Anda di halaman 1dari 15

KISTA/ABSES BARTHOLIN saat bekerja di ginek akut kita akan sering menjumpai kasus kista/abses Bartholin kiriman poli

kandungan, ataupun yang datang malam2 karena uda ga tahan sakitnya oleh karena kelenjar bartholin yg membengkak, disini saya memberikan sedikit bocoran(krepekan) buat temen2 patol B ataupun Junior yg bekerja di ginek akut cara menangani kista/abses Bartholin (krn saya tau banyak tmen2 yg njelujur aja hehe, meminjam istilah Prof.SHD, ga sempet baca krn saking sibuknya). INSIDEN angka kejadian kista/abses Bartholin sekitar 2% dari seluruh wanita, pada umumnya asimtomatis namun dpt memberikan keluhan berupa nyeri hingga gangguan aktifitas. poin penting : kita harus mengenal anatomi dari vulva dan kelenjar Bartholin, diagnosis banding, agen penyebab infeksi, penatalaksanaan dan komplikasinya, serta indikasi untuk eksisi. ANATOMI kelenjar Bartholin terletak posterolateral dari vestibulum arah jam 4 & 8, mukosa kelenjar dilapisi oleh sel2 epitel kubus, panjang saluran pembuangannya skitar 2,5 cm dan dilapisi oleh sel2 epitel transisional. saluran pembuangan ini berakhir diantara labia minor dan hymen dan dilapisi sel2 epitel skuamus. oleh karena itu dpt timbul keganasan berupa adenokarsinoma maupun karsinoma skuamus. sekresi dari kelenjar Bartholin tdk diperlukan utk aktivitas seksual jadi kalo diambil ga masalah! DIAGNOSIS BANDING lesi vulva : kista sebaseus, kista disontogenetik, hematom, lipom, fibroma, hidradenoma, syringoma, endometriosis, myoblastoma, mamma abberans, leiomyoma, tumor von recklinghausen, adenokarsinoma.

lesi vagina : kista inklusi vagina, endometriosis, adenosis, kista duktus gardner, leiomyoma, hernia inguinalis. PENATALAKSANAAN kista Bartholin seringkali asimtomatis, tidak ada tanda2 infeksi, sehingga pemberian antibiotik tdk diperlukan. kalo ada infeksi sekunder dpt diberikan antibiotik spektrum luas, utk antibiotik profilaksi di RSDS biasa digunakan amoxicillin + asam klavulanat atau cefazolin. pada wanita usia 40 thn keatas dianjurkan utk melakukan eksisi seluruh kelenjar Bartholin oleh krn kemungkinan timbulnya suatu keganasan. KATETER WORD kateter word ini memang dirancang utk kasus kista/abses bartholin, namun rasanya di RSDS blum ada (jadi buat perusahaan farmasi atau alat medis, bisa jadi pertimbangan utk mulai mendatangkan disini, kasusnya lumayan banyak lho!) setelah dipasang, kateter word ini dibiarkan selama 4 mgg, dan penderita dianjurkan utk tdk melakukan aktifitas seksual, sampai kateter dilepas. setelah 4 mgg akan terbentuk saluran drainase baru dr kista bartholin, secara kosmetik hasilnya cukup bagus krn orifisiumnya akan mengecil dan hampir2 tdk kelihatan. MARSUPIALISASI marsupialisasi adalah pilihan terapi apabila setelah penggunaan kateter word terjadi rekurensi (atau tidak ada kateter word!) prinsip : buat insisi elips dg skalpel diluar atau didalam cincin hymen, jangan diluar labium mayor krn dpt timbul fistel (selain itu jd jelek!), insisi harus cukup dalam mengiris kulit dan dinding kista dibawahnya (utk kemudian dibuang). apabila terdapat lokulasi

