Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang sangat indah. Semua itu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai obyek wisata yang dapat menarik kunjungan wisatawan. Wisatawan yang datang berkunjung merupakan sumber devisa negara yang dapat meningkatkan pendapatan negara dan masyarakat di lokasi obyek wisata. Sektor pariwisata dikembangkan untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi negara didalam berbagai kebijakan nasional. Pembangunan pariwisata tidak hanya merupakan tujuan akan tetapi merupakan alat, cara atau salah satu cara yang ditempuh untuk meningkatkan pembangunan ekonomi nasional. Dalam GBHN 2004 dijelaskan bahwa pembangunan pariwisata bertujuan untuk memperbesar penerimaan devisa, memperluas dan meningkatkan lapangan pekerjaan dan kesempatan usaha, mendorong pembangunan daerah, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang memperhatikan kelestarian fungsi dan mutu lingkungan hidup. Sektor pariwisata telah menggalakkan kegiatan ekonomi, sehingga lapangan kerja, pendapatan masyarakat, pendapatan daerah dan pendapatan negara serta penerimaan devisa meningkat. Upaya untuk mengembangkan dan mendayagunakan berbagai potensi periwisata nasional perlu ditingkatkan secara terencana, terpadu,

terarah dan efektif melalui pengembangan obyek dan daya tarik wisata dan kegiatan promosi dan pemasaran.

Pengembangan potensi pariwisata telah terbukti mampu memberi dampak positif dengan adanya perubahan yang besar dalam kehidupan masyarakat. Secara ekonomi pariwisata memberi dampak dalam perluasan lapangan usaha dan kesempatan kerja, peningkatan income per kapita dan peningkatan devisa negara. Dalam bidang kehidupan sosial terjadi interaksi sosial budaya antara pendatang dan penduduk setempat sehingga dapat menyebabkan perubahan dalam way of life masyarakat serta terjadinya integrasi sosial.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan aspek-aspek lain meliputi sosial, budaya, politik dan hankamnas perlu dikembangkannya kepariwisataan nasional. Aspek non ekonomis pembangunan pariwisata sangat erat kaitannya dengan ekonomi (Sujali, 1989). Alasan-alasan yang mendasari sektor pariwisata untuk dijadikan sebagai sektor andalan dalam pembangunan nasional adalah sebagai berikut : 1. Makin berkurangnya sektor migas sebagai penghasil devisa. 2. Prospek pariwisata yang telah memperlihatkan kecenderungan untuk meningkat secara konsisten. 3. Besarnya potensi yang dimiliki bagi upaya pengembangan pariwisata di Indonesia ( Spillane, 1987).

Menghadapi era globalisasi, persaingan untuk merebut devisa dari sektor non migas semakin ketat termasuk dari sektor pariwisata yang telah menjadi sektor andalan. Jika dulu belum banyak yang memikirkan dan mengembangkan Daerah Tujuan Wisata (DTW), kini sudah saatnya memperluas DTW baru agar daerah lain yang belum termasuk DTW juga dapat ikut berkembang. Satu strategi yang dapat dilakukan adalah menyerahkan perencanaan, menejemen dan pengembangannya ke masing-masing daerah yang memang potensial untuk dijadikan DTW. Misalnya bagaimana kelengkapan infrastruktur yang mendukung dikembangkannya potensi pariwisata suatu daerah dan perencanaan produk-produk pariwisata yang dikemas sedemikian rupa sehingga memiliki nilai jual. Hal lain yang dianggap sebagai perangsang dalam usaha menciptakan produk baru adalah gagasan dimana membentuk wilayah-wilayah pembangunan pariwisata.. Konsep perwilayahan yang dimaksud adalah menciptakan produk-produk baru dengan memanfaatkan obyek wisata yang sudah mapan, dengan merangsang pertumbuhan dan memadukannya dengan sumberdaya wisata yang lain di dalam kawasan tersebut, selanjutnya memadukannya dengan kegiatan promosi dan pemasarannya. Kebijakan pemerintah daerah dalam pembangunan pariwisata sangat penting peranannya dalam menunjang keberhasilan pembangunan pariwisata nasional. Karena itu bagi perencana harus dapat mengoptimalkan potensi kepariwisataan didalam wilayah masing-masing.

