Anda di halaman 1dari 3

Abu Muhammad Thalhah bin Ubaidillah

Dia adalah Abu Muhammad Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman bin Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah binKa'ab bin Lu'ai. Ibunya bernama Ash-Sha'bah binti Al Hadrami, saudara perempuan Al Ala'. Wanita ini telah menyatakan dirinya sebagai seorang muslimah, sedangkan Thalhah sendiri tergolong sahabat yang masuk Islam pertama kali. Sebelum perang Badar, dia bersama Sa'id bin Zaid telah diutus Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam untuk memata-matai kafilah orang musyrik yang melintas. Mereka berdua hendak melaporkan perihal kafilah kaum musyrik kepada Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam, namun Rasulullah telah berangkat ke medan perang Badar bertepatan dengan dengan kepulangan keduanya ke Madinah. Keduanya tidak tahu kalau Nabi Shallallohu 'alaihi wasallam telah berangkat menuju peperangan Badar. Maka keduanya sampai di Madinah pada hari Rasulullah sedang bertemu dengan kaum musyrikin di Badar. Setelah tahu kalau Rasulullah berperang, keduanya segera menyusul beliau dan para sahabat. Namun keduanya menjumpai Rasulullah telah usai berperang. Akhirnya, Rasulullah memberi bagian harta rampasan perang untuk keduanya. Dengan demikian, keduanya dianggap seperti para sahabat lain yang ikut terjun dalam kancah perang Badar. Thalhah juga ikut serta dalam perang Uhud bersama-sama dengan Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam. Dia telah menjaga Rasulullah dari serangan musuh sampai kedua jari tangannya terpotong.1) Pada hari itu Thalhah terluka sebanyak 24 luka. Ada yang mengatakan, sebanyak 75 luka. Jenis lukanya ada yang berupa tusukan, pukulan,maupun terkena tombak. Pada waktu perang Uhud itulah Rasulullah menjulukinya sebagai Thalhatul Khair (Thalhah yang baik). Pada waktu perang Dzatul 'Usyairah, Rasulullah menjulukinya sebagai Thalhah Al Fayyadh (Thalhah yang murah hati). Sedangkan pada aktu perang Hunain, Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam menjulukinya sebagai Thalhah Al Jud(Thalhah yang dermawan).

Ciri-ciri Fisik Thalhah Putra-putri Thalhah

Thalhah adalah seorang laki-laki yang berkulis sawo matang dan berambut lebat, yang tidak berjenis keriting maupun lurus. Dia adalah lelaki yang berwajah tampan, ujung hidungnya ramping, dan tidak merubah warna rambutnya. Semoga Allah meridhai beliau. Diantara putra Thalhah adalah Muhammad yang mendapat julukan As-Sajjad (orang yang ahli bersujud). As-Sajjad ini telah mati terbunuh bersama-sama dengan Thalhah pada waktu perang Jamal. Putranya yang lain bernama Imran, yang berasal dari istrinya yang bernma Hamnah binti Jahsy; Musa dari istrinya yang bernama Khaulah binti Al Qa'qa; Ya'qub yang mati terbunuh pada waktu perang Harrah; dan putranya yang bernama Ismail. Kedua putranya terakhir ini berasal dari istrinya yang bernama Ummu Kultsum binti Abi Bakar Ash-Shiddiq. Diantara putranya yang lain adalah Musa dan Yahya yang berasal dari istrinya yang bernama Sa'ad binti 'Aum. Sedangkan diantara putrinya adalah Ummu Ishaq, yang telah dinikahi oleh Hasan bin Ali; Ash-sha'bah dan Maryam, yang berasal dari istrinnya yang merupakan ummu walad. Sedangkan putranya yang lain adalah Shalih, yang berasal dari istrinya yang bernama Al-Fari'ah.

