Anda di halaman 1dari 12

Makna Kata Anak Usia Dini ; Taty Setiaty S3 PAUD 2012 I.

PENDAHULUAN

Pemerolehan bahas pertama rta kaitannya denganperkembangan soial anak dan karemanya juga erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial menjad naggota penuh masyarakat. Bahsa memudahkan anak mengekspreseikan gagasan, kemauang dengna cara yang benar brnar dapat diteriam masyarakat. Bahas merupakan media yangdapat digunakan anak untuk memperoleh nilai nilai budaya, moral dan nilai lain di masyarakat. Sejalan dengan pertumbuhan danperekembangan anak, produk bahasa mereka juga meningkat dalam kuantitas, keluasn, dan kesukarannya. Anak secara bertahap berubahdari melakukan impresi (bahasa pasif) menjadiekspresi (berbagahs aktif) Oleh karena itu perhatian terhado pemerolehan bahasa peda nak menjadi sangat pemnting Pemerolehan bahsa pertama terjadi bila anak yang semuka tanpa bahas kini telah memperoleh satu bahasa. Pemerolehan bahasa menyangkut bagaimana seseorang terotama anak anak belajar bahasa. Pemerolehan tersebut bisa merupakan permulaan

mendadak , atau secara gradual yang muncul dari hasil kematnag dalamperkembangan motorik, sosial, atau kognitif. Terdapat tiga perspektif berbeda yang saling terkait, tentang pemerolehan bahasa anak (Gleason, 2001 :6), yaitu : a. Aliran kognitif percaya bahwa bahasa adalah satu aspek dari kesadaran manusia, dan bahwa anak-anak dalam memperoleh bahasa pada dasar belajar

menempatkan kata-kata kepada konsep-konsep yang mereka sudah miliki. b. Aliran teori infomasi yang mengkaji bahasa juga tertarik pada kesadaran manusia (human cognition) tetapi dari perspektif susunan saraf yang mendukungnya. Mereka melihat anak-anak sebagai pemroses-pemroses informasi. c. Aliran interaksi sosial menekankan motivasi anak untuk berkomunikasi dengan anak-anak lain. Mereka menekankan peran bahwa ciri-ciri spesial dari ujaran lansung anak (CDS) dapat berperan dalam memudahkan perolehan bahasa anakanak.

Sedangkan Jhon N. Bohannon III, Butler University dan Jhon D. Bonuillian, University of Virginia menjelaskan perbedaan pandangan antara kelompok Teori Behavioristik, Teori Pendekatan Linguistik dan Teori Pendekatan Interaksionis sebagai teori besar tentang pemerolehan bahasa (Gleason, 2001: 259-297). Behavioris menganggap bahasa sebagai suatu keterampilan, hakikatnya tidak berbeda dari perilaku lainnya. Berbicara harus di bawah kendali stimuli dalam lingkungan

Makna Kata Anak Usia Dini ; Taty Setiaty S3 PAUD 2012 dengan imitasi, penguatan, dan aproksimasi kinerja matang (dikenal sebagai membentuk). bayi secara bertahap mempelajari bahsa melalui imitasi sura dan penutur yang mereka dengar Teori Interaksi sosial melihat anak-anak dan lingkungan bahasa mereka sebagai suatu sistem yang dinamis, baik yang membutuhkan yang lain untuk (1) komunikasi sosial yang efisien pada setiap titik dalam pengembangan dan (2) meningkatkan keterampilan linguistik anak.Teori ini menekankan kepentingan interaksi bayi dengan perawat dimana pertukaran suara terjadi. Perkembangan pemerolehan bahasa pertama anak pada masa prasekolah dapat dibagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata (ujaran , tanpa artikel, preposisi, infleksi (perubahan nada suara) atau apapun modifikasi gramatikal lainya yang diperlukan oleh bahasa dewasa), tahap dua kata, tahap ujaran permulaan (tahap tata bahasa permulaan) dan tahap kompetensi penuh Secara umum perkembangan keterampilan berbahas pada individu terdiri atas: 1. Fonologi berkenaan dengan bagaimana individu memahami dan menghasilkan bunyi bahasa 2. Sematik: merujuk kepada makna kata atau kombinasi kata 3. Tata Bahasa merujuk pada penguasaankosa kata, aturan yang mengatur bagaimana kata disusun dalam kalimat yang dipahami (sintak) dan aplikasi gramatikal (mofologi) Fokus perhatian dalam tulisan ini adalah makna kata pada anak usia dini.