Perkembangan

dan

pertumbuhan

pariwisata

perlu

diantisipasi

agar

perkembangannya tetap pada jalurnya dan daya dukungnya. Penilaian tingkat perkembangan pariwisata suatu daerah sangat penting guna menentukan prioritas dan strategi pengembangannya serta memproyeksikan kebutuhan sarana dan prasarana yang dibutuhkan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya untuk masa yang akan datang. Hasil yang dicapai di bidang pariwisata dapat diukur dengan pendekatan peningkatan jumlah wisatawan serta jumlah penerimaan pendapatan bagi pemerintah (Spillane, 1987). Kepariwisataan dalam pembangunan wilayah akan memberikan sumbangan yang sangat besar apabila dikelola secara professional, karena selain memberikan sumbangan bagi daerah yang bersangkutan, pariwisata dapat memacu pertumbuhan wilayah tersebut. Pada akhirnya dapat berakibat ganda (multi effect) terhadap bidangbidang lain, seperti pertanian, peternakan, kerajinan rakyat, permebelan, tektil dan lain-lain kegiatan yang produknya diperlukan untuk menunjang kegiatan

kepariwisataan. Disamping itu wisatawan nusantara juga diharapkan akan memberikan sumbangan yang positif dalam menunjang kemajuan ekonomi. Meningkatnya jumlah wisatawan nusantara setiap tahun, mencerminkan kenaikan usaha dalam sektor pariwisata. Kebutuhan barang dan jasa serta fasilitas fasilitas untuk mensukseskan program pengembangan kepariwisataan. Peran masyarakat dalam upaya pengembangan pariwisata sangat penting. Karena penyelenggaraan kepariwisataan diarahkan demi terwujudnya pemerataan

pendapatan dan pemerataan kesempatan berusaha, maka pelaksanaan berbagai usaha pariwisata yang dilakukan dapat saling mengisi, saling berkaitan dan saling menunjang satu sama lain. Keberhasilan kepariwisataan suatu Negara sangat bergantung pada seberapa besar dan gencarnya pemasaran dan promosi yang dilakukan oleh pemerintah dan pihak-pihak terkait. Tujuan promosi itu sendiri adalah untuk memberikan informasi, menarik perhatian dan selanjutnya memberikan pengaruh pada meningkatnya penjualan. Promotion`s objectives are to gain attention, to teach, to remind, to persuade, and to reassure. Tujuan Promosi adalah memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan, dan meyakinkan. (Schoell, 1961 : 424). Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mempunyai peranan penting, sebagai komponen penunjang dalam dunia pariwisata. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata merupakan ujung tombak dalam pengembangan pariwisata daerah, karena Dinas Kebudayaan dan Pariwisatalah yang mengkaji lalu kemudian mengembangkan ODTW serta melakukan kebijakan dalam program-programnya untuk mengenalkan potensi ODTW yang ada di daerah, dan memberikan kesan pertama atas baik dan buruknya pariwisata . Dinas Kebudayaan dan Pariwisata biasanya selalu bekerja sama dengan pihak stakeholder dan pelaku pariwisata, serta berusaha keras dalam menarik serta meningkatkan minat wisatawan baik domestik maupun manca negara. Hal ini dilakukan dalam rangka menarik minat wisatawan (domestik maupun manca negara) agar mereka mau menikmati objek dan daya tarik wisata yang disajikan, seperti yang

dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Dalam usaha memasarkan produk-produk pariwisatanya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggunakan teknik-teknik khusus, agar dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah Kabupaten Gunungkidul, dan dapat mendukung perkembangan kepariwisataan di Indonesia. Menurut Purwowibowo (1998: 4), kepariwisataan memiliki arti yang sangat luas, bukan hanya sekedar bepergian dan berwisata saja, tetapi berkaitan pula dengan obyek dan daya tarik wisata yang dikunjungi, sarana transportasi yang digunakan, pelayanan, akomodasi, restoran dan rumah makan, hiburan, interaksi sosial antara wisatawan dengan penduduk setempat serta usaha pariwisata. Karena itu pariwisata dapat dilihat sebagai suatu lembaga dengan banyak sekali interaksi, kebudayaan dengan sejarahnya, kumpulan pengetahuan, dan jutaan orang yang merasa dirinya sebagai bagian dari kelembagaan ini, sehingga pariwisata sebagai konsep dapat dipandang dari berbagai perspektif yang berbeda. Sejalan dengan semangat Otonomi Daerah dan Peraturan Pemerintah RI No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom, salah satu pasal dalam Peraturan Pemerintah tersebut mengatur kewenangan daerah otonom dalam bidang budaya dan pariwisata. Di dalam pasal tersebut ditentukan bahwa daerah otonom dapat melakukan promosi dalam rangka meningkatkan jumlah arus kunjungan wisatawan ke daerahnya masing-masing. Untuk melakukan promosi

