Anda di halaman 1dari 17

BURNSIDE LEMMA

INTRODUKSI ENUMERASI POLYA

Oleh : Wihikanwijna (10252)

Desember, 2006

Makalah ini merupakan tugas mata kuliah Matematika Diskrit & Kombinatorika. Polya Enumeration adalah suatu teknik penghitungan yang menggabungkan unsur struktural aljabar dengan kombinatorika. Polya Enumeration sangat bermanfaat apabila kita ingin mengetahui jumlah perbedaan dari sekian banyak kombinasi diskrit yang ada. Sebelum melangkah lebih jauh alangkah baiknya jika anda telah menelaah beberapa topik di bawah ini :

o o o o o o o o o o

Grup secara umum, Grup Siklik Homomorfisma, Isomorfisma, Teorema Fundamental Homomorfisma Grup Permutasi, termasuk Orbit dan Cycle (*) Grup Simetri, Cycle Index (*) Fungsi secara umum, Fungsi diskrit Fungsi injektif, surjektif, bijektif Fungsi pemberat (*) Fungsi pembangkit (Generating Function) diskrit (*) Relasi Ekuivalensi Permutasi, dan Kombinasi (Kombinatorik)

Topik dengan tanda (*) akan dibahas pada makalah ini. Sedangkan untuk topik-topik yang lain dapat anda telaah sendiri. Jika anda berminat, kami menggunakan referensi :

o John B. Fraleigh. A First Course In Abstract Algebra, Fifth Edition. Rhode Island: Addison-Wesley Publishing Company, 1994. o C.L Liu. Dasar-Dasar Matematika Diskret, edisi kedua. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1995. o Wikipedia Online (http://www.wikipedia.org)

Jika anda mahasiswa prodi matematika FMIPA UGM, topik-topik diatas berkaitan erat dengan matakuliah Pengantar Logika Matematika & Himpunan serta Pengantar Struktur Aljabar I. Jika berkenan, silakan dalami matakuliah Pengantar Model Probabilitas serta Teori Grup Hingga untuk lebih mempermudah dalam pemahaman makalah ini. Terakhir, saya ucapkan terima kasih kepada anggota-anggota kelompok saya, Mbak Arin, Emma, dan Adif. Tidak lupa untuk kelompok lain, yakni kelompok Mas Fentra dan kelompok Mbak Nida yang telah memperjelas pemahaman saya akan Burnside Lemma. Akhir kata, selamat menikmati!

Grup Permutasi Permutasi pada himpunan A adalah fungsi bijektif : A A . Karena ruang lingkup makalah ini adalah diskrit, maka permutasi yang dibicarakan pada makalah ini lebih kepada permutasi diskrit yaitu himpunan A diskrit.

Diketahui himpunan A = {1, 2,3} , maka banyaknya permutasi yang mungkin pada himpunan A berjumlah 3! = 6, yaitu :
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 , , , , , dan 1 2 3 2 1 3 3 1 2 3 2 1 2 3 1 1 2 3 1 3 2

1 2 3 Notasi , cara membacanya adalah bilangan 1 dipetakan ke a, bilangan 2 dipetakan ke a b c b, dan bilangan 3 dipetakan ke c. DEFINISI. Grup Simetri dari himpunan A = {1, 2,3,..., n} adalah grup yang elemenelemennya adalah semua permutasi dari himpunan A. Notasi grup simetri adalah Sn . Banyaknya

anggota pada grup simetri Sn adalah sebanyak n! Diberikan relasi ~ a, b A . a b jika dan hanya jika b = n (a ) untuk n
DEFINISI. Orbit. Jika adalah permutasi pada himpunan A. Kelas ekuivalensi pada A terhadap relasi ~ disebut orbit dari .

Contoh :

= , orbit dari adalah (1 3 4 7) , (2 5), dan (6 8) 3 5 4 7 2 8 1 6


DEFINISI. Cycle. Permutasi S n disebut cycle jika memiliki sebanyak-banyaknya satu orbit yang berisikan lebih dari satu elemen. Panjang cycle adalah jumlah elemen pada orbit terbesar.

