P. 1
Jabat Tangan

Jabat Tangan

|Views: 78|Likes:
Dipublikasikan oleh alif fikri

More info:

Published by: alif fikri on Feb 09, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

10/15/2012

pdf

opini

Achmad Satori Ismail
(Ketua Ikatan Dai Indonesia)

REPUBLIKA

Halaman >> Selasa > 14 September 2010

4

Jabat Tangan

>> tajuk <<

D

alam persepsi sebagian besar umat Islam di Indonesia, silaturahim adalah berjabat tangan saat bertemu, baik dalam acara halalbihalal maupun pada acara lainnya. Ada juga yang menyatakan bahwa silaturahim harus direalisasikan dengan mudik ke kampung halaman untuk bertemu saudara dan handai tolan walaupun perlu menghabiskan cukup banyak biaya. Yang demikian ini hanyalah sebagian kecil dari cakupan istilah silaturahim. Jabat tangan memang penting dan dianjurkan agama. Rasulullah SAW bersabda, “Saling berjabat tanganlah kamu sekalian, niscaya akan menghilangkan rasa dendam dalam hatimu.” Secara etimologis, silaturahim terdiri dari dua kata, yaitu shilatun ‘hubungan’ dan rahimun ‘rahim’ (rahim wanita, kemudian digunakan untuk menunjukkan kekerabatan, seakan mereka lahir dari satu rahim. Juga rahim berarti kerabat dari turunan suami dan istri, baik dari fihak bapak maupun ibu). Dari sini para ulama menyatakan bahwa silaturahim berkonotasi berbuat baik kepada kerabat dengan ucapan atau perbuatan, seperti menziarahinya, menanyakan keadaannya, memenuhi kebutuhannya, dan berusaha untuk membantunya. Jadi, di antara tujuan utama silaturahim adalah mereali sasikan hubungan sosial yang baik, saling tolong menolong, dan mewujudkan cinta antarumat. Silaturahim ini wajib hukumnya berdasarkan ayat-ayat Alquran, seperti (QS Al-Isra: 26 dan QS Ar Ra’d: 21) dan hadis-hadis nabawi yang sahih,

seperti hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya bersilaturahim.” Agama Islam diturunkan ke bumi untuk mendatangkan kemaslahatan optimal bagi seluruh alam, termasuk di dalamnya kemaslahatan umat manusia. Tujuan disyariatkannya berbagai perintah dalam Islam adalah untuk memelihara lima hal yang dikenal dengan istilah maqashidusy asy-syariah, yaitu memelihara nasab, akal, jiwa, kehormatan, dan harta. Oleh sebab itu, semua perbuatan yang berdampak pada upaya untuk memelihara lima hal tersebut diberi pahala yang besar, karena memang Alquran diturunkan untuk membuat manusia bahagia. Menolong orang susah, membantu anak yatim dan dhuafa, dan bersilaturahim untuk mengokohkan ukhuwah Islamiah, wathaniah, dan basariah merupakan amalan yang besar pahalanya. Tapi, sebaliknya, semua perilaku atau ucapan yang bisa merusak lima hal tersebut itu dianggap dosa besar, seperti minuman keras akan merusak akal, berzina berakibat merusak nasab dan kehormatan, dan mencuri dan korupsi dianggap mengambil harta orang tanpa hak. Seluruhnya dianggap dosa besar yang tidak bisa dilebur dosanya melalui ibadah, tapi harus dengan tobat yang sungguh-sungguh. Silaturahim merupakan penyebab terciptanya hubungan baik antarumat manusia dan bisa menghadirkan keharmonisan antarsaudara senasib dan saudara seagama. Bila hal ini terjadi, kehidapan manusia akan aman dan sejahtera karena tidak ada orang yang berusaha untuk menyengsarakan orang lain, tidak ada penindasan, kezaliman, dan penjajahan. Di antara rahasia mengapa silaturahim diwajibkan adalah 1. Ia adalah sebab utama untuk mendapatkan kontak langsung

