Anda di halaman 1dari 12

PERENCANAAN PRODUKSI MINYAK SEREH WANGI

Ebookpangan.com 2006

BAB I PENDAHULUAN Tanaman sereh yang biasa tumbuh di Indonesia, untuk diambil minyaknya terdapat dalam 2 jenis, yang pertama dikenal dengan nama "mahapengiri", yang menghasilkan banyak minyak serta kadar citronellal dan geraniol yang tinggi, sedangkan jenis yang lain dikenal dengan nama "lenabatu", menghasilkan sedikit minyak dengan kadar geraniol yang rendah. Sereh jenis lenabatu biasanya tumbuh lebih tegak keatas daripada jenis mahapengiri yang tumbuh merumbai kebawah. Tanaman sereh dapat tumbuh hampir dikebanyakan daerah kepulauan Indonesia, tetapi memang pertumbuhannya akan dipengaruhi oleh subur dan tingginya tanah serta iklim, akibatnya julah dan mutu minyak yang dihasikan akan dipengaruhinya pula. Tanah subur di lereng-lereng gunung (daerah pegunungan) dimana hujan turun agak teratur, adalah tanah yang paling cocok bagi tanaman sereh. Sereh yang tumbuh atas tanah yang kurang subur hanya dapat menghasilkan minyak cukup baik sampai 3 tahun, sesudahnya kadar minyak akan menurun. Tanah yang berpasir, sereh masih dapat tumbuh sekalipun aka menghasilkan sedikit daun tetapi kadar minyaknya relatif tinggi. Tanah liat serta air selalu tergenang adalah tanah yang paling cocok bagi tamanan sereh. Sereh dapat ditaman dari stek, yang bibitnya dipilih dari rumpun yang sereh yang sudah tua, stek-stek yang terbaik ditanam dalam lubang membentuk segitiga satu sama lain dengan jarak 10 cm, sedangkan jarak antara kelompok yang satu dengan yang lain kira-kira 1 meter. Cara penanaman demikian menyebabkan pertubuhan sereh lebih sempurna. Penanaman sereh harus dilakukan pada permulaan musim hujan, sekitar bulan Desember-Januari, karena penanaman musim kemarau biasanya tanaman akan mati. Dianjurkan kepada para pengusaha minyak sereh untuk tidak menanam sereh jenis lenabatu, karena selain jumlam minyak yang sedikit, mutunya juga rendah. Untuk mimilih bibit yang baik, para pengusaha dapat minta nasihat kepada Balai Penelitian Tanaman Industri di Bogor. Tanaman sereh yang sudah berumur 6 bulan, biasanya mulai dapat dipotong daunnya, dan tiap-tiap kelompok akan menjadi rumpun yang besar. Daun sereh harus selalu dipotong diatas batangnya, dimana daun keluar dan waktu

pemotongan dipilih sedemikian rupa jangan sampai sereh mulai berbunga. Pemotongan daun dapat dilakukan tiap-tiap 3 bulan sekali dan selam 5 tahun sereh akan menghasilkan minyak cukup baik. Sesudah itu jumlah dan mutu minyak akan menurun. Biasanya tanaman sereh lebih tua dari 5 tahun, tidak menguntungkan. Tanaman sereh dapat pula diberi pupuk untuk memperbaiki pertumbuhannya. Pupuk ZA (Zwavel Ammonium) dapat dipergunakan untuk sereh, sebanyak kira-kira 5 gram tiap rumpun sereh tiap bulan. Akan tetapi bila pertumbuhan daun terlalu baik, kadar minyak yang dihasilkan biasanya rendah. Jumlah minyak yang dihasilkan dari daun sereh, sebenarnya sukar ditentukan dengan pasti karena akan tergantung diantaranya kepada kesuburan tanah, iklim, umur tanaman dan cara penyulingan. Menurut Balai Penelitian Tanaman Industri di Bogor, sereh yang tumbuh diatas tanah subur rata-rata dapat menghasilkan 10 ton daun tiap tahun tiap hektar, denga kisaran minyak 0,81,2 %. Jadi tiap hektar tanaman sereh tiap tahun dapat menghasilkan kira-kira 120 kg minyak sereh.

