Anda di halaman 1dari 26

OPTIMASI FORMULASI FAST DISINTEGRATING TABLET EKSTRAK ETANOL BATANG KEMIRI (Aleurites moluccana) DENGAN BAHAN PENGHANCUR CROSCARMELLOSE

SODIUM

Skripsi Untuk memenuhi persyaratan Dalam menyelesaikan proposal penelitian

Oleh Azwari Tahmid NIM J1E106211

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU NOPEMBER 2011

OPTIMASI FORMULASI FAST DISINTEGRATING TABLET EKSTRAK ETANOL BATANG KEMIRI (Aleurites moluccana) DENGAN BAHAN PENGHANCUR CROSCARMELLOSE SODIUM (Ac-Di-Sol ) I. LATAR BELAKANG Seiring perkembangan jaman masyarakat cenderung memilih obat tradisional yang merupakan salah satu pilihan atau pengobatan alternatif dalam penyembuhan suatu penyakit atau dalam upaya menjaga kesehatan sekarang ini (Nugroho, 2008). Salah satu tanaman yang begitu banyak dan besar sekali manfaatnya tetapi dalam penggunaan maupun pemanfaatannya masih kurang optimal adalah kemiri untuk pengobatan. Biasanya kemiri digunakan hanya sebagai bahan untuk bumbu-bumbu dapur, tetapi selain itu batang kemiri juga dapat berfungsi sebagai antidiare. Secara ilmiah ekstrak batang kemiri (Aleurites moluccana) pada mencit jantan (Mus musculus) yang diinduksi oleum ricini dengan dosis ekstrak 0,3928 mg/20 g BB telah terbukti dapat berfungsi sebagai antidiare (Harliana, 2010).
Penggunaan batang kemiri untuk pengobatan diare pada umumnya hanya sebatas dalam bentuk sederhana dengan cara diseduh atau direbus. Penggunaan dengan cara tersebut dinilai kurang efektif dan efisien. Oleh karena itu, untuk memudahkan penggunaan batang kemiri di dalam masyarakat maka dilakukan penelitian untuk membuat fast disintegrating tablet (FDT), sehingga diperoleh sediaan yang praktis dan dapat diterima. Teknologi FDT merupakan teknologi inovatif terbaru dalam

bidang formulasi. Bentuk sediaan ini dipilih karena FDT lebih cepat hancur dibandingkan tablet konvensional ketika kontak dengan saliva, sehingga lebih cepat diabsorbsi, akibatnya akan menghasilkan efek yang lebih cepat pula.

Penggunaan tablet ini dapat diberikan tanpa air, walaupun pemberian dengan air akan mempermudah pemberiaan peroral. Bentuk sediaan ini cocok untuk anakanak, orang tua dan orang-orang yang sulit dalam menelan (Jeong et al., 2007).
Batang kemiri dalam FDT membutuhkan bahan-bahan tambahan. Bahan tambahan yang paling berpengaruh adalah bahan penghancur (super disintegrating) untuk meningkatkan tingkat kehancuran tablet dalam rongga mulut. Bahan penghancur yang digunakan adalah sodium croscarmellose yang merupakan super disintegran yang berasal dari polimer carboxylmethylcellulose sodium. Sodium croscarmellose mempunyai sifat hidrofilik, stabil, hidroskopis dan sangat suka

terhadap bahan pelarut sehingga sangat baik untuk pembengkakan (Kibbe, 2000).

II. PERUMUSAN MASALAH Rumusan masalah pada penelitian ini adalah : 1. Bagaimana pengaruh bahan penghancur sodium croscarmellose terhadap sifat fisik FDT ekstrak etanol batang kemiri (Aleurites moluccana)? 2. Bagaimana konsentrasi sodium croscarmellose yang dapat menghasilkan FDT ekstrak etanol batang kemiri (Aleurites moluccana) dengan sifat fisik optimum? 3. Formula mana yang menghasilkan sediaan tablet ekstrak etanol batang kemiri yang baik berdasarkan hasil evaluasi ?

