P. 1
Peran Alkitab Di Dalam Spiritualitas

Peran Alkitab Di Dalam Spiritualitas

|Views: 512|Likes:
Dipublikasikan oleh Otniol Seba

More info:

Published by: Otniol Seba on Feb 10, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2014

pdf

text

original

Peran Alkitab Di Dalam Spiritualitas Pada Tradisi Reformasi

Oleh: Ev. Otniol Seba, S.Th1 I. Pendahuluan Reformasi meninggalkan warisan yang bernilai bagi kehidupan kekristenan sampai dengan hari ini, baik itu berkaitan dengan dengan gereja maupun dengan negara. Hampir semua bidang dari kehidupan manusia mendapat warisan dan pengaruh yang kuat dari peristiwa reformasi. Mulai dari bidang pendidikan, etika, pemerintahan, politik, ekonomi, percetakan dan sampai kepada persoalan yang berkaitan dengan musik serta nyanyian mazmur, semua mendapatkan “sentuhan” yang bernilai, khususnya dari Calvin2. Tidak terkecuali persolan spiritualitas mendapat perhatian penting dari para reformator, [termasuk Calvin] yang pada akhirnya menuntun kepada pembaharuan hidup pribadi khususnya, dan pembaharuan masyarakat secara umumnya. Persoalannya adalah “apakah yang menyebabkan perubahan yang besar terjadi (Reformasi) di dalam kehidupan kekristenan pada waktu itu yang mempengaruhi hingga masa sekarang ini? Hal itu terjadi karena para reformator, baik Luther dan Calvin berusaha untuk menekankan kembali “otoritas Firman Allah” yang telah hilang di dalam gereja. Firman Allah telah diselewengkan oleh para pemimpin agam pada waktu itu. Jemaat dilarang untuk membaca Alkitab. Alkitab hanya bisa dibaca dan dinikmati oleh para pemimpin agama pada waktu itu. Oleh sebab itu melalui perjuangan yang panjang para tokoh reformasi berjuang menegakkan kembali “otoritas Firman Allah” di dalam gereja, kehidupan dan pelayanan mereka. Hal ini ternyata membawa perubahan yang terjadi di dalam kehidupan jemaat-jemaat Kristen pada waktu itu. Perubahan yang terjadi pada waktu itu ternyata memberikan pengaruh pada zaman ini di mana kita dapat dilihat hasilnya sampai masa kini3. Di dalam paper ini kita akan membahas secara singkat mengenai “Peran Alkitab Di Dalam Spiritualitas yang berhubungan dengan tradisi Reformasi.” Ada beberapa hal penting yang akan dijelaskan di dalam paper ini: Pandangan Alkitab menurut tradisi Reformasi; penggunaan Alkitab berkaitan dengan spiritualitas kekristenan; Dampak spiritualitas di dalam kekristenan; dan aplikasinya pada masa kini.

Penulis Sedang Menyelesaikan Program Studi, MACE dan M.Div di STT-Aletheia Lawang. Pernah menjabat koordinator kerohanian di SMA Kristen Gloria 1 Surabaya dan wakil sekretaris umum BPH Majelis Umum GKA Gloria, periode 2009-2011. Mulai Januari 2012 melayani di GKA Gloria Pos PI Rungkut Surabaya 2 Penjelasan yang panjang mengenai hal ini dapat dilihat dalam karya: David W. Hall, Legacy of John Calvin: His Influence on the Modern World. (New Jersey: P & R Publishing Company, 2008). Buku ini diterbitkan untuk memperingati 500 tahun John Calvin. 3 Harus diakui bahwa warisan yang ditinggalkan dari tradisi reformasi dapat dilihat di dalam berbagai bidang kehidupan, namun di sisi yang lain kehidupan kekristenan setelah masa reformasi, khususnya abad 19-20 setelah mendapat pengaruh dari “pencerahan” dengan munculnya Liberalisme di Amerika dan kemudian menyebar sampai Eropa, kekristenan mengalami kemerosotan di dalam kehidupannya. Kemerosotan ini berdampak negative terhadap moral, intelektual dan spiritualitasnya. Hal ini dapat dilihat di dalam karya: David Wells, Losing Our Virtue: Why the Church Must Recover Its Moral Vision. (Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1998); Mark A Noll. The Scandal of the Evangelical Mind. (Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing House, 1994); Alister McGrath. Evangelicalism & the Future of Christianity. (Illinois: InterVarsity Press, 1995); Ronald J. Sider. The Scandal Of The Evangelical Conscience. (Michigan: Baker Books, 2005).

1

1

II.

