P. 1
Monolog Putu Wijaya

Monolog Putu Wijaya

|Views: 220|Likes:
Dipublikasikan oleh Hani Selistilia

More info:

Published by: Hani Selistilia on Feb 11, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/29/2014

pdf

text

original

DOL monolog Putu Wijaya DIMAINKAN OLEH LAKI-LAKI/PEREMPUAN SEORANG PEREMPUAN MUNCUL DI KANTOR POLISI DENGAN

SEBUAH EMBER YANG NAMPAKNYA PENUH AIR. IA MEMBERIKAN PENGADUAN. PETUGAS MENCATAT SEMUANYA DENGAN TELITI Nama saya Intan Ratna Menggali. Umur 30 tahun. Saya tinggal di Gang Penggalang, Kebon Kosong. Saya datang ke mari atas kemauan saya sendiri. Tidak ada yang memaksa. Saya mau mengadukan suami saya. Dia sudah memukul saya tiap hari. Tadi kalau saya tidak keburu lari, kali saya sudah jadi mayat sekarang. Saya minta supaya Bapak polisi menangkap dia, sebab orangnya berbahaya sekali. Dia garong. Bandar narkoba. Suka sadis. Saya sudah kenyang disiksa. Sudah cukup. Dia tidak hanya doyan main gampar, nendang, nyulut dengan rokoh, ngeludahin, juga memaki-maki saya anjing, kerbau, kecoak, tikus, ular, buaya, tokek, apa? Ya bekicot juga! Betul. Masak saya disamakan dengan cacing. Dia itu yang kelakuannya seperti kobra. Coba pikir. Masak anaknya sendiri dijual. Saya dipaksa melayani orang. Duitnya dipakai senang-senang main judi dan nyabo. Ya saya berontak. Saya kan bukan perempuan yang tidak bisa diperlakukan semau gue. Saya masih punya harga diri. Saya tahu mana yang boleh mana yang tidak bisa diterima. Saya tidak mau masuk neraka. Biar dia saja yang ke neraka. Saya ingin hidup yang wajar saja. Saya masih punya cita-cita yang belum bisa saya dapat. Saya mau jadi guru. Saya akan ajari murid-murid saya menghormati perempuan. Ibunya, saudara perempuannya, istrinya lalu anak-anaknya. Saya akan ajak murid-murid saya nangkap capung, cari belut di sawah, nangkap katak, mencuri mangga, menaiki pagar orang dan mengintip orang mandi. Apa? Ya itu semuanya perlu. Karena dunia akan kiamat. Kalau kiamat, tidak akan ada lagi orang jualan makanan. Super maket tidak ada. Makanan harus cari sendiri. Kalau tidak bisa mencuri ya mampus. Apa? Ya sudah banyak orang bilang saya gila. Tapi sampai sekarang saya belum gila-gila juga. Sudah banyak orang bersumpah dia tidak gila. Tapi belum selesai sumpahnya dia sudah gila. Supaya tetap waras di tengah oranmg gila itu ada caranya. Berpikir positip. Jangan pikirkan yang kurang menguntungkan. Jadi pikiran kita bersih. Dengan pikiran bersih, dunia yang kotor ini jadi asyik. Kita bisa senang setiap hari, untuk seneng tidak perlu bayar ini-itu segalanya. Senang itu datang sendiri, kalau kita memang dia sukai. Saya disukai senang. Jadi saya senang terus. Ya! (KETAWA MALU) Tapi itulah. Seperti sudah saya katakan tadi, sudah dicatat belum? Catat semuan ya dong, Bapak kan polisi.. Tentang suami saya. Suami saya itu bajingan. Bajingan kelas kakap. Saya minta supaya dia dibunuh saja. Sebab orang seperti itu kalau dibiarkan, negara kita akan rusak. Dia provokator. Tiap hari dia dia menganjurkan supaya orang-orang itu berontak. Dia bilang tidak ada yang beres. Pemerintah sudah tidak mengurus rakyat. Rakyat tidak hormat pada peraturan. Pendidikan membuat anak-anak jadi liar. Dan agama dipakai untuk berantem. Pendeknya semuanya sudah rusak. Hanya dia saja yang waras. Dia mengaku dia itu nabi. Kata dia, dicatat dong! Tidak dicatat? O begitu? (MENGUBAH SUARANYA) Jadi begini. Saya juga mengadukan mertua saya. Dia itu yang menjadi sutradaranya. Dia juga yang menulis skenarionya. Kalau tidak ada dia, suami saya tidak akan jahatnya begitu. Paling juga rongrongan maknya yang sudah bikin suami saya jadi gila.

Dulunya dia baik sekali. Seperti Puntadewa. Tapi kemudian, mau menang sendiri. Tidak pernah ngaku kalau salah. Di samping itu tiap hari dia mukulin saya. Hidung, kepala, semua dia bonyok dipukulin. Tadi hampir saja dia bunuh saya, kalau saya tidak keburu lari, mungkin saya sudah jadi mayat sekarang. Apa? O itu sudah dicatat? Kalau begitu begini. Tetangga saya saja. Tetangga saya itu juga jahat. Semuanya. Yang sebelah kiri, kanan, depan, belakang, semuanya jahat. Yang di atas, di bawah apalagi.Yang baru pindah itu juga. Dari mukanya kita sudah tahu hatinya bengkok. Ini bahaya sekali. Saya minta supaya mereka semua juga ditangkap sekarang. Kalau terlambat, mereka akan jadi teroris. Masak kita biarkan saja ada teroris gentayangan di sekitar kita. Ya. Jangan kura-kura dalam perahu! Teroris itu kan mau benernya sendiri. Apa? Tidak usah dibuktikan lagi. Untuk apa? Sudah jelas yang sudah saya sebut tadi jahat semuanya jahat. Itu tadi sudah saya kurangi, sebenarnya jahatnya lebih tidak ketulungan. Merinding! Percaya saya. Dicatat nggak?! Nyatat-nyatat begini juga untuk apa, tidak ada gunanya. Buangbuang waktu saja. Langsung saja. Potong. Karungin. Supaya semuanya cepat beres. Kalau sudah ada jaminan begitu, saya akan aman. Nanti saya akan pulang. Saya akan bilang sama suami saya, saya sudah lapor. Saya sudah jeritakan blak-blakan semuanya, kan?! Tidak ada yang ditutupi. Apa perlu lebih terbuka. Mau saya buka-bukaan? Baik. (MEMBUKA PAKAIANNYA) Apa? Terimakasih. (TAK JADI MEMBUKA) Nama saya Intan Ratna Menggali. Saya tinggal di Kebon-Kosong. O ya, sudah dicatat semuanya tadi oleh Bapak itu. Apa? Yang mana? Mana?! (MELIHAT DAN MENCARI-CARI DI KEJAUHAN)/Itu? Itu? O perempuan itu? Yang baju merah, yang rambutnya pirang itu? Mobilnya tiga kan? Dan rumahnya lantai tiga. Memang cantik. Darah biru kok. Pernah diminta untuk main film, tapi dia tidak mau. Katanya tidak suka film-film yang dangkal. Dia lebih senang film seks. Ya tahu, tahu sekali. Apa? Yang mana? O itu? Yang baju hijau itu. Ya itu. (KETAWA) Bagaimana tidak kenal. Masak tidak kenal. Lucu! Bapak ini suka guyonan ah. Jangan gitu, saya ini kan belum tua. Saya baru 30 tahun. Untuk ukuran sekarang lagi panas-panasanya. Nama saya Intan. Saya dari Kebon Kosong. Ya itu. Perempuan yang itu kan? Yang punya mobil merah itu. Yang tadi baju merah, tapi sekarang sudah baju hijau? (KETAWA) Keterlaluan masak saya tidak tahu. Kenal? Gila! Masak saya tidak kenal. Itu kan saya. Yang cantik tidak ketulungan itu? Itu saya Pak! Itu saya! (KETAWA) Lho kok tidak percaya. Itu saya, Pak. Itu saya. Nama sata Intan Ratna Menggali. Umur saya 30 tahun. Saya tinggal di Kebon Kosong. Ya itu orangnya, saya itu. Saya datang mau memberikan pengaduan. Saya sudah disiksa oleh suami saya, mertua saya tang brengsek dan tetangga-tetangga saya yang kampungan. Saya minta supaya mereka semuanya ditangkap dan langsung ditembak mati. Tidak perlu! Proses hukum itu tidak praktis. Nanti kalau ngomong terus, hasilnya malah bisa terbalik. Sebab kalau tidak, apa? Ya! Bisa nghelantur, nanti pasti saya yang akan jadi mayat. O sudah? (BERDIRI) Kalau sudah ya sebaiknya saya permisi pulang sekarang. Cuma kalau saya boleh curhat sedikit, Bapak-Bapak dam Ibu-Ibu, Saudara-Saudara semuanya di sini semuanya lambat sekali. Saya datang dengan info yang jujur supaya Bapa-Ibu dan Saudara melakukan tindakan cepat, eee malah diajak ngobrol. Jangan-jangan sekarang sudah pada lari semuanya. Kalau begini terus, tidak akan bisa aman. Bapak-Bapak ini kurang piawai menjalankan tugas. Akan saya adukan nanti pada atasan Bapak supaya Bapak-bapak semuanya dipecat. Atau lebih suka masuk penjara atau dieksekusi? (JALAN MAU PERGI) Tapi jangan bilang kepada siapa-siapa saya sudah datang ke mari. Mereka tidak akan percaya. Mereka lebih tidak percaya lagi, Bapak-bapak kok mau

menghabiskan waktu Bapak untuk mendengarkan orang gila seperti aku?! Bapak kan digaji negara untuk melayani rakyat. Uangnya uang rakyat. Ngapain buang-buang waktu ngeladenin saya? Berarti Bapak-Bapak semua koruptor sudah menghambur-hamburkan uang rakyat. Tapi kok belum ditangkap KPK ya. (KEPADA PENONTON) Ingat, saya Intan Ratna Menggali. Usia saya baru 30. Saya tinggal di Kebon Kosong. Saya mau melaporkan. Tolong catat. Para penonton ini semuanya adalah orangorang sadis yang ingin menertawakan orang lain. Semuanya! Kalau saya tidak gila, tidak akan ada yang mau mendengarkan saya. Tapi karena menyangka saya gila, dari tadi semuanya bengong mendengarkan saya gila. Orang-orang semacam penonton kalian ini yang mesti ditangkap. Berbahaya kalau dibiarkan gentayangan. Diam di situ, jangan pergi. Tunggu sampai petugasnya datang. MENGAMBIL EMBER. Saya akan laporkan semuanya. Kalian penontonlah yang sudah membuat dunia ini rusak. Kalian penontonlah yang maunya ketawa melulu, protes-protes, kecabulan, buka-bukaan, pelanggaran. Kalian penonton yang maunya hanya menonton. Kalian semua orang-orang sakit, orang-orang gila yang harus diseret ke lapangan tembak. Kalian yang sudah bikin televisi tidak moral, bioskop cabul, buku-buku maksiat. Aliran-aliran sesat. Generasi muda letoi, teler, bermental budak. Kalian yang sudah bikin para pemimpin masyarakat jadi badut. Kalian penonton semua maniak. Paranoid! Sesoprenia!Kalian yang sudah mengubah media massa itu menjadi pelacurpelacur, demi iklan, demi oplag, tidak peduli ;lagi keadilan dan kebenaran untuk mencerdaskan masyarakat. Kalian semua akan masuk neraka kalau dunia kiamat! BERGERAK SEPERTI PENARI STRIP. MELEPASKAN PAKAIANNYA SEMUA. TERNYATA DIA SEORANG LAKI-LAKI. (KALAU PEMAINNYA PEREMPUAN, NAMPAK DAGING LEBIH BUATAN MENJULUR) LALU TIBA-TIBA MENGAMBIL EMBER DAN MENUMPAHKAN ISINYA KE PENONTON. LAMPU PADAM.

Rumah Sakit Pertamina, ngantar Irsad, 23 Maret 2010

makin menakutkan. begitu tak terbantah. sebelum hati diiris-iris. Segala langkah sudah salah. Karnaval kekhawatiran terhadap kesadisan. prasangka. Bukan lagi hidup yang mencemaskan tetapi ancaman-ancaman cerita dasri televisi dan koran yang makin menyeramkan itu. kecurangan ketimpangan dan penindasan terhadap kemanusiaan yang sudah terlalu biadab. seperti semakin benar. situasi ekonomi di tanah air sudah di tepi jurang kebangkrutan. mereka pakai senjata untuk menunjukkan kepercayaan luar negeri sudah mulai pulih. ketakutan dan ramalan-ramalannya yang mendirikan bulu roma. Makin panik. Para pakar dari semua desiplin. kesalahurusan. MENGHAMBURKAN KORAN-KORAN. buat apa disongsong. Makin bingung. berang dan menghujat segala kebobrokan. begitu nyata. . Tak ada lagi yang bisa dipercaya di atas dunia. tapi ke mana? Sudahi sekarang segalanya. itu angin segar dari perbaikan harga Yen. Di depan 200 juta rakyat yang sudah megap-megap dikunyah taring gila sembako. Tapi para tokoh politik malah jor-joran memproduksi partai. Padahal kalau memang pulih. Iman hancur. Hidup tak berguna diteruskan. Bukan lagi kelangkaan sembako yang ditakuti. seperti membuat cerita itu terasa semakin berbobot. Gombal! Di depan mata para pakar ekonomi. tetapi cerita para ahli. LALU SAMBAT Nilai rupiah baru saja menguat di sekitar 11 ribu selama hampir satu minggu. kekhawatiran. MEMBANTING TELEVISI. Setiap gerak berarti kesakitan. Bukan lagi kesulitan hidup yang menyakitkan. Jangan terlalu cepat tertawa. mengapa investor mancanegara tak kujung nongol. semakin panik para pendengar. makin putus asa rakyat. Makin serem. Pasang-surut rupiah sudah dikonsumsi oleh politik. Mereka sudah putus-asa. Lutut pun langsung lemes. Lalu apa tidak lebih baik lari.KROCO monolog Putu Wijaya KROCO TERTIMBUN KORAN SAMBIL NONTON TELEVISI. Semua upaya serba tanggung. karena akan lebih sakit dari mati. Semua berlomba urun pemikiran dan penafsiran atas kejadian yang sedang berlangsung. makin dahsyat. kecurigaan. semuanya terasa begitu benar. semakin terasa kejituan para ahli tersebut dalam menyimak. Ya Tuhan. makin tak berdaya. Masa depan neraka. Mereka melirik rakyat dari layar televisi dengan informasi yang tak kurang seremnya. Tetapi para pengamat ekonomi langsung berkoar. sinis. bergantian menyanyikan kecemasan. Aku lantas panik. tetapi jalan pikiran bagaimana nasib setiap orang akan berakhir. Hidup di Indonesia sekarang adalah pesta ketakutan. semangat bertahan amburadul. Itu bukan tanda rupiah bebas dari demam berdarah. menganga kawah Candradimuka.

Bahkan pikiranku menjadi semakin nyaring. Memandang ke luar jendela pun terasa sakit. Kalau tidak mati muda. Tamu aku hindari. karena takut akan mendapat teori bagaimana lubang kuburku akan dibuat. Tak usahlah. Bahkan aku takut mendengar nafasku sendiri. Hidupnya sudah berhenti. Tapi kalian semua kan pemimpin yang baik? Aku tak sanggup lagi terus mengeluh. Bukankah itu semua produk kita. Jangan menceritakan semua itu. Lalu mengikat leherku kuat-kuat. karena tidak makan secara teratur lagi. Melepaskan sprei dari kasur. melenting ke mana-mana. aku belum juga mati-mati. Tetapi aku tak sanggup. walau hanya disuap dengan garam. . sebab di sanalah gudang para-cerdik pandai memberikan ramalannya yang mengancam. Menghayati nasi yang untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya terasa indah. Segalanya sudah berubah. Mengapa kalian para ahli itu tidak bicara dengan ahli yang lain saja. Tetapi aku Kroco yang mau lari dari himpitan krismon itu. Menutup pintu. kalau membuat kami tidak sanggup berbuat apa-apa. Tetapi aku. Kroco ternyata masih hidup. "bujuk istriku melihat suaminya putus asa. mereka akan jadi bandit. Mengapa hidup bisa begitu buas. kejam dan tak kenal ampun. karena kita ada di dalamnya? Pemimpin yang buruk tidak akan memikul tanggungjawab. Aku memang bertambah ringkih. Namun keadaan sudah amat berubah. Akhirnya aku menutup jendela rapat-rapat. Kain sprei yang dulu aku beli bersama istri menjelang pernikahan. Mereka akan berlepas tangan kalau keadaan bahaya. seakan-akan kalian sendiri tidak ada di dalamnya. Sesudah itu mencari sebuah kursi. Lha sampeyan sendiri. Tenggorokan rasanya sakit luar biasa. "Keluarlah. karena seluruh berat badan sekarang tergantung dari urat dan daging di bawah daguku. jangan cuma mendokumentasikan. bergaul dengan tetangga. jangan cuma jor-joran bikin takut. Kesabaranku sudah sampai ke puncak. agar kita tahu apa yang harus kita lakukan! Mbok jangan mempercepat kematian kami yang sudah takut. cari pandangan. Lakukan saja sesuatu. Nilai-nilai pun sudah ikut bergeser. Lidahku sudah pol terjulur. Aku ngeri. Sudah lama aku tidak menonton televisi. agar bisa menggantungkan tali itu ke tiang rumah. Sudah lama aku tidak lagi berani membaca koran. Apa gunanya kami ketahui semua itu. bukan Kroco yang dulu. Meskipun sudah lewat lima jam tali sprei itu menjerat leher. Telepon-telepon aku biarkan menjerit tak kujawab. Lidahku mulai terjulur dan mataku membelalak. Mengapa kau terus menakut-nakuti kami yang tidak berdaya. Nafasku sesak. tetapi jawab langsung dong. Selamat tinggal Indonesia tercinta! MENGGANTUNG DIRI Kursi terlempar ke lantai. Nomalnya begitu. Dalam lima menit seharusnya aku sudah mati. Mereka pasti akan tercampak jadi pengemis di perempatan jalan. supaya wawasan jadi luas. sambil menendang kursi. jangan seperti pensiunan. Keluar rumah bertemu dengan orang lain pun aku tak kepingin.Aku terkatung-katung di air mendidih informasi butek tersebut. menjerat leher. Aku jadi teringat kepada anak-anakku yang akan akan kutinggalkan. Berbulan-bulan aku hanya duduk di meja makan. Kedua kakiku tergantung di udara. Lalu memintal kain itu menjadi tambang. Aku memang sudah putus asa dan ingin menyerahkan hidupku.

Aku ditolak. Lantas mengguncang-guncang tubuhku. baik. Sebulan. Saraf-sarafku justru tambah peka. Tapi mau apa lagi. Aku kalah. aku tetap saja tidak mati-mati. Segalanya memuncak. Pembuluh daraj ke otakku mungkin sudha putus. Aku teringat kepada istriku yang akan berjuang sendirian. Pengecut. semakin sakit. Mataku seperti pakai miskroskop dikepung jutaan persoalan. Karena aku sudah cidera. Tetapi tetap saja aku tidak mati-mati. Sama sekali tak berdaya. air mataku malah bercucuran. Dua hari. Pikirannya bertambah terang. Berjam-jam aku kesakitan. Berjam-jam aku putus asa. kalau begini caranya berarti gua harus mengerti! Lalu aku lepaskan lagi belitan tapi gantunganku. semakin aku tidka bisa mati. Aku memang konyol. Aku teringat kepada kawan-kawanku yang pasti akan mengadiliku sebagai orang sesat. Kepalaku menghantam lantai mengucurkan darah. Perempuan yang teteknya menggumpal itu akan terpaksa jadi pelacur.. Dan saraf-sarafku tidak bekerja. Hidup jadi semakin jelas. Aku terima resikonya. Semakin terguncang. Berjam-jam aku terdera. Seratus hari lewat. Ya. Aku lemah. Hidup tanpa peluang. Badanku berdentam ke lantai. Aku memang tak sanggup. Akhirnya aku melolong. Kepala rasanya hendak meledak karena sesak. Bukan main banyaknya dan bukan main sakitnya. Tetapi tidak bisa mati. Aku sudah sampai ke puncak tertinggi kesakitan tetapi ternyata tidak mati-mati juga. Satu hari lewat. Bahkan sekarang begitu berat.untuk bertahan hidup. digigit-gigit oleh pikiranku sendiri. Aku teringat kepada guru-guruku yang pasti merasa tertipu. Baik. Aku ini ayam sayur. Hanya sakitnya yangt tidak ketulungan. Bukannya mati. Karena tak ada yang bisa laku selain tubuhnya. Tidak ada pintu terbuka. takdir dan memang pilihanku. Sakit pun tidak lagi terasa. Seminggu. JATUH KE LANTAI Kakiku patah dan pinggangku bengkok. Tetapi semakin kesakitan. Berjam-jam aku tergantung seperti itu. Aku meraba sprei yang semakin keras membelit leherku. agar bisa cepat mampus. ya aku tahu. Ini memang sudah nasib. Ternyata aku hanya keok di tanganku sendiri gara-gara tak mampu merebut sembako. Tak punya nyali. Megap-megap kuterima kembali seluruh beban dunia yang hendak kutinggalkan ini. karena mereka pernah mengharapkanku sebagai bunga harapan bangsa. Hanya sakitnya tambah deras. Ya Tuhan! Alangkah saktinya orang kecil! Mati pun gua kagak berhak lagi! Astya Puri 30-09-98 . Aku tersiksa. Neraka pun tidak sudi menerimaku. Sakitnya sajua yang tambahy bertubi-tubi.

Buktinya mana?! Maaf Pak. ini kan negara demokrasi. Dia tertawa mengejek. supaya laku. tapi mengasah ketrampilan. hitung-hitung pengalaman. karena ingin diakui sebagai manusia baik? Itu yang sudah bikin masyarakat kita kacau. tidak peduli orang lain buntung. padahal semua setan belang. Pak!” Aku terpaksa mengangguk. Bukan karena setuju. lebih baik jadi jahat sekalian. jadi duit. . Ketidakjujuran dipelihara. Aslinya garang dan rakus. Semua orang mengaku-ngaku alim.” “Tapi Anda pasti tidak setuju kan? Kenapa? Apa salahnya untuk terang-terangan mengakui apa sebenarnya yang kita inginkan. takut dianggap jahat itu yang sudah menyebabkan isi masyarakat kita kotor. Itu kuno. “Tapi kalau Tuhan mengizinkan. Ketakutan. Nama juga tidak ada masalah. Kalau menyekolahkan anak tujuannya hanya tiga: jadi dokter. Semua orang jadi diajar berpura-pura jadi ayam sayur semua. Ngapain mati berdiri! Tujuan pembelajaran sudah beda. bukan untuk memelet gelar. menjunjung tinggi hukum. Jadi pemain bola. Ah taek itu semua. Kepribadian apa itu? Itu ajaran setan! Semua mau kaya dan menang sendiri! Semua! Tidak ada kecuali! Kalau ada yang mengaku tidak. Ya nggak. Hanya tidak mau bertengkar. malah jadi selebriti masuk tv. masak kita masih makan tai. Masuk penjara sebentar. semua orang bercita-cita ingin jadi pegawai negeri. Mister in de Rechten kemudian turun pamor karena gelar Mr. berbakti kepada masyarakat. Yahhhh kalau toh ditangkap. Kenapa mesti ditutup-tutupi. sebab orang yang keluar penjara masih bisa pegang jabatan dan jadi pemimpin. tiba-tiba tetangga di sebelah itu langsung berkoar-koar. memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Hari gini. saya akan tarik anak saya dari sekolahnya di luar negeri. pelawak atau caleg. “Ya itu terserah. Sekolah itu bukan untuk mengantongi pengetahuan. di masa lalu. Jadi saya putuskan saya akan tarik anak saya pulang untuk jadi markus! Makelar kasus! Maaf kalau kita beda. Bukan zamannya lagi kita mati-matian mempertaruhkan hartabenda untuk membiayai anak sekolah. tapi kena gusur. Untuk apa? “Ya. itu baru diburu. diganti jadi sarjana hukum Kedengaran kampungan. berbakti kepada negara dan bangsa. insinyur atau mister. itu bohong! Bapak juga kan? Terus terang saja! Kita semua ini sudah munafik!” Tetangga itu ketawa mengejek. Penuh dengan kebohongan. Pak! Daripada jadi orang jujur. jadi penyanyi. Pak? Sorry kalau kita berbeda!” Aku tidak membantah. Aku hanya mau menghindarkan bentrokan. itu resiko. Dunia berubah. orang bebas berpendapat!” “Habis. Alasannya ada jaminan pensiun. “Anda masih ingat tidak. Suaranya lantang dan menantang. kenapa tidak. tidak apa. Kita sekarang berburu rezeki! Apa yang bisa meningkatkan keahlian . Biar dia di rumah saja jadi ‘markus’!” Aku tercengang. Mau caplok semuanya. Keluar-keluar. asal dia untung. duit masih ada. sebenarnya itu terserah pada masing-masing saja. Tapi bukan setuju. artis.MARKUS monolog Putu Wijaya LAMPU MENDADAK MENYALA Ketika mendengar aku mengutuk-utuk “markus”. Kalau duit banyak kan bisa kebal hukum. Sekarang kalau tidak terpaksa orang ogah jadi pegawai negeri.

