Anda di halaman 1dari 9

1.

bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringa granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatoma yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberculosis. 2. Gangguan pendengaran Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit atau kolesteatoma, dapat menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila tidak dijumpai kolesteatoma, tuli konduktif kurang dari 20 dB ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 dB. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatoma bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati. Penurunan fungsi koklea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui tingkap bundar (foramen rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjaninya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi koklea. 1,2,3,4,5,6,7,8,9 3. Otalgia (nyeri telinga) Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret,

terpaparnya duramater atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. 4. Vertigo Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatoma. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada penderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan menyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Fistula merupakan temuan yang serius karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin berlanjut menjadi meningitis. Temuan klinis OMSK tipe maligna antara lain : a) Adanya abses atau fistel retroaurikuler b) Jaringan granulasi atau polip di liang telinga yang berasal dari kavum timpani c) Pus yang selalu aktif atau berbau busuk d) Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatoma B. PEMERIKSAAN AUDIOMETRI Pada pemeriksaan audiometric penderita OMSK biasanya didapati tuli konduktif. Tetapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensorineural, beratnya ketulian tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem penghantaran suara di telinga tengah. Paparela, Brady dan Hoel (1970) melaporkan pada penderita OMSK ditemukan tuli sensorineural yang dihubungkan dengan difusi produk toksin ke dalam

skala timpani melalui membran foramen rotundum, sehingga menyebabkan penurunan ambang hantaran tulang secara temporer atau permanen yang pada fase awal terbatas pada lengkung basal koklea tetapi dapat meluas ke bagian apeks koklea. Evaluasi audiometric penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi koklea. Dengan menggunakan audiometric nada murni pada hantaran udara dan tulang, biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat diperkirakan dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk perbaikan pendengaran. C. PEMERIKSAAN RADIOLOGI Pemeriksaan radiologi daerah mastoid pada penyakit telinga tengah kronis nilai diagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometric. Pemeriksaan radiologi biasanya mengungkapkam mastoid yang tampak sklerotik, lebih kecil denga pneumatisasi lebih sedikit dibandingkan mastoid yang satunya atau yang normal. Erosi tulang, terutama pada daerah atik memberikan kesan kolesteatoma. Proyeksi radiografi yang sekarang baisnya digunakan adalah : 1. Proyeksi Schuller, yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. Pada keadaan mastoid yang sklerotik, gambaran radiologi ini sangat membantu ahli bedah untuk menghindari dura atau sinus lateral. 2. Proyeksi Mayer atau Owen, diambil dari arah anterior telinga tengah, akan tampak gambaran tulang-tilang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur. 3. Proyeksi Stenver, memperlihatkan gambaran sepanjang pyramid petrosus dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum, dan kanalis semisirkularis. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukkan adanya pembesaran akibat kolesteatoma.

4.

Proyeksi Chausse III, memberikan gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatoma, ada atau tidak tulang-tulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula pada kanalis semisirkularis horizontal. Keputusan untuk melakukan operasi jarang berdasarkan hanya dengan hasil sinar X saja. Pada keadaan tertentu seperti bila dijumpai sinus lateralis terletak lebih anterior menunjukkan adanya penyakit mastoid.

D. PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGI Walaupun perkembangan dari OMSK merupakan lanjutan dari mulainya infeksi akut, bakteriologi yang ditemukan pada sekret yang kronis berbeda dengan yang ditemukan pada otitis media supuratif akut. Bakteri yang sering dijumpai pada OMSK adalah Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, dan Moraxella catarrhalis. Bakteri lain yang juga dijumpai pada OMSK yaitu Escherichia coli, Difteroid, Klebsiella dan bakteri anaerob seperti Bacteroides sp. Infeksi telinga biasanya masuk melalui tuba dan berasal dari hidung, sinus paranasal, adenoid atau faring. Dalam hal ini penyebab biasanya adalah Pneumococcus, Streptococcus, atau Haemophylus influenza. Tetapi pada OMSK keadaan ini agak berbeda. Karena adanya perforasi membran timpani, infeksi lebih sering berasal dari luar yang masuk melalui perforasi tadi. Pengobatan penyakit infeksi ini sebaiknya berdasarkan kuman penyebab dan hasil kepekaan kuman. 7. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan penyakit telinga kronis efektif harus didasarkan pada faktor-faktor penyebabnya dan pada stadium penyakitnya. Dengan demikian pada waktu pengobatan haruslah dievaluasi faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis,