dengan Allah; 2. Silaturahim adalah penyebab masuk surga; 3. Bersilaturahim adalah manifestasi dari pelaksanaan perintah Allah; 4. Ia adalah amalan yang paling utama di hadapan Allah; 5. Sebagai tanda iman kepada Allah dan hari akhir; 6. Menunaikan wasiat Nabi Muhammad SAW; 7. Sebab diluaskannya rezeki dan dipanjangkannya umur; 8. Silaturahim bisa menolak mati dalam keadaan su’ul khotimah; dan 9. Silaturahim merupakan akhlak paling mulia bagi penduduk bumi. Siapa yang harus kita silaturahimi? Para ulama berbeda pendapat tentang siapa saja yang tercakup dalam kata-kata rahim. Pertama, saudara yang diikat dengan kekerabatan yang tidak boleh dinikahi, seperti kedua orang tua sampai ke atas, anak-anak sampai cucu terus ke bawah, saudara kandung dan anak-anak mereka, paman dan bibi dari bapak dan paman dan bibi dari ibu. Kecuali anak-anak dari paman dan bibi, semuanya tidak termasuk dalam kategori pertama ini. Kedua, yang wajib disilaturahimi adalah kerabat yang saling mewarisi saja, sehingga tidak mencakup paman dan bibi dari bapak atau ibu. (Lihat Alqurthubi juz 16 hal 248) Pendapat ini keliru karena Rasulullah SAW pernah bersabda, “Bibi (dari Ibu) sama kedudukannya seperti ibu.” Ketiga, kata-kata rahim mencakup semua karib kerabat yang harus disilaturahimi. Pendapat ini memasukkan anakanak paman dan bibi serta anak-anak mereka ke dalam istilah rahim yang harus kita silaturahimi. Kekerabatan di atas adalah kekerabatan khusus yang berdasarkan pada nasab. Di sana ada kekerabatan umum, yaitu persaudaraan seagama, yaitu persaudaraan antarumat Islam. Ada pula kekerabatan yang lebih luas, yaitu persaudaraan kemanusiaan yaitu ukhuwah

basariah dengan non-Muslim. Silaturahim khusus dilakukan dengan memberi nafkah pada karib kerabat, menanyakan keadaan mereka, toleran terhadap mereka, memenuhi kebutuhan mereka, atau memberi manfaat dunia dan akhirat. Silaturahim umum dengan cara menyampaikan kasih sayang, saling menasihati, amar maruf nahi munkar, dan perbuatan baik lainnya. Adapun silaturahim kepada non-Muslim dan semua umat manusia adalah dengan cara berbuat baik kepada mereka, menolong yang lemah, dan membantu yang kesusahan. Demikian urgennya silaturahim untuk menciptakan hubungan harmonis antarumat manusia, Allah mengancam orang-orang yang memutuskan silatuahim dengan siksaan nyata di dunia dan sisanya disimpan di akhirat. Di antara siksaan kepada orang yang memutuskan silaturahim adalah 1. Tidak akan masuk surga, sebagaimana dijelaskan hadis Rasulullah SAW, ”Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim” 2. Tidak diterima amalnya (lihat hadis riwayat Ahmad); 3. Rahmat Allah tidak akan diturunkan kepada suatu kaum yang ada pemutus silaturahim; 4. Pemutus silaturahim dilaknat dalam Alquran ( lih QS Muhammad: 22-23); 5. Pemutus silaturahim digolongkan dalam kaum fasik yang merugi (lih QS AlBaqarah: 26-27); 6. Pemutus silaturahim disegerakan siksaannya di dunia dan sisanya ditimpakan di akhirat kelak. Na’udzubillah min dzalik. Seusai ibadah maksimal di bulan Ramadhan yang menghasilkan maghfirah dari Allah, perlu kiranya kita bersihkan diri kita dari kesalahan yang terjadi antarumat, sehingga dosa yang berkaitan dengan hablu minallah dan hablu minannas terhapuskanlah sudah. Amin. Wallahu a’lam. I