BAB II MINYAK SEREH Minyak sereh adalah salah satu minyak yang termasuk minyak atsiri, sedangkan minyakminyak yang lain diantarnya minyak nilam, minyak akar wangi, minyak cengkeh dan sebagainya. Minyak sereh, seperti kebanyakan minyak atsiri lainnya, dihasilkan dengan penyulingan daun sereh, yang mengadung jumlah kira-kira 0,8-1,2 % minyak. Tanaman sereh yang mengandung jumlah dan mutu minyak yang terbaik, (minyak dengan kadar geraniol yang tinggi), ialah yang terkenal dengan nama mahapengiri, dipulau Jawa kebayakan terdapat di perkebunan. Minyak sereh dipergunakan sebagai bahan dasar pada penbuatan wangi-wangian. Produksi minyak sereh dari pulau Jawa sebelu perang dunia ke-II, menempati puncak tertinggi dipasaran dunia, disamping mutunya yang baik, juga mengandung paling sedikit 85 % jumlah geraniol dibandingkan dengan hanya 55 sampai 65 % jumlah geraniol dari minyak sereh yang berasal dari Ceylon. Sesudah perang dunia ke-II, jumlah ini menurun sampai pada akhir tahun 1941, hasil minyak sereh tercatat hanya mencapai 1/8-nya dari produksi semula. Akan tetapi pada masa yang akan datang ini, produksi minyak sereh dari Indonesia pada umumnya pasti akan kembali menempati kedudukan yang utama di pasaran dunia, mengingat banyak faktor-faktor yang menguntungkan bagi tanaman sereh di negara kita.

BAB III METODA PEMBUATAN Bahan-Bahan Daun sereh yang akan disuling, biasanya masih dalam bentuk daun segar, yaitu daun yang baru dipotong dari tanaman sereh. Untuk mempertinggi hasil minyak, daun sereh sebelum disuling, harus dipotong-potong lebih dahulu kira-kira 12 cm. Ada kalanya daun sereh yang dipotong dari tanaman, tidak dapat langsung disuling, karena misalnya daun terlalu banyak dan tidak mencukupi kapasitas alat-alat yang tersedia. Dalam hal demikian daun harus sedapat mungkin disimpan dalam keadaa seperti dalam alam, yaitu disimpan dalam suatu tempat yang kering, derajat panas rendah dan tidak ada pertukaran hawa dalam tempat itu. Penyimpanan semacam ini akan memperkecil penguapan minyak dari daun. Minyak yang hilang menguap pada waktu melayukan dan mengeringkan daun sereh, jaun lebih banyak daripada waktu penyimpanan daun sesudah kering. Pada umumnya daun sereh tidak tahan simpan dan penyimpanan lebih dari dua hari, kehilangan minyak akan lebih besar. Penyulingan Minyak atsiri/minyak sereh adalah campuran dari zat-zat cairan atau padatan yang mudah menguap serta mempunyai susunan dan titik didih yang berbeda-beda. Tiap zat dengan titik didih tertentu dapat menguap dan mempunyai tekanan uap tertentu, tergantung pada derajat panas panas pada saat itu. Penyulingan dapat diartikan sebagai pemisahan bagian-bagian campuran dari dua atau lebih cairan, berdasarkan perbedaan tekanan uap dari bagian-bagian itu. Pada umumnya bagi penyulingan minyak atsiri/minyak sereh ada tiga cara penyulingan yaitu : a. Penyulingan dengan air. b. Penyulingan dengan air dan uap. c. Penyulingan langsung dengan uap. Perbedaan antara ketiga cara ini, khususnya terletak pada cara bahan dikerjakan/disuling.

