Anda di halaman 1dari 47

TUMBUH KEMBANG PSIKOMOTOR, EMOSI SOSIAL DAN REPRODUKSI

OLEH : Dr. HERLINA

PEMBIMBING : Dr. EVA CHUNDRAYETTI, SpA (K)

PPDS ILMU KESEHATAN ANAK FK UNAND / RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG 2012

TUMBUH KEMBANG PSIKOMOTOR Tumbuh kembang psikomotor merupakan salah satu proses yang harus dilalui dalam kehidupan anak. Psikomotor secara harfiah berarti sesuatu yang berkenaan dengan gerak fisik yang berkaitan dengan proses mental (kamus besar bahasa Indonesia). Kemampuan psikomotorik adalah kemampuan untuk mengkoordinasikan bagian tubuh dengan otak untuk mampu berfungsi secara harmonis. Kemampuan psikomotorik ini sangat berkembang pesat di usia dini. meningkat sesuai dengan umur. Adapun tahapan perkembangan motorik adalah sebagai berikut: 1. Tahap gerakan refleks (0- 1 tahun) Bentuk gerakan pada tahapan ini tidak direncanakan, merupakan dasar dari perkembangan motorik. Melalui gerak refleks bayi memperoleh informasi tentang lingkungannya, seperti reaksi terhadap sentuhan, cahaya, suara. Gerakan ini berkaitan dengan meningkatnya pengalaman anak untuk mengenal dunia pada bulan-bulan pertama mengenal kehidupan setelah kelahiran. Oleh karena itu kegiatan bermain sangat penting untuk menolong anak belajar tentang dirinya dan dunia luar. Perkembangan motorik pada tahap refleks terdiri pula dalam dua tingkatan yang saling bertindihan, yaitu tingkat encoding (mengumpulkan) informasi dan decoding (memproses) informasi. 2. Tahap gerakan permulaan (lahir-2 tahun) Gerak permulaan ini merupakan bentuk gerak sukarela yang pertama. Dimulai dari lahir sampai usia 2 tahun. Gerakan permulaan membutuhkan kematangan dan berkembang berurutan. Urutan ini terbentuk alami. Ratarata kemampuan ini didapat dari anak ke anak, meskipun secara biologis, Dalam keadaan normal psikomotor

dan lingkungan sangat berperan. Gerakan ini ada sebagai kemampuan untuk bertahan hidup dan merupakan gerakan yang mempersiapkan anak untuk memasuki tahap gerakan dasar. Beberapa gerakan keseimbangan seperti mengontrol kepala, leher, dan otot badan. Gerakan manipulative seperti menggapai, menggenggam, dan melepaskan; dan gerakan lokomotor seperti, merayap, merangkak, dan berjalan. 3. Tahap gerakan dasar (2-7 tahun) Gerakan ini muncul ketika anak aktif bereksplorasi dan bereksperimen dengan potensi gerak yang dimilikinya. Tahap ini merupakan tahap menemukan lokomotor merespon bagaimana menunjukkan maupun dan berbagai gerak keseimbangan, ketiga dari gerakan berbagai dan manipulative, motorik penggabungan gerakan

tersebut. anak mengembangkan gerakan dasar ini untuk belajar bagaimana kontrol kompetensi rangsangan. Gerakan dasar ini juga digunakan sebagai dasar pengamatan tingkah laku anak. Beberapa kegiatan lokomotor seperti melempar dan menangkap, dan kegiatan keseimbangan seperti berjalan lurus dan keseimbangan berdiri dengan satu kaki merupakan gerakan yang dapat dikembangkan semasa kanak-kanak. Tahap ini terbagi atas 3 tingkat, yaitu; 1. Tingkat permulaan (2-3 tahun) Tingkatan ini menunjukkan orientasi tujuan pertama anak pada kemampuan permulaan. Gerakan ini dicirikan dengan kesalahan dan kegagalan bagian gerakan secara berurutan, kelihatan membatasi atau berlebihan menggunakan anggota tubuh, tidak mampu mengikuti ritmik dan koordinasi. Gerakan keseimbangan, lokomotor, dan manipulative benar-benar pada tingkat permulaan. 2. Tingkat elementary (4-5 tahun)

Tingkatan ini menunjukkan kontrol yang lebih baik dan gerakan permulaan koordinasi ritmik yang lebih baik pula. Gerak spasial dan temporal lebih meningkat, namun secara umum masih kelihatan membatasi atau berlebihan, meskipun koordinasi lebih baik. Intelegensi dan fungsi fisik anak semakin meningkat melalui proses kematangan. 3. Tingkat mature (6-7 tahun) Tingkatan ini dicirikan oleh efisiensi secara mekanik, koordinasi dan penampilan yang terkontrol. Keahlian manipulative semakin berkembang dalam mengkoordinasi secara visual dan motorik, seperti menangkap, menendang, bermain voli, dsb). 4. Tahap gerakan keahlian (7-14 tahun) Tahapan ini merupakan tahap gerakan yang semakin bervariasi dan kompleks, seperti gerakan sehari-hari, rekreaasi dan olahraga baru. Periode ini merupakan tahap dimana keahlian keseimbangan dasar, gerak lokomotor dan manipulative meningkat, berkombinasi, dan terelaborasi dalam berbagai situasi. Misalnya gerakan dasar melompat dan meloncat, dikombinasikan kedalam kegiatan menari atau lompat-jongkok-berjalan dalam mengikuti jejak. Tahapan ini terbagi atas 3 tahap, yaitu; 1. Tahap transisi (7-10 tahun) Tahap ini indivdu mulai mengkombinasi dan mengunakan kemampuan dasarnya dalam kegiatan olahraga. Misalnya, berjalan mengikuti garis lurus, lompat tali, bermain bola, dll. Keahlian pada tahap ini lebih kompleks dan spesifik. 2. Tahap aplikasi (11-13 tahun)

Pada tahap ini anak memiliki keterbatasan dalam kemampuan kognitif, afektif dan pengalaman, dikombinasikan dengan keaktifan anak secara alami mempengaruhi semua aktivitasnya. Peningkatan kognitif dan pengalaman anak dipengaruhi oleh kemampuan individu untuk belajar dan peran anak dalam berbagai jenis aktifitas, individu dan lingkungan. Keahlian kompleks dibentuk dan digunakan dalam pertandingan, kegiatan memimpin dan memilih olahraga. 3. Tahap lifelong utilisasi (14 tahun sampai dewasa) Tahapan ini merupakan puncak proses perkembangan motorik dan dicirikan dengan gerakan yang sering dilakukan sehari-hari. Minat, kompetensi, dan pilihan mempengaruhi, selain faktor uang dan waktu, peralatan dan fasilitas, fisik dan mental, bakat, kesempatan, kondisi fisik dan motivasi pribadi. Pemantauan mengetahui perkembangan penyimpangan psikomotor secara dini anak adalah penting untuk upaya

sehingga

mendukung

pencegahan, upaya stimulasi dan upaya penyembuhan serta pemulihan dalam pelayanan kesehatan anak. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perkembangan psikomotor, antara lain : Faktor pola asuh orang tua Gen dari orang tua Pengaruh lingkungan.

INSTRUMEN TES PERKEMBANGAN Ahli penyakit anak sekarang mempunyai banyak instrumen perkembangan yang dapat dipilih. Instrumen yang paling baik adalah yang mempunyai data psikometrik yang baik, termasuk sensitifitas, spesifitas, validitas, dan realibilitas yang baik, dan telah distandarisasi pada populasi luas.

