Anda di halaman 1dari 1100

Tiraikasih Website http://kangzusi.

com/

Oleh : Tjan ID sumber : dimhad scan djvu oleh LYF (dimhad) convert & edit doc/txt :jilid 1 oleh aaa, jilid 2-dst Abu Keisel Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ atau http://dewi.0fees.net/ Jilid 1 : Jago pedang yang dikhianati kekasih Di SUATU JALAN bukit yang sepi nun jauh di sana, dibawah rembulan yang redup, lamat-lamat tampak dua sosok manusia sedang berlarian dengan langkah tergesa-gesa. Menanti mereka semakin mendekat, tampaklah kalau dua orang itu adalah seorang nenek berambut putih yang sedang menggandeng tangan seorang bocah cilik. Sambil berlari kencang, tiada hentinya nenek berambut putih itu berpaling kebelakang memandang kearah belakang dengan sinar mata gugup, panik dan ketakutan. Sekilas pandangan saja, dapat diketahui kalau mereka sedang menghindarkan diri dari suatu persoalan atau pengejaran dari sementara orang. Tapi bila dilihat dari langkahnya yang lamban serta perawakan tubuhnya yang telah menua, bisa diketahui pula jika dia bukan seorang manusia persilatan, melainkan seorang nenek biasa yang berhati baik. Didepan sana terbentang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebuah hutan bambu yang amat lebat, melihat itu bagaikan sipenjelajah gurun pasir yang bertemu dengan tanah hijau, wajah nenek itu segera berseri, dengan cepat dibopongnya bocah itu kemudian sambil mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya, dia kabur masuk ke dalam hutan dengan napas tersengal. Setelah berada didalam hutan, nenek itu kembali berpaling dan celingukan beberapa waktu lamanya ke tempat luaran sana, kemudian itu baru ia hembuskan napas panjang dan meletakkan sibocah ketanah. Sambil duduk kelelahan. ia berkata: "Aaaaiii. masih untung Thian melindungi kita dan lolos dari mulut harimau, mari kita beristirahat sebentar!" Baru selesai sinenek bergumam, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara seram yang kedengarannya mendirikan bulu roma orang. mendengar suara itu si nenek segera berpaling... Mendadak ia menjerit tertahan saking kaget dan takutnya. "Aaaah..." Entah sejak kapan, ternyata dibelakang tubuhnya telah berdiri berjajar tiga orang bersenjata golok yang mengenakan kain kerudung hitam diatas wajahnya. Ditengah jeritan kaget sinenek, dari balik hutan secara beruntun muncul lagi empat lima orang berkerudung hitam. Ia tak berani berayal lagi, buru-buru dibopongnya tubuh bocah itu ingin menerjang ke luar dari kepungan, siapa tahu baru saja ia bangkit berdiri, dua orang manusia telah muncul dihadapannya dan menghadang jalan pergi nya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tergetar keras perasaan sinenek setelah menjumpai empat penjuru penuh dengan musuh. hatinya menjadi dingin separuh, buru-buru ia menjatuhkan diri berlutut, lalu sambil menangis pintanya: "Kumohon kepada hohan sekalian agar mengampuni selembar jiwa bocah ini, keluarga Suma tinggal seorang sauya ini saja, dia masih kecil dan tak tahu urusan, kumohon kepada kalian kasihanilah selembar jiwanya." Sambil berkata, air mata nenek itu jatuh bercucuran dengan amat derasnya.. sungguh mengenaskan sekali keadaannya. Siapa tahu yang diperoleh sebagai penggantinya adalah gelak tertawa licik yang mendekati kalap. Terdengar salah seorang diantaranya berkata; "Toaya sekalian bertugas disini memang bertujuan untuk melenyapkan keturunan Suma Tiong Ko, kau sinenek jelek yang sudah hampir mampus. untuk menyelamatkan diri saja belum tentu sanggup, masih berani benar memikirkan keselamatan orang lain, lebih tak usah banyak ngebacot lagi!" Mendengar perkataan itu, sinenek bertambah gelisah, sambil menangis tersedu-sedu kembali pintanya, "Ooohhh... hohan sekalian, kalau mau membunuh, aku saja! Kumohon kepada kalian agar suka mengampuni selembar jiwanya, berbuatlah sedikit kebajikan!" "Mengampuni jiwanya? Berbuat kebajikan? Hmmn Toaya tak pernah memikirkan soal tetek bengek semacam itu, toaya hanya tahu setia pada tugas tidak tahu apa artinya memberi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pengampunan dan apa artinya berbuat kebaikan, enyah kau dari sini! Kalau tidak, terhitung kau sendiripun kujagal sekalian!" Sehabis mendengar kata kata yang sama sekali tiada harapan itu, si nenek berambut putih itu menangis semakin menjadi, tampal ia memeluk bocah itu makin kencang, isak tangisnya juga makin nyaring menggema di dalam hutan itu. Si bocah yang berada dalam pelukannya itu melototkan sepasang matanya yang jeli, dia mengawasi terus lelaki bersenjata golok disekeliling tempat itu dengan penuh kebencian, dan balik sorot matanya yang masih polos, jelas terlihat tiada perasaan jeri atau ketakutan yang terpancar keluar. Mendadak terdengar salah seorang lelaki itu membentak keras, tubuhnya bergerak ke muka menghampiri nenek itu, kemudian sambil mendorong tubuh nenek itu kebelakang, makinya kalang kabut. Kasihan si nenek yang telah lanjut usia itu, kena didorong oleh lelaki tadi, bagaikan mabuk arak saja tubuhnya segera mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, begitu terjatuh ketanah, dia mengaduh tiada hentinya.. Kemudian sambil mengayunkan goloknya ke bocah itu, lelaki berkerudung itu tertawa seram. "Heeh .. . heeh ...bocah keparat, kau jangan salahkan kalau Toayamu berhati kejam!" Selesai berkata dia lantas mengayunkan goloknya membacok tubuh bocah tersebut. Melihat majikan mudanya terancam bahaya disaat yang kritis inilah mendadak ia menubruk ke atas bocah itu dan melindunginya dengan menggunakan tubuh sendiri.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang dari mulut nenek itu, percikan darah segar segera berhamburan mengotori sekujur badan lelaki itu. Ketika semua orang berpaling ketempat kejadian maka tampaklah ayunan golok dari lelaki itu sudah menembusi perut si nenek sehingga ususnya pada keluar semua... Kasihan si nenek yang setia membela majikannya sampai mati, demi keselamatan majikan mudanya dia rela mengorbankan nyawanya. Lelaki berkerundung itu segera mendengus dingin, sambil membersihkan goloknya dan noda darah, dia mencaci maki kalang kalut: "Nenek jelek, nenek sialan, tampaknya kau memang sudah bosan hidup, pingin mati saja" Seraya berkata dengan gemas dia lantas menendang mayat si nenek yang masih menindih diatas tubuh bocah itu sehingga mencelat ke tempat jauh sekali dari sana. Betul betul perbuatan orang pembunuh keji yang membunuh orang tak berkedip, kekejaman, kebuasan dan kebrutalannya sukar dilukiskan dengan kata kata. Bocah itu melirik sekejap kearah mayat si nenek yang mati demi menyelamatkan jiwanya itu, kemudian menangis tersedu sedu, Melihat itu dengan gusar lelaki berkerundung tersebut membentak keras : "Menangis, menangis terus! Hm, hayolah menangis sampai puas. beritahu pada raja akhirat nanti, akulah yang telah mengirimmu Pulang ke sana . !" Begitu selesai berkata, goloknya kembali diayunkan kedepan untuk membacok batok kepala bocah itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Disaat yang amat kritis inilah, dari tengah udara berkumandang suara pekikan yang nyaring memekikkan telinga. Tampak sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah meluncur masuk ketengah arena, kemudian tampak cahaya putih berkelebat lewat, serentetan jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan. Dengan perasaan terkesiap kawanan jago berkerundung yang berada disekeliling tempat tu berpaling, entah sejak kapan tahu tahu di tengah arena telah bertambah dengan seorang busu setengah umur yang memegang sebilah pedang. Sementara itu, si lelaki berkerundung yang telah menyiapkan bacokan mautnya terhadap bocah tadi, kini sudah tewas ditanah. Seketika itu juga suasana dalam hutan itu menjadi gempar, serentak semua orang menyebarkan diri ke empat penjuru dan bersiap siaga mengurung busu setengah umur itu rapat rapat. busu berusia setengah umur itu kira-kira telah berusia empat puluh tahun, matanya tajam dengan wajah yang tampan, dibawah janggutnya memelihara segumpal jenggot kambing, pakaiannya ringkas dan nampak sangat gagah sekali. Dengan sorot matanya yang tajam dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan dingin ujarnya: "Kawanan tikus! Apakah kalian ingin membunuh orang sampai keakar-akarnya?" Tak seorang manusiapun yang menjawab, semua orang bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sampai lama kemudian, salah seorang diantaranya baru berkata. "Orang she Wan, lebih baik kau jangan mencampuri urusan orang lain, apakah kau berani menanggung peristiwa yang berlangsung pada hari ini?" Lelaki setengah umur itu menatap tajam pembicaraan tersebut lekat lekat, lalu sahutnya : "Iya,aku Wan Liang akan menanggungnya seorang diri. jika kalian tidak puas, silahkan maju bersama-sama, kalau tidak, cepat sipat ekor dan pergi dari sini!" Suaranya nyaring dan bertenaga penuh, selesai berkata ia lantas mengawasi orang-orang disekitar tempat itu dengan sinis. Mendadak terdengar beberapa kali bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, lelaki berkerudung yang berada disekeliling tempat itu serentak maju bersama dan mengayunkan golok mereka untuk membacok tubuh Wan Liang. Sungguh hebat manusia yang bernama Wan liang itu. melihat sergapan dari kawan lelaki berkerudung itu. dia tertawa dingin lalu berpekik keras, suara nyaring menjulang tinggi sampai keangkasa. Mendadak sepasang bahunya digetarkan sambil melejit keudara dengan menggunakan suatu gerakan tubuh yang cepat bagaikan sambaran kilat dia meluncur mengitari sekeliling tempat itu .... Seketika itu juga timbul di arena pertarungan tampak serentetan cahaya putih berkelebat lewat, bagaikan kupu kupu yang terbang diantara bebungaan, dia meluncur kesana kemari dengan lincahnya. Dalam waktu singkat jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan keheningan, bayangan manusia berkelebat, cahaya putih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyambar, jeritan ngeri segera bergema memecah keheningan. Tahu tahu ditengah arena telah bertambah dengan enam sosok mayat yang membujur di tanahSisanya yang dua orang segera melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat kejadian. Busu setengah umur yang mengaku bernama "Wan Liang" itu tetap berdiri tenang ditempat semula seakan akan tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun, dengan napas tenang, wajah tidak berubah, dia berdiri tertawa disitu. Akhirnya ia menatap bocah tersebut dan menegur sambil tertawa: "Nah, kau merasa terkejut sekali dengan peristiwa ini?" Sampai sebesar itu, belum pernah bocah tersebut menyaksikan mayat mnnusia yang bergelimpangan serta pertarungan yang begitu sengit sejak tadi ia sudah berdiri tertegun disitu dengan tubuh kaku. Menanti Wan Liang menegur, dia baru tersadar kembali dari lamunan, dengan cepat ia menjatuhkan diri berlutut sambil berkata: "Oooh . Pousat yaya terima kasih atas pertolonganmu itu sehingga membuat aku..." Menyaksikan kejadian itu, Busu setengah umur itu segera memegang perutnya sambil tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya yang keras segera menelan ucapan bocah itu berikutnya. Selesai tertawa, ia baru berkata: "Hayo bangun, tak usah mengucapkan kata kata yang tak berguna lagi..." Sembari berkata dia lantas membangunkan bocah itu dan diperhatikan sejenak. Tampak bocah itu berwajah tampan dengan bibir yang merah serta dua baris gigi yang putih. pada hakekatnya dia merupakan seorang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bocah yang amat menarik. Wan Liang segera menepuk nepuk bahu bocah itu kemudian menghela napa panjang, pikirnya. "Bocah ini benar benar amat kasihan dan menyenangkan. aku bisa menolongnya, hal ini merupakan suatu kemujuran. Kalau dilihat dari potongan badannya, jelas dia merupakan bahan bagus unutk berlatih silat... tapi apa mungkin aku bisa membawanya pergi?" berpikir sampai disitu. dia telah bersiap siap membalikkan badannya untuk pergi, tapi ketika dilihatnya bocah itu menangis dengan begini sedihnya ia lantas menghela napas panjang. pikirnya dihati: "Wan Liang wahai Wan Liang . . menolong orang lain merupakan kewajiban bagi setiap umat manusia, apakah kau tega membiarkan bocah yang tak tahu urusan ini mesti berdiam di sini dihembus angin dingin?" Berpikir sampai disini, tanpa terasa busu berusia pertengahan itu mundur beberapa langkah lagi, mendesak ia mendongakkan kepalanya berpekik nyaring, lalu membalikkan badan berlalu dari sana. Dalam waktu singkat tampak bayangan tubuhnya berkelebat lewat dan lenyap dibalik hutan sana. Sinar rembulan yang redup kini telah menembusi hutan menyoroti si bocah yang berada disana seorang diri. ia sedang mendekan diatas tubuh nenek tersebut sambil menangis tersedu-sedu. "Thio popo... Thio popo... " gugamnya terus menerus. -ooo)(00000)(000BUKIT CIAT THIAN Hong menjulang tinggi keangkasa dan berdiri angker diantara bukit-bukit yang lain. Waktu itu matahari sudah tenggelam kelangit barat mendatangkan sinar yang kemerah-merahan, kemudian awan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gelappun mendekati tanah perbukitan itu dan menyelimuti seluruh jagad. Tebing Goan Gwat Peng berbentuk sebuah topi yang datar menutupi puncak Ciat Thian Hong. Diatas tanah datar tersebut duduk berkerumun beberapa orang, ada yg berdiri, ada yang berbincang bincang, ada pula yang sedang memandang ketempat kejauhan. Tiba tiba dari tanah datar dipuncak bukit itu berkumandang datang dua kali pekikan nyaring, menyusul kemudian tampak dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan seperti angin puyuh melayang turun di atas tanah datar itu, gerakannya cepat dan mengagumkan sekali. Bayangan manusia itu seperti dari seorang pria dan seorang wanita, usia mereka diantara tiga empat puluh tahunan Begitu tiba ditempat tujuan, mereka mengawasi sekejap sekeliling tempat itu. kemudian si pria berkata sambil tertawa terbahak-bahak: "Haaahhh. . . haaahhh. . Haaabbh.... rupanya kalian sudah berdatangan lebih awal, aaiii ... tiga orang saudara dari bukit Tiang pek san-pun telah jauh-jauh berangkat kemari, sungguh tak kusangka, oooh .... masih ada Kang pangcu dari sungai kuning juga telah datang.... selamat berjumpa, selamat bejumpa. rasanya tidak sia-sia perjalanan aku orang she Siau hari ini" Selesai berkata dia lantas menyalami setiap orang yang hadir disana dan mengajaknya berbincang-bincang sebentar. Sementara itu, seorang kakek berambut putih telah datang menghampiri kedua orang itu, lalu sambil menjura katanya. "Siau tayhiap berdua telah datang terlambat, membuat kami harus menunggu dengan cemas, sewaktu datang tadi apakah kalian berdua telah melihat dia?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Orang yang berbicara tadi adalah Pangcu dari perkumpulan Tiang Ciau Pang disungai kuning Kang Hong Siang adanya. dia berusia tujuh puluh tahun dan mempunyai anak buah sebanyak ribuan orang lebih. boleh dibilang perkumpulannya merupakan perkumpulan paling besar, paling tangguh dan paling berpengaruh didalam dunia persilatan dewasa ini. Lelaki she Siau itu segera tertawa ter-bahak2, "Haaaahh haaah haaah .. tampaknya Kang tangkeh seorang yang terburu napsu, kalau waktunya belum sampai, mana mungkin dia akan datang lebih awal? Lagi pula malam ini kita telah menanti kedatangannya disini, apakah kita mesti kuatir dia lagi kelangit?" Ternyata sepasang suami istri ini adalah Bi Kun Lun (Kun lun indah) Sian Wie Goan dan Siau Hu Yong(Hu Yong Tertawa) Chin lan eng dua orang jago yang dianggap sebagai pemimpin dunia persilatan dewasa ini. Dalam pada itu, rembulan sudah berada di angkasa membuat suasana diatas tanah datar dipuncak bukit itu nampak agak terang, semua orang segera berkumpul ke tengah lapangan tersebut. Bi Kunlun Siau Wie Goan mendongakkan kepalanya memandang waktu, kemudian ujarnya dengan wajah berseri: "Waktunya sudah tiba, murgkin orang She Wan akan mengingkari janjinya.." Belum selesai dia berkata, mendadak dari tengah udara telah berkumandang datang suara pekikan panjang yang amat nyaring.... Mendengar pekikan tersebut, semua orang menjadi tertegun, pada saat itulah tampak sesosok bayangan hitam secepat kilat telah meluncur ditengah udara lalu melayang turun ke tanah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Serta merta semua orang mundur beberapa langkah dengan terperanjat. Dengan manisnya orang itu segera melayang turun ke atas permukaan tanah. "Haaahhh... haaahhh . .. haaahhh . . . aku orang she Wan sudah datang terlambat, bila kalian harus menunggu agak lama, harap suka dimaafkan" katanya lantang. Rupanya orang yang baru datang itu adalah si busu berusia pertengahan Wan Liang. Tampak sekulum senyum, menghiasi bibirnya. Dia berdiri ditengah arena dengan angkuh dan mengawasi setiap orang disekitar arena dengan pandangan tajam, akhirnya sorot mata tersebut berhenti diatas tubuh Bi Kun-lun Siauw Wie Goan. Mendadak paras mukanya berubah menjadi amat serius, katanya sambil tertawa dingin : "Hmm. ...hmm.....sudah kuduga kalau permainan ini merupakan sandiwara hasil ciptaanmu, Siau Wie Goan, kuberitahu kepadamu, aku Wan Liang bersikap cukup baik kepadamu, menganggap kau sebagai saudara sendiri siapa tahu kau si manusia munafik berwajah manusia berhati binatang, apa maksudmu merusak nama baikku? Bahkan pada hari ini telah mengundang jago-jago dari golongan putih dan golongan hitam untuk menungguku disini, masa kau anggap aku tidak tahu kalau tujuanmu adalah menginginkan batok kepalaku ini....? Hm, sekarang aku orang she Wan sudah datang memenuhi janji, akan kulihat permainan setan macam apa lagi yang bisa kau tunjukkan kepadaku?" Sekulum senyuman manis selalu saja menghiasi ujung bibir Bi Kun Lun Siau Wie Goan, katanya dengan santai : "Saudara Wan, kau salah paham, berbicara dari hubungan persahabatan kita ini, masa aku tega melakukan perbuatan semacam ini kepadamu? Tindak tandukmu itu hanya dalam hati kecilmu yang tahu, sekalipun aku Siau Wie Goan ingin melindungi dirimu juga tidak mungkin bisa mewujudkan keinginanku tersebut ..."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar perkataan itu, Wan Liang menjadi gusar sekali sehingga dari balik matanya memancar cahaya berapi api yang penuh diliputi kegusaran, sambil menggigit bibir serunya "Siau Wie Goan, kau merampas cinta dan menjebak temanmu itu ketempat yang memalukan, bahkan secara diam diam menghubungi kawanan jago dari golongan hitam dan putih untuk bersama sama menyerang diriku, sekarang masih bisanya mengucapkan kata kata yang sok gagah, hmm ... kau anggap aku orang she Wan adalah seorang bocah berusia tiga tahun yang bisa kau tipu mentah mentah .. .. " Belum habis dia berkata. Bi Kun Lun Siau Wie-Goan telah menimbrung lagi: "Sekarang sudah bukan saatnya berdebat mempersoalkan masalah itu lagi, malam ini begitu banyak teman yang telah berada disini, mereka sudah menunggu dengan tak sabar. sedangkan aku orang she Siau cuma kebetulan saja ikut menghadiri pertemuan ini, bila kau merasa ada persoalan, sampaikan saja kepada mereka!" Setelah berhenti sebentar, dengan wajah penuh senyuman dia melanjutkan: "Wan heng, mari ku perkenalkan beberapa orang teman kepadamu, dia adalah Kang pangcu, ketiga orang bersaudara itu datang dari Tiang Pek San, dan dia ini adalah ketua Go Bi Pay..." "Aku orang she Wan sudah tahu.terima kasih banyak atas perkenalanmu, aku she Wan sudah lama mengenal mereka, buat apa kita mesti banyak berbicara lagi." Lotoa dari Tiang Pek Sam Sat(Tiga Malaikat bengis dari Tiang Pek San) Li Gi segera tertawa dingin tiada hentinya, lalu berkata: "Bagus, bagus... tampaknya ucapan dari jago pedang angin puyuh memang cukup cepat dan tegas. nama besarmu bukan cuma nama kosong belaka. jauh-jauh kami datang kemari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tentu saja bukan dikarenakan ingin bersilat lidah belaka. mari biar aku orang she Li yang mencoba kepandaian silatmu lebih dulu." Selesai berkata ia lantas meloloskan sebilah golok dan bersiap siap untuk melancarkan serangan. Kit Hong Kiam Khek Wan Li cukup sadar akan keadaan yang dihadapinya, selesai itu diapun telah bertekad untuk menghadapi masalah tersebut dengan pertaruhan selembar jiwanya. maka begitu dilihatnya Lotoa dari Tiang Pek Sam Sat, si bintang berkepala sembilan Li Gi telah meloloskan senjatanya tanpa sungkan sungkan lagi diapun segera mencabut keluar pedang Kit Hong Kiam yang tersoren dibelakang punggungnya. Terdengar suara dentingan yang amat nyaring menggema memecahkan keheningan menyusul kemudian terlihat cahaya biru memancar ke empat penjuru. Si Bintang berkepala sembilan logi segera meloloskan pedangnya daridalam sarung kemudia serunya tertawa: "Pedang bagus!" Setelah memegang senjatanya, Kit Hong Kiam khek Wan Liang segera menggetar pelan senjata mestikanya itu, ditengah udara segera muncul tiga kuntum bunga pedang yang menyilaukan mata. Demonstrasi jurus Bwe Hoa Sam Long (Tiga Kuntum Bunga Bwee melompat) tersebut dengan cepat memancing pujian semua orang. Sebenarnya tujuan dari Kit Hong Kiam Khek Wan Liang bukan untuk memamerkan kepandaiannya, tapi kejadian ini justru telah membangkitkan amarah dari bintang berkepala sembilan Li Gi. Tampak sepasang matanya melotot besar dengan memancarkan cahaya kebuasan. ditatapnya wajah Kit Hong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kiam Khek Wan Liang dengan penuh kegusaran, kemudian sambil tertawa seram katanya, "Orang she Wan, lebih baik jangan menjual lagak lagi disini. mari kita tentukan kemampuan kita diujung senjata!" Begitu selesai berkata, goloknya segera diputar kencang, lalu membacok ketubuh Kit Hong Kiam Khek Wan Liang dengan mempergunakan jurus Soat Kay Hoan-San (salju menyelimut Hoa san). Kit Hong Kiam Khek Wan Liang merupakan seorang tokoh sakti dalam dunia persilatan dewasa ini, ilmu pedangnya sangat lihay sekali, meski belum sampai setahun dia terjun kedalam dunia persilatan, akan tetapi nama besarnya telah menggetarkan seluruh kolong langit. Ilmu pedangnya yang telah mencapai puncak kesempurnaan itu boleh dibilang merupakan seorang jago pedang paling tangguh selama seratus tahun belakangan ini. Ketika dilihatnya golok Kiu Tau Siu Li Gi membacok datang, sambil mendengus dingin dia miringkan kepalanya kesamping dan mengegos dari ancaman tersebut, kemudian dengan cekatan dia mundur sejauh satu kaki lebih dari tempat semula. "Li tangkeh!" ujarnya dengan lantang, "kalau hanya mengandalkan kemampuanmu seorang masih ketinggalan jauh sekali, mengapa kalian bertiga tidak maju bersama sama saja?" Cemoohan yang bernada mengejek ini kontan saja membuat paras muka Kiu tau siu Li Gi menjadi merah padam. kegusarannya makin membara, bentaknya keras : "Keparat she Wan, serahkan selembar jiwa anjingmu!" Seusai bekata bagaikan anjing gila dia menubruk kedepan. goloknya diayun ke udara dan membacok batok kepala Kit Hong Kiam Khek Wan Liang secara keji.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada saat itulah dari dalam arena kembali melompat keluar dua sosok bayangan manusia sambil mengayun golok masing masing. mereka menyerang Kit Hong Kiam Khek secara ganas. Tak bisa disangkal lagi, kedua orang itu bukan lain adalah loji dan losam dari Tiang Pek Sam Sat, Pia Mia Siu(Binatang beradu jiwa )Li Khing, dan Liat hwe Siu(binatang berangasan) Li Hiong. Kit Hong Kiam Khek Wan Liang menjadi girang. setelah dilihatnya ketiga orang itu turun tangan bersama, tanpa terasa ia mendongakan kepalanya dan berpekik nyaring, menyusul kemudian sambil menerjang kemuka, dia mengembangkan permainan ilmu pedang Kit Hong Kiam Hoatnya untuk melancarkan serangan balasan. Tiang Pek Sam Sat bukan manusia sembarangan. mereka sudah terkenal dalam dunia persilatan, sudah banyak kejahatan yang mereka lakukan, kekejamannya bukan kepalang, tak sedikit manusia yang tewas ditangan mereka. Dalam kalangan Liok lim, mereka dikenal sebagai jago kelas satu yang disegani banyak orang, Akan tetapi bila dibandingkan dengan kehebatan Kit Hong Kiam khek, maka kemampuan mereka itu boleh dibilang masih selisih jauh sekali. Tak selang berapa saat kemudian, empat orang yang berada diarena pertarungan itu sudah saling bergebrak sebanyak sepuluh gebrakan lebih. Mendadak Tiang Pek Sam Sat berpekik aneh, tubuh mereka melejit setinggi satu kaki lebih, kemudian dengan membentuk satu garis, tiga bilah golok mereka dengan posisi segitiga, terbagi menjadi atas, kiri dan kanan bagaikan sebuah jalan mengurung tubuh Kit Hong Kiam Khek. Menghadapi ancaman tersebut, Kit Hong Kiam khek Wan Liang mendengus dingin, dengan jurus Ki-hwee liau-thian (mengangkat obor membakar langit) pedangnya diangkat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

diatas kepala.sepasang matanya mengawasi ketiga kuntum bunga golok yang meluncur tiba dari tengah angkasa itu dengan seksama .... Dengan kecepatan bagaikan sambaran petir ketiga kuntum bunga golok yang meluncur datang dari tengah angkasa itu telah tiba dalam sekejap mata . ... Traaaang benturan senjata yang amat nyaring berkumandang memecahkan keheningan, menyusul kemudian terdengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati bergema, bayangan manusia segera berpisah, loji dari Tiang Pek Sam Sat, si binatang beradu jiwa Li Kheng telah terkapar ditanah dalam keadaan tak bernyawa lagi. Dan sebaliknya si binatang berkepala sembilan Li Gi dan si binatang berangan Li Hong segera melejit kesamping untuk menghindarkan diri, kemudian tanpa berpaling lagi mereka kabur menyematkan diri dari tempat tersebut. Sehabis melukai ketiga orang lawannya Itu, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang berdiri tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun, ia berdiri ditempat dengan senyum dikulum, lalu sambil tersenyum tegurnya : "Sekarang, tiba giliran siapa" Bi Kun lun Siau Wie Goan maju dua langkah kedepan, lalu sahutnya sambil tertawa seram : "Atas kesudian beberapa orang sahabat yang hadir di arena malam ini untuk mempercayai diriku, aku telah diangkat menjadi pemimpin mereka sesungguhnya tujuan kami mengundang kehadiran saudara Wan kemari, tak lain adalah berharap kau suka meluluskan satu permintaan kami." "Apakah permintaan kalian itu?" tanya Kit Hong Kiam Khek Wan Liong sambil tertawa dingin. "Minta kepadamu untuk selamanya mengundurkan diri dari dunia persilatan..." jawab Bi Kun Lun Siau Wie Goan tegas. "Kalau tidak . . ?" Wan Liang balik bertanya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Terpaksa aku harus berbuat kasar kepadamu" Baru selesai Bi Kun Lun Siau Wie-Goan mengutarakan kata katanya, Siau Hu Yong Cian Lan Eng yong berada disampingnya telah menukas dengan wajah sedingin es "Wie-Goan buat apa banyak bicara dengannya, waktu sudah tidak pagi lagi." Begitu mendengar ucapan tersebut, seketika itu juga Kit Hong Kiam Khek merasakan sorot matanya memancarkan cahaya berapi, dia tak menyangka kalau kekasih yang dicintainya, kini telah berubah menjadi seorang manusia sekeji ini. Tak tahan lagi, akhirnya dia mencaci maki dengan penuh kegusaran : "Perempuan rendah, . sekalipun sudah menjadi setan, aku orang she Wan ingin mendahar darah dan dagingmu!" Siau Hu yong Chin Lan Eng segera tertawa terkekeh-kekeh dengan jalangnya : "Heehh... . heeehhh. ,.. Wan tayhiap yang sok suci dan sok gagah, memangnya kau anggap bisa menelan aku Lan eng dengan begitu saja ? Malam ini, bila kau bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamatpun sudah merupakan suatu kemujuran bagimu" Saking marahnya Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sempat tertawa nyaring, suaranya ibarat monyet monyet di selat Wi sia yang berpekik bersama, suaranya penuh kepedihan. kesedihan, seperti menjerit, seperti menangis, mengerikan sekali kedengarannya. Begitu selesai tertawa, mendadak ia melotot besar, mencorong sinar tajam dari balik matanya, sambil menggertak gigi bentaknya. "Aku orang she Wan tidak percaya kalau kau si perempuan rendah bisa memiliki kemampuan untuk menahanku disini, malam ini aku orang she Wan datang dengan membawa tekad

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk beradu jiwa, tapi setelah mendengar perkataan itu, aku orang she Wan justru tak akan mati, ingin kulihat apa yang bisa kau lakukan terhadap diriku?" Baru selesai Kit Hong Kiam Khek Wan Liang berkata, mendadak terdengar suara seseorang yang tua tapi nyaring bergema datang. "Omitohud!" Dari sudut tanah lapang itu pelan pelan berjalan mendekat seorang pendeta tua. Kit Hong Kiam Khek Wan Liang segera berpaling sekejap ke arahnya, ternyata orang itu adalah Leng Kong taysu, ciangbujin dari partai Go bi .. .. Dengan langkah pelan Leng kHong toysu berjalan ketengah arena, kemudian tegurnya: "Wan tayhiap, sejak berpisah baik baikkah kau? Mengingat hubungan persahabatan kita selama beberapa tahun, pinceng ingin menasehatimu dengan sepatah kata: Turutilah anjuran dari Siau tayhiap, sejak detik ini mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan dan jangAn muncul kembali dalam keramaian dunia!" "Mengapa? Persoalan dari aku orang she Wan hanya aku sendiri yang bisa memutuskan. Hari ini, mengapa taysu malah berkomplot dengan kaum munafik untuk menghadapi aku?" Malam ini, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sudah cukup menyadari akan situasi yang dihadapinya, diapun tahu kesalahan pahaman umat persilatan kepadanya tak mungkin bisa dijelaskan dalam sepatah kata saja, oleh karena itu sikap maupun caranya berbicara pun turut berubah menjadi agak keras dan ketus. Tapi dengan demikian. hal ini justru telah telah membangkitkan kemarahan umum dari semua jago lihay yang berkumpul diarena hari ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Belum sempat Leng KHong taysu menjawab pertanyaan itu, ketua Tiang Ciu Pang dari sungai kuning Kang Hong Siang telah membentak dengan penuh kegusaran: "Orang she Wan, yakinkah kau dapat mengundurkan diri dengan selamat..?" "Soal ini tidak perlu kau risaukan!" jawab Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sinis. "Bagus sekali!" ketua Tiang ciau pang Kang-Hong Siang tertawa lebar, "rupanya kau orang she Wan, seorang manusia tak tahu diri, hm... kau anggap kepandaian yang kau miliki sudah terhitung sangat liehay? Siapa tahu lohu dapat memenuhi harapanmu itu". Begitu selesai berkata dia segera menggerakkan sepasang bahunya dan bergerak kedepan dengan kecepatan luar biasa, belum tiba pada sasarannya, sebuah pukulan dahsyat yang disertai desingan angin tajam telah di lontarkan keatas tubuh Kit Hong Kiam Khek. Sebelum peristiwa ini, antara Kang Hong Siang dan Wan Liang memang sudah pernah terikat oleh suatu perselisihan, kin begitu musuh besar saling bertemu,tanpa terasa lagi Padam seluruh wajahnya, tanpa banyak berbicara lagi pertarungan sengit segera berkobar. Padahal keadaan seperti ini justru merupakan apa yang dihadapkan oleh Kit Hong Kiam Khek Wan Liang, sebab berbicara soal kemampuan. dia masih sanggup untuk mengungguli setiap orang yang hadir diarena bila pertarungan dilangsungkan satu lawan satu. Tapi orang kuno pernah berkata. Sepasang tangan susah menghadapi empat tangan, hohan sukar menahan kerubutan orang banyak Andai kata belasan orang jago lihay yang hadir sekarang menyerang bersama sama, betapapun lihaynya ilmu silat yang dimiiki Kit Hong Kiam Khek Wan Lang, toh lebih banyak ancaman bahayanya daripada keuntungan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka diapun segera menggunakan sistim memecah belah kekuatan lawan untuk mengobarkan kemarahan mereka satu demi satu, kemudian membereskan pula mereka satu demi satu, sehingga dengan demikian, akan makin melemah kekuatan lawannya. Tatkala serangan dari Kang Hong Siang di lancarkan datang, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang juga tak sungkan sungkan lagi, pedang mustikanya segera diayunkan ke udara membentuk serentetan bianglala yang amat menyilaukan mata, lalu dengan Jurus Khong Ciok Say "burung merak mementangkan sayap" pedangnya membuat selapis kabut pedang yang tebal untuk membendung lebih dulu ancaman dahsyat lawan, setelah itu sambil berpekik nyaring tubuh berikut pedangnya melebur menjadi satu mulai mengembangkan permainan ilmu pedang Kit Hong Kiam hoat yang telah didalaminya selama dua puluh tahunan itu. "Sreeet, sreseet, sreeet....." tiga buah serangan berantai di lancarkan secara beruntun memaksa Kang pangcu yang menjagoi sungai Huang Ho ini terdesak mundur sejauh satu kakiBelum lagi dirinya berdiri tegak, suatu pekikan nyaring kembali berkumandang, pedangnya dengan menciptakan selapis cahaya tajam langsung membabat batok kepala Kang Hong Siang dengan 'Liu tian ciau ka' "kilat dan guntur menjadi satu". Pada hakekatnya serangan tersebut dilancarkan dengan kecePatan yang amat sukar diikuti dengan pandangan mata, mimpipun Kang Hong Siang tidak mengira kalau ilmu pedang Kit Hong Kiam yang amat termashur itu mengandung jurus ampuh yang mematikan. Menanti ia menyadari tibanya cahaya biru didepan mata, keadaan sudah terlambat, tanap terasa ia menjerit kaget: "Habislah riwayat ku kali ini!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan cepat ia memejamkan matanya menantikan datangnya kematian. Di saat yang kritis itu. mendadak dari tengah arena meluncur dua sosok bayangan hitam kemudian menyusul dari arena itu berkumandanglah suara bentrokan senjata yang amat nyaring... Tiba tiba saja Kang Hong Siang merasakan munculnya segulung angin pukulan yang dahsyat itu menghantarnya keluar dari arena dan jatuh terkapar ditanah. Menanti dia dapat kembali, tampaklah Leng Khong toysu dan Bi Kun Lun Siau Wie Goan telah menyelamatkan selembar jiwanya barusan. sementara itu, Bi Kun Lun Siau Wie Goan telah menjadi naik pitam, dia itu lantas membentak dengan nyaring: "Saudara sekalian malam ini dia tak boleh dibiarkan pergi lagi dalam keadaan hidup.: Selesai berkata dia segera meloloskan pedang nya lebih dulu. Kawanan jago lainnya juga meloloskan senjata masing masing, hanya Leng kong taysu, ketua dari Go bi pay saja yang menggulung bajunya sehingga kelihatan lengannya yang kekar, ia tidak mempergunakan senjata tajam,. Menyaksikan situasi yang terbentang ada di depan mata itu, seketika itu juga Kit Hong Kiam Khek Wan Liang merasakan hatinya turut menjadi tegang, dia cukup tahu kalau kawanan jago yang hadir di arena sekarang terdiri dari jago jago golongan putih maupun hitam, sebagian besar jago jago itu merupakan kelas satu dalam dunia persilatan, bukan berarti suatu pekerjaan gampang untuk melarikan diri dari kepungan dengan selamat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tampak sorot matanya itu terakhir berhenti diatas tubuh Bi Kun Lun Siau Wie Goan, dibalik sorot matanya itu terpancar keluar rasa benci dan dendam yang amat tebal. Selama ini Bi Kun Lun Siau Wie Goan hanya tertawa dingin tiada hentinya, sedang istrinya Siau Hu Yong Chi Lan Eng tertawa jalang, tampaknya mereka sengaja berbuat demikian untuk membangkitkan kemarahan dari Kit Hong Kiam Khek Wan Liang agar lebih cepat turun tangan untuk menentukan mati hidup mereka. Benar juga, Kit Hong Kiam Khek segera masuk perangkap, dengan sorot mata yang berapi-api seperti binatang buas. dia memandang ke kiri kanan dengan garangnya, persis seperti seekor harimau yang sedang mengincar mangsanya. Anehnya, sekalipun kawan jago tersebut sudah begitu lama melakukan pengepungan, namun tak seorangpun diantara mereka yang maju untuk melancarkan serangan Tapi hal inipun tak bisa disalahkan. Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sudah termashur dipersilatan sebagai seorang jagoan yang amat dahsyat. bagaimanapun banyaknya kawanan jago yang mengurungnya, tak urung mereka dibikin tercekat juga oleh kegagahan lawannya. It ci hoa kim (pedang satu huruf) Yu liang gi dari Thian cong pay tak dapat menahan sabarnya lagi, mendadak ia membentak keras. "Apalagi yang mesti dinantikan?" Begitu selesai berkata (bunga kuncup baru mekar), kemudian dengan membawa sambaran angin tajam membacok tubuh Wan Liang. Begitu It Ci hoa Kiam Yu liang gi mempelopori serangan tersebut, To gan sinkun (malaikat sakti bermata tunggal) Cong Eng hui yang berada disebelah kanannya segera menggerakkan senjata andalannya Siang coa kou (sepasang kaitan ular) untuk menyerang Kit Hong Kiam Khek.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu dua orang itu sudah melibatkan diri dalam pertempuran, serentak puluhan orang jago lihay lainnya turut melepaskan pula serangan-serangan. Walaupun Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sudah bertekad untuk melangsungkan pertarungan sengit, setelah menyaksikan kejadian itu, tak urung naik pitam juga dibuatnya, dia segera membentak gusar: "Bedebah, kalian benar-benar tak tahu malu !" Pedang Kit Hong Kiamnya segera berubah dengan jurus Ban Hong jut ciau (selaksa lebah keluar sarang), secepat kilat dia menerjang It ci hoa Kiam Yu Liang Gi, tapi sampai ditengah jalan, nendadak dia marubah jurus serangannnya menjadi Thian ho ta sia (sungai langit tumpah kebawah) dengan kecepatan tinggi ia berganti menususk pergelangan tangan dari To Gan sinkun Cong Eng hui. Jurus serangan ini sekilas pandangan seperti terdiri dari dua gerakan, padahal diantara maju mundurnya terbentuk selapis cahaya tajam yang bersambungan, It-ci hoa-Kiam Yu Liang gi. si jagoan pedang dari Thiamcong-pay itu segera merasakan pandangan matanya menjadi kabur, sementara dia mundur dengan gugup, pedang sakti dari Kit Hong Kiam Khek telah berganti arah mengancam To gan-sinkun. Dipihak lain To Gan sinkun Cong Eng hui mimpipun tak pernah menduga kalau Kit Hong Kiam Khek bakal mempergunakan taktik suara ditimur menyerang kebara unutk memperdaya dirinya, menanti desingan angin pedang sudah tiba didepan badan, untuk menghindar tak sempat lagi. Tahu tahu ujung pedang Wan Liang secepat kilat sudah menyambar diatas pergelangan tangannya secara telak. Mendadak terdengar To gan sinkun Cong Eng hui menjerit keras, tubuhnya mundur beberapa langkah dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sempoyongan, sambil memegangi pergelangan tangannya yang terluka dia mengundurkan diri dari arena pertarungan. Beberapa macam gerakan itu dilakukan dalam waktu singkat, meski panjang untuk diceritakan. padahal kecepatannya ibarat sambaran cahaya berkilat saja. Dalam waktu singkat seluruh arena telah diliputi kilatan golok dan pedang serta suara teriakan yang memekakan telinga, diantaranya terdengar beberapa kali jeritan ngeri serta teriakan kesakitan. Dalam sekejap mata, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang telah dikepung musuh dari empat penjuru, semua musuh yang dihadapinya rata rata merupakan jagoan kelas satu, walaupun ia sudah mengerahkan segenap kepandaian yang dimilikinya untuk melawan, namun setiap saat dia mesti menghadapi rintangan yang cukup berat. Betul dia tangguh dan berilmu tinggi, tapi mungkinkah dia untuk menghadapi kerubutuan puluhan orang sekaligus. Ternyata Bi Kun Lun siau Wie Goan cukup licik, setiap kali melancarkan serangan dia selalu meninggalkan beberapa bagian tenaga murninya. sikap tersebut seakan-akan hendak memberi kesempatan bagi Kit Hong Kiam Khek untuk mengatur naps, tapi bagi pandangan orang yang pintar maka tindakan semacam ini justru menunjukkan kelicikan, seakanakan dia merasa tidak puas sebelum menyaksikan Wan Liang mati kelelahan dan kehabisan tenaga. Kit Hong Kiam Khek Wan Liang cukup memahami keadaan tersebut, maka diapun khusus mencari Siau Wie Goan sebagai sasarannya, jurus serangan demi jurus serangan semuanya dibacokkan ketubuh Bi kun lun. Tak selang setengah perminum teh kemudian sekujur badan Kit Hong Kiam Khek sudah penuh dengan luka bacokan , darah segar telah membasahi seluruh badannya, namun dia masih tetap melawan dengan gagah beraninya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau Hu Yong Chin Lan Eng katanya saja turut ambil bagian dalam kerubutan tersebut, tapi dia lebih tepat kalau dibilang membantu mencaci maki. Perempuan jalang yang tak tahu malu ini sembari melancarkan serangan, ia selalu melontarkan kata kata cemoohan dengan kata yang kotor dan cabul untuk merangsang kegusaran Wan Liang. Bahkan boleh dibilang setiap kata yang diucapkan olehnya terasa bagiakan sebilah pisau yang menembusi perasan Wan Liang, membuat ia merasa amat menderita. Begitulah disamping harus melakukan perlawanan matimatian terhadap ancaman yang datang dari kawanan jago lihay, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang juga harus menaan sakit hatinya akibat cemoohan orang, batinnya mengalami penderitaan, siksaan yang amat sangat ini membuat jago tua ini teringat untuk mati. Tapi baru saja ingatan untuk mati melintas didalam benaknya, napsu untuk hidup serta bara api dendam yang membara dalam bati semakin berkobar, dengan cepat ingatan mana melintas dalam benaknya, diam-diam dia pun berpikir : "Aku tak boleh mati, bagaimanapun juga aku harus tetap hidup lebih lanjut !" Begitu ingatan mana melintas lewat, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya sambil berpekik nyaring, segenap sisa tenaga dalam yang di milikinya dihimpan menjadi satu, dengan mennjejakkan kakinya ketanah. Dia melambung tinggi dua kaki lebih ke tengah udara, kemudian berjumpalitan, pedang menciptakan berkuntum bunga pedang yang bagaikan hujan gerimis menyelimuti tubuh semua orang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Waktu itu para jago bertarung dengan penuh napsu, menyaksikan ia melambung keudara. serentak semua orang mengangkat goloknya ke atas pula. "Omitohud" seru Leng Khong taysu dari Go Bi Pay menyusul dibelakang tubuh Wan Liang, dia melejit pula ketengah udara sambil melancarkan sebuah pukulan. Bila digencet dari atas dan bawah, bagaimanapun lihaynya ilmu silat yang kau miliki, rasanya sulit juga untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut. Kit liong-Kiam-kek Wan Liang memang cukup lihay, tubuhnya yang baru melesat sejauh satu kaki dari permukaan tanah itu mendadak menghentikan gerakan badannya, lalu dengan ilmunya Sia Khong Teng sin (Menghentikan badan ditengah udara) dia menahan gerakan tubuhnya, kemudian pedanga yang sebenarnya hendak membacok kebawah itu diangkat keatas secara tiba-tiba. Dengan meringankan tubuh Liu Im ti (Tangga awan berjalan) yang amat liehay itu, tubuhnya melejit keudara, saat itulah dia bertemu dengan sergapan yang dilepaskan Leng Khong taysu dari atas kebawah. Kit Hong Kiam Khek Wan Liang sangat membenci kawanan jago silat yang menganggap dirinya pendekar tapi kenyataannya berbuat sewewenang wenang, tanpa berpikir panjang lagi pedangnya dengan manggunakan jurus Thian khong lui hee (guntur menggelegar dari tengah angkasa) langsung membabat sepasang kaki Leng Kong taysu. Kasihan Leng khong taysu yang terlalu memandang enteng lawannya itu, tatkala menyaksikan pedang saktinya menyambar kebawah, tubuhnya sudah tak sanggup lagi untuk melejit keudara. Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan. kaki Leng Hong taysu tahu-tahu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sudah terpapas kutung menjadi dua bagian, orangnya pun segera ribih terkapar keatas tanah dan jatuh tak sadarkan diri. Bi Kun Lun Siau Wie Goan yang pertama menemukan peristiwa ini, sambil membentak gusar tubuh berikut pedangnya segera melebur menjadi satu, kemudian meluncur kearah mana Kit Hong Kiam Khek terjatuh tadi. Sayang keadaan sudah terlambat. tubuh Kit Hong Kiam Khek telah lenyap dibawah tebing Goan Gwat Peng tersebut. -Bagian PertamaSENJA TELAH menjelang tiba, matahari sore dengan membawa sisa cahayanya telah bersembunyi dibalik bukit, angin berhembus kencang menggugurkan dedaunan yang mengering. Dalam suasana beginilah, lamat lamat terdengar suara derap kaki kuda yang lemah diiringi suara gemerisik berkumandang datang diri bawah bukit sana .... Tak lama kemudian, dari balik tikungan bukit muncul seekor kuda kurus yang bernafas memburu dan tubuh penuh dengan pasir, di-atas kuda tadi duduk seorang lelaki setengah umur yang berpakaian dengan warna luntur. sebilah pedang antik tersoren dipinggangnya, tapi wajahnya murung dan sedih. . Dengan termangu dia duduk diatas pelana sambil membawa sinar mata ke tempat sana. Dalam pangkuannya sebelah depan duduk pula bocah berumur lima, enam tahun yang berwajah tampan dengan bibir yang merah serta dua baris gigi berwarna putih. Kuda itu, dengan susah payah berjalan maju ke depan. Mendadak terdengar bunyi burung yang ber-kaok kaok, ketika lelaki setengah umur itu mendongakkan kepalanya tampaklah seekor burung gagak sedang bertengger diatas dahan sambil berbunyi tiada hentinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan rasa segan lelaki setengah umur itu menarik kembali sinar matanya yang sayu, kemudian tertawa dingin, gumamnya: "Binatang sialan, kaupun dapat mewartakan suasana murung bagi diriku .. . ." Tiba tiba kuda kurus itu terkulai lemas dan roboh terkapar keatas tanah .... Dengan tubuh terkejut lelaki setengah umur itu menyambut tubuh si bocah dan melompat turun dari atas pelana. Sungguh cepat gerakan tubuhnya, tampak bayangan abu abu berkelebat lewat, lelaki setengah umur itu sudah melayang turun ke atas tanah. Tangannya yang satu menahan tali lesnya, sementara tangan yang lain mengelus bulu surai kuda tersebut sambil ujarnya dengan penuh perhatian : "Siau hek, kau terlalu lelah, mari kita istirahat sebentar, menanti kesehatan tubuhmu sudah pulih kembali kita baru lanjutkan perjalanan ini... " "Aaai... kau pasti akan menggerutu kepada ku sebagai majikan yang tak pernah memikirkan tentang dirimu, padahal aku sendiri pun merasa murung dan sedih, coba bayangkan, Hanya setahun, dalam setahun yang singkat, kau dan aku telah berubah ... bukankah begitu? Siau hek..." Kuda kurus yang bernama "Siau hek" itu seakan akan mengerti dengan perkataan dari majikannya, dia meringkik tiada hentinya seperti lagi menghela nafas. Lelaki berusia pertengahan itu segers menepuk nepuk leher si kuda menitahkan kepadanya untuk beristirahat. lalu sambil duduk di sampingnya, dengan penuh kasih sayang dia membelai bulu surai kuda itu seraya katanya"Kau bertambah kurus Siau hek, untung kau dan aku tak usah menempuh badai lagi. teringat tahun berselang, kita masih termasyur sampai dimana-mana, kapankah kita pernah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menjadi anjinga yang dikejar kejar orang? Apakah inilah balas jasa yang harus kita terima bagi perjuangan kita selama sepuluh tahun?" Gumamam tersebut segera menyentuh perasaan sedih yang mencekam perasaan lelaki setengah umur itu, dia separti merasakan tekanan batin yang amat hebat tapi tak sanggup untuk mengutarakannya keluar, selesai berkata ternyata dia mendekam diatas tengkuk si Siau hek dan menangis tersedu sedu .... Air mata yang panas meleleh keluar membasahi pipinya dan menembusi pakaiannya, tiap air mata berarti setetes darah, suatu persoalan. Yaa, selama sepuluh tahun berjuang, menanamkan kebaikan dan kebajikan bagi manusia tapi hasil yang diperolehnya hanya cemoohan dan dendam kesumat, bahkan kekasih yang di cintai bagaikan nyawa sendiripun telah meninggalkan pelukannya berpindah ke pelukan orang-lain. Yang lebih mengenaskan lagi adalah ia lari ke dalam pelukan seorang lelaki yang sebetulnya merupakan sobat karib yang dianggap bagaikan saudara kandung sendiri, tak heran kalau dia jadi sedih dan melelehkan air mata. "Hayo bangun Siau hek! Kita sudah hidup miskin dan terdesak, tiada sesuatu kenangan yang bisa diingat kembali" Ucapan semacam itu entah sudah diulang beberapa kali, dan sslalu diucapkan dalam keadaan kecewa dan sedih Siau hek segera menggerakkan lehernya sambil meringkik panjang, tiba tiba ia bangkit berdiri. Mula mula lelaki itu membimbing bocah itu terlebih dulu, kemudian ia baru naik keatas punggung kudanya dan melanjutkan perjalanannya menelusuri jalan. Waktu itu sudah bulan sembilan, angin musim gugur berhembus kencang menggugurkan dedaunan dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggoyangkan dahan serta ranting, membuat suasana jadi bertambah suram dan gelap .... Ditengah keheningan yang mencekam hanya ada derap kaki kuda serta deruan angin kencang yang membelah bumi, suasana semacam ini membuat pendekar itu merasa dirinya makin kesepian, makin terasing dari keramaian dunia. Ternyata lelaki setengah umur itu tak lain adalah Kit Hong Kiam Khek Wan Liang yang pernah menggetarkan seluruh dunia. Apakah dia benar benar telah mengundurkan diri dari keramaian dania persilatan? Berapa tahun berselang, baik jago dari golongan putih maupun golongan hitam segera akan mengacungkan jempolnya bila menyinggung tentang Kit Hong Kiam Khek Wan Liang. Tapi sekarang, apa sebabnya dia bisa berubah menjadi begitu mengenaskan dan menyedihkan? Dia sesungguhnya lagi menghindarkan diri dari apa? Sedang menantikan apa? Waktu itu, setelah dari tebing Koan jit peng Kit Hong Kiam Khek telah jatuh tak sadarkan diri. Orang bilang: Siapa menanam kebaikan dia akan mendapat kebaikan Kit Hong Kiam Khek Wan Liang pernah menolong nyawa seorang bocah didalam sebuah hutan yang lebat, akhirnya selembar jiwanya ditolong pula oleh bocah kecil itu. Ketika Kit Hong Kiam Khek Wan Liang tersadar kembali dari pingsannya dan melihat si bocah kecil yang duduk disampingnya, seketika itu juga keinginan untuk hidup segera tumbuh dalam hatinya, dia bertekad hendak hidup lebih jauh, bertekad hendak mencari kecepatan uniuk membalas dendam, membalas sakit hati.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka sambil memaksakan diri dia mengambil obat dari sakunya, lalu menitahkan kepada bocah itu untuk mengobatinya. Bocah itu adalah putra dari Suma Tiong-yu, seorang pembesar setia dari Pemerintah asa itu, selain cerdik juga berbakat bagus, oleh karena itu ia dapat melaksanakan perawatan yang baik untuk menyembuhkan luka dari lelaki tersebut. Berhubung kedua orang itu sama sama hidup sebatang kara maka timbul perasaan simpatik diantara kedua belah pihak. Kit-Hong-Kiam-kek Wan Liang merasa marah karena difitnah orang dan dikucilkan dari dunia persilatan, sebaliknya Suma Thian-yu, si bocah itu telah kehilangan kedua orang tua nya dan tak punya tempat tinggal lagi. Maka dari itu, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang segera mengambil keputusan untuk mengajaknya melakukan perjalanan bersama. Setelah beristirahat selama beberapa hari dibawah bukit Ciat thian Hong, sambil berusaha menghindarkan diri dari pengejaran Bi Kun Lun Siau Wie Goan, diapun berusaha menyembuhkan luka nya. Ternyata setelah sehat kembali, Kit Hong kiam Khek Wan Liang merasakan pukulan batin yang amat berat membuatnya berusaha untuk menghindarkan diri dari kenyataan, sering merasakan tersentuh hatinya dan sedih, padahal penderitaan yang dialaminya masih jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan apa yang diderita bocah kecil itu. Suma Thian yu pernah bermaksud untuk belajar silat dari Kit Hong Kiam Khek Wan Liang namun permintaan itu ditolak olehnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perlu diketahui, selama hidupnya Kit Hong Kiam khek Wan Liang selalu terbenam dalam ilmu silat, maka masa depannya menjadi hancur tak karuan, sini dia merasa muak terhadap Segala macam perselisihan dau pembunuhan dalam dunia persilatan Mengingat apa yang telah dialaminya selama ini, sudah tentu dia tak ingin menyaksikan bocah itu mengalami nasib yang sama seperti diri nya, tak heran kalau permintaan bocah itu di tolak tegas-tegas. Waktu malam sudah kelam, angin berhembus kencang membuat suasana amat mengerikan. Setelah melewati sebuah gunung yang tinggi, didepan muncul sebuah bukit kecil yang diliputi kabut tebal,lama sekali Kit Hong Kiam khek Wan Liang memperhatikan bukit tersebut, akhirnya dia bergumam lagi kepada si kuda Siau-hek "Sudah sampai siau Hek, didepan sanalah bukit Gi Im Hong masih ingatkah kau? Enam tahun berselang aku pernah memberitahukan kepadamu dikemudian hari aku akan mengajaknya berdiam dibukit ini tak kusangka enam tahun kemudian, kami benar-benar telah kembali kesini, bukit Gi im hong masih tetap seperti dulu, tapi di. . ," Dengan sedih dia menghela napas panjang, semua kemurungan yang memenuhi dadanya selama inipun buyar mengikuti helaan napas tersebut. Tanpa terasa bayangan tubuh Siau Hu yong Chin Lan eng melintas kembali dalam benaknya, wajahnya yang menawan, senyumnya yang manis, dan suaranya yang begitu merdu. Sumpah setianya masih mendengung dalam telinganya, cinta kasihnya yang dalam serasa masih menyelimuti dadanya, tanpa terasa Wan Liang menjadi melamun, terbuai oleh lamunan nya yang indah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hingga burung gagak berbunyi memecahkan kesunyian, ia baru tersadar dari lamunannya Puncak Gi Im Hong terletak dalam propinsi Oulam dalam deretan pegunungan Kil ih san, puncak itu menjulang tinggi ke angkasa dikelilingi banyak bukit lainnya. "Rumah" dari Kit Hong Kiam Khek Wan Liang terletak dipunggung bukit terjal tersebut, yaitu didalam sebuah gua kuno yang dikelilingi oleh semak belukar. Gua itu ditemukan Kit Hong Kiam Khek Wan Liang pada enam tahun berselang, ketika ia sedang menemani Siau hu yong Chin San eng berpesiar ketempat itu, waktu itu mereka telah bekerja keras hampir sebulan lamanya untuk mendandani gua itu, bahkan menyiapkan pula alat perlengkapan rumah tangga sebagai tempat mereka berdiam dikemudian hari. Tapi, perubahan manusia sukar diduga siapa sangka enam tahun kemudian, yang datang kembali ke gua hanya seorang pendekar pedang yang murung dan sedih. Yaa, siapakah yang dapat menduga perubahan nasib yang bakal menimpa dirinya ? Kit Hong Kiam Khek Wan Liang dengan mengajak Yu Ji dan kuda kurus menuju kedepan gua. ternyata ia tak berani masuk kedalam, semua benda yang berada disana hanya akan membangkitkan kenangan dan kesedihan di dalam hatinya saja. Tiba didepan gua, lamat lamat Wan Liang mengendus bau harum tubuh dari kekasihnya, andaikata yang masuk kedalam rumah- mereka sekarang adalah mereka berdua, tentu indah sekali suasananya ketika itu. . .Angin gunung berhembus kencang membuat Yu ji merasa kedinginan setengah mati, tanpa terasa dengan gigi beradu pintanya kepada Wan Liang;

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Paman, aku kedinginan; bagaimana kalau kita imasuk untuk beristirahat ?" Mendengar perkataan itu, Kit Hong Kiam Khek Wan Liang baru tersentak bangun dari lamunannya.ia melirik sekejap kearah Yu ji, benar juga ia telah mengkerut menjadi satu dan gemetar tiada hentinya. Dengan perasaan hati yang kecut Wan Liang segera membawanya melompat turun dari atas kuda, dengan cepat ia menemukan tombol rahasia pembuka pintu, setelah mengikat kudanya didahan pohon, dia membopong bocah itu masuk kedalam gua. Ruangan gua itu sangat luas, setelah melalui gerbang, mereka melewati sebuah lorong yang panjang satu kaki, didalam terdapat ruangan-ruangan gua yang terang benderang. pada langit-langit gua itu penuh terdapat mutiara yang digunakan sebagai alat penerang. Kit Hong Kiam Khek Wan Liang segera menurunkan Suma Thian yu keatas tanah, kemudian melangkah masuk kedalam pintu sebelah kanan. Baru saja melangkah maju setengah tindak, mendadak ia menjerit tertahan dengan penuh lain kaget: "Haaaah?" Seperti orang kalap ia menerjang masuk keruang dalam. Suma Thian yu dibikin tertegun oleh tindak tanduknya yang aneh itu, dia cepat memburu kedalam ruangan dan mengintip dengan rasa ingin tahu Tampak Kit Hong Kiam Khek sedang berdiri termangu memegang sebuah kotak kayu yang berukir indah, matanya mendelong sementara tangannya yang memegang kotak tersebut gemetar tiada hentinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lama kemudian, ia baru membuka kotak itu, ternyata didalamnya berisi secarik kertas... Dengan wajah pucat, bibir gemetar keras dan mata melotot besar, lama sekali Kit Hong kiam khek Wan Liang tertegun, akhirnya dia merobek robek kertas itu, membanting kotak kayu itu ketanah dan menyumpah dengan penuh kegusaran: "Perempuan lonte, kamu benar benar perempuan lonte yang tidak tahu malu, watakmu memang watak lonte, melihat orang lain lantas tertarik, bukan cuma menyia nyiakanku, kaupun memaki aku . .. Hmm! Kau perempuan berhati busuk seperti ular beracun, kau anggap perbuatanmu itu akan membuatku marah dan mampus? Haaahhh . . . .haa ha ha haa.....aku justru tak akan mampus, lihat saja nanti..." Dalam gelak tawa yang amat keras itulah segenap amarah dan rasa bencinya dilampiaskan keluar, suaranya mengerikan sekali, seperti orang tertawa dan juga bagai orang menangis seperti berteriak, lalu seperti monyet yang berpekik, membuat tiap orang yang sempat mendengarkan suara tertawanya itu menjadi bergidik. Dalam waktu singkat seluruh cahaya dalam gua itu bagaikan bergoncang keras, seperti ada gempa bumi yang tiba tiba melanda tempat itu, membuat Yu ji yang berada didepan pintu pun merasakan sukmanya serasa melayang meninggalkan tubuh, bulu kuduknya pada bangun berdiri, tangan kakinya gemetar keras. Jilid 2. Yu-ji, Pewaris muda Bu Tong Pay DAN tiba-tiba suara tertawanya berhenti, seperti sebuah bola yang kehabisan udara tiba-tiba dia menjatuhkan diri diatas meja dan menangis tersedu sedu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam waktu singkat rasa gusar yang membara kini berubah menjadi keheningan dan kesedihan, dari sini dapat diketahui betapa rumitnya pertentangan batin yang sedang melanda didalam hati. Sampai lama kemudian Wan Liang baru menghentikan tangisnya dan mendongakkan kepala, kebetulan ia saksikan Suma Thian yu sedang berjongkok hendak memungut giok bei retak yang melompat keluar dalam kotak kayu itu. Hawa amarah yang selama ini mencekam perasaannya mendadak saja meledak dengan suara menggelegar bentaknya keras-keras: "Yu ji, jangan pungut benda itu!" Suma Thian yu amat terkejut, merah padam wajahnya karena jengah, dengan cepat ia letakkan kembali giok bei yang dipunggutnya ketempat semula, kemudian Siap meninggalkan tempat itu. Dalam pada itu, kemarahan kit hong kiam kek Wan Liang telah mereda, pelan-pelan dia berkata lagi: "Yu ji, ambil benda itu! Ia menandakan hati paman telah retak, bawalah, aku percaya, waktu dapat mengobati luka paman yang sudah parah ini." Suma Thian-yu benar benar dibikin pusing dan tak habis mengerti oleh sikap pamannya yang luar biasa itu, untuk sesaat dia tak tahu harus memungut benda itu atau jangan. Melihat kejadian itu, Wan Liang segera berseru kembali: "Apa yang kau sangsikan lagi. Biarpun diatasnya telah bertambah dengan sebuah bekas retakan, namun tidak mengurangi kecemerlanganannya yang asli, Yu ji, kau masih muda, sekarang tak akan kau pahami keadaan tersebut, sekalipun ku utarakan hal yang sesungguhnya belum tentu kau akan mengerti, biarkan waktu yang menjelaskan kesemuanya ini kepadamu! Seusai berkata, kembali dia menghela napas. Berapa banyak yang diketahui Suma thian yu? Dalam benaknya yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

masih polos dia merasa bahwa mainan giok bei yang terletak ditanah itu sangat indah, tentu saja ia tak tahu kalau dibalik mainan giok bei itu sebenarnya tersimpan suatu kenangan yang indah juga memedihkan hati, sekalipun diatasnya diliputi kesedihan dan awan gelap namun cahaya aslinya masih tetap bersinar terang. Suma Thian yu tidak sangsi lagi, dengan sangat berhati-hati ia memungut benda itu dari atas tanah lalu menyimpannya kedalam saku. Yu ji amar menyukainya, meski diatasnya telah bertambah dengan sebuah celah yang cukup dalam. Pelan-pelan kit hong kiam kek berjalan keluar, ditatapnya Suma Thian yu sekejap, kemudian tegurnya: 'Kau sudah lapar? Apakah ter biasa makan rangsum kering?" "Ehmm..! Suma Thian yu mengiakan, padahal dia tak tahu apa yang disebut rangsum kering, jangankan melihat bentuknya, mendengar namanya pun belum pernah. Wan Liang berjalan kesamping Siau Hek, dari dalam kantung kulitnya ia mengeluarkan sebungkus rangsum kering, sambil di angsurkan ke tangan Suma Thian yu katanya: Untuk sementara waktu makanlah rangsum kering ini untuk menahan lapar, kalau menginginkan air, diatas dinding yang dibelakang tubuhmu terdapat mata air yang agak dingin airnya, jangan diminum sekaligus, lebih baik kumurkan dulu dimulut, kemudian baru ditelan kalau tidak, badanmu bisa tak tahan." Suma Thian yu segera membuka bungkusan kertas itu, ternyata yang dimaksudkan sebagai rangsum kering adalah kerak nasi yang mengeras bagai batu, tanpa terasa keningnya berkerut dan agak lama dia ragu untuk memakannya. Tapi, ketika ia teringat disampingnya berdiri si paman berwatak aneh yang sedang mengawasi gerak geriknya, maka tanpa berpikir panjang lagi ia segera menggigitnya. Sebab kalau dia ragu, berarti memberitahukan kepada paman itu kalau dia bukan seorang anak yang tahan uji.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitulah, setelah menggigit sepotong dia memakanrnya dengan lagak seakan-akan enak, malah sambil makan dia berkata. Eeehmm...enak sekali rasanya, paman, mengapa kau tidak turut makan..? Sejak permulaan hingga sekarang, kit hong kiam kek Wan Liang mengawasi terus gera-gerik bocah itu, melihat keuletan sibocah tersebut, saking terharunya air matanya jatuh bercucuran, katanya kemudian dengan suara parau. Nak, kau memang hebat sekali, dengan usiamu begitu muda, ternyata kau begitu ulet, tahan uji dan mempunyai semangat besar untuk mengendalikan diri, masa depan mu pasti cemerlang. Sewaktu mengucapkan perkataan itu, sekulum senyuman segar menghiasi wajahnya. Ketika Yu ji mendongakkan kepalanya dan menemukan senyuman menghiasi wajah paman nya, dia menjadi tertegun. Semenjak berkenalan dengan pamannya, baru pertama kali ini dia menyaksikan orang itu tertawa, segera pikirnya: "Ternyata paman bukan orang yang menakutkan! senyuman itu begitu ramah dan menawan hati" Berpikir sampai disitu, tanpa terasa ia lantas menubruk kedalam pelukan Kit hong kiam kek Wan Liang sambil berseru: "Paman.... Kit hong kiam kek Wan Liang memeluk tubuh suma Thian yu erat erat, saking terharunya dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, sampai lama, lama sekali, sambil membelai tubah Yu ji, dia bergumam lirih. "Yu ji, kau ... kau masih kedinginan? "Masih sedikit, paman" "Selewatnya berapa hari, paman akan mengajarkan semacam sim hoat tenaga dalam untuk mengusir hawa dingin, bersediakah kau untuk mempelajarinya...?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar kabar itu, Suma Thian yu menjadi girang setengah mati, dengan wajah berseri segera sahutnya: "Sungguh paman? Ohh, paman, kau betul-betul sangat baik kepadaku, tak kusangka kalau paman bersedia mengajarkan kepandaian ilmu silat kepadaku" Kit hong kiam kek wan Liang mengelengkan kepalanya berulang kali, sambil tertawa getir ujarnya: Bukan, bukan begitu, aku hanya akan mengajarkan tenaga dalam saja untuk mengusir hawa dingin" "Mengapa? Sejak mengetahui kalau pamannya dapat terbang, Suma Thian yu merasa kagum sekali, maka betapa kecewanya dia setelah mengetahui kalau pamannya tidak berhasrat untuk mewariskan kepandaian tersebut bepadanya. Buru-buru dia berseru lagi: Yu ji ingin terbang, terbang ke angkasa dengan bebas, hidup bahagia, mengapa paman tidak bersedia mengajarkannya kepadaku?" "Anak baik" kata Kit hong kiam kek wan Liang sambil menghela napas, "aku tidak berharap kaupun mengikut jejak hidup dari paman, kalau kuterangkan sekarang mungkin kau belum dapat memahaminya, waktu itu kalau paman tidak belajar silat, bagaimana mungkin kualami nasib yang tragis seperti apa yang kualami sekarang. Aaaai.... untuk menyesalpun sudah tak sempat lagi buat paman, mengapa pula aku harus menyeret mu untuk terjun pula kedunia seperti ini? Berbicara sampai disitu, diamatinya Yu ji beberapa saat, dirabanya tulang badan sekujur badannya, lalu berguman. Tapi... mengapa pula aku harus menyia-nyiakan bakat yang begini baiknya untuk berlatih silat? Tapi setelah termenung beberapa saat, kembali dia menggelengkan kepalanya berulang kali sambil melanjutkan:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tidak, aku tak bisa berbuat demikian hal ini harus disalahkan apa sebabnya aku bisa menerima nasib setragis ini" Dengan kebingungan Suma thian yu memandang tingkah laku Wan Liang yang sangat aneh, kemudian tanyanya dengan tercengang: Paman, apa yang sedang kau katakan? "Ahh...tidak" Kit hong kiam kek Wan liang menyambut, dengan perasaan apa boleh buat dia melanjutakan, "aku rasa lebih baik pu satkan saja semua pikiianmu untuk memperoleh kesuksesan dibidang satra, dikemudian hari kau bisa menyamai ayahmu, menjadi pembesar yang berpangkat tinggi, sukakah kau akan pangkat tinggi?" Suma Thian yu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, tak tahu apa yang meski dijawab, padahal dia sendiri pun tidak begitu mengerti apa yang dimaksudkan dengan sastra, dan apa pula yang dimaksudkan dengan ilmu silat, dalam keadaan begitu, bayangkan saja, bagaimana mungkin dia bisa menentukan pilihannya untuk menjawab. Walau demikian, perasaan yang bersembunyi didalam hatinya berbicara bahwa dia enggan menjadi pembesar, sebab kehidupan semacam itu terlampau terikat, tidak bebas. Kembali Kit hong kiam kek Wan Liang berkata: "Jangan banyak curiga, andaikata paman bersedia melepaskan ilmu silat untuk mengejar bidang sastra, sejak dahulu aku telah merebut gelar Congkoan, kau anggap paman tidak mengeri akan Su siu ngo keng?" "Tidak, tidak, Yu ji bukan berpendapat demikian, hanya saja Yu ji merasa malas untuk mempelajarinya....." "Sekarang, waktu sudah tidak pagi, malam ini kau boleh berada bersama paman, aku lihat kaupun sudah cukup lelah, lebih baik pergi-beristirahat lebih dulu"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Keesokan harinya, ketika Suma Thian yu terbangun dari tidurnya, ia tidak menemukan pamannya berada dalam kamar, cepat-cepat bocah itu bangun sambil lari keluar. Baru tiba dimulut gua, dia saksikan Kit hong klam kek wan Liang sedang berjalan masuk sambil menenteng pedang. Dengan suara keras Yu ji segera berteriak, "Paman, pagi benar kau sudah bangun, Yu ji mengira kau sudah pergi meninggalkan tempat ini!" Kit hong kiam kek wan Liang segera tersenyum. Anak bodoh, mana paman akan meninggalkan dirimu seorang diri? Di sini adalah rumah ku, sekarang merupakan ruman kita, mengapa tanpa sebab aku harus pergi meninggalkan tempat ini?" Yaa, benar. Tempat ini adalah rumah kita, paman," apakah setiap hari kau tentu akan bangun tidur sepagi ini?" "Ehmm, udara pagi membantu manusia untuk menyehatkan badan, dikemudian hari kaupun tak boleh malas tidur terus, setiap pagi harus bangun iebih awal lagi" Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan, "Mari kita perbaiki sedikit pintu luar gua ini, daripada membiarkan orang jahat berhasil memasuki tempat ini "Bagaimana cara memperbaikinya?" "Sederhana sekali, asal kita sumbat pintu gua yang pertama, lalu membuka pintu gua yang lain, hal ini akan beres" Dengan kecerdasan dan ilmu silat yang dimiliki Kit hong kiam kek, tak selang beberapa lama kemudian pekerjaan mereka untuk memindahkan pintu gua tersebut dapat berjalan dengan lancar. Sambil menepuk-nepuk bajunya membersihkan dari debu, Wan Liang berkata dengan penuh rasa percaya pada diri sendiri: "Siau wi goan, wahai Siau wi goan, sekali pun kau lebih licikpun tak akan berhasil menemukan aku Wan Liang!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kemudian kepada Yu ji yang berada disampingnya dia berpesan. Yu ji, selanjutnya kau pun tak boleh bermain-main disini, mengerti?" "Mengapa?" dengan perasaan tak mengerti dia membelalakan matanya lebar-lebar dan bertanya keheranan, "kalau tidak bermain di sini, aku harus bermain dimana?" Masuk keluar lewat pintu belakang, disitu merupakan gua bagian belakang, didepan gua adalah hutan bambu yang amat luas, pagi hari kalau kau suka bermain, bermainlah disitu, tapi kau harus ingat dengan pesan paman, jangan membiarkan jejak kita diketahui orang, mengerti? Suma Thian yu masih tidak habis mengerti tapi dia tak berani bertanya lebih jauh, sebab dia cukup menyadari bahwa watak pamannya ini aneh sekali, sekali salah bertanya bisa jadi akan mengakibatkan datangnya dampratan atau teguran marah. Malam musim gugur adalah malam yang dingin, terutama sekali ditempat ketinggian puncak Gi im hong di bukit Kiu ih san, boleh dibilang tempat itu tidak cocok untuk dihuni manusia maupun binatang. Oleh karena itu, bukan saja Kit hong kiam kek Wan Liang telah mewariskan tenaga dalamnya kepada Yu ji, lagi pula diapun mengeluarkan empat butir pil Ku goan cing wan yang selama ini dianggapnya sebagai mestika yang melebihi nyawa sendiri untuk Yu ji telan, bahkan membantunya pula untuk menembusi jalan darah penting dalam tubuhnya. Setelah lewat beberapa bulan lamanya, tubuh Suma Thian yu yang lemah kini menjadi kekar dan kuat, terutama sekali udara disitu memang berjalan lancar. Dalam waktu singkat, tiga tahun sudah berlalu tanpa terasa, kecuali mempunyai dasar tenaga dalam yang kuat, Yu ji hanya pandai ilmu sastra dan ilmu sejarah, karena selain

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepandaian itu, Kit hong kiam kek Wan Liang tidak mengajarkan ilmu pedang kepadanya. Padahal didalam kenyataannya usaha Kit hong kiam kek Wan Liang hanya sia-sia belaka sebab setiap kau dia keluar untuk berlatih pedangnya, suma Thian yu selalu mengintip secara diam-diam dan menyerap kepandaian tersebut sedikit demi sedikit. Dalam dua tahun saja, seluruh jurus pedang Kit hong kiam hoat yang paling diandalkan oleh Kit hong kiam kek Wan Liang telah ber hasil dicuri semua oleh Suma Thian yu. Pada dasarnya Suma Thian yu adalah seorang bocah yang cerdik dan mempunyai bakat bagus untuk belajar silat, dia pun mempunyai ingatan yang luar biasa, tiap kali berhasil menyadap suatu jurus pedang pada malam harinya, maka dipagi harinya kemudian ia mencoba untuk melatih diri. Meski begitu, dalam kenyataanya Kit hong kiam kek sendiri sama sekali tidak memahami akan rahasia tersebut. Mungkin inilah yang dinamakan takdir, bila takdir menghendaki demikian, siapakah yang bisa membantahnya lagi? Suatu hari Suma Thian yu bermain main seorang diri ke dalam hutan bambu diluar gua, setiap kali keluar dari guanya, dia selalu menuruti pesan dari Wan Liang untuk mgmeriksa dahulu sekeliling tempat itu, bila tidak menemukan manusia yang mencurigakan, ia harus kabur keluar dari gua secepat cepatnya menuju kehutan bambu. Bagaikan pencuri saja, Suma Thian yu selalu berpaling dengan curiga untuk memperhatikan apakah pamannya Wan Liang membuntuti atau tidak, kemudia dia akan lari kebelakang sebuah batu besar, mengambil sebuah pedang yang terbuat dari bambu dan melatih diri dengan amat tekun.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah pedang bambu ada ditangan, Suma thian yu mulai melatih ilmu pedang Kit hong kiam hoatnya dari awal sampai akhir, semua jurus serangan dirangkaikan menjadi satu dan menyerangnya dengan kecepatan tinggi, sebentar menyerang sebentar bertahan sebentar meninggi sebentar merendah, ketika mencapai pada puncaknya, hampir saja seluruh bayangan tubuhnya lenyap dari pandangan mata. Seorang bocah cilik yang berusia delapan tahun ternyata sanggup membawakan ilmu Pedang kit hong kiam hoat yang pernah mengemparkan dunia persilatan itu dengan begitu hafal dan matang, seandainya dia tidak berbakat bagus, mana mungkin hal ini dapat dilakukan? Setiap kali melatih diri, Suma Thian yu selalu akan termenung sampai lama sekali, ada kalanya dia membuat garis-garis ditanah untuk memecahkan perubahan jurus serangannya, setelah itu garis- garis itu akan dihapus dengan kaki dan mulai berlatih lagi agak awal. Semangat dan keuletan semacam ini betul-betul sesuatu yang luar biasa sekali. Hari ini Suma thian yu keluar dari guanya itu jauh lebih itu, dalam gua tak ada persoalan yang harus dikerjakan, muka diapun menggunakan waktu yang paling baik untuk melakukan penyelidikan kemudian melatih ilmu pedang curiaannya itu bersungguh-sungguh. Tatkala dia selesai berlatih dan baru saja akan kembali kedalam gua, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar suara seseorang yang serak tua sedang memuji: Ilmu pedang bagus! Ilmu pedang bagus! Betul-betul luar biasa sekali......" Mendengar teguran itu, Suma Thian yu menjadi tertegun, dia mengira jejaknya ketahuan pamannya, dengan cepat dia berpaling kebelakang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi dengan cepat dia merasa terkejut, ternyata hutan itu sepi dan kosong, tak nampak sesosok bayangan manusia pun berada disana. Mungkinkah aku telah salah mendengar? Aaaaah, tidak mungkin, tidak mungkin aku salah mendengar, kalau tidak.....aaah, jangan-jangan di sini ada setannya...." Teringat akan setan, tanpa terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri, hawa dingin pun segera menyerang ke dalam ulu hatinya. "Bocah, aku berada disini! suara yang parau tua itu kembali berkumandang datang. Mendengar seruan tersebut, dengan cepat Suma Thian yu berpaling tapi dengan cepat dia menjerit kaget: "Aahh! Ternyata diatas batu cadas raksasa itu, entah sejak kapan telah duduk seorang kakek yang amat gagah. Tampak kakek itu memakai baju pendeta yang berwarna abu-abu, jenggotnya sepanjang dada, ketika berkibar terhembus angin kelihatan menambah kewibawaannya. Suma Thian yu segera tertarik oleh kelihaian yang mengagumkan itu, meski dia merasa kakek itu ramah dan amat simpatik, tapi dia masih tetap berdiri termangu disitu sambil mengawasi dengan mulut melongo. Sampai lama sekali, dia baru bisa menegur. Siapakah kau orang tua?" Dengan ramah kakek itu mengape kearahnya lalu ujarnya sambil tersenyum manis: Mari, kemarilah, kau tak usah takut bocah! Seakan akan mempunyai suatu daya pengaruh yang besar tak terbantahkan, tak sadar Suma Thian yu berjalan mendekatinya, tapi sepasang matanya masih menampikkan sorot mata takut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan cepat kakek berambut putih menjulurkan tangannya untuk membelai rambut Suma Thian yu, lalu sambil tertawa katanya. Bocah, siapakah namamu? Darimana kau pelajari ilmu pedang tersebut?" Dengan hormat sekali Suma Thian yu menjawab. Aku bernama Suma Thian yu, ilmu pedang ini... Tiba-tiba dia merasa rikuh untuk mengatakanya keluar, yaa, bagaimanapun juga kepandaian tersebut diperoleh dengan jalan mencuri, bagaimana mungkin dia dapat berterus terang kepada orang lain? Melihat bocah itu ragu-ragu untuk menjawab, kakek berambut putih itu segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh.... haahhh.... haaahhh....tak usah malu, dengan usiamu yang begitu muda, kau bisa mencuri belajar demi kepentingan pribadi, hal mana boleh dibilang sesuatu yang luar biasa, juga menunjukkan hasratmu untuk maju Mendengar perkatan itu, Suma Thian yu merasakan hatinya bergetar keras, segera pikirnya: Darimana dia bisa tahu kalau aku belajar dengan mencuri? Jangan-jangan dia adalah dewa? Berpikir sampai disitu, tanpa terasa merah padam selembar wajahnya karena jengah, tanpa terasa dia menundukkan kepalanya rendah-rendah. Kembali kakek berambut putih itu berkata: Bocah, tiada sesuatu yang perlu dijengahkan, semua persoalanmu cukup kupahami, kau tahu sudah berapa lama aku datang kemari? Ketika di tunggunya sebentar dan tidak melihat, Yu ji menjawab, dia menyambung katakatanya lebih jauh: "Aku sudah semenjak tiga hari berselang memperhatikan gerak gerikmu, dengan usiamu yang begitu muda tapi tekun melatih diri, dikemudian hari kau pasti akan berhasil dengan sukses"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan mulut membungkam Suma Thian yu mendengar perkataan itu tanpa berbicara, dia hanya merasakan kakek ini terlampau misterius, pada hakekatnya seperti dewa dalam dongeng, tanpa terasa timbul rasa hormatnya kepada kakek itu. "Bocah, beritahu kepadaku, siapakah orang yang berdiam bersamamu didalam gua itu! tanya si kakek lebih jauh, "jangan takut, aku bu kan orang jahat....." ....." dengan cepat Suma Thian yu menggelengkan kepalanya berulang kali tanpa menjawab, tak sepatah katapun yang diutarakan keluar dari mulutnya. "Bagus sekali!, bagus sekali, tak mau menjawab tak apalah kakek berambut putih itu tertwa terbahak-bahak dan mengganguk memuji. Yu ji segera mendongakkan kepalanya memandang ke arah kakek itu dengan pandang menyesal, sorot mata itu seakanakan sedang memberi-tahukan kepada si kakek bahwa dia tak dapat menjawab sejujurnya. Tampak kakek itu bisa memahami maksud hati diri Yu ji, sambil tertawa dia lantas manggut-manggut. "bocah, kau tak usah berbicara lagi, aku cukup memahami maksud hatimu itu, apa yang kau lakukan memang benar, aku tak dapat menyalahkan dirimu" Setelah mendengar perkataan dari kakek itu, Suma Thian yu merasa semakin rikuh sehingga selembar wajahnya berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus. "Bocah, inginkah kau untuk mempelajari ilmu silat yang luar biasa?" mendadak kakek itu mengalihkan pokok pembicaraannya ke soal lain. "Ingin..... Dapatkah kau hidup menderita?" tanya si kakek lebih jauh. Dapat, aku dapat, apakah kau orang tua bersedia memberi pelajaran ilmu silat padaku? Kakek berambut putih itu segera tertawa terbahak-bahak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Haah....haah...tulang belulang lohu sudah hampir mengering, mana mungkin aku bisa memberi pelajaran Kepadamu, lagipula akupun tak tahu harus menggunakan kepandaian apa saja untuk memberi pelajaran Kepadamu!" Mendengar jawaban tersebut, Yu ji menjadi tertegun, lalu dengan keheranan dia bertanya. "Kalau begitu....." Belum habis dia berkata, kakek berambut putih itu sudah menukas kembali: "Besok pagi kau boleh datanglagi kesini, tapi ingat jangan kau ceritakan pertemuan kita pada hari ini kepada siapun, termasuk orang dalam gua itu, mengerti?" Yu ji turut perintah" dengan hormat sekali Suma Thian yu segera membungkukan badannya memberi hormat. Siapa tahu ketika mendongakkan kepalanya lagi, bocah itu segera menjerit kaget. Rupanya sikakek berambut putih yang semula berada didepan matanya itu kini sydah lenyap tak berbekas. Tampaknya dikala dia menganggukan kepalanya tadi, kakek itu sudah pergi meninggalkan tempat itu, sedemikian cepat gerakan tubuh nya sehingga sukar rasanya untuk di percayai. Dengan termangu-mangu Suma Thian yu memandang ketempat kejauhan sana, sementara benaknya masih dipenuhi oleh semua gerak-gerik, tingkah laku, serta setiap patah kata yang dilakukan kakek itu. Dalam hati kecilnya mulai diliputi perasaan curiga, terutama sekali kata sikakek menjelang kepergiannya tadi, seakan-akan si kakek itu sudah tahu kalau orang yang menghuni didalam gua itu adalah Kit hong kiam kek Wan Liang. Tanpa terasa Suma Thian yu menjadi agak takut, dia tak tahu kakek berambut putih tadi seorang kawan atau lawan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia hanya merasa bahwa kemunculan kakek berambut putih itu kelewat aneh, dan kepergiannya juga terlampau misterius. "Siapakah dia?" tanpa terasa Suma Thian yu bergumam seorang diri. Yaa, siapakah dia? Siapakah kakek yang aneh itu? Mungkinkah dia adalah orang yang bermaksud jahat terhadap Kit hong kiam kek Wan Liang? Mungkinkah dia adalah seorang musuh paman nya yang sedang mengincar keselamatannya? Atau orang ia. lewat secara kebetulan saja? Atau mungkin dia memang benar-benar ada niat untuk memberi pelajaran ilmu silat kepadanya? Pelbagai ingatan yang berkecamuk dalam benaknya itu, membuat Yu ji jadi termangu-mangu. Bagian Kedua MUSIM panas kembali telah menjelang tiba. Setiap pagi, dari dalam hutan bambu disebelah barat puncak Gi im hong di bukit Kiu ih san, selalu muncul segulung cahaya pedang yang menyambar-nyambar. Cahaya tersebut dipancarkan dari pedang Suma Thian yu setiap kali dia melatih kepandal silatnya. Cuma sekarang dia sudah bukan Yu ji yang dulu, waktu terasa berlalu dengan begitu cepat, delapan tahun sudah lewat tanpa terasa, dari seorang bocah yang manis, kini Suma Thian yu telah berubah jadi seorang pemuda tampan. Tatkala dia telah selesai melatih ilmu pedang Kit hong kiam hoat nya, sambil menarik kembali pedang bambunya dia lantas bergumam: Heran, mengapa suhu belum juga datang? Aahh benar, dia orangtua telah berkata kalau hari ini kedatangannya akan sedikit terlambat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sambil berkata dengan menentang pedang bambu, pelanpelan dia berjalan keluar dari hutan bambu itu. Tatkala baru tiba ditepi hutan, mendadak... "Sreeett setitikk cahaya emas menyambar kearahnya dari depan sana. Suma thian yu menjadi amat terperanjat, sambil menekuk kaki kirinya dan menarik kebelakang secara tiba-tiba tubuhnya melesat ke belakang dengan gerakan datar, kemudian setelah melihat kearah benda itu, pikirnya dengan geli. "Aaaah... benda kecil ini hanya mengagetkan hati ku saja, aku masih mengira ada senjata rahasia yang di sambit datang" Ternyata benda kuning tersebut adalah ekor ular kecil yang berwarna kuning emas, panjangnya kurang lebih satu depa dan seluruh badannya memancarkan cahaya emas seandainya ular itu tak bergerak di tanah, orang pasti akan mengiranya sekeping emas. tatkala ular emas itu menyaksikan Suma thian yu dapat menggegos seranggannya dengan gampang dan sedikitpun tidak gugup, dengan cepat dia sadar kalau telah berjumpa dengan musuh tangguh, cepat-cepat ia melarikan diri keluar hutan. Walaupun Suma Thian yu dibesarkan diatas gunung, tapi baru pertama kali ini dia saksikan ular kecil seindah ini, tanpa terasa timbul sifat kekanak-kanakannya, tanpa memikirkan tentang ancaman mara bahaya lagi, dia segera melakukan pengejaran dari belakang. Delapan tahun melatih diri dengan tekun, apa lagi mendapat petunjuk dari guru yang pandai, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Suma Thian yu sekarang boleh dibilang sudah mencapai tingkatan yang luar biasa sekali... Tampak tubuhnya melejit ketengah udara lalu mengejar dari belakang tubuh ular emas tersebut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bagaikan dibelakang tubuhnya ada matanya, ternyata ular emas itupun merasa kalau Suma Thian yu sedang mengejar dirinya, mendadak dia melingkarkan tubuhnya menjadi satu hingga berbentuk gelang, kemudian menggelinding sejauh dua kaki lebih dari tempat semula dengan suatu gerakan yang amat cekatan. Tatkala Suma Thian yu menyaksikan mahluk kecil itu pandai sekali berkelit dan melarikan diri, timbul perasaan ingin tahu dan gembira nya didalam hati dia merasa semakin tertarik dengan binatang tersebut. Sebenarnya asal dia sambit binatang itu dengan batu, niscaya ular emas itu akan terbunuh, tapi dia tak tega berbuat begitu, ia merasa kalau bisa ditangkap hidup-hidup, sudah pasti makhluk kecil itu merupakan kawan bermain yang menyenangkan. Maka selangkah demi selangkah dia mengejar terus dengan ketat. Akhirnya ular berwarna emas itu telah lari menuju kedepan sebuah gua, Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat gelisah, kuatir ular emas itu lari kedalam gua sehingga lebih sukar untuk menangkapnya. Maka kakinya lantas menjejak tanah, kemudian seluruh tubuhnya melambung ketengah udara bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia menerjang kearah mana ular emas itu melarikan diri. Si ular emas itupun cukup licik, ternyata ia melejitkan tubuhnya lalu sambil membabatkan ekornya ketanah, secepat kilat ular tadi menyusup kedalam semak belukar disamping gua tersebut. Tindakannya ini sama sekali diluar dugaan Suma Thian yu, maka ketika ia menyadari akan hal ini, keadaan sudah terlambat, ular emas tadi telah menyusup masuK kebalik semak belukar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Buru-buru Suma Thian yu melayang turun keatas tanah dan memeriksa sekeliling semak tersebut, namun bayangan tubuh dari ular emat tadi sudah lenyap tak berbekas. Akhirnya dengan gemas bercampur dongkol didepakdepakan kakinya keatas tanah sambil menghela napas. "Benar-benar seekor binatang yang licik, sebenarnya saya hanya ingin mengajakmu bermain, siapa tahu kau ketakutan..." Tapi pemuda itu enggan menyerah dengan begitu saja, dengan cepat dia mengambil sebatang ranting pohon dan menghantam kesana kemari di sekeliling semak tersebut, dalam anggapannya asal ular emas kecil itu masih bersembunyi disana, niscaya dia akan kabur keluar. Siapa tahu walapun sudah dibongkar sekian lama ternyata tiada hasilnya barang sedikitpun, akhirnya dengan hati mendongkol dia mema tahkan ranting pohon tersebut sembari menyumpah. Ingat saja, bila kena kutemukan lagi dikemudian hari, pasti tak akan kuampuni dirimu. Mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya, Suma Thian yu segera memandang sekejap kedalam gua, lalu gumamnya. Jangan-jangan dia kabur kedalam gua? Berpikir sampai disitu, tanpa ragu-ragu lagi dia berjalan menuju ke depan gua, tapi melihat keadaan gua tersebut ia menjadi tertegun. Semak yang lebat telah tumbuh diluar gua itu sehingga hampir saja menutupi seluruh gua tadi, menengok dari luar, keadaan dalam gua itu gelap gulita dan terasa menyiarkan bau amis yang menusuk hidung. Dalam keadaan demikian, betapapun besarnya nyali Suma Thian yu, tak urung hatinya agak keder juga, dia menjadi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sangsi untuk me lanjutkan perjalanannya memasuki gua tersebut. Seandainya dalam gua itu berdiam binatang buas atau ular beracun, bukankah tindakannya memasuki gua tersebut akan sangat membahayakan keselamatan jiwanya, apalagi kalau ular emas itu sudah terlanjur kabur, untuk menangkapnya kembali pun bukan suatu pekerjaan yang mudah. Berpikir demikian, dengan putus asa dia lantas memandang sekejap ke arah depan gua. Mendadak dia seperti teringat akan sesuatu, dengan girang serunya kemudian: "Aaah, ada akal, kali ini kau simakhluk kecil jangan harap bisa lolos lagi!" Tampak pedang bambunya diayunkan keatas semak didepan gua itu dengan sepenuh tenaga, seketika itu juga semua rumput dan ilalang sudah terpapas bersih, apalagi setelah di injak-injak, tak selang berapa saat kemudian, depan gua itu menjadi rata dan suasana didalam gua itupun menjadi lebih terang. Tindakannya ini bukan khusus untuk membuat terangnya suasana dalam gua saja, setelah terjadinya kegaduhan barusan, andaikata didalam gua tersembunyi binatang buas atau ular beracun, niscaya binatang-binatang itu sudah kabur keluar. Tapi sudah sekian lama ia menunggu, ternyata didalam gua tenang-tenang saja tanpa terjadinya suatu peristiwa, hal ini membuktikan kalau didalam gua itu memang tidak terdapat makhluk beracun atau binatang buas. Dengan memberanikan diri Suma Thian yu lantas melangkah masuk kedalam gua itu. Mendadak ia menangkap suara rintihan yang sangat lemah berkumandang datang dari dalam gua itu, suara tersebut

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bagaikan rintihan kesakitan dari sejenis binatang, tapi menurut dugaannya, sudah jelas suara tersebut bukan suara manusia. Bau apek didalam gua tersebut amat tebal, hal ini merupakan bukti kalau tempat itu sudah lama tak pernah dijamah manusia sehingga udaranya lembab, tapi darimana datangnya suara rintihan tersebut. Delapan tahun melatih diri dengan tekun tenaga dalam yang dimiliki Suma Thian yu sekarang telah membuat pemuda tersebut bisa memandang ditempat kegelapan, kini dia sudah memperhatikan keadaan dalam gua, namun tiada sesuatupun yang berhasil ditemukan, semen-tara suara aneh tadi masih saja berkumandang tiada hentinya. Maka dari dalam sakunya dia mengeluarkan korek api dan membuat alat penerangan yang diangkat keatas, ketika ia mencoba memeriksa sekitar tempat itu, hatinya semakin keheranan ternyata di tempat itu tidak dijumpai apa-apa, gua itu kosong melompong. Anehnya, suara yang sangat aneh itu masih saja berkumandang datang dari dalam gua itu. Jika tiada benda, tiada makhluk, darimana datangnya suara aneh itu? Tanpa terasa peristiwa ini membuat Suma Thian yu tidak habis mengerti, untuk sesaat lamanya dia berdiri termangu disitu sambil termenung, kemudian atas dorongan rasa ingin tahu yang tebal, dia melanjutkan kembali perjalanannya memasuki gua itu. Cahaya api yang berada ditangannya membuat suasana dalam gua itu menjadi terang. Mendadak Suma Thian yu menemukan dinding gua yang datar dan licin itu penuh didapati tonjolan-tonjolan serta lekukan-lekukan yang sangat aneh, tapi oleh karena sudah berusia lama hingga diatasnya sudah dilampiri oleh debu dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pasir, seandainya tidak diperiksa dengan seksama sulit rasanya uniuk menemukan rahasia tersebut. Buru-buru Suma Thian yu menggosoknya dengan tangan, setelah pasiur dan debu itu hilang, diatas dinding tersebut segera muncul sebuah ukiran berbentuk manusia. Penemuan ini segera saja membuat pemuda itu kegirangan sampai lupa daratan, buru-buru dia membersihkan dinding yang lain dari debu dan pasir, setiap kali dia selesai membersihkan sebuah tonjolan maka muncul pula sebuah ukiran berbentuk manusia. Bentuk ukiran dari manusia-manusia itu ada yang berbentuk duduk atau berukir secara hidup dan indah. Suma thian yu tahu kalau ukiran manusiadibuat oleh kepandaian silat yang maha sakti, sudah pasti disinilah seorang tokoh silat jaman dahulu kala meninggalkan ilmu silatnya, Selama delapan tahun terakhir ini, dia seringkali mendengar suhu serta paman Wan nya membicarakan kejadian semacam ini. Kejadian ini boleh dibilang merupakan suatu penemuan yang tak terduga, andaikata dia juga tahu kalau ular kecil berwarna emas itu merupakan raja ular yang paling beracun di didunia ini, sampai matipun dia tak akan berani untuk mengejarnya, dan mungkin dia pun tak akan terpancing sampai di dalam gua kuno ini.. Sementara dia sedang berdiri sambil memperhatikan bentuk gaya dari ukiran tersebut, mendadak terendus bau harum yang menyegarkan muncul dari balik gua itu, bau itu harum sekali, seperti bunga anggrek, seperti juga bau buah yang matang, tapi yang pasti bau harum tersebut membuat sekujur badannya segera segar kembali. Dalam sekejap mata pula bau busuk yang semula menyelimuti gua itu tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi suara aneh tadi bergema semakin nyaring daripada tadi, untuk sesaat lamanya Suma Thian yu menjadi lupa dengan ukiran di atas dinding yang baru saja ditemukannya itu. Dengan langkah lebar dia lantas berjalan masuk kedalam gua menghampiri sumber dari suara aneh tersebut. Tapi, walaupun Yu ji telah menggeledah seluruh isi gua itu, alhasil dia tidak berhasil menemukan sesuatu apapun yang mencuri-gakan, hal ini membuatnya semakin tertegun dan keheranan. Dalam pada itu bahan penerangan yang di bawanya sudah hampir habis, dia lantas membuang sisa obornya ke tanah dengan harapan akan pergunakan sisa waktu yang amat sedikit itu untuk mengingat ingat gerakan aneh yang tertera diatas dinding. Siapa tahu, pada saat itulah suatu peristiwa aneh kembali terjadi di depan matanya. Tatkala sisa obor itu dibuang ke atas tanah, tiba-tiba saja ia temukan disudut dinding gua itu tumbuh sebatang rumput liar yang kecil dan pendek, tanpa terasa ia teringat kembali dengan bau harum semerbak yang diendusnya tadi, janganjangan bau harum tadi berasal dari rumput liar ini?". Ternyata dugaannya memang benar, sewaktu dia membungkukkkan badannya mendekati rumput liar tersebut, bau harum semerbak yang terendus makin menebal, sebaliknya suara eneh yang kedengaran tadipun makin lama semakin bertambah nyaring. Tampak olehnya rumput liar itu terbagi menjadi tiga daun, bentuk daunnya seperti pedang dengan panjang sejari tangan, warnanya merah darah. Sejak kecil Suma Thian yu memang dipelajari nama dan bentuk pelbagai rumput dan tumbuhan aneh dari kit hong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kiam kek Wan Liong, meski begitu, ternyata dia tidak mengetahui nama dari rumput aneh dijumpainya sekarang. Dasar sifat kanak-kanakanya belum hilang, ternyata Suma Thian yu memetik selembar daun pedang tersebut dari tangkainya dan dien-dus dekat lubang hidungnya. Siapa tahu, begitu daun tadi tersentuh oleh tangan Suma Thian yu, tiba-tiba saja daun tadi menjadi layu dan bau harumnya pun seketika itu juga lenyap tak berbekas. Kenyataan ini membuat Suma Thian yu semakin tercengang. Bukankah daun itu masih segar sewaktu dipetik? Mengapa begitu tersentuh dengan tangannya lantas layu dan mati? Setelah mengalami pengalaman tersebut, dia tak berani bertindak gegabah lagi, ia tahu tumbuhan aneh semacam ini merupakan suatu tumbuhan yang amat langka, menyianyiakan selembar daun yang di lakukannya barusan sudah merupakan pantangan yane besar, jika sisa yang tinggal dua lembar itu harus disia-siakan belaka, hal ini benar benar merupakan suatu tindakan yang patut disesalkan. Maka diapun membungkukkan badan dan menjilat daun berbentuk pedang itu dengan lidahnya. Baru saja ujung lidahnya menyentuh daun tersebut, mendadak... , "Weees!" diiringi suara yang pelan, segulung cairan segar segera meleleh keluar lewat lidahnya masuk ke dalam perut. Seketika itu juga sekujur badannya gemetar keras, rongga badannya terasa merekah besar, apalagi ketika cairan tadi masuk ke dalam perutnya, pemuda itu segera merasakan tubuhnya seakan-akan terjerumus ke dalam gudang es yang dingin sekali. Tak terlukiskan rasa kaget yang dialami Suma Thian yu, buru-buru dia duduk bersila sambil bersemadi, ilmu Ciong

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

goan sim hoat ajaran Kit hong kiam kek Wan Liang segera dikerahkan untuk mengelilingi seluruh badannya. Tak lama kemudian hawa dingin tadi lenyap tak berbekas, dia segera merasakan sekujur badannya menjadi lebih enteng dan segar. Dasar pemuda yang pintar, lagipula memang berbakat alam, dengan cepat ia sadar kalau benda yang dihisapnya adalah suatu benda yang amat langka, maka dengan kilat ia membungkukkan badannya lagi dan menempelkan lidahnya keatas daun terakhir yang masih tersisa. Kali ini, tatkala caiian tersebut masuk kedalam tubuhnya, bukan saja membuat badannya saja bergetar keras, seluruh lidahnya kontan menjadi kaku bercampur gatal, segulung cairan panas secepat kilat menerjang masuk melalui rongga mulut dan mengalir ke dalam perutnya. Begitu hawa panas tadi berjumpa dengan hawa dingin yang berada dalam perutnya, seketika itu juga terjadi suatu reaksi yang sangat hebat, seketika itu juga Yu ji merasakan perutnya seperti mau meledak, rasa sakit yang melilit perutnya tak terlukiskan dengan kata-kata, buru-buru dia memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan. Tak lama kemudian, semua penderitaan yang dialaminya itu telah hilang tak berbekas, aliran hawa panas itupun dengan melewati pusar bergerak naik keatas menuju Khi hay hiat, lalu seperti seekor tikus yang terjang kesana terjang kemari secara beruntun menembusi jalan darah Im ciau, Hun sui, Kian it, ki ciau dan Thim liong ki hiat. Kemudian setelah berhenti cukup lama didalam jalan darah Tham tiong hiat, Yu ji merasakan hawa panas menyengat sekujur badannya membuat peluh jatuh bercucuran menbasahi sekujur tubuhnya. Dengan cepat pemuda itu tahu kalau ilmu Ciong goan sim hoat ajaran paman Wannya masih belum mampu untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengusir hawa panas dalam tubuhnya itu untuk bergerak lebih ke atas. Maka dengan cepat dia mencoba untuk menggabungkan ilmu Hu siang sin kang ajaran dari kakek berambut putih itu dengan kepandaian ajaran paman Wannya, ternyata ilmu gabungan ini luar biasa sekali, akhirnya hawa panas yang menyengat badan itu berhasil menembusi jalan darah Tham tiong hiatnya mencapai jalan darah Hoa kay hiat diatas ubunubun, kemudian setelah mengitari tubuhnya sekali lagi hawa panas tadi mengalir kembali ke dalam pusar. Bagaikan baru lolos dari beban berat, Suma Thian yu meng hembuskan napas panjang, dan sambil menyeka keringat, ketika angin berhembus lewat, dia merasakan tubuhnya sangat enteng sekali seperti tak berbobot lagi. Kebetulan pada waktu itu api obor sudah, padam, tinggal sisa cahaya kuning yang redup tapi suasana dalam gua itu justru terasa makin terang benderang, hal ini membuat Thian yu semakin keheranan. Padahal, darimana dia bisa tahu kalau hal tersebut justru merupakan kasiat dari ke dua lembar daun berbentuk pedang itu? Sementara dia masih kebingungan, mendadak dari atas langit langit gua berkumandang suara batuan yang retak, diikuti permukaan tanah di mana ia berpijak bergoncang keras. Tanpa terasa pemuda itu segera menjerit kaget: "Aaah, gempa bumi!" Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia lantas melejit keluar dari dalam gua, baru saja tubuhnya mencapai pintu gua, dari belakang tubuhnya berkumandang suara gemuruh yang amat memekakan telinga. Dengan cepat Suma Thian yu berpaling, apa yang terlihat membuat ia terkejut sehingga peluh dingin bercucuran.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Sungguh berbahaya!" pekiknya dalam hati. Ternyata gua itu tak sanggup menahan getaran gempa yang amat dahsyat itu sehingga runtuh kebawah. Memandang reruntuhan batu gunung yang menimpa gua itu, Suma Thian yu menghela napas panjang gumamnya: "Sayang sekali, kepandaian sakti yang tertera dalam gua itu akan punah dengan begitu saja. Kalau takdir telah berkata demikian siapa yang bisa membantah? Coba kalau Suma Thian yu sehari lebih awal menemukan gua itu, bukankah ilmu silat maha sakti yang tertera diatas dinding akan berhasil dipelajarinya? Tapi, andaikata sehari lebih awal dia temukan gua itu, belum tentu dia akan menjumpai rumput mestika tersebut. Ya,jika takdir telah mengatur segala sesuatunya, siapa pula yang bisa membantah? Kini, gua kuno tersebut sudah rata dengan tanah, namun goncangan diluar masih berlangsung terus dengan dahsyatnya, pohon bertum bangau, batu cadas bergulingan, seluruh jagad seakan berubah menjadi mengerikan, bagaikan hari kiamat sudah hampir tiba. Menyaksikan bencana alam yang sedang berlangsung itu, mendadak Suma Thian yu teringat dengan gurunya, diamdiam ia berpekik dalam hati kecilnya: "Aduh celaka, suhu pasti sedang menanti dengan hati yang amat gelisah....." Berpikir demikian, cepat-cepat dia melejit ketengah udara, lalu secepat kilat dia meluncur kedepan menembusi hutan bambu yang lebat. Tapi begitu sampai didalam hutan bambu, ternyata gempa bumi telah berhenti, sedang diatas batu cadas besar itupun tampak seorang kakek berambut pulih sedang duduk dengan tenang disana.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menghadapi serangkaian peristiwa yang beruntun itu, Suma Thian yu benar-benar dibuat kebingungan tak karuan, pikirnya: "Jangan-jangan aku berada impian? Atau mungkin gempa bumi itu hanya tipuan? Sementara dia diliputi oleh perasaan curiga dan tidak habis mengerti, mendadak terdengar kakek berambut putih menegur: "Kau telah pergi kemana? Sudah hampir setengah jam lamanya aku menantikan kedatanganmu" Dengan cepat Suma Thian yu menghampiri gurunya, lalu sambil berlutut jawabnya dengan agak gagap: ""Tecu tahu salah, aku... " Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, si kakek berambut putih itu telah menjerit tertahan, lalu tanyanya dengan keheranan: Apa yang telah kau jumpai? Cepat katakan kepadaku dengan berterus teriang..." Tentu saja Suma Thian yu tak berani berbohong, dia lantas membeberkan bagaimana ia menemukan ular beracun, bagaimana masuk ke dalam gua dan bagaimana dia salah makan daun liar.... Kakek berambut putih itu mendengarkan semua penuturan dengan seksama, menanti anak muda itu telah menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa kakek itu baru berkata: "Suatu penemuan aneh, betul-betul suatu penemuan aneh, ini baru cerita besar, suatu peristiwa yang besar sekaii. Yu ji, penemuan aneh seperti ini bukan setiap orang dapat mengalaminya, akupun tak usah menguatirkan keselamatanmu lagi. Mulai sekarang, urat Jin meh dan tok meh dalam tubuhmu sudah tembus, tenaga dalammu telah mencapai puncak kesempurnaan, asal kau bersedia melatih diri beberapa saat lagi, tak sulit untuk membawamu mencapai puncak kesem-purnaan yang tak terhingga"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu hanya termanggu seperti tidak memahami perkataan tersebut, namun kakek rambut putih itu tidak ambil perduli, kemudian dia berkata lebih lanjut. "Tahukah kau, rumput Jiar apakah yang telah kau makan itu?" Tecu tidak tahu. "Rumput itu dimakan Jin sian kiam lan, meskipun kau hanya berhasil makan dua lembar saja, hal sudah merupakan suatu kejadian yang luar biasa, daun yang tengah membantumu untuk menembusi nadi Jin meh dan tok-meh dalam dada, sedang dua lembar lainnya, yang satu bisa membuat orang melihat dalam kegelapan seperti ditempat terang, sedang yang lainnya berkhasiat kebal racun, tampaknya daun yang terbuang sia-sia itu adalah rumput kebal racun, tapi ada satu hal tak usah kau kuatir, yakni tangan kirimu sudah kebal terhadap segala macam serangan beracun. Mengetahui kalau lengan kirinya kebal terhadap segala macam racun, tanpa terasa dia bertanya dengan wajah keheranan: "Mengapa suhu!" Kakek berambut putih itu segera tersenyum. "Nak, apakah kau lupa bahwa daun itu kau petik dengan tangan kirimu? Tatkala tanganmu menyentuh daun kebal racun tersebut, sari racun tersebut telah menyusup masuk kedalam kulit badanmu, itulah sebabnya daun itu dengan cepat menjadi layu, tapi justru karena itu, telapak tangan kirimu menjadi menyerap sari daun tersebut yang menyebabkan lengan itu menjadi kebal terhadap racun. Suma Thian yu yang mendengar ucapan tersebut menjadi amat keheranan, sudan barang tentu rasa girangnya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sampai lama kemudian, kakek berambut putih itu baru bertanya lagi: "Yuji, sudah berapa tahun kau mengikuti diriku? Sudah delapan tahun suhu! Betul, sudah delapan tahun kakek berambut putih itu meng-angguk, selama delapan tahun ini, apa saja yang telah kau pelajari? Mendengar pertanyaan itu, Suma Thian yu segera menundukkan kepalanya dan tak berani menjawab. Si kakek berambut putih itu cukup tahu akan tabiat bocah itu yang suka merendah dan sedikupun tidak angkuh, maka sambil tertawa ramah katanya lagi: "Yu ji, tahukah kau siapa nama gurumu? Suma thian yu memandangi gurunya dengan termangu, kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tecu yang tak berbakti sama sekali tak tahu siapa nama suhu..." "Hal ini tak menyalahkan dirimu kata kakek berambut putih itu sambil mengelus jenggotnya dan tertawa, "aku tak pernah menyinggung soal ini kepadamu, tahukah kau mengapa aku tidak memberitahukan hal ini kepadamu? Yu ji tak tahu!" "Menerima murid mudah, mendidik murid sukar, andaikata aku menghasilkan seorang murid yang tak becus bukankah hal ni hanya akan menambah dosa bagi umat persilatan? Setelah berhenti sebentar, kakek berambut putih itu menyambung lebih jauh. "Selama delapan tahun ini aku selalu dan tiap saat mengamati tabiat serta gerak gerikmu, kuketahui kemudian bahwa kau adalah seorang yang polos, jujur dan setia, sedikitpun tidak mempunyai sifat angkuh, kau memang tidak memalukan menjadi muridku"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kembali dia berhenti menarik napas panjang, kemudian melanjutkan. "Hari ini aku baru secara resmi menerima sebagai murid, kau harus tahu tingkat kedudukkanmu dalam dunia persilatan sekarang adalah sangat tinggi, dikemudian hari jika kau sudah berpisah dariku untuk turun kegunung dan be kelana dalam dunia persilatan, ingatlah selalu bahwa manusia itu adalah sederajat, jangan anggkuh, jangan takabur, bersikaplah jujur kepada orang, ingatlah selalu dengan ajaran Nabi, dengan begitu kau baru bisa mengamalkan baktimu untuk umat manusia, mengerti?. Dengan hati yang tulus Suma Thian yu menerima nasehat itu, sahutnya dengan hormat: "Tecu menerima perintah" Kakek berembut putih itu segera tertawa lebar, katanya lagi: "Tahun ini aku telah berusia sembilan puluh tahun, orang persilatan menyebutku Put Go cu, artinya belum bisa menyadari ajaran agama To yang sebenarnya. Perguruanku bersumber dari Bu tong pay, sekarang Hian cing tojin adalah keponakan muridku atau juga kakak seperguruanmu, jadi orang jujur dan bijaksana, berbicara soal ilmu silat dia terhitung jago nomor satu dunia persilatan, bila kau telah berjumpa dengannya nanti, harap kau bersikap jujur dan tulus hati kepadanya." Ketika mengetahui kalau gurunya adalah ketua pendekar besar yang nama besarnya telah menggetarkan dunia persilatan pada enam puluh tahun berselang, hatinya merasa gembira sekali sehingga untuk sesaat lamanya hanya menjadi ternganga dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Perlu dimengerti, Put Go cu adalah seorang pendekar besar yang paling kosen dari partai Bu tong semenjak perguruan ini didirikan, sejak berusia delapan belas tahun ia terjun dalam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dunia persilatan, dengan mengandalkan sebatang hud tim (kebutan) dia malang melintang dalam dunia persilatan tanpa tandingan,bersama dengan Tan Pak cu mereka berdua disebut Tionggoan ji cu. Ilmu pukulan Tay cing to liong ciang yang amat termashur dalam partai Bu tong sekarang, tak lain adalah hasil ciptaan dari kakek itu. Semenjak mengundurkan diri dari dunia persilatan, Put Go cu menemukan puncak Gi im hong sebagai tempat pertapaannya, siapa tahu selama berkelana dia tak menerima murid, kemudian ia telah menemukan seorang ahli waris yang kesetiannya bisa diandalkan. Kiranya sewaktu Kit hong kiam kek Wan liang mengajak Suma Thian yu datang ke bukit itu, secara kebetulan kedatangan mereka diketahui Put Go cu yang meneliti bentuk badan Suma thian yu segera berkesimpulan kalau bocah ini amat berbakat untuk belajar silat. Hanya saja pada waktu itu dia mengira Suma thian yu sebagai murid Kit hong kiam kek, maka ia tak berani bertindak secara gegabah. Kendatipun demikian, setiap hari Put Go Cu selalu datang disekitar tempat itu untuk mengawasi keadaan dari bocah itu. Lama kelamaan, akhirnya ia berhasil menemukan rahasianya, dia tahu kalau Kit hong kiam kek Wan Liang tak lebih hanya memeliharanya tanpa bermaksud untuk menerimanya menjadi murid. Kenyataan ini justru amat cocok dengan keinginan Put go cu, maka dia pun segera memunculkan diri dan menerimanya menjadi murid. Selama delapan tahun, disamping harus berlatih Bu siang sin kang, Suma Thian yu juga melatih ilmu pukulan Tay cing to liong ciang, meski hanya delapan tahun, ia telah berhasil