dibersihkan. kemudian dinding kista didekatkan dg kulit menggunakan benang 3.0 atau 4.0 dan dijahit interrupted. angka rekurens sekitar 10% EKSISI eksisi dilakukan jika terjadi rekurensi berulang, sebaiknya tindakan ini dilakukan di kamar operasi oleh karena biasanya akan terjadi perdarahan yg banyak (bisa bikin keringatan segede jagung) yg berasal dari plexus venosus bulbus vestibuli, dan pernah dilaporkan terjadinya septik syok pasca tindakan, komplikasi lain adalah selulitis dan dyspareuni. PENANGANAN ABSES BARTHOLIN penanganan abses bartholin sama dengan penanganan kista bartholin simtomatis, namun ada sedikit perbedaan, prinsipnya : berikan terapi antibiotik spektrum luas, dan lakukan pemeriksaan kultur pus oleh karena ada kemungkinan disebabkan oleh krn gonorrhes atau chlamydia, meskipun 67% disebabkan oleh krn flora normal vagina. KEHAMILAN DG KISTA/ABSES BARTHOLIN oleh karena pd kehamilan vaskularisasi daerah pelvis meningkat utk kasus asimtomatis sebaiknya tindakan operatif ditunda hingga setelah persalinan, namun jika tdk dpt dihindari maka dpt dilakukan dg pemberian antibiotik spektrum luas (relatif aman utk kehamilan) dan anestesi lokal dpt diberikan pd kasus abses bartholin. PPDS ObGyn UNAIR Weblog Media Komunikasi PPDS ObGyn Unair http://obgynunair.wordpress.com/tour-of-duty/ginek-akut/

jurnal KELAINAN PADA KELENJAR BARTHOLIN Kontribusi Dari Mutiara mardiyyah Friday, 04 March 2011

dr. Freddy Dinata, SpOG Spesialis Kebidanan dan Penyakit Kandungan Azra Medical Healthcare Kelenjar Bartholin terdapat sepasang, terletak di sebelah luar selaput dara, dengan nama lain kelenjar vulvovaginal atau paravaginal. Pada kedua sisi bibir kemaluan, terdapat dua buah lubang masuk yang kecil, yang dihubungkan oleh saluran sepanjang 1-2 cm, menuju ke kelenjar Bartholin. Kelenjar ini berukuran kecil, berbentuk datar dan menghasilkan lendir. Infeksi pada kelenjar ini dapat terjadi akibat penyakit yang ditularkan secara seksual, khususnya GO (kencing nanah). Saluran yang menghubungkan kelenjar Bartholin tersebut rentan terhadap infeksi, karena bentuknya yang pendek dan sempit. Kuman-kuman, terutama Neisseria gonorrhoe (penyebab penyakit GO), yang disertai infeksi sekunder seperti streptokokus, stafilokokus atau E.coli, di dalam saluran tersebut akan membentuk semacam kantung yang dapat membesar karena terisi cairan nanah. Radang tersebut dapat membaik sendiri, namun jika ujung saluran tersumbat secara permanen, dapat menyebabkan tertahannya lendir yang dihasilkan oleh kelenjar, dan terbentuklah kista. Proses ini biasanya terjadi pada salah satu sisi kemaluan saja, dan diperkirakan terjadi pada 2% perempuan. Kelenjarnya sendiri hampir tidak pernah secara serius terlibat dalam infeksi saluran Bartholin, namun pada perempuan berusia lanjut yang terdapat benjolan di daerah ini, harus dikesampingkan adanya pertumbuhan kanker Bartholin. Keluhan yang sering dialami oleh penderita infeksi ini adalah rasa nyeri, terutama saat berhubungan intim. Jaringan sekitarnya dapat ikut meradang dan membengkak. Bentuk liang sanggama berubah, dan khas terdapat benjolan berisi cairan yang dapat diraba. Jarang terdapat keluhan yang bersifat sistemik (seluruh tubuh). Penyakit lain yang menyerupai infeksi ini adalah kista inklusi, kista kelenjar keringat yang besar, tumor kelenjar keringat, kelainan bawaan, kanker primer dan penyebaran kanker. Pengobatan infeksi Bartholin adalah dengan mengeluarkan isi dari kista yang terinfeksi atau kantung nanah tersebut, yang dikenal dengan tindakan operasi marsupialisasi. Prosedur ini adalah membuka kantung nanah secara permanen.