Instrumen yang dipakai oleh orang tua anak, seperti Parents Evaluation of Developmental Status, Ages and Stages Questionnaires, dan Child Development Inventories Mempunyai data psikometrik yang baik dan mempunyai keunggulan dimana untuk melakukannya membutuhkan waktu yang singkat bila dibandingkan dengan instrument yang membutuhkan pemeriksaan langsung oleh ahli penyakit anak. Instrument seperti Denver-II screening test, Bayley Infant

Neurodevelopmental Screener, Battelle Developmental Inventory, Early Language Milestone Scale, dan Brigance Screens melibatkan pemeriksaan langsung terhadap kemampuan anak. The CAT-CLAMS merupakan tes yang didesain khusus untuk dapat digunakan oleh ahli penyakit anak untuk menilai kemampuan kognitif dan bahasa dari anak. Setiap tes skrining mempunyai kekuatan dan kelemahannya masing masing. Contohnya the Denver-II screening test yang telah digunakan secara luas, namun mempunyai sensitifitas dan spesifitas yang rendah tergantung dari interpretasi hasilnya. Setiap tes juga harus dilakukan sesuai instruksi yang ada, jika tidak maka hasilnya akan tidak valid. Skrining untuk psikososial dan tingkah laku pada anak terdapat beberapa tantangan, anak dengan perkembangan yang terhambat mempunyai resiko yang tinggi untuk memiliki masalah tingkah laku. Kebanyakan instrument skrining perkembangan tidak dapat menilai pada area ini secara adekuat. Instrument tes seperti the Temperament and Atypical Behavior Scale, Child Behavioral Checklist, The Carey Temperament Scales, Eyberg Child Behavior Inventory, Pediatric Symptom Checklist, and Family Psychosocial Screening, dapat membantu dalam mendeteksi masalah tingkah laku. Akhir akhir ini terdapat peningkatan ketertarikan dalam skrining anak untuk autistic spectrum disorders karena terdapatnya peningkatan pada prevalensi dan kemampuan untuk diagnosis dan intervensi dini. Instrument skrining spesifik seperti the Checklist for Autism in Toddlers (CHAT), dapat membantu ahli

penyakit anak untuk diagnostik, tetapi dapat terjadi kesalahan karena mempunyai sensitifitas yang rendah dan spesifitas yang tinggi. Tes yang paling sering digunakan adalah Denver Developmental Screening Test-II (Denver II). Bagaimanapun juga, dibalik kepopularannya, DDST II tidak berfungsi baik sebagai tes skrining, karena mempunyai sensitifitas yang terbatas dan validitas yang rendah. Tetapi tes ini tetap bernilai karena kemudahannya untuk digunakan. Skrining yang mempunyai sensitifitas dan spesifitas yang baik dengan menggunakan 10 set dari pertanyaan yang terstruktur yang dapat diperhatikan oleh orang tua di berbagai area perkembangan, Evaluation of pendekatan Developmental ini telah diformalkan (PEDS) sebagai Parents Cara ini Status questionnaire.

merupakan cara yang akurat karena secara umum orang tua merupakan pengamat yang akurat dari tingkah laku dan perkembangan anak. Lebih jauh lagi efisiensi dari skrining dapat ditingkatkan dengan

menggunakan skrining level kedua untuk anak yang dicurigai bermasalah dengan menggunakan The Ages and Stages Questionnaires (ASQ). Tes ini terdiri dari seri 11 pertanyaan yang didesain untuk dapat dilakukan di rumah dari usia 4 sampai 48 bulan, dan mempunyai validitas dan realibilitas yang baik sebesar 76-91%, meskipun 13% ASQ anak mungkin dengan gagal untuk mengidentifikasikan hampir keterlambatan

perkembangan. Penilaian dan interpretasi dapat dilakukan dengan cepat, dimana sangat cocok untuk seseorang yang sibuk. Skrining untuk keterlambatan bahasa sangat penting, dikarenakan terdapat hubungan yang kuat antara bahasa dan perkembangan kognitif dan kemampuan pendidikan. Early Language Milestone (ELM) membutuhkan waktu pengerjaan 2-3 menit, sensitifitas untuk bahasa dan kognitif sangat tinggi bila dibandingkan dengan tes diagnostik standar baku. Masalah psikiatri dan tingkah laku sangat sering terjadi dan sering bersamaan dengan keterlambatan perkembangan. Skrining untuk masalah tingkah laku

dapat dengan menggunakan Pediatric Symptom Checklist, yang sederhana dan validitas yang baik. Deteksi perkembangan anak untuk tes psikomotorik dengan menggunakan Denver Developmental Screening test II (DDST II), yaitu salah satu tes metode skrening yang sering digunakan untuk menilai perkembangan anak mulai usia 1 bulan sampai 6 tahun. Perkembangan yang dinilai meliputi perkembangan personal sosial, motorik halus, motorik kasar, dan bahasa pada anak. DDST II merupakan salah satu tes psikomotorik yang sering digunakan di klinik atau rumah sakit bagi tumbuh kembang anak. Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). Adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit.
a. Aspek Perkembangan yang dinilai

Terdiri dari 125 tugas perkembangan.Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai: 1)Personal Social (perilaku sosial) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. 2)Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. 3)Language (bahasa) Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan 4)Gross motor (gerakan motorik kasar)

Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh. b. Alat yang digunakan Alat peraga: benang wol merah, kismis/ manik-manik, Peralatan makan, peralatan gosok gigi, kartu/ permainan ular tangga, pakaian, buku gambar/ kertas, pensil, kubus warna merah-kuning-hijau-biru, kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa). Lembar formulir DDST II Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya. c. Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu: 1) Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia: 3-6 bulan 9-12 bulan 3-24 bln 3 tahun 4 tahun 5 tahun 2) Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap. d. Penilaian

Jika Lulus (Passed = P), gagal (Fail = F), ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO). CARA PEMERIKSAAN DDST II Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak yang akan diperiksa. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun. Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah, jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas. Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa yang F. Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal, Abnormal, Meragukan dan tidak dapat dites. 1) Abnormal a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih

keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia . 2) Meragukan a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih

b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. 3) Tidak dapat dites Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan. 4) Normal Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas. Pada anak-anak yang lahir prematur, usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun. Contoh perhitungan anak dengan prematur: An. Lula lahir prematur pada kehamilan 32 minggu, lahir pada tanggal 5 Agustus 2006. Diperiksa perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008. Hitung usia kronologis An. Lula! Diketahui: Tanggal lahir An. Lula : 5-8-2006 Tanggal periksa : 1-4-2008 Prematur : 32 minggu Ditanyakan: Berapa usia kronologis An. Lula? Jawab:

2008 4 1 An. Lula prematur 32 minggu 2006 8 5 Aterm = 37 minggu _________ Maka 37 32 = 5 minggu 1 7 -26 Jadi usia An. Lula jika aterm (tidak prematur) adalah 1 tahun 7 bulan 26 hari atau 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan Usia tersebut dikurangi usia keprematurannya yaitu 5 minggu X 7 hari = 35 hari, sehingga usia kronologis An. Lula untuk pemeriksaan DDST II adalah: 1 tahun 7 bulan 26 hari 35 hari = 1 tahun 6 bulan 21 hari Atau 1 tahun 7 bulan atau 19 bulan Interpretasi dari nilai Denver II Advanced Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut) OK Melewati, gagal, atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75

Caution Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90 Delay Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis; penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan, karena alasan untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu Interpretasi tes Normal Tidak ada kelambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan Suspect Satu atau lebih kelambatan dan/ atau dua atau lebih banyak kewaspadaan Untestable Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75% sampai 90% Rekomendasi untuk rujukan tes Suspect dan Untestable: Skrining ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan faktor temporer.