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mendapatkan semua kepandaian dari Put Go cu, yang kurang sekarang tinggal kematangannya. Sudah barang tentu, siapa tak akan mengira kalau jago tua tersebut tinggal dibukit Gi im hong, lebih tak menyangka kalau dia bakal menerima seorang murid yang begitu muda, jodoh semacam ini boleh dibilang merupakan kemujuran Yu ji. Lama sekali Put Go cu memperhatikan wajah Yu ji, kemudian ia baru berkata lagi: "Yu ji, sekarang aku sudah tak mempunyai kepandaian apa-apa lagi untuk diajarkan kepadamu, satu-satunya harapanku sekarang melihat kau menjadi tenar, memberi bantuan kepada umat manusia dan berbakti untuk dunia persilatan, gunakanlah kebenaran untuk menundukkan orang, jangan menggunakan pedang untuk menaklukkan orang, kau harus tahu, dunia persilatan merupakan gudang orang pintar, diatas gunung masih ada gunung, diatas manusia pandai masih ada manusia pandai yang lain, dengan kepandaian yang kau miliki sekarang, meski cukup tangguh kemampuanmu, tapi kalau tidak baik-baik melatih diri, tak akan lama kau bisa tenar dalam dunia persilatan......." Setiap patah kata dari Put Go cu merupakan nasehat yang tiada tara harganya, dengan hati yang tulus Suma Thian yu mendengarkan dengan seksama, diam-diam dia mengingat semua perkataan itu didalam hati. "In su!" ujarnya kemudian, "Yu ji pasti akan melaksanakan pesan kau orang tua dengan bersungguh hati, pasti akan kuhadapi orang dengan cinta kasih dan menyelamatkan umat manusia dari penindasan." "Bagus sekali, aku selalu percaya dengan watakmu, mulai besok kau tak usah datang kemari lagi. "In su, kau orang tua........"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak usah banyak bicara lagi tukas Put go cu hambar "aku cukup mengetahui maksud hatimu, kau berharap agar aku jangan meninggal kan dirimu bukan! "Betul!" Suma Thian yu manggut-manggut, wajahnya penuh dengan air mata membuat pandangan matanya menjadi kabur. Dengan cepat Put Go cu menghibur: Di dunia ini tiada perjamuan yang tak buyar, asal dalam hatimu selalu teringat dengan perkataanku, meski terpisah oleh samudra yang luas, sesungguhnya aku tak berbisah dari hati mu. Anak bodoh, kau sudah bukan anak kecil lagi, setelah belajar silat kaupun harus terjun ke dunia persilatan untuk melatih diri, asal kau bersedia melakukan perbuatanperbuatan yang bermanfaat bagi umat manusia, membantu kaum lemah dan menegakkan keadilan, aku sudah merasa puas sekali." Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan: "Kalau ilmu silat hanya dipendam terus di atas pegunungan yang sepi, maka kepandaian tersebut tersebut ibarat barang yang tak berguna, apalagi kau toh masih ada dendam keluarga yang harus dituntut balas Menyinggung kembali soal dendam keluarga, Suma Thian yu segera merasakan darah yang beredar dalam tubuhnya bergolak keras, tadi dia masih merasa berat hati untuk meninggalkan gurunya, tapi sekarang keadaannya menjadi berbeda, api dendam telah membara dalam dadanya, pada saat ini dia malah berharap bisa terbanh meninggalkan tempat itu. Memandang hawa amarah yang mulai menyelimuti wajah Suma Thian yu, Put Go cu menggelengkan kepalanya secara diam-diam sambil menghela napas panjang. Jilid 3. Kitab pusaka yang tidak ada tulisannya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Dunia persilatan yang banyak urusan dan banyak kesulitan, kini telah bertambah lagi dengan seorang bintang pembuluh, napsu mem- bunuh yang berkobar didada orang ini kelewat besar!" Berpikir sampai disitu, dia lantas bertanya, "Siapakah musuh besarmu ?" Sebenarnya Suma Thian-yu sudah terjerumus dalam pengaruh api dendam yang membara, mendengar perkataan itu dia menjadi tertegun lalu menghela napas panjang, dan sahutnya : Hingga kini tecu masih belum tahu siapa musuh besarku Tampaknya Pu Go cu juga merasa agak tercengang oleh kejadian tersebut, masa siapakah musuh besar pembunuh ayahnya juga tidak di Ketahui? Dengan cepat dia mendesak lebih jauh: Dunia luas, kemana kau hendak mencari musuhmu?" Apakah sedikit jejakpun tidak kau temukan? "Tidak" Suma Thian yu menghela napas Panjang. Ketika peristiwa itu terjadi, tecu baru berusia lima tahun, akupun dibopong oleh Thio popo untuk melarikan diri, oleh karena itu siapakah pembunuh ayahku belum kuketahui" "Hm, apa yang pernah dikatakan Thio popo" Dia hanya pernah berkata pada tecu bahwa musuh besarku adalah seorang penjahat pemetik bunga (Jai hoa cat) yang berhasil buron dari penjara, namanya kurang jelas, suhu, apakan kau tahu siapakah penjahat pemetik bunga tersebut? Put Go cu termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya: "Aaahh jumlahnya terlalu banyak, sulit bagiku untuk mengingat ingat begitu banyak orang, untung saja masih ada setitik cahaya terang ini, cepat atau lambat pasti akan berhasil kau temukan orangnya"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selesai berkata, dia memandang sebentar keadaan cuaca, kemudian katanya lagi kepada Suma Thian yu: "Waktu sudah tidak pagi lagi, kaupun harus pulang, tapi sebelum perpisahan ini aku inun sekali menyaksikan hasil latihanmu selama de lapan tahun ini, ilmu pedang Kit hong kiam hoat telah berhasil kau ketahui inti sarimu pukulan Tay cing to liong pat si ajaranku itu satu kali" Mendengar perkataan itu, Suma Tian yu segera merasakan semangatnya bangkit kembali, sahutnya. "Tecu terima perintah!" Menyusul kemudian dia melompat ke tengah lapangan dan memberi hormat dulu kepada Put Go cu, kemudian tenaga dalamnya dihimpun kedalam telapak tangan dan sejurus demi sejurus dimainkan depan penuh semangat. Dalam waktu singkat seluruh arena telah di liputi oleh deruan angin pukulan yang memekikkan telinga, demikian dahsyatnya permainan tersebut sehingga bayangan tubuhnya hampir saja tidak terlihat lagi. put Go cu yang menyaksikan kejadian itu merasa gembira sekali, apalagi setelah mengetahui betapa pesatnya kemajuan yang telah dicapai muridnya itu, tanpa terasa ia lantas mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak. Tu ji, berhenti!" mendadak Put Go cu mera bentak keras. "Suhu, apakah tecu salah ?" Put Go cu segera menggelengkan kepalanya berulang kali. Tidak, tidak salah, aku merasa gembira sekali setelah menyaksikan hasil yang berhasil kau capai itu" Suma Thian yu tidak memahami apa yang dimaksudkan gurunya, mendengar perkataan itu, dia lantas bertanya. Cepatlah pulang pulang, dalam gua telah terjadi peristiwa" tukas Put Go cu cepat. "Apa?" Suma Thian-yu menjerit keras saking kagetnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Put Gho cu tidak menjawab pertanyaan itu, dia segera menarik tangan Suma Thian-yu sambil serunya dengan gelisah: "Cepat, hayo cepat berangkat, kalau terlambat kau tak akan sempat melihat pamanmu lagi" Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang itu sudah melayang sejauh satu kaki lebih, kemudian dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat meluncur ke arah gua kuno tersebut. Hingga detik itu, Suma Thian yu masih tertegun dan tidak habis mengerti, dia tak tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi. Selama sepuluh tahun berdiam disitu, puncak Gi im hong selalu berada dalam keadaan tenang, bayangan musuh yang selalu dikuatirkan Kit hong kiam kek Wan Liang tak pernah muncul disana, dia yakin hal ini mungkin disebabkan perubahan pintu guanya, atau mungkin juga dia sudah dilupakan oleh umat persilatan. "Tapi, siapa tahu..... Ketika Put Go cu dan Suma Thian-yu berdua tiba didepan gua, pemandangan yang terbentang dihadapan mereka membuat kedua orang itu merasakan tubuhnya bergetar keras. Ternyata dalam mulut gua itu penuh dengan tanda darah yang mem basahi hampir semua lapangan yang berada disitu, rumput-rumput telah berubah menjadi merah, tiga sosok mayat yang bermandikan darah terkapar kaku disitu. Dengan cemas Put Go cu segera berseru: "Kau cepat masuk ke dalam gua! Waktu itu Suma Thian-yu sudah kehilangan pegangan, mendengar perkataan itu dengan cepat dia menyelinap masuk kedalam gua.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Namun baru saja masuk ke gua, mendadak kakinya terikat oleh sesuatu benda sehingga hampir saja kakinya jatuh terjungkal ke atas tanah, ketika ia mengamati benda itu, ternyata dia adalah bangkai Siau-hek, si kuda kurus yang setia kepada majikannya. Sementara itu Put Go cu jaga telah masuk ke dalam gua, menyaksikan pemandangan yang terbentang didepan mata itu, ujarnya dengan sedih: "Jangan gugup, jangan panik, anak Yu! Yang penting sekarang adalah mencari pamanmu. Selesai berkata, mereka berdua segera melakukan pemeriksaan keseluruh gua, namun tak dijumpai bayangan tubuh dari Kit hong kiam kek. Suma Thian yu semakin gugup bercampur gelisah, gumamnya berulang kali. "Aduh celaka, aduh celaka...." "Tampaknya Put Go cu pun merasakan kalau gelagat tidak menguntungkan, buru-buru dia menarik tangan suma thian yu dan mengajak nya keluar, seluruh bukit telah diperiksa namun bayangan tubuh dari Kit hong kiam kek Wan Liang belun juga ditemukan. Perasaan hati mereka dewasa ini berat bagaikan dibanduli barang seberat ribuan kati, terutama Suma Thian-yu, dia merasakan jantung nya berdebar debar keras, seakan-akan hendak melompat keluar dari rongga dadanya saja.... Pemuda itu sudah mendapat firasat jelek, sudah pasti paman Wan nya mengalami nasib tragis, sejak kematian Siauw hek dan ditemukannya tiga sosok mayat didepan gua, tak bisa disangkal lagi suatu pertarungan sengit pasti telah berlangsung disana, dan besar kemungkinannya paman Wan telah mengalami musibah dalam pertarungan itu. Berpikir sampai disini, Suma Thian yu sema kin gugup dan panik, kalau bisa dia ingin cepat cepat menemukan paman Wan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bagaikan orang kalap saja dia segera melepaskan diri dan cekalan tangan Put Gho cu, kemudian sambil lari ke depan, teriaknya ber ulang kali: "Paman, paman, kau berada di mana.... "Paman! Paman....." Dia berteriak dengan sekuat tenaga, sambil berteriak sembari berlari, semua jalan di telusuri tanpa tujuan. Tapi tiada jejak apapun yang berhasil ditemukan, tidak terdengar pula suara jawaban. Habis sudah, habis sudah sekarang, paman lelah lenyap tak berbekas... habis sudah sekarang!" "Paman, Yu ji berada disini, paman...kau berada dimana....?" Put Go cu yang menyaksikan kejadian itu turut merasakan hatinya menjadi kecut, dia kuatir kesedihan yang memuncak akan berakhir dengan isi perut yang terluka, buru buru serunya: Yuji, Yu ji,.. hati-hati dengan kesehatan badanmu, pamanmu tak bakal tertimpa kejadian apa apa." Ucapan tersebut tentu saja terbatas pada menghibur saja, sebab bahkan Put Go cu pribadipun tidak berani menjamin kalau kit hong kiam kek tak tertimpa kejadian apa apa. Mendadak terdengar Suma Thian-yu menjerit kaget, dengan kecepatan tinggi dia melesat kedalam hutan sebelah depan sana dan meluncur kebawah sebatang pohon. Ketika Put Go cu turut menyusul ke situ tampaklah Suma Thian yu sedang memeluk seorang kakek yang berpelepotan darah, orang itu tak lain adalah Kit-bong-kiam kek Wan Liang. Put Go cu tak berani berayal lagi, buru-buru dia berjongkok sambil menguruti dada Wan Liang, kemudian mengambil keluar buli-buli kecil dari sakunya dan mengeluarkan sebutir pil berwarna kuning.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan cekatan dia membuka mulut Kit hong kiam kek dan menjejalkan obat itu keda lam mulutnya, kemudian diapun membantunya untuk menguruti kembali dadanya. Tak lama kemudian put Go cu menghentikan usahanya, sambil menghela napas dia mengelengkan kepalanya berulang kali. "Aaaai......lukanya kelewat parah, bajingan itupan amat kejam, tak dengan cara sekeji ini dia melukai dirinya, sekalipun ada obat mestika, paling-paling hanya akan memperpanjang kehidupannya beberapa waktu saja" Mendengar perkataan itu, Suma thian yu merasakan hatinya dingin separuh, dengan sedih dia menundukkan kepalanya, lalu sambil me-meluk tubuh paman Wan nya ia menangis tersedu-sedu. "Paman...ooh paman... dengarkah kau suara panggilanku? Paman...aku adalah Yuji...Yuji yang paling kau sayang, dengarkah kau... paman" "Jangan berteriak lagi" cegah Put Go cu dengan cepat, "sebentar dia akan mendusin, kalau bisa jangan membuat hatinya sedih" Benar juga, tak lama Put Go cu menyelesaikan katakatanya, Kit hong kiam kek Wan liang segera menggerakkan badannya dan membuka matanya lebar-lebar, tapi kemudian menutup kembali. Setelah lewat beberapa saat lagi dia baru membuka matanya yang telah pudar dan memandang sekejap kearah Yu ji, sambil menahan rasa sakit katanya: "Aku sudah tak sanggup lagi, nak, paman sudah tua ... aaai, dia kelewat kejam....dia..... "Paman, jangan banyak berbicara lagi," buru-buru suma Thian yu berseru, "kau pasti akan sembuh kembali, beristirahatlah dengan tenang, kau pasti akan sembuh kembali."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kit hong kiam kek Wan Liang mengerutkan dahinya menahan rasa sakit yang luar biasa, pelan-pelan suma Thian yu membaringkannya ke tanah, tapi dengan susah payah Kit hong kiam kek berusaha menahan tubuhnya dan meronta bangun, ujarnya sambil menggelengkan kenapanya berulang kali : "Nak, aku salah.... aku.... aku tidak baik....baik... memelihara dirimu.... semua urusanmu telah ku.... kuketahui.... aduh, aduuh... apakah Locianpwe ini adalah gurumu....? Suma Thian yu segera mengangguk, sahutnya dengan jujur. Benar paman, Yu ji, paman, tahukah kau bahwa Yu ji tak seharusnya mengelabuhimu" Pelan-pelan Kit hong-kiam-kek Wan Liang mengangguk, sahutnya sambil tertawa getir. "Nak, paman tak akan menyalahkan dirimu, tidak seharusnya paman me......melarang kau untuk...untuk belajar ilmu silat" Ketika secara tiba-tiba dia menyaksikan Put Go cu berjalan masuk dari tepi hutan, tanpa terasa bisiknya dengan lirih. "Siapa dia? Tak heran kalau Kit hong-kiam-kek wan Liang tidak kenal dengan Put Go cu, sebab ketika Kit hong kiam kek wan Liang terjun kedalam dunia persilatan, Put Go cu telah mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan Dengan suara rendah dan hormat Suma Thian yu menjawab: "Dia orang tua adalah Put Go cu, nama yang sesungguhnya tidak Yu-ji ketahui" Begitu mengetahui kalau guru dari Suma Thian yu adalah Put Go cu, salah seorang dari Tionggoan Jicu yang amat termasyhur itu, Kit hong kiam kek Win Liang merasa tertegun, kemudian dengan perasaan lega bisiknya lirih :

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Inilah rejekimu nak, paman terlalu gembira, sangat gembira sekali......... Berkata sampai disitu, mendadak tubuhnya mengejang keras dan muntah darah segar. Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian itu menjadi terperanjat sekali, buru-buru teriak nya: "Suhu cepat kemari, pamanku sudah parah keadaannya....." Baru habis dia berkata, Put Go cu yang sedang meronda ditepi hutan itu telah melayang datang, sambil membangunkan kepala Kit hong kiam kek dan menekan nadinya, diam-diam menghela napas sambil menggelegnkan kepalanya. "Aaai, tampaknya ia sudah tak bisa bertahan lagi" Sembari berkata dia lantas mengerahkan tenaga dalamnya untuk menguruti nadinya, tak lama Kemudian Kit hong kiam kek Wan Liang membuka kembali matanya. Setelah memandang sekejap kearah Suma thian yu dan Put Go cu, katanya sambil tertawa getir. "Locianpwee, boanpwe sudah tak sanggup lagi untuk bertahan, tidak kusangka akhirnya aku harus tewas di tangan perempuan rendah itu, mati bukan sesuatu yang menakutkan, tapi jika dendam sakit hati ini belum terbalas......penasaran rasanya hatiku Ia lantas berpaling kearah Suma thian yu, kemudian lanjutnya. "Yu ji, paman mati penasaran, setelah... setelah sampai dalam dunia persilatan, jangan... jangan kau sebut naa... nama dari paman tak akan ada orang yang bi... bisa mengampuni dii.... dirimu Berbicara sampai disitu. dia seperti teringat akan sesuatu, sekujur badannya gemetar keras, mukanya berubah menjadi merah, sambil miringkan badannya dan menuding ke arah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pedangnya yang tergelecak empat kaki dihadapannya, dia berkata. "Sebenarnya pedang itu ingin kuhadiahkan kepadamu, tapi jika kau membawa pedang tersebut malah justru akan mendatangkan ketidak beruntungan saja.....' Tatkala Suma Thian yu menyaksikan kesegaran Kit hong kiam kek Wan Liang tiba-tiba pulih kembali, ucapan yang diutarakan juga ti dak terputus-putus lagi, dia mengira lukanya sudah membaik, hatinya, menjadi girang sekali. Paman kau pasti akan menjadi baik, teriaknya dengan gembira "bukankah kau sudah merasa agak baikan sekarang?" Kit hong kiam kek segera menggelengkan kepalanya berulangkali, sahutnya sambil tertawa rawan. "Anak bodoh, terlampau sedikit yang kau ketahui, ingat... ingat de.. dengan ke.. kelicikan kebusukan dunia persilatan... Ketika berbicara sampai disitu, tiba-tiba hatinya terasa amat sakit, dengan memaksakan diri ia berusaha untuk mengendalikan rasa sakit tadi lalu berkata lebih jauh. Bila bertemu de...dengannya.... Siauhu yong .... kau... kau mesti.... Belum habis dia berkata, mendadak sekujur badannya mengejang keras, sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat dan seorang jago pedang yang amat termashyur dalam dunia persilatan pun telah mengakhiri hidupnya. Dia sebenarnya masih ingin meninggalkan pesan-pesannya, banyak persoalan yang harus ditinggalkan, tapi mampukah dia mengutarakan semua isi hatinya itu? Seorang pendekar besar telah mengakhi hidupnya disebuah bukit yang terpencil, jauh dari keramaian dunia. Apa yang berhasil diperolehnya? Susah payah hidup didunia, mengandalkan kepandaian silatnya menumpas kaum penjahat, tapi apakah yang berhasil diraihnya atas jerih payahnya?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menyaksikan paman Wannya berpulang ke alam baka, Suma thian yu merasa sedih sekali, dia segera memeluk jenasahnya dan menangis tersedu-sedu. Put Go cu adalah seorang jago yang sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, terhadap segala persoalan dia memandang ham bar, soal mati hiduppun bukan masalah besar baginya, tapi sekarang toh menundukkan juga kepalanya dengan wajah sedih. "Bu liang siu hud" bisiknya lirih. Perasaan hatinya yang tenang kini mulai bergejolak lagi, entah ia sedih karena kematian pendekar besar itu? Ataukah merasa terharu menyaksikan nasib Suma thian yu yang mengenaskan? Sampai lama, kemudian, Put Go cu baru berkata lagi: "Anak Yu, tak usah menangis, ia tak akan mendengar suara isak tangismu lagi, orang yang sudah matipun tak akan bisa hidup kem bali, apa gunanya meui menangis? Kau harus teguhkan hatimu dan melakukan suatu pekerjaan besar yang menggemparkan dunia persilat an sehingga tak sampai menyia-nyiakan harapannya." Ketika mendengar ucapan tersebut, Suma thian yu bukannya berhenti menangis, dia makin sedih. Ia terkenang kembali kejadian dimasa lalu, yakni pada sepuluh tahun berselang, waktu itu ada suatu ketika dia takut kepada pamannya yang berwatak aneh ini, dia membencinya, karena dia tidak mengerti. Teringat Wan Liang pernah berkata begini kepadanya: "Kau masih muda, bagaimanapun juga yang kau pahami masih terlampau sedikit." Yaa, benar, dia memang mengetahui sedikit tentang pamannya itu, mengetahui secara sepintas saja.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siapa tahu ketika Suma thian yu sudah mulai merasa betapa kasih dan ramahnya paman Wan, ternyata paman Wan telah pergi mening galkannya untuk selamanya, padahal Thian yu masih membutuhkan banyak petunjuk tentang kehidupan didunia ini tapi siapa yang akan memberi petunjuk kepadanya? Berpikir sampai disini, tanpa terasa air matanya kembali jatuh berlinang. Dia tahu, mulai sekarang dia akan menjadi anak tanpa sanak tanpa keluarga dan tanpa rumah. Sewaktu Thio Popo membawanya meninggalkan rumah dulu, dia masih belum tahu apa menderitanya "tak punya rumah", kini nasib jelek menimpa dirinya tanpa terasa, bagaimana mungkin kejadian ini tidak membuat sedih dan mencucurkan air mata.? Bagian KETIGA "BANGUNLAH Thian-yu" tiba tiba Put Gho cu memecahkan kesunyian, "cepat kubur jenasah pamanmu, karena suatu persoalan aku tak dapat tinggal kelewat lama disini" Dengan air mata bercucuran Suma thian yu bangkit berdiri dari atas tanah, lalu memandang sedih ke arah Put Gho cu, sepasang mata nya yang merah telah basah oleh air mata. Put Gho cu tak tega menyaksikan kajadian itu, segera hiburnya: "Kesempatan dimasa datang masih amat panjang, suatu ketika kita murid dan guru pasti akan berjumpa lagi, sepeninggal aku nanti, cepatlah kebumikan jenasah pamanmu, tinggalkan tempat ini dan ingat baik baik pesan terakhir dari pamanmu, dunia persilatan penuh de ngan mara bahaya, lebih baik kau jangan kelewat menonjolkan diri, dalam menghadapi semua persoalan pun harus berhati-hati"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sembari berkata dia membelai rambut pemuda itu dengan lembut, setelah memperhatikannya beberapa lama, ia baru berkata: "Nah, aku pergi dulu! Selesai berkata, tampak sepasang bahunya bergerak, tahutahu dengan kecepatan luar biasa dia lenyap dari pandangan mata Yu ji. Bagaikan baru bangun dari impian, buru-buru Suma thian yu berlutut dan menyembah tiga kali, katanya: "Suhu diatas, tecu tak akan menyia-nyiakan harapanmu" Ketika ucapan tersebut diucapkan, Put Gho cu mungkin sudah berada setengah li jauhnya dari tempat tersebut. Setelah Put Gho cu pergi, Suma Thian yu gera memungut pedang Kit hong kiam milik paman Wan yang tergeletak di tanah, lalu sambi1 memandang ujung pedang, itu gumannya: "Paman, kau orang tua tak akan pernah mati, Thian yu pasti akan mempergunakan pedang ini untuk membangun kembali nama besar serta kegagahan kau orang tua seperti dimasa lalu. "Paman, sekalipun dunia persilatan amat berbahaya dan penuh dengan siasat, Thian yu juga akan menelusurinya demi membalaskan dendam bagi sakit hatimu. "Beristirahatlah dengan tenang paman, berbaringlah disini dengan segala kedamaian, tak usah kuatir, tiada sesuatu yang ber harga untuk kau orang tua pikirkan, tak lama kemudian di dalam dunia persilatan akan muncul kembali seorang Kit hong kiam kek (jago pedang angin puyuh), dialah Thian yu, juga merupakan duplikat dari kau orang tua!" Sambil berkata dia mendongakkan kepalanya memandang awan tebal di angkasa, awan yang melayang jauh di udara dan tak mungkin bisa diraba seperti juga meraba impian. Suasana disekeliling tempat itu serasa begitu, seakan-akan keadaan pun turut berduka cita atas meninggalnya pendekar besar itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mungkin gempa bumi yang terjadi tadi merupakan pertanda datangnya nasib buruk paman? Kalau memang begitu, ooh... betapa agungnya paman" "Yaa, paman memang seorang yang agung gumam Suma thian yu dengan suara lirih. Kemudian ia mempergunakan pedangnya untuk menggali liang dan membaringkan jerazah Kit hong kiam kek kedalam liang tersebut, tak selang beberapa saat kemudian disitu telah bertambah dengan sebuah kuburan baru, seorang pendekar besarpun beristirahat untuk selamanya disana, yaa untuk selama-lamanya... Dengan termangu Suma thian yu memperhatikan kuburan tersebut, tanpa bicara, sorot matanya kaku dan tak bersinar, tanpa berkedip memandang keatas pusara, sementara titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya. Ia tak perlu berkat apa-apa lagi, tiada orang yang mendengarkan suaranya lagi. Dia berdoa, diam-diam dan secara bersungguh-sungguh... Pikirannya amat kalut seakan dia jauh dari dunia ini, jauh dari mmasyarakat tanpa sanak, tanpa keluarga, yang ada hanya keheningan bukit yang mencekam seluruh jagad. Lama...lama sekali...akhirnya dia bangkit berdiri, baru saja akan membalikan badan, tiba-tiba.... Dua sosok bayangan manusia entah sendiri kapan telah berdiri dibelakangnya, mereka datang tanpa suara berdiri disitu tanpa bergerak membuat Suma thian yu benar-benar merasa terperanjat sekali. Padahal dengan kepandaian silat yang miliki sekarang, secarik daun yang jatuh dari jarak sepuluh kakipun dapat didengar olehnya dengan jelas, tapi mengapa dia tak mendengar apa-apa akan kehadiran kedua orang itu?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah menenangkan hatinya, Suma thian yu baru memperhatikan kedua orang itu dengan seksama, mereka berdua adalah kakek berusia kira-kira lima puluh tahun yang berwajah serupa, kedua-duanya mengenakan jubah panjang hitam. Waktu itu, kedua orang kakek tersebutpun sedang mengawasi Suma Thian-yu tanpa berkedip, mereka hanya berdiri mematung disana tanpa bergerak barang sedikitpun juga. Satu-satunya perbedaan yang terdapat pada kedua orana kakek itu adalah diatas pipi sebelah kiridari kakek yang ada disebelah kanan terdapat sebuah tahi lalat sebesar kacang kedelai. Bila dilihat dari raut wajah kedua orang ini, tampaknya bukan termasuk orang jahat, agak lega juga Suma Thian yu menjumpai hal ini. Buru buru dia menjura seraya menegur: "Entah ada urusan apa cianpwee berdua datang kemari?" Kedua orang Kakek itu tidak menjawab, hanya senyuman hambar menghiasi bibirnya', mereka tidak bersuara pun tidak bergerak. Suma Thian yu lantas mengira kedua orang itu kalau bukan bisu tentu tuli, maka dengan suara yang lebih keras serunya: "Entah ada urusan apa cianpwe berdua.... Belum habis dia berkata, tiba-tiba terdengar kakek bertahi lalat hitam disebelah kanani itu menukas dengan suara lembut. "Kau tak usah bertanya lagi, aku sudah tahu kuburan siapakah itu.... " Sambil berkata ia lautas menuding ke arah gundukan tanah baru di belakang Suma Thian yu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu tidak kenal dengan kedua, orang kakek itu, mendengar mereka berdua langsung menanyakan soal kuburan pamannya begitu bertemu, dikiranya kedua orang ini ada sangkut pautnya dengan orang jahat pembunuh pamannya, kontan saja amarahnya berkobar. "Ada kepentingan apa kau menanyakan tentang persoalan ini?" bentaknya kemudian. Dua orang kakek itu tidak menjadi gusar lantaran peristiwa tersebut, malah justru tertawa bodoh. Dengan suara yang tenang dan halus kakek bertahi lalat itu segera bertanya lagi: Yang berada didalam sana tentunya orang mati bukan? Siapakah orang mati itu? Geli dan mendongkol Suma thian yu dihadapkan pertanyaan bloon semacam itu, dengan cepat dia berpikir: "Aaah, jangan-jangan kedua orang ini cuma orang bodoh? karena berpendapat demikian maka tanpa terasa anmarahnya menjadi reda, dengan suara lembut ia menyahut: Orang mati siapakah yang berada disitu, tak usah kalian urus, aku rasa andaikata kalian mempunyai urusan penting lainnya, lebih baik cepatlah tinggalkan tempat ini" Mendengar ucapan mana, kedu orang kakek itu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, suaranya keras hingga memantul diseluruh hutan. Sedemikian kerasnya suara tertawa tersebut akhirnya Suma thian yu merasa tak tahan, dengan suara keras jeritnya: "Hey, apa yang kau tawakan? Menjemukan" Dua orang kakek itu menghentikan suara tertawanya kemudian memandang bodoh ke arah Suma Thia yu, setelah itu katanya: "Bocah muda, masih kecil sudah berangasan sekali, lain kali pasti sukar mendapat bini! Selesai berkata, lagi lagi mereka tertawa terbahak-bahak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada hakekatnya Suma Thian yu dibikin kebingungan setengah mati oleh tingkah lakunya kedua orang itu. coba kalau Kedua orang itu tidak bermaksud jahat kepadanya, niscaya dia sudah memburu kedepan untuk menghajar mereka berdua. Hmm, rupanya kaliau berdua ada maksud untuk memperolok orang? Apa yang lucu? Kalau ada orang mati seharusnya turut berduka cita. masa kalian malah tertawa tergeletak di depan kuburan seseorang yang baru saja mati..." Teguran dari Suma Thian yu ini amat keras tapi tidak pantas untuk dipakai menegur orang yang berusia lanjut, semestinya, dua orang Kakek itu akan mencak-mencak kegusaran setelah mendengar teguran itu, siapa tahu apa yang kemudian terjadi justru merupakan kebalikannya. Terdengar kakek bertahi lalat disebelah kanan itu segera berkata: Perkataan bocah ini benar juga, kita memang seharusnya bersedih hati, hei hiante, mari kita bersedih hati!" Begitu selesai berkata, ternyata ia benar-benar menangis tersedu sedu, disusul kemudian oleh kakek yang ada disebelah kirinya. Dalam waktu singkat, isak tangis mereda telah menyelimuti seluruh angkasa. Menyaksikan dua orang kakek sinting yang sebentar tertawa sebentar menangis ini, suma thian yu menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela nafas panjang: Cukup, cukup.. . tangisan kalian berdua sudah cukup, asal..." cegahnya dengan cepat. Dua orang kakek itu segera berhenti menangis, seperti merasa sayang sekali dengan butiran air matanya, begitu berhenti menangis, air mata merekapun berhenti mengalir.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Nah bocah cilik" kata kakek bertahi lalat itu kemudian, "permintaanmu telah kulakukan dengan baik, sekarang gantian kami bersaudara yang ingin memohon kepadamu" Tingkah laku yang kocak dan tata bahasa kedua orang kakek yang halus segera mendatangkan perasaan simpatik dalam hati Suma Thian yu, maka diapun segera mengangguk. "Baiklah, asal bisa kulakukan pasti akan ku lakukan, katakanlah terus terang" "Nah begitu baru anak pintar, kakek bertahi lalat itu tertawa, "sekarang aku hendak bertanya dulu, kau tinggal dimana?" "Buat apa kau menanyakan tentang soal ini! "Tak usah kaugubris, jawab saja pertanyaan ku itu! "Maaf, sebelum kuketahui asal usul kalian berdua yang sebenarnya, jangan harap bisa mendapat jawaban dariku" "Wah, itu tak benar namanya" desak kakek bertahi lalat dengan cepat, "bukankah kau sendiri yang telah berjanji akan melakukan permintaanku, jangan kuatir, kami berdua bukan penjahat" Suma thian yu segera menggelengkan kepalanya berulang kali. "Siapa yang akan mempercayai ucapanmu? Kalau di lihat dari cara kalian yang datang secara sembunyi-sembunyi saja sudah diketahui kalau kamu berdua agak tidak beres, masa aku tidak boleh curiga?" Mendengar perkataan itu, si kakek bertahi lalat tersebut segera manggut-manggut memuji, sambungnya cepat: "Baiklah, kubatalkan pertanyaanku ini dan sekarang jawab saja kepada kami siapakah orang yang telah tiada ini?" "Maaf, pertanyaan inipun tak dapat kujawab" "Waah... aneh betul kau ini. kalau tidak ingin berterus terang katakan saja secara blak-blakan. Hei, bocah cilik, sebenarnya apakah maksudmu?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Tidak karena apa apa, hanya sepatah kata bisa kujawab, aku tidak memahami maksud tujuan kalian berdua. Kakek bertahi lalat itu segera garuk-garuk kepala yang tak gatal, lalu sambil berpaling ke arah kakek yang lain, dia berseru: "Hiante, lebih baik kita jangan mencampuri urusan lagi, mari kita pulang saja dan tidur" Kakek kedua ini macam orang bisu saja, sejak muncul sampai sekarang ia tak berbicara sepatah katapun, kakaknya menangis, diapun menangis, kakaknya tertawa, diapun tertawa, sekarang kakaknya hendak pergi ternyata dia pun benar-benar membalikkan badan dan pergi semua tingkah lakunya sungguh tidak habis di-mengerti. Yaa, manusia aneh! Kedua orang itu betul-betul aneh, meski dalam dunia terdapat banyak urusan aneh, namun belum pernah di jumpai manusia seaneh kedua orang ini. Sebelum pergi, kakek bertani lalat ini sempat berpaling dan tertawa bodoh kepada Suma Thian yu seraya berkata: "Hei bocah, sekalipun kau tidak bilang aku juga tahu, kami berbuat begini tak lain Cuma ingin mengetahui apakah kau bisa tutup mulut memegang rahasia atau tidak, padahal suhumu itu sudah memberitahukan semuanya ini kepadaku, setelah berjumpa hari ini, hah ... haah.... ternyata apa yang dikatakan memang tidak bohong! Berbicara sampai disini, dia lantas bersama adiknya berjalan seenaknya menuju ke hutan. Waktu itu suma thian yu tak sempat berpikir untuk memberitahu asal usul kedua kakek tersebut karena pertama dia sedang sedih, kedua diapun sudah dibikin pusing oleh ulah kedua kakek kembar itu. Tapi setelah mendengar perkataan terakhir si kakek bertahi lalat, hatinya kontan bergetar keras, pikirnya cepat. Heran, darimana ia bisa kenal dengan suhuku?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baru saja ingatan tersebut meiintas dalam benaknya, satu ingatan lain secepat kilat telah melintas dalam benaknya, dengan suara lantang segera bentaknya. "Cianpwee berdua, harap tunggu sebentar" Waktu itu, kedua orang kakek kembar tersebut telah tiba ditepi hutan, mendadak mereka berhenti, kemudian sambil membalikkan ba-dan, satu dari kiri yang lain dari kanan mereka bersama-sama berjalan balik, sementara senyuman bloon masih menghiasi bibirnya. Dengan seksama Suma Thian yu segera mengamati wajah kedua orang kakek itu begitu merasa dugaannya tak meleset dan tahu kalau mereka adalah tokoh persilatan yang pernah disingung suhunya, diam-diam ia menyesali dirinya yang bermata tak berbiji hingga hampir saja menyia nyiakan suatu kesempatan bagus. Buru-buru dia berlutut ketanah, lalu berseru. "Locianpwee berdua, harap kalian suka memaafkan Thian yu yang punya mata tak berbiji sehingga berbuat kurang ajar kepada kalian, atas kesalahanku tadi, mohon cianpwee berdua sudi memaafkan" Hiiii hiiii hiiii... kau hilang apa bocah cilik?" kakek hertahi lalat itu tertawa terkekeh-kekeh, apa itu cianpwe? Aku tidak mengerti, siapa sih cianpwe mu itu? Suma Thian yu tahu kalau manusia aneh semacam mereka adalah manusia manusia yang tak suka akan segala adat istiadat dan tata cara yang menjemukan, meski demikian, sebagai searang angkatan muda, ia tidak ingin bersikap kurang hormat, maka ia bertanya dengan hormat: Benarkah Locianpwe berdua adalah... " Kakek bertahi lalat itu segera menggoyangkan tangannya berulang kali mencegah dia berbicara lebih jauh, ujarnya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Bukan, bukan, apakah hanya di karenakan persoalan ini saja kau undang kami kemari?" Belum habis dia berkata, si kakek disebelah kiri yang bersikap macam orang bisu itu sudah menepuk bahu rekannya, kemudian menuding ke luar hutan, anehnya dia tetap membungkam dalam seribu bahasa. Si Kakek bertahi lalat itu segera berpaling dan tertawa, sahutnya tak sabar: "Sudah tahu adikku, kawanan anjing cilik itu belum pergi bukan? baik, mari kita pergi!" Kepada Suma Thian yu lanjutnya: Hei bocah, kita jumpa lagi malam nanti!" Nadanya amat terburu-buru seperti sudah tidak sabar untuk menunggu suatu persoalan sehingga begitu selesai berkata, buru-buru dia sudah membalikkan badan dan berlalu dari situ. Tapi kasihan sekali, langkahnya justeru sedemikian lambannya hingga selangkah demi selangkah persis seperti langkah seorang nenek berusia delapan puluh tahunan. Tapi anehnya, gerakan tubuh yang nampak sangat lamban itu justru cepat sekali bagaikan sambaran kilat, hanya didalam sekejap mata saja ia sudah lenyap dari pandangan sianak muda itu. Memandang arah lenyapnya bayangan tubuh kedua orang itu, Suma Thiau yu menggelengkankepalanya berulang kali sambil bergumam: "Manusia aneh, benar-benar manusia aneh! Malam kembali menyelimuti seluruh angkasa dan meninggalkan keheningan yang luar biasa, terutama sekali ditengah pegunungan yang jauh dari keramaian manusia. Bukit Kiu gi san kembali diliputi oleh keheringan yang mati, seram dan menggidikkan hati.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu masih ingat dengan ucapan yang diutarakan kedua orang manusia aneh itu menjelang kepergiannya tadi, maka dia telah menelusuri seluruh bukit, semak belukar, sejak kentongan pertama sampai tengah malam, tapi ia gagal menemukan jejak dari kedua orang manusia aneh tersebut. Ia sangat gelisah, tapi tak bisa menyalahkan kepada pemuda ini, bagaimana tidak? Sewaktu akan pergi meninggalkannya tadi kedua orang manusia aneh itu hanya mengatakan "kita jumpa lagi malam nanti, tanpa menerang kan waktunya, maupun tempat pertemuan, pada hal bukit Kiu gi san begitu besar, kemana dia harus pergi mencarinya? Manusia aneh memang selalu berwatak aneh, bila ia tak ingin berjumpa denganmu, meski kau jelajahi seluruh bukit juga tak akan menemukan nya, sebaliknya bila ia ingin bertemu dengan dirimu, sekalipun kau kabur keujung langit, dia tetap akan muncul juga dihadapanmu. Justru karena alasan inilah, akibatnya Suma Ghian yu mesti lari semalaman suntuk tanpa hasil, meski badan sudah basah kuyup namun hasilnya tetap nihil. Akhirnya dengan kecewa dia duduk dibawah sebatang pohon siong sambil bergumam: Aaii, tampaknya aku tertipu, tahu begini aku tak akan kemari untuk dihembus angin barat laut sambil menahan kedinginannya." Sambil mengomel dia mengambil sebutir batu kecil dari atas tanah, lalu ditimpuk secara gemas kedalam hutan sana. "Sialan, aku tak akan mencari lagi, anggap saja aku sedang sial!" omelnya lagi. Batu yang ditimpuk kedalam hutan bagaikan tenggelam ke dasar samudera saja, hilang lenyap dengan begitu saja, kemudian disusul suara seorang bergema dari balik hutan:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aduuuh .... sialan, manusia kurang ajar darimana yang tak punya mata, apakah tidak tahu kalau dalam hutan ada orangnya? Aduuh biyung ... sakit betul kepalaku!" Suma Thian yu terperanjat sekali setelah mendengar perkataan itu, buru-buru dia melejit ke udara dan melesat ke dalam hutan. Dari situ ia saksikan ada dua orang kakek sedang keluar bersama dari balik pepohonan. Dan begitu mengetahui siapakah kedua kakek itu, Suma Tnian yu bersorak kegirangan : Ohh cianpwee, rupanya kau?" Dari balik hutan berjalan keluar sepasang kakek berbaju hitam, dengan pandangan kebodoh-bodohan mereka sedang mengawasi wajah Suma Thian yu tanpa berkedip, kemudian terdengar kakek bertahi lalat itu mengomel: "Hei bocah, rupanya kau sudah tak sabar untuk menanti sejenak lagi? Anak muda sudah tak bisa bersabar, ketemu orang memanggil cian pwe, cianpwe melulu, sungguh menjemukan" Tertebak jitu isi hatinya, merah padam selembar wajah Suma Thian yu karena jengah, sungguh menyesal hatinya. Lama kemudian ia baru berkata agak tergagap. "Entah ada persoalan apakah cianpwee menyuruh Thian yu datang kemari? "Siapa yang suruh kau kemari?" bentak kakek bertahi lalat itu, "anak muda tidak belajar baik, justru senang berbohong, aku toh hanya mengatakan akan bertemu lagi entar malam, siapa yang menyuruh kau kemari?" Sekali lagi paras muka Suma Thian yu berubah jadi merah padam sesudah mendengar teguran itu, ia tersipu-sipu hingga tak bisa menjawab, sedangkan didalam hati pikirnya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Wu san sian gi siu (Sepasang kakek tolol dari bukit Wu san) betul-betul terhitung manusia paling aneh didunia ini, coba kalau suhu tidak berpesan agar menahan sabar terhadap manusia semacam ini, aku benar-benar segan untuk berurusan dengan mereka!" Baru saja dia berpikir sampai disitu, mendadak kakek bertahi lalat itu telah membentak gusar: "Bocah, kau jangan memikirkan akal busuk dalam hatimu, kesabaran dapat menghindari segala malapetaka, kau tahu hal ini bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk dilaksanakan! Bila kau tak memiliki kesabaran tersebut, lebih baik cepatlah tinggalkan tempat ini! Suma Thian yu merasa amat terperanjat, segera pikirnya: "Sungguh lihay, jangan jangan diatas mukaku tertera tulisan besar? Kalau tidak, mengapa ia dapat menebak suara hatiku secara jitu?" Berpikir sampai disitu, buru-buru dia berkata: Boanpwe tidak berani." Menyaksikan tampang pemuda yang macam monyet kepanasan itu, kakek bertahi lalat tersebut segera tertawa lebar. "Haah...haaah.... kalau bicara tidak sejujurnya, si bocah tidak bisa diajar, hiante mari kita pergi saja!" Selesai berkata kedua orang itu segera membalikkan badan siap pergi meninggalkan tempat itu. Suma Thian yu menjadi amat gelisah setelah menyaksikan peristiwa tersebut, buru-buru dia maju beberapa tindak kedepan menghadang dihadapan kedua kakek tersebut, kemudian sambil menjatuhkan diri berlutut katanya: "Locianpwe, jangan pergi dulu, boanpwe masih ada urusan hendak dilaporkan Kakek bertahi lalat itu segera membalikan badannya sambil melototkan matanya besar-besar, serunya dengan gusar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Huuh..... dasar bertulang lunak, maunya belajar merangkak macam anjing budukan. Hmm.. Seorang lelaki sejati tak akan sembarangan berlutut! Mendengar ucapan tersebut, tidak menunggu lebih lama lagi Suma Thian yu segera melompat bangun, kemudian dengan wajah serius. Diam-diam kakek bertahi lalat itu mangut-manggutlalu berpaling dan memandang adiknya yang berada disamping, tampak kakek itu pun turut manggut-manggut . Seolah-olah telah mendapat ijin, kakek itu berpaling kembali kearah Suma thian yu sambil katanya: "Hei bocah, apa tujuanmu memohon sesuatu kepada lohu?" Agak tertegun Suma Thian yu mendapat pertanyaan tersebut untuk sesaat lamarya dia tak sanggup menjawab. "Yaa, benar! Karena apakah aku memohon kepadanya?" Tiada suatu permintaan bukan? kakek bertahi lalat itu tersenyum, bagus sekali! Tapi lohu menyuruh kau menghadap justru karena aku hendak memohon sesuatu kepadamu Selama boanpwe sanggup untuk melaksanakannya, pasti akan kulaksanakan dengan sebaik-baiknya Dia mengira kakek itu hendak menanyakan kembali persoalan yang menyangkut diri paman Wan, dulu ia belum memahami asal usul kakek ini, maka rahasia tidak dibocorkan, tapi sekarang, setelah tahu kalau kakek ini adalah seorang pendekar sejati yang berilmu tinggi, ia lantas berpendapat bahwa tiada pentingnya untuk merahasiakan hal tersebut. Maka dia telah bersiap-siap, jika seandainya kakek itu bertanya kembali tentang paman Wan maka diapun akan menjawab dengan sejujur nya. Kakek bertahi lalat itu segera berseri wajahnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sungguh?" dia berseru, "ahaa .. . kalau begitu tak salah lagi pilihanku, aku tahu dengan bakat serta kecerdasanmu, sudah pasti tak akan muncul persoalan apa-apa" Dari dalam sakunya dia lantas mengeluarkan secarik kertas yang telah berwarna kuning lantas diserahkan kepada Suma thian yu sambil katanya berseru menjawab. "Dalam tiga hari, kau mesti memahami isi tulisan yang tertera diatas kertas ini, kalau tidak jangan harap bisa meninggalkan bukit kiu gi san barang setengah langkahpun." Suma Thian yu menerima kertas kuning itu dan memperhatikannya sekejap, mendadak ia berseru dengan wajah tercengang. Kertas ini...." Kertas ini berisikan ranasia ilmu silat yang maha sakti, bukankah kau gila silat?Kertas ini kutemukan beberapa hari berselang diatas bukit ini, sayang lohu tak becus dan tak sanggup memahami rahasia dari kepandaian silat tersebut, maka sekarang kuberitahukan kepada mu agar dalam tiga hari harus bisa menyelesaikan apa yang lohu perintahkan, beranikah kau untuk mencobanya?" Setelah termenung sejenak, akhirnya dia berkata. Boanpwe bersedia untuk mencoba, tapi aku tidak mempunyai keyakinan untuk pasti berhasil Tidak bisa! teriak kakek bertahi lalat ini dengan gusar, tanpa suatu keyakinan, pekerjaan apapun tidak akan berhasil dilaksanakan, bisa juga mesti dkerjakan, tidak bisa juga mesti dilakukan, pokoknya kau tak boleh putus asa, tak boleh berhenti ditengah jalan, mengerti? Ucapan tersebut dengan cepat menimbulkan perasaan anti pati dalam hati Suma thian yu, dia merasa kakek ini terlalu berlagak, memaksa orang lain untuk menuruti kemauannya sehingga menimbulkan perasaan jemu bagi yang mendengarkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah termenung sejenak, akhirnya ia berkata: "Pentingkah kertas ini bagimu? Seandainya boanpwe tidak bersedia atau tidak bisa, apa pula yang bisa kau lakukan?" Tidak mau harus mau, tidak bisa harus bisa, tiga hari kemudian kita berdua akan kembali sahut si kakek bertahi lalat sambil menarik wajahnya. Dia segera melemparkan kertas itu kehadapan Suma Thian yu, kemudian sambil membalikkan badannya bagaikan hembusan angin melun- cur masuk ke dalam hitan, sekejap kemudian bayangan tubuh kedua orang itu sudah lenyap dari pandangan. Suma Thian yu ingin menghalangi kepergian mereka, tapi terlambat, akhirnya sambil gelengkan kepalanya dia menghela napas panjang. "Aaaai.... dasar orang aneh tetap orang aneh....masa memaksa orang untuk melakukan pekerjaan yang tak ingin dilakukan olehnya?" Diambilnya kertas itu dan diperiksnya dengan seksama, kemudian dibalik dan diteliti bagian yang lain, namun itu segera berdiri tertegun. Kitab pusaka apakah itu? Ternyata kertas itu kosong melompong sama sekali tak ada isinya baik cuma satu huruf maupun sebuah garispun. Dengan gemas dia lantas menyumpah: "Sialan, lagi-lagi aku tertipu, aaai.... Wu san siang gi memang manusia manusia yang gemar menggoda orang, baik! Tiga hari kemudian, bila aku tidak merobek-robek kertas itu di hadapan mereka, aku tak akan bernama Suma Thian yu!" Sambil berkata diapun masukkan kertas itu ke dalam sakunya, suatu perasaan sedih karena dipermainkan orang segera menyelimuti perasaannya, dia ingin menangis, ingin menggunakan kesempatan itu untuk melampiaskan keluar semua kekesalan yang mencekam perasaannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ia mendongakkan kepalanya memandang bintang yang bertaburan di angkasa, lalu memandang sungai dan daratan rendah dibawah bukit, pemuda itu merasa ia tak boleh tinggal dalam bukit terus menerus, sebagai seorang lelaki, ia harus berkelana ke mana-mana, harus mencari pengaman dan memperjuangkan suatu karya yang besar bagi sejarah hidupnya. Apalagi dendam orang tuanya yang belum dibalas, sakit hati paman Wan juga belum di tuntut.... "Aku harus pergi!" Lama kemudian ia baru mengucapkan kata-kata tersebut. Tapi dengan cepat ia teringat kembali kalau janji pertemuannya tiga hari mendatang belum dipenuni, entah baeaimana pun, janji tetap janji, ia tak ingin mengingkar janji, dia ingin menuntut suatu keadilan dari orang yang telah mempermainkan dirinya, Wu san sian gi. Sepasang manusia bodoh dari bukit Wu san merupakan sepasang pendekar yang bernama besar dalam dunia persilatan, mereka berdua adalah saudara sekandung. Kakek bertahi lalat adalah kakaknya Ma Khong Sian dengan julukan Tay gi siu (kakek bodoh pertama), sedangkan adiknya ji gi siu (kakek bodoh kedua) Khoug Bong, jangan dilihat dia seperti orang bisu, sesungguhnya kakek ini merupakan seorang jago pendebat yang pandai sekali bersilat lidah. Usia Wa san siang gi telah mencapai enam puluh tahun, sepanjang hidupnya mereka selalu berjiwa pendekar, menolong kaum yang lemah dan membabat kaum alim, nama besarnya sudah termasyur diseluruh dunia persilatan. Sejak terjun ke arena persilatan, kedua orang ini selalu muncul bersama, bahkan lagaknya macam orang bloon, padahal Toa gi siu Khong Sian yang berlagak bodoh adalah seorang yang amat cerdas, sedang Ji gi siu Khong Bong yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berlagak macam orang bisu adalah seorang pendebat yang pandai bersilat lidah. Sekalipun demikian, mereka gemar berlagak seperti orang bloon, bahkan sewaktu berada di hadapan Suma Thian yu, gerak gerik mereka macam orang yang terkena oleh sebuah penyakit ingatan. Berapa hari berselang, ketika kedua orang kakek itu sedang berpesiar di lembah Ong im kok di bukit Kiu gi san, tanpa sengaja mereka telah menemukan kertas kulit itu, sebagai manusia yang berpengalaman luas, dalam sekilas pandangan saja mereka sudah tahu kalau kertas kulit ini bukan benda sembarangan. Mereka tahu kalau kertas kulit itu bukan berisikan ilmu silat maha sakti peninggalan dari seorang tokoh silat dimasa lampau, tentulah secarik peta rahasia yang berisikan harta karun, maka kertas itupun segera disimpan kedalam saku. Dengan watak Wu san siang gi yang tawar terhadap nama serta keuntungan meterial, penemuan tersebut tidak dianggap kelewat serius, mau ilmu silat juga boleh, barang mestika juga boleh, mereka berdua sama-sama merasa tidak tertarik. Mereka berpendapat tujuan belajar silat adalah untuk menyehatkan badan dan menjauhkan diri dari segala macam penyakit, bukan bertujuan untuk mencari nama atau kedudukan, harta kekayaan pun dipakai untuk menolong kaum miskin, bukan uniuk mencari keuntungan bagi kepentingan sendiri. Oleh karena itu, mereka berdua berhasrat untuk mencari seseorang yang dapat dipercaya dan menghadiahkan kertas kulit yang ditemukan itu kepadanya, dari pada membiarkanya hingga terjatuh ketangan kaum sesat dan menimbulkan kerugian bagi umat persilatan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Karena itulah mereka lantas mencari Suma thian yu yang jujur dan dapat dipercaya dan menyerahkan kertas itu kepadanya untuk dise lidiki. Dengan tanpa tujuan Suma thian yu berjalan kesana kemari diatas bukit Kui gi san, pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya sampai pikirannya belum dapat juga menjadi tenang kembali. Bagaimanapun juga dia adalah seorang bocah yang berusia enam belas tahun, lagi pula tak pernah terjun kedunia persilatan, padahal begitu luas, kemanakah dia harus pergi sekarang? Mendadak terdengar suara benturan nyaring, Plaak entah dari mana datangnya segulung kertas, ternyata dengan tepat menghantam diatas kakinya. Suma thian yu merasa amat terkejut cepat-cepat dipungutnya kertas itu dan diperiksa isinya. Terbaca diatas kertas itu terasa beberapa huruf yang berbunyi demikian: Hati yang tenteram dapat menjernihkan pikiran, Pikiran yang jernih dapat menemukan kesimpulan, batas waktu tiga hari akan berlalu dengan singkat, harap pergunakan setiap detik sebaik-baiknya. Dibawah surat itu tidak dicantumkan tangan, tapi dalam sekilas pandang saja, Suma thian yu mengetahui kalau surat itu ditulis oleh Wu san siang gi, itu berarti kemurungan serta kegelisahan yang mencekam perasaanya semalam diketahui semua oleh kedua orang kakek tersebut. Atau dengan perkataan lain, kedua orang kakek itu tentu berada disekeliling sana sambil mengawasi gerak-geriknya setiap saat. Berpikir sampai disitu, peluh dingin segera membasahi badannya, karena ngeri buru-buru teriaknya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Locianpwe, harap segera menampilkan diri , boanpwe hendak berbicara dengan mu Baru selesai dia berkata, tiba-tiba terdengar suara yang amat lirih berkumandang disisi telinganya. Tiada pekerjaan yang sukar didunia, yang penting adalah kemauan. Maksud hatimu dapat lohu mengerti, kau harus tahu tinggi persoalan yang sukar didunia ini, yang penting asal kau ada kemauan dan dan bersedia untuk berjuang, dengan begitu masalah besar baru dapat tercapai. Jangan kau lihat kertas itu tidak berhuruf, sesungguhnya adalah Bu Khek. Pembicaran tersebut dilakukan orang kakek tersebut dari berapa li jauhnya dari tempat itu, demonstrasi ilmu menyampaikan suara yang amat sempurna ini segera membuat Suma Thian yu merasa kagum sekali. Mendengar kata "Bu khek" yang diutarakan Wu san siang gi, Suma Thian yu yang cerdas tiba-tiba saja teringat dengan perkataan dari gurunya Put Gho cu: "Bu khek menimbulkan unsur panas dan dingin. Unsur panas dan dingin atau Tay khek akan menimbulkan Ji gi, akan menimbulkan Sam cay lalu menjadi Bu siu, lalu dari Bu siu menjadi ngo heng, lak hap, jit seng dan akhir nya menjadi pat kwa...." Maka bila mendengar kata Bu khek yang di ucapkan kakek itu, jangan-jangan diatas kertas tanpa kata ini sesungguhnya tersimpan suatu rahasia yang amat besar? Memikir sampai disini, satu ingatan segera terlintas dalam benaknya, rasa percaya pada diri sendiripun muncul kembali, buru buru dia mengeluarkan kertas itu dan diperiksanya dengan seksama. selang berapa saat, ia menggelengkan kepala berulang kali sambil menghela napas panjang, gumamnya: "Wahai Thian yu. .. benarkah kamu begitu bodoh, tak becus, tak punya kemampuan?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan gemas di cengkeramnya kertas itu lalu beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Baru berjalan sepuluh langkah, mendadak dari arah bawah bukit sana berkumandanglah suara pekikkan nyaring yang amat memekikkan telinga, ia tertegun dan segera berpaling kearah sana, tampaklah dua sosok bayangan hitam dengan kecepatan bagai hembusan angin bergerak mendekat. Sekejap mata berkumandang kembali suara keras bergema tinggi ke angkasa, mendengar pekikan itu Suma Thian yu tertegun, cepat ia mendongakkan kepalanya, tahu-tahu dua sosok bayangan manusia telah muncul dihadapannya. Menyaksikan kejadian itu, diam-diam Suma Thian yu menggerutu dalam hatinya; Sungguh cepat gerakan tubuh orang ini! Ingatan tersebut baru lewat, sipendatang tadi telah melayang turun dihadapan mukanya. Orang yang disebelah kiri adalah seorang kakek berusia lima puluh tahunan, bermata garang bermulut lebar, bertelinga tikus dan memelihara jenggot hitam yang panjang, dia memakai jubah pendeta dengan sebilah pedang tergantung dipunggungnya, tapi rambutnya yang panjang dibiarkan terurai panjang, sehingga tampangnya amat tak sedap dilihat. Orang kedua adalah seorang lelaki berusia empat puluh tahunan, berwajah persegi dengan mata seperti mata elang, hidung membengkak besar, mulut model paruh, berpakaian ringkas dan membawa senjata sepasang martil besar, tampangnya sangat garang. Begitu sampai disitu, kedua orang iut dengan keempat buah mata bajingannya mengawasi Suma thian yu sekejap lalu mendengus dan segera melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu menjadi melongo menyaksikan tingkah laku kedua orang yang tak dikenalnya itu, ia tak habis mengerti mengapa kedua orang itu muncul secara tergesa-gesa, berhenti sebentar dihadapan nya, lalu setelah mendengus berlalu pula dengan tergesa-gesa? Yang lebih aneh lagi, selama dua hari belakangan ini hampir semua orang yang dijumpainya adalah manusiamanusia persilatan yang serba aneh dan mencengangkan. Setelah termanggu-manggu berapa saat lamanya, pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya menuruni bukit itu, sembari berjalan benaknya berputar terus memikirkan kertas tanpa kata yang konon berisi ilmu silat lihay itu. Tak terasa sampailah anak muda itu ditepi sebuah selokan dengan air yang jernih dan deras. Pikiran yang kusut selama beberapa hari belakangan ini serta badannya yang penat, membuat pemuda itu murung, amat kusut dan sedih, tanpa terasa ia duduk ditepi sungai dan mengawasi air yang mengalir dengan termangu. Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya keheningan itu dipecahkan oleh berkumandangnya suara pekikan keras dikejauhan sana. Dengan perasaan terkejut Suma Thian yu berpaling, dari kejauhan sana ia saksikan dua sosok bayangan manusia sedang meluncur datang dengan kecepatan tinggi. Tak usah diamati lebih jauh pun ia dapat mengenalinya sebagai dua orang manusia kejam yang pernah dijumpainya tadi. Begitu sampai disitu, kedua orang manusia buas itu melangkah kedepan menghampiri Suma Thian yu, mereka baru berhenti setibanya satu kaki di depan pemuda tersebut, sementara keempat biji matanya mengawasi terus pedang dipunggung pemuda itu tanpa berkedip.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Jilid 4 TIBA-TIBA lelaki setengah umur itu membentak keras: "Hei, bocah cilik! Apa hubunganmu dengan she Wan tersebut?" Suma thian yu mambalikan badannya dan melirik sekejap kearah orang itu dengan pandangan dingin, lalu sahutnya: "Tak usah kau urus! Jawaban ini bukan menggusarkan lelaki setengah umur itu, dia malah tertawa terbahak-bahak dengan seramnya, sambil menuding kearah Suma thian yu katanya kepada tosu tua itu: "Coba kau lihat! Bocah keparat ini benar-benar tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, ternyata dia berani bersikap kurang ajar kepada kaum tua, heehh... heehh,.. heehh..." Suma thian yu merasa gusar sekali menyaksikan sikap hina lawannya, dengan cepat ia melompat bangun kemudian bentaknya: "Hei, apa yang kau tertawakan? jangan cengar-cengir dihadapanku. Lelaki setengah umur itu segera menarik kembali senyumannya dan berhenti tertawa. Hmm, bocah cilik, apa Hubunganmu dengan orang she Wan? Cepat katakan..hardiknya kembali. "Sauya justru tak mau menjawab, mau apa kau? dengan nada yang lebih ketus Suma thian yu menyahut. Ucapan tersebut segera menggusarkan lelaki setengah umur itu, sorot matanya memancarkan kebuasan, hawa napsu membunuhpun menyelimuti seluruh wajahnya, dengan menyeramkan dia membentak: "Hei bocah, orang she Wan itu pun tak berani bersikap kurang ajar dihadapanku, kau sibocah kunyuk yang masih berbau air tetek berani kurang ajar kepadaku? Hmm, benarbenartak tahu diri

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bukannya takut, Suma Thian yu malah selangkah demi selangkah maju kedepan menghampiri kedua orang itu. Kagum sekali sitosu tua itu menyaksikan keberanian orang, segera katanya pula: Hei bocah muda, lohu tak tega membunuhmu, asal pedang yang kau gembol diserahkan kepadaku, kau segera akau kulepaskan." Mendengar itu, Suma Thian yu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. Haaah.... haaahh..... rupanya pedang inilah yang kau incar, apa susahnya? Sembari berkata dia lantas meloloskan pedang Kit hong kiam peninggalan paman Wan nya dan disodorkan kedepan, katanya lagi sam bil tertawa dingin: "Pedang ini sudah berada ditangan sauya sekarang, nih ambillah sendiri........" Tiba-tiba terdengar seseorang membentak nyaring. Bocah muda lihat serangan. Tosu tua itu mengayunkan pedangnya dari bawah keatas dengan jurus Sit gou huang gwat (badak sakti menengok rembulan) dan menu suk tenggorokan Suma Thian yu. Si anak nuda itu berilmu tinggi dan bernyali besar, ketika menyaksikan pedang lawan menusuk ke arah dadanya, dia miringkan kepalanya sambil membuang bahunya kesamping, lalu tertawa nyaring. Denean cepat gerakan tubuhnya dirubah, pedang Kit hong kiam kek menusuk balik ketenggorokan tosu tua tersebut dengan jurus Ciong liong ji hay (naga sakti masuk samudera). "Kalau diberi tanpa membalas, tidak sopan namanya!" dia berseru. Tindakannya yang tenang dalam menghadapi bahaya dan serangannya yang cepat daLam perubahan, mau tak mau membuat lelaki setengah umur yang menyaksikan jalannya pertarungan itu diam-diam bersorak memuji. He. tarungan segera berlangsung d* nya. roareka berdua saling m?n*

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pertarungan segera berlangsung dengan serunya, mereka berdua saling menyerang dan saling mendesak, semua ancaman dilakukan dengan cepat lawan cepat, dengan cepat menaklukkan cepat. Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, ternyata kekuatan mereka berdua seimbang. Bagi Suma Thian yu, meski pertarungan kali ini adalah penarungannya yang pertama, tapi oleh karena latihannya teratur dan tekun, maka sewaktu di praktekkan ia sama sekali tidak gugup atau tegang, malahan semua ancaman di lakukan secara tepat dan sempurna. Tosu tua itu makin bertarung semakin kaget pikirnya kemudian: "Sewaktu orang she Wan itu masih hidup, namun kemampuannya sudah mencapai taraf yang begitu hebat, kalau dibiarkan hidup niscaya dia akan merupakan ancaman besar dikemudian hari, aku tak boleh membiarkan ia hidup terus! Berpikir begitu, gerakan tubuhnya tiba-tiba berubah, serangan yang dilancarkanpun makin lama semakin dahsyat. Lambat laun Suma Thian yu kena dikurung kembali oleh gerakan ilmu pedang lawan yang amat dahsyat itu. Mendadak Suma Thian yu berpekik, pedang Kit hong kiamnya di rubah menjadi gerakan Kian hou in liang (harimau muncul naga ber- sembunyi), telapak tangan kirinya di ayunkan kemuka cepat, pedangnya di iringi kilauan cahaya tajam langsung meluncur ke tubuh tosu tua itu. Di tengah jeritan mana, tampak bayangan orang saling memisah dan mundur kebelakang. Suma Thim yu telah bendiri kembali ditempatnya semula dengan wajah tidak berubah, sikapnya sangat tenang seakanakan tak pernah terjadi sesuatu apapun. Sebaliknya keadaan dari tosu tua itu mengerikan, jubah sebelah kirinya telah robek sebagian oleh sambaran pedang Kit hong kiam, dibawah ketiak kirinya telah bertambah dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sebuah jalur luka yang memanjang, darah segar bercucuran amat deras. Waktu itu dia sedang mundur dengan sempoyongan. Walaupun berhasil dengan serangannya, Suma thian yu tidak melakukan pengejaran lebih jauh, dari sini dapat diketahui betapa mulia dan bajiknya pemuda ini, dia tidak ingin mencari keuntungan disaat orang sedang tak siap atau berada diposisi lemah. Lelaki setengah umur yang menonton jalannya pertarungan itu dari samping arena maju memayang tosu tua itu buru-buru tegurnya: "Tidak pernah menduga bukan It tim totiang?" "Tidak mengapa, tak kusangka bocah keparat itu sangat lihay, Sim kong! Bereskan dia, jangan biarkan dia hidup" Ternyata lelaki setengah umur itu bersama Hek hong hou (harimau angin hitam) It im kong sedangkan tosu tua itu adalah It tim tootiang dari partai Hoa san. Perlu diketahui, suhu dan si Harimau angin malam Sim Kong adalah seorang gembong iblis kelas satu dari golongan Liok- lim dewasa ini, dia merupakan seorang manusia yang paling disegani baik oleh golongan putih maupun golongan hitam. Asal orang mendengar nama Hoat Kang-si (si mayat hidup) Ciu Jit hwe, bulu kuduknya pasti pada bangun berdiri Karena ngeri Si Mayat hidup Ciu Jit hwe mempunyai tiga orang murid, murid yang pertama adalah Hek hong hou (Harimau angin hitam) Sim kong murid kedua bernama Cing bin kui (setan muka hijau) kang Tham, sedang murid yang ketiga adalah seorang perempuan, mereka menyebutnya Yan tho hoo (Gadis cantik bunga tho) Hoo hong, selain b banyak sudah kejahatan yang telan dilakukan, merekapun memiliki segenap kepandaian silat dari Si Mayat hidup Ciu Jit hwe. 000O000

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

IT TIM TOJIN termasuk jago pedang nomor satu pula didalam partai Hoa san pay, ia sudah mempunyai pengalaman selama puluhan tahun dalam permainan ilmu pedang, orang ini pun merupakan seorang tosu Siluman yang sukar dihadapi. Tak heran kalau Suma Thian yu menjadi tertegun sesudah mendengar pembicaraan mereka, mimpipun dia tak menyangka kalau lelaki se tengah umur itu tak lain adalah Hek hong hou yang termasyur itu. Setiap kali paman Wan membicarakan soal dunia persilatan dengannya, dia selalu menyinggung pula tentang kebuaasan serta keganasan Sim Kong, bahkan selalu berpesan kepadanya agar berhati hati bila bila suatu hari bertemu dengannya. Seperminuman teh kemudian, Hek hong hou Sim kong telah selesai membalut luka yang diderita It tim tojin, dengan sorot mata yang memancarkan sinar kebuasan, selangkah demi selangkah dia maju mendekati Suma thian yu dan berhenti satu kaki dihadapannya. Tiba-tiba dia tertawa seram, katanya: Bocah keparat, toaya akan menggunakan tangan telanjang untuk mencoba kelihayan Kit hong kiam hoat yang tersohor itu, nah lancarkan seranganmu! Suma thian yu tidak sungkan-sungkan lagi, dengan alis berkernyit, dia tusuk jalan darah Kiu wi hiat diatas dada Hek hong hou Sim kong dengan jurus Im liong tham jiu (naga mega merentangkan cakar). Serangan yang bagus! seru Hek hong hou Sim kong sambil tertawa dingin. Sepasang tangannya segera direntangkan dengan juris Hiong ciau kian sui (ular ganas mengunting air), ia tangkis datannya serangan pedang itu dengan tangan telanjang. Suma thian yu tak menyangka kalau musuhnya bakal menghadapi serangan tersebut dengan tangan kosong belaka, ia jadi terperanjat. Taak! ketika pedang dan lengan saling beradu ternyata lengan si harimau angin hitan Sim Kong sama sekali tidak menderita cedera apa-apa, sebaliknya lengan kanan Suma

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tihan yu yang menggenggam pedang tergetar keras sampai kesemutan, telapak tangan menjadi panas, hampir saja pedangnya terlepas dari genggaman. Kejadian ini semakin mengejutkan hati Suma Thian yu, cepat-cepat dia menarik kembali pedangnya sambil melompat mundur. Ketika matanya dialihkan kewajah lawan, di lihatnya si harimau angin hitam Sim Kong sedang memandangnya sambil tertawa dingin, wa jahnya diliputi oleh sikap sinis dan menghina. Suma Thian yu menjadi sedih sekali, hatinya terasa sakit bagaikan diiris-iris dengan pisau, sedihnya bukan kepalang ia tak menyangka sudah sepuluh tahun belajar ilmu dan akhirnya nyaris terluka ditangan orang pada gebrakan yang pertama, rasa malu dan menyesal bercampur aduk menjadi satu. Si Harimau angin hitam Sim kong segera tertawa seram, ejeknya: Bocah keparat, hari ini toaya akan menyuruh kau menyerah dengan hasil takluk, ayolah! Bagi seorang laki-laki, kepala boleh dipenggal namun harga diri tak boleh digadaikan, dengan menggertak gigi, Suma thian yu segera membentak keras: Bajingan busuk, aku akan beradu jiwa denganmu, serahkan nyawa anjingmu! Sreet! sreet! sreet! Secara beruntun ia lepaskan tiga buah serangan berantai yang amat dahsyat. Namun si harimau angin hitam sim kong masih tetap berlagak pilon, seakan-akan serangan ini dianggap enteng saja, tampak tubuhnya berkelit kekiri menggegos kekanan, dengan amat mudah sekali dia telah meloloskan diri dari serangan itu. Bocah keparat ejeknya dengan tertawa dingin, lebih baik berlatihlah sepuluh tahun lagi, saat itu boleh datang lagi untuk bertarung melawanku. Nah, hati-hati, toaya akan menyuruh kau minum air

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendadak bayangan tubuh Hek hong hou lenyap tak berbekas, sementara Suma thian yu masih tertegun, tiba-tiba dadanya terasa menjadi kencang, ketika ia merasakan ada suatu ancaman bahaya, sayang keadaan sudah terlambat, segulung angin pukulan yang dahsyat telah mendorong tubuhnya hingga terjengkal kebelakang. Baru saja ia menjejakkan kakinya untuk melompat kedepan, tahu-tahu kakiknya terasa dingin dan....Byuuur seluruh badannya tercebut ke danau. Padahal ilmu silat yang dimiliki Suma thian yu terhitung tangguh, cuma sayang pengalamannya masih cetek, sedang Hek hong hou Sim kong adalah seorang jago yang tangguh, sepanjang hidupnya entah sudah berapa banyak pertarungan sengit dialaminya, karena itu baik dibidang pengalaman maupun taktik, ia sepuluh kali lipat lebih hebat dari Suma thian yu. Tak heran kalau begitu pertarungan berlangsung, dia lantas memilih posisi yang lebih menguntungkan dengan memaksa Suma thian yu membelakangi sungai, dengan tanah dekat sungai yang gembur tanpa disadari keadaan tersebut melemahkan posisi kekuatan yang dimiliki pemuda itu sebesar tiga bagian lebih. Kasihan Suma Thian yu yang tak tahu keadaan yang sebenarnya, dia mengira ilmu silat sendiri yang tak becus. Begitu tercebur ke dalam air, Suma Thian yu segera menjejakkan kakinya dan muncul kembali dipermukaan air, ia saksikan Hek hong hou Kim Kong sedang tertawa terpingkalpingkal. Ia memandang searahnya dengan wajah mengejek, sedangkan It tim tojin yang terlukapun sekarang ikut tertawa tergelak. Suma Thian yu merasa sedih sekali tanna terasa air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya, sambil menggigit bibir dia bersiap sedia naik kembah ke daratan untuk beradu jiwa dengan lawan. Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya, dia merasa kemampuannya masih selisih jauh bila dibandingkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan musuhnya, naik ke atas daratan untuk melanjutkan pertarungan berarti hanya mencari penyakit buat diri sendiri, tapi kalau tidak naik ke daratan, dia merasa sukar untuk menelan penghinaan tersebut dengan begitu saja.... Pelbagai ingatan sagera berkecamuk didalam benaknya, sekarang dia tidak sangsi lagi, dia harus pergi meninggalkan tempat itu, sekalipun dianggap sebagai pengecut dia juga harus pergi, karena dia tak ingin mampus dengan begitu saja. Seorang lelaki yang ingin membalas dendam tiga tahun pun belum terlambat, asal bukit nan hijau,kenapa dia kuatir kekurangan kayu bakar,? Maka sekali lagi ia menyelam kedalam air dan tak muncul kembali. Dengan amat tenang kedua orang manusia bengis itu menunggu ditepi sungai, tapi setelah tunggu punya tunggu Suma Thian yu belum juga menampakkan diri, mereka segera berseru tertahan: Kita tertipu!" Hek hong-hou Sim Kong yang melongok ke air lebih dulu, ketika bayangan tubuh dari Suma Thian yu tidak ditemukan, dia segera men- depak-depakkan kakinya sambil menyumpah: "Bocah keparat, sialan kau! Hmm, sekalipun kau kabur keujung langit, suatu ketika kau pasti akan terjatuh kembali ke tangan toaya!" It tim tojin yang terluka ikut memburu ke tepi sungai memandang air sungai yang tenang, ia berkata: Tampaknya bocah keparat itu pandai ilmu berenang, tampaknya hari ini kedatangan kita sia-sia belaka, sialnya pedang mustika itupun di bawa kabur keparat tersebut, waah, bagaimana pertanggung jawabku nanti kepada guruku? "Hmm, keenakan buat keparat itu, baiklah, untuk sementara waktu pedang Kit hong kiam itu biar disimpan olehnya, tapi cepat atau lam bat pedang itu pasti terjatuh kembali ketangan kami. Mari berangkat, kita menuju kehilir, mungkin keparat itu sudah berenang menuju kearah sana. Sambil membimbing It tim tojin, dia segera melakukan pengejaran menuju kearah hilir.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Benarkah Suma Thian yu menuju kehilir? Ternyata pemuda itu belum pergi jauh, dia masih berada dalam air didekat tempat kejadian, hanya saja membunyikan diri dibalik tumbuhan gelaga yang amat lebat, dengan menahan napas dia bersembunyi terus disana sampai kedua orang itu pergi meninggalkan tempat itu. Ketika kedua orang manusia bengis itu pergi, dia baru menampakkan diri dari tempat persembunyiannya dan naik keatas daratan, kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dia kabur meninggalkan tempat itu. Sekarang dia sudah basah kuyup, terhembus angin gunung yang dingin, tubuhnya segera mengigil karena kedinginan, dengan sedih tubuhnya berbaring diatas tanah membayangkan kembali pendidikan paman Wan nya selama sepuluh tahun, didikan gurunya selama delapan tahun, ternyata semua yang diharapkan gagal total, baru tejun kearena untuk pertama kalinya, dia harus menderita kekalahan secara mengenaskan.... Makin dipikir hatinya makin sedih, wajahnya menjadi amat murung dan kesal. Mendadak ia teringat kembali pada kertas tanpa kata yang masih berada dalam sakunya. aahh... habis sudah, habis sudah, sudah pasti kertas kulit itu sudah basah kuyup... Sambil berkata dia memandang gulungan kertas yang berada dalam genggamannya, karena binggung dia sampai tak mempunyai keberanian untuk membuka kertas itu dan diperiksa isinya. Saking gelisahnya dia menangis tersedu-sedu, kini batas waktu yang ditentukan tiga hari tinggal dua hari, tapi bukan saja ia tak dapat membongkar rahasia dibalik kertas tanpa kata itu, bahkan kertasnya menjadi kumal, bagaimana mungkin dia dapat memberikan pertanggungan jawabnya kepadi Wu san Siang gi nanti?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Thian yu wahai Thian yu, kenapa nasibmu seburuk itu? Aaai.... sudahlah, biar aku menerima semua penderitaan tersebut" Sambil berkata dia lantas membuka genggaman tangannya dengan sangat berhati hati, ternyata kertas itu sudah melekat menjadi satu karena terendam dalam air. Dengan sangat berhati-hati Sama Thian yu segera memisahkan kertas yang melekat itu satu persatu, mendadak ia menjerit kaget. "Aaaaah...! Sepasang matanya segera memancarkan cahaya tajam, sementara kemurungan yang mencekam pikirannya tadi seketika lenyap tak berbekas. Rupanya diantara kertas yang kosong tadi, kini sudahmuncul beberapa buah garis hitam. Penemuan ini segera menggirangkan hati Suma thian yu, bagaikan menemukan harta pusaka saja, dia bersorak sorai kegirangan. Buru-buru dia menggunakan kukunya untuk mengorek lapisan lilin yang melekat diatas kertas tersebut. Lambat laun garis garis hitam tadi kini telah berubah menjadi sebaris tulisan. Jantung Suma thian yu pun ikut berdebar keras mengikuti munculnya sebarisan tulisan itu. Akhirnya dia melompat bangun dan berjingkak-jingkrak seperti orang gila, semua kemurungan yang semula mencekam perasaannya, kini sudah lenyap tak berbekas, dia berterima kasih kepada Hek hong hou sekarang, betapa tidak? seandainya ia tidak mendorongnya sehingga tercebur kedalam air, bagaimana mungkin rahasia dari kertas tanpa kata itu dapat diketahui olehnya? "Aku telah menemukannya, aku telah menemukannya..." seperti orang gila Suma Thian yu berteriak-teriak keras. "Hei bocah, apa yang telah kau temukan? suara seorang kakek menegur secara tiba-tiba.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar teguran tersebut, dengan terperanjat Suma Thian yu segera berpaling, tapi dengan copat dia berdiri tertegun. Entah sedari kapan, dibelakang tubuhnya berdiri seorang pengemis tua yang berambut kusut dan pakaian compangcamping tak karuan... Cepat-cepat Suma thian yu masukan kertas itu ke dalam sakunya, kemudian menyahut: Aaah, aku cuma main-main, tidak ada apa-apa" Pengemis tua itu segera memejamkan matanya, lalu tertawa tarbahak-bahak. "Ha ha ha ha.....bocah, kau tak usah membohongi aku, kertas apa yang berada dalam genggamanmu itu ?" "Oooh, tadi rfcu telah kehilangan sebuah surat, tapi sekarang telah kutemukan kembali Oooh kau adalah anaknya Wan Liang? kembali pengemis tua itu bertanya. Suma Thian yu merasa keheranan, selama beberapa hari belakangan ini, setiap orang yang dijumpainya selalu menanyakan soal paman Wan padanya, mungkinkah paman Wan telah menyalahi begitu banyak orang? Kalau tidak, mengapa begitu banyak orang yang datang menanyakan dirinya dan mencari jejaknya? "Ada urusan apa kau bertanya tentang dirinya? Dia orang tua sudah tiada, dia adalah pamanku Ooh, tidak apa-apa, oleh karena aku sipengemis tua menyaksikan pedang yang kau bawa itu adalah miliknya maka aku menjadi teringat akan dirinya dan bertanya kepadamu" Setelah berhenti sebentar, dia bertanya lagi. "Hei bocah, siapakah namaamu? Suma Thian yu menyaksikan pengemis tua itu berwajah gagah dan berwibawa, meski memakai pakaian yang kotor dan penuh tambalan, namun tidak menutupi kegagahannya, dengan cepat dia menduga kalau pengemis tua inipun seorang pendekar lihay.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka dengan suara yang tulus dan hormat, sahutnya: "Boanpwe she Suma bernama Thian yu "Oooh....... dimanakah rumahmu?" "Aku tak punya rumah!" Teringat rumah, tanpa terasa Suma Thian yu menjadi amat sedih sekali hampir saja air matanya jatuh bercucuran. Apa hubunganmu dengan Suma Tiong ko?" "Dia adalah mendiang ayahku, mengapa lo cianpwee menanyakan soal ini?" Pengemis tua itu tidak menjawab, dia hanya mengawasi Suma Thian yu dari atas kepala sampai kakinya dengan seksama, sekulum senyuman segera tersungging diujung bibirnya. Sementara itu Suma thian yu berusa untuk mengingat-ingat siapakah gerangan pengemis tua itu, maka diingatnya kembali wajah serta ciri khasnya setiap jago persilatan yang pernah didengar dari paman Wan nya itu, akhirnya dia teringat dengan seseorang, dengan sikap lebih menghormat, pemuda itupun bertanya: Locianpwe, apakah kau she wi....? Aahh sudah lupa, aku si pengemis tua sudah melupakan nama serta julukan kusendiri Dari sini bisa diketahui kalau pengemis ini tak lain adalah she wi yang dimaksudkan Suma thian yu tadi. Sebahgai seorang yang cerdas, tentu saja Suma thian yu mengetahui akan hal itu, buru-buru dia membungkukkan badanya untuk memberi hormat, lalu ujarnya; Maafkan kalau boanpwe punya mata tapi tidak berbiji, dari mulut suhiku boanpwe tahu kalau locianpwe adalah seorang pendekar gagah dan besar, sungguh beruntung hari ini boanpwe bisa bertemu muka, kejadian seperti ini merupakan suatu kemujuran bagiku Ciiss, kaupun suka akan segala macam adat istiadat, apa itu locianpwe ...locianpwe, huuh, sungguh aku si pengemis tua jadi jemu, kalau kau tak segera meluruskan punggungmu,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jangan salahkan kalau aku si pengemis tua akan menggebuk orang... Rupanya ternyata pengemis tua ini adalah Siau yau kuy atau penge mis yang hidup senang Wi Kian, umurnya sudah tua tapi masih suka berkelana kesana kemari tanpa aturan, ia merupakan seorang lawan paling tangguh dari kawanan iblis dari golongan hitam. Siau yau kuy Wi Kian amat membenci segala macam kejahatan, setiap penjahat yanp terjatuh ketangannya, jarang sekali ada yang bisa lolos dalam keadaan hidup. Kepandaian yang paling diandalkan adalah, Tan ci kang dan Kui goan khi kang, dihari-nari biasanyadiapun menciptakan Siau yau pang hong yand dikombinasikan dengan ilmu toya penggebuk anjingnya, kepandaian tersebut amat lihay dan disegani banyak orang. Semenjak Sian yau kay menampakkan diri, Suma Thian yu lantas mengingat-ingat siapa gerangan tokoh persilatan ini, akhirnya dia dapat menginggat juga akan diri Siau yau kay ini. Sementara itu, Siau yau kay sedang mengangkat tongkat Ta kau pangnya sambil berlagak mau memukul, sedang dimulut dia bertanya: "Bocah, barang apa yang berada dalam saku mu? Basanya bukan hanya sepucuk surat biasa, bukan? Hayo cepat jawab, kalau tidak aku si pengemis segera akan membereskan dirimu! Suma Thian yu menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, dia tahu kalau hal ini tak bisa dirahasiakan lagi, maka diambilnya kertas tanpa kata itu dan disodorkan kehadapan Sian yau kay seraya berkata: Yaa, kertas ini memang bukan sepucuk surat melainkan selembar kitap pusaka yang berisikan ilmu silat maha sakti, silahkan locian pwe periksa. Seraya berkata dia lantas menceritakan secara ringkas bagaimana berhasil menjumpai Wu san siang gi siu, bagaima tercebur keair dan lantaran bencana jadi untung dengan ditemukannya rahasia kitab tanpa kata itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah mendengar penuturan tersebut, Siau yau kay Wi Kian segara tertawa, ujarnya: "Nak, simpan baik-baik benda itu, aku sipengemis bukan bermaksud untuk mendapatkan nya, melainkan hanya ingin tahu saja. Sebab benda mustika semacam ini biasanya hanyaakan diperoleh oleh mereka yang berjodoh, sekarang kau berhasil mendapatkannya, ini berarti kau punya jodoh, dikemudian hari hasil yang kau peroleh tentu hebat, simpanlah baik-baik dan jangan diperlihatkan kepada orang lain. Locianpwe, mengapa ilmu silat si lelaki she Sim itu begitu lihaynya? Hek hong hou atau harimau angin hitam Sim kiong atau setan muka hijau Sam Tham serta Yan too hoa atau perempuan cantik bunga too ho Hong adalah jago-jago lihay dari golongan Liok lim yang sangat iihay, kecuali kalah dengan berapa orang gembong iblis, ilmu silat mereka boleh dibilang sudah terhitung tangguh Berbicara sampai disini, Siau yau kay berhenti sebentar untuk menelan air liur kemudian sesudah berhenti sejenak, lanjutnya lebih jauh. Terutama si Mayat hidup, gembong iblis ini cukup pusingnya banyak orang, jangankan aku sipengemis tidak mampu mengalahkan dia, biar empek bodohmu berdua juga hanya mampu bertarung seimbang, aai...dalam dunia persilatan dewasa ini timbul suasana yang memedihkan yang tragis, hawa sesat dan dan hawa iblis sudah merajai dunia persilatan, sementara kawanan pendekar yang mengaku dirinya orang putihpun sudah berbondong-bondong menyeberang ke golongen sesat, coba bayangkan sendiri suasana begini pantas untuk disedihkan atau tidak? Suma Thian yu segera merasa hatinya terdengar keras sesudah mendengar perkataan itu, dengan cepat serunya. "Locianpwee, setelah mendengar perkataan itu, aku menjadi keheranan, apakah dalam dunia persilatan sudah tidak terdapat lagi seorang lelaki sejati yang mau menjunjung

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tinggi keadilan dan kebenaran dalam dunia persilatan serta melenyapkan kaum durjana serta kaum iblis dari muka bumi?" "Siapa? Siapa yang bersedia memikul tanggung jawab yang amat berat ini? Sekalipun ada, mereka juga tak tahu bagaimana mesti turun tangan. Misalnya saja seserti paman Wan mu itu, dia terasing dalam dunia persilatan karena menjunjung kebenaran dan keadilan, tapi tiada orang yang mau memahami citacitanyaitu, setelah ada contoh yang nyata, aai...siapakah yang sudi mengorbankan diri lagi meneruskan cita-cita luhurnya itu? Aku Suma Thian yu pasti akun berusaha keras untuk melanjurkan cita-cita luhur paman Wan yang belum terselesaikan itu, sekalipun harus terjun ke lautan api atau menyerempet bahaya, aku tak akan menolak, aku pasti akan lenyapkan kaum durjana dari muka bumi dan menegakkan kembali keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan!" Siau yau kay memuji tiada hentinya sehabis mendengar perkataan itu, tanpa terasa ia memperhatikan pemuda itu beberapa kejap lagi, kemudian katanya: Nak, kegagahanmu sungguh mengangumkan, tapi...aaii, bukanya aku si pengemis tua ini hendak menghinamu, dengan kepandaian silat yang kau miliki sekarang, meski kau terhitung juga seorang jago pilihan dari golongan muda tapi kalau ingin di bandingkan dengan angkatan yang lebih tua, kepandaian silatmu masih ketinggalan jauh sekali." Setelah berhenti sesaat, dia berkata lebih jauh. Dengan usia kamu yang begitu muda sudah sepantasnya bila kau mencari guru yang pandai lari serta belajar ilmu silat yang lebih hebat, sehingga begitu munculkan diri, kepandaianmu akau mengejutkan setiap orang." Suma Thian yu merasa sangat tidak puas setelah mendengar perkataan itu, ia merasa sudah tak dapat berdiam lebih lama lagi disitu, betul melatih diri di gunung yang sepi dapat mendidik disiplin yang tinggi baginya, tapi dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

harus segera melaksanakan cita-citanya serta tugas yang di bebankan kepadanya. Ia memang tidak sangsi terhadap perkataan dari Siau yau kay, sebab apa yang dialami barusan dimana tubuhnya simpai tercebur dalam air sudah merupakan suatu bukti yang nyata, Siau yau kay yang berpengalaman luas, sekali pandang ia dapat menebak isi hatinya, maka sambil tertawa katanya. "Nak, sewaktu muda dulu, aku si pengemis juga mempunyai watak seperti kau, itulah seperti kau, itulah sebabnya penderitaan yang baru kualami amat banyak, bila kau bersikeras ingin turun gunung, tentu saja aku si pengemis tua tak akan menghalangi mu, tapi kau harus mampu menyentuh ujung bajuku didalam sepuluh gebrakan" Ucapan tersebut segera dirasakan oleh Suma Thian yu sebagai suatu penghinaan terhadap kemampuannya, dia merasa dengan mengandal kan ilmu Kit hong kiam hoat seria Lay cing to liong pat si yang telah dipelajarinya selama belasan tahun, mustahil dia tak mampu menyentuh ujung baju lawan. Maka dengan cepat dia memutar otaknya mencari jalan, sementara diluarnya dia berkata dengan wajah tak berubah. "Boanpwee tak berani" "Kau tak berani? Hmm, Aku si pengemis tua tak akan membiarkan kau menganggur dengan seenaknya" Selesai berkata tampak bayangan manusia berkelebat lewat, "plaak.!" bahu kanan Suma Thian yu sudah terhajar telak. "Hayo balas! teriak Siau yau kay dengan lantang, hei bocah apakah kau hanya akan berdiri melulu disitu untuk menantikan kema-tianmu...?" Karena tanpa sebab dirinya dihajar orang, tentu saja Suma Thian yu mandah menyerah, buru buru dia mengembangkan permainan jurus silat Tay cing To liong pat si untuk menghadapi serangan lawan. Siau yau kay segera tersenyum begitu dilihatnya Suma Thian yu melancarkan serangan balasan, mendadak dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memutar badannya kencang sambil berkelit kesamping, setelah itu diapun mengambangkan ilmu meringgankan tubuhnya yang sempurna menerobos kesana kemari bagaikan kupu kupu yang terbang diantara aneka bunga, sebentar kekekiri sebentar ke kanan, tiada hentinya ia berPUtar mengelilingi tubuh Suma Thian yu. Semakin bertarung, Suma Thian yu merasa semakin bersemangat, serangan demi serangan yg dilancarkan dengan ilmu Tay cing to liong pai si dikembangkan semakin gencar dan kuat, bahkan diepaskan secara beruntun tanpa henti. Namun anehnya, setiap kali serangannya sudah hampir menyentuh tubuh lawan, tiba-tiba saja bayangan tubuh lawan hilang tak berbe kas, bahkan sebagai balasannya dia seringkali merasa dijawil orang dari belakang punggungnya atau ditiup tengkuknya, akan tetapi bila dia membalikkan badan untuk menyerang, tahu-tahu bayangan tubuh lawan hiiang lagi. Pertarungan semacam ini pada hakekatnya tidak mirip lagi sebagai suatu pertarungan, melainkan mirip joged kera saja, bagaimanapun Suma thian yu mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya untuk melancarkan serangan, dia selalu tak mampu mengapa-ngapakan lawannya. Dalam waktu singkat, sepuluh jurus sudah lewat, dengan wajah sedih Suma Thian yu segera menghela napas, dia mengendorkan kembali tangannya dan menundukkan kepala dengan air mata bercucuran. Menyaksikan kejadian itu, Siau ya kau segera tertawa terbahak bahak, "Haaa..haaa.. haaa.. tak usah bersedih hati bocah muda, de ngan usiamu yang begitu muda ternyata sudah memiliki kemapuansetaraf ini, hal mana sudah merupakan sesuatu yang luar biasa, aku si pengamis tua ingin bertanya kepadamu, siapa gerangan yang telah mewariskan ilmu pukulan Tay cing to liong ciang tersebut kepadamu." "Ilmu itu diajarkan oleh guru boanpwee, Put Gu cu!" Aaah, dia masih hidup? seru Siau yau kay tercengang, kemudian gumamnya lagi, tak heran kalau kau lebih tangguh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dari Wan liong, rupanya orang itulah yang telah mewariskan kepandaian silatnya kepadamu "Locianpwee, Thian yu tidak ingin turun gunung lagi, mohon kau orang tua sudilah kiranya mewariskan sedikit kepandaian kepadaku agar memperbaiki kemampuan boanpwee yang amat minim ini." pinta Suma Thian yu kemudian dengan wajah murung. "Haaah ...haaah .. .haaah. .. aku si pengemis memang berwatak malas, selamanya tak pernah mengajar orang lain, ditambah pula aku orangnya suka lari kesana kesini, kalau menyuruh aku tinggal disisni untuk mengajar murid, jangan toh setahun, seharipun aku bisa mampus kekeringan. "Tapi "Aku tahu, kau merasa putus asa bukan? Padahal dengan kepandaian silat yang kamu miliki sekarang, semestinya tak bakal kalah ditangan si harimau angin hitam Sim kong, aku curiga dengan peristiwa terceburnya engkau kedalam air... sebab menurut penilaianku, ketidakbecusan dirimu, semestinya kalian bisa bertarung seimbang! "Tidak ! Aku tak mampu mengalahkan dia, bahkan bayangan tubuhnya pun tak sempat ku lihat, tahu-tahu aku sudah tercebur ke dalam air, jangankan mengalahkan, berbicara seimbang saja tak mungkin" "Kau keliru anak muda" ucap Siau yau kay cepat "dilihat dari sinnar matamu, seharusnya kau sudah memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan, sepantasnya tak mungkin bisa kalah di tangan Sim Kong, apalagi ilmu pedang Kithong kiam hoat dan Tay cing lo liong pat si merupakan ilmu sakti didalam dunia persilatan, salah saja diantara kepandaian tersebut sudah cukup untuk menjagoi dunia peralatan, aku lihat.... mungkin hal ini disebabkan kurang tahu dalam menghadapi lawan, seandainya aku sipengemis tua tahu kalau kau sudah menguasahi ilmu Tay cing lo liong pat si, aku benar benar tak berani sesumbar dengan mengatakan akan melayanimu sebanyak sepuluh jurus.!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah mendengar penjelasan dari Siau yau kay, dan melihat pengemis itu tidak bermaksud mencemooh dirinya, tanpa terasa rasa percaya pada diri sendiri muncul kembali dalam benak Suma Thian yu, buru-buru dia menceritakan kembali apa yang dialaminya. Mendengarkan penuturan itu, Siau yau kay mengelus jenggotnya sambil tersenyum, setelah itu katanya: "Nah itulah dia, tak heran kalau dikalahkan. Baiklah, aku sipengemis tua akan berbuat baik kepadamu untuk mengajarkan ilmu langkah Ciok tiong luan poh tersebut untukmu, anggap saja tanda mata atas penemuan kita ini" Sembari bcrkata, dia lantas merentangkan sepasang lengannya dan mundur sejauh satu kaki. Tiba tiba nampaklah Siau yau kay Wi Kian menggerakkan tubuhnya dengan cepat, terasa bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu dia sudah berkelebat kian kemari dengan kecepatan bagai sambaran petir, namun gerakkan tersebut tak pernah lebih dari wilayah seluas lima langkah. Suma Thian yu segera memusatkan segenap pikiran dan perhatiannya untuk mengikuti gerakan tadi, namun dia menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, sebab ia sama sekali tidak berhasil menyaksikan rahasia dari ilmu langkah tersebut. Hal ini membuat pemuda itu diam-diam menyumpahi kebodohan dirinya. Dalam waktu singkat Siau yau kay itu telah selesai melakukan ilmu langkah Ciok tiong luan poh tersebut dan balik kehadapan Suma Thian yu, tanyanya: "Bagaimana? Sudah kau lihat jelas? Dengan perasaan menyesal Suma thian yu menggelengkan kepalanya berulang kali, dengan wajah merah padam seperti kepiting rebus, sahutnya tergagap. Boanpwe bodoh, tak berhasil kusaksikan rahasia dari ilmu langkah tersebut" "Anak bodoh, masa karena soal itu saja harus bersedih hati? Bila sekilas pandangan saa kau sudah dapat menangkap