Sisi Kehidupan Thalhah

Dari Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam bersabda pada waktu perang Uhud, Thalhah berhak mendapatkan pahala dan Surga Allah ketika dia telah melakukan sesuatu terhadap Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam. Maksudnya, ketika dia bersimpuh untuk Rasulullah sehingga beliau menaiki punggungnya. (Ketika itu Rasulullah hendak menaiki sebuah batu besar dan tidak berhasil untuk naik karena posisinya yang terlalu tinggi. Maka Thalhah sengaja bersimpuh untuk dijadikan tumpuan bagi Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam penerj.). (HR.Imam Ahmad) Dari Aisyah radhiyallahu'anha, dia berkata, Jika Abu Bakar radhiyallahu an'hu teringat pada waktu perang Uhud, maka dia berkata, ' Hari itu adalah milik Thalhah semuanya'. Abu Bakar radhiyallahu an'hu berkata, Aku adalah orang yang pertama kali hadir pada waktu perang Uhud (telah usai). Lalu Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam bersabda kepadaku dan juga kepada Abu Ubaidah bin Al Jarrah, 'Hendaklah kalian berdua (mengurusnya)'. Yang dimaksud Nabi adalah mengurus Thalhah yang telah banyak mengeluarkan darah. Maka kami mengurus luka Nabi Shallallohu 'alaihi wasallam terlebih dahulu dan baru setelah itu mendatangi Thalhah. Ternyata, dia terluka sebanyak 70 luka atau lebih. Luka itu ada yang berupa tikaman, pukulan, maupun lemparan tombak. Bahkan, jarinya ada yang terputus. Maka kami pun merawatnya dengan baik.2) Dari Qais, dia berkata, aku telah melihat jari tangan Thalhah terpotong, karena dia melindungi Rasulullah Shallallohu 'alaihi wasallam pada waktu perang Uhud.(HR. Bukhari)3) Dari Musa bin Thalhah, dari Ayahnya Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu'anhu dia berkata, Ketika Rasulullah pulang dari perang Uhud, beliau naik keatas mimbar. Lalu Rasulullah mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah kemudian membaca ayat berikut ini, 'Dintara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur'. (QS. Al Ahzaab (33):23) Maka, ada seorang laki-laki yang berdiri sambil berkata, 'Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang dimaksud dalam ayat itu? Lalu aku beserta Ali datang sambil memberikan dua buah pakaian berwarna hijau. Maka Rasulullah bersabda, 'Wahai sang penanya, inilah salah satu dari mereka'. Dari Sa'da binti Auf, dia berkata, Thalhah datang kepadaku dan ketika itu aku melihatnya sedang murung. Maka aku bertanya, 'Ada apa dengan Anda?' Thalhah menjawab, 'Harta milikku telah banyak sehingga membuatku merasa gundah'. Aku berkata, 'Mengapa Anda bingung? Bagikan saja harta tersebut!' Maka, Thalhah membagikan harta tersebut sampai tidak tersisa sedirham pun. Thalhah bin Yahya berkata, Aku bertanya kepada bendahara Thalhah, 'Berapa jumlah harta milik Thalhah?' dia menjawab, '400 ribu'. Dari Al Hasan, dia berkata, Thalhah pernah menjual sebidang tanah seharga 700.000. Uang sebanyak itu dia simpan pada malam harinya. Ternyata dia sulit untuk tidur pada malam itu disebabkan uang tersebut. Maka, pada apagi harinya dia membagikan semua uang tersebut.(HR. imam Ahmad)4) Dari Al Hasan bahwa Thalhah bin Ubidillah telah menjual tanahnya yang berasal dari Utsman seharga 700.000. Maka, Thalhah membawa uang penjualan tanah itu kepada Utsman sambil berkata, Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang bermalam dengan membawa harta ini. Dia tidak tahu apa yang ditakdirkan Allah pada malam hari. Hal tersebut dikarenakan dia takut terpedaya dari Allah. Maka, maka malam harinya beberapa orang utusan orang itu menyebar di lorong-lorong kota Madinah, sehingga pada waktu sahur dia tidak lagi memiliki uang walau sedirham.