1 2 3 4 5 6 7 8

Walaupun begitu cycle dengan panjang satu, disebut dengan fixed point. Contoh :

1 =

1 2 3 4 5 6 7 8 , orbit-orbitnya (1 3 4 7), (2), (5), (6), dan (8) 3 2 4 7 5 6 1 8

1 adalah cycle, karena memiliki orbit yang berisikan lebih dari satu elemen yaitu (1 3 4 7)
dengan panjangnya 4. Menggunakan notasi cycle untuk menunjukkan bahwa 1 adalah cycle : 1 = (1 3 4 7). Perhatikan bahwa permutasi dapat dibangun oleh orbit-orbitnya dimana orbit-orbit itu berwujud cycle.
TEOREMA. Setiap permutasi pada himpunan terbatas dibangun dari produk cyclecyclenya yang disjoin.

Contoh :

= = (1 3 4 7)(2 5)(6 8) 3 5 4 7 2 8 1 6
DEFINISI. Cycle Type. Diberikan himpunan A = {1, 2,3,..., n} . Cycle Type permutasi dari himpunan A adalah :

1 2 3 4 5 6 7 8

f c ( ) = a1 j1 ( ) a2 j2 ( ) a3 j3 ( ) ...an jn ( ) Dengan : ai merepresentasikan cycle dengan panjang i. i n jk ( ) adalah jumlah cycle dengan panjang k pada komposisi cycle disjoin dari . Contoh :

= = (1 3)(2 5)(4 6 7 8) 3 5 1 7 2 4 8 6
Diperoleh :

1 2 3 4 5 6 7 8

a1 merepresentasikan cycle yang panjangnya 1. j1 = 0, karena tidak ada cycle yang panjangnya 1 yang membentuk permutasi . a2 merepresentasikan cycle yang panjangnya 2. j2 = 2, karena ada dua cycle yang panjangnya 2 yang membentuk permutasi . Yaitu (1 3) dan (2 5). a4 merepresentasikan cycle yang panjangnya 4. j4 = 1, karena ada satu cycle yang panjangnya 4 yang membentuk permutasi . Yaitu (4 6 7 8).

Dst Sehingga f c ( ) = a1 j1 ( ) a2 j2 ( ) a3 j3 ( ) ...a8 j8 ( ) = a2 2 a4 DEFINISI. Cycle Index. Diberikan grup permutasi G dari himpunan A = {1, 2,3,..., n} Cycle Index G adalah : 1 Z (G ) = G Contoh :
1 Notasi [ x1 x2 x3 ...] = x1 2 x2 3 x3

gG k =1

jk ( g )

atau

Z (G ) =

1 G

gG

f (g)
c

Grup Siklik C3 beranggotakan permutasi : [1 2 3] = (1)(2)(3)


[2 3 1] = (1 2 3) [3 1 2] = (1 3 2) Sehingga Cycle Indexnya :

Z (C3 ) =

1 C3

a
C3 k =1

jk ( )

1 C3

a
C3

j1 ( )

a2 j2 ( ) a3 j3 ( )

1 3 a1 + 2a3 3

Lebih lanjut Cycle Index ini bisa pula dinotasikan sebagai : Z (C3 ) = Z (a1 , a2 , a3 ) Generalisasinya : Z (G ) = Z (a1 , a2 , a3 ,..., an ) Dengan ai merepresentasikan cycle dengan panjang i. i n A = {1, 2,3,..., n}

Group Action on Set

Grup dapat diterapkan pada himpunan. Hal tersebut bergantung dari operasi biner yang membangun grup tersebut. Selanjutnya akan didefinisikan sebuah operasi biner yang mengawankan dua elemen menggunakan Cartesian Product. Kita definisikan operasi biner * : *( s1 , s2 ) = s3 yaitu s1 s2 = s3
A B C berarti sebarang elemen a A dipasangkan dengan elemen b B yang hasilnya adalah elemen c C . Disini kita akan mengaplikasikannya pada grup (disimbolkan G) dan himpunan (disimbolkan X). Sekarang cobalah memandang A = G , B = X dan C = X sehingga G X X . Selanjutnya notasi s1 * s2 = s3 disingkat menjadi s1s2 = s3 . Definisi operasi biner * yang akan dipakai dalam pembahasan ini diperjelas menjadi : *: G X X

Dimana G adalah Grup dan X adalah Himpunan

DEFINISI. Group Action. X adalah Himpunan dan G adalah Grup. Action G pada X adalah pemetaan *: G X X , dengan : 1. ex = x untuk semua x X 2. ( g1 g 2 )( x) = g1 ( g 2 x) untuk semua x X dan semua g1 , g 2 G Jika memenuhi syarat diatas X disebut G-Set