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

rahasia ilmu langkah tersebut, lantas apa artinya ilmu rahasia tersebut? bagaimana perasaanmu ketika berhadapan dengan aku si pengemis tua tadi?" "Benar-benar sukar diraba gerakannya, tak dapat ditangkap bayangannya, bagaikan sedang mengejar angin menangkap bayangan saja" puji Suma Thian yu tanpa berpikir panjang lagi. "Padahal aku bisa berbuat demikian karena mengandalkan ilmu langkah tersebut" kata Sian yau kay menerangkan, "nak, kau harus baik-baik melatih diri, bila ada jodoh kita akan bersua lagi dikemudian hari. Sekarang, aku si pengemis tua hendak pergi mencari empek bodohmu itu" Selesai berkata, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu bayangan tubuh dari Siau yau kay sudah lenyap tak berbekas. Kejadian ini sekali lagi membuat sepasang mata anak muda itu terbelalak lebar-lebar dengan mulut melongo. Sampai lama kemudian, dia baru bergumam: "Untuk memahami saja tak bisa, bagaimana mungkin bisa dilatih? Sekalipun dewa juga tak mungkin bisa memahami ilmu langkah semacam itu bila Cuma memandang dalam sekejap mata saja! Berpikir demikian, pelan-pelan dia berjalan turun gunung, tapi sewaktu melewati tempat dimana Siau yau kay mendemonstrasikan ilmu serakan tubuhnya itu, mendadak..... "Aaaah!" dia menjerit kaget. Tampak diatas permukaan tanah telah muncul enam belas buah bekas telapak kaki yang amat dalam, setiap telapak kaki itu mendesak dalam tanah sedalam setengah depa, rumput yang semula tumbuh diatas bekas telapak kaki itu, kini sudah melayu dan dan mati membuat Suma Thian yumerasa terkejut sekaligus keheranan. Penemuan mana tentu saja membuat Suma thian yu merasa amat berterima kasih, buru-buru dia berpaling kearah mana Siau yu kay melenyapkan diri dan menjura dalam, katanya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Terima kasih banyak locianpwc atas petunjukmu! Kemudian dengan perasaan gembira, penuh rasa percaya pada diri sendiri, selangkah demi salangkah dia mulai melatih diri dengan mengikuti bekas telapak kaki yang sudah ada. Seringkali kejadian yang ada di dunia ini memang aneh sekali, sesuatu pekerjaan yang mungkin sederhana nampaknya, kadangkala justru semakin sukar untuk dipelajari. Ketika Suma thian tu menyaksikan keenas belas bekas telapak kaki yang tertera diiatas tanah itu, pada mulanya dia mengira asal dilatih maka kepandaian itu mudah untuk dikuasahi, siapa tahu begitu kakinya mulai menginjak diatas bekas telapak kaki tersebut, ia menjadi kebingungan. Anak muda itu tak tahu bagaimana mesti bergerak mengikuti bekas telapak kaki itu, sebab keenam belas buah bekas telapak kaki itu semuanya mirip "langkah pertama", juga mirip "langkah terakhir". Suma Thian yu yang cerdik, kontan saja terjerumus dalam suasana bingung yang amat tebal. Tapi, semakin sukar persoalan yang dihadapi, semakin mengobarkan rasa ingin tahu dari Suma Thian yu, dia tahu suatu pekerjaan yang makin sukar dicapai, biasanya semakin hebat bila telah diketahui, apalagi waktu yang tersedia baginya tak terbatas. Maka dengan seksama dia lantas mulai menyelidiki kepandaian tersebut dengan sabar. Sekali gagal dicoba untuk kedua kalinya, gagal lagi dicoba lagi, sekali demi sekali dia berusaha terus menerus pantang menyerah......... Kegagalan memang merupakan guru yang baik dan pangkal dari kesuksesan, tanpa kegagalan darimana mungkin datangnya kesuksesan, kalau tidak pernah merasakan getirnya kegagalan, mana mungkin bisa merasakan nikmatnya kesuksesan? Sang surya telah terbit diufuk timur, lambat laun bergeser ketengah angkasa, dan akhirnya tenggelam dilangit barat. Maka kegelapan malampun menyelimuti kembali bukit Kiu gi san, angin gunung yang dingin berhembus kencang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendadak diantara hembusan angin kencang terdengar suara Suma Thian yu yang sedang bersorak sorai. Aku telah berhasil...ooh, Thian! Aku telah berhasil, ha ha ha ha.... Lembah Cing im kok ditengah fajar yang menjelang tiba, diliputi kabut yans amat tebal, hari itu merupakan hari yang amat indah. Sang surya bagaikan panglima perang yang ampuh menaklukan iblis kegelapan, munculkan diri diufuk timur dan memancarkan sinar ke emas-emasan menyoroti seluruh jagad. Namun Suma Thian yu masih tertidur nyenyak dibalik rerumputan, semalam dia kelewat gembira, kelewat lelah, sudah seharian penuh dia melatih ilmu tersebut, meski pada langkah kelima ia berhasil menemukan kunci rahasia dari ilmu langkah tersebut, tapi dia sendiri telah kelelahan. Sekalipun lelah, namun perasaan yang mendekam didalam hatinya adalah perasaan yang manis dan hangat, sehingga walaupun sedang tidur nyenyak, sekulum senyum manis masih sempat menghiasi ujung bibirnya. Disaat ia sedang tidur dengan nyenyak inilabh tampak dua sosok bayangan manusia berwarna hitam muncul ditempat itu dan berhenti dihadapannya. Mendadak terlihat sebatang buluh dmasukan kedalam lubang hidung Suma Thian yu dan menkilik-kiliknya berulang kali, kontan saja sianak muda itu bersin dan melompat bangun dari tidurnya. Begitu ia membuka matanya, maka tampaknya dua orang kakek telah berdiri dihadapannya. Locianpwe, rupanya kalian!" serunya keras. Ternyata yang datang tak lain adalah Siang gi siu (sepasang kakek bodoh) dari bukit wu san, buru-buru Suma Thian yu menjura dan memberi hormat, katanya: "Boanpwe tak tahu akan kedatangan cianpwe berdua, harap cianpwe berdua sudi memaafkan keteledoran boanpwe yang molor terus.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Toa gi siu (sikakek bodoh pertama) Khong sian tertawa terkekeh kekeh, lalu berkata: "Heeeeehh.....heeeeehh.......heeeeehh....siapa tak tahu dia tak bersalah, kau tak usah banyak adat Kemudian setelah menggelengkan kepalanya berulang kali, dia melanjutkan. "Seandainya disini muncul seekor ular beracun, atau muncul seorang malaikat bengis, apakah kau anggap masih bisa hidup segar bugar? ....Dengan cepat Suma Thian yu menundukkan kepalanya rendah-rendah. "Kemana larinya kertas tanpa kata itu? Apakah kau telah berhasil memecahkan rahasianya?" tanya Toa gi siu Khong Sian dengan wajah serius. "Ya, sudah berhasil kupecahkan rahasianya Suma Thian yu bersorak gembira. Cepat-cepat dia merogoh ke dalam sakunya untuk mencari kitab itu, tapi sesaat kemudian dengan perasaan terkejut, paras mukanya berubah hebat, serunya lagi: "Aduh celaka, ke mana larinya kertas itu?" Rupanya kertas yang semula berada dalam sakunya itu, kini sudah lenyap tak berbekas. "Hayo ganti! Kau harus mengganti! Suusah payah kutemukan mestika yang tak ternilai harganya itu, tapi sekarang kau menghilangkannya, hayo cepat cari sampai ketemu, kalau tidak ku penggal batok kepalamu!" Dengan kemarahan yang meluap-luap, Toa gi siu Khong Sian berteriak-teriak. Suma Thian yu menjadi gelisah setengah mati bagaikan semut diatas kuali panas, peluh dingin bercucuran deras, wajahnya memucat bagaikan mayat, semalam dia masih memeriksanya sekali lagi, hari ini kenapa bisa lenyap tak berbekas?" "Bocah keparat, mengapa bisa hilang? Hayo cepat jawab, cepat cari sampai ketemu!" lagi-lagi Toa gi siu Khong Sian berteriak dengan marah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berada dalam keadaan seperti ini, apa lagi dapat diucapkan Suma Thian yu? Terpaksa dia mengiakan berulang kali dan beranjak untuk pergi. Pada saat itulah, Ji gi siu (kakek bodoh ke dua) Khong Bong yang selama ini membungkam terus, berseru dengan cepat: "Tunggu sebentar!" Kau hendak mencarinya ke mana?" "Yaa, betul juga perkataan ini!" pikir Suma Thian yu setelah mendengar perkataan itu, dia lantas berhenti. Kemana ia mesti mencari kini? Kalau dicuri orang selagi dia tidur nyenyak, pencuri itu pasti sudah kabur meninggalkan tempat itu, kemana ia mesti mengejarnya? Berpikir sampai disitu, dia menjadi tertegun, lalu dengan wajah tersipu ia menundukkan kepalanya rendah-rendah, seandainya disitu ada lubang maka ia pasti sudah menerobos masuk untuk menyembunyikan diri. Tiba tiba si Kakek bodoh kedua Khong Bong mengayunkan tangan kanannya seraya berkata: "Disini terdapat selembar, apakah milikmu? Suma Thian yu segera berpaling, begitu melihat kertas tersebut adalah kertas miliknya yang hilang, buru-buru sahutnya: "Benar! benar! Benar...." Melihat tingkah laku sang pemuda itu, Wu san siang gi segera memegangi perut sendiri sambil tertawa terpingkal pingkal, tertawa sampai air matapan turut jatuh bercucuran Selesai tertawa, Toa gi siu Khong Sicu baru berkata: "Inilah sebuah pelajaran yang sangat berharga bagimu, kau harus selalu waspada dan berhati-hati dalam menghadapi setiap persoalan. Ketahuilah dunia persilatan itu amat berbahaya dengan manusia yang licik dan keji, sedikit saja lengah maka akibatnya bencana besar akan tiba, bencana paling kecil adalah rusak nama badan terluka, kalau bencana besar.... nyawamu pasti akan terbang ke akherat, ingatlah baik-baik pelajaran ini. ingatlah baik baik!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu segera mengiakan berulang kali, sekarang dia baru mengerti kalau tindakan Wu san gi siu mempermainkan dirinya, sebetulnya mempunyai arti yang mendalam. Tanpa terasa dia menjadi terharu sekali dan menerima nasehat tersebut dengan perasaan yang tulus. Ji gi siu Khong Bong segera menyerahkan kertas tersebut ketangan Suma Thian yu, lalu tanyanya. "Apakah berbasil kau pahami?" Ya, boanpwee telan memahami rahasia dari kertas tanpa kata ini, tapi isi kertas itu..." Secara ringkas dia lantas bercerita tentang pengalaman yang dijumpainya semalam, dimana ia berjumpa dengan Siau yau kay Wi kian. bagaimana menerima warisan ilmu langkah dan sebagainya..... Mendengar kisah tersebut, dengan wajah serius Toa gi siu Khong Sian berkata: Aku sudah mengetahui semua kejadian itu, pengemis tua itu sudah menceritakan segala sesuatunya kepadaku, kalau tidak begitu, darimana aku bisa tahu kalau kau sedang bersembunti disini dan molor? Kau bisa lupa makan lupa tidur dan berusaha terus untuk mempelajari dan menekuninya, semangat semacam ini memang pantas dihargai. Ketahuilah, ilmu langka Ciok tiong luan poh cap lak tui (enam belas langkah kacau pembingung sukma) meski tak sedap kedengarannya, tapi tak terkirakan manfaatnya, kepandaian itu merupakan kepandaian yang paling diandalkan sipengemis untuk ber kelana dalam dunia persilatan, asal kau dapat memahaminya, sekalipun berjumpa dengan iblis tua dari dunia persilatan, kendatipun tak sanggup mengalahkannya, paling tidak kau masih sanggup untuk menghindarkan diri dari setiap ancaman Suma Thian yu merasa gembira sekali, dia tak mengira kalau hanya dalam sehari saja sudah memperoleh petunjuk yang sangat berharga dari seorang tokoh persilatan yang amat lihay, apalagi mewariskan kepandaian rahasianya, kejadian ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

betul-betul merupakan suatu perkah yang sangat besar bagi dirinya. Akan tetapi dia tidak pernah berpikir lebih mendalam lagi, mengapa orang lain bersedia mewariskan kepandaian andalannya itu kepada dia? Apa sebenarnya tujuan orang itu? Mungkinkah hal ini hanya dikarenakan dia menarik perhatiannya? Tanggung jawab yang di bebankan diatas pundaknya dari hari kehari semakin bertambah berat, namun ia masih belum merasakan nya, dunia persilatan yang penuh pembunuhan, dunia yang penuh noda sedang menggapai kearahnya, dia harus bertanggung jawab untuk meredakan badai pembunuhan yang sedang melanda dunia persilatan, menegakkan keadilan dan kebenaran dalam masyarakat, bayangkan saja betapa berat dan pentingnya tugas serta tanggung jawabnya. "Nak, tahukah kau apa yang tercantum didalam kitab tersebut?" Terdengar Tay gi siu Khong Sian bertanya. Entahlah, meskipun boanp telah berhasil membongkar rahasia ker tas tanpa kata itu, namun belum sempat untuk membaca apalagi mempelajari isi kitab tersebut "Tak usah dibaca lagi, kertas ini hanya selembar kertas rongsok yang tak yang tak berguna "Apa? Cianpwee bilang kertas ini palsu? Aah, mana mungkin? "Sebenarnya aku pun berpendapat demikian kata Toa gi siu Khong Sian, kemudian sambil berpaling kearah Ji gi siu Khong Bong, kata nya. Hiante, lebih baik kau saja yang menerangkan suma Thian yu segeras mengalihkan sorot matanya keewajah Ji gi siu Khong Bong, dia buru-buru ingin tahu rahasia yang kerada dibalik kertas tanpa kata tersebut. "Apalagi yang mesti dibicarakan? palsu ya palsu apa lagi yang musti dijelaskan? sahut Ji gi siu Khong Bong cepat. Kemudian setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Semoga saja lembaran yang asli jangan sampai terjatuh ketangan iblis, kalau tidak, kebenaran dan keadilan pasti akan diinjak-injak, dunia persilatan tak pernah akan menjadi tenang kembali!" Setelah mendengar perkataan itu, Suma Thian yu dibuat semakin kebingungan setengah mati, ditatapnya wajah si kakek bodoh kedua Khong Bong, kemudian sambungnya: "Locianpwee, dapatkah kau memberi penjelasan lebih jauh?" "Boleh saja. Cuma selesai lohu berbicara nanti, kembali ada sebuah tugas yang hendak kuserahkan kepadamu, dan kau tak boleh me nolak tugas tersebut." Haai, lagi-lagi sebuah tugas." pikir Suma Thian yu didalam hati kecilnya. Namun diluarnya dengan cepat dia menjawab. "Baik, boanpwee akan melaksanakannya dengan baik." Ia tak pernah mempertimbangkan akibatnya karena sekarang dia hanya ingin mengetahui rahasia di balik kitab tanpa kata tersebut. Si Kakek bodoh kedua Khong Bong manggut-manggut, ujarnya kemudian: "Ditinjau dari apa yang tercantum dalam kitab ini, dapat dikelahui bahwa isinya adalah sejenis kitab maha sakti peninggalan Ku hay siansu, seorang pendeta lihay yang hidup pada empat ratus tahun berselang, kitab itu bernama Kun tun kan kun huan siu cinkeng dan merupakan sebuah kitab pusaka yang sudah pasti merupakan sejenis kepandaian yang luar biasa akan tetapi... " Berbicara sampai disitu, dia sengaja berhenti sebentar, seakan akan hendak menggoda Suma Thian yu. Ketika itu pemuda tersebut sedang mendengarkan dengan seksama, ketika orang tua itu berhenti berbicara, segera dia membuka mulut hendak bertanya, tapi dengan cepat Ji gi siu Khong Bong telah berkata lebih dahulu: "Tapi kenyataannya jauh berbeda sekali, tulisan yang tercantum didalam kertas ini adalah tulisan bahasa Han,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

padahal Ku hay siansu adalah seorang Tibet, sekalipun sudah berkelana cukup lama didaratan Tionggoan, namun sepatah kata tulisan Han pun tidak dipahami olehnya. Dan sini dapat diketahui kalau kertas ini adalah barang palsu" Dengan wajah termangu-mangu Suma Thian yu mendengarkan penje-lasan tersebut, sementara Tay gi siu Khong Sian manggut-manggut de ngan perasaan puas, tanyanya lagi: "Hiante, menurut dugaanmuu, mungkinkah Cinkeng tersebut sudah keluar dari tanah?" "Tentu saja sudah keluar dari tanah, bahkan telah diambil orang. Sudah pasti orang itupun seorang yang licik, kalau tidak, tak mungkin dia menirukan Cinkeng asli untuk membuat sebuah yang palsu! "Kalau begitu orang itu pintar sewaktu bodoh sesaat? tanya Toa gi siu Khong sian. Ya, tentu saja cerdik! "Tapi aku anggap orang itu merupakan seorang yang 'paling bodoh." ucap Toa gi siu Kong Sian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. "Setelah ia berhasil mendapatkan kitab yang asli, mengapa harus membuat yang palsu? Bukankah ibarat melukis ular di beri kaki?" "Benar! Inilah sebabnya orang itu boleh dibilang seseorang yang paling pintar, tetapi juga seseorang yang paling bodoh." Ji gi siu Khong Bong menyatakan setujunya pula dengan pernyataan tersebut. Ketika selesai mengucapkan perkataan tersebut, mendadak dengan wajah serius Ji gi siu Khong Bongberpaling kearah Suma thian yu, kemudian katanya: "Bocah, sekarang kau telah mendengar habis semua perkataanku, maka kaupun harus segera melaksanakan sebuah tugas yang amar sulit, yakni setelah turun gunung nanti, bila kau berhasil mendengar kalau kitab pusaka tersebut telah muncul, maka kau harus berusaha dengan sepenuh tenaga untuk melindungi kitab pusaka itu agar tidak sampai terjatuh kembali ketangan orang-orang laknat, mengerti?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Baik, boanpwee akan turut perintah!" jawab Suma Thian yu dengan wajah bersungguh-sungguh. Tapi ketika ia teringat akan dendam keluarga, sakit hati paman Wan dan kini ditambah lagi tugas berat tersebut, timbul perasaan yang sangat berat didalam hatinya. Tiba-tiba Ji gi siu Khong Bong menuding kearah kitab pusaka palsu ditangan Suma Thian yu, lalu berkata: "Lebih baik kitab palsu itu dirobek saja, toh disimpan juga tak ada gunanya Suma Thian yu memperhatikan sekejap kertas tersebut. sesungguh nya dia hendak merobeknya seketika itu juga, tapi ingatan lain seakan melintas dalam benaknya, bagaimanapun juga ia telah bersusah payah sebelum berhasil menemukan rahasia kitab itu, kalau belum dilihat isinya sudah dirobek, rasanya hal ini amat disayangkan. Jilid 5 Maka dia menyimpan kitab tersebut kedalam sakunya, kemudian baru berkata kepada sepasang kakek bodoh dari bukit Wu san itu. "Cianpwe berdua, besok boanpwe hendak meninggalkan bukit Kiu gi san untuk melacaki jejak musuh besarku, sebagai seorang anak yang berbakti, boanpwe merasa berkewajiban untuk membalaskan dendam bagi sakit hati orang tuaku, entah cianpwe berdua masih ada petunjuk apa yang hendak disampaikan?" Sambil tertawa, Toa hi siu Khong Sian manggut-manggut, sahutnya: "Bakti kepada orang tua memang merupakan soal utama yang paling penting, bila kau bisa berbakti kepada orang tua maka seluruh penjuru dunia dapat kau lewati, aku tahu kau polos dan jujur, hatimu penuh welas kasih dan mulia, dikemudian hari pasti berhasil, menciptakan suatu pekerjaan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

besar, tapi dunia persilatan amat berbahaya, maka berhatihatilah dalam mencari kawan. Baru selesai Toa gi siu Khong Sian berkata, Ji gi siu Khong Bong telah menyambung: Walaupun dewasa ini dunia persilatan diliput oleh tabir iblis dan hawa sesat, suasana macam ini tak akan bisa bertahan lama, se jak dulu sampai sekarang, kejahatan tak pernah bisa menenangkan kebenaran, bagaimana pun brutalnya perbuatan kaum iblis dan manusia laknat, suatu ketika mereka pasti akan tertumpas habis. Berbuatlah kebajikan dan kemuliaan bagi umat manusia, mesti harus mendaki bukit golok, menyeberangi samudera api, walaupun harus menembusi sarang naga dan gua harimau, tapi perbuatanmu tidak menyalahi hukum alam dan suara hati, majulah pantang mundur, kendatipun akhirnya harus mati demi membela kebenaran, kau akan mati sebagai seorang pahlawan" Dengan perasaan yang tulus Suma Thian yu menerima semua nasehat itu dengan hati yang bersungguh-sungguh, hingga kini dia baru me ngetahui sejelas-jelasnya watak dari sepasang kakek bodoh tersebut. Diam-diam timbul perasaan kagum didalam hatinya, ia berpikir. "Benar-benar terlalu agung, orang yang benar-benar cerdas memang mirip bodoh, mengapa aku tidak mempergunakan ucapan mereka sebagai pedoman hidupku?" Setelah menyampaikan nasehatnya kepada Suma Thian yu, Sepasang kakek bodoh dari bukit Wu san sama sekali tidak menantikan jawaban nya, mereka segera membalikkan badan dan berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka berdua sudah lenyap tak berbekas. Memandang bayangan punggung kedua orang kakek itu, Suma Thian yu merasa seakan-akan kehilangan buah mutiara yang tak ternilai harganya dan merasa murung dan sedih. Sekali lagi ia hidup menyendiri dialam semesta yang begini luas, sampai kapan keadaan seperti ini baru akan berakhir?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara dia masih termenung, mendadak dari kejauhan sana terdengar suara pekikan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian. Suma Thian yu merasa amat terperanjat setelah mendengar suara pekikan tersebut, dengan perasaan tertegun pikirnya: "Heran, mengapa selama beberapa hari ini bukit kiu gi san jadi begini ramai? Satu rombongan baru lewat, rombongan lain menyusul datang, mungkinkah dibukit ini telah ditemukan suatu benda mestika ?" Sementara dia masih termenung, suara pekikan tersebut sudah semakin mendekat, bahkan jumlahnya tidak hanya satu. Suma Thian yu sudah terbiasa mendengar suara pekikan tersebut, dia acuh tak acuh, bahkan sambil berpaling dia memejamkan matanya seperti orang hendak tidur. Tiba-tiba terlintas satu ingatan didalam benaknya, mengapa tidak mempergunakan kesempatan itu untuk memeriksa isi kitab pusaka palsu itu? Berpikir demikian, dia lantas merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan kertas tersebut dan dipegang dalam tangan. Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras: "Hei bocah muda, benda apakah yang sedang kau pegang itu?" Sungguh tak disangka suara pekikan yang kedengarannya masih jauh tadi, tahu-tahu dihadapan mukanya telah melayang turun seorang kakek berusia tujuh puluh tahun, berperawakan tinggi besar, bercambang, bermata besar, beralis tebal dan bermulut lebar. Orang itu ber tampang menyeramkan sekali. Suma Thian yu mencoba untuk memeriksa sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya tak ada orang lain selain kakek itu, apalagi orang itu pun bermuka bengis dan menyeramkan, maka timbul satu ingatan dalam benaknya untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mempermainkannya dengan menggunakan kitab pusaka palsu tersebut. Dengan suara nyaring dia lantas berkata. "Aku tak dapat memberitahukan kepadamu, sebab benda ini adalah sebuah mestika yang tak ternilai harganya!" Sambil berkata dengan wajah tersenyum mengejek dia melirik sekejap kearah kakek itu, kemudian sengaja menyimpan kertas tadi ke dalam saku. Setelah itu dengan senyuman aneh menghiasi diujung bibir, dia berkata lebih jauh: "Padahal sekalipun kuberitahukan kepadamu juga tak mengapa, kertas ini isinya adalah ilmu silat peninggalan dari Ku hay Siansu! Mendengar perkataan itu, paras muka kakek tersebut berubah hebat, mencorong sinar buas dari balik matanya, dia sepera membentak "Kau tidak membohongi aku? Bawa kemari!" Nadanya keras dan bersifat memerintah, seakan-akan pemuda itu sudah sepantasnya untu menyerahkan kitab pusaka itu kepadanya. Huh...apa yang kau andalkan untuk memerintahku berbuat demikian? kitab ini toh aku yang menemukan, kenapa harus kuserahkan lagi kepada orang lain. Heeh, heeh, heh sungguh menggelikan!" "Lohu ingin bertanya kepadamu, apakah kitab tersebut adalah kitab pusaka Kun tun kan kun huan siu Cinkeng?" nada suara dari kakek tersebut menjadi jauh lebih lembut. "Aduuh ...dari maka kau bisa tahu?" Suma Thian yu purapura merasa terkejut, padahal dalan hati kecilnya dia geli sekali. Selama hidup belum pernah dia permainkan orang iain seperti apa yang dilakukannya saat ini, ia merasa apa yang telah dilakukannya benar-benar amat memuaskan hatinya. Seandainya Suma Thian yu tahu kalau kakek yang berada dihadapannya sekarang adalah salah seorang dari Ci san su mo (empat iblis dari bukit Ci san), Jit ci to (pencoleng berjari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tujuh) Tam Yu yang pernah menderita kekalahan ditangan gurunya Put Gbo cu dimasa lalu, niscaya dia tak akan berani mempermainkan kakek itu. Terdengar pencoleng berjari tujuh Tam yu tertawa terbahak-bahak dengan bangganya. "Haah...haah....haah...bersusah payah aku mencari kesana kemari, akrhirnya berhasil kutemukan tanpa susah payah, nampaknya saat lohu untuk unjuk gigi sudah tiba. Nah bocah muda, oleh karena kitab pusaka itu berhasil kau temukan, maka lohu bersedia mengampuni selembar jiwamu, cepat serahkan kitab tersebut kepadaku!" Suma Thian yu sudah menduga akan sikap dari kakek tersebut, maka dia tidak marah atau pun merasa kaget, pelanpelan dia menarik ke luar kitab itu hirgga muncul separuh dari balik sakunya, kemudaan berkata lagi. "Tidak ada pekerjaan yang semudah itu di kolong langit, tinggalkan dulu nama besarmu, saya ingin tahu cukup pantaskah kau menerima pusaka ini" Mendengar perkataan itu, si Pencoleng berjari tujuh Tam Yu tertawa seram. Haah...haah....haah....bocah keparat, tak heran kalau kau berani bersikap kurangajar kepadaku, rupanya kau belum tahu siapakah diri ku ini? Lohu she Tam bernama Yu. Coba nilailah apakah aku pantas untuk mendapatkan kitab pusaka yang berada ditanganmu itu? Haah....haah..." Suma Thian yu tertawa tergelak lagi setelah mendengar nama tersebut, bila kau tidak menyebutkan namamu itu, mungkin aku masih akan menyerahkan kitab tersebut kepadamu, tapi setelah mengetahui siapa gerangan dirimu itu...Hmm, sauya tak sudi untuk menyerahkan kepadamu" "Kenapa?" teriak si Pencoleng berjari tujuh dengan gusar, "bocah keparat, tampaknya arak kehormatan kau tak mau, arak hukuman kau pilih. Sebentar jika kau sudah merasakan kelihayanku, jangan lagi berkaok minta ampun" Suma Thian Yu kembali tertawa keras.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aku tak dapat menyerahkan kepadamu karena kau adalah bekas panglima yang kalah di tangan Put Gu cu locianpwe, kalau nyawamu saja berhasil ditemukan secara untunguntungan, mana ada hak bagimu untuk mendapatkan kitab pushka tersebut?" Mendengar ucapan tersebut, si Pencoleng berjari tujuh Tam Yu menjadi tertegun, kemudian dari malu dia menjadi gusar, serunya: "Bocah keparat, apa hubunganmu dengan siluman tosu itu?" Apa hubunganku dengannya lebih baik tak usah kau campuri, dan kaupun tidak berhak untuk mengetahuinya, lebih baik jangan semba rangan berpikir. Maaf, sauya tak dapat menemani lebih lama lagi." Selesai berkata, dengan langkah lebar dia lantas berlalu dari tempat itu. Namun tiba-tiba terdengar suara bentakan keras menggelegar di udara. "Berhenti !" Tampak sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat berlelebat lewat dari atas kepala Suma Thian yu dan menghadang perginya, Suma Thian yu segera memicingkan mata dan membentak dengan nada sinis: "Bagaimana? Ingin merebut dengan kekerasan ?" "Betul, lohu memang ingin berbuat demikian "Hmm! Bagaimanapun juga pencoleng memang berjiwa kerdil dan tak becus, sekali menjadi bajingan selamanya tetap bajingan, apakah kau tidak malu? Hmm, terhadap seorang pemuda pun menggunakan cara kekerasan...." "Heeeh....heeeh....heeeh.... bocah keparat, tak kusangka kau memiliki selembar bibir yang pandai bersilat lidah, selamanya lohu tak doyan dengan permainan semacam ini lebih baik segera serahkan kitab tersebut ke padaku." "Huuuh, kau belum berhak!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu ucapan terakhir diutarakan, tampak bayangan manusia berkelebat lewat dan Plok sebuah tempelengan keras telah bersarang di atas pipi kakek tersebut. Paras muka si Pencoleng berjari tujuh Tam Yu berubah hebat, mukanya merah padam seperti babi ppnggang, dengan suara yang meng geledek bentaknya keras-keras. "Bocah keparat, kau ingin mampus?" Sepasang lengannya diayunkan kedepan melancarkan bacokan semen-tara tubuhnya ikut menubruk kemuka bagaikan harimau lapar menerkam domba, mengerikan sekali keadaannya. Suma Thian yu sudah mempunyai perhitungan yang cukup matang dalam menghadapi keadaan tersebut, ia tidak gugup ataupun panik, menanti sepasang kepalan lawan sudah berada setengah depa dihadapan nya, mendadak dia menyelinap kesamping, kemudian mengembangkan ilmu langkah Ciok tiong tuan poh cap lak sui yang dipelajari dari Sisu yau kay wi Kian semalam. Baru saja sepasang lengan si Pencoleng berjari tujuh Tam Yu mengayun kedepan, mendadak serasa bayangan manusia berkelebat lewat, sementara ia masih tertegun, mendadak tengkuknya seperti dihembus orang. Dengan perasaan terkejut buru-buru dia memutar badannya secepat kilat, kemudian tangan dan kakinya hampir bersamaan waktunya me nendang ke tubuh Suma Thian yu keras-keras. Sayang dia cepat, Suma Thian yu lebih cepat lagi, baru saja lengannya mencapai setengah jalan, kembali tengkuknya dihajar orang sehingga terasa linu, panas dan perih. Dengan terjadinya peristiwa itu, semangat si Pencoleng berjari tujuh Tam Yu menjadi dingin separuh, dia sadar bahwa pada hari ini telah bertemu dengan musuh tangguh, tak ampun peluh dingin segera bercucuran keluar membasahi tubuhnya. Tapi sifat rakusnya dan keinginannya untuk mendapat mestika membuat dia lupa akan keselamatan akan jiwanya diri

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sendiri, dengan mata gelap si Pencoleng berjari tujuh Tam Yu mengeluarkan ilmu Thian sai ciang andalannya untuk melancarkan serangan pukulan dahsyat untuk menggurungseluruh badan Suma thian yu. Semenjak mempelajari ilmu langkah Ciok tiang luan poh, rasa percaya diri Suma Thian yu terbadap kemampuan sendiri semakin bertambah, pada hakekatnya ia seperti telah berubah menjadi seseorang yang lain, entah serangan dahsyat macam apapun yang telah digunakan si Pencoleng berjari tujuh Tam yu untuk mendesak musuhnya, ia selalu gagal untuk mendesak lawannya. Sedangkan Suma Thian yu justru berputar kian kemari bagaikan kupu kupu yang menari ditengah bebungahan, setiap ada kesempatan dia selalu menowel, meraba, mencakar, mencubit seluruh badan kakek tersebut. Tak selang berapa saat kemudian, keadaan si Pencoleng berjari tujuh Tam Yu sudah lemas seperti seekor ayam jago yang kalah bertarung, seluruh badannya basah kuyup oleh keringat, mukanya pucat pias, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, mengenaskan sekali keadaannya Sambil berputar terus kian kemari, Suma Thian yu segera mengejek sambil tertawa: "Bagaimana? Terbukti bukan kalau kau masih belum cukup mampu untuk mendapatkan kitab ini?" Berbicara sampai disitu, mendadak gerakan tubuhnya berubah, mendadak ia menerobos masuk ke dalam, kemudian tangannya mencongkel ke muka... Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang dari mulut si pencoleng berjari tujuh Tam Yu. "Kali ini aku hanya mencongkel sebelah matamu saja sebagai peringatan, lain kali aku harap kau jangan menganiaya kaum muda lagi dengan semaunya sendiri" seru Suma Thian yu. Selesai berkata, pasang kakinya segera menjejak permukaan tanah dan tubuhnya melambung keudara,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kemudian diringi suara pekikan panjang yang penuh nada gembira, secepat kilat dia turun dari bukit tersebut. Sampai lama kemudian, pekikan itu masih saja bergema ditengah hutan. Bersamaan waktunya dengan lenyapnya bayangan tubuh Suma Thian yu di ujung jalan sana, dari atas bukit melayang turun tiga sosok bayangan hitam yang langsung menghampiri si pencoleng berjari tujuh Tam yu yang terluka. Dalam waktu singkat ketiga orang itu sudah berada ditempat kejadian, seorang diantaranya segera memeluk tubuh si pencoleng berjari tujuh Tam Yu sambil berteriak: "Suhu, suhu, kenapa kau orang tua? Siapa yang telah turun tangan sekeji ini kepadamu?" Pencoleng berjari tujuh Tam Yu membuka matanya yang tinggal sebelah dan mengawasi pendatang tersebut, lalu sahutnya dengan sedih: "Sudah pergi, bocah keparat itu sudah pergi, dia telah mendapatkan kitab pusaka Kun tun dan kun huan siu cinkeng dari Ku hau sian siau, muridku, kau tak boleh bertindak gegabah, kau bukan tandingan bocah keparat tersebut" Ketika dua orang kakek lainnya mendengar ucapan tersebut, ternyata tanpa memperdulikan Si Pencoleng berjari tujuh Tam Yu yang sedang terluka, mereka segera berseru cepat: "Tam Yu, maaf! Begitu selesai berkata, kedua orang itu segera melejit ketengah udara dan meluncur ke arah dimana Suma Thian yu melenyapkan diri dengan kecepatan luar biasa. Si Pencoleng berjari tujuh Tam Yu yang terluka dan menyaksikan kepergian kedua orang itu segera berseru dengan penuh kebencian: "Tak berperasaan tak memperdulikan kesetiaan antar persaudaraan, baik, selama aku orang she Tam masih hidup, tak akan kulepaskan kalian berdua. Heehh... heehh... kalian berani kesitu tak lebih hanya akan menghantar kematian

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan percuma, tetapi memang paling baik jika kalian bisa segera melaporkan diri kepada raja akhirat." Ternyata kedua orang itu adalah Sam yap koan mo serta Coa tau jin mo, kedua orang ini pun termasuk anggota Ci san su mo, jadi sebenarnya adalah saudara angkat sipencoleng berjari tujuh Tam yu sendiri. Dalam pada itu, sepeninggal dari lembah Cing im kok, Suma Thian Yu melanjutkan perjalanannya dengan kecepatan luar biasa. Tapi tak berapa jauh dia berjalan, mendadak dari arah belakang terdengar suara pekikkan aneh bergema tiada hentinya, Suma Thian yu mengira si pencoleng berjari tujuh yang melakukan pengejaran, maka sengaja ia perlambat larinya. Dalam sekejap mata, dari arah belakang terdengar suara ujung baju tersampokangin bergema tiba.... Dengan perasaan terkejut Suma Thian yu segera berpikir: Heran, kenapa bukan cuma seorang! Baru saja ingatan tersebut melintas lewat didalam benaknya, mendadak dari arah belakang terdengar seseorang membentak keras: "Hei bocah muda, berhenti kau!" Suma Thian yu segera menghentikan tubuhnya dan berpaling, tampak olehnya dua orang kakek berdandan aneh sedang menyusul tiba dengan kecepatan luar biasa. Kehadiran kedua orang kakek yang tak dikenal itu amat mencengangkan hatinya, tapi dia tahu pendatang pendatang tersebut tidak bermaksud baik, mungkin juga disebabkan kitab pusaka palsu tersebut, maka tegurnya dengan cepat: Ada urusan apa kalian berdua datang kemari?" Salah seorang diantaranya adalah seorang kakek berusia tujuh puluh tahun, menggunakan pakaian dengan tiga warna yang berbeda dan berwajah seram, dilihat dari dandanannya dapat diketahui kalau orang itu adalah Sam yap koay mo (Iblis aneh tiga daun) pentolan dari Ci san su mo.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Disampingnya adalah seorang kakek berusia enam puluh tahunan, memakai baju panjang model orang desa, bermata tikus, hidung pesek, kumis melintang dan kepala berbentuk segitiga, tak disangkal lagi dia adalah manusia paling buas dari Ci san su mo, Coa tou jin mo atau manuusia iblis berkepala ular Sim moay him adanya. Dengan suara sedingin es, Sam yap koay mo segera menegur: "Bocah keparat, kau tak usah berlagak bodoh lagi, setelah melukai adik angkatku, apakah kau masih ingin mungkir? Hmm, tak kusangka seorang bocah busuk yang masih berbau tetek berani bertindak sekejam itu, heeeh.....heech....heeeh.....tiada lain, asalkau serahkan kitab itu yang disakumu itu kepada kami, segala sesuatunya akan kuanggap impas dan tidak dipermasalahkan lagi, tapi kalau tidak..." "Haaah...haahh...haahh..kalau kitab pusska ttu tidak kuserahkan, apakah kalian hendak membalas dendam bagi sakit hati adik angkatmu itu? kata Suma Thian yu sambil tertawa terbahak-bahak. "Betul! Ucapanku selamanya kupegang teguh asal kau mau serahkan kepada kami, kamipun tak akan mengingkari janji" "Ciiss, manusia tak tahu malu dengus Suma Thisn yu dengan wajah sinis, ia memandang hina terhadap watak orang yang rendah, "bersa habat dengan manusia macam kau, sungguh mengenaskan sekali rasanya...sayang Put Gho cu locianpwe tidak membereskan kalian dimasa lalu, sayang sungguh amat sayang!" Seraya berkata dia segera menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang, sikapnya yang memandang rendah musuhnya seakan-akan tak akan pandang sebelah matapun terhadap kemampuan musuhnya itu. Sam Yap Koay mo menjadi naik darah setelah mendengar perkataan itu, sepasang matanya berubah menjadi merah membara, tulang belu langnya bergemerutukan nyaring, tibatiba ia membentak keras:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Bocah keparat, serahkan nyawamu!" Telapak tangannya segera diayunkan kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepatnya menggulung tubuh Suma Thian yu. Menghadapi ancaman tersebut, pemuda itu mendengus dingin, sepasang bahunya bergerak dan mundur sejauh satu kaki lebih, kemudian pedangnya di loloskan dan......."Criiing!" pedang Kit hong kiam sudah dihunus dari sarungnya. "Setan tua yang tak tahu malu" teriaknya lantang, "tampaknya kau belum mengetahui akan kelihayan sauya? Tidak sukar bila kau mengi nginkan kitab pusaka itu, asal bisa menangkan satu jurus saja ditangan sauya, kitab tersebut akan kupersembahkan kepadamu. Mendengar perkataan itu, Sam yap Kuay mo tertawa terkekeh-kekeh dengan seramnya. Heeeh......heeeh.....heeeh.....dengan mengandalkan kepandaian mu juga berani berbicara sesumbar? Betul-betul manusia tak tahu diri, baik, lohu akan memenuhi pengharapanmu itu" Selesai berkata dia lantas bergerak maja ke depan dengan jurus Gi san tiam hay (menggeser bukit membendung samudera) dia bacok tu buh bagian bawah dari Suma Thian yu. Anak nuda itu tertawa panjang, pedangnya segera didorong sejajar dada, tanpa gugup barang sedititpun juga pedang itu diputar dite ngah jalan menusuk keatas dan mengancam dada Sam yap koay mo dengan jurus Tan hong tian yang (burung hong menghadap matahari). Melihat datangnya ancaman tersebt, Sam yap koay mo nampak agak tertegun,kemudian sambil tertawa seram katanya. Rupanya kau adalah ahli waris dari bajingan anjing budukan she Wan terebut, ini lebih bagus lagi, lohu akan membekukmu hidup-hidup untuk menerima pahala sehingga tidak sia-sia perjalananku kali ini"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berbicara sampai disitu, dia lantas menggapai kesamping, si Manusia iblis berkepala ular segera melompat maju kedepan, dasar memang bermuka tebal, ternyata gembong iblis dari Liok lim ini telah bekerja sama untuk mengerubuti pemuda berusia enam belas tahun itu. Suma Thian yu dihadapkan dua orang gembong iblis sekaligus bukannya merasa heran malah sebaliknya tertawa panjang, menyusul kemudian gerakan tubuhnya berubah dan dia segera mengembangkan ilmu langkah Ciat tiong luan poh cap lak tui untuk melayani musuhnya. Dalam waktu singkat seluruh arena sudah dipenuhi oleh bayangan manusia yang berkelebat kesana kemari menerjang keluar dari ke pungan kedua orang itu. Sam yat koay mo serta Coa tau jin mo hanya merasakan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu mereka sudah kehilangan bayangan tubuh lawan, dengan perasaan terkejut mereka segera berpaling ke samping. Tampaklah Suma Thian yu sudah berdiri di luar arena dengan sekulum senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya. "Aku lihat lebih baik kalian berdua melatih diri selama sepuluh tahun lagi sebelum datang mencoba sauya mu lagi, sekarang maaf kalau sauya tak akan melayani lebih lama lagi" demikian ia berseru. Selesai berkata, dengan gerakan tubuh yang cepat ia berlalu dari sana. Tentu saja kedua orang iblis tersebut tidak bersedia melepaskan musuhnya dengan begitu saja, melihat kejadian itu mereka berpekik ke ras lalu melakukan pengejaran. Suma Thian yu termenung sebentar, kemudian secara tibatiba menghentikan gerakan tubuhnya, sambil membalikkan badan ia berseru dengan tertawa terbahak-bahak: "Haaah..... haaah......haaah.....tidak sulit bila kalian ingin mendapatkan kitab pusaka itu asal kamu berdua bisa menangkan satu jurus atau setengah gerakan saja dalam seratus jurus gebrakan, tanpa banyak berbicara kitab tersebut akan segera kuserahkan kepada kalian, cuma,.......

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berbicara sampai disita, dia berhenti sebentar, lalu sambil melirik sekejap ke arah dua orang iblis tersebut, lanjutnya: "Kitab pusaka itu cuma ada selembar, bagaimana cara kalian berdua untuk membaginya secara adil?" Si Manusia iblis berkepala ular Sim Moay him mendengus dingin. "Hmm, bocah keparat, kau lak usah mencoba untuk mengadu domba kekuatan kami berdua, aku orang she Sim bukan manusia sebangsa itu, lohu tidak mau kitab pusaka itu tapi pedangmu itu akan kurampas." Suma Thian yu menunjukkan wajah sinis, "Hmm, dimulut saja berbicara soal kegagahan dan kebenaran, padahal siapa tahu dalam hati kecilnya? Lebih baik tak usah banyak bicara lagi, mau turun tangan lebih baik cepatlah turun tangan!" Begitu selesai berkata, pedang Kit hong kiamnya segera menyapu tubuh Coa toa jin mo dengan jurus Lip sau ngo gak (menyapu rata lima bukit), sementara jari tangan kirinya bagaikan tombak menotok tubuh Sam yap koay mo. Agak tertegun juga kedua orang iblis tersebut ketika dilihatnya Suma Thian yu berani melawan mereka berdua bersama-sama, segenap kepandaian silat yang dimilikinya segera dikeluarkan untuk mendesak musunnya. Dalam waktu singkat, ketiga orang itu sudah bertarung sebanyak dua puluh gebrakan, menang kalah masih belum bisa ditentukan sedang kekuatan mereka nampak seimbang. Sambil bertarung melayani serangan-serangan dari kedua orang iblis tersebut, diam-diam Suma Thian yu merasa gembira, ternyata ilmu langkah Ciok tion luan pah cap lak tui yang diwariskan Siau yau kay kepadanya memang terbukti lihay sekali, bila pertarungan semacam ini dilangsungkan lebih jauh maka sampai besokpun kedua orang iblis tersebut tak akan mampu berbuat apa-apa kepadanya. Maka diapun lantas berseru. Aduuh....aku sudah tak mampu lagi, lebih baik aku mengaku kalah saja!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar seruan tersebut, kedua orang iblis itu segera menghentikan serangannya. Suma Thian yu segera merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan kertas kuning itu, kemudian katanya: "Apa yang sauya ucapkan selama kupegang teguh, sekarang terbukti aku tak mampu untuk mengalahkan kalian berdua, maka terpaksa kitab pusaka ini harus kuserahkan kepada kalian, cuma ada syaratnya. Apa syaratnya! teriak kedua orang ituham pir berbareng. "Setelah berhasil mendapatkan kitab pusaka nanti, kalian dilarang mengejar sauya lagi, kalau tidak kitab ini akan sauya robek seketika ini juga" Sambil berkata, Suma Thian yu segera berlagak hendak merobek kertas tersebut. Suma Thian yu tersenyum, dia lantas merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan kitab tadii, kemudian ujarnya. "Agar adil, sauya akan menguji secara jujur, disini terdapat sebiji mata uang, bila kalian bisa menebak secara jitu ditangan sebelah manakah mata uang itu kugenggam, maka kitab pusaka itu akan menjadi milik siapa, bagaimana?" Kedua orang itu segera menyatakan akur, maka Suma Thian yu memperlihatkan mata uang tersebut, setelah digoyangkan berulang kali dia melemparkannya ke udara, setelah di sambut dengan kedua belah tangan, tangan mana dipisahkan kekiri dan kekanan kemudian di sodorkan kedepan dua orang iblis tersebut seraya berkata. "Nah, siapa yang akan menebak lebih dulu? "Toako, kau saja yang menebak lebin dulu kata si Manusia iblis berkepala ular Sim Moay. Sam yap Koay mo tertawa seram, diapun tidak sungkansungkan segera menuding tangan kiri Suma Thian yu sambil berseru. "Tangan kiri!" Suma Thian yu pura-pura menghela napas panjang, sambil membuka tangannya dia berseru:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aaah, sayang, tebakanmu salah, yang betul ada ditangan kanan, terpaksa kitab ini harus kuserahkan kepada adik angkatmu!" Betapa mendendamnya Sam yap koay mo sewaktu dilihatnya kitab pusaka tersebut diperoleh adik angkatnya, Manusia iblis berkepala ular, sekalipun satu ingatan keji segera melintas dalam benaknya, namun wajahnya sama sekali tak berubah, bagaikan persoalan itu tak pernah dipikirkan didalam hati, ia berkata sam bil tertawa: Lote, kionghi atas keberhasilanmu, asal tak sampai jatuh ketangan orang lain, loko turut merasa gembira" Kemudian sambil menarik muka katanya kepada Suma Thian yu: Bocah keparat, serahkan cepat, jangan mencoba bermaksud jahat, kemudian kau boleh pergi dan sini. Tapi ingat, hati-hati kalau sampai bertemu dikemudian hari, lohu tak akan berbelas kasihan lagi kepada dirimu" Suma Thian yu segera berpikir: "Huuh, siapa yang takut kepadamu? Dengan mengandalanmu kepandaianmu itu, meski berlatih sepulun tahun lagipun, sauya tak akan merasa kuatir. Pelan-pelan dia letakkan kertas itu kebawah kakinya, kemudian sambil melejit keudara dia berlalu dari situ dengan kecepatan luar biasa. Sambil berkelebat pergi kembali Suma Tian yu berpekik nyaring, sekali lagi dia telah mempermainkan manusia bengis dan meninggalkan bibit bencana untuk mereka. Tak bisa disangkal lagi, sepeninggalnya dari tempat itu, pasti akan terjadi perang urat syaraf antara kedua orang iblis tersebut, membayangkan apa bakal terjadi antara mereka berdua, pemuda itu tertawa sendiri, tertawa puas. Dengan membawa sekulum senyuman yang cerah karena sehabis mempermainkan iblis keji, pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya ke depan. Entah berapa banyak bukit tinggi dan tebing curam yang telah dilewati.....

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Malam, telah mencekam seluruh jagad. Malam itu adalah sebuah malam yang gelap gulita, tiada rembulan diangksa kecuali beberapa bintang yang mengerdipkan sinarnya seperti lirikan anak nakal. Setelah melalui suatu perjalanan yang amat panjang. Suma Thian yu mulai merasakan juga badannya letih, diapun duduk diatas sebuah batu besar untuk melepaskan lelahnya. Selesai bersemedi mengatur pernapasan, rasa lelahnya pelan pelan hilang dan badan terasa segar kembali. Mendadak ditengah keheningan malam yang mencekam sekeliling tempat itu dia seperti mendengar suara rintihan lirih bergema dari kejauhan sana. Suma Thian yu merasakan sekujur badannya bergetar keras, ia segera mendusin kembali dan lamunannya, dengan suatu gerakan kilat dia melompat bangun lalu memperhatikan dengan seksama. Tapi suasana disekitar itu menjadi sepi. "Aneh" dia segere bergumam, "sudah terang kudengar suara rintihan, kenapa secara tiba-tiba bisa lenyap tak berbekas? Zungkinkah aku telah salah mendengar?" Mustahil kalau dia salah mendengar, karena dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, ketajaman pendengarannya amat diandalkan, bunga yang jatuh berapa puluh kaki dari situpun dapat ia dengar dengan jelas. Sementara dia masih termenung, mendadak terdengar suara rintihan tersebut kembali berkumandang datang. Mendadak Suma Thian yu menggerakkan tubuhnya dan melesat kedalam hutan disisi tebing sebelah sana dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat. Setelah masuk kedalam hutan dan menyaksikan pemandangan di sekitar lempat itu, darah panas yang menggelora dalam tubuhnya merasa mendidih, amarahnya memuncak, apa yang terpapar didepan matanya sekarang benar-benar merupakan suatu pemandangan yang mengerikan sekali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ternyata ditengah tanah lapang dalam hutan tersebut, nampak mayat bergelimpangan disana, bahkan disitupun penuh dengan kutungan kaki atau potongan lengan, darah kental telah menggenangi seluruh permukaan tanah. Suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, hanya angin gunung yang meaehembus menderu-deru, Bangkai kuda, mayat manusia, membuat suasana menjadi seram, mengerikan dan mendirikan balu roma orang. Suma Thian yu adalah seorang pemuda yang berjiwa pendekar, benci segala kejahatan dan bernyali besar, tapi setelah menyaksikan pe mandangan yang terpapar didepan matanya, tak urung bergidik juga hatinya. Namun dia masih tetap berusaha untuk menenangkan hatinya, ia berusaha untuk menekan perasaan kaget, gugup dan seramnya, kemudian selangkah demi selangkah menelusuri mayat yang bergelemparan di tanah dan berusaha menemukan sumber dari suara rintihan tersebut. Dia berdoa semoga berhasil menemukan salah seorang korban kekejian itu dalam keadaan hidup, agar perbuatan biadab tersebut terkubur bersama jasad. Agaknya Yang Maha Kuasa telah mengaturkan segala sesuatu bagi umatnya, apa yang di harapkan ternyata tidak sia-sia..... Akhirnya Suma Thian yu berhasil menemukan sesosok tubuh manusia sedang menggeliat diantara tumpukan mayat yang hancur dengan darah kental yang berceceran ditanah. Menolong orang brgaikan menolong api, penemuan tersebut membuat Suma Thian yu buru-buru berjalan mendekati korban tersebut. Rupanya dia adalah seorang lelaki setengah umur yang berperawakan tinggi besar dan bermuka cambang, darah kental masih mengotori bibirnya, tapi ia masih bernapas meski berada dalam keadaan tak sadar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu segera meraba dada lelaki setengah umur tersebut, terasa hawa hangat masih ada sedang debarang jantungnya lemah sekali. "Untung saja masih bisa tertolong! Buru-buru dia membopong tubuh lelaki setengah umur, membangunkannya, kemudian dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah pil Ku goan cing wan peninggalan dari Kit hong kiam kek Wan Liang semasa hidupnya dan dijejalkan kedalam mulut lelaki tersebut. Dengan mengikuti air liur, pil tersebut segera hancur dan mengalir masuk kedalam perut. Dan tak selang beberapa saat kemudian, laki-laki setengah umur itu sudah menggerakkan badannya, diatas wajahnya yang pucat terlintas warna merah dadu, pelan-pelan dia membuka madanya yang sayu dan memandang sekejap kearah Suma Tnian yu, sorot mata itu penuh dengan pancaran rasa terima kasih yang amat tebal. Namun sejenak kemudian, ia memejamkan kembali matanya dan memperdengarkan suara rintihan. Menyaksikan keadaan itu, Suma Thian yu segera menyadari kalau lelaki setengah umur itu sudah menderita luka dalam parah, nyawanya amat krins dan tak mungkinbisa disempuhkan hanya mrngandalkan khasiat obat. Maka diapun bersila dan mengerahkan tenaga dalamnya, kemudian sambil menempelkan telapak tangannya keatas jalan darah Mia bun hiat di tubuh lelaki itu, ia salurkan hawa sakti Bu siang sinkang untuk membantu lelaki itu. Segulung hawa panas yang menghangatkan badan segera mengalir lewat jalan darah Mia bun hiat dan menyusup kedalam tubuh lelaki itu. Sejak makan buah mestika Jin sian kiam lan jalan darah penting Jiu meh dan tok meh yang berada dalam tubuh Suma Thian yu telah tem bus, kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang sudah tidak bisa ditandingi oleh umat persilatan lainnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak sampai seperminum teh, seluruh wajahnya telah basah oleh keringat hawa panas mengguap dari atas ubun-ubunnya, betul juga, paras laki-laki setengah umur itu dari pucat pasi kini berubah menjadi merah padam kembali. Terdengar orang itu merintih dan memuntahkan darah yang berwarna hitam, begitu darah hitam tersebut keluar, rasa menderita pun segera lenyap, orang itu sadar kembali dari pingsan Tampak orang itu segera melompat bangun, kemudian sambil menyembah didepan anak muda itu seruny: "Tio Ci bui dari Sin liong piau kiok mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan siauhiap." Buru-buru Suma Thian yu menyingkir kesamping untuk menghindarkan diri, lalu katanys tersipu sipu. "Aaah, saling menolong di kala orang sedang mengalami kesulitan sudah merupakan kewajiban dari setiap umat persilatan, kebetulan saja aku lewat disini, buat apa mesti ucapkan terima kasih? Perkataan Tio cianpwe terlalu berlebihan" "Boleh saya tahu siapakah nama siauhiap? "Boanpwe Suma Thian yu!" Ternyata Tio Ci hui yang terluka ini adalah saudara angkat dari cong piautau perusshaan ekspedisi Si liong-piaukiok di kota Heng-ciu yang disebut orang Mo im sin-liong (naga sakti penggosok awan) dalam masa berkelananya dalam dunia persilatan, dengan dua puluh empat jurus ilmu pena pembetot sukmanya sudah amat tersohor dalam dunia persilatan, orang persilatan menjulukinya sebagai Si Berewok berpena baja. Si Berewok berpena baja Tio Ci-hui yang menyaksikan tuan penolongnya masih begitu muda, diam-diam timbul perasaan malu dan menyesal dalam hati kecilnya. Katanya, enghiong kebanyakan muncul dan kaum muda, ketika dilihatnya orang itu mana usianya muda juga tak bersikap sombong atau tinggi hati, kenyataannya mana membuat hatinya makin kagum lagi. Buru-buru dia berseru kembali:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Suma siauhiap masih muda tapi berjiwa be sar, kegagahanmu benar benar amat mengagumkan, terimalah sebuah persembahanku lagi." Seraya berkata, sekali lagi dia menjatuhkan diri berlutut. Tindakkan tersebut kontan saja membuat Suma Thian yu menjadi amat gelisah, saking gelisahnya, selembar wajahnya berubah menjadi merah padam lantaran tersipu-sipu, sambil membangunkan si Brewok berpena baja, serunya cepat: "Tio cianpwe, kau kelewat sungkan, apalah artinya sedikit bantuan yang kuberikan? Dengan sikap yang menaruh hormat sahut si Berewok berpena baja: "suma siauhiap berkali kali menyebutku sebagai cianpwe, akupun merasa tak berani untuk menerimanya. Andaikata kau tiak menampik keinginanku, tolong janganlah memanggil cianpwe lagi kepadaku, bagaimana sebut saja aku sebagai saudara Tio? Menyaksikan ketulusan dan kesungguhan hati orang, Suma Thian yu pun tidak bersikeras lagi, sahutnya kemudian: "Saudara Tio, bila kau menghendaki demikian, baik, thian yu akan menuruti perintah. <ooOoo> TATKALA si Berewok berpena baja menyaksikan sikap menghormat kepadanya, iapun tak sungkan lagi, dia tahu bila ia sendiri selalu bersikap hormat, hal mana justeru membuat suasana akan bertambah canggung, asal budi kebaikan tersebut dibalas pada suatu saat, rasanya hal itupun tidak terlalu berlebihan. Apalagi dia menyaksikan suma Thian berwajah tampan dan menawan hati, hal mana semakin menimbulkan perasaan simpatik didalam hatinya. Ketika Suma Thian yu menyaksikan Berewok berpena baja Tio Ci hui hanya mengawasinya dengan termanggu, dengan cepat dia menegur:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Saudara Tio, silahkan beristirahat sebentar, kemudian kita harus membereskan mereka yang telah tewas Mendengar ucapan tersebut, si Berewok berpena baja Tio Ci hui merasa tertegun, hatinya merasa sedih sekali. Selama ini dia selalu cekatan dan pandai bekerja dalam dunia persilatan, kali ini dia mendapat tugas lagi untuk mengawal barang penting menuju ke Kwang-say kota Kiongshia, sebelum berangkat kakak angkatnya Mo im sin liong telah berpesan bahwa barang kawalan mereka kali ini amat penting artinya, sebab berhasil atau tidak sangat mempengaruhi nama baik perusahaan mereka. Maka sengaja dia mengundang si Berewok berpena baja Tio Ci hui dengan memimpin sejumlah jagoan kelas satu untuk berangkat me lindungi mestika yang tak ternilai harganya. Sepanjang jalan menuju keselatan, tak nyana sewaktu berjalan sampai di wilayah Kiu gi san telah terjadi peristiwa tragis, bukan cuma barang kawalannya kena dibegal, bahkan dia pun kena dipecun-dangi secara mengenaskan sekali. Memandang mayat-mayat yang tergelepar memenuhi seluruh tanah, si Berewok berpena baja Tio Ci hui menghela napas panjang Setelah mengalami peristiwa berdarah ini, dia tak tahu bagaimana harus mempertanggung jawabkan diri terhadap kakak angkatnya Mo im-sin liong, coba kalau bukan ditolong oleh pemuda yang berada didepan mata sekarang, mungkin diapun akan kehilangan selembar jiwanya ditengah bukit yang terpencil ini. Teringat akan hal-hal yang memedihkan hatinya, dia segera mera-sakan hatinya bergejolak keras, air matanya bercucuran dan seluruh badannya gemetar keras. Suma Thian yu yang turut menyaksikan kejadian itu, diamdiam ikut merasa berduka, pikirnya: "Selama aku masih hidup, aku berte kad akan membantu Sin liong piau kiok untuk menemukan kembali barang kawalan yang di begal orang......."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berpikir sampai disitu, dia lantas menghibur si Berewok berpena baja Tio Ci bui dengan suara lembut. "Saudara Tio, kejadian toh sudah berlangsung, disedihkan juga tak ada gunanya, asal kita bisa menemukan sebuah titik terang saja, biar pembegal-pembegal itu kabur keujung langitpun, aku percaya duduknya perkara pasti akan terbongkar juga......Sekarang keadaan ma sih belum terlambat, mengapa kau tidak menmbangkitkan semangatmu untuk melakukan sesuatu usaha yang lebih bersemangat. Si Berewok berpena baja Tio Ciu hui segera manggutmanggut, sahutnya kemudian: "Apa yang Suma siauhiap katakan memang benar, cuma pembegal pembegal itu hampir semuanya mengenakan kain kerudung hitam serta tidak meninggalkan jejak apapun, kalau dibilang sungguh memalukan, mereka semua rata-rata berilmu tinggi, orangnya banyak lagi, aku Tio Ci hui betul-betul tak berdaya dan tak berkemampuan untuk menahan salah seorang saja diantara mereka" Sambil berkata wajahnya menunjukkan perasaan menyesal, kecewa, sedih dan menyalahkan diri. Suma Thian yu adalah seorang yang cerdas, begitu mendengar pembegal-pembegal tersebut berkerudung, lagipula terjadi dibukit Kiu gi san, satu ingatan dengan cepat muncul dalam benaknya, dia tahu peristiwa ini pasti luar biasa, siapa tahu ada hubungannya dengan ke matian paman Wannya yang mengenaskan...... Teringat akan paman Wan, hatinya merasa sedih sekali, raut wajah penuh kasih sayang yang telah memelihara dan mendidiknya selama sepuluh tahun segera muncul kembali dalam benaknya, dia tidak dapat mengendalikan rasa pedih dalam hatinya lagi, sambil mengepal tinju dan mendongak ke angkasa, lirihnya: "Aku hendak membalas dendam ..." Waktu itu si Berewok berpena baja Tio Ci hui sedang tercekam dalam kesedihan, ketika secara tiba tiba dilihatnya pemuda di hadapannya menunjukkan wajah gusar dengan hawa pembunuhan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menyelimuti wajahnya, bahkan menggumam hendak membalas dendam, terkejutlah dia, diam diam pikirnya dengan perasaan bergidik: "Betul betul amat tebal hawa pembunuhan yang menyelimuti wajahnya, kalau dilihat dari keadaannya, dia mempunyai asal usul yang amat mengenaskan atau suatu pengalaman hidup yang memedihkan hatinya, jikalau tidak, mana mungkin dia menunjukkan emosi yang be gitu besar dan mengerikan?" Tiba-tiba terdengar burung gagak berkaok. Kedua orang itu segera tersentak kembali dari lamunan masing masing. Suma Thian yu memperhatikan suasana malam yang mencekam sekeliling tempat sekejap, lalu ujarnya kepada siberewok berpena baja: "Saudara Tio, malam sudah semakin kelam, mari kita harus selesaikan pekerjaan yang paling penting" Maka kedua orang itupun menggunakan pedang masingmasing membuat liang lahat.... Tak selang berapa lama kemudian, mereka telah menyiapkan tiga belas buah liang lahat. Yaa, angka tiga belas, suatu angka yang di anggap membawa sia. Sambil membopong mayat-mayat rekannya yang telah kaku, satu persatu siberewok berpena baja memasukkan jenasah-jenasah tersebut ke dalam liang lahat, dalam keadaan demikian, dia tak dapat membendung rasa sedihnya lagi sehingga menangis tersedu-sedu. Manusia adalah mahkluk berperasaan, walaupun kedudukan si Berewok berpena baja dalam perusahaan Sik liong piaukiok amat tinggi, namun dia adalah seorang yang berjiwa terbuka, dalam waktu-waktu biasa dia tak pernah membedakan hubungan tingkat kedudukan, pergaulannya dengan para piausu itu amat akrab, sehingga bukan saja ia dicintai juga dihormati oleh semua orang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kini, mereka telah meninggalkan dunia ini, akan beristirahat untuk selamanya ditengah bukit yang terpencil dan jauh dari keramaian manusia, untuk selama-lamanya..... Tak heran kalau dia menangis semakin sedih setelah menyaksikan rekan-rekan senasib sependeritaanya seperi harus berpisah untuk selamanya. Siapa bilang enhiong tidak melelehkan air mata? Mesti mereka baru akan mengucurkan air mata bila keadaan sudah amat memedihkan. Kesedihan yang muncul dari dalam hati sanubari pun merupakan kesedihan yang paping mencekam perasaan, Suma Thian yu mulai terpengaruh juga oleh suasana yang mengharu itu sehingga tanpa terasa titik air mata pun turut jatuh berlinang. Pekerjaan akhirnya diselesaikan dalam suasana yang penuh kesedihan dan kedukaan... Ditengah bukit, dalam lapangan yang luas, kini telah bertambah dengan tiga belas buah kuburan baru, disanalah tiga belas orang piau su yang setia sampai mati beristirahat untuk selamanya. Suma Thian yu mendongakkan kepalanya memandang kegelapan malam yang semakin mencekam, kabut telah menyelimuti permukaan, pakaian merekapun telah basah, ia tahu fajar tak lama lagi akan menyingsing, buru-buru dia berjalan mendekati si Berewok berpena baja. Waktu itu si Berewok berpena baja berdiri termangu-mangu didepan kuburan sambil menahan rasa sedih yang luar biasa. Orang yang sedih selamanya memang paling gampang menaruh simpatik dan memahami kesedihan orang lain. Suma Thian yu menepuk bahu siberewok berpena baja pelan, lalu hiburnya dengan lembut: "Saudara Tio, harap kau tak usah bersedih hati lagi, sekalipun peristiwa ini terjadi diluat dugaan, janganlah kau bawa kesedihan menuju ke hal-hal yang negatip. Asal kita bisa melacak peristiwa ini sehingga duduknya perkara menjadi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jelas, dan kita pun bisa membalas kan dendam untuk mereka, aku yakin arwah sahabat-sahabat ini dialam baka pasti akan terhibur juga" Setelah mendengar kata-kata hiburan dari Suma Thian yu tersebut, si Berewok berpena baja Tio Ci hiu menghentikan isak tangisnya, sa hutnya kemudian dengan suara parau: Baik, selama Tio Ci hui masih hidup. aku pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk membunuh kawanan pembegal berkerudung itu untuk membalaskan dendan bagi ketiga belas saudara ini Sekalipun harus naik kebukit golok atau meyeberangi lautan minyak mendidih, aku Sama Thian yu pasti akan membantu dengan segala kemampuan yang kumiliki" Janji sianak muda itu dengan bersungguh sungguh. Nadanya selain tulus wajahnyapun serius, sama sekali tidak bersikap pura-pura. SiBerewok berpena baja Tio Ci hui merasa terharu sekali, dia tak menyangka kalau pemuda tersebut bukan saja amat membenci kejahatan juga suka membantu orang, dia bersyukur karena dalam usahanya membalas dendam dan merebut kembali barang kawalan yang dibegal, ia telah memperoleh bantuan dari seorang tokoh yang gagah dan lihay. Sehingga hal mana membuat hatinya yang sedih merasa agak terhibur juga, sambil menjura serunya. Terima kasih banyak atas bantuan siauhiap, selumnya aku Tio Ci hui atas nama seluruh anggota perusahaan Sin liong piaukiok mengu capkan banyak-banyak terima kasih kepadamu Aaah, saudara Tio terlalu sungkan, bagikmu persoalan semacam ini sudah merupakan suatu kewajiban" Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya lebij jauh: "Mari kita pergi! Fajar sudah hampir menyingsing, luka dalam yang saudara Tio derita baru baru sembuh, kau harus mendapat banyak waktu untuk beristirahat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si Berewok berpena baja Tio Ci hui manggut-manggut, dia mengambil kembali pena bajanya lalu memandang sekejap kearah tiga belas buah kuburan itu dengan termangu, akhirnya dia bergumam: "Saudara-saudaraku, beristirahatlah dengan tenang disini!" Sekalipun aku Tio Ci hui harus mengorbankan jiwa, badan harus hancur remuk, pasti aian membalaskan dendam untuk kalian! Selesai bergumam, bersama Suma Thian yu berangkatlah dia meninggalkan tempat itu. Angin dingin menghembus lewat mengibar ujung baju, suasana ditempat penjuru tampak gelap gulita. Inilah saat-saat menjelang rintangnya fajar. Bila fajar hampir menyingsing, kadangkala saat-saat terakhir itulah merupakan saat yang paling gelap.... Mereka berdua segera mencari sebuah gua untuk beristirahat, karena tubuh memang sudah penat, tak lama kemudian merekapun tertidur nyenyak sekali. Bangun dari tidurnya, sinar matahari sudah memancar masuk kedalam gua, buru-buru mereka berdua mengisi perut dengan rangsum sambil bersiap siap untuk melanjutkan perjalanan lagi. Terdengar Suma Thian yu berkata: Saudara Tio, mari kita berangkat! Baru saja ucapan terakhir diutarakan, tiba-tiba dari luar gua terdengar seseorang menegus sambil menyeringai menyeramkan. "Heehh.. heehh...heehh...tidak sukar kalau ingin pergi, tapi tinggalkan dulu pedang Kit hong kiam tersebut! Mendengar perkataan tersebut, Suma Thian yu maupun si Berewok berpena baja merasa tertegun, mereka heran kenapa kehadiran orang itu sama sekali tidak diketahui oleh mereka? Itu berarti orang tersebut tentu mempunyai aeal usul yang luar biasa. Tanpa terasa kedua orang itu bersama-sama berpaling kearah mana berasalnya suara tersebut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Didepan depan gua tampak berdiri seorang manusia aneh berbaju hitam yang mengenakan kain kerudung, sepasang matanya yang nampak dari luar memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan. Si Berewok berpena baja Tio Ci hui yang menjumpai kehadiran manusia berkerudung itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun segera bertindak lebih dulu, diam-diam ia menghimpun tenaga dalamnya lalu dengan gaya harimau lapar menerkam domba, sebuah pukulan dahsyat yang di sertai tenaga penuh langsung di ayunkan ke tubuh manusia aneh berkerudung itu. Serangan tersebut dilancarkan dengan mempergunakan segenap tenaga dalam yang dimiliki si Berewok berpena baja Tio Ci hui, maksudnya ingin membunuh, manusia aneh berkerudung hitam itu tertawa dingin, sepasang tangannya masih lurus kebawah dan sama sekali tidak menggubris atau pun berkelit kesamping. kalau dilihat dari sikapnya itu, dia seakan akan tak memandang sebelah matapun terhadap si Bere wok berpena baja. Waktu itu si Berewok berpena baja Tio Ci hui baru sembuh dari luka parahnya, melihat sikap lawannya yang begitu memandang hina, amarahnya kontan saja membara, api untuk membalas dendam membangkitkan suatu kekuatan besar dalam tubuhnya. Begitu serangan pertama belum berhasil, bagaikan seekor burung raksasa dia keluar dari gua tersebut. Pada saat yang bersamaan pula Suma Thian yu melompat keluar juga dari dalam gua. Si Berewok berpena baja Tio Ci hui belum mengalami keadaan seperti ini, sikap memandang rendah yang diperlihatkan manusia aneh berkerudung itu membuat amarahnya semakin membara, tampak rambutnya pada berdiri, tiba-tiba ia menerjang kedepan manusia aneh berkerudung itu, kemudian sepasang telapak tangannya didorong kedepan, sekali lagi tampak segulung angin pukulan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang termaha dahsyat menghantam atas tubuh manusia aneh berkerudung itu. Menyaksikan datangnya ancaman, manusia aneh berkerudung itu pun mengayunkan pula telapak tanganya untuk menyambut datangnya serangan tersebut, ketika dua gulung angin pukulan dahsyat saling bertemu satu sama lainnya, tiba-tiba saja....."Blaaamm suatu benturan dahsyat menimbulkan hembusan angin puyuh yang menerbangkan batu serta pasir. Sepasang bahu manusia aneh berkerudung itu tampak bergetar sedikit, ujung bajunya berkibar kencang, sebaliknya si Berewok berpena baja Tio Ci hui kena terhantam mundur sejauh tiga langkah dengan sempoyongan, dia bersusah payah sebelum berhasil berdiri tegak. Suma Thian yu yang menyaksikan jalannya pertarungan itu dari sisi arena dapat melihat keadaan tersebut dengan lebih jelas lagi, dia tahu ilmu silat yang dimiliki manusia aneh berkerudung itu masih setingkat lebih lihay dibandingkan dengan kepandaian silat yang dimiliki Tio Ci hui, diam-diam dia merasa gelisah. Begitu berhasil berdiri tegak, tiba tiba si Berewok berpena baja meloloskan senjata andalannya dari belakang punggung, tangan ka nannya diayunkan kedepan, pena dengan hembusan angin dahsyat segera meluncur kedepan menotok tubuh manusia aneh berkerudung tersebut, bentaknya dengan penuh kegusaran: "Pembegal yang tak tahu malu, serahkan nyawa anjingmu! Sejak kedua buah pukulannya gagal menimbulkan sesuatu kerugian bagi musuhnya, amarah dalam dada si Berewok berpena baja sudah berkobar, maka sekarang dia lantas mengembangkan ilmu pena Ji cap si si Thi pit hoat (dua puluh empat jurus ilmu pena baja) yang amat termashur itu dengan harapan bisa merobohkan musuhnya itu. Dalam suasana ini, rasa ingin menangnya membara amat dahsyat dalam dadanya, segenap perhatian maupun tenaganya tertuju kedepan, dia bertekad hendak mengalahkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

musuhnya, itulah sebabnya tenaga serangan yang dipergunakan pun amat besar. Mencorong sinar tajam dari balik mata manusia aneh berkerudung hitam itu, tampaknya dia sudah dapat menebak maksud hati siBerewok berpena baja tersebut, setelah tertawa seram tubuhnya melejit keudara untuk menghindarkan dari ancaman tersebut, kemudian dari udara sebuah pukulan dilancarkan keatas kepala Si Berewok berpena baja dengan jurus Hu im sip gwat (awan tebal menutupi rembulan). Bagaimanapun juga, si berewok berpena bajaTio ci hui memang tak malu disebut jagoan lihay didalam dunia persilatan, sudah belasan tahun lamanya dia melatih diri dalam permain baja tersebut, baik ilmu tenaga maupun dalam Ilmu tenaga luar telah berhasil mencapai puncak kesempurnaan. Maka begitu dilihatnya manusia aneh berkerudung hitam itu menerkam kebawah sambil melancarkan serangan, buruburu dia melompat keatas sambil melepaskan tusukan dengan pena bajanya. Berada ditengah udara, kekuatan manusia aneh berkerudung hitam itu sangat berkurang banyak, buru-buru dia pergunakan jurus To yu cian hui (membalikkan sayap terbang ke depan) buru-buru melayang tiga kaki ke depan---Begitu berhasil mendesak lawan, si Berewok berpena baja memutar pena ditangan kanannya membentuk lapisan bayangan senjata yang sangat tebal, sekali lagi dia menerjang kearah manusia aneh ber kerundung hitam tersebut. Dalam teori ilmu silat, yang menjadi faktor utama adalah mengendalikan musuhnya, maka setelah melayang turun kebawah, manusia aneh berkerundung hitam itu segera mengayunkan kembali tangannya berusaha untuk merebut posisi yang lebih menguntungkan. Jilid 6

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suma thian yu yang menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi arenapun tak berani bersikap santai waktu itu, dengan sorot mata yang tajam, dia mengawasi terus jalannya pertarungan dengan harapan andaikan siberewok berpena baja tak sanggup mempertahankan diri, maka dia akan membantu setiap saat. Dalam pada itu, pertempuran yang berlangsung ditengah arena sudah mencapai puncak keseruanya. Si Berewok berpena baja dengan mengandalkan pena bajanya memainkan serangkaian serangan berantai untuk mendesak lawannya, sedangkan manusia aneh berkerudung hitam pun memainkan sepasang telapak tangan kosongnya untuk menahan datangnya serangan pena lawan. Dalam waktn singkat, seluruh arena telah dipenuhi oleh bayangan manusia serta angin pukulan yang menderu deru, lima kaki di sekitar arena diliputi oleh debu dan pasir yang berterbangan memenuhi angkasa, pertarungan tersebut benar-benar merupakan suatu pertarung an yang jarang sekali dijumpai kehebatannya. Mendadak terdengar manusia aneh berkerudung hitam itu meraung gusar, sepasang telapak tangannya melancarkan serangkaian yang berantai, dalam waktu singkat dia sudah melepaskan tiga buah serangan dahsyat yang kesemuanya menggunakan jurus jurus mematikan, kontan saja si Berewok berpena baja kena di desak sampai mundur sejauh satu kaki lebih dari tempat semula. Mempergunakan kesempatan itu, si berewok berpena baja segera mundur tiga langkah dan kemudian ia menarik napas panjang-panjang danmenghimpun segenap tenaga dalam yang dilatihnya selama puluhan tahun ini keujung senjatanya. Begitu senjata pena baja itu digetarkan kembali ditengah udara, dalam dalam waktu seluruh angkasa seraya dilipati oleh angin puyuh yang dahsyat, bayangan pena yang berlapis-lapis hampir seluruhnya mengurung tubuh manusia aneh berkerudung hitam itu rapat-rapat.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Merasakan tenaga kurungan yang semakin besar menggencet tubuhnya, kemarahan manusia aneh itu semakin membara, tubuhnya segera melompat kedepan, tiba-tiba dengan suatu gerakan cepat tangannya menghantam kedepan dadanya si Berewok berpena baja dengan jurus Lip pei thay san (mencabut keluar bukit Thay san.) Segulung kekuatan yang maha dahsyat bagai hancurnya bendungan, langsung saja meluncur kedepan dengan kekuatan yang mengerikan. Menanti si Berewok berpena baja menyaksikan datangnya ancaman tersebut, untuk menghindar sudah tak sempat lagi, tanpa terasa dia menjerit kaget: "Habis sudah riwayatku kali ini!" Sepasang telapak tangannya segera didorong kedepan, sambil memejamkan mata dia menanti saat kematianrya tiba. Siapa tahu disaat yang keritis itulah tiba-tiba terdengar suara bentakan keras menggema yang pecahkan keheningan, segulung angin pukulan teah menyambar kedepan, lalu seorang pemuda tampan tahu- tahu sudah berada dihadapnnya. Si berewok berpena baja hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, seluruh badannya tahu-tahu sudah didorong oleh segulung tenaga lembut yang halus hingga tergeser lima depa kesamping, sementara tenaga pukulan lawan yang maha dahsyat itu sudah menyambar lwat sisi tubuhnya. Blaam terdengar benturan suara keras menggelegar memecahkan kesunyian, sebatang pohon siong yang berada dibelakangnya sudah tumbang keatas tanah. Si berewok berpena baja Tio Ci-hui menjadi amat terperanjat, mukanya pias seperti mayat, matanya terbelalak lebar dan mulutnya terngangga. Si berewok berpena baja Tio Ci-hui hampir tidak percaya dengan apa yang dilihat, ternyata orang yang mendorong tubuhnya kesamping dan menyelamatkan jiwanya tak lain adalah Suma Thian yu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tapi yang paling terperanjat bukan dia melainkan manusia aneh berkerudung hitam itu, dia percaya serangan yang dilancarkannya ba rusan sudah pasti dapat berhasil mengalahkan Tio Ci hui, siapa tahu dari tengah jalan telah muncul seorang Thia Kau kiai, bukan saja usahanya sia-sia belaka, dia sendiri malah kena tergetar mundur. Kontan saja seluruh hawa amarahnya dilampiaskan keatas tubuh Suma Thian yu, hawa pembunuhan dengan cepat menyelimuti wajahnya, dengan wajah penuh kegusaran teriaknya. "Bocah busuk, kau pandai sekali menyergap orang....... "Haaaa.....haaah......haaah, menyergap orang. Hmm, masih bisanya berkata begitu, untuk menjegal dirimu, buat apa mesti menggunakan cara main sergap?" Ucapan yang amat takabur ini kontan saja membuat si Berewok berpena baja menjadi terkesiap, matanya terbelalak lebar dan mengawasi Suma thian yu tanpa berkedip, dia kuatir sianak muda itu akan menderita kerugianbesar. Walaupun sudah dua kali nyawa si berewok berpena baja ditolong oleh Suma Thian yu, namun sebelum menyaksikan kelihayan dari anak muda tersebut dengan mata kepala sendiri, dia tak percaya kalau bocah tersebut memiliki kemampuan yang amat lihay. "Seorang bocah muda berusia enam tujuh belas tahun, berapa besarkah kemampuan yang bisa dimilikinya?" demikian dia berpikir. Tapi seringkali kenyataan bisa berbeda jauh dengan apa yang diduga dalam harinya. Seketika itu juga suasana dalam arena berubah menjadi luar biasa heningnya, inilah saat-saat terakhir menjelang berlangsungnya suatu badai yang amat dahsyat. Selama ini manusia aneh berkerudung hitam itu cuma membungkam diri dalam seribu bahasa, sementara sepasang matanya yang dingin bagaikan es mengawasi pedang Kit hong kiam yang tersoren dipunggung Suma Thian yu tanpa berkedip.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menyaksikan keadaan tersebut, Suma Thian yu segera memecahkan kesunyian itu lebih dulu, katanya: "Pencoleng berkerudung, tidak sulit jika kau menginginkan pedangku ini, cuma harus dilihat dulu apakah kau memiliki kemampuan tersebut, asal kau sanggup menangkan satu jurus dari sauya, pedang ini tanpa syarat akan kupersembahkan kepadamu, kalau tidak, hari ini sauya ingin merenggut pula selembar nyawamu. Menyinggung soal pedang Kit hong kiam, tanpa terasa arak muda itu terbayang kembali paman Wan nya yang dikasihi. Mendadak hawa amarah berkobar didalam dadanya, ia tak sanggup mengendalikan dirinya lagi, dengan mata melotot besar dia segera mencabut keluar pedang Kit hong kiamnya lalu diiringi suara gemerinciug nyaring, serentetan cahaya tajam kehijau-hijauan memancar ke empat penjuru. Melihat itu, tanpa terasa manusia aneh berkerudung itu berseru memuji: "Betul-betul sebilah pedang bagus" Berdiri dibawah sinar fajar dengan pedang terhumus, Suma Thian yu nampak sangat gagah dan penuh memancarkan sinar kewibawaan. Si Berewok berpena baja dapat menyaksikan raut wajah Suma Thian yu penuh diliputi hawa pemenuhan yang sangat tebal, tahukah dia kalau pemuda itusedang diliputi oleh amarah yang membara?. Tampaknya manusia aneh berkerudung hitam pun tahu kalau musuhnya bukan sembarangan musuh, dia tak berani memandang enteng lawannya, pelan-pelan pedangnya pun diloloskan keluar. Suatu pertarungan yang amat seru pun segera akan berlangsung didepan mata. Suma Thian yu yang muda dan berjiwa panas tak dapat menahan diri lebih dulu, dia berpekik gusar, tenaga dalamnya disalurkan ke dalam lengan kanan, kemudian pedangnya di putar dengan jurus sin liong jut im (naga sakti keluar dari mega) tampak selapis bunga pedang yang amat menyilaukan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mata langsung menusuk kearah tenggorokan manusia berkerudung tersebut..... "Serangan bagus!" seru manusia berkerudung itu sambil berkelit kesamping. Tangan kanannya dengan memainkan jurus Hek coa jut tong (ular hitam keluar dari guaj menyergap jalan darah Sian ki niat didalam tubuh Suma Thian yu, pedangnya dilancarkan bersamaan dengan gerakan tubuhnya. Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu dia sudah kehilangan bayangan dari Suma Thian yu. Sementara dia masih tertegun, mendadak dari sisi badannya terdengar seseorang tertawa nyaring. "Sauya berada distni! Betapa gusarnya manusia aneh berkerudung hitam itu karena merasa dipermainkan, sambil berpekik nyaring tubuhnya berputar arah, pedangnya dengan jurus Ya wan heng tok (sampan kecil menyeberang sungai) membabat pinggang Suma Thian yu. Belum kagi serangan itu tiba, Suma thian yu sudah merasakan desingan angin tajam yang menyambar tiba, ia tak berani berayal, denga ilmu langkah Ciok yiong koan poh ia menyelinap kesamping, memakai jurus Hoa sui hong siau (Bunga berterbangan mengikuti angin) ia menyelinap kebelakang tubuh manusia aneh berkerudung hitam itu sambil tertawa dingin. Padahal manusia aneh berkerudung hitam itu sudah merasa kalau serangannya dilancarkan dengan cepat dan tepat, baru saja ujung pedangnya hampir menusuk ditubuh lawan, tahu-tahu bayangan tubuhnya lenyap tak berbekas, disusul terdengar pihak lawan tertawa dingin dari belakang. Rasa kagetnya tak terlukiskan dengan kata, buru-buru pedangnya dimainkan dengan gencar. Sreet! Sreeet! Sreeet! Secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan kilat dengan jurus-jurus Kan kun to cuan (dua berputar balik), Khi koan tian hong (bianglala memancar diangkasa), Po im kian jit (menyingkap awan melihat matahati).

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tampak selapis cahaya bintang yang menyilaukan mata, disertai cahaya pedang yang berkilauan dengan cepat mengurung Suma thian yu dalam kepungan kabut pedang. Sekarang, Suma Thian yu baru merasakan kelihayan lawannya, buru buru ia salurkan ilmu Bu siang sia kang dari perguruannya kedalam permainan pedang, selapis bunga pedang diciptakan memenuhi angkasa, lalu disertai desingan angin tajam langsung menyapu kedepan. Setika itu juga tampaklah dua belah menari-nari diangkasa, cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, bunga pedang menyusul kemana-mana, pertarungan yang sedang berlangsung benar-benar merupakan suatupertarungan yang amat sengit. Selama ini si Berewok berpena baja Tio Ci hui hanya menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi arena, selama ini dia amat menguatir kan keselamatan jiwa Suma Thian yu, bahkan mengucurkan peluh dingin baginya. Akan tetapi setelah menyaksikan kelihayan yang dimiliki pendekar cilik ini, dia baru merasa terkejut bercampur girang, sekarang dia sudah tak bisa membedakan lagi mana yang Suma thian yu dan mana si manusia berkerudung. Kecuali dua sosok bayangan manusia yang saling menyambar dibalik kabut pedang yang tebal, ia hampir boleh dibilang tidak melihat apapun. Makin bertarung Surna Thian yu merasa makin perkasa, rasa ingin menang hampir menyelimuti seluruh benaknya. Mendadak dia berpekik nyaring, seluruh badannya melejit ketengah udara, pedang Kit hong kiamnya menciptakan selapis cahaya tajam yang amat menyilaukan mata, dengan cepatnya lapisan cahaya itu mengurung seluruh badan manusia berkerudung itu. Bagaikan bayangan iblis yang menempeli lawan, manusia berkerudung hitam itu selalu berputar kesana kemari, kekiri kekanan mengikuti gerakan dari Suma Thian yu. Yang seorang adalah manusia aneh berkerudung hitam, sedang yang lain adalah seorang pemuda berwajah tampan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saat itu mereka berdua sudah bertarung sampai titik keadaan yang paling kritis, terlihat lapisan cahaya perak berkilauan dan amat menusuk pandangan. Makin bertarung manusia aneh berkerudung hitam itu semakin ter peranjat, ia tidak nyangka kalau kepandaian silat yang dimiliki pemuda itu begitu dahsyat, pada hakekat merupakan musuh paling tangguh yang pernah dijumpainya, seketika itu juga mencorong sinar keraguan dari balik matanya. Diam-diam dia lantas berpikir. Bocah keparat ini bertarung hanya mengandalkan pedang Kit hong kiam yang memainkan ilmu pedaog Kit hong kiam hoat, sudah jelas dia merupakan murid dari Wan Liang. Kalau dilihat usianya yang muda, ternyata ilmu silatnya sepuluh kali lipat lebih hebat dari pada Kit hong kiam Wan Liang, bukankah kejadian ini sangat aneh? Hari ini, kalau ia tidak kubunuh, sudah pasti dikemudian hari akan jadi bibit bencana bagi diriku sendiri....." Berpikir sampai disitu, dia lantas berpendapat bahwa "menghajar ular tidak mati, bibit bencana tidak ada habisnya, siapa tahu kkarena pikirannya harus bercabang, permainan pedangnya menjadi lamban. Hal mana segera memberikan peluang baik sekali bagi Suma Thian yu. Dengan pedang Kit hong kiamnya digetarkan keras, tubuhnya melompat kedepan sambil melakukan sebuah sapuan kilat, selapis cahaya pedang memancar keempat penjuru, menanti manusia aneh berkerudung hitam itu sudah kena disambar lepas oleh cukilan pedang Suma Thian yu. Dengan cepat terlihatlah selembar wajah yang amat tampan sekali muncul dari balik kain tersebut. Peristiwa ini sama sekali diluar dugaan, mimpipun manusia aneh berkerudung hitam itu tak menyangka kalau gerakan lawan bisa secepat itu, buru-buru dia melancarkan sebuah bacokan kilat, kemudian sepasang bahunya bergerak dan lalu ia melejit ketengah-tengah udara, dalam beberapa lompatan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

saja dia sudah mencapai puluhan kaki dan lenyap dari pandangan mata. Tindakan yang sangat tiba-tiba ini diluar dugaan siapapun, ternyata manusia aneh berkerudung hitam itu bukan kabur lantaran kalah, melainkan justru karena kain kerudungnya kena disambar hingga terbuka. Panjang untuk diceritakan, cepat didalam kenyataaan, sejak terjadinya peristiwa kain kerudung yang tersingkap sampai tindak melarkan diri, semuanya dilakukan dalam waktu singkat, sehingga si Berewok berpena baja Tio Ci hui yang berdiri disisi arena tak sempat melihat jelas paras muka yang sebetulnya dari manusia berkerudung itu. Begitu berhasil menyingkap kain kerukdung lawan, tiba-tiba Suma Thian yu merasakan ada segulung tenaga pukulan yang menyergap tubuhnya, buru-buru dia miringkan kesamping untuk menghindarkan diri. Tampak serangan tersebut dilancarkan manusia berkerudung itu dalam keadaan gusar, angin pukulan itu sedemikian dahsyatnya se hingga sebatang pohon yang berada dibelakang Suma Thian yu terhajar sampai patah dan roboh ke tanah. Melihat kesempatan untuk membalas dendam segera akan berakhir, buru-buru Suma Thian yu berseru keras. "Kejar! Dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, dia langsung melejit ke depan. Si Berewok berpena baja yang menyaksikan rekannya melakukan pengejaran, diapun dengan perasaan bingung ikut melakukan penge jaran pula dari belakang. Ditengah pegunungan sepi, terlihatlah tiga sosok bayangan manusia secepat sambaran kilat melakukan kejar mengejar, bagaikan tiga gulung asap hitam, mereka meluncur cepat ke muka. Makin kabur manusia berkerudung itu semakin cepat, bagaikan kuda liar dia berlarian tiada hentinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sambil menggigit bibir, Suma Thian yu segera mengejardari belakangnya dengan ketat. Lima kaki, tiga kaki, satu kaki.... Tampaknya Suma Thian yuskan berhasil menyusul dibelakang tubuh manusia aneh berkerudung hitam itu, seakan akan mempunyai mata dipunggungnya, mendadak dia merentangkan sepasang tangannya, kemudian bagaikan seekor burung elang raksasa, dengan kecepatan luar biasa menerebos masuk kedalam hutan. Tanpa berpikir panjang lagi Suma Thian yu segera melejit ketengah udara dengan jurus Cing cian tui hong (Comberet hijau mengejar angin) diapun ikut mengejar kedalam hutan. Orang persilatan mempunyai pantangan yang besar, yakni bila bertemu hutan jangan. Namun Suma thian yu sama sekali tidak memperdulikan tantangan tersebut. Begitu masuk kedalam hutan, dia segera kehilangan jejak dan dari manusia aneh berkerudung hitamitu, untuk sesaat Suma Thian yu menjadi sangsi... Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras bergema dari dalam hutan, tiga titik cahaya disertai dengan angin tajam, dengan berpen car dalam posisi segitiga langsung meluncur ke arah Suma Thian yu. Suma thian yu adalah seorang anak mada yang belum berpengalaman, mimpipun dia tak menyangka kalau manusia berkerudung hitam itu bakal melancarkan serangan mematikan seperti ini, menanti dia sadar akan datangnya bahaya, tiga batang pian beracun telah muncul didepan mata. "Aaah...!" serunya kaget. Dalam keadaan yang amat berbahaya, Suma Thian yu segera ber tindak cepat, dengan gerakan Gi kiong ciu pon (menggeser posisi maju berlangkah) badannya melejit lima depa ke samping. Sreet! Sreet! Sreet! tiga batang pian terbang telah meluncur lewat dari sisi tubuhnya dan menghajar diatas dahan pohon disebelah kanan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau dibilang berbahaya, keadaan yang dihadapinya saat itu benar-benar berbayaha sekali, sedikit saja meleset bisa mengakibat kan pisau beracun menembusi ulu hatinya. Peluh dingin bercucuran membasahi seluruh badan Suma Thian yu, sejak dilahirkan dari rahim ibunya, belum pernah ia alami kejadian seperti ini, kontan saja amarahnya berkobar. Dengan cepat ia melejit keudara sambil menerjang kearan mana datangnya sergapan tersebut, berada ditengah udara dia berpekik pan jang, sepasang telapak tangannya didorong ke depan melepaskan sebuah pukulan dahsyat. Seketika itu juga terdengarlah suara gemuruh yang amat memekikkan telinga dalam hutan tersebut, lalu beberapa batang pohon siong bertumbangan ke atas tanah. Serangan yang dilancarkan Suma Thian yu dalam keadaan gusar ini telah disertakan tenaga Bu siang sin kang yang maha dahsyat, kehebatannya benar-benar mengerikan sekali. Tapi, suasana didalam hutan tersebut masih tetap senyap tak kedengaran sedikit suarapun, sementara bayangan tubuh dari manusia aneh berkerudung hitam itu sudah lenyap. Sambil mendepak-depakkan kakinya keatas tanah dengan gemas, Suma Thian yu bergumam: "Bajingan licik yang berotak anjing........hitung-hitung nasibmu memang lagi mujur!" Pada saat itulah, si Berewok berpena baja Tio Ci-hui telah sampai pula ditempat tujuan. Kepada rekannya yang baru tiba itu, Suma Thian yu menggelengkan kepalanya berulang kali, rasa kecewa terlintas di atas wajahnya. Sudah kabur!" dia bergumam sambil menghela napas. "Suma Hiante, tindakanmu melakukan pengejaran tadi sungguh mencemaskan hatiku! Tahukah kau, mereka adalah manusia-manusia laknat yang berhati busuk, perbuatan keji seperti apa saja dapat mereka lakukan, lain kali jika bertemu lagi dengan peristiwa semacam ini, kau harus berhati-hati lagi" Mendengar perkataan itu, Suma Thian yu segera teringat kembali dengan tindakan yang baru saja dilakukan, berbicara

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang sesungguh nya andaikata didalam hutan tadi benarbenar sudah disiapkan musuh dalam jumlah banyak, bisa jadi dia menderita kerugian yang amat besat. Maka dengan perasaan menyesal katanya: "Tadi aku hanya dibikin jengkel oleh keadaan hingga mata gelap, lain kali aku pasti akan bertindak lebih hati-hati lagi" Ketika berbicara sampai disitu, mendadak ia teringat akan sesuatu, segera serunya: Tio toako, sungguh tampan wajah orang itu Apa? Kau berhasil melihat jalan raut wajah orang itu? seru si Berewok berpena baja cepat. "Yaaa, walaupun hanya sikejap mata, namun aku dapat melihat jelas raut wajah orang itu. "Berapa besar usianya? "Antara empat puluh tahunan "Bagaimanakah tampangnya?" "Bermata jeli, beralis mata lentik, hidung mancung dan mulut lebar......." "Bermata jeli, beralis mata lenting, hidung mancung dan mulut lebar, mungkinkah dia? Si Berewok berpena baja Tio Cihui segera bergumam pelan. Siapakah dia? Tio toako.... buru-buru Suma Thian yu bertanya. "Aaaah, tak mungkin" kembali si Berewok berpena baja Tio Ci hui menggelengkan kepalanya berulang kali, mustahil bisa dia, yaa dia adalah seorang Kuncu, seorang lelaki sejati" "Siapakah dia Tio toako? Siapa yang kau maksudkan?" melihat si Berewok berpena baja bergumam tiada hentinya, timbullah perasaan ingin tahu di dalam hati Suma Thian yu. "Hiante, kau tak usah bertanya, aku hanya salah bicara saja. Orang itu bernama besar dan berkedudukan terhormat di dalam dunia persilatan, dia adalah seorang pemimpin dunia persilatan yang paling dihormati orang selama sepuluh tahun terakhir ini." Siapakah dia?" "Bi ku lun (Kun lun indah) Siau wi goan!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Oleh karena anak muda itu mendesak terus menerus, terpaksa si Berewok berpena baja ini harus menyebut juga nama tersebut. Tetapi selang beberapa saat kemudian, dia berkata lebih jauh: "Raut wajah Siau Tayhiap mirip sekali dengan orang kau jumpai itu, maka aku telah salah menduga akan dirinya. Siau Wi goan? Suatu nama yang amat dikenal...... sehabis mendengar perkataan dari si Berewok berpena baja, Suma Thian yu ber pikir terus tiada hentinya. Dia merasa seperti pernah mendengar nama itu, ia berusaha keras untuk menemukan siapa gerangan dia. Akhirnya dia teringat, bukankah nama tersebut adalah nama yang seringkali di sumpahi dan dimaki-maki paman Wan? Yaa, benar! Paman Wan malah pernah berkata begini: "Siau Wi goan wahai Siau Wi goan! Bagaimanapun licikmu, tak mungkin kau akan berhasil menemukan aku orang she Wan" Kejadian itu sudah berlangsung lama sekali, waktu itu ia dan paman Wan baru selesai membenahi gua mereka. Maka selapis hawa pembunuhan yang menakutkan dengan cepat menyelimuti wajah Suma Thian yu, darah panas segera mendidih dalam dadanya, iapun merasa menyesal. Ia menyesal mengapa membiarkan manusia aneh berkerudung hitam itu lolos dari pengejarannya, andaikata waktu itu dia berhasil membekuknya, bukankah semua kecurigaan tersebut dapat dipecahkan? "Suma hiante, mengapa kau?" Ketika si Berewok berpena baja menyaksikan paras muka Suma Tbian yu berubah aneh, dia segera ber tanya dengan wajah tercengang. Suma Thianyu sedang termenung sambil mutar otaknya keras-keras, cepat-cepat ia menjawab: "Aaaah, tidak apa-apa!" Masih sedih?" "Yaa, benar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia tak ingin membocorkan rahasia tersebut, terutama sekali rahasia antara paman Wan dengan Siau Wi-aoan. Tentu saja alasan yang terutama adalah karena dia belum memahami secara keseluruhan akan rahasia tersebut, ia kuatir tindakannya yang kelewat terburu-buru justru akan ditertawakan orang. Apa lagi kalau didengar dari ucapan si Berewok berpena baja Tio Cu hui terhadap Siau Wi goan mendekati rasa hormat yang berlebihan, dia merasa antipatik yang diperlihatkan bisa mencurigai orang itu, bahkan akan mempersulit usahanya untuk membongkar perbuatan jahat yang dilakukan Siau Wi goan. Si Berewok berpena baja Tio Ci bui belum lama berkenalan dengan Suma Thian yu, tentu saja dia tak dapat meraba jalan pikiran dari sianak muda itu. Dengan nada menghibur, dia lantas berkata: "Adikku, biarkan saja pencoleng itu kabur, lain kali bila kitasampai menemukannya kembali, jangan kita biarkan mereka lolos, mari kita pergi sekarang Suma thian yu segera menyarungkan kembali pedangnya kedalam sarung, kemudian ia memetik sekuntum bunga, mengendusnya pelan-pelan dan jalan mengikuti si berewok berpena baja. Bagian Ketujuh Perusahaan Sin Liong piaukiok terletak diujung jalan Heng yang dalam kota Heng ciu, bangunannya menempati areal tanah seluas puluhan hektar, dinding pekarangannya terbuat dari batu hijau, disisi pintu gerbang berdiri sepasang patung singa batu yang berat nya mencapai puluhan ribu kati. Setiap orang orang persilatan yang datang di kota Heng ciu, kebanyakan akan berkunjung keperusahan Sin liong piaukiok untuk menyambangi cong piauiaunya "Mo im sin liong (naga sakti penggosok awan) Wan Kiam Cu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seakan-akan siapa saja yang bisa berkunjung ketempat itu, maka sekeluarnya dari sana maka kedudukkannya akan terasa lebih tinggi dan terhormat... Hari itu, ketika cong piautau Mo im sin liong Wan kiam ciu sedang berancang-bincang dengan seorang tetamu yang datang ber kunjung, tiba-tiba dari luar pintu muncul anak buahnya yang segera memberi laporan: "Cong piautau, Tio piautau telah kembali! Mendengar si adik angkatnya telah pulang, Ko im sin liong Wan Kiam ciu merasa girang sekali, segera serunya: "Ehmm, sampaikan padanya setelah menyelesaikan urusan, suruh datang kemari, oh yaa, benar, beritahu kepadanya sepanjang jalan dia tentu amat lelah..... Mendengar perkataan itu, buru-buru orang itu berseru lagi: Lapor cong piautau, Tio piautau pulang sendirian, dia datang hanya ditemani orang pemuda. "Apa?" mendengar 'aporan itu, dengan terkejut Mo im sin liong Wan Kiamciu melompat bangun, tak sempat minta maaf kepada tamunya lagi, buru-buru dia lari keluar. Para ramunya yang menjumpai kejadian itu segera tahu kalau disana telah terjadi suatu peristiwa. Karena itulah mereka bersama sama ikut memburu keluar pintu gerbang. Begitu sampai didepan pintu, Mo im sin liong Wan Kiamcu saksikan adik angkatnya si Berewok berpena baja Tio Ci hui berdiri didepan pintu dengan wajah sedih dan murung, dibelakangnya mengi kuti seorang pemuda berwajah tampan. Buru-buru dia menegur: "Hiante, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Berjumpa kakak angkatnya, si Berewok berpena baja merasa bagaikan bertemu sanak sendiri, rasa sedih yang tibatiba mendekam perasaannya membuat ia tak bisa mngendalikan diri lagi. Ia segera memeluk saudara angkatnya dengan air mata berlinang, tak sepatah katapun yang bisa diucapkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat itu, Mo im sin liong Wan Kiam ciu segera berkata lagi: "Hiante, aku sudah tahu, apakah barang kawalanmu dibegal orang?" Si Berewok berpena baja manggut-manggut tanpa menjawab. "Tidak mengapa" hibur Wan Kiam ciu cepat, "sebagai seorang lelaki kita harus dapat menghadapi setiap perubahan, bisa diambil bisa pula dilepas, kau sudah lelah, beristirahatlah dulu, kemudian baru pelan-pelan menceritakan kisah tersebut kepadaku Cong piautau dari perusahaan Sin liong piau kiok memang seorang lelaki yang hebat dan berjiwa besar. Suma Thian yu yang berdiri dibelakang Si Berewok berpena baja Tio Ci hui diam-diam merasa kagum sekali. Pelan-pelan Si Berewok berpena baja mendongakkan kepalanya, lalu dengan mata merah katanya sedih. Toako, siaute tak becus, ternyata tak mampu melindungi barang kawalan tersebut, yang lebih tak beruntung lagi, mereka telah gugur semua ditangan musuh Dia lantas menceritakan semua kisah kejadian itu dengan jelas, ketika berbicara tentang ketiga belas saudara yang tewas, Tio Ci hui tak dapat membendung air matanya lagi. Selesai mendengar laporan tersebut, Mo im sin liong wan Kiam cie menunjukkan pula rasa sedih yang tebal, butiran air mata tampak mengembang dalam kelopak matanya, tapi dia masih berusaha keras untuk menahannya agar jangan meleleh keluar. Sampai lama kemudian, Wan Kiam ciu baru berkata. Hiante, aku telah membuatmu susah selama ini, cepatlah rawat lukamu, kau harus lebih mengutamakan kesehatan badanmu.... Kemudian sambil menjura ke arah Suma Thian yu, lanjutnya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Siauhiap, terima kasih banyak atas bantuanmu, siauhiap tentu merasa lelah bukan, silahkan mengikuti Tio hiante masuk kedalam untuk beristirahat!" Saking terharunya si Berewok berpena baja melelehkan air mata dengan deras, tentu saja dia rikuh untuk pergi beristirahat. Tiga belas saudara telah gugur, sepasukan kereta barang telah hilang....akhirnya ia tertunduk dengan sedih, titik air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya. Mo im sin liong Wan Kiam ciu tidak menghalanginya untuk menangis, dengan membawa perasaan sedih dia berjalan masuk keruang da lam, sebelum berlalu, pesannya kepada kasir. "Turunkan bendera perusahaan, naikkan bendera berduka cita! Bendera berduka cita merupakan bendera yang dinaikkan untuk mengenang para piaucu yang tewas, setiap kali ada yang jatuh korban dalam setiap perjalanan, cong piautau pasti akan memerintahkan sang kasir untuk mengganti bendera perusahaan dengan bendera segitiga pertanda duka cita Malam itu seluruh perusahaan berada dalam suasana hening, setelah cong piautau memerintahkan orang untuk mengatur para tamu untuk tidur, dia mengurung diri dalam kamar baca dan berjalan mondar mandir semalaman suntuk dengan perasaan sedih. Keesokan harinya, ketika Mo im sin liong Wan Kiam ciu sedang berada dalam lamat-lamat tidur, mendadak ia mendengar suara hiruk pikuk dari luar, Wan kiam ciu segera tersadar kembali dari tidurnya. Baru saja dia akan melangkah keluar dari kamar, seorang pegawainya telah lari mendekat sambil berteriak: Aduuh celaka... Cong.... Cong piautau panji duka cita dicuri orang.... Diam-diam Mo im sin liong Wan Kiam merasa tertegun, tapi dia masih berusahau untuk mempertahankan ketenangannya, sambil mengulapkan tangannya dia berseru:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Pergilah kau! Aku akan segera menyusul..." Sepeninggal pegawainya, Mo im sin liong Wan Kiam ciu mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang, pelbagai pikiran serasa berkecamuk didalam benaknya, ia tidak habis mengerti siapa gerangan manusia aneh berkerudung hitam itu? Mengapa pula mereka bermusuhan dengannya? Tatkala Mo im sin liong Wan Kiam ciu tiba ditengah lapangan, ditengah lapangan sudah penuh kerumunan ratusan orang pegawai dan puluhan orang piausu, diantaranya terdapat pula jago-jago persilatan yang kebetulan berkunjung kesana. Tatkala semua orang menyaksikan cong piautaunya munculkan diri, suasana menjadi hening, sorot mata semua orang ditujukan kearahnya dan setiap orang membungkam diri dalam seribu bahasa. Dengan senyuman getir menghiasi wajahnya, Mo im sin liong Wan kiam ciu pelan-pelan berjalan ketengah arena dan manggut-manggut kepada setiap orang yang dijumpainya. Saat itulah, seorang kakek munculkan diri dari kerumunan orang banyak dan berjalan menuju kehadapan Wan Kiam ciu, setelah memberi hormat katanya: "Lapor cong piautau, pagi tadi ketika Hui lam keluar hendak menaikkan bendera, tiba-tiba dijumpai panji duka cita itu sudah hilang, sementara diujung tiang bendera telah ditemukan sebatang panah, silahkan congpiau memeriksanya" Mendengar laporan itu, Mo im sin liong wan Kiam ciu mendongakkan kepalanya, benar juga, di pucuk tiang bendera itu telah sebatang anak panah. Melihat itu, katanya sambil tersenyum: Sim suhu, mundurlah dulu Menanti piausu yang bernama Sim Hui lam mundur, Mo im sin liong wan Kian ciu melakukan perondaan ke seluruh lapangan, kemudian baru berkata dengau suara lantang: "Saudara sekalian, sejak didirikan hingga kini perusahaan kita sudah bercokol selama dua puluh tahun lamanya, berkat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bantuan dari saudara sekalian, perusahaan kita baru berhasil mencapai sedikit kemajuan seperti hari ini, lohu yakin tak pernah menyalahi sobat sobat dari dunia persilatan, siapa tahu berapa hari berselang barang kawalan kita dibegal orang, kemarin panji duka cita juga dicuri orang, rejeki tidak tiba berbareng, bencana tidak jalan sendiri, jelas hal ini merupakan suatu pembicaraan dan suatu tantangan buat kita, yang patut disesalkan hingga kini, kita masih belum mengetahui dengan jelas siapa gerangan musuh kita tersebut." Ketika berbicara sampai disitu, mendadak terdengar seseorang berseru keras. Kalau begitu pembegal itu berkerudung?, Pelan-pelan Mo im sin liong wan Kian ciu mengangguk, sambungnya lebih jauh: "Benar! Mereka adalah sekawanan pencoleng berkerudung hitam, tanpa kita ketahui siap mereka, mana mungkin kita bisa turun tangan untuk melacaki jajaknya? Setelah lohu berpikir keras semalaman suntuk, akhirnya aku berhasil menarik dua kesimpulan" Berbicara sampai disini, dia berhenti sejenak untuk memandang orang-orang yang berada dihadapannya, setelah itu sambungnya lebih jauh: "Pertama kita tutup pintu perusahaan untuk mencari jejak pencoleng, kedua melanjutkan usaha ini sambil menantikan perubahan selanjutnya" begitu ucapan tersebut diutarakan, suasana menjadi gempar, masing masing saling berbisik membicarakan persoalan itu, ada yang setuju gegasan pertama ada pula yang menyetujui gagasan kedua, untuk sesaat suasana menjadi kacau balau tak karuan. Mo im sin liong sama sekali tidak melakukan tindak pencegahan apa-apa, sebab ia sendiripun tidak tahu harus memilih yang manakah diantara kedua macam gagasan tersebut. Ditengah suasana yang hiruk pikuk, mendadak terdengar seorang pemuda berseru dengan lantang:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Harap saudara sekalian sedikit tenang!" Suara yang menggeledek itu kontan saja membuat suasana dalam arena berubah menjadi tenang kembali, serentak semua orang berpaling kearah pemuda itu. Ternyata pemuda itu tak lain adalah Suma Thian yu yang diajak datang bersama si Berewok berpena baja Tio Cihui kemarin. Mo im sin liong Wan Kiam ciu memperhatikan Suma Thian yu sekejap, lalu tanyanya dengan suara lembut: "Siauhiap, apakah kau mempunyai suatu pendapat?" Suma Thian yu segera menjura, kemudian sambil menuding kearah tiang bendera itu katanya: Asal panah tersebut dapat kita ambil, rasanya tidak sulit untuk mengetahui siapakah musuh kita itu" Mendengar perkataan itu, Mo im sin liong wan Kiam ciu menjadi tertegun, ia mendongakkan kepalanya lalu membungkam dalam seribu bahasa. Perlu diketahui tiang bendera itu tingginya paling tidak mencapai dua puluhan kaki bukan suatu pekerjaan yang sudah untuk memanjat naik ke puncak tiang setinggi itu. Mendadak dari tengah arena berkumandang suara teguran yang amat merdu: "Siauhiap, apakah kau berniat untuk menggajak kami bergurau? Atau mentertawakan kami yang tak mampu naik ke atas?" Mendengar ucapan tersehat, Suma Thian yu segera berpaling, tapi dengan cepat ia menjadi tertegun. Ternyata dari tepi arena berjalan keluar seorang gadis berbaju hijau yang cantik rupawan, kulit tubuhnya putih halus, usianya enam belas tahun, mukanya bulat telur dengan hidung yang mancung, bibir yang kecil dan mata yang jeli. Boleh dibilang dia adalah seorane gadis yang cantik rupawan, membuat Suma Thian yu menjadi tertegun dan lupa untuk menjawab. Tiba-tiba terdengar Mo im sin liong Wan Kiam ciu menegur keras:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Anak Lan, jangan kurangajar!" Dengan cepat Suma Thian yu menjadi tersadar kembali, segera pikirnya: Ternyata dia adalah putri kesayangan dari Wan cong piautau, tak heran kalau kecantikannya bagaikan bidadari dari kahyangan" Maka dia lantas menjura kepada nona itu sembari berkata: "Nona telah salah paham, aku hnya bermaksud baik saja" "Hmmm! Maksud baik? nona itu menggigit bibirnya kencang kencang, "tolong tanya, dari mana kau bisa tahu kalau dengan mengambil panah tesebut maka kita akan mengetahui siapakah musuh kita itu? Aku hanya berpendapat demikian, karena..... Belum habis dia berkata, terdengar Mo im sin-Iiong telah menukas sambil tertawa. "Saudara sekalian, lupakan saja persoalan hari ini, apalagi kesempatan sebaik ini juga sukar ditemukan, mengapa tidak kita gunakan kesempatan ini untuk menggunakan suatu perlombaan? Secara tiba-tiba Mo im sin-Iiong Wan Kiam cui mengucapkan perkataan itu apalagi dalam suasana seperti ini. Kontan saja semua orang dibikin kebingungan setengah mati, semua orang tidak tahu rencana apakah yang terselip di balik kesemuanya itu? Setiap orang dengan wajah keheranan bersama-sama menunggu ia melanjutkan kembali kata-katanya. Menyaksikan semua orang merasa keheranan, Mo im sin liong Wan Kiam ciu segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahh.....haahh......haahh apakah kalian keheranan? Kalian pasti mengira lohu sedang mencari gara-gara dalam suasana seperti ini bukan? jangan curiga, ilmu silat memang melupakan suatu kepandaian yang harus dipacu untuk maju, mengapa kita tidak manfaatkan kesempatan ini untuk menyelenggarakan suatu perlombaan untuk memperebutkan panah? Selain sebagai hiburan juga untuk mengendorkan pikiran yang sudah penat dan lelah!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Bagus sekali! mendengar usul itu, semua orang segera bersorak sorai dengan gembira. Hanya siberewok berpena baja Tio Gi-hui seorang yang memandang Wan Kiam ciu sambil termangu-mangu, dia cukup mengetahui watak dari kakak angkatnya ini, mustahil dia bisa melakukan perbuatan semacam ini dalam suasana dan keadaan semacam ini, maka dalam hati kecilnya dia lantas berpikir: "Jangan jangan dia mencurigai Suma siaute? Kalau tidak, mungkin ia sudah mengetahui kalau ada musuh yang telah menyelundup dibalik kawanan manusia yang hadir sekarang? Si Berewok berpena baja Tio Gi-hui memang tak malu disebut sebagai seorang jago kawakan dalam dunia persilatan, ternyata apa yang dipikirkan Mo im sin liong Wan Kiam ciu telah memerintahkan pegawai pegawainya untuk membereskan lapangan, menyiapkan meja per jamuan dan memerintahkan koki untuk menyiapkan hidangan dan arak. Tak selang berapa saat kemudian, sekeliling lapangan sudah dipenuhi oleh meja kursi, yang tersisa hanyalah tanah lapang seluas lima kaki dengan tiang bendera itu sebagai pusatnya. Buru-buru Mo im sin liong mempersilahkan para tamu untuk duduk, sedangkan dia bersama putri kesayangannya duduk di meja utama disebelah timur. Suma Thian yu duduk bersama dengan si berewok berpena baja Tio Ci hui.... Setelah duduk, dengan suara lirih si Berewok berpena baja Tio Ci hui segera berbisik kepada Suma Thian yu: "Hiante, selama berada disini, berhati-hatilah dalam pembicaraan maupun gerak gerik "Kenapa?" tanya pemuda itu keheranan. "Kau harus tahu, kelewat menunjukkan kelihayanmu hanya akan menuncing rasa dengki orang lain" Si Berewok berpena baja Tio Ci hui hanya bisa berkata demikian, karena dia sendiripun tidak mengerti apa maksud yang sebenarnya dari kakak angkatnya itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah semua orang duduk dan hidangan di keluarkan, Mo im sin liong Wan Kiam ciu segera mengangkat cawannya sambil bangkit ber diri, kemudian kepada semua orang serunya; Saudara sekalian, mari kita keringkan secawan arak, perusahaan kami tak pernah menerima kunjungan kunjungan yang begitu banyak dari tamu-tamu agung seperti hari ini, adapun didalam peryelenggaran pertemuan ini, lohu selain ingin menyelenggaraan permaian perebutan anak panah, akupun ingin sekali menyaksikkan saudara sekalian bisa memberikan pertunjukan yang menarik." Ucapan tersebut mempunyai arti yang mendalam, beberapa orang diantara mereka yang berperasaan tajam segera dapat menangkap maksud lain dibalik ucapan tersebut, masingmasing lantas membicarakannya dengan suara berbisik-bisik. Selesai berkata, Mo im sim liong segera meneguk habis isi cawannya, kemudian memandang sekeliling tempat itu sambil menantikan reaksi. Dalam waktu singkat, dari meja sebelah barat telah berdiri seseorang, sambil menjura orang itu berseru: Cong piauiau, siauloji akan turun kearena paling dulu. Ternyata orang itu adalah piausu Sim Hui lam. Sambil menggulung bajunya dia menuju ketengah arena, setelah memberi hormat katanya: "Sobat darimanakah yang ingin memberi petunjuk kepadaku?" Sim Hui lam merupakan seorang piausu yang paling sombong dan tinggi hati dalam perusahaan tersebut, walaupun dia cuma seorang jagoan dari kelas dua, namun dihari-hari biasa dia sering membentak-bentak anak buahnya atau mendamprat anak buahnya dengan kata kasar, sebab itu banyak orang yang tak senang kepadanya. Sudah banyak tahun dia bekerja dalam perusahaan, tetapi belum pernah naik pangkat, maka begitu ada kesempatan untuk memamerkan kepandaiannya, tentu saja dia tak akan melepaskan kesempatan tersebut dengan begitu saja.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu sampai ditengah arena, semua orang segera berbisik membicarakan persoalan itu, sayang tak seorangpun yang menampakan diri. Melihat tiada orang yang menanggapi tantangannya itu, dia menjadi rikuh sendiri, dan akhirnya sambil menjura kepada Cong piautaunya dia berkata. Cong piautau, bagaimana kalau Hui lam mainkan serangkai ilmu pukulan saja untuk menghibur para tamu?" Belum sempat Mo im sin liong menjawab, sesorang telah melayang turun ketengah arena, kemudian sahutnya: "Tidak perlu, biar aku saja yang menemanimu bermain beberapa gebrakan....." Sim Hui lam segera berpaling, ternyata orang itu adalah seorang lelaki setengah umur yang berbaju perlente, sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau dia adalah tamu yang berkunjung semalam, buru buru dia menjura sambil bertanya. "Tolong tanya siapakah nama saudara? Kalau kau bersedia untuk bermain beberapa geb rakan, hal ini lebih baik lagi" Lelaki setengah umur itu menjura untuk membalas hormat, lalu sahutnya. Aku she Kang bernama Pun san, orang persilatan menyebutku sebagai Cha gi sui (tikus bersayap), silahkan Sim suhu memberi petunjuk" Kalau begitu maaf..." kata Sim Hui lam sambil menjura. Dengan jurus Hek hou tou sim (harimau hitam mencuri hati) mendadak kepalan kanannya disodokkan ke perut si Tikus bersayap Kang Pun san. Kang Pun san tertawa nyaring, dengan cepat dia memutar badannya menghindar, kemudian dengan jurus Hay see sian sian (membunuh ular didasar laut) ia balas menumbuk jalan darah Tay yang hiat ditubuh Sim Hui lam. Bagaimanapun juga kalau orang orang dari kelas dua yang sedang melakukan pertunjukan, pertarungan mereka meski nampaknya tegang dan seru, padahal bagi orang yang ahli, pertarungan itu ibaratnya perkelahian anak kecil sedikitpun tidak menarik hati.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wan Pek lan, putri kesayangan Mo im sin liong wan Kiam ciu yang berada disamping ayahnya segera tertawa, serunya. Huuh... .pada hekekatnya seperti tombak melawan tombak mainan, sama sekali tak ada gunanya, ayah! Cepat suruh mereka berhenti, jangan membuat perusahaan kita betul-betul sampai kehilangan muka." Baru saja ucapan gadis tersebut selesai diucapkan, mendadak terdengar Sim Hui lam yang berada ditengah arena menjerit kesaki tan: "Aduuuuh......" Kemudian sambil memegangi perut sendiri, tubuhnya roboh ketanah, mukanya pucat dan peluh dingin jatuh bercucuran dengan derasnya. Si tikus bersayap Kang Pun san tertawa tergelak-gelak seraya bsrseru: "Maaf, maaf......!" "Bagaikan seorang pemenang yang hebat, dia berdiri ditengah arena dengan kepala di angkat dada dibusungkan, tampaknya seperti lagi menunggu orang kedua terjun kearena. Sikap kekanak-kanakan semacam itu sungguh menggelikan sekali. Agak mendongkol juga Wan Pek lan menjumpai sikap orang tua itu, buru-buru serunya kepada ayahnya: Ayah, bagaimana kalau Lan ji yang turun kearena untuk membereskan dia....? "Baik!" sahut Mo im sin liong Wan Kiam ciu sambil mengangguk, "cuma ingat, pertarungan ini hanya terbatas sampai saling menutul, jangan sampai membuat kesalahan dengan tamu." Wan Pek lan bersorak gembira, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia melesat ketengah udara, kemudian bagaikan burung merak membentangkan bulu-bulunya, dia melayang turun ditengah arena.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Gerakan tubuhnya indah dan lincah, segera disambut oleh para jago dengan tempik sorak yang gegap gempita. Mo im sin liong Wan Kiam ciu yang menyaksikan gerakan tubuh puterinya amat indah sehingga mendapat pujian dan tepuk tangan orang banyak, dalam hatinya merasa girang sekali, sepasang matanya sampai menyipit karena senyuman yang kelewat tebal diwajahnya, lama sekali mulutnya yang tertawa belum juga dirapatkan. Dengan gerakan Kim ki tok lip (ayam emas berdiri disatu kaki), Wan Pek lan berdiri dingin arena, kemudian sambil tertawa dia berkata kepada si Tikus bersayap Kang Pun san: "Kang tayhiap, boanpwee ingin sekali memohon petunjuk beberapa jurus darimu, harap tayhiap suka banyak mencari petunjuk" Semenjak menyaksikan ilmu meringankan tubuh nona Wan yang lincah dan cepat tadi, diam-diam si Tikus bersayap Kang Pun san telah merasa gelisah sekali, terutama setelah mendapat tantangan, diam diam dia mengeluh didalam hati. Tapi, dengan watak Kang Pun san yang sombong, takabur dan berlagak sok tentu saja tak mungkin baginya untuk mengundurkan diri dengan ketakutan, bagaimanapun juga, dia harus menghadapi kenyataan tersebut sambil menggertak gigi. Maka setelah balas memberi hormat, dia menyambut dengan suara agak tergagap. Aku orang she Kang beruntung dapat berkenalan dengan nona, kejadian ini benar-benar merupakan suatu keberuntungan buat aku orang she Kang...." Sembari berkata, diapun memasang kuda-kuda yang rendah dengan sepasang kepalan disiapkan didepan dada, agaknya dia sudah bersiap siaga menghadapi lawan. Sesungguhnya nona Wan merasa muak sekali terhadap kawanan manusia yang sok berjual lagak seperti ini, melihat sikap lawan, dia sengaja berdiri seenaknya sambil berkata dengan suara dingin. "Silahkan!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si Tikus bersayap Kang Pun san pun merasa amat mendongkol menyaksikan sikap menghina dari nona Wan, dengan perasaan marah yang berkabar dia berseru pula. Maaf aku orang she Kang akan menyerang dulu" Dengam jurus Ji yan jut ciau (burung walet keluar sarang), kepalan tangan kiri menekan kedada lawan, sementara tangan kanan mem babat payudaranya. Bertarung melawan orang, terutama seorang pria berhadapan dengan wanita, maka menyerang payudara anak gadis merupakan suatu pantangan yang besar. Pada dasarnya Kang Pun snn cuma seorang manusia kelas tiga, lagi pula jarang sekali berkelana didalam duuia persilatan, dalam gelisahnya ia sudah melupakan pantangan tersebut. Tapi kawanan jago berpengalaman yang menyaksikan kejadian itu, kontan saja menjadi marah-marah sambil menyumpah. Terlebih-lebih nona Wan sendiri, kemarahannya kontan memuncak, sepasang matanya mengawasi ancaman tersebut lekat-lekat, kemudian secara tiba-tiba ia membentak keras: Roboh kau! Tampak sepasang lengannya diayunkan kemuka secepat sambaran petir, kontan saja si tikus bersayap seakan-akan benar-benar be tumbuh sayapnya, seluruh badannya mencelat sejauh satu setengah kaki lalu...."Buk!" badan nya terjatuh keras keras diatas tanah. Bagaikan anjing budukan yang baru terserang penyakit parah, sampai lama sekali ia belum juga bisa merangkak bangun. Tempik sorak yang gegap gempita kembali berkumandang diseluruh angkasa, ditengah sorak sorai tersebut, nona Wan menjura ke empat penjuru, lalu mengulumkamkan senyuman manis dan merayu....... Pada saat itulah, mendadak terdengar suara panjang yang menyakitkan telinga menggema dari meja sebelah barat, menyusul kemudian tampak seseorang menampakkan diri dengan berjumpalitan ditengah udara, kemudian meayang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

turun tepat lima enam langkah dihadapan nona Wan. Nona Wan mencoba untuk memperhatikan pendatang itu, ternyata dia adalah seorang lelaki berusia tiga puluh tahun, berperawakan setinggi enam depa, memelihara jenggot hitam dan berdandan sebagai Busu, sebiiah pedang tersoren dipunggungnya. Begitu turun ke arena, dia segera meujura sambil memperkenalkan namanya: "Aku adalah Ban Hoan kiam (pedang selaksa bunga) Tan Sim dari Thiam cong pay, sengaja datang untuk memohon petunjuk dari nona." Ketika Nona Wan menyaksikan potongan wajah orang ini tidak memuakkan, rasa mendongkolnya seketika hilang separuh, tapi begitu mendengar orang itu menggunakan nama Thiam cong pay untuk menakut nakuti orang, seketika itu juga hatinya jadi tak senang kembali, segera tanyanya dengan cepat: "Kau hendak beradu senjata? Ataukah beradu tangan kosong belaka?" "Kedua duanya sama saja" sahut Ban hoa kiam Tan Sim dari Thiam cong pay sambii tersenyum, "toh tujuan dari pertandingan silat yang di selenggarakan ayahmu hari ini hanya bertujuan untuk menghibur hati, aku lihat lebih baik kita beradu tangan saja" Mendengar ucapan tersebut nona Wan termenung sejenak, dan baru berkata: "Sudah lama kudengar pihak Thiam cong pay termashur di dunia persilatan karena ilmu pedangnya, lama sudah boanpwe mengagumi hal itu, apalagi kesempatan macam ini jarang kita jumpai, oleh karena itu boanpwe berharap bisa meminta petunjuk dalam ilmu pedangnya saja, harap Tan tayhiap sudi memberi muka padaku" Ban hoa kiam Tan Sim adalah adik seperguruan dari It ci hoa kiam (pedang satu huruf bunga) Yu Liang Gi, wataknya memang tidak menentu terutama sifat ingin menang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar sanjungan dari nona Wan, hatinya menjadi gembira, paras mukanya ikut pula berubah-ubah, segera sahutnya: "Senjata tak bermata, seandainya nona terjadi apa apa......." Tidak menunggu dia menyelesaikan kata-katanya, dengan cepat nona Wan berseru kembali: "Dalam suatu pertarungan, tak urung kedua belah pihak mungkin akan menderita luka, jika boanpwee sampai menderita cidera, hal itu merupakan kesalahanku sendiri yang belajar silat tak becus, mana mungkin aku bakal menyalahkan Tan tayhiap? Harap kau jangan menampik keinginanku ini." Ucapan dari nona Wan itu amat tepat dan beralasan sekali, karena sehabis mendengar ucapan tersebut, Ban hoa kiam Tan Sim segera berpaling kearah Mo im sin liong Wan Kian ciu, Wan cong piautau seperti meminta persetujuannya. Tentu saja Wan Kiam ciu segera manggut-manggut sambil tersenyum tanda setuju. Melihat Mo im sin liong telah memberikan persetujuannya, pelan-pelan Ban hoa kiam Tan Sim meloloskan pedang nya dari sarung. "Criiing!" berbareng dengan dilolosnya senjata tersebut, tampak cahaya putih memancar Keempat penjuru dan amat menyilaukan mata. Melihat itu, serentak semua orang berteriak memuji. "Sebilah pedang bagus! Ban hoa kiam Tan Sim makin gembira hatinya karena dipuji orang banyak, pedangnya segera digetarkan ketengah udara menciptakan selapis cahaya pedang yang amat tebal, tapi sekejap mata kemudian kabut pedang itu tahu-tahu lenyap tak berbekas. Sekali lagi para jago yang menyaksikan demonstrasi itu bersorak sorai memberikan tepuk tangan yang ramai, kesemuanya ini membuat Ban hoa kiam Tan Sim merasa senang sekali. Nono Wan sendiri hanya meloloskan pedangnya dengan suatu gerakan yang sederhana, kemudian sambil

