Anda di halaman 1dari 48

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL

: PENGELOAAN PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) KUALA TUNGKAL KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT.

NAMA NPM JURUSAN FAKULTAS

: INDRA MAHYUDI. S : 08106154246010 : PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN : PERIKANAN UNIVERSITAS MUARA BUNGO

Disetujui oleh:

Ketua Prodi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan

Dosen Pemimbing

( Syafrialdi, S.Pi,. M.Si. )

( Syafrialdi, S.Pi,. M.Si. )

RINGKASAN

INDRA MAHYUDI. S, NPM 08106154246010. Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Dosen Pemimbing Syafrialdi, S. Pi., M. Si.

Pembangunan dan pemanfaatan sumber daya kelautan yang tersimpan di wilayah perairan nusantara khususnya Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi sampai saat ini perlu mendapat perhatian yang memadai mengingat besarnya potensi yang tersimpan dalam sumber daya laut. Pelabuhan perikanan sebagai penyedia fasilitas operasional kapal-kapal perikanan memiliki peran yang cukup signifikan dalam mendukung kegiatan peningkatan perikanan laut. Sehingga keberadaan pelabuhan perikanan perlu mendapat perhatian khusus dalam pengembangan dan implementasi peran sebagai penyedia fasilitas pokok kegiatan penangkapan perikanan laut. Kegiatan Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan mahasiswa Fakultas Perikanan UMB ini bertujuan untuk mengenal berbagai usaha perikanan khususnya usaha penangkapan ikan, mengetahui bagaimana system pengelolaan Pelabuhan Perikanan Pantai, memotivasi mahasiswa untuk bisa jadi insane perikanan yang berpikir maju sehingga nantinya akan dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan dengan baik dan bijak dan bertambahnya pengalaman serta wawasan tentang dunia perikanan baik perikanan tangkap, riset, pengelolaan, dan lain- lain.

ii

Sedangkan metoda praktek yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan ini yaitu metoda Observasi lapangan dan praktek lapangan, yang mana penulis langsung melakukan pengamatan untuk terlibat dalam kegiatan dan mendapatkan data yang sebenarnya, serta wawancara langsung pada instrukturinstruktur petugas PPI dan masyarakat setempat yang di kunjungi guna melengkapi data lapangan. Setelah melakukan observasi lapangan dan praktek lapangan penulis mengetahui bahwa Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi belum beroperasi secarak maksimum karena beberapa hal, diantaranya kurangnya pengetahuan masyarakat setempat tentang fungsi dan manfaat Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Kuala Tungkal sehingga masyarakat berangkapan bahwa pelabuhan perikanan terlalu banyak aturan dan mekanisme pelaksanaannya sangat panjang, apa lagi untuk pendaratan ikan dan pembeliaan ES balok. Dan akhirnya penulis dapat menyimpulkan hal-hl seperti di ataslah yang membuat para nelayan berpindah alih dan memilih pelabuhan perikanan swasta atau yang sengaja di buat oleh para pengumpul atau perusahan lainnya dengan alasan disinilah para nelayan tidak dipersulit dalam memasarkan hasil tangkapannya. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan Pelabuhan Perikanan

Pantai Kuala Tungkal tidak beroperasi secara optimal karena sebagian besar kegiatan pelabuhan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktek kerja lapangan ini dengan (PPP) judul PENGELOLAAN TUNGKAL

PELABUHAN

PERIKANAN

PANTAI

KUALA

KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT yang dilaksanakan di PPP Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang merupakan daerah pesisir pantai timur Indonesia. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan hamba dan rasulnya bagi seluruh alam. Laporan ini dibuat sebagai hasil akhir dari Praktek Kerja Lapangan pada Prodi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan, Universitas Muara Bungo. Dalam penulisan laporan ini penulis banyak mendapat bimbingan dari berbagai pihak dan penulis mengucapakan terima kasih kapada: 1. Ayah Bundaku yang telah banyak memberi dukungan materil dan moril yang tiada akhirnya. 2. Bapak Ir. Yuddi, M. Si selaku Dekan Fakultas Perikanan Universitas Muara Bungo. 3. Bapak Syafrialdi, S.Pi,. M. Si selaku Ketua Prodi PSP dan dosen pemimbing Praktek Kerja Lapangan serta dosen pemimbing dalam pembuatan laporan ini. 4. Bapak Djunaidi, S.Pi,. M. Si selaku dosen pemimbing Praktek Kerja Lapangan. 5. Bapak dan Ibu petugas PPP Kuala Tungkal beserta jajaran staf.

iv

6. Rasa terima kasih juga penulis ucapkan pada teman-teman yang telah membantu dan memberikan dorongan pada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini. Penulis telah berusaha membuat laporan sebaik mungkin, namun kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan. Semoga laporan ini berrmanfaat bagi pembaca dan khususnya penulis sendiri. Amin Ya Robbal Alamin.

Muara Bungo, Oktober 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. i RINGKASAN .................................................................................................. ii KATA PENGANTAR...................................................................................... iv DAFTAR ISI .................................................................................................... vi DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... ix I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ..................................................................................... 1 1.2. Tujuan dan Manfaat ............................................................................. 3 1.3. Waktu dan Tempat ............................................................................... 4 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. Potensi Perairan Indonesia ................................................................... Manfaat Pelabuhan............................................................................... Dasar Hukum Pelabuhan Perikanan...................................................... Tipe Pelabuhan Perikanan dan Sistem Pengelolaannya ......................... 5 6 7 7

