Anda di halaman 1dari 3

Sabuk Nusantara 30 kandas

KMP Sabuk Nusantara 30 kandas selama 5 jam setelah diresmikan Menhub RI, senin malam (9/1) kemarin. Menurut nahkoda kapal, Arif Muntjoyo, ia sulit mencari alur di perairan Kampung baru, Keke, Kijang, karena air surut. kemudinya sangat sulit di kendalikan, mungkin karena baru. Tapi kondisi kapal tidak apa-apa, hanya kandas Karena factor air surut. Semua penumpang tidak masalah dan enjoy saja di dalam kapal, tegasnya. Usai di resmikan di Sri Bintapura, kapal menuju kijang. Saat kapal bersandar, sebagaian penumpang turun ke kapal kijang untuk membeli makanan untuk perjalanan. Soalnya, kapal dijadwalkan berankat pukul 19.00 WIB, usai magrib. Sekitar pukul 19.00 wib kapal lepas tali dengan tujuan Tambelan. Baru berjalan sekitar 15 menit, tepatnya berada di Kampung Baru Keke kapal tiba-tiba berhenti karena kandas. Bagian depan kapal manabrak lumpur di alur yang dangkal sebelum sampai di rambu Mercusuar Sungau Enam. saat itu kapal berjalan sedikit ke kiri. Karena arus air sangat kuat. Karena kandas kapal tidak dapat berjalan, jelas seorang penumpang kapal Fachruddin, warga Batu Lepuk Kecamatan Tambelan kabupaten Bintan yang menghubungi Tanjungpinang Pos. Tiba di pelabuhan Kijang sekitar pukul 16.00 wib, senin sore (9/1). Saat masuk kepelabuhan Kijang tidak ada masalah. Kapal langsung sandar di pelabuhan Sri Bayintan, tambah Fachruddin. Dari pantauan Tanjungpinang Pos, dalam keadaan kandas kapal tidak dapat dikendalikan dengan maksimal ketika melawan arus air laut dalam keadaan surut. Sehingga buritan atau bagian belakang kapal didorong air laut ke arah samping. Akibatnya, posisi kapal yang semula membujur dari arah utara ke selatan berubah menjadi melintang dari timur kea rah barat. Dengan posisi bagian depan kapal mengarah ke barat. Hingga pukul 23.30 wib, posisi kapal dari kejauhan tidak berubah. Bantuan dari pihak terkait belum ada. Sekitar 300 penumpang hanya menunggu bantuan penarikan kapal dan berharap agar airnya segera pasang. Kami hanya makan makanan yang dibeli di Kijang saja. Soalnya, dari kapal tidak disediakan konsumsi. Sebagian penumpang juga ada yang berbual kosong saja. Arus sangat kuat, sehingga kapal agak miring ke kanan, ujarnya. Menurut fachruddin, nahkoda kapal sudah beberapa kali melakukan upaya untuk melepaskan dari kandas lumpur tersebut. Nahkoda mengarahkan kapal untuk mundur, tapi upaya itu sia-sia. Selain mundur pihak kapal sudah menghubungi Dishub Provinsi dan instansi terkait

untuk meminta bantuan. Bantuan baru datang sekitar pukul 00.15 wib, selasa (10/1) dini hari. Kapal ditarik satu unit kapal tugboat dari bagian belakang. sekitar pukul 00.30 wib, kapal Sabuk Nusantara lepas dari lumpur. Kurang lebih 5 jam kami kandas di perairan Kijang. Sebut Fachruddin. Penumpang lain yang enggan ditulis namanya mengatakan, kapal Sabuk Nusantara 30 kandas dinilai akibat nahkoda yang belum memahami alur pelayaran di pelabuhan Kijang. Pasalnya, Kapal Pelni Bukit Raya yang ukurannya lebih besar tidak kandas saat memesuki perairan kijang. selain belum memahami alur, kapal Sabuk Nusantara 30 pada saat bertolak dari Kijang juga tidak ada kapal pandu. Seharusnya kapal pandu ada, agar kapal yang belum berpengalaman tidak musibah seperti kandas ini, saran sumber yang mengaku akan menuju Tarempa. Pada kesempatan terpisah, kepala Adpel kantor cabang Kijang, Gurino ketika diminta keterangan membenarkan tentang kapal Sabuk Nusantara yang kandas di perairan Keke tersebut. Untuk lebih jelasnya, hubungi saja kepala Adpel Tanjungpinang. Beliau juga lagsung turun ke lapangan malam tadi, saran Guritno, selasa pagi. Sedangkan kepala Adpel Tanjungpinang, Rahmatullah menyebutkan, kapal Sabuk Nusantara 30 dilengkapi Sounder, GPS, dan peralatan lainnya. Hanya saja arus di sekitar perairan Keke tersebut sangat kuat. Sehingga kapal kandas di lumpur bercampur pasir ditambah lagi cuaca buruk disertai angin rebut dan hujan. Kandas yang dialami Sabuk Nusantara 30 tidak terlalu berat. Hanya saja, nahkoda tidak berani berspekulasi untuk menggunakan tenaga kapal secara penuh pada saat mundur. Nahkoda kuatir kapal rusak kalau dipaksa menggunakan tenaga penuh. Akhirnya kapal di tarik dengan tugboat. Hanya sebentar saja, langsung lepas, sebut Rahmatullah ketika menghubungi Koran ini via jaringa seluler. Usai penarikan dengan menggunakan tugboat salah satu perusahaan di Kijang, lanjut Rahmatullah, kapal Sabuk Nusantara ditarik kembali ke Kijang. Pihak Adpel dan Dishub melakukan sounding atau pengecekan kondisi kapal. kondisi kapal tidak ada yang rusak. Kapal berangkat kembali tujuan Tambelan sekitar pukul 03.30 wib atau 04.00 wib, demikian terang Rahmatullah. Bukan tabrak karang General manager PT Pelayaran Nasional (Pelni) cabang Tanjungpinang, Johanes Wagiu membenarkan kapal perintis Sabuk Nusantara 30 yang berlaar perdana menuju Tambelan kandas setelah mengisi bahan bakar minyak (BBM).

Tepatnya kapal berhenti karena air surut, menunggu air pasang baru kembali kapal di berangkatkan. Banyak yang bilang kapal tabrak karang adalah tidak benar, kata Johanes Wagiu yang langsung meninjau kapal di lokasi saat mendapatkan laporan dari nahkoda kalau kapal perintis kandas. Karena air surut, kapal tidak bisa melewat jalur. Harus menunggu pasang baru kapal bisa berlayar kembali. Kondisi kapal dan penumpang tidak apa-apa, ini dibuktikan pelayaran tetap dilanjutkan ke Tambelan. kapal tidak apa-apa, hanya kandas biasa, maklum baru perdana di operasikan yang kebetulan cuaca tidak bersahabat, hujam turun dan air surut, tegasnya. Setelah Johanes naik kapal yang kandas, dan melihat langsung kodisi kapal tidak apa-apa dan penumpang tetap tenang, ia terus berkoordinasi dengan kepala Dinas Perhubungan Kepri, Muramis dan juga Adpel Tanjungpinang dan kijang. KMP sabuk Nusantara 30 kapal adalah amanat yang harus dijaga, yang dikelola oleh pelni sebagai operator sedangkan perawatan dan perbaikan tetap di bawah Adpel Tanjungpinang.