Perkembangan Motorik Kasar dan Motorik Halus 1. Perkembangan Motorik Kasar

Tugas perkembangan jasmani berupa koordinasi gerakan tubuh, seperti berlari, berjinjit, melompat, bergantung, melempar dan menangkap,serta menjaga keseimbangan. Kegiatan ini diperlukan dalam meningkatkan keterampilan koordinasi gerakan motorik kasar. Pada anak usia 4 tahun, anak sangat menyenangi kegiatan fisik yang menantang baginya, seperti melompat dari tempat tinggi atau bergantung dengan kepala menggelantung ke bawah. Pada usia 5 atau 6 tahun keinginan untuk melakukan kegiatan tersebut bertambah. Anak pada masa ini menyenangi kegiatan lomba, seperti balapan sepeda, balapan lari atau kegiatan lainnya yang mengandung bahaya. 2. Perkembangan Gerakan Motorik Halus

Perkembangan motorik halus anak taman kanak-kanak ditekankan pada koordinasi gerakan motorik halus dalam hal ini berkaitan dengan kegiatan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan. Pada usia 4 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak sangat berkembang, bahkan hampir sempurna. Walaupun demikian anak usia ini masih mengalami kesulitan dalam menyusun balok-balok menjadi suatu bangunan. Hal ini disebabkan oleh keinginan anak untuk meletakkan balok secara sempurna sehingga kadang-kadang meruntuhkan bangunan itu sendiri. Pada usia 5 atau 6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang pesat. Pada masa ini anak telah mampu mengkoordinasikan gerakan visual motorik, seperti mengkoordinasikan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan,antara lain dapat dilihat pada waktu anak menulis atau menggambar (Anonim, 2011).

Melalui ketrampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang memiliki ketrampilan memainkan boneka, melempar bola dan memainkan alat alat mainan. a) Dengan keterampilan motorik anak dapat beranjak dari kondisi tidak berdaya pada bulan bulan pertama dalam kehidupannya menjadi kondisi yang independent. Anak dapat bergerak dari satu tempat ketempat yang lain, dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya sendiri. menunjang perkembangan rasa percaya diri. b) Melalui peningkatan potensi perkembangan psikomotorik anak dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekolah. Pada masa pra sekolah atau pada masa awal sekolah dasar, anak sudah dapat berlatih menulis, menggambar, melukis dan baris berbaris. c) Melalui peningkatan potensi perkembangan psikomotorik yang normal memungkinkan anak dapat bermain dan bergaul dengan teman sebayanya, sedangkan yang tidak normal akan menghambat untuk anak akan bergaul dengan teman sebayanya, bahkan dia akan terkucilkan atau menjadi anak yang finger (terpinggirkan) d) Peningkatan potensi perkembangan psikomotorik sangat penting bagi perkembangan self concept (kepribadian anak) (Dwi, 2010). PERKEMBANGAN EMOSI SOSIAL PERKEMBANGAN EMOSI A.Pengertian Emosi Emosi adalah Suatu keadaan yang kompleks dapat berupa perasaan / pikiran yang di tandai oleh perubahan biologis yang muncul dari perilaku seseorang. Menurut para ahli Pengertian Emosi : Kondisi ini akan

1.Menurut Goleman Bahasa emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran. Pikirin khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis serta rangkaian kecenderungan untuk bertindak. 2.Menurut Syamsuddin Mengemukakan emosi merupakan suatu suasana yang k o m p l e k d a n getaran jiwa yang menyertai atau muncul sebelum atau sesudah terjadinya suatu perilaku. Fungsi Emosi Fungsi dan peranan pada perkembangan anak yang dimaksud adalah : 1.Merupakan bentuk komunikasi. 2.Emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan

p e n y e s u a i a n d i r i anak dengan lingkungan sosialnya. 3.Emosi dapat mempengaruhi iklim psikologis lingkungan. 4.Tingkah laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi satu kebiasaan. 5.Ketegangan emosi yang di miliki anak dapat menghambat aktivitas motorik dan mental anak. B. PERKEMBANGAN SOSIAL Menurut para ahli pengertian perkembangan sosial : 1.Menurut Plato Adalah : Secara pontensi ( fitrah manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial). 2.Menurut Syamsuddin Mengungkapkan Sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluk sosial 3.Menurut Loree Sosialisasi merupakan suatu proses dimana individu anak melatih kepekaan dirinya terhadapan rangsangan rangsangan sosial terutama

t e k a n a n tekanan dan tuntutan kehidupan serta belajar bergaul dengan bertingkah laku seperti orang lain didalam lingkungan sosial. 4.Menurut Muhibin Mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses pembentukan pribadi dalam masyarakat. 5.Menurut Hurlock Bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Sosialisasi adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma nilai atau harapan sosial. Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud adalah salah satu teori yang paling terkenal, akan tetapi juga salah satu teori yang paling kontroversial. Freud percaya kepribadian yang berkembang melalui serangkaian tahapan masa kanak-kanak di mana mencari kesenangan-energi dari id menjadi fokus pada area sensitif seksual tertentu. Energi psikoseksual, atau libido, digambarkan sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku. Menurut Sigmund Freud, kepribadian sebagian besar dibentuk oleh usia lima tahun. Awal perkembangan berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan terus mempengaruhi perilaku di kemudian hari. Jika tahap-tahap psikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah kepribadian yang sehat. Jika masalah tertentu tidak diselesaikan pada tahap yang tepat, fiksasi dapat terjadi. fiksasi adalah fokus yang gigih pada tahap awal psikoseksual. Sampai konflik ini diselesaikan, individu akan tetap terjebak dalam tahap ini. Misalnya, seseorang yang terpaku pada tahap oral mungkin terlalu bergantung pada orang lain dan dapat mencari rangsangan oral melalui merokok, minum, makan atau menggigit kuku. Teori perkembangan freud didasarkan kepada pengalamannya dalam menganalisis masalah yang dihadapi para pasiennya. Dalam mengeksplorasi proses kehidupan mental para pasien, ternyata sering mengarah kepada pengalaman masa kecilnya.

1.Fase oral

Pada tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan refleks mengisap adalah sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan, dan bayi berasal kesenangan dari rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan seperti mencicipi dan mengisap. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang bertanggung jawab untuk memberi makan anak), bayi juga mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi oral. Tahap oral adalah periode bayi yang masih menetek yang seluruh hidupnya masih bergantung kepada orang lain. Pada massa ini libido didistribusikan ke daerah oral sehingga perbuatan mengisap dan menelan menjadi metode utama untuk mereduksi ketegangan dan mencapai kepuasan (kenikmatan). Karena mulut menjadi sumber kenikmatan erotis, maka anak akan menikmati peristiwa menetek pada ibunya dan juga memasukkan segala jenis benda ke dalam mulutnya, termasuk jompelnya sendiri. Ketidakpuasan pada masa oral (seperti disapih dan kelahiran adiknya) dapat menimbulkan gejala regersi (kemunduran) yaitu berbuat seperti bayi atau anak yang sangat bergantung kepada orang tuanya atau banyak tuntutan yang harus dipenuhi dan juga gejala perasaan iri hati (cemburu). Reaksi dari kedua gejala tersebut dapat dinyatakan dalam beberapa tingkah laku, seperti: mengisap jempol, mengompol, membandel, dan membisu seribu bahasa. Di samping itu ketidakpuasan ini akan berdampak kurang baik bagi perkembangan kepribadian anak, seperti: merasa kurang aman, selalu bergantung kepada orang lain, selalu meminta perhatian orang lain atau egosentris. Sama halnya dengan anak yang tidak mendapat kepuasaan, anak yang mendapat kepuasan secara berlebihan pun ternyata berdampak kurang baik terhadap perkembangan kepribadiannya. Dia akan menampilkan pribadi yang kurang mandiri (kurang bertanggung jawab), bersikap rakus, dan haus perhatian atau cinta orang lain. Menurut Freud, fiksasi pada tahap