III. MATERI DAN METODA 3.1. Materi Praktek ..................................................................................... 11 3.2. Metoda Praktek .................................................................................... 11 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil .................................................................................................... 12 4.1.1. Keadaan Umum PPP Kuala Tungkal......................................... 12 4.1.2. Landasan Hukum Operasional PPP Kuala Tungkal ................... 13 4.1.3. Susunan Struktur Organisasi PPP Kuala Tungkal ...................... 14 4.1.4. Pembinaan dan Pengembangan Pegawai ................................... 15 4.1.5. Fasilitas dan Kelembagaan PPP Kuala Tungkal ........................ 16 4.2. Pembahasan ......................................................................................... 18 4.2.1. Pengelolaan PPP Kuala Tungkal ............................................... 18 4.2.2. Peluang Pengembangan PPP Kuala Tungkal ............................. 24

vi

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan .......................................................................................... 26 5.2. Kritik dan Saran ................................................................................... 26 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Komposisi Pegawai Berdasarkan Pendidikan dan Golongan .............. 13 Fasilitas Pada PPP Kuala Tungkal...................................................... 17 Frekuensi Penyalur Es balok tahun 2010 ............................................ 20 Frekuensi Kunjungan Kapal Tahun 2010 ........................................... 22 Frekuensi Jumlah Kapal Naik Docking Tahun 2010 ........................... 23

viii

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Sruktur Organisasi PPP Kuala Tungkal ......................................... 15

ix

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pembangunan dan pemanfaatan sumber daya kelautan yang tersimpan di wilayah perairan nusantara sampai saat ini perlu mendapat perhatian yang memadai mengingat besarnya potensi yang tersimpan dalam sumber daya laut. Bila dibanding dengan luas wilayah lautan yang dimiliki Indonesia maka usaha pemerintah dalam memanfaatkan potensi kelautan masih membutuhkan banyak peningkatan. Sumber daya perikanan laut merupakan salah satu aspek penting dari sumber daya laut nusantara yang perlu digali dan dikembangkan. Potensi perikanan yang ada di perairan Indonesia diketahui melimpah, mengingat perairan Indonesia merupakan daerah tropis dengan kandungan plankton yang kaya, sebagai tempat berkumpulnya ikan-ikan. Pelabuhan perikanan sebagai penyedia fasilitas operasional kapal-kapal perikanan memiliki peran yang cukup signifikan dalam mendukung kegiatan peningkatan perikanan laut. Sehingga keberadaan pelabuhan perikanan perlu mendapat perhatian khusus dalam pengembangan dan implementasi peran sebagai penyedia fasilitas pokok kegiatan penangkapan perikanan laut. Dewasa ini banyak dilakukan proyek-proyek pembangunan pelabuhan perikanan oleh pemerintah, dengan harapan pembangunan pelabuhan perikanan akan dapat secara signifikan meningkatkan hasil perikanan laut, meningkatkan mutu penangkapan, serta dapat meningkatkan taraf pendapatan dan kehidupan

nelayan. Hal ini membutuhkan kajian yang lebih mendalam guna mengetahui peranan pelabuhan-pelabuhan perikanan yang tersebar di berbagai daerah saat ini. Keberadaan pelabuhan dengan kuantitas yang cukup tinggi tentu menimbulkan masalah tersendiri bagi pemerintah. Salah satu masalah pokok yang penting diperhatikan sesudah pelabuhan perikanan pelabuhan dan dibangun meliputi dalam adalah kegiatan rangka

pengelolaannya. pengoperasian,

Kegiatan pemeliharaan,

pengelolaan rehabilitasi

pelayanan

pemanfaatan sarana dan prasarana pelabuhan. Jika pengelolaan tidak terlaksana dengan baik maka hal ini dapat mengganggu dalam perwujudan fungsi dan peranan pelabuhan perikanan dalam rangka pelaksanaan pengawasan

penangkapan dan pengendalian sumber daya ikan serta pengawasan mutu hasil perikanan khususnya perikanan tangkap. Penataan-penataan ulang dan pembangunan fasilitas pendukung

pelabuhan dilakukan di berbagai pelabuhan perikanan diharapkan dapat mengatasi problem-problem pelabuhan. Banyaknya pelabuhan-pelabuhan perikanan yang dioperasikan maka di masa mendatang membutuhkan strategi pengelolaan agar masing-masing pelabuhan mampu berfungsi sesuai dengan tujuan dan visi pendiriannya. Dengan melihat banyaknya kapal perikanan yang singgah dan tingkat banyaknya komoditi ikan yang didaratkan menunjukkan tingkat perkembangan dan pertumbuhan pelabuhan. Dari hal ini maka dapat dievaluasi apakah sebuah pelabuhan layak dikembangkan atau tidak. Dengan menggunakan optimasi maka diharapkan dapat diketahui jumlah optimal kapal ikan yang dibutuhkan untuk

xi

mendapat hasil tangkapan yang maksimal serta tingkat optimal kebutuhan panjang dermaga dan kolam pelabuhan yang dibutuhkan. Keberadaan Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal di bentuk berdasarkan Peraturan Gubernur Jambi No : 32 Tahun 2009, Tanggal 3 September 2009. Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal merupakan UPTD Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi yang terletak di Jln. Parit VII ( Tujuh ) Desa. Tungkal I Kec. Tungkal Ilir Kab. Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi. Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal di bangun untuk kepentingan serta pengembangan kawasan perikanan yang mengedepankan ketertiban, kebersihan, dan keamanan sehingga di harapkan para pelaku usaha (Stakeholder) maupun mitra usaha yang berinvestasi dapat mengermbangkan usahanya dengan perasaan aman dan nyaman. Memperhatikan potensi dan manfaat fasilitas serta permasalahan di lapangan, maka di perlukan suatu perencanaan strategi yang berkesinambungan sehingga dapat mengkomodir kepentingan kelompok nelayan, pengusaha dan stakeholder lainnya serta mampu mengatasi permasalahan dilapangan sehingga pada gilirannya nanti akan menunjang pengembangan dan pembangunan Sub sektor Perikanan dan Kelautan menuju pertumbuhan ekonomi wilayah.