Wafatnya Thalhah

Thalhah mati terbunuh pada waktu perang Jamal,5) tepatnya pada hari Kamis tanggal 10 Jumadil Akhir 36 H. Ada yang mengatakan bahwa ada sebuah anak panah dari arah barat yang bersarang dilehernya. Lalu Thalhah berkata, Bismillah, sesungguhnya takdir Allah adalah sesuatu yang telah ditetapkan. Ada juga yang menyebutkan bahwa orang yang membunuhnya adalah Marwan bin Al Hakam. Jenazahnya dimakamkan di Bashrah. Thalhah meninggal dunia pada usia 60 tahun. Namun ada juag pendapat yang mengatakan bahwa usianya ketika meninggal dunia adalah 62 atau 64 tahun. 6)

Thalhah bin Ubaidillah


Beliau adalah Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman bin Amr bin Kaab bin Saad al-Quraisyi at-Taimi. Memiliki banyak julukan mulia, seperti Thalhah al-khair (yang baik budi), Thalhah al-Jud (yang dermawan), dan juga mendapatkan julukan seorang syahid yang hidup. Beliau adalah diantara 10 orang Shahabat yang telah dijamin masuk Surga dalam salah satu Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (lihat Shahih al-Jami no. 50), yaitu: 1. Abu Bakr ash-Shiddiq 2. Umar bin Khattab 3. Utsman bin Affan 4. Ali bin Abi Thalib 5. Thalhah bin Ubaidillah 6. Zubair bin Awwam 7. Abdurrahman bin Auf 8. Saad bin Abi Waqas 9. Said bin Zaid 10. Abu Ubaidah bin Jarrah Beliau masuk Islam di awal-awal kemunculan Islam. Orang yang berjasa memasukkan beliau ke dalam Islam tidak lain adalah Abu Bakr ash-Shiddiq. Tentang masuk Islamnya ini, beliau sendiri pernah menuturkan dalam suatu kisah. Ketika beliau bersama rombongan pedagang di pasar Bushra, tiba-tiba ada seorang Rahib yang bertanya apakah ada penduduk tanah Haram yang ikut rombongan. Maka beliau pun berkata, Saya dari tanah Haram. Lalu pendeta itupun bertanya, apakah di tengah kalian telah muncul seorang yang bernama Ahmad bin Abdillah bin Abdilmuthalib? Ini adalah bulan keluarnya dia. Dan dia adalah akhir dari pada Nabi. Dia keluar dari tanah kalian dari tanah Haram, dan akan berhijrah menuju bumi yang memiliki batu hitam, pohon korma dan tanah berair. Jangan sampai engkau didahului orang lain wahai pemuda. Akhirnya perkataan tersebut masuk ke dalam hati Thalhah yang kemudian langsung kembali ke Mekah meninggalkan rombongan dagang. Maka bertanyalah ia kepada istrinya tentang berita terbaru di Mekah, dan benar yang dikatakan oleh pendeta. Dan dikabarkan pula bahwa Abu Bakr telah mengikuti Rasulullah. Maka beliaupun menemui Abu Bakr, meminta penjelasan dan menyampaikan kisah pertemuannya dengan si pendeta. Sehingga Abu Bakr pun membawa beliau menemui Rasulullah dan masuk Islamlah Thalhah bin Ubaidillah. Setelah masuk Islam, beliaupun tidak lepas dari gangguan orang-orang Quraisy, bahkan ibunya pun ikut menyiksa dan mencela beliau. Namun beliau tetap tegar karena keimanan telah merasuk ke dalam dada. Adapun tentang julukan beliau sebagai seorang syahid yang hidup, hal itu karena peristiwa perang Uhud yang sangat menegangkan. Yaitu, ketika Rasulullah telah berada dalam keadaan terdesak, dan yang bersama beliau hanya 11 orang dari kalangan Anshar dan Thalhah dari kalangan Muhajirin, Rasulullah bersabda, Siapa yang akan menghalangi mereka dari kami, niscaya dia akan menjadi temanku di Surga. Maka Thalhah langsung menawarkan diri, saya wahai Rasulullah. Akan tetapi Rasulullah bersabda, Tidak, engkau tetap di tempatmu. Lalu seorang Anshar menawarkan diri dan diizinkan sehingga syahid. Kemudian Rasulullah kembali mengatakan, Siapa yang akan menghalangi mereka dari kami, niscaya dia akan menjadi temanku di Surga. Thalhah pun kembali menawarkan diri, namun tidak diizinkan dan yang diizinkan adalah orang Anshar. Begitu seterusnya sampai seluruh orang Anshar tadi syahid dan tinggallah Rasulullah bersama Thalhah. Akhirnya diizinkanlah Thalhah menjadi pelindung beliau. Dan benar beliau (Thalhah) berusaha sekuat tenaga sehingga berhasil melindungi Rasulullah dan menghalangi orang-orang musyrik, meskipun akhirnya beliau mendapatkan 70 luka pukulan pedang atau tusukan tombak dan lemparan panah, dan pergelangan tangan beliau telah terpotong, dan jatuh pingsan di suatu lobang. Dan setelah itu Rasulullah bersabda tentangnya, Barangsiapa ingin melihat laki-laki yang berjalan di muka bumi sedangkan dia telah gugur syahid, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah. Dan jika disebut tentang perang Uhud maka Abu Bakr ash-Shiddiq mengatakan, Hari itu semuanya adalah milik Thalhah. Beliau wafat pada tahu 36 H ketika terjadi peperangan Jamal. Semoga Allah meridhai beliau dan menjadikan kita ridha terhadap beliau.