Magnet Perkotaan Masih Kuat
Arus balik pasca Lebaran mulai terlihat. Fenomena mudik sudah selesai. Hampir seluruh alat transportasi dari daerah ke kota-kota besar kembali dipadati jutaan warga yang siap-siap kembali merantau. Pemerintah tentu sudah mengantisipasi ini sejak jauh hari, terutama jalan-jalan antarkota dan antarprovinsi, begitu pula dengan kesiapan seluruh moda transportasi. Kesiapan itu saja tak cukup. Pasalnya, berbarengan dengan arus balik usai mudik, muncul persoalan-persoalan lain yang lebih rumit dan kompleks. Sebut saja, misalnya yang terkait urbanisasi. Arus balik harus kita akui seringkali dipadati pendatang baru. Tingkat kepadatan penduduk di wilayah perkotaan akan meninggi. Biasanya itu diikuti pula dengan masalah pemukiman dan masalah sosial lain. Imbauan untuk mencari nafkah di daerah nyaris tak terdengar. Bahkan, tindakan hukum semacam Operasi Yustisi Kependidikan yang kerap digelar pun tak mampu menyurutkan langkah para pendatang baru. Apalagi, penegakan hukum (sanksi) beragam operasi tersebut jarang membuat calon pendatang baru berpikir ulang untuk datang ke perkotaan. Arus pendatang baru justru memperlihatkan kecenderungan meningkat. Sebagian diperkirakan tanpa life skill memadai dan hanya bermodalkan kekuatan mental, kalau tak mau dibilang nekat. Selanjutnya, efek domino arus balik pun bermunculan, seperti pemukiman yang tak tertata dan cenderung kumuh, tingkat kriminalitas yang meninggi, dan kerawanan sosial lain. Semua itu merupakan cerminan belum meratanya distribusi sumber daya ekonomi ke daerah. Betul, pada saat mudik, kegiatan dan sumber daya ekonomi bisa dikatakan tersebar ke daerah. Namun, itu hanya bersifat jangka pendek. Kota-kota besar, khususnya Jakarta, harus diakui masih menjadi magnet besar bagi para pendatang baru untuk mengadu nasib. Fenomena arus balik itu, seperti juga mudik, terjadi setiap tahun. Mestinya para penentu kebijakan mampu memetik pelajaran sehingga ledakan penduduk di kota-kota besar bisa diantisipasi. Tentu saja ini bukan domain pemerintah pusat semata, tapi juga tanggung jawab pemerintah daerah. Berbekal otonomi daerah, pemerintah daerah sudah sepantasnya meyakinkan warganya kalau tinggal di daerah bisa mengangkat kesejahteraan, sosial maupun ekonomi. Karenanya, kini sudah saatnya pemerintah daerah berbenah. Optimalkan seluruh potensi ekonomi yang ada di daerah, sehingga terjadi kegiatan ekonomi dan bisnis yang benar-benar berorientasi pada kepentingan warganya. Iklim usaha dan bisnis di daerah perlu terus diperbaiki sehingga warganya merasa nyaman mencari nafkah di daerahnya sendiri. Di daerah pusat, pemerintah perlu membuat kebijakan lebih tegas terkait pemerataan distribusi sumber-sumber daya ekonomi. Arus balik adalah fenomena tahunan. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik untuk mengantisipasi membeludaknya penduduk perkotaan dengan segala macam persoalannya. Koordinasi pemerintah pusat dan daerah merupakan kunci. Urbanisasi memang sudah menjadi bagian dari tradisi, tapi kita tidak sedang bicara tentang melarang atau mencegah warga daerah hijrah ke kota. Kita sedang bicara pemerataan sumber daya ekonomi. Kita sedang berbicara bagaimana mendorong pertumbuhan perekonomian daerah. Kita sedang bicara bagaimana menyebar magnetmagnet ekonomi di perkotaan ke daerah-daerah. Sebab, realitanya, pemerataan dan penyebaran itu belum terjadi. I

>> resonansi <<

Oleh Ahmad Syafii Maarif

>> suarapublika <<
PDAM TIRTA PATRIOT Air Mati
Saya adalah warga Perumahan Kota Harapan Indah, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi, tepatnya di Cluster Taman Puspa Kota Harapan Indah. Untuk kebutuhan air di rumah, saya mengandalkan air PDAM, begitu juga dengan ribuan warga lainnya. Saya juga tidak punya bak mandi dan hanya mengandalkan aliran PDAM lewat keran air atau shower. Celakanya, saat saya tengah asyik mandi, air tiba-tiba mati. Tandon air pun sudah kosong. Ternyata PDAM tak mengalirkaan air sama sekali tanpa pemberitahuan. Satpam mengatakan, warga lain juga mengeluh air PDAM sudah mati sejak 1 September 2010. Saya punya dua balita di rumah. Sampai saat ini terpaksa mengungsi karena tak ada air. Saya bingung ke mana harus mengadu karena kantor kas di Harapan Indah hanya tempat menerima pembayaran. Semoga para bos di PDAM Tirta Patriot yang dimiliki oleh Pemkot Bekasi membaca surat saya ini dan menjawab mengapa air masih tak mengalir di rumah-rumah kami hingga saat ini. Tentu saja kami mohon untuk segera mengalirkan air karena kami sangat membutuhkannya. Air adalah kebutuhan utama kami. Jadi, jangan karena kami butuh, kami tak dianggap sama sekali. Pelanggan punya hak bertanya dan mendapatkan pelayanan yang baik. Tapi, yang terjadi, jika menunggak, PDAM bisa sangat galak pada kami.