Pandangan Alkitab Menurut Tradisi Reformasi Di dalam tradisi Reformasi Alkitab dipandang sebagai hal yang penting, karena memiliki otoritas di dalam kehidupan setiap orang percaya. Alkitab menjadi standar bagi kehidupan moralitas setiap orang Kristen. Hal ini sangat menonjol di dalam kehidupan para reformator, khususnya pada pemikiran Calvin. Bagi Calvin Alkitab adalah Firman Allah, yang mana Allah menyatakan seluruh kehendak-Nya bagi manusia. Allah tidak hanya menyatakan diri-Nya sebagai pencipta dunia ini, melainkan juga sebagai penebus di dalam hidup manusia. Melalui Alkitablah kita dapat mengenal Allah lebih dekat4. Selanjutnya Calvin menegaskan bahwa Allah telah menyediakan sarana melalui Alkitab bagi mereka yang ingin belajar ajaran yang berguna untuk menemukan tempat tujuan yang benar. Jikalau kita menyimpang dari jalan ini, kita hanya akan menemukan kerumitan-kerumitan di dalam kehidupan kita, kecuali jika berpedoman kepada Firman5. Calvin menyatakan bahwa Alkitab yang adalah Firman Allah memiliki otoritas yang tidak bergantung kepada manusia. Sebaliknya Alkitab memiliki otoritas penuh di antara orang-orang percaya hanya ketika mereka memandangnya firman yang diturunkan dari sorga, sebagaimana telah diperdengarkan Allah. Calvin menuliskan: Hence the Scripture obtain fully authority among believers only when men regard them as having sprung from heaven, as if there the living words of God were heard6. Lebih lanjut Calvin menyatakan bahwa gereja juga harus mengakui otoritas dari Alkitab yang adalah Firman Allah. Hal itu terjadi bukan untuk menyatakan bahwa semula Alkitab itu tidak memiliki otoritas, sehingga gereja harus meneguhkannya. Melainkan gereja harus menerima otoritas Alkitab sebagai Firman Allah, karena itu merupakan kebenaran Tuhan dan gereja harus menghormati-Nya7. Hal yang penting untuk diketahui bahwa otoritas Alkitab yang adalah Firman Allah atas hidup orang-orang percaya bukanlah merupakan pembuktian dari pemikiran manusia, tetapi merupakan kesaksian internal oleh Roh Kudus di dalam hati orang-orang percaya tersebut. Kesaksian Roh Kudus itulah yang menyebabkan kita menerima Alkitab yang adalah Firman Allah itu di dalam hati kita. Calvin menuliskan: If we desire to provide in the best way for our conscience-that they may not be perpetually beset the instability of doubt or vacillation, and that they may not also boggle at the smallest quibbles-we ought to seek our conviction in a higher place than human reason, judgement, or conjectures, that is, in the secret testimony of the spirit8…But I reply: the testimony of the spirit is more excellent than all reason. For God aloneis a fit witness of himself in

J.T. McNeill (Edits), Calvin – Intitutes of The Christian Religion, Volume I. (Louisville: Westminster John Knox Press, 2006), p. 69-70. (I.6.1) 5 Ibid, p. 72-73, (I.6.3), It is writes, “Hence, we must strive onward by this straight path if we seriously aspire to the pure contemplation of God. We must come, I say, to the Word, where God is truly vividly described to us from his works, while these very works are appraised not by our depraved jugdement but by the rule of eternal truth. If we turn aside from the Word, as I have just now said, though we may strive with strenuous haste, yet since we have got off the track, we shall never reach the goal. For we should so reason that the splendor of the divine countenance, which even the apostle call “unapproachable” [I Tim.6:16], is for us like an inexplicable labyrinth unless we are conducted into it by the thread of the Word.” 6 Ibid, p. 74. (I.7.1) 7 McNeill, Calvin, p. 76. (I.7.2). 8 Ibid, p. 78. (I.7.4).