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggenggam pedangnya ia turut menikmati demonstrasi Ban hoa kiam Tam Sim yang sedang kegirangan itu. Dalam nada itu, Suma Thian ya yang duduk disamping Si pena baja bercambang Tio Ci hui bertanya dengan suara lirih: Tio toako, bagai manakah kepandaian ilmu pedang yang dimiliki nona Wan..? "Pertunjukan bagus segera akan berlangsung, hiante mengapa kau mesti terburu napsu?" sahut sipena baja bercambang Tio Ci hui dengan suara lirih. Kontan saja Suma Thian yu merasakan wajahnya berubah menjadi merah padam dan panas sekali, buru-buru dia mengalihkan kembali perhatiannya ketengah arena. Si pena baja bercambang Tio Ci hui melirik sekejap kearah sipemuda itu, kemudian tertawa: Orang bilang: Cinta yang mendalam, membuat perhatian semakin menebal. Tindakan Suma Thian yu yg begitu menaruh perhatian terhadap nona Wan kelihatan amat menyolok, mungkinkah secara diam-diam sianak muda itu telah jatuh cinta kepada sinona? Tidak! Perlu diketahui, partai Thiam cong pay ketika itu amat termashur karena ilmu pedangnya yang lihay, terutama beberapa puluh tahun belakangan ini, boleh dibilang banyak sekali jago lihay dari pihak Thiam cong pay yang bermunculan, diantaranya nama It ci hoa kiam Yu Liang gi paling termashur. Oleh karena itu, Suma Thian yu segera menarik kesimpulan kalau adik seperguruan dari Yu Liang gi ini pastilah seorang jago yang cu kup lihay pula, padahal nona Wan begitu lemah gemulai, mungkinkah dia sanggup menghadapi kelihayan dari seorang jago pedang kenamaan? Sementara itu pertarungan ditengah arena sudah mulai berkobar, nona Wan dengan menggunakan jurus Cay hong tian ci (burung hong mementang sayap) melepaskan sebuah tusukan mendatar keatas jalan daran Hoa kay hoat di tubuh Ban hoa kiam Tan Sim.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ban hoa kiam Tan Sim sebagai seorang jagoan dari Thiam cong pay, tentu saja bukannya manusia sembarangan, melihat datangnya ancaman tersebut, ia segera tertawa dingin. Jilid 7 : Dewi burung hong Wan Pek lan SUATU SERANGAN yang amat baik!" Mendadak kaki kanannya mundur kebelakang lalu menyelinap kesamping meloloskan diri dari tusukan lawan, kemudian pedangnya dengan jurus Bei lui cut hong (bunga mawar baru mekar) pedangnya secepat sambaran petir menusuk jalan darah Ki kiat dan Kian li hiat ditubuh nona Wan....... Dia lincah, ternyata nona Wan lebih lincah dia cepat, nona Wan jauh lebih cepat lagi. Perlu dlketahui, jurus serangan pertama dilancarkan nona Wan tersebut pada hakekatnya merupakan suatu pancingan terhadap mu suhnya, maka sewaktu musuhnya beikelit, tibatiba ujung pedangnya berputar memainkan jurus Ji lay ciang tiau (Ji lay menaklukkan rajawali) untuk menusuk ketubuh lawan secepat kilat. "Weeesss.... tahu-tahu ujung pedang itu sudah menusuk ke arah tenggorokan Tan Sim. Melihat datangnya ancaman tersebut, mau tak mau Ban hoa Kiam Tan Sim bermandi peluh dingin juga karena terperanjat. Sungguh hebat manusia yang bernama Tan Sim ini, buruburu dia menggunakan gerakan jembatan gantung untuk menjatuhkan diri ke belakang, kemudian sambil menarik perutnya sambil melompat bangun pedangnya menggunakan jurus Seng kay tu jin (putik bunga baru me kar) secara beruntun melepaskan tiga buah serangan berantai. Sreeeet! Sreeeeet! Sreeeet!" angin serangan yang tajam bagaikan amukan ombak samudra serentak menggulung ke atas tubuh nona Wan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sekalipun nona Wan merupakan seorang ahli silat, toh dia merasa tak tahan juga menghadapi serangan lawan yang beruntun, cepat-cepat dia mundur sejauh empat langkah ke belakang untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut. Tapi dengan terjadinya peristiwa ini, maka hal tersebut segera membangkitkan pula perasaan ingin menang didalam hati nona Wan. Sebagai putri kesayangan cong piautau, tentu saja nona itu merasa kejadian yang baru di alaminya merupakan suatu kejadian yang amat memalukan, maka dia bertekad untuk merebut kembali keadaan tersebut dari lawannya. Terdengar gadis itu berpekik nyaring, lalu pedangnya menggunakan gerakan Po hong pat ta (angin puyuh meryapu delapan penjuru) dan tubuhnya menggunakan gerakan Hwesio hong luo liu (angin puyuh menggoyangkan liu) segera meneroros masuk kedalam pertahanan lawan, setelah itu secara beruntun dia lancarkan empat buah serangan berantai, serangan demi serangan, jurus demi jurus dilancarkan secara gencar dan amat dahsyat. Ban hoa kiam Tan Sim hanya merasakan cahaya pedang yang berada didepan matanya amat menyilaukan mata dan desingan angin dingin menyayat badan, untuk sesaat dia menjadi gugup dan tak sempat melihat jelas ancaman lawan, serta merta dia melompat mundur kebelakang untuk berusaha menghindarkan diri dengan, tindakannya itu dia justeru terjebak kedalam perangkap nona Wan, mendadak terdengar nona Wan berpekik nyaring, ujung bajunya berkibar terhembus angin, secepat kilat pedangnya menusuk ke tubuh lawan. Selama hidup belum pernah Ban hoa kiam Tan Sim menyaksikan gerakan tubuh secepat ini, menanti dia sadar kalau nana Wan sedang menerjang tiba, waktu sudah terlambat. Dalam keadaan begini, dia segera terpekik nyaring. "Mampus aku kali ini!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Belum habis teriakan itu bergema, terdengar suara baju yang robek kemudian sirapnya cahanya pedang Nona Win telah berdiri ditengah arena dengan senyum dikulum. "Maaf, maaf!" katanya. Ban hoa kiam Tan Sim masih saja berdiri dengan wajah kebingungan, sampai-sampai pakaian bagian dadanya yang robek memanjangpun sama sekali tidak dirasakan olehnya, sungguh mengenaskan sekali keadaannya. Menanti semua jago mentertawakannya, Ban hoa kiam Tan Sim baru tahu kalau baju bagian dadanya sudah robek, tentu saja rasa malunya bukan alang kepalang. Dalam keadaan begini, setebal tebalnya muka, diapun merasa rikuh untuk tinggal disitu lebih lama lagi, terpaksa sambil menjura katatanya : "Ilmu pedang yang nona miliki sungguh hebat sekali, aku orang she Tan benar-benar merasa kagum sekali, dikemudian hari bila ada kesempatan lagi aku pasti akan memohon petunjuk lebih jauh, maaf, aku mohon diri lebih dulu! Tanpa memberi hormat lagi kepada semua orang, dia segera membalikkan badan dan berlalu dari sana. Kepergian Ban hoa kiam Tan Sim dalam ke adaan gusar sekarang, pada akhirnya akan menimbulkan banyak sekali halhal yang tak di inginkan, cuma kesemuanya itu terjadi dikemudian hari.... Sementara itu, Nona Wan merasa girang sekali setelah secara beruntun berhasil menangkan dua orang jago, baru saja dia akan meng gunakan kesempatan itu untuk mundur kembali ke tempat semula, mendadak ia mendengar ayahnya sedang berbisik dengan menggunakan ilmu menyampaikan suaranya: "Lan-ji, sekarang kau boleh mengumumkan permainan lain yang lebih bermutu!" Setelah mendengar peringatan dari ayahnya lewat ilmu menyampaikan suara, nona Wan baru teringat kembali dengan tujuan yang terutama dari ayahnya sewaktu menyelenggarakan pertemuan ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka dia lantas menuju kembali ketengah arena dan menjura keempat penjuru, setelah itu katanya: "Cianpwee sekalian, tadi ada seorang tamu yang menemukan diatas tiang bendera terdapat sebatang anak panah tersebut sebagai bahan permainan, mari kita lihat siapa yang dapat mengambil turun anak panah tersebut, tentu saja dia pula pemenangnya, dan sebagai pemenang tentu saja ada hadiahnya" Selesai berkaca dia memandang sekejap lagi sekeliling arena, kemudian melanjurkan; "Cianpwe manakah yang hendak mendemonstrasikan ilmu meringankan tubuhnya paling dulu?" Seraya berkata dia lantas mengundurkan diri ke samping. Pada saat itulah, si Pena baja bercambang Tio Ci hui berbisik lirih kesisi Suma thian yu. "Hiante, lebih baik dapat mempertahankan ketenanganmu sambil menunggu terjadinya segala perubahan" Mengapa?" tanya Suma Thian yu keheranan. "Pokoknya asal kau turuti perkataanku, hal ini tak bakal salah lagi, bagaimanakah hasil dari peristiwa ini, kau akan segera mengetahui dengan jelas "Apakah Wan cong piautau mempunyai suatu rencana?" "Sett.. jangan keras keras" buru-buru Tio Ci hui mencegahnya berbicara lebih jauh. Semenjak nona Wan mengemukakan usulnya, hingga kini masih belum nampak ada seorang manusiapun yang menempakkan diri, agaknya semua orang tidak berani menunjukkan kejelekannya. Padahal berbicara sebenarnya, untuk mencapai tiang bendera setinggi ini, seandainya seseorang tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang tiada taranya di dunia ini, mustahil hal tersebut dapat dilakukan olehnya..." Melihat tiada orang yang maju, Nona Wan merasa girang sekali, buru-buru serunya dengan lantang. "Kalian kelewat sungkan dan terlalu memandang luar biasa persoalan begini saja! Biar boanpwe mendemontrasikan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kejelekan lebih dulu seandainya gagal, barulah mohon cianpwe sekalian sudi mewakiliku Seraya berkata dia lantas membetulkan pakaiannya sambil bersiap sedia melakukan lompatan. Perlu diketahui, sejak kecil nona Wan sudah mendapat didikan dari ilmu ayahnya Mo im-sin liong untuk mendalami ilmu silat maupun ilmu meringankan tubuh, kepandaian yang dimilikinya waktu itu boleh dibilang sudah mencapai ke tingkatan yang amat sempurna. Selama ini Mo im sio liong wan kiam ciu memang termashur didalam dunia persilatan ilmu pukulan Hu mo ciang hoat serta ilmu meringankan tubuh Mo im sin hoat yang luar biasa. Kata orang begitu ayahnya begitu pula anak nya. Sejak kecil nona Wan sudah amat gemar mempelajari ilmu merinuankan tubuh, ditambah lagi ramainya bakatnya bagus dan otaknya memang encer, maka kemajuan yang diperolehnya boleh dibilang cepat sekali. Itulah sebabnya orang menghormatinya sebagai Bi hong siancu (Dewi burung hong cantik) Tampaknya gadis itu meloloskan pedangnya dan mengencangkan ikatan tali pinggangnya kemudian setelah bersiap menghimpun tenaga dia menjejakan kakinya keatas tanuh dan meluncur bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dengrn gerakan Ii hong cong thian (burung bangau menerjang angkasa). Sekali lompatan, tubuhnya telah mencapai belasan kaki tinggi nya, ketika gerakannya sudah hampir berhenti, mendadak sepasang kakinya menyambar tiang bendera tersebut, kemudian dengan meminjam tenaga pantulan tersebut badannya melayang dua kaki lagi, kini tinggal lima kaki lagi untuk mencapai puncak tiang bendera tersebut. Sementara itu tempik sorak dan sorak-sorai yang gegap gempita telah berkumandang dari bawah, bahkan adapula hadirin yang sudah bangkit dari tempat duduknya sambil memuji.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dibawah tempik sorak yang gegap gempita, tubuh nona Wan melompat naik satu kaki lagi. Sayang pada saat itulah hawa murni dalam pusarnya habis terpakai, kecuali sepasang tangan nya segera menyambar tiang bendera itu dan melanjutkan dengan jalan merangkak, tiada cara lain lagi bagi nona itu untuk melanjutkan usahanya untuk mencapai puncak tiang bendera dan mengambil turun panah tersebut. Beratus-ratus pasang mata para jago yang berada dibawah tiang bendera segera berdebar keras, semua orang merasa tegang dan bersama sama mengikuti gerak gerik si nona itu Sayang nona Wan tidak melakukan hal itu, mendadak dia berjumpalitan dan meluncur lagi kebawah dengan kepala dibawah kaki diatas. Beberapa orang diantara jago yang bernyali kecil segera berteriak kaget. "Oooooh, berbahaya...! Siapa tahu baru saja jeritan itu dilontarkan nona Wan telah berjumpalitan kembali dengan kaki dibawah kepala diatas, dengan selamat melayang turun kembali ke tanah tanpa menimbulkan sedikit suarapun. Meski tugasnya tak terselesaikan, namun perbuatannya itu mendapatkan pujian dan tepuk tangan yang ramai. Bi hong siancu Wan Pek lan segera menju kepada para hadirin dengan wajah tersipu-sipu, kemudian mengundurkan diri ke tempat duduknya semula. Setelah menghibur putrinya, pelan-pelan Mo im sin liong wan Kiam ciu bangkit meninggalkan tempat duduk, kemudian berjalan menuju ke tengah arena. Seketika itu juga suasana dalam arena menjadi hening dan sepi, karena semua orang mengira Mo ini sin liong wan Kiam ciu hendak turun tangan sendiri, maka seluruh perhatian orang tertuju kepadanya. Ada diantara mereka yang belum pernah menyaksikan kelihayan ilmu silat Wan congpiau tau, segera timbul harapan dapat menyaksikan kelihayan jagoan tersebut

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mo im sin hong wan Kiam ciu memperhatikan sekejap sekeliling arena, lalu dengan suara dalam dan berat ujarnya. "Saudara sekalian, kamu semua adalah sahabat karib aku Wan Kiam ciu, karena itu lebih baik akupun berbicara secara terus terang. Berapa hari berselang, barang barang kawalan dari perusahaan kami telah dibegal orang, semalam kantor kamipun kemasukan orang, dua peristiwa yang memalukan ini boleh dibilang baru pertama kali ini dialami oleh perusahaan kami, sudah beberapa kali aku memutar otak untuk mencari tahu sebab kesalahanku ini tak aku yakin menyalahi sahabat dari manapun, oleh karena itu kurasa dibalik kesemuanya ini tentu ada hal-hal yang tak beres Berbicara sampai disitu dia berhenti sebentar, pelan-pelan serot matanya dialihkan kepada wajah Suma thian yu, kemudian kemudian sambungnya: Aku rasa orang yang melakukan pembegalan itu sudah pasti teman baru dari dunia persilatan, kalau tidak siapa pula yang berani menyusahkan aku orang she Wan? Untung saja setiap persoalan pasti ada waktunya untuk terbongkar secara tuntas, karenanya aku mohon bantuan dari sobat sekalian untuk bersama-samaku menyelidiki persoalan ini disamping mohon petunjuk. Sekarang, marilah kita lanjutkan permainan tadi, bila saudara sekalian enggan untuk menunjukkan kejelekan, bagaimana kalau aku orang she Wan saja yang menunjuk orangnya? Baru saja Mo im sin liong Wan kiam ciu menyaksikan perkataannya, dari arena segera terdengar suara teriakkan orang yang menyatakan persetujuannya. Mo im sin liong Wan kiam ciu segera tersenyum, dia memandang kearah Suma thian yu lalu berkata: "Kumohon Suma siauhiap sedia memberi petunjuk! Kau adalah orang pertama yang menemukan anak panah dipuncak tiang, karena itu mohon Suma siauhiap sudi menunjukkan pula kebolehanmu. Nah, saudara sekalian mari kita bertepuk tangan untuk siauhiap kita ini!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Diam-diam Suma Thian yu agak tertegun juga ketika dilihatnya Mo im sin liong Wan Kiam cu menunjuk kearahnya, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya: "Jangan-jangan dia mencurigai aku sebagai orang yang membegal barang dan meningga1kan tanda panah dipuncak tiang? Yaa,benar, sewaktu berbicara tadi, dia selalu memandang kearahku. Meski dalam hati ia berpikir demikian, tanpa terasa pemuda itu berdiri juga, ujarnya sambil menjura: Aku hanya mengerti sedikit kepandaian kasar saja, tak berani menunjukkan kejelekanku dihadapan orang "Aaah... Suma sauhiap terlalu sungkan" seru Mo im sin liong Wan Kiam ciu sambil tertawa, "pertemuan semacam ini jarang bisa di jumpai, jang Tio Ci hui, mengapa siauhiap narus menampik?" Begitu Mo im sin liong Wan Kiam ciu selesai berbicara, seorang lo piasu segera bangkit berdiri seraya berkata: Apakah Suma sauhiap tidak memandang sebelah mata kepada kami? Bagaimana watak Wan cong piautau bukankah kau ketahui,, apakah dia kurang memberi pelayanan kepadamu? Ucapan lo piasu ini agak emosi dan bernada keras, sama sekali tidak mirip sikap seorang tuan rumah kepada tamu. Suma Thian yu sepera mengalihkan sorot matanya kewajah si piausu itu, setelah meman dang sekejap dingan sorot mata dingin, dia menyahut cepat: "Andaikata aku tidak memiliki kepandaian apa-apa, bukankah hal ini sama artinya dengan memberi kesulitan kepada orang lain? Piasu tua itu mempunyai kedudukan setingkat dibawah Sipena baja bercambang Tio ci hui, tapi karena wataknya yang beranggasan, pandangannya yang sempit, maka orang menyebutnya sebagai Boan thian hui (terbang memenuhi angkasa) Ya Nu. Boan thian hui Ya Nu kontan saja tertawa dingin setelah mendengar perkataan dari Suma thian yu, serunya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Suma siauhiap, dihadapan orang lebih baik jangan berbohong, kau bisa menemukan anak anah dipuncak tiang, hal ini menunjukkan kalau kau memiliki ketajaman mata yang melebihi orang lain, masa kau tidak memiliki kemampuan untuk mencapai puncak tiang tersebut? Mendengar perkataan itu, Suma Thian yu segera tertawa terbahak-bahak. ""Hahahaha......apa susahnya kalau hanya soal itu? Aku masih dapat melihat kalau diujung anak panah itu terikat secarik kertas! Begitu ucapan tersebut diutarakan, suasana dalam arena menjadi gaduh, semua orang segera mengalihkan sorot matanya kepuncak tiang benderu itu, tapi seiain kabut tipis ternyata mereka tidak berhasil menyaksikan apa-apa. Mo im sin liong Wan Kiam ciu segera tertawa dingin, tibatiba sindirnya: "Bila dugaan lohu tidak meleset, Suma siau biap pasti dapat melihat pula isi surat tersebut." Sudah jelas kalau ucapan itu mengandung suatu nada ejekan dan suatu peringatan, tentu saja Suma Thian yu dapat menangkap pula arti lain dari perkataan itu. Hatinya makin mendongkol lagi, dengan cepat dia berpikir: "Aku Suma Thian yu bukan seorang manusia yang takut urusan, kalau toh kau bersikap begitu kasar kepadaku, mengapa pula aku harus bersikap sungkan terhadap dirimu?" Berpikir demikian, dia lantas berkata: Wan cong piutau mempunyai maksud yang mendalam sekali, sayang aku tidak memahami maksud ucapan Wan cong piautau yang sebenarnya. Baiklah, kalau toh semua orang memaksa aku untuk mempamerkan kejelekan, aku menurut saja" Sembari berkata pelan-pelan dia berjalan menuju ketengah arena. Sementara itu beratus pasang mata para jago telah ditujukan kepadanya, di antara sekian banyak orang, yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

paling merasa kuatir adalah si Pena baja bercambang Tio Ci hui. Dia cukup mengetahui jelas watak dari Suma Thian yu, bahkan sekarang tak langsung menyangkut pula dirinya sendiri. Tapi bagaimana pun kuatirnya dia, kenyataan kini sudah mulai terbentang didepan mata. Suma Thian yu tiba ditengah arena, dia berdiri sambil membusungkan dada dan tidak menunjukan perasaan takut, sambil menatap tiang bendera itu ia berpekik keras memekikkan telinga yang mendengar. Ditengah suara pekikken nyaring yang mekikkan telinga, mendadak nampak Suma Thian yu melompat ketengah udara setinggi dua puluh kaki lebih, sewaktu tenaganya sudah hampir mengendor, tiba tiba sepasang kakinya saling bertumpukan satu sama lainnya. Ternyata dia telah mengeluarkan ilmu Liu im ti (tangga menuju awan) yang sudah lama punah. Dengan gerakan tubuh seperti inilah tubuhnya melambung ketengah udara dan ternyata mampu melampaui puncak tiang bendera. Di tengah sorak para jago yang gegap gempita, Suma Thian yu sudah berputar satu lingkaran dipuncak tiang bendera itu lalu melayang turun kembali ketanah. Ketika mencapai tanah, wajahnya tidak berubah, napas tak memburu, tapi di tangannya telah bertambah dengan sebatang anak panah. Suasana di arena yang tiba-tiba hening bagaikan mati dengan cepat menjadi gaduh kembali oleh suara suara sorak sorai yang mem memekikkan telinga, tak lama setelah pemuda itu berhasil mencapai tanah. Demonstrasi kepandian silat yang dilaku kau Suma thian yu ini selain membuat semua orang tertegun, bahkan Wan kiam ciu sendiri pun terbelalak dengan mara melotot besar, dia benar-benar dibuat terkesiap oleh kelihayan lawannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sepasang mata Wan Pek hong yang jeli dan lembut seakan-akan terhisap oleh suatu kekuatan besar, ternyata diapun turut menatap wajah Sama Thian yu lekat-lekat. Tentu saja perbuatannya dengan pandangan yang begitu mesrah tak diketahui oleh siapapun. Sambil membawa anak panah itu, Suma Thian yu segera mempersembahkan anak panah iadi kehadapan Mo im sin liong Wan Kiam ciu. katanya kemudian: "Untung saja aku tidak membuatmu kecewa Mo im sin liong Wan Kiam ciu segera menerima anak panah tersebut, benar juga diujungnya terikat segulung kertas. Dengan cepat kertas itu, ternyata isinya berbunyi demikian: "Uang kawalan sudah diterima, waktu membayar tiada batasnya Dibawah tulisan itu terlukiskan sebuah topeng muka setan. Selesai membaca tulisan itu, dengan gemas Mo im sin liong menggumpal kertas sebut menjadi satu kemudian membantingnya ketanah, setelah itu sambil tertawa seram katanya : Waktu membayar tiada batasnya!. Hmm, benar-benar suatu ucapan yang tekebur, asal aku Wan Kiam ciu masih bisa hidup, uang terbegal pasti akan kucari sampai ketemu Berbicara sampai disitu, dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi wajah Suma Thian yu lekat-lekat, kemudian ujarnya dingin : "Siauhiap, merepotkan dirimu saja. Tapi, apakah siauhiap dapat mengisahkan kembali apa yang telah kau jumpai waktu itu? Sejak semula Suma Thian yu sudah menaruh perasaan tak puas terhadap Wan Kiam ciu ta pi setelah dia membayangkan kembali seandai nya dia yang menjadi Mo im sin liong dan menghadapi keadaan seperti itu, apakah dia tak akan bersikap semacam itu pula? Cuma saja, dia merasa amat penasaran kalau dirinya dianggap mempunyai hubungan dengan para pembegal barang kawalan tersebut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu segera mendongakkan kepa lanya memandang wajah Mo im sin liong kemudian secara ringkas dia menceritakan kembali apa yang telah dijumpainya waktu itu. Sambil mendengarkan dengan seksama, diam-diam Mo im sin liong Wann Kiam ciu mengawasi terus perubahan wajah dari Suma Thian yu, me nanti pemuda itu menyelesaikan ceritanya, dia baru menarik kembali sorot matanya seraya berkata: "Siauhiap, benarkah ceritamu itu?" "Tentu saja sebenarbenarnya "Ooooh .... tolong tanya apa sebabnya manusia berkerudung itu munculkan diri lagi didepan mulut gua? Apakah setelah membegal barang kawalan kami, diapun tak mau melepaskan nyawa Tio hiante?" Pertanyaan hu diajukan amat lihay, karena Suma Thian yu sama sekali tak mampu untuk menemukan alasan si manusia berkerudung itu mencari dirinya, maka setelah ditanya balik oleh Wan Kiam ciu, diam-diam Suma Thian yu menjadi amat terperanjat. Untuk melanjutkan rasa curiga tersebut, Suma Thian yu terpaksa harus membuka rahasia diri nya dengan berkata: "Manusia berkerudung itu munculkan diri karena hendak merampas pedangku ini!" Setelah ucapan tersebut diutarakan, semua orang baru mulai memperhatikan pedang yang digembolnya itu. Tampaknya Mo im sin liong Wan kiam ciu ingin mengetahui persoalannya sampai jelas, ia segera mendesak lebih jauh: "Tolong tanya pedang apakah yang siauhiap gembol itu?" Suma Thian yu merasa semakin tak senang hati, tapi sahutnya juga dingin: "Kit hong kiam" "Kit hong kiam? Mo im sin liong Wan Kiam ciau menjerit kaget, "rupanya kau adalah ahli waris dari Kit hong kiam kek Wan Liang, maaf maaf......." Walaupun dimulut dia berkata begitu, namun wajah Wan Kiam ciu sudah diliputi hawa amarah.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu selesai berkata, dia segara berpaling dan melotot sekejap kearah Pena baja bercambang Tio Cihui dengan penuh kegusaran, te riaknya kemudian ; "Hiante, apakah kau sudah mengerti?" Sejak melihat Suma Thian yu terjun kearena tadi, si Pena baja bercambang Tio Ci hui su dah merasa amat panik seperti duduk dikursi beracun saja, dia kuatir kalau sampai Suma Thian yu menjadi naik pitam oleh kesalahpahaman tersebut. Maka ia makin terkesiap lagi setelah ditegur oleh kakak angkatnya dengan gusar, tahu kalau urusan telah berkembang ma kin runyam, terpaksa sambil menggerttk gigi keras dia bangkit berdiri sambil menyahut: "Aku tahu!" Mendengar itu, kemarahan Mo im sin liong Wan Kiam ciu tak terkendalikan lagi, segera bentaknya keras-keras, "Mengapa kau berkenalan dengan kaum pembegal?" Si Pena baja bercambang Tio Ci hui sendiripun dibuat naik pitam setelah mendengar tuduhan kakak angkatnya yang tanpa dasar, baru saja dia akan membantah, mendadak terde ngar Suma Thian yu berpekik keras, dengan sorot mata tajam dia melotot gusar kearah Wan Kiam ciu, kemudian serunya: "Wan tayhiap, kalau berbicara harap sedikit tahu diri, jangan menfitnah orang semaunya sendiri, kau harus tahu kalau menfitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan! Dalam hal apa aku Suma Thian yu mirip pembegal? Aku harap kau bisa memberi keterangan yang jelas kepadaku!" Mo im sin liong Wan Kiam ciu yang merasa dirinya ditegur seorang pemuda ingusan didepan orang banyak, menjadi turut naik darah, dengan mata melotot besar bentaknya keras: "Kit hong kiam kek Wan liang merupakan musuh umat persilatan, kaum pencoleng yang rendah martabatnya, kau anggap dirimu bisa baik sampai seberapa jauh?" Benar-benar suatu peristiwa yang tak disangka seorang pimpinan umat persilatan yang dianggap orang sebagai lelaki

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sejati ternyata mencaci maki seorang bocah yang baru terjun kedalam dunia persilatan dihadapan umum. Agaknya Wan kiam ciu sudah tidak dapat mengendalikan perasaan gusarnya lagi: Suma thian yu bukan seorang pemuda yang suka dimaki orang, apalagi orang menghina paman Wan yang dihormatinya, hal ini membuatnya semakin tak tahan. Apalagi bila membayangkan saat kematian paman Wan nya dalam keadaan mengenaskan, darah panas didalam dadanya serasa mendidh. Dengan suara menggeledek ia segera membentak keras: "Bajingan tua, tutup bacot anjingmu!" Telapak tangan yang penuh berisikan tenaga dalam segera diayunkan ke tubuh Mo im sinliong Wan kiam ciu dengan kekuatan yang sangat mengerikan hati. Berada dalam keadaan seperti ini, dia tak cepat mempertimbangkan lagi apakah disekeliling tempat itu penuh dengan anak buah Mo in sin liong Serangan yang dilancarkan Suma Thian yu dengan kekuatan penuh ini segera meluncur ke depan dengan amat dahsyatnya. Betul Mo im sin Iiong Wan Kiam ciu merupakan seorang pendekar besar dari utara dan sejalan sungai besar yang berilmu tinggi namun setelah menyaksikan datangnya angin pukulan yang begitu dahyat, hatinya terkesiap juga dibuatnya, cepat-cepat ia menyingkir kesamping untuk meloloskan diri. "Blaaaamm.....!" terdengar suara benturan keras yang memekakkan telinga menggelegar memecahkan keheningan. Debu dan pasir segera beterbangan memenu hi angkasa, semua orang membelalakkan mata nya lebar-lebar dengan mulutnya melongo, sa king kagetnya semua orang sampai melompat bangun dari tempat duduknya. Menanti pasir dan debu sudah sirap dan semua orang dapat melihat jelas pemandangan disekeliling tempat itu, jeritan kaget sekali lagi bergema memecahkan keheningan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ternyata permukaan tanah dimana Mo im sin liong Wan kiam cui berdiri telah muncul sebuah liang sedalam satu depa dengan luas lima depa, suatu daya pukulan yang menggidikan hati. Dengan adanya kenyataan ini, mau tak mau semua orang harus memperbaharui kembali penilaian mereka terhacap kemrmpuan Suma thian yu ini. Pada saat itulah, tiba tiba dari tengah udara melayang sesosok tubuh manusia. Menanti Suma Thian yu melihat jelas paras muka orang itu, dihadapsnnya telah bertambah dengan seorang piausu tua, dia tak lain adalah Boan thian hui Ya Nu. Begitu munculkan diri, dia segera menjura kepada Wan Piautau, setelah itu katanya. "Cong piautau, membunuh ayam buat apa menggunakan golok kerbau? Untuk membereskan seorang bocah ingusan, tak usah kau turun tangan sendiri, lebih baik lohan saja yang mewakilinya!" Mo im siu liong Wan kiam ciu sebagai seorang pimpinan, tentu saja merasa kurang leluasa untuk bertarung pada babak pertama, maka dia segera menangguk tanda setuju dan mengundurkan diri kebelakang. Tindakan tersebut sedikit banyak menunjuk kan pula kelemahan dalam hatinya serta perasaan takutnya tapi orang lain tak akan mengetahui akan hal ini. Setelah melancarkan serangan dengan kekuatan dahsyat tadi, Suma Thian yu merasa sedikit agak menyesal, karena pena baja berecambang Tio ci-hui barangkali telah menasehati nya agar bersabar dan jangan kelewat memper lihatan kehebatannya. Akan tetapi setelah menyaksikan sikap Boan thian hui Ya Nu yang begitu takabur dan sombong, api kegusaran yang telah padam, kini mulai berkobar kembali dalam dadanya. Boan thian hui Ya Nu memang benar-benar sombong sekali, dengan amat takabur serunya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Bocah keparat, cabut keluar pedang Kit hong kiam mu, aku ingin tahu apakah murid ajaran dari Wan Liang adalah seorang manusia tiga kepala enam langkah?" Sembari berkata ia sembari melepaskan senjata sam ciat kun (petungan beruas tiga) nya sambil mempersiapkan diri. Biasanya orang yang dapat memainkan sanjata sam ciat kun merupakan seorang jagoan silat yang berilmu tinggi, Boan thian hui Ya Nu bisa menduduki kursi ketiga dalam perusahaan Sin liong piaukiok, tentu saja kedudukan tersebut bukan diraih secara untung-untungan. Suma thian yu memandang sinis sikap Boan thian hui, setelah memandang sekejap kearahnya, dia lantas berkata: "Dengan dirimu aku tak pernah punya dendam dan sakit hati, buat apa kita muski saling bertarung dengan menggunakan kekerasan? Maaf aku sedikit jual mahal, bagaimana kalau kumohon petunjuk darimu dengan menggunakan tangan kosong saja?" Boan thian hui Ya Nu adalah seorang manusia yang sombong dan takabur, tapi dia tak mengira kalau lawannya lebih takabur dari pada dirinya, kontak hawa amarahnya memuncak. Bocah keparat, kau sudah bosan hidup rupanya? Atau mungkin kau memandang rendah diriku? Bentaknya keraskeras. Kedua-duanya bukan! Jawaban dari Suma thian yu yang dingin dan angkuh. Ucapan tersebut tak ayal lagi merupakan sebuah bom atom yang segera mengubah suasana tegang menjadi makin panas. Pertama-tama Boan thian hui Ya Nu tak bias menahan diri dulu, sambil maju kedepan, tongkatnya dengan jurus pau lui ki ciau (guntur dahsyat menyerang ular) langsung menghantang tulang leng kay kut ditubuh Suma thian yu. Seandainya berganti dengan seseorang berjiwa gagah, tak mungkin mereka akan menghadapi lawannya yang masih muda apalagi yang bertangan kosong itu dengan menggunakan senjata.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dasar Boan thian hui Ya Nu memang seorang yang bermuka tebal, dia sama sekali tidak ambil peduli akan hal itu, baginya yang penting serangan tersebut akan mengenai sasarannya secara telak. Dengan cekatan Suma thian yu berkelit kesamping untuk menghindarkan diri, kemudian sindirnya: Orang she Ya, dalam tiga jurus aku akan menyuruhmu melepaskan senjata Sam ciat kun! Kentut busuk! teriak Boan thian hui Ya Nu dengan sekujur badan bergetar keras, coba kau rasakan serangan ku ini lagi! Sembari berkata, dengan jurus Im hong huang sau(angin dingin menyapu hebat) dia langsung menyapu pinggang Suma thian yu. Sianak muda ini sudah merasa kalau persoalan yang dihadapi hari ini tak bias diselesaikan dengan begitu saja, maka ditunggunya toya itu hamper mengenai tubuhnya, dia baru merendahkan tubuhnya kesamping, ayunan tongkat Boan thian hui Ya Nu persis menyambar lewat dua inci diatas batok kepala pemuda itu. Ilmu gerakan tubuh patah tulang yang didemontrasikan oleh Suma Thian-yu ini benar-benar tepat sekali, selain indah juga mendatangkan tempik sorak dari segenap jago lainnya. Ditengah sorak-sorai yang gegap gempita, tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berkelbat lewat, lalu terdengar seseorang membentak amat nyaring: "Lepas tangan!" Ketika semua orang berpaling, tampak Boan thian hui Ya Nu sedang mengaduh kesakitan, badannya mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, dengan susah payah ia baru dapat berdiri tegak, sedangkan senjata Sam ciat kun-nya telah terbuang entah kemana. Ketika memandang lagi kearah Suma thian yu, tampat pemuda itu masih berdiri diarena dengan senyum dikulum, seakan-akan tak pernah terjadi suatu peristiwa apapun, sedangkan senjata Sam ciat kun milik Ya Nu kini sudah berpindah ketangannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perubahan itu berlangsung terlalu cepat, sedemikian cepatnya membuat semua orang tak sempat melihat jelas bagaimana caranya Sam ciat kun itu bisa berpindah tangan, mereka tak percaya bahkan Ya Nu sendiripun tak habis mengerti. Padahal kalau dibicarakan kagi, kejadian ini bukanlah suatu kejadian yang aneh, sejak Suma thian yu berhasil mempelajari ilmu Ciat tiong puan poh cap lak tui dari Siau yau kay Wi kian, daya kemapuannya didalam melakukan serangan menjadi satu kali lipat lebih dahsyat daripada dalam keadaan biasa. Dalam pada itu, suara tepuk tangan kembali berkumandang gegap gempita dalam arena, walaupun Suma thian yu dianggap sebagai pembegal, tapi keindahan gerakan tubuhnya membuat orang bersorak sorai tanpa terasa. Boan thian hui Ya Nu benar-benar merasa malu sekali, karena mendapat malu dihadapan orang banyak, sepasang matanya berubah menjadi merah padam penuh rasa benci, setelah melotot sekejap kearah pemuda itu dengan gusar, selangkah demi selangkah dia maju kedepan dan menghampirinya.... Jelas dia sudah merasa gusar sekali. Bagaikan seekor harimau buas yang sedang mementangkan cakar dan gigi taringnya siap menerkam mangsa..... "Ya Nu, mundur!" tiba-tiba dari tengah arena berkumandang suara bentakan nyaring. Dengan jelas Boan thian hui Ya Nu mendengar kalau teriakan itu berasal dari congpiautau nya, tapi dia berlagak seakan-akan tidak mendengar, ia sudah diliputi oleh hawa amarah sehingga tak dapat mengendalikan diri lagi. Melihat wajah orang yang menyeringaiseram, diam-diam Suma thian yu pun merasa terkesiap, buru-buru dia mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang tak di inginkan, ia tahu Ya Nu merasa amat gusar hingga kehilangan sifat kemanusiaannya, besar kemungkinan dia akan beradu jiwa dengannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Makin lama semakin bertambah dekat, kini Ya Nu sudah dua tiga langkah dihadapan mukanya, menyaksikan sikap lawan yang menyeringai seram, Suma thian yu merasakan jantungnya berdebar keras, sementara puluhanorang lainnya juga merasakan hatinya berdebar keras.... Suatu pertarungan sengit dengan cepat akan berkobar, bila sampai meledak bisa dibayangkan keadaannya pasti mengerikan sekali.... Disaat yang amat kritis itulah..... Mendadak sesosok bayangan manusia berkelbat lewat, Mo im sin liong Wan kiam ciu yang berada dimeja utama tadi tahu-tahu sudah melayang turun diantara kedua orang itu, kepada Boan thian hui Ya Nu katanya dengan nada menghibur: "Adik Ya, mundurlah kau, biar aku yang mengatur tempat ini!" Menyaksikan Mo im sin liong telah menampilkan diri, terpaksa Boan thian hui Ya Nu mengundurkan diri dengan membawa rasa benci yang mendalam. Sebelum meninggalkan tempat itu, dengan perasaan tidak terima katanya kepada Suma Thian yu: "Bocah keparat, selama gunung nan hijau, air tetap mengalir suatu ketika pasti akan tiba saatnya bagi kita untuk melakukan perhitungan ini....." Suma Thian yu tidak menanggapi ucapan tersebut, dia hanya memandang sekejap ke arah Ya Nu dengan pandangan sinis, sementara senyuman dingin yang menghiasi ujung bibirnya semakin menebal. Paras muka Mo im sin liong Wan Kiam ciu berubah menjadi dingin seperti es, bentaknya dengan suara ketus: "Suma siauhiap, lohu tidak pernah kenal de ngan dirimu, berjumpa pun baru kali ini, ten tu saja tak bisa dibilang mempunyai ikatan dendam atau sakit hati, tolong tanya mengapa kau berbuat demikian?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mo im sin liong Wan Kiam ciu mengutarakan ucapan tersebut tanpa ujung pangkal yang jelas, kontan saja Suma Thian yu dibikin kehe ranan, dia segera bertanya: "Wan tayhiap, apa yang kau maksud?" "Asal dalam hati kau mengerti akupun tak usah mengumumkannya lagi secara blak-blakan" Tentu saja Suma Thian yu tahu kalau yang dimaksudkan adalah soal pembegalan barang kawalan, dengan suara dingin dia segera me nyambut: "Sudah lama kudengar Wan tayhiap pandai membedakan mana yang benar dan mana yang salah, setiap persoalan dihadapi dengan otak yang dingin, tak lahunya apa yang kujumpai hari ini berbeda sekali dengan keadaan yang sebetulnya, tolong tanya dimanakah letak ke tidak beresan diriku...?" Untuk sesaat Mo im sin liong Wan Kiam ciu tak dapat menjawab penanyaan itu, setelah ter menung sesaat dia pun lantas berkata: "Kalau toh Siauhiap enggan untuk mengaku secara berterus terang, jangan salahkan kalau LOHU terpaksa harus bertindak kasar. Kalau ber tanya soal ketidak beresanmu, pertama asal usul siauhiap tidak jelek, kaupun menyusup kedalam perusahaan kami dan setelah barang kawalan kami dibegal, kedua darimana siauhiap bisa tahu kalau diujung anak parah yang menancap dipuncak tiang bendera ada surat nya, berdasarkan dua hal ini terbukti sudah kalau siauhiap terlibat dalam perisimatiwa ini" Mendengar perkataan itu, Suma Thian yu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. "Hah...haah... haah... keterangan yang dikatakan Wan tayhiap selain memaksakan sesuatu alasan tanpa dasar, juga menggelikan sekali, aku toh muridnya Kit hong kiam Seng, siapa bilang kalau asal usulku tidak jelas? Menolong orang yang di begal orang juga merupakan suatu kejadian yang wajar, apa yang dicurigakan? Kalau dibilang mengapa aku bisa menyaksikan kertas surat yang berada dipanah dipuncak tiang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bendera, hal ini berdasarkan ketajaman mata seseorang, sesungguhnya juga bukan merupakan sesuatu yang aneh, kalau atas dasar hal hal diatas maka kau lantas menuduh aku sebagai pencoleng, maka kenyataan ini benar-benar menggelikan sekali" Setelah berhenti sebentar, dia berkata lebih jauh: "Bilamana Wan tayhiap ingin mengecek ketajaman mataku, dengan senang hati aku akan melayani keinginanmu itu" Semua tuduhan Mo im sin liong Wan kiam cui kena ditangkis semua hingga ludes, sepantasnya kalu dia mempercayai perkataan lawan. Siapa tahu Wan kiam cui sudah mempunyai perhitungan sendiri, maka dari malunya dia menjadi marah, bukan saja dia tidak menerima tantangan Suma thian yu, malah sebaliknya membentak keras: "Lohu tak punya banyak waktu untuk melayani dirimu, sudah, tak usah banyak bacot lagi" Setelah kenyataan berubah menjadi begini, sadarlah Suma thian yu kalau pihak lawan memang berniat mencari garagara, maka sambil tertawa dingin ujarnya: "Mengakunya saja seorang congpiautau, ke nyataannya apa yang dikatakan tak lebih hanya ucapan anak berusia tiga tahun, aku bukanlah seorang manusia yang takut urusan, asal Wan tayhiap ingin bertarung, katakan saja terus terang, mau terjun ke kuali berisi minyak atau naik ke bukit golok, aku akan melayani semua tantanganmu itu" Sampai kini, Suma thian yu baru menanggapi ucapan musuhnya dengan suara yang kasar. Tapi dengan begitu pula, suasana yang semula tenang segera diliputi kembali oleh kobaran api peperangan. Dalam waktu singkat, beberapa orang piausu telah bermunculan diri pula ke dalam arena dan mengepung Suma thian yu rapat-rapat. Mimpipun Suma thian yu tidak menyangka kalau Sin liong piaukiok yang terkenal sebagai suatu perubahan orang-orang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kaum lurus bisa bertindak memalukan seperti ini, tanpa terasa dia mendonggaakkan kepalanya sambil berpekik nyaring. Mendadak dia mencabut keluar pedangnya...."Criiiing!" cahaya biru memancar amat menyilaukan mata, tahu-tahu dia sudah meloloskan pedang Kit hong kiam yang amat tajam itu. Dalam marahnya, Mo im sin liong Wan Kiong cui juga meloloskan pedang mestikanya. Si Pena baja bercambang Tio Ci hui yang selama ini menonton saja dari sisi arena segera menampilkan diri ke tengah lapangan setelah menyaksikan keadaan bertambah runyam, sambil berlarian teriaknya keras-keras: "Saudara sekalian, jangan bertarung dulu, dengarkanlah perkataanku!" Walaupun kedudukan Si Pena baja bercambang Tio Ci hui dalam perusahaan setingkat dibawah Wan kiam ciu, tapi berhubung dia adalah seorang yang jujur dan setia kawan, maka semua orang menaruh hormat kepadanya. Seruannya itu segera ditanggapi semua orang, kecuali Wan Kiam ciu seorang, hampir semua orang mundur beberapa langkah dan memberi jalan lewat baginya. Setibanya didepan Wan Kiam ciu, Si Pena baja bercambang Tio Ci hui menjura dalam-dalam, kemudian katanya. "Toako, kau telah memfitnah orang baik, Suma siauhiap tidak bersalah, apalagi diapun me naruh budi kepadaku. "Cuuuh, apakah gurunya Wan Liang tidak ber salah?" jengek Mo im sin liong wan Kiam ciu sambil meludah. Belum sempat si Pena baja bercambang Tio Ci bui sempat mengucapkan sesuatu, Suma Thian yu telah berkata lebih dulu. "Benar, dia orang tua memang tidak bersalah, justru karena dalam dunia persilatan penuh dengan manusiamanusia yang tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, maka dia orang tua baru mati penasaran...." Selapis hawa nafsu membunuh dengan cepat menyelimuti wajah Mo im sin liang Wan Kian ciu, si Pena baja bercambang Tio Ci hui menyaksikan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

keadaan makin kritis, buru-buru dia memberi tanda kepada Suma Thian yu seraya berkata: "Suma Hiantit, bersabarlah dulu, memandang diatas wajahku, tinggalkanlah tempat ini! Tak ada gunanya memperebutkan persoalan yang sama sekali tak ada gunanya ini" Ketika mengucapkan perkataan tersebut na danya setengah merengek, hal ini membuat Suma Thian yu merasa amat terharu, pikirnya: "Meninggalkan tempat inipun ada baiknya juga, toh dengan dua tiga patah kata mustahil bagiku untuk menyadarka kembali bajingan tua yang keras kepala ini" Walaupun dia ingin pergi, ternyata orang lain tidak membiarkannya pergi. Sambil tertawa dingin Mo im sin liong wan Kiam ciu berkata: "Sekalipun perusahaan Sin liong piaukiok bukan sarang naga gua harimau, tempat inipun bukan tempat yang bisa di datangi dan ditinggalkan orang dengan semaunya sendiri, bila siauhiap tak memberikan suatu pertanggungan jawab kepadaku hari ini, jangan harap kau bisa pergi meninggalkan tempat ini barang selangkahpun." Si Pena baja bercambang Tio Ci cui jadi gelisah sekali, buru-buru serunya lagi kepada Wan Kiam Ciu: "Toako, sekalipun tidak memberi muka ke pada pendeta, paling tidak aku harus menghargai Sang Buddha, aku bersedia menanggung se mua barang kawalan yang hilang, hanya saja kumohon kalian jangan berkeras kepala terus, biarkanlah urusan selesai dulu sampai disini!" Dengan sorot mata penuh amarah Mo im sin liong Wan Kiam ciu melotot sekejap kearah Tio Ci hui, lalu dia membalikkan badan dan tanpa mengucapkan sepatah katapun masuk ke ruang dalam. Tindakan ini sama sekali diluar dugaan semua orang, siapapun tak tahu permainan busuk apakah yang sedang di persiapkan, sehingga se mua orang segera berbisik-bisik lirih.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan cepat si pena baja bercambang Tio-Ci cui berpaling lagi kearah Suma Thian yu seraya berkata: "Hiante, cepat kamu tinggalkan tempat ini, cepat atau lambat persoalan ini pasti akan menjadi terang kembali, walaupun sekarang kau di tuduh orang, tapi tak usah putus asa, lapangkan dadamu, mengerti?" Dengan mata berkaca-kaca, Suma Thian yu mengangguk, setelah menjura dalam-dalam katanya: "Tio toako, budi kebaikkanmu tak akan aku lupakan untuk selamanya, asalkan kau bersedia mempercayai diriku, aku percaya orang lain tak akan mampu untuk melukai diriku." Setelah menyarungkan kembali pedangnya, dia berkata lebih jauh: "Di kemudian hari, budi kebaikan ini pasti akan kubalas." Kemudian dia menjejakkan kakinya ke atas tanah dan secepat kilat melompat keluar dari pagar pekarangan rumah. Dalam sekejap mata saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. Dengan mata berkaca-kaca, si Pena baja ber cambang Tio Ci cui memperhatikan bayangan punggungnya hingga lenyap dari pandangan, kemudian dia baru menyeka air matanya mem bentur dengan tempat duduk Bi hong siancu Wan Pek lan, dia berseru tertahan, ternyata bayangan tubuh nona wan sudah lenyap dari pandangan. Si Pena baja bercambang Tio Ci hui cukup mengetahui watak dari Wan Peklan, karena dia lah yang sering bermain dengan nona itu sejak si nona masih kecil, begitu dilihatnya nona Wan tak ada di tempat, dia lantas menduga kalau gadis itu sudah menyusul Suma Thian yu, tak terlukiskan rasa gelisah hatinya setelah mengetahui akan hal itu. Dia tahu, Wan peklan tentu tidak terima akan persoalan tadi sehingga kepergiannya niscaya akan menimbulkan keonaran baru. sebenarnya dia hendak masuk kedalam untuk melaporkan kejadian ini kepada Wan kiam cui, tapi teringat kalau Wan kiam cui sedang marah, ia merasa bila hal ini dilaporkannya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kepada Wan kiam cui, besar kemungkinan kalau hal ini akan menimbulkan amarahnya, sebab itu diapun menahan diri. Sementara itu, Suma Thian yu telah meninggalkan kantor perusahaan Sin liong piaukiok dengan perasaan berat, murung dan kesal. Orang bilang: Siapa yang berbaik hati dia akan memperoleh yang baik pula. Tapi apa yang dialami justru merupakan kebalikanya, maka sambil melanjutkan perjalanan dengan kepala tertunduk, pikirnya diam-diam: "Besar kemungkinan paman Wan yang kusayangi dan mengalami nasib seperti apa yang ku alami sekarang, karena salah paham akhirnya dia menjadi dibenci orang. aaii.... kalau memang begitu, sungguh mengenaskan sekali nasibnya....." Setelah meninggalkan kota, didepan mata terbentang sebuah tanah perbukitan, waktu itu matahari sedang bersinar dengan teriknya, Suma thian yu berjalan terus tanpa berhenti, sekarang sepeser uang pun tak dimiliki, pakaian dan uang yang dimilikinya masih tertinggal dikantor Sinl liong piaukok, bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya dikemudian hari? Sementara dia masih murung, sampailah pemuda itu dibawah sebatang pohon besar, dia segera duduk disana sambil memejamkan matanya rapat-rapat.... Mendadak terasa segulung angin berhembus lewat, dengan perasaan terkejut dia segera membuka matanya, tampak sesosok bayangan hitam dengan kecepatan luar biasa sedang meluncur ke arahnya. Dalam keadaan gugup, dia tidak memikirkan lebih jauh lagi, buru-buru disambutnya bayangan hitam tersebut dengan sepasang tangannya, ternyata benda itu adalah sebuah bungkusan besar, yang lebih mengherankan lagi, buntalan tersebut ternyata miliknya. Sementara dia masih tertegun, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara tertawa merdu yang amat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sedap didengar, dengan cepat Suma thian yu membalikkan badannya kemudian menjerit kaget: "Aaaaah, rupanya kau!" "Siapakah orang itu?" Ternyata dia tak lain adalah putri kesayangan dari Mo im sin liong Wan kiam cui, yakni si Dewi burung hong Wan Pek lan. Sambil menarik kembali senyumannya, si dewi burung hong berkata dengan wajah bersungguh-sungguh: "Bawalah serta buntalanmu itu, aku memang khusus datang kemari untuk mengirimkannya bagimu" "Oooh, terima kasih nona Wan" Seraya berkata dia lantas mengambil buntalan tersebut dan siap meninggalkan tempat itu. Tampaknya ia sudah merasa penasaran sekali terhadap keluarga Wan, maka setelah bertemu dengan gadis itu, dia mengurungkan niatnya untuk beristirahat. Belum lagi berapa langkah, mendadak terdengar nona Wan membentak lagi: "Suma siauhiap, harap tunggu sebentar!" "Ada apa nona Wan? Dengan perasaan terperanjat Suma thian yu berpaling seraya bertanya. "ada sesuatu persoalan kumohon petunjukmu" "Persoalan apa?" tanya Suma thian yu. Si Dewi burung hong berjalan mendekat dengan wajah kemalu-maluan, lalu berkata: "Aku ingin memohon beberapa petunjuk ilmu silatmu!" Dengan wajah berkerut bercampur keheranan, Suma thian yu memandang sekejap kearah Wan Pek lan, kemudian tanyanya keheranan: "Nona Wan, apa maksudmu? apakah ayahmu yang memerintahkan kepadamu untuk menahan aku disini?" "Soal ini tak usah kau urusi, aku sudah lama mendengar orang bilang tentang kelihayan ilmu pedang Kit hong kiam hoat, karena itu aku ingin sekali memohon petunjukmu"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Nona Wan, buat apa kau mendesak orang terus-menerus? Aku sedang merasa kesal, lebih baik urungkan saja niatmu itu" Sepasang alis mata si Dewi burung hong Wan Pek lan segera berkenyit sesudah mendengar perkataan ittu, serunya sambil tertawa dingin: "Siauhiap, apakah kau tidak memandangsebelah matapun terhadap diriku?" "Tidak, aku tidak berniat bertarung melawan dirimu, lebih baik kau urungkan saja niatmu itu!" Jauh-jauh si dewi burung hong Wan Pek lan menyusul kesana, tujuannya tak lain adalah untuk memnta petunjuk ilmu silat dari anak muda tersebut, tekadnya itu sudah bulat, tak perduli apapun yang dikatakan Suma thian yu, dia sama sekali tidak ambil peduli. Sambil menarik muka dan melototkan sepasang matanya, ia membentak nyaring: "Sekalipun tak mau juga harus mau, kalau tidak, jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini" Suma thian yu yang melihat si nona menghadang jalan perginya, dia lantas tahu kalau pihak lawan memang datang dengan sesuatu maksud tertentu, maka setelah menghela napas panjang, katanya: "Aku Suma thian yu merasa tak pernah bersalah pada langit, tak pernah bersalah pada manusia, sungguh tak kusangka kalian mengejarku terus-menerus, nona, kumohon kepadamu, sukalah melepaskan sebuah jalan bagiku" Menyaksikan wajah Suma thian yu yang mengenaskan dan perkataan yang memilukan, Bi hong siancu Wan Pek lan segera tertawa geli, katanya dengan marah: "Kalau dilihat dari tampangmu yang mengenaskan, seakanakan telah dianiaya orang saja, aku toh hanya bermaksud untuk meminta petunjuk saja kepadamu tanpa mengandung maksud lain" Mendengar perkataan itu, dengan keheranan Suma thian yu segera bertanya: "Mengapa harus bertarung dengan ku?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aai, kau ini benar-benar....." Setelah berhenti sejenak, gadis itu berkata lebih lanjut: Karena kau tangguh, maka aku baru memohon petunjuk darimu, hal ini hanya suatu permohonan saja, mengapa kau berusaha menampik dengan pelbagai alasan?" "Permohonan? Aku tidak mengenal segala macam hal seperti itu" "Jadi maksudmu, kau tak ingin bertarung melawan diriku?" "Benar nona Wan!" jawaban dari Suma thian yu itu tegas dan bersungguh-sungguh. Si nona Wan segera meloloskan pedangnya sambil membentak: "Baik, akan kulihat apakah kau akan turun tangan atau tidak!" Pedangnya diputar suatu lingkaran busur, kemudian dengan jurus Long li cian ciau (membunuh naga ditengah ombak) langsung membacok batok kepala Suma Thian yu. Ternyata Suma Thian yu mengatakan tidak bertarung tetap tidak bertarung, buru-buru dia miringkan kepalanya sambil menghindar ke samping, setelah itu teriaknya kaget: "Kau....." Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, bacoka pedang dari Bi hong siancu Wan Pek lan telah menyambar tiba, terpaksa dia harus mundur selangkah lagi ke belakang. "Kau benar benar...." "Ya, aku benar-benar hendak mengajakmu bertarung!" Sembari berkata dia mendesak maju ke muka sambil melancarkan bacokan, ia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk berganti nafas, bahkan secara beruntun melancarkan tiga buah serangan berantai yang semuanya ditujukan ke jalan darah kematian di tubuh Suma Thian yu. Waktu itu Suma Thian yu tidak bersenjata, dia didesak terus sampai mundur berulang ka li, dalam waktu singkat pemuda itu sudah ter jerumus dalam posisi yang berbahaya sekali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam keadaan begini, dia tak dapat menahan diri lagi menghadapi ancaman maut, tanpa berpikir panjang lagi dia berpekik nyaring kemudian tubuhnya melejit setinggi satu kaki ke tengah udara. Ditengah jalan pedangnya ditarik kembali dan secara tibatiba mengeluarkan gerakan tubuh Yau cu huan sin (burung belibis membalikkan badan) pedangnya berubah menjadi beratus-ratus kuntuk bunga pedang dan mengurung bersama ketubuh Bi hong Siancu dengan jurus Ciang liong ji hay (naga sakti masuk ke laut). Inilah salah satu jurus penolong yang ampuh dari ilmu pedang Kit hong kiam hoat. Waktu itu Bi hong Siancu sedang risau kare na lawannya belum juga meloloskan pedangnya, tak terlukiskan rasa girang dalam hatinya ketika menyaksikan Suma Thian yu menghunus pedangnya sambil melancarkan serangan balasan, teriaknya dengan segera: "Akan kulihat kau bisa berkeras kepala sampai kapan!" Sembari berkata, buru-buru pedangnya berputar membentuk selapis kabut senjata yang menyelimuti kepalanya, dia telah bersiap siaga untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras guna mencoba sampai dimanakah ketangguhan lawannya. Siapa tahu Suma thian yu tidak bertindak seperti apa yang diharapkan, mendadak dia merubah jurus serangan ditengah jalan, kemudian melayang turun kembali ke tanah, bentaknya dingin, "Nona Wan, kau kelewat mendesak orang" Menyaksikan pemuda itu menarik kembali serangannya sambil melayang turun ke tanah, Bi hong siancu Wan Pek lan kuatir kalau ia menyimpan kembali pedangnya kedalam sa rung, maka terhadap perkataan dari Suma Thian yu dia tak ambil peduli. Mendadak gadis itu membentak nyaring, pedangnya memapas ringgung lawan dengan jurus Thian li hui ko atau malaikat perempuan memutar tombak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu benar-benar mendongkol luar biasa, tanpa terasa pergelangan tangannya digetarkan lalu mengayunkan pedangnya dengan jurus yang diandalkan ialah Im liong tham jiau (naga mega mementangkan sayap) ujung pedangnya seperti cakar naga yang di ayunkan kedepan langsung menotak jalan darah Cian Keng hiat dibahu lawan. Bi hong siancu Wan Pek lan merasa amat gembira, akhirnya apa yang di harapkan terwujud karena pancingannya berhasil menjebak lawan, tanpa terasa semangatnya berkobar dia pun mengembangkan pelajaran silat dari ayahnya untuk melepaskan serangan keji. Jilid 8 : Tuduhan keji Tak selang beberapa saat kemudian, kedua orang itu sudah saling bertarung sepuluh gebrakan lebih, sepanjang pertarungan itu berlangsung, Suma Thian yu selalu mengalah dan berbelas kasihan dalam serang-serangannya, anehnya Bi hong siancu pun seakan-akan mempunyai pandangan yang sama, dia pun selalu berbelas kasihan didalam melancarkan serangannya. Sekilas pandangan pertarungan yang berlangsung antara kedua orang itu tampaknya amat seru, padahal dalam hati masing-masing sudah ada perhitungannya, pertarungan mereka berlangsung amat santai dan tidak saling membahayakan jiwa masing-masing. Lama-kelamaan kedua orang ada kalanya mereka berdua sempat bertanya-tanya sendiri, buat apa mereka berdua harus saling bertarung? Akhirnya Bi hong siancu Wan Pek-lan yang tertawa merdu lebih dulu, pedang mestikanya diputar kencang menciptakan selapis hujan pedang yang tebal dan langsung mengancam jalan darah Tiong teng hiat dan Tham tiong kiat ditubuh lawan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ditengah pekikan nyaring gadis itu, Suma Thian yu tersadar pula dari lamunannya, tak terlukiskan rasa kagetnya melihat ujung pedang lawan tahu-tahu sudah berada didepan dada. xx X xx SIANAk MUDA itu membentak nyaring, Pedang Kit hong kiamnya diputar untuk menangkis pedang lawan dengan jurus Sik poh thian keng (batu hancur langit terkejut), menggunakan kesempatan itu ia menerobos masuk kedepan dan menusuk jalan darah Tham tiong hiat dan tiong teng hiat si nona tersebut. "Tidak sopan kalau suatu pemberian tidak dibalas dengan pemberian lain...!" serunya. Berbareng dengan seruan itu, terdengar Bi hong siancu menjerit keras lalu mundur beberapa langkah dengan sempoyongan dan akhirnya roboh terkapar diatas tanah. Menyaksikan kejadian itu, Suma Thian yu amat terkejut, buru-buru dia menyimpan pedangnya dan lari kesisi Bi hong siancu sambil tanyanya dengan gelisah: "Nona Wan, apakah kau terluka?" Bi hong siancu Wan Pek lan berdiam kaku seperti patung, sepasang matanya terpejam rapat-rapat, napasnya memburu dan kelihatan menderita sekali... Suma Thian yu makin cemas setelah menyaksikan kejadian ini dengan perasaan bingung, buru-buru serunya: "Nona Wan, nona Wan...'" Melihat Wan Pek lan belum juga membuka matanya, dia tak dapat mengindahkan ucapan yang mengatakan "antara lelaki dan perempuan ada batas-batasnya lagi, dengan cepat dia melakukan pemeriksaan. Tampak napasnya teratur, matanya terpejam rapat dan mukanya merah segar, walaupun sudah diperiksa sekian lama, tidak dijumpai gejala-gejala aneh dibalik denyutan nadi lawan,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kesemuanya ini segera menimbulkan perasaan curiga dalam hatinya. Padahal Bi hong siancu Wan Pek lan sama sekali tidak terluka, apa yang dilakukan sekarang tak lebih hanya berpurapura belaka. Berbicara yang sesungguhnya, maksud tujuan dan tindakan yang dilakukannya ini amat dalam selain hendak menyelesaikan pertarungan yang sama sekali tak berguna itu, diapun ingin mencari tahu sampai dimanakah watak dan perangai dari Suma thian yu. Dengan sepasang mata setengah terpejam, diam-diam dia melirik dan mengikuti gerak-gerik Suma thian yu dengan seksama dari pagi hingga sekarang, kini ia baru berkesempatan untuk menyaksikan wajah Suma Thian yu dengan jelas. Melihat tampangnya yang gagah dan ganteng, makin dilihat dia merasa makin tertarik, tanpa terasa pikirnya dalam hati: "Aaah, mustahil dia tersangkut dalam peristiwa pembegalan barang kawalan, ooh Thian! Hal ini mustahil bisa terjadi! Ayah pasti telah salah menuduh orang baik!" Berpikir sampai disitu, jantungnya serasa berdebar amat keras. Pada waktu itulah dia merasa telapak tangan Suma Thian yu yang panas dan hangat telah ditempelkan diatas dadanya padahal sejak dewasa selain ibunya hampir tak pernah ada orang yang pernah menyentuh badanrya, apalagi meraba diatas sepasang payudaranya. Tapi sekarang, orang yang meraba payudaranya adalah seorang lelaki, seorang pemuda tampan yang gagah dan mempunyai daya tarik, apalagi merupakan orang yang dicintainya, bayangkan saja bagaimana mungkin hatinya tidak menjadi mabuk?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia menjadi mabuk, mabuk seperti terbang di angkasa, perasaan semacam ini belum pernah dialaminya sepanjang hidup, dia ingin menampik namun tak tega untuk melepaskan kenikmatan seperti itu, keadan semacam ini amat mengenaskan, juga amat manis dan mesra.... Tapi perempuan tetap perempuan, terutama sekali gadis remaja yang mulai mengenal arti kata cinta, bagaimanapun cintanya kepada pemuda itu toh sepasang matanya segera membuka kembali, ia tidak membiarkan pihak lawan meraih keuntungan kelewat lama. Pada dasarnya Suma Thian yu adalah seorang pemuda paling bodoh didunia ini, kecuali merasa gelisah, dia sama sekali tak dapat menekan kobaran emosi dalam hatinya. Begitu melihat Bi hong siancu mendusin, rasa girangnya melebihi sekeluarga miskin yang secara tiba-tiba menemukan sebuntalan emas murni, dengan cepat dia bersorak gembira. "Nona Wan, kau tidak apa-apa bukan?" Bi hong siancu Wan Pek lan menutup mulutnya rapat-rapat dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Suma Thian yu yang melihat gadis itu mendusin kembali, tak terlukiskan rasa girangnya ia menghembuskan napas panjang lalu berkata: "Waah....hampir saja aku dibikin kaget setengah mati, terima kasih banyak, kau tidak terluka apa-apa!" Sebetulnya perkataan semacam itu tak pantas diutarakan keluar, jika ada pihak ketiga hadir disitu, ia pasti akan merasa perkataan mana kelewat mesra, padahal tindakan dari Suma Thian yu ini tak lebih merupakan suatu perbuatan yang mendekati ketolol-tololan. Bi hong siancu Wan Pek lan sengaja menegur dengan suara keras. "Huuh, masa kau merasa kuatir? Hmm, mungkin kau bertambah gembira bila menyaksikan aku mati!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perkataan semacam inipun tidak seharusaya diutarakan, tapi pada dasarnya kedua orang itu memang berwatak aneh, setelah saling ribut sekian lama, akhirnya mereka malah merasakan kemesraannya. Kau berani mengatakan dialam semesta ini tiada sesuatu kekuatan besar yang mengatur segala-galanya? Sesungguhnya Malaikat cinta mengatur bagi mereka berdua segala sesuatunya, apakah kau ingin membantah? Kecuali kalau kau mempunyai kekuatan lainnya itu lain cerita. Suma thian yu mengira gadis itu masih masih marah, dengan wajah minta maaf dia berkata: "Aku sama sekali tidak bermaksud demikian, maaf jika aku membuatmu terjatuh, harap kau sudi memaafkan." Pada dasarnya anak gadis memang lebih perasa dari pada kaum lelaki, lagi pula hati mereka lebih lembek. Melihat wajah Suma Thian yu yang mengenaskan itu, Bi hong siancu Wan Pek lan tak jadi curiga, cepat ia menyahut: "Kesemuanya ini gara-gara aku mencoba unjuk kepandaian, sehingga akibatnya kau dibikin terperanjat, apakah kau menyalahkan aku?" "Aah, mana, mana..." buru buru Suma Thian yu menyahut, "asal kau tidak terluka, aku merasa girang sekali " "Mengapa sih kau begitu menaruh perhatian kepadaku?" Bi hong siancu balik bertanya. "Karena... karena..." Suma Thian yu mengulangi perkataan tersebut sampai beberapa kali tanpa berhasil untuk melanjutkannya. "Aku tahu kau tak punya alasan bukan?" "Ehmmm...!" "Ya, memang banyak kejadian yang berlangsung secara wajar, tiada suatu bentuk alasan, yang pasti, aku rasa sesuatu yang nyata di dunia ini selamanya tak beralasan, bukankah begitu?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Maaf nona, aku merasa kagum sekali kepadamu yang melebihi orang lain" "Jangan nona, nona melulu, aku toh bukan tak punya nama, mengapa kau selalu memanggil dengan nama tersebut?" ketika mengucapkan perkataan tersebut, nadanya tersipu-sipu. "Ahh betul, tolong tanya siapakah nama nona?" buru-buru sianak muda itu bertanya. "Aku bernama Pek lan, ketika masih kecil orang memanggilku Lan ji, kau boleh memanggil aku sebagai adik Lan!" "Adik Lan..." Suma Thian yu segera memanggil, tapi kata selanjutnya dia tak sanggup untuk melanjutkan. Waktu itu, Suma Thian yu merasa amat gembira sekali selama bergaul dengan Wan PeK lan, tapi kalau ditanya menpapa, dia sendiripun tak mampu untuk mengucapkan sesuatu. Itulah sebabnya manusia dinamakan mahkluk yang berperasaan, yang terpenting manusia bukan rumput atau binatang, manusia adalah mahkluk yang berperasaan. Kadangkala perasaan semacam itu baru bisa tumbuh dan meningkat mencapai pada puncaknya bila manusia yang berlawanan jenis bertemu. Ada orang bilang: Hubungan manusia antara manusia terdapat semacam daya tarik menarik, hal ini tak lain adalah perasaan. Waktu berlalu dengan cepatnya, dalam suasana yang santai karena berbincang dan bergurau, tanpa terasa matahari telah bergeser kearah barat, langit diliputi oleh cahaya keemasemasan. Bi hong siancu Wan Pek lan mendongakkan kepalanya dan memandang keadaan cuaca sekejap, kemudian suaranya dengan terkejut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aaah, matahari sudah condong kebarat, aku harus segera pergi dari sini. Entah mengapa, sewaktu mendengar gadis itu hendak pergi, Suma Thian yu segera merasa hatinya kosong dan kecut, ditatapnya nona Wan dengan wajah termangu, dia seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun akhirnya niat itu diurungkan. Padahal Bi hong siancu sendiripun tak ingin berpisah dengan pemuda tersebut, buru buru ia mengusulkan. "Engkoh Yu, bagaimana kalau kita kembali?" "Kembali? Kembali kemana?" tanyanya. "Ke rumahku!" sahut Bi hong siancu. "Ah, bukankah hal itu sama dengan mengantar diriku kembali ke mulut harimau?" "Tak mungkin, aku akan membujuk ayahku, dia pasti dapat memahami kesulitanmu. "Terima kasih atas maksud baikmu, sayang aku masih ada urusan penting yang tak dapat ditunda lagi, lebih baik kita berpisah dulu sampai disini, moga-moga kita akan bersua kembali dimasa mendatang" kata Suma Thian yu. Berbicara sampai disitu dia lantas bangkit berdiri dan sekali lagi memandang sekejap kearah Bi hong siancu. Bi hong siancu yang melihat dia hendak pergi, hatinya menjadi amat gelisah, buru-buru dia bertanya: "Engkoh Yu, kau bermaksud hendak pergi ke mana?" kata Bi hong siancu sedih. "Bagi seorang lelaki, cita-citanya berada di empat penjuru, seluruh jagad bisa dijadikan rumahnya, oleh karena itu, kemana aku sampai, disitulah aku akan berada" "Apakah kau akan kembali lagi kemari?" "Tentu akan kembali, menanti sampai fitnahan terhadap diriku sudah jadi jelas sekali." "kalau selamanya tak pernah menjadi jelas kembali...?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Itu berarti selama hidup aku tak akan menginjakkan kakiku kembali ke perusahaan Sin liong piaukiok." jawab Suma Thian yu. "Sungguh?" selesai mengucapkan perkataan itu, sepasang matanya telah basah oleh air mata, menyusul kemudian dua baris air mata jatuh berderai membasahi pipinya. Suma Thian yu merasakan hatinya menjadi kecut, setelah menghembuskan napas hiburnya. "Aku pasti kembali untuk menengokmu, asalkan kau benarbenar menyukai aku kembali kemari" "Tidak, kau bohong! Aku tahu kau sedang menghiburku, kau tak mungkin akan kembali lagi..." Berbicara sampai disitu ternyata dia menangis terisak dengan amat sedihnya. Menangis semacam senjata yang ampuh bagi kaum wanita, air mata juga merupakan semacam taktik untuk mencapai pada tujuannya, seperti juga Suma Thian yu sekarang, dia dibikin melumer juga hatinya oleh isak tangis dan air mata yang jatuh bercucuran. Seketika itu juga sang pemuda tersebut menjadi gelagapan sendiri dengan perasaan panik, untuk sesaat dia tak berhasil menemukan kata-kata yang cocok untuk menghibur hati gadis she Wan tersebut, karena itu dengan mata terbelalak dia hanya bisa memandang dengan wajah kebingungan. Sementara itu, satu ingatan tiba tiba melintas dalam benaknya: "Jangan-jangan nona Wan jatuh hati padaku." Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia memandang sekejap kearahnya, siapa tahu makin dilihat dia merasa hal itu makin benar, tanpa terasa jantungnya berdebar keras. Buru-buru dia maju kedepan dan memegang bahu si nona, lalu hiburnya dengan suara lembut. "Aku pasti akan kembali untuk menengokmu, asal hatimu tak akan berubah untuk selamanya"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perkataan itu benar benar sangat manjur, pelan-pelan Bi hong siancu mendongakkan ke palanya dan memandang sekejap kearahnya dengan pandangan mata yang merah, kemudian dengan wajah tersipu-sipu menundukkan kepalanya rendah-rendah. Sementara mereka berdua merasa berat hati untuk saling berpisah.... Dari arah jalan raya sana terdengar suara derap kaki kuda yang amat ramai berkumandang dari kejauhan sana yang makin lama semakin mendekat. Agak tertegun Bi hong siancu mendengar suara itu, dia segera memasang telinga baik-baik, mendadak serunya tertahan: "Aduh celaka, ayahku telah menyusul kemari" "Dari mana kau bisa tahu?" "Apa kau tak mendengar suara bel itu? suara yang berasal dari kuda tunggangan milik ayah" Kemudian dengan cepat serunya kepada Suma Thian yu. "Cepat lari, mereka sudah datang, kalau keburu terkurung, bisa berabe juga akhirnya!" Mendengar itu, Suma Thian yu segera terta wa terbahakbahak. "Haah haah haah. Aku Suma Thian yu adalah seorang manusia yang tak akan mencari gara-gara bila tiada urusan, dan tidak takut menghadapi setiap kejadian bila menjumpai urusan, kalau toh mereka sudah datang, memangnya bisa menelanku hidup-hidup?" Terkesiap jnga Bi hong Siancu setelah mendengar perkataan itu, buru buru pintanya dengan nada setengah merengek: "Engkoh Yu, kumohon kepadamu sudilah kiranya untuk menghindarkan diri lebih dahulu, ayahku bukan seorang manusia yang bisa diusik dengan begitu saja, demi kau, juga karena aku, cepatlah pergi meninggalkan tempat ini!" "Kalau aku pergi, bukankah hal ini akan di tertawakan orang?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Darimana mereka bisa tahu kalau kau berada bersamasamaku?" Baru saja Bi hong siancu menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari tengah udara berkumandang suara gelak tertawa yang menyeramkan, mendengar itu kedua orang tersebut menjadi terkesiap dan segera berpaling. Tampak dua bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa meluncur turun dihadapan kedua orang itu. Suma Thian yu mencoba untuk mengawasi orang itu dengan seksama, ternyata dia tak lain adalah Boan thian hui Ya Nu bersama seorang manusia berusia empat puluh tahun. Begitu berjumpa dengan kedua orang itu, buru-buru Bi hong siancu memberi hormat seraya berkata: "Paman Ya, mengapa kaupun datang kemari?" "Hmm, bukankah semuanya ini gara-gara kau?" Eeh, kenapa kau bisa berada bersama anjing lelaki ini?" Begitu Boan thian hui Ya Nu menyaksikan Suma Thia yu, hatinya kontan menjadi panas kembali, mungkin inilah yang dikatakan dalam pepatah sebagai: "Dua orang musuh besar saling berjumpa, sepasang matapun ikut memerah" Suma Thian yu tentu saja tidak mau menunjukan kelemahannya, dengan cepat dia berseru: "Hmm, prajurit yang pernah kalah, kau masih punya muka untuk datang mencariku, huuh sunggah tak tahu malu" Ternyata Boan thian hui Ya Nu tidak menjadi marah sebaliknya malahan tertawa. Anjing cilik, keparat terkutuk, kita berjum pa lagi, mari, mari, kuperkenalkan kau dengan sahabatku ini, dia adalah Sang tayhiap" Suma Thian yu mencoba untuk mengamati orang iyu, tampak wajahnya hijau membesi seperti baru saja sembuh dari suatu penyakit yang sangat parah, mendadak dia teringat akan seseorang, tanpa terasa tanyanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Apakah orang ini yang disebut Cing bin kui (setan muka hijau) Seng Tham?" "Setan muka hijau adalah suatu kata makian, Suma Thian yu sengaja berkata demikian dengan maksud untuk menyindir lawannya. Siapa tahu manusia bermuka hijau itu tertawa seram setelah mendengar seruan tersebut, sahutnya: "Benar, bocah keparat, tampaknya kau cukup tahu akan diriku, aku memang bernama setan muka hijau, sedang kau sebentar lagi akan berubah menjadi setan muka putih" Belum sempat Suma Thian yu menjawab, dari tengah udara telah berkumandang lagi tiga kali suara pekikan panjang. Mendengar suara pekikan tersebut, paras muka Bi hong siancu Wan Pek lan berubah menadi pucat pias, segera serunya: "Ayahku datang " Betul juga, dari hadapan mereka segera muncul tiga sosok bayangan manusia, dalam sekejap mata bayangan tersebut sudah tiba di depan Suma Thian yu, orang yang berada di tengah itu sudah membentak dengan penuh kegusaran sebelum kakinya mencapai tanah: "Perempuan rendah, kau berani pagar makan tanaman, diam-diam bersekongkol dengan, kaum laknat!" Mendengar ayahnya melontarkan makian yang keji dan amat tak sedap didengar itu, kontan saja Bi hong siancu menangis tersedu-sedu. Suma Thian Yu adalah seorang lelaki yang berjiwa kesatria, dia amat membenci watak Mo im sin liong Wan Kiam ciu. Sambil menggerakkan tubuhnya dia segera menerjang kehadapan Wan Kiam ciu, kemudian serunya sambil menuding: "Wan tay hiap, aku benar-benar merasa malu untukmu, tindakanmu itu sungguh lebih rendah daripada binatang,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

darimana kau bisa tahu kalau putriku bertindak pagar makan tanaman? "Dia membelai dirimu, hal ini merupakan suatu fakta!" bentak Mo im sin liong Wan Kiam ciu dengan gusar. Mendengar ucapan tersebut, Suma Thian yu segera tertawa terbahak bahak. "Haahhh...haahh... hahh... Wan tayhiap, di depan orang yang jujur tak usah berbicara bohong, apa maksud kedatanganmu sudah aku pahami, aku orang she Suma akan menerimanya satu persatu ....." Dalam pada itu, Boan thian hui ya Nu menimbrung dari samping. "Cong piautau, buat apa mesti ribut dengannya? Lebih baik dibunuh saja habis perkara" Si manusia berbaju hijau yang berada disampingnya seperti takut tidak kebagian kesempatan saja, tiba-tiba ia menyerobot maju ke lalu sambil tertawa dingin serunya: "Anjing keparat, Toaya akan melengkapi keinginanmu itu!" Seraya berkata dia lantas mengayunkan telapak tangannya menghantam dada Suma Thian yu. Melihat datangnya bacokan tersebut, Suma Thian yu miringkan badannya lalu berkelit ke samping, katanya sambil tertawa: "Selamanya sianya enggan membunuh prajurit tak bernama" Gagal dalam serangannya yang pertama, si setan muka hijau Sang tham maju kedepan sembari melancarkan sebuah pukulan lahi, dampratnya dengan penuh kegusaran: "Bangsat, kau pingin mampus rupanya?" Tenaga pukulan yang amat dahsyat segera dilontarkan kedepan sehingga menimbulkan deruan angin tajam yang amat memekikkan telinga. Jarak kedua dua belah pihak cuma lima langkah, begitu si setan muka hijau Sang tham mengayunkan telapak tangannya, Suma thian yu segera merasakan datangnya hembusan angin dingin yang mencekam perasaannya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan perasaan terkesiap dia lantas melayang kesamping untuk menghindarkan diri, dengan mempergunakan ilmu Ciok tiong luan poh sin hoat ajaran si pengemis yang suka berpelancong cong Wi Kian, tampak ujung bajunya terhembus angin dan tahu-tahu dia sudah berdiri satu kaki dari posisi semula ... Begitu Suma Thian yu mendemontrasikan ge rakan tubuh yang amat indah, Bi hong siancu segera bersorak memuji. Tampak pemuda itu segera mengejek si setan muka hijau: "Sauya tak akan bersedia untuk bertarung melawan setan tanpa nama, mengerti?" "Anjing keparat" kontan saja setan muka hijau Sang tham mencaci maki kalang kabut, "Toaya bernama Sang Tham, ingat baik-baik namaku agar kalau sudah mampus mengetahui siapa pembunuhmu, cepat lolosan pedangmu!" Sebetulnya Suma Thian yu memang tidak mempunyai kesan baik terhadapnya, apalagi setelah mendengar kalau dia adalah murid kedua dari si mayat hidup Ciu Jit hwee atau adik seperguruan dari si macan angin hitam Sim Kong, kemarahannya segera berkobar. Sengaja ejeknya dengan suara yang sinis: Sang Tham? Sayang seribu kali sayang, sauya belum pernah dengar nama Sang Tham berkumandang dalam dunia persilatan" Berbicara sampai disitu dia lantas sedekap tangan dan tertawa terkekeh-kekeh, seolah-olah dia sama sekali tak pandang sebelah matapun ternadap si setan muka hijau Sang Tham. Perlu di ketahui, si setan muka hijau Sang tham adalah seorang manusia yang liar dan membunuh orang tanpa berkedip, mendengar perkataan itu bukannya menjadi gusar malah tertawa tergelak, suaranya menusuk pendengaran dan tak sedap didengar... Selesai tertawa, mendadak sepasang mata nya yang buas dan tajam bagaikan sembilu itu yang menembusi hati, ia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mengawasi wajahnya Suma Thian yu tanpa berkedip, membuat anak muda itu bergidik, pikirnya: "Amat luar biasa tenaga dalam orang ini!" Walau Sang Tham menduduki urutan kedua dalam perguruan si mayat hidup Ciu Jit hwee, namun usianya jauh diatas usia kakak sepergu ruan si harimau angin Sim Kong, sebab mayat hidup Ciu Jit hwee mengutamakan urutan dalam penerimaan muridnya tanpa mempersoalkan perbedaan usia diantara mereka. Sampai di manakah kepandaian silat dari harimau angin hitam Sim Kong, sewaktu be-ada di lembah Cing im kok yang lalu, sudah pernah dirasakan oleh Suma thian yu dan terbukti memang luar biasa. Benar, kekalahannya yang dideritanya tempo hari hanya terbatas pada soal pengalaman dan pengetahuan, namun kekalahan tersebut diterimanya dengan hati yang tulus. Dalam pada itu, si setan muka hijau Sang tham telah meloloskan sebilah pedang lengkungberbentuk kaitan dari punggung nya, kemudian serunya setelah tertawa seram: "Hehehehe.....bila toaya telah membegalmu, kau toh akan mengenali diriku?" Seraya berkata, pedang kaitan berbentuk bulan sabit direntangkan kedepan, kemudian sambil bergerak maju kedepan, dia membacok tubuh Suma thian yu dengan jurus Hek coa jui tong (ular hitam keluar dari gua). Suma Thian yu memang berniat untuk mempermainkan setan muka hijau, menghadapi ancaman tersebut ternyata ia tidak meloloskan pedang Kit hong kiamnya. Dengan sepasang mata yang tajam dia mengawasi pedang kaitan tersebut lekat lekat kemudian setelah tertawa dingin ejeknya: "Setan tua, dalam sepuluh gebrakan aku akan menyuruh kau memperlihatkan wujud sebenarnya!" Baru selesai dia berkata, pedang kaitan dari Setan muka hijau Sang Tham telah menusuk tiba, tampaknya beberapa inci lagi segera akan menyentuh ujung baju Suma Thian yu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pada saat itulah mendadak Suma Thian yu mendengus dingin, menyusul bayangan tubuh nya berkelebat lewat dan tahu-tahu sudah lenyap dari pandangan mata. Gagal dari serangannya yang pertama, mendadak setan muka hijau Sang Tham merasakan datangnya dengusan dingin yang bergema dari belakang tubuh, buru-buru dia membalikkan badannya, seketika itu juga terasa hawa dingin menembusi tulang belakangnya, ternyata Suma Thian yu sudah menyelinap kebelakang punggungnya. Kontan saja sifat buas dari setan muka hijau berkobar dalam dadanya, pedang kaitan berbentuk sabitnya dengan jurus Heng Sau gian kun (menyapu rata selaksa prajurit)segera menyapu kedepan mengikuti berputaran badan-nya kemudian pedang itu ditusuk kemuka de ngan kecepatan bagaikan sambaran kilat. Siapa tahu baru saja sepasang bahunya bergerak, tampak ada bayangan hitam berkelebat lewat, tahu-tahu dia sudah kehilangan lagi bayangan tubuh dari Suma Thian yu. Kali ini, setan muka hijau Sang Tham bertindak lebih cerdik, ketika senjatanya mencapai setengah jalan, tiba-tiba tubuhnya berputar kencang dan membacok kebelakang punggung. Di dalam anggapannya, serangan yang dilancarkan kali ini pasti akan berhasil telak, sekalipun Suma Thian yu licik juga tidak akan lolos dari serangan pedangnya yang aneh tapi sakti itu. Maka itu, bersamaan dengan berputarnya sang badan, dalam hati kecilnya dia tertawa dingin tiada hentinya. Siapa tahu selicik-liciknya dia, orang lain tidak lebih bodoh. Suma Thian yu tahu-tahu sudah berdiri disisinya sambil bertepuk tangan dan bersorak sorai. "Hooree... rupanya kau sedang menghantam si angin busuk," ejeknya sambil tertawa tergelak, "sauya toh berada disini, kenapa angin tak berdosa yang di hajar? Nah, sekarang sudah lewat tiga jurus, masih ada tujuh jurus lagi untuk memaksamu menunjuk wujud aslimu!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selama hidup belum pernah setan muka hijau Sang Tham di perlakukan orang dengan cara macam ini, kontan saja berteriak dengan penuh kegusaran: "Bocah keparat, serahkan nyawamu!" Menyusul teriakan itu tubuhnya bergerak kedepan bagaikan orang kalap, sambil menciptakan selapis cahaya pedang dia menyerang secara membabi buta. Mo im sin liong Wan Kiam ciu yang selama ini hanya melihat jalannya pertempuran dari tepi arena, sesungguhnya tak pandang sebelah matapun terhadap si setan muka hijau. Oleh sebab itu menang kalah Sang tham boleh dibilang tiada sangkut pautnya pula dengan dia, akan tetapi setelah menyaksikan Sang thsm mulsi nekad dan siap beradu jiwa, ia menjadi amat gelisah, teriaknya tanpa sadar: "Saudara sekalian, maju bersama!" Selesai berkata ternyata dia menerjang lebih dahulu kedalam arena, disusul kemudian oleh dua orang piausu dan Boan thian hui ya Nu. Bi hong siancu Wan Pek lan menjadi gelisah sekali setelah menyaksikan kejadian tersebut, berdiri disitu dia lantas berteriak penuh kegelisahan. "Oooh Thian, sungguh memalukan sekali perbuatan kalian!" Yang dimaksudkan sebagai orang yang memalukan tentu saja perbuatan dari ayahnya yang main kerubut serta menyerang kaum muda, sebagai seorang cong piautau ternyata dia menggunakan sistem pertarungan roda berputar untuk meng-giliri seorang bocah cilik, bila kabar ini tersiar keluar, nisciya hal mana akan sangat memalukan dan merosotkan pamornya di depan mata umum. Waktu itu Suma Thian yu sedang merasa gembira karena berhasil menangkan San Tham, melihat kawanan musuhnya menyerang bersama, dia segera berpekik dengan suara yang amat nyaring, dengan suatu kecepatan luar biasa dia mencabut keluar pedang Kit hong kiam yang tiada tandingannya dikolong langit itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu pedang Kit hong kiam diloloskan, dari empat penjuru sudah menyambar tiba lima macam senjata tajam. Dalam repotnya Suma Thian yu segera mengeluarkan jurus Ya can pat hong atau berta rung malam delapan penjuru untuk memunahkan ancaman lawan dengan kekerasan. Waktu itu kemarahannya telah berkobar, buru-buru dia menghimpun tenaga dalamnya sambil memutar pedang, secara beruntun dia lepaskan dua kali serangan berantai untuk mendesak mundur lima orang yang mengerubutinya sampai beberapa langkah, kemudian bentaknya pada Wan Kiam cu dengan kobaran emosi: "Wan tayhiap, dendam ini akan kuingat selalu dihati, suatu ketika aku orang she Suma pasti akan berkunjung lagi ke Sin liong piauliok untuk menentukan mati hidup bersamamu!" Selesai berkata, dia berpekik nyaring, sepasang kakinya menjejak tanah dan melambung ke tengah udara kemudian dengan kecepatan luar biasa melesat ke dalam hutan lewat dibelakang tebing. Melihat pemuda itu melarikan diri, tentu saja Mo im sin liong enggan untuk melepaskan dengan begitu saja, sambil membentak pendek, kakinya menjejak tanah dan segera mengejar dengan kecepatan tinggi. Keempat orang lainnya tak mau ketinggalan, serentak mereka melakukan pengejaran dengan kecepatan tinggi. Tak lama kemudian Suma Thian yu telah tiba ditepi hutan. Mo im sin liong Wan Kiam ciu yang berada dibelakangnya segera membentak keras: "Bocah keparat, jangan kabur! Tinggalkan dahulu selembar nyawamu!" Belum habis dia berkata, Suma Thian yu telah menembusi hutan dan menyelinap dibalik dedaunan. Tentu saja Mo im sin liong tak rela melepakan mangsanya dengan begitu saja, dia segera memberi tanda kepada rekanrekannya agar melanjutkan pengejaran tersebut. Mendadak dari balik hutan brkumandang suara pekikan areh yang amat nyaring....

