Anda di halaman 1dari 16

Telaah Staf ( Sistem Udara Masuk dan Gas Buang pada Mesin Diesel MAN 500 kW )

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang OJT (On the Job Training) adalah tahap akhir dari proses Diklat Prajabatan / Program Beasiswa Ikatan Dinas PT PLN (Persero), yang dilaksanakan setelah para peserta yang bersangkutan selesai mengikuti Diklat Pembidangan atau selesai menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Teknik PLN dan Udiklat PT PLN (Persero) Bogor. Melelaui OJT ini para peserta akan diperkenalkan kepada situasi dan kondisi pekerjaan lapangan. Pelaksanaan OJT menggunakan fasilitas dan peralatan kerja Unit Kerja di PT PLN (Persero) penyelenggara OJT, dengan dibimbing oleh Mentor yang berasal dari unit dimana peserta OJT ditempatkan. Laporan ON THE JOB TRAINING (OJT) ini akan membahas tentang System Udara Masuk dan Gas Buang. Penulis mengambil judul ini di karenakan sistem ini sangat diperlukan dalam proses pembakaran, dimana udara tersebut diambil langsung dari udara atmosfir. Sistem udara masuk ini berfungsi menyediakan udara bersih yang cukup untuk proses pembakaran bahan bakar didalam silinder. System udara masuk merupakan ciri khas motor diesel, karena panas yang diperoleh motor diesel untuk pembakaran tidak melalui bunga api listrik (spark plug) akan tetapi dari panas yang timbul karena udara yang dipampatkan didalam ruang bakar. Untuk itu pada langkah hisap motor torak 4 tak, yang dihisap berupa udara murni. Kelancaran distribusi udara masuk dan gas buang sangat menentukan hasil pembakaran yang secara langsung akan mempengaruhi kemampuan mesin untuk memikul beban yang berubah-ubah. 1.2 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tempat pelaksanan OJT adalah pada PLTD Sentawar Ranting Melak Cabang Samarinda dari tanggal 1 APRIL 2010 sampai tanggal 30 JUNI 2010. 1.3 Identifikasi Masalah Pemeliharan rutin untuk membersihkan Filter Udara dan kotoran (karbon) dalam Turbocharger sangat penting, karena kotoran yang terlalu menumpuk dapat mengurangi proses udara masuk dalam silinder yang tidak maksimal, sehingga tidak terjadi pembakaran yang sempurna.

1.4

Tujuan Adapun tujuan dalam penulisan laporan ini adalah sebagai pengertian bahwa betapa pentingnya system Udara Masuk dan Gas Buang sebagai sarana pendukung sebuah unit PLTD, dan agar di kemudian hari dapat mengoperasikan dan melaksanakan pemeliharaan system ini sesuai dengan SOP (Standard Operation Procedure) sehingga dapat menjaga keandalan sistem tersebut.

1.5

Manfaat Agar pembaca yang menyimak dapat dijadikan sebagai refrensi dalam hal pengoperasian dan pemeliharaan System Udara Masuk dan Gas Buang pada SPD (Satuan Pembangkit Diesel).

1.6

Batasan Masalah Dalam penjelasan masalah tentang Sistem Udara Masuk dan Gas Buang terdapat batasan-batasan masalah. Adapun batasan-batasan masalah tersebut mencakup : 1. Prinsip kerja dan alur sirkulasi pada System Udara Masuk dan Gas Buang 2. Bagian-bagian serta fungsi dari System Udara Masuk dan Gas Buang

1.7

Sitematika Penulisan Bab I Pendahuluan, meliputi: Latar Belakang: berisi uraian apa dan mengapa topik yang dipilih tersebut mempunyai arti penting. Waktu dan Tempat Pelaksanaan : waktu dan tempat berlangsungnya kegiatan OJT Identifikasi Masalah: merumuskan masalah-masalah yang mungkin timbul dari topik yang dipilih. Tujuan: merumuskan tujuan utama dari masalah yang telah dipilih. Manfaat : kegunaan dari hasil yang diharapkan. Batasan Masalah: memilih masalah dari kemungkinan yang ada serta argumentasi. Sistematika Penulisan.