Selepas Lebaran

1

Syawal 1431 baru saja kita tinggalkan, suasana hari raya masih sangat dirasakan. Pemudik sedang bergerak secara bergelombang, kita tidak tahu berapa orang lagi yang sedang dan akan berhadapan dengan maut. Apa yang disebut arus mudik boleh jadi hanya terdapat di Indonesia, sebuah gejala sosiologis yang pasti menyita perhatian publik saban tahun. Bagi kampungkampung yang didatangi situasi akan menjadi sangat meriah, sekalipun hanya berlangsung sebentar, untuk kemudian para pemudik itu menghilang lagi. Ada yang menyewa kendaraan roda dua, roda empat yang serbabaru selama beberapa hari. Bahkan, ada yang melakukan transaksi kredit kendaraan baru, jika tak terbayar, dipulangkan kepada dealer, uang muka dianggap sebagai sewa. Saking membanjirnya kendaraan impor ke Indonesia, dengan hanya berbekal sedikit modal, pemudik datang dengan kendaraan serbamulus akan menjadi “raja” selama beberapa hari di kampung, hilir mudik sepanjang jalan. Bersiul sambil melambaikan tangan. Di antara mereka ada yang benar-benar untuk melepas rindu pada teman-teman yang tidak merantau, tetapi tidak jarang pula untuk pamer kepada kampung sebagai orang yang berhasil di rantau, jauh atau dekat. Media massa sangat sibuk mewartakan arus bolak-balik ini sepanjang hari, sepanjang malam, hampir tanpa henti, karena mengasyikkan untuk diikuti. Inilah Indonesia tercinta yang menyuguhkan saban tahun kepada dunia

sebuah kultur mudik yang spektakuler. Jalan-jalan raya penuh sesak oleh manusia, jarak yang biasa ditempuh satu jam dapat berubah menjadi tiga sampai empat jam. Merayap di jalan raya adalah panorama yang sangat umum selama hari-hari Lebaran. Tidak hanya sampai di situ. Angkutan udara pun penuh sesak, bandara-bandara telah berubah menjadi seperti pasar malam, sarat oleh manusia pemudik dengan wajah yang serbasibuk. Berdesak-desakan, seperti akan kehabisan tempat duduk, padahal tiket sudah di tangan. Disiplin sosial bangsa ini sangatlah rendah, kultur antre secara teratur masih belum menjadi pola prilaku umum. Egoisme sering sangat menonjol, sekalipun para juru dakwah selama Ramadhan sering berucap bahwa orang berpuasa secara tulus telah terbebas dari dosa-dosa terdahulu. Maka alangkah baiknya, jika kita semua mau dan pandai belajar untuk menegakkan disiplin, pribadi dan sosial, sebagaimana puasa telah melatih kita untuk itu. Pada skala yang lebih besar, tengok pulalah kondisi bangsa ini. Bung Taufiq Ismail dalam sebuah tayangan tv barubaru ini dengan mimik wajah yang sangat prihatin berucap yang intinya adalah: “Keterpurukan kita telah menjangkau semua arena kehidupan. Tidak ada yang selesai!” Lautan kemiskinan masih “setia” bersama kita. Jika parameter pendapatan dua dolar per hari per kepala yang digunakan, maka lebih dari 100 juta anak bangsa ini berada dalam kategori miskin. Angkanya menjadi sekitar 110 juta dari 236 juta penduduk Indonesia.

