Anda di halaman 1dari 6

Buletin Rahsas

Ajang Pembelajaran Menulis Mata Kuliah Sejarah Sastra Indonesia Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, UNY edisi III/1, Juni 2011
Sekilas Info Mata kuliah ini diampu oleh Dr. Nurhadi, M.Hum, dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Pengajar asal Pemalang ini menyelesaikan kuliah S3 di UGM, Yogyakarta dengan menulis disertasi yang mengangkat karya-karya Seno Gumira Ajidarma.
____________

ANAK SEMUA BANGSA


OLEH: Ayu SR
Roman kedua Tetralogi, Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Di titik ini Minke diperhadapkan antara kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan selingkungan bangsanya yang kerdil. Sepotong perjalanannya ke Tulangan Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis pergerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga Dela Croix (Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah Nyai Ontosoroh, nertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.

Penulisan esai tentang Sejarah Sastra Indonesia ini diikuti oleh para mahasiswa PBSI kelas K, L, M dan N tahun ajaran 2010/2011 semester genap. Tulisan-tulisan ini sebagai bentuk bagian ujian akhir matakuliah.
____________

Seseorang akan dikenang dan dicatat oleh sejarah lewat tulisan-tulisannya. Pepatah yang mengatakan publish or perish mengingatkan kita bahwa jika mempublikasikan diri, kita akan eksis, dan jika tidak melakukannya, kita akan musnah ditelan zaman.

PRAMODYA ANANTA TOER, Hidupnya untuk Menulis


Seorang sastrawan kelahiran Blora, daerah pegunungan gersang bertanah kapur pada 6 Februari 1925 ini karyakaryanya telah mendunia menjelajahi berbagai bangsa; diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa asing. Bang Pram, begitulah ia suka dipanggil. Menulis baginya adalah nafas kehidupan. Seperti udara, hidupnya tak kan hidup tanpa menulis; kapan pun, di mana pun, dan dalam kondisi apapun dia menulis, bahkan karyanya yang fenomenal yaitu Tetralogi Pulau Buru lahir ketika dirinya berada dalam hotel prodeo Pulau Buru atas tuduhan keterlibatan gerakan PKI. Pemerintah menganggap novel-novel karangan Pram itu mempropagandakan ajaran-ajaran Marxisme-Leninisme dan komunisme. Padahal, tak sedikit pun hal-hal tersebut disebutkan dalam buku-bukunya. Anak sulung dari ayah seorang guru dan ibu penjual nasi ini mempunyai nama asli Pramodya Ananta Mastoer. Sebagaimana yang tertulis dalam semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya. Sosok seorang ibu lah yang memberikan pengaruh yang sangat kuat pada seorang Pram. Hal tersebut dapat kita lihat dalam karya-karya yang dihasilkannya. Tokohtokoh yang diciptakannya, terutama sekali tampak dalam Cerita dari Blora dan Anak Semua Bangsa adalah tokoh ibu yang lembut dan penuh kasih sayang. Ibunyalah yang banyak membentuk pribadi Pram, cara berpikimya, sikapnya, dan keuletannya di dalam bekerja. Karakter kuat seorang 1

Menulislah, jika tak menulis, maka kamu akan ditinggalkan sejarah. (Pramodya dalam Rumah Kaca)

Tulisan ini merupakan karya sendiri, bukan jiplakan atau karya orang lain

Buletin Rahsas terbit setiap minggu


pada hari Sabtu, mengangkat tulisan-tulisan tentang sejarah sastra Indonesia oleh peserta kuliah. Redaksi edisi kali ini: Ayu SR, NIM 10201244087; HP: 085642591647 e-mail: ayu_sitir@yahoo.com