4

2

his Word, so also the Word will not find acceptance in men’s hearts before it is sealed by the inward testimony of the spirit9. Selain dari kesaksian internal Roh Kudus bahwa Alkitab adalah Firman Allah, Calvin sangat memahami bahwa Alkitab dapat membuktikan keasliannya sendiri10. Keaslian Alkitab adalah Firman Allah sekali lagi bukan merupakan kesimpulan dari argumentasi rasional, melainkan kesaksian internal yang meneguhkan dari karya Roh Kudus di dalam hati orang percaya. Secara ringkas pemikiran Calvin mengenai kitab suci dapat dijelaskan sebagai berikut: Kita dapat mengenal Allah sebagai pencipta dan penebus hidup manusia melalui Alkitab yang adalah Firman Allah. Alkitab yang adalah Firman Allah ini memiliki otoritas di dalam kehidupan orang percaya, jikalau mereka memandang Alkitab adalah Firman Allah yang turun dari sorga. Gereja mengakui otoritas Alkitab adalah Firman Allah dikarenakan Alkitab memiliki dan menyatakan kebenaran Tuhan. Wibawa dan Otoritas Alkitab atas hidup orang percaya bukan merupakan hasil pemikiran manusia, melainkan adalah karya Roh Kudus yang memberikan kesaksian internal di dalam hati setiap orang percaya, sehingga mereka mengakui bahwa Alkitab, sesungguhnya adalah Firman Allah yang hidup. Pemikiran Calvin mengenai peran Alkitab di dalam Institutionya mempengaruhi kehidupan orang-orang Kristen pada masa itu, untuk berpegang kepada keyakinan bahwa Alkitab menjadi standar kehidupan moral dan spiritual bagi mereka. Keyakinan yang kuat ini tercermin di dalam beberapa usaha untuk kembali memurnikan ajaran gereja dengan kehidupan orang percaya pada masa itu. Hal ini dapat dilihat di dalam tradisi Puritan11, di mana salah satu keyakinan mereka sangat menekankan pengajaran Alkitab yang solid dan menjadi penuntun bagi kehidupan orang percaya. Tidak heran sejarahwan dan teolog William Haller menuliskan bahwa Puritan adalah pengikut Calvinis12. Secara umum keyakinan kaum Puritan dapat dijabarkan di dalam 4 hal berikut: (1) keyakinan bahwa keselamatan pribadi seluruhnya berasal dari Allah; (2) Alkitab menyediakan sarana yang diperlukan untuk menuntun kehidupan orang percaya; (3) Gereja harus mengekspresikan pengajaran Alkitab; (4) bahwa masyarakat merupakan suatu kesatuan yang utuh13. Tidak hanya kaum Puritan yang mewarisi pemikiran Calvin mengenai peran Alkitab di dalam kehidupan orang percaya, tetapi juga para pengkhotbah dan pengajar di dalam gereja, baik yang ada di Belanda, maupun di Amerika. Di Belanda pemikiran dan teologi Calvin dibawa di dalam arus “Nadere Reformatie”. Sementara di Amerika pemikiran dan teologi Calvin di bawa oleh kaum Puritan yang mengungsi dan membentuk koloni baru di wilayah tersebut.
Ibdi, p. 79. (I.7.4) Ibid, p. 80. (I.7.5), It is writes, Let this point therefore stand: that those whom the Holy Spirit has inwardly taught truly rest upon Scripture, and that Scripture indeed is self-authenticated 11 Istilah Puritan menunjuk kepada suatu gerakan untuk memurnikan gereja yang dilakukan oleh sejumlah orang. Pada waktu itu walaupun gereja sudah mengalami reformasi, namun Gereja di Inggris dinilai belum sempurna menerapkan reformasi. Oleh karena itu dimulailah gerakan Puritan untuk memurnikan gereja dan jemaatnya. Lihat dalam I.S. Renne, Puritanism in Evangelical Dictionary of the Theology, Second Edition. Welter A Elwell (Edits.). (Michigan: Baker Books, 2001), p. 972. 12 Lihat dalam William Haller, The Rise of Puritanism (Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1972), p. 8. Haller writes, “The Puritans were Calvinists . . . Calvinism supplied a current formulation of historic doctrine in lucid, trenchant terms, strikingly supported by the success of the state which Calvin’s genius has called into being in Geneva.” 13 I.S. Renne, Puritanism, p. 973.
10 9

3

Di Belanda Pemikiran Calvin secara umum diadopsi oleh para pengajar seperti Gisbertus Voetius14 (1589-1676) dan Johannes Hoornbeeck15 (1617-1666) yang tergabung di dalam arus “Nadere Reformatie” – yang berkomitment kepada pengajaran Refomed dari reformasi abad 17 yang telah berlangsung di dalam gereja pada waktu itu. Bagi Voetius para mahasiswa diajarkan untuk tidak mengabaikan Alkitab, tetapi mereka harus setia dengan wahyu Allah ini. Voetius mengajarkan bahwa teology harus menjadi praktis dan memimpin kepada gaya hidup untuk memuliakan Allah. Ia menggunakan slogan “the practice of piety” (= praxis pietitas; de praktijk der godzaligheid) yang menempatkan karyanya sebagai seorang teolog dan pastor dan kehidupannya menggambarkan apa yang menjadi keyakinannya sampai ia meninggal sebagai seorang Kristen16. Hoornbeeck yang mengikuti pemikiran Voetius juga memiliki pendapat yang sama bahwa bahwa theology harus dapat dipraktekkan di dalam kehidupan dan iman Kristen harus menghasilkan disiplin untuk hidup di dalam kekudusan. Voetius, Hoornbeeck dan teman-temannya yang mempertimbangkan istilah “earnest ones” di dalam pengajaran mereka. Para pemfitnah menyebut mereka sebagai “sanctimonians” (de fijnen), namun fakta-fakta menunjukkan bahwa mereka membawa kehidupan yang baru di dalam gereja. Melalui gereja mereka telah membawa perubahan bagi bangsa Belanda selanjutnya. “Spiritual Desertion” merupakan karya Gisbertus Voetius dan Johannes Hoornbeeck ditulis pada 1946 dan mulai diterbitkan pada 1659. Tulisan ini kemudian diterbitkan dalam bahasa Belanda Modern oleh Gereformeerd Traktaatgenotschap Filippus (The Reformed Tract Society Filippus) pada tahun 1898. Karya ini ditulis dengan nasihat biblical untuk bersukacita di dalam Tuhan dan hidup penuh kemenangan sebagai anak-anak-Nya, yang mana pada waktu itu banyak orang Kristen kurang memiliki sukacita di dalam Allah dan dipenuhi dengan ketakutan dan kekuatiran17. Di Amerika, pemikiran dan teologi Calvin di bawa oleh para pengungsi Inggris yang berasal dari kaum Puritan. Mereka memasuki Amerika dan menetap di Teluk Massachussets (Massachussets Bay) 18. Selama masa perpindahan besar ini diharapkan daerah baru yang ditempati oleh para pengungsi ini menjadi kota impian, “city set on a

