Anda di halaman 1dari 36

Kementrian Pendidikan Nasional Fakultas Ekonomi Universitas Lampung Jl. Soemantri Brojonegoro No.

01 Bandar Lampung

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BIAYA KESEHATAN MASYARAKAT AKIBAT EKSTERNALITAS PENGGUNAAN BBM DI INDONESIA
(Proposal Mini)

Oleh Nama : Dwi Anasari NPM : 0851021014 Konsentrasi : Ekonomi Publik dan Fiskal

Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung Bandar Lampung 2011

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI.............................................................................................. DAFTAR GAMBAR................................................................................. DAFTAR TABEL......................................................................................

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang.............................................................................. B. Rumusan Masalah.......................................................................... C. Batas Masalah............................................................................ D. Tujuan Penelitian........................................................................... E. Kerangka Pemikiran....................................................................... F. Hipotesis.................................................................... G. Sistematika Penulisan

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritik............................................................................ 1. Eksternalitas.............................................. 2. Subsidi................................................................................... 3. Pajak............................................................................... 4. Teori Permintaan........................................................................ 5. Hubungan ANtara Pajak, SUbsidi, dan Permintaan................... B. Tinjauan Empirik............................................................................

1. Penelitian terdahulu................................................................... III. METODOLOGI PENELITIAN A. Data Penelitian................................................................................. B. Definisi Variabel.............................................................................. C. Model Perhitungan...........................................................................

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 2.1 2.2

Halaman

Tingkat Emisi Co2 di Indonesia 1999-2007.................................... Total Pertumbuhan Kendaraan Bermotor Tahun 2000-2009........... Harga BBM Premium Tahun 2000-2009.............. Harga BBM Solar Tahun 2000-2009........................ Tingkat Konsumsi BBM 2001-2007.............................................. Subsidi BBM 2003-2009... Kerangka Pemikiran... Teori Permintaan Hubungan Antara Pajak, Subsidi, dan Permintaan.

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 1.2. 2.1 3.1

Halaman Penyakit terbanyak pasien rawat jalan di RS Nasional 2006-2009........ Komponen Senyawa Kimia Berbahaya Hasil Pembakaran BBM . Tinjauan Empirik........ Fungsi Dose Response........................................

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Polusi udara perkotaan diperkirakan memberi kontribusi bagi 800.000 kematian tiap tahun (WHO/UNEP). Saat ini banyak Negara berkembang menghadapi masalah polusi udara yang jauh lebih serius dibandingkan Negara maju. Contoh klasik pengaruh polusi udara terhadap kesehatan dapat dilihat pada kota-kota di Negara maju seperti Meuse Valles, Belgia tahun 1930; Donora, Pennsylvania tahun 1948; dan London, Inggris tahun 1952; dimana terjadi peningkatan angka kematian (mortalitas) dan kesakitan (morbiditas) akibat polusi udara yang berakibat pada penurunan produktivitas dan peningkatan pembiayaan kesehatan. Oleh sebab itu polusi udara juga merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang cukup penting.

Di Indonesia, kendaraan bermotor merupakan sumber utama polusi udara di perkotaan. Menurut World Bank, dalam kurun waktu 6 tahun sejak 1995 hingga 2001 terdapat pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sebesar hampir 100%. Sebagian besar kendaraan bermotor itu menghasilkan emisi gas buang yang buruk, baik akibat perawatan yang kurang memadai ataupun dari penggunaan bahan bakar dengan kualitas kurang baik (misal: kadar timbal/Pb yang tinggi).

Emisi CO2 Kt
500000 400000 300000 200000 100000 0 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Emisi CO2 Kt

Sumber : Data Statistik World Bank

Gambar 1.1 Tingkat Emisi Co2 di Indonesia 1999-2007

World Bank juga menempatkan Jakarta menjadi salah satu kota dengan kadar polutan/partikulat tertinggi setelah Beijing, New Delhi dan Mexico City. Polusi udara yang terjadi sangat berpotensi mengganggu kesehatan. Menurut perhitungan kasar dari World Bank tahun 1994 dengan mengambil contoh kasus kota Jakarta, jika konsentrasi partikulat (PM) dapat diturunkan sesuai standar WHO, diperkirakan akan terjadi penurunan tiap tahunnya; 1400 kasus kematian bayi prematur; 2000 kasus rawat di RS; 49.000 kunjungan ke gawat darurat; 600.000 serangan asma; 124.000 kasus bronchitis pada anak; 31 juta gejala penyakit saluran pernapasan serta peningkatan efisiensi 7.6 juta hari kerja yang hilang akibat penyakit saluran pernapasan suatu jumlah yang sangat signifikan dari sudut pandang kesehatan masyarakat. Dari sisi ekonomi pembiayaan kesehatan (health cost) akibat polusi udara di Jakarta diperkirakan mencapai hampir 220 juta dolar pada tahun 1999.