ini

dapat

membentuk

sikap obsesif yaitu

makan

dan

merokok

pada

kehidupan berikutnya (masa remaja dan dewasa). Pada tahap ini juga dorongan agresi sudah mulai berkembang. Tahapan perkembangan psikoseksual akan memberikan dampak yang beragam bagi perkembangan karakter atau kepribadian individu pada masa dewasanya. Apabila individu dapat melalui semua tahapan tersebut secara mulus, maka dia cenderung akan memiliki kepribadian yang sehat. Namun apabila sebaliknya, cenderung akan mengalami gejala tingkah laku mala suai (maladjustment) atau neurotik (gangguan jiwa). Menurut Freud indikator dari karakter atau pribadi yang sehat adalah kemampuan dalam bercinta (hubungan sosial) dan bekerja. Keterkaitan antara karakter orang dewasa dengan perkembangan psikoseksual dapat digambarkan sebagai berikut. Keterkaitan Karakter dengan Perkembangan Psikoseksual Tahapa n Perpanjangan Masa Dewasa Merokok, minum, mulut, mengunyah. ke Sublimasi makan, ciuman, dansenang Formasi Reaksi Sangat hati-hati dalam berbicara, ilmu,mode, humor,susu, tidak dan pengikut senang senang

memelihara kesehatanMencari Oral

dan sarkaisme. memberikan larangan.

2. Fase Anal (2-3 tahun) Pada tahap anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan kontrol ini menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian.

Menurut Sigmund Freud, keberhasilan pada tahap ini tergantung pada cara di mana orang tua pendekatan pelatihan toilet (toilet training). Orang tua yang memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk menggunakan toilet pada saat yang tepat mendorong hasil positif dan membantu anak-anak merasa mampu dan produktif. Freud percaya bahwa pengalaman positif selama tahap ini menjabat sebagai dasar orang untuk menjadi orang dewasa yang kompeten, produktif dan kreatif. Namun, tidak semua orang tua memberikan dukungan dan dorongan bahwa anak-anak perlukan selama tahap ini. Menurut Freud, respon orangtua yang tidak sesuai dapat mengakibatkan hasil negatif. Jika orangtua mengambil pendekatan yang terlalu longgar, dapat berkembang kepribadian di mana individu bersifat boros atau merusak kepribadian menjadi berantakan. Jika orang tua terlalu ketat atau mulai toilet training terlalu dini, Freud percaya bahwa kepribadian kuat-anal berkembang di mana individu tersebut ketat, tertib, kaku dan obsesif. Contoh: a.Jika ibu sangat keras dan represif dalam toilet training, si anak bisa sangat kuat menahan feses dan bisa sembelit. Kalau hal itu digeneralisasikan ke cara bertingkah laku yang lain, mungkin ia bisa menjadi sangat kikir atau keras kepala. Atau sebaliknya karena himpitan cara yang represif itu, anak bisa melampiaskan kemarahannya dengan mengeluarkan faeses pada saat yang tidak tepat. Dan ini merupakan bentuk dari segala macam sifat ekspulsif seperti kekejaman, anarkis, merusak membabi buta, ledakanledakan amarah dan sifat jorok. b.Jika ibu dengan sabar membujuk anak untuk buang air besar dan memberikan pujian jika anak melakukan dengan benar, maka anak akan belajar bahwa aktivitas membuang feses adalah sangat penting. Ini bisa menjadi dasar bagi munculnya kreativitas dan produktivitas. 3. Fase Phalic (3-5 tahun)

Merupakan

tahap

perkembangan

yang

paling

krusial.

Anak

mengembangkan suatu perasaan ketertarikan secara seksual terhadap orang tua yang berlainan jenis dan permusuhan terhadap orang tua sejenis. Anak laki-laki ingin memiliki ibunya dan menyingkirkan ayahnya, anak perempuan ingin memiliki ayahnya dan mengenyahkan ibunya. Pada anak laki-laki keadaan tersebut mengacu pada istilah oedipus complex dan pada perempuan adalah electra complex.

Oedipus complex. Adanya hasrat seks terhadap ibu dan kebencian terhadap ayah menyebabkan konflik anak dengan orang tua. Ayah dianggap sebagai saingan dalam mendapatkan cinta dari ibunya. Anak akan semakin takut dan jika ayahnya adalah seorang yang keras dan otoriter. Anak takut bahwa ayahnya akan menghilangkan organ genitalnya sebagai sumber dari kenikmatan. Pemikiran itu muncul karena anak mengira bahwa ayahnya cemburu pada dirinya yang jatuh cinta pada sang ibu. Ketakutan tersebut disebut castration anxiety, yang menyebabkan si anak merepresikan hasrat seksnya pada ibu dan rasa permusuhan pada ayah. Kecemasan itu juga membuat anak lakilaki mengidentifikasikan diri dengan ayahnya. Dengan begitu, si anak secara tidak langsung memperoleh pemuasan bagi impuls seksnya pada ibu. Pada saat yang sama, perasaan erotisnya yang membahayakan ibunya dirubah menjadi sikap kasih sayang yang lembut dan tidak membahayakan. Pada perkembangan Oedipus complex inilah merupakan benteng pertahanan bagi munculnya incest dan agresi.

Electra complex. Pada awalnya anak perempuan juga cinta pada ibunya, tapi kemudian dia mengganti objek cintanya dengan yang baru yakni ayah. Berbeda seperti kompleks pada laki-laki yang direpresikan dan diubah, pada perempuan, kompleks ini bersifat menetap dan tidak direpresikan kuat-kuat. Dipercaya bahwa perbedaan hakikat kompleks ini menjadi dasar perbedaan psikologis laki-laki dan perempuan.

4. Fase Latent Periode laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri. Freud menggambarkan fase latens sebagai salah satu yang relatif

stabil. Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak selalu disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai suatu periode terpisah. 5. Fase Genital ( 12 tahun) Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual, individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu, kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika tahap lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara berbagai bidang kehidupan. Fase ini merupakan tanda pubertas dan kematangan seksual remaja. Terdapat dominasi terhadap ketertarikan seksual pada lawan jenis. Remaja mulai tertarik kepada orang lain bukan karena cinta diri (narsisistik) seperti tahap pra genital, tapi karena daya tarik seksual, sosialisasi, kegiatan kelompok, perencanaan karir dan muncul persiapan untuk menikah serta membangun rumah tangga. Teori perkembangan Psikososial (Erik H Erickson ) a. Trust vs mistrust bayi (lahir 12 bulan)

Indikator positif : belajar percaya pada orang lain

Indikator negatif : tidak percaya, menarik diri dari lingkungan masyarakat, pengasingan. Pemenuhan kepuasan untuk makan dan mengisap, rasa hangat dan nyaman, cinta dan rasa aman - menghasilkan kepercayaan. Pada saat kebutuhan dasar tidak terpenuhi secara adekuat bayi menjadi curiga, penuh rasa takut, dan tidak percaya. Hal ini ditandai dengan perilaku makan, tidur dan eliminasi yang buruk.

b. Otonomi vs ragu-ragu dan malu (autonomy vs shame & doubt) todler (1-3 tahun)

Indikator positif : kontrol diri tanpa kehilangan harga diri Indikator negatif : terpaksa membatasi diri atau terpaksa mengalah Anak mulai mengembangkan kemandirian membuka dan memakai baju, berjalan, mengambil, makan sendiri, dan ke toilet. Mulai terbentuk kontrol diri.