Bab II Tinjauan Umum Perusahaan , meliputi tentang sejarah perkembangan perusahaan, visi misi dan motto perusahaan dan sebagainya. Bab III Proses, berupa rangkaian penjelasan prinsip kerja, alur System Udara Masuk dan Gas Buang serta bagian-bagian dan fungsi dari System Udara Masuk dan Gas Buang. Bab IV Penutup, berisi kesimpulan menyeluruh dari hasil serta saran-saran untuk perbaikan atau aspek lain yang perlu dikaji lebih lanjut. Isinya harus sesuai dengan tujuan pada bab pendahuluan dan analisis serta diskusi yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya. Daftar Pustaka

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Perkembangan Perusahaan Listrik Negara Kelistrikan di Indonesia dimulai pada abad ke19, pada saat beberapa perusahaan milik Belanda, antara lain pabrik gula dan teh mendirikan pembangkit tenaga listrik yang dipergunakan untuk keperluan sendiri. Setelah Belanda menyerah kepada jepang maka perusahaan kelistrikan dikuasai oleh Jepang. Dan pada tanggal 17 agustus 1945 merdeka maka dengan itu segala infrastruktur dikuasai oleh Indonesia termasuk perusahaan kelistrikan,setelah itu dibentuklah jawatan listrik dan gas dibawah Departemen pekerjaan umum dan Tenaga sesuai peraturan pemerintah tahun 1945 No. I/SD tanggal 27 Oktober 1945 Dengan adanya Agresi Belanda I dan II sebagian besar perusahaan perusahaan listrik Negara dikuasai kembali oleh Pemerintah Belanda. Pegawai pegawai yang tidak mau bekerjasama kemudian mengungsi dan mengabungkan diri pada kantor Jawatan Listrik dan Gas di daerah daerah Republik Indonesia yang bukan daerah pendudukan Belanda untuk meneruskan pejuangan. Para pemuda kemudian mengajukan MOSI yang kemudian dikenal dengan MOSI Kobarsyih tentang nasionalisasi perusahaan listrik dan swasta kepada

Parlemen Republik Indonesia. Selanjutnya dikeluarkan keputusan Presiden Republik Indonesi No. 163, tanggal 3 Oktober 1953 tentang nasionalisasi Perusahaaan Listrik milik Bangsa Asing di Indonesia apabila waktu konsesinya habis. Sejalan Dngan meningkatnya perjuangan Indonesia untuk membebaskan Irian Jaya dari cengkraman Penjajah Belanda maka dikeluarkan Undang Undang No.86 tahun 1958 yang disahkan tanggal 27 Desember 1958 tentang nasionalisasi perusahan Listrik dan Gas milik Belanda. Dengan UU tersebut maka seluruh Perusahaan Listrik dan Gas berada di tangan Bangsa Indonesia. Sejarah ketenagalistrikan di Indonesia mengalami pasang surut, sejalan dengan pasang surutnya perjuangan Bangsa. Tanggal 27 Oktober 1945 kemudian dikenal dengan Hari Listrik dan Gas, hari tersebut telah diperingati untuk pertama kalinya pada tanggal 27 Oktober 1946 bertempat di Gedung Badan Pekerja Komite Nasional Pusat ( BPKNIP ), Yogyakarta. Penetapan secara resmi tanggal 28 Oktober 1945 sebagai Hari Listrik dan Gas berdasarkan keputusan menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga No.20 tahun 1960, namun kemudian berdasarkan keputusan menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik No.235 / KPTS / 1975 tanggal 30 September 1975. Peringatan Hari Listrik dan Gas digabungkan dengan Hari kebangkitan Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang jatuh pada tanggal 3 Desember. Maka berdasarkan keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.1134.K / 43 / PE / 1992 tanggal 31 Agustus 1992. Oleh karena itu ditetapkan tanggal 27 Oktober 1992 sebagai Hari Listrik Nasional.

2. 2 Visi, Misi, Motto, Budaya dan Kompetensi Inti Perusahaan Listrik Negara PT PLN mempunyai visi dan misi dalam menjalankan tugas-tugasnya dan dalam menghadapi era globalisasi saat ini. Visi PLN, yaitu: Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang bertumbuh kembang unggul, dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani. Misi PLN, yaitu: a. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, serta berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan, dan pemegang saham.

b.

Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

c. d.

Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

Motto PLN, yaitu : Listrik Untuk Kehidupan yang Lebih Baik ( Electricity for a better life )
Budaya PLN, yaitu : 1. Saling percaya 2. Integritas 3. Peduli 4. Pembelajar

Kompetensi Inti Karyawan PLN, yaitu : 1. Integritas 2. Melayani pelanggan 3. Orientasi pada pencapaian 4. Pembelajaran 5. Adaptasi

2.3 Proses Bisnis dan Struktur Organisasi PT PLN Ranting Melak Adapun proses bisnis yang ada di PT. PLN (Persero) Ranting Melak meliputi beberapa fungsi antara lain : Fungsi Pelayanan Pelanggan, yang merupakan gerbang utama dari proses bisnis PLN yang mengurusi Pasang Baru, Tambah Daya, pengaduan pelangganan dll yang berkaitan dengan pelanggan. Fungsi Pembacaan Stand KWH Meter, di sisi pelanggan yang dilakukan oleh pencatat meter. Fungsi Pembuatan Rekening yang dilakukan oleh bagian pengolahan data dan tugas pokok ini langsung diambil alih oleh PT. PLN Cabang Samarinda. Fungsi Pembukuan, yaitu membukukan berapa banyak rekening yang tercetak dan terjual setiap bulannya yang tugas dan tanggung jawab ini di emban oleh Supersivor Keuangan dan Administrasi. Fungsi Penagihan, yaitu proses penjualan rekening.

Fungsi Pengawasan Kredit, yaiu proses mengevaluasi rekening-rekening yang belum terjual dan penunggakan pembayaran rekening dengan salah satu caranya dengan mengadakan pemutusan aliran listrik ke pelanggan sementara sampai pelanggan mau membayar rekening. Fungsi Pembangkitan,yaitu proses membangkitkan listrik untuk disalurkan kepada pelanggan.

Adapun struktur organisasi Ranting Melak terdiri dari : Manager Ranting yang membawahi Bagian Pelayanan Pelanggan dan Pendapatan, Supervisor Keuangan dan Administrasi, Supervisor Distribusi dan Supervisor Pembangkitan Dan Kepala ULD. Pelayanan Pelanggan dan Pendapatan yang membawahi bagian bagian Survey dan penerimaan PB, PD, SK dan Pengaduan, bagian kasir PB/PD, bagian pembukuan pelanggan dan bagian pengarsipan serta yang membawahi bagian Paymentpoint (tempat pembayaran rekening). Bagian loket mobil. Supervisor Keuangan dan Administrasi yang membawahi bagian kasir rayon, bagian pembukuan kas biaya, bagian pembukuan kas pendapatan dan sekretaris manager rayon. Supervisor Pembangkitan yang membawahi ,regu pemeliharaan dan Operator. Supervisor Distribusi yang membawahi regu gangguan jaringan listrik,penyambungan APP dan bagian putus sambung (TusBung).

2.4 Batas-Batas Pengusahaan PT. PLN (Persero) Ranting Melak Wilayah PT PLN Ranting Melak hanya menyediakan listrik untuk di Kabupaten Kutai Barat. Untuk menyediakan kebutuhan pasokan listrik yang andal PLN Ranting Melak mempunyai 10 ULD diantaranya : ULD Barong Tongkok yang merupakan kantor jaga dan loket pembayaran rekening untuk wilayah Barong dan sekitarnya. ULD Linggang Bigung yang merupakan kantor jaga dan loket pembayaran rekening di wilayah Linggang Bigung dan sekitarnya. ULD Lambing-Damai, yang merupakan kantor jaga dan loket pembayaran rekening wilayah Lambing-Damai dan sekitarnya.

ULD Muara Pahu, ULD Long Iram,ULD Datah Bilang, ULD Ujoh Bilang,ULD Dilang Putih, ULD Kelumpang, dan ULD Sang-Sang yang juga merupakan pembangkit dan loket pembayaran yang melayani daerah yang terisolasi. Dengan adanya ULD ini diharapkan seluruh Kecamatan dapat dialiri pasokan listrik yang baik dari Ranting Melak.