Syahid Yang Masih Hidup I. Pendahuluan Kemurahan dan kedermawanan Thalhah bin Ubaidillah patut kita contoh dan kita teladani. Dalam hidupnya ia mempunyai tujuan utama yaitu bermurah dalam pengorbanan jiwa. Thalhah bin Ubaidillah merupakan salah seorang dari delapan orang yang pertama masuk Islam, dimana saat itu satu orang bernilai seribu orang. Sejak awal keislamannya hingga akhir hidupnya ia tidak pernah mengingkari janji. Janjinya selalu tepat. Ia juga dikenal sebagai orang jujur, tidak pernah menipu apalagi berkhianat. Thalhah masuk Islam melalui anak pamannya, Abu Bakar Assiddiq ra. II. Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat Dengan disertai Abu Bakar Assiddiq, Thalhah pergi menemui Rasulullah SAW. Setelah berhasil berjumpa dengan Rasulullah SAW, Thalhah mengungkapkan niatnya hendak ikut memeluk Dinul haq, Islam. Maka Rasulullah SAW menyuruhnya mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah menyatakan keislamannya di hadapan Muhammad SAW. Thalhah dan Abu Bakar ra. pun pergi. Tapi di tengah jalan mereka dicegat oleh Nofal bin Khuwalid yang dikenal dengan Singa Quraisy, yang terkenal kejam dan bengis. Nofal kemudian memanggil gerombolannya untuk menangkap mereka. Ternyata Thalhah dan Abu Bakar tidak hanya ditangkap saja, mereka diikat dalam satu tambang. Semua itu dilakukan Nofal sebagai siksaan atas keislaman Thalhah. Oleh karena itulah Thalhah dan Abu Bakar ra. dijuluki Alqori-nain atau dua serangkai. Dan sesudah masuk Islam Thalhah selalu mendampingi Rasulullah SAW. Riwayat hidup Thalhah merupakan hembusan angin yang harum dalam rangkaian sejarah yang agung penuh keteladanan. Oleh karena itu alangkah patutnya bila kita menerapkan sejarah lama untuk masa kini dan merintis jalan yang pernah ditempuh pendahulu kita serta beriman sebagaimana mereka beriman, jujur, ikhlas dan setia seperti yang mereka lakukan dan berjihad sebagaimana mereka berjihad. Nasib agama kita akan membaik bila kita menempuhnya dengan cara yang ditempuh para pendahulu kita, sebagaimana yang Allah firmankan: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya. (QS. Qoof : 37) Thalhah adalah seorang lelaki yang gagah berani, tidak takut menghadapi kesulitan, kesakitan dan segala macam ujian lainnya. Ia orang yang kokoh dalam mempertahankan pendirian meskipun ketika di jaman jahiliyah. Ketika pergi ke Syam ia singgah sebentar di Bushra. Di situ ia mendengar ada seorang pastur yang sedang mencari orang berasal dari Mekah. Mengetahui hal itu maka Thalhah segera mendekati pastur itu. Ternyata pastur itu mempertanyakan seorang lelaki bernama Ahmad bin Abdillah bin Abdul Muthalib di Mekah, karena kini sudah saatnya dia muncul. Setelah pulang dia bertemu dengan Abu Bakar dan masuk Islam sesudah Utsman bin Affan. Sewaktu perang Badar, Thalhah tidak ikut bertempur di medan laga karena pada