Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM SISTEM TELEKOMUNIKASI


SEMESTER IV TH 2010/2011

JUDUL

( PCM) PULSE CODE MODULATION GRUP 1 TELKOM 4A PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

Pembuat Laporan Nama Praktikan

: Kelompok 1 : 1. Ade Kamilia (1309030305) 2. Adi Rizky Pratomo (130903031Z) 3. Arya Wahyu Wibowo (1309030197) 4. Darmawati Anggraini (1309030349)

Tanggal Selesai Praktikum

: 27 April 2011

Tanggal Penyerahan Laporan : 04 Mei 2011

Nilai

Keterangan

: .

PULSE CODE MODULATION ( PCM )

I.

TUJUAN
1. Menjalankan prinsip dari transmisi PCM. 2. Menggambarkan bentuk rangkaian PCM. 3. Mengerti bagaimana metode konversi dari analog / digital dan parallel / serial. 4. Menyebutkan beberapa penggunaan dari PCM

II. DIAGRAM RANGKAIAN

Gambar 2.1. Gambar Rangkaian

III. ALAT DAN KOMPONEN


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. PAM Modulator SO 3537-7G Pulse Amplitudo Demodulator SO 3537-7H Function Generator SO 5127-2R Pulse Code Modulator SO 3537-7N Pulse Code Demodulator SO 3537-7P DC Power Supply 15 V SO 3538-8D

Dual Trasce Osciloscope BNC to Banana Cable

IV. DASAR TEORI


PCM adalah metode transmisi digital. Sebuah Pulse Code Modulator terdiri atas:  Sebuah bandwidth limiter filter  Rangkaian sample dan hold  Quantizer  Coder  Parallel / Serial Converter

Gambar 4.1. Pulse Code Modulator

Bandwidth sinyal yang ditransmisikan s(t) dibatasi oleh LPF dan menurut sampling, selanjutnya diberikan pada rangkaian sample dan hold. Sinyal sampling selanjutnya dikuantisasi kemudian dikodekan ke dalam bentuk binari. Data dalam bentuk parallel tersebut dikonversikan ke serial hingga didapat bentuk sinyal PCM. Sinyal inilah yang selanjutnya ditransmisikan. Pulse Code Demodulator terdiri atas:  Paralel / Serial Converter

 Digital / Analog Converter  LPF

Gambar 4.2. Pulse Code Demodulator

Informasi yang diterima dikonversikan ke bentuk parallel, oleh digital / analog converter. Selanjutnya dikonversikan lagi untuk memperoleh kembali sinyal analog dengan jalan menekan atau menghilangakan frekuensi click. Pada jaringan telepon digital menurut standar CCITT, PCM 30/32 mempunyai spesifikasi sebagai berikut:  Bandwidth 3.1 KHz  Batas frekuensi atas 3.4 KHz  Resolusi 8 bit  Frekuensi clock 8 KHz  Data rate per kanal 64 Kbit/sec  30 speech, 1 sync, 1 kanal dialing tone Kuantisasi dan Coding Pada proses kuantisasi merupakan proses pemberian nilai terhadap trap Sample. Cara termudah untuk mengkuantisasi sebuah sinyal PAM yaitu dengan membagi dinamik (kira-kira 60 dBuntuk sebuah kanal pembicaraan) menjadi sebuah interval kuantisasi yang sama. Batas-batas dari interval kuantisasi ini disebut nilai-nilai seleksi, dimana sebuah pulsa akan ditentukan, termasuk interval kuantisasi yang mana mendapatkan nilai berapa. Setiap pulsa yang terdapat didalam sebuah interval kuantisasi akan di encode sebagai memiliki nilai yang sama dengan nilai pada tengah-tengah interval.

