu ton.




» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian


129
6.9. SURPLUS/DEFISIT J AMBU METE DI INDONESIA, 2009-2011

Berdasarkan atas proyeksi penawaran dan permintaan jambu mete,
maka bisa dihitung surplus atau defisit kedele Indonesia. Hingga tahun 2011,
Indonesia diproyeksikan masih akan mengalami surplus produksi jambu mete.
Namun karena peningkatan laju permintaan jambu mete lebih besar
dibandingkan dengan laju penawarannya, maka surplus produksi jambu mete
diproyeksikan cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Jika pada
tahun 2009, surplus produksi jambu mete Indonesia sebesar 7,13 ribu ton
maka pada tahun 2011 turun menjadi 1,76 ribu ton. Perkembangan surplus
produksi jambu mete Indonesia dari tahun 2008 – 2011 tersaji pada Tabel 6.3.

Tabel 6.3. Proyeksi surplus/defisit jambu mete Indonesia, 2009 – 2011

1 2008 142,536 135,407 7,129
2 2009 138,306 135,694 2,612 (63.36)
3 2010 142,822 140,636 2,186 (16.30)
4 2011 147,338 145,577 1,761 (19.47)
(33.04)
Keterangan: Tahun 2008 Angka Tetap
Tahun 2009 -2011 Angka hasil proyeksi
No Tahun
Pertumbuhan
(%)
Rata-rata pertumbuhan (%)
Penawaran
(Ton)
Permintaan
(Ton)
Surplus/Defisit

» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
130
Lampiran 6.1. Perkembangan luas areal jambu mete berdasarkan status
pengusahaannya di Indonesia, 1975 – 2008

(Ha)
Pertumb.
(%)
(Ha)
Pertumb.
(%)
(Ha)
Pertumb.
(%)
(Ha)
Pertumb.
(%)
1975 56,643 1,696 52 58,391
1976 68,504 20.94 8,798 418.75 52 0.00 77,354 32.48
1977 71,238 3.99 687 -92.19 - - 71,925 -
1978 81,878 14.94 570 -17.03 63 - 82,511 -
1979 85,478 4.40 628 10.18 1,435 2177.78 87,541 6.10
1980 114,934 34.46 679 8.12 1,195 -16.72 116,808 33.43
1981 136,631 18.88 637 -6.19 1,195 0.00 138,463 18.54
1982 185,192 35.54 1,152 80.85 1,198 0.25 187,542 35.45
1983 187,535 1.27 4,630 301.91 1,398 16.69 193,563 3.21
1984 195,789 4.40 715 -48.86 196,504 1.52
1985 197,563 0.91 115 -83.92 197,678 0.60
1986 223,270 13.01 1,145 895.65 224,415 13.53
1987 213,045 -4.58 1,201 4.89 214,246 -4.53
1988 252,245 18.40 1,532 27.56 253,777 18.45
1989 268,222 6.33 1,416 -7.57 269,638 6.25
1990 273,293 1.89 1,928 36.16 275,221 2.07
1991 352,735 29.07 2,138 10.89 354,873 28.94
1992 374,605 6.20 3,684 72.31 378,289 6.60
1993 394,522 5.32 6,071 64.79 400,593 5.90
1994 409,755 3.86 8,870 46.10 418,625 4.50
1995 455,920 11.27 8,904 0.38 464,824 11.04
1996 484,357 6.24 8,593 -3.49 492,950 6.05
1997 490,074 1.18 9,205 7.12 499,279 1.28
1998 521,695 6.45 9,295 0.98 530,990 6.35
1999 547,724 4.99 9,858 6.06 557,582 5.01
2000 551,442 0.68 9,868 0.10 561,310 0.67
2001 558,784 1.33 1,028 -89.58 559,812 -0.27
2002 568,796 1.79 1,128 9.73 569,924 1.81
2003 565,446 -0.59 7,835 594.59 573,281 0.59
2004 559,633 -1.03 6,676 -14.79 566,309 -1.22
2005 572,959 2.38 6,691 0.22 579,650 2.36
2006 568,944 -0.70 253 -96.22 569,197 -1.80
2007 570,156 0.21 253 0.00 570,409 0.21
2008*) 569,424 -0.13 253 0.00 569,677 -0.13
1975-2008 7.68 88.05 116.49 7.90
1975-1997 10.81 - 160.00 11.57
1998-2008 1.40 37.37 1.23
Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan
Keterangan : 2008*) Angka Sementara
Tahun
Rata-rata Laju Pertumbuhan
PR PBN PBS Indonesia


» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

131
Lampiran 6.2. Perkembangan produksi jambu mete berdasarkan status
pengusahaannya di Indonesia, 1975 - 2008

(Ton)
Pertumb.
(%)
(Ton)
Pertumb.
(%)
(Ton)
Pertumb.
(%)
(Ton)
Pertumb.
(%)
1975 9,109 14 9,123
1976 7,101 -22.04 5 -64.29 70 7,176 -21.34
1977 7,360 3.65 10 100.00 -100.00 7,370 2.70
1978 8,795 19.50 5 -50.00 8,800 19.40
1979 9,762 10.99 2 -60.00 9,764 10.95
1980 9,070 -7.09 4 100.00 9,074 -7.07
1981 11,441 26.14 3 -25.00 11,444 26.12
1982 16,830 47.10 -100.00 16,830 47.06
1983 18,040 7.19 1 6 18,047 7.23
1984 19,395 7.51 16 166.67 19,411 7.56
1985 21,091 8.74 23 43.75 21,114 8.77
1986 22,454 6.46 61 165.22 22,515 6.64
1987 23,975 6.77 67 9.84 24,042 6.78
1988 23,231 -3.10 74 10.45 23,305 -3.07
1989 27,912 20.15 78 5.41 27,990 20.10
1990 29,825 6.85 82 5.13 29,907 6.85
1991 57,175 91.70 72 -12.20 57,247 91.42
1992 62,121 8.65 96 33.33 62,217 8.68
1993 69,671 12.15 80 -16.67 69,751 12.11
1994 71,953 3.28 124 55.00 72,077 3.33
1995 85,616 18.99 379 205.65 85,995 19.31
1996 67,079 -21.65 597 57.52 67,676 -21.30
1997 73,158 9.06 574 -3.85 73,732 8.95
1998 86,924 18.82 772 34.49 87,696 18.94
1999 89,530 3.00 774 0.26 90,304 2.97
2000 69,488 -22.39 439 -43.28 69,927 -22.56
2001 91,220 31.27 366 -16.63 91,586 30.97
2002 109,945 20.53 287 -21.58 110,232 20.36
2003 106,698 -2.95 234 -18.47 106,932 -2.99
2004 130,768 22.56 252 7.69 131,020 22.53
2005 134,808 3.09 262 3.97 135,070 3.09
2006 149,015 10.54 123 -53.05 149,138 10.42
2007 146,025 -2.01 123 0.00 146,148 -2.00
2008*) 142,402 -2.48 134 8.94 142,536 -2.47
1975-2008 10.33 -14.18 20.29 10.32
1975-1997 11.86 -14.18 41.68 11.87
1998-2008 7.27 -8.88 7.20
Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan
Keterangan : 2008*) Angka Sementara
Indonesia
Rata-rata Laju Pertumbuhan
Tahun
PR PBN PBS



» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
132
Lampiran 6.3. Provinsi sentra produksi jambu mete di Indonesia, 2004 - 2008

2004 2005 2006 2007 2008*)
1 Sulawesi Tenggara 33,974 35,268 40,325 34,969 38,021 36,511 25.96 25.96
2 NTT 27,892 32,152 35,488 37,331 37,338 34,040 24.20 50.16
3 Sulawesi Selatan 1,162 1,969 23,370 24,401 20,897 14,360 10.21 60.37
4 NTB 12,451 10,977 12,661 13,497 13,497 12,617 8.97 69.34
5 Jawa Timur 12,180 12,212 13,920 14,161 9,421 12,379 8.80 78.14
6 Sulawesi Barat 25,249 24,421 2,027 407 502 10,521 7.48 85.62
7 Lainnya 17,860 17,809 21,224 21,382 22,860 20,227 14.38 100.00
Nasional 130,768 134,808 149,015 146,148 142,536 140,655 100.00
Keterangan : 2008*) Angka Sementara
Share (%)
Share
kumulatif
(%)
Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan
Rata-rata
(Ton)
No. Provinsi
Produksi (Ton)


Lampiran 6.4. Perkembangan produktivitas jambu mete menurut status
pengusahaannya di Indonesia, 1994 – 2008



» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

133
Lampiran 6.5. Perkembangan harga domestik jambu mete di Indonesia,
1986 - 2007

Tahun Harga (Rp/kg)
Pertumbuhan
(%)
1986 3,910
1987 7,672 96.21
1988 8,701 13.41
1989 7,945 -8.69
1990 7,958 0.16
1991 8,137 2.25
1992 9,103 11.87
1993 9,896 8.71
1994 10,074 1.80
1995 11,385 13.01
1996 12,292 7.97
1997 12,402 0.89
1998 16,788 35.37
1999 34,392 104.86
2000 36,329 5.63
2001 34,178 -5.92
2002 35,630 4.25
2003 32,711 -8.19
2004 26,560 -18.80
2005 42,239 59.03
2006 44,852 6.19
2007 45,975 2.50
Rata-rata pertumbuhan
15.83
Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan
1986 -2007




» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
134
Lampiran 6.6. Perkembangan ekspor jambu mete di Indonesia, 1996 – 2008

Berkulit Kupas Total Volume Nilai
1996 27,206 680 27,886 23,751
1997 15,359 14,307 29,666 19,152 6.38 -19.36
1998 28,603 1,684 30,287 34,997 2.09 82.73
1999 31,639 2,881 34,520 43,507 13.98 24.32
2000 25,621 1,198 26,819 31,502 -22.31 -27.59
2001 39,546 1,767 41,313 28,929 54.04 -8.17
2002 50,385 1,332 51,717 34,810 25.18 20.33
2003 57,087 3,341 60,428 43,534 16.84 25.06
2004 56,491 2,881 59,372 58,187 -1.75 33.66
2005 65,959 3,456 69,415 68,972 16.92 18.54
2006 60,249 3,157 63,406 56,584 -8.66 -17.96
2007 71,901 11,745 83,646 82,833 31.92 46.39
2008 56,587 10,403 66,990 77,755 -19.91 -6.13
9.56 14.32
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Rata-rata pertumbuhan (%)
Tahun
Volume (Ton)
Nilai
(US$ 000)
Pertumbuhan (%)



» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

135
Lampiran 6.7. Perkembangan impor jambu mete di Indonesia, 1996 – 2008

Volume Nilai
1996 193 157
1997 4 12 -97.93 -92.36
1998 32 12 700.00 0.00
1999 443 2 1,284.38 -83.33
2000 0 0 -100.00 -100.00
2001 51 261 - -
2002 0 0 -100.00 -100.00
2003 8 25 - -
2004 202 494 2,425.00 1876.00
2005 77 219 -61.88 -55.67
2006 19 65 -75.32 -70.32
2007 1,237 1,718 6,410.53 2543.08
2008 1,090 1,743 -11.88 1.46
1,037.29 391.89
Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Tahun
Nilai
(US$ 000)
Pertumbuhan (%)
Rata-rata pertumbuhan (%)
Volume
(Ton)





» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
136
Lampiran 6.8. Perkembangan luas areal, produksi dan produktivitas jambu mete
di dunia, 1961 – 2007

