Anda di halaman 1dari 10

Mesin Tetas Ayam Oleh Administrator Rabu, 03 Juni 2009 09:17

Pendahuluan Usaha peternakan unggas (ayam dan itik) merupakan jenis usaha yang cukup menjanjikan. Hal ini didasari oleh jumlah permintaan produk hewani asal unggas baik telur maupun daging tiap tahun makin meningkat. Sebagai contoh di Kotamadya Kendari pada tahun 2002 permintaan ayam buras berkisar 500 600 ekor per minggu, sementara baru tepenuhi 300 400 ekor per minggu (Anonim, 2002). Dilihat dari data permintaan tersebut prospek usaha agribisnis unggas yang salah satunya adalah ayam buras cukup potensial. Keunggulan lain usaha agribisnis unggas adalah tidak mutlak memerlukan biaya yang besar, tergantung dari kemampuan peternak yang korelasinya dengan skala pemilikan. Selain itu jenis ternak ini telah lama dikenal masyarakat sehingga teknik budidayanya tidak terlalu rumit. Dalam upaya memacu usaha peternakan unggas perlu adanya sentuhan teknologi tepat dan mudah diterapkan oleh peternak. Dari sisi ketersediaan bibit, teknologi penetasan telur buatan dengan penggunaan mesin tetas telur sangat cocok diterapkan. Keunggulan teknologi ini adalah menghilangkan periode mengeram pada induk sehingga induk mampu menghasilkan telur lebih banyak selama hidupnya, selain itu anak ayam dapat di produksi dalam jumlah yang besar pada waktu yang bersamaan. Prinsip kerja dari mesin tetas ini adalah menciptakan situasi dan kondisi yang sama pada saat telur dierami oleh induk. Kondisi yang perlu diperhatikan adalah suhu dan kelembaban. Suhu optimal adalah 38,8o C atau 101o F. Kondisi suhu tersebut dapat direkayasa dengan penggunaan sumber panas listrik maupun lampu minyak dan untuk kelembaban optimal digunakan air yang ditempatkan dalam mesin tetas. Mesin tetas dibedakan atas dasar sumber panas yang digunakan. Pertama, mesin tetas elektrik dengan menggunakan listrik yang dihubungkan dengan lampu pijar sebagai sumber panas. Kedua, mesin tetas yang menggunakan sumber panas lampu minyak yang dihubungkan dengan silinder yang terbuat dari seng plat sebagai sumber panas. Ketiga, mesin tetas kombinasi yaitu gabungan dari sumber panas yang berbeda (listrik dan lampu minyak), jenis mesin tetas ini sangat efektif pada daerah yang sering mengalami pemadaman lampu, sehingga pada saat lampu padam maka digunakan lampu minyak sebagai sumber panas. Model mesin tetas telur ini dapat diperoleh di toko poultry shop atau membuat sendiri dengan bahan yang mudah dan tersedia di tempat. Besarnya mesin tetas telur yang digunakan disesuaikan dengan kapasitas telur yang akan ditetaskan seperti ; 200 butir, 400 butir dan 600 butir. II. Bahan - Bahan yang Digunakan Pembuatan mesin tetas disesuaikan dengan kondisi sumber panas yang tersedia. Pada tempat yang belum ada listrik bisa dibuat mesin tetas dengan menggunakan lampu minyak sedangkan daerah yang tersedia listrik bisa dibuat mesin tetas telur elektrik atau mesin tetas kombinasi. Bahan-bahan yang digunakan antara lain : Kayu kaso 4 x 5 cm sebagai rangka mesin Tripleks melamin, kaca dan engsel Kawat ram (tempat peletakan telur) Paku dan seng plat Nampan air dan thermometer Alat pengatur suhu (thermoregulator) Lampu pijar dan lampu minyak