Makna Kata Anak Usia Dini ; Taty Setiaty S3 PAUD 2012 II. PERKEMBANGAN PENGUASAAN MAKNA KATA PADA ANAK USIA PRASEKOLAH Anak yang sangat muda memahami maksud pragmatis dari ucapan-ucapan orang dewasa sebelum mereka sendiri dapat memahami kata-kata tersebut. Seorang balita yang mulai melepas celananya ketika mendengar ayahnya berkata, sekarang saatnya kamu mandi, dapat merespon berbagai isyarat situasional ini adalah waktu tertentu dari hari tersebut, mereka sedang berada di ruangan tertentu, mereka sedang berada di suatu acara keluarga, atau orang tuanya mungkin sedang menunjuk ke arah bak mandi. Perlu waktu lama bagi anak-anak untuk memahami dan menggunakan kata-kata dengan cara orang dewasa, untuk memecah kata-kata tersebut dari konteksnya dan menggunakannya dalam berbagai situasi. Kemahiran dalam kata-kata, makna kata-kata tersebut, dan kaitan di antara kata-kata itu tidak terjadi begitu saja. Selama waktu berjalannya proses ini, biasa disebut dengan perkembangan semantic. Mengetahui bagaimana orang menerapkan konsep katakata untuk objek dapat memberitahu kita tentang bagaimana mereka merepresentasikan makna konsep. Makna merupakan suatu gambaran mental. Walaupun benar bahwa banyak orang mampu memvisualkan kata-kata, tidak semuanya bisa. Lebih jauh lagi, banyak kata, seperti senang atau cemburu, tidak memiliki referent yang dapat digambarkan. Bahkan meskipun seseorang memiliki gambaran akan suatu kata, misalnya anjing, mungkin menimbulkan suatu gambaran tentang seekor pudel hitam yang anda ketahui, karena siapapun yang mengetahui makna anjing dapat mengenali ratusan anjing yang sebenarnya dengan

beragam ukuran dan bentuk, sehingga gambaran mentalnya haruslah suatu gabungan yang sangat rumit jika memang harus mewakili semua contohnya. Terdapat beberapa pandangan tentang bagaimana anak memakna kata. Barbara Alexander Pann (Gleason, 2001: 129) menyebutkan 1. Pandangan fitur (ciri) semantic adalah bahwa anak-anak mempelajari serangkaian fitur yang berbeda untuk setiap konsep kategori (Clark, 1974). Pada awalnya kata dog dapat dipahami sebagai kata yang berlaku hanya untuk anjing si anak tersebut saja, namun kemudian si anak memahami bahwa makhluk lain juga disebut dog selama makhlukmakhluk tersebut memiliki serangkaian ciri yang kritis. 2. Teori prototype, anak-anak memperoleh prototype, atau konsep utama, ketika mereka memperoleh makna dan nantinya barulah bisa mengenali anggota kategori yang jauh dari prototype. 3. Probabilitas. Ketika pertama kali melihat seekor penguin, anak-anak (dan orang dewasa) akan memutuskan bahwa hewan tersebut mungkin saja seekor burung, karena ia memiliki