diperlukan adanya upaya pemahaman mendalam mengenai pasar yang kemudian menjadi dasar dalam penyusunan strategi dan program promosi.

Pemasaran yang dikaitkan dengan industri dan obyek wisata, dalam bahasa Inggris disebut dengan berbagai istilah, tergantung pada jenis kegiatan promosi yang diselenggarakan seperti : exhibition, expo atau exposition, industrial show, trade fair, trade show, professional/scientific exhibition. Pakar pameran seperti Halen Tongren dan James P. Thompson (1999) mendefinisikan salah satunya ialah pameran (exhibition), dalam pengertian umum adalah merupakan salah satu cara menyebarkan informasi, perkenalan sekaligus pemasaran suatu produk baik dalam bentuk gagasan maupun barang (lihat Yoeti, 1997 : 60). Pameran dapat dibedakan antara pameran dagang dan pameran pembangunan. Dalam pelaksanaannya pameran ini dapat berbentuk pameran setempat, pameran nasional, pameran regional, dan pameran internasional. Selanjutnya memperhatikan sifat suatu pameran maka dapat dikategorikan dalam jenis pameran umum dan pameran khusus. Kabupaten Gunungkidul sebagai salah satu daerah tujuan wisata di propinsi Yogyakarta juga sedang berusaha melakukan perbaikan dan peningkatan terhadap potensi wisata yang dimiliki. Wilayah dengan luas 1.485,36 Km2 atau sekitar 46,63% dari luas Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini beribukota di Wonosari, sekitar 39 Km sebelah tenggara dari Kota Yogyakarta. Kabupaten Gunungkidul terbagi menjadi 18 kecamatan dan 144 desa.

Untuk mengantisipasi perkembangan pariwisata yang semakin cepat, maka pemerintah kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengupayakan pengembangan kepariwisataan melalui penggalian potensi dan peningkatan kualitas produk wisata yang dimiliki ke arah yang lebih baik. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul menyusun beberapa program kerja untuk memasarkan produk dan daerah-daerah wisata yang ada di kabupaten Gunungkidul antara lain dengan melakukan Famtour,Travel dialogue, dan mengikuti berbagai event pariwisata yang diadakan di propinsi DIY Dari penjelasan diatas, peneliti bermaksud untuk meneliti bagaimana Strategi Pemasaran Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul Untuk Meningkatkan Kunjungan Wisatawan.

B. Identifikasi Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana Strategi Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul dalam Meningkatkan Jumlah Kunjungan Wisatawan Di Kabupaten Gunungkidul.

C. Perumusan Masalah Berdasarkan permasalahan diatas, maka secara khusus peneliti ingin mengupas beberapa permasalahan sebagai berikut berikut :

1. Bagaimana strategi pemasaran pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di desa wisata Kabupaten Gunungkidul? 2. Apa saja media yang digunakan dalam kegiatan pemasaran pariwisata? 3. Bagaimana strategi pemasaran yang digunakan, tahap pemasaran, serta faktor pendukung dan penghambat dalam melakukan strategi pemasaran pariwisata?

D. Tujuan penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mendiskripsikan strategi pemasaran pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di desa wisata Kabupaten Gunungkidul. 2. Untuk mengetahui media yang digunakan dalam kegiatan pemasaran pariwisata. 3. Untuk mengetahui strategi pemasaran yang digunakan, tahap pemasaran, serta faktor pendukung dan penghambat dalam melakukan strategi pemasaran pariwisata.