Cara Pengoperasian Mesin Tetas Telur A. Persiapan Sebelum digunakan, mesin tetas harus dibersihkan dahulu dari mikroorganisma pengganggu dengan jalan penyemprotan bahan pembunuh kuman / desinfektan. Pemanas dihidupkan.24 jam sebelum telur dimasukan ke dalam mesin tetas, Telur dibersihkan dengan menggunakan lap basah hangat dan tiriskan. Suhu mesin tetas harus konstan, diusahakan 38,8o C atau 101o F. Nampan air diisi air secukupnya (tidak sampai penuh), penggunaan air ini untuk menjaga kelembaban mesin tetas, untuk itu selama penetasan harus diperhatikan stabilitas volume air. Setelah telur bersih dan kering, telur diberi tanda pada kedua belah sisi dengan spidol atau alat tulis lain, misal ; huruf A dan B di kedua belah sisi. Pemberian tanda ini berguna untuk memudahkan dalam pemutaran telur agar lebih merata. Telur yang sudah ditandai dimasukan secara perlahan ke dalam mesin tetas dengan posisi tanda seragam. Tutuplah mesin tetas setelah semua telur dimasukan. Setelah 48 jam telur dalam mesin tetas, mulai dilakukan pemutaran telur setiap pagi dan sore. Pemutaran telur dilakukan sampai hari ke 18. Pemeriksaan telur sebaiknya dilakukan 2 kali, yaitu pada hari ke 7 dan hari ke 18. Telur yang bertunas (tanda telur hidup) tampak terang dan tidak terdapat bintikbintik merah Telur yang bertunas ditandai dengan adanya titik merah di bagian petengahan, ukurannya kira-kira sebesar biji kacang hijau dan tampak bergerak. Apabila titik merah tersebut tidak bergerak pertanda embrio dalam telur mati, maka telur yang mati tersebut harus dibuang agar telur tidak membusuk dalam mesin. Telur akan memenetas pada hari ke 20 atau 21. Anak ayam yang keluar dari telur dibiarkan dahulu dalam mesin selama kurang lebih 24 jam, sampai bulu anak ayam kering dan kondisi anak ayam normal. Setelah kering dan normal, anak ayam bisa dikeluarkan dari mesin tetas.

B. Operasional Penetasan

DAFTAR PUSTAKA Anonimous, 2002. Sulawesi Tenggara Dalam Angka. BPS Sulawesi Tenggara.Rasyaf. M. 1997, Beternak Ayam Kampung . Penebar Swadaya. Jakarta.

Mesin Penetas Telur


www.sentralternak.com, Mesin penetas telur adalah sebuah inovasi teknologi yang cara kerjanya mengadopsi tingkah laku (behaviour) induk ayam atau unggas lainnya selama masa mengeram. Oleh karena itu tak heran jika banyak orang yang menyebutnya dengan mesin penetas telur, mesin tetas telur, alat penetas telur, dan ada sebagian orang yang menggunakan istilah setter dan hatcher. Banyak sudah macam mesin penetas yang ditawarkan oleh produsen mesin tetas. Pada intinya semuanya sama berdasarkan cara kerjanya akan tetapi beda dalam hal harga. Produsen pun begitu ada yang hanya berorientasi bisnis semata dan ada juga yang berorientasi untuk kemajuan perunggasan masa depan. Berdasarkan cara kerjanya mesin ini dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu mesin penetas manual, mesin penetas semi otomatis atau modern dan mesin penetas full otomatis atau modern. Berikut adalah sedikit keterangan dari ke tiga mesin tersebut :