Yang agak aneh adalah fakta ini. Seorang yang naik sepeda motor belum tentu orang yang berpunya, sebab dengan uang muka sebesar Rp 300.000 saja, Anda akan mudah bawa sebuah sepeda motor pulang ke rumah. Demikian gampangnya berutang sekarang ini. Perkara nanti tidak bisa mengangsur saban bulan, penyelesaiannya juga mudah sekali: kendaraan Anda diambil pemilik. Titik! Keadaan semacam ini tak pernah terbayangkan sebelum abad ke-21. Luar biasa. Maka, tidaklah perlu heran orang yang berhak mendapatkan jatah zakat fitrah sekarang datang dengan sepeda motor baru untuk mengambilnya. Sungguh masyarakat telah berubah dengan sangat cepat. Jika sebelum itu, orang yang bersepeda motor adalah pembayar zakat fitrah, sekarang situasinya sudah terbalik sama sekali. Inilah Indonesia kita yang sarat dengan serbaparadoks. Adapun rekening gendut polisi yang beberapa waktu banyak dibicarakan, kini telah menyingkir ke alam sunyi. Dengan demikian, yang gendut akan nyenyak tidur dengan kegendutannya, jika tidak terserang stroke. Yang terkapar masih akan tetap terkapar, entah untuk berapa lama lagi. Siapa sih yang masih hirau dengan kesenjangan sosial yang belum terjembatani ini? Pemerintah, DPR, birokrat, para kiai, intelektual, para dukun, atau justru sesama rakyat kecil? Jawabannya adalah: antahlah yuang! Tetapi siapa tahu selepas Leberan ini ada di antara kita yang benar-benar menjadi manusia baru sama sekali, dalam makna yang sangat positif. Itulah harapan kita semua. Semoga. I

Elly Husin Kota Harapan Indah Bekasi Taman Harapan Baru Blok I.2.NBO44 RT 006/022 Pejuang Medan Satria Kota Bekasi

BANDUNG Semakin Kumuh
Membaca Suarapublika (13/9) soal kekumuhan Bandung, saya jadi tergelitik. Sebenarnya, masalah macet, jalan berlobang, dan kejorokan Bandung sudah lama terjadi. Sejak era reformasi, Bandung nyaris tak pernah diurus, baik oleh wali kota, bupati maupun gubernur Jawa Barat. Mungkin persoalannya karena para pimpinan ini tak mengerti masalah Bandung dan hanya menjadikan Bandung sebagai lahan mencari uang untuk kepentingan pribadi ataupun partai pendukungnya. Saya berharap melalui Suarapublika ini, para pimpinan yang saya percaya adalah Muslim yang taat untuk bisa mengurus warganya dengan baik. Ingatlah, Anda ini mendapat amanah dan nanti akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Sudah tiga wali kota dan tiga bupati yang mengurus wilayah Bandung dan sekitarnya, tapi tetap saja tak ada perubahan.

Ir Kurnia Dani Kopo Permai I Bandung

HARIAN UMUM

REPUBLIKA
MAHAKA MEDIA

Semua naskah yang dikirim ke Redaksi dan diterbitkan menjadi milik HU Republika. Semua wartawan HU Republika dibekali tanda pengenal dan tidak menerima maupun meminta imbalan dari siapa pun. Semua isi artikel/tulisan yang berasal dari luar, sepenuhnya tanggung jawab penulis yang bersangkutan. (Semua isi artikel/tulisan yang terdapat di suplemen daerah, menjadi tanggung jawab Kepala Perwakilan Daerah bersangkutan.