10

E. Kegunaan Penelitian Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Akademis, yaitu sebagai salah satu sumbangan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga menambah wawasan khususnya pada pemasaran sektor pariwisata. 2. Manfaat praktis yaitu sebagai masukan bagi pemerintah daerah setempat terutama Kabupaten Gunungkidul dalam mengambil kebijakan khususnya dalam

memasarkan Obyek Wisata yang ada dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya.

11

BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA TEORITIS DAN KERANGKA HIPOTESIS

A. Landasan Teori 1. Definisi Strategi Definisi strategi adalah cara untuk mencapai tujuan jangka panjang. Pengertian strategi adalah Rencana yang disatukan, luas dan berintegrasi yang menghubungkan keunggulan strategis perusahaan dengan tantangan

lingkungan, yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama dari perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Glueck dan Jauch, p.9, 1989). Pengertian strategi secara umum dan khusus sebagai berikut: a. Pengertian Umum Strategi adalah proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai.

b. Pengertian khusus Strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus-menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan demikian, strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat terjadi dan bukan

12

dimulai dari apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar yang baru dan perubahan competencies). 2. Strategi Pemasaran Ada beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya adalah : a. Philip Kotler (Marketing) pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. pola konsumen memerlukan kompetensi inti (core

b. Menurut Philip Kotler dan Amstrong pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain. c. Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang- barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan. d. Menurut W Stanton pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga,

mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.

13

Konsep-konsep inti pemasaran meluputi: kebutuhan, keinginan, permintaan, produksi, utilitas, nilai dan kepuasan; pertukaran, transaksi dan hubungan pasar, pemasaran dan pasar. Kita dapat membedakan antara kebutuhan, keinginan dan permintaan. Kebutuhan adalah suatu keadaan dirasakannya ketiadaan kepuasan dasar tertentu. Keinginan adalah kehendak yang kuat akan pemuas yang spesifik terhadap kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendalam. Sedangkan Permintaan adalah keinginan akan produk yang spesifik yang didukung dengan kemampuan dan kesediaan untuk membelinya.

3. Pengertian Strategi Pemasaran Strategi pemasaran adalah pengambilan keputusan-keputusan tentang biaya pemasaran, bauran pemasaran, alokasi pemasaran dalam hubungan dengan keadaan lingkungan yang diharapkan dan kondisi persaingan. Dalam strategi pemasaran, ada tiga faktor utama yang menyebabkan terjadinya perubahan strategi dalam pemasaran yaitu : a. Daur hidup produk Strategi harus disesuaikan dengan tahap-tahap daur hidup, yaitu tahap perkenalan, tahap pertumbuhan, tahap kedewasaan dan tahap kemunduran. b. Posisi persaingan perusahaan di pasar Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan posisi perusahaan dalam persaingan, apakah memimpin, menantang, mengikuti atau hanya mengambil sebagian kecil dari pasar.

14

c. Situasi ekonomi Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan situasi ekonomi dan pandangan kedepan, apakah ekonomi berada dalam situasi makmur atau inflasi tinggi. macam strategi pemasaran diantaranya:

1)

Strategi kebutuhan primer

Strategi-strategi pemasaran untuk merancang kebutuhan primer yaitu: a) Menambah jumlah pemakai dan b) Meningkatkan jumlah pembeli. 2) Strategi Kebutuhan Selektif Yaitu dengan cara :

a. Mempertahankan pelanggan misalnya: 1. Memelihara kepuasan pelanggan; 2. Menyederhanakan proses pembelian; 3. Mengurangi daya tarik atau jelang untuk beralih merk; b. Menjaring pelanggan (Acquistion Strategier) 1. Mengambil posisi berhadapan (head to heas positioning) 2. Mengambil posisi berbeda (differentiated positin) Secara lebih jelas, strategi pemasaran dapat dibagi kedalam empat jenis yaitu: 1. Merangsang kebutuhan primer dengan menambah jumlah pemakai. 2. Merangsang kebutuhan primer dengan memperbesar tingkat pembelian.