1.2. Tujuan dan Manfaat Adapun Tujuan dan manfaat dari praktek lapangan ini yaitu: 1. Mengetahui bagaimana system pengelolaan Pelabuhan Perikanan Pantai yang baik dan bagaimana strategi pengembangannya.

xii

2. Memotivasi mahasiswa untuk bisa jadi insan perikanan yang berpikir maju sehingga nantinya akan dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan dengan baik dan bijak.

1.3. Waktu dan Tempat Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanankan pada tanggal 6 September sampai 19 September 2011 di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

xiii

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Potensi Perairan Indonesia Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia baik dari segi luas wilayah maupun jumlah pulaunya (17.480 pulau), dengan garis pantai terpanjang ke empat (95.150 km) setelah Kanada, USA dan Rusia Federasi. Berdasarkan konvensi PBB tahun 1982, tentang hukum laut, wilayah laut yang dapat dimanfaatkan seluas 5,8 juta km2 (3,1 juta km2 perairan teritorial dan 2,7 juta km2 Zona Ekonomi Ekslusif) (Lukito, 2009). Ikan adalah salah satu bentuk sumberdaya alam yang bersifat renewable atau mempunyai sifat dapat pulih / dapat memperbaharui diri. Sumberdaya ikan pada umumnya mempunyai sifat open access dan common property yang artinya pemanfaatan bersifat terbuka oleh siapa saja dan kepemilikannya bersifat umum. Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan. Dalam statistik perikanan yang dimaksud dengan perikanan adalah kegiatan ekonomi dalam bidang penangkapan ikan dan atau pembudidayaan ikan serta pasca panen ikan (Dinas Perikanan Dan Kelautan Propinsi Jambi, 2004). Upaya memanfaatkan sumberdaya perikanan laut secara optimal dan lestari, merupakan tuntutan yang sangat mendesak bagi kemakmuran rakyat, terutama untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, serta peningkatan ekspor untuk menghasilkan devisa Negara (Yahya, 2009).

xiv

Potensi lestari sumber daya ikan (SDI) laut Indonesia sekitar 6,4 juta ton per tahun, atau 7,5 persen dari total potensi lestari ikan laut dunia. Saat ini tingkat pemanfaatan ikan Indonesia baru mencapai 4,4 juta ton per tahun. Dua tahun lalu Indonesia berhasil membukukan jumlah ikan tangkapan sebesar 6,4 juta ton ikan, yang diprediksi akan naik menjadi 9 juta ton pada tahun 2010 (Tokoh Indonesia.Com, 2009 ).

2.2. Manfaat Pelabuhan Pelabuhan mulai dikenal sejak manusia mengenal transportasi air. Pada awalnya pelabuhan hanyalah merupakan tepian dari perairan yang terlindung dari gangguan alam. Pelabuhan mulai ada di sungai pedalaman yang jauh dari laut. Sejak manusia menggunakan perahu untuk transportasi di lautan, pelabuhan mengalami perkembangan, letaknya tidak lagi di pedalaman tetapi di muara sungai atau teluk yang terlindung dari gangguan alami seperti serangan ombak, angin, dan badai. Semakin lama pelabuhan tidak lagi menjadi tempat labuh perahu-perahu tetapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat. Peran kapal pun berkembang tidak hanya sebagai penangkap ikan atau perhubungan penduduk antar pulau tetapi fungsinya semakin meluas menjadi alat transportasi antar bangsa, pelabuhan pun menjadi tempat akulturasi kebudayaan dari beberapa bangsa (Martinus, 2006). Pelabuhan secara umum bisa diartikan sebagai tempat kapal berlabuh dengan aman dan dapat melakukan bongkar muat barang serta turun naik penumpang (Salim, 1994).

xv

2.3. Dasar Hukum Pelabuhan Perikanan Landasan hukum dari Pelabuhan Perikanan terdapat dalam (Peraturan Menteri Perikanan dan Kelautan Nomor Per.16/MEN/2006) tentang Pelabuhan Perikanan bahwa: Sesuai dengan Pasal 41 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, Pelabuhan Perikanan mempunyai peranan penting dalam mendukung peningkatan produksi perikanan, memperlancar arus lalu lintas kapal perikanan, mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat perikanan, pelaksanaan dan pengendalian sumberdaya ikan, serta mempercepat layanan terhadap kegiatan di bidang usaha perikanan.

2.4. Tipe Pelabuhan Perikanan dan Sistem Pengelolaannya Pembangunan Pelabuhan Perikanan dirancang sesuai dengan kemampuan sumberdaya wilayah, termasuk sumberdaya kelautan, serta sesuai dengan volume usaha perikanan di wilayah pengembangan perikanan yang telah ditetapkan. Pelabuhan Perikanan dibagi menjadi 4 golongan, yaitu Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) atau tipe A, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) atau tipe B, Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) atau tipe C, dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) atau tipe D (Soewito, 2000). Untuk mendukung kegiatan penangkapan ikan di laut perlu ditunjang dengan tersedianya prasarana perikanan, terutama Pelabuhan Perikanan. Pemerintah melalui Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Jambi membangun salah satu prasarana perikanan (Pelabuhan Perikanan) di kawasan Kabupaten Kuala Tungkal. Pelabuhan tersebut yaitu Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Kuala

xvi

Tungkal, Tanjung Jabung Barat. Pembangunan PPP Kuala Tungkal bertujuan untuk meningkatkan produktivitas usaha penangkapan ikan di Jambi,

