Anda di halaman 1dari 23

TUGAS TUTORIAL PERTANIAN BERLANJUT

TUGAS TUTORIAL PERTANIAN BERLANJUT Oleh Akhmad Luthfi A. 0910483085 PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

Oleh Akhmad Luthfi A.

0910483085

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2011

Teknis Budidaya di titik observasi (Daerah Junrejo Desa Beji Kota Batu)

1. Pengolahan Lahan Pengolahan lahan dilakukan dengan cara mengolah tanah dengan mencangkul dan diberi pupuk kandang (kotoran ayam + sapi) agar tanah menjadi gembur dan kaya akan bahan organik, kemudian ditambahkan pula pupuk anorganik (urea). Selanjutnya dibuat guludan.Penanaman bawang merah dan bawang putih dilakukan pada saat musim kemarau karena agar produksinya juga maksimal karena jika pada musim penghujan jika terlalu banyak air maka dapat menyebabkan kebusukan pada bawang tersebut dan karena disini tidak kekurangan air.Di daerah tersebut sebelum penanaman dan waktu pengolahan tanah diberi pupuk terlebih dahulu untuk mengembalikan unsure hara dan menambah bahan organic serta dapat membuat tanah menjadi lebih subur.

2. Pemberian pupuk dasar

Pemberian pupuk dasar dilakukan setelah pengolahan tanah. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik yang sudah matang seperti pupuk kandang ayam dengan dosis 5-6 ton/ha. Selain itu digunakan juga pupuk urea. Yang diaplikasikan 2-3 hari sebelum tanaman dengan cara disebar lalu diaduk secara merata dengan tanah. Pemberian pupuk organik digunakan untuk memelihara dan meningkatkan produktivitas lahan.

3. Penanaman Secara umum, tujuan penanaman yaitu untuk memperoleh hasil yang sebanyak- banyaknya dengan mutu yang baik.Untuk memperoleh tanaman yang subur dan sehat diperlukan pengolahan tanah yang sempurna.

a.

Persiapan

Persiapan yang dilakukan harus dikontrol secara cermat.Andaikata masih ada rumput-rumput liar yang tumbuh di bedengan harus secepatnya dicabut beserta akar-

akarnya, sebab dikhawatirkan akan tumbuh lagi bersama bibit yang baru ditanam. Sebelum menanam bibit bawang merah, tanah bedengan sebaiknya diberi npupuk kandang atau pupuk buatan yang digunakan sebagai pupuk dasar.Pada saat hendak ditanam, terlebih dahulu menyiram bedengan, agar tanah menjadi lembab dan mempermudah penancapan bibit yang hendak ditanam.

b. Waktu penanaman

Penanaman bibit bawang merah biasanya dilakukan pada saat akhir musim hujan, kira-kira bulan april, mei, juni atau menjelang akhir musim kemarau, kira-kira

bulan oktober.Pada umbi bibit yang hendak ditanam sudah mulai ada tanda-tanda aka nada akar.

c. Cara Penanaman

Jika persiapan bibit cukup banyak, sebaiknya digunakan umbi yang berukuran cukup besar, sebab kelak usia panen cenderung lebih cepat jika dibandingkan dengan umbi bibit yang berukuran kecil.Untuk itu sebaiknya penanaman bibit harus seragam. Penanaman bibit sebaiknya dilakukan secara teratur, rapi dan sejajar, menggunakan blak atau yang terbuat dari bambu.Jarak tanam antar barisan sekitar 15 20 sentimeter, sedangkan antar tanaman sekitar 8 10 sentimeter. Pada waktu tanam, bagian pangkal bibit berada di bawah.Bibit ditanam atau dibenamkan 2/3 bagian di bawah permukaan tanah, sedangkan 1/3 bagian bibit harus ada di permukaan tanah.Jika penanaman bibit terlalu dalam dapat mengakibatkan kesulitan pertumbuhan pada tunas dan bibit mudah rusak.Sebaliknya jika letak bibit kurang dalam mudah terbawa oleh pengikisan tanah yang diakibatkan hujan atau waktu penyiraman.

4.