A. Penyulingan dengan air Penyulingan dengan cara ini, bahan berhubungan langsung dengan air yang mendidih. Bahan akan melayang atau tenggelam dalam air, tergantung kepada berat jenis dari bahan yang dimasukkan dalam ketel. Air dapat dididihkan dengan api langsung atau dengan uap dalam mantel atau spiral. Cara penyulingan dengan air, adalah baik untuk bahan-bahan seperti bunga mawar, bubuk almond, dan bunga jeruk varietas tertentu, dimana bahan dapat bergerak leluasa dalam air yang mendidih, karena jika bahan tersebut disuling langsung dengan uap, bahan akan menggumpal dimana uap tidak dapat menembus sel-sel dari bahan itu. Untuk daun sereh, penyulingan cara ini kurang baik, karena kemungkinan akan terjadi pemecahan (hidrolisis) dari minyak yang tercampur dengan air mendidih. B. Penyulingan dengan air dan uap Penyulingan dengan cara ini, lebih umum digunakan, dalam hal ini bahan diletakkan diatas piring berupa ayakan, beberapa cm diatas air dalam ketel, air dipanaskan dengan api langsung atau dengan uap. Keuntungan dengan cara ini adalah; pertama- uap selalu jenuh, basah dan tak pernah terlalu panas; kedua- bahan hanya berhubungan dengan uap dan tidak dengan air mendidih. C. Penyulingan langsung dengan uap Penyulingan cara ini menyerupai cara B, hanya didalam ketel tidak terdapat air. Uap jenuh (saturated or superheated) dan sering dengan tekanan lebih dari 1 atm, dialirkan melalui lubang-lubang spiralnya yang terdapat dibawah piring ayakan. Dalam praktek kadang-kadang piring ayakan harus dipergunakan lebih dari satu, yang disusun sedemikian rupa hingga yang satu diatas yang lain (ditumpuk)

Keuntungan dan kerugian serta faktor-faktor penting dari tiap cara penyulingan diikhtisarkan pada Tabel 1. Ketel Cara A Cara B Sederhana, murah dan Agak lebih sulit dan mudah dibuat serta mu- lebih mahal dari model dah dipindahkan A. Model yang kecil ju-ga mudah dipindahkan. Baik, untuk bahan yang Baik untuk rumputhalus dan juga untuk rumputan dan daun. bunga yang mudah menggumpal dengan uap langsung. Tidak baik untuk ba-han yang mengandung zat yang dapat disabunkan, dapat larut dalam air atau yang titik didihnya tinggi. Hasil yang terbaik de- Bahan tidak boleh terngan serbuk yang ha- lalu halus, tetapi harus lus. seragam seperti bijibiji dan akar-akar. Bahan harus seluruh- Bahan harus nya terendam dalam air diletakkan secara merata. Baik, jika bahan dapat Baik. bergerak dengan leluasa dalam air yang mendidih. Cara C biasanya lebih kuat dan tahan lama dari A dan B. Kemungkinan dapat menghasilkan minyak dalam jumlah besar. Baik untuk biji akar dan kayu yang mengandung minyak yang titik didihnya tinggi. Tidak baik untuk serbuk yang halus.

Bahan

Hubungan bahan dan air


Cara menempatkan bahan

Sama dengan B.

Diffusi

Tekanan uap Derajat panas dalam ketel

Sama dengan tekanan Sama dengan A. udara (1 atmosfir). Kira-kira 100 oC. Harus Kira-kira 100 oC. dijaga supaya bahan jangan sampai hangus,

Sama dengan B. Harus dijaga supaya jangan terjadi celahcelah dalam bahan. Baik, bila uap agak basah. Penyulingan dengan uap yang terlampau panas atau dengan tekanan yang tinggi membunuh bahan, menghalangi diffusi dan menghasilkan minyak sedikit. Dalam penyulingan demikian harus disusul dengan uap basah. Dapat dirubah-rubah (tinggi atau rendah) sesuai dengan bahan. Dapat dirubah-rubah disesuaikan dengan bahan.