Cara operasi lainnya yaitu insisi (menyayat kulit) dan drainase, sering menimbulkan kekambuhan di kemudian hari. Marsupialisasi mudah dikerjakan dengan pembiusan lokal, kemudian jaringan tersebut dijahit dengan benang agar tetap terbuka. Jika jaringan sekitarnya juga mengalami radang, sebaiknya pasien diberi antibiotika berspektrum luas. Pasien juga dianjurkan istirahat, uap panas, menjaga luka tetap kering dan minum obat anti nyeri. http://www.rsazra.co.id BAB IPENDAHULUAN Kelenjar ini dipaparkan anatomiDenmark yaituCaspar

pertama

kali

pada

abad

ke-17,

oleh

ahli

Bartholin muda(1655-1738).

Diameter

kedua

kelenjar bartholini sekitar 0,5 cm danterletak di labia minora pada arah jam 4 dan 8. Drainase pada kelenjar ini oleh saluran denganpanjang kira-kira 2 cm yang terbuka ke arah orificium vagina sebelah lateral hymen, normalnyak e l e n j a r bartolini tidak ini teraba pada p e me r i k sa a n labia mi no r palpasi . dan Saluran dan

p e mb u a n g a n

berakhir diantara

h y me n

d i l a p i s i s e l - s e l e p i t e l s q u a m o s a . F u n g s i d a r i k e l e n j a r bartholini adalah untuk memelihara kelembaban permukaan mukosa vagina. 1 Kista dan abses Bartholini merupakan masalah yang sering terjadi pada wanita berusiar e p r o d u k s i . B e r d a s a r k a n d a t a d a r i A m e r i k a S e r i k a t , 2 % w a n i t a u s i a p r o d u k t i f m e n g a l a m i pembesaran kelenjar Bartholin. Kista Bartholin biasanya terjadi pada wanita usia 20 30 tahun.Pada umumnya asimtomatis namun dapat memberikan keluhan berupa nyeri hingga

gangguanaktifitas. Kista bartholini merupakan kista yang terbentuk akibat adanya sumbatan pada duktuskelenjar bartholini, yang menyebabkan retensi dan dilatasi kistik. Isi didalam kista dapat berupananah yang dapat keluar melalui duktus atau bila tersumbat dapat mengumpul didalam menjadiabses. Diagnosis banding dari kista bartholini adalah lesi kistik dan solid vulva yaitu kista inklusiepidermal, kista duktus Skene, dan lipoma.Tujuan penanganan kista bartholini adalah memelihara dan

mengembalikan fungsi darikelenjar bartholini. Metode penanganan kista bartholini yaitu insersi word catheter untuk kistad a n a b s e s k e l e n j a r b a r t h o l i n i d a n marsupialization u n t u k k i s t a k e l e n j a r b a r t h o l i n i . T e r a p i antibiotic spectrum luas diberikan apabila kista atau abses kelenjar bartholini disertai denganadanya selulitis. Biopsy eksisional dilakukan untuk pengangkatan adenokarsinoma pada

wanitamenopause atau perimenopause yang irregular dan massa kelenjar Bartholini yang nodular

Bartholin's cyst
From Wikipedia, the free encyclopedia http://en.wikipedia.org/wiki/Bartholin%27s_cyst Kista Bartholin terbentuk ketika sebuah kelenjar Bartholin diblokir, menyebabkan kista berisi cairan berkembang. Kista Bartholin tidak infeksi, meskipun dapat disebabkan oleh infeksi, peradangan, atau penyumbatan fisik (lendir atau halangan lainnya) untuk saluran Bartholin (tabung yang mengarah dari kelenjar untuk vulva). Jika infeksi merasuk, hasilnya adalah abses Bartholin. Jika infeksi parah yang berulang atau prosedur pembedahan yang dikenal sebagai marsupialization mungkin diperlukan untuk menghentikan kambuh lebih lanjut. Kista Bartholin yang paling mungkin terjadi pada wanita usia subur meskipun ketika mereka terjadi pada wanita di atas 40, kadang-kadang dokter akan merekomendasikan biopsi hanya untuk memastikan tidak ada sel kanker tidak hadir, meskipun kanker kelenjar Bartholin adalah sangat langka.