(Ha) % (kg/ha) % (Ton) %
1961 516,550 7.48 287,535
1962 556,450 7.72 8.20 9.57 324,895 12.99
1963 593,600 6.68 8.22 0.18 349,088 7.45
1964 619,240 4.32 8.28 0.77 383,437 9.84
1965 631,850 2.04 8.25 -0.32 386,303 0.75
1966 633,364 0.24 8.23 -0.27 381,318 -1.29
1967 656,424 3.64 8.17 -0.78 387,776 1.69
1968 811,107 23.56 8.24 0.93 483,538 24.70
1969 791,248 -2.45 8.05 -2.36 452,676 -6.38
1970 855,132 8.07 8.21 2.03 511,939 13.09
1971 931,160 8.89 8.21 0.02 558,846 9.16
1972 938,154 0.75 8.26 0.65 558,142 -0.13
1973 1,026,782 9.45 8.25 -0.22 624,348 11.86
1974 993,096 -3.28 8.17 -0.88 585,246 -6.26
1975 1,013,162 2.02 8.18 0.10 563,795 -3.67
1976 883,042 -12.84 8.21 0.41 507,544 -9.98
1977 869,542 -1.53 8.29 0.95 519,629 2.38
1978 801,211 -7.86 8.29 0.00 488,657 -5.96
1979 834,714 4.18 6.98 -15.82 457,696 -6.34
1980 905,473 8.48 7.39 5.78 464,215 1.42
1981 985,909 8.88 7.15 -3.22 494,167 6.45
1982 1,026,134 4.08 7.04 -1.56 488,398 -1.17
1983 988,363 -3.68 9.05 28.57 475,019 -2.74
1984 1,051,058 6.34 7.92 -12.40 504,935 6.30
1985 1,004,396 -4.44 7.55 -4.68 574,073 13.69
1986 1,052,062 4.75 8.04 6.40 617,316 7.53
1987 1,083,614 3.00 8.20 2.05 614,324 -0.48
1988 1,090,332 0.62 8.38 2.12 682,633 11.12
1989 1,148,736 5.36 10.19 21.60 743,915 8.98
1990 1,725,840 50.24 10.31 1.22 733,428 -1.41
1991 1,915,813 11.01 10.13 -1.75 909,065 23.95
1992 1,968,182 2.73 9.46 -6.57 835,829 -8.06
1993 2,102,290 6.81 9.53 0.73 945,023 13.06
1994 2,163,734 2.92 9.04 -5.17 1,053,667 11.50
1995 2,300,078 6.30 9.22 2.04 1,128,914 7.14
1996 2,342,890 1.86 9.85 6.75 1,313,280 16.33
1997 2,826,789 20.65 9.55 -2.99 1,334,327 1.60
1998 2,979,378 5.40 9.09 -4.82 1,239,433 -7.11
1999 3,172,670 6.49 10.72 17.93 1,726,368 39.29
2000 3,218,099 1.43 11.16 4.09 1,917,050 11.05
2001 3,183,943 -1.06 11.38 1.97 1,907,720 -0.49
2002 3,484,235 9.43 11.00 -3.34 2,224,791 16.62
2003 3,467,793 -0.47 11.75 6.85 2,430,663 9.25
2004 3,547,569 2.30 13.38 13.81 2,841,256 16.89
2005 3,722,194 4.92 13.60 1.69 3,035,570 6.84
2006 3,867,385 3.90 13.24 -2.70 3,218,349 6.02
2007 3,817,041 -1.30 13.34 0.76 3,186,039 -1.00
4.79 1.52 5.79
Sumber : FAO, diolah Pusdatin
Tahun
Luas Areal Produktivitas Produksi
Rata-rata pertumbuhan
1961-2007


» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

137
Lampiran 6.9. Negara dengan luas areal jambu mete terbesar di dunia, 2003 -
2007




Lampiran 6.10. Negara produsen jambu mete terbesar di dunia, 2003 – 2007




» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
138
Lampiran 6.11. Negara dengan produktivitas jambu mete terbesar di dunia, 2003
– 2007

2003 2004 2005 2006 2007
1
Peru 62.44 67.45 66.86 67.16 67.14
66.21
2
Kenya 50.00 50.00 50.00 50.00 50.00
50.00
3
Philippines 4.12 42.05 42.10 40.95 42.14
34.27
4
Viet Nam 35.70 27.67 27.60 25.98 27.61
28.91
5
Mexico
12.39 21.21 30.50 23.48 23.48 22.21
6
Nigeria
18.92 19.01 19.22 19.88 20.00 19.40
7
Malaysia
18.57 18.57 18.57 18.57 18.57 18.57
8
Belize
15.72 15.36 15.38 15.26 15.40 15.42
9
Honduras
15.77 14.86 13.94 14.62 14.62 14.76
10
Mozambique
11.60 11.60 11.60 11.60 11.60 11.60
DUNIA 11.75 13.38 13.60 13.24 13.34 13.06
Sumber: FAO, diolah Pusdatin
No Negara
Produktivitas (Ku/Ha)
Rata-rata


Lampiran 6.12. Negara dengan harga produsen jambu mete terbesar di dunia,
2002 – 2006

2002 2003 2004 2005 2006
1
Nigeria 1,249 1,393 1,644 1,951 2,166
1,681 14.80
2
Burkina Faso 1,489 1,231 1,448 1,409 1,457
1,407 0.25
3
Honduras 1,310 1,216 1,163 1,204 1,296
1,238 -0.09
4
Belize 1,103 1,103 1,111 1,134 1,167
1,123 1.43
5
Malaysia
952 985 1,087 1,141 1,314 1,096 8.51
6
El Salvador
847 714 1,052 1,381 1,140 1,027 11.35
7
Kyrgyzstan
735 912 1,031 1,188 - 773 -11.91
8
Guinea
1,010 1,130 1,106 721 719 937 -6.32
9
Indonesia
619 647 892 898 1,083 828 15.91
10
China
794 777 781 786 842 796 1.54
RATA-RATA DUNIA 689 688 751 788 800 743 3.88
Sumber : FAO, diolah Pusdatin
Pertumbuhan
2002-2006 (%)
No Negara
Harga rata-rata (US$/ton)
Rata-rata




» Outlook Pertanian – Perkebunan 2009 «

Pusat Data dan Informasi Pertanian

139

Lampiran 6.13. Perkembangan ekspor-impor jambu mete dunia, 2002 – 2006

Volume
(Ton)
Nilai (US$)
Volume
(Ton)
Nilai (US$)
Volume
(Ton)
Nilai (US$)
Volume
(Ton)
Nilai (US$)
2002 241,792 814,628 413,834 251,432 208,250 764,994 408,749 273,060
2003 255,843 892,365 412,687 225,726 228,736 855,310 452,127 314,114
2004 297,011 1,270,760 506,512 333,292 269,231 1,153,599 481,736 407,435
2005 324,834 1,485,819 488,684 362,108 284,667 1,337,451 548,660 492,562
2006 340,709 1,435,762 570,812 322,102 298,800 1,339,806 595,179 427,703
Berkulit
Ekspor Impor
Tahun
Kupas Berkulit Kupas



Lampiran 6.14. Negara Pengekspor Jambu Mete terbesar di Dunia, 2002 – 2006

2002 2003 2004 2005 2006
1 Côte d'Ivoire 86,836 84,830 140,638 167,919 210,728 138,190 17.93 17.93
2 India 129,437 99,673 109,878 125,095 122,779 117,372 15.23 33.17
3 Viet Nam 62,235 82,200 105,000 109,000 128,000 97,287 12.63 45.79
4 Guinea-Bissau 72,866 71,694 80,854 93,490 69,949 77,771 10.09 55.89
5 Tanzania 75,744 73,257 83,191 34,100 58,887 65,036 8.44 64.33
6 Indonesia 51,717 60,428 59,372 69,415 63,406 60,868 7.90 72.22
7 Benin 43,117 39,328 36,840 42,872 69,357 46,303 6.01 78.23
8 Brazil 31,262 41,569 47,442 41,856 43,231 41,072 5.33 83.56
9 Mozambique 39,078 32,880 40,231 34,413 26,249 34,570 4.49 88.05
10 Ghana 3,892 6,208 30,702 22,510 48,485 22,359 2.90 90.95
11 Lainnya 59,442 76,463 69,375 72,848 70,450 69,716 9.05 100.00
DUNIA 655,626 668,530 803,523 813,518 911,521 770,544 100.00
Sumber: FAO, diolah Pusdatin
Volume ekspor (Ton)
Rata-rata Share (%)
Share
kumulatif
(%)
No Negara




» Outlook Pertanian Perkebunan 2009 «


Pusat Data dan Informasi Pertanian
140
Lampiran 6.15. Negara pengimpor jambu mete terbesar di dunia, 2002 – 2006

2002 2003 2004 2005 2006
1
India 403,757 442,594 469,324 543,937 586,492
489,221 64.78 64.78
2
USA 97,432 103,092 131,655 114,473 115,610
112,452 14.89 79.67
3
Netherlands 20,611 25,460 24,149 36,206 42,425
29,770 3.94 83.61
4
United Kingdom 10,359 10,900 14,991 21,353 21,391
15,799 2.09 85.70
5
Australia
8,707 11,023 11,928 12,728 14,742 11,826 1.57 87.27
6
Germany
7,423 8,820 9,292 12,409 14,464 10,482 1.39 88.66
7
Canada
8,468 10,317 12,614 11,079 9,841 10,464 1.39 90.04
8
United Arab Emirates
5,256 6,299 8,203 7,663 12,370 7,958 1.05 91.09
9
Japan
6,718 5,458 6,909 5,918 4,690 5,939 0.79 91.88
10
France
5,426 4,874 5,900 6,830 8,129 6,232 0.83 92.71
11 Lainnya 42,842 52,026 56,002 60,731 63,825 55,085 7.29 100.00
DUNIA 616,999 680,863 750,967 833,327 893,979 755,227 100.00
Sumber: FAO, diolah Pusdatin
No Negara
Volume impor (Ton)
Rata-rata Share (%)
Share
kumulatif
(%)










» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

141
BAB VII. PANILI

Tanaman panili (Vanilla planifolia Andrews) merupakan salah satu tanaman
rempah yang bernilai ekonomi cukup tinggi. Polong tanaman ini digunakan untuk
bahan penyegar, penyedap dan pengharum makanan, gula-gula, ice cream,
minuman, bahan obat-obatan. Bentuk produk yang dijual petani pada umumnya
berbentuk polong basah, sedangkan yang dijual oleh eksportir ke pasaran
internasional berbentuk polong kering. Di pasaran internasional panili Indonesia
dikenal dengan sebutan Java Vanilla Beans (Anonim, 2007).
Volume ekspor panili Indonesia tidak sebesar komoditas perkebunan
lainnya, seperti kakao, kelapa sawit dan karet, sehingga sumbangan terhadap
pendapatan devisa negara relatif kecil. Hasil ini disebabkan sebagian besar buah
panili yang diekspor bermutu rendah, antara lain mutu EP. Jenis EP ini banyak
digunakan untuk campuran pembuatan panili ekspor (panili sintesis yang
mengandung 13,35% panili murni) (Anonim, 2008b). Ditemukannya panili sintetis
menyebabkan harga panili jatuh pada kondisi yang tidak menguntungkan petani.
Mengingat saat ini kebutuhan dunia akan panili sangat tinggi seiring dengan
meningkatnya industri berbasis panili, maka sebenarnya Indonesia masih
mempunyai peluang yang sangat besar dalam pengembangan komoditas panili.
Pengembangan panili Indonesia mempunyai prospek yang baik karena
ditunjang oleh berbagai faktor, seperti lahan, iklim, tenaga kerja serta
ditemukannya benih-benih panili unggul melalui teknologi bio fob. Selain itu
berkembangnya trend masyarakat dunia yang cenderung menggunakan bahan-
bahan yang berasal dari alam (back to nature) dibandingkan dengan
penggunaan panili sintetik diharapkan juga akan mendukung pengembangan
panili Indonesia (Anonim, 2008a).
Untuk mengetahui perkembangan komoditas panili dan prospeknya, berikut
ini disajikan keragaan komoditas panili serta proyeksi penawaran dan
permintaannya untuk beberapa tahun ke depan. Informasi tersebut diharapkan
dapat dimanfaatkan dalam pengambilan kebijakan atau keputusan pada berbagai
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

142
tahapan pengembangan komoditas panili.

7.1. PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS
PANILI DI INDONESIA
Perkembangan luas areal perkebunan panili di Indonesia pada periode
tahun 1977-2008 menunjukkan kecenderungan meningkat dengan pola
perkembangan yang serupa dengan pola perkembangan luas areal perkebunan
panili rakyat (Gambar 7.1). Hal ini disebabkan luas areal panili di Indonesia
didominasi oleh perkebunan rakyat (PR). Pada periode tersebut pertumbuhan
luas areal panili Indonesia rata-rata mencapai 7,91% per tahun. Krisis moneter
yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997-1998 ternyata juga berdampak pada
perkembangan luas areal panili. Jika sebelum tahun 1997 terjadi peningkatan
luas yang relatif cukup tinggi dengan rata-rata peningkatan sebesar 8,98% per
tahun, maka setelah tahun 1997 terjadi penurunan luas areal panili hingga tahun
2003. Menginjak tahun 2004 mulai terjadi peningkatan luas areal panili, sehingga
rata-rata pertumbuhan luas areal panili tahun 1998-2008 mencapai 5,97% per
tahun (Tabel 7.1).

