Anda di halaman 1dari 37

Dewasa ini keamanan penggunaan zat pewarna sintetis pada makanan masih dipertanyakan di

kalangan konsumen. Sebenarnya konsumen tidak perlu khawatir karena semua badan
pengawas obat dan makanan di dunia secara kontinyu memantau dan mengatur zat pewarna
agar tetap aman dikonsumsi. Jika ditemukan adanya potensi risiko terhadap kesehatan, badan
pengawas obat dan makanan akan mengevaluasi pewarna tersebut dan menyebarkan
informasinya ke seluruh dunia. Pewarna yang terbukti mengganggu kesehatan, misalnya
mempunyai efek racun, berisiko merusak organ tubuh dan berpotensi memicu kanker, akan
dilarang digunakan. Di Indonesia tugas ini diemban oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM).

Baik zat pewarna sintetis maupun alami yang digunakan dalam industri makanan harus
memenuhi standar nasional dan internasional. Penyalahgunaan zat pewarna melebihi ambang
batas maksimum atau penggunaan secara ilegal zat pewarna yang dilarang digunakan dapat
mempengaruhi kesehatan konsumen, seperti timbulnya keracunan akut dan bahkan kematian.
Pada tahap keracunan kronis, dapat terjadi gangguan fisiologis tubuh seperti kerusakan
syaraf, gangguan organ tubuh dan kanker (Lee 2005).

Rhodamine B

Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes)
No.239/Menkes/Per/V/85 menetapkan 30 zat pewarna berbahaya. Rhodamine B termasuk
salah satu zat pewarna yang dinyatakan sebagai zat pewarna berbahaya dan dilarang
digunakan pada produk pangan (Syah et al. 2005). Namun demikian, penyalahgunaan
rhodamine B sebagai zat pewarna pada makanan masih sering terjadi di lapangan dan
diberitakan di beberapa media massa. Sebagai contoh, rhodamine B ditemukan pada makanan
dan minuman seperti kerupuk, sambal botol dan sirup di Makassar pada saat BPOM
Makassar melakukan pemeriksaan sejumlah sampel makanan dan minuman ringan
(Anonimus 2006).

Rhodamine B termasuk zat yang apabila diamati dari segi fisiknya cukup mudah untuk
dikenali. Bentuknya seperti kristal, biasanya berwarna hijau atau ungu kemerahan. Di
samping itu rhodamine juga tidak berbau serta mudah larut dalam larutan berwarna merah
terang berfluorescen. Zat pewarna ini mempunyai banyak sinonim, antara lain D and C Red
no 19, Food Red 15, ADC Rhodamine B, Aizen Rhodamine dan Brilliant Pink B. Rhodamine
biasa digunakan dalam industri tekstil. Pada awalnya zat ini digunakan sebagai pewarna
bahan kain atau pakaian. Campuran zat pewarna tersebut akan menghasilkan warna-warna
yang menarik. Bukan hanya di industri tekstil, rhodamine B juga sangat diperlukan oleh
pabrik kertas.

Fungsinya sama yaitu sebagai bahan pewarna kertas sehingga dihasilkan warna-warna kertas
yang menarik. Sayangnya zat yang seharusnya digunakan sebagai pewarna tekstil dan kertas
tersebut digunakan pula sebagai pewarna makanan.

Penggunaan zat pewarna ini dilarang di Eropa mulai 1984 karena rhodamine B termasuk
karsinogen yang kuat. Efek negatif lainnya adalah menyebabkan gangguan fungsi hati atau
bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati (Syah et al. 2005). Beberapa penelitian telah
membuktikan bahwa zat pewarna tersebut memang berbahaya bila digunakan pada makanan.
Hasil suatu penelitian menyebutkan bahwa pada uji terhadap mencit, rhodamine B
menyebabkan terjadinya perubahan sel hati dari normal menjadi nekrosis dan jaringan di
sekitarnya mengalami disintegrasi. Kerusakan pada jaringan hati ditandai dengan adanya
piknotik (sel yang melakukan pinositosis) dan hiperkromatik dari nukleus, degenerasi lemak
dan sitolisis dari sitoplasma (Anonimus 2006).

Dalam analisis yang menggunakan metode destruksi yang kemudian diikuti dengan analisis
metode spektrofometri, diketahui bahwa sifat racun rhodamine B tidak hanya disebabkan
oleh senyawa organik saja tetapi juga oleh kontaminasi senyawa anorganik terutama timbal
dan arsen (Subandi 1999). Keberadaan kedua unsur tersebut menyebabkan rhodamine B
berbahaya jika digunakan sebagai pewarna pada makanan, obat maupun kosmetik sekalipun.
Hal ini didukung oleh Winarno (2004) yang menyatakan bahwa timbal memang banyak
digunakan sebagai pigmen atau zat pewarna dalam industri kosmetik dan kontaminasi dalam
makanan dapat terjadi salah satu diantaranya oleh zat pewarna untuk tekstil.