III. TUJUAN PENELITIAN Tujuan pada penelitian ini adalah : 1. Mengetahui pengaruh bahan penghancur sodium croscarmellose

terhadap sifat fisik FDT ekstrak etanol batang kemiri (Aleurites moluccana). 2. Mengetahui bagaimana konsentrasi sodium croscarmellose yang

dapat menghasilkan FDT ekstrak etanol batang kemiri (Aleurites moluccana) dengan sifat fisik optimum. 3. Mengetahui formula sediaan tablet ekstrak etanol batang kemiri

yang baik berdasarkan hasil evaluasi. IV. MANFAAT PENELITIAN Manfaat penelitian ini untuk memberikan data ilmiah mengenai formula tablet ekstrak etanol batang kemiri yang dibuat yang dapat digunakan oleh masyarakat. V. TINJAUAN PUSTAKA

5.1 Tumbuhan Kemiri (Aleurites moluccana) 5.1.1 Deskripsi tumbuhan Aleurites moluccana adalah pohon berukuran sedang, sampai dengan 20 meter, kulit kayu berwarna abu-abu coklat dan mengandung 4-6 % tanin. Daun muda berukuran besar hingga 30 cm, bunga mempunyai panjang 10-15 cm dengan 5 kelopak berwarna putih kusam berukuran 1,3 cm dan berkelamin dua. Buah berbentuk bulat telur dengan diameter 5 cm atau lebih, tebal dan kasar serta cangkang keras (Orwa et al., 2009).

Klasifikasi Tumbuhan Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Rosidae : Euphorbiales : Euphorbiaceae : Aleurites : Aleurites moluccana (Plantamor, 2008) Batang Buah

Gambar 1.Tumbuhan Kemiri (Aleurites moluccana) 5.1.2 Kandungan kimia dan khasiat Biji kemiri digunakan mengobati obat sakit gigi, bisul, demam dan pembengkakan di persendian tulang. Biji yang sudah diolah menjadi minyak dapat pula difungsikan sebagai alternatif bahan batang. Dulu ketika listrik masih jarang, minyak kemiri menggantikan fungsi minyak tanah untuk menghidupkan lampu minyak atau lampu teplok, selain itu dapat pula difungsikan sebagai obat gosok mengatasi pegal dan masuk angin (Sibi, 2010).

Biji kemiri memberikan rasa gurih, akan tetapi bagian ini mengandung asam hidrosianik yang beracun, jika termakan dalam jumlah berlebihan bisa memabukkan dan menyebabkan diare. Oleh karena itu biji kemiri lebih difungsikan sebagai bumbu dapur bukan untuk dimakan mentah dan minyaknya pun jarang digunakan untuk menggoreng. Selain biji, kulit batang kemiri juga sering dimanfaatkan untuk pengobatan. Kandungan zat tanin-nya cukup ampuh mengusir sariawan dan disentri (Sibi, 2010). 5.2 Ekstraksi Beberapa metode ekstraksi senyawa bahan alam yang umum digunakan antara lain maserasi, perkolasi, sokletasi, destilasi uap, dan pengempaan di mana metode ini tanpa menggunakan pelarut (Lenny, 2006). Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan cairan penarik mana yang dipergunakan, yaitu antara lain kelarutan zat-zat, tidak merusak zat-zat berkhasiat atau akibat-akibat lain yang tidak dikehendaki, harga yang murah dan jenis preparat yang akan dibuat (Lenny, 2006). Sel-sel akan rusak atau tidak utuh lagi pada saat cairan ekstraksi kontak dengan simplisia akibat penghalusan langsung bersentuhan dengan bahan pelarut, sehingga komponen sel yang terdapat didalamnya lebih mudah diambil atau dibilas. Oleh karena itu, dalam fase pertama ekstraksi ini, sebagian bahan aktif telah berpindah ke dalam bahan pelarut. Semakin halus serbuk simplisia semakin optimal proses pembilasan (Voigt, 1995). Maserasi merupakan proses perendaman sampel dengan pelarut organik yang dilakukan pada temperatur ruangan. Proses perendaman sampel tumbuhan

akan terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan di dalam dan di luar sel sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama perendaman yang dilakukan (Darwis, 2000). 5.3 Fast disintegran tablet (FDT) FDT merupakan tablet yang cepat hancur di rongga mulut sehingga

residunya yang terdispersikan dalam air liur mudah ditelan. Jenis tablet ini dirancang agar segera hancur didalam rongga mulut dalam waktu 75 detik atau kurang bahkan ada yang 30 detik (Ansel et al., 2005). Obat-obatan yang solid dapat ditingkatkan waktu hancurnya di dalam mulut dengan penambahan bahan yang disebut sebagai disintegran. Disintegran adalah bahan atau campuran bahan tambahan untuk formulasi obat yang memfasilitasi kehancuran tablet atau isu kapsul menjadi partikel yang lebih kecil dan larut lebih cepat dibandingkan ada tidaknya disintegran. Sekelompok disintegran disebut super-disintegran umumnya digunakan dalam tingkat rendah dalam bentuk dosis padat, biasanya satu sampai dengan 10% berat relatif terhadap total berat dosis unit. Contoh super-disintegran adalah croscarmelose, crospovodon dan sodium glycolate pati. Super-disintegran ini sangat dianjurkan untuk pengembangan formulasi dimana tablet atau kapsul disintegran cepat dan mudah melarutkan bahan tambahan lain dalam tablet (Makooi-Morehead et al., 1999). Kontrol kualitas FDT meliputi kekerasan tablet yang diukur dengan hardness tester; friability menggunakan alat roche friability tester; wetting time

