PEMANFAATAN KOMODITAS PANGAN LOKAL SEBAGAI SUMBER PANGAN ALTERNATIF DI PAPUA

A. Wahid Rauf dan Martina Sri Lestari
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, Jalan Yahim Sentani, Kotak Pos 256 Sentani, Jayapura 99352, Telp. (0967) 592179, Faks. (0967) 591235, E-mail: bptp_papua@yahoo.com Diajukan: 12 Juni 2008; Diterima: 23 Maret 2009

ABSTRAK
Provinsi Papua merupakan salah satu daerah yang memiliki keragaman sumber daya hayati yang cukup tinggi, termasuk tanaman sumber pangan lokal. Sumber pangan lokal Papua yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat adalah ubi jalar, talas, sagu, gembili, dan jawawut. Pangan lokal tersebut telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Papua. Masyarakat yang berdomisili di daerah pegunungan umumnya mengonsumsi ubi jalar, talas, dan gembili, sedangkan yang tinggal di pantai memanfaatkan sagu sebagai pangan pokok. Beberapa jenis ubi jalar, talas, dan sagu telah beradaptasi dengan baik dan dikonsumsi masyarakat Papua secara turuntemurun. Dengan demikian, komoditas tersebut perlu dikembangkan sebagai sumber pangan utama bagi masyarakat sehingga mengurangi ketergantungan pada pangan yang berasal dari beras. Selain digunakan sebagai sumber pangan utama dan untuk upacara adat, komoditas pangan lokal Papua juga telah dikembangkan menjadi produk olahan seperti kue kering yang dikelola dalam skala industri rumah tangga. Tulisan ini membahas pemanfaatan pangan lokal Papua sebagai sumber pangan alternatif yang diharapkan dapat menjadi sumber pangan untuk mendukung ketahanan pangan pada tingkat regional maupun nasional. Kata kunci: Pangan lokal, sagu, umbi-umbian, jawawut, Papua

ABSTRACT
Utilization of local food as alternative food sources in Papua Papua Province has a potential biodiversity including local food sources. Local food in Papua that has been used as main sources of carbohydrate for the local people are sago, millet, and root crops (sweet potato, taro, and yam). Root crops are mostly cultivated and consumed by local people in the lowland to highland area, while the people staying at beach area generally consume sago as a primary food. Some kinds of sweet potato, taro, and sago were adapted and consumed by local people for generation. In this case, those commodities must be developing as primary food sources for local community and also as substitute for rice. Besides utilized as primary food and important materials for ceremonial customs by local people, local foods has also been initiated for developing product diversification by home industry. This article discussed utilization of local food of Papua as an alternative food source, with main emphasize on root crops and sago, to support regional and national food security. Keywords: Local food, sago, root crops, millet, Papua

S

umber pangan spesifik lokal Papua seperti ubi jalar, talas, gembili, sagu, dan jawawut telah dibudidayakan oleh masyarakat asli Papua secara turuntemurun. Komoditas tersebut telah menjadi sumber bahan makanan utama bagi masyarakat Papua. Husain (2004) menyatakan, pangan lokal adalah pangan yang diproduksi setempat (suatu wilayah/ daerah tertentu) untuk tujuan ekonomi dan atau konsumsi. Dengan demikian, pangan lokal Papua adalah pangan yang diproduksi di Papua dengan tujuan ekonomi atau produksi. Kondisi agroekosistem Papua sangat mendukung pengembangan komoditas 54

pertanian, terutama komoditas pangan spesifik lokal. Namun, pengembangan komoditas tersebut tidak merata di dataran Papua, kecuali ubi jalar yang dapat dijumpai di berbagai wilayah, baik pada dataran rendah maupun dataran tinggi, terutama pada wilayah pegunungan tengah. Selain ubi jalar, sagu juga merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat Papua, terutama yang berdomisili di dataran rendah atau di pesisir pantai atau danau. Sagu tumbuh baik pada daerah rawa, meskipun dapat pula tumbuh di daerah kering. Papua merupakan salah satu wilayah yang memiliki hutan sagu terluas di Indonesia. Widjono et al. (2000) mene-

mukan 61 aksesi sagu melalui survei yang dilakukan di daerah Jayapura, Manokwari, Sorong, dan Merauke. Jumlah aksesi tersebut masih memungkinkan bertambah karena survei baru dilakukan di sebagian wilayah potensial sagu di Papua. Sumber pangan alternatif yang beragam di Papua, mulai dari umbi-umbian, serealia, buah-buahan, dan bahkan tanaman obat dapat menyediakan pangan yang cukup bagi masyarakat setempat sehingga terhindar dari kekurangan gizi (malnutrition) atau kelaparan. Namun, sosialisasi pemanfaatan sumber pangan alternatif tersebut belum dilakukan secara bijak dan berkelanjutan. Selain itu, masyarakat mulai
Jurnal Litbang Pertanian, 28(2), 2009