SUMBER TULISAN: http://kontak-banten.com/?p=1063, Ditulis Oleh: drh. Wina Listiana
Permasalahan gizi dalam pengolahan dan pengawetan makanan
Pada pengolahan bahan pangan zat gizi yang terkandung dalam bahan pangan dapat
mengalami kerusakan bila di olah, karena zat itu peka terhadap PH pelarut, oksigen, cahaya
dan panas atau kombinasinya. Unsu-unsur minor terutama tembaga, besi, dan enzim dapat
mengkatalisis pengaruh tersebut. Bahan makanan mempunyai peranan yang penting sebagai
pembawa atau media zat gizi yang di dalamya banyak mengandung zat-zat yang di butuhkan
oleh tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan lain-lain. Di dalam
masyarakat ada beberapa macam cara pengolahan dan pengawetan makanan yang di lakukan
kesemuanya untuk meningkatkan mutu makanan yang di maksut dengan tudak mengurangi
nilai gizi yang di kandungnya. Pada dasarnya bahan makanan diolah dengan tiga macam
alasan:
1. Menyiapkan bahan makanan untuk dihidangkan
2. Membuat produk yang di kehendaki termasuk di dalamya nutrifikasi bahan makanan,
(contoh: roti)
3. Mengawetkan, mengemas dan menyimpan (contoh: pengalengan)
Pengolahan makanan di lakukan dengan maksut mengawetkan, lebih intensif dari pada
memasak biasa kecuali bahan makanan harus di masak, juga misalnya pada canning,
makanan itu harus di sterilkan dari jasad renik pembusuk. Untuk beberapa jenis makanan,
waktu yang di perlukan untuk proses itu cukup lama, sehingga dapat di pahami mengapa
kadar zat makanan dapat menurun, akan tetapi dengan penambahan zat makanan (nutrien)
dalam bentuk murni sebagai pengganti yang hilang maka hal seperti di atas dapat di atasi.
1. Pengolahan bahan makanan untuk menyiapkan bahan makanan siap hidang
Bahan makanan yang di olah sebelum di masak.
Bahan makanan segar dapat langsung di masak dan kemudian di hidangkan, akan tetapi ada
pula bahan makanan yang harus melalui beberapa cara pengolahan tertentu sebelum dapat di
masak, misalnya beras. Untuk memperoleh beras dari padi, padi itu harus di giling atau di
tumbuk terlebih dahulu. Setelah di giling, beras ini memiliki beberapa proses pengolahan
lainya seperti di simpan, di angkut, di cuci dan sebagainya. Pada proses pengilingan yang di
lakukan dengan cara yang kurang hati-hati dapat terjadi hasil dengan kualitas rendah, karena
butir beras menjadi kecil (beras menir) sehingga terbuang pada proses pemisahan dengan
butir yang tidak pecah. Cara menggiling yang terlalu intensif, sehingga menghasilkan beras
yang putih bersih (polished rice) sangat merugikan karena bagian-bagian yang mengandung
zat makanan dalam konsentrasi tinggi (lembaga dan kulit ari) turut terbuang. Sebaliknya
beras seperti itu tahan lama, sehingga masih di gemari pula.
Presentase beras pecah waktu penggilingan cukup tinggi berkisar antara 8%, ke atas.
Hanyalah pecahan butur-butir kecil, yang ikut terbuang bersama dedak, atau di pisahkan
dengan saringan dari beras yang di jual kepada para kelas pekerja. Sebagian besar dari butir-
butir yang pecah di saring dari derajat kualitas beras yang di jual para pedagang sebagai beras
kualitas tinggi. Bila pembuangan dengan di pertahankan di bawah 8%, hanya butir-butir
pecahan kecil saja yang di buang, maka hasil dari asal seharusnya 65% berupa beras giling
ringan yang mengandung thiamin 2 ug per gram. Berbeda halnya dengan beras yang di
peroleh melalui proses penggilingan, pada proses beras yang hanya di peroleh dari hasil
penumbukan hasilnya beras tumbuk tersebut tidak tahan lama, tetapi dengan cara menumbuk
berbagai zat makanan yang terdapat dalam lembaga dan kulit ari sebagian besar dapat di
pertahankan, sebagai jalan tengah beras dapat di giling dengan cara setengah giling (half
milled rice).
Bahan makanan pada waktu di masak
Di sini hanya akan di bahas secara umum, dengan mengambil beberapa contoh, mengingat
banyak jenis bahan makanan, dan juga banyak cara di lakukan untuk memasak makanan itu.
Sebagai contoh akan kita ambil pengaruh memasak terhadap beras, sayuran, dan daging, tiga
golongan bahan makanan yang paling penting dan dikenal di Indonesia.
1. Memasak nasi
Untuk memudahkan pengangkutan dan penyimpanan maka beras di masukan dalam karung.
Karung ini tidak selalu bersih, banyak di pakai sekali-sekali. Kemudian penjual eceran
menjualnya di toko atau di pasar dalam keadaan terbuka tanpa mengindahkan kemungkinan
pengotoran oleh debu dan lain-lain. Justru karena itulah beras sering kali kotor mangandung
debu, batu-batu kecil dan mungkin masih mengandung gabah serta di hinggapi serangga.
1. Memasak sayuran
Di beberapa daerah di Indonesia sayuran di makan dalam keadaan mentah sebagai lalap.
Kebiasaan makan seperti ini baik sekali, karena memberikan pada menu sehari-hari sejumlah
besar vitamin dan mineral. Tetapi ada biji-bijian yang sebaiknya tidak di makan mentah
karena mengandung zat yang merugikan badan. Sayuran yang sudah di masak berkurang
kadar zat makananya, karena pengaruh berbagai faktor selama memasak. Jumlah vitamin dan
mineral yang dipertahankan tergantung pada sifat yang di miliki oleh zat-zat makanan itu
sendiri serta cara memasakyang di lakukan. Sebagian besar vitamin yang sudah rusak ialah
yang tergolong vitamin yang mudah rusak oleh panas, yang larut dalam air dan yang mudah
di oksidasikan sehingga berubah sifat. Dalam golongan ini yang paling banyak menderita
kerusakan ialah vitamin C. jumlah mineral yang dapat berkurang karena larut dalam air
pemasak terutama karena terdapat asam-asam organik yang mempermudah pelarutan mineral
itu.
Dengan singkat, faktor-faktor yang dapat merendahkan kadar nutrien di dalam sayuran yang
di masak ialah :
1. bila jumlah air perebus yang di pakai terlalu banyak
2. bila air perebus ini kemudian bila di buang setelah di pakai, dan tidak terus di
pergunakan sebagai bagian dari masakan
3. bila sayuran akan di rebus itu di potong-potong dalam ukuran yang kecil-kecil, dan di
biarkan lama sebelum di masak
4. bila air perebus tidak di biarkan mendidih dahulu sebelum sayuran di masukan ke
dalamnya
5. bila pada waktu merebus, panci di biarkan terbuka
6. bila di pergunakan panci atau lainya yang terbuat dari logam yang dapat mengkatalisa
proses oksidasi terhadap vitamin, misalnya alat-alat yang terbuat dari besi, tembaga
dan lain-lain.
Sangat menarik hal sayuran yang dimasak dalam sedikit lemak (di tumis misalnya), karena
lemak ini dapat meninggikan suhu memasak, sehingga suhu yang diperlukan untuk memasak
menjadi lebih pendek. Berbagai vitaminyang mudah rusak oleh suhu memasak, biasanya
tidak larut dalam lemak dan lemak mungkin dapat melindungi berbagai vitamin yang mudah
di oksidasikan oleh zat asam.
1. Memasak daging
Daging dapat di masak dengan mengoreng, merebus atau dengan di panggang. Pada
umumnya memasak daging tidak akan menurunkan penurunan nilai gizi, bahkan dengan
memasaknya, daya cerna (digestibility) daging jauh lebih baik di bandingkan dengan yang
mentah. Ini di sebabakan oleh berbagai proses yang di akibatkan oleh suhu terhadap protein
(denaturation and coagulation). Suhu memasak dapat menyebabkan terbentuknya zat-zat
dengan aroma yang menarik selera, misalnya bau yang di timbulkan oleh kaldu (boullion),
daging panggang dan sebagainya. Mungkin dengan mamanggang daging dapat terjadi
penurunan kadar zat-zat makanan karena waktu lemak mencair, mungkin terbawa zat-zat
makanan yang larut terbakar di dalam arang dan terjadi ikatan-ikatan organic yang merugikan
tubuh.
Pengolahan bahan makana untuk dijual ke pasar.
Di Indonesia dikenal banyak sekali makanan ynga telah di olah dengan berbagai cara dengan
tujuan memberikan variasi dalam menu sehari hari. Beberapa dari makanan seperti itu
memilki nilai gizi yasng tinggi. Untuk menaqrik perhatian pembeli sering makanan atau
minuman yang dijual di beri warna. Produsen makanan rakyat sering menggunakan zat warna
yang tidak dipruntukan makanan, karena harganya lebih murah. Yang sering dipergunakan
dalah zat warna tekstil.
Tempe
Tempe terbuat dari kacang kedelai yang memilki kadar protein tnggi. Seperti diketahui
sumber sumber protein nabati dengan kadar protein yang tinggi, belum tentu tinggi pula
nilai hayatinya. Ini disebabkan oleh lapisan selulosa di dalam jaringan bahan makanan yang
berasal dari tumbuhan yang sukar dicerna. Disamping itu pada berbagai kacang terdapat
berbagai jenis enzim yang mempunyai fungsi bertentangan dengan enzim enzim percernaan
di dalam tubuh kita (trypsine inhibitor).
Pada pembuatan tempe, jamur yang menumbuhi dapat mencerna sebagian besr selulosa
menjadi bentuk yang lebih muda untuk dicerna oleh tubuh manusia. Juga pada proses
pembuatan tempe, trypsine inhibitor tadi menjadi tidak aktif lagi, sehingga nilai biologi
tempe menjadi lebih baik jika dibandikan dengan kacang kedelai biasa.
Tape singkong
Pada pembuatan tape singkong pada dasarnya ialah proses fermentasi. Hal yang menarik di
sini bahwa hidrosianida (HCN) yang mulanya mungkin terdapat dalam sinkong itu akan
hilang atau a kan tersisa sedikit sekali setelah diubah menjadi tape. Sudah menjadi
pengetahuan umum bahwa keracunan singkong telah membawa banyak korban pada orang
orang yang tidak mengetahui terdapatnya racun ini pada jenis singkong yang tertentu.
Tahu
Makanan ini terbuat dari kacang kedelai dan merupakan makanan yang relative mahal karena
tersusun dari dispersed protein yang berasal dari kacang kedelai itu. Pada proses
pembuatannya protein kedelai telah di masak dalam waktu yang cukup lama serta di saring,
sehingga hasilnya akan mempunyai daya cerna (digestibility) yang tinggi.
Pindang
Makanan ini di buat dengan cara fermentasi juga. Pada pindang yang baik kualitasnya,
tulang-tulang ikan pun dapat menjadi sedemikian empuk, sehingga dapat di makan.
Kecap
Kecap di buat dari kacang kedelai yang proteinya sebagian besar telah di hidrolisa (oleh
jamur) mendapat campuran asam amino yang mudah di serap.
Ada 6 dasar prinsip pengolahan bahan makanan untuk pengawetan. Keenam prinsip ini
adalah:
1. Pengurangan air pengeringan, dehidrasi, dan pengentalan
2. Perlakuan panas blanching, pasteurisasi, dan sterilisasi
3. Perlakuan suhu rendah pendinginan dan pembekuan
4. Pengendalian makanan fermentasi dan aditif asam
5. Berbagai macam zat kimia aditif
6. Iradiasi
Prinsip pengawetan bahan makanan didasarkan atas bagaimana caranya memanipulasikan
faktor faktor linkungan bahan makanan yang dimaksud. Sebagai contoh mikroba
membutuhkan suhu optic untuk pertumbuhannya. Suhu yang lebih tinggi merusak
pertumbuhan sedangkan suhu yanag lebih rendah sanagat menghambat metabolisme.
Metabolisme mikroba memerlukan banyak air vbebes penghilangan air secara biologis aktif
dengan perlakuan pengeringan atau dehidrasi menghentikan pertumbuhan mokroba.
Perlakuan ini juga menurunkan akti fitas enzim dan reaksi reaksi kimia. Proses ketengikan
lipid akan menurun apabila air sruktural yang melindungi dibiarkan tetap seperti semula.
Pengaruh penuapan air terhadap perubahan zat gizi dalam prose p[engeringan relative kecil
kalau suhu pengeringannya sedang dan bahan makanan dikemas cukup baik. Pengeringan
beku yaitu pengringan sublimasi dalam ruangan vakum pada suhu rendah mnemberikan
keuntungan lebih daripada pengeringan suhu tinggi ditinjau dari sudut pengawetan gizi.
Pengaruh utama perlakuan panas adalah denaturasi protein seperti innaktif mikroba dan
