Anda di halaman 1dari 2

RESENSI Judul Buku Pengarang Tempat Terbit Penerbit Tahun Terbit : Pengakuan Pariyem : Dunia Batin Seorang Wanita

Jawa : Linus Suryadi AG : Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) : 2009

Pariyem, gambaran seorang wanita yang sangat kental budaya jawanya (kejawen). Budaya ini secara terus-menerus dia dapatkan sejak masih kecil yaitu melalui simbahnya dan setelah dewasa pun pariyem mendapatkan ajaran ini dari Ndoro Kanjeng. Ndoro Kanjeng ini merupakan juragan dari tempat Pariyem bekerja sebagai babu di rumah itu. Di dalam buku yang ditulis oleh Linus ini, diceritakan bahwa Pariyem merupakan seorang wanita yang berasal dari keluarga sederhana, bapaknya seorang pemain ketoprak dan ibunya sebagai seorang pesinden. Selain itu Pariyem yang bertempat tinggal di Gunung Kidul ini membentuk karakter sebagai seorang dengan pribadi yang lega lila (ikhlas) serta menjunjung tinggi budayanya yaitu budaya Jawa. Tetapi terdapat keganjilan dalam cerita ini, yang menurut saya sebenarnya sangat bertolak belakang dengan budaya jawa pada umumnya. Dengan sangat terbuka, Pariyem menceritakan bahwa dia kehilangan keperawanananya, ketika perjalanan pulang dari melihat wayang dengan seseorang yang bernama Sokidi Kliwon. Budaya Jawa yang dikenal sebagai budaya yang ketat peraturan kepada seorang wanita, ternyata hal ini dilanggar oleh Pariyem yang notabene sebagai penganut budaya Kejawen. Diceritakan setelah dewasa, Pariyem mengabdikan diri untuk bekerja sebagai babu di sebuah rumah Panggedhe di kota Yogyakarta yaitu Ndoro Kanjeng Cokro Sentono. Ndoro Kanjeng telah beristri yang dikenal dengan Ndoro Ayu serta mempunyai dua anak yaitu Raden Bagus Ario Atmojo dan Ndoro Putri Rubi Wiwit Setio Wati. Pariyem sangat menghormati Tuannya sebagai sosok yang penting dan berkepribadian istimewa. Ndoro Kanjeng adalah seseorang yang berketurunan darah biru, terhormat, dan sering diminta untuk memberikan nasehat ataupun wejangan kepada banyak orang yang berasal dari berbagai tingkatan. Wejangan yang disampaikan ini biasanya menggunakan wayang sebagai symbol yang sederhana tetapi memiliki berbagai macam makna yang berharga. Putra Ndoro Kanjeng yang biasa dipanggil Raden Ario dikenal sebagai seorang lelaki yang menawan dan digrandrungi banyak wanita,

Raden Ario saat itu masih menempuh pendidikan di bangku perkuliahan di Fakultas Filsafat di Universitas Gadjah Mada. Meskipun hidup di keluarga yang masih menjunjung tinggi Budaya Jawa, kedua anak Ndoro Kanjeng ini terpengaruh juga oleh budaya luar. Dibuktikan dengan keterangan Pariyem yang menceritakan bahwa di kedua kamar putra Ndoro Kanjeng terdapat poster-poster penyanyi atau grup band yang beraliran modern. Pariyem juga cukup dekat dengan Ndoro Putri, tetapi sebagai seorang babu atau pembantu yang seharusnya ikut menjaga nama baik Tuannya, Pariyem malah menjalin hubungan dengan Raden Ario. Bahkan hubungan ini berjalin dengan hubungan intim layaknya sepasang suami istri, Pariyem dengan sengaja menggoda Raden Ario yang masih polos. Hubungan ini terjadi berulang-ulang ketika ada kesempatan untuk melakukannya, dan pada akhirnya hubungan ini menyebabkan Pariyem hamil. Walau awalnya keadaan ini disembunyikan oleh Pariyem, tetapi lama-kelamaan diketahui juga oleh seluruh keluarga Ndoro Kanjeng. Sebagai sebuah keluarga bangsawan, penanaman rasa tanggung jawab yang besar tetap menuntut Raden Ario untuk bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Pariyem. Akhirnya Pariyem yang hanya seorang babu atau pembantu yang berasal dari keluarga sederhana dengan caranya ini menjadi menantu kelurga Ndoro Kanjeng yang berasal dari keturunan bangsawan. Setelah menanti selama 9 bulan, Pariyem melahirkan seorang bayi perempuan yang kemudian diberi nama Endang Sri Setianingsih. Bayi ini dirawat oleh orang tua Pariyem yang dibantu oleh adik Pariyem di Wonosari, Gunung Kidul. Pariyem sekarang mempunyai kegiatan bolak-balik dari Yogyakarta ke Gunung Kidul untuk menjenguk keadaan anaknya. Terkadang Ndoro Putri pun ikut dan menginap di rumah Pariyem dan sesekali Ndoro Kanjeng beserta istrinya juga berkunjung ke sana.