BAB III PROSES ( ISI MATERI ) 3.1 Gambaran Umum Pembangkit Listrik Tenaga Diesel PLTD adalah pembangkit listrik yang menggunakan mesin diesel sebagai prime over atau penggerak mula yang di kopel (couple) dengan generator, generator berfungsi mengkonversi energi mekanik dari mesin diesel menjadi energi listrik.Generator sendiri merupakan bagian dimana gaya-gaya listrik di bangkitkan. Terdiri dari stator dan rotor, stator yang berupa lilitan konduktor memotong medan magnet pada rotor yang berputar, sehingga timbul gaya gerak listrik. Rotor dalam penguatan medan magnetnya menggunakan arus DC (Direct current) yang di suplai exciter. Exciter biasanya terletak satu poros dengan generator. Sama seperti generator, exciter juga terdiri dari stator dan rotor, tetapi output yang di hasilkan akan di ubah menjadi arus DC oleh sebuah rectifier untuk penguatan medan magnet pada rotor generator. Pada umumnya mesin diesel terbagi atas 2 jenis, 4 tak (langkah) dan 2 tak, namun seiring jalannya waktu yang memerlukan efesiensi energi, mesin diesel 2 tak mulai ditinggalkan karena tidak efisien baik dari daya yang di hasilkan maupun emisi gas buang yang di hasilkan terlalu besar dan mencemari lingkungan.Sehingga mesin diesel 4 tak yang sampai sekarang masih terus digunakan dan di kembangkan karena lebih efisen daripada mesin diesel 2 tak. Mesin diesel 4 tak memiliki prinsip kerja untuk melakukan 1 kali proses, terjadi 4 langkah dan 2 putaran crank shaft (poros engkol). Lebih simplenya dalam hal efisiensi, mesin

diesel 4 tak hanya membutuhkan 1 kali pembakaran untuk 2 kali putaran crank shaft, berbeda dengan mesin diesel 2 tak yang 1 kali pembakaran hanya menghasilkan 1 putaran crank shaft. Langkah-langkah kerja mesin 4 tak di jelaskan lebih rinci dengan gamabar di bawah ini. 1. Langkah Isap Gambar 2. Langkah Isap Pada langkah ini yang terjadi adalah udara masuk ke dalam silinder, katup isap membuka dan udara dari saluran udara masuk melalui katupisap, piston (torak) bergerak menuju TMB (titik mati bawah). Pada mesin diesel besar biasanya terdapat turbocharge yang berfungsi untuk menambah jumlah udara yang masuk ke silinder agar daya yang di hasilkan mesin maksimal. Turbocharge adalah turbin yang digerakan oleh panas gas buang, turbin ini memutar blower bertekanan rendah untuk menghisap udara luar masuk ke dalam saluran udara dan masuk ke silinder-silinder. Turbocharge ini meningaktkan efisiensi kalor yang di gunakan dari hasil pembakaran. 2. Langkah Kompresi Gambar 3. Langkah Kompresi Pada langkah ini, udara yang masuk pada langkah isap di kompresi, piston bergerak dari TMB menuju TMA (titik mati atas), sehingga udara menagalami pemampatan atau terkompresi. Kedua katup tertutup, baik katup isap maupun katup buang.Udara yang terkompresi ini mengalami kenaikan suhu dan tekanan, karena molekul-molekul pada udara bergesekan pada saat di kompresi,sehingga terjadi kenaikan suhu. Pada mesin diesel, perbandingan kompresinya besar, karena perbandingan kompresi yang besar mengahasilkan panas yang lebih besar pula pada udara kompresi, panas ini lah yang dapat membakar bahan bakar, karena mesin diesel tidak memilik pematik api seperti halnya pada mesin yang menggunakan bahan bakar bensin. 3. Langkah Usaha Gambar 4. Langkah Usaha Pada langkah ini yang terjadi adalah pembakaran pada ruang bakar.Keadaan katup baik isap maupun buang tertutup. Udara terkompresi yang memiliki suhu dan tekanan tinggi pada volume sisa hasil dari langkah kompresi akan disemprotkan bahan bakar oleh nozzle berupa partikel-partikel kecil, hal ini agar bahan bakar mudah di terbakar. Oleh karena itu bahan bakar dari pompa bahan bakar di alirkan menuju nozzle terlebih dahulu sebelum masuk ke