Pemimpin Redaksi: Ikhwanul Kiram Mashuri. Wakil Pemimpin Redaksi: Nasihin Masha. Redaktur Pelaksana: Agung Pragitya Vazza. Kepala Newsroom: Arys Hilman. Kepala Republika Online: Irfan Junaidi. Redaktur Senior: Anif Punto Utomo. Wakil Redaktur Pelaksana: Elba Damhuri, M Ir wan Ariefyanto, S Kumara Dewatasari. Asisten Redaktur Pelaksana: Nurul S Hamami, Subroto, Rakhmat Hadi Sucipto, Nina Chairani Ibrahim, Bidramnanta, Selamat Ginting, Syahruddin El-Fikri. Staf Redaksi: Alwi Shahab, Agus Yulianto Budi Utomo, Burhanuddin Bella, C Purwatiningsih, Damanhuri Zuhri, Darmawan Sepriyossa, Djoko Suceno, Darmawan,Edi Setyoko, Eko Widiyatno,Endro Cahyono, Firkah Fansuri, Harun Husein, Heri Pur wata, Heri Ruslan, Ir wan Kelana, Johar Arief, Joko Sadewo, Khoirul Azwar, Maghfiroh Yenny, Muhammad Subarkah, M Ghufron, Natalia Endah Hapsari, M As’adi, Neni Ridarineni, Andi Nur Aminah, Nur Hasan Murtiaji, Priyantono Oemar, Siwi Tri Puji Budiwiyati, Stevy Maradona,Sunarwoto, Taufiqurrahman Bachdari, Teguh Setiawan, Wachidah Handasah, Yeyen Rostiyani, Yusuf Assidiq. Andri Saubani, Anjar Fahmiarto, Budi Rahardjo, Cepi Setiadi, Desi Susilawati, Dewi Mardiani, Didi Purwadi, Dyah Ratna Meta Novia, Edwin Dwi Putranto, EH Ismail, Endro Yuwanto, Fernan Rahadi, Ferry Kisihandi, Indah Wulandari, Indira Rezkisari, M Ikhsan Shiddieqy, Mansyur Faqih, Mohammad Akbar, M Anis Fathoni, Mohamad Amin Madani, Nidia Zuraya, Palupi Annisa Auliani, Prima Restri Ludfiani, R Hiru Muhammad, Rachmat Santosa Basarah, Rahmat Budi Harto, Ratna Puspita, Reiny Dwinanda, Rosyid Nurul Hakim, Rusdy Nurdiansyah, Susie Evidia Yuvidianti, Teguh Firmansyah, Wardianto, Wulan Tunjung Palupi, Yogi Ardhi Cahyadi, Yoebal Ganesha Rasyid,Yogie Respati, Zaky Al Hamzah. Kepala Desain: Sarjono. Kepala Perwakilan Jawa Barat: Maman Sudiaman. Kepala Perwakilan DIY - Jawa Tengah: Indra Wisnu Wardhana. Kepala Perwakilan Jawa Timur: Asep Nurzaman. Nian Poloan (Medan), Maspril Aries (Palembang), Ahmad Baraas (Bali). Sekretaris Redaksi: Fachrul Ratzi.

Penerbit: PT. Republika Media Mandiri. Alamat Redaksi: Jl. Warung Buncit Raya No. 37, Jakarta 12510, Alamat Surat: PO Box 1006/JKS-Jakarta 12010. Tel: 021-780.3747 (Hunting), Fax: 021-780.0649 (Seluruh Bagian). Fax Redaksi: 021798.3623, E-mail: sekretariat@republika.co.id. Bagian Iklan: Jl. Warung Buncit Raya No. 37, Jakarta 12510. Tel: 021794.4693, Fax: 021-798.1169. Alamat Perwakilan Iklan: Jl. Gajahmada No. 95, Jakarta 11140. Tel: 021-633.6410. Fax: 021-633.7470. Sirkulasi dan Langganan: Tel: 021-791.98441, Fax: 021-791.98442. Online: http://www.republika.co.id. Alamat Perwakilan: Bandung: Jl. LL RE Martadinata No. 126 Tel: 022-420.7671, 420.7672, 420.7675, Fax: 022-426.2829, Yogyakarta: Jl. Perahu No. 4, Kota Baru, Tel: 0274-544.972, 566028, Fax: 0274-541.582, Surabaya: Jl. Barata Jaya No. 51, Tel: 031-501.7409, Fax: 031-504.5072. Direktur Utama: Erick Thohir. Wakil Direktur Utama: Daniel Wewengkang. Direktur Operasional: Tommy Tamtomo. Direktur Marketing: Prasanti Andrini. GM Keuangan: Didik Irianto. GM Marketing dan Sales: Ismed Adrian. Manager Iklan: Yulianingsih. Manager Produksi: Nurrokhim. Manager Sirkulasi: Darkiman Ruminta. Manager Keuangan: Hery Setiawan. Harga Langganan: Rp. 69.000 per bulan, harga eceran Pulau Jawa Rp 2.900. Harga Eceran Luar Jawa: Rp. 4.000 per eksemplar (tambah ongkos kirim). Rekening Bank a.n PT Republika Media Mandiri: Bank BSM, Cab. Warung Buncit, No. Rek. 0030113448 ( Bank Mandiri, Cab. Warung Buncit, No. Rek. 1270004240642 ( Bank Lippo, Cab. Warung Buncit, No. Rek. 727.30.028988 ( Bank BCA, Cab. Graha Inti Fauzi, No. Rek. 375.305.666.8. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers: SK Menpen No. 283/SK/MENPEN/SIUPP/A.7/1992, Anggota Serikat Penerbit Surat Kabar: Anggota SPS No. 163/1993/11/A/2002.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->