enzim enzim yang lain. Pasteurisasi membebaskan bahan makan terhadap pathogen dan
sebagian besar sel vegetatif mikroba sedangkan sterilisasi dapat didefinisikan sebagai proses
memnetikan bsemua mikroba yang hidup. Sterilisasi dengan panas merupakn proses
pengawetan makanan yang paling efektif namun mempunyai pengaruh yang merugikan
terhadap zat gizi yang labil, terutuma vitamin vitamin dan menurunnya nilai gizi protein
terutama pada reaksi mallard.
Pengawetan suhu rendah terutama pengawetan dengan suhu beku ditinjau dari banyak segi
merupakan cara pengawtan bahan makanan yang aling tidak merugikan. Suhu rendah
menghamabat pertumbuhana dan memperlambat laju reaksi kimia dan enzim. Aktifitas enzim
dalam danging dapat dikatakan berhenti dalam penyimpanan suhu beku sedangkan untuk
penyimpanan bahan makanan sala sebelum pembekuana perlu dikukus terlebih dashulu untuk
mencegah perubahan kwalitas yang tidak didinginkan. Susut kandungan vitamin minimal bila
dibandingkan dengan cara pengawetan lain. Penyebab utama kerusakan kualitas secara
keseluruhan terjadi terutama karena kondisi yang kurang menguntungkan pada proses
pembekuan,pengeringan dan pelelehan kristal es (thawing).
Kerusakan bahan makanan yang derajat keasamannya rendah secara relative berjalan cepat.
Pertumbuhan organisme penyebab kerusakan bahan makanan sangata terhambat dalam
lingkungan yang keasamannaya tinggi. Salah satu cara pengawetan bahan makanan adalah
menurunkan Ph bahan makanan tersebut dengan cara fermentasi anaerob senyawa
karbohidrat menjadi asam laktat. Keasaman beberapa beberapa bahan makanan dapat
dinaikkan dengan penambahan asam seperti cuka atau sama sitrat oleh prose fermentasi kecil.
Dalam kandungan zat gizi makanan dapat ditingkatkan terutama melalui sinesis vitamin dan
protein oleh mikroba.
Zat aditif berupa zat kimia mempunyai daya pengawet terhadap bahan makanan karena
menyediakan lingkungan yang menghambat pertumbuhan mikroba reaksi kimia enzimatis
dan kimia. Pengolahan demikian termasuk pola penggunaan agensia kiuring dan pengasapan
produk daging, pengawetan kadar gula tinggi untuk sayuran dan buah-buahan serta perlakuan
dengan berbagai macam zat kimia aditif. Pengaruh cara initerhadap zat gizi bervariasi namun
pada umumnya kecil.
Upaya mengatasi permasalahan gizi dalam pengolahan dan pengawetan makanan
Dalam pengolahan dan pengawetan makanan untuk mencegah hilangnya atau berkurangnya
kandungan gizi dan berubahnya tekstur, rasa, warna, dan bau di lakukan hal-hal sebagai
berikut:
1. Mengunakan teknik pengolahan dan pengawetan yang berorientasi gizi.
1. Memasak nasi
2. Kehilangan thiamin pada nasi dapat di lakukan dengan cara yaitu sebelum di
masak hendaknya pencucian yang di lakukan jangan di ulang-ulang cukup 2
kali saja dan cara masaknya dengan meliwet.
3. Memasak sayuran
4. Sebelum di masak sayuran jangan di potong kecil-kecil sebab ruas permukaan
yang meningkat akan menyebabkan nilai gizi yang hilang juga banyak.
1. Gunakan air secukupnya
2. Biarkan air yang akan di gunakan untuk merebus mendidih terlebih dahulu sebelum
sayuran di masukan.
3. Panci yang di gunakan untuk memasak harus di tutup.
4. Jangan mengunakan panci atau alat lainya yang terbuat dari logam yang dapat
mengkatalisa proses oksidasi terhadap vitamin.
5. Gunakan air rebusan sebagai kuah.
6. Pengawetan sayuran dengan cara pendinginan harus memperhatikan suhu optimum
sayuran yang di maksud agar tidak terjadi pembusukan karena aktifitas
mikroorganisme dan lain-lain.
Contoh: Kol pada suhu 0
0
C, buncis 7,5-10
0
C, tepung 7-10
0
C, Wortel 0,1,5
0
C.
1.
1. Ikan atau daging
1.
1. pink spoilage dapat di cegah dengan mengunakan larutan sodium hypochlorite
atau bahan lain yang serupa, dengan dosis tidak lebih dari 500 ppm.
2. Case hardening dapat di cegah dengan cara membuat suhu pengeringan tidak
terlalu tinggi, atau proses pengeringan awal tidak terlalu cepat.
3. freezer burn dapat di cegah dengan cara membungkus daging yang di maksud.
Buah
Pada pendinginan buah maka untuk mencegah kehilangan air atau memberi kilap maka kulit
buah di lapisi dengan malam atau parafin.
Susu
Pada susu pasteurisasi yang di lakukan mengunakan suhu <600 C sedangkan untuk
pembuatan es krim menggunakan suhu 71,10 C selama 30 menit atau 82,2
0
C selama 16-20
detik.
1. Suplementasi bahan gizi
Pada dasarnya kehilangan bahan gizi seperti lemak asam amino, vitamin, dan mineral pada
proses pengolahan sudah bisa di tekan seminimal mungkin jika menggunakan teknik
pengolahan yang berorientasi gizi. Kebutuhan tubuh akan bahan gizi yang tidak dapat di
penuhi dari bahan yang kita konsumsi dapat di tambah dengan mengkonsumsi bahan lain
yang mengandung zat yang kita butuhkan. Salah satu cara yaitu dengan mengonsumsi
makanan yang masih segar, sayuran dan lain-lain. Dengan mengkonsumsi buah-buahan segar
dan sayuran secara langsung maka kebutuha zat gizi yang kita butuhkan dapat teratasi karena
dala buah-buahan dan sayuran segar tersebut sudah terdapat zat gizi seperti lemak, protein,
vitamin, dan mineral.
1. Bahan tambahan makanan (bahan Aditif) dan kesehatan
Bahan tambahan makanan (BTM) didefinisikan sebagai bahan yang tidak lazin dikonsumsi
sebagai makanan, dan biasanya bukan merupakan komposisi khas makanan, dapat bernilai
gizi ataupun tidak, ditambahkan ke dalam makanan dengan sengaja untuk membantu teknik
pengolahan makanan baik dalam proses pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan,
pengepakan, pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan produk makanan olahan, agar
menghasilkan suatu makanan yang lebih baik atau secara nyata mempengaruhi sifat khas
makanan tersebut.
Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap makanan yang praktis dan awet menunjang
berkembangnya penggunaan BTM yang secara bermakna berperan besar dalam rantai
produksi dan pengolahan sejak abad ke-19. Seiring dengan banyaknya laporan kasus
keracunan makanan, Timbul berbagai diskusi dan keprihatinan yang mendalam mengenai
keamanan penggunaan BTM, termasuk bagaimana langkah-langkah pengendalian yang tepat
diperlukan.
Jenis BTM sangat beragam sesuai dengan fungsi dan tujuan penggunaannya, yaitu sebagai
antioksidan, mencegah penggumpalan, mengatur keasamam makanan, pemanis buatan,
pemutih dan pematang tepung, pengemulsi, pengental, pengawet, pewarna, pengeras,
penyedap rasa, penguat rasa, sekuestran, enzim dan penambah gizi, serta fungsi lainnya
seperti pelembab, antibusa, pelarut, karbonasi, penyalut, dan pengisi.
WHO mensyaratkan zat tambahan itu seharusnya memenuhi kriteria sebagai berikut : (1).
Aman digunakan, (2). Jumlahnya sekedar memnuhi kriteri pengaruh yang diharapkan, (3).
Sangkil secara teknologi, (4). Tidak boleh digunakan utnuk menipu pemakai dan jumlah yang
dipakai haruslah minimal. Bahan baku BTM dari bahan sintetik mempunyai kelebihan yaitu
lebih pekat, lebih stabil, dan lebih murah. Namun demikian ada kelemahannya yaitu sering
terjadi ketidaksempurnaan proses sehingga mengandung zat-zat yang berbahaya bagi
kesehatan, dan kadang-kadang bersifat karsinogenik, baik pada hewan maupun manusia.
Agar dapat dengan baik melindungi konsumen dari berbagai masalah keamanan pangan dan
industri pangan di Indonesia, berbagai peraturan dikeluarkan oleh instansi terkait. Selain
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang bernaung di bawah Departemen
Kesehatan, pengawasan dan pengendalian juga dilakukan oleh Departemen Pertanian,
Departemen Perdagangan, dan Departemen Perindustrian.
Suatu jenis BTM menjadi berbahaya bagi kesehatan tidak hanya karena secara obyektif
memang merusak kesehatan/tubuh dan karenanya telah dilarang oleh peraturan, juga karena
penggunaan BTM yang tidak dilarang tetapi dengan ukuran yang berlebihan dan sering
dikonsumsi.
Jenis BTM yang boleh digunakan sepanjang masih sesuai dengan ukuran yang telah
ditentukan. Sedangkan bahan tambahan yang dilarang digunakan pada makanan berdasarkan
Peraturan Menkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 dan perubahannya No.
1168/Menkes/Per/X/1999 adalah Asam Borat (Boric Acid) dan senyawanya, Asam Salisilat
dan garamnya (Salicylic Acid and its salt), Dietilpirokarbonat (Diethylpirocarbonate DEPC),
Dulsin (Dulcin), Kalsium Klorat (Potassium Chlorate), Kloramfenikol (Chloramfenikol),
Minyak Nabati yang dibrominasi (Brominate vegetable oils), Nitrofurazon (Nitrofurazone),
Formalin (Formaldehyde), dan Kalium Bromat (Potassium Bromate).( F:\Republika Online
httpwww_republika_co_id.mht)
Pewarna buatan
Dalam proses pengolahan bahan pangan kadang kala terdapat kecenderungan
penyalahgunaan pemakaian zat pewarna untuk sembarang bahan pangan, misalnya zat
pewarna untuk tekstil dan kulit di pakai untuk mewarnai bahan makanan. Karena adanya
residu logam berat pada zat pewarna tersebut Zat pewarna yang berbahaya dan dilarang
digunakan sebagai BTM, obat-obatan dan kosmetika telah diatur menurut ketentuan
Peraturan Menkes RI Permenkes RI No. 239/Men.Kes/Per/V/85, yaitu;
Nama Batas maksimum penggunaan
Merah (45430) 0,1 g/kg (Es krim), 0,2-0,3 g/kg (jem,
jeli, saus, buah kalengan)
Hijau (42053) 0,1 g/kg (es krim), 0,2 g/kg (jeli, buah
alengan), 0,3g/kg (acar)
Kuning (15985) 0,1 g/kg (es krim0, 0,2 g/kg (jeli, buah
kalengan), 0,3 g/kg (acar)
Coklat (20285) 0,07 g/kg (minuman ringan), 0,3 g/kg
(makanan lainnya)
Biru (42090) 0,1 g/kg (Es krim), 0,2 g/kg (jeli
buahkalengan), 0,3g/kg (acar)
Serta ada beberapa pewarna lainnya seperti:Auramine, Alkanet, Butter Yellow, Black 7984,
Burn Umber, Chrysoidine, Chrysoine S, Citrus Red No. 2, Chocolate Brown FB, Fast Red E,
Fast Yellow AB, Guinea Green B, Indanthrene Blue RS, Magenta, Metanil Yellow, Oil
Orange SS, Oil Orange XO, Oil Yellow AB, Oil Yellow OB, Orange G, Orange GGN,
Orange RN, Orchil and Orcein, Poncheau 3R, Poncheau SX, Poncheau 6R, Rhodamine
B,SudanI, Scarlet GN, dan Violet 6 B.
1.
1.
i.
1. Pengawet buatan
Bahan tambahan Pangan Pengawet boleh digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang
memproduksi pangan yang mudah rusak. Pencantuman label pada produk pangan sesuai
dengan Peraturan Pemerintah No.69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. Label
pangan adalah setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan,
kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam,
ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan.
Label :
1.
1.
Nama produk
Berat bersih atau isi bersih
Nama dan alamat pabrik yang memproduksi atau memasukkan pangan
ke wilayah Indonesia.
Pengawet yang diijinkan digunakan untuk pangan tercantum dalam Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor : 722/Menkes/Per/IX/88 Tentang Bahan Tambahan Makanan, mencakup:
Nama Batas maksimum
Asam Benzoat 600/kg (kecap, minumanringan) 1 g/kg
(acar, margarin, sari nanas, saus,
makanan lainnya
Kalium Bisulfit 50mg/kg(kentang goreng),
100mg/kg(udang beku), 500
mg/kg(sari nanas)
Kalium Nitrit 50 mg/kg (keju), 500mg/kg (daging)
Bahan pengawet lainnya: Asam
Propionat, Asam Sorbat, Belerang
Oksida, Etil p-Hidroksida Benzoat,
Kalium Benzoat, Kalium Meta Bisulfit
,Kalium Nitrat, Kalium Sorbat
Kalium, sulfit Kalsium benzoat,
Kalsium Propionat, Kalsium Sorbat,
Natrium Benzoat, Metil-p-hidroksi
Benzoat, Natrium Bisulfit Natrium
Metabisulfit, Natrium Nitrat, Natrium
Nitrit Natrium, Propionat Natrium,
Sulfit Nisin Propil-p-hidroksi, Benzoat
um Sulfit