Hidrolisis dari susunan minyak

Kecepatan penyulingan

karena langsung berhubungan dengan dinding ketel yang terrlalu panas. Dianjurkan ditambah batu-batu supaya bahan tidak menempel pada dasar ketel. Biasanya tidak me- Hidrolisis tidak banyak Keadaan baik. Hidronguntungkan. Banyak bahan yang basah, lisis biasanya sedikit. ester yang dihidrolisis. misalnya karena terlalu lama disuling atau terjadi banyak penya-bunan dari uap dalam ketel. Lambat. Sedang. Cepat. Umumnya rendah disebabkan hidrolisis dan juga karena sebagian sususnan minyak yang dapat larut dalam air dan mempunyai titik didih tinggi terikat oleh air dalam ketel. Tergantung pada pengerjaannya. Terutama bila dipakai api langsung, jangan sampai bahan menjadi hangus. Air distilat harus disuling lagi, atau lebih mudah dikembalikan kedalam ketel selama penyulingan berlangsung. Baik jika tidak terlalu Baik, bila tidak terjadi basah dan tidak terjadi penggumpalan dan penggumpalan. pembentukan celahcelah.

Hasil minyak

Mutu minyak

Umumnya baik.

Baik

Air distilat.

Bila pemisahan baik, Sama dengan B. air distilat dapat dibuang.

Lamanya Penyulingan Lamanya penyulingan tidak dapat ditentukan dengan pasti, karena diantaranya akan tergantung kepada jenis, banyaknya dan keadaan bahan yang disuling, kecepatan penyulingan, cara penyulingan dan sebagainya. Selama penyulingan, perbandingan air dan minyak dalam distilat makin lama makin besar, karena uap lama-kelamaan tidak dapat berhubungan dengan minyak yang masih ada dalam

bahan dengan sempurna seperti pada permulaan penyulingan. Dan juga karena minyak yang masih tinggal dalam bahan itu, sebagian besar terdiri dari senyawa-senyawa dengan titik didih yang tinggi. Karena itu, pekerja sendirilah yang harus menentukan apakah penyulingan perlu dilanjutkan atau tidak, ditinjau dari sudut ekonomi. Dari pengetahuan mengenai besarnya ketel, banyaknya bahan yang disuling, hasil minyak yang diduga dan pengalaman-pengalaman percobaan dengan alat yang lebih kecil, pelaksana dapat menentukan apakah penyulingan perlu diteruskan atau tidak. Kerapkali bagi minyak yang berharga, penyulingan agak lama tidak merugikan, bahkan menguntungkan akan tetapi bagi minyak yang murahan perpanjangan waktu penyulingan tidak ekonomis. Beberapa minyak seperti minyak akar wangi mengandung senyawaan-senyawaan yang berharga dengan titik didih yang tinggi, yang baru akan terbawa oleh uap pada akhir-akhir penyulingan. Maka dalam hal demikian penyulingan harus diteruskan untuk beberapa jam lagi, walaupun kelihatannya tidak ada minyak yang tersuling pula. Jika faktor ini diabaikan, minyak akan kehilangan zat-zat yang berharga, yang sendirinya akan menurunkan mutu minyak yang dihasilkan. Jelaslah bahwa pengalaman-pengalaman penyulingan suatu bahan tertentu, banyak menolong seorang pelaksana untuk memperoleh hasil minyak yang tertinggi, kecepatan penyulingan yang maksimum dan mutu minyak yang terbaik. Minyak yang telah dipisahkan dari air distilat Minyak yang dihasilkan dari suatu penyulingan, masih mengandung sejumlah air yang terlarut didalamnya. Dalam hal ini ada kemungkinan akan terjadi reaksi yang perlahan antara minyak dan air, jika air tidak dihilangkan. Minyak yang agak keruh karena adanya air, dapat dijernihkan dengan jalan menyaringnya dengan Kieseguhr atau magnesium karbonat atas kertas saring. Cara penyaringan ini hanya menghilangkan tetes-tetes air, yang menyebabkan keruhnya minyak, akan tetapi tidak mengeringkan minyak itu seratus persen. Untuk mengeringkan minyak, biasanya kedalam minyak ditambahkan hablur natrium sulfat kering, dibiarkan semalam sambil kadang-kadang dikocok. Minyak dalam jumlah banyak dapat disaring dengan filter press atau dipusingkan.