yang merupakan perbandingan antara absorpsi air dan berat tablet (Wa Wb/Wb), dimana Wa adalah berat tablet setelah absorpsi air dan Wb adalah berat tablet sebelum absorpsi air; uji disolusi (basket type); waktu hancur tablet menggunakan taste sensitivity test dalam mulut; dan keseragaman bobot tablet (Bhatti & Singh, 2008). 5.4 Metode Pembuatan Tablet Pembuatan FDT dapat dilakukan dengan berbagai metode diantaranya granulasi basah, spray drying, moudling, freeze drying, dan kempa langsung. Secara umum pembuatan tablet dapat dilakukan secara granulasi basah, granulasi kering dan kempa langsung (Ansel et al., 2005). a. Granulasi basah (wet granulation) Metode granulasi basah merupakan suatu proses untuk mengubah serbuk halus menjadi bentuk granul, dengan cara menambahkan larutan bahan pengikat yang sesuai. Dalam metode ini, bahan obat dan bahan tambahan dibuat granul dengan larutan bahan pengikat. Granul yang dihasilkan setelah kering ditambah bahan pelicin dengan atau tanpa bahan penghancur, untuk selanjutnya dikempa menjadi tablet (Voigt, 1984). Metode granulasi basah merupakan metode yang banyak digunakan dalam industri farmasi untuk memproduksi tablet kompresi (Parrott,1971). b. Granulasi kering (dry granulation) Metode granulasi kering dilakukan bila zat aktif yang akan digranul tidak tahan terhadap panas dan kelembaban solven atau pelarut. Pada metode granulasi kering bahan pengikat ditambahkan dalam bentuk serbuk dan tanpa bahan pelarut.

Ada dua prinsip dasar dalam granulasi kering yaitu campuran serbuk dikempa menjadi tablet (slugging dengan mesin tablet) atau campuran serbuk ditekan menjadi lembaran (roller compactor, contoh alat chilosonator). Tablet atau lembaran kemudian dihancurkan menjadi bentuk granul dan diayak (Shangraw et al., 1980). c. Metode kempa langsung (direct compression) Metode kempa langsung dapat diartikan sebagai pembuatan tablet dari bahan2bahan yang berbentuk kristal atau serbuk tanpa mengubah karakter fisiknya. Setelah bahan dicampur langsung ditablet dengan ukuran tertentu (Fudholi, 1983). Kempa langsung memberikan beberapa keuntungan diantaranya tahapan produksinya sangat singkat (hanya pencampuran dan pengempaan), peralatan yang dibutuhkan tidak banyak, ruangan yang dibutuhkan kecil dan tidak banyak, tenaga yang dibutuhkan lebih sedikit karena prosesnya singkat maka stabilitasnya tetap terjaga (dapat meningkatkan stabilitas produk) (Sulaiman, 2007). Pembuatan tablet dengan metode kempa langsung, khususnya untuk bahan kimia yang mempunyai sifat mudah mengalir sebagaimana juga sifat-sifat kohesifnya yang memungkinkan untuk langsung dikompresi dengan mesin tablet tanpa memerlukan granulasi basah atau granulasi kering (Parrott, 1971).

5.5 Monografi Bahan Tambahan a. Sodium croscarmellose Sodium Croscarmellose merupakan polimer silang dari

karboksimetilselulosa natrium. Sodium croscarmellose digunakan dalam formulasi farmasi oral sebagai disintegrant untuk kapsul, tablet, dan granulasi. Dalam formulasi tablet, sodium croscarmellose dapat digunakan dalam kompresi langsung dan proses granulasi basah sodium croscarmellose dikonsentrasi hingga 5% b/b dapat digunakan sebagai disintegrant tablet, meskipun biasanya 2% b/b digunakan dalam tablet yang disiapkan oleh langsung kompresi dan 3% b/w dalam tablet disiapkan oleh granulasi basah. Sodium croscarmellose tidak berbau, putih atau grayishwhite bubuk. Larut dalam air, meskipun sodium croscarmellose cepat membengkak untuk 4-8 kali volume aslinya pada kontak dengan air. Praktis tidak larut dalam aseton, etanol dan toluena. Sodium croscarmellose stabil meskipun bersifat higroskopis. Tablet formulasi model kompresi langsung, dengan sodium croscarmellose sebagai disintegrant, menunjukkan tidak signifikan perbedaan dalam pembubaran obat setelah penyimpanan pada 30C selama 14 bulan. Sodium croscarmellose harus disimpan di sebuah wadah tertutup dan tempat sejuk dan kering (Kibbe, 2000). b. Manitol Manitol secara luas digunakan dalam formulasi farmasi dan produk makanan. Dalam sediaan farmasi ini terutama digunakan sebagai pengisi (10-90% b/b) dalam formulasi tablet untuk kompresi langsung. Granulasi yang mengandung manitol memiliki keuntungan menjadi mudah kering. Manitol