15

3. Merangsang kebutuhan selektif dengan mempertahankan pelanggan yang ada. 4. Merangsang kebutuhgan selektif dengan menjaring pelanggan baru. Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompokkelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Atau segmentasi pasar bisa diartikan segmentasi pasar adalah proses pengidentifikasian dan menganalisis para pembeli di pasar produk, menganalisia perbedaan antara pembeli di pasar. 4. Dasar-dasar dalam penetapan Segmentasi Pasar Dalam penetapan segmentasi pasar ada beberapa hal yang menjadi dasarnya yaitu: 1. Dasar dasar segmentasi pasar pada pasar konsumen a. Variabel geografi, diantaranya : wilayah, ukuran daerah, ukuran kota, dan kepadatan iklim. b. Variabel demografi, diantaranya : umur, keluarga, siklus hidup, pendapatan, pendidikan, dll c. Variabel psikologis, diantaranya :kelas sosial, gaya hidup, dan kepribadian. d. Variabel perilaku pembeli, diantaranya : manfaat yang dicari, status pemakai, tingkat pemakaian, status kesetiaan dan sikap pada produk. 2. Dasar dasar segmentasi pada pasar industri

16

a. Tahap 1: menetapkan segmentasi makro, yaitu pasar pemakai akhir, lokasi geografis, dan banyaknya langganan. b. Tahap 2: yaitu sikap terhadap penjual, ciri ciri kepribadian, kualitas produk, dan pelanggan. 5. Syarat segmentasi Pasar Ada beberapa syarat segmentasi yang efektif yaitu : a. Dapat diukur b.Dapat dicapai c. Cukup besar atau cukup menguntungkan d.Dapat dibedakan e. Dapat dilaksanakan 6. Tingkat Segmentasi Pasar Karena pembelian mempunyai kebutuhan dan keinginan yang unik. Setiap pembeli, berpotensi menjadi pasar yang terpisah. Oleh karena itu segmentasi pasar dapat dibangun pada beberapa tingkat yang berbeda. a. Pemasaran massal Pemasaran massal berfokus pada produksi massal, distribusi massal, dan promosi massal untuk produk yang sama dalam cara yang hampir sama keseluruh konsumen. b. Pemasaran segmen

17

Pemasarn segmen menyadari bahwa pembeli berbeda dalam kebutuhan, persepsi, dan perilaku pembelian. c. Pemasaran ceruk Pemasaran ceruk (marketing niche) berfokus pada sub group didalam segmensegmen. Suatu ceruk adalah suatu group yang didefiniskan dengan lebih sempit. d. Pemasaran mikro Praktek penyesuaian produk dan program pemasaran agar cocok dengan citarasa individu atau lokasi tertentu. Termasuk dalam pemasaran mikro adalah pemasaran lokal dan pemasaran individu. 7.Manfaat Segmentasi Pasar Sedangakan manfaat dari segmentasi pasar adalah: a. Penjual atau produsen berada dalam posisi yang lebih baik untuk memilih kesempatan- kesempatan pemasaran. b. Penjual atau produsen dapat menggunakan pengetahuannya terhadap respon pemasaran yang berbeda-beda, sehingga dapat mengalokasikan anggarannya secara lebih tepat pada berbagai segmen. c. Penjual atau produsen dapat mengatur produk lebih baik dan daya tarik pemasarannya 8. Menentukan Pasar Sasaran Langkah-langkah dalam menetukan pasar sasaran yaitu :

18

1. Langkah pertama Menghitung dan menilai potensi keuntungan dari berbagai segmen yang ada 2. Langkah kedua Mencatat hasil penjualan tahun lalu dan memperkirakan untuk tahun yang akan datang. 9. Fungsi Pemasaran Pariwisata. Pemasaran dapat dilihat dari segi kelompok kegiatan, yang mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut: 1. Memperkenalkan produk-produk daerah wisata, antara lain yang dapat

dijual secara menguntungkan, kepada siapa, dimana, melalui siapa dan dengan harga berapa atau dalam bahasa inggris to whom? Where? Who? When? How much? 2. Menggugah wisatawan untuk berkunjung ke negara tujuan atau ODTW (Objek Daerah Tujuan Wisata) yang dikehendaki wisatawan, melalui kegiatan- kegiatan sebagai berikut : pemasangan iklan, poster, penyebaran brosur, dan berbagai alat komunikasi lainnya. Kegiatan ini disebut dengan promosi (tourist promotion). 3. Mendorong keinginan wisatawan untuk melakukan kunjungan ke negara kita atau ODTW (Objek Daerah Tujuan Wisata ), dengan cara pemberian informasi yang jelas dan benar serta memberikan motifasi dalam mengatur wisatawan, yang berperan dalam kegiatan ini adalah travel agent, tour