Tabel 1.1 Penyakit terbanyak pasien rawat jalan di RS Nasional 20062008


Tahun 2006 Peringkat 1 Golongan Sebab Sakit Infeksi Saluran Nafas Bagian Atas Akut 2007 2008 2 1 Penyakit Sistem Nafas Penyakit Sistem Nafas 1.762.200 496.067 1,01 1,89 Jumlah Kunjungan 960.46 % 9,32

Di era global ini, terdapat suatu isu penting yang digalakkan pemimpinpemimpin dunia yaitu Pemanasan Global (Global Warming) yang disebutsebut merupakan penyebab tingginya kejadian bencana alam dan penyakit diseluruh dunia. Banyaknya emisi buangan gas hasil pembakaran BBM di udara merupakan eksternalitas negative dari suatu proses ekonomi yang tentu saja (walaupun secara tidak langsung) akan menyebabkan kerugian dimasyarakat, contohnya : tingkat kesehatan masyarakat menjadi berkurang akibat timbulnya penyakit-penyakit yang disebabkan oleh pencemaran udara ini seperti asma, bronchitis, dan infeksi saluran pernapasan (ISPA). Dalam ilmu ekonomi lingkungan, dampak lingkungan merupakan salah satu bentuk dari eksternalitas yang merugikan. Studi tentang kesternalitas untuk negara berkembang masih jarang dilakukan. Ostro (1994) menghitung dampak polusi udara kota Jakarta dengan berdasarkan nilai kerugian bagi kesehatan apabila konsentrasi ambient dari polutan dikurangi. Besarnya kerugian tergantung dari level polusi udara, ekspektasi efek polutan terhadap kesehatan (Dose Response), besarnya populasi yang terkena polusi, dan nilai ekonomi dari dampak lingkungan. Di Negara berkembang, biaya eksternal bisa lebih

besar karena teknologi untuk mengendalikan polusi secara praktis belum diterapkan (Spadaro : 2002). Eksternalitas dapat diatasi dengan melakukan internalisasi eksternalitas. Menurut Reksohadiprodjo dan Brodjonegoro (1997) serta Suparmoko (1997) cera menginternalisasi dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pendekatan pertama adalah atas dasar mekanisme pasar dan yang kedua adalah dengan campur tangan pemerintah melalui peraturan namun dalam penelitian ini penulis memberi batasan hanya pada dampak eksternalitas dengan pendekatan campur tangan pemerintah karena cara ini dinilai lebih efektif dibanding dengan pendekatan mekanisme pasar. Tingginya kegiatan produksi dan mobilitas disuatu Negara pasti akan menimbulkan permintaan terhadap kendaraan bermotor sebagai barang faktor produksi yang berujung pada peningkatan konsumsi BBM di Indonesia dan berdampak eksternalitas negative terutama bagi pencemaran udara. Disamping itu, mobilitas yang tinggi dalam suatu Negara akan menyebabkan permintaan masyarakat untuk mengkonsumsi bahan bakar minyak untuk keperluan transportasi meningkat.

Total Pertumbuhan Kendaraan Bermotor


80000000.00 70000000.00 60000000.00 50000000.00 40000000.00 30000000.00 20000000.00 10000000.00 0.00 Total Pertumbuhan Kendaraan Bermotor

Gambar 1.2 Total Pertumbuhan Kendaraan Bermotor Tahun 2000-2009 Sesuai dengan hukum permintaan bahwa permintaan masyarakat akan suatu barang dan jasa ditentukan oleh harga barang tersebut, maka satu faktor penting yang mempengaruhi tingkat konsumsi BBM di Indonesia adalah harga BBM itu sendiri, semakin mahal harga BBM maka permintaan akan semakin berkurang. Sebagai barang publik yang penentuan harga sepenuhnya diatur oleh pemerintah melalui Undang-Undang atau dengan kata lain pemerintah sebagai Price Maker dan sebagai badan usaha monopoli, pemerintah harusnya bisa mengatur tingkat permintaan BBM untuk tujuan meredam dampak eksternalitas yang ditimbulkan, namun dalam hal ini pemerintah juga harus menjaga kondisi ekonomi karena BBM sebagai barang publik merupakan barang vital yang menjadi stimulus perekonomian.

Harga Premium
7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Harga Premium

Gambar 1.3 Harga BBM Premium Tahun 2000-2009

Harga Solar
6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Harga Solar

Gambar 1.4 Harga BBM Solar Tahun 2000-2009

Peningkatan konsumsi BBM akan meningkatkan emisi buangan partikulat hasil pembakaran BBM yaitu CO2, NOX, SO2, HC dan partikel lainnya (PM10, dll).