Jika kemandirian todler tidak didukung oleh orang tua, mungkin anak memiliki kepribadian yang ragu-ragu Jika anak dibuat merasa buruk pada saat melakukan kegagalan, anak akan menjadi pemalu.

c. Inisiatif vs merasa bersalah (initiative vs guilt) pra sekolah ( 3-6 tahun)

Indikator

positif

mempelajari

tingkat

ketegasan

dan

tujuan

mempengaruhi lingkungan. Mulai mengevaluasi kebiasaan (perilaku) diri sendiri.

Indikator

negatif

kurang

percaya

diri,

pesimis,

takut

salah.

Pembatasan dan kontrol yang berlebihan terhadap aktivitas pribadi.

Inisiatif, mencoba hal-hal baru, perilaku kuat, imajinatif dan intrusif, perkembangan perasaan bersalah dan identifikasi dengan orang tua yang berjenis kelamin sama.

Pembatasan mencegah anak dari perkembangan inisiatif.

Rasa bersalah mungkin muncul pada saat melakukan aktivitas yang berlawanan dengan orang tua. Anak perlu belajar untuk memulai aktivitas tanpa merusak hak-hak orang lain.

d. Industri vs inferior (industry vs inferiority) usia sekolah (6-12 tahun)

Indikator positif : mulai kreatif, berkembang, manipulasi. Membangun rasa bersaing dan ketekunan. Indikator negatif : hilang harapan, merasa cukup, menarik diri dari sekolah dan teman sebaya. Anak mendapatkan pengenalan melalui demonstrasi ketrampilan dan produksi benda-benda serta mengembangkan harga diri melalui pencapaian.

Anak dipengaruhi oleh guru dan sekolah. Perasaan inferior terjadi pada saat orang dewasa memandang usaha anak untuk belajar bagaimana sesuatu bekerja melalui menipulasi adalah sesuatu yang bodoh atau merupakan masalah.

Perasaaan inferior ketidaksuksesan di sekolah, ketidaksuksesan dalam perkembangan ketrampilan fisik dan mencari teman.

e. Identitas vs bingung peran (identity vs role confusion) remaja (12 18 tahun)

Indikator positif : menghubungkan sesuatu dengan perasaan diri, merencanakan aktualisasi diri Indikator negatif : kebingungan, ragu-ragu, dan tidak mampu

menemukan identitas diri


Individu mengembangkan penyatuan rasa diri sendiri. Teman sebaya mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perilaku.

Kegagalan untuk mengembangkan rasa identitas keragu-raguan.

kebingungan

peran, yang sering muncul dari perasaan tidak adekuat, isolasi dan

C.KETERKAITAN

PERKEMBANGAN

SOSIAL

EMOSIONAL

DENGAN

PERKEMBANGAN LAINNYA -Keterkaitan Perkembangan Sosial Emosional Dengan Fisik, Mental Dan Psikologi Anak -kemampuan sosial emosional anak ternyata sangat erat kaitannya dengan perkembangan fisik dan mental -salah tentang satu gambaran proses dan hasil penelitian perubahan p e n g a r u h perubahan emosi terhadap

f i s i k ( j a s m a n i ) i n d i v i d u d a p a t d i peroleh berdasarkan penelitian yang dilakukan Conan (Syamsu Yusuf) -menurut penelitian Conan menunjukkan bahwa perkembangan emosi dan perubahan yang nyata akan berpengaruh atau menyebabkan perubahan pada berbagai dimensi fisik. Pengaruh emosi pada fisik mental seseorang akan membawa pada melemahnya kemampuan mengingat Akibat umum terjadi karena kurangnya stimulasi kasih sayang pada anak anak ialah keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan fisik Emosi anak yang terlantar akan mempengaruhi perkembangan motorik anak diantaranya perkembangan kemampuan untuk duduk, berdiri dan berjalan menjadi terhambat. Keadaan ini cenderung menimbulkan masalah apabila disertai kondisi lain yang tidak menyenangkan, anak menjadi sosial, tertentu tidak bahagia,b a h k a n psikonerasis sampai seperti pada perilaku atau anti bentuk sikap kepribadian dari p s i k o p a t i s , psikonerosis

sehizophrenia,

memberontak pada fase perkembangan (remaja), perkawinan d a n pekerjaan serta sikap buruk terhadap hukum pada masa dewasa. Bentuk hubungan sosial emosional dengan aktivitas kehidupan Pertama : ternyata emosi yang melekat pada seorang anak akan mewarnai pandangannya terhadap kehidupan dan dimensinya Kedua : emosi akan sangat mempengaruhi interaksi sosial seorang anak Ketiga : reaksi emosional apabila diulang ulang akan berkembang menjadi suatu kebiasaan. D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN EMOSI SOSIAL a. pengaruh keadaan individu sendiri Keadaan diri individu, seperti usia, keadaan fisik, intelegensi, peran seks( H u r l o c k ) dapat mempengaruhi perkembangan emosi i n d i v i d u , p e r l u adanya tindakan preventif untuk menghindari dampak serius dari pengaruh emosi yang timbul dari dalam diri anak. b. konflik-konflik dalam proses perkembangan Di dalam menjalani fase-fase perkembangan tiap anak harus melalui beberapa macam konflik Macam konflik yang pada umumnya dapat dilalui dengan sukses tetapi ada juga anak yang c. sebab-sebab lingkungan anak-anak hidup dalam 3 macam lingkungan yang mempengaruhi perkembangan emosi . ketiga faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan tersebut adalah : 1. Lingkungan keluarga Keluarga yang merupakan lingkungan pertama dan utama sosial bagi anak perkembangan emosi anak-anak usia pra sekolah. Faktor keluarga mempengaruhi perkembangan emosi diantaranya : mengalami gangguan atau hambatan dalam menghadapi konflik-konflik ini.

- status sosial ekonomi keluarga - keutuhan keluarga - sikap dan kebiasaan orang tua
2. Lingkungan sekitarnya

Kondisi

lingkungan

disekitar

akan

sangat

berpengaruh

terhadap tingkah laku serta perkembangan emosi dan pribadi anak. Lingkungan yang dapat mempengaruhi emosi pada anak bahkan mungkin menganggunya adalah : a.Daerah yang terlalu padat b.Daerah yang memiliki angka kejahatan tinggi c.Kurangnya fasilitas rekreasi d.Tidak adanya aktivitas yang di organisasi dengan baik untuk anak 3. Lingkungan sekolah Lingkungan sekolah yang dapat menimbulkan gangguan emosi y a n g menyebabkan terjadinya gangguan tingkah laku pada anak yaitu seperti : a.Hubungan yang kurang harmonis antara guru dan anak b.Hubungan yang kurang harmonis dengan teman temannya Hal yang harus dimiliki orang tua dan guru sebagai lingkungan terdekat anak adalah : -kesanggupan dan kemampuan yang memadai untuk m e n g e n a l i a n a k d a n k a r a k t e r i s t i k p e r k e m b a n g a n e m o s i d a n sosialnya. - h a r u s m a m p u m e n c i p t a k a n l i n g k u n g a n y a n g kondusif dan sesuai tuntutan perkembangan emosi dan sosial anak. -Kemampuan menekan dirinya dalam menghilangkan dan

a t a u mengeliminasi faktor penyebab dan hal hal negatif

serta perusak perkembangan emosi dan sosial pada anak pra sekolah.

-Untuk menjamin

menciptakan perkembangan

kondisi anak sosial

yang adalah

ideal yang secara

pada dapat positif

perkembangan

emosional

emosional

anak

terkendalinya ekspresi emosi dari setiap anak sehingga emosi anak terlindungi lebih stabil dan seimbang.