Mesin penetas manual artinya pembalikan telur masih dilakukan satu-satu dengan sentuhan tangan langsung dan kontrol suhu masih belum otomatis. Kelebihan penetas manual adalah kontrol terhadap telur yang ditetaskan lebih terjaga. Kenapa? Karena, minimal 2-3 kali dalam sehari telur-telur tersebut dibalik sehingga kita mengetahui telur mana yang sudah dibalik dan yang belum dibalik. Kelebihan lainnya adalah pada waktu pembalikan telur kita bisa merubah posisi telur yang semula dipinggir dipindah ke tengah dan sebaliknya guna pemerataan suhu. Adapun kekurangannya adalah butuh tenaga dan waktu khusus untuk mengawasi dan pengoperasiakannya. Mesin penetas semi otomatis atau semi modern artinya pembalikan telur ada yang sudah dengan sekali handle dan ada juga yang masih dibalik satu-satu. Kontrol suhu sudah otomatis baik dengan menggunakan thermostat atau thermoregulator. Kelebihan penetas semi otomatis adalah cara kerja yang lebih simple dan mudah dioperasikan. Adapun kekurangannya adalah harga lebih mahal jika dibandingkan dengan mesin mesin penetas manual dan kontrol terhadap telur yang ditetaskan kurang. Hal ini disebabkan oleh terlalu percayanya operator terhadap mesin ini sehingga beranggapan bahwa setiap telur yang dimasukkan mesin ini pasti menetas. Padahal kita tidak tahu kontrol suhu di dalam ruangan mesin sewaktu penetasan berlangsung. Mesin penetas full otomatis atau modern artinya pembalikan dan control suhu semuanya serba otomatis. Mesin ini biasanya terdiri dari dua sekat atau ruang yaitu ruang untuk pengeraman saja (setter) dan ruang untuk persiapan telur yang akan menetas (hatcher). Kelebihan penetas full otomatis adalah pekerjaan menjadi ringan dan bisa mengoperasikan dalam jumlah banyak walau dengan tenaga kerja satu orang ketika masa pengeraman. Kekurangannya adalah dari segi harga, mesin ini mempunyai harga yang jauh berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan mesin penetas semi otomatis. Dan kalau ada gangguan sewaktu masa pengeraman akan berakibat fatal terhadap telur yang sedang ditetaskan. Akan tetapi hal ini jarang terjadi pada mesin yang full otomatis. Dari semua jenis yang telah kami paparkan di atas manakah yang terbaik? Jawabnya adalah kembali kepada kita sendiri, seberapa modal yang kita punya, tujuan usaha yang akan kita dirikan dan berapa jumlah SDM yang akan mendukung usaha kita. Tidak ada salahnya apabila sebelum membeli anda bertanya tentang harga, spesifikasi produk, dan yang lainnya agar tidak menyesal dikemudian hari. Semoga bermanfaat. *(SPt) Anda dapat mengcopy artikel ini dengan menyebutkan sumbernya : www.sentralternak.com

Mesin Penetas Telur


www.sentralternak.com, Mesin penetas telur adalah sebuah inovasi teknologi yang cara kerjanya mengadopsi tingkah laku (behaviour) induk ayam atau unggas lainnya selama masa mengeram. Oleh karena itu tak heran jika banyak orang yang menyebutnya dengan mesin penetas telur, mesin tetas telur, alat penetas telur, dan ada sebagian orang yang menggunakan istilah setter dan hatcher. Banyak sudah macam mesin penetas yang ditawarkan oleh produsen mesin tetas. Pada intinya semuanya sama berdasarkan cara kerjanya akan tetapi beda dalam hal harga. Produsen pun begitu ada yang hanya berorientasi bisnis semata dan ada juga yang berorientasi untuk kemajuan perunggasan masa depan. Berdasarkan cara kerjanya mesin ini dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu mesin penetas manual, mesin penetas semi otomatis atau modern dan mesin penetas full otomatis atau modern. Berikut adalah sedikit keterangan dari ke tiga mesin tersebut : Mesin penetas manual artinya pembalikan telur masih dilakukan satu-satu dengan sentuhan tangan langsung dan kontrol suhu masih belum otomatis. Kelebihan penetas manual adalah