Pemeliharaan

a. Penyiraman

Tanaman bawang membutuhkan air cukup, lebih-lebih jika pertumbuhannya subur dan cepat.Pada musim penghujan perlu adanya perhatian sungguh-sungguh, karena apabila terlalu banyak air akan menyebabkan tanah selalu lembab, sehingga mudah terkena penyakit busuk umbi.

Maksud dari penyiraman adalah :

Menggantikan air yang sudah banyak menguap pada siang hari.

Mengembalikan kekuatan tanaman hingga malam hari.

Penambahan terhadap tanaman-tanaman yang kurang air. Tanaman yang masih berumur muda memerlukan penyiraman yang lebih banyak daripada tanaman yang sudah berumur 1 bulan.Intensif penyiramannya yaitu 2- 4 kali dalam seminggu, hal tersebut agar menjaga tanah tidak kekeringan.Di samping itu pemberian air secara berlebihan sama sekali tidak dibenarkan, sebab disamping

mempengaruhi pada umbi, juga mengakibatkan padatnya tanah yang akhirnya mengganggu peredaran udara di dalam tanah. Tanaman bawang merah setiap pagi harus disiram menggunakan

gembor.Apabila tanaman dalam keadaan sehat, penyiraman dilakukan pada waktu pagi hari, tetapi jika tanaman kuirang subur atau pertumbuhannya lambat, maka penyiraman dilaksanakan sore hari.

b. Penyiangan

Untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, maka rumput-rumput liar yang tumbuh disekitar tanaman bawang merah harus disiang atau dicabut menggunakan

bambu yang dibelah hingga pipih dan runcing. Pelaksanaan penyiangan rumput dapat pula dilaksanakan pada saat-saat tertentu jika tanaman selalu diganggu oleh rumput.Penyiangan rumput-rumput liar sangat diperlukan karena di samping merugikan tanaman, juga menghalangi pertumbuhan.Rumput liar selalu menghisap dan merebut zat-zat makanan yang diperlukan tanaman bawang merah, dan juga merebut cahaya, CO 2, yang mestinya sangat dibutuhkan oleh tanaman bawang merah.

c. Penyulaman

Pekerjaan ini dilakukan pada awal pertumbuhan hingga umur kurang lebih 7 HST, dengan cara mengganyi bibit yang mati atau busuk.

5. Pemupukan Tujuan pemupukan Tanaman bawang merah banyak menghisap zat-zat makanan dari dalam tanah.Sudah barang tentu semakin lama zat-zat makanan di dalam tanah makin berkurang, maka kekurangan zat tersebut harus ditambah dari luar yaitu dengan memberikan jenis pemupukan. Pemupukan tidak hanya sekedar menambah zat-zat makanan tanaman di dalam tanah, tetapi juga berusaha supaya zat-zat makanan tidak terlalu diserap terus oleh tanaman.Hal ini pupuk tidak dihisap oleh tanaman,melainkan hanya untuk memperbaiki struktur tanah.

6. Pengelolaan hama dan penyakit Hama penyakit yang sering menyerang tanaman bawang merah antara lain ulat grayak (Spodoptera litura), trips, ulat bawang, bercak ungu (Alternaria porli), busuk umbi fusarium dan busuk putih sclerotum, busuk daun Stemphylium dan virus.Pengendalian dilakukan 3 hari sekali dengan cara menyemprotkan pestisida (fungisida + insektisida),

apabila musim tidak bersahabat penyemprotan dilakukan 2 hari sekali dengan penambahan dosis sampai dengan panen.

7. Panen dan Pengolahan Pasca Panen

7.1 Saat dan Tanda-tanda Siap Panen Tanaman bawang merah dapat dipanen hasilnya setelah berumur 60 90 hari dari saat tanam, atau tergantung varietas dan tujuan penggunaan hasil umbinya.Ciri-ciri umum bawang merah siap dipanen adalah :

a) Tanaman telah cukup tua, hamper 60% - 90 % leher batangnya lemas dan daun- daunnya menguning.

b) Umbi lapis sudah kelihatan penuh (padat) berisi dan tersembul sebagian di atas

tanah.

c) Warna kulitnya telah mengkilap atau memerah, tergantung varietas atau kultivarnya.

d) Batangnya lemas dan daunnya menguning ( Bila akan digunakan untuk bibit ) Untuk keperluan konsumsi, biasanya dipanen sewaktu daun-daunya menguning