V. DATA PERCOBAAN 5.1. Sinyal Output Sample

Time/Div : 0.2 ms Volt/Div : 0.5 volt

5.2. Output Pulse Code Demodulator Output Pulse


Time/Div : 0.2 ms Volt/Div : 2 volt

Code Demodulator

Output Pulse
Time/Div : 0.2 ms Volt/Div : 2 volt

Amplitudo Demodulator

Time/Div : 0.1 ms Volt/Div : 2 volt

Input PCM

5.3. Sinyal Syn dan Sinyal CK

Sinyal Syn
Time/Div : 10 s Volt/Div : 2 volt

Sinyal CK

5.4. Analog to Digital Converter

Time/Div : 1 s Volt/Div : 2 volt

Off 1

Time/Div : 1 s Volt/Div : 2 volt

Off 2

Time/Div : 1 s Volt/Div : 2 volt

Off 3

Time/Div : 1 s Volt/Div : 2 volt

Off 4

Time/Div : 1 s Volt/Div : 2 volt

Off 5

Time/Div : 1 s Volt/Div : 2 volt

Off 6

Time/Div : 1 s Volt/Div : 2 volt

Off 7

Time/Div : 1 s Volt/Div : 2 volt

Off 8

Time/Div : 1 s Volt/Div : 2 volt

On

5.5. Sinyal Input (1) dan Sinyal Output (8)

Off 2

Off 3

Off 4

Off 5

Off 6

Off 7

Off 8

Input Out Off

Input Out On

VI. ANALISA
Pada percobaan ini digunakan gelombang informasi berupa gelombang sinus 1 Vpp dengan frekuensi 1 KHz dari function generator. Pada gelombang ini akan dilakukan proses PCM (Pulse Code Modulation). Caranya adalah dengan terlebih dahulu memproses sinyal ini menggunakan modulator PAM (Pulse Amplitude Modulation). Output dari modulator PAM ini kemudian diproses menggunakan modulator PCM. Pada modulator PAM, frekuensi clock generator (frekuensi sampling) diatur sampai maksimum, yaitu 11,36 KHz. Sinyal informasi disampling dengan menggunakan frekuensi clock tersebut. Output dari proses sampling ini seperti yang ditunjukkan pada oscilloscope. Bentuk gelombang output berupa step-step yang membentuk tangga naik dan turun. Jika diperhatikan, bentuk tangga ini menyerupai gelombang sinus. Hal ini berarti pada gelombang informasi, level tegangan pada rentang waktu kontinyu tertentu diubah menjadi suatu nilai step dengan waktu diskrit. Jadi nilai step-step ini mewakili rentang nilai/level tegangan pada gelombang informasi, pada rentang waktu tertentu. Proses ini disebut dengan Kuantisasi (Quantization). Dengan kata lain, pada modulator PAM dilakukan proses sampling dan kuantisasi pada gelombang informasi. Sinyal hasil kuantisasi dimasukkan ke rangkaian Hold. Rankaian ini berfungsi untuk menahan sementara gelombang input dengan waktu tertentu kemudian diteruskan kembali. Proses ini dilakukan bergantian secara terus-menerus. Hasilnya seperti yang terlihat pada oscilloscope. Bentuk gelombang output berubah, yaitu adanya step dengan nilai/level tegangan nol. Step bernilai nol ini bergantian dengan step yang memiliki