umumnya digunakan sebagai eksipien dalam pembuatan formulasi tablet kunyah karena nyaman dimulut dan berasa manis. Manitol adalah D-manitol, manosa terkait dengan hexahydric alkohol, serbuk hablur atau granul mengalir bebas, putih, tidak berbau, rasa manis. Kelarutan mudah larut dalam air, larut dalam larutan basa, sukar larut dalam gliserin, sangat sukar larut dalam etanol dan propan-2-ol, praktis tidak larut dalam eter. Manitol stabil dalam keadaan kering dan dalam air. Manitol dapat diekstraksi dari getah kering dari manna dan lainnya sumber alami dengan cara alkohol panas atau pelarut selektif lainnya. Hal ini secara komersial diproduksi oleh reduksi katalitik atau elektrolit dari monosakarida seperti glukosa dan manosa (Kibbe, 2000). Manitol tidak bersifat higrokopis dan dapat digunakan dengan bahan aktif yang sensitive terhadap lembab (Armstong, 2006). Proses granulasi yang mengandung manitol memiliki keuntungan yaitu pengeringan menjadi mudah. Manitol kelarutannya lembab dan rasanya enak dimulut. Formulasi dengan manitol sifat alirnya kurang baik dan biasanya menumbuhkan pelicin cukup banyak. Manitol memberikan rasa enak, manis yang ringan dan dingin, rasa lembut, dan meleleh dimulut (Shangraw et al., 1980).

c. Magnesium stearat Magnesium stearat merupakan campuran magnesium dengan asam organik solid yang mengandung magnesium stearat dan magnesium palmitat (C32H62MgO4). Magnesium stearat digunakan sebagai bahan pelicin (lubrikan) dalam kapsul dan tablet dengan konsentrasi 0,25% - 5,0% w/w. pemerian: serbuk, halus, licin, putih, dan mudah melekat pada kulit, bau lemah khas. Kelarutan praktis tidak larut dalam air, etanol (95%) P dan dalam eter P. Sukar larut dalam benzene dan etanol (95%) (Rowe et al., 2003). Magnesium stearat juga digunakan dalam kosmetik, makanan, dan formulasi kapsul farmasi. dan tablet Terutama manufaktur digunakan pada sebagai konsentrasi pelicin antara dalam 0,25%

dan 5,0% b/w. Juga digunakan dalam krim penghalang. Magnesium stearat tidak kompatibel dengan asam kuat, alkali, dan garam besi. Hindari pencampuran dengan bahan pengoksidasi kuat. Magnesium stearat tidak dapat digunakan dalam produk yang mengandung aspirin, beberapa vitamin, dan paling alkaloidal garam (Kibbe, 2000). d. Talkum Talkum merupakan bahan penabur yang berfungsi untuk memperkecil gaya gesekan antara molekul yang sejenis maupun tidak sejenis sehingga massa pil menjadi tidak lengket satu sama lain. Lengket yang dimaksud adalah lengket pada alat pembuat tablet ataupun lengket antara satu tablet dengan tablet lainnya (Anief, 2006).

Talk merupakan bahan yang stabil dan dapat disterilkan dengan pemanasan pada 160C selama tidak kurang dari 1 jam. Talk memiliki rumus kimia Mg6(Si2O5)4(OH)4 Dapat juga disterilkan oleh etilen oksida atau radiasi gamma. Talk harus disimpan dalam wadah tertutup baik, sejuk dan kering. Talk digunakan dalam formulasi tablet dan kapsul. Talk tidak diserap dalam sistemik ketika konsumsi secara oral. Karena itu dianggap sebagai bahan tidak beracun. Namun, intranasal atau penyalahgunaan intravena produk yang mengandung talk dapat menyebabkan granuloma dalam jaringan tubuh, khususnya paru-paru. Kontaminasi luka atau rongga tubuh juga dapat menyebabkan granuloma. Menghirup talk menyebabkan iritasi dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan parah pada bayi (Kibbe, 2000). e. Gelatin Gelatin adalah istilah generik untuk campuran fraksi protein yang dimurnikan, diperoleh dengan hidrolisis asam parsial (gelatin tipe A) atau dengan hidrolisis parsial alkalin (gelatin tipe B) dari kolagen hewan diperoleh dari sapi dan tulang babi, kulit sapi, kulit babi, dan kulit ikan. Gelatin banyak digunakan dalam berbagai formulasi farmasi, termasuk penggunaannya sebagai bahan matriks biodegradable dalam suatu sistem pengiriman implan, meskipun yang paling sering digunakan untuk kapsul gelatin keras atau lunak. Gelatin berwarna kuning, vitreous, rapuh padat, praktis tidak berbau dan berasa, dan tersedia dalam bantuk serpih, dan butiran, atau sebagai bubuk kasar. Praktis tidak larut Kelarutan dalam aseton, kloroform, etanol (95%), eter, dan metanol. Larut dalam gliserin, asam, dan alkali, asam kuat meskipun atau presipitasi menyebabkan alkali. Dalam