Sehubungan dengan teka-teki yang muncul menyangkut keamanan penggunaan bahan
pengawet dalam produk pangan, maka berikut disajikan kajian keamanan beberapa pengawet
yang banyak digunakan oleh industri pangan
Tabel Pengaruh beberapa bahan pengawet terhadap kesehatan
Bahan
Pengawet
Produk Pangan Pengaruh terhadap Kesehatan
Ca-benzoat Sari buah, minuman
ringan, minuman anggur
manis,
ikan asin
Dapat menyebabkan reaksi
merugikan pada asmatis dan yang
peka terhadap aspirin
Sulfur dioksida
(SO
2
)
Sari buah, cider, buah
kering, kacang kering,
sirup, acar
Dapat menyebabkan pelukaan
lambung, mempercepat serangan
asma, mutasi genetik, kanker dan
alergi
K-nitrit Daging kornet, daging
kering, daging asin, pikel
daging
Nitrit dapat mempengaruhi
kemampuan sel darah untuk
membawa oksigen, menyebabkan
kesulitan bernafas dan sakit
kepala, anemia, radang ginjal,
muntah
Ca- / Na-
propionat
Produk roti dan tepung Migrain, kelelahan, kesulitan tidur
Na-metasulfat Produk roti dan tepung Alergi kulit
Asam sorbat Produk jeruk, keju, pikel
dan salad
Pelukaan kulit
Natamysin Produk daging dan keju Dapat menyebabkan mual, muntah,
tidak nafsu makan, diare dan
pelukaan kulit
K-asetat Makanan asam Merusak fungsi ginjal
BHA Daging babi segar dan
sosisnya, minyak sayur,
shortening, kripik
kentang, pizza beku,
instant teas
Menyebabkan penyakit hati dan
kanker.
formalin Tahu, Mie Basah Kanker paru-paru, Gangguan pada
jantung,Gangguan pada alat
pencernaan, Gangguan pada ginjal,
dll.
Boraks atau
Pijer
Baso, mie Gangguan pada kulit, Gangguan pada
otak, Gangguan pada hati, dll
Mencermati kemungkinan gangguan kesehatan seperti yang tercantum dalam Tabel 1, maka
FDA mensyaratkan kepada produsen pangan untuk membuktikan bahwa pengawet yang
digunakan aman bagi konsumen dengan mempertimbangkan:
- Kemungkinan jumlah paparan bahan pengawet pada konsumen sebagai akibat
mengkonsumsi produk pangan yang bersangkutan.
- Pengaruh komulatif bahan pengawet dalam diet.
- Potensi toksisitas (termasuk penyebab kanker) bahan pengawet ketika tertelan oleh
manusia atau binatang.
Problematika yang sering terjadi dalam penggunaan bahan pengawet
- Penggunaan Tidak sesuai dalam ketentuan Depkes
- Kadar akumulatif tidak pernah dikonfirmasikan dengan DAILY INTAKE
- Penggunaan bahan ilegal (Borak dan formalin)
Namun demikian perlu diperhatikan hal-hal penting dalam menggunakan bahan tambahan
pangan pengawet adalah :
-
o Pilih pengawet yang benar/yang diijinkan untuk dalam pangan serta telah
terdaftar di Badan POM RI.
o Bacalah takaran penggunaannya pada penandaan/label.
o Gunakan dengan takaran yang benar sesuai petunjuk pada label.
o Membaca dengan cermat label produk pangan yang dipilih/dibeli serta
mengkonsumsinya secara cerdas produk pangan yang menggunakan bahan
pengawet. Contoh BTP Pengawet lengkap dengan penandaan dan takaran
penggunaannya.
o Pemanis buatan
Pemanis yang termasuk BTM adalah pemanis pengganti gula (sukrosa).Pemanis, baik yang
alami maupun yang sintetis, merupakan senyawa yang memberikan persepsi rasa manis tetapi
tidak (atau hanya sedikit) mempunyai nilaigizi (non-nutritive sweeteners).
Mekanisme Kerja Suatu senyawa untuk dapat digunakan sebagai pemanis,kecuali berasa
manis, harus memenuhi beberapa kriteria tertentu, sepert (1) larut dan stabil dalam kisaran
pH yang luas, (2) stabil pada kisaran suhu yang luas, (3) mempunyai rasa manis dan tidak
mempunyai side atau after-taste, dan (4) murah, setidak-tidaknya tidak melebihi harga gula.
Senyawa yang mempunyai rasa manis strukturnya sangat beragam. Meskipun demikian,
senyawa-senyawa tersebut mempunyai feature yang mirip, yaitu memiliki sistem
donor/akseptor proton (sistem AHs/Bs) yang cocok dengan sistem reseptor (AHrBr) pada
indera perasa manusia.
Beberapa pemanis buatan yang direkomendasikan oleh Depkes RI
Nama Batas maksimum penggunaan
Sakarin (300-700x manis gula) 100mg/kg (permen), 200mg/kg (Es
krim,jem,jeli)., 300 mg/kg (saus, Es
lilin, minuman ringan, minuman
yogurt)
Siklamat (30-80x manis gula) 1 g/kg (permen), 2 g./kg ((Es
krim,jem,jeli), 3mg/kg (saus, lilin,
minuman ringan, minuman yogurt
Citarasa buatan (Penyedap rasa dan aroma)
Cita rasa bahan pangan terdiri dari tiga komponen bau, rasa, dan rangsangan mulut. Untuk
membangkitkan tiga komponen ini maka dalam lahan pangan biasanya dalam proses
pengolahan di tambahka cita rasa tiruan (sintetik), misalnya amil asetat menyerupai aroma
pisang, vanillin memberikan aroma serupa dengan aksetat vanili, dan amil kaproat
mempunyai aroma apel dan nanas. Sedangkan untuk membangkitkan cita rasa yang umum di
gunakan adalah asam amino L atau garamnya, misalnya monosodium glutamate (MSG) dan
jenis nukleotida seperti IMP dan GMP.
Beberapa cita rasa buatan yang direkomendasikan Sdepkes RI diantaranya tertera dalam tabel
dibawah ini:
Nama Batas penggunaan maksimum
Monosodium glutamat (MSG) Secukupnya
Vanilin (panili) 0,7 g/kg produk siap kosumsi
Benzadehida (Cherry) Secukupnya
Aldehida sinamat) Secukupnya
Mentol (mint) Secukupnya
Eugenol (rempah-rempah) Secukupnya
Benzilasetat (strawbery) Secukupnya
Amil asetat (pisang) Secukupnya
Penstabil
Proses pengolahan, pemanasan atau pembekuan dapat melunakan jaringan sel tanaman
sehingga produk yang di peroleh mempunyai tekstur yang lunak. Untuk memperoleh tekstur
yang keras, dapat di tambahkan garam (0,1-0,25% sebagai ion Ca). ion kalsium akan
berkaitan dengan pectin membentuk Ca-pektinat atau Ca-pektat yang tidak larut. Pada
umumnya untuk maksud tersebut di gunaka garam-garam Ca seperti CaCl
2
Ca-sitrat,CaSO
4
,
Calaktat, dan Ca-monofosfoat. Hnya sayangnya garam-garam kalsium ini kelarutanya rendah
dan rasanya pahit.
Problematika Penggunaan BTM ilegal dimasyarakat
Salah satu yang membuat geger massyarakat Baru-baru ini adalah penemuan kandungan
formalin dan Borak pada sejumlah produk makanan, dan sebagian besar pada jenis mi, tahu,
bakso dan juga ikan asin, yang selama ini banyak dikonsumsi masyarakat luas. Formalin
adalah zat kimia yang mengandung unsur karbon, hidrogen, dan oksigen, dan mempunyai
nama lain formaldehid. Secara fisik terdapat dalam bentuk larutan tidak berwarna dengan
kadar antara 37-40%. Formalin biasanya mengandung alkohol/metanol 10-15% yang
berfungsi sebagai stabilisator untuk mencegah polimerisasi formaldehid menjadi
paraformaldehid yang bersifat sangat beracun. Karakteristik dari zat ini adalah mudah larut
dalam air, mudah menguap, mempunyai bau yang tajam dan iritatif walaupun ambang
penguapannya hanya 1 , mudah terbakar bila kontak dengan udara panas atau api, atau bila
kontak dengan zat kimia tertentu. Di pasaran tersedia dalam bentuk sudah diencerkan
maupun dalam bentuk padat.
Pemakaian formalin
Formalin bersifat desinfektan, kuat terhadap bakteri pembusuk dan jamur. Oleh karena itu gas
formalin dipakai oleh pedagang bahan tekstil supaya tidak rusak oleh jamur atau ngengat.
Selain itu formalin juga dapat mengeraskan jaringan sehingga dipakai sebagai pengawet
mayat dan digunakan pada proses pemeriksaan bahan biologi maupun patologi.
Dampak formalin terhadap kesehatan
Formalin terbukti bersifat karsinogen atau menyebabkan kanker pada hewan percobaan, yang
menyerang jaringan permukaan rongga hidung. Bila dilihat dari respon tubuh manusia
terhadap formalin, efek yang sama juga dapat terjadi
Regulasi terkait formalin
Formalin yang bersifat racun tersebut tidak termasuk dalam daftar bahan makanan tambahan
(BTM) yang dikeluarkan oleh badan internasional maupun oleh Departemen Kesehatan.
Menurut UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan, UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan
konsumen, distorsi penggunaan formalin secara sengaja dalam produk makanan dapat
diancam pidana penjara maksimal lima tahun atau denda maksimal Rp. 600 juta. Demikian
juga Peraturan Menteri Kesehatan No. 1168/Menkes/PER/X/1999 melarang penggunaan
formalin dalam makanan.
PERSPEKTIF AL QURAN
o/1'N BZJn po'=' /Z 8pP1C |n'v/Z |n'v po|n:v)| 4
og_7+n =v<O |n'o \\ BoBZZ
88. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rezekikan
kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.
'=+o<N+ poBtn \ <|nZ|t /P| poBtn |n7v'nHt
t+2='t 1+|
8. Dan tidaklah kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak
(pula) mereka itu orang-orang yang kekal.
t<+tnH /onAt /+p,on'_gN+ 8pP/ot+po'N o=vJn'
/+p,on'_gN+ 8pP/,N |n,1+v ,N po'o|tx 8p,=vN
)1o) 7v1'N+ 8p/'= 8p7oN+ /onAt oJZ+ 7,n BZJixn
po8p,,+on 8p,oZo<n |n7'J'Itx' t+2='t
33. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami
hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka
makan.
|n7Zvnv t<++pn ''oNZ :oKo'| po og_7+n =v<O
|n,1+v | BZJn '='| \Z_ B7|| tpA 7o1'N+ )P+ 4
|n7'o<
168. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan
janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah
musuh yang nyata bagimu.
KESIMPULAN
Pangan secara umum bersifat mudah rusak (perishable), karena kadar air yang terkandung di
dalamnya sebagai faktor utama penyebab kerusakan pangan itu sendiri. Semakin tinggi kadar
air suatu pangan, akan semakin besar kemungkinan kerusakannya baik sebagai akibat
aktivitas biologis internal (metabolisme) maupun masuknya mikroba perusak.
untuk mengawetkan makanan dapat dilakukan dengan beberapa teknik baik yang
menggunakan teknologi tinggi maupun teknologi sederhana. Caranya pun beragam dengan
berbagai tingkat kesulitan. Namun inti dari pengawetan makanan adalah suatu upaya untuk
menahahn laju pertumbuham mikroorganisme pada makananm
jenis-jenis teknik pengolahan dan pengawetan makanan itu ada 5 :
1. pendinginan
2. pengeringan
3. pengalengan
4. pengemasan
5. penggunaan bahan kimia
6. pemanasan
7. Bahan makanan mempunyai peranan yang penting sebagai pembawa atau media zat
gizi yang di dalamya banyak mengandung zat-zat yang di butuhkan oleh tubuh seperti
karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan lain-lain
8. Penggunaan zat aditif (tambahan) dalam makanan dan minuman sangat berbahaya
bagi kesehatan masyaratkan, terutama zat tambahan bahan kimia sintetis yang toksik
dan berakumulasi dalam tubuh untuk jangka waktu yang relatif lama bagi yang
menggunakannya.
1.
1.
i.
1.
1.
i.
1. Keracunan makanan bisa disebabkan
oleh karena kelalaian dan ketidaktahuan
masyarakat dalam pengolahannya ,
seperti keracunan singkong.
2. Keracunan makanan bisa juga
disebabkan oleh kondisi lingkungan
yang memungkinkan mikroba untuk
berkembang biak lebih cepat, seperti
karena faktor fisik, kimia dan biologis
SARAN
Bagi produsen makanan hendaknya jangan hanya ingin mendapat keuntungan yang besar
tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan bagi masyarakat yang mengkonsumsinyayaitu
dengan menggunakan zat aditf yang tidak membahayakan bagi kesehatan
Bagi Dinas kesehatan c/q Pengawasan makanan dan minuman hendaknya sebelum
mengeluarkan nomor registrasi mengetahui kandungan zat yang ada didalamnya terutama
yang membahayakan kesehatan.
Bagi instansi terkait hendaknya memberikan informasi kepada khalayak luas tentang bahan
kimia atau zat tambahan yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam makanan dan minuman
yang mengganggu kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Budiyanto, MAK. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Gizi; malang UMM press
Dwijopeputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta; Djambatan
Fareliaz, Srikandi. Mikrobiologi Pangan, jakarta; Gramedia pustaka
Winarno, F.G.I. 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan konsumsi. Jakarta; Gramedia Pustaka.
http://zaifbio.wordpress.com/category/dasar-dasar-ilmu-gizi/