meningkatkan pemasaran hasil tangkap dan pengolahan ikan, meningkatkan pendapatan nelayan, serta melakukan pembinaan kepada nelayan. Dalam ilmu manajemen dikenal istilah siklus manajemen (management cycle) yang berarti tindakan perencanaan (planning), diikuti kegiatan pelaksanaan (organizing, coordinating, directing) serta kegiatan pengendalian (controlling). Dari evaluasi nantinya akan diperoleh umpan balik (feed back) berupa data perbaikan untuk keperluan perencanaan selanjutnya. Keseluruhan pengelolaan Pelabuhan Perikanan merupakan penjabaran dari proses manajemen yakni fungsifungsi manajemen sebagai operasinya, kepala pelabuhan sebagai managernya dan organisasi pelabuhan perikanan sebagai perangkat kerasnya. Dalam melaksanakan pengelolaan Pelabuhan Perikanan, sesuai dengan struktur organisasi Pelabuhan Perikanan bahwa yang bertindak sebagai manager adalah Kepala Pelabuhan. Oleh karena itu, seorang Kepala Pelabuhan harus melaksanakan prinsip manajemen dalam pengelolaan pelabuhan sehari-hari (Satriya, 2006). Menurut Kalalo (1996), operasional Pelabuhan Perikanan secara sederhana adalah suatu pemanfaatan fasilitas yang ada di Pelabuhan Perikanan untuk mendorong terselenggaranya kegiatan produksi dan jasa di bidang usaha perikanan. Tingkat keuntungan ekonomis yang diperoleh Pelabuhan Perikanan sebagai basis usaha berdasarkan indikator umum operasional, yaitu pendaratan ikan, kunjungan kapal, penyaluran perbekalan kapal dan penyerapan tenaga kerja.

xvii

Kantor Pelabuhan Perikanan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jambi. Kantor pelabuhan mempunyai tugas memberi pelayanan jasa lalu lintas angkutan laut, keamanan dan keselamatan pelayaran, serta mengeluarkan surat perijinan kapal. Sebelum berlayar dan melakukan operasi penangkapan ikan, suatu kapal perikanan harus mempunyai beberapa surat yaitu surat ijin berlayar yang dikeluarkan oleh Kantor Pelabuhan serta Surat Ijin Usaha Penangkapan Ikan (SIUP) dan Surat Ijin Pengangkutan Ikan (SIPI) yang dikeluarkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan (Widjayanto, 2009). Operasional Pelabuhan Perikanan harus ditingkatkan sesuai dengan kemajuan usaha penangkapan dan pengembangan Pelabuhan Perikanan. Pendayagunaan pembangunan prasarana Pelabuhan Perikanan sangat tergantung kepada kemampuan menggerakkan unsur yang terlibat dalam pemanfaatan fasilitas yang dapat memberikan kemudahan dan keuntungan bagi usaha penangkapan. Usaha yang dimaksud adalah masyarakat nelayan, Koperasi Unit Desa (KUD), pembeli ikan, penyalur barang dan jasa, serta berbagai instansi pemerintah yang terkait (Direktorat Bina Prasarana, 1981). Menurut Lubis (2000), suatu pengoperasian pelabuhan perikanan yang berhasil diantaranya harus mencapai prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Baik atau berhasil jika ditinjau dari segi ekonomi. 2. Sistem pembongkaran dan pengelolaan yang efektif dan efisien. 3. Fleksibel dalam menghadapi perkembangan teknologi dan kemampuan untuk melindungi nelayan.

xviii

4. Pengoperasian yang baik antara perilaku-perilaku yang berperan dalam Pelabuhan Perikanan personal itu sendiri, nelayan, pengusaha penangkapan, pedagang pengolah, koperasi dan organisasi-organisasi lain.

xix

III. MATERI DAN METODA

3.1. Materi Praktek Materi pada praktek kerja lapangan adalah tentang Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat beserta system pengelolaannya.

3.2. Metoda Praktek Metoda praktek yang dipakai dalam Praktek Kerja Lapangan ini yaitu metoda Observasi lapangan dan praktek lapangan, yang mana penulis langsung melakukan pengamatan untuk terlibat dalam kegiatan sehingga dapat memperoleh data dan gambaran yang sebenarnya.

xx

IV. HASIL PEMBAHASAN

4.1. Hasil 4.1.1. Keadaan Umum Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal. Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal terletak di tepi muara sungai Pengabuan Kuala Tungkal Ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang tepatnya dikordinat 0 48' 50" LS 103 29' 00 BT peta laut No 41 kepulauan Riau dan Pulau - pulau lingga merupakan daerah pasang surut yang cukup tinggi berkisar 2 m pada waktu pasang teringgi mengingat letaknya dekat dengan Katulistiwa / 0 dan mendapatkan 2 kali pasang surut. Jarak lokasi UPTD PPP Kuala Tungkal dari ibu Kota Kabupaten 4 Km dan dari ibu kota Provinsi 137 Km. Luas tanah Pelabuahan Perikanan Pantai Kuala Tungkal 4 Ha dengan Panjang 200 M dan Lebar 200 M dengan letak yang strategis di muara sungai Pengabuan sehingga dapat di singgahi kapal-kapal yang masuk menuju Kuala Tungkal. Sedangkan untuk akses jalan darat dapat dilalui dengan lancar karena didukung sarana jalan yang memadai. Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal memiliki sumber daya manusia sebanyak 14 orang terdiri dari 10 orang PNS dan 4 orang tenaga Honorer, sedangkan 2 dari 4 orang tenaga Honorer sudah masuk data Base / menunggu pengangkatan dari Pemerintah Provinsi Jambi. Untuk lebih jelasnya komposisi pegawai berdasarkan golongan dan tingkat pendidikannya dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini: Tabel 1. Komposisi Pegawai Berdasarkan Penddidikan dan Golongan.