0
5.000
10.000
15.000
20.000
25.000
30.000
35.000
1
9
7
7
1
9
7
9
1
9
8
1
1
9
8
3
1
9
8
5
1
9
8
7
1
9
8
9
1
9
9
1
1
9
9
3
1
9
9
5
1
9
9
7
1
9
9
9
2
0
0
1
2
0
0
3
2
0
0
5
2
0
0
7
(Ha)
PR PBN PBS Indonesia

Gambar 7.1. Perkembangan Luas Areal Panili di Indonesia, 1977-2008

Berdasarkan jenis pengusahaannya, panili hanya diusahakan oleh
perkebunan rakyat (PR) dan perkebunan besar swasta (PBS). Secara umum
perkembangan luas areal panili PR lebih lambat dibandingkan luas areal panili
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

143
PBS, khususnya sebelum krisis ekonomi. Pada tahun 1977-1997 pertumbuhan luas
areal panili PR rata-rata sebesar 8,95% per tahun dan PBS sebesar 47,99% per
tahun. Setelah tahun 1997 pertumbuhan luas areal panili PR melambat menjadi
sebesar 6,04% per tahun, sedangkan luas areal panili PBS justru turun 1,62% per
tahun (Tabel 7.1). Perkembangan luas areal panili di Indonesia menurut jenis
pengusahaannya secara rinci disajikan dalam Lampiran 7.1.

Tabel 7.1. Rata-rata Laju Pertumbuhan dan Kontribusi Luas Areal dan Produksi
Panili di Indonesia, 1977 – 2008

PR PBN PBS Total PR PBN PBS Total
Pertumbuhan (%)
1977-2008 7,92 -100,00 30,39 7,91 12,16 - 103,68 12,13
1977-1997 8,95 -100,00 47,99 8,98 14,73 - -4,34 14,72
1998-2008 6,04 - -1,62 5,97 7,49 - 270,63 7,43
Kontribusi (%)
1977-2008 99,25 0,00 0,75 100,00 99,51 0,00 0,49 100,00
1977-1997 98,94 0,00 1,06 100,00 99,54 0,00 0,46 100,00
1998-2008 99,53 0,00 0,47 100,00 99,49 0,00 0,51 100,00
Luas Areal Produksi
Tahun

Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, diolah Pusdatin
Pada periode tahun 1977-2008 sebagian besar luas areal perkebunan panili
di Indonesia dikuasai oleh perkebunan rakyat dengan persentase mencapai
99,25% dari total luas areal panili di Indonesia (Tabel 7.1). Jika pertumbuhan
luas areal perkebunan panili rakyat setelah tahun 1997 cenderung melambat,
maka kontribusinya menunjukkan sedikit kenaikan dibandingkan periode
sebelumnya. Hal ini disebabkan adanya penurunan luas areal panili PBS.
Seperti halnya perkembangan luas areal panili, secara umum perkembangan
produksi panili di Indonesia pada periode 1977-2008 juga menunjukkan
kecenderungan meningkat meskipun lebih berfluktuasi (Gambar 7.2). Produksi
panili Indonesia didominasi oleh panili PR, oleh karenanya pola perkembangan
panili Indonesia serupa dengan pola perkembangan panili PR. Produksi panili
Indonesia pada periode tersebut rata-rata meningkat sebesar 12,13% per tahun
(Tabel 7.1). Pada periode yang sama produksi panili PR rata-rata mengalami
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

144
peningkatan 12,16% per tahun dan berkontribusi sebesar 99,51% terhadap total
produksi panili Indonesia, sedangkan produksi panili PBS meningkat 103,68% per
tahun dan berkontribusi 0,49% dari total produksi panili Indonesia. Secara rinci
perkembangan produksi panili disajikan pada Lampiran 7.2.
0
500
1.000
1.500
2.000
2.500
3.000
3.500
4.000
1
9
7
7
1
9
7
9
1
9
8
1
1
9
8
3
1
9
8
5
1
9
8
7
1
9
8
9
1
9
9
1
1
9
9
3
1
9
9
5
1
9
9
7
1
9
9
9
2
0
0
1
2
0
0
3
2
0
0
5
2
0
0
7
(Ton)
PR PBS Indonesia

Gambar 7.2. Perkembangan Produksi Panili di Indonesia, 1977-2008

Berdasarkan data rata-rata produksi panili Indonesia lima tahun terakhir
(2004-2008), daerah sentra produksi panili Indonesia terdapat di 6 provinsi
dengan kontribusi kumulatif mencapai 78,78%. Sentra produksi panili terbesar di
Indonesia adalah Provinsi Sulawesi Selatan yang memberikan kontribusi rata-rata
sebesar 23,40%, diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur di peringkat kedua
dengan kontribusi sebesar 17,11%. Provinsi Sulawesi Utara dan Jawa Timur
berada di peringkat ketiga dan keempat dengan kontribusi masing-masing sebesar
13,46% dan 10,03%. Provinsi Jawa Barat dan Sulawesi Tengah juga menjadi
daerah sentra produksi panili namun kontribusinya masing-masing hanya 9,64%
dan 5,13%, sedangkan provinsi-provinsi lainnya rata-rata memberikan kontribusi
kurang dari 5% (Gambar 7.3). Daerah sentra produksi panili di Indonesia dan
kontribusinya disajikan pada Lampiran 7.3.

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

145

Gambar 7.3. Kontribusi Sentra Produksi Panili di Indonesia, Rata-rata 2004-2008

Perkembangan produktivitas panili di Indonesia selama tahun 2003-2008
secara umum berfluktuasi (Gambar 7.4). Pada tahun 2003 produktivitas panili
Indonesia sebesar 305,99 kg/ha, namun dua tahun berikutnya mengalami
penurunan berturut-turut menjadi 242,10 kg/ha (tahun 2004) dan 239,38 kg/ha
(tahun 2005). Pada tahun 2006 terjadi lonjakan produktivitas panili hingga
mencapai 329,72 kg/ha. Tingkat produktivitas yang tinggi tersebut tidak dapat
dipertahankan hingga tahun berikutnya dan kembali terjadi penurunan
produktivitas panili menjadi 229,73 kg/ha. Tahun 2008 tingkat produktivitas
panili tidak mengalami perubahan sehingga rata-rata produktivitas pada kurun
waktu 2003-2008 sebesar 262,77 kg/ha dengan laju pertumbuhan sebesar -2,92%
per tahun (Tabel 7.2).
Dari jenis pengusahaannya, produktivitas panili yang diusahakan oleh PR
relatif lebih rendah dibandingkan produktivitas panili yang diusahakan oleh PBS,
kecuali tahun 2006. Mengingat sebagian besar panili di Indonesia diusahakan oleh
rakyat maka tingkat produktivitas yang dicapai sekarang belum merupakan
tingkat produktivitas yang maksimal. Dengan demikian sebenarnya produksi panili
dalam negeri masih dapat ditingkatkan dengan upaya budidaya yang lebih
intensif.
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

146
0,00
50,00
100,00
150,00
200,00
250,00
300,00
350,00
2003 2004 2005 2006 2007 2008*)
305,99
242,10
239,38
329,72
229,73
229,73
(Kg/Ha)

Gambar 7.4. Perkembangan Produktivitas Panili di Indonesia,
(Rata-rata 2003-2008)

Tabel 7.2. Perkembangan Produktivitas Panili di Indonesia Menurut Status
Pengusahaan, 2003-2008

PR
Pertumb.
(%)
PBS
Pertumb.
(%)
Indonesia
Pertumb.
(%)
2003 241,59 519,31 305,99
2004 241,76 0,07 270,27 -47,96 242,10 -20,88
2005 236,88 -2,02 459,46 70,00 239,38 -1,12
2006 330,39 39,48 263,16 -42,72 329,72 37,74
2007 229,71 -30,47 333,33 26,67 229,73 -30,32
2008*) 229,67 -0,02 400,00 20,00 229,73 0,00
Rata-rata 251,66 1,41 374,25 5,20 262,77 -2,92
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka Sementara
Produktivitas (Kg/Ha)
Tahun


7.2. PERKEMBANGAN KONSUMSI PANILI DI INDONESIA

Karena keterbatasan ketersediaan data maka konsumsi panili di Indonesia
dihitung berdasarkan pendekatan produksi dan volume ekspor impor panili.
Konsumsi panili dipergunakan baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk
ekspor. Konsumsi panili di Indonesia pada periode tahun 2004-2008 secara umum
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

147
menunjukkan peningkatan (Gambar 7.5). Konsumsi tertinggi terjadi pada tahun
2006 sebesar 3.326 ton. Tahun 2007 terjadi penurunan konsumsi menjadi 2.648
ton. Tahun 2008 konsumsi panili sedikit meningkat menjadi 2.912 ton. Dengan
demikian rata-rata pertumbuhan konsumsi panili dalam kurun waktu tahun 2004-
2008 mencapai 20,86% per tahun (Tabel 7.3).

1.500
2.000
2.500
3.000
3.500
2004 2005 2006 2007 2008*)
(Ton)

Gambar 7.5. Perkembangan Konsumsi Panili di Indonesia, 2004-2008

Tabel 7.3. Perkembangan Konsumsi Panili di Indonesia, 2004-2008

Produksi Impor Ekspor Konsumsi Pertumb.
(Ton) (Ton) (Ton) (Ton) (%)
2004 2,252 34 741 1,545
2005 2,366 54 278 2,142 38.64
2006 3,768 57 499 3,326 55.24
2007 3,177 10 540 2,648 -20.38
2008*) 3,182 151 421 2,911 9.96
Rata-rata Pertumbuhan (%/tahun)
2004-2008 20.86
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan dan BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka Sementara untuk produksi panili
Tahun




» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

148
7.3. PERKEMBANGAN HARGA PANILI DI INDONESIA

Perkembangan harga panili di pasar domestik di Indonesia selama kurun
waktu tahun 1987-2008 menunjukkan kecenderungan naik dengan laju
pertumbuhan rata-rata sebesar 22,01% per tahun (Lampiran 7.4). Krisis moneter
yang terjadi pada tahun 1998 tampaknya tidak terlalu berpengaruh pada harga
panili karena kenaikan harga yang cukup signifikan justru terjadi setelah krisis
ekonomi, yaitu pada tahun 2001 dan 2005 (Gambar 7.6). Jika sebelum tahun 2001
harga panili cenderung stabil dengan laju pertumbuhan rata-rata mencapai 8,48%
per tahun, maka setelah tahun 2001 harga panili lebih berfluktuasi dengan
pertumbuhan rata-rata sebesar 44,01% per tahun.

0
100.000
200.000
300.000
400.000
500.000
600.000
1
9
8
7
1
9
9
0
1
9
9
3
1
9
9
6
1
9
9
9
2
0
0
2
2
0
0
5
2
0
0
8
(Rp/Kg)

Gambar 7.6. Perkembangan Harga Rata-rata Panili di Pasar Domestik
di Indonesia, 1987-2008

7.4. PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR PANILI INDONESIA

Ekspor dan impor panili Indonesia dilakukan dalam bentuk panili utuh dan
olahan. Total volume ekspor panili Indonesia selama periode tahun 2000-2003
cenderung meningkat, tetapi kemudian mengalami penurunan pada tahun
berikutnya (Gambar 7.7). Pada tahun 2000 total volume ekspor panili Indonesia
hanya sebesar 350 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 8.503 ribu, dan meningkat
pada tahun 2001 menjadi 469 ton dengan nilai ekspor mencapai US$ 19.309 ribu.
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

149
Tahun 2002 dan 2003 terjadi lonjakan ekspor panili masing-masing menjadi
sebesar 3.598 ton dan 6.363 ton, namun nilai ekspor yang diperoleh justru lebih
rendah dibandingkan nilai ekspor panili tahun 2001. Nilai ekspor panili pada dua
tahun tersebut masing-masing sebesar US$ 19.160 ribu (tahun 2002) dan US$
19.275 ribu (tahun 2003). Hal ini disebabkan menurunnya mutu panili Indonesia
dan ditemukannya panili sintetis yang menyebabkan harga panili Indonesia di
pasar dunia menurun drastis.
Pada tahun 2004 terjadi penurunan volume ekspor menjadi 741 ton dengan
nilai ekspor sebesar US$ 16.502 ribu. Tahun-tahun berikutnya volume maupun
nilai ekspor panili cenderung menurun. Tahun 2008 ekspor panili Indonesia
sebesar 421 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 5.565 ribu (Lampiran 7.5).
Sementara itu perkembangan volume impor panili Indonesia mempunyai
pola yang hampir serupa dengan ekspornya (Gambar 7.7). Volume impor panili
terbesar terjadi pada tahun 2002 yang mencapai 1.515 ton dengan nilai impor
sebesar US$ 1.347 ribu. Setelah tahun 2002 impor panili semakin menurun, tetapi
tahun 2008 sedikit naik menjadi 151 ton dengan nilai impor sebesar US$ 228 ribu.
Berdasarkan nilai ekspor dan nilai impor tersebut diperoleh neraca
perdagangan panili Indonesia, dimana selama tahun 2000-2008 masih
menunjukkan posisi surplus. Surplus neraca perdagangan panili Indonesia pada
tahun 2008 sebesar US$ 5.337 ribu (Lampiran 7.5).