Tabel 1.2 Komponen Senyawa Kimia Berbahaya Hasil Pembakaran BBM


Bahan Bakar CO NOX HC Partikel Lain Bensin Kg/Ton Solar Kg/Ton Persentase emisi berbahaya di udara 377 43.5 70.50 10.4 11 8.89 14.5 26 18.34 0.54 19 0.88 0.54 19 0.88 3150 3150 0* SO2 CO2

Sumber : Data Statistik World Bank (* : dengan asumsi CO2 masih diambang normal)

Namun dalam prosesnya bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia justru mendapat subsidi dalam penggunaannya untuk masyarakat hal ini terkait dengan proses stimulus kegiatan ekonomi masyarakat, harga BBM yang murah akan mengurangi biaya dan meningkatkan pendapatan juga proses produksi. Subsidi BBM membuat harga BBM menjadi murah dan permintaan terhadap BBM akan meningkat (Teori Permintaan) yang menyebabkan emisi buangan kendaraan meningkat seiring dengan permintaan konsumsi BBM didalam masyarakat.

Konsumsi BBM
45000000 40000000 35000000 30000000 25000000 20000000 15000000 10000000 5000000 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Premium Solar total

Gambar 1.5 tingkat konsumsi BBM tahun 2001-2007

Realisasi Subsidi BBM (Milyar Rupiah)


150,000 100,000 50,000 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Realisasi Subsidi BBM (Milyar Rupiah)

Gambar 1.6 subsidi BBM tahun 2003-2009 Dalam hal terkait pemerintah sebenarnya juga bisa melakukan pengendalian eksternalitas ini dengan instrument kebijakan fiscal lainnya yaitu pajak, khususnya Pajak Kendaraan Bermotor untuk mengurangi pertumbuhan kendaraan bermotor agar tidak terjadi konsumsi BBM berlebih dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor untuk menaikkan haraga BBM sehingga permintaannya dapat ditekan. Sederhananya seperti ini, ketika pajak kendaraan bermotor menjadi mahal maka permintaan pada kendaraan bermotor akan berkurang, sedikitnya jumlah kendaraan bermotor akan menyebabkan permintaan BBM sebagai barang komplementer untuk kendaraan bermotor akan berkurang, sehingga emisi hasil pembakaran BBM dari kendaraan dapat berkurang.

B. Rumusan Masalah Terkait dengan masalah eksternalitas yang timbul akibat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) oleh masyarakat terhadap polutan emisi gas hasil pembakaran BBM di udara, peneliti mencoba untuk mengkaji pengaruh pajak kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan bermotor, subsidi BBM,

harga BBM, pajak kendaraan bermotor dan Pertumbuhan Kendaraan bermotor terhadap tingkat biaya eksternalitas negative penggunaan BBM terhadap tingkat kesehatan masyarakat Indonesia. Nilai kerugian ekonomis dari dampak eksternalitas negative penggunaan BBM menimbulkan biaya eksternal yang menyatakan nilai dari kerusakan lingkungan yang diakibatkan dari penggunaan BBM. Biaya eksternal ini merupakan biaya yang ditanggung masyarakat dan lingkungan yang tidak masuk dalam perhitungan baik produsen maupun konsumen BBM. Kerusakan lingkungan dapat berupa lingkungan alam maupun lingkungan buatan, seperti : dampak polusi udara terhadap kesehatan, bangunan, tumbuhan, hutan dan pemanasan globa; kecelakaan kerja dan penyakit; dan gangguan kenyamanan karena kebisingan (Kovacevic dkk. 2001). Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan dalam penelitian ini, maka permasalahan yang akan diteliti adalah : 1. Bagaimana perhitungan biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia ? 2. Bagaimana pengaruh pajak kendaraan bermotor terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia ? 3. Bagaimana pengaruh pajak bahan bakar kendaraan bermotor terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia ? 4. Bagaimana pengaruh subsidi BBM terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia ?

5. Bagaimana pengaruh harga BBM terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia ? 6. Bagaimana pengaruh pertumbuhan kendaraan bermotor terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia ?

C. Batasan Masalah Dalam penelitian ini penulis sadar bahwa Bahan Bakar Minyak (BBM) juga merupakan factor produksi dihampir semua jenis produksi barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat. Subsidi yang diberikan pemerintah pada dasarnya bertujuan untuk stimulus perekonomian dan pengurangan beban hidup rakyat. Namun dalam penelitian ini penulis hanya mencoba meneliti dampak negative dari penggunaan BBM terhadap tingkat kesehatan masyarakat sehingga mengesampingkan dampak positifnya. Di Indonesia, kendaraan bermotor merupakan sumber utama polusi udara (WHO). Atas asumsi tersebut maka penelitian ini memfokuskan pada tingkat polutan udara yang disebabkan penggunaan BBM kendaraan bermotor yang merupakan penghasil polusi udara terbesar di Indonesia. Diasumsikan pula bahwa semua polutan yang dihasilkan dan penyakit pernafasan yang diderita masyarakat adalah akibat hasil pembakaran BBM melalui penggunaan kendaraan bermotor. BBM yang dimaksud dalam penelitian ini adalah bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan bermotor yaitu Premium dan Solar. Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Biaya Eksternalitas yang dihitung berdasarkan fungsi Dose Response, Pajak

Kendaraan Bermotor (PKB), Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB), Subsidi BBM, Harga Bahan Bakar Minyak (BBM), dan Tingkat Pertumbuhan Kendaraan Bermotor. Faktor lain diluar variabel-variabel penelitian diatas adalah konstan atau tetap (Ceteris Paribus).