xxi

No. 1 2 3 4 5 6 7 8

Pendidikan S2 S1 D IV D III SMU SMK SMP SD Jumlah

IV 1 1

III 2 1 1 -

Golongan II I

Honor 1

Jumlah 4

3 2 3

4 3 3 14

(Sumber: PPP Kuala Tungkal 2010) Berdasarkan Tabel 1, menunjukan bahwa dari 14 orang pegawai Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal terdapat 4 ( empat ) orang ( 28,6 %) yang berlatar belakang pendidikan teknis Perikanan dan 10 ( sepuluh ) orang ( 71,4 % ) non teknis perikanan ( Administrasi/pertanian/ekonomi/umum) dari segi kuantitas dan kwalitas jumlah pegawai Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal masih sangat perlu penambahan. 4.1.2. Landasan Hukum Operasional PPP Kuala Tungkal 1. Pasal 41 UU No. 45 Tahun 2009 atas perubahan UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. 2. Peraturan Gubernur Nomor : 32 Tahun 2009 tanggal 3 September 2009 Tentang organisasi dan tata kerja Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal. 3. Persetujuan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor b.62/Men tanggal 29 Januari 2010. 4. Peraturan Daerah No 4 tahun 2010 tanggal 31 Desember 2010. 4.1.3. Susunan Struktur Organisasi PPP Kuala Tungkal kp/ i / 2010

xxii

Susunan Organisasi Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal berdasarkan Peraturan Gubernur Jambi Nomor : 32 Tahun 2009 tanggal 3 September 2009 tentang Organisasi dan Tata kerja Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal pada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi adalah sebagai berikut : Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal mempunyai tugas memimpin pelaksanaan kegiatan teknis Operasional dan / atau kegiatan teknis penunjang dinas dibidang pengelolaan pelabuhan yaitu : a. Penyusunan rencana teknis operasional tata pengusahaan, tata pelayanan dan kesyahbandaran perikanan pantai. b. Pelaksanaan kebijakan teknis operasional tata pengusahaan, tata pelayanan dan kesyahbandaran perikanan pantai. c. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan kegiatan Pelabuhan Perikanan Pantai d. Pengelolaan ketatausahaan. e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikanan oleh Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya. Sedangkan Sub bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan program, kepegawaian, dan keuangan. Dan untuk Seksi Kesyahbandaraan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan dan pelaksanaan kegiatan kesyahbandaran Pelabuhan Perikanan Pantai. Demikian pula dengan Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsional masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugasnya

xxiii

kelompok jabatan fungsional dikoordinasikan oleh kepala seksi dan secara administrative dikoordinasikan oleh kepala sub bagian Tata Usaha. Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal mempunyai struktur

organisasi sebagai berikut berdasarkan Peraturan Gubernur Jambi nomor : 32 Tahun 2009:

KEPALA PELABUHAN PERIKANAN PANTAI

SUB BAGIAN TATA USAHA KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

SEKSI TATA PENGUSAHAAN

SEKSI KESYAHBANDARAN

Gambar 1. Sruktur Organisasi PPP Kuala Tungkal (Sumber: PPP Kuala Tungkal Tahun 2009) Susunan Eselon dilingkungan Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala tungkal adalah : a. Kepala Pelabuhan merupakan jabatan struktural eselon III/a. b. Kepala Sub Bagian dan Kepala Seksi merupakan jabatan Struktural esolon IV/a. 4.1.4. Pembinaan dan Pengembangan Pegawai Pembinaan dan pengembangan terhadap pegawai Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal pada saat ini masih menjadi salah satu program prioritas untuk mampu mengemban pelaksanaan tugas dan fungsi yang semakin luas dan

xxiv

kompleks.

Peningkatan

profesionalisme

diarahkan

untuk

meningkatkan

kemampuan dan kerampilan pegawai melalui berbagai pelatihan, bina teknologi, kursus, sosialisasi, dan apresiasi dengan maksud : 1. Untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan pegawai dalam melaksanakan tugas; 2. Untuk memberikan pemahaman pegawai akan pentingnya tugas yang diembannya dengan penuh tanggung jawab, disiplin dan loyalitas; 3. Untuk memberikan kesempatan kepada pegawai dan meninggkatkan karir khususnya motivasi melalui tour of area dan tour of duty perlu diberikan guna meningkatkan kinerja pegawai. Pendidikan dan pelatihan diberbagai bidang keterampilan yang telah diikuti oleh pegawai Pelabuahan Perikanan Pantai Kuala Tungkal terdiri dari berbagai macam pendidikan dan pelatihan, baik yang diselenggarakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan maupun Pemerintah Provinsi Jambi, yang berguna untuk peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia ( SDM ) guna menyongsong tugas dan fungsi yang semakin menantang. 4.1.5. Fasilitas dan Kelembagaan PPP Kuala Tungkal Adapun fasilitas Pelabuhan Perikanan Pantai ( PPP ) Kuala Tungkal terdiri dari : 1. Fasilitas Pokok. 2. Fasilitas Fungsional dan, 3. Fasilitas Penunjang

xxv

Secara rinci fasilitas di Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini: Tabel 2. Fasilitas pada Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal Keterangan No. Jenis Fasilitas Volume Satuan
A. Fasilitas Pokok Dermaga Tempat docking kapal Jalan lingkungan Drainase/gaung-gaung Lahan industri perikanan Areal parkir Fasilitas Fungsional Pabrik Es Tempat pelangan ikan Cold Storage Sumur Bor Ruang Genset Bak Reservoar Gardu Listrik Ice Culer/Es Curah 1 1 1 1 1 1 1 6 2 1 1 1 309 M1 100 M1 100 M1 200 M1 0.5 Ha 0.25 Ha 140 M2 200 M2 76 M2 30 M2 85 M2 Kapasitas Produksi 8 Ton/Per hari

B.

Kapasitas Produksi 5 Ton/Per hari

C.