Kista Bartholin bisa tumbuh dari ukuran kacang polong dengan ukuran telur. Kista tidak menular seksual. Tidak ada alasan dikenal bagi perkembangan mereka dan infeksi jarang terjadi. Namun, bahkan dengan abses, infeksi bakteri atau STD bukan penyebab pengobatan

Pengobatan dapat bergantung pada satu atau lebih dari faktor-faktor: ukuran kista, betapa menyakitkan itu, jika sudah terinfeksi, dan usia pasien. Dalam beberapa kasus, kista kecil hanya dapat diamati dari waktu ke waktu untuk melihat apakah tumbuh. Dalam kasus lain, dokter dapat melakukan prosedur kecil di kantor, dimana sebuah tabung kecil (kateter) dimasukkan ke dalam kista [1] dan meningkat untuk tetap di tempat. Kateter tetap di tempat selama 2 sampai 4 minggu, menguras cairan dan menyebabkan kelenjar biasa membuka untuk membentuk, setelah kateter dilepas. Kateter umumnya tidak menghambat aktivitas normal, dan hubungan seksual umumnya abstain dari sementara kateter berada di tempat. Kista juga dapat dibuka secara permanen, metode yang disebut marsupialization, [2] di mana pembukaan pada kelenjar dibentuk dengan jahitan yang memegang sekresi saluran terbuka. Kista tidak mengancam jiwa, tetapi bisa sangat menyakitkan dan bahkan dapat membuat berjalan sulit. Kista baru tidak dapat benar-benar dicegah dari pembentukan, namun, operasi pengangkatan atau laser dari kista membuat kecil kemungkinan bahwa yang baru akan terbentuk pada situs yang sama. Namun, mereka dengan kista lebih mungkin dibandingkan orang lain untuk mendapatkan satu di masa depan. Mereka

dapat kambuh setiap beberapa tahun atau lebih sering. Tidak ada saat ini umumnya disepakati penjelasan di bidang medis untuk penyebab dari kista, atau perjanjian pada apa yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah mereka. Banyak wanita yang telah marsupialization dilakukan menemukan bahwa rekurensi dapat memperlambat, tetapi tidak benar-benar berhenti. Jika kista terinfeksi, ia bisa pecah terbuka dan mulai sembuh dengan sendirinya setelah 3 sampai 4 hari. Nonprescription obat nyeri seperti ibuprofen mengurangi rasa sakit, dan mandi sitz dapat meningkatkan kenyamanan. Jika abses kelenjar Bartholin kembali beberapa kali, kelenjar dan saluran bisa diangkat dengan operasi.
Kista Bartholin - Bartolinitis Edit 00 1

Patofisiologi
y y y y

Sumbatan duktus utama kelenjar Bartolin menyebabkan retensi sekresi dan dilatasi kistik. Letak di labia mayora (antara jam 4 jam 8). Kelenjar Bartolin membesar, merah, nyeri, dan lebih panas dari daerah sekitarnya. Berisi nanah yang dapat keluar dari duktus atau bila tersumbat (karena infeksi) akan mengumpul menjadi abses.

Manifestasi Klinis
y y

Keluhan pasien adalah benjolan, nyeri dan dispareunia (sakit saat berhubungan seksual). Sering rekurens, akhirnya menahun dalam bentuk kista yang tidak selalu menyebabkan keluhan, tapi dapat terasa berat dan mengganggu koitus.

