Anda di halaman 1dari 14

CLINICAL SCIENCE SESSION

PEYRONIES DISEASE

Oleh Shinta Nareswari Gigih Setiawan

Preceptor dr. Mars Dwi Tjahjo, Sp.U

SMF BEDAH RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK LAMPUNG 2011

I.

PENDAHULUAN Franois Gigot de Peyronie dikenal luas sebagai orang pertama yang mendeskripsikan pelengkungan penis, yang sekarang dikenal dengan nama penyakit Peyroni, pada tahun 1743. Etiologi yang tepat dari kondisi ini masih belum jelas. Penyakit ini dicirikan dengan lengkungan pada sarung penis yang sering disertai dengan rasa sakit saat ereksi dan disertai dengan suatu daerah fibrotik. Setelah beberapa tahun, beragam terapi medikasi dan pembedahan telah digunakan untuk mengatasi kondisi ini.

Penyakit Peyronie selain merupakan suatu kelainan secara organis, juga dapat menjadi sumber masalah signifikan dalam hubungan seksual, karena penyakit ini dapat menyebabkan kekhawatiran dan stress pada penderita dan pasangan.

Referat ini akan menjelaskan mengenai masalah penyakit Peyronie, evaluasi pasien dengan penyakit Peyronie, menjelaskan tentang terapi medikasi yang biasa diberikan, dan pilihan tindakan bedah yang telah tersedia.

II. ANATOMI DAN FISIOLOGI PENIS Penis terdiri atas 3 buah korpora berbentuk silindris, yaitu 2 buah korpora kavernosa yang saling berpasangan dan sebuah korpus spongiosum yang berada di sebelah ventralnya. Korpora kavernosa tersusun dari dua silinder paralel jaringan erektil (mudah bangun menjadi tegak). Korpus spongiosum lebih kecil bangunan silinder tunggal terletak dibagian ventral, bagian bawah bangunan korpora kavernosa. Ia mengelilingi uretra, sedangkan bagian ujungnya membentuk glans penis.

Penis terletak menggantung di depan skrotum. Bagian ujung penis disebut glan penis. Bagian tengahnya disebut korpus penis dan pangkalnya disebut radiks penis. Glan penis tertutup oleh kulit korpus penis, kulit penutup ini disebut prepusium. Penis terdiri atas jaringan seperti busa dan terletak memanjang, tempat muara uretra dari glan penis adalah frenulum.

Sistem perdarahan penis : Aorta abdominalis setinggi vertebra lumbal 4 akan mempercabangkan arteri iliaka komunis. Di artikulasio sakroiliaka di linea terminalis arteri ini bercabang menjadi arteri iliaka interna yang memvaskularisasi regio perinealis (area antara pantat dan alat kelamin) dan regio pudendalis (area sekitar alat kelamin).

Arteri iliaka interna bercabang menjadi: 1. Arteri pudenda interna, melanjutkan ke ventral menjadi arteri penis 2. Arteri spermatika interna, mengkuti duktus deferen, masuk ke dalam testis 3. Arteri spermatika eksterna, menyuplai bagian dorsal skrotum

4. Arteri skrotalis inferior.

Fungsi penis secara biologi adalah sebagai alat pembuangan (organ ekskresi) sisa metabolisme berwujud cairan (urinasi) dan sebagai alat bantu reproduksi. Ereksi penis merupakan hasil dari relaksasi otot polos penis yang pada dasarnya dimediasi oleh refleks spinal dan melibatkan proses saraf pusat dan pengintegrasian stimuli taktil, olfaktori, auditori, dan mental.

Pada ereksi penis dapat terjadi sekurang kurangnya dua mekanisme, yakni psikogenik dan refleksogenik yang berinteraksi selama aktivitas seksual normal. Ereksi psikogenik diawali secara sentral sebagai respon terhadap rangsang pendengaran, penglihatan, pembauan atau imaginasi. Ereksi refleksogenik terjadi akibat pacuan pada reseptor sensoris pada penis, yang dengan interaksi spinal, menyebabkan aksi saraf somatis dan parasimpatis.

Ereksi terjadi karena proses sebagai berikut. Arteri kavernosa dan jaringannya berdilatasi, menyebabkan darah mengalir ke dalam jaringan kavernosa. Relaksasi otot polos dinding trabekuler ruang lakuner jaringan kavernosa memberi ruang akibat kenaikkan aliran darah. Perluasan ini akan menekan dinding trabekuler bagian luar jaringan kavernosa terhadap tunika albugenia di sekelilingnya. Akibatnya, vena yang keluar dari ruang lakuner melalui

dinding trabekula dan tunika menjadi tertekan, mengurangi aliran keluar darah vena dari ruang lakuner.

