Anda di halaman 1dari 2

IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA(UU No. 19 TAHUN 2002) TERHADAP PEMBAJAKAN BUKU A.

Latar Belakang Permasalahan Hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan

pembangunan seluruh masyarakat Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini berarti pembangunan tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah atau kepuasan batiniah saja melainkan juga mengejar keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara keduanya. Keseimbangan antara pemenuhuan kebutuhan lahiriah maupun batiniah tersebut diwujudkan dalam pembangunan disegala segi kehidupan masyarakat Indonesia. Pembangunan disektor fisik sebagaimana diarahkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara ( GBHN ) merupakan usaha bersama antara masyarakat dengan pemerintah, demikian pula dengan pembangunan disektor non fisik tidak terlepas dari peranan masyarakat dan pemerintah. Pembangunan disektor non fisik dapat berupa : pemenuhan seni dan budaya sebagai media untuk berekspresi dan berkarya. Seiring dengan pesatnya kemajuan jaman yang ditandai dengan adanya reformasi total disegala bidang telah melahirkan satu gejolak yakni : kebebasan, salah satunya adalah kebebasan dalam berkesenian dan berkebudayaan. Di era reformasi ini, para penulis buku dapat berkreasi dengan seluruh ide cemerlangnya untuk menghasilkan suatu karya sastra yang dapat dinikmati oleh setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat, namun seiring terjadi di dalam kehidupan sehari-hari, karena keterbatasan faktor ekonomi dan kurangnya pemahamankesadaranakanhukumolehmasyarakatdalammenikmati dan menghargai suatu karyaseni sehingga menimbulkan kecenderungan untukmenikmatikarya senidengancarayangsalah. Sebagaicontoh : bukan munafik lagi kita lebihmemilih membelibukudi pedagang kakilimayang jelas-jelas mereka menjualbuku-

bukubajakandibandingkan kalau kita membelibuku-buku di toko buku yang resmianalasan harganya lebih murah danmudahdidapat. Dari contoh diatas terlihat betapa besarnya dampak dari adanya pembajakan tersebut. Dilihat dari segi ekonomisnya, hal tersebut sangat merugikanbanyakparapihak,antara lainnegaradenganberkurangnyapajak penghasilannegara ( Pph ), pihakpenerbitdanterutamabagipenulis itu sendiri.

Ironisnyadarisegiyuridishaltersebutbertentangandenganaturan khususnyamengenaipelanggaranterhadaphakcipta atas suatu karya seni.

hukumyangberlaku,

Hak cipta pada dasarnya ada atau lahir bersamaan dengan lahirnya suatu karya cipta atau ciptaan. Undang-Undang memberikan pengertian terhadap hak cipta, dengan diberikannya perlindungan hukum sejak suatu ide diwujudkan dengan suatu yang nyata dalam arti dapat dilihat, didengar, dibaca oleh orang lain maka hal tersebut merupakan hak cipta. Hak cipta sendiri memberikan perlindungan terhadap ciptaan yaitu hasil karya pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Berpangkal pada hal tersebut diatas maka setidaknya pemerintah harus lebih giat dan sungguhsungguh dalam hal mengani kasus pembajakan buku yang sudah sedemikian memprihatinkan, hal ini terbukti

dari tahun ketahun jumlah kasus pembajakan buku yang serupa terus-menerus meningkat dengan cepat seiring dengan kemajuan teknologi yang terutama dibidang grafika sehingga penggandaan buku dapat dilakukan dengan mudah sekali dengan kualitas yang hampir sama bagusnya dengan buku yang asli. Melihat kenyataan tersebut maka sangatlah penting adanya jaminan hukum yang mengatur masalah hal ini, khususnya Hak Cipta. Adapunbentukperlindunganhukumolehnegaraterhadappenghargaan dalamUU No.19 Tahun 2002, selainitusebagai salahsatu karya cipta seseorang diatur

anggota WTO ( World

Trade

Organization )

organisasiperdagangan dunia yang didalamnya memuat tentang TRIPs ( Trade Releted Aspects Or Intelektual Property Rights ), mengenaipelaksanaanhakmilikintelektualdalam prakteknya.

DisinidinyatakanbahwasetiappesertapersetujuanTRIPsiniharus meratifikasiisiperjanjiantersebutdanmengundangkannyasesuaidengan denganhukumnasionalyangberlakudi

masing-masingnegara untuk memerintahkan kepada pihak yang melanggar supaya memberitahukan kepada pihak pemegang hak milikintelektual bersangkutan identitas dari pihak ketiga yang terlibat dalam produksi dan distribusi daribenda-benda atau jasa bajakan ini, juga termasuk didistribusikanparapelanggartersebut.Hal ini bertujuan untuk mengetahui sumberpemalsuan yang mengakibatkan kerugian terhadap pihak pemeganghak ini. Selain pengaturan hukum diatas didunia internasional juga dikenal adanya World Intelektual Property Organization( WIPO ),suatubadan bentukan PBB yang bermarkas di Jenewa Swissdimanaberkedudukan sebagai Spezialized Agency yang bertugas untuk mempromosikan perlindungan

hakmilikintelektualdiseluruhduniadengancaramelakukankerjasama antar negara-negara. Dengankondisidemikian, padagilirannya akan menimbulkan kegairahan barudalam prosesperlindungan setiap pelanggaran hak cipta yang terjadi apabila dengan berlakunya UU No.19Tahun2002 sehingga

diharapkan pemerintahlebih seriusmenangan ipermasalahan pelanggaran hakcipta ini. Mengingat negara kita tergolong dalam daftarprioritasnegarayangdiawasi( Priority Watch Bist ) oleh United States Trade

Representatif (USTR), sebagai salah satu negara yang tingkat pelanggaranhakmilikintelektualyangcukuptinggi. Bertolakdarihal tersebut ini merupakan suatu tantangan bagibangsa Indonesia, khususnya para aparat penegak hukum dan penerapansanksi-sanksihukumterhadapsetiappelanggaranhakcipta ( di dalam hal ini pembajakan buku ) yang terjadi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku(UU No.19 Tahun 2002) di negara kita. B.Perumusan Masalah 1. 2.

Implementasi apa yangmenyebabkanterjadinyapembajakan buku ?


Bagaimana bentuki perlindungan hukum pencipta dan hasil karya cipta atas terjadinya pembajakan buku