D. Tujuan Penelitian Dari masalah yang telah dijelaskan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana perhitungan biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia. 2. Untuk mengetahui pengaruh pajak kendaraan bermotor terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia. 3. Untuk mengetahui pengaruh pajak bahan bakar kendaraan bermotor terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia. 4. Untuk mengetahui pengaruh Subsidi BBM terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia. 5. Untuk mengetahui pengaruh Harga BBM terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia. 6. Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan kendaraan bermotor terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia.

E. Kerangka Pemikiran Sebagai badan usaha milik Negara yang bersifat monopoli, Pertamina dapat menentukan tingkat harga bahan bakar minyak melalui keputusan pemerintah. Dengan kata lain, pemerintah adalah Price Maker dan mempunyai otoritas khusus dalam pengelolaan BBM. Polutan emisi udara di Indonesia cenderung didominasi kendaraan bermotor sebagai konsumen bahan bakar minyak. Dalam perjalanannya pemerintah memberikan subsidi terhadap bahan bakar minyak (BBM) dengan tujuan sebagai stimulus perekonomian Indonesia. Namun dilain pihak dengan adanya subsidi ini justru akan membuat permintaan BBM akan semakin meningkat, peningkatan permintaan BBM ini akan meningkatkan jumlah gas hasil pembakaran BBM tersebut. Permintaan atas kendaraan yang meningkat akan menyebabkan permintaan terhadap BBM akan meningkat, karena BBM merupakan barang komplementer terhadap kendaraan. Hal ini tentu menyebabkan peningkatan terhadap polutan emisi yang dihasilkan. Pemerintah dalam hal ini sebenarnya dapat mengkontrol atau bahkan mengurangi permintaan terhadap kendaraan bermotor dengan cara menaikkan pajak kendaraan bermotor, semakin tinggi oajak yang dikenakan maka harga akan semakin meningkat sehingga diharapkan permintaan akan turun dan mengurangi konsumsi BBM didalam masyarakat dengan tujuan lain yaitu mengurangi tingkat polutan emisi udara. Tingkat polutan emosi udara yang tinggi tentu memberikan pengaruh negative terhadap tingkat kesehatan masyarakat yang dilihat dari biaya yang timbul akibat pencemaran udara yang terjadi.

Bahan Bakar Minyak

Komplementer

Kendaraan Bermotor

Pajak Bahan Bakar

Harga BBM

Subsidi BBM

Pajak Kendaraan Bermotor

Harga Kendaraan

Permintaan BBM

Permintaan Kendaraan Konsumsi BBM

Sisa Hasil Pembakaran


Polusi Udara (Eksternalitas Penggunaan BBM)

Biaya Eksternalitas Negatif Terhadap Kesehatan Masyarakat

Gambar 1.7 Kerangka Pemikiran

F. Hipotesis Hipotesis yang akan di uji dalam penelitian kali ini adalah : 1. Diduga terdapat pengaruh signifikan negative antara pajak kendaraan bermotor terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia.

2. Diduga terdapat pengaruh signifikan negative antara pajak bahan bakar kendaraan bermotor terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia. 3. Diduga terdapat pengaruh signifikan negative antara subsidi BBM terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia. 4. Diduga terdapat pengaruh signifikan negative antara Harga BBM terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia. 5. Diduga terdapat pengaruh signifikan negative antara pertumbuhan kendaraan bermotor terhadap biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia.

G. Sistematika Penulisan Penulisan penelitian ini terdiri dari empat bagian. Adapun sistematikanya adalah sebagai berikut : BAB I, Pengantar. Bab ini mencakup uraian mengenai latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian. Selain itu bagian ini juga menjelaskan kerangka penelitian, hipotesis, dan sistemtika penulisan. BAB II, Tinjauan pustaka. Bab ini menjelaskan gambaran umum mengenai teori-teori yang mendukung penelitian, pembahasan mengenai penelitian-penelitian yang berkaitan dengan masalah penelitian.