0
1.000
2.000
3.000
4.000
5.000
6.000
7.000
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008
(Ton)
Vol. Ekspor Vol. Impor

Gambar 7.7. Perkembangan Volume Ekspor dan Impor Panili Indonesia, 2000-2008
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

150
7.5. PERKEMBANGAN LUAS TANAMAN MENGHASILKAN, PRODUKSI
DAN PRODUKTIVITAS PANILI DUNIA
Perkembangan luas tanaman menghasilkan panili di dunia pada tahun 1970-
2007 secara umum berfluktuasi namun menunjukkan peningkatan (Gambar 7.8)
Rata-rata pertumbuhan luas tanaman menghasilkan panili pada periode tersebut
sebesar 7,66% per tahun. Pada tahun 1970 total luas tanaman menghasilkan
panili di dunia tercatat sebesar 11.095 ha, maka pada tahun 2007 naik menjadi
77.075 ha. Peningkatan yang cukup signifikan terjadi pada tahun 1980 dan tahun
2005 masing-masing sebesar 135,14% dan 96,43%. Secara rinci perkembangan luas
tanaman menghasilkan panili disajikan pada Lampiran 7.6.
0
10.000
20.000
30.000
40.000
50.000
60.000
70.000
80.000
1
9
7
0
1
9
7
3
1
9
7
6
1
9
7
9
1
9
8
2
1
9
8
5
1
9
8
8
1
9
9
1
1
9
9
4
1
9
9
7
2
0
0
0
2
0
0
3
2
0
0
6
(Ha)

Gambar 7.8. Perkembangan Luas Tanaman Menghasilkan Panili Dunia, 1970-2007

Berdasarkan data FAO, terdapat empat negara dengan luas tanaman
menghasilkan panili terbesar di dunia (Gambar 7.9). Rata-rata kontribusi
keempat negara tersebut pada tahun 2003-2007 mencapai 97,26% dari total luas
tanaman menghasilkan panili di dunia. Madagaskar berada di peringkat pertama
dengan luas tanaman menghasilkan rata-rata sebesar 48.807 ha per tahun dan
memberikan kontribusi sebesar 77,17% per tahun dari total luas tanaman
menghasilkan panili dunia. Indonesia menempati peringkat kedua dengan
kontribusi rata-rata sebesar 16,88% per tahun. Peringkat ketiga dan keempat
ditempati oleh China dan Mexico dengan kontribusi masing-masing sebesar 2,09%
dan 1,12% per tahun. Kontribusi negara-negara lainnya terhadap luas tanaman
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

151
menghasilkan panili di dunia kurang dari 1%. Beberapa negara dengan luas
tanaman menghasilkan panili terbesar di dunia disajikan pada Lampiran 7.7.

Gambar 7.9. Negara dengan Luas Tanaman Menghasilkan Panili Terbesar di Dunia,
Rata-rata 2003-2007

Seiring dengan perkembangan luas tanaman menghasilkan panili,
perkembangan produksi panili dunia selama tahun 1970-2007 juga menunjukkan
kecenderungan meningkat dengan rata-rata peningkatan sebesar 6,35% per tahun
(Gambar 7.10). Jika pada tahun 1970 produksi panili dunia sebesar 1.736 ton,
maka tahun 2007 telah mencapai 8.438 ton. Perkembangan produksi panili di
dunia secara rinci disajikan pada Lampiran 7.6.

0
1.000
2.000
3.000
4.000
5.000
6.000
7.000
8.000
9.000
1
9
7
0
1
9
7
3
1
9
7
6
1
9
7
9
1
9
8
2
1
9
8
5
1
9
8
8
1
9
9
1
1
9
9
4
1
9
9
7
2
0
0
0
2
0
0
3
2
0
0
6
(Ton)

Gambar 7.10. Perkembangan produksi panili dunia, 1970-2007

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

152
Menurut FAO, produksi panili di dunia didominasi oleh empat negara, yaitu
Indonesia, Madagaskar, China dan Mexico. Secara kumulatif, pada tahun 2003-
2007 keempat negara tersebut memberikan kontribusi rata-rata sebesar 91,55%
dari total produksi panili dunia. Indonesia berada di peringkat pertama dengan
rata-rata produksi sebesar 2.644 ton per tahun dan memberikan kontribusi
sebesar 41,89% terhadap total produksi panili dunia (Gambar 7.11). Madagaskar
dengan kontribusi sebesar 28,87% berada di peringkat kedua, diikuti oleh China
(16,63%) dan Mexico (4,15%). Negara-negara produsen panili lainnya mempunyai
kontribusi rata-rata kurang dari 2% per tahun. Beberapa negara produsen panili
terbesar di dunia disajikan pada Lampiran 7.8.


Gambar 7.11. Negara-negara Produsen Panili Terbesar di Dunia,
Rata-rata 2003-2007

Perkembangan produktivitas panili dunia selama periode tahun 1970-2007
menunjukkan pola yang berfluktuasi (Gambar 7.12). Pada tahun 1970 tingkat
produktivitas panili dunia sebesar 156,47 kg/ha tetapi cenderung menurun hingga
mencapai tingkat produktivitas terendah pada tahun 1980, yaitu sebesar 69,12
kg/ha. Setelah tahun 1980 produktivitas panili dunia tetap berfluktuasi namun
cenderung meningkat. Tahun 2007 tingkat produktivitas panili dunia mencapai
109,48 kg/ha. Laju pertumbuhan produktivitas panili dunia selama kurun waktu
1970-2007 sebesar 1,96% per tahun (Lampiran 7.6).
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

153
0,00
50,00
100,00
150,00
200,00
250,00
1
9
7
0
1
9
7
3
1
9
7
6
1
9
7
9
1
9
8
2
1
9
8
5
1
9
8
8
1
9
9
1
1
9
9
4
1
9
9
7
2
0
0
0
2
0
0
3
2
0
0
6
(Kg/Ha)

Gambar 7.12. Perkembangan Produktivitas Panili Dunia, 1970-2007

Dalam lima tahun terakhir (2003-2007) terdapat enam negara dengan
tingkat produktivitas panili rata-rata terbesar di dunia, yaitu China, Uganda,
Tonga, Mexico, Indonesia dan Malawi. China berada di peringkat pertama dengan
tingkat produktivitas panili mencapai 788,58 kg/ha. Negara-negara lainnya belum
mampu menyamai China. Uganda yang berada di urutan kedua mempunyai
tingkat produktivitas sebesar 500,00 kg/ha, diikuti oleh Tonga (455,98 kg/ha),
Mexico (368,64 kg/ha), Indonesia (269,38 kg/ha) dan Malawi (250,00 ton/ha)
(Gambar 7.13).
0,00
200,00
400,00
600,00
800,00
C
h
i
n
a
U
g
a
n
d
a
T
o
n
g
a
M
e
x
i
c
o
I
n
d
o
n
e
s
i
a
M
a
l
a
w
i
788,58
500,00
455,98
368,64
269,38
250,00
(Kg/Ha)

Gambar 7.13. Negara dengan produktivitas panili terbesar dunia,
(rata-rata 2003-2007)
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

154
7.6. PERKEMBANGAN EKSPOR-IMPOR PANILI DUNIA
Ekspor panili selama periode tahun 2004-2006 didominasi oleh lima negara,
yaitu Madagaskar, Indonesia, Papua Nugini, Perancis dan Amerika Serikat
(Gambar 7.14). Madagaskar yang merupakan negara eksportir terbesar
mempunyai rata-rata volume ekspor panili sebesar 1.227,67 ton per tahun.
Indonesia berada di peringkat kedua dengan rata-rata volume ekspor panili
sebesar 506,00 ton per tahun. Peringkat berikutnya berturut-turut adalah Papua
Nugini (423,33 ton), Perancis (270,33 ton) dan Amerika Serikat (270,00 ton).
0
350
700
1.050
1.400
Madagaskar Indonesia Papua
Nugini
Perancis Amerika
Serikat
1.227,67
506,00
423,33
270,33 270,00
(Ton)

Gambar 7.14. Negara Eksportir Panili Terbesar di Dunia, Rata-rata 2004-2006

Sementara itu impor panili dilakukan oleh hampir semua negara di dunia.
Negara importir panili terbesar adalah Amerika Serikat dengan rata-rata volume
impor panili tahun 2004-2006 sebesar 1,22 ribu ton per tahun (Gambar 7.15).
Peringkat kedua diduduki oleh Belanda dengan rata-rata volume impor sebesar
603,33 ton per tahun, disusul oleh Perancis dengan rata-rata volume impor
sebesar 537,67 ton per tahun. Singapura, Jerman dan Spanyol berada di urutan
berikutnya dengan rata-rata volume impor masing-masing sebesar 349,33 ton,
291,67 ton dan 232 ton. Sebagai negara importir, Indonesia berada di peringkat
ke-16 dunia.
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

155
0
200
400
600
800
1.000
1.200
1.400
Amerika
Serikat
Belanda Perancis Singapura Jerman Spanyol
1.244,00
603,33
537,67
349,33
291,67
232,00
(Ton)

Gambar 7.15. Negara Importir Panili Terbesar Dunia, 2004-2006

7.7. PROYEKSI PENAWARAN PANILI 2008-2010

Proyeksi penawaran panili didasarkan pada proyeksi produksi panili.
Mengingat keterbatasan ketersediaan data maka pemilihan model untuk
memperoleh angka estimasi menggunakan metode pemulusan eksponensial
berganda (double exponential smoothing). Dari beberapa uji coba pemodelan,
dipilih model terbaik pada konstanta pemulusan alpha (level)=0,4 dan gamma
(trend)=0,085. Hasil proyeksi produksi panili dengan nilai MAPE=19 seperti
disajikan pada Tabel 7.4.

Tabel 7.4. Hasil proyeksi produksi panili di Indonesia, 2008-2010
Tahun
Produksi Panili
(Ton)
Pertumbuhan
(%)
2007
1)
3.177,00
2008 3.181,91 0,15
2009 3.286,96 3,30
2010 3.392,01 3,20
Rata-rata Pertumbuhan (%/tahun) 2,22
Keterangan :
1)
Angka Tetap, Direktorat Jenderal Perkebunan
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

156
Produksi panili di Indonesia diperkirakan akan meningkat pada tahun 2008-
2010 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2,22% per tahun. Pada tahun 2008
laju peningkatan hanya sebesar 0,15% dimana produksi panili diperkirakan
mencapai 3.181,91 ton. Pada tahun 2009 dan 2010 laju pertumbuhan produksi
panili diperkirakan akan meningkat cukup tinggi masing-masing sebesar 3,30%
(tahun 2009) dan 3,20% (tahun 2010) sehingga produksi panili tahun 2009
diperkirakan akan mencapai 3.286,96 ton dan tahun 2010 mencapai 3.392,01 ton.

7.8. PROYEKSI PERMINTAAN PANILI 2008-2010

Proyeksi permintaan panili dilakukan dengan menggunakan metode trend
linier. Nilai MAPE diperoleh sebesar 44,79. Hasil proyeksi menunjukkan adanya
peningkatan konsumsi panili selama periode tahun 2008-2010 dengan rata-rata
peningkatan sebesar 8,26% per tahun. Secara absolut konsumsi panili
diperkirakan akan mencapai 2.911,45 ton pada tahun 2008, tahun 2009 sebesar
3.017,86 ton dan akan terus meningkat hingga tahun 2010 sebesar 3.355,20 ton.

Tabel 7.5. Hasil Proyeksi Permintaan Panili di Indonesia, 2008-2010
Tahun Konsumsi Panili (Ton)
Pertumbuhan
(%)
2007
1)

2.648,00

2008
2.911,45 9,95
2009
3.017,86 3,65
2010
3.355,20 11,18
Rata-rata Pertumbuhan
(%/Th.)
8,26
Keterangan :
1)
Angka Tetap, Ditjen Perkebunan dan BPS, diolah Pusdatin




» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

157
7.9. PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT PANILI 2008-2010

Berdasarkan hasil proyeksi penawaran dan permintaan panili di Indonesia
diperoleh proyeksi surplus/defisit panili. Peningkatan permintaan panili tahun
2008-2010 masih mampu diimbangi dengan produksi dalam negeri sehingga
diperkirakan masih akan terjadi surplus hingga tahun 2010. Dengan laju
pertumbuhan konsumsi panili yang lebih besar dibandingkan laju pertumbuhan
produksinya, maka surplus panili tersebut akan semakin mengecil dan
dikhawatirkan setelah tahun 2010 akan terjadi defisit panili di Indonesia. Tahun
2008 surplus panili diperkirakan sebesar 270,46 ton, tahun 2009 turun menjadi
269,10 ton dan tahun 2010 menjadi 36,81 ton (Tabel 7.6).