nilai/level tegangan (tidak nol). Hal ini terjadi karena adanya proses menahan gelombang sementara pada rangkaian Hold, sehingga ketika gelombang ditahan sementara, nilai step menjadi nol. Sinyal tersebut merupakan sinyal PAM. Sinyal PAM kemudian dimasukkan ke modulator PCM. Pada modulator PCM, sinyal PAM diubah menjadi sinyal digital dengan menggunakan ADC (Analog to Digital Converter). Hasilnya dikonversikan dari bentuk parallel menjadi bentuk serial. Setelah mengalami proses ini, sinyal akan berubah menjadi deretan pulsa (sinyal digital). Deretan pulsa inilah yang disebut sebagai sinyal PCM. Deretan pulsa ini terdiri dari 8 bit. Pada modulator PCM, setelah ADC terdapat switch-switch. Setiap switch mewakili satu bit pada deretan pulsa (sinyal PCM). Switch-switch ini mempengaruhi sinyal PCM. Hal ini ditunjukkan oleh gambar pada oscilloscope. Jika switch-switch ini dimatikan (off), bit-bit akan menghilang dari sinyal PCM. Bit yang menghilang ini tergantung pada switch mana yang dimatikan. Jika switch pertama (paling atas) yang dimatikan, maka bit pertama (ujung kiri) yang akan menghilang. Begitu pula seterusnya, sampai pada switch kedelapan (paling bawah) yang mewakili bit terakhir (ujung kanan). Dengan demikian dapat diketahui bahwa switch pertama mewakili bit paling kecil atau LSB (Least Significant Bit) dan switch terakhir mewakili bit paling besar atau MSB (Most Significant Bit). Pada modulator PCM digunakan dua sinyal khusus dalam proses modulasi. Kedua sinyal tersebut adalah sinyal SYN (Synchronous) dan sinyal CK. Sinyal SYN digunakan untuk proses ADC sedangkan sinyal CK digunakan untuk proses konversi dari parallel ke serial. Sinyal SYN berasal dari clock generator pada modulator PAM. Sinyal CK merupakan sinyal SYN yang diubah menjadi deretan pulsa 8 bit. Kedua sinyal ini digunakan untuk sinkronisasi sinyal pada proses modulasi dan demodulasi. Tujuannya untuk menghindari kesalahan pada proses modulasi dan demodulasi sinyal, selain itu menghindari kesalahan sewaktu pengkodean sinyal menjadi 8 bit. Sinyal SYN dan CK memiliki perbedaan, seperti yang ditunjukkan oleh oscilloscope. Sinyal CK memiliki lebar pulsa yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan lebar pulsa sinyal SYN. Selain itu antara sinyal SYN dan sinyal CK terdapat jeda waktu (delay). Dari oscilloscope didapatkan delay antara sinyal SYN dan CK sebesar 9 s. Selanjutnya, dilakukan proses demodulasi pada sinyal PCM. pada demodulasi dilakukan proses yang sebaliknya, yaitu konversi dari serial ke parallel dan konversi dari digital ke analog. Pada konversi serial ke parallel digunakan kembali sinyal CK. Sinyal SYN juga digunakan kembali pada konversi digital ke analog. Hasil dari

demodulator PCM seperti yang ditunjukkan oleh oscilloscope. Jika dibandingkan dengan input modulator PCM (sinyal PAM) terlihat adanya perbedaan. Sinyal output demodulator PCM tidak berubah kembali menjadi bentuk sinyal PAM. Sinyal tersebut berbentuk tangga naik dan turun seperti sinyal sampling yang belum melewati rangkaian Hold pada modulator PAM. Sinyal ini kemudian diproses menggunakan demodulator PAM untuk

mengembalikan sinyal ke bentuk semula (gelombang sinus). Pada demodulator PAM, digunakan sinyal SYN untuk mengatur clock. Output dari proses ini seperti yang ditunjukkan pada oscilloscope. Gelombang output berbentuk sinusoida sempurna seperti gelombang input. Selanjutnya, dilakukan pengujian untuk mengetahui pengaruh dari switch pada modulator PCM terhadap gelombang output demodulator. Pada oscilloscope, terlihat bahwa jika switch pertama dimatikan, gelombang output masih berbentuk sinus yang bagus sehingga tidak terlalu berpengaruh pada gelombang output. Jika switch selanjutnya dimatikan, terlihat perubahan perlahan dari gelombang output. Gelombang akan semakin rusak (cacat). Ketika switch terakhir dimatikan, gelombang output menjadi sangat cacat. Gelombang tidak lagi berbentuk sinusoida. Hal ini membuktikan bahwa bit LSB tidak terlalu berpengaruh pada gelombang output, sedangkan bit MSB sangat berpengaruh pada gelombang output. Dengan kata lain, jika terjadi kesalahan pengkodean pada bit MSB, maka akan terjadi kesalahan yang fatal karena gelombang output tidak sesuai dengan gelombang informasi.