waktu itu ia diberi tugas khusus oleh Rasulullah SAW sebagai pengintai kafilah Quraisy yang tengah menuju daerah Alhaura. III. Perang Uhud Bila diingatkan tentang perang Uhud, Abu Bakar ra. selalu teringat pada Thalhah. Pada waktu itu akulah orang pertama yang menjumpai Rasulullah SAW. Ketika melihat aku dan Abu Ubaidah, baginda berkata kepada kami: Lihatlah saudaramu ini. Pada waktu itu aku melihat tubuh Thalhah terkena lebih dari tujuh puluh tikaman atau panah dan jari tangannya putus. Bagi bangsa Quraisy perang Uhud merupakan tindak balas atas kekalahannya sewaktu perang Badar. Pada awal pertempuran Uhud kaum muslimin telah memperoleh kemenangan. Pasukan kafir Quraisy kocar-kacir dan mundur dari medan perang. Tapi ketika kaum muslimin melihat mereka mundur, para pemanah yang bertugas di bukit menutup jalur belakang segera berlari turun. Mereka kemudian mengumpulkan barang-barang peninggalan musuh. Mereka mengira pertempuran telah berakhir. Ternyata pasukan musuh menerobos melalui jalur belakang. Pasukan kaum muslimin benar-benar telah lengah sehingga mereka dapat dipukul dari dua arah, maka mendadak mereka menjadi panik dan tak tahu harus berbuat apa. Peristiwa ini akibat dari kesalahan pasukan pemanah yang ditugaskan oleh Rasulullah SAW untuk melindungi pasukan muslimin dari serangan musuh yang berasal dari belakang. Pertempuran sengitpun terjadilah. Kaum musyrikin benar-benar ingin membalas dendam. Mereka masing-masing mencari orang yang pernah membunuh keluarga mereka sewaktu perang Badar. Mereka berniat akan membunuh dan memotong-motongnya dengan sadis. Semua musyrikin berusaha mencari Rasulullah SAW. Dengan pedang-pedangnya yang tajam dan mengkilat mereka terus mencari Rasulullah SAW. Mereka amat gemas, benci dan penasaran karena sewaktu hijrah ke Madinah, mereka tidak berhasil menemukan Muhammad. Kini, pada saat perang Uhud, mereka dengan dendam membara terus mencarinya. Tetapi kaum muslimin melindungi Rasulullah SAW. Mereka melindungi baginda Rasulullah SAW dengan tubuhnya dan dengan segala daya. Mereka rela terkena sabetan, tikaman pedang dan anak panah. Tombak dan panah menghujam mereka, tetapi mereka tetap bertahan melawan kaum musyrikin Quraisy. Hati-hati mereka berucap dengan teguh, Aku korbankan ayah ibuku untuk engkau ya Rasulullah. Salah satu diantara mujahid yang melindungi nabi SAW dengan tulus ikhlas adalah Thalhah. Ia berperawakan tinggi kekar. Ia ayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Ia melompat ke arah Rasulullah yang tubuhnya telah berdarah. Dipeluknya tubuh baginda dengan tangan kiri dan dadanya. Sementara pedang yang ada di tangan kanannya ia ayunkan ke arah lawan yang mengelilinginya seperti laron yang tidak mempedulikan maut. Alhamdulillah, Rasulullah selamat. Peristiwa ini merupakan pelajaran dan pengalaman pahit yang tidak terlupakan.