Akan muncul teorema yang menyatakan untuk setiap G-Set X dan setiap g G , pemetaan g : X X yang didefinisikan g ( x) = gx adalah permutasi pada X ! Dan ada homomorfisma

: G Sx .
TEOREMA. X adalah G-Set. Untuk setiap g G , fungsi g : X X yang

didefinisikan g ( x) = gx adalah permutasi pada X. Lebih lanjut pemetaan : G S x yang didefinisikan ( g ) = g adalah homomorfisma dengan properti ( g )( x) = gx
Bukti. Untuk menunjukkan bahwa g adalah permutasi pada X, kita harus menunjukkan

bahwa pemetaan tersebut adalah one-to-one dan onto X itu sendiri. Definisi permutasi kan fungsi bijektif yang memetakan dari dirinya ke dirinya sendiri lagi. Andaikan g ( x1 ) = g ( x2 ) untuk x1 , x2 X . Maka gx1 = gx2 . Akibatnya g 1 ( gx1 ) = g 1 ( gx2 )
(catatan 1).

Menggunakan definisi kedua Group Action, didapat ( g 1 g ) x1 = ( g 1 g ) x2 , jadi ex1 = ex2 .

Lagi dengan menggunakan definisi pertama Group Action didapat x1 = x2 . Terbukti g ( x) adalah pemetaan one-to-one (injektif). Menurut definisi Group Action, untuk x X . g ( g 1 x) = g ( g 1 x) = ( gg 1 )( x) = ex = x Terbukti adanya pemetaan invers, sehingga g ( x) adalah pemetaan onto (surjektif). Karena terbukti one-to-one dan onto pada X, g ( x) adalah permutasi. Untuk menunjukkan ( g ) = g adalah homomorfisma, kita harus menunjukkan

( g1 g 2 ) = ( g1 ) ( g 2 ) untuk semua g1 , g 2 G . Kita akan menunjukkan bahwa ( g1 g 2 ) & ( g1 ) ( g 2 ) adalah serupa. Yaitu dengan menunjukkan bahwa mereka memetakan
x X ke elemen yang sama. Menggunakan definisi Group Action dan aturan fungsi komposisi :

( g1 g 2 )( x) = g g ( x) = g1 g 2 ( x) = g1 g ( x) = g ( g ( x))
1 2 2 1 2

= ( g1 g2 )( x) = ( g1 g2 )( x) = ( ( g1 ) ( g 2 ))( x) Terbukti ( g ) = g adalah homomorfisma. Dan menurut definisi propertinya ( g )( x) = gx otomatis terbukti benar. Sampai disini,mungkin terlintas di pikiran. Apakah benar Group Action on Set itu ada? Grup yang diterapkan pada himpunan? Untuk menjawab pertanyaan itu pikirkan sebuah ruang vektor, tidak usah sulit-sulit, ambil saja 2 . Tentunya kita tahu menurut aksioma ruang vektor : (v1 , v2 )
2

, k (v1 , v2 ) = (kv1 , kv2 ) , untuk sembarang k konstanta

Lalu mengapa? Apa yang salah dengan aksioma ruang vektor tersebut? Anda belum sadar? Anggap bahwa k konstan adalah elemen dari grup * atas perkalian dan vektor tersebut adalah elemen dari himpunan vektor-vektor di 2 . Operasi kali tersebut adalah operasi kali pada grup * bukan? Jadi bisa dikatakan himpunan vektor-vektor di 2 tersebut adalah * -set.

Lebih lanjut, kita definisikan dua buah himpunan : X g = {x X | gx = x} Gx = {g G | gx = x}

Ambil contoh pada Burnside Problem 01 : X I = { A, B, C , D, E ,..., P} GA = {I , Rv, Mi, MiRv} X Rv = { A, N , O, P} GF = {I , Mi} X Mi = { A, F , H , P}

TEOREMA. X adalah G-Set. Maka Gx adalah subgrup dari G untuk setiap x X Bukti. Ambil x X dan g1 , g 2 Gx . Maka g1 x = x dan g 2 x = x . Akibatnya

