Anda di halaman 1dari 2

ANALISIS GENANGAN BANJIR DKI JAKARTA 2007 DENGAN MENGGUNAKAN CITRA RADAR SATELIT ALOS 2007 - 2006

PUSAT PENGEMBANGAN PEMANFAATAN DAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL JAKARTA

ANALISIS GENANGAN BANJIR DKI JAKARTA 2007 DENGAN MENGGUNAKAN CITRA RADAR SATELIT ALOS 2007 2006 Citra Radar digunakan umumnya karena mempunyai keunggulan dalam menembus daerah yang tertutup awan. Namun citra Radar lebih sulit di interprestasi dibandingkan citra satelit optik seperti satelit Landsat. Karena kesulitan interpretasi tersebut diperlukan teknik khusus untuk dapat mendeteksi suatu objek khususnya genangan air pada saat babjir DKI Jakarta 5 Februari 2007. Untuk mendeteksi objek genangan air DKI Jakarta Februari 2007, digunakan teknik komposit warna yang dikenal umum di bidang penginderaan jauh. Teknik ini memanfaatkan dua citra radar satelit ALOS yang diambil pada bulan Juni 2006 dan tanggal 5 Februari 2007. Citra radar 2006 digunakan sebagai acuan agar genangan air yang terjadi pada Februari 2007 dapat diperkuat kenampakannya. Kenampakan objek pada citra Radar dibedakan dengan besarnya intensitas pantulan gelombang radar pada masing-masing objek. Pantulan gelombang radar tersebut dikenal umum dengan istilah backscatter. Objek air tenang (tidak bergelombang) mempunyai nilai backscatter paling rendah karena hampir seluruh gelombang radar diserap dan tidak dipantulakan, sedangkan gedung/bangunan atau hamparan beton atau logam akan mempunyai backscatter yang tinggi karena memantulkan gelombang radar secara maksimal. Diantara kedua nilai di atas, objek seperti perumahan sederhana akan memberikan backscatter lebih rendah, begitu juga pepohonan dan vegetasi lainnya. Sedangkan jalan beraspal memberikan backscatter sangat rendah hampir sama dengan air. Teknik komposit warna umumnya menggunakan tiga warna dasar merah, hijau dan biru. Pada penerapan untuk citra 2006 dan 2007 di atas, citra 2006 ditempatkan pada kanal biru sedangkan citra 2007 ditempatkan pada kanal merah dan kanal hijau. Dengan teknik ini maka objek air pada citra 2007 akan memberi efek transparan pada warna biru di citra 2006 sebaliknya air pada citra 2006 akan memberi efek transparan pada kombinasi warna hijau dan merah citra 2007. hasil pengolahan teknik ini akan memberikan kenampakan gabungan antara lain sebagai berikut: a. Seluruh area yang tergenang air pada Februari 2007 namun pada Juni 2006 tidak tergenang air (indikasi genangan banjir) akan tampak berwarna biru muda b. Gedung/bangunan atau perumahan yang tidak mengalami perubahan akan tampak abu-abu atau putih terang c. Genangan air atau aspal yang terdeteksi pada lokasi yang sama di kedua citra, akan berwarna hitam d. Objek yang di bulan Juni 2006 (musim kemarau) merupakan genangan air akan tampak hijau ke kuning-kuningan apabila tahun 2007 menjadi bentuk bangunan atau objek yang mempunyai besaran backscatter tinggi. Berdasarkan acuan kenampakan di atas, genangan air banjir pada citra hasil olahan komposit warna 2006 dan 2007 terlampir akan terlihat berwarna biru muda. Lokasi genangan itu tampak berada diantara objek gedung/ bangunan/ perumahan yang nampak putih terang atau abu-abu. Pada citra tersebut terlihat pula area yang berwarna hijau kekuning-kuningan yang merupakan indikasi adanya perubahan tutupan lahan yang signifikan sebagaimana tampak utamanya di sekitar Pelabuhan Udara Soekarni-Hatta.