DAMPAK MENGKONSUMSI SAUS PADA JAJANAN ANAK SEKOLAH
YANG MENGANDUNG ZAT PEWARNA SINTETIS RHODAMIN-B DAN
METANIL YELLOW DI SD NEGERI 1 X PURWOKERTO
Posting Oleh: Adnan Agnesa
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook


DAMPAK MENGKONSUMSI SAUS PADA JAJANAN ANAK SEKOLAH YANG
MENGANDUNG ZAT PEWARNA SINTETIS RHODAMIN-B DAN METANIL
YELLOW DI SD NEGERI 1 X PURWOKERTO

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembangunan berwawasan kesehatan diupayakan sebagai salah satu strategi pembangunan
nasional yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia sehat tahun 2010 dengan
pengupayaan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) cerdas, produktif, sehat, dan
mandiri sehingga dapat berdampak bagi perbaikan kearah kualitas hidup masyarakat yang
baik.
Keamanan pangan merupakan persyaratan utama yang harus dimiliki oleh setiap produksi
yang beredar dipasaran. Untuk menjamin keamanan pangan olahan, maka dibutuhkan
kerjasama antara pemerintah, produsen industri makanan menjadi tanggung jawab
sepenuhnya dari produsen, dengan pengaturan dan pembinaan dari pemerintah.
Akibat kemajuan ilmu teknologi pangan di dunia dewasa ini, maka semakin banyak jenis
bahan makanan yang diproduksi, dijual dan dikonsumsi dalam bentuk yang lebih awet dan
lebih praktis dibanding dengan bentuk segarnya. Semua jenis makanan siap santap dan
minuman awet tersebut dapat menjadi busuk dan masih layak untuk dikonsumsi. Kemudahan
tersebut dapat terwujud diantaranya berkat perkembangan teknologi produksi dan
penggunaan Bahan Tambahan Makanan (BTM).
Penggunaan Bahan Tambahan makanan yang tidak memenuhi syarat termasuk bahan
tambahan memang jelas-jelas dilarang, seperti pewarna, pemanis dan bahan pengawet.
Pelarangan juga menyangkut dosis penggunaan bahan tambahan makanan yang melampaui
ambang batas maksimum yang telah ditentukan (Effendi, 2004). Batas maksimum
penggunaan siklamat adalah 500 mg - 3 g/kg bahan, sedangkan untuk sakarin adalah 50-300
mg/kg bahan (Depkes, 1997). Batas Maksimun Penggunaan pewarna sintetik yang dizinkan
seperti Pancrew 4 R : 300mg/Kg bahan makanan, tatrazin, brilliant blue dan sunset yellow :
100mg/Kg bahan makanan (Depkes, 1998).
Hal ini juga didukung dengan hasil penelitian BPOM terhadap 163 sampel dari 10 propinsi
dan sebanyak 80 sampel (80%) tidak memenuhi persyaratan mutu dan keamanan produk.
Dari produk makanan jajanan itu banyak ditemukan penggunaan bahan pengawet dan
pewarna yang dapat mengganggu kesehatan anak sekolah seperti penyakit kanker dan ginjal.
Sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh Ravianto ( 2000 ) di kota Makassar
menunjukkan bahwa semua sampel (100%) makanan dan minuman jajanan yang dijual di
lapangan Karebosi mengandung siklamat.
Selain itu Bahan Tamabahan Makanan (BTM) banyak digunakan pada makanan jajanan anak
sekolah. Salah satunya pewarna untuk memperbaiki dan memberi warna agar lebih menarik.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan zat pewarna sintetis (uji kualitatif
kromatografi kertas saring menggunakan benang wol)pada makanan jajanan yang dijual di
lingkungan SD Al Azhar (favorit) dan SDN Tembalang (bukan favorit) di Kota Semarang.
Penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional.Lokasi penelitian yaitu SD
Al Azhar dan SDN Tembalang. Sampel makanan jajanan diambil secara purposive sample,
yaitu 9 sampel dari masing - masing SD sehingga jumlah semua 18 sampel, yaitu jenis
makanan utama, snacks dan minuman yang berwarna mencolok, baik dalam kemasan
maupun tidak. Analisis data secara deskriptif dengan menyajikan data dalam bentuk tabel dan
grafik. Hasil penelitian yaitu, 9 sampel dari SD Al Azhar, 5(55,57%) berlabel dan 4 (44,44%)
tidak berlabel sedangkan 9 sampel dari SDN Tembalang, 3 (33,33%) berlabel dan 6 (66,67%)
berlabel. Semua (100%) menggunakan zat pewarna sintetis yang diijinkan menurut
Permenkes RI No 722/Menkes/Per/IX/1988, yaitu sunset yellow,carmoisin,tartrazin,biru
berlin dan P4R. Kesesuaian jenis zat pewarna sintetis pada label dengan hasil laboratorium, 9
sampel dari SD Al Azhar, 5 (55,57%) sampel berlabel, 1 (20,00%) tidak mencantumkan jenis
zat pewarna sintetis pada label, 4 (80,00%) mencantumkan dan sesuai dengan hasil
laboratorium, 4 (44,44%) sampel tidak berlabel, tidak mencantumkan jenis zat pewarna
sintetis yang digunakan sedangakan 9 sampel dari SDN Tembalang, 3 (33,33%) berlabel, 1
(33,33%) mencantumkan jenis zat pewarna sintetis pada label dan sesuai dengan hasil
laboratorium, 2 (66,67%) tidak mencantumkan, 6 (66,67%) sampel tidak berlabel, tidak
mencantumkan jenis zat pewarna sintetis. Tidak ditemukan perbedaan zat pewarna sintetis
pada makanan jajanan yang dijual di lingkungan SD Al Azhar dan SDN Tembalang. Saran
untuk pihak sekolah, agar melakukan pembinaan dan pegawasan dengan menyeleksi
makanan jajanan yang akan dijual sedangkan untuk peneliti lain, penelitian ini dapat
dilanjutkan dengan mengidentifikasi BTM selain pewarna dengan uji kuantitatif dan sampel
yang lebih besar.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan Latar Belakang tersebut diatas, maka muncul permasalahan apakah dampak
mengkonsumsi saus pada beberapa merek dagang yang digunakan pada makanan jajanan
anak sekolah dasar (SD Negeri 1 X) yang mengandung zat pewarna sintetis Rhodamin-B dan
Metanil Yellow berbahaya bagi kesehatan?
C. TUJUAN
1. Tujuan umum
Mengetahui zat pewarna dalam saus yang digunakan sebagai pelengkap pada makanan.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui merek / jenis saus yang digunakan sebagai pelengkap.
b. Mengetahui zat pewarna yang digunakan termasuk jenis alami atau sintetis.
c. Mengetahui ada tidaknya zat pewarna Rhodamin-B dan metanil Yellow pada saus yang
digunakan sebagai pelengkap pada makanan.

D. MANFAAT
1. Prodesen makanan jajanan
Mengetahui informasi tentang keamanan pangan yang bersifat kimiawi terutama zat pewarna
sintetis pada saus yang ada dalam makanan jajanan anak SD.
2. Masyarakat
Mendapatkan informasi mengenai semua bentuk dan jenis makanan jajanan yang ada dan
dapat mengetahui dampaknya bagi tubuh atau kesehatan.
3. Instansi terkait
Sebagai acuan untuk melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap pengelola atau
produsen makanan tehadap aspek keamanan pangan.
4. Jurusan Kesehatan Masyarakat
Menambah pustaka atau bahan bacaan dalam bidang ilmu kesehatan masyarakat khususnya
yang menyangkut tantang kandungan pewarna tambahan pada makanan.
5. Penulis lain
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan untuk penelitian bagi calon peneliti
selanjutnya, baik yang bersifat teoritis maupun bersifat aplikatif.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. MAKANAN JAJANAN
Makanan jajanan adalah semua makanan yang dijajakan pada waktu istirahat dan dikonsumsi
sebagai pengganjal dan penunda waktu makan. Sipfat dan jenis makanan ini sangat beraneka
ragam, dari mulai makanan tradisional sampai dengan makanan yang sudah modern. Dengan
adanya sifat melimpahnya jenis inilah maka penjual dan produsen berlomba-lomba untuk
mempercantik penampilan demi memperoleh daya jual yang tinggi.
Makanan akan sangat menarik jika mempunyai warna yang menggugah selera. Anggapan ini
memang sepenuhnya benar tetapi menjadi bencana jika kita menambahkan pewarna makanan
tanpa kendali pada semua jenis makanan agar tampilannya menarik. Dalam beberapa kasus
yang sering ditayangkan di televisi bahkan ada juga yang menambahkan pewarna pakaian
pada beberapa makanan yang diproduksi untuk mempercantik tampilannya.

B. SAUS
Saus merupakan bahan pelengkap yang digunakan sebagai tambahan atau untuk
mempersedap makanan.(ade,2009). Berbicara tentang saos, Mulai dari anak kecil sampai
orang dewasa kerap menggunakannya sebagai bahan pelengkap makanan. Rasanya yang
pedas menjadikan saos akrab dengan semua kalangan. Mulai dari makan bakso, mie ayam,
sampai makan fastfood atau seafood rasanya kurang lengkap tanpa saos. Saos yang beredar di
pasaran saat ini beragam jenisnya. Berbagai perusahaan industri makanan biasanya
mengeluarkan produk saos tomat buatan mereka masing-masing. Banyaknya merek yang ada
di pasaran kadang membuat orang bingung untuk memilih mana yang terbaik. Meski secara
umum saos yang ada sudah didaftarkan di Departemen Kesehatan tetapi diperkirakan ada
beberapa jenis saos yang patut diwaspadai komposisi bahan pembuatannya. Seperti saos yang
biasa digunakan oleh para pedagang makanan kaki lima. Biasanya, saos yang mereka
gunakan adalah saos yang merupakan hasil olahan industri rumah tangga yang tidak terdaftar
di Depkes. Harganya memang murah karena bahan pembuatannya bukan dari buah cabai asli
melainkan sudah dicampur dengan bahan-bahan lain seperti ubi. Penambahan berbagai bahan
sebagai campuran dalam membuat saos sendiri sebenarnya sudah mengurangi mutu saos
tersebut. Apalagi bila salah satu bahannya mengandung zat berbahaya. Sesuatu yang paling
harus diwaspadai adalah penambahan zat aditif seperti pewarna. Penambahan zat pewarna
dikarenakan ada tambahan bahan lain seperti ubi, sehingga tidak mudah untuk mendapat
warna merah alami. Untuk itu, dibutuhkan zat pewarna merah. Kalau tidak, warnanya akan
berubah menjadi lebih pucat bahkan hampir tidak bisa di sebut berwarna lagi.
Selama ini, ada kecurigaan saus awetan tidak menggunakan zat pewarna semestinya. Sebab,
warna merah untuk pewarna makanan sangat jarang ditemukan di pasaran. Kalaupun ada,
harganya cukup mahal, tidak sebanding dengan sebotol saus yang dihargai paling mahal
Rp2.000,00 (untuk produk pasaran). Jika pewarna yang digunakan adalah pewarna kain
maka hanya membutuhkan sedikit warna saja. Bila yang digunakan adalah pewarna kain
biasanya hanya dicampurkan sedikit karena warna untuk pewarna kain lebih cerah dari
pewarna makanan. Hal ini berbahaya untuk kesehatan karena sifat racunnya akan mengendap
di dalam tubuh.
Khusus saus botolan, saos yang baik berwarna merah cabai segar, tidak pucat atau bahkan
cenderung berwarna orange. Bila pucat dan berwarna merah kekuning-kuningan itu berarti
bukan berasal dari cabai asli melainkan sudah di tambah dengan bahan-bahan lain serta
menggunakan zat pewarna. Sedangkan saos yang terbuat dari cabai asli sebenarnya sama
sekali tidak memerlukan zat pewarna. Biasanya, saos yang bagus adalah yang bila dituang di
atas piring tidak langsung jatuh ke dalam piringnya melainkan agak lambat karena sedikit
kental.

C. PEWARNA DALAM SAUS
Pewarna makanan merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki penampakan
makanan. Penambahan bahan pewarna makanan mempunyai beberapa tujuan, di antaranya
adalah
memberi kesan menarik bagi konsumen,
menyeragamkan dan menstabilkan warna,
serta menutupi perubahan warna akibat proses pengolahan dan penyimpanan.
Secara garis besar pewarna dibedakan menjadi dua, yaitu pewarna alami dan sintetik.
Pewarna alami yang dikenal di antaranya adalah daun suji (warna hijau), daun jambu/daun
jati (warna merah), dan kunyit untuk pewarna kuning.
Kelemahan pewarna alami ini adalah warnanya yang tidak homogen dan ketersediaannya
yang terbatas, sedangkan kelebihannya adalah pewarna ini aman untuk dikonsumsi.
Jenis yang lain adalah pewarna sintetik. Pewarna jenis ini mempunyai kelebihan, yaitu
warnanya homogen dan penggunaannya sangat efisien karena hanya memerlukan jumlah
yang sangat sedikit. Akan tetapi, kekurangannya adalah jika pada saat proses terkontaminasi
logam berat, pewarna jenis ini akan berbahaya.
Selain itu, khusus untuk makanan dikenal pewarna khusus makanan (food grade). Padahal, di
Indonesia, terutama industri kecil dan industri rumah tangga, makanan masih sangat banyak
menggunakan pewarna nonmakanan (pewarna untuk pembuatan cat dan tekstil).
Rhodamin-B dan metahnyl yellow merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang
penggunaannya dalam makanan menurut peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor
1168/Menkes/PER/X/1999.
Efek negatifnya yaitu dapat menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik
(menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan),
serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur
darah, dan kematian yang disebabkan adanya kegagalan peredaran darah. Bila menguap di
udara, berupa gas yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam menyesakkan, sehingga
merangsang hidung, tenggorokan, dan mata. (Depkes RI,2007)
Rhodamin B
Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil dan kertas.
Rhodamin B berbentuk serbuk kristal merah keunguan dan dalam larutan akan berwarna
merah terang berpendar.
Zat itu sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan. Dampak
yang terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata,
iritasi saluran pencernaan dan bahaya kanker hati.
Apabila tertelan dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan dan air seni akan
berwarna merah atau merah muda. Penyebarannya dapat menyebabkan gangguan fungsi hati
dan kanker hati.
Penyalahgunaan rhodamin B untuk pewarna makanan telah ditemukan untuk beberapa jenis
pangan, seperti kerupuk, terasi, dan jajanan yang berwarna merah terang.
Ciri-ciri makanan yang mengandung pewarna rhodamin B antara lain makanan berwarna
merah mencolok dan cenderung berpendar serta banyak memberikan titik-titik warna karena
tidak homogen. Segera hindari makanan dengan ciri tersebut.
Pewarna kuning Metanil
Zat pewarna kuning metanil adalah pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil dan
cat berbentuk serbuk atau padat yang berwarna kuning kecoklatan.
Pewarna kuning metanil sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan
tertelan. Dampak yang terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit,
iritasi pada mata, dan bahaya kanker pada kandung dan saluran kemih.
Apabila tertelan dapat menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, panas, rasa tidak enak
dan tekanan darah rendah. Bahaya lebih lanjutnya yakni menyebabkan kanker pada kandung
dan saluran kemih.
Penyalahgunaan pewarna kuning metanil untuk pewarna makanan telah ditemukan antara lain
pada mie, kerupuk dan jajanan lain yang berwarna kuning mencolok dan berpandar.
Ciri-ciri makanan yang mengandung pewarna kuning metanil antara lain makanan berwarna
kuning mencolok dan cenderung berpendar serta banyak memberikan titik-titik warna karena
tidak homogen.(onpria,2008)