VII. KESIMPULAN y Proses PCM dilakukan dengan melakukan sampling dan kuantisasi terlebih dahulu
pada sinyal informasi, kemudian diubah menjadi deretan pulsa 8 bit.

y Pada PCM digunakan dua sinyal untuk sinkronisasi yaitu SYN dan CK. Tujuannya
untuk menghindari kesalahan pada proses modulasi, demodulasi, dan pengkodean.

y Bit LSB tidak terlalu berpengaruh pada gelombang output, sedangkan bit MSB
sangat berpengaruh pada gelombang output. Sehingga jika terjadi kesalahan pada MSB, gelombang output tidak akan sesuai dengan gelombang informasi.

VIII. REFERENSI

PCM adalah jenis teknologi digital dalam menggandakan kanal percakapan yang memungkinkan satu jalur fisik disaluri beberpa percakapan sekaligus tanpa mengganggu satu sama lain. Pada PCM diterapkan suatu proses digitalisasi. Pembangkit PCM akan menghasilkan sederetan simbol atau digit, dengan setiap slot waktu digit menyatakan pendekatan harga amplitudo sesaat sinyal hasil pencuplikan dari sinyal informasi analog. Prinsip sistem transmisi menggunakan metode PCM dapat dijelaskan sebagai berikut : y sinyal informasi baseband (analog) pertama kali dicuplik dengan

menggunakan metode sampling, y kemudian dilakukan proses konversi analog ke digital menggunakan rangkaian ADC yang di dalamnya dilakukan proses kuantisasi dan pengkodean. Shift register paralel in serial out dan serial in parallel out diperlukan karena biasanya rangkaian ADC dan DAC lebih dari satu keluaran (simultan) delapan digit biner. y Setelah ditransmisikan, sinyal PCM tersebut diubah kembali menjadi sinyal informasi asli (analog) sebuah decoder atau DAC dan sebuah rangkaian Low Pass Filter

Telecommunications Fundamentals, Chapter 3A: Analog and Digital Transmission


Why Digital Transmission? (Figure 3.7) Digital Transmission, demanded by our customers, has continually increased since its introduction in 1962. This is due, in large part, to the fact that more of our customers require a high degree of accuracy in the infor mation they are transmiing over our network. And with a digital transmission (as opposed to analog) system we are able to manage the quality of the signal by managing the previously discussed transmission impairments. Thus, digital systems: 1). are a better switching interface 2.) are easier to multiplex 3.)produce clearer signals Digital Signals A digital signal is a discrete signal. It is depicted as discontinuous (Figure 3.8) -- Discretely variable (on/off) as opposed to an analog signal which is continuously variable (sine wave) A digital signal has the following characteristics: 1.) Holds a fixed value for a specific length of time 2.) Has sharp, abrupt changes 3.) A preset number of values allowed Each pulse (on/off) is known as a bit. Bit is a contraction of the words binary and digit A binary (two-level) signal (1 or 0) is the most common digital signal in the telecommunication industry. The number of bits transmitted per second is the bit rate of the signal. To convert analog signals to digital signals, a coding system called Pulse Code Modulation (Figure 3.9), or PCM is used. This process is also called Analogto-Digital, or A/D, conversion. When changing a digital signal to an analog signal, the process is called Digital-to-Analog, or D/A, conversion. The Pulse Code Modulation (PCM) Process

Pulse Code Modulation (PCM) converts analog signals to a digital format (signal). This process has four steps (Figure 3.10):

Step One: Filtering Frequencies below 300 Hz and above 3400 Hz (Voice Frequency range) are filtered from the analog signal (Figure 3.11). The lower frequencies are filtered out to remove electrical noise induced from the power lines. The upper frequencies are filtered out because they require additional bits and add to the cost of a digital transmission system. The actual bandwidth of the filtered signal is 3100 Hz (3400 300). It is often referred to as 4 kHz. Step Two: Sampling The analog signal is sampled 8000 times per second (Figure 3.12). The rate at which the analog signal is sampled is related to the highest frequency present in the signal. This is based on the Nyquist sampling theorem. In his calculations, Nyquist used a voice frequency range of 4000 Hz (which represents the voice frequency range that contains "intelligent" speech). Thus, the standard became a sampling rate of 8000 Hz, or twice the bandwidth. The signal that is the result of the sampling process contains sufficient information to accurately represent the information contained in