kontrol terhadap telur yang ditetaskan lebih terjaga. Kenapa? Karena, minimal 2-3 kali dalam sehari telur-telur tersebut dibalik sehingga kita mengetahui telur mana yang sudah dibalik dan yang belum dibalik. Kelebihan lainnya adalah pada waktu pembalikan telur kita bisa merubah posisi telur yang semula dipinggir dipindah ke tengah dan sebaliknya guna pemerataan suhu. Adapun kekurangannya adalah butuh tenaga dan waktu khusus untuk mengawasi dan pengoperasiakannya. Mesin penetas semi otomatis atau semi modern artinya pembalikan telur ada yang sudah dengan sekali handle dan ada juga yang masih dibalik satu-satu. Kontrol suhu sudah otomatis baik dengan menggunakan thermostat atau thermoregulator. Kelebihan penetas semi otomatis adalah cara kerja yang lebih simple dan mudah dioperasikan. Adapun kekurangannya adalah harga lebih mahal jika dibandingkan dengan mesin mesin penetas manual dan kontrol terhadap telur yang ditetaskan kurang. Hal ini disebabkan oleh terlalu percayanya operator terhadap mesin ini sehingga beranggapan bahwa setiap telur yang dimasukkan mesin ini pasti menetas. Padahal kita tidak tahu kontrol suhu di dalam ruangan mesin sewaktu penetasan berlangsung. Mesin penetas full otomatis atau modern artinya pembalikan dan control suhu semuanya serba otomatis. Mesin ini biasanya terdiri dari dua sekat atau ruang yaitu ruang untuk pengeraman saja (setter) dan ruang untuk persiapan telur yang akan menetas (hatcher). Kelebihan penetas full otomatis adalah pekerjaan menjadi ringan dan bisa mengoperasikan dalam jumlah banyak walau dengan tenaga kerja satu orang ketika masa pengeraman. Kekurangannya adalah dari segi harga, mesin ini mempunyai harga yang jauh berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan mesin penetas semi otomatis. Dan kalau ada gangguan sewaktu masa pengeraman akan berakibat fatal terhadap telur yang sedang ditetaskan. Akan tetapi hal ini jarang terjadi pada mesin yang full otomatis. Dari semua jenis yang telah kami paparkan di atas manakah yang terbaik? Jawabnya adalah kembali kepada kita sendiri, seberapa modal yang kita punya, tujuan usaha yang akan kita dirikan dan berapa jumlah SDM yang akan mendukung usaha kita. Tidak ada salahnya apabila sebelum membeli anda bertanya tentang harga, spesifikasi produk, dan yang lainnya agar tidak menyesal dikemudian hari. Semoga bermanfaat. *(SPt) Anda dapat mengcopy artikel ini dengan menyebutkan sumbernya : www.sentralternak.com

DOC DAN DOD HASIL MESIN TETAS SEDERHANA

DOC (Day Old Chick) adalah anak ayam umur sehari. Baik ayam kampung maupun ayam negeri (ayam ras pedaging=broiler dan ayam ras petelur=layer). Sementara DOD (Day Old Duck) adalah anak itik umur sehari. Baik itik pedaging (itik peking) maupun itik petelur (itik alabio, tegal, mojosari dan lain-lain). Produksi DOD itik petelur, juga akan menghasilkan itik jantan yang akan digemukkan menjadi itik pedaging. Baik DOC maupun DOD, merupakan komoditas penting dalam agroindustri daging dan telur. Karenanya, agroindustri DOC dan DOD menggunakan mesin tetas juga berkembang cukup pesat di Indonesia. Ada beberapa mesin tetas yang bisa dipergunakan untuk memproduksi DOC dan DOD. Pertama mesin tetas sederhana. Ujudnya hanyalah kotak segi empat dari kayu atau triplek. Di dalamnya ada sekat horisontal untuk menaruh rak telur berupa bingkai kayu dengan kawat kasa. Di bawah rak telur ini ada nampan untuk tempat air. Pemanas mesin tetas sederhana bisa berupa lampu minyak, lampu pijar (bohlam) atau kawat nikelin. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan lampu minyak adalah, bisa digunakan apabila lokasi tersebut belum ada aliran listrik. Lampu pijar dan kawat nikelin lebih praktis digunakan, namun apabila aliran listrik sering mati akan merepotkan. Kecuali ada cadangan generator. Padahal apabila mesin tetas mati dalam jangka waktu semalam lebih, maka telur tetas akan mengalami kerusakan. Kelebihan lampu minyak adalah, tidak akan terganggu oleh putusnya aliran listrik PLN. Kelebihan lampu pijar adalah, putusnya (matinya) selalu bergantian satu per satu, akan langsung kelihatan dan dengan mudah segera bisa diganti satu persatu. Namun biaya lampu pijar lebih boros dibanding kawat nikelin. Kawat nikelin lebih hemat karena bisa bertanan bertahun-tahun dan tidak perlu ganti-ganti bohlam. Arus listriknya juga lebih hemat. Kelemahannya pada waktu memasukkan dan mengeluarkan serta membalik-balik telur, kita harus hati-hati karena kalau menyentuh kawat nikelin akan terkena aliran listrik. Kalau kawat nikelin rusak juga harus dibongkar total dan