19

operator, perusahaan penerbangan dan kantor-kantor promosi wisata di luar negeri atau tempat wisata, kegiatan ini disebut distribusi (Distribution ). 4. Membuat perencanaan dan menyusun kegiatan (itinerary) yang akan dilakukan oleh wisatawan, berupa paket wisata dengan jalan mengumpulkan informasi dan bahan-bahan untuk mengkoordinasi jasa-jasa yang disediakan yang harus dilakukan oleh wisatawan. 10. Pentingnya Pemasaran Dalam Pariwisata Sering timbul pertanyaan mengenai sejauh mana pentingnya pemasaran dalam pariwisata, dibawah ini diuraikan 3 (tiga) alasan : Obyek dan produk wisata yang dikembangkan sedapat mungkin dapat dimanfaatkan secara terus menerus oleh konsumen/wisatawan dari berbagai pasar. Oleh karenanya informasi mengenai atraksi dan fasilitas wisatawan yang telah dikembangkan perlu disebarluaskan ke konsumen yang belum mengetahui dan memelihara atau mempertahankan konsumen yang telah menikmati. Agar fasilitas dan jasa yang ada dapat disesuaikan dengan cita rasa, keinginan, dan harapan wisatawan. Dalam hal ini, penelitian dan monitoring sebagai salah satu bagian dari kegiatan pemasaran perlu dilaksanakan agar produk produk yang akan dikembangkan dapat disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan pasar (wiasatawan) yang senantiasa berkembang dan berubah terus. Dengan semakin meningkatnya standar hidup, pendapatan lebih, ilmu pengetahuan dan teknologi penduduk, telah banyak pula penduduk yang

20

berkeinginan melakukan perjalanan wisata. Mereka menghendaki informasi yang cukup mengenai destinasi yang dapat dikunjungi 11. Obyek Wisata Pengertian obyek wisata Menurut Chafid Fandeli (2001:58), obyek wisata adalah perwujudan daripada ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan tempat atau keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi wisatawan. Sedangkan obyek wisata alam adalah obyek yang daya tariknya berdasarkan pada keindahan sumber daya alam dan tata lingkungannya. Dalam dunia kepariwisataan, segala sesuatu yang menarik dan bernilai untuk dikunjungi dan dilihat, disebut atraksi atau lazim pula dinamakan obyek wisata ( Ilmu pariwisata, Nyoman S. Pendit, 1994). Pengertian objek wisata atau tourist attraction, istilah yang lebih sering digunakan, yaitu segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi suatu daerah tertentu ( Pengantara Ilmu pariwisata, Drs. Oka A. Yoeti, 1985). Melihat dari beberapa pengertian obyek wisata dari beberapa ahli, penulis menyimpulkan pengertian obyek wisata adalah segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi suatu tempat yang memiliki ketertarikan seperti alam, tata hidup manusia, sejarah, seni budaya dll.

21

Ada beberapa Jenis Obyek wisata. Penggolongan jenis obyek wisata akan terlihat dari ciri-ciri khas yang ditonjolkan oleh tiap-tiap obyek wisata. Penggolongan obyek wisata berdasarkan Pusat Penelitian Perencanaan Pembangunan Nasional Gajah Mada yaitu : a. Obyek wisata budaya b. Obyek wisata alam c. Obyek wisata buatan Sedangkan dalam UU No.9 Tahun 1990 disebutkan bahwa obyek dan daya tarik wisata terdiri dari : a. Obyek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud keadaan alam, serta flora dan fauna. b. Obyek dan daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud museum, peninggalan sejarah, wisata agro, wisata tirta, wisata buru, wisata petualangan alam, taman rekreasi dan tempat hiburan. Berdasarkan hal tersebut diatas, obyek wisata dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu wisata buatan manusia dan wisata alam.