air, gelatin membengkak dan melembutkan, secara bertahap menyerap antaralima dan 10 kali beratnya sendiri air. Gelatin larut dalamair di atas 40C, membentuk larutan koloid, yang gel padapendinginan 35-40C. Gelatin kering stabil di udara. Gelatin berair juga stabil untuk jangka waktu lama jika disimpan dalam kondisi dingin tatapi mudah terpengaruh degradasi bakteri Pada suhu di atas sekitar 50C ( Kibbe, 2000). VI. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan bertempat di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia dan Laboratorium Teknologi Sediaan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Alat Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat-alat gelas (Pirex Iwaki Glass), ayakan, alat-alat maserasi, corong pisah, kertas saring, neraca analitik (Ohaus), oven, Friabilitor, mesin tablet, Hot Plate, termometer dan Disintegrator tester. 6.3 Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah aquadestilata, etanol, batang kemiri, gelatin, manitol, talk, magnesium stearat dan sodium croscarmellase

6.4 Prosedur Kerja 6.4.1 Pengambilan bahan atau batang kemiri Pemetikan dan pengumpulan tumbuhan kemiri dilakukan di desa Dangu Utara, Kecamatan Batang Alay Utara Ilung, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Barabai. Sampel bahan diambil secara utuh, yang terdiri dari batang, dan daun, kemudian diambil bagian berkhasiat yaitu batang yang akan diteliti dengan lebih banyak. 6.4.2 Pengolahan bahan Batang kemiri yang diambil berupa bagian batang dan ranting pohon. Batang diolah dengan cara dicuci terlebih dahulu untuk dibersihkan batang dari kotoran yang melekat. Dilakukan perajangan kemudian dikeringkan pada tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Sampel kering kemudian disortasi kering dengan cara dipisahkan dari partikel asing seperti kotoran. Sampel yang telah disortasi kering dinamakan haksel. Haksel yang telah diperoleh, dihaluskan menggunakan blender sehingga diperoleh serbuk dalam bentuk halus. Ekstraksi Ekstraksi tumbuhan batang kemiri dilakukan dengan cara maserasi. Caranya adalah dengan membuat simplisia dari sampel batang kemiri kemudian dibuat serbuk sesuai dengan derajat serbuk yang ditentukan. Serbuk batang kemiri ditimbang sebanyak 500 gram dan serbuk batang kemiri dimasukkan ke dalam alat maserasi. Pelarut etanol ditambahkan hingga serbuk terendam dan pelarut berada 2 cm di atas sampel, alat maserasi ditutup sambil sesekali diaduk. Sampel direndam sambil dilakukan pengadukan dan setiap 24 jam dilakukan penyaringan

Ekstrak cair yang didapat dan diremaserasi sampai warna sampel jernih atau bening. Ekstrak cair diuapkan sampai kental. Ekstrak kental yang didapat ditimbang. 6.4.4 Pembuatan sediaan granul dari ekstrak etanol batang kemiri a. Rancangan formula Produksi 1 tablet dengan bobot 250 mg + SD 5 % Penetapan dosis ekstrak etanol batang kemiri : Dosis ekstrak etanol batang kemiri 0,3928 mg/20 gr mencit Factor konversi = 387,9 Konversi dosis mencit (20 g) ke manusia (70 kg) = DO ektrak x factor konversi = 0,3928 mg /kg x 20 g x 387,9 = 0,1524 gr/70kgBB = 152,4 mg/70kg BB Rancangan dosis untuk tablet ekstrak etanol batang kemiri: Dosis 1 tablet ekstrak batang kemiri ialah 152,4 mg sebagai antidiare Tabel 2. Rancangan formula tablet ekstrak batang kemiri
Bahan Ekstrak etanol batang kemiri Gelatin (bahan pengikat) Croscarmellose sodium (penghancur) Talk (pelicin) Mg stearat (pelicin) Manitol (pengisi) Formula I 152 mg 10 mg 2%(5mg) 5 mg 3 mg qs ad 250 mg Formula II 152 mg 10 mg 3%(7,5mg) 5 mg 3 mg qs ad 250 mg Formula III 152 mg 10 mg 4%(10mg) 5 mg 3 mg qs ad 250 mg