60%-70% dan batangnya telah melemas.Umbi yang dipanen terlalu muda akan cepat susut dan keropos seaktu dalam penyimpanan, sehingga bobot umbi cenderung menurun drastic.

a) Cara Panen Panen bawang merah dilakukan pada saat tanahnya kering, untuk menjalarkan penyakit tular tanah maupun penyakit tular bibit seperti busuk umbi. Cara panen bawang merah adalah dengan mencabut rumpun tanaman beserta batangnya.Hasil panen dikumpulkan di suatu tempat penampungan.Pada pertanaman yang baik dapat dihasilkan 10 21 ton umbi basah/hektar. 7.2 Penanganan Pasca Panen

Pembersihan dang pengikatan

Umbi bawang dibersihkan dari tanah dan akar yang menempel dengan alat bantu pisau tajam secara hatihati agar tidak menyebabkan luka atau rusak pada umbinya.

Untuk memudahkan pengangkutan dari kebun ke tempat penjemuran dilakukan pengikatan ratarata 2 kg/ikatan.

Pengeringan

Yakni dengan cara dijemur dibawah sinar matahari minggu sambil di bolak-balik hingga keringnya merata.Tempat pengeringan dapat di atas tanah rata yang dialasi anyaman bambu ataupun di lantai penjemuran.

Penyimpanan

Ikatan bawang digantungkan di atas para-para tungku dapur.

Ikatan bawang merah digantungkan di ruang terbuka pada suhu 26-29 O C dan kelembapan udara 70 - 80

Di gudang atau penyimpanan atau ruangan bersuhu dingin.

HASIL IDENTIFIKASI DAN ANALISIS PERMASALAHAN SISTEM BUDIDAYA TANAMAN DARI PRAKTEK-PRAKTEK PETANI SELAMA INI GUNA MENUJU PEMBANGUNAN PERTANIAN BERBASIS EKOLOGIS

Dari hasil observasi yang kita dapat, petani bawang merah di daerah beji kecmatan Junrejo kota Batu masih menggunakan pestida yang cukup tinggi untuk terus dapat menghasilkan produk-produk pertanian. Tetapi jika dilihat dari kekurangannya pestisida dapat mencemari lingkungan juga tanah yang berdampak pada ekosistemnya, menurut beberapa referensi dapat diambil kesimpulan bahwa Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut.

Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut. Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia asing yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas. Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti konsentrasi DDT pada burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat Kematian anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.

Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan- bahan kimia derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama. (Anonymous, 2011)

Pada pengolahan tanah awal petani menggunakan pupuk organik yang berbahan dasar dari kotoran hewan, kemudian pada masa tanam petani menggunakan pupuk anorganik

contohnya TSP, Za, urea dengan ketentuan 3hari sekali pada masa awal penanaman,kemudian pada masa pertumbuhan tanaman diberi pupuk 10hari sekali. Selain penggunaan bahan kimia, timbul permasalahan yang dapat mengganggu efektivitas dan efisiensi dalam berbudidaya tanaman bawang merah dan dawang putih yaitu penyerangan hama ulat ijo.

Serangan hama ini ditandai dengan bercak putih transparan pada daun. Pengendaliannya adalah : - Telur dan ulat dikumpulkan lalu dimusnahkan - Pasang perangkap ngengat (feromonoid seks) ulat bawang 40 buah/ha - Jika intensitas kerusakan daun lebih besar atau sama dengan 5 % per rumpun atau telah ditemukan 1 paket telur/10 tanaman, dilakukan penyemprotan dengan insektisida efektif, misalnya Hostathion 40 EC, Cascade 50 EC, Atabron 50 EC atau Florbac.

Bagi para petani yang hendak bertanam bawang merah di areal yang sudah ada bawang merahnya, petani dianjurkan untuk melakukan sanitasi lingkugan dengan cara mengumpulkan daun-daun yang menunjukkan gejala serangan patogen, sisa-sisa tanaman dan gulma, kemudian seluruhnya dimusnakan. Patogen dapat bertahan pada sisa tanaman yang jatuh di tanah dan akan menjadi sumber infeksi bagi tanaman bawang. "Perlu juga melakukan perbaikan drainase atau sistem pengairan agar tanaman tidak tergenang air sehingga lahan tidak terlalu basah.