Penutupan venosa terjadi secara pasif, sementara itu kontraksi muskulus isiokavernosus dapat mengkerutkan bagian proksimal korpora kavernosa dan juga akan menimbulkan penutupan vena. Pelemasan terjadi akibat kontraksi otot polos jaringan arteri dan trabekula. Kontriksi arteri akan mengurangi aliran darah menuju ruang lakuner. Kontraksi trabekula menyebabkan pengosongan lakuna dan kontraksi ini juga akan menarik dinding lakuna bagian luar menjauhi tunika albuginia, dan membuka aliran vena.

Pengendalian sistem ereksi melalui sistem saraf, tonus otot polos korpus kavernosum dikendalikan oleh proses biokimia yang kompleks di tingkat sistem saraf perifer dan sentral. Saraf otonom simpatis, parasimpatis, dan saraf somatis mengendalikan tonus otot polos korpus kavernosum dan sistem vaskulernya melalui hubungan neuroanatomi yang merupakan bagian integral inervasi dari traktus urinarius bawah.

III. DEFINISI Penyakit Peyroni adalah didapatkannya plaque atau indurasi pada tunika albuginea korpus kavernosum penis sehingga menyebabkan terjadinya angulasi (pembengkokan) batang penis pada saat ereksi.

Penis pria bervariasi dalam bentuk dan ukuran, dan terdapatnya lekukan ereksi adalah suatu hal yang umum dan tidak memerlukan perhatian khusus. Pada beberapa pria, penyakit Peyronie menyebabkan lengkungan atau nyeri yang signifikan. Hal ini dapat menyebabkan gangguan hubungan seksual atau dapat menyebabkan kesulitan dalam ereksi atau dalam mempertahankan ereksi (disfungsi ereksi). Pada beberapa pria, penyakit Peyronie juga menyebabkan stress dan kecemasan.

IV. EPIDEMIOLOGI Kejadian penyakit Peyronie dilaporkan sebanyak 0,39-3%. Namun jumlah ini diperkirakan dibawah estimasi kejadian sebenarnya. Hal ini dikarenakan pada kebanyakan pria merasa malu untuk mengungkapkan bahwa mereka memiliki penyakit ini. Kurangnya pelaporan juga disebabkan akibat sedikitnya pria yang datang berobat karena gejala penyakitnya masih minimal atau tidak mengganggu. Meskipun kondisi ini biasanya mengenai pria berusia 40-70 tahun, berdasarkan Gelbard dkk, Carson, dan Lindsay dkk, penyakit ini juga dapat mengenai individu dengan usia lebih muda.

Pada penelitian Mulhall dkk, pada tahun 2004, prevalensi dari penyakit ini mencapai 8,9% dari 534 pria yang dilakukan screening untuk kanker prostat di Amerika Serikat. Penelitian ini juga menemukan proporsi yang signifikan pada pria dengan penyakit Peyronie juga memiliki hipertensi dan diabetes.

V. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO Penyebab yang pasti dari penyakit ini belum diketahui, tetapi secara histopatologi plak itu mirip dengan vaskulitis pada kontraktur Dupuytren yang disebabkan oleh reaksi imunologik. Hasil anamnesis pada pasien penyakit Peyronie menyebutkan bahwa sebelumnya mereka mengalami trauma pada penis yang berulang pada saat senggama. Trauma ini memicu pelepasan sitokin yang mengaktifkan proliferasi fibroblast dan produksi

kolagen, komponen matriks utama plak Peyronie, di dalam tunika albuginea. Penyakit ini juga dikaitkan dengan defisiensi vitamin E, konsumsi agen betablocker, dan peningkatan kadar serotonin.

Beberapa faktor resiko telah diidentifikasi berkaitan secara signifikan dengan penyakit Peyronie, antara lain : y Predisposisi genetik berkaitan dengan keluarga yang memiliki riwayat penyakit Peyronie atau kontraktur Dupuytren. y Usia prevalensi penyakit Peyronie meningkat sesuai dengan

pertambahan usia. y y Penyakit jaringan ikat Trauma minor vaskular penis, baik akibat kecelakaan atau iatrogenik dari sistoskopi atau transurethral resection of the prostate (TURP) y Penyakit vascular sistemik, termasuk diabetes mellitus, hipertensi, dan hiperlipidemmia. y y y Merokok dan konsumsi alkohol. Penggunaan propanolol. Riwayat uretritis non gonokokus.