Gisbertus Voetius (1589-1676) mengajar di Universitas Utrech dan menjadi seorang pemimpin yang vocal dari generasi kedua Reformasi di Belanda. Voetius belajar teologi Reformasi dari profesornya Fransiscus Gomarus di Leiden dan John Calvin secara khususnya yang sangat mempengaruhi pandangan teologinya. Tulisan-tulisannya sangat sarat dengan teologi Reformasi yang dikenalnya pada masa itu. Lihat dalam Gisbertus Voetius & Johannes Hoornbeeck. Spiritual Desertion – Classics of Reformed Spirituality. John H. Vriend, at all (Trans.). (Michigan: Baker Books, 2003), p. 16. 15 Johannes Hoornbeeck (1617-1666) adalah murid dari Voetius yang juga mengajar di Universitas Utrech. Ia berpegang pada keyakinan teologi Reformed yang di dalam dari guru sekaligus mentornya, Voetius. Lihat dalam Voetius & Hoornbeeck, Spiritual Desertion, p. 22. 16 Voetius & Hoornbeeck, Spiritual Desertion, p. 16.
Ibid, p. 23. John T. McNeill, The History and Character of Calvinism (New York: Oxford University Press US, 1954), p. 335, It is writes: “when Calvinism in early America is mentioned, thought turns naturally to the Plymouth and Massachusetts Bay Colonies. Different as they were, both were definitely Calvinist.”; Lihat dalam David Hackett Fischer, Albion’s Seed: Four British Folkways in America (New York: Oxford University Press US, 1989) p.22. Hacket mengutip perkataan John Cotton demikian: ‘I have read the fathers and the schoolmen, and Calvin too; but I find that he that has Calvin has them all.’
18 17

14

4

hill” yang dapat dilihat oleh dunia19. Hal yang paling jelas terlihat di dalam kehidupan para imigran dari Inggris dari kaum Puritan ini adalah komitmennya kepada Firman Tuhan. Iain Murray menuliskan hal ini dengan tepat: Then in 1628 there began from England itself one of the largest transplantation of Christians from one land to another which has ever occurred. Over a period of twelve years, in about 198 ships, men and their families arrived in Massachusetts Bay. They included gentlemen, merchants, farmers, craftsmen and ministers of the gospel. The one thing which the vast majority possessed in common was a fervent commitment to the Word of God and to the gospel of the Lord Jesus Christ20. Pada masa awal kaum Puritan di New England tradisi dan kebiasaan dari kaum Puritan, khususnya di dalam pengajaran Firman Tuhan terus di turunkan dari generasi ke generasi berikutnya, baik yang diajarkan di dalam gereja maupun di dalam komunitas keluarga-keluarga Kristen. Pada generasi berikutnya dari kaum Puritan di Amerika muncullah salah seorang pemimpin spiritual yang sangat menekankan Firman Tuhan di dalam pengajarannya. Dialah Jonathan Edwards (1703-1758). Pemikiran serta karyanya melalui khotbah dan pengajaran sangat mempengaruhi spiritualitas kaum Puritan pada waktu itu. Jonathan Edwards adalah seorang pendeta Congregasional di Massachussets. Khotbah dan pengajarannya yang didasarkan kepada Firman Allah mampu membangunkan kerohanian jemaat yang sudah “lusuh”21 pada masa itu. Penekanan kepada Firman Tuhan di dalam khotbah-khotbahnya dan mengandalkan Tuhan di dalam pemberitaannya menjadi kunci terjadinya kebangunan rohani pada masanya. Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa penekanan kepada Firman Allah yang benar akan menjadikan sarana yang tepat di dalam membangun spiritualitas yang benar kepada Allah. III. Penggunaan Alkitab Berkaitan Dengan Spiritualitas Kekristenan Di dalam tradisi spiritualitas Reformasi, peranan Alkitab sangat penting sekali di dalam membangun kerohanian jemaat. Alkitab dipandang sebagai Firman Allah yang harus ditaati oleh setiap orang percaya. Tidak terkecuali di dalam tradisi Puritan, hal ini mendapat perhatian yang sangat penting. Kaum Puritan sangat menekankan Firman dan pemberitaan Firman Tuhan. Rev. Don Kistler menuliskan: The Puritan divines who were members of the Westminster Assembly in 1643 wrote: The authority of the Holy Scripture, for which it ought to be believed, and obeyed, dependeth not upon the testimony of any man, or Church; but wholly upon God (who is truth itself) the Author thereof; and
Lihat dalam artikel Bill Potter, John Calvin and The Puritan Founders of New England. 23 April 2009. Website: http://www.visionforumministries.org/issues/gods_hand_in_history/ john_calvin_and_the_puritan_fo.aspx Iain Murray. Spiritual Characteristics of the First Christian Society in America. [Reprinted from the Banner of Truth Magazine, no 157, October 1976, with permission.] Website: http://www.puritansermons.com/ 21 Umumnya kekristenan pada masa Jonathan Edward (1703-1758) hidup sangat rendah. Mereka menghadapi kemiskinan, terjebak di dalam pengaruh minuman keras, seks bebas dan penyakit-penyakit sosial lainnya. Kekristenan di sana kehilangan arah spiritual yang benar. Oleh karenanya berbagai upaya dilakukan oleh para pendeta dan pengajar untuk meningkatkan kerohanian orang Kristen, namun belum ada yang memberikan dampak perubahan yang besar. Lihat dalam J. Stephen Lang & Mark A. Noll, Colonial New England: An Old Older, New Awekening. Christianity Today International/Christian History magazine. 10/01/1985. Copyright © 1985. Website: http://www.christianitytoday.com/ch/1985/issue8/808.html
20 19