Makna Kata Anak Usia Dini ; Taty Setiaty S3 PAUD 2012 banyak ciri burung, seperti paruh dan sayap. Karena itu, walaupun ia tidak terbang atau mengerik, ia masih bisa diangap dalam keanggotaan kategori burung. Selanjutnya Jean Barko Gleason (1998 ) menyebutkan beberapa teori tentang makna kata: a. Teori Referensi: Teori ini mendalilkan bahwa makna sebuah kata adalah objek atau ciri yang penanda. Dengan demikian merujuk pada dunia nyata (yaitu, rujukannya). Demikian juga, istilah-istilah seperti merah, atau bulat, merujuk ciri aktual dari suatu obyek (atau benda), b. Teori ideasional makna Satu pembenaran menyatakan bahwa kata-kata

sebenarnya menunjukkan ide daripada obyek. Menurut filsuf Inggris John Locke (1690/1967, hal 225), "Kata-kata utama dan berhubungan langsung untuk bukan apa-apa, tetapi ide-ide dalam pikiran yang digunanya." c. Teori konvensionalitas,(teori Alternatif) : Makna adalah dalam Domain Publik. Konsep ini dikenal sebagai kecenderungan untuk penggunaan linguistik yang disepakati oleh anggota komunitas. d. Teori-Teori Bentuk (Feature Theory) Teori ini berpendapat konsep dapat

didefinisikan oleh atribut prevalensi dalam sebuah kategori dikenal sebagai . pandangan dekomposisi makna. Konsep dari sekelompok unit kecil yang dinamakan ciri (featur). Jadi tree disusun oleh atribut seperti; punya cabang, tumbuh dari bibit pohon, punya daun, punya akar dll. Pencirian dapat diangggap sebagai unit bermakna itu sendiri (misal merah dapat dimaksudkan sebagai darah dan sebagai konsep darah itu dengan sendirinya).

Anak berpkir bahwa seseorang tidak dapat mengubah nama sesuatu tanpa merubah sifatnya juga; misalnya, banyak anak percaya bahwa jika kita telah memutuskan untuk menyebut anjing dengan kata sapi maka anjing itu akan mulai bersuara sapi (Vygotsky, 1962) Sebagian konsep memiliki batasan yang sangat jelas dan tersusun secara hirarkis, sehingga bisa dimaknai dengan mudah, misalnya, kebanyakan orang dewasa bisa sepakat mengenai apa yang disebut anjing dan apa yang bukan anjing. Namun ada kata yang tidak memiliki makna jelas, seperti konsep warna. Bahkan orang dewasa pun memiliki kesulitan dalam menyepakati nama warna untuk bayangan non vokal (Braisby & Dockrell, 1999). Beberapa makna kata yang biasa muncul pada perkembangan anak usia dini: y Kata benda lebih mudah dipahami dibanding kata kerja, kata fungsi atau kata sifat karena konsep-konsep yang dirujuk oleh kata benda lebih jelas, lebih kongkrit, dan lebih mudah diidentifikasi daripada kata kerja (Gentner, 1983, 1988). Makna kata kerja menuntut seorang anak untuk menemukan aspek mana yang memungkinkan

