Anda di halaman 1dari 34

FORMULARIUM OBAT NEUROTROPIK

PEMBIMBING : DR. MUTTAQIEN PRAMUDIGDO, SP. S OLEH : ELLYN RAMADHANY G1A209118

Pendahuluan
Jaringan saraf merupakan jaringan yang berfungi

mengatur sistem tubuh, salah satunya mengatur indra peraba yang terdapat pada kulit. Jaringan syaraf disekitar kulit berfungsi untuk merasakan perubahan suhu (panas dan dingin) dan merasakan rasa sakit yang berfungsi sebagai peringatan bila kulit kita terluka. Sedikit gangguan pada jaringan saraf disekitar kulit dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Jaringan saraf merupakan bagian tubuh yang

paling sulit beregenerasi. Contoh kasus yang sering dialami adalah rasa kesemutan di daerah ekstemitas pada pasien-pasien post serangan stroke. Selain kesemutan ada beberapa gangguan pada jaringan saraf seperti halnya kebas (mati rasa, kebal atau baal), dan kram otot. Ketiga gangguan ini sering disebut dengan 3K (KEBAS, KESEMUTAN, DAN KRAM).

Penyebab 3K diantaranya terganggunya bagian

saraf tepi (misalnya nuralgia pada penyakit Herpeszooster), gangguan pada pembuluh darah (misalnya pada penderita diabetes), konsumsi minuman beralkohol, merokok, penyakit lain yang berkaitan dengan fungsi saraf adalah bell's palsy, tortikolis, frxozen shoulder, dan carpal tunnel syndrome. Selain itu, kekurangan nutrisi, khususnya vitamin-vitamin neurotropik juga dapat menyebabkan 3K.

y Formularium obat neorotropik berfungsi untuk

membantu proses regenerasi saraf perifer. Obat neurotropik terdiri-dari vitamin B1, B6 dan B12. Untuk itu dalam TBR ini akan dibahas mengenai formatorium obat-obat neurotropik.

Tinjauan Pustaka
Nyeri neuropatik adalah sensasi nyeri yang disebabkan

oleh lesi atau disfungsi pada system saraf sentral atau perifer. Perasaan nyeri tersebut tidak selalu berlokasi pada daerah saraf yang rusak, tapi bisa saja ditempat lain. Biasanya respons pengobatan dengan menggunakan obat obat anti nyeri yang konvensional tidak begitu memuaskan. Nyeri neuropatik perifer yang paling sering ditemukan adalah nyeri yang disebabkan gangguan metabolisme yakni diabetes mellitus. Penyebab lain dari nyeri neuropatik perifer misalnya akibat trauma, defisiensi nutrisi, infeksi, dan beberapa penyebab lain.

Pada diabetes mellitus, kerusakan sel ( saraf )

merupakan dampak dari stres metabolik yang menyebabkan anoksia. Keadaan anoksia bermula dari pengaruh gangguan pembentukan ATP didalam sel yang terjadi akibat stress metabolik yang berkelanjutan, yang dipicu gangguan metabolisme glukosa. Jalur metabolisme alternatif berupa glikolisis anaerob, berdampak menurunnya kadar glikogen serta meningkatnya asam laktat. pada penderita diabetes. Pada mulanya timbul kelainan yang bersifat reversible pada saraf, ditandai proses edema dan terhambatnya sintesis protein dalam sel. Bila stress berlanjut, kelainan bersifat irreversible dimana terlihat kerusakan pada membranesel serta disintegrasi DNA

y Secara patofisiologi, terjadinya nyeri neuropati

perifer disebabkan terjadinya keadaan hipersensitivitas pada saraf perifer disamping kehilangan fungsi inhibisi pada saraf tersebut oleh gangguan metabolisme seperti diabetes. Keadaan ini berakibat meningkatnya produksi neurotransmitter yang berperan dalam sensasi nyeri

Jenis obat neurotropik


y Obat-obat neurotropik banyak beredar dipasaran

dengan berbagai merk dagang, seperti Neorobion, Neorsanbe, Neurohax dan masih banyak lagi. Bila dilihat komposisi dan kandungan obat-obat tersebut ternyata memiliki kesama yaitu terdapat Vitamin B1, B6 dan B12 didalam obat-obat neurotropik yang beredar dipasaran.

