Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN LAB.

DSP Modul 5

TEKNIK TELEKOMUNIKASI 4A

Disusun Oleh:
Arya Wahyu Wibowo (1309030197) Indra Kurniawan (1309030231)

POLITEKNIK NEGERI JAKARTA 2011

4.1 Konvolusi dua sinyal discrete Unit step clear all; clc; L=input('Panjang gelombang(>=10) : '); P=input('Lebar pulsa (lebih kecil dari L): '); for n=1:L if n<=P x(n)=1; else x(n)=0; end end t =1:L; for n=1:L if n<=P v(n)=1; else v(n)=0; end end t=1:L; subplot(3,1,1) stem(t,x) subplot(3,1,2) stem(t,v) subplot(3,1,3) stem(conv(x,v))

a. dimasukkan nilai L = 20 dan P = 10


1

0.5

0 0 1 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

0.5

0 0 10 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

0 0 5 10 15 20 25 30 35 40

b. dimasukkan nilai L = 12 dan P = 10

0.5

0 0 1 2 4 6 8 10 12

0.5

0 0 10 2 4 6 8 10 12

0 0 5 10 15 20 25

c. dimasukkan nilai L = 15 dan P = 5

0.5

0 0 1 5 10 15

0.5

0 0 6 4 2 0 0 5 10 15 20 25 30 5 10 15

d. dimasukkan nilai L = 12 dan P = 12

0.5

0 0 1 2 4 6 8 10 12

0.5

0 0 15 10 5 0 0 5 10 15 20 25 2 4 6 8 10 12

Dari percobaan yang dilakukan, lebar pulsa mempengaruhi dari tingkat hasil konvolusi tersebut, sementara panjang gelombang mempengaruhi dari nilai sumbu x pada hasil konvolusi. 4.2 Konvolusi dua buah sinyal sinus L=input('Banyaknya titik sampel(>=20): '); f1=input('Besarnya frekuensi gel 1 adalah Hz: '); f2=input('Besarnya frekuensi gel 2 adalah Hz: '); teta1=input('Besarnya fase gel 1(dalam radiant): '); teta2=input('Besarnya fase gel 2(dalam radiant): '); A1=input('Besarnya amplitudo gel 1: ');

A2=input('Besarnya amplitudo gel 2: ');

%Sinus pertama t=1:L; t= 2*t/L;

y1=A1*sin(2*pi*f1*t + teta1*pi);

subplot(3,1,1)

stem(y1)

%SInus kedua t=1:L; t=2*t/L;

y2=A2*sin(2*pi*f2*t + teta2*pi);

subplot(3,1,2) stem(y2)

subplot(3,1,3) stem(conv(y1,y2))

a. Dimasukkan nilai L = 20, f1 = 1, f2 = 0.5, teta1 = 0, teta2 = 0.5, A1 = 1, A2 = 1

-1 0 1 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

-1 0 5 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

-5 0 5 10 15 20 25 30 35 40

b. kemudian nilai-nilai tersebut diganti menjadi L = 50, w1 = w2 = 2, f1 = f2 = 1/ , teta1 = 1.5, teta2 = 0.5, dan A1 = A2 = 1.

-1 0 1 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

-1 0 40 20 0 -20 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50

Setelah mengubah nilai nilai yang ada, gambar yang didapatkan berbeda, hal tesebut terjadi karena banyak titik sample yang diberikan lebih banyak menjadi 50, frekuensi yang diberikan juga jauh lebih kecil sekitar 0.318 sehingga menjadi lebih rapat, fase yang dimasukkan juga saling berlawanan antara gambar 1 dan 2.

4.3. Konvolusi Sinyal Bernoise dengan Raise Cosine 1. Membangkitkan sinyal raise cosine dan sinyal sinus dengan membuat program sebagai berikut: n=-7.9:.5:8.1; y=sin(4*pi*n/8)./(4*pi*n/8); figure(1); plot(y,'linewidth',2)0 t=0.1:.1:8; x=sin(2*pi*t/4); figure(2); plot(x,'linewidth',2)

Hasil dari program diatas adalah :


1

0.8

0.6

0.4

0.2

-0.2

-0.4 0 5 10 15 20 25 30 35

Gambar 4.3.1. Sinyal Rasie Cosine

1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 -0.2 -0.4 -0.6 -0.8 -1 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Gambar 4.3.2. Sinyal Sinus Asli

2. Menambahkan Noise pada Sinyal Sinus Membuat program seperti berikut : t=0.1:.1:8; x_n=sin(2*pi*t/4)+0.5*randn*sin(2*pi*10*t/4) + 0.2*randn*sin(2*pi*12*t/4); figure(3); plot(x_n,'linewidth',2)

Hasil dari program diatas adalah :

1.5

0.5

-0.5

-1

-1.5 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Gambar 4.3.3. Sinyal sinus bernoise

Sinyal noise yang dihasilkan dapat berubah-ubah bentuknya, karena noise merupakan sinyal acak dan tak pernah tetap.