Milestone perkembangan anak Fine Motor/Adaptive Unfisted Bats at objects Objects to midline Transfers objects Raking grasp Finger feeds Primitive pincer Neat pincer Voluntary release Helps with dressing Spoon feeds Uses cup open/sippy Imitates housework Handedness Helps with undressing Mean 3 months 3 months 4 months 5 months 7 months 7 months 8 months 9 months 12 months 12 months 15 months 15 months 18 months 24 months 24 months Normal Range 0 to 4 months 2 to 5 months 3 to 6 months 4 to 7 months 5 to 10 months 5 to 10 months 6 to 10 months 7 to 10 months 10 to 15 months 10 to 16 months 12 to 18 months 10 to 18 months 14 to 24 months 18 to 30 months 22 to 30 months

Undresses self Toilet training

36 months

30 to 40 months 24 to 36 months

Language Cooing Laugh Turns to voice Razzing Babbling Dada/mama non-specifically Gesture games Understands no, Mama/dada specifically One step command with a gesture Immature jargoning One step command w/out

Mean 3 months 4 months 4 months 5 months 6 months 8 months 9 months 10 months 10 months 12 months 13 months a 15 months

Normal Range 1 to 4 months 3 to 6 months 3 to 6 months 4 to 8 months 5 to 9 months 6 to 10 months 7 to 12 months 9 to 18 months 9 to 14 month 10 to 16 months 10 to 18 months 12 to 20 months

gesture Points to body parts Mature jargoning Puts two words together Pronouns inappropriately Two step command States first name 18 months 18 months 24 months 24 months 24 months 34 months 12 to 24 months 16 to 24 months 20 to 30 months 22 to 30 months 22 to 30 months 30 to 40 months

Pronouns appropriately

36 months

30 to 42 months

Social/Emotional Social smile Object permanence Stranger anxiety Affective sharing Uses mother as secure base Separation distress Independence Parallel play Associative play Cooperative play

Mean 5-6 weeks 9 months 9 months 10 months 12 months 12 months 18 months 24 months 30 months 36 months

Normal Range 1 to 3 months 6 to 12 months 6 to 12 months 9 to 18 months 9 to 18 months 9 to 24 months 12 to 36 months 12 to 30 months 24 to 48 months

Sumber : dr. Nury Nurdwinuringtyas, SpRM, M.Epid. Milestone Perkembangan Anak

Keterlambatan Perkembangan dan Developmental Disabbilities Keterlambatan perkembangan adalah kondisi di mana anak tidak mampu mencapai tugas perkembangan pada waktu yang diperkirakan. Kondisi ini terjadi terus-menerus, merupakan keterlambatan terjadi utama pada dari banyak proses area perkembangan. Keterlambatan dapat

perkembangan misalnya pada motorik, bahasa, sosial, atau berpikir.

Penyebab developmental delay / developmental disabilities :


1. Gangguan Kromosom dan Gen

Banyak gangguan genetik yang disebabkan oleh abnormalitas jumlah kromosom, misalnya Down syndrome (kelebihan kromosom pada nomor 21), Turner Syndrome (45X0), kromosom X). Perluasan Klinefelters syndrome (laki-laki dengan dua pengulangan mutasi dapat menyebabkan

kromosom X lemah atau Huntingtons. Gangguan 31genetik disebut dengan penyakit herediter.

Table 1. Contoh Sindrome Gen yang Berdekatan

Syndrome DiGeorgeSyndrome/Velocardiofacial Syndrome Smith-MagenisSyndrome Prader-WilliSyndrome AngelmanSyndrome Rubinstein-Taybi

ChromosomeLocation

del(22q11.2) del(17p11.2) del(15q11-q13)paternal del(15q11-q13)maternal del(16p13.3)

Perkembangan DNA. Lemahnya kromosom X adalah penyebab umum retardasi mental (RM) pada anak laki-laki sejak lahir. Sekitar sepertiga perempuan karier kromosom X yang lemah mempunyai kesulitan belajar yang signifikan dan RM. Molekul dasar dari kromosom X yang lemah adalah hasil dari mekanisme mutasi yang tidak biasa, dikenal sebagai mutasi dinamis. 2.Kerusakan otak atau infeksi sebelum, selama, atau setelah kelahiran.

Luka trauma pada otak atau lebih sering disebut dengan luka intrakranial atau luka kepala, terjadi ketika trauma tiba-tiba menyebabkan kerusakan pada otak. Kecelakaan transportasi, kekerasan (misalnya penyiksaan anak), dan juga kecelakaan olahraga. Sebagian besar terjadi karena penggunaan alkohol. 3.Teratogen. Termasuk di dalamnya adalah radiasi, infeksi, penyakit maternal seperti diabetes dan phenylketonuria, alkhohol, merokok dan obat-obatan. Telah ditemukan bahwa teratogen mempengaruhi perkembangan neurologis fetal. Adanya gabungan faktor genetik dan faktor lingkungan mampu mempengaruhi perkembangan. Misalnya pada konsumsi asam folat yang rendah pada awal masa kehamilan adalah faktor resiko dari tidak sempurnanya pipa syaraf. Polimorfisme genetic pada enzim methylene tetrahydrofolate memberi peningkatan resiko ketidaksempurnaan pipa syaraf. Kombinasi dari polimorfisme dan rendahnya konsumsi asam folat menyebabkan tingginya resiko daripada ketika kedua variabel bekerja sendiri-sendiri. 4.Proses kelahiran. Penyakit metabolisme mitokondria menunjukkan manifestasi klinis yang luas. Urutan proses respirator terdiri dari sub-unit yang bertanggung jawab untuk transport elektron dan fosforilasi oksidatif. energi tinggi sering terpengaruh, dengan sistem Pada sub-unit inilah syara pusat yang sebagian besar sel ATP beregenerasi. Organ-organ yang membutuhkan menunjukkan manifestasi yang bervariasi. Pada mutasi genome mitokondria atau encoding gen nukleus dapat menyebabkan salah satunya adalah Leigh Disease (subacute necrotizing encephalomyopathy). 5. Lahir premature

6. Masalah pendengaran 7. Masalah pertumbuhan atau masalah nutrisi. 8.Buruknya diet dan pelayanan kesehatan 9.Penyiksaan anak juga dapat mengakibatkan efek buruk pada

perkembangan anak, khususnya perkembangan sosial-emosional. 10. Infeksi selama kehamilan 11. Kondisi multifaktorial Figure 1. Chromosomes

labeled with Fluorescent in situ hybridization probes for chromosome 22. Probe A is a control probe for a distal locus on chromosome 22 (ARSA), Probe B is the TUPLEI of the number 22 chromosome. This deletion can be seen in DiGeorge Syndrome, Syndrome, Velocardiofacial and in some

cases of isolated complex congenital heart disease

Sindrom Down Sindrom Down (bahasa Inggris: Down syndrome) merupakan kelainan genetik yang terjadi pada kromosom 21 pada berkas q22 gen SLC5A3, yang

dapat dikenal dengan melihat manifestasi klinis yang cukup khas. Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr.John Longdon Down. This is what a normal set of chromosomes looks like. Note the 22 evenly paired chromosomes plus the sex chromosomes. The XX means that this person is a female. The test in which blood or skin samples are checked for the number and type of chromosomes is called a karyotype, and the results look like this picture. Sumber : Leishin Len. Trisomy 21 : The Story of Down Syndrome @http:// www.ds-health.co/trisomy.htm Trisomy 21 (Down Syndrome) Male Karyotype

Insiden sindrom Down diperkirakan satu per 800 untuk satu per 1000 kelahiran.