ruang bakar, di dalam nozzle ini terjadi pemampatan bahan bakar kira-kira antara 350380 bar, keluar dari nozzle bahan bakar berupa kabut atau partikel-partikel yang sangat kecil.Partikel-partikel kecil bahan bakar ini bercampur udara bersuhu tinggi sehingga terbakar.Terjadi perubahan suhu dan tekanan yang sangat tinggi sehingga menekan piston menuju TMB, langkah ini yang di namakan langkah usaha.

4. Langkah buang Gambar 5. Langkah Buang Pada langkah ini yang terjadi adalah pembuangan udara gas sisa-sisa hasil pembakaran.Piston bergerak menuju ke TMA dan katup buang terbuka dan gas sisa-sisa hasil pembakarankeluar melalui katup yang katup buang.Pada langkah ini juga terjadi overlapping, yaitu keadaan katup isap yang mulai membuka sebelum katup buang menutup sepenuhnya. Dalam pengoperasiannya, sebuah unit PLTD memiliki alat bantu yang masingmasingnya memiliki tugas dalam sebuah sistem. Sistem-sistem yang terdapat pada PLTD adalah sistem pendinginan (cooling), sistem pelumasan (lubricating), sistem bahan bakar (fuel)dan sistem-sistem lainnya. Fungsi dari sistem bahan bakar adalah sistem yang tugasnya mensuplai bahan bakar sampai masuk ke dalam silinder, sistem pendinginan adalah menjaga keadaan mesin agar tidak overheating, dan sistem pelumasan berfungsi menjaga komponenkomponen mesin yang saling bergesekan dari keausan (sebagai film).

3.2 Gambaran Umum Sistem Udara Masuk dan Gas Buang PLTD Sentawar Sistem udara masuk dan gas buang merupakan saluran yang mengarahkan aliran udara masuk kedalam masing-masing silinder dan sisa hasil pembakaran dari masing-masing silinder agar dapat dimanfaatkan secara maksimal. Sehingga udara sangat diperlukan dalam proses pembakaran, dimana udara tersebut diambil langsung dari udara atmosfir. Sistem udara masuk ini berfungsi menyediakan udara bersih yang cukup untuk proses pembakaran bahan bakar dalam silinder. Pada PLTD Sentawar, baik pada mesin MAN maupun DEUTZ, system udara masuknya menggunakan system turbocharger yang terdiri dari Turbin, Blower dan Intercooler.

Filter Udara Blower Turbin Udara Masuk

Gas Buang
Intercooler

Exhaust Manipold
ENGINE Intake Manipold

Gambar Sistem Aliran Udara Masuk Gas Buang Turbocharger Sistem turbocharger memanfaatkan gas buang yang keluar dari silinder untuk memutar turbin yang dikopel langsung dengan poros blower. Selanjutnya blower tersebut menghisap udara masuk kesilinder. Dengan temperature udara yang tinggi yang keluar dari Blower, maka udara tersebut perlu didinginkan. Udara tersebut didinginkan dengan menggunakan Intercooler sebelum masuk ke silinder lalu masuk kedalam radiator untuk didinginkan kembali. Kemudian udara dari intercooler masuk ke intake manifold, selanjutnya udara tersebut masuk keruang bakar untuk selanjutnya dikompresi. Pada akhir kompresi bahan bakar diinjeksikan kedalam silinder sehingga terjadi proses pembakaran antara bahan bakar dan udara. Gas hasil pembakaran dimanfaatkan untuk memutar turbin pada system turbocharger selanjutnya dibuang ke exhaust, silinder, cerebong terus keudara luar. Yang termonitor pada system udara masuk dan gas buang adalah : a. Temperature udara masuk