3. Melakukan Konvolusi sinyal sinus bernoise dengan raise cosine. Membuat program seperti berikut : n=-7.9:.5:8.1; y=sin(4*pi*n/8)./(4*pi*n/8);

t=0.1:.1:8; x_n=sin(2*pi*t/4)+0.5*randn*sin(2*pi*10*t/4) + 0.2*randn*sin(2*pi*12*t/4);

xy=conv(x_n,y); figure(4); plot(xy,'linewidth',2)

Hasil dari program diatas adalah :


5 4 3 2 1 0 -1 -2 -3 -4 -5 0 20 40 60 80 100 120

Gambar 4.3.4. Hasil konvolusi

4. Perubahan pada nilai sinyal raise cosine dengan mengurangi rentang nilai pada n, dengan membuat program seperti berikut : n=-10.9:.5:0.9; y=sin(4*pi*n/8)./(4*pi*n/8); figure(1); plot(y,'linewidth',2)

t=0.1:.1:8; x=sin(2*pi*t/4); figure(2); plot(x,'linewidth',2)

x_n=sin(2*pi*t/4)+0.5*randn*sin(2*pi*10*t/4) + 0.2*randn*sin(2*pi*12*t/4); figure(3); plot(x_n,'linewidth',2)

xy=conv(x_n,y); figure(4); plot(xy,'linewidth',2)

Hasil dari program diatas adalah :


4 3 2 1 0 -1 -2 -3 -4 0 20 40 60 80 100 120

Gambar 4.3.4. n=-10.9:.5:0.9;

-1

-2

-3 0 20 40 60 80 100 120

Gambar 4.3.4. n=-14.9:.5:0.3;

Pada percobaan pertama yaitu membangkitkan sinyal raise cosine dan sinyal sinus dihasilkan sinyal seperti gambar 4.3.1. gambar yang dihasilkan seperti topi. Pada gambar 4.3.4 didapatkan hasil konvolusi sinyal bernoise dengan sinyal raise cosine, dimana sinyal yang tadinya bernoise berubah menjadi ke bentuk sinyal berbentuk sinusoidal, namun diawal grafik dan diakhir grafik, masih terdapat sedikit ripple, hal tersebut tidak begitu dipermasalahkan karena efek noise masih sedikit berdampak pada hasil eksekusi sinyal. Dapat disimpulkan, untuk mendapatkan kembali sinyal sinusoidal yang berawal dari sinyal noise, maka perlu dikonvolusikan antara sinyal bernoise dengan sinyal raise cosine. Semakin diperkecil range n, maka yang berubah pada sinyal raine cosine adalah phasa gelombang sinyal tersebut. Sinyal sinusoidal tidak berubah sama sekali, sedangkan untuk sinyal bernoise selalu berubah-rubah, tidak konstan. Hal ini berdampak pada hasil

akhir grafik konvolusi, karena sinyal bernoise yang berubah rubah, maka hasil akhir grafik konvolusi akan berbeda beda pula.

4.4. Konvolusi Sinyal Audio 1. Membuat program seperti berikut : clear all; [Y,Fs] = wavread('Elephant.wav'); Fs = 16000; %nilai default Fs=16000 sound(Y,Fs)

Pada program diatas dihasilkan suara 'Elephant.wav' murni dengan Fs = 16000, hasil audio suara yang dikeluarkan jelas.

2. Sinyal Audio ditambahkan dengan noise Membuat program seperti berikut clear all; [Y,Fs] = wavread('Elephant.wav'); Fs = 16000; %nilai default Fs=16000 %sound(Y,Fs) nois = randn(length(Y),1); Y_noise = Y + 0.08*nois; sound(Y_noise,Fs)

Hasil output dari program diatas ketika didengarkan yaitu audio seperti pada percobaan diatas, akantetapi terdengar suara noise pada suara. Namun suara audio asli masih terdengar.

3. Membuat perintah sound tidak aktif

clear all; [Y,Fs] = wavread('Elephant.wav'); Fs = 16000;%nilai default Fs=16000 %sound(Y,Fs) nois = randn(length(Y),1); Y_noise = Y + 0.08*nois; %sound(Y_noise,Fs) satu = ones(4,1);

Hasil dari program diatas tidak terdengar suara karena dibangkitkan sinyal bernilai 1, sehingga tidak terdapat sinyal yang menyebabkan suara tidak keluar.

4. Melakukan konvolusi audio %sinyal_audio clear all; [Y,Fs] = wavread('Elephant.wav'); Fs = 16000;%nilai default Fs=16000 %sound(Y,Fs) nois = randn(length(Y),1); Y_noise = Y + 0.08*nois; %sound(Y_noise,Fs) satu = ones(4,1); Y_c = conv(satu,Y_noise); sound(Y_c,Fs)

Hasil output audio program diatas merupakan hasil output audio yang paling kencang volume suaranya, noise masih dapat terdengar. Pengaruh konvolusi, membuat volume audio menjadi lebih besar dan mengurangi sinyal noise.

5. Kesimpulan y Dalam konvolusi terjadi tiga proses, yang pertama sinyal yang dikonvolusikan dicerminkan
terlebih dahulu, yang kedua sinyal yang telah dicerminkan dikalikan dengan sinyal pasangannnya, dari proses tersebut didapatkan nilai-nilai hasil perkalian, yang terakhir menjumlahkan sinyalsinyal yang telah dikalikan tersebut.

y Sinyal yang bernoise dapat dikembalikan ke bentuk aslinya dengan mengkonvolusikan dengan
sinyal raise cosine. Nilai rentang n raise cosine semakin besar maka semakin baik kemampuan sinyal raise cosine sebagai filter sinyal yang bernoise tersebut.

y Pada pengolahan audio konvolusi dilakukan pada bagian filter, prosesnya yaitu dengan
mengkonvolusikan sinyal audio yang bernoise dengan sinyal raise cosine.