5

therefore it is to be received because it is the Word of God …Selanjutnya, Kistler menambahkan: Well, that is how the Puritans viewed Scripture. Their high view of God came from their high view of Scripture. And if we want to know God the way they did, we must love His Word the way that they did. And that love will be increased only by diligent, intensive study22. Pemberitaan Firman Tuhan dilakukan pada hari minggu pagi dan sore hari oleh para pendeta dan pengajar Puritan. Sedangkan di dalam komunitas persekutuan keluarga Kristen pada abad 17-18 sangat menekankan ibadah (termasuk pembacaan firman dan doa) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari gereja Kristus. Gambaran kehidupan kekristenan abad 17-18 di dalam tradisi Puritan ini nampak di dalam tulisan George B Cheever, demikian: By reading, by discourse and prayer, they were led to question whether they ought not form a separate church and society of the faithfull, who keep close to the written word of God as the rule of their worship. They were at length brought to determination that both might and ought thus enter into a voluntary church covenant with Christ and with one another, to walk his ways, whatever is might cost them23. Hal yang penting untuk diperhatikan bahwa di dalam membangun spiritualitas yang benar, jemaat harus memahami maksud dan rencana Tuhan di dalam kehidupan mereka. Ini dapat terjadi jikalau jemaat mengerti dan memahami Allah melalui Firman-Nya. Pola yang jelas terlihat di dalam kehidupan jemaat-jemaat Kristen pada waktu itu adalah membaca Alkitab setiap hari, khususnya di dalam kehidupan kaum Puritan24. Di dalam persekutuan keluarga setiap hari mereka meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan itu di dalam kehidupan mereka. Firman Tuhan itu menjadi penghiburan bagi mereka yang kala itu mengalami berbagai kesulitan-kesulitan di dalam hidup (termasuk kemiskinan dan sakit penyakit). Beeke menuliskan hal yang menarik dengan mengutip Johan Flavel: The Scriptures teach us the best way of living, the noblest way of suffering, and the most comfortable way of dying25. Dengan pola seperti ini, ada usaha untuk terus mengembangkan pembacaan Firman Tuhan di dalam kehidupan praktis kekristenan pada masa itu. Para pendeta dan pengajar Puritan terus bergumul untuk membahas topik-topik yang berkaitan dengan masalah teologi dan masalah kehidupan praktis. Banyak di antara karya-karya yang dihasilkan oleh para pendeta dan pengajar Puritan di dalam arus tradisi reformasi pada saat itu sangat menekankan pada pengajaran Alkitab. Dr. Allen C. Guelzo menuliskan: Besides sermons on Sunday morning and afternoon, a weekday lecture was also expected of Puritan ministers. In the lecture, the preacher explored intricate theological problems. John Cotton devoted his Thursday lectures in Boston in 1639 and 1640 to an exposition of Revelation 13, which gave Cotton free rein to talk about eschatology. Forty years later, Samuel Willard of Boston delivered 226 lectures on the first 100 questions of the Westminster Shorter Catechism. Other occasions for preaching included the election sermon. Beginning in 1634, and every year after
Rev. Don Kisler, Why Read The Puritan Today? Reformation and Revival: A Quarterly Joumal for Church Leadership Volume 5, Number 2 • Spring 1996. p.64 & 65. 23 George B. Cheever D.D. The Jounal of The Pilgrim at Playmouth In New England in 1620. Second Edition. (New York: John Wiley, 161 Broadway, 1849), p. 221. 24 Diktat Kuliah, Spiritualitas Dalam Tradisi Reformasi – Latar Belakang Kehidupan Cotton Mather – oleh Rev. Mariani Febriana, Th. M. Unpublished, 2010. h. 1 25 Joel R. Beeke & Ray B. Lanning, Reading and Hearing the Word in a Puritan Way. Reformational & Revival: A Quarterly Journal for Church Leadership. Volume 5, Number 2 • Spring 1996. p. 75
22