( g1 g 2 )( x) = ( g1 ( g 2 x) = g1 ( x) = x , jadi g1 g 2 Gx , dan Gx tertutup akan operasi biner atas G. Jelas ex = x , sehingga e Gx . Jika g Gx , maka gx = x jadi x = ex = ( g 1 g ) x = g 1 ( gx) = g 1 x , akibatnya g 1 Gx . Kesimpulannya Gx adalah subgrup dari G.
DEFINISI. Isotropy Subgrup. X adalah G-Set dan x X . Subgrup Gx adalah isotropy subgrup dari x. TEOREMA. X adalah G-Set. Untuk x1 , x2 X , x1 ~ x2 jika dan hanya jika terdapat g G sedemikian sehingga gx1 = x2 . Maka ~ adalah relasi ekuivalensi. Bukti. Untuk setiap x X , ex = x , jadi x ~ x , maka ~ refleksif. Andaikan x1 ~ x2 ,

maka gx1 = x2 , untuk g G . Maka g 1 x2 = g 1 ( gx1 ) = ( g 1 g ) x1 = ex1 = x1 . Diperoleh x2 ~ x1 sehingga ~ simetri. Terakhir, x1 ~ x2 dan x2 ~ x3 , maka g1 x1 = x2 dan g1 x2 = x3 untuk g1 , g 2 G . Maka ( g 2 g1 )( x) = ( g 2 ( g1 x) = g 2 x2 = x3 , sehingga x1 ~ x3 , maka ~ transitif.
DEFINISI. Orbit. X adalah G-Set. Setiap cell pada partisi yang terbentuk dari relasi ekuivalensi yang telah dijelaskan pada teorema sebelumnya disebut orbit X pada G. Jika x X , cell yang memuat x disebut orbit dari dan untuk selanjutnya kita akan namakan cell ini sebagai cGx. Definisi orbit yang baru saja diberikan ini akan menggantikan definisi orbit yang telah dikenal dalam grup permutasi selama pembahasan makalah ini. Walaupun pada dasarnya kedua hampir bermakna serupa.

Mengingat kembali cell dan partisi. Dibentuk ekuivalensi kongruensi modulo 2. Cell 0 = {0, 2, 4, 6, 8,...} Cell 1 = {1, 3, 5, 7, 9,...} Ambil contoh pada Burnside Problem 01 : Pada permasalahan pertama, cGB = cGE = {B,E} Pada permasalahan keempat, cGB = {B,D,C,E}
2

, adalah grup yang dibentuk dari relasi

= {0,1} . Terdapat partisi yang terdiri dua buah cell.

cGJ = cGL = {J,L} cGH = {H,F}

TEOREMA. X adalah G-Set dan x X . Maka cGx = ( G : Gx ) = G / Gx Bukti. Ide utama dari pembuktian ini adalah, apabila satu elemen pada cGx dipetakan ke tepat satu elemen pada grup G / Gx , atau dengan kata lain pemetaan itu adalah fungsi bijektif

maka banyaknya elemen yang dipetakan dari cGx dapat dengan mudah diketahui dengan menghitung hasil pemetaannya pada grup G / Gx . Didefinisikan pemetaan one-to-one dari cGx onto himpunan semua koset kiri Gx pada G. Yaitu untuk setiap x1 cGx maka terdapat g1 G sehingga g1 x = x1 . Kita definisikan ( x1 ) sebagai koset kiri g1Gx dari Gx . Kita harus menunjukkan peta ini well-defined tidak tergantung dari g1 G yang diambil. Andaikan g1 ' x = x1 . Maka g1 x = g1 ' x , jadi g11 ( g1 x) = g11 ( g1 ' x) kemudian diperoleh x = ( g11 g1 ') x . Akibatnya g11 g1 ' Gx , sehingga g1 ' g1Gx dan g1Gx = g1 ' Gx . Sehingga pemetaan well-defined. Untuk menunjukkan one-to-one ambil x1 , x2 cGx , dan ( x1 ) = ( x2 ) . Maka akan terdapat g1 , g 2 G yang memenuhi x1 = g1 x , x2 = g 2 x dan g 2 g1Gx . Maka g 2 = g1 g untuk g G , jadi x2 = g 2 x = g1 ( gx) = g1 ( x) = x1 . Terbukti one-to-one. Kita telah menunjukan setiap koset kiri Gx pada G berbentuk ( x1 ) untuk x1 cGx . Ambil g1Gx adalah koset kiri. Maka jika g1 x = x1 , kita mempunyai g1Gx = ( x1 ) . Lebih lanjut diketahui bahwa G / Gx normal ( Karena Gx dapat dianggap sebagai kernel untuk G ) sehingga koset kiri dan kanannya sama. Sehingga juga memetakan ke koset kanan.