the original signal. The output of this sampling procedure is a Pulse Amplitude Modulated, or PAM, signal. Step Three: Quantizing In the third step of the A/D conversion process, we quantize the amplitude of the incoming samples to one of 255 amplitudes on a quantizing scale (Figure 3.13). Thus, in this step the sampled signal is matched to a segmented scale. The purpose of step three is to measure the amplitude (or height) of the PAM signal and assign a decimal value that defines the amplitude. Based on the quantizing scale, each sampled signal is assigned a number between 0 and +127 to define its amplitude. Step Four: Encoding In the fourth step of the A/D conversion process, the quantized samples are encoded into a digital bit stream (series of electrical pulses). A digital encoder: Recognizes the 255 different voltage levels of the quantized samples. Converts each into a specific string of eight bits (ls and 0s) that represent a particular voltage value. Figure 3.14 is helpful for understanding the binary code used in the encoding step. Each bit position in the 8-bit word (byte) is given a decimal weight (2 to some power), except for the first bit position. The first bit position: Using this coding scheme, we can code any number between +127 and -127 and zero. For example, if the PAM signal measures +45 on the quantizing scale, the output of the encoding step is 10101101 (Figure 3.15). This binary number (or 8 bit word) is transmitted over the network as a series of electrical or optical pulses. This series of pulses is called a digital bit stream. The PCM process requires a 64,000 bps channel to encode a 4 kHz audio input signal because: 8,000 samples/sec. X 8 bits/words = 64,000 bps This is known as the DS0 (Digital Signal 0) or VF (Voice Frequency) in the digital hierarchy. It is the basic building block of the digital network. Digital-to-Analog Conversion At the receive end of the transmission, the digital signal may need to be converted back to its analog form. The digital-to-analog (D/A) conversion consists of two steps (Figure 3.16): Each 8-bit word (byte) that enters the decoder results in one PAM signal value. The decoder: Reads the 8-bit binary word inputs Creates a stream of 8,000 pulses per second These pulses have an amplitude

value of +127 to -127. (Our example is +45.) The filtering process smooths out the stream of 8,000 pulses per second into an analog waveform that closely resembles the waveform that was input into the A/D converter at the originating end. The filter stores a part of each pulse's energy and slowly releases it until the next pulse arrives. The filter thus reconstructs the analog signal at a rate of 8,000 times per second. Digital Channel Banks or D-Banks A device that does the analog-to-digital and digital-to-analog conversion process is called D-Bank (Figure 3.17), this is commonly used with analog switches. On the sending side: Input to the D-Bank is an analog signal. Output from a D-Bank is a digital signal in the form of a bit stream. On the receive side: Input to the D-Bank is the PCM signal. Output from the D-Bank is an analog signal. The D-Bank has two primary functions: A/D conversion - D/A Multiplexing Demultiplexing Time Division Multiplexing Time division multiplexing (TDM) is a digital multiplexing technique. In TDM, a number of low rate channels are fed into a multiplexer (e.g., D Bank), which combines them into one high rate digital signal (Figure 3.18). Each of the 24 VF(voice frequency)/DS0 channels is assigned a specific time slot by the TDM(Time Division Multiplexer). Thus, TDM is a process by which several digital signals are combined onto a single path and sent sequentially. Relating this back to the PAM process: The analog signal is sampled 8000 times a second. There will be 8,000 eightbit words transmitted per second. These words will be 1/8000 second (or 125 microseconds) apart. In the standard North American PCM system, 24 channels are time division multiplexed together and transmitted over a common path. This common path is known as a digital carrier system and operates at the DS1 rate (1.544 Mbps). Using TDM, the 24 channels are sampled sequentially. First, channel one is sampled Then channel two is sampled, and so on. These samples are then passed on to a common quantizer/encoder where they are converted into a single bit stream. In comparison: (Figure 3.19) FDM is simultaneous. TDM is sequential. The multiplexing equipment counts the bits. 24 channels X 8 bit words = 192 bits When it reaches 192, it will add one framing bit for timing, and start over. Additionally, throughout the digital