Fasilitas Penunjang Kantor Administarsi Rumah Karyawan Mushollah Wc Nelayan Ruang Pertemuan Nelayan Pos Jaga Bangsal Pengolahan Terasi Bangsal Pengolahan Ikan Kering Bangsal Pengolahan Kerupuk Bangsal Penampungan Udang Ketak

1 1 1 1 1 3 1 2 1 1

98 M2 71 M2 45 M2 15 M2 200 M2 15 M2 240 M2 256 M2 128 M2 70 M2

(Sumber : PPP Kuala Tungkal 2011)

xxvi

Hubungan kerja Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal dengan instansi terkait dalam kawasan Pelabuhan Perikanan dilaksanakan dengan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi sesuai dengan bidang tugas dan kewenangan masing masing instansi. Instansi yang ada dalam kawasan kerja Pelabuhan

Perikanan Pantai Kuala Tungkal antara lain : Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Angkatan Laut, Polisi Air, dan Satuan Kerja Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (Satker P2SDKP).

4.2. Pembahasan 4.2.1. Pengelolaan Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal Keberadaan Pelabuhan Pertikanan Pantai Kuala Tungkal dalam kapasitasnya sebagai UPTD Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi setelah didirikan diharapkan mampu mengakomodir kepentingan para penguna jasa pelabuhan (investor, nelayan dan masyarakat disekitar pelabuhan), melalui penyediaan sarana dan prasara, sehingga dapat meningkatkan produktifitas nelayan/pengusaha perikanan yang pada gilirannya akan meningkatkan

kesejahteraannya. Akan tetapi pada saat itu PPP Kuala Tungkal belum memiliki fasilitas-fasilitas yang cukup untuk memenuhi kegiatan nelayan sehingga pada tahun 2010 di bangun lagi beberapa fasilitas diantaranya sebagai berikut: 1. Unit kegiatan penampungan udang ketak oleh pengusaha local. 2. Unit kegiatan wisata kuliner yang dilaksanakan oleh Koperasi Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir (LEPP) Mitra Mandiri dan kelompok usaha bersama.

xxvii

3. Unit kegiatan pengolahan kerupuk disentra pengolahan kerupuk yang baru dibangun. 4. Unit kegiatan pengolahan ikan kering ( asin ) disentra pengolahan yang baru dibangun. Beberapa alternatif kebijakan operasional yang dipandang cukup efektif untuk menarik minat investor menanamkan modalnya dalam kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal yaitu dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif melaui rasa aman dan nyaman dalam berusaha menyediakan sarana air bersih, Listrik PLN, informasi, jumlah armada penangkapan ikan berdasarkan alat tangkapnya, dermaga sandar dan juga ketersedianya sumberdaya manusia dalam jumlah yang cukup dan berkualitas memegang peranan penting dalam pelaksanaan operasional pelabuhan. Disamping itu dalam operasionalnya telah dilengkapi dengan berbagai peraturan dan kepastian hukum yang jelas, sehingga dapat memberikan pelayanan yang prima bagi pengguna jasa Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal, dengan kata lain Pelabuhan Perikanan Pantai yang mutifungsi, efesien dan efektif yang saling berinteraksi satu sama lainnya membentuk suatu komunitas industry perikanan yang terpadu sehingga pelaksanaan fungsi Pelabuhan Perikanan Pantai yang meliputi pendaratan ikan, kunjungan kapal ikan, penyaluran perbekalan ( air bersih, es, dan bahan bakar ), penyerapan tenaga kerja dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dapat terealisasi dengan baik. Dalam pelayanan jasa untuk persiapan pelayaran khususnya

kesyahbandaran Pelabuhan Perikanan Pantai sampai dengan tahun 2011 belum

xxviii

dapat dilakukan melalui petugas Pelabuhan, karena petugas Kesyahbandaran yang bersertifikat belum tersedia, namun telah diusulkan untuk mengikuti pelatihan di Jakarta. Sedangkan penerbitan Surat Layak Operasional ( SLO ) dilaksanakan oleh petugas Satuan Kerja Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (Satker P2SDKP), serta membantu pengurusan SIUP / SPI / SIP dan pengecekan fisik kapal oleh petugas yang bersetifikat untuk cek fisik kapal telah tersedia. Untuk kegiatan penerbitan SLO telah dilaksanakan di Pelabuhan Peikanan Pantai Kuala Tungkal. Pelayanan jasa persiapan berlayar lainya seperti pelayanan es dan bahan bakar telah dilaksanakan oleh Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal kepada masyarakat nelayan dan para pengusaha lainnya dalam rangka untuk membantu nelayan mendapatkan produk perikanan yang bermutu baik mulai dari paska panen, pengolahan, penyimpanan sampai dengan pendistribusian karena es memegang peranan penting dalam mempertahankan nilai komuditi produk perikanan. Penyaluran es di Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal dilaksanakan oleh Koperasi Lepp Mitra Mandiri. Penyaluran es selama tahun 2010 dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini: Tabel 3. Frekuensi Penyaluran Es Balok Tahun 2010 No. 1 2 3 4 5 6 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Volume Es ( Balok ) 10.014 8.753 9.137 10.068 10.535 8.891 Nilai Produksi ( Balok ) 90.126.000 74.400.500 77.664.500 85.578.000 89.547.500 75.573.500

xxix

Juli 7.492 Agustus 6.751 September 5.930 Oktober 9.422 November 6.632 Desember 6.694 Jumlah 100.319 (Sumber: PPP Kuala Tungkal 2010) 7 8 9 10 11 12

