Anda di halaman 1dari 3

Diabetes mellitus tipe 2 Tipe ini dikenal juga dengan nama diabetes mellitus nondependeninsulin (NIDDM), ditandai oleh

resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Diabetes tipe 2 merupakan bentuk tersering. Penyakit ini biasanya timbul setelah usia 40 tahun dan tidak berkaitan dengan hilangnya seluruh kemampuan mensekresi insulin. Sebagian besar penderitanya mengalami kegemukan, dan toleransi glukosanya membaik apabila mereka menurunkan berat badan. Diabetes melitus tipe-2 adalah kelompok DM akibat kurangnya sensitifitas jaringan sasaran (otot, jaringan adiposa dan hepar) berespon terhadap insulin. Penurunan sensitifitas respon jaringan otot, jaringan adiposa dan hepar terhadap insulin ini, selanjutnya dikenal dengan resistensi insulin dengan atau tanpa hiperinsulinemia. Faktor yang diduga menyebabkan terjadinya resistensi insulin dan

hiperinsulinemia ini adalah adanya kombinasi antara kelainan genetik, obesitas, inaktifitas, faktor lingkungan dan faktor makanan (Ganong, 2003). Secara patofisiologi, DM tipe 2 ini bisa disebabkan karena dua hal yaitu (1) penurunan respon jaringan perifer terhadap insulin. Peristiwa tersebut dinamakan resistensi insulin, dan (2) Penurunan kemampuan sel pankreas untuk

mensekresi insulin sebagai respon terhadap beban glukosa. Sebagian besar DM tipe 2 diawali dengan kegemukan. Sebagai kompensasi, sel pankreas merespon

dengan mensekresi insulin lebih banyak sehingga kadar insulin meningkat (hiperinsulinemia). Konsentrasi insulin yang tinggi mengakibatkan reseptor insulin berupaya melakukan pengaturan sendiri (self regulation) dengan menurunkan jumlah reseptor atau down regulation. Hal ini membawa dampak pada penurunan respon reseptornya dan lebih lanjut mengakibatkan terjadinya resistensi insulin. Di lain pihak, kondisi hiperinsulinemia juga dapat

mengakibatkan desensitisasi reseptor insulin pada tahap postreseptor, yaitu penurunan aktivasi kinase reseptor, translokasi pengangkut glukosa dn aktivasi glikogen sintase. Kejadian ini mengakibatkan terjadinya resistensi insulin. Dua kejadian tersebut terjadi pada permulaan proses terjadinya DM tipe 2. Hal tersebut mngindikasikan telah terjadi defek pada reseptor maupun postreseptor insulin.

Pada resistensi insulin, terjadi peningkatan produksi glukosa dan penurunan penggunaan glukosa sehingga mengakibatkan peningkatan kadar gula darah (hiperglikemik) (Nugroho,2006). Diabetes mellitus tipe 2 terjadi karena lemahnya kemampuan pankreas dalam mensekresikan insulin yang dikombinasikan dengan lemahnya aksi insulin, sehingga menyebabkan penurunan sensitivitas insulin. Penurunan sensitivitas insulin terjadi pada permukaan sel tubuh yang dinamakan reseptor insulin; reseptor insulin akan memberikan sinyal pada pengangkut glukosa untuk memungkinkan lewatnya glukosa yang dibawa oleh hormon insulin masuk ke dalam sel. Di dalam mitokondria, glukosa tersebut akan digunakan untuk menghasilkan energi yang diperlukan dalam pelaksanaan fungsi setiap sel tubuh (Hartono dalam Fachreza, 2009). Insulin yang diproduksi pada sel pankreas akan menempati reseptornya,

yang kemudian memberikan sinyal transduksi pada pengangkut glukosa untuk dapat melakukan penyerapan glukosa, sehingga glukosa yang beredar dalam darah akan masuk ke dalam sel. Penurunan sensitivitas insulin pada penderita DM tipe 2 dapat disebabkan oleh kerusakan sinyal transduksi (Rimbawan dan Siagian dalam Fachreza, 2009). Sinyal transduksi atau disebut juga sinyal sel (cell signalling) merupakan suatu proses komunikasi yang meliputi konsep tentang tanggapan sel terhadap rangsangan dari sekelilingnya yang disusul dengan timbulnya reaksi di dalam sel. Kerusakan sinyal transduksi pada DM tipe 2 dapat dimulai dari insulin abnormal sampai kerusakan pada reseptor insulin pengangkut glukosa. Reseptor insulin ini merupakan reseptor tirosin kinase (RTK) yang terdiri dari 2 subunit dan 2 subunit . Subunit terdapat di bagian luar membran sel yang mampu merupakan bagian

berikatan dengan hormon insulin, sedangkan subunit

transmembran yang meneruskan sinyal ke dalam sel (Rudijanto dan Kalim, 2006). Kerusakan sinyal transduksi ini dapat disebabkan oleh terjadinya disfungsi mitokondria. Disfungsi mitokondria ini terjadi akibat adanya akumulasi mutasimutasi pada daerah D-loop mtDNA yang di luar ambang batas toleransi. Seperti diketahui bahwa D-loop merupakan titik awal untuk proses replikasi dan transkripsi yang terjadi pada mtDNA. Adanya mutasi-mutasi di daerah D-loop

mtDNA dapat mengubah ikatan DNA pada daerah tersebut, sehingga dapat mempengaruhi interaksi antara protein-protein pengontrol transkripsi dan replikasi dengan rantai DNA sendiri. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya kesalahan dalam proses replikasi maupun transkripsi (Poulton, 2002). Seiring dengan kejadian tersebut, pada permulaan DM tipe 2 terjadi peningkatan kadar glukosa dibanding normal, namun masih diiringi dengan sekresi insulin yang berlebihan (hiperinsulinemia). Hal tersebut menyebabkan reseptor insulin harus mengalami adaptasi sehingga responnya untuk mensekresi insulin menjadi kurang sensitif, dan pada akhirnya membawa akibat pada defisiensi insulin. Pada DM tipe 2 akhir telah terjadi penurunan kadar insulin akibat penurunan kemampuan sel pankreas untuk mensekresi insulin, dan

diiringi dengan peningkatan kadar glukosa dibandingkan normal (Nugroho, 2006). Gejala diabetes mellitus tipe 2 muncul secara perlahan-lahan sampai menjadi gangguan yang jelas. Pada tahap permulaannya terdapat gejala-gejala berikut ini: 1. Cepat lelah, kehilangan tenaga, dan merasa tidak fit 2. Sering buang air kecil 3. Terus-menerus lapar dan haus 4. Kelelahan berkepanjangan dan tidak ada penyebabnya 5. Mudah sakit berkepanjangan 6. Biasanya terjadi pada mereka yang berusia diatas 40 tahun (Maulana, Mirza: 2008)

(Ganong, W.F. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta. EGC)