22

B. Kerangka Teoritis Peranan pemasaran/promosi sangat penting terutama bagi daerah yang menjadikan pariwisata sebagai sektor yang sangat diandalkan. Peranan pemasaran antara lain : Untuk menghadapi semakin meningkatnya persaingan diantara berbagai negara/atau wilayah setiap saat. Untuk menghadapi keadaan pasar yang senantiasa berubah setiap saat, seperti kelompok-kelompok (segmen) pasar yang semakin beraneka ragam. Permintaan jasajasa tidak hanya terbatas pada satu macam saja. Penduduk dari berbagai kelompok umur, sifat dan keinginan pribadinya, menginginkan jasa-jasa yang khusus, yang sesuai dengan keinginannya. Memasarkan obyek wisata tidak lepas dari kendala yang muncul dari dalam maupun dari luar lingkungan sekitar. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya persaingan, agar dapat bertahan untuk itu diperlukan sebuah strategi. Strategi adalah suatu alat yang direncanakan demi fungsi manajemen yang dimiliki suatu usaha atau perusahaan/organisasi untuk mengalokasikan semua sumberdaya yang ada sehingga dapat memenangkan kompetisi. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul dalam melakukan kegiatan pemasaran, dapat dilihat dari faktor internal dan eksternal. Dari sisi internal dapat dilihat hal-hal yang berkaitan dengan kekuatan dan kelemahan yang ada pada saat pemasaran yaitu faktor-faktor yang dapat dikendalikan oleh Dinas Kebudayaan

23

dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul itu sendiri. Sedangkan dari sisi eksternal ada peluang dan ancaman yang dapat mendorong dan bisa menghambat kegiatan pemasaran wisata. Dari faktor internal dan eksternal tersebut diperoleh faktor-faktor yang akan dianalisis dengan menggunakan Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Oportunies dan Threats) dalam bentuk matriks. Dimana nantinya dari analisis yang diperoleh, akan dilihat strategi pemasaran yang dilakukan dalam memasarkan produk wisata tersebut kekonsumen dalam hal ini wisatawan. Keadaan diatas dapat digambarkan dalam bentuk skema sebagai berikut: Gambar 1. Skema Alur Pikir
Usaha Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Gunungkidul

Peluang (O) Eksternal Kegiatan Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Gunungkidul Ancaman (T) Eskternal Strategi Pemasaran Wisata

Kekuatan (S) Internal

Kelemaan (W) Internal

Konsumen

24

C. Kerangka Hipotesis Melihat dari perumusan masalah diatas penulis merumuskan kerangka hipotesis sebagai berikut: 1. Ada peluang-peluang yang terdapat pada pemasaran produk wisata daerah di daerah penelitian. 2. Ada tantangan yang dihadapi dalam pemasaran produk wisata daerah di daerah penelitian. 3. Ada kekuatan dan kelemahan dalam kegiatan pemasaran produk wisata daerah di daerah penelitian.

25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul. Pengambilan lokasi ini dilakukan dengan pertimbangan adanya informasi bahwa lokasi tersebut banyak mempunyai potensi daya tarik wisata yang layak untuk dipasarkan. Dengan demikian, melihat potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Gunungkidul serta dengan mengusung sistem pengembangan pariwisata yang berkelanjutan, serta menyadari pentingnya pengembangan pemasaran Pariwisata akan mampu membentuk pasar domestik maupun mancanegara yang dapat menunjang perkembangan pariwisata maka penulis memilih lokasi ini. Waktu penelitian yang dilakukan oleh penulis dilakukan pada bulan Desember 2011 sampai dengan Februari tahun 2012. B. Metode dan Desain Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini penulis menggunakan metode Kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berusaha melihat kebenaran-kebenaran atau membenarkan kebenaran, namun di dalam melihat kebenaran tersebut, tidak selalu dapat dan cukup didapat dengan melihat sesuatu yang nyata, akan tetapi kadangkala perlu pula melihat sesuatu yang bersifat tersembunyi, dan harus melacaknya lebih jauh ke balik sesuatu yang nyata tersebut.