diganti. Harga kawat nikelin juga cukup mahal. Namun untuk perhitungan jangka panjang, mesin tetas sederhana dengan kawat nikelin jauh lebih hemat dibanding dengan lampu minyak dan bohlam. Peralatan paling penting pada mesin tetas adalah thermostat. Thermostat paling sederhana berupa spiral tembaga yang akan memuai atau menyusut sesuai dengan tingkat suhu di sekitarnya. Pemuaian dan penyusutan ini akan membuka atau menutup lubang ventilasi mesin tetas dengan sumber panas lampu minyak. Pada mesin tetas dengan sumber panas energi listrik, pemuaian dan penyusutan spiral tembaga ini akan memutus aliran listrik. Karena suhu tubuh induk ayam/itik yang mengeram 38 C, maka thermostat harus disetel agar pada suhu lebih dari 38 C, ventilasi akan membuka atau aliran listrik putus. Karena ventilasi membuka dan aliran listrik putus, suhu dalam box mesin tetas akan menurun. Karena suhu turun, spiral tembaga kembali menyusut hingga ventilasi menutup dan aliran listrik tersambung lagi. Thermostat akan menjaga agar suhu mesin tetas tetap stabil pada 38 C. Thermostat sederhana ini harganya hanya sekitar Rp 150.000,- per unit. Meskipun akurasi thermostat ini tidak terlalu baik, namun mesin-mesin tetas sederhana yang menggunakannya bisa berproduksi dengan baik. Sebab pada akhirnya, operator mesin tetas itulah yang akan sangat menentukan berhasil atau tidaknya penetasan. Bukan paralatannya. Mesin-mesin tetas yang sedikit lebih canggih, akan menggunakan thermostat modern buatan RRC, Taiwan, Jepang maupun Jerman. Harga eks RRC, Taiwan dan Jepang sekitar Rp 250.000,- per unit, sementara yang dari Jerman Rp 300.000,- Karena selisih harganya tidak terlalu besar, padahal akurasi dan keawetannya lebih baik, maka banyak produsen DOC maupun DOD yang lebih memilih thermostat buatan Jerman. Kapasitas mesin tetas sederhana ukuran terkecil adalah 50 butir telur itik atau 60 butir telur ayam kampung. Bentuknya kubus dengan panjang, lebar dan tinggi 40 cm. Biasanya mesin tetas ukuran ini menggunakan thermostat spiral tembaga. Mesin tetas kapasitas lebih besar, berukuran 80 X 80 X 60 cm. Kapasitasnya 100 butir telur itik atau 120 telur ayam kampung. Thermostat yang digunakan sudah yang modern eks impor. Kapasitas yang paling besar ukuran 100 X 100 X 70 cm. Kapasitasnya 150 butir telur itik atau 180 butir telur ayam kampung. Kapasitas ini sulit untuk diperbesar, sebab proses pembalikan telur secara manual akan susah. Tangan operator akan sulit untuk menjangkau telur yang berada paling ujung. Mesin tetas sederhana hanya bisa dibuat satu tingkat (satu rak telur). Apabila akan dibuat susun, misalnya susun dua, tiga atau empat, harus menggunakan blower untuk menciptakan sirkulasi udara panas secara merata dalam masing-masing tingkat. Mesin tetas sederhana secara teknis sulit untuk menciptakan sistem sirkulasi udara demikian. Karenanya, mesin tetas modern sudah merupakan perangkat built up yang lengkap dengan heater berikut thermostatnya, blower, perangkat pelembap, pebalik telur dan lain-lain. Semua perangkat tersebut bekerja secara otomatis dengan sistem komputer. Satu unit mesin demikian, bisa berkapasitas sampai ratusan ribu butir satu angkatan. Mesin inilah yang digunakan oleh breeder produsen DOC ayam pedaging maupun petelur. Ruang mesin tetas sederhana terbagi menjadi tiga bagian. Bagian bawah adalah tempat nampan berisi air guna menjaga kelembapan ruangan. Di tengah terdapat rak telur dengan alas kawat kasa kasar. Bagian atasnya berupa pemanas dari bohlam atau kawat nikelin. Di atas inilah biasanya ditempatkan thermostat. Untuk mengontrol suhu, di atas telur ditaruh thermometer biasa (C dan F). Pintu mesin tetas diberi kaca bening untuk memungkinkan operator melihat thermometer tanpa harus membuka pintu mesin. Pembukaan pintu hanya dilakukan ketika dilakukan pembalikan telur pada pagi dan sore hari, atau pada waktu pengontrolan telur dengan menggunakan lampu. Telur yang akan ditetaskan, umurnya harus di bawah 1 minggu. Bentuknya bulat telur sempurna (tidak terlalu bulat atau terlalu lonjong). Kulit telur normal ketebalannya, dengan warna yang juga normal (tidak berbintik-bintik, terlalu terang atau terlalu gelap). Ukuran