D. KEAMANAN MAKANAN
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 menyatakan bahwa kualitas pangan yang dikonsumsi
harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya adalah aman, bergizi, bermutu, dan dapat
terjangkau oleh daya beli masyarakat.
Aman yang dimaksud di sini mencakup bebas dari cemaran biologis, mikrobiologis, kimia,
logam berat, dan cemaran lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan
kesehatan manusia. Salah satu makanan yang sering dikonsumsi dalam hal ini yaitu
makanana jajanan yang sering dijajakan di sekolah-sekolah dasar.
BAB III
METODE PENELITIAN




B. JENIS DAN METODE PENELITIAN
Jenis penalitian ini adalah dengan menggunakan deskriptif kualitatif, karena peneliti
bertujuan untuk membuat gambaran secara sistematis, factual,dan akurat.
Menurut Moleong (2004), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk
memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku,
persepsi, motivasi dan tindakan, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-
kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan
berbagai metode alamiah. Tujuan dari penelitian ini, adalah memahami fenomena sosial
melalui gambaran holistik dan memperbanyak pemahaman mendalam.
Penelitian ini, peneliti secara aktif berinteraksi secara pribadi. Proses pengumpulan data dapat
diubah dan hal itu bergantung pada situasi. Peneliti bebas menggunakan intuisi dan dapat
memutuskan bagaimana merumuskan pertanyaan atau bagaimana melakukan pengamatan.
Individu yang diteliti dapat diberi kesempatan agar secara sukarela mengajukan gagasan dan
persepsinya dan malah berpartisipasi dalam analisis data.
Pertimbangan menggunakan metode ini adalah:
1. Lebih mudah menyesuaikan apabila berhadapan dengan kenyataan
2. Menyajikan secara langsung hubungan antara peneliti dengan subjek
3. Lebih sensitif dan adaptif terhadap peran dan berbagai pengaruh yang timbul (Moleong,
2000)
Sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan observasi dan
pendekatan cross sectional.

C. SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah anak-anak sekolah dasar di
SD Negeri 1 X di Kelurahan X Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas Jawa
Tengah.

D. LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Negeri 1 X, yang bertempat di Jalan Kampus No. 342
Kelurahan X Kecamatan Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas.

E. SUMBER DATA
Sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah:
1. Data primer yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara mendalam peneliti dengan
subjek penelitian (Informan). Sumber data primer dalam penelitian ini adalah hasil
wawancara mendalam peneliti dengan subjek penelitian, dalam hal ini adalah anak-anak
sekolah dasar di SD Negeri 1 X.
2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dengan menelaah dokumen-dokumen atau catatan
yang ada. Berupa data pendukung penelitian yang bersumber dari literature, jurnal ilmiah,
dan catatan yang menunjang pada masalah kesehatan

F. CARA PENGUMPULAN DATA
Berdasarkan pada bentuk penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang akan digunakan,
maka cara pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Wawancara Mendalam (in depth interview)
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh
informasi langsung dari sumbernya. Wawancara ini digunakan bila ingin mengetahui dari
informan secara lebih mendalam serta jumlah informan sedikit (Riduwan, 2002). Dalam
penelitian ini, peneliti memperoleh data melalui wawancara secara langsung dan mendalam
dengan informan. Dalam wawancara tersebut, diajukan beberapa pertanyaan yang dapat
dipakai sebagai pedoman dalam mengidentifikasi apa dan bagaimana gejala yang timbul pada
anak sekolah dasar tersebut setelah mengkonsumsi makanan jajanan yang mengandung bahan
pewarna sintetik. Alat yang digunakan untuk mempermudah proses wawancara adalah buku
catatan, alat perekam dan panduan wawancara.
2. Observasi (participant observation as observer)
Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat
dari dekat kegiatan yang dilakukan. Observasi dilakukan terhadap tindakan baik verbal, non
verbal dan aktivitas individual. Teknik observasi akan menghasilkan gambaran yang lebih
lengkap dan menyeluruh mengenai objek yang sedang diteliti. Alat yang digunakan untuk
mempermudah proses observasi adalah panduan observasi dan kamera digital untuk
mepermudah proses pendokumentasian obesrvasi.
Pendokumentasian ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian,
meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film
dokumenter, dan data yang relevan dengan penelitian (Riduwan, 2002).
3. Analisis dokumen
Merupakan cara yang dilakukan peneliti dengan meneliti dan menganalisis dokumen-
dokumen yang ada maupun arsip-arsip yang dapat mendukung penelitiannya. Analisis
dokumen tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil wawancara maupun observasi.
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa
catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, agenda, dan sebagainya (Arikunto, 1997 : 236).
Sedangkan menurut Arikunto metode dokumentasi yaitu cara pengambilan data
menggunakan barang-barang tertulis, buku-buku, majalah, dokumen peraturan, notulen rapat,
catatan harian yang harian yang berhubungan dengan masalah penilitian.
Dalam alat dan teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan tiga metode yaitu observasi,
wawancara dan dokumentasi. Peneliti menggunakanketiga metode ini karena cukup relevan
dalam pengumpulan data.

G. ANALISIS DATA
Menurut Moleong (2004), analisis data merupakan proses mengolah data, mengorganisasikan
dalam bentuk suatu pola dan menyusunnya sesuai kategori tujuan penelitian dan satuan
uraian dasar. Terdapat tiga komponen analisis dalam penelitian ini seperti terlihat dalam
gambar dibawah ini, terdiri dari reduksi data, sajian data dan penarikkan kesimpulan yang
dilakukan dalam bentuk interaktif atau interactive of analysis model.
Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, abstraksi
dan transformasi data kasar yang muncul dicatatan-catatan tertulis di lapangan. Penyajian
data diartikan sebagai pemaparan informasi yang tersusun untuk memberikan peluang
terjadinya sebuah kesimpulan. Sedangkan penarikan kesimpulan atau verifikasi merupakan
suatu proses yang telah mencakup tahap final. Proses analisis ini berjalan terus menerus
seperti sebuah siklus (Moleong, 2004).



H. VALIDITAS DATA
Hal yang terpenting dalam penelitian kualitatif adalah validitas data. Dalam hal ini, peneliti
menggunakan model triangulasi untuk validasi data. Menurut Moleong (2004), triangulasi
adalah tekhnik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain diluar
data ini untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dibedakan
atas empat macam teknik triangulasi, yaitu:
1. Triangulasi sumber
Triangulasi sumber, yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu
informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.
2. Triangulasi metode
Triangulasi metode, yaitu dengan menggunakan dua strategi yaitu pengecekan terhadap
derajat kepercayaan penemuan hasil beberapa teknik pengumpulan data dan pengecekan
kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.
3. Triangulasi penyelidik
Triangulasi penyelidik, yaitu dengan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk
keperluan pengecekkan kembali derajat kepercayaan data. Cara lainnya adalah dengan
membandingkan hasil pekerjaan seorang analis dengan analis lain.
4. Triangulasi teori
Triangulasi teori, yaitu melakukan penelitian tentang tema yang sama dan datanya dianalisa
dengan menggunakan beberapa perspektif teori yang berbeda.
Peneliti memilih mengunakan triangulasi sumber, dari keempat teknik triangulasi diatas.
Triangulasi sumber dapat tercapai dengan jalan :
1. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
2. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakan
secara pribadi.
3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa
yang dikatakannya sepanjang waktu.
4. Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat dan
pandangan orang, seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi,
orang berada, dan orang pemerintahan.
5. Membandingkan antara data hasil pengamatan (observasi) dengan data hasil
Triangulasi sumber yang akan digunakan peneliti dalam penelitian ini dari kelima cara
triangulasi sumber diatas, adalah :
1. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan
pandangan orang. Peneliti mencari informan yang mempunyai kontras umur, jenis kelamin
yang pernah mengalami kejadian serupa dengan masalah yang timbul akibat makan jajanan
anak sekolah tersebut. Selain itu peneliti juga melakukan triangulasi dengan pihak-pihak
terkait.
2. Membandingkan antara data hasil pengamatan (observasi) dengan data hasil wawancara.


DAFTAR PUSTAKA


Anonim.2008.zat berbahaya dalam makanan.di dikunjungi.www.onpria.com
pada tanggal 25 juni 2009 jam 23.11
Arikunto, Suharsimi. 1993. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik).
Rineka Cipta. Jakarta.
Depkes RI.1998.pemantauan nilai keracunan makanan.Depkes press.Jakarta
Depkes,RI.2007.dampak dan penggolongan BTP.Depkes press.Jakarta
Effendi.2004.keamanan makanan.ol.jakarta
Moleong, L. J. 2000. Metode Penelitian Kualitatif. PT Remaja
Rosdakarya.Bandung.
Moleong, L. J. 2004. Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. PT Remaja
Rosdakarya. Bandung.
Ravianto.2000.kesehatan anak sekolah.carebossi.Makasar
Riduwan. 2000. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian.
AFABETA.Bandung
http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2011/01/dampak-mengkonsumsi-saus-pada-jajanan.html
Selasa, 22 Desember 2009
Rhodamin B
Sekarang-sekarang ini, mulai muncul keingintahuan dari konsumen terhadap zat
pewarna yang digunakian dalam makanan. Dapat kita lihat, tayang televisi yang membahas
penggunaan zat pewarna sintetis di dalam makanan. Sebenarnya penggunaan zat pewarna
sintetis ini sudah diatur oleh badan pengawas obat dan makanan di seluruh dunia, sehingga
masyarakat bisa mengetahui kandungan zat pewaran sintetis apa yang terkandung dalam
suatu makanan. Bukan hanya zat pewarna sintetis,zat pewarna alami juga harus memenuhi
standar nasional maupun internasional dalam penggunaanya. Sehingga, badan pengawas obat
dan makanan (BPOM ) Indonesia mengeluarkan peraturan tentang zat pewarna apa saja yang
boleh dan tidak untuk digunakan.
Rhodamin B adalah salah satu zat pewarna sintetis yang biasa digunakan pada industri
tekstil dan kertas (Anonim
1
, 2005-2007). Zat ini ditetapkan sebagai zat yang dilarang
penggunaannya pada makanan melalui Menteri Kesehatan (Permenkes)
No.239/Menkes/Per/V/85 (Syah et al. 2005). Namun penggunaan Rhodamine dalam makanan
masih terdapat di lapangan. Contohnya, BPOM di Makassar berhasil menemukan zat
Rhodamine-B pada kerupuk, sambak botol, dan sirup melalui pemeriksaan pada sejumlah
sampel makanan dan minuman ( Anonim
2
,2006).
Rhodamin B adalah bahan kimia yang digunakan sebagai bahan pewarna dasar dalam
tekstil dan kertas. Pada awalnya zat ini digunakan untuk kegiatan histologi dan sekarang
berkembang untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan sifatnya dapat berfluorensi
dalam sinar matahari (conns, Hj, 1969).





Rumus kimia dari Rhodamin B adalah
Gb. 1. Rumus Kimia Rhodamin B
Dan jika zat ini diabsorpsi serta dilakukan Flourescene Imission Spektra seperti tertera dalam
gambar
Gb. 2. Spektra Rhodamin B
Grafik tersebut di atas merupakan molar extinction coefficient Rhodamin B yang dilarutkan
dalam etanol ( Anonim
3
,2009).
Rumus Molekul dari Rhodamin B adalah C
28
H
31
N
2
O
3
Cl dengan berat molekul sebesar
479.000. Zat yang sangat dilarang penggunaannya dalam makanan ini berbentuk kristal hijau
atau serbuk ungu-kemerah merahan, sangat larut dalam air yang akan menghasilkan warna
merah kebiru-biruan dan berfluorensi kuat. Rhodamin B juga merupakan zat yang larut dalam
alcohol, HCl, dan NaOH, selain dalam air. Di dalam laboratorium, zat tersebut digunakan sebagai
pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th ( Pertiwi, 2009 ).

