Anda di halaman 1dari 7

PLTSa [ Pembangkit Listrik Tenaga Sampah ]

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Gedebage adalah sebuah fasilitas pembangkitan listrik berkapasitas 7 MW yang menggunakan sampah sebagai bahan bakarnya. PLTSa Gedebage dibangun di Bandung Timur untuk mengatasi masalah sampah di kota Bandung Raya. PLTSa ini akan dibangun oleh PT Bandung Raya Indah Lestari (BRIL) diatas lahan seluas 10 hektar , 3 hektar akan digunakan untuk fasilitas Pembangkita listrik , sedangkan 7 hektar akan digunakan sebagai sabuk hijau mengelilingi fasilitas pembangkit.

Penggambaran sistem
Sampah yang datang akan diturunkan kadar airnya dengan jalan ditiriskan dalam bunker selama 5 hari. Setelah kadar air berkurang tinggal 45%, sampah akan dimasukan ke dalam tungku pembakaran, kemudian dibakar pada suhu 850'C-900'C , pembakaran yang menghasilkan panas ini akan memanaskan boiler dan mengubah air didalam boiler menjadi uap. Uap yang tercipta akan disalurkan ke turbin uap sehingga turbin akan berputar.Karena turbin dihubungkan dengan generator maka ketika turbin berputar generator juga akan berputar. Generator yang berputar akan mengahsilkan tenaga listrik yang kan disalurkan ke jaringan listrik milik PLN. Uap yang melewati turbin akan kehilangan panas dan disalurkan ke boiler lagi untuk dipanaskan , demikian seterusnya.

Pengolahan limbah
Limbah padat Sisa pembakaran abu dan debu terbang sebesar 20% dari berat semula akan diuji kandungannya apakah mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) atau tidak, di laboratorium. Jika tidak mengandung B3, dapat dijadikan sebagai bahan baku bangunan seperti batako. Namun jika mengandung B3, akan diproses dengan teknologi tertentu

sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk menampung abu ini, di lokasi PLTSa akan dibuat penampungan abu dengan kapasitas 1.400 M3, yang mampu menampung abu selama 14 hari beroperasi. Limbah gas Sisa gas buang akan diproses melalui pengolahan yang terdiri dari : 1. Gas buang hasil pembakaran akan dilakukan pada squenching chamber. Dari sini gas buang disemprot dengan air untuk menurunkan temperatur gas dengan cepat guna mencegah dioxin terbentuk kembali dan menangkap zat pencemar udara yang larut dalam air seperti NOx, Sox, HCL, abu, debu, dan partikulat. 2. Kemudian gas yang akan dilakukan pada reaktor akan ditambahkan CaO sebanyak 12 kg/ton sampah. Tujuannya menghilangkan gas-gas asam, Sox< HCL, H2S, VOC, HAP, debu dan partikulat. 3. Pada saat gas keluar dari reaktor, pada gas akan disemburkan karbon aktif sebanyak 1 kg/ton sampah, bertujuan menyerap uap merkuri, dioksin, CO. 4. Kemudian gas akan dialirkan ke Bag Filler dengan tujuan menyaring partikel PM10 dan PM 2,5. 5. Terakhir, gas buang akan dilepaskan ke udara melalui cerobong dengan ketinggian sekitar 70 meter. Limbah cair Pada kegiatan penirisan sampah akan menghasilkan lindi dan bau. Lindi akan ditampung kemudian diolah sampai pada tingkat tertentu. Kemudian akan disalurkan ke Bojongsoang untuk diolah lebih lanjut. Rencana pembuangan hasil olahan lindi ke pengolahan air kotor Bojongsoang sesuai perjanjian kerja sama antara PT BRIL dengan PDAM Kota Bandung. Intinya, PDAM akan membangun saluran air buangan dari PLTSa dan membangun fasilitas pengolahan limbah PLTSa, sedangkan PT BRIL akan membayar jasa pengolahan ke PDAM. Sedangkan bau yang ditimbulkan berada dalam bunker bertekanan negatif sehingga tidak akan keluar tetapi tersedot dalam tungku pembakaran sehingga tidak menimbulkan bau sampah di luar bangunan.

Manfaat Diperkirakan dari 500 - 700 ton sampah atau 2.000 -3.000 m3 sampah per hari akan menghasilkan listrik dengan kekuatan 7 Megawatt. Sampah sebesar itu sama dengan sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti sekarang. Dari pembakaran itu, selain menghasilkan energi listrik, juga memperkecil volume sampah kiriman. Jika telah dibakar dengan temperatur tinggi , sisa pembakaran akan menjadi abu dan arang dan volumenya 5% dari jumlah sampah sebelumnya. Abu sisa pembakaran pun bisa dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan batu bata. Kontroversi Protes terhadap adanya PLTSa Gedebage dilakukan oleh masyarakat sekitar , terutama penghuni Perumahan Griya Cempaka Arum Gedebage yang letaknya tak jauh dari lokasi PLTSa. Mereka mengkhawatirkan polusi suara dan bau yang mungkin akan mengganggu mereka. Seperti PLTU berbahan bakar fosil pada umumnya , PLTSa juga menghasilkan polusi udara , zat dioksin yg dihasilkan PLTU fosil juga dihasilkan oleh PLTSa.