b. Pembuatan serbuk ekstrak etanol batang kemiri Ekstrak etanol batang kemiri kental dikeringkan menggunakan oven pada suhu 600C selama 15-30 menit hingga mengering atau mengkristal. Ekstrak batang kemiri, digerus dalam cawan porselin kemudian diayak menggunakan ayakan no. 60 hingga diperoleh serbuk halus. c. Pembuatan granul ekstrak etanol batang kemiri a. Gelatin ditimbang dan digerus kemudian dilarutkan dalam aquadestilata yang sudah dipanaskan, diaduk hingga diperoleh massa kental. b. Ekstrak etanol batang kemiri, manitol ditimbang sesuai formula, kemudian dicampur dalam wadah sampai homogen. c. Bahan pengikat gelatin ditambahkan sedikit demi sedikit hingga diperoleh massa yang kempal. Kemudian diayak dengan ayakan no. 12. d. Granul basah dikeringkan dalam oven dengan suhu 40 0C sampai berat konstan. e. Granul yang kering diayak kembali dengan ayakan 14 sehingga diperoleh granul dengan ukuran yang dikehendaki. f. Granul ditambahkan bahan pelicin magnesium stearat dan talk kemudian diaduk perlahan hingga merata, kemudian granul dicetak menjadi tablet. (Lachman et al., 1994). 6.4.5. evaluasi sifat fisik granul ekstrak etanol batang kemiri a. Waktu alir

Sebanyak 100 gram granul dituang secara perlahan-lahan ke dalam corong pengukur dengan ujung tangkainya tertutup (penuangan lewat tepi corong dan jangan langsung kebagian tengah corong). Kemudian penutup corong dibuka secara perlahan-lahan, granul dibiarkan mengalir keluar, catat waktunya dengan menggunakan stopwatch. Waktu yang dibutuhkan untuk mengalirnya granul dicatat sebagai waktu alir. Waktu alir yang baik adalah kurang lebih dari 10 detik untuk 100 gram serbuk. Rumus : kecepatan alir granul = b. Pengetapan Granul dituang secara perlahan-lahan ke dalam gelas ukur sampai volume 100 mL (V0). Gelas ukur dipasang pada alat (motorized tapping device) dan motor dihidupkan. Dicatat perubahan volume setelah pengetapan (Vt) bila t = 5, 10, 25, 50 dan 100 kali. Pengetapan diteruskan sampai permukaan granul tidak turun lagi (volume sesudah konstan dan catat Vk). Berat granul dicatat. Pengetapan menunjukkan penerapan volume sejumlah granul, serbuk akibat hentakan (tap) dan getaran (vibrating). Makin kecil indeks pengetapan makin kecil sifat alirnya. Granul atau serbuk dengan indeks pengetapan kurang dari 20% menunjukkan sifat alir baik (Fashihi & Kanfer, 1986). Rumus yang digunakan : % Tap = ( Lachman et al., 1994). c. Sudut diam
Vo granul - Vt granul X 100 % Vo granul

bobot granul waktu alir

Granul ditimbang sebanyak 100 gram dan dimasukkan secara perlahanlahan lewat lubang bagian atas corong, sementara bagian bawah corong ditutup. Penutup dibuka dan biarkan granul mengalir keluar. Diukur tinggi kerucut yang terbentuk. Pengujian diulangi sebanyak 3 kali. Sudut diam adalah sudut maksimum yang dibentuk permukaan serbuk dengan permukaan horizontal pada waktu berputar. Bila sudut diam lebih kecil atau sama dengan 300 biasanya menunjukkan bahwa bahan dapat mengalir bebas, bila sudutnya lebih besar atau sama dengan 400 biasanya daya mengalirnya kurang baik (Banker & Anderson, 1986).

