P. 1
nenek

nenek

|Views: 15|Likes:
Dipublikasikan oleh zurulafandi

More info:

Published by: zurulafandi on Feb 12, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

Permainan Tradisional

Permainan tradisional Indonesia saat ini, seakan hilang dimangsa globalisasi dan modernisasi yang keburukannya merajalela di Indonesia, yang kini hadir hanya ingatan para orang tua kita ketika mereka berduyun- duyun pergi ke musholla untuk sholat berjamaah dan mengaji, walaupun berkilo meter jauhnya. Setelah pengajian usai lalu sholat isya berjamaah baru kemudian permainan tradisionalpun dimulai, dari main benteng, petak umpet, petak jongkok, saya orang kaya, galasin, dampu, tak kadal, nenek grondong, dll. Permainan tradisionalpun kini seakan ditinggalkan oleh putra- putri kita, mereka kini lebih tertarik timezone, PS, nintendo, gameboy, dll yang mereka anggap lebih menarik dan mengasyikkan karena tak perlu banyak tuntutan fisiknya kilah mereka. Permainan tradisional seperti diatas mungkin ditiap - tiap sekolah tidak ada yang mengajarkan, padahal anak- anak kita sekarang cenderung individual karena rumahnya lebih banyak berkomplek yang jarang bertegur sapa dengan lingkungannya, untuk itu permainan tradsisional bukan hanya perlu dilestarikan tapi juga dipahami filosofi atau pelajaran dari setiap permainan tradsisional tersebut.

Pada artikel ini penulis menyoroti permainan Nenek Grondong yang beberapa hari lalu dilakukan oleh siswa - siswi SDIT Darul Abidin pada saat Perkemahan Siaga Darul Abidin. Permainan tradisional yang berasal dari daerah DKI Jakarta ini mempunyai pelajaran yakni: kalau ada orang yang membutuhkan pertolongan baik itu meminta ataupun tidak kita harus memberikan apa yang mereka butuhkan kalau kita mampu, nenek grondong adalah lambang orang yang membutuhkan itu, ubi adalah lambang harta benda yang kita dermakan. maka hikmahnya adsalah jangan menjadi orang yang kikir, mungkin itu refleksi dari penulis tentang permainan tradisional nenek gerondong. Ini dialog kalau lagi main nenek gerondong Nenek Grondong: Tok-tok-tok! Ubi: Siapa? N: Nenek Grondong …. U: Mau apa? N: Petik ubi A: Ubinya sudah masak!Nenek Grondong memetik ubi yang terluar, lalu menyimpannya. Terus begitu sampai ubinya habis.Setelah semua dipetik, Nenek merebusnya. Tapi … kurang garam. ”Nenek beli garam dulu,” kata Nenek. Ketika Nenek membeli garam, ubi-ubi kabur. Nenek mengejarnya. Yang tertangkap menjadi Nenek Gerondong. Permainan yang lucu, ya … yang membuat anak-anak terus memainkannya. jadi Nenek Grondong. “Tok, tok, tok,” katanya. Nenek Grondong memetik ubi. Nenek merebus ubi. “Wah kurang garam,” katanya. Terus tarik-tarikkan lagi deh..Kalo misalnya semuanya ketarik nenek gerondong ya udah deh nenek grondong menang..

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->