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendengar pekikan tersebut, Mo im sin liong Wan Kiam ciu menjadi tertegun, ketika ia mendongakkan kepalanya, tampak tiga sosok bayangan manusia sedang melesat keluar dari dalam hutan dan melayang turun dihadapan mereka, persis menghadang jalan pergi orang-orang itu.! Melihat siapa yang datang Boan thian hui Ya Nu segera menjerit kaget. "Aaah, pencoleng berkerudung!" Betul, disitu telah muncul tiga orang manusia berkerudung, ketiga orang itu menutupi wajahnya dengan kain berwarna hitam dengan jubah berwarna hitam pula, selain sepasang matanya yang berkilauan tajam, boleh dibilang tak terlihat bagaimanakah mimik wajahnya ketika itu. Begitu berjumpa dengan manusia berkerudung itu, kemarahan Mo im sin liong Wan kiam ciu semakin memuncak, tanpa bertanya merah atau hijau lagi, segera bentaknya keras-keras: "Siapa yang berada didepan sana? Mengapa menghadang jalan pergi kami?" "Toayamu hendak menghalangi jalan pergi mu, mau apa kau?" sahut manusia berkerudung yang ada ditengah dengan dingin. "Siapakah kau?" "Orang yang telah membegal barang kawalan perusahaan kalian" jawab orang itu dingin. "Wan piautau, membunuh adalah suatu perbuatan yang dilakukan hanya dengan mengangkat tangan, mengapa kau mesti melakukan pembunuhan terhadap seorang bocah cilik?" "Apa sangkut pahutnya antara bocah keparat dengan kalian?" "Ooh, soal itu mah lebih baik tak usah di campuri Wan piautau, bocah itu sudah kubawa pergi, kalau punya kemampuan minta sajalah kepadaku!" Selama hidupnya Mo im sin liong Wan Kiam ciu hidup diujung golok, begitu rnenrtengar ke tiga orang itu mengaku sebagai pembegal barang kawalannya dan mereka pula yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

telah menyelamatkan Suma Thian yu, kontan saja marah, ssgera dia menerjang ke muka dan melepaskan sebuah bacokan ke tubuh orang itu. "Kiam ciu!" terdengar orang berkerudung itu membentak keras, "masih ingin hidupkah kau?" Ketika mendengar teguran tersebut, Mo im sin liong Wan Kiam ciu yang sedang memasang gaya untuk melancarkan serangan menjadi agak terhenti, kemudian ia berdiri termangu-mangu ditempat semula dengan perasaan terkesiap. "Suara orang ini sangat kukenal... sebenarnya siapakah dia?" demikian ia berpikir. Sementara dia masih termenung, terdengar orang itu berkata lagi: "Kiam ciu, matikan saja keinginanmu itu, lebih baik pulang saja ke rumah....." Mendengar perkataan itu, mendadak Mo im sin liong Wan Kiam ciu teringat akan seseorang, paras mukanya segera berubah hebat, tapi dengan cepat ia menggelengkan kepalanya untuk menyangkal kembali jalan pemikiran tersebut, tanyanya sambil mendongakkan, kepala "Siapakah kau? Dapatkah aku mengetahuinya?" "Sesaat sebelum ajalmu tiba, aku pasti akan menyingkap kain kerudung ini untuk memperlihatkan wajah asliku kepadamu!" Mendengar perkataan tersebut, Mo im sin liong Wan Kiam ciu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa panjang. "Haaah....haaah....haaah....sungguh beruntung kita bisa saling bersua muka pada hari ini, bersusah susah aku mencari jejakmu akhirnya berhasil ditemukan tanpa bersusah payah. Bila kalian bertiga tidak segera menyerahkan barang kawalan kami yang dibegal, jangan harap kalian bisa keluar dari sini dengan keadaan hidup!" Berbicara sampai disitu, dia lantas memberi perintah kepada para piausunya. "Bekuk mereka semua!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siapa tahu belum selesai dia berkata, mendadak terdengar ke tiga orang manusia berkerudung itu tertawa tergelak bersama. Ketika Wan Kiam ciu mendongakkan kepalanya, dengan perasaan kaget segera jeritnya: "Aaaah" Ternyata ke empat orang pembantu yang dibawanya telah berdiri mengintari dibelakang tubuhnya dengan berjajar, sambil megang senjata, meraka mengawasi kearahnya dengan senyuman licik menghiasi bibirnya. Merasakan gelagat tidak beres, dengan perasaan terkesiap, Mo im sin liong segera bertanya: "Kalian..." Belum habis dia berkata, Boan thian hui Ya Nu telah menyela sambil tertawa licik. Wan congpiautau, kau terkejut? Siapa suruh kau pikun dan tolol, jangan salahkan jika kamipun bertindak pagar makan tanaman, heeh...heeeh..., hari ini adalah hari kematianmu, cuma bila kan bersedia menyerahkan perusahaan Sin liong piaukiok kepadaku, tentu orang she Ya pun bisa berbelas kasihan dengan mengampuni selembar jiwamu." Ternyata Boan thian hui Ya Nu telah bersekongkol dengan kawanan penyamun berkerudung itu, tentu saja si Setan muka hijau Sang Tham pun diundang datang secara khusus untuk membantu pihak mereka. Mimpipun Mo im sin liong Wan Kiam ciu tidak menyangka kalau mata-matanya berada dalam tubuh perguruan sendiri, melihat masa jayanya sudah lewat, diam-diam ia menghela napas panjang, akhirnya setelah mengambil keputusan didalam hati, katanya sambil tertawa sedih: "Ya Nu! Lohu bersikap sangat baik kepada mu, siapa tahu kau adalah seorang manusia yang berpakaian binatang. Pepatah kuno memang berkata benar: Tahu orangnya, tahu mukanya belum tentu tahu hatinya... Ternyata lohu sudah salah menilai dirimu, tidak sulit bila kau menginginkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perusahaan ini, cuma kau mau mesti bertanya dulu kepada pedangku ini, jika dia setuju, tentu saja lohu akan menyerahkan de ngan sepasang tangan terbuka..." Setan muka hijau Sang Tham tertawa seram. "Heehh...heeehh...heehh.,. kematian sudah berada didepan mata, buat apa mesti banyak ber bicara lagi? Toaya akan segera mengirim dirimu lebih dulu untuk pulang kerumah kakek moyangmu" selesai berkata, pedang kaitan berbentuk bulan sabitnya diayunkan ke muka menusuk tenggorokan wan Kiam ciu. Mo im sin-liong wan Kiam ciu tertawa seram, pedangnya dengan jurus Sau soat hee ciat (Membersinkan salju dibawah rumah) menangkis datangnya ancaman pedang kaitan tersebut, menyusul kemudian dengan jurus Sin liong ji hay (naga sakti masuk samudra) secepat kilat dia menusuk ke ulu hati setan muka hijau Sang Tham. Boan thian hui Ya Na paling mengetahui kemampuan yang sebetulnya dari Wan Kiam cui, dia kuatir setan hijau Sang Tham terkecoh, maka sambil memutar senjata Sam ciat kunnya ia terjun pula ke arena pertarungan, suatu pertarungan sengit dengan cepat berkobar..... Mo im sin liong wan Kiam ciu dengan megandalkan ilmu pedang Hu mo kiam hoat serta Mo im sin hoatnya yang lihay pernah menjagoi utara dan selatan sungai besar, meski sekarang diharuskan berhadapan langsung dengan dua orang musuh tangguh, dia masih dapat memberikan perlawanan-nya dengan gigih, dia kuatir dikerubuti orang banyak, maka begitu turun tangan dia lantas melancarkan ancaman dengan jurusjurus dahsyat dan mematikan. Benar juga, tak lama kemudian si setan muka hijau Sang Tham keok lebih dulu, menyusul kemudian Boan thian hui Ya ikut terpapas kutung sebuah jari tangan-nya. Tiga orang manusia berkerudung yang berada disamping arena dan melihat gelagat tidak menguntungkan, dengan cepat membentak keras dan bersama-sama terjun ke arena pertarungan, dengan demikian situasinya segera berubah, Mo

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

im sin liong kena terdesak sehingga mundur kebelakang berulang kali........ Sepasang tangan sulit melawan empat tangan, seorang gagah sukar melayani gerombolan monyet, apalagi usia Mo im sin liong San Kiam ciu telah mencapai enam puluh tahunan, setelah bertarung sekian lama ia makin tak kuasa menahan diri. Pada mulanya dia masih dapat memutar senjatanya dengan leluasa, tapi lama-kelamaan akhirnya makin keteter dan tak sanggup menahan diri lebih lanjut. Paras muka Mo im sin liong berubah menjadi merah padam bagaikan darah, sepasang matanya merah berapi-api, pakaian yang dikenakan olennya kini telah bertambah dengan beberapa buah lubang, hingga detik ini dia benar-benar kehabisan tenaga dan berada diambang kematian. Tampak giginya saling bergemerutukan keras, mendadak ia berjongkok lalu sambil membentak nyaring, sepasang lengan-nya diluruskan kemuka dan tubumenerjang keudara dan berusaha untuk melompat keluar dari arena dengan mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya. Boan thian hui Ya Nu yang mendendam karena jarinya dipapas kutung, tentu saja tak akan membiarkan dia melarikan diri dengan begitu saja, sambil memberi tanda kepada semua orang, serentak mereka melompat ke muka dan menubruk bersama ketubuh Mo im sin liong Wan kiam cui. Tujuh macam senjata bagaikan titik air hujan berbareng membacok kearah tubuh lawan. Tampaknya Mo im sin liong Wan Kiam akan terjerumus kedalam bahaya maut dan tak mungkin jiwanya bisa tertolong lagi... Disaat yang amat kritis itulah mendadak dari tengah udara berkumandang suara pekikan nyaring yang memekikkan telinga, menyusul kemudian terlihat sesosok bayangan manusia berwarna hitam masuk ke dalam arena dengan kecepatan luar biasa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seketika itu juga terdengar suara benturan senjata yang amat ramai disusul jeritan kesakitan bergema memenuhi angkasa, diantara ba yangan manusia berkelebat lewat, tujuh delapan sosok bayangan manusia tahu-tahu sudah roboh rerkapar diatas tanah sambil mengaduh kesakitan. Ditengah arena pertarungan, kini telah berdiri seorang kakek berwajah segar yang sangat berwibawa, ditangannya menggenggam sebuah senjata kebutan dan berdiri disitu sambil tersenyum. Waktu itu sebenarnya Mo im sin liong sudah memejamkan matanya siap mati, ketika tiba-tiba muncul seorang bintang penolong dari atas langit, ia merasa terkejut sekali, buru-buru melompat bangun, kemudian dengan hormat dia menjura seraya berkata: "Berkat bantuan dari saudara, kuucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu!" "Cepat-cepatlah pulang, kuatirnya kalau terjadi sesuatu peristiwa yang diluar dugaan!" Mendengar perkataan itu, Mo im sin liong merasa amat terkejut, satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya, kemudian jeritnya kaget: "Aah, jangan-jangan aku sudah terkena siasat memancing harimau turun gunung?" Kakek itu mengangguk dan tersenyum, lalu ia tidak bicara lagi. Mo im sin liong Wan kiam cui merasa gelisah sekali, buruburu tanyanya lebih jauh: "Tolong tanya siapakah namamu agar budi kebaikan ini bisa kubalas dikemudian hari!" "Cepatlah pergi! Tak ada gunanya menanyakan soal itu kepadaku, lebih baik segera pulang keperusahaan Piaukiok untuk menyelamatKan bencana" kembali kakek itu tegsenyum! Mo im sin liong Wan Kiam ciau tidak bertanya lebih jauh, dia segera menjura kemudian melompat pergi meninggalkan tempat itu, dalam beberapa langkah saja dia sudah lenyap dari pandangan mata.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sepeninggal Mo im sin liong, kakek itu baru mengalihkan sorot matanya dan mengawasi ketujuh orang pencoleng yang tergeletak ditanah lalu sambil mengibaskan senjata kebutannya, ia berkata : "Semuanya cepat bangun! Sudah tak becus macam gentong nasi, masih berani berlagak sok pendekar" Seakan-akan memiliki kewibawaan yang luar biasa, ketujuh orang pencoleng yang sedang merintih diatas tanah itu segera merangkak bangun kemudian dengan empat belas matanya yang memancarkan sinar takut bercampur merengek, mereka bersama-sama mengawasi tubuh kakek tersebut. Si kakek segera tersenyum, katanya. "Lohu paling benci dengan segala macam permainan rendah dan busuk seperti ini, berbicara dari perbuatan yang kalian lakukan, sebetulnya tak seorangpun tak boleh dibiarkan hidup, tapi mengingat kalian belum melakukan kejahatan besar, maka sengaja kuampuni jiwa mu sekali ini saja, bila lain kali sampai terjatuh kembali ketangan lohu, tak akan seenteng ini yang bakal kuberikan" Berbicara sampai disitu, ditatapnya ketujuh orang itu dengan pandangan tajam, kemudian bentaknya lebih lanjut. Mengapa tidak segara enyah dari sini? Apakah ingin menunggu sampai lohu yang menghantar keberangkatan kalian?" Meski suaranya halus namun memancarkan semacam kewibawaan yang membuat orang tak berani melanggarnya. Hoan thian hui Ya Nu berangkat duluan disusul lima orang lainnya, tinggal seorang manusia berkerudung yang masih tetap tinggal disitu sambil mengancam: "Toaya tak akan melupakan peristiwa yang berlangsung hari ini dengan begitu saja, tinggalkan namamu, dikemudian hari pasti akan kubalas pemberianmu pada hari ini" Kembali kakek itu tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan tersebut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Bagus, punya keberanian, punya semangat, lohu paling suka dengan manusia semacam kau, baik! Jika kau ingin membalas peristiwa hari ini, silahkan saja datang ke telaga Tong ting yu untuk mencari Heng see Cinjin..." Mengetahui kalau kakek yang berada dihapannya kali ini adalah Heng see Cinjin yang nama besarnya sudah termashur dalam dunia persilatan sejak puluhan tahun berselang, manusia berkerudung itu tak berani banyak berbicara lagi. dia segera membalikkan badan dan segera melarikan diri terbiritbirit meninggalkan tempat itu. Memandang bayangan hitam yang semakin menjauh dari pandangan mata itu. Heng see Ciajin tertawa terbahak-bahak, kemudian selesai tertawa bentaknya dengan suara rendah. "Bocah, sekarang kau sudah boleh keluar." Baru selesai dia berkata, dari dalam hutan terdengar sesorang menyahut lantang: "Aku telah datang!" Sesosok bayangan manusia melayang keluar dari balik pepohonan, setelah berputar satu lingkaran diudara, dengan entengnya dia melayang turun di muka Heng see Cinjin. Ternyata orang itu tak lain adalah si pendekar cilik Suma Thian yu. Begitu mencapai permukaan tanah Suma Thian yu segera berkata dengan hormat: "Rupanya cianpwee, maaf bila boanpwee punya mata tak berbiji." Heng see Cinjin segera tertawa terbahak-bahak. "Haaah, haaah, haaah, sudah kau dengar namaku. Bocah, siapakah gurumu?" "Guruku adalah Put gho chu." Mengetahui kalau guru Suma Thian yu adalah Put Gho cu yang angkat nama bersamanya tak terasa Heng see Cinjin tertawa bergelak. Tapi secara tiba-tiba dia menghentikan kembali gelak tertawanya, kemudian setelah melirik sekejap kearah pedang yang tersoreng dipunggung Suma Thian yu, katanya agak tercengang. Dari mana kau dapatkan pedang itu?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Hadiah dari paman boanpwee, Kit hong kiam Wan Liang." "Ehmm, bagaimana dengan dia? Sekarang dia berada dimana?" "Dia seorang tua telah tiada." "Sudah mati?" paras muka Heng see Cinjin berubah hebat, "apa yang menyebabkannya kema tian-nya?" Begitu teringat dengan kematian paman Wan nya yang mengenaskan, sepasang mata Suma thian yu berubah menjadi merah padam, titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, sampai lama kemudian ia baru berusaha untuk menekan kesedihan yang mencekam dalam dadanya. Kemudian secara ringkas dia menceritakan kisah kematian Wan Liang yang mengenaskan itu kepada Heng see Cinjin, kemudian secara ringkas mengisahkan pula apa yang telah dialaminya di perusahaan Sin liong piaukiok. Heng see Cinjiu mendengarkan dengan seksama, kemudian sambil mengdongakkan kepalanya dia menghela napas panjang. "Aaai... sakit hati tenggelam ke dasar samudra, tiada saat untuk membuktikan kebersihan diri lagi" "Sungguhkah dugaan dari locianpwee itu? "Ehhmm ...kau tahu manusia macam apakah Bi kun lun Siau Wi goan yang menjadi musuh bebuyutannya paman Wan?" Suma Thian-yu menggelengkan kepalanya berulang kali. BoanPwee kurang jelas, mohon kau sudi memberi penjelasan" "Aaai....siancay, kalau persoalan ini saja tidak kau pahami, bagaimana mungkin fitnahan yang menimpa Wan Liang bisa terselesaikan dengan baik...?" Selesai berkata, Heng see Cinjin segera duduk bersila dan mempersilahkan pula kepada Suma Thian yu untuk duduk, kemudian katanya. "Nak, kau duduklah dulu, akan kujelaskan semua perangai yang sebenarnya dan Siau Wi goan"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian-yu segera duduk. Pada saat itulah mendadak ia teringat kembali dengan bencana yang menimpa perusahaan Sin liong piau kiok, buru-buru katanya: "Locianpwee, bagaimana dengan keadaan di Sin liong piaukiok?" "Anak bodoh, apa sangkut pautnya persoalan ini dengan dirimu? Mereka amat membencimu sehingga kalau bisa makan dagingmu dan menghirup darahmu, buat apa kau mesti memperhatikan dirinya? " "Tapi...... Melihat sikap Suma Thian yu yang murung dan penuh perasaan cemas, diam-diam Heng see Cinjin memuji atas kebesaran hati dan sifat kependekaran dari pemuda itu, katanya sambil tertawa: "Bencana bisa dihindari, bagaimana dengan kekesalan? Nak, tak usah kau pikirkan tentang masalah itu, dengarkan dulu perkataanku. Sudah pasti wan Kiam ciu si manusia tolol itu dapat dibantu" Mendengar ucapan mana, Suma Thian yu segera berpikir lagi didalam hati: "Menunggu kau menyelesaikan kata katanya, mungkin Sin liong piaukiok sudah hancur menjadi puing-puing yang berserakan?" Walaupun dia berpikir demikian, toh perasaannya agak tenang banyak, karena setelah Heng see Cinjin berkata demikian, sudah pasti ia telah mengatur suatu rencana yang matang. Sementara itu Heng see Cinjin telah memandang sekejap ke arah Suma Thian yu, lalu berkata. "Nak, orang yang hendak kau cari adalah pemimpin kalangan putih dari dunia persilatan dewasa ini, andaikata dia adalah musuh umum dari dunia persilatan saat ini, lohu yakin usahamu itu pasti akan segera berhasil, sa yang Bi kun lun Siau Wi goan adalah seorang yang dianggap sebagai seorang Kuncu, seorang enghiong hohan dari dunia persilatan, bila kau berani mencarinya, berarti kau sedang menantang seluruh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

umat persilatan untuk berduel, akibatnya tak bisa dibayangkan dengan kata-kata. Mendengar sampai disitu, Suma Thian yu segera bertanya dengan perasaan gugup: "Kalau begitu, harapan dari boauwe ini tak mungkin bisa terwujud....?" "Aku rasa demikian, kecuali kalau kau memiliki suatu kepandaian yang luar biasa" Berbicara sampai disitu, Heng see Cinjin berhenti sejenak, kemudian melanjutkan : "Cuma, manusia tak akan menangkan takdir, kebenaran pasti akan ditegakkan, asal kau dapat menemukan suatu bukti dari kejahatan yang telah dilakukan Siau Wi goan, tentu saja hal ini akan mempermudah dirimu untuk mempermudah dirimu untuk melaksanakan tugas tersebut" "Jadi locianpwee menganggap dia adalah seorang yang baik?" "Hanya bisa mengatakan demikian, karena dia tidak mempunyai bukti yang menunjukkan kalau telah melakukan kejahatan" Suma Thian-yu merasakan hatinya sakit sekali, katanya kemudian dengan cepat: "Dia adalah orang jahat! Dia adalah pemimpin dari rombongan penyamun berkerudung itu!" "Aku memang pernah mendengar berita tersebut" kata Heng see Cinjin hambar, "tapi kalau sesuatu kejadian belum dibuktikan dengan mata kepala sendiri, hal mana tak dapat diper caya dengan begitu saja" Suma Thian yu menjadi sangat gelisah, serunya lagi dengan cemas. Hal 57 dan 58 hilang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma thian yu seorang yang cerdas, mendengar perkataan itu, kecurigaan-nya lenyap, kemurungan dan kekesalan yang semula menyelimuti wajahnya pun lenyap, dengan perasaan terima kasih, dia awasi Heng See cinjin tak berkedip, sepatah katapun tak sanggup diucapkan karena haru. Melihat itu Heng see Cinjin segera berkata sambil tersenyum: "Orang yang baik selalu dilindungi Thian, persoalanmu kali ini hanya ada rasa kejut tiada bahaya, semoga kau dapat maju dengan gagah berani...." "Terima kasih atas petunjuk dari cianpwee, seru Suma Thian yu sambil bangkit dan mengucapkan rasa terima kasihnya. Heng see cinjin mengulapkan tangannya menyuruh dia duduk, dan katanya lagi: "Mereka segera akan datang, mari kita duduk dan menanti sejenak!" "Siapa mereka?" tanya Suma Thian yu dengan rasa keheranan. "Sebentar kau akan mengerti, buat apa mesti terburu napsu?" Berbicara sampai disitu, Heng see cinjin segera memasang telinga dan mendengarkan dengan seksama, kemudian ia segera tertawa terbahak-bahak. "Haah...haah....haah...mereka sudah datang, cara kerja kedua orang setan cillk ini benar-benar cepat sekali!" Suma Thian yu tidak tahu permainan macam apakah yang hendak dilakukan Heng see cinjin ini, untuk sesaat dia menjadi kebingungan setengah mati dan cuma bisa mengawasi kakek itu dengan wajah termangu. Heng see Cinjin segera menuding keatas tebing, lalu tertawa terbahak-bahak. "Haah... haah... haah...coba lihat, bukankah mereka telah datang?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu segera berpaling, mengikuti arah yang ditunjuk Heng see Cinjin, tampak ada dua sosok bayangan manusia sedang meluncur mendekat dengan kecepatan luar biasa. Cukup dilihat dari gerakan tubuh mereka, dapat diketahui kalau kedua orang itu adalan jago-jago persilatan nomor wahid dari kolong langit... Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah melayang turun disamping mereka, ternyata ke dua orang itu adalah muda mudi yang berusia antara tujuh delapan belas tahun. Begitu mencapai diatas permukaan tanah, muda mudi itu segera melayang turun ke tanah dan menyembah kepada Heng see Cinjin sembari melapor: "In su, tugas yang dibebankan kepada kami telah diselesaikan, cuma sayang kami gagal untuk melindungi Mo im sin liong Wan Kiam ciu Wan cong piautau" "Apa? Wan congpiautau telah tertimpa suatu musibah?" Setelah menjerit kaget, dengan gusar Heng see Cinjin segera menegur sepasang muda mudi itu: "Bodoh! Bagaimana pesanku pada kalian? Masa urusan sekecil inipun tidak bisa dibereskan secara tepat? Begitu masih ingin membicarakan masalah besar lainnya? Ternyata sepasang muda mudi ini adalah murid kesayangan dari Heng see cinjin, mereka adalah saudara sekandung, yang lelaki bernama Thia Cian, yang perempuan Thia Yong. Sejak kecil dua saudara ini hidup sengsara karena di tinggal mati kedua orangnya, oleh Heng see Cinjin mereka pun di bawa pulang kebukit Kun san dipelihara disana. Oleh karena kedua orang itu mempunyai bakat yarg baik untuk berlatih silat, timbul perasaan sayang Heng see Cinjin kepada mereka, sejak kecil kepandaian silatnya telah diberikan kepada mereka berdua.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perlu di ketahui Heng see Cinjin adalah kakak seperguruan Leng gho Cinjin ketua partai Kun lun dewasa ini, ilmu silatnya lihay sekali. Berhubung adik perguruannya Leng gho Cin jin sombong dan kemaruk akan nama dan kedudukan, sedangkan dia hambar akan nama dan kedudukan, seringkali kedua orang bersaudara perguruan ini bentrok berselisih paham, akhirnya diapun menyerahkan kedudukan ciangbun jin tersebut kepada Leng gho Cinjin. Sedangkan dia sendiripun berkelana dalam dunia persilatan, selain mengasingkan diri diapun memusatkan segenap perhatiannya untuk mendidik anak muridnya. Oleh karena itu, begitu terjun kedalam dunia persilatan, dua bersaudara Thia segera menjadi tenar dan menggemparkan dunia persilatan, semua orang menyebut mereka sebagai Thi pit suseng (sastrawan berpena baja) dan Toan im siancu. Sementara itu Thi pit suseng Tnia Cian sedang berkata dengan nada menyesal: "In su, dalam melindungi keselamatan jiwa Wan congpiautau, tecu berdua memang tidak berkemampuan, justru karena kami datang tepat pada waktunya, maka Sin Liong piauklok baru selamat dari jurang kehancuran" Suma Thian yu menjadi gelisah sekali setelah mendengar kalau Wan cong piantau menderita luka parah, baru saja Thi pit suseng Thian Cian menyelesaikan kata-katanya, dengan cepat dia telah bertanya: "Apakah jiwanya terancam bahaya?" Jilid 9 : Mengusut pencoleng berkerudung Dengan cepat Thi pit suseng Thia Cian menggelengkan kepalanya berulang kali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Sukar untuk diramalkan, tapi nampaknya memang terancam jiwanya" "Si tua bangka tolol dan bodoh itu sudah sepantasnya merasakan sedikit penderitaan, kalau tidak, mana mungkin ia dapat membedakan yang baik dan yang buruk" Kemudian kepada Thi pit suseng Thia Cian kembali bertanya. "Cian ji, siapakah yang telah melakukan pembantaian terhadap perusahaan pengawal barang itu?" "Tecu tidak tahu, konon mereka adalah segerombolan penyamun berkerudung" "Aaaah, lagi-lagi gerombolan penyamun kerudung!" gumam Suma Thian-yu seorang diri, kemarahan-nya makin membara. Tampaknya Heng see cinjin sudah mempunyai perhitungan dalam hatinya, ia berkata kemudian: "Sudah kuduga sejak semula, begitupun lebih baik, kalau tidak demikian, lama-kelamaan Sin liong piaukiok bakal dikuasahi pula oleh mereka...." Dalam pada itu, Toam im siancu Thio Yong yang berada disamping, telah menimbrung: "In su, bencana yang menimpa perusahaan Sin liong piaukiok tak akan berakhir sampai disini saja!" "Kenapa?" "Tecu mendengar ada seorang pencoleng berkerudung yang mengancam akan datang lagi sesaat sebelum meninggalkan tempat itu" "Sungguhkah perkataanmu itu?" tanya Heng see cinjin dengan perasaan terperanjat. "Benar Insu, tecu pun ikut mendengar ancaman tarsebut" sambung Thi pit suseng Thia Cian dengan cepat. Paras muka Heng see cinjin segera berubah menjadi amat serius, katanya kemudian: "Bajingan yang menggemaskan, selama lohu masih hidup didunia ini, aku pasti akan menghadapi mereka sampai titik darah yang peng habisan" Setelah berhenti sejenak, terusnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Anak Cian, apakah orang-orang dari perusahaan piaukiok itu pada mengetahui kejadian ini?" "Yaa, mereka semua mengetahui" "Kalau begitu aku bisa berlega hati, setelah terjadinya peristiwa yang menimpa mereka ini, tentu mereka akan bertindak lebih seksama dan waspada" gumam Heng see cinjin kemudian. Setelah Suma Thian yu mendengar pembicaraan mereka, hatinya merasa semakin gelisah, bagaimana sikap Mo im sin liong Wan Kiam cui terhadapnya, asal dia masih memiliki kemampuan maka dia bertekad hendak menyelamatkan bencana tersebut. Maka kepada Heng see cinjin katanya. "Locianpwe, aku ingin sekali pergi ke Sin liong piaukiok untuk melihat keadaan, entah bolehkah aku kesitu?" Heng see cinjin segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Suma Thian yu dengan ramah, lalu ia balik bertanya: "Kau berani kesana?" "Berani saja, memangnya mereka masih bisa membenci aku? Atau berbuat sesuatu yang tak menguntungkan bagiku?" "Soal ini sukar untuk dikatakan, nak, ketahuilah kesalahan paham Mo Im sin liong Wan Kiam ciu terhadap dirimu sudah kelewat mendalam, bila kau kembali kesitu maka hal mana hanya akan menambah kesulitan saja bagimu." Mendengar perkataan itu, Suma Thian yu segera tertawa dengan penuh rasa percaya pada diri sendiri, sahutnya. "Aah, tidak mungkin, asal aku merasa tak pernah melakukan suatu perbuatan yang melanggar kebenaran, sekalipun mereka menaruh kesalahan paham terhadap boanpwee, hal mana juga tak menjadi soal" Melihat pemuda itu bersikeras hendak pergi juga, terpaksa Heng see cinjin harus mengangguk untuk menyetujuinya. Suma Thian yu segera berpamitan kepada Heng see cinjin bertiga, kemudian sambil membalikkan badan dia balik ketempat semula.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Waktu itu senja telah tiba, kota Hong ciu telah dipenuhi oleh cahaya lentera yang berwar na warni, setelan menempuh perjalanan sekian waktu, akhirnya sampailah Suma Thian yu di depan perusahaan Sin liong piaukiok... Waktu itu pintu masih terbuka lebar, enam orang lelaki bersenjata golok dan tombak berdiri didepan pintu, ketika menyaksikan Suma Thian yu muncul dintu, serentak mereka berteriak keras. "Setan cilik, mau apa kau datang kemari?" Suma Thian yu menjura dan tertawa, sahutnya. "Harap toako suka melapor ke dalam, katakan kalau ada seorang manusia yang bernama Suma Thian yu ingin berbicara dengan Tio piautau" Salah seorang lelaki kekar itu melotot sekejap ke arah Suma Thian yu dengan gusar, ke mudian sambil berjalan balik kedalam ruangan, gumamnya kemudian. "Akan kulihat apakah kau masih punya nyawa untuk pulang kerumah nanti..." Tak lama setelah masuk ke dalam, lelaki kekar itu telah muncul kembali diiringi oleh Pena baja bercambang Tio Ci hui. Begitu melihat kemunculan si Pena baja bercambang Tio Ci hui, dengan langkah cepat Suma Thian yu menyongsong kedatangannya, lalu beireru denean gembira. "Tio toako..." Tampak paras muka Pena baja bercambang Tio Ci hui suram tak bersinar, seolah-olah dia menyimpan suatu kedukaan yang amat besar, tegurnya dengan nada hambar. "Hiante, mau apa kau balik lagi kemari?" Suma Thian yu semakin tercengang menyaksikan paras muka si Pena baja bsrcambang Tio Ci hui yang sangat aneh itu, buru-buru tanyanya lagi dengan keheranan. "Tio toako, mengapa kau? Kalau kulihat wajahmu yang murung dan suram, jangan-jangan telah terjadi sesuatu ditempat ini?" Maksud Suma Thian yu, dia menanyakan spakah Wan Kiam ciu telah tewas karena luka dalam yang dideritanya, tapi si

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pena baja bercambang Tio Ci hui telah salah mengartikan sebagai kepura puraan anak muda itu dalam peristiwa penyerbuan musuh tangguh terhadap perusahaan mereka. Kontan saja paras mukanya berubah hebat, serunya penuh kegusaran. "Hiante, dihadapan orang jujur tak usahlah berlagak, kau bisa saja membohongi semua orang yang ada didunia ini, tak seharusnya membohongi aku Tio Ci hui!" Suma Thian yu tertegun mendengar ucapan itu, buru-buru dia bertanya lagi: "Toako apa maksudmu?" Si Pena bajo bercambang Tio Ci hui melotot dengan penuh kegusaran, serunya dingin. "Mengapa kau tidak masuk dan melihat sendiri?" Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam. Dengan penuh keheranan Suma Thian yu segera mengikuti pula di belakangnya masuk ke dalam perusahaan tersebut. Dalam pada itu, rasa ingin tahu sudah timbul dalam hati kecilnya, didalam anggapannya Bi hong siancu Wan Pek lan sepantasnya keluar untuk menyambut kedatangannya begitu mendengar akan kehadirannya, tapi sekarang mengapa dia malahan menghindarkan diri? Mungkinkah sampai sekarang mereka masih menaruh kecurigaan terhadap dirinya? Berpikir sampai disitu, dia melewati sebuah tanah lapangan, tampak olehnya mayat-mayat berserakan diatas tanah, sekelompok penolong sedang mengobati kaum terluka yang tergeletak ditanah pula, pemandangannya mengenaskan sekali. Sementara itu, si Pena baja bercambang Tio Ci hui yang barjalan didepan masih tetap membungkam dalam seribu bahasa, dalam keadaan seperti ini mau tak mau timbul juga kecurigaan di dalam hati Suma Thian yu. Sesudah melewati tanah lapang, didepannya terbentang sebuah pagar bambu, Pena baja bercambang membuka pintu pagar dan membawa Suma Thian yu masuk ke dalam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Disitu merupakan sebuah kebun bunga setelah melewati sebuah jalanan kecil, terbentang sebuah bangunan rumah yangmungil dan indah. Degan wajah serius Pena beja bercambang Tio Ci hui melanjutkaa perjalanannya masuk ke dalam, Suma Thian yu terpaksa harus mengikuti di belakangnya dengan mulut membungkam Tak lama kemudian, sampailah mereka didalam sebuah kamar tidur yang cukup besar dan luas. Pena baja bercambang Tio Ci hui berpaling dan memerintahkan Suma Thian yu agar menunggu sebentar diluar, sedang dia sendiri masuk kedalam. Tak selang berapa saat kemudian, pintu kamar terbuka, seorang gadis cantik memunculkan diri. Sepasang mata dara itu sudah berubah menjadi merah membengkak, noda air mata masih menghiasi wajahnya, sungguh mengibakan hati keadaannya, membuat orang yang meman dang makin lama semakin kasihan. Dara manis tersebut tak lain adalah kekasih hati Suma Thian yu sendiri Bi hong sian cu (Dewi burung hong) Wan Pek lan. Begitu berjumpa gadis itu, Suma Thian yu segera berseru tertahan, "Adik Lan..." Bi hong siancu Wan Pek lan segera menempelkan jari tangannya didepan bibir memberi tanda agar berbicara jangan keras-keras, kemudian ujarnya dengan sedih. "Mau apa kau balik lagi kemari? Cepatlah pergi!" Ucapan tersebut bagaikan sebaskom air dingin yang diguyurkan keatas kepala Thian yu, kobaran api cintanya yang membara kontan berubah menjadi dingin dan mem beku, hatinya seperti ditusuk tusuk dengan pisau tajam, sakitnya bukan kepalang. Menyaksikan paras muka Suma Thian yu berubah menjadi hebat, Bi hong siancu Wan Pek lan tertawa dingin lagi, katanya lebih jauh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kau...kau...anjing geladak berwajah manusia berhati binatang, mau apa datang ke mari? Cepat enyah dari hadapanku!" Paras muka Suma Thian yu berubah membesi oleh ucapan tersebut, segera teriaknya, "Apa...apa maksudmu berkata demikian? Kau... kau telah berubah, adik Lan, benarkah kau tidak memahami perasaan hatiku?" "Hmm... apa maksudku memangnya tidak kau pahami? Kau angap aku Wan Pek lan merupakan seorang bocah yang buru berusia tiga tahun?" "Baik, sebelum kau berbicara, akupun tidak akan pergi! Akan kulihat bagaimana cara untuk mengusirku!" kata Suma Thian ya pula dengan wajah penuh kegusaran. Baru saja Wan Pek lan hendak membantah, dari dalam ruangan telah berjalan keluar Pena baja bercambang Tio Cu hui. Begitu membuka pintu lebar- lebar, dia lanas berteriak ke arab Suma Thian yu penuh ke gusaran: "Coba kau lihat! Perbuatan siapakah ini?" Suma Thian yu berpaling, paras mukanya segera berubah hebat, ternyata di atas pemba ringan berbaring seorang kakek yang bertubuh penuh luka, paras mukanya pucat pias, napasnya amat lemah dan keadaannya mengerikan sekali. Suma Thian yu segera memejamkan matanya rapat-rapat, dia merasa tak tega menyaksikan adegan semacam itu. Dengan cepat Pena baja bercambang Tio Ci hui telah merapatkan kembali pintu kamarnya, lalu memberi tanda kepada Suma Thian yu dan Bi Hong siancu Wan Pek Lan agar keluar dari sana. Setibanya ditengah tanah lapang, Pena baja bercambang Tio Ci hui baru berkata dengan suara dalam: "Thian yu, katakan kepadaku berterus terang apa hubunganmu dengan manusia berkerudung itu?" "Tio toako, kau anggap aku Suma Thian yu adalah seorang pencoleng?" Suma Thian yu balik bertanya dengan melotot,.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kalau bukan begitu, mengapa kau datang untuk melakukan penyelidikan lagi?" "Melakukan penyelidikan?" Suma Thian yu membentak semakin gusar. "Thio toako, hari ini aku datang demi keselamatan perusahaanmu, dengan ucapan toako tersebut, bukankah sama artinya dengan kau menilai orang mengguna kan hati picik seorang siaujin" "Thian yu, ketika kau dikerubut dan melarikan diri, siapa yang telah menolong dirimu?" tanya Pena baja bercambang Tio Ci hui lagi penuh kegusaran. "Seorang tokoh silat yang lihay" "Hmm...bukankah mereka adalah tiga orang penjahat berkerudung? Bagus, perbuatanmu memang bagus sekali sengaja bertarung melawan manusia berkerudung, malammalam meninggalkan surat diatas tiang bendera, lalu purapura berkelahi melawan Boan Thian hui dan akhirnya merayu nona Wan, tampaknya semua peristiwa tersebut telah kau atur secara sempurna sekali!" Tak terlukiskan pedihnya hati Suma Thian yu setelah mendengar perkataan itu, dari apa yang telah diucapkan ia dapat menarik kesimpulan kalau Pena baja bercambang Tio Ci hui pun menaruh kesalahan paham kepadanya. Tanpa terasa dengan kepedihan yang amat tebal dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Bi hong siancu Wan Pek lan, seolah-olah. dia ingin mencari tahu perasaan hatinya lewat wajah gadis itu. Apa lacur, paras muka Bi hong siancu Wan Pek lan pun berubah amat serius, hawa pembunuhan yang amat tebal telah menyelimuti seluruh wajahnya, sepasang matanya melotot amat besar. Menyaksikan kesemuanya itu, Suma Thian yu menghela nafas panjang, kepada Pena baja bercambang Tio Ci hui katanya: Tio toako, kalian salah paham, aku Suma Thian yu berani bersumpah kepada langit bawa aku bukan manusia rendah yang terkutuk semacam itu, tapi soal mau percaya atau tidak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

terserah kepadamu, lebih baik Thian yu mohon diri saja lebih dahulu" Selesai menjura dalam-dalam, dia membalikan badan dan siap meninggalkan tempat itu. "Tunggu sebentar!" tiba-tiba Bi hong siancu Wan Pek lan membentak dengan nyaring. "Ada urusan apa? Nona Wan?" Suma Thian yu segera berpaling. Ketika Bi hong siancu Wan Pek lan mendengar Suma Tbian yu merubah panggilan kepadanya sebagai "nona Wan" perasaan yang tak puas itu semakin memuncak hawa amarahnya berkobar, dengan kening berkerut dan tertawa dingin tiada hentinya dia berseru: "Boleh saja kalau ingin pergi, tapi tinggalkan dulu selembar jiwamu...!" "Tinggalkan selembar jiwamu?" Suma Thian yu balik bertanya dengan keheranan, mengapa? "Mengapa? Hmm, membunuh ayah merupakan suatu peristiwa yang besar, dendam sakit hati ini lebih dalam dari samudra, bayar dulu selembar wajah ayahku!" bentak si nona gusar. Mendengar perkataan tersebut, Suma Thian yu segera menengadah dan tertawa terbahak bahak, suaranya pilu dan memedihkan hati, seakan-akan dia hendak mengeluarkan semua ke sedihan, kemurungan dan kekesalan yang mencekam dalam dadanya. Selesai tertawa dia melotot besar, mencorong sinar tajam yang menggidikan hati dari balik matanya, setelah memandang sekejap kedua orang itu, dia berkata: Thian yu sudah lama tidak memikirkan soal mati hidupku lagi, bila ingin merenggut nyawaku, silahkan saja turun tangan" Kemarahan Bi hong siancu Wan Pek lan benar-benar telah memuncak, tanpa berpir panjang lagi dia meloloskan pedangnya, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dia melepaskan sebuah tusukan kilat keulu hati anak muda tersebut. Suma Thian yu berdiri tegak dengan wajah tenang, terhadap datangnya ancaman tersebut dia bersikap seakanakan tidak melihat, perasaan hatinya waktu itu sangat kalut, ia ingin mati saja daripada dituduh melakukan perbuatan yang tak benar, apalagi kalau bisa mati di ujung pedang kekasihnya, hal ini dirasakan lebih memenuhi harapannya. Oleh karena itu, dia memejamkan matanya menantikan saat kematiannya tiba. Tampaknya ujung pedang Bi hong Siancu Wan Pek lan segera akan menyentuh dada Suma Thian yu, Pena baja bercambang Tio Ci hui juga telah bersiap untuk berteriak..... Disaat yang amat kritis itulah mendadak Bi hong siancu Wan Pek lan menarik kembali serangannya, lalu membuang pedang itu ketanah. Sesudah menghela napas panjang, dengan wajah murung dan sedih dia berkata. "Engkoh Yu, pergilah kau! Mulai detik ini Sin liong piauktok tidak mengharapkan kehadiranmu disini!" Seusai berkata, tanpa memungut kembali pedangnya, dia lantas membalikkan tubuhny dan berjalan pergi dari sana. Dengan sepasang mata berkaca-kaca Suma Thian yu memperhatikan bayangan punggung Bi hong siancu Wan Pek lan hingga lenyap dari pandangan mata, kemudian tanpa berbicara apa-apa, dia pun membalikkan badan menuju kepintu gerbang. Pada saat itulah, dengan air mata bercucuran membasahi pipinya, Pena baja bercambang Tio Ci berkata sedih: "Hiante, harap tunggu sebentar!" Suma Thian yu berpaling dan menyahut pelan "Toako, emas murni tidak takut dibakar, aku akan menggunakan waktu untuk membuktikan kebersihanku!" Kemudian tanpa menggubris diri Pena baja bercambang Tio Ciu hui lagi, dia lantas membalikan badan dan berlalu dari situ.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Melihat bayangan punggung Suma Thian yu yang semakin menjauh, Pena baja bercambang Tio Ci hui mmerasakan suatu kekosongan dan kesedihan yang mencekam perasaan-nya. Ia merasa sedih sekali, karena hingga kini dia masih belum dapat membuktikan manusia macam apakah Suma Thian yu itu. Tatkala bayangan punggung Suma Thian yu telah lenyap dari pandangan-nya, tiba-tiba ia menghembuskan napas panjang, lalu berguman: "Entah orang lain menganggap kau sebagai penjahat, aku Tio Ciu hui masih tetap mempercayaimu sepanjang masa" Sayang Suma Thian yu sudah tidak mendengar perkataan itu lagi, meski demikian dia boleh cukup berbangga hati Sebab yang paling berharga dan paling mulia bagi seseorang yang hidup didunia ini adalah dipercayai orang dengan perasaan yang tulus. Dengan membawa perasaan kesal, masgul dan murung, pelan-pelan Suma Thian yu berjalan meninggalkan perusahaan Sin liong piaukiok, meninggalkan kota Heng Ciu. kala itu rembulan telah bersinar ditengah awang-awang, suasana amat sepi, hening, tak kedengaran sedikit suarapun. Berjalan seorang diri di tengah keheningan malam, Suma Thian yu bagaikan seorang pelancong yang sedang menikmati keindahan malam tapi siapa pula yang bisa menduga bagaimana kah perasaan hatinya waktu itu....? Manusia paling gampang berkhayal bisa berada seorang diri, apa lagi kalau baru saja mengalami suatu percobaan hidup yang berat... Sudah barang tentu tak terkecuali pula bagi Suma Thian yu, dia teringat akan rumah, teringat orang tua sendiri, asal usulnya serta paman Wan.... dia membayangkan pula tragedi yang menimpanya hari ini... Makin di pikir rasa sedihnya makin memuncak, sampai akhirnya sambil berjalan dia me nangis tiada hentinya. Ada kalanya dia ingin sekali menangis sepuas-puasnya, ada kalanya ingin mengakhiri hidupnya, tapi bila teringat sakit

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hati pamannya Wan nya yang belum terbalas, dendam keluarga belum terbalas, semua kesedihan segera berubah menjadi amarah... Maka, diapun teringat akan manusia berhati binatang, Bi kun lun (kun lun indah) Siau wi goan. Berhasil menemukan orang itu, berarti dapat menghilangkan kecurigaan yang mencekam hatinya, dapat pula membalaskan sakit hati paman Waa nya. Begitu teringat akan Bi kun lun Siau wi goan, Suma Thian yu segera merasakan semangatnya kembali berkobar, dengan langkah tegap dia berjalan kemuka, langkahnyapun makin lama makin cepat. Ujung dari kegelapan adalah terbitnya fajar, tapi sesaat yang paling gelap. Kokokan ayam bergema dikejauhan sana, membelah kegelapan malam yang mencekam, lambat laun diufuk timur pun secerca cahaya. Akhirnya sinar matahari yang berwarna keemas-emasan pun memandar keempat penjuru dan menyinari seluruh jagad. Suma thian yu telah menuruni bukit, berjalan melalui sawah dan menuju ke sebuah dusun yang jelek dan miskin. Seekor anjing berwarna kuning lari keluar dari dusun dan pelan-pelan menghampiri Suma thian yu. Ketika tiba dihadapan Suma Thian yu, mendadak kaki depannya menjadi lemas, tubuhnya segera berguling ke atas tanah, Suma Thian yu amat terperanjat, dia segera memeriksa dengan seksama, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya tertegun. Ternyata anjing itu sudah memuntahkan darah hitam yang kental dan bau busuk, ia sudah mati dalam keadaan yang mengerikan, Suma Thian yu berjalan menghampiri, lalu setelah menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali, dia melanjutkan per jalanannya kedepan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Belum lagi berjalan empat langkah, kembali tampak olehnya seekor anjing buas menerjang keluar dari balik pintu sebuah gedung. Suma Thian yu tertegun dan segera menyingkir ke samping jalan sambil mengawasi anjing itu lekat-lekat. Tampak anjing buas itu memantangkan mulutnya lebarlebar dan menerjang ke depan Suma Thian yu dengan ganasnya. Berada dalam keaadaan seperti ini, mau tak mau Suma Thian yu harus bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diingin kan, tenaga dalamnya disalurkan dan bilamana perlu dia hendak membunuh anjing tersebut. Siapa tahu, belum lagi mencapai berapa kaki, anjing buas itu sudah meraung keras kemudian roboh tergeletak keatas tanah. Rasa tegang yang semula mencekam Suma Thian yu segera lenyap tak berbekas, dia men coba untuk mengawasi lebih seksama, ternyata anjing buas itu sudah mati dengan darah me ngalir keluar dari ke tujuh lubang indranya, keadaannya persis anjing pertama. Bila terjadi suatu peristiwa aneh, kejadian yang pertama mungkin saja merupakan suatu kebetulan, tapi bila terjadi untuk kedua kalinya, jelas kejadian mana bukan terjadi tanpa sebab. Dengan cepat Suma Thian yu menerjang masuk kedalam gedung Itu, tapi apa yang kemudian terlibat membuatnya menjerit kaget. "Aaaaah!" "Apa yang telah dilihatnya?" Seluruh gedung dalam keadaan sepi, hening seperti kuburan, suasananya begitu mengerikan membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri saja. Waktu itu, seharusnya merupakan saat orang bangun tidur, tapi disini tak nampak sesosok bayangan manusiapun, seakan-akan disitu sudah tidak berpenghuni lagi. Suma Thian yu melangkah lebih jauh ke dalam gedung itu, belum lagi berapa latakah, di tepi jalan ditemui sesosok mayat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membusuk yang terkapar disitu, usus dan isi perutnya telah berhamburan keluar, keadaannya mengeri kan sekali. Sebagai pemuda yang cerdas, suma Thian yu segera dapat merasakan gejala yang tak beres disitu, buru-buru dia menghampiri kamar yang terdekat, tapi begitu dibuka, sekali lagi ia menjerit kaget, "Aaaah!" Buru-buru dia mengundurkan diri dengan wajah memucat, tangannya dipakai untuk menutupi wajahnya, ia betul-betul tak tega untuk mendongakkan kepala. Ternyata apa yang dilihat didalam ruangan itu hanya penuh dengan mayat yang bergelimpangan dimana-mana, keadaannya sangat mengerikan, ada yang tua, ada yang muda, ada yang laki, ada pula yang perempuan. Di alam semestakah? Atau di nerakakah tempat pembantaian yang kejam dan tak berperi kemasiaan? Sejak dilahirkan di dunia ini, belum pernah Suma Thian yu mengalami kejadian yang begitu mengenaskan, entah bagaimanapun dia tak tega untuk memandang lebih jauh, tapi bisa diduga olehnya bahwa semua anggota perkampungan telah dibantai orang secara keji. Siapakah orang-orang itu? Siapa pula pembunuhnya? Apa sebabnya orang-orang itu terbunuh? Mengapa pembunuhnya begitu kejam dan tak berperi kemanusiaan? Setelah menjumpai persoalan sebelumnya, kini dihadapkan pula dengan adegan seram seperti itu, bisa dibayangkan bagaimanakah pe rasaan Suma Thian yu sekarang. Tanpa berpikir panjang lagi, dia sepera membalikan badan dan lari keluar dari situ. Mendadak terdengar suara orang terbatuk-batuk. Menyusul kemudian seseorang berseru dari belakang: "Kau...berhenti!, berhentilah kau...!" Suma Thian yu tercekat sesudah mendengar seruan itu, dia merasa seakan-akan muncul segulung hawa dingin yang merembas melalui punggungnya dan terus naik keatas.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan cepat dia membalikan badannya, kontan bulu kuduknya pada bangun berdiri lantaran kaget, mulutnya ternganga lebar, tak sepotong suarapun yang sempat dilontarkan. Ternyata didepan pintu kamar kedua telah berdiri seorang kakek berjubah hitam yang berambut panjang dan berwajah penuh darah. waktu itu dia sedang menggape dengan lemas, sorot matanya yang sayu dan tak jauh dari kematian memandang lurus tewajah Suma Thian yu tanpa berkedip. Begitu rasa kagetnya berhasil dikuasahi, pelan-pelan Suma Thian yu berjalan kedepan, lalu sambil memayang kakek itu tanyanya: "Lotiang, kobarkan sedikit semangatmu, cepat beritahu kepadaku, apa yang sebenarnya telah terjadi?" Kakek sekarat itu menggerakan kelopak matanya, air mata darah jatuh berlinang membasahi pipinya, dengan suara parau dia berbisik. "See...sekelompak manusia...manusia berkerudung tee...telah ...memm...membunuh seluruh ang...anggota perkampungan ii...ini..." Ketika berbicara sampai disitu, sekujur badannya gemetar keras, seolah-olah napasnya hampir putus, buru-buru Suma Thian yu membimbing kakek itu dan menempelkan telapak tangannya dipunggungnya, lalu menyalurkan hawa murni untuk menunjang hidup kakak itu. Setelah mendapat bantuan tenaga dari sianak muda itu, kesegaran kakek sekarat itu su dah berubah membaik, tampak dia berpaling dan memperhatikan Suma Tbian yu sekejap, kemudian katanya. "Sungguh menggemaskan, sungguh menggemaskan, hanya gara-gara sebutir mutiara, mereka telah pergunakan cara yang keji dan ter kutuk ini untuk membunuhi kami rakyat jelata yang tak pandai bersilat, tapi, sekalipun mereka berbutat demikian......." Ketika berbicara sampai disitu, sekujur badan kakek itu bergoncang keras lalu menjerit.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Lepaskan tanganku, aku amat kesakitan!" Agak tertegun Suma Thian ya selelah mendengar ucapan tersebut, dia segera melepaskan cekalannya. Kakek itu berseru terahan, lalu memuntahkan segumpal riak kental bercampur darah. Suma Thian yu amat terperanjat, buru-buru dia berusaha untuk memayangnya kembali, tapi kakek itu sudah roboh, nyawanya sudah me layang meninggalkan raganya. Untuk kesekian kalinya Suma Thian yu menyaksikan sesosok nyawa meninggalkan raga nya, tak terlukiskan perasaan pedih yang men cekam perasaannya ketika itu. Dia membaca doa dengan hormat, kemudian membalikkan badan dan beranjak pergi, sekarang ia lebih bertekad lagi untuk mencari Bi kun lun Siau Wi goan dan membalas dendam. Ketika meninggalkan dusun kecil itu, Suma Thian yu merasakan hatinya bertambah berat, ia berusaha untuk mencari tahu siapa otak yang mendalangi organisasi perampok berkerudung tersebut. Ia pun tak habis mengerti, mengapa orang-orang itu membantai rakyat tak bersalah yang tinggal dalam perkampungan tersebut hanya gara gara sebutir mutiara saja? Sampai dimanakah pentingnya mutiara itu? Serentetan pertanyaan yang penuh kecurigaan dan tanda tanya itu membentuk sebuah simpul mati didalam benaknya. Ia merasa teka-teki ini baru bisa dipecahkan bila dia berkunjung sendiri kekota Tiang an dan menjumpai Siau Wi goan. Suatu hari, sampailah Suma Thian yu di kota Tiang an, waktu itu tengah hari baru saja lewat, manusia yang berlalu lalang ditengah jalan bagaikan ikan yang berenang dalam sungai. Sesudah menanyakan alamat Bi kun lun Siau wi goan dari orang jalan, dengan cepat Suma Thian yu berhasil menemukan alamat yang di cari tersebut...

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pendekar besar yang memimpin dunia persilatan baik untuk golongan putih maupun golo ngan hitam ini berdiam diujung gang Li gi keng, dikedua belah sisi pintu gerbang terbentang dinding pekarangan raksasa yang sangat tinggi dan kekar, sepasang singa batu besar berada ditepi pintu, bangunannya mentereng, gayanya penuh wibawa. Setelah lama berdiri di depan pintu gerbang seorang lelaki kekar baru munculkan diri dan merghampiri Suma Thian yu sambil menegur. "Engkoh cilik, apakah kau sedang mencari orang?" "Betul, aku hendak menyambangi Siau tayhiap" jawab Suma Thian yu dengan sopan. Mengetahui kalau Suma Thian yu hendak me nyambangi majikannya,tanpa terasa lelaki itu memperhatikan tamunya sekejap lagi, ia mera sa pemuda ini gagah perkasa, tampan dan kekar, ia lantas tahu kalau orang itu bukan manusia sembarangan. Maka sambil tersenyum katanya lagi. "Engkoh cilik, ada urusan apa kau mencari Siau tayhtap?" "Tolong saudara sudi melaporkan, katakan saja aja seorang dari luar desa she Suma yang ingin menyambangi" Lelaki berpakaian ringkas itu segera mengiakan dengan sopan, lalu masuk ke dalam. Sementara itu, Suma Thian yau sedang berpikir didalam hati: "Kalau dilihat dari sikap centengnya yang sopan santun dan tahu peraturan, orang tidak akan mengira kalau Siau wi goan adalah seorang manusia bengis yang berhati buas, lebih baik aku menggunakan tata kesopanan lebih dulu sebelum menggunakan kekerasan, kemudian baru me mutuskan menurut situasi" Sementara dia masih termenung, lelaki berpakaian ringkas itu sudah munculkan diri, setelah menjura dalam-dalam kepada Suma Thian yu, katanya: "Majikan kami mempersilahkan engkoh cilik masuk!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kemudian dengan sikap yang amat menghormat, dia mempersilahkan tamu untuk masuk. Setelah mengucapkan beberapa patah kata merendah, Suma Thian yu baru mengikuti lelaki itu masuk keruang dalam. Sepanjang jalan, yang di jumpainya hanya jago-jago persilatan saja, ketika orang- orang itu menjumpai kehadiran Suma Thian yu, hampir rata-rata menunjukkan wajah tertegun. Menanti Suma Thian yu sudah lewat, mereka baru berbisik bisik membicarakan peristiwa tersebut. Suma Thian yu berlagak seolah olah tidak merasa, bahkan dihati kecilnya sempat memuji Bi kun lun Siau Wi goan yang pandai menjamu tamunya. Lelaki kekar itu mengajak Suma Thian yu menusuki ruangan tengah, tepat di muka ruangan tergantung sebuah papan nama terbuat dari kayu yang bertuliskan: "JIN HONG LIU WAN" Artinya: Perbuatan bajik sampai di mana-mana. Selain hurufnya terbuat dari emas, gaya tu lisan-nya yang juga kuat bertenaga, tampaknya di tulis oleh seorang kenamaan. Suma Thian yu mendongakkan kepalanya memandang sekejap, kemudian baru mengikuti lelaki itu menuju ke ruang dalam. Sesaat sebelum melangkah masuk ke ruang tengahv mendadak sorot matanya melintas di atas wajah lelaki setengah umur yang duduk di kursi utama itu, hatinya kontan tertegun, Pe kiknya kemudian di hati. Kenal amat wajah orang ini! Bukankah dia adalah... ehmm, betul! Yaa dialah orangnya! Benar benar memang dia" Rupanya setelah melihat wajah lelaki setengah umur yang duduk dikursi utama itu tiba-tiba saja dia teringat dengan manusia berkeru dung yang kain kerudungnya kena disingkap itu, kedua-duanya berparas tampan dan gagah, sekarang Suma Thian yu merasa teka-teki mana betul-betul sudah terbongkar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam pada itu, lelaki setengah umur tadi sudah meninggalkan tempat duduknya seraya menjura, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak dia berkata. "Haaahhh...haaahhh...haaahhh keda tangan Suma siauhiap di rumahku benar-benar merupakan suatu kehormatan, silahkan duduk! Silahkan duduk !" Seorang pelayan segera datang menghidangkan air teh dan dipersembahkan kehadapan Suma Thian yu. Sedang anak muda itu diam-diam berpikir. "Sesudah datang kemari, aku harus bersikap sewajar mungkin coba kulihat permainan busuk apakah yang hendak mereka gunakan" Maka tanpa sungkan diapun duduk, lalu setelah menerima cawan air teh, katanya kepada lelaki setengah umur itu sambil tersenyum. "Secara kebetulan aku lewat sini, sudah lama ku dengar akan kebajikan Siau tayhiap, itulah sebabnya sengaja aku berkunjung kemari" "Aaah, mana, mana" Bi kun lun Siau Wi goan tersenyum, "siauhiap terlalu memuji, Wi goan tak lebih cuma seorang kuli silat yang kasar, aku tidak memiliki kebajikan apa-apa, un tuk pandangan siauhiap tersebut, Wi goan mengucapkan terima kasih lebih dulu" Kemudian setelah berhenti sejenak dan memandang sekejap sekeliling arena, katanya lebih jauh. "Kunjungan Suma siauhiap benar-benar merupakan suatu kejadian yang luar biasa, marilah kuperkenalkan dengan saudara-saudara lain yang berada disini" Mula-mula dia perkenalkan kepada Suma Thian yu lebih dahulu, setiap ucapan maupun sikapnya amat menyanjung dan menghormati Suma siauhiap, walaupun Suma Thian yu juga tahu kalau lawan adalah seorang yang pandai bicaramanis, tetapi manusia memang seorang makhluk yang aneh. Meski Suma Thian yu tahu kalau dia sengaja disepak, namun dalam hati kecilnya justru merasa puas sekali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selesai memperkenalkan Suma Thian yu kepada rekanrekannya, kemudian Siau Wi goan pun memperkenalkan empat orang tamu yanfcg berada di sekeliling tempat itu. Orang pertama adalah seorang tosu tua berjenggot merah yang berusia tujuh puluh tahunan, dia adalah guru Bi Kun un Siau Wi qoan yang disebut Leng gho Cinjin, menjabat pula sebagai ciang bunjin partai Kun lun. Orang kedua adslah seorang perempusn muda berusia dua puluh lebih, tiga puluh kurang. Bi kun lun Siau Wi toan hanya mengatakan dia she Ho bernama Hong, tanpa memperkenalkan gelarnya. Namun Suma Thian yu cukup mengenali perempuan itu sebagai murid ketiga dari mayat hidup Ciu Jit bwee yang berjulukan Yan tho hoa(Bunga tho indah). Orang ke tiga berwajah tampan dan gagah, dia bernama Cun gan siu cau (sastrawan berparas ganteng) Si Kok seng. Suma Thian yu merasa amat menaruh hati terhadap pemuda ini sejak pandangan yang pertama, diapun paling menaruh kesan baik kepadanya. Orang yang diperkenalkan paling akhir adalah seorang kakek berbaju sastrawan, ternyata dia seorang ahli ilmu pedang yang paling top dari partai Tiam cong yang disebut orang It ci hoa kiam (pedang bunga satu huruf) Yu-Liang gi. Setelah mengucapkan kata-kata sungkan, suasana dalam ruangan pun bertambah luwes, karena diantara ke empat orang itu Suma Thian yu hanya menaruh kesan baik terhadap Cun gan siucay Si Kok seng, maka dia pun lantas bertanya kepadanya. "Saudara Si, boleh aku tahu nama gurumu?" Melihat pertanyaan dari Suma Thian yu amat kasar, mulamula Cun gan siucay Si Kok seng agak tertegun, kemudian sahutnya: "Sejak kecil aku gemar belajar ilmu silat, tiap sampai di suatu tempat akupun mempela jari semacam kepandaian, itulah sebabnya se tiap orang yang pernah memberi pelajaran

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ke padaku kuanggap sebagai guruku, Suma siuahiap coba bayangkan saja, bagaimana caraku untuk menjawab pertanyaanmu itu?" Suma Thiauyu terpaksa mengiakan dan tidak bertanya lebih jauh. Pada saat itulah, Bi kun lun Siau Wi goan baru bertanya kepada Suma Thian yu: "Siauhiap, tolong tanya ada urusan apakah kau berkunjung kemari?" Tanpa berpikir panjang, Suma Thian yu segera menjawab: "Aku memang mempunyai beberapa persoalan yang ingin ditanyakan kepada Siau tayhiap, hanya tak kuketahui apakah Siau tayhiap bersedia untuk membertahukan kepadaku atau tidak?" Diam-diam Bilun lun Siau Wi goan agak terkejut setelah mendengar perkataan itu, kemudian iapun tertawa terbahakbahak. "Ha ha ha ha ha......boleh, tentu saja boleh, kita toh bukan orang luar, apapun yang ingin siauhiap tanyakan, harap ditanyakan secara blak-blakan. "Siau tayhiap, tahukah kau kalau barang kawalan dari perusahaan Sin liong piaukiok telah dibegal orang?" Siau Wi goan pura pura terkejut, sambil menggeleng tanyanya: "Aaaah...... Wi goan tak tahu akan berita ini, tolong tanya kapan dibegalnya?" Meskipun orang tak mau mengaku, Suma Thian yu juga tak sampai mengumbar amarahnya, dia berkata lebih jauh: "Kalau begitu, tentu saja Siau tayhiap juga tak tahu bukan jika Wan cong piautau telah menderita luka parah dan jiwanya terancam mara bahaya: Sebelum Bi kun lun Siau Wi goan sempat menjawab, It ci hoa kiam Yu Liang gi dari Tiam cong pay yang berada disisinya telah menimbrung:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Hei, ucapan siauhiap tersebut seakan-akan membawa nada teguran, apakah kau menaruh curiga kalau Siau tayhiap tersangkut dalam pe ristiwa ini?" Bi kun lun Siau Wi goan segera tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha ha ha......ucapan saudara Yu kelewat berat, selama ini Wi goan tak pernah menuduh orang dengan kata yang bukan-bukan apalagi siauhiap toh bertujuan baik!" Sampai disitu dia lantas berpaling kearah Suma Thian yu sambil bertanya. "Benarkah Wan congpiautau telah terluka parah dan jiwanya terancam? Aaai....siapakah telah turun tangan sekeji itu terhdapnya?" "Konon segerombolan perampok berkerudung jawab Suma Thian yu langsung dan tanpa berusaha untuk merahasiakan. Paras muka Bi kun lun Siau Wi goan berubah amat serius setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian: "Oooh, rupanya perbuatan dari perampok berkerudung! Ehmm, Wi goan memang sudah lama mendengar orang bilang kalau dalam du nia persilatan telah muncul suatu organisasi besar semacam ini, selain jejaknya sukar di buntuti, cara kerjanya pun bersih tanpa me ninggalkan jejak, sayang Wi goan tak berhasil menyelidiki sarang mereka." Berbicara sampai disini, ia sengaja bertanya kepada gurunya Leng gho Cinjin: "Suhu, pernahkah kau mendengar hal ini?" Leng gho Cinjin segera manggut-manggut. "Yaa, dengar sih pernah dengar, hanya tak pernah kujumpai saja orangnya." Rasa curiga timbul kembali dalam hati Suma Thian yu, bila berbicara soal tampang Bi kun lun Siau Wi goan, dia jujur dan gagah, caranya berbicara sopan dan tahu tata cara, tidak gampang marah, pada hakekatnya boleh di bilang berhati bajik. Tapi, kenyataan sudah terbentang didepan mata, pesan paman Wan sebelum ajalnya serta peringatan dari Heng si

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cinjin, semuanya mengatakan Siau Wi goan sebagai pentolan perampok. Dengan kejadian tersebut, Suma Thian yu menjadi serba salah dan tak tahu apa yang mesti dilakukan. Mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya, ia teringat pula akan pembantaian brutal yang terjadi dalam dusun kecil gara-gara sebutir mutiara itu, ia bertekad untuk mencari kesimpulan dari persoalan mana melalui jejak mutiara itu. Maka diapun mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, pertanyaan tersebut tak pernah diajukan lagi, justru hal mana sangat ber kenan dihati Bi kun lan, semua pertanyaan segera dijawab bahkan sikapnya bertambah luwes dan halus. Malam itu, Suma Thian yu diminta oleh Siau goan untuk tetap tinggal disana seusai per jamuan, Siau Wi goan menitahkan kepada Cun pan siucay Si Kok seng untuk menemani Suma Thian yu berjalan-jalan menikmati keindahan alam. Diam-diam Suma Thian yu merasa amat girang, sebab dia menganggap hanya dengan ber buat demikianlah ia bisa mempelajari situasi gedung keluarga Siau sambil sekalian mencari tahu kabar berita tentang mutiara tersebut. Kedua orang itu berjalan, menuju kelapangan, tiba-tiba Suma Thian yu bertanya: "Saudara Si, apakah kau dengar kalau ada semacam benda mesttka yang telah munculkan diri?" "Apakah kitab pusaka? Kitab pusaka tanpa kata?" Cun gan siucay Si Kok seng balik ber tanya. "Bukan, bukan benda itu, tapi mestika lain-nya?" "Aku belam pernah mendengarnya, Suma siauhiap, dapatkah kau memberitahukan kepadaku?" "Konon didalam dunia persilatan telah muncul sebutir mutiara Ya beng cu yang tak ternilai harganya" "Mutiara Ya beng cu?" ulang Si Kok seng dengan terperanjat", kapan munculnya?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Sudah muncul, dan kini sudah dirampok oleh perampok berkerudung!" sambil berkata Suma Thian yu melirik sekejap kearah Si Kok seng dengan ujung matanya. Tampak paras muka Si Kok seng berseri, kontan ia mendamprat: "Perampok sialan, tampaknya gerak gerik mereka sudah makin merajalela." Dan pembicaran tersebut, Suma Tbian yu tahu kalau lagilagi dia kebentur dinding alias gagal total, sekalipun ditanyakan lebih jauh juga tak akan menghasilkan apa- apa, maka ia pun mengurungkan niatnya semula. Mereka berdua segera melanjutkan perjalanannya, mengajaknya pergi ketempat itu. Dilihat dari sini, dapat ditarik kesimpulan kalau Bi kun lun Siau Wi goan benar-benar se orang manusia yang sangat licik dengan tipu muslihat yang berbahaya, itu berarti dia harus selalu berwaspada terhadap dirinya. Tapi, justru karena soal ini pula Suma Thian yu jadi lebih bertekad untuk membongkar teka teki itu sehingga tuntas dan terungkap seluruhnya. Begitulah, sambil berbincang bincang sambil berjalan-jalan, makin berbicara makin cocok rasanya, sehingga hampir boleh dibilang masing-masing pihak merasa sayang karena baru berjumpa sekarang. Suatu ketika, Si Kok seng mohon diri lebih dulu untuk kembali kekamarnya. kini tinggal Suma Thian yu seorang. Kesempatan semacam ini boleh dibilang merupakan sebuah peluang yang baik sekali, ketika Suma Thian yu menyaksikan didepan sana terdapat cahaya yang memancar keluar dari sebuah ruangan, tanpa sadar ia berjalan meng hampiri ruangan itu. Tapi, ketika ia baru melangkah naik keatas anak tangga, mendadak dari balik ruangan, terdengar seorang perempuan sedang berteriak minta tolong: "Tolong, tolong! Oooh.....tolooong"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu amat terperanjat sesudah mendengar teriakan itu, sifat pendekarnya seperi timbul, dengan cepat dia lari menghampiri mulut jendela. Tapi pada saat yang bersamaan, dari belakang tubuhnya berkumandang suara tertawa di ngin, lalu seseorang menegur: "Bocah keparat, rupanya kau adalah pencoleng yang bekerja diwaktu malam." Agak tertegun Suma Thian yu mendengar seruan itu, cepat dia membalikkan badan, entah sedari kapan dua orang kakek telah ber diri dibelakang tubuhnya sedang mengawasi kearahnya penuh kegusaran. Suma Thian yu sangat gelisah, ia tahu kalau pihak lawan salah paham, maka ujarnya: "Kalian berdua salah paham, cepat! Pencolengnya masih berada didalam, mari kita tengok bersama-sama!" "Heeh...heeh...heeh...bocah keparat, kau tak usah berlagak pilon lagi" jengek kedua orang kakek itu sambil tertawa seram, dengan mata kepala sendiri lohu melihat kau berbuat terkutuk, sekarang masih ingin mungkir lagi? Hayo jalan! Segera menjumpai majikan!" Seraya berkata dua orang itu satu dari kiri yang lain dari kanan segera bertindak hendak menggusur dengan kekerasan. Suma Thian yu merasa tak pernah melakukan perbuatan salah, diapun tak takut mengha dapi tuan rumah, maka serunya dengan dingin. "Tak usah merepotkan kalian, aku masih mempunyai kaki untuk berjalan sendiri" Mendengar itu, dua orang kakak tersebut segera berjalan satu di muka yang lain dibelakang dan menggusur Suma Thian yu menuju ke ruang tengah. Diluar dugaan, ruangan tengah sudah hadir banyak orang, tapi tidak kelihatan Bi kun lun dan Cun gan siucay dua orang. Begitu Suma Thian yu muncul dalam ruangan depan, dari balik ruangan segera muncul Leng gho Cinjin. Jenggot merahnya yang panjang tampak bergerak tanpa hembusan angin, mukanya diliputi hawa pembunuhan, begitu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

berjumpa dengan Suma Thian yu, ia segera menggebrak meja sambil memaki: "Anjing keparat, tak nyana tampangmu ganteng tapi nyatanya seorang Cay hoa cai (pen jahat pemetik bunga), padahal tuan rumah bersikap cukup baik terhadapmu" Begitu dilihatnya situasi, tidak beres, buru-buru Suma Thian yu memantah. "Locianpwee, kau telah menaruh kesalahan paham terhadapku, aku Suma Thian yu bukanlah manusia rendah seperti apa yang kau tu-duhkan, harap lakukan pemeriksaan lebih dulu dengan seksama" Leng gho Cinjin sama sekali tidak menggubris ucapan itu, begitu Suma Thian yu selesai bicara, kontan dia membentak dengan gusar. "Kentut anjing! Semua fakta sudah ada didepan mata, kau anggap pinto menuduh tanpa dasar?" Berbicara sampai disitu, dia lantas menitahkan orang untuk mengundang Bi kun lun Siau Wi goan dihalaman belakang. Setelah itu makinya lebih jauh. "Bocah keparat, apa yang hendak kau katakan lagi? Peraturan rumah tangga yang berla ku disini amat ketat, dengan dosa yang kau lakukan tiada ampun lagi bagimu. Sekarang cepat kau kutunggi lengan kananmu sendiri kalau tidak, jangan harap kau bisa tinggalkan rumah keluarga Siau pada hari ini barang setengah langkah pun" Setelah menyaksikan keadaan yang terbentang didepan mata, terutama sikap lawan yang tidak mencari tahu lebih dulu siapa salah siapa benar, Suma Thian yu segera sadar, dia mengerti kalau dirinya sudah terjebak ke dalam perangkap musuh yang licik. Maka sambil membusungkan dada, ujarnya dengan wajah bersungguh sungguh. "Locianpwee, berulang kali kau menuduh Thian yu sebagai manusia berdosa, bahkan pe nyesalanpun tak diberi, tampaknya hal ini me rupakan sebagian dari rencana keji yang telah kalian persiapkan. Hmm! Dihadapan orang jujur lebih

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

baik tak usah berbohong, bila ingin beradu kepandaian, Suma Thian yu tak akan berkerut kening" "Haah...haah...haah... punya semangat punya keberanian, pinto paling suka dengan pemuda semacam ini" Dia sepera memberi tanda, It ci hoa kiam (pedang bunga satu huruf) Yu Liang gi dari partai Tiam cong segera melompat ke hadapan Suma Thian yu, lalu berkata. "Lohu ingin mencoba sampai dimanakah kehebatan ilmu pedangmu!" Sementara berbicara, pedang yang digembolnya segera diloloskan dari sarung. Suma Thian yu mendengus dingin, tiba-tiba dia mencabut keluar pedang Kit hong kiamnya dari sarung, cahaya biru yang menyilaukan mata segera memancar keempat penjuru. Begitu melihat pedang mestika yang berada ditangan anak muda itu, kontan saja It ci hoa kiam Yu Liang gi menjerit kaget. "Haah....? Kit hong kiam....?" Jeritan tersebut segera memancing perhatian segenap orang yang hadir didalam ruangan itu, serentak semua orang mengalihkan sorot mata nya keatas pedang mestika ditangan Suma Thian yu. Leng gho Cinjin turut tertawa seram sesudah menyaksikan kemunculan pedang Kit hong kiam tersebut, segera jengeknya. "Heeh...heeh...heeh...rupanya kau adalah murid pencoleng, tak heran kalau kaupun manusia bajingan, kawan-kawan, ringkus bangsat kecil ini!" Bagaikan segerombol kawanan lebah, kawanan jago yang berada dalam ruangan segera mengurung Suma Thian yu ditengah arena. Tapi, pada saat itulah It ci hoa kiam Yu Liang gi membentak dengan suara lantang. "Harap tunggu sebentar saudara sekalian, berilah kesempatan buat aku orang she Yu untuk mencoba sampai

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dimanakah kelihayan dari ilmu pedang Kit hong kiam hoat yang menggetarkan dunia persilatan itu!" Oleh bentakan mana, serentak semua jago mundur satu langkah ke belakang, namun mereka tidak mengendorkan posisi pengepunggannya. Kemarahan yang berkobar didalam dada Suma thian yu waktu itu ibaratnya gunung berapi yang meletus, sekarang ia sudah mengerti kenapa paman Wan nya sampai dituduh yang bukan-bukan oleh orang lain, hal mana menambah berkobarnya api kemarahan dalam dadanya. Dengan jurus Tui huang wang gwat (mendorong jendela melihat rembulan), pedang kit hong kiamnya melepaskan sebuah tusukan ketubuh It ci hoa kiam, tapi baru sampai di tengah jalan mendadak berganti jurus menjadi gerakan Gwat gi seng sia (rembulan bergeser bintang berpindah), kali ini dia tusuk tenggorokan orang dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busur. Walaupun dua jurus serangan yang berbeda namun bergabung menjadi satu, dibalik serangan-nya terdapat perubahan kosong yang merupakan tipuan yang tak terduga sebelumnya. Dalam partai Tiam cong, It ci hoa kiam Yu liang gi terhitung juga pedang paling top, selain lihay dalam limu pedang, orangnya juga licik dan pintar. Sekarang, ia harus tercekat perasaannya se telah menyaksikan dua serangan Suma Thian yu yang dilancarkan dalam satu gerakan bersama, buru-buru kaki kirinya bergeser, pedang nya diputar mengikati gerakan badan. Kali ini secara hebat ia berhasil membendung jurus serangan pertama dari Suma Thian yu, lalu mengikuti gerakan mana dengan jurus Hong Ki im yong (angin berhembus awan meng gulung) dia ciptatan pelbagai lapis bunga pe dang untuk mengurung sekujur tubuh lawan. Tiba-tiba Suma Thian yu berpekik panjang, pedangnya berubah menjadi Lui tian ciau kat(guntur dan petir

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersusulan), secepat sambaran kilat, dia tembusi lapisan pedang Yu liang gi dan langsung menusuk ke ulu hatinya. Kekuatan mereka berdua boleh dibilang seimbang, sulit untuk membedakan mana yang ampuh dan mana yang lemah, sebab disatu pihak merupakan jagoan kenamaan dari partai Tiam cong, dilain pihak merupakan ahli waris dari Wan tayhiap. "Taaang ...! mendadak terdengar suara senjata tajam yang saling beradu, cahaya pedang ditengah arena segera lenyap tak membekas, lalu bayangan manusia melintas, Suma Thian yu telah melompat keluar dari arena pertarungan. Maai, maaf.....ujarnya sambil menjura dan senyuman menghiasi ujung bibirnya. Pada mulanya It ci boa kiam Yu Liang gi masih merasa kebingungan dan tidak habis mengerti menunggu ia menggerakan lengannya dan sepotong kain bajunya tahu-tahu terlepas dari lengan dan jatuh ketanah, ia baru tahu apa yang telah terjadi. Dengan wajah merah padam karena jengah, It ci hoa kiam Yu Lianeg gi menundukan kepalanya rendah-rendah dan segera mengundurkan diri dari arena pertarungan. Leng gho Cinjin tidak menyangka kalau Yu Liang gi sebagai seorang jago pedang kenamaan bisa menderita kalah di tangan seorang pemuda ingusan yang baru terjun kedunia persilatan. Rasa malu bercampur gusar segera berkecamuk menjadi satu dalam benaknya, kepada kawanan jago yang lain, dia berseru. "Saudara-saudara sekalian, hayo turun tangan dan bekuk bajingan muda itu...!" Pada saat itulah, mendadak dari sudut berkumandang suara pekikan panjang yang nyaring, ketika,semua orang berpaling tampaklah Bi kun lun dengan membawa Cun gan siu cay melangkah masuk kedalam arena. Suasana diarena segera menjadi gempar, mereka seolah-olah sudah lupa dengan perintah yang diturunkan Leng gho Cinjin semula. "Setelah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melangkah masuk kedalam arena, Bi kun lun Siau wi goan segera menghardik semua orang agar jangan ribut, kemudian dengan senyum dikulum dia menjura kearah Suma Thian yu sambil memohon maaf: "Suma Siauhiap, semua kesalahan Wi goan, tidak sepantasnya kuterbitkan begini banyak kesulitan bagimu, salah paham-salah paham se muanya ini hanya suatu kesalahan paham belaka. Kemudian setelah tertawa nyaring, katanya lebih jauh. "Harap kau sudi memaklumi, andaikata sihian le tidak pergi memberi kabar kepadaku, mung kin bencana yang bakal terjadi akan besar sekali. haaa...haah...haaahh...." Rasa benci Suma thian yu benar-benar sudah merasuk ketulang sum-sum, bagaimanapun penjelasan dari Bi kun lun, tak mungkin bisa meredakan rasa rasa ketidak puasannya. Tampak dia menarik kembali pedangnya, lalu berpamitan pada Bi kun lun Siau Wi goan. "Atas pelayananmu yang baik, aku tak akan melupakan untuk selamanya. Biarlah aku mohon diri lebih dulu, untung masa mendatang masih panjang, biarlah kebaikanmu itu kubayar dikemudian hari saja." Kemudian setelah mengucapkan pula beberapa parah kata perpisahan dengan Cun gan siu cay Si Kok seng, dia membalikkan badan siap meninggalkan tempat itu. Siapa tahu kawanan jago liehay yang mengepung di sekeliling tempat itu masih menghadang jalan pergi Suma Tbian yu, mereka dengan sorot mata yang merah membara karena amarah menatap anak muda itu lekat-lekat, seakanakan mereka adalah sekelompok ular berbisa yang siap memagut..... Melihat hal itu, Suma Thian yu tertawa dingan sambil mendongakan kepalanya dia menerjang maju terus kedepan. Tiba-tiba dari muka sana muncul seorang kakek kurus ceking bermata tikus berhidung elang yang menghadang jalan perginya dengan golok dilentangkan didepan dada, lalu menegur.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Bocah keparat, tempat ini bukan tempat yang bisa diganggu seenaknya, boleh saja bila kau ingin meninggalkan tempat ini, tapi ditinggalkan dulu sedikit tanda mata, congkel lebih dulu kedua biji matamu, kemudian baru pergi" "Haaahh...haaaha...haaaha...kau ingin mencongkel mataku...? Huuuh, jangan mimpi" Suma Thian yu tertawa tergelak. Kakek ceking itu semakin melotot dengan buas, goloknya diangkat siap membacok. Tapi saat itulah kembali Bi kun lun Siau wi goan membentak keras. "Saudara Cian, jangan bertindak gegabah, biarkan saja dia pergi!" Buru-buru kakek ceking she Ciang itu menarik kembali goloknya, setelah melotot sekejap kearah suma Thian yu dengan angkuh, dia mundur selangkah seraya berkata. "Hmm, enakan keparat ini!" Suma Thian yu berjalan kehadapannya, lalu tertawa angkuh pula. "Maaf!" katanya. Seusai beikata dia lantas melangkah pergi dari situ, Suma Tbian yu memang bernasib jelek, berulang kali dia harus dituduh orang ka rena salah paham, rasa pedih yang mencekam perasaannya betul-betul tak terlukiskan dengan kata-kata. Sekarang ia sudah menaruh perasaan muak yang amat sangat terhadap dunia yang sangat indah ini. Belum jauh meninggalkan kota Tiang an, bintang sudah bertaburan diangkasa, kegelapan malam telah menyelimuti seluruh jagad, orang yang berlalu lalang dijalan semakin sedikit. Dalam keadaan seperti inilah mendadak dari arah belakang ber kumandang suara derap kaki kuda yang ramai, suara tersebut kedengarannya janggal sekali dalam suasana begini. Lambat laun suara derap kaki kuda itu semakin mendekat, Suma Thian yu tahu kalau dibalik kesemuanya itu pasti ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sesuatu yang tak beres. Diam-diam dia menghimpun tenaganya sambil bersiap-siap siaga menghadapi se gala kemungkinan yang tak di inginkan. Pada saat itulah, suara bentakan nyaring telah berkumandang lagi dari belakang. Suma Thian yu mengira Bi kun lnn Sian Wi goan telah melakukan pengejaran dari belakang, hawa pembunuhan segera menyelimuti seluruh wajahnya, dengan cekatan dia meloloskan pedang Kit hong kiam yang tersoren di-punggung seraya membalikkan badan, kemudian menghadang jalan pergi pendatang tersebut ditengah jalan. Tak berapa saat kemudian, dari depan sana muncul lima ekor kuda jempolan yang di larikan kencang kencang, penunggangnya adalah perampok perampok berkerudung hitam. Kalau tidak melihat masih mendingan, begitu menyaksikan kemunculan kawanan pencoleng tersebut, kontan saja amarahnya berkobar, dia berpekik panjang, suaranya menggaung jauh ketengah udara dan menggetarkan seluruh pepohonan yang tumbuh di sekeliling tempat itu. Tampak tubuhnya melejit ketengah, pedang Kit hong kiamnya menciptakan segulung kabut pedang berwarna putih, lalu menyergap kelima orang penunggang kuda berkerudung itu. Tindakan gegabah semacam ini sebetulnya merupakan pantangan yang paling besar bagi umat persilatan, sesunguhnya Suma Thian yu pun memahami akan hal ini, tapi... bagaimaaa mungkin dia bisa membendung rasa mangkel dan kobaran amarah yang telah dipendamnya selama banyak tahun? Tindakan mana rupanya diluar dugaan kelima orang penunggang kuda berkerudung itu, meski tugas mereka kali ini adalah menyergap Suma Thian yu, namun mereka tidak berharap terjadinya pembunuhan yang tak berarti. Tapi sekarang, setelah menyaksikan Suma Thian yu muncul bagaikan malaikat yang datang dari kahyangan, serentak lima

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

orang itu membentak pendek, kemudian bagaikan ledakan mercon, mereka menyusup keempat penjuru untuk menyelamatkan diri. Terdengar suara ringkikan kuda yang meloloskan senjata tajam masing-masing. Sebenarnya Suma Thian yu mengharapkan suatu hasil yang baik dalam gebrakan yang pertama, tapi begitu gagal dengan serangan yang pertama, tubuhnya ikut melayang turun keatas tanah, dengan cepat dia dikepung kelima orang pencoleng berkerudung itu dari empat penjuru. 0ooo0 Jilid 10 Terdengar dia mendengus dingin, dengan sorot mata memancarkan cahaya tajam, bentaknya sembari menggertak gigi: "Apakah kedatangan kalian berlima untuk merenggut nyawa sauya? Turutilah nasehatku, sipat ekor dan pulang saja kerumah dengan tenang, laporkan kepada Siauw Wi goan, begitu aku orang she Suma berhasil menemukan bukti yang nyata, pasti akan kubasmi keluarga Siau dengan darah" Baru selesai dia berkata, terdengar orang yang berada di paling depan telah tertawa dingin tiada hentinya. "Hehehehe....bocah keparat, tinggalkan pedang mestika milikmu, kalau tidak hari ini ditahun depan adalah hari ulang tahun kematian mu yang pertama!" Suma Thian yu segera menyodorkan pedang Kit hong kiamnya kedepan setelah mendengar perkataaa itu, katanya sambil tertawa angkuh: "Nih, sauya persembahkan dengan kedua belah tanganku, ambillah sendiri!" Ketika manusia berkerubung tersebut menyaksikan perbuatan lawannya, dia masih mengira Suma Thian yu benarbenar berhasrat untuk menyerahkan pedang itu kepadanya, ia lantas maju beberapa langkah kedepan siap menerima sodoran mana.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiba-tiba Suma Thian yu membentak nyaring: Sambutlah!" Pedangnya meluncur kedepan seperuti anak panah yang terlepas dari busurnya, pedang Kit hong kiam tersebut langsung menyambar kewajah penjahat berkerudung itu. Meryusul gerakan mana seluruh tubuh Suma Thian yu ikut pula menerjang maju kemuka. Tampaknya pedang itu segera akan menyambar ditubuh lawan, manusia berkerudung itu menjerit kaget, buru-buru dia berkelit kesamping. Disaat yang amat singkat inilah Suma Thian yu menggerakkan tangannya untuk membacok pergelangan tangan lawan sambil membentak. "Tinggalkan dahulu lenganmu!" Menyusul jeritan ngeri yang memilukan hati, seperti burung yang kena bidikan saja, manusia berkerudung itu melejit kebelakang. Sayang tubuhnya sempoyongan beberapa langkah, setelah itu roboh terjengkang ke tanah dan tak sanggup berdiri lagi. Diatas tanah tinggal sebuah lengan yang terpaksa, darah kental membanjiri permukaan tanah dan menyusup ke dalam. Setelah berhasil meraih kemenangan dalam pertarungan pertama, kemarahan Suma Thian yu agak mereda, dia memandang sekejap manusia berkerudung yang terpapas lengannya itu, kepada keempat orang rekan-nya ia berseru sambil tertawa dingin. "Siapa lagi yang ingin maju untuk mengantar kematian?" Ketika mendengar tantangan tersebut, keempat orang manusia berkerudung itu serentak mengayunkan goloknya dan maju menerjang dari empat penjuru, dilihat dari gerakan tubuh mereka, jelas kalau orang-orang itu adalah jagoan kelas satu dalam dunia persilatan. Kendatipun demikian, Suma Thian yu yang bernyali besar sama sekali tak memandang sebelah matapun terhadap mereka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia berdiri dengan segenap perhatiannya dihimpun menjadi satu, ditunggunya sehingga senjata tajam ke empat orang itu hampir mengenai tubuhnya.... Disaat yang amat kritis itulah tiba-tiba dari balik keheningan berkumandang suara bentakan gusar yang amat nyaring: "Mundur!" Menyusul kemudian, terlihat sesosok bayangan hitam meluncur datang secepat sambaran kilat dan langsung menyerbu ke dalam arena pertarungan. Mendengar bentakan tersebut, keempat manusia berkerudung itu segera mengundurkan diri dan memberi sebuah jalan lewat. Pendatang itu menancapkan kakinya ditanah setelah pencoleng-pencoleng berkerudung itu mengundurkan diri, begitu sampai dia lantas menegur: "Suma siaubiap, Wi goan telah datang terlambat, kau tidak terluka bukan?" Ketika Suma Thian yu mendongakkan kepalanya, dia segera mengenali orang itu sebagai Bi kun lun Siauw Wi goan, maka dengan perasaan mendongkol sahutnya: "Terima kasih atas bantuan yang datang tepat pada waktunya, Siau tayhiap, mengapa ke datanganmu begitu kebetulan?" Ucapan mana mengandung maksud ganda, dia menuduh Bi kun lun lah yang telah bermain gila secara diam-diam. Bi kun lun Siau Wi goan berlagak seolah-olah tidak mendengar, bukan saja tidak gusar, malahan tertawa seram. "Suma siauhiap, tampaknya kesalah pahamku terhadap Wi goan sudab kelewat mendalam! Ketahuilah semua persoalan yang ada didunia ini tak akan terungkap sebelum peti mati di buka, aku Wi goan betul-betul bermaksud baik kepadamu, tapi nyatanya malah mendapatkan kesalahan paham belaka, padahal orang-orang ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Wi goan!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Padahal penjelasan dari Bi kun lun Siau Wi goan tersebut berlebih-lebihan sehingga tak ubahnya seperti menampar mulut sendiri. Suma Thian yu merasa geram sekali setelah mendengar perkataan itu, tapi justeru karena demikian, dia semakin merasa yakin kalau Bi kun lun Siau Wi goan adalah seorang pentolan pencoleng yang licik dan sangat berbahaya. Menghadapi manusia semacam ini, jalan yang terbaik adalah menjauhi dan jangan sampai terkena pelet, kalau tidak maka akibatnya sukar dibayangkan mulai sekarang, Suma Thian yu adalah seorang manusia yang cerdas dengan bakat yang luar biasaa, sekilas pandangan saja dia sudah dapat menduga sampai kesitu, maka sambil tertawa dingin katanya: "Kalau mememang begitu, akulah yang kelewat curiga, terima kasih atas bantuanmu, biarlah kubayar dikemudian hari saja" Selesai berkata dia lantas ber berjalan melalui sisi Bi Kun lun Siau Wi gon dan berlalu dari situ.. Belum lagi dua langkah, mendadak dari belakang punggungnya berkumandang datang suara desingan angin pukulan yang sangat kuat langsung menyergap jalan darah Pek hwee hiat di punggungnya. Sebenarnya Suma Thian yu berprinsip sebelum berhasil memegang bukti yang nyata tentang kejahatan yang telah dilakukan Bi kun lun Siau Wi goan, dia enggan untuk ribut atau bentrok dengan manusia tersebut, apa lagi kalau sampai terjadi bentrokan secara kekerasan. Orang bilang: Cocok atau tidaknya seserang dalam pergaulan ditentukan dalam sepa tah kata, dia tahu banyak berbicara dengan manusia licik hanya akan mendatangkan kesulitan dan kerugian bagi dirinya sendiri, oleh sebab itu dia berusaha menjauhi. Maka sambil menahan rasa mangkel dalam hatinya, dia siap berlalu meninggalkan tempat itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siapa sangka disaat dia membalikkan badan siap meninggalkan tempat itu, tiba-tiba dari belakang punggungnya mendesing datang segulung hawa pukulan yang langsung menyergap jalan darah Pek hwee hiat di belakang benaknya... Dalam perkiraan Suma Thian yu, serangan terkutuk yang rendah dan tak tahu malu itu dilakukan Bi kun lun Siau Wi goan, saking gemasnya sepasang gigi sampai saling bergerutukan keras. Cepat-cepat ia menghimpun tenaga dalam ajaran pamannya Kit hong kiam kek Wan Liang yakni ilmu Jiong goan sim hoat untuk me lindungi seluruh badan, setelah itu telapak tangannya didorong keatas menyongsong datangnya serangan pembokong itu. Dan begitu merasa kalau serangannya sudah dihadapi, Suma Thian yu segera bergeser kekiri lalu berputar dengan ujung kaki sebagai as untuk berganti arah, himpunan tenaga dalam yang telah dipersiapkan ditangan kanan itu secepat kilat dibabat kebelakang menghantan tubuh musuhnya, sementara tubuhnya turut berputar pula menangkis, berputar dan menyerang yang dilakukan Suma Thian yu meski panjang untuk diceritakan, padahal ketiga macam gerakan itu dilakukan hampir pada saat yang bersamaan. Menanti dia sempat melihat jelas paras muka lawannya, orang itu sudah kena terhajar oleh serangan dahsyatnya itu sampai mencelat sejauh satu kaki lebih dan jatuh tak sadarkan diri dengan sikap terlentang. Diluar dugaan ternyata orang itu bukan Bi kun lun Siau Wi goan seperti apa yang diduga semula melainkan seorang pencoleng berkeru dung kain hitam. Selama hidup Suma Thian yu paling benci dengan perbuatan menyergap yang dilakukan dari belakang, kemarahannya segera berkobar, sambil membentak tubuhnya menerjang kearah pencoleng berkerudung yang sudah tergeletak itu siap melakukan pukulan yang mematikan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bi kun lun Siau Wi goan sendiri berdiri termangu-mangu disitu tak tahu apa yang meski dilakukan. Dalam situasi seperti ini, keadaannya yang paling mengenaskan, mau turut campur tak bisa, tidak turut campur bagaimana? Dalam pada iiu, tiga orang manusia berkendung lainnya jaga tak berani bertindak secara sembarangan karena kehadiran Siau Wi goan disitu, terpaksa mereka harus mengorbankan jiwa rekannya tanpa bisa berbuat banyak. )o(X)o( TAMPAKNYA kepalan sakti dari Suma thian yu segera akan menghantam diatas kepala pencoleng berkerudung itu, serentak semua orang memejamkan matanya rapat-rapat karena tak tega menyaksikan peristiwa yang amat mengerikan itu. Pada dasarnya Suma Thian yu memang berhati welas kasih, begitu muncul keinginan-nya untuk mengampuni jiwa orang, ia lantas tak tega untuk melanjutkan niatnya semula untuk melakukan pembunuhan. Dari serangan memukul segera diubah menjadi serangan mencakar.... Kraaas!" terdengar suara kain yang robek, akhirnya kain kerudung hitam orang yang terluka itu terbakar dan muncullah raut wajah aslinya. Manusia berkerudung yang terobek kain kerudungnya adalah seorang kakek kurus ceking bermata tikus berhidung elang, dia tak lain adalah kakek ceking yaug telah menghadang jalan pergi Suma Thian yu ketika berada di tanah lapang gedung keluarga Siau tadi. Setelah mengetahui siapa gerangan orang yang dihadapi, Suma Thian yu segera tertawa seram "Haaah...haah....haaah, nampaknya aku Suma Thian yu memang tidak salah melihat orang" Kemudian sambil mengangkat tangan kakek ceking itu, ujarnya lagi kepada Bi kun lun Siau Wi goan dengan lantang:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Siau tayhiap, bukankah orang ini adalah anak buahmu?" Dikala Suma Thiar yu merobek kain kerudung orang itu itu tadi, Bi kun lun Siau Wi goan sudah meraia gelisah bercampur gusar. Dia gelisah karena jejaknya ketahuan dan kuatir Suma Thian yu membocorkan rahasia tersebut keluar sehingga mempengaruhi nama baiknya dikemudian hari. Dia marah karena kakek itu sudah merusak rencana yang telah disusunnya dengan susah payah. Apalagi sesudah mendengar pertanyaan dari Suma Thian yu ibaratnya orang yang langsung mengorek luka dalam tubuhnya, benar-benar tak sedap perasaannya ketika itu. Tanpa terasa timbul niat jahat didalam hatinya, sambil menghindarkan diri dari tanggung jawab sahutnya: "Tentu saja kenal, keparat tua ini adalah tamu yang datang menyambangi Wi goan kemarin, sungguh tak kusangka dia adalah seorang manusia berhati keji, seorang komplotan dari perampok berkerudung yang kejam itu, harap Suma sauhiap jangan marah, kuperiksa orang ini dengan seteliti mungkin" Sembari berkata dia berjalan mendekati Suma thian yu, sementara sinar matanya memancarkan cahaya kebuasan yang membuat anak muda itu terkesiap dan segera menghimpun tenaganya bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan Kasihan kakek bertubuh kurus berhidung elang itu, dia sudah jatuh tak sadarkan diri, mukanya pucat pasi seperti mayat, dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui bahwa luka dalam yang dideritanya cukup parah. Bi kun lun Siauw Wi goan telah berjalan menuju ke hadapan Suma Thian yu, akan tetapi memandang keadaan si kakek kurus yang kempas-kempis dengan lemah, dia segera berseru sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. "Kalau dilihat keadannya yang begitu lemah, agaknya tidak enteng luka yang diderita olehnya, berarti jaraknya dengan kematian pun tidak jauh, lebih baik dibunuh saja!" Sudah barang tentu Suma Thian yu tak ingin memberi kesempatan kepada Bi kun lun untuk menghilangkan saksi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

hidup ini, baru saja dia berusaha untuk mencegah perbuatnya itu, mendadak terasa cahaya perak berkelebat lewat lalu.. "Craaap! Menanti Thian yu memeriksa kembali, di atas dada kakek ceking itu sudah menancap sebatang peluru perak sepanjang empat inci yang menembusi tubuh tersebut. Atas peristiwa ini, Suma Thian yu menjadi teramat gusar, ia lepaskan cekalannya terhadap kakek ceking itu kemudian membalikkan tubuhnya. Ternyata perbuatan tersebut hasil perbuatan dari tiga orang perampok berkerudung yang lain, saat itu ketiga orang perampok berkerudung tadi telah menggotong rekannya yang terluka dan melarikan diri menuju kehutan. Suma Thian yu tidak rela membiarkan kawanan penjahat tersebut melarikan diri, tak sempat memberi kabar kepada Bi kun lun lagi, dia segera menggerakan tubuhnya, bagai anak panah yang terlepas dari busurnya, secepat kilat dia menyusul dibelakang kawanan perampok berkerudung tersebut. Melihat itu, Bi kun lan Siau Wi goan menjadi gelisah, buruburu ia turut mengejar sambil berteriak: "Suma siauhiap, harap tunggu sebentar." Namun Suma Thian yu berlagak seolah olah tidak mendengar, malah dia mempercepat gerakan tubuhnya menyusul sampai di tepi hutan. Tapi ke empat perampok berkerudung tadi sudah melarikan diri dan lenyap dari pandangan mata. Sementara itu, Bi kun lun Siau Wi goan telah menyusul pula ke situ, terdengar ia berkata: "Suma Siauhiap, musuh yang kabur jangan dikejar, bila mereka sampai terjatuh kembali ke tangan Wi goan dikemudian hari, pasti akan kukuliti tubuhnya kemudian kucincang badan nya" Pelan-pelan Suma thian yu membalikan badannya lalu menatap sekejap wajah Bi kun lun Siau Wi goan dengan wajah diliputi hawa pembunuhan, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan mana. "Hmmm, terlalu keenakan kawanan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

perampok tersebut gumamnya dingin, pokoknya selama Thian yu masih dapat bernafas, pasti akan kubasmi kawanan manusia laknat itu sampai akar-akarnya" Kemudian setelah memandang sekejap ke lima ekor kuda jempolan yang tertinggal disitu. "Siauhiap, bagaimana kalau dari ke lima kuda jempolan yang tertinggal ini Siauhiap hanya membawa pulang empat ekor dan tinggalkan seekor untukku?" Bi kun lun Siau Wi goan menjadi teramat gusar setelah mendengar perkataan itu, dengan nada berat dia segera menegur: "Apa-apaan kau ini? Apakah kau mencurigai aku punya hubungan dengan kawanan perampok berkerudung itu? Bila siauhiap tetap tak bisa memahami kenyataan yang sebenarnya, tindakanmu itu benar-benar tak bisa dimaafkan...." Suma thian yu berpaling dengan pandangan sinis lalu tertawa dingin. "Heeehh...heeeh...heeeh...aku rasa dihati masing-masing sudah mempunyai pandangan sendiri, sekarang memang tak perlu kau akui, toh suatu saat akan tiba juga saatnya untuk membongkar semua rahasia ini" Selesai berkata dia membalikkan badan dan segera berlalu dari sana... Sikapnya yang sinis dan memandang hina terhadap orang lain ini, kontan saja membangkitkan rasa gusar yang membara didalam hati Bi kun lun Siau Wi goan. Tahukah apa sebabnya orang ini selalu bersabar dan berusaha keras untuk menghindari suatu bentrokan secara langsung dengan Suma Thian yu...? Sebab dia kuatir jejak dan rahasianya ter bongkar, asal dia bertarung melawan Suma thian yu, niscaya semua rahasianya bakal terbongkar... Sekalipun demikian, kesabaran orang ada batas-batasnya, sindiran dan ejekan Suma thian yu yang dilontarkan berulang kali membuat seorang manusia yang tak berperasaan akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

marah, apalagi orang itu adalah Bi kun lun Siau Wi goan seorang pemimpin dunia persilatan dewasa ini? Mendadak terdengar ia membentak penuh amarah: "Berhenti!" Tiba-tiba dia meloloskan pedangnya dari sarung, sorot matanya tajam bagaikan sembilu, ketika pedang tersebut digelarkan maka tampaklah getaran cahaya pedang dari ujung senjata tersebut memancar keluar tiada hentinya. Mendengar suara bentakan tersebut, Suma Thian yu segera berhenti, apa lagi ketika mendengar suara lawan meloloskan pedang, menggunakan kesempatan dikala bukannya membalikkan diri, dia turut meloloskan pula pedang Kit hong kiamnya. Suasana menjadi tegang dan seram, kedua belah pihak dengan senjata terhunus berdiri saling berhadapan dalam jarak hanya sepuluh langkah belaka. Sambil menggertak gigi menahan diri Bi kun lun Siau Wi goan memaki dengan geramnya: "Bocah keparat, kau kelewat menghina orang! Apakah kau anggap Siau Wi goan adalah seorang manusia yang dapat dihina dan dipermain kan seenak hatimu sendiri? Hari ini, bila kau tidak memberi penjelasan yang terang, jangan harap bisa pergi meninggalkan tempat ini!" "Orang she Siau!" Suma Thian yu balas mengejek, "kenyataan telah tertera didepan mata, apakah kau bermaksud untuk menyangkal lagi? Jika kau ingin mengetahui dengan jelas, ehmm, tak ada salahnya kuterangkan kepadamu. Yang jauh tak usah dibicarakan, aku hanya ingin tahu hari ini kau sebagai pemimpin dunia persilat an, apa lagi dalam gedungmu terkumpul begitu banyak jago lihay, mengapa sewaktu sauya dikepung kepung bangsat berkerudung kau bisa muncul secara tiba-tiba untuk membantu?" Berbicara sampai disitu dia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan lebih jauh.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kalau toh....kau berniat untuk membantu, mengapa kau biarkan diriku disergap orang? Mengapa kau berpeluk tangan belaka membiarkan kawanan manusia laknat itu melarikan diri, bukan saja tidak mengejar, malahan membentak diriku agar berhenti, apakah kau tidak merasa bahwa tindakanmu itu sangat mencurigakan? Kini setelah menyaksikan anak buahmu melakukan tindakan yang salah sehingga jejaknya ketahuan, lagi-lagi kau membunuh orang untuk menghilangkan saksi, bahkan terhadap perbuatan keji kawanan perampok berkerudung itu pun kau tidak memberikan reaksi apa-apa, bukankah kesemuanya ini semakin memperlihatkan jiwamu yang memang sudah busuk? Hmmm, kau jangan menganggap aku sebagai seorang bocah yang baru berusia tiga tahun, jangan kau anggap semua perbuatanmu itu bisa mengelabuhi diriku dan membuatku bodoh selalu! Tatkala selesai mendengar perkataan tersebut, mendadak Bi kun lun Siau Wi goan mendongakkan kepalanya dan berteriak gusar, suara teriakan yang dipancarkan dengan disertai tenaga yang sempurna itu kontan saja menggetarkan seluruh penjuru dunia dan membuat daun serta ranting jatuh berguguran keatas tanah. Seusai berteriak dia berkata sambil tertawa dingin: Hanya berdasarkan beberapa persoalan yang tetek bengek ini kau ingin menfitnah aku Siau wi goan? Bocah keparat, mengapa kau tidak renggut sekalian selembar nyawaku?" "Betul, betul, persoalannya sekarang adalah aku belum berhasil mendapatkan bukti yang nyata!" Bi kun Iun Siau wi goan semakin naik pitam sesudah mendengar jawaban mana, teriaknya lagi: Selama ini lohu tidak menganggapmu sebagai kawanan percoleng, aku menerima dengan segelas kehormatan, bersikap baik kepada mu, siapa sangka kau bocah keparat ternyata hanya manusia yang tak tahu diri, kau telah membalas kebaikanku dengan perbuatan keji. Baik lah untuk memperpanjang umurku selama beberapa puluh tahun lagi, lohu akan mengalah sepuluh jurus untukmu, begitu sepuluh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jurus sudah lewat, terpaksa harus dilihat bagaimanakah nasibmu nanti" Seandainya Suma Thian yu tidak mendengar perkataan itu, keadaannya masih mendingan, begitu mendengar ucapan mana, dia mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, ditatapnya Bi kun lun Siau Wi goan dengan sorot mata setajam sembilu. "Orang she Siau, kau betul-betul latah dan gila!" serunya dengan suara lantang, kau hendak mengalah sepuluh jurus untukku? Hmm kau anggap aku hanya seorang bocah cilik? Terus terang kuberitahukan kepadamu, sewaktu berada diluar gua tempo hari, apakah kau berhasil menangkan setengah jurus dariku?" Setelah keadaan berubah menjadi begini rupa, Suma thian yu dipaksa untuk membuka kartu. Kontan saja ucapan mana membuat Bi kun lun Siau Wi goan menarik napas dingin, paras mukanya berbuat hebat, tapi sejenak kemudian telah pulih kembali seperti sediakala. Hanya saja... kali ini selapis hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajahnya. Sebetulnya Suma Thian yu berbicara demikian, tujuannya adalah memancing reaksi dari Bi kun lun Siau Wi goan, begitu menyaksikan musuhnya berubah muka, dia menjadi terang dan mengerti, tak terlukiskan rasa gembira dalam hatinya sekarang. Sekali pun demikian, dia masih membutuhkan suatu bukti yang nyata dan berada didepan mata sebelum anak muda tersebut dapat membunuh Siau Wi goan. Orang bilang: "Seorang Kuncu membalas dendam, tiga tahun pun belum terhitung terlambat" kematian paman Wan yang begitu mengenaskan hingga kini belum dapat diungkap olehnya secara jelas, maka dia harus menahan diri dan bertindak sangat berhati-hati, sebab sedikit salah melangkah, bisa jadi dia akan dianggap musuh umum oleh umat persilatan. Sebaliknya Bi kun lun Siau Wi goan sendiripun berperasaan serba bertentangan, di samping dia ingin memperalat pemuda

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ini, tetapi dipihak lain dia pun kuatir anak muda ini akan merusak dan menghancurkan semua rencana yang telah disusunnya selama ini. Mumpung kini berada ditengah alas yang sepi dan tiada manusia lain, apa salahnya kalau pemuda ini dibunuh saja agar tidak menmbulkan bibit bencana dikemudian hari? Berpikir sampai disitu, napsu membunuh yang berkobar dalam dada Siau Wi goan makin menjadi, tampak dia maju ke depan berapa langkah, lalu ujarnya: "Bocah muda, lohu sudah hidup setua ini, namun belum pernah dihina dan disindir orang dengan seenaknya seperti saat ini, bila aku tidak meringkus kau pada hari ini, tentunya kau anggap di dunia ini sudah tiada orang pan dai lagi!" Suma Thian yu tertawa sinis. "Hmmm, dengan kemampuan yang kau miliki itu, kau hendak membereskan aku?" Seraya berkata pedang Kit hong kiamnya diangkat sejajar bahu, lalu tangan kananya bergerak ke atas, dengan jurus Ciong liong jiu hay (naga sakti masuk ke laut) pedangnya seperti seekor naga sakti menyodok jalan darah Ki kan hiat ditubuh Bi kun lun. Selama ini Bi kun lun Siau Wi goan mengawasi terus ujung pedang lawannya, begitu menyaksikan ujung pedang tersebut menusuk ke bawah teteknya, mendadak ia bergerak dan melejit ke samping tambil berseru keras: "Jurus pertama!" Suma Thian yu menjadi amat gusar menyaksikan musuhnya hanya menghindar tidak membalas, ia segera menarik kembali pedangnya dan tidak melancarkan serangan lagi. Bi kun lun Siau Wi goan kelihatan agak tertegun tatkala menyaksikan lawannya menarik kembali serangannya, dengan perasaan tercengang bercampur gusar ia segera membentak. "Kenapa kau? Bocah keparat, sudah dibikin ketakutan?" Suma Thian yu mendengus dingin, setengah memaki teriaknya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Orang she Siau, kau tak usah sombong dan berlagak sok, dengan mengandalkan kemampuan yang kau miliki itu, masih belum berhak bagimu untuk mengalah untukku, jika ingin bertarung, hayolah kita bertarung secara blak-blakan dan bertempur sampai titik darah penghabisan, kalu ingin bermain pura-pura mah, hmmm, sauya tidak cocok denagn selera permainan seperti itu!" Bi kun lun Siau Wi goan kembali tertawa terkekeh-kekeh. "Hehehehehe.... rupanya begitu, aku masih mengira kau takut menghadapi diriku! Beginipun ada baiknya juga, aku orang she Siau akan menyempurnakan keinginanmu itu...." Ketika ucapan terakhir masih berada dibibir, Siau Wi goan telah menggerakkan pedang nya dan menyerang dengan jurus Ci kou thian bun (mengetuk langsung pintu langit), tampak serentetan cahaya hijau meluncur kedepan dan menusuk tubuh Suma Thian yu dengan kecepatan luar biasa. Ditinjau dari gerakan tubuhnya ini, tidak sulit untuk diketahui betapa cepat dan sempitnya jalan pikiran Bi kun lun Siau Wi goan, dia hanya maunya mencari keuntungan belaka, buktinya sementara pembicaraan masih berlangsung, ia sudah menyergap orang secara tiba-tiba. Kecuali berhadapan dengan seseorang yang berkepandaian silat sangat lihay, biasanya cara menyergap semacam ini akan menda-tangkan suatu hasil yang amat baik. Untung saja kewaspadaan Suma Thian yu masih tetap tinggi, sekalipun sedang berbicara namun ia telah bersiap siaga menghadapi se gala kemungkinan yang tak diinginkan. Selama menghadapi manusia licik macam Bi kun lun Siau Wi goan, orang memang selalu berprinsip "meski manusia tak berniat melukai harimau, harimau justru ada niat melukai manusia". Maka begitu pedang Siau Wi goan menusuk datang, dia lantas berteriak lantang: "Sebuah serangan yang amat bagus!" Mendadak ia membalikan tangannya mainkan jurus Long kian sin ciau (ombak menggulung ular sakti).