BURNSIDE LEMMA. G adalah grup hingga (finite) dan X adalah G-set yang hingga. Jika r adalah banyaknya orbit di X pada G, maka :

r. | G |= | X g |
gG

Bukti. Perhatikan pasangan (g,x) dimana gx = x, dan N adalah banyaknya pasangan tersebut. Pasangan (g,x) ditentukan oleh g dan x.

Karena ditentukan oleh g, maka Untuk setiap g G maka ada | X g | pasangan :


N = | Xg |
gG

Ambil contoh pada Burnside Problem 01 : Pada permasalahan pertama : N = | X g | = X I + X Rv


gG

X I = {x X | Ix = x} = { A, B, C , D, E ,..., P} = 16

X Rv = {x X | Rv x = x} = { A, N , O, P} = 4

Sehingga N = | X g | = 20
gG

Karena ditentukan juga oleh x, maka Untuk setiap x X maka ada | Gx | pasangan : N = | Gx |
x X

Ambil contoh pada Burnside Problem 01 : Pada permasalahan pertama : N = | Gx | = GA + GB + GC + ... + GP


x X

G A = {g G | gA = A} = {I , Rv} = 2 GB = {g G | gB = B} = {I } = 1

GP = {g G | gP = P} = {I , Rv} = 2 Sehingga N = | Gx | = 20
x X

Dari teorema sebelumnya diketahui bahwa cGx = ( G : Gx ) . Tapi kita tahu bahwa

( G : Gx ) = G / G x

, jadi kita mendapatkan Gx = G / cGx . Lalu,... |G| 1 =| G | xX cGx cGx

N = | Gx | =
x X x X

Perhatikan bahwa 1/ cGx akan bernilai sama untuk setiap x yang berada dalam orbit yang sama, dan jika O adalah sebarang orbit, maka :

cGx
xO

=1

Ambil contoh pada Burnside Problem 01 : Pada permasalahan pertama : O = cGB = cGE = {B,E}. Sehingga 1/ cGB = 1/ {B, E} = 1/ 2 , dan 1/ cGE = 1/ {B, E} = 1/ 2 . Sehingga

cGx
xO

1 1 1 1 + = + =1 cGB cGE 2 2

Akibatnya

x X

cGx

adalah banyaknya orbit di X terhadap G. Maka kita mendapatkan

N =| G | . (banyaknya orbit di X terhadap G ) = | G | .r


Karena N = | Gx | = | X g | , berlaku r. | G |= | X g |
x X gG gG

Akibat. Jika G adalah grup hingga (finite) dan X adalah G-set yang hingga maka :

Banyaknya orbit di X terhadap G =

1 | Xg | | G | gG

Lebih lanjut Burnside Lemma akan mendasari suatu jenis teknik penghitungan kombinatorik yang bernama Polya Enumeration.
BASIC POLYA

Diberikan sebuah himpunan X dan Y. Dengan X = n 2 dan Y = . Serta C = { f | f : X Y } , X adalah G-Set yang hingga, dan Z (G ) = Z (a1 , a2 , a3 ,..., an ) terhadap himpunan X. Jika r adalah banyaknya orbit di C pada G, maka :

r=
Bukti.

1 | X g | | G | gG

Z (G )(a1 , a2 ,..., an ) =

1 G

gG

f ( g )(a , a ,..., a ) = G a
c
1 2

j1 ( g )

gG

a2 j2 ( g ) a3 j3 ( g ) ...an jn ( g )

Dengan a1 = f ( x, y ,...), a2 = f ( x 2 , y 2 ,...), a3 = f ( x 3 , y 3 ,...),... Merupakan fungsi pembobot yang juga menyatakan cycle type. Burnside Lemma mengatakan jumlah elemen pada himpunan X Y yang invarian terhadap permutasi g untuk setiap g G adalah : 1 | X g | | G | gG