Pemanfaatan sumber pangan lokal di Papua masih dilakukan secara tradisional.bergantung pada sumber pangan beras karena selain enak juga mudah diperoleh.167 4. Tanaman pangan lokal yang dimaksud dalam tulisan ini adalah tanaman yang dapat menjadi sumber pangan alternatif sebagai pengganti atau substitusi beras. seperti di kawasan lembah Baliem. 28(2). serta umbi yang kecil atau rusak digunakan untuk pakan babi (La Achmady dan Schneider 1995).710 ton. Komoditas/tahun Ubi jalar 2003 2004 2005 2006 Talas 2003 2004 2005 2006 Luas panen (ha) 83. dan gembili).21 10. pemanfaatan pangan lokal sangat diperlukan sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga. Jumlah kultivar ubi jalar berdasarkan sistem budi daya dan agroekosistem di Jayawijaya. Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Papua (2007). 2003− 2006. Sistem budi daya Wen Hipere Yabu Waganak Yabu Enaifpipme Yabu Lome Jumlah kultivar 200 50 200 150 Ubi Jalar (Ipomoea batatas L. Selain ubi jalar.210 676 − Produksi (t) 643..71 10. laman. yabu waganak. Ubi jalar dapat tumbuh pada dataran rendah maupun dataran tinggi. Tanaman pangan lokal yang telah dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pangan secara turun-temurun adalah umbi-umbian (ubi jalar.739 1.02 9. peran ubi jalar sangat strategis. Namun. Luas panen. Varietas dengan rasa umbi kurang enak dan kandungan seratnya tinggi. terutama di daerah pegunungan.13 10. hasil ubi jalar di dataran rendah (< 500 m dpl. serta memiliki kadar pati tinggi dan rasa manis. yabu enaifpipme. Hal ini karena peluang untuk mendapatkan komoditas substitusi ubi jalar sebagai bahan pangan relatif kecil. sementara konsumsi total hanya 31. Yabu Tabel 1. Hal tersebut merupakan salah satu dampak kebijakan pemerintah yang hanya terfokus pada terjaminnya ketersediaan beras.226 689 − Hasil (t/ha) 7. dan bahkan berlebih. La Achmady dan Schneider (1993) melaporkan ada empat cara budi daya ubi jalar berdasarkan tipe agroekosistem. dan jawawut.). untuk memperoleh beras sangat sulit karena terbatasnya sarana transportasi. Terdapat puluhan bahkan ratusan jenis ubi jalar yang sesuai untuk konsumsi manusia dan dibudidayakan berdasarkan kondisi agroekosistem setempat. Pada kondisi yang demikian. Namun. Wen hipere adalah sistem budi daya ubi jalar dengan cara membuat parit-parit permanen pada daerah yang berair. dan yabu lome (Tabel 2). Pada waktu tertentu. Pengembangan ubi jalar khususnya di Kabupaten Jayawijaya dibedakan antara untuk bahan pangan manusia dan pakan babi. baik dari aspek budi daya maupun pengelolaan pascapanen. Tulisan ini menelaah hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan pemanfaatan pangan lokal Papua sebagai sumber pangan alternatif. yaitu wen hipere. Kebijakan tersebut tanpa disadari telah mengubah menu karbohidrat masyarakat dari nonberas ke beras.31 9.154 29.700 m dpl. selain sebagai makanan babi. baik yang telah dibudidayakan maupun yang tumbuh liar. produksi tersebut masih jauh di atas tingkat konsumsi. Papua. Kelebihan produksi tersebut menjadi suatu tantangan untuk memanfaatkan ubi jalar menjadi aneka produk olahan yang memiliki daya saing tinggi. Suhu udara yang dingin di dataran tinggi menyebabkan pertumbuhan tanaman ubi jalar kurang optimal. produksi.423 3.) lebih tinggi daripada di dataran tinggi (> 900 m dpl. Diharapkan pangan lokal dapat menjadi tumpuan atau penyangga ketahanan pangan di tingkat regional maupun nasional. Penurunan tersebut antara lain disebabkan makin berkurangnya luas panen (Tabel 1). Produksi ubi jalar di Papua dari tahun ke tahun cenderung menurun. Agroekosistem Daerah lembah (berair/rawa) Daerah lereng 15−25%/dataran rendah dengan drainase jelek Daerah lereng yang curam (30−50%) Daerah lereng tanpa pengolahan tanah Sumber: La Achmady dan Schneider (1993). 2009 55 . terutama di daerah terpencil. produksi ubi jalar di Papua mencapai 101. terutama pada daerah yang secara tradisional mengonsumsi pangan bukan beras. talas. sagu.401 290. baik dari aspek ekologi maupun sosial ekonomi.338 318.430 33. Varietas ubi jalar untuk bahan pangan dibudidayakan dengan cara khusus.125 ton dan konsumsi per kapita 38. dan hasil ubi jalar dan talas di Provinsi Papua. seperti kawasan timur Indonesia (Budi 2003).650−2. Pada tahun 2007.19 − KEADAAN SUMBER PANGAN LOKAL PAPUA Berbagai sumber pangan lokal Papua.36 g/hari. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan ubi jalar masyarakat Papua tercukupi oleh produksi lokal. Keragaan dan fungsi tanaman tersebut diuraikan berikut ini.) Ubi jalar merupakan komoditas penting di Papua karena merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk di pedaJurnal Litbang Pertanian.059 1.541 345. Di beberapa lokasi. telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pangan maupun pelengkap upacara adat. secara ekologis sangat sedikit tanaman pangan yang mampu beradaptasi dan berproduksi dengan baik dengan teknologi sederhana pada ketinggian 1.95 9. Kabupaten Jayawijaya (Dimyati et al. 1991). Dengan demikian diperlukan percepatan adopsi teknologi pemanfaatan sumber pangan lokal yang diharapkan dapat menjadi salah satu penyangga ketahanan pangan di daerah.495 32. Tabel 2.