Buletin Rahsas, edisi III/1, Juni 2011

perempuan dalam karangan fiksinya didasarkan pada ibunya, seorang pribadi yang tak ternilai. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya. Sejak mudanya ia telah berkenalan dengan penulis-penulis dunia lewat karya-karya mereka; seperti Victor Hugo, Joze Rizal, Leo Tolstoi, Nikolai Gogol, Shakespeare, Steinbeck, Pushkin, Dostoyevsky, Montaigne, Nietzsche dalam masih banyak lagi yang lain dalam tulisan-tulisan awalnya dalam bukunya Menggelinding I pada tahun 1956. Buku ini seperti rambu petunjuk melihat sisi lain Pram di usia kepengarangannya yang masih muda. Menulis adalah melawan, Pram yakin bahwa perlawanan itu bisa dilakukan dengan menulis buku, seperti halnya ia lakukan. Karya-karyanya dengan realisme sosialnya yang khas mampu menyuguhkan peristiwa-peristiwa sosial yang tak ditangkap pengarang lain. Bagi Pram, buku adalah visi, sekaligus sikap. Perjuangan tanpa visi adalah perjuangan yang hanya menanti mati disalip kekuasaan pragmatis setelah riuh pasar malam perjuangan usai diteriakkan. Bukulah yang membuat Pram tidak menjadi massa atau gabus yang dipermainkan ombak di tengah samudera sejarah dan setelah itu takluk terhempas jadi sampah di pantai. Menulis buku, lewat itulah Pram menawarkan Indonesia kepada dunia. Tak ada yang lain cara efektif yang dipahami Pram selain dengan buku. Terlalu serak dan pendek umur ucapan sebuah pidato atau semua teriakan. Buku yang punya usia memanjang. Buku adalah arsip. Dan arsip adalah nyawa sebuah bangsa, lengkap dengan segerbong kisah-kisah kemenangan dan kekalahannya. Karena itu novelis eksil Ceko, Milan Kundera, menjadi benar ketika berseru: Untuk menghancurkan sebuah bangsa, bumihangus buku-bukunya. Niscaya bangsa itu akan lupa. Dan saat itulah ia akan hancur. Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno. Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan dan pulau Buru selama 14 tahun. Baru pada tahun 1979 ia bisa menghirup udara bebas. Tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun. 2

Pramodya Ananta Toer (pengarang sepanjang zaman)

Menulis baginya adalah nafas kehidupan. Seperti udara, hidupnya tak kan hidup tanpa menulis; kapan pun, di mana pun, dan dalam kondisi apapun dia menulis.

Cover novel Anak Semua Bangsa

Buletin Rahsas, edisi III/1, Juni 2011

Namun, semua itu tak membuatnya berhenti menulis walaupun Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru. Pendeknya, Pram menulis segala hal dan apa pun yang dilihatnya, diserapnya, dibacanya, didengarnya, atau yang diimpikannya. Semuanya dituliskannya. Sebab Pram punya prinsip bahwa, Semuanya harus dituliskan. Apa pun jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna. Ia menulis apa saja yang menurutnya perlu dituliskan. Tentang nasionalisme. Tentang dunia tentara. Tentang masa depan sastra yang diimpikannya. Tentang bahasa Indonesia. Tentang anak muda dan dunianya. Tentang romansa cinta lelaki introvert pemalu yang kandas. Tentang Tuhan. Tentang Jakarta yang kumuh. Tentang dunia cabul dan seks yang dihindari sedemikian rupa oleh Pram. Walau dengan itu, kawankawannya seperti Idrus, M Balfas, menyebut ia sudah gila, bahwa ia tidak lagi menulis, melainkan berak. Seorang broodschrijver, penulis yang menulis untuk sesuap nasi. Pram sendiri adalah pribadi yang introvert, tak gaul, dan rendah diri. Bukulah yang membuatnya menyala. Serupa api yang menjilat-jilat dan ia datang memang untuk membakar dan melecut semangat perlawanan kalangan muda dan juga dirinya sendiri. PRAM, ASING DI NEGERI SENDIRI Tak dihargai di negeri sendiri, tapi dipuja di negeri orang; begitulah sosok Pram dengan karya-karyanya yang lebih dari 50 buah. Indonesia seharusnya malu kepada dirinya sendiri. Kementerian Kebudayaan dan Komunikasi Perancisnegeri yang memuliakan humanismemenganugerahkan Chevalier de lOrdre des Arts et des Letters (1999) kepada Pramoedya. Sementara, di sini, di tanah airnya sendiri, karya-karya Pram dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung. Ada paling tidak 13 penghargaan bergengsi berkelas internasional yang disematkan pada Pram; Freedom to Write Award dari PEN American Center, AS, 1988, The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989, Wertheim Award, for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people, dari The Wertheim Fondation, Leiden, Belanda, 1995, Ramon Magsaysay Award, for Journalism, Literature, and Creative Arts, in recognation of his illuminating with briliant stories the historical awakening, and modern experience of Indonesian people, dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995, UNESCO Madanjeet Singh Prize, in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence dari UNESCO, Perancis, 1996, Doctor of Humane Letters, in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom dari Universitas Michigan, Madison, AS, 1999, Chancellors distinguished Honor Award, for his outstanding literary archievements and for his contributions to ethnic tolerance and global understanding, dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999, Chevalier de lOrdre des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique, Paris, Buletin Rahsas, edisi III/1, Juni 2011 3