Tabel 7.6. Proyeksi surplus/defisit panili di Indonesia, 2008-2010
Tahun
Produksi Panili
(Ton)
Konsumsi Panili
(Ton)
Surplus/Defisit
(Ton)
2008
3.181,91 2.911,45 270,46
2009 3.286,96 3.017,86 269,1
2010 3.392,01 3.355,20 36,81

Melihat hasil proyeksi surplus/defisit panili tersebut, sebenarnya masih
sangat terbuka peluang bagi pelaku usaha komoditas panili untuk
mengembangkan usaha budidaya panili. Semakin berkembangnya industri yang
menggunakan panili sebagai salah satu bahan bakunya, seperti industri makanan
dan minuman, farmasi, wangi-wangian, dan sebagainya, dapat menjadi pasar
yang sangat menjanjikan bagi upaya pengembangan panili Indonesia. Hal ini juga
didukung oleh hasil proyeksi yang menunjukkan bahwa konsumsi panili akan
semakin meningkat di masa mendatang.
Beberapa upaya dapat dilakukan dalam rangka pengembangan tanaman
panili, seperti peningkatan standar mutu produksi panili segar maupun panili
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

158
olahan terutama yang digunakan untuk keperluan ekspor serta penumbuhan
wilayah binaan untuk pengembangan komoditas panili.
Terkait dengan kondisi agribisnis panili saat ini, maka Departemen
Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan (Anonim, 2008a)
mengupayakan fokus pembi naan komodi tas pani l i kedepan untuk
memperkuat daya saing yang antara l ai n di arahkan untuk :
• Menerapkan kaidah-kaidah "Good Agriculture Practices" dan "Good
Manufacture Practices", sehingga menghasilkan panili yang berkualitas dan
bermutu tinggi termasuk pengembangan produk organik.
Sasaran yang akan dicapai adalah peningkatan produktivitas, minimal
mencapai 750 kg/ha panili kering. Dalam mendukung pelaksanaan tersebut
diperlukan dukungan kebun induk, kegiatan intensifikasi,
rehabilitasi/peremajaan maupun pengutuhan di wilayah potensial.
• Mengadakan kampanye penggunaan panili alam untuk melawan penggunaan
panili sintetis yang cenderung meningkat jumlahnya ke negara-negara
pengguna seperti Amerika Serikat dan negara Eropa. Untuk itu, diperlukan
dukungan hasil penelitian dan kajian ilmiah yang menunjukkan keutamaan
dan keunggulan panili alam terhadap kesehatan serta partisipasi para
eksportir panili dan Atase Pertanian Luar Negeri serta fasilitas dari
Departemen terkait.
• Meningkatkan mutu hasil sehingga memenuhi persyaratan SNI yang dilakukan
dengan memperbaiki sistim pemetikan buah dan pengolahan hasil di tingkat
petani dan pedagang serta menghindari pencampuran benda –benda asing.
Adanya issue kandungan air raksa (merkuri) pada panili Indonesia
perlu ditindaklanjuti dan ditangani dengan tuntas. Upaya tersebut perlu
dilakukan melalui perbaikan kedalam/internal dan keluar seperti
anti "black campaign" tentang issue tersebut. Untuk itu diperlukan
bimbingan dan pengawalan teknis, fasilitas sarana pengolahan dan produk
hukum yang dapat memberi sanksi bagi pelanggarnya.
• Promosi pasar perlu dilakukan secara intensif dan berkelanjutan antara lain
melalui berbagai pameran, misi dagang, market inteligen dan temu bisnis.
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

159
Untuk itu, diperlukan dukungan stake holder terkait seperti Ditjen
Perdagangan Luar Negeri, BPEN, Ditjen PPHP, Atase Perdagangan, Atase
Pertanian dan para eksportir panili.
• SDM merupakan modal dasar dalam pengembangan agribisnis panili yang
memerlukan pelatihan, pendampingan dan asistensi yang tidak hanya
berorientasi pada seluruh aspek agribisnis dan kelembagaannya tetapi juga
bertumpu pada proses perubahan pola pikir dan peningkatan spirit
manajemen kemitraan.
• Kelembagaan petani diarahkan untuk terbentuknya Koperasi melalui
penumbuhan Kelompok Tani, Gabungan Kelompok Tani, Koperasi dan
Asosiasi Petani Panili Indonesia, Kelembagaan Eksportir panili, dan Dewan
Rempah Indonesia (DRI) yang tugasnya mensinergikan seluruh
stakeholder tersebut serta mengoptimalkan peran pemanfaatan
organisasi petani tingkat International yang dikenal dengan nama ITFN
[International Tropical Farmers Network].
• Menumbuhkembangkan Kerjasama Kemitraan Usaha (KKU) antara
petani panili dan pengusaha yang bergerak di bidang panili untuk
memperoleh kepastian bahan baku bagi eksportir serta untuk
memperoleh kepastian pasar bagi petani. Kedudukan pemerintah
dalam kerjasama ini adalah sebagai fasilitator dalam mensinergiskan
kepentingan masing-masing pihak.
• Meningkatkan penelitian di bidang panili sesuai dengan tuntutan
kebutuhan, hasilnya diinformasikan kepada pengguna dan dikawal
penerapannya di tingkat lapangan melalui berbagai sumber pendanaan baik
APBN, APBD maupun swadaya masyarakat.


» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

160
Lampiran 7.1 Perkembangan Luas Areal Panili Indonesia Menurut Status
Pengusahaan, 1977 – 2008

(Ha)
Pertumb.
(%)
(Ha)
Pertumb.
(%)
(Ha)
Pertumb.
(%)
(Ha)
Pertumb.
(%)
1977 4,518 0 4 4,522
1978 4,872 7.84 0 - 7 75.00 4,879 7.89
1979 3,018 -38.05 0 - 11 57.14 3,029 -37.92
1980 3,151 4.41 0 - 17 54.55 3,168 4.59
1981 3,564 13.11 0 - 22 29.41 3,586 13.19
1982 2,863 -19.67 0 - 18 -18.18 2,881 -19.66
1983 3,751 31.02 0 - 35 94.44 3,786 31.41
1984 4,175 11.30 0 - 32 -8.57 4,207 11.12
1985 5,739 37.46 0 - 49 53.13 5,788 37.58
1986 7,318 27.51 0 - 99 102.04 7,417 28.14
1987 9,778 33.62 0 - 93 -6.06 9,871 33.09
1988 10,963 12.12 0 - 128 37.63 11,091 12.36
1989 11,532 5.19 0 - 846 560.94 12,378 11.60
1990 12,924 12.07 9 - 100 -88.18 13,033 5.29
1991 13,766 6.52 0 -100.00 95 -5.00 13,861 6.35
1992 15,416 11.99 0 - 109 14.74 15,525 12.00
1993 16,616 7.78 0 - 118 8.26 16,734 7.79
1994 17,248 3.80 0 - 110 -6.78 17,358 3.73
1995 18,953 9.89 0 - 113 2.73 19,066 9.84
1996 19,723 4.06 0 - 113 0.00 19,836 4.04
1997 19,142 -2.95 0 - 116 2.65 19,258 -2.91
1998 16,751 -12.49 0 - 132 13.79 16,883 -12.33
1999 15,502 -7.46 0 - 128 -3.03 15,630 -7.42
2000 14,571 -6.01 0 - 121 -5.47 14,692 -6.00
2001 14,624 0.36 0 - 125 3.31 14,749 0.39
2002 15,796 8.01 0 - 126 0.80 15,922 7.95
2003 15,536 -1.65 0 - 117 -7.14 15,653 -1.69
2004 24,134 55.34 0 - 117 0.00 24,251 54.93
2005 25,369 5.12 0 - 117 0.00 25,486 5.09
2006 31,252 23.19 0 - 127 8.55 31,379 23.12
2007 31,801 1.76 0 - 6 -95.28 31,807 1.36
2008*) 31,877 0.24 0 - 10 66.67 31,887 0.25
1977-2008 7.92 -100.00 30.39 7.91
1977-1997 8.95 -100.00 47.99 8.98
1998-2008 6.04 - -1.62 5.97
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan
Keterangan : *) Angka Sementara PBN = Perkebunan Besar Negara
PR = Perkebunan Rakyat PBS = Perkebunan Besar Swasta
Rata-rata Pertumbuhan (%)
Tahun
PR PBN PBS Indonesia






» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

161
Lampiran 7.2. Perkembangan Produksi Panili Indonesia Menurut Status
Pengusahaan, 1977 – 2008

(Ton)
Pertumb.
(%)
(Ton)
Pertumb.
(%)
(Ton) Pertumb. (%) (Ton)
Pertumb.
(%)
1977 294 0 1 295
1978 418 42.18 0 - 0 -100.00 418 41.69
1979 726 73.68 0 - 0 - 726 73.68
1980 755 3.99 0 - 6 - 761 4.82
1981 663 -12.19 0 - 13 116.67 676 -11.17
1982 456 -31.22 0 - 10 -23.08 466 -31.07
1983 602 32.02 0 - 15 50.00 617 32.40
1984 519 -13.79 0 - 1 -93.33 520 -15.72
1985 1,031 98.65 0 - 0 -100.00 1,031 98.27
1986 1,230 19.30 0 - 6 - 1,236 19.88
1987 1,832 48.94 0 - 4 -33.33 1,836 48.54
1988 2,449 33.68 0 - 4 0.00 2,453 33.61
1989 2,004 -18.17 0 - 5 25.00 2,009 -18.10
1990 1,252 -37.52 0 - 5 0.00 1,257 -37.43
1991 1,179 -5.83 0 - 5 0.00 1,184 -5.81
1992 1,569 33.08 0 - 4 -20.00 1,573 32.85
1993 1,521 -3.06 0 - 7 75.00 1,528 -2.86
1994 1,762 15.84 0 - 8 14.29 1,770 15.84
1995 2,020 14.64 0 - 10 25.00 2,030 14.69
1996 2,042 1.09 0 - 9 -10.00 2,051 1.03
1997 2,026 -0.78 0 - 9 0.00 2,035 -0.78
1998 1,873 -7.55 0 - 17 88.89 1,890 -7.13
1999 1,791 -4.38 0 - 1 -94.12 1,792 -5.19
2000 1,680 -6.20 0 - 1 0.00 1,681 -6.19
2001 2,196 30.71 0 - 2 100.00 2,198 30.76
2002 2,730 24.32 0 - 1 -50.00 2,731 24.25
2003 1,658 -39.27 0 - 1 0.00 1,659 -39.25
2004 2,222 34.02 0 - 30 2,900.00 2,252 35.74
2005 2,315 4.19 0 - 51 70.00 2,366 5.06
2006 3,738 61.47 0 - 30 -41.18 3,768 59.26
2007 3,176 -15.03 0 - 1 -96.67 3,177 -15.68
2008*) 3,180 0.13 0 - 2 100.00 3,182 0.16
1977-2008 12.16 - 103.68 12.13
1977-1997 14.73 - -4.34 14.72
1998-2008 7.49 - 270.63 7.43
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan
Keterangan : *) Angka Sementara PBN = Perkebunan Besar Negara
PR = Perkebunan Rakyat PBS = Perkebunan Besar Swasta
Rata-rata Pertumbuhan (%)
Tahun
PR PBN PBS Indonesia


» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

162
Lampiran 7.3. Provinsi Sentra Produksi Panili di Indonesia, 2004 - 2008

2004 2005 2006 2007 2008*) Rata-rata
1 Sulawesi Selatan 614 697 702 719 719 690 23.40 23.40
2 Nusa Tenggara Timur 501 507 611 452 452 505 17.11 40.52
3 Sulawesi Utara 373 328 266 509 509 397 13.46 53.98
4 Jawa Timur 96 104 909 185 185 296 10.03 64.01
5 Jawa Barat 199 204 509 255 255 284 9.64 73.65
6 Sulawesi Tengah 89 83 102 241 241 151 5.13 78.78
Provinsi Lainnya 380 443 669 816 821 626 21.22 100.00
Indonesia 2,252 2,366 3,768 3,177 3,182 2,949 100.00
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka Sementara
Share
Kumulatif
(%)
Share (%) No. Provinsi
Produksi (Ton)


» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

163
Lampiran 7.4. Perkembangan Harga Rata-rata Panili di Pasar Domestik,
1987 – 2008*)

Tahun Harga (Rp/Kg) Pertumbuhan (%)
1987 40,658
1988 27,088 -33.38
1989 31,514 16.34
1990 33,087 4.99
1991 32,628 -1.39
1992 56,472 73.08
1993 52,398 -7.21
1994 62,761 19.78
1995 66,611 6.13
1996 50,500 -24.19
1997 60,531 19.86
1998 54,026 -10.75
1999 55,118 2.02
2000 79,871 44.91
2001 301,333 277.27
2002 275,833 -8.46
2003 269,958 -2.13
2004 231,938 -14.08
2005 523,601 125.75
2006 226,551 -56.73
2007 272,726 20.38
2008 300,277 10.10
1987-2008 22.01
1987-2000 8.48
2001-2008 44.01
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan
Keterangan : *) Jenis mutu : polong kering
Rata-rata Pertumbuhan (%)



» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

164
Lampiran 7.5. Perkembangan Ekspor Impor Panili Indonesia, 2000-2008

Neraca
Volume Pertumb. Nilai Pertumb. Volume Pertumb. Nilai Pertumb. Perdagangan
(Ton) (%) (000 US$) (%) (Ton) (%) (000 US$) (%) (000 US$)
2000 350 8,503 59 766 7,736
2001 469 33.96 19,309 127.10 229 289.78 868 13.24 18,442
2002 3,598 667.33 19,160 -0.77 1,515 560.60 1,347 55.20 17,814
2003 6,363 76.83 19,275 0.60 117 -92.31 3,732 177.11 15,543
2004 741 -88.35 16,502 -14.39 34 -70.64 2,430 -34.88 14,071
2005 278 -62.53 5,347 -67.60 54 57.46 205 -91.55 5,141
2006 499 79.74 5,892 10.19 57 5.06 275 33.68 5,617
2007 540 8.14 6,066 2.95 10 -81.68 27 -90.01 6,038
2008 421 -21.93 5,565 -8.26 151 1,354.79 228 730.85 5,337
Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Pusdatin
Ekspor Impor
Tahun


» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

165
Lampiran 7.6. Perkembangan Luas Tanaman Menghasilkan, Produksi dan
Produktivitas Panili Dunia, 1970-2007

(Ha) Pertumb. (%) (Ton) Pertumb. (%) (Kg/Ha) Pertumb. (%)
1970 11,095 1,736 156.47
1971 11,756 5.96 2,337 34.62 198.79 27.05
1972 15,525 32.06 2,398 2.61 154.46 -22.30
1973 15,725 1.29 2,082 -13.18 132.40 -14.28
1974 15,005 -4.58 2,844 36.60 189.54 43.15
1975 15,733 4.85 3,136 10.27 199.33 5.16
1976 14,711 -6.50 1,586 -49.43 107.81 -45.91
1977 12,948 -11.98 1,939 22.26 149.75 38.90
1978 12,714 -1.81 1,989 2.58 156.44 4.47
1979 12,201 -4.03 1,740 -12.52 142.61 -8.84
1980 28,689 135.14 1,983 13.97 69.12 -51.53
1981 27,846 -2.94 2,390 20.52 85.83 24.17
1982 28,119 0.98 2,795 16.95 99.40 15.81
1983 29,142 3.64 2,811 0.57 96.46 -2.96
1984 29,804 2.27 3,243 15.37 108.81 12.81
1985 32,906 10.41 3,024 -6.75 91.90 -15.54
1986 33,931 3.11 2,542 -15.94 74.92 -18.48
1987 35,819 5.56 4,093 61.01 114.27 52.53
1988 36,754 2.61 4,861 18.76 132.26 15.74
1989 38,477 4.69 4,437 -8.72 115.32 -12.81
1990 40,905 6.31 3,150 -29.01 77.01 -33.22
1991 35,925 -12.17 3,217 2.13 89.55 16.28
1992 42,483 18.25 3,562 10.72 83.85 -6.37
1993 36,220 -14.74 4,230 18.75 116.79 39.29
1994 34,611 -4.44 3,529 -16.57 101.96 -12.69
1995 35,982 3.96 3,821 8.27 106.19 4.15
1996 38,654 7.43 4,117 7.75 106.51 0.30
1997 39,986 3.45 3,988 -3.13 99.73 -6.36
1998 40,600 1.54 4,556 14.24 112.22 12.52
1999 38,752 -4.55 4,348 -4.57 112.20 -0.01
2000 37,880 -2.25 3,992 -8.19 105.39 -6.07
2001 38,581 1.85 4,677 17.16 121.23 15.03
2002 38,777 0.51 5,133 9.75 132.37 9.20
2003 39,217 1.13 4,638 -9.64 118.27 -10.66
2004 38,896 -0.82 6,100 31.52 156.83 32.61
2005 76,405 96.43 7,951 30.34 104.06 -33.64
2006 76,680 0.36 8,286 4.21 108.06 3.84
2007 77,075 0.52 8,438 1.83 109.48 1.31
1970-2007 7.66 6.35 1.96
1970-1997 6.99 5.50 1.80
1998-2007 9.47 8.67 2.41
Sumber : F A O
Luas Tanaman Menghasilkan Produksi Produktivitas
Tahun
Rata-rata Pertumbuhan (%/tahun)

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

166
Lampiran 7.7. Negara dengan Luas Tanaman Menghasilkan Panili Terbesar Dunia,
2003 – 2007

2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata
1 Madagaskar 26,050 26,220 63,764 64,000 64,000 48,807 77.17 77.17
2 Indonesia 8,935 9,302 9,884 11,428 13,829 10,676 16.88 94.05
3 China 1,200 1,200 1,300 1,400 1,500 1,320 2.09 96.14
4 Mexico 826 575 681 710 750 708 1.12 97.26
5 Negara Lainnya 1,925 1,685 1,660 1,570 1,825 1,733 2.74 100.00
Dunia 38,936 38,982 77,289 79,108 81,904 63,244 100.00
Sumber : F A O
Luas Tanaman Menghasilkan (Ha)
Negara No.
Share
(%)
Share
Kumulatif
(%)


Lampiran 7.8. Negara Produsen Panili Terbesar Dunia, 2003 – 2007

2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata
1 Indonesia 1,659 2,252 2,366 3,768 3,177 2,644 41.89 41.89
2 Madagaskar 525 839 2,613 2,534 2,600 1,822 28.87 70.76
3 China 800 900 1,000 1,200 1,350 1,050 16.63 87.40
4 Mexico 240 177 251 291 350 262 4.15 91.55
5
Negara Lainnya 698 484 487 561 438 534 8.45 100.00
Dunia 3,922 4,652 6,717 8,354 7,915 6,312 100.00
Sumber : F A O
No. Negara
Produksi (Ton)
Share (%)
Share
Kumulatif
(%)









» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 »
Pusat Data dan Informasi Pertanian

167
VIII. PALA

Pala (Myristica fragrans) merupakan tanaman asli Indonesia dari Pulau
Banda (Maluku). Buah dan biji pala merupakan bahan rempah-rempah yang
sangat terkenal didunia sejak awal abad ke 16. Para pelaut dan pedagang
Portugis dan Spanyol adalah bangsa asing yang paling awal menemukan
kepulauan Maluku, yang kemudian disusul oleh pelaut Inggris dan Belanda
(www.zonaanak.com).
Pala termasuk tanaman berumah dua, pohon jantan dan betina, daunnya
berbentuk elips langsing. Buahnya berbentuk lonjong seperti lemon, berdaging
dan beraroma khas karena mengandung minyak atsiri. Satu buah menghasilkan
satu biji berwarna coklat. Tumbuhnya mencapai 20 m, dan usianya mencapai
ratusan tahun. Pala diperdagangkan dalam bentuk buah, fuli dan biji pala
(www.ditjenbun.deptan.go.id).
Pada awalnya, pohon pala sangat terbatas penyebarannya di Maluku
sehingga menjadi komoditas yang mudah dimonopoli oleh Vereenidge Oost-
Indische Compagnie (VOC).Tetapi pada tahun 1772 Pierre Poivre seorang botani
asal Perancis berhasil menyelundupkan 3.000 batang pala yang kemudian
ditanam di Mauritius, kemudian menyebar ke Penang (Malaysia), India dan
Srilanka sampai ke Grenada (Amerika Tengah) yang hingga kini menjadi negara
penghasil pala terbesar ke 2 di dunia setelah Indonesia (www.zonanak.com).
Buah pala mengandung zat-zat : minyak terbang (myristin, pinen, kamfen
(zat membius), dipenten, pinen safrol, eugenol, iso-eugenol, alkohol), gliseda
(asam-miristinat, asam-oleat, borneol, giraniol), protein, lemak, pati gula,
vitamin A, B1 dan C. Minyak tetap mengandung trimyristin. Biji pala dikenal
sebagai Myristicae Semen yang mengandung biji Myristica Fragrans dengan
lapisan kapur, setelah fulinya disingkirkan. Bijinya mengandung minyak terbang,
dan memiliki wangi dan rasa aromatis yang agak pahit. Sebanyak 8 - 17% minyak
terbang yang ditawarkan merupakan bahan yang terpenting pada fuli. Kegunaan
khusus dari biji Pala, yarg dikenal sebagai Nux moschata M.moschata adalah
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

168
168
sebagai obat homoeo-pathi. Biji kerasnya setelah dicuci untuk menghilangkan
kapurnya, dibuat menjadi tinktur (direndam dalam alkohol) atau tepung. Obat
homoeopathis berguna untuk mengobati sakit histeri, sembelit, mencret dan
penyakit sulit tidur atau perut kembung (www.asiamaya.com).

8.1. PERKEMBANGAN LUAS AREAL, PRODUKSI, DAN PRODUKTIVITAS
PALA DI INDONESIA


Gambar 8.1. Perkembangan Luas Areal Pala di Indonesia, 1967-2007

Perkembangan total luas areal pala di Indonesia sejak tahun 1967 hingga
2007 relatif berfluktuatif namun cenderung mengalami peningkatan. Selama
kurun waktu tersebut, total luas areal pala di Indonesia meningkat dari 12.742 ha
pada tahun 1967 menjadi 74.530 ha pada tahun 2007 atau meningkat rata-rata
5,35% per tahun (Gambar 8.1 dan Lampiran 8.1).
Berdasarkan status pengusahaannya sejak tahun 1967 hingga tahun 2007
(rata-rata), 97,72% perkebunan pala di Indonesia diusahakan oleh rakyat (PR).
Sedangkan sisanya sebesar 2,17% dikelola oleh perkebunan besar negara (PBN)
dan sebesar 0,29% dikelola oleh perkebunan swasta (PBS) (Gambar 8.2).
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 »
Pusat Data dan Informasi Pertanian

169

Gambar 8.2. Kontribusi Rata-rata Luas Areal Perkebunan Pala di Indonesia
Menurut Status Pengusahaan, (Rata-rata 1967 – 2008)

Produksi pala di Indonesia adalah dalam bentuk biji pala. Pada Gambar 8.3
terlihat perkembangan produksi biji pala yang cenderung meningkat dari tahun
1967 hingga tahun 2002, walaupun sempat terjadi penurunan yang sangat tinggi
pada tahun 1999 sebesar 30,53% (Lampiran 8.2). Pada tahun 2000 produksi biji
pala di Indonesia kembali meningkat namun pada tahun 2004 terjadi penurunan
yang sangat signifikan hingga mencapai 53,41%, begitu pula pada tahun 2005
yang turun sebesar 20,87%. Rata-rata pertumbuhan produksi biji pala nasional
pada kurun waktu 1967-2007 sebesar 3,92%. Pertumbuhan yang sangat tinggi
pada kurun waktu tersebut terjadi pada perkebunan besar negara (PBN) sebesar
100,78% (Lampiran 8.3).

Gambar 8.3. Perkembangan Produksi Pala di Indonesia, 1967-2007

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

170
170
Berdasarkan rata-rata produksi biji pala tahun 2003-2007, ada tujuh
provinsi sebagai sentra produksi biji pala di Indonesia yang memberikan
kontribusi sebesar 93,65% dari total produksi biji pala di Indonesia. Maluku Utara
merupakan provinsi dengan rata-rata produksi biji pala terbesar yakni 2,93 ribu
ton atau berkontribusi sebesar 24,53% terhadap total produksi biji pala nasional,
disusul Nangro Aceh Darusalam, Sulawesi Utara, Maluku, Sumatera barat, Papua,
dan Jawa Barat seperti terlihat pada Gambar 8.4. Produksi biji pala pada provinsi
sentra beserta besarnya kontribusi secara rinci dapat dilihat pala Lampiran 8.3.