Untuk pengolahan di lahan pertanaman baru, petani harus memilih lahan tanam di daerah yang lebih tinggi atau lahan dengan air tanah yang dalam. Melakukan pengolahan tanah sedalam 40 cm dan menyiapkan saluran irigasi sedalam 50 cm untuk mengurangi genangan air pada musim penghujan.

Gundulan tanah juga harus dibuat lebih tinggi, serta harus menanam benih yang toleran terhadap iklim dan lahan. Selain itu, jarak tanam juga harus diperhatikan untuk menghindari serangan OPT. "Untuk dataran tinggi, jarak tanam yang baik adalah 20 x 20 cm atau 20 x 15 cm, sedangkan untuk dataran rendah jarak tanamnya harus 14 x 15 cm atau 15 x 10 cm.

Pada saat pemupukan, sebaiknya petani melakukan pemupukan dengan berimbang dengan bahan organik serta menghindari penggunaan pupuk nitrogen dosis tinggi. Selain itu, petani harus melakukan sanitasi (pembersihan) lingkungan terutama gulma (tanaman penggangu) yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya hama.

Kebanyakan petani tidak peduli dengan lingkungan sekitar pertanaman, sehingga ketika hama menyerang, jumlah serangan jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya, dan itu sangat berdampak buruk terhadap perkembangan dan produksi bawang. Tanaman bawang merah yang rentan terhadap serangan hama sebaiknya ditanam sebagai tanaman selingan. Bukhari menerangkan, petani perlu mengganti tanaman untuk memutus siklus hidup OPT dengan mengganti tanaman.

PENYELESAIAN MASALAH SISTEM BUDIDAYA OLEH PETANI SELAMA INI

Masalah yang ada dalam sistem budidaya bawang merah dan bewang putih di daerah Junrejo kecamatan Beiji Kota Batu diantaranya adalah pemberian pupuk,dan penanggulangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman ). Sebenarnya kondisi lahan disana sangat memenuhi untuk penanaman bawang tersebut, tetapi permasalahannya terletak pada petani yang disana masih menerapkan sistem pertanian yang belum mengarah pada pertanian organik, karena petani disana masih tergantung pada pemberian pestisida dan pupuk sintetis untuk diberikan pada tanaman bawang merah dan bawang putih yang ada disana. Pemberian pestisida untuk tanaman diberikan selama 3 hari sekali dan pemberian pupuk sintetis diberikan sebanyak 4 kali selama penanaman. Bagi petani disana untuk mendapatkan tanah yang subur dan baik untuk tanaman bawang adlah diberikannya pupuk-pupuk kimia seperti urea, TSP, dan ZA. Mereka tetap memberikan pupuk organik berupa pupuk kandang tetapi hanya pada saat awal penanaman atau saat pengolahan tanah. Masalah selanjutnya terdapat pada pemberian pestisida secara intensif untuk menanggulangi adanya OPT. Hama yang ada pada tanaman bawang yang ada disana adalah ulat hijau, dan itu yang sangat mengganggu produksi bawang disana. Petani disana menanggulangi adanya ulat hijau tersebut adalah pemberian pestisida secara intensif sela 3 hari sekali sampai panen tiba. Hal ini menyebabkan kurang baik terhadap kelangsungan baik dari sisi ekonomi, ekologi, dan sosial ke depannya. Karena yang terjadi sekarang saja aliran air di sekitar lahan sudah tercemar oleh limbah pupuk kimia tersebut.

Selain itu karena musim yang tidak menentu, produksi bawang disana menjadi tidak stabi. Petani disana membuat jika saat musim kemarau atau kering mereka menanam tanaman seperti bawang merah, bawang putih yang ditumpang sari dengan sawi dan sla supaya hasil produksi mereka dapat maksimal dan petani juga untung. Tetapi saat terjadi musim hujan, Para petani disana membuat lahan tersebut menjadi sawah dan ditanami tanaman padi. Karena jika saat musim hujan tiba dan petani tetap menanam tanaman bawang itu akan menyebabkan mereka gagal panen karena bawang sangat rentan akan kebusukan. Salah satu penyebab dari kebusukan umbi bawang yaitu keberadaan air yang berlebihan karena menyebabkan kelembapan tanah menjadi tinggi.