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pedang Kit hong kiamnya seperti segulung ombak dahsyat langsung menyapu kedepan dan mengetarkan pedang Bi kun lun Siau Wi goan sehingga tergetar dari posisi semula. Menyusul kemudian pedangnya berubah menjadi gerakan Im liong tham jiau (naga yang mementangkan cakar) langsung mencengkeram jalan darah kit hou hiat diatas tenggorokan Bi kun lun. Bagi seorang jago silat, begitu serangan dilancarkan maka akan diketahui apakah musuhnya berisi atau tidak. Serangan Suma thian yu didalam menghadapi ancaman bahaya ini betul-betul amat hebat, bukan setiap jago silat yang mempergunakannya dengan sempurna. Bi kun lun Siau Wi goan cukup mengetahui mutu suatu serangan, sebagai pemimpin dunia persilatan, tentu saja ia enggan menerima kerugian yang berada didepan mata. Menyaksikan kejadian tersebut, buru-buru dia menarik kembali pedangnya untuk mengutamakan keselamatan sendiri, setelah itu teriaknya dengan perasaan terkejut! "Aaaah, ilmu pedang kit hong kiam hoat!" Sementara berseru, tubuhnya telah melepaskan diri dari kurungan kabut pedang yang dipancarkan oleh Suma thian yu, siapa tahu Suma Thian yu memang berhasrat memberi pelajaran yang setimpal untuk Bi kun lun sehingga ia tahu diri. Tiba-tiba ia berpekik nyaring, pedang Kit hong kiamnya diputar menciptakan selapis bayangan pedang yang memenuhi angkasa, bagaikan benduangan sungai Huang ho yang jebol, dengan amat dahsyatnya langsung mengurung ketubuh Siau Wi goan. Bagi jago lihay yang bertarung, yang menjadi pantangan terbesar adalah memecahkan perhatian. Bi kun lun Siau Wi goan menjerit kaget, hawa murninya yang terkumpul segera membuyar sebagian besar, ditambah pula Suma thian yu dengan serangan berantainya, ia kena di desak sampai mundur terus berulang kali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sekilas pandangan ia seperti didesak mundur, padahal ia justru manfaatkan kesemppatan tersebut untuk menghimpun kembali hawa murninya disamping mencari titik kelemahan di tubuh Suma Thian yu sehingga dapat mempersiapkan serangan balasan yang mematikan" Begitu turun tangan Suma Thian yu berhasil mendesak mundur seorang jago silat yang memimpin dunia persilatan dewasa ini, semangat bertarungnya segera berkobar, ia berpekik berulang kali lalu pedang Kit hong kiamnya dengan jurus Liong teng kiu siau (naga melompat kelangit sembilan) ia langsung menggorok tengkuk Bi kun lun. Mendadak Bi kun lun Siau goan melejit ke udara dengan gerakan elang raksasa menentang sayap, pedangnya berputar secepat kilat dengan jurus Ceng lui kan hong (guntur bergetar angin terbendung) dia lepaskan serangan balasan untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut. "Traaang!" ketika sepasang pedang saling bertemu ditengah udara, terdengarlah suatu benturan nyaring yang memekakkan telinga, akibatnya kedua orang itu sama-sama terdorong mundur sejauh satu langkah. Bi kun lun Siau Wi goan yang lihay, tidak menggubris apakah senjatanya cedera atau tidak, dia menerjang lagi kedepan melakukan tubrukan, dengan jurus Cuan im si gwat (menembusi awan mengejar rembulan) dengan membawa desingan angin serangan yang tajam ia langsung menusuk jalan darah Tham tiouw hiat di bagian tengah dada antara kedua tetek Suma Thian yu..... Sudah barang tentu Suma Thian yu tak berani mengendorkan perhatiannya dalam menghadapi ancaman tersebut, buru-buru dia me ngembangkan permainan ilmu pedang Kit hong kiam hoat ajaran paman Wan nya untuk melayani serangan musuh. Begitulah, sebentar kedua orang itu bergu mul menjadi satu, sebentar lagi berpisah, situasi pertarungan yang berlangsung kian lama kian bertambah seru, keadaannya benar-benar sangat mengerikan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kedua orang ini, yang satu adalah pendekar besar dari golongan putih dan hitam sedangkan yang lain adalah seorang pendekar yang baru muncul di dunia persilatan, pertarungan yang kemudian berkobar sungguh menggetarkan sukma setiap orang. Pertarungan sengit macam ini sulit dijumpai dalam dunia persilatan, kedua orang itu sama-sama mengeluarkan pelbagai jurus simpanan-nya untuk berusaha membunuh lawannya. Sementara itu Bi kun lun Wi goan makin bertempur makin terkejut, dia cukup mengetahui akan kelihayan ilmu pedang kit hong kiam hoat tersebut, sewaktu kit hong kiam kek Wan liang masih termashur dikolong langit dulu, dia pernah bersahabat karib dengan Bi kun lun Wi goan, mereka sering berkelana bersama sehingga kedua belah pihak sama-sama mengetahui keunggulan dan kelemahan lawan-nya. Tapi kini permainan pedang Kit hong kiam hoat dari Suma thian yu berbeda dengan permainan yang pernah dilakukan Wan liang dahulu, tak heran kalau Siau WI goan dibikin terperanjat sekali. Kalau dilihat dari gerakan tubuh Suma Thian yu, nampak kalau permainan itu ajaran dari Kit hong kiam kek Wan Liang, tapi yang berbeda adalah tenaga dalamnya justru setingkat masih diatas kemampuan Wan Liang pribadi.... Kejadian ini sama artinya dengan Wan Liang telah muncui kembali di dalam dunia persilatan. Sementara ingatan mana melintas dalam benak Bi kun lun Siau Wi goan, sambil bertarung ia pun bertanya: "Apa hubunganmu dengan Wan Liang? Cepat katakan!" "Guruku!" jawab Suma Thian yu singkat. Suma Thian yu memang sengaja membohonginya, sekalipun dikatakan Wan Liang adalah gurunya juga tak salah, memang ilmu pedang kit hong kiam hoat tersebut didapatkan dengan cara mencuri belajar, namun yang dia pelajari toh ilmu dari Kit hong kiam kek Wan Liang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siapa tahu Bi kun lun Siau Wi goan segera tertawa nyaring sesudah mendengar perkataan itu, sambil melompat keluar dari arena pertarungan, serunya cepat: "Mengapa tidak kau terangkan semenjak tadi?" "Sekalipun kukatakann, apa gunanya?", melihat orang itu melompat keluar dari arena, Suma Thian yu segera berniat untuk menghadapi siasat lawan dengan siasat pula. Terdengar Bi kun lun Siau Wi goan tertawa terbahakbahak. "Haah...haaah...haaah...apakah gurumu berada dalam keadaan baik-baik?" Sebelumnya Suma Thian yu hendak mengatakan kalau gurunya telah meninggal dunia, tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya, dia merasa tak perlu berbicara sejujurnya menghadapi manusia licik seperti itu. Maka sahutnya kemudian dengan lantang: "Berkat kemurahan Thian, Beliau berada dalam keadaan sehat wal'afiat seperti sedia kala!" Bi kun lun Siau Wi goan segera memperlihatkan sikap seakan-akan merasa gembira sekali. "Apakah dia pernah menyinggung tentang aku?" tanyanya. "Ehmm... " Suma Thian yu hanya mengiakan saja. "Apa yang dia katakan?" Siau Wi goan seperti ingin mengetahui sejelas-jelasnya, ia lan tas menunjukkan sikap seakan-akan sangat ramah. Suma Thian yu berlagak serius, jawabnya: "Setiap kali dia orang tua menyinggung tentang kau, dia pasti akan mencaci maki dirimu kalang kabut, dikatakan kau adalah iblis paling keji yang ada didunia ini! Dikatakan pula binimu yang tak tahu malu itu adalah seorang perempuan jalang yang kebusukan hatinya melebihi ular berbisa!" Mimpipun Bi kun lun Siau Wi goan tidak menyangka kalau Suma Thian yu dapat mengucapkan kata-kata makian sekeji ini, kontan saja amarahnya memuncak, dengan mata melotot besar dan menggertak gigi menahan diri, bentaknya keraskeras:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Bocah keparat! Kalau ingin berbicara, sedikitlah tahu diri, apakah kau sudah bosan hidup?" Kembali dia menerjang ke muka, pedangnya diayunkan kedepan melepaskan serangan lagi dengan jurus Han Bwee tu luan (Bunga BWee mengeluarkan sari) dia tusuk dada Suma Thian yu. Mencorong sinar tajam dari balik mata anak muda itu, dia membentak pendek, langkah Ciok tiong luan poh ajaran Siau yau kay Wi Kian segera digunakan, tampak ujung baju terhembus angin, tahu-tahu dia sudah menyelinap ke belakang punggung Bi kun lun, sementara pedang Kit Hong kiamnya bagaikan cahaya pelangi menusuk jalan darah Ki tong hiat di belakang punggung lawan. Kemarahan Suma Thian yu telah memuncak dia merasa bukan cara yang tepat untuk mengulur waktu dengan manusia semacam ini karena itu serangan yang kemudian di lancarkan langung ditujukan kebagian mematikan ditubuh lawan. Begitu Suma Thian yu gunakan ilmu gerakan tubuh Cok liong luan poh, gerakan tubuhnya menjadi bertambah cepat, menanti Bi kun lun Siau Wi goan menjumpai bayangan tubuh Suma Thian yu telah lenyap dari pandangan dan hawa dingin dari tusukan pedang sudah tiba dipunggungnya, dia baru menjerit kaget. "Mati aku kali ini!" Dengan sedapat mungkin dia menerjang maju kemuka, maksudnya adalah mencari kesempatan hidup ditengah keputus asaan. Tapi Suma Thian yu mengikuti terus bagaikan bayangan, ujung pedangnya sudah menempel diatas bajunya. Disaat yang amat kritis itulah, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras berkumandang memecahkan keheningan. Sesosok bayangan tubuh yang bergerak cepat, dengan membawa segulung tenaga pukulan yang dahsyat bagaikan angin puyuh langsung membacok Giok seng kun dibelakang benak Suma Thian yu, sungguh dahsyat dan mengeri kan sekali ancaman mana.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma thian yu merasa terperanjat sekali, ia tahu bila pedangnya dilanjutkan penusukan-nya kedepan, niscaya Bi kun lun Siau Wi goan tewas diujung pedangnya, akan tetapi sebagai resikonya diapun akan terhajar mati oleh serangan yang datangnya dari arah belakang itu. Berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia harus mengutamakan keselamatan sendiri lebih dulu, kemudian baru soal membalas dendam. Cepat-cepat pedangnya ditarik kembali, kemudian kakinya bergeser dan sekali berkelebat ia sudah melompat keluar dari arena pertempuran. Atas kejadian mana, Bi kun lun Siau Wi goan segera lolos dari lubang jarum kematian, selembar jiwanya berhasil diseret keluar dari dalam neraka. Disaat Suma Thian yu berdiri tegak, ia saksikan ditengah arena bertambah dengan seorang pemuda berbaju hijau, orang itu adalah Cun gan siu cay Si Kok seng. Sambil tertawa Suma Thian yu berseru: "Oh, rupanya saudara Si, sungguh hebat tenaga pukulanmu, nyaris batang leherku kena kau tebas kutung!" Sambil tersenyum buru-buru Cun gan siacay Si Kok seng menjura dan meminta maaf, katanya: "Bilamana siaute telah bertindak ceroboh harap saudara Suma sudi memaafkan!" Kemudian sambil berpaling kearah Bi lun lun Sau Wi goan, ia berkata pula: "Kalian berdua adalah sama-sama orang sendiri mengapa harus saling bertarung?" Bi kun lun Siau Wi goan tidak mengucapkan barang sepalah katapun, mendadak dia membalikan badan dan berlalu dari sana. Memandang bayangan punggung Bi kun lun Siau Wi goan yang menjauh, Cun gan siucay Si Kok seng menggelengkan kepala sambil menghela napas panjang, kepada Suma Thian yu katanya: "Tabiat orang itu memang sangat aneh, saudara Suma, buat apa kau mesti ribut dengannya?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu tidak menggubris ucapan mana, waktu itu dia sedang berdiri dengan pelba gai persoalan berkecamuk didalam benaknya. Apa yang barusan dikatakan Si kok seng, pada hakekatnya sama sekali taterdengar olehnya... Pelan-pelan Cun gan siucay Si Kok Seng mendekati Suma Thian yu, lalu dengan sikap yang menghormat tanyanya. "Saudara Suma, kau masih marah kepadaku?" Suma Thian yu berseru tertahan, buru-bu sahutnya dengan nada minta maaf: "Tidak, tidak...! Aku sedang memikirkan suatu persoalan ..." "Persoalan apakah itu? Bolehkah diberitahukan kepadaku?" Si Kok seng bertanya lebih jauh. "Tolong tanya bagaimanakah hubungan saudara Si dengan Siau tayhiap....? "Soal ini...kami hanya pernah berjumpa beberapa kali saja, buat apa kau menanyakan tentang soal ini?" "Bagaimana watak orang itu?" Sambil bertanya, kali ini Suma thian yu memperhatikan perubahan wajah dan sikap Cun gan siaucay Si kok seng. Cun gan siucay Si Kok seng termenung dan mempertimbangkannya sejenak, setelah itu baru sahutnya. "Menurut hasil pengamatan siaute selama banyak waktu, aku rasa dia adalah se orang yang jujur, periang, suka berteman, ramah dan rendah diri, satu satunya kejelekan yang dimiliki adalah wataknya yang berangasan, saudara Suma, kau bertanya begini teliti tentang dirinya apakah kau menaruh curiga terhadap orang itu?" Ketika mendengar perkataan tersebut, tanpa terasa Suma Thian yu melirik dan memperhatikan beberapa kejap Cun gan siau cay Si Kok seng, melihat wajah orang itu menunjukkan kejujuran, dia pun menyahut dengan suara hambar: "Ooh, tidak apa-apa, aku hanya bertanya sambil lalu saja." "Saudara Suma, aku lihat belum tentu demikian, apakah kau mempunyai suatu rahasia yang sulit dibicarakan? Walaupun kita baru bersahabat beberapa hari, sesungguhnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kita merasa saling mencocoki satu sama yang lainnya, anggap saja diriku sebagai saudara sendiri, bila kau mempunyai kesulitan, utarakan kepada ku, asal siauje sanggup membantumu, sudah pasti akan kubantu dirinu dengan sekuat tenaga" "Aaah, tidak apa-apa" Suma Thian yu menyangkal berulang kali, "terima kasih banyak atas perhatian saudara Si, kebaikanmu itu tak akan kulupakan untuk selamanya..." Cun gan siaucay Si Kok seng mengerti, sekalipun ditanyakan lebih jauh juga tak bakal mendapatkan suatu hasilpun, maka diapun mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, tanyanya: "Saudara Suma, kau bermaksud hendak kemana?" "Aku mengembara tak menentu, empat samudra sebagai rumahku, dan kau...?" "Sama saja, bila ksu tak keberatan, bagaimana kalau kudampingi dirimu sepanjang perjalanan?" "Akan kusambut dengan senang hati" jawab Suma thian yu ringkas. Maka berjalanlah kedua orang itu menuruni bukit. Sepanjang jalan Cun gan Siucay Si Kok seng seperti ada maksud untuk membaiki anak muda tersebut, semua pembicaraannya amat santai dan persoalan apapun dibicarakan. Setiap kali melalui suatu tempat, dia pasti menerangkan riwayat jago yang bercokol di sana serta keadaan daerah disekitarnya, diantaranya dia pun membicarakan pula sedikit tentang sembilan partai besar dan beberapa orang jago yang menonjol dari golongan rimba hijau. Tapi ada satu hal yang tak pernah dibicira kan Cun gan siucay selama ini, yakni asal usul serta perguruannya. Setiap kali Suma Thian yu menanyakan soal ini, Cun gan siucay Si Kok seng selalu menye lamurkan dengan masalah lain, akibatnya lama kelamaan hal ini menimbulkan kecurigaan di dalam hati Suma Thian yu, oleh karena itu Suma Thian yu sendiripun selalu menghindarkan diri bila berbicara soal

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

riwayat hidupnya serta tanggung jawab serta tugas yang terbeban di atas bahunya... Hari itu mereka berdua tiba di kota Siau Kwan, hari sudah gelap dan burung terbang kembali ke sarangnya, suasana remang mendatangkan perasaan murung bagi siapa pun. Dari kejahuan mereka berdua menyaksikan munculnya sebuah dusun dengan asap yang mengepul, tanpa terasa Suma Thian yu teringat kembali akan pemandangan yang mengerikan dari perkampungan yang anggota keluarganya dibantai tempo hari, sehingga tanpa terasa dia menghembuskan napas panjang... Dengan perasaan ingin tahu, terdengar Cun gan Siucay Si kok seng segera bertanya: "Saudara Suma, mengapa kau menghela napas? Kulihat sepanjang jalan kau selalu berkeluh kesah, apakah dalam hatimu terdapat ke murungan dan kesedihan yang tak terungkapkan?" "Tidak, aku hanya teringat akan suatu peristiwa berdarah yang mengerikan sekali..." jawab Suma Thian yu sambil menggeleng. "Peristiwa apa sih yang begitu kau risaukan?" Suma Thian yu menuding perkampungan di depan sana, lalu menjawab: "Perkampungan itu telah memancing luapan perasaanku, karena disanalah kusaksikan suatu adegan pembunuhan yang mengerikan sekali." Secara ringkas dia lantas menceritakan apa saja yang telah disaksikan olehnya dalam per kampungan mana kepada Cun gan Siaucay Si Kok seng, diantaranya dia sempat mencaci maki pula perbuatan biadab dari kawanan perampok berkerudung itu. Mendengar penuturan mana, parat muka Cun gan siaucay Si Kok seng berubah hebat, ia me mandang ke tempat kejauhan, lalu pelan-pelan berkata:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ooooh....rupanya begitu, tak heran kalau malam itu kau menanyakan soal mutiara, rupa nya kau mencurigai perbuatan tersebut dilaku kan oleh Siau tayhiap?" "Benar! Hingga kini aku masih mencurigai pembunuh keji itu adalah Siau Wi goan" Berbicara sampai disitu, Suma Thian yu segera memperhatikan wajah Si Kok seng lekat-lekat, sebab tujuannya berkata demikian memang ingin mengetahui reaksi lawan. Cun gan Siucay Si Kok seng termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata: "Seandainya kalau perbuatan terkutuk ini dilakukan olehnya aku pasti akan membabalaskan dendam bagi sukma penasaran yang tewas dalam perampungan tersebut. Suma heng, bila kau dapat memberitahukan keadaan waktu itu dengan lebih jelas, hal mana akan lebih baik" Berbicara sampai disitu, dia lantas menunjuk kan wajah marah, alis matanya berkenyit dan menggertak gigi menahan emosi. Semenjak kecil Suma Thian yu sudah hidup ditengah gunung yang jauh dari keramaian dunia, segala macam kelicikan dan kebusukkan manunia masih asing baginya, maka setelah merasakan ucapan Si Kok seng yang gagah perkasa itu, ia dibuat terharu sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Dengan cepatnya pula segala macam kecurigaan yang semula dilimpahkan atas diri Si Kok seng, seketika lenyap sebagian besar, bahkan menyesal telah mencurigai rekannya itu. Cun gan siaucay Si Kok seng mengikuti terus perubahan sikap lawannya secara diam-diam, setelah mengetahui perubahan dari orang itu, diam-diam ia tertawa geli, ia merasa menang, permainan caturnya telah berhasil menguasai posisi yang strategis, itu berarti usahanya untuk mengendalikan Suma Thian yu dikemudian hari akan berjalan lebih mudah, hingga tugas yang dibebankan kepadanya pun bisa dilaksana kan dan tercapai pada apa yang diharapkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitulah, mereka berdua telah memasuki kota Siau kwan dan mencari sebuah rumah makan yang kecil ditepi jalan. Sepanjang perjalanan kedua orang itu sudah merasa lapar, maka tanpa dibilang mereka ber dua sama-sama membelok kedalam rumah makan tersebut. Baru saja melangkah masuk kedalam pintu, dari balik ruangan berjalan keluar dua orang manusia, ketika empat orang saling bersua, masing-masing mundur selangkah dengan ter peranjat. Ketika mendongakkan kepalanya Suma Thian yu segera mengenali orang itu sebagai Thi pit suseng (sastrawan berpena baja) Thi bersaudara. Tak terasa lagi dia segera berteriak gembira. "Ooeh...rupanya saudara Thia, hidup manusia memang sering bertemu dilain tempat, meng apa kalian berdua bisa muncul disini?" Ketika Thi pit suseng Thia Cuau melihat orang itu adalah Suma Tbian yu, diapun segera tertawa terbahak-bahak. "Haaah... haaahh....haaahh....kami belum lama tiba disini, eeeh..bukankah kau pergi keperusahaan Sin liong piaukiok? Mengapa bisa muncul dikota jelek dan sepi seperti ini?" "Tapi... panjang sekali untuk diceritakan" sahut Suma Thian yu sambil menghela napas, "tempat ini bukan tempat yang cocok untuk ber bincang-bincang, bila Thia toako tak ada urusan penting, bagaimana kalau kita duduk kembali sambil berbicara?" "Begitupun baik juga!" berbicara sampai disitu, Thi pit suseng Thia Cuan segera mengalihkan sorot matanya kearah adiknya. Tuan im siancu Thia Yong tertawa manis hingga kelihatan dua baris giginya yang putih, nampak dia manggut-manggut. "Duduk sebentar lagipun tak ada salahnya" Maka mereka berempat masuk kembali kedalam rumah makan. Oleh Suma Thian yu, Cun gan siucay Si Kok seng segera diperkenalkan kepada Thia bersaudara.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sedangkan Cu gan Siucay segera menaruh kesan yang baik begitu berjumpa Toan im sian cu dalam pandangan yang pertama. Untuk memperlihatkan sikapnya yang hangat, dia segera memaksakan diri untuk mentraktir, ia memanggil pelayan dan memesan sayur yang mahal harganya. Tentu saja dalam rumah makan sederhana semacam ini, tak mungkin bisa menyiapkan sayur yang mahal harganya itu. Padahal Cun gan siucay Si Kok seng berbuat demikian bukan bermaksud untuk memperli hatkan kedudukannya saja. Thi pit suseng Thia Cuan merasa tidak sabar menyaksikan kejadian tersebut, segera selanya: "Sudahlah, hantar saja beberapa macam sayur seadanya!" Pemilik warung itu adalah seorang kakek berambut putih, dia segera mengiakan berulang kali, kemudian tanyanya: "Apakah perlu arak?" "Tentu saja" sahut Cun gan siucay Si Kok seng lagi, "asal ada arak bagus yang berumur sepuluh tahun keatas, boleh bawa kemari!" Pemilik warung itu mengiakan berulang kali dan segera berlalu dari situ. Menanti pemilik warung itu sudab berlalu, Cun gan Siucay Si Kok seng baru berpaling dan ujarnya kepada Toan im siancu Thia Yong sambil tertawa: "Nona Thia sudah terbiasa dengan hidangan disini?" "Bagus sekali" jawab Toan im siancu Thia Yong tersenyum hingga nampak sepasang lesung pipinya yang manis. Menyaksikan senyuman si nona, Cun gan sisucay Si Kok seng segera merasakan jantung nya berdebar keras, ia seperti merasa mendapat berkah yang tak ternilai harganya, Thit pit suseng Thia Cuan merasa sangat tak puas menyaksikan kejadian itu, dia merasa pemuda ini licik dan tidak jujur, suka merayu dan tidak setia, akan tetapi berhubung orang itu adalah rekan seperjalanan Suma Thian yu maka iapun merasa sungkan untuk mengumbar amarahnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perjamuan itu berlangsung sangat meriah, sepanjang perjamuan Suma Thian yu lebih ba nyak berbincang bincangdengan Thi pit su seng Thia Cuan daripada dengan lainnya. Sedangkan Cun gun siaucay Si Kok seng dengan taktik merayunya berbicara tiada henti nya dengan Toan im siancu Thia Yong, dia bertanya ini itu tiada habisnya membuat si nona kadangkala merasa bosan dan muak... Akan tetapi, setiap Kali Toan im siancu mencari kesempatan untuk mengajak Suma Thian yu berbicara, dia selalu dibuat sakit hati oleh jawaban sang pemuda yang amat tajam. Dasar watak kaum gadis memang keras kepala dan ingin menang sendiri, ditimbang jalan pikirannya sempit, apa yang hendak di kerjakan selalu berusaha mencapai sukses, kalau tidak maka dia akan berjalan sebaliknya meski tahu kalau jalan itu salah. Itulah sebabnya, kendatipun Thia Yong merasa muak dan bosan berbincang-bincang dengan Cun gan siaucay Si Kok seng, namun untuk memenuhi tuntutan pembalasan dendamnya terhadap Suma Thian yu, ia harus menyabar kan diri dan melayani pertanyaan Si Kok seng dengan sikap berpura-pura hangat..... Di dalam perkiraannya semula, cara terse but pasti akan memancing rasa cemburu dan perhatian dari Suma Thian yu, siapa tahu pe muda itu berlagak seakan- akan tidak melihatnya, bahkan berbincang-bincang dengan asyik nya... Menyaksikan rencana dan usahanya mengalami kegagalan total, Toan im siatcu Thia Yong merasakan hatinya hancur lebur, mendadak ia menggebrak meja dan bangku berdiri. "Aku akan pergi dulu!" teriaknya keras-keras. Oleh tindakan yang amat mendadak dari si nona, tiga orang lain-nya merasa amat terperanjat. Padahal waktu itu Cun gan siaucay Si Kok seng sedang berbicara dengan asyik, sekali, tidak menyangka kalau gadis itu bakal bertindak seperti ini, kontan saja pemuda itu dibuat ter tegun dan memandang wajahnya kebingungan, ia tak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

habis mengerti didalam hal apakah dia telah melakukan kesalahan terhadap gadis itu. Padahai Suma Thian yu sendiripun berpendapat demikian, dia memandang wajah Toan im siancu Thia Yong dengan sikap tertegun, tindakan si nona yang amat tiba-tiba ini benarbenar tidak dipahami olehnya. Thi pit suseng Thia Cuan paling memahami tabiat dari adiknya ini, apalagi sejak kecil dialah yang merawat adiknya ini, maka semua tindak tanduknya Thia Cuan yang paling me mahami. Tampak dia turut bangkit berdiri, lalu ter tawa terbabakbahak. "Haaah...haah...haah... baik, berangkat....." Berangkat, memang waktu sudah tidak pagi, kita masih harus berangkat ke kota San tin untuk mencari penginapan" Keempat orang itu berangkat meninggalkan warung dan masing-masing mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sempurna berangkat menuju kekota San tin dengan cepat. Sepanjang jalan, Cun gan siucay Si Kok seng ada niat untuk memperlihatkan kebolehannya dia selalu memimpin di paling muka bahkan kerap kali berpaling dan berseru kepada tiga orang rekannya agar berjalan lebih cepat. Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam merasa geli, tanpa terasa dia pun memandang rendah diri Si Kok seng. Semenjak Thi pit suseng Thia Cuan berjumpa dengan Suma Thian yu, dia seperti telah menemukan teman yang mencocoki hatinya saja, sepanjang jalan selalu berada disampingnya bahkan berbincang dan bergurau dengan amat leluasa. Pada saat itulah Thi pit suseng berbisik kepada Suma thian yu: "Suma hiante, bagamanakah hubungan persahabatanmu dengan Si Kong seng?" xXx

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"TAK BISA dibilang sangat akrab" jawab Suma Thian yu, "kami hanya bertemu secara kebetulan, untuk mengurangi kesepian sepanjang jalan maka kami memutuskan untuk melakukan perjalanan bersama "Ooooh...Thi pit suseng Thia Cuan mengiakan, lalu membisiknya, "orang ini tidak jujur dan berjiwa munafik, sudah pasti bukan manusia baik-baik, hiante, kau harus selalu waspada dan bersiap-siap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan "Siaute pun berpendapat demikian" Suma Thian yu manggut-mauggut, "terutama sekali atas riwayat dan asal usulnya, hingga kini ma sih menjadi sebuah tanda tanya besar". Sambil melanjutkan perjalanan, secara ring kas dia lantas mengisahkan perkenalannya dengan Si Kok seng. Thi pit suseng Thia Cuan hanya membungkam diri dalam seriba bahasa, sorot matanya yang memandang kaku kedepan, lalu mempercepat langkahnya dan menyusul dibelakang Cun pan siaucay Si Kok seng dengan ketat. Setelah melalui sebuah hutan yang lebat, sampailah mereka di kota Han san tin. Can gan siucay Si Kok seng yang berlarian kencang didepan mendadak menghentikan ge rakan tubuhnya, lalu sambil berpaling kearah tiga orang dibelakangnya dia berkata: "Untuk menyingkat jalan, bagaimana jika kita menembusi hutan lebat di depan sana?" Thi pit suseng Thia Cian buru-buru meng goyangkan tangannya mencegah: "Jangan, jangan, siapa yang sudah bosan hidup, dialah yang akan menembusi hutan lebat itu". Mendengar perkataan tersebut, Suma Thian yu segera bertanya dengan wajah tercengang: "Apakah di dalam hutan itu terdapat ancaman bahaya yang amat besar...?" "Selama sepuluh tahun terakhir ini, setiap orang yang hendak pergi ke Kota Han san tin dari Siau kwan, pasti akan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melingkari hutan lebat ini, mengenai apa sebabnya aku kurang begitu tahu." Cu gan siucay Si Kok seng yang berada didepan, segera tertawa terbahak-bahak sesudah mendengar ucapan itu, katanya: "Benarkah ada kejadian seperti ini? Aku orang she Si justeru tak percaya dengan segala tahayul!" Sambil berkata dia membalikkan badan dan meninggalkan jalan raya umuk lari ke arah hutan lebat itu. Toan im siancu Thia Yong ada maksud untuk memanasi hati Suma Thian yu, ia segera mem buat muka setan kepada kakaknya dan anak muda itu, kemudian setelah mendengus dingin katanya: "Hmmm.....aku tak sudi menjadi pengecut macam kalian berdua!" Selesai berkata dia menyusul di belakang Cun gan siucay Si Kok seng dan lari menuju kearah hutan. Melihat adiknya mengumbar napsu, Thi pit suseng menjadi sangat gelisah, segera teriaknya: "Adik Yong! Kembali, adik Yong.... " Belum habis dia berseru, mendadak..... Dari arah depan sana terdengar Cun gan siau cay Si Kok seng menjerit kaget dan melompat mundur kebelakang, disusul Toan im siancu Thia Yong menjerit kaget pula sambil menyingkir kesamping. Thi pit suseng Thia Cuan dan Suma Thian yu merasa amat terperanjat setelah mendengar suara jeritan itu, serentak mereka meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi. Tiba dihadapan Cun gan siucay Si Kok seng, apa yang kemudian terlihat membuat kedua orang itu mundur selangkah dengan paras muka berubah hebat. Ternyata mereka menyaksikan sebuah tugu disisi hutan... sebuah tugu peringatan yang terbuat dari tulang-tulang tengkorak manusia, diatas tugu itu terlukiskan:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kembali! Maju lebih kemuka berani mati" Ketujuh huruf itu amat besar dan semuanya tersusun oleh tulang manusia yang memutih. Sesudah hilang rasa kagetnya, dengan mendongkol Cun gan siucay Si Kok seng meludah, teriaknya. "Manusia jadah dari manakah yang berani menggunakan benda-benda semacam itu untuk menakut-nakuti aku? Hmm, aku Si Kok seng justru ingin mencobanya..." Nama Si Kok seng yang diucapkan terakhir sengaja diucapkan dengan sangat nyaring. Begitu selesai berkata, mendadak telapak tangannya diayunkan kedepan, segulung angin pukulan yang sangat dahsyat dengan cepat meluncur kedepan. "Braaak...!" susunan tugu yang terbuat dari tulang belulang itu segera hancur berantakan dan berserakan diatas tanah. Thi pit suseng Thia Cuan merasa amat terperanjat setelah menyaksikan kejadian ini, baru saja ia hendak mencegah perbuatan mana, tugu tulang belulang itu sudah hancur remuk, tak kuasa lagi dia menghela napas panjang, ia sadar bakal celaka. Selang beberapa saat mereka menanti, namun suasana dalam hutan tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Kenyataan ini membuat Si Kok seng makin takabur, buruburu serunya kepada tiga orang yang lain: "Serbu saja! Mari kita langsung menyerbu kedalam hutan tersebut!" Selesai berkata dia lantas berjalan paling depan memasuki hutan itu, di susul oleh Toan im siancu. Thi pit suseng kuatir adiknya menjumpai mara bahaya, maka dia lantas mengajak Suma Thian yu menyusul dipaling belakang. Baru saja ke empat orang itu memasuki hutan, mendadak terdengar suara tertawa dingin yang mengerikan berkumandang memecahkan keheningan, disusul kemudian

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

suara pekikan aneh muncul dari empat penjuru dan menggema diseluruh hutan. Thi pit suseng Thia Cuan sudah berpengalaman didalam menghadapi beratus-ratus kali pertarungan, pengalamannya luas sekali, begi tu menyaksikan suasana gelap yang menyelimuti hutan tersebut, ia sudah mendapat firasat jelek, apa lagi setelah mendengar suara pekik kan aneh itu, tanpa terasa bulu kuduknya bangun berdiri. Buru-buru teriaknya dengan suara keras: "Si siauhiap, jangan bertindak gegabah, kau harus berhatihati...." Sembari berkata dia lantas melayang kesamping adiknya Toan im siancu dan diam-diam bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan. Mendadak terdengar Cun gan siucay Si Kok seng menjerit kaget, suara kaget itu berasal dari lima kaki dihadapan mereka. Suma Thian yu yang pertama-tama menerjang kedepan setelah mendengar seruan kaget itu, dengan suatu gerakan yang cepat dia melayang turun diatas tubuh Si Kok seng. Mendadak pandangan matanya terasa silau, ternyata didepannya terdapat sebuah tanah kosong seluas dua puluh kaki, waktu itu api membara dengan terangnya menyinari sekitar tempat itu Ditengah hutan muncul sebuah tanah lapang, kejadian ini sudah cukup mengherankan hati orang, apa lagi kalau tanah lapang itu terang benderang seperti disiang hari saja, hal ini lebih aneh lagi, tanpa sadar ke empat orang itu merasakan jantungnya berdebar keras. Jilid : 11

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

TOAN-IM Siacu Thian Yong yang amat teliti, dengan menyapu sekejap sekeliling arena tersebut, mendadak ia menjerit kaget: "Aaah, kalian lihat, benda apakah itu?" Dengan perasaan terkesiap semua orang segera berpaling kearah mana yang ditunjuk nona Thia, kemudian serentak mereka menjerit kaget. Ditengah jeritan kaget inilah, mendadak tampak empat sosok bayangan manusia melompat keluar dari kegelapan dari bergerak mendekat dari empat penjuru tanah lapang itu. Sebenarnya kejadian apakah yang membuat keempat jago muda mudi itu menjerit kaget. Ternyata Toan im siancu Thia Yong telah menemukan sesosok mayat yang digantung di atas dahan sebatang pohon besar disudut sebelah barat. Setelah keempat orang itu berjalan mendekat, Suma Thian yu lah yang pertama-tama menjerit kaget. "Aaah, dia adalah Kang Pun san!" Thi pit suseng Thia Cuan berpaling, lalu bertanya dengan nada tercengang: "Hiante kau kenal dia?" "Benar, dia adalah Cha gi sut tikus bersayap) Kang Pun san, waktu ia dikalahkan oleh nona Wan dalam perusahaan Sin liong piau kiok, sungguh tak sangka ia telah tewas disini" Cun gan siucay Si Kok seng mendongakkan kepalanya dan memperhatikan jenazah si tikus bersayap Kang Pun san beberapa saat, kemudian jengeknya sambil tertawa seram: "Hehehehehe......gentong nasi seperti ini memang sudah sepantasnya mampus, aku orang she Si berada disini, ingin kulihat siapa yang berani mengusik diriku!" Baru selesai dia berkata, mendadak terdengar suara dengusan dingin yang lirih bergema memecahkan keheningan. Menyusul kemudian sesosok bayangan hitam meluncur keluar dari balik hutan, bagaikan seilas cahaya kilat mengitari angkasa lalu lenyap.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Semua orang merasakan pandangan matanya jadi silau, belum sempat mereka menyaksikan bayangan hitam itu, tibatiba Cun gan siucay Si Kok seng menjerit ngeri, seluruh tubuhnya bergetar keras dan segera roboh terjengkang kearas tanah. Peristiwa itu terjadinya sangat mendadak, tiga orang lainnya tak sempat memberi bantuan, jalan darah Si Kok seng sudah tertotok dan jatuh tak sadarkan diri. Suma Thian yu menerjang maju kedepan, menyaksikan kejadian itu ia merasa gusar sekali, kearah dalam hutan bentaknya penuh keguiaran: "Setan alas, darimanakah yang berada didalam hutan? Kalau punya keberanian hayolah munculkan diri, kalau beraninya hanya main sem bunyi dan menyergap orang secara diam-diam, hal ini bukan perbuatan seorang enghiong hohan....." Baru selesai Suma Thian yu memaki, mendadak terdengar tiga kali suara pekikan nyaring dikumandang dari tiga arah yang berbeda, suaranya nyaring seperti lolongan srigala, se perti juga jeritan kuntilanak, terutama sekali ditengah kegelapan, suasananya terasa menggidikkan hati setiap orang yang mendengarnya. Ditengah suara pekikan yang aneh itulah mendadak terdengar tiga kali desingan angin tajam membelah angkasa, ditengah arena tahu-tahu sudah bertambah dengan tiga orang kakek berbaju hitam. Dua orang diantaranya ternyata dikenal oleh Thi pit suseng Thia Cuan, sambil tertawa tergelak, segera serunya: "Aku mengira siapa yang datang, ternyata kalian dua orang tangkeh dari Tiang-pek san, tampaknya kalau orang sudah mendapat jodoh maka dimanapun selalu bertemu, kembali kita bersahabat lagi dengan mesrah" Diri ketiga orang kakek berbaju hitam itu, orang yang berada disebelah kanan adalah lotoa dari Tiang pek sam sat (tiga malaikat bengis dari bukit Tiang pek) yang disebut Kiu tau siu (binatang berkepala sembilan) Li Gi, yang disebelah kiri

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

adalah kakek kurus bercambang, dia adalah losam Liat hwee siu (binatang berapi membara) Li Hiong, sedangkan orang yang berdiri ditengah are na itu berambut sepanjang punggung, memakai gelang berbentuk rembulan diatas kepalanya, berusia enam puluh tahunan, mata besar alias mata tebal, hidung besar mulut besar dan bertampang seperti singa, dia membawa tongkat berbentuk rembulan, mukanya bengis dan menyeramkan. Orang ini merupakan iblis paling keji dan paling ganas dalam dunia liok lim dewasa ini orang menyebutnya sebagai Hui cha cuncu (Rasul garpu terbang) Kiong Lui. Garunya Sip hiap jin mo (Manusia iblis penghisap darah) Pi Ciang hay merupakan jago paling lihay dalam kalangan iblis, bersama Hoat seng si (Mayat kaku hidup) Ciu Jit hwee mereka disebut Ih Lwe ji mo (sepasang iblis dari kolong langit). Waktu itu, binatang berkepala sembilan Li Gi menatap sekejap ketiga orang itu dengan sorot mata buas, lalu ujarnya: "Apakah kalian bertiga tidak kenal tulisan?" "Kalau kenal kenapa? Kalau tidak kenal kenapa pula?" Suma Thian yu balik bertanya. Kiu tausiu Li Gi mengawasi Suma Thian yu dengan sorot mata setajam sembilu, kemudian tanyanya penuh kegusaran: "Siapa kau? Apakah sudah bosan hidup?" "Hmm, dengan mengandalkan tampangmu semacam ini, kau masih belum pantas untuk menanyakan nama sauyamu!" "Li lote" pada saat itulah terdengar Hui cha cun cu Kiong Lui berkata dengan suara dingin, "jagal saja dia kan beres? Buat apa mesti banyak bersilat lidah dengan dirinya? Kiu tau siu Li Gi tertawa seram, tulang belulang diseluruh tubuhnya bergemerutuk keras, mukanya berubah menjadi merah padam, sepasang lengannya menjadi merah membara, agaknya dia siap sedia melancarkan serangan. Thi pit suseng Thia Cuan melompat ke depan dan berdiri diantara Li Gi dengan Suma Thian yu, lalu sambil tertawa terbahak-bahak serunya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Hiante, harap jangan marah, serahkan saja setan tua itu kepadaku... Dalam perkirarn Kiu tau siu Li Gi, Suma Thian yu masih muda dan gampang diroboh kan, baru saja dia akan memberi pelajaran kepada sang pemuda, siapa tahu dari tengah jalan muncul seorang Tuia Kau kim. Melihat kemunculan Thi pit suseng, terkesiaplah hatinya, dia tahu kalau musuhnya yang ini sangat tangguh. Tapi setelah berada dalam keadaan demikian terpaksa ia harus bulatkan tekad untuk meng hadapinya. Sambil membentak keras, sepasang telapak tangannya melancarkan sekuah pukulan yang dahsyat menghantam tubuh Thi pit suseng. Melihat serangan yang begitu berbahaya dari lawannya, meledak hawa amarah dalam dada Thia Cuan, telapak tangan yang satu digunakan untuk menyapu ke bawah, sementara telapak tangan yang lain digunakan untuk membacok ke atas, dengan jurus Siang hong tiau yang (sepasang burung hong menghadap mata hari) dia sambut datangnya ancaman lawan dengan sepasang tangannya berbareng. "Blaaammm...!" terdengar suara ledakan keras menggema memecahkan keheningan, tiga dua gulung angin serangan itu saling ber tubrukan di tengah udara terjadilah pusingan angin yang menyebar ke empat penjuru. Terdesak oleh sisa angin pukulan itu, masing-masing pihak terdorong mundur selangkah ke belakang. Kiu tausiu Li Gi tidak menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki lawan begitu sempurna, termakan oleh pukulan yang memaksa nya mundur, dia terkejut bercampur mendongkol. Baru saja tubuhnya dapat berdiri tegak, mendadak dia berpekik nyaring, tubuhnya seperti elang raksasa menerjang ke tengah udara, sepasang tangannya diluruskan ke depan, kesepuluh jari tangannya dipentangkan lebar-lebar, dengan jurus Ciang ing phu toh (Elang sakti menerjang kelinci) dia lansung mencengkeram batok kepala Thi pit suseng Thia Cuan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sebagai murid kesayangan dari Heng si Cin jin, Thia Cuan memiliki ilmu silat yang tinggi serta warisan langsung dari Kun lun-pay, begitu menyaksikan Kiu tau siu Li Gi menerjang ke bawah dengan dahsyatnya, ia sama sekali tidak menjadi gugup, dengan memperkuat posisi kuda-kudanya, dengan jurus Kiau cong ki ku (memukul genta menghantam tambur) sepasang tangannya bersama-sama di sodok ke depan menghajar tubuh Li Gi. Jurus serangan ini merupakan salah satu jurus yang dahsyat dari empat macam kepandaian Kun lun kim hoat. Hui cha cun cu Kiong Lui yang menonton jalan-nya pertarungan dari sisi arena menjadi tetegun oleh kejadian itu, mendadak bentaknya keras-keras. "Tahan!" Sepasang telapak tangan dua orang yang sedang bertarung sudah terlanjur di lancarkan, dihentikan jelas tak sempat lagi, disaat Kiong Lui membentak keras itulah, ditengah udara kembali terjadi suatu bentrokan keras yang menimbulkan suara ledakan dahsyat. Menyusul kemudian tampak debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa, udara menja di gelap dan Kiu tau siu Li Gi mendengus ter tahan, tubuhnya seperti bintang yang jatuh roboh ke tanah, mukanya pucat pias seperti mayat, ujung bibirnya basah oleh noda darah. Thi pit suseng Tia cuan sendiri, walaupun terpengaruh juga oleh gelombang angin sera ngan itu, namun dia tetap sehat wal'afiat seperti sedia kala, pelan-pelan dia bangkit berdiri kemudian ditatapnya Hai cha cun ca Kiong Lui tanpa berkedip. Kiong Lui mendeham beberapa kali, kemudian dengan seorang tua yang berpengalaman dia bertanya: "Aoa hubunganmu dengan Bi kun lun Siau Wi goan?" "Aku sama sekali tidak kenal dengan orang ini" jawab Thia Cuan tegas. "Bocah keparat, kau berani mengelabuhi aku? Hmmm, melihat gerakan tubuhmu jelas semuanya merupakan kepandaian silat aliran Kun lun pay, padahal Bi kun lun Siau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Wi goan adalah murid kesayangan dari Leng-go cinjin, ketua Kun lun pay sekarang, masa kau tidak kenal dirinya?" Mendengar perkaraan tersebut, Thi Pit suseng segera memperhatikan Hui cha cun cu se kejap kemudian balik bertanya: "Maaf, kalau mataku buta, tolong tanya siapakah nama besarmu?" "Bocah keparat, mengingat usiamu masih muda dari tak tahu urusan, aku enggan ribut denganmu, setiap jago persilatan yang berkelana dalam dunia persilatan hampir semuanya kenal dengan lohu, masa kau tidak tahu?" Berbicara sampai disitu dia berkerut kening, kemudian sambil menuding keujung hidung sen diri serunya: Suma Thian yu paling benci dengan sikap latah dan takabur semacam ini mendengar, per kataan tersebut ia mendengus dingin, matanya memandang sinis dan senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya. Hui cha cun cu Kiong Lui dapat menyaksikan sikap sinis anak muda tersebut, mendadak sepasang matanya melotot besar, sinar buas me mancar keluar, sesudah tertawa seram, serunya: "Bocah keparat, kau tidak puas?" Suma Thian yu memandang sekejap wajah Kiong Lui dengan pandangan sinis, kemudian tertawa terbahak-bahak. "Habahahahana......belum pernah sauya dengar seorang manusia she Kiong dalam dunia persilatan, mungkin kau hanya seorang pra jurit tak bernama yang rendah kedudukannya. Tapi lantaran malu mengakui hal tersebut, maka sengaja kau pakai kata-kata yang mem buat untuk menggertak?" Padahal setelah mendengar lawannya she Kiong tadi, Suma Thian yu sudah mengerti siapa gerangan orang yang dihadapinya, tapi dia sengaja mengejek, maksudnya adalah untuk memancing kemarahan musuhnya yang latah dan takabur ini.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Betul juga, Hui cha cun cu Kiong Lui kontan dibuat mencakmencak karena kegusaran, selapis hawa pembunuhan yang amat tebal dengan cepat menyelimuti seluruh wajahnya, ia maju selangkah mendekati anak muda itu, kemudian toya berbentuk bulan sabitnya diayun ke pinggang lawan dengan jurus Heng sau jian kun (menyapu rata seribu prajurit). "Bila kau ingin mampus, lohu akaa memenuhi keinginanmu itu!" makinya sambil menahan geram. Gembong iblis kenamaan memang berbeda dengan kawanan jago lainnya, ayunan toya tersebut paling tidak mempunyai kekuatan sebesar lima ratus kati, jangankan tubuh Suma Thian yu terdiri dari darah dan daging, sekali pun terdiri dari baja aslipun tak sanggup menahan pukulan mana. Tatkala Suma Thian yu menyaksikan ayunan senjata Hou tou pang berbentuk bulan sabit itu amat gencar dan cepat, buru-buru dia melejit ke tengah udara. "Weess! diiringi desingan angin tajam yang kuat, senjata toya Hou topang berbentuk bulan sabit itu menyambar lewat hanya beberapa inci dibawah kaki anak muda tersebut. Begitu serangan toyanya mengenai sasaran yang kosong, Hui cha cun cu Kiong Lui segera menahan tubuhnya dan menarik kembali senja ta Hou topang berbentuk bulan sabit yang di ayunkan ke muka tadi. Setelah itu dia mempertinggi serangannya satu depa lebih ke atas, kali ini yang diancam adalah pinggang lawan. Suma Thian yu tahu lihay terpaksa dia gunakan ilmu bobot seribu, membawa tubuhnya melayang turun kebawah, senjata Hou to pang berbentuk bulan sabitnya menyapu bagian bawah tubuh dengan membawa desingan angin tajam. Berhubung tenaga serangannya begitu dahsyat, dimana serangannya menyambar lewat secara lamat-lamat Suma Thian yu merasakan kulit badannya amat sakit. Dalam pada itu, Liat bwee siu Li Hiong sudah melompat kehadapan Toan im siancu Thia Yang, telapak tangannya segera diayunkan ke depan melancarkan sebuah bacokan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menanti lengannya diayunkan kedepan itulah dia baru membentak. "Budak rendah! loya akan menemanimu bergembira!" Toan im siancu Thio Yong menduga sampai disitu, melihat serangan yang datang begitu dahsyat ibarat bukit Thay san yang menindih kepala, dengan perasaan terperanjat ia menyingkir kesamping, gadis itu tak berani menyambut ancaman mana dengan kekerasan. Begitu lolos dari ancaman, Toan im siancu Thin Yong meloloskan sembilan pedang mestika dari pinggangnya lalu sebelum Lian hWee siu li hiong menyerang lagi, ia sudah mengembangkan jurus-jurus mautnya sambi1 menerjang kedepan. Tatkala Thi pit suseng Thia Cun menyaksikan adiknya sudah terjun ke arena pertarungan, tanpa terasa ia memusatkan seluruh perhatiannya mengikuti jalannya pertarunan, tangannya meraba diatas gagang pedang dan siap memberi penolongan bilamana perlu, Dipihak lain, Suma Thian yu yang bertarung dengan tangan kosong menghadapi toya Hou to pang berbentuk bulan sabit sudah mulai tak sanggup menahan diri, bayangkan saja Hui cha cun cu sebagai tokoh kelas satu dalam dunia Liok lim dewasa ini, baik lwekang maupun gwakangnya boleh dibilang sudah mencapai tingkat yang sempurna, toya Hou to pang seberat berapa ratus kati yang berada dalam permainannya ringan bagaikan toya kayu, selain serangannya berat, gerakgeriknya juga enteng, gesit dan cekatan. Sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah Suma Thian yu menghadapi mu suh setangguh ini, untuk sesaat dia dibikin geleng kepalanya oleh gerakan tubuh orang yang aneh dan cekatan, belum mencapai sepuluh gebrakan, ia sudan keteter hebat dan hanya sangaup menangkis belaka. Beraba dalam situasi yang kritis dan tegang seperti ini, mendadak ia berpekik nyaring, tu-buhnya melejit lima kaki ke tengah udara dengan gaya burung bangau terbang ke angkasa, pedangnya segera dicabut keluar dari sarung.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Serentetan cahaya biru memancar keempat penjuru dan amat menusuk pandangan mata. Suma Thian yu memainkan selapis kabut pe dang berwarna biru untuk melindungi badan, bagaikan sebuah jala perangkap ikan yang besar dan datang dari langit, dengan cepat tubuh Hui cha cun cu dikurung rapat. Hui cha cun cu Kiong Lui terhitung seorang gembong iblis yang sukar dihadapi, dia mendongakkan kepalanya memperhatikan sekejan ancaman lawan, kemudian setelah tertawa dingin jengeknya: "Hehehehenehe...... kiranya kau adalah ahli waris dari orang she Wan" Sambil berkata tongkat Hou to pang nya di angkat keatas dan diputar bagaikan sebuah roda kereta, diantara perputaran yang kencang itulah pelan-pelan dia menyongsong bayangan pedang yang diciptakan Kit hong kiam tersebut. Dalam waktu singkat terdengar dua kali ben turan keras ditengah udara, pedang dan tongkat Hou to pang telah saling membentur keras hingga menimbulkan percikan bunga api. Menggunakan kesempatan dikala pedangnya bentrok dengan toya lawan, Suma Thian yu segera melayang turun keatas tanah, sebaliknya Hui cha cun cu Kiong Lui kena tertekan oleh kekuatan lawan hingga kakinya amblas tiga inci kadalam tanah, namun ia tetap berdiri tak bergerak. Dengan mengandalkan serangan tersebut, Suma Thian yu segera mengembalikan posisi nya yang terdesak menjadi lebih mantap, pedangnya segera berputar sambil melancarkan serangan gencar, dengan Kiong Lui segera ber lempur sengit. Selama ini Thi pit suseng hanya berpeluk belaka sambil menonton jalannya petrarungan massal, dia tidak berani membantu karena kuatir menimbulkan suatu pertarungan massal, dia dapat melihat bahha kepandaian silat yang dimiliki kedua belah pihak berada dalam keadaan seimbang, dia pun mengerti menang kalah tidak bisa di temukan dalam waktu singkat, maka dia sendiripun tak kelewat terbaru napsu untuk turun tangan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kurang lebih seperminuman teh kemudian empat orang yang sedang bertarung sengit di tengah arena teiah berhasil menentukan siapa menang siapa kalah. Toan im siam cu yang melancarkan serangan berantai mendesak musuhnya habishabisan, kalau di lihat dari keadaan si Liat hwee sin Li hiong sekalian, tampaknya tiga jurus kemudian ia tentu keok. Di pihak lain keadaan pertarungan antara Suma Thian yu melawan Hui cha cun cu justru merupakan ke balikannya, kini anak muda tersebut hanya memiliki sisa kekuatan untuk mempertahankan diri belaka, ia tak memiliki tenaga lagi untuk mempertahanan diri, ia tak memiliki tenaga untuk melancarkan serangan balasan. Sedangkan Kiong Lui sendiri justru makin bertarung semakin perkasa, senjata pentungan Hou to pangnya tak pernah mengendor sedikit pun, serangan demi serangan dilancarkan se cara gencar dan semuanya membawa deruan angin tajam yang memekikkan telinga, semua ini membuat suasana dalam arena pepertarungan berubah lebih mengerikan. Thi pit suseng Thia Cian yang menyaksikan peristiwa ini menjadi sangat gelisah, dengan suara dalam ia lantas memrmembentak: "Tahan!" Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, Liat bwee siu Li Hiong segera melepaskan dua buah serangan berantai dan melompat mundur lebih duluan. Tentu saja Toan im siancu tak ingin membangkang perintah kakaknya, sambil menarik kembali pedangnya ia membentak: "Hmmm, keenakan kau si setan tua!" Dihak lain, Hui cha kun cu Kiong Lui seakan tak mendengar suara bentakan itu, bukan nya berhenti dia malah melancarkan serangan-nya makin gencar, senjata Hou to pang nya dengan membawa deruan angin tajam membacok seluruh tubuh Suma Thian yu secara bertubi-tubi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah melalui pertarungan yang seru, sesungguhnya Suma Thian yu sudah kehilangan banyak tenaga, kepalanya terasa pening dan badannya lemas tak bertenaga. Suara bentakan dari Thi pit suseng barusan baginya ibarat sebaskom air dingin yang diguyurkan keatas kepalanya, segera membuatnya sadar kembali, cepat dia mengembankaan gerakan tubuhnya dan meloloskan diri dari kepungan lawan. Hai cha cun cu Kiong Lui tak rela melepas kan usaha yang berhasil dicapainya selama ini, senjatanya kembali diputar membelah angkasa dengan jurus kay san to liu (membuka bukit air mengalir), kali ini dia membacok jalan darah Pek bwee hiat dibelakang kepala Suma Thian yu. Menyaksikan peristiwa tersebut, Thi pit su seng Thia Cuan segera berkerut kening, menda dak ia berpekik nyaring...... Tampak ujung bajunya berkibar terhembus angin kemudian tubuhnya menerjang kedepan secepat kilat, sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan, secara keras lawan keras, dia menggetar pergi senjata Hou to pang lawan, kemudian menghadang jalan pergi Kiong Lui. Melihat itu, Hui cha cun cu Kiong Lui menghimpun tenaga dalamnya sambil membentak keras: "Orang sbe Thia, jadi kau ingin mencari keuntungan dalam air keruh. Bagus sekali, hmm! Seandainya lohu tidak teringat kalau kau masih punya hubungan dengan Bi kun lun (Kun lun indah), kau anggap nyawamu masih bisa dipertahankan hingga sekarang? Hmm, mung-kia sedari tadi sudah berpulang ke alam baka" Thi pit suseng Thia Cuan tertawa terbahak-bahak. "Haaah...haaah...haah... terima kasih banyak atas kebaikanmu, cuma sayang toaya sama se kali tidak ada sangkut pautnya dengan Siau Wi goan, selain itu akupun tidak saling mengenal dengannya, bila kau menginginkan nyawaku, lebih baik ambillah dengan mengandalkan pandaian silatmu sendiri."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suaranya datar, tidak tidak meninggikan kepala merendahkan derajat sendiri dibalik kelembutan terdapat nada keras, ucapan mana sege ra membungkamkan mulut gembong iblis itu. Tapi justeru karena hal tersebut, dari malu nya si gembong iblis itu menjadi naik darah, dia segera tertawa dingin tiada hentinya: "Heeeh...heeeh...heeeh... barang siapa berani masuk hutan harus mampus, kau tidak menyaksikan jenasah diatas pohon itu? Inilah contoh yang paling baik bagi mereka yang bersikeras ingin melanggar peraturanku, berbicara dan cara tindak tanduk kalian semua, sebetulnya hanya ada satu jalan kematian saja. Akan tetapi berhubung lohu mempunyai sumpah yang mengatakan bahwa setiap sahabat Bi kun lun akan kulepas, maka kau boleh pergi dari sini, tapi bocah keparat yang menggemaskan ini tak boleh meninggalkan tempat ini barang setengah langkah pun. Yang di maksudkan sebagai bocah keparat tak lain adalah Suma Thian yu. Pada dasarnya Suma Thlan yu adalah seorang bocah yang berjiwa keras dan tinggi hati, mendadak dia membalikkan tubuhnya sambil tertawa mengejek, katanya: "Dengan mengandalkan kepandaianmu itu kau hendak menahan aku disini? Lebih baik gerakkan lagi senjata rongsokanmu itu, sauya akan melayanimu untuk bertarung seratus gebrakan. Suma Thian yu rugi didalam tenaga dalam yang tak berhasil melampaui kesempurnaan Kiong Lui, maka dia mengusulkan untuk ber tarung sebanyak seratus gebrakan dalam permainan ilmu pukulan. Siapa tahu Hui cha cun cu Kiong Lui malah tertawa terbahak-bahak dengan seramnya "Hehehebebehe....memang hal itu paling bagus, bocah keparat, hari ini aku akan suruh kau menderita kekalahan secara puas lahir batin, kemudian aku akan menggantungmu hidup-hidup diatas pohon agar ditonton semua orang!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan lemah gemulai Toan im siancu dihadapan Hui cha cun cu, lalu serunya: "Jika kau berani, mengganggu seujung ram butnya, Thia Yong yang pertama-tama akan beradu jiwa paling dulu denganmu, sampai wak tunya jangan salahkan lagi kalau nona tidak mengenal ampun!" Sambil berkata dia lantas menggeserkan ba dannya dan berdiri disamping Suma Tbiau yu. Mencorong sinar bengis dari balik mata Kiong Lui, sambil mementangkan mulutnya yang lebar dia membentak: "Lebih baik kalian bertiga maju bersama, dalam sepuluh gebrakan bila aku gagal meng hancur lumatkan kalian, dengan tangan terbuka lohu akan menghantar kalian pergi dari sini!" Benar-benar suatu ucapan yang amat sesumbar. Bayangkan saja ke tiga orang muda mudi itu adalah jagojago pilihan dari kaum muda, Thia si hengte (dua bersaudara Thia) telah memperoleh warisan langsung dari Heng si cinjun, sedangkan Suma Thian yu mendapat warisan keluarganya, kesempurnaan mereka terhitung jagoan nomor wahid dikolong langit. Untuk bertarung satu lawan satu, mungkin saja mereka masih belum sanggup, tapi kalau tiga orang bekerja sama, belum tentu ia sanggup merobohkan mereka dalam sepuluh gebrakan saja. Diatas wajah mereka bertiga serentak terlintas perasaan memandang rendah yang amat sinis. Dalam sekilas pandangan saja Hui cha cun cu Kiong Lui sudah dapat menembusi jalan pemikiran ke tiga orang lawannya, mendadak ia melemparkan senjata Hou to pang nya ke depan kaki Liat hwee siu Li Hiong, kemudian sambil menggulung bajunya hingga nampak lengan yang kekar, berbulu dan berotot besar itu, ia bersiap sedia melancarkan serangan. "Perkataan seorang lelaki sejati berat bagaikan bukit karang", dalam sepuluh gebrakan kemudian kalian pasti akan mampus diatas genangan darah segar!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu tidak banyak bicara, segera menghimpun segenap tenaga dalamnya kedalam lengan, lalu sambil menggunakan ilmu pukulan Tay cing to liong ciang ajaran gurunya Put gho cu, dia membacok tubuh Kiong Lai dengan jurus Ci kou thian bun (mengetuk pintu langit selatan). Toan im siancu tidak ambil diam, dari samping ia menyerang dengan jurus Im liong tham jiau (naga sakti mementang cakar), ketika sampai ditengah jalan, dia mengubah serangan pu kulannya menjadi cengkraman dan mencengkeram belakang kepala lawan. Hanya Thi pit suseng seorang yang tidak berkutik, dia masih menanti serangan balasan dari Hui cha cun cu dengan tenang, untuk kemudian melancarkan serangan dahsyat bila kesempatan baik telah tiba. Serangan yang dilancarkan Suma Thian yu maupun Thia Yong sesungguhnya cuma serang an tipuan belaka, sekilas pandangan serangan mana kelihatannya cepat seperti sambaran kilat, sesunguhnya dibalik ancaman mana tersembunyi dua gerakan lain yang dipersiapkan untuk mundur. Benar-benar lihay Hui cha cun cu ini, agaknya ia telah berhasil menebak jitu suara hati kedua orang lawannya, menghadapi ancaman tersebut ia tidak menjadi gugup atau panik. Ditunggunya serangan lawan hampir menca pai tubuhnya ketika secara tiba-tiba dia memutar tubuhnya melancarkan serangan balasan, jurus serangannya ganas dan mengerikan, seakan-akan dia bermaksud memanah dua ekor burung dalam sekali bidikan. serangan yang berkelebat secepat sambaran kilat, tahutahu sudah tiba di depan Thia Yong. Mendadak Thi pit suseng membentak nyaring, tubuhnya menerobos masuk kedalam arena kemudian telapak tangannya diayunkan ke muka membabat jalan darah Leng tay hiat di punggung Hui cha cun cu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Waktu itu sesungguhnya Hui cha cun cu Kiong Lui sedang bersyukur karena serangannya akan segera berhasil mencapai sasaran, mendadak dia merasakan tibanya desingan angin tajam dari arah belakang, kenyataan tersebut kontan membuatnya menjadi tertegun. Berada dalam keadaan begini harus mengesampingkan dulu kedua orang musuhnya yang berada didepan, ia membalikkan badan dan melepaskan serangan balasan. Serangan ini dilepaskan dalam keadaan gusar, tenaga dalam yang disertakan benar-benar luar biasa dahsyatnya. Ketika Thi pit suseng Thia Cuan termakan oleh sapuan tangan pukulan itu, badannya sege ra mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, dadanya terasa sakit sekali, sadarlah dia bahwa isi perutnya telah terbakar. Masih untung Hui cha cun cu Kiong Lui masih teringat akan sumber perguruannya serta hubungan-nya dengan Siau Wi goan, coba kalau tidak begitu, asal dia menambah tenaga serang annya dengan dua bagian tenaga saja, niscaya Thi pit suseng sudah tewas seketika. Begitu Thi pit suseng mundur kebelakang, kini didalam arena tinggal Suma Thian yu serta Toan im siancu yang sudah lelah karena kehabisan tenaga, tak selang dua gebrakan kemudian, Toan im siancu mengalami nasib seperti kakaknya, isi perutnya menderita luka dan roboh terduduk diatas tanah. Dengan demikian tinggal Suma Thian yu seorang yang harus berjuang mempertahankan diri, diam-diam ia mengertak giginya keras-keras, secara beruntun dia melepaskan tiga buah serangan berantai masing-masing dengan jurus Kun kun to coan ( Dunia diputar balik) Kui seng ti to (Bintang kejora jatuh jumpalitan) dan Sian hong sau soat ( Angin berpusing menyapu salju), semuanya merupakan jurus penolong dari ilmu pukulan Tay cing to liong ciang. Betapa hebatnya serangan itu bisa dilihat dari Hui cha cun cu Kiong Lui yang tak berani menyongsong serangan itu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan kekerasan, secars beruntun dia mengegos sebanyak tiga kali, kemudian melompat sejauh satu kaki lebih. Tampaknya dari sepuluh gebrakan yang di janjikan kini tinggal dua gebrakan lagi, bila Hui cha can cu Kiong Sui gagal merobohkan musuhnya, terpaksa dia harus menghantar lawan-lawannya ini untuk berlalu dari daerah terlarang itu. Mendadak Hui cha cun cu Kiong lui berpekik nyaring, tubuhnya melejit setinggi tiga kaki ketengah udara, bagaikan seekor naga bengis meninggalkan samudra, dengan membawa deruan angin puyuh dia menyambar keatas kepala Suma Thian yu. Thi pit suseng Thia Cuan yang menyaksikan peristiwa itu segera melupakan tenaga dalam yang dideritanya, sambil berpekik nyaring degan membawa luka dia menerjang ke arah Suma Thian yu. "Hiante, cepat mundur! Dia telah menggunakan Pek lek si hun ciang (Pukulan geledek pembetot sukma)!" Baru selesai Thi pit suseng berseru, di tengah angkasa telah bergema suara geledek yang menggelegar dengan nyaringnya. Ketika Suma Thian yu mendongakkan kepala, dia jadi terperanjat, wajah berubah pucat, tak sempat memandang sekejap lagi, dia sudah me lesat kesamping untuk menghindarkan diri. Disaat yang amat kritis inilah, ditengah udara berkumandang pekikan nyaris yang memekakkan telinga, lalu seperti sekilas cahaya yang membuyarkan awan hitam, petikan nyaring ter sebut seketika itu juga menawarkan suara gemuruh guntur yang mengelegar diangkasa. Semua orang yang semula tertegun oleh suara guntur, dengan cepat merasakan hatinya menjadi tenang kembali, untuk sesaat mereka seperti melupakan tragedi yang sedang terjadi didepan mata. Ketika memandang lagi kearah Hui cha cun cu, seketika itu dia sedang mengayunkan sepasang telapak tangannya dan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

secepat kilat meng hantam tubuh Suma Thian yu, siapa tahu pada saat itulah suatu kejadian aneh telah berlangsung. Tampaknya suara pekikkan nyaring yang membetot sukma itu telah mengacaukan pikiran Hui cha chun cu, tampak tubuhnya buru-buru berjumpalitan di tengah udara, lalu sepasang telapak tangannya segera ditarik kembali, seperti barung yang hinggap dia atas tanah, dengan entengnya dia melayang turun kembali kepermukaan tanah. Sementara semua orang masih tertegun, sesosok bayangan manusia nampak berkelebat lewat dari balik hutan, hanya sekejap kemudian, tahu-tahu ditengah arena telah berdiri seorang bocah lelaki berusia sebelas dua belas tahunan. Heran! Mungkinkah suara pekikan tadi berasal dari bocah lelaki yang masih ingusan ini? Kalau memang begitu, bukankah bocah lelaki ini adalah seorang bocah ajaib didunia ini? Tapi rasanya hal ini mustahil, tak bisa masuk akal, hal ini mana mungkin bisa terjadi? Seorang bocah lelaki yang masih berusia sebelas dua belas tahunan, masih bersifat kekanakkanakkan, bagaimana mungkin bisa memiliki ilmu silat yang begitu lihaynya? Tapi cahaya kilat yang terlibat tadi sudah jelas merupakan bayangan tubuh dari bocah ini selain dia siapa lagi? Tampak sepasang kening bocah lelaki itu menonjol tinggi sekali, dia sedang berdiri ber tolak pinggang sambil mencaci maki: "Kiong Lui, lagi-lagi kau membuat kejahat an disini", seandainya aku tidak datang tepat waktunya, kembali ada jiwa yang akan mela. yang disini, hmmm...! Apakah kau sudah melu pakan dengan kata-katamu tempo hari...?" Sungguh menggelikan sekali keadaan Hui cha cun cu Kiong Lui yang telah berusia enam puluh tahunan itu, kalau tadi sikapnya garang angkuh dan jumawa sekali, maka setelah berjumpa dengan bocah lelaki itu, keadaannya berubah seperti tikus berjumpa kucing, sikapnya menghormat dan tunduk sekali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Semua orang lantas mengalihkan perhatian nya kewajah bocah itu, tampak dia mengena kan baju berwarna putih bersih, rambutnya di gulung menjadi satu, matanya besar lagi bulat, wajahnya menarik dan menyenangkan, kecuali itu tidak terlihat sesuatu gejala lain yang istimewa. Akan tetapi sikap Hui cha cun cu Kiong Lui bagaikan sedang menghormati dewa pujaannya saja, dengan sikap yang amat menghormati dia berkata: "Sobat kecil, kenapa sudah lama kau tidak bermain kemari? Lohu sangat rindu kepadamu!" "Huuuuh, siapa yarng kesudian bermain disini?" Ibuku bilang kau adalah telur busuk terbesar didunia ini, ia melarangku bermain denganmu" sahut bocah lelaki itu terus terang. Suma Thian yu yang mendengar perkataan itu menjadi amat geli sekali sehingga tak tahan ia tertawa terkekeh. Mendadak bocah lelaki itu berpaling, sepasang matanya melotot besar dan memancarkan sinar berkilauan. "Benar-benar lihay sekali tenaga dalam orang ini, entah bagaimana cara berlatih?" anak muda itu segera berpikir. Sementara itu sibocah telah memperlihatkan dua baris giginya yang putih bersih sambil menegur: "Siapa yang bernama Suma Thian yu?" Agak tertegun Suma Thian yu mendengar pertanyaan itu, setelah termangu sesaat buru-buru sahutnya: "Akulah orangnya" Bocah lelaki itu segera mengamati Suma Thian yu sekejap, kemudian katanya: "Tak heran kalau ibuku mencarimu, nih! Disini ada sepucuk surat untukmu, ambil dan bacalah sendiri!" Suma Thian yu makin terperanjat lagi sete lah mendegar perkataan itu, buru-buru dia menyambut surat itu dan dibuka lalu dibaca isi-nya, diatas surat itu hanya tercantum beberapa huruf yang berbunyi: "Datanglah segera selesai membaca surat ini"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dibawahnya tidak nampak tanda tangan atau kode tertentu dari penulis surat itu. Dengan wajah termangu Suma Tnian yu mengawasi wajah si bocah itu lekat-lekat, pelbagai ingatan segera berkecamuk didalam be naknya membuat dia terasa pusing umuk memikirkannya. Siapakah bocah ini? Siapa pula ibunya? Ada urusan apa dia khusus datang kesitu untuk mencarinya? Siapa musuh besanya? Apa sangkut pautnya dengan dirinya? Serentetan pertanyaan tersebut membuat Suma Thian yu menjadi sangat murung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, untuk sesaat dia menjadi gelagapan hingga tak sepatah katapun sanggup diutarakan. Sambil tertawa cekikikan bocah lelaki itu segera menegur: "Bila kau selesai membaca, mari kita segera berangkat!" "Tolong tanya sobat kecil, kita akan kemana?" Suma Thian yu segera bertanya: "Tentu saja ke rumahku!" Sambil menyahut bocah itu segera menarik tangan Suma Thian yu dan siap berlalu dari situ. Mendadak terdengar Hui cha cun cu Kiong Lui membentak keras: "Tungqu sebentar! Sobat kecil, dia masih berhutang kepada lohu....!" Bocah lelaki itu segera berpaling, mencorong sinar tajam dari matanya, setelah menatap sekejap wajah Kiang Lui dengan gusar, serunya kembali: "Kau kuatir tidak bisa menagih kembali? Hutang apa sih? Biar aku saja yang membayarkan baginya" "Oooh, tidak, tidak!" Hui cha cun cu segera menampik, asal sobat kecil telah mengambil alih hutang tersebut, tentu saja lohu tak bisa berkata apa-apa lagi, sekembalinya kerumah nanti, sampaikan salamku untuk ibumu!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bocah lelaki itu mendengus dingin, ia segera berlalu meninggalkan hutan tersebut. Tiba-tiba dua bersaudara Thia berpekik nysring, kedua orang itu segera melompat ke depan dan menghadang jalan pergi bocah itu. Sambilmenjura Th i pit suseng Thia Cuan segera menegur: "Tolong tanya sobat cilik, siapa namamu dan dimana rumahmu?" Dengan tak sadar bocah lelaki itu menukas: "Kau takut aku akan melalapnya hidup-hidup? Paling cepat sebulan paling lambat dua bulan, tanggung dia dapat berjumpa lagi dengan kalian berdua" Walaupun usia bocah lelaki ini masih muda, namun caranya berbicara seperti orang dewasa, sehingga dua bersaudara Thia pun turut merasa keheranan. Dengan cepat Toan im-siancu Thia Yong bertanya: "Dimanakah rumah kediamanmu?" Kali ini si bocah lelaki itu tertawa cekikikan. "Tak usah kuatir, bukan aku yang berhak menjadi mak comblang, dua bulan kemudian dia pasti akan mengunjungi kalian berdua di bukit Kun san telaga Tong ting ou". Begitu bocah lelaki itu selesai berkata, se lembar wajah Toan im-siancu Thia Yongpua turut berubah menjadi merah padam seperti apel yang masak, dia lantas mendesis dan berseru sambil melotot: "Hmmm, tampaknya kau mencari penyakit!" Sambil berkata dia lantas mengayunkan telapak tangannya menghantam wajah bocah lelaki itu. Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian ini segera berseru dengan amat gelisah: "Nona Thia......" Belum habis dia berkata, bocah lelaki itu telah membentak pula dengan suara keras: "Ayo berangkat! Tempat ini bukan tempat yang aman" Kalau dibicarakan sesungguhnya sukar masuk diakal, Suma Thian yu hanya melihat bocah kecil itu mengangkat

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

lengannya, tahu-tahu seluruh badan Toan im siancu sudah melayang ditengah udara seperti selembar daun yang ter hembus angin puyuh, tahu-tahu ia sudah dikirim ke sisi badan kakaknya... Dengan demikian, kendatipun Toao im sian cu Thia Yong lebih bina1 dan wataknya lebih aneh pun, mau tak mau dia harus merasa kagum dan tunduk terhadap bocah itu. Buru-buru dia memberi tanda kepada kakaknya dan berlalu dari situ. Melihat kejadian tersebut, wajah bocah lelaki itu nampak berseri, dia memarik tangan suma thian yu dan menembusi hutan itu. Kali ini mereka tidak bergerak ke arah bukit Han-san melainkan justru berbalik ke jalan kecil, semua jalanan yang mereka lalui sebagian besar adalah jalan perbukitan yang sempit dan curam. Untung saja Suma Thian yu memiliki ilmu silat yang hebat. Ilmu meringankan tubuhnya pun amat sempurna, dengan begitu dia masih bisa membuntuti selalu lima langkah di belakang bocah lelaki itu. Sekarang Suma Thian yu baru benar-benar dapat menyaksikan kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki bocah lelaki itu, jangan dilihat bocah itu bergerak dipaling de pan, namun langkahnya enteng dan cepat hing ga kalau dilihat dari tempat kejauhan, sepa sang kakinya seakanakan tidak menempel di atas tanah. Diam-diam Suma Thian yu menghela napas panjang, pikirnya: "Diluar langit masih ada langit, diatas ma nusia masih ada manusia, tampaknya soal ilmu silat memang tiada tara dalamnya" Apa yang di katakan orang kuno memang tidak salah, setinggi-tingginya sebuah bukit, tentu ada bukit lain yang jauh lebih tinggi, selihay-lihaynya kepandaian seseorang, sudah pasti ada orang lain yang jauh lebih lihay daripadanya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bayangkan saja berapa usia bocah lelaki yang masih bau kencur ini? Tapi dalam kenyataan-nya, baik ilmu lwekang, gwakang maupun ginkang semuanya telah mencapai puncak kesem purnaan, sekalipun sejak berada dalam kandungan ibunya dia sudah mulai melatih diri, belum tentu kepandaian silatnya bisa mencapai tingkatan demikian hebatnya. Bila ditinjau dari kepandaian silat yang di miliki bocah ini, bisa dibayangkan pula sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang di miliki ibunya? Tapi dalam dunia persilatan belum pernah terdengar nama seorang jagoan perempuan semacam itu, siapakah dia? Sambil berlarian menempuh perjalanan be nak Suma Thian yu dipenuhi oleh pelbagai per soalan yang memusingkan kepalanya, terutama sekali dalam surat tersebut tidak dicantumkan nama maupun tanda tangan, mungkinkah bocah ini salah mencari orang? Malam itu udara gelap gulita, tiada rembulan, hanya bintang yang betebaran memenuhi angkasa. Walaupun Suma Thian yu memiliki kepandaian untuk melihat dalam kegelapan, tapi saat itu dia tak sanggup melihat pemandangan yang berada satu kaki dihadapannya, hal ini membuat hatinya diam-diam merasa amat gelisah. Sebenarnya dia ingin bertanya kepada bocah itu ke manakah mereka hendak pergi, tapi dia pun kuatir ditertawakan oleh pihak lawan, padahal kalau tidak ditanyakan hatinya terasa amat kesal dan gugup. Mendadak bocah lelaki yang sedang berlarian di muka berpaling seraya berseru: "Sudah hampir sampai, bagaimana kalau kita mempercepat sedikit perjalanan kita?" Selesai berkata, tanpa menunggu persetujuan dari Suma Thian yu lagi dia lantas menghimpun tenaga dalamnya dan berganti gerakan tubuh, kali ini dia menempuh perjalanan dengan meng gunakan ilmu meringankan tubuh Pat pah kan cian (delapan langkah mengejar comberet).

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tentu saja Suma Thian yu tak berani berayal pula, buruburu dia menghimpun tenaga murnuinya dan mengembangkan ilmu meringankan tubuh Leng kong siu tok yang sangat lihay itu, bagaikan peluru yang melejit kedepan, ia mengejar lawannya dengan ketat. Tiada hentinya bocah lelaki didepan itu ber paling dan melihat apakah Suma Thian yu ber hasil menyusulnya atau tidak, namun sepanjang jalan dia tak pernah berbicara lagi walau se patah kata pun, hal mana semakin menambah misteriusnya suasana. Setelah menempuh suatu perjalanan yang cukup panjang, menembusi beberapa bukit, entah oerapa jauh sudah mereka berjalan akhirnya terdengar bocah lelaki itu bersorak gembira: "Sudah sampai, didepan sana adalah rumahku" 000O000 WAKTU ITU Suma Thian yu sudah kehabisan tenaga, dengan badan lemas, napas tersengkal-sengkal, seluruh badannya basah kuyup oleh keringat, membuatnya untuk sesaat tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Menyaksikan keadaan itu, si bocah lelaki itu segera berkata sambil tertawa cekikikan: "Tampaknya aku telah membuatmu kepayahan, padahal waktu kedatangan kita masih terlambat setengah kentongan daripada waktu telah kutetupkan sebelumnya!" Ucapan tersebut tak ubahnya menyindir ketidak becusan Suma Thian yu dalam melakukan perjalanan, kontan saja paras muka anak mu da itu berubah menjidi merah sebentar, hijau sebentar, panas sebentar, dingin sebentar, rasanya tak terlukiskan dengan kata kata. Sedemikian jengahnya pemuda itu, sehingga seandainya disana terdapat sebuah lubang gua, niscaya dia sudah menerobos masuk ke dalam untuk menyembunyikan diri. Dengan cepat dia berpaling ke arah puncak bukit didepan sana, mendadak ia tidak menjumpai rumah seperti yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dikatakan bocah uu, kecurigaan segera timbul, sambil meman dang wajah si bocah itu tanyanya agak terdengung: "Sobat cilik, dimana rumahmu?" "Itu dia, dibelakang bukit sana" jawab si bocah sambil menunjuk kedepan sana. Suma Thian yu melihat tempat yang ditunjuk adalah bukit didepan sana, hatinya lantas menjadi lega, akan tetapi sewaktu tidak menjum pai jalan tembus disitu, keningnya lantas ber kerut dan wajahnya memperlihatkan rasa ke sulitan. Ternyata antara tempat dimana mereka ber ada sekarang dengan bukit yang berada dise berang sana dipisahkan oleh sebuah jurang yang lebarnya kurang lebih tiga puluh kaki, jangankan manusia, sekalipun binatang juga belum tentu bisa melampauinya. Orang hanya mungkin mencapai puncak seberang bila dia menuruni lembah jurang itu le bih dulu, atau bila dia bersayap dan sanggup terbang melampauinya. "Bagaimana cara kita menyeberang kesana?" dengan perasaan tercengang akhirnya Suma Thian yu berseru. "Tentu saja ada caranya, harap kau kau jangan kelewat terburu napsu" sahut si bocah cepat. Diam-diam Suma Thian yu berpikir lagi: "Kau punya cara apa? Memangnya bisa ter bang menyeberangi jurang ini? Kalau memang demikian, bukankah dia sudah menjadi dewa bukan manusia lagi...?" Sementara itu terdengar sibocah sedang ber gumam seorang diri. "Ing ji memang cukup binal, tahu kalau aku bakal datang terlambat, dia tak mau menunggu aku sebentar lagi, hmmm, sebentar aku harus menghukum dia" Ketika Suma Thian yu mendengar dikebut kannya nama "Ing ji", dia semakin keheranan, segera pikirnya lagi: "Mungkinkah bocah lelaki ini masih mempunyai seorang adik perempuan yang lebih kecil?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara dia masih berada dalam keadaan bingung dan tidak habis mengerti... Mendadak bocah kecil itu berpekik nyaring kearah bukit disebrang sana, suara pekikannya amat nyaring memekikan telinga, seperti suara genta dari kuil yang menggaung diseluruh tanah perbukitan, nyaring, keras dan mengagumkan. Cukup dilihat dari kemampuannya berpekik nyaring, jika seseorang tidak memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan, jangan harap ia bisa berbuat demikian. Diam-diam Suma Thian yu menghela napas panjang, suatu perasaan rendah diri segera muncul dihati kecilnya. Begitu suara pekikan tersebut sirap, dari seberang bukit sana berkumandang suara pekikan burung hong, kemudian tampak seekor burung raksasa berwarna hijau terbang mendekat. Dengan cepat Suma Thian yu menjadi mengerti, rupanya yang dimaksudkan sebagai "Ing-ji" adalah burung yang sedang melintasi jurang sekarang, atau dengan perkataan lain, burung tersebutlah sebagai sarana angkutan untuk menyeberangi jurang itu. Dalam waktu singkat burung yang berwarna warni itu sudah melintasi dua buah puncak bukit, tampaknya ia seperti ada maksud untuk mempermainkan si lelaki tersebut, sambil terbang merendah dan berputar beberapa kali, dia berkaok tiada hentinya. Menyaksikan kejadian itu, dengan perasaan geli bercampur mendongkol bocah itu membentak: "Ing-ji, waktu sudah siang, mengapa kau tidak segera turun? Apakah kau menunggu sampai kubekuk batang lehermu nanti?" Ing ji masih saja berkaok sambil putar kian kemari, tampaknya ia makin sengaja tak mau melayang turun kebawah. Akhirnya dengan marah bocah itu berteriak: "Jika kau tidak turun lagi, lihat saja nanti sekembalinya dari sini akan kulaporkan kepada ibu agar kau dihukum!" Menurut aturan, Ing ji pasti akan menuruti perkataan itu dan melayang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

turun kebawah, sekalipun dia hendak berubah, paling tidak ulahnya tak akan sampai menggusarkan majikan mudanya. Suma Thian yu adalah seorang pemuda yang cerdas, ia segera merasakan ada sesuatu yang tak beres, sepasang matanya yang tajam dengan cepat menyapu sekejap sekitar sana, akhirnya dia menjerit kaget: "Aaaah, coba lihat, apakah itu?" Mendengar seruan tersebut, si bocah itu segera berpaling, paras mukanya kontan berubah. Ternyata diatis batang pohon raksasa dibelakang mereka berdua, melingkar seekor ular raksasa sebesar baskom, kepalanya berbentuk segitiga, sepasang matanya seperti lampu lentera dan memancarkan cahaya bengis, kalau dilihat dari sikap dan gayanya, tampaknya ular itu sudah bersiap sedia melancarkan sergapan kearah mereka berdua. Dengan marah bocah itu segera membentak: "Rupanya binatang keparat ini yang sedang mengacau, tak aneh kalau Ing-ji tak berani turun kebawah..." Sambil berkata telapak tangan-nya segera diayunkan kedepan menghantam ular beracun itu, angin pukulan yang menderu-deru langsung menghajar tubuh binatang tadi. Siapa tahu ular beracun itu amat cekatan, dia segera miringkan kepalanya menghindarkan dirinya dan menyusul kemudian sambil mementangkan mulutnya dia menyemburkan segumpal kabut tebal. "Hati-hati ada racunnya" Suma Thian y menjerit kaget, lalu sambil mencabut keluar pedangnya serunya lagi kepada bocah itu, "sobat kecil, seranglah dia agar menjadi marah, tapi hatihati dengan semburan udara beracun-nya" Sambil berkata dia mengeluarkan dua butir pil anti racun dan menyerahkan sebutir kepada si bocah sebelum sebutir yang lain ditelan ke perut, kemudian dia baru menjejak tanah melejit ke udara, dari atas dahan pohon itulah dia mengayunkan pedangnya membacok ekor ular rersebut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Si bocah yang berada dibawah segera mele paskan pukulan dahsyat pula ke atas kepala ular beracun itu setelah menyaksikan Suma Thian yu turun tangan. Menghadapi ancaman dari muka dan belakang, ular beracun itu berpekik marah, matanya yang buas makin memancarkan sinar tajam, tanpa perdulikan ancaman terhadap ekornya, "Weesss" mendadak ia melejit ke depan dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busjrnya, lalu mementangkan mulutnya lebar-lebar dan menyemburkan kabut beracun yang berbau busuk. Mimpipun si bocah itu tak menyangga kalau ular beracun itu tidak takut dengan ancaman pukulannya, begitu terkena semburan kabut beracun tersebut, kendatipun ia sudah menelan pil anti racun, toh kepalanya terasa pusing juga, dengan sempoyongan tubuhnya mundur ke belakang. Disaat pikiran si bocah sedang bercabang inilah, secepat angin ular beracun itu mener jsng ke depan. Bocah lelaki itu menjerit kaget, lalu mundur ke belakang. Lihay sekali ular beracun itu, ekornya segera disapu kedepan dan mentalkan tubuh bocah itu. "Blaaam!" bocah itu segera terbanting keras-keras diatas tanah, mssih untung tempat dimana ia terjatuh adalah tanah berumput, kalau tidak, niscaya pantatnya akan robek. Sementara itu, Suma Thian yu telah menerjang kebawah berbareng dengan kebasan ekor ular beracun itu, pedangnya langsung menembusi punggung binatang itu. Sepantasnya dengan tertusuknya punggung si ular, paling tidak binatang itu, akan terluka, namun kenyataannya bukan sajs tidak mati malahan justru menimbulkan sifat buas dan garang dari ular raksasa tersebut. Terdengar ular raksasa itu berpekik kesakitan, tubuhnya bergulingan diatas tanah, ekornya dikibaskan keatas dan segera menggurung ke tubuh Suma Thian yu. Menghadapi ancaman tersebut, Suma Thian yu berlagak seolah-olah tidak melihatnya, secara berputar dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

melepaskan tiga buah tusukan berantai yang semuanya di tujukan kebagian mematikan ditubuh sang binatang. Dengan kejadian ini, sifat buas si ular raksasa itu makin menjadi, sambil mementangkan taringnya dia menyemburkan kabut beracun yang makin tebal mengurung seluruh tubuh anak muda tersebut. Suma Thian yu makin menggila, secara beruntun dia melepaskan tujuh delapan buah serangan tubuh ular itu. Termakan oleh bscokan pedang Kit Hong kiam yang tajam, seketika itu juga si ular beracun itu terbelah menjadi tiga bagian, tetapi ular itu belum mati juga. Padahal berada dalam keadaan seperti ini, asal bagian "tujuh inci" dari ular yang mematikan itu kena di gencet, niscaya ular beracun itu akan mati seketika. Sayang Suma Thian yu merasa asing terhadap keadaan semacam itu, dia tidak mengerti rahasia tersebut, oleh sebab itu dia harus menggorbankan tenaganya untuk berjuang mati matian. Akibatnya bukan saja dia gagal membinasakan ular beracun itu, malah sebaliknya karena kelewat lama terkurung oleh kabut beracun si ular, meluruh tubuhnya menjadi kaku dan akhir nya jatuh tak sadarkan diri. Begitu dia roboh kebetulan tubuhnya jatuh vdiatas perut ular itu, dengan cepat si ular raksa sa itu membalikkan badan sambil mementangkan mulutnya lebar-lebar siap menerkam tubuh anak muda tersebut. Disaat yang amat kritis inilah, menndadak dari tengah udara berkumandang suara pekikak burung hong yang amat nyaring. si Ing-ji me nutup kembali sepasang sa yapnya dan secepat kilat menukik kebawah serta menotol bagian "tujuh inci" dari ular beracun itu. Sementara itu ular beracun itu sedang memusatkan perhatiannya untuk menelan Suma Thian yu, mimpipun dia tak menyangka kalau "Belalang menubruk comberet, burung nuri mengincar dari belakang" tiba-tiba saja bagian dari "tujuh inci" nya terasa amat sakit, darah sege ra menyembur keluar dari

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

mulutnya, lalu sete lah mengejang beberapa saat, tubuhnya roboh menindih diatas badan Suma Thian yu. Ular beracun itu paling tidak berbobot lima ratus kati lebih, begitu jatuh menindih badan Suma Thian yu yang sedang pingsan, si anak muda itu segera muntah darah segar. Ing-ji seperti pahlawan yang menang perang segera mentangkan sayapnya terbang keangkasa dan berpekik kegirangan. Dalam pada itu, si bocah lelaki tersebut sudah mengatur napas dan mendesar keluar hawa beracun yang mengeram didalam tubuhnya, melihat si ular raksasa tersebut menindih diatas badan Sumi Thian yu, dengan cepat dia memburu mendekat, lalu bekerja keras menyingkirkan bangkai ular raksasa itu. Kemudian dia memanggil Ing ji, membopong tubuh Suma Thian yu keatas punggung ular itu dan diiringi pekikan nyaring, Ing-ji menye berangkanmereka kepuncak sebelah depan. Selama ini Suma Thian yu berada dalam keadaan tidak sadar, bagaimanakah cara mereka menyeberangi jurang tersebut, boleh dibilang dia sama sekali tidak tahu. Tatkala pemuda itu sadar kembali dari pingsannya, dia merasakan tubuhnya sudah dibaringkandidalam sebuah rumah kecil yang rapat dan tak tembus angin. Dengan cepat dia melompat bangun, tapi kepalanya terasa pusing sekali, dia segera roboh dan tertidur kembali. Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, dia seperti mendengar pintu kamar dibuka orang, lalu bocah lelaki itu berjalan ke dalam ruangan. Suma Thian yu segera mendongakkan kepalanya, ternyata bocah lelaki itu adalah bocah yang membawanya ke sana. Maka sambil memaksakan diri untuk duduk, segera tegurnya: "Tolong tanya dimanakah aku sekarang?" "Di rumahku!" sahut bocah itu sambil membelalakkan matanya lebar-lebar. "Sudah berapa lama aku tertidur?" kembali Suma Thian yu bertanya?"bagaimana caraku menyeberang ke mari?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Bocah lelaki itu tertawa cekikikan. "Ing-ji yang membopongmu kemari" "Oooh" sambil berkata Suma Thian yu beru saha untuk bangkit berdiri. Siapa tahu begitu ia berdiri, seketika itu juga kepalanya terasa pusing sekali, ia menjadi sempoyongan dan hampir saja roboh ter jengkang keatas tanah. Buru-buru bocah lelaki itu memayangnya lalu berseru dengan cemas: Hawa racun yang mengeram dalam tubuh mu belum hilang, lebih baik berbaringlah dulu, ibuku segera akan tiba" Suma thian yu menurut dan membaringkan tubuhnya lagi, pada saat itulah tirai pintu ter singkap dan masuk seseorang. Suma Thian yu merasakan pandangan msta nya menjsdi silau, tahu-tahu seorang perempuan cantik jelita telah berdiri dihadapannya. Suma thian yu merasakan pandangan mata nya menjadi silau, dengan cepat dia amati perempuan itu lebih seksama. Ternyata perempuan itu berusia tiga puluh tahunan, berwajah bulat telur, beralis lentik, bermata jeli, hidung mancung dan bibir yang kecil mungil, ia benar-benar cantik sekali. Dengan cepat dia menyadari kalau perempuan cantik jelita ini tak lain adalah 'ibu' yang dimaksudkan bocah lelaki itu. Buru-buru dia melompat bangun sambil menjura. "Berkat pertolongan anda, aku merasa berterima kasih sekali". Perempuan cantik itu tertawa hingga nampak sepasang lesung pipinya yang indah, katanya: "Berbaringlah lebih dulu. bila ada persoalan lebih baik kita bicarakan nanti saja". Kemudian kepada si bocah katanya pula: "Liong ji, cepat ambil kuah jinsom itu dan bawa kemari". Liong-ji segera berlalu dengan cepat, tak selang berapa saat kemudian dia sudah muncul kembali dalam ruangan dengan membawa se mangkuk kuah jinsom.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Perempuan cantik itu menerima mangkuk tersebut dan segera disuapkan kemulut Suma Thian yu, kemudian sambil menyuruh pemuda itu ber baring kembali, tangannya yang halus, lembut dan hangat itu ditempelkan diatas dadanya, segulung hawa murni lantas menyusup masuk ke dalam tubuhnya. Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak Suma thian yu merasakan ada segulung hawa panas mengalir melalui dada dan terus masuk ke pusar, kemudian mengalir ke sepasang kakinya sedang dari sepuluh jari kakinya terbuang keluar. Tak selang beberapa saat kemudian, Suma Thian yu merasakan semangatnya berkobar kembali, ia merasa sesar, terutama kuah jinsom yang barusan diteguknya kini sudah mulai menyebar keseluruh hadan, tubuh yang semula lemahpun kini telah pulih kembali. Selama hidup belum pernah Suma Thian yu menjumpai cara penyembuhan semacam ini, dari sini dapat ditarik kesimpulan kalau tenaga dalam yang dimiliki perempuan cantik ini benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaannya. Ketika Liong ji menyaksikan mukanya berubah menjadi merah dadu, sadarlah dia kalau hawa racunnya telah punah, dia bersorak gembira dan lari menghampiri ke sisi Suma Thian yu, serunya sambil menarik tangan anak muda itu: "Terima kasih langit, terima kasih bumi akhirnya kau toh sembuh kembali, ayo bangun. Mari kita bermain-main diluar sana" "Liong-ji!" perempuan cantik itu segera membentak, "jika kau nakal lagi, hati-hati kalau lbu menghajarmu, kini kesehatan badan siauhiap baru saja pulih, dia harus beristirahat be berapa hari lagi sebelum benar benar sembuh" Liong ji menjulurkan lidahnya sambil membuat muka setan, lalu, secara diam-diam menyingkir kesamping perempuan cantik itu dan tak berani berbicara lagi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sambil tersenyum perempuan cantik itu berkata lagi kepada Suma Thian yu: "Tahukah kau apa sebabnya kuundang kemari?" Dengan cepat Suma Thian yu menggeleng. "Boanpwe tidak tahu, harap diberi petunjuk" "Kau merasa keheranan bukan? Apa sebab nya tanpa sebab tanpa musabab Liong ji mengundangmu berkunjung ke gua Hui liong tong?" Berbicara sampai dlsitu, perempuan cantik itu lantas menuding kearah Liong ji seraya berkata: "Dia adalah putraku, Gak Kun liong, bocah ini mengikuti nama marga orang tuaku" Suma Thian yu hanya mendengarkan dengan tenang, sedang dihati kecilnya merasa keheran sebab sudah setengah harian lamanya perempuan cantik itu berbicara, namun dia belum pernah menyinggung tentang alasannya mengundang ia kesitu. Agaknya perempuan cantik itu dapat menebak suara hati orang, dia dapat menangkap kecurigan dalam hati kecil Suma Thian yu, maka ujarnya lagi: Jilid : 12 Pernahkah kau mendengar nama Kau ih li (perempuan berbaju putih)... "Boanpwe berpengetahuan cetek, tidak me ngetahui tentang nama tersebut..." sahut pe muda itu cepat. "Tentu saja kau tak mengetahui, orang per silatan pun jarang sekali mengetahui nama ter sebut, Kau ih li adalah julukanku ketika aku masih melakukan perjalanan dalam dunia persilatan dulu. Dua puluh tahun berselang, aku pernah melakukan pengembaraan didunia persi latan serta melakukan beberapa macam peker jaan yang menggemparkan masyarakat, tapi akhirnya aku dibelenggu oleh suatu persoalan yang mana membuatku putus asa sehingga akhir nya balik kebukit ini".

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah berhenti sejenak, perempuan itu berkata lebih jauh: "Sejak itu aku bersumpah tak akan turun gunung lagi, suhuku pun memperingatkan kepadaku agar tidak meninggal gua ini lagi, sebab mendapat pukulan batin yang berganda datang nya ini, seluruh pikiran dan perhatianku hana kucurahkan untuk mendidik Liong-ji, kini ilmu silat yang dimiliki Liong-ji sudah mencapai delapan sembilan bagian kepandaianku, yang masih kurang baginya hanya pengalaman serta kesempurnaannya belaka" "Berapa hari berselang, kebetulan guruku berpesiar kemari, dia telah meninggalkan beberapa tugas kepadaku yang mengatakan bahwa berapa hari lagi akan lewat seorang yang ber nama Suma Thian yu hendak pergi ke bukit Han san, aku ditugaskan untuk menahanmu lama berapa hari di sini... Sedang mengapa sebabnya dia orang tua datang kemari aku sendiripun kurang begitu jelas" Beberapa patah perkataan itu semakin membuat Suma Thian yu keheranan, akhirnya dengan perasaan tercengang dia bertanya: "Tolong tanya cianpwe, siapakah nama guru mu itu?" Hui Hong tongcu( pemilik gua naga terbang) perempuan berbaju putih Gak Say bwee menyahut: "Dia bernama Cang liong, orang persilatan menyebutnya sebagai Cang Iiong lo sian jin" Begitu mendengar nama julukan tersebut kontan saja Suma Thian yu berseru tertahan: "Oooh..... rupanya tokoh persilatan itu" Ternyata Cang liong lo sian jin adalah se orang pendekar aneh yang sudah termashur dan menggemparkan dunia persilatan sejak enam puluh tahun berselang, berbicara soal tingkatan kedudukannya dalam dunia persilatan serta soal tingkatan ilmu silatnya, mungkin tiada orang yang bisa menandingi kelihayannya. Lo sianjin ini sudah berusia seratus tahun lebih, dia pun sudah amat menguasai ilmu aga ma Buddha maupun ilmu silat, kepandaian silat yang dimilikinya begitu sempurna hingga dalam sekali kebasan tangannya saja, dia mampu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

untuk membunuh orang dari jarak sepuluh kaki, meniup patah ranting pohon dari jarak jauh, menotok jalan darah diudara kosong dan melukai orang dengan pedang terbang. Sewaktu dia berhasil membunuh Cuan San ji sat (dua malaikat bengis dari bukit Cuan san) dilembah Cui im kok bukit Lu san dengan pe dang terbangnya, oleh umat persilatan dia di sebut sebagai dewa pedang nomor wahid dari dunia persilatan. Selama hidupnya Cang liong Lo-Sianjin ha nya menerima seorang murid saja yakni Hui liong tongcu, konon dia masih mempunyai hu bungan famili dengan Lo-sianjin tersebut, soal apakah hubungan mereka itu, tidak seorang manusiapun yang tahu. Hui liong Tongcu Gak Say-bwee adalah se orang perempuan yang gemar akan ketenangan oleh sebab itu semua pekerjaan yang dia laku kan tak pernah disinggung kepada orang lain, semuanya dikerjakan secara diam-diam tanpa menimbulkan berita, keadaannya ibarat 'naga sakti yang nampak kepalanya tak kelihatan ekornya'. Orang persilatan yang tahu kalau dalam dunia persilatan terdapat seorang Pendekar perempuan yang bernama Kau ih li, merekapun tahu kalau pendekar perempuan itu suka meno long orang tanpa pamrih, karena mereka hanya tahu nama tak parnah melihat orangnya, oleh sebab itu semua orang hanya menyebut nya sebadai Kau ih li. Kau ih li Gak Say-bwe pernah terlibat dalam jaring percintaan, siapa tahu setelah melahir kan Liong-ji, suaminya mati karena sakit, di tambah pula dia memang sudah bosan berkelana didalam dunia persilatan, maka dia lantas mengundurkan diri dari keramaian dunia dan kembali kegua Hu liong tongnya ini. Itulah sebabnya diantara orang persilatan, kecuali beberapa orang tokoh silat dari angkat an tua, pada hakekatnya tak seorangpun yang mengetahui asal usulnya yang sebenarnya. Dari gurunya Put Gho cu, Suma Thian yu mendapat tahu kalau dalam dunia persilatan ter dapat seorang pendekar aneh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

yang bernama Cong liong Lo sianjin, oleh karena itu setelah mengetahui nama dari gurunya Hui liong Tong cu, dia merasakan hatinya bergetar keras, tan pa terasa diapun mempunyai penilaian yang berbeda lagi terhadap perempuan cantik itu. "Tak heran kalau Liong-ji dengan usianya yang masih begitu muda ternyata memiliki ke pandaian silat yang luar biasa, ternyata ibunya adalah anak murid dari Cang liong lo sianjin demikian ia berpikir. Sementara Suma Thian yu masih berbincang-bincang dengan mereka ibu dan anak, mendadak dari depan sana berkumandang beberapa kali suara pekikan burung hong. Dengan cepat Hui liong tongcu Sak Say hwe berseru: "Liong ji, ada tamu agung tiba, cepat keluar dan menyambut kedatangannya" "Gak Kun liong segera menarik langan Suma Thian yu sambil berseru: "Engkoh Thian yu, bagaimana kalau kau ikut aku?" Hui liong Tongcu Gak Say hwee segera tertawa geli, serunya: "Tampaknya kau sudah memperoleh rekan yang cocok, kalau begitu ajaklah dia serta" Suma Thian yu segera melompat bangun, rasa pening yang semula mendarat di kepalanya kini tersapu lenyap, setelah menjura kepada Hui liong tongcu, katanya: "Terima kasih banyak cianpwe atas pengobatanmu!" "Pergi, pergi, orang sudah hampir tiba didepan gua!" desak Gak Say hwee cepat. Agaknya Gak Kun liong seperti amat terbu ru-buru, sambil menarik tangan Suma Thian yu, seperti segulung angin puyuh dia lari ke arah mulut gua.... Belum lagi mereka berdua sampai di mulut gua, dari luar sana kedengaran suara serak se orang tua sedang berseru: "Tamu agung sudah datang, masih belum ada orang yang datang menyambut, beginikah cara si hwesio gundul itu mengajarkan kalian menerima tamu...?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu mendengar suara tersebut, Gak Kun Hong segera berteriak: "Aai, rupanya si pengemis tua yang datang!" Sambil berseru dia lantas memburu kemulut gua. Baru saja mereka berdua meninggalkan gua, tampak bayangan manusia depan mata, tahu-tahu seorang pengemis tua sudah muncul dihadapan mereka. Begitu melihat paras muka pendatang itu, Suma Thian yu turut berteriak keras: "Oooh, rupanya Wi Lo-cianpwe yang datang". Siapa sebenarnya yang telah datang? Dia memang tak lain adalah Siau yau kay (penge mis yang suka pelancongan) Wi Kian yang su dah menggetarkan seluruh dunia persilatan! Dengan wajah cemberut, tanpa memandang sekejap pun kearah Suma Thian yu, pengemis itu langsung mencengkeram arah baju Gak Kun liong, kemudian mencaci maki kalang kabut "Bocah cilik! Apa yang pernah aku si pengemis tua katakan kepadamu? Setelah mendengar suaraku, mengapa kau masih bersembunyi disini, apakah kau takut kulalap dirimu?" "Oooh....engkoh pengemis, kau jangan marah, hadiah yang kau janjikan untukku sudah kau bawah belum?" tegur Gak Kun liong sambil tertawa cengar cengir. Begitu mendengar ucapan mana, Siau yau kay Wi Kian segera melepaskan cengkeraman-nya dan bergumam sambil menepuk kening sendiri: "Aduh celaka, sudah setua ini, kenapa aku begitu pelupa?" "Waaah... tidak bisa jadi, tidak bisa jadi, kau membohong saja, aku tak akan memper kenankan kau masuk. Siau yau Kay Wi Kian menjadi amat gelisah, kembali dia berseru: "Bocoh cilik, kau harus menunggu dengan sabar, baiklah, aku si pengemis akan pergi dulu, pasti akan kubawa hadiahnya bila datang lagi nanti...." Sambil berkata, dia lantas membalikkan badan siap berlalu dari tempat itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menyaksikan kejadian ini, dengan gugup Gak Kun liong mencegah: "Tak usah, tak usah, pokoknya lain kali mesti kau ingat baik-baik, ibu sedang menung gu kau di dalam, masuklah kedalam" Sambil mengangkat bahu, Siau yau kay wi Kian membuat muka setan, kemudian katanya lagi sambil membalikkan badan: "Tak usah yaa tak usah, lain kali aku si pengemis tua tentu akan mengintai baik-baik" Selesai berkata dia lantas berjalan menuju kedalam gua, sedang Suma Thian yu dan Gak Kun liong mengikuti dibelakangnya. Sekarang Suma Thian yu baru berkesempatan untuk memperhatikan keadaan di dalam gua Hui liong tong, namanya saja sebuah gua, pada hal mulut guanya saja mirip gua, sedang dalamnya mana lebar, besar lagi, tiang besar yang penuh ukiran dengan dinding yang gemerlapan tak kalah indahnya dengan ruang besar keluarga kaya. Didalam sana penuh bergelantungan lukisan-lukisan orang kenamaan, ditengah ruangan terdapat selembar meja berkaki delapan yang terbuat dari batu dengan delapan buah kursi batu, diatasnya berjajar tempayan yang berisi buah-buah segar. Kedua sisi ruangan tengah adalah kamar tamu, disebelah kiri adalah kamar tidur Suma Thian yu, sedangkan sebelah kanannya mungkin merupakan kamar tidur Gik Say hwe dengar putranya. Untuk sesaat Suma Thian yu dibuat tertegun oleh berbagai barang yang ada disana, tanpa terasa dia mulai berpikir bagaimana caranya barang-barang tersebut dipindah ke dalam sana dan siapa yang membuatnya? Rasa ingin tahu membuat dia terjerumus kedalam lamunan. Sementara itu Siau yau kay Wi Kian sudah masuk kedalam ruangan, bagai kan pulang ke rumah sendiri saja dia langsung menuju ke kursi utama dan duduk disana, teri aknya keras:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Hei bocah, cepat kau buatkan air teh, mengapa kau masih belum juga masuk kedalam?" Gak Kun liong segera mencibirkan bibirnya membuat muka setan, sahutnya setengah meng ejek: "Aduh, besar amat lagakmu, aku sengaja tak mau buatkan air teh untukmu, mau apa kau? Tunggulah saja sampai hadiahnya diberikan kepadaku, pasti akan kubuatkan sepoci air teh wangi untukmu" Mendengar perkataan itu, Siau yau kay wi Kian tertawa terbahak-bahak, suaranya keras hingga menggetarkan seluruh ruangan tersebut, Ditengah gelak tertawa itulah, pintu kamar sebelah kiri terbuka dan muncullah seorang perempuan muda berparas cantik. Dengan wajah penuh senyuman, Hui liong Tongcu Gak Say bwee berjalan ke depan Siau yau kay Wi Kian dan menjura dalam-dalam, lalu ujarnya amat lembut: "Putraku memang nakal sekali, harap Wi tayhiap sudi memakluminya" "Mana, mana, kalau seorang bocah tidak nakal, keberhasilannya dikemudian hari tentu amat terbatas, kalau seorang sudah jadi goblok, kau suruh dia nakal pun belum tentu ia bisa nakal. Berbicara sampai disitu, dia lantas merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil, sambil disodorkan kehadapan Liong-ji, katanya: "Nih, hadiah dari aku si pengemis tua, ayo buatkan air teh untukku!" Melihat hadiah tersebut, Gik Kun liong membelalakan mata lebar-lebar, lama kemudian dia baru berseru: "Terima kasih!" Dia segera lari ke ruangan dalam, tampaknya setelah menerima hadiah, dia lantas mem buatkan air teh untuk tamunya. Memandang bayangan punggung Liong-ji yang lenyap di balik gua sana, Hui liong Tongcu menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, katanya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Semenjak kecil bocah ini kehilangan orang tuanya, ditambah lagi sudah terbiasa kumanja, akhirnya jadilah watak tidak takut langit tidak takut bumi, aku sungguh menguatirkan dia!" Siau yau kay Wi Kian terbahak-bahak. "Haaah...haaah...haaah... bocah ini berbakat baik, berhati mulia, masa depannya pasti cemer lang, buat apa kau meski menguatirkan keselamatan jiwanya?" Mendengar perkataan itu, Hui liong Tongcu Say bwee baru merasa sedikir agak tenang. Sejak datang sampai kini, Siau yau kay sama sekali tidak mengajak Suma Thian yu bicara barang sepatah katapun, hal ini membuat anak muda itu seperti tersingkirkan dan berdiri disamping dengan kepala tertunduk dan wajah tersipu-sipu. Dalam sekias pandangan saja, Hui liong tongcu Gak Say bwee dapat melihat akan hal itu, kepada Wi Kian segera ujarnya: "Sauhiap ini adalah..." "Aku tahu" tukas Siau yau kay Wi Kian dengan dingin, kemudian kepada Suma Thian yu serunya, "mengapa kau berkomplot dengan orang membegal barang kawalan Sin Hong piauklok?" Rupanya Siau yau kay Wi Kian bersikap dingin terhadap Suma Thian yu karena dia salah paham terhadap anak muda itu, dianggapnya dialah yang telah berkomplot dengan kawanan perampok berkerudung untuk membegal dan menyerbu Sin Hong pioukiok. Agak tertegun Suma Thian yu setelah mendengar perkataan itu, dia segera melompat bangun, kemudian dengan gagahnya dia membantah: "Locianpwe, kau anggap Thian yu adalah seorang manusia rendah yang terkutuk dan tak tahu malu?" "Justru karena kau tidak mirip, maka aku si pengemis tua baru dapat ber sabar hingga kini, coba kalau tidak, sekali hajar kubinasakan di rimu semenjak tadi" teriak Siau yau kay Wi Kian dengan ludah yang muncrat kesana-kemari.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Secara ringkas Suma Thian yu menceritakan keadaan yang dialaminya ketika itu, kemudi an bercerita pula bagaimana dia berkunjung kerumah Sin kun lun Siau Wi goan hingga akhirnya lari kesana. Dengan tenang Siau yau kay mendengarkan penuturan tersebut hingga selesai, pelan-pelan bawa amarahnya mengendor. Pada saat itulah Gak Kun liong telah cul sambil menghidangkan air teh. Terdengar Siau yau-kay Wi Kian berkata: "perjalanan yang jauh akan memperlihatkan kekuatan kuda, persoalan yang lama memperlihatkan watak manusia. Bagaimanakah ke adaan yang sebenarnya tak lama kemudian ba kal terbongkar, sampai waktunya akan diketahui siapa benar siapa salah" Baru saja Siau yau kay Wi Kian menyelesaikan perkataannya, mendadak berkumandang suara tertawa dingin, suara itu meski rendah dan lemah akan tetapi setiap orang yang bera da dalam gua itu bisa mendengar dengan jelas sekali. Hui liong Tongcu Gak Say bwe tanpa ber paling tertawa tergelak, lalu tegurnya: "Aaaah rupanya dua orang empek bodoh telah berkunjung kemari, bila tidak disambut dari kejauhan, harap sudi dimaafkan" Mendengar ucapan mana, semua orang segera berpaling ke arah mulut gua, entah sedari kapan, dimulut gua sudah berdiri dua orang kakek. Begitu melihat siapa yang datang, Suma Thian yu segera bersorak kegirangan: "Aaah, locianpwe!" Benar juga, ternyata yang datang adalah Wu sao siang gi siu (sepasang kakek bodoh dari bukit Wu san) seperti juga tempo hari, dalam kemurculan mereka kali ini, raut wajah ke dua orang itu tetap dingin kaku, tidak berbi cara tidak tertawa, keadaan mereka ibaratnya dua sosok manusia yang terbuat dari kayu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui liong Tongcu Gak Say bwee sebagai tuan rumah segera bangkit dan menyambut kedatangan mereka, setelah memperasilahkan ke dua orang tamunya duduk, baru sapanya sambil ter tawa: "Angin apakah yang membawa kalian berdua kemari?" "Angin pengemis!" jawab Tay gi siu Khong Sian sambil menuding Siau yau kay. "Angin pengemis?" Hui liong Tongcu tertegun sesudah mendengar perkataan itu. Belum pernah ia mendengar tentang angin pengemis, hingga jari tangan Tay gisu menuding ke arah Siau yau kay, ia baru memahami apa yang dimaksudkan, maka ujarnya lagi sambil tersenyum. "Ooh, rupanya kau sejalan, mengapa Oi tay hiap sudah masuk begini lama namun ia tak pernah menyinggung tentang kalian berdua?" "Huu, siapa yang sudi melakukan perjalanan bersama mereka berdua? Hmm, tak tahu malu" sela Siau yau kay Wi Kiam cepat, selamanya aku si pengemis tua melakukan perjalanan seorang diri, sedang kalian berjalan meng ikuti dibelakang pantat aku si pengemis tua, memangnya itu berarti melakukan perjalanan bersama? Hmm, tak tahu malu!" Kemudian setelah tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya lagi kepada Tay gi siu Khong sian: "Bagaimana? Apakah urusan itu sudah diselesaikan?" "Urusan apa?" Tay gi su berlagak bodoh. "Tentu saja urusan Sin liong piau kiok" "Kapan sih kau serahkan urusan itu kepadaku?" "Hmmm, sekalipun tanpa kalian berdua, aku si pengemis tua sama saja bisa menyelidiki persoalan ini sampai tuntas" Tay gi siu Khong Sian tertawa terbahak: "Haahh...haah...haah... itu namanya tak usah di suruh mengaku sendiri, biniku, kita kan melakukan perjalanan bersama....?" Merasa dirinya salah berbicara hingga rahasianya terbongkar, Siau yau kay Wi Kian turut mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Manusia-manusia berilmu tinggi ini memang kebanyakan berwatak aneh, bila berjumpa selalu di sertai dengan suara ribut atau cekcok, andaikata orang lain tidak memahami watak mereka yang sebenarnya, mendengar ucapan mereka yang bernada panas serta saling menyindir itu, niscaya hati mereka akan berdebar karena kuatir. Dengan wajah bersungguh-sungguh Tay gi si Khong Sian berkata: "Semua perkataan dari bocah ini adalah benar dan nyata, peristiwa diperusahaan Sin liong piau kiok bukan dia yang melakukan, Siau yau Kay Wi Kian segera manggut-manggut, "Aku percaya bukan dia yang melakukan, saudara Kiong, sebenarnya bajingan keparat manakah yang melakukan perbuatan ini?" Tay gi siu Khong Sian kembali mengelengkan kepalanya berulang kali. "Tahuku, mereka adalah perampok berkerudung!" Sambil mengepali sepasang tinjunya dan menggebrak meja, Siau yau kay Wi Kian berseru lagi: "Aku, sipengemis tua akan menyelidiki peristiwa ini sampai tuntas!" Ketika kedua orang itu selesai berbicara Suma Thian yu segera manfaatkan kesempatan itu untuk bangkit berdiri, katanya sambil menjura dalam dalam-dalam: "Boanpwe ucapkan banyak-banyak terima kasih atas kesudian cianpwe membersihkan namaku" Siapa tahu Tay gi siu Kiong Sian yang memandangi Suma Thian yu segera melototkan matanya lebar-lebar, kemudian dengan nada gusar tegurnya . "Kau bocah keparat yang tak becus, masih punya muka untuk berjumpa denganku?" Ucapan tersebut ibaratnya guntur yang mem belah bumi disiang bati bolong, seketika itu juga membuat Suma Thian yu menjadi amat terperanjat. Dia tak menyangka kalau satu gelombang belum mereda, gelombang lain telah muncul kembali.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baru saja kecurigaan Siau yau kay terhadap Suma Thian yu dibikin terang, sekarang Tay gi siu Khong Sian telah mendamprat anak muda itu lagi dengan marah. Tampak Suma Thian yu berdiri termangu-mangu sambil memandang Tay gi siu dengan tercengang, ia tidak mengerti perbuatan salah apakah yang telah dilakukan olehnya. Melihat Suma Thian yu membungkam, Tay gi siu Khong Sian makin naik darah, sambil mencengkeram baju pemuda itu, bentaknya lagi. "Ke mana perginya kitab Cinkeng tersebut?" Mendengar soal Kitab pusaka tanpa tulisan paras muka Suma Thian-yu berubah hebat, segera pikirnya: "Habis sudah riwayatku kali ini, tanggung seperangkat tulang badanku bakal rontok semua...." Dengan gugup dia menyahut: "Telah kuhadiakan kepada Sam yap koay mo!" "Apa? Telah kau serahkan kepada iblis buas itu? Kau anak tolol, cucu kura-kura, manusia goblok semacam kau tak bisa diampuni dengan begitu saja...." Selesai berkata, tangannya segera diayunkan kedepan dan..."Plok!" sebuah tamparan yang amat keras bersarang diatas pipi Suma thian yu, membuat kepalanya pusing tujuh keliling, matanya berkunang-kunang dan wajahnya merah separuh. Siau yau kay Wi Kian yang menyaksikan kejadian ini merasa tak tega, buru-buru cegahnya: "Tay gi pak, lepaskan dia, kalau ada urusan mari kita bicarakan secara pelan-pelan, buat apa sih kau mesti berbuat macam monyet kena terasi saja." Dengan gemas dan mendongkol Tay gi siu Khong Sian membanting Suma Thian yu keras-keras ketanah, lalu serunya dengan keras: "Tahukah kau betapa pentingnya benda itu?" "Aaah, apa sih pentingnya sebuah kitab pusaka palsu" Suma Thian yu segera membantah. "Telur busuk, benda itulah baru benda yang asli!" teriak Tay gi siu Khong sian dengan mata mendelik.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Haaah!" Suma Thian yu menjerit kaget, mukanya berubah menjadi hijau membesi untuk sesaat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, kembali Tay gi siu Khong sian berkata: "Coba kau menuruti perkataanku dari merobek nya, mana mungkin terjadi peristiwa seper ti hari itu? Aku minta kau menggantinya. Sambil berkata, kembali Tan gi siu Khong Sian mengayunkan tangannya siap menampar wajan Suma Thian yu lagi. Mendadak dan luar gua berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring, disusuli seseorang berseru dengan suaranya yang tua tapi amat nyaring: "Tak usah kuatir bocah, benda itu barang palsu" Beberapa orang tokoh persilatan yang hadir dalam gua sama-sama tertegun setelah mendengar perkataan itu, sedangkan Hui im tongcu Gak say bwe segera melayang keluar lebih dahulu dari dalam gua. Gak Kun liong Juga turut bersorak dengan gembira: "Hore, sucou datang!" Buru-buru dia mengikuti dibelakang ibunya memburu keluar dari gua tersebut. Ketika para jago melihat Gak Kun liong ikut keluar, mereka baru berpaling kemulut gua. Tampak bayangan manusia berkelebatan lewat, semua orang hanya merasakan pandangan manyanya menjadi silau tahu-tahu seorang kakek berkepala botak tapi berjenggot warna perak telah muncul dalam gua. Siau yau kay Wi kian yang selamanya acuh tak acuh dan berbuat semuanya sendiri, kini menunjukkan pula sikap yang hormat dan serius setelah Berjumpa dengan tokoh tua tersebut, "Aaah, kami tak tahu kalau locianpwe akan nadir, kami tidak menyambut dari terapat jauh harap sudi dimaafkan" buru-buru serunya dengan wajah serius.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pendeta tua berjenggot perak itu manggut-manggut kepada setiap orang yang berada dalam gua sambil tertawa, kemudian ujarnya: "Silahkan duduk, semuanya tak usah banyak adat" Sejak kemunculan pendeta tua berjenggot perak itu, Gak Kun liong tak pernah melepas kan genggaman tangannya, meski orangnya kecil bocah ini memang berotak setan, terdengar ia berseru! "Sucou, jika kau orang tua ingin datang, mengapa tidak kau kabarkan terlebih dulu kepada Liong Ji, gara-gara ini aku sampai gelisah selama beberapa hari. Pendeta tua berjenggot perak itu membelai rambut Gak Kun liong dengan penuh kasih sayang, ujarnya sambil tertawa ramah: "Lain kali aku pasti akan memberitahukan kepadamu lebih dulu, tapi aku lihat kau bukan buru-buru ingin berjumpa dengan sucou, kau hanya ingin cepat-cepat menerima hadiah dari sucou!" Merah padam selembar wajah Gak Kun liong sesudah mendengar perkataan itu, sambil menyembunyikan wajahnya dalam pelukan pendeta tua itu, katanya manja: "Sucou hanya beraninya menganiaya anak kecil, sucou jahat, aku toh tidak minta hadiah kepadamu, sekalipun ingin minta, terpaksa hanya minta kepada sucou untuk mengajarkan kepandaian kepadaku?" Pendeta tua itu tertawa terbahak-bahak. "Haah...haah...haah... nah coba lihat, belum disuruh kau toh sudah mengaku sendiri" Kontan seluruh ruangan diramaikan oleh gelak tertawa yang ramai, sehingga Gak Kun liong menjadi tersipu-sipu dan tak berani men dongakkan kepalanya lagi: Sementara itu, Ji gi siu Khong Bong telah bertanya kepada pendeta tua itu dengan hormat: "Locianpwe, tadi kau mengatakan bahwa kitab cinkeng itu palsu, benarkah hal ini?" Pendeta tua itu tersenyum.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Sesungguhnya yang dimaksudkan sebagai Kitab pusaka tanpa kata adalah sejilid kitab yang palsu tapi nyata, kitab pusaka yang palsu dan nyata selalu menggunakan yang palsu men jadi benar, yang asli menjadi palsu, dibilang asli dia asli, dibilang palsu dia palsu, sampai akhirnya tergantung pada siapa yang berjodoh dengan kitab pusaka itu. saat itulah asli paltu nya baru diketahui" Semua orang dibuat kebingungan setengah mati oleh perkataan itu, tapi mereka mengerti kalau dibalik ucapan mana sesungguhnya tersimpan suatu rahasia yang amat sulit, tapi bila rahasia mana bisa dipahami, dalam sekali artinya. Suma Thian yu merasakan hatinya bertambah berat setelah mendengar ucapan pendeta tua itu, seandainya kitab pusaka itu asli, padahal dia sendiri yang menyerahkan kepada manusia iblis berkepala ular Sim Moay hing, maka dosanya ini sulit untuk ditebus lagi. Sebaliknya bila cinkeng itu palsu, berarti yang asli ada didunia ini, dia pernah berjanji kepada sepasang kakek bodoh dari Wu san untuk menemukan kembali kitab pusaka itu dan melindunginya hingga tidak sampai terjatuh ke tangan musuh, hal ini berarti dia harus memikul tanggung jawab yang berat, suatu kesalahan bertindak bisa berakibat dia menyesal sepanjang masa. Beberapa orang jago lihay yang hadir di arena pun diamdiam sedang mencelah ucapan dari pendeta tua itu. Sebagaimana diketahui, pendeta berjenggot perak ini merupakan seorang tokoh silat yang berkedudukan sungguh amat tinggi didalam dunia persilatan, baik jago dari golongan hitam maupun dari golongan putih semuanya menaruh hormat kepadanya, bagi orang persilatan, nona Cong liong ceng sama halnya dengan nama Kwan-im, Pusat bagi rakyat awam. Dalam pada itu, Cong liong Losiansu telah mengalihkan sorot matanya ke wajah Suma Thian yu, mendadak ia menemukan setitik noda darah yang melekat dipakaian bagian dada anak muda tersebut, ketika noda darah itu terkena