Penatalaksanaan
y y y y y

Pasien usia lanjut harus dibiopsi (curiga keganasan, meskipun jarang). Beri antibiotik (terhadap Klamidia, Gonokok, Bakteroides dan E. coli) bila belum abses. Jika sudah abses lakukan sayatan. Jika terbentuk kista yang tidak besar dan tanpa gejala, tidak perlu dilakukan apaapa, Terapi pembedahan berupa ekstirpasi, dianjurkan dengan marsupialisasi (sayatan dan pengeluaran isi kista diikuti penjahitan dinding kista yang terbuka pada kulit vulva yang terbuka pada sayatan). Hasilnya memuaskan dan tidak beresiko.

KISTA BARTOLINI http://rukiahblog.blogspot.com/view/class ic


 y

KISTA BARTHOLINI PENDAHULUAN Kista barhtolini pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli anatomi Belanda pada tahun 1677 bernama Casper Bartholin. Kelenjar ini merupakan kelenjar vestibuler terbesar menyerupai kelenjar cowper (kelenjar bulbouretral) pada laki-laki, yang letaknya tertutup dan berpasangan. Kelenjar ini berfungsi untuk mensekresi cairan pembersih, mukus yang alkalis kedalam duktus yang bagian dalamnyatersusun atas sel kolumner dan bagian luar tersusun atas epitel transisional. Kista barhtolini adalah tersumbatnya saluran lubrikasi pada vagina atau membesarnya muara saluran lubrikasi, yang berakibat tidak keluarnya cairan lubrikasi yang mestinya keluar (perempuan yang belum 40 tahun). Kondisi ini disebabkan oleh adanya bakteri, yang antara lain adalah E-coli, kuman/bakteri penyakit kelamin, dll. Kista bartholini merupakan masalah yang sering didapatkan pada wanita usia reproduksi. Kista bartholini terbentuk akibat tersumbatnya kelenjar minyak dibibir kemaluan bagian dalam (ada dua, di kiri dan kanan) akibat adanya infeksi. Untukmenghindari timbulnya kista dengan menjaga kebersihan (hygienis). Selama kista ini tidak terinfeksi oleh virus, bakteri, jamur kista ini tidak menimbulkan masalah, si wanita tidak akan merasa sakit hanya saja akan ada rasa benjolon di labia mayoravagina.( bibir bagian luar vagina) Tapi seandainya kista ini terinfeksi maka disebutdengan abses bartholini.Kelenjar Bartholini berkembang dari epithelium pada area posterior dari vestibula. Kelenjar ini terletak secara bilateral pada dasar dari labia minora dan proses drainasenya melalui duktus dengan panjang 2-2.5 cm, Kelenjar tersebut

biasanya hanya berukuran sebesar kacang polong dan jarang melebihi ukuran 1 cm Kelenjar ini tidak bisa dipalpasi kecuali jika terjadi infeksi atau penyakit lainnya.Obstruksi pada duktus Bartholini pada posisi distal bisa menyebabkan retensi dari sekresi, sehingga menyebabkan dilatasi pada duktus dan formasi kista.Jika kista duktus Bartholini kecil dan tidak terjadi inflamasi, penyakit asimptomatik. Namun kista biasanya nampak sebagai massa yang menonjol secara medial dalam introitus posterior pada region dimana duktusnya berakhir di dalam vestibula. EPIDEMIOLOGI Kista Bartholini merupakan kista yang sering terjadi pada vulva,dan terjadi dalam labia mayora. Kista Bartholini terjadi pada dua persen dari wanita. Pada salah satu penelitian didapatkan bahwa kejadian kista bartholini atau abses lebih sering didapatkan pada wanita berkulit putih dan hitam berbanding wanita Hispanik, dan wanita dengan jumlah paritas yang banyak merupakan wanita yang mempunyai resiko yang paling rendah. Tingginya frekwensi angka kejadian dari kista Bartholini pada usia reproduktif, terutama pada wanita dengan usia diantara 20 sampai 29 tahun. ANATOMI Vulva Terdiri dari mons veneris ,labia mayora, labia minor, klitoris, vestibulum dengan orifisium uretra eksternum, glandula bartholin dan glandula parauretralis. Vulva berbentuk lonjong dengan ukuran panjang dari muka ke belakang dan dibatasi di muka oleh klitoris, kanan dan kiri oleh kedua bibir kecil, dan dibelakang oleh perineum, embriologik sesuai dengan sinus urogenetalis. Di vulva 1-1,5 cm di bawah klitoris ditemukan orifisium uretra eksternum (lubang kemih) berbentuk membujur 4-5 mm dan tidak jarang sukar ditemukan oleh karena tertutup lipatan-lipatan selaput vagina. Tidak jauh dari lubang kemih, di kiri dan di kanan bawahnya, dapat dilihat dua ostia skene.Saluran skene analog dengan kelenjar prostat pada laki-laki.Di kiri dan kanan bawah, dekat fossa navikulare, terdapat kelenjar Bartholini.