Perancis, 1999, New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000, Fukuoka Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000, The Norwegian Authors Union, 2004, Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004. Bahkan Pram dikabarkan masuk dalam daftar calon peraih Nobel Sastra. harum mewanginya nama pengarang ditentukan oleh hasil penanya. (Pram dalam Menggelinding I) Hasil penanya lah yang menjadikannya sebagai orang paling berpengaruh di Asia (Asian Heroes, selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time pada 2002. Harum wangi karyanya mentahbiskan sang penulis sebagai bagian dari 100 intelektual terkemuka dunia 2005 versi Prospect, sebuah majalah dari Inggris. Ini merupakan prestasi yang sulit dicapai oleh sastrawan nusantara, dan bahkan dunia. Karya-karyanya demikian luas dibaca di luar negeri, dan bahkan dimasukkan sebagai bagian dari silabus pendidikan sastra untuk sekolah-sekolah menengah di beberapa negara seperti Malaysia dan Australia. Namun, di negeri sendiri Pram terasing, sunyi. Tercatat, hanya satu penghargaan yang pernah di terima Pram dari pemerintah Indonesia lewat karyanya Perburuan pada tahun 50-an. Bahkan buku-bukunya pun sempat dilarang beredar. KRITIK SOSIAL DAN POLITIK ANAK SEMUA BANGSA Bumi Manusia merupakan novel semi-fiksi yang termasuk realisme-sosialis. Novel ini dikatakan sebagai novel semi-fiksi karena tokoh utamanya, Minke, merupakan tokoh cerminan pengalaman RM Tirto Adisuryo, seorang tokoh pergerakan pada zaman kolonial yang mendirikan Sarekat Priyayi (organisasi nasional pertama). Lingkungan yang digambarkan pada novel ini adalah Hindia Belanda pada awal abad ke-20 (Allen, 2004: 24). Pemilihan latar waktu tersebut sangat membantu pembaca untuk lebih memahami dan mendapatkan isi yang terkandung dalam ceritanya. Selain itu, ada juga cerita dalam buku ini yang diambil dari rekaman peristiwa yang terjadi pada lingkup waktu tersebut, yakni saat Nyai Ontosoroh mengikuti pengadilan melawan suaminya (kulit putih). Semua cerita rekaan memang mempunyai kemiripan dalam hidup ini karena bahannya diambil dari pengalaman hidup (Sudjiman, 1988: 12). Latar sosial yang mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa, dan lain-lain yang terdapat dalam novel ini juga sangat membantu pembaca mengikuti jalan cerita novel ini. Bagaimana pengarang berhasil menggambarkan semua itu dengan cukup mendetail telah menunjang tersampaikannya amanat-amanat pengarang kepada pembaca. Realitas sejarah dan kaitannya dengan realitas-realitas lain harus mampu ditunjukkan oleh karya sastra realisme-sosialis (Kurniawan, 2002: 123). Penggambaran latar sosial yang baik merupakan salah satu cara yang dapat membantu pengarang Buletin Rahsas, edisi III/1, Juni 2011 4