Dibagi menjadi dua bagian yaitu tinjauan teoritik dan tinjauan empirik. BAB III, Metodologi penelitian. Bab ini beisi uraian mengenai cara dan langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis penelitian.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritik 1. Eksternalitas Setiap aktivitas perekonomian mempunyai keterkaitan dengan aktivitas lainnya. Apabila semua keterkaitan antar aktivitas perekonomian dilaksanakan melalui mekanisme pasar maka tidak akan timbul permasalahan. Akan tetapi banyak pula keterkaitan antar aktivitas perekonomian yang tidak melalui mekanisme pasar sehingga dapat menimbulkan berbagai macam permasalahan. Keterkaitan suatu aktivitas dengan aktivitas lain yang tidak melalui mekanisme pasar disebut dengan eksternalitas. Eksternalitas merupakan suatu efek samping dari aktivitas pajak tertentu terhadap pihak lain yang dapat menguntungkan maupun merugikan. Dampak yang menguntungkan misalnya pembuatan lokasi wisata yang memberikan pemandangan yang indah bagi orang sekitarnya. Sedangkan dampak negative misalnya polusi udara, air dan suara. Dalam konsep pembangunan berkelanjutan, eksternalitas timbul karena aktivitas manusia yang tidak mengikuti prinsip ekonomi yang berwawasan lingkungan. Eksternalitas akan menimbulkan alokasi sumber daya yang tidak efisien.

i.

Biaya Eksternalitas

Biaya eksternal penggunaan BBM menyatakan nilai dari kerusakan lingkungan yang diakibatkan dari polutan emisi hasil penggunaan BBM merupakan biaya yang ditanggung masyarakat dan lingkungan yang tidak masuk dalam perhitungan baik produsen maupun konsumen BBM. Kerusakan lingkungan dapat berupa lingkungan alam maupun lingkungan buatan, seperti: dampak polusi udara terhadap kesehatan, bangunan, tumbuhan, hutan dan pemanasan global; kecelakaan kerja dan penyakit; dan gangguan kenyamanan karena kebisingan (Kovacevic dkk.2001). Nilai dari kerusakan lingkungan ditentukan berdasarkan agregat dari kuantifikasi dampak fisik baik terhadap kesehatan, tumbuhan, maupun bangunan. Biaya eksternal dapat ditentukan dengan mengalikan dampak fisik (misalnya sakit asma) dengan unit biaya (Rupiah per satuan sakit asma). Estimasi biaya kesehatan merupakan masukan yang harus di pertimbangkan dalam menentukan biaya eksternal. Data untuk Negara berkembang belum mencukupi sehingga untuk menentukannya digunakan data dari Negara maju dengan melakukan penyesuaian dengan nilai pendapatan perkapita dalam purchasing power parity (PPP).

2. Subsidi Subsidi adalah pembayaran yang dilakukan pemerintah kepada perusahaan atau rumah tangga untuk mencapai tujuan tertentu yang membuat mereka dapat memproduksi atau mengkonsumsi suatu produk dalam kuantitas yang lebih besar atau pada harga yang lebih murah. Secara ekonomi, tujuan subsidi

adalah untuk mengurangi harga atau menambah keluaran (output). Kemudian menurut Suparmoko, subsidi (transfer) adalah salah satu bentuk pengeluaran pemerintah yang juga diartikan sebagai pajak negative yang akan menambah pendapatan mereka yang akan menerima subsidi atau mengalami peningkatan pendapatan rill apabila mereka mengkonsumsi atau membeli barang-barang yang sidubsidi oleh pemerintah dengan harga jual yang rendah.

i. Subsidi BBM Subsidi BBM adalah pembayaran yang dilakukan pemerintah secara langsung kepada masyarakay melalui pengurangan harga BBM untuk mengurangi beban masyarakat dan sebagai stimulus perekonomian yang membuat mereka dapat memproduksi atau mengkonsumsi suatu produk dalam kuantitas yang lebih besar atau pada harga yang lebih murah. Sejak tahun 2006, subsidi JBT adalah pengeluaran Negara yang dihitung dari selisih kurang antara hasil penjualan bersih BBM dengan biaya pengadaan BBM ditambah fee PT Pertamina. Sejak ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis Bahan Bakar Mintak TertentuI, subsidi Jenis BBM Tertentu (JBT) per liter adalah pengeluaran Negara yang dihitung dari selisih kurang antara harga jual eceran per liter Jenis BBM Tertentu setelah dikurangi pajakpajak, dengan harga patokan per liter jenis BBM tertentu. Berikut adalah penghitungan besarnya subsidi BBM yang tergantung pada harga patokan : Subsidi = Volume JBT X (Harga Patokan Harga Eceran {tidak termasuk pajak})

Harga Patokan adalah harga yang diihitung setiap bulan berdasarkan MOPS rata-rata pada periode satu bulan sebelumnya ditambah biaya distribusi dan margin. Berdasarkan perpres No. 55/2005 tentang Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Dalam Negeri sebagaimana terakhir diubah dengan Perpres No. 9/2006, dan Perpres No. 71/2005 bahwa MOPS atau Mid Oil Platts Singapore adalah harga transaksi jual beli pada bursa minyak di Singapura.