perubahan-perubahan anatomi yang menghalangi penyembuhan serta mengganggu fungsi, dan proses infeksi yang terdapat di telinga. Bila didiagnosis kolesteatoma, maka mutlak harus dilakukan operasi, tetapi obat-obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi sebelum operasi.

PEDOMAN TATALAKSANA OMSK


OTOREA KRONIS OTOSKOPI MEMBRAN TIMPANI UTUH MEMBRAN TIMPANI PERFORASI

OTITIS EKSTERNA DIFUSA OTOMIKOSIS DERMATITIS/EKSIM OTITIS EKSTERNA MALIGNA MIRINGITIS GRANULOMATOSA

OMSK

KOMPLIKASI (-)

KOMPLIKASI (+)

KOLESTEATOMA (-) OMSK BENINGNA

KOLESTEATOMA(+) OMSK BAHAYA

LIHAT LIHAT ALGORITMA 1 ALGORITMA 2

Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi, di mana pengobatan dapat dibagi atas : 1. Konservatif 2. Operatif OMSK BENIGNA INAKTIF Pasien dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi (miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran.13 OMSK BENIGNA AKTIF Prinsip pengobatan OMSK benigna aktif adalah : 1. Pembersihan liang telinga dan kavum timpani (toilet telinga) Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk perkembangan mikoorganisme karena sekret telinga merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme (Fairbank, 1981) Cara pembersihan liang telinga (toilet telinga) : y Toilet telinga secara kering (dry mopping) Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril, setelah dibersihkan dapat diberi antibiotik berbentuk serbuk. Cara ini sebaiknya dilakukan di klinik atau dapat juga setiap hari sampai telinga kering y Toilet telinga secara basah (syringing)

Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan nanah, kemudian dengan kapas lidi steril dan diberi serbuk antibiotik. Meskipun cara ini sangat efektif untuk membersihkan telinga tengah, tetapi dapat mengakibatkan penyebaran infeksi ke bagian lain dan ke mastoid (Beasles, 1979). Pemberian serbuk antibiotik dalam jangkan panjang dapat menimbulkan reaksi sensitivitas pada kulit. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk antiseptic, misalnya asam borat dengan iodine.13 GBR EAR SYRIGN y Toilet telinga dengan pengisapan (suction toilet) Pembersihan dengan suction pada nanah dengan bantuan operasi mikroskopis adalah metode yang paling popular saat ini. Kemudian dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. Akibatnya terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Pada orang dewasa yang kooperatif cara ini dilakukan tanpa anestesi tetapi pada anak-anak diperlukan anestesi. Pencucian telinga dengan H2 O2 3% akan mencapai sasarannya bila dilakukan dengan displacement method seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann 4 2. Pemberiam antibiotik topical Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiiotik topical untuk OMSK. Pemberian antibiotik secara topical pada telingan dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan dulu adalah tidak efektif. Bila sekret berkurang / tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan

kortikosteroid.

Obat-obatan topical dapat berupa bubuk atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu. Bubuk telinga yang digunakan seperti : a) Acidum boricum dengan atau tanpa iodine b) Terramycin c) Acidum boricum 2,5 gram dicampur dengan kloromicetin 250 mg Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga, baik pada anak maupun dewasa. Antibiotik topical yang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah : a) Polimiksin B atau Polimiksin E Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif, Pseudomonas, E. coli, Klebsiella, Enterobacter, tetapi resisten terhadap gram positif seperti Proteus, Bacillus fragilis, tetapi bersifat toksik terhadap ginjal dan susunan saraf.

Beri Nilai