Komoditas Ubi jalar1 Sagu2 Talas 3 Gembili4 Kadar nutrisi (%) Air 7.50−32. bukan menjadi prioritas. Papua Pattipi. Kedua sistem budi daya tersebut telah dipraktekkan masyarakat Jayawijaya secara turun-temurun. 2Tarigan (2001) dalam Limbongan (2005).40 Sumber: 1Widowati dan Damardjati (2001). Diskripsi varietas ubi jalar Papua Solossa. Karakteristik Tipe tanaman Umur panen (bulan) Diameter buku ruas Warna dominan sulur Warna sekunder sulur Bentuk daun dewasa Bentuk kerangka daun Jumlah cuping Bentuk cuping pusat Warna helai daun dewasa Bentuk umbi Panjang tangkai umbi Warna kulit umbi Warna daging umbi Rasa umbi Ketahanan terhadap hama dan penyakit Anjuran tanam Papua Solossa Semi-kompak 6 Tipis Hampir semua ungu Hijau pada pucuk Bentuk tombak 5 Agak elip Hijau.20 1. Tabel 3. Kesesuaian tidak hanya berdasarkan aspek fisik agroekosistem.16 − 1. Untuk setiap agroekosistem. di Papua ditemukan berbagai jenis sagu dengan potensi hasil yang berbeda-beda. Hutan sagu umumnya tumbuh secara alami. Kandungan nutrisi beberapa komoditas pangan alternatif. Sifat dan keunggulan masing-masing varietas tersebut disajikan pada Tabel 3. tetapi juga aspek sosial budaya masyarakat setempat. baik jenis maupun luasannya.50 Rata-rata hasil di dataran tinggi (t/ha) Potensi hasil di dataran tinggi (t/ha) Sumber: Yusuf et al.20 2. 4Richana et al. Hal ini menunjukkan bahwa ubi jalar layak digunakan sebagai sumber pangan utama bagi masyarakat. Areal sagu di Provinsi Papua termasuk Papua Barat yang telah dimanfaatkan baru sekitar 14.25 81. Di Papua ditemukan 20 jenis sagu dan dapat dibagi ke dalam empat kelompok genetik (Miftahorrachman et al. Papua. terdapat di Sentani.87 Protein 2. 28(2).30 27. Terlepas dari perbedaan jumlah aksesi sagu yang dilaporkan. lemak. dan Sawentar. Penyebaran pohon sagu terbesar di Papua. Sistem yabu terbagi atas beberapa cara tanam.50−32. 24 27. Tabel 4. dan Sawentar.89 Karbohidrat 86. Departemen Pertanian melepas tiga varietas unggul ubi jalar dataran tinggi. Kabupaten Jayapura. dan mineral tidak jauh berbeda dengan sumber pangan lokal lainnya (Tabel 4). ketahanan terhadap hama/penyakit maupun rasa. Namun sebagian petani mulai menyadari pentingnya pelestarian hutan sagu sehingga mereka mulai melakukan kegiatan budi daya. Bila perlu dapat ditambahkan unsur gizi lain melalui proses fortifikasi.000 m dpl. (2000) melaporkan terdapat 61 aksesi sagu di Papua. Keragaman jenis ubi jalar di Papua yang cukup tinggi merupakan aset berharga untuk mendapatkan varietas unggul.) Sagu merupakan bahan pangan utama bagi masyarakat Papua yang tinggal di daerah pesisir. khususnya konsumen di luar keluarga.11 Lemak 0.28 6. protein.50 Sawentar Semi-kompak 6 Sedang Hijau Ungu pada buku-buku Berbentuk hati 1 Bergerigi Hijau Elip membulat Pendek Merah Krem Enak Agak tahan hama boleng dan agak tahan penyakit kudis Lahan sawah dan tegalan daerah pegunungan ketinggian minimum 1.50 Papua Pattipi Menyebar 6 Tipis Hampir semua ungu Hijau pada pucuk Bentuk hati 3 Segitiga sama sisi Hijau.34% dari potensi yang ada (Kartopurnomo 1996 dalam Limbongan et al. atau 0. Pada tahun 2006. Pohon sagu di Papua tumbuh secara alami tanpa tindakan budi daya dari penduduk setempat.83 0. 24.90 68.adalah sistem penanaman ubi jalar di lahan kering. baik dari aspek potensi hasil. 25. terdapat puluhan bahkan ratusan kultivar yang sesuai.40 0. Penentuan varietas yang akan ditanam berdasarkan kebutuhan pasar atau konsumen.24 0.16 1.000 ha. dan masih memungkinkan bertambah karena masih banyak daerah-daerah potensial sagu di Papua yang belum diidentifikasi.95 85. 2009 . 3 Richana dan Sunarti (2004). tulang daun ungu Elip memanjang Pendek Krem Pucat Enak dan manis Agak tahan hama boleng dan agak tahan penyakit kudis Lahan sawah dan tegalan daerah pegunungan ketinggian minimum 1. Sagu (Metroxylon sp.05 6.000 m dpl.44 Abu 2. tulang daun ungu Elip membulat Pendek Kuning kecoklatan Kuning tua Enak Agak tahan hama boleng dan tahan penyakit kudis Lahan sawah dan tegalan daerah pegunungan ketinggian minimum 1.000 m dpl.50−32. Papua Pattipi. (2007). Ubi jalar memiliki kandungan karbohidrat. Kultivar ubi jalar yang ditanam disesuaikan dengan kondisi agroekosistem. 1996). Daerah pesisir yang berair atau rawa merupakan tempat tumbuh berbagai jenis sagu.80 15 6. Sementara Widjono et al. (2000).90 27. 56 Jurnal Litbang Pertanian. yaitu Papua Solossa. bergantung pada tingkat kemiringan lahan.