3. Pajak Pajak merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk memperoleh atau mendapatkan dana dari masyarakat. Dana tersebut digunakan untuk membiayai kepentingan umum. Pajak merupakan pungutan wajib atau dipaksakan kepada rakyat. Ada beberapa definisi pajak yang diungkapkan oleh para ahli, antara lain : 1. Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H., Pajak adalah iuran kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbale balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditujukan, dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum (Mardiasmo, 2003) 2. Menurut S.I Djajadiningrat Pajak sebagai suatu kewajiban menyerahkan sebagian dari kekayaan ke kas Negara yang disebabkan suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa

timbale balik dari Negara secara langsung, untuk memelihara kesejahteraan secara umum (Resmi, 2008). 3. Menurut Rimsky K Judisseno, Pajak merupakan suatu kewajiban kenegaraan berupa pengabdian serta peran aktif warga negara dan anggota masyarakat lainnya untuk membiayai keperluan Negara berupa pembangunan nasional yang pelaksanaannya diatur dalam undang-undang dan peraturan untuk tujuan kesejahteraan bangsa dan Negara (Judisseno, 2005). Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pajak : 1. Merupakan iuran rakyat kepada Negara yang dipungut oleh Negara kepada warga Negara. 2. Dipungut berdasarkan Undang-Undang Pajak dengan kekuatan Undang-Undang serta aturan pelaksanaannya. 3. Tanpa ada kontraprestasi langsung dalam pembayaran pajak para pembayar tidak memperoleh kontraprestasi atau jasa timbale balik secara langsung. 4. Digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran Negara, yang bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, digunakan untuk membiayai public investment.

i.

Pajak Kendaraan Bermotor

Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2009 Tentang Pajak Daerah :

a. Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. b. Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda berserta gandengannya yang digunakan disemua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energy tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air.

Tarif PKB (PERDA Nomor 4 Tahun 2003) 1. 1,5 % (satu koma lima persen) untuk kendaraan bermotor bukan umum; 2. 1% (satu persen) untuk kendaraan bermotor umum; 3. 0,5% (nol koma lima persen) untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar.

ii. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2009 Tentang Pajak Daerah : a. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor.

b. Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah semua jenis bahan bakar cair atau gas yang digunakan untuk kendaraan bermotor. Pemungutan PBBKB diatur dalam UU Nomor 34 Tahun 2000 yang telah direvisi menjadi UU Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Berdasarkan UU Nomor Tahun 2000, besarnya PBBKB yang dikenakan pada setiap liter bahan bakar yang dikonsumsi oleh masyarakat adalah sebesar 5% dari nilai jual sebelum pajaknya.

4. Teori Permintaan Permintaan adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu dan dalam periode tertentu. Harga

P1

P0

P2

Q1

P0

P2

Kuantitas

Gambar 2.1 Teori Permintaan

5. Hubungan Antara Pajak, Subsidi dan Permintaan Permintaan suatu barang dan jasa sangat dipengaruhi oleh tingkat harga. Dengan adanya pajak yang dikenakan pemerintah atas penjualan suatu barang akan menyebabkan produsen menaikkan harga jual barang tersebut sebesar tariff pajak per unit (t), sehingga fungsi permintaannya akan berkurang dikarenakan kenaikkan yang terjadi. Namun untuk barang tertentu pemerintah juga memberikan subsidi atas penjualan suatu barang yang menyebabkan arga barang tersebut turun dikarenakan pengurangan tariff subsidi per unit (s), sehingga permintaan akan naik.

Harga

P1 (P0 + t)

P0

P2 = (P0 s)

Q1

Q0

Q2

Kuantitas

Gambar 2.2 Hubungan antara Pajak, Subsidi dan Permintaan

B. Tinjauan Teoritik

1. Penelitian Terdahulu Sebelum melakukan penelitian ini, penulis mencoba mempelajari hasil-hasil penelitian relevan tentang topic utama yang telah dilakukan oleh orang lain sebelumnya. Beberapa tinjauan empiris berupa artikel penelitian yang penulis ambil diantaranya :

Tabel 2.1 Tinjauan Empirik


Penulis Judul Model Yg Digunakan Wilde & BPPT Comprehensive Assesment of Different Energy Sources for Electricity Generation in Indonesia Model SimPact AirPact Mengidentifikasi biaya kesehatan yang timbul akibat penggunaan listrik berbahan bakar fosil. Perhitungan biaya dapat dihasilkan melalui perhitungan Simpact dengan perbandingan Paritas Daya Beli Negara lain dikarenakan data Indonesia belum memadai. Yulika Kebijakan Ekonomi Untuk mengetahui instrument kebijakan apa saja yg dapat meredam eksternalitas negative Bart Ostro Estimating the Health Effect of Air Pollutants : A Method with an Application to Jakarta Model SimPact AirPact Menghitung dampak kesehatan akibat polusi udara di Jakarta Pajak dan Subsidi sebagai instrument kebijakan fiscal dinilai sangat mempengaruhi dampak eksternalitas negative. Kendaraan bermotor adalah penghasil polutan terbesar dan menyebabkan kematian lebih dari 800.000 orang setiap tahunnya. Tujuan Kesimpulan

Sundaya Untuk Meredam Eksternalitas Negatif

III.