Kelenjar ini, dengan ukuran diameter lebih kurang 1 cm, terletak di bawah otot konstriktor kunni dan mempunyai saluran kecil panjang 1,5-2 cm yang bermuara di vulva, tidak jauh dari fossa navikulare. Pada koitus kelenjar Bartholini mengeluarkan getah lendir. Kelenjar Bartholini berfungsi mensekresikan cairan ke permukaan vagina. Mukosa kelenjar dilapisi oleh sel-sel epitel kubus. Cairan ini mengalir ke dalam duktus sepanjang 2,5 cm dan dilapisi oleh sel-sel epitel transisional. Duktus ini bermuara diantara labia minor dan hymen dan dilapisi pada bagian ini terdiri atas epitel skuamosa.Oleh karena itu, kelenjar ini dapatberkembang menjadi karsinoma sel skuamosa atau adenokarsinoma. PATOLOGI Obstruksi dari saluran bartolini distal bisa karena retensi sekresi dengan resultan dilatasi saluran dan formasi kista. Kista bisa menjadi infeksi dan akhirnya berkembang menjadi abses. Kista saluran bartolini bisa saja tidak tampak sebelum menjadi abses.jika kista saluran bartolini tampak kecil dan tidak menjadi inflamasi, akan tampak asimptomatik. Jika kista menjadi infeksi, akan tampak bentuk abses. Pada Bartholinitis akuta kelenjar membesar, merah, nyeri dan tampak lebih panas dari daerah sekitarnya. Isinya cepat menjadi nanah yang dapat keluar melalui duktusnya, dan jika duktus tersumbat, mengumpul didalamnya dan menjadi abses yang kadang kadang membesar menjadi sebesar telur bebek. Radang pada kelenjar bartolini dapat menjadi berulang-ulang dan akhirnya dapat menahun dalam bentuk kista bartolini. GAMBARAN KLINIS Jika kista duktus Bartholini masih kecil dan belum terjadi inflamasi, penyakit ini bisa menjadi asimptomatik. Kista biasanya nampak sebagai massa yang menonjol secara medial dalam introitus posterior pada regio yang duktusnya berakhir di dalam vestibula. Jika kista menjadi terinfeksi maka bisa terjadi abses pada kelenjar. Indurasi biasa terjadi pada sekitar kelenjar, dan aktivitas seperti berjalan, duduk atau