network regenerative repeaters (Figure 3.21) are used to "recreate" the original signal, thus reducing transmission impairments found in the analog network. The "Regen" also filters out noise. Digital Hierarchy The digital hierarchy (Figure 3.22) represents the standard rates by which digital communications are sent in North America. The basic building block of the digital hierarchy is the DS0 rate at 64 Kbps. Remember that multiplying 8-bit words by the sampling rate of 8000 times/second produces the 64,000 bps rate. With Time Division Multiplexing, multiplexing by an additional 24 time slots and including 8000 framing bits for timing information produces the 1,544,000 bps or 1.544 Mbs. DS1 is considered the beginning of high capacity digital transmission rates. Digital Loop Carrier (DLC) DLC is the generic terminology for a pair gain system in the local loop. Like multiplexing in the interoffice environment, DLC uses a system of 24 channels tied together using time division multiplexing. (Click here for an informative chart.) DLCs bring electronic technology to the traditional costly local loop con nections. In suburban areas local loop technology is effected by rapid growth and movement, which requires costly cable installation to serve new customers. In rural areas, these lines extend over many miles to serve relatively few people. By substituting electronics for cable, DLCs offer an economical way to serve these areas. Carrier systems increase the number of customers served by existing facilities (e.g., wire pairs). Digital Loop Carrier Systems (Figures 3.24 & 3.25) The four main components of a Non-Integrated Digital Loop Carrier System are: 1. Central Office Terminal (COT) Performs PCM, TDM, Protection Switching, Alarms, System Test, Tests Trunk Access, Line Concentration. Not required for an IDLC (Integrated DLC). 2. Remote Terminal (RT) Provides Baery, Ringing, Signaling, and Supervision functions to the subscriber line. Performs PCM, TDM, Protection Switching, Alarms, System Test, Subscriber Line Test

Access, Line Concentration. 3.Digital Facilities (Active and Protection) 4.Support Facilities Order Wire (For maintenance talking). Subscriber Line Test System. Dasar PCM PCM 30 adalah sejenis teknologi digital dalam menggandakan kanal percakapan yang memungkinkan satu jalur fisik disaluri 30 percakapan sekaligus tanpa mengganggu satu sama lain. Metode Pulse Code Mudulation (PCM) berbeda dengan Pulse Amplitude Modulation (PAM), Pulse Width Modulation (PWM), Pulse Position Modulation (PPM) sekalipun menggunakan teknik pencuplikan (sampling), tetapi pada PCM diterapkan suatu proses digitalisasi. Pembangkit PCM akan menghasilkan sederetan simbol atau digit, dengan setiap slot waktu digit menyatakan pendekatan harga amplitudo sesaat sinyal hasil pencuplikan dari sinyal informasi analog. Prinsip sistem transmisi menggunakan metode PCM dapat dijelaskan sebagai berikut : sinyal informasi baseband (analog) pertama kali dicuplik dengan

menggunakan metode sample and hold, kemudian dilakukan proses konversi analog ke digital menggunakan rangkaian ADC yang di dalamnya dilakukan proses kuantisasi dan pengkodean. Shift register paralel in serial out dan serial in paralel out diperlukan karena biasanya rangkaian ADC dan DAC lebih dari satu keluaran (simultan) delapan digit biner. Setelah ditransmisikan sinyal PCM tersebut diubah kembali menjadi sinyal informasi asli (analog) sebuah decoder atau DAC dan sebuah rangkaian Low Pass Filter, seperti ditunjukkan Gambar1.