Tetapi para petani disana menggunakan mulsa jerami di atas tanah yang mereka tanami tersebut, hal ini sudah baik karena mulsa jerami tersebut bertujuan untuk tempat tersimpannya air untuk tanah, supaya air tetap tersedia untuk tanah dan untuk menjaga kelembapan tanah.

Untuk mengatasi permasalahan-permasalahn yang ada pada pertanian tersebut, hal ini membutuhkan penanggulangan secepat mungkin untuk menanggulangi masalah tersebut, petani disana bisa diberikan penyuluhaan terhadap cara bertani yang baik dan menguntungkan dari segi ekonomi, sosial, dan ekologinya. Sehingga dengan adanya diberikan penyuluhan- penyuluhan tersebut diharapkan pertanian di daerah tersebut menjadi pertanian berkelanjutan.

Rekomendasi Solusi Terhadap Permasalahan Budidaya Pertanaman dari Kajian Buku “Building Soil For Better Crops : Sustainable Soil Managemnet”

Dalam hal ini, kelompok kami memilih rekomendasi dari buku ini pada bab 1, yaitu “Healthy Soil”. Tanah yang sehat merupakan masalah yang akan di hadapi para petani di daerah Junrejo. Meski saat ini masih terlihat aman untuk budidaya bawang putih dan bawang merah, namun penggunaan pupuk sintetis secara berlebihan, akan memberikan dampak yang tidak baik untuk keberlanjutan system pertanian mereka nantinya, khususnya pada tanah yang mereka gunakan sebagai lahan pertanian.

Para petani daerah Junrejo masih terlalu tergantung oleh pupuk sintetis, bukan pupuk organic. Para petani disana umumnya menggunakan pupuk sintetis ini karena para petani merasa dengan diberikan pupuk sintetis secara intensif akan memberikan hasil produksi yang maksimum. Memang kita tahu dengan pemberian bahan sintetis akan memberikan hasil maksimum, namun pemberian bahan-bahan sintetis tersebut tidak akan memberikan keberlanjutan bagi sitem pertanian mereka. Pupuk sintetis dapat membuata tanah menjadi tidak subur karena bahan-bahan yang telah tersedia akan tercuci ke bawah atau atas tanah. Maka keberlanjutan tanahnya tidak bisa dikatakan berlanjut jika hal itu terjadi.

Pada

buku

ini,

terdapat

sebuah

argument

bahwa

“Good

soil

organic

matter

management is … the very foundation for a more sustainable and thriving agriculture”. Hal ini menunjukkan bahwa dengan system pertanian organic, lahan yang kita kelola sebagai lahan pertanian akan tumbuh subur dan akan berkelanjutan (social, ekonomi, produksi).

RANCANGAN KEGIATAN PERBAIKAN HABITAT PERTANAMAN BAIK DIATAS DAN DIBAWAH TANAH

PERBAIKAN ATAS TANAH

Pengolahan Proses pengolahan Tanah yang sudah kosong kering (tanpa ada tanaman) diolah pada kondisi kering sebelum musim hujan dengan cara dicangkul, dibajak/traktor, atau dibalik menggunakan garpu terlihat bongkahan-bongkahan tanah. Untuk tanah kering yang masih banyak gulma kita perlu melakukan pembersihan gulma dengan cara dibabat, dicabut sehingga bebas dari tanaman/gulma selanjutnya tanah diolah dengan dicangkul atau ditraktor kemudian diberi bahan organik untuk Meminimalisir pengolahan secara mekanik yang berlebihan secara bertahap untuk mengubah mainset petani dan kebiasaan petani.

Pemberian mulsa Memberikan mulsa diatas guludan untuk menjaga kelembaban tanah serta sebagai penyedia makanan untuk organisme dalam tanah.

Pemupukan Kebutuhan pupuk setiap jenis tanaman berbeda tergantung pada tingkat kesuburan tanahnya. Tindakan pemupukan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hara bagi tanaman, bila suplai hara dalam tanah tidak mencukupi. Oleh karena pemupukan yang tidak efisien dapat menyebabkan meningkatnya biaya produksi Pemberian pupuk organik secara berangsur disamping pemberian pupuk anorganik.

Irigasi Hilir: mengoptimalkan penggunaan DAM Hulu: pembuatan guludan searah dengan garis kontur, untuk menahan laju air untuk meminimalisir terjadinya erosi dan longsor.