VI. PATOFISIOLOGI Selama ereksi, stimulasi saraf mengakibatkan relaksasi dari jaringan otot polos kavernosa dan arteri kavernosa, membawa darah menuju penis dan rongga trabekula dalam korpora kavernosa. Keadaan ini menyebabkan peningkatan aliran darah ke korpora kavernosa dan mengumpulkan lebih banyak darah ke dalam organ ini. Akibatnya, terjadi ekspansi dan peregangan pada sekitar tunika albuginea. Lapisan tebal yang membesar ini terdiri dari kolagen dan jaringan fibrosa yang elastik. Normalnya pembesaran terjadi pada pemanjangan dan pelebaran hingga mencapai ukuran maksimum.

Ekspansi menghasilkan peregangan, kompresi dan penutupan dari venula subtunika yang mengalirkan darah dari korpora. Darah tidak dapat dengan mudah kembali dari penis, sehingga terjadi peningkatan tekanan hidrostatik

intrakorporal. Peningkatan tekanan ini menyebabkan penis menjadi kaku saat tunika telah mencapai panjang dan lebar maksimal.

Pada penyakit Peyronie, respon inflamasi inisial dikarakteristikkan oleh infiltrasi limfosit dan plasmasit kronis pada tunika albuginea. Hal ini dapat merupakan suatu akibat dari trauma minor penis yang dapat terjadi tanpa disadari selama hubungan seksual. Devine dkk meyakini bahwa trauma tersebut dapat menyebabkan cedera delaminasi pada dorsal dan ventral tunika albuginea, menyebabkan inflamasi, indurasi, dan deposit fibrin di antara lapisan tunika. Jika pembentukan jaringan parut dan deposit matriks ekstraseluler mempercepat degradasi kolagen dan matriks, kemudian kolagen yang meningkat terdeposit di dalam tunika albuginea, menyebabkan fibrosis dan pembentukan plak.

VII. GAMBARAN KLINIS Gejala klinis pada penyakit Peyroni dapat muncul secara tiba-tiba atau dapat berkembang secara perlahan. Progresifitas dapat muncul dalam beberapa tahun. Gambaran klinis yang umum antara lain : y Jaringan Parut. Teraba jaringan keras (fibrous) tunggal ataupun berupa plak multipel pada tunika albuginea. y Penis yang membengkok. Penis dapat mengalami pembengkokan ke arah atas, bawah, atau ke samping. Pada beberapa kasus, penis yang ereksi memiliki tampilan seperti jam pasir. y Gangguan ereksi. Penyakit Peyronie dapat menyebabkan disfungsi ereksi. y Pemendekan dari penis. Penis dapat menjadi lebih pendek sebagai akibat dari penyakit Peyronie. y Nyeri. Nyeri dapat dirasakan selama ereksi, hanya saat orgasme, atau setiap waktu saat penis disentuh.

Untuk tujuan praktis, penyakit Peyronie dapat dibagi menjadi fase akut dan kronis. Fase akut biasanya muncul pada 18-24 bulan pertama dan dicirikan

dengan nyeri pada penis, penis bengkok, dan nodul pada penis. Fase kronik dicirikan dengan suatu plak stabil, kadang dengan kalsifikasi, dan angulasi penis. Kehilangan kemampuan ereksi lebih sering dikaitkan dengan fase kronis.

VIII. DIAGNOSIS Penyakit Peyronie dapat didiagnosa melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa dapat ditanyakan gejala klinis apa saja yang dirasakan oleh pasien, serta riwayat penyakit keluarga, riwayat penyakit sistemik, dan kebiasaan hidup seperti merokok, konsumsi alkohol, serta konsumsi obat-obatan jangka panjang.

Pada pemeriksaan fisik, dapat dilakukan pada saat penis dalam keadaan ereksi maupun tidak ereksi. Pada keadaan tidak ereksi dapat dilakukan pemeriksaan: Mengetahui lokasi dan jumlah dari jaringan parut pada penis (semua sisi) Mengukur panjang penis Nyeri sentuh

Pada keadaan ereksi : Terdapat penis yang membengkok Menilai derajat pembengkokan penis Mengetahui lokasi dan jumlah dari jaringan parut pada penis (semua sisi)

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis penyakit Peyronie antara lain : Pemeriksaan ultrasound pemeriksaan yang paling umum digunakan

untuk melihat jaringan lunak, keberadaan jaringan parut, aliran darah ke penis, serta kelainan lain. Pemeriksaan X-Ray kasus yang berat. untuk mengetahui adanya kalsifikasi pada pada

IX. TERAPI Pasien dengan penyakit Peyronie dapat ditatalaksana dengan tindakan konservatif berupa pendekatan watchfull waiting apabila : Pelengkungan penis tidak berat dan tidak menjadi semakin buruk Pasien masih dapat melakukan hubungan seksual tanpa merasakan nyeri Rasa nyeri saat ereksi hanya dirasakan ringan.