Pembangkit Listrik Tenaga Osmotik


Selama sepuluh tahun terakhir kebutuhan energi meningkat seiring dengan pertumbuhan sektor industri yang membutuhkan konsumsi energi yang besar. Tetapi banyak energi yang dihasilkan berasal dari pembangkit istrik yang tidak ramah lingkungan. Kebanyakan dari pembangkit listrik tersebut menggunakan bahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan dan tidak dapat diperbaharui.Jika hal ini terus menerus terjadi maka dalam waktu kedepan akan terjadi krisis energi dan kerusakan lingkungan. Isu lingkungan yang menjadi topik utama pada forum-forum ilmiah baik di tingkat nasional maupun internasional adalah Global warming. Penyebab utama pemanasan global adalah efek rumah kaca (green house efect). Efek rumah kaca terjadi akibat sinar matahari yang masuk ke dalam atmosfer bumi tidak bisa ke luar atmosfer melainkan kembali terpantul ke permukaan bumi. Terpantulnya kembali sinar matahari disebabkan banyaknya gas CO2 di atmosfer. Gas CO2 banyak dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Pembakaran bahan bakar fosil ini terutama untuk memenuhi kebutuhan energi yang besar dari sektor industri dan masyarakat. Pemanasan global banyak mempengaruhi kehidupan manusia. Di Indonesia pola iklim berubah. Perubahan ini menyebabkan tidak seimbangnya ekosistem yang sudah ada di Indonesia. Ekosistem yang rusak tidak dapat dimanfaatkan lebih jauh oleh manusia. Oleh karena itu pengembangan energi yang berbasis energi terbarukan dan ramah lingkungan seperti tenaga osmotik harus menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan dan pemakaian sumber energi dimasa datang. Energi alternatif digunakan oleh kita dengan harapan tidak bergantung dengan minyak, karena minyak jumlahnya semakin menyusut, unpredictable dan kurang ramah lingkungan. Energi alternatif banyak macamnya antara lain energi nuklir, energi angin, energi surya, energi air dan masih banyak energi energi yang lain. Namun dari sekian banyak energi alternatif tersebut tidak semua cocok dengan keadaan di Indonesia. Energi nuklir dianggap kurang cocok dikembangkan di Indonesia karena biaya operasional yang mahal, sumber daya manusia yang kurang memadai, dan efek dari limbah maupun

radiasinya berbahaya bagi penduduk sektarnya. Salah satu energy yang layak atau cocok dikembangkan di Indonesia adalah energi dari air, karena Indonesia termasuk negara kepulauan yang memilki pantai / daerah perairan yang luas . Energi alternatif yang berasal dari air banyak macamnya antara lain energi dari ombak, energi air terjun, energi air pasng-surut dan energi osmotik. Energi osmotik dinilai lebih cocok karena tidak semua pantai di Indonesia berombak. Osmotik terjadi apabila larutan konsentrasi rendah mengalir ke larutan konsentrasi tinggi yang dipisahkan oleh membran semipermeabel. Larutan-larutan yang biasanya digunakan untuk proses osmotik adalah air laut dan air tawar. Proses osmotik dimulai antara air tawar dan air asin (mengandung garam) yang memiliki ketinggian sama dan dibaasi oleh membran semipermeabel. Perbedaan konsentrasi menyebabkan ketinggian air tawar berkurang dan sebaliknya ketinggian air asin meningkat. Hal ini disebabkan bergeraknya molekul-molekul air melalui membran semipermeable ke air asin. Meningkatnya ketinggian air asin menyebabkan efek tekanan osmotik. Efek tekanan osmotik digunakan untuk membangkitkan energi listrik melalui turbin dan generator.

(gmbar diambil dri http://www.leonardo- energy.org/drupal/modules/tinymce/tinymce /jscripts/tiny_mce/plugins/imagemanager/images/statkraft.gif)

Setiap hal pasti ada baik buruknya sama halnya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Osmotik (PLTO) ini keuntungan besarnya adalah energi ini dapat diperbaharui dan tidak ada resiko untuk kehabisan bahan baku karena hasil buangan dari proses osmotik ini adalah air payau yang nantinya bisa dialirkan ke hutan mangrove atau dikembalikan ke laut. Jadi pembangkit listrik tenaga osmotik adalah renewable. Keuntungan lainnya adalah energi osmotik memilki dampak yang minimal terhadap lingkungan. Ini merupakan suatu proses yang bersih dan merupakan poin tambahan, jumlah panas yang terjadi dalam proses ini kurang dari sepuluh derajat celcius sehingga tidak berbahaya bagi organisme yang hidup di laut. Bahkan hasil buanganya merupakan air payau yang bisa dialirkan ke hutan mangrove. Sementara kita tahu bahwa mangrove memiliki fungsi yang sangat penting sebagai pelindung pantai dan pemukiman pesisir dari hantaman gelombang, badai dan erosi pantai.

(gambar diambil dri http://www.statkraft.com/Images/Saltkraft_tcm4-7796.jpg) Satu hal yang mungkin mengganjal dalam proyek energi ini yaitu masalah biaya yang lebih besar dibandingkan pembangkit tenaga listrik konvensional. Untuk itu diperlukan studi lebih lanjut dari pihak pihak yang terkait agar dapat mengembangkan PLTO di Indonesia, mengingat Indonesia memiliki SDA yang mendukung dalam pembangunan PLTO & diperkirakan pembangkit listrik ini akan kompetitif pada sepuluh tahun kedepan.