Pada

tahun

2006,

Centers

for

Disease

Controls

and

Prevention

memperkirakan tingkat sebagai satu per 733 kelahiran hidup di Amerika Serikat (5429 kasus per tahun). Sekitar 95% dari ini adalah trisomi 21. Sindrom Down terjadi di seluruh kelompok etnis dan di antara semua kelas ekonomi. Umur ibu mempengaruhi kemungkinan hamil bayi dengan sindrom Down. Pada ibu usia 20-24, kemungkinan merupakan pada 1562; pada usia 35-39 kemungkinan adalah satu di antara 214, dan di atas usia 45 kemungkinan adalah satu di antara 19. Meskipun kemungkinan meningkat dengan umur ibu, 80% dari anak-anak dengan sindrom Down dilahirkan pada wanita di bawah usia 35, mencerminkan kesuburan keseluruhan kelompok usia. Gejala yang muncul akibat sindrom down dapat bervariasi mulai dari yang tidak tampak sama sekali, tampak minimal sampai muncul tanda yang khas. Penderita dengan tanda khas sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds). Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar. Sementara itu lapisan kulit biasanya tampak keriput (dermatoglyphics). Kelainan kromosom ini juga bisa menyebabkan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistem organ yang lain. Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa congenital heart disease. kelainan ini yang biasanya berakibat fatal karena bayi dapat meninggal dengan cepat. Pada sistem pencernaan dapat ditemui kelainan berupa

sumbatan pada atresia).

esofagus (esophageal atresia) atau duodenum (duodenal

Apabila anak sudah mengalami sumbatan pada organ-organ tersebut biasanya akan diikuti muntah-muntah. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. Pada otak penderita sindrom Down, ditemukan peningkatan rasio APP ( amyloid precursor protein) Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa

pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:


Pemeriksaan fisik penderita Pemeriksaan kromosom Ultrasonografi (USG) Ekokardiogram (ECG) Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling)

Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi kelainan ini. Pada tahap perkembangannya penderita Down syndrom juga dapat mengalami kemunduran dari sistem penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya mengingat tonus otot-otot yang lemah. Dengan demikian penderita harus mendapatkan dukungan maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Pembedahan biasanya dilakukan pada penderita untuk mengoreksi adanya defek pada jantung, mengingat sebagian besar

penderita penderita adekuat.

lebih

cepat

meninggal Dengan terkena

dunia infeksi,

akibat

adanya

kelainan ini

pada jantung tersebut. semakin

adanya leukemia akut sehingga

menyebabkan penderita

rentan

memerlukan monitoring serta pemberian terapi pencegah infeksi yang

Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. Sindrom down tidak bisa dicegah, karena merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlah kromosom 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti, yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya sindrom Down.Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.

REPRODUKSI Dewasa ini kesehatan reproduksi mendapat perhatian khusus secara global. Hal itu dilakukan sejak diangkatnya isu dan tersebut dalam konferensi internasional tentang kependudukan pembangunan (International

Conference on Population and Development, ICPD) di Kairo Mesir, pada tahun 1994, yang dihadiri sekitar 180 negara. Kesehatan reproduksi sendiri mengandung pengertian suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya. Masa remaja (usia 11 20 tahun) adalah masa yang khusus dan penting, karena merupakan periode pematangan organ reproduksi manusia. Masa remaja disebut juga masa pubertas, merupakan masa transisi yang unik ditandai dengan berbagai perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, yang dimulai pada saat terjadinya kematangan seksual. Remaja tidak mempunyai tempat yang jelas, yaitu bahwa mereka tidak termasuk golongan anak-anak tetapi tidak juga termasuk remaja golongan dewasa. oleh Perkembangan biologis dan psikologis dipengaruhi

perkembangan lingkungan dan sosial. Oleh karena itu remaja akan berjuang untuk melepaskan ketergantungannya kepada orang tua dan berusaha

mencapai kemandirian sehingga mereka dapat diterima dan diakui sebagai orang dewasa. Remaja berasal dari kata latin adolescence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Ottorank (dalam Hurlock, 1990) mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa perubahan yang drastis dari keadaan tergantung menjadi keadaan mandiri, bahkan Daradjat (dalam Hurlock 1990) mengatakan masa remaja adalah masa dimana munculnya berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya fikir yang matang. Erikson (dalam Hurlock, 1990) menyatakan bahwa masa remaja adalah masa kritis identitas atau masalah identitas-ego remaja. Identitas diri yang dicari remaja berupa usaha menjelaskan siapa dirinya dan apa perannya dalam masyarakat, serta usaha mencari perasaan kesinambungan dan kesamaan baru para remaja harus memperjuangkan kembali dan seseorang akan siap menempatkan idola dan ideal seseorang sebagai pembimbing dalam mencapai identitas akhir. Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa remaja memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Secara intelektual remaja mulai dapat berpikir logis, mempunyai kemampuan nalar secara ilmiah dan mampu menguji hipotesis. 2. Mulai menyadari proses berpikir efisien dan belajar berintrospeksi. 3. Mengalami puncak emosionalitas.

4. Remaja

sudah mampu berperilaku yang tidak hanya mengejar

kepuasan fisik saja, tetapi meningkat pada tataran psikologis (rasa diterima, dihargai, dan penilaian positif dari orang lain). 5. Sudah mampu memahami orang lain. 6. Mempunyai sikap rawan (sikap comfomity) yaitu kecenderungan untuk menyerah dan mengikuti bagaimana teman sebayanya berbuat. 7. Masa berkembangnya identitas diri. 8. Remaja sudah mampu menyoroti nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. TAHAPAN REMAJA Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati tahapan berikut : 1. Masa remaja awal/dini (early adolescence) : umur 11 13 tahun. Dengan ciri khas : ingin bebas, lebih dekat dengan teman sebaya, mulai berfikir abstrak dan lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya. 2. Masa remaja pertengahan (middle adolescence) : umur 14 16 tahun. Dengan ciri khas : mencari identitas diri, timbul keinginan untuk berkencan, berkhayal tentang seksual, mempunyai rasa cinta yang mendalam. 3. Masa remaja lanjut (late adolescence) : umur 17 20 tahun. Dengan ciri khas : mampu berfikir abstrak, lebih selektif dalam mencari teman sebaya, mempunyai citra jasmani dirinya, dapat mewujudkan rasa cinta, pengungkapan kebebasan diri. Tahapan ini mengikuti pola yang konsisten untuk masing-masing individu. Walaupun setiap tahap mempunyai ciri tersendiri tetapi tidak mempunyai batas yang jelas, karena proses tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan. PERUBAHAN FISIK PADA MASA REMAJA

Perubahan fisik dalam masa remaja merupakan hal yang sangat penting dalam kesehatan reproduksi, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan fisik yang sangat cepat untuk mencapai kematangan, termasuk organ-organ reproduksi sehingga mampu melaksanakan fungsi reproduksinya. Terdapat ciri yang pasti dari pertumbuhan somatik pada remaja, yaitu peningkatan massa tulang, otot, massa lemak, kenaikan berat badan, perubahan biokimia, yang terjadi pada kedua jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan walaupun polanya berbeda. Selain itu terdapat kekhususan (sex specific), seperti pertumbuhan payudara pada remaja perempuan dan rambut muka (kumis, jenggot) pada remaja laki-laki. Pada anak laki-Iaki masa pubertas biasanya dimulai pada usia yang sedikit lebih lambat daripada wanita. Sehubungan dengan itu, pada usia 11-13 tahun sering didapatkan banyak anak perempuan tampaklebih tinggi daripada anak laki-Iaki. Tetapi, pada usia sekitar 13 tahun, anak laki-Iaki mulai mengejar ketertinggalan itu karena pada usia itu kebanyakan sudah mencapai usia pubertas. Perubahan yang terjadi yaitu : 1. Munculnya tanda-tanda seks primer; terjadi haid yang pertama (menarche) pada remaja perempuan dan mimpi basah pada remaja laki-laki. 2. Munculnya tanda-tanda seks sekunder, yaitu : a. Pada remaja laki-laki; tumbuhnya jakun, penis dan buah zakar bertambah besar, terjadinya ereksi dan ejakulasi, suara bertambah besar, dada lebih besar, badan berotot, tumbuh kumis diatas bibir, cambang dan rambut di sekitar kemaluan dan ketiak. b. Pada remaja perempuan; pinggul melebar, pertumbuhan rahim dan vagina, tumbuh rambut di sekitar kemaluan dan ketiak, payudara membesar. Memasuki masa remaja yang diawali dengan terjadinya kematangan seksual, maka remaja akan dihadapkan pada keadaan yang memerlukan