Vitamin B 1
Vitamin B1 atau tiamin, merupakan salah satu jenis

vitamin yang memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan membantu mengkonversi karbohidrat menjadi energi yang diperlukan tubuh. Di samping itu, vitamin B1 juga membantu proses metabolisme protein dan lemak. pada kulit, seperti kulit kering dan bersisik. Tubuh juga dapat mengalami beri-beri, gangguan saluran pencernaan, jantung, dan sistem saraf. Vitamin B1 dapat di peroleh dari gandum, nasi, daging, susu, telur, dan tanaman kacang-kacangan.

Kurangnya vitamin B1 akan menyebabkan gangguan

farmakodinamik
y Pada dosis kecil atau dosis terapi tiamin tidak memperlihatkan efek

farmakodinamik yang nyata. Pada pemberian IV secara cepat dapat terjadi efek langsung pada pembuluh darah perifer berupa vasodilatasi ringan, disertai penurunan tekanan darah perifer berupa vasodilatasi ringan, disertai penurunan tekanan darah yang bersifat sementara. Meskipun tiamin berperan dalam metabolisme karbohidrat, pemberian dosis besar tidak mempengaruhi kadar gula darah. Dosis toksik pada hewan coba adalah 125-350 mg/kgBB secara IV kira-kira 40 kali pemberian oral. Pada manusia reaksi toksik setelah pemberian parenteral biasanya karena reaksi alergi. koenzim dalam karboksilasi asam piruvat dan asam ketoglutarat. Peningkatan asam piruvat dalam darah merupakan salah satu tanda defisiensi tiamin.

y Tiamin pirofosfat adalah bentuk aktif tiamin yang berfungsi sebagai

farmakokinetik
y Setelah pemberian parenteral absorpsi berlangsung

cepat dan sempurna. Absopsi per oral berlangsung dalam usus halus dan deodenum, maksimal 8-15 mg/hari yang dicapai dengan pemberian oral sebanyak 40 mg. y Dalam satu hari sebanyak 1mg tiamin mengalami degradasi di jaringan tubuh. Jika asupan jauh melebihi jumlah tersebut, maka zat ini akan dikeluarkan melalui urin sebagai tiamin atau piridimin.

Sediaan dan indikasi


y Tiamin HCl (vitamin B1, aneurin HCl) tersedia dalam bentuk

tablet 5-500 mg, Larutan steril 100-200 mg untuk penggunaan parenteral, dan eliksir mengandung 2-25 mg tiamin tiap ml.

y Tiamin diindikasikan pada pencegahan dan pengobatan

defisiensi tiamin dengan dosis 2-5 mg/hari untuk pencegahan defisiensi dan 5-10 mg tiga kali sehari untuk pengobatan defisiensi. Dosis lebih besar secara parenteral diindikasikan untuk kasus berat, akan tetapi respon tidak meningkat dengan dosis lebih dari 30 mg/hari. Tindakan pencegahan dilakukan pada penderita gangguan absorpsi, misalnya pada diare kronik, atau pada keadaan dengan kecepatan metabolisme yang meningkat.

Efek samping
y Tiamin tidak menimbulkan efek toksik bila diberikan

per oral dan bila kelebihan tiamin cepat diekresi melalui urin. Meskipun jarang reaksi anafilaktoid dapat terjadi setelah pemberian IV dosis besar pada penderita yang sensitif, dan beberapa diantaranya bersifat fatal.

defisiensi
y Defisiensi berat menimbulkan penyakit beri-beri yang gejalanya

terutama tampak pada sistem saraf dan kardiovaskular. y Gangguan saraf dapat berupa neuritis perifer dengan gejala rasa berat dan lemah pada kedua tungkai, gangguan sensorik seperti hiperestesia, anestesia, rasa nyeri dan rasa terbakar. Kekuatan otot semakin berkurang dan pada keadaan berat dapat terjadi kelumpuhan tungkai. y Kelainan pada SSP dapat berupa depresi, kelelahan, lekas tersinggung, serta menimbulkan penurunan konsentrasi dan daya ingat. Gejala yang timbul pada kardiovaskular dapat berupa gejala insufisiensi jantung antara lain sesak nafas setelah kerja jasmani, palpitasi, takikardi, gangguan ritme serta pembesaran jantung dan perubahan elektrokardiogram. y Pada saluran cerna gejala dapat berupa konstipasi, nafsu makan berkurang, perasaan tertekan dan nyeri pada daerah epigastrium.