PERBAIKAN DALAM TANAH

1. Pemupukan

Kebutuhan pupuk setiap jenis tanaman berbeda tergantung pada tingkat kesuburan

tanahnya. Tindakan pemupukan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hara bagi

tanaman, bila suplai hara dalam tanah tidak mencukupi. Oleh karena pemupukan

yang tidak efisien dapat menyebabkan meningkatnya biaya produksi Pemberian

pupuk organik secara berangsur disamping pemberian pupuk anorganik.

2. Pengembalian sisa tanaman

Pengembalian sisa hasil (tanaman) yang telah dipanen kedalam tanah

Rancangan kegiatan

Analisis kerusakan habitat

Penentuan habitat yang rusak

Analisis kerusakan habitat Penentuan habitat yang rusak Rancangan kegiatan Penerapan teknologi Konservasi

Rancangan kegiatan

Penerapan teknologi

Konservasi

biodiversiyas

Rancangan kegiatan perbaikan habitat Bawang merah.

Konsep konservasi adalah konsep yang kaya akan makna, para ahli lingkungan menggambarkan sebagai isyu moral yang mengikat tanggung jawab manusia untuk menjaga keselamatan sumberdaya agar dapat digunakan oleh generasi mendatang. Dalam konservasi berarti pula adanya kegiatan yang meliputi preserving, guarding, protecting atau menjaga sesuatu agar tetap aman seperti semula, sehingga untuk setiap pembahasan usaha konservasi haruslah dalam cakupan time horizon yang panjang. Perkembangan hortikultura di Indonesia hingga saat ini, belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini antara lain disebabkan karena hortikultura perlu penanganan yang serius, modal besar, dan berisiko tinggi. Selain itu, harga produk hortikultura rendah dan berfluktuasi sehingga memperbesar risiko rugi bagi petani.

Adanya dorongan pemerintah dalam sistem agribisnis yang berbasis hortikultura, diharapkan perkembangan hortikultura berjalan pesat. Pengembangan agribisnis berbasis hortikultura merupakan integrasi yang komprehensif dari semua komponen agribisnis yang terdiri dari lima subsistem, yaitu subsistem agribisnis hulu; subsistem usahatani; subsistem pengolahan; subsistem pemasaran; dan subsistem penunjang.

Uraian teknologi dan cara serta lokasi penerapan teknologi tersebut yang sebaiknya diterapkan guna mencapai sasaran hasil tanaman (atau usaha lain) yang optimal dan berkualitas dengan memberikan dampak lingkungan positif yang tinggi dan dampak negatif yang rendah

Pada lahan pertanian yang kami kunjungi di daerah Junrejo, Batu, Malang, para petani mengelola sawah dengan teknik budidaya tumpang sari. Petani tersebut menanam bawang merah, bawang prei, selada dan juga brokoli. Sebelum penanaman, dilakukan pengolahan lahan dan pemberian pupuk dasar. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk kandang. Selanjutnya pada saat tanam, pemupukan susulan diberikan 4 kali selama musim tanam dengan menggunkan pupuk kimia. Jika tanaman terserang hama, misalnya ulat grayak, maka tanaman akan di semprot pestisida 3 hari sekali untuk mengurangi hama tersebut. Pada saat musim kemarau, untuk mengurangi penguapan maka lahan ditutup dengan mulsa jerami.

(Anonymous, 2011) Tindakan agronomis diperlukan atas dasar evaluasi lahan. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian adalah kondisi kesuburan tanah baik sifat fisik, kimia dan biologi serta iklim. Sifat fisik terutama drainase dan tekstur tanah. Untuk lokasi yang tergenang dan tekstur liat dibutuhkan pembuatan saluran air (drainese). Tanah dengan kandungan N, P dan K yang rendah perlu pemupukan terutama pupuk kandang. Sementara tanah yang asam perlu pengapuran. Pengembangan pola tanam campuran dan sistim rotasi atau campuran berpeluang untuk mereduksi populasi pathogen dalam tanah. Rotasi dapat memutuskan siklus hidup pathogen, meningkatkan populasi agen pengendali hayati dan tanah dapat bersifat suppressive terhadap patoge. Tindakan konservasi seperti penggunaan mulsa dan pengairan diperlukan terutama untuk daerah yang beriklim kering. Pengendalian gulma diperlukan pada stadia awal pertumbuhan. Pengendalian gulma diperlukan untuk menghindari kemungkinan adanya sumber atau inang penyakit.