Aku menahan diri meskipun tanganku sudha terkepal dan gemetar karena marah. Tapi istriku seperti biasa selalu datang dan mencegah. Malah ada yang terlibat. Dengan nafas sesak. itu bukan jambangan bunga dari dinasti Ming yang usianya ratusan tahun dan harganya ratusan juta. Aku serahkan darahku pada bangsat. Ini untuk keseratus kalinya aku mau mengamuk karena ditipu mentah-mentah oleh tetangga sendiri. hp-nya mati tok. kita tidak akan tahu mana yang bukan markus! Kalau tidak ada markus. “Menjawab? Ngapain meladeni orang gila!” “Bukan meladeni. tidak usah marah. tidak akan jelas yang jahat itu seperti apa. aku kembali ke rumah. Tapi tetangga itu memegang tanganku. sebagai jaminan hutang itu aku dekati. Sabar saja. Terpaksa aku beranjak. tapi memberikan pendapat. Lihat itu mereka yang gagal jadi caleg. tidak akan ada yang diuber-uber? Tidak akan ada musuh bersama yang bisa menyatukan perhatian masyarakat yang gontokgontokan sendiri? Kalau tidak ada markus. Aku bersumpah. tapi cakar-cakaran sendiri untuk kepentingan pribadinya. Kalau lebih lama di situ. Keramik jambangan bunga yang sudah satu tahun di atas meja. Rugi. Aku angkat keramik palsu itu. Dia mengambil lagi jambangan keramik itu. Jambangan bunga itu dipakai jaminan untuk pinjam uangku yang sudah lima tahun istriku tabung untuk beli rumah. jangan sampai salah sangka. hitam dan putih itu akan terus kabur!” Aku tak bisa lagi menahan perasaanku. putus sekolah hanya karena biaya. Jadi coba pikir dengan pikiran waras. seteleh dapat kursi. Kami sudah dikibulin habis! “Sudah Pak. Tapi mestinya tadi itu. jahanam itu. apa salahnya jadi markus? Kalau tidak ada yang jadi markus. Lihat itu mereka yang menyanyi selangit sebelum terpilih. Nanti malah kena tekanan darah tinggi. Markus itu yang sudah berjasa! Markus itu yang sudah membuat kita kembali bersatu dan ingat yang baik itu apa? Jadi apa salahnya jadi markus!” Itu sudah kelewat batas. Memang Bapak mau anak kita jadi markus?” “Ya tidak!” “Makanya!” “Makanya apa?” “Bapak takut?” . “Tunggu dulu! Sabar Pak. langsung main tarik kembali sumbangannya kepada masyarakat. Lihat itu mereka yang bukannya ngurus rakyat. Kalau Bapak diam saja nanti dikira setuju. aku bujuk istriku dan setengah memaksanya untuk merelakan tabungan itu dipinjamkan. rumahnya ditutup terus. itu palsu. Lalu meletakkannya dengan hati-hati di meja televisi. Itu jambangan bunga yang dia beli di By Pass paling juga seratus ribu. yang tidak pernah keluar negeri itu. ketika mendengar kejadian itu. aku akan mengangkat kepalan tanganku yang sudah puluhan tahun tidak pernah nonjok orang. Karena uang yang aku pinjamkan itu sudah lama habis dipakai berjudi! Aku meluap. palsu. pikirannya itu salah. Biar pecah brantakan. “Coba pikir. “Jadi apa salahnya jadi markus? Takut? Kalau takut itu artinya markus beneran!” Aku tak sanggup lagi mendengar. Atas nama kemanusiaan. Itu pikiran orang frustasi!” kata istriku mengeritik. Meluruskan pikirannya yang keliru . Katanya untuk bayar uang pendaftaran sekolah anaknya di luar negeri. Bapak langsung mendebat. Siapa tidak akan luluh kalau mendengar anak pintar. palsu. Aku terbakar. kalau tidak ada markus. Supaya jelas. Padahal dia juga tahu. apa salahnya jadi markus? Ah? Apa Pak? Kenapa jadi caleg boleh? Jadi markus tidak. Aku mau banting. Sebab semuanya sudah pintar bersilat lidah sekarang. Padahal aku tahu borg jaminan ini semua cipoa! Dan sekarang dia pura-pura mau menarik anaknya.

“Jangan begitu. Ini kan sudah telat satu bulan dari . seakan-akan itu benar-benar barang ratusan juta. tidak baik. Mentang-mentang pernah jadi pemain sandiwara. Caranya dia memperlakukan jambangan itu seperti jambangan yang berharga sekali. Tapi istriku memegang tanganku. nanti dia tersinggung. Tapi kita kan sudak menerimanya sebagai jaminan hutangnya. terimalah. kalau nanti dia tidak sanggup mengembalikan utangnya. hisa tenang. Ya tidak! Walau pun hanya pikiran saja. “Sandiwara bagaimana?” “Dia seperti memancing. ngajak bertengkar. Dia punya niat busuk. Agar anak-istrinya sedikit menghargai dia. itu pikiran orang sesat. Terus-terang dulu aku menerimanya bukan karena harganya. senengnya curiga-curiga melulu. bahwa dia bukan tidak punya apa-apa karena malas kerja. jadi nanti. tapi dukungan! Ya tidak?” Aku bimbang. berbuat baik itu banyak tantangannya!” “Berbuat baik itu beresiko tinggi. “Kalau Bapak takut. kenapa takut berbuat baik. jangan sampai pecah. sekarang juga mesti terus. Aku hanya curiga!” “Itu namanya takut!” “Itu hanya sandiwara!” Istriku tercengang. Sana cepat pergi.Aku terkejut.” “Ah Bapak ini. Hanya membantu sedikit kebohongannya. Aku cepat berbalik mau masuk kamar. dia kan tetangga kita. Ya kalau orangnya waras. Tapi hanya mau menjaga perasaannya sebagai tetangga. Demi kemanusiaan. Jangan cuma dulu berjuang.” “Pecahin sekalian lebih bagus. Apa nanti kalau kebeneran bisa jadi markus dan kaya. Supaya harga dirinya tidak jatuh di mata keluarganya. dikira semua orang bersandiwara. Dengan hati-hati sekali. Bisa dihukum!” Aku tidak bisa mikir lagi. Dia bukan saja brutal tapi licik. Masak bercita-cita anaknya jadi markus. Meluruskan pikiran tetangga yang anaknya mau dididik jadi markus itu kan salah. Tiba-tiba pintu diketuk. Akhirnya aku angkat lagi jambangan bunga porselen yang sudah dijadikan borg hutangnya itu. “Permisiiiiii. Kita anggap saja itu benar-benar peninggalan dinasti Ming yang harganya ratusan juta! Tidak boleh pecah! Itu baru menolong! Itu baru kemanusiaan! Pertolongan itu bukan hanya uang.” “Karena kita ingin menghargai dia. betulkan pikirannya! Dan taruh lagi jambangan itu. Tak usah dikembalikan sekarang. jangan sampai pecah. Lebih baik insaflkan dia. Suara tetangga itu memberi salam di luar. “Ayo. Mudahmudahan uang kita yang dipinjam itu segera dikembalikan. membuat aku malu. kalau kita menunjukkan sikap baik sama dia. Dia memang mau mengajak berantem!” “Kok Bapak begitu sekarang. Bagaimana pun dia itu tetangga! Demi kemanusiaaan! Apa salahnya aku mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang sudah keropos di mana-amana? Istriku mengerling. Bapak kan seorang pejuang. jangan. artinya dia sudah berhasil!” “Siapa bilang aku takut. “Pak. Ini kan barang palsu!” “Memang. Pak. taruh lagi baik-baik. kita wajib meluruskan pikiran tetangga yang salah.” Istriku mengambil jambangan itu dari tanganku dan menaruhnya baik-baik kembali. bukan karena aku mau memilikinya. Dengar. di mata tetangga yang lain! Demi kemanusiaan!” “Memang. itu sudah jahat. Itu baru namanya pejuang. Makanya hargai saja apa yang diakatannya. dia tidak akan sampai hati berbuat jahat kepada kita. Sebagai tetangga. Permisiiii!” Darahku tersirap.

atau sekalian tidak membayar sama sekali! Itu kan biasa dilakukan sekarang untuk mengalihkan perhatian. “Ya Ibu tahu. Pak! Masak berbuat baik takut? Biar hutangnya dibayar! Kita perlu sekali uang itu sekarang!” “Permisiiiii!” Permisiiiiiiiii!” Aku menarik nafas panjang. Setelah berpikir matang-matang aku menyerah. “Pergilah. apalagi membantingnya. Dia memegang tanganku “Stttt . “Permisiii! Permisiiiii!” Jakarta 1 April 10 PERADILAN RAKYAT monolog Putu Wijaya ADEGAN SATU PENGACARA MUDA YANG GAGAH DAN PARLENTE ITU MENDEKATI BAPAKNYA. YANG TERBARING SEKARAT. Tapi pintu kamar anakku terbuka. Bapakmu mau berbuat baik. Kalau sampai Bapak panas. Ayo kita tidur!” LAMPU PADAM. tapi kita tidak boleh menyerah. Masak anaknya mau dijadikan markus!” “Jangan! Itu sandiwara! Jelas dia terus mau memancing Bapak supaya mau bertengkar. “Betul juga. “Ya itu yang aku takutkan!” “Pasti itu yang ditakutkan. kalau menyerah. siapa lagi yang mau membela kemanusiaan di negeri ini?” Lalu aku bergerak mau buka pintu. dia akan punya alasan untuk menunda bayar hutang. Berbuat baik itu banyak halangannya. Pak!” “Taksu.” Tiba-tiba istriku tersenyum. kok belum peka-peka juga. jangan. Bu!” Aku berteriak dalam hati.janjinya?!” Aku tertegun. . Bapak. Bapak mau meluruskan pikiran tetangga kita yang sesat. mengembalikan jambangan itu. menentang pendapatnya. biarkan. PENGACARA SENIOR. hanya mau menguji Bapakmu.

MEMBERI ISYARAT SUPAYA ZUSTER YANG MENUNGGUI BAPAKNYA PERGI. tetapi fakta konktrit. Sudah jelas siapa yang kita hadapi dam kita tahu betul apa yang kita mau. Membongkar apa yang sudah dikatakan oleh para filsuf Yunani dan kemudian Jerman. Tapi apa boleh buat. Prancis. akulah ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini. sebab itu juga bagian dari kenyataan. yang kutanyakan setiap detik di dalam hidupku. Kompleks. kalau mereka masih ada sekarang. Di segala lini terjadi kemerosotan. Aku datang bukan sebagai putramu. Dulu tidak ada yang perlu diragukan. karena kodratnya memang begitu. KEMUDIAN DIA MENDEKATI TEMPAT TIDUR. Karl Marx. Maaf inu bukan promosi. Derida. Freud. . Itulah kenyataan DUDUK. Tapi kita juga tidak bisa menghentikan kebiasaan bermimpi. Satu orang bermimpi tentang persatuan membuat dia menjadi pahlawan dalam sejarah. So what? SENYUM. karena itu yang lebih banyak kita lakukan. TERSENYUM Kita sudah menyelusuri Eropa. Kenyataan berkata: akulah harapan itu sekarang. Kenapa harus menentang? Tidak. Aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh para founding father itu. Aku hanya partikel kecil dari sebuah mekanisme mesin raksasa. aku tidak ikut bermimpi. Aku menyimpan satu pertanyaan. Tapi kalau satu bangsa? Kalau satu satu bangsa semuanya mimpi. Tidak perlu ada pembahasan yang membuat kita masuk ke dalam lingkaran setan dan akhirnya puluhan tahun berjalan di tempat. Bahkan yang paling nyata dari semua kenyataan adalah mimpi. Fucou dan lupa bahwa kita sebenarnya punya seorang pengacara muda yang ambissius tapi praktis dan memiliki impian yang benar-benar dibutuhkan oleh negerinya sekarang. Kita sudah menempelkan pikiran-pikiran Nietzche. Sekarang jadi absurd. Machiavelli. Setidak-tidaknya aku menolak ditulari virus ganas itu. Mustahil untuk dipertemukan. Bahkan boleh dikatakan mundur.Selamat malam. Kita mesti menerima kenyataan. Banyak hal memang mesti berbeda dan akan terus berbeda. Aku tidak datang sebagai putramu. kita akan masuk lubang hitam terbelit kesulitan besar seperti sekarang. ini hasilnya. Kau fenomena 4 zaman yang selalu mengajarkan aku supaya menerima kenyataan. TERMENUNG Aku tidak ingin menentang apa-apa.

pengorbanan yang dibayar dengan nyawa. Siapa lagi yang harus memujiku kalau bukan aku sendiri yang paham betul apa yang sudah terjadi. TERTAWA KECIL Aku memang tidak pernah berhenti lapar. Aku satu-satunya yang terbangun dengan pikiran masih waras. rakus. akan habis begitu saja. Orang-orang itu terlalu sibuk main politik dan dikubur oleh ilmu pengetahuan yang dicurinya dari berbagai tempat sehingga lupa. Mustahil untuk dipertemukan. Aku tidak. namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Banyak hal memang berbeda dan akan terus berbeda. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu. Kaumesti mengerti maksudku. Aku tidak terlalu jauh dari keadaanmu waktu masih muda. darah dan air mata ini. Tetapi fakta-fakta yang terlalu kurangajar itu memang harus dibersihkan dengan cara yang kurangajar. Aku tidak rela. otentik di awal badai yang akan menghancurkan ini. Kau pasti mengerti apa maksudku. Dunia ini sama sekali baru. Aku orang yang terlalu realistik. ZUSTER KELUAR. Apa boleh buat. Kau fenomena yang tidak bisa diragukan. Tapi kita juga tidak bisa menghentikan kebiasaan bermimpi. kemaruk memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Pikiranku tidak bisa berkembang kalau aku tidak memegang sesuatu yang konkrit. bahkan bertentangan. Aku menolak kalau penderitaan ratusan tahun. Bahkan mimpilah paling nyata dari semua kenyataan. ini pribadi. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan. Kita mesti menerima kenyataan. Mari kita pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. MEROGOH SAKU MENGELUARKAN CERUTU DAN MAU MENYALAKAN . Ini bukan tindakan orang yang kurangajar untuk memberu publikasi. BERDIRI. TAPI KEMUDIAN ZUSTER MASUK DAN MEMBERI ISYARAT TIDAK BOLEH MEROKOK. Itulah kenyataan. Sempat membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis oleh di sebuah kampus kelas satu di Amerika? Mereka menyebutku Singa Lapar. karena kodratnya memang begitu. cita-cita sebenarnya. Teriamakasih .TERSENYUM. karena itu yang lebih banyak kita lakukan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Tinggalkan dulu kami berdua. PENGACARA MUDA ITU MENGANGGUK Ini hanya untuk dipegang. Kau pernah muda. Ya mungkin juga kurangajar. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negerin ini. sebab itu juga bagian dari kenyataan.

O. Sampai di mana tadi. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Berarti kita akan selalu bisa bicara sungguh-sungguh sebagai professional. tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri. Oke.Dan itu semua itu tidak ada yang bisa diperbaiki lagi. Tapi inilah kenyataannhya. aku tidak boleh lupa aku harus memberimu pujian! Seluruh prestasimu adalah monumen sejarah. ini terlalu memalukan. Aku hanya mencoba mengangkat daguku. Ini semua juga tidak lepas dari hasil gembelenganmu yang tidak kenal ampun! TERTAWA Aku harus memuji. TIBA-TIBA MELEDAK Kita seakarang sedang sekarat! ZUSTER MASUK LAGI DAN MENGINGATKAN. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku tidak akan menjad sensor terhadap diriku sendiri. Dulu bukan sekarang.DIA MENCIUM-CIUM CERUTU. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dilawan. Kamu melakukannhya dengan sempurna. Pemburu Keadilan. Kita harus cari jalan lain! Perubahan total! Karena semua kebijakan masa lalu itu sekarang salah! Maaf. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih. Rakyat berlomba-lomba menggali kuburannya sendiri. Tidak. bukan keluarga dengan segala tetekbengek dan pernik basa-basi yang menghabiskan waktu itu. untuk memandang perjuangan keadilan yang kini seperti macan ompong itu. DIA MEMBERI TANDA MENGERTI DAN MEMINTA ZUSTER PERGI. kau yang selalu berhasil dan sempurna. Itulah akhir dari sejarah kita yang besar! So what! MEMBANTING CERUTU Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Menikmati kebangkrutannya. ini fakta. Tapi itu dulu. Aku hanya mencoba menunjukkan sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Kenyataan kita! Generasi tua loyo. aku tidak akan surut! Akan aku katakan apa yang harus aku katakana meskipun kamu tidak setuju atau kamu tidak mau aku mengatakannya. kalau itu dilakukan. Aku tidak tertarik untguk bunuh diri! Aku tidak bisa lagi mundur! Tapi aku sama . Terlalu tidak masuk akal. generasi muda bodo.Sekarang. Jangan tersinggung. MENGAMBIL KEMBALI CERUTU Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. akan jadi kesalahan fatal.. yang dengan sisa-sisa keperkasaannya bukannya berjuang tetapi malah menikmati.

bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini. Maaf. kesimpulanku. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin dan beku. itu bukan istilahku. Seperti mata air di pegunungan aku hanya mengalir. SUARANYA LEBIH TENANG. gemericik. sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson. Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih. BERHENTI SEBENTAR Anda masih mendengarkan kan? Tapi aku datang ke mari bukan untuk minta pertimbanganmu. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler. tak boleh menjadi sebuah teater. Aku mau berdialog. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia. sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak sampai mati. Aku datang ke mari ingin mendengar suaramu. negara sudah memainkan sandiwara. Penjahat yang paling kejam. Walhasil. Aku datang ke mari. Di dalam hatiku selalu ada suara tajam yang terus-menerus kudengar. Pihak keluarga korban pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya. supaya aku bersedia untuk membelanya. LALU DUDUK DI SAMPING BAPAKNYA. yang sepantasnya mendapat hukuman mati. bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat. bahwa pada akhirnya negara cukup adil. Aku bicara akan sebebasbebasnya sekarang. karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih. bersama suara alam. Dan itulah yang aku tentang. aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku. dibela oleh siapa pun. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Lalu? . sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani. karena aku yang menjadi jaminannya.begini. maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda. walau pun sudah dibela oleh team pembela seperti aku. karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Aku ingin mengatakan TIDAK kepada negara. karena setelah negara menerima baik penolakanku. bahwa kejahatan. karena pencarian keadilan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Kenapa? Karena aku yakin.dalam tidur sekali pun: kau diperlukan oleh bangsamu! PENGACARA ITU MENGELUARKAN SAPUTANGAN DAN MENGELAP TANGAN SERTA MUKANYA. (MENARIK NAFAS PANJANG) Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. sudah ada kebangkitan baru. Di situ aku mulai berpikir.. apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak.sekali bukan orang yang terjebak oleh diskripsi-diskripsi atau doktrin-doktrin beku. tetap kejahatan.

Demi memuliakan proses itulah. Kalah-menang bukan masalah lagi. aku akan berhasil keluar sebagai pemenang. salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. LALU BERHENTI Jadi sebenarnya itu yang ingin aku tanyakan. malah aku terima baik. Bagaimana bisa tahu aku akan menang? . kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. antara lain. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Namun. tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati. karena sebagai professional aku tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar aku membelanya dari praktek-praktek pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang palingt tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Asal aku tidak membelanya karena ketakutan. Sebab kebenaran sejati. Tidak! Kenapa takut? Sama sekali tidak! Bukan juga karena uang. aku menerimanya? MANGGUT-MANGGUT Sebab Anda kenal betul siapa aku! KETAWA Ya aku menerimanya! Sebab aku seorang profesional. Supaya dia menang? Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. tawaran yang sama dari seorang penjahat. sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum. Aku men olak tawaran negara. Karena aku memutuskan akan membelanya. aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya. aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Bukan! Aku tidak pernah bisa dibli! Bukan! Lalu karena apa? (TERSENYUM) Karena aku akan membelanya. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebagai pembela. Tapi bagaimana aku menunjukkan diriku sebagai professional. Apakah keputusanku suah betul? Apakah keputusanku sudah betul? Itu. Tapi aku akan menang. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan.Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. karena di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Sebagai seorang pengacara professwional. aku menerimanya sebagai klienku MENATAP KEMBALI Apa keputusanku salah? Seperti yang aku katakan tadi. BERDIRI DAN BERJALAN MONDAR-MANDIR PERLAHAN-LAHAN. Hanya ada kemungkinan kalau aku membelanya. Aku tidak meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara.PENGACARA ITU TERKEJUT Bagaimana Anda tahu.

Tidak ada sama sekali pembicaraan soal pembayaran! Ini semua gratis! Inik profesional! Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang! Ini bukan bisnis Rumah Sakit. O tidak. (EKMBALI KEPADA BAPAKNYA) Aku pulang dulu sekarang. Itu yang membuat aku sedih. Ini bukan mafia peradilan! Tidak ada yang menyogok. Bukan. Supaya kesalahan seperti ini jangan lagi terjadi nanti! Seperti yang selalu Anda bilang. Tidak ada makelarmakelaran. bukan karena disogok. tetapi karena soal-soal sampingan. Keputusanku untuk memberi pelajaran penting kepada pemerintah sudah final. Bukan karena aku ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negara kita.SENYUM Bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Aku sama sekali tidak bimbang lagi. bukan? Bukan! Kenapa mesti takut?! Tidak ada yang sudah mengancamku! Mengacam bagaimana? Mengancam dengan apa? Jumlah uang yang terlalu besar. Itu karena aku mencintai negeri ini. Bukan! Sumpah! Karena Negara tidak siap! Mereka tidak punya bukti yang kuat. memang sebuah ancaman. Penjahat itu akan dibebaskan karena aku memenangkan perkaranya sebab negara tidak punya bukti kuat. TERTAWA KECIL Aku terlalu besar untuk kalah saat ini. Keputusan apapun aku sudah bisa baca walau pun perkara belum mulai. Aku akan memenangkan perkara ini. Tapi ini bukan soal memberikan angka-angka! Tidak! Hanya karena aku tidak bisa dibeli! PENCACARA ITU TERKEJUT. Dan aku membelanya bukan karena takut. Jangan main-main dengan hukum! Kejahatan itu terlalu untuk dijadikan tempat bermain! DIAM DAN NGOMEL SENDIRI PADA DIRINBYA TAK JELAS Anhajmmakajuyetgalkamjakamnhamkjhj. Tolong beri aku dua menit lagi. Aku akan menang. ini proses pengbadilan yang bersih! Dan aku akan menang! Aku pasti menang! Ah? Apa jadinya kalau penjahat itu sampai menang? Negara akan mendapat pelajaran penting. Aku tidak takut. Polisinya bego dan jaksa-jaksanya malas dan bodo! Terlalu bodo!!! (SAMBIL MENUTUP MUKANYA DENGAN SAPUTANGAN ) ZUSTER MASUK. . Sama sekali tidak! Sumpah!Q Akui membela dia bukan karena takut. penegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan. supaya tidak terlambat besok menghadiri sidang.Betul. Jujur saja. Oke aku sudah selesai. tanpa ancaman dan tanpa sogokan. MENGHELA NAFAS PAN JANG Itu bukan kesombongan tapi kesedihan. Ia minta tolong. Bukan karena materi perkara itu. Aku menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau aku perlukan dalam kampanye.

Harus cerdik. PENGACAR MUDA ITU MUNCUL KEMBALI. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. ZUSTER MASUK LAGI. DIA NAMPAK SANGAT SEDERHANA. Sudah jelas. karena hukum hanya instrumen mati. PENGACARA MUDA ITU MENGANGUK HORMAT. Aku telah memenangkan perkara itu dan itu berarti aku sudah membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini. Aku pulang sekarang. Anda ingin kamu bangun. Jumlah banyak dan kuat saja bukan jaminan untuk memenangkan perkara. bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. TERDENGAR SUARA RIBUT-RIBUT DAN KEMUDIAN BERAKHUIR DENGAN SUARA-SUARA TEMBAKAN. Zuster sudah mengusirku. MENARIK NAFAS DALAM. Manusianyalah yang hidup. Silakan meneruskan beristirahat. Selamat malam. PERLAHAN-LAHAN SEAKAN TAKUT MENGANGGU DIA MENDEKATI BAPAKNYA. TAK ADA YANG BEFRUBAH. bahkan kalau perlul licik! . LALU BERBALIK DAN BERJALAN KELUAR DENGAN GAGAH. Begitu bebas dia langsung terbang lepas kembali seperti burung di udara. ADEGAN DUA LAMPU MENYALA. LAMPU PERLAHAN-LAHAN PADAM. SUDAH SANGAT BERBEDA. Ya. Hukum baru hidup kalau manusianya hidup dan menegakkan hukum dengan semua persaratann tegaknya. MENGURUT KAKI BAPAKNYA. Tidak ada yang harus dibahas lagi. kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang professional. Oke. karena besok kalau semuanya suah menjadi sejarah. tersenyum dan kita akan bicara lagi panjang lebar. Maafkan. MENARIK NAFAS PANJANG. Dan dengan begitu harapanku semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Ya.seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. PENCARA MUDA ITU BERSIMPUH DI KAKI ORANGNYA DAN MENCIUM KAKINYA. Seperti yang pernah aku katakan kepada ayahanda. Hukum tidak akan bisa tegak sendiri. Aparat tidak cukup hanya berani tapi harus lihai! Rakyat tidak cukup hanya mengepalkan tangan dan berkoar-koar. Selamat malam Ayah. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak. aku baru bisa datang sekarang.

buah hatimu. IA BERDIRI. rinci dan sempurna di negeri ini oleh semua mereka yang tidak pernah menghendaki kita ada. Penyandang dana tunggalnya penjahat yang sudah kubebaskan itu. Tidak mungkin dijamah lagi. Kekuasaan tidak bisa berlaku semena-mena sebab keadilan tertinggi ada di tangan hukum. Dan aku. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Dengan gemilang dan mudah aku mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Tetapi bukan itu . Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya? Kalau berhadapan dengan sebuah perkara. Dan itu bukan karena bukti-bukti yang dimiliki negara lemah. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. ketika seorang penjahat besar musuh rakyat dibebaskan. Rakyat pun ngamuk. LALU BICARA DENGAN SUARA YANG SAMA SEKALI BERBEDA. bukan seorang pengacara muda yang ambisius. tetapi sebenarnya tak lebih dari sel-sel subversive yang sudah ditumbuhkan dengan begitu cerdas. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan.BERHENTI SEBENTAR. Bukankah sudah aku ingatkan. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk. disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. PENGACARA MUDA ITU MENGHAPUS AIR MATANYA. setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai professional. Kau minta yang datang putramu. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang professional. MENARIK NAFAS PANJANG Semua yang aku rencanakan sudah menjadi kenyataan. menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. putramu satu-satunya ini diculik. lalu meloncat ke mancanegara dengan seluruh keluarga dan harta bendanya yang berasal dari rakyat. Putraku. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Hakimnya diburu-buru. tetapi juga seorang putra dari ayahmu. aku rindu kepada putraku. itu akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini! . Bohong besar! Itu semua karena keadilan dan kebenaran bisa ditawar! Hakim-hakim dan jaksanya semua bisa dibeli! PENGACARA ITU MENANGIS MENCIUM KAKI BAPAKNYA. Itu bohong! Juga bukan karena aku jenius yang tidak terkalaghkan. Tanpa hukum. kita akan menjadi bangsa yang liar dan lalai. TETAPI KEMUDIAN DIA SEPERTI DIRASUKI OLEH JIWA BAPAKNYA. aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. pongah dan keblinger mengklaim dirinya realistis membela amanat penderitaan rakyat. Harusnya aku mendengarkan apa yang dikatakan zuster itu. apa pun alasannya.

PENGACARA MUDA ITU MENANGIS. Cirendeu 1-3-03 .