melakukan hubungan seksual bisa menyebabkan rasa nyeri pada vulva. Kista duktus Bartholini dan abses glandular harus dibedakan dari massa vulva lainnya. Lesi vulva yang solid dan kistik yang sering ditemukan ditunjukkan pada Tabel 2. Karena kelenjar Bartholini biasanya mengecil saat menopause, pertumbuhan vulva pada wanita postmenopause harus dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya keganasan , khususnya jika massa irregular, nodular dan indurasi persisten. Gejala Klinik Kista Bartholini tidak selalu menyebabkan keluhan akan tetapi kadang dirasakan sebagai benda padat dan menimbulkan kesulitan pada waktu koitus. Jika kista bartholini masih kecil dan tidak terinfeksi, umumnya asimtomatik.Tetapi bila berukuran besar dapat menyebabkan rasa kurang nyaman saat berjalan atau duduk.Tanda kista Bartholini yang tidak terinfeksi berupa penonjolan yang tidak nyeri pada salah satu sisi vulva disertai kemerahan atau pembengkakan pada daerah vulva. Keluhan pasien pada umumnya adalah benjolan, nyeri, dan dispareunia. Penyakit ini cukup sering rekurens. Bartholinitis sering kali timbul pada gonorrea, akan tetapi dapat pula mempunyai sebab lain, misalnya treptokokus. Pada Bartholinitis akuta kelenjar membesar, merah, nyeri, dan lebih panas dari daerah sekitarnya. Isinya cepat menjadi nanah yang dapat keluar melalui duktusnya, atau jika duktusnya tersumbat, mengumpul di dalamnya dan menjadi abses yang kadang-kadang dapat menjadi sebesar telur bebek. Jika belum menjadi abses, keadaan bisa di atasi dengan antibiotika, jika sudah bernanah harus dikeluarkan dengan sayatan. Adapun jika kista terinfeksi maka dapat berkembang menjadi Kista Bartholini dengan gejala klinik berupa : Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik, atau berhubungan seksual. Umumnya tidak disertai demam, kecuali jika terinfeksi dengan mikroorganisme yang ditularkan melalui hubungan seksual atau ditandai dengan adanya perabaan kelenjar

limfe pada inguinal. Pembengkakan area vulva selama 2-4 hari. Biasanya ada sekret di vagina, kira-kira 4 sampai 5 hari pasca pembengkakan, terutama jika infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang ditularkan melalui hubungan seksual. Dapat terjadi ruptur spontan. Teraba massa unilateral pada labia mayor sebesar telur ayam, lembut, dan berfluktuasi, atau terkadang tegang dan keras. Radang pada glandula Bartolini dapat terjadi berulang-ulang dan akhirnya dapat menjadi menahun dalam bentuk kista Bartholini.Kista tidak selalu menyebabkan keluhan, tapi dapat terasa berat dan mengganggu koitus. Jika kistanya tidak besar dan tidak menimbulkan gangguan, tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa; dalam hal lain perlu dilakukan pembedahan. DIAGNOSIS Anamnesis yang baik dan

pemeriksaan fisik Sangat mendukung suatu diagnosis. Pada anamnesis ditanyakan tentang gejala seperti : - Panas, - Gatal, - Sudah berapa lama gejala berlangsung, - Kapan mulai muncul, - Faktor yang memperberat gejala, - Apakah pernah berganti pasangan seks, - Keluhan saat berhubungan, - Riwayat penyakit menular seks sebelumnya, - Riwayat penyakit kulit dalam keluarga, - Riwayat keluarga mengidap penyakit kanker kelamin, - Riwayat penyakit yang lainnya misalnya diabetes dan hipertensi, - Riwayat pengobatan sebelumnya. Kista atau abses Bartholini di diagnosis melalui pemeriksaan fisik, khususnya dengan pemeriksaan ginekologis pelvis. Pada pemeriksaan fisis dengan posisi litotomi, kista terdapat di bagian unilateral, nyeri, fluktuasi dan terjadi pembengkakan yang eritem pada posisi jam 4 atau 8 pada labium minus posterior. jika kista terinfeksi, pemeriksaan kultur jaringan dibutuhkan untuk

mengidentifikasikan jenis bakteri penyebab abses dan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi akibat penyakit menular seksual seperti Gonorrhea dan Chlamydia. Untuk kultur diambil swab dari abses atau dari daerah lain

seperti serviks. Hasil tes ini baru dilihat setelah 48 jam kemudian, tetapi hal ini tidak dapat menunda pengobatan. Dari hasil ini dapat diketahui antibiotik yang tepat yang perlu diberikan. Biopsi dapat dilakukan pada kasus yang dicurigai keganasan