30 495. Beberapa puluh tahun yang lalu tanaman ini dominan di daerah perbatasan Indonesia-Papua Nugini (Oksibil). Yepha Hongsai Kleublouw.2005). Miyazaki (2004) melaporkan. dan Weak Hom Ungu dengan hasil umbi masing-masing 7.10 43. 57 . Berdasarkan kesesuaian agroekosistem.395 5.000−5.65 Nama lokal Weak Hom Kuning 50−100 Tidak ada − 1−2 Segitiga Tegak.014 Konsumsi total (t) 31. Pada setiap agroekosistem di Papua ditemukan beberapa jenis talas dengan Tabel 5. (2008).80 45.36 47. dijumpai beragam kultivar talas.90 Talas (Colocasia esculenta) Talas merupakan makanan pokok penting di daerah Ayamaru dan Biak Barat.840 1.90 86.714.09 Sumber: Badan Bimas dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua (2007). Hal ini menunjukkan bahwa produksi sagu mencukupi kebutuhan untuk konsumsi masyarakat dan bahkan berlebih. 2009 Tabel 7.50 50.50 49.20 6. umur.60 kg/pohon (Tabel 6). Sifat dan karakter morfologi ketiga kultivar lokal tersebut disajikan pada Tabel 7. Salah satu wilayah pusat pertumbuhan sagu alam di Papua terdapat di sekitar Danau Sentani Kabupaten Jayapura.60 kg. Sifat morfologi Weak Hom Ungu Tinggi tanaman (cm) Jumlah stolon Panjang stolon (cm) Jumlah succer Bentuk daun Posisi daun 7 5 −100 1 −5 1 0 −15 1 −5 Segitiga Tegak. Pada wilayah ini ditemukan beberapa aksesi sagu yang memiliki produktivitas tinggi. Rauf et al.022 ton. data Badan Bimas dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua menunjukkan. Produksi sagu di Papua jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan untuk konsumsi (Tabel 5). Hal ini menunjukkan bahwa produksi talas mencukupi kebutuhan untuk konsumsi masyarakat.30 Kadar gula (%) 20.41 t.40 7.20 Kadar pati (%) 40. Jurnal Litbang Pertanian. 386. Tanaman talas tersebar pada berbagai agroekosistem. Dengan demikian. Pada umumnya sifat-sifat liar talas masih jelas terlihat bila dibandingkan dengan jenis talas yang diusahakan di Jawa (Rumawas 2004).40 Hasil pati (kg) 158.371 286.32 6. Dari evaluasi tersebut diperoleh tiga kultivar yang memiliki daya hasil tinggi.60 270. Beberapa kultivar berdaya hasil tinggi tersebut merupakan suatu potensi untuk mendapatkan verietas yang berdaya hasil tinggi dan memenuhi preferensi konsumen.90 1.92 296.20 kg.74 t.80 44. dan 340. 64% masyarakat Ayamaru mengonsumsi talas sebagai makanan pokok.40 39. ujung menghadap ke bawah Hijau kekuningan Ungu Kuning Bentuk Y Sedang 8−10 Kuning kehijauan Kerucut Kuning Kuning Tidak ada 7.41 Nea Dea 50−100 Tidak ada − Tidak ada Segitiga Tegak. yaitu Weak Hom Kuning. Hasil pati beberapa aksesi sagu di Sentani. pada tahun 2007 produksi talas Provinsi Papua mancapai 7. Nea Dea.70 386.19 Ketersediaan per kapita (g/hari) 120.65 t/ha. Ketersediaan dan konsumsi pangan lokal di Provinsi Papua.30 53 51. (2008) telah melakukan uji daya hasil 10 kultivar talas lokal pada dataran rendah Yahukimo.563 1. dan Ruruna Ifar Besar dengan produksi pati masing-masing 408.993. Beberapa sifat morfologi tiga kultivar talas lokal Papua. Produksi talas di Papua menurun drastis dari 3. Tabel 6.20 60 47. 6. Meskipun masyarakat di daerah lain di Papua juga mengonsumsi talas.20 408.70 7.125 38.20 47.80 48.71 7. pemanfaatan sagu sebagai sumber pangan alternatif bagi penduduk maupun untuk kebutuhan industri sangat menjanjikan.80 62.20 Berat kering empulur (%) 31. ujung menghadap ke bawah Hijau Hijau Hijau Bentuk Y Tinggi 10−12 Ungu Kerucut Putih keunguan Ungu Sedikit berserat 6. dan potensi hasil.70 13. dan 6.60 52. Namun.022 Konsumsi per kapita (g/hari) 38. sifatnya hanya sebagai pangan alternatif.710 283.60 233. Umur tanaman (tahun) 16−18 20 14−15 15−17 12 7−8 17 20 Berat batang (kg) 1.30 1. beberapa aksesi sagu di Sentani menghasilkan pati cukup tinggi seperti Para Ifar Besar.10 10 6 7.000 ha (Saitoh et al.620 7.014 ton dengan total konsumsi 5. mulai dari dataran rendah sampai tinggi dan dari lahan basah sampai lahan kering. 2007. Komoditas Ubi Jalar Sagu Talas Produksi (t) 101. 2008).60 1. Aksesi/ nama lokal Yepha Hongsai Ifar Besar Yepha Hongsai Kleublouw Para Ifar Besar Para Kleublouw Rondo Ariau Rondo Nendal Ruruna Ifar Besar Ruruna Kleublouw Sumber: Miyazaki (2004).30 45. dengan luas 4. namun kini kedudukan talas mulai tergeser oleh ubi jalar (Rumawas 2004).739 ton pada tahun 2003 menjadi 689 ton pada tahun 2005.70 340.971. Genotipe talas di Papua sangat beragam dalam sifat morfologi.74 Warna helai daun Warna persimpangan petiol Warna utama tulang daun Pola tulang daun Lapisan lilin daun Panjang kormus (cm) Warna pelepah daun Bentuk kormus Warna daging kormus Warna serat daging kormus Tingkat serabut kormus Hasil (t/ha) Sumber: Rauf et al. 28(2). Jayapura. Rochani (1996) melaporkan. ujung menghadap ke bawah Hijau Kuning Putih Bentuk Y Sedang 8−10 Hijau muda Kerucut Putih Putih Tidak ada 6.