dalam menunjukkan realitas sejarah dan kaitan-kaitannya dengan realitas lain. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa latar sosial dalam novel ini berperan sangat penting dalam penyampaian pesan pengarang kepada pembaca. Kekaguman Pram terhadap ibunya menjadi inspirasi bagi tokohtokoh wanita kuat dalam novel-novelnya. Ibunya selalu tegar menjalani hidup, bahkan ketika ia sudah hampir habis digerogoti oleh penyakit. Inilah yang dapat kita lihat melalui karakter Nyai Ontosoroh. Pram menggambarkannya sebagai wanita pribumi yang luar biasa. Minke pun menganggapnya lebih hebat dari wanita-wanita Eropa totok. Tokoh Nyai Ontosoroh dalam novel ini juga memainkan peran yang tak kalah pentingnya dari Minke, tokoh utamanya sendiri. Melalui Nyai Ontosoroh, Pram juga ingin membuktikan bahwa semua manusia di dunia ini sama. Tidak peduli apakah dia itu orang Eropa atau bukan, pria atau wanita, nyonya atau nyai; semuanya mempunyai hak yang sama di dunia ini. Tidak ada alasan untuk memandang seseorang dengan sebelah mata. Tokoh Minke juga merealisasikan keinginan Pram untuk menyamaratakan kedudukan semua manusia tanpa pandang bulu. Minke yang berdarah biru malah berpendapat bahwa kebangsawanan hanyalah warisan masa lalu yang hanya bisa merendahkan orang lain. Kita juga dapat melihat bahwa budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) sudah ada sejak dahulu. Nepotisme terlihat jelas dalam Bumi Manusia. Minke yang anak seorang bupati sudah digariskan akan menjadi bupati juga oleh ayahnya. Pram juga menggambarkan kondisi pemerintahan kita pada saat itu. Ternyata KKN sudah mengakar kuat pada bangsa kita sejak zaman dahulu. Pram menggunakan latar Jawa dalam ceritanya karena, sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Jawa, tentunya Pram juga sudah paham betul segala sesuatu yang berhubungan dengan Jawa. Selain itu, segala kegiatan, baik politik maupun perekonomian, pada umumnya berpusat di Jawa. Minke adalah seorang pemuda Jawa yang berpikiran modern dan sangat tidak menyukai kefeodalan priyayi Jawa, apalagi ketika seseorang harus merendahkan diri jika sedang berhadapan dengan orang Pada akhir novel ini Nyai Ontosoroh dan Minke harus kehilangan orang yang mereka sayangi karena gagal melawan pengadilan kulit putih. Akan tetapi, mereka telah berusaha keras melawannya. Kita dapat mengambil hikmah bahwa tidak semua yang kita kehendaki dapat terwujud, sekalipun perjuangan kita sudah tak terkira lagi. Tidak semua kemenangan harus ditandai dengan tercapainya sebuah cita-cita. Sebuah perjuangan tidak hanya dilihat dari hasilnya, tapi juga dari prosesnya. Nyai Ontosoroh dan Minke telah menang dalam kekalahan. Mereka telah mengupayakan semua yang terbaik dari diri mereka walaupun pada akhirnya tujuan mereka tidak tercapai juga. Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormathormatnya. (Toer, 2005: 535) Kalimat terakhir ini juga merupakan sebuah kritik yang disampaikan oleh Pram. Dia mengkritik orang-orang yang hanya melihat perjuangan dari hasilnya saja, bahkan Buletin Rahsas, edisi III/1, Juni 2011 5

menghalalkan segala cara untuk meraih tujuannya. PERGI MENINGGALKAN YANG ABADI Ketika sosoknya pergi, dunia terhenyak kehilangan. Tertanggal 27 April 2006, menjadi hedline di berbagai surat kabar tekemuka dunia, ditulis oleh lebih dari 38 media internasional di Intrenet, dari Arab , Afrika, Eropa sampai Amerika, juga Australia. Ia yang dijuluki sebagai Indonesias grand old man of letters pada akhirnya kalah pula. Bukan oleh Orde Baru yang ia benci setengah mati, tetapi oleh sebuah faktisitas yang tak tertolak oleh siapa pun manusia: kematian. Pada akhirnya ia harus terbaring di peristirahatan pamungkasnya setelah 81 tahun lelah memahat dan mengukir konsepsi ideal tentang tanah airnya. Namun, nafasnya tetap abadi dalam karya-karyanya. Langkahlangkahnya akan tetap terjejak di Indonesia dan seluruh benua, hingga kapan pun, si Anak Semua Bangsa itu tak kan pernah terlupa.

Artikel ini pernah dimuat di Jurnal Ilmiah Populer WUNY Th X, No 2, Mei 2008

Karya-karya Pramodya Ananta Toer


Korupsi, Menggelonding I, Sepuluh Kepala Nica (1946), Kranji- Bekasi Jatuh (1947), Perburuan (1950) Perburuan (1950), Subuh (1951), Percikan revolusi (1951), Mereka yang Dilumpukan I&II (1951), Bukan Pasar Malam (1951), Di Tepi Kali Bekasi (1951), Dia yang Menyerah (1951), Cerita dari Blora (1952), Gulat di Jakarta (1953), Midah Si MAnis Bergigi Emas (1954), Korupsi (1954), Mari Mengarang (1954), Cerita Dari Jakarta (1957), Cerita Calon Arang (1957), Seklai Peristiwa di Banten Selatan (1958), Panggil Aku kartini Saja (1963), Kumpulan Karya Kartini (1965),Wanita Sebelum Kartini(1965), Gadis Pantai (1965), Sejarah Bahasa Indonesia. Satu percobaan (1964), Realisme Sosial dan Sastra Indonesia (1963), Lentera (1965), Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981), Tempo Doeloe (1982), Jejak Langkah (1985), Sang Pemula (1985), Hikayat Siti Mariah (1987), Rumah Kaca (1988), Memoar Oei tjoe Tat (1995), Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995), Arus Balik (1995), Nyanyi Sunyi seorang Bisu II (1997), Arok Dedes (1999), Mangir (2000), Larasati (2000), Jalan Raya Pos, Jalan Daendeles (2005)

Buletin Rahsas, edisi III/1, Juni 2011