Sample and Hold Tujuan dari proses sample and hold adalah untuk mencuplik secara berkala sinyal informasi analog dan mengkonversikannya menjadi deretan pulsapulsa PAM dengan amplitudo konstan (rata). Amplitudo konstan atau rata diperlukan untuk mendapatkan konversi yang akurat bila hendak diubah ke bentuk kode digital oleh rangkaian ADC. Secara sederhana blok rangkaian sample and hold ditunjukkan seperti :

Gambar 2. Blok Rangkaian Sample And Hold Kuantisasi Kuantisasi adalah proses penentuan (konversi) dari setiap harga analog hasil pencuplikan ke level nomor yang mendekati, yang merupakan harga analog diskrit. Operasi kuantisasi dengan memperhatikan Gambar 3, berikut ini :

Gambar 3. Proses Kuantisasi Nampak sinyal analog m(f) yang dibatasi range amplitudonya dari VL sampai VH. Range amplitudo tersebut dibagi menjadi M bagian (level) yang sama dengan ukuran setiap bagian sebesar S. Sehingga harga S=VH VL/ M yang menyatakan ukuran setiap level atau setiap step. Dari gambar tersebut Nampak ada 8 bagian (M=8). Di tengah-tengah setiap bagian ditandai levellevel kuantisasi seperti m0, m1, m2, m3,......m7. Jika sinyal m(f) berada di daerah (q=0,1,2,..7) maka sinyal mq(f) mempunyai level konstan sebesar mq. Misal jika m(f) berada di daerah maka mq(f) mempunyai level konstan m

dst. Setelah memperoleh harga level konstan sebanyak 8 (m0 sampai m7) proses berikutnya adalah mengkodekan level-level konstan tersebut ke dalam kode biner. Yang perlu diperhatikan bahwa pemilihan level kuantisasi dari sinyal m(f) dilakukan dengan memperhatikan level kuantisasi mana yang terdekat dari amplitudo hasil pencuplikan sinyal m(f). 4) Pengkodean Telah dipilih sebanyak delapan bagian yang menghasilkan delapan buah level kuantisasi, maka jumlah digit kode binernya sebanyak tiga buah (23 = 8). Akhirnya diperoleh kode-kode biner dari sinyal m(f0 yang tercuplik seperti tersebut dibawah : Amplitudo pada level m0, menjadi kode biner 000 Amplitudo pada level m1, menjadi kode biner 001

Amplitudo pada level m2, menjadi kode biner 010 Amplitudo pada level m3, menjadi kode biner 111 Amplitudo pada level m4, menjadi kode biner 100 Amplitudo pada level m5, menjadi kode biner 101 Amplitudo pada level m6, menjadi kode biner 110 Amplitudo pada level m7, menjadi kode biner 111 Hasil berupa deretan kode-kode biner inilah yang disebut sinyal PCM yang hendak dikirim. Lebar band yang diperlukan oleh sinyal PCM tentu saja menjadi jauh lebih besar dibanding lebar band sinya baseband yang dihitung seperti : Frekuensi maksimum sinyal baseband (lebar band) f max Frekuensi pencuplikan minimum fs = 2fmax Bit rate (n bit tiap cuplik)fb = nfs = 2nfmaks Lebar band transmisi sinyal PCM B = fb = 2nfmax Salah satu dari 6 teknik modulasi PCM adalah timbulnya kesalahan pada proses kuantisasi yang dikenal Quantization Noise (error). Kesalahan itu timbul karena adanya perbedaan amplitudo riil sinyal analog m(f) dengan amplitudo tercuplik yang dikodekan dan diterima pada sisi penerima untuk dikodekan ulang.

IX. Daftar Pustaka


http://files.edwar-kandani.webnode.com/200000051-d54d5d56dc/2.PNG http://ilhamadityam.blogspot.com/2010/03/pcm.html http://www.futaba-rc.com/faq/modulation2.jpg http://www.trendcomms.com/multimedia/training/broadband%20networks/web/main/m 2/temari/seccio6/imatges/PCM.gif http://www.cisco.com/image/gif/paws/8123/waveform_coding-2.gif http://www.privateline.com/manual/threeA.html http://belajar.internetsehat.org/pustaka/pendidikan/materikejuruan/elektro/switching/teknik_operasional_pcm_30.pdf

XI. Laporan Sementara