Rumah kecil tersebut 58 Gambar 1. semuanya termasuk dalam famili Paniceae. terbuat dari bambu dan beratapkan kulit kayu bus (Melaleuca sp. Gembili biasanya ditanam dalam jumlah terbatas.50−4 m (Gambar 2). Spesies yang paling banyak adalah D. karena selain produksinya terbatas. Tabel 8. esculenta. Gambar 1 memperlihatkan keragaan pertumbuhan talas pada wilayah agroekosistem lahan rawa di Supiori. menamakan kultivar gembili berdasarkan karakter morfologi umbi (Tabel 8). penduduk melakukan kegiatan berburu dan sebagai pangan alternatifnya adalah sagu dan pisang. Gembili belum dikembangkan sebagai industri rumah tangga. budi daya gembili bagi suku Kanum merupakan suatu keharusan. 2009 . Jurnal Litbang Pertanian. meskipun dapat pula diolah menjadi berbagai kue atau kolak gembili. yaitu sebagai mas kawin serta pelengkap pada upacara adat. Untuk menjamin keberlanjutan konsumsi. Hal ini disebabkan ketersediaan bibit terbatas dan umur panennya agak lama.) Berbagai jenis gembili ditemukan di kebun petani di Papua. alata dan D. Tanaman gembili tersebar di beberapa wilayah Papua. pengetahuan petani dalam penganekaragaman produk gembili masih rendah. Pertumbuhan talas pada agroekosistem rawa di Supiori. panjang 45−50 cm Memanjang Besar tidak beraturan Tidak beraturan Bulat lonjong kecil Bulat lonjong panjang Bulat agak kecil Bulat besar Bulat besar Bulat panjang Bulat kecil Bulat kecil Bulat lonjong panjang Berat umbi/ pohon (kg) 5−6 2−3 3−4 3−4 2−3 3−4 7−9 ± 10 1−2 2−3 1−2 2−3 2−3 2−3 1−2 1−2 2−3 Sumber: Paay (2004).sifat khas. Sistem budi daya bergantung pada jenis gembili yang ditanam. Karakter beberapa kultivar gembili yang dibudidayakan suku Kanum di Merauke.) Jawawut merupakan sejenis tanaman serealia yang banyak dijumpai di Biak Numfor. suku Kanum tidak dapat melaksanakan pernikahan. Gembili dikonsumsi dalam bentuk gembili rebus atau bakar.) agar gembili terhindar dari sinar matahari langsung. Sistem budi daya gembili sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat suku Kanum karena mempunyai nilai budaya yang tinggi. Pennisetum. Papua. yaitu Panicum. panjang 45−50 cm Bulat lonjong. Namun saat musim paceklik atau belum memasuki masa panen gembili. Setaria. dan Paspalum. Tanaman ini meliputi lima genera. Echinochloa. meskipun penduduk sangat menyukainya. Dengan demikian. Suku Kanum di Merauke sebagai salah satu subsuku Marind yang mendiami Taman Nasional Wasur (Paay 2004) mengonsumsi gembili secara turun-temurun sebagai makanan pokok. Gembili (Dioscorea spp. Tanpa gembili. 28(2). Tingginya perhatian masyarakat suku Kanum terhadap gembili merupakan peluang sekaligus tantangan untuk mengembangkan gembili di masa mendatang. dengan nama lokal pokem atau gandum Papua. Umumnya gembili dibudidayakan dengan menggunakan tajar dari bambu dengan tinggi 2. Jenis jawawut yang ditemukan di Papua termasuk spesies Setaria italica (pokem ekor macan) dan Pennicetum glaucum (pokem ekor kucing). panjang 45−50 cm Bulat lonjong. Nama lokal Nsorung Salokon Keplan Thai Mbre-mbre Porkot Scamkan Punai Koi Lausiprai Wana Medihjal Ketahjal Waingkuh Mbisaram Keta Ntokre Jumlah umbi Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Sedang Banyak Banyak Banyak Banyak Banyak Sedang Banyak Banyak Warna daging umbi Putih Putih Putih Merah hati/ungu Putih Putih merah hati/ungu Merah hati/ungu Putih polos Putih Ungu Putih Putih Putih Putih Ungu Putih Putih Bentuk umbi Bulat besar Bulat agak kecil Bulat lonjong. terutama di Merauke. Masyarakat suku Kanum membudidayakan berbagai kultivar gembili. Jawawut (Setaria italica sp. Papua. yaitu 7−9 bulan (Rumawas 2004). gembili yang dipanen disimpan di suatu tempat dalam rumah kecil yang diberi nama keter meng.

Gambar 3. distributor. dan konsumen jawawut maupun kacang hijau sejak dahulu kala. dan pokem venanyar (jawawut kuning). seperti dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah termasuk tanah kurang subur. mudah dibudidayakan. Petani umumnya menanam jawawut dengan sistem hambur benih secara langsung setelah lahan dibakar. dan kegunaannya beragam. yaitu 1 kg pati sagu ditambahkan dengan air mendidih 2 liter. Dari spesies tersebut ditemukan berbagai warna. Rumbrawer (2003) menyatakan bahwa orang Numfor telah berabad-abad menggantungkan hidupnya pada budi daya jawawut sebagai pangan pokok selain umbi-umbian dan kacang hijau. Pertumbuhan jawawut pada lahan kering di Biak Numfor. Sagu umumnya dikonsumsi sebagai pangan utama bagi masyarakat di daerah pesisir pantai dan danau/rawa. Dalam skala industri rumah tangga. Jawawut memiliki keunggulan Jurnal Litbang Pertanian. Namun demikian. Pembuatan papeda kering/bungkus biasanya dilakukan apabila penduduk hendak bepergian seperti berburu. Salah satu jenis jawawut yang dibudidayakan petani pada lahan kering Biak Numfor disajikan pada Gambar 3. Selanjutnya dinyatakan bahwa orang Numfor adalah penanam. yaitu pokem vesyek (jawawut cokelat). ada lima jenis jawawut yang dijumpai di Biak Numfor. Jawawut berpotensi untuk dikembangkan dalam rangka memperkuat ketahanan pangan sebagai sumber karbohidrat pengganti beras. hasil jawawut dengan cara tanam hambur benih secara langsung tanpa pemupukan lebih rendah dibandingkan dengan cara tanam pindah atau hambur benih secara larikan. tahan kekeringan. Sagu dikonsumsi sebagai menu seharihari dalam bentuk papeda basah maupun papeda kering/bungkus. umur panen pendek. secara umum sagu dan umbi-umbian menjadi makanan pokok masyarakat Papua.) yaitu 69% (Tabel 9). 2009 dibandingkan dengan tanaman sumber karbohidrat lain. yaitu sejenis pisang-pisangan.PEMANFAATAN PANGAN LOKAL PAPUA Pemanfaatan pangan lokal seperti sagu dan umbi-umbian sebagai sumber pangan utama di Papua sudah berlangsung secara turun-temurun. yakni 74. terutama di Gambar 2. sedangkan umbi-umbian merupakan pangan pokok bagi masyarakat daerah pegunungan. penghasil. Jawawut atau gandum Papua memiliki keunggulan dibandingkan dengan jenis gandum lainnya. Papua. pokem vepaisem (jawawut hitam). Jawawut mengandung karbohidrat lebih tinggi. Bagi penduduk Biak Numfor. jawawut telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan pokok dan komoditas adat. Papeda basah adalah gelatin sagu dan dikonsumsi dengan dicampur kuah ikan dan sayuran (Gambar 4). 59 . Pembuatan gelatin sagu dilakukan dengan mencampur tepung sagu dengan air mendidih sambil diaduk. terutama sebagai sumber energi (Budi 2003). Menurut masyarakat Biak Numfor dalam Rumbrawer (2003). Perbandingan antara tepung sagu dan air mendidih adalah 1 : 2. Pemanfaatan pangan lokal Papua sebagai sumber pangan alternatif disajikan pada Tabel 10. Papeda kering/bungkus adalah gelatin sagu yang dibungkus dengan daun fotofe (nama lokal). pokem verik (jawawut merah). pokem vepyoper (jawawut putih). karena lebih tahan disimpan dibandingkan dengan papeda basah. Ini menunjukkan bahwa jawawut berpotensi sebagai sumber pangan fungsional. 28(2). Pertumbuhan gembili di Merauke. Simanjuntak dan Ondikleuw (2004) melaporkan. Papua.16% dibanding gandum (Triticum spp.