b. Temperature gas buang

3.3 Bagian-Bagian Sistem Udara Masuk dan Gas Buang 1. Turbocharger Gambar. Turbocharger Fungsi turbocharger adalah untuk memberikan tekanan udara masuk yang lebih tinggi sehingga tekanan kompresi naik, maka pembakaran dapat terjadi dengan sempurna dan daya mesin lebih besar (untuk ukuran mesin yang sama). Dalam Turbocharger terbagi dua yaitu Blower dan Turbin. Blower berfungsi untuk menghisap udara luar masuk kesilinder. Sedangkan turbin untuk memutar blower. Cara kerja turbocharger yaitu gas buang memutarkan turbin, keporos dengan blower, berputar memasukan udara baru. Yang harus diperhatikan pada turbocharger : Pelumasan turbocharger Tingkat kebersihan turbin dan blower Kelonggaran sudut dan rumah keong Putaran poros turbocharger Temperature gas buang 2. Filter Udara (air cooler) Filter udara (air cooler) untuk membebaskan udara dari kotoran, debu, pasir, dan bendabenda lain yang merusak silinder. Yang harus diperhatikan pada filter udara (air cooler) : Tingkat kebersihan penyaring Tingkat kerapatan bahan penyaring Kelembaban udara disekitsr

Gambar. Filter udara (air cooler) 3. Pendingin Udara (inter cooler) Pendingin Udara (intercooler) berfungsi untuk menbdinginkan udara yang masuk kedalam ruang bakar agar berat jenis udara tersebut akan bertambah. Cara kerja inter cooler yaitu udara dari blower bersinggungan dengan pipa air pendingin, sehingga panas dari udara terserap oleh air.

Yang harus diperhatikan pada inter cooler adalah : Tingkat kebersihan saluran air pendingin Tingkat kebersihan saluran udara Kualitas air pendingin Kebocoran pipa air pendingin Gambar. pendingin udara (inter cooler) 4. Intake Manifold (saluran udara masuk) Intake manifold sebagai tempat masuknya udara masuk sebelum kesilinder. Gambar. intake manipold 5. Exhaust manifold (saluran gas buang) Exhaust manipold sebagai tempat keluarnya gas buang setelah pembakaran. Gambar. Exhaust manipold

6. Expantion Joint (Peredam getar) Expantion joint berfungsi untuk meredam getaran dari mesin kecerobong. Gambar. Expantion joint (peredam getar) 7. Silencer, Silinder dan cerobong Silencer berfungsi Untuk meredam suara gas buang yang keluar dari ruang bakar sehingga mesin tidak bising. Gambar. Silinder dan cerobong 3.4 Prosedur Pengopersian dan Pemeliharaan Sistem Udara Masuk dan Gas Buang A. Pemeliharaan Turbocharger Adapun langkah-langkah kerja yang harus dilakukan dalam pemeliharaan dan Udara Masuk dan Gas Buang agar dapat maksimal yaitu : 1. Persiapan a. Menyiapkan seluruh perlengkapan / alat

b. Melepas filter udara beserta casing dan seluruh pipa-pipa air pendingin serta pipa-pipa oli masuk / keluar turbocharger

c.

Melepas baut penghubung turbocharger dengan exhaus manipold, intek manipold dan dudukan pada bodi mesin

d. Mengangkat turbocharger dari mesin 2. Memisahkan Casing Compresor dan Casing Turbin a. Melepas compresor casing dengan membuka baut memakai kunci 17 mm

b. Membuka baut penahan compresor whell sambil menahan baut pada sisi turbin dengan kunci L 19 dan memasang pengail untuk memasang tali c. Mencabut seluruh komponen compresor dan turbin dari casing turbin

3. Memisahkan turbin dengan compresor a. Melepas pengail dan memanasin blower compresor untuk memudahkan pencabutan

b. Mencabut bearing casing componen dengan trek 2 kaki 4. Membuka bearing turbocharger a. Melepas ring clip dengan tang pencabut dalam

b. Mencabut bearing cover dengan kedua obeng min sambil diayun ayunkan c. Melepas baur penahan bearing pada sisi samping dengan kunci L

d. Melepas satu persatu komponen hingga bearing turbocharger 5. Pembersihan dan pengukuran a. Membersihkan seluruh komponen turbocharger

b. Mengukur bearing trurbocharger, trust bearing turbocharger, dan ring piston turbocharger sesuai manual book. 6. Pemasangan a. Memasang ring piston turbocharger pada as turbo