Gambar 8.4. Provinsi Sentra Produksi Pala di Indonesia, (Rata-rata 2003-2007)

Berbeda dengan perkembangan luas areal, perkembangan produktivitas
pala di Indonesia sejak tahun 1994 hingga 2007 cenderung menurun (Gambar
8.5). Hal inilah yang menyebabkan produksi pada kurun waktu tersebut juga
mengalami penurunan. Peningkatan produktivitas pala yang cukup signifikan
terjadi pada tahun 2006, setelah terjadi penurunan yang cukup drastic pada
tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan produktivitas yang terjadi pada tahun
2006 ini yang menyebabkan rata-rata perkembangan produktivitas pala nasional
sejak tahun 1994 hingga 2007 sedikit meningkat yakni sebesar 1,29% per tahun.
Pertumbuhan produktivitas nasional juga didongkrak oleh pertumbuhan PBN
yakni sebesar 191,45% per tahunnya. Sementara produktivitas PR yang
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 »
Pusat Data dan Informasi Pertanian

171
merupakan pengelola perkebunan pala terbesar di Indonesia mengalami
penurunan produktivitas sebesar 3,83% per tahunnya (Tabel 8.1).


Gambar 8.5. Perkembangan Produktivitas Pala di Indonesia,1994 – 2007

Berdasarkan angka rata-rata produktivitas pala tahun 1994 hingga tahun
2007 PR memiliki rata-rata produktivitas sebesar 480,21 kg/ha. Secara nasional,
produktivitas pala di Indonesia adalah sebesar 411,86 kg/ha (Gambar 8.6). Secara
rinci rata-rata pertumbuhan produktivitas lada pada periode 1994-2007 di
Indonesia menurut jenis usaha perkebunan tersaji pada Tabel 8.1.

0,00
50,00
100,00
150,00
200,00
250,00
300,00
350,00
400,00
450,00
PR PBN PBS Indonesia
430,21 %
108,36 %
322,20 %
411,86 %


Gambar 8.6. Rata-rata Produktivitas Pala Menurut Status Pengusahaan, (Rata-
rata 1994 – 2007)




» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

172
172
Tabel 8.1. Perkembangan Produktivitas Pala Menurut Status Pengusahaan,
1994 – 2007

(Kg/ha)
Pertumb.
%
(Kg/ha)
Pertumb.
%
(Kg/ha)
Pertumb.
%
(Kg/ha)
Pertumb.
%
1994 528 198 173 524
1995 507 -3.98 135 -31.82 188 8.67 503 -4.01
1996 495 -2.37 138 2.22 352 87.23 488 -2.98
1997 489 -1.21 135 -2.17 361 2.56 482 -1.23
1998 461 -5.73 25 -81.48 361 0.00 456 -5.39
1999 483 4.77 17 -32.00 361 0.00 476 4.39
2000 480 -0.62 447 2529.41 400 10.80 480 0.84
2001 534 11.25 23 -94.85 340 -15.00 530 10.42
2002 562 5.24 30 30.43 346 1.76 558 5.28
2003 537 -4.45 43 43.33 340 -1.73 533 -4.48
2004 244 -54.56 42 -2.33 0 -100.00 139 -73.92
2005 216 -11.48 97 130.95 0 118 -15.11
2006 242 12.04 93 -4.12 0 238 101.69
2007 245 1.24 94 1.08 0 241 1.26
1994-2007 430.21 -3.83 108.36 191.43 322.20 10.48 411.86 1.29
Sumber : Ditjen Perkebunan
Keterangan : PR = Perkebunan Rakyat PBS = Perkebunan Swasta
PBN = Perkebunan Besar Negara
Rata-rata
PR PBN PBS Indonesia
Tahun

8.2. PERKEMBANGAN KONSUMSI PALA DI INDONESIA
Data konsumsi pala di Indonesia bersumber dari hasil Survei Sosial Ekonomi
Nasional (Susenas) yang dilakukan Oleh Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 3 tahun
sekali. Berdasarkan gambar 8.7 di bawah, konsumsi pala perkapita pertahun di
Indonesia pada periode 1087 hingga 2007 sangat fluktuatif. Secara rataan
pertumbuhan konsumsi pala pada peride tersebut meningkat sebesar 38,10%
pertahunnya (Tabel 8.2). Konsumsi pala ini merupakan konsumsi rumah tangga,
bukan konsumsi industri. Pala yang dikonsumsi oleh masyarakat ini adalah biji
pala, bukan daging buah pala segarnya ataupun olahan daging buahnya. Artinya
bahwa pertumbuhan konsumsi biji pala sebesar 38,10% pertahun umumnya
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 »
Pusat Data dan Informasi Pertanian

173
dikonsumsi hanya sebagai bahan penyedap atau bumbu dapur saja.

Gambar 8.7. Perkembangan Konsumsi Pala di Indonesia, 1987-2007

Tabel 8.2. Perkembangan Konsumsi Biji Pala di Indonesia, 1987 – 2007


Konsumsi
Pertumbuhan
(kg/kapita)
(%)
1987 0.521
1990 1.043 100.00
1993 1.043 0.00
1996 1.564 50.00
1999 1.043 -33.33
2002 1.043 0.00
2004 0.521 -50.00
2007 1.564 200.00
1987-2007 38.10
Sumber : BPS, diolah Pusdatin
Rata-rata Pertumbuhan
Tahun



» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

174
174
8.3. PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PALA DI INDONESIA
Perkembangan volume ekspor pala di Indonesia terlihat meningkat sejak
tahun 1996 hingga tahun 2006 seperti terlihat pada Gambar 8.8, walaupun
sempat terjadi penurunan yang cukup signifikan sebesar 23,77% pada tahun 2001
menjadi 7,97 ribu ton dari sebesar 10,46 ribu ton pada tahun 2000. Pada tahun
2002 ekspor pala kembali meningkat hingga tahun 2006, namun kemudian volume
ekspor pala tersebut kembali turun pada tahun 2007 hingga 2008 dengan rata-
rata pertumbuhan sebesar 5,81% pertahun, sementara nilai ekspor tumbuh
sebesar 16, 56% pertahun pada periode 1996-2008. Bentuk ekspor pala adalah
pala berkulit, pala kupasan dan bunga pala. Perkembangan ekspor pala secara
lengkap tersaji pada Lampiran 8.4.

Gambar 8.8. Perkembangan Volume Ekspor Pala Indonesia, 1996 - 2008


Gambar 8.9. Perkembangan Volume Impor Pala Indonesia, 1996 - 2008
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 »
Pusat Data dan Informasi Pertanian

175
Berbeda dengan tren perkembangan volume ekspor, perkembangan volume
impor pala pada periode 1996- 2008 berdasarkan Gambar 8.9 sangatlah
berfluktuatif. Wujud pala yang diimpor sama dengan wujud pala yang diekspor
yaitu pala berkulit, pala kupasan, dan bunga pala. Rata-rata pertumbuhan
volume impor pala pada periode 1996-2008 sebesar 103,60% pertahun, jauh lebih
tinggi dibandingkan pertumbuhan volume ekspornya walaupun secara kuantitatif
volume ekspor jauh lebih besar. Seperti halnya volume impor, rata-rata
pertumbuhan nilai impor pala cukup tinggi yaitu sebesar 65,35% pertahun pada
periode yang sama. Pertumbuhan yang cukup tinggi ini dapat disebabkan
tingginya nilai pertumbuhan impor pala pada tahun 2003 yaitu sebesar 422,22%,
padahal pada tahun yang sama pertumbuhan volume impor turun sebesar 61,11%.
Dilihat dari rata-rata pertumbuhan nilai impornya yang begitu tinggi, dapat
diartikan bahwa kualitas pala impor cukuplah tinggi. Walupun pertumbuhan
impor pala jauh lebih tinggi dari ekspor pala, namun bila dilihat dari neraca
perdagangan pala yang positif (surplus) menandakan bahwa peluang usaha tani
pala di Indonesia sangatlah prospektif, dan bila dilihat dari sejarah memang pala
adalah tanaman asli Indonesia yang berasal dari Pulau Banda (Maluku). Secara
rinci perkembangan ekspor dan impor pala dapat dilihat pada Lampiran 8.4.

8.4. PROYEKSI PENAWARAN BIJ I PALA, TAHUN 2008-2010

Proyeksi panawaran pala di Indonesia dilakukan hanya dengan
menggunakan satu pendekatan yaitu produksi. Pada analisis ini dilakukan
pemodelan berdasarkan series data produksi tahunan. Proyeksi dilakukan dengan
menggunakan software Minitab seri 13.1, dengan model terbaik yang diperoleh
adalah Quadratik, dengan Mape sebesar 18,37. Hasil proyeksi disajikan pada
Tabel 8.3.



» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

176
176
Tabel 8.3. Proyeksi Produksi Biji Pala Indonesia, Tahun 2008-2010
Tahun Produksi (Ton) Pertumbuhan (%)
2008 11,528
2009 10,719 -7.02
2010 9,864 -7.98
-7.50 Rata-rata pertumbuhan (%)

Hasil proyeksi produksi biji pala diperkirakan pada tahun 2009 terjadi
penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan produksi
diperkirakan terus terjadi hingga pada tahun 2010 menjadi 9,86 ribu ton. Rata-
rata penurunan produksi pala dari tahun 2008 – 2010 diperkirakan sebesar 7,50%
per tahun, walaupun sebenarnya produksi pala diperkirakan meningkat pada
tahun 2008 menjadi 11,53 ribu ton dari sebesar 9,32 ribu ton pada tahun 2007
(Tabel 8.3). Bila dilihat dari rata-rata pertumbuhan produktivitas PR (karena
berdasarkan data produksi, 98,99% perkebunan pala di Indonesia diusahakan oleh
rakyat) yang turun sebesar 3,83% pertahun sejak tahun 1994 hingga 2007 (Tabel
8.1), hal ini sejalan dengan tendensi produksi pala yang terus menurun. Ini
terjadi diduga karena perkebunan pala yang ada di Indonesia, dan sentra
produksi adalah Maluku Utara (24,53%) sudah sangat tua dan kurang perawatan,
sehingga produktivitas berkurang.

8.5. PROYEKSI PERMINTAAN BIJ I PALA, TAHUN 2008-2010

Proyeksi permintaan pala nasional didekati melalui indikator konsumsi
nasional biji pala. Hasil pemodelan analisis fungsi permintaan konsumsi diperoleh
model termaik adalah Double Exponential Smoothing dengan nilai MAPE sebesar
23,651. Dengan menggunakan model tersebut, maka dilakukan proyeksi
permintaan konsumsi biji pala Indonesia seperti tersaji pada Tabel 8.4.
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 »
Pusat Data dan Informasi Pertanian

177
Tabel 8.4. Proyeksi Konsumsi Biji Pala Indonesia, 2008 - 2010

Tahun
Konsumsi per kapita
(Kg/kapita)
Jumlah penduduk
(000 orang)
Konsumsi nasional
(Ton)
Pertumbuhan
(%)
2008 0.017 229,117 3,895
2009 0.017 231,843 3,941 1.19
2010 0.017 234,602 3,988 1.19
1.19 Rata-rata pertumbuhan (%)

Berdasarkan hasil proyeksi seperti yang tersaji pada Tabel 8.4, konsumsi
biji pala nasional diperkirakan akan terus meningkat sebesar 1,19% per tahun
hingga tahun 2010. Pada tahun 2008 konsumsi biji pala Indonesia diperkirakan
sebesar 3.895 ton, dan akan terus meningkat hingga mencapai 3.988 ton pada
tahun 2010. Tendensi peningkatan konsumsi biji pala nasional diperkirakan
karena memang jumlah penduduk Indonesia yang terus mengalami peningkatan.