Seorang wanita yang sedang memegang kelapa.Tapi orang itu tak aku kenal. Aku mulai curiga. Dia menyebutkan sebuah nama yang rasa-rasa sering keluar-masuk telinga. Mungkin bau itu akan menolongku untuk menembus kenangan yang sudah membeku. Ia buru-buru mengeluarkan dompet. mengeluarkan potret lain dari bawah potret wanita itu. pengemis di kota kelahiranku yang putus seluruh bagian bawah badannya. Aku jadi ngeri. Aku terperengah. Dia keliru. masih ingat tidak. sekarang hampir.Sekarang potret seekor anjing. sedih dan agaknya juga curiga kalau-kalau aku tak berterus terang. Aku menggeleng. seakan-akan teringat oleh sesuatu.Ia melirik. aku kenal peristiwa itu. supaya aku perhatikan lebih dekat. menarik sekali. Dua buah jari kaki orang itu putus. Orang itu terkekeh-kekeh. Ini mungkin orang gila. lalu buru-buru melihat sendiri potret itu. Lalu dia mengejapkan mata. langsung memasukkan potret itu. aku belum pernah melihat dua jari kaki yang putus. Ia tertawa. karena potret seperti itu sama sekali tak akan mungkin mengingatkan kepada seseorang. Kecewa. dia senang melihat aku lupa. tapi tak ketemu.Tapi sungguh mati. Dia menyebutkan sebuah nama. Ia menjadi orang lain yang mengingatkan aku kepada raksasa gundul yang selalu kalah dalam wayang. Kemudian dia sendiri. langsung aku kejar.AUT monolog oleh: Putu Wijaya Di tengah jalan. Tapi kemudian aku terpaksa memalingkan muka karena tak tahan. Aku tak bisa menahan rasa geli. Lalu aku menggeleng. Karena aku masih tersesat dalam keterangannya yang bertubi-tubi itu. Dalam kepalaku muncul Bang Satria yang buntung tangannya karena kecelakaan. Aku menggeleng. Orang itu terkejut.Tapi potret itu biasa sekali. lalu menoleh seperti minta maaf. Aku langsung teringat pada Budi yang selalu memakai kaos kaki bolong. Ia bersandar ke tembok toko lalu membuka sepatunya. lalu menunjukkan sebuah potret. Samar-samar aku disengat bau busuk. . seakan-akan mengingatkan aku pada kenangan bersama. Aneh juga Lalu dia membuka topinya. Mukanya jadi lucu tanpa topi. Dia menggeleng-geleng tetapi belum menyerah. tapi. Dengan agak masam kemudian ia membuka kaos kakinya. Lalu aku tersenyum minta maaf. . Berjuta-juta wanita seperti itu di dunia. aku tak ikut mengalaminya. Kepalanya botak. merasa berhasil memojokkan aku pada kenangan yang dimaksudnya. Kemudian mencari-cari dalam gudang kepala. Kaos kakinya dobel tapi kedua-duanya bolong. Aku langsung menggeleng. tetapi kemudian ternyata bukan lagi.Tetapi orang ini bukan Budi. hampir terpegang. Ini bukan Harjo yang berasal dari Yogya. Kemudian ia memberi isyarat supaya aku sabar. Tidak mmenyimlan kisah apa-apa. Orang ini pasti tak kukenal. Hee. Muncul Lanus. ia mulai kelihatan putusasa. seseorang menegurku tiba-tiba. tapi ternyata tak pas betul dengannya Dia menyebutkan lagi sebuah peristiwa yang menarik.Tetapi karena tak ingin menyinggung. katanya dengan mata bersinar-sinar. Aku menolak.Tapi orang itu cepat memegang tanganku. Kemudian ia tertawa ngakak. catatan-catatan dan lepitan ingatan. Senyumnya masih panas. Kemudian ia mengeluarkan potret lain. Dia menyerahkan dompet itu. ya. aku tahan saja.lalu hendak melanjutkan perjalanan. Muncul Nyeneng yang putus kakinya.

aku ikut cemas. Aku menyeruduk lagi mencari. Kalau bukan orang gila.ini pasti orang jahat yang ingin bikin malu aku di tengah jalan. Dia memanggil-manggil. tapi cukup membuat ingin tahu. Setelah itu kaos dalam. Aku mundur. supaya jarak semakin jauh. Terimakasih. Menyatakan perasaan gembira.Tapi orang itu cepat memegang tanganku. Aku bingung sampai ia merogoh saku dan menawarkan rokok. Orang itu mengangguk-angguk. aku juga menolak. Mestinya dari awal aku tak peduli tadi. Orang-orang di pinggir jalan sudah mulai memperhatikan kami. Aku ikut memikirkan jalan keluar. Aku selalu mengikuti perkembanganmu dari jauh dengan perasaan bangga. aku terus berbalik dan angkat kaki cepat-cepat. Kalau tidak. Kemudian aku dengar ia berlari menyusul.Orang itu menyorongkan potret itu lebih dekat lagi.Tidak terlalu cantik. Aku bangga salah seorang di antara kita sudah berhasil. bisik orang itu yakin seperti mendapat kemenangan. Aku menolak.kamu berhasil. Ini sudah terlalu. Kamu memang jempolan. aku tak akan bertemu dengan kamu lagi. katanya dengan aneh. Dia tersenyum. Ia tak putus asa. Pasti bukan. Aku mencoba mengenalinya. katanya sambil langsung membuka bajunya. Aku langsung mendapat firasat buruk. Aku bengong. ketika dulu kamu mendapat kesulitan besar. Mengucapkan syukur. coba ! Aku tak mau menoleh. menyangka aku seseorang. Ia terus memegang tanganku dan mengguncangnya keras-keras. Tapi ini bukan Maria itu.Tak menghiraukan sopansantun lagi. Ini bahaya. tunggu sebentar ! Coba lihat ini. Dia mengulurkan tangan dan menjabat tanganku erat. meskipun aku tetap tidak ingat siapa orang ini. tak tersangka dan tiba-tiba. Pertama karena potret itu potret orang bugil. Kalau tidak aku tidak akan lewat jalan ini. Pertemuan tak terduga. Kemudian ia membuka kemeja. Orang itu menggapai tanganku. karena salah seorang kawannya kembali bertemu. Coba tunggu. . kalau diceritakan kamu sedang mendapat keruwetan. Aku pernah punya seorang teman bernama Maria bertahun-tahun yang lalu. Orang itu tidak keluar dari masa laluku. membongkar ke sana-ke mari. Kedua. raut wajahnya seperti nyangkut dalam sumur tua. Aku ikut terombang-ambing. tetap seakan-akan ia kenal betul aku. Lalu ia mengeluarkan permen. Tunggu.Sekarang potret wanita telanjang. Di setiap sudut jalan ada penipu sekarang. Aku menggeleng lalu menjelaskan mungkin sekali ia telah keliru sejak semula. Maria. namaku yang lengkap dan asal-usulku. seakan-akan salah seorang kawan lama. Ia berdiri di depanku tanpa baju. Aku berlari dari jaring yang berbahaya itu. Langkahnya makin dekat. tapi sia-sia. Hee tunggu duluuuu ! Aku mempercepat langkah. Aku cepat menolak. Syukur semuanya sekarang sudah lewat. Aku sudah salah dari awal. semacam reflek sebab tak mau bertanggungjawab. minta pengertian. Aku mencari alasan yang kuat untuk menghindar.kalau ini pasti ingat. di dadanya yang ditumbuhi sejemput bulu ada tatoo kecil. Kemudian aku sebutkan juga apa kedudukanku sekarang. orang itu sudah membuka jaketnya. Perhatianku sudah menyebabkan ia memilihku. Aku terpesona. Terimakasih tadi taksi macat.Tak beranjak. Ia menunjuk ke restoran di sebelah dan mengajak makan. tapi luput. Hebat.Ingat ? Aku ingin sekali ingat. karena reflek tak mau tertipu. Aku lbergegas pergi. Selamat.Tubuhnya gendut. Aku sebutkan namaku. Senang juga rasanya diguncangguncang. Aku pura-pura tak terlibat pada peristiwa itu.Teteknya menonjol. Lalu membuka lagi kaos oblong.

senang dan untung. tegak menghadang. kalau tidak mau diinjak-injak.Punggungku dingin mendadak. tadi. Baru kalau ada bahaya kita akan berpikir.Dia telanjang-bugil . Dengan perasaan malu. Setidak-tidaknya seorang Hansip atau petugas keamanan yang lain. Selesai makan. pasti bisa meluputkan aku dari bencana ini. Sudah ingat sekarang ? Ya Tuhan! Aku kaget. tidak boleh terus bertahan. Atau aku sudah terlalu banyak nonton film action. Tak sepantasnya aku ketakutan.Tak akan ada yang berani kepadaku lagi. yang sudah menjadi ilmu hidup dengan sendirinya. Aku tak punya kesalahan. Aku terpaksa memutuskan ketika melihat di depan jalan mulai lengang dan membelok ke bagian yang sunyi. Sekarang aku memerlukan pos polisi. aku pesan makanan dan bir untuk menambah keberanian. Setidak-tidaknya kalau aku kalah dia juga akan dapat tanda-mata dan tidak mengagap enteng. Dengan sikap semacam itu. di mana pun kita akan selalu selamat. Tapi di mana sih mereka. Pakaian seragamnya. untuk membebaskan. yang terpenting kata mereka. Begitu banyak orang di jalanan yang akan menolong kalau terjadi apa-apa. yang tak akan mungkin aku yakini.Ya. Aku berbahaya buat mereka yang mencoba-coba. tanpa selembar pakaian pun di tubuhnya. cemas kalau orang itu ikut masuk. Aneh. Aku memandangi mukaku yang berkeringat di kaca kamar kecil. Aku sendiri kalau tidak gugup bisa melindungi diriku sendiri. sebenarnya bisa distel dari dalam pikiran juga. rasa aman itu. Hatiku masih berdebar-debar. mengambil batu atau kayu dan balik menyerangnya. berlibur atau ke mana. harus menyerang. Mungkin. aku akan selamanya menjadi bulan-bulanan empuk. berjuang lalu membalikkan kelemahan kita menjadi kekuatan. makan siang. Ia melompat dari balik sudut pertokoan.semuanya bisa muncrat dengan sendirinya seperti tadi. kalau sudah dialami. Akhirnya aku berlari. masak aku tidak. Kalau tidak. Tiba-tiba di depanku orang itu lagi. Aku tukar arah berlari. adalah getaran kita sendiri. harus menolong diri sendiri. Mungkin ia sama sekali tak mengejarku tadi. Ini semacam slogan. menendang. Setidak-tidaknya aku bisa memukul.Ternyata semuanya tergantung dari kita sendiri. tunggu sebentar. aku berhasil mengumpulkan diriku lagi yang retak. Aku merasa mendapat pengalaman berharga hari itu. Aku selamat. Mungkin juga sedang rapat. Aku hanya tak punya kepercayaan diri. Aku keras dan tak peduli. Atau mungkin dikerahkan total untuk mengamankan kemacetan lalu-lintas. Tunggu. Masuk ke dalam sebuah restoran Padang yang ramai. Rasa-rasa tangannya memegang kedua pundakku. Binatang saja bisa melindungi dirinya. aku keluar restoran. seandainya orang asing itu tidak tiba-tiba muncul. Itu yang namanya kematangan jiwa. Aku selamat. Apa semuanya sedang sibuk memburu penjahat. Beginilah kalau terlalu banyak punya pengalaman buruk. Bahaya adalah pahala. meminjam kesombongan beberapa orang-orang kawan yang sudah berhasil. Kalau getaran kita pas.Tapi tidak ada. Meskipun tidak lapar. Sekarang aku benar-benar memerlukan seorang petugas itu. Aku harus kembali utuh seperti orang lain. masak tidak ingat ini ! Orang banyak sudah mulai menonton. kalau-kalau orang itu menunggu di situ. Benar kata kawan-kawan yang terlebih dulu dapat pengalaman. Suaranya memanggil makin tak mempedulikan keramaian jalan. Jalanan adalah medan perang.hanya perasaanku saja yang memburu. aku harus bersiap bertempur setiap saat. aku tak cepat keluar. Mataku melirik ke jalanan. Aku putus asa. Mataku galak dan gerak-gerikku pasti. Selalu kalau sudah begini. aku meneruskan membelah jalan.Tapi langkah itu terus menguntit. Lalu dengan rasa percaya diri.Untung sekali tidak.

seratus prosen. Sesudah makan, pasti ingat kan, katanya sambil berkacak pinggang.Tak sengaja aku memandang ke alat kelaminnya yang berjuntai dan terasa mengejek. Ini mulai serius. Orang-orang di pinggir jalan tertawa, melihat kami seperti dua jagoan yang mau berduel. Orang itu tersenyum manis lalu mengembangkan tangannya, seakan-akan masa lalu yang menanti aku berlari menembusnya. Orang makin ramai tertawa. Di situ aku tersinggung! Aku bukan orang yang tadi gugup dan ketakutan. Aku sudah menelan rendang, otak sapi, sambal cabe hijau dan dua botol bir. Aku sudah utuh dan memiliki harga diri. Aku merasa dihina, ditantang, dipermalukan di depan orang banyak. Aku merasa jalanku dihalang-halangi. Ini sama sekali bukan salahku! Ini adalah perkosaan! Ini penindasan! Ini kesewenang-wenangan! Ini penipuan! Ini semua sudah direncanakan. Aku tidak terima! Ayo! Dengan luapan marah yang tiba-tiba menerbangkan seluruh pertimbangan akal sehat, aku terbakar.Kalap dan meledak. Aku raih, apa saja yang bisa aku comot. Aku sambar samurai yang dijual pedagang kaki lima. Sambil mengeluarkan teriakan bengis, aku hunus samurai itu dan menerjang musuh. Aku tebas lehernya seperti di dalam film silat. Aku cencang tubuhnya sampai berkeping-keping. Aku musnahkan bangsat yang gila itu. Aku buktikan aku ini manusia yang punya hak! Orang-orang baru berhenti tertawa. Mereka berteriak ketakutan dan menghindar. Aku tegak bagai monumen di atas reruntuhan orang asing itu. Aku tak kenal siapa dia, apa maksudnya, mengapa dia memburu-buruku. Aku hanya ingin bebas dan membuktikan bahwa aku tidak ingin diganggu. Aku bisa meledak seperti bom kalau sakit. Sama seperti orang lain! Tapi tak lama kemudian aku sadar kembali. Seperti pelembungan kempes, aku gagap menemukan diriku mendadak menjadi jagoan. Aku gugup dan gemetar. Setiap kali bergerak, semua oang mundur ketakutan. Dengan samurai berlumuran darah, aku berjalan ke pos polisi. Sesal tak berkeputusan. Aku mengutuk dendam yang bersembunyi di sela-sela urat batinku yang telah membuatku edan. Ini semua di luar pertimbanganku. Semua menepi memberiku kesempatan. Sambil menghunus kelewang yang berdarah, aku laporkan semuanya dengan teliti, jelas dan tuntas. Sama sekali tidak aku curi kesempatan untuk memihak diriku. Setiap bilah kata, titik dan koma, kuulangi sebagaimana adanya, tanpa perasaan. Kuberikan pertimbangan, kemungkinan, kebenaran-kebenaran yang barangkali milik orang yang kubunuh itu. Lalu kutunjukkan posisiku, kelemahan-kelemahan dan kemungkinan kesalahankesalahanku. Aku akui terus-terang, barangkali tidak perlu terjadi pembunuhan, kalau aku bisa melihat semua kejadian itu sebagai lelucon. Mengapa aku mesti mabok karena soal-soal sepele begitu yang setiap hari berserakan di jalan ? Orang lain pasti akan dengan mudah menyelesaikannya dengan hati lapang. Aku merasa susut sekali. Memang masa laluku telah mendidik aku buas dan liar, tapi apa salah orang itu, kataku pada polisi. Aku menyerah, aku siap menerima pala karmaku. Masuk neraka pun, oke! Petugas mendengarkan semua pengakuanku. Mereka mencatat dengan teliti. Tiga kali mereka menanyakan siapa aku, di mana, apa pekerjaan dan apa tujuanku. Karena takut keliru, mereka minta aku menulis semuanya itu dengan tanganku sendiri dan kemudian menandatanganinya.

Setelah itu mereka mengangguk dan mengucapkan terimakasih atas bantuanku. Lalu menunjuk ke pintu keluar. Terimakasih, Bapak boleh pulang sekarang. Astaga. Aku terkejut. Gila. Ini ngenyek bagaimana ? Tapi saya sudah bunuh orang dan saksinya banyak,lihat samurai ini masih meneteskan darah segar ! Petugas itu mengangguk sabar. Betul.Tapi sekarang memang bunuh orang, sudah boleh

Cornell, Ithaca,20 April 1987

DAMAI monolog Putu Wijaya Di sebuah padang lepas, lautan rumput hijau merentang sampai ke kaki langit. Bunga-bunga semak liar, bergetar dikibas angin yang ramah dari penjelajahannya yang ribuan kilometer. Langit yang terbuka dengan warna biru yang medok, terang benderang, menurunkan hujan damai. Hidup terasa tenteram. Pekik burung yang menoreh angkasa merambat panjang memasuki telinga khewan-khewan yang mencari makan tanpa ketakutan. Barangkali ketenteraman itu hanya sebuah lamunan. Memang. Namun keindahannya begitu nyata, sehingga kehadirannya sulit untuk ditolak. Memimpikannya saja, sudah cukup untuk sedikit meredam segala kecemasan yang semakin hari semakin gila dalam kehidupan nyata yang membuas ini, karena perang berkecambuk di mana-mana. Tetapi aneh, walau hanya mimpi, kecantikan itu tetap saja sudah terjamah. Para pemimpin jeli yang memburu wilayah yang masih bisa dimanfaatkan, telah menciumnya. Lalu tiba-tiba saja terdengar suara entakan kaki mendekat. Mula-mula hanya telinga-telinga rusa yang bergetar menyadari kehadirannya. Lalu serangga-serangga kecil menggetarkan sayap karena habitatnya terganggu. Tiba-tiba ratusan ribu bahkan mungkin berjuta-juta kaki menapak ke atas padang, membawa wajah-wajah manusia yang sedang dahaga oleh berbagai harapannya tentang kedamaian, keadilan, kesejahteraan serta masa depan yang lebih bahagia. Semuanya bagaikan terhisap oleh magnit raksasa yang dipancarkan dari dia yang akan menyampaikan orasi. Baru beberapa kejap, padang tak terbatas itu sudah tak punya ruang lagi. Di mana-mana wajah manusia yang penuh pertanyaan, memandang ke atas altar di tengah. Kepala-kepala mendongak seperti mau lepas dari lehernya, ketika aku naik untuk berbicara. Pekik-sorak gemuruh mengeluelu. Semua mata nyalang membidik ke depan. Dengan wajah sebersih bocah, nyaris tanpa dosa, aku berdiri di depan massa. Aku bagaikan sebatang pohon mengkudu dengan daun-daun yang gembur berwarna hijau rimba, menjanjikan penawar bagi seribu macam penyakit. Mataku yang adem membuat matahari tersipu, lalu menghindar ke balik awan-awan tipis, membiarkan peristiwa itu lewat sendirian dengan kodratnya. Ketika kuangkat tanganku, seluruh padang mendadak mati. Tak ada lagi yang berani bertepuk dan berbicara. Bahkan nafas pun ditahan, takut menganggu ucapanku. “Hari ini kita berkumpul lagi di sini untuk menyatukan tekad kita untuk menyerukan kepada seluruh dunia, kepada seluruh umat manusia, kepada saudara-saudaraku di seluruh dunia, di mana saja kini kau berada, dunia berada di dalam bahaya, kita semua sedang di tebing keruntuhan!” Kuangkat tangan, seperti hendak mengangkat nasib buruk itu. “Bangkitlah, saudaraku, waspada, bangunkan dirimu untuk menyongsong dunia yang lebih baik, yang lebih damai, sejahtera dan membahagiakan. Dengarkan suaraku, sebagai wakil dari hasrat batinmu yang mengharapkan masa depan yang lebih damai. Di masa lalu, seorang yang sangat besar, berjasa, luhur jiwa dan mulia perbuatannya telah mengucapkan sebuah tonggak yang sampai kini menjadi kajian dunia. Kata beliau: Perang adalah alat yang berguna untuk memelihara perdamaian dunia. Senjata, kekuasaan, pembunuhan diperlukan untuk membuat

Benar tidak?” Semua mengangkat tangan dan menjawab serentak. katakan sama-sama seratus kali dengan suaramu yang mantap. Tak percaya pada apa yang mereka dengar. Lihatlah kenyataan di atas dunia ini. Damai adalah . untuk membunuh lawan sampai ke akarakarnya. membela kebenaran. aku yakin beliau tidak akan sampai hati mengucapkan apa yang sudah digariskannya dan menjadi panutan manusia untuk membenarkan peperangan sampai sekarang. pertanyaan itulah yang akan melanjutkan ucapanku. Agar mencapai kesetaraan di masa depannya yang lebih baik. Perang dan damai bertentangan! Ayo. Aku jadi muak! Dengar: Perang adalah perang. Sekarang aku sangsi. Lalu mereka mengangkat senjata. orang tua dan khususnya para perempuan. Karena itu aku menentang. melontarkan seruan yang sama: “Perang adalah binatangt buas pemakan perdamaian!” Mereka bersorak. dia akan menjadi mesin buas yang tidak puas hanya membunuh. Perang zaman sekarang lebih banyak lagi melukai dan membunuh rakyat sipil. Perang ternyata bukan anjing gembala penjaga perdamaian. Damai adalah damai. memeluk dan mengupayakan perdamaian sepanjang hidupnya. Aku sudah tahu. Damai hanya mungkin lewat perang.manusia takut kehilangan damai. tokoh sejarah dunia yang besar itu. Perang adalah anjing penjaga perdamaian. Aku mengangkat tangaku dan berseru: tidak!!!!” Langsung semua memantulkan suaraku lebih keras: “Tidak!!! Tidak!!! Tidak!!!!” Tidak ada yang tidak setuju. sebab aku tidak bisa lagi bertanya kepada beliau. Orang-orang tua cepat tersinggung. hasutnya menjual peperangan ke mana-mana! Maka tak heran kalau bagaikan narkoba. untuk merebut kemerdekaannya. lebih keji. perang juga akan memusnakan segala-galanya. Tetapi sekali perang berkobar. Ketika banyak orang belum tahu. seluruh tangan terangkat dan mulut terkuak. anak-anak. ratusan tahun lalu. tidak hanya melukai orang-orang bersenjata yang berperang. Perang adalah binatang liar yang menghancurkan perdamaian!” Aku angkat suaraku lebih keras: “Perang adalah binatang buas pemakan perdamaian!” Bagaikan kena hipnotis. Perang di mana-mana tidak hanya membunuh para serdadu. Banyak orang berkelahi untuk menegakkan keadilan. sebagai manusia yang sadar dan beriman. “Banyak orang bunuh-bunuhan. Perang adalah benteng terakhir perdamaian. aku bertanya kepada diriku. Semua mengepalkan tangan mau main pukul. sebagai manusia yang masih waras yang mencintai sesama sesuai dengan perintahNya. Perang untuk damai. Semua orang jadi gemar berperang! Kawula muda mudah beringas. Banyak orang berkelahi untuk membela kemanusian yang diinjak kekuasaan. Kutu-kutu busuk perang masih gentayangan “Ingat saudara-saudara! Masih ada orang-orang di sekitar kita yang dengan pongah mengatakan bahwa Perang dan Damai adalah dua wajah di satu mata uang. tak peduli itu salah-kaprah.” Orang-orang itu tertegun. Itu berarti jiwa mereka benar-benar merindukan damai. main bunuh untuk mengakkan perdamaian. sehingga ia akan senantiasa memuja. sempat melihat betapa buasnya perang. “Benar!!!!!’ “Benar sekali! Seandainya beliau. menjangkiti dan meracuni jiwa. Ketika kita semua masih lugu. Lalu kutembakkan suaraku kembali. “Tetapi ini dulu. kata mereka. tetapi anjing-anjing srigala liar yang gila yang kelaparan membunuh umat manusia lebih cepat. Tapi aku selalu curiga selalu ada udang di balik batu. perang mulai menggigit. mengobarkan perang. gegap-gempita: Perang adalah perang.

Buku-bukunya berserak. mulutnya masih hangat. “Apa kamu bilang? Dengar baik-baik! Perang adalah perang. dua kubu yang selalu bertemu!” Suara itu tidak keras. Aku meniup asap pistol. lalu naik ke mimbar. bertentangan!” Mereka serentak berkoar: “Perang adalah perang. Siapa dia? Seorang pelajar dengan buku-buku pelajaran di tangan.damai. Mataku menyala-nyala. damai adalah damai. damai adalah perang. memasukkan senjata itu kembali ke sarungnya. “Perang dan damai. terpukau oleh ucapannya sendiri. Tapi anak kecil itu tidak takut. keblinger kamu!! Guru kamu busuk! Perang dan damai tidak bisa ketemu!” “Selalu ketemu!” “Tidak! “Ketemu!” “Tidak!” “Ketemu” “Tidak!” “Ketemuuuuu! “Brengsek!” Aku cabut pistol. lalu mengangkat tangan membungkam suasana. satu kubu yang selalu bertemu!” Aku membentak “Salah! Perang dan damai. Tetapi tepat ketika tercipta lorong sunyi itu. Kembali lautan padang hijau itu hening sepi. Siapa kamu? Kemari!” Pelajar itu menguakkan massa. Perang dan damai dua kutub yang tidak pernah bertemu!” “Dua kutub yang selalu ketemu!” “Bego! Tidak pernah ketemu!” “Bertemu!” “Tidak!” “Bertemu!” “Tidak!” “Bertemu!!!!!!!” Plak! Aku gampar.Tapi dia terus berteriak: “Perang dan damai selalu bertemu!” “Bangsat. tetapi isinya yang menantang. “Perang adalah damai. baru pulang dari sekolah. Damai adalah damai. Bahkan terlalu sunyi. Dor! Dor! Aku terpaksa menembak. . Semua langusng memalingkan muka. Perang dan damai. Perang dan damai bertentangan!” Pada seruan yang kesembilan. Ia malah tambah berkoar: “Perang dan damai dua kutub yang selalu ketemu!” “Bangsat! Tidak ketemu!” “Ketemu!” “Tidak!” “Ketemu! Ketemu! Ketemu!!!! Dor. Anak itu tumbang ke tanah. aku menarik nafas lega. Semua menanti.Tiga kali ledakan pistolku mencabik Lalu padang itu tiba-tiba terasa sunyi. dua kubu yang pantang bersatu!” “Satu kubu yang selalu ketemu!” Aku terperanjat. “Sialan. nyeletuk suara anak anak kecil tajam.