telur juga normal. Telur yang terlalu besar atau terlalu kecil harus diafkir. Telur tersebut harus berasal dari induk yang sehat dan fertil (terbuahi oleh induk jantan). Rasio ideal jantan betina pada ayam kampung adalah satu jago empat sampai enam betina. Sementara pada itik antara satu delapan sampai dengan satu sepuluh. Sebelum masuk mesin tetas, telur harus dilihat dengan kotak berlubang dengan lampu di dalamnya. Cara melihat telur, posisi telur horisontal dan diletakkan tepat pada lubang. Tanda telur yang sehat adalah bening dengan embrio di bagian tengahnya. Telur yang infertil, tidak ada titik embrio di tengahnya. Embrio yang mati ditandai dengan titik hitam. Sebelum telur dimasukkan, mesin tetas harus dibersihkan sisa-sisa kerabang telur terdahulu. Pemanas dihidupkan dengan nampan berisi air baru. Suhu ruangan harus tetap stabil selama 1 sd. 2 jam pada angka 38 C. Setelah itu semua beres, baru telur dimasukkan. Selanjutnya suhu terus menerus dikontrol, air di nampan juga tidak boleh habis, pembalikan dilakukan minimal sehari dua kali. Pada hari ketiga, semua telur dikontrol menggunakan kotak berlampu. Telur yang akan menetas ditandai dengan adanya pembuluh darah halus yang menyebar dari embrio. Telur yang mati ada titik hitamnya pada bekas embrio. Selanjutnya, hanya telur yang hidup yang dimasukkan lagi ke dalam mesin tetas. Kontrol berikutnya dilakukan pada hari ke delapan. Selanjutnya bagian dalam telur sudah menjadi gelap hingga tidak bisa dilampu lagi. Pada periode ini, telur yang mati ditandai dengan kulit yang dingin dan "koplak" (kalau diguncang terasa kelapa tua). Masa pengeraman telur ayam adalah 21 hari sejak telur dimasukkan mesin. Telur itik memerlukan 28 hari. Harga telur itik konsumsi saat ini Rp 900,per butir di tingkat konsumen. Harga telur itik tetas, bisa mencapai Rp 1.000,- per butir. Dengan catatan si penetas membeli langsung ke peternak seharga Rp 600,- per butir. Angka Rp 1.000,- per butir diperoleh dengan asumsi hanya 60% dari telur tersebut yang layak untuk ditetaskan. Dari 100 butir telur yang ditetaskan, hanya 80% (80 butir) yang akan menetas. Dari 80 ekor DOD tersebut, 40 ekor betina dan 40 ekor jantan. Nilai DOD betina Rp 3.500,per ekor. Sementara jantannya hanya Rp 1.250,- Hingga pendapatan kotor penetas adalah Rp 190.000,- bruto. Modal untuk membeli 167 butir telur agar bisa diperoleh 100 butir layak tetas adalah Rp 600,- X 167 = Rp 100.200,- Investasi mesin tetas Rp 400.000,- disusutkan 5 tahun @ tahun Rp 80.000,- Dengan asumsi dalam setahun mampu menetaskan 10 periode, maka penyusutan per periode tetas adalah Rp 8.000,- Total modal kerja meliputi tarif listrik, bohlam dan lainlain di luar tenaga kerja, Rp 30.000,-. Sebanyak 67 butir telur yang tidak masuk mesin tetas, dijual debagai telur konsumsi dengan harga Rp 700,- per butir hingga masih ada tambahan pendapatan Rp 46.900,- Total pendapatan dari DOD dan telur afkir adalah Rp 236.900,Berarti masih ada marjin kotor per periode penetasan 100 butir telur itik sebesar Rp 106.300,- Kalau seorang penetas ingin memperoleh pendapatan kotor (upah + sewa ruangan) sebesar 1.000.000,- per bulan, maka ia harus mampu menetaskan telur itik 1.000 butir per periode, dengan minimal 10 unit mesin tetas yang dioperasikan. (R) * * *