63.682.000 64.134.500 56.335.000 89.509.000 63.004.000 63.593.000 893.147.500

Bila kita lihat dari Tabel 3 pelayanan es memiliki produksi yang sangat tinggi, akan tetapi sangat di sayangkan pada bulan Juli tahun 2011 lalu produksi es balok terhenti karena mengalami kerusakan berat pada mesin dan PPP Kuala Tungkal dan tidak memiliki cukup dana untuk memperbaikinya, sedangkan produksi es curah terpaksa berhenti karena sedikitnya minat nelayan atau pengusaha lainnya untuk membeli. Dan untuk pelayanan jasa bahan bakar terhadap nelayan sejauh ini berjalan dengan baik walaupun SPBN yang di miliki oleh PPP Kuala Tungkal bekerja sama dengan pengusaha swasta karena keterbatasan dana untuk pengembangan jasa ini, dengan kata lain antara PPP Kuala Tungkal melakukan pembagian kepemilikan saham. Sementara itu untuk kegiatan pendaratan ikan di Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal sampai saat ini belum berjalan optimal karena kapal-kapal yang mendaratkan hasil tangkapannya hanya beberapa kapal Koperasi Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir (LEPP) Mitra Mandiri dan beberapa kapal armada milik nelayan perorangan dan mulai dari bulan Agustus 2011 Tempat Pendaratan Ikan PPP Kuala Tungkal nyaris tidak beroperasi sama sekali karena

xxx

masyarakat setempat banyak beralih ke TPI swasta atau milik perseorangan dan kelompok pengumpul. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya tingkat kesadaran masyarakat tentang fungsi dan manfaat Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal dan belum adanya Peraturan Bupati tentang keharusan nelayan mendaratkan ikan di Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal, sesuai dengan UU No. 31 tentang perikanan tangkap. Masyarakat setempat beranggapan dalam system pelelangan ikan atau pendaratan ikan yang diberikan oleh PPP Kuala Tungkal telalu berbelitbelit dan rumit serta memberikan potongan yang cukup besar di mata masyarakat nelayan. Bila kita amati kapal nelayan yang berlabuh dan mendaratkan ikannya di PPP Kuala Tungkal pada awal berdiri dan di resmikannya PPP Kuala Tungkal cukup tinggi yaitu pada tahun 2010 diantaranya: Tabel 4. Frekuensi Kunjungan Kapal Tahun 2010
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Jumlah Kunjungan Kapal ( Kali ) 1.094 764 1.319 768 734 910 758 297 207 383 311 Ket

xxxi

12

Desember Jumlah

304 7.849

(Sumber: PPP Kuala Tungkal 2010) Begitu sangat disayangkan unit ini tidak berjalan dengan baik, padahal begitu besar fungsi dan manfaat Tempat Pelelangan Ikan PPP Kuala Tungkal bagi masyarakat dalam peranan menstabilkan harga ikan di pasaran, menjaga kestandaran mutu ikan dan system distribusi yang seimbang. Padahal bila dilaksanakan secara baik, professional dan bijak maka hasil produksi TPI PPP Kuala Tungkal ini dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) sehingga dana tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyrakat setempat. Selanjutnya salah satu pelayanan jasa yang ada di PPP Kuala Tungkal yaitu sarana yang menunjang untuk pemeliharaan dan perawatan kapal nelayan dan pelaku usaha perikanan sehingga dapat melakukan aktifitas melaut dengan baik. Di Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal telah tersedia sarana docking kapal dengan kapasitas 1 GT s/d 60 GT (Gros Ton). Sarana ini telah dimanfaatkan mulai dari tahun 2010 walaupun hanya dengan memanfaatkan system pasang surut sampai saat ini masih berjalan dengan baik dan lancar. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini: Tabel 5. Frekuensi Jumlah Kapal Yang Naik Docking Tahun 2010 Ukuran kapal / GT Kapal No. Bulan 1 - 10 10 - 20 20 - 30 30 - 40 40 - 50 1 2 3 Januari Februari Maret 4 2 7 4 2 1 1 -

Jumlah Kapal 8 5 8

xxxii

4 5 6 7 8 9 10 11 12

April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah

3 3 2 3 2 1 2 2 1 32

2 2 1 1 1 2 1 1 2 20

5 5 3 4 3 3 3 3 3 53

(Sumber: PPP Kuala Tungkal 2010) 4.2.2. Peluang Pengembangan PPP Kuala Tungkal Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal Provinsi Jambi dari letak geografis menjadi salah satu pintu gerbang ekspor Perikanan di pantai timur Sumatera karena dekat dengan pertumbuhan segitiga IMS-GT (Indonesia, Malaysia dan Singapura). Selain hal tersebut Pelabuhan Perikanan Pantai (Kuala Tungkal) untuk akses ke fising ground ZEEI, laut cina selatan dan selat karimata sangat dekat sehingga memberi kemudahan kepada pelaku usaha untuk mengembangkan produksi tangkapannya. Pelabuhan Perikanan Panatai Kuala Tungkal merupakan salah satunya Pelabuhan Perikanan di Provinsi Jambi yang sudah ditetapkan Pemerintah Provinsi Jambi sebagai UPTD Pelabuhan Perikanan Pantai dengan PERGUB No 32. Tahun 2009, tanggal 3 September 2009 sehingga keberadaan Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal membuka peluang bagi investor baik dari dalam negeri mapun dari luar negeri untuk berinvestasi dan menjadikan Pelabuhan