Makna Kata Anak Usia Dini ; Taty Setiaty S3 PAUD 2012 yang termasuk dan mana yang tidak termasuk. Jadi terdapat kerumitan linguistic dan konseptual dari kata kerja. y Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tidak semua kategori memiliki batasan yang jelas, hal ini membuat pemaknaan anak terhadap objek yang belum dikategorikan secara seragam oleh orang dewasa. menjadi terhambat. y Anak anak cenderung untuk menggunakan kata-kata seperti pengganti semantic untuk kata-kata yang mereka tidak ketahui. y Pada tahap dua-kata, berbagai jenis makna muncul. Misalnya, anak-anak dapat menamakan pelaku dan kata kerja seperti : Daddy eat. Mereka memodifikasi kata benda: Bad doggie. Mereka menspesifikasi sebuah lokasi: Kitty table. Mereka menamakan kata kerja dan objek, menghilangkan subyek: Eat lunch. Pada tahap ini anak-anak mengekspresikan makna-makna dasar tersebut tetapi mereka tidak dapat menggunakan bentuk-bentuk bahasa yang mengindikasikan jumlah, gender, dan tenses. y Anak sering mengalami kesulitan memaknai kata dengan istilah Deictic . Kata deixis berasal dari kata Creek deiktikos mampu menunjukkan makna istilah Deictic menunjukkan orang (misalnya , saya dan Anda), objek (misalnya , sebelum dan dan setelah), dan lokasi (misalnya , di sini di sana) . y Sejak usia yang sangat muda, anak-anak dapat bermain dengan elemen semantic dalam susunan sintaktik untuk efek humoris, seperti pada: Ayah bangga padamu; Nenek bangga padamu Paman Davis bangga padamu; Hamburger tidak bangga padamu, ha ha! (Horgan, 1981). Balita dan anak pra sekolah mengangap permainan kata seperti persajakan dan perkataan yang tidak bermakna, namun disengaja sebagai hal menyenangkan. y Selain bercanda, anak juga telah memahami kalimat ironi, dan penggunaan kalimat sopan, meskipun penggunaan tersebut menjadi jauh lebih fasih dan kurang spesifik dalam konteks dengan usia (Pearson, 1990). Menggunakan dan memahami ironi melibatkan penghargaan bahwa kata-kata dan frase-frase tidak hanya dapat memiliki makna yang berbeda dari makna harfiahnya, namun bahwa makna yang dimaksud oleh si pembicara sebenarnya secara tegas berlawanan dengan apa yang terlihat sebagai makna di permukaan. Ironi adalah yang paling umum digunakan untuk mengekspresikan sarkasme (yaitu, niat untuk mengkritik atau mempermalukan). y Terkadang orang dewasa mengajarkan anak anak untuk menggunakan nama yang tidak benar menurut standar orang dewsa, misalnya, boneka macan tutul biasanya dirujuk sebagai kucing, dan kereta gandeng dirujuk sebagai mobil.

Makna Kata Anak Usia Dini ; Taty Setiaty S3 PAUD 2012

Kebanyakan anak memberikan sebagian istilah warna, bahwa mereka tidak tahu (Braisby & Dockrell, 1999).

bukannya mengatakan

III.

METODE

Dalam penulisan ini dipakai metode deskripstif dengan pendekatan kualittaif, dimana data yang diperoleh disajikan berupa paparan tentang fenomena yang terjadi. Tehnik Pengumpulan data menggunakan dokumentasi dengan rekaman terhadap kalimat yang diutarakan anak dengan mengikuti aktifitas anak. Pengambilan rekaman pada tanggal 14, 15, dan 17 Desember 2011. Untuk memperoleh data yang dimaksud. Dilakukan reduksi data yakni penulis memilih, merangkum, memfokuskan pada hal-hal penting terhadap semua data dan setiap tema yang masuk untuk dicari polanya dalam hal ini untuk menjelaskan fokus penulisan. Dalam hal ini data dari lapangan disingkat, diringkas, disusun lebih sistematis dan ditonjolkan pokok-pokok yang penting Data kualitatif diperoleh dari ujaran seorang berusia 3 tahun. anak usia dini yakni anak laki laki

Makna Kata Anak Usia Dini ; Taty Setiaty S3 PAUD 2012 IV. PEMBAHASAN HASIL REKAMAN

A. Subjek pengamatan adalah : 1. Identitas Subjek: Nama : Raihan Fathur Rachmatudin Jenis Kelamin : Pria Tempat tanggal lahir : Bandung 2 Januari 2009 Orang tua : Ir H. Didin Rachmatudin Pekerjaan : Wiraswasta Suku bangsa : Sunda Alamat : Komp Pemda Sawo Endah No 13 A Bandung Anak ke : Pertama Saudara :2. Lingkungan di Rumah Keluarga berasal dari suku bangsa Sunda, bahasa yangdipakai di rumah adalah sunda, tetapi orang tua dan pengasuh lebih banyak melakukan komunikasi dengan Raihan dengan bahasa Indonesia. Lingkungan tempat tinggal di komplek, penghuninya kebanyakan adalah pensiunan PNS yang telah berusia tua sehingga Raihan tidak punya teman sebaya di sekitar rumah. Sehari hari Raihan lebih banyak berinteraksi dengan ayah, ibu dan pengasuhnya Bi Siti (15 tahun).