Cara Membuat MEsin Tetas Telur Sendiri Mesin Tetas Ayam .....Usaha peternakan unggas (ayam dan itik) merupakan jenis usaha yang cukup menjanjikan. Hal ini didasari oleh jumlah permintaan produk hewani asal unggas

baik telur maupun daging tiap tahun makin meningkat. Sebagai contoh di Kotamadya Kendari pada tahun 2002 permintaan ayam buras berkisar 500 600 ekor per minggu, sementara baru tepenuhi 300 400 ekor per minggu (Anonim, 2002). .....Dilihat dari data permintaan tersebut prospek usaha agribisnis unggas yang salah satunya adalah ayam buras cukup potensial. Keunggulan lain usaha agribisnis unggas adalah tidak mutlak memerlukan biaya yang besar, tergantung dari kemampuan peternak yang korelasinya dengan skala pemilikan. Selain itu jenis ternak ini telah lama dikenal masyarakat sehingga teknik budidayanya tidak terlalu rumit. Dalam upaya memacu usaha peternakan unggas perlu adanya sentuhan teknologi tepat dan mudah diterapkan oleh peternak. .....Dari sisi ketersediaan bibit, teknologi penetasan telur buatan dengan penggunaan mesin tetas telur sangat cocok diterapkan. Keunggulan teknologi ini adalah menghilangkan periode mengeram pada induk sehingga induk mampu menghasilkan telur lebih banyak selama hidupnya, selain itu anak ayam dapat di produksi dalam jumlah yang besar pada waktu yang bersamaan. Prinsip kerja dari mesin tetas ini adalah menciptakan situasi dan kondisi yang sama pada saat telur dierami oleh induk. Kondisi yang perlu diperhatikan adalah suhu dan kelembaban. Suhu optimal adalah 38,8o C atau 101o F. .....Kondisi suhu tersebut dapat direkayasa dengan penggunaan sumber panas listrik maupun lampu minyak dan untuk kelembaban optimal digunakan air yang ditempatkan dalam mesin tetas. Mesin tetas dibedakan atas dasar sumber panas yang digunakan. .......Pertama, mesin tetas elektrik dengan menggunakan listrik yang dihubungkan dengan .........lampu pijar sebagai sumber panas. .......Kedua, mesin tetas yang menggunakan sumber panas lampu minyak yang dihubungkan .........dengan silinder yang terbuat dari seng plat sebagai sumber panas. .......Ketiga, mesin tetas kombinasi yaitu gabungan dari sumber panas yang berbeda (listrik .........dan lampu minyak), jenis mesin tetas ini sangat efektif pada daerah yang sering mengalami .........pemadaman lampu, sehingga pada saat lampu padam maka digunakan lampu minyak .........sebagai sumber panas. .....Model mesin tetas telur ini dapat diperoleh di toko poultry shop atau membuat sendiri dengan bahan yang mudah dan tersedia di tempat. Besarnya mesin tetas telur yang digunakan disesuaikan dengan kapasitas telur yang akan ditetaskan seperti ; 200 butir, 400 butir dan 600 butir. .....Bahan Bahan yang Digunakan Pembuatan mesin tetas disesuaikan dengan kondisi sumber panas yang tersedia. Pada tempat yang belum ada listrik bisa dibuat mesin tetas dengan menggunakan lampu minyak sedangkan daerah yang tersedia listrik bisa dibuat mesin tetas telur elektrik atau mesin tetas kombinasi. Bahan-bahan yang digunakan antara lain :