xxxiii

Perikanan Pantai menjadi kawasan industry perikanan serta akan menjadi kawasan Minapolitan Perikanan Tangkap di Provinsi Jambi. Pengembangan sektor kelautan dan perikanan kedepan akan menjadi perioritas utama di Provinsi Jambi dalam penyerapan tenaga kerja dan pengentasan kemiskinan terutama pada masyarakat nelayan dan masyarakat pesisir pantai, dengan keberadaan Pelabuhan Perikanan Pantai akan menyerap tenaga kerja sehingga hal ini dapat berpengaruh terhadap social ekonomi masyarakat nelayan sekitar. Terputusnya koordinasi Pelabuhan Perikanan pantai Kuala Tungkal dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tanjung Jabung Barat menyebabkan ketidak adanya singkronisasi dan kerja sama dalam usaha pengembangan masyarakat nelayan dan daerah-daerah pesisir karena-kan PPP Kuala Tungkal langsung di kelola oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jambi, padahal bila PPP Kuala Tungkal mampu berkerja sama dalam pembangunan dan pengembangan daerah pesisir maka sangat baik sekali. Akhirnya dengan melihat begitu besarnya peluang pengembangan PPP Kuala Tungkal dan manfaatnya terhadap masyarakat daerah setempat maka permasalahan yang ada dapat dipecahakan dengan melakukan koordinasi dengan instansi terkait sehingga diharapkan pemerintah daerah setempat dapat turut serta dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada, seperti hal yang terpenting yaitu perbaikan akses jalan ke Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal yang masih tanah dasar dan sering tergenang karena pasang naik.

xxxiv

V. KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam pelaksanakan oprasional pelabuhan perikanan pantai Kuala Tungkal, sebagai mana yang diuraikan pada bab beberapa kesimpulan dan saran sebagai berikut : 5.1. Kesimpulan Untuk pengoptimalisasi Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal perlu mengadakan sosialisasi dan penyuluhan tentang fungsi dan manfaat pelabuhan perikanan pantai Kuala Tungkal untuk nelayan dan pelaku usaha perikanan serta masyarakat di sekitar pelabuhan. Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal diharapkan menjadi kawasan industri perikanan dan kawasan Mina Politan perikanan tangkap di Provinsi Jambi di masa mendatang. Keberadaan UPTD Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal Provinsi Jambi sangat diharapkan adanya legalitas Oprasional dan peningkatan pembinaan kelas pelabuhan perikanan pantai sesuai dengan peraturan Ditjen perikanan Tangkap. bab sebelumnya dapat ditarik

5.2. Kritik dan Saran Memperhatikan kondisi yang ada serta permasalahan operasional pelabuhan Perikanan maka kami ingin menberikan saran saran sebagai berikut :

xxxv

1. Untuk meningkatkan daya dukung operasional pelabuhan Perikanan dalam memberikan pelayanan yang prima kepada penguna jasa layannya dana oprasional dan pemeliharaan untuk dapat di tingkatkan. 2. Perlu adanya kajian khusus tentang potensi sumber daya ikan dan tingkat pengelolaannya sehingga kecendrungan produksi dapat diatasi. 3. Peningkatan profesionalisme sumber daya manusia aparatur melalui diklat perjenjangan, diklat teknis dan non teknis, magang serta studi banding keluar daerah atau keluar negeri untuk meningkatkan wawasan kinerja. 4. Untuk kegiatan pembangunan fisik kedepan kami mengharapkan adanya pengecoran lanjutan dermaga dan penambahan panjang dermaga sehingga pada saat air surut terkecil kapal masih bisa berlabuh, perbaikan jalan kawasan, penambahan daya listrik dan perbaikan instalasi, pembangunan rumah karyawan, melengkapi sarana perbengkelan dan docking kapal serta pembangunan bangsal udang ketak dan kios.

xxxvi

DAFTAR PUSTAKA

Ayodhyoa. 1975. Lokasi dan Fasilitas Pelabuhan Perikanan. Bagian Penangkapan Ikan. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor. Bogor. Bambang Murdiyanto. 2003. Pelabuhan Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Bogor. Dinas Perikanan dan Kelautan. 2010. Laporan Statistik Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Kusumastanto, T. 1998. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Berbasis Masyarakat. PKSPL-IPB - Ditjen Bangda Depdagri. Kusumastanto, T dan Muhammad Ramli, 2000. Kebijakan Setengah Hati serta Kemakmuran Semu di Pesisir dan Lautan. Warta Pesisir dan Lautan. PKSPL-IPB. Satria, Arif. 2000. Dinamika Modernisasi Perikanan Formasi Sosial dan Mobilisasi Nelayan. Humaniora Utama Press. Bandung. UPTD Pelabuhan Perikanan Pantai. 2010. Laporan Tahunan Pelabuhan Perikanan Pantai Kuala Tungkal. Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

xxxvii

Lampiran 1. Pintu Gerbang Masuk UPTD PPP Kuala Tungkal

Lampiran 2. Dermaga UPTD PPP Kuala Tungkal

xxxviii

Lampiran 3. Gedung Kantor UPTD PPP Kuala Tungkal

Lampiran 4. Mess Pimpinan

xxxix

Lampiran 5. Gedung Pabrik ES dan Kegiatannya

Lampiran 6. Gedung Pengolahan Ikan Asin dan Kegiatannya

xl

Lampiran 7. Gedung ABF dan Kegiatannya

xli

Lampiran 8. Pos Jaga Keluar dan Masuk

Lampiran 9. Gedung TPI

Lampiran 10. Docking Kapal dan Kegiatannya

xlii

Lampiran 11. Bak Reservoar

xliii

Lampiran 12. Gedung Genset

Lampiran 13. Musholla

Lampiran 14. MCK Umum

xliv

Lampiran 15. Gedung Pertemuan

Lampiran 16. Gedung Setra Pengolahan Kerupuk dan Kegiatannya

Lampiran 17. Gedung Pengolahan Trasi dan Kegiatannya

xlv

Lampiran 18. Gedung Waski

Lampiran 19. Sumur Bor

xlvi

Lampiran 20. Gedung Waserba, Kedai Pesisir dan Wisata Kuliner

Lampiran 21. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN)

xlvii

Lampiran 22. Kapal Pengawas dan Kapal Latih

xlviii