B. Hasil Temuan Tuturan R1.A1. Raihan :Mau nulis (sambil membawa buku dan spidol). Sret.. sret... (mencoret coret kertas) Bibi : Nulis apa A? Raihan : Nunduk.... tidd...tidd.... Bibi : Udah? Nulis apa? Raihan : Belum. Liat tu.... (menunjuk ke gambar di kertas) Bibi : Apa itu A? Raihan : Nulis ayah... tu... Bibi : Mana? Nulis apa? Raihan : Sok bibi nulis sini. Bibi : Nulis apa A? Raihan : mbil ayah. Bibi : Mobil Ayah? Raihan : (mengangguk sambil menyerahkan spidolnya) Bibi : ni ..mo..bi..l (menuliskan kata mobil) Raihan : aahh... (merengek) Bibi : Kenapa ini kan udah ditulis Raihan : Bibi... (rengekannya mulai kencang)... mbil ayah... Bibi: iya mobil ayah, ini nulis? apa atuh? Raihan : nulis banyak banyak tu.... sambil membuka lembar kertas yang lain berisi gambar mobil buatan bibi sebelumnya

Makna Kata Anak Usia Dini ; Taty Setiaty S3 PAUD 2012 Bibi Raihan : Oh mau gambar mobil. : ya mbil om pici. Ngengong ngengong tetet! (menggoyangkan badan dan tangan menirukan jalan dan sirine mobil polisi)

Konteks: (1)peristiwa tutur: membawa spidol dan kertas untuk menggambar dengan pengasuhnya. (2) tempat ruang keluarga: (3) waktu siang hari; (4) tujuan minta dibuatkan gambar mobil: (5) mitra tutur:bibi; (6) situasi: santai

Pada kutipan di atas Raihan melakukan pengulangan kata nulis untuk menyuruh pengasuhnya menggambarkan mobil. Pengulangan kata tersebut dilakukan tampaknya karena anak belum menguasai makna kata menulis. Menulis yang dia maksudkan ternyata adalah perintah menggambar. Menulis dimaknai menggambar seperti yang dikatakan teori fitur sematic atau referensi, anak memberikan ciri menulis sebagai semua kegiatan menggunakan alat tulis (dalam hal ini spidol) di atas kertas. Kegiatan menulis sama dengan menggambar karena sama-sama menggunakan alat tulis di atas kertas. Pengulangan tuturan perintah nulis yang dilakukan berkali kali karena Anak menyadari bahwa ia belum dapat memberi makna yang tepat terhadap maksud dari perintahnya. Pengulangan yang secara alami dilakukan anak juga merupakan upaya anak agar dapat menyampaikan makna kalimat yang sesungguhnya sehingga dapat dimengerti dalam praktek komunikasi dengan orang yang diajak bicara (diberi perintah). Makna kalimat dapat dipahami mitra tutur dengan bantuan konteks dan gerakan anak dengan menunjuk ke gambar mobil yang ada di halaman lain pada buku tersebut. Tanpa pengaruh konteks dan penunjukkan yang dilakukan anak, mitra tutur mengalami kesalahan memaknai makna kata, yang pada akhirnya salah memaknai perintah. Walaupun asalnya mitra tutur melaksanakan perintah menulis, yang kemudian membuat anak tidak setuju (ditunjukkan dengan cara merengek), mitra tutur akhirnya menggambar mobil, walau pun kata yang diucapkan anak adalah menulis. Hal ini berati terjadi kesepahaman, sesuai teori konvensional bahwa makna kata bisa terjadi sebagai kecenderungan untuk penggunaan linguistik yang disepakati oleh anggota komunitas. Pada anak usia menuju 3 tahun seperti Raihan, seringkali mengalami kesulitan dalam makna kata yang merujuk pada lokasi. Tuturan R2. B. Raihan : Mau kemana ayah? Sambil melihat ayah yang sedang mengenakan pakaian Ayah : Mau kerja Raihan : naik mbil? Aa ikut...... Ayah : Tidak usah, nanti cape.. tunggu aja ya... Raihan : Jangan pulang ayah..... Ayah : ... aduh ngusir nih.. bener Ayah jangan pulang lagi? He.. he..