Dengan X g , adalah himpunan fungsi dengan bobot yang invarian terhadap g. Menjumlahkan semua bobot yang ada :

| G | | X
gG

|=

1 | X g | | G | gG

Ingat kembali cycle type dari g yang direpresentasikan dengan : a1 j1 ( g ) a2 j2 ( g ) a3 j3 ( g ) ...an jn ( g ) Jika g invarian terhadap suatu elemen dari X Y , maka hasilnya akan serupa untuk setiap cycle c dari g. Fungsi generasi pembobot untuk cycle c sepanjang c adalah : f ( x|c| , y|c| , z |c| ,...) Karena berlaku untuk setiap cycle maka :

| X

|= f ( x|c| , y|c| , z |c| ,...)


cg

Yang juga dapat direpresentasikan sebagai


f ( x, y, z ,...) j1 ( g ) f ( x 2 , y 2 , z 2 ,...) j2 ( g ) ... f ( x n , y n , z n ...) jn ( g )

BURNSIDE PROBLEM 01

Sebuah persegi besar disusun dari empat buah persegi kecil (disebut tile). Persegi kecil tersebut hanya memiliki dua warna yaitu hitam dan putih. Ada berapa buah persegi besar yang dapat dibentuk dari persegi-persegi kecil tersebut? Ada 24 = 16 persegi besar yang dapat dibentuk. Ke-16 persegi besar itu adalah :

Permasalahan pertama. Dua persegi besar dikatakan ekuivalen jika salah satu persegi besar itu adalah rotasi 1800 dari persegi besar lainnya. Selanjutnya disebut syarat Rotasi 180. Berarti menurut syarat tersebut, persegi B dan D adalah ekuivalen. Juga persegi (C;E), (F;H), (G;I), (J;L), dan (K;M) adalah ekuivalen. Burnside Lemma mengatakan jumlah N orbit pada grup permutasi <P> yang diterapkan pada himpunan S adalah : 1 N= inv( p) P p< P > Inv(P) adalah Invarian. Yaitu nilai pada himpunan S yang tidak berubah setelah dikenakan fungsi permutasi p.
A B C D E F G H I J K L M N O P I A B C D E F G H I J K L M N O P Rv A D E B C H I F G L M J K N O P

Dibentuk suatu grup permutasi invarian P, dengan generatornya adalah rotasi 1800 dinotasikan Rv atau P = Rv Rv 2 = I . Rv n memiliki arti operasi Rv dilakukan sebanyak n kali. Dengan S adalah {A, B, C, DP}. Menggunakan tabel Cayley diperoleh hasil sebagaimana disamping. Didapat Sehingga N =

p< P >

inv( p) = 16 + 4 = 20

20 = 10 2

Artinya banyaknya persegi besar jika syarat Rotasi 180 diterapkan adalah 10. Ke-10 persegi itu adalah A, (B;E), (C;D), (F;H), (G;I), (J;L), (K;M), N, O, dan P.

Permasalahan kedua. Dua persegi besar dikatakan ekuivalen jika salah satu persegi besar itu adalah hasil pencerminan vertikal dari persegi besar lainnya. Selanjutnya disebut syarat Pencerminan.
I A B C D E F G H I J K L M N O P Mi A C B E D F I H G K J M L O N P

A B C D E F G H I J K L M N O P

Dibentuk suatu grup permutasi invarian P, dengan generatornya adalah pencerminan dinotasikan Mi atau P = Mi Mi 2 = I . Dengan S adalah {A, B, C, DP}. Menggunakan tabel Cayley diperoleh hasil sebagaimana disamping. Didapat Sehingga N =

p< P >

inv( p) = 16 + 4 = 20

20 = 10 2

Artinya banyaknya persegi besar jika syarat Pencerminan diterapkan adalah 10. Ke-10 persegi itu adalah A, (B;C), (D;E), (J;K), (M;L), (G;I), (N;O), F, H, dan P.