Vitamin B6
y Vitamin B6 atau piridoksin, merupakan vitamin

yang esensial bagi pertumbuhan tubuh. Selain itu, vitamin ini juga berperan dalam metabolisme nutrisi dan memproduksi antibodi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap antigen atau senyawa asing yang berbahaya bagi tubuh. Vitamin ini merupakan salah satu jenis vitamin yang mudah didapatkan karena vitamin ini banyak terdapat di dalam beras, jagung, kacang-kacangan, daging, dan ikan. Kekurangan vitamin dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kulit pecah-pecah, keram otot, dan insomnia.

farmakodinamik
y Pemberian piridoksin secara dan parenteral tidak

menunjukkan efek farmakodinamik yang nyata. Dosis sangat besar yaitu 3-4 g/kgBB dapat menyebabkan kejang dan kematian pada hewan coba, tetapi dosis kurang dari ini umumnya tidak menimbulkan efek yang jelas. Piridoksal fosfat dalam tubuh merupakan koenzim yang berperan penting dalam metabolisme berbagai asam amino, diantaranya dekarboksilasi, transaminasi dan rasemisasi triptofan, asam-asam amino yang bersulfur dan asam amino hidroksida

farmakokinetik
y Piridoksin, piridoksaldan piridoksamin mudah

diabsopsi melalui saluran cerna. Metabolit terpenting dari ketiga bentuk tersebut adalah 4-asam piridoksat. Ekskresi melalui urin terutama dalam bentuk 4-asam piridoksat dan piridoksal

Sediaan dan indikasi


y Piridoksin tersedia sebagai tablet piridoksin HCl 10-100 mg dan sebagai

larutan steril 100mg/ml piridoksin HCl untuk injeksi.

y Selain untuk mencegah dan mengobati defisiensi vitamin B6, vitamin ini

diberikan bersama vitamin B lainnya atau sebagai multivitamin untuk pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin B kompleks. y Pemberiannya pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral yang mengandung estrogen dibenarkan, karena kemungkinan terjadinya defisiensi piridoksin pada wanita tersebut. y piridoksin juga dilaporkan dapat memperbaiki gejala keilosis, dermatitis seboroik, glositis dan stomatitis yang tidak memberikan respon terhadap tiamin, riboflavin dan niasin serta dapat mengurangi gejala-gejala yang menyertai tegangan prehaid (premenstrual tension). y Piridoksin diindikasikan untuk anemia yang responsif terhadap piridoksin yang biasanya sideroblastik dan mungkin disebabkan kelainan genetik. Sebaliknya pemakaian piridoksin hendaknya dihindarkan pada penderita yang mendapat levadopa.

Efek samping
y Piridoksin dapat menyebabkan neuropati sensorik

atau sindrom neuropati dalam dosis antara 50 mg-2 g per hari untuk jangka panjang. Gejala awal dapat berupa sikap yang tidak stabil dan rasa kebas di kaki, diikuti pada tangan dan sekitar mulut. gejala berangsur-angsur hilang setelah beberapa bulan bila asupan piridoksin dihentikan.

defisiensi
y Pada hewan coba defisiensi vitamin ini

menimbulkan akrodinia, dermatitis dan penebalan cakar, telinga, hidung dan lain-lain. Pada manusia dapat timbul (1) kelainan kulit berupa dermatitis seboroik dan peradangan pada selaput lendir mulut dan lidah, (2) kelainan SSP berupa perangsangan sampai timbulnya kejang dan (3) gangguan sistem eritropoetik berupa anemia hipokrom mikrositer.