26

Penelitian kualitatif lebih menekankan pada penggunaan diri peneliti sebagai alat. Peneliti harus mampu mengungkap gejala sosial di lapangan dengan mengerahkan segenap fungsi inderawinya. Dengan demikian, peneliti harus dapat diterima oleh responden dan lingkungannya agar mampu mengungkap data yang tersembunyi melalui bahasa tutur, bahasa tubuh, perilaku maupun ungkapanungkapan yang berkembang dalam dunia dan lingkungan responden. C. Variabel Penelitian Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. (Arikunto, 1997 : 96). Variabel yang terdapat dalam penelitian ini adalah : a. Faktor-faktor pendorong pemasaran wisata oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul. b. Faktor-faktor penghambat pemasaran wisata oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul c. Peningkatan jumlah kunjungan wisata dari tahun ke tahun sebagai tolak ukur keberhasilan pemasaran wisata.

D. Subyek Penelitian Adapun yang menjadi subyek penelitian ini Bagian Pemasaran dan Promosi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul.

27

E. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini menggunakan metode sebagai berikut : 1. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data dengan jalan melihat, membaca, mempelajari, kemudian mencatat data yang ada hubungannya dengan obyek penelitian. Yang menjadi data dokumentasi dalam penelitian ini adalah data mengenai jumlah banyaknya pengunjung. 2. Metode wawancara Metode wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara menanyakan secara langsung data yang dibutuhkan kepada seseorang yang berwenang. Dalam wawancara ini yang menjadi responden adalah pegawaipegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul. Serta masyarakat Sekitar Obyek Wisata. 3. Metode Observasi Metode observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra.

F. Metode Analisis Data Analisis data menurut Patton dalam bukunya Moleong (2000 : 103), adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian besar. Jika dikaji, pada dasarnya definisi pertama lebih menitikberatkan

28

pengorganisasian data, sedang yang kedua lebih menekankan maksud dan tujuan analisis data. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa analisis data adalah proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong,2000 : 103) Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif analisis yang merupakan poses penggambaran daerah penelitian. Dalam penelitian ini akan diperoleh gambaran tentang Strategi Pemasaran Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul Untuk Meningkatkan Kunjungan Wisatawan.

Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan 4 (empat) tahap yaitu 1. Pengumpulan data (Field Note) Peneliti mencatat semua data secara obyektif dan apa adanya sesuai dengan hasil observasi dan interview di lapangan. 2. Reduksi data Menurut Matthe B. Miles (1992 : 16), reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data-data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan. 3. Sajian data

29

Menurut Mattew B Miles (1992 : 17), sajian data adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan

kesimpulan dan pengambilan tindakan. 4. Kesimpulan/verifikasi data Penarikan kesimpulan hanyalah sebagian satu kegiatan dari

konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung (Miles,1992 : 20). Dalam penarikan kesimpulan ini didasarkan pada reduksi data dan sajian data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian. Dari keempat tahapan analisis atas ini dapat digambarkan dengan bentuk skema sebagi berikut (Miles, 1992 : 20 ) :
Pengumpulan data

Reduksi data

Sajian data

Kesimpulan

Gambar 2. Bagan Metode Analisis Data

30

DAFTAR PUSTAKA

Yoety, Oka. 1990. Pemasaran Pariwisata. Bandung: Angkasa Joyosuharto,Sunardi.2001.Aspek Ketersediaan (Supply) dan tuntutanKebutuhan Tim Penyusun Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata UGM.2000.RIPPDA Rancangan Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Gunungkidul. Yogyakarta: Dinas Pariwisata Daerah Kabupaten Gunungkidul Francois Vellas, Lionel Beherel. 1999. Pemasaran Pariwisata Internasional. Jakarta: Yayasan Obor.2008. Utama. Kotler, Philip. 2001. Prinsip-prinsip Pemasaran. Jakarta: Erlangga. Lupiyoadi. 201. Menajemen Pemasaran Jasa: Teori dan Praktik. Jakarta: Salemba Pawitra, Teddy. 2001. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Pendit, Nyoman. 1994. Ilmu Pariwisata: Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: Paradnya Paramita. Suyitno. 1990. Perencanaan Wisata. Yogyakarta: Kanisius. Undang-undang Republik Indonesia No. 9 Tahun. 1990 tentang kepariwisataan. . Sumber lain: Renstra Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2010 http://www.pariwisata.gunungkidulkab.go.id/

Anda mungkin juga menyukai