Permasalahan ketiga. Syarat pencerminan diatas berlaku untuk pencerminan vertikal (mencerminkan terhadap sumbu y), bagaimanakah jika syarat yang diterapkan adalah pencerminan horizontal (pencerminan terhadap sumbu x)? Perhatikan syarat Rotasi dan syarat Pencerminan. Masing-masing Rv dan Mi adalah fungsi permutasi. Permutasi adalah fungsi bijektif dan memetakan setiap elemen pada domain ke domain itu sendiri (kodomain = range = domain). Dibentuk Mi adalah pencerminan horizontal, tapi Mi dapat dibentuk sebagai RvMi dan Mi dapat dibentuk I Rv Mi MiRv dari RvMi. Akibatnya Mi = Mi.
A B C D E F G H I J K L M N O P A B C D E F G H I J K L M N O P A D E B C H I F G L M J K N O P A C B E D F I H G K J M L O N P A E D C B H G F I M L K J O N P

Permasalahan keempat. Bila syarat rotasi dan pencerminan keduanya diterapkan, ada berapakah jumlah persegi besar yang berbeda. Dibentuk suatu grup permutasi invarian P, dengan generatornya adalah Mi dan Rv atau P = Rv, Mi Mi 2 = Rv 2 = ( RvMi ) 2 = I . Dengan S adalah {A, B, C, DP}. Menggunakan tabel Cayley diperoleh hasil sebagaimana disamping. Didapat :

p< P >

inv( p) = 16 + 4 + 4 + 4 = 28 maka N =

28 =7 4

BURNSIDE PROBLEM 02

Terdapat sebuah segitiga sama-sisi dengan setiap sudutnya diberi sebuah manik-manik bercorak putih, hitam, dan arsir. Seperti yang tampak pada gambar dibawah ini : Jika setiap sudut segitiga tersebut hanya boleh dipasangi manik-manik dengan corak yang berbeda dengan kedua sudut lainnya. Ada berapa banyak pasangan segitiga dan manik-manik yang berbeda ?

Pembahasan : Jika setiap sudut segitiga tersebut hanya boleh dipasangi manik-manik dengan corak yang berbeda dengan kedua sudut lainnya Artinya setiap sudut segitiga tersebut memiliki manik-manik dengan corak yang berbeda dengan kedua sudut yang lain. Jadi tidak ada segitiga yang dipasangkan dengan manik-manik hitam, hitam, dan putih. Artinya ada 6 kemungkinan pasangan segitiga dengan manik-manik yaitu :

Untuk selanjutnya pasangan segitiga dan manik-manik akan disebut segitiga saja. Perhatikan segitiga-segitiga yang terletak pada deret teratas yakni segitiga nomer 1,2,dan 3! Segitiga-segitiga tersebut adalah hasil rotasi dari segitiga di sudut kiri atas. Begitu juga dengan segitiga-segitiga deret terbawah yakni 4,5,dan 6. Sehingga jika ditelaah lebih lanjut, sesungguhnya jumlah segitiga yang berbeda hanyalah dua buah. Hal tersebut berlaku jika segitiga hasil rotasi tidak dianggap. Sehingga ada dua buah kelas ekuivalensi yakni kelas yang memuat segitiga 1,2,3 serta kelas yang memuat segitiga 4,5,6. Dibentuk sebuah grup G, dengan berisikan tiga elemen, Id , Rg dan Lf. Id adalah operasi identitas, yakni jika segitiga dikenakan operasi Id segitiga tersebut tidak dirotasi alias dibiarkan saja. Rg adalah operasi rotasi ke arah kanan sebanyak satu kali. Contohnya jika operasi Rg dikenakan pada segitiga nomer 1 maka hasil operasi Rg nya adalah segitiga nomer 2. Lf adalah operasi rotasi ke arah kiri sebanyak satu kali. Contohnya jika operasi Rg dikenakan pada segitiga nomer 1 maka hasil operasi Lf nya adalah segitiga nomer 3.

Menurut Burnside Lemma r =

1 G

gG

, sehingga :

= | segitiga nomer 1g | + | segitiga nomer 2g | + | segitiga nomer 3g | + | segitiga nomer 4g | + | segitiga nomer 5g | + | segitiga nomer 6g | |segitiga nomer 1g | artinya adalah jumlah operasi pada G yang jika operasi tersebut diterapkan pada segitiga nomer satu hasil operasinya masih tetap segitiga nomer 1. Yakni hanya satu operasi yaitu Id. Hal yang sama berlaku pula |segitiga nomer 2g |,,|segitiga nomer 6g | sehingga : = | segitiga nomer 1g | + | segitiga nomer 2g | + | segitiga nomer 3g | + | segitiga nomer 4g | + | segitiga nomer 5g | + | segitiga nomer 6g | = 1+1+1+1+1+1 = 6
r= 1 G

gG

1 = 6 = 2 . Sehingga jumlah orbit yang berbeda ada 2 buah. 3