Rumput-rumput rebah diam-diam meregang untuk tegak. bersama-sama kita songsong dunia baru! Damai lewat perang adalah jurang kehancuran! Damai lewat pembunuhan adalah kebiadaban! Damai lewat kekerasan adalah kebiadaban! Damai lewat lautan darah adalah kesesatan! Damai harus tanpa senjata! Tanpa darah! Damai tanpa benci! Damai tanpa kemenangan. Perang memusnahkan segala. 27 November 2002 . Namun semua itu tertutup oleh nyanyian perdamaian yang sayup-sayup terus menggeliat di atas wajah pelajar yang telah kaku: “Damai tanpa senjata. Menghentak-hentak mengapai matahari. Bangkit segera. damai tanpa darah.” Cirendeu. bunuh perang sampai mati!” “Perang mati. berjalan menembus padang ke kaki langit. damai abadi!” “Damai abadi. perang bunuh mati! Damai abadi! Perang bunuh mati! Damai abadi! Bunuh perang sampai mati!” Perlahan-lahan padang itu kembali sunyi. damai tanpa kekerasan… dstnya. Serukan dengan keras: Perang adalah perang. damai tanpa kekerasan. Serangga yang menghilang. Damai tanpa kekalahan. damai tanpa pembunuhan . sadarlah.“Saudara-saudara. Kepalanya pecah. damai tanpa peperangan! Damai abadi. damai tanpa darah. sambil menghunus senjata. Buku-buku yang berserakan di sekitarnya seperti meratap sia-sia. Kijang-kijang yang ketakutan muncul dari balik semak-semak mencium-cium amis bau darah. Di bibirnya masih menggeliat sisa-sisa perkataan yang belum semua berhasil ia ucapkan. Semuanya memekik histeris. mulai berhamburan ke sarangnya yang sudah porak-poranda terinjak. pegang tanganku. Damai adalah damai Perang dan damai dua kutub yang tidak boleh bertemu. Damai abadi! Bunuh perang sampai mati!” Massa tak bisa lagi membendung diri. Akan aku tembah siapa saja yang berani menghalangi damai. damai abadi. Di atas mimbar tubuh pelajar kecil itu terbaring bersimbah darah. damai tanpa kekerasan. Ulurkan tanganmu. mengalir sambil memekik-mekik histeris: “Damai tanpa senjata. dunia dalam bahaya. Semua mengikuti bagaikan sebuah sungai raksasa. perang bunuh mati!” Seruan memekik-mekik memenuhi padang. damai tanpa kekejaman. damai tanpa pembunuhan. “Damai abadi. damai tanpa peperangan. Lalu aku turun.

ternyata kesepuluh kita semuanya menganut idiologi yang berbeda. Berat badanku sudah kontan melorot 100 kilogram. Perang saudara sudah meletus. Ada lagi yang mengaku tidak berwarna. Saling cacad. Maka sebaliknya dari bekerja dalam satu tim yang kompak. kasar. Rusia. kita selalu berbeda dan mau menang sendiri. kuning. tengah. Cina. gua udah muak dengan semua itu! Emang cuma elhu-elhu yang gua pikirin?!!!!” . Berunding. Ya sudah kalau memang terus bertengkar. Tetapi kemenangan hanya ada di tangan satu juara. kita akan selamanya gontokgontokan. pada prakteknya kalian terus saja mendongkel. tetapi hati belum puas. menghina. Singapura. lebih kejam dari persetruan dengan musuh sebenarnya. kanan. Sisanya berarti kalah. yang kalah tak mau menyerah. Pusing aku! Mulai sekarang terserah kalian semuanya! Kalau memang sudah berbeda dan tidak mau bertenggang rasa hidup berdampingan. Perbedaan idiologi memang tidak akan mungkin menemukan kesepakatan. Sudah banyak sekali uang habis untuk biaya siding. Makanan tidak ada yang enak lagi. juga tidak lagi menarik. Tapi kalau menang pasti hanya satu. monggo. Terserah kalian masingmasing. Pergi sana! Jangan bikin ribut lagi di sini. kita pakai untuk memukuli kepala kita sendiri. India. bitru. Arab. MARAH DAN TAK SABARAN. Mau pergi ke mana saja. kecuali kalau ada yang menang. silakan. Afghanistan. Dan kalau ada kesempatan pasti akan menerkam setiapsaat untuk merebut kemenangan itu. Akhirnya tangan tidak bisa lagi berdiam diri. kalau bisa melenyapkan sama sekali. mana ada orang yang sudi kalah. Tak cukup mengalahkam. memaki dan kemudian mengutuk. perang mulut itu ternyata tidak bisa diselesaikan hanya dengan mulut. Hari gini. Ada yang kiri. Walhasil. Kata-kata dan kalimat yang paling tajam. Ada merah. Semua juga tahu perkelahian di antara saudara bisa lebih berdarah. Sepuluh pasang tangan yang harusnya kita pakai untuk banting tulang. Raja Alengkaini jadi kehilangan kesabaran. lainnya kask-kusuk dan itu. Setelah kupikir-pikir. Kemenangan menjadi cita-cita setiap kepala. ya sudah. Karena. Dalam pemilihan umum yang konon demokratis dan fair pun. kita berpisah saja. Pokoknya semrawut. hijau. Australia. Tapi tidak ada yang jalan baik. NAMUN BERUSAHA TETAP BERBICARA DENGAN JELAS TAPI TEGAS. mencela. berbisa dan pedih sudah diobral. walau pun bukan haknya. buat apa tinggal bersama-sama dalam satu badan. IA NAMPAK SANGAT KESAL. putih ada juga yang abu-abu. Perawan-perawan tinting yang dijarah dari mancanegara dengan kecantikan melebihi Dewi Shinta. Jadi memang bikin pusing. Darah segar manusia sudah tidak manis. bahkan juga menyumpah.DASAMUKA monolog Putu Wijaya DASAMUKA SEDANG BICARA DENGAN KESEMBILAN BUAH KEPALANYA YANG LAIN YANG BERJAJAR DI MEJA. Seluruh tenaga dikerahkan untuk mengalahkan lawan. Peraturan juga sudah berhasil kita buat.Meskipun awalnya sudah ada kata sepakat akan memberikan aku yang terpilih sebagai pemimpin untuk berkuasa. berunding saja terus. Dia terus saja menyerang dengan garang. Ke Amerika. Jadi praktis tidak mampu meramp[ungkan apa-apa.

sehingga kaca-kaca jendela pecah. Biasanya subuh-subuh sudah ada yang memaki-maki dan brrkelahi. Dan kenapa begitu sepi. Aku sambut. Kenapa tiba-tiba lain. Sudah sejak puluhan tahun semua barang sudah aku pak rapih. Tinggal cabut! Lebih baik kabur sekarang daripada berubah pikiran. Sunyi yang menggigit-gigit. Apa: bukan musuh? Hanya suara angin menggasak daun jendela? Gila. (KETAWA) Hening dan sunyi sekarang menyanyi. tidak perlu mencari timing yang pas. Biar pun itu diucapkan oleh otak yang lagi senewen. MENUMPAHKAN SEMUA KEPALANYA. kebisingan yang biasa memekakkan sekarang sunyi. tapi itu keputusan yang sah. Kesempatan yang berabadabad aku tunggu-tunggu barang sekarang ini sudah terbuka. (DIMAINKAN JUGA OLEH DASAMUKA DASAMUKA BERDIRI DAN KETAWA Bagus. Mimpi apa ini. Merdeka! Detik ini juga aku minggat. semuanya sudah bisa hengkang. kenapa jadi seperti . Seperti katak yang nyemplung di danau hutan senyap dalam haiku Baso. .DASAMUKA MENGGEBRAK MEJA DAN MENENDANGNYA . aku akan bisa tidur nikmat. MEJA MENGGELIMPANG DAN KEPALA BERSERAKAN. Aku tidak perlu lagi beres-beres. Tak perlu lagi beradu argument. MELEMPAR BADANNYA DAN JATUH DALAM POSISI TIDUR. Ini kehidupan baru! Itu lihat! Semuanya meloncat ke arah yang berbeda-beda. Aku akan mendengkur sepuas-puasnya. aku tak ambil pusing. Aku akan menancap dalam mimpi perjalanan ke surga dan tidak usah digebrak-gebrak bangunbangun lagi untuk menebar kejahatan. BANGUN. TIBA-TIBA DIA TERBANGUN. Sudah pagi? Kenapa tidak ada yang membangunkan aku? Fajar tidak pernah mendahuluiku. TERKEJUT. BERJALAN-JALAN. Selamat tinggal badan yang sudah memenjarakan aku bertahun-tahun! Tidak ada yang lebih membahagiakan dari kemerdekaan. (SUARA KAPAL) Stop! (MENUTUP TELINGA) Dengung sayap nyamuk itu seperti satu skuadron helikopter. Dalam sekejap mata. Sekarang aku akan menentukan langkah dan tujuanku sendiri dengan bebas. Inilah baru kehidupan. sehingga nafas waktu yang bergeser kedengaran jelas. LANGSUNG MENDENGKUR. sejak ribuan tahun yang penuh dengan kehebohan. (SUARA LEDAKAN KERAS) DASAMUKA LANGUSNG MENGGAPAI SENJATANYA. tak usah menyusun pembelaan. Untuk pertama kali. Aku akan masuk ke dalam lelap yang dalam nikmat tanpa ujung. BERJALAN DAN TERKEJUT. Badanku rindu meresapi tidur sempurna yang sempurna. DAN BERSIAP. INI DASAMUKA YANG SUDAH DITINGGAL OLEH 9 KEPALANYA. tidak seperti dulu. Meskipun keputusan itu terdorong emosi. SALAH SATU KEPALA MENYAMBUT.

DIA MENGUMPULKANNYA DAN MEMEMANGKUNYA.gedebur musik heavy metal? DIA MENGAMAT-AMATI KEPALA SEBUAH . Nafasklu sesak! Pasti. DASAMUKA MEMEGANG KEPALANYA YANG BERDENYUT. Ini kan anggota kepalaku? MENOLEH DAN MENEMUKAN KEPALA-KEPALA YANG LAIN. Sunyi ini seperti bor enusuk ke dalam rongga dada menyerang hati. menggigit. betul. Tidak ada yang protes. memang hidup menjadi lebih tenang. DASAMUKA MENUTU TELINGANYA DAN BERGULING-GULING MENAHGAN SAKIT. aku bisa pastikan aku diserbu rongga kosong yang nyaring berdering. aku jadi ngambang. Aduh! Aku tidak kuat! Sepi lebih menyakitkan dari keributan. Jadi aku sudah tidak punya sepuluh kepala lagi? Hanya tinggal satu? Sembilan kepala dan sembilan pasang tangan smbilan pasang kaki sudah kabur?! Ya. PANIK Aduh! Telinganku ditusuki jarum! Kesepian ini liar. Kalau sendiri. Jantungku berdebar-debar. dilontar ke tempat yang asing begini. Tidak mereka sudah izin baik-baik. mereka semua melarikan diri. Ya Tuhan. Rasanya seperti disedot. Dan aku tidak peduli! BENGONG Jadi kalau begitu sekarang aku tinggal sendiri? SUARA KETAWA DI KEJAUHAN Itu mereka. Aduh ini baru sakit. tidak bisa! Aku sudah terbiasa dikepung keributan. . LALU MEMUNGGUTNYA. berbisa. Kepalaku! Batok mkepalaku kosong. Hee ini sakit apa kok sakit sekali! Berhenti!!!! Tidak. Tetapi SUARA KETAWA BERDERAI DI MKEJAUAHAN. AKHIRNYA IA MENJERIT-JERIT Stoooop! BUNYI NYARING BERHENTI. Jangan! Hentikan! Aku tidak kuat! BUNYI NYARING MEMEKAKKAN.

SEPERTI MENANGKAP MAHLUK LIAR YANG TIDAK MAU DIKUASAI. Tak ada yang menjawab. berlawanan kepentingan. tapi ayo. TAPI TIDAK BERHASIL. biar berbeda latar belakang. Gila. Jangan biarkan aku sendirian. Ayo kenapa kamu? Aku rumah kamu! Aku trah kamu! Aku asal-muasal kamu! Kembali! Bersatu lagi! Bersatu!!!!! IA MENJADI TERLALU CAPEK AKHIRNYA JATUH. aku tidak bisa begini! Aku tidak kuat! DIA BERGULING KARENA KESAKITAN. LALU MENCOBA MEMBUJUK. Tak ada yang memprotes. Ayo kembali!!! Pulangg lagi! Pulang!!! BANGUN DAN MENGUMPULKAN KEPALA-KEPALANYA. Kembalilah. berseberangan kepercayaan. biar selalu gontok-gontokan. AKHIRNYA IA PENASARAN. berbeda bahasa. KEPALA-KEPALA ITU TERLEPAS DARI GENGGAMANNYA. kalau begini caranya. Biar berbeda agama. Aku tidak mau mati! Ayo kembali. IA MENGAMBIL SAPU DAN MENCOBA MENYAPU KUMPULKAN KEPALAKEPALANYA. MENGELAk. daripada sendiri begini seperti mati dan dibuang. KEMBALI BERSERAKAN. Tidak ada yang peduli. wah. TAPI TAK BERHASIL.. Sekarang suaranya tidak ada yang mendengar. IA HANYA BISA MELIHAT KEPALA-KEPALA ITU BERSERAKAN. Aku sembah. Aku sudah terbiasa dengan kamu semua. Sudah! Sudah! Berhenti! Wah. Ayo. enakan juga punya banyak kepala! DASAMUKA KEMBALI BERUSAHA MENGUMPULKAN KEPALA-KEPALA ITU. ayolah kembali. LUPUT. KESAKITAN MEMEGANG DADANYA. Aku akan mati. DENGAN PUTUS ASA IA KEMBALI KE TEMPAT DUDUKNYA. aku mohon. lain nkebutuhan. IA MENGAMBIL KAIN DAN BERUSAHA MENANGKAP KEPALA-KEPALANYA TAPI TAK BERHASIL. Aku sendirian! Seperti keris panjang sepi menusuk menusuk jantungku perlahan-lahan. itu kan namanya romantika kehidupan. TAPI TAK SATU PUN BERHASIL IA JAMAH. Kembalilah! Biar kita semua berbeda idiologi.Edhan! Kenapa jadi begini? Kenapa jadi begini? Heee jawab! MELIHAT KE SEKELILING Biasanya kalau aku bertanya pasti kepala-kepala itu akan rebutan menyahut. wah. tiap hari ribut. LALU MEMUKUL-MUKUL KEPALANYA. TAPI TAK BERHASIL. Aku tidak kuat kesepian. berbeda suku. Lihat baru beberapa hari aku . Biar berbeda nasib. ATAU MENTAL KETIKA DIA SENTUH. biarin. Sunyi sekali.

Ayo pulang cepat! Aku sudah rindu! Aku akan mencintai perbedaan! MERAUNG-RAUNG SEPERTI TARZAN. Aku butuh pendapatmu. Ayo. Aku suka keributan. jangan tinggalkan aku sendiri. Aku perlukan suaramu. LANTAS MENARUH KURSI DI ATAS MEJA. Aku perlu pergolakan. Kembali. disumpah-sumpah. karena itu memang tugasku.sudah lemes. Aku mohon kembalii! TURUN DARI KURSI DAN MERAYAP. DAN KEMUDIAN MERAUNG SEPERTI TARZAN. protes-protes kamu. Aku ingin lagi mendengar sumpah serapahmu. Rezeki kita bagi sama-sama. Mereka tidak akan punya rasa hormat lagi terhadap kita yang mereka kagumi sebagai keajaiban. Aku suka didongkel. sama rata. banyak macan di situ. . DASAMUKA MENCOBA MENDIRIKAN MEJA. Pulang semua! Gontok-gontakan di sini di rumahmu. Bertengkarlah di sini. . pulang semuanya! Aku membutuhkan kalian. KARENA TIDAK BERHASIL. karena kita berbeda tapi dalam kesatuan. kembalilah. kalau mereka tahu aku hanya punya kepala satu sekarang. aku akan berikan kesempatan. MERAUNG. Pulang. . Aku tidak akan memerintah-merintah lagi. mereka tidak akan takut lagi. SUDAH ITU NAIK BERDIRI DI ATAS KURSI. Satu rasa. Ini hutan rimba buas.

Tapi hasilnya nol. Itu tidak mungkin. bete diganggu terus. idiologi kami berbeda. Aku sudah mengunjungi seorang ahli ilmu jiwa. Akhirnya atas inisiatipku sendiri aku putuskan datang ke dokter bedah. Tidak ada uang berarti nyawa melayang. Tidak kerja berarti tidak ada uang. resiko dan kemampuanku sendiri aku membuat keputusan. lebih baik aku putus sekarang. rajin sembahyang. Padahal aku berani bertaruh aku lebih beriman daripada dia. Aku juga sudah datang mengadukan nasibku pada seorang pintar. Setelah aku pikir-pikir lama dengan mempertimbangkan semua kemungkinan. Aku dongkol sekali. Dokter. Aku terlalu mencintai hidup ini. Kawan-kawan memberi nasehat supaya ambil cuti dan beristirahat total. MENUNJUKKAN TANGAN KANANNYA. aku minta Dokter sudi memotong tanganku ini. Jadi begini. Alam menerobos tubuhku dan menyuruh aku ketawa. tanganku selalu kesleao menulis kata babi. khusuk mengasah iman. Bingung. MEMPERLIHATKAN SELURUH TANGAN. mungkin sekali aku sedang berubah untuk menjadi gila. Lebih cepat lebih baik. Aku sudah pusing tujuh keliling. TERTAWA Orang gila biasa tertawa tanpa sebab. konyol. Aku tidak kuat lagi menerima pemberontakan tangan kananku ini. ANWAR DUDUK MENGHADAP PENON TON. tetapi dia hanya menasehati aku agar lebih. Aku yakin benar. tawakal. Ini bahaya. Memang. MENGGULUNG LENGAN BAJU KANANNYA. Sudah jelas. Atau aku perlu buka baju? . Orang lapangan seperti kita mana bisa istirahat. Daripada bosok. tanpa bermaksud untuk mengajari. SEBUAH PAPAN PUTIH ATAU LEMBARAN KERTAS YANG BIASA DIPAKAI UNTUK MEN ULISKAN CATATAN-C ATATAN KALAU ADA MEETING. Dengan segala kerendahan hati. BERHADAPAN DENGAN DOKTER UNTUK MENJELASKAN MASALAHNYA Setiap kali mau menulis namaku sendiri . Aku mau berpisah dengan tanganku ini.BABI monolog Putu Wijaya SEBUAH KURSI.

Aku serius Dokter. kanan. Saya sudah membaca. O. Aku sudah mencoba menghilangkan tapi belum bersih betul. karena itu aku datang ke mari. TERTEGUN. DOKTER PERGI. memang dia tidak akan mungkin bertindak serampangan (MENGENGUK) O ya? Dokter khawatir ini hanya sekedar pancingan. Baik. Tidak Dokter. Jangan takut. TERJADI PERGUMULAN Dokter! Cepat! (TERUS MEMEGANGI TANGAN KANANN YANG BERONTAK) Saya kira tidak ada jalan lain. Orang sakit mana mungkin rileks. saya tidak akan menyesal. Yang kiri oke. silakan saja. Karena itu saya datang ke mari. mengapa aku harus rileks. harus dipotong Dokter! (TERUS BERJUANG. kita tetap harus berpisah. Yang kanan ini yang keterlaluan. Apa? Tangan kanan ini bukan tangan kiri. ya. renungkan apa yang hendak dilakukan sebelum bertindak. Apa? Okelah. Disuruh nyebok tiap pagi sore dan malam juga tidak pernah protes. saya dengar dokter sudah memotong ribuan tangan orang. LALU MENGULURKAN TANGAN KIRINYA. Itu bukan karakterku. Dia tidak pernah membantah. AKHIRNYA . Yak! Saya paham. baik saya tidak akan beri komentar lagi. Maksudnya? BERDIRI. Kalau tidak sakit. Tapi terus-terang saja. Silakan istitrahat dulu. Saya harus berpikit sejenak.MAU MEMBUKA BAJU. Tidak suka membantah. ini hanya tattoo kecantikan bukan tanda aku pernah masuk penjara. kalau ya. DUDUK KEMBALI Seperempat jam? Baik Dokter. (MENOLEH) Faktor-faktor sampingan? Faktor sampingan apa? Memang saya belum terlalu yakin apa dia betul nekat menganut idiologi berbeda. Masak Dokter tidak percaya. Ya. TIBA-TIBA TANGAN KANAN YANG SUDAH DILUCUITI ITU MENAMPAR DAN MEMUKUL. Saya akan coba tenang. Jangan salah. Anteng. tidak ada yang sulit untuk dilakukan. buat apa ke mari. Saya tahu bagi professional dan professor seperti Dokter yang sudah banyak pengalaman. TANGAN KIRI CEPAT MEMBANTU MELINDUN GI ANWAR DENGAN MEMEGANG TANGAN KANAN . Sorry. (MENGGULUNG LENGAN BAJU KIRI) Lihat. Banyak tingkah. (MENCOPOT SEMUA HIASAN DI TANGAN KANANNYA DAN MEMINDAHKAN KE TANGAN KIRI) Aku terpaksa melepaskan semua asesoris ini. Saya akan rileks. saya setuju aku tidak boleh cepat terpancing. yang kiri ini tidak apa-apa Dokter. aku tidak terburu nafsu. Aku tidak mengerti. cari penyakit aja! (MEMPERHATIKAN DAN MERABA-RABA TANGAN KANANNYA YANG MEMAKAI BEBERPA CINCIN DAN JAM TANGAN) Apa boleh buat.

ya. Dan dia juga iri karena tangan kanan pakai jam tangan dan cincin kawin berlian? Aduh keterlaluan! Lalu dia mencoba melakukan sabotase? Ah? Jadi sementara tangan kanan saya menulis. Ajaib. sekarang bagaimana? Kita potong saja? Jangan? (MENDENGARKAN) Terus? Apa? Saya harus menulis? Menulis? Menulis apa? Di mana? O di situ? (MENUNJUK PAPAN/KERTAS YANG BIASA DISIAPKAN KALAU ADA MEETING) Menulis apa? MENDEKAT DAN MENGAMBIL CUPIDOL BESAR. lalu apa? Lalu menggosok tulisan itu menjadi. Saya tidak percaya. tangan kiri itu diam-diam menutup mata saya. saya ini yang Bos! Ngerti kagak. ya. Dokter mau memotong tangan kiri saya? Tunggu! Tunggu. . pelaksana saja. dia akan menganggap saya hanya kurang tegas. jangan salah! Yang nyeleweng yang kanan bukan yang kiri! Dokter! (TERKEJUT) Stttt? Kenapa Stttt? (TERBELALAK) Politik? Politik bagaimana? (MEMPERHATIKAN DENGAN SEKSAMA) Masak bisa begitu Dokter? Itu namanya jungkir balik. menjadi apa yang biasa yang tulis? Babi? Ya! Itu yang biasa saya tulis: babi! Kalau mau menuliskan nama saya selalu menulis: Babi! BERPIKIR DAN MULAI MARAH O jadi begitu? Kurangajar. ( TANGAN KIRI BERGERAK SEDIKIT) Hee diam lhu! Mau lagi ya?!! Oke. itu kebiasaan. tapi sebetulnya biang keroknya. Kalau tidak meludah sedikit. sebab cincin dan jam tangannya sudah saya copot. Dia kan hanya tangan. Lho. TANGAN KANAN BEBAS DAN MENGAMBIL TALI. Nggak kepikiran betul itu!. lhu! (MELUDAH) KETAWA Maaf Dokter. oke Dokter. oke. saya cuma gertak sambal Dokter. TIBA-TIBA DOKTER MEMBERANGUS TANGAN KIRI ITU. ANWAR BINGUNG. itu cukup m asuk akal. kamu!.MENGINJAKNYA DENGAN KAKI BARU TANGAN ITU DIAM) Bangsat! (MENOLEH KE DOKTER) Kenapa Dokter? Potong saja cepat! Ah? Ada sesuatu yang lain pada tangan ini? Ya memang. Itu milik saya! Ya kan tangan ini mau dipotong! Jam dan cincinnya saya pindah ke mari. Bagaimana mungkin. Rasain! (MAU MEMUKUL SEKALI LAGI TAPI DICEGAH DOKTER) Oke. Sandiwara. DIA CEPAT MENGIKATNYA LEBIH KUAT BAHKAN MENENDANG DAN MAU MENGINJAKNYA. LALU M EMUKULNYA KERAS. menjadi.Sialan juga! TANGAN KIRI BERONTAK. LALU IKUT MENGIKAT TANGAN KIRI KE KURSI. (MENUNJUKKAN TANGAN KIRINYA YANG BERISI CINCIN DAN JAM) Bahkan jadi lebih keren kalau di pakaikan di tangan kiri. biar dia punya desiplin sedikit. lho kenapa diikat Dokter? Yang jahat yang kanan! (MENOLEH DAN TERKEJUT) Ya Tuhan. kelihatannya saja tangan kanan yang salah. otaknya tangan kiri? O ya? Jadi tangan kiri merasa rendah diri karena ada tattoo.

Saya bukan buta huruf. Saya bingung Dokter. (BERPIKIR) BERJALAN-JALAN DAN MENYERET KURSI YANG MENGIMKAT TANGAN KIRINYA. kalau saja tidak ada gangguan ini. MATANYA MELOTOT. Bukan. Tunggu. Begitu kan? Saya tahu maksud Dokter. Tunggu dulu. DIA BERJUANG. Saya bisa. Untuk menenangkan pikiran saya harus jalan-jalan seidikit. oke. supaya tidak berbuntut panjang lagi. Yak! Aku sidap! Aku akan tulis sekarang. apa Dokter buta huruf? KETAWA Baik. NGEDEN DAN HAMPITR KALAH. (DENGAN GELAGAPAN MENCARI . IA MELURUSKAN KAKI UNTUK RILEKS AGAR MEMPEROLEH KETENANGAN. Saya tidak berani melihat ada kegagalan lagi. Ini tidak gampang Dokter. aku akan baca. Tapi saya tidak bisa. Saya hanya. DAN SETELAH MENJALANI PROSES GEMETAR. KELIHATAN SANGAT SULIT. Dokter. Ya saya mengerti. Aku harus menulis apa? O ya! Namaku! Oke! DIA MENDEKATI TEMPAT MENULIS. Maksud saya.. Saya tidak bisa dipaksa. AKHIRNYA IA MEMENANGKAN JUGA PERTARUNGAN ITU. Aku tahu Dokter mau meyakinkan bahwa aku bisa membaca atau tidak. Jadi setelah mengikat tangan kiri yang biasa melakukan sabotase itu. saya khawatir. Aku akan selesaikan di sini secara jantan. Jadi bagaimana Dok? (MENDENGARKAN) Aku berhasil atau tidak? Apa? Aku harus membacanya? Dokter menyuruh aku membaca. Oke. Saya tidak bisa dipaksa Dokter. IA DUDUK DAN MENGHAPUS PELUHNYA YANG BERCUCURAN. Tapi sebentar. Aku mau baca sekarang. URAT-URATNYA TEGANG. Sebentar saja. Ini negara merdeka kan? Demokrasi lagi. Biarkan saya tenang dulu. SETELAH LAMA BERJUANG AKHIRNYA DIA BERHASIL MENULISKAN NAMANYA DENGAN HURUP KAPITAL DAN BESAR DENGAN BAGUS SERTA JELAS DIBACA: ANWAR SETELAH MENULISKAN NAMAN YA YANG TAMPAK MENGHABISKAN SELURUH TENAGANYA. mana kacamataku.Menulis nama saya? Nama saya? (BERPIKIR) O. Saya sudah hampir ngambis S2. TANGAN KANAN JUGA SIAP UNTUK MENULIS.. BICARA SOPAN DAN SANGAT TENANG. Makanya diam dulu! Kasih saya waktu! BERJUANG SEPERTI MENCOBA MEMENANGKAN PERTEMPURAN YANG TERJADI DI DALAM DIRINYA. Tapi (BERPIKIR) TANGAN KIRINYA BERGERAK-GERAK. IA MEMANDANG DOKTER. Saya takut gagal lagi. LALU MENGHIRUP NAFAS PANJANG. (BERBALIK MEMANDANG KE TULISANNYA SENDIRI) Oke. Dokter akan menguji untukmembuktikan bahwa tangan kanan saya akan bisa bekerja normal kembali menuliskan namaku dengan betul. LALU MENULISKAN NAMANYA. saya mengerti. Bukan. Tunggu. SETELAH MEMEJAM MATA.

tenang. 9 Desember 1979 . Aku akan baca. Sabar. TAPI NAMPAKN YA SUKAR SEKALI. (MENGELUARKAN HP DAN MENYOROKAN KE TULISAN ITU. Oke. Sabar.KACAMATANYA. Jakarta. SETELAH KETEMU MENCOBA MEMBERSIHKANNYA LEBIH DAHULU) Tenang Dokter. aku akan baca. Boleh buka jen delanya sedikit? Oke. cukup. MENGERAHKAN SELURUH TENAGANYA UNTUK MEMBACA LALU BERTERIAK: Babi! LAMPU PADAM. (MEMASANG KACCA MATA) BERDIRI DI DEPAN TULISAN DAN MEMBACA. Tunggu Dokter! Aku perlu penerangan sedikit. TAPI NAMPAKNYA MASIH SULIT) Sabar Dokter.