Itulah sekilas uraian tentang keteguhan dan pengorbanan Thalhah melindungi Rasul-Nya. Thalhah memang merupakan seorang pahlawan dalam barisan tentara perang Uhud. Ia siap berkorban membela Nabi SAW. Ia memang patut ditempatkan pada barisan depan karena Allah telah menganugerahkan kepada dirinya tubuh yang kuat dan kekar, keimanan yang teguh dan keikhlasan pada agama Allah. Akhirnya kaum musyrikin pergi meninggalkan medan perang. Mereka mengira Rasulullah SAW telah tewas. Alhamdulillah, Rasulullah SAW selamat walaupun dalam keadaan menderita luka-luka. Baginda dipapah oleh Thalhah menaiki bikit yang ada di ujung medan pertempuran. Tangan, tubuh dan kakinya diciumi oleh Thalhah seraya berkata, Aku tebus engkau ya Rasulullah dengan ayah ibuku. Nabi SAW tersenyum dan berkata, Engkau adalah Thalhah kebajikan. Di hadapan para sahabat Nabi SAW bersabda, Keharusan bagi Thalhah adalah memperoleh.. Yang dimaksud Nabi SAW adalah memperoleh surga. Sejak peristiwa Uhud itulah Thalhah mendapat julukan Burung Elang dari Uhud. IV. Ketika Thalhah Hijrah Pada waktu hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW pergi dengan Abu Bakar ra., sedangkan Ruqayah, putri Rasulullah SAW pergi bersama suaminya, Utsman ra. Adapun Zainab, putri sulung Rasulullah SAW tidak hijrah karena ia menetap di Mekah bersama suaminya Abul Ash ibnu Arrabi yang masih kafir. Adapun Ummu Khaltum dan Fatimah tengah menunggu orang yang akan menemani dan mengawal mereka sehingga bisa selamat sampai di kota Madinah. Dan Thalhah mendapat kehormatan untuk menyertai mereka. Pengawalan khalifah diserahkan kepada Zaid bin Haritsah dan Usamah bin Zaid. Kafilah berangkat ke Madinah. Mereka yang ikut serta dalam rombongan itu antara lain Fatimah, Ummu Khaltum dan istri Rasulullah SAW ummul mukmu\inin yaitu Saudah binti Zumah dan Ummu Aiman ra. V. Thalhah yang Dermawan Pernahkah anda melihat sungai yang airnya mengalir terus menerus mengairi daratan dan lembah? Begitulah Thalhah bin Ubaidillah. Ia adalah salah seorang dari kaum muslimin yang kaya raya, tapi pemurah dan dermawan. Istrinya bernama Suda binti Auf. Pada suatu hari istrinya melihat Thalhah sedang murung dan duduk termenung sedih. Melihat keadaan suaminya, sang istri segera menanyakan penyebab kesedihannya, dan Thalhah menjawab, Uang yang ada di tanganku sekarang ini begitu banyak sehingga memusingkanku. Apa yang harus kulakukan? Maka istrinya berkata, Uang yang ada di tanganmu itu bagi-bagikanlah kepada fakir miskin. Maka dibagi-bagikannyalah seluruh uang yang ada di tangan Thalhah tanpa meninggalkan sepeser pun. Assaib bin Zaid pun berkata tentang Thalhah. Katanya, Aku berkawan dengan Thalhah baik dalam perjalanan maupun sewaktu bermukim. Aku melihat tidak ada seorangpun yang lebih dermawan dari dia terhadap kaum muslimin. Ia mendermakan uang, sandang dan pangannya. Jabir bin Abdullah pun bertutur, Aku tidak pernah melihat orang yang lebih dermawan dati Thalhah walaupun tanpa diminta. Oleh karena itu patutlah jika dia dijuluki Thalhah si dermawan, Thalhah si pengalir harta, Thalhah kebaikan dan kebajikan. VI. Wafatnya Thalhah Sewaktu terjadi pertempuran Al Jamal, Thalhah bertemu dengan Ali ra. Ali memperingatkannya agar ia mundur ke barisan paling belakang. Sebuah panah mengenai betisnya maka dia segera dipindahkan ke Basra dan tak berapa lama kemudian karena lukanya yang cukup dalam, ia wafat. Thalhah wafat pada usia enam puluh tahun dan dikubur di suatu tempat dekat padang rumput di Basra. Rasulullah SAW pernah berkata pada para sahabat ra. Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa senang melihat seorang syahid berjalan di atas bumi maka lihatlah Thalhah. Hal ini juga dikatakan Allah dalam firman-Nya: Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya. (QS. Al Ahzab : 23)