Rumus yang digunakan :

ta n =

2h d ia m e te r

(Banker & Anderson, 1986) d. Kandungan air Bobot cawan petri beserta tutupnya ditetapkan lalu ditimbang 25 gram granul basah dan dimasukkan ke dalam masing-masing cawan petri. Cawan petri dimasukkan ke dalam lemari pengering dan dipanaskan pada suhu 60 0C, tutup cawan dibuka. Setelah waktu 15, 30, 60, 90, 120 menit, dan 1 hari kemudian ditimbang. Berat granul 1 hari sebagai berat granul kering (Parrot, 1971). Rumus yang digunakan :
% MC granul = Wawal - Wakhir X100% Wawal

% LOD granul =

Wawal - Wakhir X100% Wakhir

(Lachman et al., 1994).

e. Pembuatan tablet ekstrak etanol batang kemiri Pencetakan tablet dilakukan dengan menggunakan mesin single punch dengan metode granulasi basah. Setiap formula dicetak 50 tablet.

6.5

Evaluasi Sifat Fisik Tablet Ekstrak Etanol Batang Kemiri

a. Uji keseragaman bobot tablet Sebanyak 20 tablet ditimbang keseluruhan dan timbang kembali satu per satu pada neraca analitik, kemudian dihitung harga rata-rata, standar deviasinya dan koefisien variasi. Rumus yang digunakan : x = (Lachman et al., 1994) b. Uji kekerasan tablet Posisi Hardness tester diatur pada posisi nol, tablet diletakkan pada ujung alat dengan posisi vertikal. Penekan alat pada bagian lain diputar secara perlahanlahan sehingga tablet tertekan. Pemutaran dihentikan sampai tablet pecah dan kekerasan tablet dibaca pada skala alat (skala : 4-8 Kg). Dilakukan pengujian sebanyak 5 kali dan dihitung harga rata-ratanya (Parrot, 1971). c. Uji waktu hancur tablet Sebanyak lima tablet dimasukkan pada masing-masing tabung dari alat Disintegration tester. Tabung dimasukkan dalam penangas air pada temperatur 370C. Ketinggian air penangas sama dengan posisi lubang ayakan pada bagian bawah alat pada saat tabung naik dalam kedudukan tertinggi. Jalankan alat sampai semua ekstrak pecahan tablet lewat ayakan yang terletak dibagian bawah alat. Tablet dinyatakan hancur apabila tidak ada bagian tablet yang tertinggal di atas

bobot sampel
n

dan

SD =

W-x X 100 % x

kasa.

Waktu

yang

diperlukan

dicatat

sebagai

waktu

hancur

tablet

(Lachman et al., 1994; Tarigan, 2008) d. Uji kerapuhan tablet Sebanyak 20 tablet dibebasdebukan dengan aspirator lalu ditimbang menggunakan neraca analitik (Wawal) dan dimasukkan ke dalam friabilator. Pengujian dilakukan selama 4 menit dengan kecepatan putar 25 rpm atau sebanyak 100 putaran. Tablet dikeluarkan dari friabilator, dibebasdebukan dan ditimbang (Wakhir). Kerapuhan tablet dinyatakan dalam selisih antara berat tablet sebelum dan sesudah pengujian dibagi berat mula-mula dikalikan 100%. Presentasi kerapuhan dapat dituliskan dengan rumus :
%Kerapuhan = Wawal - Wakhir X 100 % Wawal

Kerapuhan merupakan ketahanan tablet terhadap adanya tekanan mekanik terutama goncangan atau terjadinya pengikisan akibat tekanan tersebut. Kerapuhan tablet yang berkualitas tidak boleh lebih dari 0,5-1%

(Banker & Anderson, 1986).

6.6

Analisa Data Analisis data yang diperoleh dari penelitian diolah dengan mengevaluasi

data secara deskriptif. Dilanjutkan evaluasi secara statistik, dengan melakukan test of normality Shapiro-wilk dan homogenety of varience test untuk mengetahui

apakah ada perbedaan yang bermakna pada formula. Jika terdistribusi normal dan homogen maka dilakukan analisis parametrik secara One-way ANOVA pada tingkat kepercayaan 95%. Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara setiap formula maka dilanjutkan dengan analisis Post Hoc Tukey. Namun jika terdistribusi normal tetapi tidak homogen atau terdistribusi tidak normal tetapi homogen maka dilakukan transformasi, jika tetap terdistribusi normal tetapi tidak homogen atau terdistribusi tidak normal tetapi homogen maka dilanjutkan analisis non parametrik secara Kruskal-Wallis pada tingkat kepercayaan 95%. Kemudian dilanjutkan uji Mann-Whitney jika terdapat perbedaan yang bermakna tiap formula. 6.7 Hipotesis Kombinasi bahan pengahancur sodium croscarmellose akan memberikan pengaruh terhadap sifat fisik fast disintegrating tablet ekstrak batang kemiri (Aleurites moluccana). Pada konsentrasi tertentu akan didapatkan disintegrating tablet yang memiliki sifat fisik tablet yang optimum. fast