Sesuatu yang masih asing karena saya mencium bau yang belum pernah saya hirup sebelumnya. karena citra saya tidak sanggup mengangkat simbol-simbol dalam bunyi itu. Saya menjerit untuk menutupi rasa pedih itu. Ia tidak lagi berada di bawah kekuasaan saya. Rasa itu tidak kelihatan. Dari seluruh dindingnya keluar tenaga yang seperti menghisap seluruh tubuh saya. tidak memiliki volume. Saya sudah memilih yang lain. Senjata terlepas dari tangan dan tubuh saya tertarik dari segala arah. kaki saya terus melangkah dan jari telunjuk saya hampir saja menarik picu senjata. Lalu saya gebrak pintu dan meloncat keluar siap menembak. waktu bangun tidur. saya bangkrut atas seluruh kehadiran saya. kulit coklat dan tulang pipi menonjol.RASA monolog Putu Wijaya Pada suatu pagi saya terbangun dan tidak lagi merasa diri saya orang Asia. Ruang itu lebih dahsyat dari yang sebelumnya. Pintu yang menghantarkan saya keluar tetapi sekaligus ke dalam ruang yang lain. Pakaian saya tercabik sampai saya telanjang bulat. Kemudian bulu-bulu badan saya tercabut dari tubuh. seperti bumerang. hidung. tapi saya sudah terkontaminasi. Bukan main sakitnya. Tetapi baru saya coba menjajaki. Tapi kemudian jari-jari tangan. ternyata masih ada yang tersisa. tetapi ia selalu kembali. saya mengalami erosi dan abrasi. Saya adalah sebuah pasar hidup dari produk teknologi dan industri alam pikiran liberal dengan semangat individualisme yang membuat saya benci kepada keluarga dan semangat gotongroyong dalam masyarakat. saya sampai ke pintu yang lain. kebenaran. Rasa itu bisa tercerabut dan mengalir ke mana saja menerobos jarak. Dengan ragu-ragu saya keluar dari kamar sambil membawa senjata. Sebagai sebuah disket yang salah format. tidak berwarna. kesetaraan dan kemanusiaan yang diagungkan di seluruh dunia. Terseret oleh kekuatan yang di luar kekuasaan saya. Di dalam kamar saya tertindih oleh pikiran-pikiran tentang kemerdekaan. waktu dan segala hukum. Saya terpesona. . lengan. Saya sudah menjadi sesuatu yang baru dan sekaligus juga virus. Bukan yang biasa saya kenal. keadilan. tetapi kadang terasa sangat bertentangan dengan cita-cita adat dan tradisi Asia. Saya bertahan. Atmosfirnya begitu menggoda. Pintu yang perlahan-lahan terbuka ketika tubuh saya mencoba menerobosnya. karena masa depan tidak semestinya hanya ditentukan oleh masa lalu. Walau saya tekadkan untuk berhenti beberapa saat. oleh saudara-saudara bahkan oleh anak-istri yang tak kenal karenanya tak bisa menerima kehadiran saya lagi. Perasaan saya. Lebih menyerang dan lebih merangsang. telinga. kaki. Saraf-saraf dan kelenjar gairat saya terangsang. karena saya mengkonsumsi dan dihiasi dengan asesoris yang tak lagi berasal dari lingkungan alam sendiri. karena saya tetap harus membela diri kalau diserang oleh lingkungan. Sekarang saya bukan lagi hanya kehilangan identitas Asia. Tetapi satu hal yang menakjubkan. tepat ke arah kepala saya sendiri. Hidup adalah sebuah peperangan dan itu mungkin dimulai dari depan pintu. seluruh bagian tubuh saya tercabut dan ditelan dinding ruang yang buas itu. Mata dan rambut saya masih hitam. tubuh saya berontak. tetapi seluruh pembaruan yang terjadi. tiba-tiba saya ingin bersatu tubuh dengannya. Untuk itu saya masih memiliki hak untuk melawan dan akan saya pergunakan. Tetapi di depan pintu ternyata terbentang ruang yang lain. Nama saya menjadi beban. Bentuk saya pun sudah lain.

Saya berbalik dan bergegas hendak kembali. tapi saya sudah dalam pikiran orang lain. berjuta-juta bahkan milyardan pintu menunggu di depan dalam era globalisasi. bukan idiologi. aku selalu berdiri di belakangmu. Hari ini dengan seluruh rasa itulah kita bertemu. tetapi sebuah konsep sebagaimana juga Afrika. bukan teritorial. Aku bukan bangsa. tepatnya di belakang saya.Dengan rasa itulah saya menyaksikan ratusan. Mata sipit dan kulit sawo matang. Australia dan Antartika. Pulang dan bertahan adalah jalan terakhir yang terbaik. kata Asia yang tibatiba masuk ke lubuk hati. Eropa. Jakarta 2004 . karena saya lahir di Bali dari keluarga Bali. topeng siapa pun yang kamu mainkan. tetapi apakah saya Bali? Wajah saya bulat. Saya takjub lalu yakin bahwa saya sedang memasuki alam pikiran orang lain. Entah tapa yang akan terjadi. Lalu saya peluk rasa yang sekarang menjadi nyawa saya. bukan hanya kekuatan moral dan politik. bisiknya. Tetapi begitu berbalik. tulang pipi menonjol. hidung pesek. Berhakkah saya menyebut diri saya Indonesia? Apakah saya sudah menjadi orang asing setelah saya tidak lagi memakai kain sarung. aku tetap di belakangmu. Amerika. Di depan saya. ribuan. sepatu kets dan referensi berpikir Barat? Sekali kamu lahir sebagai orang Asia. bukan agama. Apa pun yang kamu lakukan. saya kembali terpesona. tetapi jean. bukan ras. Apa pun yang kamu lakukan. bukan paham. Ini kekalahan terbesar Asia yang tak boleh lagi diulangi. Tapi saya percaya setiap rasa akan tetap rasa dan akan menjadi lebih rasa karena pertemuan ini. Saya orang Indonesia. berdiri Asia. Asia adalah sebuah fenomena rasa. kamu sudah terkutuk sebagai Asia. Saya sudah tersesat ke dalam rencana orang lain.

Sudah digulung lagi. SEMUA ORANG-ORANG MEJAUH. Tabir yang tadinya sudah dibuka sekarang dibatalkan. Aku tidak mati. ADA SUARA TANGISAN PILU DARI SATU ORANG KEMUDIAN BEBERAPA ORANG. Ini sungguh-sungguh. Aku juga lapar sekarang. Diracik jadi drama GERR dimainkan di TIM pada tahun yang sama. MULA-MULA TANGANNYA. SEHINGGA KELIHATAN YANG MATI DIBUNGKUS KAIN KAFAN DI DALAMNYA. TETAPI HANYA RANGKANYA. Sekarang aku dikembalikan kepada kalian lagi. Diperlukan waktu supaya kalian percaya keajaiban ini. Kasih aku pakaian biasa. Ini bukan mimpi. Jangan. jangan kain kafan begini. Aku masih diberikan kesempatan hidup. TERDENGAR SUARA TANGIS ANAK-ANAK. BARU NGEH IA SUDAH DIPERSIAPKAN UNTUK DIKUBUR. TIBA-TIBA DIA DUDUK MASIH DALAM PETI :LALU MELIHAT KE SEKITANYA DENGAN TAKJUB. Panas. Barangkali aku belum waktunya menghadap Dia. MENGHAMPIRI SATU ORANG. Aku tidak jadi mati. Aku dikembalikan pada kalian. Tidak. Jkt 18 Maret 2010) SEBUAH PETI MATI. BIMA. . MAYAT ITU BERGERAK PERLAHAN-LAHAN SEPERTI ORANG BANGUN TIDUR. 15 Agustus 1980. KEMUDIAN ORANG MENYANYIKAN TEMBANG DUKA. Kalian dengar? MEMANDANG KE SEMUA ORANG. Lihat (MENUNJUKKAN TANGANNYA) Lihat tanganku gemetar karena lapar. YANG MATI ITU TERKEJUT. Aku tahu. TIDAK ADA YANG MENJAWAB. Darahku sudah berjalan lagi.TOLONG monolog Putu Wijaya (Monolog ini berawal dari sebuah cerpen berjudul TOLONG. KEMUDIAN KEPALANYA MUNCUL MENDENGARKAN LAGU ITU. LAGU BERHENTI. Kalian tidak percaya? KELUAR DARI PETI. Tolong dibawakan di beberapa kampus di Amerika. Aku memang diberikan kesempatan hidup lagi. LALU BANYAK ORANG.

aku juga. Kau lihat ada cahaya kehidupan. Jantungku berdetak. tapi mungkin kalian sudah tahu juga. Ya. Kembali kepada kalian seperti sebelumnya. Ada orang muda yang marah-marah karena kena serempet. KEMBALI KE DEKAT PETI DAN DUDUK DI KERANGKA PETI. Tubuh dan jiwaku masih satu. Aku bapak anak-anak. terlalu sulit buat kalian. ini rahasia. Aku dipulangkan lagi. Maksudku dia merasa sudah tidak bisa lagi mendampingiku sebagai teman hidup. Pak! Aku Bima Isah. Betul! Sungguh mati! Apa? Buktinya? BINGUNG. Aku bukan hantu. Sama dengan kalian semuanya. Dia memukulku. Jangan takut! Aku bukan roh gentayangan. MENGHADAP KE TEMPAT LAIN. Lihat darahku sudah mengalir lagi. TAPI YANG MENYAKSIKAN PINGSAN) TERKEJUT. Masalahnya aku ada persoalan. Jadi tidak usah menangis lagi. Aku masih segar bugar. kami memang sudah merencanakan akan bercerai. Lalu semua itu terjadi. anak muda itu kabur. (MENOLEH) Tidak. Apa salahku kena pukul di depan kamu Isah. sampai waktu yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Maksudku dia. Dengan kesal aku lanjutkan perjalanan. Betul. Ini bapakmu. kita baru turun dari gunung setelah mencoba liburan bersama berdua saja. Ya Mas. BERGERAK. Pikiran dan perasaanku masih utuh. Lebih baik cepat ambil makanan. IA MEMBEBASKAN DIRINYA DARI KAIN KAFAN YANG MEMBUNGKUS. apa yang terjadi tiga hari yang lalu. Aku tidak bisa lagi menahan perasaan. Aku ingat. apa yang Dia Kehendaki terjadi. Aku Bima Nek Aku Bima Bu. Ya. Aku masih normal. Jangan takut. Dan aku lapar. Untuk selama-lamanya..Percayalah! SENYUM. Dia Yang Di Sana yang mengatur. Ya aku selalu meledak-ledak kalau sudah marah. Aku hidup lagi. Aku tidak terima. Tapi belum sempat berbuat apa-apa. Ini terlalu panjang ceritanya. aku lapar. (MENGANGUK-ANGGUK) Nggak tahu! Ini tanda KebesaranNya. meskipun persoalannya sepele. Aku Bima. ORANG-ORANG KETAKUTAN. sampai aku kaget. Aku dan Isah sudah tidak cocok lagi. Aku tidak jadi mati. Kenapa aku terus jadi sasaran? Aku meledak. Aku bersama kamu Isah. Tiba-tiba ada lagi anak kecil begitu saja nyebrang jalan. Apa? (MENDENGARKAN) Ya. . Baik aku mengerti. Aku sadar seratus persen dan waras. Ya. aku bukan bayangan roh! Tidak ada yang mencoba meninggalkan badanku. Coba tatap mataku. (MENARIK NAFAS PANJANG DAN TERTAWA KECIL PEDIH TAPI BAHAGIA. Betul. Apa salahku anak itu nyebrang sampai tanganku patah dan semangatku terbang karena kaget. Ya.

Bu. Betul Nek. Aku tahu aku dilarikan ke Rumah Sakit. Meskipun dokter bilang sudah mati. suamimu sepukul dua pukul bisa cari nafkah. Bukan cuma saya yang bisa hidup setelah mati. Apa kamu menangis karena malu kalau tidak menangis. Terutama buat aku yang akan ditinggal. jadi panggilanNya ditunda dulu sementara. Jadi bercerai itu jalan keluar kalau sudah mentok. kalau tidak ada gunanya. Ya. Tapi untuk apa perceraian dibenarkan. MELIHAT KE ISAH. siapa bisa menghalangi. Meskipun ditutup-tutupi. Tiap hari perang mulut. Tapi ngomong memang enak. anak dan tetangga akhirnya akan tahu. Jangan menangis lagi! Nanti kita nonton sirkus lagi seperti dulu. Waktu itulah jantungku berhenti. tapi kamu tidak dapat apa-apa. Termasuk kamu juga Isah. Tiga hari tiga malam aku dengar semuanya menangis. Saya hidup kembali. Banyak kejadian. Jadi setiap ada kesempatan marah aku meledak. Beli ketoprak (MENOLEH) KEPADA SEMUA . MELIHAT KE BAPAKNYA Ya tak usah kaget. Pak. apa harus dibagi? Apa perasaan bisa dibagi? Yang paling gampang adalah marah. Aku tahu bercerai itu tidak baik. melaksanakannya sulit. Sekarang jantungku sudah berdetak lagi. Betul sekali. atau baru nyahok sebenarnya jelek-jelek aku ini suamimu dan kamu masih sayang. Mungkin kamu menangis karena sekarang baru kebayang bagaimana susahnya nanti menghidupi tiga orang anak tanpa suami. Ya akan? MELIHAT KE IBUNYA. Bapak pulang anak-anak. kalau Yang Di Atas situ punya rencana lain. Aku dikirim lagi pulang untuk merawat anak-anak. KEPADA NENEK. Buat apa lagi hidup bersama kalau setiap hari tidak cocok. Aku yakin semuanya sudah berusaha menyelamatkan. Jelek-jelek begini. Rumah hanya BTN. Mungkin masih ada yang harus saya selesaikan. Tapi kemudian dokter menetapkan aku sudah mati. Kamu menangis mungkin karena merasa rugi tujuh tahun melayani aku dan melahirkan tiga orang anak. mobil bekas dan tabungan tipis.MENAHAN PERASAAN. Ya? Begitu? KETAWA PEDIH Mungkin tidak. Atau mungkin sudah tahu. Tidak bernafas lagi berarti memang mati. Bagaimana nanti mereka. Terus-terang perasaanku kacau Isah mikirin anak-anak yang masih kecil.

boleh ambil. ISTRINYA MENGHAMPIRI. Pak Rw. DIA BERDIRI TAPI KARENA KESAKITAN TERSANDUNG DAN JATUH KELUAR DARI PETI. KETIKA DIA MAU BERDIRI. Apa yang sudah kamu bisikkan kepada mereka. Tolong berikan saya makan sekarang. Aku mau pulang sekarang! Isah! Isah! MEMEGANG TANGAN ISAH. Aku sudah tahu. TIBA-TIBA DIA MEMELUK SALAH SATU ANAKNYA. . Lho kalian kok diam saja semua? Kenapa kalian? Saya lapar! Saya sakit! Saya minta minum! Airrrr! Bapak! Apa? MENCOBA BANGUN. Aku! Tidak. ANAK-ANAKLNYA BERONTAK. Tidak perlu kamu ceritakan. mereka sudah berani melempar aku dengan batu. sebab aku belum siap! Ya! Aku mengerti! Aku tidak tolol! Terlalu banyak perbedaan! Tidak ada yang harus dipikirkan lagi. Aku! Aku akan merelakan. MENGGIGIT. Saya haus! Lapar! Tolong airnya! TAK ADA YANG MENOLONG. Tidak! Tidak bisa! Mereka bukan milik kamu sendiri.Maaf saya sudah menyusahkan Pak Rt. Nanti saya bisa ikut ronda. ambil mereka semua. Terimalah saya kembali aktif sebagai warga. Mengganggu bagaimana? Siapa yang mengganggu? Aku lapar! Tidak ada yang harus dimaafkan. BIMA TERTEGUN. ANAK-ANAK YANG LAIN MENARIK SAUDARANYA DAN MELEMPARI. Aku ini bapaknya. (MEMEGANG PERUT) Maaf saya lapar. Jelek-jelek begini aku bapaknya.? Pergi ke mana? Ini rumah saya! Bapak ngusir saya? Kenapa? (TERKEJUT) Ibu! IBUNYA PINSAN. Pergi dengan tenang! Tunggu! Pergi ke mana? Aku tidak pergi ke mana-mana. (MENAHAN SAKIT) Aduh. Aku tidak perlu informasi. MEMEGANG ANAK-ANAKNYA. tapi jangan ajari mereka melempari aku batu. MENAHAN RASA SAKIT SAMPAI TERJATUH KEMBALI KE DALAM PETI. Perut saya melilit karena kosong. Memang! Kalau memang itu mau kamu. mereka separuhnya milik bapaknya. DIA TERKEJUT DAN MELIHAT SEMUANYA. aku belum mati. Baru tiga hari. Agus! Eko! Ratih! Ini Bapak! Ini Bapak. Aku yang dulu mencuci popoknya! Ya! Aku akan pergi. Tidak usah minta maaf! Lho Bapak kok menyuruh saya pergi. Isah? Kenapa anak-anak itu tidak kenal aku lagi. Tapi kasih aku waktu. SAMBIL MEMEGANG PERUTNYA DIA MENCOBA BERDIRI. para tetangga sekalian. DIA BERUSAHA BERDIRI.

TAPI KEMUDIAN IBUNYA DATANG. Cinta tulus. BIMA MAU MENGEJAR TAPI DICEGAH OLEH PACAR ISAH. Aku tidak mati Ibu. DIA MENATAP KOKO DENGAN MATA MENYALA. nggak usah ngomong. Kenapa mereka lebih percaya kepada Koko? Apa salahku? Apa kekuranganku? Aku kan selalu baik dan menlong mereka. Terserah! Itu bukan urusanku! Kalau kamu betul-betul cinta sama dia. terus kami tinggalkan. KEDUANYA SALING MENATAP. SEMAKIN MARAH. Kenapa orang-prang itu tidak percaya. Koko! (SANGAT MARAH) Jangan panggil aku Mas! Tidak perlu minta maaf! Tidak ada yang harus dimaafkan! Nggak usah! Tidak perlu bersumpah apa-apa di depanku. kamu tiduri dia tidap malam. Dalam tujuh tahun apa kamu bisa lebih membahagiakan dia dari aku. O ya aku pasti! Pasti!! Aku akan pergi tanpa kamu minta. Itu urusan kalian. terserah.. MENGHAMBURHAMBURKAN ISI PETI. kamu pelet. MEMUKUL-MUKUL PETI. Apa mereka semua sudah dibeli oleh Koko bajingan itu? Tidak? Lalu kenapa? Apa? Aku akan tuntut semua ini. Aku. aku terhina sebagai laki-laki kalau sampai anak-anakku makan tahi tangan kamu. kamu cinta. aku hanya mempertahankan kehormatanku sebagai suami yang kau hina. Itu masih darahku. Maaf? Maaf telek! Pergiiiii! MENGAMBIL BATU DAN HENDAK MELEMPAR. BIMA MELUDAH. Kamu salah sangka. LALU LARI. ISAH MENYENTAKKAN TANGAN BIMA. Kalian semua terlalu! Kalian sudah preteli sebelum aku betul-betul masuk kubur! Kalian tidak . tai kucing. BIMA TERKEJUT. Aku tidak jadi mati. aku akan seret dia ke pengadilan! BIMA TERCENGANG. HATINYA LULUH. Apa? Rumahku sudah dijual? Mobil juga sudah ditukar supaya semua lupa sama aku? Uang simpanan sudah dibagikan? Anak-anak mau dibawa pindah ke rumah si Koko? Cukup! Diammmmmm! Bangsat! MASUK KE DALAM PETI DAN MENGOBRAK_ABRIK PETI. Aku tidak ingin mempertahankan apa yang ingin kamu miliki. Aku akan jadi saksi bagaimana kamu menipu keluargaku! Bajingan! MENDEKAT. Tapi bukan ke neraka. DIA TIDAK JADI MENGEJAR ISAH. Tidak perlu! Itu bukan anak kamu. Dengerin. buktikan. kamu goda dia. Aku masih hidup. Ibu.. Bersumpah di depan Isah saja.Aku belum selesai bicara. Pergi anjinggg! TAPI KOKO TIDAK PERGI.

DIA MELONCAT DAN LARI KELUAR. 1980 . Aku mau rebut kembali semua! Istriku! Anakku! Tabunganku! Mobilku! Rumahku! Hak-hakku! Semua! Mana!!!! MELEMPARKAN PETI KEPADA SEMUA ORANG. TAPI BEBERAPA SAAT KEMUDIAN TIBA-TIBA TERDENGAR TERIAKAN LANTANG DAN KERAS. SEMUA TERUS MEMUKULI. SEMUANYA MALAH MENDEKAT. Tolong! Tolongg! Tolonggggg!. BIMA TERUS BERLARI. DENGAN SENJATA-SENJATA MEREKA MENGEPUNG. TAPI KEMUDIAN TIBA-TIBA BIMA BERLARI LAGI MASUK. MUNDUR. TERDENGAR TERIAKAN BIMA DI LUAR. Tolong! Tolong! Tolonggggg! AKHIRNYA BIMA SEMPAT MELEPASKAN DIRI. BIMA MENCOBA BERLINDUNG DI DALAM PETI. Minggir! Minggir! MENGANGKAT PETI SEKALI LAGI. DAN AKHIRNYA JATUH. ORANG_ORANG TERUS MEMBURUNYA. SMEUA MENGEJAR. Tolongggggggggggg! Jakarta 15 Agustus. BIMA MUNDUR. DAN HILANG. KARENA ORANG-ORANG ITU TIDAK TAKUT.bisa sabar sedikit menunggu perasaan-perasaanku lenyap dari sini. Kalian rendah semua! Tidak! Aku tidak terima! MENGANGKAT PETI. ORANG-ORANG MEMUKULI BIMA. TOLONG! Tolong! Tolonggg!!!!! TERIAKAN BIMA MAKIN SAYUP.MAKIN SAYUP. Tolong! Tolong! Tolonggggggg! BIMA MENCOBA MELAWAn TAPI DIA TERIS DIGEBUKI. Tolong! Tolong! Tolong!!!!!! TERIAKAN BIMA MAKIN SAYUP. TAPI KEMUDIAnN DIA TERKEJUT.

Tapi sabuk apa? Kalau kata punya. semahal-mahal harganya. semua kelihatan jelek. Sebab sebagus-bagus pilihanku. sudah lama aku jadi caleg. Memang bener aku pernah berniat untuk pakai jalan belakang. karena kamu memilihku. bagaimana kalau uang ini saja yang aku serahkan. dari yang biasa sampai yang teraneh. Tidak tahu apa yang harus dibeli. Atau meraup duit jadi markus. Tidak mau keliru. apa hadiah yang tepat. pilihan itu belum juga kunjung tiba. akhirnya hadiah akan mubazir. Jadi terimalah amplop ini. aku bersaing dengan puluhan leaki-laki yang memiliki begitu banyak kelebihan. tapi sampai menjelang malam. mereka minta Mercy Sport. Sejak pertokoan dibuka. tapi terlalu banyak pilihan juga tambah ruwet. Aku jadi terjepit. Tidak punya trah. Aku orang kecil dari dusun yang terlalu biasa. tidak punya warisan. rasakan saja niat baik di dalamnya. Tidak ada pilihan sudah susah. jadi kaget. Mereka menuduh aku sudah main pelet. Jadi. Ketika memikat kamu untuk jadi pacar. Kepalaku dijual juga tidak cukup untuk beli peleknya. Kamu yang membuat aku jadi menang. Jangan isinya yang dilihat. aku pergi ke toko swalayan yang terbesar. mungkin itu semua sudah tertulis di dalam skenario bahwa tak ada hadiah yang cukup bagus. Kamu yang membuat tanganku yang . Tapi modalnya darimana? Dukundukun sekarang mahal. kamu bisa memilih hadiah apa saja yang paling kamu inginkan. Tidak punya kans. lebih bagus dari niat yang tulus yang ada di dalam hati. Jadi aku tidak jadi membeli apa-apa. tanpa harta lewat jasa dukun. aku sudah masuk. Karena semua barang-barang yang dipajang di situ dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Aku bersaing dengan tangan kosong. Kartuku kartu mati. penghargaanku kepadamu. tidak ada pekerjaan. Semua barang kelihatannya bagus. Tak mungkinlah. Takut salah. Tampangku juga mirip salah satu anak Semar. Dengan uang ini. Bersaing bebas mestinya aku pasti akan kalah total. kenyang dan puas. Bagaimana merebut kamu tanpa rupa. Amplop ini mewakili seluruh rasa hormatku. Mereka semua terpukau. tidak ada yang sanggup untuk mewakili perasaan yang ingin aku tumpahkan dengan hadiah itu. Uang di dalam kantong aku bawa pulang kembali tanpa kurang sekepeng pun. tanpa masa depan dan tidak ada yang bisa dibanggakan. Ada yang menduga aku punya sabuk. Tapi setelah makan sangat enak.HADIAH PERNIKAHAN PERAK monolog Putu Wijaya Untuk merayakan ulang tahun pernikahan perak. Tapi begitu mau dibeli. Karena takut menyesal. Hasrat ingin membeli sesuatu untuk dihadiahkan pada istri. Di atas kertas aku tidak punya nomor antrean. Lalu aku memutuskan. sehingga puluhan sainganku itu yang tadinya tidak melihatku dengan sebelah mata. Tetapi aku menjadi istimewa. tidak usah dihitung. aku belum berhasil memilih. Mungkin tidak harus membeli apa-apa. aku menenangkan pikiranku dengan makan enak. aku bingung. kalau kamu yang menerima hadiah tidak cocok. Tapi begitu masuk dengan mengantongi seluruh tabungan selama 10 tahun yang siap dibelanjakan. Heran kenapa mereka kalah dan takjub kenapa aku yang berhasil menggondol kamu.