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pantulan sinar matahari, ternyata membiaskan setitik cahaya tajam yang menyilaukan mata. Cong liong Losiansu segera berseru tertahan, kemudian serunya: "Hei bocah, darimana datangnya noda darah diatas dadamu?" Suma Thian yu tertegun setelah mendengar pertanyaan itu, sebelum sempat menjawab, Gak kun liong yang berada disisinya telah menjawab lebih dulu. "Socou, itulah kenangan yang diperoleh sewaktu membunuh ular beracun . Sambil berkata Gak Kun liong lantas mengi sahkan kembali peristiwa pertarungan dengan ular beracun tadi. Selesai berkata sapasang matanya segera di alihkan kewajah sucounya seperti menunggu be berapa patah kata pujian darinya. Siapa tahu paras muka Cong liong lo siansu berubah menjadi amat serius setelah mendengar perkataan itu, segera tegurnya: "Apakah kepala ular itu..... segera tegurnya: "Apakah kepala ular itu sudah dipukul sampai hancur?" "Belum" Gak Kun long segera menggeleng. Paras muka Cong liong Lo siansu berubah aneh sekali, kembali dia berseru cemas: "Cepat, kita ambil mutiara dikepala ular itu" Sambil berkata, tangan yang satu menyambar Suma thian yu, tangan yang lain mengepit Gak Kun liong, dia segera beranjak lebih dulu meninggalkan gua. Para jago lainnya baru sadar setelah mendengar perkataan dari pendeta tua itu, buru-buru mereka turut menyusul dari belakang. Tiba diluar gua, terdengar Hui im tongcu Gak say bwe berkata sambil tertawa: "Waah, kita tak bisa menyebrang kesana..." Ketika semua orang mengalihkan perhatian-nya kedepan, benar juga,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tampak pendeta tua itu telah menyeberang ke lembah seberang dengan menumpang burung hong. Sementara itu, Cong liong lo siancu yang baru saja menyeberangi jurang,dari tempat kejauhan secara lamatlamat Suma Thian yu telah menyaksikan ada beberapa sosok bayangan manusia berada diatas puncak seberang. Sebelum dia mengucap sesuatu, Cong liong lo siansu telah berseru dengan cemas: "Aduh celaka, kawanan penjahat telah mendahului kita." Ing ji yang membawa mereka menyeberangi jurang agaknya mengerti perkataan manusia, mendadak ia menukik kebawah dan menyambar keatas puncak bukit dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat. Sebelum Ing ji berhenti, ketiga orang penumpangnya sudah berlompatan sendiri keatas tanah. Gak Kun liong yang paling gelisah, dia yang pertama-tama memburu kesisi bangkai ular beracun itu, ketika di lihatnya kepala sang ular sudah hancur berantakan, dia segera berteriak: "Sucoa mutiara ularnya sudah dilarikan orang!" Ketika Cong liong Losiansu dan Suma Thian yu memburu pula kesitu, betul juga, mereka saksikan mutiara dalam kepala ular beracun itu sudah lenyap tak berbekas. Pendeta tua itu menghela napas panjang, ujarnya kemudian sambil menggeleng. Sudah, sudahlah, ternyata benar-benar sudah dicuri orang, sayang kalau sampai mustika berharga itu terjatuh ketangan orang jahat, aaai, aaai, takdir, takdir, kalau takdir berkata demikian, apa yrng bisa kita lakukan? Mari kita kembali saja" Suma Thian yu segera maju sambil berseru. "Locianpwe, bagaimana kalau kami kejar penjahat itu?" "Tak usah dikejar lagi, penjahat itu sangat lihay tak mungkin ia bisa terkejar, bagaimanapun juga lolap sudah tahu siapa yang mencuri mutiara ular itu, masa kita takut ia bisa kabur ke langit?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Siapa? Suocu siapa yang telah melarikan mutiara ular itu? Gak Kun liong rmendesak dengan perasaan mendongkol. "Bila ditinjau dari bentuk badan bayangan hitam yang sedang melarikan diri tadi, sudah pasti dia adalah Hui cua Cung cu Kiong Lai. Setelah berhenti sebentar, pendeta tua itu melanjutkan: "Sampah masyarakat itu merupakan satu-satunya murid dari Sin hiat jin mo (Manusia iblis menghisap darah), ilmu silatnya sangat lihay, kepandaian andalannya adalah Pek lek si hun ciang (Pukulan geledek pembetot sukma), keampuhannya ilmu pukulan ini boleh di bilang merupakan salah satu kepandaian ampuh dikalangan hitam, tapi kalau dibanding kan dengan ilmu pukulan Luan si im hong ciang (pukulan angin dingin bangkai busuk) dari Hoat si si (Mayat hidup) Ciu Jit hui, akan terlihat mana yang lebih jelek dan mana yang lebih unggul" Gak Kun liong dan Suma Thian yu menja di tertarik sekali setelah mendengar cerita itu, ketika dilihatnya pendeta itu berhenti sejenak, dengan cepat dia menyambung: "Kenapa? Cepat beri penjelasan Cong liong lo siansu sengaja mendehem untuk membasahi kerongkongannya dengan air ludah kemudian pelan-pelan melanjutkan: Ilmu pukulan angin dingin bangkai busuk amat beracun sekali, barang siapa yang bertarung melawannya terkena sapuan ancin pukulannya, maka seluruh badannya akan membusuk, bahkan hanya menyerempet dikulit badan pun akan berakibat suatu pembengkakan seperti tersengat api sebelum akhirnya membusuk pula, oleh sebab itu dia menjadi satu-satunya orang yang bisa menandingu Hui cha Can cu. Maka Manusia iblis penghisap darah Pi-Ciang hay pun menitahkan anak muridnya untuk mencari ular beracun yang telah berusia seribu tahun, sebab ular itu pasti memiliki mutiara penolak racun yang berkhasiat bagi tubuhnya, asal mutiara penawar racun itu telah berhasil di dapatkan, berarti dia dapat bertarung lagi dengan si Mayat hidup Ciu jit hwe

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tanpa kuatir keracunan lagi" Berbicara sampai disitu, dia berhenti sejenak, lanjutnya dengan tertawa ramah: "Siapa tahu Hui cha cun cu Kiong Lui yang menjadi nelayan yang beruntung, bukankah hal inipun merupakan suatu takdir?" "Tidak bisa!" teriak Gak Kun liong dengan perasaan tidak puas, "aku pasti akan mencari nya sampai ketemu, engkoh Thian yu, mari kita pergi mencarinya untuk membuat perhitungan!" "Kau yakin dapat menangkan dia?" tanya Cong liong lo siancu dengan perasaan tak puas. "Tentu saja dapat menangkan dia dengan pasti, engkoh Thian yu, bukankah tempo hari dia hanya bisa membiarkan aku membawamu pergi dari sini...?" "Benar" Suma Thian yu manggut-manggut sambil mengiakan. Cong liong lo siansu tertawa panjang. "Haaahh...haaah... haaah... ini yang dinamakan si rase takut dengan keganasan harimau, dia bukan takut kepadamu, melainkan jeri terhadap kepandaian silat ibumu, maka dia baru mengalah tiga bagian kepadamu, seandainya kau benarbenar bisa mengalahkan dia, buat apa dia menjadi seorang jago kelas wahid dalam kalangan rimba hijau?" Taktik memanasi hati orang yang digunakan Cong liong lo siansu ini ibaratnya api yang bertemu minyak, kontan saja membuat Gak kun liong yang pada dasarnya bersifat ingin menang merasa terbakar hatinya, dia segera melompat bangun, lalu sambil menarik tangan Suma Thian yu siap melakukan pengejaran. Mendadak terdengar suara pekikan burung hong bergema memecahkan keheningan, Cong liong lo siansu segera berseru: "Long ji, buat apa mesti tergesa-gesa macam orang takut tak kebagian makanan, coba lihat ibumu telah datang, dia pasti mempunyai cara yang baik untuk mengatasi persoalan ini."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Baru selesai dia berkata, dari tengah udara telah kedengaran suara hembusan angin tajam, kemiiian tampak Ing-ji dengan membawa Hui im tongcu dan Siau yau kay Wi Kian telah melayang turun ke atas tanah. Begitu bertemu dengan ibunya, Gak kun liong segera menubruk kedalam pangkuannya sambil berseru manja: "Ibu, kau harus mencarikan akal bagiku" "Ada urusan apa Liong-ji?" Hui im Tongcu tidak mengerti akan peristiwa yang barusan terjadi, maka dia bertanya dengan perasaan tercengang. Secara ringkas Cong liong lo siansu menceritakan apa yang telah terjadi. Siau yau kay Wi Kian yang berada disisinya dengan capat berseru penuh semangat: "Hiiih...hiihh...hiiih...biasanya kasus semacam ini paling cocok dengan seleraku, bagaimana kalau aku sipergemis tua yang menemanimu membuat keramaian?" Suma Thian yu merasa girang sekali setelah mendengar Siau yau kay menyanggupi untuk menemaninya, sementara Gak Kun liong juga telah melepaskan diri dari pelukan ibunya dan berlari menghampiri sipengemis sambil mere ngek agar cepat membawa mereka pergi. Menyaksikan kemanjaan putranya, tanpa terasa Hui im Tongcu menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, ka tanya: "Aaai, kalau bocah sudah terbiasa dimanja, di kemudian hari entah siapa yang bisa mengurusi nya?" Cong liong lo siansu hanya tersenyum belaka tanpa menjawab. Berapa saat kemudian dia baru berpaling kearah Suma Thian yu seraya berkata: "Anak Yu, kaupun boleh ikut, perduli berhasil atau tidak, kau harus kembali kesini!" Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia menambahkan:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Setelah kau kemari nanti, ada tugas yang jauh lebih penting lagi hendak kuserahkan ke padamu" "Baik!" Suma Thian yu mengiakan, Kemudian bersama Siau yau kay dan Gak Kun liong berangkat meninggalkan bukit tersebut. Siau yau kay wi kian langsung membawa kedua orang pemuda itu menuju ke bukit Han san, sepanjang jalan dengan tiada jemu-jemunya Siau yau kay wi kian menanyai Suma Thian yu terus-menerus tentang masalah perusahaan Sin liong piaukiok dan perselisihan-nya dengan congpiautau mereka Mo im si liong Wan Kiam ciau. Untuk kesekian kalinya Suma thian yu mengulangi kembali kisah kejadian tersebut, dan akhirnya diapun dengan perasaan jemu ia balik bertanya: Locianpwe, sebenarnya apa hubungan mu dengan Wan congpiautau?" "Aku si pengemis tua adalah susioknya" kini Siau yau kay baru mengutarakan indentitas yang sebenarnya. Ooh....." dalam hatinya Suma Thian yu lantas berpikir, "tak heran kalau dia mendamprat ku habis-habisan begitu bersua muka denganku tadi, rupanya mereka mempunyai hubungan yang begitu akrab!" Tatkala matahari sudah mulai tenggelam, sampailah ketiga orang itu didepan hutan yang amat lebat, Siau yau kay Wi Kian lantas memanggil kedua orang pemuda itu dan membisik kan sesuatu kepada mereka, kemudian baru meneruskan perjalanan menembusi hutan. Dan setelah keluar dari hutan, Siau yau kay telah berseru: "Sudah beres! Kita boleh melaksanakan tugas seperti apa yang direncanakan Lo siang, masing-masing harus berjaga pada posnya masing-masing, tak boleh kemaruk akan pahala sehingga menggagalkan rencana kita ini" Seusai berkata, mereka bertiga segera sama-sama menyusup masuk kedalam hutan, bagaikan memasuki daerah tak bertuan, begitu berada dalam hutan, mereka bertiga lantas memencarkan diri. Ditengah kegelapan malam, tampak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tiga sosok bayangan manusia terbagi menjadi tengah kiri dan kanan bersama-sama menerjang masuk kedalam hutan. Tiba ditepi tanah lapang ditengah hutan, Siau yau kau Wi Kian tidak maju lagi, sambil berdiri ditengah lapangan tersebut, dia lantas berteriak teriak macam orang gila. "Hari ini ada arak hari ini mabuk, besok ada kesulitan besok baru murung. Bila masuk istana iblis dianggap istana malaikat, angkat cawan minum bersama bidadari..." Belum habis dia bergumam, terdengar dua kali bentakan nyaring bergema memecahkan keheningan, lalu nampak dua titik cahaya tajam yang disertai dengan suara-suara desingan angin tajam langsung menyambar ke tubuh Siau yau kay wi kiam. Menyaksikan kejadian tersebut, diam-diam Siau yau kay merasa amat girang, pikirnya: "Anjung keparat, masuk jebakan kalian!" Baru saja ingatan tersebut lewat, dua macam senjata rahasia itu sudah muncul di depan mata. Siau yau kay segera berteriak kesakitan: "Aduuh mak, habis sudah riwayat aku si pengemis tua!" Entah gerakan apa yang dipergunakan, tahu-tahu senjata rahasia yang meluncur datang itu lenyap bagaikan batu yang tenggelam di tengah samudra, punah tak berbekas, tapi pada saat yang bersamaan pula Siau yau kay telah rubuh terjungkal ke atas tanah. Tiba-tiba bergema suara gelak tertawa yang amat nyaring berkumandang memecahkan ke heningan, tampak dua sosok bayangan manusia bagaikan sambaran petir cepatnya telah mela yang turun didepan mata. Terdengar salah seorang diantaranya segera mencaci maki kalang kabut. "Pengemis busuk yang tak punya mata, tidak dilihat dulu tempat apakah ini, hmm, memangnya dianggap setiap orang boleh memasuki tempat ini sekehendak hati sendiri?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sambil berkata dia lantas membungkukkan badan sambil memeriksa apakah Siau yau kay Wi Kian sudah mati atau belum. Siapa tahu, baru saja dia membungkukkan badannya, mendadak terdengar pengemis itu tertawa dingin, seperti mayat yang bangkit kembali, tahu-tahu Wi kian mengebaskan ujung bahunya ke depan... Orang itu segera mendengus tertahan dan roboh terkapar ke atas tanah.... Bersamaan waktunya, Siau yau kay Wi kian juga melompat bangun, serunya sambil tertawa terbahak-bahak: "Haah...haah...haah... berani melukai orang segera sembunyi, kalian memang pantas mampus!" Selesai berkata, dia mengawasi wajah ke dua orang itu dengan lebih seksama, kemudian sambil menjerit kaget dia berteriak: "Aduuh mak, rupanya kalian berdua dari Tiang pek san, waduh, kelewat besar keonaran yang ku buat kali ini, berapa butir batok kepala aku si pengemis tua bisa ludas terpenggal nanti" Selesai berkata buru-buru dia melarikan diri ke luar hutan. Rupanya orang yang melepaskan senjata rahasia tadi adalah Kiu tau siu (bintang berkepala semblan) Li Gi serta Liat hwee siu (bintang berapi) Li Hiong dua orang, yang tergeletak diatas tanah sekarang adalah Liat hwee siu Li Hiong. Di dalam kegelapan tadi, Kiu tau siu Li Gi tidak dapat melihat jelas pendatang tersebut, tapi kini setelah mengetahui kalau pengemis tua yang mereka sergap tak lain adalah Siau yau kay yang disegani setiap orang, kontan sa ja mereka menghembuskan napas dingin. Tak heran kalau mereka tak berani melakukan pengejaran meski menyaksikan Siau yau kay melarikan diri. Tampaknya Siau yau kay akan segera keluar dari hutan itu, mendadak dari dalam hu tan bergema suara bentakan rendah: "Lihat serangan!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Beberapa titik cahaya tajam yang disertai desingan angin tajam segera meluncur kedepan dan menyergap tubuh Siau yau kay. Wi Kian memang sangat lihay, menyaksikan datangnya sergapan senjata rahasia, tanpa gugup barang sedikitpun jua, dia membuang tubuhnya kebelakang dengan gerakan jembatan gantung, lalu menghimpun tenaga dalamnya kedalam dan melayang mundur dari situ dengan gerakan datar, lalu setelah berhasil berdiri tegak segera ejeknya: "Waaah, untung tidak sampai mampus!" Mendadak dari balik hutan melayang keluar sesosok bayangan manusia, meminjam cahaya bintang Siau yau kay segera mengamati wajah orang itu lebih seksama, ternyata dia adalah orang pemuda yang berwajah amat tampan. "Bocah, kalau dilihat tampangmu yang begitu tampan, sungguh tak kusangka kalau hatimu kejam, orang muda sudah belajar berbuat kalau sudah dewasa nanti mau jadi apa kau?" Siau yau kay berpura-pura mendamprat: Pemuda ganteng itu sesungguhnya tak lain adalah Cun gan siucay (sastrawan berparas tampan) Si Kok seng, pemuda bermuka manusia berhati binatang ini sesungguhnya hendak menghantar Suma Thian yu serta dua bersauda ra Thia kedalam hutan dan meminjam kekuatan Hui cha Cun cu hendak membasmi mereka bertiga, maka begitu sampai dalam hutan dia lantas melaporkan namanya dan memberi kabar kepada Hui cha Cun cu akan kehadiran-nya. Kemudian sambil berlagak menghancurkan tugu dan mencaci maki, dia memancing kehadiran Hui cha Cun cu, sedang dia sendiri berlagak seakan-akan jalan darahnya tertotok dan roboh tak sadarkan diri ditanah.... Dengan tindakan mana, selain bisa menghin darkan diri dari tugas, diapun dapat mencuci bersih kejahatannya, sayang perhitungan manusia takkan menangkan takdir, akhirnya Suma Thian yu berhasil ditolong oleh Gak Kun liong sedang dua bersaudara Thia pun berhasil lolos pula dengan selamat,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dengan demikian rencana busuknya mengalami kegagalan total. Dalam pada itu, Cun gan siuacay Si kek seng yang menyaksikan pengemis tua itu sanggup memunahkan sergapan-nya secara mudah, dengan cepat ia menjadi sadar bahwa pengemis tua ini mustahil datang tanpa membawa suatu maksud tertentu. Maka diapun tanpa sungkan- sungkan meloloskan pedangnya, kemudian sambil berdiri empat langkah dihadapan Siau yau kay Wi Kian, serunya dengan suara lantang: "Pengemis busuk, jalan ke sorga tidak kau tempuh, jalan ke neraka justru kau terjang, nampaknya kau sudah bosan hidup sehingga sengaja datang kemari untuk menghantar nyawa mu" Baru selesai pemuda iblis itu berkata, Kiu tausiu Li Gi yang kuatir rekannya kelewat memandang enteng lawan segera memberi peringatan: "Si hiante, dia adalah Siau yau kay yang bernama besar, kau tak boleh bersikap kelewat gegabah!" Sekarang Cun gan siaucay Si Kok seng baru terkesiap, dia tidak mengira kalau pengemis tua yang sama sekali tidak punya keistimewaan apa-apa ini sesungguhnya adalah Siau yau kay Kian yang disegani dan ditakuti setiap orang, diamdiam ia menarik napas dingin. Tapi rasa jerinya itu hanya disembunyikan dalam hati, sedang diluaran ia lantas berseru sambil tertawa dingin: "Aku mengira siapa yang begitu bernyali berani membuat keonaran disini, rupanya hanya pengemis busuk yang dibenci oleh setiap orang, sungguh beruntung sauya bisa bersua denganmu hari ini, mumpung ada kesempatan aku hendak memberi pelajaran kepadamu, agar kau tahu bahwa diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia pandai lain-nya" Sedemikian jumawa dan takaburnya perkataan itu, membuat Kiu tau siu Li Gi yang berdiri tenang disisinya turut bergidik hingga bulu kuduknya pada bangun berdiri, peluh dingin segera jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau yau kay Wi Kian menengadah dan tertawa tergelakgelak. "Haah...haah...haah... bagus, bagus sekali, hari ini aku si pengemis tua memang ingin membuka mataku, mari, mari, lebih baik kalian berdua maju bersama saja, dengan tangan kosong akan kulayani kalian berdua sebanyak tiga ratus gebrakan. Semhari berkata, telapak tangannya segera diayunkan kedepan dengan jurus Liong su yu hay (naga berpesiar ke empat samudera), sasa rannya adalah Can gan siucau Si Kong seng, tapi sewaktu sampai ditengah jalan, dia memutar gerakannya dan merubah pukulan menjadi serangan jari, kali ini dia mengancam jalan darah Tiong teng hiat di depan dada Kiu tau siu Li Gi. Dalam satu jurus mempunyai dua kegunaan yang berbeda, kontan saja mendesak Si Kok seng dan Li Gi harus turun tangan memberikan perlawanan. Terdengar dua kali bentakan gusar bergema memecahkan keheningan, Si kok seng telah mengayunkan pedangnya dengan jurus Lan kang to cay (Membendung sungai mengeringkan samudra), dia menyerang dari sisi sebelah kanan, sementara Kiu tau siu Li Gi mengangkat goloknya membacok dari sebelah kiri. Tujuan Siau yau kay yang sebetulnya tak lain hanya ingin membelenggu kedua orang itu, jadi sama sekali tiada maksud membunuh mereka. Maka diapun mengembangkan ilmu langkah Ciok tiong luan pon hoat untuk berputar-putar mengitari mereka berdua. Dalam waktu singkat seluruh arena sudah dipenuhi dengan bayangan manusia yang sebentar bergerak kekanan, sebentar kekiri, se bentar keatas dan sebentar lagi kebawah, hal mana membuat dua orang bajingan itu berkaok-kaok kegusaran. Sambil bertarung mempermainkan ke dua orang itu, Siau yau kay mulai merasa kuatir, apa sebabnya hingga kini Hui cha Cun cu belum juga menampakkan diri, coba kalau tujuannya bukan untuk memancing kemunculan Hui cha Cun

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

cu, kedua orang bajingan ini tak akan mampu bertahan sebanyak sepuluh gebrakan. Dalam pada itu, Gak Kun liong dan Suma Thian yu berdua, satu dari kiri yang lain dari kanan secara terpisah telah menyelundup masuk kebelakang hutan, sebab tempat tinggal Hui cha Cun cu terletak dibelakang hutan tersebut. Sesuai dengan rencana yang telah disusun oleh Siau yau kay, sementara pengemis itu ber kaok-kaok memancing kemunculan musuh, Suma Thian yu dan Gak Kun liong berdua akan menyelundup kedalam rumah dan menyelesaikan tugas mereka. Taktik suara ditimur menyerang dibarat ini bernama pula siasat memancing harimau turun gunung, kelihayannya luar biasa sekali. Tanpa menjumpai hadangan apapun Gak Kun liong telah berhasil menyusup masuk ke dalam hutan, tampak sepuluh kaki selewatnya jalan kecil itu dia akan sampai dirumah kediaman Hui cha Cun cu. Disaat tubuhnya baru mencapai jalanan kecil inilah, mendadak dari jalan berkumandang suara tertawa dingin yang amat mengerikan. Mendengar suara tertawa tersebut, Gak Kun Hong mundur satu langkah kebelakang, mendadak dari sisi jalan ia saksikan sesosok bayangan manusia menampakkan diri dan menghadang jalan perginya. Gak Kun liong segera angkat kepalanya, tapi ia jadi tertegun setelah mengetahui siapa gerangan orang itu, pikirnya: "Heran, mengapa setan tua ini belum lari kesana?" Dengan suara lantang diapun menegur: "Kiong Lui, hampir saja mengejutkan hati ku! Kenapa kau bersembunyi seorang diri ditepi jalan? Apakah menyambut kedatanganku?" Ternyata orang yang menghadang jalan pergi Gak Kun liong adalah Hui cha Cun cu Kiong Lui. Tampak ia meludah, kemudian serunya dingin:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Jawab dulu, mengapa kau malam-malam datang kemari? Apakah kaupnn sengaja datang dari gua Hui im tong untuk menyambut kedatangan ku?" Gak Kun liong melototkan sepatang matanya yang besar dan bulat itu sambil menyahut. "Aku hendak mencarimu untuk bermain, sekalian hendak memberitahukan satu hal kepadamu" "Hmm, mencari aku hendak bermain? Masa membawa orang?" Hui cha Cun cu Kiong Lui mendengus dingin. Membawa siapa?" Gak Kun liong mencibir. "Sipengemis busuk itu. Mau mungkir?" Setelah mendengar kalau gembong iblis tersebut hanya menyebut Siau yau kay seorang, Gak Kun liong segera tahu kalau jejak Suma Thian yu belum ketahuan, kontan hatinya merasa lega. Sambil menggigit bibir dia lantas berpikir sejenak, akhirnya dia berhasil menemukan suatu siasat bagus, katanya cepat: "Ibuku tak suka kalau aku pergi jauh, setiap kali ia tentu mengutus orang untuk mengikutiku, apa boleh buat" "Heeeh...heeeh...heeeh...bocah, lohu toh bukan anak berusia tiga tahun, kau ingin mengelabuhi ku? Tadi kau bilang hendak menyampaikan sebuah kabar untukku, cepat katakan" seru Hui cha Cun cu sambil tertawa licik. "Coba lihat, galak amat kau ini! Ya sudahlah, aku tak ingin main, tak ingin bicara lagi, selamat tinggal!" Selesai berkata dia lantas membalikkan badai dan kabur dari situ. Menyaksikan hal itu Hui cha Cun cu segera membentak gusar, kemudian sambil mengejar, dia mencengkeram kerah baju Gak Kun liong. "Bocah keparat! Sebelum mengemukakan alasannya, jangan harap kau bisa meloloskan diri dari sini!" dampratnya. Merasakan datangnya desingan angin dingin dibelakang tubuhnya, Gak Kun liong segera merendah sambil melejit kesamping, teriaknya: "Hei, kau ingin bertarung?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Aku ingin memberi pelajaran kepada mu, mau apa kau?" Sambil berseru, Hui cha Cun cu mencengkeram batok kepala Gik Kun liong lagi dengan jurus Cong eng phu toh (elang sakti menerkam kelinci). Gik Kun liong sendiripun bukan manusia sembarargan, meski usianya masih muda, ke pandsian silatnya telah mendapat warisan langsung dari ibunya, baik dalam soal tenaga dalam, maupun soal ilmu meringankan tubuh, kepandaiannya tidak kalah dari seorang jago kelas satu dalam dunia Persilatan. Padahal Hui cha cun cu Kiong Lui sendiripun menaruh perasaan was-was terhadap Gak kun liong, semua serangan yang dilancarkan boleh dibilang tidak menggunakan tenaga penuh, dengan begitu ia justru termakan oleh siasat Gak kun Liong. Tampak bocah itu melompat kekiri mengegos kekanan, gerakan tubuhnya sangat aneh, dia selalu berputar mengitari sekeliling Hui cha cun cu sambil menggoda. Sebagai manusia yang berpengalaman, dalam sekalian pandangan saja Hui cha Cun cu sudah mengetahui kalau bocah ini mempunyai sesuatu maksud tertentu, tanpa terasa bentaknya dengan gusar: "Bocah keparat, cepat katakan rencana busukmu, kalau tidak, jangan salahkan kalau lohu akau bertindak keji kepadamu" Memukul anjingpun harus melihat pemiliknya, Gak Kun liong memang dasarnya cerdik, diapun pandai menduga setiap persoalan yang bakal terjadi, dari ucapan lawan dia tahu kalau musuh hanya gertak sambal belaka. Sambil cengar-cengir segera sahutnya: "Aku toh sudah bilang, hendak mencarimu untuk diajak main, suruh kau menebak dulu toh bukan persoalan? Padahal aku memang hendak memberitahu kepadamu, aku telah mem bunuh seekor ular beracun" "Kentut!" Hui cha Cuncu membentak gusar, "apa sangkut pautnya antara ular beracun denganku? Kau ingin mempermainkan lohu?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aduuh mak, kenapa sih kau galak amat?" Aku dengar kau sedang berusaha keras untuk mencari ular beracun berusia seribu tahun, maka sengaja kusampaikan berita ini kepadamu, sepantasnya kau berterima kasih atas jerih payahku ini. Sekarang kau malah galak amat kepadaku, hmm, lihat saja nanti, akan ku laporkan kepada ibuku agar kau diberi pelajaran yang setimpal" Mendengar ucapan mana, Hui cha Cun cu merasakan jantungnya berdebar keras, tapi setelah dipikir kembali, dia merasa bocah itu jelas lagi membohonginya, mana mungkin ular beracun ditemukan secara gampang...? Kontan saja dia mencaci maki penuh kemarahan: "Keparat, hukuman mati boleh dihindari tapi hukuman hidup jangan diharap bisa dihindari, aku tak doyan dengan permainan begitu, kau harus ditempeleng atas kebohongan mu itu" Gak Kun liong tahu, sewaktu berbicara penjagaan lawan pasti menendor, buru-buru dia menerobos kedepan sambil mengayunkan telapak tangannya. "Plaaaaakkkk!" sebuah tamparan keras menghajar telak diatas pipi Hui cha Cun cu, membuat dia berkaok-kaok kesakitan. Dalam marahnya Hui cha Cun cu segera men dorong pula sepasang lengannya kedepan dan melepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat. Gak Kun liong bukan anak bodoh, dengan cepat dia berkelit kesamping, bukan mundur ia justru menyerobot maju kemuka dan memotong dada Kiong Lui, kepalan-nya yang digenggam kencang lantas dihantamkan keras-keras, kemudian dia menerobos kebelakang punggung musuhnya lewat bawah ketiak. "Hei, sauya berada disini!" teriakannya sambil bersorak kegirangan. Secara beruntun Hui cha Cun cu harus menderita dua kali pukulan, bisa dibayangkan be tapa gusarnya orang itu, dari malu dia jadi naik darah sambil memutar badan, sebuah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pukulan dengan tenaga sebesar lima bagian segera dilontarkan kemuka. Gak Kun liong sedang asyik bertarung, tentu saja dia jeri menghadapi ancaman semacam itu, hawa murninya segera dihimpun ke dalam telapak tangan dan siap menyongsong datangnya ancaman lawan dengan keras lawas keras. "Blaaaamm!" suatu ledakan keras menggelegar diangkasa. Akibat dari bentrokan tersebut, kedua belah pihak samasama tergetar keras badannya, tapi tidak sampai menimbulkan cedera apapun. Atas kejadian tersebut, Hui cha Cun cu makin naik darah, ia segera menerkam lagi kemuka dan membacok dada Gak Kun liong dengan jurus Im liong tham- ciau (naga sakti mementang cakar). Tiba-tiba dari tengah hutan sana berkumandang dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati. Hui cha Cun cu menjadi tertegun, tanpa terasa gerak serangannya menjadi terhenti. Gak Kun liong segera tertawa terbahak-bahak, ejeknya: "Hahahahahaha....... bagus sekali! Rupanya kedua ekor anjing budukan itu sudah dibikin mampus" Selesai berkata dia lantas ngeloyor pergi meninggalkan tempat itu. Menyaksikan keadaan tersebut, Hui cha Cun cu menjadi teramat gusar, sambil menggertak gigi menahan diri makinya: "Bocah keparat, rupanya kau memang sengaja datang mencari gara-gara, bagus, bila kubiarkan kau lolos dari hutan ini sekarang, mu lai hari ini aku bukan she Kiong lagi". Seraya berkata dia lantas mengejar sampai lima langkah dibelakang Gak Kun liong. Menghadapi kejaran tersebut, Gak Kun liong sama sekali tidak berpaling, dia malah menyusup masuk ketengah lapangan ditengah hutan dan persis menyongsong kedatangan Siau yau kay Wi Kian. Tolong, tolong, dibelakang ada srigala buas!" buru-buru ia berteriak minta tolong.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siau yau kay Wi Kian menyelinap melalui sisi Gak Kun Hong dan segera menghadang dihadapan Hui cha Cun cu, lalu tegurnya sambil tertawa terbahak-bahak: "Selamat bersua kembali saudara Kiong, aku harap kau sehat sehat selalu selama ini, kena pa kau bisa pindah ke tempat semacam ini?" Kemarahan Hui cha Cun cu makin membara setelah bertemu dengan Siau yau kay Wi Kian, tanpa banyak cincong dia lantas mendamprat: "Sudah pasti kau si pengemis busuk yang membuat rencana busuk ini, ayo jawab, mau apa kau malam-malam datang kemari?" "Aduuh...kita kan orang sendiri, mengapa sih galak amat? Saudara Kiong, usia kita sudah tua, kenapa sifat berangasanmu belum juga berkurang?" Sambil berkata Siau yau kay menunggu berita Suma Thian yu dengan tenang, bagaimana pun juga Suma Thian yu sudah masuk ke dalam hutan, tapi hingga kini belum nampak juga munculkan diri, kejadian ini akhirnya membuat dia merasa membuat dia merasa kuatir sekali. Betul Kun liong sudah menahan lawan untuk sesaat lamanya dan kini berganti Siau yau kay yang menghadang, sekalipun cara bertarung semacam ini merupakan suatu pertarungan dengan cara bergilir, namun bukan berarti tak boleh. Akan tetapi, keadaan semacam ini dibiarkan berlangsung terlalu lama lagi, dan Suma Tnian yu belum juga berhasil, pada akhirnya ke dua belah pihak pasti akan jatuh korban. Sementara pembicaraan berlangsung, Hui cha Cun cu pun mengawasi anak buahnya yang tergeletak ditanah, tatkala dilihatnya Tiang pek siang tat dan Si Kok seng mendengkur semua dengan begitu nyenyak, amarahnya langsung saja berkobar lagi, segera bentaknya: "Pengemis busuk, bagus sekali perbuatanmu, hari ini kalau ada kau berarti tak ada aku, kita harus bertarung sampai salah satu mampus" Seraya berkata, ia lantas melancarkan serangan dengan jurus Huang hong cian bong (angin puyuh

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggulung puncak), dan diantara deruan angin pukulan yang memekikkan telinga, segulung angin serangan dahsyat langsung me nerjang ketubuh Siau yau kay. Siau yau kay yang diancam segera tertawa terkekeh-kekeh, tangan yang sebelah dilintang kan didepan dada sementara telapak tangan yang lain siap melancarkan serangan, kepada Gak Kun liong serunya: "Liong-ji, tunggu aku diluar hutan sana!" Sementara berbicara, angin pukulan lawan telah meluncur datang, Siau yau kay segera mengegos kesamping lalu berkelit dengan gerakkan amat cepat. jilid : 13 Pengemis sakti yang pernah malang melintang dalam dunia persilatan karena ilmu langkah Ciok tiong luan poh cap lak tui nya ini benar-benar memiliki tenaga dalam yang amat lihay, akan tetapi lawannya Hui cha Cun cu Kiong Lui sendiri pun merupakan gembong iblis nomor satu dari golongan Liok lim, apalagi suhunya si Manusia iblis penghisap darah, dia merupakan raja iblis yang disebut Kay si siang mo (sepasang iblis sakti dari jagad) bersama mayat hidup. Begitu bertarung, kedua belah pihak sama sama mengeluarkan ilmu pukulan berat, Hui cha Cun cu. mengembangkan ilmu pukulan Pek lek si hun ciang nya yang maha dahsyat dan satu jurus demi satu jurus meneter musuhnya secara pasti. Seketika itu jaga seluruh angkasa diliputi angin puyuh yang menderu-deru, seperti ombak dahsyat yang menghantam tepian, kelihayannya benar-benar mengerikan. Tujuan yang terutama dari Siau yau kay Wi Kian tak lain adalah memberi waktu yang cukup buat Suma Thian yu untuk melaksanakan tugasnya, sebab itu dia selalu menghindari yang berat menghadapi yang ringan, menghindari kenyataan menyongsong yang kosong, dengan mengandalkan ilmu

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

gerakan tubuhnya yang sakti dia berusaha memunahkan sebagian besar dari ancaman yang tiba. Seperti seekor kupu-kupu yang terbang di antara aneka bunga, sebentar ke atas sebentar ke kiri dan sebentar lagi ke kanan, sambil berkelit dia selalu mengejek dan mencemooh guna mengacaukaa pikiran musuh. Tapi, Hui cha Cun cu pun seorang manusia yang amat lihay, dalam sekilas pandangan saja ia sudah bisa menduga maksud tujuan Siau yau kay, tanpa terasa pikirnya: "Kedatangan kedua orang ini tidak seperti mencari balas, diapun tidak berniat bertarung melawanku, mungkinkah kedatangan mereka mempunyai suatu rencana tertentu? Tidak, tak mungkin, aku tidak memiliki sesuatu yang bisa di incar orang dengan siasat liciknya!" Semakin dipikir dia merasa makin bingung dan tak habis mengerti, sudah jelas tahu jika orang datang karena sesuatu tujuan, tetapi tak bisa diduga apa tujuannya, hal mana kontan saja membuat hatinya kesal bercampur mendongkol. Sementara pertarungan antara kedua orang itu masih berlangsung, mendadak terdengar suara pekikan nyaring bergerai memecahkan keheningan, meski suaranya tak keras tapi mengalun tiada hentinya di tengah udara. Mendengar suara pekikan tersebut, Siau yau kay merasakan semangatnya berkobar kembali, diam-diam ia girang karena Suma Thian yu telah berhasil hingga tidak siasia kedatangan mereka kali ini, tanpa terasa diapun turut berpekik nyaring. Mendadak gerakkan tubuhnya berubah, sepasang tangannya diayunkan berulang kali melepaskan tiga buah pukulan berantai, sedemikian cepatnya serangan yang dilancarkan memaksa Hui cha Cun cu terdesak mundur sejauh beberapa langkah. Siapa tahu Siau yau kau segera menarik kembali serangannya begitu berhasil mendesak Kiong Lui, serunya sambil tertawa keras "Maaf aku si pengemis tua harus mohon diri lebih dulu!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Begitu selesai berkata, tubuhnya sudah melompat keluar dari hutan, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik keeelapan... Hui cha Cun cu yang dikacau orang masih berdiri termangu-mangu dengan perasaan tidak mengerti, dia tak tahu apa gerangan yang sedang dilakukan musuhnya itu, karena ingin tahu, akhirnya dia menjejakkan kakinya ke tanah dan ikut mengejar keluar hutan. Begitu tiba di hutan, disitu tak nampak sesesok bayangan manusiapun, suasana di keliling sana masih tetap sepi tidak ada manusia siapapun, tanpa terasa serunya sambil mendepakkan kakinya berulang kali: "Pengemis busuk, kuperingatkan kepadamu, bila kita bersua lagi dikemudian hari, saat itulah merupakan saat ajalmu, coba akan kulihat kau bisa berbuat gila sampai kapan!" Selesai berkata dia lantas kembali ketanah lapangan dan menyadarkan rekan-rekannya, ternyata rekannya tiada yang cedera, mereka banya ditotok saja jalan darahnya. Dengan kejadian ini, Hui cha Cun cu semakin dibikin kebingungan dan tidak habis mengerti. Mendadak satu ingatan melintas dengan cepat dalam benaknya, kemudian terdengar ia menjerit kaget: "Aduuuh, jangan-jangan karena benda mestika itu! )-)-)-)-)-)-) sementara itu, Siau yau kay Wi Kian yang mendengar suara pekikan nyaring dari Suma Tnian yu, segera meninggalkan Hui cha Cun cu Kiong Lui dan melayang keluar dari hutan. Diri kejauhan sana dia menyaksikan ada dua sosok bayangan manusia yang kecil sedang menuju kedepan. Siau yau kay tak berani berayal lagi, dia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh Leng khong siu tok melakukan pengejaran secepat kilat dari belakang.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hanya didalam beberapa kali lompatan saja, ia berhasil mendahului dua orang tersebut, begitu sampai dia lantas menegur: "Bocah, kau telah berhasil? "Untung tidak gagal, cuma ada sebutir!" sahut Suma Thian yu dengan wajah berseri, "Setan cilik, tentu saja hanya sebutir, dari mana datangnya dua butir? seru Siau yau kay setengah girang setengah mendamprat. Sambil berjalan Gak Kun liong pun mulai menggerutu. Engkoh Thian yu, cara kerjamu amat lamban, sama sekali tak bisa cekatan, masa hanya mengambil sebutir mutiara saja membutuhkan waktu sampai setengah hari? Hampir saja selembar nyawaku melayang" Sambil tertawa Suma Thian yu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya: "Tahukah kau, gembong iblis tersebut telah menyembunyikan mutiara tersebut dengan amat rahasia sekali, setelah memeras otak setengah harian lamanya, aku baru berbasil mengorek-nya keluar dari atas dinding ruangannya" Mendengar perkataan itu, Siau yau kay segera berpikir sejenak, lalu katanya: "Aaah, tidak mungkin, masa sedemikian cepatnya dia menyembunyikan benda itu? Kecuali kalau sebelumnya dia sudah tahu kalau kami bakal datang ke sana" Dengan wajah serius Suma Thian yu kembali berkata: "Perduli amat, pokoknya tugas kita kali ini telah berhasil dengan lancar, mari kita memberi laporan. Aah, betul, aku belum sempat mengucapkan terima kasih kepada kalian berdua!" Begitulah sambil berbicara sambil berjalan, tanpa terasa ketiga orang iitu sudah tiba diatas puncak bukit. Gak Kun liong segera bersuit nyaring ketebing seberang sana memberi tahu kepada si burung hong untuk menjemput mereka.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak lama kemudian dari bukit seberang terdengar suara pekikan dari Ing ji. Mendadak terdengar Siau yau kay Wi Kian berbisik lirih: "Sett! tenang sedikit, aku seperti mendengar suara ujung baju terhembus angin, jangan-jangan gembong iblis itu merasa mutiaranya hilang dan menyusul kemari?" Suma Thian yu dan Gak Kun liong segera memasang telinga dan mendengar suara ujung baju terhembus angin berkumandang datang. Dengan wajah gelisah Gak Kun liong lantas berseru: "Waah bagaimana baiknya? Ing ji masih belum juga datang kemari...? Apa yang kita takuti?" sahut Siau yau kay tenang, "paling baik lagi kalau dia berani menyusul kemari, aku si pengemis tua memang ingin memberi sedikit pelajaran kepadanya" Sementara pembicaraan berlangsung, mendadak terdengar tiga kali pekikan aneh berkumandang datang dari punggung bukit. Gak Kun liong dengan perasaan makin gelisah mengawasi bukit seberang tanpa berkedip, dia berharap Ing ji bisa segera sampai disana. Mendadak dari tengah udara berkumandang suara pekikan burung hong, Gak Kun liong segera menari nari sambil berteriak: "Nah sudah datang, Ing ji sudah datang" Baru selesai dia berkata dari belakang punggung mereka telah berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat mengerikan. Dengan cepat Gak Kuu liong berpaling, tanpa terasa dia menjerit kaget: "Aaaah !" Apa yang diduga Siau yau kay memang tepat sekali, Hui cha Cun cu Kiong Lui dengan memimpin Kiu tau siu Li Gi dan Liat bwe siu Li Hiong telah muncul dihadapan mereka. Siau yau kay segera mendengokkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Haah...haaah...haaah...kalau sudah bermusuhan, dunia kok rasanya amat sempit, dimana saja kita selalu bersua kembali, hei orang she Kiong, kita memang sudah ditakdirkan untuk berjumpa terus, bagus, sebelum mampus kita tak usah buyar. Hui cha Cun cu melotot musuh-musuhnya dengan sorot mata penuh kebencian, dia menggerakkan bahunya melayang kehadapan ke tiga orang itu, kemudian bentaknya gusar: Bangsat sialan, pengemis busuk, siapa yang sudah melarikan mutiaraku?" Akhirnya sorot mata penuh kebencian itu berhenti diatas wajah Suma Thian yu, kembali bentaknya: "Pasti kau. Ayo jawab!" Sekulum senyum hambar menghiasi raut wajah Suma Thian yu, dia tak sudi menjawab pertanyaan itu. Hui cha Cun cu yang berpengalaman tentu saja dapat menyaksikan sikap lawannya, sinar kebuasan dan rasa benci yang mencorong ke luar dari balik matanya makin menjadi, tanpa berkedip barang sekejappun dia menatap wajah Suma Thian yu lekat-lekat, kemudian selangkah demi selangkad berjalan mendekati anak muda tersebut. Gak Kun liong yang menyaksikan kejadian tersebut merasakan hatinya semakin gelisah, buru-buru dia lari kesisi tubuh Suma Thian yu dan siap membantunya. Tapi Liat hwe siu Li Hiong segera memburu kedepan dan menyerobot didepan Gak Kun liong dengan menghalangi jalan perginya. Makin lama Hui cha Cun cu semakin mendekati mereka, mendadak ia berhenti lalu sambil mengulurkan tangannya dia berseru: Bawa kemari setan licik, ayo serahkan mutiara itu padaku! "Kalau ingin turun tangan, silahkan saja turun tangan sendiri..." jengek Suma Thian yu sambil tertawa sinis. Hui cha Cuncu menjadi amat gusar, teriaknya mendadak: "Kau anggap lohu tak berani?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seraya mengancam sekali lagi dia mendekati Suma Thian yu sampai dua langkah. Tanpa disadari Suma Thian yu mundur dua langkah kebelakang, kini tubuhnya telah berada di tepi jurang, bila dia mundur selangkah lagi, niscaya tubuhnya akan terjerumus kedalam jurang, terkubur di dasar lembah. Siau yau kay Wi Kian yang menyaksikan kejadian ini menjadi amat kuatir, peluh dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, buru-buru dia memperingatkan: "Yu ji, jangan mundur lagi!" Mendengar peringatan tersebut, Suma Thian yu manggutmanggut, dengan mempergunakan sisa sorot matanya dia melirik kebelakang. Wouw! Sungguh mengerikan, dibelakang tubuhnya telah terbentang jurang yang tak nampak dasarnya. Suma Thian yu segera merasakan peluh dingin bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, bulu kuduk pada bangun semua. Hui cha Cun cu Kiong Lui memperdengarkan suara tertawa liciknya yang mengerikan, lalu serunya: "Keparat busuk, kenapa mutiara itu tidak segera kau serahkan, apakah kau sudah bosan hidup?" Suma Thian yu mendengus dingin. "Hmm, jika kau berani maju selangkah lagi, sauya akan gugur bersama mutiara ini" Sebenarnya Suma Thian yu hendak menggunakan ancaman tersebut sebagai gertak sambal, siapa tahu Hui cha Cun cu tidak memakan gertakan tersebut, dia malah mendongakkan kepalanya dan segera tertawa seram. "Heeh...heehh...heehh.. bagus sekali, biar lohu menyempurnakan keinginanmu itu!" Seraya berkata, dia lantas mengayunkan telapak tangannya dan membacok tubuh Suma Thian yu. Waktu Itu Suma Thian yu sudah berdiri di tepi jurang, jangankan melancarkan serangan, sekalipun menggerakan tubuhpun bisa akan berakibat marabahaya yang mengancam.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Maka ketika menyaksikan datangnya ancaman dari Hui cha Cun cu, dia lantas menghela napas panjang dan sambil memejamkan matanya melompat turun kedalam jurang. Siau yau kay dan Gak Kun liong yang menyaksikan itu segera menjerit kaget. "Ooooohh, Thian yu!" Karena tak tega, mereka berdua pun segera memejamkan matanya rapat-rapat. Keadaan yang dihadapi Suma Thian yu waktu itu memang saat kritis dan berbahaya sekali, kendatipun ada malaikat yang berada di sana belum tentu bisa menyelamatkan jiwanya. Bayangkan saja, si anak muda itu sudah di desak hingga berada ditepi jurang, seandainya orang bermaksud untuk memberi bantuan, bisa jadi pihak lawan akan melancarkan sergapan dengan mempergunakan peluang tersebut, akibatnya belum lagi orang lain tertolong, dia sendiri akan menjadi korban. Oleh sebab itu, kendatipun Siau yau kay memiliki kepandaian silat yang maha sakti, dia cuma dapat membiarkan Suma Thian yu terkubur di bawak jurang. Tapi, pada akhirnya pada suatu peristiwa di luar dugaan telah terjadi. Hidup di dunia ini, kadangkala memang bisa terjadi suatu peristiwa aneh yang sama sekali tak terduga. Suma Thian yu meloncat mundur kebelakang, ia bertekad untuk bunuh diri, sebab bagaimanapun jua mestika tersebut tak dapat dibiarkan terjatuh ketangan musuh, daripada berakibat seperti dalam peristiwa kitab tanpa kata dulu, Siapa tahu baru saja tubuhnya meninggalkan tebing, mendadak dari belakang tubuhnya ber kumandang suara pekikan burung Hong yang keras sekali. Menyusul kemudian terasa segulung angin kencang berembus lewat, tubuh Suma Thianyu yang sedang meluncur kebawah itu sudah disambar oleh suatu benda yang lunak, kemudian pelan-pelan dibawa terbang membumbung ke angkasa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu menjadi gembira sekali sesudah menyaksikan peristiwa tersebut, segera pekiknya: "Aku tertolong, aku sudah tertolong! Oooh, terima kasih langit, terima kasih bumi, terima kasih Ing ji! Ditengah jeritan kaget semua orang, Ing ji telah membawa Suma Thian yu terbang jauh melampaui puncak tebing dan berpekik gembira tiada hentinya. Mendengar suara pekikan itu, Gak Kun liong mendongakkan kepalanya, apa yang kemudian terlihat membuatnya turut berpekik nyaring: "Horeee.....engkoh Yu sudah tertolong!" Dia segera menjejakan kakinya ketanah kemudian melambung keudara dan melompat naik ke atas punggung Ing ji. Tak terlukiskan rasa gusar dan mendongkol Hui cha Cun cu setelah dilihatnya Suma Thian yu berhasil meloloskan diri dari mara bahaya, bahkan tertolong, rambut dan jenggotnya pada berdiri kaku saking marahnya, sambil berpekik nyaring telapak tangannya segera diayunkan ke udara, melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke tubuh burung hong tersebut. Ing ji adalah seekor burung hong yang berperasaan tajam, dia memahami watak manusia, menyaksikan datangnya serangan dari Hui cba Cun cu, dia lantas berpekik nyaring, lalu sepasang sayapnya dikembangkan dan dikibaskan berulang kali. Angin puyuh yang menderu-deru, pasir dan batuan beterbangan memenuhi angkasa, daun dan ranting beterbangan membuat pemandangan terasa kabur..... Hui cha Cun cu maupun Tiang pek siang sat tak kuasa menahan deruan angin pukulun yang amat kuat tadi, masingmasing lantas menutup muka sambil menyembunyikan diri kesisi pohon, lalu memeluk batang pohon erat-erat, kuatir kalau tubuh mereka terseret oleh angin puyuh sehingga tercebur kedalam jurang. Gak kun liang segera bertepuk tangan sambil bersorak sorai, teriaknya kepada Siau yau-kay:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Cianpwe cepat naik! Siau yau kay pun sadar, bila sekarang tidak pergi, sebentar pasti akan menjumpai banyak kesulitan, maka dia lantas menjejakkan kakinya ketanah dan melompat naik ke atas punggung Ing ji. Menanti ketiga penumpangnya sudah duduk baik-baik, Ing ji menutup kembali sayapnya dan meluncur ketengah udara, suara pekikan panjang menggema diudara menyayat suasana. "Bocah keparat, Hui cha Cung cu Kiong Lui kontan saja mencaci maki kalang kabut setelah menyaksikan ketiga orang itu melarikan diri, "lohu akan menunggu terus disini, akan kulihat sampai kapan kau baru muncul kembali disini." Benar juga, ternyata Kui cha Cun cu Kiong Lui menunggu terus disitu sampai kemunculan Suma Thian yu dikemudian hari, hanya ini kejadian dikemudian hari, jadi tak perlu dibicarakan sekarang. Ketika Siau yau kay bertiga tiba kembali dalam gua, Hui im Tangcu Gak Say hwe yang menyongsong paling dulu, dia lantas menegur: "Sebenarnya apa yang telah terjadi, mengapa Ing ji pergi sekian lama baru kembali?" Siau yau kay Wi Kian tertawa panjang. Kalau dibicarakan panjang sekali ceritanya, ambil sepoci arak lebih dulu, setelah lolos dari kematian, aku si pengemis tua harus minum sampai mabuk." Sementara itu Ceng lion- Li siansu juga turut munculkan diri, dibelakangnya mengikuti Sian gi siu dari Wu san, melihat mereka bertiga pulang dengan selamat, segera tegurnya sambil tertawa: "Bagaimana dengan hasil perjalanan kalian? Tentunya melalui suatu pertempuran yang amat sengit bukan!" Gik Kun liong segera menarik ujung baju Cong liong lo siansu sambil berseru manja: "Sucou, orang she Kiong itu menganiaya Liong-ji, kau orang tua harus membalaskan sakit hatiku ini!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Cong liong Lo siansu hanya tersenyum belaka, lama kemudian ia baru bertanya kepada Suma Thian yu atas hasil perjalanannya. Secara ringkas Suma Thian yu lantas mengisahkan pengalaman yang baru saja dialaminya, lalu dari sakunya mengeluarkan sebuah bungkusan kain hitam dan menyerahkan kepada lo siansu tersebut. Cong liong Lo siansu menerima bungkusan kain hitam itu dan membuka pembungkusnya, seketika itu jua seluruh ruangan berubah menjadi terang benderang bermandikan cahaya. Haaah....Ya kong cu! pekik Lo siansu kaget. Semua orang menjadi gembira sesudah mendengar pekikan itu dan sama-sama mengalihkan perhatiannya, betul juga, ternyata mutiara tersebut adalah sebutir Ya kong cu yang amat sukar ditemukan di dunia ini. Setelah mengamati sejanak, Cong liong lo siansu berkata sambil menggeleng. "Thian yu, kau sudah salah ambil, benda ini bukan Han kong cu anti racun yang diperoleh dari benak ular beracun" Seluruh tubuh Suma Thian yu mendingin setelah mendengar ucapan ini, buru-buru bantanya: "Thian yu telah menggeledah seluruh ruangan, disitu hanya ada benda itu saja, tak kutemukan mestika lainnya" Waaah, aneh sekali" gumam Cong liong lo siansu, "masa bukan dia yang mengambil mutiara anti racun dari ular beracun tersebut? Atau mungkin disembunyikan ditempat lain?" Gak Kun liong yang teliti lantas berpiki pula dengan seksama, akhirnya dia berseru: Benar, Kiong Lui si setan tua ini memang tidak melarikan mutiara anti racun tersebut!" Dari mana kau bisa tahu? Cong liong lo-siansu seperti sengaja hendak mencari tahu. Secara ringkas Gak Kun liong lantas mengisahkan pertarungannya melawan Hui cha Cun cu, dan akhirnya dia

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pun mengisahkan pula ba gaimana Hui cha Cun cu menuntut kembali mutiaranya. Setelah dianalisa dan diselidiki kembali secara seksama, akhirnya semua orang berkesimpulan bahwa Kiong Lui memang tidak tahu menahu tentang mutiara anti racun itu. Cong liong lo siansu segera bergumam: "Lantas, siapa yang melakukan hal ini? Selain dia, orang lain tak akan bermanfaat mendapat mntiara anti racun itu, mungkinkah sudah dilarikan oleh si Mayat hidup?" Diantara sekian jago yang hadir sekarang, kecuali Cong liong Lo siansu beserta Suma Thian yu, Gak Kun liong, yang lain tak sempat melihat bayangan pungung dari pencuri mutiara tersebut, oleh sebab itu siapapun merasa kurang leluasa untuk menimbrung. Dengan demikian soal mutiara anti racun pun menjadi sebuah teka teki bisu yang tak terjawab, siapapun tak tahu mutiara mana telah terjatuh ke tangan siapa. Cong liong Lo siansu segera menyerahkan kembali mutiara Ya kong cu tersebut ke tangan Suma Thian yu kemudian katanya: "Bagaimana kalau kita kembalikan saja mutiara ini kepadanya? "Jangan! Suma Thian yu berseru keras. Mendengar ucapan ini, semua orang tertegun dan menatap ke arth Suma Thian yu dengan keheranan. "Kenapa? tanya Siang gi siu dari Wu san ketus. Tentu saja jangan dikembalikan kepadanya" teriak Suma Thian yu dengan perasaan mendongkol, "coba bayangkan sendiri Ya beng cu ini di dapatkan dengan mengorbankan seratus butir batok kepala manusia, apakah kita harus menyerahkan kembali dengan begitu saja kepadanya? Semua orang masih belum memahami ucapan Suma Thian yu, Siau yau kay yang berangasan cepat menegur: "Hei, bocah, kau berbicara jangan berbelit-belit, blak-blakan saja, tak perlu di putar balikkan"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Merah padam selembar wajah Suma Thian yu karena jengah, secara ringkas diapun mengisahkan kembali kejadian yang dialaminya dalam dusun yang dilaluinya tempo hari, sebagai akhir kata dia menambahkan: "Pada mulanya Thian yu mengira perbuatan tersebut dilakukan oleh pencoleng berkerudung, atau pasti ada sangkut pautnya dengan Bi kun lun Siau Wi goan maka sewaktu tiba di keluarga Siau, secara diam-diam kuperhatikan hal ini, akhirnya aku gagal menemukan sesuatu jawaban, sama sekali tak kusangka kalau perbuatan ini ternyata hasil karya dari Kiong Lui, bayangkan saja, apakah aku harus menyerahkannya dengan begitu saja?" "Benar!" Gan Kun liong yang pertama-tama menyatakan persetujuannya. Kau yakin kalau mutiara ini adalah mutiara yang hilang dari dusun tersebut?" tanya Tay gi siu Kiong Sian pula dengan suara tegas. "Thian yu tidak berani memastikan tapi b lum pernah kudengar dikolong langit terdapat dua macam Ya beng cu yang sama bentuknya" Jawaban dari Suma Thian yu ini sangat diplomatis, membuat Tay gi siu jadi tergagap dan tak mampu menjawab. Gak Kun liong turut tertarik, dia segera menimbrung pula: "Engkoh Yu, tahukah kau kalau Hui cha Cun cu itu sejalan dengan Siau Wi goan?" "Soal ini...aku kurang begitu tahu" ""Benar! Perampok berkerudung itu sudah pasti bukan Hui cha Cun cu" desak Gak Kun liong. Didesak oleh beberapa patah kata tersebut Suma Thian yu dibikin terdesak sehingga tak sanggup menjawab, padahal apa yang dia katakan tadipun hanya merupakan suatu dugaan belaka. Bantahan dan Gak Kun liong inipun tak lebih hanya suatu perumpamaan yang mendua-duga juga. Hui im Tongcu Gak Say bwe yang selama ini hanya membungkam, segera turut menimbrung:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Buat apa kita mesti memperdebatkan persoalan seperti ini? Thian yu, simpanlah dulu, benda macam begini tak boleh sampai terjatuh ke tangan orang jahat, sedang mengenai Kiong Lui, aku paling jelas dengan tabiatnya, jadi tindakanmu menyerobot mutiara nya bukanlah suatu perbuatan yang salah. "Mengapa ibu? tanya Gik Kun liong tidak habis mengerti. "Cerewet!" tegur Hui im Tongcu Gak Say bwe cepat, kemudian baru menerangkan, "antara Bi kun lun Siau Wi goan dengan Kiong Lui sesungguhnya mempunyai hubungan persaudaraan, nah, sekarang sudah jelas bukan?" Hingga disitu, semua orang baru memahami duduk persoalan yang sebenarnya, perdebatan nya dengan Suma Thian yu pun dengan cepat diakhiri sampai disitu pula. Siang gi siu dari Wu San lantas bangkit dan menghampiri Hui im Tongcu, membisikkan sesuatu disisi telinganya, tampak Gak Say bwe segera tersenyum sambil manggut-manggut. Menyusul kemudian Tay gi siu menjura kepada semua orang seraya berkata: "Kami akan mohon diri lebih dulu, bila urusan telah selesai, kita pasti akan bersua kembali" Kemudian sambil berpaling kearah Suma Thian yu, lanjutnya dengan wajah serius: "Thian yu, kau harus baik-baik mengingat perkataanku, setiap saat mencari tahu jejak kitab Cin keng tersebut". Begitulah, mereka berdua lantas berlalu setelah menyampaikan pesannya, seperti sepulung hembusan angin, bayangan tubuh mereka lenyap diluar gua sana. Siau yau kay Wi Kian segera memohon diri Pula ketika dilihatnya dua orang tokoh aneh itu sudah pergi, tapi Hui im Tongcu segera menahannya sambil berkata: Kau toh tiada urusan penting apa-apa, kenapa mesti terburu- buru.... Siau yau kay menggelengkan kepalanya berulang kali, ucapnya sambil tertawa lebar:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kehadiranku disini hanya merupakan suatu beban yang berat, apalagi setelah berapa hari tidak mengemis, rasanya kantongku sudah mulai kosong" Kemudian setelah memberi hormat kepada Cong liong 1o siancu, katanya kepada Suma Thian yu sambil tertawa mesteris: "kesempatan baik sukar ditemukan, baik-baiklah memanfaatkan nya..." Selesai berkata, dia lantas beranjak meninggalkan gua tersebut. Menyaksikan mereka semua berlalu dari situ, Suma Thian yu segera merasakan satu hal dia merasa orang-orang itu seperti menyim pan suatu rahasia yang besar. Nyatanya mereka datang depan begitu saja, pergipun dengan begitu saja hingga seakan mereka hanya kebetulan lewat dan menyamangi tempat itu, padahal siapa yang menduga kalau dibalik kesemuanya itu sebetulnya terjalin suatu buhungan batin yang erat! Waktu berlalu dengan cepatnya, dalam waktu singkat tiga puluh hari sudah lewat. Suatu hari, pagi-pagi sekali Cong liong lo siansu sudah berada ditanah lapang dibelakang gua sana. Seorang bocah berusia sebelas, dua belas tahun dan seorang pemuda berusia delapan sembilan belas tahun sedang melangsungkan suatu pertarungan yang amat seru, kedua belah pihak sama-sama saling menyerang dan saling menyergap dengan gencarnya. Di tepi lapangan, berdiri pula seorang nyonya muda yang berparas amat cantik. Saat itulah, Cong liong lo siansu berjalan ke sisi nyonya muda tersebut dengan langkah pelan, kemudian ujarnya sambil tertawa: Selama satu bulan ini, kemajuan yang berhasil diraih kedua orang ini sungguh mengagumkan, tidak sia-sia lolap membuang banyak tenaga untuk mereka berdua"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Hui im tongcu hanya mengawasi terus Kedua orang yang sedang bertarung itu, mendengar ucapan mana, ia tidak berpaling, hanya sahutnya: "Liong ji jauh lebih bodoh dan bebal, coba kau lihat, bukankah Thian yu belum menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya?" "Soal ini tak bisa disalahkan, hibur Cong liong lo siansu, liong ji baru berumur berapa? Janganlah mengharapkan terlalu tinggi, kalau tidak kecewamu akan makin besar. Anak kecil sudah dapat mencapai tingkatan sehebat ini, sesungguhnya hal ini sudah terhitung luar biasa" "Berhenti!" tiba-tiba Hui Im Tongcu berteriak keras. Dua orang yang sedang bertarung segera melompat mundur setelah mendengar teriakan tersebut, sambil membawa pedang masing-masing mereka berjalan kehadapan Cong liong lo siansu kemudian sapanya sambil memberi hormat: "Selamat pagi!" Cong liong lo siansu membelai rambum Gak kun liong dan berkata sambil tertawa ramah: Liong ji, kau harus beristirahat dulu, biar engkoh yu mu berlatih lebih dulu Kemudian perintahnya kepada Suma siauhiap: Thian yu, cepat kau latih kembali ilmu pukulan Sian po hwe hong ciang tersebut! Suma Thian yu segera mengiakan, sambil membawa pedangnya dia berjalan menuju ke tengah lapangan, kemudian setelah memberi hormat kepada kakek itu, satu jarus demi satu jurus dia mulai melatih ilmu silatnya dari awal sampai akhir. Ilmu pukulan sian po hui hong ciang (pukulan angin berpusing) merupakan ilmu andalan yang paling dibanggakan Cong liong lo siansu sepanjang hidupnya, kali ini Suma Thian yu dapat melatihnya dengan enteng, ringan, cepat luwes dan bertenaga, jurus demi jurus di lepaskan seperti air sungai huang ho yang mengalir tiada hentinya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Betapa gembiranya Cong liong lo siansu menyaksikan kelihayan bocah tersebut berlatih, dia tertawa terbahak-bahak tiada hentinya, kemudian sambil berpaling kearab Gak Say bwe, ujarnya: "Coba kau lihat, bagaimana hasil latihannya itu? Asal bocah ini diberi waktu yang cukup untuk melatih diri, tak sulit untuk menjadi seorang jagoan nomor wahid dikolong langit" Hui im tongcu Gak Say bwee ikut merasa gembira sekali. Selesai melatih ilmu pukulan Sian po hui hong ciang, kembali Suma Thian yu melatih ilmu pedang Bu beng kiam hoat yang sekali lagi mendapat sambutan hangat. Ketika pemuda itu selesai berlatih, Cong liong Lo siansu memanggilnya menghadap, lalu berkata dengan gembira: "Tampaknya kau berlatih dengan tekun dan rajin sehingga dapat mencapai kesuksesan seperti hari ini, sebentar kau boleh memberes kan buntalanmu untuk turun gunung, penuhi janjimu di bukit Kun san, kemudian selesaikan sebuah tugas yang akan kusampaikan padamu" Sejak disuruh berdiam dalam gua Hui im tong, Suma Thian yu belum pernah memahami maksud tujuan yang sebenarnya, kini dia baru terceranjat sesudah mendengar perintah Cong liong lo siansu, tanpa terasa wajahnya menunjukkan kesangsiannya. Dalam sekilas pandangan saja, Cong liong lo siansu sudah dapat menebak jalan pemikiran pemuda itu, sambil tersenyum dia segera berkata: "Dunia persilatan dewasa ini sudah berada diambang pintu badai pembunuhan yang paling mengerikan sepanjang seratus tahun belakangan ini, tak sampai berapa tahun kemudian, banjir darah sudah pasti akan melanda seluruh dunia persilatan, tapi ini, sudah merupakan takdir, tiada orang yang sanggup menyelamatkan badai pembunuhan berdarah itu. "Aku masih ingat ketika berusia delapan tahun dulu, dunia persilatan juga pernah dilandai badai pembunuhuhan berdarah, banyak jago persilatan yang terlibat dalam

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

peristiwa tersebut dan tewas secara mengerikan, kini sekejap mata seratus tahun sudah lewat, dan sekarang badai pembunuhan itu kembali mengancam kita, kita" bahkan badai kali tampaknya timbul akibat dari munculnya kitab tanpa kata, berdasarkan tafsiran inilah maka lolap lantas mengambil keputusan untuk mewariskan segenap kepandaian silat yang kumiliki kepadamu agar kau bisa bertanggung jawab untuk menolong sesama umat manusia dari kehancuran" Berbicara sampai disitu, Cong liong lo siansu berhenti sejenak, kemudian setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, bisiknya lagi dengan suara rendah: "Setelah menghadiri pertemuan dibukit Kun san, kau harus seorang diri berangkat ke Lhasa ibu kota Tibet, disebelah utara kota Lhasa terdapat sebuah kuil yang bernama Phutara si, dari situlah kau dapat mulai menyelidiki sumber mula dari kitab pusaka tersebut, seandainya kitab itu belum sampai terbawa ke daratan Tionggoan, berarti badai pembunuhan ini bisa ditolong, kalau tidak, yaa... umat persilatan harus menghadapi situasi tersebut dengan lebih perihatin." Sampai disini, Suma Thian yu baru mengerti apa sebabnya Hui Im Tongcu mengundangnya kesitu, tanpa terasa hatinya bertambah murung dan berat.... Menyaksikan pembahan wajah anak mnda tersebut, Cong liong lo siansu segera membentak gusar: "Jadi kau segan ke situ?" Bukan, bukan begitu... " sahut Suma Thian yu tanpa berpikir panjang lagi "sekali pun boanpwe harus terjun ke lautan api pun, aku rela melaksanakannya, apalagi cuma melakukan perjalanan jauh saja" "Kau bohong, perubahan wajahmu telah mem beritahukan segala sesuatunya itu kepadaku" "Locianpwe, kau harus tahu, sejak kecil Thian yu sudah kehilangan orang tuaku, dendam kesumat keluargaku belum terbalas, kemudian berkat kebaikan hati paman Wan, aku dipeliharanya sampai menginjak dewasa, sebelum meninggalkan paman Wan telah berpesan kepadaku untuk

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

membalaskan dendam baginya, kemudian Wu san siang gi menyerahkan tugas kepadaku untuk melindungi kitab pusaka tanpa kata, ditambah lagi teka teki soal mutiara anti racun yang terjadi berapa waktu berselang, semua tugas tersebut kini sudah menjadi beban ku, hanya sayang semua tugas mana tak satupun yang bisa kulaksanakan dengan baik, tiap kali teringat akan hal ini aku menjadi amat sedih sekali, maka..." "Aku mengerti, sekilas pandangan persoalan didunia ini beribu ribu macam corak, padahal keunggulannya hanya satu, seperti apa yang kau ucapkan barusan, tampaknya persoalanmu se-muanya merupakan persoalan yang pelik, padahal jika dianalisa kembali satu persatu, semuanya akan berubah menjadi soal sepele yang bisa diselesaikan secara gampang!" Mendengar ucapan tersebut, Suma Thian yu termenung beberapa saat lamanya, ia segera menemukan kalau perkataan itu memang benar, serta merta perasaannya pun menjadi lebih terbuka. Tengah hari itu, dengan perasaan berat hati Suma Thian yu harus mohon diri kepada Cong liang lo siansu dan Hui im Tongcu, ke mudian dihantar oleh Gak Kun liong dengan menumpang Ing ji berangkatlah pemuda meninggalkan gua Hui im tong. Selama hampir sebulan penuh, Gak Kun liong selalu bergaul dengan Suma Thian yu, baik siang atau malam, hubungan mereka boleh bilang sudah amat akrab, sebetulnya Suma Thian yu melarang dia menghantarnya ke puncak seberang, tapi bocah itu bersikeras hendak menghantarnya. Ketika Ing ji terbang sampai ditengah jalan, mendadak burung itu berpekik keras, kemudian hanya berputar-putar saja disekitar tempat itu tanpa ada maksud melayang turun. Gak Kun liong yang menyaksikan kejadian itu segera berteriak: "Ing ji, apa yang terjadi? Apakah di depan sana ada ancaman mara bahaya?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Ing ji mengerti pertanyaan majikannya, dia manggut berulang kali sambil berpekik nyaring. Suma Thian yu segera memuji kecerdasan burung itu, katanya: "Ing ji, banyak terima kasih atas pemberitahuanmu, tak mengapa, terbang saja terus, kami masih sanggup untuk menghadapi ancaman bahaya macam apapun Setelah mendengar ucapan Suma Thian yu itu, Ing ji baru berpekik gembira, ia lantas mengembangkan sayapnya dan menukik kebawah. Dalam waktu singkat, Ing ji sudah hinggap dipuncak seberang, sambil melompat turun ketanah, Suma Thian yu menjura kepada Gak Kun liong sambil berkata: Adik Liong, pulanglah lebih dulu, bila urusanku telah selesai pasti akan kembali lagi kemari untuk berkumpul lagi denganmu "Janji yaa, jangan bohong". "Tentu saja, aku pasti akan memenuhi janji Baru selesai dia berkata, mendadak terdengar tiga kali pekikan aneh berkumandang memecahkan keheningan, menyusul kemudian tampak bayangan manusia berkelebat lewat, dalam waktu singkat dari belakang tubuh Suma Thian yu sudah muncul tiga orang kakek. Begitu ketiga orang itu munculkan diri, mereka segera mengurung rapat-rapat Suma Thian dan Gak Kun liong. Sekilas pandangan saja Suma Thian yu segera mengenali mereka sebagai Hui cha Cun cu yang datang bersama Tiang pek ji sat, buru buru ujarnya kepada Gak Kun liong: "Adik Liong, cepat pergi, biar aku seorang diri yang menghadapi mereka bertiga" "Tidak, aku ingin mati hidup bersama kau, bila ada rejeki kita nikmati bersama, kalau ada susah kita tanggulangi bersama, kini kau menemui kesulitan, masa aku harus pergi seorang diri?" seru Gak kun liong cepat. Menyaksikan Gak Kun liong begitu bersikeras dengan pendiriannya, Suma Thian yu ingin menghibur dirinya dengan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

beberapa patah kata, tapi musuh uangguh keburu sudah dekat, apa lagi mereka semua memandang kearahnya dengan penuh kegusaran. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk tidak banyak berbicara lagi, bagamanapun juga kehadiran Gak Kun liong memang banyak membantu baginya menghadapi lawan. Maka sambil tersenyum dia mengangguk. Baiklah, untuk kali ini kukabulkan, tetapi jangan Untuk lain kali." Gak Kun liong bersorak kegirangan, dia segera melompat turun dari punggung burungnya itu sambil menepuk kepala Ing ji, ujarnya: Ing ji untuk sementara waktu beristirahat lah dulu diatas pohon, kau tidak boleh turut serta dalam keramaian ini lhoo..." Hui cha Cun cu semakin naik darah lagi setelah menyaksikan sikap Suma Thian yu yang masih sempat tertawa dan bergurau kendati pun mereka sudah dikepung rapat, sikap semacam itu pada hakekatnya sama dengan tidak memandang sebelah mata pun terhadap mereka. Tanpa banyak berbicara ladia maju sambil melepaskan sebuah pukulan, teriaknya dengan gusar: "Bangsat... akan aku lihat kau bisa tertawa sampai kapan?" Suma Thian yu berdiri membelakangi Hui cha Cun cu ketika merasakan sambaran angin tajam dari balik punggung, buruburu dia mengeluarkan ilmu langkah Ciok tiong luan poh in hoat untuk mengegos ke samping, tidak nampak bahunya bergerak, tahu-tahu orangnya sudah berpindah posisi. Setan tua" seru pemuda itu kemudian sambil tertawa, "keadaanmu sekarang memang mirip sekali dengan anjing penjaga pintu. aai... tak kusangka kau memiliki kesabaran yang begitu besar, satu bulan penuh kau tetap mengeram terus disini, semangatmu yang tinggi sungguh membuat hatiku merasa amat kagum" Baru selesai dia berkata, tiba-tiba terdengar lagi suara bentakan keras menggelegar diangkasa:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Boocah keparat. Raja akhirat sedang menggapai tangannya kepadamu... Suma Thian yu sudeh menduga kalau serangan yang dilancarkan itu paling tidak mengandung tenaga pukulan sebesar delapan bagian, lagipula kekejiannya mengerikan, tanpa pikir panjang dia membalikkan badan menerjang ke samping Hui cha Cun cu, kemudian serunya sambit tertawa cekikikan: Hai, anjing budukan penjaga pintuku, tampaknya kalian belum akan puas sebelum sampai di sungai Huang ho, ingin merebut kem-bali mutiara itu? heh...hee..lebih baik urungkan saja niatmu itu" Seraya berkata, tangan kanannya segera memainkan jurus Hui so-sui hong (serat terbang terhembus angin) untuk mencubit pelan di bawah ketiak Hui cha Cun cu. Cubitan mana tentu saja membuat Kiong Lui kegelian, dia sampai mencak-mencak kegusaran Sambil berkaok-kaok dia melompat ke belakang sebatang pohon, ketika muncul kembali, tangannya telah bertambah dengan sebatang senjata toya berbentuk bulan sabit. Dengan garangnya orang itu menerjang ke muka, kemudian sambil memutar senjata Hou to pangnya dia membacok batok kepala pemuda itu dengan jurus Sam yang kay tay (Sam yang membuka air). Toya Hou to pang tersebut paling tidak mencapai berat enam lujuh puluh kati, ditambah kekuatan sewaktu membacok hingga total jenderal kekuatannya mencapai lima ratus kati lebih. Kendatipun Suma Thian yu memiliki tenaga yang amat sempurna, toh ia tak berani menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras. Buru-buru dia mengigos kesamping, kemudian balas melancarkan sebuah sodokan untuk menotok jalan darah Hian ki hiat lawan. Meskipun Hui cha cun cu tidak menyangka kalau dalam waktu satu bulan yang singkat, Suma Thian yu telah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memperoleh kemajuan pesat dalam kepandaian silatnya, melihat kelihayan permainan tangan kosongnya, dia benarbenar merasa terperanjat sekali. Hanya berpisah berapa hari, namun Suma Thian yu yang sekarang bukan lagi Suma Thian yu yang dulu. Kini, Suma Tnian yu sudah merupakan seorang tokoh persilatan muda yang berilmu sangat tinggi. Menyaksikan datangnya sambaran tangan Suma Thian yu yang begitu cepat bagaikan sambaran petir, sudah bareng tentu Hui cha Cun cu tak berani berayal, cepat-cepat dia menarik kembali senjatanya kemudian melompat mundur sejauh setengah kaki lebih dari posisi semula. Hei orang she Kiong seru Suma Thian yu dengan suara lantang, lebih baik dengarkan saja anjuranku, jangan memikirkan soal mutiara ya kongcu lagi, sebab hanya dengan cara itu saja selembar nyawamu baru dapat diselamatkan, jikalau sauyamu sampai marah hmmm, kau bisa menyesal sekali... Kalau tak mendengar ucapan itu masih mendingan, berigu selesai mendengar ucapan mana kemarahan Hui cha Cun cu benar-benar tidak dilukiskan dengan kata-kata. Sambil membentak keras, senjata Hou to pangnya diputar kencang menciptakan selapis bayangan tebal yang menyelimuti seluruh tubuhnya, menyusul kemudian secepat kilat menyodok tubuh Suma Thian yu, bentaknya keras: "Ayo, maju semua! Tiang pek ji sat tak ambil diam, serentak mereka mempersiapkan senjata masing-masing dan maju mengerubuti Suma Thian yu. Gak Kun liong kecil orangnya, besar nyalinya menyaksikan kedua orang malaikat bengis itu maju bersama, serentak diapun meloloskan pedangnya, lalu dengan jurus Kay san to hu (mebuka bukit mencari sumber air) tangan kananya menyerang Li hiong, sementara tangan kirinya membabat si mahkluk berkepala sembilan Li Gi, semuanya dilepaskan dengan kecepatan yang mengagumkan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tiang pek ji sat bukan manusia sembarangan, mereka tak sudi bertarung melawan Gak kun liong, kedua orang itu segera berpisah kekiri dan kekanan menghindarkan diri dari serangan Gak kun liong, kemudian maju lagi menyerang Suma thian yu. Marah juga Suma thian yu menyaksikan serangan dari kedua orang itu, dia jadi nekad, sambil mundur dua langkah, pedang Kit hong kiamnya segera diloloskan dari sarungnya. begitu senjatanya diloloskan, segera berkumandang pekikan nyaring yang menggerincing. Liat hwe siu Li hiong, orang ketiga dari Ting pek sam sat hanya merasakan cahaya biru berkelebat lewat didepan matanya, tahu-tahu dia merasakan dadanya menjadi dingin sekali, diiringi dengan jeritan ngeri, tubuhnya segera roboh terkapar ditanah bermandikan darah segar. Semenjak mempelajari ilmu Bu beng kiam hoat, baru pertama kali ini Suma Thian yu mempergunakannya untuk menghadapi lawan. Siapa tahu baru saja pedangnya diloloskan dan satu ayunan ringan melintas, seorang jago lihay dari kalangan Liok lim telah roboh binasa diatas tanah. Kenyataan tersebut segera membuat Suma Thian yu berdiri tertegun ditempat, dia menjadi lupa kalau disitu masih ada dua orang musuh tangguh yang harus dihadapi. Ketika Kiu tau siu Li Gi mendengar adik nya menjerit ngeri, dengan cepat ia berpaling, tahu-tahu dijumpainya Li Gi sudah terkapar tewas dengan tubuh bermandikan darah, peristiwa ini segera membuat hatinya sakit. Dengan mata merah membara, dia membentak keras, kemudian goloknya segera diayunkan kedepan dan membacok kearah samping dengan jurus Hong toan lo siong (angin memotong pohon siong). Sementara itu Suma Thian yu masih berdiri bodoh ditempat tanpa berkutik, tampaknya ujung golok Li Gi segera akan menembus pinggangnya. Dengan perasaan terkejut Gak Kunliong menjerit:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Hati hati engkoh Yu! Mendadak Suma Thian yu tersadar kembali dari lamunannya, serta merta dia memutar pedangnya untuk menangkis, setelah itu perge langan tangannya membalik ke bawah, cahaya biru kembali berkelebat lewat. Terdengar Kiu tau siu Li Gi menjerit kesakitan kemudian tu buhnya roboh terjengkang ke tanah. Pada hakekatnya Suma Thian yu tidak sempat melihat jelas apa yang terjadi, tapi secara beruntun dia telah membunuh dua malaikat bengis, hal ini membuatnya tertegun. Ketika berpaling kembali, tampaknya olehnya Kiu tau siu Li Gi seperti babi yang baru disembelih, bergulingan diatas tanah sambil merintih tiada hentinya. Tak jauh dari sisi tubuhnya tertinggal sebuah lengan kanan yang menggenggam golok. Memandang semua pemandangan yang tertera didepan mata, Suma Thian yu merasa seakan-akan berada dalam impian saja, hanya dalam satu bulan ilmu pedangnya telah menperoleh kemajuan yang pesat, dalam sekali gebrakan saja secara beruntun dia berhasil meroboh kan dua orang jago lihay dari kalangan Liok-lim. Hal ini serasa dalam impian saja, sukar untuk dipercaya. Bahkan Hui cha Cun cu pun merasa terkesiap setelah menyaksikan peristiwa ini, segulung hawa dingin segera menyusup lewat punggungnya membuat ia merasa bergidik, sambil menggenggam senjata toya Hou lo pangnya, dia cuma berdiri kaku ditempat, lupa melepaskan serangan lagi. Pulang saja kau! kata Sama Thian yu kemudian hambar, "suatu ketika, aku akan membalaskan dendam bagi seratus jiwa yang melayang dalam dusun tersebut, ingat, hari ini ku ampuni jiwamu karena aku telah mendapatkan mutiara mustika itu dari tanganmu, maka aku tak tega untak membunuhmu..." Hui cha Cun cu adalah seorang manusia luar biasa kalau dia disuruh untuk mengaku kalah sebelum bertempur, maka lebih baik mampus saja dalam pertarungan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Betul dia sudah tahu kalau ilmu pedang Suma Thian yu sangat lihay, tanpa bertanding pun sudah diketahui siapa lebih tangguh siapa lebih lemah, tapi kalau dia disuruh lari terbiritbirit hanya berdasarkan sepatah katalawan, jangankan dia terhitung gembong iblis termashur dalam kalangan liok lim, sekalipun seorang keroco yang tak bernama pun tak akan sudi melakukan perbuatan yang memalukan itu. Hui cha Cun cu segera mementangkan sepasang matanya yang tajam dan penuh pancaran sinar kebencian itu, kemudian setelah melotot sekejap kearah Suma Thian yu, katanya dingin: "Bocah keparat, kau tak usah takabur lebih dulu, mari kita tentukan kelibayan masing-masing dalam permainan tangan kosong!" Begitu selesai berkata, dia segera membuang senjata tongkat Hou tong pang nya ketanah. Suma Thian yu segera menyarungkan kembali pedangnya ke dalam sarung sambil bersiap menghadapi serangan lawan. Hui cha Cun cu memang tak malu disebut seorang gembong iblis yang licik dan berbahaya, dia ingin mengandalkan kesempurnaan tenaga dalamnya yang mencapai enam puluh tahun hasil latihan untuk mengejar Suma Thiat yu yang masih ingusan. Kedua belah pihak saling berhadapan tanpa bergerak, selang beberapa saat kemudian Hui cha Cun cu baru membentak keras, dengan jurus Sin jut kui meh (malaikat muncul setan menghilang) yang disertai dengan tenaga sebesar enam bagian, dia menghajar pemuda tersebut. Suma Thian yu merentangkan sepasang tangannya dipisahkan kesebelah samping, dengan jurus Po im kiam jit (menyingkap awan melihat matahari) dia punahkan serangan musuh, lalu membentak dengan marah: "Kau benar-benar keras kepala dan tak tahu diri, baik, mengingat dihari-hari biasa supaya tak punya dendam maupun sakit hati dengan mu hari ini aku masih akan memberi satu kesempatan kepadamu untuk hidup, tapi jika

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kau belum juga mau mengerti, hmmm kalau begitu jangan salahkan lagi sepasang telapak tangan ku tak kenal ampun lagi...... Berbicara sampai disitu, telapak tangan kirinya segera melakukan tangkisan keatas, sementara telapak tangan kananya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya langsung menyodok jalan darah Hian ki hiat didada Hui cha cun cu dengan kecepatan luar biasa. 00o00 00o00 Lagi-lagi Hui cha cun cu dibikin terperanjat oleh kelincahan gerak tubuh Suma thian yu, terutama sekali kesanggupan anak muda itu menutup diri dari sergapannya, kemudian melancarkan serangan balasan. Secara beruntun dia mundur tiga langkah, lalu dengan jurus Ban hong jut cau (selaksa lebah keluar dari sarang), dia hantam tenggorokan pemuda itu. Suma thian yu mendegus dingin, dia mengegos kesamping dengan cepat, menyusul kemudian sebuah pukulan balasan dihantamkan ke tubuh kiong lui keras-keras. Serangan itu sekilas pandangan tampak lembuk lagi lunak, namun cepatnya tak terlukiskan dengan kata-kata. Menyaksikan kejadian tersebut, Kiong Lui segera tertawa terkekeh-kekeh dengan seramnya. "Bocah keparat, tampaknya kau sudah terjepit sekarang...hmm, lebih baik menyerah saja untuk menerima kematian, daripada harus mampus dengan tubuh tercincang!" Sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia melakukan tangkisan. Siapa tahu setelah terjadi penangkisan itu kiong Lui merasakan tubuhnya bergetar keras, cepat-cepat dia mundur kebelakang untuk menyelamatkan diri. "Sungguh lihay!" pekiknya dalam hati. Walaupun dia berhasil meloloskan diri dari ancaman lawan, namun keadaannya benar-benar amat mengenaskan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Ayo, sambut lagi sebuah pukulan ku ini!" seru Suma thian yu sambil tertawa dingin. Telapak tangan kanannya kembali diayunkan kemuka menciptakan berlapis-lapis bayangan tangan yang segera menyelimuti seluruh angkasa dan mengurung tubuh lawan. Berulang kali dipaksa dibawah angin, Hui cha cun cu sudah dibikin gusar sekali, bulu dan rambutnya sampai berdiri semua bagaikan kawat, apalagi menyaksikan keangkuhan pemuda itu, kemarahannya menjadi-jadi. Sambil membentak keras, tiba-tiba saja dia merubah gerakan tubuhnya, kali ini dia gunakan dua jurus penolong dari ilmu Po to pak an(ombak dahsyat memecah ditepian) dan Hu kong keng im (cahaya kilat lintasan bayangan) untuk melepaskan bacokan maut, bersamaan waktunya dia melejit pula ke tengah udara. Suma thian yu tak berani memandang enteng musuhnya setelah pihak lawan mengeluarkan jurus mautnya, terutama sekali sesudah pihak musuh melambung ke angkasa, biasanya gerakan itu pasti akan dilanjutkan dengan serangan maut lainnya. Cepat-cepat dia pusatkan seluruh perhatiannya kesatu titik, hawa Kui goan sim hoat pun disalurkan ke seluruh bagian badan, lalu dengan menghimpun tenaga pukulan Bu siang sinkang dalam telapak tangan, dia bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan. Baru selesai Suma Thian yu melakukan persiapan, di tengah udara sudah berkumandang suara gemuruhnya guntur memekikkan telinga. Rupanya Hui cha Cun cu iah mengeluarkan ilmu pukulan andalannya yakni Pek lei si hun ciang untuk menghadapi lawan, berbareng dengan menggemanya geledek, terlihat dua kilasan cahaya kilat yang disertai desingan angin tajam menghantam kearah kepala lawan. Suma Thian yu pernah merasakan kelihayan dari Pek lek si hun ciang lawan, dia cukup mengetahui kelihayan musuhnya,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

coba kalau tempo hari tidak ditolong Gak Kun liong, mungkin ia sudah tewas sedari dulu. Akan tetapi, semenjak dia mempelajari ilmu Sian po hui hong ciang hoat ajaran Cong liong lo siansu, semangatnya berkobar lagi, walaupun ia belum pernah mencoba sampai dimana kekuatan pukulan tersebut, namun rasa percayanya pada diri sendiri meningkat. Sambil tertawa hambar, tenaga Bu siang sinkangnya dilontarkan melalui telapak tangan dan menyongsong datangnya ancaman lawan. "Blaaamm...." ketika dua gulung angina pukulan yang menderu-deru bagaikan angin pukulan yang berbenturan satu sama lainnya, ledakan dahsyat menggelegar disusul beterbangan-nya pasir dan debu. Akibat dari benturan itu, tubuh Hui cha cun cu terpental sejauh beberapa kaki dan terbanting keras-keras diatas tanah. Suma Thian yu sendiri pun mundur beberapa langkah dengan sempoyongan sebelum akhirnya dia berhasil berdiri tegak. Paras muka Hui cha Cun cu pucat pias seperti mayat, rasa kaget dan tercengang menghiasi wajahnya, untuk sesaat ia jadi tertegun. Akhirnya sambil merangkak bangun dari atas tanah, serunya dengan nada penuh kebencian" "Bocah keparat, selama gunung nan hijau, air tetap mengalir, hutang ini tak akan kulupakan untuk selamanya, sampai jumpa lagi lain kesempatan!" Tanpa berpaling lagi, dia lantas melarikan diri terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Menyelamatkan diri dalam keadaan yang mengenaskan boleh dibilang baru pertama kali dilakukan Kiong Liu selama hidupnya, masih untung Suma Thian yu berbaik hati dengan mengampuni jiwanya, coba kalau tidak, sudah pasti dia akan mampus sedari tadi. Tapi justeru karena kewelas kasihannya ini, dikemudian hari gembong iblis tersebut justru mengakibatkan banyak

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kematian yang mengenaskan bagi umat persilatan lainnya, tentu saja hal ini sama sekali diluar dugaaan anak muda tersebut. Melihat Kiong Liu sudah melarikan diri, Gak Kun liong segera bersorak kegirangan, sambil lari ke sisi Suma Thian yu, serunya dengan wajah berseri: "Engkoh Thian yu, sungguh hebat pukulanmu tadi, apa sih namanya?" Suma Thian yu sendiri pun tidak habis mengerti mengapa dia berhasil mengalahkan gembong iblis tersebut dalam sekali pukulan, mendapat pertanyaan tersebut segera sahutnya sambil tertawa hambar: "Bu siang sinkang!" "Bu siang sinkang? Aaaah, betul, aku pernah mendengar ibu bercerita, konon dalam dunia persilatan terdapat seorang pendekar yang bernama Put Gho cu, diakah yang mengajarkan ilmu tersebut kepadamu?" "Yaa, betul, dia adalah guruku" "Tak heran kalau begitu lihay, lain kali kau mesti mengajarkan ilmu tersebut kepadaku, mau bukan?" "Tentu, asal adik Liong senang, sekalipun hatiku yang kau maui juga akan kuberikan" "Ooeh engkoh Thian yu, kau memang sangat baik, selama hidup Liong ji akan berterima kasih terus kepadamu" Suma Thian yu mengalihkan pandangannya keatas langit, setelah melihat waktu dia memandang pula dua sosok jenasah yang tergeletak ditanah, katanya kemudian sambil menghela napas: "Bu beng kiam hoat benar-benar memiliki kekuatan yang luar biasa, aku menyesal serang anku tadi telah mengakibatkan mereka berdua satu mati satu terluka parah" "Aah, mereka kan orang jahat yang senang berbuat bejat, matipun masih untung" "Tapi mereka toh tak ada dendam kesumat apapun dengan diriku?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aiai, sudahlah, tak usah dibicarakan lagi, engkoh Thian yu, kau harus berangkat, semoga sepanjang jalan selamat dan sukses selalu" Gak kun liong segera memanggil Ing ji dan menunggang burungnya dia balik kembali kepuncak seberang. Memandang bayangan punggung nya hingga lenyap dari pandangan, Suma thian yu baru berbisik pelan: "Adik liong, kaupun harus baik-baik menjaga diri" Ketika ucapan tersebut diutarakan, Gak kun liong mungkin sudah sampai di gua Hui im tong. Setelah berpisah dengan Gak kun liong, seorang diri Suma thian yu berangkat meninggalkan bukit Han san menuju ke kota tong sia. Perjalan yang ditempuh amat jauh, tempat yang dilalui melulu tanah perbukitan yang tinggi, akhirnya Suma thian yu membeli keledai untuk melanjutkan perjalanan. Keledai tak bisa lari cepat, pemuda itupun tidak terburuburu melanjutkan perjalanan, maka memanfaatkan kesempatan itu, dia menikmati pemandangan alam yang indah disepanjang jalan. Dari situ menuju Tong ting ou paling tidak membutuhkan waktu dua puluh hari jika perjalanan ditembuh dengan cara begini, tapi justru dia akan sampai ketempat tujuan persis sebelum waktu yang ditetapkan oleh dua bersaudara Thia. Suatu pagi, dia meninggalkan Lu teng berangkat kekota Tong sia, tiba-tiba awan gelap menyelimuti seluruh angkasa membuat udara menjadi gelap gulita. Melihat hujan deras segera turun, Suma thian yu menjadi amat gelisah, dia segera larikan keledainya cepat-cepat untuk menuju kesebuah hutan didekatnya. Mendadak terdengar bunyi guntur menggelegar disusul sambaran kilat yang tajam, lalu hujan pun turun amat deras. Hujan turun begitu deras dan keras, agaknya membuat keledai itu ketakutan sambil berpekik nyaring tahu-tahu binatang itu lari kencang menuju keatas gunung.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian ya ikut merasa terkejut, cepat-cepat dia memeluk leher keledai kencang-kencang dan membiarkan binatang tersebut berlarian tanpa tujuan. Hujan turuu semakin deras... Kini Suma Thian yu telah basah kuyup oleh derasnya air hujan. Suatu ketika, mendadak keledai itu berpekik nyaring sambil menyambar kepuncak bukit, dengan perasaan terkejut Suma Thian yu mendongakan, kepalanya, tiba-tiba dia melihat ada sebuah rumah kayu muncul dibalik bukit sana. Rupanya kesanalah keledai itu berlarian. Suma Thian yu menjadi amat kegirangan. Sambil menepuk kepala keledainya dia memuji berulang kali. "Wahai keledai, kau memang pintar, mari kesana untuk berteduh dari hujan keparat ini" Keledai itu berpekik nyaring, secepat terbang dia lari kearah rumah kayu tersebut. Baru sampai didepan rumah kayu itu, mendadak dari balik rumah terdengar suara bentakan nyaring menggelegar memecahkan keheningan: "Lihat serangan!" Menyusul kemudian muncul tiga titik cahaya bintang yang menembusi kabut hujan dan menyambar tiba. Suma Thian yu sangat terkejut, cepat-cepat dia menarik tali lesnya kuat-kuat. Sambil meringkik panjang, keledai itu segera mengangkat kakinya keatas dan bergeser setengah kaki dari posisi semula. Tiga titik cahaya tajam itu dengan membawa desingan angin tajam, menyambar lewat persis disisi telinga Suma Thian yu dan melesat kedepan.... Suma Thian yu sendiri kena digoncang pula oleh lejitan keledai tersebut hingga terjatuh ketanah. Bersamaan waktunya, mendadak pintu rumah dibuka dan muncul kepala seorang gadis muda.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Walaupun hujan masih turun dengan derasnya, namun Suma Thian yu dapat mengenali perempuan itu sebagai Yan tho hoa (bunga tho indah) Ho Hong yang pernah dijumpainya di rumah Bi kun lun Siau Wi goan tempo hari. Begitu mengetahui siapakah perempuan itu, Suma Thian yu segera melompat naik lagi keatas punggung keledainya dan siap berlalu dari tempat tersebut. Jilid : 14 Mendadak dari arah belakangnya berkumandang suara tertawa cekikikan yang amat genit, disusul perempuan itu berseru: "Hei, saudara cilik, kau lagi marah rupanya? Kemarilah, coba kau lihat hujan begitu deras, apakah kau tak ingin berteduh sebentar sebelum pergi?" Waktu itu Suma Thian yu sudah basah kuyup ketimpa air hujan, apa lagi setelah mendengar kata-kata yang genit itu, kontan saja ia menjadi merinding dan berdiri semua bulu kuduknya. "Hujan ini pasti turun terus tiada hentinya" demikian dia berpikir, "aah, perduli amat, lebih baik aku berteduh lebih dulu disini, toh ia tak bakal bisa melahap diriku!" Berpikir sampai disitu, dia lantas membalikkan keledainya dan pelan pelan berjalan mendekati rumah kayu tersebut. Sambil keledainya Suma Thian yu berteduh dibawah emper rumah, di dalam ruangan keliahatan api membara dengan hangatnya, Ho Hong sedang mengeringkan tubuhnya. Waktu itu si Bunga tho indah Ho Hong hanya mengenakan seperangkat baju yang amat tipis, selain itu didalamnya tidak memakai apa-apa, dengan begitu terlihat amat jelas seluruh anggota tubuhnya yang terlarang, terutama payudaranya yang montok dengan putingnya yang memerah. Terkesiap hati Suma Thian yu setelah menyaksikan kejadian tersebut, dia merasa tubuhnya seperti tersambar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

aliran listrik bertegangan tinggi saja, kontan membuat semua anggota badannya kaku. Buru-buru ia duduk bersila sambil memusatkan seluruh perhatian nya kesatu titik, lalu mulai memejamkan mata dan mengatur napas. Kontan saja perbuatannya itu disambut gelak tertawa cekikikan dari si Bunga tho indah Ho Hong, rupanya dia kegelian. Aduh ... kau memang perjaka yang masih suci, kenapa, kenapa sih? Memangnya seluruh tubuhku tumbuh duri beracunnya? Suma Thian yu tidak menghiraukan ucapan lawan, dia hanya memusatkan terus perhatiannya ke satu titik dan mengatur nafas. Dalam waktu singkat hawa dingin yan semula mencekam tubuhnya, kontan saja lenyap hingga tak berbekas. Tiba-tiba Bunga tho indah Ho Hong berjalan mendekati pemuda itu dengan langkah yang lemah gemulai, kemudian sambil tertawa genit katanya: "Lepaskan pakaianmu yang basah, biar ku keringkan sebentar, setelah kering nanti baru kau kenakan lagi, kalau tidak, kau bisa masuk angin "Tidak usah, terima kasih" tampik Suma Thian yu dengan nada dingin dan kaku. Jangankan beranjak, mata pun tak pernah memandang ke arah perempuan tersebut. Menyaksikan sikap dingin anak muda itu, Si Bunga tho indah Ho Hong segera memutar otaknya, kemudian berseru tertahan: Aaah, benar, aku lupa kalau belum mengenakan pakaian, tak heran kalau tak berani memandang kearahku, saudara cilik, kau jangan mentertawakanku Selesai berkata ia lantas bersembunyi dibelakang pintu dan mengenakan kembali pakaiannya yang telah kering, dalam waktu singkat dia sudah muncul kembali dengan pakaian yang rapi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma thian yu benar-benar merasa muak menyaksikan tingkah lakunya yang tengik, genit dan menjemukan itu. Bunga tho indah Ho Hong sudah amat mashur dalam dunia persilatan sebagai seorang perempuan genit berwajah cantik, boleh dibilang hampir sebagian besar umat persilatan mengenalinya. Sangat banyak jago termashur yang terpikat oleh kegenitannya itu sehingga tunduk seratus persen dibawah telapak kakinya. Hal ini disebabkan pertama, Si Bunga tho indah Ho Hong memang dilahirkan dengan selembar mulut yang pandai merayu, kedua, ilmu silatnya amat lihay dan sakti, itulah sebabnya banyak sekali pemudapemuda yang terpikat olehnya. Padahal watak Si Bung tho indah Ho Hong sendiri tidak termasuk jahat, ia bisa mempunyai nama buruk semua hari ini, semuanya tak lain adalah hasil didikan gurunya. Bayangan saja, murid yang di didik Si Mayat Hidup Hoat Si si, bagaimana mungkin bisa menjadi baik? Si Mayat Hidup Ciu jit hwe merupakan pentolan iblis dalam golongan iblis, ilmu silat yang dimilikinya boleh dibilang tiada taranya didalam dunia persilatan. Dibawah didikannya, dia mempunyai tiga murid, dua diantaranya adalah Hek hong hou (harimau angin hitam) Lim Kang dan Kim bin kui (setan muka hijau) Siang tham. Kedua orang itu merupakan jago-jago lihay dulu dalam kalangan Liok lim. mereka sudah banyak melakukan kejahatan dan membunuh orang tak terhitung jumlahnya. Si Bunga tho indah Ho Hong adalah seorang gadis yang baik. hingga kini dia masih tetap suci bersih tanpa noda, hanya sayang sekali sekuntum bunga teratai yang tumbuh diatas lumpur, bagaimana bisa menjaga nama baiknya? Orang tak ada yang percaya kalau gadis ini masih suci bersih.... Dikolong langit ini memang terdapat banyak kejadian yang tragis, Si Bunga tho indah Ho Hong hanya satu diantara sekian banyak kejadian lainnya. Selama ini, dia selalu berusaha untuk maju selalu berusaha untuk kembali kejalan yang bersih dan lurus, akan tetapi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

ucapan manusia dan lingkungan hidup bagaikan benteng baja yang kuat, selalu saja menghalangi jalan perginya. Maka dia selalu putus asa, mulai kecewa, mulai berbuat sewenang-wenang dan kian terjerumus........ Sampai pada akhirnya dia sendiripun menjadi buta, buta untuk membedakan mana yang benar. Ada kalanya dia berjalan kearah yang benar, tapi ada pula saatnya dia berjalan kearah yang salah. Bagi seorang perempuan, apa pula yang bisa dia perbuat? Bertarung melawan lingkingan? Menghadapi ucapanucapan cabul dengan kasar? Atau dia harus berjuang untuk mencapai kedudukan tinggi....? Tidak, tidak mungkin seorang perempuan bisa berbuat demikian, perempuan hanya tahu bagaimana mencintai dan dicintai, ia tak kan mengerti tentang bagaimana cara melanjutkan hidup. Ia seringkali bergumam begini: "Burung gagak di dunia ini semuanya hitam, lelaki, mereka hanya tahu memuaskan napsu, mereka tak tahu bagaimana perasaan seorang wanita, hmmm bila aku Ho Hong manfaatkan kelebihanku, apa sulitnya untuk menaklukkan mereka dibawah telapak kakiku?" Akhirnya ucapan tersebut menjadi prinsip hidupnya selama ini, tak heran kalau dia pun mencoba merayu dan menggaet hati Suma Thian yu, setelah dia bertemu dengannya. Siapa tahu Suma Thian yu adalah lelaki sejati yang tahan uji, hatinya setenang air, di tambah lagi ia tidak gemar bermain perempuan. Menyaksikan pemuda itu sama sekali tak terpikat oleh bujuk rayunya, Bunga tho indah Ho Hong semakin penasaran, diam-diam dia menyumpai pemuda itu sebagai lelaki palsu, tapi iapun segera menyusun rencana untuk menyiapkan sebuah perangkap. Kau benar-benar tak takut dingin? Bunga tho indah Ho Hong menegur sambil tertawa, ooohh, mengerti aku

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

sekarang, lantaran aku ada disini maka kau enggan melepaskan pakaianmu bukan? Sambil berkata ia melirik sekejap kewajah pemuda itu, siapa tahu semakin dipandang makin tertarik, dia ingin sekali menjatuhkan diri kedalam pelukannya dan merasakan kehanggatan tubuhnya, walau hanya sebentar saja. Tapi dia lantas berpikir kembali, tindakan yang terlampau tergesa-gesa bisa mengakibatkan kegagalan total, maka kembali ujarnya sambil tertawa: Duduklah dulu disini, aku akan mengambilkan kayu bakar diluar sana Ia melompat keluar dan lenyap dibalik pintu itu. Suma Thian yu masih tetap duduk kaku ditempat tanpa berkutik, sepatah katapun tidak berbicara, kepergian Ho Hong pada hakekatnya tidak memancing perhatiannya. Siapa pula yang menduga jikalau saat itu Suma thian yu sedang melakukan suatu percobaan, mengeringkan pakaiannya dengan pancaran hawa murninya, disaat Ho Hong sedang mengoceh tiada hentinya tadi, ia sudah memejamkan mata sambil mengatur napas bahkan tak selang beberapa saat kemudian dia sudah berada dalam semedinya. Tak selang beberapa saat kemudian, tubuhnya makin lama makin mengering, penemuan ini tentu saja amat menggirangkan hati Suma thian yu. Ketika Ho hong berlalu, pakaiannya telah mengering, tapi dia hanya membuka matanya sambil memandang keluar jendela saja, ia sedang berpikir sampai kapan hujan tersebut baru akan berhenti. Mendadak tampak bayangan manusia berkelebat lewat diluar jendela, mula-mula Suma thian yu mengira si Bunga tho indah Ho Hong telah kembali, maka dia segera memejamkan matanya rapat-rapat. Siapa tahu segera terdengar lagi suara panggilan yang lirih: Adik hong, adik Hong...."