penyesuaian untuk dapat menerima perubahan-perubahan yang terjadi. Kematangan seksual dan terjadinya perubahan bentuk tubuh sangat berpengaruh pada kehidupan kejiwaan remaja. Selain itu kematangan seksual juga mengakibatkan remaja mulai tertarik terhadap anatomi fisiologi tubuhnya. Selain tertarik kepada dirinya, juga mulai muncul perasaan tertarik kepada teman sebaya yang berlawanan jenis. Karakter remaja yang labil dan lingkungannya menyebabkan timbulnya penyimpangan perilaku yang juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan psikologis remaja. Penyimpangan perilaku remaja juga terjadi karena interaksi faktor-faktor : Predisposisi (kepribadian, kecemasan dan depresi) : kepribadian yang tidak mantap. Ciri kepribadian : gampang kecewa, jadi agresif dan destruktif, rasa rendah diri, senang mencari sensasi, cepat bosan, merasa tertekan, murung dan merasa tidak mampu menjalankan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.

Kontribusi (keluarga) : keluarga yang disfungsi sosial memungkinkan anggota keluarga menjadi anti sosial. Keluarga yang disfungsi sosial ditandai dengan : kesibukan orang tua, hubungan interpersonal yang kurang baik, parental modeling yang kurang baik.

Pencetus (kelompok teman sebaya dan zat itu sendiri) : bila remaja khawatir ditolak bergabung dengan kelompok, maka remaja akan berperilaku sesuai dengan perilaku kelompoknya termasuk penggunaan narkoba.

Upaya Penanganan Masalah Remaja Remaja berada dalam situasi yang sangat peka terhadap pengaruh nilai baru, terutama bagi mereka yang tidak mempunyai daya tangkal. Mereka cenderung lebih mudah melakukan penyesuaian dengan arus globalisasi dan

arus informasi yang bebas yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku menyimpang karena adaptasi terhadap nilai-nilai yang datang dari luar. Masalah yang paling menonjol dikalangan remaja saat ini, misalnya masalah seksualitas, sehingga hamil di luar nikah dan melakukan aborsi. Kemudian rentan terinfeksi penyakit menular seksual (IMS), HIV dan AIDS serta penyalahgunaan Narkoba. Setiap tahun di dunia kira-kira 15 juta remaja berusia 15-19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta terinfeksi penyakit menular seksual yang bisa disembuhkan. Perkiraan terakhir, setiap hari ada 7000 remaja terinfeksi HIV. Di Indonesia, mayoritas kasus HIV pada generasi muda antara 20 sampai 29 tahun. Beberapa masalah remaja termasuk masalah kesehatan remaja perlu ditangani secara khusus dengan metode yang khusus pula. Metode mendidik remaja adalah dengan : 1. Mengembangkan potensi remaja 2. Memandirikan remaja 3. Memberikan kemampuan untuk beradaptasi dan berperilaku yang diperlukan remaja dalam mengatasi tantangan dan kebutuhan hidup sehari-hari. Atas dasar metode ini, dalam menangani permasalahan remaja, perlu dikembangkan pola pendidikan yang berorientasi pada kesehatan psikososial remaja. Kompetensi psikososial adalah seluruh kemampuan yang berorientasi pada aspek kejiwaan seseorang terhadap diri sendiri dan interaksinya dengan orang lain serta lingkungan sekitarnya dalam konteks kesehatan. Kompetensi psikososial tersebut antara lain : 1. Empati, yaitu kemampuan untuk memposisikan perasaan orang lain pada diri sendiri
2. Kesadaran diri, adalah kemampuan untuk mengenal diri sendiri

tentang karakter, kekuatan, kelemahan dan keinginan 3. Pengambilan keputusan, adalah kemampuan yang dapat membantu kita untuk mengambil keputusan secara konstruktif dengan

membandingkan menyertainya.

pilihan

alternatif

dan

efek

samping

yang

4. Pemecahan masalah, adalah kemampuan untuk memungkinkan kita dapat menyelesaikan masalah secara konstruktif. 5. Berpikir kreatif, yaitu kemampuan unuk menggali alternatif yang ada dan berbagai konsekuensinya dari apa yang kita lakukan. 6. Berpikir kritis, yaitu kemampuan menganalisa informasi dan pengalaman-pengalaman secara objektif.
7. Komunikasi efektif, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri

secara verbal maupun non verbal yang mengikuti budaya dan situasi. 8. Hubungan interpersonal, yaitu kemampuan yang dapat menolong kita beroteraksi dengan sesama secara positif dan harmonis. 9. Mengatasi emosi, yaitu kemampuan keterlibatan pengenalan emosi dalam diri sendiri dan orang lain.
10. Mengatasi stres, yaitu kemampuan pengenalan sumber-sumber yang

menyebabkan stres dalam kehidupan, bagaimana efeknya dan cara mengontrol terhadap derajat stress. Adanya motivasi dan pengetahuan yang memadai untuk menjalani masa remaja secara sehat, diharapkan remaja mampu untuk memelihara kesehatan dirinya sehingga mampu memasuki masa kehidupan berkeluarga dengan reproduksi sehat.

Daftar Pustaka
1. Moersintowarti B.Narendra,dkk. 2002. Tumbuh Kembang Anak dan

Remaja Jilid 1. Jakarta : Penerbit Sagung Seto


2. Catio,

Muchlis.

2006.

Pencegahan

dan

penanggulangan

penyalahgunaan narkoba di lingkungan pendidikan. Jakarta : badan narkotika Soetjiningsih. 1995. Tumbuh kembang anak. EGC. Jakarta.
3. Mallhi P, Singhi P. Screening Young Children for Delayed Development. Indian

Pediatrics; 1999 36:569-577


4. Narendra MB, suryawan A, irwanto. 2006. Naskah lengkap continuing education ilmu

kesehatan anak XXXVI penyimpangan tumbuh kembang anak. bag/SMF ilmu kesehatan anak FK UNAIR. Surabaya
5. Behrman RE., Kliegman RM., Jenson HB. 2004. Nelson textbook of pediatrics 17th ed.

Saunders. Philadelphia. American Academy of Pediatrics. Identifying Infants and Young Children With Developmental Disorders in the Medical Home: An Algorithm for Developmental Surveillance and Screening. Pediatrics Volume 118, Number 1, July 2006.
6. American Academy of Pediatrics. Developmental Surveillance and Screening of Infants

and Young Children. Pediatrics Vol. 108 No. 1 July 2001.


7. Sices L, Feudtner C, McLaughlin J et al. How Do Primary Care Physicians Manage

Children With Possible Developmental Delays? A National Survey With an Experimental Design. Pediatrics 2004;113;274-282
8. Nelson HD, Nygren P, Walker M et al. Screening for Speech and Language Delay in

Preschool Children: Systematic Evidence Review for the US Preventive Services Task Force. Pediatrics 2006;117;e298-e319
9. bakti husada. 1989. pedoman deteksi dini kelainan tumbuh kembang. Direktorat bina

kesehatan keluarga. Jakarta


10. Leishin Len. Trisomy 21 : The Story of Down Syndrome. Diakses dari

http:// www.ds-health.co/trisomy.htm