Vitamin B 12
y Vitamin B12 (kobalamin) berperan sebagai koenzim bagi konversi

metilmalonil-koA menjadi suksinil koA. Hal ini merupakan reaksi yang penting dalam lingkup konversi propionat menjadi siklus asam sitrat. Dengan demikian kobalamin berperan dalam proses glukoneogenesis. Vitamin B12 atau sianokobalamin merupakan jenis vitamin yang hanya khusus diproduksi oleh hewan dan tidak ditemukan pada tanaman. Oleh karena itu, vegetarian sering kali mengalami gangguan kesehatan tubuh akibat kekurangan vitamin ini. Vitamin ini banyak berperan dalam metabolisme energi di dalam tubuh. y Vitamin B12 juga termasuk dalam salah satu jenis vitamin yang berperan dalam pemeliharaan kesehatan sel saraf, pembentukkan molekul DNA dan RNA, pembentukkan platelet darah. Telur, hati, dan daging merupakan sumber makanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12

farmakokinetik
y Vitamin ini disimpan dalam jumlah besar terutama di hati, pada orang

dewasa rata-rata simpanan vitamin B12 secara keseluruhan sebesar 30005000 g. Hanya sedikit sekali jumlah vitamin B12 yang biasanya hilang dalam urine dan feses. Karena kebutuhan normal vitamin B12 setiap harinya sekitar 2 g, maka akan membutuhkan waktu 5 tahun untuk menghabiskan semua simpanan vitamin B12 yang ada dan untuk timbulnya anemia megaloblastik kalu absorpsi vitamin b12 terhenti. y Vitamin B12 dalam jumlah fisiologis diabsopsi hanya setelah vitamin ini bergabung dengan faktor intrinsik, suatu glikoprotein yang disekresi oleh sel-sel parietal dari mukosa lambung. Faktor intrinsik ini bergabung dengan deodenum, dan kompleks vitamin B12. Faktor instrinsik selanjutnya di absopsi di ileum distal oleh sistem transport yang diperantarai oleh reseptor yang sangat spesifik. Kekurangan vitamin B12 pada manusia sangat sering disebabkan oleh mal absopsi vitamin B12, sebagai akibat dari hilangnya faktor intrinsik atau hilangnya atau malfungsi dari mekanisme absopsi spesifik dalam ileum distal

y Setelah di absorpsi, vitamin B12 diangkut ke

berbagai sel-sel tubuh terikat pada glokoprotein plasma, transcobalamin II. Kelebihan vitamin B12 ditranspor ke hati untuk disimpan. Jumlah vitamin B12 yang signifikan dieksresi dalam urine hanya jika jumlah vitamin B12 yang sangat besar diberikan secara parenteral, melebihi kapasitas pengikatan trasncobalamin tersebut (50-100 g).

Sediaan dan indikasi


y Vitamin B12 diindikasikan untuk penderita

defisiensi vitamin B12, misalnya anemia perniciosa. Pada penderita tanpa komplikasi perbaikan subyektif dan obyektif cepat diperoleh. Karena kausa tidak dihilangkan (kekurangan FIC tidak diperbaiki), penderita memerlukan terapi seumur hidup. y Dosis untuk defisiensi B12 : oral atau sublingual 2 dd 1 mg selama 1 bulan, pemeliharaan 1 mg sehari. Profilaksis dalam multivitamin 1-10 mcg sehari, i.m 0,5-1 mg/minggu, pemeliharaan 1 mg setiap 2 bulan.

y Vitamin B12 tersedia dalam bentuk tablet untuk

pemberian oral dan larutan untuk suntikan. Penggunaan oral pada anemia perniciosa kurang bermanfaat dan biasanya terapi oral lebih mahal dibanding terapi parenteral. Sediaan oral dapat bermanfaat sebagai suplemen diit, namun kecil manfaatnya untuk penderita yang kekurangan faktor intrinsik atau penderita dengan gangguan ileum, karena absorpsi secara difusi tidak dapat diandalkan sebagai terapi efektif. Maka cara pemberian yang terbaik adalah secara IM atau SK yang disuntikkan dalam.