6

1640, the annual election day in Massachusetts was crowned with a sermon before the General Court by a prominent minister. It was clearly expected that the need for community obedience to God would be the subject of the hour (or, more often, hour and a half)26. Karya-karya yang dihasilkan oleh para pendeta dan pengajar Puritan di dalam tradisi Reformasi umumnya dipakai di dalam pengajaran kepada jemaat-jemaat Kristen pada waktu itu, di dalam bentuk pengajaran (pertanyaan dan jawaban di dalam bentuk katekismus) maupun di dalam bahan-bahan perenungan (devosi) pribadi yang dipakai oleh jemaat-jemaat tersebut. IV. Dampak Spiritulitas Di Dalam Kekristenan Penekanan kepada Firman Tuhan pada spiritualitas di dalam tradisi reformasi sangat berdampak kepada meditasi dan kontemplasi. Pemahaman umum mengenai meditasi dan kontemplasi sangat dihubungkan dengan ”Lectio Divina” yaitu: praktek membaca Alkitab dengan pengertian yang dalam. Praktek ini meliputi 3 hal, yaitu: Meditasi – merefleksikan dengan pikiran atas makna teks yang dalam; Doa yang afektif – gerakan yang spontan untuk merefleksikan makna yang dalam dari teks; Kontemplasi – penyederhanaan dari meditasi dan doa yang afektif untuk keadaan yang tenang di dalam hadirat Allah. Ketiga tindakan ini dilakukan di dalam ”khayalan yang saling berhubungan satu dengan yang lain” pada waktu yang sama saat berdoa. Kontemplasi dapat disamakan dengan mendengarkan Firman Allah27. Dalam tradisi Reformasi, khususnya di dalam tradisi Puritan, pemahaman meditasi dan kontemplasi kaum Puritan sangat berbeda dengan meditasi dan kontemplasi dari para filsuf. Di dalam meditasi dan kontemplasinya, para filsuf merenungkan tentang materi dan alam semesta, sedangkan meditadi dan kontemplasi orang percaya merefleksikan tentang Allah, dan ketetapan-Nya yang berkaitan dengan kehendak manusia. Meditasi dan kontemplasi kaum Puritan juga berbeda dengan meditasi dan kontemplasi dari gerakan spiritualitas (bogus spirituality) yang beredar pada masa itu. Meditasi dan kontemplasi kaum Puritan sangat menekankan pada Firman Tuhan, sedangkan meditasi dan kontemplasi dari gerakan spiritualitas zaman itu yang didasarkan pada tindakan-tindakan pengorbanan yang berhubungan dengan mistisisme kemudian berimajinasi dan menghubungkan dengan isi dari Alkitab28. Di dalam abad 17 dan 18, banyak sekali karya-karya meditasi dan kontemplasi dari para pendeta dan pengajar di dalam kaum Puritan29. Karya-karya yang dihasilkan oleh
Dr. Allen C. Guelzo, When the Sermon Reigned. Christianity Today International/ Christian History magazine 1/01/1994. Copyright © 1994 Website: http://www.christianitytoday.com/ch/1994/issue41/4123.html 27 Lihat dalam Informal History of The Christian Contemplative Tradition. Website: http://www.lostkeysrevelation.com/cthistory.html 28 Joel R. Beeke. The Puritan Practice of Meditation, p. 86. Website: http://www.monergism.com 29 Beberapa karya yang dihasilkan oleh pendeta dan pengajar dari kaum Puritan, di antaranya: Thomas Reade, Christian Meditations or The Believers Companion In Solitute, diterbitkan pada 1841; Thomas Cobbet (1608-86), Gospel Incense, or A Practical Treatise on Prayer;. Thomas Watson, A Body of Practical Divinity, yang diterbitkan pada 1692; Edward Taylor (1645-1729), Preparatory Meditations; Thomas Hooker The Soul's Preparation for Christ" Or, A Treatise of Contrition, Wherein is discovered How God breaks the heart, and wounds the Soul, in the conversion of a Sinner to Himself, diterbitkan pada 1640; Cotton Mather, Essay To Do Good, diterbitkan pada 1710; Jonathan Edwards, Treatise Concerning Religious Affection, yang
26

7

mereka berangkat dari 2 kenyataan: pertama, kerinduan para pendeta dan pengajar dalam tradisi reformasi untuk memimpin jemaat-jemaat Kristen untuk hidup yang benar; kedua, kenyataan bahwa jemaat-jemaat Kristen terjerumus di dalam berbagai kehidupan dunia (sakit penyakit, minuman keras, free seks, kemiskinan, dlsb) yang membuat mereka tidak mampu melawan godaan itu serta akhirnya hidup di dalam keputusasaan. Di dalam tradisi Puritan, meditasi dan kontemplasi bertujuan untuk melatih pikiran untuk memikirkan Allah, merenungkannya dengan sungguh-sungguh dan menerapkan itu di dalam kehidupannya. Watson menuliskan demikian: “a holy exercise of the mind whereby we bring the truths of God to remembrance, and do seriously ponder upon them and apply them to ourselves”30 Selanjutnya, para penulis Puritan membedakan 2 jenis meditasi dan kontemplasi: pertama, occasional meditasi dan deliberate meditasi. Occasional meditasi berangkat dari pemikiran mengenai hal-hal surgawi, misalnya, melihat mata Tuhan, mendengar suara Tuhan, dst. Sedangkan deliberate meditasi adalah meditasi yang umum dilakukan oleh orang percaya di dalam waktu tertentu, tempat tertentu atau dilakukan dengan orang tertentu31. Sumber-sumber dari meditasi dan kontemplasi di dalam tradisi Puritan bersumber pada 4 hal ini: Alkitab, kebenaran praktis dari kehidupan Kristen, pengalamanpengalaman pemeliharaan Allah dan mendengar khotbah. Khotbah diyakini sebagai ladang yang subur untuk meditasi. Mengutip Thomas White, Beeke menuliskan: It is better to hear one Sermon only and meditate on that, then to hear two Sermons and meditate on neither32. Beberapa pemikir Puritan juga memisahkan deliberate meditasi di dalam 2 bagian: pertama, meditasi langsung dan berfokus kepada objek yang direnungkan; meditasi ini merupakan bagian dari kontemplasi yang memahami “meditasi refleksi” dari suatu tindakan yang didasarkan pada keyakinan iman. Meditasi langsung memberikan peneringan pikiran dengan pengetahuan ketika meditasi refleksi memenuhi hati dengan kebaikan. Kedua, meditasi refleksi, dan berfokus kepada orang yang melakukan meditasi33. Berangkat dari pemikiran beberapa pemikir Puritan, maka dihasilkan beberapa hal penting berkaitan dengan pelaksanaan di dalam melakukan meditasi dan kontemplasi: Beeke meringkaskan ini di dalam “manner of meditation”. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan: Frequency and Time; Preparation; Guidelines; Sedangkan “Subject on Meditation” mengikuti urutan sistematik di dalam teology Reformed: Prologomena, Theology Proper; Antrophology; Christology; Soteriology and the Christian Life; Ecclesiology and Eschatology34. V. Aplikasi Masa Kini Bagaimanakah dengan kehidupan spiritualitas di zaman modern ini? Di satu sisi, masalah spiritualitas menjadi pergumulan besar di dalam kehidupan modern ini berhubungan dengan kehidupan spiritualitasnya. Sejak Alkitab tidak lagi dipandang