METODOLOGI PENELITIAN

a. Data Penelitian

Data yang dipakai untuk penelitian ini adalah data sekunder yang diambil dari Dinas Kesehatan, Badan Pusat Statistik, dan World Bank. Variable yang digunakan dalam penelitian ini adalah Subsidi BBM, Pajak Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Harga BBM, Pertumbuhan Kendaraan Bermotor dan Biaya Eksternalitas Akibat Penggunaan BBM yang diukur dari indicator tingkat emisi partikulat penggunaan BBM, tingkat kesakitan masyarakat akibat polusi udara, dan biaya per satuan sakit akibat polusi udara. Data observasi diambil dari Badan Pusat Statistik, Dispenda, dan World Bank dengan data time series yang dihitung secara tahunan.

b. Definisi Variabel Variable yang digunakan dalam penelitian ini adalah : i. Variable terikat / dependen (EB), yaitu biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia yang dihitung dari tingkat emisi hasil pembakaran kendaraan bermotor, tingkat kesakitan masyarakat akibat polusi udara, dan biaya per satuan sakit akibat polusi udara. Pengukuran biaya eksternal diukur dengan menggunakan model Simpacts yaitu fungsi dose response dikalikan biaya kesehatan per unit.

ii.

Variable bebas / independen yaitu variable yang mempengaruhi variable dependen, adalah : a. SB = Subsidi BBM b. PKB = Pajak Kendaraan Bermotor c. PBBKB = Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor d. P_BBM = Harga Bahan Bakar Minyak e. KBG = Pertumbuhan Kendaraan Bermotor Penjelasan dari masing-masing variable adalah sebagai berikut : i. Biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia (EB) adalah biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat akibat gangguan sakit pernafasan yang disebabkan oleh asap polutan hasil penggunaan BBM. ii. Subsidi BBM (SB) adalah besaran subsidi yang diberikan pemerintah pada harga BBM setiap tahun dan dinyatakan dalam rupiah. iii. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) adalah besaran tariff pajak yang dikenakan pemerintah pada setiap kendaraan bermotor setiap tahunnya dan dinyatakan dalam persen %. iv. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) adalah pajak tiap liter bahan bakar minyak yang dijual kepada masyarakat dinyatakan dalam persen %. v. Harga Bahan Bakar Minyak adalah harga bahan bakar minyak di Indonesia dinyatakan dalam rupiah. vi. Pertumbuhan Kendaraan Bermotor adalah pertumbuhan kendaraan bermotor dinyatakan dalam persen.

c. Model Perhitungan Model Simpacts merupakan perangkat lunak yang dikembangkan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA). Model ini digunakan untuk menganalisis dampak lingkungan termasuk didalamnya menghitung dampak fisik dan biaya kerusakan terhadap kesehatan, tanaman pertanian dan material bangunan yang diakibatkan polusi udara, polusi air permukaan dan konversi lahan. Model Simpacts terdiri atas empat modul yaitu: AirPacts, NukPacts, dan HydroPacts. Modul AirpPact digunakan untuk memprakirakan dampak fisik dan biaya kerusakan terhadap kesehatan, tanaman pertanian dan material bangunan akibat emisi udara dari sumber yang tidak bergerak. Model NukPacts digunakan untuk menganalisis dampak kontaminasi radioaktif terhadap kesehatan manusia. Model HydroPact digunakan untuk memprakirakan kerugian dari penggunaan lahan dan pemindahan penduduk. Masing-masing model dalam model SimPacts dapat dijalankan secara terpisah. Model AirPacts memprakirakan biaya eksternal karena gangguan kesehatan yang dihitung menggunakan metode penyebaran dampak dari emisi atau sering disebut impact pathway analysis (IPA). Metode ini terdiri atas empat tahapan yaitu: menentukan besarnya emisi, menentukan konsentrasi ambien dengan menggunakan metode disperse, mengestimasi dampak fisik dengan menggunakan fungsi dose response, dan menentukan nilai dari kerusakan (Kovacevic dkk. 2001 dan Wilde dkk. 2003). Biaya eksternal dihitung berdasarkan fungsi dose response dikalikan biaya kesehatan per unit dampak fisik kesehatan. Fungsi dose response karena

terkena polutan digunakan untuk menentukan dampak polutan tertentu terhadap kesehatan manusia. Unit yang digunakan adalah YOLL (yearl of life lost) atau kasus perlamanya terkena polutan (tahun), banyaknya orang yang terkena dan besarnya polutan (ig/m3). ) atau kasus perlamanya terkena polutan (tahun), banyaknya orang yang terkena dan besarnya polutan (ig/m3). YOLL menyatakan berkurangnya usia orang karena terkena polutan. Misalkan kematian karena partikel (PM10) sebesar 2,6x10-4 YOLL/(yr.person.ig/m3 ) maka dampak kesehatan terhadap 1.000 orang dengan konsentrasi polutan sebesar 10 ig/m3 selama 75 tahun akan diperoleh 195 YOLL. Atau dapat dirumuskan sebagai berikut: YOLL/Kasus = Dampak Polutan Tertentu Pada Kesehatan Manusia x (yr.person.ig/m3 )