Air Distilat Air distilat yang didapat sesudah dipisahkan dari minyak, masih mengandung minyak dalam keadaan suspensi yang banyaknya tergantung kepada kelarutannya dalam air dan berat jenisnya. Pada penyulingan cara A (air) atau cara B (air dan uap), air distilat dapat dimasukkan kembali kedalam ketel pada waktu penyulingan berlangsung, tetapi dalam hal penyulingan langsung dengan uap, hal ini tidak dapat dikerjakan karena bahan akan terlalu basah dan umumnya akan menggumpal, maka air distilat harus disuling tersendiri dan pada umumnya jika air sudah tersuling 10 sampai 15 %, minyak yang terlarut atau dalam keadaan suspensi dengan air, hampir seluruhnya sudah terbawa oleh uap tadi. Sisa ini dalam ketel dapat dibuang. Ampas atau bahan yang sudah diambil minyaknya Tergantung pada jenis bahan yang dipakai, tetapi khususnya ampas dari daun sereh dapat dipergunakan sebagai : a. Bahan bakar sesudah dikeringkan b. Bahan pupuk c. Bahan makanan ternak, khususnya dari biji-bijian yang mengandung banyak protein dan lemak. Pelaksana dapat memilih mana yang lebih menguntungkan untuk dipakai. Standar Mutu Minyak Sereh Mutu minyak sereh berdasarkan kadar jumlah geraniol dan citronellal, oleh Balai Penelitian Kimia minyak sereh dibagi dalam 3 golongan yaitu : KWALITET A B C JUMLAH GERANIOL Tidak boleh kurang dari 85 % Antara 80 - 85 % Kurang dari 80 % CITRONELLAL Tidak boleh kurang dari 35 % Tidak ada jarak minimum Tidak ada jarak minimum

BAB IV ANALISIS USAHA MINYAK SEREH

Nama Produk : Minyak Sereh Jumlah Produksi Harga Jual Periode Produksi A. Pemasukan Harga penjualan minyak sereh per bulan 25 x 6000 mL x Rp 2.500,Ampas daun sereh 25 x 400 kg x Rp 500,B. Kebutuhan Peralatan
0

: 6 Liter minyak sereh, membutuhkan 540 kg daun sereh. : Rp 2.500,- per mL. : 1 bulan = 25 hari kerja

Rp 375.000.000,Rp 5.000.000,-

Alat Penyulingan @ kapasitas 300 kg 2 x Rp 75.000.000,Rp 150.000.000,Rp 10.000.000,Rp 1. 350.000,Pemotong daun sereh

Umur teknis peralatan : 5 tahun Penyusutan per bulan (Per tahun 10 % dari harga) A. Pengeluaran 1. Penyusutan Alat 2. Daun sereh segar 3. Botol 4. Tenaga Kerja A. Keuntungan
0 0 0

Rp 540 kg x Rp 2.000,Rp Rp

1. 350.000,Rp Rp 1. 080.000,1.000.000,525.000,395.500,Rp 380.000.000,Rp 4.350.500,Rp 375.649.500,-

25 x 6000 mL/100 mL x Rp 350,4 x Rp 250.000,-

5. Biaya Tak Terduga (10 % Pengeluaran) Pemasukan Pengeluaran Keuntungan

PUSTAKA ENDANG. S, M. Sc dan NUSIRJAN, B. Sc. 1975. Penyulingan Minyak Sereh dan Minyak Atsiri. Seri BIPIK 6. Industri Kecil. Departemen Perindustrian. Proyek Bimbingan dan Pengembangan