diterbitkan pada 1746; C.H. Spurgeon, Till He Come – Communion Meditation and Addresses, diterbitkan pertama pada 1896, dlsb. 30 Thomas Watson, Heaven Taken by Storm. (Pennysilvania: Soli Deo Gloria, 2000), p. 23 31 Beeke, The Puritan Practice of Meditation, p. 87 32 Ibid, p. 90 33 Ibid, 34 Ibid, p. 93-103.

8

berotoritas di dalam kehidupan orang percaya 35, semenjak itu kehidupan spiritual orangorang percaya zaman modern menurun drastis. Mereka lebih mengutamakan teknologi modern dengan gaya hidup materialistic dan hedonis daripada spiritualitas yang benar dan didasarkan kepada Alkitab, akibatnya mereka terpuruk hidup di dalam dosa dengan segala moralitas yang rendah36. Perilaku-perilaku kehidupan di dalam dosa ini ternyata juga mempengaruhi kehidupan dari orang-orang Kristen masa kini. Lebih tepatnya bagi mereka yang tidak sungguh-sungguh lahir baru, mereka menolak Firman Tuhan yang berotoritas di dalam kehidupan mereka, akhirnya harus terus hidup di dalam dosa-dosanya37. Di sisi yang lain, muncul spiritualitas modern dari berbagai aliran kepercayaan yang tergabung di dalam spiritual ”New Age,” yang berusaha untuk mengangkat persoalan membebaskan jiwa dari batasan gereja dan kekristenan. Hal ini diungkapkan oleh Brad Kent, dalam artikelnya, The Spiritual Supermarket. Kent menuliskan: Down one aisle I find brands with which I am familiar. Hanging above them is a sign saying “Christian.” The red, white and blue boxes are labeled Methodist, Roman Catholic, Baptist, Episcopalian, Presbyterian. These are the oatmeal, the Raisin Bran, the Shredded Wheat of spirituality. But as I go down the next aisle I encounter brands I’ve never tried. The sign above them reads “New Age.” These are the granola, the muesli, the Fruit Loops of spirituality… The intense interest and involvement in various types of spirituality suggests that as we enter the next millennium we may be crossing the threshold into a third Great Awakening. The first two Awakenings brought new people into the church, but today many awakened souls are leaving the church, having not found there the spirituality38 Spiritualitas semacam ini hanya akan memuaskan keinginan diri sendiri, dan segala hawa nafsunya, tanpa menemukan arti dan makna yang dalam dari spiritualitas Kristen sejati. Jikalau orang Kristen masa kini terlibat dengan spiritualitas sebagaimana yang diungkapkan oleh Brad Kent ini, maka inilah titik awal kehancuran kehidupan spiritual dari orang Kristen masa kini. Seharusnya kekristenan masa kini yang telah mewarisi spiritualitas di dalam tradisi reformasi tidak meninggalkan warisan yang berharga ini. Lebih lanjut, bahwa kekristenan masa kini harus kembali kepada spiritualitas dalam tradisi reformasi yang sangat
Liberalisme merupakan hasil dari pemikiran dan pengalaman yang dihasilkan oleh para filsuf dan ilmuwan yang sangat dipengaruhi oleh Enlightment pada awal abad 19. Liberalisme sangat mengutamakan akal manusia dengan menekankan pada penemuan-penemuan ilmu pengetahuan. Liberalisme menolak doktrin yang bersifat sejarah dari Iman Kristen. Pada prinsipnya mereka menolak hal-hal yang berkaitan dengan mujizat dan supernatural di dalam Iman Kristen. Liberalisme sangat menolak pengakuan bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Bagi Liberalisme, Alkitab adalah hasil karya manusia, bukan buku yang diinspirasikan oleh Allah. Diskusi yang lebih lengkap mengenai hal ini dapat dilihat di dalam: R.V. Pierard, Liberalism Theology, in Evangelical Dictionary of the Theology, Second Edition. Welter A Elwell (Edits.). (Michigan: Baker Books, 2001), p. 682-685; Paul Enns, Liberal Theology in The Moody Handbook of Theology. (Chicago: Moody Press, 1989), p. 549-559. 36 David F. Wells, Hilangnya Kebajikan Kita. (Surabaya: Penerbit Momentum, 2005), h. 40. 37 Diskusi mengenai hal ini dapat dilihat di dalam buku, Ronal J. Sider, Skandal Hati Nurani Kaum Injili. (Jawa Timur: Literatur Perkantas, 2005). 38 Brad Kent. The Spiritual Supermarket. 13 Mei 2007. Website: http://tntluoma.com/dmin/articles/the-spirituality-supermarket-by-brad-kent/
35