Dan berikut beberapa sifat dari Rhodamin B :
- Sinonim: Amonium, (o-carboxyphenyl) -6 - (diethylamino)-3H-xanthen-3-ylidene)
mati thyl-, klorida; FD dan C Red No 19; Basic Violet 10; Rhodamine O;
Tetraethylrhodamine; CI 45.170
- CAS No.: 81-88-9
- Berat Molekul : 479.02
- Rumus Kimia: C28H31N2O3Cl
- Kode Produk: U872
- Titik lebur: 165C
- Kelarutan: sangat larut dalam air dan alkohol; sedikit larut dalam asam klorida dan
sodium hidroksida
- Nama kimia: N-[9-(2-carboxyphenyl)-6-(diethylamino) N-[9 - (2-carboxyphenyl) -
6 - (diethylamino)-3H-xanthen-3-ylidene]-N-ethylethanaminium chloride -3H-
xanthen-3-ylidene]-N-ethylethanaminium klorida ( Anonim
4
,2009)









Dan berikut merupakan warna-warna dari kristal Rhodamin B


Gb. 3. Rhodamin B


Gb. 4. Rhodamin B



Gb. 5. Rhodamin B

Dalam analisis dengan metode destruksi dan metode spektrofometri, didapat informasi
bahwa sifat racun yang terdapat dalam Rhodamine B tidak hanya saja disebabkan oleh senyawa
organiknya saja tetapi juga oleh senyawa anorganik yang terdapat dalam Rhodamin B iotu
sendiri, bahkan jika Rhodamin B terkontaminasi oleh senyawa anorganik lain seperti timbaledan
arsen ( Subandi ,1999). Dengan terkontaminasinya Rhodamin B dengan kedua unsur tersebut,
menjadikan pewarna ini berbahaya jika digunakan dalam makanan. Selain itu menurut Winarno
( 2004 ) bahwa timbal memang banyak digunakan sebagai pigmen dalam industri makanan
sebagai kontaminannya.

Di dalam Rhodamin B sendiri terdapat ikatan dengan klorin ( Cl ) yang dimana senyawa
klorin ini merupakan senyawa anorganik yang reaktif dan juga berbahaya. Rekasi untuk
mengikat ion klorin disebut sebagai sintesis zat warna. Disini dapat digunakan Reaksi Frield-
Crafts untuk mensintesis zat warna seperti triarilmetana dan xentana. Berikut gambar dari
sintesis timoftalein ( sejenis indikator pH ) dari dua ekuivalen timol dan ftalat anhidrida :
Gb. 6. Sintesis timoftalein
Selanjutnya rekasi antara ftalat anhidrida dengan resorsinol dengan keberadaan seng
klorida menghasilkan fluoresein. Apabila resorsinol diganti dengan N-N-dietilaminofenol,
reaksi ini akan menghasilkan rhodamin B ( Anonim
5
, 2009).

Gb. 7. Rekasi Antara Ftalat Anhidrida Dengan Resorsinol

Selain terdapat ikatan Rhodamin B dengan Klorin terdapat juga ikatan konjugasi. Ikatan
konjugasi dari Rhodamin B inilah yang menyebabkan Rhodamin B bewarna merah.
Ditemukannya bahaya yang sama antara Rhodamin B dan Klorin membuat adanya kesimpulan
bahwa atom Klorin yang ada pada Rhodamin B yang menyebabkan terjadinya efek toksik bila
masuk ke dalam tubuh manusia. Atom Cl yang ada sendiri adalah termasuk dalam halogen, dan
sifat halogen yang berada dalam senyawa organik akan menyebabkan toksik dan karsinogen.
Beberapa sifat berbahaya dari Rhodamin B seperti menyebabkan iritasi bila terkena mata,
menyebabkan kulit iritasi dan kemerahan bila terkena kulit hampir mirip dengan sifat dari Klorin
yang seperti disebutkan di atas berikatan dalam struktur Rhodamin B. Sebagai contoh lain
adalah senyawa CCl
4
, sudah tidak asing lagi bagi kita jika senyawa tersebut adalah senyawa yang
karsinogenik (memicu kanker) jika sampai masuk ke dalam tubuh manusia. Contoh lain yang
dapat disebutkan adalah senyawa CFC (ChloroFluoroCarbon) yang akhir-akhir ini makin marak
disebutkan sebagai faktor penyebab ozon rusak dan berlubang. Kedua contoh di atas cukup
menjelaskan bagaimana bahayanya senyawa halogen jika berikatan dengan senyawa organik
(Anonim
6
, 2009). Pertanyaan akan timbul dalam keadaaan ini, lalu bagaimana dengan NaCl?
Setiap hari kita memerlukan kadar garam pada batas tertentu, apakah NaCl yang tiap hari kita
makan akan membahayakan kita? Jawaban yang didapat adalah sama sekali tidak akan
membahayakan kita. Penyebabnya adalah senyawa NaCl yang selama ini kita konsumsi adalah
bukan senyawa organik, sehingga klorin berada dalam senyawa yang bukan senyawa organik,
maka kita akan aman-aman saja jika mengkonsumsinya.
Kita kembali lagi ke masalah Rhodamin B, penyebab lain senyawa ini begitu berbahaya
jika dikonsumsi adalah senyawa tersebut adalah senyawa yang radikal. Senyawa radikal adalah
senyawa yang tidak stabil. Dalam struktur Rhodamin kita ketahui mengandung klorin (senyawa
halogen), sifat halogen adalah mudah bereaksi atau memiliki reaktivitas yang tinggi maka
dengan demikian senyawa tersebut karena merupakan senyawa yang radikal akan berusaha
mencapai kestabilan dalam tubuh dengan berikatan dengan senyawa-senyawa dalam tubuh kita
sehingga pada akhirnya akan memicu kanker pada manusia.
Sekarang akan dibahas zat yang berbahaya dalam Rhodamin B yaitu klorin. Klorin sendiri
pada suhu ruang berbentuk sebagai gas. Sifat dasar klorin sendiri adalah gas beracun yang
menimbulkan iritasi sistem pernafasan. Efek toksik klorin berasal dari kekuatan
mengoksidasinya. Bila klorin dihirup pada konsentrasi di atas 30ppm, klorin mulai bereaksi
dengan air dan sel-sel yang berubah menjadi asam klorida (HCl) dan asam hipoklorit (HClO).
Ketika digunakan pada tingkat tertentu untuk desinfeksi air, meskipun reaksi klorin dengan air
sendiri tidak mewakili bahaya utama bagi kesehatan manusia, bahan-bahan lain yang hadir
dalam air dapat menghasilkan disinfeksi produk sampingan yang dapat merusak kesehatan
manusia. Klorit yang digunakan sebagai bahan disinfektan yang digunakan dalam kolam renang
pun berbahaya, jika terkena akan mennyebabkan iritasi pada mata dan kulit manusia. (Anonim
7
,
2009).



Rhodamin B memiliki toksisitas yang rendah, namun pengkonsumsian dalam jumlah yang
besar maupun berulang-ulang dapat mengakibatkan dampak negatif bagi tubuh, antara lain :
- Sifat kumulatif yaitu iritasi saluran pernafasan, iritasi kulit, iritasi pada mata,
iritasi pada saluran pencernaan, keracunan, dan gangguan hafi/liver (ITB, 2006).
- Jika terhirup, mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan. Dampak yang terjadi
dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi
saluran pencernaan dan bahaya kanker hati (ITB, 2006).
- Jika terkena mata dapat menimbulkan iritasi pada mata, mata kemerahan, pada
kelopak mata. (ITB, 2006).
- Jika tertelan dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan dan air seni
akan berwarna merah atau merah muda. Penyebarannya dapat menyebabkan gangguan
fungsi hati dan kanker hati (Hermawan,2008).
- Jika sudah masuk dalam tubuh kita dia akan mengendap pada jarigan hati dan
lemak,tidak dapat di keluarkan. dalam jangka waktu lama bisa bersifat karsinogenik
(penyebab kanker) (Thoeng R,2008).
- bila dikonsumsi bisa menyebabkan gangguan pada fungsi hati, bahkan kanker
hati. Bila mengonsumsi makanan yang mengandung rhodamin B, dalam tubuh akan
terjadi penumpukan lemak, sehingga lama-kelamaan jumlahnya terus bertambah.
Dampaknya baru akan kelihatan setelah puluhan tahun kemudian (ITB, 2006).

Berbagai penelitian dan uji telah membuktikan bahwa dari penggunaan zat pewarna ini
pada makanan dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati. Kerusakan pada jaringan hati
ditandai dengan terjadinya piknotik (sel yang melakukan pinositosis ) dan hiperkromatik
(pewarnaan yang lebih kuat dari normal) dari nukleus. Degenerasi lemak dan sitolisis dari
sitoplasma. Batas antar sel tidak jelas, susunan sel tidak teratur dan sinusoid tidak utuh.
Semakin tinggi dosis yang diberikan, maka semakin berat sekali tingkat kerusakan jaringan hati
mencit.(Anonim
8
, 2006). Selain itu, dari penelitian menunjukkan bahwa pewarna buatan dapat
menyebabkan hiperaktif pada anak-anak, infertilitas, cacat bayi, kerusakan liver dan ginjal,
kanker, mengganggu fungsi otak dan kemampuan belajar, dan kerusakan
kromosom.(Anonim
9
,2008).
Zat warna ini bersifat toksik dan karsinogenik, makanya wadah kemasannya sebaiknya
dikasih tanda tengkorak. Rhodamin B di industri tekstil digunakan sebagai bahan pembentuk
warna merah muda.
Sebaiknya kita sebagai konsumen memperhatikan hal tersebut, karena jika dibiarkan
dikonsumsi terus menerus akan menjadi zat yang berbahaya bagi tubuh. Setelah kita
mengetahui bahwa Rhodamin B merupakan zat yang berbahaya bagi tubuh, harus kita ketahui
juga apa saja ciri-ciri makanan yang mengandung Rhodamin B agar dapat menghindari untuk
mengkonsumsi makanan tersebut. Ciri-cirinya adalah :
- makanan berwarna mencolok
- cenderung berpendar serta banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen.
(Nasia Freemeta, 2008).
- Ada sedikit rasa pahit (terutama pada sirop atau limun).
- Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya.
- Baunya tidak alami sesuai makanannya(Yuwielueninet, 2008)
Berikut merupakan contoh ciri-ciri makanan yang menggunakan zat Rhodamin B

Gb. 8. Gb. 9.