y Dikenal tiga jenis suntikan vitamin B12 yaitu (1) larutan

sianokobalamin yang berkekuatan 10-1000 mcg/ml, (2) larutan ekstrak hati dalam air dan (3) suntikan depot vitamin B12. Suntikan larutan sianokobalamin jarang sekali menyebabkan reaksi alergi dan iritasi di tempat suntikan. Manfaat larutan ekstrak hati terhadap anemia perniciosa disebabkan oleh vitamin B12 yang terkandung di dalamnya. Penggunaan suntikan ekstrak hati ini dapat menimbulkan reaksi alergi lokal maupun umum, dan dari yang ringan sampai berat. Reaksi ini disebabkan oleh alergen yang bersifat spesies spesifik dan bukan organ spesifik.tidak ada hipersensitivitas silang antara larutan ekstrak hati dengan sianokobalamin. Tujuan penggunaan suntikan depot vitamin B12 adalah untuk mengurangi frekuensi suntikan

defisiensi
y Defisiensi kobalamin ditandai dengan gangguan hematopoesis,

gangguan neurologi, kerusakan sel epitel, terutama epitel saluran cerna, dan debilitas umum. Defisiensi ini dapat didiagnosis dengan mengukur kadar vitamin B12 dalam plasma dan dengan uji fungsi lambung. y Defisiensi vitamin B12 pada orang dewasa lebih sering disebabkan oleh gangguan absorpsinya, misalnya pada defisiensi vitamin B12 yang klasik yang disebut anemia perniciosa Addison. Pada penyakit tersebut terjadi kegagalan sekresi faktor intrinsik castle (FIC) oleh sel parietal lambung yang berfungsi dalam absorpsi vitamin B12 di ileum. y Selain itu sekresi FIC juga dapat berkurang pada kerusakan mukosa lambung oleh berbagai sebab. Gangguan fungsi ataupun struktur pada ileum, penyakit pankreas dan adanya infestasi parasit dalam usus dapat pula menyebabkan defisiensi vitamin B12.

Hubungan obat neurotropik dengan saraf perifer


y Vitamin B1

Tiamin berguna untuk pengobatan berbagai neuritis yang disebabkan oleh defisiensi tiamin, misalnya pada (1) neuritis alkoholik yang terjadi karena sumber kalori hanya alkohol saja, (2) wanita hamil yang kurang gizi atau (3) penderita emesis gravidarum. Pada trigeminal neuralgia, neuritis yang menyertai anemia, penyakit infeksi dan pemakaian obat tertentu, pemberian tiamin kadang dapat memberikan perbaikan. Tiamin juga digunakan untuk pengobatan jantung dan gangguan saluran cerna yang dasarnya defisiensi tiamin.

y Vitamin B6

Indikasi lain untuk mencegah atau mengobati neuropati perifer yang disebabkan oleh obat misalnya isoniazid, sikloserin, hidralazin, penisilamin yang bekerja sebagai antagonis piridoksin dan atau meningkatkan ekskresinya melalui urin. Piridoksin dapat diberikan secara profilaksis sejumlah 300%-500% AKG selama terapi dengan antagonis piridoksin

y Vitamin B12

Defisiensi vitamin B 12 menyebabkan sindroma neurologis yang biasanya diawali dengan parestesia dan kelemahan pada saraf-saraf periferal dan berlanjut menjadi spastisitas, ataksia dan disfungsi sistem saraf pusat yang lain. Ciri patologis yang khas dari sindroma neurologis adalah degenerasi sarung myelin (myelin steath) yang disertai dengan rusaknya akson-akson pada kornu dorsalis dan lateralis dari korda spinalis dan pada saraf-saraf periferal.perbaikan defisiensi B 12 akan menghentikan perkembangan penyakit neurologis, tetapi mungkin tidak sepenuhnya menghentikan gejala-gejala neurologis yang sudah ada selama beberapa bulan.

y Selain digunakan untuk mencegah kerusakan dan

memperbaiki saraf perifer yang rusak, obat neurotropik juga dapat digunakan untuk mengatasi kelelahan otot. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan Clarissa V, Kombinasi vitamin B1, B6, dan B12 dapat bermanfaat dalam membantu mengatasi gejala kelelahan dan kegelisahan (stres).

y Kombinasi vitamin B1, B6, dan B12 memiliki peran

dalam metabolisme karbohidrat dan protein serta berpengaruh pada suplai oksigen ke dalam otot, sehingga selain menghasilkan energi dan mengurangi penumpukan asam laktat pada otot, kombinasi vitamin B1, B6, dan B12 dapat mencegah otot agar tidak mengalami hipoksia. Hasilnya orang yang mengkonsumsi kombinasi vitamin B1, B6, dan B12 dalam jumlah cukup akan merasa fit atau tidak lesu lantaran kurang energi.

Wassalam

TERIMA KASIH