Bahkan kalau aku sampai kelu langkah. Apa pun yang kamu lakukan aku hargai. Keceriaan kamu itu membuat aku sebagai laki-laki tidak tertekan. Matamu yang terus memandang ke depan tidak berkedip tiba-tiba menembus tirai hitam itu. Ya Tuhan! Tiba-tiba saja kita mendapat karunia. karena sama sekali tidak berdaya. Sejak melahirkan.kosong itu jadi berisi. lalu jadi mahasiswi seperti sekarang. Kamu terima aku dengan seluruh kekuranganku. Kreativitas. kamulah yang kemudian membuat mereka kagum. Tapi setelah menjadi istriku. menemaniku. Tidak punya tabungan. menyayangimu selama-lamanya. sebab aku bukan laki-laki sejati. kamu hanya senyum. aku akan menerima. Tak sekali pun kamu pernah membandingkan aku dengan laki-laki lain. Aku heran. kenapa kamu sama sekali seperti tidak mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Nolten itu. Ada orang baru setahun menikah. Lama kita tidak punya anak. sampai membesarkan anak. Tidak besar. Aku hanya ingin agar kamu tersenyum. Dan ketika keluargaku juga ikut main gerpol kasak-kasuk kamu mandul sambil mencarikan aku jodoh baru. Cinta barangkali yang sudah membuat kekosonganku menjadi berarti. mendampingiku sebagai istri. aku tak sanggup membahagiakan kamu. silakan. Kamu tak peduli. Aku memikul hutang budi yang tidak terkira. Hidup kita begitu sederhana. yang memberikan rasa sedap. Tapi kita. Begitu besar. Kita dipercaya untuk memiliki momongan yang nanti pada tanggal 20 April berulang tahun ke-14. menemaniku sebagaimana mestinya. Ada. Itu membuatku semakin hormat kepadamu. akan mencintai. Melayang-layang di udara. Tanpa kamu . Tempat laki-laki yang konyol seperti aku punya tujuan. Kamu seperti garam dalam masakan. Kamu terus saja melangkah di sampingku. membantuku. sepuluh tahun. Bahkan ketika ada yang mau meminjam rahimmu untuk mengandungkan anaknya. Tak ada kendaraan. Terombang-ambing dan akhirnya akan dicaplok setan karena tak punya pegangan. kamu juga tetap ketawa. Puluhan tahun kita tinggal di rumah tua ini. Lelahku hilang. Makan saja selalu dikerubuti dengan rasa cemas setiap hari. kita dapat saja uang. Aku berjanji di dalam hati. tapi tidak diuber-uber oleh penagih hutang. sudah cerai. Kamu bikin kosongku jadi berisi. dan mempersilakan kamu ingin berbuat apa saja. karena belum punya keturunan. untuk menghadapi semua tantangan dengan sabar. meladeniku. aku akan terus kosong. karena tanpa punya apa-apa aku berhasil menggaetmu. Kamulah bukan aku. Tidak ada. Aku hanya laki-laki yang dibuat sejati oleh istri. pendeknya menjadi teman hidupku. kalau sudah sampai di rumah karena melihat kamu senyum. dengan tetap hati kamu membantu. Keluargamu menyindirnyindir kapan. Itu yang namanya seni. bahagia dan lengkap. Kamu berikan aku dorongan. kamu senyum. Mereka saling tuduh. kita lakoni semuanya. Kamu selalu tabah. indah. Kamu punya hak untuk tidak peduli kepadaku. Tapi kita tidak pernah hutang. seperti yang terjadi di manacanegara sana. Perasaanku tidak penting. Aku berserah kepadamu. Apalagi setelah kita punya anak. Isi yang kau tumpahkan untuk memenuhi kekosonganku begitu besar. Itulah yang sudah membuat aku hormat kepadamu. Seorang istri adalah tempat berpegang. Merawatku. kamu sama sekali tidak tertarik malah memberikan komentar bahwa kamu masih punya iman. Kamu punya hak untuk meninggalkan aku. Matamu terus hanya melihat ke depan dengan tabah. Tanpa kamu. kamu tenang saja. bisa makan atau tidak. kapan. Entah bagaimana jalannya. Aku menangis waktu itu. Dokter kemudian menetapkan akulah yang mandul.

Sementara itu. istriku. Kamu tidak membantah. Itulah hadiahku. Akan menjadi kesalahan dan dosa berikutnya. sayang. bersembunyi di balik kata-kata. Biarlah aku tetap berhutang budi. Dengan tangan gemetar kubuka amplop itu. mungkin sekali ada baiknya. karena kamu mengerti segala-galanya. Jakarta 7 April 2010 . Karena kamu tahu. Kamu perempuan sejati. menilai. apalagi mencoba menyeimbangkan. Kamu tahu. Isinya amplop yang lain. Jadi. Apalagi kalau mau dikecilkan artinya dengan amplop yang sangat materiliastis ini. bersilat lidah. aku tidak jadi memberikan kepadamu. Tanpa kamu aku akan dipermainkan gelombang. Tapi akibatnya bunuh diri. Aku hanya akan bisa merasakannya dan tidak mungkin membalasnyadengan seimbang. amplop itu kelihatannya saja besar. Maka lebih baik. Jasamu yang tak ternilai itu. Lebih terharu lagi perasaanku sekarang. karena uangnya sudah kandas ketika lewat di depan bandar judi gelap. kalau aku mencoba untuk melunasi hutang budi pada istri. penuh dan berat.aku akan jadi laki-laki yang bimbang. Hari ini aku ingin sekali berterimakasih. uang di dalam amplop ini pun tidak cukup. kalau suka bertindak tanpa konsultasi. aku tidak perlu mengukur. untuk membeli. Kamu adalah sebuah jangkar yang membuat kapal tak hanyur dalam gelombang. Maksudku jalan pintas mau melipatkan duit membalas jasa istri. Bahkan yang belum aku lakukan pun sudah kamu pahami. kalau toh kado terimakasih yang bobot nya setara dengan jasamu itu benar-benar ada. istriku Kamu tersenyum. amplop yang lain. memang tidak mungkin dibalas. Tapi tak ada benda yang dijual di pasar swalayan yang cukup untuk mewakili perasaanku itu. Itulah resikonya. Pemberianmu yang tak ternilai itu memang barangkali kodratnya untuk diterima orang yang lemah seperti suamimu ini. aku hanya bisa ngomong. amplop yang lain. tetapi sebenarnya isinya sudah tak ada. berterimakasih dan terus terikat kepadamu.

karena saya merasa Bapak ini tidak bisa memimpin. Bapak menghadapi semuanya dengan kepura-puraan. Bagaimana Bapak akan memimpin. Bapak tak memiliki prinsip. Tapi sebetulnya Bapak selalu mengikuti tekanan-tekanan dari orang yang berpengaruh.RAJA monolog Putu Wijaya BEL TANDA KANTOR MULAI AKTIF BERBUNYI SEORANG PEGAWAI MUNCUL DENGAN PAKAIAN KANTOR LENGKAP DENGAN TASNYA. Bapak tidak bisa memutuskan sesuatu. Kalau keberanian berarti kesanggupan untuk melaksanakan apa yang digagas. bisa berpura-pura menyokong Bapak. Semuanya tergantung pada perasaan Bapak saja. Penempatan manusia di dalam kantor ini tidak lagi berdasarkan prestasi. . Siapa di antara kami yang bisa memuji . Ini namanya tidak punya karakter. maupun terhadap orang lain. kalau Bapak sendiri tak sanggup mengatasi persoalan-persoalan Bapak sendiri ? Seringkali persoalan rumah-tangga Bapak masuk menjadi persoalan kita semua. Karena itu aku berangkat menemui majikanku untuk menyampaikan langsung. Baik terhadap wanita. pasti akan mendapat tempat yang aman. "Pak terus-erang saya tidak suka kepada Bapak. Ada yang sudah sempat Bapak putuskan. Aku sudah terengah-engah. sehingga menjadi mentah. Kelihatannya memang Bapak yang menjadi pemimpin kami di sini. Tetapi meskipun dadaku masih sesak. Dan kalau Bapak sudah tak punya karakter boleh disimpulkan bahwa segala keputusan Bapak juga tidak memiliki kharisma lagi. Semuanya Bapak gantung sehingga terkatung-katung. Ini amat berbahaya sebab Bapak memimpin kami semua". "Bapak juga sangat lemah. dalam berondongan yang pertama itu. maka tindakan nyata menjadi amat penting. Tak memiliki rencana. orang yang bapak takuti ". "Bapak juga penuh dengan hipokrisi. tetapi berdasarkan rasa persahabatan pribadi. Kelemahan Bapak dimanfaatkan oleh orang-orang yang pintar menjilat. tanpa memberikan kesempatan bicara. tetapi esoknya cepat dilanggar lagi. DIA MELIHAT KE JAM TANGANNYA LALU BERCERITA PADA PENONTON. Pertama. aku tancap lagi. Ini admnistrasi yang tidak sehat dan boleh dikatakan konyol". bahwa aku tidak menyukai dia . menyenangkan. Saya punya alasan mengapa saya tidak suka.

Bapak boleh tendang saya sekarang. diperas sampai mati. karena itu Bapak tidak pernah mendapat input yang sebetulnya. Siapa yang paling punya potensi membawa perusahaan ini ke puncak. Banyak di kantor ini yang bisa memimpin. Banyak yang lain masuk padahal goblok-goblok. Jelas ini tidak adil !" "Coba lihat. Kini ia benar-benar seperti terbakar. Aku menarik nafas panjang. Aku tak mau menahan-nahan. Setengah unek-unekku sudah tumpah. "Banyak pegawai-pegawai kelas satu. ini kurang-ajar. Dedikasi kami luar biasa. tetapi kepada seluruh keluarga kami yang ikut tersia-sia oleh ulah Bapak". Direktur itu tercengang. Sebaliknya Bapak selalu memberi kesempatan orang-orang yang bodoh untuk menjabati jabatan penting. terus-terang saja. Relakan saja. Bagi Bapak. karena meereka tidak bisa menjilat. tetapi aku tak memberinyta kesempatan. tidak pernah mendapat promosi. ia sudah pucat-pasi. bahwa Bapak akan berhasil. Atau barangkali karena Bapak takut mempromosikan mereka. . Hanya karena mereka kaku. yang tidak peduli semua itu. Di kantor ini yang kerja betul. karena kami sudah tertipu untuk berkorban-berkorban terus. Mereka semua hanya tersenyum dan memuji. Bapak boleh pecat saya sekarang. Ini juga sebagian dosa. Kadangkala ia ingin menjawab. Bapak sudah menyebabkan kami semua menyia-nyiakan hidup kami selama ini. Mereka telah memasang filter di seluruh kantor ini. sedangkan yang enak-enak. kalau Bapak mau mencova mengakui. Saya siap. Bapak yang tidak tepat memimpin kami". Tetapi masih ada setengahnya lagi yang harus segera dikeluarkan. Bapak hanya memikirkan urusan Bapak sendiri. tetapi jalan mereka buntu. Ini benar-benar tidak sehat !" "Saya minta supaya Bapak mundur saja. Kemudian berikan kepada kami untuk menentukan siapa sebenarnya yang layak menjadi pemimpin. kalau-kalau pada akhirnya mereka menendang Bapak. Saya berani mengambil resiko apa saja. aku cepat menyambar. berbakat. karena saya punya bukti. Sudah. Hidup kami semua melarat. "Sebaiknya Bapak juga meminta maaf kepada kami semua. Kita harus berani membongkar dan mengakui bahwa semua ini sebetulknya berasal dari kesalahan kecil. hanya janji-janji kosong. hanya karena fitnah. untuk melindungi diri mereka sendiri. padahal kantor inilah yang memberi kami makan. Bapak berdosa bukan saja kepada kami. Tidak ada jalan lain. Berikan mereka kesempatan sebelum terlambat betul !". Semua mereka takut kehilangan pekerjaan. Bapak letakkan saja jabatan baik-baik. tetap saja malas dan bertambah gendut. Mila ini. Banyak pegawai-pegawai yang pintar. Bapak tidak pernah berhubungan dengan keadaan kita yang nyata. orang-orang yang bisa membebek dan tak berbahaya. sudah terlalu parah. kalau sudah jelas tidak ada jaminan sampai kapan pun. tenang saja. Bapak beristirahat saja. "Saya tahu. kantor ini hanya sebagian kecil urusan Bapak."Bapak juga tidak pernah bersungguh-sungguh memikirkan nasib kita semua. serahkan kepada kami yang lebih punya wawasan. Beberapa tahun lewat begitu saja. Buat apa mempertahankan kursi itu. Tapi hasilnya nol besar. dan sama sekali bukan perusahaan ini". tetapi memang pintar menyerpis. Sejak awal unek-unekku. Tetapi ketika ia seperti hendak menggerakkan mulutnya. "Hanya saya. Saya tahu tidak seorang pegawai pun yang berani berbicara seperti saya. lalu dilepaskan.

tapi Bapak harus berani melihat kenyataan. fakta. Kalau salah. Silakan!". Lihat saja. semua diangkat satu per satu menjadi kepala. Mereka semua hanya cucunguk yang mengandalkan orang-orang seperti saya. Aku mati langkah. tetapi dadaku sebenarnya sudah bertambah kempes. sebab saya sudah bicara demi Tuhan dengan sejujur-jujurnya !" Aku menggerakkan mulutku lagi. Jangan orang-orang yang main politik. Aku tertegun. Hargai orang yang sudah bekerja. Tidak ada yang berani mengatakan sesuatu dengan jujur. jangan hanya mereka yang di atas yang ditarik yang diundang yang dihormati. Saya tak bisa hidup dengan pekerjaan ini. menjadi tangan kanan. Saya tidak pernah mendapat perhatian. Kemudian setelah menarik nafas panjang aku memandang dia kembali dengan kaku. Kasihan !" "Saya tidak minta apa-apa. ini betul atau tidak. Akhirnya aku hanya diam saja. semua orang takut. Kalau tidak ada kami perusahaan ini juga tidak akan jadi apa-apa. Setelah itu ia berbalik membelakangiku dan menulis. Gaji saya dari dulu sampai sekarang tetap saja. Tapi Bos lama membatu. walaupun itu akan berakibat fatal". tetapi sudah kehabisan kata-kata. Kalau betul. kemudian ia berbalik dan mengulurkan map itu. apa buktinya. Ini benar-benar di luar perhitungan akal sehat. bukan. lalu ia mengambil map dari laci mejanya dan melihat-lihat. Bapak boleh sakit hati. meskipun mukanya kelihatan bengkak. Perusahan ini akan lumpuh tanpa kami !" Bosku itu gemetar. Saya tidak terima. silakan ambil. "Saya bekerja di sini bertahun-tahun tanpa janji. Ini informasi pertama yang paling jujur yang Bapak terima selama ini. karena semua ini nyata. Sementara orang-orang lain. Aku makin terengah-engah. semua orang menyembah. tidak. . menunggu apa yang akan dikatakannya. anak bandel ini. Mala. Setelah ia bisa menyelesaikan itu dalam dirinya. "Ya ini. Saya tidak bisa terima semua yang tidak adil. Saya hanya minta perlakuan yang lebih baik. Hati saya sudah senang. Ini sama sekali tidak Bapak ketahui. memandangi map itu dengan tegang. Tidak terlalu lama. . Aku memang masih berusaha untuk menembakkan peluruku yang terakhir . "Saya tidak terima ini. kaku. Tapi itu semua tidak ada yang memperhatikan. Setelah itu ia meraih megaphone dan mencoba menanyakan sesuatu. Bahkan saya sering memakai uang saya sendiri untuk membantu diri saya supaya bisa bekerja dengan baik di sini. Kami juga ikut memiliki perusahaan ini. padahal mereka tidak tahu apa-apa. Berikan perhatian kepada kami orang kecil. menjadi berkuasa. Semuanya sudah dimuntahkan. Ia berusaha menenangkan dirinya dan menunggu apa lagi yang akan aku katakan. merah padam. "Ini".karena saya bicara atas kebenaran. Betul ! Dan silakan kalau Bapak mau memecat saya. Ia berusaha untuk menguasai dirinya. Namun masih ada peluru-peluru terakhir di situ. Mala harus bicara dengan apa adanya. tegang.

Saya tidak mau menjilat. saya puas. dia bukan seorang pemimpin. mengutuk. Rekanrekanku yang sejak tadi menunggu di luar ruangan. "Jadi bagaimana ?" Aku keluarkan map. Ada surat perintah kerja untuk keliling dunia. Terimakasih Pak". Dari lubuk hati yang paling dalam. kita tidak akan maju. Orang itu tidak bisa diperbaiki lagi. . guna melakukan study banding di berbagai perusahaan terkenal Disertai sebuah cek bernilai satu milyar yang boleh aku pakai untuk mengurus semua keperluan selama perjalanan. masih ada manusia yang punya perasaan waras. Tidak ada yang berani bicara seperti ini kecuali saya. tapi saya kira kalau begini terus. lalu pergi ke luar ruangan dengan sempoyongan. Semua orang ternganga. "Jailah! Wah. saya menerima baik semua ini bersama keluarga saya. Mereka semua sudah tahu. kamu hebat dong !" Aku menggeleng. Aku beberkan isinya. Saya bicara dengan hati-nurani saya mewakili kebenaran. langsung menyerbu.Suaraku gemetar dan kering. karena aku sudah berbulan-bulan menggerutu. Dadaku seperti mau meletus. Dia raja". Sekarang saya tahu. wah. Aku tak menjawab. Tidak semua orang di sini takut dan menjilat!" Aku perhatikan sekali lagi isi mapa itu. "Kamu dipecat ?" Aku menggeleng. Lalu dengan hati-hati kumasukkan map itu ke dalam tasku. "Kamu dipecat ?"tanya mereka cemas. saya benar-benar ikut bekerja dan membina perusahaan ini. termasuk biaya yang harus dikeluarkan untuk keperluan pribadi dan keluarga. "Aku akan minta berhenti. menyumpah-nyumpah di belakang. karena semua orang takut. Saya terima semua ini dengan ikhlas. Harus ada orang yang berani bicara dengan jujur kepada Bapak. Tanganku gemetar. mengangguk memberikan hormat. Bapak jangan keliru. Aku berdiri. "Baik. Saya bukan menantang untuk dipecat. "Bukan ini yang saya harapkan Pak. untuk membuktikan bahwa di kantor ini masih ada kejujuran. wah.

Lalu aku meloncat turun. seperti yang sudah dilakukan para pemimpin zaman sekarang. mengambil semua barang-barangku dan pulang. menaburi setiap kepala mereka. Apa gunanya aku jadi pahlawan?! BEL TANDA KANTOR BUBAR. Supaya mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri. lalu melemparkan kepingan surat perintah kerja dan cek itu. TAPI KEMUDIAN MASUK LAGI. PERGI KELUAR. LAMPU PADAM Ithaca. . 11 Maret 1987. aku berjuang tidak untuk kepentinganku.Lalu aku robek surat dan cek itu sampai berkeping-keping di depan mata mereka semuanya. tapi untuk memperbaiki nasib mereka. Sampai di rumah aku baru menyesal. Aku naik ke atas meja.

Aku sendiri tak menyetujui pembunuhan itu. semuanya putus-asa. untung tak berhasil. Setiap kali lewat pagi-pagi untuk berangkat ke kantor. Orang-orang berusaha melempar-lempar dan menyodoknya dengan galah. masak harus bersaing dengan anjing !" . baru satu balok.setiap pagi mobilnya selalu basah. kampung ini penuh dengan anjing. Warga lain menemukan tai anjing di sudut rumah. Ternyata Ali hampir setiap minggu kehilangan daging. Semua orang jadi kesal. Tak seorang pun berhasil menyuruhnya keluar. Ada yang mengusulkan untuk memindahkan kayu-kayu itu. di depan pasar. Ada juga yan melaporkan ada tai anjing di atas meja. "Bunuh saja daripada selalu ngerusuhi. karena alasan-alasan pribadi. Bahkan seseorang selalu mencium bau anjing di tempat tidurnya.ESTAFET monolog Putu Wijaya Anjing yang biasa kulempari makanan di bawah tiang listrik. Aku kenal anjing itu. karena dikencingi.ikan yang sedang hendak digoreng tiba-tiba lenyap. Kita saja susah cari makan.mungkin membawa rabies !"kata Pak Mantri membawa linggis. Ada juga yang menembak-nembak dengan senapan angin. nafsu membunuh mereka malah makin menggebu-gebu. ah semua mengangap itu tolol. ia mesti menunggu di bawah tiang listrik di depan pasar. Seisi pasar naik pitam karena yang jadi korban putera Pak Gun dermawan yang selalu menyokong kegiatankampung. Kegiatan itu seperti bagian dari upacara berangkat ke kantor. Dari beberapa ibu rumah tangga ada pengaduan. padahal dulu ia sendiri meminta anjing itu diampuni. Setahun lagi. membuka kaca jendela dan melempari anjing itu sisa-sisa sarapan. Seorang anak mengatakan anjing itu kalau sudah malam meraung memanggil setan. satu kali beranak bisa tiga-empat ekor. menggigit orang. Mula-mula aku tak peduli. Ali. Satu hari lagi untuk mengembalikan ke tempatnya semula. Ia masuk ke bawah tumpukan kayu. hanya untuk seekor anjing. Hampir setahun aku selalu melambatkan mobil di depan pasar.sambil mencaci-maki. tulang-tulang atau apa saja. kalau hendak ke kantor. Namun kebencian orang tak lenyap karena terhalang. aku kemudian selalu membawa sedikit sisa makanan. Setiap orang memegang alat pemukul. Mereka berkumpul di sekitar tumpukan kayu. telor dan sekalian ayamnya. ketika pertama kali menggigit warga. tukang daging juga sudah sampai pada puncak kesabarannya karena dagangannya sering dicuri. Dan ini bukan dosanya yang pertama kali. Pemilik mobil yang biasa parkir depan pasar mengadu. Tak akan kurang dari satu hari untuk memindahkan semuanya."Kalau dibiarkan terus dia nanti malah beranak.tetapi binatang itu tak terjangkau. Jadi bagaimana mungkin aku melihatnya terbunuh ? Aku bersyukur ia tak berhasil ditangkap. pemilik warung mekehilangan ikan asin. memandang dan mengibaskan ekornya. Tetapi ketika dicoba. Tapi entah bagaimana mulainya. tempe. Bayangkan saja. Binatang itu tersengal-sengal kehabisan nafas karena dikejar-kejar keamanan pasar. bahkan tape. Pak Budiman. Lalu muncul cerita-cerita yang mengobarkan kebencian. Satu balok saja memerlukan tiga orang.

aku menoleh ke kanan sambil membuka kaca jendela.Semua orang makin mantap untuk membunuh. kata kepala bagian pengembangan perusahaan dalam rapat yang terakhir. seluruh orang-orang di pasar serentak maju . Kemudian datang anakku. Seharian. serta matanya berkilat-kilat penuh persahabatan. Akhirnya hanya aku yang termangu-mangu.sisa-sisa sarapannya. binatang itu tak menyerah. atau minta ampun. Ia menggapai-gapai putus asa seperti maut sudah meraihnya. Ia tidak suka pada semua binatang. Namun sampai malam. Bayangkan.lidahnya terjulur.yang mungkin tak lama lagi harus aku lepaskan. makin marah orang-orang itu. Dan seperti tak sadar. hanya meletakan bungkusan itu di mobil. Darahku tersirap. seperti ada yang menangis. Di depan pasar.Tetapi baru satu meter. kami mulai tak akur setelah berhasil. Tak seorang pun yang akan menolongnya lagi. Pagi itu aku berangkat ke kantor dengan pikiran kusut. Aku ajak ia mendengar. anjing itu sudah menunggu. Persis di tempat biasanya. Anakku bengong. Ada perselisihan dalam organisasi. Jam menunjukkan pukul delapan seperempat. mobil kujalankan lambat. kadang-kadang bagian terbaik sarapannya direlakan untuk anjing itu. karena ia ingin tidur enak. berganti-ganti. apa yang akan aku perbuat seandainya aku yang terkepung mau dibunuh ? Tengah malam aku terjaga. Anehnya makin sedih lolongannya. Di situ. . karena sudah terbiasa. Lalu berhenti di samping tiang listrik. hanya suaranya saja mengerang-ngerang seperti minta tolong. Kubangunkan suamiku. Aku tahu ia tidak setuju.yang menyebabkan aku memecah persahabatan dengan seorang kolega yang sebenarnya sudah aku anggap saudara . aku sebut-sebut anjing itu pada suamiku. dengan pikiran masih di dalam konflik kantor. Kepala anak itu berdarah. Sambil tertawa kutolak. itu suara lolong anjing itu. Aku yakin suasana kantor tak akan pernah lagi damai. Malam-malam. Orang-orang mencoba menolong. Salah satu di antara kami harus keluar. pikiranku penuh dengan soal-soal kantor. Ia meratap putus asa. Pagi hari di meja makan. Dengan pikiran teler aku jalankan mobil milik perusahaan. "Bunuh saja sekarang !"teriak bapak anak itu. Ia tak ngomong apa-apa. Tetapi hanya sebentar sekali. seakan-akan aku sendiri anjing itu.Celakanya lagi. Tiba-tiba aku terkejut. Hampir satu jam baru bisa. Tiba-tiba aku terkejut. memanggil. Semua orang setuju. seorang anak mencoba diam-diam masuk ke bawah tumpukan kayu. .sebelum aku sempat berpikir. Ia tidak suka pada anjing.Kami bekerja bersama-sama seperti tangan kiri dan tangan kanan. Tapi bagaimana caranya? Di rumah. Perselisihan semacam itu amat menyakitkan. Tetapi suamiku marah-marah. Ketika aku perhatikan. Orang banyak menganggap itu bagian dosa anjing.Aku ceritakan anjing itu akan dibunuh karena sudah mengigit. ia ketakutan mendengar ratapan anjing itu. Aku tak bisa mendengar suara itu sendirian.Terpaksa aku mendengar sendirian. karena sibuk mengikuti acara film tv. tapi sulit keluar.Mulutnya terbuka. kemudian cepat-cepat pergi dipanggil teman-temannya yang biasa sama-sama ke sekolah. Tetapi ia tak peduli. Anakku menyerahkan buntalan kecil. Setiap pagi. ia selalu urun menyumbang. Lalu menjelaskan bahwa sejak hari itu tak usah ada bungkusan untuk anjing lagi . Aku ngeri karena tak dapat menolak khayalanku sendiri. karena api sudah mulai menyala.s emuanya menunggu sambil menggertak-gertak agar anjing itu keluar.Tetapi tiba-tiba entah kenapa. ia menjerit-jerit karena anjing itu mengeram. ia bisa menyelusup masuk.

dengan bermacam-macam senjata dan membetot anjing itu. di depan tiang listrik. Otomatis hampir saja tanganku hendak merogoh bungkusan makanan yang biasa ada di bawah kaki. Untung temanteman sekolahnya berteriak memanggil. anakku menyerahkan bungkusan urunan sebagaimana biasanya. dasar anak kecil. tak sadar aku menginjak rem. Aku amat terharu. Sekarang seluruh pikiranku sama sekali tak ada di kantor lagi. Mati seketika di depan mataku . Aku bengong. ketika selesai sarapan. karena binatang itu sudah mati. Lalu kutolak sambil menjelaskan itu tak perlu lagi. di tempat biasa berhenti. Aku hanya gedek-gedek. Anakku bengong memandangku seperti hendak memprotes. Madison. Astaga.Pebruari Ithaca. lalu perlahan-lahan menjalankan mobil ke kantor. Lalu menoleh. Dan sepatuku menyentuh bungkusan sisa makanan yang diletakkan anakku.tanpa sempat mengeluarkan suara. Tiga ekor anjing lain sudah menunggu di situ.waktu hendak berangkat. Esok paginya.12 Mei 1987 . Tetapi tak lama kemudian. Anak-anak masih tetap melempar-lempar meskipun binatang itu sudah tidak berkutik lagi.