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Merasakan keadaan tak beres, buru-buru Sum thian yu melompat bangun dan menyembunyikan diri dibalik tempat kegelapan. Tak lama kemudian terlihat seseorang berjalan masuk kedalam ruangan itu. Dia bermuka hijau bertaring panjang, bajunya panjang berkembang-kembang, dalam sekilas pandangan saja dapat dikenalinya sebagai si setan muka hijau Siang Tham. Ketika masuk kedalam ruangan, Siang Tham tidak melihat Suma Thian yu, dia hanya berseru tertahan sambil berguman: Heran, Sumoay telah pergi kemana? Pada saat itulah Ho Hong masuk dari pintu depan, ketika gadis itu menyaksikan ji-suhengnya berada disana, dengan gusar segera menegur: Mau apa kau datang kemari? Siapa suruh kau kemari? Mana dia? Rupanya dia tidak melihat Suma Thian yu berada disitu, maka pertanyaan tersebut lantas ditujukan kepada kakak seperguruannya. Melihat Ho Hong munculkan diri, Setan muka hijau Siang Tham segera tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya seram: "Adik Hong, aku sudah mencarimu dengan susah payah... " "Uuuh, siapa kesudian denganmu? damprat Ho Hong marah, "enyah kau, cepat enyah dari sini!" Dampratan itu membuat si Setan muka hijau Siang Tham tertegun, lalu sambil menarik muka ia berkata: "Apa maksudmu? Kau telah berubah, berubah sekali, apakah aku sebagai kakakmu tak boleh datang kemari mencarimu? Apa lagi kita toh masih......" "Plaaaak!" belum habis dia berkata, pipi kanannya sudah ditampar Ho Hong keras-keras, kemudian terdengar gadis itu berteriak: "Tutup mulutmu, tak ussh banyak ngebacot lagi disini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Lima jari tangan yang merah membengkak segera tertera diatas wajah Setan muka hijau Siang Tham, karena kesakitan dia berkaok kaok keras: "Perempuan rendah, kau berontak? Kau berani melawanku?" teriaknya amat gusar. "Mau apa kau datang kemari?" teriak Ho Hong sambil menuding kearah hidungnya, "dahulu aku toh sudah memberitahukan kepadamu, jika tak ada urusan kau dilarang kemari, masih belum mengerti kau?" "Perempuan rendah, kau tak usah takabur, seandainya aku orang she Siang tidak teringat kalau kau adalah saudara seperguruanku, sudah sejak tadi tubuhmu kuhancurkan menjadi berkeping-keping!" Hmm, orang lain mungkin takut kepadamu, tapi Ho Hong tidak memandang sebelah mata pun kepadamu, kuberitahukan kepadamu, mulai hari ini hubungan kita putus sampai disini Perempuan rendah, akan kulihat kau bisa bertahan sampai kapan.... seru setan muka hijau Siang Tham dengan seram, tanpa banyak membuang waktu, dia berlalu dari situ. Tapi belum lagi dua langkah, mendadak ia menyaksikan bayangan manusia bergerak di sudut ruangan, dengan cepat dia seperti menyadari akan sesuatu, sambil tertawa seram ia membalikan tubuhnya lagi. "Heeh...heeh... heeh...aku heran, apa sebabnya kau berubah menjadi begitu dingin dan tak berperasaan kepadaku, rupanya lagi menyembunyikan lelaki, hmm! Bagus, bagus sekali, hari ini ada kau tiada diriku Dia lantas merogoh ke dalam sakunya dan membalikkan tubuh sambil mengayunkan tangan. Dua titik cahaya tajam dengan kecepatan luar biasa langsung meluncur ketubuh Suma thian yu yang berada di sudut ruangan. Bunga tho indah Ho Hong menjerit kaget setelah menyaksikan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

kejadian tersebut, dia mau menolong sayang keadaan terlambat. Tampaknya dua batang senjata rahasia tersebut akan menghajar tubuh Suma Thian yu, mendadak pemuda itu mengebaskan ujung bajunya, kemudian sambil tertawa tertawa terbahak-bahak munculkan diri dari tempat persembunyian. Dua batang senjata rahasia yang dilepaskanSiang tham tadi, kini lenyap tak berbekas bagaikan batu yang tenggelam ditengah samudra. Setelah mengetahui kalau pemuda yang menampakkan diri adalah Suma Thian yu, mau tak mau si Setan muka hijau Siang Tham merasa terkesiap, tapi ia segera tertawa licik: Oooh, rupanya kau si bocah keparat." Kemudian sambil melotot ke arah Ho Hong dengan sorot mata buas, dampratnya lagi amat kasar: Perempuan rendah, pagar makan tanaman, kau berani menyeleweng dengan pria ini? Bagus, jika tidak kuberi pelajaran hari ini, mulai sekarang aku tidak memakai nama marga Siang lagi Selesai berkata, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ketubuh Ho Hong. Walaupun bunga tho indah Ho Hong menempati urutan ketiga, ilmu silatnya justru hanya dibawah si harimau angin hitam Lim kang, kendatipun begitu, diapun tak ingin menyalahi Siang tham lagi, maka begitu melihat datangnya serangan, buru-buru tubuhnya mengegos ke samping. Si Setan muka hijau Siang Tham cukup mengetahui akan tabiat dari sumoaya-nya ini, gagal dengan serangan pertama, dia tak berani menyerang untuk kedua kalinya, semua amarahnya kontan saja dilampiaskan ke tubuh Suma Thian yu. Sambil maju kemuka, teriaknya penuh amarah: Bocah keparat, serahkan selembar nyawamu! Dengan jurus Kay san to liu (membuka bukit mencari air) dia bacok tubuh Suma Thian yu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sejak dikerubuti Siang Tham tempo hari, Suma thian yu sudah menaruh dendam kepadanya, dan dendam itu belum pernah lampiaskan, maka setelah bersua kembali kini, tak heran kalau matanya berubah menjadi merah membara. Jika Suma Thian yu tak membuat perhitungan dengannya, keadaan masih mendingan, sekarang justru dia yang datang membuat gara-gara, boleh dibilang iblis ini sedang mencari penyakit untuk dirinya sendiri. Suma thian yu segera mengebaskan bajunya kedepan, Bu siang sinkang dengan berubah menjadi hawa sakti tanpa wujud langsung meluncur ke muka, sekilas pandangan nampaknya enteng, padahal dibalik semuanya itu justru tersembunyi suatu kekuatan yang luar biasa. Kasihan setan muka hijau Siang Tham, begitu sempat tenaganya menjawil ujung baju lawan, tubuhnya sudah terpental ke belakang seperti layang-layang yang putus talinya. Blaaammm! setelah membentur diatas dinding ruangan, ia roboh terkapar di tanah. Dalam suatu gerakan yang ringan, ternyata Suma Thian yu berhasil merobohkan murid ke dua dari si Mayat hidup Ciu Jit hwee, kejadian mana segera menimbulkan perasaan girang dan murung baginya. Ia girang karena ilmu silat yang dimiliki nya sekarang sudah mencapai tingkat yang luar biasa, itu berarti harapannya untuk membalas dendam menjadi besar, tapi diapun murung karena musuhnya kian bertambah banyak, sudah pasti kejadian mana akan menimbulkan bencana dikemudian hari. Ketika Suma Thian yu menyaksikan disitu telah terjadi keributan, sedang hujan diluar rumahpun telah berhenti, dia merasa kalau tidak pergi sekarang, mau menunggu sampai kapan lagi? Dia segera menggerakkan tubuhnya dan bagaikan segulung asap ringan, pemuda itu sudah menyelinap keluar lewat jendela, kemudian melompat naik ke punggung keledainya dan berlalu dari situ.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Menanti Bunga tho indah Ho Hong hendak menghalanginya, Suma Thian yu sudah lenyap dibalik bukit sana. Sambil menahan geramnya, gadis itu mendepak-depakkan kakinya berulang kali keatas tanah, sumpahnya: Lelaki sialan, sok alim, hmm! Selama aku Ho Hong masih hidup, tak akan pernah kulepaskan dirimu!" Kemudian sambil berpaling kearah Setan muka hijau yang tergeletak semaput ditanah, dia menyumpahinya pula dengan geram: Hmmm, semuanya ini gara-gara si setan mampus.... Dengan geramnya dia menghampiri orang itu kemudian ditendang keras-keras untuk melampiaskan rasa dongkolnya. Setan muka hijau Siang Tham menjerit kesakitan dan sambil melompat bangun, tapi ketika tak menjumpai Suma thian yu berada disitu, buru-buru tanyanya: Kemana perginya anjing cilik itu?" Hmmm, manusia macam kau juga ingin di sebut seorang hohan, orang itu sudah kabur, mau apa kau? Mendengar pemuda itu melarikan diri, Setan muka hijau Siang Tham segera meluncur keluar dari ruangan dengan kecepatan tinggi, kemudian bersuit keras-keras. Tak selang berapa saat kemudian, dari dalam hutan bermunculan belasan orang perampok berkerudung. "Sasaran kita telah kabur, mari kita kejar!" teriak Siang Tham kemudian keras-keras. Diiringi oleh gerombolan perampok berkerudungnya serentak mereka menuruni bukit itu dan melakukan pengejaran. Tak lama sepeninggal rombongan perampok itu, Bunga Tho indah Ho Hong juga menutup rumahnya dan berlalu dari situ. Setelah meninggalkan rumah kayu itu, Suma Thian yu melarikan keledainya beberapa waktu sebelum memperlambat perjalanannya. Pe ristiwa yang baru saja dialaminya membuyarkan kegembiraan dalam hatinya, ia tak berniat lagi untuk menikmati pemandangan alam disepanjang jalan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendadak dari arah belakang berkumandang suara derap kaki kuda yang ramai. Keledainya segera mengikik panjang dan turut berlariang kencang ke depan. Tapi Suma thian yu cukup menyadari bahwa kuda-kuda yang muncul dari belakang merupakan kuda jempolan yang dapat berlari kencang, tak mungkin keledai miliknya sanggup menggunguli mereka, satu ingatan segere melintas dalam benaknya, cepat-cepat dia membelokkan arah lari keledainya kesisi jalan dan menyembunyikan diri dibelakang sebatang pohon besar! Tak selang berapa saat kemudian, di tengah muncul sebelas ekor kuda jempolan yang dilarikan secepat angin. Menati rombongan orang-orang itu sudah lewat, Sama Thian yu baru menjalankan kembali keledai menyusul dibelakang orang-orang tadi. Kota Tong sia dibangun dikaki bukit Tay piat san, meskipun agak terpencil namun kotanya sangat ramai, tempat itu merupakan tempat pertemuan untuk jago-jago silat yang bermukim disekitar sana. Ketika matahari baru tenggelam dilangit barat,t ditengah jalanan kota Tong sia muncul serombongan penunggang kuda, penunggangnya adalah manusia-manusia berpakaian ringkas warna hitam yang menggembol senjata berbentuk aneh. Sebagai pemimpinnya adalah seorang lelaki bermuka hijau, bertaring panjang dan mengenakan jubah panjang berkembang-kembang, tampaknya dia merupakan pemimpin rombongan tersebut, ketika tiba didepan rumah makan Kun eng lo, ia memberi tanda agar berhenti. Tak salah lagi, mereka adalah gerombolan perampok bertopeng yang dipimpin setan muka hijau Siang Tham. Setelah turun dari kudanya, setan muka hijau Siang Tham memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, seorang anak buahnya segera datang berbisik: "Bocah keparat itu tidak berada dalam kota".

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Dari mana kau bisa tahu?" Sejak masuk kota hingga sekarang, belum pernah kami jumpai orang yang dimaksudkan Setan muka hijau Siang tham berpikir sejenak, kemudian katanya lagi: Mungkinkah dia sudah berada jauh didepan? Tidak mungkin, dua pukuh li didepan sana merupakan bukit yang sunyi, disana tidak ada rumah penduduk Bagus, bagus sekali. Setan muka hijau kembali tertawa, asal kau dapat mengerjakan dengan baik, toaya pasti memberi hadiah untukmu, sekarang bawalah tiga orang saudara dan lakukan pemeriksaan didepan sana, bila ada kabar segera laporkan kepadaku Lelaki itu nampak ragu sejenak, tapi akhirnya dengan perasaan apa boleh buat dia mengajak tiga orang rekannya untuk berangkat melaksanakan tugas tersebut. Sementara Setan muka hijau Siang Tham sendiri dengan mengajak keenam sisa perampok memasuki loteng kun eng lo. Tak lama setelah Siang Tham naik loteng, diujung jalan sana muncul seekor keledai yang berjalan pelan-pelan menuju kearah rumah makan Kun eng lo pula. Diatas keledai duduk seorang pemuda, dia tak lain adalah Suma thian yu, jago muda kit. Ketika Suma Thian yu tiba didepan pintu ruakan Kun eng lo dan melihat begitu banyak kuda jempolan di tambat disana, hatinya merasa agak bergetar keras, tanpa terasa berhenti sejenak dan mengintai ke dalam ruangan. Ketika tidak di jumpai seraut wajahpun yang dikenal, pemuda itu baru turun dari keledainya dan mendekati rumah makan itu. Mendadak dari sisi tubuhnya terasa berhembus lewat angin tajam, kemudian terlihat ada seseorang yang menumbuk bahunya dengan sempoyongan, menanti Suma Thian yu mundur dengan terkejut, sesosok bayangan manusia sudah lenyap dibalik kegelapan sana.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma thian yu menggelengkan kepalanya sambil mengrerutu, baru akan menambat tali les keledainya ditempat parkir, tiba-tiba pemuda itu menemukan secarik kertas putih dibawah kakinya, dengan perasaan terkejut diambilnya kertas itu cepat-cepat. Meminjam sinar lentera yang memancar dari balik rumah makan, Suma thian yu membuka gulungan kertas itu dan segera dibacanya. Ternyata diatas kertas itu hanya dicantumkan beberapa huruf yang berbuntu demikian: Siang Tham ada didalam, hati-hatilah dengannya! Dibawahnya tidak nampak tanda tangan penulis surat itu, tapi gaya tulisannya sangat kuat dan bertenaga. Suma thian yu segera termenung beberapa saat lamanya, ia tak habis mengerti siapa gerangan yang yang memberi peringatan tersebut kepadanya....? Terpaksa surat itu dimasukkan kedalam sakunya, kemudian dengan membusungkan dada dia berjalan masuk ke dalam rumah makan tersebut. Seorang pelayan munculkan diri menyambut kedatanggannya, kemudian sambil terbungkuk-bungkuk katanya sambil tertawa: Tuan, maaf tuan, tempat kami sudah penuh, silahkan mencari ditempat lain saja... Suma Thian-yu memandang sekejap kesekeliling ruangan, memang benar, disitu sudah tiada tempat kosong, mendadak sorot matanya bertemu dengan Setan muka hijau Siang Tham yang sedang duduk disudut sebelah kiri, seketika itu juga niatnya bersantap menjadi hilang. Aaah tidak mengapa, biar aku mencari tempat dilain tempat saja sahutnya cepat. Mungkinkah Suma Thian yu merasa takut terhadap gembong iblis itu sehingga dia memutuskan untuk mengundurkan diri saja dari situ. Keliru bila anda beranggapan demikian, Suma Thian yu bukan seorang pengecut, dia tak akan berbuat demikian.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berbicara soal silat atau soal sastra, Suma Thian yu tidak akan memandang sebelah mata pun terhadap kawanan perampok itu, tapi sejak terjun ke dalam dunia persilatan, dia memang sudah berprinsip "Tiada urusan tak akan mencari urusan, ada urusan tak akan takut menghadapi kematian", karenanya bila keadaan tidak terlalu memaksa, dia segan mencari urusan dengan orang lain. Baru saja dia hendak membalikkan badan meninggalkan tempat itu, mendadak terdengai Siang Tham berteriak keras: Hei, pelayan, cepat tahan orang itu!" Cepat pelayan itu lari keluar dan menarik tangan Suma Thian-yu, serunya: ""Maaf tuan, hamba tak tahu kalau tuan adalah tamu terhormat dari toaya tersebut, harap kau sudi memaafkan, silahkan, silahkan duduk didalam, silahkan!" Aku tidak kenal dengan orang itu tampik sang pemuda sambil menggeleng, dia segera menurun keledainya dan berlalu. Sementara itu, si setan muka hijau Siang tham sudah muncul didepan pintu, sambil menggapai kearah Suma Thian yu, katanya: Lote, bagaimana sih kau ini, sudah kami siapkan sebuah tempat untukmu, mengapa kau malah pergi dengan begitu saja?" Kalau di dengar dari nada suaranya sudah jelas adalah nada suara seorang teman yang akrab, ia tidak habis mengerti permainan setan apakah yang sedang di persiapkan iblis itu. Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk masuk dulu melihat keadaan sebelum mengambil tindakan selanjutnya. Maka sambil tertawa tawa katanya. "Haah....haaah....haa....rupanya saudara Siang juga berada disini, bagus sekali, jika begitu siaute akan meneguk secawan arak dulu sebelum berangkat." Setelah tiba ditempat duduk, Si setan muka ujau Siang Tham baru berbisik lagi:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selesai bersantap, kita berjumpa jagi diluar kota, selama disini lebih baik bersabar dulu, pemilik rumah makan ini bukan manusia yang gampang dihadapi Suma thian yu tertawa hambar, pikirnya geli: Kalau memang begitu, hal ini akan lebih baik lagi, sauya memang kuatir jika kau mencari gara-gara disini Ketika selesai menyelesaikan kata-kata tadi, sekulum senyuman licik kembali menghiasi bibir si Setan muka hijau, dia mengambil dua cawan arak dan menyodorkan secawan untuk Suma Thian yu, kemudian katanya lagi sambil tertawa: Tak disangka kita bisa minum arak bersama pada hari ini, mari, kita keringkan cawan arak! katanya kemudian. Suma Thian yu tidak sungkan-sungkan lagi, ia menggangkat cawan araknya dan meneguknya. Baru saja cawan itu akan menempel dibibirnya, terasa ada cahaya tajam berkelebat lewat, kemudian ....praaang...cawan arak yang berada digenggamannya sudah tersambar oleh senjata rahasia tersebut. Sambil menjerit kaget Suma Thiin yu melompat mundur beberapa langkah, tapi sebagian bajunya sudah keburu basah oleh tumpahan arak. Dengan perasaan kaget pemuda itu meraba bajunya yang basah, tapi begitu menyentuh ke atas pakaiannya, kembali wajahnya berubah hebat, ternyata pakaian tersebut telah berubah menjadi hijau kebiru biruan, jelas didalam arak tersebut ada racunnya. Perlu diketahui, telapak tangan kiri Suma Thian yu pernah mengisap sari daun anti racun Jiu sian kiam lan, bukan saja dapat dipakai untuk memeriksa apakah sesuatu benda ada racun nya atau tidak, lagi pula dapat dipakai untuk menghadapi serangan racun. Pada mulanya ia tidak menaruh curiga kalau setan muka hijau Siang Tham bakal meracuninya, sebab itu meski berhadapan sebagai musuh, dia tidak berusaha untuk melakukan pencegahan.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Siapa tahu ketika Siang Tham keluar ruangan menyambut kedatangan Suma Thian yu tadi, ia telah memerintahkan anak buahnya mencampuri arak tersebut dengan racun. Suma Thian yu sama sekali tidak menyangka kalau Si setan muka hijau Siang Tham sebagai seorang jagoan lihay dalam golongan Liok lim bisa berbuat curang dengan tindakan yang begitu pengecut dan memalukan, hawa amarahnya kontan berkobar, dengan mata melotot bentaknya keras-keras: "Siang Tham, rupanya karena alasan inilah kau jadi ternama dalam dunia persilatan? Hmm, benar-benar tidak kusangka, anak murid didikan mayat hidup Ciu Jit-hwee pandainya cuma mencampuri arak orang dengan racun!. Hari ini aku Thian yu baru benar-benar mengenali manusia macam kau. Bila kau memang orang gagah, ayoh kita bereskan persoalan ini diluar kota saja!" Selesai berkata dia lantas membalikkan badan berlalu dari situ. Mendadak dari depan tubuhnya muncul seorang kakak berbaju biru, belum lagi orangnya sampai, gelak tertawanya sudah bergema diruangan. Haah...haah...haahh...engkoh cilik, bila dirumah makan kami terjadi persoalan maka peristiwa itu menjadi tanggung jawab kami. Baik, bila ada urusan, mari kita bicarakan lagi dihalaman belakang sana" Suma Thian yu agak tertegun, ia tidak habis mengerti terhadap ucapan orang yang sama sekali tak dikenalnya itu, tanpa pikir pan jang segera serunya sambil tertawa dingin: "Heeehh...heeeh...heeeh...bagus, bagus sekali, jadi kelau begitu kaulah yang meracuni arakku tadi? Tolong tanya siapa namamu?" Ucapan ini sebaliknya malah membuat kakek berbaju biru itu tertegun, dia berpaling dan menatap wajah Setan bermuka hijau Siang Ttam lekat-lekat, kemudian dengan wajah serius serunya: "Apakah kau yang meracuni saudara cilik ini?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sejak menyaksikan kemunculan kakek berbaju biru itu, sikap setan muka hijau Siang Tham telah berubah menjadi munduk-munduk, kini dia menjura dalam-dalam, lalu katanya sambil tertawa: Locianpwe, heeh...heeeh...sudah banyak tahun kita tidak berjumpa, apakah kau orang tua.... Tak usah banyak biacar, kaukah yang telah meracuni arak saudara cilik itu? kembali kakek berbaju biru itu membentak dengan wajah marah. Agaknya wajah setan muka hijau Siang Tham tahu kalau dia tidak bisa menghindar kagi, sambil tertawa licik sahutnya: Aaahh, semua ini gara-gara perbuatan beberapa orang saudaraku, ketika aku tak ada disitu, rupanya mereka telah mencampuri arak dengan obat pemabuk, mungkin mereka kelewat memandang tinggi Suma siauhiap sehingga timbul niatnya untuk mengajak saudara ini bergurau Suma thian yu melotot gusar, baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, sikakek berbaju biru itu sudah berkata lagi sambil tertawa dingin tiada hentinya. Siang tayhiap, harap saudara yang meracuni saudara ini, kau undang untuk menjumpai diriku Setan muka hijau Siang Tham segera mendehem beberapa kali. Buu...buat apa kau mesti bertindak serius? Chin locianpwe, dengan Tangkeng kami toh sudah saling mengenal, apalagi hubunganmu dengannya.... Tak usah banyak bicara, rumah makan Kun eng lo bukan suatu tempat yang bisa dikacau ketenanggannya oleh siapapun, seorang lelaki berani berbuat berani bertanggung jawab, cepat kau tunjukkan orang itu untuk diberi hukuman yang setimpal, kalau tidak, terpaksa lohu harus berbuat kurang sopan terhadap Kiang tayhiap Baru saja kakek berbaju biru itu menyelesaikan perkataannya, tampak suatu bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu seorang lelaki setengah umur berwajah bengis telah melompat bangun.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan senyuman angkuh menghiasi wajahnya, lelaki itu menuding keujung hidung sendiri, lalu menjawab: Toayalah yang telah meracuni racun itu, mau apa kau? memangnya kau bisa melahap toayamu bulat-bulat? Kau tidak bohong? bentak kakek berbaju biru itu dengan gusar, sinar matanya bersinar tajam, jangan menanggung dosa buat orang lain, yang lohu cari sekarang adalah kenyataan, aku tak ingin sampai salah membunuh orang tak salah! Omong kosong! Dengan andalkan sekerat tulangmu itu, memangnya kau mampu untuk membunuh toaya mu? Baru saja lelaki buas tersebut berbicara demikian, segera tampak olehnya bayangan manusia berkelebat lewat, menyusul kemudian seluruh badan sakit sekali sehingga tak kuasa lagi dia menjerit dengan suara menggidikan hati: Aduuuh..... Menanti Suma Thian yu dan Si setan muka hijau Siang Tham dapat melihat jelas apa yang terjadi, lelaki buas itu sudah tewas dengan mata melotot keluar dan mulut mengeluarkan busa. Menyaksikan hal ini, diam-diam Suma Thian yu menghembuskan napas dingin, pikirnya: "Entah dengan cara apa kakek itu turun tangan? Ilmu silat apa yang dia pergunakan? Mengapa lelaki buas ini bisa mampus menyerupai orang yang terserang penyakit parah? Dari atas sampai bawah tubuhnya sama sekali tidak ditemukan cedera apapun?" Sementara itu, Si setan muka hijau Siang Tham juga merasa terperanjat sekali setelah menyaksikan anak buahnya tewas dalam sekali ayunan tangan kakek berbaju biru itu. Tapi untuk membela anak buahnya, terpaksa dia menegur dengan suara dingin: Chin locianpwe, kau menghukum mati orang ini, apakah tindakanmu tak terlampau kelewat batas?? Bila peristiwa hari ini sampai terdengar Tongkeh kami, aku percaya kau tak akan mampu untuk memikulnya

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kakek berbaju biru itu swgera tertawa panjang: Orang she Siang, kau sudah tak punya kesempatan lagi untuk pulang kerumah dan menyampaikan laporan, tongkehmu juga tak akan bisa berbuat apa-apa kepada lohu... Setan muka hijau Siang Tham menjadi gusar gekaii sampai mencak mencak seperti monyet terbakar jenggotnya, dia segera menghantam meja keras-keras. Blaamm...! diiringi suara nyaring, meja itu kena terhajar sampai pecah menjadi dua bagian, cawan dan mangkuk yang berada diatasnya pun ikut hancur berantakan. Kakek berbajubiru itu Cuma tertawa dingin tiada hentinya, dia tak menjadi gusar, meskipun suara pembicaraannya juga tidak terlalu besar, namun setiap patah kata dapat kedengaran sekali, hingga menggema diseluruh ruangan dan mendengung tiada hentinya... selama ini, Suma Thian yu cuma menonton dari sisi arena, pada mulanya dia mengira kakek itu satu komplotan dengan setan muka hijau Siang Tham, tapi setelah menyaksikan lelaki buas tersebut terbunuh, kemudian menyaksikan pula sikap permusuhan kakek itu terhadap setan muka hijau, dengan cepat dia dapat menyimpulkan kalau antara si kakek dengan setan muka hijau sebetulnya merupakan musuh yang tak mungkin bisa hidup damai. Walaupun demikian, Suma Thian yu belum juga berhasil menduga siapa gerangan kakek itu, tapi yang pasti bukan manusia sembarangan dapat memiliki ilmu silat dengan tenaga dalam yang demikian sempurna. Sayang sekali, sekalipun Suma Thian yu sudah memeras otaknya habis-habisan, dia toh belum berhasil juga untuk menduga siapa gerangan kakek berbaju biru itu. sementara dia masih berpikir dengan perasaan tak mengerti, kakek berbaju biru itu telah berkata: Siang Tham, tempat ini untuk berdagang, tidak cocok untuk bertarung, mari kita bertemu dihalaman belakang saja, asal kau dapat memperlihatkan beberapa jurus kepandaian yatg bisa membangkitkan rasa kagum lohu, persoalan hari ini

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

akan kubikin selesai sampai disini saja. Jika tidak, kau harus membayar semua kerugian yang kuderita! Suara pembicaraan kakek berbaju biru itu masih tetap diutarakan dengan suara rendah, namun setiap patah katanya membawa kewibawaan yang mengerikan, seolah-olah sesuatu kekuatan yang membuat setiap orang tak sanggup melawan. Mendengar ucapan tersebut, Setan muka hijau Siang tham segera tertwa tergelak: Haah...haah...haah...orang she Chin, toaya pun tak akan bersikap demikian sungkan kepadamu apabila tidak memandang diatas wajah putrimu, kau tak usah berlagak besar dengan menggandalkan pengaruh putrimu untuk menggertak aku, untuk menghadapi kau, toaya tak usah turun tangan sendiri, ayoh berangkat, kau boleh memimpin jalan buat kami....! Sehabis mendengar perkataan setan muka hijau Siang tham yang sama sekali tidak memberi muka kepada orang itu, kakek berbaju biru itu tertawa tergelak karena gusar, suara tertawanya keras dan meyeramkan membikin orang lain bergidik, tanpa banyak berbicara lagi dia segera membalikkan badan dan berlalu sari situ. Setan muka hijauSiang tham tak ketinggalan, dia ikut pula dibelakangnya, sementara segenap anak buahnya turut beranjak kebelakang setelah rombongan itu lewat semua, pikirnya: Siapakah putri si kakek ini? mengapa dia bisa ditakuti oleh penjahat-penjahat keji macam Siang tham? kalau didengar dari nada pembicaraan setan muka hijau, tampaknya putri kakek inipun seorang pendekar perempuan, kalau tidak, mengapa Siang tham bersikap begitu menghormat terhadap kakek itu? Sambil berpikir Suma thian yu beranjak dan melangkah kehalaman belakang rumah makan Kun eng lo tersebut. Ternyata dihalaman belakang sana terdapat sebuah tanah lapang untuk berlatih silat yang luasnya mencapai dua puluh kaki.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Empat penjuru tanah lapang tersedia sederat rak senjata yang diatasnya terletak pelbagai macam senjata berbentuk aneh, tapi jenisnya teratur rapi sekali. Pada jenis yang terdepan terdapat tombak panjang, tombak ular, tombak api, tombak lengkung. Diatas rak nomor dua terletak jenis golok diantaranya terdapat jenis golok bulat sabit, golok besar, golok bergerigi. Pada rak nomor tiga tersedia jenis toya, kemudian jenis panah, jenis pedang serta berbagai macam jenis senjata lain yang aneh-aneh bentuknya. Diam-diam Suma thian yu menghela naps panjang setelah menyaksikan kesemuanya itu. "Sudah pasti orang ini merupakan seorang yang gemar berteman orang persilatan, kalau tidak, mustahil dengan kemampuan seorang, dia bisa mengumpulkan senjata begini banyak. Sebentar aku harus memperhatikan gerakan tubuhnya agar kesempatan baik ini jangan sampai kulewatkan dengan begitu saja" Dalam pada itu, suasana dalam arena sudah menjadi tegang, si Setan muka hijau dengan diiringi lima orang lelaki kekar berdiri disisi kanan arena, sedangkan kakek berbaju biru itu berdiri seorang diri dihadapannya. Waktu itu, si kakek sedang berkata sambil tertawa: Siang Tham, diatas rak senjata sudah tersedia berbagai macam senjata, terserah kau ingin memilih yang mana saja! Toaya ingin mencoba kelihayanmu dalam permainan ilmu telapak tangan... sahut sisetan muka hijau dengan wajah bengis. kakek berbaju biru itu segera tertawa nyaring: Hahahahahaha.....dapat merasakan sampai dimanakah kelihayan Hu si im hong ciang yang pernah menggetarkan dunia Liok lim, hal ini merupakan keinginan lohu dalam hidup ku ini, Siang tayhiap, silahkan saja melancarkan serangan" "Sekilas perasaan bangga sempat menghiasi wajah si setan muka hijau siang tham, dia segera berseru: Toaya tak akan sungkan-sungkan lagi

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selesai berkata, tidak tampak bagaimana dia turun tangan, dengan jurus kim pa liok jiau (macan kumbang emas mementang cakar), dia lepaskan sebuah cengkeraman maut ketubuh kakek berbaju biru itu. Mendapat ancaman semacam itu, kakek berbaju biru itu tak berani berayal, buru-buru ia menangkis dengan tangan kirinya, kemudian tubuhnya berputar setengah lingkaran, sementara tangan kanannya langsung menghantam ke perut lawan dengan jurus Sin liong ji hay atau Naga sakti masuk ke laut. Dua gerakan tersebut dipergunakan hampir bersamaan waktunya, hingga sekilas pandangan seakan-akan berasal dari satu jurus saja, sedemikian cepatnya sehingga sukar dibayangkan dengan kata-kata. Serangan bagus!" Setan muka hijau Siang Tham berseru keras. Bagaikan sebatang pohon liu yang lemas, tubuhnya bergoyang sedikit saja ke samping lalu melompat mundur dua langkah, kemudian dengan jurus To thian hoan jit atau mencuri langit berganti hari, secepat kilat dia membabat tubuh kakek berbaju biru itu. Ketika sampai di tengah jalan, dia agak berhenti sejenak, lalu lengannya yang sudah terlanjur disodok keluar menyelinap secepat kilat dengan suatu gerakan yang luar biasa, diamenyerang kakek yang berbaju biru itu. Serangan mana meski di lancarkan dengan dua kekuatan yang berbeda dan waktu yang berbeda pula, namun bisa sampai disasaran-nya pada waktu yang hampir bersamaan. Ternyata kakek yang berbaju biru itu cukup tahu keadaan, buru- buru dia membentak keras, segenap tenaganya disalur ke tangan, gerakan tubuhnya tiba-tiba berubah, dengan mengembangkan ilmu pukulan yang maha dahsyat dia melepaskan serangkaian pukulan secara gencar. Suma Thian yu yang menonton jalannya pertarungan dari sisi arena dan menyaksikan jalannya gerakan tubuh dan jurus pukulan dari kakek berbaju biru itu, dia segera menjerit kaget.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Aaah...." Tetapi sampai ditengah jalan, seruan mana segera ditarik kembali cepat-cepat, dengan hati berdebar keras, pikirnya kemudian: Kenapa dia mempergunakan ilmu pukulan Bu tong pau? Mungkinkah kakek mempunyai hubungan yang erat dengan pihak bu tong pay.....? Apa yang diduga Sama Thian yu memang benar, kakek berbaju biru ini memang merupakan jagoan lihay dari Bu tong pay, sejak empat puluh tahun berselang dia sudah termashur dalam dunia persilatan sebagai Bu tong tay hiap Chin Lenghui. Dulu, dengan mengandaikan serangkaian ilmu pedang Bu tong kiam hoat dan dua belah bilah pisau terbang, dia pernah menggetarkan sungai utara maupun selatan daratan Tionggoan, banyak manusia yang menjadi keder dan ketakutan hanya mendengar namanya saja. Chin Leng hui hanya mempunyai seorang putri, istrinya sendiri berpulang ke dalam baka setelah melahirkan putrinya. Tampak kematian istrinya itu merupakan pukulan batin yang sangat berat bagi pendekat tersebut, dalam kecewanya dia lantas mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan dan hidup mengasingkan diri dibukit Tay-hoa san, sehari-hari kerjanya hanya mendidk dan memelihara putrinyasehingga menanjak dewasa. Itulah sebabnya orang lantas menyebutnya Tay hoa kitsu (pertapa dari bukit Tay hoa san). Dihari-hari biasa, dia membawa tugas rangkap, sebagai ibu yang baik dan sebagai guru yang disiplin, dia hendak mendidik putrinya Chin lan eng menjadi seorang pendekar perempuan yang perkasa dan disegani banyak orang. Siapa tahu, pada usia empat belas tahun putri kesayangannya telah hilang lenyap tak berbekas, dalam keadaan demikian terpaksa Chin Leng hui melepaskan niatnya untuk mengasingkan diri, dia muncul kembali dalam dunia persilatan untuk mencari putri kesayangannya, setelah

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

bersusah payah mencari kian kemari, akhirnya Chin leng hui berhasil juga menemukan putrinya, tapi waktu itu purtinya sudah bukan menjadi miliknya lagi, karena putrinya telah menjadi istri Bi kun lun (Kun lun indah) Siau Wi goan. Dalam sedihnya, Chin Leng hui lantas membuka rumah makan Kun eng lo disitu, bila di kala senggang diapun melatih ilmu tenaga dalam dan tenaga luarnya secara tekun, di samping secara diam-diam menyelidiki tingkah laku puterinya Chin Lan eng. Sungguh tidak beruntung, dari mulut banyak sahabat serta jago jago persilatan yang sering kali melewati tempat itu, dia mendapat tahu kalau putrinya adalah seorang perempuan siluman yang selalu cabul, jalang, juga kejam. Kenyataan itu hampir saja membuat Chin Leng bui mati karena kegusaran, beberapa kali dia berniat membuyarkan usahanya itu dan hidup mengasingkan diri di tempat terpencil untuk menghindarkan diri dari segala kenyataan yang pahit itu. Tapi, diapun berharap bisa bertemu lagi dengan putrinya, mencaci makinya habis-habisan, memutuskan hubungan kekeluargaan, kemudian ia baru dapat mengasingkan diri dengan tenang. Namun sejak dia mendirikan rumah makan Kun eng lo hingga kini, delapan tahun sudah lewat, tapi putrinya Chin Lan eng tak pernah pulang kerumah walau hanya sekalipun, padahal dia sangat berharap bisa bersua muka dengan putrinya itu. Kadangkala dia berpesan kepada sobat lamanya, bila bersua dengan putrinya, mereka diminta untuk menasehati putrinya itu agar pulang kerumah. Perasaan orang tua itu pada anaknya memang mulia, bagaimanapun kesalahan yang dilakukan putrinya, dia pasti akan memaafkannya bila mulai pada saat itu ia bisa bertobat dan mau kembali kejalan yang benar.....

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dalam suasana yang serba salah dan serba bertentangan batin inilah, Tay hoa kit cu Chin leng hui melanjutkan hidupnya sampai delapan tahaun lebih. Hari ini, secara tiba-tiba setan muka hijau Siang tham muncul dirumah makannya, sebetulnya dia ingin menitip pesan kepada Siang tham untuk putrinya, siapa sangka sebelum niatnya terkabul, Siang tham sudah melakukan perbuatan terkutuk dan memalukan lebih dulu dalam rumah makannya. Sebagai pemilik rumah makan yang bijaksana, lagi sebagai Bu tong tay hiap yang selalu menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, tentu saja ia tak dapat berpeluk tangan belaka menbiarkan kaum durjana berbuat sewenang-wenang dalam rumah makanannya. Maka dia segera menampilkan diri untuk menghadapi anak murid gembong iblis nomor wahid dikolong langit itu, baginya tindakan tersebut boleh di bilang merupakan suatu kerugian yang besar sekali. Sebab seandainya berita ini sampai terdengar oleh Hoat si si (mayat hidup) Ciu Jit hwee, guru Siang Tham, sudah pasti rumah makan Kun eng lo tak bakal akan melewati kehidupan yang lebih tenang lagi. Tapi, orang persilatan mengutamakan kebenaran dan keadilan, sekalipun tindakan mana akan menimbulkan bencana besar, hal tersebut tak pernah akan dipikirkan olehnya. Tay hoa Kitsu Chin Leng hui merupakan adik perguruan dari Hiang ciang totiang Bu tong pay saat ini, terhitung pula sebagai keponakan murid Put Gho cu, dia merupakan seorang jagoan pedang yang terhitung paling menonjol dalam perguruannya. Itulah sebabnya Setan muka hijau Siang Tham tak berani menantangnya untuk bertarung deagan ilmu pedang, sebaliknya menantangnya beradu tanpan kosong, dengan akalnya yang licik Siang Tham bermaksud hendak meraih keuntungan dari tindakannya itu.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu tak selisih banyak, tidak heran kalau pertarungan pun bisa berlangsung dengan keadaan seimbang dan seru sekali. Sekarang Setan muka hijau Siang Tham telah mengeluarkan ilmu silat andalannya, ilmu Hu si im hiong ciang untuk menghadapi ilmu pukulan Bu tong pay yang termashur karena keganasan-nya. Berbicara tentang setan muka hijau Siang Tham, seharusnya setelah ilmu pukulan angin dingin bangkai membusuknya digunakan, maka angin pukulan yang terpancar keluar semestinya dingin menggidikkan hati, namun saat ini dia tak sampai mengerahkan tenaga dalamnya, apalagi menyalurkan bawa dinginnya ke ujung tangan. Kalau tidak, asal tersentuh oleh angin dinginnya itu, meski tubuh yang terdiri dari baja pun akan membusuk juga, apalagi tubuh yang terdiri dan darah daging? Tuy hoa Kitsu sendiri pun tidak menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya, dia tetap menggunakan tenaga sebesar berapa bagian saja untuk menghadapi musuhnya. Suma Thian yu sebagai seorang jagoan lihay, tentu saja dapat menyaksikan kejadian tersebut dengan jelas, sejak dia mengetahui kalau ilmu silat yang digunakan kakek berbaju biru adalah ilmu pukulan Bu tong pay, rasa kagum dan hormatnya terhadap kakek ini makin bertambah. Mendadak terdengar suara tertawa dari tengah arena. Haaah.....haahh....haah.... maaf Siang tayhiap, maaf Ketika Suma thian yu mengalihkan sorot matanya ketengah arena, nampak kakek berbaju biru itu dengan wajah tidak berubah dan napas tidak tersengal telah keluar arena dengan senyum dikulum. Sebaiknya paras muka setan muka hijau Siang tham berubah pucat pias, dia berdiri kaku seperti orang bodoh. Di atas pakaian yang dikenanakan kini sudah muncul dua lobang sebesar jari tangan, tak bisa disangkal itulah pertanda dari keberhasilan kakek berbaju biru itu menyarangkan

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

serangannya, coba kalau ia tak berbelas kasihan, mungkin jiwanya sudah direnggut sedari tadi. Siang tham menundukkan kepalanya memandang sekejap keatas lubang diatas pakaiannya, lalu dengan sepasang mata merah membara dan gigi saling gemerutukan, dia berseru sambil tertawa seram: Orang she Chin, terima kasih atas pengampunanmu itu, kebaikan budimu akan selalu ku ingat dalam hati, suatu ketika aku orang she Siang pasti akan datang lagi untuk menantangmu bertarung lima puluh gebrakan Tay hoa kitsu Chin Leng hui tersenyum ramah. "Siang tayhiap buat apa pertarungan kita mesti diakhiri dengan jatuhnya korban? Dilihat dari sikapmu yang tidak mengeluarkan ilmu angin dingin bangkai busuk, hal tersebut menunjukkan kalau hatimu tidak begitu jahat, lohu tahu bila pertarungan ini dilangsungkan lebih jauh, lohu sudah pasti menderita kalah Setan muka hijau Siang Tham kembali tertawa seram. "Heeeh...heeeh...heeeh...toaya memang mempunyai watak yang selalu sangat aneh, bila ada yang baik pasti akan kukejar terus hingga dapat, misalkan saja aku sudah tahu kalau ilmu Tay cing to liong ciang milik Chin tayhiap telah menggetarkan seluruh kolong langit, tapi sebelum aku merasakannya, terasa berat hatiku untuk berlalu dengan begitu saja. Oleh sebab itu aku berharap Chin tayhiap sudi memandang diatas wajah guruku untuk memenuhi keinginan hati ku ini Dari ucapan lawan yang sama sekali tak mau menyudahi persoalan tersebut sampai di situ saja, Tay hoa Kitsu Chin Leng hui tahu kalau musuhnya berniat untuk mencari garagara lebih jauh, dia segera tertawa terbahak bahak. "Haaah....hhaaah.... jikalau kau memang menghendaki demikian, tentu saja aku tidak bisa menampik keinginanmu itu, terpaksa lohu akan mampertatuhkan selembar jiwaku untuk memenuhi keinginan Siang tayhiap

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Selapis hawa licik dan keji segera menghiasi wajah setan muka hijau Siang tham, serunya sambil tertawa dingin: Aku orang she Siang mengucapkan banyak terima kasih kepadamu Dia lantas menitahkan kepada anak buahnya agar mengundurkan diri dari situ. Kalian segera mundur keluar arena, sebelum mendapat perintahku, siapapun dilarang memasuki arena ini". Sementrara itu Tay hoa Kitsu Chin Leng hui telah melangkah masuk pula kedalam arena, sewaktu dilihatnya Suma Thian yu masih berdiri didalam arena, sambil tersenyum ujarnya: "Sobat cilik, harap kaupun mengundurkan diri tepi arena, ilmu pukulan bawa dingin mayat membusuk merupakan pukulan yang amat beracun. Dimana angin dingin menyambar, tiada tumbuhan yang bisa hidup dan tiada makhluk yang dapat bernyawa, aku harap sobat cilik bisa bertindak lebih berhati-hati lagi Mendengar pertanyaan itu, dengan penuh rasa terima kasih Suma Thian yu memandang sekejap kearah Tay hoa Kitsu, kemudian sahut nya dengan amat hormat: "Aku akan menurut Tay hoa Kitsu Chin Leng hui tersenyum dan manggutmanggut, dia lantas berjalan kedalam arena dan berhenti enam kaki didepan setan muka hijau Siang Tham, setelah menghimpun tenaganya, sambil tersenyum dia berkata lembut: "Silahkan!" Siang Tham melirik sekejap kearah Chin Leng hui dengan senyum angkuh menghiasi bibirnya, mendadak ia menerjang kemuka sambil membentak nyaring: "Rasakan pukulanku ini! Tangannya segera diayunkan kemuka, desingan angin tajam segera menderu-deru di angkasa, daerah seluas dua kaki disekitar arena dengan cepat diliputi hawa dingin yang

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

menggidikkan, membuat orang merasa sesak napas dan tak tahan. Tay hoa Kitsu merupakan pendekar besar yang amat menonjol dalam perguruan Bu tong pay, Bu siang sinkang miliknya juga telah mencapai kesempurnaan, begitu dirasakan datangnya serangan hawa dingin musuh, cepat dia mendorong telapak tangan-nya kemuka seperti jurus Soat hong wu sou (salju melapis kabut menggulung), menggunakan tenaga sebesar enam bagian dia sambar datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras. Blaaamm....!" suatu ledakan keras yang memekakkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan. Ketika dua gulungan tenaga yang berlawanan jenis itu saling membentur diangkasa, hawa panas dan hawa dingin itu segera menimbulkan putaran angin puyuh yang memancar keempat penjuru. Para penonton yang berada ditepi arena dan kebetulan tersambar sisa angin itu segera merasakan tubuhnya menjadi sakit dan pakaiannya berkibar kencang. Akan tetapi, dua orang yang berada diarena itu masih tetap berdiri tegak sekokoh batu karang, cedera sedikitpun tidak. Setan muka hijau yang menyaksikan kejadian tersebut, segera mendengus dingin, mendadak tubuhnya bergerak lagi, dengan mengembangkan ilmu pukulan hawa dingin mayat hidup, dia lepaskan serangkaian serangan berantai untuk meneter Chin leng hui habis-habisan. Angin tajam menderu-deru mengikuti setiap gerakan dan setiap jurus yang dipancarkan hawa dingin seperti musim salju yang mencekam menderu-deru diudara dengan membawa desingan angin yang memekikkan telinga, sungguh mengerikan sekali keadaannya. Tay hoa Kitsu Chin Leng hui tak berani berayal, buru-buru ia mengembangkan ilmu pukulan Tay cing to liong pat si ciptaan Put Gho cu untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu yang menyaksikan Chin leng hui mulai memper-gunakan ilmu pukulan cing to liong ciang untuk menghadapi musuh nya, dia segera menaruh perhatian lebih besar. Tampak Leng hui dengan gerakan menotok, menghantam, mencengkeram, membacok mengembangkan seluruh jurusjurus ampuhnya, dia bergerak secepat kelinci, bertahan sekokoh batu karang, semua inti sari dari Tay Cing to liong pat si dipergunakan secara beruntun. Sambil menonton jalannya pertempuran, Suma Thian yu mulai mencocokan dengan berhati-hati semua jurus yang digunakan kakek itu dengan apa yang telah dipelajarinya. Sebagaimana diketahui, semenjak ia mempelajari ilmu sakti tersebut, sampai kini belum pernah dia saksikan orang lain menggunakan ilmu pukulan semacam itu untuk menyerang musuh yang tangguh. Sekarang Chin Leng hui telah mengeluarkan kepandaian tersebut, hal ini justru memberi kesempatan kepada Suma Thian yu untuk mencoba kemampuan sendiri. Sekalipun Tay cing to liong pat si cuma terdiri dari delapan gerakan, namun kedelapan gerakan tersebut justru digunakan secara beruntun tiada hentinya, sehingga sejak dimulai sampai kini seakan-akan dia tak pernah mempergunakan jurus yang sama. Begitulah, mereka berdua saling menyerang dengan amat gencarnta, tiga puluh gebrakan kemudian, keadaan masih tetap berimbang dan kekuatan mereka tak ada yang lebih unggul daripada musuhnya. Suma Thian yn yang menyaksikan pertarungan itu ikut pula merasakan pandangan matanya jadi kabur, tanpa terasa dia ikut menggerak-gerakan tangannya pula dari sisi arena. Mendadak terdengar suara pekikan nyaring dari tengah arena pertarangan. Dengan terkejut Suma Thian yu menghentikan gerakan tangannya dan berpaling, ternyata Setan muka hijau Siang Tham sudah dibikin berkobar amarahnya, kini pukulan hawa

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

dingin bangkai busuknya telah dikerahkan hingga mencapai delapan bagian. Dengan demikian, serangan demi serangan yang dilancarkan Tay hoa kitsu Chin leng hui seolah-olah tersumbat, bahkan posisinya kian lama kian bertambah lemah. Suma Thian yu amat terkesiap setelah menyaksikan kejadian itu, dengan perasaan kuatir dia maju beberapa langkah. Ternyata Chin Leng hui sudah kena terkurung dibawah serangan musuh yang menderu-deru seperti angin puyuh, posisinya kini diantara mati dan hidup. Bahkan sampai akhirnya, dia cuma bisa menangkis belaka tanpa sanggup melancarkan serangan balasan. Begitu berhasil dengan serangan balasannya, Setan muka hijau Siang Tham segera tertawa seram, mukanya menyeringai amat seram, sikapnya amat sombong, setelah melepaskan serangkaian serangan lagi, dia mulai menyindir dengan sinis: Orang she Chin, sekarang kau dapat merasakan kelihayan toayamu bukan....? Hmm, terus terang kuberitahukan kepadamu, selewat nya tiga gebrakan lagi, jika kau belum mau menyerah maka toaya akan suruh kau mampus diatas genangan darah!" Seusai berkata, dengan jurus Po hong cuan tin (angin puyuh menggulung pohon) dia lepaskan sebuah pukulan ke muka, kemudian serunya sambil tertawa seram: Jilid : 15 "Jurus pertama!" Walaupun Tay hoa Kitsu Chin Leng-hui memiliki ilmu silat yang amat lihay, namun sulit juga baginya untuk menghadapi serangan angin dingin yang menusuk tulang itu, apalagi sejak pertarungan berlangsung, ia sudah menderita kerugian yang amat besar dalam tenaga dalamnya.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Tak heran kalau ia menjadi terperanjat setelah merasakan datangnya angin dingin yang dilepaskan musuh, cepat-cepat dia menghimpun segenap tenaga dalamnya siap sedia melakukan serangan nekad untuk beradu jiwa. Siapa tahu, baru saja dia menggerakan bahunya, Suma Thian yu telah membentak keras: "Kan kun to coan (memutar balik jagad)! Mendengor itu Tay hoa kitsu tertegun, tak sempat berpikir panjang lagi dia membalikkan badan sambil memutar kepalan, ditengah jaian ia merubah gerakannya menjadi jurus Kan kun to coan Kalau dibicarakan memang aneh sekali, begitu serangan tersebut dilancarkan, ternyata angin pukulan musuh yang menyergap tiba menyambar dari samping, sama sekali tidak menyebabkan cedera. Sementara Chin Leng hui masih terkejut bercampur keheranan, si Setan muka hijau Siang Tham sudah membentak lagi: "Jurus kedua! Baru saja seruan itu bergema, ditengah udara telah bergema lagi suara deruan tajam yang memekikkan telinga. Chin Leng-hui terkesiap, sewaktu mendongakkan kepalanya, segulung angin puyuh seperti sebuah jaring yang terpentang lebar langsung mengurung ke atas batok kepalanya. Waktu itu, Chin Leng hui sudah kehabisan tenaga dan lelah sekali, meski menyaksikan datangnya ancaman yang hebat, dia tak mampu berbuat apa-apa lagi, tanpa terasa sambil menarik napas dingin dia memejamkan mata siap menerima kematian. Untung disaat yang paling kritis, mendadak Suma Thian yu berteriak lagi: "Sian hong sau soat (angin puyuh menyapu salju), Kui seng ti to (bintang kejora menendang bintang)!"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kasihan Chin Leng hui, dia berubah seperti seorang boneka saja, tanpa berpikir panjang dia segera turun tangan melakukan apa yang didengarnya itu. Mula-mula dia menggunakan jurus Sian hong sau soat untuk menampik lenyap hawa dingin musuh yang menyambar datang dari atas, menyusul kemudian tangan dan kakinya digunakan bersama menggunakan jurus Kai seng ti to untuk menyerang Si Setan muka hijau. Untuk diceritakan kembali memang sangat panjang, tapi keadaan pada waktu itu berlangsung dalam sekejap mata, seakan-akan dua ge rakan digunakan bersama-sama. Apa lagi Tay hoa kitsu sudah puluhan tahun lamanya mendalami ilmu Tay cing to liong ciang, dan dengan begitu diberi petunjuk, dia segera mempergunakannya dengan lancar. Msmpipun si setan muka hijau Siang Thau-'Bk menyangka kalau beberapa patah kata oari uma Thiin yu itu dapat merubah Chin Lerg hui yarj berada diposisi kalah menjadi menang. Seteleh menyadari kalau ujung kaki musuh telah berada didepan tenggorokannya, dia baru terperanjat dan buru-buru membalikkan tubuhnya untuk menghindarkan diri. Pada saat yang bersamaan pula, Suma Thian yu melompat masuk pula ketengah arena, tidak terlalu kemuka tidak pula terlalu kebelakang, persis berada diantara Chin Leng hui dan Siang Tham berdua. Sambil bergendong tangan dan tertawa, pemuda itu lantas berseru: "Kalian berdua memang seimbang dan sebanding, sungguh hebat pertarungan kalian, benar-benar hebat sekali. Sementara itu Setan muka hijau Siang Tham agak gelisah juga melihat Suma Thian yu tampilkan diri, tapi diluarnya dia tetap mempertahankan wajahnya yang menyeringai seram, serunya: "Bocah keparat, kau berani mengacau pertarungan kami, apakah tanggung jawab ini hendak kau pikul seorang diri?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Suma Thian yu segera tertawa terbahakbahak: "Haaaaah....haaaah....haaahh pertarungan ini bisa berkobar gara-gara urusan kita berdua, sudah sepantasnya kalau persoalan inipun diselesaikan juga oleh kita berdua, bagaimanapun jua orang itu adalah tuan rumah yang memperingatkan kita, tentu saja tak bisa dikatakan dendam atau sakit hati. Wahai orang she Siang, jika kau ingin memperlihatkan kekuatanmu, perlihatkan saja kepada sauya, tak bakal sauyamu akan berkerut kening atau bersikap sungkan kepadamu! Dengan ucapan mana, sudah jelas anak tersebut sedang menantang untuk bertarung, Setan muka hijau yang berpengalaman tentu saja dapat mendengarnya. Tapi dia memang seorang manusia yang licik dan banyak tipu muslihatnya, sebagai orang yang cerdas, ia tak ingin menerima tantangan dari seseorang yang berkepandaian silat jauh lebih tinggi darinya. Kontan saja dia tertawa dingin, serunya: "Saat sekarang bukan saat yang tepat untuk bertarung, apalagi toaya masih ada urusan lain, kita bersua lagi setengah bulan kemudian di telaga Tong ting oh!" Selesi berkata, dia lantas memberi tanda kepada anak buahnya dan buru-buru melarikan diri. Suma Thian yu sama sekali tidak menghalangi kepergian mereka, dia merasa sepantasnya untuk mengalah sedikit kepada pihak yang lebih lemah, apalagi musuh sudah berjanji akan bertemu lagi ditelaga Tong ting oh setengah bulan lagi, apakah dia bisa kabur ke langit? Tapi setelah kepergian Setan muka hijau, dengan cepat dia teringat pula akan satu hal, diam-diam pikirnya kemudian dengan wajah tertegun. "Mengapa Siang Tam menjanjikan pertemuan ditelaga Tong ting oh setengah bulan kemudian? Padahal, waktu itu adalah saat janjiku dengan dua bersaudara Thia, masa si setan muka hijau sudah tahu kalau aku hendak pergi kemana sekarang?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Sementara dia masih melamun, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara dari Chin Leng Hui. "Sauhiap, banyak terima kasih untuk petunjukanmu, terimalah salam hormat dari lohu Ucapan mana telah memotong lamunan Suma thian yu, cepat dia berpaling kebelakang, kebetulan waktu itu Chin Leng hui sedang menjura dalam-dalam. Sambil menjerit kaget Suma Thian yu menyingkir ke samping, kemudian sambil menggoyangkan tangannya berulang kali dia berseru: "Suheng, jangan bersikap demikian, bisa membuat siaute merasa malu..." Suheng!" ketika dua patah kata itu meluncur masuk ke dalam telinga Chin Leng hui, dia merasa terperanjat sekali, dengan wajah terperanjat dan keheranan ditatapnya pemuda itu lekat-lekat, kemudian tanyanya: "Mungkinkah Siauhiap telah salah melihat orang?" Sauma Thian yu tersenyum. "Tak heran kalau suheng tak tahu, tolong tanya apa sebutan suheng terhadap Put Gho cu? Dia adalah susiokku, apa maksud siauhiap menanyakan persoalan ini...? sahut Chin Leng hui. Dia orang tua adalah guruku" "Aaah, rupanya begitu." Chin Leng hui segera berseru tertahan, tidak heran kalau siauhiap bisa menyebutkan jurusjurus ampuh dari Tay cing to liong ciang." Sesudah berhenti sejenak, dengan wajah berubah dia mengawasi Suma Thian yu beberapa kejap, lalu bertanya denpan nada tercangang: "Maaf bila lohu akan mengajukan suatu pertanyaan yang tak layak kepadamu, selama ini suisiok tak pernah menerima murid, bahkan semenjak empat puluh tahun berselang sudah lenyap dari dunia persilatan bagaimana caranya sehingga siauhiap bisa berkenalan dengannya? Suma Thian yu tertawa.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Pertanyaan suheng memang benar, ia orang tua masih hidup di dunia ini." Secara ringkas dia lantas menceritakan kisahnya sewaktu bertemu dengan Put Gho cu dan bagaimana diangkat menjadi murid. Selesai mendengar penuturan tersebut, Tay hoa Kitsu tertawa panjang, kemudian sambii menggenggam tangan Suma Thian yu kuat kuat dan berseru hangat: Hiante, maafkan suheng yang berpandang cupat, harap kau jangan mentertawakan kebodohanku ini, tolong tanya siapa nama hiante?" Suma Thian yu segera menyebutkan nama nya, sedangkan Chin Leng hui juga memperkenalkan diri, mereka berdua segera merasakan kecocokan satu dengan lainnya, kendati pun usianya terpaut jauh namun mereka merasa soal umur bukan suatu halangan. Tay hoa Kitsu mempersilahkan Suma Thian yu mengunjungi kamar bacanya, kemudian memerintahkan orang menghidangkan sayur. Berdua berbincang dengan amat cocok, benar-benar suatu pertemuan yang sangat menggembirakan kedua belah pihak. Sementara mereka berdua sedang terbincang-bincang, mendadak dari luar jendela berkumandang yang amat lirih, pertama-tama Suma Thian yu yang merasakan hal tersebut paling dulu, dia segera menyambar sebatang sumpit dan langsung diayunkan ke atas. "Bajingan laknat, turun kau!" bentaknya keras-keras. Sumpit itu meluncur ke udara dengan kecepatan tinggi dan langsung menembusi jendela, Suma Thian yu tidak tinggal diam, dia turut melejit pula dengan kecepatan tinesi, bahkan sama cepatnya dengan daya luncur sumpit itu. Tay hoa Kitsu merasa sedikit agak lambat daripada Suma Thian yu, namun diapun tidak tinggal diam, bagaikan segulung hembusan angin tubuhnya meluncur keluar jendela. Tapi setibanya diluar situ, Suma Thian yu segera berseru dengan keheranan:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aneh, sudah jelas kudengar orang berjalan malam sedang lewat diatas atap rumah, mengapa tak nampak sesosok bayangan manusiapun? jangan-jangan aku telah salah dengar? Chin Leng hui hanya membungkam dalam seribu bahasa, padahal dia sama sekali tidak mendengar apa-apa, tentu saja sulit baginya untuk turut mengemukakan pendapat. "Hiante! ujarnya kemudian, "mungkinkah Siang tham si keparat itu masih belum puas dan dia balik lagi kemari? Dengan cepat Suma Thian yu menggeleng. Ilmu meringankan tubuh yang di miliki oirang itu tidak sedemikian hebatnya, sudah pasti gembong iblis yang lebih lihay darinya yang telah datang berkunjung" Ketika Tay hoa Kitsu Chin Leng hui mendengar ucapan tersebut, diam-diam ia menarik nafas dingin, kalau dilihat dari mimik wajah Suma Thian yu, jelas dia bukan berbohong tapi jejak musuh tak nampak, atas dasar apa ia berkata demikian? Suma Thian yu mencoba untuk memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, namun tak nampak hasilnya, sambil menggeleng katanya kemudian: Mungkin ada orang yang kebetulan melewati tempat ini, lebih baik kita kembali kekamar saja!" Mereka berdua melayang masuk lagi kedalam kamar baca lewat jendela, meskipun Chin Leng hui merasakan hati tersebut penuh tanda tanya, tapi berhubung Suma Thian yu adalah seorang yang berjiwa lurus, ilmu silatnya tinggi dan tidak mirip manusia yang suka mengunggulkan diri maka peristiwa mana tak sampai menimbulkan kecurigaan Chin Leng hui. Coba kalau berganti orang lain, dia pasti akan mengajukan setumpuk pertanyaan. Sekembalinya dalam ruangan dan baru saja akan duduk, tiba-tiba Suma Thian yu menjerit kaget lagi, sembari menuding ke tiang dalam ruangan, serunya tertahan: "Suheng, coba lihat, benda apakah itu?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mengikui arah yang ditunjuk, Chin Leng hui berpaling, tapi diapun segera menjerit kaget: "Aaaah..." ooOoo 00o00 TERNYATA diatas tiang ruangan tertancap sebatang peluru perak, pada ujung senjata peluru itu terikat pita berwarna merah dan biru, sedang diujungnya menancap selembar kertas. Sewaktu Tay hoa kitsu Chin Leng hui menjumpai senjata peluru perak itu, jantungnya terasa berdebar keras, paras mukanya berubah untuk sesaat dia hanya memandang benda itu dengan termangu, seakan akan lupa untuk mengambilnya. Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian itu turut merasa tertegun, buru-buru dia melompat ke depan dan mencabutnya keluar, kemudian setelah melepaskan kertas itu dari ujung peluru perak dia serahkan kertas tadi ke tangan Chin Leng hui. Tay hoa Kitsu hanya menyambut surat itu tanpa mencoba untuk memeriksanya, air mata justru meleleh membasahi wajahnya, setelah menghembuskan napas panjang, dia baru membuka kertas tersebut untuk diperiksa isinya. Tingkah laku Chin Leng hui yang sangat aneh itu mengandung rasa tercengang bagi Suma Thian yu, tiada hentinya dia awasi perutahan mimik wajahnya itu. Kasihan Tay hoa Kitsu, sambil memandang kedepan dengan termangu, air matanya jatuh bercucuran membasahi wajahnya, sementara tangannya yang menggenggam kertas itupun gemetar tiada hentinya. Akhirnya dia membuka kertas itu dan membaca isinya, mendadak terdengar kakek itu mencaci maki dengan gusar: Perempuan rendah, perempuan terkutuk! Dengan gemas dia meremas kertas itu kemudian dibuang ke atas tanah, persis didepan kaki Suma Thian yu, oleh pemuda itu dipungutnya surat mana ialu dibaca isinya: "Ayah,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mulai detik ini, hubungan kita sebagai anak dan ayah putus sampai disini, segala perbuatanku adalah tanggung jawabku sendiri, sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan mu, bila kau berani mencampuri berarti kau ingin mengundang bencana kematian bagimu sendiri. Siang Tham pergi dengan membawa dendam, ia pasti akan mengundang gurunya untuk menuntut balas, dendam sudah berada di ambang pintu, lebih baik pindah saja untuk menyelamatkan diri. Tertanda: Lan-eng" Selagi membaca surat itu, dengan marah Suma Thian yu merobek surat itu sampai hancur kemudian makinya dengan gusar: "Perempuan rendah yang lebih memalukan daripada binatang, selama aku suma Thian yu masih hidup didunia ini, tak akan kuampuni jiwamu dengan begitu saja!" Baru selesai anak muda itu berkata, tiba-tiba dari atap rumah berkumandang suara tertawa licik yang amat sinis, suara tersebut kian lama kian bertambah jauh meninggalkan tempat itu. Ketika Suma Thian yu memburu keluar, suasana telah menjadi hening dan di sekirar sana tak tampak sesosok manusia pun. Dengan gemas dia lantas mendepak-depakkan kakinya diatas tanah sambil menyumpah: Perempuan rendah, bila aku tak dapat memenggal batok kepalamu, bagaimana mungkim aku bisa menghiburarwah paman Wan dialam baka! Mendadak terasa desingan angin berkumandang dari belakang, ternyata Tay hoa Kitsu sudah melompat naik keatas atap rumah, dibawah cahaya rembulan tamoak wajahnya yang penuh keriput itu sudah dinodai oleh air mata yang belum mengering. Suma Thian yu mengerling sekejap ke arahnya, kemudian pelan-pean berkata: Dia telah pergi, pergi meninggalkan tempat ini!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Yaa, selamanya tak akan kembali lagi, aaaai....." Tay hoa Kisu menghela napas sedih. Setelah menghela napas panjang, dari matanya yang memerah, air mata kembali jatuh berlinang. Selang berapa saat kemudian, dia baru berguman lagi: Sia sia saja jerih payah lohu selama ini, aaai! Dengan susah payah kudidik, kupelihara dirinya, tapi dia tak tahu perasaan, tak ingat budi buat apa aku mesti tinggal disini terus! Buat apa aku mesti tetap hidup didunia yang penuh kenangan ini.... Suma Thian yu hanya membungkam dalam seribu bahasa, untuk sesaat dia tak dapat menemukan perkataan yang cocok untuk menghi bur hatinya, perasaan semacam itu memang amat menyiksa batin, tapi adakah obat yang mujarab bisa menyembuhkan luka hati Chin Leng- hui yang telah tercabikcabik haacur itu? Dengan menahan siksaan dan penderitaan hidup, dia melanjutkan perjuangan hidupnya didunia ini, karena dia masih mempunyai ha rapan, harapan itulah yang merupakan tenaga dorong baginya untuk melanjutkan hidup. Tapi, ketika harapannya telah pudar dan hancur tak berwujud, apa artinya lagi baginya untuk melanjutkan hidup? Tay hoa Kitsu Chin Leng hui hidup dalam harapan, ketika ia meninggalkan bukit Tay hoa san untuk terjun kembali kedalam dunia persilatan, apa yang menjadi tumpuan harapannya? Tidak lain dia berharap bisa jumpa muka dengan purtinya. Kini harapannya telah pudar, pukulan batin tersebut ibarat sebuah kapak besar yang membacok hatinya yang membuat dia akhirnya putus asa...." Mari kita turun!" lama kemudian, Chin Leng hui baru berbisik pelan. Pelan-pelan Suma Thian yu melompat turun kebawah, disusul oleh Chin Leng hui, kemudian mereka bersama-sama masuk kekamar baca. Dengan tubuh lemas Tay hoa Kitsu berkata:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Aku lelah sekali, malam ini kau boleh beristirahat saja di tempat ini, maaf kalau suheng tak bisa menemani kau lebih jauh." Seusai berkata dia lantas masuk ke ruang tidurnya. Sepeninggal kakek itu, Suma Thian yu merasakan pikirannya sangat sukar untuk tidur, pikirannya seakan-akan terkalutkan terus oleh masalah Chin Lan eng. Ditinjau dari isi surat serta pembicaraan antara Setan muka hijau dengan Tay h0a kitsu, dia telah memahami apa hubungan antara Chin Leng bui dengan Chin Leng eng, tibatiba dia merasakan timbulnya suatu perasaan gusar yang sangat aneh didalam hatinya. Selang sesaat kemudian, dia mengambil pena dan meninggalkan beberapa pesan dimeja, kemudian segera berangkat meninggaikan tempat itu menuju kebalik kegelapan sana. Dia tahu Chin Lin eng tak bakal pergi kelewat jauh, maka sepanjang jalan dia mengejar secara ketat, sama sekali tidak berhenti sejenakpun. Angin malam berhembus sepoi membangkitkan kesegaran ditubuh orang, Suma Thian yu merasakan pikirannya menjadi jernih. Sementara perjalanan masih dilangsungkan, mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumndang memecahkan keheningan: "Berhenti! Dengan terkesiap Suma Thian yu menghentikan langkahnya, dia mengira Siau bu yong Chin Lan eng yang telah munculkan diri, buru-buru badan-nya berkelit empat langkah ke samping lalu mencabut pedangnya, sambil bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Dari bilik kegelapan tiba-tiba muncu; sesosok bayangan manusia, dia adalah seorang perempuan. Begitu mengetahui siapa yang muncul, Suma Thian yu segera menegur dengan dingin: Ooh, rupanya kau, ada urusan apa kau mencariku?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Rupanya yang munculkan diri adalah si bunga tho indah Ho Hong. Terdengar dia tertawa, kemudian serunya: "Oooh... masa begitu dingin sikapmu kepadaku, baru berjumpa sudah marah-marah, kesalahan apa sih yang telah kulakukan terhadap dirimu....? Sambil berkata, dengaa lemah gemulai dia berjalan menghampiri Suma Thian yu, kemudian katanya sambil tertawa genit. "Kau ini memang galak sekali, bisanya cuma membentak orang, mengapa tidak segera kau simpan kembali pedangmu itu, siapa sih yang akan bertarung melawanmu?" Merah padam selembar wajah Suma Thian yu oleh perkataan tersebut, dengan amat rikuh dia kembali menyimpan pedangnya, lalu berktata pelan: Ditengah malam buta begini kau telah menghalangi jalan pergi sauya mu, sebenanarnya apa maksud dan tujuanmu?" Hmm, orang baik disangka jahat, kau memang manusia tak punya perasaan, lelahi bodoh lelaki tak punya otak, aku toh bersikap baik sekali kepadamu, masa kau kasar kepadaku? Hmmm!" Kita tak pernah mempunyai hubungan apa-apa, dalam ha1 apakah Thian yu pernah berhutang budi kepadamu?" Si bunga to indah Ho Hong segera melotot besar, serunya dengan amat gusar: Dimuka loteng Kun eng lo meninggalkan surat peringatan, dengan sumpit menghancurkan awan arak beracun, sekarang memberi petunjuk lagi padamu, apakah semuanya ini kurang? Tergerak hati Suma Thian yu setelah mendengar ucapan tersebut, tanpa terasa dia memandang wajah Ho Hong beberapa kejap lagi, akan tetapi teringat kalau setiap orang yang berbuat tentu mempunyai suatu tujuan, maka dengan perasaan was was dia berkata: "Apa sebenarnya maksud berbuat demikian? "Apakah setiap orang yang menolong mesti mempunyai sesuatu maksud tertentu?

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Soal itu mah harus ditentukan menurut jenis manusianya sahut Suma Thian yu, apalagl kau kini munculkan diri untuk memberi peringatan lagi kepadaku, coba katakan apa sebab nya?" "Orang lain hendak memenggal batok kepalamu mengerti? Terus terang kuberitahukan kepadamu, Siau hu yong Chin Lang eng telah mempersiapkan jaring langit untuk membekukmu dalam keadaan hidup dan mengirimmu kedalam kuil berminyak, dengan maksud baik ku peringatkan dirimu, siapa tahu sebagai penggantinya aku malah dituduh yang bukan-bukan, apakah hatimu memang terbuat dari baja?" Suma Thian yu sama sekali tidak terpengaruh hatinya oleh ucapan mana, malah sebaliknya dia bertanya: "Itu aneh namanya, bukan membantu orang sendiri mengapa kau malah membantu orang lain? Aku benar-benar tidak memahami maksud hatimu itu Orang bodoh!" Si bunga tho indah Ho Hong mendamprat, "berbicara dengan manusia patung macam kau, benar-benar aku merasa sial delapan turunan, kau mau pergi bergegaslah pergi, akan kulihat kepalamu bergelinding diatas panggung pemenggalan kepala" Melihat gadis itu marah, Suma Thian yu menjadi tak tega, buru-buru ia menjura seraya berkata: "Terima kasih banyak atas peringatan itu, biar kesemuanya itu kuterima dalam hati, lain kali budi kebaikanmu itu pasti akan kubalas Selesai berkata dia lantas membalikkan badan, dan terlalu dari tempat itu. Melihat pemuda itu berlalu dengan begitu saja, saking gemasnya si bunga tho indah sampai menggertak giginya keras-keras, diam diam ia menyumpah: Setan alas, siapa yang kesudian dengan balas budimu? Manusia patung, goblok, tak punya perasaan" Kemudian sambil memandang bayangan punggung Suma Thian yu yang pergi jauh dia bergumam lagi:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Betul-betul orang itu tolol, aku tak percaya kalau kau tidak mengerti soal cinta, hmm! Perempuan memang makhluk yang aneh, terhadap orang yang dicintainya mereka selalu bersikap mengalah, sekalipun pihak lawan melakukan tindakan yang paling berdosa, mereka seakan-akan bisa memakluminya. Sementara itu Suma Thian yu, telah meninggalkan si bunga tho indah Ho Hong dengan perasaan jauh lebih ringan, dengan mempercepat langkanya dia bergerak menyelusuri sebuah jalan kecil ditengah kedelapan. Baru melewati sebuah tikungan, mendadak didepan jalan sana ditemukan sebuah obor yang ditancapkan ditengah jalan. Melihat hal tersebut Suma Thian yu menjadi tertegun, lalu sambil menperlambat langkahnya dia berpikir: "Mungkinkah apa yang dikatakan memang benar?" Sementara dia masih berpikir, tiba-tiba berkumandang suara keleningan ditengah udara yang bergema memecahkan keheningan, menyusul kemudian sekilas cahaya perak berkelebat lewat secepat angin dan meluncur kedepan kaki Surra Thian yu. Serta merta Suma Thian yu melompat mundur dua langkah, ketika ia melirik sekejap ketempatnya berdiri tadi, ternyata disitu menan cap sebatang anak panah bersuara. Setelah menyaksikan panah bersuara itu, Suma Thian yu malah merasakan hatinya menjadi tenang kembali, dia segera berpikir: "Apa yang di ucapkan si bunga tho indah ternyata sudah terwujud menjadi kenyataan. tampaknya perempuan rendah she Chin itu sedang menunggu disekitar tempat ini Tak lama setelah panah bersuara itu muncul tanpa menimbulkan sedikit suara pun dari sekeliling arena bermunculan kembali sepuluh orang perampok bertopeng yang segera mengurung pemuda itu rapat-rapat. Begitu tahu siapa yang muncul, Suma Thian yu segera tertawa panjang, segera katanya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Kalian ingin merampok aku, ataukah khusus untuk mencari gara-jaia dengan Suma Thian yu? Lelaki-lelaki bertopeng itu seakan-akan bisu semua, mereka hanya melototkan matanya yang buas tanpa mengucap seaarah kata. Suma Thian yu bukan orang bodoh, dia segera menyadari akan sesuatu, cepat tanyanya: "Mana pemimpin kalian? Mengapa tak kalian suruh dia muncul guna menjawab pertanyaanku?" Baru selesai dia berkata, dari belakang tubuhnya telah berkumandang suara tertawa yang amat menygeramkan: "Heeeh...heee...bocah keparat, toaya tahu kalau kau rudin tidak punya uang sepeser pun, oleh karena itu aku khusus datang untuk memenggal batok kepalamu ini!" Suma Thian yu segera tertawa panjang, tanpa berpaling dia mengejek sinis: "Berapa sih harga batok kepalaku ini?" Baru selesai dia betkata, desingan angin tajam telah menyambar keatas kepalanya. Suma Thian yu segera merendahkan sebagian tubuhnya, sewaktu berpaling kembali di hadapannya telah muncul seorang kakek. Dengan seksama Suma Thian yu mengawasi orang itu, tampak orang tadi berpakaian ringkas warna hitam, tangannya membawa sebilah golok besar, usianya antara lima puluh tahun, berwajah kukoy, sekilas pandangan dapat diduga kalau dia adalah seorang sampah masyarakat. Tiba-tiba terdengar kakek itu berkata dengan suara dingin: "Sudah lama kudengar orang bilang Kit hong kiam hoat merupakan ilmu pedang yang sudah termashur dalam dunia persilatan, kebetulan lohu pun sudah lama ingin menjaja1 kelihayannya, malam ini aku meski mendemonstrasikan beberapa jurus lebih dulu sebelum dapat pergi dari sini" Hmm, aku pikir bukan hanya persoalan itu saja bukan?" Suma Thian yu balas mengejek dengan sinis, "mengapa kau

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tak menyuruh pe rempuan rendah she Chin itu untuk maju sekalian? Mendengar perkataan itu, paras muka kakek itu berubah hebat hawa napsu membunuh dengan cepat menyelimuti wajahnya, dia segera membentak amat gusar: "Tutup mulutmu bocah keparat, kalau tidak, lohu akan memotong lidahmu..... Suma Thian yu sudah tahu kalau kakek yang berada dihadapannya merupakan manusia yang berhati keji, dan segera tertawa menghina: Hmm, asal kau sanggup memetik batok kepala sauya, lidahku boleh kau cabut setiap saat, buat apa mesti risau? Kalau tidak mendengar ucapan tersebut keadaan masih mendingan, begitu mendengar, amarah segera membara dalam benak kakek ini, sambil meraung gusar, goloknya langsung ditusukkan ke ulu hati Suma Thian yu dengan jurus Hek ho to sim (harimau hitam mencuri hati). Suma Thian yu sama sekali tidak gugup, ketika ujung golok tersebut tinggal setengah depa dari tubuhnya, dia segera menggunakan ilmu langkah Ciok tiong luan poh sin hoat untuk berkelit. Diantara kibaran ujung bajunya bayangan manusia tampak berkelebat lewat, tahu-tahu dia sudah lenyap dari hadapan kakek tersebut. Sementara kakek itu masih terkejut bercampur tertegun, Suma Thian yu kembali berseru dari belakang tubuhnya: "Diujung pedang sauya tak pernah membunuh manusia yang tak punya nama, cepat sebutkan namamu untuk menerima kematian! Kakek itu menarik napas dingin, sambil membalikkan tubuh dia lepaskan sebuah bacokan golok kearah pinggang Suma Thian yu dengan jurus Cian hee sau soat (menyapu salju dibawah atap). "Dengan dasar apa kau ingin mengetahui namaku? bentaknya sangar gusar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Kembali Suma Thian yu melompat kesamping untuk menghindarkan diri. Kalau toh memang begitu, sauya segan untuk menemani kua lebih jauh... Kemudian dengan suatu gerakan yang ssngat manis dia mengundurkan diri kesamping tanpa menggubris kakek itu lagi, keadaan mana mirip sekali dengan kanak-kanak yang sedang bermain, sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap si kakek. Dengan geramnya kakek itu menerjang kemuka, lalu membentak keras-keras: "Bocah keparat, kau punya mata tak berbiji, sampai Yap Cu kim toaya dari Hun san pun tidak kenal, buat apa kau berkelana didalam dunia persilatan...?" Goloknya segera diayunkan kebawah dengsn membawa deruan angin tajam, langsung membacok batok kepala Suma Thian yu. Hmm, aku masih mengira kau adalah seorang manusia berkepala tiga berlengan enam macam apa, rupanya hanya bajingan tua yang tak punya nama Sebelum habis ucapan tersebut diutarakan, bacokan golok lawan sudah diayunkan kebawah, dalam keadaan begini mau tak mau jago muda tersebut harus berkelit kesamping. Ternyata kakek ini adalah seorang caycu dari bukit Hu san, seperti apa yang diduga Suma Thian yu, dia memang seorang manusia yang tak punya nama dalam dunia persilatan. Setelah beberapa kali serangannya tidak mendatangkan hasil yang diinginkan, amarah Yap Cu kim semakin menjadi, sambil berkaok-kaok dia mengayunkan goloknya menciptakan selapis bayangan tajam yang menyelimuti angkasa, lalu mengurung seluruh badan Suma Thian yu. Menghadapi kekalapan orang, Suma Thian yu masih tetap melayani dengan tangan kosong belaka, mengembangkan ilmu langkah Ciok tiong luan poh sin hoat nya dia mulai berkelabatr kesana kemari diantara kilauan cahaya golok,

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tubuhnya bergerak begitu indah tak kalah indahnya dengan kupu-kupu yang berterbangan diantara aneka bunga. Kasihan Yap Cu kim, seperti mengambil rembulan dari air, setiap kali ayunan goloknya hampir mengena ditubuh sasarannya, tahu-tahu bayangan lawan lenyap tak berbekas. Seperti hendak menangkap kelinci yang licik atau menangkap ikan leihi yang lincah, sekalipun Yap Cu kim telah membuang segenap tenaga dan pikirannya, namun usahanya tetap sia sia belaka. Tidak selang berapa saat kemudian, napas Yap Cu kim sudah ngos ngosan seperti napas kerbau, peluh dingin bercucuran deras, wajahnya pucat dan ia betul-betul lemas sekali. Suma Thian yu yang menyaksikan kejadian ini kontan saja tertawa terbahak-bahak. Haaah...haah...haah...orang she Yap, lebih baik pulang saja ke sarangmu dan tidak usah muncul-muncul lagi ke sini, manusia semacam kau itu, meskipun kau sudah belajar sepuluh tahun lagi juga tak usah berharap bisa menjawil seujung baju sauyamu" Orang persilatan kebanyakan lebih mengutamakan soal harga diri dari pada soal lain, kini Yap Cu kim disindir dan dihina didepan puluhan oring anak buahnya, bagaimana mungkin dia bisa menahan diri? Saking gusarnya semua rambutnya pada berdiri kaku, diiringi bentakan nyaring, tubuh berikut goloknya langsung menerjang kemuka seperti orang kalap, goloknya juga dibacokan secara membabi buta. Teriaknya sambil menggigit bibir kencang-kencang: Bocah keparat, lohu akan beradu jiwa denganmu!" Suma Thian yu tertawa seram: "Heehh...heehh...heehh... siapa sih yang kesudian beradu jiwa denganmu? Kau masih belum pantas untuk mengajakku berbuat demikian! Sambil berkata sekali lagi dia berpekik nyaring, ditengah pekikan tubuhnya berkelebatan secepat kilat menerobos lewat dari bawah ketiak Yap Cu kim.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Mendadak terdengar Yap Cu kim mendengus, tubuhnya roboh seperti batang pohon yang tumbang ke tanah, tanpa sempat bersuara lagi dia roboh terkapar ditanah. Begitu Yan Cu kim roboh, kawanan perampok bertopeng yang berada disekitar tempat itu menjadi panik, masingmasing mundur beberapa langkah kebelakang. Dua puluh sinar mata ketakutan bersama-sama dialihkan kewajah Suma Thian yu dan mengawasi gerak gerik pemuda itu tanpa berkedip. Dengan tajam Suma Thian yu memandang sekejap keseluruh arena, kemudian tegurnya: Cepat gotong dia pergi!' Baru selesai ucapan ilu diutarakan, mendadak suara tertawa merdu berkumandang dari dalam hutan dan memancar masuk kedalam telinga Suma Thian yu: "Tak usah, terima kasih banyak, nyonya mudamu bisa menyelesaikan sendiri persoalan tersebut!" Suma Thian yu tertegun, baru saja dia akan berpaling, mendadak matanya terasa silau, ketika diamati kembali, dihadapannya telah muncul seorang wanita yang cantik jelita. Belum pernah Suma Thian yu bertemu dengan perempuan semacam itu, tapi dalam hatinya ia punya perhitungan sendiri, dia tahu kalau orang baru saja munculkan diri ini adalah perempuan paling jahat dalam dunia persilatan Siau bu yong (Bunga bu-yong cantik) Chin Lan eng adanya. Apa yang diduga Suma Thian yu memang benar, orang yang baru saja munculkan diri itu adalah perempuan paling cabul di dunia Chin Lan eng. Sementara itu dengan sorot mata yang jeli dia sedang menatap wajah Suma Thian yu, setelah diamati lama sekali, ia baru menegur: Tadi kau yang bernama Suma Thian yu?" "Ya, sauya orangnya" jawab pemuda itu. Kau yang membunuh orang ini?"

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dia tidak kubunuh, tapi suruh dia berisitrahat dahulu, kalau tidak, dia bisa mampus Karena kehabisan tenaga, bila sampai begitu kaulah yang bakal kerepotan Chin Lan eng segera menggigit bibirnya, sambil memutar biji matanya, kemudian kembali dia berkata: Betul, termasuk mayatmu nanti, aku memang bakal dibikin kerepotan sekali" Ucapan yang tiada ujung pangkalnya tersebut disambut tertawa oleh Suma Thian yu, setelah itu diliriknya Chin Lan eng sekejap denGan Pandangan sinis dan menghina, lalu kataNya lagi: Jika harus ditambah denGan kau, mungkin tiada orang yang akan mengurusi jenasah "Bocah keparat tajam amat lidahmu, nyonya muda datang kemari bukan untnk mencabut nyawamu, melainkan ingin mengundangmu untuk iurut serta dalam gerakan kami dan bersama-sama mencari kekayaan dan kegembiraan hidup. Oooh rupanya begitu, kalau begitu bicarakan saja setelah siauya mati nanti, sekarang masih kelewat pagi untuk dibicarakan "Asal kau menyanggupi, selain nyawamu selamat, kaupun dapat hidup gembira, coba bayangkan saja, sekali tepuk dua lalat, apa kau tak ingin? Pikirkan tiga kali sebelum diputuskan. Suma Thian yu tertawa panjang. "Haaah...haahh...haahh...nyawa sauya tak usah pakai jaminan, lagipula kau juga belum tentu bisa melindunginya. Tak usah banyak berbicara lagi, kalau ingin mengambil batok kepalaku, silahkan saja mencabut pedang mu dengan segera!" Paras muka Chin Lan eng segera berubah menjadi serius sekali, bentaknya kemudian: Kau benar-benar seorang marusia yang tak tahu diri, dengan kepandaian kucing kaki tiga yang kau miliki sekarang sudah pingin melayani nyonya mudamu? Terus terang kuberitahukan kepadamu, Wan Liang adalah contoh terbaik untukmu, kau merasa mampu untuk mengungguli dia? Kembali Suma Thian yu mendengus sinis.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Soal ini kaupun tak usah kuatir, sauya percaya masih sanggup untuk menangkan perempuan rendah macam kau, soal yang lain, ter paksa aku harus maju selangkah demi selangkah" Chin Lan eng menggertak gigi keras-keras untuk menahan rasa gusarna yang tak alang kepalang, mukanya dingin seperti es, katanya dengan menahan geram: Bocah keparat, nyonya muda akan memenuhi harapanmn itu!" Selesai berkata, dia lantas mengayunkan tangannya, segera tampak angin puyuh menderu-deru dan langsung menyambar ke tubuh pendekar muda tersebut. Jangan dilihat ayunan tersebut sangat ringan, sesungguhnya kekuatan yang disertakan hebat sekali, belam lagi serangannya tiba, Suma Thian yu telah merasakan datangnya hawa panas yang menghantam tubuhnya, sakit sekali terasa di badan. Suma Thian yu tak berani berayal, buru-buru dia berkelit kesamping sambil membentak keras: "Perempuan rendah, malam ini sauya akan merenggut selembar nyawamu..." Mendadak dia mencabut pedangnya, kemudian terdengar suara gemerincingan nyaring, cahaya biru berkilauan di angkasa, rupanya ia loloskan pedang Kit hong kiam. Chin lan eng merasakan hatinya tertegun setelah menyaksikan Suma Thian yu meloloskan pedangnya, bayangan tubuh dari Kit hong kiam kek Wan Liang segera muncul kembali didepan mata. Tiba-tiba hawa amarah menggelora di dalam dada Chin Lan eng, dia seakan-akan telah menganggap Suma Thianyu sebagai Wan liang, tiba-tiba saja pedang Ching kong kiam dicabut ke luar. Begitu senjata telah berada ditangan, tanpa berpikir panjang lagi dia menusuk tenggorokan Suma Thian yu dengan jurus Liong yu su hay (naga sakti di empat samudra).

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Membiarkan kau tinggal didunia hanya akan menimbulkan bibit bencana saja, lebih baik kau mampus saja!" bentaknya keras-keras. Begitu tahu kalau perempuan itu menyerang dengan ilmu pedang aliran Bu tong pay, Suma Thian yu terkesiap, orang bilang: Seorang jagoan berisi atau tidak, akan diketahui dalam sekilas pandangan. Kenyataannya Chin Lan eng bisa mencabut pedang dan menyerang dengan kecepatan luar biasa. Sayang sekali musuh yang dihadapinya sekarang tak lain adalah Suma Thian yu yang berilmu silat sangat tinggi. Terdengar Suma Thian yu tertawa ringan kemudian ujarnya: "Suatu permainan pedang yang bagus, sayang sekali kau telah salah sasaran" Ujung pedangnya segera dicukil keatas menyusul gerakan mendatar kemuka, dengan satu jurus dua gerakan yang merupakan jurus ampuh dan ilmu pedang Kit hong kiam hoat, di babat pertahanan musuh. Semua orang hanya merasakan cahaya biru amat menyilaukan mata, tahu-tahu dia sudah mengancam jalan darah Cian keng hiat diatas bahu Chin Lan eng. Kalau Chin Lan eng bergerak cepat maka dia bergerak lebih cepat lagi, bila Chin Lai eng ganas, dia lebih ganas lagi, pada hakekatnya kawanan perampok berkerudung yang menonton jalannya pertarungan dari sekitar arena tak dapat melihat dengan jelas bagaimana kedua orang itu bergebrak dan beberapa jurus sudah lewat. Suma Thian yu membenci atas kesadisan dan kekejaman Chin Lang eng terutama kecabulan serta kebejatan moralnya, oleh sebab itu begitu turun tangan dia telah mempegunakan ilmu pedang Kit hong kiam hoat ajaran paman Wan nya, sudah jelas dia bermaksud untuk membangkitkan amarah lawan. Benar juga, paras muka Chin Lan eng segera berubah hebat, buru buru dia mengembangkan permainan jurus

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

pedang Tay cing kiam hoat aliran Bu tong pay untuk menyongsong datangnya ancaman lawan. Selama itu partai Bu tong termasyur dalam dunia persilatan karena pedangnya Tay cing kiam hoat pun termasuk ilmu simpanan dari perguruan terebut, bisa diketahui betapa sempurna dan hebatnya jurus jurus serangan itu. Sejak kecil, dibawah bimbingan ayahnya, Tay hoa kitsu Chin Leng hui yang teliti dan seksama, boleh dibilang Chin Lan eng telah memperoleh inti sari dari ilmu pedang tersebut apa lagi setelah mendapat petunjuk dari seorang gembong iblis, ilmu silatnya telah memperoleh ilmu pelajaran yang amat pesat. Walaupun mempergunakan serangkaian ilmu pedang yang sama, namur dalam permainan-nya jauh lebih tangguh daripada permaiman ayahnya sendiri.... Sayang sekali perempuan ini berjiwa bejad dan bermoral jelek, coba kalau tidak, Bu Tong pey bisa memiliki seorang jago perempuan yang begini tangguh, pada hakekatnya merupakan suatu kelebihan yang boleh dibanggakan. Begitulah, pertarungan berlangsung selama seperminum teh lamanya, makin bertarung Chin Lang eng merasa semakin terkejut, mimpipun dia tak menyangka kalau pemuda lemah lembut dan masih berbau tetek ini sesungguhnya sudah msncapai ke tingkatan yang begitu lihay. Tapi yang paling membuatnya terkejut bercampur keheranan adalah kemampuan ilmu silatnya yang jauh berlipat-lipat kali 1ebih hebat bila dibandingkan deagan keampuhan Kit hong kiam kek Wan Liang dimasa lampau. Padahal, dia mana mengerti kalau berbicara soal tingkat kedudukan maka Suma Thian yu masih terhitung susioknya, sudah barang tentu dengan bekal ilmu silat aliran Bu tong pay yang benar-benar dikuasai olehnya itu, pertarungannya melawan Chin Lan eng pada hakekatnya seperti bermain dengan kanak-kanak saja. Bayangkan saja, belum lagi perempuan tersebut melancarkan serangannya, pihak lawan sudah memahami

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

jurus serangan apakah yang bakal dipergunakan, kalau sampai begini keadaannya, maka perta-rungan apa lagi yang harus diselenggarakan? Pepatah kuno bilang: Tahu diri tahu lawan setiap pertarungan pasti menang. Sekarang Suma Thian yu sudah menguasai penuh jurusjurus serangan lawannya, apalagi yang perlu dia kuatirkan lagi?" Oleh karena itu dia bertarung dengan amat santainya, setiap jurus dibalas dengan jurus, setiap gerakan dihadapi dengan gerakan, pada hakekatnya dia tak perlu berpikir lagi dengan otaknya. Atau bila menggunakan kata-kata yeng lebih latah lagi, bahkan Suma Thian yu bisa menyebutkan nama-nama setiap jurus serangan yang dipergunakan perempuan itu. Sampai pada akhirnya, ketika Chin Lan eng benar-benar sudah tak sanggup menahan diri, Suma Thian yu baru berubah pikiran, dengan kening berkerut umpatnya sembari melancarkan serangan balasan: "Perempnsn rendah, hatimu kejam seperti ular beracun, justru karena kesadisanmu maka Wan Liang mati penasaran, hari ini sauya aksn membalaskan dendam baginya, aku hendak membuat malu dirimu agar rasa marahku bisa terlampiaskan, hati-hati! Aku akan mencomot rambutmu!" Sambil berkata, tak tampak gerakan apa yung dipergunakan olehnya, tahu-tahu cahaya biru berkelebat di susul menyambarnya bayangan manusia, tahu-tahu Suma Thian yu sudah berdiri di belakang Chin Lan eng sambil tertawa terbahak-bahak, sambil menggenggam segumpal rambut ditangan kirinya, serunya: "Perempuan rendah,inilah pembalasan bagi usahamu untuk membunuh Wan Liang..... hati-hati! Sekarang aku hendak memotong telinga mu yang sebelah kiri! Mendadak bayangan tubuh Suma thian yu lenyap tak berbekas, di susul kemudian berkumandangnya suara jeritan kesakitan dari tengah arena.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Chin Lan eng dengan memegangi telinga sebelah kirinya dengan tangan kiri, mundur beberapa langkah dengan sempoyongan, darah kental tampak meleleh keluar melalui sela-sela jari tangannya. Sementara ditangan Suma Tbian yu telah bertambah dengan sepotong telinga yang penuh berpelopotan darah, katanya sambil tertawa: "Perempuan rendah, inilah hukuman bagi penghiatanmu terhadap ayah kandungmu sendiri!" Sambil berkata, dengan sepasang mata yang mencorongkan sinar tajam, dia mengawasi Chin Lan eng tanpa berkedip, kemudian sambil tertawa dingin serunya: Perhatikan baik-baik! Kali ini, aku he dak menebas hidungmu!" Sembari berkata dia menerjang maju sambil memutar pedangnya, sekali lagi dia menusuk kearah tubuh Chin Lan eng. Sungguh menggelikan sekali, Chin Lan eng yang dihair-hari biasa selalu angkuh dan tinggi hati, sekarang berubah bagaikan seekor domba yang menunggu untuk dijagal, dia sudah kehilangan sama sekali kemampuannya untuk memberi perlawanan. Menyaksikan kesemuanya itu, hancur leburlah perasaan hatinya, sambil memutur pedangnya menciptakan serentetan pedang berwarna hijau, dia sambut datangnyu ancaman tersebut, ia bersiap sedia untuk menebus aib yang di terimanya itu dengan kematian. Tampaknya ujung pedang Suma Thian yu sudah hampir mengenai ujung hidung Chin Lan eng. Mendadak.... "Tunggu sebentar!" suatu bentakan keras berkumandang memecahkan keheningan. Suara bentakan itu ibarat guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, amat memekikkan telinga.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Dengan perasaan terkesiap Suma thian yu segera melompat mundur selangkah sambil menarik kembali serangannya. Sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat segera melayang turun ke tengah arena. Begitu mengetahui siapa yang datang, amarah Suma Thian yu segera berkobar kembali, darah yang mengalir dalam tubuhnya serasa mendidih, serunya dengan penuh kegusaran: Ooooh, rupanya kau! Inilah yang dinamakan: Dicari sampai sepatu jebol tidak ketemu, akhirnya dijumpai tanpa membuang tenaga, Hadiah pukulan darimu tempo hari, sampai sekarang sauya masih belum melupakannya...!" Siapa yang telah munculkan diri ? Ternyata dia bukan lain adalah gembong iblis yang bernama besar dalam kalangan Liok lim, Hek bong hon (Harimau angin hitam) Lim Kong adanya, tidak heran kalau Suma Thian yu menjadi naik pitam. Sebaliknya si Harimau angin hitam Lim Kong yang menjumpai Suma Tian yu munculkan diri dihapannya, tanpa terasa dia lantas mendongakkan kepalanya dan tertawa seram. Kemudian sambil memicingkan sepasang mata sehingga berubah menjadi satu garis, serunya sambil tertawa dingin: "Bocah cilik, jadi kau belum mati tenggelam? Heeehhh... heeebh . .. toaya mengira kau sudah menjadi isi perut ikan dalam dasar sungai ....!" Ucapan yang sinis dan menghina itu pada hakekatnya seperti tak memandang sebelah mata pun terhadap anak muda tersebut. Suma Thian yu semakin naik pitam, dia menggertarkan pedangnya siap ditusukkan ke depan, tapi ingatan lain segera melintas, untuk menghadapi manusia licik seperti ini, dia tak ingin bertindak secara gegabah, sebab kejadian tempo hari merupakan pelajaran pahit baginya, dia tak ingin membuat kesalahan lagi.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Berpikir demikian, buru-buru dia menekan hawa amarah yang membara didalam dadanya, sambil menurunkan kembali pedangnya di berkata: "Orang she Lim, tampaknya malaikat elmaut lah yang menghantar kau kemari, lebih baik gorok saja lehermu sendiri, daripada sauya mesti repot-repot turun tangan, kalau tidak... hmm! Perempuan rendah itu merupakan contoh yang paling baik!" Harimau angin hitam Lim Koag tertawa seram dengan kerasnya. Heeeh...heeeh...bocah keparat, anggap saja tempo hari kau bernasib baik, tapi kali ini, jsngan harap kau bisa lolos lagi dalam keadaan selamat, kalau ingin mengumpat, umpatlah sampai puas, kalau tidak, kau tak akan memperopeh kesempatan lagi untuk bersuara...! Sembari berkata, pelan-pelan dia berjalan menghampiri Suma Thian yu, sorot matanya memancarkan sinar kelicikan dan kebuasan, sehingga membunt siapa pun akan bergidik bila melihatnya. Sekuat tenaga Suma Thian yu mencoba untuk menekan hawa amarah yang berkobar didalam dadanya dan mengulumkan sekulum senyuman diujung bibirnya, dia menatap wajah sihanmru angin hitam itu tanpa berkedip, menanti pihak musuh sudah berada lima langkah deri hadapannya, dia baru berkata: Cabut keluar senjatamu? Apakah kau ingin menyerah saja uutuk menerima kematian? Harimau angin hitam Lim Kong tertawa seram: Heeehh...heeeh...heeehh...untuk menghadapi seorang bocah keparat macam kau, tidak perlu bagiku untuk mencabut keluar senjatja tajamku, dengan tangan kosongpun loaya masih tetap mampu untuk mengirimmu pulang kelangit!" Mendengar perkataan mana, Suma Thian yu segera mendongakkan kepalanya dsn berpekik nyaring, pedangnya disarungkan kembali, dengan sorot mata berkilat dia tertawa hambar.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Baiklah" katanya kemudian, "akan sauya layani dirimu itu dengan tangan kosong belaka! Selesai berkata, dia lantas menggulung ujung bajunya sehingga kelihatan lengannya yang putih dan berotot, sikapnya amat santai dan berdiri seenaknya sendiri, seakanakan dia tak memandang sebelah matapun terhadap lawannya ini. Sikap acuh seperti ini biasanya hanya bisa membangkitkan amarah bagi pemuda yang baru terjun kedalam dunia persilatan dan bersifat berangasan, terhadap harimau angin hitam Lim Kong yang kenamaan, apa lagi sebagai seorang perampok ulung, tentu saja hal mana tak akan menimbulkan reaksi apapun. Sebagai murid pertama dari si Mayat hidup Ciu Jit hwee, kesempurnaan ilmu silat maupuun tenaga dalam yang dimiliki Lim Kong tentu saja sudah luar biasa sekali, dalam menghadapi musuhnya, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh ejekan, cemoohan maupun umpatan lawan. Suma Thian yu yang cerdik tentu saja dapat memahami akan hal ini, tapi kalau dia tidak berbuat demikian, maka rasa gusar dan mendongkol yang mencekam perasaannya semakin menghimpit dadanya, dia hendak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melampiaskan rasa mangkelnya itu keluar. Sekali lagi Lim Kong maju selangkah kedepan, tiba-tiba lengan kirinya berputar kencang dengan jurus Tot mang jut tong (ular be racun keluar gua), kemudian dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menyodok ke dada pemuda itu. Dengan cekatan Suma Thian yu menekuk pinggangnya kesamping, dengan pandangan yang tajam dia mengawasi datangnya lawan itu tanpa gugup. Siapa tahu ketika kepalan tersebut sampai ditengah jalan, mendadak Lim Kong berubah jurus, lalu bentaknya keraskeras: Roboh kau...! Telapak tangan kirinya membentuk gerakan busur ditengah udara lalu dibacokkan ke bawah, seperti guntur menghajar

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

tambur, dia menghantam tulang leng kay kut pada ubun-ubun Suma Thian yu. Memghadapi ancaman maut itu, Suma Thian yu sama sekali tidak gugup, dengau menghimpun tenaga dalamnya dia tangkis datangnya ancaman mana sambil menyahut: ""Belum tentu!" Telapak tangan kirinya diangkat keatas untuk melakukan tangkisan, sementara telapak tangan kanannya bagaikan sebilah pisau langsung menebas kedepan dengan kecepatan luar biasa. Sreeet...!" desingan angin tajam membelah angkasa, hampir saja bacokan itu menyentuh pakaian didepan dada Lim Kong. Untung si Harimau angin hitam Lim Kong bukan manusia sembarangan, begitu dilihatnya angin pukulan lawan hampir menyentuh tubuhnya, mendadak ia berputar setengah lingkaran kaki kanannya melepaskan tendangan dengan jurus Kui seng ti to (binatang kejora menantang bintang) langsung menyodok ketubuh anak muda tersebut. Mereka berdua sama-sama merupakan jagoan kelas satu didalam dunia persilatan dewasa ini, dalam waktu singkat bayangan kepala dan angin tendangan menyelimuti seluruh angkasa Dalam pertarungan yang amat seru itu hanya nampak dua sosok bayangan manusia yang bergabung menjadi satu hingga untuk sesaat sukar untuk membedakan mana Lim Kong dan mana Suma Thian yu. Dalam pada itu, Siau hu yong (Hu yong indah) Chin Lan eng yang terluka dan berdiri disisi arena, hatinya merasa remuk rendam karena amat sedih, apalagi setelah teringat bahwa rambutnya putus separuh, telinga kirinya terpapas dan wajahnya menjadi jelek, hatinya sakit bagaikan diiris-iris, saking sedihnya ingin sekali dia mati seketika. Manusia memang makhluk yang suka akan keindahan, apalagi dia adalah seorang perempuan cantik.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Buat Siau hu yong Chin Lan eng, dia lebih suka tewas diujung pedang lawan daripada kehilangan panca inderanya, bayangkan saja bila seorang perempuan yang cantik jelita, kini berubah menjadi perempuan yang kehilangan telinga sebelah, penderitaan dan aib yang dialaminya itu mana mungkin bisa ditahan dengan begitu saja? Luka ditelinga kirinya telah dibubuhi obat dan kini darah sudah tidak mengucur lagi, namun sepasang mata Chin Lan eng telah berubah menjadi mengerikan sekali, kekejaman dan kesediaannya tercermin jelas diatas wajahnya, dia mengawasi terus wajah Suma Thian yu tanpa berkedip. Sementara pertempuran sengit ditengah arena masih berlangsung dengan hebatnya, diam-diam Chin Lan eng merogoh kedalam sakunya mengambil sesuatu dengan cepat dipersiapkan dalam genggaman. Pada ssat itulah, mendadak dari tengah arena berkumandang dua kali bentakan nyaring, bayangan manusia nampak saling berpisah. Lim Kong muadur sejauh dua langkah kebelakang, begitu sepasang kakinya menempel permukaan tanah, ia segera melejit kembali ke tengah udara, kemudian bagaikan burung elang yang menembusi langit ia meluncur tinggi ke udara. Lompatannya ini paling tidak mencapai ketinggian lima kaki lebih, sewakiu Suma Thian yu mengalihkan pandangannya ke depan, ia segera menjadi terkesiap. Buru-buru hawa murni ysug berada dalam tangan disalurkan ke dalam sepasang telapak tangannya, dia bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan. Sejenak kemudian. Harimau angin hitam Lim Kong membentak nyaring, tubuhnya berputar dengan kepala di bawah kaki diatas, sepasang lengannya mendadak direntangkan kesamping. Awan gelap yang amat tebal diiringi udara yang dingin merasuk tulang segera menyelimuti angkasa, bagaikan angin puyuh yang muncul dari langit, diiringi suara geledek yarg

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

memekikkan telinga langsung menghantam batok kepala Suma Thian yu dengan dahsyat. Inilah ilmu pukulan Hu si im hong ciang (pukulan angin dingin mayat membusuk) yang amat termashur dalam dunia persilatan. Suma Thian yu merasakan hatinya bergidik, diiringi bentakan nyaring, dengan, menghimpun tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian kedalam sepasang lengan, dia sambut datangnya ancaman tersebut. Siapa tahu, disaat dia sedang memusatkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi harimau angin hitam Lim Kong, mendadak terdengar suara bentakan nyaring bergema memecahkan keheningan, angin puyuh menderu-deru, lalu terlihat tua titik cahaya bintang yang berkilauan dengan membentuk posisi segitiga langsung menyambar ke arah pinggangnya. Suma Thian yu merasa amat terkejut, segulung hawa dingin segera muncul dari punggungnya dan menembus sampai keatas, rupanya serangan angin pukulan hawa dingin mayat busuk dari Harimau angin hitam Lim Kong sudah menyambar datang seperti ombak dahsyat, yang menghantam tepian pesisir... Dengan begitu, Suma Thian yu menjadi terjepit dipesisi yang tidak menguntungkan, dia harus mengbadipi dua musuh sekaligus dua dipaksa berada dalam keadaan bagaikan menunggang dipunggung harimau. Untuk menghindari pukulan telapak tangan saja sudah payahnya setengah mati, ditambah, lagi harus menghadapi serangan senjata rahasia, keadaannya menjadi bertambah kritis. Dalam keadaan terancam, tiba-tiba muncul sebuah akal cerdik dalam benaknya, dengan cepat ia menjatuhkan diri kebelakang dan mengelinding kesamping dengan gerakan Lan jui ta kun (keledai malas berguling guling)....

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Seketika itu juga terdengar suara benturan keras menggelegar di angkasa, angin pukulan dari Lim Kong sudah menghajar secara telak diatas permukaan tanah. 00o00 Tapi, pada saat inilah mendadak Suma thian yu merasakan sisi lambungnya seperti terpagut oleh sengatan lebah beracun, kakinya sakit bukan kepalang, sadarlah pemuda ini bahwa dia telah kerkena senjata rahasia. Suma hian yu cukup mengetahu bahwa Siau hu yang Chin lan eng adalah seorang perempuan kejam yang berhati buas, senjata rahasia yang dipergunakan juga pasti dibubuhi racun yang jahat. Dengan cepat dia mengerahkan tenaga dalam nya untuk melindungi jalan darah, kemudian sambil melompat mundur serunya: Sakit hati ini pasti kubalas, ingat saja budak rendah, Suma thian yu pasti akan menguliti tubuhmu hidup-hidup! Seraya berkata, seperti segulung angin puyuh saja, ia segera berlalu dari situ. Tentu saja si harimau angin hitam Lim Kong tak akan melepaskan Suma thian yu dengan begitu saja, dia menggerakkan tubuhnya, lalu bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya melakukan pengejaran dari belakang. Mewndadak terdengarSiau hu yong Chin Lan eng membentak sambil terawa: Lim toako, bajingan yang rudin tak usah dikejar anjing budukan tak perlu diusir, biar kan saja dia pergi! Harimau angin hitam Lim Kong segera menghentikan gerakan tubuhnya, kemudian bertanya dengan wajah tercengang: Apakah hal ini tidak terlalu keenakan buat keparat itu? Siau hujin, gara-gara kewelasan hatimu saat ini, bisa jadi dikemudian hari akan memancing datangnya banyak bibit bencana buat kita semua!

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Chin Lan eng tertawa terkekeh-kekeh dengan liciknya: Heeeh...heeeh...heeeh...Lim toako, kau terlalu memikirkan hal yang bukan-bukan, bila keparat itu bisa hidup melewati fajar nanti, hal mana sudah merupakan kemujuran baginya" Kemudian setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh: "Seandainya senjata rahasia ku tidak berhasil melukainya, menang kalah masih sukar di tentukan, selain daripada itu, bagaimana mungkin aku dapat melampiaskan rasa malu dan kerugian yang kualami malam ini?" Mendengar ucapan tersebut, Harimau angin hitam Lim Kong lalu tertawa terbahak-bahak. "Haahh...haah...haahh...sudah lama aku dengar akan kelihayan jarum beracun Hok teng ang tok ciam milik Siau hujin, konon begitu mengenai orangnya lantas keracunan hebat dan modar, rupanya raja akhirat sudah mulai menggapaikan tangan kearahnya? Siau hu yong Chin Lao eng segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya: Senjata rahasia yang berhasil bersarang ditubuh bocah keparat itu sama sekali tidak di beri Hok leng ang melainkan cuma selaksa racun yang umum! "Heeeh...heeeh...heeeh, sekalipun begitu, aku rasa hal inipun sudah cukup membuat bocah keparat tersebut untuk terbang kembali keneraka" Beracara sampai disitu, kembali Lim Kong tertawa terbahak bahak dengan seramnya. ooOoo SUMA THIAN YU SADAR, kalau dia sudah keracunan, maka sambil berlari kencang meninggalkan tempat ini, dia mencabut keluar jarum yang lembut bagaikan rambut itu, lalu menggenggam mulut lukanya dengan tangan kiri agar darah jangan sampai mengalir ke luar terus.

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Setelah melakui perjalanan yang cukup jauh mendadak ia merasa luka pada lambungnya sudah tidak terasa sakit lagi, dia pun mencari sebuah batu untuk duduk dan beristirahat. Ketika pakaiannya di lepas dan mulut luka nya diperiksa, maka segera dijumpainya selain titik merah kecil seperti bekas tertusuk jarum yang masih tersisa diatas lambungnya itu, dia sama sekali tak merasakan sesuatu gejala yang aneh, pelanpelan hatinya pun mulai merasa amat lega dan tentram. Akan tetapi sewaktu dia mengangkat tangan kirinya, tibatiba saja dijumpai segumpal darah kental menempel diatas telapak tangan kirinya itu, ketika diendus segera tercium bau busuk yang amat menusuk hidung, busuknya bukan main. Dengan cepat Suma Thian yu menjadi sadar kembali apa gerangan yang telah terjadi, tanpa tersa serunya: Ooohh... rupanya aku telah ditolong oleh telapak tangan kiriku ini. Chin Lan eng, hai Cbin Lan eng... kau gagal untuk mencelakai diriku. Dengan cepat dia melompat bangun dan balik kembali ketempat semula, ia bermaksud untuK mencari Chin Lan eng dan membuat perhitungan dengannya.... Sebagaimana diketahui, telapak tangan kiri Suma Thian yu ini tidak mempan terhadap berbagai macam racun, ketika perutnya terluka tadi, dia telah memegang mulut lukanya dengan telapak tangan kirinya, rupanya disaat itulah semua racun keji yang mengeram didalam tubuhnya telah terhisap oleh daun Jin sian kiam lan sehingga bersih sama sekali. Coba kalau Suma Thian yu mengetahui akan kelebihan yang dimilikinya ini, tak mungkin dia akan melarikan diri dari arena pertarungan. Menanti dia sudah sampai kembali ketempat bekas pertarungan tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak. Memandang kegegapan yang mencekam sekeliling tempat itu, Suma Thian yu segera terbayang kembali peristiwa yang berlangsung belum lama berselang, tanpa terasa kembali gumamnya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

"Perempuan berhati busuk, tak heran kalau paman Wan tewas ditanganmu. Selama aku Thian yu masih bisa hidup, pasti akan kubunuh bajingan tersebut dengan telapak tanganku sendiri" Dengan langkah yang ringan dan cepat, dia lantas balik kembali menuju kearah loteng Kun eng lo. Tapi baru sampai ditengah jalan, mendadak ia seperti teringat akan sesuatu dan segera berhenti, kemudian dia balik kembali menuju ke tempat bekas pertarungan. Sampai setengah harian lamanya dia melakukan pencarian di atas tanah, akhirnya ditemukan juga dua batang jarum lebah beracun yang digunakan oleh Chin Lan eng tadi dan dengan sangat berhati-hati sekali disimpan kedalam sakunya, kemudian mengurungkan niatnya kembali ke rumah makan Kun eng lo, dia segera berangkat menuju ke arah telaga Tong ting ou. Jilid 16 Suatu hari sampailah Suma Thian yu dikota Tiang-an-gi di dalam propinsi Ou lam. Tiang an gi terletak hanya dua hari perjalanan dari telaga Tong tin ou, menurut perhitungan Suma Thian yu masih ada berapa hari lagi menjelang tanggal lima belas, maka dia pun menginap dalam sebuah rumah penginapan di kota Tian an gi tersebut. Rumah penginapan itu bernama Gwat kek can, pelayanannya sangat baik, lingkungannya amat sepi dan indah, membuat orang merasa kerasan sekali tinggal disitu, tak heran kalau hanya saudagar yang berdiam dikota tersebut. Suma Thian yu mendapat sebuah kamar yang terletak dipaling ujung ruang sebelah timur. Sementara itu senja sudah menjelang tiba, banyak pelancong dan saudagar yang pulang ke penginapan untuk beristirahat, hanya Suma Thian yu seorang yang tak ada

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

urusan dan duduk dekat jendela sambil memandang kolam di luar kamarnya. Mendadak dari luar pintu penginapan sana terjadi kegaduhan, pertama-tama Suma Thian yu tidak begitu menaruh perhatian, siapa tahu suara gaduh tadi makin lama terdengar semakin ramai. "Kalian buka penginapan toh bermaksud mencari uang, asal aku si pengemis tua punya uang, mengapa tak boleh menginap disini? Suma Thian yu segera merasa suara itu sangat dikenal olehnya, buru-buru dia membuka pintu dan melongok keluar. Dan terlihatlah segerombolan manusia sedang mengurung seorang pengemis tua yang berpakaian compang-camping. Dalam sekilas pandangan saja Suma Thian yu dapat mengetahui orang itu sebagai Siau yau kay Wi Kian adanya. Sebetulnya ia Ingin maju melerai, tapi setelah berpikir sejenak dia urungkan niatnya itu, siapa tahu pengemis tua itu hendak menggunakan akal muslihat apa lagi untuk mengatasi persoalannya. Dalam pada itu, seorang pelayan sedang berdiri sambil tertawa paksa: Tuan cin sin ya, penginapan kami benar-benar sudah penuh dan tiada kamar lain, harap kau mencari kamar penginapan yang lain saja! Siau yau kay Wi Kian segera menggelengkan kepalanya berulang kali sambil berseru! Tidak bisa, kalian semua adalah kawanan anjing yang punya mata bila melibat uang, sudah jelas di dalam sana masih ada tiga buah kamar kosong, masa kau hendak membohongi aku si pengemis tua? Kalau aku tak mau pergi, kau mau apa?" Tangannya segera merogoh kedalam saku dan meraba beberapa saat kemudian dengan berhati-hati sekali dia mengeluarkan seuntai mata uang tembaga dan diperlihatkan kepada pelayan itu kemudian serunya:

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/

Coba keu lihat, bukankah aku si pengemis tua mempunyai uang?" Selesai berkata, seakan akan kuatir kalau ada orang hendak merampas uangnya saja,