9

menjunjung tinggi Alkitab yang adalah Firman Allah. Mengapa demikian? Karena dengan perpegang teguh kepada Firman Allah, kita akan mendapatkan petunjuk kepada kehidupan yang benar, kita akan mempu menghargai kesulitan dan penderitaan yang di dalam hidup ini dan akan mendapatkan penghiburan tatkala menghadapi baying-bayang maut, sebagaimana diungkapkan oleh Johan Flavel: The Scriptures teach us the best way of living, the noblest way of suffering, and the most comfortable way of dying39.

Sumber-Sumber Utama J.T. McNeill (Edits), Calvin – Intitutes of The Christian Religion, Volume I. (Louisville: Westminster John Knox Press), 2006 Welter A Elwell (Edits.) Evangelical Dictionary of the Theology, Second Edition.. (Michigan: Baker Books), 2001 William Haller, The Rise of Puritanism (Philadelphia: University of Pennsylvania Press), 1972 Gisbertus Voetius & Johannes Hoornbeeck. Spiritual Desertion – Classics of Reformed Spirituality. John H. Vriend, at all (Trans.). (Michigan: Baker Books), 2003 John T. McNeill, The History and Character of Calvinism (New York: Oxford University Press US), 1954 David Hackett Fischer, Albion’s Seed: Four British Folkways in America (New York: Oxford University Press US) 1989) George B. Cheever D.D. The Jounal of The Pilgrim at Playmouth In New England in 1620. Second Edition. (New York: John Wiley, 161 Broadway) 1849 Thomas Watson, Heaven Taken by Storm. (Pennysilvania: Soli Deo Gloria), 2000 David F. Wells, Hilangnya Kebajikan Kita. (Surabaya: Penerbit Momentum), 2005 Ronal J. Sider, Skandal Hati Nurani Kaum Injili. (Jawa Timur: Literatur Perkantas), 2005 Artikel-Artikel Bill Potter, John Calvin and The Puritan Founders of New England. 23 April 2009. Website: http://www.visionforumministries.org/issues/gods_hand_in_history/ john_calvin_and_the_puritan_fo.aspx Iain Murray. Spiritual Characteristics of the First Christian Society in America. [Reprinted from the Banner of Truth Magazine, no 157, October 1976, with permission.] Website: http://www.puritansermons.com/ J. Stephen Lang & Mark A. Noll, Colonial New England: An Old Older, New Awekening. Christianity Today International/Christian History magazine. 10/01/1985. Copyright © 1985. Website: http://www.christianitytoday.com/ch/1985/issue8/808.html Rev. Don Kisler, Why Read The Puritan Today? Reformation and Revival: A Quarterly Joumal for Church Leadership Volume 5, Number 2 • Spring 1996. p.64 & 65. Diktat Kuliah, Spiritualitas Dalam Tradisi Reformasi – Latar Belakang Kehidupan Cotton Mather – oleh Rev. Mariani Febriana, Th. M. Unpublished, 2010. h. 1 Joel R. Beeke & Ray B. Lanning, Reading and Hearing the Word in a Puritan Way. Reformational & Revival: A Quarterly Journal for Church Leadership. Volume 5, Number 2 • Spring 1996. p. 75

39

Beeke & Lanning, Reading and Hearing the Word in a Puritan Way. P. 75.

10

Dr. Allen C. Guelzo, When the Sermon Reigned. Christianity Today International/ Christian History magazine 1/01/1994. Copyright © 1994 Website: http://www.christianitytoday.com/ch/1994/issue41/4123.html Informal History of The Christian Contemplative Tradition. Website: http://www.lostkeysrevelation.com/cthistory.html Joel R. Beeke. The Puritan Practice of Meditation, p. 86. Website: http://www.monergism.com Brad Kent. The Spiritual Supermarket. 13 Mei 2007. Website: http://tntluoma.com/dmin/articles/the-spirituality-supermarket-by-brad-kent/

Bacaan Pembanding David Wells, Losing Our Virtue: Why the Church Must Recover Its Moral Vision. (Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company), 1998 Mark A Noll. The Scandal of the Evangelical Mind. (Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing House), 1994 Ronald J. Sider. The Scandal Of The Evangelical Conscience. (Michigan: Baker Books), 2005 David W. Hall, Legacy of John Calvin: His Influence on the Modern World. (New Jersey: P & R Publishing Company, 2008). Buku ini diterbitkan untuk memperingati 500 tahun John Calvin.

11

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->