Bahan organik merupakan komponen penting dalam budidaya tanaman karena memperbaiki sifat biologi, kimia dan fisik tanah. Untuk menentukan berapa pupuk organik yang diperlukan sebaiknya tanah di analisa terlebih dahulu. Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi tidak perlu diberikan pupuk kandang dengan dosis tinggi.

(Anonymous, 2011) Ada 3 program terpadu untuk mendukung aktivitas bertani sehat. Program Hulu, dilakukan dengan melakukan serangkaian penelitian, perakitan, dan mengembangkan sarana produksi pertanian yang berbasis sumber bahan baku lokal, murah, mudah dan ramah lingkungan.

Program Menengah, berupa program sosialisasi teknologi budidaya tanaman yang ramah lingkungan atau dikenal dengan Teknologi Pertanian Sehat. Program Hilir, dilakukan dengan mendesain produk pertanian yang memiliki nilai tambah dan membuka jaringan pasar bagi produk pertanian tersebut.

Kegiatan yang Perlu Dilakukan Dalam Konservasi Biodiversitas

Adanya kenaikan tingkat produksi dalam bidang pertanian disebabkan oleh tingginya hasil panen dari berbagai macam varietas tanaman pangan, penerapan sistem pengairan, serta penggunaan pupuk dan obat pemberantas hama yang berbahan kimia. Beberapa hal tersebut merupakan bagian dari sistem pertanian yang umumnya dilakukan oleh manusia. Penerapan berbagai bentuk sistem pertanian yang dilakukan tanpa memperhatikan prinsip-prinsip ekologis akan dapat menimbulkan berbagai dampak diantaranya berupa penurunan kualitas kesehatan manusia, penurunan kualitas lingkungan dan bodiversitas (keanekaragaman) yang ada di dalamnya.

Diketahui bahwa aspek ekologi yang sangat penting dari lahan pertanian seperti yang telah diuraikan di sebelumnya adalah biodiversitas. Suatu kegiatan pertanian dapat berjalan dengan baik sampai dengan proses produksinya, jika didukung oleh faktor ketersediaan biodiversitas di dalamnya.

Biodiversitas lahan pertanian dikenal dengan istilah agrobiodiversitas. Secara umum agrobiodiversitas merupakan semua komponen yang terdapat di lahan pertanian termasuk di dalamnya adalah semua organisme yang hidup di lahan pertanian dan memberikan fungsinya pada proses yang terjadi di lahan pertanian tersebut. Contoh organisme yang dimaksud disini seperti mikroba tanah dan fauna, gulma, herbivora dan karnivora yang berkoloni dan hidup sesuai dengan kondisi dan proses lingkungan yang berjalan, (Jackson et al: 2007).

Selain beberapa unsur yang telah disebutkan di atas, habitat maupun spesies yang terdapat di luar dari kawasan lahan pertanian yang mendukung proses pertanian dan menjalankan fungsi ekologis, juga dapat dimasukkan sebagai bagian dari agrobiodiversitas. Sesuai dengan hirarki dalam ekologi maka agrobiodiversitas dapat terdiri dari :

1. genetik dan karakterstik populasi,

2. komunitas,

4.

interaksi secara luas pada tingkat ekosistem baik termasuk interaksi antara ekosistem pertanian dan non pertanian.

Agrobiodiversitas tidak hanya memiliki nilai yang dilihat dari sisi dalam proses produksi pertanian atau sebagai komponen yang penting dalam servis ekosistem, akan tetapi memiliki nilai sosial dalam kehidupan manusia, sehingga perlu ditelaah adanya hubungan antara nilai ekologi dengan nilai sosial dari agrobiodiversitas itu sendiri. Berdasarkan nilai ekologi dan sosial dari agrobiodiversitas tersebut maka dapat dilakukan usaha konservasi terhadap agrobiodiversitas.