Apabila gejala semakin memberat, dapat direkomendasikan pemberian medikasi ataupun tindakan operatif.

Medikasi. Beberapa medikasi oral telah teruji untuk mengatasi penyakit Peyroni, namun Nampak kurang efektif. Pada beberapa kasus, obat-obatan yang diinjeksi secara langsung ke dalam penis dapat mengurangi lengkungan dan nyeri yang berkaitan dengan penyakit Peyronie.

Obat-obatan yang dapat digunakan antara lain : Verapamil. Obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi hipertensi. Obat ini mencegah produksi kolagen yang berperan pada

pembentukan jaringan parut pada penyakit Peyronie. Interferon. Obat ini merupakan suatu jenis protein yang berperan mencegah produksi jaringan fibrous dan membantu

menghancurkannya. Kolagenase. Merupakan suatu enzim yang berperan melisiskan jaringan parut fibrosa.

10

Operasi. Indikasi operasi pada penyakit Peyronie adalah deformitas penis yang mengganggu senggama atau disfungsi ereksi akibat penyakit Peyronie. Pembedahan biasanya tidak direkomendasikan ketika kelengkungan penis tidak bertambah dan ereksi dirasakan tidak nyeri setidaknya selama 6 bulan.

Metode pembedahan yang umum meiputi : Pemendekkan sisi yang tidak sakit. Berbagai prosedur dapat digunakan untuk memendekkan sisi yang lebih panjang pada penis (sisi tanpa jaringan parut). Tindakan ini bertujuan untuk menyamakan panjang antara bagian yang sakit dan yang tidak, sehingga saat ereksi penis menjadi relative lebih lurus. Tindakan ini dilakukan pada pasien dengan panjang penis yang cukup dan lebih lengkungan penis yang lebih ringan. Nesbit plication merupakan suatu contoh dari prosedur tindakan ini. Pada beberapa kasus, jenis pembedahan ini menyebabkan disfungsi ereksi.

11

Pemanjangan sisi yang sakit. Dengan tipe pembedahan ini, ahli bedah membuat beberapa insisi pada jaringan parut, memungkinkan sarung untuk merenggang dan penis menjadi lebih lurus. Ahli bedah harus menyingkirkan sebagian jaringan parut. Setelah itu dilakukan graft jaringan pada daerah yang dilakukan insisi tersebut. Graft dapat berasal dari tubuh pasien sendiri atau material sintetis. Prosedur ini dilakukan bila pasien memiliki penis yang pendek, kelengkungan yang parah, atau deformitas kompleks. Prosedur ini memiliki resiko yang lebih besar untuk terjadinya disfungsi ereksi.

Implan penis. Dilakukan insersi implant penis dengan tindakan bedah untuk mengganti jaringan spongiosa yang terisi darah pada saat ereksi. Implant dapat bersifat semi-rigid yang dapat dilipat ketika tidak digunakan, dan dapat dinaikkan ketika ingin berhubungan seksual. Jenis implant yang lain adalah implant yang disertai dengan pompa yang diletakkan di lipat paha atau di skrotum. Implant penis dapat dipertimbangkan jika pria memiliki penyakit peyroni disertai dengan disfungsi ereksi.

12

X. KOMPLIKASI Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit Peyronie antara lain : Ketidakmampuan untuk melakukan hubungan seksual Disfungsi ereksi Rasa cemas dan stress mengenai kemampuan seksual atau penampilan dari penis Stres pada hubungan dengan pasangan Kesulitan memiliki anak

XI. PROGNOSA Prognosa penyakit Peyronie bergantung dari usia pasien, keadaan awal penyakit saat berobat, kecepatan mendapatkan pengobatan, serta kondisi penyakit penyerta lain.

13

DAFTAR PUSTAKA
Mayo Clinique Staff. 2011. http://www.mayoclinic.com/health/peyroniesdisease/DS00427. diakses pada tanggal 18 Desember 2011.

Eli Lizza, MD. 2011. http://emedicine.medscape.com/article/456574. diakses pada

tanggal 18 desember 2011.

Purnomo, Basuki B. 2007. Dasar-Dasar Urologi. Malang : FK Universitas Brawijaya

M. A. Salam. 2003. Principle and Practice of Urology. USA : BrownWalker Press

Syaifuddin, Haji. (2002), Struktur dan Komponen Tubuh Manusia, Jakarta : Widya Medika. Walsh C. Patrick MD et al. 2002. Campbells Urology Volume 4. UK : Saunders

14

Anda mungkin juga menyukai