b. Memasang main bearing, trust bearing dan komponen lainnya kecasing bearing dan dikunci dengan bautnya c. Memasang cover bearing dan dikunci dengan circlip

d. Menyatukan as turbo dengan bearing casing, blower compresor, diikat dengan baut e. f. Memasang kembali turbocharger ke turbin casing Mengencangkan kembali baut penahan blower compresor dengan kunci momen dan mengecek arah axsial dan radial g. Memasang kembali casing compresor dan mengencangkan baut-baut penahannya

h. Mengecek kembali putaran turbocharger jika dirasa tidak ada ganjalan, maka hasil pemasangan as turbocharger baik, jika terasa keras membuka kembali dan mengecek posisi turbin dengan casingnya i. j. Memasang kembali turbocharger set pada dudukan mesin Memasang kembali axhaust manipold, intek manipold dan pipa-pipa air pendingin turbocharger dan pipa oli k. Memasang casing filter udara dan filter udara 7. Test Mesin a. Start mesin hingga running

b. Mengamati gas buang dan parameter yang ada, jika gas buang yang keluar tak terlalu hitam dan putih maka mesin siap dioperasikan. 8. Pembersihan seluruh alat, tempat dan mesin.

3.5 Peralatan Kerja yang digunakan pada saat melaksanakan pemeliharaan dan pengoperasian pada SPD (Satuan Pembangkit Diesel) : 1.Peralatan Kerja a. Tool Set Lengkap berfungsi sebagai alat bantu dalam melakukan pekerjaan. Gambar. Tool Set Lengkap 2. Perlengkapan K3 a. Sarung Tangan Isolasi berfungsi sebagai pelindung tangan saat melakukan pekerjaan.

Gambar. Sarung Tangan Isolasi b. Helm Pengaman standar berfungsi sebagai pelindung kepala dari sentuhan listrik dan sebagai pelindung dari kejatuhan dan benturan benda keras.

Gambar. Helm Pengaman Standar c. Sepatu Isolasi berfungsi sebagai pelindung kaki pasa saat melakukan pekerjaan.

Gambar. Sepatu Safety

d. Pakaian kerja (wear pack) berfungsi sebagai pelindung anggota badan

Gambar. Pakaian kerja e. Ear plug berfungsisebagai penutup telinga

Gambar. Ear Plug e. Kotak P3K lengkap berfungsi sebagai alat untuk penolongan pertama jika terjadi suatu kecelakaan dalam pekerjaan.

+ P3K
Gambar. Kotak P3K f. Kacamata Pengaman berfungsi sebagai pelindung mata saat melakukan pekerjaan. Gambar. Kaca Mata Pengaman g. Tanda Peringatan berfungsi untuk mengamankan lokasi pekerjaan dari masyarakat sekitar agar tidak mendekat dari lokasi pekerjaan yang juga dipakai sebagai tanda peringatan dan batas daerah pekerjaan. AWAS . . . ! ! ! Gambar. Tanda Peringatan 3. Material a. Lap c. Ember d. Air BAB IV PENUTUP JANGAN DIMASUKAN SEDANG DIKERJAKAN

b. Sabun

4.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat di ambil dari pembahasan ini meliputi : 1. Sistem Udara masuk dan Gas Buang sangat membantu memaksimalkan operasi SPD (Satuan Pembangkit Diesel) 2. Dalam mengoperasikan dan pemeliharaan system udara masuk dan gas buang, SOP (Standart Operation Procedure) harus dilaksanakan agar dapat beroperasi dengan baik 4.2 Saran Untuk mengakhiri penulisan Tugas Akhir ini, penulis ingin memberikan saran diantaranya : 1. Dalam pemeliharaan dan pengopersian mesin selalu dilakukan sesuai SOP (Standart Operation Procedure) 2. Peserta OJT hendaknya diberikan kesempatan yang lebih banyak untuk melakukan pemeliharaan dan pengoperasian mesin sebagai upaya peningkatan kemampuan dan keahlian di bidang tersebut dengan tetap mendapatkan pengawasan dari yang lebih ahli/senior.