Kontan aku samperin rumah anak-anak itu. Ting.” Bangsat! Aku benci mesin. Apa yang paling kau inginkan di dalam kehidupan yang sudah carut-marut ini?” Tanpa pikir panjang aku menjawab. Waktu itu aku setuju untuk bersyukur. halooooooo! Tetapi sama saja. semuanya fakta. Mau tak percaya. segala fasilitan yang dirindukan. silakan meninggalkan pesan sesudah bunyi berikut ini. “Maaf. Untuk orang sebaik kau. untuk sementara nomor ini tak bisa dihubungi. Aku tidak ingin berhubungan dengan mesin. Ada suara yang menggeledek. Baru pertama kali dalam hidup aku kelenger oleh realita yang lebih asyik dari mimpi. Belum pernah kulihat sulapan sedahsyat itu. yang menjawab semua hanya mesin. Kami sedang tidak ada di tempat. Tidak sempoyongan dikepot resesi dunia. apa Bapak sudah ada janji?” Jani? Janji apaan! Gila! Memangnya aku siapa? Kembali aku mengamuk. kok nyata. Tetapi di pintu depan rumahnya. Hallo. Mobil. kekuasaan.IL U S I monolog Putu Wijaya Aku bermimpi. Mengamuk sambil berteriak. “Aku bapaknya! Aku sudah membiayai dia sejak orok! Suruh mereka keluar. layak permintaanmu dikabulkan. menyembah dan cium kakiku. Ting. “Maaf. Sandang-pangan-papan berlimpah ruah. Hidup menjadi indah. kau orang baik. kehormatan. Berdiri paling depan sebagai ujung tombak dunia!” Tidak ada jawaban. duit. kedudukan. halllo. Ingin membantah. “Hah! Itu yang aku inginkan? Pucuk dicinta ulam tiba. Sebelum jadi kebiasaan. Tapi begitu aku bangun. Makan-minum berkelimpahan. Pikirannya tidak ketinggalan jaman. harus aku hajar mereka bagaimana menghormati orang tua. Silakan meninggalkan pesan di kotak suara. “Atas permintaan pelanggan.” Sialan! Tensi darahku langsung meluap. Kucoba menggapai mereka lewat HP. Karena begitu aku mencoba menelpun anak-anakku. Aku penasaran. Aku gamparin kepalanya yang jadi kegedean mentang-mentang sudah makmur dan maju! . permintaanku terkabul. sesudah bunyi berikut ini. Aku takjub. Aku mau bicara dengan manusia. satpam mencegatku. Aku ingin anak-anakku semuanya makmur dan maju. Apa saja yang diinginkan tersedia. jelas sekali pesannya: “Bung. halloooo. keluar. beres. Terimakasih Tuhan! Tetapi itu tidak lama. Semua anak-anakku makmur.

” “Tunggu! Tunggu! Oke. bermoral. Generasi muda menghargai jasa. Tai kebo semua itu! Aku hanya mau anak-anakku tetap berkepribadian. “Ralat apa Bung?” “Aku tidak butuh kemakmuran yang tanpa budi! Itu eror! Kekayaan harus komplit! Moril dan materiil harus seimbang! Itu mutlak!” “Tapi permintaannya hanya boleh satu. bahwa kita dihormati. Aku meloncat saja kembali ke alam sadar tempatku berdoa. Bung. interupsi! Interupsi! Ada ralat!” Suara geledek itu mendehem lembut. Mangan ora mangan pokoke kumpul!. kalau begitu!. Tidak ada yang sedang bertugas. Pastilah itu penipuan atau orang gila. Aku telah melakukan kesalahan besar. Semua siap mengangguk dan mengucapkan: ya. berganti dengan kebaikan hati. Apa yang lebih membahagiakan kita para orang tua sepuh dari. Aku ditenteramkan. ya . Lalu aku diantar pulang. Putra-putriku kembali miskin tapi menjadi santun. berjuang untuk keluarga. hormat pada orang tua. hak. semoga segala yang baik terjadi. tidak ada paksaan kok. Disembelih pun mereka akan manut-manut . Dijamin tidak ada yang akan mengucapkan tidak. Kalau ada kemauan. ya atas apa saja yantg aku katakan. punya karakter manusia Timur! Berbudi. Jadikan anak-anakku menjadi manusia yang berbudi! Manusia yang menghormati kedudukan orang tua!” Suara geledek itu tidak menjawab. Tapi kenapa aku mau! Anjing! Aku jadi edan. Luar biasa! Ternyata semua kuncinya pada kemauan. pasti ada jalan. begitu mendusin kembali. Tidak ada yang tidak mungkin buat orang yang bertekad berjuang. Aku tidak perlu kemakmuran dan kemajuan. Tidak ada yang pura-pura ngacir rapat. Makin maju kok makin brengsek. mengaku orang tua Bos?!. “Tuhan. Dan betul. Jelas permintaanku sudah cacad. pikir mereka. Itu kan dahsyat! Ini yang namanya bahagia. keberadaan dan suara generasi tua. kembali tidur. Menyadari kekeliruan yang fatal itu. tidak boleh dua paket sekaligus!” “Kok pelit ?!” “Memang aturannya begitu! Kalau tidak mau. Maksudku diseret pulang secara halus. Bahkan mati pun mereka bersedia. Kemakmuran dan kemajuan ternyata tidak satu paket dengan budi pekerti. walau pun itu bertentangan dengan kemauannya sendiri. Semua di rumah. tahu?! Kalau tidak dia jadi kere semua di bawah jembatan!” Tetapi yang datang kemudian petugas keamanan yang lain. dihargai! Keluargaku telah kembali kompak. Mereka semua duduk anteng di beranda rumah. Aku sumpahi anak-anak yang sudah sesat itu. baik-budi. Kemakmuran dan kemajuan lenyap. Begitu masuk ke dalam mimpi aku berkoar. Tapi di belakang aku yakin dia nggerundel: masak lelaki manula segembel ini. dibujuk dengan sopan. semuanya terkabul. Segalanya bisa terjadi asal kita hajati. Kita tidak minta dihormati yang penting daulat kita sebagai manusia. nyahok tata-krama dan tepo sliro. aku buru-buru meloncat. ya. Setiap saat mereka siap. bersedia melakukan apa saja sesuai dengan kehendak orang tua. Aku juga tidak kepingin menunggu jawaban. menunggu orang tuanya keluar memberikan perintah-perintah harian. Tidak ada yang berkilah sakit.Panggil cepat! Kemakmuran ini berkat doa-doaku. sebagaimana yang aku harapkan.

mengintip ke beranda. aku berteriak histeris. bukan kedudukan. Dan semuanya kembali terkabul. Tetapi tiba-tiba aku terperanjat. aduhhhhh. tetapi kebahagiaan! Dan dengar! Aku hanya bisa bahagia kalau istriku tersenyum dan anakku-anakku tertawa! Aku ulangi: aku hanya bisa bahagia kalau istriku tersenyum dan anak-anakku tertawa. yang terakhir. Aku terpaksa menjawab diriku sendiri. Permintaanku yang ketiga. Gedobrak! . tidak perlu maju! Tidak perlu baik! Jadikan mereka apa adanya saja! Kurangajar juga tidak apa apa asal jangan mampus!” Suara geledek itu menjawab. kenapa mata mereka tidak bercahaya?” Kenapa muka mereka tidak bersinar? Tak ada yang menjawab. bukan kehormatan. Kembalikan lagi anak-anakku seperti semula! Bukan harta. titelo. sesak nafas dan tak berkutik. Lihat orang yang sabar. Gelagapan aku bangkit dari tempatr tidur. mesin. Ya Tuhan. la. ini permintaanmu yang ketiga. Tunggu! Gila! Senyum mereka tidak kunjung henti. nomor dan abdi! Bulu kudukku meremang. aku meloncat kembali ke tempat tidur. “Kenapa. Tuhan Maha pengasih dan Penyaytang. istri dan anak-anakku menjadi gila. Senyuman yang ikhlas. getol dan pantang menyerah selalu akan berhasil! Lihat di beranda. “Tidakkkkk! Ini kacau! Bukan ini maksudku!” Secepat kilat. Aku terperanjat. Dunia sudah kiamat! Aku tidak kuat! Tolong! Tolong! Di situ aku benar-benar terbangun. Ketawa mereka berkepanjangan. Anak-anak semua tertawa. “Tuhan Yang Maha Esa! Jangan salah! Kembalikan anak-anakku semuanya seperti semula! Komplit! Balikkan! Tidak perlu makmur. aku langsung meloncat kembali ke alam nyata. bukan kemulyaan yang kita kejar di dunia. tetapi tunggu dulu. ampun! Akibat permintaanku. menyapa sampai aku terkepung. Mereka hanya abdi dari keluarga dan orang tuanya. Angka tiga adalah angka terakhir. robot. Kau tidak bisa meralat lagi. istriku tersenyum. “Wah kalau begitu sama dengan mati?” “Lebih dari mati!” “Maksudnya?” “Mereka adalah bangkai hidup. Pikirkan matang-matang apa yang kau inginkan!” “Tidak usah mikir lagi! Aku sudah hapal apa yang aku mau. Naluriku merinding. Mana ada orang bahagia kalau anak-istrinya gila? Belum lagi para tetangga yang tak berhenti menyapa. Ada yang salah. menjadi kenyataan.” Ya Tuhan. lalu langsung menggugat. Tetapi. “Bung. Senyum dan ketawa yang berkelimpahan bukan cirri bahagia tapi tanda-tanda ketidakwarasan alias terganggu.saja. menyapa. Mereka hanya tembok. Tidak lagi memiliki perasaan dan opini.lu para tetrangga menyapa! Itu!” Karena takut akan ditolak. bukan tanda-tanda jasa. “Sebab mereka tidak lagi memiliki jiwa dan kehendak. tertawa yang penuh.

Ya! “Makanya jangan suka nonton film setan!” lanjut istriku sambil tersenyum. “Mimpi buruk lagi Pak?” Aku mengangguk. Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha “Diammm!!!!!!! Jangan ketawaaaaaaa! Diammmmm!!!” Jakarta 9-01-10 . Kepalaku pusing. Aku terkejut lalu berteriak: “Jangan senyum!!!!!” Istriku terperanjat. Melihat aku tidur memakai mantel musim dingin. Bengong dan merasa bego. dia tertawa terbahak-bahak.Keringat bercucuran di sekujur tubuh. ia menatapku sambil mundur lalu lari keluar. oleh-oleh kawannya yang baru pulang dari luar negeri. Apa sebenarnya yang sudah terjadi? Istriku menghampiri sambil menyapa. “Taksuuuuu! Bapakmu kesurupan!” Anakku langsung masuk ke kamar.

Dapat dipercaya. tapi suatu kali kami berhasil menang banyak. tidak pernah absen. nasib kami tidak akan berubah. Tidak suka utang. Kalaui kami hitung hitung. Kata Bos: "Kalau saja aku punya seratus tukang becak seperti si Amin. Keluh kami kalau pikiran lagi ngelantur. Betul betul langkah kanan. aku bisa tenteram menjadi pengusaha becak. Genkot terus. Mata kami membuka lebih lebar. Bos kami tak berani lagi memujikan kami sebagai anak buah teladan. Di hidung kami mulai ada gangguan kalau menghirup bau orang orang lain yang lebih berduit. Tak jelas siapa yang sebenarnya bertanggung jawab terhadap perubahan itu. Malamnya becak jadi mubazir. Pasalnya begini. Sampai sampai kami sendiri tak percaya bisa pegang duit sebanyak itu. kuping lebih mencorong lalu kami memutar leher kami keliling tigaratus enampuluh derajat. Langsung kepala kami jadi pusing. tidak peduli panas atau hujan. pas. Tubuh kami gempal. Kami tukang becak yang baik. tidak pernah merusakkan becak.BECAK Monolog Putu Wijaya MUNCUL KAMI MENDORONG BECA. kami menyimpulkan. Ia tidak mengenal hari Minggu. Punya duit 500 sudah bisa pegang kunci. Kaki kami yang kukuh mulai enggan. Kami memiliki persyaratan yang tepat untuk seorang pekerja kasar. tidak mencoba cari tambahan. Padahal sekarang sudah zamannya motor.. Majikan kami menganggap lelaki seperti kami ini contoh tukang becak teladan. sedangkan orang lain pada punya milik ? Ada yang istrinya sudah empat. kalau kami terus brtahan natrik. 10 tahun melebar ke depan. Aku sudah memikirkan untuk memberikan becak itu pada orang lain. Kami rajin. tidak mudah kena penyakit. meskipun mula-mula kalah. mudah tersenyum dan kelihatannya sedikit bodoh. Setelah genap 10 tahun menerima nasib sebagai abang becak. Dan barangkali berkat rakhmat Gusti Allah Yang maha Pemurah dan Kuasa Yang lihat segala-galanya dari atas sana. Hujan pun tak bisa dianggap teman lagi. . Setorannya selalu tepat. Apa teman teman main gaplek kami ? Apa karena disengat oleh bola liar yang disepak tiba tiba dari sononya ? Apa lantaran usia kami yang sudah semakin tua ? Atau karena jatuh cinta ? Yang pasti. kaki kuat. "Ya Tuhan. Siang malam kendaraan roda tiga ini kami genjot. "Ini adalah hal yang wajar karena setiap orang harus berkembang. muka kami membaja akan tetapi tidak menakutkan. entah kenapa tiba tiba kami merasa malang. Cahaya matahari yang biasa ramah tiba tiba menggigit. kenapa aku tetap miskin sampai sekarang. Kami sudah mencoba untuk berjudi. karena sekarang kamu hanya mau narik siang. masa depanku cerah. Napas panjang. kata Bos menggerundel. Asyik! Kata orang fantastik. Tidak suka mencampuri urusan orang lain. Kredit kan? Karena itulah kami mulai mencoba apa saja ihktiar yang lain. akan tetapi perkembangan itu membuat kamu tidak cocok pada pekerjaanmu lagi. tidak usah lagi memikirkan sumber lain. Persoalan kami berhenti narik malam itu ada sebabnya. Sejak itulah kami mulai berubah.

maaf. MEMPERAGAKAN JALANNYA Bos kaget. karena kami ingin berwiraswastai. kata kami kepada istri-istri kami. Bos tabah kaget lagi. Padahal kaki yang itu-itu juga. Kalau dia marah. lantas meletakkan uangnya di atas meja. Plong. Terhitung mulai hari ini. kami kami dalam hati. Bawalah becak itu dan kerja baik baik.. ya ditinggal saja. Dikiranya itu hanya gertakan. Jadi bebas. Tak bedanya dengan harga pasaran becak. babak baru bagi seorang buruh kecil yang dengan usahanya banti8ng-tulang selama 15 tahun sekarang mencoba menjadi pemilik. Jadi begitu rupanya rasanya orang punya milik. Rasanya kaki kami narik becak seratus kali lebih ringan dari sebelumnya. Bagaimana Bos? Bos manggut manggut sehingga kami deg-degan juga. Pon. Terus-terang. Tapi mengayuh becak dengan perasaan yang berbeda. Lalu kami memngeluarkan dompet kami yang susah dikeluarkan dari kantong akrena penuhnya. Bos tambah kaget. karena di kantong kanan keberatan dompet yang penuh dengan uang.Barangkali inilah buah hasil dari orang yang kerja 10 tahun dengan jujur. Asal kamu jangan tiba-tiba naikkan harganya. Kalau capek berhenti. Itu mestinya difoto. Baru satu soalnya. Mana sepatu kets yang biasa dipakai nggenjot? Begini Bos. Bos jangan marah. Ini baru negara merdeka yang beneran. Lalu kami berjabatan tangan. Kita boleh bersaing. Datangnya kok agak siang. itu namanya lintah darat. Bangga. boleh? Anehnya. katanya sambil menepuk-nepuk pundak kami. pasrah dan nrimo. itu normal. Sekarang kita sama-sama pemilik becak. Tapi bersaing dengan jujur ya. istri kami. Bagaimana Bos. Bos mengambil uang itu dan memasukkan ke sakunya. Kami sekarang boleh nggenjot becak dengan bersiul-siul. Begini. Bos. dunia dan tentu saja beca. Esoknya kami kontan bertamu ke rumah Bos. jajajn dulu sambil menghirup kopi panas dan mengebulkan asap rokok. Sebab itu sebuah sejarah. Tidak ada lagi perasaan diuber-uber atau ditekan-tekan. hebat kau. Tapi kemudian dia mulai menghitung uang yang kami sodorkan itu. Pakai sandal japit lagi. kami mohon kami diizinkan untuk membeli becak yang bisa kami genjot itu untuk jadi milik kami. tubuh. Maksud kami. Itu memang resiko kalau orang mau maju. anggaop ini sebagai imbalan kami bekerja dengan jujur selama 15 tahun ini. Jalannya agak miring sebelah. tidka peduli. Jalau penumpangnya terlalu rewel nawar. Dahinya berkerut tidak percaya. kami berhenti narik becak bapak. roh. Cofcok. setelah kaget Bos berpikir sebentar. Eh ternyata semuanya tokcer-tolcer saja. Tanpa banyak cingcong. kepala. Memang dari rumah sudha tak paspaskan. Siapa yang tidka marah kalau tukang bevcak teladannya mau berhenti. Kami merasa punya jiwa. Biarin saja. kata Bos sambil tersenyum. Maaf. Selasa. Oke Amin. Nah jadi begitu. kata kami kalem. tolong. otak. masa depan. KETAWA PUAS .

Biasa-biasa saja. tinggal kontrak lewat HP. Kalau sudah cape harus istirahat dan kalau segan tidak usah narik demi kesehatan jasmani dan rohani. Ini untuk bekerja. NGALOR-NGIDUL. langit merah dan burung-burung terbang.. Gua kan sudah minta maaf. Kalau daia datang. Kalau ada matahari terbit dan terbenam. kita lantas jemput di stasiun atau di hotel. kalau sakit siapa yang akan ngurus. otomatis rezekinya pun seret. Mariah? Gimana? Lho kok begitu. Anak-anak menangis mau dibelikan jajanan di warung. Sebab kalau tidak. belum lagi lahar panas kalau meletus. lalu belum-nelum mereka ogah nyamperin. walau pun alasannya ngurus kesehatan jasmani dan rohani. Sombong? Salah! Itu kan harga diri kami? Apa kami-kami yang miskin dan hanya punya beca ini tidak boleh sombong sedikit? Ini kan bukan sombong. kalau premilik beca mulai malas narik beca sendiri. KARENA DIA TIDAK BERUSAHA KERAS UNTUK MENDAPATKAN. Jadi hidup lebih realistis. karena kami sekarang pemilik beca. begitu jalan pikiran kami. . ini kan tanda kami punya gengsi. Dan rokok pun sudah tidak kuat lagi dibeli. Alasannya nampak sombong karena narik becanya sendiri. Ya bagaimana mau bikin askes. (NGOBROL GAUL. Rumah Sakit sekarang tidak akan terima kalau kita tidak punya askes. kami merasa sudah tidak zamannya lagi kerja setengah mati untuk mengejar setoran. Habis siapa lagi yang akan ngewongkan kami kalau bukan kami sendiri.Sebagai dampak dari semua itu. Walhasil kami bekerja dengan rileks. hutan. hutang sudah menumpuk Istri marah-marah. Santai-santai saja. Masak nggenjot 5 Km hanya bayar seperak. LALU BICARA. Kalau ada langganan dicatat di sini. kalau bikin asap dapur saja sudah Senen-Kamis? MENGELUARKAN HP DAN MEMUTAR LAGU Ini bukan barang mewah. TIDURAN DI JOK BECA SAMBIL NGANGKAT KAKI Jadi alon-alon asal klakon itu. Dikejar pun tidak ada gunanya. MENEKAN NOMOR NGONTAK SESEORANG. CEKAKAK-CEKIKIK) TIBA-TIBA MEMATIKAN HP Tapi anehnya. Cukup asal dapat makan. Kenapa mesti ngoyo. Tenang. Lho apa salahnya orang punya beca sendiri. Coba ini nggenjot sendiri tak bayarin seratus satu kilometer di tanjakan! MENUNGGU PENUMPANG TAPI APES TERUS. memang maknanya adalah kami harus bisa menjaga kesehatan sendiri. Untuk apa mengejar gunung yang tidak lari. maska begitu sih …. Gunung bagusnya dilihat dari jauh. Itu hanya bikin badan cepat rusak dan usia cepet lengser. Kalau dekat gunung ya hanya tanah tinggi. Orang kecil seperti kami harus bisa ngewongke dirinya sendiri. HANYA MENUNGGU DISAPA DENGAN KAKI NAIK KE ATAS SEHINGGA PENUMPANG MALAS MENDEKAT Dalam tempo hanya 1 bulan sejak kami punya beca sendiri. bukan ongkang ongkangan. Ini nama nya kami ngewongake diri sendiri.

Lho meskipun beca kok necis rasanya seperti mobil Mercy? Tapi setelah jadi milik. Mau jadi pemilik. ya oleh kami sendiri. ulet dan mati matian. tapi banyak juga tidka bagusnya. Rajin. Ini pelajaran buat kamu Amin. KETAWA Hari itu. hasil penjualan beca itu kembali pada Bos tak cukup untuk menutup utang. Bagaimana Bos. Akibat kurang diopeni oleh siapa. kalau rezeki tetap seret. bempernya peyot nabrak tiang. Bahkan kalau konslet bisa hilang ingatan. nrimo dan pasrah pada nasibnya. Aku bilang sama teman-teman kamu. Berpikir dan berpikir lagi. Lalu terpaksa kami minta pertolongan agar diberikan kesempatan untuk menarik becak kembali. peleknya bengkok. kami akhirnya berhenti berpikir. Berpikir memang bagus. sudah dijual. Tidak bisa narik sambil berpikir. bannya kempes. persis sebagaimana yang sudah aku ramalkan. karena sudah banyak yang rusak. Bahkan lebih cepat. dengan terpaksa kami datang lagi ke rumah Bos untuk menjual becak itu kembali. Baru dua bulan kamu sudah. Sorry ya! MELONCAT KE SADEL BECAK DAN GENJOT BECAKNYA SAMBIL MEMBUNYIKAN BEL. Jakarta 1980 . nanti ditabrak truk. kami bangkrut. sebab membuat rezeki tipis. Satu bulan lagi.terpaksa munggutin puntung-puntung di jalanan. itu ada penumpang. Mengapa tidak. karena setoran dianikkan dua kali lipat. Seperti istri. Pemilik kan mestinya menikmati. Sepatu kets kebanggaan yang dihadiahkan oleh Bos ketika jadi tukang beca teladan. beca bisa pindah tangan. Sejak itu kami mulai narik beca lagi. Maaf. Tapi kamu jauh lebih cepat. Untuk apa punya beca kalau rezeki tambah seret? Untuk apa jadi wiraswastawan kalau yang numpuk hanya hutang. Emang jadi pemilik itru enak? Berani taruhan tidak sampai 3 bulan dia akan kembali jual becanya k emari. Meskipun di dalam hati menangis. kami selalu ngelap beca supaya mengkilap. Amin. Pokoknya susah. tak biarin saja.. Tapi berpikir juga menghabiskan waktu. lihat si Amin sudah mulai kurangajar. Tidak mau lagi melihat kenyataan. Dengan harga setengah dari harga pembelian dulu. Sekarang yang jelas-jelas saja. Dan pinjam duit untuk membebaskan lilitan hutang yang nanti dibayar cicil dengan menaikkan setoran. jadi penunpamngnya seneng. Beca pun sudah setengah digadaikan. balik. Habis masak pemilik mesti jadi budak miliknya. Kami cepat dan banyak belajar! Kamu memang tukang beca teladan! TERTAWA Ya kami hanya bisa tertawa. dulu waktu belum jadi milik. kata Bos akhirnya. Back to Bang Becak. Di situ kami mulai berpikir lagi. kata Bos. remnya tidak makan. Masuk bulan kedua terus-terang. Susahnya lagi. Walhasil. boleh? Bos hanya manggut-manggut. Boleh Bos? Kenapa tidak boleh. Jadi lebih baik banting stir kembali.