8.6. PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT BIJ I PALA, TAHUN 2008-2010

Berdasarkan hasil perhitungan fungsi penawaran dan fungsi permintaan,
maka diperoleh proyeksi penawaran dan permintaan biji pala nasional tahun 2008
hingga tahun 2010, namun surplus biji pala terlihat semakin berkurang.
Perhitungan ini hanya untuk konsumsi biji pala saja. Berdasarkan hasil
perhitungan tersebut, seperti tersaji pada Tabel 8.5, pada tahun 2008
diperkirakan ketersediaan biji pala di Indonesia masih mengalami surplus sekitar
7.633 ton. Surplus biji pala Indonesia terlihat semakin berkurang hingga tahun
2010, dan diperkirakan akan menjadi sebesar 5.876 ton pada tahun 2010. Surplus
» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

178
178
biji pala tersebut diperkirakan merupakan permintaan industri dan ekspor pala
nasional.
Tabel 8.5. Proyeksi Surplus/Defisit Biji Pala Indonesia, 2008-2010
Tahun Produksi (Ton) Konsumsi (Ton)
Surplus/Defisit
(Ton)
2008 11,528 3,895 7,633
2009 10,719 3,941 6,778
2010 9,864 3,988 5,876






» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 »
Pusat Data dan Informasi Pertanian

179
Lampiran 8.1. Perkembangan Luas Areal Pala Menurut Jenis Pengusahaan,
1967 – 2007

Tahun P R Pertumb. P B N Pertumb. P B S Pertumb. Nasional Pertumb.
% % % %
1967 12.742 - - - - 12.742
1968 14.169 11,20 - - - - 14.169 11,20
1969 19.724 39,21 2.335 - - 22.059 55,68
1970 23.576 19,53 1.891 -19,01 - - 25.467 15,45
1971 26.600 12,83 2.080 9,99 - - 28.680 12,62
1972 27.932 5,01 2.286 9,90 - - 30.218 5,36
1973 30.349 8,65 2.261 -1,09 - - 32.610 7,92
1974 42.534 40,15 1.934 -14,46 - - 44.468 36,36
1975 47.008 10,52 2.325 20,22 - - 49.333 10,94
1976 48.676 3,55 1.993 -14,28 - - 50.669 2,71
1977 57.322 17,76 2.098 5,27 303 59.723 17,87
1978 52.595 -8,25 2.118 0,95 303 0,00 55.016 -7,88
1979 57.360 9,06 2.118 0,00 497 64,03 59.975 9,01
1980 55.548 -3,16 1.879 -11,28 500 0,60 57.927 -3,41
1981 57.052 2,71 1.002 -46,67 497 -0,60 58.551 1,08
1982 55.928 -1,97 1.815 81,14 494 -0,60 58.237 -0,54
1983 59.579 6,53 1.700 -6,34 - - 61.279 5,22
1984 60.028 0,75 904 -46,82 168 - 61.100 -0,29
1985 57.781 -3,74 729 -19,36 161 -4,17 58.671 -3,98
1986 62.307 7,83 729 0,00 63 -60,87 63.099 7,55
1987 64.008 2,73 620 -14,95 24 -61,90 64.652 2,46
1988 63.143 -1,35 548 -11,61 25 4,17 63.716 -1,45
1989 64.205 1,68 620 13,14 30 20,00 64.855 1,79
1990 66.270 3,22 510 -17,74 26 -13,33 66.806 3,01
1991 69.166 4,37 785 53,92 - -100,00 69.951 4,71
1992 68.714 -0,65 785 0,00 - - 69.499 -0,65
1993 62.196 -9,49 710 -9,55 - - 62.906 -9,49
1994 61.975 -0,36 710 0,00 182 62.867 -0,06
1995 59.053 -4,71 710 0,00 191 4,95 59.954 -4,63
1996 59.146 0,16 708 -0,28 191 0,00 60.045 0,15
1997 57.488 -2,80 708 0,00 191 0,00 58.387 -2,76
1998 58.828 2,33 534 -24,58 182 -4,71 59.544 1,98
1999 43.454 -26,13 534 0,00 182 0,00 44.170 -25,82
2000 63.349 45,78 502 -5,99 182 0,00 64.033 44,97
2001 58.945 -6,95 302 -39,84 182 0,00 59.429 -7,19
2002 61.090 3,64 302 0,00 166 -8,79 61.558 3,58
2003 67.859 11,08 302 0,00 166 0,00 68.327 11,00
2004 73.425 8,20 1.113 268,54 - - 74.538 9,09
2005 68.102 -7,25 1.113 0,00 - - 69.215 -7,14
2006 67.480 -0,91 1.113 0,00 - - 68.593 -0,90
2007 73.417 8,80 1.113 0,00 - - 74.530 8,66
1967-2007 5,24 4,08 -4,24 5,35
1967-1997 5,70 -1,34 -5,28 5,86
1998-2007 3,86 19,81 -1,35 3,82
Sumber : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin
Ket : PR : Perkebunan Rakyat
PBN : Perkebunan Besar Negara
PBS : Perkebunan Swasta
Luas Areal (Ha)
Rata-rata Laju Pertumbuhan


» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «
Pusat Data dan Informasi Pertanian

180
180
Lampiran 8.2. Perkembangan Produksi Biji Pala Menurut Jenis Pengusahaan,
1967 – 2007

Tahun P R Pertumb. P B N Pertumb. P B S Pertumb. Nasional Pertumb.
% % % %
1967 6.350 - - 6.350
1968 7.470 17,64 - - 7.470 17,64
1969 7.998 7,07 160 - 8.158 9,21
1970 9.389 17,39 223 39,38 - 9.612 17,82
1971 4.846 -48,39 159 -28,70 - 5.005 -47,93
1972 10.158 109,62 284 78,62 - 10.442 108,63
1973 10.570 4,06 313 10,21 - 10.883 4,22
1974 12.943 22,45 274 -12,46 - 13.217 21,45
1975 14.292 10,42 342 24,82 - 14.634 10,72
1976 14.092 -1,40 282 -17,54 - 14.374 -1,78
1977 18.881 33,98 255 -9,57 2 19.136 33,13
1978 16.081 -14,83 255 0,00 - 16.338 -14,62
1979 17.764 10,47 188 -26,27 - 17.952 9,88
1980 18.158 2,22 195 3,72 - 18.353 2,23
1981 18.382 1,23 211 8,21 10 18.593 1,31
1982 14.908 -18,90 120 -43,13 - 15.038 -19,12
1983 14.531 -2,53 246 105,00 - 14.777 -1,74
1984 17.902 23,20 57 -76,83 23 18.060 22,22
1985 14.184 -20,77 38 -33,33 28 21,74 14.245 -21,12
1986 15.004 5,78 46 21,05 22 -21,43 15.078 5,85
1987 15.342 2,25 58 26,09 4 -81,82 15.422 2,28
1988 14.614 -4,75 99 70,69 5 25,00 14.717 -4,57
1989 15.092 3,27 117 18,18 7 40,00 15.214 3,38
1990 16.838 11,57 38 -67,52 6 -14,29 16.883 10,97
1991 16.278 -3,33 43 13,16 - - 16.327 -3,29
1992 17.220 5,79 70 62,79 - - 17.316 6,06
1993 20.292 17,84 17 -75,71 - - 20.335 17,43
1994 18.981 -6,46 101 494,12 100 - 19.684 -3,20
1995 18.961 -0,11 8 -92,08 100 0,00 19.069 -3,12
1996 18.485 -2,51 5 -37,50 75 -25,00 18.590 -2,51
1997 19.157 3,64 5 0,00 60 -20,00 19.237 3,48
1998 18.359 -4,17 9 80,00 60 0,00 18.428 -4,21
1999 12.736 -30,63 6 -33,33 60 0,00 12.802 -30,53
2000 19.817 55,60 153 2.450,00 40 -33,33 20.030 56,46
2001 21.575 8,87 7 -95,42 34 -15,00 21.622 7,95
2002 23.112 7,12 9 28,57 36 5,88 23.155 7,09
2003 22.190 -3,99 9 0,00 36 0,00 22.235 -3,97
2004 10.266 -53,74 94 944,44 - - 10.360 -53,41
2005 8.100 -21,10 98 4,26 - - 8.198 -20,87
2006 8.849 9,25 94 -4,08 - - 8.943 9,09
2007 9.224 4,24 94 0,00 - - 9.318 4,19
1967-2007 3,93 100,78 -5,14 3,92
1967-1997 6,20 16,26 -5,83 6,16
1998-2007 -2,85 337,44 -4,25 -2,82
Sumber : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin
Ket : PR : Perkebunan Rakyat
PBN : Perkebunan Besar Negara
PBS : Perkebunan Swasta
Produksi (Ton)
Rata-rata Laju Pertumbuhan

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 »
Pusat Data dan Informasi Pertanian

181
Lampiran 8.3. Provinsi Sentra Produksi Biji Pala di Indonesia, 2003-2007

No. Provinsi Rata-rata Share Komulatif
2003 2004 2005 2006 2007 Produksi (%) Share (%)
1 Malut 4.501 2.342 2.648 2.680 2.480 2.930 24,53 24,53
2 NAD 5.053 1.876 1.844 2.171 2.294 2.648 22,17 46,70
3 Sulut 3.752 1.318 587 1.212 1.656 1.705 14,27 60,97
4 Maluku 1.946 1.123 1.099 1.125 1.125 1.284 10,75 71,72
5 Sumbar 2.279 1.077 911 663 692 1.124 9,41 81,13
6 Papua 2.970 1.508 8 8 8 900 7,54 88,67
7 Jabar 799 557 525 531 565 595 4,98 93,65
8 Sulsel 620 277 356 59 290 320 2,68 96,33
9 Sultra 34 22 1.020 20 21 223 1,87 98,21
285 177 202 220 188 214 1,79
22.239 10.277 9.200 8.689 9.319 11.945
Sumber : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin
Produksi (Ton)
Nasional
Lainnya


Lampiran 8.4. Perkembangan Ekspor-Impor Pala di Indonesia, 1996-2008

Tahun Neraca
Volume Pertumb. Nilai Pertumb. Volume Pertumb. Nilai Pertumb. Perdagangan
(Ton) (%) (000 US$) (%) (Ton) (%) (000 US$) (%) (000 US$)
1996 7.606 14.124 8 22 14.102
1997 7.408 -2,60 16.029 13,49 15 87,50 37 68,18 15.992
1998 9.298 25,51 28.753 79,38 30 87,50 58 56,76 28.695
1999 9.456 1,70 39.077 35,91 73 100,00 40 -31,03 39.037
2000 10.457 10,59 49.139 25,75 32 143,33 94 135,00 49.045
2001 7.971 -23,77 21.369 -56,51 18 -56,16 12 -87,23 21.357
2002 10.117 26,92 30.255 41,58 7 -43,75 18 50,00 30.237
2003 10.762 6,38 29.285 -3,21 54 -61,11 94 422,22 29.191
2004 14.239 32,31 39.666 35,45 28 671,43 105 11,70 39.561
2005 15.293 7,40 39.666 0,00 137 -48,15 239 127,62 39.427
2006 16.702 9,21 50.893 28,30 23 389,29 102 -57,32 50.791
2007 14.656 -12,25 51.047 0,30 36 -83,21 137 34,31 50.910
2008 12.942 -11,69 50.187 -1,68 66 56,52 211 54,01 49.976
1996-2008 5,81 16,56 103,60 65,35
Sumber : BPS diolah Pusdatin
Rata-rata pertumbuhan
Volume Ekspor Nilai Ekspor Volume Impor Nilai Impor

» Outlook Pertanian - Perkebunan 2009 «

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Perkebunan sebagai bagian integral dari sektor pertanian merupakan salah satu sub sektor yang mempunyai peranan penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Peranannya terlihat nyata dalam penerimaan devisa negara melalui ekspor, penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan baku berbagai industri dalam negeri, perolehan nilai tambah dan daya saing serta optimalisasi pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Peranan sub sektor perkebunan bagi perekonomian nasional tercermin dari realisasi pencapaian PDB yang mencapai Rp. 106,19 trilyun (atas dasar harga berlaku) pada tahun 2008 atau berkontribusi 14,89% dari total PDB sektor pertanian secara luas. Sementara, peranan ekspor komoditas perkebunan pada tahun 2008 memberikan sumbangan surplus neraca perdagangan bagi sektor pertanian sebesar US$ 22,83 milyar dimana sub sektor lainnya mengalami defisit. Dalam rangka meningkatkan peran sub sektor perkebunan, Departemen Pertanian telah menyusun rencana strategis beserta program dan kebijakan pembangunan yang terkait secara langsung maupun tidak langsung dengan pengembangan masing-masing komoditas perkebunan. Dalam penyusunan rencana strategis ketersediaan data dan informasi yang berkualitas maka sangat dibutuhkan agar kebijakan yang diputuskan menjadi efektif. Dalam mengemban visi dan misinya, Pusat Data dan Informasi Pertanian (Pusdatin) senantiasa menyediakan data dan informasi yang diperlukan oleh berbagai pihak yang berkecimpung dalam sektor pertanian, seperti penentu kebijakan, asosiasi, akademisi maupun masyarakat umum lainnya. Salah satu produk informasi yang secara reguler dihasilkan oleh Pusdatin adalah Analisis Outlook Perkebunan, yang didalamnya mengulas keragaan data nasional dan situasi global disertai dengan proyeksi penawaran dan permintaan masing-masing komoditas.

Pusat Data dan Informasi Pertanian

1

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->