Makna Kata Anak Usia Dini ; Taty Setiaty S3 PAUD 2012 Raihan Ayah Raihan Ayah Raihan Ayah Raihan Ayah : Jangan ayah : Ya tidak Ayah akan pulang. Tidak apa nanti tidak punya Ayah? (berjalan ke luar kamar) : Jangan ayah ( mengikuti Ayah keluar kamar) : loh katanya tadi jangan pulang? : jangan pulang ayah (sambil menarik ujung baju Ayah). : Jangan apa? Jangan pulang apa jangan pergi nih? Yang betul atuh bicaranya (memangku Raihan) : Jangan kerja ayah : Kalau tidak kerja nanti AA tidak bisa beli ice cream dong

Konteks: (1)peristiwa tutur: mengikuti Ayah yang akan berangkat kerja; (2) tempat ruang kamar tidur; (3) waktu pagi hari; (4) tujuan melarang ayah pergi kerja; (5) mitra tutur:Ayah ; (6) situasi: santai Dari tuturan anak menjelang usia 3 tahun pada data diatas dapat diketahui bahwa anak belum bisa memahami makna istilah Deictic dalam hal ini makna kata istilah lokasi pulang dan pergi. Pulang dan Pergi tidak mengacu pada tempat tertentu, namun menuju ke rumah (mendekati

bergantung pada konteks khusus, pulang menunjukkan

lokasi pembicara), sedangkan pergi menujukkan berangkat (menjauhi lokasi pembicara). Untuk bisa memahami makna kata yang diungkap anakusia dini, orang dewasa perlu memperhatikan isyarat kontek dan gerakan dari anak. Dalam data di atas anak berusaha menarik baju ayah untuk menjelaskan makna kata yang sesungguhnya bahwa yang dimaksud bukan menyuruh jangan pulang tetapi jangan pergi. Anak usia dini seperti Raihan sudah memahami makna kalimat bercanda atau humor seperti tampak dalam transkrip berikut: Tuturan R3.C Raihan : Lagi apa bi? Bibi : Lagi masak Raihan : Masak apa bi? Bibi : Masak ikan Raihan : we.. we... (raihan memainkan ekor ikan). Lagi apa bi? Bibi : Masak ikan Raihan : ohh... (Raihan lalu berlari ke tengah rumah) Raihan : lagi apa bi? (Raihan kembali ke dapur) Bibi : Mau tauu aja...Lagi apa coba? (sambil mencolek pipi Raihan) Raihan :Lagi masak ikan! (Teriak Raihan sambil meloncat loncat) Ibu : (Datang ke dapur) Bibi : Bu, ikan nya dimasak semua? Raihan : Mau tauu aja...(menirukan jawaban dan intonasi suara bibi) Konteks: (1)peristiwa tutur: Melihat mitra penutur sedang memasak ikan; (2) tempat ruang dapur; (3) waktu pagi hari; (4) tujuan bertanya apa yang sedang dilakukan mitra penutur ;(5) mitra tutur:bibi; (6) situasi: akrab Pada kutipan di atas, anak usia tiga tahun senang mengulang pertanyaan sebagai bentuk besarnya rasa ingin tahu dan ciri anak yang senang mengulang kata. Selain itu