36 600 9. Di balik permasalahan tersebut masih terbuka peluang untuk mengembangkan komoditas pangan lokal di Papua. Masyarakat yang tinggal pada zona ekologi pantai memiliki aksesibilitas .75 2. dan tepung telah dilakukan oleh penduduk pendatang. meskipun pendistribusiannya sering menghadapi kendala transportasi dan biaya angkutan yang mahal. mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dengan sumber daya dan aksesibilitas yang beragam.24 0.90 16.60 64 5.25 40. masyarakat mengkonsumsi beras dengan harga yang mahal. yaitu hampir 60% pada tahun 2005 (Mewa 2007). 60 Pentingnya Pemanfaatan Pangan Lokal di Papua Papua memiliki kondisi agroekosistem yang beragam.63 65.67 4.50 2 2. karena selain biaya operasional tinggi juga daya beli masyarakat sangat rendah.01 2. kue.86 6.70 0. Ketergantungan pada beras menimbulkan masalah baru bagi pemerintah daerah setempat karena harus menyediakan dana untuk subsidi biaya transportasi ke wilayah-wilayah terpencil.04 60.40 13. Alat angkutan satu-satunya adalah pesawat udara dengan rute dan frekuensi penerbangan yang terbatas. ubi jalar dikonsumsi dengan cara bakar batu bersama dengan daging babi.87 <0.90 121. Petani biasanya menjual produk pertanian mereka ke pasar desa yang hanya buka 1−2 hari seminggu. sagu diolah menjadi aneka kue kering (Gambar 5). Masalah dan peluang pengembangan pangan lokal Pengembangan sumber pangan lokal pada skala ekonomi menghadapi berbagai kendala.60 − − − − sumber daya dan infrastruktur yang lebih baik dibandingkan dengan yang berdomisili di wilayah pegunungan. perkotaan. 2008). Namun.46 0.16 1.001 <0.70 49.69 11.67 3. Komposisi gizi Kadar air Kadar abu Kadar lemak Kadar protein Kadar karbohidrat Serat kasar Vitamin A Vitamin B1 Vitamin B2 Vitamin B3 Vitamin B6 Vitamin B12 Vitamin C Vitamin D Asam folat Kalsium (Ca) Besi (Fe) Seng (Zn) Natrium (Na) Kalium (K) Magnesium (Mg) Mangan (Mn) Tembaga (Cu) Timbal (Pb) Merkuri (Hg) Arsen (As) Sumber: Winarno (2002).005 <0. Papeda basah dengan lauknya (a) dan papeda kering/bungkus (b). kebijakan pemerintah dalam mendukung pemanfaatan pangan lokal tersebut belum sepenuhnya dilaksanakan. Produk pertanian yang dijual antara lain adalah umbi-umbian dan sayuran.10 16 69 2. Penduduk di wilayah pedesaan Papua memiliki partisipasi konsumsi umbi-umbian yang cukup tinggi terutama ubi jalar.17 2. Peran sektor swasta dalam pengadaan dan pendistribusian bahan pangan ini sangat kurang. Jurnal Litbang Pertanian. Untuk mengatasi masalah tersebut.42 − 41. 28(2). Perbandingan kandungan gizi gembili dan gandum. pada bulan-bulan tertentu saat umbi-umbian tidak berproduksi optimal.36 74.25 0.30 112 254 825 54 2.01 5. Satuan Gembili % b/b % b/b % b/b % b/b % b/b % b/b IU/100 g mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg µg/kg µg/kg 11. Ubi jalar dan talas dikonsumsi dengan direbus. Pemasaran hasil pertanian dalam skala agribisnis sangat jarang dijumpai karena produk belum memenuhi kuantitas yang layak dipasarkan (marketable product) selain lemahnya sarana transportasi (Limbongan et al. Salah satu kendala tersebut adalah tidak adanya infrastruktur dan lembaga pemasaran hasil pertanian.001 Kandungan gizi Gandum 13. 2009 Gambar 4.80 1. terutama pada wilayah pegunungan.56 1 − − 0. Pengolahan ubi jalar dan talas menjadi keripik. Sumber pangan utama bagi masyarakat di wilayah pegunungan adalah umbiumbian. Namun. diperlukan upaya untuk mengembalikan pemanfaatan sumber pangan lokal. Namun dalam upacara ritual (adat atau keagamaan). Untuk menghindari masalah ini secara berlanjut.Tabel 9.60 49. pemerintah memberikan bantuan beras miskin (raskin).