Tabel 3.1 Fungsi Dose Response


Fungsi dose response Kematian (dampak jangka panjang) Dirawat karena sakit pernafasan Kematian (dampak jangka pendek) Dirawat karena sakit pernafasan Kematian (dampak jangka pendek) Dirawat karena sakit pernafasan Polutan PM10 PM10 SO2 SO2 NOX NOX Unit YOLL/(Yr.person.ig/m3) Kasus (Yr.person.ig/m3) YOLL/(Yr.person.ig/m3) Kasus/(Yr.person.ig/m3) YOLL/(Yr.person.ig/m3) Kasus/(Yr.person.ig/m3) Nilai 2,60x10-4 4,34x10-4 2,56x10-6 4,28x10-6 2,30x10-6 2,48x10-6 1,70x10-6 1,56x10-6

Biaya Eksternalitas Kesehatan dihitung dengan rumus berikut:

Biaya Eksternalitas Kesehatan = Fungsi Dose Response (YOLL/Kasus) x Biaya Kesehatan per unit sakit

Namun karena data biaya kesehatan per unit untuk Negara berkembang belum memadai maka perhitungan biaya kesehatan per unit untuk kasus Indonesia dilakukan penyesuaian dengan teori paritas daya beli antar dua Negara, Negara yang akan dibandingkan adalah Negara kawasan uni eropa dengan rumus sebagai berikut: Biaya Kesehatan Per Unit Indonesia =
 

x Biaya Kesehatan

Per Unit (Eropa)

d. Model Analisi Data Dalam penelitian ini, analisa dilakukan dengan analisis regresi. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model regresi liniar beganda dan dikembangkan menjadi spesifikasi model yang akan dijadikan sebagai model penelitian menjadi seperti pada rumus berikut: EB = o + Keterangan : EB : Biaya kesehatan masyarakat akibat eksternalitas penggunaan BBM di Indonesia SB PKB : Subsidi BBM : Pajak Kendaraan Bermotor
1SB

+ 2PKB +

3 PBBKB

4 P_BBM

5 KBG

PBBKB : Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor P_BBM : Harga BBM

KBG

: Pertumbuhan Kendaraan Bermotor : error term

o 15

: Konstanta : Koefisien regresi untuk SB, PKB, PBBKB, P_BBM, dan KBG.

Regresi liniar berganda dengan persamaan EB = o +


3 PBBKB

1SB

+ 2PKB +

4 P_BBM

5 KBG

+ . Persamaan regresi tersebut harus

bersifat BLUE (Best, Linear, Unbiased, Estimated), artinya pengambilan keputusan melalui uji F dan uji t tidak boleh bias. Untuk menghasilkan keputusan BLUE (Best, Linear, Unbiased, Estimated), maka harus memenuhi diantaranya empat asumsi dasar yang tidak boleh dilanggar oleh regresi linear berganda, yaitu : a. Tidak boleh ada autokorelasi b. Tidak boleh ada heteroskedastisitas c. Tidak boleh ada multikolinieritas d. Data berdistribusi normal Apabila salah satu dari empat asumsi dasar tersebut dilanggar, maka persamaan regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE (Best, Linear, Unbiased, Estimated).

IV.

DAFTAR PUSTAKA

Sukirno, S. (2008) Mikro Ekonomi : Teori Pengantar, Jakarta, PT RajaGrafindo, 430 hlm. Reksohadiprodjo, S. dan Brodjonegoro, A.B.P (1997) Ekonomi Lingkungan : Application to Jakarta, Policy Research Working Paper No. 1301, The World Bank. Sundaya, Yuka. (2009) kebijakan Ekonomi Untuk Meredam Eksternalitas Negatif, Bandung, Universitas Islam Bandung. Wilde, D., Batan dan BPPT (2003) Comprehensive Assesment of Different Energy Sources for Electricity Generation in Indonesia, Phase II, Report Prepared for the International Atomic Energy Agency, March 2003. Spadaro, J.V. (2002) A Simplified Methodology for Calculating the Health Impact and Damage Cost of Airbone Pollution: The Uniform World Models, IAEA. Pearturan Predisen Nomor 71 Tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah. www.bph-migas.com www.pertamina.com www.fiskal-depkeu.go.id www.dataworldbank.com