Makna Kata Anak Usia Dini ; Taty Setiaty S3 PAUD 2012 pengulangan pertanyaan dimaksudkan untuk menegaskan informasi kebenaran yang diperolehnya, terbukti dengan kalimat yang kemudian dia ucapkan yakni Ohh ketika mitra tutur memberikan jawaban yang sama terhadap pertanyaan sama yang ia ajukan. Penutur pun menjawab dengan girang ketika dia bisa menjawab dengan benar saat mitra tuturnya balik bertanya terhadap pertanyaan yang sama tersebut. Pengulangan pertanyaan sering membuat orang dewasa bosan menjawab pertanyaan yang sama. Oleh karena itu penting orang dewasa bersikap bijaksana dalam merespon pertanyaan anak yang diulang ulang. Dalam kutipan diatas, pengasuh memberikan respon yang bijaksana, yakni walaupun bosan dengan pertanyaan yang sama tapi ditunjukkan dengan mengajak becanda anak, kalimat yang dipakai adalah Mau tauu aja sambil mencolek pipi penutur yang menunjukkan mitra penutur tidak mengejek. Makna penutur tidak bermaksud mengejek juga diberikan dengan intonasi kalimat yang dipakai mitra penutur yakni bergelombang. Raihan tidak kecewa dengan jawaban mitra penuturnya, malah dia balik menggoda mitra penutur dengan balik menirukan kalimat Mau tauu aja. Anak memahami makna kalimat Mau tauu aja sebagai kalimat menggoda saat bercanda, karena kalimat tersebut ditunjukkan dalam isyarat kontek, isyarat intonasi dan gerakan mitra penuturnya yakni mencolek pipinya.

Makna Kata Anak Usia Dini ; Taty Setiaty S3 PAUD 2012

V.

KESIMPULAN

Dari hasil temuan yang dipaparkan pada bab sebelumnya penulis simpulkan bahwa : 1. Makna bahasa dapat dikatakan tepat tergantung pada bagaimana bahasa tersebut digunakan dalam kontek tertentu. 2. Subjek dalam tulisan ini sudah memiliki kemampuan memahami makna kata yang memiliki ciri ciri kongkrit dan jelas seperti makna pada kata benda. Hal itu terjadi karena cara individu memaknai kata diantaranya dengan memperhatikan ciri dari konsep kata tersebut. Oleh karena itu anak anak akan mengalami kesulitan memaknai kata sifat, atau kata kerja. 3. Makna kata istilah Deictic sangat tergantung pada kontek siapa yang berbicara, lokasinya dimana, dan apa objeknya. Oleh karena itu anak usia dini mengalami kesulitan dalam memahami makna kata tersebut 4. Anak adalah individu yang senang bermain, dimana saat bermain terkandung unsur kebebasan, tidak kaku, riang, dan nilai nilai kegembiraan. Oleh karena itu makna kata yang mengandung humor atau suasana bercanda, mudah dipahami maknanya oleh anak usia dini 5. Untuk memaknai bahasa secara tepat dalam berbagai situasi diperlukan pengetahuan akan aturan-aturan tidak saja menyangkut masalah bahasa itusendiri namun juga konteks sosial Apakah suatu bahasa dikatakan tepat tergantung pada bagaimana bahasa, sebagaimana Hymes menyatakan, ketepatan bahasa adalah suatu fungsi interaksi dari latar belakang bahasa dan social itu digunakan dalam suatu konteks khusus. 6. Anak anak butuh didorong, diberi contoh, diberi kesempatan dalam komunikasi yang luas, untuk meningkatkan kemampuan bertanya, mengajukan permintaan,

memberikan perintah, menyampaikan persetujuan atau ketidaksetujuan, meminta maaf, menolak, bercanda, berdoa, dan bercerita. Mereka harus belajar istilah-istilah rutin dan sopan, seperti silakan, dan terima kasih dan cara-cara menyapa orang lain. Mereka harus belajar berinisiasi, memelihara, dan menyimpulkan suatu percakapan; mengetahui kapan harus bicara dan diam, dan mengetahui bagaimana bersikap; mengetahui secara efektif bagaimana menyiapkan dan menjawab; dan mengetahui agar tetap pada topik pembicaraan. Untuk semua itu anak perlu banyak belajar memahami makna kata.

Makna Kata Anak Usia Dini ; Taty Setiaty S3 PAUD 2012

DAFTAR PUSTAKA

Gleason, Jean Berko. The Developmen of Language. Ally and Bacon, 2001 Gleason, Jean Berko & Ratner,Nan Bernstein. Psycholinguistics. Fort Worth Brace College, 1998