Peranan biodiversitas dalam lahan pertanian sangat utama dan menentukan, sedangkan biodiversitas itu sendiri bukanlah merupakan faktor yang disediakan oleh manusia seperti halnya mesin pertanian maupun pupuk ataupun obat pemberantas hama. Biodiversitas disediakan oleh alam dan keberadaannya dapat dipengaruhi oleh tindakan-tindakan manusia dalam mengolah lahan pertanian.

Strategi yang dapat dikembangkan adalah dengan menggunakan konsep ecoagriculture (pertanian yang berbasis pada ekologi). Konsep ini merupakan suatu sistem pengelolaan pertanian yang memfokuskan peran biodiversitas dalam menyediakan servis ekosistem, (Storkey et al : 2007).

Dengan penerapan sistem ini maka berbagai dampak negatif dari penerapan pertanian modern dapat diminimalkan dan proses-proses alami yang melibatkan peran dari biodiversitas yang ada akan lebih banyak mendominasi di dalam. Diharapkan pula akan terjadi suatu mekanisme kontrol yang alami dalam hal pengendalian hama dengan memaksimalkan peran predator yang merupakan salah satu komponen dari biodiversitas. Penggunaan obat pemberantas hama yang mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan polusi juga dapat di kurangi dengan penerapan sistem ini. Dari segi hasil, jumlah produksi pertanian akan tetap dapat di pertahankan dengan sistem ini karena kegiatan pertanian yang dilakukan adalah sistem pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture). Untuk dapat mengembalikan secara keseluruhan peran biodiversitas ini maka strategi konservasi biodiversitas ekosistem lahan pertanian perlu dijalankan secara maksimal.

Untuk dapat mempertahankan keberadaan dan keberlanjutan dari servis ekosistem di lahan pertanian maka konservasi tarhadap agrobiodiversitas sangat mutlak untuk dilaksanakan.

Diketahui terdapat beberapa pendekatan dari sudut pandang berbagai aspek yang dilakukan untuk melakukan konservasi agrobiodiversitas. Pendekatan yang dilakukan antaranya adalah dengan kerjasama antara para praktisi ekologi, petani dan pengambil kabijakan (stakeholder) dalam menyamakan persepsi dan integrasi mereka untuk memahami secara tepat mengenai peranan agrobiodiversitas sebagai pendukung servis ekosistem lahan pertanian, (Storkey et al :

2007). Realisasi dari pendekatan ini adalah dengan melakukan research atau penelitian- penelitian yang menyangkut peranan agrobiodiversitas di ekosistem lahan pertanian dalam meningkatkan produksi pertanian.

Pendekatan lain yang digunakan dalam konservasi agrobiodiversitas yaitu secara ekologis dan sosioekonomi. Hal ini dapat dilakukan dengan memprioritaskan perlindungan terhadap asset kunci dari agrobidiversitas yang diterapkan berdasarkan konsep ekoagarocultur atau pertanian berbasis ekologi.

PEMBAHASAN UMUN dan KESIMPULAN

Pembahasan

Untuk sitem pertanian yang diterapkan oleh para petani di daerah Junrejo masih cenderung memakai system pertanian yang menggunakan bahan-bahan sintetis. Untuk memperoleh hasil produksi yang maksimum, petani disana cenderung melakukan hal seperti itu tanpa melihat sisi keberlanjutan lahan mereka. Bahan-bahan sintetis yang merka gunakan ialah seperti pupuk urea, ZPT, dll. Selain itu merka juga cenderung menggunakan pestisida untuk memberantas hama dan penyakit pada lahan budidaya bawang merah dan bawang putih mereka.

Kesimpulan

Pada daerah yang kami observasi, yaitu pada daerah desa Junrejo Kec. Beji Kota Batu, para petaninya masih belum menerapkan system pertanian berkelanjutan. Hal ini ditunjukkan dengan perlakuan para petani yang masih cenderung menggunakan bahan-bahan sintetis (kimiawi) untuk memperoleh hasil produksi pertanian mereka.

Anonymous,

2011.

DAFTAR PUSTAKA

pestisida.html. diakses tanggal 10 Oktober 2011

a_ulat_bawang/#.TpEhUHLqDqc. Diakses tanggal 10 Oktber 2011

Magdoff, Fred, 1942. Building soils for better crops / by Fred Magdoff and Harold van Es.(Sustainable Agriculture Network handbook series ; bk. 4)