Pemanfaatan gandum Papua (pokem) sebagai sumber pangan alternatif untuk menunjang ketahanan pangan masya- 61 . diperlukan langkah-langkah konkret dari pemerintah daerah. Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. Jayapura. masih ada harapan untuk mengembalikan pangan lokal sebagai pangan pokok bagi masyarakat Papua. (2008) Gembili − Ondikleuw et al. baik sebagai bahan pangan maupun komoditas adat. sehingga ketergantungan pada bantuan pangan beras dapat dikurangi. Dari aspek sosial dan budaya. Dengan demikian. Jayapura. dan jawawut dapat dilakukan karena komoditas tersebut telah menyatu dengan masyarakat. (2008) Paay (2004) Rumbrawer (2003) Jawawut − Jawawut dipercaya sebagai warisan leluhur bagi masyarakat Biak Numfor. umbi-umbian.Tabel 10. 2007. Aneka produk olahan sagu dan umbi-umbian di Jayapura. dan 5) dari aspek pemberdayaan masyarakat. (2000) Sagu Louw (2005) Talas Rauf et al. Namun. sehingga kelestariannya tetap terjaga Gambar 5. diperlukan bantuan permodalan dan pelatihan bagi petani guna meningkatkan pemanfaatan pangan lokal berorientasi agribisnis. Neraca Bahan Makanan Provinsi Papua. KESIMPULAN DAN SARAN Kondisi agroekosistem Papua sangat mendukung bagi pengembangan komoditas pangan lokal sebagai sumber pangan alternatif maupun pangan utama bagi penduduk yang tinggal di perkotaan maupun di pedesaan atau pegunungan. karena partisipasi DAFTAR PUSTAKA Badan Bimas dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua. Meningkatnya kebutuhan konsumsi pangan lokal akan mendorong terciptanya usaha tani berbasis pangan lokal. konsumsi pangan lokal. 2003. 28(2). Potensi penggunaan pangan lokal seperti sagu. Papua dalam Angka 2007. terutama di Sentani Jayapura Pada umumnya setiap acara adat di Papua talas disajikan dalam bentuk talas rebus Mas kawin bagi suku Kanum di Merauke Sumber Lestari et al. Untuk mempercepat pemanfaatan pangan lokal sebagai pangan pokok serta mengurangi ketergantungan pada beras. 2009 ningkatkan produktivitasnya secara berkelanjutan dan ramah lingkungan.M. Badan Bimas dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua. 4) menumbuhkan industri rumah tangga pengolahan aneka kue sagu dan umbiumbian. 3) pembentukan jaringan pemasaran melalui penumbuhan pola kemitraan antara pengusaha dan petani serta promosi atau pameran produk pangan lokal. antara lain: 1) dukungan sarana dan prasarana transportasi serta pemasaran hasil pertanian. dan jawawut sebagai bahan pangan utama bagi penduduk Papua masih terbuka. khususnya umbiumbian cukup tinggi. 2) dukungan inovasi teknologi budi daya dan pengelolaan panen dan pascapanen. Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. pengembangan tanaman pangan lokal sagu. Pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber pangan alternatif di Papua. Budi. Pangan lokal Ubi jalar Pemanfaatan pangan lokal Konsumsi sehari-hari Ubi rebus Ubi bakar Ubi goreng Papeda basah Papeda kering Sagu bakar Talas rebus Talas bakar Gembili rebus Gembili bakar Gembili goreng Nasi/bubur jawawut Kue jawawut Industri rumah tangga Keripik ubi Tepung ubi Donat ubi Kue kering Cake sagu Sagu mutiara Puding pandan sagu Keripik talas Upacara adat Bakar batu pada upacara adat terutama di Jayawijaya Pada setiap acara adat mutlak harus ada papeda basah maupun kering/bungkus. umbi-umbian. pengembangannya memerlukan sentuhan inovasi teknologi guna meJurnal Litbang Pertanian. 2007. I.