VII. DAFTAR PUSTAKA Anief, M. 2006, Ilmu Meracik Obat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Ansel H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Terjemahan dari Introduction to Pharmaceutical Dosage Forms, oleh Farida Ibrahim. Universitas Indonesia Press, Jakarta. ----------------. 2005. Pharmaceutics: The Science of Dosage Form Design II. Longman Group Churcill Livingstone, New York. Armstrong, N. A., K. C., James. 1986. Pharmaceutical Experimental Design and Interpretation. Taylor and Francis Ltd, 1 Gunpowder Square, London. Banker GS, & NR Anderson. 1986. Tablets. Dalam Lieberman, H.A., L.Lachman, and J.B. Schwartz. Pharmaceutical Dosage Forms.Vol 1,2nd ed. Marcel Dekker, Inc., New York. Bhatti, A., T., Singh. 2008. Preparation of Tablets Rapidly Disintegrating in Saliva Containing Bitter Taste-Masked Granules by Compression Method. http://www.ijpsonline.com/text.asp?2007/69/1/80/32113 Diakses tanggal 13 Oktober 2011 Darwis, D. 2000. Teknik Dasar Laboratorium dalam Penelitian Senyawa Bahan Alam Hayati, Workshop Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Bidang Pengembangan Kimia Bahan Alam Hayati. FMIPA Universitas Andalas, Padang. Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. Edge, S., R. W, Miller. 2006, Sodium starch glycolate, dalam Rowe, R. C., Sheskey, P. J., and Oven, S. C., (Eds.), Handbook of Pharmaceutical Excipients, 5th Ed., Pharmaceutical. Fassihi., Kanfer. 1986. Effect of Compresibility and Powder Flow Properties on Tablet Weight Variation in Drug Development and Industrial Pharmacy. 12th. Marcel Dekker, Africa. Fudholi, A., 1983, Metode Formulasi Dalam Kompresi Direk, Medika No.7. Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta. Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia, Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Terbitan Kedua. Penerbit ITB, Bandung.

Harliana. 2010. Uji Aktivitas Antidiare Ekstrak Metanol Batang Kemiri (Aleurites moluccana) Pada Mencit Jantan (Mus musculus) yang Diinduksi Oleum Ricini. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru. (Tidak Dipublikasikan). Jeong, S. H., Fu Y., K, Park. 2007. Fast Disintegration Tablet. Http: // www. Touchbriefings. Com / pdf / 254 / Jeong. Pdf Diakses pada Oktober 2011 Kibbe, A. H. 2000. Handbook Of Pharmaceutical Excipients, Third Editio. Pharmaceutical Press London, United Kingdom & American Pharmaceutical Association, Washington, D.C. Lenny, S. 2006. Isolasi Dan Uji Bioaktivitas Kandungan Kimia Utama Puding Merah Dengan Metode Uji Brine Schrimp. http://USU_Repository_Kromatografi_kolom Diakses tanggal 15 Juli 2011 Makooi-Morehead, Wiliam, T. W., Buehler, J. D., Landman., and Brian R., 1999, Pattern Fast Disintegrating Capsules Or Tablet Elfavirenzs Used Super Disintegrants. http://www.wpo/tablet Diakses 13 Oktober 2011 Nugroho, A. F. 2008. Formulasi Tablet Hisap Ekstrak Kemangi (Ocimum sanctum L.) Secara Granulasi Basah Dengan Menggunakan Pulvis Gummi Arabici (PGA) Sebagai Bahan Pengikat. Skripsi. Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah, Surakarta. Orwa C., A. Mutua, R. Kindt, R. Jamnadass, & A. Simons. 2009. Aleurites moluccana. http://www.worldagroforestry.org/af/treedb2/AFTPDFS/Aleurites_molucc ana.pdf Diakses tanggal 15 Juli 2011 Plantamor. 2008. Kemiri (Aleurites moluccana). http://www.plantamor.com/index.php?=54 Diakses tanggal 15 Juli 2011 Parrot E.L. 1971. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics, 3nd Edition. Burgess Publishing Company. Minneapolis, USA. Shangraw, R., Mitrevej, A. and Shah, M.1980. A New Era of tablet Disintegrant, Pharmaceutical Technology. Oktober, 49-57. Sibi. 2010. Tanaman Obat http://www.mupeng.com/threads/15589-tanaman-obat-update Diakses tanggal 15 Juli 2011

Sulaiman, T. N. S. 2007. Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet. Laboratorium Teknologi Farmasi. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tarigan, S. U. 2008. Pembuatan dan Uji Sediaan Tablet Antalgin. Skripsi. Program Diploma III Analisis Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan. Voigt, R., 1994. Buku pelajaran teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh Soendani, N.S. edisi ke-5. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. .