Hidup buatku tak ramah dan mengancam. tahu-tahu orang tak mendengarnya. Pucat. Aku yang selalu harus mengatakan ya-ya-ya. Aku yang selalu mengatakan ya-ya-ya satu ketika dapat kesempatan mengatakan tidak. Bahkan dengan anggota keluargaku sendiri. bahkan bilang tidak-ya atau ya-tidak. . Diajak arisan jawabnya tidak. Ya dan tidak adalah rimba yang ruwet. Bisnisku bangkrut. Tapi ia tetap memilih mengatakan ya. Aku dicap terlalu individualistik. Apa saja yang bersifat sosial dan mengeluarkan uang ekstra. Tukang becak naik pitam hampir membacoknya karena ya dan tidak. Tetapi orang sudah tahu bahwa sebenarnya yang dibilang pasti ya. aku sempat tak saling menyapa bertahun-tahun. atau bilang tidak. Banyak orang yang tidak bilang tidak dan tidak bilang ya. Aku selalu harus mengatakan ya-ya-ya. DUA Aku stress dalam lalu-lintas ya-tidak dan tidak-ya yang amburadul tersebut. satu ketika dapat kesempatan mengatakan tidak. satu ketika dapat kesempatan mengatakan tidak. mereka menganggapnya tak penting. ternyata aku mengatakan ya juga. Tahu-tahu hasilnya. Aku kaget. Jebulnya hasilnya betul-betul tidak. satu ketika dapat kesempatan mengatakan tidak. Setiap hari aku berselisih dengan tetangga karena soal ya dan tidak.YA DAN TIDAK Monolog Putu Wijaya SATU Wajahku seperti Arif yang baru pulang dari luar negeri. Aku dimusuhi banyak orang karena dianggap kurang lentur. Aku sakit karena terhimpit. Diajak masuk kelompok jawabannya mesti tidak. Ketika kukatakan tidak. Lalu aku tidak berani lagi mengatakan apa-apa. Semua orang menganggap ia untuk pertama kalinya mengatakan ya. Masyarakat seperti tak punya budaya dan kejam. bingung dan frustasi. Tahu-tahu aku mendengar suaraku sendiri seperti meneriakkan: yaaaa Orang yang lain yang selalu juga mengatakan ya-ya-ya. akuf tak dapat lagi mempercayainya Aku celaka ketika percaya ya itu ya dan tidak itu tidak. aku selalu bilang tidak. Aku yang selalu harus mengatakan ya-ya-ya. dapat serangan jantung dan mati. Satu ketika ia tidak mengatakan apa-apa. karena terlalu banyak bilang tidak. Kalau ada orang bilang ya. tidak. hidupnya dikucilkan masyarakat. Betapa tidak. satu ketika waktu dapat kesempatan mengatakan tidak. karena soal ya dan tidak. Ternyata tak ada yang peduli. Ada orang yang mengatakan tidak-tidak-tidak selalu. Aku tetap disangka mengatakan ya.

Di luar dugaan. Jadi tarik tambang mungkin bisa diartikan menarik tambang di lapangan. Setelah dijumlahkan ternyata jumlah jawaban tidak. Karena toh kalau bilang tidak. kalau harus menjawab antara ya dan tidak. tidak berseberangan. tak kurang dari 25 orang tampil dari RT-ku. Setiap pertanyaan ya dan tidak. Orang punya hak untuk bilang ya atau tidak. Kita harus mempertimbangkan keduanya. untuk menyembunyikan ya di balik tidak dan tidak di balik bunyi ya. tak berbeda. menanyakan apakah aku akan ikut tarik tambang dalam acara menyambut 17 Agustus. Bahkan tak ada celaan buat yang diam membisu terkatung-katung antara ya dan tidak. mengetok pintu. tetapi alurnya. Di beberapa rumah ia mendapat jawaban ya.Lantaran takut. Semua orang sebenarnya . seakanakan akhir pertandingan itu menentukan hidup dan mati. Aku berlagak gagu. Aku kebingungan. melakukan yang lain-lain. Ada orang yang harus bekerja. tiba-tiba karena gugup aku memberikan uraian. Lalu ia pergi dan mengetuk pintu rumah lainnya. Ya atau tidak. TIGA Satu ketika salah seorang tetanggaku . Di atas kertas lomba tarik tambang antar RT itu gagal. EMPAT Demikianlah aku mulai paham. kita mengingatkan kepada diri kita sendiri bahwa kita adalah bagian dari keutuhan. ya dan tidak. Dengan ikut tarik tambang. Manfaatnya bukan hanya peringatan. yang penting bukan jawabannya. di beberapa rumah lain tidak. tak mempersoalkan ya dan tidak. Ya kan ?'' Pak RT tak sabar mendengar penjelasan itu.RT lain -. karena tak mau mati konyol. itu hanya penghalusan dari perintah. aku memilih diam. Aku nampak menarik dengan sungguh-sungguh. nyatanya harus ya. bodoh atau sakit. Dari pengalaman itu. Apa pun persoalannya. Bersandiwara. Ada orang yang di dalam batinnya tetap mengikuti semua gerakgerik peringatan itu. Padahal musuh -. maknanya sama. tetapi juga penyadaran kembali bahwa kita memiliki kepentingan yang sama. juga tak ada soal kalau aku terus hidup mengapung.yang akan menarik tambang ada 20 orang.T. Menghindar makin jauh. tetapi juga bisa menarik tambang di dalam hati. Setiap detik aku hidup dengan ilmu mengapung. ''Perayaan ini penting sekali untuk menyadarkan kita sebagai sebuah kelompok. Tetapi kemudian perlombaan tarik tambang itu berlangsung sukses. Keduanya berjajar bersinggungan dalam gradisi yang amat nyelimet. lebih banyak. Tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Aku pun sadar.pengurus R. meskipun tidak ikut melaksanakannya. setiap pertanyaan ternyata bukan pertanyaan. termasuk aku sendiri. Ia merasa sudah cukup memberitahukan. Hanya terkumpul sekitar tujuh jawaban ya. Semua warga harus ikut menghayati kesempatan yang hanya datang sekali setahun ini. Bahwa kita juga memiliki arah yang sama meskipun pekerjaan kita berbeda-beda. Aku hidup tiarap sejak matahari terbit sampai tenggelam. aku akan berusaha untuk tidak menjawab. sehingga pada akhirnya hanya bunyinya yang lain. Karena makin jelas. aku dapat pelajaran. meskipun tidak berarti ia tidak setuju dengan apa yang terjadi. Pokoknya tak mengganggu.

Dan komunikasi dianggap sudah berlangsung. Semua pertanyaan bisa dijawab dengan: kadang-kadang ya dan kadang-kadang tidak. Resep satu-satunya yang paling manjur saat ini. Itu perlu. Jawaban ya atau tidak. Inilah sejatinya seni hidup! Tapi kemudian harus disambungnya lirih: ''tapi jangan menyangka aku menyukainya. kecuali sebagai catatan bahwa yang diajak bicara sudan mendengar. LIMA Hidup bermasyarakat buatku kemudian enteng dan tak serius.bagaimana enaknya waktu sedang bicara. Karena toh jawaban itu tak ada artinya. aku lebih doyan sebaliknya''. ENAM Kini aku kembali berani mempergunakan jawaban ya atau tidak. Karena bagaimana pun. kalau bisa memilih. Makmur dan terkenal. kalau mau hidup selamat. Ya atau Tidak. Pokoknya kalau ditanya. aku tak ingat lagi bilang ya atau tidak. tetapi terowongan yang menerobos zaman. bisa dianggap tak punya perhatian. Belum kelihatan ada jalan lain. Aku tidak melihat lagi pertentangan antara binis pribadi dengan kewajibanku sebagai warga masyarakat. tidak terlalu perlu. Aku jawab asal mangap saja. Ini bukan sandiwara. tidak usah pikir terlalu panjang. Sekarang aku hidup sehat. Dan itu awal dari bahagia. TUJUH Kalau ada tetangga datang dan menanyakan apa aku akan ikut tarik tambang. Ithaca. kalau tidak. Seorang pintar yang juga bijaksana . Ah aku mulai mapan. wajah kita. Dan kalau seandainya tidak jadi dilaksanakan. Aku adalah wajahmu. Dosa kita bersama. sesuai dengan kebutuhan mulut . asal cepat. 22 Mei 1987 . aku selalu menarik paling di depan dan belepotan debu.kombinasi yang dianggap sudah amat langka. sudah aku kuasai. tidak bisa dibendung. Walhasil aku mulai merasa aman. Aku mulai sabar. Dan perintah yang di-iya-kan tidak mengharuskan orang menuruti. Ilmu ya-tidak atau tidak-ya. Aku berubah.memerintah. Masyarakat pun menyukainya. Mereka menganggap aku seorang warga yang baik. Mungkin yang penting adalah kehadirannya sebagai bunyi. Santun. meskipun kelihatan bertanya. Itu semua hanya aturan alias basa-basi permainan bersama. Apa yang terjadi sudah harus terjadi. Tak ada pengaruhnya sama sekali di belakang. Pokoknya asal kemudian kalau tarik tabang dilangsungkan. Cukup. aku pun ikut tak muncul di lapangan. Langsung saja dijawab. rencana sudah dibuat tak akan bisa berubang.

Lihat di sana juga ada anak-anak nakal. pelajari. Menjalani takdirmu sebagai ayam. Kenali. berarti aku harus berbagi. Keluarlah! Dunia sudah menanti! ANAK AYAM ITU MASUK KE DALAM SELIMUT. Bersiaplah mengarungi kehidupan. Taman Impian Jaya Ancol atau Kebun Binatang itu buang-buang duit. Ayo sempurnakan karunia hidup ini dengan jiwa yang tulus. Tidak ada yang bisa menjamahku. IA MENGINTAI KELUAR. GEDORAN BERTAMBAH SERU. Lihat. di situ ada anjing. Untuk apa ke Dufan atau Disney Land. kamu bisa tersesat dalam gelap. Bangun! Bangun! Jangan malas! Jangan biarkan matahari meninggalkan kamu di belakang. ANAK AYAM ITU TERBANGUN. IA MELIHAT ANCAMAN. Kalau tidak cepat keluar. Aku tidak perlu teman. Kalau ada orang lain. sudah waktunya kau menatap dunia. aku tidak suka bergaul. LALU IA CEPAT-CEPAT TIDUR KETIKA MENDENGAR INDUKNYA MENGETUK PINTU TOK TOK TOK Bangun. KEGARANGAN. Biarkan aku sendirian di sini. Mereka akan menginjakku. kalau sudah bisa belajar dari bacaan. EPIDEMI DAN SEBAGAINYA DI DUNIA. burung elang yang siap menyambar kalau aku keluar sekarang. Aku tidak perlu hiburan. Aku tidak mau berbagi. Bangun! Lihat saudara-saudaramu yang lain sudah berlari-lari di halaman mencari cacing. PERANG. Lagipula di sini banyak . Aku lebih suka membaca. TEROR. Tidak perlu mengalami bahaya seperti orang lain. di sini rasanya aman. Keluar sekarang? Kenapa? Apa semua ayam harus lahir. KEGANASAN. cerdas dan memiliki pikiran yang jernih. BENCANA ALAM. tunjukkan padaku kau seorang anak yang baik. SEHINGGA IA MEMUTUSKAN UNTUK MENOLAK LAHIR. SAMAR-SAMAR IA MELIHAT KEJADIAN-KEJADIAN YANG SAMA MASIH BERULANG.TOK-TOK-TOK monolog Putu Wijaya SEEKOR ANAK AYAM MENGINTAI DUNIA DARI BALIK TELUR INDUKNYA. karena aku tidak mau berkelahi. Aku tidak suka bersenang-senang. meskipun sendirian. malam akan datang. bangun anakku. Keluar dari telur yang sudah melindungiku selama ini dari segala ancaman? Tidak aku lebih senang di sini. Keluarlah. renungi masa depanmu sebelum terlambat. kucing. Aku tidak mau dijadikan mainan.

Apa mereka semua sudah pergi? Pergi ke mana? Masak aku ditinggalkan sendiri di sini. Tidak ada orang di luar sana. TAPI TAK ADA TANDA-TANDA KETUKAN. meskipun yang makan itu anak pejabat atau cucunya konglomerat. Dagingku sehat dan segar. bulu-bulunya gundul semua dicabuti. Lalu masuk ke dalam pabrik. Apa aku tidak disayang? Kenapa aku tidak disayang? Karena aku jelek? Tapi aku ayam sehat yang cantik. Untuk apa lagi lahir? TOK TOK TOK Aku lihat ayam-ayam dimasukkan ke dalam kerangkeng dibawa naik truk. Apa salahku? Kenapa yang lain dibawa aku tidak. Dari sini juga dunia sudah kelihatan. Aku tidak mau lahir. Ibu! Ibu! Ibuuuuuu! . Aku melihat sinar matahari. Aku tidak mau dimakan. Manis lagi. Mobil-mobil larinya kencang dan semuanya pernah menabrak ayam tanpa pernah dihukum. Daging ayam dipestakan di restoran. TOK TO TOK Aku lebih suka tidur. kerlip bintang dan kelap-kelip lampu jalanan. TETAPI TERNYATA TIDAK. Kalau dipanggang sekarang pasti maknyus. Di sini aku sudah betah. Keluar-keluar semuanya sudah mati. Bangun tidur aku harus bersihkan rumah. Melihat galaksi dan bima sakti. TOK TOK TOK Untuk apa buang-buang waktu jalan-jalan. Kan rumah yang bersih tanda hati kita juga putih. Kalau tidur aku bisa terbang ke langit. Kalau keluar dari sini. Dalam mimpi aku bisa mengembara ke jagatraya. menyiram kebun dan membantu ibu di dapur. Berhenti di mana saja aku suka.pekerjaan. IAMENGITIP DARI BALIK SELIMUT DAN MEMASANG KUPINGNYA. IA BERHARAP SUARA KETOKAN ITU AKAN KEDENGARAN LAGI. Lho kok sepi. Aku lihat kendaraan berseliweran. TOK TOK TOK Tidak! ANAK AYAM ITU KEMBALI MELONCAT MASUK KE DALAM SELIMUTNYA. Digantung dijual di pinggir jalan. aku pasti akan celaka. TOK TOK TOK Tidak. TAPI TIDAK ADA SUARA. AKHIRNYA IA BANGUN DAN MENGINTIP. IA MENUNGGU SEBENTAR.

tunjukkan padaku kau seorang anak yang baik. mereka melambaiku. capung. Udaranya segar. Aku benci pada diriku sendiri! MEMUKUL-MUKUL DAN TIBA-TIBA TELUR ITU PECAH. Puisi yang paling aku sukai adalah puisi tentang bunga: Kupetik bunga dari dalam hatiku Kupersembahkan kepadamu Ibu Bermula aku takut lahir karena dunia Nampak hanya diisi oleh bencana Tapi kini menatap dan memegang Langit biru hamparan padang hijau Aku tahu semua itu hanya ilusi Dunia masih menyisakan keramahan Bagi dia yang tak malas mencari Dunia ini harus diperbaiki Bagi dia yang sudah melihat bahayanya TOK TOK TOK Ayo bangun. Aku memang tidak bisa. Keluarlah. Tidak. bangun anakku. angin menggoyangkan pucuk-pucuk lalang. Burung-burung. Ada anak-anak ayam seperti aku berlari-larian. Tidak seperti waktu aku di dalam sana? Ternyata dunia indah ya! Wah. !Aku benci kepada kemalasan! Aku benci pada kedengkian! Aku benci pada kemalasan! Aku benci kepada orang yang kerjanya hanya tidur melulu. aku tidak malu.TAK ADA JAWABAN Ibuuuuuu! Jangan tinggalkan aku di sini! Apa salahnya aku tidur! Apa salahnya aku tidak mau lahir? Apa salahnya aku tidak mau menderita? Apa salahnya aku benci pada kekerasan. Namaku Cinta! Tapi aku tidak bisa menari. Ada bunga-bunga jambu berguguran. Menari-nari. waduh apa itu? Aku mencium bau harum. bangun IA BERUBAH MENJADI INDUK AYAM YANG MEMANGGIL ANAKNYA SUPAYA JANGAN RAGU-RAGU LAHIR MEMASUKI KEHIDUPAN. Menjalani takdirmu sebagai ayam. Karena aku selalu baca buku. Lho ini di mana? Kok enak. bangun. sudah waktunya kau menatap dunia. Bersiaplah mengarungi kehidupan. Mereka mengajak aku main. IA LAHIR. Menyanyi juga suara jelek. cerdas dan . Aku hanya bisa membaca puisi. Lihat langit biru sekali. Bangun. Ada yang goreng ikan asin di situ.

kamu bisa tersesat dalam gelap.memiliki pikiran yang jernih. Bangun! Lihat saudara-saudaramu yang lain sudah berlari-lari di halaman mencari rahasia-rahasia kehidupan TOK TOK TOK BERJALAN MENGETUK-NGETUK PINTU TELUR-TELUR YANG SEHARUSNYA SUDAH MENETAS Bangun! Bangun! Bangun! Jakarta 11 April 10 . pelajari. Kalau tidak cepat keluar. Keluarlah! Dunia sudah menanti TOK TOK TOK Bangun! Bangun! Jangan malas! Jangan biarkan matahari meninggalkan kamu di belakang. Kenali. Ayo sempurnakan karunia hidup ini dengan jiwa yang tulus. malam akan datang. renungi masa depanmu sebelum terlambat.

Sehingga walau pun Amat tak sanggup memberikan keluarga segala yang diharapkan oleh keluarga dari seorang kepala rumah tangga. “Terimakasih Pak Amat. asal sudah berusaha secara maksimal. Itu sangat baik. Dan ibu sudah melakukannya dengan baik sekali. Ibu dengan bijaksana. Ibu cepat-cepat menyadarkannya kembali untuk bekerja. anak tetap tertawa di dalam rumah. agar dia bisa menjadi laki-laki sejati. Usaha Bapak untuk membuat istri selalu bisa senyum. Bahkan di saat ia menjadi begitu brengsek. Kalau perlu. sungguh indah. sungguh mulia. bahkan agung. Bahkan begitu lemahnya. Lelaki tidak seharusnya merasa dirinya . dengan penuh kasih saying merawatnya. Jadikanlah dirimu cahaya yang tidak hanya menerangi jalan kaummu. sehingga pernikahan buat dia adalah mencari teman hidup.KARTINI monolog Putu Wijaya Ibu datang ke kamar perempuan yang sudah ibu-ibu itu dan menyapa: “Selamat malam. Di saat ia merasa dirinya lemah. Jangan berhenti mendorongnya untuk terus meningkatkan diri. tingkatkan dan arahkan. Terimakasih banyak atas semua yang sudah Bu Amat perbuat kepada suami ibu serta putri Ibu selama ini. Kalah dan gagal pun tak jadi apa. Namun pelihara api asmaramu tetap menyala. Itulah yang ingin saya sampaikan kepada semua perempuan Indonesia. Namun ada satu permintaan yang ingin saya sampaikan. hanya menghasilkan sebuah rumah yang sederhana dan kehidupan yang tidak bisa dikatakan mewah. juga jalan teman hidupmu yang telah kau pilih sebagai teman hidupmu selama-lamanya. Dengan begitu. sehingga dia tetap merasa dirinya berguna. bahkan memanjakannya. Ibu nampak selalu berusaha untuk menghargai. Menyayanginya. sehingga kebanggaannya sebagai kepala rumah tangga tidak berkurang. jangan segan-segan bertindak dan menegurnya secara keras. Ibu benar-benar sudah menunjukkan bagaimana seorang Ibu yang berkepribadian Timur seharusnya bersikap di dalam keluarga. tetapi Ibu selalu menerima dan menghargainya. Tidak semua lelaki itu kuat. menghormati. Ia seperti sebatang pohon merambat yang memerlukan penyangga untuk berkembang. Banyak di antaranya yang lemah. bahkan sering mengutamakannya dengan mengenyampingan perasaan Bapak. Mula-mula terima. menjaga perasaan suami Ibu.” Pada saat yang sama Ibu juga menghampiri suaminya dan berbisik. Jangan hanya menerima kekurangannya. Bu Amat. dengan selalu menghargai dan menghormati pendapatnya. mampu serta dicintai. berusaha dan awas terus di dalam kehidupan. Ibu tak pernah mengurangi kasih sayang Ibu. jangan dikurangi hanya karena merasa sudah tua. Ibu sudah menumbuhkan kepercayaan diri pada Pak Amat. Bagusnya lagi adalah kendati maksimal yang ia bisa lakukan. Di saat ia sakit. untuk menolongnya tegak. tetapi dia sudah mampu bertahan dan mengembangkan dirinya secara maksimal. tetapi kemudian tolong tumbuhkan. kata Ibu. Sikap Bapak dalam memperlakukan istri mau pun putri Bapak. Tetapi begitu Pak Amat mulai menemukan kembali dirinya. Ibu juga tidak pernah membanding-bandingkan sumai Ibvu dengan suami-suami yang lebih sukses.

Bukan karena tak sayang. Ibu hidup di masa lalu. “Ami. Tapi Bapak tidak. itu yang tidak baik. Kamulah yang seharusnya membuat rumah menjadi bercahaya. Bapak tetap tenang. keduanya sudah semakinn tua. Bukan Ibu menyuruh putrid-putri Indonesia memakai pakaian menirukan Ibu. Jangan menutup mulut. Kalau Ibu hidup di masa kamu hidup sekarang. apa yang sudah kamu lakukan bagus sekali. Bahkan ketika istri Bapak tidak pernah lagi membelai-belai pak Amat. Bapak selalu berusaha untuk mengertikan kenapa istri dan putrid Bapak berpendapat lain. kalau bukan anak yang harus memperbaikinya? Tapi kalau mereka benar. Kamu telah dengan berani bisa menentang Bapak dan Ibu kamu. Bapak tidak peduli. orang tuamu. tetapi dia juga cahaya rumah. Bahkan ketika Bu Amat sama sekali tidak mempedulikan apa yang sudah Bapak lakukan untuk keluarga. Cara mendudukkan permasalahan. Perempuan Indonesia berhak bersuara. Bapak selalu mengatakan bahwa bukan apa yang dilakukan istri Bapak yang Bapak nilai. Ibu benar-benar ingin bicara kepadamu sekarang antara perempuan dengan perempuan. tetapi cara berpikir. Takut akan menyebabkan orang bisa berbohong. Bapak tetap bersabar. mungkin Ibu juga akan memakai apa yang kamu pakai dan berpikir seperti apa yang kamu pikirkan. sesudah kamu menyadarinya. bergerak sesuai dengan kodrat dan kebutuhan masing-masing pribadinya dengan memperhatikan budaya Timur. putrinya. Di dalam berbeda pendapat. Dia bukan hanya cahaya hati di hati orang tua. seperti waktu masih pacaran.lebih penting dan lebih bertanggungjawab di dalam keluarga. Jadi mungkin dengan segala kebaikan Bapak itu. tetapi isinya. Dan karena kamu anak perempuan. Perempuan Indonesia jangan pernah merasa dirinya lemah dan berserah saja. Budaya Timur itu apa Ami? Bukan hanya pakaiannya. Sebagai seorang anak. Kalau tidak. serta keluarganya. Bahkan dalam kesibukannya. Tunjukkan kepada mereka. Seorang anak memang harusnya begitu. bahwa Bapak memerlukan mereka.. mereka akan bertambah jauh nanti dan bisa-bisa malah sama sekali tidak mempedulikan Bapak. lebih mengutamakan kepentingan dirinya. Tapi karena mereka menyangka. kamu juga harus dengan ikhlas menyatakan dirimu keliru. siapa lagi. memang Bapak lebih senang sendiri. Jadi ke depan. katakan apa yang Bapak inginkan. Bohong dapat menimbulkan perselisihan. Bapak memperlakukan putri Bapak dengan begitu baiknya. tetapi apa yang menyala di dalam hatinya. Ami. supaya mereka merasa dirinya berguna. Kamu bertambah maju. Bapak telah memberikan kesempatan seluas-luasnya pada istri dan anak Bapak untuk mengembangkan pikiran dan perasaan mereka. Bapak juga sudah bersikap adil. Tidak selamanya orang tua itu benar. Banyak orang merindukan anak lelaki dan kecewa karena hanya punya anak perempyuan. kamu menjadi contoh bagaimana menghormati orang tua. Dan kalau mereka membuat kesalahan. Jangan biarkan istri Bapak sibuk dengan dirinya dan putri Bapak merasa bapaknya terlalu tegar sehingga tidak memerlukan bantuan. mereka juga tetap . ketika Bu Amat seperti tidak mengacuhkan Bapak. Semoga kamu mengerti apa yang Ibu maksudkan. walau pun tugasnya memang berat. ya terus. sehingga mirip memanjakan. Akhirnya Ibu juga menemui Ami. Bukan sanggul atau gelungan Ibu yang hendak Ibu wariskan. Ibu hanya berharap jangan tampak luarnya. putri semata wayang mereka berdua. Walaupun Bu Amat tiidak pernah atau jarang sekali mengucapkan maaf kalau melakukan kesalahan. jangan takut untuk memperlihatkan kelemahan. Itu tidak boleh terjadi. kalau mereka salah. Menghormati tidak berarti harus takut atau bilang ya. dari perjalanan Ibu di masa lalu yang harus kamu simak. orang jadi merasa bahwa memang Pak Amato rang kuat yang tidak memerlukan kasih sayang. Terhadap putrid Bapak. Bapak tetap tegar. Dan satu hal yang ingin Ibu sampaikan. Nah.

Jadi kamu jangan tertipu. Ibu sudah terlalu memanjakan suamimu Ibu. aku tidak berani lagi sekarang bicara kepada kamu. Itulah kepribadian kita. Ibu berbunyi lain-lain? Manado 13 April 2010 . “Masak begitu?” Ami tertawa. Bu Amat menoleh suaminya. sekarang adalah era kamu Ami. sampai-sampai dia jadi malas dan kurang memperhatikan istri dan anaknya! Sebagai perempuan kamu harus keras pada suamimu. ketiganya saling mengusut dan mencocokkan. “Ami juga disamperin Ibu kita Raden Ajeng Kartini. “Pesannya apa?” Amat terdiam dan berpikir. Ibu tidak berani lagi memberikan komentar. ketiga-tiganya sangat kaget dengan pengalaman yang bersamaan itu. Usia tidak menjadi ukuran kedewasaan. tapi kalian jangan terkejut. kalau tidak nanti dia karatan!” Amat terkejut. tetapi lebih arif-bijaksana dan lebih luas pandangannya dari generasi yang lebih tua. Sekarang ini bukan zaman Ibu. “Ayo pesannya apa. Ami. Hormati mereka!” “O ya?” “Ya! Kalau sama Ibu dia ngomong apa?” Bu Amat berpikir. kamu belum benar-benar menghargai istri dan anakmu sebagai perempuan. Generasi baru harus bukan hanya lebih berani saja. tapi kenyataannya Raden Ajeng Kartini semalam datang kepadaku dan berpesan!” kata Amat. Mulai sekarang tingkatkan penghargaanmu.” Bu Amat. “Ayo terus terang!” “Kartini bilang. “Percaya tidak percaya. katanya. Kartini berpesan kepadaku: Amat. tetapi kemampuan mereka tidak lagi selincah kamu. Semoga masa depanmu cerah anakku. Bicaralah! Tunjukkan gigimu!” Amat. Pagi esoknya ketika sarapan di meja makan.berusaha untuk maju. Jangan ngarang?” “Oke. Bu Amat dan Ami pandang-pandangan. sebab Ibu sudah ketinggalan zaman. Pak Amat dan Ami. Benarkah pada setiap orang. Usia bukan ukuran kematangan. Dia dia bilang.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->