1.Kayu kaso 4 x 5 cm sebagai rangka mesin 2.Tripleks melamin, kaca dan engsel 3.Kawat ram (tempat peletakan telur) 4.Paku dan seng plat 5.Nampan air dan thermometer 6.Alat pengatur suhu (thermoregulator) 7.Lampu pijar dan lampu minyak Cara Pengoperasian Mesin Tetas Telur A. PersiapanSebelum digunakan, ...........mesin tetas harus dibersihkan dahulu dari mikroorganisma pengganggu dengan jalan .....penyemprotan bahan pembunuh kuman / desinfektan. .......- Pemanas dihidupkan.24 jam sebelum telur dimasukan ke dalam mesin tetas, .......- Telur dibersihkan dengan menggunakan lap basah hangat dan tiriskan. .......- Suhu mesin tetas harus konstan, diusahakan 38,8o C atau 101o F. .......- Nampan air diisi air secukupnya (tidak sampai penuh), penggunaan air ini untuk menjaga ..........kelembaban mesin tetas, untuk itu selama penetasan harus diperhatikan stabilitas volume ..........air. .......- Setelah telur bersih dan kering, telur diberi tanda pada kedua belah sisi dengan spidol atau .........alat tulis lain, misal ; huruf A dan B di kedua belah sisi. .........Pemberian tanda ini berguna untuk memudahkan dalam pemutaran telur agar lebih .........merata.Telur yang sudah ditandai dimasukan secara perlahan ke dalam mesin tetas dengan .........posisi tanda seragam. Tutuplah mesin tetas setelah semua telur dimasukan. B. Operasional PenetasanSetelah 48 jam telur dalam mesin tetas, ........ mulai dilakukan pemutaran telur setiap pagi dan sore.Pemutaran telur dilakukan sampai hari ke 18.Pemeriksaan telur sebaiknya dilakukan 2 kali, yaitu pada hari ke 7 dan hari ke 18. .....- Telur yang bertunas (tanda telur hidup) tampak terang dan tidak terdapat bintik-bintik .........merahTelur yang bertunas ditandai dengan adanya titik merah di bagian petengahan, .........ukurannya kira-kira sebesar biji kacang hijau dan tampak bergerak. .....- Apabila titik merah tersebut tidak bergerak pertanda embrio dalam telur mati, maka telur ........yang mati tersebut harus dibuang agar telur tidak membusuk dalam mesin. .....- Telur akan memenetas pada hari ke 20 atau 21.Anak ayam yang keluar dari telur dibiarkan ........dahulu dalam mesin selama kurang lebih 24 jam, sampai bulu anak ayam kering dan kondisi ........anak ayam normal. .....- Setelah kering dan normal, anak ayam bisa dikeluarkan dari mesin tetas.