Anda di halaman 1dari 2

Teori Linguistik Chomsky [http://treebuilder.blogspot.com/2011/01/teori-teori-yangdikemukakan-oleh.

html ]

Bahasa merupakan ciri utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Menurut Komaruddin Hidayat, proses berbahasa melibatkan sejumlah saraf dalam otak yang meramu kata-kata agar dapat dipahami publik. Dengan ini, berbahasa juga dapat dipahami sebagai proses berfikir. Karena itulah, menjadikan bahasa sebagai objek kajian merupakan pilihan menarik. Dalam literatur linguistik dinyatakan bahwa sejak Plato hingga akhir abad ke-19 kajian kebahasaan bersifat diakronik. Saat itu hubungan genetik pada tiap-tiap bahasa dicari ketersambungannya. Kehadiran Ferdinand de Saussure, dengan karya monumentalnya Course in General Linguistic, membawa perubahan pada kecenderungan itu. Sejak itu, terjadi peralihan arah pada kajian linguistik, dari kajian diakronik menuju sinkronik, dengan penelitian struktural-gramatikal menjadi titik tekannya. Pemikiran inilah yang menjadi titik tolak munculnya aliran strukturalisme dalam bahasa. Pada 1930-an, diadakan penelitian untuk mencari landasan teoretis yang dilakukan Leonard Bloomfield. Dia menemukan teori behaviouris yang diabadikan dalam karyanya berjudul Language. Dalam penemuannya itu, ia menandaskan, kemampuan berbahasa manusia adalah bentukan dari alam (lingkungan), manusia itu dibesarkan. Bagaikan kertas kosong, alam mengisi dan membentuk kemampuan manusia itu. Dalam pembahasan asal-usul bahasa, konsep Bloomfield ini dikenal dengan teori tabularasa (Komaruddin Hidayat, 2004). Namun, nasib teori ini tidak berumur panjang. Popularitasnya tersaingi oleh konsep linguistik generatif dari Noam Chomsky. Dalam bukunya Logical Structure of Linguistic Theory, Chomsky menyanggah teori behaviouris. Baginya, kemampuan berbahasa pada diri manusia bukanlah produk (setting) alam, melainkan lebih merupakan potensi bawaan manusia sejak lahir. Teori itu, ia kemukakan sebagai hasil dari penelitian yang ia lakukan pada perkembangan berbahasa seorang anak. Seorang anak dapat menguasai bahasa ibunya dengan mudah dan cepat, bahkan pengetahuan itu juga diikuti oleh sense of language dari bahasa itu, yang lebih mengarah pada keterampilan dalam tata bahasa. Mereka dapat mengenal cita rasa bahasa itu sehingga mampu merangkai kalimat dengan tepat, meski mereka tak mungkin bisa menjelaskannya. Hal itu, ia yakini sebagai kemampuan naluriah yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Suatu hal yang mustahil bila kemampuan itu dianggap sebagai hasil pembelajaran, dari alam atau kedua orang tuanya. Penguasaan terhadap tata bahasa sebuah bahasa bukanlah hal yang mudah, terlebih untuk tingkat kanak-kanak.

Sebenarnya, dia tidak serta-merta menolak teori behaviouris secara total, ia mengakui peran serta alam dalam membentuk potensi bawaan ini. Bila bayi orang Jepang dibawa dan dibesarkan di Indonesia, ia akan menguasai bahasa serta tata bahasa Indonesia, dan begitu juga dengan bayi-bayi lainnya. Oleh karena itulah, Chomsky meyakini bahasa potensial, yang ada pada setiap manusia, itu sebagai bahasa universal. Teori linguistik Chomsky itu terlihat lebih humanis daripada teori behaviouris. Aliran behaviourisme menganggap manusia sebagai patung yang diukir oleh sang arsitek bernama lingkungan, atau bagaikan robot yang sudah diatur sedemikian rupa oleh ilmuwan penciptanya. Baginya, sah-sah saja untuk menerapkan metode ilmiah dalam linguistik, tetapi bukan dengan menjadikan manusia sebagai objek studi, seperti benda mati. Cara yang seharusnya ditempuh adalah dengan mengadopsi metode-metode ilmiah, seperti logika dan analisis, dalam kajian linguistik. Itulah hakikat sains. Tetapi patut disayangkan, bahwa pemikiran gemilang Chomsky itu jarang diketahui banyak pihak. Padahal nama besar Chomsky berada di urutan kedelapan dari sekian pemikir hebat dunia, tepatnya satu tingkat di bawah Plato dan Sigmund Freud. Buku Chomsky untuk Pemula, sangat penting dan tepat untuk kita yang masih buta tentang filsuf ini. Hal yang sangat menarik dari buku itu, adalah disertainya karya ini dengan ilustrasi kartun yang mampu menerjemahkan pemikiran-pemikiran filosofis Chomsky ini dan memandu pemahaman para pembaca. Lebih dari itu, buku itu juga memaparkan pemikiran-pemikiran Chomsky tentang politik dan media. Terkait dengan media, dan tidak bisa dilepaskan dari politik juga, kita akan mendapati sosok yang lain dari seorang Chomsky.