Gb. 10. Gb. 11.
Setelah mengetahui dampak negatif dan ciri-ciri dari Rhodamin B, sebagai konsumen
kita harus pandai untuk membedakan makanan mana yang tidak mengandung pewarna yang
menggunakan Rhodamin B sehingga aman untuk dikonsumsi. Cara yang dianjurkan untuk
menghindari makanan yang mengandung Rhodamin B adalah :
- menghindari makanan kemasan, makanan restoran, makanan siap saji.
Konsumsilah makanan masakan sendiri di rumah karena lebih aman.
- Supaya tidak salah memilih produk pangan yang mengandung pewarna
Rhodamin B, konsumen harus lebih selektif. Berhati-hatilah memilih produk pangan yang
akan dikonsumsi dengan cara tidak segan-segan menanyakan kepada penjual pangan
apakah produknya menggunakan pewarna tekstil atau tidak.
- Waspadailah selalu produk tertentu yang sering menggunakan pewrana tekstil
dengan memperhatikan ciri-cirinya. (Nasia Freemeta, 2008)








Kesimpulan
Zat pewarna pada makanan digunakan untuk menambah selera makan namun bertujuan
untuk menghambat atau menghentikan aktivitas mikroba (bakteri, kapang, khamir) dan akhir
tujuannya dapat meningkatkan daya simpan suatu produk olahan, meningkatkan cita rasa,
warna, menstabilkan, memperbaiki tekstur, sebagai zat pengental/penstabil, antilengket,
mencegah perubahan warna. Namun penambahan zat pewarna dalam makanan ini sering
diganti dengan zat pewarna pada tekstil untuk memberikan warna pada makanan. Zat tersebut
adalah Rhodamin B. Walaupun pemerintah sudah melarang penggunaan zat ini di dalam
makanan, namun para pedagang masih saja menggunakannya, karena harga Rhodamin B relatif
lebih murah dari pada pewarna alami. Yang membuat zat ini bersifat toksik adalah senyawa
anorganiknya selain juga zat organiknya. Jika kita mengkonsumsi makanan yang mengandung
Rhodamin B maka zat ini akan merusak organ pada tubuh kita, bahkan memicu terjadinya
kanker. Untuk mengurangi dampak dari zat ini, maka diperlukan kebiasaan konsumsi terhadap
makanan yang baik, sebagai contoh menghindari makanan dalam bentuk kemasan, melihat
dahulu kandungan zat-zat apa saja yang terdapat di dalam makanan tersebut, dan lain-lain.

Saran
Saran yang dapat kami berikan kepada konsumen :
- Dalam menggunakan zat pewarna pada makanan, sebaiknya konsumen lebih
memilih menggunakan zat pewarna alami seperti ekstrak daun suji, kunyit dan ekstrak
buah-buahan daripada menggunakan zat pewarna sintetis
- Ketika konsumen membeli makanan langsung dari produsennya, jika menggunakan
zat pewarna, maka konsumen jangan segan-segan untuk bertanya zat pewarna apa yang
digunakan

Saran kepada pemerintah:
- Pemerintah seharusnya lebih tegas lagi dalam menindak produsen yang masih
menggunakan zat pewarna sintetik ke dalam makanan
- Pemerintah telah mengatur peredaran bahan berbahaya termasuk Rhodamin B, agar
tidak bocor ke produsen pangan dan tidak disalahgunakan untuk pangan
- Pemerintah melakukan pengawasan yang intensif terhadap toko-toko bahan kimia
yang selama ini menjual bahan berbahaya termasuk Rhodamin B untuk produsen pangan
dan pengawasan sebelum dan setelah pangan beredar serta pengawasan disertai
penindakan keras terhadap produsen pangan yang dijumpai menggunakan Rhodamin B
untuk pewarna pangan.
- Pemerintah secara terus menerus melakukan pembinaan terhadap produsen pangan
yang belum mengetahui Rhodamin B untuk pewarna pangan.
Diposkan oleh Frederic Rhaki di 20:19
2 komentar:
















Dewasa ini keamanan penggunaan zat pewarna sintetis pada makanan masih dipertanyakan di
kalangan konsumen. Sebenarnya konsumen tidak perlu khawatir karena semua badan
pengawas obat dan makanan di dunia secara kontinyu memantau dan mengatur zat pewarna
agar tetap aman dikonsumsi. Jika ditemukan adanya potensi risiko terhadap kesehatan, badan
pengawas obat dan makanan akan mengevaluasi pewarna tersebut dan menyebarkan
informasinya ke seluruh dunia. Pewarna yang terbukti mengganggu kesehatan, misalnya
mempunyai efek racun, berisiko merusak organ tubuh dan berpotensi memicu kanker, akan
dilarang digunakan. Di Indonesia tugas ini diemban oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM).
Baik zat pewarna sintetis maupun alami yang digunakan dalam industri makanan harus
memenuhi standar nasional dan internasional. Penyalahgunaan zat pewarna melebihi ambang
batas maksimum atau penggunaan secara ilegal zat pewarna yang dilarang digunakan dapat
mempengaruhi kesehatan konsumen, seperti timbulnya keracunan akut dan bahkan kematian.
Pada tahap keracunan kronis, dapat terjadi gangguan fisiologis tubuh seperti kerusakan
syaraf, gangguan organ tubuh dan kanker (Lee 2005).

Rhodamine B
Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes)
No.239/Menkes/Per/V/85 menetapkan 30 zat pewarna berbahaya. Rhodamine B termasuk
salah satu zat pewarna yang dinyatakan sebagai zat pewarna berbahaya dan dilarang
digunakan pada produk pangan (Syah et al. 2005). Namun demikian, penyalahgunaan
rhodamine B sebagai zat pewarna pada makanan masih sering terjadi di lapangan dan
diberitakan di beberapa media massa. Sebagai contoh, rhodamine B ditemukan pada makanan
dan minuman seperti kerupuk, sambal botol dan sirup di Makassar pada saat BPOM
Makassar melakukan pemeriksaan sejumlah sampel makanan dan minuman ringan
(Anonimus 2006).
Rhodamine B termasuk zat yang apabila diamati dari segi fisiknya cukup mudah untuk
dikenali. Bentuknya seperti kristal, biasanya berwarna hijau atau ungu kemerahan. Di
samping itu rhodamine juga tidak berbau serta mudah larut dalam larutan berwarna merah
terang berfluorescen. Zat pewarna ini mempunyai banyak sinonim, antara lain D and C Red
no 19, Food Red 15, ADC Rhodamine B, Aizen Rhodamine dan Brilliant Pink B. Rhodamine
biasa digunakan dalam industri tekstil. Pada awalnya zat ini digunakan sebagai pewarna
bahan kain atau pakaian. Campuran zat pewarna tersebut akan menghasilkan warna-warna
yang menarik. Bukan hanya di industri tekstil, rhodamine B juga sangat diperlukan oleh
pabrik kertas.
Fungsinya sama yaitu sebagai bahan pewarna kertas sehingga dihasilkan warna-warna kertas
yang menarik. Sayangnya zat yang seharusnya digunakan sebagai pewarna tekstil dan kertas
tersebut digunakan pula sebagai pewarna makanan.
Penggunaan zat pewarna ini dilarang di Eropa mulai 1984 karena rhodamine B termasuk
karsinogen yang kuat. Efek negatif lainnya adalah menyebabkan gangguan fungsi hati atau
bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati (Syah et al. 2005). Beberapa penelitian telah
membuktikan bahwa zat pewarna tersebut memang berbahaya bila digunakan pada makanan.
Hasil suatu penelitian menyebutkan bahwa pada uji terhadap mencit, rhodamine B
menyebabkan terjadinya perubahan sel hati dari normal menjadi nekrosis dan jaringan di
sekitarnya mengalami disintegrasi. Kerusakan pada jaringan hati ditandai dengan adanya
piknotik (sel yang melakukan pinositosis) dan hiperkromatik dari nukleus, degenerasi lemak
dan sitolisis dari sitoplasma (Anonimus 2006).
Dalam analisis yang menggunakan metode destruksi yang kemudian diikuti dengan analisis
metode spektrofometri, diketahui bahwa sifat racun rhodamine B tidak hanya disebabkan
oleh senyawa organik saja tetapi juga oleh kontaminasi senyawa anorganik terutama timbal
dan arsen (Subandi 1999). Keberadaan kedua unsur tersebut menyebabkan rhodamine B
berbahaya jika digunakan sebagai pewarna pada makanan, obat maupun kosmetik sekalipun.
Hal ini didukung oleh Winarno (2004) yang menyatakan bahwa timbal memang banyak
digunakan sebagai pigmen atau zat pewarna dalam industri kosmetik dan kontaminasi dalam
makanan dapat terjadi salah satu diantaranya oleh zat pewarna untuk tekstil.
Sumber Pustaka
Anonimus. 2006. Rhodamine B ditemukan pada makanan dan minuman di Makassar.
Republika Kamis 5 Januari 2006.
http://www.republika.co.id/online_detail.asp?=229881&kat_id=23. [30 September 2006].
Lee TA, Sci BH, Counsel. 2005. The food from hell: food colouring. The Internet Journal of
Toxicology. Vol 2 no 2. China: Queers Network Research.
Syah et al. 2005. Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan Pangan. Bogor: Himpunan Alumni
Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
Subandi. 1999. Penelitian kadar arsen dan timbal dalam pewarna rhodamine B dan auramine
secara spektrofotometri: Suatu penelitian pendahuluan.
http://www.malang.ac.id/jurnal/fmipa/mipa/1999a.htm. [30 September 2006 ]
Winarno FG. 2004. Keamanan Pangan. Bogor: Himpunan Alumni Fakultas Teknologi
Pertanian IPB

http://www.haisobat.com/DetailContent/Index/550


Rhodamin B merupakan zat kimia berbahaya yang tak boleh dicampur dengan makanan,
Rhodamin B merupakan zat pewarna yang tersedia di pasar untuk industri tekstil. Zat ini
sering disalahgunakan sebagai zat pewarna makanan dan kosmetik di berbagai Negara.
Panganan yang ditemukan mengandung rhodamin B diantaranya kerupuk (58%), terasi
(51%), dan makanan ringan (42%). Zat ini juga banyak ditemukan pada kembang gula, sirup,
manisan, dawet, bubur, ikan asap, dan cendol. Bila mengonsumsi makanan yang mengandung
rhodamin B dalam tubuh akan terjadi penumpukan lemak, sehingga lama-kelamaan
jumlahnya terus bertambah. Dampaknya baru akan kelihatan setelah puluhan tahun. Rodamin
B merupakan zat warna sintetis berbentuk serbuk kristal, tidak berbau, berwarna merah
keunguan, dalam bentuk larutan berwarna merah terang berpendar (berfluorescensi) .
Efek nya sangat berbahaya cz Bahan pewarna Merah K.10 ( Rhodamin B ) dan Merah K.3
(CI Pigment Red 53 : D&C Red No. 8 : 15585) merupakan zat warna sintetis yang pada
umumnya digunakan sebagai zat warna kertas, tekstil atau tinta. Zat warna ini dapat
menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan merupakan zat karsinogenik (dapat
menyebabkan kanker) serta Rhodamin dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan
kerusakan pada hati.
Rodamin B seringkali disalahgunakan untuk pewarna pangan dan kosmetik, misalnya : sirup,
lipstick, dll. Paparan Rodamin B dalam waktu yang lama (kronis) dapat menyebabkan
gangguan fungsi hati / kanker hati. Rodamin B biasanya terdapat pada lipstik yang berwarna
merah mencolok, lipstik yang water proof (tahan air), blush on (pemerah pipi), dll.
Tanda dan Gejala Akut bila terpapar Rhodamin B:
- Jika tertelan, dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan .dan menimbulkan
gejala keracunan dan air seni berwarna merah atau merah muda.
- Jika terkena kulit, dapat menimbulkan iritasi pada kulit.
- Jika terkena mata, dapat menimbulkan iritasi pada mata, mata kemerahan, oedema
pada kelopak mata.
- Jika terhirup, dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan.
- Jika tertelan, dapat menimbulkan iritasi pada saluran pencernakan dan menimbulkan
gejala keracunan dan air seni berwarna atau merah muda.
- Tindakan yang bisa dilakukan bila terpapar Rhodamin B
- Bila terkena kulit, lepaskan pakaian perhiasan, sepatu penderita yang
terkontaminasi/terkena Rhodamin B. Cuci kulit dengan sabun dan air mengalir sampai
bersih dari Rhodamin B, selama kurang lebih 15 s/d 20 menit, bila perlu hubungi
dokter.
- Bila terkena mata, bilas dengan air mengalir atau larutan garam fisiologis, mata
dikedip-kedipkan sampai dipastikan sisa Rhodamin B sudah tidak ada lagi/bersih, bila
perlu hubungi dokter.
- Bila tertelan dan terjadi muntah, letakkan posisi kepala lebih rendah dari pinggul
untuk mencegah terjadinya muntahan masuk ke saluran pernafasan.
- Bila korban tidak sadar, miringkan kepala ke samping atau ke satu sisi, bila perlu
hubungi dokter.
http://anugrahjuni.wordpress.com/2009/10/28/rhodamin-b-formalin-boraks-dan-karsinogenik/