ACIAR-ESEAP-CIP. suweg. Sugiyama. H. Y. Workshop on Farm Conservation. Laporan Hasil Uji (Report of analisys). Majalah Pangan. 1996. Prosiding Lokakarya Nasional Pendayagunaan Pangan Spesifik Lokal Papua. Dalam Y. 2008. Japan. Louw. dan D.rakat Papua.S. Sumbangan Pemikiran Pembangunan Pertanian di Irian Jaya. Jamal (Ed. Karakterisasi. Tokede (Ed. Sweet potato germplasm in Jayawijaya division of Irian Jaya diversity.). D. 62 Jurnal Litbang Pertanian. Lestari. Perkembangan pertanian Provinsi Papua. 2004. A.). A. Jurnal Antropologi Papua 2(5): 18− 41. F.W. C. 2001. Pengkajian sagu berwawasan agribisnis di Kabupaten Yapen.). Karafir. Bogor. 1995. Dalam. hlm.D. In J. A.. and N. Novarianto. Richana. Jong. 2007. dan K. Kerja Sama BBP2TP. ubi kelapa. Schneider. Makalah pada Lokakarya Pengembangan Pertanian Wilayah Indonesia Timur Khususnya Wilayah-wilayah Pengembangan Baru. Prosiding Seminar Nasional dan Ekspose Percepatan Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Mendukung Kemandirian Masyarakat Kampung di Papua. 41−49. Sudrajat. Karafir. Bintoro. The role of taro (Colocasia esculenta) in the livelihood of the local people in the Ayamaru Subdistrict. D. P.. International Potato Center-ESEAP-Central Research Institute for Food Crops. Tokede (Ed. Dalam M. Karafir.J.S. 1993.P. Studies on differences in photosynthetic abilities among varieties and related characters in sago palm (Metroxylon sagu Rottb). hlm. 1991. 2002. Lestari. Kerja Sama Universitas Papua dengan Pemerintah Provinsi Papua. hlm.). La Achmady and J. Ondikleuw. Identification of sago species and rehabilitation to increase productivity of sago (Metroxylon spp. H.Z. Sago Palm 16(2): 102−108. Pengembangan kedaulatan pangan di Wilayah KTI: Perspektif mengembalikan pangan lokal sebagai pangan pokok. Soenarto. Saitoh. S. A. Miftahorrachman. B. Rumbrawer. Kerja Sama Universitas Papua dengan Pemerintah Provinsi Papua. Y. Setiawan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua. Nugroho. K. Ondikleuw. Abdullah. Jakarta.E. Simanjuntak.W. 2009 . Karakterisasi sifat fisiko-kimia umbi dan tepung pati dari umbi ganyong. Laporan Hasil Penelitian. M. Abdullah. Y. Kajian komponen teknologi budi daya pokem di Biak Numfor. Mewa. Y. Soenarto. 27−32.S. Pasandaran (Ed.G. and pathways for conservation. M-BRIO Food Laboratory. Rauf. M. Limbongan.S. Kerja Sama Universitas Papua dengan Pemerintah Provinsi Papua. 2007. dan A. 2004. and D. Rouw. Papua Pattipi. A. dan konservasi gembili di Papua. Sudarsono. dan M. Nggobe. Lakuy.) pangan andalan suku Kanum Kabupaten Merauke. Soenarto. Rauf. F. garut.P. D.) in Irian Jaya. Sorong Irian Jaya Province. Mokay. Rasyad (Eds. Amisnaipa.C. Limbongan. S. dan M. 28(2). A. Starch productivity of sagoo palm in Indonesia. Suradisastra.W. Prosiding PATPI. Identifikasi.). 71−95. Karakterisasi bahan berpati (tapioka. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. In C. 121−127. dan E. International Potato Center-ESEAP-Central Research Institute for Food Crops.) Sago: The Future Source of Food and Feed. Hendayana (Ed. Soenarto. Ubi-ubian sebagai salah satu pangan spesifik lokal dan strategi pengembangannya di Provinsi Papua. Nugroho. Rochani. Dalam K. Paay. Konsep dasar potensi pengembangan pangan spesifik lokal di Provinsi Papua. F. Jakarta. Laporan Hasil Penelitian. Amirawaty. Lestari. Widowati. Manutubun. Y. A. 2003. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua. Dalam Y.H. dan P. 1996. Manutubun. Pemerintah Provinsi Papua. H. Yusuf.. Sunarti. Pekanbaru.W. B. dan A. Kajian teknologi penyimpanan dan pengolahan ubi jalar di Kabupaten Jayawijaya.. hlm.. Y. Badan Urusan Logistik. Nugroho. Prosiding Lokakarya Nasional Pendayagunaan Pangan Spesifik Lokal Papua. P. Faculty of Agriculture. dan M. 179−186. Lestari. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Taher. M. Pengembangan Sagu Papua. B. Prosiding Lokakarya Nasional Pendayagunaan Pangan Spesifik Lokal Papua. Rauf. Tuber Crops in Irian Jaya: Diversity and the need for conservation. J. Kerja Sama Universitas Papua dengan Pemerintah Provinsi Papua.P. Bogor. Abdullah. 2004.J..S. N. Abdullah. 2000. 2005. 2008. 105−113. Rumawas. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Miyazaki. 2008. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua. Manutubun. I. A. A. Limbongan. A. Tokede (Ed. Tarigan. Wihyawari. 2000. Suradisastra. Pokem terigu unggul masa depan. Proceeding of an International Meeting Held at the Faculty of Agriculture. Oh-e. dan sagu) dan pemanfaatannya menjadi glukosa cair. Husain.). Lewaherilla. Resubun. N. Proceedings Indigenous Knowledge in Conservation of Crop Genetic Resources. Jose and A. B. Malik. 2005. hlm. Prosiding Lokakarya Nasional Pendayagunaan Pangan Spesifik Lokal Papua. J. p. H. Schneider (Ed. Proceedings of the Sixth International Sago Symposium. 2004. Mahalaya. Suradisastra dan E. H. M. Dimyati. Schneider.J. Prosiding Hasil Penelitian Sistem Usaha Tani Irian Jaya. F. Cendrawasih University. 2000. Soplanit. problems. Y. dan gembili. J. dan A. 2004.. La Achmady and J. N. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. A. Limbongan.). 33−42. hlm. Bogor-Indonesia. N. Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian 1(1): 29−37. 2004. 19−20 Juli 2007. Karafir. Rauf. 6−8 December. A. 2008. hlm. Cargill.J... Widjono.). Richana. Gembili ((Dioscorea spp. J. Laporan Hasil Penelitian. Dalam Y. Tokede (Ed. Prosiding Lokakarya Menyoroti Dinamika Pembangunan Pertanian Kawasan Timur Indonesia. Bogor. Perbaikan efisiensi produksi ubi jalar di Kabupaten Jayawijaya melalui perbaikan varietas unggul adaptif dataran tinggi Papua Solossa. 249−266. Bogor. Allorerung. dan M. J. Kasim. Louw. A. Winarno. Peters. Menggali sumber pangan lokal.P. Chilmijati. Nugroho. Wamaer. Damardjati. M. Jenis-jenis Sagu Beberapa Daerah Papua. dan S. Laporan Hasil Penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua. Soplanit. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua. Uji daya hasil beberapa kultivar talas lokal di Yahukimo. M. Hanafiah. Kanro dan R. Wisnugroho. H. Manokwari. M.. dan M. dan Sawentar. A. Widowati. Manutubun. A. BogorIndonesia. Dalam J. dan T. Kochi University. dan Subandi. dan A. K. Jakarta. dan M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful